Cinta Bernoda Darah Jilid 11

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

CINTA BERNODA DARAH

JILID 11

Di pinggir sungai terdapat pula sebuah rumah pondok yang indah dan jauh dari pada tetangga. Inilah tempat peristirahatan Hek-giam-lo dan juga para mata-mata Khitan apa bila melakukan tugasnya dan tiba di tempat ini. Ke rumah inilah Lin Lin dibawa, sedangkan Hek-giam-lo seorang diri pergi ke tanah kuburan kuno untuk mengambil kitabnya, yaitu kitab yang dahulunya ia rampas dari tangan kakek sakti Bu Kek Siansu dan yang akhirnya hanya ia dapatkan ‘setengahnya’ karena yang separoh terampas oleh It-gan Kai-ong.

Memang ia tidak berani membawa-bawa kitab yang ia tahu menjadi incaran It-gan Kai-ong, Suling Emas dan Siang-mou Sin-ni, mungkin juga Bu Kek Siansu sendiri itu. Ketika melawat ke selatan, ia menyimpan kitab pusaka itu di dalam terowongan dan sekarang ia hendak mengambil dan membawanya kembali ke Khitan. Secara kebetulan ia mendapatkan Bu Sin dan Sian Eng memasuki tempat sembunyinya.

Lin Lin merasa jengkel sekali. Biar pun ia selalu diperlakukan dengan hormat, dipanggil tuan puteri, setiap kali mendapat hidangan-hidangan yang lezat dan segala macam kebutuhannya dipenuhi, segala macam perintahnya, kecuali perintah agar ia bebas, ditaati, namun ia maklum bahwa sebenarnya ia menjadi tawanan! Ia merasa tidak berdaya menghadapi Hek-giam-lo yang kosen, juga para anak buah Khitan itu terdiri dari pada orang-orang pilihan.

Oleh karena itu, gadis ini maklum bahwa takkan mungkin ia memberontak atau melarikan diri, hal itu hanya akan membuat ia menderita saja. Pikiran inilah yang membuat ia akhirnya tidak rewel minta dibebaskan lagi. Ia diam saja, malah kini memaksa diri bergembira, akan tetapi diam-diam ia amat mengharapkan munculnya Suling Emas! Ia merasa gemas juga mengapa sampai begitu lama Suling Emas tidak juga muncul menolongnya? Dan di samping ini, ia merasa amat sengsara dan sedih kalau ia mengingat Bok Liong. Kadang-kadang ia masih dapat melihat bayangan pemuda itu di pinggir sungai, pakaiannya kotor, rambutnya kusut dan kelihatannya sengsara. Memang pemuda yang keras hati ini sudah nekat untuk terus mengikuti perahu yang membawa gadis pujaannya.

"Liong-twako, sudahlah jangan mengikuti perahu. Pergilah dan cari Suling Emas, suruh dia membebaskan aku!” dari atas perahu Lin Lin berteriak ke arah bayangan Lie Bok Liong yang bergerak di pinggir sungai. Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang mendengar dan melihat ini hanya tersenyum-senyum saja.

kho ping hoo episode cinta bernoda darah


Pemuda itu berseru menjawab. “Aku tidak bisa meninggalkanmu, Lin-moi. Tidak tahu Suling Emas berada di mana. Kalau aku pergi, bagaimana kalau mereka orarg-orang liar itu mengganggumu? Aku akan mengadu nyawa dengan mereka! Jangan khawatir selama aku berada di dekatmu!”

Lin Lin menghela napas diam-diam ia merasa terharu. Akhir-akhir ini mulailah terasa olehnya betapa mulia dan jujur hati pemuda itu, dan betapa besar pembelaan dan pengorbanan pemuda itu untuk dirinya. Mulai terbuka mata Lin Lin bahwa Lie Bok Liong amat mencinta dirinya dan hal ini membuatnya sedih dan terharu. Bukan pemuda ini yang selalu menjadi kenangan, menjadi harapan, menjadi pujaan hatinya. Hati dan perasaan cinta kasih dalam dadanya terampas oleh Suling Emas!

Ia merasa amat khawatir melihat tingkah laku Bok Liong yang begitu nekat hendak melindungi dan membelanya, biar pun pemuda itu sendiri tahu betul bahwa ia tidak berdaya menghadapi Hek-giam-lo dan anak buahnya. Lin Lin merasa khawatir kalau-kalau Bok Liong akan nekat dan akhirnya akan mengorbankan nyawanya, apa lagi ketika ia diturunkan dari perahu dan diajak beristirahat di pondok tepi sungai itu. Dan kekhawatitannya terbukti.

Sore hari itu, ketika Hek-giam-lo sudah pergi meninggalkan pondok, sampailah Lie Bok Liong ke tempat itu. Pemuda ini tertinggal jauh oleh perahu, maka setelah sore baru ia dapat menyusul. Ketika melihat perahu yang diikutinya itu tertambat di pinggir, ia segera menghampiri rumah pondok. Dengan tubuh lemas dan sakit-sakit ia melangkah ke halaman pondok itu, sedikit pun tidak merasa takut. Padahal pemuda ini sebenarnya sedang tidak sehat. Tubuhnya panas dan lemas, karena selama dalam perjalanan mengikuti perahu, ia jarang sekali makan. Pula ia masih menderita luka ketika bertempur dengan Hek-giam-lo di atas perahu beberapa hari yang lalu. Agaknya rasa cinta kasih yang besar membuat ia kuat menahan segala derita.

Ketika melihat pondok itu sunyi saja, Bok Liong melangkah lebar menuju ke ruangan depan. Ia sudah nekat, hendak mencari Lin Lin dan mengajak gadis itu lari, atau membiarkan gadis itu lari sedangkan dia akan menahan orang-orang Khitan kalau mereka akan mengejarnya.

“Lin-moi...!” Ia memanggil dengan suara parau.

Suaranya menjadi parau karena batuk. Kurang tidur membuat ia terserang batuk pula. Memang perahu itu tak pernah berhenti sehingga di waktu malam sekali pun Bok Liong harus terus berjalan kalau ia tidak ingin tertinggal jauh. Selama hampir sepuluh hari lamanya ini Bok Liong terus berjalan siang malam, makan sedapatnya, kadang-kadang hanya daun-daun muda, itu pun dilakukan sambil berjalan terus. Bahkan tidur pun sambil berjalan, kalau itu boleh dikatakan tidur.

“Lin-moi...!” Kembali Bok Liong berteriak, lalu tangannya menggedor pintu depan yang tertutup.

Karena tidak juga ada jawaban, Bok Liong melompat ke pintu samping, yaitu pintu yang menuju ke taman di samping pondok. Pintu ini terbuat dari pada kayu dan tidak sekokoh pintu depan. Sambil mengerahkan tenaganya, Bok Liong menendang pintu kecil ini dan robohlah pintu itu! Akan tetapi sebelum ia melompat masuk, dari dalam keluar seorang laki-laki berkumis.

“Jahanam liar! Berani kau datang ke sini?” teriak orang Khitan itu yang segera menerjang ke depan dengan pukulan-pukulan keras.

Bok Liong mengelak sambil melompat ke belakang, akan tetapi karena tubuhnya lemah dan gemetar, ia terhuyung-huyung sampai ke ruangan depan. Lawannya yang kelihatan kuat itu terus mendesaknya dengan pukulan-pukulan keras. Betapa pun juga, tingkat ilmu kependaian Bok Liong jauh lebih tinggi, maka biar pun terhuyung-huyung, Bok Liong selalu dapat mengelak. Setelah peningnya agak berkurang, sekali tangan kanannya menyambar, lawan itu terkena pukulannya pada leher sehingga orang Khitan itu terpelanting.

Akan tetapi dari pintu taman itu bermunculan orang-orang Khitan. Bok Liong cepat mencabut pedangnya, akan tetapi karena enam orang Khitan itu serentak maju menubruknya. Bok Liong yang sudah lemas itu tak dapat bergerak lagi dan di lain saat ia telah ditelikung, kedua lengannya dibelenggu di belakang tubuh dan kedua kakinya pun diikat! Pemuda ini hanya dapat memaki-maki saja dengan suara parau. Seorang Khitan mengambil pedangnya, pedang Goat-kong-kiam yang terjatuh di tanah ketika terjadi pergulatan tadi.

Bok Liong diseret masuk ke ruangan dalam. Tahulah sekarang Bok Liong mengapa Lin Lin tidak muncul. Kiranya gadis pujaannya itu berada di dalam ruangan dalam dan tubuhnya terikat pada sebuah tiang! Memang sebelum pergi meninggalkan pondok, Hek-giam-lo mengikat tubuh Lin Lin pada tiang itu. Ia cukup maklum akan kelihaian gadis ini, sehingga kalau dia tidak berada di situ, amukan gadis ini akan cukup membahayakan, sungguh pun dua puluh orang anak buahnya merupakan pasukan yang cukup tangguh. Iblis itu tidak mengkhawatirkan kedatangan Lie Bok Liong karena iblis sakti ini sudah tahu bahwa pemuda itu sudah hampir kehabisan tenaga.

Melihat Lin Lin diikat pada tiang, Bok Liong makin marah. Dengan sisa tenaganya ia meronta-ronta. Namun ia terlalu lemah untuk dapat mematahkan belenggu yang mengikat kaki tangannya.

“Lepaskan dia! Kalian binatang-binatang liar! Hayo lepaskan Lin-moi. Orang gagah tidak mengganggu wanita! Kalian ini kalau memang laki-laki, jangan ganggu wanita dan boleh siksa atau bunuh aku!”

Lin Lin memandang Bok Liong dan amatlah terharu hatinya. Pemuda itu benar-benar menderita, wajahnya pucat, rambutnya kusut, matanya merah, dan tubuhnya lecet-lecet di sana-sini. Dalam keadaan seperti itu, pemuda ini masih hendak membelanya! Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi bulu mata gadis ini.

“Liong-twako, kenapa kau menyusul ke sini?” tegurnya perlahan.

“Lin-moi, bagaimana aku bisa meninggalkan kau yang masih menjadi tawanan?” balas tanya Bok Liong, suaranya penuh perasaan sehingga Lin Lin makin merasa tertusuk jantungnya. Apa lagi ketika ia melihat betapa Bok Liong diikat tiang lain di depannya, kemudian seorang Khitan yang berkumis panjang mencambuknya.

“Tahan! Jangan bunuh dia!” teriak Lin Lin. “Awas, kalau sampai dia dibunuh, setelah kelak aku menjadi permaisuri di Khitan, kalian akan kuberi hukuman berat, akan dikupas kulit kalian!”

Orang Khitan yang berkumis tadi menjura, akan tetapi mulutnya tersenyum ketika ia berkata, “Tuan Puteri, harap Paduka jangan marah. Hamba sekalian hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Hek-lo-ciangkun. Hamba tidak akan membunuhnya, akan tetapi harus memberi hukuman kepadanya.” Setelah berkata demikian, ia memberi aba-aba dalam bahasa Khitan.

Majulah dua orang Khitan tinggi besar yang membawa cambuk. Berdetar-detar dua batang ujung cambuk lemas itu melecut dan bertubi-tubi menghantam punggung, leher, muka dan seluruh tubuh Lie Bok Liong!

“Tar-tar-tar...!” bunyi cambuk nyaring meledak-ledak dan jantung Lin Lin terasa tertusuk-tusuk.

“Boleh siksa aku, bunuhlah aku, keparat-keparat jahanam! Akan tetapi bebaskan Lin-moi!” Biar pun dicambuki dan bajunya robek-robek, kulitnya robek pula sampai sebentar saja badannya berlepotan darah, namun Bok Liong masih memaki-maki dan menuntut supaya Lin Lin dibebaskan. Sedikit pun ia tidak mengeluh, matanya terbelalak dan suaranya nyaring. Akan tetapi tubuhnya lemas karena ia tak dapat bergerak lagi. Mukanya menjadi matang biru, darah mengucur keluar dari hidungnya dan beberapa menit kemudian lehernya menjadi sengkleh dan ia tergantung pada ikatannya. Bok Liong pingsan.

Lin Lin meramkan mata. Tiap kali cambuk melecut, ia merasa seakan-akan tubuhnya yang tercambuk. Air matanya mengalir membasahi pipinya ketika ia mendengar betapa di antara hujan cambuk, Bok Liong selalu masih menuntut pembebasannya. Setelah bunyi cambuk terhenti, barulah ia berani membuka matanya dan dapat dibayangkan betapa hancur dan terharu hatinya melihat Bok Liong dalam keadaan seperti itu. Seluruh pakaiannya compang-camping, kulit tubuhnya penuh jalur-jalur merah dan biru, mukanya sukar dikenal lagi karena bengkak-bengkak dan penuh darah. Dengan kasar orang-orang Khitan itu melepaskan ikatannya, menyeret ke luar pondok dan melemparkannya ke dalam semak-semak belukar!

Lin Lin yang tidak berdaya itu merasa tersiksa hatinya. Semalaman itu ia direbahkan di atas pembaringan dengan kaki tangan terbelenggu. Akan tetapi ia tak dapat tidur karena selalu terkenang kepada Bok Liong. Tentu saja ia tidak melihat betapa pemuda itu benar-benar mengalami derita yang hebat sekali.

Bok Liong siuman tak lama sesudah ia dilempar di dalam semak-semak. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan sukar sekali bangkit karena terasa amat nyeri setiap kali menggerakkan kaki tangan,. Ia memaksa diri untuk bangkit, merangkak ke luar dari dalam semak-semak, berjalan terhuyung-huyung menuju ke sungai dengan maksud untuk mencuci tubuhnya yang penuh darah. Ketika tiba di tepi sungai, ia jatuh tersungkur dan kembali ia pingsan di pinggir sungai. Sampai jauh malam barulah ia sadar, akan tetapi tubuhnya terasa demikian sakitnya sehingga setelah mencuci tubuh, ia tidak dapat berdiri lagi.

Namun Lie Bok Liong adalah seorang pemuda yang keras hati. Ia tidak mengeluh, tidak putus asa. Ia lalu duduk bersila di pinggir sungai, mengatur napas dan mengerahkan tenaga. Menjelang pagi, ia sudah merasa mendingan.

“Liong-twako...!” Ini suara Lin Lin.

Cepat Bok Liong membuka mata, akan tetapi ketika ia memandang, ia merasa kecewa. Ternyata Lin Lin berjalan di depan rombongan orang Khitan, agaknya keluar dari pondok menuju ke perahu, akan tetapi di dekat gadis itu berjalan pula Hek-giam-lo!

“Aku tidak apa-apa, Lin-moi. Kau jagalah dirimu baik-baik!” Ucapan ini tentu saja diterima dengan hati perih oleh Lin Lin yang untuk kesekian kalinya mendapat kenyataan akan cinta kasih yang luar biasa besar dan tulusnya dari pemuda ini. Sambil menahan isak gadis itu menundukkan mukanya dan berjalan terus menuju ke perahu bersama Hek-giam-lo. Dengan tokoh sakti ini di dekatnya, Lin Lin merasa tiada gunanya melawan.

Orang Khitan yang berkumis panjang lewat dekat Bok Liong, lalu melemparkan pedang Goat-kong-kiam ke dekat pemuda itu sambil meludah dan tertawa mengejek!
Bok Liong bukanlah orang yang sudi menerima penghinaan begitu saja tanpa membalas. Melihat pedangnya, secepat kilat ia menyambarnya dan mengerahkan sisa tenaganya, menggunakan pedangnya menerjang orang berkumis itu.

Si kumis kaget sekali, cepat mengelak, namun pedang Bok Liong masih saja mencium pundaknya. Orang Khitan itu terhuyung ke belakang dan Bok Liong cepat menambah serangannya dengan sebuah tusukan kilat. Dada orang Khitan berkumis itu pasti akan tertembus pedang Goat-kong-kiam kalau saja pada saat itu Hek-giam-lo tidak cepat menggerakkan tangan kanannya sambil membalikkan tubuh. Tangan itu masih terpisah satu meter dari Bok Liong, akan tetapi pukulan jarak jauh ini cukup membuat Bok Liong terpental sehingga tusukannya meleset dan si kumis selamat. Kalau saja Bok Liong tidak dalam keadaan selemah itu, kiranya belum tentu pukulan jarak jauh ini akan dapat menggagalkan tusukannya tadi.

Bok Liong benar-benar nekat dan keras hati. Ia terlempar ke kiri dan jatuh, akan tetapi cepat ia meloncat bangun dan kali ini dengan pedangnya ia menyerang Hek-giam-lo! Ia memang terluka dan lemah, namun jurus serangannya adalah jurus serangan ilmu silat tinggi, dan pedangnya adalah pedang pusaka, maka serangan itu tak boleh dipandang ringan. Kalau lawan biasa saja tentu sukar terlepas dari pada bahaya serangan ini.

Akan tetapi sayang bahwa kali ini yang diserangnya adalah Hek-giam-lo. Sambil mendengus panjang, iblis ini menggerakkan senjatanya yang aneh, diputar menyilaukan mata. Terdengar suara nyaring, dan entah bagaimana tahu-tahu tubuh Bok Liong terlempar ke dalam sungai.

“Byurrrrr!” air muncrat tinggi-tinggi dan pemuda itu gelagapan, dengan susah payah berusaha berenang ke tepi.

Orang-orang Khitan tertawa bergelak ketika mereka berada di atas perahu dan perahu itu meluncur menurutkan aliran air sungai, meninggalkan Bok Liong yang masih gelagapan dan berenang ke pinggir.

“Lin-moi...! Jangan khawatir, aku akan menyusulmu...!” Suara Bok Liong ini terdengar oleh Lin Lin yang berada di atas perahu, dan makin gemaslah hati Lin Lin kepada Suling Emas, mengapa sampai begitu lama belum juga datang menolongnya sehingga Bok Liong harus mengalami derita yang demikian hebatnya.

Tak tega lagi hatinya, maka ia lari memasuki pondok perahu, membanting diri di atas pembaringan yang disediakan untuknya, lalu menangis. Tiba-tiba ia melihat benda bersinar dan ia segera meraih tongkat itu. Benda bersinar itu adalah ya-beng-cu yang selama ini memang menjadi benda permainannya. Sebetulnya, sebentar saja ia sudah bosan dengan tongkat itu, akan tetapi karena tongkat ini yang agaknya akan membawa ia bertemu kembali dengan Suling Emas, maka ia selalu main-main dengan tongkat itu. Ia merasa yakin bahwa Suling Emas pasti akan mengejar Hek-giam-lo untuk merampas kembali tongkat ini.

Ia meraba-raba tongkat itu. Baru sekarang ia memperhatikan tubuh tongkat, yang ternyata diukir-ukir indah. Tongkat itu sebesar lengannya, makin ke bawah makin kecil dan pada kepalanya terdapat mutiara-mutiara ya-beng-cu itu. Ketika Lin Lin menekan sana-sini, tanpa sengaja ia menekan bagian bawah dan tiba-tiba terdengar bunyi.

“Klikkk!” dan bagian tengah tongkat itu bergerak memanjang! Lin Lin merasa heran sekali.

Ketika diperiksanya bagian ini, ternyata bagian tengah tongkat itu bersambung, akan tetapi sambungannya diatur demikian rupa sehingga takkan dapat diketahui begitu saja. Agaknya tersentuh kunci pembuka sambungan itu maka otomatis sambungannya menjadi memanjang. Lin Lin menarik kedua ujung tongkat dan benar saja, tongkat itu kini menjadi dua potong. Bagian atas sebagai tutupnya dan bagian bawah sebagai wadah yang ternyata berlubang sebelah dalamnya. Dengan amat hati-hati Lin Lin memeriksa, mengetuk-ngetukkan kedua potongan tongkat yang berlubang itu dan keluarlah gulungan-gulungan kertas tipis dari dalamnya.

Dengan hati berdebar-debar Lin Lin memeriksa. Kiranya kertas-kertas bergulung itu ada tiga belas lembar banyaknya, lebarnya sekaki persegi dan penuh dengan tulisan kecil-kecil yang indah. Lin Lin cepat membacanya dan alangkah girang dan tegang hatinya ketika membaca pelajaran ilmu silat aneh yang didahului dengan latihan semedhi yang aneh pula, karena di situ diterangkan bahwa untuk latihan ini orang harus bertelanjang bulat.

Memang semua aliran menganjurkan bahwa di waktu semedhi, orang harus mengenakan pakaian yang longgar, jangan ada yang menekan agar kedudukan tubuh menjadi enak dan jalan darah tidak terganggu, dan memang harus diakui bahwa yang terbaik adalah bertelanjang bulat. Lin Lin berpengharapan bahwa ilmu ini merupakan ilmu mukjijat yang akan dapat menolong dirinya. Akan tetapi pelajaran ini mengharuskan orang bertelanjang bulat dalam latihan ini, sungguh merupakan hal yang aneh dan luar biasa. Akan tetapi, karena hatinya amat ingin dapat membebaskan diri dari tangan Hek-giam-lo, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membuka semua pakaiannya, lalu berjungkir balik dan bersemedhi dalam keadaan aneh ini, kepala di bawah kaki di atas seperti yang dianjurkan di dalam gulungan kertas pertama.

Beberapa menit kemudian ia merasa kepalanya pening, akan tetapi ia memaksa diri, mendesak hawa sinkang ke bagian menurut petunjuk dan... sepuluh menit kemudian kakinya yang berada di atas itu terbanting ke bawah karena gadis ini sudah menjadi pingsan! Kebetulan sekali tubuhnya yang tak berpakaian lagi itu menimpa tongkat dan gulungan kertas sehingga tidak tampak dari luar.

Kalau saja keadaannya tidak seaneh itu, agaknya Lin Lin akan menimbulkan kecurigaan Hek-giam-lo. Dua kali anak buah Hek-giam-lo mengetuk pintu pondok untuk mempersilakan dia keluar makan, dan dua kali itu tidak ada jawaban dari dalam pondok. Akhirnya Hek-giam-lo sendiri mendekati pintu pondok. Dengan perlahan didorongnya pintu dan ia menjenguk ke dalam. Dari dalam kedoknya iblis ini mendengus, lalu menutupkan kembali pintu pondok dari luar, kemudian memesan kepada semua anak buahnya agar jangan mengganggu tuan puteri yang sedang tidur nyenyak.

Betapa pun juga gadis itu akan diperisteri oleh kakaknya, Raja Khitan, maka Hek-giam-lo tidak suka mengganggunya. Apa lagi gadis yang ia anggap liar dan gila itu kini tidur dalam keadaan telanjang bulat, tentu saja tidak boleh dilihat anak buahnya. Seorang gadis yang menjadi calon permaisuri mana boleh dilihat oleh anak buahnya dalam keadaan tak berpakaian? Sama sekali Hek-giam-lo tidak curiga, apa lagi memang hawa pada siang hari itu amat panas.

Lin Lin siuman kembali dan cepat-cepat ia berpakaian. Ia maklum bahwa ilmu yang tertulis di dalam gulungan kertas itu merupakan ilmu mukjijat yang luar biasa. Ia dapat menduga bahwa mempelajari ilmu ini tidak boleh secara serampangan belaka, maka ia mengambil keputusan untuk membacanya dengan teliti dan tidak akan melatihnya sebelum ia mengerti benar inti sarinya. Tentu saja Lin Lin tidak tahu kerena kertas-kertas itu dahulu ditulis oleh pendiri Beng-kauw, yaitu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Telah diceritakan di bagian depan yang menyinggung sedikit akan keadaan ketua Beng-kauw pertama itu dengan puterinya, yaitu mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian. Lu Sian mencuri Sam­po-cin-keng (Kitab Tiga Pusaka) yang menjadi pegangan ketua Beng-kauw itu, dan karenanya semua ilmu kesaktian Pat-jiu Sin-ong boleh dibilang telah diwarisi atau dicuri oleh anak perempuannya sendiri yang murtad. Karena inilah maka diam-diam Pat-jiu Sin-ong lalu menciptakan ilmu pukulan mukjijat yang seluruhnya berjumlah tiga belas macam dan secara rahasia ia tulis dan ia sembunyikan di dalam tongkatnya. Tiga belas macam ilmu gaib ini ia ciptakan dengan susah payah selama tiga belas tahun dan merupakan ilmu yang berat dan dalam.

Inilah sebabnya mengapa begitu melatih semedhi menurut petunjuk ilmu ini seketika Lin Lin menjadi pingsan! Baiknya Lin Lin dapat mengenal ilmu sejati, dan dengan tekun mempelajarinya secara diam-diam. Setelah hafal betul dan tahu bagaimana harus bersikap dalam latihan semedhi yang aneh itu, kini ia hanya berlatih semedhi di waktu malam dan sengaja ia menggelapkan kamar dan menutupi mutiara ya-beng-cu agar tidak mengeluarkan sinar.

Baru berlatih tiga malam saja, ia sudah mendapatkan perubahan hebat dalam dirinya. Hawa sakti yang amat aneh dan amat kuat bergolak di dalam dadanya dan berkali-kali ia mau muntah karena tidak dapat menahannya. Akan tetapi berkat petunjuk dari ilmu rahasia itu yang tekun dibacanya, ia dapat mengatur dan menyalurkan hawa sakti itu sehingga berkumpul di pusar.

Kemudian ia mulai mempelajari jurus-jurus rahasia yang tiga belas buah banyaknya. Tidaklah mudah untuk mempelajari ilmu yang diciptakan selama tiga belas tahun ini apa lagi ilmu tingkat tinggi. Baiknya Lin Lin pernah menerima petunjuk dan gemblengan kakek Kim-lun Seng-jin sehingga sedikit banyak ia telah memiliki dasar untuk ilmu silat tingkat tinggi. Biar pun dengan susah payah dan sukar sekali, namun kecerdikannya membuat ia lambat-laun dapat pula memetik buahnya.

Semenjak mendapatkan kertas gulungan pelajaran rahasia yang kalau sudah baca ia simpan kembali ke dalam tongkat, Lin Lin bersikap tenang dan tidak lagi memaki-maki atau nekat mencari jalan pembebasan. Ia maklum bahwa untuk dapat bebas, ia harus dapat mengalahkan Hek-giam-lo dan untuk mencapai hal ini adalah tidak mudah. Tak mungkin ia dapat mengalahkan orang sakti itu walau pun ia sudah mempelajari ilmu mukjijat yang baru dilatihnya beberapa hari lamanya dan masih mentah. Ia ingin memperdalam ilmu ini, kalau perlu ia akan ikut terus sampai ke Khitan dan akan mencari jalan ke luar agar supaya kehendak Kaisar Khitan atau pamannya itu ditangguhkan. Setelah ilmu itu ia fahami benar-benar, nah, baru ia akan melarikan diri menggunakan ilmu baru ini untuk menghadapi dan menghalau penghalang.

********************

Suling Emas terus melarikan diri, dikejar oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang mabuk dendam itu. Pendekar sakti ini menjadi serba bingung. Lari terus dari orang-orang yang berkepandaian tinggi ini merupakan hal yang amat sukar, bahkan tidak mungkin karena mereka itu rata-rata memiliki ginkang dan ilmu lari cepat yang mencapai tingkat tinggi. Berhenti dan melawan, boleh jadi ia akan dapat mengatasi mereka dengan mengandalkan ilmu-ilmunya, terutama ilmu kesaktian yang ia terima dari Bu Kek Siansu.

Akan tetapi kalau ia ingin memperoleh kemenangan dalam pertempuran sehingga ia dapat lolos, jalan satu-satunya hanya merobohkan mereka dan justru hal ini yang tidak ia kehendaki. Mereka itu adalah orang-orang yang dibikin sakit hati oleh mendiang ibunya, yang kini menuntut keadilan dan menuntut balas kepadanya. Kalau ia merobohkan mereka, melukai apa lagi membunuh, hal itu benar-benar tidak patut dan berarti ia menambah dosa-dosa yang agaknya sudah ditumpuk oleh ibunya. Berpikir demikian, makin sedih hatinya dan hampir saja ia menyerah, hampir timbul pikiran untuk menebus dosa-dosa ibunya dengan menyerahkan nyawa di tangan mereka!

Akhirnya Suling Emas terpaksa berhenti di sebuah lapangan rumput di lereng bukit. Lari terus tiada gunanya lagi, juga hal ini akan membuat ia makin jauh dari kedua orang adiknya yang sudah melarikan diri ke jurusan timur karena ia sendiri lari ke arah barat. Dengan mengangkat sulingnya tinggi-tinggi ia berseru.

“Tahan, aku hendak bicara!”

Dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah tiba di depannya. Sebagian dari pada mereka terengah-engah karena untuk beberapa lama melakukan pengejaran dengan pengerahan ginkang sepenuhnya.

“Kau mau bicara apa lagi, Suling Emas?” bentak tokoh Siauw-lim-pai Cheng San Hwesio sambil melintangkan tongkat hwesio di depan dadanya. “Kau yang terkenal sebagai seorang pendekar muda yang sakti, ternyata hanyalah seorang pengecut yang berlari-lari menyelamatkan diri. Hemmm....”

“Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya, anak tidak akan jauh bedanya dari ibu kandungnya. Ibunya pengecut, melakukan kejahatan lalu bersembunyi puluhan tahun, mana anaknya tidak pengecut pula?” kata Kok Seng Cu, tokoh Hoa-san-pai sambil menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas. Yang lain-lain ikut pula bicara sehingga ramailah di situ, hiruk-pikuk.

Suling Emas melihat betapa gadis baju hijau yang berada di barisan terdepan, yang tidak terengah-engah tanda bahwa ginkang-nya mencapai tingkat tinggi, tidak berkata apa-apa, malah menundukkan muka dan kadang-kadang saja mengerling ke arahnya dengan sikap bingung dan ragu-ragu.

“Cu-wi Locianpwe (Para Orang Tua Sakti) harap jangan terburu nafsu,” kata Suling Emas setelah menarik napas panjang. “Sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu akan urusan Cu-wi (Kalian) dengan mendiang ibuku. Akan tetapi percayalah, andai kata benar ibu telah melakukan kesalahan-kesalahan, aku sebagai puteranya takkan mengingkarinya dan sanggup untuk mempertanggung-jawabkannya. Akan tetapi, ada dua hal yang harus dipecahkan lebih dulu.”

“Apakah dua hal itu? Hayo bicara yang betul, jangan plintat-plintut!” bentak Hek Bin Hosiang, si hwesio muka hitam tokoh Go-bi-pai yang sudah gatal-gatal tangannya hendak mengemplang kepala putera musuh besarnya ini dengan senjatanya. Ia memang jujur dan galak.

“Pertama,” sambung Suling Emas tanpa menghiraukan sikap galak ini. “Cu-wi begini banyak, yang masing-masing hendak membalas dendam yang ditimpakan kepadaku. Ada yang hendak menawan, ada yang hendak membunuh. Mana mungkin hal ini dapat dilakukan? Kedua, biar pun Cu-wi semua mempunyai cerita masing-masing yang menuduhkan kejahatan-kejahatan kepada mendiang ibuku, bagaimana aku dapat merasa yakin bahwa semua tuduhan itu benar belaka? Bagaimana kalau tuduhan itu hanya fitnah dan tidak benar adanya?”

“Fitnah? Jelas Tok-siauw-kwi adalah iblis betina yang jahat, musuh semua orang gagah di dunia kang-ouw. Kau putera tunggalnya, kau harus menebus dosanya setelah ia mampus, dan kita semua akan saling memperebutkan engkau, baik mati mau pun hidup!” bentak Hek Bin Hosiang sambil menghantam dengan toya baja di tangannya.

Hantaman toya baja ini luar biasa kerasnya karena selain toya baja itu sendiri beratnya lebih dari seratus kati, juga tenaga hwe­sio muka hitam tokoh Go-bi-pai ini melebihi gajah! Terdengar angin bersiutan ketika toya itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar hitam menyambar kepala Suling Emas!

“Syuuuuur!” pita rambut yang panjang berwarna hitam itu berkibaran ketika toya baja menyambar lewat di atas kepala Suling Emas yang sudah merendahkan tubuh mengelak.

Namun toya itu membuat gerakan membelok dan meliuk panjang, lalu datang lagi menyambar dengan lebih kuat lagi. Kini yang diterjang adalah punggung Suling Emas. Pendekar sakti ini cepat menotolkan ujung kaki ke tanah dan tubuhnya mencelat mumbul ke atas, membiarkan toya itu menyambar lewat di bawah kakinya. Sebelum tubuhnya turun, Suling Emas sudah menggerakkan sulingnya ke belakang dan kipasnya ia kebutkan ke kiri karena pada saat itu ia telah diserang dari dua pihak oleh lawan yang lain!

Terdengar bunyi nyaring ketika pedang di tangan Kok Seng Cu tokoh Hoa­san-pai itu tertangkis suling. Kok Seng Cu melompat ke belakang dengan kaget dan kagum. Ia seorang tokoh Hoa-san-pai tingkat dua, lweekang-nya sudah mencapai tingkat tinggi, akan tetapi benturan pedangnya dengan suling itu membuat telapak tangannya panas.

Lebih kaget lagi adalah Cheng San Hwesio tokoh Siauw-lim-pai, karena tongkat hwesionya yang ia pukulkan ke arah kepala tiba-tiba menyeleweng ketika dikebut oleh kipas di tangan Suling Emas. Tentu saja hwesio tua ini menjadi penasaran dan juga kaget sekali. Tenaga pukulannya dengan tongkat itu mendekati tiga ratus kati, bagaimana dapat dikebut begitu saja oleh sebuah kipas dan menjadi meleset?

Suling Emas menarik napas panjang, mengumpulkan sinkang dan menggetarkan sulingnya sambil mengebut-ngebutkan kipasnya karena pada saat itu hujan senjata menyerangnya dari segenap penjuru. Terdengar bunyi nyaring dan semua senjata itu dapat ia pentalkan mundur oleh getaran sulingnya, sedangkan yang lain dapat dikebut menceng oleh kipasnya.

Ia kembali mengeluh dalam hatinya. Sedih ia melihat sikap orang-orang kang-ouw yang amat membencinya ini, yang ingin melihat ia roboh, melihat ia mati, memperlakukannya seolah-olah ia seorang penjahat besar yang keji dan patut di­basmi! Mengingat akan hal ini, melihat sinar kebencian berpancaran dari mata mereka, Suling Emas tak dapat menahan kesedihannya, tak dapat lagi ia mengangkat senjata melawan mereka dan setelah memutar sulingnya dengan gerakan memanjang sehingga sinar senjata ampuh ini berubah menjadi pelangi memanjang yang membuat para pengeroyoknya berlompatan mundur, Suling Emas lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri lagi!

“Pengecut, jangan lari! Begitu sajakah nama besar Suling Emas? Kini merasa takut dan lari terbirit-birit?” seru Kok Seng Cu tokoh Hoa-san-pai sambil mengejar, nada suaranya penuh ejekan.

“Ho-ho-ho! Putera tunggal Tok-siauw-kui yang jahat dan keji mana bisa menjadi orang gagah? Tentu licik, curang dan pengecut!” It-gan Kai-ong tertawa sambil mengejar paling depan.

“It-gan Kai-ong! Kalau kau menghendaki bertempur, hayo kita mencari tempat. Jangan kira aku takut padamu, memang aku masih ada perhitungan denganmu yang belum diselesaikan.”

“Ha-ha-ho-ho! Kau menantang sambil berlari! Bilang saja kau takut!”

Memang Suling Emas terus melarikan diri, dikejar oleh banyak orang. Ejekan It-gan Kai-ong memanaskan perutnya, akan tetapi ia cukup maklum bahwa ejekan yang dikeluarkan oleh pengemis tua mata satu itu sekali-kali bukanlah merupakan tantangan si pengemis sakti, melainkan merupakan akal bulus untuk mencegahnya melarikan diri dan memaksanya menghadapi pengeroyokan begitu banyak tokoh kang-ouw.

“Jembel busuk, aku sama sekali tidak takut menghadapi pengeroyokan, aku hanya tidak mau melayani mereka!”

“Ha-ha-ho-ho, akal bulus!” It-gan Kai-ong tertawa, akan tetapi biar pun hatinya mendongkol, Suling Emas melanjutkan larinya. Para pengejarnya juga mengerahkan ginkang dan mulai menghujankan senjata rahasia lagi, didahului oleh It-gan Kai-ong. Suling Emas berhasil menyelamatkan diri dengan memutar suling di belakang tubuhnya dan berloncatan ke depan secara berbelok-belok ke kanan kiri.

Mendadak pendekar sakti itu berseru kaget dan terpaksa menghentikan larinya. Daerah ini belum dikenalnya dan ia sama sekali tidak mengira bahwa tadi ia melarikan diri ke jurusan yang buntu! Kini di depannya terbentang jurang yang amat dalam dan luas, lebarnya lebih dari seratus meter dan dalamnya tak dapat diukur lagi. Ia telah masuk perangkap, di depannya menghalang jurang yang tak mungkin dapat dilampaui, di belakangnya mengejar puluhan orang yang merupakan lawan-lawan berat dan terutama sekali, merupakan lawan yang tak ingin ia hadapi, bukan karena takut melainkan karena enggan.

“Ha-ha-ha, sekarang tamatlah riwayat­mu, Suling Emas!” It-gan Kai-ong melompat maju dan menerjang dengan pukulan dahsyat.

Karena di antara para tokoh kang-ouw itu boleh dibilang It-gan Kai-ong merupakan orang yang tingkat kepandaiannya paling tinggi, maka jembel iblis ini dapat menyerang lebih dulu dari pada orang lain. Serangannya dahsyat sekali, kedua tangannya melontarkan pukulan dengan hawa pukulan jarak jauh sedangkan tangan kanannya menghantamkan tongkatnya ke arah kepala. Sukar untuk dikatakan mana yang lebih berbahaya, karena sesungguhnya pukulan tangan kiri itu, biar pun jaraknya jauh dan tidak akan langsung mengenai kulit lawan, namun bahayanya tidak kalah oleh kemplangan tongkat pada kepala.

Namun Suling Emas cepat menangkis tongkat dengan sulingnya dan mengebut hawa pukulan beracun tangan kiri lawan itu dengan kipasnya, malah kakinya digeser ke depan, kemudian kipas yang tadinya menghembus hawa pukulan lawan terus menyelonong ke depan dan digetarkan sedemikian rupa sehingga kedua ujungnya berturut-turut menotok jalan darah kin-teng-hiat di pundak kiri dan tiong-cu-hiat di leher!

It-gan Kai-ong terkejut sekali. Hampir saja totokan pada pundak itu mengenai sasaran. Ia cepat miringkan tubuh dan totokan kedua ke arah lehernya itu ia papaki dengan air ludah! Sudah terkenal di dunia persilatan bahwa It-gan Kai-ong memiliki ilmu kepandaian meludah yang amat mengerikan. Tubuh yang terkena air ludah yang keluar dari mulutnya akan bolong-bolong dan sekali saja terkena air ludahnya, lawan yang kurang kuat akan tewas! Tentu saja penggunaan air ludah ini cukup kuat untuk menangkis kipas yang menotok leher.

Di lain pihak, Suling Emas tidak sudi membiarkan kipasnya terkena ludah kakek menjijikkan itu, maka terpaksa ia menarik sedikit kipasnya dan mengerahkan tenaganya mengebut. Air ludah itu terkena kebutan kipas membalik dan menyambar muka It-gan Kai-ong sendiri! Akan tetapi kakek ini membuka mulutnya dan menerima kembali air ludahnya dengan mulut.

“Kawan-kawan, hayo tangkap putera iblis keji Tok-siauw-kui ini sebelum ia sempat melarikan diri!” teriak It-gan Kai-ong yang diam-diam merasa gentar juga menghadapi pendekar yang lihai itu.

Memang para tokoh kang-ouw itu sudah tiba pula di situ dan sudah siap menerjang, maka tanpa menanti komando kedua lagi mereka beramai-ramai terjun ke gelanggang pertempuran dan sibuklah Suling Emas menggerakkan sepasang senjatanya untuk menangkis ke sana ke mari. Tentu saja ia banyak melihat lowongan-lowongan yang kalau mau dapat dimasukinya dan merobohkan beberapa orang pengeroyok.

Akan tetapi justru hal ini yang tidak ia kehendaki, maka ia menjadi terdesak hebat dan tidak melihat jalan ke luar lagi. Jalan keluar ke arah kebebasan hanya melalui jalan darah, yaitu dengan merobohkan beberapa orang pengeroyok. Bingunglah hati Suling Emas. Tanpa merobohkan beberapa orang di antara mereka tak mungkin ia bisa lolos kali ini.

Hanya kepada It-gan Kai-ong seorang ia mau balas menyerang karena ia maklum akan kejahatan kakek itu, sedangkan yang lain adalah tokoh-tokoh yang ia dengar namanya sebagai tokoh-tokoh terhormat yang bernama baik. Akan tetapi balasan serangannya kepada It-gan Kai-ong tidak ada artinya lagi karena ia hanya dapat mempergunakan sepersepuluh bagian saja dari pada perhatiannya yang harus ia pergunakan untuk menangkis dan menghindar dari pada serbuan lawan.

Dalam kesibukannya mempertahankan dirinya ini, teringatlah Suling Emas akan segala pengalamannya. Mulai menyesallah hatinya mengapa semenjak dahulu ia membenci ayah kandungnya yang ia sangka menyia-nyiakan ibunya dan kawin lagi. Mengapa selama itu, sampai ayahnya mati, tak pernah ia pulang, tak pernah ia berbakti kepada ayahnya yang ternyata adalah seorang satria sejati. Sedangkan ibunya... ah, kini ia harus menebus dosa-dosa ibunya dan dosanya sendiri yang tidak berbakti kepada ayah kandung!

Hatinya menjadi sedih, perlawanannya mengendur karena semangatnya menurun. Kesedihan hatinya mendorongnya untuk meloncat saja ke dalam jurang di belakangnya, meninggalkan para pengeroyoknya, meninggaikan dunia ini, meninggalkan mereka yang dicintanya. Siapakah orang yang dicintanya di dunia ini? Ada memang, akan tetapi hanya lamunan kosong belaka. Orang yang dicintanya sudah menjadi isteri orang lain!

Akan tetapi jiwa satria di dalam dirinya melarangnya membunuh diri begitu saja. Seorang gagah tidak boleh mati secara konyol, sedikitnya jauh lebih baik mati di ujung senjata lawan dari pada mati menceburkan diri ke dalam jurang begitu saja! Oleh karena ini, semangatnya timbul kembali dan Suling Emas tiba-tiba ingat akan ilmu yang ia dapat dari Bu Kek Siansu. Ilmunya yang sakti, Hong-in-bun-hoat jika ia pergunakan, maka akan berubah menjadi ilmu pedang yang dimainkan dengan senjata sulingnya, dan ia tidak mau menggunakan ilmu ini karena akibatnya tentu akan merobohkan para pengeroyoknya.

Ia teringat akan Ilmu Kim-kong-sin-im (Suara Sakti Sinar Emas) yang lebih menyerupai ilmu musik! Karena sudah tidak ada jalan lain, Suling Emas meloncat jauh ke kiri lalu menyimpan kipasnya dan menempelkan suling pada bibirnya. Terdengarlah suara yang aneh, mengalun tinggi. Para pengeroyoknya sejenak terhenyak kaget dan kesempatan ini dipergunakan oleh Suling Emas untuk duduk bersila, mengerahkan seluruh sinkang-nya dan menutup sulingnya, menyanyikan lagu yang indah dan aneh! Karena menghadapi orang-­orang kang-ouw yang memiliki nama besar sebagai orang-orang gagah perkasa, secara otomatis Suling Emas yang menjadi ahli dalam soal kesusastraan dan nyanyian kuno, segera mainkan lagu MENGABDI TANAH AIR yang bersifat menggugah semangat kebangsaan dan kepatriotan.

Memang nyanyian itu hanyalah sebuah lagu, akan tetapi jangan dikira bahwa suara suling yang nyaring merdu itu adalah suara biasa saja. Suara itu mengandung suara sakti yang disalurkan dengan sinkang sepenuhnya. Mula-mula para pengeroyok itu berdiri melongo dan sejenak menahan gerakan, akan tetapi beberapa detik kemudian, beberapa orang di antara mereka yang kurang kuat sinkang-nya terguling dengan tubuh lemas dan gemetaran. Suara itu mempunyai pengaruh yang luar biasa besarnya, membuat mereka merasa terharu, malu kepada diri sendiri, dan menghapus semangat mereka untuk bertanding melawan bangsa sendiri, malah sekaligus melumpuhkan kaki tangan mereka.

Akan tetapi orang-orang seperti It-­gan Kai-ong, Hek Bin Hosiang, Cheng San Hwesio dan lain-lain yang cukup kuat sinkang-nya, tentu saja tidak gampang menjadi roboh. Betapa pun juga, mereka terpengaruh dan terpaksa mereka harus mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh suara aneh yang mendebarkan jantung mereka itu.

Ada sembilan orang tokoh kang-ouw yang tidak roboh oleh suara suling itu. Yang lain, ada yang roboh terguling dengan lemas, ada yang terpaksa harus bersila dan mengumpulkan tenaga untuk melawan arus hawa sakti yang mempengaruhi mereka, akan tetapi tak seorang pun yang terluka di sebelah dalam oleh suara ini karena memang Suling Emas tidak bermaksud melukai mereka. Hebat memang ilmu ini, dan kiranya di dalam dunia pada masa itu, jarang ada yang memiliki ilmu sehebat ini.

Dahulu ketika masih hidup, Pat-jiu Sin-ong sendiri belum tentu dapat mengeluarkan suara yang merobohkan puluhan orang sekaligus, dan membuat seorang tokoh seperti It­gan Kai-ong sampai harus mengerahkan tenaga dan tidak bergerak selama sepuluh menit! Inilah kehebatan Kim-kong-sin-im yang didapatkan Suling Emas dari kakek dewa Bu Kek Siansu. Padahal ilmu ini belum lama ia dapat dan belum matang betul ia latih.

Setelah berdiam diri tak bergerak selama sepuluh menit, mengumpulkan sinkang untuk melawan pengaruh suara suling yang merampas semangat dan melumpuhkan urat syaraf, perlahan-lahan It-gan Kai-ong dan delapan orang tokoh lain mulai menggerakkan kaki. Selangkah demi selangkah mereka maju, senjata siap di tangan, makin mendekati Suling Emas yang masih terus meniup suling, mencurahkan perhatiannya kepada permainan sulingnya sehingga boleh dibilang ia tidak mengetahui bahwa ada sembilan orang yang tidak terpengaruh oleh Kim-kong-sin-im dan yang kini makin mendekatinya dengan ancaman maut.

Makin dekat dengan Suling Emas, pengaruh Kim-kong-sin-im makin kuat sehingga sembilan orang tokoh itu menjadi tertahan-tahan langkahnya, bahkan tiga orang di antara mereka terpaksa berhenti melangkah setelah berada dekat, tinggal enam langkah lagi dari tempat Suling Emas duduk. Pengaruh Kim-kong-sin-im demikian hebatnya sehingga tiga orang ini merasa tubuh mereka bergoyang dan kedua kaki demikian lemas dan berat tak dapat digerakkan lagi. Terpaksa mereka tinggal berdiri dan mengerahkan sinkang agar tidak terguling roboh.

Enam orang lain, didahului oleh It-gan Kai-ong, masih dapat melangkah maju sungguh pun hanya dengan lambat dan sukar. Akan tetapi, jangankan sampai ada enam orang, baru It-gan Kai-ong seorang saja kalau pada saat itu dapat menyerang Suling Emas, tentu akan berhasil menewaskan pendekar ini karena pada saat itu Suling Emas seakan-akan berada dalam keadaan terbuka, tak terjaga sama sekali.

Enam orang itu tidak melangkah lagi kini, hanya dapat menggeser kaki maju. Sedikit demi sedikit It-gan Kai-ong dengan mata bersinar-sinar maju paling dulu, tongkatnya sudah ia angkat ke atas, siap untuk menghantam kepala musuh lamanya itu. Hatinya sudah merasa girang sekali karena ia akan merasa aman kalau musuh yang paling berat ini tewas. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi, mengikuti suara suling dan suara ini amatlah lembut akan tetapi kedengaran bersemangat sekali. “Wi-bin-wi-kok, hiap-ci-tai-cia (Bekerja untuk rakyat dan negara, itulah paling mulia)!”

It-gan Kai-ong yang sudah mengangkat tongkatnya terkejut sekali. Apa lagi setelah tiba-tiba terdengar suara yang­khim yang nyaring mengiring lagu yang dimainkan oleh Suling Emas, terjadilah hal yang luar biasa. Enam orang itu serta-merta menjatuhkan diri dan duduk bersila, meramkan mata dan mengendalikan semangat mereka yang terbawa melayang-layang oleh lagu yang diciptakan oleh suara suling dan yang-khim. Tak mampu lagi mereka bergerak, apa lagi menyerang, lenyap sama sekali nafsu bertempur.

Juga semua orang yang tadinya berada di bawah pengaruh suara suling, kini dapat menarik napas lega karena gabungan suara suling dan yang-khim ini, biar pun membuat mereka terpesona dan tak dapat bergerak, namun amat enak dan menyenangkan hati dan pikiran, membuat mereka merasa seperti melayang-layang di angkasa dan menciptakan pandangan tentang pahlawan-pahlawan pembela tanah air. Mereka seakan-akan mimpi tentang dongeng akan pahlawan-pahlawan yang paling mereka kagumi!

Perlahan-lahan gabungan suara musik itu lenyap. Keadaan menjadi sunyi kembali sungguh pun gema suara ajaib tadi masih terngiang di dalam telinga. Semua orang membuka mata dan meloncat berdiri, seakan-akan baru bangun dari pada tidur nyenyak. Kiranya di dekat Suling Emas yang masih duduk bersila di atas tanah terdapat seorang kakek tua renta yang juga duduk bersila. Seorang kakek yang berpakaian sederhana, berambut panjang sudah putih semua, juga kumis dan jenggotnya sudah putih. Akan tetapi di balik kesederhanaannya ini terpancar cahaya keagungan yang amat berwibawa. Pada punggungnya tersembul ke luar sebuah alat musik yang-khim. Wajahnya yang cerah itu membayangkan keramahan, kesabaran dan pengertian yang mendalam dan luas, yang memaksa orang memperoleh kesan baik dan menghormatnya.

Akan tetapi begitu It-gan Kai-ong mengenal kakek itu, ia berjingkrak marah dan berkata kasar, “Bu Kek Siansu! Kau berat sebelah! Percuma saja kau disebut-sebut manusia dewa yang selalu melepas budi kebaikan kepada siapa pun juga tanpa memilih bulu dan dianggap tokoh yang tak sudi lagi terikat oleh segala urusan duniawi. Akan tetapi apa buktinya sekarang? Kau membantu Suling Emas menghadapi kami semua dengan ilmu sihirmu!”

Semua tokoh yang hadir di situ terkejut bukan main mendengar disebutnya nama Bu Kek Siansu. Nama ini menjadi pujaan semua tokoh kang-ouw, bahkan setiap tahun sekali semua tokoh kang-ouw mengharapkan bertemu dengan kakek manusia dewa ini karena konon kabarnya setiap tahun apa bila bertemu dengan orang, kakek ini berkenan memberikan satu dua macam ilmu kesaktian yang jarang tandingannya di dunia ini. Sekarang secara tiba-tiba kakek itu muncul dan mendengar tuduhan It-gan Kai-ong, semua orang kini memandang kakek itu untuk mendengar jawabannya.

Kakek itu tersenyum ramah, menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri dengan gerakan perlahan. Suling Emas juga bangkit berdiri dan tanpa mengeluarkan kata-kata ia berdiri di sebelah kiri kakek itu sambil menundukkan muka dan dengan sikap menghormat.

“It-gan Kai-ong, bersabarlah dan hembuskan semua hawa nafsu yang meracuni hatimu,” kata Bu Kek Siansu, suaranya tetap sabar dan tenang serta ramah. “Aku tidak pilih kasih, tidak pula melepas budi kepada siapa pun juga dan tidak mengikat diri dengan dunia. Aku tidak membantu Suling Emas, melainkan mencegah pembunuhan orang yang tidak berdosa. It-gan Kai-ong, andai kata kau orangnya yang kena fitnah seperti Suling Emas dan akan dibunuh kemudian kebetulan aku lewat dan melihatnya, sudah tentu aku pun akan berusaha mencegah pembunuhan itu.”

“Uuhhh, pemutaran lidah! Tua bangka yang pura-pura suci!” It-gan Kai-ong memaki-maki, akan tetapi yang dimaki malah tersenyum-senyum sehingga akhirnya kakek pengemis itu menjadi jengah sendiri dan menghentikan makiannya, menoleh kepada orang banyak dan berkata, “Kawan-kawan sekalian mendengar omongannya yang busuk itu. Sudah terang Suling Emas putera tunggal Tok-siauw-kui yang telah berbuat banyak kejahatan, sudah jelas Suling Emas yang harus menebus dosa ibu kandungnya. Kakek sinting ini bilang Suling Emas kena fitnah dan tidak berdosa. He, Bu Kek Siansu, tua bangka keparat, apakah kau berani bilang bahwa ibu Suling Emas, si wanita jalang Tok-siauw-kui itu pun tidak berdosa?”

“It-gan Kai-ong, tutup mulutmu yang busuk dan kalau memang kau mencari lawan, boleh lawan aku sampai seribu jurus. Kau mengandalkan kesabaran Siansu lalu melontarkan makian dan hinaan, hemmm, sungguh tak tahu malu!” Suling Emas tiba-tiba berseru marah kepadanya.

“Ho-ho-ha-ha! Kawan-kawan lihatlah baik-baik, tadi dia tunggang-langgang melarikan diri, sekarang setelah ada pembelanya menjadi galak dan sombong! Suling Emas, kau boleh menunggu giliran, sekarang kami berurusan dengan kakek tua bangka mau mampus ini. He, Bu Kek Siansu, kau jawablah!”

Sukarlah mencari orang yang sudah sedemikian teguh jiwanya seperti Bu Kek Siansu. Dimaki dan dihina seperti ini, sama sekali tidak marah, bahkan sedikit pun ia tidak berpura-pura sabar. Di bagian depan dari cerita ini sudah dituturkan betapa ia dicurangi oleh Hek-giam-lo, It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni, yang tidak saja berusaha membunuhnya, akan tetapi juga merampas kitab dan yang-khim, namun sama sekali kakek dewa ini tidak menaruh dendam atau marah. Kini pun, dimaki oleh jembel iblis itu, ia hanya tersenyum, wajahnya tetap cerah, pandang matanya tetap penuh kasih.

“It-gan Kai-ong, aku tidak mau bilang bahwa selama hidupnya, Tok-siauw-kui Liu Lu Sian tak pernah berbuat dosa. Akan tetapi, agaknya lebih baik sering kali kena fitnah dari pada sungguh-sungguh berdosa. Tentu saja aku tidak tahu akan semua urusannya, akan tetapi ada beberapa urusan yang kuketahui benar. Sebagian besar dari pada kalian yang kini menumpahkan dendam kepada Suling Emas, ternyata telah melontarkan fitnah yang tidak disengaja karena mungkin tidak tahu, akan tetapi aku banyak mengetahui urusannya dan sama sekali tidak boleh terlalu disalahkan kepada Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, apa lagi pada puteranya ini.”

Ucapan kakek ini bukan hal aneh karena memang semua orang sudah mendengar belaka akan sepak terjang yang aneh dan luar biasa dari kakek Bu Kek Siansu. Kalau kakek ini mengetahui akan semua urusan di dunia kang-ouw, hal itu tidaklah mengherankan. Semenjak puluhan tahun yang lalu, nama Bu Kek Siansu terkenal mengatasi semua nama-nama besar seperti nama Pat-jiu Sin-ong tokoh Beng-kauw, atau pun Kim-mo Taisu si Manusia Emas yang menggemparkan kolong langit.

Kali ini orang tidak menjadi heran kalau kakek sakti itu tahu pula akan urusan Tok-siauw-kui. Akan tetapi pernyataan Bu Kek Siansu bahwa Tok-siauw-kui tidak berdosa, benar-benar mendatangkan rasa penasaran di hati banyak tokoh yang mendendam kepada wanita itu dan yang kini hendak menumpahkan dendamnya kepada putera Tok-siauw-kui. Karena merasa penasaran, Cheng San Hwesio segera melangkah maju, menjura kepada Bu Kek Siansu dan berkata lantang.

“Omitohud! Benar-benar pinceng (aku) yang sudah tua dan tak lama lagi berada di dunia mendapat berkah besar dengan perjumpaan ini! Telah puluhan tahun mendengar nama besar yang mulia dari Bu Kek Siansu dan pinceng hendak menggunakan kesempatan baik ini untuk mohon petunjuk. Siansu yang dimuliakan, dua puluh tahun lebih yang lalu, seorang janda muda telah membunuh tiga orang suheng-ku dari Siauw-lim-pai, kemudian menculik seorang sute-ku yang kemudian lenyap tak tentu rimbanya. Janda muda yang cantik dan berwatak iblis itu bukan lain adalah Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, puteri dari ketua Beng-kauw. Mohon petunjuk Siansu, apakah dalam urusannya dengan pihak Siauw-lim-pai ini Tok-siauw­kui Liu Lu Sian tidak bersalah?”

Si kakek tua renta mengangguk-angguk, “Saudara-saudara sekalian. Kebetulan sekali Tok-siauw-kui pernah menceritakan semua dosa-dosanya kepadaku dan minta petunjuk pula, oleh karena itu aku banyak tahu akan urusannya.” Ia menarik napas panjang dan mengingat-ingat wanita yang menjadi biang keladi semua keributan ini. “Dan urusannya dengan Siauw-lim-pai juga telah kuketahui. Hwesio yang baik, kalian dari Siauw-lim-pai memang selamanya jujur, keras dan berdisiplin. Kematian tiga orang suheng-mu dalam pertandingan melawan Tok-siauw-kui adalah karena tiga orang suheng-mu kalah pandai. Ada pun yang menjadi sebabnya adalah sute-mu yang sama sekali bukan diculik oleh Tok-siauw-kui, melainkan karena tergila-gila dan memang mengadakan perhubungan gelap dengan Liu Lu Sian sehingga hal itu membuat tiga orang suheng-mu marah-marah dan hendak membunuh sute-mu. Tok-siauw-kui membela kekasihnya dan tiga orang suheng-mu tewas dalam pertempuran. Nah, Cheng San Hwesio, biar pun dalam hal ini Tok siauw kui boleh jadi mempunyai kesalahan karena berjinah dengan sute mu, namun pihak Siauw-lim-pai juga mempunyai kesalahan, yaitu apa yang dilakukan oleh sute-mu. Kiranya tidak patut kalau hendak menimpakan kesalahan ini kepada putera Tok-siauw-kui yang tidak tahu apa-apa dalam urusan itu. Apa lagi kalau diingat bahwa kalian dari Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang menjadi murid Buddha. Ke manakah pelajaran welas asih dan cinta kasih yang menjadi pokok pelajaran agamamu? Cheng San Hwesio, harap kau jangan lupa bahwa balas dendam adalah buah dari pada benci yang menjadi senjata setan untuk menyeret manusia ke lembah kesesatan. Sebaliknya rela maaf adalah buah dari pada cinta kasih yang akan menjadi obor bagi manusia menuju jalan kebajikan.”

“Omitohud... kata-kata mutiara Siansu bagaikan air sungai gunung yang dingin menyegarkan orang kehausan. Terima kasih, Siansu. Suling Emas, urusan ibu kandungmu sudah selesai oleh kematian Tok-siauw-kui, mulai sekarang Siauw-lim-pai takkan mempersoalkannya lagi. Pinceng sudah bicara!” Hwesio ini memberi hormat kepada Bu Kek Siansu, lalu berlari dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu.

“Omitohud... Bu Kek Siansu telah memuaskan hati Cheng San Hwesio. Siansu yang bijaksana, pinceng harap kau akan dapat memberi penerangan pula kepada pinceng! Dua puluh tahun lebih yang lalu, Tok-siauw-kui mencuri kitab pusaka dari Go-bi-pai. Sekarang Tok-siauw-kui sudah meninggal dunia dan kitab itu masih lenyap dari Go-bi-pai. Kalau sekarang pinceng menuntut kepada putera tunggalnya agar kitab itu dikembalikan, bukankah hal ini sudah adil dan patut?”

“Hwesio yang baik dari Go-bi-pai, sudah sewajarnya yang kehilangan mencari yang mencuri dan mengembalikan. Akan tetapi Tok-siauw-kui sudah meninggal dunia dan sudah sewajibnya kalau kitab itu ditinggalkan kepada Suling Emas, ia harus mengembalikannya kepadamu. Kim-siauw-eng (Suling Emas) apakah kau mendapat peninggalkan sesuatu dari ibumu termasuk kitab Go-bi-pai itu?”

Suling Emas menggeleng kepalanya. “Teecu (murid) tidak menerima peninggalan sesuatu dan tak pernah mendengar tentang kitab pusaka Go-bi-pai.”

Bu Kek Siansu mengelus jenggotnya yang putih. “Kalau begitu, sudah menjadi kewajiban Suling Emas untuk membantu pihak Go-bi-pai mencari kembali kitab itu agar dikembalikan kepada Go­bi-pai yang berhak memilikinya, di samping berbakti kepada ibu kandung. Sanggupkah kau, Kim-siauw-eng?”

“Teecu sanggup. Hek Bin Hosiang, apakah nama kitab itu?”

“Kitab yang dicurinya adalah kitab Cap-sha-seng-keng (Kitab Tiga Belas Bintang) yang mengandung pelajaran I­kin-swe-jwe (Mengganti Otot Mencuci Sumsum)!”

Suling Emas mengangguk-angguk. “Harap Lo-suhu sudi memberi waktu, saya akan berusaha mencarinya dan mengembalikannya ke Go-bi-pai.”

Wajah hitam hwesio Go-bi-pai itu berseri. “Bagus! Kalau Suling Emas sudah sanggup mencari dan mengembalikan, pinceng cukup puas dan hal itu pasti akan terlaksana. Kiranya ketua kami juga akan menghabiskan perkara ini, apa lagi setelah Bu Kek Siansu yang mulia menjadi penengah! Maaf, pinceng tak dapat lebih lama tinggal di sini.” Hwesio ini pun menjura kepada Bu Kek Siansu, lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Bu Kek Siansu gembira sekali. “Nah, nah, bukankah segala hal dapat diselesaikan? Bukankah kita dapat mengatasi segala macam kesulitan kalau kita mau bertindak dengan landasan cinta kasih?”

“Maaf... aku....”

Suling Emas mengerutkan kening dan sinar matanya agak gugup ketika ia melihat gadis baju hijau melangkah maju dan mengeluarkan kata-kata terputus-putus itu. Muka gadis itu sebentar pucat sebentar merah.

“Ya, apa yang hendak kau bicarakan, Nona Muda?” Bu Kek Siansu menenangkannya dengan kata-kata halus.

“Maaf, Siansu...,” Gadis itu memberi hormat. “Teecu sudah lama mendengar nama Siansu yang dipuja sebagai dewa, bahkan di waktu ayah masih hidup, ayah sering kali mendongeng tentang Siansu yang amat dikagumi ayah. Akan tetapi ayah... ah, ayah meninggalkan teecu dalam keadaan menyedihkan. Ayahku telah dibunuh oleh Tok-siauw-kui setelah iblis wanita itu berhasil membujuk ayah dan mengelabui ayah sehingga ayah menurunkan ginkang keluarga kami kepada Tok-siauw-kui. Wanita iblis yang palsu dan jahat itu sebagai tanda terima kasih malah membunuh ayah. Siansu, setelah Tok-siauw-kui meninggal, kepada siapa lagi teecu membalas kalau bukan kepada puteranya? Kalau teecu tidak membalas dendam ayah ini, bukankah teecu akan menjadi seorang anak yang puthauw (tidak berbakti)?” Di dalam suara gadis ini terkandung isak.

“Nona, siapakah ayahmu?”

“Ayah adalah Hui-kiam-eng Tan Hui...”

Mendengar nama ini, semua orang menengok dan ada yang berseru perlahan. Nama besar Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang) Tan Hui sudah amat terkenal dan mereka tadinya tidak menyangka bahwa gadis baju hijau yang cantik dan gagah ini adalah puteri pendekar itu. Maklumlah, mereka semua adalah orang-orang yang tadinya menjadi tamu di Nan-cao.

Ketika mereka keluar dari Nan-cao, di jalan mereka terbujuk oleh ucapan It-gan Kai-ong yang mengajak musuh-musuh Tok-siauw-kui membalas dendam mereka kepada putera tunggalnya. Semua tokoh kang-ouw mengenal belaka siapa adanya Hui-kiam-eng Tan Hui jago pedang yang memiliki ilmu ginkang luar biasa sekali sehingga kalau ia main pedang, seakan-akan jago ini terbang bersama pedangnya sehingga ia dijuluki Pendekar Pedang Terbang.

“Ahhhhh... dia itu ayahmu? Nona, kebetulan sekali aku sendiri tahu akan hal ayahmu dan Tok-siauw-kui, karena di antara semua yang diceritakanya, soal ayahmu ia ceritakan dengan jelas. Ketahuilah bahwa semenjak meninggalkan suaminya di kaki gunung Cin-ling-san, laki-laki pertama yang merebut hati Tok-siauw-kui adalah ayahmu yang pada waktu itu menjadi duda pula. Mereka itu saling mencinta, dan demikian besar cinta ayahmu sehingga ayahmu mengajarkan ginkang-nya kepada Tok-siauw-kui. Hal itu terjadi dua puluh tahun lebih yang lalu, agaknya kau masih kecil...”

“Teecu baru berusia lima tahun ketika ayah meninggal. Teecu lalu dipelihara oleh paman teecu berikut warisan kitab­kitab pelajaran dari ayah...,” kembali suara ini tercampur isak.

“Begitulah. Ayahmu jatuh cinta bersama Tok-siauw-kui dan agaknya mereka akan menjadi suami isteri kalau saja ayahmu tidak mendengar akan latar belakang riwayat hidup Tok-siauw-kui. Ayahmu menjadi kecewa, lalu mendekati gadis lain yang dicalonkan menjadi isterinya. Tok-siauw-kui menjadi cemburu, marah, terjadi percekcokan sehingga mereka bertempur yang mengakibatkan tewasnya ayahmu. Nah, bukankah kematian ayahmu itu bukan semata-mata akibat kejahatan Tok-siaw-kui, akan tetapi banyak tali temalinya dan sebagian besar sebabnya adalah karena ayahmu sendiri?”

Wajah Bu-eng-sin-kiam Tan Lian menjadi pucat. “... tapi... betulkah itu, Siansu...?”

“Begitulah kiranya. Kau dapat bertanya-tanya kepada pamanmu atau mereka yang mengetahuinya. Begitulah hidup di dunia ini, Nona. Kejadian yang sudah semestinya terjadi, akan terjadilah. Tiada kekuasaan lain di dunia ini mampu mengubahnya. Setiap kejadian di dunia ini sudah sewajarnya, tidak mempunyai sifat menyenangkan atau menyusahkan, wajar dan sudah semestinya. Kalau toh mengakibatkan senang dan susah, bukan kejadian itu yang mengakibatkan, melainkan si orang itu sendiri yang menghadapi kejadian. Kalau dibuat susah, akan susahlah ia, kalau dibuat senang, akan senanglah ia. Ayahmu sudah mati, juga Tok-siauw-kui sudah mati. Kau yang masih hidup, mengapa harus melibatkan diri dengan urusan mereka yang sudah mati?”

Wajah yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah. Beberapa kali ia mengerling ke arah Suling Emas, kemudian dengan isak tertahan ia melompat dari situ dan sekali berkelebat lenyaplah nona itu. Semua orang menjadi kagum dan terbuktilah kehebatan ginkang yang disohorkan orang dari keluarga Hui-kiam-eng Tan Hui.

“Wah-wah, tua bangka ini menggunakan sihirnya untuk melemahkan semangat orang!” It-gan Kai-ong membanting-banting tongkatnya ke atas tanah. “Kawan-kawan semua, kita pergi saja jangan sampai dia sempat mengelabui kita dengan omongan-omongan busuk dan ilmu sihir. Kita laki-laki sejati, bukan banci, sekali mempunyai cita-cita membalas dendam dan berbakti kepada yang sudah mati, hanya maut yang dapat menghentikan cita-cita itu. Mari kita pergi, lain kali masih banyak waktu untuk menghukum putera tunggal Tok-siauw-kui!”

Memang para tokoh kang-ouw itu merasa jeri dan juga sungkan untuk bermusuhan dengan Bu Kek Siansu, maka mendengar ucapan It-gan Kai-ong ini, berturut-turut mereka meninggalkan tempat itu. Setelah semua orang pergi, Suling Emas menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Kek Siansu.....

Kakek ini mengerutkan keningnya, berkata halus, “Kim-siauw-eng, ke mana perginya keteguhan hatimu? Mengapa saat ini kau terserang kelemahan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kegagahanmu? Laki-laki sama sekali pantang untuk turun semangat dan membiarkan hatinya digerogoti perasaan duka. Apakah yang mengganggu pikiranmu, orang muda?”

“Locianpwe, teecu berterima kasih bahwa Locianpwe telah menyelamatkan teecu dari pada bahaya maut. Akan tetapi kesedihan hati teecu lebih besar dari pada rasa syukur telah bebas dari kematian. Mendengar semua orang membenci teecu karena mendiang ibu, tidaklah mengguncangkan perasaan teecu. Akan tetapi mendengar kenyataan bahwa ibu kandung teecu dahulunya begitu keji dan jahat, hal inilah yang menghancurkan hati teecu. Mohon petunjuk Locianpwe.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Aku sudah heran tadi mengapa kau hanya menghadapi orang-orang yang mengancam nyawamu dengan Kim-kong-sin-im saja, padahal kalau kau melawan mereka dengan Hong-in-bun-hwat dan dengan ilmu silatmu yang lain, kau takkan terancam bahaya maut. Kiranya kau merasa betapa ibumu berdosa dan kau sengaja hendak mengorbankan diri menebus dosanya! Orang muda, ibumu memang memiliki watak yang keras. Akan tetapi ia hanya seorang manusia biasa saja, seperti manusia-manusia lain ia pun mempunyai kelemahan. Manusia adalah makhluk yang lemah dan karenanya mudah lupa akan kemanusiaan. Tidak ada manusia baik atau jahat di dunia ini, semua sama saja karenanya dengan dasar pikiran ini orang budiman mengasihi semua manusia tanpa pandang perbedaan. Yang suka disebut orang jahat adalah orang yang sedang lupa, dilupakan oleh nafsu ingin senang sendiri, ingin menang sendiri, ingin enak sendiri, tanpa mempedulikan keadaan orang lain, maka perbuatannya yang ditunggangi nafsu-nafsu demikian itu merugikan orang lain. Orang yang dirugikan tentu akan menganggapnya jahat. Sebaliknya, orang yang sedang sadar, bebas nafsu, tentu akan timbul peri-kemanusiaannya dan melakukan perbuatan yang menguntungkan atau menyenangkan orang lain. Orang yang diuntungkan atau disenangkan demikian itu tentu akan menganggapnya baik. Jadi pada umumnya, manusia menilai baik atau jahat itu didasarkan pada akibat menguntungkan atau merugikan dirinya yang sebetulnya juga menjadi rangkaian dari pada nafsunya sendiri.”

Suling Emas mengangguk-angguk, “Teecu dapat memahami filsafat yang Locianpwe ajarkan. Mungkin mendiang ibu melakukan semua itu karena lemah dan lupa, ingin mengumbar nafsu sehingga akibatnya merugikan banyak orang dan menimbulkan benci. Sekarang mereka hendak menuntut kepada teecu, bagaimana teecu harus berbuat? Locianpwe, biar pun ibu dikatakan orang jahat, namun ia adalah ibu kandung teecu dan teecu belum pernah melakukan sesuatu kebaktian bagi ibu, belum dapat membalas kesengsaraan ibu ketika ibu mengandung dan melahirkan serta memelihara teecu. Apakah yang teecu harus lakukan?”

“Sudah kukatakan tadi, Kim-siauw-eng, bahwa orang-orang yang merasa dirugikan menjadi marah dan benci. Benci menimbulkan dendam. Dendam menimbulkan perbuatan merugikan pihak lain sehingga timbul dendam-mendendam yang tiada habisnya, rangkaian permainan karma. Orang membenci takkan kehabisan bahan untuk mencela, sebaliknya orang mencinta takkan kehabisan bahan untuk memuji. Karena dasarnya hanya dirugikan atau diuntungkan, maka kedua perasaan itu mudah berubah. Benci berubah cinta setelah yang dibenci mendatangkan untung, baik di bidang benda mau pun perasaan. Sebaliknya cinta bisa berubah benci setelah yang dicinta mendatangkan rugi. Karena itu, jangan kau pusingkan siapa orangnya yang membencimu atau mencintamu. Semua harus kau pandang sama, dengan pandangan kasih sayang antar manusia. Kalau toh kau hendak menebus perbuatan-perbuatan ibumu yang dianggap dosa, kau lakukanlah sebanyak-banyaknya hal-hal yang menguntungkan dan menyenangkan hati orang lain, atau yang lazim disebut kebaikan. Dengan perbuatan baik berarti kau mengangkat tinggi nama orang tua, termasuk ibumu. Tapi jangan sekali-kali kau lupa akan kewajibanmu sebagai satria, yaitu membela si lemah tertindas, menyadarkan si kuat penindas, baik dengan nasihat mau pun dengan ilmu kepandaianmu. Orang-orang yang lupa dan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, perlu disadarkan, baik dengan jalan halus mau pun kasar. Kau mengerti maksudku, bukan?”

Suling Emas mengangguk. “Terima kasih, Locianpwe.”

“Sekarang mari kau perdalam Kim-kong Sim-im, tadi kudengar latihanmu ada beberapa bagian yang kurang sempurna.”

Kakek itu lalu bersila di depan Suling Emas, menurunkan yang-khim dan mulai mainkan yang-khim-nya. Suling Emas cepat-cepat mengambil sulingnya dan tak lama kemudian di tempat yang sunyi itu kembali terdengar paduan suara yang-khim dan suling, melagukan nyanyian yang amat merdu, akan tetapi yang mengandung pengaruh luar biasa sekali sehingga keadaan di lembah itu amat aneh.

Kadang-kadang paduan suara itu terdengar seperti badai mengamuk sehingga keadaan sekelilingnya menjadi makin sunyi karena binatang-binatang hutan tidak ada yang berani muncul mau pun bersuara. Di lain saat terdengarlah paduan suara yang lembut merayu seperti bisikan-bisikan angin lalu, seperti kicau burung dan gemerciknya air anak sungai yang bening, sehingga burung-burung di hutan itu mulai ikut berkicau, binatang-binatang mulai keluar dari tempat sembunyi mereka dan suasana menjadi tenteram dan penuh damai.

Lebih dua jam mereka berlatih. Akhirnya paduan suara itu menghilang dan dengan senyum puas kakek Bu Kek Siansu meninggalkan Suling Emas yang masih berlutut di atas tanah.

“Tugasmu amat banyak, Suling Emas. Berbahagialah manusia yang masih mempunyai tugas-tugas dalam hidupnya, karena tidak ada yang lebih mulia dalam hidup ini selain menunaikan tugas-tugas hidup, mempergunakan tenaga dan pikirannya yang amat dibutuhkan orang lain.”

“Locianpwe, setelah semua tugas teecu selesai, teecu ingin sekali ikut Locianpwe menuntut ilmu bertapa dan menjauhkan diri dari pada urusan dunia.”

Kakek itu tertawa dan mengelus-elus jenggotnya yang putih. “Lamunan semua orang muda yang sedang diamuk duka nestapa. Tunggu saja kalau kau sudah bertemu dengan jodohmu, ha-ha-ha, mungkin kupaksa ikut pun kau akan menolak! Selamat tinggal!” Maka pergilah kakek itu.

Sepergi kakek sakti Bu Kek Siansu Suling Emas duduk terus bersila sambil termenung. Tunggu kalau dia bertemu jodohnya? Apa arti ucapan kakek sakti itu? Ia maklum bahwa Bu Kek Siansu adalah seorang sakti yang sukar dicari bandingnya pada masa itu, dan bahwa kakek itu selain memiliki kesaktian, juga memiliki ilmu kebatinan yang dalam. Akan tetapi, dalam hal jodoh, tiada manusia di dunia ini lebih berkuasa dari pada Dewa jodoh yang sudah diberi tugas oleh Thian untuk mengurus soal-soal perjodohan manusia di permukaan bumi. Dan oleh Dewa jodoh, pertaliannya dengan satu-satunya wanita yang pernah ia cinta, pertalian kasih sayang yang mendalam, agaknya telah diputuskan. Ataukah ini yang dibilang bahwa wanita itu bukan jodohnya? Akan tetapi dia satu-satunya gadis yang pernah ia cinta, ia sayang, seperti hatinya!

“Ceng Ceng... kekasihku...,” terdengar ia berbisik, merupakan keluhan yang langsung keluar dari hatinya yang terluka.

Terbayanglah wajah seorang wanita yang ayu, yang lemah lembut dan yang sikapnya agung. Wajah jelita gadis pujaan hatinya, Suma Ceng. Terbayanglah dengan amat jelasnya di dalam ingatan, sepuluh tahun yang lalu. Ia masih menjadi seorang pegawai muda yang dipercaya oleh Pangeran Suma Kong di kota raja, bahkan diberi tempat tinggal di sebuah bangunan samping gedung pangeran itu.

Masih jelas terbayang pertemuan pertama kali dengan Suma Ceng, puteri pangeran itu. Bulan bersinar indah dan penuh pada malam itu. Ia duduk di dalam taman bunga Pangeran Suma yang luas, duduk di depan pondok taman sambil meniup suling, permainan yang digemarinya semenjak ia kecil. Kemudian, bagaikan Sang Dewi Malam atau Dewi Purnama sendiri turun ke dunia, puteri jelita itu muncul, tertarik oleh suara sulingnya.

“Ceng Ceng...,” kembali Suling Emas menarik napas panjang dalam lamunannya.

Teringat dan terbayanglah semua itu. Betapa mesra pertemuan itu. Betapa sinar mata mereka yang bicara dalam seribu bahasa, mewakili bibir yang tak pandai berkata-kata. Kemudian betapa mimpi muluk itu menjadi hancur berantakan oleh kenyataan yang tak dapat dibantah lagi. Ia hanya seorang pelajar yang tak pernah lulus ujian, Suma Ceng puteri seorang pangeran, bahkan pangeran yang menjadi majikannya!

Namun betapa cinta kasih membikin ia buta akan kenyataan ini, membuat Suma Ceng juga buta bahkan ia tak mungkin berjodoh dengan seorang pegawai biasa. Mereka bagaikan mabuk asmara, asyik dan masyuk, dibuai gelora cinta kasih yang mendalam. Hubungan dilanjutkan, hanya bulan dan kadang-kadang malam gelap yang menjadi saksi akan pertalian cinta kasih di antara mereka yang makin mendalam.

Akhirnya, semua mimpi muluk berakhir. Dalam lamunannya, Suling Emas mengeluh. Pertemuannya dengan kekasihnya ketahuan. Ia seorang pemuda lemah ketika itu. Ia dihajar, dihukum, hampir dibunuh, akhirnya ia tertolong oleh Kim-mo Taisu yang kemudian menjadi gurunya (baca cerita Suling Emas yang amat menarik).

“Ceng Ceng...!” Suling Emas mengusir ingatan tentang kesengsaraan yang dideritanya semejak hubungannya dengan Suma Ceng ketahuan.

Ia kembali memaksa ingatannya membayangkan wajah kekasihnya yang jelita. Wajah yang mirip dengan wajah Lin Lin, yang kemudian dalam lamunannya berubah perlahan-lahan menjadi wajah Lin Lin! Ia mengerutkan kening, lalu menggoyang-goyang kepalanya keras-keras sehingga bayangan itu lenyap dari pandang matanya.
Suling Emas bangkit berdiri, sikapnya tenang, wajahnya biasa, akan tetapi jantung di dalam dadanya seakan-akan menjeritkan nama itu berkali-kali, “Ceng Ceng... Ceng Ceng...!” Jeritan yang membuat ia makin lama makin rindu kepada yang punya nama ini.

Makin dipikirkan, makin perih hatinya. Selama hidup di dunia ini, hanya ada dua orang saja yang selalu berada di hatinya. Orang pertama adalah ibu kandungnya, orang kedua adalah Suma Ceng. Akan tetapi ibunya yang semenjak kecil ia rindukan, ia harap-harapkan perjumpaan dengan ibunya, ternyata begitu bertemu lalu meninggal dunia dan meninggalkan nama yang dibenci oleh dunia kang-ouw, yang dianggap jahat.

Ada pun Suma Ceng, gadis yang dicinta dan mencintainya, telah direnggut orang dari pelukannya, kini telah menjadi isteri orang lain! Apa lagi yang diharapkan di dunia ini? Untuk apa lagi ia hidup? Sudah sepatutnya kalau ia ikut dengan kakek Bu Kek Siansu, bertapa dan mengasingkan diri dari dunia ramai. Akan tetapi kakek sakti itu bilang bahwa kalau ia bertemu dengan jodohnya, diajak bertapa pun ia takkan mau?

Semua renungan ini membuat ia merasa makin rindu kepada Ceng Ceng yang masih hidup. Andai kata ibu kandungnya masih hidup, tentu ia akan mendekati ibunya dan berusaha melupakan Suma Ceng yang sudah menjadi isteri orang lain. Bahkan andai kata ayahnya masih hidup, ia tentu akan mendekati ayahnya yang selama ini ia benci karena berpisah dari ibunya. Akan tetapi kedua orang tuanya sudah meninggal, hanya Suma Ceng yang masih hidup.

“Ceng Ceng... aku harus menemuimu... sekali lagi...!”

Tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Tujuannya adalah kota raja di mana Suma Ceng berada! Ada memang ingatan akan tugas-tugasnya berkelebat di benaknya, namun ia sengaja mengesampingkan dulu tugas-tugas ini. Setelah bertemu dengan Suma Ceng, baru ia akan melaksanakan tugas-tugas itu. Merampas kembali tongkat Beng-kauw, mewakili ibu kandungnya ke puncak Thai-san untuk menghadapi tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai. Merampas kembali Lin Lin dari tangan orang-orang Khitan dan menyuruh tiga orang adik-adiknya kembali ke Cin-ling-san. Mengurus perjodohan, apa bila mungkin, antara Bu Sin dengan Liu Hwee, dan tugasnya yang terakhir, seperti dipesankan oleh Bu Kek Siansu, yaitu memupuk perbuatan-perbuatan bermanfaat dan baik bagi orang lain untuk mengangkat kembali nama ibu kandungnya. Dengan ilmu lari cepatnya yang luar biasa, sebentar saja tubuh Suling Emas tampak jauh, hanya sebesar titik hitam yang dalam beberapa detik berikutnya lenyap sudah.

********************


Seperti sudah menjadi sifat orang-orang kaya mau pun pembesar-pembesar yang berkuasa, mereka adalah orang-orang malas, yang enggan bekerja berat namun ingin mendapatkan hasil yang sebanyak mungkin, tentu saja ada kecualinya yaitu mereka yang tidak mabuk akan harta dan kedudukan. Mereka bangun siang, tidur malam-malam karena tiada hentinya mengejar kesenangan, malas dan ingin menang sendiri, ingin berkuasa saja dan enggan dikalahkan.

Karena inilah agaknya, bangunan di sekitar istana yang dihuni oleh kaisar, para pangeran dan pembesar istana, amat sunyi di waktu pagi, dan baru nampak ramai dan hidup kalau matahari sudah naik tinggi. Kalau orang boleh melongok ke dalam kamar-kamar para manusia yang kebetulan dinasibkan menjadi pembesar dan penguasa itu, akan tampaklah orang-orang ini masih tidur mendengkur, bertilam kasur empuk bersutera kembang, berselimut tebal dan lunak. Para pelayan tidak ada yang berani mengeluarkan suara keras, berjalan pun berjingkat agar tidak menimbulkan gaduh.

Namun pada pagi hari itu, seperti biasa pula, dalam sebuah taman bunga yang indah di belakang dan samping kiri sebuah bangunan mungil, termasuk sebuah di antara gedung-gedung dalam lingkungan istana, terdengarlah suara suling. Suling ini bunyinya cukup nyaring, akan tetapi pendek-pendek dan tidak dapat dibilang merdu, bahkan ada tanda-tanda bahwa yang meniupnya adalah seorang anak-anak. Lagunya adalah lagu kanak-kanak yang sederhana.

“Liong-ji (Anak Liong), suka sekalikah kau meniup suling?” terdengar suara halus seorang wanita.

Suara suling berhenti. Kiranya di dalam taman bunga yang indah itu, pagi-pagi sekali sewaktu penghuni gedung-gedung yang lain masih mendengkur, terdapat seorang wanita muda yang menilik pakaian dan gerak-geriknya pasti adalah seorang nyonya bangsawan. Usianya masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun, wajahnya cantik sekali dan wajahnya itu membayangkan kehalusan budi dan keagungan. Ia memondong seorang anak laki-laki yang berusia kurang lebih satu tahun. Seorang anak laki-laki lain berusia empat tahun berlari-lari ke sana ke mari sambil tertawa-tawa, se­akan-akan ia hendak mengejar burung-burung kecil yang beterbangan sambil berkicau gembira di pagi hari itu.

Anak yang menyuling adalah seorang anak laki-laki pula, usianya sembilan sepuluh tahun. Anak ini duduk di atas sebuah bangku dan asyik memegang sebatang suling bambu yang tadi ditiupnya. Mendengar pertanyaan wanita tadi, ia berhenti meniup dan menjawab, “Aku suka sekali, Ibu.”

Sejenak wajah cantik itu termenung, kemudian memaksa keluar sebuah senyum sambil berkata, “Aku akan suruh mencarikan seorang guru suling untuk mengajarmu, Liong-ji. Maukah kau belajar meniup suling?”

Anak itu mengangguk-angguk gembira, lalu meniup lagi sejadi-jadinya. Ibunya memandang dengan penuh perhatian, jantungnya serasa tertikam yang membuatnya terharu, komat-kamit mengeluarkan kalimat yang hanya ia dengar sendiri. “... serupa benar....”

Akan tetapi ia segera dapat menguasai hatinya lagi sambil tersenyum-senyum geli melihat puteranya yang kedua berusaha mengejar burung-burung di udara dan membuat gerakan menangkap.

“Sun-ji (Anak Sun), hati-hati jangan lari-lari, nanti jatuh!”

“Bu, aku ingin bisa terbang seperti burung!” anak kedua itu berseru gembira dengan suara pelo dan lucu, kemudian membuat gerakan dengan kedua lengannya digerakkan seperti sepasang sayap burung, mulutnya menirukan bunyi burung bercuat-cuit.

Si ibu gembira melihat anak-anaknya sehat-sehat, lalu diciumnya muka puteranya yang ketiga, yang tertawa-tawa gembira.

Pagi yang gembira, sehat dan menyegarkan jiwa raga, akan tetapi yang juga membangkitkan kenang-kenangan lama. Hal ini dapat dilihat dari wajah cantik ibu muda ini, sebentar ia bergembira terpengaruh oleh tiga orang anaknya, sebentar lagi ia termenung seperti ingat akan sesuatu yang membangkitkan kenang-kenangan yang berkesan. Anak yang dipanggil Liong itu sudah bersuling lagi, dengan amat tekun dan sungguh-sungguh ia meniup dan berganti-ganti menutupi lubang-lubang suling dengan jari-jari tangannya yang kecil.

“... Ceng Ceng...!” Suara ini tertahan dan tersendat, seakan-akan sukar keluar dari mulut yang punya suara.

Wanita itu tersentak kaget dan serentak bangkit berdiri dari bangkunya sambil memondong anaknya yang paling kecil. Suara itu! Seketika wajahnya berubah pucat. Hanya ada satu orang saja di dunia ini yang memanggil namanya dengan suara seperti itu! Kedua kakinya menggigil dan ia tidak mau menggerakkan tubuh, tidak mau memutar tubuh menengok ke belakang ke arah suara, karena ia khawatir kalau-kalau suara tadi hanya suara dari kenangannya sehingga kalau ia menengok dan tidak melihat sesuatu, ia akan kecewa. Ia meramkan mata, diam-diam ingin menikmati kenangan lama yang sedemikian mendalam dan menggores kalbunya sehingga di pagi hari yang indah ini ia sampai-sampai mendengar suara orang yang menjadi sebab lamunannya.

“Ceng Ceng...!”

Wanita itu mengeluarkan seruan tertahan, setengah isak. Kemudian dengan tiba-tiba dan cepat sekali, seakan-akan takut kalau orang yang bersuara itu sudah pergi lagi, ia memutar tubuh memandang.

“Bu Song Koko (Kanda Bu Song)...! Kau... kaukah ini...? Kau di sini...?” Ia melangkah maju dua tindak, kemudian pandang matanya yang tadi melekat pada wajah laki-laki itu kini menurun, berhenti pada dada di mana terdapat gambar sebatang suling dari benang emas.

“Koko... kau... kau Suling Emas...?”

Dua pasang mata bertemu pandang, dua sinar mata saling belit, saling dekap, saling cumbu dan saling menampakkan rasa rindu birahi yang ditahan-tahan selama sepuluh tahun. Wanita itu memandang dengan mulut agak terbuka, terengah-engah dan dari sepasang matanya yang bening itu bertitik butiran-butiran air mata seperti mutiara.

Keduanya mempunyai hasrat yang sama, ingin lari maju dan saling rangkul, namun keduanya menahan gelora hati ini sekuat tenaga. Akhirnya, melihat butiran-butiran air mata itu, laki-laki yang bukan lain adalah Suling Emas ini, secepat kilat membalikkan tubuhnya, wajahnya pucat sekali dan ia berdongak ke atas, meramkan kedua matanya, bibirnya agak menyeringai tanda betapa perihnya hati, seperti ditusuk-tusuk pedang rasanya. Kemudian ia membuka pelupuk mata, mengejap-ngejapkannya untuk menahan agar jangan sampai kedua matanya yang terasa panas dan gemetar itu menitikkan air mata.

Kebetulan sekali ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat bocah yang memegang suling kini sudah berdiri di dekatnya. Melihat anak ini, Suling Emas menggerakkan tangan kiri dan mengelus-elus kepala yang gundul itu. Bocah ini dapat ia pergunakan untuk landasan kuat bagi perasaannya, untuk menolak gelora cinta dan keharuan yang seakan-akan hendak menjebol bendungan hatinya.

“Kau... kau pandai bersuling, Nak?” ia bertanya, suaranya serak, tanda bahwa hatinya penuh gelora dan haru, dan bahwa hampir saja pendekar sakti ini tadi terisak menangis.

Bocah itu tertawa dan mengangguk.

“Cobalah kau menyuling untukku. Kau mau diajar meniup suling?”

“Mau...! Mau saja... Ibu tadi bilang hendak memanggil guru suling. Apakah kau ini gurunya, Paman?”

Suling Emas tersenyum dan mengangguk. Anak itu lalu meniup lagi sulingnya. Suling Emas mendengar isak tertahan di belakangnya, lalu disusul suara yang pilu dan gemetar, penuh perasaan.

“Kau... kau datang... apakah kehendakmu, Koko...?”

Suling Emas menarik napas panjang, masih membelakangi wanita itu dan tangan kirinya masih meraba-raba kepala bocah yang menyuling.

“Tadinya aku sudah bersumpah pada diri sendiri takkan mengganggumu, Ceng Ceng, takkan menemuimu selama hidupku agar lukaku tidak semakin parah....” Ia berhenti dan tidak melanjutkan kata-katanya yang tertelan oleh isak.

“Song-koko, aku pun sama sekali tidak mengira akan dapat bertemu lagi denganmu. Sama sekali aku tidak menyangka bahwa Suling Emas pendekar sakti yang selama ini disohorkan setiap orang itu kaulah orangnya! Ahhh... siapa kira....” Dalam kalimat terakhir ini terdengar keluhan dari hati yang merasa amat menyesal.

Suling Emas memutar tubuhnya. Kembali mereka berpandangan, akan tetapi kali ini mereka sudah kuat menahan. Untuk sejenak keduanya memandang penuh selidik, untuk mengetahui keadaan masing-masing, memandang sinar mata, memandang keadaan tubuh, kurus gemuknya, dan keduanya makin menduga-duga. Beruntungkah ia tanpa aku? Demikian agaknya pertanyaan yang terkandung di hati masing-masing.

“Song-koko, aku mendengar bahwa Suling Emas belum berumah tangga... apakah... betulkah ini? Apakah kau belum juga menikah? Song-koko... mengapa begitu? Apakah kau belum juga dapat melupakan aku...?”

“Melupakan engkau? Ah... Ceng Ceng, aku melupakan engkau? Bagaimana mungkin itu! Sudah kucoba-coba, sudah kupaksa-paksa hati ini, namun buktinya sekarang aku berada di sini!” Agak keras dan kasar kata-kata ini dan sepasang mata pendekar itu memandang tajam, bagaikan menusuk-nusuk, membuat nyonya muda itu tertunduk.

“Dunia serasa makin sempit bagiku, Ceng Ceng. Tadinya masih ada harapanku sembuh oleh ibuku, akan tetapi ibu meninggal. Aku meraba-raba bagaikan orang buta dalam gelap, tak tahu harus ke mana... betapa aku tak dapat melupakan engkau, Ceng Ceng...! Karena itulah aku datang... untuk melihat wajahmu lagi, aku... tak tahan aku akan rindu....”

“Song-koko...!” Wanita itu yang bernama Suma Ceng dan kini adalah nyonya seorang pangeran, yaitu Pangeran Kiang, menjerit kecil. “Jangan begitu, Koko... aku... aku sudah menjadi ibu dari tiga orang anak! Kau lihat mereka ini...!” Suma Ceng cepat-cepat mempergunakan anak-anaknya untuk perisai diri atau lebih tepat untuk pengendalian hatinya sendiri yang seakan-akan terbetot dan hendak dihanyutkan oleh bekas kekasihnya. Ia maklum kalau tidak cepat-cepat ia berpegang kepada tiga orang puteranya, bisa-bisa ia terbawa hanyut, karena sesungguhnya, sampai mati sekali pun ia takkan mungkin dapat melupakan Bu Song.

Suling Emas menarik napas panjang, menekan gelora hatinya, kemudian ia menjadi sadar kembali ketika anak yang meniup suling itu tiba-tiba menarik tangannya dan bertanya, “Paman Guru, bagaimana dengan kepandaianku meniup suling?”

Suara yang lantang dari bocah ini menariknya turun dari sorga lamunan, dan membuatnya kaget karena hampir saja tadi ia melakukan sesuatu yang tidak patut. Melihat wajah Suma Ceng kembali, berhadapan muka dengan wanita ini, benar-benar bisa membuatnya lupa akan segala.

“Kau sudah pandai, tapi harus belajar lagu-lagu yang indah!” katanya sambil meraba kepala anak itu.

Tiba-tiba wajahnya berubah dan jari-jari tangan kirinya tetap meraba-raba kepala yang gundul itu. Aneh! Ajaib! Kepala anak ini sama benar dengan kepalanya! Tak salah lagi! Jarang di dunia ini ada kepala seperti ini, kepala yang dahulu membuat mendiang gurunya, Kim-mo Taisu, tidak ragu-ragu menolongnya dan mengambilnya sebagai murid. Inilah ‘kepala pendekar’ seperti yang dulu disebut-sebut Kim-mo Taisu. Bagaimana potongan dan bentuk kepala anak ini bisa sama dengan kepalanya?

“Ceng Ceng...” suaranya gemetar ketika ia menoleh dan memandang wajah ayu itu.

Suma Ceng tidak menjawab, hanya menjawab dengan pandang mata penuh pertanyaan.

“Anak ini... dia putera sulungmukah?”

Suma Ceng mengangguk dan gerakan ini membuat dua titik air mata yang tadi bergantung pada bulu matanya runtuh ke bawah, menimpa pipinya.

“Dia... dia ini...!” Tiba-tiba Suling Emas berjongkok di depan anak itu, menatap wajah anak itu penuh perhatian, meraba kepala, meraba alis mata anak itu yang hitam tebal, seperti alis matanya.

Hidung dan mata anak itu seperti hidung dan mata Suma Ceng, akan tetapi mulut itu, alis itu, kepala itu! Serentak ia bangkit berdiri lagi, malah kini melangkah maju sehingga ia hanya berdiri dalam jarak tiga langkah dari Suma Ceng.

“Dia... dia itu...?” suaranya serak dan lirih, “dia itu...?” tak kuasa ia melanjutkan kata-katanya, tercekik di lehernya.

Kini Suma Ceng menangis. Air matanya bercucuran dan ia mengangguk-angguk. Melihat ibunya menangis, anak kecil yang dipondongnya juga ikut menangis. Cepat-cepat hal ini menahan air mata Suma Ceng dan ia mendekap anaknya, mengusapkan mukanya yang basah air mata pada pipi dan baju anak itu. Anaknya terdiam dan agaknya gangguan ini malah meredakan gelora hatinya.

“Betul, Song-koko, dia... dia anak kita....”

“Ya Tuhan...! Dan kau... kau diam saja...?”

“Aku tidak tahu akan hal itu sebelum aku menikah dengan suamiku. Andai kata aku tahu sekali pun, apa yang dapat kulakukan, Song-koko? Kau sendiri pun tak berdaya apa-apa.” Ucapan ini penuh sesal. “Andai kata kau dulu selihai sekarang... ah, untuk apa kita melamunkan yang bukan-bukan? Andai kata aku tahu bahwa pertemuan di malam terakhir itu... ah, andai kata aku tahu kau meninggalkan anak ini padaku, apakah yang akan dapat kulakukan? Menolak kehendak ayah dan kakak tak mungkin, paling-paling aku hanya dapat membunuh diri....”

“Ceng Ceng, kau maafkan aku. Memang kau tak bersalah. Akan tetapi... ah, anak ini dia anakku! Dia harus ikut denganku!”

“Tidak Song-koko. Apakah kau ingin menyiksa anak itu dan menyiksa diriku pula? Kurang hebatkah penderitaan batinku selama ini? Song-koko, demi kebaikan kita berdua, lebih baik kalau kau melupakan aku. Anggap saja kekasihmu Ceng Ceng ini sudah mati, dan kau... kau kawinlah dengan gadis lain, berbahagialah, aku memuji siang malam, Koko....”

“Ceng Ceng... Ceng Ceng..., kau tetap berbudi, kau tetap jelita, kau tetap pujaan hatiku....” Hampir tak kuat Suling Emas, ingin ia memeluk wanita itu, ingin memondongnya, ingin menghiburnya. Namun pandang mata wanita itu kini tidaklah seperti dahulu. Memang, ada perubahan pada diri Ceng Ceng-nya, kekasihnya.

“Heee, siapakah di situ?” Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan seorang laki-laki yang berpakaian indah berlari-lari mendatangi dengan pedang terhunus di tangan. Ia ini bukan lain adalah Pangeran Kiang! Ketika ia melihat Suling Emas, wajahnya berubah, pandang matanya dingin dan sikapnya mengancam ketika ia menghampiri Suma Ceng.

“Hemmm... jadi tidak salah omongan Kakak Suma Boan! Ternyata isteriku yang setia ini diam-diam bermain gila dengan laki-laki bekas kekasihnya dahulu! Perempuan tak tahu malu! Sudah punya tiga orang anak masih hendak main gila, berjinah dengan laki-laki lain? Keparat!”

“Ooohhh... tidak..., tidak!” Suma Ceng menjerit tertahan. Tuduhan ini benar-benar merupakan ujung pedang yang menusuk ulu hatinya, “Aku dan dia... kami tidak berbuat apa-apa yang melanggar kesopanan, jangan kau menuduh yang bukan-bukan!”

“Bagus, ya? Kau masih hendak membelanya? Perempuan hina... kupukul mukamu yang tak tahu malu...!” Pangeran itu melangkah lebar menghampiri Suma Ceng dan tangan kirinya melayang, menampar ke arah pipi. Isterinya hanya tunduk dan menangis tersedu-sedu, tidak mempedulikan datangnya tangan yang menampar.

Akan tetapi tangan yang menampar itu terhenti di tengah jalan. Pangeran itu berseru kaget dan heran, juga penasaran. Ketika ia menggerakkan tangannya ke belakang, tidak apa-apa, akan tetapi begitu ia menampar ke depan, tangan itu tiba-tiba berhenti seakan-akan tertahan oleh dinding yang tidak tampak!

“Keparat, hayo mengaku bahwa kau telah berjinah dengan... dengan bangsat ini!” Ia berteriak memaki untuk mengatasi kemarahan dan rasa penasarannya.

“Sesungguhnya, kami tidak berbuat apa-apa... suamiku dengarlah... memang betul dia dahulu adalah seorang kenalanku, sebelum aku kawin denganmu, tapi... tapi... semenjak itu... baru ini kami saling bertemu, dan kami tidak berbuat apa-apa yang melanggar susila. Percayalah...!”

“Perempuan rendah! Siapa tidak tahu bahwa dahulu kau berjinah dengan kekasihmu? Aku masih berlaku murah dan sabar, akan tetapi siapa kira sekarang kau mengadakan pertemuan gelap! Terkutuk...!” Kali ini si pangeran menggerakkan pedangnya menyerang isterinya sendiri.

Dua orang anak kecil, yang satu dipondong Suma Ceng, yang seorang memegangi gaunnya dari belakang, menjerit-jerit ketakutan menyaksikan adegan yang tidak mereka mengerti, akan tetapi yang mendatangkan rasa takut pada mereka itu. Hanya anak yang sulung tidak menangis, memandang dengan mata terbelalak sambil memegangi sulingnya. Adegan ini berkesan amat mendalam di hatinya, akan tetapi tentu saja ia pun tidak mengerti apa artinya semua ini.

Biar pun pedang itu mengancam nyawanya, Suma Ceng tidak bergerak, siap menerima tusukan pedang. Baginya hidup ini penuh penderitaan batin, dan ia memaafkan kemarahan suaminya yang pada hakekatnya tidaklah menuduh yang bukan-bukan! Memang ia merasa berdosa terhadap suaminya yang sebetulnya amat mencintanya. Kalau ia mau, tentu saja ia dapat mengelak bahkan melawan, karena adik dari Suma Boan ini pun memiliki ilmu kepandaian silat yang lumayan namun jauh lebih tinggi dari pada kepandaian suaminya.

Akan tetapi, seperti juga tadi, pedangnya yang meluncur ke depan itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan, malah mendadak ia merasa tangan kanannya seperti lumpuh dan pedangnya itu tak dapat ditahannya lagi, runtuh terlepas dari tangannya menimbulkan suara berkerontangan. Cepat sang pangeran ini membalikkan tubuh memandang. Tak salah dugaannya. Kiranya laki-laki berpakaian serba hitam yang pernah ia dengar namanya sebagai Suling Emas, pendekar yang menggemparkan itu, berdiri tegak dan menggerak-gerakkan tangannya mengirim pukulan atau dorongan jarak jauh yang tadi menahan pukulan-pukulannya dan tusukan pedangnya.

“Manusia berhati binatang!” Pangeran Kiang melompat maju menghadapi Suling Emas. “Orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak takut! Orang lain boleh menyebutmu pendekar, akan tetapi bagiku kau hanyalah seorang laki-laki buaya yang mengganggu isteri orang! Kau seorang laki-laki rendah berjinah dengan perempuan ini yang juga hanya seorang isteri berwatak pelacur...!”

“Plakkk!” Pangeran itu terguling dan bibirnya pecah-pecah berdarah oleh tamparan tangan Suling Emas yang menjadi marah sekali. Muka pendekar ini menjadi agak pucat, matanya memancarkan cahaya berkilat.

“Mulutmu busuk! Kau boleh memaki aku, akan tetapi kau terlalu menghina Ceng Ceng! Biar pun dia sudah menjadi isterimu, namun ia tetap seorang wanita yang agung, yang bersih, yang suci.”

“Dia perempuan jalang, pelacur tak tahu malu...!” Pangeran itu dalam marahnya melompat bangun dan memaki lagi.

“Bukkk!” Sebuah dorongan membuat ia terjengkang ke belakang, berdebuk keras dan sambil meringis kesakitan pangeran ini merangkak bangun lagi.

“Huh, pendekar macam apa ini? Menjinahi isteri orang, menggunakan kepandaian untuk menghina orang dan merampas isterinya! Cih, yang begini mengaku pendekar? Kau boleh bunuh aku, akan tetapi namamu akan membusuk sampai akhir jaman! Mari kita mengadu nyawa...!”

“Jangan...! Suamiku, jangan... kau takkan menang...! Bu Song, kau pergilah...!”

Akan tetapi Suling Emas tidak mau pergi, ia maklum bahwa kalau ia pergi begitu saja, tentu Suma Ceng akan celaka, disiksa mungkin dibunuh suaminya.

“Pangeran yang tolol, kau dengarlah. Aku sama sekali tidak melakukan perbuatan yang bukan-bukan dengan isterimu. Dia terlampau suci untuk mengkhianatimu! Memang dulu aku mencintainya, akan tetapi dia sudah menjadi isterimu sekarang.” Ia menarik napas panjang. “Jangan kau memfitnah yang bukan-bukan.”

“Siapa bilang fitnah? Kau datang menjumpainya, sikap kalian... dan perempuan hina ini membelamu... hemmm, siapa tidak tahu bahwa kalian masih saling mencinta? Keparat, terkutuk, benar-benar menghina sekali. Hayo kau bunuh aku lebih dulu, baru kau bisa merampas isteriku, keparat!” Dengan kemarahan meluap karena rasa cemburu, pangeran itu menubruk maju dan memukul. Pukulannya tepat mengenai dada Suling Emas, akan tetapi bukan yang dipukul yang roboh, melainkan pangeran itu sendiri yang terpelanting dan lengan kanannya yang memukul patah tulangnya!

“Kau ingin mati? Apa sukarnya membunuhmu? Hemmm, Ceng Ceng, kalau manusia ini begini menghina kita, mengapa kau lebih senang tinggal menjadi isterinya? Biar pun kau sudah menjadi ibu dari tiga orang anak. Hemmm... aku masih sanggup melindungimu selamanya dan membunuh tikus busuk bermulut kotor ini!”

Pada saat itu Pangeran Kiang sudah berdiri lagi dan menyerang dengan tangan kiri. Biar pun rasa nyeri hampir membuat ia pingsan, namun panasnya hati membuat ia sanggup menahan dan terus menerjang lagi. Kaki Suling Emas bergerak dan sebuah tendangan membuat pangeran itu terlempar sampai empat meter jauhnya. Namun kembali ia merangkak bangun untuk menjadi roboh kembali di lain detik oleh tamparan tangan Suling Emas yang kelihatannya sudah marah sekali.

“Kau ingin mampus, ya? Nih, terima! Dan ini! Kalau kau tak mau berlutut minta ampun kepada isterimu, mencabut semua kata-katamu yang kotor, demi Tuhan, kubunuh benar-benar engkau!” Suling Emas menghajar terus sampai pangeran itu babak-belur, mukanya berdarah dan bengkak-bengkak.

“Tahan! Suling Emas, kau berani memukuli suamiku seperti ini? Laki-laki kejam! Kau boleh bunuh dia melalui mayatku!” Tiba-tiba Suma Ceng yang sudah menurunkan anaknya dari pondongan dan telah memungut pedang suaminya, menerjang maju bagaikan seekor harimau betina. Pedangnya menusuk ke arah dada Suling Emas.

“Ceng Ceng...!” Suling Emas terbelalak heran dan kaget.

“Ceppp!” Ujung pedang itu menusuk dadanya.

Untung ia dapat mengatasi heran dan kagetnya, lalu cepat mengerahkan tenaga sehingga pedang yang sudah menancap itu tidak maju terus, menancap dan meleset ke atas sehingga pedang itu menancap dan menembus daging dan kulit dada dan pundak, akan tetapi tidak memasuki rongga dada. Karena pengerahan sinkang dari Suling Emas hebat dan kuat sekali, Suma Ceng merasakan telapak tangannya panas dan lumpuh sehingga pedang itu dilepasnya dan masih menancap pada dada Suling Emas.

“Berani kau hendak membunuh suamiku? Ahhh... dia suamiku, ayah anak-anakku, aku akan membelanya dengan nyawa!” Suma Ceng berseru lagi dan kembali menerjang dengan pukulan-pukulan dahsyat.

“Ceng Ceng... aahhhh...!” dengan jantung serasa ditarik-tarik Suling Emas berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

Suma Ceng menubruk suaminya, merangkul dan menangis. Pangeran Kiang yang mukanya bengkak-bengkak itu tersenyum. “Isteriku... akhirnya aku mendapat bukti nyata, kau memang mencinta aku seorang! Ha-ha-ha, tidak sia-sia pengorbananku, tidak sia-sia pembelaanku..., kau isteriku yang setia... maafkan semua tuduhanku tadi.”

“Diamlah... diamlah... kau terluka. Tentu saja aku isterimu dan setia kepadamu....”

Suma Ceng mengusap air matanya dan mengerling ke arah perginya Suling Emas, hatinya mengeluh penuh rasa nelangsa. Memang sebaiknya begini, pikirnya. Hanya itulah jalan satu-satunya untuk mengusir Suling Emas, untuk mencegah suaminya cemburu dan mungkin sekali untuk mengobati hati kekasihnya yang terluka. Kalau melihat dia bersedia bersetia dan mencinta suaminya, mungkin Suling Emas akan lebih mudah untuk melupakannya. Dengan muka pucat ia lalu membantu suaminya meninggalkan taman, sedangkan anak-anaknya segera dipondong oleh pelayan-pelayan yang datang dengan muka ketakutan.

Ada pun Suling Emas melarikan diri dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga tubuhnya tak tampak, hanya bayangannya saja berkelebatan dan dalam waktu sebentar saja ia sudah keluar dari kota raja, terus ia berlari seperti orang gila, masuk keluar hutan. Menjelang tengah hari, setelah berlari-larian berjam-jam lamanya, akhirnya ia menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar dalam sebuah hutan. Ia jatuh tertelungkup di atas rumput, tak bergerak, kedua tangannya menutupi mukanya. Hanya terdengar ia mengeluh dan mengerang perlahan seperti orang menderita nyeri yang amat sangat. Darah masih membasahi bajunya, darah yang keluar dari luka di dada dan pundaknya.

Pedang yang tadi menancap kini tidak tampak lagi. Luka-luka inikah yang membuat dia mengerang? Tak mungkin. Luka itu hanyalah luka daging dan kulit belaka, dan bagi seorang pendekar sakti seperti Suling Emas, luka macam itu tidaklah ada artinya. Namun luka yang berada di dalam rongga dadanya, luka pada hatinya itulah yang amat sakit rasanya. Jantungnya serasa perih seperti disayat-sayat. Ceng Ceng tidak cinta lagi padanya. Ceng Ceng mencinta suaminya, dan bahkan membenci dia yang dibuktikan dengan tusukan pedang tadi!

Suling Emas mengeluh dan ketika ia bergerak dan bangun duduk di atas tanah berumput, wajahnya nampak pucat bukan main. Warna bulat kuning pada bajunya yang hitam, yaitu bagian dada, telah menjadi merah karena darahnya. Paduan warna hitam baju dan merah darah itu membuat mukanya kelihatan lebih pucat lagi. Agaknya peristiwa yang hanya beberapa jam lamanya itu membuat kerut-merut di antara kedua matanya makin mendalam, dan membuat sinar sepasang matanya menjadi redup sayu.

Tanpa disadarinya, tangannya meraih ke pinggang dan di lain saat ia telah meniup sulingnya. Suara yang keluar dari sulingnya melengking tinggi, mengalun panjang dan menyuarakan lagu sedih yang penuh kepiluan hati. Bagi orang yang mendengar suara suling ini, tentu akan menyatakan bahwa suara itu memilukan dan menyedihkan.

Namun sesungguhnya Suling Emas telah mempergunakan ilmunya Kim-kong Sin-im yang belum lama ini ia latih bersama Bu Kek Siansu. Dengan ilmu ini, perlahan-lahan kesedihannya lenyap dan setelah suara suling berhenti, wajahnya tidak sepucat tadi. Namun ia masih duduk melamun dan sengaja mempergunakan kesempatan ini untuk mengolah semua peristiwa yang menimpa dirinya. Seperti biasa ia hendak memetik buah bermanfaat, menarik pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya.

Kini pikirannya dapat bekerja baik, tidak lagi diselimuti perasaan hati yang pilu dan sayu. Suma Ceng telah mencinta suaminya dan membencinya. Hal ini sama artinya dengan kematian kekasihnya itu. Bukan orangnya yang mati, melainkan cinta kasih terhadap dirinya. Tidak ada lagi manusia yang boleh diharapkan di dunia ini. Ibu kandungnya telah meninggal, juga Ceng Ceng telah mati!

Mengapa ia harus merasa berduka? Mengapa hatinya begini sakit? Mengapa ia membenci Pangeran Kiang? Suling Emas mengumpulkan ingatannya dan terngiang kembali di telinganya segala petuah, pelajaran dan nasihat yang pernah ia dengar dari mendiang gurunya, Kim­mo Taisu, dan si kakek sakti Bu Kek Siansu. Apakah artinya cinta? Pernah mendiang gurunya menguraikan tentang cinta ini.

Cinta yang paling murni di antara manusia adalah cinta yang tidak dikotori oleh nafsu menyenangkan diri sendiri, yakni cinta yang tulus ikhlas dan rela, yang berlandaskan pengorbanan demi untuk kesenangan dan kebaikan dia yang dicinta. Contohnya kasih sayang seorang ibu terhadap anak kandungnya ikhlas dan rela, satu-satunya idaman hati seorang ibu hanyalah melihat anaknya senang, rela berkorban, rela bersusah payah, tanpa mengharapkan upah karena melihat anak itu senang merupakan upah yang paling berharga.

Sebaliknya cinta kasih yang berlandaskan nafsu, selalu meng­hendaki agar orang yang dicinta itu hidup berbahagia bersama dia sendiri. Menghendaki agar orang yang dicinta itu menjadi miliknya yang mutlak, selama hidup berada di sampingnya untuk dipuja, untuk dicinta, untuk pelepas dahaga, cinta ini penuh dengan harapan, penuh dengan pamrih dan karenanya penuh dengan racun yang dapat duka nestapa dan sengsara mendatangi
.

Suling Emas termenung. Dia manusia biasa. Tentu saja cintanya termasuk golongan kedua itulah. Ia mencinta Ceng Ceng karena wanita itu jelita, karena halusan budinya, karena keramahannya, karena kecocokan hatinya dan karena... agaknya lebih dari pada itu karena dahulu membalas cintanya! Sekarang wanita itu sudah menjadi isteri orang lain, sudah mengalihkan cinta kasihnya kepada suaminya itu, mengapa ia harus bersikeras melanjutkan cinta kasihnya? Bukankah itu akan sia-sia belaka? Menyiksa diri sendiri dan menyiksa Ceng Ceng, merusak pula hati Pangeran Kiang? Ia harus melupakan Ceng Ceng! Tapi anak laki-laki itu, putera sulung Suma Ceng adalah anaknya!

Kembali Suling Emas merenung, gelisah dan bingung. Tentu saja mudah baginya, menggunakan kepandaiannya untuk merampas bocah itu. Akan tetapi apa artinya? Apa gunanya? Bocah itu belum tentu berbahagia bersamanya dan Ceng Ceng tentu akan hancur hatinya. Pangeran Kiang yang agaknya tidak menduga akan hal itu tentu akan sakit hati kepadanya. Ah, akibatnya hanya merugikan semua pihak.

“Aku harus melupakan dia! Harus...! Mengapa aku begini lemah? Heeee, Bu Song, apakah kau bukan laki-laki?!”

Tiba-tiba Suling Emas melompat bangun, tertawa bergelak. Suara ketawa ini bergema di dalam hutan, mengagetkan burung-burung. Kemudian pendekar ini mainkan sulingnya sedemikian cepatnya sehingga terdengar angin menderu-deru dan yang tampak hanyalah sinar bergulung-gulung yang kadang-kadang mengeluarkan kilatan cahaya kuning emas! Ketika beberapa menit kemudian pendekar ini berkelebat pergi dari situ, keadaan sunyi di situ, yang tampak hanyalah rumput yang kini penuh dengan daun-daun pohon yang telah menjadi gundul, rontok semua daunnya karena sambaran hawa pukulan yang berkelebatan dari suling emas tadi!

********************


Bu Sin dan adiknya, Sian Eng, tak dapat berkutik di atas tanah lembab dalam ruangan bawah tanah. Mereka tiada hentinya berusaha untuk membebaskan diri dari pada totokan, namun totokan Hek-giam-lo ternyata dari aliran lain dan amat luar biasa. Biar pun Bu Sin sudah mengerahkan tenaga saktinya, tetap saja ia tidak mampu membebaskan diri. Apa lagi Sian Eng yang tingkat tenaganya jauh lebih lemah. Setelah berusaha dengan sia-sia selama beberapa jam, akhirnya mereka menerima nasib. Satu-satunya harapan mereka adalah kakak mereka, Bu Song atau Suling Emas. Hanya Suling Emas yang akan dapat menolong mereka.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar ruangan dalam tanah itu, disusul suara langkah orang berlari-lari. Langkah ini sebetulnya ringan sekali dan andai kata Bu Sin dan Sian Eng tidak sedang rebah miring dengan telinga menempel pada tanah, kiranya jejak kaki ini takkan terdengar mereka.

Sian Eng menjadi girang sekali dan hampir saja ia berteriak memanggil nama kakaknya, karena siapa lagi orang yang memasuki tempat ini selain Suling Emas yang hendak menolong mereka? Akan tetapi segera ditahan niatnya berteriak memanggil demi dilihatnya wajah Bu Sin yang kelihatan kaget dan gelisah. Apa lagi pada saat itu terdengar suara yang parau menyakitkan telinga.

“Sin-ni, tak boleh kau mendahului aku, ho-ho-hah!”

“Kai-ong jembel menjemukan!” balas suara seorang wanita yang nyaring.

Bu Sin dan Sian Eng tentu saja menjadi amat kaget karena mengenal suara ini. Suara It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni! Dua orang iblis yang sama jahatnya atau mungkin lebih mengerikan dari pada Hek-giam-lo sendiri. Gema suara mereka belum lenyap, akan tetapi bayangan hitam yang bertubuh ramping telah berkelebat ke dalam ruangan itu, dikejar oleh bayangan kakek bertongkat yang agak bongkok. Dalam sekejap mata dua bayangan ini sudah lenyap memasuki terowongan, agaknya mereka itu sedang berlomba mencari sesuatu.

Selenyapnya dua bayangan orang sakti itu, berkelebat bayangan ketiga dan ternyata orang ini adalah Suma Boan. Sejenak pemuda bangsawan ini mencari-cari dengan pandang matanya. Ia terkejut sekali ketika melihat Bu Sin dan Sian Eng rebah di bawah.

“Dinda Sian Eng... kau di sini...? Ah, kau tertotok! Jangan khawatir, aku akan menolongmu....” Cepat pemuda itu meraih tubuh Sian Eng dan dipondongnya.

Biar pun kaki tangannya lumpuh, namun Sian Eng masih dapat bicara. Suaranya lemah berbisik, “... harap kau... tolong pula Sin-ko keluar dari sini....”

“Ah, tak mungkin aku menolong dua orang sekaligus, Moi-moi. Terowongan terlalu sempit dan... dan di sini berbahaya sekali. Kalau tidak bersama Suhu, aku sendiri tidak berani. Mari kita cepat keluar, biar nanti kakakmu ditolong Suhu.” Setelah berkata demikian, Suma Boan yang memondong tubuh Sian Eng itu berlari keluar dari tempat itu dengan gerak kaki cepat. Ia memang merasa ngeri karena tahu bahwa tempat ini adalah tempat rahasia persembunyian Hek-giam-lo, apa lagi tadi gurunya mengejar Siang-mou Sin-ni dan dengan adanya wanita iblis itu di sini, maka tempat ini menjadi lebih berbahaya lagi.

Hati Bu Sin tidak enak sekali melihat adiknya dipondong Suma Boan. Ia tidak suka dan tidak percaya kepada putera pangeran itu. Akan tetapi apa yang dapat dilakukan? Kaki tangannya masih dalam keadaan lumpuh tertotok, dan ia tidak dapat mencegah perbuatan Suma Boan itu, karena betapa pun juga, pemuda putera pangeran itu bermaksud menolong Sian Eng. Keadaan Sian Eng dan dia berdua memang berbahaya sekali, nyawa mereka terancam bahaya.

Setidaknya Suma Boan membebaskan Sian Eng dari pada ancaman iblis-iblis jahat yang memasuki terowongan tadi. Dan... dan agaknya di antara adiknya dan putera pangeran itu terdapat hubungan cinta kasih, sungguh pun ia tidak suka mempunyai seorang adik ipar macam Suma Boan, namun jelas bahwa pemuda itu takkan mengganggu Sian Eng kalau memang mencintanya. Dan jauh lebih baik seorang di antara mereka tertolong dari pada keduanya harus mati konyol di tempat mengerikan ini.

Mendadak terdengar angin bertiup dan dua sosok bayangan sudah berkelebat memasuki ruangan itu lagi. Kini dua bayangan itu sudah berdiri berhadapan, dan memang mereka adalah Siang-mou Sin-ni dan It-gan Kai-ong, keduanya saling pandang dengan mata penuh kemarahan.

“Kai-ong jembel busuk, kau mengganggu saja kepadaku!”

“Heh-heh, siapa mengganggu? Kita bersama mempunyai tujuan yang sama, mencari barang pusaka Hek-giam-lo, akan tetapi ternyata kita tak berhasil. Tidak ada apa-apa di sini kecuali bocah menjemukan ini!”

“It-gan Kai-ong, kau benar-benar menjengkelkan. Kalau tidak ada kau yang mengganggu, barangkali aku akan berhasil. Kau benar-benar sialan!” Sambil berkata demikian, Siang-mou Sin-ni me­nerjang maju dengan kaki tangan dan rambutnya, menyerang dengan hebat. Namun It-gan Kai-ong menggerakkan tongkatnya. Segera mereka bertanding di ruangan itu dengan hebat, ditonton oleh Bu Sin yang masih rebah di atas tanah lembab.

“Tua bangka bosah hidup, lihat ini!”

“Aiiihhhhh... hebat! Inikah hasilmu dari Bu Kek Siansu?” teriak It-gan Kai-ong karena ia memang terdesak hebat ketika Siang-mou Sin-ni mainkan sebuah alat musik khim yang dulu ia rampas dari Bu Kek Siansu.

Hebat sekali senjata istimewa berupa khim ini. Ketika ia menggerakkannya, terdengar suara mengaung dan sejenak It-gan Kai-ong terhuyung ke belakang karena suara yang keluar dari khim itu mengacaukan pemusatan tenaganya. Hampir saja ia kena disabet sambaran rambut lawannya yang menotok tujuh tempat jalan darah yang dapat membawa maut. Siang-mou Sin-ni tertawa-tawa nyaring ketika melihat hasil terjangan senjatanya ini, dan ia melompat maju mendesak lebih hebat.

Akan tetapi tiba-tiba gerakan tongkat It-gan Kai-ong berubah. Kini tongkat itu membentuk lingkaran-lingkaran aneh yang mengeluarkan bunyi pula, bunyi menggereng seperti auman singa. Ketika khim bertemu tongkat, keduanya terlempar ke belakang dan terhuyung-huyung.

“Setan alas! Ilmu iblis apa yang kau mainkan tadi?” bentak Siang-mou Sin-ni.

“Sayang hanya setengahnya kudapat...!” It­gan Kai-ong terkekeh. “Kalau keseluruhannya kumiliki, kau tentu akan mampus di tanganku kali ini, Sin-ni!”

Siang-mou Sin-ni berdiri diam, berpikir. Kiranya ilmu hebat itu adalah hasil dari pada perampasan kitab dari tangan Bu Kek Siansu dahulu. It-gan Kai-ong hanya berhasil mendapatkan setengah kitab, yang setengah lagi dirampas Hek-giam-lo. Kalau saja ia bisa memiliki kedua potongan kitab itu!

“Kai-ong, sekarang bukan waktunya kita menguji kepandaian. Nanti di puncak Thai-san kita boleh bertempur sampai puas. Kita tunda dulu, bagaimana pendapatmu? Ataukah kau hendak melanjutkan? Aku pun tidak takut kalau kau hendak melanjutkan sampai seorang di antara kita mampus!”

“Heh-heh-heh, Siang-mou Sin-ni iblis betina. Apa artinya dapat menangkan kau dan mengemplang remuk kepalamu yang penuh tipu-tipu muslihat itu kalau tidak ada yang menyaksikannya? Kelak di Thai-san tentu kau roboh di tanganku. Heh-heh, ditunda juga tidak apa.”

Siang-mou Sin-ni menoleh ke arah Bu Sin, suaranya terdengar mengejek ketika ia berkata, “Bu Sin Koko yang tampan, kau nakal sekali, berani dulu kau melarikan diri dari padaku. Hemmm, agaknya memang kau tidak bisa lama-lama berpisah dariku, maka sekarang bertemu kembali di sini.”

“Heh-heh, agaknya sudah jodoh, Sin-ni! Hisap saja darahnya sampai habis, tunggu apa lagi? Ataukah kau sudah bosan? Biar kucoba dia dengan ludahku!” It-gan Kai-ong meludah ke arah Bu Sin.

Andai kata tidak ada yang menghalangi, ludah itu tentu akan membuat kepala Bu Sin berlubang dan sekaligus akan mencabut nyawa pemuda itu. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni mendengus, rambutnya bergerak dan air ludah itu terpukul ujung rambut, menyambar kembali ke arah It-gan Kai-ong yang miringkan kepala, membiarkan air ludahnya sendiri menyambar lewat dan lenyap ke dalam batu karang di belakangnya!

“Jembel busuk, jangan main-main! Dia ini punyaku, tak boleh kau ganggu dia. Nyawanya berada di tanganku, dia mau mati atau hidup, aku yang menentukan!”

“Ho-ho-hah! Enak kau bicara, Siang-mou Sin-ni. Kau mau borong dia, mau memiliki dia sampai kalian mampus, aku peduli apa? Akan tetapi sebelum ia kau bawa pergi, ia harus menceritakan lebih dulu ke mana perginya Hek-giam-lo. Kalau tidak, mana aku mau sudah begitu saja? Jangan kau kira aku begitu goblok, membiarkan kau sendiri saja mendengar keterangan dari mulutnya tentang Hek-giam-lo!”

“Keparat tua bangka! Aku mau bawa dia pergi atau tidak, kau mau apa?”

Kembali kedua orang sakti itu sudah saling melotot, siap untuk saling gempur lagi. Bu Sin yang mendengarkan percakapan dan melihat sikap mereka merasa khawatir. Kalau dua orang sakti yang berwatak aneh seperti orang gila ini bertempur karena dia, sembilan puluh prosen ia akan mati.

“Kalian tidak perlu ribut-ribut di sini. Baru saja Hek-giam-lo pergi keluar membawa robekan kitab.” Baru saja Bu Sin bicara sampai di sini, It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni sudah berkelebat lenyap dari tempat itu!

Akan tetapi kegembiraan hati Bu Sin melihat ini hanya sebentar karena tahu-tahu Siang-mou Sin-ni sudah berada di tempat itu lagi dan berdiri dekat dengannya sehingga ia dapat mencium bau harum yang sudah amat dikenalnya dan yang selalu membuat ia merasa ngeri dan seram kalau mengingatnya. Tak salah dugaannya bahwa yang datang kembali adalah wanita yang amat ditakuti karena terdengar wanita itu tertawa genit lalu berkata.

“Anak manis, apakah sekarang kau akan dapat melarikan diri dariku lagi?” sambil berkata demikian ia meraih dan memondong tubuh Bu Sin, kemudian dibawanya lari ke luar dari terowongan itu.

“Perempuan busuk! Perempuan hina! Kau lepaskan aku!” Bentak Bu Sin dengan marah. Hatinya masih sakit sekali kalau ia teringat akan apa yang dilakukan Siang-mou Sin-ni kepadanya dahulu.

Akan tetapi Siang-mou Sin-ni hanya tertawa sambil mengejek, “Jembel picak itu benar juga, kalau aku haus, darahmu akan segar juga, hi-hik!”

Bu Sin mengkirik kengerian, akan tetapi apa dayanya? Tak lama kemudian ia melihat sinar terang dan ternyata mereka telah tiba di luar terowongan. Setelah berlari untuk beberapa lamanya, mereka tiba di sebuah hutan dan Siang-mou Sin-ni membebaskan totokan Bu Sin. Pemuda ini merasa betapa darahnya mengalir kembali seperti biasa, akan tetapi ia belum mampu bergerak. Karena itu, terpaksa ia hanya meramkan mata saja ketika Siang-mou Sin-ni yang tak tahu malu itu membelainya, bahkan menciumnya.

“Kau masih tampan, aku masih sayang kepadamu. Sayang kalau kau kubunuh.” Ia mengusap muka pemuda itu, “Hi-hik, kau mengingatkan aku akan Suling Emas. Bu Sin, kalau kau menuruti semua kehendakku, aku bisa membikin kau menjadi seorang laki-laki gagah perkasa seperti Suling Emas. Aku akan menurunkan kepandaianku kepadamu. Senang kan?”

“Perempuan hina! Pergi!” Mendadak Bu Sin yang kini jalan darahnya sudah pulih kembali, menghantam sekuatnya.

“Blukkk!” Siang-mou Sin-ni terlempar dan mengeluarkan seruan kaget.

Tadi ketika ia melihat pemuda itu memukulnya, ia menerima dengan senyum di bibir karena ia mengira bahwa Bu Sin masih seperti dulu kepandaiannya sehingga pukulannya tidak berbahaya sama sekali. Sama sekali ia tidak tahu bahwa semenjak menerima latihan kakek sakti, tenaga sakti di dalam tubuh Bu Sin sudah meningkat beberapa kali lipat kuatnya. Maka kali ini pukulan Bu Sin membuatnya terlempar, sungguh pun tidak mengakibatkan luka dalam karena Siang-mou Sin-ni sudah menjaga diri dengan lweekang-nya.

“Eh-eh... dari mana kau mendapatkan tenaga besar itu?” tanyanya, masih setengah heran dan terkejut.

Namun Bu Sin sudah melompat bangun dan menerjangnya dengan sengit sambil memaki-maki. Ia mengerahkan tenaga sinkang dan mainkan ilmu silatnya yang paling ampuh. Ketika ia sudah berada dekat, kepalan tangan kirinya memukul ke arah kerongkongan wanita itu sedangkan tangan kanan mencengkeram ke arah perut. Dua serangan yang mengandung cengkeraman maut!

“Hayaaaaa! Bu Sin, kau benar-benar tak bisa menerima cinta kasih orang! Baiklah kalau kau sudah bosan hidup!” Dengan gerakan lincah dan mudah saja wanita ini mengelak dari pada dua pukulan Bu Sin itu, kemudian ia berseru keras dan tubuhnya tahu-tahu sudah mencelat ke belakang sampai lima meter jauhnya.

Bu Sin yang menjadi penasaran. Ia mengejar dan kembali menerjang, akan tetapi iblis betina itu menggoyang kepalanya dan Bu Sin merasa pandang matanya gelap ketika rambut yang hitam panjang itu melayang cepat merupakan selimut menghitam yang harum sekali baunya. Pemuda ini berusaha untuk menghindarkan diri dengan melompat ke samping, namun tiba-tiba gerakannya tertahan dan sama sekali ia tak mampu berkutik oleh karena bagaikan ular-ular hidup, rambut-rambut itu telah melibat kaki tangan dan lehernya! Ia merasa seakan-akan ia diringkus oleh banyak tangan yang halus dan harum, dan betapa pun ia mengerahkan tenaganya, ia tetap saja tak mampu bergerak!

“Hi-hi-hi! Orang bagus berhati baja! Kau mau bilang apa sekarang?” Wanita itu berdiri di depan Bu Sin, kurang lebih satu meter dekatnya, matanya berkilat-kilat, bibirnya yang merah menyeringai memperlihatkan deretan gigi putih berkilauan dan kecil-kecil.

“Siang-mou Sin-ni iblis betina! Mau bilang apa lagi? Aku sudah kalah, mau bunuh boleh lekas bunuh, siapa takut mampus?” bentak Bu Sin.

“Tentu kubunuh... wah, aku memang haus dan darahmu tentu enak sekali, darah seorang keturunan jenderal gagah perkasa dan satria utama! Mendekatlah manis, serahkan lehermu kepadaku, biar kupilih jalan darahmu untuk kuhisap...!”...


BERSAMBUNG KE JILID 012


Thanks for reading Cinta Bernoda Darah Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »