Istana Pulau Es Jilid 05

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 05

Berpikir demikian teringatlah ia akan serigala-serigala yang masih menantinya di luar! Akan tetapi dia harus keluar! Dia tidak sudi lagi tinggal lebih lama di dalam perut bukit ini, apa lagi setelah sekarang penghuninya mati semua. Dia harus pergi meninggalkan daerah yang menyeramkan itu. Sudah lama dia berada di situ, tentu sepasang iblis India itu tidak lagi mencarinya, sudah melupakannya. Akan tetapi bagaimana ia harus melewati gerombolan serigala yang menanti di luar goa?

Maya adalah seorang anak yang pada dasarnya amat cerdik dan memiliki keberanian luar biasa. Apa lagi semenjak keluar dari kota raja Khitan ia berkali-kali menghadapi maut dan mengalami hal-hal yang amat menderita, keberaniannya makin menebal, dan tidak mudah dia berputus asa menghadapi rintangan apa pun juga. Setelah memikir-mikir, ia mendapatkan akal. Selama tinggal di situ, ia teringat bahwa serigala-serigala itu paling takut berdekatan dengan api. Hemm, inilah, pikirnya. Aku harus minta bantuan api! Mulailah dia mengumpulkan kulit-kulit binatang yang kering, dipasang pada ujung sebuah tongkat dahan pohon, diikatnya kuat-kuat, kemudian ia membuat api dan membakar ujung tongkat yang sudah dibelit-belit kulit itu sampai bernyala.

Dengan tongkat berapi inilah Maya lalu berlari ke luar, menjaga jangan sampai apinya padam. Kulit binatang itu mengandung lemak kering, maka tentu saja nyala apinya dapat bertahan lama. Ketika ia tiba di pintu goa depan, sudah terdengarlah gerengan-gerengan serigala. Namun Maya tidak menjadi gentar. Ia terus melangkah ke luar dan begitu serigala-serigala itu lari menyerbu, ia memutar-mutar tongkatnya yang ujungnya bernyala. Tepat seperti yang diharapkan dan diduganya. Serigala-serigala itu melengking-lengking ketakutan melihat api dan dengan memutar-mutar tongkat yang baginya menjadi tongkat wasiat keramat ini, dengan enak saja Maya meninggalkan tempat itu.

Rombongan serigala hanya dapat mengikutinya dari jauh sambil melolong-lolong kecewa, akhirnya mereka pun berhenti mengejar. Maya lalu melarikan diri secepatnya menuju ke selatan setelah membuang tongkatnya karena apinya pun sudah padam. Lega hatinya dan kini ia dapat mencurahkan perhatiannya kepada kemajuan ginkang-nya. Ia sengaja mengerahkan seluruh tenaga dan berlari secepat mungkin.

Tubuhnya melesat seperti sebatang anak panah dan Maya kembali mencela kebodohan dirinya sendiri. Setelah ia memiliki kecepatan seperti itu, perlu apa dia melarikan diri menunggang kuda dan perlu apa dia minta bantuan api? Kalau dia lari seperti sekarang ini, gerombolan serigala buas itu pasti takkan mampu menyusulnya! Dengan dada lapang Maya berlari, rambutnya berkibar-kibar, wajahnya berseri, larinya cepat sekali seperti seekor kijang muda.



Karena di utara bangsa Yucen terdesak oleh bangsa Nomad lain, yaitu terutama sekali bangsa Mongol yang dibantu bangsa-bangsa Naiman dan Kerait, maka suku bangsa Yucen yang makin kuat kedudukannya itu terus mendesak ke selatan. Bangsa Yucen ini asal mulanya adalah sebuah suku bangsa yang tinggal di sebelah utara Shan-si dan pernah ditundukkan oleh bangsa Khitan. Akan tetapi kini bangsa Yucen menjadi kuat sekali sehingga setelah memenangkan perang terhadap Khitan, mereka mendirikan kerajaan yang mereka sebut Kerajaan Wangsa Cin!

Dengan terjalinnya persahabatan dan persekutuan antara kerajaan baru Cin dan Kerajaan Sung yang terus terdesak makin ke selatan, maka untuk sementara bangsa Mongol yang dibantu bangsa Naiman dan Kerait hanya memusatkan diri di utara, menguasai daerah yang luas sekali, dari Danau Baikal sampai ke tapal batas Mongolia luar, Siberia dan Mancuria!

Perang antar suku-suku kecil masih terus terjadi, bukan lagi perang antara kerajaan yang memperebutkan wilayah, melainkan antar suku-suku kecil yang memperebutkan tanah subur. Karena itu perjalanan yang ditempuh Puteri Maya amatlah berbahaya dan beberapa kali dia harus bersembunyi di atas pohon-pohon besar, dari mana dia menyaksikan perang-perangan kecil sampai perang berakhir dan hutan itu penuh mayat bergelimpangan. Kalau sudah selesai perang dan keadaan sunyi barulah Maya berani turun dari pohon itu, dan ada kalanya dia harus bersembunyi di dalam goa yang lembab dan dingin kotor sampai berhari-hari.

Pada suatu senja, Maya yang kini dalam perjalanannya tanpa tujuan telah tiba di daerah Pegunungan Gobi yang penuh dengan selingan padang pasir luas. Ia merasa bingung ketika melihat dari sebuah lereng bukit ke arah padang pasir yang membentang luas di kaki bukit. Entah berapa luasnya padang pasir itu karena tidak tampak tepinya dan angin senja menggerak-gerakkan permukaan padang pasir sehingga berombak seperti laut!

Ia merasa takut dan bingung harus mengambil jalan mana. Kalau dia harus menyeberangi padang pasir itu, dia tidak berani. Sudah banyak dongeng didengarnya dahulu dari ayah bundanya akan bahaya padang pasir yang kadang-kadang mengamuk atau diamuk badai dan sudah banyak manusia ditelan lenyap oleh padang pasir itu. Bahkan pernah ia mendengar betapa orang-orang yang kehabisan air dan persediaan makan yang kelaparan dan terutama sekali kehausan, tiba-tiba melihat air melimpah-limpah akan tetapi apa bila didekati, air itu akan lenyap! Benar-benar banyak siluman tinggal di tempat itu dan setiap saat siluman-siluman itu mengganggu manusia!

Maka Maya tidak berani ke selatan melalui padang pasir itu, melainkan membelok ke barat melalui pegunungan yang biar pun amat sukar ditempuh, namun setidaknya sudah dikenalnya. Sejak kecil ia sudah biasa berkeliaran di hutan-hutan dan gunung-gunung, maka daerah seperti ini dikenalnya, tidak seperti padang pasir yang gundul dan mengerikan itu.

Malam itu ia bermalam di sebuah hutan di puncak bukit dan dari tempat yang tinggi ini tampaklah olehnya di kaki bukit sebelah barat terdapat sinar-sinar api yang berarti bahwa di sana tentulah terdapat tempat tinggal manusia. Maka hatinya menjadi girang dan pada keesokan harinya berangkatlah ia ke barat. Siapa kira, perjalanan menuruni bukit ini amat sukarnya, melalui jurang-jurang dan anak-anak bukit sehingga sampai matahari naik tinggi belum juga ia sampai ke tempat yang diduganya tentu sebuah dusun yang semalam tampak penerangannya dari puncak bukit.

Ia menjadi girang ketika melihat sebuah bangunan tak jauh di depan. Biar pun dia sudah lelah sekali dan peluhnya membasahi muka dan leher, namun melihat bangunan itu, Maya melupakan kelelahannya dan berjalan lagi menuruni lereng. Tentu di situlah dusun yang dilihatnya semalam dari puncak. Akan tetapi betapa kecewa hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kuil yang dahulunya tentu besar, akan tetapi kini sudah rusak akibat perang lalu ditinggal terlantar. Sebagian atapnya sudah runtuh, lantainya berlumut dan dindingnya menjamur. Biar pun demikian, lumayan untuk tempat mengaso di terik panas membakar seperti itu.

Tiba-tiba Maya cepat memasuki bangunan, menyelinap dan bersembunyi di bawah sebuah meja batu bobrok yang depannya tertutup oleh hancuran bekas arca. Jantungnya berdebar tegang karena hampir saja ia kurang cepat bersembunyi karena berkelebatnya bayangan yang datang itu cepat bukan main. Ternyata mereka adalah dua orang laki-laki, dan salah seorang berpakaian sebagai seorang perwira bangsa Yucen.

Ada pun yang seorang lagi adalah seorang Han yang usianya dua puluh lebih, berpakaian seperti pembesar, seorang pemuda yang mempunyai sepasang mata aneh dan liar gerakannya, akan tetapi yang bicaranya halus dan mukanya berbentuk lonjong menjulur ke muka seperti muka kuda. Muka yang buruk dan tidak menyenangkan! Maya tidak berani bergerak bahkan mengatur napasnya karena ia dapat menduga bahwa kedua orang itu, terutama Si Pemuda muka kuda, tentu memiliki kepandaian tinggi. Terdengar mereka berbisik-bisik.

“Benarkah dia sedang mendatangi ke sini?”

“Tidak salah,” jawab yang berpakaian perwira Yucen. “Seperti biasa, dia naik kuda seorang diri. Sudah dua kali aku dan kawan-kawan dahulu menyergapnya, namun dia lihai dan selalu berhasil lolos.”

“Akan tetapi yakin benarkah engkau bahwa dia itulah kurir (utusan) yang menghubungkan Panglima Khu dengan gurunya?” Pemuda muka kuda kembali bertanya, mendesak menuntut keyakinan.

“Betul dia! Memang dia pandai menyamar dan selalu dapat menghubungi Panglima Khu dengan cara yang cerdik sehingga tidak pernah meninggalkan bekas, akan tetapi aku yakin bahwa dialah orangnya.”

“Stt, itu dia datang. Serahkan saja kepadaku. Akulah yang akan menangkapnya,” pemuda muka kuda berbisik. Si Perwira Yucen mengangguk dan bersembunyi di belakang dinding, sedangkan pemuda muka kuda dengan gerakan yang ringan seperti burung terbang telah melesat ke atas atap yang masih ada, di atas dinding yang tidak berapa tinggi dan menjulur ke jalan depan kuil.

Biar pun Maya hanya dapat mengintai melalui lubang atau celah-celah kecil di antara reruntuhan arca dan tidak dapat melihat jelas ke jalan, namun ia juga mendengar datangnya seekor kuda dari derap kakinya yang makin lama makin nyata. Jantung gadis cilik ini berdebar tegang. Ia maklum bahwa tentu akan terjadi sesuatu yang hebat, sungguh pun ia sama sekali tidak tahu siapakah dua orang itu dan siapa pula pendatang yang mereka anggap sebagai utusan yang menghubungkan Panglima Khu dengan gurunya! Apakah artinya semua itu?

Setelah derap kaki kuda dekat benar dan tiba di depan kuil, tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik keras dan terdengar suara hiruk-pikuk beradunya senjata, suara orang bertanding.

Maya menggunakan keringanan tubuhnya, menyelinap ke luar dan mencari tempat persembunyian di sebelah luar, yaitu di belakang segerombolan pohon kembang dan mengintai. Tampak olehnya seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sederhana dan bersikap gagah, agaknya tentu orang berkuda itu, sedang bertanding melawan pemuda muka kuda. Laki-laki yang memakai topi lebar itu gagah dan gerakannya lihai sekali, akan tetapi dengan heran Maya mendapat kenyataan bahwa Si Pemuda muka kuda itu lebih hebat lagi sehingga laki-laki bertopi lebar terdesak dan hanya menangkis sambil mundur-mundur, memutar pedangnya yang selalu menangkis sebatang golok melengkung di tangan pemuda itu.

“Bukankah engkau ini Siangkoan-sicu yang membantu di gedung Suma-kongcu? mengapa engkau menyerangku?”

Namun pemuda muka kuda itu tidak menjawab dan menyerang lebih hebat lagi sehingga laki-laki bertopi lebar itu makin terdesak.

“Engkau... engkau mengkhianati kerajaan...?” Laki-laki bertopi lebar berseru, mencoba untuk menangkis golok yang menyambar kepalanya. Akan tetapi pada saat itu tangan kanan pemuda bermuka kuda yang bertangan kosong karena goloknya dipegang di tangan kiri, sudah memukul dengan telapak tangan ke depan.

“Blukk! Aiihhhh...!” Laki-laki bertopi lebar itu terpukul dadanya dan muntahkan darah segar, akan tetapi masih berusaha membacokkan pedangnya ke arah lawan. Si Muka Kuda miringkan tubuh, goloknya menyambar ke depan dari samping.

“Crokk!” terdengar jerit mengerikan karena lengan kanan laki-laki bertopi lebar itu terbabat putus sebatas siku!

Maya menyaksikan semua itu tanpa berkedip. Kalau hanya pemandangan seperti itu saja, dahulu setiap hari dilihatnya ketika ia menjadi tawanan gerombolan Bhutan, bahkan yang lebih dari itu pun sudah ia anggap biasa! Akan tetapi yang mengherankan hati Maya, laki-laki bertopi lebar itu masih hidup, menggunakan lengan kirinya mengeluarkan sebuah amplop dan hendak memasukkan amplop ke mulutnya.

“Crass!” Kembali golok menyambar dan lengan kiri ini pun buntung sampai surat itu melayang dan disambar oleh tangan kanan Si Muka Kuda.

Laki-laki bertopi lebar itu mengeluh dan masih dapat mengeluarkan kata-kata terakhir sambil terengah-engah, “Siangkoan Lee... bunuh aku tapi... jangan ganggu... Khu-ciangkun...!”

Terpaksa Maya membuang muka ketika melihat laki-laki bermuka kuda itu melangkah maju, mengayun golok dan... memenggal leher laki-laki bertopi lebar. Ia menoleh ke arah perwira Yucen yang sudah muncul sambil berkata, “Bawa kepalanya!”

Perwira Yucen ini dengan muka berseri girang menyambar rambut kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya, kemudian memuji. “Sungguh hebat bukan main kepandaianmu, Siangkoan-taihiap! Masih begini muda sudah memiliki kepandaian yang luar biasa! Raja kami tentu akan senang sekali mendengar pembongkaran rahasia Panglima Khu yang palsu ini!”

“Aku hanya menjalankan tugas. Marilah!” kata pemuda muka kuda yang bukan lain adalah Siangkoan Lee, bekas pelayan, murid, dan juga pembantu Panglima Suma Kiat. Dua orang itu lalu berjalan pergi, Siangkoan Lee membawa sampul surat yang dirampasnya, sedangkan perwira Yucen itu membawa kepala yang masih meneteskan darah itu.

Entah mengapa, hati Maya tertarik sekali dan perasaannya condong untuk membantu orang yang disebut Panglima Khu. Dia tidak tahu urusannya, hanya tahu bahwa laki-laki bertopi lebar tadi adalah utusan yang menghubungkan Panglima Khu dengan gurunya. Ia tahu pula bahwa Si Muka Kuda itu disebut pengkhianat dan bernama Siangkoan Lee. Dan alangkah kagum ia menyaksikan betapa laki-laki bertopi lebar itu dalam saat terakhir masih hendak melindungi Khu-ciangkun, dan bahkan hendak memusnahkan sampul suratnya!

Dia tidak mengerti apa artinya semua itu, namun sekali pandang saja dia merasa tidak suka bahkan membenci pemuda muka kuda dan bersimpati kepada Panglima Khu yang belum pernah dilihatnya. Karena itu, melihat dua orang itu melangkah pergi, diam-diam Maya mengikuti mereka dari jauh. Dia dapat menduga bahwa Panglima Khu terancam bahaya, entah bahaya apa, maka dia ingin melihat perkembangannya dan kalau mungkin dia akan memperingatkan Panglima Khu itu agar terlepas dari bahaya.

Mengapa Siangkoan Lee berada di tempat itu? Seperti kita ketahui, Siangkoan Lee adalah bekas pelayan yang menjadi murid Panglima Suma Kiat. Setelah putera tunggal Panglima itu, Suma Hoat, meninggalkan kota raja dan minggat karena patah hati, maka Siangkoan Lee merupakan satu-satunya murid yang amat dipercaya oleh Suma Kiat. Bahkan Siangkoan Lee ternyata memiliki kecerdikan luar biasa dan kini tanpa ragu-ragu lagi Suma Kiat menarik murid ini sebagai pembantunya dan diajak berunding dan mengatur siasat dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Peristiwa yang terjadi mengenai keluarga Thio di mana Menteri Kam Liong ikut campur menambah rasa dendam dan tidak suka di hati Suma Kiat, apa lagi karena urusan itu mengakibatkan puteranya patah hati dan pergi. Dia bersama sekutu-sekutunya dan dengan bantuan bangsa Yucen telah berhasil menghancurkan musuhnya yang nomor satu, yaitu keluarga Raja Khitan! Kini dia mulai mengintai dan ingin sekali menjungkalkan orang yang paling dibencinya akan tetapi juga paling ditakuti, yaitu Menteri Kam Liong!

Akhirnya berkat kelicinannya dan penyelidikan mata-matanya yang berani main sogok untuk membongkar rahasia, Suma Kiat dapat mendengar bahwa kepergian seorang panglima pembantu Menteri Kam Liong yang bernama Panglima Khu Tek San bukanlah ditugaskan menjaga tapal batas sebagaimana dikabarkan, melainkan diselundupkan memasuki istana Yucen dan memegang jabatan di sana sebagai orang yang dipercaya oleh Pemerintah Yucen. Padahal Khu-ciangkun ini melakukan pekerjaan mata-mata di Yucen, bekerja demi kepentingan Kerajaan Sung atau lebih tepat lagi, dia bekerja atas perintah gurunya, Menteri Kam Liong yang selalu menaruh kecurigaan atas pergerakan bangsa Yucen!

Demikianlah, Suma Kiat lalu menugaskan muridnya untuk menyelidiki hal itu dan mengusahakan agar supaya murid Menteri Kam Liong itu ketahuan dan dihukum mati! Terjadinya hal itu tentu akan memperuncing hubungan antara Yucen dan Sung, dan memang inilah yang dikehendaki Suma Kiat dan sekutunya, yaitu para bangsawan dan panglima yang tidak senang kepada kaisar dan sudah siap-siap untuk memberontak jika ada kesempatan.

Biar pun usianya masih muda, namun Siangkoan Lee ternyata dapat bekerja dengan baik sekali. Dia tidak mau begitu saja secara kasar menuduh Panglima Khu yang di Yucen amat dihormati sebagai seorang panglima gagah perkasa yang selalu ikut berperang membela Yucen. Dia harus dapat memperlihatkan bukti kepada Raja Yucen. Dia tahu bahwa kalau Panglima Khu bekerja sebagai mata-mata di Yucen, tentu ada satu cara dari panglima itu untuk mengirim berita tentang penyelidikannya itu kepada gurunya, Menteri Kam Liong.

Akhirnya, setelah melakukan penyelidikan secara tekun, dapatlah ia mengetahui bahwa memang ada seorang kurir yang menghubungkan guru dan murid itu. Dengan petunjuk seorang perwira Yucen, akhirnya Siangkoan Lee berhasil membunuh kurir, memenggal kepalanya dan merampas suratnya, kemudian dengan bekal dua tanda bukti ini berangkatlah dia ke perkemahan Raja Yucen yang kebetulan berada di tempat itu dalam operasi pembersihan. Ketika itu Raja Yucen disertai para panglima, di antaranya Panglima Khu yang dipercaya!

Akan tetapi, sungguh Siangkoan Lee tidak pernah mengira bahwa rencananya yang sudah diatur dengan masak dan dilakukan dengan sempurna itu terbentur karang berupa seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sama sekali tak diketahuinya telah menyaksikan semua perbuatannya! Bahkan dia tidak tahu ketika mereka sudah tiba di perkemahan di waktu malam gelap itu, Maya telah menyelinap melalui perkemahan.

Maya menjadi bingung. Bagaimana dia harus menyampaikan bahaya itu kepada Panglima Khu? Yang manakah Panglima itu dan di mana kemahnya? Apa boleh buat, dia harus berani menanggung bahayanya. Dengan langkah lebar ia menghampiri beberapa orang tentara yang menjaga. Tiga orang tentara itu tercengang keheranan ketika tiba-tiba dari tempat gelap muncul seorang anak perempuan yang begitu cantik dan bersikap begitu tabah dan berani.

“Eh, kau siapakah?”

“Aku adalah keponakan dari Khu-ciangkun. Harap kalian sudi mengantar aku kepada Khu-ciangkun, nanti kumintakan hadiah dari Paman Khu untuk kalian.”

Tiga orang anggota tentara Yucen itu saling pandang. Mereka terheran-heran dan ragu-ragu. Panglima Khu adalah seorang di antara para panglima Yucen yang gagah perkasa dan dipercaya oleh Raja. Memang semua orang tahu bahwa panglima itu berdarah Han, akan tetapi sepak terjangnya sudah membuktikan kesetiaannya terhadap Kerajaan Yucen.

Kini tiba-tiba muncul seorang anak perempuan mengaku keponakannya! Kalau mereka menolak dan mengusir bocah ini, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa anak ini betul keponakan panglima gagah itiu? Tentu mereka akan celaka! Akan tetapi, kalau membawa anak ini menghadap Panglima Khu, andai kata anak itu membohong, tentu anak ini yang akan dicambuk! Mereka tidak percaya bahwa di dalam hutan pegunungan itu tiba-tiba saja muncul seorang keponakan dari Panglima Khu.

Akan tetapi segera mereka berkata, “Baiklah, Nona kecil. Akan tetapi kalau engkau membohong, jangan bertanya tentang dosa lagi. Engkau akan dihukum mati!”

Apa boleh buat, pikir Maya. Dia beriktikad baik, menolong Panglima Khu. Tidak mungkin kalau pamrih baik dibalas hukuman mati. “Baik, antar aku kepada Khu-ciangkun!”

Tiga orang tentara itu membawa Maya ke sebuah kemah yang besar di mana terdapat dua orang penjaga. Mereka menceritakan bahwa anak ini mengaku keponakan Khu-ciangkun dan minta diantar menghadap.

“Hemm, kalian mencari penyakit,” kata dua orang penjaga. “Akan tetapi, masuklah. Ciangkun sedang duduk sendiri, kalau kalian dimaki jangan bersambat kepada kami.”

Maya diajak masuk dan ketika Maya melihat seorang laki-laki berpakaian panglima yang berusia empat puluhan tahun, bersikap gagah sekali, dia tidak meragu lagi pasti itulah Panglima Khu. Maka ia lalu berlari ke depan menjatuhkan diri dan berlutut dan berkata, “Paman Khu... saya mohon bicara empat mata dengan Paman mengenai surat bersampul kuning dan laki-laki bertopi lebar!”

Mula-mula panglima itu terkejut dan mengerutkan alis melihat tiga orang prajurit memasuki kemahnya membawa seorang dara kecil yang cantik, akan tetapi ketika ia mendengar ucapan gadis itu, berubahlah sikapnya. “Pergilah!” katanya kepada tiga orang prajurit sambil melempar beberapa mata uang ke arah mereka. “Dan terima kasih sudah mengantar keponakanku ke sini!”

Diam-diam Maya kagum sekali atas kecepatan jalan pikiran panglima itu. Setelah tiga orang prajurit yang kegirangan tadi menerima hadiah dan pergi, Maya lalu bangkit berdiri dan menghampiri panglima itu sambil bertanya, “Engkau tentu Khu-ciangkun, bukan?”

“Anak baik, engkau siapakah dan apa artinya kata-katamu tadi? Duduklah. Aku memang benar Khu-ciangkun.” Perwira itu memegang tangan Maya dan menariknya duduk di atas bangku di dekatnya sambil memandang wajah jelita itu penuh selidik. Bukan anak sembarangan, pikirnya.

“Ketahuilah, kalau engkau seorang Panglima Yucen benar-benar, aku tidak akan sudi menolongmu, malah lebih senang melihat engkau mampus! Akan tetapi karena engkau panglima palsu dan tentu engkau memusuhi Yucen, aku bersedia menolongmu.”

Terbelalak mata panglima itu. “Apa maksudmu?” Ia berbisik dan menoleh ke luar kemah. “Bicara perlahan.”

Maya juga cerdik dan tahu bahwa percakapan mereka ini sama sekali tidak boleh didengar orang lain, maka ia lalu berkata, “Aku adalah Puteri Maya, puteri Raja dan Ratu Khitan yang sudah hancur oleh bangsa Yucen! Dan engkau adalah panglima palsu, utusanmu orang bertopi lebar yang membawa sampul kuning itu telah terbunuh, kepalanya dan sampul suratnya dibawa oleh seorang yang bernama Siangkoan Lee. Kau akan dilaporkan....”

“Cepat! Kita harus pergi dari sini, sekarang juga!” Panglima itu dengan gerakan cepat dan kuat telah menyambar tubuh Maya dan dipondongnya.

“Engkau pergilah, aku... biar aku lari sendiri!”

“Tidak. Paduka harus saya selamatkan! Harus!” Panglima itu berkata dengan hati penuh keharuan dan ketegangan.

Sungguh mimpi pun tidak dia akan bertemu dengan puteri Raja Khitan seperti itu! Raja Khitan adalah adik tiri gurunya, jadi anak perempuan ini adalah keponakan gurunya sendiri yang harus dia selamatkan! Rahasianya sudah diketahui orang, entah secara bagaimana karena dia tidak mengenal siapa yang bernama Siangkoan Lee itu. Akan tetapi, lebih hebat lagi kalau mereka tahu bahwa anak perempuan ini adalah puteri Kerajaan Khitan! Tentu akan celaka sekali.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi terompet tanduk ditiup gencar. Mendengar ini, wajah panglima itu berubah. “Terlambat...! Paduka... jangan mengaku sebagai Puteri Khitan, tetap mengaku keponakan... keponakan seorang wanita Khitan yang kuambil selir. Mengerti?”

Maya membelalakkan mata akan tetapi mengangguk-angguk. Diam-diam ia kagum dan berterima kasih. Keputusan hatinya untuk menolong panglima ini ternyata tidak sia-sia! Panglima ini seorang yang gagah perkasa, yang dalam saat berbahaya itu lebih mementingkan keselamatannya dari pada keselamatan sendiri!

Dengan langkah tenang sambil menggandeng tangan Maya, Panglima Khu berjalan ke luar dan menuju ke perkemahan besar di mana semua panglima sudah hadir menghadap Raja Yucen karena bunyi terompet tanduk tadi adalah tanda panggilan mendadak oleh Raja kepada pangeran, panglima dan perwira. Dengan sudut matanya Khu-ciangkun melihat betapa tempat itu sudah dikurung oleh pasukan besar yang siap dengan senjata mereka, juga pasukan anak buahnya sendiri sehingga diam-diam ia mengerti bahwa keadaan amat berbahaya. Agaknya Raja yang telah mengetahui rahasianya telah siap menangkapnya. Biarlah ia berkorban nyawa untuk negara, akan tetapi kalau memikirkan Maya yang digandengnya, dia menjadi bingung!

Para panglima telah siap semua berkumpul di depan kemah Sri Baginda, menanti Sang Raja keluar. Dan mereka itu memandang heran kepada Khu-ciangkun yang datang menggandeng seorang anak perempuan cantik.

“Keponakan... selirku!” jawab panglima ini pendek ketika rekan-rekannya bertanya sehingga di sana-sini terdengar suara ketawa.

Akan tetapi, mereka semua menjadi diam dan bersikap menghormat ketika terdengar suara terompet dari dalam kemah, tanda bahwa Raja akan keluar dan persidangan darurat dimulai. Tempat di depan kemah itu telah menjadi terang-benderang oleh obor-obor yang di nyalakan para prajurit pengawal. Raja keluar dari kemah dengan... menunggang kuda! Memang Raja Yucen lebih suka duduk di atas kuda kalau menghadapi para panglimanya dan bangsa Yucen merupakan bangsa yang paling ahli berperang di atas kuda. Di belakang Raja tampak seorang laki-laki bermuka kuda, membawa sebuah bungkusan.

“Khu-ciangkun...!” Tiba-tiba Raja berseru keras memanggil.

“Hamba siap!” Khu-ciangkun melangkah maju dan berlutut dengan sebelah kakinya dengan sikap gagah dan hormat. Maya terpaksa ditinggalkannya di belakang dan anak itu memandang dengan hati tegang.

“Khu-ciangkun! Selama ini aku percaya kepadamu sebagai seorang panglima yang setia. Siapa kira ternyata engkau adalah seorang mata-mata dari Kerajaan Sung!”

Semua panglima saling pandang, dan terdengar suara mereka berisik sekali karena tuduhan ini benar-benar amat hebat!

“Ampun, Tuanku, akan tetapi tuduhan yang tidak ada buktinya merupakan fitnah keji,” Khu-ciangkun menjawab dengan suara tenang.

“Fitnah, ya?” Raja membentak dan memberi tanda kepada pemuda bermuka kuda itu yang segera membuka kantung dan melemparkan sebuah benda di atas tanah. Benda itu adalah kepala orang!

Semua orang memandang dengan muka berubah dan hati tegang, dan Raja berkata lagi, “Orang she Khu! Kau tentu mengenal orang ini, kurir yang menghubungkan engkau dengan gurumu di Kerajaan Sung! Engkau adalah murid dari Menteri Kam Liong. Hayo mengaku!”

Khu-ciangkun tetap tenang. “Yang penting adalah bukti, Tuanku. Bisa saja ditunjukkan bahwa orang yang mempunyai kepala ini adalah utusan hamba, akan tetapi apakah buktinya, Tuanku?”

”Bukti lagi? Lihat ini! Surat Menteri Kam Liong untukmu, keparat!” Raja itu mengeluarkan sebuah sampul kuning dari sakunya, mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang dapat melihatnya.

Akan tetapi, dalam suasana yang amat tegang itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah pasukan Yucen yang dipimpin oleh empat orang panglima gagah berkuda dan mereka ini menyeret tubuh dua orang anak yang meronta-ronta!

Apakah yang telah terjadi? Siapakah dua orang bocah yang ditawan oleh pasukan Yucen itu? Mereka itu bukan lain adalah Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa, dua orang murid Mutiara Hitam dan suaminya. Bagaimanakah mereka dapat tertawan pasukan Yucen?

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Mutiara Hitam Kam Kwi Lan dan suaminya, Pek-kong-to Tang Hauw Lam, bersama kedua orang muridnya itu, setelah mendengar akan kehancuran Khitan dan tewasnya raja dan ratu lalu bermaksud mengejar pasukan yang mengantarkan Maya ke Gobi-san. Karena pengejaran itu dimaksudkan untuk melindungi keselamatan Puteri Maya, dan karena mereka tidak tahu jalan mana yang diambil oleh pasukan yang sudah pergi lebih dulu sebulan lebih, maka mereka melakukan perjalanan lambat sambil bertanya-tanya tentang jejak mereka.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa tidak sabar menyaksikan perjalanan lambat kedua orang guru mereka, maka sering kali kedua orang murid ini mendahului guru-guru mereka yang melakukan penyelidikan setelah memberi tahu bahwa mereka berdua akan mendahului ke atas bukit di depan atau padang rumput di depan.

Pada sore hari itu, kembali dua orang anak itu mendahului guru-guru mereka berlari-lari di padang rumput yang luas. Tiba-tiba muncullah pasukan Yucen yang mengurung mereka sambil tertawa-tawa. Dua orang bocah itu berpakaian seperti orang Han dan tentu saja bangsa Yucen yang di dalam hatinya memusuhi orang-orang selatan ingin mempermainkan dua orang anak ini.

”Heh-heh-heh, dua ekor anjing cilik, berlututlah kalian dan minta ampun kepada tuan-tuan besarmu, baru kami akan melepaskan kalian!” berkata seorang di antara para panglima Yucen yang menunggang kuda.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa adalah anak-anak yang sejak kecil sudah menerima gemblengan ilmu silat tinggi. Selain berani dan berkepandaian, juga mereka ini mengandalkan nama besar kedua orang gurunya, terutama sekali nama besar ibu gurunya. Siapa berani mengganggu mereka?

“Kalian ini berandal dari mana berani mengganggu kami? Pergilah sebelum kami berdua turun tangan tidak memberi ampun lagi!” bentak Can Ji Kun sambil bertolak pinggang.

Juga Ok Yan Hwa bertolak pinggang sambil membentak. “Sungguh tak tahu diri, berani mengganggu anak naga dan harimau!”

Dua orang anggota pasukan itu tertawa-tawa dan menghampiri Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa. “Ha-ha-ha, engkau anak naga, ya? Heh-heh, apakah kalian ini sudah gila?” Seorang di antara mereka menghampiri Can Ji Kun.

“Wah, yang ini biar pun masih belum dewasa sudah cantik sekali!” Tentara ke dua menghampiri Ok Yan Hwa, tertawa-tawa dan hendak mencolek pipi gadis cilik itu.

Tiba-tiba dua orang anak itu menerjang ke depan. Terdengar teriakan-teriakan keras dan dua orang anggota pasukan itu roboh sambil mengaduh-aduh karena dada mereka seperti pecah rasanya dihantam oleh dua orang anak-anak itu!

Terkejutlah semua pasukan, terkejut dan marah. Mereka sudah akan turun tangan mengeroyok dan membunuh, akan tetapi empat orang panglima berseru, “Jangan bunuh! Biarkan kami menangkap harimau-harimau cilik ini dan menyeret mereka ke hadapan Sri Baginda. Siapa tahu mereka ini ada gunanya kelak!”

Setelah berkata demikian, empat orang itu mengeluarkan tali panjang yang melingkar-lingkar di lengan kiri mereka. Ujung tali itu dibuat semacam lasso dan kini mereka berempat yang menunggang kuda mengurung Ji Kun dan Yan Hwa, tali mereka makin lama makin panjang tetap diputar-putar. Dua orang anak itu siap menghadapi lawan, akan tetapi mereka bingung ketika dikurung empat ekor kuda dan memandang tali berujung lasso yang diputar-putar.

Tiba-tiba sebuah lasso menyambar ke arah kepala Yan Hwa. Dara cilik ini cepat mengelak dan ketika lasso itu mengejarnya, ia menggulingkan tubuh ke atas tanah. Luput! Para pasukan bersorak memuji. Juga Ji Kun dapat menghindarkan diri dengan gerakan gesit sekali ketika ada tali lasso menyambar. Bahkan sampai berkali-kali tali-tali lasso beterbangan menyambar ke arah mereka, namun dengan lincah sekali dua orang anak itu tetap dapat mengelak.

Empat orang Panglima Yucen ini menjadi penasaran sekali. Mereka lalu berpencar menjadi dua rombongan dan mengeroyok setiap anak dengan lasso mereka. Kini repotlah dua orang anak kecil itu dan tak lama kemudian tubuh mereka telah terikat dan tertangkap! Dua orang panglima memegangi lengan setiap anak dan mengangkat tubuh anak itu di antara kuda mereka yang dilarikan sehingga tergantunglah tubuh Ji Kun dan Yan Hwa, dibawa membalap pergi! Mereka tidak sudi berteriak minta tolong, hanya memaki-maki dan meronta-ronta.

Sikap dua orang anak inilah yang menolong mereka sendiri. Kalau saja mereka berdua tidak memperlihatkan sikap yang berani luar biasa, tentu mereka dianggap anak-anak biasa dan sudah dibunuh. Kini para panglima itu menjadi curiga, maka mereka tidak membunuh kedua orang anak itu dan merasa perlu menghadapkan kedua orang anak luar biasa itu kepada raja yang kebetulan berada di perkemahan.

Sementara itu, Khu Tek San yang melihat bahwa bukti bagi kesalahannya sudah cukup dan bahwa dia tidak dapat menyelamatkan diri lagi, bersikap tenang dan mengambil keputusan untuk mengorbankan dirinya dan tidak menyeret orang lain dalam pekerjaannya memata-matai Yucen. Yang terpenting sekarang adalah berusaha menyelamatkan diri Puteri Maya dan menyuruh puteri Kerajaan Khitan itu pergi ke selatan menghadap Menteri Kam Liong dan menyampaikan berita tentang kematiannya.

Ketika melihat keributan dengan datangnya panglima-panglima yang menyeret dua orang anak itu, Khu Tek San cepat berbisik kepada Maya, “Engkau larilah sekarang, cepat!”

Akan tetapi Maya menggeleng kepala. “Aku hanya mau lari kalau bersama engkau!”

Panglima she Khu itu memandang penuh kagum. Benar-benar patut menjadi puteri Raja Khitan, cucu Suling Emas, pikirnya. Masih begini kecil sudah kenal apa artinya budi dan kegagahan! Tiba-tiba Panglima Khu dikejutkan oleh suara dua orang anak kecil yang diseret itu.

Yang perempuan berkata galak. “Tidak peduli engkau ini Raja Yucen atau Raja Akhirat, kalau tidak segera membebaskan kami, tentu akan mampus!”

“Guru kami, pendekar wanita sakti Mutiara Hitam dan suaminya, pendekar Golok Sinar Putih, tentu akan membalas dendam!” kata anak laki-laki, sikap mereka berdua sedikit pun tidak takut dihadapkan pada Raja Yucen.

Tentu saja Khu Tek San terbelalak memandang ke arah dua orang anak itu. Bagaimana bisa terjadi hal yang begini kebetulan secara berturut-turut? Pekerjaan rahasianya terbongkar, muncul Puteri Maya, dan kini tahu-tahu muncul pula dua orang anak yang mengaku murid Mutiara Hitam! Mutiara Hitam adalah adik kembar Raja Khitan, jadi adik tiri suhunya pula, karena itu bukan hanya Maya yang harus diselamatkan, melainkan juga dua orang bocah itu!

“Apa pun yang terjadi, aku harus berusaha menyelamatkan mereka,” bisik Khu Tek San kepada Maya. “Kau larilah dalam keributan ini!”

Tanpa menanti jawaban, tiba-tiba Panglima Khu ini menggerakkan tubuhnya, melayang ke depan, ke arah dua orang anak itu. Cepat bagaikan seekor garuda menyambar, dia menerjang empat orang panglima muda yang memegangi dua orang bocah itu. Mereka ini terkejut, tahu akan kelihaian Khu-ciangkun, maka mereka mundur dan mencabut senjata. Kesempatan itu dipergunakan oleh Tek San untuk menyambar tangan Can Ji Kun, anak laki-laki itu.

Ketika ia hendak menolong Ok Yan Hwa, terdengar bocah itu membentak. “Budak cilik! Aku tidak butuh pertolonganmu!”

Tek San cepat menengok dan melihat betapa Maya sudah berada di situ pula, tadi menyambar tangan Yan Hwa dan ditarik mendekatinya. Ia merasa makin kagum. Kiranya Puteri Khitan ini tidak melarikan diri dalam keributan seperti yang dipesankannya, malah menyusulnya meloncat ke depan untuk menolong dua orang murid Mutiara Hitam!

Keadaan menjadi geger. “Kurung...! Tangkap...!” Raja Yucen berteriak marah sekali.

Tek San bersama tiga orang anak itu dikurung rapat oleh pasukan panglima yang telah menghunus senjata. Tek San menjadi khawatir sekali. Dia tidak takut mati di tangan musuh-musuh ini, akan tetapi bagaimana ia dapat menyelamatkan tiga orang anak itu?

“Sri Baginda Yucen...!” Ia berteriak lantang. “Aku Khu Tek San sebagai seorang laki-laki sejati telah mengaku kedosaanku terhadap Kerajaan Yucen dan aku siap menerima hukuman mati dengan mata terbuka! Akan tetapi, tiga orang anak kecil ini tidak mempunyai dosa, kuharap sukalah Paduka membebaskannya! Kalau tidak, terpaksa aku memberontak dan biar pun kami berempat akan mati, namun kami pun akan menyeret nyawa beberapa orang pengawalmu!”

Raja Yucen yang sudah marah sekali kembali membentak. “Tangkap dia hidup-hidup! Tangkap Si Pengkhianat ini dan tiga orang anak iblis itu!”

Tek San yang mengambil keputusan untuk melindungi tiga orang anak itu dengan nyawanya, mulai siap menghadapi pengeroyokan para panglima yang mengurungnya. Ia menjadi kagum sekali dan tak dapat menahan senyumnya ketika melihat bahwa tiga orang anak itu pun telah bersiap-siap dengan pasangan kuda-kuda yang tangguh, membelakanginya sehingga mereka berempat beradu punggung menghadap ke empat penjuru!

Bukan main, pikirnya penuh kagum. Murid-murid dan keturunan Suling Emas benar-benar merupakan anak-anak yang telah memiliki kegagahan luar biasa. Masih sekecil itu, menghadapi bahaya maut tidak menjadi gentar dan putus asa, melainkan hendak membela diri dengan gagah dan mati-matian!

Keadaan sudah menegangkan sekali. Pengurungan makin ketat dan sudah dapat dibayangkan bahwa betapa pun gagahnya Khu Tek San murid menteri Kam Liong, namun menghadapi begitu banyaknya panglima, perwira dan prajurit Yucen, tentu dia takkan menang.

“Tahannnn...!” tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan semua orang.

Lengking nyaring ini disusul berkelebatnya dua sosok bayangan yang sukar dilihat saking cepatnya. Hanya terdengar ribut-ribut ketika sesosok bayangan menyambar ke atas kuda yang diduduki Raja Yucen dan bayangan ke dua menyambar ke arah dua orang panglima tinggi yang berada di sebelah kanan raja. Hanya terdengar suara gedebukan dan suara “ah-uh-ah-uh” disusul melayangnya tubuh Raja Yucen dan dua orang panglima tinggi itu ke atas batu besar yang berada di dekat kemah! Tentu saja semua pasukan menjadi terkejut dan mengalihkan perhatiannya dari Tek San dan tiga orang bocah itu.

“Suhu...!” Ji Kun berteriak girang.

“Subo...!” Yan Hwa juga bersorak.

Ketika obor-obor diangkat tinggi dan semua orang memandang, ternyata di atas batu besar itu telah berdiri seorang wanita gagah perkasa dan cantik jelita yang menelikung lengan Raja ke belakang tubuh dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka mengancam tengkuk. Di sampingnya seorang laki-laki gagah mencengkeram pundak dua orang panglima tinggi itu, siap untuk membenturkan dua buah kepala itu, sikapnya tenang dan laki-laki ini tersenyum-senyum lebar.

“Bebaskan dua orang murid kami, kalau tidak, Raja Yucen kubunuh!” Wanita yang bukan lain adalah Mutiara Hitam itu membentak.

“Ha-ha-ha, kehilangan murid masih mudah mencari gantinya. Kalau kalian kehilangan Raja, wah, berabe juga!” Laki-laki di samping Mutiara Hitam itu berkata sambil tertawa. “Dan penukaran ini sudah cukup menguntungkan bagi kalian. Coba saja, dua orang murid kami ditambah orang gagah dan anak perempuannya yang berusaha menolong, baru empat jiwa. Kami tukar dengan dua puluh tiga jiwa! Wah, kami sudah banyak mengalah!”

Raja Yucen dapat menduga bahwa dia terjatuh ke tangan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam yang terkenal, maka dia tidak berani main-main. Akan tetapi, mendengar laki-laki yang agaknya suami Mutiara Hitam itu bicara tidak karuan, dia mendongkol juga. “Hemm, kalian hanya menawan kami tiga orang, mana yang dua puluh orang lagi?”

“Ha-ha-ha, Sri Baginda. Yang dua puluh adalah panglima-panglima Sri Baginda yang tentu akan tewas di tangan kami kalau penukaran ini tidak berhasil. Sekarang untuk sementara, kami titipkan nyawa mereka kepada tubuh masing-masing sambil menanti penukaran ini!” jawab Pek-kong-to Tang Hauw Lam seenaknya.

“Bebaskan mereka!” Raja Yucen menghardik dengan muka merah saking marahnya.

Mereka yang tadinya mengurung Tek San dan tiga orang anak itu mundur dengan kecewa.

“Ji-kun! Yang Hwa! Naik ke sini!” Mutiara Hitam berteriak.

Dua orang muridnya lalu meloncat dan dengan gerakan indah serta ringan mereka melayang ke atas batu besar. Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa Maya telah mendahului mereka dengan loncatan yang lebih cepat lagi!

“Apakah engkau Bibi Kam Kwi Lan yang berjuluk Mutiara Hitam?” Maya bertanya kepada Mutiara Hitam sambil memandang penuh kagum.

Mutiara Hitam yang masih menodong Raja Yucen, juga terheran-heran menyaksikan bocah perempuan yang memiliki gerakan demikian ringannya, mengalahkan kedua orang muridnya. “Siapa engkau? Dan siapakah orang gagah di bawah itu?”

Tek San juga melompat ke atas batu besar lalu menjura dengan hormat. “Teecu Khu Tek San murid Suhu Kam Liong memberi hormat kepada Sukouw (Bibi Guru) dan Paman Guru berdua dan berterima kasih atas pertolongan Ji-wi.”

“Ahhh...!” Mutiara Hitam tercengang dan juga girang mendengar bahwa laki-laki perkasa yang tadi berusaha menolong murid-muridnya adalah murid kakaknya sendiri!

“Dan bocah ini...?”

“Dia adalah keponakan Sukouw sendiri, Puteri Maya...!”

“Aihhh...!” Seruan Mutiara Hitam ini mengandung isak tertahan dan tangan kanannya meraih kepala Maya. Dipeluknya anak itu sejenak, sedangkan tangan kirinya masih menelikung Raja Yucen.

“Heeiii! Mutiara Hitam, lepaskan kami! Bukankah kami sudah membebaskan Khu-ciangkun dan tiga orang bocah itu?”

“Nanti dulu, Sri Baginda. Kami belum aman. Anakku, Maya, marilah engkau ikut bersama bibimu.”

Akan tetapi Maya berpendirian lain. Begitu bertemu dengan dua orang murid bibinya, dia merasa tidak suka. Mereka itu berwatak angkuh! Dan dia sudah merasa kagum dan suka sekali kepada Khu Tek San, maka ia menggeleng kepala dan berkata, “Terima kasih, Bibi. Akan tetapi aku ingin pergi bersama Khu-ciangkun!”

Mutiara Hitam menghela napas panjang. Dia adalah seorang wanita gagah perkasa yang tidak suka cerewet. Sekali mengambil keputusan tidak dirubah lagi, dan sekali mendengar keputusan keponakannya, tidak banyak berbantah lagi. Hatinya masih tetap keras dan angkuh.

“Baiklah, Maya. Engkau ikut dengan Khu-ciangkun dan menghadap Pek-hu-mu (Uwamu) Kam Liong pun sama saja. Nah, Khu-ciangkun, pergilah dulu bawa Maya ke selatan. Kami yang tanggung bahwa orang-orang Yucen tidak akan mengganggu perjalanan kalian.”

Khu Tek San memberi hormat, kemudian menggandeng tangan Maya sambil berkata, “Marilah kita pergi!”

Keduanya melompat turun dari batu besar itu dan berlari pergi. Tidak ada seorang pun yang berani menghalang. Akan tetapi Khu Tek San yang mencari-cari dengan matanya, tidak melihat adanya pemuda muka kuda yang tadi muncul bersama Raja Yucen, pemuda yang menurut Maya bernama Siangkoan Lee dan yang membunuh kurirnya.

Setelah menanti agak lama sehingga ia merasa yakin betul bahwa Khu Tek San dan Maya sudah pergi jauh, Mutiara Hitam melepaskan lengan Raja Yucen, juga suaminya melepaskan pundak kedua orang panglima tinggi yang sama sekali tak mampu bergerak ketika dicengkeramannya tadi.

Mutiara Hitam menjura kepada raja itu dan berkata, “Harap Sri Baginda maafkan kami. Kalau menurutkan nafsu hati, agaknya Paduka sudah kami bunuh mengingat akan tewasnya kakakku Raja Khitan di tangan kalian...”

“Ahhhh, tuduhan keji itu!” Raja Yucen membentak marah. “Raja Khitan dan kami pada saat terakhir berjuang bahu-membahu menghadapi gelombang serbuan bangsa Mongol sampai Raja Khitan gugur! Bukan kami yang membunuhnya!”

Mutiara Hitam dan suaminya saling pandang, kemudian Mutiara Hitam berkata, ”Siapa pun yang membunuhnya, kakakku ini gugur dalam perang maka saya pun tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Akan tetapi, kami tidak menanam permusuhan dengan siapa pun juga, dengan Raja Yucen pun tidak, maka harap saja Sri Baginda tidak melanjutkan sikap memusuhi kami dan memerintahkan kepada anak buah Paduka agar kelak tidak lagi mengganggu kami.”

Raja itu bersungut-sungut. “Musuh kami hanya negara lain, bukan perorangan. Apa untungnya bermusuhan dengan Mutiara Hitam? Asal engkau tidak mengganggu keamanan di wilayah kami, perlu apa kami memusuhimu?”

“Bagus, dengan demikian kita sudah saling mengerti. Nah, selamat tinggal, Sri baginda, dan maaf sekali lagi!” Mutiara Hitam menyambar tangan Yan Hwa sedangkan suaminya menggandeng tangan Ji Kun, kemudian mereka berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam.

“Sialan!” Raja Yucen membanting-banting kaki. “Turunkan aku...! Goblok kalian semua begini banyak orang tak berguna menghadapi dua orang saja! Aku harus menegur Raja Sung! Tidak patut memata-matai kerajaan sahabat sendiri! Apa-apaan ini? Kalau tidak ada penyelesaian yang memuaskan, kugempur wilayah Sung!” Raja itu mencak-mencak dan marah-marah.

Karena sudah bertemu dengan keponakannya, Puteri Maya, maka Mutiara Hitam dan suami serta murid-murid tidak melanjutkan perjalanan ke Gobi-san dan mereka lalu kembali ke puncak Gunung Yin-san di mana terdapat sebuah goa besar yang pernah mereka pergunakan sebagai tempat tinggal. Melihat betapa pergolakan dan perang antara suku-suku di utara masih terjadi di mana-mana, Mutiara Hitam ingin mengasingkan diri saja di Yin-san agar dia dan murid-muridnya tidak terlibat. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hati Mutiara Hitam ketika ia dan suaminya bersama dua orang muridnya tiba di depan goa di puncak Yin-san, dan melihat seorang kakek dan nenek hidung mancung telah menempati goa itu dan kini menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek.

“Kalian siapakah? Mau apa di sini?” Mutiara Hitam membentak sambil memandang tajam. Karena sekali pandang saja ia dapat mengenal laki-laki dan perempuan itu sebagai bangsa India atau Nepal, maka dia menegur dalam bahasa India.

Kakek tinggi kurus berkulit hitam arang itu tertawa. “Ha-ha-ha, selamat datang, Mutiara Hitam! Beberapa tahun yang lalu, pernah kita saling jumpa di pondok guru kami!”

Tang Hauw Lam menepuk dahinya, memandang kepada isterinya dan berseru, “Wah-wah-wah, bukankah kalian ini murid tukang membuat senjata yang berkaki pincang itu? Kalian murid-murid pertapa Naragita di Himalaya, bukan?”

Mutiara Hitam teringat dan dia bertukar pandang dengan suaminya, mata mereka sejenak berseri dan Mutiara Hitam berkata, “Aihh, kebetulan sekali!”

“Heh-heh-heh!” Nenek India yang bernama Nila Dewi terkekeh. “Memang kebetulan bagi kami, akan tetapi tidak kebetulan bagimu, Mutiara Hitam!”

Mutiara Hitam mengerutkan alisnya, wajahnya berubah dingin dan dia berkata, “Kami sudah mengenal guru kalian, akan tetapi tidak tahu siapa nama kalian?”

“Aku Nila Dewi dan dia ini Mahendra,” jawab Si Nenek India.

“Maksud kedatangan kalian?”

Melihat sikap dingin penuh ancaman dari Mutiara Hitam ini, kakek India itu lalu berkata, “Wah, kami melihat sepak terjangmu ketika engkau membuat Raja Yucen tidak berdaya, Mutiara Hitam. Kami kagum bukan main! Makin tua Mutiara Hitam makin hebat saja, benar-benar seperti mutiara tulen, makin tua makin mengkilap!”

“Mahendra, tidak perlu banyak menjilat. Katakan saja terus terang, mau apa kalian datang dan agaknya mengambil tempat kami?”

Mahendra tertawa, akan tetapi ketawanya ini agak dipaksakan untuk menutupi rasa gentarnya terhadap wanita sakti itu. “Mutiara Hitam, di depan Raja Yucen, suamimu mengatakan bahwa kehilangan murid mudah mencari gantinya. Memang benarkah begitu? Banyak sekali calon-calon murid baik di dunia ini, akan tetapi selain jarang ada pengganti raja, juga jarang bisa mendapatkan tempat tinggal begini nyaman dan enak seperti goa di puncak ini!”

Mutiara Hitam mengerutkan sepasang alisnya lalu digerak-gerakkan. Tidak suka ia mendengar ucapan plintat-plintut direntang panjang itu. “Mahendra, jangan seperti penjual obat, katakan kehendak kalian!”

“Mutiara Hitam, kami mencontoh perbuatanmu terhadap Raja Yucen. Kami mendahului kalian menduduki tempat ini dan hanya akan kami kembalikan kepadamu kalau kalian suka menukar tempat ini dengan....” Dua orang India itu tertawa-tawa dan memandang kepada Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa!

“Tukar apa? Hayo katakan jangan banyak tingkah!” Mutiara Hitam membentak.

“Ditukar dengan dua orang muridmu. Bukankah suamimu bilang bahwa kehilangan murid mudah dicari gantinya dan...”

“Wah-wah-wah, Mahendra benar-benar pandai membadut dan pandai bicara sekarang! Eh, Hitam Jangkung! Kau katakan, kalau kami tidak mau memberikan murid-murid kami, lalu bagaimana?” Tang Hauw Lam bertanya sambil tertawa.

“Kami pun tidak memberikan tempat ini!” jawab Mahendra dan bersama Nila Dewi dia lalu siap menjaga di depan goa.

Mutiara Hitam dan suaminya pernah mendengar akan praktek-praktek keji yang dilakukan orang-orang segolongan pertapa Himalaya yang bernama Naragita itu, yaitu penghayatan ilmu hitam yang membutuhkan pengorbanan darah dan jiwa anak-anak yang bertulang baik seperti dua orang murid mereka itu. Akan tetapi Mutiara Hitam dan suaminya masih bersabar.

Setelah saling pandang dan bermufakat dalam sinar mata mereka, Mutiara Hitam lalu berkata, “Nila Dewi dan Mahendra, orang-orang macam kita tidak menyelesaikan urusan dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan. Nah, coba kalian kalahkan kami. Kalau kami kalah, biarlah kami tidak akan merintangi murid-murid kami kalian bawa.”

“Bagus! Ini namanya ucapan orang gagah! Mutiara Hitam, kami makin kagum saja kepadamu,” kata Mahendra. “Dan kami berjanji, kalau kami kalah, kami akan mengembalikan tempat ini kepadamu dan pergi tanpa banyak ribut lagi.”

“Enak saja kau bicara, Mahendra. Tempat ini memang tempat kami, kami yang menemukan, membersihkan dan membetulkan. Kalau kalah kami mempertaruhkan murid, akan tetapi kalau kalian kalah, kalian juga harus mengorbankan sesuatu.”

“Apa?” Nila Dewi menjerit. “Kau menghendaki nyawa kami?”

“Bodoh! Kami tidak haus darah seperti kalian. Kalau kalian kalah, kalian harus membuatkan sepasang pedang untuk kami, sepasang pedang dari logam yang kutemukan di gunung dalam perjalanan dari barat dahulu. Hanya kalian saja yang agaknya dapat membuatkan pedang dari logam itu untuk kami, karena tukang-tukang pandai besi yang kami temui semua menyatakan tidak sanggup.”

Mahendra tertawa. “Wah, hebat logam itu, makin menarik! Baiklah, taruhan itu malah menyenangkan kami. Nah, bagaimana pertandingan ini diatur?”

Mutiara Hitam tersenyum. Dia tahu bahwa dua orang ini lihai sekali dan biar pun suaminya memiliki ilmu yang tinggi, akan tetapi ia khawatir kalau-kalau suaminya akan salah tangan melukai atau membunuh lawan. Hal ini tidak ia kehendaki karena selain tidak ingin menanam permusuhan dengan orang India ini, juga dia membutuhkan tenaga mereka.

“Kita tidak saling bermusuhan dan pertandingan ini merupakan pertandingan yang ada taruhannya, maka harus satu kali berhasil menentukan siapa kalah siapa menang. Dari pihak kami, aku sendiri yang akan maju menjadi jago, dan aku akan menghadapi jago kalian dengan tangan kosong!”

Mahendra dan Nila Dewl saling pandang. Mereka maklum akan kelihaian Mutiara Hitam, akan tetapi kalau hanya maju dengan tangan kosong, apa yang perlu ditakuti? Mahendra berkedip kepada Nila Dewi, lalu mencabut sepasang pisau belati melengkung yang mengeluarkan sinar gemerlapan sambil meloncat maju.

“Akulah jago pihak kami, Mutiara Hitam! Berani engkau menghadapi sepasang senjataku dengan tangan kosong?”

“Seorang gagah tidak akan menarik kembali janjinya. Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong, Mahendra. Nah, bersiaplah engkau!” Mutiara Hitam meloncat maju ke atas batu di depan goa dan mereka berhadapan.

Orang India yang bertubuh tinggi kurus dan berkulit hitam itu menekuk kedua lututnya, merendahkan diri dan kedua tangannya dipentang lebar, pisau belati digenggam erat-erat dengan mata pisau menghadap ke luar. Ketika ia menggoyang kedua pisaunya, sinar matahari yang menimpa permukaan pisau itu menyorot ke depan menyilaukan mata.

“Sepasang senjata yang bagus!” Mutiara Hitam memuji akan tetapi ia sudah menerjang ke depan dengan pukulan dahsyat.

Mahendra cepat mengelak dan sambil miringkan tubuh, pisau kirinya menangkis lengan lawan dan pisau kanannya menyambar tengkuk! Akan tetapi gerakan Mutiara Hitam yang gesit itu membuat ia dengan mudahnya mengelak.

Nila Dewi berdiri menonton penuh perhatian dengan alis berkerut. Tang Hauw Lam menggandeng tangan kedua orang muridnya untuk mencegah mereka pergi dan tertangkap lawan, akan tetapi dia menonton dengan wajah tenang-tenang saja karena hatinya mempunyai kepercayaan sepenuhnya akan kelihaian isterinya. Ketika isterinya maju dan menantang untuk menghadapi lawan dengan tangan kosong, maka tahulah ia bahwa isterinya ingin mengalahkan lawan tanpa melukainya.

Dan memang ini tepat sekali karena dalam hal ilmu silat tangan kosong, ia harus mengaku kalah jauh terhadap isterinya. Kalau dia yang maju dan menggunakan goloknya, tentu dia hanya akan mampu mengalahkan Mahendra dengan melukainya! Padahal, isterinya sudah lama sekali merasa penasaran mengapa logam yang berbentuk dua buah bola putih itu, yang mereka dapatkan di puncak gunung barat, sampai kini belum ada yang mampu membuatnya menjadi pedang!

Hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika dia berdua isterinya melakukan perjalanan dari barat ke timur. Mereka baru saja menuruni lereng puncak Gunung Yolmu-lungma, yaitu puncak tertinggi dari Pegunungan Himalaya, turun ke sebelah selatan tapal batas Nepal dan India, kemudian terus ke timur menyusuri pantai Sungai Brahma Putera. Ketika tiba di perbatasan Yunan dan mulai mendaki lagi sisa kaki Pegunungan Himalaya di waktu malam, mereka tiba-tiba melihat sinar kehijauan jatuh dari langit dan terdengarlah suara menggelegar tak jauh di depan.

Mutiara Hitam dan suaminya cepat menuju ke tempat itu dan dari jauh mereka sudah melihat sinar putih di atas tanah sawah dan tanah dari mana sinar putih itu tampak, mengeluarkan asap dan hawa panas!

“Agaknya itulah yang disebut batu bintang!” kata Mutiara Hitam.

“Jatuh begitu saja dari langit? Sungguh luar biasa!” Tang Hauw Lam berkata dan keduanya tidak berani sembarangan menghampiri tanah yang mengeluarkan sinar itu.

Baru pada keesokan harinya dengan berindap mereka menghampiri tempat yang sunyi itu dan di situlah mereka menemukan dua buah logam berbentuk bulat berwarna putih dan masih hangat. Mereka menjadi girang dan menyimpan dua buah batu logam itu. Ketika sudah berada di Tiong-goan, mereka menemui ahli-ahli pedang dengan maksud untuk membuatkan sepasang pedang dari batu logam itu. Akan tetapi semua ahli pedang tidak sanggup mengolah dua batu logam itu. Sudah sebulan lamanya dibakar masih tetap keras saja!

Inilah sebabnya mengapa munculnya dua orang murid pendeta Naragita menggirangkan hati Mutiara Hitam dan suaminya. Dua orang India itu adalah murid seorang di antara ahli-ahli pedang yang sakti dan agaknya hanya orang-orang seperti mereka inilah yang akan sanggup membuatkan sepasang pedang dari dua buah batu logam itu untuk mereka.

Pertandingan antara Mutiara Hitam dan Mahendra masih berlangsung dengan seru. Ilmu silat Mahendra amat aneh. Gerakan sepasang pisaunya sangat cepat sehingga tampak dua gulungan sinar bergulung-gulung seperti ombak hendak menelan tubuh Mutiara Hitam, apa lagi setiap serangannya mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Namun Mutiara Hitam menghadapinya dengan ketenangan yang mengagumkan. Bermacam ilmu silat tangan kosong yang lihai-lihai dan tinggi-tinggi ia mainkan. Mula-mula ia mainkan Siang-tok-ciang (Tangan Racun Harum) untuk mendesak kakek India itu. Akan tetapi tokoh India ini ternyata merupakan seorang yang ahli terhadap pukulan-pukulan beracun, maka sama sekali Mutiara Hitam merubah lagi ilmu silatnya. Untuk melindungi tubuhnya dari sepasang pisau lawan, baginya amat mudah. Gerakan lawannya bagi dia terlalu canggung dan lambat, maka dengan kegesitannya, mudah baginya untuk mengelak. Yang menjadi soal adalah bagaimana dia harus mengalahkan lawan ini dengan ilmu silat tangan kosong.

Tiba-tiba pendekar wanita sakti ini mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan jantung lawan, suara melengking seperti suling nada tinggi dan inilah ilmu khikang Kim-kong-sim-im yang diwarisi dari ayahnya Suling Emas.

Selagi lawannya terkejut dan mengerahkan sinkang untuk melawan gerakan suara mukjizat ini, Mutiara Hitam sudah menerjangnya dan mainkan ilmu silat yang memiliki gaya tidak lumrah dahsyatnya! Dia telah mainkan ilmu silat tangan kosong yang didapatkannya dari ibunya, yaitu Ratu Yalina. Ilmu ini adalah Ilmu Silat Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Ilmu Silat Sakti) yang hanya merupakan tiga belas jurus saja, namun tiga belas jurus ini merupakan jurus-jurus pilihan di antara semua ilmu silat tangan kosong dan merupakan jurus-jurus maut yang sukar dilawan.

Mahendra mulai menggereng-gereng dan menjadi bingung. Gerakannya kacau-balau ketika angin menyambar-nyambar secara hebat dari tubuh dan tangan Mutiara Hitam. Pendekar wanita itu baru mainkan sejurus saja, yaitu jurus yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Berpusing Mengeluarkan Kilat). Tubuhnya berkelebatan dan berputaran seperti gasing dan dari putaran tubuhnya itu kedua tangan dan kakinya kadang-kadang menyambar secara tak terduga-duga!

“Ciaaatttt!” Mutiara Hitam berseru...


BERSAMBUNG KE JILID 06


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 05 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »