Istana Pulau Es Jilid 19

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 19

"Baik!" jawab Can Ji Kun yang segera mengumpulkan pasukan lima puluh orang, membawa surat laporan Maya dan berangkat pada hari itu juga ke timur. Maya lalu mengatur rencana pengejaran ke barat.

"Sayang kita tidak tahu pasti ke mana mundurnya barisan Mancu dan di antara kita tidak ada yang mengenal baik daerah ini."

"Li-ciangkun, harap jangan khawatir. Aku mengenal daerah ini dengan baik dan kiranya tidak akan keliru kalau saya katakan bahwa barisan Mancu tentu mundur ke selatan."

Maya tercengang. Banyak hal yang aneh dan tidak tersangka-sangka dimiliki oleh bekas penggembala domba ini! "Mengapa kau berpendapat demikian, Cia-huciang? Bukankah di selatan banyak terdapat barisan Sung?"

"Jalan mundur satu-satunya yang paling lemah dijaga musuh hanyalah ke selatan. Ke timur berhadapan dengan barisan Yucen yang kuat, demikian pula ke utara. Sedangkan di sebelah barat terdapat pasukan-pasukan Mongol dan Sung. Di selatan hanya terjaga oleh pasukan Sung, akan tetapi mengingat keadaan Sung yang makin lemah dari pada menghadapi barisan Yucen atau Mongol lebih ringan menghadapi pasukan Sung. Maka kiranya tidak akan meleset jika kita perhitungkan bahwa barisan Mancu itu tentu mengundurkan diri ke selatan.”

Maya mengangguk-angguk, diam-diam ia kagum karena tidak mengira bahwa Si Penggembala domba ini memiliki pemandangan yang luas dan cerdik. “Baiklah, kalau begitu kita mengejar ke selatan.”

Pada keesokan harinya berangkatlah pasukan itu menuju ke selatan dan ketika para penyelidik memberi pelaporan bahwa memang benar ada tanda-tanda bahwa pasukan-pasukan Mancu mengundurkan diri ke selatan, Maya makin kagum terhadap pembantunya, Cia Kim Seng. Keadaan di sepanjang jalan amat sunyi, karena sebagian besar penduduk mengungsi dari daerah yang dilanda perang itu.



KITA kembali mengikuti perjalanan dan pengalaman Khu Siauw Bwee yang sudah lama kita tinggalkan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara perkasa itu mempelajari ilmu gerak tangan kilat dan gerak kaki kilat dari kakek yang kedua kakinya buntung dan lengan kirinya juga buntung. Kedua ilmu silat yang amat aneh itu adalah ilmu rahasia dari kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung.

Ilmu silat ini memang luar biasa dan kini Siauw Bwee telah mempelajari teorinya dari kakek itu, bahkan sekalian diajari cara pemecahannya sehingga tentu saja Siauw Bwee menjadi lihai bukan main. Kaki tangannya masih utuh dan ilmu-ilmu itu dimainkan oleh orang-orang cacat saja sudah begitu hebat, apa lagi dimainkan oleh Siauw Bwee yang selain masih utuh kaki tangannya, juga telah memiliki dasar ilmu silat yang tingkatnya jauh lebih tinggi pula. Di samping ini masih mendapat ajaran rahasia pemecahan kedua ilmu itu!

“Bagus! Lihiap telah menguasai kedua ilmu itu dengan sempurna! Andai kata aku sendiri yang melatih dengan kaki tangan utuh, belum tentu dapat sesempurna ini!” Lu Gak, demikian nama kakek itu tertawa puas.

Akan tetapi Siauw Bwee sama sekali tidak merasa puas. Sudah sering kali ia minta agar kakek itu beristirahat, akan tetapi kakek itu berkeras, siang malam mengajarnya padahal keadaan kesehatan kakek itu buruk sekali! Kini biar pun kakek itu tertawa, wajahnya amat pucat dan napasnya memburu.

“Lu-locianpwe, engkau terlalu memaksa diri. Sebaiknya sekarang beristirahat.”

“Baiklah... baiklah Khu-lihiap. Besok adalah hari pibu antara mereka, seperti biasa mengambil tempat di kuil tua dekat rawa, kuil bekas tempat tinggal nenek moyang kami kedua pihak di mana terdapat pula kuburan mereka berdua itu. Engkau wakililah aku Lihiap, mendamaikan mereka dengan mengalahkan mereka. Kalau berhasil, barulah aku dapat mati dengan mata terpejam.”

“Baik, Locianpwe, dan mudah-mudahan semua berjalan lancar,” jawab Siauw Bwee dan hatinya lega menyaksikan kakek itu dapat tidur pulas di dalam pondok.

Kakek ini sebenarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, biar pun tidak berkaki dan hanya berlengan satu, namun tubuhnya dapat bergerak meloncat-loncat dengan tekanan tangannya ke atas tanah. Akan tetapi sayang, karena keadaan tubuhnya seperti itu dan mengandung penyakit berat pula, tentu saja kakek ini bukan lawan kaum kaki buntung dan lengan buntung yang saling bermusuhan itu.

Pada keesokan harinya, di depan kuil tua yang dimaksudkan telah berkumpul seluruh anggota kaum kaki buntung berjumlah tiga puluh enam orang dan kaum lengan buntung sebanyak tiga puluh orang. Mereka dipimpin oleh ketua masing-masing, yaitu Liong Ki Bok si kaki buntung dan The Bian Le si lengan buntung. Seperti biasa setiap tahun masing-masing pihak mengajukan lima orang jago untuk diadu sampai mati! Pihak yang lebih banyak jumlahnya menang dianggap pemenang dan pibu akan dilanjutkan tahun depan, akan tetapi ada kalanya pertempuran terjadi dengan hebat sehingga semua anggota saling serang merupakan perang kecil yang akan merobohkan banyak korban di kedua pihak.

Kedua pihak telah mengajukan lima orang jago, termasuk ketua masing-masing. Akan tetapi sebelum pertandingan dimulai, berkelebatlah bayangan orang dan Siauw Bwee telah meloncat ke tengah-tengah antara mereka! Dara ini datang bersama Lu Gak akan tetapi kakek itu hanya menonton dari tempat tersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia tidak mau memperlihatkan diri, khawatir kalau-kalau kemunculannya akan mengganggu tugas Siauw Bwee yang bagi kakek ini amatlah penting, merupakan tugas hidupnya!

Melihat munculnya Siauw Bwee yang amat dikenal oleh kedua pihak karena dengan keduanya dara ini pernah bentrok, kedua kaum cacat itu menjadi terkejut dan marah.

“Bocah pengecut!” bentak Liong Ki Bok yang merasa tertipu karena tadinya ia merasa menyesal telah ‘membunuh’ gadis ini dan yang ternyata kemudian sama sekali tidak mati malah membikin kacau anak buahnya. Tadi ketika dalam pertemuan ini orang she Liong itu tidak melihat Cia Cen Thok yang ternyata selama bertahun-tahun itu pun tidak mati, hatinya sudah menjadi lega. Siapa tahu sekarang dara yang ilmunya tinggi itu berada di situ!

“Mau apa engkau?” bentak The Bian Lee dan kedua orang ketua kaum buntung itu agak lega hatinya karena teguran-teguran mereka ini jelas membuktikan bahwa dara lihai itu tidak berpihak kepada siapa pun.

Siauw Bwee memandang kedua orang ketua itu berganti-ganti, kemudian berkata dengan senyum mengejek dan suara bernada dingin, “Kalian ini orang-orang tua, sudah bercacat tubuhnya akan tetapi masih selalu dikuasai nafsu mendendam yang membikin kalian seperti hidup di neraka dan selalu haus darah dan kejam! Lupakah kalian bahwa sebenarnya kalian ini adalah keturunan saudara-saudara seperguruan dan kepandaian kalian berasal dari satu sumber? Mengapa permusuhan yang gila ini masih juga dilanjutkan?”

“Eh, bocah setan. Mau apa engkau mencampuri urusan kedua kaum yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirimu?” bentak Liong Ki Bok.

“Pergilah! Kami tidak mempunyai urusan denganmu!” bentak pula The Bian Le.

Siauw Bwee tertawa, “Nah, nah! Sikap kalian ini saja sudah menunjukkan bahwa kalian tidak semestinya saling bermusuh. Begitu ada orang luar mencampuri, kalian besikap seperti hendak bersatu! Alangkah akan baik dan kuatnya kalau kalian dapat bersatu, yang satu memenuhi kekurangan yang lain. Bukankah dengan hidup berdampingan secara damai kalian dapat saling tolong-menolong?”

“Banyak cerewet!” The Bian Le berteriak, “Urusan kami adalah urusan dendam turun-menurun, siapa juga tidak boleh mencegahnya atau coba mendamaikannya! Kalau salah satu kaum di antara kami musnah, barulah akan terhenti!”

“Wah, wah! Memang aku tahu bahwa ketua kaum lengan buntung lebih galak dan lebih fanatik. Banyak orang baik-baik menjadi korban karena permusuhan gila ini, bahkan baru masuk menjadi murid saja sudah terjadi kekejian, membuntungi lengan dan kaki! Sungguh kasihan mereka, sudah dibuntungi lengan atau kakinya, yang didapat hanya ilmu kanak-kanak yang hanya bisa dipakai saling hantam antara saudara sendiri!”

“Engkau terlalu menghina kami!” teriak Liong Ki Bok.

“Perempuan keparat!” The Bian Le membentak.

Siauw Bwee mengangkat kedua tangan ke atas. “Disuruh damai secara baik-baik, tidak sudi, memang seharusnya dilakukan dengan kekerasan. Sekarang baik kita buktikan betapa kalian ini sia-sia saja mengorbankan kaki tangan untuk mempelajari ilmu kanak-kanak! Mari kita bertaruh. Aku seorang diri dengan tangan kosong melawan kalian dua orang ketua gila! Kalau aku kalah dan mati, sudahlah, kalian boleh melanjutkan permusuhan gila ini sampai dunia kiamat! Akan tetapi kalau kalian dengan ilmu kanak-kanak kalian kalah olehku, kalian harus menghentikan permusuhan ini dan merubah menjadi persaudaraan. Coba, pergunakan kedua ilmu kalian untuk bersatu mengalahkan aku kalau bisa!”

Dua orang ketua itu tertegun. Mereka sudah maklum akan kelihaian dara ini, akan tetapi melawan mereka berdua berarti mencari mati, karena kedua ilmu mereka itu isi-mengisi sehingga memperlengkap kekurangan mereka.

“Nona, jangan main-main!” teriak Liong Ki Bok.

“Engkau mencari mampus!” teriak pula The Bian Le.

“Gertak sambal! Ataukah gertakan untuk menutupi bahwa kalian jeri mengeroyok aku?”

“Keparat! Siapa takut?” Teriakan ini keluar berbareng dari mulut kedua orang ketua.

“Kalau begitu, kalian menerima taruhanku?” tanya Siauw Bwee dengan girang.

Kedua orang ketua ini sejenak saling pandang. Penghinaan dara itu membuat keduanya menjadi marah sekali, kemarahan yang amat besar sehingga pada saat itu mengatasi rasa saling benci mereka.

“Aku terima!” kata Liong KI Bok.

“Marilah!” kata The Bian Le.

“Bagus! Nah, seranglah!” Siauw Bwee menantang sambil berdiri di tengah-tengah menghadapi mereka di kanan kiri.

Liong Ki Bok sudah menggerakkan kedua tangannya, yang kiri mencengkeram disusul totokan tongkat. Gerakannya cepat bukan main karena dia sudah menggunakan ilmu gerak tangan kilat. Sedangkan The Bian Le juga sudah menerjang maju dengan pukulan tangan kanan disusul tendangan yang dahsyat!

Namun, karena Siauw Bwee sudah paham betul akan gerakan mereka dan perkembangannya, tahu pula cara pemecahannya, dengan mudah ia mengelak sambil tertawa mengejek. Makin diserang, makin cepat ia mengelak dan makin keras suara ketawanya sehingga kedua orang ketua itu menjadi makin marah.

Gerakan mereka begitu cepatnya sehingga datangnya serangan tangan Liong Ki Bok seperti hujan dan kedua tangannya seperti berubah menjadi delapan buah saking cepatnya. Demikian pula The Bian Le seolah-olah mempunyai delapan buah kaki yang menghujankan tendangan dengan gerak kaki yang indah dan rapi.

“Dukk!” Kedua orang ketua itu terhuyung-huyung karena secara aneh sekali tahu-tahu pangkal paha kaki tunggal Liong Ki Bok sudah kena ditendang Siauw Bwee, sedangkan pangkal lengan satu The Bian Le sudah kena ditepuk!

“Nah, bukankah ilmu kalian seperti ilmu kanak-kanak?” Siauw Bwee mengejek dan cepat mengelak karena kedua orang itu sudah menerjang lagi dengan dahsyat dan penuh kemarahan.

Kini Siauw Bwee bersilat menurut petunjuk Kakek Lu Gak, mainkan dua macam ilmu silat yang merupakan pemecahan rahasia kedua ilmu mereka.

Mulailah keduanya terheran-heran dan terdesak hebat! Mereka segera mengenal ilmu mereka sendiri, dan kini bahkan serangan mereka seperti tetesan air yang menimpa lautan, amblas tanpa bekas, sebaliknya setiap serangan Siauw Bwee seolah-olah melumpuhkan semua perkembangan gerakan mereka! Setelah bertanding selama seratus, jurus, akhirnya dengan gerakan indah sekali Siauw Bwee berhasil menotok thian-hu-hiat mereka secara berbareng dengan kedua tangannya dan seketika kedua orang ketua itu mengeluh dan jatuh terduduk dalam keadaan lumpuh!

Siauw Bwee bertolak pinggang. “Bagaimana, apakah kalian masih memiliki kegagahan untuk memenuhi janji?”

Liong Ki Bok dan The Bian Le tetap membisu, hanya menundukkan muka dengan alis berkerut. Siauw Bwee cepat menotok dan membebaskan mereka yang segera melompat bangun. Anak buah kedua kaum cacat itu menjadi marah dan mereka sudah bergerak hendak mengeroyok Siauw Bwee. Akan tetapi ketua mereka membentak mereka supaya mundur.

“Aku mengaku kalah. Nona lihai sekali, akan tetapi... bagaimana Nona dapat mempelajari ilmu gerak tangan kilat kami?” kata Liong Ki Bok.

“Hal itu tidak perlu dibicarakan. Yang penting sekarang, kalian sudah kalah dan harus memenuhi janji untuk menghentikan permusuhan!”

Tiba-tiba The Bian Le berseru, “Mari kita pulang! Biarlah sekali ini kami kaum lengan satu mengaku kalah. Sampai lain tahun!” Dan ia sudah berlari pergi diikuti dua puluh sembilan orang anak buahnya, pergi dengan wajah muram dan penasaran!

“Kami memenuhi janji dan menghentikan pertempuran untuk kali ini!” kata pula Liong Ki Bok, yang juga berloncatan pergi diikuti semua anak buahnya.

Siauw Bwee tercengang dan diam-diam mengeluh. Celaka, usahanya itu sama sekali tidak berhasil. Hanya berhasil menghentikan pibu hari itu saja, tetapi sama sekali tidak berhasil menghentikan permusuhan di antara kedua kaum, tidak berhasil menghapus dendam di antara mereka. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan keras dari arah tempat Kakek Lu Gak bersembunyi. Ia meloncat ke tempat itu dan melihat Lu Gak roboh dengan mata mendelik!

“Lu-locianpwe!” Siauw Bwee cepat memeriksa keadaan kakek itu dan mendapat kenyataan bahwa kakek itu terserang jantungnya dan dalam keadaan pingsan. Dia lalu memondong tubuh yang hanya berlengan satu itu, membawanya lari kembali ke pondok Lu Gak. Kakek itu setelah sadar lalu mengeluh panjang dan menggeleng kepalanya.

“Keras kepala... keras kepala mereka itu... Lihiap...!”

“Aku akan menghajar mereka, Locianpwe. Akan kupaksa mereka!” Siauw Bwee berkata gemas, maklum bahwa kakek ini merasa berduka sekali ketika tadi menyaksikan betapa kedua kaum itu masih saja tidak mau menghentikan permusuhan mereka, berarti bahwa tugasnya telah gagal!

Akan tetapi, dengan napas terengah-engah kakek itu berkata, “Percuma, Lihiap... Ahh...! Kiranya hanya Tuhan saja yang akan dapat menggerakkan hati mereka dan membuka mata mereka bahwa semua permusuhan dan dendam itu amatlah tidak baik...”

“Tenanglah, Locianpwe. Yang paling penting Locianpwe memelihara kesehatanmu dulu, nanti perlahan-lahan kita mencari akal. Percayalah, aku akan membantumu.”

“Aihh, kau baik sekali, Lihiap. Akan tetapi mereka, aahhh...” Dan kakek itu lalu menangis terisak-isak! Siauw Bwee menjadi terharu sekali dan dia tidak tega meninggalkan kakek itu yang telah menurunkan ilmu silat yang luar biasa kepadanya. Dengan sabar dia menghibur dan merawat kakek yang menderita sakit itu.

Tiga hari kemudian, selagi Siauw Bwee menggodok obat untuk Kakek Lu Gak, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar pondok. Siauw Bwee segera meloncat ke luar dan tampaklah semua anggota kedua kaum bercacat itu berkumpul di luar pondok dan saling memaki.

“Sudah jelas betapa rendah dan curangnya Si Lengan Buntung!” teriak seorang nenek berkaki buntung sambil menudingkan tongkatnya ke arah kelompok lengan buntung yang memandang marah. “Siapa lagi kalau bukan kalian yang menculik ketua kami dengan bantuan gadis setan itu? Orang she Lu adalah seorang di antara kaummu, tentu membantu kalian!”

“Tutup mulutmu yang kotor!” bentak seorang kakek lengan buntung juga menudingkan telunjuk lengan tunggalnya kepada rombongan kaki buntung, “Gadis itu pernah berada di tempat kalian, tentu dia telah membantu kalian menculik ketua kami!”

Mendengar ini Siauw Bwee yang baru keluar berseru, “Apa ini saling tuduh dan membawa-bawa aku?”

Semua orang menengok dan ketika melihat Siauw Bwee, seperti mendengar komando saja mereka kedua pihak telah menyerbu dan menyerang Siauw Bwee.

Dara perkasa ini terkejut dan heran akan tetapi juga marah. Tubuhnya berkelebat ke depan, menyambar-nyambar laksana burung walet menyambar sekumpulan laron sehingga terdengarlah orang-orang mengaduh disusul robohnya belasan orang berturut-turut! Untung bagi mereka bahwa Siauw Bwee masih menaruh kasihan, menganggap mereka itu orang-orang keras kepala yang bodoh dan dimabok dendam, maka dia masih menahan tenaganya dan hanya merobohkan mereka tanpa membunuh.

“Tahan... Apakah kalian telah gila mengeroyok Khu-lihiap? Berhenti semua...!”

Siauw Bwee melompat ke dekat pintu, berdiri di sebelah Lu Gak yang telah duduk di depan pintu, menggerak-gerakkan tangan kanannya dengan marah. Semua orang kedua kaum cacat itu memandang Lu Gak dan seorang kakek lengan buntung berkata,
“Lu-supek, Suhu The Bian Le telah diculik orang. Siapa lagi yang mampu menculik Suhu kalau bukan Nona ini?”

“Juga ketua kami diculik oleh Nona ini!” berkata seorang tokoh kaki buntung.

Lu Gak menggeleng-gelengkan kepalanya, “Hemm... kalian sudah gila semua, gila oleh dendam permusuhan sehingga melontarkan fitnah dan tuduhan secara membabi-buta. Apakah kalian melihat sendiri Khu-lihiap menculik kedua orang ketua kalian?”

“Kemarin pagi ketua kami menyatakan hendak mengadakan pertandingan pibu secara diam-diam di dekat rawa melawan ketua lengan buntung,” demikian kakek yang berkaki buntung bercerita, “Kami dilarang turun karena pibu itu merupakan pibu perorangan di antara kedua ketua, dan dilakukan diam-diam agar jangan diketahui oleh Nona ini yang melarang pibu. Akan tetapi sampai sehari ketua kami tidak pulang, maka terpaksa kami menyusul ke rawa. Pada waktu senja itu, ketika kami tiba di dekat rawa, kami bertemu rombongan lengan buntung yang juga mencari ketua mereka. Akan tetapi kedua pihak kami hanya mendapatkan lengan baju yang buntung dari ketua lengan buntung dan tongkat ketua kami. Karena tidak kelihatan mayat di situ, berarti ketua kami diculik dan siapa lagi yang sanggup menculiknya kalau bukan Nona ini?”

Tiba-tiba Siauw Bwee melangkah maju dan orang-orang kedua kaum itu otomatis melangkah mundur. Mereka jeri terhadap Siauw Bwee yang luar biasa lihainya. “Permusuhan di antara kalian telah menimbulkan banyak mala-petaka. Lihat Lu-locianpwe ini, karena dialah satu-satunya orang yang sadar dan waras di antara kedua kaum, dia berusaha mendamaikan dan apa yang kalian perbuat terhadapnya? Membuntungi kedua kakinya! Padahal dialah yang paling tepat memimpin kalian dari dua kaum ke arah jalan yang benar penuh damai. Sekarang, ketua kalian lenyap diculik orang, dan kalian datang pula menuduh Lu-locianpwe dan aku! Hemm, kalau tidak ingat betapa besar rasa sayang Locianpwe ini kepada kedua kaum yang gila, agaknya aku akan senang untuk membunuh kalian semua seperti membasmi lalat-lalat busuk yang hanya mengotori dunia! Sekarang agaknya Thian sendiri yang menghukum kalian sehingga ketua kalian lenyap diculik orang. Apakah kalian belum juga sadar? Kalau aku berjanji untuk membantu kalian mencari ketua kalian, apakah kalian suka bersumpah untuk menghapus permusuhan dan bekerja sama membantu aku mencari mereka?”

Orang-orang kedua rombongan saling pandang. Yang fanatik dimabok dendam masih ragu-ragu.

“Ingat, orang yang dapat menculik ketua-ketua kalian tentu berkepandaian tinggi. Aku akan berusaha mencarinya dan melawannya untuk menolong ketua kalian. Akan tetapi bersumpahlah lebih dulu bahwa semenjak saat ini, semua dendam di antara kalian telah habis dan kalian tidak akan saling bermusuhan lagi, bagaimana, sanggupkah?”

Hening sejenak dan terdengar mereka semua berbisik-bisik. Kemudian, kakek kaki buntung memelopori teman-temannya, “Kami pihak kaum kaki buntung bersumpah, dan sanggup asal ketua kami diselamatkan!”

Siauw Bwee tersenyum. Memang pihak kaki buntung belum segila pihak lengan buntung. Maka ia bertanya, “Bagaimana dengan kaum lengan buntung? Kalau tidak mau aku hanya akan mencari dan menyelamatkan Liong Ki Bok ketua kaki buntung saja!”

“Kami... kami sanggup dan bersumpah untuk menghabiskan permusuhan asal ketua kami diselamatkan!” Akhirnya nenek lengan buntung berseru.

Siauw Bwee masih belum puas. Dia maklum betapa hebat dendam dan permusuhan di antara mereka dan siapa tahu kalau nanti ketua mereka telah berada di tengah mereka, permusuhan akan dilanjutkan.

“Bagaimana kalau kelak ternyata bahwa kedua ketua kalian masih tidak mau berdamai dan melanjutkan permusuhan?”

Hening pula sejenak dan tiba-tiba terdengarlah Kakek Lu Gak yang sejak tadi mendengarkan penuh perhatian berkata, “Mengapa kalian ragu-ragu? Begitu bodohkah kalian menaati kehendak ketua kalian yang sudah gila? Kalau ternyata mereka masih nekat saling bermusuhan dan tidak menaati janji dengan Khu-lihiap, kita hancurkan saja mereka yang menjadi sarang dan bibit permusuhan.”

“Akurr...!” Kini semua anggota kedua kaum itu berteriak.

Wajah Siauw Bwee berseri, “Kalau begitu, marilah. Bawa aku ke tempat mereka berdua lenyap meninggalkan lengan baju dan tongkat!”

Berangkatlah mereka menuju ke rawa di mana dahulu Siauw Bwee hampir celaka dikeroyok burung-burung liar. Ketika mereka tiba di tepi rawa di mana mereka menemukan tongkat Liong Ki Bok dan lengan baju The Bian Le, Siauw Bwee memandang ke sekitarnya dan dia mengerutkan kening. Rawa itu amat luas dan tidak tampak tempat yang kiranya dapat dipergunakan sebagai tempat tinggal orang yang menculik kedua orang ketua itu. Dia merasa heran dan menduga-duga. Kalau benar dua orang itu diculik, tentu tidak disembunyikan di rawa ini, melainkan dibawa ke lain tempat. Tempat terbuka luas seperti rawa ini, mana mungkin dipakai menawan orang?

Dia memandang lagi ke sekeliling dan diam-diam bergidik. Tempat ini merupakan tempat sarang maut dan teringatlah penuh kengerian akan dua orang temannya yang juga melarikan diri cerai-berai ketika dikeroyok burung, yaitu Cia Cen Thok si bekas ‘mayat hidup’ dan pemuda Gobi-san yang gagah, Hui-eng Liem Hok Sun. Tentu mereka itu telah tewas dimakan burung atau tenggelam di dalam rawa atau... dikeroyok ular. Siauw Bwee bergidik.

“Lihiap, ke mana sekarang kita mencari mereka?” Tiba-tiba nenek lengan buntung bertanya dan semua orang kini memandang kepada Siauw Bwee.

Siauw Bwee menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Tiba-tiba Kakek Lu Gak yang juga ikut bersama mereka, yang sejak tadi mengerutkan alisnya dan memandangi daerah rawa yang luas, berkata, “Ahh, aku tahu! Tidak salah lagi...!”

Semua orang kini memandang kakek itu dan Siauw Bwee bertanya, “Di mana mereka menurut pendapatmu, Locianpwe?”

Semua orang diam mendengarkan jawaban kakek itu, “Kedua orang sute itu kalau diculik orang tentu disembunyikan di suatu tempat. Rawa ini tak mungkin dipergunakan untuk maksud itu dan satu-satunya tempat yang paling tepat tentulah di kuil tua!”

Orang-orang kedua kaum cacat itu saling pandang dan agaknya mereka tidak percaya, bahkan mulai kelihatan murung dan kecewa karena sesungguhnya mereka tidak suka datang ke tempat itu, kecuali jika diadakan pibu! Namun melihat Siauw Bwee dan Kakek Lu Gak pergi menuju ke kuil tua, mereka mengikuti dari belakang.

“Lihat itu...” Siauw Bwee berseru ketika kuil itu sudah tampak, menuding ke arah benda-benda beterbangan di atas kuil.

“Kelelawar-kelelawar siang!” Anggota kedua rombongan berteriak kaget dan seketika menghentikan langkah. Akan tetapi Siauw Bwee dan Kakek Lu Gak sudah cepat bergerak ke arah kuil. Kedua rombongan maju pula mengikuti, akan tetapi dengan wajah takut-takut.

Siauw Bwee lebih dulu tiba di kuil dan cepat memasuki kuil itu terus ke ruangan belakang yang menembus ke halaman belakang yang penuh rumput. Dan tampaklah pemandangan yang mengejutkan hatinya. Liong Ki Bok dan The Bian Le rebah telentang di atas rumput, agaknya terluka dan tertotok. Dua orang kakek itu terbelalak memandang ke arah ratusan kelelawar yang beterbangan di atas dan mengeluarkan suara seperti sekumpulan anjing dan kera berkelahi, siap untuk menerjang kedua orang kakek yang tidak berdaya itu!

Melihat ini, Kakek Lu Gak yang dengan terengah-engah sudah datang pula, cepat mengeluarkan suara melengking dari kerongkongannya. Mendengar ini Siauw Bwee segera teringat. Melihat kakek itu dengan susah payah mengerahkan tenaga khikang, ia lalu mengeluarkan lengking yang amat tinggi dan mengandung getaran hebat. Mendengar itu kelelawar-kelelawar menjadi panik dan cepat melarikan diri dengan terbang membubung tinggi sambil cecowetan. Makin lama kelelawar-kelelawar itu makin bingung, bahkan ada yang meluncur jatuh karena tidak kuat diserang suara melengking yang begitu dahsyatnya.

Tiba-tiba di luar kuil terdengar suara tertawa-tawa disusul suara teriakan-teriakan kesakitan dan suara gedebak-gedebuk orang berkelahi.

“Locianpwe, harap menjaga agar binatang-binatang jahat itu tidak turun lagi, akan tetapi tidak perlu memaksa diri. Aku akan melihat keluar!” Tubuh dara perkasa itu sudah berkelebat ke luar kuil dan apa yang dilihatnya membuat ia terbelalak keheranan.

Puluhan orang-orang anggota kaki buntung dan lengan buntung itu sedang diamuk oleh dua orang yang tertawa-tawa dan gerakannya aneh serta lihai bukan main! Sudah belasan orang anggota kedua kaum itu roboh tewas, banyak pula yang terluka dan kedua orang itu mengamuk sambil tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Aku adalah raja rawa! Lebih banyak lagi korban untuk dipersembahkan dewa-dewa kelelawar!” teriak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan hanya bercawat saja, tubuhnya penuh lumpur.

“Ha-ha-ha! Benar, lebih banyak lebih baik menemani dua orang kakek! Ha-ha-ha, aku adalah pangeran rawa-rawa!”

Siauw Bwee menahan napas melihat orang ke dua yang pakaiannya robek-robek tidak karuan hampir telanjang itu. Seperti orang pertama, rambutnya riap-riapan, tubuhnya penuh lumpur dan mata mereka itu merah dan liar berputaran. Akan tetapi ilmu kepandaian mereka luar biasa sekali. Mereka bersilat seperti orang ngawur saja akan tetapi setiap tangan mereka bertemu dengan anggota-anggota kedua kaum yang mengeroyok, tentu lawan roboh dan tewas!

“Cia Cen Thok, Liem Hok Sun...!” Siauw Bwee berteriak dan meloncat ke tengah pertempuran. “Semua orang mundur, jangan melawan mereka!”

Mendengar seruan ini dan karena memang takut dan gentar menghadapi kehebatan dua orang gila itu, anak buah kedua kaum cacat itu cepat mengundurkan diri sehingga kini hanya Siauw Bwee saja yang berhadapan dengan dua orang gila. Ia menoleh dan berkata kepada orang-orang itu. “Ketua kalian selamat, di halaman belakang!” Mendengar ini, semua orang lari memasuki kuil.

“Cia Cen Thok, Liem Hok Sun, apa yang kalian lakukan ini?” Siauw Bwee memberanikan diri menegur dengan hati gentar dan ngeri karena dia dapat menduga bahwa kedua orang ini sudah tidak waras lagi dan tidak normal.

“Ha-ha-ha!” Kedua orang itu tertawa-tawa dan menudingkan telunjuk mereka ke muka Siauw Bwee.

“Cia Cen Thok! Liem Hok Sun! Apakah kalian tidak mengenal aku lagi? Aku Khu Siauw Bwee!”

“Ha-ha-ha! Korban lunak untuk para dewa kelelawar!” Tiba-tiba Cia Cen Thok yang tertawa-tawa itu menyerang hebat sehingga Siauw Bwee cepat mengelak.

Dari tangan Si Bekas Mayat Hidup itu tercium bau amis. Tangan beracun! Bahkan tubuh mereka semua beracun! Siauw Bwee dapat menduga bahwa agaknya kedua orang ini telah berhasil menyelamatkan diri dari pengeroyokan burung, akan tetapi agaknya menjadi korban gigitan kelelawar-kelelawar itu sehingga menjadi gila dan selain gila, tubuh mereka menjadi beracun! Dia tidak dapat membujuk lagi karena kini dua orang gila itu telah mengeroyoknya dengan gerakan-gerakan aneh dan dahsyat sekali!

Pada saat Siauw Bwee mengelak dan mengandalkan ginkang-nya agar jangan sampai kulit tubuhnya tersentuh tangan-tangan beracun itu, para anggota kedua kaum telah memapah ke luar ketua mereka, mengganti pakaian mereka dan kini mereka semua berdiri di luar kuil menonton pertandingan yang dahsyat mengerikan itu. Mereka tidak membantu karena ketua mereka berkata, “Dua orang itu korban kelelawar, tubuh mereka beracun dan sekali sentuh saja akan cukup menularkan kegilaan mereka!”

Siauw Bwee harus menggunakan seluruh kepandaiannya menghadapi pengeroyokan yang amat hebat itu. Yang menyulitkannya adalah bahwa dia tidak tega menurunkan pukulan maut karena maklum bahwa dua orang itu menyerangnya dalam keadaan tidak sadar. Betapa mungkin dia tega untuk membunuh mereka? Inilah yang menyulitkan, karena kedua orang itu menyerangnya dengan nafsu membunuh. Setelah menjadi korban gigitan kelelawar dan menjadi gila, tidak hanya tubuh mereka beracun, juga gerakan mereka menjadi aneh dan mereka menjadi berlipat kali lebih lihai dari pada sebelum gila.

Bukan main ramai dan serunya pertandingan itu. Biar pun Siauw Bwee memiliki gerakan yang ringan dan cepat sekali, akan tetapi sambaran tangan kedua orang gila itu telah membuat beberapa bagian pakaiannya robek-robek, bahkan pundak kirinya telah terserempet cakaran tangan Hok Sun sehingga mengeluarkan darah. Rasa gatal dan panas pada pundaknya membuat Siauw Bwee maklum bahwa dia telah terkena racun. Terpaksa dia harus mengerahkan sinkang-nya dan dengan hawa murni itu dia mendesak hawa beracun di pundaknya sehingga tidak menjalar lebih luas.

Ketika ia agak lengah karena melirik ke arah pundak kirinya, tiba-tiba gerakan aneh dari Cia Cen Thok dengan tendangan yang merupakan jurus gerakan kaki kilat mengenai paha kanannya.

“Desss!” tubuh Siauw Bwee terlempar dan jatuh bergulingan di atas tanah!

Dua orang gila itu terkekeh-kekeh dan keduanya menubruk tubuh Siauw Bwee dengan gerakan seperti dua ekor harimau memperebutkan seekor kelinci. Siauw Bwee merasa pahanya panas sekali, maka cepat ia menggunakan sinkang melindungi darahnya. Melihat tubrukan dua orang itu, ia mulai menjadi gemas. Gila atau tidak, mereka itu adalah dua orang lawan yang berbahaya dan kalau tidak dia robohkan tentu akhirnya dia sendiri yang celaka. Karena itu, melihat mereka menubruk maju Siauw Bwee mengerahkan sinkang-nya dan menyambut tubuh mereka dengan tendangan kedua kakinya!

“Bukk! Bukk!”

Dua orang gila itu berteriak seperti binatang buas, tubuh mereka terlempar ke belakang dan mereka bergulingan menekan perut yang rasanya seperti diremas-remas! Mereka kini meringis dan Siauw Bwee sudah melompat bangun, kepalanya pening akibat bau racun dan tubuhnya agak terhuyung. Akan tetapi hatinya merasa kasihan sekali melihat dua bekas kawan yang gila itu meraung-raung kesakitan. Namun kedua orang itu kini sudah bangkit lagi dan dengan gerakan buas telah menyerangnya.

Siauw Bwee terkejut. Kalau dilanjutkan tentu dia akan celaka. Dia harus membagi sinkang untuk melindungi tubuhnya dari kedua lukanya, luka di kulit pundak dan kulit pahanya. Tendangan Cen Thok tadi merobek celananya di paha sahingga kulit pahanya terkoyak dan keracunan pula bertemu dengan kaki Cen Thok! Kini melihat kedua orang gila itu sudah menyerbu lagi, ia menguatkan hatinya, menggunakan Swat-im Sin-jiu mendorong ke depan.

Tubuh kedua orang gila itu seperti disambar petir. Mereka terjengkang, muka mereka menjadi biru, tubuh mereka menggigil dan mereka bergulingan sampai jauh, kemudian berhasil merangkak bangun dan melarikan diri sambil berteriak-teriak! Siauw Bwee terhuyung-huyung. Seorang nenek kaki buntung dan seorang anggota lengan buntung cepat menolongnya, memegang kedua lengannya menuntunnya memasuki kuil tua.

“Lepaskan aku...,” Siauw Bwee berkata, kemudian dia duduk bersila di ruangan kuil, memejamkan matanya dan tidak bergerak-gerak.

Para anggota kedua kaum itu mengerti bahwa Siauw Bwee sedang bersemedhi menghimpun tenaga dan hawa murni untuk mengobati luka-lukanya dan mengusir racun, maka Liok Ki Bok dan The Bian Le memberi isyarat kepada semua anak buahnya untuk meninggalkan Siauw Bwee. Mereka pergi ke ruangan depan di mana mereka bercakap-cakap dari hati ke hati, merasa bersatu dan lenyaplah rasa permusuhan di antara mereka setelah kedua pihak merasa yakin bahwa nona pendekar yang sakti itu sampai hampir mengorbankan nyawa karena permusuhan mereka dan demi untuk mendamaikan mereka!

Mereka tidak mau meninggalkan Siauw Bwee dan beberapa kali kedua orang ketua itu menjenguk dan pergi lagi ketika melihat Siauw Bwee masih tetap bersemedhi. Malam tiba dan para anggota kedua kaum itu menyalakan lampu dan membersihkan ruangan kuil tua yang dahulu menjadi tempat tinggal nenek moyang mereka yang saling bermusuhan. Kini tampaklah suasana yang mengharukan di mana seorang kaki buntung dan seorang lengan buntung bekerja sama membersihkan lantai dan menyapu halaman kuil! Bahkan kedua orang ketua mereka, dalam suasana yang ramah-tamah, saling membicarakan kedua ilmu mereka, membuka rahasia gerak kilat masing-masing!

Setelah malam tiba dan lampu penerangan dipasang, Siauw Bwee membuka matanya. Racun dari luka di pundak dan pahanya telah dapat ia usir bersih, akan tetapi tubuhnya menjadi lemah karena ia terlampau banyak mengerahkan tenaga untuk usaha pengusiran racun-racun berbahaya itu, sehingga ketika bangkit ia mengeluh dan terhuyung. Kemudian dengan terpincang-pincang ia dipapah dua orang anggota kaki buntung dan lengan buntung.

“Mana kedua ketua kalian?” tanyanya ketika ia dipapah ke luar.

Kedua orang kakek itu sudah menyambutnya dengan wajah berseri dan ketika melihat Siauw Bwee, mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dara perkasa itu! “Terima kasih kami haturkan kepada Lihiap yang sudah menolong kami!” kata The Bian Le yang berlutut dan mengangkat sebelah tangannya ke depan dada sebagai tanda penghormatan.

“Terima kasih sekali, terutama karena Lihiap telah berhasil mendamaikan kami. Kami telah bersumpah untuk mengubur semua dendam permusuhan dan mulai saat ini, kedua kaum kami bersatu sebagai saudara-saudara seperguruan,” kata Liong Ki Bok.

Bukan main girangnya hati Siauw Bwee. Tidak sia-sialah usahanya sekali ini biar pun ditebusnya dengan bahaya maut yang mengancam nyawanya. Ia girang karena mengingat betapa akan bahagianya rasa hati Kakek Lu Gak. Ia menoleh ke kanan kiri dan bertanya, “Mana dia?”

Dua orang ketua itu saling pandang, “Siapakah yang Lihiap cari?” tanya Liong Ki Bok.

”Hemmm, betapa kalian telah melupakan orang yang paling berjasa dalam usaha mendamaikan kalian! Mana Locianpwe Lu Gak?”

“Ahh...!” Barulah semua orang teringat, akan tetapi ketika dicari kakek itu tidak tampak.

”Lekas, jemput dia di pondoknya!” Siauw Bwee yang masih lemah dan kakinya pincang itu menyuruh mereka karena dia sendiri masih terlalu lemah.

Dua orang kakek itu cepat pergi sendiri dan tak lama kemudian mereka datang dengan wajah berduka sambil memanggul tubuh yang hanya berlengan satu dan yang sudah tak bernyawa itu!

Hati yang duka dari Siauw Bwee berubah terharu dan juga lega ketika ia melihat wajah jenazah Kakek Lu Gak. Wajah itu berseri, mulutnya tersenyum dan matanya terpejam. Agaknya saking girangnya menyaksikan kedua kaum itu berdamai kakek ini pulang dengan hati girang dan rasa girang yang berlebihan menyerang jantungnya dan membuatnya mati dalam keadaan penuh bahagia! Jenazah Kakek Lu dikubur di halaman kuil itu dan diberi batu nisan yang megah.

Siauw Bwee berkata dalam pesannya ketika ia hendak pergi setelah lukanya sembuh, “Kuharap saja kalian akan dapat mempertahankan perdamaian ini dan tidak lagi memupuk permusuhan dan membuntungi kaki dan lengan orang. Anggaplah kuburan Lu-locianpwe sebagai lambang perdamaian abadi.”

Siauw Bwee diantar oleh semua anak buah kedua kaum yang kini telah bersatu itu, diberi pakaian, kuda dan bekal secukupnya. Kedua ketua itu berlinang air mata ketika Siauw Bwee melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal, meninggalkan tempat yang takkan dapat ia lupakan itu karena di situ dia telah mengalami hal-hal yang hebat.

Setelah meninggalkan tempat itu, Siauw Bwee melakukan perjalanan ke selatan mencari ibunya. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika mendengar berita dari seorang perwira Sung bekas sahabat ayahnya bahwa ibunya yang dahulu melarikan diri mengungsi itu telah meninggal dunia karena sakit sesudah mendengar bahwa suaminya gugur. Siauw Bwee sempat mengunjungi kuburan ibunya, bahkan dia berkabung dan menangisi kuburan ibunya di dusun sunyi sampai beberapa hari.

Karena mendengar keterangan bahwa musuh besarnya, Suma Kiat kini sedang memimpin barisan besar ke utara untuk melawan para pemberontak dan pasukan-pasukan Mancu di perbatasan utara, dia lalu melanjutkan perjalanannya menyusul ke utara. Kebenciannya terhadap musuh besar itu meningkat karena dia menganggap bahwa kematian ibunya pun disebabkan oleh Suma Kiat! Dara yang hatinya merana dan setiap saat teringat dengan hati penuh rindu kepada suheng-nya, Kam Han Ki, kini melakukan perjalanan dengan hati mengandung dendam besar, membuatnya menjadi pendiam dan kurang gembira.

******************


Kota-kota dan dusun-dusun daerah utara amat sunyi karena sebagian besar penduduknya lari mengungsi menjauhi pertempuran. Namun, banyak juga yang tidak pergi mengungsi karena selain tidak tahu harus pergi ke mana, juga mereka merasa sayang untuk meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka. Ada pula yang menyuruh keluarganya saja pergi mengungsi. Karena banyak warung, toko dan restoran tutup, maka bagi mereka yang berani membuka restoran dan toko merupakan usaha yang amat baik dan menguntungkan.

Warung-warung nasi selalu ramai, akan tetapi tidak terpelihara baik-baik karena tempat itu sewaktu-waktu kalau terjadi perang harus ditinggalkan. Meja-meja dan bangkunya butut, tembok-tembok rumahnya tidak dikapur dan makanan yang disediakan pun amat sederhana, walau pun harganya sama sekali tidak sederhana, melainkan harga pukulan!

Bagi restoran-restoran di dusun-dusun, yang menjadi langganan mereka adalah tentara-tentara yang kebetulan pasukannya singgah di situ dan yang membuat perkemahan dekat dusun itu. Para prajurit yang makan-makan di restoran tidak berani berbuat sewenang-wenang dan selalu membayar karena pemilik-pemilik restoran itu dengan cerdiknya selalu menghubungi komandan mereka dan mengirim hidangan-hidangan yang lezat. Selama ini, juga dengan adanya rumah-rumah makan itu mereka mendapat kesempatan untuk sekedar menghibur diri. Kalau mereka tidak bayar dan semua restoran tutup, tentu mereka akan kehilangan.

Pada suatu pagi, Panglima Maya dan sebelas orang pembantunya memasuki sebuah restoran yang cukup besar di kota dekat tempat pasukannya berhenti. Pelayan segera menyambutnya dan Maya beserta para perwiranya dipersilakan duduk di loteng dan segera mereka itu dilayani penuh hormat. Para pengawal cukup duduk di ruangan bawah saja dan mereka menghadapi meja sambil bersendau-gurau. Karena para pemimpin mereka berada di loteng, maka mereka mendapat kesempatan untuk bersenang-senang dan bersendau-gurau saling menggoda.

Tiba-tiba delapan orang prajurit pengawal Pasukan Maut yang sedang bercakap-cakap itu menghentikan sendau-gurau mereka dan semua mata memandang ke arah pintu restoran, mulut mereka tersenyum-senyum. Siapa orangnya yang tidak akan terpesona menyaksikan seorang dara jelita memasuki restoran itu dengan langkah tegap dan lenggangnya menggiurkan itu?

Dara itu masih muda, di punggungnya tampak sebatang pedang, bajunya kuning dengan leher baju biru seperti celananya. Melihat pakaian yang agak kotor oleh debu dapat diduga bahwa dia baru datang dari perjalanan jauh. Wajah dara ini cantik sekali, terutama sekali matanya yang bergerak-gerak dan berbentuk indah, kerlingnya tajam dan menyentuh birahi. Ketika seorang pelayan menghampirinya, dara itu mengulur sebelah tangannya yang putih halus, menyentuh lengan Si Pelayan sambil berkata, “Cepat sediakan nasi, lauk-pauk seadanya dan minuman teh panas!”

Para prajurit tertawa-tawa gembira menyaksikan sikap dara itu yang demikian berani dan ramah, berani memegang lengan seorang pelayan laki-laki tanpa sungkan-sungkan lagi.

“Wah, sayang bukan lenganku...!” terdengar seorang prajurit berkata sambil mengelus-elus tangannya sendiri dan menciumnya, ditertawai oleh teman-temannya.

Dara itu tidak peduli, melainkan menghampiri sebuah meja kosong dan duduk dengan anteng. Para prajurit itu tidak melihat betapa pelayan yang tadi lengannya disentuh oleh dara baju kuning itu seketika menjadi pucat, tubuhnya gemetar dan setelah dara itu duduk, tergesa-gesa pelayan itu menyediakan makanan yang dipesan, sikapnya amat hormat dan takut-takut. Meledaklah suara tertawa empat orang prajurit dari meja yang telah dilayani, mentertawakan empat orang teman mereka yang belum dilayani.

Seorang prajurit dari meja kosong menggebrak meja, “Apa ini? Pelayan, kami memesan lebih dulu, kenapa melayani orang yang datangnya belakangan? Apa kau kira kami tidak membayar?”

“Ha-ha-ha!” Seorang prajurit dari meja yang sudah dilayani tertawa, “Kenapa mencak-mencak? Kalau mukamu cantik dan kau memakai pakaian wanita, tentu kau dilayani lebih dulu! Ha-ha-ha!” Teman-temannya tertawa dan empat orang prajurit yang belum dilayani itu makin marah.

“He! Pelayan! Ke sini kau kalau mau tahu rasanya pukulan perajurlt-prajurit Pasukan Maut!”

Pelayan itu berdiri dengan kaki menggigil ketakutan. Dara itu yang menghadapi meja telah menuangkan teh ke dalam cawannya dengan sikap tenang, kemudian memandang Si Pelayan, “Pelayan, jangan layani anjing-anjing mabok itu. Semua tentara tidak baik, terutama sekali yang menggunakan nama Pasukan Maut, tentu lebih tidak baik lagi!”

Mendengar ini, empat orang prajurit itu merasa terhina dan mereka melompat mendekati meja gadis itu, mengurung dari empat penjuru. Seorang di antara mereka yang berada di belakang gadis itu mencabut golok dan berkata, “Eh, engkau perempuan kang-ouw merasa jagoan, ya? Cabut pedangmu kalau memang pedangmu lebih tajam dari mulutmu yang manis!”

Gadis itu masih memegang cawan teh panas, menunda minumnya dan, matanya yang indah bergerak melirik ke kanan kiri dan depan.

Prajurit yang berada di depannya sudah membentak, “Engkau sungguh kurang ajar, datang-datang minta dilayani lebih dulu. Mengingat engkau seorang gadis muda cantik, kami masih mengalah dan hanya ingin menegur pelayan. Kenapa kau memaki kami? Penghinaan itu baru lunas kalau kau membayar dengan sebuah ciuman dari bibirmu yang ma... oughhh...!” Prajurit itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena mukanya sudah kena siraman air teh panas yang telah ‘meloncat’ dari cawan yang dipegangi dara itu.

Tiga orang temannya menjadi marah dan bergerak hendak menyerang, akan tetapi dari dalam cawan itu kini air teh ‘meloncat’ ke tiga penjuru, ke kiri kanan dan belakang, tepat mengenai muka tiga orang prajurit yang menjadi gelagapan, bukan hanya karena air teh itu panas sekali, akan tetapi juga karena percikan air yang mengenai muka rasanya seperti jarum-jarum menusuk!

Empat orang prajurit lain menjadi marah menyaksikan empat orang temannya mengaduh-aduh dan mengusap-usap mata seperti itu. Mereka sudah meloncat dan mencabut senjata.

“Tentu dia mata-mata musuh! Serang! Bunuh...!”

Dara itu bangkit berdiri, tangannya meraih ke depan dan sebuah piring melayang-layang terbang menyambar empat orang prajurit itu. Terdengar jerit-jerit kesakitan dan empat orang prajurit itu roboh dengan lengan mereka berdarah karena ketika mereka menangkis, lengan mereka tergores piring yang karena berpusing itu menjadi tajam melebihi pisau!

Akan tetapi tiba-tiba piring itu terhenti di tengah udara, kemudian berdesing turun menyambar kepada dara itu sendiri yang mengeluarkan seruan kaget, menangkap piring, dan meletakkannya di atas meja. Dia lalu menoleh ke arah anak tangga menuju loteng. Di situ telah berdiri Maya! Melihat seorang wanita cantik dan gagah perkasa berpakaian panglima, dara baju kuning itu memandang tajam dan kakinya menendang meja di depannya sehingga meja itu terlempar jauh. Agaknya dia tahu bahwa dia kedatangan lawan tangguh, maka ingin mencari tempat yang luas untuk menghadapi pengeroyokan.

Ketika para perwira lari-lari turun dari loteng dan para pengawal siap untuk mengeroyok, Maya berseru, “Tahan! Mundur semua! Aku mau bicara... dengan dia!”

Dara itu telah siap, berdiri dengan tenang dan pandang mata tajam mengikuti gerak langkah Maya yang juga tenang-tenang menuruni anak tangga, menghampiri dara itu sampai mereka berhadapan dan saling pandang. Keduanya terkejut dan mengingat-ingat karena masing-masing seperti telah mengenal.

Ketika Maya melihat gagang pedang di pungung dara baju kuning itu, teringatlah dia dan segera menegur, “Bukankah di punggungmu itu Li-mo-kiam (Pedang Iblis Betina)?”

Dara itu kelihatan kaget sekali, akan tetapi dia tetap tenang dan balas bertanya, “Bagaimana engkau bisa tahu?”

Maya tersenyum lebar, “Kalau benar, engkau tentulah Ok Yan Hwa. Dan agaknya engkau telah lupa kepadaku!”

Dara perkasa itu memang benar Ok Yan Hwa, murid Mutiara Hitam. Dia meneliti wajah Maya dan teringat, lalu berkata, “Dan engkau agaknya Maya...”

“Benar, Yan Hwa, kebetulan sekali pertemuan kita ini dan maafkan anak buahku yang tidak mengenal wanita perkasa! Heii, dengarlah. Dia ini adalah sumoi dari Can-huciang! Hayo lekas kalian minta maaf!”

Mendengar bahwa dara baju kuning yang gagah perkasa itu adalah sumoi dari Can Ji Kun, delapan orang prajurit pengawal itu cepat memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata, “Lihiap, mohon sudi mengampuni kami yang bermata tapi seperti buta!”

Akan tetapi Ok Yan Hwa yang berwatak angkuh tidak mempedulikan mereka, apa lagi karena ia tertarik dan terheran mendengar ucapan Maya yang memperkenalkannya sebagai sumoi dari ‘Can-huciang!’

“Apa maksudmu, Maya? Benarkah Suheng berada di sini?”

“Benar, Yan Hwa. Dia adalah seorang di antara pembantu-pembantuku yang utama.”

“Suheng? Ah, mana mungkin Suheng menjadi perwira pembantumu? Mengapa bisa begitu?”

Maya mengerti bahwa dalam hal keangkuhan gadis itu tidak kalah oleh suheng-nya. Maka ia pun berterus terang dan tersenyum, “Dia menjadi perwira pembantuku karena kalah taruhan.”

Yan Hwa mengerutkan alisnya, memandang wajah Maya yang tersenyum-senyum itu dengan sinar mata marah karena mengira bahwa Maya bicara main-main, “Maksudmu?”

“Dia telah mengadu kepandaian melawan aku dengan taruhan bahwa kalau aku kalah aku akan meninggalkan kedudukanku sebagai Panglima Pasukan Maut, dan kalau dia yang kalah dia akan membantuku dan menjadi perwiraku.”

Yan Hwa membelalakkan matanya yang bagus, dan wajahnya makin tidak senang. Ketidak-percayaan membayang jelas di wajahnya, “Aku tidak percaya. Mana dia?”

“Dia sedang bertugas ke pantai timur, menjalankan perintahku.”

“Hemmm..., aku lebih tidak percaya lagi.”

“Bahwa dia menjadi perwira pembantuku?”

“Aku tidak percaya bahwa dia telah kalah olehmu!”

“Namun kenyataannya demikianlah, Yan Hwa. Karena suheng-mu sudah menjadi pembantuku, bagaimana kalau engkau juga membantu aku? Kita membasmi pasukan Kerajaan Sung yang telah menewaskan Menteri Kam Liong kakak subo-mu, kita membasmi tentara Yucen, dan terutama sekali kita membasmi bangsa Mongol yang telah membunuh subo-mu. Bagaimana?”

Sejenak Yan Hwa diam memutar pikirannya. Dia ingin sekali bertemu dengan suheng-nya, karena rindu dan juga karena ingin melihat apakah sekarang, setelah merantau sekian lamanya, dia sudah dapat menundukkan suheng-nya itu.

“Aku tetap tidak percaya bahwa Suheng telah kalah olehmu.” Ia mengamati wajah Maya yang amat cantik jelita itu. Dia diam-diam harus mengakui bahwa belum pernah ia bertemu dengan seorang gadis yang begini cantik jelita dan gagah. Diam-diam ia mulai merasa cemburu! “Kalau benar Suheng menjadi perwira pembantumu, aku lebih percaya kalau dia lakukan karena dia jatuh cinta kepadamu.”

Wajah Maya menjadi merah, akan tetapi ia tetap tersenyum dan berkata dengan ejekan yang disengaja, “Yan Hwa, engkau tetap angkuh seperti dahulu. Kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau kita pun mengadakan pertaruhan seperti yang telah dilakukan suheng-mu?”

“Engkau menantangku?” Sepasang mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi.

“Bukan menantang, murid bibiku yang manis, melainkan aku mengajak engkau berjuang bahu-membahu, dan untuk meyakinkan hatimu maka marilah kita mencoba kepandaian, tentu saja kalau kau berani.”

“Singggg...!” Tampak sinar kilat berkelebat menyilaukan mata ketika Yan Hwa mencabut pedangnya.

Jantung Maya berdebar dan untuk ke sekian kalinya ia merasa terheran-heran. Mengapa mendiang bibinya yang terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang sakti dan gagah perkasa suka memiliki dua buah pedang seperti yang diwariskan kepada Ji Kun dan Yan Hwa ini? Pedang di tangan Yan Hwa mempunyai wibawa yang sama dengan Pedang Iblis Jantan milik Ji Kun.

“Engkau menerima pertaruhan ini?” dia bertanya.

Yan Hwa mengangkat pedangnya, tegak lurus di depan dahinya. “Maya, aku telah bersumpah demi kehormatan nama suhu dan subo, pedangku ini hanya akan menghirup darah orang-orang jahat. Baru sekarang tercabut ke luar dari sarungnya bukan untuk membasmi penjahat. Akan tetapi ketahuilah, sekali pedang ini tercabut, dia tidak akan kembali ke sarungnya sebelum menghirup darah. Karena itu, katakan bahwa engkau membohong, bahwa Suheng tidak pernah kau kalahkan, dan aku akan menyimpannya kembali dan pergi dari sini, akan kupuaskan pedangku dengan darah penjahat di lain tempat yang kudapatkan.”

Maya tersenyum. “Yan Hwa, engkau tidak memalukan menjadi murid mendiang Bibi Mutiara Hitam. Engkau seorang pendekar, akan tetapi betapa angkuh watakmu, betapa kejam hatimu. Aku tidak pernah membohong, dan biar pun aku tidak memiliki sebatang pedang pusaka sekeji pedangmu itu, namun aku tidak takut menghadapinya.” Sambil berkata demikian perlahan-lahan Maya melolos pedangnya dan membuka jubah luarnya yang ia lemparkan kepada Cia Kim Seng.

Bekas penggembala domba ini menerima jubah dan dia bersama para perwira lain kini mencari tempat yang enak buat menonton pertandingan yang akan terjadi. Para prajurit pengawal sudah menjauh-jauhkan meja kursi di dalam restoran itu sehingga ruangan restoran yang cukup luas itu kini menjadi sebuah arena pertandingan yang dapat diduga akan terjadi dengan dahsyat dan seru.

“Maya, bersiaplah engkau!” Sebelum gema suara ini habis, tahu-tahu tubuh Yan Hwa telah berkelebat ke depan didahului sinar putih berkilat yang menyilaukan mata.

Diam-diam Maya kagum. Kiranya Yan Hwa memiliki gerakan yang lebih cepat dan ringan dari pada Ji Kun, maka ia bersikap hati-hati dan cepat ia mengelak sambil membalas dengan tusukan pedangnya dari samping. Yan Hwa mengandalkan keampuhan pedang pusakanya, maka dia menyabetkan pedangnya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya dengan maksud merusak pedang lawan.

“Bagus!” Maya memuji dan meloncat tinggi sehingga sinar kilat itu meluncur di bawah kakinya. Dari atas, jubah Maya membalik, menukik ke bawah dan ujung pedangnya mengancam ubun-ubun kepala lawan. Hebat bukan main gerakan Maya ini, selain indah juga amat sukar dilakukan sehingga para perwira pembantunya memuji.

Juga Yan Hwa kagum sekali, akan tetapi watak dara ini tidak ada bedanya dengan watak suheng-nya. Dia tahu bahwa Maya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya kalau Maya dapat mengalahkan suheng-nya, atau dia dengan Pedang Iblis Betina di tangannya!

Maka serangan Maya yang amat berbahaya itu ia hindarkan dengan merendahkan tubuh lalu menggulingkan tubuhnya ke depan. Ketika serangan Maya itu luput dan panglima wanita ini sudah berjungkir balik lagi membuat salto dan kakinya menginjak lantai, sinar kilat pedang Yan Hwa sudah berkelebat lagi, sinar pedangnya berubah seperti payung, merupakan gulungan yang bundar dan dari gulungan sinar putih itu menyambar-nyambar kilatan sinar yang panjang dan mengandung hawa panas!

Maya makin kagum. Harus ia akui bahwa dalam hal kecepatan gerak dan ilmu pedang, ternyata Yan Hwa ini tidak kalah oleh suheng-nya, bahkan mungkin lebih berbahaya serangan-serangannya. Maka dengan hati kagum, gembira namun juga waspada dia mengimbangi permainan lawan dengan gerakannya yang lebih cepat lagi. Dia berlaku hati-hati, tidak pernah pedang mereka bentrok secara langsung. Paling-paling hanya bersentuhan sedikit dan bergeseran, namun itu pun sudah membuat pedangnya mengeluarkan api dan kadang-kadang hampir dapat tersedot dan menempel! Hanya dengan sinkang-nya yang kuat saja dia dapat mencegah pedangnya melekat pada pedang lawan.

Mata para perwira, apa lagi para prajurit sudah berkunang-kunang karena silau menyaksikan sinar kilat pedang Yan Hwa berkelebatan di ruangan itu dan seratus jurus telah lewat tanpa ada yang tampak terdesak. Hal ini sebetulnya memang disengaja oleh Maya. Kalau ia mau, dengan sinkang-nya yang amat tinggi dan kuat, tentu saja dia dapat merobohkan lawannya dengan pukulan yang membahayakan bagi keselamatan Yan Hwa, namun dia tahu bahwa jika dia mengalahkan Yan Hwa dalam waktu singkat, tentu hati dara yang angkuh ini akan tersinggung.

“Yan Hwa, inikah Siang-bhok Kiam-sut dari mendiang Bibi? Hebat bukan main...!” Maya cepat mengelak karena kembali ada sinar kilat menyambar ke arah lehernya.

“Singggg! Wuuuusssshhhh!”

Diam-diam Yan Hwa terkejut dan juga kagum sekali. Kini tahulah dia bahwa Maya benar-benar amat hebat kepandaiannya. Ilmu pedangnya aneh dan dalam hal ginkang, Maya bahkan melampaui tingkatnya! Seperti juga Ji Kun, dia terheran-heran mengapa bocah yang dahulu ikut bersama Panglima Khu Tek San itu kini telah menjadi seorang yang begini lihai. Tentu Menteri Kam Liong, kakak subo-nya yang kabarnya lebih lihai dari subo-nya itu yang menjadi gurunya.

“Maya, engkau pun hebat! Agak berkurang ketidak-percayaanku. Akan tetapi aku belum kalah!” kata Yan Hwa yang sudah menyerang lagi dengan hebat, agaknya dia hendak menguras semua kepandaiannya untuk mencapai kemenangan.

Maya maklum bahwa untuk menundukkan orang seperti Yan Hwa ini harus mengalahkannya, maka ia lalu mengeluarkan suara melengking keras dan tiba-tiba tubuhnya berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga Yan Hwa mengeluarkan seruan kaget dan pandang matanya berkunang-kunang. Cepat Yan Hwa memutar pedang pusakanya sehingga tubuhnya terlindung dan terkurung oleh benteng sinar kilat.

Menghadapi pertahanan seperti ini, Maya tak berdaya. Jalan satu-satunya hanyalah memancing agar pedangnya melekat, pikirnya. Maka ia mengurangi kecepatannya dan menahan serangannya. Melihat bahwa gerakan Maya tidak secepat tadi, Yan Hwa juga berhenti melindungi tubuh dan ia mendapat kesempatan untuk menyerang lagi dengan tusukan kilat ke dada Maya.

“Bagus!” Maya memuji, pedangnya menangkis dari samping.

“Trakk! Pedangnya menempel dan tersedot oleh Li-mo-kiam.

Melihat kini lawan berani mengadu pedang sehingga tertempel oleh pedang pusakanya, Yang Hwa menjadi girang sekali dan melanjutkan pedangnya yang sudah membikin tak berdaya pedang lawan itu untuk menusuk ke perut. Kesempatan ini yang dipergunakan Maya. Ia melepaskan pedangnya, membanting diri ke kiri dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah ia mengirim pukulan sinkang ke arah lengan tangan Yan Hwa yang memegang pedang.

“Aiiihhh...!” Yan Hwa memekik.

Pedangnya yang menempel pedang lawan terlepas, tangannya lumpuh dan tubuhnya menggigil kedinginan, rasa dingin yang terus menjalar ke dalam dadanya. Ia maklum bahwa dia telah terkena pukulan sinkang yang amat kuat dan berbahaya, maka tanpa mempedulikan sesuatu ia lalu duduk bersila dan mengatur napas.

Maya telah melompat dan sekaligus menyambar dua buah pedang yang saling menempel itu. Dengan tenaga sinkang ia melepaskan pedangnya yang tersedot dan menempel pada Li-mo-kiam, menyarungkan pedangnya dan mengamat-amati pedang Yan Hwa dengan penuh kengerian.

Yan Hwa membuka matanya, lega bahwa lukanya tidak hebat. Kalau dadanya yang terkena pukulan seperti itu, agaknya dia akan tewas. Dan tahulah dia bahwa kalau Maya menghendaki dan menggunakan pukulan-pukulan dahsyat dan sakti seperti itu, tak mungkin dia dapat melawan sampai ratusan jurus. Kini dia percaya penuh. Jangankan baru dia atau suhengnya, bahkan mendiang suhunya atau subonya sekali pun agaknya belum tentu mampu menandingi ilmu kepandaian Maya yang demikian hebatnya...


BERSAMBUNG KE JILID 20


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 19 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »