Social Items

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

BU KEK SIANSU




Cerita silat Kho Ping Hoo



JILID 03


KETIKA TUBUHNYA melayang turun, ibunya sudah siap menyambutnya. Akan tetapi dasar anak nakal, dia menggunakan kesempatan ini untuk berlatih! Dia cepat membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya di atas dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang ibunya, mencengkram ke arah ubun-ubun. Itulah jurus terakhir yang dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan loncatan ke atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan, akan tetapi kini dilakukannya ketika dia melayang turun!

"Haiiit...!!" Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong menjerit sebelum menyerang.

Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi. Semenjak menjadi isteri Pangeran Han Ti Ong, wanita puteri nelayan yang tentu saja seperti semua penghuni Pulau Es telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, telah digembleng oleh suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia menjadi seorang yang sakti seperti semua keluarga kerajaan itu.

Melihat kegembiraan puterinya, dia pun cepat mengelak. Dari samping dia menyambar kedua lengan anaknya dan dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan ke atas! Tubuh itu melayang tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat Hong berteriak girang, "Heiii, Ibu... itu Ayah datang...!!"

Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari ke pinggir tebing tinggi dan memandang ke laut. Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar karena penuh rindu kepada suaminya. Benar saja. Tampak sebuah perahu dan dia mudah mengenal suaminya yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat sehingga perahu kecil meluncur seperti seekor ikan hiu yang marah.

Akan tetapi alis wanita ini berkerut ketika dia melihat dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanita muda yang cantik! Hatinya terasa tidak enak. Dia tidak akan mengikat suaminya, dan sebagai seorang isteri pangeran calon raja tentu saja dia maklum bahwa suaminya berhak mengambil selir sebanyak-banyaknya. Akan tetapi entah mengapa, kedatangan suaminya dengan dua orang itu, terutama seorang wanita cantik, mendatangkan rasa gelisah yang aneh didalam hatinya.

"Ibuuu...! Tolong dulu aku...!"

Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya. Dia menengok dan melihat tubuh anaknya meluncur turun. Dia kaget dan baru sadar bahwa ketegangan mendengar suaminya pulang membuat dia lupa kepada puterinya. Sungguh pun Swat Hong telah memiliki ginkang yang cukup baik, akan tetapi meluncur turun dari tempat tinggi seperti itu ada bahaya kaki patah atau setidaknya salah urat.

Untuk meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia menyambar sebuah ranting kayu di dekat kakinya, lalu melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki Swat Hong. Anak ini juga tidak menyia-nyiakan pertolongan ibunya. Dia menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu dapat menahan dan mengurangi tenaga luncuran tubuhnya sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat ke bawah dengan aman.

Seperti tidak pernah mengalami bahaya apa-apa, anak itu lalu lari ke arah ibunya dan berteriak girang, "Ayah datang, Ibu?"

Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi memandang ke arah perahu yang makin mendekat pantai.

"Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan anak laki-laki bersama ayah di dalam perahu!"

Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang tajam penuh selidik ke arah perahu.

"Wah, jangan-jangan itu selir dan putera ayah!" Swat Hong yang memang berwatak terbuka itu berkata mengomel.

Anak ini sudah tahu akan kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia tidak akan merasa heran pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar Pulau Es, biar pun hatinya merasa tidak senang dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam perahu itu.

Mendengar ucapan Swat Hong yang tanpa disengaja merupakan benda tajam menusuk hatinya itu, Liu Bwee menjawab, “Perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi ibu anak laki-laki itu, sungguh pun bukan tidak mungkin dia adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik."

Jawaban ini keluar dari lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar melalui mulutnya seperti tidak disadarinya. Barulah dia kaget ketika kalimat itu telah terucapkan. Cepat dia menoleh ke arah puterinya dan merasa menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang penuh cemburu tadi. Segera digandengnya tangan anaknya dan untuk mengapus kata-katanya dari hati anaknya dia berkata riang, "Ehh, kenapa kita di sini saja? Hayo kita sambut Ayahmu!"

Berlari-larianlah mereka menuruni tebing untuk menyambut kedatangan Pangeran Han Ti Ong di pantai pasir. Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat Hong sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya tadi. Sebenarnya hati Liu Bwee memang amatlah girang melihat kembalinya suaminya, sungguh pun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kata suaminya pulang sendirian saja.

Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia mengalami penderitaan batin yang hebat. Memang dia maklum bahwa dirinya tidak disukai oleh keluarga kerajaan, karena dianggap seorang wanita berdarah rendah. Kebencian keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa Han Ti Ong tidak mau mengambil selir. Hal ini dianggap oleh mereka bahwa Liu Bwee menggunakan daya upaya untuk mengikat suaminya! Apalagi karena Liu Bwee tidak mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin bertambah. Sudah tentu saja, yang merasa paling benci adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong, pangeran calon raja itu memperistrikan puteri mereka!

Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan sudah menjadi dugaan umum bahwa usianya takan bertahan lama lagi. Agaknya raja itu hanya menantikan kembalinya puteranya yang menjadi putera mahkota, yaitu pangeran Han Ti Ong untuk mewariskan singgasana kepada puteranya ini.

Akan tetapi, karena keadaan Han Ti Ong yang lain daripada para pangeran lain, suka merantau, isterinya orang rendah dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera, maka Liu Bwee maklum bahwa di antara keluarga raja terdapat persekutuan yang menentang diangkatnya suaminya menjadi calon raja! Hal inilah yang mendukakan hatinya. Dia menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang bagi suaminya dan hal inilah yang paling merusak hatinya. Maka dapat dibayangkan betapa gembira hatinya melihat suaminya pulang!

Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata pasukan kehormatan telah berbaris dan siap menyambut pulangnya pangeran yang dihormati itu. Tentu saja Liu Bwee dan Swat Hong mendapat tempat kehormatan paling depan dan ketika akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti Ong melompat ke luar sambil tersenyum lebar, Swat Hong menjadi orang pertama yang berlari menyambut.

"Ayah...!!"

"Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!" Han Ti Ong menerima puterinya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkan tubuh anaknya ke udara.

Sambil tertawa-tawa Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang ayahnya dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke Laut) seperti yang dilakukannya kepada ibunya tadi.

"Ha-ha-ha, bagus juga!"

Ayahnya tertawa, menyambar kedua lengan yang mencengkram ubun-ubunnya, lalu memondong puterinya, dan mencium dahinya. Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri istrinya yang sudah maju menyambutnya, memandang penuh kemesraan dan berkata halus, “Harap kau baik-baik saja selama aku pergi."

Liu Bwee memandang suaminya sambil tersenyum, akan tetapi di balik senyum itu tampak oleh Han Ti Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apalagi ketika mendengar suara istrinya yang lirih. "Ayahanda raja sedang menderita sakit parah."

Han Ti Ong mengangguk. Ucapan yang pendek itu sudah mencakup semua isi hati istrinya. Dia sudah mengenal hati istrinya yang tercinta itu dan dia tahu pula bahwa menjelang kematian ayahnya, ada hal-hal yang menggelisahkan istrinya. Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan asal-usul istrinya yang datang dari keluarga berdarah ‘rendah’ itu. Dikhawatirkan bahwa keturunan istrinya itu kelak akan menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja!

Maka dia memandang isterinya dengan sinar mata menghibur, kemudian seperti teringat dia berkata, "Ahh, hampir aku lupa. Aku datang bersama seorang muridku, namanya Sing Liong akan tetapi di daratan besar sana dia dikenal sebagai Sin-tong."

"Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu sampai di mana keajaibannya!"

"Hong-ji, jangan!" ibunya menegur.

Akan tetapi anak itu telah meloncat ke depan, dan pada saat itu Sin Liong pun sudah turun dari atas perahu. Baru saja dia berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Tahu-tahu seorang gadis cilik dengan gerakan seperti seekor burung garuda menyambar telah menyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil telah menghantam dadanya.

"Bukk!!" tanpa dapat ditanyakan lagi, Sin Liong roboh terjengkang, dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.

Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan pakaiannya yang menjadi kotor, lalu memandang anak perempuan yang lebih muda daripada dia itu. Sin Liong menggeleng kepala dan berkata tenang, "Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak yang masih bersih dikotori kebiasaan buruk mempergunakan kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab."

"Aihhh...," Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada ayahnya yang terdengar tertawa keras. "Ayah, dia tidak bisa apa-apa, mengapa disebut Sin-tong? Serangan biasa saja membuatnya roboh terjengkang!"

"Ha-ha-ha, kau lihat dia roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat sesuatu yang ajaib? Dia tidak marah, malah menyayangkan dirimu, bukankah itu ajaib?"

"Anak yang luar biasa dia...," terdengar Liu Bwee berkata lirih.

Kini Swat Hong juga memandang Sin Liong. Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkata, "Dia tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!"

"He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?" Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong.

Anak ini menggeleng kepala. "Suhu pasti mengerti bahwa teecu tidak takut terhadap apa pun dan siapa pun."

Swat Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, kemudian menegakkan kepalanya dan menantang, "Bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo kau lawan aku!" Selesai bicara dia langsung bersiap memasang kuda-kuda.

Sin Liong menggeleng kepalanya. "Adik yang baik, aku tidak akan menggunakan kepandaian apa pun juga untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, apalagi terhadap seorang anak-anak seperti engkau."

Gadis cilik itu sudah menerjang maju, namun Sin Liong hanya memandang dengan sikap tenang saja, berkedip pun tidak menghadapi serangan anak perempuan itu. Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke belakang dan ternyata lengannya sudah ditangkap oleh ibunya dan ditarik ke belakang.

"Swat Hong, kau terlalu sekali! Seharusnya kau minta maaf kepada Suheng-mu itu!"

Swat Hong menoleh. Ia melihat ayahnya tersenyum, ia pun melihat pandang mata semua orang dari prajurit sampai perwira penuh kagum terhadap Sin Liong. Barulah dia ingat bahwa dia telah melanggar pelajaran pertama dari ayahnya, bahkan dari semua penghuni pulau bahwa ilmu silat Pulau Es tidak boleh sembarangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa alasan! Dan dia telah menyerang Sin Liong tanpa sebab apa-apa, padahal Sin Liong adalah murid ayahnya atau suheng-nya (kakak seperguruan).

Biar pun dia berwatak keras dan tidak mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah berubah membuat Swat Hong dapat mengusir semua rasa penasaran. Sambil tersenyum dan dengan muka ramah dia menjura ke arah Sin Liong sambil berkata, "Suheng, harap maafkan aku yang kurang ajar tehadap murid Ayah."

Sin Liong terkejut. Kiranya bocah ini puteri suhunya! Dia pun menjura dan berkata, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi. Kepandaianmu memang hebat, tentu saja aku bukan tandinganmu."

"Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!"

Swat Hong lalu meloncat menghampiri Sin Liong, menggandeng tangannya dan diajak lari ke pinggir di mana dia menghujani Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan. "Siapakah nama lengkapmu, Suheng? Dari mana kau datang? Bagaimana kau dapat menjadi murid Ayah? Apa saja yang sudah diajarkannya kepadamu? Mengapa pula kau disebut Sin-tong?"

Payah juga Sin Liong menghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja menyerangnya seperti seekor burung garuda, akan tetapi kini sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini. Akan tetapi baru saja dia memperkenalkan namanya, yaitu Kwan Sin Liong dan belum sempat menjawab pertanyaan yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang yang berada di situ tertarik oleh keributan yang terjadi ketika Kwat Lin turun dari atas perahu.

Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih belum sadar betul dari gangguan ingatannya karena malapetaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi perhatian semua orang. Wanita ini memang berwajah manis dan gagah, apalagi ketika turun dari perahu itu. Rambutnya yang awut-awutan berkibar tertiup angin, pakaiannya yang terlalu longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh rahasia. Kwat Lin turun dengan sikap tenang, akan tetapi matanya bergerak liar menyapu semua orang yang memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang kepada Liu Bwee yang telah melangkah menghampirinya.

"Dia ini siapakah?" Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pucat itu sambil didalam hatinya menduga-duga dan menanti jawaban yang diharapkan dari suaminya karena pertanyaan itu sesungguhnya diajukan kepada suaminya.

Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab, tiba-tiba Kwat Lin membentak, "Manusia-manusia busuk! Kubunuh engkau!" Dan dia sudah meloncat ke depan dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat.

"He, Toanio! Jangan begitu...!!" Sin Liong berteriak mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah menyerang dengan cepatnya.

Sedangkan para penghuni Pulau Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri, hanya memandang dengan tenang-tenang saja!

"Wuutttt...! Plak-plak...!" tubuh Kwat Lin terpelanting ketika pukulannya tertangkis oleh Liu Bwee dan wanita ini sudah menampar pundaknya sebagai serangan balasan.

Hal ini membuat Kwat Lin yang memang belum sadar benar itu makin marah. Dengan nekat dia melompat bangun dan menerjang lagi, namun Pangeran Han Ti Ong sudah mendahuluinya menotok pundaknya sambil berkata, "Tenanglah, Nona,"

Kwat Lin kembali roboh, akan tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong. Ternyata dia telah ditotok lemas. Dengan lambaian tangan, Pangeran itu memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan tangkas-tangkas.

"Dia sedang sakit, ingatannya tidak sewajarnya." Ucapan ini ditujukan kepada istrinya yang memandang marah.

Mendengar ini Liu Bwee mengangguk-angguk dan kemarahan di wajahnya berubah menjadi iba. "Bawa dia ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik," kata Liu Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera menggotong tubuh Kwat Lin pergi dari situ.

Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan resmi dari para pangeran dan pasukan penghormatan. Tadi dia seolah-olah menganggap mereka semua itu seperti patung belaka. Dengan megah Pangeran itu lalu langsung diantar ke kamar ayahnya, Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama menanti kedatangan puteranya ini. Sedangkan Sin Liong langsung diajak oleh Swat Hong ke bagian istana di mana dia dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana besar.

Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es, tiga hari setelah pulangnya Pangeran Han Ti Ong, raja tua meninggal dunia setelah sempat menyaksikan Han Ti Ong dinobatkan menjadi penggantinya, merajai Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan betapa tidak puas dan penasaran rasa hati para pangeran yang membenci Han Ti Ong karena usaha mereka memanaskan hati mendiang ayah mereka tentang keadaan Han Ti Ong tidak dipedulikan oleh raja tua itu.

Untuk memberontak secara terang-terangan, tentu saja mereka tidak berani karena di dalam pulau itu, pada waktu itu Han Ti Ong merupakan orang yang paling sakti. Maka, mereka itu hanya diam saja, biar pun tidak pernah lengah barang sehari pun untuk mencari peluang dan kesempatan yang baik untuk menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan Lui Bwee yang mereka anggap sebagai biang keladi dari ‘penyelewengan’ Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raja di Pulau Es!

Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang baik dari Liu Bwee dan para pelayan, juga dengan pengobatan tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri, ditambah obat-obatan berupa daun-daun yang dicari para anak buah Pulau Es atas petunjuk Sin Liong, gangguan ingatan yang diderita oleh The Kwat Lin menjadi sembuh.

Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk seorang diri di dalam taman istana, taman yang bukan berisi bunga-bunga hidup, melainkan terisi ukir-ukiran bunga dari batu-batu beraneka warna, dihias salju dan patung patung kayu. Sudah berhari-hari dia duduk di taman ini dan didiamkan saja karena menurut Raja Han Ti Ong, wanita malang ini harus dibiarkan pulih kembali ingatannya dan tidak boleh diganggu. Namun, diam-diam dia sendiri melakukan pengawasan karena entah bagaimana, makin lama dia menjadi tertarik dan tahu bahwa dia jatuh hati kepada gadis ini!

Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar gerakan di belakangnya. Sebagai seorang hali silat kelas tinggi, sedikit suara saja cukup membuat dia siap waspada. Ketika dia membalik, dia melihat Han Ti Ong yang berdiri di situ sambil memandangnya dengan senyum ramah. The Kwat Lin yang kini sudah sembuh sama sekali, memandang penuh keheranan lalu menegur, "Siapakah engkau? Dan mengapa engkau bisa berada di tempat aneh ini?"

Melihat sikap gadis ini dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, legalah hati Raja Han Ti Ong. Sikap dan kata-kata itu sudah cukup membuktikan bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah kembali kepada keadaan sebelum mengalami tekanan batin hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak mengerti mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu.

"Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona telah sembuh dari lupa ingatan yang Nona derita belasan hari ini."

"Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena aku tidak mengenal engkau dan tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini."

"Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingatan, dan baru sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona telah alami selama belasan hari ini. Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan nasib Ca-sha Sin-siap yang amat malang...."

Tiba-tiba wajah itu menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat. "Kau... kau tahu apa yang terjadi kepada kami...?"

Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang mengguncangkan hatinya itu dengan senyum mesra. “Tentu saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua belas orang suheng-mu. Aku dan muridku pula yang menolong membawamu ke sini kemudian mengobatimu sehingga sembuh hari ini. Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja pulau ini dan kau berada di Pulau Es."

Mata yang indah ini terbelalak. "Apa...? Di... di Pulau Es...? Dan aku telah mendengar nama besar Pangeran Han Ti Ong...."

"Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah pulau kecil tak berarti, Nona. Aku belum mengetahui namamu karena selama ini kau tidak menyebut namamu."

Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya. “Saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Paduka, dan maafkan kalau saya tidak mengenal penolong saya. Saya bernama The Kwat Lin, orang termuda Cap-sha Sin-hiap, dan... kalau paduka menaruh kasihan kepada saya, saya ingin segera pergi dari sini..., sekarang juga...."

"Nona The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia hati. Ketahuilah, semenjak pertama kali melihatmu dan melihat penderitaanmu, timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku. Karena itu, kalau kiranya engkau suka, aku akan merasa berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal di dalam istanaku ini sebagai seorang istriku, istri yang ke dua."

Kwat Lin terkejut sekali. Dia telah berhutang budi kepada raja ini, dan sekarang raja ini secara demikian terus terang menyatakan cintanya dan ingin mengambil dia sebagai isteri! Dia menjadi isteri raja? Dia yang telah dinodai oleh Pat-jiu Kai-ong?

"Tidak! Maaf... saya... saya harus pergi sekarang juga. Hanya satu tujuan hidup saya, dan Paduka tentu tahu... yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu Kai-ong."

Han Ti Ong mengangguk-angguk. "Aku mengerti dan aku sudah menduga bahwa seorang dara perkasa seperti engkau tentu saja tidak akan mau menerima tawaranku dan tidak mungkin aku mengharapkan seorang dara seperti Nona akan jatuh cinta begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona. Adanya aku berani meminangmu secara terang-terangan, karena aku yakin Nona akan menerimanya berdasarkan cita-cita tunggal Nona itulah. Bagaimana mungkin Nona akan membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Cap-sha Sin-hiap saja tidak mampu mengalahkannya? Akan tetapi kalau engkau menjadi istriku, hemmm...soal membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan."

Ucapan ini berkesan mendalam, membuat Kwat Lin termangu-mangu. Dia bukan gadis lagi dan tidak mungkin dia menjadi istri orang. Setelah berhasil membalas dendam, hanya kematianlah yang akan mengakhiri noda yang dideritanya. Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong yang sakti, lain lagi halnya. Apa lagi kalau orang sakti itu sendiri sudah tahu akan keadaanya.

"Apakah... apakah Paduka akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada saya?” tanyanya dan kini dia mengangkat muka, memandang raja itu. Diam-diam ia harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan tampan, sungguh pun usianya tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.

"Terserah kepadamu. Kalau engkau suka memenuhi hasrat hatiku yang ingin memperistrimu, maka kau memiliki dua pilihan. Kau boleh menghendaki dalam waktu pendek saja aku dapat menangkap musuhmu itu dan menyeretnya kedepan kakimu, atau engkau boleh mempelajari ilmu dan aku berani tanggung bahwa selama setahun saja engkau akan mengalahkan musuhmu itu."

"Be...benarkah itu?"

"Nona The Kwat Lin, Han Ti Ong bukan orang yang biasa membohong, pula aku tidak ingin mendapatkan dirimu dengan jalan membohong. Aku telah bicara terus terang dan andai kata engkau menolak sekali pun, aku tidak akan memaksamu. Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan kusediakan perahu untukmu. Nah, engkau yang memutuskan."

Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin. Dia mengerti betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong. Tentu saja ia dapat pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa Cap-sha Sinhiap itu kepada gurunya, ketua Bu-tong-pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi gurunya sudah tua sekali, dan belum tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biar pun murid-muridnya terbunuh sekali pun. Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya juga akan sukar mengalahkan Pat-jiu Kai-ong.

Yang terutama sekali memperberat hatinya adalah, kalau dia pergi ke Bu-tong-pai, tentu semua orang akan tahu tentang malapetaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong. Ke mana dia akan menaruh mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu? Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain tak seorang pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas dendam itu!

Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya sehingga dalam waktu setahun dia akan lebih pandai dari Pat-jiu Kai-ong? Dia tidak akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya sediri. Biar pun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari Pulau Es yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat membuktikan kesaktiannya? Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkata, "Saya ingin sekali dapat membalas dendam dengan tangan saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa dalam setahun saya dapat belajar di sini dan menangkan iblis itu?"

Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya. "Inilah pedang yang kutemukan ketika aku dan muridku menolongmu."

Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun bertitik, akan tetapi segera dihapusnya. Itulah Ang-bwe-kiam, pedang dari twa-suheng-nya!

"Engkau meragu, baiklah. Sekarang kau pergunakan pedangmu dan kau serang aku untuk menguji apakah aku dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat-jiu Kai-ong."

Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di tangannya. Pat-jiu Kai-ong telah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suheng-nya. Mereka telah mainkan Ngo-heng-kiam, bahkan telah membentuk barisan Sin-kiam-tin ketika mengeroyok kakek iblis itu, namun akhirnya mereka semua kalah, sungguh pun sejenak kakek itu sempat terdesak. Kini kalau hanya dia seorang diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

"Nona, jangan ragu-ragu. Percayalah, kalau engkau benar rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat mengalahkan dia. Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat dari kakek itu sebetulnya kosong saja," kata raja itu, seolah-olah dapat membaca isi hati Kwat-lin.

Dara itu terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum dia menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai penebus latihan ilmu untuk membalas dendam. "Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata."

"Ha-ha-ha, Pat-jiu Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunnya untuk mengalahkan Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan ini." Dia meraih ke bawah dan tangannya sudah membentuk batu karang sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti pedang!

"Harap Paduka siap!" Kwat Lin berseru. Pedangnya menyambar dengan cepat, melakukan tusukan ke arah leher, sedang tangan kirinya sudah memukul ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan pukulan tangan kiri ini merupakan jurus ampuh dari Ngo-heng-kiam-sut.

Sekali tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada detik berikutnya, leher dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin menjerit lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong tentu dia telah roboh dan tewas seketika. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu.

"Paduka... Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo-heng-kiam-sut Bu-tong-pai!"

Han Ti Ong tersenyum, "Persis sekali dengan seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang berhasil, bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi, bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu?”

Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas. "Saya ingin mencoba lagi!"

"Boleh, boleh. Kau seranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa engkau akan kukalahkan dengan jurusmu yang sama."

Dengan pengerahan tenaga dan memilih jurus-jurus terampuh, Kwat Lin menyerang lagi. Akan tetapi setiap kali selesai menyerang satu jurus, dia lantas menjerit lirih karena benar saja, dia selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri. Jurus itu digerakkan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan mengandung tenaga mukjijat sehingga biar pun dia mengenal jurusnya sendiri, dia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis!

Setelah sepuluh kali dia terkena sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia menjadi yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut. "Saya menerima penawaran Paduka!"

Ha Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri. Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang. Wajah raja itu berseri melihat betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan hebat tersembunyi di balik kemerahan wajah karena malu itu.

Dengan mesra Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan berkata lirih, "Aku tahu, Kwat Lin. Peristiwa terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputusan yang kau ambil ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari, mari kita mengumumkan pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia."

Han Ti Ong mencium dan mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu belakang yang menembus ke ‘taman’ itu. Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong mengumumkan keputusannya mengambil The Kwat Lin sebagai istri kedua, sungguhpun hal ini mendatangkan bermacam-macam tanggapan dalam hati para penghuni Pulau Es.

Pesta diadakan secara sederhana saja, tetapi cukup meriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es bersuka-cita dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini raja akan dikaruniai seorang putera. Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan keluarga raja. Ada kekecewaan, akan tetapi ada pula harapan. Kecewa karena sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil ‘orang luar’ sebagai selir, akan tetapi timbul harapan karena mungkin melalui istri kedua ini mereka dapat ‘memukul’ Liu Bwee yang mereka benci.

Ternyata kemudian oleh Kwat Lin bahwa semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka. Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini terasa olehnya setelah dia menyerahkan dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa raganya Han Ti Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya, sedemikian besarnya sehingga lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini.

Dan dia yang tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan utama dengan mengorbankan dan menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir. Apalagi setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia menjadi selir, dia melahirkan seorang anak laki-laki. Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama sekali.

Kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanita yang seringkali menghadapi banyak kesengsaraan hidup, kini menjadi seorang yang mulia dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa suaminya benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya! Timbullah keinginan hatinya untuk mengangkat diri menjadi permaisuri. Dia merasa berhak, karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki-laki?

Selain menjadi permaisuri, ia juga ingin menjadi pewaris semua ilmu kesaktian dari Pulau Es. Kalau sudah demikian, baru dia akan mencari dan membunuh Pat-jiu Kai-ong. Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini menjadi tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek itu mempermainkannya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara amat menghina, akan tetapi ada segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih kepada kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat itu, agaknya selama hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong, apalagi menjadi istrinya dan sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!

Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama sumoi-nya, Swat Hong yang lincah jenaka. Dan mulai tampaklah bakatnya yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau para tokoh kang-ouw ingin memiliki bocah ini dan menjadikan Sin Liong sebagai bahan perebutan, karena dia memang pantas disebut Sin-tong.

Han Ti Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan yang disebut Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diam-diam menjadi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang amat mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar biasa ini terpendam watak yang amat luar biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih sayang dan iba terhadap orang lain yang amat mendalam, di samping watak yang wajar seadanya. Benar-benar seorang bocah yang ajaib!

Diam-diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri Han Ti Ong, biar pun hal ini merupakan hal yang lumrah bagi seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak-baikan, terutama di pihak ibu sumoi-nya. Apalagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanita Bu-tong-pai itu. Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan yang sama sekali tidak berhak mencampuri ‘urusan dalam’ suhunya, maka tentu saja dia hanya berdiam diri, hanya mengikuti perkembangan keadaan dengan hati tidak enak.

Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa-apa ini memang sungguh terjadi. Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee menderita tekanan batin yang amat hebat. Mula-mula tidak terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di dalam kamarnya karena hal ini dianggapnya lumrah setelah suaminya memiliki isteri lain yang baru. Akan tetapi perasaan kewanitaannya yang halus segera dapat menangkap kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya kepadanya.

Setelah The Kwat Lin mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap dikamarnya, dan kalau sekali-sekali datang, tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali. Kedatangan Han Ti Ong hanya untuk menanyakan kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan belaka! Hati seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira, mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula membenci!

Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak laki-laki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti iri dan hal ini mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai merasa tersiksa batinnya, merasa kesepian. Rasa rindu yang makin menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah kebenciannya terhadap Kwat Lin yang makin dipuja suaminya itu. Liu Bwee bukan seorang wanita yang gila akan kedudukan. Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan menurunnya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan tetapi Liu Bwee adalah seorang wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batinnya setelah cintanya disiasiakan oleh suaminya yang telah jatuh di bawah telapak kaki Kwat Lin.

Melihat penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam bersoraklah para keluarga raja. Bagi mereka, biar pun putera raja bukan keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah ‘agung’ seperti mereka, namun masih lebih baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang ibu seperti Liu Bwee, hanya anak seorang nelayan Pulau Es dari kelas rendah! Pula kebencian mereka yang terdorong oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat mereka condong kepada Kwat Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu, disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan menjadi pangeran mahkota!

Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di Pulau Es. Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es dan kerajaan kecilnya selama tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu. Para penghuninya masih hidup dengan tenang dan tentram penuh kedamaian seperti puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali.

Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang amat besar dan banyak! The Kwat Lin kini menjadi permaisuri, diangkat secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser menjadi istri selir. The Kwat Lin bukan hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi tingkat kedudukannya, namun juga telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh suaminya dan beberapa tokoh lain di Pulau Es. Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong agaknya telah lenyap sama sekali!

Dia kelihatan hidup bahagia, tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya, dan melihat puteranya yang kini telah berusia enam tahun menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat. Biar pun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak kanak-kanak.

Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang menakjubkan dan mengagumkan Han Ti Ong sendiri. Semua ilmu yang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih dapat dilakukan dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam waktu beberapa tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoi-nya, dan setelah dia berusia empat belas tahun, Sin Liong telah jauh meninggalkan tingkat sumoi-nya. Bukan hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang diri di bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat menampung inti sari tenaga im-kang yang amat hebat.

Selain tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh suhunya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin sekali membaca kitab-kitab yang banyak terdapat di dalam kamar perpustakaan istana. Dia dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es, dan mereka ini amat kagum dan suka kepada Sin Liong karena ketekunan bocah ajaib ini. Tidak ada bosannya Sin Liong membaca kitab-kitab kuno, dan setiap bertemu huruf baru yang tidak dikenalnya, dia akan mencatatnya untuk kemudian ditanyakan kepada para ahli itu.

Dengan cara demikian, biar pun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong telah dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata sehingga dia mampu membaca kitab-kitab yang paling kuno di dalam perpustakaan itu. Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain huruf-hurufnya kuno, juga huruf-huruf itu mengandung arti yang amat mendalam. Karena inilah, maka kitab-kitab yang amat kuno di pulau itu jarang atau hampir tidak pernah dibaca orang.

Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu. Selain sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan otaknya. Namun semua kitab itu ‘dilalap’ semua oleh Sin Liong! Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam sajak-sajak itu! Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan ‘rangka’ terselubung di dalam huruf-huruf kuno yang sukar dimengerti itu.

Bahkan dia menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu yang selama ratusan tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar gerakan semua ilmu silat. Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya, maka Han Ti Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurus-jurus ilmu silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di Jeng-hoa-san. Kini secara tidak disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah ajaib ini telah menemukan ilmu itu ‘terselip’ dan terselubung di antara sajak-sajak kuno yang kelihatannya tidak ada gunanya itu.

Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, selama berada di Pulau Es, Sin Liong juga memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya mengenai daun dan tumbuhan obat dengan jalan menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Es. Dia memang mendapat tugas untuk mencari bahan-bahan obat di pulau-pulau itu untuk kepentingan para penghuni Pulau Es. Dalam kesempatan melaksanakan tugasnya ini, Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih banyak lagi tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia.

Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es, banyak sudah penghuni yang terhindar dari bahaya penyakit. Untuk ini Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ilmu pengobatan tusuk jarum kepada muridnya itu. Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah memiliki ilmu kepandaian yang sukar dicari tandingannya. Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es memperoleh kemajuan masing-masing.

Raja Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang telah menjadi permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang tadinya mengalami malapetaka yang dianggapnya lebih hebat daripada kematian sendiri, telah memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra, kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula.

Hanya seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir mau pun batin, yaitu Liu Bwee! Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena semenjak beberapa tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi mendekatinya! Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab. Dia seolah-olah menjadi seorang pertapa dan biar pun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya selalu bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu meneteskan darah, batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu yang tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak pernah terpuaskan.

Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan adanya para anggota keluarga istana yang masih menaruh benci kepadanya dan tidak melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam yang setiap saat tentu akan berkobar atau meledak. Hal ini tidak saja dirasakan oleh semua anggota keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat Hong.

Sering kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swat Hong yang merupakan ciri khas dara ini. Ketika melihat dara itu termenung seorang diri, dia menarik napas panjang dan sekali waktu dia menegur, "Eh, Sumoi. Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu. Sinar matahari mencairkan salju dengan cahaya yang keemasan!"

Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik napas panjang. "Betapa aku tidak akan muram menyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam istana, Suheng? Ayah memang masih biasa dan baik kepadaku, juga ibu baik kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Tidak pernah lagi aku menyaksikan keduanya beramah-tamah dan bersendau-gurau seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri...?"

"Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunayi hak untuk bicara mengenai orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan mereka sendiri."

"Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu kepada Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila...."

"Hushh...."

"Aku tidak membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar Ibuku mengigau memanggil nama Ayah dan menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan biar pun dia hendak menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa Ibu menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan batinnya...." Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi, "Suheng, apa sih perlunya orang saling mencinta kalau akibatnya hanya mendatangkan rindu dan kecewa?"

"Itu bukan cinta, Sumoi. Ahh, kau takkan mengerti dan semua orang takkan mengerti karena sudah lajim menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu menuntut pemuasan, menuntut kesenangan dan ingin memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi."

Sumoinya terbelalak. "Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek saja! Dari mana memperoleh filsafat macam itu, Suheng?" Karena tertarik, dara ini sudah melupakan kedukaannya dan menjadi riang gembira lagi. Matanya memandang suheng-nya dengan berseri penuh godaan.

"Dari... hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku sudah kenyang membaca filsafat, dan apa artinya filsafat kalau hanya untuk dihafal? Tidak ada bedanya dengan benda mati yang hanya diulang-ulang, dipakai perhiasan, dijadikan alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong. Terlalu banyak kitab sudah kubaca, dan mungkin juga karena memperhatikan keadaan mendatangkan kesadaran." Sin Liong menarik napas panjang.

"Suheng, kau tadi mencela aku yang kau katakan murung. Akan tetapi aku juga seringkali melihat engkau seperti orang berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?"

"Aku suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat tempat seindah ini, masyarakat setenteram ini. Akan tetapi, kalau aku melihat para terhukum yang dibuang ke Pulau Neraka...."

"Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali bukan urusan kita."

“Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah-bundamu memang merupakan urusan pribadi mereka. Akan tetapi urusan orang-orang terhukum adalah urusan umum, urusan kita juga. Aku sama sekali merasa tidak senang dengan adanya peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu...."

"Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!"
"Raja pun manusia juga."
"Tapi Raja hanyalah menjalankan hukum yang berlaku, Suheng."
"Hukum pun buatan manusia. Benda mati!"

Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang muda-mudi itu memperhatikan dan wajah Sin Liong menjadi muram.

"Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!"

Tangan Sin Liong digandeng oleh Swat Hong yang menariknya ke arah bangunan di samping istana. Bangunan ini dijadikan ruang sidang pengadilan di mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran. Ketika mereka tiba di situ, telah banyak penghuni Pulau Es yang menonton di luar ruangan, dan tentu saja dua orang muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang sidang dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran.

Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di belakang meja panjang ini terdapat lima buah kursi. Di kanan-kiri pada bagian pinggir juga terdapat kursi-kursi, sedangkan di depan meja, di bagian tengah tetap kosong.

Pada saat Sin Liong dan Swat Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim, yaitu seorang kakek tua keluarga kerajaan yang biasa bertugas sebagai hakim. Di kursi kebesaran di sebelah kanannya tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama permaisurinya. Hal ini merupakan keanehan karena biasanya raja hanya datang tanpa permaisurinya dan duduk bersama dengan para pangeran lain. Agaknya permaisuri Raja Han Ti Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di Pulau Es.

Para pesakitan sudah berlutut di atas lantai di depan meja, jumlahnya ada tiga orang. Seorang adalah laki-laki tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan gerak-geriknya kasar, seorang lagi laki-laki muda yang tampan, dan terakhir ialah seorang wanita yang usianya empat puluhan. Wanita yang masih cantik ini berlutut di samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki-laki tinggi besar dan si wanita yang kelihatan tenang-tenang saja.

Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada laki-laki tinggi besar yang sudah berlutut di depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang Kui. “Bouw Tang Kui telah berkali-kali diperingatkan karena sikapnya yang kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan suka mencuri. Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian, mengambil batu hijau mustika penyedot racun ular milik orang lain. Karena kejahatannya membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan, maka hukuman yang paling berat patut dijatuhkan atas dirinya. Selain untuk memberantas kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada semua penghuni pulau."

Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang lemah dan agak gemetar, "Bouw Tang Kui, kau sudah mendengar tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela diri."

Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian dengan suaranya yang kasar dan nyaring berkata, "Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba telah menerima banyak budi dari Sri Baginda. Kalau sekarang dianggap berdosa, hamba siap menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba."

Hakim berpikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata, "Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui."

Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih hebat dari pada penggal kepala. Di antara mereka yang mendengarkan banyak yang menahan napas dengan muka pucat, dan ada pula yang menaruh hati kasihan kepada Bouw Tang Kui.

Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah memandang kepada raja, lalu berkata dengan suara penuh pahit getir, "Hukuman apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa untuk memusuhi Pulau Es yang hamba cintai!"

"Jadi engkau menerima keputusan hukuman?" hakim bertanya.

"Hamba mene...."

"Nanti dulu!!" tiba-tiba terdengar suara nyaring.

Han Ti Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah berdiri dari kursinya dan mengeluarkan seruan itu. "Harap Suhu dan para Cu-wi sekalian maafkan saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya hendak membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang dia telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu lalu dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi? Saya hendak bertanya, siapakah di antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah melakukan kesalahan?...."

"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan karena kita semua manusia, maka kita pun tentu pernah melakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu dijadikan tanda bahwa selamanya dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh manusia yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan melakukan penyelewengan sama saja dengan seorang yang sedang menderita semacam penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya. Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan hukuman keji itu sama dengan membunuhnya!"

Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda tanggung ini mengeluarkan pembelaannya.

"Akan tetapi di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus tunduk kepada hukum!" kata Han Ti Ong ketika melihat betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab. Dia maklum bahwa Sin Liong disuka banyak orang di situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat karena pemuda itu adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang mengeluarkan suara membantah.

"Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang dianggap berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari manakah timbulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak ada hukum, mana mungkin ada dosa? Kalau tidak ada larangan, mana mungkin ada pelanggaran? Hukum itulah yang menciptakan dosa dan pelanggaran. Hukum itulah yang keji karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor daripada dosa itu sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal itu membuat dia menjadi makin jahat dan mendendam? Andai kata seorang penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah hukuman pembuangan ke Pulau Neraka itu akan menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu menyatakan bahwa hukuman seperti ini tidak patut dilakukan. Lebih baik menuntut mereka yang tersesat agar kembali ke jalan benar dari pada menghukum mereka dengan kekerasan yang akan membuat mereka menjadi lebih jahat lagi."

“Kwa Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan persidangan dan pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat diterima!" bentak Han Ti Ong yang merasa tersinggung juga mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selama ratusan tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang menjadi muridnya!

Sin Liong menghela napas dan terpaksa dia duduk kembali.

"Ssttt, kau terlampau berani...." Swat Hong berbisik.

"Hemmm... tiada gunanya...." Sin Liong balas berbisik.

Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua orang pesakitan yang lain, yaitu laki-laki tampan dan wanita cantik itu. Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan.

"Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan perjinahan. Karena Sin Gin Hwa telah menjadi istri syah dari Ji Hoat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang amat berdosa, melanggar larangan keras yang telah disyahkan hukum. Karena itu tidak ada pengampunan baginya dan mohon pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Ada pun Lu Kiat, biar pun masih muda dan belum beristri, namun dia telah berjinah dengan istri orang, maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak. Kemudian terserah kepada hakim."

Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah sekali ketika mendengar suara mengejek dari mereka yang menonton di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih tenang-tenang saja. Ada pun Lu Kiat, pemuda itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukkan mukanya, kelihatan gelisah sekali.

"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket seratus kali kepada Lu Kiat!"

"Hamba tidak menerima!" Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak. "Yang melakukan perjinahan adalah hamba berdua, maka kalau dibuang pun harus hamba berdua!"

"Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!" teriak pula Lu Kiat.

"Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku, kau berjanji akan bersama-sama menderita andai kata dibuang ke Pulau Neraka!" Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut mulut antara mereka.

"Diam!!" Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka berdua menjatuhkan diri mohon pengampunan.

"Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka sepatutnya kalian berdua sama-sama dibuang ke Pulau Neraka!" kata Raja itu dengan suara tenang namun penuh wibawa.

Sia Gin Hwa memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu, akan tetapi wajah Lu Kiat menjadi makin pucat.

Kembali Sin Liong bangkit berdiri. "Maaf, Suhu. Teecu terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi apakah perbuatan mereka itu sudah demikian jahatnya maka sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seorang istri sampai melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki mengapa wanita yang telah bersuami ini sampai berjinah dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu berahi? Tentu ada sebab-sebabnya."

"Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, tahu apa tentang nafsu berahi?!" bentak gurunya.

Han Ti Ong agak tertegun juga karena mendapatkan kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya itu. Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan permaisuri sendiri menahan senyumnya.

"Teecu... teecu... mengerti dari kitab...."

"Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinahan yang dilakukan orang dewasa tidak dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang mereka bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!" kata Han Ti Ong.

Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring ke luar untuk dilaksanakan hukuman atas diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau Neraka. Hukuman ini paling mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni Pulau Es, karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti hidup tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!


BERSAMBUNG KE JILID 04

Bu Kek Siansu Jilid 03

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

BU KEK SIANSU




Cerita silat Kho Ping Hoo



JILID 03


KETIKA TUBUHNYA melayang turun, ibunya sudah siap menyambutnya. Akan tetapi dasar anak nakal, dia menggunakan kesempatan ini untuk berlatih! Dia cepat membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya di atas dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang ibunya, mencengkram ke arah ubun-ubun. Itulah jurus terakhir yang dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan loncatan ke atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan, akan tetapi kini dilakukannya ketika dia melayang turun!

"Haiiit...!!" Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong menjerit sebelum menyerang.

Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi. Semenjak menjadi isteri Pangeran Han Ti Ong, wanita puteri nelayan yang tentu saja seperti semua penghuni Pulau Es telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, telah digembleng oleh suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia menjadi seorang yang sakti seperti semua keluarga kerajaan itu.

Melihat kegembiraan puterinya, dia pun cepat mengelak. Dari samping dia menyambar kedua lengan anaknya dan dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan ke atas! Tubuh itu melayang tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat Hong berteriak girang, "Heiii, Ibu... itu Ayah datang...!!"

Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari ke pinggir tebing tinggi dan memandang ke laut. Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar karena penuh rindu kepada suaminya. Benar saja. Tampak sebuah perahu dan dia mudah mengenal suaminya yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat sehingga perahu kecil meluncur seperti seekor ikan hiu yang marah.

Akan tetapi alis wanita ini berkerut ketika dia melihat dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanita muda yang cantik! Hatinya terasa tidak enak. Dia tidak akan mengikat suaminya, dan sebagai seorang isteri pangeran calon raja tentu saja dia maklum bahwa suaminya berhak mengambil selir sebanyak-banyaknya. Akan tetapi entah mengapa, kedatangan suaminya dengan dua orang itu, terutama seorang wanita cantik, mendatangkan rasa gelisah yang aneh didalam hatinya.

"Ibuuu...! Tolong dulu aku...!"

Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya. Dia menengok dan melihat tubuh anaknya meluncur turun. Dia kaget dan baru sadar bahwa ketegangan mendengar suaminya pulang membuat dia lupa kepada puterinya. Sungguh pun Swat Hong telah memiliki ginkang yang cukup baik, akan tetapi meluncur turun dari tempat tinggi seperti itu ada bahaya kaki patah atau setidaknya salah urat.

Untuk meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia menyambar sebuah ranting kayu di dekat kakinya, lalu melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki Swat Hong. Anak ini juga tidak menyia-nyiakan pertolongan ibunya. Dia menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu dapat menahan dan mengurangi tenaga luncuran tubuhnya sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat ke bawah dengan aman.

Seperti tidak pernah mengalami bahaya apa-apa, anak itu lalu lari ke arah ibunya dan berteriak girang, "Ayah datang, Ibu?"

Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi memandang ke arah perahu yang makin mendekat pantai.

"Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan anak laki-laki bersama ayah di dalam perahu!"

Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang tajam penuh selidik ke arah perahu.

"Wah, jangan-jangan itu selir dan putera ayah!" Swat Hong yang memang berwatak terbuka itu berkata mengomel.

Anak ini sudah tahu akan kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia tidak akan merasa heran pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar Pulau Es, biar pun hatinya merasa tidak senang dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam perahu itu.

Mendengar ucapan Swat Hong yang tanpa disengaja merupakan benda tajam menusuk hatinya itu, Liu Bwee menjawab, “Perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi ibu anak laki-laki itu, sungguh pun bukan tidak mungkin dia adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik."

Jawaban ini keluar dari lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar melalui mulutnya seperti tidak disadarinya. Barulah dia kaget ketika kalimat itu telah terucapkan. Cepat dia menoleh ke arah puterinya dan merasa menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang penuh cemburu tadi. Segera digandengnya tangan anaknya dan untuk mengapus kata-katanya dari hati anaknya dia berkata riang, "Ehh, kenapa kita di sini saja? Hayo kita sambut Ayahmu!"

Berlari-larianlah mereka menuruni tebing untuk menyambut kedatangan Pangeran Han Ti Ong di pantai pasir. Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat Hong sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya tadi. Sebenarnya hati Liu Bwee memang amatlah girang melihat kembalinya suaminya, sungguh pun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kata suaminya pulang sendirian saja.

Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia mengalami penderitaan batin yang hebat. Memang dia maklum bahwa dirinya tidak disukai oleh keluarga kerajaan, karena dianggap seorang wanita berdarah rendah. Kebencian keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa Han Ti Ong tidak mau mengambil selir. Hal ini dianggap oleh mereka bahwa Liu Bwee menggunakan daya upaya untuk mengikat suaminya! Apalagi karena Liu Bwee tidak mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin bertambah. Sudah tentu saja, yang merasa paling benci adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong, pangeran calon raja itu memperistrikan puteri mereka!

Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan sudah menjadi dugaan umum bahwa usianya takan bertahan lama lagi. Agaknya raja itu hanya menantikan kembalinya puteranya yang menjadi putera mahkota, yaitu pangeran Han Ti Ong untuk mewariskan singgasana kepada puteranya ini.

Akan tetapi, karena keadaan Han Ti Ong yang lain daripada para pangeran lain, suka merantau, isterinya orang rendah dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera, maka Liu Bwee maklum bahwa di antara keluarga raja terdapat persekutuan yang menentang diangkatnya suaminya menjadi calon raja! Hal inilah yang mendukakan hatinya. Dia menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang bagi suaminya dan hal inilah yang paling merusak hatinya. Maka dapat dibayangkan betapa gembira hatinya melihat suaminya pulang!

Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata pasukan kehormatan telah berbaris dan siap menyambut pulangnya pangeran yang dihormati itu. Tentu saja Liu Bwee dan Swat Hong mendapat tempat kehormatan paling depan dan ketika akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti Ong melompat ke luar sambil tersenyum lebar, Swat Hong menjadi orang pertama yang berlari menyambut.

"Ayah...!!"

"Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!" Han Ti Ong menerima puterinya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkan tubuh anaknya ke udara.

Sambil tertawa-tawa Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang ayahnya dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke Laut) seperti yang dilakukannya kepada ibunya tadi.

"Ha-ha-ha, bagus juga!"

Ayahnya tertawa, menyambar kedua lengan yang mencengkram ubun-ubunnya, lalu memondong puterinya, dan mencium dahinya. Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri istrinya yang sudah maju menyambutnya, memandang penuh kemesraan dan berkata halus, “Harap kau baik-baik saja selama aku pergi."

Liu Bwee memandang suaminya sambil tersenyum, akan tetapi di balik senyum itu tampak oleh Han Ti Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apalagi ketika mendengar suara istrinya yang lirih. "Ayahanda raja sedang menderita sakit parah."

Han Ti Ong mengangguk. Ucapan yang pendek itu sudah mencakup semua isi hati istrinya. Dia sudah mengenal hati istrinya yang tercinta itu dan dia tahu pula bahwa menjelang kematian ayahnya, ada hal-hal yang menggelisahkan istrinya. Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan asal-usul istrinya yang datang dari keluarga berdarah ‘rendah’ itu. Dikhawatirkan bahwa keturunan istrinya itu kelak akan menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja!

Maka dia memandang isterinya dengan sinar mata menghibur, kemudian seperti teringat dia berkata, "Ahh, hampir aku lupa. Aku datang bersama seorang muridku, namanya Sing Liong akan tetapi di daratan besar sana dia dikenal sebagai Sin-tong."

"Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu sampai di mana keajaibannya!"

"Hong-ji, jangan!" ibunya menegur.

Akan tetapi anak itu telah meloncat ke depan, dan pada saat itu Sin Liong pun sudah turun dari atas perahu. Baru saja dia berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Tahu-tahu seorang gadis cilik dengan gerakan seperti seekor burung garuda menyambar telah menyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil telah menghantam dadanya.

"Bukk!!" tanpa dapat ditanyakan lagi, Sin Liong roboh terjengkang, dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.

Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan pakaiannya yang menjadi kotor, lalu memandang anak perempuan yang lebih muda daripada dia itu. Sin Liong menggeleng kepala dan berkata tenang, "Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak yang masih bersih dikotori kebiasaan buruk mempergunakan kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab."

"Aihhh...," Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada ayahnya yang terdengar tertawa keras. "Ayah, dia tidak bisa apa-apa, mengapa disebut Sin-tong? Serangan biasa saja membuatnya roboh terjengkang!"

"Ha-ha-ha, kau lihat dia roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat sesuatu yang ajaib? Dia tidak marah, malah menyayangkan dirimu, bukankah itu ajaib?"

"Anak yang luar biasa dia...," terdengar Liu Bwee berkata lirih.

Kini Swat Hong juga memandang Sin Liong. Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkata, "Dia tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!"

"He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?" Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong.

Anak ini menggeleng kepala. "Suhu pasti mengerti bahwa teecu tidak takut terhadap apa pun dan siapa pun."

Swat Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, kemudian menegakkan kepalanya dan menantang, "Bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo kau lawan aku!" Selesai bicara dia langsung bersiap memasang kuda-kuda.

Sin Liong menggeleng kepalanya. "Adik yang baik, aku tidak akan menggunakan kepandaian apa pun juga untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, apalagi terhadap seorang anak-anak seperti engkau."

Gadis cilik itu sudah menerjang maju, namun Sin Liong hanya memandang dengan sikap tenang saja, berkedip pun tidak menghadapi serangan anak perempuan itu. Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke belakang dan ternyata lengannya sudah ditangkap oleh ibunya dan ditarik ke belakang.

"Swat Hong, kau terlalu sekali! Seharusnya kau minta maaf kepada Suheng-mu itu!"

Swat Hong menoleh. Ia melihat ayahnya tersenyum, ia pun melihat pandang mata semua orang dari prajurit sampai perwira penuh kagum terhadap Sin Liong. Barulah dia ingat bahwa dia telah melanggar pelajaran pertama dari ayahnya, bahkan dari semua penghuni pulau bahwa ilmu silat Pulau Es tidak boleh sembarangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa alasan! Dan dia telah menyerang Sin Liong tanpa sebab apa-apa, padahal Sin Liong adalah murid ayahnya atau suheng-nya (kakak seperguruan).

Biar pun dia berwatak keras dan tidak mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah berubah membuat Swat Hong dapat mengusir semua rasa penasaran. Sambil tersenyum dan dengan muka ramah dia menjura ke arah Sin Liong sambil berkata, "Suheng, harap maafkan aku yang kurang ajar tehadap murid Ayah."

Sin Liong terkejut. Kiranya bocah ini puteri suhunya! Dia pun menjura dan berkata, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi. Kepandaianmu memang hebat, tentu saja aku bukan tandinganmu."

"Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!"

Swat Hong lalu meloncat menghampiri Sin Liong, menggandeng tangannya dan diajak lari ke pinggir di mana dia menghujani Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan. "Siapakah nama lengkapmu, Suheng? Dari mana kau datang? Bagaimana kau dapat menjadi murid Ayah? Apa saja yang sudah diajarkannya kepadamu? Mengapa pula kau disebut Sin-tong?"

Payah juga Sin Liong menghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja menyerangnya seperti seekor burung garuda, akan tetapi kini sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini. Akan tetapi baru saja dia memperkenalkan namanya, yaitu Kwan Sin Liong dan belum sempat menjawab pertanyaan yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang yang berada di situ tertarik oleh keributan yang terjadi ketika Kwat Lin turun dari atas perahu.

Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih belum sadar betul dari gangguan ingatannya karena malapetaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi perhatian semua orang. Wanita ini memang berwajah manis dan gagah, apalagi ketika turun dari perahu itu. Rambutnya yang awut-awutan berkibar tertiup angin, pakaiannya yang terlalu longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh rahasia. Kwat Lin turun dengan sikap tenang, akan tetapi matanya bergerak liar menyapu semua orang yang memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang kepada Liu Bwee yang telah melangkah menghampirinya.

"Dia ini siapakah?" Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pucat itu sambil didalam hatinya menduga-duga dan menanti jawaban yang diharapkan dari suaminya karena pertanyaan itu sesungguhnya diajukan kepada suaminya.

Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab, tiba-tiba Kwat Lin membentak, "Manusia-manusia busuk! Kubunuh engkau!" Dan dia sudah meloncat ke depan dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat.

"He, Toanio! Jangan begitu...!!" Sin Liong berteriak mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah menyerang dengan cepatnya.

Sedangkan para penghuni Pulau Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri, hanya memandang dengan tenang-tenang saja!

"Wuutttt...! Plak-plak...!" tubuh Kwat Lin terpelanting ketika pukulannya tertangkis oleh Liu Bwee dan wanita ini sudah menampar pundaknya sebagai serangan balasan.

Hal ini membuat Kwat Lin yang memang belum sadar benar itu makin marah. Dengan nekat dia melompat bangun dan menerjang lagi, namun Pangeran Han Ti Ong sudah mendahuluinya menotok pundaknya sambil berkata, "Tenanglah, Nona,"

Kwat Lin kembali roboh, akan tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong. Ternyata dia telah ditotok lemas. Dengan lambaian tangan, Pangeran itu memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan tangkas-tangkas.

"Dia sedang sakit, ingatannya tidak sewajarnya." Ucapan ini ditujukan kepada istrinya yang memandang marah.

Mendengar ini Liu Bwee mengangguk-angguk dan kemarahan di wajahnya berubah menjadi iba. "Bawa dia ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik," kata Liu Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera menggotong tubuh Kwat Lin pergi dari situ.

Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan resmi dari para pangeran dan pasukan penghormatan. Tadi dia seolah-olah menganggap mereka semua itu seperti patung belaka. Dengan megah Pangeran itu lalu langsung diantar ke kamar ayahnya, Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama menanti kedatangan puteranya ini. Sedangkan Sin Liong langsung diajak oleh Swat Hong ke bagian istana di mana dia dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana besar.

Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es, tiga hari setelah pulangnya Pangeran Han Ti Ong, raja tua meninggal dunia setelah sempat menyaksikan Han Ti Ong dinobatkan menjadi penggantinya, merajai Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan betapa tidak puas dan penasaran rasa hati para pangeran yang membenci Han Ti Ong karena usaha mereka memanaskan hati mendiang ayah mereka tentang keadaan Han Ti Ong tidak dipedulikan oleh raja tua itu.

Untuk memberontak secara terang-terangan, tentu saja mereka tidak berani karena di dalam pulau itu, pada waktu itu Han Ti Ong merupakan orang yang paling sakti. Maka, mereka itu hanya diam saja, biar pun tidak pernah lengah barang sehari pun untuk mencari peluang dan kesempatan yang baik untuk menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan Lui Bwee yang mereka anggap sebagai biang keladi dari ‘penyelewengan’ Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raja di Pulau Es!

Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang baik dari Liu Bwee dan para pelayan, juga dengan pengobatan tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri, ditambah obat-obatan berupa daun-daun yang dicari para anak buah Pulau Es atas petunjuk Sin Liong, gangguan ingatan yang diderita oleh The Kwat Lin menjadi sembuh.

Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk seorang diri di dalam taman istana, taman yang bukan berisi bunga-bunga hidup, melainkan terisi ukir-ukiran bunga dari batu-batu beraneka warna, dihias salju dan patung patung kayu. Sudah berhari-hari dia duduk di taman ini dan didiamkan saja karena menurut Raja Han Ti Ong, wanita malang ini harus dibiarkan pulih kembali ingatannya dan tidak boleh diganggu. Namun, diam-diam dia sendiri melakukan pengawasan karena entah bagaimana, makin lama dia menjadi tertarik dan tahu bahwa dia jatuh hati kepada gadis ini!

Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar gerakan di belakangnya. Sebagai seorang hali silat kelas tinggi, sedikit suara saja cukup membuat dia siap waspada. Ketika dia membalik, dia melihat Han Ti Ong yang berdiri di situ sambil memandangnya dengan senyum ramah. The Kwat Lin yang kini sudah sembuh sama sekali, memandang penuh keheranan lalu menegur, "Siapakah engkau? Dan mengapa engkau bisa berada di tempat aneh ini?"

Melihat sikap gadis ini dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, legalah hati Raja Han Ti Ong. Sikap dan kata-kata itu sudah cukup membuktikan bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah kembali kepada keadaan sebelum mengalami tekanan batin hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak mengerti mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu.

"Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona telah sembuh dari lupa ingatan yang Nona derita belasan hari ini."

"Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena aku tidak mengenal engkau dan tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini."

"Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingatan, dan baru sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona telah alami selama belasan hari ini. Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan nasib Ca-sha Sin-siap yang amat malang...."

Tiba-tiba wajah itu menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat. "Kau... kau tahu apa yang terjadi kepada kami...?"

Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang mengguncangkan hatinya itu dengan senyum mesra. “Tentu saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua belas orang suheng-mu. Aku dan muridku pula yang menolong membawamu ke sini kemudian mengobatimu sehingga sembuh hari ini. Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja pulau ini dan kau berada di Pulau Es."

Mata yang indah ini terbelalak. "Apa...? Di... di Pulau Es...? Dan aku telah mendengar nama besar Pangeran Han Ti Ong...."

"Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah pulau kecil tak berarti, Nona. Aku belum mengetahui namamu karena selama ini kau tidak menyebut namamu."

Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya. “Saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Paduka, dan maafkan kalau saya tidak mengenal penolong saya. Saya bernama The Kwat Lin, orang termuda Cap-sha Sin-hiap, dan... kalau paduka menaruh kasihan kepada saya, saya ingin segera pergi dari sini..., sekarang juga...."

"Nona The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia hati. Ketahuilah, semenjak pertama kali melihatmu dan melihat penderitaanmu, timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku. Karena itu, kalau kiranya engkau suka, aku akan merasa berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal di dalam istanaku ini sebagai seorang istriku, istri yang ke dua."

Kwat Lin terkejut sekali. Dia telah berhutang budi kepada raja ini, dan sekarang raja ini secara demikian terus terang menyatakan cintanya dan ingin mengambil dia sebagai isteri! Dia menjadi isteri raja? Dia yang telah dinodai oleh Pat-jiu Kai-ong?

"Tidak! Maaf... saya... saya harus pergi sekarang juga. Hanya satu tujuan hidup saya, dan Paduka tentu tahu... yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu Kai-ong."

Han Ti Ong mengangguk-angguk. "Aku mengerti dan aku sudah menduga bahwa seorang dara perkasa seperti engkau tentu saja tidak akan mau menerima tawaranku dan tidak mungkin aku mengharapkan seorang dara seperti Nona akan jatuh cinta begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona. Adanya aku berani meminangmu secara terang-terangan, karena aku yakin Nona akan menerimanya berdasarkan cita-cita tunggal Nona itulah. Bagaimana mungkin Nona akan membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Cap-sha Sin-hiap saja tidak mampu mengalahkannya? Akan tetapi kalau engkau menjadi istriku, hemmm...soal membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan."

Ucapan ini berkesan mendalam, membuat Kwat Lin termangu-mangu. Dia bukan gadis lagi dan tidak mungkin dia menjadi istri orang. Setelah berhasil membalas dendam, hanya kematianlah yang akan mengakhiri noda yang dideritanya. Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong yang sakti, lain lagi halnya. Apa lagi kalau orang sakti itu sendiri sudah tahu akan keadaanya.

"Apakah... apakah Paduka akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada saya?” tanyanya dan kini dia mengangkat muka, memandang raja itu. Diam-diam ia harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan tampan, sungguh pun usianya tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.

"Terserah kepadamu. Kalau engkau suka memenuhi hasrat hatiku yang ingin memperistrimu, maka kau memiliki dua pilihan. Kau boleh menghendaki dalam waktu pendek saja aku dapat menangkap musuhmu itu dan menyeretnya kedepan kakimu, atau engkau boleh mempelajari ilmu dan aku berani tanggung bahwa selama setahun saja engkau akan mengalahkan musuhmu itu."

"Be...benarkah itu?"

"Nona The Kwat Lin, Han Ti Ong bukan orang yang biasa membohong, pula aku tidak ingin mendapatkan dirimu dengan jalan membohong. Aku telah bicara terus terang dan andai kata engkau menolak sekali pun, aku tidak akan memaksamu. Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan kusediakan perahu untukmu. Nah, engkau yang memutuskan."

Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin. Dia mengerti betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong. Tentu saja ia dapat pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa Cap-sha Sinhiap itu kepada gurunya, ketua Bu-tong-pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi gurunya sudah tua sekali, dan belum tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biar pun murid-muridnya terbunuh sekali pun. Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya juga akan sukar mengalahkan Pat-jiu Kai-ong.

Yang terutama sekali memperberat hatinya adalah, kalau dia pergi ke Bu-tong-pai, tentu semua orang akan tahu tentang malapetaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong. Ke mana dia akan menaruh mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu? Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain tak seorang pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas dendam itu!

Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya sehingga dalam waktu setahun dia akan lebih pandai dari Pat-jiu Kai-ong? Dia tidak akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya sediri. Biar pun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari Pulau Es yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat membuktikan kesaktiannya? Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkata, "Saya ingin sekali dapat membalas dendam dengan tangan saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa dalam setahun saya dapat belajar di sini dan menangkan iblis itu?"

Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya. "Inilah pedang yang kutemukan ketika aku dan muridku menolongmu."

Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun bertitik, akan tetapi segera dihapusnya. Itulah Ang-bwe-kiam, pedang dari twa-suheng-nya!

"Engkau meragu, baiklah. Sekarang kau pergunakan pedangmu dan kau serang aku untuk menguji apakah aku dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat-jiu Kai-ong."

Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di tangannya. Pat-jiu Kai-ong telah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suheng-nya. Mereka telah mainkan Ngo-heng-kiam, bahkan telah membentuk barisan Sin-kiam-tin ketika mengeroyok kakek iblis itu, namun akhirnya mereka semua kalah, sungguh pun sejenak kakek itu sempat terdesak. Kini kalau hanya dia seorang diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

"Nona, jangan ragu-ragu. Percayalah, kalau engkau benar rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat mengalahkan dia. Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat dari kakek itu sebetulnya kosong saja," kata raja itu, seolah-olah dapat membaca isi hati Kwat-lin.

Dara itu terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum dia menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai penebus latihan ilmu untuk membalas dendam. "Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata."

"Ha-ha-ha, Pat-jiu Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunnya untuk mengalahkan Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan ini." Dia meraih ke bawah dan tangannya sudah membentuk batu karang sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti pedang!

"Harap Paduka siap!" Kwat Lin berseru. Pedangnya menyambar dengan cepat, melakukan tusukan ke arah leher, sedang tangan kirinya sudah memukul ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan pukulan tangan kiri ini merupakan jurus ampuh dari Ngo-heng-kiam-sut.

Sekali tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada detik berikutnya, leher dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin menjerit lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong tentu dia telah roboh dan tewas seketika. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu.

"Paduka... Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo-heng-kiam-sut Bu-tong-pai!"

Han Ti Ong tersenyum, "Persis sekali dengan seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang berhasil, bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi, bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu?”

Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas. "Saya ingin mencoba lagi!"

"Boleh, boleh. Kau seranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa engkau akan kukalahkan dengan jurusmu yang sama."

Dengan pengerahan tenaga dan memilih jurus-jurus terampuh, Kwat Lin menyerang lagi. Akan tetapi setiap kali selesai menyerang satu jurus, dia lantas menjerit lirih karena benar saja, dia selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri. Jurus itu digerakkan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan mengandung tenaga mukjijat sehingga biar pun dia mengenal jurusnya sendiri, dia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis!

Setelah sepuluh kali dia terkena sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia menjadi yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut. "Saya menerima penawaran Paduka!"

Ha Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri. Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang. Wajah raja itu berseri melihat betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan hebat tersembunyi di balik kemerahan wajah karena malu itu.

Dengan mesra Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan berkata lirih, "Aku tahu, Kwat Lin. Peristiwa terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputusan yang kau ambil ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari, mari kita mengumumkan pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia."

Han Ti Ong mencium dan mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu belakang yang menembus ke ‘taman’ itu. Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong mengumumkan keputusannya mengambil The Kwat Lin sebagai istri kedua, sungguhpun hal ini mendatangkan bermacam-macam tanggapan dalam hati para penghuni Pulau Es.

Pesta diadakan secara sederhana saja, tetapi cukup meriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es bersuka-cita dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini raja akan dikaruniai seorang putera. Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan keluarga raja. Ada kekecewaan, akan tetapi ada pula harapan. Kecewa karena sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil ‘orang luar’ sebagai selir, akan tetapi timbul harapan karena mungkin melalui istri kedua ini mereka dapat ‘memukul’ Liu Bwee yang mereka benci.

Ternyata kemudian oleh Kwat Lin bahwa semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka. Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini terasa olehnya setelah dia menyerahkan dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa raganya Han Ti Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya, sedemikian besarnya sehingga lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini.

Dan dia yang tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan utama dengan mengorbankan dan menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir. Apalagi setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia menjadi selir, dia melahirkan seorang anak laki-laki. Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama sekali.

Kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanita yang seringkali menghadapi banyak kesengsaraan hidup, kini menjadi seorang yang mulia dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa suaminya benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya! Timbullah keinginan hatinya untuk mengangkat diri menjadi permaisuri. Dia merasa berhak, karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki-laki?

Selain menjadi permaisuri, ia juga ingin menjadi pewaris semua ilmu kesaktian dari Pulau Es. Kalau sudah demikian, baru dia akan mencari dan membunuh Pat-jiu Kai-ong. Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini menjadi tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek itu mempermainkannya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara amat menghina, akan tetapi ada segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih kepada kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat itu, agaknya selama hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong, apalagi menjadi istrinya dan sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!

Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama sumoi-nya, Swat Hong yang lincah jenaka. Dan mulai tampaklah bakatnya yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau para tokoh kang-ouw ingin memiliki bocah ini dan menjadikan Sin Liong sebagai bahan perebutan, karena dia memang pantas disebut Sin-tong.

Han Ti Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan yang disebut Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diam-diam menjadi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang amat mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar biasa ini terpendam watak yang amat luar biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih sayang dan iba terhadap orang lain yang amat mendalam, di samping watak yang wajar seadanya. Benar-benar seorang bocah yang ajaib!

Diam-diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri Han Ti Ong, biar pun hal ini merupakan hal yang lumrah bagi seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak-baikan, terutama di pihak ibu sumoi-nya. Apalagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanita Bu-tong-pai itu. Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan yang sama sekali tidak berhak mencampuri ‘urusan dalam’ suhunya, maka tentu saja dia hanya berdiam diri, hanya mengikuti perkembangan keadaan dengan hati tidak enak.

Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa-apa ini memang sungguh terjadi. Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee menderita tekanan batin yang amat hebat. Mula-mula tidak terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di dalam kamarnya karena hal ini dianggapnya lumrah setelah suaminya memiliki isteri lain yang baru. Akan tetapi perasaan kewanitaannya yang halus segera dapat menangkap kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya kepadanya.

Setelah The Kwat Lin mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap dikamarnya, dan kalau sekali-sekali datang, tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali. Kedatangan Han Ti Ong hanya untuk menanyakan kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan belaka! Hati seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira, mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula membenci!

Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak laki-laki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti iri dan hal ini mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai merasa tersiksa batinnya, merasa kesepian. Rasa rindu yang makin menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah kebenciannya terhadap Kwat Lin yang makin dipuja suaminya itu. Liu Bwee bukan seorang wanita yang gila akan kedudukan. Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan menurunnya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan tetapi Liu Bwee adalah seorang wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batinnya setelah cintanya disiasiakan oleh suaminya yang telah jatuh di bawah telapak kaki Kwat Lin.

Melihat penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam bersoraklah para keluarga raja. Bagi mereka, biar pun putera raja bukan keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah ‘agung’ seperti mereka, namun masih lebih baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang ibu seperti Liu Bwee, hanya anak seorang nelayan Pulau Es dari kelas rendah! Pula kebencian mereka yang terdorong oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat mereka condong kepada Kwat Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu, disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan menjadi pangeran mahkota!

Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di Pulau Es. Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es dan kerajaan kecilnya selama tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu. Para penghuninya masih hidup dengan tenang dan tentram penuh kedamaian seperti puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali.

Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang amat besar dan banyak! The Kwat Lin kini menjadi permaisuri, diangkat secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser menjadi istri selir. The Kwat Lin bukan hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi tingkat kedudukannya, namun juga telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh suaminya dan beberapa tokoh lain di Pulau Es. Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong agaknya telah lenyap sama sekali!

Dia kelihatan hidup bahagia, tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya, dan melihat puteranya yang kini telah berusia enam tahun menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat. Biar pun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak kanak-kanak.

Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang menakjubkan dan mengagumkan Han Ti Ong sendiri. Semua ilmu yang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih dapat dilakukan dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam waktu beberapa tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoi-nya, dan setelah dia berusia empat belas tahun, Sin Liong telah jauh meninggalkan tingkat sumoi-nya. Bukan hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang diri di bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat menampung inti sari tenaga im-kang yang amat hebat.

Selain tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh suhunya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin sekali membaca kitab-kitab yang banyak terdapat di dalam kamar perpustakaan istana. Dia dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es, dan mereka ini amat kagum dan suka kepada Sin Liong karena ketekunan bocah ajaib ini. Tidak ada bosannya Sin Liong membaca kitab-kitab kuno, dan setiap bertemu huruf baru yang tidak dikenalnya, dia akan mencatatnya untuk kemudian ditanyakan kepada para ahli itu.

Dengan cara demikian, biar pun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong telah dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata sehingga dia mampu membaca kitab-kitab yang paling kuno di dalam perpustakaan itu. Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain huruf-hurufnya kuno, juga huruf-huruf itu mengandung arti yang amat mendalam. Karena inilah, maka kitab-kitab yang amat kuno di pulau itu jarang atau hampir tidak pernah dibaca orang.

Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu. Selain sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan otaknya. Namun semua kitab itu ‘dilalap’ semua oleh Sin Liong! Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam sajak-sajak itu! Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan ‘rangka’ terselubung di dalam huruf-huruf kuno yang sukar dimengerti itu.

Bahkan dia menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu yang selama ratusan tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar gerakan semua ilmu silat. Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya, maka Han Ti Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurus-jurus ilmu silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di Jeng-hoa-san. Kini secara tidak disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah ajaib ini telah menemukan ilmu itu ‘terselip’ dan terselubung di antara sajak-sajak kuno yang kelihatannya tidak ada gunanya itu.

Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, selama berada di Pulau Es, Sin Liong juga memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya mengenai daun dan tumbuhan obat dengan jalan menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Es. Dia memang mendapat tugas untuk mencari bahan-bahan obat di pulau-pulau itu untuk kepentingan para penghuni Pulau Es. Dalam kesempatan melaksanakan tugasnya ini, Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih banyak lagi tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia.

Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es, banyak sudah penghuni yang terhindar dari bahaya penyakit. Untuk ini Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ilmu pengobatan tusuk jarum kepada muridnya itu. Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah memiliki ilmu kepandaian yang sukar dicari tandingannya. Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es memperoleh kemajuan masing-masing.

Raja Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang telah menjadi permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang tadinya mengalami malapetaka yang dianggapnya lebih hebat daripada kematian sendiri, telah memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra, kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula.

Hanya seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir mau pun batin, yaitu Liu Bwee! Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena semenjak beberapa tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi mendekatinya! Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab. Dia seolah-olah menjadi seorang pertapa dan biar pun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya selalu bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu meneteskan darah, batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu yang tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak pernah terpuaskan.

Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan adanya para anggota keluarga istana yang masih menaruh benci kepadanya dan tidak melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam yang setiap saat tentu akan berkobar atau meledak. Hal ini tidak saja dirasakan oleh semua anggota keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat Hong.

Sering kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swat Hong yang merupakan ciri khas dara ini. Ketika melihat dara itu termenung seorang diri, dia menarik napas panjang dan sekali waktu dia menegur, "Eh, Sumoi. Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu. Sinar matahari mencairkan salju dengan cahaya yang keemasan!"

Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik napas panjang. "Betapa aku tidak akan muram menyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam istana, Suheng? Ayah memang masih biasa dan baik kepadaku, juga ibu baik kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Tidak pernah lagi aku menyaksikan keduanya beramah-tamah dan bersendau-gurau seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri...?"

"Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunayi hak untuk bicara mengenai orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan mereka sendiri."

"Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu kepada Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila...."

"Hushh...."

"Aku tidak membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar Ibuku mengigau memanggil nama Ayah dan menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan biar pun dia hendak menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa Ibu menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan batinnya...." Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi, "Suheng, apa sih perlunya orang saling mencinta kalau akibatnya hanya mendatangkan rindu dan kecewa?"

"Itu bukan cinta, Sumoi. Ahh, kau takkan mengerti dan semua orang takkan mengerti karena sudah lajim menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu menuntut pemuasan, menuntut kesenangan dan ingin memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi."

Sumoinya terbelalak. "Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek saja! Dari mana memperoleh filsafat macam itu, Suheng?" Karena tertarik, dara ini sudah melupakan kedukaannya dan menjadi riang gembira lagi. Matanya memandang suheng-nya dengan berseri penuh godaan.

"Dari... hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku sudah kenyang membaca filsafat, dan apa artinya filsafat kalau hanya untuk dihafal? Tidak ada bedanya dengan benda mati yang hanya diulang-ulang, dipakai perhiasan, dijadikan alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong. Terlalu banyak kitab sudah kubaca, dan mungkin juga karena memperhatikan keadaan mendatangkan kesadaran." Sin Liong menarik napas panjang.

"Suheng, kau tadi mencela aku yang kau katakan murung. Akan tetapi aku juga seringkali melihat engkau seperti orang berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?"

"Aku suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat tempat seindah ini, masyarakat setenteram ini. Akan tetapi, kalau aku melihat para terhukum yang dibuang ke Pulau Neraka...."

"Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali bukan urusan kita."

“Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah-bundamu memang merupakan urusan pribadi mereka. Akan tetapi urusan orang-orang terhukum adalah urusan umum, urusan kita juga. Aku sama sekali merasa tidak senang dengan adanya peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu...."

"Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!"
"Raja pun manusia juga."
"Tapi Raja hanyalah menjalankan hukum yang berlaku, Suheng."
"Hukum pun buatan manusia. Benda mati!"

Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang muda-mudi itu memperhatikan dan wajah Sin Liong menjadi muram.

"Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!"

Tangan Sin Liong digandeng oleh Swat Hong yang menariknya ke arah bangunan di samping istana. Bangunan ini dijadikan ruang sidang pengadilan di mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran. Ketika mereka tiba di situ, telah banyak penghuni Pulau Es yang menonton di luar ruangan, dan tentu saja dua orang muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang sidang dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran.

Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di belakang meja panjang ini terdapat lima buah kursi. Di kanan-kiri pada bagian pinggir juga terdapat kursi-kursi, sedangkan di depan meja, di bagian tengah tetap kosong.

Pada saat Sin Liong dan Swat Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim, yaitu seorang kakek tua keluarga kerajaan yang biasa bertugas sebagai hakim. Di kursi kebesaran di sebelah kanannya tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama permaisurinya. Hal ini merupakan keanehan karena biasanya raja hanya datang tanpa permaisurinya dan duduk bersama dengan para pangeran lain. Agaknya permaisuri Raja Han Ti Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di Pulau Es.

Para pesakitan sudah berlutut di atas lantai di depan meja, jumlahnya ada tiga orang. Seorang adalah laki-laki tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan gerak-geriknya kasar, seorang lagi laki-laki muda yang tampan, dan terakhir ialah seorang wanita yang usianya empat puluhan. Wanita yang masih cantik ini berlutut di samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki-laki tinggi besar dan si wanita yang kelihatan tenang-tenang saja.

Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada laki-laki tinggi besar yang sudah berlutut di depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang Kui. “Bouw Tang Kui telah berkali-kali diperingatkan karena sikapnya yang kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan suka mencuri. Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian, mengambil batu hijau mustika penyedot racun ular milik orang lain. Karena kejahatannya membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan, maka hukuman yang paling berat patut dijatuhkan atas dirinya. Selain untuk memberantas kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada semua penghuni pulau."

Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang lemah dan agak gemetar, "Bouw Tang Kui, kau sudah mendengar tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela diri."

Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian dengan suaranya yang kasar dan nyaring berkata, "Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba telah menerima banyak budi dari Sri Baginda. Kalau sekarang dianggap berdosa, hamba siap menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba."

Hakim berpikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata, "Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui."

Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih hebat dari pada penggal kepala. Di antara mereka yang mendengarkan banyak yang menahan napas dengan muka pucat, dan ada pula yang menaruh hati kasihan kepada Bouw Tang Kui.

Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah memandang kepada raja, lalu berkata dengan suara penuh pahit getir, "Hukuman apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa untuk memusuhi Pulau Es yang hamba cintai!"

"Jadi engkau menerima keputusan hukuman?" hakim bertanya.

"Hamba mene...."

"Nanti dulu!!" tiba-tiba terdengar suara nyaring.

Han Ti Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah berdiri dari kursinya dan mengeluarkan seruan itu. "Harap Suhu dan para Cu-wi sekalian maafkan saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya hendak membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang dia telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu lalu dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi? Saya hendak bertanya, siapakah di antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah melakukan kesalahan?...."

"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan karena kita semua manusia, maka kita pun tentu pernah melakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu dijadikan tanda bahwa selamanya dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh manusia yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan melakukan penyelewengan sama saja dengan seorang yang sedang menderita semacam penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya. Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan hukuman keji itu sama dengan membunuhnya!"

Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda tanggung ini mengeluarkan pembelaannya.

"Akan tetapi di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus tunduk kepada hukum!" kata Han Ti Ong ketika melihat betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab. Dia maklum bahwa Sin Liong disuka banyak orang di situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat karena pemuda itu adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang mengeluarkan suara membantah.

"Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang dianggap berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari manakah timbulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak ada hukum, mana mungkin ada dosa? Kalau tidak ada larangan, mana mungkin ada pelanggaran? Hukum itulah yang menciptakan dosa dan pelanggaran. Hukum itulah yang keji karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor daripada dosa itu sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal itu membuat dia menjadi makin jahat dan mendendam? Andai kata seorang penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah hukuman pembuangan ke Pulau Neraka itu akan menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu menyatakan bahwa hukuman seperti ini tidak patut dilakukan. Lebih baik menuntut mereka yang tersesat agar kembali ke jalan benar dari pada menghukum mereka dengan kekerasan yang akan membuat mereka menjadi lebih jahat lagi."

“Kwa Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan persidangan dan pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat diterima!" bentak Han Ti Ong yang merasa tersinggung juga mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selama ratusan tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang menjadi muridnya!

Sin Liong menghela napas dan terpaksa dia duduk kembali.

"Ssttt, kau terlampau berani...." Swat Hong berbisik.

"Hemmm... tiada gunanya...." Sin Liong balas berbisik.

Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua orang pesakitan yang lain, yaitu laki-laki tampan dan wanita cantik itu. Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan.

"Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan perjinahan. Karena Sin Gin Hwa telah menjadi istri syah dari Ji Hoat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang amat berdosa, melanggar larangan keras yang telah disyahkan hukum. Karena itu tidak ada pengampunan baginya dan mohon pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Ada pun Lu Kiat, biar pun masih muda dan belum beristri, namun dia telah berjinah dengan istri orang, maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak. Kemudian terserah kepada hakim."

Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah sekali ketika mendengar suara mengejek dari mereka yang menonton di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih tenang-tenang saja. Ada pun Lu Kiat, pemuda itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukkan mukanya, kelihatan gelisah sekali.

"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket seratus kali kepada Lu Kiat!"

"Hamba tidak menerima!" Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak. "Yang melakukan perjinahan adalah hamba berdua, maka kalau dibuang pun harus hamba berdua!"

"Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!" teriak pula Lu Kiat.

"Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku, kau berjanji akan bersama-sama menderita andai kata dibuang ke Pulau Neraka!" Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut mulut antara mereka.

"Diam!!" Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka berdua menjatuhkan diri mohon pengampunan.

"Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka sepatutnya kalian berdua sama-sama dibuang ke Pulau Neraka!" kata Raja itu dengan suara tenang namun penuh wibawa.

Sia Gin Hwa memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu, akan tetapi wajah Lu Kiat menjadi makin pucat.

Kembali Sin Liong bangkit berdiri. "Maaf, Suhu. Teecu terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi apakah perbuatan mereka itu sudah demikian jahatnya maka sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seorang istri sampai melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki mengapa wanita yang telah bersuami ini sampai berjinah dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu berahi? Tentu ada sebab-sebabnya."

"Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, tahu apa tentang nafsu berahi?!" bentak gurunya.

Han Ti Ong agak tertegun juga karena mendapatkan kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya itu. Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan permaisuri sendiri menahan senyumnya.

"Teecu... teecu... mengerti dari kitab...."

"Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinahan yang dilakukan orang dewasa tidak dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang mereka bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!" kata Han Ti Ong.

Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring ke luar untuk dilaksanakan hukuman atas diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau Neraka. Hukuman ini paling mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni Pulau Es, karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti hidup tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!


BERSAMBUNG KE JILID 04