Istana Pulau Es Jilid 09

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 09

PARA TOKOH berilmu tinggi yang hadir di situ mengangguk-angguk. Si Gendut itu biar pun tingkahnya seperti badut, namun memiliki tenaga kuat dan kepandaian tinggi. Mungkin ginkang-nya tidak setinggi Coa-bengcu, namun dia telah mampu mempergunakan ilmu merayap di tembok seperti cecak, hal ini menandakan bahwa sinkang di tubuhnya sudah kuat sekali sehingga ia dapat menggunakan telapak kaki dan tangannya untuk melekat pada dinding seperti telapak kaki cecak!

“Aihh, aku suka kalau dia yang menang Enci Maya. Setiap hari dia akan kusuruh membadut,” bisik Siauw Bwee yang masih tertawa-tawa ditahan.

“Hussh, siapa sudi? Jangan-jangan ketika melepas kentut tadi ada ampasnya yang ikut terbawa ke luar!” jawab Maya.

“Ihhh... Jijik...!” Keduanya tertawa-tawa lagi dan hal ini memang amat mengherankan.

Dua orang anak perempuan yang masih kecil dalam keadaan menjadi tawanan, bahkan dijadikan barang sumbangan dan kini dijadikan hadiah perebutan sayembara, namun masih enak-enak makan minum dan tertawa-tawa melihat kelucuan Thai-lek Siauw-hud Ngo Kee! Sedikit pun mereka tidak kelihatan takut atau putus asa, padahal kalau anak-anak lain yang mengalami hal seperti mereka tentu sudah ketakutan setengah mati!

Puluhan tamu maju mencoba setelah melihat hasil baik kepala rampok dan Si Gendut, akan tetapi yang berhasil hanya tujuh orang lagi saja, termasuk Pat-jiu Sin-kauw, Si Monyet Sakti berpakaian hitam itu. Dan hanya Pat-jiu Sin-kauw seorang yang dapat mengangkat singa besi semudah yang dilakukan Bengcu, kemudian menurunkan semua paku dengan kebutan lengan bajunya dari bawah, menerima sebatang kemudian melontarkan paku-paku lainnya kembali ke atas dengan sapuan lengan bajunya! Ternyata lihai sekali pendeta rambut panjang ini!

Memang masih banyak tokoh yang pandai hadir di situ, yang kiranya akan dapat melakukan dua syarat itu tanpa kesukaran, akan tetapi mereka ini tidak mempunyai niat untuk mengikuti sayembara. Para tokoh partai memang tidak mau mencampuri urusan mereka, sedangkan tokoh-tokoh kaum sesat tidak mau ikut karena tidak tertarik kepada hadiahnya!

Kini terkumpul sepuluh orang bersama Coa-bengcu yang telah lulus dan berhak mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang paling pandai di antara mereka dan berhak memiliki dua orang gadis cilik. Mereka itu telah berkumpul di tengah dan hendak merundingkan dengan Coa-bengcu bagaimana pibu akan diatur. Saat itu kembali dipergunakan oleh Maya yang menggandeng tangan Siauw Bwee, sekali ini tidak lari melainkan berjalan perlahan ke pintu.

“He, ke mana kalian mau lari?!” tiba-tiba seorang murid Coa-bengcu berseru.

Mendengar ini Maya mengajak Siauw Bwee lari secepatnya ke pintu. Coa-bengcu, puteranya dan murid-muridnya, juga tamu-tamu yang lulus ujian, meloncat dan mengejar pula. Akan tetapi betapa heran hati mereka ketika melihat bahwa kedua orang anak perempuan itu telah lenyap! Mereka mengejar ke luar dan tampaklah dua orang anak perempuan itu berjalan pergi, digandeng oleh seorang kakek tua yang hanya kelihatan tubuh belakangnya oleh semua orang. Mereka semua mengejar dan berteriak-teriak.



Akan tetapi dua orang anak perempuan itu berlari di kanan kiri Si Kakek yang rambutnya panjang dan sudah putih semua, sama sekali tidak mempedulikan teriakan-teriakan mereka. Yang amat luar biasa dan membuat Coa-bengcu dan para tokoh pandai mengkirik adalah kenyataan bahwa betapa pun cepat mereka mengejar sambil mengerahkan ilmu lari cepat, mereka tidak juga dapat menyusul kakek dan kedua orang anak perempuan itu!

Mereka mulai penasaran dan marah, mencabut senjata rahasia dan menyerang. Berhamburan senjata rahasia bermacam-macam, ada piauw, paku, jarum, uang logam, peluru besi, pisau terbang, kesemuanya menyambar dengan cepat ke arah punggung Si Kakek rambut putih. Semua senjata rahasia itu mengenai tubuh belakang kakek itu, tepat sekali, dan aneh nya, tidak sebatang pun mengenai punggung Maya dan Siauw Bwee. Dan lebih aneh lagi, semua senjata rahasia yang dilontarkan dengan tenaga sinkang dan yang tepat mengenai tubuh belakang Si Kakek runtuh tak meninggalkan bekas pada tubuh belakang itu!

Akhirnya semua tokoh kang-ouw dan liok-lim yang melakukan pengejaran menjadi gentar dan ngeri. Mereka adalah tokoh-tokoh kelas tinggi, ahli-ahli senjata rahasia, dan senjata rahasia mereka itu sebagian besar mengandung racun. Namun tak seorang pun di antara mereka dapat menyusul kakek itu, dan tak sebuah pun senjata rahasia melukai punggungnya. Kini para tokoh itu menghentikan pengejaran, saling pandang dengan mata terbelalak.

“Siancai.... Kiranya di dunia ini hanya satu orang saja yang memiliki kepandaian seperti itu...!” Seorang tosu yang menjadi tamu berkata lirih.

Ucapannya ini menyadarkan semua orang dan mereka menjadi gentar sekali. Mereka menduga-duga siapa gerangan tokoh itu.

“Suling Emaskah...?”

Tosu itu, seorang tokoh dari Kun-lun-pai, menggeleng kepala. “Kalau tidak salah dugaan pinto, hanyalah manusia dewa yang dapat memiliki kepandaian sehebat itu. Beliau adalah... Bu Kek Siansu....”

“Aihhh...” Mana mungkin? Mana mungkin tokoh yang sudah ratusan tahun itu masih hidup? Aku lebih percaya kalau dia tadi adalah Bu-beng Lojin, julukan Suling Emas setelah mengasingkan diri!”

“Akan tetapi, biasanya pendekar itu bergerak secara berterang dan merobohkan semua lawan dengan berdepan. Sebaliknya kakek itu seolah-olah hendak menghindarkan bentrokan. Agaknya memang benar dugaan Totiang, beliau adalah Bu Kek Siansu....”

Demikianlah, para tokoh itu menjadi ribut membicarakan peristiwa aneh itu dan tentu saja otomatis sayembara ditiadakan. Betapa pun juga, tidak ada yang merasa penasaran karena kalau memang benar bahwa yang membawa pergi dua orang anak perempuan itu adalah Bu Kek Siansu seperti yang mereka duga, tentu saja mereka tak dapat berbuat apa-apa. Siapakah orangnya di dunia ini yang akan mampu menandingi manusia dewa itu?

Maya dan Siauw Bwee masih terheran-heran dan mereka melongo memandang wajah kakek berambut panjang putih yang menggandeng tangan mereka. Tadi ketika mereka ketahuan dan dikejar, mereka tiba di pintu dan tahu-tahu tubuh mereka seperti ditarik ke luar. Tahu-tahu mereka telah digandeng oleh seorang kakek dan mereka meluncur ke depan dengan kecepatan yang mengerikan.

Tentu saja Maya dan Siauw Bwee tahu bahwa mereka dikejar-kejar, bahkan telinga mereka yang terlatih telah mendengar menyambarnya banyak senjata rahasia dari belakang, akan tetapi kakek tua renta itu masih enak-enak saja berjalan! Langkah kakek ini biasa saja, akan tetapi mengapa tubuh mereka meluncur ke depan seperti angin cepatnya?

Mereka berdua adalah anak-anak yang sejak kecil digembleng ilmu silat dan banyak mendengar akan orang-orang sakti, maka mereka dapat menduga bahwa tentu mereka tertolong oleh seorang kakek yang sakti. Akan tetapi, mereka tidak tahu orang macam apakah kakek yang menolong ini. Seorang baik-baikkah? Ataukah jangan-jangan seorang manusia iblis yang lebih jahat dari pada sekumpulan manusia sesat tadi!

“Kong-kong (Kakek), engkau siapakah?” tanya Siauw Bwee, agak sesak napasnya karena gerakan yang amat cepat meluncur ke depan seperti terbang itu membuat orang sukar bernapas.

Akan tetapi kakek itu tidak menjawab, seolah-olah tidak mendengar pertanyaan ini. Masih melangkah satu-satu dan wajahnya tegak memandang ke depan, kedua tangan menggandeng tangan Siauw Bwee dan Maya. Kedua orang anak perempuan itu menengadah, menanti jawaban yang tak kunjung datang.

Maya menjadi curiga dan tidak sabar. “Kakek yang aneh, kalau engkau tidak suka bicara dengan kami, mengapa engkau membawa kami lari dari mereka?”

Kembali kakek itu tidak menjawab sama sekali.

“Enci Maya, jangan-jangan dia tuli!” Siauw Bwee berkata, tak lama kemudian setelah dinanti-nanti tetap tidak ada jawaban dari kakek tua renta itu.

“Hemm, kalau hanya tuli masih untung! Jangan-jangan dia ini malah lebih jahat dari pada Bengcu dan kawan-kawannya tadi. Celaka, kita terjatuh ke tangan manusia iblis!” kata Maya, suaranya mulai ketus karena marah.

“Anak-anak, kalian menghadapi urusan besar, harap jangan lengah dan bergantunglah kepada tanganku. Kalau kalian ingin tahu, orang-orang menyebut aku orang tua Bu Kek Siansu.”

“Ohhh...!” Siauw Bwee melongo.

“Ahhh...!” Maya juga berseru dengan mata terbelalak!

Kedua orang anak perempuan ini sudah mendengar penuturan orang tua masing-masing akan seorang manusia dewa yang kesaktiannya luar biasa bernama Bu Kek Siansu yang muncul dan lenyap tanpa ada yang tahu bagaimana caranya. Bahkan ilmu-ilmu silat keluarga Suling Emas, yaitu sebagian kecil yang pernah mereka pelajari, bersumber dari pada pemberian manusia dewa ini. Tak terasa lagi hati mereka menjadi besar, akan tetapi juga dengan hormat dan takut.

Mereka menaati permintaan kakek itu, mencurahkan perhatian ke depan dan tidak bertanya-tanya lagi! Bahkan Maya yang biasanya liar ini kini menjadi jinak! Mereka menyerahkan nasib mereka sepenuhnya kepada kakek itu dan ketika kakek itu mempercepat langkahnya sehingga mereka merasa pening, dua orang anak perempuan ini lalu memejamkan mata.....

******************


DENGAN ILMU kepandaian yang tinggi, Han Ki berhasil menyelinap ke dalam taman bunga di istana, melompati pagar tembok yang tinggi setelah memancing perhatian para peronda dengan melemparkan batu ke sebelah barat. Ketika perhatian para peronda itu terpecah, kesempatan itu dipergunakan Han Ki melompati pagar tembok dan menyelinap ke bawah pohon-pohon menuju ke taman bunga. Jantungnya berdebar keras dan ia tahu bahwa dia melakukan hal yang amat berbahaya dan gawat.

Puteri Sung Hong Kwi, kekasihnya, kini telah diputuskan menjadi jodoh orang lain. Bahkan di halaman tamu istana, Kaisar sendiri sedang menjamu utusan-utusan Raja Yucen calon suami Hong Kwi. Akan tetapi dengan nekat dan berani mati dia menyelundup ke dalam taman untuk menemui kekasihnya itu seperti biasa dahulu ia lakukan. Hal ini adalah karena dorongan ucapan Maya yang membesarkan semangat.

Hebat bukan main bocah itu, pikir Han Ki sambil tersenyum. Besar hatinya. Dia harus bertemu dengan Hong Kwi. Benar kata Maya, biar pun dia itu masih belum dewasa. Kalau memang Hong Kwi mencintainya, mengapa mereka tidak melarikan diri saja berdua? Urusan perjodohan adalah selama hidup, bagaimana ia dapat dipaksa?

Jantungnya berdebar makin tegang ketika dari tempat sembunyinya di balik sebatang pohon besar dia melihat kekasihnya yang mengenakan pakaian indah sekali, pakaian baru calon mempelai, dari sutera berwarna-warni, dengan hiasan rambut terbuat dari permata terhias mutiara yang membuat kekasihnya nampak makin cantik gilang-gemilang sehingga mendatangkan keharuan di hati Han Ki.

Puteri Sung Hong Kwi sedang duduk di atas bangku marmer di dekat kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai putih. Ikan-ikan emas berenang ke sana ke mari, berpasang-pasangan. Melihat ini, teringatlah Hong Kwi akan pertemuan-pertemuannya yang penuh kasih sayang, penuh kemesraan dengan pemuda idamannya, Kam Han Ki!

Dia mendengar betapa kekasihnya itu melakukan tugas keluar, tugas yang amat berbahaya. Kekasihnya belum juga pulang dan tahu-tahu ia akan diberikan kepada Raja Yucen yang belum pernah dilihatnya. Teringat akan ini, dan melihat betapa ikan-ikan emas itu berenang berpasangan, kadang-kadang bercumbu dan berkasih-kasihan, tak tertahan pula kesedihannya dan Puteri Sung Hong Kwi menutup mukanya dengan ujung lengan bajunya yang panjang, menangis tersedu-sedu!

“Han Ki-koko...!” Gadis bangsawan itu menjerit lirih, lirih sekali tertutup isaknya, namun masih dapat ditangkap oleh telinga Han Ki dan tak terasa lagi dua butir air mata terloncat ke atas pipi pemuda itu.

Seorang pelayan wanita yang Han Ki kenal sebagal satu-satunya pelayan yang paling dikasihi dan setia kepada nona majikannya berlutut dan mengelus-elus pundak nona majikan itu sambil ikut menangis.

Han Ki tak dapat menahan keharuan dan kerinduan hatinya lebih lama lagi menyaksikan kekasihnya menangis sedemikian sedihnya. Ia meloncat ke luar dan berlutut di depan kaki Sung Hong Kwi. “Dewi pujaan hatiku... kekasihku... Hong Kwi...!”

Pelayan itu cepat bangkit berdiri dan pergi dari tempat itu, kedua pipinya masih basah air mata dan dadanya masih terisak-isak. Hong Kwi mengangkat mukanya perlahan. Ketika ia memandang wajah Han Ki yang berada dekat di depannya, matanya yang basah terbelalak, ia takut kalau-kalau pertemuan ini hanya terjadi dalam alam mimpi. Kemudian ia menjerit lirih dan menubruk, merangkul leher pemuda itu.

“Koko... ah, Koko.... Aku... aku telah....”

Han Ki mengangkat tubuh kekasihnya dan memangkunya. Sambil duduk di atas bangku Hong Kwi menyandarkan pipinya di dada Han Ki sambil menangis tersedu-sedu. Han Ki membelai rambutnya, dahinya, kemudian menunduk dan menciumi wajah kekasihnya, menghisap air mata yang mengalir deras sambil berbisik.

“Aku tahu, Dewiku. Aku tahu kesemuanya yang telah menimpa dirimu. Karena itulah aku datang mengunjungimu malam ini....”

“Aduh, Koko... bagaimana dengan nasibku...? Bagaimana cinta kasih kita? Kita sudah saling mencinta, saling bersumpah sehidup semati di bawah sinar bulan purnama! Bagaimana...?” Ia tersedu kembali.

“Jangan berduka, Hong Kwi. Aku datang untuk mengajakmu pergi. Mari kita pergi dari sini sekarang juga!”

“Aihhh...!” Puteri bangsawan itu terkejut sekali, tersentak duduk dan memandang wajah kekasihnya penuh selidik, “Kau maksudkan... minggat?”

“Mengapa tidak? Bukankah kita saling mencinta?” Han Ki teringat akan ucapan Maya, seolah-olah bergema suara anak perempuan itu di telinganya di saat itu. “Kita pergi bersama, takkan saling berpisah lagi selamanya. Kita pergi jauh dari sini dan aku akan melindungimu sebagai suami yang mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku. Marilah, Hong Kwi...!”

“Tidak! Tidak bisa begitu, Koko... Aku lebih baik mati. Lebih baik kau bunuh saja aku sekarang ini. Aahhh, untuk apa aku hidup lebih lama lagi...? Koko, kau bunuhlah aku...!”

Han Ki memeluk kekasihnya dan dia menjadi bingung. Ia dapat memaklumi isi hati kekasihnya. Kekasihnya adalah seorang puteri Kaisar, tentu saja tidak bisa lari minggat begitu saja karena hal ini selain akan menyeret namanya ke dalam lumpur hina, juga akan mencemarkan nama Kaisar dan karenanya membikin malu kerajaan!

“Hong Kwi, aku tidak melihat jalan lain kecuali membawamu lari dari sini menjauhi segala kesusahan ini. Apakah engkau melihat jalan lain yang lebih baik, Hong Kwi kekasihku?”

“Ada jalan yang lebih baik, Koko!” tiba-tiba gadis bangsawan itu kelihatan bersemangat. Biar pun kedua pipinya masih basah, namun sepasang pipi itu sekarang menjadi kemerahan, merah jambon berbeda sekali dengan bibirnya yang merah segar, dan matanya berseri-seri aneh.

“Koko, aku telah bersumpah hanya mencinta kau seorang, mencinta dengan seluruh jiwa ragaku. Jiwa dan hatiku selamanya adalah kepunyaanmu, tidak dapat dirampas oleh siapa pun juga. Akan tetapi tubuh ini... ah, bagaimana aku dapat membiarkan tubuhku dimiliki orang lain? Engkaulah yang berhak memiliki, Koko! Aku menyerahkan tubuhku kepadamu, ahhh... kalau tak terhimpit seperti ini, sampai mati pun aku tidak akan dapat bicara seperti ini. Koko... ambillah tubuhku... barulah aku akan dapat menahan hatiku kalau tubuhku dimiliki orang lain secara paksa!”

Han Ki meloncat turun dari bangku dan melangkah mundur dua tindak. Mukanya pucat sekali dan bulu tengkuknya berdiri! Sampai lama dia tidak dapat berkata apa-apa dan hanya memandang wajah gadis yang dicintanya itu.

“Bagaimana, Koko...? Apakah... apakah cintamu tidak cukup besar untuk memenuhi permintaan terakhirku ini?” Hong Kwi juga bangkit berdiri dan menghampiri Han Ki, merangkul pinggangnya sehingga tubuh mereka merapat.

“Tidak, Hong Kwi! Tidak mungkin itu! Aku... ah..., janganlah mengajak aku menjadi seorang pria yang keji dan kotor! Lebih baik aku mati dari pada mengotori dirimu yang murni! Tidak, betapa pun besar hasrat hatiku, betapa darahku telah mendidih bergolak pada saat ini dengan kerinduan dan kemesraan sepenuhnya, betapa nafsu birahiku terhadapmu sudah hampir menggelapkan mataku, namun... aku... aku tidak akan melakukan hal itu, Hong Kwi!”

“Kalau begitu, bagaimana baiknya... Koko? Ahhh, engkau membuat aku makin putus asa dan menderita...” Gadis bangsawan itu terisak-isak lagi sambil berpelukan dengan Han Ki.

Han Ki mengelus-elus rambut yang halus hitam dan harum itu. “Kekasihku, pujaan hatiku, nasib kita boleh buruk, hati kita boleh tersiksa, namun semua itu tidak boleh menggelapkan kesadaran kita. Kalau engkau suka pergi denganku, biar pun hal ini merupakan pelanggaran besar, namun kita akan dapat hidup bersama menanggung semua akibat bersama pula, maka aku mengajakmu minggat. Ada pun kalau menurutkan permintaanmu tadi, aku menjadi seorang lakl-laki hina dina, setelah melakukan pelanggaran susila, menikmati pelanggaran, mencemarkan dan menodaimu, lalu pergi begitu saja, membiarkan engkau yang akan menanggung semua akibatnya! Betapa hina dan rendahnya apa lagi terhadap engkau satu-satunya wanita yang kucinta didunia ini!”

“Aduhhh, Koko... bagaimana baiknya...?”

“Hong Kwi kelahiran, perjodohan dan kematian merupakan tiga hal yang tidak dapat diatur oleh manusia karena sudah ada garisnya sendiri. Keadaan sekarang ini membuktikan bahwa Thian tidak menghendaki kita menjadi suami isteri, atau jelasnya, kita tidak saling berjodoh, betapa pun murni cinta kasih yang terjalin antara kita. Memang sudah nasib kita... ah, Hong Kwi...” Dua orang yang dimabok cinta dan kedukaan itu, seperti tergetar oleh sesuatu, tertarik oleh tenaga gaib, saling mencium dengan perasaan penuh duka, haru dan cinta tercampur menjadi satu.

“Aduhhh... Sri Baginda datang...” Bisikan yang keluar dari mulut pelayan itu membuat sepasang orang muda yang sedang berpelukan dan berciuman itu terkejut sekali dan saling melepaskan pelukannya.

“Koko... cepat... bersembunyi...” Hong Kwi berseru lirih.

“Di mana...? Lebih baik aku pergi saja...”

“Jangan! Kau bisa ketahuan dan... dan kita celaka! Lekas... kolam itu, kau masuklah dan bersembunyi di bawah daun teratai...”

Karena kini sudah tampak rombongan pengawal Kaisar datang memasuki taman membawa lampu, Han Ki tidak melihat jalan lain. Ia meloncat dan air muncrat ke atas ketika pemuda itu menyelam ke bawah permukaan air yang dalamnya hanya sampai ke pinggang, bersembunyi di bawah daun-daun teratai yang lebar. Dia menengadahkan mukanya, mengeluarkan hidungnya saja di bawah daun teratai agar dapat bernapas, sedangkan matanya kadang-kadang ia buka untuk melihat melalui air yang bening.

“Hong Kwi, mengapa malam-malam begini engkau masih berada di taman... eh, kau... habis menangis?” Kaisar menegur puterinya dengan suara kereng dan marah.

Memang Kaisar tahu bahwa puterinya ini tidak suka dijodohkan dengan Raja Yucen, maka hati Kaisar menjadi mengkal dan penasaran. Apa lagi ketika ia tadi mendengar bisikan Jenderal Suma Kiat yang mendengar dari muridnya, Siangkoan Lee, bahwa mulai saat itu keadaan Sang Puteri harus dijaga karena ada kemungkinan masuknya seorang ‘pengganggu kesusilaan’!

Sung Hong Kwi yang berlutut tidak menjawab, hanya menundukkan mukanya.

“Apakah ada orang luar masuk ke sini malam ini?” kembali Sri Baginda bertanya dengan suara kereng.

Hong Kwi menggeleng kepala tanpa menjawab.

“Heh, pelayan! Apakah ada orang datang ke sini tadi?” Kaisar bertanya kepada pelayan yang berlutut di belakang nonanya.

“Ham... hamba ti... tidak melihatnya...” Pelayan itu menjawab lirih sambil membentur-benturkan dahi di atas tanah di depannya.

“Periksa semua tempat di sekitar sini!” Kaisar memerintahkan para pengawalnya yang segera berpencar ke segala sudut, mencari-cari dan menerangi tempat gelap dengan lampu-lampu yang mereka bawa. Jantung Sung Hong Kwi dan pelayan itu hampir copot saking tegang dan takutnya.

“Mulai saat ini, engkau harus selalu berada dalam kamar, tidak boleh sekali-kali keluar. Mengerti?” Kaisar membentak dan kembali Hong Kwi mengangguk.

Para pengawal selesai menggeledah dan melapor bahwa tidak ada orang luar di dalam taman itu. Dengan uring-uringan karena sikap puterinya, Kaisar lalu mendengus dan meninggalkan taman itu diiringkan para pengawalnya.

Setelah rombongan Kaisar lenyap memasuki pintu belakang, barulah Hong Kwi dan pelayannya berani bangkit berdiri. Han Ki yang juga melihat semua kejadian itu dari dalam air, berdiri dengan muka, rambut dan seluruh pakaian basah kuyup! Ia bergidik ketika merasa sesuatu menggelitik lehernya. Ditangkapnya ikan emas yang berenang di leher bajunya dan dilepaskannya kembali ke air.

“Hong Kwi...!” Ia berkata lalu meloncat ke luar.

“Koko... ahhh... hampir saja... Aku harus segera masuk. Han Ki Koko, selamat berpisah, selamat tinggal... sampai jumpa pula di akherat kelak...,” puteri itu terisak dan lari pergi diikuti pelayannya yang juga menangis, meninggalkan Han Ki yang berdiri melongo di tepi kolam dalam keadaan basah kuyup dan tubuh seolah-olah kehilangan semangat.

“Hong Kwi...,” ia mengeluh, kemudian membalikkan tubuh dan... kiranya dia terkurung sepasukan pengawal istana yang dipimpin oleh... Jenderal Suma Kiat sendiri bersama muridnya Siangkoan Lee dan masih banyak panglima tinggi istana!

“Kam Han Ki! Engkau manusia rendah budi, engkau membikin malu keluargamu saja! Membikin malu aku pula karena biar pun jauh engkau terhitung keluargaku juga. Cihh! Sungguh menyebalkan. Berlututlah engkau menyerah agar aku tidak perlu menggunakan kekerasan!”

Han Ki pernah jumpa dengan Suma Kiat yang masih terhitung kakak misannya sendiri, karena ibu Suma Kiat ini adalah adik kandung mendiang ayahnya. Akan tetapi dalam perjumpaan yang hanya satu kali itu, Suma Kiat bersikap dingin kepadanya, maka kini ia menjawab.

“Goanswe, perbuatanku tidak ada sangkut-pautnya dengan siapa pun juga. Ini adalah urusan pribadi, biarlah semua tanggung jawab kupikul sendiri, dan aku tidak akan menyeret nama keluarga, apa lagi namamu!”

Wajah Suma Kiat menjadi merah saking marahnya. Dia gentar menghadapi Menteri Kam Liong karena maklum akan pengaruh kekuasaan dan kelihaian menteri itu. Akan tetapi dia tidak takut menghadapi Han Ki. Biar pun ia tahu bahwa Han Ki yang lenyap selama belasan tahun itu kini kabarnya telah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia belum membuktikannya sendiri dan pula pemuda yang hanya dijadikan pengawal Menteri Kam itu kini melakukan kesalahan yang amat berat, yaitu berani menyelundup ke dalam taman istana dan melakukan hubungan gelap dengan puteri Kaisar, calon isteri Raja Yucen. Pula, saat ini dia sudah mengirim laporan kepada Kaisar bahwa pemuda itu benar-benar berada di taman sehingga menangkap atau membunuhnya bukan merupakan kesalahan lagi.

“Kam Han Ki manusia berdosa! Setelah engkau melakukan pelanggaran memasuki taman seperti maling, apakah kau tidak lekas menyerahkan diri dan hendak melawan petugas negara?” Kembali Suma Kiat membentak sambil mencabut pedangnya. Melihat gerakan jenderal ini, semua anak buah pasukan dan para panglima juga mencabut senjata masing-masing.

Han Ki tidak mau banyak bicara lagi karena ia maklum bahwa tidak ada pilihan lain bagi dia yang sudah ‘tertangkap basah’ ini, yaitu menyerahkan diri atau berusaha untuk melarikan diri. Tidak, dia tidak akan menyerahkan diri karena dia tidak merasa bersalah! Dahulu pernah ia mendengar wejangan gurunya Bu Kek Siansu yang pada saat itu bergema di dalam telinganya.

“Jika engkau dengan pertimbangan hati nuranimu merasa bahwa engkau melakukan sesuatu yang salah, engkau harus mengalah terhadap seorang yang lemah pun. Sebaliknya, jika engkau yakin benar bahwa engkau tidak bersalah, tidak perlu takut mempertahankan kebenaranmu menghadapi orang yang lebih kuat pun.”

Kini Han Ki tidak merasa bersalah. Berasalah kepada siapa? Dia dan Hong Kwi sudah saling mencinta dengan murni dan tulus. Kaisarlah yang salah karena hendak memberangus kemerdekaan hati puterinya sendiri! Tidak, dia tidak bersalah, karena itu dia tidak akan menyerahkan diri. Dia akan melarikan diri dan tidak akan mencampuri urusan kerajaan lagi, dia tidak akan dekat dengan istana! Berpikir demikian, Han Ki lalu membalikkan tubuh dan meloncat ke arah pagar tembok taman itu.

Akan tetapi, ia berseru keras dan cepat berjungkir-balik dan meloncat kembali ke depan Suma-goanswe karena di dekat pagar tembok telah menghadang banyak pengawal dan tadi ketika ia meloncat hendak lari, mereka telah melepas anak panah ke arah tubuhnya.

”Ha-ha-ha! Kam Han Ki, engkau maling cilik sudah terkurung. Lebih baik menyerah untuk kuseret ke depan kaki Hong-siang agar menerima hukuman!” Suma Kiat tertawa mengejek.

Hati pemuda itu menjadi panas, akan tetapi dia tidak melupakan kakak sepupunya, Menteri Kam. Kalau dia melakukan perlawanan, mengamuk sehingga membunuh para pengawal, panglima atau Jenderal Suma, tentu Menteri Kam Liong akan celaka karena bukankah dia menjadi pengawal Menteri Kam? Dia akan mencelakakan orang yang dihormatinya itu kalau dia mengamuk, maka dia mengambil keputusan untuk mencari jalan ke luar tanpa membunuh orang.

“Sampai mati pun aku tidak akan menyerah kepadamu, Suma-goanswe!” katanya gagah sambil mencabut pedangnya juga.

“Apa? Kau hendak melawan? Serbu!” Suma Kiat berseru dan mendahului kawan-kawannya menerjang maju dengan pedangnya berkelebat melengkung ke arah pusar Han Ki, sedangkan tangan kirinya sudah mengirim totokan maut yang amat berbahaya ke arah pangkal leher.

Ilmu kepandaian Suma Kiat amatlah dahsyat dan ganas. Jenderal ini mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dan aneh dari ibu kandungnya. Ibunya adalah Kam Sian Eng, adik tiri Suling Emas yang pernah menjadi tokoh yang menggemparkan para datuk golongan hitam karena selain sakti juga aneh dan setengah gila, membuat sepak terjangnya aneh-aneh mengerikan dan ilmu silatnya juga dahsyat menyeramkan.

Melihat serangan Jenderal itu diam-diam Han Ki terkejut. Sinar pedang yang menyerang ke arah pusarnya itu membuat lingkaran melengkung yang sukar diduga dari mana akan menyerang sedangkan totokan jari tangan kiri itu dikenalnya sebagai totokan yang bersumber dari ilmu menotok jalan darah dari Siauw-lim-pai yang amat lihai dan berbahaya, yaitu Im-yang Tiam-hoat!

“Cringgg...” Dukkk!”

Han Ki yang sudah mendengar dari Menteri Kam akan kelihaian Jenderal yang masih keluarga sendiri ini, sengaja menangkis pedang lawan dan menangkis pula totokannya sehingga dua pedang dan dua lengan bertemu susul-menyusul. Suma Kiat terkejut karena pedang dan lengan kirinya gemetar dan tubuhnya tertolak ke belakang, tanda bahwa pemuda ini memiliki sinkang yang amat kuat. Namun ia berseru keras dan menyerang lagi dibantu para panglima dan pengawal sehingga di lain saat Han Ki telah terkurung rapat dan dihujani senjata dengan gencar sekali.

Pemuda ini terpaksa memutar pedangnya dengan cepat, membentuk lingkaran sinar pedang yang menyelimuti seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah sehingga semua senjata para pengeroyok terpukul mundur oleh sinar pedangnya yang berkilauan. Namun pemuda ini harus mengerahkan seluruh tenaganya karena sekali saja pedangnya terpukul miring, tentu akan terdapat lowongan dan tubuhnya akan menjadi sasaran senjata para pengeroyok yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu.

Tiba-tiba Han Ki mengeluarkan lengkingan dahsyat yang menggetarkan jantung para pengeroyoknya dan membuat sebagian dari mereka ragu-ragu dan menunda gerakan senjata. Kesempatan ini dipergunakan oleh Han Ki untuk memutar pedangnya membalas dengan ancaman serangan ke arah kepala para pengeroyoknya. Demikian ganas dan cepat sambaran pedangnya itu sehingga para pengeroyoknya menjadi terkejut, cepat mengelak dengan merendahkan tubuh atau meloncat ke belakang.

“Kesempatan yang amat baik,” pikir Han Ki. Sekali ia menggenjot tubuhnya sambil menangkis serangan susulan pedang Suma Kiat dan golok di tangan Siangkoan Lee, ia telah meloncat jauh ke kiri, ke atas wuwungan bangunan kecil di tengah taman di mana ia sering kali mengadakan pertemuan rahasia dengan Sung Hong Kwi.

“Penjahat cabul hendak lari ke mana?” terdengar bentakan keras dan sebatang tombak menusuknya dari kanan, sebatang pedang dari depan sedangkan dari kiri menyambar sehelai cambuk besi.

“Cringg... tranggg... wuuuttt!”

Han Ki terkejut bukan main dan untung dia masih dapat menangkis tombak dan pedang serta mengelak dari sambaran pecut besi. Kiranya di tempat itu telah menjaga tiga orang panglima yang kepandaiannya cukup tinggi, terbukti dari serangan-serangan tadi yang amat kuat dan cepat. Ia melempar diri ke bawah, berjungkir-balik dan langsung meloncat ke bawah, makin ke tengah mendekati istana karena untuk lari ke pagar tembok tidak mungkin lagi, terhalang oleh pengejarnya.

“Siuuttttt...!”

Kembali Han Ki harus meloncat ke atas menghindarkan diri dari sambaran toya yang amat kuat, yang tadi datang menyambutnya dari bawah. Ia mencelat mundur sambil memandang. Kiranya di situ telah berjaga seorang panglima pengawal yang bertubuh tinggi besar dan memegang sebatang toya kuningan yang berat. Kini panglima itu terus menerjangnya dan toyanya yang diputar menimbulkan angin bersuitan. Han Ki mengelak ke kanan kiri dan mengerahkan tenaga, lalu membabat dari samping.

“Trangggg...!” bunga api berhamburan dan panglima tinggi besar itu berseru kaget.

Tubuhnya terguling, lalu ia bergulingan dan baru meloncat bangun setelah agak jauh, memandang ujung toyanya yang buntung oleh sambaran pedang di tangan Han Ki tadi! Sementara itu Suma Kiat, Siangkoan Lee dan para panglima yang tadi mengeroyoknya telah mengejar sampai di situ dan kembali Han Ki dikurung dan dikeroyok. Makin lama makin bertambah banyak jumlah pengeroyok karena tanda bahaya telah dipukul sehingga panglima dan pengawal yang berada di istana muncul semua!

Betapa pun tinggi ilmu kepandaian Han Ki, namun menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang lihai, sedangkan dia menjaga agar jangan sampai membunuh lawan, tentu saja Han Ki menjadi kewalahan. Dia memang menerima gemblengan seorang manusia sakti seperti Bu Kek Siansu, menerima pelajaran ilmu silat yang amat tinggi, bahkan telah mempelajari inti sari ilmu silat sehingga segala macam ilmu silat yang dimainkan lawan dapat ia kenal sumber dan gerakan dasarnya. Akan tetapi selama belasan tahun ini waktunya habis untuk berlatih dan belajar. Dia belum mempunyai banyak pengalaman dalam pertempuran, apa lagi dikeroyok begini banyak panglima dan pengawal yang pandai!

Namun harus dipuji keuletan pemuda ini. Biar pun tubuhnya dihujani serangan senjata dari segenap penjuru, ia masih dapat mempertahankan diri, memutar pedang menangkis dengan gerakan lincah ke sana ke mari, bahkan masih sempat menggunakan tangan kirinya kadang-kadang untuk menyampok senjata lawan dan kadang-kadang menggunakannya dengan pengerahan sinkang untuk mendorong pengeroyok sampai terjengkang atau terhuyung mundur. Entah berapa belas orang pengeroyok yang ia robohkan dengan tendangan kedua kakinya, merobohkan mereka tanpa membunuh, hanya mematahkan tulang kaki dan mengakibatkan luka ringan saja.

Jenderal Suma Kiat yang memimpin pengeroyokan ini berulang-ulang menyumpah-nyumpah. Dia dibantu oleh pasukan pengawal, bahkan para panglima yang menjadi rekan-rekannya, yang ia tahu memiliki kepandaian tinggi, dengan jumlah seluruhnya tidak kurang dari lima puluh orang, masih belum mampu membekuk pemuda itu setelah mengeroyok selama tiga empat jam! Bahkan ada belasan orang anak buah pengawal yang roboh tertendang atau terdorong oleh pemuda itu! Benar-benar amat memalukan!

“Panggil semua panglima yang berada di luar istana! Datangkan bala bantuan pengawal luar istana!” bentak Suma Kiat kepada anak buahnya yang cepat melaksanakan perintah itu.

Han Ki masih memutar pedangnya dan makin lama makin mendekati istana. Dia tahu bahwa tidak mungkin dia dapat bertahan terus. Tubuhnya basah kuyup, bukan oleh air kolam ikan tadi yang sudah menjadi kering kembali, melainkan dari keringatnya sendiri. Tubuhnya mulai terasa lelah dan lemas, juga amat panas seolah-olah dari dalam tubuhnya timbul api yang membakarnya. Tubuhnya sudah menerima banyak pukulan dan bacokan senjata lawan dan biar pun sinkang-nya telah melindungi tubuh sehingga luka-luka itu tidak berat, namun membuat kaki tangannya terasa linu dan berat.

“Habis aku sekali ini...,” keluhnya diam-diam, namun ia tidak putus asa dan masih terus melawan sampai malam terganti pagi!

Telapak tangannya yang memegang gagang pedang sampai kehilangan rasa, seolah-olah telah menjadi satu dengan gagang pedangnya. Tak mungkin aku melarikan diri melalui pagar tembok, pikirnya. Pagar tembok itu tentu telah terkepung ketat. Jalan satu-satunya hanyalah sekalian masuk ke dalam istana!

Kalau berada di taman terbuka ini, dia dapat dikeroyok banyak orang, akan tetapi kalau dia main kucing-kucingan di dalam istana yang banyak kamar-kamarnya dan tidak terbuka seperti di taman, tentu dia dapat membatasi jumlah pengeroyok. Siapa tahu dia dapat menyelinap dan melarikan diri, atau setidaknya bersembunyi di dalam istana yang amat besar itu. Bukankah dahulu pernah dikabarkan ada orang sakti mengacau istana hanya untuk ‘menyikat’ hidangan Kaisar dan orang itu dapat bersembunyi di dapur sampai berpekan-pekan?

Dia harus dapat menyelinap ke istana sebelum keadaan cuaca menjadi terang, pikirnya. Dengan penuh semangat Han Ki memutar pedang, berloncatan ke sana sini seperti orang nekat. Semenjak dikeroyok tadi, Han Ki selalu melindungi dirinya, dan hanya merobohkan pengeroyok yang tidak terlalu kuat dengan tendangan atau dorongan kaki kiri, dan hal ini agaknya dimengerti oleh Suma Kiat dan kawan-kawannya.

Akan tetapi kini pemuda itu menggerakkan pedangnya sedemikian hebat seolah-olah hendak mengamuk dan membunuh, maka para pengepungnya menjadi kaget dan jeri, otomatis meloncat mundur. Han Ki membuat gerakan ke bawah cepat sekali, tangannya menyambar segenggam pasir dan sambil berseru keras ia menyambitkan pasir itu ke depan, ke arah para pengepungnya.

“Awas senjata rahasia!” bentaknya.

Suma Kiat dan para panglima yang berilmu tinggi dapat menyampok pasir-pasir itu runtuh tanpa berkedip. Akan tetapi pengeroyok-pengeroyok yang kurang pandai menjadi kaget dan cepat membuang diri ke bawah. Yang kurang cepat segera memekik kesakitan karena biar pun hanya butiran-butiran pasir, jika dapat menembus kulit mendatangkan rasa nyeri dan perih sekali!

Ketika semua orang memandang ke depan, pemuda yang luar biasa itu telah lenyap karena Han Ki telah meloncat cepat sekali dan menerobos masuk melalui pintu yang menuju ke kompleks bangunan istana dengan merobohkan dua orang penjaga pintu itu sambil berlari. Penjaga penjaga itu terpelantlng ke kanan kiri sedangkan tombak panjang mereka patah-patah!

“Kejar! Tangkap dia, mati atau hidup!” Suma Kiat membentak para pengawal yang sejenak melongo penuh rasa kaget dan gentar menyaksikan sepak terjang Han Ki yang benar-benar amat hebat itu. Dikeroyok begitu banyak orang pandai sampai setengah malam, masih belum dapat ditangkap, bahkan kini berani memasuki istana.

Tentu saja semua orang cepat menyerbu, berlomba memasuki istana. Ada yang menerobos dari pintu-pintu belakang, ada pula yang meloncat naik ke atas wuwungan. Mereka harus cepat-cepat menangkap pemuda itu karena setelah kini pemuda itu menyelinap masuk ke istana, keadaan Kaisar dan keluarganya dapat diancam bahaya! Bala bantuan dari luar istana sudah datang dan kini puluhan orang pengawal dipimpin sendiri oleh panglima-panglima kerajaan mulai mengadakan pengejaran dan mencari Han Ki yang lenyap! Ke manakah perginya Han Ki?

Han Ki yang berhasil menerobos memasuki istana terus berlari melalui lorong-lorong di antara kamar-kamar dan bangunan-bangunan kecil, ruangan-ruangan yang luas. Dia tidak mengenal jalan, hanya lari ke arah yang sunyi tidak ada orangnya. Napasnya terengah-engah, mukanya berkilat penuh keringat, seluruh tubuhnya berdanyut-danyut saking lelahnya. Setelah tidak bertempur lagi, terasa betapa perihnya luka-luka bekas gebukan-gebukan senjata lawan.

Tiba-tiba ia berhenti di luar sebuah kamar besar dan menyelinap di balik jendela. Ia mendengar suara wanita ber-liamkeng (berdoa), membaca kitab suci di dalam kamar itu. Ketika ia mengintai, tampak olehnya seorang nenek tua di kamar itu, duduk membaca kitab dihadapan seorang pelayan wanita. Han Ki menjadi tegang hatinya. Ia tahu bahwa nenek itu adalah ibu suri, Ibu dari Kaisar, seorang nenek yang sudah keriputan dan tua, yang seolah-olah kini telah mengasingkan diri bersembunyi di dalam kamarnya siang malam dan kerjanya hanya membaca kitab-kitab suci.

Selagi Han Ki hendak melanjutkan larinya, tiba-tiba ia mendengar suara para pengawal yang mengejarnya. Ada serombongan pengawal yang datang dari kanan. Han Ki sudah menggerakkan kaki untuk lari ke kiri, akan tetapi dari arah kiri terdengar pula suara pengawal-pengawal yang menuju ke tempat itu!

“Kita harus mengepung seluruh jalan dalam istana, memeriksa seluruh kamar. Tak mungkin dia bisa menghilang seperti setan!” Suara itu adalah suara Suma Kiat yang sudah datang mendekat!

Celaka, pikir Han Ki. Dia sudah amat lelah, tidak mungkin kuat melawan terus kalau tempat sembunyinya diketahui mereka. Dan kini, jalan dari kanan kiri sudah tertutup. Untuk meloncat ke atas menerobos langit-langit, ia tahu merupakan hal berbahaya sekali, karena para pengawal tentu tidak melupakan penjagaan di atas sehingga begitu dia muncul tentu akan disambut serangan yang berbahaya sekali.

Tiba-tiba ia mendapat akal dan didorongnya daun jendela, kemudian ia meloncat ke dalam, menutup daun jendela dan menggunakan sapu tangan yang tadi dipakai mengusap peluh menutupi bagian bawah mukanya agar Ibu suri tidak mengenal dia! Gerakannya begitu ringan sehingga Ibu suri yang sedang asyik membaca kitab itu tidak mendengarnya. Akan tetapi pelayan wanita yang berlutut di depannya tentu saja dapat melihat Han Ki yang muncul dari jendela di belakang Ibu suri, maka pelayan itu bangkit berdiri dengan mata terbelalak.

“Jangan menjerit!” Han Ki berkata, lalu menodongkan pedangnya di belakang Ibu suri. “Kalau menjerit, pedangku akan merampas nyawa!”

Pucatlah muka pelayan itu, kedua kakinya menggigil, tubuhnya gemetar dan tak terasa lagi ia menjatuhkan diri berlutut. Ibu suri yang sedang membaca kitab itu menghentikan bacaannya lalu menoleh. Ketika melihat seorang pemuda bertopeng sapu tangan memegang sebatang pedang telanjang di belakangnya, nenek ini tidak menjadi kaget atau takut, hanya terheran lalu bertanya lirih sambil bangkit berdiri. “Engkau siapakah dan apa artinya perbuatanmu ini?”

Hati Han Ki sudah lemas menyaksikan sikap tenang nenek itu. Kalau nenek itu menjadi panik dan mencoba berteriak, tentu akan ditotoknya dan dipaksanya diam. Akan tetapi nenek itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan menegurnya dengan suara halus dan sikap tenang penuh wibawa dan keagungan. Tanpa dapat ditahan lagi, Han Ki menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Hamba dikejar-kejar pengawal dan mohon perlindungan...”

Sejenak nenek itu menunduk, memandang wajah yang setengahnya tertutup sapu tangan itu. “Hemm, apakah engkau yang diributkan semalam, engkau yang berani memasuki taman istana dan mengadakan pertemuan dengan Hong Kwi?”

“Benar, hambalah orang itu!”

“Siapa namamu?”

“Hamba Kam Han Ki...”

“She Kam? Ada hubungan apa engkau dengan Kam Bu Song?”

“Paduka maksudkan Suling Emas? Dia adalah Pek-hu (uwa) hamba...”

“Hemmm...! Seorang pemuda gagah perkasa yang menghadapi bahaya sebagai akibat perbuatan sendiri, mengapa menjadi begini lemah? Mengapa tidak menghadapi bahaya itu sendiri, bahaya yang amat berharga kalau memang hatimu terdorong cinta kasih? Mengapa membawa-bawa aku seorang tua untuk ikut terseret akibat perbuatanmu? Kam Han Ki, benarkah sikapmu ini?”

Han Ki terkejut bukan main. Mukanya seperti ditampar dan ia merasa malu sekali. Memang, apakah tujuannya bersembunyi di kamar nenek ini? Paling-paling dia akan menyeret nenek ini ke dalam kecemaran, seorang nenek yang begitu luhur budinya!

Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar. Han Ki terkejut, akan tetapi, nenek itu sambil berdiri dan masih memegangi kitabnya, menegur halus, “Siapa di luar?”

“Hamba Jenderal Suma dan pengawal hendak mencari seorang buronan. Harap Paduka suka mengijinkan hamba memeriksa di dalam!” terdengar jawaban dari luar.

“Masuklah, daun pintu tidak dikunci,” jawab Si Nenek dengan tenang.

Daun pintu didorong terbuka dari luar dan Han Ki sudah bertindak cepat. Ia melompat bangun dan mengancam dengan pedangnya di dekat leher nenek itu. Hal ini ia lakukan sekali-kali bukan untuk mengancam Si Nenek, melainkan untuk menolong nenek itu dari kecemaran. Kalau dia menodong dan seolah-olah memaksa nenek itu, berarti bahwa Ibu Suri sama sekali tidak melindunginya, tidak menyembunyikannya!

Akan tetapi maksudnya ini agaknya tidak dimengerti oleh Si Pelayan yang terbelalak ketakutan dan menubruk kaki nyonya majikannya. Pada saat itu muncullah Jenderal Suma Kiat bersama dua orang panglima pengawal. Mereka memandang tajam ke arah Han Ki dan sejenak menjadi bingung melihat betapa Ibu Suri ditodong oleh Han Ki yang memakai kedok sapu tangan menutupi separuh mukanya.

“Kam Han Ki, apakah engkau sudah menjadi pengecut, mengancam seorang wanita yang tak berdaya?” tegur Suma Kiat dengan suara marah sekali dan pedangnya sudah tergetar di tangannya, demikian pula kedua orang panglima sudah mencabut senjata dan di belakang mereka. Di luar pintu terdapat banyak pengawal, berdesakan untuk melihat dan siap mengeroyok ketika mendengar bahwa orang buronan itu bersembunyi di kamar Ibu Suri dan menodong nenek itu!

Han Ki tidak menjawab dan kini nenek itu berkata, “Goanswe dan para Ciangkun, harap jangan membikin ribut di dalam kamarku. Kalian boleh saja hendak menangkap orang ini, akan tetapi jangan sekali-kali di dalam kamarku. Keluarlah dan lakukan apa saja kalau orang ini sudah keluar kamar.” Suara nenek itu halus, akan tetapi mengandung kepastian yang tidak boleh dibantah lagi.

Suma Kiat dan dua orang panglima pengawal memberi hormat, dan setelah melempar pandang mata marah sekali lagi ke arah Han Ki, mereka lalu keluar dari kamar itu.

“Orang muda yang gagah, sekarang keluarlah dan hadapi segala akibat perbuatanmu dengan gagah seperti pek-hu-mu Suling Emas. Bagi seorang gagah, pilihan hanya dua, mati atau hidup, akan tetapi keduanya tiada bedanya asal bersandar kebenaran dan kegagahan. Hidup sebagai seorang pendekar, mati sebagai seorang gagah, itulah kemuliaan terbesar dalam kehidupan seorang jantan.”

“Terima kasih dan hamba mohon maaf sebanyaknya!” kata Han Ki. Semangatnya timbul kembali oleh nasihat nenek itu dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah mencelat ke luar menerobos jendela kamar itu.

Baru saja ia turun di luar kamar, lima orang pengawal sudah menerjangnya dari kanan kiri. Akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja lima orang pengawal ini roboh dan mengalirlah darah pertama sebagai akibat gebrakan pedang Han Ki! Dia didesak hebat, maka sekarang dia tidak berlaku sungkan lagi. Pedangnya dikerjakan, dan biar pun tidak membunuh mereka, kini Han Ki merobohkan orang dengan niat agar yang dirobohkan tak dapat mengeroyoknya lagi!

Ia meloncati tubuh lima orang itu dan lari, akan tetapi setibanya di ruangan yang besar di mana Suma Kiat dan para panglima telah menanti, dia dikurung dan kini dikeroyok oleh Suma Kiat, Siangkoan Lee dan belasan orang panglima pilihan yang kesemuanya berkepandaian tinggi! Di antara para panglima itu ada yang mengenal dia, bahkan ada yang menjadi rekan Panglima Khu Tek San. Mereka itu hanya melaksanakan tugas, dan pada saat itu Han Ki tidak lagi dianggap sebagai rekan, melainkan sebagai seorang buronan yang telah mengacaukan istana dan menghina Kaisar, maka harus ditangkap atau dibunuh!

Han Ki mengamuk dengan hebat. Pedangnya lenyap menjadi sinar yang bergulung-gulung seperti seekor naga sakti bermain di angkasa, mengeluarkan suara berdesing dan kadang-kadang bercuitan menyeramkan para pengeroyoknya. Akan tetapi sekali ini para pengeroyoknya adalah orang-orang yang pandai, yang hanya kalah dua tiga tingkat dibandingkan dengan dia, ditambah lagi keadaan tubuhnya yang penuh luka dan lelah sekali, maka mulailah Han Ki terdesak hebat!

Setengah malam suntuk ia telah bertanding dikeroyok banyak orang pandai. Kini di ruangan terbatas ia dikeroyok oleh tujuh belas orang pandai, tentu saja Han Ki menjadi repot sekali. Betapa pun juga, ucapan nenek di dalam kamar tadi telah menggugah semangatnya.

“Aku tidak bersalah! Aku datang menemui wanita yang kucinta! Apa dosaku? Kalian semua tahu bahwa aku tidak melakukan kejahatan, dan aku sudah banyak mengalah. Kalau kalian tidak mau mundur, terpaksa aku mengadu nyawa!”

“Pemberontak keji, maling cabul tak tahu malu!” Suma Kiat membentak dan menerjang hebat.

“Rrrrtt... cring-cring...!”

Han Ki menangkis sekian banyaknya senjata dan tangan kirinya menggunakan pukulan ke samping secara aneh dan tak terdaga-duga. Biar pun pukulan dengan tangan kiri ini tidak mungkin dapat mengenai tubuh lawan, namun angin pukulan yang mengandung sinkang kuat itu membuat dua orang pengeroyok terlempar ke belakang dan terbanting pada dinding! Sejenak kedua orang pengeroyok itu menjadi pening dan semua pengeroyok diam-diam merasa kagum, lalu mengeroyok lebih hati-hati. Mereka semua maklum bahwa adik sepupu Menteri Kam ini hebat sekali kepandaiannya.

Kembali Han Ki terkena pukulan-pukulan, bahkan bajunya robek-robek termakan senjata tajam para pengeroyoknya. Darahnya mulai mengalir dari kedua bahu, pundak dan kedua pahanya. Darahnya sendiri membasahi tubuh, akan tetapi dalam seratus jurus lamanya dia hanya terluka dan belum tertangkap. Sebaliknya ia telah merobohkan empat orang pengeroyok dengan pedangnya sehingga mereka tidak mampu mengeroyok lagi, dan melukai ringan tujuh orang lain! Di antara yang terluka ringan adalah Siangkoan Lee, murid Suma Kiat yang dadanya tergores pedang sehingga kulit dadanya robek berdarah!

Akan tetapi kehilangan darah dan kelelahan membuat Han Ki merasa pening dan sering kali terhuyung. Keadaannya sudah payah sekali dan tiba-tiba sebatang toya berhasil mengemplang pergelangan tangan yang memegang pedang. Pukulan yang keras sekali dan hanya berkat sinkang-nya saja maka tulang lengan itu tidak remuk, akan tetapi pedangnya terlepas dari pegangan. Detik-detik lain merupakan hujan pukulan yang diakhiri dengan totokan Suma Kiat membuat tubuh Han Ki roboh mandi darah dan tak berkutik lagi, pingsan!

Suma Kiat melarang para panglima itu membunuh Han Kt. Hal ini bukan sekali-kali karena rasa sayang terhadap anggota keluarga, bahkan sebaliknya. Saking bencinya, Suma Kiat tidak ingin melihat Han Ki dibunuh begitu saja. Ia ingin melihat pemuda itu dijatuhi hukuman gantung atau penggal leher disaksikan orang banyak sehingga puaslah hatinya. Kalau dibunuh sekarang dalam keadaan pingsan, terlalu ‘enak’ bagi Han Ki yang dibencinya!

Tubuh Han Ki dibelenggu lalu diseret dan dilempar ke dalam kamar tahanan di belakang istana, dijaga kuat oleh pengawal yang diatur oleh Suma Kiat sendiri. Selain tidak ingin melihat Han Ki tewas secara enak, juga dia menahan pemuda itu dengan niat lain, dengan siasat untuk memancing Menteri Kam melakukan pelanggaran sehingga ia dapat pula mencelakakan Menteri Kam Liong yang amat dibencinya!

Dalam keadaan pingsan dan terbelenggu kaki tangannya, Han Ki dilemparkan ke atas pembaringan batu dalam kamar tahanan yang sempit, kemudian pintu beruji besi yang kokoh kuat dikunci dari luar dan di luar kamar tahanan dijaga ketat oleh pasukan pengawal.

Ketika Han Ki siuman dari pingsannya dan membuka mata, ia tidak mengeluh. Ia sadar benar dan maklum bahwa dia telah ditawan. Dia tidak menyesal. Mati bukan apa-apa bagi seorang gagah, apa lagi kalau ia teringat akan Hong Kwi, kematian hanya merupakan kebebasan dari pada penderitaan batin akibat kasih tak sampai. Namun hatinya diliputi penyesalan dan kekhawatiran kalau ia teringat akan Menteri Kam Liong, kakak sepupunya itu. Dia maklum bahwa semua perbuatannya tentu dianggap mengacau istana dan dianggap berdosa besar, pasti pula akan mengakibatkan hal yang tidak baik terhadap Menteri Kam, padahal ini sungguh tidak ia kehendaki sehingga membuat dirinya merasa menyesal sekali.

Betapa pun juga, dia lalu mengerahkan tenaga sehingga tubuhnya dapat rebah telentang, matanya memandang langit-langit kamar tahanan. Sedikit pun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya, dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Han Ki dapat ‘mematikan rasa’ sehingga tubuhnya tidaklah terlalu menderita. Ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan dan siap menerima datangnya maut dalam bentuk apa pun juga.

Dugaan Han Ki memang sama sekali tidak meleset. Peristiwa yang terjadi itu membawa akibat yang amat jauh dan hebat. Dia pun tidak tahu nasib apa yang menimpa Maya dan Siauw Bwee yang ia tinggalkan di tengah jalan.....

********************

Ketika Menteri Kam Liong dan muridnya, Panglima Khu Tek San meninggalkan istana yang mengakhiri pesta penyambutan tamu agung sampai tengah malam, hati guru dan murid ini lega karena semenjak munculnya Maya dan Siauw Bwee tadi membuat hati mereka amat tidak enak. Mereka pun berpisah. Panglima Khu pulang ke gedungnya sendiri dengan tergesa-gesa. Dia ingin segera sampai di rumah dan menegur puterinya yang telah berbuat lancang menggegerkan istana bersama Maya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika sampai di rumah dia disambut teguran isterinya, mengapa Siauw Bwee dan Maya tidak diajak pulang?!

“Apa...?! Mereka sudah pulang lebih dulu, malah diantar oleh Kam-susiok!” Panglima ini berkata dengan suara keras.

Maka paniklah keluarga Khu dan Panglima itu pun segera menyuruh anak buahnya untuk berpencar mencari puterinya dan Maya. Juga dia sendiri ikut mencari, karena sungguh pun ia tidak usah merasa khawatir akan keselamatan dua orang anak perempuan yang diantar oleh susioknya itu, namun peristiwa yang terjadi di istana sebagai akibat kelancangan Maya dan Siauw Bwee membuat hatinya tidak enak. Apa lagi karena utusan Yucen dan Jenderal Suma jelas memperlihatkan sikap bermusuhan dengan gurunya.

Akan tetapi malam itu ternyata terjadi hal yang amat menggelisahkan hati panglima ini secara susul-menyusul. Waktu ia meninggalkan rumahnya lagi untuk mencari jejak puterinya dan Maya, ia dikejutkan oleh berita bahwa Kam Han Ki mengamuk di taman istana dan dikeroyok oleh para pengawal! Tentu saja ia terkejut sekali, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Ia dapat menduga bahwa tentu hal itu ada hubungannya dengan pertalian cinta kasih antara Kam Han Ki dan Puteri Sung Hong Kwi.

Panglima Khu menjadi bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan kedua orang anak perempuan itu belum didapatkan, kini mendengar Han Ki menggegerkan istana! Apakah yang terjadi dengan puterinya dan Maya?

Tiada jalan lain bagi Panglima Khu selain bergegas mendatangi gurunya di gedung Menteri Kam Liong. Seperti telah diduganya, gurunya telah mendengar perihal Han Ki di istana, tentu mendapat pelaporan dari anak buah yang setia. Kini Menteri yang tua itu duduk termenung dan menyambut kedatangan Tek San dengan muka gelisah.

“Kau tentu datang untuk melaporkan tentang Han Ki, bukan? Aku sudah mendengar semua dan... ah, betapa pun juga, dia seorang pemuda yang tentu saja belum cukup kuat untuk menahan pukulan cinta terputus. Bagaimana aku dapat menyalahkan dia?”

“Bukan hanya urusan Kam-susiok saja yang menggelisahkan teecu dan membuat teecu menjelang pagi begini mengunjungi Suhu, melainkan juga lenyapnya kedua orang anak itu....”

“Apa...?!” Menteri tua itu menjadi terkejut.

“Seperti Suhu ketahui, Maya dan Siauw Bwee pulang lebih dulu diantar oleh Kam-susiok. Akan tetapi ternyata kedua orang anak itu belum sampai ke rumah teecu dan tahu-tahu ada berita Kam-susiok mengamuk di taman istana. Teecu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, maka teecu datang menghadap Suhu mohon petunjuk.”

Menteri Kam Liong mengelus jenggotnya dan menarik napas panjang berkali-kali. Khu Tek San mendengar gurunya berkata lirih, “Mengapa... mengapa...?”

Ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan gurunya itu. Memang yang mengerti hanya Menteri Kam Liong sendiri. Di dalam hatinya ia merasa berduka dan bertanya, mengapa keturunan keluarga Suling Emas selalu ditimpa kemalangan?

“Kita harus bersabar, Tek San. Urusan Han Ki adalah urusan yang gawat dan biarlah besok aku menghadap Kaisar minta keterangan, dan akan kuusahakan agar aku dapat bertemu Han Ki dan bertanya tentang dua orang anak itu. Aku harus membela Han Ki yang kabarnya masih belum tertangkap. Sebaiknya sekarang juga aku melihat keadaan.”

Khu Tek San mengerti betapa gurunya bingung dan berduka, maka ia cepat berkata, “Harap Suhu tunggu saja di rumah karena kalau Suhu yang datang ke sana, tentu akan terjadi salah paham, disangka Suhu akan membantu Kam-susiok. Sebaiknya teecu saja yang menyelidiki ke sana dan melihat keadaan.”

Menteri Kam Liong mengangguk-angguk dan membiarkan muridnya keluar. Dia memang bingung sekali menghadapi urusan yang sulit itu. Tidak mungkin ia tidak membantu Han Ki karena di antara semua keluarganya, hanya Han Ki seorang yang paling dekat. Kalau membantu berarti ia terancam bahaya bermusuhan dengan istana!

Sampai Han Ki tertawan dan dimasukkan dalam penjara, Khu Tek San menyaksikan semua pertandingan itu. Dia tidak berani turun tangan membantu. Setelah mendapat kenyataan betapa Han Ki tertawan dan dijebloskan ke kamar tahanan, ia bergegas pulang ke rumah Menteri Kam untuk membuat laporan.

Menteri Kam Liong mengurut jenggotnya yang panjang, wajahnya agak pucat dan ia berkata lirih, "Aku harus menolongnya! Harus membebaskannya, kalau perlu dengan mengorbankan diriku."

"Suhu...!" Tek San berseru kaget.

Menteri Kam Liong memandang muridnya yang setia. "Tek San, engkau muridku yang amat baik, seperti keluargaku sendiri, maka tak perlu aku menyimpan rahasia. Saudara-saudaraku cerai-berai tidak karuan, dan keturunan ayahku yang laki-laki hanya ada tiga orang, yaitu aku sendiri, mendiang Raja Khitan dan Han Ki. Raja Khitan telah tewas dan aku sendiri tidak berdaya menolong adikku itu. Aku sendiri sudah tua dan tidak mempunyai anak. Kalau Han Ki tewas, bukankah keluarga Kam akan kehilangan turunan? Aku harus menyelamatkan dia, apa pun yang akan menimpa diriku. Tentu saja aku akan mempergunakan jalan halus membujuk Kaisar untuk mengampuni Han Ki, akan tetapi apa bila tidak berhasil, aku akan mempergunakan kekerasan membebaskannya. Juga kalau kedua orang anak perempuan itu benar-benar lenyap di luar pengetahuan Han Ki, aku akan mendatangi Suma Kiat dan demi Tuhan, sekali ini aku tidak akan segan-segan untuk memukul pecah kepalanya kalau sampai dia berani mengganggu Maya dan Siauw Bwee. Kau pulanglah!"...


BERSAMBUNG KE JILID 02


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 09 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »