Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

MUTIARA HITAM

JILID 03

Akan tetapi karena selama hidupnya Kwi Lan belum pernah mempunyai kuda, apa lagi menunggang kuda, ia canggung sekali dan kuda hitam itu agaknya juga dapat merasakan hal ini. Kuda itu mulai meronta dan mogok jalan. Kwi Lan menarik-narik kendali kuda sambil membentak,

"Kau juga hendak mogok? Kuda sialan! Kupenggal lehermu nanti, kubawa bangkaimu ke Thian-liong-pang, hendak kulihat apakah kau berani mogok lagi!"

"Wah-wah-wah..., kenapa kau begini galak, Mutiara Hitam? Apa kau marah kepadaku? Aku sama sekali tidak takut, hanya aku heran menyaksikan keberanianmu menentang semua tokoh-tokoh besar. Mari, biarlah kita pergi bersama. Dan kuda itu... kenapa repot-repot amat? Lebih baik kau tunggangi dia, kan enak?"

Watak Kwi Lan memang aneh, agaknya ia tiru dari Sian Eng. Ia keras sekali kalau perlu, akan tetapi bisa juga menjadi lunak, bisa gembira dan jenaka, akan tetapi tidak pernah mengenal duka mau pun takut. Melihat pemuda itu menghampiri dan wajahnya sungguh-sungguh, ia tersenyum. "Aku belum pernah menunggang kuda!" katanya.

Kembali Hauw Lam terheran. Seorang gadis yang begini tinggi ilmunya, belum pernah menunggang kuda? Benar-benar luar biasa sekali ini. "Belum pernah? Kalau begitu berbahaya, dong. Kau harus belajar dulu. Seekor kuda yang baik selalu akan memberontak kalau ditunggangi orang yang takut-takut menunggang kuda."

"Aku memang belum pernah menunggang kuda, akan tetapi siapa bilang aku takut? Kau lihat saja!" Sekali menggerakkan tubuhnya, Kwi Lan sudah meloncat dan duduk di atas punggung kuda, dengan kedua kaki di samping kiri perut kuda itu. Canggung dan kaku sekali. Benar saja, kuda hitam itu tidak memberontak, karena kuda itu hanya memberontak apa bila yang menunggangnya takut-takut, sedangkan Kwi Lan tidak takut.

"Ah, keliru kalau begitu menunggangnya. Mana bisa tahan lama kalau kuda itu membalap?"

"Siapa bilang tidak bisa? Kau lihat!" Kwi Lan menarik kendali kuda dan kuda hitam itu meloncat ke depan lalu lari cepat. Kwi Lan terangkat-angkat dari atas punggung kuda dan karena duduknya miring, maka hampir saja ia jatuh. Cepat ia berseru keras dan tubuhnya sudah meloncat ke atas kemudian turun di atas punggung kuda dalam keadaan berdiri!

Hauw Lam sudah mengejar dan memegang kendali kuda, mengeluarkan suara menyuruh berhenti. Setelah kuda berhenti, ia menggeleng-geleng kepala. "Wah-wah, memang kau hebat sekali, Mutiara Hitam. Akan tetapi mana ada di dunia ini orang naik kuda dengan berdiri di atas punggungnya? Engkau akan menjadi tontonan orang di sepanjang jalan, dan juga keadaan itu amat melelahkan. Beginilah cara menunggang kuda. Lihat, kuberi contohnya!"

Karena memang Kwi Lan seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka pelajaran menunggang kuda ini dapat ia kuasai sebentar saja. Berangkatlah kedua orang muda itu melakukan perjalanan menuju Yen-an. Kwi Lan menunggang kuda sedangkan Hauw Lam berjalan kaki sambil meniup sulingnya. Kadang-kadang Kwi Lan yang meloncat turun dan berjalan kaki, menyuruh pemuda itu berganti menunggang kuda. Kalau Hauw Lam menolak, ia tentu akan marah. Begitu pula, kadang-kadang gadis yang berhati polos itu menyuruh Hauw Lam duduk di belakangnya di atas punggung kuda. Hauw Lam juga menuruti kehendaknya sehingga dalam waktu beberapa hari saja melakukan perjalanan, keduanya telah menjadi sahabat yang amat akrab dan diam-diam Kwi Lan makin merasa cocok dan suka kepada putera bibi pengasuhnya ini.

mutiara hitam jilid 03


Kota Yen An terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san sebelah barat, di Propinsi Shansi. Kota ini cukup besar dan ramai, yang dahulu merupakan daerah Kerajaan Hou-han dan kini sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung dan menjadi wilayah Kerajaan Sung.

Kerajaan Hou-han dahulu terkenal sebagai kerajaan yang kecil tapi amat kuat. Terutama sekali ketika seorang di antara panglima perangnya adalah mendiang Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai mengatur siasat perang. Setelah jenderal ini mengundurkan diri, keadaan kerajaan mengalami kemunduran pula.

Akan tetapi keadaannya masih amat kuat karena beberapa tahun kemudian di dalam istana kerajaan terdapat Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, seorang wanita sakti yang menjadi ‘tante girang’ di dalam istana, mengumbar nafsu dengan para pangeran dan para panglima muda yang tampan. Di samping Tok-siauw-kwi (ibu kandung Suling Emas) ini terdapat pula selir raja yang juga amat lihai, yang kemudian berjuluk Siang-mou Sin-ni Coa Kim Bwee. Akan tetapi semenjak kedua orang wanita sakti ini tidak ada, kerajaan makin mundur dan akhirnya penyerbuan bala tentara Kerajaan Sung menjatuhkan kerajaan kecil ini.

Tokoh-tokoh yang dikalahkan, biasanya kalau tidak dipakai lagi tenaganya lalu berkumpul dan merupakan kelompok yang menentang si Pemenang secara diam-diam. Demikian pula keadaan di bekas Kerajaan Hou-han ini. Orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lalu mengadakan persatuan dan bersembunyi di balik papan nama perkumpulan menjadi golongan dunia hitam yang diam-diam mencari kesempatan untuk melawan atau setidaknya merongrong pemerintahan yang tak disukainya.

Di antara perkumpulan-perkumpulan semacam itu, Thian-liong-pang merupakan perkumpulan terbesar, bahkan boleh dibilang menjadi semacam induk perkumpulan. Hal ini adalah karena bekas para panglima dan tokoh Kerajaan Hou-han banyak yang menggabungkan diri dalam perkumpulan ini.

Namun karena kesempatan untuk melawan pemerintahan Sung tidak ada, apa lagi setelah para panglima yang benar-benar berjiwa patriotik meninggal dunia, jiwa perkumpulan Thian-liong-pang mengalami perubahan hebat. Dasar yang semula patriotik tadinya terdorong setia kepada kerajaan berubah, berubah menjadi dasar dunia hitam, dan tujuan yang menyeleweng jauh terdorong oleh nafsu angkara murka untuk menguasai dunia, harta benda, nama besar dan kemenangan mengandalkan kekuatan.

Melihat ini, sisa para panglima Hou-han banyak yang mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusun-dusun dan pegunungan menanti maut datang menjemput. Semenjak itu Thian-liong-pang seluruhnya dikuasai oleh tokoh-tokoh dunia hitam. Yang menjadi Ketua Thian-liong-pang adalah seorang bekas pendeta yang berjuluk Sin-seng Losu (Kakek Bintang Sakti).

Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga amat terkenal di dunia hitam. Biar pun jahat, namun ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya, Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang amat kuat. Semua anggota Thian-liong-pang rata-rata di gembleng ilmu silat tinggi. Apa lagi murid kakek itu sendiri, benar-benar terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa.

Murid-murid kepala sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia kang-ouw sehingga tokoh-tokoh yang besar sekali pun tidak akan berani memandang rendah Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) dari Thian-liong-pang! Dua belas orang murid kepala yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini telah mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masing-masing. Dan yang menambah ketenaran mereka adalah senjata rahasia Sin-seng-ci (Peluru Bintang Sakti).

Oleh karena Kakek Sin-seng Losu sudah terlalu tua dan pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya, maka sebagai penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua. Murid ini seorang laki-laki tinggi besar bercambang bauk yang bertenaga besar seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thai-lek-kwi (Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu.

Ma Kiu ini dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di selatan dan menjadi anggota Beng-kauw. Semenjak muda suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggota Beng-kauw ia sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan sendiri dan takut pula akan hukuman dari para pimpinan Beng-kauw yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke utara.

Di Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati ketuanya dan menjadi muridnya. Karena memang tingkatnya sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang di antara murid kepala yang lihai, bahkan kemudian terpilih menjadi murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai pengganti gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru Thian-liong-pang!

Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang terletak megah di ujung kota Yen-an. Agak janggal nampaknya bahwa jalan besar di mana gedung ini berdiri kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari tetangga. Namun orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para tetangga yang tadinya tinggal dekat gedung itu berangsur-angsur melarikan diri sehingga rumah-rumah kosong di sekitar jalan itu merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk Yen-an. Hal ini dipergunakan oleh Thian-liong-pang untuk memperluas markas mereka dengan membeli murah secara paksa rumah-rumah dan pekarangan yang ditinggalkan.

Pada hari pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang, keadaan di situ lebih ramai dari pada biasanya. Banyak tamu hilir mudik mengunjungi Thian-liong-pang dan para penduduk Yen-an hari itu merasa ketakutan selalu karena di kota Yen-an berkeliaran banyak orang-orang aneh dan sikapnya menyeramkan. Karena itu biar pun tidak tahu pasti, namun sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari itu mengunjungi Yen-an, tentulah tamu dari Thian-liong-pang dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-baik.

Memang dugaan ini tepat. Sebagian besar yang datang mengunjungi Thian-liong-pang adalah orang-orang dari dunia hitam, golongan liok-lim dan kang-ouw (hutan lebat dan sungai telaga), yaitu para perampok, bajak, gerombolan-gerombolan yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan untuk melakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki.

Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orang-orang yang dandanannya aneh-aneh memasuki kota Yen-an. Menjelang siang hari, orang-orang yang menonton keramaian dan iring-iringan tamu dengan hati berdebar tidak enak ini, tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak kalah anehnya dari pada orang-orang yang menyeramkan lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak kelihatan menyeramkan, bahkan sebaliknya.

Dara remaja yang menunggang kuda hitam itu, biar pun pinggangnya digantungi pedang dan gagang pedang indah, namun harus diakui cantik jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan, melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang memandangnya. Ada pun temannya, seorang pemuda remaja pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri, mulutnya tersenyum-senyum. Bahkan ketika memasuki kota Yen-an, pemuda ini dengan wajah berseri lalu meniup suling sambil berjalan di samping kuda hitam! Sebatang golok besar dengan sarung pedang aneh, tidak kelihatan menyeramkan sebaliknya malah tampak lucu, seakan-akan pemuda itu sengaja membadut dan menggantungkan golok untuk main-main saja.

Wajah Kwi Lan, dara yang menunggang kuda hitam, kelihatan gembira pula. Setelah beberapa pekan lamanya melakukan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benar-benar mengenal watak pemuda ini sebagai seorang pemuda yang selalu gembira, jenaka, ugal-ugalan namun pada dasarnya gagah perkasa, tak kenal takut, berbudi dan... selalu mengalah kepadanya.

Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi Lan jarang bergaul dengan orang lain, apa lagi dengan orang mudanya. Teman satu-satunya hanyalah Suma Kiat, dan ia tidak suka kepada suheng ini, yang kadang-kadang memperlihatkan sikap terlalu manis berlebih-lebihan kepadanya akan tetapi kadang-kadang juga pemarah dan tak acuh. Tidak mengherankan apa bila Kwi Lan merasa suka sekali kepada Hauw Lam dan dalam waktu yang tidak lama itu mereka telah menjadi sahabat yang akrab. Sukar bagi seseorang untuk tidak ikut bergembira apa bila melakukan perjalanan dengan Hauw Lam. Apa lagi seorang seperti Kwi Lan yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka bergembira.

Kwi Lan tersenyum geli melihat betapa temannya memasuki kota Yen-an sambil meniup suling dengan lenggang dibuat-buat seperti seorang penari atau seperti orang berbaris. Ia maklum bahwa kedatangan mereka ke Yen-an bukanlah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari pengalaman dan lebih mendekati petualangan karena yang akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam yang amat berbahaya!

Akan tetapi ia menjadi kagum dan juga menjadi gembira melihat pemuda itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut. Banyak penduduk Yen-an, terutama orang-orang mudanya yang tertarik melihat sepasang muda-mudi yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil memandang kagum dan tersenyum-senyum. Akan tetapi melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thian-liong-pang di pinggir kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti sudah berhenti dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Kwi Lan menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya setelah tiba di depan rumah gedung besar yang dihias arca singa batu dan papan nama perkumpulan itu. Dari luar gedung saja sudah terdengar suara banyak orang di sebelah dalam. Beberapa orang penjaga menyambut mereka dengan menjura dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang mukanya penuh cambang bauk dan yang kelihatan terkejut sekali melihat dua orang muda itu. Akan tetapi wajahnya yang tadinya terkejut itu berubah merah dan ia segera menjura dan berkata.

“Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan... Berandal yang datang berkunjung! Silakan masuk...!” Melihat sikap si Brewok ini, teman-temannya juga cepat memberi hormat kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan mendengar nama julukan pemuda tampan itu, diam-diam mereka merasa geli.

“Ha-ha-ha!” Kiranya si Ouw Kiu! Engkau masih hidup? Syukurlah kalau panjang umur. Kami datang memenuhi janji hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan sumbangan kepada ketua baru Thian-liong-pang!”

Teman-teman Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan menyaksikan sikap pemuda ini. Bicaranya begitu seenaknya seperti kepada seorang sahabat baik saja. Mereka makin heran melihat betapa Ouw Kiu yang terkenal jagoan di antara mereka begitu menaruh hormat yang berlebihan terhadap seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang masih amat muda. Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang menjadi merah mukanya.

Peristiwa di dalam hutan dua pekan yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thian-liong-pang dan para anak buah tidak ada yang boleh mendengar karena hal itu merendahkan nama besar perkumpulan. Oleh karena itulah maka ketika tadi ia menyebut nama Mutiara Hitam dan Berandal, teman-temannya tidak tahu bahwa dua orang inilah yang membunuh seorang anak murid Thian-liong-pang. Dengan menahan kemarahan Ouw Kiu lalu berkata lagi.

“Ah, Ji-wi ternyata memegang janji. Silakan masuk! Nona, biarlah orang-orang kami merawat kuda Nona itu. Silakan turun dan masuk ke dalam!”

“Mana bisa barang sumbangan ditinggalkan di luar?” Kwi Lan berkata.

“Barang sumbangan...? Apakah maksud Nona...?”

Kwi Lan tersenyum. “Justru kuda inilah barang sumbangannya untuk disampaikan kepada Ketua Thian-liong-pang!”

“Ah... kuda bagus... kuda hebat...!”

Ouw Kiu tiba-tiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang besar dan memang hebat ini akan dipersembahkan kepada ketuanya. Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah merendahkan diri dan hendak menyenangkan hati ketuanya dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya. Akan tetapi jangan kira bahwa kalian akan dapat lolos dari sini biar pun telah menyogok dengan seekor kuda.

Melihat Ouw Kiu memuji-muji sambil menjura, seorang lain memberi isyarat dengan kedua tangan mempersilakan mereka sehingga yang lain-lain juga menjura.

Kwi Lan lalu berkata, “Hayo, Berandal kita masuk saja. Hek-ma (Kuda Hitam) ini pun tentu suka mencicip arak wangi Thian-liong-pang!”

“Hayo, tunggu apa lagi?” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian ia menempelkan suling pada mulutnya dan melangkah maju sambil meniup suling.

Ada pun Kwi Lan tanpa mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para penjaga sudah menarik kendali dan memaksa kuda hitamnya untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya memasuki ruangan depan menuju ke dalam!

Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada teman-temannya dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah sebentar pucat karena gentar dan sebentar merah karena marah. Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang itulah yang membunuh seorang kawan mereka.

“Jangan sembarangan bergerak, mereka lihai sekali!” bisik Ouw Kiu. “Biarkan Pangcu yang membereskan mereka!” Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu mendahului masuk dan diam-diam melaporkan kepada pimpinan Thian-liong-pang.

Pada waktu itu, Kakek Sin-seng Losu masih duduk di kursi ketua sambil melenggut mengantuk. Akhir-akhir ini, kakek yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan banyak mengantuk. Kini ia telah mengenakan pakaian khusus untuk upacara. Jubahnya baru dan indah, di bagian dadanya terdapat gambar sebuah timbangan. Inilah tanda bahwa dia sudah meninggalkan kedudukan ketua dan kini menjadi penasehat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala macam perkara yang tak dapat diputuskan oleh ketua baru.

Di sebelah kanannya duduk Thai-lek-kwi Ma Kiu, murid kepala bekas tukang jagal babi itu. Wajah murid kepala yang usianya sudah lima puluh tahun ini kereng, apa lagi jenggot dan kumisnya kaku seperti kawat, matanya melotot lebar seakan-akan selalu mengeluarkan sinar mengancam. Di sebelah kanan Thai-lek-kwi Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri sebelas orang adik-adik seperguruannya yang terdiri dari bermacam-macam orang. Ada hwesio gundul, ada tosu, ada yang seperti petani, ada yang tua dan ada yang muda. Di belakang kursi kakek Sin-seng Losu berdiri seorang petugas yang membawa bendera Thian-liong-pang, bergambar naga terbang.

Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah memenuhi ruangan, duduk di bangku-bangku memutari meja bundar yang sudah disediakan. Pelayan-pelayan sibuk melayani mereka dengan minuman dan makanan. Saat itu upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thai-lek-kwi Ma Kiu mencari-cari dengan pandang matanya, kelihatan tak senang hatinya. Kemudian ia berbisik kepada suhunya yang masih melenggut, setengah tidur setengah bersemedhi.

“Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik dilakukan sekarang upacaranya?”

“Hemmm...?” kakek itu membuka mata malas-malasan, kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana terdapat sebuah bangku yang kosong. “Dia belum datang?”

Ma Kiu mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Suhu, sudah sejam lebih kita menanti, akan tetapi Siauw-te (Adik Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia suka pergi berburu binatang, suka pergi bermain-main, siapa tahu dia tidak akan datang karena lupa akan urusan hari ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi,” bantah Si Kakek. “Betapa pun juga Siangkoan Li adalah anak tunggal mendiang puteraku, dia cucuku satu-satunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah tidak ada, sepatutnya dia menyaksikan upacara penting hari ini.”

Biar pun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara pengangkatannya menjadi Ketua Thian-liong-pang, namun Ma Kiu tidak berani membantah kehendak gurunya. Siangkoan Li adalah cucu Sin-seng Losu. Semenjak kecil anak ini sudah ditinggal mati ayah bundanya yang tewas dalam pertandingan. Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biar pun ia cucu kakek ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid kepala atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thian-liong-pang itu memanggil dia sute (adik seperguruan). Padahal Siangkoan Li masih amat muda, baru dua puluh tahun usianya.

Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor. Karena Sin-seng Losu sudah melenggut lagi di atas kursinya, Ouw Kiu lalu melapor kepada Thai-lek-kwi Ma Kiu tentang kedatangan dua orang muda tadi. Tentu saja Thai-lek-kwi Ma Kiu marah sekali mendengar bahwa dua orang muda yang mengaku berjuluk Mutiara Hitam dan Berandal dan telah membunuh seorang anggota Thian-liong-pang berani muncul.

Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya sebagai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urusan yang amat penting artinya bagi dirinya itu terganggu atau terkacau keributan, maka ia menyabarkan hatinya yang panas. Apa lagi ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu datang untuk menonton upacara dan membawa hadiah seekor kuda yang bagus. Maka dia segera berdiri dan menyambut. Melihat kakak tertua ini bangkit, otomatis sebelas orang adik seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya menyambut.

Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjak-injak lantai dan para tamu serentak menengok, disusul suara mereka riuh membicarakan tamu yang baru muncul. Tentu saja cara Kwi Lan memasuki ruangan sambil menunggang seekor kuda yang tinggi besar berbulu hitam amat menarik perhatian dan selain mendatangkan kaget, juga heran. Akan tetapi di samping ini, sebagian besar mata para tamu terbelalak kagum karena tidak saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya lebih menarik lagi, cantik jelita dengan mata bersinar-sinar dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul.

Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan rumah. Diam-diam ia memperhatikan Ma Kiu dan sebelas orang adik seperguruannya. Biar pun belum pernah bertemu dengan mereka, namun jumlah ini menimbulkan dugaan di hati bahwa tentu inilah yang disebut Cap-ji-liong yang ditakuti orang itu. Ia tersenyum dan berseru dengan suara nyaring.

“Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal....” Sampai di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan yang tersenyum pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan seruan heran mendengar sebutan dewa dan dewi tadi, kemudian melanjutkan setelah keadaan menjadi sunyi senyap karena semua orang memasang telinga penuh perhatian untuk mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya, “...secara kebetulan lewat di Yen-an dan mendengar nama besar Thian-liong-pang yang katanya hendak mengadakan upacara pengangkatan ketua baru, maka kami ingin sekali menonton keramaian dan Sang Dewi Mutiara Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitamnya untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar dirinya disebut-sebut sebagai Sang Dewi, Kwi Lan mengerutkan alisnya dan cemberut, melompat turun dari kuda dan berkata, “Harap jangan dengarkan obrolan Berandal ini! Kuda ini memang hendak kusampaikan kepada Thian-liong-pang, akan tetapi bukan hadiah dariku, melainkan hadiah dari Khitan untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar ucapan Kwi Lan, berubah air muka dua belas orang ‘naga’ dari Thian-liong-pang itu. Ma Kiu segera berkata, suaranya berubah ramah, “Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan dari Pak-sin-ong? Sungguh merupakan penghormatan besar sekali terhadap Thian-liong-pang dan salah paham yang terjadi beberapa pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami, mohon Ji-wi sudi memaafkan.”

“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan,” kata Kwi Lan setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam. “Akan tetapi yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan keturunan kuda pribadi Ratu Khitan. Harap Thian-liong-pang suka menerima anugerah dari Ratu Khitan ini.”

Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap condong untuk membela Ratu Khitan yang menurut penuturan guru dan bibinya adalah ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi mendengar ini Ma Kiu mengangguk-angguk dan bertukar pandang dengan sebelas orang saudaranya.

“Kami mengerti... kami mengerti dan terima kasih banyak...,” katanya. Tentu saja Kwi Lan tidak mengerti apa yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu melompat turun dari kudanya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon ketua itu menggapai seorang anggota Thian-liong-pang yang tinggi besar.

“Bawa kuda ini ke kandang dan pelihara baik-baik, beri makan minum secukupnya!”

Orang tinggi besar itu memberi hormat dan menerima kendali. Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda hitam itu yang mencium bau orang baru dan merasakan tarikan keras, segera meringkik, membuka mulut dan menerjang orang tinggi besar itu! Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha mengelak, namun terlambat, pundaknya kena digigit sehingga ia berkaok-kaok kesakitan. Ketika kuda itu melepaskan gigitannya, daging pundak berikut baju sudah robek dan darah membasahi semua bajunya! Tentu saja anggota ini menjadi kaget dan melepaskan kendali kudanya.

Hauw Lam tertawa bergelak. “Sudah kuberitahu, kuda ini bukan kuda sembarangan!”

“Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku yang membawanya ke kandang.” Seorang laki-laki berusia hampir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah maju. Dia ini adalah seorang di antara Cap-ji-liong.

Begitu Ma Kiu menganggukkan kepala, si Kurus sudah menyambar kendali kuda, lalu tubuhnya melayang naik ke punggung kuda hitam. Kuda itu meringkik-ringkik dan meronta-ronta, namun dengan menjepitkan kedua kaki ke perut kuda, si Kecil Kurus tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetot-betot kendali kuda. Kuda hitam makin marah, melonjak-lonjak dan meloncat-loncat tinggi menggerak-gerakkan punggungnya.

Kalau orang biasa tentu akan terlempar dari punggung kuda, akan tetapi ternyata si Kecil Kurus itu lihai sekali. Tubuhnya mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan tetap. Akhirnya, setelah hidung dan bibir kuda mengeluarkan darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan dan menurut saja disuruh berjalan ke luar dari dalam ruangan tamu!

Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk duduk di bagian depan.

Hauw Lam berbisik. “Mereka mengira bahwa kita ini tokoh-tokoh kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan memang biasanya orang-orang Pak-sin-ong ini melakukan perjalanan sambil menyamar dan merahasiakan diri, karena selalu menjadi incaran orang pemerintahan Khitan. Tentu si Brewok tadi mengira kita berpura-pura menghadapi banyak tamu, maka ia bilang mengerti!” Pemuda itu tertawa dan Kwi Lan juga tertawa geli.

Pelayan datang dengan cepat membawa minuman arak wangi dan masakan-masakan lezat dan mahal. Karena memang sudah lapar dan sudah lama tidak bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak sungkan-sungkan lagi. Kiranya pemuda jenaka itu adalah seorang ahli makanan. Sambil mencoba dan mencicipi belasan macam masakan yang datang membanjiri meja mereka, Hauw Lam tiada hentinya mengoceh untuk memperkenalkan tiap masakan kepada Kwi Lan.

“Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya terdapat dalam rawa-rawa di daerah selatan saja. Dagingnya empuk, gurih dan harum sedap, maka harganya pun amat mahal. Sayang ini yang jantan, kalau yang betina lebih lezat. Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena dibutuhkan telurnya. Hanya Kaisar yang suka menyuruh buatkan kodok betina goreng!” Memang luar biasa masakan kodok goreng itu. Berbeda dengan swike biasa, kodok ini digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi justru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang. Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya enak pula dimakan, tidak keras.

“Wah, ini sop buntut menjangan namanya! Dimasak sop dengan campuran kacang polong dan jamur kuning. Hebat! Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah mengalir cepat. Sedikit cukup untuk menghangatkan tubuh. Dan ini masak tim kaki burung raja air! Kau tahu apa itu burung raja air? Bebek! Ini tim kaki bebek. Enak kenyil-kenyil dan gurih. Wah, yang di sana itu panggang ayam angkasa. Sedap!”

“Apa itu ayam angkasa?” Kwi Lan bertanya, gembira oleh penjelasan yang lucu ini.

“Ayam angkasa? Masa tidak tahu? Burung dara! Enak juga, cobalah.”

Sampai kenyang sekali perut Kwi Lan karena pandainya Hauw Lam memperkenalkan setiap masakan sehingga tak dapat ia bertahan untuk tidak mencicipinya.

“Eh, ini masakan apa? Mengapa dagingnya bundar-bundar tapi bukan bakso? Licin...!”

Hauw Lam mengulur leher menjenguk, lalu mengorek dengan sumpit untuk memeriksa. “Ini...? Waaahh... gila amat! Ini... ini bukan makanan wanita! Celaka, yang begini dikeluarkan. Sialan benar!” Ia mengomel panjang pendek tanpa menjawab pertanyaan Kwi Lan.

Gadis itu tentu saja menjadi tertarik sekali, “Masakan apa sih? Kenapa bukan makanan wanita?”

Heran sekali. Tiba-tiba muka Hauw Lam menjadi merah dan ia tampak gagap-gugup dalam menjawab. Padahal biasanya pemuda ini paling pandai bicara. “Masakan... waaahhh, bagaimana ini...? Ini masakan... masakan... hemmmm...!” Karena mereka berdua tadi bicara keras tanpa mempedulikan orang lain, tentu saja percakapan terakhir ini pun terdengar pula oleh para tamu yang duduk berdekatan. Mereka mulai tertawa-tawa geli menyaksikan sikap Hauw Lam ini.

“Ih, kenapa kau? Sudah mabokkah? Masa menjawab masakan saja begitu sukar? Kalau tidak mengenal, bilang saja terus terang, mengapa susah-susah amat?” Kwi Lan menegur.

“Siapa bilang aku tidak mengenal masakan ini? Semua masakan di dunia pernah kumakan. Aku pernah memasuki dapur kaisar, pernah ikut dalam perjamuan Beng-kauw di selatan! Ini masakan... daging kambing saus tomat!”

“Uhh, hanya daging kambing saja kenapa tidak dari tadi menyebutnya? Kau bohong agaknya! Kalau benar hanya daging kambing, mengapa bentuknya bulat seperti ini? Dan mengapa pula tadi kau hilang ini bukan makanan wanita?”

“Ha-ha-ha-ha! Itu bukan daging kambing, melainkan... peluru kambing. Ha-ha-ha!” Riuh rendah suara ketawa itu.

Hauw Lam dan Kwi Lan menengok. Sejak tadi mereka sudah tahu bahwa tidak jauh dari meja mereka, dalam jarak lima meter, terdapat enam orang anggota pengemis baju bersih yang duduk mengelilingi meja dan sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Enam orang pengemis itu rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, hanya mereka berdua inilah yang masih muda dan kini dua orang inilah yang tertawa-tawa oleh ucapan seorang di antara mereka tadi.

Pada saat itu Kwi Lan dengan sumpitnya telah menusuk dua potong daging kambing itu yang memang berbentuk bundar telur sebesar telur ayam.

“Hanya kambing jantan yang memiliki peluru itu, kambing betina tentu saja tidak punya. Akan tetapi keliru kalau orang bilang wanita tidak boleh memakannya, malah sebetulnya itu makanan wanita, apa lagi wanita cantik...! Ha-ha-ha-ha!” komentar pengemis muda yang ke dua dan kembali dua orang yang duduknya menghadap kepada meja Kwi Lan tertawa-tawa sambil terang-terangan memandang kepada gadis itu.

“Ha-haaauupp!” mendadak dua orang pengemis muda yang sedang tertawa berkakakan itu terhenti ketawanya dan mata mereka mendelik, tangan kiri mencekik leher dan tangan kanan menunjuk-nunjuk kebingungan ke arah mulut mereka yang ternganga. Tanpa diketahui orang lain saking cepatnya gerakan tangan Kwi Lan, dua buah daging bulat yang tadi berada di ujung sepasang sumpitnya kini telah menyusup masuk ke tenggorokan dua orang itu melalui mulut yang tadi terbuka lebar-lebar.

Empat orang pengemis lain yang mengira bahwa dua orang temannya ini tersedak makanan sibuk menolong, menepuk-nepuk punggung mereka dengan keras sambil bertanya-tanya. Akan tetapi dua orang itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti orang gagu karena kerongkongannya tersumbat. Akhirnya seorang di antara mereka terbatuk dan meloncat keluarlah daging bulat seperti telur ayam itu. Sedangkan seorang lagi, karena daging itu belum keluar dan ia merasa napasnya hampir putus, dengan nekat lalu memasukkan sumpit ke mulutnya dan mendorong daging di kerongkongannya itu terus masuk! Akal ini menolong juga dan terhindarlah ia dari pada bahaya maut tercekik.

Kwi Lan yang telah memberi hukuman kepada dua orang pengemis muda yang berani mentertawakannya itu, kedua pipinya menjadi merah. Tidak hanya karena marah, juga karena jengah setelah ia mendengar apa sebetulnya daging bulat-bulat itu. Diam-diam ia memaki tuan rumah yang mengeluarkan hidangan macam itu. Gadis ini memang masih asing dengan segala masakan-masakan kota, apa lagi masakan-masakan yang begitu mewah. Semenjak kecil ia hanya makan masakan sederhana yang dibuat Bibi Bi Li. Kini untuk mengalihkan perhatian dari masakan yang dianggapnya tidak pantas itu, lalu bertanya kepada Hauw Lam yang masih tertawa-tawa, mentertawakan keadaan dua orang pengemis tadi.

“Dan ini, apakah ini? Untuk apa? Kelihatannya seperti darah.”

“Bukan darah. Itu namanya kecap, untuk bumbu menambah asin atau manis masakan.”

Sementara itu, dua orang pengemis muda yang sudah bebas dari pada daging-daging bulat kelihatan marah-marah, berdiri dan memandang ke arah meja Kwi Lan sambil melotot. Empat orang kawannya yang lebih tua juga sudah menengok semua dan mereka bicara berbisik-bisik satu kepada yang lain, wajah mereka mengancam. Agaknya mereka sedang mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap dua orang muda itu tanpa mengganggu jalannya pesta. Mereka berenam hanyalah tokoh-tokoh biasa saja yang datang mewakili pengemis golongan hitam, maka tentu saja mereka segan untuk membuat gaduh dan kacau dalam pesta perayaan pengangkatan ketua Thian-liong-pang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menanti sampai upacara berakhir, barulah akan memberi hajaran kepada dua orang muda kurang ajar itu.

Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar, bentakan suara laki-laki mengiringi tangis wanita. Semua tamu menengok dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar berjubah seperti pendeta, akan tetapi rambutnya panjang riap-riapan dan mukanya seperti seekor singa, matanya lebar dan bersinar liar. Laki-laki berusia lima puluhan tahun ini memegang sebatang cambuk panjang dan dengan cambuk ini ia menggiring dua belas orang wanita muda-muda dan cantik-cantik seperti seorang penggembala menggiring ternak saja.Beberapa orang di antara wanita inilah yang mengeluarkan suara tangisan, dan yang lain berjalan dengan muka pucat dan mata penuh kecemasan.

Begitu memasuki ruangan itu, kakek ini tertawa dan wajahnya menjadi makin menyeramkan. Rambutnya yang riap-riapan dan terhias bunga-bunga cilan, semacam bunga yang wangi, bergerak-gerak ketika ia tertawa. Melihat tamu ini, Thai-lek-kwi Ma Kiu berubah air mukanya, menjadi girang dan segera turun sendiri menyambut dan menjura.

“Wah, kiranya sahabat Ci-lan Sai-kong yang datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami.”

“Huah-ha-ha-ha! Thian-liong-pang terkenal dengan Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) yang sungguh gagah perkasa. Kini yang tertua di antaranya akan menjadi ketua, benar-benar menambah keangkeran Thian-liong-pang. Pinceng (aku) datang. untuk memberi hormat kepada Sin-seng Losuhu, dan memberi selamat kepada Thian-liong-pang dengan ketua barunya. Karena pinceng seorang miskin yang hanya suka mengumpulkan bunga-bunga harum, maka pinceng hanya dapat memberi sumbangan dua belas tangkai bunga harum ini untuk hiasan kamar Dua Belas Naga dari Thian-liong-pang sehingga kamar mereka menjadi harum dan membuat mereka enak tidur. Ha-ha-ha!”

Kemudian kakek itu membunyikan cambuknya di atas kepala dua belas orang gadis tawanannya sambil membentak, “Hayo kalian lekas berlutut di depan majikan-majikan baru kalian!” Karena agaknya sudah tahu akan kekejaman kakek itu, dua belas orang gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan muka.

Para tamu yang hadir terdiri dari orang-orang golongan hitam, maka peristiwa ini tidaklah mengherankan hati mereka, malah banyak di antara mereka tertawa-tawa dan terdengar komentar di sana-sini memuji dua belas orang gadis itu dan menyatakan betapa senangnya menerima sumbangan benda hidup seperti itu. Juga Thai-lek-kwi Ma Kiu dan adik-adik seperguruannya serta para anggota Thian-liong-pang menganggap hal ini biasa dan sewajarnya saja.

Akan tetapi karena saat itu adalah saat yang penting dan di situ terdapat banyak tamu, Ma Kiu merasa malu dan jengah juga. Ia kembali menjura dan berkata, “Ah, Saudara Ci-lan Sai-kong mengapa begitu sungkan? Kami tidak mengharapkan sumbangan. Kedatanganmu saja sudah cukup menggirangkan hati kami!” Sungguh pun tidak menolak secara berterang, namun kata-kata ini menyatakan ketidak-senangan hati dengan sumbangan itu, karena diberikan bukan pada saatnya yang tepat.

“Ha-ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa sambil mengelus jenggotnya yang kaku. “Sudah kukatakan tadi, pinceng orang miskin dan hanya suka mengumpulkan cilan. Karena mendengar bahwa para pimpinan Thian-liong-pang mempunyai kesukaan yang sama dengan pinceng, maka pinceng membawa dua belas tangkai kembang ini. Jangan Sicu (Tuan yang Gagah) khawatir, bunga-bunga ini masih murni, datang dari keluarga baik-baik dan sengaja kupilih untuk Sicu sekalian!”

Pada saat itu, si Tua Renta Sin-seng Losu yang tadinya duduk melenggut mengantuk di atas kursi, kini tiba-tiba nampak segar dan tidak mengantuk lagi. Ia duduk tegak di kursinya, matanya yang setengah lamur itu dilebar-lebarkan untuk memandangi dua belas orang gadis yang berlutut di atas lantai. Kemudian seperti seorang mimpi ia berkata, “Sumbangan paling berharga diberikan orang, kenapa banyak rewel? Kalau tidak suka, boleh giring semua ke kamarku!”

“Huah-ha-ha-ha!” Ci-lan Sai-kong tertawa bergelak sambil berdongak sehingga perutnya yang besar bergerak-gerak turun naik, “Sin-seng Losu benar-benar mengagumkan sekali. Orang boleh tua tapi hati harus tetap muda! Kalau Lo-suhu menghendaki, lain kali boleh pinceng kirim beberapa tangkai bunga yang lebih muda, lebih cantik dan lebih harum!”

“Heh-heh, terima kasih... ini sudah cukup... banyak....”

Biar pun dia sendiri seorang yang tidak pantang melakukan segala macam maksiat, namun sebagai calon ketua perkumpulan besar, Ma Kiu merasa malu juga mendengar percakapan kasar ini. Maka untuk mencegah agar suhunya yang sudah pikun dan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) Ci-lan Sai-kong itu tidak mengeluarkan omongan-omongan yang tidak patut lagi, ia segera menjura.

“Banyak terima kasih atas sumbanganmu, kami persilakan duduk dan menikmati hidangan sekedarnya!” sambil menyuruh adik-adik seperguruannya membawa para gadis itu ke belakang, ia sendiri lalu mengantar tamu ini ke tempat duduknya.

Hauw Lam mengerutkan alisnya. Mukanya yang tampan dan biasa bergembira itu berubah sama sekali, sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan. Kwi Lan melihat hal ini dan merasa heran. Mengapa pemuda, ini marah-marah?

“Kau kenapa?” Ia bertanya lirih.

“Kenapa? Hemm, tidakkah kau lihat mereka tadi...?” Hauw Lam menjawab dengan pertanyaan pula. “Ci-lan Sai-kong itu jai-hwa-cat terkutuk...”

“Apa itu jai-hwa-cat?”

Dalam kemarahannya, Hauw Lam berubah gemas dan mengomel. “Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa! Tidak mengenal masakan masih tidak aneh, akan tetapi seorang dara dengan kepandaian seperti kau ini yang patut menjagoi dunia kang-ouw, tidak tahu apa itu jai-hwa-cat benar-benar bikin hati mendongkol. Sekan-akan kau mempermainkan aku dan pura-pura tidak tahu!”

Kwi Lan makin heran melihat pemuda ini bertambah kemarahannya. “Eh, kau kenapa sih? Mabok agaknya, ya? Aku benar-benar tidak tahu, kau marah-marah. Hayo jelaskan, apa sih yang dinamakan jai-hwa-cat itu? Kakek itu menjemukan, buruk kasar dan menjijikkan, tapi ia seperti seorang pendeta. Apakah jai-hwa-cat itu seorang pendeta? Setahuku, pendeta suka memetik daun-daun dan menggali akar-akar untuk obat. Memetik bunga (jai-hwa) untuk apa?”

“Kau benar bodoh, Mutiara Hitam! Pendeta itu hanya berkedok pendeta, akan tetapi di balik kedoknya, ia penjahat yang sejahat-jahatnya. Yang dimaksudkan bunga adalah seorang gadis atau seorang wanita muda. Dia bukan memetik bunga biasa, melainkan tukang culik dan ganggu gadis-gadis muda, Kau lihat dua belas gadis itu....”

“Hemm, mereka itu orang-orang tidak punya guna. Mereka mau saja dijadikan barang sumbangan. Perlu apa dipikirkan boneka-boneka hidup itu?”

“Mereka dipaksa!”

“Ih, aku tidak melihat mereka dipaksa. Mereka berjalan dengan sukarela sama sekali tidak melawan.”

“Mereka orang-orang lemah, bagaimana berani melawan?”

Kwi Lan mengangkat kedua pundak. Ia tetap tidak mengerti dan tidak mempedulikan nasib dua belas orang wanita tadi. Hauw Lam makin mendongkol. Gadis aneh yang telah merampas hatinya ini agaknya selain berwatak luar biasa, juga hatinya keras dan tidak mempedulikan nasib orang lain.

Tiba-tiba terjadi keributan kembali dan masuklah dari ruangan depan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya tampan, sikapnya agung dan pakaiannya biar pun tidak baru, namun bersih dengan potongan pakaian pelajar. Di pinggang orang ini tergantung sebatang pedang. Begitu masuk, semua orang tahu bahwa pelajar tua ini sedang marah, sepasang matanya yang tajam mengeluarkan sinar. Ia langsung melangkah lebar ke dalam ruangan tamu, berhenti di depan Sin-seng Losu lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak.

“Sin-seng Losu! Bagaimana pertanggungan-jawabmu terhadap Thian-liong-pang? Kulihat betapa Thlan-liong-pang berubah menjadi perkumpulan iblis yang jahat dan yang mengotorkan nama kami para patriot Hou-han! Tadinya melihat muka mantumu, Siangkoan Bu yang gagah perkasa dan dapat membawa Thian-liong-pang ke jalan benar, aku masih bersabar menyaksikan sepak terjangmu. Akan tetapi setelah Siangkoan Bu meninggal, kau dan murid-muridmu makin merajalela melakukan kejahatan-kejahatan yang keji, menyeret nama bersih Thian-liong-pang sebagai tempat perkumpulan para patriot Hou-han menjadi perkumpulan bangsat-bangsat dan penjahat-penjahat!”

Mendengar ucapan ini Ma Kiu melompat bangun diturut sebelas orang adik seperguruannya. “Heh, orang she Ciam! Engkau dahulu memang tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi dengan kehendakmu sendiri kau pergi mengundurkan diri sehingga kalau tidak ada Suhu kami, tentu Thian-liong-pang sudah bubar dan hancur diperhina orang lain. Kini Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang besar, dihormati orang di dunia kangouw, dan kau berani datang bersikap kurang ajar terhadap Suhu? Apakah kau sudah bosan hidup?”

“Ciam-sicu, mengingat engkau masih bekas pemimpin Thian-liong-pang dan mengingat akan hubungan kita yang lalu, biarlah kumaafkan kata-katamu yang kasar tadi.” Terdengar Sin-seng Losu berkata tenang. “Akan tetapi katakanlah mengapa datang-datang kau memaki dan marah-marah? Bukankah anak buahku sudah pula memberi kabar kepadamu dan memberi undangan?”

“Aku tidak peduli akan upacara pengangkatan ketua baru, asal saja Thian-liong-pang dibawa ke jalan benar. Akan tetapi aku sedang mengejar Ci-lan Sai-kong si Penjahat Pemetik Bunga yang terkutuk, yang telah menculik belasan orang gadis. Siapa kira, dua belas orang gadis itu diculiknya untuk diantarkan ke sini! Hayo menyangkallah kalau bisa! Bukankah Sai-kong keparat itu mengantarkan mereka ke sini sebagai sumbangan? Beginikah wataknya para pimpinan Thian-liong-pang sekarang? Begini rendah dan bejat?”

“He-heh, Ciam-sicu. Apa pun yang dipersembahkan orang, kalau itu merupakan sumbangan, tidak baik untuk ditolak. Menolaknya berarti menghina dan tidak menghargai maksud baik orang lain. Memang kami telah menerima sumbangan Ci-lan Sai-kong. Akan tetapi kalau kau menghendaki mereka, biarlah kuberikan mereka kepadamu,” kembali Ketua Thian-liong-pang itu berkata penuh kesabaran. Ia sebetulnya tidak takut terhadap orang she Ciam itu, akan tetapi mengalah karena mengingat akan perhubungan mereka yang lalu.

Ciam Goan ini dahulu adalah seorang di antara pimpinan Thian-liong-pang dan terkenal aktif serta setia terhadap perkumpulan. Baru sepuluh tahun yang lalu ia mengundurkan diri dan tidak pernah mencampuri Thian-liong-pang karena makin tidak suka akan sepak terjang pimpinan baru. Baru sekarang ia tiba-tiba muncul dan marah-marah karena melihat betapa penjahat pemetik bunga yang dikejar-kejarnya itu memberikan gadis-gadis culikannya sebagai sumbangan kepada pimpinan Thian-liong-pang!

“Sin-seng Losu! Kau masih mempunyai rasa malu, itu bagus. Lekas bebaskan dua belas orang gadis itu dan selanjutnya aku tidak akan mencampuri urusan Thian-liong-pang lagi karena semenjak saat ini, aku bersumpah takkan sudi lagi menginjak lantai ini!”

Mendengar kata-kata ini, Sin-seng Losu menoleh ke arah dua belas orang muridnya. Sikapnya jelas hendak mengalah dan gerakan mukanya merupakan perintah agar murid-muridnya membebaskan dua belas orang gadis sumbangan Ci-lan Sai-kong. Di dalam hatinya Ma Kiu dan adik-adiknya merasa mendongkol dan marah sekali. Mereka memang suka dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi bagi mereka amat mudah mendapatkan wanita cantik, baik dengan mengandalkan uang, kedudukan, mau pun kepandaian dan tentu saja mereka tidak begitu kukuh, untuk menahan dua belas orang gadis tadi.

Akan tetapi sikap Ciam Goan amat merendahkan mereka dan kalau mereka mengalah, mereka merasa malu kepada para tamu. Selain itu, mereka pun tahu bahwa gurunya mengalah hanya karena mengingat bahwa Ciam Goan ini dahulu bekas pemimpin Thian-liong-pang. Soal kepandaian, sungguh pun Ciam Goan cukup lihai, namun mereka tidak gentar menghadapinya. Karena inilah, Ma Kiu menjadi ragu-ragu untuk menyetujui sikap gurunya yang mengalah.

Pada saat itu terdengar suara ketawa keras dan Ci-lan Sai-kong sudah melompat bangun menghadapi Ciam Goan. Sambil bertolak pinggang orang tinggi besar itu tertawa dan berkata. “Huah-ha-ha-ha! Cacing kurus yang bicara besar dan sombong! Engkau bilang mengejar dan mencari pinceng? Dua belas tangkai bunga itu adalah pinceng yang menyumbangkan kepada dua belas orang gagah Thian-liong-pang, dan karena pinceng masih berada di tempat ini, masih menjadi tanggung jawab pinceng!”

“Bagus! Memang aku akan membunuhmu, jai-hwa-cat!” bentak Ciam Goan dengan marah.

Bekas tokoh Hou-han ini tidak peduli akan semua tamu lain karena kemarahannya sudah meluap-luap. Yang membuat marah sekali bukan hanya melihat penjahat cabul penculik gadis-gadis remaja itu, melainkan terutama sekali karena melihat betapa Thian-liong-pang yang tadinya menjadi harapan para patriot Hou-han untuk membangun kembali kerajaan yang sudah runtuh, kini ternyata menyeleweng menjadi sarang penjahat kejam terkutuk. Maka kini dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya dan langsung menerjang Sai-kong itu dengan tusukan kilat ke arah dada.

Harus diketahui bahwa Ciam Goan ini adalah putera tunggal mendiang Ciam-ciangkun, seorang panglima Kerajaan Hou-han. Dalam hal ilmu pedang, ia telah digembleng oleh seorang pamannya, adik ibunya, juga seorang panglima, yaitu Panglima Giam Siong yang terkenal jagoan. Ilmu pedangnya bersumber kepada ilmu pedang Kun-lun-pai, maka mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan.

Mendengar suara angin pedang berdesing dan melihat serangan yang cepat ini, Ci-lan Sai-kong tidak berani memandang rendah. Sambil berseru keras ia sudah meloncat mundur sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah menghunus ke luar sebatang golok tipis yang mengkilap saking tajamnya.

Ujung pedang di tangan Ciam Goan sudah datang lagi dengan tusukan ke arah leher. Kini Ci-lan Sai-kong menggerakkan goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaga. Sai-kong ini adalah seorang ahli gwakang (tenaga luar) sehingga tenaganya amat besar.

Terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata beradu. Diam-diam Ciam Goan terkejut sekali. Untung tadi sudah menduga akan besarnya tenaga lawan, sehingga ia telah mengerahkan Iweekang dan ketika pedangnya ditangkis, ia dapat menghadapi tenaga keras dengan tenaga lemas. Dengan cara ini, walau pun tertangkis keras, pedangnya tidak terpental melainkan menempel pada golok sehingga tidak ada bahaya terlepas atau rusak.

Selagi Sai-kong itu terkejut karena tangkisannya yang keras tidak berhasil membuat pedang lawan terpukul jatuh, Ciam Goan sudah membuat pedangnya meleset dan langsung dengan gerakan nyerong pedangnya itu menyambar ke arah lengan kanan lawan. Inilah jurus ilmu pedang Kun-lun yang bernama Hun-in-toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung), amat berbahaya karena yang diserang bukan bagian tubuh lain melainkan lengan kanan yang memegang golok!

Hebatnya jurus ini adalah karena pedang itu akan terus mengulang gerakannya membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Kecepatannya mengandalkan kepada gerak pergelangan tangan, maka cepatnya bukan main dan lawan yang diserang tentu akan menjadi bingung.

Demikian pula dengan Ci-lan Sai-kong. Melihat pedang lawannya membabat ke arah lengan kanannya, ia kaget sekali dan cepat ia menarik lengan kanannya sambil memutar golok, siap membalas. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedang yang lewat ke sebelah kirinya itu kini membalik dengan kecepatan kilat dan telah membabat lagi ke arah pinggangnya! Tak disangkanya lawan akan dapat mengulangi serangan sedemikian cepatnya, maka ia pun menggerakkan golok menangkis.

Namun tetap saja Ciam Goan dapat terus menyambung serangannya. Begitu tertangkis, pedangnya membalik dan meluncur dengan babatan dari samping, demikian pula kalau dielakkan sehingga Sai-kong itu mengalami penyerangan berantai yang membuat dia repot menyelamatkan diri.

Akan tetapi Ci-lan Sai-kong juga bukan seorang lemah. Selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, juga ia sudah kenyang akan pengalaman bertanding. Inilah sebabnya maka menghadapi serangan Hun-in-toan-san yang amat lihai ini ia pun tidak kekurangan akal. Melihat betapa pedang lawan selalu membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya, sedangkan yang diserang adalah pinggang ke atas, tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan keras dan tubuhnya lalu rebah dan menggelinding ke atas tanah. Ia tidak hanya menggelinding untuk menyelamatkan diri, melainkan juga berguling untuk mendekati lawan dan goloknya menyambar-nyambar dari bawah, membabat kaki lawan dan juga ada kalanya menusuk ke arah perut.

Inilah Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan) yang amat berbahaya. Segera keadaan menjadi berubah. Kalau tadi Ciam Goan berada di pihak penyerang dan pendesak dengan jurus Hun-in-toan-san, kini si Penjahat Pemetik Bunga itu yang mendesak dengan Tee-tong-to. Ciam Goan menjadi repot sekali, harus meloncat ke sana ke mari dan pedangnya melindungi tubuh bagian bawah, bagian yang amat sulit dilindungi dengan pedang.

“Wah, ramai betul!” Hauw Lam berkata dengan wajah gembira. “Kalau tidak hati-hati orang she Ciam itu tentu akan celaka.”

“Tidak mungkin!” bantah Kwi Lan.

“Biar pun ilmu pedangnya hanya permainan kanak-kanak, sedikitnya ia lebih baik dari pada brewok itu.”

Hauw Lam melirik ke arah gadis ini. Terlalu sombongkah gadis ini, atau memang betul-betul berkepandaian begitu tinggi sehingga menganggap ilmu pedang Ciam Goan yang jelas bersumber ilmu pedang Kun-lun itu dianggap permainan kanak-kanak.

“Kumaksudkan bukan dalam pertandingan melawan Sai-kong itu. Melawan dia, kiranya takkan kalah karena kulihat Sai-kong itu hanya luarnya saja kelihatan kuat, akan tetapi dalamnya sudah lapuk seperti pohon tua, napasnya sudah hampir putus. Yang kukhawatirkan adalah orang-orang Thian-liong-pang. Lihat saja sikap Dua Belas Naga itu dan kurasa Ciam Goan belum tentu akan dapat meninggalkan tempat ini dengan selamat.”

Kini Kwi Lan yang merasa heran. Ia tidak berkata apa-apa, akan tetapi hatinya penasaran. Ia belum berpengalaman seperti Hauw Lam, tidak mengenal watak orang-orang kang-ouw.

Sementara itu, pertandingan antara dua orang itu makin seru. Kini Ci-lan Sai-kong tidak lagi menggunakan Tee-tong-to karena ia menjadi kelelahan sendiri setelah puluhan jurus ia lakukan tanpa hasil. Memang Tee-tong-to sungguh pun lihai dan berbahaya bagi lawan, namun untuk memainkannya membutuhkan tenaga dan napas panjang. Ada pun Ci-lan Sai-kong, sungguh pun terlatih baik dan banyak pengalaman, namun tepat seperti dikatakan Hauw Lam tadi, di sebelah dalam tubuhnya ia sudah lemah.

Sai-kong ini adalah seorang abdi nafsu, seorang yang selalu mengumbar nafsu sehingga tentu saja kekuatan-kekuatan sebelah dalam tubuhnya menjadi lemah dan mana ia mampu bertahan melawan seorang yang ulet dan kuat seperti Ciam Goan? Kini keringatnya sudah membasahi muka dan leher, napasnya mulai terengah-engah seperti orang dikejar setan.

Melihat keadaan lawan ini, Ciam Goan lalu mendesak dan menerjang dengan jurus Seng-siok-hut-si (Musim Panas Kebut Kipas). Jurus ini amat gencar seperti gerakan kipas di tangan, bahkan lebih gencar serangannya dari pada jurus Hun-in-toan-san tadi. Tiga kali Sai-kong itu mengelak dan menangkis, keempat kalinya ketika ujung pedang menotok iga kiri, ia cepat melakukan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk Bulan Depan Dada) untuk melindungi iganya dengan golok sambil tangan kirinya bergerak memukul dada lawan. Namun siapa kira, Ciam Goan sudah merobah gerakan pedangnya, ia tidak jadi menotok iga, melainkan memutar pedangnya ke kanan dan....

“Crakkkk!” lengan kiri Sai-kong itu terbabat putus sebatas siku!

“Aduhh...!” Sai-kong itu terhuyung dan Ciam Goan sudah menerjang maju untuk mengirim tusukan terakhir.

Akan tetapi pada saat itu tampak sinar putih meluncur cepat dan....

“Traanggg...!” pedang di tangan Ciam Goan terpental dan lepas dari pegangannya. Sebatang sumpit gading yang tadi menghantam pedang itu jatuh ke atas lantai di depannya.

Pucat wajah Ciam Goan. Kiranya Ma Kiu yang menyambitkan sumpit itu untuk menangkis pedangnya dan menyelamatkan nyawa Ci-lan Sai-kong. Lemparan sumpit saja sudah dapat meruntuhkan pedangnya. Baru lemparan sumpit begitu hebat, apa lagi kalau orangnya maju! Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Kepandaian Thai-lek-kwi memang hebat. Seorang saja sudah sehebat itu, apa lagi kalau Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang maju bersama. Akan tetapi aku Ciam Goan seorang laki-laki yang tidak takut mati. Majulah kalian semua dan mari kita mengadu nyawa di sini!”

Sikap Ciam Goan benar-benar amat gagah sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi kagum sekali. Diam-diam gadis ini sudah siap-siap untuk membela orang gagah itu. Ia mendengar kawannya berbisik, “Kalau dia dikeroyok, hemmm... akan kucabuti semua rambut dari muka Ma Kiu berikut bulu-bulu hidungnya!”

Mau tidak mau Kwi Lan tertawa geli mendengar ucapan ini. Karena gadis ini wajar dan polos, maka suara ketawanya tidak ia tahan-tahan. Padahal waktu itu keadaan sudah amat tegang dan amat sunyi. Tidak ada suara keluar dari para tamu yang menanti perkembangan selanjutnya yang menegangkan. Tentu saja suara ketawa gadis ini terdengar jelas.

Sin-seng Losu lalu bangkit berdiri. Suara ketawa Kwi Lan tadi seakan-akan menampar mukanya dan ia berkata, “Sudahlah, kami sedang hendak melakukan upacara penting, tidak perlu pertandingan dilanjutkan berlarut-larut. Apa lagi kami tidaklah serendah itu untuk melakukan pengeroyokan terhadap seorang yang tidak berapa pandai seperti Ciam-sicu, kau sudah berhasil mengalahkan Ci-lan Sai-kong, nah, tidak lekas pergi dari sini mau tunggu apa lagi?”

Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Aku harus tahu diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah dua belas orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong. Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan seorang yang mudah melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula!” Setelah berkata demikian, Ciam Goan memungut pedangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Ci-lan Sai-kong sudah ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu sudah dibersihkan oleh pelayan dan Ci-lan Sai-kong sudah disuruh mengaso di kamar belakang.

“Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan sekarang juga!” Sin-seng Losu berseru keras dan semua tamu bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing.

Biar pun merasa tak senang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri dengan muka melucu terpaksa bangkit juga. Suasana kembali menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thian-liong-pang yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya, terdengar nyata. Sambil berlutut murid itu memberikan panci kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari kursinya. Dengan kedua tangan ia memegang panci itu.

Pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut menghadap para tamu. Seorang murid lain datang pula dari belakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing menggonggong. Kiranya murid ini datang menyeret seekor anjing hitam ke depan gurunya. Tanpa berkata sesuatu Sin-seng Losu menggerakkan tangan kiri dengan dua jari terbuka, menusuk leher anjing hitam itu. Terdengar anjing itu menguik keras akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan tubuhnya diangkat ke atas. Dari lehernya yang berlubang bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke dalam panci tadi. Anjing tadi meronta-ronta dan menguik-nguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti berkelojotan. Bangkainya lalu dilemparkan ke sudut oleh si Murid yang lalu mengundurkan diri.

Beberapa orang pelayan lalu mengangkat bangkai itu ke belakang dan Kwi Lan mendengar suara Hauw Lam berbisik di belakangnya, “Hemm, tentu dimasak daging anjing itu.”

“Ihhh...!” Kwi Lan berseru kaget, akan tetapi mereka lalu mengalihkan perhatian lagi ke tengah ruangan di mana Sin-seng Losu memegang panci berisi darah anjing hitam.

Kakek ini lalu mengangkat panci tinggi-tinggi dan berkata, “Dengan disaksikan oleh Cu-wi sekalian, dan dengan syarat sudah ditentukan dalam perkumpulan Thian-liong-pang kami, saat ini aku menyerahkan kedudukan Pangcu (Ketua) kepada muridku yang pertama, Ma Kiu. Nyawa anjing hitam itu menjadi saksi dan darahnya menghalau semua iblis yang hendak mengganggu tugasnya!” Setelah berkata demikian, Sinseng Losu menyiramkan darah anjing hitam itu ke atas kepala Ma Kiu yang botak!

“Ihhh...!” kembali Kwi Lan berseru dan seperti terpesona ia pun menuangkan kecap dari botol ke dalam cangkirnya sampai penuh! Kecap itu kental dan merah seperti darah.

“Hemmm, benar-benar keji dan kotor,” bisik Hauw Lam di belakangnya. “Mutiara Hitam, aku sudah muak dan tanganku juga gatal-gatal karena diam saja sejak tadi di sini. Apakah menyaksikan lagak badut-badut ini kita harus diam saja? Hayo kau ramaikan tontonan di sini, kau tarik perhatian mereka dan aku akan masuk menolong gadis-gadis tadi. Atau aku yang memancing keributan sedangkan kau yang menolong...?”

“Ah, peduli amat dengan mereka. Kalau kau mau menolong, pergilah. Aku... aku ingin mencoba sampai di mana kelihaian mereka ini!”

Hauw Lam mengangguk, lalu diam-diam ia menyelinap pergi menggunakan kesempatan selagi semua orang mencurahkan perhatian kepada upacara pengangkatan ketua baru. Kwi Lan yang memang sejak tadi mendongkol dan tidak senang mendengar niat Hauw Lam hendak menolong dua belas orang gadis-gadis itu, entah mengapa hatinya makin tidak senang lagi. Dan kini ia ingin menumpahkan kemarahan hatinya kepada orang-orang Thian-liong-pang. Ia membawa cangkir kecap itu menuju ke depan, lalu berkata.

“Pangcu yang baru diangkat dengan siraman darah anjing. Kalau dia suka darah biarlah aku mengucapkan selamat dengan darah naga ini!” Kwi Lan tersenyum manis dan begitu ia menggerakkan tangan kanan, ‘darah’ dalam cangkirnya menyiram ke luar dan dengan kecepatan luar biasa menyambar kepala dan muka Ma Kiu yang masih berlepotan darah akan tetapi sudah duduk di kursi ketua yang tadi diduduki suhunya!

Namun Ma Kiu memang lihai. Tanpa turun dari kursinya, ia mengerahkan tenaga dan... berikut kursi yang didudukinya ia telah meloncat. Kursinya itu telah pindah ke kiri sejauh satu meter! Akan tetapi karena sambaran kecap itu luar biasa cepatnya, ia tidak dapat menghindarkan lagi sebagian kecap menyiram pipinya dan memasuki mulutnya. Ketika ia tahu bahwa yang menyiram mukanya adalah kecap, mengertilah Ma Kiu bahwa gadis itu sengaja mencari gara-gara. Akan tetapi karena tadi mengira bahwa gadis itu adalah utusan Jin-cam Khoa-ong, Ma Kiu masih menahan kemarahannya, lalu berseru dengan nada marah.

“Nona sebagai tamu yang kami hormati, sebagai utusan Pak-sin-ong yang kami muliakan, apakah arti perbuatanmu ini?”

Kwi Lan tersenyum mengejek. Sejak tadi ia sudah tidak senang kepada mereka, terutama Ma Kiu. Ia memang tidak peduli akan nasib dua belas orang wanita muda tadi, akan tetapi mereka itu ia anggap terlalu sombong, tidak memandang mata kepadanya sehingga melakukan apa saja di depannya seakan-akan ia tidak akan bisa berbuat sesuatu! Memang watak Kwi Lan aneh sekali dan ia hanya selalu menurutkan perasaan hatinya. Kalau perasaan hatinya suka, seperti terhadap Hauw Lam, ia pun akan bersikap baik.

“Artinya, Brewok, bahwa aku setuju dengan ucapan orang she Ciam tadi, bahwa Thian-liong-pang dipimpin oleh orang-orang yang busuk! Bahwa kuanggap engkau seorang yang suka mandi darah anjing hitam, tak patut menjadi Ketua Thian-liong-pang, patutnya menjadi tukang jagal anjing!”

Semua orang terbelalak kaget mendengar ini dan semua tamu menahan napas. Omongan itu merupakan penghinaan yang tiada taranya! Apa lagi bagi mereka yang mengenal bahwa dahulunya Ma Kiu adalah seorang tukang jagal, maka omongan gadis itu yang entah disengaja atau tidak mereka tidak tahu tentu amat menyakitkan hati ketua baru Thian-liong-pang ini. Dan memang sesungguhnyalah, setelah sesaat terbelalak seperti arca saking kaget dan herannya, wajah Ma Kiu perlahan-lahan menjadi merah sekali sampai ke telinganya. Kedua tangannya mencengkeram lengan kursinya dan kalau ia tidak ingat bahwa kursi itu adalah kursi ketua tentu lengan kursi itu telah diterkamnya hancur untuk melampiaskan kemarahannya.

“Bocah kurang ajar!” bentaknya, Suaranya menggetar saking marahnya. “Biar pun engkau utusan dari utara, apa kau kira kau boleh bersembunyi di balik nama Jin-Cam Khoa-ong untuk menghinaku?”

Kwi Lan tertawa, menggunakan tangan kanannya secara main-main meremas cangkir bekas kecap tadi sehingga cangkir itu hancur lebur menjadi tepung dalam genggaman tangannya yang berkulit halus, lalu berkata, “Siapa bilang aku kaki tangan Jin-cam Khoa-ong? Biar dia algojo manusia mau pun algojo anjing seperti engkau, aku sama sekali tidak mengenalnya. Siapa kesudian bersembunyi di belakang namanya?”

Mendengar ini kembali semua orang melengak kaget. Kalau dara remaja itu tadi bersikap ugal-ugalan dan kurang ajar, mereka semua mengira bahwa gadis itu adalah kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan hal itu tidaklah begitu aneh. Akah tetapi setelah kini gadis itu sendiri menyangkal menjadi orang Pak-sin-ong dan berani menghina tokoh besar itu pula di depan orang banyak, benar-benar mereka menjadi kaget dan heran sekali. Gilakah dara remaja ini? Kalau gila, alangkah sayangnya. Dara remaja ini begitu cantik jelita.

Lebih-lebih lagi Ma Kiu sendiri. Kemarahannya meluap-luap dan diam-diam ia pun lega bahwa dara ini bukan utusan Jin-cam Khoa-ong, karena dengan kenyataan ini ia boleh berbuat sesuka hatinya terhadap gadis ini.

“Bagus!” teriaknya sambil bangkit berdiri. “Kalau begitu, biarlah kau menjadi tawanan kami dan akan kau rasakan penderitaan yang akan membuat kau merindukan kematian!” Dalam suara ini terkandung ancaman yang hebat dan mengerikan.

Akan tetapi Kwi Lan tidak mengenal apa itu artinya takut dan ngeri. Ia malah tertawa. “Sudah, jangan membadut lagi. Sudah sejak tadi aku muak mendengar dan melihat segala yang terjadi di sini. Lekas keluarkan kuda hitamku, Nonamu hendak pergi!”

Sambil berkata demikian Kwi Lan menggunakan tangan kiri untuk mengebut-ngebutkan bajunya. Karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh bersama Hauw Lam dengan naik kuda, tentu saja pakaiannya banyak debunya dan begitu ia kebut-kebutkan, debu mengepul ke sekelilingnya dan mengotori meja-meja tamu lainnya.

“Wanita keparat! Kau belum tahu lihainya tuan besarmu!” Thai-lek-kwi Ma Kiu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan kini hendak melangkah maju.

Akan tetapi terdengar suara Sin-seng Losu di belakangnya. “Seorang ketua tidak sepatutnya melayani segala anak kecil. Apakah Thian-liong-pang sudah tidak ada orang lain untuk membereskan kuda betina liar ini? Hayo, siapa berani maju menangkapnya? Tangkap dan bawa ke kamarku, aku butuh yang liar macam ini untuk menambah semangatku!”

Untung bahwa Kwi Lan masih hijau dan tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek ini. Kalau ia tahu tentu ia takkan dapat menahan kemarahannya lagi.

Tiba-tiba dari golongan tamu melompat ke luar seorang laki-laki muda yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih. Pengemis muda ini menjura ke arah kursi ketua dan berkata, “Betul apa yang dikatakan Lo-suhu tadi. Thian-liong-pang tidak perlu repot-repot, di antara tamu-tamu yang hadir masih banyak yang sanggup menangkap bocah ini. Biarlah saya menangkap siluman cantik ini untuk Thian-liong-pang!”

“Ha-ha-ha, sahabat-sahabat dari Hek-coa Kai-pang memang selalu merupakan sahabat-sahabat baik kami. Tidak percuma bersahabat dengan Hek-coa Kai-pang. Silakan Siauw-sicu” kata Sin-seng Losu.

Pengemis muda itu dengan lagak sombong, mengangkat muka dan membusungkan dadanya, melangkah maju menghampiri Kwi Lan. Dia adalah seorang di antara dua pengemis muda yang tadi dipaksa menelan daging kambing oleh Kwi Lan, maka tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas penghinaan tadi. Akan tetapi karena wataknya memang mata keranjang, begitu melihat wajah jelita, hatinya sudah berdebar-debar dan timbul niat hatinya untuk mempermainkan Kwi Lan. Ia tersenyum dibuat-buat, matanya memandang kurang ajar, dan berkata,

“Nona kecil bermulut besar! Kau tidak tahu tingginya langit lebarnya bumi, berani mengacau Thian-liong-pang dan tidak memandang sebelah mata kepada para tamunya. Dosamu besar sekali dan sudah sepatutnya kau dihukum mati. Akan tetapi tuan mudamu yang melihat bahwa kau masih muda remaja dan cantik jelita, bersedia memberi ampun asal saja kau suka berlutut dan menganggukkan kepala delapan kali lalu berjanji akan melayani dengan manis segala kehendak Sin-seng Lo-suhu dan... aduuuhhh....” Pengemis muda itu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu mati dengan gosong dan tulang-tulangnya remuk. Pukulan Kwi Lan yang disertai kemarahan hebat itu membuat ia terlempar sampai menimpa meja di depan Ma Kiu si ketua baru!

Kagetlah semua yang hadir di situ. Terutama sekali lima orang pengemis anggota Hek-coa Kai-pang yang melihat seorang saudaranya dalam segebrakan saja terpukul tewas, segera melompat bangun dari tempat duduk masing-masing. Saudara muda mereka tadi, biar pun bukan anggota pimpinan teratas dari Hek-coa Kai-pang, namun merupakan seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi juga. Bagaimanakah dapat roboh binasa hanya sekali pukul oleh gadis remaja itu?

Sekali melompat mereka tiba di dekat meja Ketua Thian-liong-pang yang tertimpa tubuh saudara muda mereka dan begitu melihat dada dan muka pengemis muda itu biru menghitam, mereka mengeluarkan seruan kaget dan marah. Hek-coa Kai-pang adalah perkumpulan pengemis dunia hitam yang terkenal akan kelihaian mereka bermain racun. Kini seorang anggota mereka tewas oleh pukulan yang mengandung racun hebat!

“Thian-liong-pangcu, maafkan kami yang terpaksa harus turun tangan terhadap siluman betina ini!” berkata seorang di antara lima orang pengemis itu kepada Ma Kiu.

Setelah berkata demikian lima orang pengemis ini sudah meloncat dan mengurung Kwi Lan yang berdiri dengan sikap tenang. Di tangan mereka tampak pedang yang sudah siap untuk menerjang dan mengeroyok. Akan tetapi melihat pukulan beracun yang hebat itu, pula mendengar bahwa gadis itu tadi menyangkal sebagai utusan Pak- sin-ong, pengemis tertua berlaku hati-hati dan berkata.

“Nona muda, engkau sudah berani lancang tangan membunuh seorang di antara saudara kami. Hayo mengaku, siapakah engkau dan dari partai mana agar kami dapat mempertimbangkan tindakan kami selanjutnya terhadap dirimu.” Kata-kata ini mengangkat kedudukan para pengemis itu ke tempat atas dan memang inilah yang dimaksudkan oleh pengemis itu untuk menutup rasa malu karena mereka berlima mengurung seorang nona muda.

“Apakah kau tuli? Tadi sudah diperkenalkan namaku Mutiara Hitam, bukan dari partai mana pun juga. Saudaramu mampus oleh tingkahnya sendiri. Apakah masih ada lagi yang sudah ingin mampus? Kalau ada, boleh maju biar aku membantunya pergi ke neraka agar dunia ini tidak terlalu kotor. Kalau tidak ada, hayo keluarkan kuda hitam, Nonamu sudah jemu dan ingin pergi dari sini.”

Pengemis tua itu tak dapat menahan kemarahannya dan berseru. “Saudara-saudara, kalau kita tidak dapat membalas kematian saudara muda kita, percuma saja menjadi anggota Hek-coa Kai-pang!” Seruan ini merupakan komando bagi teman-temannya dan serentak mereka menggerakkan pedang mengirim serangan.

Akan tetapi lima orang pengemis ini hanya melihat si Nona menggerakkan kedua tangannya tanpa berpindah tempat dan... pedang mereka membalik dan menghantam diri mereka sendiri. Benar-benar amat luar biasa gerakan kedua tangan Kwi Lan ini. Setiap sambaran pedang ia sambut dengan tangan terbuka dan dengan gerakan aneh yang mengeluarkan hawa pukulan amat kuatnya. Pedang yang menyambar dadanya membalik ke dada si Pemegang Pedang, yang menyambar pundak membalik ke pundak si Penyerang dan demikian seterusnya sehingga terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika lima orang pengemis ini roboh berturut-turut oleh bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mereka sendiri!

Melihat gerakan luar biasa yang mendatangkan akibat aneh itu, Ma Kiu yang berkepandaian tinggi maklum bahwa biar pun masih amat muda, gadis itu benar-benar lihai sekali. Kalau tidak lekas turun tangan membekuk atau membinasakan gadis yang mengacau perkumpulannya ini tentu setidaknya akan mengurangi keangkeran Thian-liong-pang, demikian pikirnya.

Maka ia lalu berseru. “Tangkap siluman ini!” Ia memberi isyarat dan sebelas orang adik seperguruannya mengikuti gerakannya menghampiri Kwi Lan.

Gadis ini teringat akan cerita Hauw Lam, akan kehebatan Cap-ji-liong yang katanya disegani oleh tokoh-tokoh kang-ouw, maka ia bersikap hati-hati namun wajahnya tetap berseri dan bibirnya tersenyum mengejek.

“Inikah yang disebut Dua Belas Ekor Naga dari Thian-liong-pang? Hemm, Sungguh gagah!” kata Kwi Lan sambil tersenyum.

Merah muka Ma Kiu. Sebagai ketua baru Thian-liong-pang, sungguh amat memalukan kalau ia harus maju bersama sebelas orang sute-nya untuk mengeroyok seorang gadis remaja. Nama Cap-ji-liong sudah tersohor. Masa kini menghadapi seorang gadis remaja mereka harus maju bersama? Akan tetapi gadis ini aneh ilmu silatnya, dan kalau sekali turun tangan Cap-ji-liong tidak mampu merobohkannya, hal itu akan lebih memalukan lagi.

“Bocah, kalau kau sudah mendengar tentang Cap-ji-liong, mengapa banyak tingkah? Cap-ji-liong selamanya maju bersama. Karena kau menjadi tamu, berarti kami kurang sopan kalau turun tangan di sini. Jika engkau benar-benar berani kami menantangmu untuk mengadu kepandaian di ruangan silat!”

Ucapan ini sedikit banyak menghapus rasa malu pihak Thian-liong-pang karena berarti bahwa dua belas orang tokohnya bukan sekali-kali hendak mengeroyok begitu saja, melainkan telah melakukan tantangan secara berterang. Kalau gadis ini tahu diri dan menolak tantangan lalu pergi meninggalkan tempat itu tentu Cap-ji-liong tidak akan menghalanginya. Semua tamu menduga bahwa gadis itu tentu akan mempergunakan kesempatan ini untuk pergi menyelamatkan diri, karena melawan Cap-ji-liong berarti mencari mati. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat gadis itu tersenyum lebar dan menjawab,

“Kalian menantangku? Boleh, siapa takut akan pengeroyokan kalian? Hayo, hendak kulihat seperti apa kepandaian Cap-ji-liong!” Kwi Lan yang tidak mengenal apa artinya takut, tentu saja tidak dapat menolak tantangan ini, yang diucapkan dengan kata-kata ‘kalau ia berani’! Ia seorang gadis remaja yang baru saja turun ke dunia ramai, sama sekali belum berpengalaman dan hanya mengandalkan kepandaian luar biasa serta keberanian saja. Kalau ia berpengalaman, tentu ia akan menaruh curiga mengapa Cap-ji-liong menantangnya dengan memilih tempat.

“Bagus!” seru Ma Kiu. “Mari ke lian-bu-thia (ruangan silat), biarlah para tamu yang terhormat menjadi saksi bahwa kau menerima tantangan Cap-ji-liong untuk bertanding di lian-bu-thia!”

Sambil membusungkan dada, sedikit pun tidak gentar, Kwi Lan berjalan mengikuti Ma Kiu ke ruangan belakang di mana terdapat ruangan silat yang luas dan berbentuk bundar. Sebelas orang adik seperguruan Ma Kiu berjalan di belakangnya, kemudian berbondong-bondong para tamu yang ingin menyaksikan pertandingan itu membanjiri ruangan silat pula.

Kini mereka telah berhadapan. Kwi Lan memperhatikan mereka. Ma Kiu yang menjadi pimpinan berdiri di tengah sedangkan sebelas orang lain berdiri di kanan kirinya. Mereka tampak gagah dan kereng. Melihat gerak-gerik mereka, memang dapat dibayangkan bahwa Cap-ji-liong rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Juga usia dan pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang sudah tua, ada yang masih amat muda. Ada yang berpakaian seperti tosu, ada yang gundul seperti hwesio, dan ada yang berpakaian seperti pelajar.

Anehnya, kini mereka telah memakai sebuah tali yang mengikat kepala mereka, tali yang dipasangi sebuah batu permata kuning dan terpasang di atas dahi mereka. Juga Ma Kiu kini memakai tali semacam itu. Ia tidak tahu bahwa itulah tanda khas tokoh Thian-liong-pang dan batu kuning itu diberi nama mustika naga.

“Majulah!” Kwi Lan menantang, sikapnya acuh tak acuh.

“Set-set-set!” terdengar suara teratur ketika kaki dua belas orang itu mulai bergeser dengan cepat mengatur barisan mengurung. Mereka tidak melangkah, tidak mengangkat kaki melainkan bergeser sehingga sepatu mereka menimbulkan suara di atas lantai. Keadaan menjadi hening dan tegang, semua tamu memandang ke arah Kwi Lan yang menjadi pusat perhatian karena nona ini sudah terkurung di tengah-tengah!

Dua belas orang itu masih terus bergerak menggeser kaki sehingga tubuh mereka bergerak mengitari Kwi Lan, suara geseran kaki mereka kini berbunyi susul-menyusul seperti desis ular. Kwi Lan masih berdiri diam tak bergerak, hanya biji matanya yang bergerak-gerak, mengerling dan mengikuti gerakan mereka di sebelah depan. Kedua telinganya memperhatikan gerakan di belakangnya dengan seksama, setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap sedia, akan tetapi wajahnya masih tenang dengan senyumnya mengejek

Tiba-tiba saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang tiba. Seorang anggota Cap-ji-liong yang muda, bertubuh tinggi kurus bermuka seperti tikus, dengan teriakan nyaring menerjang Kwi Lan dari sebelah belakang. Agaknya laki-laki muda ini tertarik oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh Kwi Lan sehingga ia menyerang bukan memukul, melainkan memeluk ke arah pinggang dengan kedua lengannya. Namun gerakannya ini mendatangkan angin hebat dan tak boleh dipandang ringan.

Pada detik berikutnya, anggota lain, seorang tosu, mengulur tangan dari sebelah kiri untuk mencengkeram pundak, disusul serangan saudaranya dari depan, kanan, dan kemudian dua belas orang itu sudah bergerak serentak susul-menyusul dengan teratur baik sekali. Gerakan mereka yang teratur itu lebih merupakan gerakan dalam sebuah barisan dan sekaligus mereka telah menutup semua jalan ke luar bagi Kwi Lan! Kiranya Ma Kiu dan adik-adiknya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan sekali turun tangan mereka tidak main-main lagi.

Pendengaran Kwi Lan yang tajam mewakili matanya. Ia tahu bahwa penyerang pertama datang dari belakang. Dengan mudah ia mendoyongkan tubuh mengelak, kemudian secara tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah tangan tosu yang mencengkeram pundak kirinya, disambut dengan gerakan meloncat ke atas dan melihat betapa para pengeroyoknya turun tangan secara bergiliran, tubuhnya yang meloncat ke atas itu tiba-tiba melakukan gerak berputaran secara cepat sekali. Hebat bukan main gerakan gadis ini, cepat dan aneh. Karena gerakan memutar di udara ini sukar diikuti gerakan tangan dan kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah menangkis semua serangan lawan dengan tangan atau dengan kaki, bahkan masih berkesempatan membagi pukulan dan tendangan yang mengenai empat orang lawannya.

Mereka mengaduh dan berseru kaget, tak menyangka bahwa selain dapat bergerak secepat itu, bekas tangan atau kaki gadis itu amat berat menimpa pundak dan dada. Sesaat barisan itu kacau, akan tetapi Ma Kiu berseru keras dan barisan menjadi rapi kembali pada saat gadis itu sudah menurunkan tubuhnya dan berdiri di tengah kurungan. Ia tersenyum-senyum karena dalam gebrakan pertama ini ia berhasil memperlihatkan kelihaiannya!

Kini para tamu menjadi berisik sekali. Mereka kagum dan kaget bukan main. Ketika tadi dua belas orang itu menyerang secara bertubi-tubi dan setiap serangan merupakan pukulan dan cengkeraman yang lihai, diam-diam mereka menduga bahwa gadis ini mencari mati. Akan tetapi siapa kira gadis itu dapat bergerak seperti kilat cepatnya dan hampir sukar dipercaya betapa gadis itu bukan hanya dapat menangkis semua serangan, juga dapat memukul dan menendang empat orang pengeroyoknya, biar pun hal itu dilakukan cepat-cepat dan tergesa-gesa sehingga tidak tepat kenanya.

Gerakan pertama ini membuka mata Ma Kiu. Ia maklum bahwa biar pun dalam hal tenaga mereka semua tidak akan kalah oleh lawan. Akan tetapi dalam hal kecepatan gerak mau pun dalam hal ilmu silat yang luar biasa, gadis itu benar-benar merupakan lawan tangguh. Dia tadi berlaku sungkan sehingga mengeluarkan komando untuk bergerak satu-satu secara bergiliran, siapa tahu, karena ia sungkan empat orang adiknya mengalami pukulan dan tendangan.

Sekali lagi ia berseru keras dan kali ini dua belas orang itu menerjang maju secara berbareng! Hanya lima orang yang menyerang langsung ke arah tubuh Kwi Lan. Sedangkan yang tujuh orang menghantam ke tengah, ke atas, ke bawah dan sekitar tempat Kwi Lan berdiri sehingga mereka telah menutup semua jalan ke luar. Kemana pun gadis ini hendak bergerak, ia akan disambut hantaman yang dilakukan dengan pengerahan Iweekang!

Hal ini sama sekali tak diduga oleh Kwi Lan. Gadis ini terkejut juga, maklum bahwa keadaannya berbahaya. Baru ia tahu bahwa Cap-ji-liong benar-benar hebat dan tangguh. Biar pun kalau melawan mereka satu-satu, ia sanggup merobohkan mereka itu dalam waktu singkat, akan tetapi kalau mereka maju berbareng amatlah sukar dilawan. Ia berseru keras, tidak bergerak dari tempatnya, melainkan menggunakan kaki tangan menangkis dan jari tangannya menotok ke arah pergelangan tangan lima orang yang menyerangnya secara berturut-turut.

Akan tetapi tiba-tiba lima orang penyerang itu menarik kembali penyerangan mereka dan barisan bergeser terus, disusul lima orang lain yang menyerang secara tiba-tiba, dibantu tujuh orang yang mencegat jalan ke luar! Setiap menyerang, lima orang itu mengambil kedudukan ngo-heng, dan setiap kali melihat bahwa serangan itu akan gagal, barisan yang terus bergeser itu menarik kembali serangan untuk di ulang dengan perubahan-perubahan mendadak yang sukar untuk diduga sebelumnya.

Kwi Lan merasa kewalahan. Dahinya yang putih halus itu mulai berkeringat. Ia bukan takut, akan tetapi jengkel dan penasaran sekali! Ketika untuk kesekian kalinya lima orang lawan menyerangnya dan kepalanya sudah mulai pening karena mencurahkan perhatian dan menduga-duga perubahan, ia berseru keras, mencabut pedangnya dan memutar pedang itu ke sekelilingnya.

Tidak tampak gerakannya ini saking cepatnya. Tahu-tahu dua belas orang itu mencium bau yang wangi dan tampak oleh mereka sinar hijau bergulung-gulung seperti naga sakti bermain di angkasa, seperti hawa yang dingin sekali.

“Awas... mundur dan siapkan senjata...!” Ma Kiu berseru keras.

Barisannya melebar dengan cepat, namun masih saja ada dua orang yang terkena serempetan ujung pedang Siang-bhok-kiam sehingga pangkal lengan mereka terluka mengeluarkan darah. Lagi-lagi kurang tepat kenanya karena Kwi Lan tidak menggunakan pencurahan perhatian sepenuhnya dan tadi hasilnya ini pun hanya kebetulan saja. Bagaimana ia dapat mencurahkan perhatiannya dalam sebuah serangan kalau lawannya yang dua belas orang banyaknya itu selalu bergerak secara membingungkan?

Kini terdengar suara nyaring dan semua anggota Cap-ji-liong sudah memegang senjata masing-masing. Ada yang memegang toya, ada yang membawa pedang, golok, thi-pian (pecut besi), siang-kek (sepasang tombak cagak), poan-koan-pit (senjata penotok jalan darah seperti pena bulu), tombak tiat-kauw (gaetan besi) dan lain-lain. Ma Kiu sendiri bersenjatakan sepasang pedang panjang yang kelihatan berat.

Para tamu makin tegang. Setelah kini kedua pihak menggunakan senjata, tak dapat disangsikan lagi gadis itu tentu akan mati dalam keadaan tubuh tidak utuh. Setiap anggota Cap-ji-liong memiliki ilmu kepandaian khusus, bahkan sebelum menjadi murid Sin-seng Losu mereka itu adalah ahli-ahli silat kelas satu. Kini mereka maju bersama, dapat dibayangkan betapa hebatnya.

“Ha-ha-ha-ha! Sayang sekali kau akan tercincang mati... bunga liar seperti engkau sukar dicari...!” Tiba-tiba terdengar suara Sin-seng Losu yang tadi kelihatan bersungut-sungut ketika beberapa orang di antara murid-muridnya ada yang terluka.

Kakek ini sejak tadi melenggut di atas kursi, menonton pertandingan sambil merem-melek. Kelihatannya saja ia melenggut dan mengantuk tak acuh, padahal sebenarnya ia menonton dengan hati penuh penasaran karena semenjak tadi, belum juga ia dapat mengetahui dari aliran mana ilmu silat gadis ini! Hal ini benar-benar membuat ia kaget dan heran.

Biar pun ia sudah terlalu tua sehingga tenaga dan napasnya sudah berkurang banyak dan kalau bertanding, dia sendiri tidak akan dapat mengatasi keampuhan Cap-ji-liong, akan tetapi pengetahuannya dalam ilmu silat sudah amat dalam. Ia kenal baik hampir semua aliran ilmu silat di dunia ini. Akan tetapi sekali ini, setelah melihat gadis itu bersilat sampai puluhan jurus, mengapa ia sama sekali tidak mengenal aliran ilmu silat yang dimainkan? Ia anggap luar biasa sekali ilmu silat gadis itu. Mirip-mirip ilmu silat Kun-lun-pai, gerakan pedang seperti Kong-thong-pai, akan tetapi ketika menotok hampir sama dengan ilmu totok Im-yang-tiam-hoat yang lihai dari Siauw-lim-pai. Akan tetapi semua itu hanya mirip saja, dan sama sekali bukan aslinya, bahkan kadang-kadang berlawanan dengan aslinya!

Hal ini memang tidak mengherankan kalau orang mengenal dari mana Kwi Lan mendapatkan semua ilmu yang aneh itu. Gurunya adalah seorang wanita yang luar biasa, yang puluhan tahun menyembunyikan diri dan menelan segala macam ilmu tanpa ada yang menuntun. Dalam istana bawah tanah terdapat banyak sekali kitab pelajaran ilmu silat peninggalan mendiang Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian yang mencuri kitab-kitab itu dari partai-partai besar. Karena jiwa Kam Sian Eng, guru Kwi Lan, memang tidak sehat alias tidak normal, maka ketika mempelajari semua ilmu itu ia telah menyeleweng dan ilmu yang asli berubah, menjadi ilmu aneh dan ganas.

Kwi Lan juga mempelajari kitab-kitab itu sendirian saja, hanya menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya. Justru sedikit petunjuk itu menyeleweng dari pada aslinya, maka dapat dibayangkan betapa hasil ilmu yang ia kuasai tentu saja lebih aneh dan lebih menyimpang dari aslinya! Melihat cara Kwi Lan bersilat, jangankan Sinseng Losu, biar tokoh-tokoh dari partai yang memiliki kitab yang tercuri itu sendiri tentu takkan mampu mengenal ilmunya sendiri.

Ucapan mengejek dari Sin-seng Losu tidaklah berlebihan. Memang ilmu pedang Kwi Lan hebat dan luar biasa. Baru dari pedangnya yang berupa sebatang pedang kayu wangi sudah membuktikan bahwa gadis ini biar pun masih remaja, namun sudah mencapai tingkat yang dinamakan tingkat ‘yang lunak mengalahkan yang keras’, yaitu tingkat ahli pedang yang sudah pandai mengatur tenaga yang dikendalikan hawa sakti sehingga setiap benda lemas dapat dipergunakan untuk melawan senjata keras.

Akan tetapi, menghadapi pengurungan dua belas Cap-Ji-liong yang mempergunakan dua belas macam senjata ini Kwi Lan benar-benar terdesak hebat. Senjata lawan menyambarnya seperti hujan dan hanya dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan ilmu pedangnya yang aneh maka sementara itu ia masih mampu bertahan. Seperti juga tadi, dua belas orang pengeroyoknya itu tidak mengeroyok secara serampangan saja, melainkan mengurungnya dengan membentuk barisan yang kokoh kuat. Perlahan akan tetapi pasti mereka mulai menekan dan mendesak.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari sebelah dalam. Terdengar teriak-teriakan orang yang riuh rendah saling bersahutan.

“Kebakaran...! Kebakaran...!”

“Tangkap bocah setan...!”

“Celaka, tawanan gadis-gadis itu dilarikan...!”

Semua tamu terkejut dan dua belas orang Cap-ji-liong yang sudah mulai mengurung dan mendesak Kwi Lan terpengaruh oleh teriakan-teriakan ini sehingga tekanan kepada gadis itu agak mengendur. Pada saat itu berkelebat bayangan yang tertawa-tawa, “Ha-ha-ha, sungguh memalukan. Dua belas ekor monyet tua mengeroyok seorang gadis jelita! Dua belas ekor naga kini menjadi dua belas ekor monyet buntung!”

Kiranya bayangan ini bukan lain adalah Hauw Lam yang dengan gerakan cepat sudah meloncat dan memutar goloknya menerjang barisan pengepung sehingga terbukalah barisan itu. Melihat ini, Ma Kiu mengeluarkan aba-aba. Barisan yang diterjang Hauw Lam sengaja membuka ‘pintu’ dan pemuda ini pun sekarang masuk ke dalam pengurungan dua belas orang tangguh itu.

“Eh, Mutiara Hitam. Kita datang bersama, mana bisa sekarang engkau berpesta-pora sendiri saja melabrak dua belas ekor monyet tua ini? Aku ikut. Hayo kita sekarang berlomba. Kita beradu punggung, dan lihat pedangmu atau golokku yang lebih dulu membabat mampus mereka ini!”

Kwi Lan tersenyum. Ia tadi sudah tertekan dan terdesak hebat. Namun seujung rambut ia tidak merasa gentar. Ia tadi sudah siap-siap, kalau sampai ia kalah dan harus roboh di tangan dua belas orang pengeroyoknya, ia tentu akan menyeret beberapa orang di antaranya, terutama sekali Ma Kiu untuk tewas bersamanya! Untuk niat ini ia sudah menggenggam tujuh jarum hijau di tangan kirinya! Sekarang melihat munculnya Hauw Lam yang mengajak ia berlomba, timbul kegembiraannya dan ia berseru.

“Berandal cilik! Kau lihat betapa aku merobohkan mereka!” Setelah berkata demikian, Kwi Lan mainkan pedangnya menerjang maju. Empat orang di depannya cepat mengangkat senjata untuk menangkis dan balas menyerang, akan tetapi pada saat itu tangan kiri Kwi Lan bergerak dan sinar hijau menyambar ke depan.

“Awas...!” Ma Kiu berseru memperingatkan adik-adiknya.

Namun, jarum-jarum hijau yang halus itu disambitkan dari jarak dekat sehingga biar pun empat orang itu berusaha mengelak, dua orang di antara mereka kurang cepat dan robohlah mereka sambil mengeluarkan jeritan kesakitan. Murid-murid Thian-liong-pang segera menolong mereka ini dan kini sepuluh orang pengeroyok menerjang dengan marah sekali.

Hauw Lam tertawa-tawa dan sambil berdiri saling membelakangi, dia dan Kwi Lan memutar senjata menghadapi para pengeroyok. Lega hati Kwi Lan setelah kini ia dibantu Hauw Lam. Tadi yang membuat ia amat repot adalah penyerangan lawan yang berada di belakangnya. Akan tetapi kini ia tidak usah lagi memperhatikan bagian belakang, maka ia kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Setiap ada serangan datang ia tidak mengelak, akan tetapi langsung menyambut serangan ini dengan tusukan atau totokan yang mendahului sehingga si Penyerang terpaksa menarik kembali serangannya.

“Semua mundur...!” tiba-tiba Ma Kiu berteriak keras memberi perintah kepada adik-adiknya

Sepuluh orang itu serentak melompat mundur sambil menggerakkan tangan kiri. Maka berhamburanlah senjata-senjata rahasia yang berbentuk peluru bintang, bagaikan hujan menyerang Hauw Lam dan Kwi Lan. Dua orang muda itu cepat memutar golok dan pedang, memukul runtuh semua senjata rahasia.

“Wah, kau yang mengajari monyet-monyet itu. Sekarang mereka membalas. Lebih baik kita lekas pergi dari sini!” Hauw Lam mengomel.

Kwi Lan setuju akan usul ini, maklum betapa besar bahayanya kalau pihak lawan mulai menyerang dari jauh dengan senjata rahasia. Akan tetapi sebelum mereka sempat mendapatkan jalan ke luar untuk melarikan diri, tiba-tiba lantai yang mereka injak tergetar dan dengan suara keras lantai itu terbuka, nyeplos ke bawah.

“Celaka...!” Hauw Lam berseru dan bersama Kwi Lan tubuhnya terjeblos ke bawah tanpa dapat dicegah lagi!

“Cari pegangan...!” Hauw Lam berseru pula dan merentangkan kedua tangannya. Goloknya ia tusuk-tusukkan ke samping dan akhirnya tangan kirinya berhasil meraba dinding. Ia menggerakkan tubuh sehingga tubuhnya yang meluncur itu terbanting ke kiri, menubruk dinding dan di lain saat tubuhnya tergantung pada gagang golok yang dipegangnya erat-erat.

Akan tetapi Kwi Lan yang memiliki ginkang luar biasa itu, dengan menggerak-gerakkan kaki tangannya dapat memperlambat luncuran tubuhnya, bahkan ketika kedua kakinya menyentuh dasar sumur, tubuhnya membalik lagi ke atas sampai dua meter lebih, seakan-akan di kedua kakinya dipasangi per yang lemas sekali.

“Mutiara Hitam... kau di mana...?” terdengar suara Hauw Lam di atas.

Kwi Lan sudah duduk di atas tanah berbatu dan menjawab, “Di bawah sini. Turunlah. Mau apa kau bergantungan disitu?”

Hauw Lam menengok ke bawah. Sinar yang masuk dari atas memberi penerangan suram, akan tetapi ia dapat melihat betapa gadis itu sudah duduk enak-enakan di sebelah bawah, kira-kira tiga meter dari tempat ia bergantung. Ia mengerahkan tenaga, mencabut goloknya dan meloncat turun di dekat gadis itu. Pada saat itu terdengar suara berderit keras dan lobang di sebelah atas itu tertutup rapat kembali. Keadaan menjadi gelap gulita, melihat tangan sendiri pun tak tampak!

“Wah, kita seperti dua ekor tikus masuk perangkap!” Hauw Lam berkata berusaha untuk tertawa, akan tetapi menahannya karena khawatir kalau-kalau membuat gadis itu tak senang.

“Kau kenapa? Mau tertawa, tertawalah. Mengapa memandang kepadaku seperti orang ragu-ragu? Kau kira aku takut? Huh, enak di sini!” kata Kwi Lan yang segera duduk melonjorkan kedua kakinya.

Hauw Lam terkejut. “Apa kau bilang...? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku... eh, Mutiara Hitam, apakah engkau mempunyai nama seperti kucing?”

“Hemm, kalau aku kucing, engkau tikus! Sudahlah, jangan rewel dan lebih balk kau ceritakan apa yang kau lakukan tadi.”

Tentu saja Hauw Lam tidak tahu bahwa gadis ini semenjak kecil tinggal di bawah tanah, di dalam istana bawah tanah sehingga ia merasa enak berada di bawah tanah! Karena semenjak kecil biasa hidup di tempat gelap, Kwi Lan memiliki mata yang sudah biasa dengan kegelapan dan dapat melihat benda di dalam gelap, setidaknya lebih awas dari pada orang biasa. Mendengar suara gadis itu tidak dibuat-buat, diam-diam ia merasa semakin kagum dan suka. Gadis ini benar-benar hebat, pikirnya. Selain cantik jelita seperti dewi, juga wajar dan polos, ditambah kepandaian yang amat tinggi.

Tadi ketika dikeroyok Cap-ji-liong, gadis ini sudah memperlihatkan bahwa ia memiliki kepandaian yang benar luar biasa. Jarang ada tokoh yang mampu mempertahankan diri dari pengeroyokan Cap-ji-liong, apa lagi melukai dua orang di antara mereka dalam pengeroyokan. Dan sekarang, biar pun telah terjebak masuk ke dalam sumur, gadis ini masih bersikap tenang dan enak saja, sama sekali tidak membayangkan sikap takut-takut.

“Nanti dulu, paling penting aku harus menyelidiki keadaan tempat ini, mencari jalan keluar,” kata Hauw Lam sambil mengulur kedua lengan ke depan, meraba-raba.

“Tak usah kau selidiki lagi. Percuma, sumur ini sengaja dibuat untuk menjebak musuh. Dindingnya terbuat dari batu tebal, tingginya lima tombak lebih dan di atas ditutup lembaran besi yang atasnya dipasangi tegel, dan dapat terbuka atau tertutup sendiri dengan alat rahasia.”

Kembali Hauw Lam menjadi heran. Gadis ini bicara seakan-akan tidak berada di dalam gelap, seperti menceritakan keadaan yang dilihatnya dengan nyata. Ia tidak percaya, lalu kedua tangannya meraba-raba dinding. Dan memang betul apa yang dikatakan gadis itu. Dinding sumur itu segi empat, lebarnya tiga meter tiap segi, dan terbuat dari pada batu tebal. Karena bagi Hauw Lam tempat itu amat gelap, ia tidak dapat melihat apa-apa ketika meraba-raba sehingga tiba-tiba ia meraba kepala gadis itu!

“Eh-eh, mau apa kau? Seperti orang buta saja!” Gadis itu membentak.

“Wah, maaf... aku... aku memang seperti buta di sini...”

“Duduklah dan jangan berkeliaran.”

Hauw Lam lalu duduk di atas lantai sumur. Tanah padas berbatu itu agak basah. Betapa pun juga ia tidak dapat bersikap masa bodoh seperti gadis ini. Masa mereka harus menerima kematian seperti dua ekor tikus dalam sumur? Ia harus berdaya untuk keluar dari dalam sumur ini. “Mutiara, aku tidak mengerti bagaimana kau dapat mengetahui keadaan sumur ini. Akan tetapi kalau dalamnya benar lima tombak, tak mungkin kita meloncat ke luar dari sini. Biar pun begitu, dengan bantuan golok dan pedangmu, aku dapat meloncat-loncat sambil menancapkan golok dan pedang bergantian pada dinding, terus sampai keluar. Setelah itu aku akan mencari tambang untuk menarikmu ke luar pula.”

“Eh, takutkah engkau di sini?”

“Bukan takut! Akan tetapi kita harus mencari jalan ke luar.”

“Hemm, bagaimana kau akan membuka penutup besi di atas itu? Pula, siapa tahu begitu kau keluar, hujan senjata akan menyambutmu?”

Hauw Lam terkejut. Beralasan juga kata-kata gadis ini. “Habis... bagaimana...?”

“Kita menanti kesempatan, dan sementara itu duduk mengaso di sini dan kau ceritakan apa yang terjadi tadi.”

Malu juga rasa hati Hauw Lam mendengar suara gadis itu yang amat tenang. Ia lalu bercerita. Ketika tadi melihat datangnya Ci-lan Sai-kong yang menggiring dua belas orang gadis-gadis muda yang diculik, Hauw Lam marah bukan main. Akan tetapi ia menahan-nahan perasaan hatinya dan setelah mendapat kesempatan ia lalu menyelinap ke dalam pada saat perhatian semua orang tertarik oleh perbuatan Kwi Lan yang amat berani.

Setelah tiba di ruangan belakang, ia menyergap dan menotok seorang anggota Thian-liong-pang. Dari orang inilah ia mendapat keterangan tentang dua belas orang gadis itu yang ditahan di kamar belakang, dijaga oleh empat orang anggota Thian-liong-pang. Ia menotok lumpuh orang itu kemudian melanjutkan penyelidikannya. Tekad hatinya akan menolong dan membebaskan dua belas orang gadis itu. Dengan kepandaiannya yang tinggi, secara mudah ia merobohkan empat orang penjaga dan pada saat itulah dari atas genteng melayang turun seorang laki-laki yang ternyata adalah Ciam Goan, bekas tokoh Thian-liong-pang yang tadi diusir oleh Ma Kiu.

Girang hati Hauw Lam dan diam-diam ia kagum menyaksikan keberanian Ciam Goan. Biar pun sudah jelas bahwa orang gagah itu tak mungkin dapat melawan para pimpinan Thian-liong-pang dan tadi pun sudah dikalahkan, namun orang she Ciam itu masih berani dan berusaha menolong dua belas orang gadis tawanan. Tanpa banyak cakap mereka lalu memasuki kamar, membebaskan dua belas orang gadis itu.

Hauw Lam menyerahkan dua belas orang gadis itu kepada Ciam Goan untuk diajak melarikan diri, sedangkan dia sendiri memancing perhatian orang dengan jalan membakar bangunan samping bagian belakang. Akalnya berhasil baik. Semua orang lari ke tempat kebakaran dan mengeroyoknya sehingga Ciam Goam dan dua belas orang gadis tawanan itu dapat pergi dengan aman. Hauw Lam sendiri lalu memancing mereka yang mengeroyoknya ke sebelah dalam gedung, bahkan ia lalu bergabung dengan Kwi Lan yang sudah terdesak oleh Cap-ji-liong sehingga akhirnya mereka berdua terjeblos ke dalam sumur perangkap.

“Begitulah.” Hauw Lam mengakhiri ceritanya. “Kuharap saja orang she Ciam itu berhasil melarikan dan menyelamatkan dua belas orang gadis itu. Dan kau sendiri, apa yang kau lakukan tadi? Wah, kepandaianmu hebat bukan main, Mutiara Hitam. Aku takluk setelah menyaksikan betapa kau melawan pengeroyokan Cap-ji-liong!”

“Hemm, mereka memang kuat sekali kalau maju bersama. Sebelum kau datang membantu, hampir aku roboh.” Mutiara Hitam atau Kwi Lan lalu menceritakan pengalamannya.

Hauw Lam kagum sekali dan diam-diam di lubuk hatinya ia merasa puas dan tidak akan penasaran kalau mengalami kematian bersama nona ini di dalam sumur!

“Sekarang bagaimana? Aku bukannya takut terkurung seperti ini, akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita harus keluar dari sini, terutama sekali engkau...,” katanya.

“Mengapa aku? Kalau kau bagaimana?”

“Aku juga harus dapat keluar, akan tetapi yang paling penting engkau, Nona. Kau seorang wanita, karena itu harus didahulukan keselamatanmu...”

“Huh, laki-laki dan wanita apa bedanya?”

Hauw Lam tidak mau membantah tentang itu. “Biar kucoba untuk merayap atau meloncat naik.”

“Percuma, kita tunggu kesempatan. Kalau ada yang membuka penutup besi di atas itu, sudah kupersiapkan jarum-jarumku. Begitu ada orang di atas, kuserang dengan jarum dan kau boleh melompat dengan bantuan golokmu ditancapkan pada dinding.”

“Bagaimana kalau tidak ada yang membuka penutup besi di atas?”

“Kalau begitu, hemm... kita tinggal di sini selamanya sampai mati”

Hauw Lam bergidik mendengar kata-kata yang dikeluarkan seenaknya dan tenang-tenang saja itu. Akan tetapi hatinya menjadi hangat ketika ia ingat betapa gadis itu agaknya senang saja tinggal berdua dengan dia di situ selamanya sampal mati! Ia menjadi terharu dan baru sekali ini selama hidupnya Hauw Lam merasa hatinya terharu sekali dan juga bahagia! Suaranya menjadi gemetar ketika ia berkata, lenyap nadanya yang suka bergurau, suaranya kini bersungguh-sungguh.

“Nona... aku..., aku pun rela mati di sini, rela tinggal di sini selama hidupku, bahkan aku akan berbahagia sekali... berdua di sampingmu selamanya....”

“Ihhh! apa maksud kata-katamu yang aneh ini?” Kwi Lan yang tentu saja masih bodoh dalam hal asmara bertanya heran. Nada suara gadis ini menyadarkan Hauw Lam, membuat mukanya merah sekali, membuat ia merasa malu sekali. Untung bahwa tempat itu gelap sehingga ia tidak usah menentang pandang mata Kwi Lan, dan kegelapan ini sesungguhnya yang membuat ia berani melanjutkan kata-katanya yang membisikkan suara hatinya.

“Mutiara... biar pun belum lama aku mengenalmu, bahkan namamu yang sesungguhnya pun aku belum tahu... akan tetapi... aku tidak merasa begitu. Bagiku engkau sudah kukenal selama hidupku. Tadinya aku sebatang kara di dunia ini... setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak sebatang kara lagi. Mutiara... ah, aku harus berterus terang... aku... aku cinta padamu....”

Saking kaget dan herannya mendengar ucapan yang sama sekali belum pernah didengarnya dan yang baru ia raba-raba maksud sebenarnya ini, Kwi Lan duduk termenung dan menggigit jarum yang dipegangnya. Ia seperti orang terpesona, tidak peduli bahwa pada saat itu, sinar terang menerobos masuk dari atas dan penutup lubang sumur itu dibuka orang! Hauw Lam melihat ini dan cepat melompat, siap untuk menerjang ke atas dan berseru.

“Mutiara... lekas serang dia...”

Akan tetapi Kwi Lan hanya memandangnya dan berkata bingung, “Ada apa...?”

“Ssstt... naiklah...!” tiba-tiba orang yang membuka penutup sumur itu berkata, kemudian seutas tambang meluncur turun dari atas.

Hauw Lam dan Kwi Lan melihat bahwa yang muncul dan melemparkan tambang itu adalah seorang yang berkerudung kain hitam, akan tetapi dari suaranya dapat diketahui bahwa dia seorang laki-laki. Begitu melempar tambang, bayangan itu lenyap kembali.

“Mari kita naik!” Hauw Lam berkata dan cepat-cepat pemuda ini merayap naik melalui tambang seperti seekor kera cepatnya.

Kwi Lan juga sudah merayap baik dan sebentar saja keduanya sudah melompat ke luar dari sumur. Sejenak mata Hauw Lam menjadi silau karena tiba-tiba dari tempat gelap berada diterang. Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian ketika matanya bertemu dengan Kwi Lan, tiba-tiba pemuda ini menjadi merah seluruh mukanya!

“Pergi dari sini cepat!” Hauw Lam berkata dan mereka lalu melompat ke luar dari ruangan silat yang kini sudah sunyi. Akan tetapi begitu mereka keluar dari ruangan silat dan berada di ruangan tengah, dari kanan kiri berlompatan ke luar beberapa orang anggota Cap-jiliong!

“Celaka! Mereka lolos! Kepung... tangkap...!” Mereka berteriak-teriak dan empat orang sudah menerjang Hauw Lam dan Kwi Lan.

Akan tetapi keampuhan Cap-ji-liong adalah kalau mereka maju bersama. Kini hanya ada empat orang di antara mereka, tentu saja bukan tandingan Hauw Lam dan Kwi Lan. Begitu sepasang orang muda ini menggerakkan senjata empat orang itu sudah melompat mundur untuk menghindarkan bahaya maut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hauw Lam dan Kwi Lan untuk berlari terus. Karena dari depan berbondong datang para anggota Thian-liong-pang, Hauw Lam lalu menarik tangan Kwi Lan, diajak lari melalui ruangan belakang. Mereka lari masuk ke ruangan dalam, terus ke belakang. Beberapa orang anggota Thian-liong-pang yang bertemu dengan mereka dan berusaha menghalangi, mereka robohkan dengan tendangan atau pukulan tangan kiri.

Untung bagi mereka bahwa para pimpinan Thian-liong-pang pada saat itu sedang sibuk membuat persiapan untuk mengunjungi pertemuan antara tokoh-tokoh dunia hitam yang akan diadakan di puncak Cheng-liong-san untuk memilih jagoan nomor satu di dunia. Ma Kiu ketua baru, juga Sin-seng Losu sendiri bersama murid-muridnya bersama beberapa orang tamu penting sudah meninggalkan gedung untuk mengunjungi kota Tai-goan untuk ikut menyambut datangnya seorang tokoh besar yang terkenal dengan julukan Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa).

Karena tokoh besar ini masih terhitung paman guru Sin-song Losu, tentu saja oleh Thian-liong-pang dianggap sebagai kakek guru dan mereka mengharapkan kakek guru ini akan menjadi jagoan nomor satu sehingga nama Thian-liong-pang akan ikut terangkat tinggi. Karena kesibukan ini mereka hanya meninggalkan empat orang murid kepala bersama murid-murid bawahan untuk menjaga gedung. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa dua orang muda tawanan mereka akan dapat meloloskan diri dan menganggap mereka itu tentu akan tewas kelaparan di dalam sumur.

Hauw Lam dan Kwi Lan maklum bahwa keadaan mereka akan berbahaya kalau para pimpinan Thian-liong-pang keburu datang mengeroyok. Mereka pun tidak ada niat untuk melanjutkan pengacauan karena mereka datang ke tempat itu hanya untuk ‘main-main’ dan tidak mempunyai urusan tertentu dengan perkumpulan ini. Dihadang oleh murid-murid bawahan Thian-liong-pang tentu saja mereka dengan enak merobohkan semua penghadang, terus lari ke belakang, mencari kandang kuda dan setelah dapat menemukan kuda hitam yang mereka ‘sumbangkan’ tadi, mereka lalu menunggang kuda berdua dan membalapkan kuda itu keluar dari Yen-an. Terdengar derap kaki kuda yang ditungganggi para anak buah Thian-liong-pang mengejar, namun tak seekor pun kuda mampu menandingi larinya kuda hitam dari Khitan itu.

Setelah kota Yen-an jauh ditinggalkan dan tak tampak adanya pengejar lagi, Kwi Lan yang duduk di depan tiba-tiba menahan kudanya. Mereka berhenti di jalan simpang empat.

“Di sini kita berpisah. Kau turunlah.”

Hauw Lam meloncat turun dan memandang gadis itu dengan muka terkejut. Tak disangkanya bahwa secara tiba-tiba gadis itu mengajak mereka saling berpisah. Namun nona itu menundukkan muka, tidak membalas pandang matanya.

“Mutiara Hitam... Nona..., mengapa kita harus berpisah?” suara Hauw Lam gemetar, tidak seperti biasa. Jantung Kwi Lan berdebar aneh. Ia marah dan juga bingung.

“Nona, apakah engkau marah karena pengakuanku di dalam sumur tadi? Maafkanlah, aku bukan bermaksud menyinggung perasaanmu atau menghinamu, aku hanya mengeluarkan isi hatiku sejujurnya. Biar pun kau akan menjadi marah dan membunuhku, aku tak dapat menyangkal bahwa aku... cinta padamu, Mutiara Hitam.”

Kwi Lan menarik napas panjang. Ia tidak bisa marah kepada pemuda ini, dan sebetulnya ia senang mendengar pengakuan itu. Akan tetapi ia tidak ingin selamanya berada di samping Hauw Lam. Ia ingin menyendiri.

“Hauw Lam, ada hal yang lebih penting bagimu. Engkau harus pergi kepada ibu kandungmu.”

Terbelalak mata Hauw Lam memandang. “Apa...? Apa yang kau maksudkan...?”

“Bukankah ayahmu bernama Tang Sun dan ibumu bernama Phang Bi Li?”

Hauw Lam melangkah maju dan memegang tangan Kwi Lan. “Mutiara! Bicaralah yang jujur! Bagaimana kau tahu akan nama ayahku? Memang ayahku bernama Tang Sun. Nama ibu aku tidak pernah dengar, akan tetapi engkau... bagaimana bisa tahu?”

Kwi Lan yang kini melihat betapa wajah Hauw Lam menjadi pucat dan agaknya amat tertarik tersenyum. “Kau pantas menjadi kakakku. Ibumu adalah Bibi Bi Li yang menganggap aku anak sendiri. Ayahmu... ayahmu telah tewas, aku melihat sendiri. Ibumu masih hidup, namanya Phang Bi Li dan kini tinggal di Hutan Iblis.”

Makin pucat wajah Hauw Lam. “Di Hutan Iblis...? Ayahku mati...?” Ia merasa mimpi mendengar keterangan ini dan tentu ia tidak akan percaya kalau saja ia tidak yakin bahwa gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini tak pernah membohong seperti juga tak pernah merasa takut.

“Pergilah, carilah ibumu dan kau akan mendengar semua. Ibumu hanya tahu bahwa puteranya bernama Tang Hauw Lam. Kau pergilah ke Lembah Air Hijau, di kaki pegunungan Pek-liu-san sebelah utara, di sana terdapat hutan yang oleh orang-orang disebut Hutan Iblis. Nah, ibumu tinggal seorang diri di dalam pondok di hutan itu, menanti-nanti kedatanganmu. Selamat tinggal, kelak kita berjumpa pula.” Setelah berkata demikian Kwi Lan membalapkan kudanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Hauw Lam yang masih berdiri seperti arca dengan muka pucat.

“Ibuku... ibu kandungku... ibuku....” Pemuda yang biasanya periang itu kini hanya berbisik-bisik dengan sepasang mata basah. Pandang matanya mengikuti bayangan Kwi Lan di atas kudanya, dan semangatnya serasa terbawa terbang pergi....

********************


Kwi Lan menjalankan kudanya sambil melamun. Begitu berpisah dari Hauw Lam ia merasa betapa ia kehilangan seorang teman seperjalanan yang selalu mendatangkan suasana gembira. Akan tetapi kalau ia teringat akan pernyataan cinta kasih Hauw Lam, ia menjadi kecewa. Hal ini melenyapkan rasa gembiranya dan membuatnya menjadi tak enak. Hatinya berdebaran dan ia menjadi malu, tak ingin bertemu kembali dengan pemuda itu.

Ada hal lain yang sejak tadi ia pikirkan. Siapakah orang yang menolongnya ketika ia bersama Hauw Lam berada dalam sumur jebakan? Apakah orang gagah she Ciam yang telah menolong dua belas orang gadis tawanan? Rasanya tidak mungkin karena biar pun gagah berani, orang she Ciam itu tidak begitu tinggi kepandaiannya. Penolong tadi tentu orang yang sudah kenal akan keadaan dan rahasia Thian-liong-pang.

Kwi Lan yang tidak mengenal jalan, tidak tahu bahwa kudanya itu berlari menuju ke arah Sungai Kuning yang mengalir di sebelah timur Yen-an. Ia juga tidak tahu bahwa jalan ini pula yang diambil oleh rombongan Sin-seng Losu pagi tadi, menuju ke Tai-goan!

Hari telah menjelang senja. Ia segera membalapkan kudanya ketika melihat sebuah dusun jauh di depan. Perkampungan ini cukup besar dan Kwi Lan bermalam di rumah penginapan dusun itu. Semua orang kagum melihat gadis yang cantik jelita dan yang menunggang seekor kuda hitam yang indah ini, namun Kwi Lan tidak ambil peduli. Setelah pengalamannya di Thian-liong-pang, Kwi Lan bersikap hati-hati dan tidak mau mencari perkara. Mulailah ia tahu bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang yang berilmu tinggi. Ia ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan menurut penuturan Hauw Lam, di Khitan banyak terdapat orang-orang pandai sehingga seorang tokoh hitam seperti Jin-cam Khoa-ong itu pun menjadi buronan Khitan. Ia akan menemui Ibu kandungnya dan kalau mungkin, memperdalam kepandaiannya.

Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dan hari telah lewat senja ketika ia menghentikan kudanya di tepi Sungai Kuning yang airnya melimpah-limpah dan amat lebar. Ia duduk di atas kudanya sambil termenung. Bagaimana ia dapat melanjutkan perjalanan? Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan tempat itu amat sunyi, tak tampak seorang pun manusia. Hanya dapat dilihat dari situ perahu-perahu nelayan jauh sekali dan ada di antara mereka yang sudah menyalakan lampu penerangan. Ia lalu menjalankan kudanya menyusuri sungai menuju ke kiri untuk mencari perahu yang kiranya akan dapat menyeberangkannya atau kalau tidak, ia akan mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam dan besok baru berusaha menyeberang.

Tiba-tiba dari jauh ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke pantai. Itu tentu seorang nelayan, pikirnya. Mungkin dia bisa menolongku mencarikan sebuah perahu besar untuk menyeberang. Perahu kecil macam itu mana dapat menyeberangkan kudanya? Kwi Lan mempercepat larinya kuda ke arah pantai. Akan tetapi ia terlambat karena dari dalam perahu itu meloncat keluar bayangan hitam yang kemudian berlari amat cepatnya ke darat. Kwi Lan terkejut. Terang itu bukan nelayan biasa, pikirnya. Nelayan biasa mana bisa memiliki ginkang yang sedemikian baiknya. Ia pun cepat membelokkan kudanya, mengikuti arah larinya orang itu. Cuaca sudah mulai gelap, dan Kwi Lan yang merasa tertarik melanjutkan kudanya ke depan sambil mencari-cari dengan pandang matanya.

Bayangan itu lenyap sudah. Gerakannya terlalu cepat dan melakukan pengejaran sambil menunggang kuda amat sukar. Selain itu Kwi Lan juga meragu untuk mengejar secara sungguh-sungguh. Ia tidak tahu siapa orang itu dan mengapa berlari-lari dengan cepatnya. Terang bukan nelayan dan ia tidak mempunyai keperluan sesuatu dengan orang itu. Hanya ia tadi ingin bertanya kalau-kalau orang itu dapat menunjukkan di mana ia dapat menyewa perahu untuk menyeberang bersama kudanya.

Sinar terang yang keluar dari kumpulan batu-batu gunung di pantai sebelah depan menarik perhatiannya. Sinar yang bergerak-gerak besar kecil itu tentulah sinar api unggun yang dinyalakan orang. Ada api unggun tentu ada orang, dan kalau ada orang berarti ia akan bisa mendapatkan keterangan dan petunjuk yang diharapkan. Kini kuda hitam yang ditungganginya sudah mendekati deretan batu-batu padas yang tinggi dan dijalankan perlahan.

Ternyata api unggun itu dinyalakan orang di dalam sebuah goa batu yang amat lebar. Ketika Kwi Lan yang masih duduk di atas kudanya tiba di depan mulut goa, ia melihat lima orang laki-laki di dalam goa. Kedatangannya agaknya sudah dinanti mereka karena mereka sudah berdiri dan tangan kanan mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing.

Yang paling depan adalah seorang pemuda yang berambut panjang, berpakaian hitam dan berwajah tampan sekali. Kepalanya diikat tali dan di dahinya besinar sebuah batu permata kuning. Tiga orang yang lain juga sudah siap dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak kaget dan marah. Ada pun orang ke lima adalah seorang pendeta yang jenggotnya kasar dan jarang seperti kawat, tubuhnya tinggi besar dan di belakang punggungnya tampak gagang sebatang pedang.

“Siauw-ya (Tuan Muda), dia adalah Mutiara Hitam yang mengacau di Thian-liong-pang...!” seorang di antara tiga orang di belakang pemuda tampan itu berseru.

Pemuda itu memandang dengan mata bersinar tajam, lalu membentak ke arah Kwi Lan, suaranya nyaring. “Mau apa engkau datang ke sini?”

Kwi Lan tersenyum. Ia tidak memandang mata kepada orang-orang Thian-liong-pang ini. Melihat batu permata di dahi si Pemuda Tampan, ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu seorang tokoh pula. Akan tetapi ia sedikit pun tidak takut dan karena ia kemarin tidak melihat pemuda ini di antara yang mengeroyoknya, ia pun tiada nafsu untuk melayani mereka.

“Aku tidak butuh kalian, aku hanya perlu seorang nelayan yang dapat menyeberangkan aku dan kudaku,” jawabnya dengan suara dingin. Biar pun ia tidak mengharapkan bantuan mereka ini, namun siapa tahu mereka dapat memberi keterangan tentang nelayan yang ia butuhkan.

Sebelum pemuda dan tiga orang anggota Thian-liong-pang itu menjawab, pendeta sai-kong yang berdiri paling belakang itu mengangkat tangan kiri ke atas, dan berkata, “Siangkoan-kongcu, biarkan lohu menghadapinya!”

Dengan langkah lebar pendeta ini maju. Setelah berhadapan dengan Kwi Lan, ia menjura dengan hormat, tersenyum-senyum dan jenggotnya yang kaku bergerak-gerak, matanya berkejap-kejap. “Nona, sungguh Nona yang masih begini muda amat mengagumkan. Tadi lohu sudah mendengar penuturan saudara-saudara Thian-liong-pang akan sepak terjang Nona yang berani menghadapi Cap-ji-liong. Ha-ha-ha, sungguh gagah! Seorang muda segagah Nona ini patut dikagumi dan sama sekali tidak pantas dimusuhi. Orang gagah mengutamakan persahabatan sesama orang gagah, maka terimalah rasa kagum lohu!”

Kwi Lan yang melihat kakek ini merangkapkan kedua tangan, membawa kedua tangan ke depan dada sambil bergerak memberi hormat, tersenyum mengejek. Dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat turun dari atas punggung kudanya, menghadapi kakek itu dan menjura sambil berkata, “Kau orang tua terlalu merendah!”

Biar pun kelihatannya seperti orang menjura dan memberi hormat, namun kedua tangan sai-kong itu bergerak ke depan dan menyambarlah angin pukulan dahsyat ke arah dada Kwi Lan. Gadis itu hanya menjura dengan bibir tersenyum, agaknya seperti tidak tahu akan penyerangan orang, akan tetapi kakek itu merasa betapa tenaga dorongan kedua tangannya tadi seakan-akan membentur api dan membalik, menimbulkan rasa panas pada dadanya. Ia kaget sekali, akan tetapi masih merasa penasaran dan sambil tertawa dan berkata, “Nona benar-benar hebat...!”

Kedua tangannya membuka jari-jari tangan dan bergerak ke depan, yang kiri menotok ke arah pundak dan yang kanan menotok ke arah pergelangan tangan! Hebat serangan ini, namun masih saja tampak seakan-akan orang yang memuji dan menyentuh karena sayang dan kagum, sama sekali tidak kelihatan seperti orang menyerang. Padahal serangan itu kalau tepat mengenai sasaran, akan membuat tubuh Kwi Lan seketika lumpuh dan lemas.

“Totiang (panggilan pendeta) mengapa sungkan-sungkan?” kata Kwi Lan dan kedua tangannya bergerak ke depan pula seperti orang mencegah.

Hanya tampaknya saja seperti mencegah, akan tetapi sebenarnya dengan cepat seperti kilat menyambar, jari tangan Kwi Lan sudah siap menerima kedua tangan kakek itu. Kalau kakek itu melanjutkan serangannya, maka kedua telapak tangannya tentu akan bertemu dengan jari tangan Kwi Lan sehingga sebelum dapat menotok orang, ia sendiri sudah akan terkena totokan lawan!

“Ahhh...!“ Sai-kong itu menarik kembali kedua tangannya dan melangkah mundur kemudian ia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, semuda ini sudah memiliki kepandaian hebat, benar-benar membuat lohu kagum dan takluk, Nona ingin menyeberang? Biarlah lohu antarkan!”

Girang hati Kwi Lan mendengar ini. “Kau mempunyai perahu, Totiang?”

“Ha-ha, tentu saja ada, harap Nona jangan khawatir. Marilah!” Kakek itu dengan langkah lebar keluar dari dalam goa, diikuti oleh Kwi Lan.

“Tahan! Mutiara Hitam, engkau sudah mengacau Thian-liong-pang, bagaimana kami dapat membiarkan kau pergi begitu saja?” teriak seorang di antara anggota-anggota Thian-liong-pang sambil melompat maju dan mencabut pedang. Akan tetapi pemuda tampan tadi mencegah dan menghardik.

“Nona sudah ikut bersama Huang-ho Tai-ong (Raja Sungai Huang-ho), mau apa kau ribut-ribut?”

Kalau saja Kwi Lan sudah banyak pengalaman merantau, tentu ia akan terkejut sekali mendengar nama ini. Huang-ho Tai-ong adalah nama julukan kepala bajak sungai Huang-ho yang terkenal sekali. Akan tetapi gadis ini selain kurang pengalaman, juga tidak mengenal takut, maka ucapan si Pemuda ini sama sekali tidak ada artinya. Ia mengikuti sai-kong itu yang terus berjalan mendekati pantai, kemudian kakek itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring tinggi sambil menengadahkan kepalanya. Terdengar suitan balasan dari arah kiri dan tidak lama kemudian, muncullah sebuah perahu dalam sinar bintang-bintang di langit yang suram muram. Kiranya perahu itu bercat hitam, cukup besar dan didayung oleh empat orang tinggi besar.

“Silakan, Nona. Lohu sendiri akan menemanimu menyeberang,” kata saikong tadi sambil tersenyum.

“Terima kasih. Kau baik sekali, Totiang,” jawab Kwi Lan yang menuntun kuda hitamnya ke atas papan perahu.

Kakek itu pun melompat naik, memberi aba-aba dan empat orang anak buahnya kembali mendayung perahu ke tengah. Ketika Kwi Lan menengok, ia melihat pemuda tampan tadi bersama teman-temannya berdiri di pinggir sungai dan memandang...


BERSAMBUNG KE JILID 04


Mutiara Hitam Jilid 03

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

MUTIARA HITAM

JILID 03

Akan tetapi karena selama hidupnya Kwi Lan belum pernah mempunyai kuda, apa lagi menunggang kuda, ia canggung sekali dan kuda hitam itu agaknya juga dapat merasakan hal ini. Kuda itu mulai meronta dan mogok jalan. Kwi Lan menarik-narik kendali kuda sambil membentak,

"Kau juga hendak mogok? Kuda sialan! Kupenggal lehermu nanti, kubawa bangkaimu ke Thian-liong-pang, hendak kulihat apakah kau berani mogok lagi!"

"Wah-wah-wah..., kenapa kau begini galak, Mutiara Hitam? Apa kau marah kepadaku? Aku sama sekali tidak takut, hanya aku heran menyaksikan keberanianmu menentang semua tokoh-tokoh besar. Mari, biarlah kita pergi bersama. Dan kuda itu... kenapa repot-repot amat? Lebih baik kau tunggangi dia, kan enak?"

Watak Kwi Lan memang aneh, agaknya ia tiru dari Sian Eng. Ia keras sekali kalau perlu, akan tetapi bisa juga menjadi lunak, bisa gembira dan jenaka, akan tetapi tidak pernah mengenal duka mau pun takut. Melihat pemuda itu menghampiri dan wajahnya sungguh-sungguh, ia tersenyum. "Aku belum pernah menunggang kuda!" katanya.

Kembali Hauw Lam terheran. Seorang gadis yang begini tinggi ilmunya, belum pernah menunggang kuda? Benar-benar luar biasa sekali ini. "Belum pernah? Kalau begitu berbahaya, dong. Kau harus belajar dulu. Seekor kuda yang baik selalu akan memberontak kalau ditunggangi orang yang takut-takut menunggang kuda."

"Aku memang belum pernah menunggang kuda, akan tetapi siapa bilang aku takut? Kau lihat saja!" Sekali menggerakkan tubuhnya, Kwi Lan sudah meloncat dan duduk di atas punggung kuda, dengan kedua kaki di samping kiri perut kuda itu. Canggung dan kaku sekali. Benar saja, kuda hitam itu tidak memberontak, karena kuda itu hanya memberontak apa bila yang menunggangnya takut-takut, sedangkan Kwi Lan tidak takut.

"Ah, keliru kalau begitu menunggangnya. Mana bisa tahan lama kalau kuda itu membalap?"

"Siapa bilang tidak bisa? Kau lihat!" Kwi Lan menarik kendali kuda dan kuda hitam itu meloncat ke depan lalu lari cepat. Kwi Lan terangkat-angkat dari atas punggung kuda dan karena duduknya miring, maka hampir saja ia jatuh. Cepat ia berseru keras dan tubuhnya sudah meloncat ke atas kemudian turun di atas punggung kuda dalam keadaan berdiri!

Hauw Lam sudah mengejar dan memegang kendali kuda, mengeluarkan suara menyuruh berhenti. Setelah kuda berhenti, ia menggeleng-geleng kepala. "Wah-wah, memang kau hebat sekali, Mutiara Hitam. Akan tetapi mana ada di dunia ini orang naik kuda dengan berdiri di atas punggungnya? Engkau akan menjadi tontonan orang di sepanjang jalan, dan juga keadaan itu amat melelahkan. Beginilah cara menunggang kuda. Lihat, kuberi contohnya!"

Karena memang Kwi Lan seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka pelajaran menunggang kuda ini dapat ia kuasai sebentar saja. Berangkatlah kedua orang muda itu melakukan perjalanan menuju Yen-an. Kwi Lan menunggang kuda sedangkan Hauw Lam berjalan kaki sambil meniup sulingnya. Kadang-kadang Kwi Lan yang meloncat turun dan berjalan kaki, menyuruh pemuda itu berganti menunggang kuda. Kalau Hauw Lam menolak, ia tentu akan marah. Begitu pula, kadang-kadang gadis yang berhati polos itu menyuruh Hauw Lam duduk di belakangnya di atas punggung kuda. Hauw Lam juga menuruti kehendaknya sehingga dalam waktu beberapa hari saja melakukan perjalanan, keduanya telah menjadi sahabat yang amat akrab dan diam-diam Kwi Lan makin merasa cocok dan suka kepada putera bibi pengasuhnya ini.

mutiara hitam jilid 03


Kota Yen An terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san sebelah barat, di Propinsi Shansi. Kota ini cukup besar dan ramai, yang dahulu merupakan daerah Kerajaan Hou-han dan kini sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung dan menjadi wilayah Kerajaan Sung.

Kerajaan Hou-han dahulu terkenal sebagai kerajaan yang kecil tapi amat kuat. Terutama sekali ketika seorang di antara panglima perangnya adalah mendiang Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai mengatur siasat perang. Setelah jenderal ini mengundurkan diri, keadaan kerajaan mengalami kemunduran pula.

Akan tetapi keadaannya masih amat kuat karena beberapa tahun kemudian di dalam istana kerajaan terdapat Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, seorang wanita sakti yang menjadi ‘tante girang’ di dalam istana, mengumbar nafsu dengan para pangeran dan para panglima muda yang tampan. Di samping Tok-siauw-kwi (ibu kandung Suling Emas) ini terdapat pula selir raja yang juga amat lihai, yang kemudian berjuluk Siang-mou Sin-ni Coa Kim Bwee. Akan tetapi semenjak kedua orang wanita sakti ini tidak ada, kerajaan makin mundur dan akhirnya penyerbuan bala tentara Kerajaan Sung menjatuhkan kerajaan kecil ini.

Tokoh-tokoh yang dikalahkan, biasanya kalau tidak dipakai lagi tenaganya lalu berkumpul dan merupakan kelompok yang menentang si Pemenang secara diam-diam. Demikian pula keadaan di bekas Kerajaan Hou-han ini. Orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lalu mengadakan persatuan dan bersembunyi di balik papan nama perkumpulan menjadi golongan dunia hitam yang diam-diam mencari kesempatan untuk melawan atau setidaknya merongrong pemerintahan yang tak disukainya.

Di antara perkumpulan-perkumpulan semacam itu, Thian-liong-pang merupakan perkumpulan terbesar, bahkan boleh dibilang menjadi semacam induk perkumpulan. Hal ini adalah karena bekas para panglima dan tokoh Kerajaan Hou-han banyak yang menggabungkan diri dalam perkumpulan ini.

Namun karena kesempatan untuk melawan pemerintahan Sung tidak ada, apa lagi setelah para panglima yang benar-benar berjiwa patriotik meninggal dunia, jiwa perkumpulan Thian-liong-pang mengalami perubahan hebat. Dasar yang semula patriotik tadinya terdorong setia kepada kerajaan berubah, berubah menjadi dasar dunia hitam, dan tujuan yang menyeleweng jauh terdorong oleh nafsu angkara murka untuk menguasai dunia, harta benda, nama besar dan kemenangan mengandalkan kekuatan.

Melihat ini, sisa para panglima Hou-han banyak yang mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusun-dusun dan pegunungan menanti maut datang menjemput. Semenjak itu Thian-liong-pang seluruhnya dikuasai oleh tokoh-tokoh dunia hitam. Yang menjadi Ketua Thian-liong-pang adalah seorang bekas pendeta yang berjuluk Sin-seng Losu (Kakek Bintang Sakti).

Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga amat terkenal di dunia hitam. Biar pun jahat, namun ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya, Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang amat kuat. Semua anggota Thian-liong-pang rata-rata di gembleng ilmu silat tinggi. Apa lagi murid kakek itu sendiri, benar-benar terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa.

Murid-murid kepala sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia kang-ouw sehingga tokoh-tokoh yang besar sekali pun tidak akan berani memandang rendah Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) dari Thian-liong-pang! Dua belas orang murid kepala yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini telah mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masing-masing. Dan yang menambah ketenaran mereka adalah senjata rahasia Sin-seng-ci (Peluru Bintang Sakti).

Oleh karena Kakek Sin-seng Losu sudah terlalu tua dan pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya, maka sebagai penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua. Murid ini seorang laki-laki tinggi besar bercambang bauk yang bertenaga besar seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thai-lek-kwi (Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu.

Ma Kiu ini dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di selatan dan menjadi anggota Beng-kauw. Semenjak muda suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggota Beng-kauw ia sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan sendiri dan takut pula akan hukuman dari para pimpinan Beng-kauw yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke utara.

Di Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati ketuanya dan menjadi muridnya. Karena memang tingkatnya sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang di antara murid kepala yang lihai, bahkan kemudian terpilih menjadi murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai pengganti gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru Thian-liong-pang!

Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang terletak megah di ujung kota Yen-an. Agak janggal nampaknya bahwa jalan besar di mana gedung ini berdiri kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari tetangga. Namun orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para tetangga yang tadinya tinggal dekat gedung itu berangsur-angsur melarikan diri sehingga rumah-rumah kosong di sekitar jalan itu merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk Yen-an. Hal ini dipergunakan oleh Thian-liong-pang untuk memperluas markas mereka dengan membeli murah secara paksa rumah-rumah dan pekarangan yang ditinggalkan.

Pada hari pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang, keadaan di situ lebih ramai dari pada biasanya. Banyak tamu hilir mudik mengunjungi Thian-liong-pang dan para penduduk Yen-an hari itu merasa ketakutan selalu karena di kota Yen-an berkeliaran banyak orang-orang aneh dan sikapnya menyeramkan. Karena itu biar pun tidak tahu pasti, namun sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari itu mengunjungi Yen-an, tentulah tamu dari Thian-liong-pang dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-baik.

Memang dugaan ini tepat. Sebagian besar yang datang mengunjungi Thian-liong-pang adalah orang-orang dari dunia hitam, golongan liok-lim dan kang-ouw (hutan lebat dan sungai telaga), yaitu para perampok, bajak, gerombolan-gerombolan yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan untuk melakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki.

Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orang-orang yang dandanannya aneh-aneh memasuki kota Yen-an. Menjelang siang hari, orang-orang yang menonton keramaian dan iring-iringan tamu dengan hati berdebar tidak enak ini, tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak kalah anehnya dari pada orang-orang yang menyeramkan lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak kelihatan menyeramkan, bahkan sebaliknya.

Dara remaja yang menunggang kuda hitam itu, biar pun pinggangnya digantungi pedang dan gagang pedang indah, namun harus diakui cantik jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan, melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang memandangnya. Ada pun temannya, seorang pemuda remaja pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri, mulutnya tersenyum-senyum. Bahkan ketika memasuki kota Yen-an, pemuda ini dengan wajah berseri lalu meniup suling sambil berjalan di samping kuda hitam! Sebatang golok besar dengan sarung pedang aneh, tidak kelihatan menyeramkan sebaliknya malah tampak lucu, seakan-akan pemuda itu sengaja membadut dan menggantungkan golok untuk main-main saja.

Wajah Kwi Lan, dara yang menunggang kuda hitam, kelihatan gembira pula. Setelah beberapa pekan lamanya melakukan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benar-benar mengenal watak pemuda ini sebagai seorang pemuda yang selalu gembira, jenaka, ugal-ugalan namun pada dasarnya gagah perkasa, tak kenal takut, berbudi dan... selalu mengalah kepadanya.

Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi Lan jarang bergaul dengan orang lain, apa lagi dengan orang mudanya. Teman satu-satunya hanyalah Suma Kiat, dan ia tidak suka kepada suheng ini, yang kadang-kadang memperlihatkan sikap terlalu manis berlebih-lebihan kepadanya akan tetapi kadang-kadang juga pemarah dan tak acuh. Tidak mengherankan apa bila Kwi Lan merasa suka sekali kepada Hauw Lam dan dalam waktu yang tidak lama itu mereka telah menjadi sahabat yang akrab. Sukar bagi seseorang untuk tidak ikut bergembira apa bila melakukan perjalanan dengan Hauw Lam. Apa lagi seorang seperti Kwi Lan yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka bergembira.

Kwi Lan tersenyum geli melihat betapa temannya memasuki kota Yen-an sambil meniup suling dengan lenggang dibuat-buat seperti seorang penari atau seperti orang berbaris. Ia maklum bahwa kedatangan mereka ke Yen-an bukanlah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari pengalaman dan lebih mendekati petualangan karena yang akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam yang amat berbahaya!

Akan tetapi ia menjadi kagum dan juga menjadi gembira melihat pemuda itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut. Banyak penduduk Yen-an, terutama orang-orang mudanya yang tertarik melihat sepasang muda-mudi yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil memandang kagum dan tersenyum-senyum. Akan tetapi melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thian-liong-pang di pinggir kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti sudah berhenti dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Kwi Lan menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya setelah tiba di depan rumah gedung besar yang dihias arca singa batu dan papan nama perkumpulan itu. Dari luar gedung saja sudah terdengar suara banyak orang di sebelah dalam. Beberapa orang penjaga menyambut mereka dengan menjura dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang mukanya penuh cambang bauk dan yang kelihatan terkejut sekali melihat dua orang muda itu. Akan tetapi wajahnya yang tadinya terkejut itu berubah merah dan ia segera menjura dan berkata.

“Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan... Berandal yang datang berkunjung! Silakan masuk...!” Melihat sikap si Brewok ini, teman-temannya juga cepat memberi hormat kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan mendengar nama julukan pemuda tampan itu, diam-diam mereka merasa geli.

“Ha-ha-ha!” Kiranya si Ouw Kiu! Engkau masih hidup? Syukurlah kalau panjang umur. Kami datang memenuhi janji hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan sumbangan kepada ketua baru Thian-liong-pang!”

Teman-teman Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan menyaksikan sikap pemuda ini. Bicaranya begitu seenaknya seperti kepada seorang sahabat baik saja. Mereka makin heran melihat betapa Ouw Kiu yang terkenal jagoan di antara mereka begitu menaruh hormat yang berlebihan terhadap seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang masih amat muda. Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang menjadi merah mukanya.

Peristiwa di dalam hutan dua pekan yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thian-liong-pang dan para anak buah tidak ada yang boleh mendengar karena hal itu merendahkan nama besar perkumpulan. Oleh karena itulah maka ketika tadi ia menyebut nama Mutiara Hitam dan Berandal, teman-temannya tidak tahu bahwa dua orang inilah yang membunuh seorang anak murid Thian-liong-pang. Dengan menahan kemarahan Ouw Kiu lalu berkata lagi.

“Ah, Ji-wi ternyata memegang janji. Silakan masuk! Nona, biarlah orang-orang kami merawat kuda Nona itu. Silakan turun dan masuk ke dalam!”

“Mana bisa barang sumbangan ditinggalkan di luar?” Kwi Lan berkata.

“Barang sumbangan...? Apakah maksud Nona...?”

Kwi Lan tersenyum. “Justru kuda inilah barang sumbangannya untuk disampaikan kepada Ketua Thian-liong-pang!”

“Ah... kuda bagus... kuda hebat...!”

Ouw Kiu tiba-tiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang besar dan memang hebat ini akan dipersembahkan kepada ketuanya. Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah merendahkan diri dan hendak menyenangkan hati ketuanya dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya. Akan tetapi jangan kira bahwa kalian akan dapat lolos dari sini biar pun telah menyogok dengan seekor kuda.

Melihat Ouw Kiu memuji-muji sambil menjura, seorang lain memberi isyarat dengan kedua tangan mempersilakan mereka sehingga yang lain-lain juga menjura.

Kwi Lan lalu berkata, “Hayo, Berandal kita masuk saja. Hek-ma (Kuda Hitam) ini pun tentu suka mencicip arak wangi Thian-liong-pang!”

“Hayo, tunggu apa lagi?” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian ia menempelkan suling pada mulutnya dan melangkah maju sambil meniup suling.

Ada pun Kwi Lan tanpa mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para penjaga sudah menarik kendali dan memaksa kuda hitamnya untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya memasuki ruangan depan menuju ke dalam!

Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada teman-temannya dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah sebentar pucat karena gentar dan sebentar merah karena marah. Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang itulah yang membunuh seorang kawan mereka.

“Jangan sembarangan bergerak, mereka lihai sekali!” bisik Ouw Kiu. “Biarkan Pangcu yang membereskan mereka!” Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu mendahului masuk dan diam-diam melaporkan kepada pimpinan Thian-liong-pang.

Pada waktu itu, Kakek Sin-seng Losu masih duduk di kursi ketua sambil melenggut mengantuk. Akhir-akhir ini, kakek yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan banyak mengantuk. Kini ia telah mengenakan pakaian khusus untuk upacara. Jubahnya baru dan indah, di bagian dadanya terdapat gambar sebuah timbangan. Inilah tanda bahwa dia sudah meninggalkan kedudukan ketua dan kini menjadi penasehat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala macam perkara yang tak dapat diputuskan oleh ketua baru.

Di sebelah kanannya duduk Thai-lek-kwi Ma Kiu, murid kepala bekas tukang jagal babi itu. Wajah murid kepala yang usianya sudah lima puluh tahun ini kereng, apa lagi jenggot dan kumisnya kaku seperti kawat, matanya melotot lebar seakan-akan selalu mengeluarkan sinar mengancam. Di sebelah kanan Thai-lek-kwi Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri sebelas orang adik-adik seperguruannya yang terdiri dari bermacam-macam orang. Ada hwesio gundul, ada tosu, ada yang seperti petani, ada yang tua dan ada yang muda. Di belakang kursi kakek Sin-seng Losu berdiri seorang petugas yang membawa bendera Thian-liong-pang, bergambar naga terbang.

Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah memenuhi ruangan, duduk di bangku-bangku memutari meja bundar yang sudah disediakan. Pelayan-pelayan sibuk melayani mereka dengan minuman dan makanan. Saat itu upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thai-lek-kwi Ma Kiu mencari-cari dengan pandang matanya, kelihatan tak senang hatinya. Kemudian ia berbisik kepada suhunya yang masih melenggut, setengah tidur setengah bersemedhi.

“Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik dilakukan sekarang upacaranya?”

“Hemmm...?” kakek itu membuka mata malas-malasan, kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana terdapat sebuah bangku yang kosong. “Dia belum datang?”

Ma Kiu mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Suhu, sudah sejam lebih kita menanti, akan tetapi Siauw-te (Adik Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia suka pergi berburu binatang, suka pergi bermain-main, siapa tahu dia tidak akan datang karena lupa akan urusan hari ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi,” bantah Si Kakek. “Betapa pun juga Siangkoan Li adalah anak tunggal mendiang puteraku, dia cucuku satu-satunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah tidak ada, sepatutnya dia menyaksikan upacara penting hari ini.”

Biar pun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara pengangkatannya menjadi Ketua Thian-liong-pang, namun Ma Kiu tidak berani membantah kehendak gurunya. Siangkoan Li adalah cucu Sin-seng Losu. Semenjak kecil anak ini sudah ditinggal mati ayah bundanya yang tewas dalam pertandingan. Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biar pun ia cucu kakek ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid kepala atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thian-liong-pang itu memanggil dia sute (adik seperguruan). Padahal Siangkoan Li masih amat muda, baru dua puluh tahun usianya.

Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor. Karena Sin-seng Losu sudah melenggut lagi di atas kursinya, Ouw Kiu lalu melapor kepada Thai-lek-kwi Ma Kiu tentang kedatangan dua orang muda tadi. Tentu saja Thai-lek-kwi Ma Kiu marah sekali mendengar bahwa dua orang muda yang mengaku berjuluk Mutiara Hitam dan Berandal dan telah membunuh seorang anggota Thian-liong-pang berani muncul.

Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya sebagai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urusan yang amat penting artinya bagi dirinya itu terganggu atau terkacau keributan, maka ia menyabarkan hatinya yang panas. Apa lagi ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu datang untuk menonton upacara dan membawa hadiah seekor kuda yang bagus. Maka dia segera berdiri dan menyambut. Melihat kakak tertua ini bangkit, otomatis sebelas orang adik seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya menyambut.

Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjak-injak lantai dan para tamu serentak menengok, disusul suara mereka riuh membicarakan tamu yang baru muncul. Tentu saja cara Kwi Lan memasuki ruangan sambil menunggang seekor kuda yang tinggi besar berbulu hitam amat menarik perhatian dan selain mendatangkan kaget, juga heran. Akan tetapi di samping ini, sebagian besar mata para tamu terbelalak kagum karena tidak saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya lebih menarik lagi, cantik jelita dengan mata bersinar-sinar dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul.

Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan rumah. Diam-diam ia memperhatikan Ma Kiu dan sebelas orang adik seperguruannya. Biar pun belum pernah bertemu dengan mereka, namun jumlah ini menimbulkan dugaan di hati bahwa tentu inilah yang disebut Cap-ji-liong yang ditakuti orang itu. Ia tersenyum dan berseru dengan suara nyaring.

“Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal....” Sampai di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan yang tersenyum pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan seruan heran mendengar sebutan dewa dan dewi tadi, kemudian melanjutkan setelah keadaan menjadi sunyi senyap karena semua orang memasang telinga penuh perhatian untuk mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya, “...secara kebetulan lewat di Yen-an dan mendengar nama besar Thian-liong-pang yang katanya hendak mengadakan upacara pengangkatan ketua baru, maka kami ingin sekali menonton keramaian dan Sang Dewi Mutiara Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitamnya untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar dirinya disebut-sebut sebagai Sang Dewi, Kwi Lan mengerutkan alisnya dan cemberut, melompat turun dari kuda dan berkata, “Harap jangan dengarkan obrolan Berandal ini! Kuda ini memang hendak kusampaikan kepada Thian-liong-pang, akan tetapi bukan hadiah dariku, melainkan hadiah dari Khitan untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar ucapan Kwi Lan, berubah air muka dua belas orang ‘naga’ dari Thian-liong-pang itu. Ma Kiu segera berkata, suaranya berubah ramah, “Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan dari Pak-sin-ong? Sungguh merupakan penghormatan besar sekali terhadap Thian-liong-pang dan salah paham yang terjadi beberapa pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami, mohon Ji-wi sudi memaafkan.”

“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan,” kata Kwi Lan setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam. “Akan tetapi yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan keturunan kuda pribadi Ratu Khitan. Harap Thian-liong-pang suka menerima anugerah dari Ratu Khitan ini.”

Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap condong untuk membela Ratu Khitan yang menurut penuturan guru dan bibinya adalah ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi mendengar ini Ma Kiu mengangguk-angguk dan bertukar pandang dengan sebelas orang saudaranya.

“Kami mengerti... kami mengerti dan terima kasih banyak...,” katanya. Tentu saja Kwi Lan tidak mengerti apa yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu melompat turun dari kudanya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon ketua itu menggapai seorang anggota Thian-liong-pang yang tinggi besar.

“Bawa kuda ini ke kandang dan pelihara baik-baik, beri makan minum secukupnya!”

Orang tinggi besar itu memberi hormat dan menerima kendali. Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda hitam itu yang mencium bau orang baru dan merasakan tarikan keras, segera meringkik, membuka mulut dan menerjang orang tinggi besar itu! Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha mengelak, namun terlambat, pundaknya kena digigit sehingga ia berkaok-kaok kesakitan. Ketika kuda itu melepaskan gigitannya, daging pundak berikut baju sudah robek dan darah membasahi semua bajunya! Tentu saja anggota ini menjadi kaget dan melepaskan kendali kudanya.

Hauw Lam tertawa bergelak. “Sudah kuberitahu, kuda ini bukan kuda sembarangan!”

“Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku yang membawanya ke kandang.” Seorang laki-laki berusia hampir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah maju. Dia ini adalah seorang di antara Cap-ji-liong.

Begitu Ma Kiu menganggukkan kepala, si Kurus sudah menyambar kendali kuda, lalu tubuhnya melayang naik ke punggung kuda hitam. Kuda itu meringkik-ringkik dan meronta-ronta, namun dengan menjepitkan kedua kaki ke perut kuda, si Kecil Kurus tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetot-betot kendali kuda. Kuda hitam makin marah, melonjak-lonjak dan meloncat-loncat tinggi menggerak-gerakkan punggungnya.

Kalau orang biasa tentu akan terlempar dari punggung kuda, akan tetapi ternyata si Kecil Kurus itu lihai sekali. Tubuhnya mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan tetap. Akhirnya, setelah hidung dan bibir kuda mengeluarkan darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan dan menurut saja disuruh berjalan ke luar dari dalam ruangan tamu!

Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk duduk di bagian depan.

Hauw Lam berbisik. “Mereka mengira bahwa kita ini tokoh-tokoh kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan memang biasanya orang-orang Pak-sin-ong ini melakukan perjalanan sambil menyamar dan merahasiakan diri, karena selalu menjadi incaran orang pemerintahan Khitan. Tentu si Brewok tadi mengira kita berpura-pura menghadapi banyak tamu, maka ia bilang mengerti!” Pemuda itu tertawa dan Kwi Lan juga tertawa geli.

Pelayan datang dengan cepat membawa minuman arak wangi dan masakan-masakan lezat dan mahal. Karena memang sudah lapar dan sudah lama tidak bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak sungkan-sungkan lagi. Kiranya pemuda jenaka itu adalah seorang ahli makanan. Sambil mencoba dan mencicipi belasan macam masakan yang datang membanjiri meja mereka, Hauw Lam tiada hentinya mengoceh untuk memperkenalkan tiap masakan kepada Kwi Lan.

“Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya terdapat dalam rawa-rawa di daerah selatan saja. Dagingnya empuk, gurih dan harum sedap, maka harganya pun amat mahal. Sayang ini yang jantan, kalau yang betina lebih lezat. Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena dibutuhkan telurnya. Hanya Kaisar yang suka menyuruh buatkan kodok betina goreng!” Memang luar biasa masakan kodok goreng itu. Berbeda dengan swike biasa, kodok ini digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi justru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang. Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya enak pula dimakan, tidak keras.

“Wah, ini sop buntut menjangan namanya! Dimasak sop dengan campuran kacang polong dan jamur kuning. Hebat! Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah mengalir cepat. Sedikit cukup untuk menghangatkan tubuh. Dan ini masak tim kaki burung raja air! Kau tahu apa itu burung raja air? Bebek! Ini tim kaki bebek. Enak kenyil-kenyil dan gurih. Wah, yang di sana itu panggang ayam angkasa. Sedap!”

“Apa itu ayam angkasa?” Kwi Lan bertanya, gembira oleh penjelasan yang lucu ini.

“Ayam angkasa? Masa tidak tahu? Burung dara! Enak juga, cobalah.”

Sampai kenyang sekali perut Kwi Lan karena pandainya Hauw Lam memperkenalkan setiap masakan sehingga tak dapat ia bertahan untuk tidak mencicipinya.

“Eh, ini masakan apa? Mengapa dagingnya bundar-bundar tapi bukan bakso? Licin...!”

Hauw Lam mengulur leher menjenguk, lalu mengorek dengan sumpit untuk memeriksa. “Ini...? Waaahh... gila amat! Ini... ini bukan makanan wanita! Celaka, yang begini dikeluarkan. Sialan benar!” Ia mengomel panjang pendek tanpa menjawab pertanyaan Kwi Lan.

Gadis itu tentu saja menjadi tertarik sekali, “Masakan apa sih? Kenapa bukan makanan wanita?”

Heran sekali. Tiba-tiba muka Hauw Lam menjadi merah dan ia tampak gagap-gugup dalam menjawab. Padahal biasanya pemuda ini paling pandai bicara. “Masakan... waaahhh, bagaimana ini...? Ini masakan... masakan... hemmmm...!” Karena mereka berdua tadi bicara keras tanpa mempedulikan orang lain, tentu saja percakapan terakhir ini pun terdengar pula oleh para tamu yang duduk berdekatan. Mereka mulai tertawa-tawa geli menyaksikan sikap Hauw Lam ini.

“Ih, kenapa kau? Sudah mabokkah? Masa menjawab masakan saja begitu sukar? Kalau tidak mengenal, bilang saja terus terang, mengapa susah-susah amat?” Kwi Lan menegur.

“Siapa bilang aku tidak mengenal masakan ini? Semua masakan di dunia pernah kumakan. Aku pernah memasuki dapur kaisar, pernah ikut dalam perjamuan Beng-kauw di selatan! Ini masakan... daging kambing saus tomat!”

“Uhh, hanya daging kambing saja kenapa tidak dari tadi menyebutnya? Kau bohong agaknya! Kalau benar hanya daging kambing, mengapa bentuknya bulat seperti ini? Dan mengapa pula tadi kau hilang ini bukan makanan wanita?”

“Ha-ha-ha-ha! Itu bukan daging kambing, melainkan... peluru kambing. Ha-ha-ha!” Riuh rendah suara ketawa itu.

Hauw Lam dan Kwi Lan menengok. Sejak tadi mereka sudah tahu bahwa tidak jauh dari meja mereka, dalam jarak lima meter, terdapat enam orang anggota pengemis baju bersih yang duduk mengelilingi meja dan sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Enam orang pengemis itu rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, hanya mereka berdua inilah yang masih muda dan kini dua orang inilah yang tertawa-tawa oleh ucapan seorang di antara mereka tadi.

Pada saat itu Kwi Lan dengan sumpitnya telah menusuk dua potong daging kambing itu yang memang berbentuk bundar telur sebesar telur ayam.

“Hanya kambing jantan yang memiliki peluru itu, kambing betina tentu saja tidak punya. Akan tetapi keliru kalau orang bilang wanita tidak boleh memakannya, malah sebetulnya itu makanan wanita, apa lagi wanita cantik...! Ha-ha-ha-ha!” komentar pengemis muda yang ke dua dan kembali dua orang yang duduknya menghadap kepada meja Kwi Lan tertawa-tawa sambil terang-terangan memandang kepada gadis itu.

“Ha-haaauupp!” mendadak dua orang pengemis muda yang sedang tertawa berkakakan itu terhenti ketawanya dan mata mereka mendelik, tangan kiri mencekik leher dan tangan kanan menunjuk-nunjuk kebingungan ke arah mulut mereka yang ternganga. Tanpa diketahui orang lain saking cepatnya gerakan tangan Kwi Lan, dua buah daging bulat yang tadi berada di ujung sepasang sumpitnya kini telah menyusup masuk ke tenggorokan dua orang itu melalui mulut yang tadi terbuka lebar-lebar.

Empat orang pengemis lain yang mengira bahwa dua orang temannya ini tersedak makanan sibuk menolong, menepuk-nepuk punggung mereka dengan keras sambil bertanya-tanya. Akan tetapi dua orang itu hanya dapat mengeluarkan suara seperti orang gagu karena kerongkongannya tersumbat. Akhirnya seorang di antara mereka terbatuk dan meloncat keluarlah daging bulat seperti telur ayam itu. Sedangkan seorang lagi, karena daging itu belum keluar dan ia merasa napasnya hampir putus, dengan nekat lalu memasukkan sumpit ke mulutnya dan mendorong daging di kerongkongannya itu terus masuk! Akal ini menolong juga dan terhindarlah ia dari pada bahaya maut tercekik.

Kwi Lan yang telah memberi hukuman kepada dua orang pengemis muda yang berani mentertawakannya itu, kedua pipinya menjadi merah. Tidak hanya karena marah, juga karena jengah setelah ia mendengar apa sebetulnya daging bulat-bulat itu. Diam-diam ia memaki tuan rumah yang mengeluarkan hidangan macam itu. Gadis ini memang masih asing dengan segala masakan-masakan kota, apa lagi masakan-masakan yang begitu mewah. Semenjak kecil ia hanya makan masakan sederhana yang dibuat Bibi Bi Li. Kini untuk mengalihkan perhatian dari masakan yang dianggapnya tidak pantas itu, lalu bertanya kepada Hauw Lam yang masih tertawa-tawa, mentertawakan keadaan dua orang pengemis tadi.

“Dan ini, apakah ini? Untuk apa? Kelihatannya seperti darah.”

“Bukan darah. Itu namanya kecap, untuk bumbu menambah asin atau manis masakan.”

Sementara itu, dua orang pengemis muda yang sudah bebas dari pada daging-daging bulat kelihatan marah-marah, berdiri dan memandang ke arah meja Kwi Lan sambil melotot. Empat orang kawannya yang lebih tua juga sudah menengok semua dan mereka bicara berbisik-bisik satu kepada yang lain, wajah mereka mengancam. Agaknya mereka sedang mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap dua orang muda itu tanpa mengganggu jalannya pesta. Mereka berenam hanyalah tokoh-tokoh biasa saja yang datang mewakili pengemis golongan hitam, maka tentu saja mereka segan untuk membuat gaduh dan kacau dalam pesta perayaan pengangkatan ketua Thian-liong-pang. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menanti sampai upacara berakhir, barulah akan memberi hajaran kepada dua orang muda kurang ajar itu.

Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar, bentakan suara laki-laki mengiringi tangis wanita. Semua tamu menengok dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar berjubah seperti pendeta, akan tetapi rambutnya panjang riap-riapan dan mukanya seperti seekor singa, matanya lebar dan bersinar liar. Laki-laki berusia lima puluhan tahun ini memegang sebatang cambuk panjang dan dengan cambuk ini ia menggiring dua belas orang wanita muda-muda dan cantik-cantik seperti seorang penggembala menggiring ternak saja.Beberapa orang di antara wanita inilah yang mengeluarkan suara tangisan, dan yang lain berjalan dengan muka pucat dan mata penuh kecemasan.

Begitu memasuki ruangan itu, kakek ini tertawa dan wajahnya menjadi makin menyeramkan. Rambutnya yang riap-riapan dan terhias bunga-bunga cilan, semacam bunga yang wangi, bergerak-gerak ketika ia tertawa. Melihat tamu ini, Thai-lek-kwi Ma Kiu berubah air mukanya, menjadi girang dan segera turun sendiri menyambut dan menjura.

“Wah, kiranya sahabat Ci-lan Sai-kong yang datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami.”

“Huah-ha-ha-ha! Thian-liong-pang terkenal dengan Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor Naga) yang sungguh gagah perkasa. Kini yang tertua di antaranya akan menjadi ketua, benar-benar menambah keangkeran Thian-liong-pang. Pinceng (aku) datang. untuk memberi hormat kepada Sin-seng Losuhu, dan memberi selamat kepada Thian-liong-pang dengan ketua barunya. Karena pinceng seorang miskin yang hanya suka mengumpulkan bunga-bunga harum, maka pinceng hanya dapat memberi sumbangan dua belas tangkai bunga harum ini untuk hiasan kamar Dua Belas Naga dari Thian-liong-pang sehingga kamar mereka menjadi harum dan membuat mereka enak tidur. Ha-ha-ha!”

Kemudian kakek itu membunyikan cambuknya di atas kepala dua belas orang gadis tawanannya sambil membentak, “Hayo kalian lekas berlutut di depan majikan-majikan baru kalian!” Karena agaknya sudah tahu akan kekejaman kakek itu, dua belas orang gadis ini lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan muka.

Para tamu yang hadir terdiri dari orang-orang golongan hitam, maka peristiwa ini tidaklah mengherankan hati mereka, malah banyak di antara mereka tertawa-tawa dan terdengar komentar di sana-sini memuji dua belas orang gadis itu dan menyatakan betapa senangnya menerima sumbangan benda hidup seperti itu. Juga Thai-lek-kwi Ma Kiu dan adik-adik seperguruannya serta para anggota Thian-liong-pang menganggap hal ini biasa dan sewajarnya saja.

Akan tetapi karena saat itu adalah saat yang penting dan di situ terdapat banyak tamu, Ma Kiu merasa malu dan jengah juga. Ia kembali menjura dan berkata, “Ah, Saudara Ci-lan Sai-kong mengapa begitu sungkan? Kami tidak mengharapkan sumbangan. Kedatanganmu saja sudah cukup menggirangkan hati kami!” Sungguh pun tidak menolak secara berterang, namun kata-kata ini menyatakan ketidak-senangan hati dengan sumbangan itu, karena diberikan bukan pada saatnya yang tepat.

“Ha-ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa sambil mengelus jenggotnya yang kaku. “Sudah kukatakan tadi, pinceng orang miskin dan hanya suka mengumpulkan cilan. Karena mendengar bahwa para pimpinan Thian-liong-pang mempunyai kesukaan yang sama dengan pinceng, maka pinceng membawa dua belas tangkai kembang ini. Jangan Sicu (Tuan yang Gagah) khawatir, bunga-bunga ini masih murni, datang dari keluarga baik-baik dan sengaja kupilih untuk Sicu sekalian!”

Pada saat itu, si Tua Renta Sin-seng Losu yang tadinya duduk melenggut mengantuk di atas kursi, kini tiba-tiba nampak segar dan tidak mengantuk lagi. Ia duduk tegak di kursinya, matanya yang setengah lamur itu dilebar-lebarkan untuk memandangi dua belas orang gadis yang berlutut di atas lantai. Kemudian seperti seorang mimpi ia berkata, “Sumbangan paling berharga diberikan orang, kenapa banyak rewel? Kalau tidak suka, boleh giring semua ke kamarku!”

“Huah-ha-ha-ha!” Ci-lan Sai-kong tertawa bergelak sambil berdongak sehingga perutnya yang besar bergerak-gerak turun naik, “Sin-seng Losu benar-benar mengagumkan sekali. Orang boleh tua tapi hati harus tetap muda! Kalau Lo-suhu menghendaki, lain kali boleh pinceng kirim beberapa tangkai bunga yang lebih muda, lebih cantik dan lebih harum!”

“Heh-heh, terima kasih... ini sudah cukup... banyak....”

Biar pun dia sendiri seorang yang tidak pantang melakukan segala macam maksiat, namun sebagai calon ketua perkumpulan besar, Ma Kiu merasa malu juga mendengar percakapan kasar ini. Maka untuk mencegah agar suhunya yang sudah pikun dan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) Ci-lan Sai-kong itu tidak mengeluarkan omongan-omongan yang tidak patut lagi, ia segera menjura.

“Banyak terima kasih atas sumbanganmu, kami persilakan duduk dan menikmati hidangan sekedarnya!” sambil menyuruh adik-adik seperguruannya membawa para gadis itu ke belakang, ia sendiri lalu mengantar tamu ini ke tempat duduknya.

Hauw Lam mengerutkan alisnya. Mukanya yang tampan dan biasa bergembira itu berubah sama sekali, sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan. Kwi Lan melihat hal ini dan merasa heran. Mengapa pemuda, ini marah-marah?

“Kau kenapa?” Ia bertanya lirih.

“Kenapa? Hemm, tidakkah kau lihat mereka tadi...?” Hauw Lam menjawab dengan pertanyaan pula. “Ci-lan Sai-kong itu jai-hwa-cat terkutuk...”

“Apa itu jai-hwa-cat?”

Dalam kemarahannya, Hauw Lam berubah gemas dan mengomel. “Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa! Tidak mengenal masakan masih tidak aneh, akan tetapi seorang dara dengan kepandaian seperti kau ini yang patut menjagoi dunia kang-ouw, tidak tahu apa itu jai-hwa-cat benar-benar bikin hati mendongkol. Sekan-akan kau mempermainkan aku dan pura-pura tidak tahu!”

Kwi Lan makin heran melihat pemuda ini bertambah kemarahannya. “Eh, kau kenapa sih? Mabok agaknya, ya? Aku benar-benar tidak tahu, kau marah-marah. Hayo jelaskan, apa sih yang dinamakan jai-hwa-cat itu? Kakek itu menjemukan, buruk kasar dan menjijikkan, tapi ia seperti seorang pendeta. Apakah jai-hwa-cat itu seorang pendeta? Setahuku, pendeta suka memetik daun-daun dan menggali akar-akar untuk obat. Memetik bunga (jai-hwa) untuk apa?”

“Kau benar bodoh, Mutiara Hitam! Pendeta itu hanya berkedok pendeta, akan tetapi di balik kedoknya, ia penjahat yang sejahat-jahatnya. Yang dimaksudkan bunga adalah seorang gadis atau seorang wanita muda. Dia bukan memetik bunga biasa, melainkan tukang culik dan ganggu gadis-gadis muda, Kau lihat dua belas gadis itu....”

“Hemm, mereka itu orang-orang tidak punya guna. Mereka mau saja dijadikan barang sumbangan. Perlu apa dipikirkan boneka-boneka hidup itu?”

“Mereka dipaksa!”

“Ih, aku tidak melihat mereka dipaksa. Mereka berjalan dengan sukarela sama sekali tidak melawan.”

“Mereka orang-orang lemah, bagaimana berani melawan?”

Kwi Lan mengangkat kedua pundak. Ia tetap tidak mengerti dan tidak mempedulikan nasib dua belas orang wanita tadi. Hauw Lam makin mendongkol. Gadis aneh yang telah merampas hatinya ini agaknya selain berwatak luar biasa, juga hatinya keras dan tidak mempedulikan nasib orang lain.

Tiba-tiba terjadi keributan kembali dan masuklah dari ruangan depan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya tampan, sikapnya agung dan pakaiannya biar pun tidak baru, namun bersih dengan potongan pakaian pelajar. Di pinggang orang ini tergantung sebatang pedang. Begitu masuk, semua orang tahu bahwa pelajar tua ini sedang marah, sepasang matanya yang tajam mengeluarkan sinar. Ia langsung melangkah lebar ke dalam ruangan tamu, berhenti di depan Sin-seng Losu lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak.

“Sin-seng Losu! Bagaimana pertanggungan-jawabmu terhadap Thian-liong-pang? Kulihat betapa Thlan-liong-pang berubah menjadi perkumpulan iblis yang jahat dan yang mengotorkan nama kami para patriot Hou-han! Tadinya melihat muka mantumu, Siangkoan Bu yang gagah perkasa dan dapat membawa Thian-liong-pang ke jalan benar, aku masih bersabar menyaksikan sepak terjangmu. Akan tetapi setelah Siangkoan Bu meninggal, kau dan murid-muridmu makin merajalela melakukan kejahatan-kejahatan yang keji, menyeret nama bersih Thian-liong-pang sebagai tempat perkumpulan para patriot Hou-han menjadi perkumpulan bangsat-bangsat dan penjahat-penjahat!”

Mendengar ucapan ini Ma Kiu melompat bangun diturut sebelas orang adik seperguruannya. “Heh, orang she Ciam! Engkau dahulu memang tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi dengan kehendakmu sendiri kau pergi mengundurkan diri sehingga kalau tidak ada Suhu kami, tentu Thian-liong-pang sudah bubar dan hancur diperhina orang lain. Kini Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang besar, dihormati orang di dunia kangouw, dan kau berani datang bersikap kurang ajar terhadap Suhu? Apakah kau sudah bosan hidup?”

“Ciam-sicu, mengingat engkau masih bekas pemimpin Thian-liong-pang dan mengingat akan hubungan kita yang lalu, biarlah kumaafkan kata-katamu yang kasar tadi.” Terdengar Sin-seng Losu berkata tenang. “Akan tetapi katakanlah mengapa datang-datang kau memaki dan marah-marah? Bukankah anak buahku sudah pula memberi kabar kepadamu dan memberi undangan?”

“Aku tidak peduli akan upacara pengangkatan ketua baru, asal saja Thian-liong-pang dibawa ke jalan benar. Akan tetapi aku sedang mengejar Ci-lan Sai-kong si Penjahat Pemetik Bunga yang terkutuk, yang telah menculik belasan orang gadis. Siapa kira, dua belas orang gadis itu diculiknya untuk diantarkan ke sini! Hayo menyangkallah kalau bisa! Bukankah Sai-kong keparat itu mengantarkan mereka ke sini sebagai sumbangan? Beginikah wataknya para pimpinan Thian-liong-pang sekarang? Begini rendah dan bejat?”

“He-heh, Ciam-sicu. Apa pun yang dipersembahkan orang, kalau itu merupakan sumbangan, tidak baik untuk ditolak. Menolaknya berarti menghina dan tidak menghargai maksud baik orang lain. Memang kami telah menerima sumbangan Ci-lan Sai-kong. Akan tetapi kalau kau menghendaki mereka, biarlah kuberikan mereka kepadamu,” kembali Ketua Thian-liong-pang itu berkata penuh kesabaran. Ia sebetulnya tidak takut terhadap orang she Ciam itu, akan tetapi mengalah karena mengingat akan perhubungan mereka yang lalu.

Ciam Goan ini dahulu adalah seorang di antara pimpinan Thian-liong-pang dan terkenal aktif serta setia terhadap perkumpulan. Baru sepuluh tahun yang lalu ia mengundurkan diri dan tidak pernah mencampuri Thian-liong-pang karena makin tidak suka akan sepak terjang pimpinan baru. Baru sekarang ia tiba-tiba muncul dan marah-marah karena melihat betapa penjahat pemetik bunga yang dikejar-kejarnya itu memberikan gadis-gadis culikannya sebagai sumbangan kepada pimpinan Thian-liong-pang!

“Sin-seng Losu! Kau masih mempunyai rasa malu, itu bagus. Lekas bebaskan dua belas orang gadis itu dan selanjutnya aku tidak akan mencampuri urusan Thian-liong-pang lagi karena semenjak saat ini, aku bersumpah takkan sudi lagi menginjak lantai ini!”

Mendengar kata-kata ini, Sin-seng Losu menoleh ke arah dua belas orang muridnya. Sikapnya jelas hendak mengalah dan gerakan mukanya merupakan perintah agar murid-muridnya membebaskan dua belas orang gadis sumbangan Ci-lan Sai-kong. Di dalam hatinya Ma Kiu dan adik-adiknya merasa mendongkol dan marah sekali. Mereka memang suka dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi bagi mereka amat mudah mendapatkan wanita cantik, baik dengan mengandalkan uang, kedudukan, mau pun kepandaian dan tentu saja mereka tidak begitu kukuh, untuk menahan dua belas orang gadis tadi.

Akan tetapi sikap Ciam Goan amat merendahkan mereka dan kalau mereka mengalah, mereka merasa malu kepada para tamu. Selain itu, mereka pun tahu bahwa gurunya mengalah hanya karena mengingat bahwa Ciam Goan ini dahulu bekas pemimpin Thian-liong-pang. Soal kepandaian, sungguh pun Ciam Goan cukup lihai, namun mereka tidak gentar menghadapinya. Karena inilah, Ma Kiu menjadi ragu-ragu untuk menyetujui sikap gurunya yang mengalah.

Pada saat itu terdengar suara ketawa keras dan Ci-lan Sai-kong sudah melompat bangun menghadapi Ciam Goan. Sambil bertolak pinggang orang tinggi besar itu tertawa dan berkata. “Huah-ha-ha-ha! Cacing kurus yang bicara besar dan sombong! Engkau bilang mengejar dan mencari pinceng? Dua belas tangkai bunga itu adalah pinceng yang menyumbangkan kepada dua belas orang gagah Thian-liong-pang, dan karena pinceng masih berada di tempat ini, masih menjadi tanggung jawab pinceng!”

“Bagus! Memang aku akan membunuhmu, jai-hwa-cat!” bentak Ciam Goan dengan marah.

Bekas tokoh Hou-han ini tidak peduli akan semua tamu lain karena kemarahannya sudah meluap-luap. Yang membuat marah sekali bukan hanya melihat penjahat cabul penculik gadis-gadis remaja itu, melainkan terutama sekali karena melihat betapa Thian-liong-pang yang tadinya menjadi harapan para patriot Hou-han untuk membangun kembali kerajaan yang sudah runtuh, kini ternyata menyeleweng menjadi sarang penjahat kejam terkutuk. Maka kini dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya dan langsung menerjang Sai-kong itu dengan tusukan kilat ke arah dada.

Harus diketahui bahwa Ciam Goan ini adalah putera tunggal mendiang Ciam-ciangkun, seorang panglima Kerajaan Hou-han. Dalam hal ilmu pedang, ia telah digembleng oleh seorang pamannya, adik ibunya, juga seorang panglima, yaitu Panglima Giam Siong yang terkenal jagoan. Ilmu pedangnya bersumber kepada ilmu pedang Kun-lun-pai, maka mengutamakan kecepatan gerak dan perubahan.

Mendengar suara angin pedang berdesing dan melihat serangan yang cepat ini, Ci-lan Sai-kong tidak berani memandang rendah. Sambil berseru keras ia sudah meloncat mundur sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah menghunus ke luar sebatang golok tipis yang mengkilap saking tajamnya.

Ujung pedang di tangan Ciam Goan sudah datang lagi dengan tusukan ke arah leher. Kini Ci-lan Sai-kong menggerakkan goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaga. Sai-kong ini adalah seorang ahli gwakang (tenaga luar) sehingga tenaganya amat besar.

Terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata beradu. Diam-diam Ciam Goan terkejut sekali. Untung tadi sudah menduga akan besarnya tenaga lawan, sehingga ia telah mengerahkan Iweekang dan ketika pedangnya ditangkis, ia dapat menghadapi tenaga keras dengan tenaga lemas. Dengan cara ini, walau pun tertangkis keras, pedangnya tidak terpental melainkan menempel pada golok sehingga tidak ada bahaya terlepas atau rusak.

Selagi Sai-kong itu terkejut karena tangkisannya yang keras tidak berhasil membuat pedang lawan terpukul jatuh, Ciam Goan sudah membuat pedangnya meleset dan langsung dengan gerakan nyerong pedangnya itu menyambar ke arah lengan kanan lawan. Inilah jurus ilmu pedang Kun-lun yang bernama Hun-in-toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung), amat berbahaya karena yang diserang bukan bagian tubuh lain melainkan lengan kanan yang memegang golok!

Hebatnya jurus ini adalah karena pedang itu akan terus mengulang gerakannya membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Kecepatannya mengandalkan kepada gerak pergelangan tangan, maka cepatnya bukan main dan lawan yang diserang tentu akan menjadi bingung.

Demikian pula dengan Ci-lan Sai-kong. Melihat pedang lawannya membabat ke arah lengan kanannya, ia kaget sekali dan cepat ia menarik lengan kanannya sambil memutar golok, siap membalas. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedang yang lewat ke sebelah kirinya itu kini membalik dengan kecepatan kilat dan telah membabat lagi ke arah pinggangnya! Tak disangkanya lawan akan dapat mengulangi serangan sedemikian cepatnya, maka ia pun menggerakkan golok menangkis.

Namun tetap saja Ciam Goan dapat terus menyambung serangannya. Begitu tertangkis, pedangnya membalik dan meluncur dengan babatan dari samping, demikian pula kalau dielakkan sehingga Sai-kong itu mengalami penyerangan berantai yang membuat dia repot menyelamatkan diri.

Akan tetapi Ci-lan Sai-kong juga bukan seorang lemah. Selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, juga ia sudah kenyang akan pengalaman bertanding. Inilah sebabnya maka menghadapi serangan Hun-in-toan-san yang amat lihai ini ia pun tidak kekurangan akal. Melihat betapa pedang lawan selalu membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya, sedangkan yang diserang adalah pinggang ke atas, tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan keras dan tubuhnya lalu rebah dan menggelinding ke atas tanah. Ia tidak hanya menggelinding untuk menyelamatkan diri, melainkan juga berguling untuk mendekati lawan dan goloknya menyambar-nyambar dari bawah, membabat kaki lawan dan juga ada kalanya menusuk ke arah perut.

Inilah Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan) yang amat berbahaya. Segera keadaan menjadi berubah. Kalau tadi Ciam Goan berada di pihak penyerang dan pendesak dengan jurus Hun-in-toan-san, kini si Penjahat Pemetik Bunga itu yang mendesak dengan Tee-tong-to. Ciam Goan menjadi repot sekali, harus meloncat ke sana ke mari dan pedangnya melindungi tubuh bagian bawah, bagian yang amat sulit dilindungi dengan pedang.

“Wah, ramai betul!” Hauw Lam berkata dengan wajah gembira. “Kalau tidak hati-hati orang she Ciam itu tentu akan celaka.”

“Tidak mungkin!” bantah Kwi Lan.

“Biar pun ilmu pedangnya hanya permainan kanak-kanak, sedikitnya ia lebih baik dari pada brewok itu.”

Hauw Lam melirik ke arah gadis ini. Terlalu sombongkah gadis ini, atau memang betul-betul berkepandaian begitu tinggi sehingga menganggap ilmu pedang Ciam Goan yang jelas bersumber ilmu pedang Kun-lun itu dianggap permainan kanak-kanak.

“Kumaksudkan bukan dalam pertandingan melawan Sai-kong itu. Melawan dia, kiranya takkan kalah karena kulihat Sai-kong itu hanya luarnya saja kelihatan kuat, akan tetapi dalamnya sudah lapuk seperti pohon tua, napasnya sudah hampir putus. Yang kukhawatirkan adalah orang-orang Thian-liong-pang. Lihat saja sikap Dua Belas Naga itu dan kurasa Ciam Goan belum tentu akan dapat meninggalkan tempat ini dengan selamat.”

Kini Kwi Lan yang merasa heran. Ia tidak berkata apa-apa, akan tetapi hatinya penasaran. Ia belum berpengalaman seperti Hauw Lam, tidak mengenal watak orang-orang kang-ouw.

Sementara itu, pertandingan antara dua orang itu makin seru. Kini Ci-lan Sai-kong tidak lagi menggunakan Tee-tong-to karena ia menjadi kelelahan sendiri setelah puluhan jurus ia lakukan tanpa hasil. Memang Tee-tong-to sungguh pun lihai dan berbahaya bagi lawan, namun untuk memainkannya membutuhkan tenaga dan napas panjang. Ada pun Ci-lan Sai-kong, sungguh pun terlatih baik dan banyak pengalaman, namun tepat seperti dikatakan Hauw Lam tadi, di sebelah dalam tubuhnya ia sudah lemah.

Sai-kong ini adalah seorang abdi nafsu, seorang yang selalu mengumbar nafsu sehingga tentu saja kekuatan-kekuatan sebelah dalam tubuhnya menjadi lemah dan mana ia mampu bertahan melawan seorang yang ulet dan kuat seperti Ciam Goan? Kini keringatnya sudah membasahi muka dan leher, napasnya mulai terengah-engah seperti orang dikejar setan.

Melihat keadaan lawan ini, Ciam Goan lalu mendesak dan menerjang dengan jurus Seng-siok-hut-si (Musim Panas Kebut Kipas). Jurus ini amat gencar seperti gerakan kipas di tangan, bahkan lebih gencar serangannya dari pada jurus Hun-in-toan-san tadi. Tiga kali Sai-kong itu mengelak dan menangkis, keempat kalinya ketika ujung pedang menotok iga kiri, ia cepat melakukan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk Bulan Depan Dada) untuk melindungi iganya dengan golok sambil tangan kirinya bergerak memukul dada lawan. Namun siapa kira, Ciam Goan sudah merobah gerakan pedangnya, ia tidak jadi menotok iga, melainkan memutar pedangnya ke kanan dan....

“Crakkkk!” lengan kiri Sai-kong itu terbabat putus sebatas siku!

“Aduhh...!” Sai-kong itu terhuyung dan Ciam Goan sudah menerjang maju untuk mengirim tusukan terakhir.

Akan tetapi pada saat itu tampak sinar putih meluncur cepat dan....

“Traanggg...!” pedang di tangan Ciam Goan terpental dan lepas dari pegangannya. Sebatang sumpit gading yang tadi menghantam pedang itu jatuh ke atas lantai di depannya.

Pucat wajah Ciam Goan. Kiranya Ma Kiu yang menyambitkan sumpit itu untuk menangkis pedangnya dan menyelamatkan nyawa Ci-lan Sai-kong. Lemparan sumpit saja sudah dapat meruntuhkan pedangnya. Baru lemparan sumpit begitu hebat, apa lagi kalau orangnya maju! Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Kepandaian Thai-lek-kwi memang hebat. Seorang saja sudah sehebat itu, apa lagi kalau Cap-ji-liong dari Thian-liong-pang maju bersama. Akan tetapi aku Ciam Goan seorang laki-laki yang tidak takut mati. Majulah kalian semua dan mari kita mengadu nyawa di sini!”

Sikap Ciam Goan benar-benar amat gagah sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi kagum sekali. Diam-diam gadis ini sudah siap-siap untuk membela orang gagah itu. Ia mendengar kawannya berbisik, “Kalau dia dikeroyok, hemmm... akan kucabuti semua rambut dari muka Ma Kiu berikut bulu-bulu hidungnya!”

Mau tidak mau Kwi Lan tertawa geli mendengar ucapan ini. Karena gadis ini wajar dan polos, maka suara ketawanya tidak ia tahan-tahan. Padahal waktu itu keadaan sudah amat tegang dan amat sunyi. Tidak ada suara keluar dari para tamu yang menanti perkembangan selanjutnya yang menegangkan. Tentu saja suara ketawa gadis ini terdengar jelas.

Sin-seng Losu lalu bangkit berdiri. Suara ketawa Kwi Lan tadi seakan-akan menampar mukanya dan ia berkata, “Sudahlah, kami sedang hendak melakukan upacara penting, tidak perlu pertandingan dilanjutkan berlarut-larut. Apa lagi kami tidaklah serendah itu untuk melakukan pengeroyokan terhadap seorang yang tidak berapa pandai seperti Ciam-sicu, kau sudah berhasil mengalahkan Ci-lan Sai-kong, nah, tidak lekas pergi dari sini mau tunggu apa lagi?”

Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Aku harus tahu diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah dua belas orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong. Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan seorang yang mudah melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula!” Setelah berkata demikian, Ciam Goan memungut pedangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Ci-lan Sai-kong sudah ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu sudah dibersihkan oleh pelayan dan Ci-lan Sai-kong sudah disuruh mengaso di kamar belakang.

“Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan sekarang juga!” Sin-seng Losu berseru keras dan semua tamu bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing.

Biar pun merasa tak senang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri dengan muka melucu terpaksa bangkit juga. Suasana kembali menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thian-liong-pang yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya, terdengar nyata. Sambil berlutut murid itu memberikan panci kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari kursinya. Dengan kedua tangan ia memegang panci itu.

Pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut menghadap para tamu. Seorang murid lain datang pula dari belakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing menggonggong. Kiranya murid ini datang menyeret seekor anjing hitam ke depan gurunya. Tanpa berkata sesuatu Sin-seng Losu menggerakkan tangan kiri dengan dua jari terbuka, menusuk leher anjing hitam itu. Terdengar anjing itu menguik keras akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan tubuhnya diangkat ke atas. Dari lehernya yang berlubang bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke dalam panci tadi. Anjing tadi meronta-ronta dan menguik-nguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti berkelojotan. Bangkainya lalu dilemparkan ke sudut oleh si Murid yang lalu mengundurkan diri.

Beberapa orang pelayan lalu mengangkat bangkai itu ke belakang dan Kwi Lan mendengar suara Hauw Lam berbisik di belakangnya, “Hemm, tentu dimasak daging anjing itu.”

“Ihhh...!” Kwi Lan berseru kaget, akan tetapi mereka lalu mengalihkan perhatian lagi ke tengah ruangan di mana Sin-seng Losu memegang panci berisi darah anjing hitam.

Kakek ini lalu mengangkat panci tinggi-tinggi dan berkata, “Dengan disaksikan oleh Cu-wi sekalian, dan dengan syarat sudah ditentukan dalam perkumpulan Thian-liong-pang kami, saat ini aku menyerahkan kedudukan Pangcu (Ketua) kepada muridku yang pertama, Ma Kiu. Nyawa anjing hitam itu menjadi saksi dan darahnya menghalau semua iblis yang hendak mengganggu tugasnya!” Setelah berkata demikian, Sinseng Losu menyiramkan darah anjing hitam itu ke atas kepala Ma Kiu yang botak!

“Ihhh...!” kembali Kwi Lan berseru dan seperti terpesona ia pun menuangkan kecap dari botol ke dalam cangkirnya sampai penuh! Kecap itu kental dan merah seperti darah.

“Hemmm, benar-benar keji dan kotor,” bisik Hauw Lam di belakangnya. “Mutiara Hitam, aku sudah muak dan tanganku juga gatal-gatal karena diam saja sejak tadi di sini. Apakah menyaksikan lagak badut-badut ini kita harus diam saja? Hayo kau ramaikan tontonan di sini, kau tarik perhatian mereka dan aku akan masuk menolong gadis-gadis tadi. Atau aku yang memancing keributan sedangkan kau yang menolong...?”

“Ah, peduli amat dengan mereka. Kalau kau mau menolong, pergilah. Aku... aku ingin mencoba sampai di mana kelihaian mereka ini!”

Hauw Lam mengangguk, lalu diam-diam ia menyelinap pergi menggunakan kesempatan selagi semua orang mencurahkan perhatian kepada upacara pengangkatan ketua baru. Kwi Lan yang memang sejak tadi mendongkol dan tidak senang mendengar niat Hauw Lam hendak menolong dua belas orang gadis-gadis itu, entah mengapa hatinya makin tidak senang lagi. Dan kini ia ingin menumpahkan kemarahan hatinya kepada orang-orang Thian-liong-pang. Ia membawa cangkir kecap itu menuju ke depan, lalu berkata.

“Pangcu yang baru diangkat dengan siraman darah anjing. Kalau dia suka darah biarlah aku mengucapkan selamat dengan darah naga ini!” Kwi Lan tersenyum manis dan begitu ia menggerakkan tangan kanan, ‘darah’ dalam cangkirnya menyiram ke luar dan dengan kecepatan luar biasa menyambar kepala dan muka Ma Kiu yang masih berlepotan darah akan tetapi sudah duduk di kursi ketua yang tadi diduduki suhunya!

Namun Ma Kiu memang lihai. Tanpa turun dari kursinya, ia mengerahkan tenaga dan... berikut kursi yang didudukinya ia telah meloncat. Kursinya itu telah pindah ke kiri sejauh satu meter! Akan tetapi karena sambaran kecap itu luar biasa cepatnya, ia tidak dapat menghindarkan lagi sebagian kecap menyiram pipinya dan memasuki mulutnya. Ketika ia tahu bahwa yang menyiram mukanya adalah kecap, mengertilah Ma Kiu bahwa gadis itu sengaja mencari gara-gara. Akan tetapi karena tadi mengira bahwa gadis itu adalah utusan Jin-cam Khoa-ong, Ma Kiu masih menahan kemarahannya, lalu berseru dengan nada marah.

“Nona sebagai tamu yang kami hormati, sebagai utusan Pak-sin-ong yang kami muliakan, apakah arti perbuatanmu ini?”

Kwi Lan tersenyum mengejek. Sejak tadi ia sudah tidak senang kepada mereka, terutama Ma Kiu. Ia memang tidak peduli akan nasib dua belas orang wanita muda tadi, akan tetapi mereka itu ia anggap terlalu sombong, tidak memandang mata kepadanya sehingga melakukan apa saja di depannya seakan-akan ia tidak akan bisa berbuat sesuatu! Memang watak Kwi Lan aneh sekali dan ia hanya selalu menurutkan perasaan hatinya. Kalau perasaan hatinya suka, seperti terhadap Hauw Lam, ia pun akan bersikap baik.

“Artinya, Brewok, bahwa aku setuju dengan ucapan orang she Ciam tadi, bahwa Thian-liong-pang dipimpin oleh orang-orang yang busuk! Bahwa kuanggap engkau seorang yang suka mandi darah anjing hitam, tak patut menjadi Ketua Thian-liong-pang, patutnya menjadi tukang jagal anjing!”

Semua orang terbelalak kaget mendengar ini dan semua tamu menahan napas. Omongan itu merupakan penghinaan yang tiada taranya! Apa lagi bagi mereka yang mengenal bahwa dahulunya Ma Kiu adalah seorang tukang jagal, maka omongan gadis itu yang entah disengaja atau tidak mereka tidak tahu tentu amat menyakitkan hati ketua baru Thian-liong-pang ini. Dan memang sesungguhnyalah, setelah sesaat terbelalak seperti arca saking kaget dan herannya, wajah Ma Kiu perlahan-lahan menjadi merah sekali sampai ke telinganya. Kedua tangannya mencengkeram lengan kursinya dan kalau ia tidak ingat bahwa kursi itu adalah kursi ketua tentu lengan kursi itu telah diterkamnya hancur untuk melampiaskan kemarahannya.

“Bocah kurang ajar!” bentaknya, Suaranya menggetar saking marahnya. “Biar pun engkau utusan dari utara, apa kau kira kau boleh bersembunyi di balik nama Jin-Cam Khoa-ong untuk menghinaku?”

Kwi Lan tertawa, menggunakan tangan kanannya secara main-main meremas cangkir bekas kecap tadi sehingga cangkir itu hancur lebur menjadi tepung dalam genggaman tangannya yang berkulit halus, lalu berkata, “Siapa bilang aku kaki tangan Jin-cam Khoa-ong? Biar dia algojo manusia mau pun algojo anjing seperti engkau, aku sama sekali tidak mengenalnya. Siapa kesudian bersembunyi di belakang namanya?”

Mendengar ini kembali semua orang melengak kaget. Kalau dara remaja itu tadi bersikap ugal-ugalan dan kurang ajar, mereka semua mengira bahwa gadis itu adalah kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan hal itu tidaklah begitu aneh. Akah tetapi setelah kini gadis itu sendiri menyangkal menjadi orang Pak-sin-ong dan berani menghina tokoh besar itu pula di depan orang banyak, benar-benar mereka menjadi kaget dan heran sekali. Gilakah dara remaja ini? Kalau gila, alangkah sayangnya. Dara remaja ini begitu cantik jelita.

Lebih-lebih lagi Ma Kiu sendiri. Kemarahannya meluap-luap dan diam-diam ia pun lega bahwa dara ini bukan utusan Jin-cam Khoa-ong, karena dengan kenyataan ini ia boleh berbuat sesuka hatinya terhadap gadis ini.

“Bagus!” teriaknya sambil bangkit berdiri. “Kalau begitu, biarlah kau menjadi tawanan kami dan akan kau rasakan penderitaan yang akan membuat kau merindukan kematian!” Dalam suara ini terkandung ancaman yang hebat dan mengerikan.

Akan tetapi Kwi Lan tidak mengenal apa itu artinya takut dan ngeri. Ia malah tertawa. “Sudah, jangan membadut lagi. Sudah sejak tadi aku muak mendengar dan melihat segala yang terjadi di sini. Lekas keluarkan kuda hitamku, Nonamu hendak pergi!”

Sambil berkata demikian Kwi Lan menggunakan tangan kiri untuk mengebut-ngebutkan bajunya. Karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh bersama Hauw Lam dengan naik kuda, tentu saja pakaiannya banyak debunya dan begitu ia kebut-kebutkan, debu mengepul ke sekelilingnya dan mengotori meja-meja tamu lainnya.

“Wanita keparat! Kau belum tahu lihainya tuan besarmu!” Thai-lek-kwi Ma Kiu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan kini hendak melangkah maju.

Akan tetapi terdengar suara Sin-seng Losu di belakangnya. “Seorang ketua tidak sepatutnya melayani segala anak kecil. Apakah Thian-liong-pang sudah tidak ada orang lain untuk membereskan kuda betina liar ini? Hayo, siapa berani maju menangkapnya? Tangkap dan bawa ke kamarku, aku butuh yang liar macam ini untuk menambah semangatku!”

Untung bahwa Kwi Lan masih hijau dan tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek ini. Kalau ia tahu tentu ia takkan dapat menahan kemarahannya lagi.

Tiba-tiba dari golongan tamu melompat ke luar seorang laki-laki muda yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih. Pengemis muda ini menjura ke arah kursi ketua dan berkata, “Betul apa yang dikatakan Lo-suhu tadi. Thian-liong-pang tidak perlu repot-repot, di antara tamu-tamu yang hadir masih banyak yang sanggup menangkap bocah ini. Biarlah saya menangkap siluman cantik ini untuk Thian-liong-pang!”

“Ha-ha-ha, sahabat-sahabat dari Hek-coa Kai-pang memang selalu merupakan sahabat-sahabat baik kami. Tidak percuma bersahabat dengan Hek-coa Kai-pang. Silakan Siauw-sicu” kata Sin-seng Losu.

Pengemis muda itu dengan lagak sombong, mengangkat muka dan membusungkan dadanya, melangkah maju menghampiri Kwi Lan. Dia adalah seorang di antara dua pengemis muda yang tadi dipaksa menelan daging kambing oleh Kwi Lan, maka tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas penghinaan tadi. Akan tetapi karena wataknya memang mata keranjang, begitu melihat wajah jelita, hatinya sudah berdebar-debar dan timbul niat hatinya untuk mempermainkan Kwi Lan. Ia tersenyum dibuat-buat, matanya memandang kurang ajar, dan berkata,

“Nona kecil bermulut besar! Kau tidak tahu tingginya langit lebarnya bumi, berani mengacau Thian-liong-pang dan tidak memandang sebelah mata kepada para tamunya. Dosamu besar sekali dan sudah sepatutnya kau dihukum mati. Akan tetapi tuan mudamu yang melihat bahwa kau masih muda remaja dan cantik jelita, bersedia memberi ampun asal saja kau suka berlutut dan menganggukkan kepala delapan kali lalu berjanji akan melayani dengan manis segala kehendak Sin-seng Lo-suhu dan... aduuuhhh....” Pengemis muda itu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu mati dengan gosong dan tulang-tulangnya remuk. Pukulan Kwi Lan yang disertai kemarahan hebat itu membuat ia terlempar sampai menimpa meja di depan Ma Kiu si ketua baru!

Kagetlah semua yang hadir di situ. Terutama sekali lima orang pengemis anggota Hek-coa Kai-pang yang melihat seorang saudaranya dalam segebrakan saja terpukul tewas, segera melompat bangun dari tempat duduk masing-masing. Saudara muda mereka tadi, biar pun bukan anggota pimpinan teratas dari Hek-coa Kai-pang, namun merupakan seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi juga. Bagaimanakah dapat roboh binasa hanya sekali pukul oleh gadis remaja itu?

Sekali melompat mereka tiba di dekat meja Ketua Thian-liong-pang yang tertimpa tubuh saudara muda mereka dan begitu melihat dada dan muka pengemis muda itu biru menghitam, mereka mengeluarkan seruan kaget dan marah. Hek-coa Kai-pang adalah perkumpulan pengemis dunia hitam yang terkenal akan kelihaian mereka bermain racun. Kini seorang anggota mereka tewas oleh pukulan yang mengandung racun hebat!

“Thian-liong-pangcu, maafkan kami yang terpaksa harus turun tangan terhadap siluman betina ini!” berkata seorang di antara lima orang pengemis itu kepada Ma Kiu.

Setelah berkata demikian lima orang pengemis ini sudah meloncat dan mengurung Kwi Lan yang berdiri dengan sikap tenang. Di tangan mereka tampak pedang yang sudah siap untuk menerjang dan mengeroyok. Akan tetapi melihat pukulan beracun yang hebat itu, pula mendengar bahwa gadis itu tadi menyangkal sebagai utusan Pak- sin-ong, pengemis tertua berlaku hati-hati dan berkata.

“Nona muda, engkau sudah berani lancang tangan membunuh seorang di antara saudara kami. Hayo mengaku, siapakah engkau dan dari partai mana agar kami dapat mempertimbangkan tindakan kami selanjutnya terhadap dirimu.” Kata-kata ini mengangkat kedudukan para pengemis itu ke tempat atas dan memang inilah yang dimaksudkan oleh pengemis itu untuk menutup rasa malu karena mereka berlima mengurung seorang nona muda.

“Apakah kau tuli? Tadi sudah diperkenalkan namaku Mutiara Hitam, bukan dari partai mana pun juga. Saudaramu mampus oleh tingkahnya sendiri. Apakah masih ada lagi yang sudah ingin mampus? Kalau ada, boleh maju biar aku membantunya pergi ke neraka agar dunia ini tidak terlalu kotor. Kalau tidak ada, hayo keluarkan kuda hitam, Nonamu sudah jemu dan ingin pergi dari sini.”

Pengemis tua itu tak dapat menahan kemarahannya dan berseru. “Saudara-saudara, kalau kita tidak dapat membalas kematian saudara muda kita, percuma saja menjadi anggota Hek-coa Kai-pang!” Seruan ini merupakan komando bagi teman-temannya dan serentak mereka menggerakkan pedang mengirim serangan.

Akan tetapi lima orang pengemis ini hanya melihat si Nona menggerakkan kedua tangannya tanpa berpindah tempat dan... pedang mereka membalik dan menghantam diri mereka sendiri. Benar-benar amat luar biasa gerakan kedua tangan Kwi Lan ini. Setiap sambaran pedang ia sambut dengan tangan terbuka dan dengan gerakan aneh yang mengeluarkan hawa pukulan amat kuatnya. Pedang yang menyambar dadanya membalik ke dada si Pemegang Pedang, yang menyambar pundak membalik ke pundak si Penyerang dan demikian seterusnya sehingga terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika lima orang pengemis ini roboh berturut-turut oleh bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mereka sendiri!

Melihat gerakan luar biasa yang mendatangkan akibat aneh itu, Ma Kiu yang berkepandaian tinggi maklum bahwa biar pun masih amat muda, gadis itu benar-benar lihai sekali. Kalau tidak lekas turun tangan membekuk atau membinasakan gadis yang mengacau perkumpulannya ini tentu setidaknya akan mengurangi keangkeran Thian-liong-pang, demikian pikirnya.

Maka ia lalu berseru. “Tangkap siluman ini!” Ia memberi isyarat dan sebelas orang adik seperguruannya mengikuti gerakannya menghampiri Kwi Lan.

Gadis ini teringat akan cerita Hauw Lam, akan kehebatan Cap-ji-liong yang katanya disegani oleh tokoh-tokoh kang-ouw, maka ia bersikap hati-hati namun wajahnya tetap berseri dan bibirnya tersenyum mengejek.

“Inikah yang disebut Dua Belas Ekor Naga dari Thian-liong-pang? Hemm, Sungguh gagah!” kata Kwi Lan sambil tersenyum.

Merah muka Ma Kiu. Sebagai ketua baru Thian-liong-pang, sungguh amat memalukan kalau ia harus maju bersama sebelas orang sute-nya untuk mengeroyok seorang gadis remaja. Nama Cap-ji-liong sudah tersohor. Masa kini menghadapi seorang gadis remaja mereka harus maju bersama? Akan tetapi gadis ini aneh ilmu silatnya, dan kalau sekali turun tangan Cap-ji-liong tidak mampu merobohkannya, hal itu akan lebih memalukan lagi.

“Bocah, kalau kau sudah mendengar tentang Cap-ji-liong, mengapa banyak tingkah? Cap-ji-liong selamanya maju bersama. Karena kau menjadi tamu, berarti kami kurang sopan kalau turun tangan di sini. Jika engkau benar-benar berani kami menantangmu untuk mengadu kepandaian di ruangan silat!”

Ucapan ini sedikit banyak menghapus rasa malu pihak Thian-liong-pang karena berarti bahwa dua belas orang tokohnya bukan sekali-kali hendak mengeroyok begitu saja, melainkan telah melakukan tantangan secara berterang. Kalau gadis ini tahu diri dan menolak tantangan lalu pergi meninggalkan tempat itu tentu Cap-ji-liong tidak akan menghalanginya. Semua tamu menduga bahwa gadis itu tentu akan mempergunakan kesempatan ini untuk pergi menyelamatkan diri, karena melawan Cap-ji-liong berarti mencari mati. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat gadis itu tersenyum lebar dan menjawab,

“Kalian menantangku? Boleh, siapa takut akan pengeroyokan kalian? Hayo, hendak kulihat seperti apa kepandaian Cap-ji-liong!” Kwi Lan yang tidak mengenal apa artinya takut, tentu saja tidak dapat menolak tantangan ini, yang diucapkan dengan kata-kata ‘kalau ia berani’! Ia seorang gadis remaja yang baru saja turun ke dunia ramai, sama sekali belum berpengalaman dan hanya mengandalkan kepandaian luar biasa serta keberanian saja. Kalau ia berpengalaman, tentu ia akan menaruh curiga mengapa Cap-ji-liong menantangnya dengan memilih tempat.

“Bagus!” seru Ma Kiu. “Mari ke lian-bu-thia (ruangan silat), biarlah para tamu yang terhormat menjadi saksi bahwa kau menerima tantangan Cap-ji-liong untuk bertanding di lian-bu-thia!”

Sambil membusungkan dada, sedikit pun tidak gentar, Kwi Lan berjalan mengikuti Ma Kiu ke ruangan belakang di mana terdapat ruangan silat yang luas dan berbentuk bundar. Sebelas orang adik seperguruan Ma Kiu berjalan di belakangnya, kemudian berbondong-bondong para tamu yang ingin menyaksikan pertandingan itu membanjiri ruangan silat pula.

Kini mereka telah berhadapan. Kwi Lan memperhatikan mereka. Ma Kiu yang menjadi pimpinan berdiri di tengah sedangkan sebelas orang lain berdiri di kanan kirinya. Mereka tampak gagah dan kereng. Melihat gerak-gerik mereka, memang dapat dibayangkan bahwa Cap-ji-liong rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Juga usia dan pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang sudah tua, ada yang masih amat muda. Ada yang berpakaian seperti tosu, ada yang gundul seperti hwesio, dan ada yang berpakaian seperti pelajar.

Anehnya, kini mereka telah memakai sebuah tali yang mengikat kepala mereka, tali yang dipasangi sebuah batu permata kuning dan terpasang di atas dahi mereka. Juga Ma Kiu kini memakai tali semacam itu. Ia tidak tahu bahwa itulah tanda khas tokoh Thian-liong-pang dan batu kuning itu diberi nama mustika naga.

“Majulah!” Kwi Lan menantang, sikapnya acuh tak acuh.

“Set-set-set!” terdengar suara teratur ketika kaki dua belas orang itu mulai bergeser dengan cepat mengatur barisan mengurung. Mereka tidak melangkah, tidak mengangkat kaki melainkan bergeser sehingga sepatu mereka menimbulkan suara di atas lantai. Keadaan menjadi hening dan tegang, semua tamu memandang ke arah Kwi Lan yang menjadi pusat perhatian karena nona ini sudah terkurung di tengah-tengah!

Dua belas orang itu masih terus bergerak menggeser kaki sehingga tubuh mereka bergerak mengitari Kwi Lan, suara geseran kaki mereka kini berbunyi susul-menyusul seperti desis ular. Kwi Lan masih berdiri diam tak bergerak, hanya biji matanya yang bergerak-gerak, mengerling dan mengikuti gerakan mereka di sebelah depan. Kedua telinganya memperhatikan gerakan di belakangnya dengan seksama, setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap sedia, akan tetapi wajahnya masih tenang dengan senyumnya mengejek

Tiba-tiba saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang tiba. Seorang anggota Cap-ji-liong yang muda, bertubuh tinggi kurus bermuka seperti tikus, dengan teriakan nyaring menerjang Kwi Lan dari sebelah belakang. Agaknya laki-laki muda ini tertarik oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh Kwi Lan sehingga ia menyerang bukan memukul, melainkan memeluk ke arah pinggang dengan kedua lengannya. Namun gerakannya ini mendatangkan angin hebat dan tak boleh dipandang ringan.

Pada detik berikutnya, anggota lain, seorang tosu, mengulur tangan dari sebelah kiri untuk mencengkeram pundak, disusul serangan saudaranya dari depan, kanan, dan kemudian dua belas orang itu sudah bergerak serentak susul-menyusul dengan teratur baik sekali. Gerakan mereka yang teratur itu lebih merupakan gerakan dalam sebuah barisan dan sekaligus mereka telah menutup semua jalan ke luar bagi Kwi Lan! Kiranya Ma Kiu dan adik-adiknya tidak mau menyia-nyiakan waktu dan sekali turun tangan mereka tidak main-main lagi.

Pendengaran Kwi Lan yang tajam mewakili matanya. Ia tahu bahwa penyerang pertama datang dari belakang. Dengan mudah ia mendoyongkan tubuh mengelak, kemudian secara tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah tangan tosu yang mencengkeram pundak kirinya, disambut dengan gerakan meloncat ke atas dan melihat betapa para pengeroyoknya turun tangan secara bergiliran, tubuhnya yang meloncat ke atas itu tiba-tiba melakukan gerak berputaran secara cepat sekali. Hebat bukan main gerakan gadis ini, cepat dan aneh. Karena gerakan memutar di udara ini sukar diikuti gerakan tangan dan kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah menangkis semua serangan lawan dengan tangan atau dengan kaki, bahkan masih berkesempatan membagi pukulan dan tendangan yang mengenai empat orang lawannya.

Mereka mengaduh dan berseru kaget, tak menyangka bahwa selain dapat bergerak secepat itu, bekas tangan atau kaki gadis itu amat berat menimpa pundak dan dada. Sesaat barisan itu kacau, akan tetapi Ma Kiu berseru keras dan barisan menjadi rapi kembali pada saat gadis itu sudah menurunkan tubuhnya dan berdiri di tengah kurungan. Ia tersenyum-senyum karena dalam gebrakan pertama ini ia berhasil memperlihatkan kelihaiannya!

Kini para tamu menjadi berisik sekali. Mereka kagum dan kaget bukan main. Ketika tadi dua belas orang itu menyerang secara bertubi-tubi dan setiap serangan merupakan pukulan dan cengkeraman yang lihai, diam-diam mereka menduga bahwa gadis ini mencari mati. Akan tetapi siapa kira gadis itu dapat bergerak seperti kilat cepatnya dan hampir sukar dipercaya betapa gadis itu bukan hanya dapat menangkis semua serangan, juga dapat memukul dan menendang empat orang pengeroyoknya, biar pun hal itu dilakukan cepat-cepat dan tergesa-gesa sehingga tidak tepat kenanya.

Gerakan pertama ini membuka mata Ma Kiu. Ia maklum bahwa biar pun dalam hal tenaga mereka semua tidak akan kalah oleh lawan. Akan tetapi dalam hal kecepatan gerak mau pun dalam hal ilmu silat yang luar biasa, gadis itu benar-benar merupakan lawan tangguh. Dia tadi berlaku sungkan sehingga mengeluarkan komando untuk bergerak satu-satu secara bergiliran, siapa tahu, karena ia sungkan empat orang adiknya mengalami pukulan dan tendangan.

Sekali lagi ia berseru keras dan kali ini dua belas orang itu menerjang maju secara berbareng! Hanya lima orang yang menyerang langsung ke arah tubuh Kwi Lan. Sedangkan yang tujuh orang menghantam ke tengah, ke atas, ke bawah dan sekitar tempat Kwi Lan berdiri sehingga mereka telah menutup semua jalan ke luar. Kemana pun gadis ini hendak bergerak, ia akan disambut hantaman yang dilakukan dengan pengerahan Iweekang!

Hal ini sama sekali tak diduga oleh Kwi Lan. Gadis ini terkejut juga, maklum bahwa keadaannya berbahaya. Baru ia tahu bahwa Cap-ji-liong benar-benar hebat dan tangguh. Biar pun kalau melawan mereka satu-satu, ia sanggup merobohkan mereka itu dalam waktu singkat, akan tetapi kalau mereka maju berbareng amatlah sukar dilawan. Ia berseru keras, tidak bergerak dari tempatnya, melainkan menggunakan kaki tangan menangkis dan jari tangannya menotok ke arah pergelangan tangan lima orang yang menyerangnya secara berturut-turut.

Akan tetapi tiba-tiba lima orang penyerang itu menarik kembali penyerangan mereka dan barisan bergeser terus, disusul lima orang lain yang menyerang secara tiba-tiba, dibantu tujuh orang yang mencegat jalan ke luar! Setiap menyerang, lima orang itu mengambil kedudukan ngo-heng, dan setiap kali melihat bahwa serangan itu akan gagal, barisan yang terus bergeser itu menarik kembali serangan untuk di ulang dengan perubahan-perubahan mendadak yang sukar untuk diduga sebelumnya.

Kwi Lan merasa kewalahan. Dahinya yang putih halus itu mulai berkeringat. Ia bukan takut, akan tetapi jengkel dan penasaran sekali! Ketika untuk kesekian kalinya lima orang lawan menyerangnya dan kepalanya sudah mulai pening karena mencurahkan perhatian dan menduga-duga perubahan, ia berseru keras, mencabut pedangnya dan memutar pedang itu ke sekelilingnya.

Tidak tampak gerakannya ini saking cepatnya. Tahu-tahu dua belas orang itu mencium bau yang wangi dan tampak oleh mereka sinar hijau bergulung-gulung seperti naga sakti bermain di angkasa, seperti hawa yang dingin sekali.

“Awas... mundur dan siapkan senjata...!” Ma Kiu berseru keras.

Barisannya melebar dengan cepat, namun masih saja ada dua orang yang terkena serempetan ujung pedang Siang-bhok-kiam sehingga pangkal lengan mereka terluka mengeluarkan darah. Lagi-lagi kurang tepat kenanya karena Kwi Lan tidak menggunakan pencurahan perhatian sepenuhnya dan tadi hasilnya ini pun hanya kebetulan saja. Bagaimana ia dapat mencurahkan perhatiannya dalam sebuah serangan kalau lawannya yang dua belas orang banyaknya itu selalu bergerak secara membingungkan?

Kini terdengar suara nyaring dan semua anggota Cap-ji-liong sudah memegang senjata masing-masing. Ada yang memegang toya, ada yang membawa pedang, golok, thi-pian (pecut besi), siang-kek (sepasang tombak cagak), poan-koan-pit (senjata penotok jalan darah seperti pena bulu), tombak tiat-kauw (gaetan besi) dan lain-lain. Ma Kiu sendiri bersenjatakan sepasang pedang panjang yang kelihatan berat.

Para tamu makin tegang. Setelah kini kedua pihak menggunakan senjata, tak dapat disangsikan lagi gadis itu tentu akan mati dalam keadaan tubuh tidak utuh. Setiap anggota Cap-ji-liong memiliki ilmu kepandaian khusus, bahkan sebelum menjadi murid Sin-seng Losu mereka itu adalah ahli-ahli silat kelas satu. Kini mereka maju bersama, dapat dibayangkan betapa hebatnya.

“Ha-ha-ha-ha! Sayang sekali kau akan tercincang mati... bunga liar seperti engkau sukar dicari...!” Tiba-tiba terdengar suara Sin-seng Losu yang tadi kelihatan bersungut-sungut ketika beberapa orang di antara murid-muridnya ada yang terluka.

Kakek ini sejak tadi melenggut di atas kursi, menonton pertandingan sambil merem-melek. Kelihatannya saja ia melenggut dan mengantuk tak acuh, padahal sebenarnya ia menonton dengan hati penuh penasaran karena semenjak tadi, belum juga ia dapat mengetahui dari aliran mana ilmu silat gadis ini! Hal ini benar-benar membuat ia kaget dan heran.

Biar pun ia sudah terlalu tua sehingga tenaga dan napasnya sudah berkurang banyak dan kalau bertanding, dia sendiri tidak akan dapat mengatasi keampuhan Cap-ji-liong, akan tetapi pengetahuannya dalam ilmu silat sudah amat dalam. Ia kenal baik hampir semua aliran ilmu silat di dunia ini. Akan tetapi sekali ini, setelah melihat gadis itu bersilat sampai puluhan jurus, mengapa ia sama sekali tidak mengenal aliran ilmu silat yang dimainkan? Ia anggap luar biasa sekali ilmu silat gadis itu. Mirip-mirip ilmu silat Kun-lun-pai, gerakan pedang seperti Kong-thong-pai, akan tetapi ketika menotok hampir sama dengan ilmu totok Im-yang-tiam-hoat yang lihai dari Siauw-lim-pai. Akan tetapi semua itu hanya mirip saja, dan sama sekali bukan aslinya, bahkan kadang-kadang berlawanan dengan aslinya!

Hal ini memang tidak mengherankan kalau orang mengenal dari mana Kwi Lan mendapatkan semua ilmu yang aneh itu. Gurunya adalah seorang wanita yang luar biasa, yang puluhan tahun menyembunyikan diri dan menelan segala macam ilmu tanpa ada yang menuntun. Dalam istana bawah tanah terdapat banyak sekali kitab pelajaran ilmu silat peninggalan mendiang Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian yang mencuri kitab-kitab itu dari partai-partai besar. Karena jiwa Kam Sian Eng, guru Kwi Lan, memang tidak sehat alias tidak normal, maka ketika mempelajari semua ilmu itu ia telah menyeleweng dan ilmu yang asli berubah, menjadi ilmu aneh dan ganas.

Kwi Lan juga mempelajari kitab-kitab itu sendirian saja, hanya menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya. Justru sedikit petunjuk itu menyeleweng dari pada aslinya, maka dapat dibayangkan betapa hasil ilmu yang ia kuasai tentu saja lebih aneh dan lebih menyimpang dari aslinya! Melihat cara Kwi Lan bersilat, jangankan Sinseng Losu, biar tokoh-tokoh dari partai yang memiliki kitab yang tercuri itu sendiri tentu takkan mampu mengenal ilmunya sendiri.

Ucapan mengejek dari Sin-seng Losu tidaklah berlebihan. Memang ilmu pedang Kwi Lan hebat dan luar biasa. Baru dari pedangnya yang berupa sebatang pedang kayu wangi sudah membuktikan bahwa gadis ini biar pun masih remaja, namun sudah mencapai tingkat yang dinamakan tingkat ‘yang lunak mengalahkan yang keras’, yaitu tingkat ahli pedang yang sudah pandai mengatur tenaga yang dikendalikan hawa sakti sehingga setiap benda lemas dapat dipergunakan untuk melawan senjata keras.

Akan tetapi, menghadapi pengurungan dua belas Cap-Ji-liong yang mempergunakan dua belas macam senjata ini Kwi Lan benar-benar terdesak hebat. Senjata lawan menyambarnya seperti hujan dan hanya dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan ilmu pedangnya yang aneh maka sementara itu ia masih mampu bertahan. Seperti juga tadi, dua belas orang pengeroyoknya itu tidak mengeroyok secara serampangan saja, melainkan mengurungnya dengan membentuk barisan yang kokoh kuat. Perlahan akan tetapi pasti mereka mulai menekan dan mendesak.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari sebelah dalam. Terdengar teriak-teriakan orang yang riuh rendah saling bersahutan.

“Kebakaran...! Kebakaran...!”

“Tangkap bocah setan...!”

“Celaka, tawanan gadis-gadis itu dilarikan...!”

Semua tamu terkejut dan dua belas orang Cap-ji-liong yang sudah mulai mengurung dan mendesak Kwi Lan terpengaruh oleh teriakan-teriakan ini sehingga tekanan kepada gadis itu agak mengendur. Pada saat itu berkelebat bayangan yang tertawa-tawa, “Ha-ha-ha, sungguh memalukan. Dua belas ekor monyet tua mengeroyok seorang gadis jelita! Dua belas ekor naga kini menjadi dua belas ekor monyet buntung!”

Kiranya bayangan ini bukan lain adalah Hauw Lam yang dengan gerakan cepat sudah meloncat dan memutar goloknya menerjang barisan pengepung sehingga terbukalah barisan itu. Melihat ini, Ma Kiu mengeluarkan aba-aba. Barisan yang diterjang Hauw Lam sengaja membuka ‘pintu’ dan pemuda ini pun sekarang masuk ke dalam pengurungan dua belas orang tangguh itu.

“Eh, Mutiara Hitam. Kita datang bersama, mana bisa sekarang engkau berpesta-pora sendiri saja melabrak dua belas ekor monyet tua ini? Aku ikut. Hayo kita sekarang berlomba. Kita beradu punggung, dan lihat pedangmu atau golokku yang lebih dulu membabat mampus mereka ini!”

Kwi Lan tersenyum. Ia tadi sudah tertekan dan terdesak hebat. Namun seujung rambut ia tidak merasa gentar. Ia tadi sudah siap-siap, kalau sampai ia kalah dan harus roboh di tangan dua belas orang pengeroyoknya, ia tentu akan menyeret beberapa orang di antaranya, terutama sekali Ma Kiu untuk tewas bersamanya! Untuk niat ini ia sudah menggenggam tujuh jarum hijau di tangan kirinya! Sekarang melihat munculnya Hauw Lam yang mengajak ia berlomba, timbul kegembiraannya dan ia berseru.

“Berandal cilik! Kau lihat betapa aku merobohkan mereka!” Setelah berkata demikian, Kwi Lan mainkan pedangnya menerjang maju. Empat orang di depannya cepat mengangkat senjata untuk menangkis dan balas menyerang, akan tetapi pada saat itu tangan kiri Kwi Lan bergerak dan sinar hijau menyambar ke depan.

“Awas...!” Ma Kiu berseru memperingatkan adik-adiknya.

Namun, jarum-jarum hijau yang halus itu disambitkan dari jarak dekat sehingga biar pun empat orang itu berusaha mengelak, dua orang di antara mereka kurang cepat dan robohlah mereka sambil mengeluarkan jeritan kesakitan. Murid-murid Thian-liong-pang segera menolong mereka ini dan kini sepuluh orang pengeroyok menerjang dengan marah sekali.

Hauw Lam tertawa-tawa dan sambil berdiri saling membelakangi, dia dan Kwi Lan memutar senjata menghadapi para pengeroyok. Lega hati Kwi Lan setelah kini ia dibantu Hauw Lam. Tadi yang membuat ia amat repot adalah penyerangan lawan yang berada di belakangnya. Akan tetapi kini ia tidak usah lagi memperhatikan bagian belakang, maka ia kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Setiap ada serangan datang ia tidak mengelak, akan tetapi langsung menyambut serangan ini dengan tusukan atau totokan yang mendahului sehingga si Penyerang terpaksa menarik kembali serangannya.

“Semua mundur...!” tiba-tiba Ma Kiu berteriak keras memberi perintah kepada adik-adiknya

Sepuluh orang itu serentak melompat mundur sambil menggerakkan tangan kiri. Maka berhamburanlah senjata-senjata rahasia yang berbentuk peluru bintang, bagaikan hujan menyerang Hauw Lam dan Kwi Lan. Dua orang muda itu cepat memutar golok dan pedang, memukul runtuh semua senjata rahasia.

“Wah, kau yang mengajari monyet-monyet itu. Sekarang mereka membalas. Lebih baik kita lekas pergi dari sini!” Hauw Lam mengomel.

Kwi Lan setuju akan usul ini, maklum betapa besar bahayanya kalau pihak lawan mulai menyerang dari jauh dengan senjata rahasia. Akan tetapi sebelum mereka sempat mendapatkan jalan ke luar untuk melarikan diri, tiba-tiba lantai yang mereka injak tergetar dan dengan suara keras lantai itu terbuka, nyeplos ke bawah.

“Celaka...!” Hauw Lam berseru dan bersama Kwi Lan tubuhnya terjeblos ke bawah tanpa dapat dicegah lagi!

“Cari pegangan...!” Hauw Lam berseru pula dan merentangkan kedua tangannya. Goloknya ia tusuk-tusukkan ke samping dan akhirnya tangan kirinya berhasil meraba dinding. Ia menggerakkan tubuh sehingga tubuhnya yang meluncur itu terbanting ke kiri, menubruk dinding dan di lain saat tubuhnya tergantung pada gagang golok yang dipegangnya erat-erat.

Akan tetapi Kwi Lan yang memiliki ginkang luar biasa itu, dengan menggerak-gerakkan kaki tangannya dapat memperlambat luncuran tubuhnya, bahkan ketika kedua kakinya menyentuh dasar sumur, tubuhnya membalik lagi ke atas sampai dua meter lebih, seakan-akan di kedua kakinya dipasangi per yang lemas sekali.

“Mutiara Hitam... kau di mana...?” terdengar suara Hauw Lam di atas.

Kwi Lan sudah duduk di atas tanah berbatu dan menjawab, “Di bawah sini. Turunlah. Mau apa kau bergantungan disitu?”

Hauw Lam menengok ke bawah. Sinar yang masuk dari atas memberi penerangan suram, akan tetapi ia dapat melihat betapa gadis itu sudah duduk enak-enakan di sebelah bawah, kira-kira tiga meter dari tempat ia bergantung. Ia mengerahkan tenaga, mencabut goloknya dan meloncat turun di dekat gadis itu. Pada saat itu terdengar suara berderit keras dan lobang di sebelah atas itu tertutup rapat kembali. Keadaan menjadi gelap gulita, melihat tangan sendiri pun tak tampak!

“Wah, kita seperti dua ekor tikus masuk perangkap!” Hauw Lam berkata berusaha untuk tertawa, akan tetapi menahannya karena khawatir kalau-kalau membuat gadis itu tak senang.

“Kau kenapa? Mau tertawa, tertawalah. Mengapa memandang kepadaku seperti orang ragu-ragu? Kau kira aku takut? Huh, enak di sini!” kata Kwi Lan yang segera duduk melonjorkan kedua kakinya.

Hauw Lam terkejut. “Apa kau bilang...? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku... eh, Mutiara Hitam, apakah engkau mempunyai nama seperti kucing?”

“Hemm, kalau aku kucing, engkau tikus! Sudahlah, jangan rewel dan lebih balk kau ceritakan apa yang kau lakukan tadi.”

Tentu saja Hauw Lam tidak tahu bahwa gadis ini semenjak kecil tinggal di bawah tanah, di dalam istana bawah tanah sehingga ia merasa enak berada di bawah tanah! Karena semenjak kecil biasa hidup di tempat gelap, Kwi Lan memiliki mata yang sudah biasa dengan kegelapan dan dapat melihat benda di dalam gelap, setidaknya lebih awas dari pada orang biasa. Mendengar suara gadis itu tidak dibuat-buat, diam-diam ia merasa semakin kagum dan suka. Gadis ini benar-benar hebat, pikirnya. Selain cantik jelita seperti dewi, juga wajar dan polos, ditambah kepandaian yang amat tinggi.

Tadi ketika dikeroyok Cap-ji-liong, gadis ini sudah memperlihatkan bahwa ia memiliki kepandaian yang benar luar biasa. Jarang ada tokoh yang mampu mempertahankan diri dari pengeroyokan Cap-ji-liong, apa lagi melukai dua orang di antara mereka dalam pengeroyokan. Dan sekarang, biar pun telah terjebak masuk ke dalam sumur, gadis ini masih bersikap tenang dan enak saja, sama sekali tidak membayangkan sikap takut-takut.

“Nanti dulu, paling penting aku harus menyelidiki keadaan tempat ini, mencari jalan keluar,” kata Hauw Lam sambil mengulur kedua lengan ke depan, meraba-raba.

“Tak usah kau selidiki lagi. Percuma, sumur ini sengaja dibuat untuk menjebak musuh. Dindingnya terbuat dari batu tebal, tingginya lima tombak lebih dan di atas ditutup lembaran besi yang atasnya dipasangi tegel, dan dapat terbuka atau tertutup sendiri dengan alat rahasia.”

Kembali Hauw Lam menjadi heran. Gadis ini bicara seakan-akan tidak berada di dalam gelap, seperti menceritakan keadaan yang dilihatnya dengan nyata. Ia tidak percaya, lalu kedua tangannya meraba-raba dinding. Dan memang betul apa yang dikatakan gadis itu. Dinding sumur itu segi empat, lebarnya tiga meter tiap segi, dan terbuat dari pada batu tebal. Karena bagi Hauw Lam tempat itu amat gelap, ia tidak dapat melihat apa-apa ketika meraba-raba sehingga tiba-tiba ia meraba kepala gadis itu!

“Eh-eh, mau apa kau? Seperti orang buta saja!” Gadis itu membentak.

“Wah, maaf... aku... aku memang seperti buta di sini...”

“Duduklah dan jangan berkeliaran.”

Hauw Lam lalu duduk di atas lantai sumur. Tanah padas berbatu itu agak basah. Betapa pun juga ia tidak dapat bersikap masa bodoh seperti gadis ini. Masa mereka harus menerima kematian seperti dua ekor tikus dalam sumur? Ia harus berdaya untuk keluar dari dalam sumur ini. “Mutiara, aku tidak mengerti bagaimana kau dapat mengetahui keadaan sumur ini. Akan tetapi kalau dalamnya benar lima tombak, tak mungkin kita meloncat ke luar dari sini. Biar pun begitu, dengan bantuan golok dan pedangmu, aku dapat meloncat-loncat sambil menancapkan golok dan pedang bergantian pada dinding, terus sampai keluar. Setelah itu aku akan mencari tambang untuk menarikmu ke luar pula.”

“Eh, takutkah engkau di sini?”

“Bukan takut! Akan tetapi kita harus mencari jalan ke luar.”

“Hemm, bagaimana kau akan membuka penutup besi di atas itu? Pula, siapa tahu begitu kau keluar, hujan senjata akan menyambutmu?”

Hauw Lam terkejut. Beralasan juga kata-kata gadis ini. “Habis... bagaimana...?”

“Kita menanti kesempatan, dan sementara itu duduk mengaso di sini dan kau ceritakan apa yang terjadi tadi.”

Malu juga rasa hati Hauw Lam mendengar suara gadis itu yang amat tenang. Ia lalu bercerita. Ketika tadi melihat datangnya Ci-lan Sai-kong yang menggiring dua belas orang gadis-gadis muda yang diculik, Hauw Lam marah bukan main. Akan tetapi ia menahan-nahan perasaan hatinya dan setelah mendapat kesempatan ia lalu menyelinap ke dalam pada saat perhatian semua orang tertarik oleh perbuatan Kwi Lan yang amat berani.

Setelah tiba di ruangan belakang, ia menyergap dan menotok seorang anggota Thian-liong-pang. Dari orang inilah ia mendapat keterangan tentang dua belas orang gadis itu yang ditahan di kamar belakang, dijaga oleh empat orang anggota Thian-liong-pang. Ia menotok lumpuh orang itu kemudian melanjutkan penyelidikannya. Tekad hatinya akan menolong dan membebaskan dua belas orang gadis itu. Dengan kepandaiannya yang tinggi, secara mudah ia merobohkan empat orang penjaga dan pada saat itulah dari atas genteng melayang turun seorang laki-laki yang ternyata adalah Ciam Goan, bekas tokoh Thian-liong-pang yang tadi diusir oleh Ma Kiu.

Girang hati Hauw Lam dan diam-diam ia kagum menyaksikan keberanian Ciam Goan. Biar pun sudah jelas bahwa orang gagah itu tak mungkin dapat melawan para pimpinan Thian-liong-pang dan tadi pun sudah dikalahkan, namun orang she Ciam itu masih berani dan berusaha menolong dua belas orang gadis tawanan. Tanpa banyak cakap mereka lalu memasuki kamar, membebaskan dua belas orang gadis itu.

Hauw Lam menyerahkan dua belas orang gadis itu kepada Ciam Goan untuk diajak melarikan diri, sedangkan dia sendiri memancing perhatian orang dengan jalan membakar bangunan samping bagian belakang. Akalnya berhasil baik. Semua orang lari ke tempat kebakaran dan mengeroyoknya sehingga Ciam Goam dan dua belas orang gadis tawanan itu dapat pergi dengan aman. Hauw Lam sendiri lalu memancing mereka yang mengeroyoknya ke sebelah dalam gedung, bahkan ia lalu bergabung dengan Kwi Lan yang sudah terdesak oleh Cap-ji-liong sehingga akhirnya mereka berdua terjeblos ke dalam sumur perangkap.

“Begitulah.” Hauw Lam mengakhiri ceritanya. “Kuharap saja orang she Ciam itu berhasil melarikan dan menyelamatkan dua belas orang gadis itu. Dan kau sendiri, apa yang kau lakukan tadi? Wah, kepandaianmu hebat bukan main, Mutiara Hitam. Aku takluk setelah menyaksikan betapa kau melawan pengeroyokan Cap-ji-liong!”

“Hemm, mereka memang kuat sekali kalau maju bersama. Sebelum kau datang membantu, hampir aku roboh.” Mutiara Hitam atau Kwi Lan lalu menceritakan pengalamannya.

Hauw Lam kagum sekali dan diam-diam di lubuk hatinya ia merasa puas dan tidak akan penasaran kalau mengalami kematian bersama nona ini di dalam sumur!

“Sekarang bagaimana? Aku bukannya takut terkurung seperti ini, akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita harus keluar dari sini, terutama sekali engkau...,” katanya.

“Mengapa aku? Kalau kau bagaimana?”

“Aku juga harus dapat keluar, akan tetapi yang paling penting engkau, Nona. Kau seorang wanita, karena itu harus didahulukan keselamatanmu...”

“Huh, laki-laki dan wanita apa bedanya?”

Hauw Lam tidak mau membantah tentang itu. “Biar kucoba untuk merayap atau meloncat naik.”

“Percuma, kita tunggu kesempatan. Kalau ada yang membuka penutup besi di atas itu, sudah kupersiapkan jarum-jarumku. Begitu ada orang di atas, kuserang dengan jarum dan kau boleh melompat dengan bantuan golokmu ditancapkan pada dinding.”

“Bagaimana kalau tidak ada yang membuka penutup besi di atas?”

“Kalau begitu, hemm... kita tinggal di sini selamanya sampai mati”

Hauw Lam bergidik mendengar kata-kata yang dikeluarkan seenaknya dan tenang-tenang saja itu. Akan tetapi hatinya menjadi hangat ketika ia ingat betapa gadis itu agaknya senang saja tinggal berdua dengan dia di situ selamanya sampal mati! Ia menjadi terharu dan baru sekali ini selama hidupnya Hauw Lam merasa hatinya terharu sekali dan juga bahagia! Suaranya menjadi gemetar ketika ia berkata, lenyap nadanya yang suka bergurau, suaranya kini bersungguh-sungguh.

“Nona... aku..., aku pun rela mati di sini, rela tinggal di sini selama hidupku, bahkan aku akan berbahagia sekali... berdua di sampingmu selamanya....”

“Ihhh! apa maksud kata-katamu yang aneh ini?” Kwi Lan yang tentu saja masih bodoh dalam hal asmara bertanya heran. Nada suara gadis ini menyadarkan Hauw Lam, membuat mukanya merah sekali, membuat ia merasa malu sekali. Untung bahwa tempat itu gelap sehingga ia tidak usah menentang pandang mata Kwi Lan, dan kegelapan ini sesungguhnya yang membuat ia berani melanjutkan kata-katanya yang membisikkan suara hatinya.

“Mutiara... biar pun belum lama aku mengenalmu, bahkan namamu yang sesungguhnya pun aku belum tahu... akan tetapi... aku tidak merasa begitu. Bagiku engkau sudah kukenal selama hidupku. Tadinya aku sebatang kara di dunia ini... setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak sebatang kara lagi. Mutiara... ah, aku harus berterus terang... aku... aku cinta padamu....”

Saking kaget dan herannya mendengar ucapan yang sama sekali belum pernah didengarnya dan yang baru ia raba-raba maksud sebenarnya ini, Kwi Lan duduk termenung dan menggigit jarum yang dipegangnya. Ia seperti orang terpesona, tidak peduli bahwa pada saat itu, sinar terang menerobos masuk dari atas dan penutup lubang sumur itu dibuka orang! Hauw Lam melihat ini dan cepat melompat, siap untuk menerjang ke atas dan berseru.

“Mutiara... lekas serang dia...”

Akan tetapi Kwi Lan hanya memandangnya dan berkata bingung, “Ada apa...?”

“Ssstt... naiklah...!” tiba-tiba orang yang membuka penutup sumur itu berkata, kemudian seutas tambang meluncur turun dari atas.

Hauw Lam dan Kwi Lan melihat bahwa yang muncul dan melemparkan tambang itu adalah seorang yang berkerudung kain hitam, akan tetapi dari suaranya dapat diketahui bahwa dia seorang laki-laki. Begitu melempar tambang, bayangan itu lenyap kembali.

“Mari kita naik!” Hauw Lam berkata dan cepat-cepat pemuda ini merayap naik melalui tambang seperti seekor kera cepatnya.

Kwi Lan juga sudah merayap baik dan sebentar saja keduanya sudah melompat ke luar dari sumur. Sejenak mata Hauw Lam menjadi silau karena tiba-tiba dari tempat gelap berada diterang. Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian ketika matanya bertemu dengan Kwi Lan, tiba-tiba pemuda ini menjadi merah seluruh mukanya!

“Pergi dari sini cepat!” Hauw Lam berkata dan mereka lalu melompat ke luar dari ruangan silat yang kini sudah sunyi. Akan tetapi begitu mereka keluar dari ruangan silat dan berada di ruangan tengah, dari kanan kiri berlompatan ke luar beberapa orang anggota Cap-jiliong!

“Celaka! Mereka lolos! Kepung... tangkap...!” Mereka berteriak-teriak dan empat orang sudah menerjang Hauw Lam dan Kwi Lan.

Akan tetapi keampuhan Cap-ji-liong adalah kalau mereka maju bersama. Kini hanya ada empat orang di antara mereka, tentu saja bukan tandingan Hauw Lam dan Kwi Lan. Begitu sepasang orang muda ini menggerakkan senjata empat orang itu sudah melompat mundur untuk menghindarkan bahaya maut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hauw Lam dan Kwi Lan untuk berlari terus. Karena dari depan berbondong datang para anggota Thian-liong-pang, Hauw Lam lalu menarik tangan Kwi Lan, diajak lari melalui ruangan belakang. Mereka lari masuk ke ruangan dalam, terus ke belakang. Beberapa orang anggota Thian-liong-pang yang bertemu dengan mereka dan berusaha menghalangi, mereka robohkan dengan tendangan atau pukulan tangan kiri.

Untung bagi mereka bahwa para pimpinan Thian-liong-pang pada saat itu sedang sibuk membuat persiapan untuk mengunjungi pertemuan antara tokoh-tokoh dunia hitam yang akan diadakan di puncak Cheng-liong-san untuk memilih jagoan nomor satu di dunia. Ma Kiu ketua baru, juga Sin-seng Losu sendiri bersama murid-muridnya bersama beberapa orang tamu penting sudah meninggalkan gedung untuk mengunjungi kota Tai-goan untuk ikut menyambut datangnya seorang tokoh besar yang terkenal dengan julukan Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua Tertawa).

Karena tokoh besar ini masih terhitung paman guru Sin-song Losu, tentu saja oleh Thian-liong-pang dianggap sebagai kakek guru dan mereka mengharapkan kakek guru ini akan menjadi jagoan nomor satu sehingga nama Thian-liong-pang akan ikut terangkat tinggi. Karena kesibukan ini mereka hanya meninggalkan empat orang murid kepala bersama murid-murid bawahan untuk menjaga gedung. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa dua orang muda tawanan mereka akan dapat meloloskan diri dan menganggap mereka itu tentu akan tewas kelaparan di dalam sumur.

Hauw Lam dan Kwi Lan maklum bahwa keadaan mereka akan berbahaya kalau para pimpinan Thian-liong-pang keburu datang mengeroyok. Mereka pun tidak ada niat untuk melanjutkan pengacauan karena mereka datang ke tempat itu hanya untuk ‘main-main’ dan tidak mempunyai urusan tertentu dengan perkumpulan ini. Dihadang oleh murid-murid bawahan Thian-liong-pang tentu saja mereka dengan enak merobohkan semua penghadang, terus lari ke belakang, mencari kandang kuda dan setelah dapat menemukan kuda hitam yang mereka ‘sumbangkan’ tadi, mereka lalu menunggang kuda berdua dan membalapkan kuda itu keluar dari Yen-an. Terdengar derap kaki kuda yang ditungganggi para anak buah Thian-liong-pang mengejar, namun tak seekor pun kuda mampu menandingi larinya kuda hitam dari Khitan itu.

Setelah kota Yen-an jauh ditinggalkan dan tak tampak adanya pengejar lagi, Kwi Lan yang duduk di depan tiba-tiba menahan kudanya. Mereka berhenti di jalan simpang empat.

“Di sini kita berpisah. Kau turunlah.”

Hauw Lam meloncat turun dan memandang gadis itu dengan muka terkejut. Tak disangkanya bahwa secara tiba-tiba gadis itu mengajak mereka saling berpisah. Namun nona itu menundukkan muka, tidak membalas pandang matanya.

“Mutiara Hitam... Nona..., mengapa kita harus berpisah?” suara Hauw Lam gemetar, tidak seperti biasa. Jantung Kwi Lan berdebar aneh. Ia marah dan juga bingung.

“Nona, apakah engkau marah karena pengakuanku di dalam sumur tadi? Maafkanlah, aku bukan bermaksud menyinggung perasaanmu atau menghinamu, aku hanya mengeluarkan isi hatiku sejujurnya. Biar pun kau akan menjadi marah dan membunuhku, aku tak dapat menyangkal bahwa aku... cinta padamu, Mutiara Hitam.”

Kwi Lan menarik napas panjang. Ia tidak bisa marah kepada pemuda ini, dan sebetulnya ia senang mendengar pengakuan itu. Akan tetapi ia tidak ingin selamanya berada di samping Hauw Lam. Ia ingin menyendiri.

“Hauw Lam, ada hal yang lebih penting bagimu. Engkau harus pergi kepada ibu kandungmu.”

Terbelalak mata Hauw Lam memandang. “Apa...? Apa yang kau maksudkan...?”

“Bukankah ayahmu bernama Tang Sun dan ibumu bernama Phang Bi Li?”

Hauw Lam melangkah maju dan memegang tangan Kwi Lan. “Mutiara! Bicaralah yang jujur! Bagaimana kau tahu akan nama ayahku? Memang ayahku bernama Tang Sun. Nama ibu aku tidak pernah dengar, akan tetapi engkau... bagaimana bisa tahu?”

Kwi Lan yang kini melihat betapa wajah Hauw Lam menjadi pucat dan agaknya amat tertarik tersenyum. “Kau pantas menjadi kakakku. Ibumu adalah Bibi Bi Li yang menganggap aku anak sendiri. Ayahmu... ayahmu telah tewas, aku melihat sendiri. Ibumu masih hidup, namanya Phang Bi Li dan kini tinggal di Hutan Iblis.”

Makin pucat wajah Hauw Lam. “Di Hutan Iblis...? Ayahku mati...?” Ia merasa mimpi mendengar keterangan ini dan tentu ia tidak akan percaya kalau saja ia tidak yakin bahwa gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini tak pernah membohong seperti juga tak pernah merasa takut.

“Pergilah, carilah ibumu dan kau akan mendengar semua. Ibumu hanya tahu bahwa puteranya bernama Tang Hauw Lam. Kau pergilah ke Lembah Air Hijau, di kaki pegunungan Pek-liu-san sebelah utara, di sana terdapat hutan yang oleh orang-orang disebut Hutan Iblis. Nah, ibumu tinggal seorang diri di dalam pondok di hutan itu, menanti-nanti kedatanganmu. Selamat tinggal, kelak kita berjumpa pula.” Setelah berkata demikian Kwi Lan membalapkan kudanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Hauw Lam yang masih berdiri seperti arca dengan muka pucat.

“Ibuku... ibu kandungku... ibuku....” Pemuda yang biasanya periang itu kini hanya berbisik-bisik dengan sepasang mata basah. Pandang matanya mengikuti bayangan Kwi Lan di atas kudanya, dan semangatnya serasa terbawa terbang pergi....

********************


Kwi Lan menjalankan kudanya sambil melamun. Begitu berpisah dari Hauw Lam ia merasa betapa ia kehilangan seorang teman seperjalanan yang selalu mendatangkan suasana gembira. Akan tetapi kalau ia teringat akan pernyataan cinta kasih Hauw Lam, ia menjadi kecewa. Hal ini melenyapkan rasa gembiranya dan membuatnya menjadi tak enak. Hatinya berdebaran dan ia menjadi malu, tak ingin bertemu kembali dengan pemuda itu.

Ada hal lain yang sejak tadi ia pikirkan. Siapakah orang yang menolongnya ketika ia bersama Hauw Lam berada dalam sumur jebakan? Apakah orang gagah she Ciam yang telah menolong dua belas orang gadis tawanan? Rasanya tidak mungkin karena biar pun gagah berani, orang she Ciam itu tidak begitu tinggi kepandaiannya. Penolong tadi tentu orang yang sudah kenal akan keadaan dan rahasia Thian-liong-pang.

Kwi Lan yang tidak mengenal jalan, tidak tahu bahwa kudanya itu berlari menuju ke arah Sungai Kuning yang mengalir di sebelah timur Yen-an. Ia juga tidak tahu bahwa jalan ini pula yang diambil oleh rombongan Sin-seng Losu pagi tadi, menuju ke Tai-goan!

Hari telah menjelang senja. Ia segera membalapkan kudanya ketika melihat sebuah dusun jauh di depan. Perkampungan ini cukup besar dan Kwi Lan bermalam di rumah penginapan dusun itu. Semua orang kagum melihat gadis yang cantik jelita dan yang menunggang seekor kuda hitam yang indah ini, namun Kwi Lan tidak ambil peduli. Setelah pengalamannya di Thian-liong-pang, Kwi Lan bersikap hati-hati dan tidak mau mencari perkara. Mulailah ia tahu bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang yang berilmu tinggi. Ia ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan menurut penuturan Hauw Lam, di Khitan banyak terdapat orang-orang pandai sehingga seorang tokoh hitam seperti Jin-cam Khoa-ong itu pun menjadi buronan Khitan. Ia akan menemui Ibu kandungnya dan kalau mungkin, memperdalam kepandaiannya.

Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dan hari telah lewat senja ketika ia menghentikan kudanya di tepi Sungai Kuning yang airnya melimpah-limpah dan amat lebar. Ia duduk di atas kudanya sambil termenung. Bagaimana ia dapat melanjutkan perjalanan? Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan tempat itu amat sunyi, tak tampak seorang pun manusia. Hanya dapat dilihat dari situ perahu-perahu nelayan jauh sekali dan ada di antara mereka yang sudah menyalakan lampu penerangan. Ia lalu menjalankan kudanya menyusuri sungai menuju ke kiri untuk mencari perahu yang kiranya akan dapat menyeberangkannya atau kalau tidak, ia akan mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam dan besok baru berusaha menyeberang.

Tiba-tiba dari jauh ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke pantai. Itu tentu seorang nelayan, pikirnya. Mungkin dia bisa menolongku mencarikan sebuah perahu besar untuk menyeberang. Perahu kecil macam itu mana dapat menyeberangkan kudanya? Kwi Lan mempercepat larinya kuda ke arah pantai. Akan tetapi ia terlambat karena dari dalam perahu itu meloncat keluar bayangan hitam yang kemudian berlari amat cepatnya ke darat. Kwi Lan terkejut. Terang itu bukan nelayan biasa, pikirnya. Nelayan biasa mana bisa memiliki ginkang yang sedemikian baiknya. Ia pun cepat membelokkan kudanya, mengikuti arah larinya orang itu. Cuaca sudah mulai gelap, dan Kwi Lan yang merasa tertarik melanjutkan kudanya ke depan sambil mencari-cari dengan pandang matanya.

Bayangan itu lenyap sudah. Gerakannya terlalu cepat dan melakukan pengejaran sambil menunggang kuda amat sukar. Selain itu Kwi Lan juga meragu untuk mengejar secara sungguh-sungguh. Ia tidak tahu siapa orang itu dan mengapa berlari-lari dengan cepatnya. Terang bukan nelayan dan ia tidak mempunyai keperluan sesuatu dengan orang itu. Hanya ia tadi ingin bertanya kalau-kalau orang itu dapat menunjukkan di mana ia dapat menyewa perahu untuk menyeberang bersama kudanya.

Sinar terang yang keluar dari kumpulan batu-batu gunung di pantai sebelah depan menarik perhatiannya. Sinar yang bergerak-gerak besar kecil itu tentulah sinar api unggun yang dinyalakan orang. Ada api unggun tentu ada orang, dan kalau ada orang berarti ia akan bisa mendapatkan keterangan dan petunjuk yang diharapkan. Kini kuda hitam yang ditungganginya sudah mendekati deretan batu-batu padas yang tinggi dan dijalankan perlahan.

Ternyata api unggun itu dinyalakan orang di dalam sebuah goa batu yang amat lebar. Ketika Kwi Lan yang masih duduk di atas kudanya tiba di depan mulut goa, ia melihat lima orang laki-laki di dalam goa. Kedatangannya agaknya sudah dinanti mereka karena mereka sudah berdiri dan tangan kanan mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing.

Yang paling depan adalah seorang pemuda yang berambut panjang, berpakaian hitam dan berwajah tampan sekali. Kepalanya diikat tali dan di dahinya besinar sebuah batu permata kuning. Tiga orang yang lain juga sudah siap dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak kaget dan marah. Ada pun orang ke lima adalah seorang pendeta yang jenggotnya kasar dan jarang seperti kawat, tubuhnya tinggi besar dan di belakang punggungnya tampak gagang sebatang pedang.

“Siauw-ya (Tuan Muda), dia adalah Mutiara Hitam yang mengacau di Thian-liong-pang...!” seorang di antara tiga orang di belakang pemuda tampan itu berseru.

Pemuda itu memandang dengan mata bersinar tajam, lalu membentak ke arah Kwi Lan, suaranya nyaring. “Mau apa engkau datang ke sini?”

Kwi Lan tersenyum. Ia tidak memandang mata kepada orang-orang Thian-liong-pang ini. Melihat batu permata di dahi si Pemuda Tampan, ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu seorang tokoh pula. Akan tetapi ia sedikit pun tidak takut dan karena ia kemarin tidak melihat pemuda ini di antara yang mengeroyoknya, ia pun tiada nafsu untuk melayani mereka.

“Aku tidak butuh kalian, aku hanya perlu seorang nelayan yang dapat menyeberangkan aku dan kudaku,” jawabnya dengan suara dingin. Biar pun ia tidak mengharapkan bantuan mereka ini, namun siapa tahu mereka dapat memberi keterangan tentang nelayan yang ia butuhkan.

Sebelum pemuda dan tiga orang anggota Thian-liong-pang itu menjawab, pendeta sai-kong yang berdiri paling belakang itu mengangkat tangan kiri ke atas, dan berkata, “Siangkoan-kongcu, biarkan lohu menghadapinya!”

Dengan langkah lebar pendeta ini maju. Setelah berhadapan dengan Kwi Lan, ia menjura dengan hormat, tersenyum-senyum dan jenggotnya yang kaku bergerak-gerak, matanya berkejap-kejap. “Nona, sungguh Nona yang masih begini muda amat mengagumkan. Tadi lohu sudah mendengar penuturan saudara-saudara Thian-liong-pang akan sepak terjang Nona yang berani menghadapi Cap-ji-liong. Ha-ha-ha, sungguh gagah! Seorang muda segagah Nona ini patut dikagumi dan sama sekali tidak pantas dimusuhi. Orang gagah mengutamakan persahabatan sesama orang gagah, maka terimalah rasa kagum lohu!”

Kwi Lan yang melihat kakek ini merangkapkan kedua tangan, membawa kedua tangan ke depan dada sambil bergerak memberi hormat, tersenyum mengejek. Dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat turun dari atas punggung kudanya, menghadapi kakek itu dan menjura sambil berkata, “Kau orang tua terlalu merendah!”

Biar pun kelihatannya seperti orang menjura dan memberi hormat, namun kedua tangan sai-kong itu bergerak ke depan dan menyambarlah angin pukulan dahsyat ke arah dada Kwi Lan. Gadis itu hanya menjura dengan bibir tersenyum, agaknya seperti tidak tahu akan penyerangan orang, akan tetapi kakek itu merasa betapa tenaga dorongan kedua tangannya tadi seakan-akan membentur api dan membalik, menimbulkan rasa panas pada dadanya. Ia kaget sekali, akan tetapi masih merasa penasaran dan sambil tertawa dan berkata, “Nona benar-benar hebat...!”

Kedua tangannya membuka jari-jari tangan dan bergerak ke depan, yang kiri menotok ke arah pundak dan yang kanan menotok ke arah pergelangan tangan! Hebat serangan ini, namun masih saja tampak seakan-akan orang yang memuji dan menyentuh karena sayang dan kagum, sama sekali tidak kelihatan seperti orang menyerang. Padahal serangan itu kalau tepat mengenai sasaran, akan membuat tubuh Kwi Lan seketika lumpuh dan lemas.

“Totiang (panggilan pendeta) mengapa sungkan-sungkan?” kata Kwi Lan dan kedua tangannya bergerak ke depan pula seperti orang mencegah.

Hanya tampaknya saja seperti mencegah, akan tetapi sebenarnya dengan cepat seperti kilat menyambar, jari tangan Kwi Lan sudah siap menerima kedua tangan kakek itu. Kalau kakek itu melanjutkan serangannya, maka kedua telapak tangannya tentu akan bertemu dengan jari tangan Kwi Lan sehingga sebelum dapat menotok orang, ia sendiri sudah akan terkena totokan lawan!

“Ahhh...!“ Sai-kong itu menarik kembali kedua tangannya dan melangkah mundur kemudian ia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, semuda ini sudah memiliki kepandaian hebat, benar-benar membuat lohu kagum dan takluk, Nona ingin menyeberang? Biarlah lohu antarkan!”

Girang hati Kwi Lan mendengar ini. “Kau mempunyai perahu, Totiang?”

“Ha-ha, tentu saja ada, harap Nona jangan khawatir. Marilah!” Kakek itu dengan langkah lebar keluar dari dalam goa, diikuti oleh Kwi Lan.

“Tahan! Mutiara Hitam, engkau sudah mengacau Thian-liong-pang, bagaimana kami dapat membiarkan kau pergi begitu saja?” teriak seorang di antara anggota-anggota Thian-liong-pang sambil melompat maju dan mencabut pedang. Akan tetapi pemuda tampan tadi mencegah dan menghardik.

“Nona sudah ikut bersama Huang-ho Tai-ong (Raja Sungai Huang-ho), mau apa kau ribut-ribut?”

Kalau saja Kwi Lan sudah banyak pengalaman merantau, tentu ia akan terkejut sekali mendengar nama ini. Huang-ho Tai-ong adalah nama julukan kepala bajak sungai Huang-ho yang terkenal sekali. Akan tetapi gadis ini selain kurang pengalaman, juga tidak mengenal takut, maka ucapan si Pemuda ini sama sekali tidak ada artinya. Ia mengikuti sai-kong itu yang terus berjalan mendekati pantai, kemudian kakek itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring tinggi sambil menengadahkan kepalanya. Terdengar suitan balasan dari arah kiri dan tidak lama kemudian, muncullah sebuah perahu dalam sinar bintang-bintang di langit yang suram muram. Kiranya perahu itu bercat hitam, cukup besar dan didayung oleh empat orang tinggi besar.

“Silakan, Nona. Lohu sendiri akan menemanimu menyeberang,” kata saikong tadi sambil tersenyum.

“Terima kasih. Kau baik sekali, Totiang,” jawab Kwi Lan yang menuntun kuda hitamnya ke atas papan perahu.

Kakek itu pun melompat naik, memberi aba-aba dan empat orang anak buahnya kembali mendayung perahu ke tengah. Ketika Kwi Lan menengok, ia melihat pemuda tampan tadi bersama teman-temannya berdiri di pinggir sungai dan memandang...


BERSAMBUNG KE JILID 04