Pembalasan Ratu Sihir


SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Karya: Teguh S
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Gambar Sampul: Tony G
Episode: PEMBALASAN RATU SIHIR

Pembalasan Ratu Sihir


Satu
Dari kejauhan, Gunung Tangkar tampak menjulang tinggi mencakar langit. Puncaknya yang membentuk kerucut, selalu terselimut oleh kabut tebal. Dalam Ibeberapa tahun belakangan ini, tak seorang pun yang berani mendaki gunung itu. Hal itu disebabkan oleh adanya seorang perempuan tua yang bersemayam di puncaknya. Dia adalah seorang yang ahli dalam ilmu sihir dan sangat kejam. Maka tidak heran kalau desa-desa di sekitarnya selalu tampak sunyi, jauh dari kegiatan sehari-hari.

Namun keangkeran gunung itu tidak menghalangi seorang laki-laki tua yang diikuti oleh sekitar dua puluh orang, mendaki Lereng Gunung Tangkar itu dengan langkah-langkah lebar dan tergesa-gesa. Laki-laki itu adalah Ketua Padepokan Tongkat Merah, yang bernama Ki Pulut. Sedangkan para pengikutnya yang

berjumlah dua puluh orang tersebut, adalah murid-muridnya. Mereka terus mendaki tanpa menghiraukan lagi keangkeran gunung itu.

Di samping Ki Pulut, berjalan seorang gadis yang beusia sekitar delapan belas tahun.

Dia berpakaian warna hijau muda dan sangat ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya yang indah dan ramping terlihat jelas, sementara rambutnya yang hitam dan panjang terikat oleh kain pita yang warnanya hijau. Sedangkan dipinggangnya terselip sebilah pedang pendek yang gagangnya berbentuk kepala naga, dan bermata dari batu merah delima.

"Masih jauhkah letak puncaknya, Ayah?"

tanya gadis itu. Suaranya mendesah dan terputus-putus lantaran kecapaian.

"Kenapa? Takut?" Ki Pulut balik bertanya. Gadis itu tidak menjawab.

"Dewi, sudah kukatakan sejak semula, sebaiknya kau tinggal saja di padepokan. Nyai Lumping itu orangnya sangat kejam dan ilmu sihirnya sangat tinggi. Aku saja belum tentu mampu menandinginya," kata Ki Pulut setengah kesal.

"Kalau Ayah sendiri sudah merasa tidak akan mampu menandinginya, kenapa menyanggupi juga perintah Gusti Prabu Indrajaya?"

"Titah seorang raja tidak bisa dibantah, Anakku. Kau tahu, apa akibatnya kalau aku sampai menolak perintah itu? Bukan saja padepokan kita akan hancur tapi kita semua juga akan mati di tiang gantungan"

"Huh Apakah sikap semua raja selalu begitu?" dengus Dewi Puspita.

"Tidak semuanya begitu, Dewi. Ada juga seorang raja yang bijaksana dan adil. Dan tidak pernah membebani rakyat dengan tugas-tugas yang berat."

"Kan masih banyak padepokan-padepokan lain yang lebih besar, Ayah. Kenapa Gusti Prabu menunjuk padepokan kita?"

"Dewi, sebelum aku mendirikan Padepokan Tongkat Merah, aku adalah seorang panglima perang. Dulu, kerajaan Bumi Loka masih diperintah oleh Ayahanda Gusti Prabu Indrajaya. Dan aku mengundurkan diri setelah Gusti Prabu Swarajaya mangkat. Aku merasa sudah tua dan tidak kuat lagi untuk memimpin sekian ribu prajurit."

"Aku merasa bahwa perintah ini bukan datang dari Gusti Prabu Indrajaya. Aku menduga hal ini adalah ulah...."

"Dewi Jangan coba-coba berprasangka buruk dulu pada orang lain," potong Ki Pulut agak membentak.

"Ayah tidak perlu menutup-nutupi hal ini, aku sudah tahu semuanya. Aku juga mengerti kenapa Ayah mengundurkan diri dari jabatan panglima. Dan aku juga sudah tahu, kenapa...?"

"Sudahlah, Dewi. Tuhan Maha Adil, barang siapa yang menanam, pasti akan memetik hasilnya Yang penting sekarang, kita harus melaksanakan tugas berat ini. Lihat, sebentar lagi kita akan sampai di puncak. Mudah-mudahan Nyai Lumping mau menerima kedatangan kita dengan baik."

Meskipun dalam hatinya Dewi Puspita tidak menyetujui sikap ayahnya itu, namun dia tidak banyak bertanya lagi. Dia hanya berpikir, siapa pun orangnya, pasti akan menolak tugas ini. Karena semua orang tahu, menemui Nyai Lumping berarti menyerahkan nyawa dengan sia-sia

Tiba-tiba Ki Pulut mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di hadapan murid-muridnya. Seketika pula pengikutnya itu langsung berhenti melangkah, dan segera mencabut senjatanya masing-masing. Tapi Ki Pulut segera memerintahkan untuk menyimpan kembali senjata mereka. Kini perasaan tegang dan mencekam melanda mereka semua.

Sejenak Ki Pulut mengedarkan pandangan berkeliling. Namun sejauh matanya memandang, hanya kabut tebal yang terlihat. Sementara angin yang bertiup kencang menyebarkan hawa dingin seperti menusuk tulang. Mereka sekarang sudah berada Puncak Gunung Tangkar, di mana wanita tua yang berjuluk Ratu Sihir itu tinggal.

***
Pelahan-lahan Ki Pulut mengayunkan kakinya. Sementara Dewi Puspita dan semua murid-muridnya mengikuti dari belakang. Bola mata mereka terus mengawasi dengan tajam keadaan sekitarnya.

"Barangkali Nyai Lumping sudah tidak ada di sini lagi, Ayah," kata Dewi Puspita setengah berbisik. Namun keadaan yang sunyi di sekitar tempat itu membuat suara gadis itu terdengar jelas.

"Hm...," Kl Pulut hanya bergumam tidak jelas.

"Graaagh..."

Tiba-tiba terdengar suara menggerung yang dahsyat dan menggetarkan jantung. Mereka semua langsung bersiaga dengan menghunus senjatanya masing-masing

"Hati-hati, kedatangan kita sudah diketahui," kata Ki Pulut memperingatkan.
Suaranya terdengar setengah berbisik.

Belum lagi kering kata-kata laki-laki tua itu, mendadak di sekitar tempat itu melayang batu-batu cadas yang runcing dan tajam. Batu-batu itu datang dari empat penjuru, bagaikan dilontarkan oleh tangan-tangan yang besar dan kuat. Tentu saja keadaan itu membuat dua puluh orang murid Padepokan Tongkat Merah jadi panik.

"Tenang Itu cuma tipuan" bentak Ki Pulut. Aneh Batu-batu itu langsung hilang begitu menyentuh tanah, dan tidak ada satu batu pun yang sempat mengenai tubuh mereka.

Namun tak lama sesudah hujan batu itu reda, mendadak mereka dikejutkan kembali dengan munculnya sesosok makhluk yang bertubuh seperti raksasa. Tubuh makhluk itu dipenuhi oleh bulu-bulu hitam yang tebal dan kasar.

Sedangkan wajahnya tidak berbeda jauh dengan seekor kera, dengan sepasang bola mata berwarna kemerahan dan bersorot tajam.

"Grhaaagh..." makhluk itu kembali menggeram dahsyat

"Tolooong..." mendadak salah seorang murid Ki Pulut menjerit keras sambil berlari.

Namun baru beberapa batang tombak dia berlari, makhluk itu sudah melompat, dan langsung mencengkeram pundaknya. Maka tanpa ampun lagi, dengan giginya yang bertaring tajam, makhluk mengoyak tubuh salah seorang murid Padepokan Tongkat Merah itu

"Kejam..." desis Dewi Puspita tidak sanggup untuk menyaksikan makhluk itu memakan tubuh korbannya.

"Jangan" sentak Ki Pulut ketika melihat tiga muridnya maju.

Namun ketiga orang tersebut sudah keburu lompat seraya menghunus senjatanya. Tampak dua orang sudah memegang pedang, dan seorang lagi menggenggam sebuah tongkat pendek berwarna merah. Mereka langsung menyerang makhluk yang mengerikan itu.

"Hiya..."

"Yeaaa..."

"Aaargh"

Dengan bertubi-tubi mereka segera membabatkan senjatanya masing-masing ke tubuh makhluk itu. Namun makhluk itu hanya menggeram dan membiarkan saja tubuhnya jadi bulan-bulanan mereka. Tidak sedikit pun kulitnya cidera.

Tiba-tiba saja tangan makhluk itu bergerak menyambar, sehingga salah seorang dari mereka terpental jauh sampai puluhan tombak. Suara jeritannya terdengar melengking dan menyayat hati. Belum lagi suara jeritan itu hilang dari pendengaran, segera disusul dengan terdengarnya satu jeritan, dan satu pekikan tertahan. Tampak dua tubuh dengan kepala hancur dan dada terbelah, menggeletak di samping kaki makhluk itu.

"Graaagh..." mendadak makhluk itu kembali menggeram dahsyat sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

"Kalian semua diam Jangan ada lagi yang bergerak tanpa perintahku" seru Ki Pulut.

Seketika mereka yang mulai ribut, kembali terdiam. Tampak jelas wajah mereka pucat dengan tubuh gemetaran. Sementara makhluk raksasa itu terus menggerung-gerung, sehingga menggetarkan tanah yang mereka pijak. Namun lama kelamaan raungan-nya makin melemah, bersamaan dengan tubuhnya yang menyusut kecil.

Kini yang ada di depan mereka hanyalah seekor kera biasa yang kelihatan jinak. Dan hewan itu segera berlari menembus kabut dengan meninggalkan suara yang mencericit ribut.

"Kalian harus tetap menuruti kata-kataku, agar tidak ada lagi yang bernasib seperti teman-temanmu" kata Ki Pulut agak tertahan suaranya. Bagaimanapun juga dia menyesali kejadian barusan.

Kini suasana di Puncak Gunung Tangkar itu kembali sunyi. Hanya terdengar deru angin dan detak jantung mereka yang bergerak cepat.

Sementara kabut di sekitar tempat itu semakin tebal dan menghalangi perjalanan mereka.

***

"Guru, sebaiknya kita kembali saja," kata seorang memberanikan diri dengan wajah pucat.

"Benar, Guru," sambung yang lainnya dengan tubuh bergemetaran.

Sejenak Ki Pulut memandangi wajah murid-muridnya yang kini jumlahnya tinggal enam belas orang. Hatinya sedih melihat kekerdilan jiwa mereka, namun dengan bijaksana, Ki Pulut segera bisa memakluminya.

Nama Nyai Lumping memang mampu menggetarkan jiwa orang yang mendengarnya, apalagi mereka telah menyaksikan kejadian yang sangat mengerikan itu.

Bagi Ki Pulut, kematian seseorang dengan cara apa pun juga, tidak membuatnya gentar lagi. Sejak masih berkelana dalam dunia persilatan, hingga menjadi seorang panglima perang, dan sekarang menjadi guru dan ketua sebuah padepokan, dia sudah biasa menghadapi kematian. Tapi bagi murid-muridnya yang belum pernah bertarung secara sungguh-sungguh tentu kematian merupakan hal yang baru. Padepokan yang didirikannya boleh dikatakan masih seumur jagung, maka sudah sepantasnya kalau murid-muridnya yang baru beberapa orang itu masih memiliki jiwa yang kerdil.

"Hik hik hik.." tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengikik keras.

Suara tawa itu panjang dan mengerikan, seolah-olah bergema dari segala arah Seketika enam belas orang pengikut Ki Pulut saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.

Sedangkan tubuh mereka juga semakin keras menggigil. Kini mereka tidak sanggup lagi untuk menahan diri, dan segera lari pontang-panting sambil berteriak-teriak ketakutan.

Sementara Ki Pulut dan Dewi Puspita masih terlihat tenang.

Tiba-tiba terlihat sinar-sinar yang menyilaukan mata berkelebat cepat dan menyambar-nyambar di antara tubuh-tubuh yang sedang berlari tersebut.

Seketika terdengar jerit dan pekik kematian yang memilukan, disusul dengan bergelimpangannya enam tubuh orang-orang pengikut Ki Pulut. Benar-benar mengerikan

Tubuh mereka hangus terbakar, dan tewas tanpa bisa berkutik lagi.

"Manusia-manusia bodoh Berani-beraninya kalian mengotori tempat tinggalku" mendadak terdengar suara nyaring melengking tinggi.

Belum lagi gema suara itu hilang, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seorang perempuan tua yang usianya sekitar seratus tahun. Dia mengenakan baju longgar yang warnanya sudah kusam. Sedangkan di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat berkeluk-keluk yang ujungnya berbentuk tengkorak kepala manusia. Wajahnya nyaris tertutup oleh rambut yang warnanya sudah putih dan kusut. Namun sinar matanya masih terlihat nyalang dan tajam. Sementara jari tangannya berkuku hitam panjang dan runcing.

Kini semua mata memandang pada perempuan tua itu tidak berkedip. Degup jantung mereka terasa lebih cepat dari biasanya.

"Hik hik hik.., aku sudah tahu maksud kedatanganmu, Ki Pulut," perempuan tua itu kembali bersuara.

Ki Pulut tidak heran lagi kalau Nyai Lumping sudah mengetahui namanya, dan bisa menebak maksud kedatangannya. Perempuan tua itu memang punya kepandaian yang jarang dimiliki oleh orang lain. Dia bisa mengetahui jalan pikiran seseorang, dan juga bisa melihat semua kejadian meskipun sangat jauh tempatnya.

"Tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi kehendakku, Ki Pulut Dewa pun pasti akan berpikir seribu kali sebelum menegurku" kata perempuan tua itu pongah.

"Ketahuilah, Nyai Lumping. Aku datang dengan maksud untuk menghentikan segala tindakan angkara murkamu Sudah banyak orang-orang yang tak berdosa mati di tanganmu" kata Ki Pulut lantang dan tak merasa gentar sedikit pun.

"Hik hik hik... Nyalimu cukup besar juga, Ki Pulut. Tapi sayang, kau belum cukup kuat untuk meredamku"

"Atas nama Gusti Prabu lndrajaya, aku rela menyabung nyawa demi kebenaran"

"Hebat Hik hik hik... Rupanya bocah ingusan ini kini sudah mulai mengikuti jejak orang tuanya. Hebat..."

Kembali Nyai Lumping tertawa mengikik dan menyeramkan. Dan pada saat itu, diam-diam Ki Pulut mencabut senjatanya yang berupa sebatang tongkat berwarna merah. Sejak tadi tongkat sepanjang lengan itu terselip di pinggangnya dan tertutup jubah yang panjang. Tangannya sedikit bergetar sambil menggenggam ujung tongkat.

"Tahan seranganku, Perempuan Iblis"

bentak Ki Pulut keras. "Hih Hiyaaa..." "Huh Hik hik hik..."

***

Suara tawa Ratu Sihir itu terus terdengar meskipun dia tengah melayani serangan-serangan Ki Pulut yang dahsyat dan mematikan. Tongkat merah di tangan laki-laki tua itu terus berlebatan cepat hingga menimbulkan suara angin yang menderu-deru. Sementara kabut yang menyelimuti Puncak Gunung Tangkar tersibak, dann terhempas oleh hembusan angin yang ke luar dari klbasan-kibasan tongkatnya.

Sedangkan Dewi Puspita dan sepuluh orang lainnya tampak sudah berjaga-jaga dengan senjata terhumus. Pertarungan antara Ki Pulut dengan Nyai Lumping terus berjalan makin sengit dan cepat. Begitu cepatnya, sehingga yang tampak hanyalah dua bayangan berkelebatan saling serang dan bertahan.

"Hik hik hik... Keluarkan seluruh kepandaianmu, Kl Pulut" ejek Nyai Lumping terus mengikik.

"Setan..." geram Ki Pulut sengit.

Ketua Padepokan Tongkat Merah itu semakin memperhebat serangan-serangannya. Bahkan kini tidak tanggung-tanggung lagi, dia langsung mengeluarkan jurus-jurus andalannya Namun tampaknya Nyai Lumping masih menanggapinya dengan ringan. Gerakan-gerakan tubuhnya begitu lincah. Tak sedikitpun tongkat merah milik Ki Pulut mampu menyentuhnya.

Hal itu tentu saja membuat Ki Pulut semakin penasaran, karena serangan-serangannya selalu dapat dipatahkan dengan mudah. Kini hampir semua ilmu yang dia andalkan sudah dikerahkan, namun belum juga mampu mendesak perempuan tua itu. Bahkan sudah beberapa kali dia harus jatuh bangun untuk menghindari serangan-serangan balasan dari Ratu Sihir itu.

Melihat ayahnya semakin kewalahan dan mulai terdesak, Dewi Puspita segera memerintahkan kepada sepuluh orang murid ayahnya untuk membantu. Dan tanpa menunggu perintah dua kali, mereka langsung berlompatan ke depan.

"Hik hik hik... Bagus... Biar sekalian kubereskan kalian semua" seru Nyai Lumping gembira..

Sementara Ki Pulut yang sudah merasa kewalahan, tidak melarang murid-muridnya ikut menyerang Nyai Lumping. Sedangkan Dewi Puspita juga tidak mau ketinggalan, dengan pedang peraknya dia segera merangsek dengan jurus-jurus pedangnya yang dahsyat.

"Lebih enak kalau kalian mati terpanggang
Hup" Wus...

Mendadak Ratu Sihir itu melenting tinggi sambil mengebutkan kedua tangannya. Dan begitu kakinya menjejak tanah, dari kedua telapak tangannya tiba-tiba meluncur api. Seketika tempat di sekitar itu terbakar hebat Sebentar saja jerit pekik terdengar memilukan, mengiringi beberapa orang yang belingsatan terjilat oleh api. Bahkan ada beberapa orang yang berguling-guling di tanah dengan tubuh berkobar api.

Buru-buru Ki Pulut segera menyambar tangan Dewi Puspita, dan membawanya ke luar dari lingkaran api itu. Sementara sepuluh orang muridnya sudah menggelepar-gelepar di tanah.

"Hik hik hik..." Nyai Lumping tertawa mengikik menyaksikan lawan-lawannya tidak berdaya terkurung oleh api buatannya.

Namun tawa perempuan itu tiba-tiba terhenti Mendadak di sekitar tempat itu bertiup angin topan yang langsung memadamkan api itu. Tampak Ki Pulut lengah merentangkan tangannya ke depan. Ternyata laki-laki tua itulah yang menciptakan angin yang sangat dahsyat itu. Namun terlambat, karena seluruh murid-muridnya sudah tewas terbakar.

"Grrr..." Nyai Lumping langsung menggeram bagai singa betina.

Tiba-tiba perempuan tua itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, dan dengan cepat tongkat itu dibantingkan ke tanah. Lalu secepat kilat tongkatnya diarahkan ke depan, seketika itu juga meluncurlah sinar-sinar yang sangat menyilaukan mata. Sinar-sinar itu kemudian meluruk deras ke arah Ki Pulut dan Dewi Puspita.

"Dewi, awas..." seru Ki Pulut memperingatkan.

Dengan cepat Ki Pulut kemudian memutar tongkat merahnya, membuat tameng Dan sinar-sinar itu segera berlompatan dan tak mampu menembus lingkaran merah yang keluar dari tongkat itu. Sementara itu Dewi Puspita juga tengah sibuk berlompatan untuk menghindari sinar-sinar yang tertuju kepadanya. Beberapa kali dia memekik tertahan sambil menghalau sinar-sinar itu dengan pedangnya.

Aneh Sinar itu seakan-akan memiliki nyawa, dan mampu menghancurkan benda apa saja.

Kalau saja pedang gadis itu hanya sebuah pedang biasa, mungkin sudah hancur sejak tadi terhantam sinar itu.

"Dewi Cepat tinggalkan tempat ini" seru Ki Pulut sambil terus menghindar dari gempuran sinar-sinar itu

"Bagaimana dengan Ayah"

"Jangan hiraukan aku, aku akan segera menyusul"

Sebentar Dewi Puspita menatap ayahnya, lalu dengan cepat dia melompat dan meninggalkan tempat itu. Namun kepergian Dewi Puspita segera diketahui oleh Nyai Lumping.

Dan perempuan tua itu langsung mengarahkan kepala tongkatnya kepada gadis itu. Namun dengan cepat Ki Pulut melenting dan menghajar tongkat itu. Seketika satu ledakan keras terdengar begitu tongkat merah membentur kepala tongkat berbentuk tengkorak manusia itu.

Tubuh Ki Pulut terpental sejauh sepuluh batang tombak. Sedangkan Nyai Lumping hanya terdorong dua langkah ke belakang. Saat itu Dewi Puspita sempat berbalik, dan dia tersentak ketika melihat ayahnya terpental jauh dan membentur sebuah dinding batu yang keras.

"Ayah..." jerit Dewi Puspita tak bisa menahan diri

"Cepat pergi" bentak Ki Pulut seraya berusaha bangkit.

Sejenak Dewi Puspita masih ragu-ragu, namun begitu melihat ayahnya kembali berdiri dengan tegar, gadis itu segera berbalik dan berlari cepat dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya.

"Kalian tidak akan bisa lolos dariku, keparat..." geram Nyai Lumping seraya melenting dan mengejar Dewi Puspita.

Melihat itu, dengan cepat Ki Pulut melenting dan memapak perempuan tua itu.

Kembali mereka saling berbenturan di udara.

Dan untuk kedua kalinya terdengar satu ledakan dahsyat disusul dengan terpentalnya tubuh mereka. Namun dengan cepat keduanya segera bangkit kembali. Sementara itu Dewi Puspita sudah jauh meninggalkan Puncak Gunung Tangkar.

"Setan Kubunuh kau. Pulut..." geram Nyai Lumping gusar.

Dan tanpa menghiraukan Dewi Puspita lagi, Nyai Lumping langsung menyerang Ki Pulut yang sudah dalam kondisi tidak stabil lagi. Dengan sisa-sisa tenagannya, Ki Pulut masih mampu menandingi serangan-serangan perempuan tua itu. Namun baru berjalan beberapa jurus saja, nampaknya Ki Pulut sudah tidak mampu lagi untuk bertahan. Gerakan-gerakannya kini mulai tidak beraturan lagi, dan pertahanannya semakin mengendur. Hingga suatu saat....

"Mampus kau, hiyaaa..." pekik Nyai Lumping sambil melompat cepat.

Saat itu juga ujung tongkatnya menusuk ke dada Ki Pulut. Dengan bersusah payah, Ki Pulut berusaha menghindar dengan menjatuhkan diri ke tanah, namun ujung tongkat perempuan tua itu masih juga sempat merobek bahunya. Darah segar mengucur deras keluar dari bahu yang menganga lebar.

Kl Pulut terhuyung-huyung kebelakang. Dan tanpa dapat dicegah lagi, satu tendangan keras mendarat di dadanya. Kembali laki-laki tua itu terpental jauh membentur pohon hingga tumbang.

Rupanya Nyai Lumping belum juga merasa puas.

Sambil berteriak nyaring, dia melompat dan menghunjamkan ujung tongkatnya ke dada Ki Pulut.
"Aaakh..." Ki Pulut langsung menjerit keras.

Darah segar menyembur dari dada Ki Pulut begitu ujung tongkat yang tertanam dalam di dada tercabut. Nyai Lumping segera membersihkan ujung tongkatnya yang penuh darah dengan baju yang dikenakan oleh Ki Pulut yang kini telah tidak bernyawa lagi itu.

"Huh Anak setan itu harus segera dilenyapkan, kalau tidak pasti dia akan menjadi penghalangku kemudian hari" geram Nyai Lumping.

Lolosnya Dewi Puspita membuat Ratu Sihir itu marah luar biasa. Dan dia tidak akan membiarkan seorang pun lolos dari tangannya.

Dan sekali loncat saja, perempuan tua itu sudah lenyap ditelan kabut, meninggalkan beberapa mayat yang bergelimpangan. Kini kesunyian kembali menyelimuti Puncak Gunung Tangkar itu. Sementara angin yang berhembus kencang menyebarkan bau anyir darah yang menggenang di tanah sekitar tempat itu.

***


Dua
Di Istana Kerajaan Bumi Loka, Prabu Indrajaya tengah duduk di singgasana, didampingi oleh permaisurinya yang cantik dan anggun. Sedangkan para patih, panglima dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya duduk menghadap dengan takjim. Mereka kini tengah membicarakan keadaan kerajaan yang belakangan ini sering dilanda musibah. Bahkan ada sebuah desa yang tidak jauh dari Kaki Gunung Tangkar hampir musnah diserang wabah penyakit yang sulit untuk diberantas.

Sudah puluhan tabib didatangkan untuk dimintai pertolongan, namun tidak satu pun yang mampu mengusir wabah itu Dan mereka semua punya pendapat yang sama, wabah itu sengaja dikirimkan oleh seorang ahli sihir yang tinggal di Puncak Gunung Tangkar. Semua orang tahu, siapa ahli sihir itu. Seorang perempuan tua yang dijuluki Ratu Sihir dan bernama Nyai Lumping

"Paman Patih Ardareja, apakah tidak ada lagi seorang tabib atau orang pandai di negeri ini yang mampu mengusir wabah itu?" tanya Prabu lndrajaya sambil memandang seorang laki-laki setengah baya.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba sudah mengerahkan berpuluh-puluh tabib dan orang pandai, namun wabah itu sukar untuk diberantas. Karena wabah itu memang sengaja diciptakan oleh nenek sihir jahat yang bermukim di Puncak Gunung Tangkar," sahut Patih Ardareja seraya memberi sembah.

"Hm..., maksudmu Nyai Lumping?" tanya Prabu Indrajaya seraya mengerutkan keningnya.

"Benar, Gusti Prabu."

Untuk beberapa saat lamanya Prabu Indrajaya terdiam merenung. Sementara semua orang yang berada di Balai Agung Istana Bumi Loka itu juga diam membisu. Namun saat suasana tengah dicekam kesunyian itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tawa yang mengikik keras.

"Hik hik hik..."

Seketika mereka semua tersentak seraya mengangkat kepalanya. Sedangkan suara tawa mengikik itu semakin jelas terdengar, dan bergema ke seluruh ruangan. Para patih dan panglima segera berdiri seraya menghunus senjata masing-masing. Sedangkan para prajurit yang menjaga, juga sudah siap dengan senjata.

Sementara dayang-dayang yang berjumlah tidak lebih dari dua puluh orang, segera membawa masuk Permaisuri Puspa Sari ke kaputren.

Kemudian dengan diiringi oleh empat orang panglima perang kerajaan, Prabu lndrajaya segera melangkah ke luar.

***

Seorang perempuan tua berbaju kusam dengan memegang tongkat berkepala tengkorak, berdiri di tengah-tengah halaman depan istana yang luas. Tidak kurang dari tiga puluh orang prajurit sudah mengepungnya. Sementara perempuan tua itu terus terkekeh, membuat tubuhnya yang bungkuk semakin bertambah bungkuk.

Sedangkan Prabu Indrajaya sudah berdiri tegak pada undakan pertama tangga istana didampingi oleh empat orang panglima. Di belakangnya berjejer para patih dan pembesar-pembesarnya. Wajah-wajah mereka kelihatan tegang. Mereka sudah tahu, siapa perempuan tua yang datang dengan tiba-tiba dan tanpa aturan itu.

"Hik hik hik..."

"Nyai Lumping Apa maksudmu datang ke sini? tanya Patih Ardareja lantang suaranya.

"Hik hik hik... Sudah bertahun-tahun aku melupakan semuanya. Aku menyepi tanpa mau diganggu oleh siapa pun. Aku juga sudah berusaha untuk mematuhi perjanjianku dengan ayahmu, Indrajaya" Nyai Lumping tidak sedikit pun hormat pada Prabu Indra jaya.

"Nyai Lumping, jika kedatanganmu memang bermaksud baik, marilah kita bicara baik-baik di dalam." ajak Prabu Indrajaya ramah dan sopan. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sikap perempuan tua itu yang tidak menghormatinya sebagaimana mestinya

"Kedatanganku bisa bermaksud baik ataupun buruk, tergantung dari sikap tikus-tikusmu, Indrajaya"

Para panglima, patih dan pembesar kerajaan lainnya hanya bisa menggerutu dalam hati. Dan tidak ada satu pun yang berani menunjukkan sikap berang pada wanita itu. Meskipun kata-katanya sangat menusuk dan menyakitkan.

"Mari, silakan masuk," ajak Prabu Indrajaya dengan ramah.

"Tidak perlu Kedatanganku hanya ingin mengatakan bahwa kau telah membuka kembali pertikaian lama" tegas kata-kata Nyai Lumping.

"Nyai Lumping, aku tidak mengerti maksudmu Tolong dijelaskan," pinta Prabu Indrajaya setengah kaget.

"Hm..., aku tidak percaya kalau ternyata kau pandai berpura-pura. Seluruh rakyatmu akan binasa jika kau tidak mau meminta maaf padaku seperti yang telah dilakukan oleh ayahmu, Indrajaya Camkan itu baik-baik"

"Nyai Lumping, aku merasa tidak pernah melakukan tindakan apa pun terhadapmu.

Katakan, apa yang telah terjadi," Prabu Indrajaya jadi bingung.

"Aku yakin, kau telah mengirim tikus-tikus yang tak berguna ke Puncak Gunung Tangkar Itu berarti bahwa kau telah melanggar janji ayahmu terhadapku Kau pasti sudah tahu akibatnya, Indrajaya"

Seketika Prabu Indrajaya tersentak kaget.

Dia sama sekali tidak merasa telah mengirim satu orang pun ke Puncak Gunung Tangkar, apalagi dengan maksud membunuh perempuan tua ini. Dia memang tahu betul akan perjanjian yang telah disepakati antara ayahnya dengan Nyai Lumping, yaitu untuk tidak saling mengganggu dan menyeberangi batas wilayah masing-masing. Dan jika ada seorang rakyatnya yang kesasar, itu tanggung jawabnya sendiri, pihak kerajaan tidak akan ikut campur.

"Semua orang yang telah kau kirim sudah mampus, lndrajaya Hanya satu orang yang berhasil lolos dari tanganku, dan kau harus segera menyerahkan orang itu padaku, paling lambat satu pekan setelah kedatanganku ini"

kata Nyai Lumping lagi seraya hendak beranjak pergi.

"Tunggu dulu, Nyai..." teriak Prabu Indrajaya. Tapi Nyai Lumping sudah keburu menghilang dengan meninggalkan kepulan asap putih. Kini Prabu Indrajaya tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kedatangan wanita tua itu adalah suatu tanda akan terjadinya malapetaka besar, dan tidak mudah untuk dihadapi. Satu pekan bukanlah waktu yang panjang, lagi pula di antara mereka tidak ada yang tahu, siapa orang yang dimaksud oleh Nyai Lumping.

Beberapa saat kemudian, Prabu Indrajaya bergegas masuk kembali ke Balai Agung. Tampak wajahnya muram, dan keningnya berkerut dalam.

Sementara para panglima, patih dan pembesar kerajaan lainnya juga makin bingung. Ancaman wanita penyihir itu bukan hanya gertak kosong belaka Ancaman itu sudah didahului dengan sebuah tindakan, yakni menyebarkan wabah penyakit pada salah satu desa.
"Aku tidak tahu, siapa orang yang telah berani menggunakan namaku...?" gumam Prabu Indrajaya seraya menghenyakkan tubuhnya di singgasana.

"Gusti Prabu, ijinkanlah hamba untuk mencari orang yang diinginkan oleh Nyai Lumping," kata Patih Ardareja pelan.

"Bukan hanya kau saja, Paman Patih Ardareja. Aku juga akan perintahkan kepada seluruh patih dari panglima untuk segera menangkap orang itu. Nanti biarlah aku sendiri yang akan menyerahkannya pada Nyai Lumping" kata Prabu lndrajaya tegas.

Semua patih dan panglima segera menghaturkan sembah, lalu tanpa diperintah dua kali, mereka segera meninggalkan tempat itu.

Sementara Prabu Indrajaya duduk merenung dengan kening berkerut dalam. Persoalan yang dihadapi kali ini sangat berat. Tidak ada jalan lain lagi, selain menuruti keinginan Nyai Lumping. Sedangkan para pembesar kerajaan lainnya masih tetap menemani tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

***

Hari terus berlalu menurut perputaran waktu yang telah ditentukan oleh Yang Kuasa.

Sementara keadaan di Kerajaan Bumi Loka, sejak kedatangan Nyai Lumping ke istana, semakin dilanda keresahan. Setiap hari ada saja seorang prajurit yang tewas di tangannya.

Sedangkan Prabu lndrajaya nampaknya juga semakin gelisah menghadapi kenyataan itu.

Selama dua hari ini, sudah tidak terhitung lagi jumlah rakyatnya yang tewas.

Sementara itu, para panglima dan patih-patih kerajaan terus berusaha mencari orang yang diinginkan oleh Nyai Lumping. Dan hampir seluruh prajurit dikerahkan, namun sampai saat ini belum juga berhasil. Memang sulit, karena Nyai Lumping tidak mau memberitahu siapa nama orang yang dimaksudkan itu. Sedangkan dalang yang telah membuat perempuan ahli sihir itu berang, juga belum ketahuan.

Pagi itu langit di atas Kerajaan Bumi Loka diselimuti oleh awan hitam, seolah-olah ikut bersedih de ngan keadaan yang tengah menimpa Kerajaan Bumi Loka. Kini tak ada seorang pun yang berani ke luar rumah, mereka takut bertemu dengan Nyai Lumping yang selalu berkeliaran membunuh siapa saja yang ditemuinya.

"Uh Kalau keadaan begini terus, bisa bangkrut aku, Mak..." keluh seorang pemilik kedai.

Seorang perempuan tua yang tengah sibuk mengunyah sirih, hanya diam saja mendengar keluhan itu. Pandangan matanya tetap lurus ke depan melalui pintu jendela yang terbuka sedikit. Tampak laki-laki tua yang mengeluh tadi, hanya duduk sambil bersungut-sungut di dalam kedainya yang sepi.

"Sampai kapan tindakan perempuan iblis itu mau berhenti? Kalau cuma menginginkan satu orang saja, kenapa harus menghancurkan sebuah kerajaan? Huh Bisa rusak semua daganganku kalau begini" laki-laki tua itu terus mengeluh.

"Hati-hati kalau bicara, Ki. Kalau dia dengar, bisa celaka kita" rungut perempuan tua itu seraya meludahkan air sirih yang berwarna merah kekuningan.

"Peduli setan Kalau iblis itu mau membunuhku, bunuh saja Habiskan semua rakyat Bumi Loka Tuhan pasti akan mengutuk perbuatannya" laki-laki tua pemilik kedai itu tidak peduli.
"Ki.." sentak wanita itu gemetaran Dan saat laki-laki tua itu mau membuka mulutnya lagi, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Sejenak mereka saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Tampak seluruh tubuh perempuan tua itu menggigil, dan titik-titik keringat yang sebesar-besar jagung merembes dari keningnya.

"Apa kubilang, hati-hati kalau bicara" rungut perempuan tua itu menyalahkan suaminya.

"Sss..., siapa...?" seru laki-laki tua itu bergetar tiaranya. "Aku..." sahut sebuah suara dari luar. "Aku, siapa...?" "Aku Boleh masuk?" Laki-laki tua itu kembali menoleh pada istrinya, kemudian dengan pelan ia beringsut bangun dari kursinya. Namun tampaknya dia masih ragu-ragu untuk melangkah. "Ki..." parau suara wanita tua itu. Laki-laki tua pemilik kedai itu memandang istrinya sejenak, lalu kakinya terayun menghampiri pintu kedainya yang masih tertutup rapat. Dan dengan tangan bergetar, dia membuka palang pintu. Sedikit demi sedikit pintu dari kayu itu terkuak, dan menimbulkan suara bergerit.

Tampak di depan pintu sudah berdiri seorang pemuda yang gagah dan tampan. Pemuda itu segera tersenyum seraya menganggukkan kepalanya sedikit. Sedangkan laki-laki tua pemilik kedai itu menyambutnya dengan tersenyum dan mengangguk pula. Sejenak dia melangkah mundur beberapa tindak sambil mengamati tamunya itu. Sementara pemuda itu mulai melangkah masuk sambil menunduk agar tidak membentur tiang pintu yang rendah. "Apakah kedai ini masih menerima tamu, Pak?" tanya pemuda itu dengan sopan.

Laki-laki pemilik kedai itu tidak segera menjawab. Dia kemudian menoleh pada istrinya yang masih gemetaran. Lalu buru-buru dia menghampiri pintu dan menutupnya dengan rapat.
Keadaan itu tentu saja membuat pemuda itu heran.

"Maaf, kalau kedatanganku telah membuatmu takut," kata pemuda itu tetap sopan. "Oh, tid..., tidak, Tuan. Silakan," sambut laki-laki tua pemilik kedai itu agak tergagap. "Terima kasih." Pemuda itu kemudian duduk di kursi yang berada di tengah-tengah ruangan kedai itu. Sementara perempuan tua yang sejak tadi memperhatikan dengan wajah pucat, bergegas melangkah ke belakang. "Aku seorang pengembara, namaku Bayu," pemuda itu memperkenalkan diri. "Aku biasa dipanggil Ki Bawuk. Sedangkan perempuan yang tadi itu adalah istriku. Maaf kalau penyambutan kami tidak berkenan di hati Tuan," kata laki-laki pemilik kedai itu juga memperkenalkan diri. "Kenapa kedaimu tutup, Ki?" tanya Bayu atau yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Pulau Neraka. "Sudah dua hari ini aku memang menutup kedai. Sepi, Tuan." "Hm..., kenapa? Aku lihat keadaan di luar sana juga sepi," tanya Bayu sambil mengerutkan keningnya. Ki Bawuk tidak segera menjawab. Dia malah melangkah ke pintu belakang. "Mak, cepat sediakan makanan dan minuman" serunya agak keras. "Iya, sebentar" terdengar teriakan dari dapur. Lalu Ki Bawuk kembali mendekati pemuda itu. Sejenak dia menarik sebuah kursi dan duduk di depan pemuda itu.

"Tampaknya ada sesuatu yang tengah terjadi di sini," gumam Bayu. "Oh, ya. Apa nama tempat ini, Ki?" "Kerajaan Bumi Loka, rajanya bernama Gusti Prabu Indrajaya. Di sini memang sedang terjadi suatu bencana besar, Tuan," sahut Ki Bawuk menjelaskan.

"Bencana...? Bencana apa, Ki?" Belum lagi Ki Bawuk sempat menjawab, istrinya sudah ke luar sambil membawa hidangan sederhana. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, dia segera menghidangkan makanan dan minuman itu di atas meja. "Maaf, kami tidak bisa menyediakan yang lebih baik dari ini," kata Ki Bawuk seraya mempersilakan. "Terima kasih. Bagiku ini saja sudah lebih dari cukup," sahut Bayu tersenyum maklum. Kemudian Pendekar Pulau Neraka itu segera menikmati hidangannya itu dengan lahap. Hampir satu bulan dia tidak pernah menikmati masakan seperti itu. Selama dalam pengembaraannya, yang biasa menjadi makanannya hanyalah binatang-binatang buruan saja. Ki Bawuk dan istrinya terus memandanginya dengan kepala yang dipenuhi berbagai macam tanda tanya. Mereka belum pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Sementara Bayu tetap makan tanpa peduli dirinya diperhatikan. Dia memang lapar, karena perutnya dari pagi belum terisi makanan sedikit pun.

***

Bayu tampak tengah mengamati keadaan sekitarnya dari balik jendela kamarnya. Beruntung dia telah mendapatkan kamar sewaan yang menghadap langsung ke jalan utama Kerajaan Bumi Loka. Di samping membuka kedai, Ki Bawuk juga menyediakan kamar untuk menginap bagi para pelancong. Dan kini, sedikitnya Bayu sudah bisa mengetahui situasi yang sedang terjadi dari Ki Bawuk. Selama dalam pengembaraannya, Bayu belum pernah sekali pun mendengar atau bertemu dengan seorang ahli sihir. Dia sudah merasakan adanya keganjilan saat dia mulai memasuki pintu gerbang kerajaan ini. "Masuk" seru Bayu sambil menoleh ke pintu ketika mendengar suara ketukan dari luar. Tampak pintu kamar itu kemudian terkuak pelahan-lahan, lalu muncullah seorang gadis cantik yang memakai baju ketat berwarna hijau. Di pinggangnya terselip sebilah pedang pendek. Dari tanpa dipersilakan lagi, dia segera melangkah masuk seraya menutup pintu kamar kembali. Sejenak Bayu memandangi tamunya itu, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan membelakangi jendela. "Benarkah kau yang bernama Bayu Hanggara, si Pendekar Pulau Neraka?" nada suara gadis itu seperti ingin meyakinkan. "Benar," sahut Bayu seraya kembali memutar tubuhnya, dan menutup pintu jendela. Kemudian dia berbalik lagi dan melangkah ke kursi. Dan dengan enak dia segera duduk di kursi itu. "Silakan duduk." Gadis itu pun mengambil tempat di kursi dekat pintu. "Siapa nama Nona?" tanya Bayu "Namaku Dewi Puspita, tapi kau cukup memanggilku Dewi saja," gadis itu memperkenalkan diri. "Dari mana kau tahu namaku? Apakah Ki Bawuk yang telah mengatakannya padamu?" "Ya, dan aku memang sudah mengetahui kedatanganmu sejak siang tadi," sahut Dewi Puspita terus terang. "Lalu, apa maksudmu menemuiku?" "Sebenarnya ini adalah persoalan rahasia, dan ada hubungannya dengan keadaan yang sedang terjadi di Kerajaan Bumi Loka ini." Sejenak Bayu mengerutkan keningnya. Matanya agak menyipit sambil terus memandangi wajah cantik di depannya. Sejak pertama kali datang ke kerajaan ini, dia memang menyimpan berbagai macam pertanyaan. Dan sekarang datang seorang gadis cantikyang tampaknya sudah mengetahui persis keadaan yang tengah terjadi di sini. "Terus terang. Pamanku sendiri, Ki Bawuk, tidak mengetahui persoalan yang sesungguhnya. Dan sampai sekarang pun aku masih merahasiakannya," lanjut Dewi Puspita. "Hm..., kenapa kau justru ingin mengatakannya padaku?" selidik Bayu. "Aku sudah sering mendengar namamu, seorang pendekar yang tangguh dan digdaya. Meskipun banyak orang dari kalangan rimba persilatan tidak menyukai tindakanmu, tapi pada saat ini aku membutuhkan pertolonganmu. Aku percaya bahwa kau akan membantuku dalam mengatasi kemelut ini." Kembali Bayu terdiam untuk beberapa saat. Dia tidak kaget lagi mendengar gadis itu mengetahui tentang dirinya, meskipun mereka belum pernah berjumpa sebelumnya. Nama Pendekar Pulau Neraka memang sedang menjadi buah bibir di kalangan rimba persilatan. Sepak terjangnya yang tegas dan tidak mengenal kata ampun itu, membuat tokoh-tokoh rimba persilatan, baik golongan hitam maupun putih merasa terusik. Sedangkan Bayu sendiri tidak mengenal golongan dalam rimba persilatan. Dia punya prinsip yang dipegang kuat. Dibunuh, atau membunuh Namun selama dalam masa pengembaraannya, belum pernah Bayu mencampuri urusan orang lain. Persoalannya sendiri saja belum tuntas, dan masih banyak lagi orang-orang yang harus dicarinya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Di samping itu, Bayu juga masih diliputi oleh rasa penasaran, karena dia belum menemukan pusara ibunya, tapi pusara ayahnya. Dewa Pedang, sudah dia ketahui dari salah seorang murid Padepokan Teratai Putih yang selamat, dan kini mengurus pusara gurunya itu. "Aku tahu, memang akan sia-sia saja menemuimu. Tapi setidaknya aku kan sudah berusaha. Maaf aku telah mengganggu waktu istirahatmu," kata Dewi Puspita seraya beranjak dari duduknya. "Tunggu dulu," cegah Bayu. Dewi Puspita tidak jadi membuka pintu. Dia lalu menoleh dengan tatapan mata penuh harap. Wajahnya nampak murung, dan terlihat adanya keputusasaan. "Aku memang pengecut, mementingkan keselamatan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Seharusnya aku segera menyerahkan diri," lirih suara Dewi Puspita.

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi?" tanya Bayu. Secercah harapan muncul di wajah gadis itu. Sinar matanya yang semula redup, kini kembali bercahaya. Pertanyaan Pendekar Pulau Neraka itu menyiratkan suatu maksud yang semula dianggapnya mustahil. Kini Bayu kembali meminta gadis itu untuk duduk dan menceritakan semua peristiwa yang tengah melanda Kerajaan Bumi Loka ini.

***

Sampai tengah malam Dewi Puspita masih berada di kamar penginapan Bayu Hanggara. Gadis itu telah menceritakan semua peristiwa dari awal hingga saat ini. Sementara Bayu pun mendengarkan semua itu dengan penuh perhatian. Kini hatinya jadi semakin tertarik untuk mengetahui semuanya dengan jelas. Dia ingin tahu, seperti apa ilmu sihir itu. Sering dia mendengar cerita tentang ilmu sihir, tapi belum pernah melihat langsung dengan mata kepala sendiri. "Kau sudah yakin, bahwa tugas itu tidak datang dari raja, kenapa masih mau melakukannya juga?" tanya Bayu setelah Dewi Puspita selesai dengan ceritanya. "Aku sudah katakan hal itu pada Ayah, tapi Ayah tidak mau mendengar. Dia terlalu patuh pada titah Gusti Prabu," sahut Dewi Puspita setengah menyesali sikap ayahnya. "Siapa yang telah menemui ayahmu?" tanya Bayu. "Patih Ardareja dan Panglima Rupadi dengan dikawal beberapa prajurit," sahut Dewi Puspita menjelaskan.

"Hm..., menarik juga ceritamu...," gumam Bayu pelan. "Tampaknya kau tidak percaya, Pendekar Pulau Neraka," keluh Dewi Puspita agak lesu. "Aku percaya, dan aku merasa tertarik dengan ceritamu barusan. Memang aneh, dan.... Yah" Bayu mengangkat pundaknya. "Terima kasih atas kepercayaanmu, Pendekar Pulau Neraka. Tapi kepercayaan saja tidak cukup, cepat atau lambat, mereka pasti bisa menangkapku, dan tamatlah riwayatku...," agak sinis nada suara Dewi Puspita. Entah dia sinis kepada siapa. Mungkin juga dia mencibir pada dirinya sendiri. "Dengar. Dewi. Aku berjanji akan membantumu dan kau sebaiknya jangan memanggilku Pendekar Pulau Neraka. Panggil saja aku Bayu. Bagaimana?" Dewi Puspita tersenyum cerah. Pernyataan Pendekar Pulau Neraka barusan menumbuhkan kembali rasa percaya pada dirinya, dan harapannya untuk tetap tegar dalam menghadapi kemelut ini Memang bukan saja Nyai Lumping yang akan dihadapi, tapi juga pihak kerajaan yang telah menjadi sumber malapeta ini. Dewi Puspita memang mencurigai Patih Ardareja dan Panglima Rupadi yang mengatur semua ini, namun dia belum memiliki bukti yang cukup kuat. Setelah lewat tengah malam. Dewi Puspita baru meninggalkan kamar penginapan itu. Dan sepeninggal gadis itu, Bayu masih duduk sambil merenung diatas pembaringannya. Inilah untuk pertama kalinya akan mengurusi persoalan orang lain. Persoalan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Sebenarnya dia datang ke sini hanya sekedar lewat dalam pengembaraannya mencari para pembunuh Ayahnya, juga ingin mendapatkan kepastian tentang nasib ibunya. "Hm..., aneh juga. Aku merasakan ada sesuatu di balik semua peristiwa ini. Sesuatu yang tersembunyi...."

***

Pagi-pagi sekali Bayu tampak sudah keluar dari kamarnya. Dia terkejut ketika telinganya mendengar suara ribut-ribut di bagian depan. Kemudian bergegas Pendekar Pulau Neraka itu melangkah menuju bagian depan rumah ini, yang merupakan sebuah kedai. Tampak di sana sudah berdiri beberapa orang yang berseragam prajurit kerajaan. Buru-buru dia berlindung di bidik pintu untuk menghindari penglihatan mereka. Sementara itu Ki Bawuk tampak duduk berdampingan dengan istrinya. Seluruh tubuh mereka bergetar, dan wajahnya pucat pasi. Sedangkan di depan suami istri itu berdiri dua orang laki-laki yang berusia setengah baya dengan pakaian indah. Jelas kalau mereka adalah para pembesar Kerajaan Bumi Loka. "Ampun, Gusti. Hamba benar-benar tidak tahu di mana Dewi Puspita berada. Hamba memang mendengar kalau padepokan ayahnya sudah hancur digempur oleh para perampok, tapi hamba tidak tahu kalau..." "Bohong" bentak seorang yang berpakaian panglima perang. "Ampun, Gusti Panglima. Hamba tidak bohong. Hamba berani sumpah," kata Ki Bawuk mencoba menyakinkan. "Dengar Ki Bawuk, kini keselamatan seluruh keluarga Gusti Prabu, dan semua rakyat Kerajaan Bumi Loka ada di tangan keponakanmu itu. Nyai Lumping menginginkannya karena dia telah berani melanggar perjanjian yang telah dibuat bersama mendiang Gusti Prabu Swarajaya. Jadi Dewi Puspita harus bertanggung jawab" keras dan tegas kata-kata Panglima Rupadi. "Tapi hamba benar-benar tidak tahu, Gusti. Hamba hanyalah seorang pedagang. Hamba tidak pernah mencampuri urusan Kakang Pulut. Kalau Dewi Puspita ada di sini. pasti sudah hamba serahkan. Sungguh Gusti...," kata Ki Bawuk menghiba. "Apakah kata-katamu bisa dipercaya, Ki Bawuk? dingin suara Patih Ardareja. "Hamba bersedia dipancung jika berdusta, Gusti Patih," sahut Ki Bawuk. Patih Ardareja dan Panglima Rupadi berpandangan sejenak, lalu mereka kembali melangkah meninggalkan kedai itu. Sementara para prajurit segera mengikutinya dari belakang. Untuk beberapa saat, Ki Bawuk masih duduk berlutut di lantai. Sedangkan istrinya sudah tidak mampu lagi bersuara. Seluruh tubuhnya tampak bergetar hebat dengan keringat mengucur deras membasahi bajunya. Sementara Bayu yang sejak tadi menguping pembicaraan itu, pelahan-pelahan ke luar setelah Patih Ardareja dan Panglima Rupadi serta beberapa prajurit, jauh meninggalkan kedai Ki Bawuk ini. Dia jadi heran dengan semua pembicaraan yang didengarnya barusan. Semalam dia baru saja berbicara panjang lebar dengan Dewi Puspita, tapi kini laki laki tua itu sampai berani bersumpah, dan merelakan lehernya dipancung demi keselamatan Dewi Puspita. "Ki..," pelan suara Bayu. "Oh" Ki Bawuk tersentak. "Tuan..., Tuan sudah bangun...?" Dengan tergopoh-gopoh Ki Bawuk berdiri. Sejenak dia membantu istrinya untuk bangkit Kemudian menuntun wanita itu ke belakang, melewati Bayu. Tak lama kemudian, Ki Bawuk sudah ke luar lagi dengan tergesa-gesa. Tampak bibirnya menyunggingkan senyum, tapi Bayu melihatnya sebagai senyum yang dipaksakan. "Maaf, kami terlambat menyiapkan makan pagi," kata Ki Bawuk. "Tidak apa, Ki," sahut Bayu tersenyum. "Hm..., siapa mereka tadi, Ki?" Ki Bawuk tidak segera menjawab. Dia tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Pendekar Pulau Neraka itu. Sinar matanya tidak dapat lagi menyembunyikan kegelisahan. Sedangkan Bayu hanya tersenyum, dan segera mengajak Ki Bawuk duduk di balai-balai bambu dekat jendela. "Sekilas tadi aku mendengar percakapanmu dengan orang-orang itu. Apakah mereka Patih Ardareja dan Panglima Rupadi?" lembut suara Bayu terdengar. Ki Bawuk tidak menyahut, tapi kepalanya menangguk juga. "Aku seharusnya memang tidak mencampuri urusanmu, Ki. Tapi tidak ada salahnya jika kau mempercayaiku. Siapa tahu aku bisa membantu mengatasi persoalanmu," masih tetap lembut suara Bayu.

 "Tuan...," tercekat suara Ki Bawuk. Dia masih bingung harus berkata apa. Persoalan yang tengah dihadapinya bukanlah persoalan biasa. Masalah itu menyangkut nyawa dan keutuhan Kerajaan Bumi Loka. Rasanya berat jika dia harus memasukkan pemuda yang begitu baik padanya itu. Ki Bawuk memang bukan seorang tokoh rimba persilatan, dari dulu dia hidup dari hasil membuka kedai dan rumah penginapan. Dan dia tidak tahu sama sekali, siapa sebenarnya pemuda yang kini tengah berada di depannya. "Aku seorang pengembara, Ki. Aku sudah biasa menghadapi segala macam persoalan. Dan aku tidak akan bisa tinggal diam melihat seseorang menderita dalam tekanan berat. Kau bersedia mengatakan padaku, kan? Percayalah, Ki. Aku pasti akan membantu mengatasinya," desak Bayu tetap lembut. "Ini bukan persoalan biasa, Tuan... " kata Ki Bawuk setelah cukup lama berpikir. "Katakan saja, Ki. Jangan ragu-ragu," desak Bayu. "Kau pasti pernah mendengar nama Nyai Lumping...," kata Ki Bawuk pelan. "Ya," sahut Bayu Hanggara asal saja. "Dia seorang wanita penyihir yang jahat dan kejam. Dia tinggal di Puncak Gunung Tangkar. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah lagi membuat bencana di sini, tapi beberapa hari ini dia kembali menghancurkan beberapa desa dan membunuh banyak orang yang tidak berdosa. Semua itu terjadi akibat dari kecerobohan beberapa orang. Mereka telah melanggar perjanjian yang telah disepakati antara Nyai Lumping dan mendiang Gusti Prabu Swarajaya. Perjanjian itu berisi untuk tidak saling mengganggu dan melanggar wilayah masing-masing. Dan jika hal itu sampai dilanggar, maka bencana besar akan segera menimpa seluruh wilayah Kerajaan Bumi Loka," Ki Bawuk mulai menceritakan. "Lalu, kenapa Patih Ardareja dan Panglima Rupadi mencari Dewi Puspita?" tanya Bayu memancing. "Dewi Puspita adalah keponakanku, dia ikut ayahnya dan murid-muridnya ke Gunung Tangkar untuk mendatangi Nyai Lumping. Akhirnya semuanya hancur binasa, dan hanya Dewi Puspita yang bisa meloloskan diri. Dan kini Nyai Lumping menginginkan nyawa gadis itu. Dia memberi jangka waktu selama tujuh hari, dan sekarang sudah berjalan tiga hari dari waktu yang diberikan. Kalau sampai Dewi Puspita tidak segera diserahkan, maka seluruh Kerajaan Bumi Loka akan dihancurkan dengan kekuatan sihirnya yang dahsyat "Hm..., kenapa Ki Pulut ingin membinasakan Nyai Lumping?" gumam Bayu seperti bertanya pada dirinya sendiri. "Kakang Pulut telah mendapat perintah dari Gusti Prabu Indrajaya," sahut Ki Bawuk. "Lho, aneh...? Kalau raja sendiri yang memerintahkan, lalu kenapa sekarang dia juga memerintahkan para pembesar kerajaan untuk mencari Dewi Puspita?" "Itulah yang membuatku tidak habis pikir, Tuan. Padahal sampai saat ini belum ada seorang pun yang mengetahui, siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Tapi anehnya Patih Ardareja dan Panglima Rupadi sudah mengetahuinya. Sedangkan sampai saat ini Dewi Puspita tidak ketahuan di mana adanya," kata-kata Ki Bawuk bernada mengeluh. "Jadi, kau sendiri juga tidak tahu, di mana Dewi Puspita berada?" tanya Bayu terperanjat. "Sejak peristiwa itu, aku tidak pernah lagi melihat keponakanku itu." Untuk beberapa saat Bayu terdiam tercenung. Rasanya mustahil kalau laki-laki tua itu tidak mengetahui kehadiran Dewi Puspita semalam. Kini Bayu merasakan bahwa persoalan yang sedang dihadapinya semakin bertambah rumit dan membingungkan. Dan sepertinya, masing-masing orang saling menutup diri tidak mau terlibat dengan persoalan ini Bayu bisa merasakan adanya nada lain pada suara KI Bawuk. Keterangannya memang tidak jauh berbeda dengan cerita Dewi Puspita, maupun yang dia dengar dari percakapan dua pembesar kerajaan di kedai ini. Namun nada suara Ki Bawuk seperti menyembunyikan sesuatu yang dirahasiakan.

***

Bukan saja Pendekar Pulau Neraka yang kebingungan dalam menghadapi masalah di Kerajaan Bumi Loka ini, Prabu Indrajaya yang menjadi rajanya pun juga merasakan hal yang sama. Dia sama sekali tidak pernah mengutus Ki Pulut untuk datang ke Puncak Gunung Tangkar.

Dia sudah tahu betul, siapa Ki Pulut. Bekas seorang Panglima Perang Kerajaan Bumi Loka, yang sangat setia dan patuh pada perintah rajanya. Dan rasanya tidak mungkin dia bertindak ceroboh seperti itu.

Prabu Indrajaya segera mengangkat kepalanya ketika melihat seorang wanita cantik dan bergaun indah datang menghampiri.

Senyumnya langsung terkembang membalas senyum wanita itu. Kemudian wanita canntik itu duduk dengan anggunnya di samping Prabu Indrajaya.

"Kau datang seorang diri. Ke mana dayang-dayangmu. Dinda?" tanya Prabu Indrajaya lembut.

"Sengaja, aku ingin bicara berdua saja denganmu, Kanda Prabu," sahut wanita cantik itu yang ternyata adalah Permaisuri Puspa Sari.

"Begitu pentingkah, sehingga tidak seorang kau perkenankan mendengar?" Prabu Indra mengamati wajah permaisurinya itu.

"Menyangkut keutuhan Bumi Loka, Kanda,"

sahut Puspa Sari membalas tatapan suaminya.

Sejenak Prabu lndrajaya mengerutkan keningnya. Dia hampir tidak percaya dengan pendengaran sendiri. Selama ini belum pernah permaisurinya membicarakan masalah pemerintahan dan seluk-beluk kerajaan. Dia merasakan, persoalan yang akan bicarakan permaisurinya pasti sangat penting

"Apa yang ingin kau bicarakan. Dinda?" tanya Prabu lndrajaya.

"Kemelut yang sedang kita hadapi."

"O...?"

"Kanda, aku merasakan ada sesuatu di balik semua kejadian ini. Sesuatu yang belum kita ketahui maksudnya, tapi sudah jelas merongrong kewibawaan Kanda Prabu sebagai raja di Kerajaan Bumi Loka Maaf, Kanda. Bukannya aku ingin mencampuri urusan kerajaan, tapi aku merasa ikut prihatin dan tanggung jawab atas keutuhan dan kejayaan Bumi Loka," kata Permaisuri Puspa Sari.

Prabu Indrajaya merasa terharu dengan kata-kata yang meluncur lancar dari bibir mungil yang indah Kata-kata itu juga merupakan pukulan baginya, karena selama ini dia selalu menganggap bahwa urusan pemerintahan adalah urusan laki-laki. Dan kini Prabu Indrajaya merasa seolah-olah baru terbuka matanya. Dia sebenarnya memang tengah memerlukan seseorang untuk diajak bicara dari hati ke hati.

"Maaf, Kanda. Mungkin apa yang akan kukatakan dapat menyinggung perasaanmu, tapi ini demi keutuhan Kerajaan Bumi Loka yang kita cintai ini," lanjut Permaisuri Puspa Sari.

"Katakanlah, Dinda. Apa pun yang akan kau katakan, aku akan mempertimbangkannya dengan baik."

"Terus terang. Kanda. Aku merasa adanya keanehan pada diri Paman Patih Ardareja dan Panglima Rupadi."

"Maksudmu?"

"Kanda telah mengatakan bahwa tidak pernah merasa memberi perintah pada Paman Pulut. Tapi Nyai Lumping juga tidak akan berdusta dan mencari-cari perkara. Padepokan Tongkat Merah yang dipimpin Paman Pulut memang hancur, sehari sebelum Nyai Lumping muncul disini. Sedangkan wanita penyihir itu tidak memberitahukan, siapa-siapa saja yang telah mendatangi tempatnya di Puncak Gunung Tangkar.

Namun Paman Patih Ardareja dan Panglima Rupadi mengetahui persis kalau Paman Pulut dan anak gadisnya serta murid-muridnyalah yang telah ke sana. Apakah hal ini tidak aneh, Kanda?"

panjang lebar Permaisurl Puspa Sari mengemukakan perasaan hatinya.

"Tidak kusangka, kau punya pikiran sampai kesitu, Dinda Puspa Sari," puji Prabu lndrajaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maaf, Kanda. Aku tahu, kau sangat mempercayai Paman Patih Ardareja. Di antara patih-patih lainnya, memang dialah yang terbaik dan paling tinggi ilmunya. Tapi Kanda harus ingat, mundurnya Paman Pulut dari kerajaàn juga diakibatkan pertentangannya dengan Paman Patih Ardareja. Aku sama sekali tidak bermaksud buruk, apalagi memfitnah. Aku hanya mengatakan berdasarkan beberapa kenyataan yang aku lihat, Kanda," kembali Permaisudi Puspa Sari mengutarakan pendapatnya.

"Dinda, apakah kau sudah mengatakan hal ini pada orang lain?"

"Belum, hanya pada Kanda saja."

"Dengar, Dinda. Semua yang telah kau katakan itu akan menjadi pertimbangan dan pemikiranku. Tapi kau harus bisa merahasiakan semua itu. Jangan sampai ada seorang pun yang mengetahuinya," kata Prabu Indrajaya berpesan.

"Kecuali aku..." tiba-tiba terdengar suara menyelak.

Seketika Prabu lndrajaya dan Permaisuri Puspa Sari tersentak Dan belum lagi hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba dari balik tembok pembatas taman belakang dengan luar, melompat sesosok bayangan. Prabu Indrajaya langsung melompat dan berdiri begitu di depannya tahu-tahu sudah berdiri seorang laki-laki muda yang gagah dan tampan.

"Siapa kau? Berani benar kau masuk ke taman Istana ini tanpa ijin" bentak Prabu Indrajaya. Tangannya tampak meraba gagang pedang yang masih tersimpan di warangkanya.

Sementara pemuda itu hanya tersenyum saja sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

***
"Pengawal..." teriak Prabu Indrajaya keras.

"Percuma saja, Gusti Prabu. Tidak ada seorang pengawal pun yang akan mendengar," kata pemuda itu tenang.
Sret
Tanpa berkata-kata lagi, Prabu Indrajaya langsung mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Bola matanya beredar ke sekitarnya yang sepi, tanpa seorang prajurit penjaga pun terlihat. Sejenak tangannya sedikit mendorong permaisurinya ke belakang.

"Kau pasti akan mendapat hukuman berat atas kelancanganmu, Kisanak" kata Prabu Indrajaya dengan suara agak membentak.

"Tapi Gusti Prabu pasti akan segera berterima kasih jika mengetahui bahwa kedatanganku ke sini untuk mewakili Dewi Puspita," kata pemuda itu tetap tenang.

"Heh Siapa kau sebenarnya?" sentak Prabu Indrajaya terkejut

"Namaku Bayu Hanggara. Aku berada di sini hanya singgah dan menginap di rumah penginapan Ki Bawuk. Kedatanganku ini bukan sebagai musuh, atau ingin menambah keruh suasana, tapi justru akan membawa angin segar bagi Gusti Prabu dan seluruh rakyat Bumi Loka."

"Jangan berbelit-belit Katakan cepat, apa maksud kedatanganmu?"

"Ki Pulut memang telah datang ke Puncak Gunung Tangkar bersama anak gadisnya dan seluruh murid-muridnya. Tapi malang, mereka semua tewas kecuali Dewi Puspita...," kata Bayu

"Aku sudah tahu itu Apa lagi yang akan kau sampaikan?" potong Prabu Indrajaya.

"Gusti Prabu, aku juga telah bertemu dengan Dewi Puspita. Dan kami telah berbicara banyak tentang kemelut yang tengah melanda seluruh Kerajaan Bumi Loka ini. Ayahnya memang datang ke Gunung Tangkar dengan maksud untuk membunuh Nyai Lumping. Namun hal itu dilakukannya dengan perasaan terpaksa, karena rasa pengabdian dan kesetiaannya pada Gusti Prabu."

"Hm..., kau akan mengatakan bahwa Paman Pulut bertindak atas perintahku, begitu kan?"

kembali Prabu Indrajaya memotong ucapan Bayu

"Semula aku memang telah berpikir demikian Gusti Prabu. Tapi setelah mendengar penuturan Dewi Puspita, dan juga mendengar sendiri pembicaraan Gusti Prabu dengan Gusti Permaisuri tadi, rasanya ada hal yang tersembunyi di balik semua kejadian ini. Dan rahasia itu sudah kuketahui."

"O... Apa saja yang telah kau ketahui?"

agak terkejut juga Prabu Indrajaya mendengarnya.

"Apa yang aku ketahui, tidak jauh berbeda dengan yang telah dikatakan oleh Gusti Permaisuri. Semua peristiwa ini memang sudah diatur oleh Patih Ardareja dan Panglima Rupadi. Merekalah yang telah menemui Ki Pulut dan mengatakan, bahwa dia mendapat perintah dari Raja Bumi Loka untuk menumpas Nyai Lumping," tegas dan jelas kata-kata Bayu.

"Heh Kau jangan berkata sembarangan, Kisanak" bentak Prabu lndrajaya terperanjat.

"Sejak semula aku memang sudah menduga, kau pasti tidak akan menerima pernyataanku.

Tapi apa yang telah aku katakan ini bisa dipertanggungjawabkan, hanya saja aku belum mengetahui maksud sebenarnya yang terkandung di balik rencana itu," kata Bayu tetap tegas.

"Kanda...," lembut suara Permaisuri Puspa Sari. Tangannya menepuk pundak Prabu Indrajaya dengan pelahan.

Prabu Indrajaya segera memasukkan kembali pedangnya ke warangkanya di pinggang. Kemudian dia melangkah menghampiri Pendekar Pulau Neraka itu.

"Apa jaminanmu jika kau ternyata memfitnah salah seorang patihku, dan seorang panglimaku?" tanya Prabu lndrajaya dingin.

"Kepala, Gusti Prabu," sahut Bayu tegas.

"Kepalamu tidak ada harganya bagiku, Kisanak "

"Hm...," Bayu mengerutkan keningnya.

"Kau sudah berani masuk ke taman pribadiku tanpa ijin. Kau pasti juga sudah melumpuhkan penjaga taman ini, dan itu harus kau tanggung hukumannya ditambah lagi dengan beritamu yang membuat keruh suasana. Tapi aku akan mengampunimu jika kau berani menghadapi Nyai Lumping, si Ratu Sihir" tegas kata-kata Prabu Indrajaya.

"Hm..., jadi Gusti Prabu juga menghendaki wanita itu lenyap?"

"Selama masih ada wanita iblis itu, Kerajaan Bumi Loka tidak akan pernah merasa damai. Terus terang aku memang menginginkan dia segera lenyap untuk selamanya, tapi aku tidak ingin mengorbankan seorang pun dari rakyatku. Nah, sekarang aku mengutusmu untuk tugas itu, tapi bukan atas namaku"

Tentu saja Bayu terkejut bukan main mendengar perintah itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Prabu Indrajaya sendiri ternyata juga menginginkan wanita penyihir itu lenyap dari muka bumi. Sebenarnya itu adalah suatu keinginan yang wajar, namun membuat benak Bayu berpikir keras juga.

Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, Pendekar Pulau Neraka itu segera melesat cepat dan melompati pagar benteng yang tinggi dan tebal. Sedangkan Prabu Indrajaya segera tersenyum lebar sambil memandangi kepergian pemuda itu.

"Kanda, kenapa mesti memberi perintah itu?

Bukankah dengan begitu Kanda malah memperuncing suasana?" tegur Pennaisuri Puspa Sari.

"Bagaimanapun juga, wanita iblis itu tetap merupakan ancaman bagi kita, Dinda. "Tapi...."

"Ah sudahlah. Kalau pemuda itu berhasil mengalahkan Nyai Lumping, aku akan memberinya hadiah dan pangkat yang tinggi. Tapi jika ternyata dia tewas, tidak ada urusannya denganku lagi.

"Kanda...," Permaisuri Puspa Sari menggeleng-gelengkan kepalanya.

***
Empat
Bayu tampak tengah memandangi puing-puing bekas reruntuhan Padepokan Tongkat Merah.

Padepokan itu letaknya di pinggir sebelah Utara perbatasan Kerajaan Bumi Loka dengan Hutan Gunung Tangkar.

Dia agak heran juga karena tidak mendapati satu sosok mayat pun di antara puing-puing itu. Sementara keadaan di sekitarnya juga tidak nampak seperti baru saja terjadi pertarungan. Mungkinkah Padepokan Tongkat Merah sengaja dibakar hangus setelah seluruh penghuninya meninggalkan tempat itu? Hal itu berarti bahwa Ki Pulut hanya dijadikan boneka untuk nafsu keji seseorang

"Kakang,.. "

Seketika Bayu tersentak kaget dan berbalik saat mendengar suara dari arah belakangnya.

Tampak seorang gadis cantik berbaju hijau sudah berdiri tidak jauh darinya. Di pinggang gadis itu tergantung sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala naga, dan bermata dari batu merah delima.

"Sejak kapan kau berada di sini. Dewi?" tanya Bayu seraya menghampiri.

"Sejak kau meninggalkan Istana Bumi Loka," sahut Dewi Puspita kalem.

"Kau sudah tahu kalau aku ke sana?" Bayu setengah terkejut.

"Aku selalu mengikutimu terus, Kakang.

Maaf, bukannya aku tidak percaya padamu, tapi aku hanya bermaksud menjaga segala kemungkinan."

Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir, bagaimana Dewi Puspita selalu mengikutinya tanpa bisa diketahui sama sekali.

Ini jelas membuktikan, bahwa tingkat kepandaian gadis itu cukup tinggi. Tapi yang lebih penting, ilmu meringankan tubuhnya pasti sangat tinggi.

"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa padaku, Kakang. Aku sudah tahu semua pembicaraanmu dengan Gusti Prabu Indrajaya,"

kata Dewi Puspita menyerobot begitu melihat mulut Bayu sudah ternganga hendak berkata.

"Bagaimana kau bisa mengetahui dan mendengar semua pembicaraanku?" tanya Bayu.

"Mudah saja, aku rasa semua orang yang berkecimpung di dalam rimba persilatan juga mampu melakukannya, " sahut Dewi Puspita kalem. Bayu hanya mengangkat pundaknya.

"Aku merasa bersalah, telah menyeretmu terlalu jauh dalam masalah ini, Kakang," desah Dewi Puspita menyesal.

Lagi-lagi Bayu hanya mengangkat pundaknya dan tersenyum. Lalu pelahan-lahan kakinya mulai terayun melangkah meninggalkan tempat itu. Sedangkan Dewi Puspita segera mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya di samping pemuda itu.

"Terus terang, aku jadi heran dengan sikap Gusti Prabu. Aku malah punya pikiran lain, jangan-jangan semua ini memang sudah direncanakan sebelumnya, dan dia pura pura tidak tahu," kata Bayu setengah bergumam.

"Sejak nenek moyangnya dulu, keluarga istana memang sudah bermusuhan dengan Nyai Lumping. Dan aku tidak heran, kalau Gusti Prabu menghendaki perempuan tua itu segera lenyap dari muka bumi," sahut Dewi Puspita.

"Kau bilang tadi, sejak dari nenek moyangnya... Jadi Nyai Lumping itu...," Bayu tidak melanjutkan ucapannya.

"Nyai Lumping juga mempunyai keluarga, bahkan dulu memiliki pengikut yang tidak sedikit jumlahnya," Dewi Puspita menjelaskan.

"Kenapa sekarang hanya tinggal dia sendiri?" Bayu jadi ingin tahu.

"Dulu, yaitu pada masa pemerintahan Gusti Prabu Swarajaya, terjadi perselisihan yang mengakibatkan meletusnya perang, antara Kerajaan Bumi Loka dengan kerajaan penyihir yang bersemayam di Puncak Gunung Tangkar.

Pertempuran itu begitu hebatnya sehingga menimbulkan korban yang cukup banyak. Tapi meskipun Gusti Prabu kehilangan banyak prajurit, dia berhasil memenangkan pertempuran. Hampir semua keluarga penyihir itu serta para pengikutnya tewas"

"Hm..., terus...?" pinta Bayu yang mulai tertarik dengan cerita itu.

"Saat itu, sebenarnya masih ada tiga orang lagi yang lolos. Tapi kemudian yang dua orang bunuh diri, karena tidak mau menjadi tawanan dan mendapat hukuman. Dan tinggal Nyai Lumping sendiri yang pada saat itu belum begitu tua.

Lalu atas kesepakatan bersama, Gusti Prabu memberikan kebebasan pada Nyai Lumping dengan satu perjanjian, yakni tidak akan saling mengganggu dan melewati batas kekuasaan masing-masing. Dan semua perjanjian itu akan berakhir jika Nyai Lumping telah tiada. Dan Gunung Tangkar masuk kembali ke dalam wiiayah Kerajaan Bumi Loka."

"Sepertinya aku tidak melihat adanya hubungan dengan persoalan yang sedang terjadi," kata Bayu agak bergumam.

"Memang tidak ada, kalau ayahku tidak terjebak dan mendatangi Puncak Gunung Tangkar," sahut Dewi Puspita.

"Kau yakin ada seseorang yang dengan sengaja membuat malapetaka ini?"

"Ya, dan dari dulu orang itu memang selalu ingin menyingkirkan Ayah. Padahal Ayah sudah mengalah dengan mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai panglima perang tertinggi kerajaan, tapi rupanya hal itu belum membuatnya puas."

"Patih Ardareja, maksudmu?" tebak Bayu.

"Ya, sejak muda Patih Ardareja dan ayahku memang sudah bermusuhan."

"Rupanya kau sudah tahu segalanya, Dewi."

"Aku tahu, sebab Ayah sering menceritakann padaku. Dan dia selalu berpesan, agar aku selalu berhati-hati dengan Patih Ardareja dan kaki tangannya. Mereka semua licik, dan tak segan-segan menggunakan segala macam cara untuk memperoleh kekuasaan dan kedudukan."

Sekarang dia sudah bisa mengerti semuanya dengan jelas meskipun di benaknya masih tersimpan berbagai macam pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Namun pada garis besarnya, dia sudah bisa menarik kesimpulan

Sementara itu di dalam kedai milik Ki Bawuk, Patih Ardareja dan Panglima Rupadi, kembali mendesak laki-laki tua pemilik kedai dan rumah penginapan itu. Sementara para prajurit yang berjumlah tidak kurang dari dua puluh orang, telah menghancurkan semua perabot dan barang-barang yang ada di dalam kedai itu. Bahkan sampai ke seluruh kamar penginapan yang ada di bagian belakang kedai, hancur diobrak-abrik.

Kini keadaan Ki Bawuk benar-benar mengenaskan. Wajahnya tampak bengkak-bengkak biru lebam dan darah terus menetes dari sudut bibir, hidung dan pelipisnya. Sedangkan Nyi Bawuk hanya bisa menangis dan merintih memohon belas kasihan. Keadaan wanita tua itu juga tidak jauh berbeda dengan suaminya.

"Aku sebenarnya enggan berbuat kasar padamu, Ki Bawuk. Tapi kau telah memaksaku untuk bertindak keras" dingin suara Patih Ardareja.

Ki Bawuk hanya diam saja dengan kepala terkulai lemah.

"Katakan, di mana Dewi Puspita kau sembunyikan?" desak Patih Ardareja emosi. Tapi Ki Bawuk tetap diam membisu.

Sedangkan darah makin banyak menetes dari luka-luka di wajahnya yang sudah keriput. Hal itu tentu saja membuat Patih Ardareja semakin geram Maka tanpa mengenal rasa kasihan lagi, tangannya langsung melayang dan mendarat telak di wajah Ki Bawuk.

"Akh" Ki Bawuk memekik tertahan. Darah kembali mengucur deras dari mulutnya.

Sedangkan Nyi Bawuk menjerit melengking, namun dia tidak mampu berbuat apa-apa. Karena kaki dan tangannya terikat di kursi. Dua orang prajurit menodongkan pedangnya ke leher wanita tua itu.

"Kakang, rasanya tidak ada gunanya lagi menyiksa orang tua ini," kata Panglima Rupadi yang sudah hilang kesabarannya.

"Memang sudah tidak ada gunanya Bahkan hidup pun mereka sudah tidak ada gunanya lagi" dengus Patih Ardareja. Patih Ardareja kemudian merebut pedang yang berada di tangan salah seorang prajurit Dan tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung mengibaskan pedang itu ke leher Nyi Bawuk.

"Aaakh..." Nyi Bawuk segera menjerit melengking.

Bersamaan dengan itu, darah langsung muncrat dari leher yang terpenggal hampir putus. Dan belum puas juga, Patih Ardareja lalu menendang tubuh perempuan itu hingga terguling bersama kursinya. Ki Bawuk hanya bisa memejamkan matanya sambil menggeram hebat. Hatinya menjerit, namun dia tidak mampu untuk memberontak. Kedua tangan dan kakinya terikat tambang dengan kuat.

"Kau akan bernasib sama jika terus membungkam, Ki Bawuk" ancam Patih Ardareja seraya menempelkan mata pedang yang telah berlumur darah ke leher laki-laki tua pemilik kedai itu.

"Iblis... Bunuh saja aku Kau tidak akan bisa menemukan keponakanku" bentak Ki Bawuk dengan sisa-sisa keberaniannya.

Patih Ardareja menggeram marah. Tiba-tiba saja tangannya berkelebat cepat, dan langsung membabat leher Ki Bawuk. Tak sedikit pun terdengar laki-laki tua itu mengeluh atau berteriak. Kepalanya langsung terkulai dengan darah segar yang memuncrat deras. Beberapa saat kemudian, Patih Ardareja membuang pedang yang berlumuran darah itu. Wajahnya merah padam memandangi dua mayat yang telah menggeletak di lantai kedai itu.

"Huh Orang tua tidak tahu diuntung,"

gumam Patih Ardareja kesal.

Patih Ardareja segera melangkah ke luar setelah menyemburkan ludahnya beberapa kali.

Sementara para prajurit yang mengawalnya hanya bisa diam dengan sinar mata yang sulit untuk diartikan. Sedangkan Panglima Rupadi segera mengikutinya, diiringi para prajurit yang berjumlah dua puluh orang itu. Sebentar kemudian terdengar suara derap langkah kaki-kaki kuda yang dipacu cepat meninggalkan halaman depan kedai itu. Kini keadaan kembali sunyi, tak terdengar suara sedikit pun juga.

Kuda-kuda itu terus berlari semakin jauh meninggalkan kehancuran di dalam kedai.

Sementara itu dari arah yang berbeda, tampak Bayu dan Dewi Puspita berjalan sambil mengendap-endap mendekati kedai.

"Paman..." pekik Dewi Puspita begitu kakinya menginjak ambang pintu depan kedai.

Bayu juga tertegun menyaksikan satu pemandangan yang memilukan hati itu. Dewi Puspita segera berlari menubruk tubuh paman dan bibinya bergantian. Gadis itu tidak bisa menahan diri lagi, dia segera menangis dan meratapi nasib paman dan bibinya itu.

Sementara Bayu hanya bisa diam dengan mulut terkatup rapat.

"Dewi...," pelan suara Bayu. Dengan lembut tangannya menyentuh pundak gadis itu.

Dewi Puspita mengangkat kepalanya, dan menoleh agak ke atas. Kemudian pelahan lahan dia bangkit, namun pandangannya tetap tertuju pada dua gundukan tanah merah yang masih baru.

Mereka terpaksa menguburkan jenazah Ki Bawuk dan Nyi Bawuk di belakang rumah, agar tidak menarik perhatian orang lain.

"Aku harus membalas kekejaman mereka, Kakang. Harus..." dengus Dewi Puspita menggeram, namun suaranya masih bergetar.

"Kau tidak akan mampu menghadapi mereka dengan hati panas, Ratih," kata Bayu lembut.

"Mereka telah membunuh ayahku, dan sekarang mereka membunuh orang yang bisa kujadikan sandaran hidupku.  Paman dan Bibi tidak tahu apa-apa, bahkan mereka juga tidak tahu kalau aku menyelinap ke sini, Kakang...,"

kata Dewi Puspita dengan air mata mengalir deras.

Dalam suasana seperti itu, Bayu tidak mau berdebat, meskipun Dewi Puspita kadang-kadang juga berdusta. Kini pemuda itu melingkarkan tangannya kepundak gadis itu, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sejenak Bayu menutup dan mengunci semua pintu dan jendela. Sementara Dewi Puspita segera duduk dengan wajah lesu di atas dipan kayu yang beralaskan tilam bersulam. Kemudian Bayu menghampiri dan duduk bersandar di samping gadis itu.

"Dewi, kenapa kau selalu bersembunyi dan mebohongiku? Padahal kau bisa berterus terang, dan mengatakan apa adanya. Kalau sejak semula kau berterus terang padaku, mungkin peristiwa ini tidak perlu terjadi," kata Bayu menyesali sikap Dewi Puspita selama ini.

"Maaf, Kakang. Aku terpaksa, dalam situasi seperti ini, aku tidak boleh begitu saja percaya pada siapa pun," sahut Dewi Puspita membela diri.

"Aku Bdak mengerti, Dewi," desah Bayu.

"Hhh.. sudah banyak korban berjatuhan, bukan saja dari pihak kerajaan, tapi juga dari orang-orang yang belum kita ketahui dengan pasti apa maksud dan tujuan sebenarnya?"

"Kakang...."

"Hm."

"Kita harus segera menemui Gusti Prabu."

"Untuk apa?"

"Kita harus menjelaskan persoalan ini pada Gusti Prabu. Kalau hal ini didiamkan sampai berlarut-larut, keadaannya bisa bertambah parah. Aku yakin, Patih Ardareja juga tengah mengincar kedudukan Gusti Prabu."

"Jangan menduga begitu jauh, Dewi."

"Aku yakin, pasti Patih Ardareja juga menginginkan tahta Kerajaan Bumi Loka," Dewi Puspita tetap bertahan pada pendiriannya.

"Tampaknya kau yakin sekali, Dewi."

"Kalau kau tahu siapa sebenarnya Patih Ardareja itu, kau pasti akan punya pikiran yang sama denganku"

Bayu mengerutkan keningnya.

"Patih Ardareja adalah adik tiri dari Gusti Prabu Swarajaya, Ayahanda Gusti Prabu Indrajaya. Dan sammpai saat ini kematian Gusti Prabu Swarajaya juga masih dirahasiakan.

Bahkan Ayah sendiri juga tidak tahu sebab-sebabnya. Waktu itu Gusti Prabu Swarajaya tahu-tahu sudah dimakamkan tanpa ada upacara terlebih dahulu. Hanya pihak keluarga saja yang boleh menghadiri, katanya hal itu adalah pesan dari Gusti Prabu Swarajaya sendiri,"

ujar Dewi Puspita menjelaskan.

"Dewi, kalau Patih Ardareja benar-benar menginginkan tahta Kerajaan Bumi Loka, dia pasti sudah merebutnya sejak dulu begitu Prabu Swarajaya wafat. Untuk apa dia sampai menunggu bertahun-tahun? Sudahlah, Dewi. Mungkin Patih Ardareja menginginkan sesuatu yang lain. Atau bisa saja dia ingin Kerajaan Bumi Loka hancur.

Pokoknya begitu banyak kemungkinan yang kita sendiri tidak bisa mengetahuinya sekarang," ujar Bayu yang mencoba bertindak bijaksana dalam masalah ini.

Dewi Puspita hanya terdiam. Memang begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, dan tidak mereka ketahui saat ini. Tapi gadis itu tetap pada pendiriannya, bahwa Patih Ardareja-lah yang menjadi biang keladi dari semua malapetaka ini. Hanya saja yang masih menjadi beban pertanyaannya, kenapa Patih Ardareja melibatkan Nyai Lumpung? Padahal sudah tahu, kalau perempuan tua itu sangat kejam, dan bisa menghancurkan Kerajaan Bumi Loka dengan kekuatan sihirnya.

***
Lima
Matahari baru saja menampakkan dirinya di ufuk tmur. Namun kabut masih tebal menyelimuti Puncak Gunung Tangkar. Angin pun tetap bertiup kencang dan menebarkan udara dingin yang membekukan tulang. Dan keadaan seperti itu tidak terasakan oleh mereka yang berada di dalam sebuah bangunan batu tua yang berusia ratusan tahun.

Pada salah satu ruangan dari bangunan tua itu, tampaklah Nyai Lumping tengah duduk di kursinya yang terbuat dari batu, dan berpahat gambar seekor ular naga. Di depannya, duduk dua orang laki-laki setengah baya yang mengenakan pakaian indah pembesar kerajaan.

Mereka adalah Patih Ardareja dan Panglima Rupadi.

"Waktu yang kuberikan tinggal dua hari, Ardareja. Kapan kau akan menyerahkan gadis itu padaku?" dingin dan kecil suara Nyai Lumping.

"Tampaknya Dewi Puspita tidak berada lagi di wilayah Kerajaan Bumi Loka, Nyai. Sudah seluruh pelosok kerajaan aku jelajahi, tapi gadis itu seperti lenyap ditelan bumi," sahut Patih Ardareja.

"Dia masih ada di sana, Ardareja. Bahkan sekarang dia bersama seorang laki-laki muda yang memiliki tingkat kepandaian sangat tinggi. Mereka berada di rumah Ki Bawuk."

"Nyai, rumah itu sudah aku obrak-abrik, tapi Dewi Puspita tidak ada," bantah Patih Ardareja setengah terkejut.

"Huh Hanya menangkap tikus kecil saja kau sudah kewalahan begitu. Apalagi harus menghadapi Indrajaya? Rasanya percuma saja selama ini aku membantumu, Ardareja" dengus Nyai Lumping kesal.

"Nyai, apa pun yang akan terjadi, aku pasti akan segera membawa gadis itu padamu.
Soalnya dialah satu-satunya orang yang bisa membocorkan rahasia ini"

"Percuma, Ardareja. Indrajaya juga sudah mengetahuinya."

Patih Ardareja terperanjat.

"Kau tahu, siapa pemuda yang sekarang bersama Dewi Puspita?" tanya Nyai Lumping dengan mata menyipit.

Sejenak Patih Ardareja menoleh pada Panglima Rupadi, kemudian kepalanya menggeleng. Dia memang belum tahu kalau Dewi Puspita sekarang dibantu oleh seorang pemuda.

"Dia bernama Bayu Hanggara dan julukannya Pendekar Pulau Neraka," dingin suara Nyai Lumping.

Mendadak wajah Patih Ardareja pucat pasi mendengar nama itu. Dia memang sudah sering mendengar sepak terjang pendekar muda itu, meskipun belum pernah berhadapan langsung dengan orangnya. Nama Pendekar Pulau Neraka memang sempat menggetarkan rimba persilatan, dan menjadi buah bibir di kalangan tokoh-tokoh rimba persilatan. Baik dari liolongan putih maupun golongan hitam. Dan sampai saat ini belum ada satu tokoh pun yang mampu menandingi kepandaiannya.

"Ardareja, ruang gerakmu saat ini sudah semakin sempit. Kau tidak punya pilihan lain lagi, kecuali membunuh Prabu Indrajaya dan seluruh keluarganya. Aku sudah banyak membantumu, kini giliran kau yang harus membantuku. Hidupku tidak akan pernah merasa tentram, kalau keturunan musuh-musuhku masih hidup bebas di muka bumi ini," kata Nyai Lumping tegas.

"Nyai..." sentak Patih Ardareja terperanjat. "Dalam perjanjian kita, aku tidak harus membunuh Indrajaya dan keluarganya"

"Kau menginginkan tahtanya, kan?"

"Ya, tapi..."

"Membiarkan musuh hidup, berarti memupuk benih permusuhan baru. Kau mengerti maksudku, Ardareja?"

"Licik Kau benar-benar manusia iblis, Nyai Lumping" Patih Ardareja jadi sengit. Dia baru menyadari kalau dirinya ternyata telah diperalat oleh perempuan tua itu.

"Hik hik hik... Ternyata seekor singa yang sering mengaum itu bergigi ompong Hik hik hik..."

Patih Ardareja hanya mampu menggeretakkan gerahamnya menahan marah. Seharusnya dari dulu dia sudah menyadari, bahwa bekerjasama dengan orang yang berhati iblis tidak akan pernah mendapatkan keuntungan apa-apa. Namun kini semuanya sudah terlambat. Ibaratnya dia telah tercebur ke dalam sungai, dan harus basah seluruhnya.

Maka dengan hati yang dongkol. Patih Ardareja segera bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan itu dengan diikuti oleh Panglima Rupadi. Sementara Nyai Lumping hanya tertawa mengikik mengiringi kepergian mereka.

***
"Sekarang apa yang kita lakukan, Kakang?" tanya Panglima Rupadi saat mereka sudah berada di Kaki Gunung Tangkar.

"Aku tidak tahu," sahut Patih Ardareja masih terus memberengut. Sejak semula aku sudah memperingatkanmu, Kakang. Tidak ada gunanya bekerjasama dengan Nyai Lumping. Kini terbukti sudah, bahwa kekhawatiranku menjadi kenyataan, dan kedudukan kita saat ini semakin terjepit," nada suara Panglima Rupadi seperti menyesal.

"Sudah kepalang basah"

"Kakang, sebaiknya kita segera berterus terang pada Gusti Prabu Indrajaya," Panglima Rupadi mengusulkan.

Sejenak Patih Ardareja menghentikan langkahnya, tampak matanya tajam menatap lurus ke bola mata Panglima Rupadi.

"Sebelum terlanjur, Kakang. Dan kita masih punya waktu untuk menjernihkan keadaan," kata Panglima Rupadi lagi.

"Percuma...," Patih Ardareja menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak ada yang percuma, Kakang. Kita bisa ambil siasat."

"Hmm, apa maksudmu?"

"Saat ini, Dewi Puspita kan dibantu deh seorang pendekar yang namanya sudah kondang dan digdaya. Kita harus bisa memperalat Pendekar Pulau Neraka itu untuk bertarung melawan Nyai Lumping. Dengan begitu, tidak ada lagi orang yang mengetahui semua ini. Dan kita justru bisa dianggap sebagai pahlawan dengan membunuh mereka sekaligus."

"Hm...."

"Kita harus atur agar mereka bentrok, sambil menyiapkan regu panah yang akan merejam tubuh mereka pada saat bertarung. Sedangkan untuk persoalan Dewi Puspita, bukan hal yang sukar. Bagaimana, Kakang?"

"Tampaknya memang mudah, tapi aku merasa semua itu tidak akan berhasil. Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi,"

Patih Ardareja masih ragu-ragu dengan rencana Panglima Rupadi.

"Bagaimanapun tingginya tingkat kepandaian seseorang, tidak akan mungkin bisa selamat kalau diserang secara mendadak dari segala arah. Apalagi dalam keadaan sedang bertarung, yang perhatian pusat sepenuhnya pada lawan, Kakang."

"Mungkin bisa, tapi untuk memancing mereka bukanlah hal yang mudah."

"Harus ada korban, Kakang."

"Maksudmu?"

"Gusti Permaisuri Puspa Sari."

"Adik Rupadi" sentak Patih Ardareja terkejut.

"Jangan berbuat gila-gilaan begitu Aku tidak setuju kalau sampai melibatkan Gusti Permaisuri Puspa Sari.

"Hanya siasat saja, Kakang. Toh keselamatan Gusti Permaisuri masih terjamin."

"Tapi...."

"Serahkan saja semuanya padaku, Kakang," ujar Panglima Rupadi pongah.

Patih Ardareja tidak menyahut. Dia kembali melangkah menuju Kerajaan Bumi Loka.

Menurutnya rencana yang telah diutarakan Panglima Rupadi itu sangat berbahaya, apalagi sampai melibatkan Permaisuri Puspa Sari. Meskipun dirinya selalu mengimpikan tahta Kerajaan Bumi Loka, namun dia tidak mau mencelakakan seorang pun dari keluarga Prabu Indrajaya. Bagaimanapun juga, Prabu lndrajaya itu masih keponakannya.

Semula dia hanya bermaksud menggulingkan tahta, dan memenjarakan seluruh keluarga Prabu Indrajaya. Tapi yang terjadi malah sesuatu yang tidak diharapkannya sama sekali. Kerjasamanya dengan Nyai Lumping, justru membuat posisinya kini semakin terjepit. Sebelumnya dia memang tidak pernah berpikir, kalau perempuan tua ahli sihir itu akan memanfaatkannya untuk membalas dendam.

Patih Ardareja kini benar-benar bingung, apa yang harus dilakukannya untuk mencapai ambisinya itu. Dan dia terpaksa mengikuti semua rencana yang telah diutarakan oleh Panglima Rupadi. Dia pikir, memang hanya itulah cara satu-satunya untuk menghindari kecurigaan Prabu Indrajaya padanya.

***
Malam itu suasana di Istana Kerajaan Bumi Loka tampak sepi. Meskipun penjagaan telah diperketat, namun itu hanya pada tempat-tempat yang tertentu. Dan pada saat hampir seluruh penghuni istana tengah tertidur lelap, tampak dua sosok tubuh hitam berkelebatan cepat mendekati kamar peraduan Permaisuri Puspa Sari. Kedua sosok tubuh hitam itu berlindung pada sebuah pohon besar yang tidak jauh dari jendela kamar itu. Kemudian tampak salah seorang dari kedua sosok tubuh hitam itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu mendekatkannya ke mulut. Dan....

"Phuih"

Sebentar mereka menunggu, tampak para penjaga di sekitar kamar peraduan Permaisuri Puspa Sari sudah tertidur pulas. Rupanya orang bertubuh hitam tadi telah mengeluarkan aji sirep yang bisa menidurkan orang. Maka dengan gerakan yang ringan dan lincah kedua sosok hitam itu mendekati jendela. "Hup"

Salah seorang melompat masuk ke dalam kamar setelah berhasil membuka pintunya.

Sedangkan yang seorang lagi tetap menunggu di luar. Keadaan di dalam kamar yang besar dan indah itu tampak sunyi. Beberapa dayang telah menggeletak tidur di lantai yang beralaskan hambat berbulu tebal dan halus. Kemudian sosok tubuh hitam itu melangkah pelan-pelan mendekati pembaringan besar, dan beralaskan kain sutra halus yang berwarna merah muda.

Di atas pembaringan itu terlihat Permaisuri Puspa Sari tertidur dengan nyenyaknya. Mungkin dia sedang bermimpi indah dalam tidurnya. Sejenak sepasang mata itu mengintip dari kain hitam penutup wajah dan matanya berputar-putar liar menyoroti paha putih yang tersingkap agak lebar. Dan tangannya agak gemetar ketika hendak menjamah tubuh yang hanya berkain tipis itu.

"Hhh...," terdengar suara tarikan napas panjang dan berat.

Seketika orang itu mengambil kain tebal yang tergolek di bawah pembaringan, dan membungkus tubuh permaisuri itu. Setelah itu dia bergegas melompat ke jendela yang masih terbuka lebar. Gerakannya ringan saat melompati jendela.

Sementara orang yang tengah menunggu di luar segera menutup pintu jendela kembali, dan langsung mengikuti kawannya. Sayang sekali tak ada seorang pun yang melihat kejadian itu

Kedua sosok tubuh hitam itu berlompatan melewati tembok benteng yang tinggi dan kokoh, lalu lenyap begitu berada di luar benteng istana.


***

Berita tentang hilangnya Permaisuri Puspa Sari, cepat menyebar dari mulut ke mulut. Dan berita itu juga sampai ke telinga Bayu.

Sementara hampir seluruh prajurit sudah dikerahkan mencari Permaisuri Puspa Sari, Bayu malah menyelinap masuk ke Istana Bumi Loka.

Pendekar Pulau Neraka itu langsung menuju tempat pribadi Prabu Indrajaya, yang terus dijaga ketat oleh beberapa orang prajurit pengawal. Namun bagi seorang pendekar sepertinya, bukanlah hal yang sukar untuk melewati para prajurit pengawal tanpa diketahui. Saat pengawal yang menjaga kamar pribadi Prabu Indrajaya sedikit lengah, dengan cepat Bayu melesat masuk melalui jendela yang terbuka lebar.

Tentu saja Prabu Indrajaya terkejut melihat hal itu. Dan hampir saja dia berteriak memanggil pengawal, kalau saja Bayu tidak cepat-cepat meringkus dan membungkam mulutnya.

"Aku tidak bermaksud buruk. Jangan membuat keributan yang bisa mencelakakan dirimu," kata Bayu setengah mengancam.

Seketika Prabu Indrajaya menganggukkan kepala. Sedangkan Bayu pun segera melepaskan ringkusannya, dan menutup jendela. Sebenarnya seorang prajurit sempat melihat pintu itu tertutup, tapi dia tidak bisa melihat, siapa yang telah menutupnya. Dia hanya menduga, Prabu Indrajaya-lah yang menutupnya.

"Dua kali kau masuk ke sini seperti maling, Kisanak Sekali lagi kuperingatkan, kau bisa mendapat hukuman berat, tahu" dengus Prabu Indrajaya jengkel.

"Maaf, Gusti Prabu. Terpaksa hal ini aku lakukan karena banyak tikus yang berkeliaran di istana," kata Bayu kalem.

"Apa maksudmu sebenarnya, Kisanak?" tanya Prabu Indrajaya mulai sedikit ramah.

"Aku hanya ingin membantu menyelamatkan Kerajaan Bumi Loka dari kehancuran. Dan aku sudah tahu, siapa yang telah menculik Gusti Permaisuri. Aku pun tahu, akan rencana mereka yang bermaksud menggulingkan tahta Gusti Prabu," kata Bayu tetap tenang. "Katakan, siapa orang itu?"

"Gusti Prabu pasti tidak akan percaya, tapi aku akan mengatakan yang sebenarnya."

"Aku tahu, kau pasti akan mengatakan kalau ini perbuatan Patih Ardareja dan Panglima Rupadi, kan? Kau memang benar-benar sinting, Kisanak. Kemarin kau mengatakan, bahwa semua kekacauan karena ulah Patih Ardareja. Dan sekarang kau pasti akan mengatakan hal yang sama," Prabu Indrajaya langsung menebak.

"Gusti Prabu masih tidak percaya?"

"Tidak ada seorang pun yang mau mempercayai omongan orang sinting sepertimu" dengus Prabu Indrajaya.

"Hm..., ternyata Dewi Puspita benar. Kau adalah seorang raja yang tidak bisa melihat keanehan-keanehan di sekitarmu," gumam Bayu tanpa memandang hormat lagi.

"Hati-hati bicaramu, Kisanak" bentak Prabu Indrajaya tersinggung. "Pengawal..."

Bayu langsung terkejut begitu tiba-tiba seorang pengawal muncul. Maka tanpa pamit lagi, ia langsung melesat ke atas dan menjebol atap.

"Kejar orang itu, tangkap" teriak Prabu Indrajaya keras.

Bayu jadi gusar, karena beberapa orang pengawal sudah melihatnya, dan segera berlompatan ke atas atap. Sementara Pendekar Pulau Neraka itu langsung melentingkan tubuhnya dan turun ke bawah. Namun baru saja kakinya menjejak tanah, puluhan anak panah telah berdesingan ke arahnya.

Maka tidak ada pilihan lain, Bayu hanya bisa berlompatan ke sana kemari menghindarkan hujan anak panah itu. Untung saja dia berhasil ke luar dari kepungan itu, dan langsung melesat melompati tembok benteng yang tinggi.

Para punggawa istana yang memiliki kepandaian cukup tinggi segera berlompatan mengejar. Namun mereka tidak bisa lagi menemukan jejak Pendekar Pulau Neraka itu.


***

Kegemparan belum lagi reda, dan Prabu Indrajaya semakin gusar saat menerima sepucuk surat yang dibawa oleh seorang prajurit penjaga pintu gerbang istana. Surat itu berisi ancaman, agar dia turun tahta secepatnya jika menginginkan Permaisuri Puspa Sari selamat.

"Siapa yang telah mengirim surat ini?"

tanya Prabu Indrajaya membentak

"Ampun, Gusti Prabu Surat itu dilemparkan seseorang yang berbaju hitam dan menunggung kuda," lapor prajurit yang membawa surat itu.

Prabu Indrajaya menggeretakkan gerahamnya menahan marah. Dia kemudian memandangi satu persatu para pembesar, patih dan panglima serta punggawa yang berada di depannya.

Sejenak mata agak menyipit, karena dia tidak melihat Patih Ardareja dan Panglima Rupadi.

"Di mana Patih Ardareja dan Panglima Rupadi?

"Patih Ardareja dan Panglima Rupadi sedang tugas keliling bersama lima puluh prajurit, Gusti Prabu," sahut salah seorang panglima.

Prabu Indrajaya tampak semakin mengerutkan keningnya. Belum pernah sekali pun dia mendengar, bahwa Patih Ardareja melakukan tugas keliling bersama Panglima Rupadi. Lagi pula, seharusnya Patih Ardareja tetap berada di istana, karena keamanan istana adalah tanggung jawabnya. Sedangkan tugas keliling biasanya hanya dilakukan oleh para prajurit dan punggawa. Bukan oleh seorang patih atau panglima kerajaan.

Prabu Indrajaya jadi ingat akan kata-kata pemuda yang berbaju kulit harimau itu.

Belakangan ini tingkah laku Patih Ardareja dan Panglima Rupadi memang kelihatan tidak seperti biasanya. Seringkali mereka keluar istana tanpa alasan yang jelas. Bahkan semalam pun, di saat seluruh pembesar istana tengah berkumpul di Balai Sema, kedua pembesar itu juga tidak ada. Padahal pertemuan itu berlangsung sampai menjelang fajar, bersamaan dengan hilangnya Permaisuri Puspa Sari.

"Susul Patih Ardareja, dan katakan aku memanggilnya, cepat" perintah Prabu Indrajaya setengah emosi.

Dua orang punggawa segera menghaturkan sembah, dan bergegas pergi. Sedangkan Prabu Indrajaya masih memberikan perintah-perintah pada para pembesar lainnya. Dan mereka yang telah ditugaskan, langsung menjalankan perintah itu tanpa membantah edikit pun. Kini Prabu Indrajaya bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya, dan mengganti baju dengan baju yang ringkas. Tak ketinggalan sebilah pedang dia gantungkan di pinggang. Dan tidak lama kemudian sudah ke luar lagi.

"Pengawal, siapkan kuda" perintah Prabu Indrajaya.

"Hamba, Gusti."

***

Enam
Di sebuah gubuk kecil yang letaknya agak terpencil di dalam Hutan Gunung Tangkar, tampak Permaisuri Puspa Sari tengah tergolek di atas dipan kayu dengan tangan dan kaki terikat merentang. Tubuhnya hanya tertutup oleh selembar kain tipis merah muda, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya membayang jelas.

Tidak jauh darinya, tampak Panglima Rupadi dan Patih Ardareja duduk menghadapi meja kecil. Dua guci arak menggeletak di atas meja itu. Sementara di sekitar gubuk itu terlihat sekitar lima puluh prajurit sedang berjaga-jaga.

"Seharusnya kau tidak menuruti rencana gilamu ini. Adik Rupadi" rungut Patih Ardareja seraya melirik pada Permaisuri Puspa Sari, yang masih belum juga sadarkan diri dari pengaruh aji sirep yang telah dilepaskan oleh Panglima Rupadi semalam.

"Tenang saja, Kakang. Ini baru langkah permulaan," sahut Panglima Rupadi kalem.

"Gusti Prabu Indrajaya pasti sudah tahu kalau ini perbuatan kita"


"Tidak ada yang tahu, Kakang. Kalau kau sendiri tidak membuka mulut."

"Aku tidak yakin rencanamu akan berhasil"

"Tenang sajalah, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya, baru menyusul langkah kedua."

"Huh" Patih Ardareja mendengus.

Dan sambil memberengut, Patih Ardareja segera melangkah ke luar.

"Kau mau ke mana?" tanya Panglima Rupadi. "Ke istana"

"Kalau Gusti Prabu menanyakan aku, katakan kalau aku sedang memeriksa keamanan di bagian Selatan"

Patih Ardareja tidak menyahut. Dia langsung naiki ke punggung kudanya, dan dengan cepat menggebah kuda itu. Sementara Panglima Rupadi hanya memandanginya saja dari pintu.

Bibirnya menyunggingkan senyum. Kemudian dia berbalik dan menutup pintu pondok itu. Kini matanya langsung menatap pada Permaisuri Puspa Sari yang masih tergolek.

Kemudian dengan pelahan-lahan Panglima Rupadi menghampirinya dan duduk di tepi dipan itu. Bola matanya terus berputar liar merayapi wajah dan tubuh wanita cantik itu. Lidahnya tampak menjulur dan menjilati bibirnya sendiri. Kecantikan dan kemolekan Permaisuri Puspa Sari mendadak menggugah gairahnya. Lalu dengan tangan agak gemetar, dia mulai mengusap pipi yang halus dan lembut itu. Jantungnya jadi berdetak kencang, merasakan kehalusan kulit wajah wanita itu.
"Hm..., sungguh sayang wanita secantik ini dilewatkan begitu saja," gumam Panglima Rupadi.

Kemudian tanpa menghiraukan lagi siapa sebenarnya wanita itu, dia segera merenggut kain yang menutupi tubuh Puspa Sari. Matanya semakin membeliak lebar menyaksikan kemolekan tubuh wanita itu. Dengan cepat jakunnya turun naik menahan gairah yang memuncak mendesak dada. Rupanya setan telah menutupi seluruh akal sehat Panglima Rupadi. Dia tidak lagi peduli siapa dirinya, dan siapa wanita itu.

Dan dengan gairah yang berkobar-kobar, dia langsung memeluk dan menciumi wajah serta leher Puspa Sari. Sementara jari-jari tangannya menjelajah liar ke seluruh tubuh wanita itu. Semakin dia merasakan kehalusan kulit tubuh Puspa Sari, semakin tidak tertahankan lagi nafsu setannya. Maka Panglima Rupa di segera menjentikan jarinya di depan wanita itu.

Tidak lama kemudian tampak Puspa Sari mulai sadarkan diri. Dia langsung terkejut begitu melihat Panglima Rupadi sudah berada di atasnya, dengan dada telanjang. Dan dia lebih terkejut lagi begitu menyadan bahwa dirinya dalam keadaan tanpa busana, dengan tangan serta kakinya terikat.

"Panglima Apa yang telah kau lakukan?

Lepaskan aku" sentak Permaisuri Puspa Sari.

"Tenanglah, Manis. Kau sekarang telah jadi milik ku, dan kita akan segera menikmati saat-saat yang indah," desah Panglima Rupadi dengan napas tersengal.

"Tidak... Akh" Puspa Sari terus memberontak, dan berusaha melepaskan diri. Namun Panglima Rupadi tidak mempedulikannya lagi. Dia kembali memeluk dan menciumi wajah tubuh wanita itu. Sedangkan Permaisuri Puspa Sari kini menjerit-jerit minta tolong, tapi tak seorang pun yang datang

"Tidak Oh..., lepaskan" teriak Permaisuri Puspa Sari mulai dihinggapi perasaan takut luar biasa.

Namun jerit dan pekikan Puspa Sari malah semakin membuat Panglima Rupadi bergairah.

Rontaannya menimbulkan rangsangan yang menggelora.

"Oh... aaakh..." Puspa Sari menjerit melengking.

Dan tubuhnya langsung lemas lunglai.

Sementara air matanya mulai menitik ke luar.

Sia-sia saja memberontak dan menjerit minta tolong sampai suaranya serak. Kini Panglima Rupadi sudah benar-kerasukan setan.

Sakit dan perih seluruh tubuh Puspa Sari, hancur sudah semua harapan dan hatinya

Kesuciannya yang dia jaga selama ini, telah ternoda oleh panglimanya sendiri. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, hanya air mata dan rasa kehancuran saja yang dapat dirasakan.

Beberapa saat kemudian Panglima Rupadi tampak tersenyum penuh kepuasan. Lalu dia beranjak turun dari dipan kayu sambil merapikan pakaiannya kembali. Sedangkan tangannya menyambar kain yang teronggok di lantai, lalu melemparkannya ke tubuh wanita itu.

"Binatang kau, Rupadi" maki Puspa Sari disela isaknya.

"Makilah sepuasmu, kini tak ada lagi yang bisa kau banggakan. Suamimu sendiri pasti tidak akan mau menerimamu lagi," kata Panglima Rupadi tersenyum penuh kemenangan.

"Setan Kubunuh kau Kubunuh kau, Rupadi..."

"Ha ha ha..."

***
Sementara itu Patih Ardareja yang tengah memacu kudanya kembali ke Kerajaan Bumi Loka, dihadang oleh tiga orang punggawa yang memang sedang mencarinya. Ketiga punggawa itu segera turun dari ku danya, dan membungkuk memberi hormat.

"Ada apa kau menghadangku?" tanya Patih Ardareja.

"Ampun, Gusti Patih. Hamba bertiga diutus oleh Gusti Prabu mencari Gusti Patih," sahut salah seorang punggawa.

"Ada keperluan apa, Gusti Prabu memanggilku?"

"Hamba tidak tahu, Gusti. Mungkin ada suatu persoalan yang hendak dibicarakan, sehubungan dengan hilangnya Gusti Permaisuri."

"Baiklah, kembalilah kalian lebih dulu, nanti aku akan segera menyusul," kata Patih Ardareja langsung merasa tidak enak hatinya.

"Ampun, Gusti Patih. Gusti Prabu menghendaki dengan segera, dan hamba bertiga diperintahkan untuk membawa Gusti Patih menghadap."

"Punggawa Aku perintahkan pada kalian untuk kembali lebih dulu" Patih Ardareja jadi gusar. "Tapi, Gusti...."

"Kalian mau membangkang perintahku, heh?"

"Gusti Prabu akan menghukum hamba bertiga jika tidak berhasil menunaikan perintah."

"Perintah apa?" Patih Ardareja jadi cemas.

"Sebaiknya Gusti Patih segera menemui Gusti Prabu."

"Kalian sudah berani menentangku, ya?"

"Ampun, Gusti Patih. Hamba hanya menjalankan perintah Gusti Prabu."

Seketika Patih Ardareja jadi tidak menentu hatinya. Dia merasakan, kalau perbuatannya sudah diketahui oleh Prabu Indrajaya. Rasanya memang tidak mungkin, tiga orang punggawa itu tetap bertahan jika hanya untuk menyampaikan pesan saja. Kemudian Patih Ardareja segera melompat turun dari kudanya, dan secepat kilat dia menarik pedang dari sarungnya.

Sret

"Hiyaaa..."

"Gusti..."

"Aaakh..."

Seketika seorang punggawa langsung roboh terbabat pedang Patih Ardareja. Sedangkan dua orang lagi berhasil melompat menghindar. Namun Patih Ardareja yang sudah kalap, tidak mau memberi ampun lagi. Dia segera melompat dan mengejar sambil mengibaskan pedangnya dengan cepat. Dan dua orang punggawa itu masih bisa menahan gempuran Patih Ardareja, tapi karena kemampuan mereka memang masih berada jauh di bawah Patih Ardareja, maka dalam waktu singkat saja kedua punggawa itu pun roboh dengan tubuh bermandikan darah.

Sejenak Patih Ardareja menarik napas panjang sambil menyarungkan pedangnya kembali.

Lalu bergegas dia melompat naik ke punggung kudanya, dan kembali menggebahnya. Namun kali ini dia berbalik ke Lereng Gunung Tangkar.

Tapi baru saja dia memacu kudanya beberapa depa, mendadak terdengar suara bentakan keras menggelegar.

Patih Ardareja tidak mempedulikan bentakan itu, dia terus memacu kudanya dengan cepat. Sejenak dia menoleh ke belakang, tampak sekitar sepuluh orang prajurit dan seorang punggawa tengah mengejarnya.

Merasa dirinya sudah tidak mungkin lagi untuk kembali ke istana, Patih Ardareja jadi nekad. Dia segera melompat dari punggung kudanya yang tetap berpacu cepat Tiga kali tubuhnya melenting dan berputar di udara, lalu sambil mencabut pedangnya, dia meluruk ke arah para pengejarnya.

"Hiya..." teriaknya melengking tinggi.

"Aaa..."

Tiga orang prajurit langsung ambruk tersambar sabetan pedang Patih Ardareja.

Sedangkan mereka yang selamat langsung melompat turun dari kudanya masing-masing, dan menghunus senjata

"Gusti Prabu telah memerintahkan kami untuk menangkapmu, Gusti Patih," kata punggawa itu masih memandang hormat.

"Tangkaplah aku kalau kalian bisa"

Kembali Patih Ardareja melompat seraya mengibaskan pedangnya dengan cepat. Sementara para prajurit dan seorang punggawa yang sudah mengetahui tingkat kepandaian Patih Ardareja, bersikap lebih hati-hati. Namun mereka memang bukanlah tandingan Patih Ardareja. Sebentar saja jerit pekik kemarian terdengar saling susul, bersamaan dengan robohnya tubuh para prajurit itu.

Punggawa yang memimpin sepuluh orang prajurit itu jadi gentar. Maka tanpa pikir panjang lagi, dia segera melompat ke punggung kudanya, dan menggebahnya dengan cepat menuruni Lereng Gunung Tangkar.

Patih Ardareja tidak sempat lagi mengejar, karena sisa-sisa prajurit langsung merangseknya. Dan dengan kemarahan yang luar biasa, Patih Ardareja segera membabat habis prajurit-prajurit itu. Sejenak dia memandang punggawa yang sudah jauh melarikan diri, kemudian dia kembali menaiki kudanya dan menggebahnya menuju ke Lereng Gunung Tangkar.


***

Seorang punggawa yang telah berhasil lolos dari tangan Patih Ardareja itu, tampak memacu kudanya bagai kesetanan. Dan dia langsung melompat turun dari punggung kudanya begitu sampai di depan Istana Bumi Loka. Prabu lndrajaya yang kebetulan sedang berjalan ke luar, setengah terkejut. Punggawa itu langsung berlutut menjatuhkan diri.

"Ada apa, Punggawa?" tanya Prabu Indrajaya dengan kening berkerut dalam.

"Ampun, Gusti Prabu. Sebenarnya hamba telah berhasil bertemu dengan Patih Ardareja, tapi...," punggawa itu mengatur napasnya sebentar.

"Teruskan, Punggawa."

"Ampun, Gusti Prabu. Patih Ardareja melawan, dan membunuh semua prajurit yang ikut bersama hamba. Bahkan tiga orang punggawa juga telah tewas terbunuh."

Prabu Indrajaya menggeram hebat mendengar laporan itu. Dia benar-benar tidak menyangka sama sekali, kalau orang yang selama ini dipercaya dan masih ada ikatan saudara dengannya, justru yang akan menggulingkan tahta Kerajaan Bumi Loka.

"Di mana kau bertemu dengan Patih Ardareja?" tanya Prabu lndrajaya seraya menahan geram.

"Di Lereng Gunung Tangkar, Gusti Prabu."

"Panglima Jamparan"

"Hamba, Gusti Prabu."

"Kerahkan para prajurit tangkap Patih Ardareja hidup atau mati" perintah Prabu Indrajaya.

"Titah Gusti Prabu segera hamba laksanakan."

Panglima Jamparan segera berangkat untuk mengumpulkan para prajurit Sementara Prabu Indrajaya terus melangkah menuruni tangga istana. Dan dia segera naik ke punggung kuda yang memang sudah disiapkan sejak tadi.

Sepuluh orang punggawa, tiga panglima dan hampir seratus prajurit menyertai Raja Bumi Loka itu.

Namun baru saja mereka ke luar dari pintu gerbang, mendadak dua buah bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri Bayu dan Dewi Puspita.

"Maaf kalau perjalanan Gusti Prabu terhambat," kata Bayu.

"Kisanak, apa lagi yang hendak kau sampaikan padaku?" Prabu Indrajaya langsung mengenali pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Ampun, Gusti. Kalau boleh aku sarankan, sebaiknya tidak usah mengerahkan begitu banyak prajurit. Hal itu justru akan membuat Nyai Lumping semakin murka. Kini Patih Ardareja dan Panglima Rupadi sedang bersembunyi di Lereng Gunung Tangkar, dan tempat itu merupakan wilayah Nyai Lumping," Bayu mengingatkan.

"Gusti Prabu, ijinkanlah kami berdua yang akan membebaskan Gusti Permaisuri dan menangkap kedua pengkhianat itu," sambung Dewi Puspita.

"Nini, siapakah kau ini?" tanya Prabu Indrajaya.

"Hamba yang bernama Dewi Puspita, hamba putri tunggal Ki Pulut."

"Hm..., jadi kaulah yang selama ini dicari Nyai Lumping?"

"Benar, Gusti, dan hamba akan menyerahkan diri pada perempuan tua itu. Hamba akan menghadapinya sampai tetes darah terakhir."

Prabu Indrajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya begitu terharu mendengar kata-kata yang telah diucapkan gadis itu. Dia sudah tahu kalau gadis itu sebenarnya tidak bersalah, dan hanya menjadi korban fitnah Patih Ardareja. Dan Prabu Indrajaya tahu betul siapa ayah gadis itu, seorang panglima yang sangat disegani, jujur, setia dan patuh pada perintah.

"Panglima Jamparan," panggil Prabu Indrajaya.

"Hamba, Gusti Prabu."

"Perintahkan pada seluruh prajurit agar segera kembali, dan aku percayakan keamanan istana padamu. "

"Titah Gusti Prabu hamba junjung tinggi."

"Kisanak, mari kita segera berangkat," ajak Prabu Indrajaya.

Dua orang punggawa turun dari kudanya, dan menyerahkan kuda masing-masing pada Bayu dan Dewi Puspita. Kemudian mereka segera berangkat menuju Lereng Gunung Tangkar. Hanya ada dua orang panglima dan tiga punggawa saja yang mengawal. Sedang selebihnya kembali lagi ke Istana Bumi Loka.

***

Saat itu di sebuah pondok kecil di Lereng Gunung Tangkar, Panglima Rupadi baru saja selesai melampiaskan nafsu yang ke sekian kalinya pada Permaisuri Puspa Sari. Sedangkan Permaisuri Puspa Sari terpaksa menyerahkan tubuhnya dalam keadaan tidak berdaya. Baru saja Panglima Rupadi telah merapikan diri, ketika pintu pondok tiba-tiba terbuka dengan keras.

"Kakang Ardareja..." desis Panglima Rupadi sedikit terkejut.

"Kita harus segera pergi dari sini. Adik Rupadi," kata Patih Ardareja tersengal.

"Kenapa?" tanya Panglima Rupadi mengerutkan keningnya.

"Sebentar lagi para prajurit Kerajaan Bumi Loka pasti segera datang ke sini."

"Tunggu dulu, Kakang. Apa sebenarnya yang telah terjadi?"

"Aku telah bentrok dengan beberapa prajurit yang ingin menangkapku. Rupanya mereka sudah mengetahui semua perbuatan kita."

Sejenak Patih Ardareja menoleh pada Permaisuri Puspa Sari yang masih dalam keadaan tanpa busana. Tentu saja ia sangat terperanjat begitu melihat keadaan wanita itu.

"Adik Rupadi Apa yang telah kau lakukan?"

"Tidak apa-apa, Kakang. Hanya..." "Gila, kau" dengus Patih Ardareja gusar. Buru-buru Patih Ardareja memungut kain yang teronggok di lantai, kemudian menutupi tubuh Permaisuri Puspa Sari yang tergolek pingsan. Lalu dia berbalik dan menatap tajam pada Panglima Rupadi.

"Kenapa kau lakukan itu, Adik Rupadi?"

"Hanya sebagai pelampiasan dendam saja, Kakang. Aku dulu memang kalah bersaing dengan Indrajaya. Dan aku terpaksa menelan kekecewaan saat dia mempersunting Puspa Sari."

Patih Ardareja tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semuanya sudah terjadi, dan dia memang tahu betul kalau adiknya itu mencintai Puspa Sari. Patih Ardareja kemudian menghampiri adiknya, dan membawanya ke luar pondok.

"Adik Rupadi, lupakanlah Puspa Sari.

Sekarang ini kita jadi buronan prajurit-prajurit Bumi Loka. Kita harus segera menyingkir dari tempat ini sebelum mereka datang," kata Patih Ardareja.

"Kenapa harus menyingkir, Kakang. Toh kita bisa meminta bantuan pada Nyai Lumping Aku yakin, seribu prajurit pun Hdak akan mampu menghadapi Nyai Lumping."

"Sudahlah, Jangan hiraukan lagi tahta Kerajaan Bumi Loka. Yang penting sekarang, bagaimana ki bisa menyelamatkan diri"

Panglima Rupadi tidak menjawab. Dia hanya mengangkat bahunya dan mengikuti langkah kakaknya. Sementara lima puluh orang prajurit yang setia pada mereka juga mengikuti. Tapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, mendadak terdengar suara tawa yang mengikik nyaring.

"Hik hik hik..." "Nyai Lumping...," desis Patih Ardareja setengah tersentak.

Tampak seorang perempuan tua bungkuk dan berbaju kusam, muncul dari balik semak dan pepohonan. Perempuan tua yang ternyata adalah Nyai Lumping itu, segera melangkah ringan dan menghampiri mereka.

"Kalian mau ke mana?" tanya Nyai Lumping.

"Maaf, Nyai. Kami harus meninggalkan Bumi Loka," sahut Patih Ardareja

"Untuk apa? Mau jadi buronan seumur hidup?"

"Tidak ada jalan lain, Nyai."

"Hik hik hik... Kalian tidak percaya padaku, heh? Seluruh manusia di Bumi Loka bisa kuhancurkan dalam sekejap mata saja. Biarkan saja mereka datang ke sini, dan kalian akan melihat, bagaimana mereka hancur binasa."

Sejenak Patih Ardareja menoleh pada adiknya. Kemudian hampir bersamaan mereka mengangguk.

"Hik hik hik... Memang sebaiknya begitu.

Kalian bisa jadi pengikutku yang setia, dan kau Ardareja, sebentar lagi akan menduduki tahta Kerajaan Bumi Loka."

"Aku percaya padamu, Nyai," sahut Patih Ardareja pasrah.

"Hik hik hik..."

Patih Ardareja memang tidak punya pilihan lain lagi. Kalau tidak melarikan diri dari Bumi Loka, tentu menuruti saja keinginan perempuan tua ahli sihir itu.

"Rupadi, kau suka pada wanita yang berada dalam gubuk itu?"

"Iya, Nyai. Sudah lama aku menginginkan dia jadi istriku," sahut Panglima Rupadi.

"Pergilah ke sana, puaskan dirimu."

"Tentu, Nyai," sahut Panglima Rupadi gembira.

"Hik hik hik.."

***

Tujuh
"Oh, Tuhan..., kenapa kau berikan cobaan yang begini berat padaku," rintih Permaisuri Puspa Sari di dalam pondok.

Pelan-pelan dia berusaha bangkit, namun seluruh tubuhnya terasa nyeri. Dan dia hanya mampu duduk saja di atas pembaringan. Matanya yang terus beredar langsung tertumbuk pada sebilah pisau yang tergeletak di atas meja.

Tidak ada orang lain yang berada di dalam pondok itu. Hanya sekali-sekali terdengar suara-suara tawa dari luar.

Maka sambil menahan rasa sakit dan nyeri, Puspa Sari kemudian merayap turun dari dipan.

Tangannya menggapai-gapai dan berusaha meraih pisau itu. Dan dengan tangan bergetar, dia berhasil menggenggam pisau itu erat-erat. Air matanya semakin deras mengalir.

"Kanda Indrajaya, maafkan aku. Selamat tinggal, Kanda...," rintih Puspa Sari lirih.

Dan dengan sisa-sisa tenaganya, dia mengayunkan pisau itu ke arah dadanya sendiri.

"Hugh"

Puspa Sari tampak meringis menahan sakit yang amat sangat pada dadanya. Bersamaan dengan itu, darah mengucur deras dari lukanya itu. Kini tubuhnya benar-benar tidak berdaya, dan ambruk ke lantai. Darah segera menggenang di sekitar tubuhnya yang hanya terbungkus oleh kain tipis.

Hening, tak ada seorang pun yang tahu dengan peristiwa itu. Puspa Sari tewas dengan membawa ke pedihan dan kehancuran di dalam dirinya. Sementara di luar pondok, samar-samar masih terdengar suara tawa mereka yang seperti menertawakan keadaan wanita itu.

***
Sementara itu Patih Ardareja tampak semakin bertambah gelisah, karena para prajurit Kerajaan Bumi Loka yang mereka tunggu-tunggu tidak juga muncul. Sedangkan adiknya, Panglima Rupadi hanya bersenang-senang saja dengan para prajuritnya. Mereka sepertinya tidak peduli dengan situasi yang tengah mereka hadapi saat ini.

"Huh Kenapa tidak seorang pun yang kelihatan datang...?" keluh Patih Ardareja seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Barangkali mereka takut datang, Kakang" seru Panglima Rupadi.

"Benar, Gusti. Mereka pasti takut karena ada Nyai Lumping yang melindungi kita,"

celetuk salah seorang prajurit.

"Huh" Patih Ardareja hanya mendengus saja. Dia kemudian bangkit dan melangkah menuruni lereng.

"Mau ke mana kau, Ardareja?" tegur Nyai Lumping.

"Aku bosan menunggu di sini terus" sahut Patih Ardareja.

"Prajurit-prajurit itu memang tidak akan muncul di sini, Ardareja," kata Nyai Lumping lagi.

Sejenak Patih Ardareja menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan memandang pada perempuan tua itu.

"Hanya ada tujuh orang yang kini sedang mendaki Lereng Gunung Tangkar ini," kata Nyai Lumping tenang.

"Tujuh orang...?" tanya Patih Ardareja, seolah-olah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Aku merasakan ada tujuh ekor kuda yang sedang menuju tempat ini. Hm...," ujar Nyai Lumping sambil memiringkan kepalanya sedikit.

"Ada apa, Nyai?" tanya Patih Ardareja seraya mendekati.

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya..."

kata-kata Nyai Lumping terputus.

Patih Ardareja segera memandangi wajah wanita tua itu yang jadi berubah warnanya.

Juga tangannya yang memegang tongkat mulai bergetar. Sedangkan dari bibirnya yang keriput dan terkatup rapat ke luar suara yang mendesis bagai ulat. Sejenak Patih Ardareja melangkah mundur dua tindak. Sementara Panglima Rupadi dan para prajuritnya yang tengah bersenang-senang mendadak diam. Mereka semua ikut memandang ke arah Nyai Lumping yang kini sudah duduk bersila di bawah pohon.

Kelopak mata perempuan tua itu terpejam, sedangkan tongkatnya tetap bergetar di dalam genggaman tangannya. Kemudian pelahan-lahan matanya yang berkeriput itu terbuka, dan getaran pada tongkat nya berhenti. Namun napasnya terdengar tersengal-sengal, seolah-olah baru saja menempuh perjalanan jauh.

"Huh Siapa dia...?" lenguh Nyai Lumping seperti bicara untuk dirinya sendiri.

"Nyai...," Patih Ardareja mendekati dan duduk bersila di depan perempuan tua itu.

"Ardareja, sebaiknya kau segera menghadang mereka. Tapi usahakan agar tidak sampai bentrok dengan orang yang memakai baju dari kulit harimau. Kalian tidak akan mampu menghadapinya," kata Nyai Lumping agak parau suaranya.

"Siapa orang itu. Nyai?" tanya Patih Ardareja.

"Entahlah, mata batinku seperti buta.

Mungkin yang sering bersama Dewi Puspita."

"Maksudmu..., Pendekar Pulau Neraka?"

tanya Patih Ardareja ingin meyakinkan.

"Mungkin, aku sendiri belum begitu yakin.

Semakin dekat, malah semakin sulit untuk diketahui. Tapi yang jelas di antara mereka ada Prabu Indrajaya. Dan orang itu... Uh Dia selalu berada di samping Dewe Puspita."

"Dia pasti Pendekar Pulau Neraka, Nyai,"

Patih Ardareja menegaskan.

"Siapa pun orangnya, kalian jangan sampai bentrok dengannya. Biar aku sendiri nanti yang akan menghadapinya. Tampaknya dia memiliki kekuatan yang sukar untuk kutembus dengan mata batin."

Kemudian Patih Ardareja bangkit dan berjalan mendekati adiknya.

"Adik Rupadi, bawa semua prajuritmu. Dan hadang mereka di Kaki Lereng Gunung Tangkar," perintah Patih Ardareja.

"Baik, Kakang," sahut Panglima Rupadi.

"Ayo, kita segera berangkat dan menggempur mereka"

Dan tanpa diperintah dua kali, para prajurit itu langsung bergerak mengikuti Panglima Rupadi. Sementara itu Nyai Lumping masih tetap duduk bersila dengan bibir bergerak komat-kamit. Sedangkan Patih Ardareja hanya bisa memperhatikan tanpa mengerti maksudnya.

"Tampaknya kau sedang menghadapi kesulitan, Nyai," kata Patih Ardareja memberanikan diri.

"Kenapa kau tidak ikut pergi?" Nyai Lumping malah bertanya.

"Aku rasa, Adik Rupadi dan lima puluh prajurit sudah cukup, Nyai."

"Seratus orang prajurit dan sepuluh orang sepertimu juga tidak akan mampu menandinginya

Cepat pergi"

"Lantas, Nyai bagaimana?"

"Sudah kubilang, kau hadapi yang lainnya tapi hindari bentrok dengan orang yang berbaju harimau. Dia akan kuhadapi sendiri nanti"

"Baik, Nyai."

"Sudah, cepat sana"

***
Saat itu tidak jauh dari Kaki Lereng Gunung Tangkar, tampak Prabu Indrajaya, Bayu, Dewi Puspita da dua orang panglima, serta tiga orang punggawa terus memacu kudanya mendekati lereng gunung itu. Kini jalan yang mereka lalui sudah mulai dirapati oleh rimbunnya pepohonan, sehingga perjalanan agak terganggu.

Dan mereka baru bisa leluasa bergerak setelah mencapai padang rumput yang tidak begitu luas, tepat ketika mereka berada di Kaki Lereng Gunung Tangkar. Tampak Bayu meminta yang lainnya untuk segera berhenti, dan dia sendiri bergegas turun dari kuda.

Sejenak kepalanya dimiringkan sedikit ke kiri, menoleh pada Prabu lndrajaya.

"Ada banyak orang yang tengah menuruni lereng, Gusti Prabu," kata Bayu.

"Hm..., nampaknya mereka akan menghadang kita," gumam Prabu Indrajaya sambil mengangguk-angguk.

"Sebaiknya kita tunggu saja mereka di sini, Gusti," kata Dewi Puspita memberi usul."Tempat ini cukup luas untuk pertarungan."

"Baiklah, kita tunggu mereka di sini," sahut Prabu Indrajaya kemudian.

Dan Raja Bumi Loka itu pun segera melompat turun dari punggung kudanya. Gerakannya tampak ringan dan lincah, pertanda dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Namun bagi telinga Bayu, masih terdengar gemerisik halus saat kaki Prabu Indrajaya menyentuh rerumputan.

Sementara Dewi Puspita juga segera turun dari punggung kudanya, diikuti oleh dua orang panglima dan tiga punggawa yang menyertai mereka. Prabu Indrajaya mendekati Pendekar Pulau Neraka yang berdiri tegak sambil memandang ke Puncak Gunung Tangkar. Tangannya yang berotot kekar, melipat di depan dada.

"Berapa orang jumlah mereka?" tanya Prabu Indrajaya seperti menguji.

"Sekitar lima puluh orang," sahut Bayu.

"Hm...," Prabu Indrajaya bergumam tidak jelas.

"Kau telah melihat sesuatu, Kakang?" tanya Dewi Puspita yang juga sudah berada di sampingnya.

"Tidak, tapi aku sudah merasakan ada getaran yang aneh...," sahut Bayu ragu-ragu.

"Hm, kau bisa merasakan kehadiran perempuan penyihir itu, Kisanak?" gumam Prabu Indrajaya seperti bertanya.

Bayu tidak menjawab. Dia merasakan, bahwa getaran itu kini semakin kuat, seolah-olah ingin mengacaukan dan membelah-belah jiwanya.

Dan Bayu segera menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk menggempur getaran yang semakin lama semakin terasa kuat.

"Hhh Apakah ini yang dinamakan kekuatan sihir?" gumam Bayu dalam hati.

Getaran aneh itu terus bertambah kuat saja. Dan tubuh Bayu tampak mulai bergetar seperti menggigil kedinginan. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Sedangkan keringat yang sebesar-besar biji jagung merembes ke luar dari dahinya. Bayu terus bertahan dengan menyalurkan hawa murni pada seluruh tubuhnya.

"Kakang... kenapa kau?" tanya Dewi Puspita cemas.

"Menyingkirlah, Dewi," kata Bayu agak tersengal-sengal napasnya.

Dewi Puspita memberanikan diri untuk menyentuh tubuh Pendekar Pulau Neraka itu, namun dia langsung terpekik kaget Ternyata tubuh Bayu bagaikan batu api yang sangat panas dan menggigit. Dan Dewi Puspita segera melompat mundur sambil memegangi tangannya yang seperti melepuh terbakar.

"Kau tidak apa-apa. Dewi?" tanya Prabu Indrajaya.

"Oh, tidak.... Tidak apa-apa," sahut Dewi Puspita masih belum hilang dari rasa terkejutnya.

Sementara seluruh tubuh Bayu tampak semakin hebat saja bergetar. Antara sadar dan tidak, Pendekar Pulau Neraka itu bagai melihat gurunya, Eyang Gardika datang di depannya.

"Kau sedang menghadapi kekuatan ilmu sihir, Anakku. Dan kau akan sia-sia saja jika melawannya dengan kekuatan ilmu olah kanuragan. Hadapilah dia dengan kekuatan batinmu, dan gunakan Cakra Maut sebagai pelindung dirimu." Sebentar kemudian Bayu tersentak kaget.

Kata-kata itu jelas sekali terdengar di telinganya. Kini Pendekar Pulau Neraka itu mulai sadar, kalau dulu dia meninggalkan Pulau Neraka saat gurunya itu tengah bersemadi untuk menghadapi kesempurnaan diri dalam meninggalkan dunia lana ini. Dan seperti lazimnya orang-orang yang berilmu tinggi, dia sebenarnya tidak mati, tapi hanya muksa.

Berangsur-angsur Bayu menarik kembali hawa murninya. Dan pada saat itu getaran yang dirasakannya begitu kuat seperti berubah menjadi satu tenaga dorongan yang sangat kuat dan menghentak. Seketika tubuh Bayu terpental keras ke belakang, dan langsung menghantam pohon hingga tumbang. Namun Pendekar Pulau Neraka itu segera bisa menguasai diri dan duduk bersila.

Sejenak dia mencopot senjata Cakra Mautnya, dan menggenggamnya dengan erat pada salah satu ujungnya. Masih dalam sikap bersemedi dan cakra terangkat ke depan. Bayu mengosongkan seluruh kekuatan dirinya pada jiwa.

Kemudian pelahan-lahan tubuhnya mulai tampak tenang, dan getaran aneh itu terasa semakin berkurang. Namun pada saat seluruh getaran itu hilang, mendadak dari arah Lereng Gunung Tangkar, meluncur sinar merah yang langsung meluruk deras ke arah Pendekar Pulau Neraka itu. Namun keajaiban segera terjadi, cakra di tangan Bayu juga langsung memancarkan cahaya keperakan yang menyilaukan mata. Dan cahaya bergumpal yang membentuk bulatan sebesar kepala manusia itu, terus meluruk deras menyongsong sinar merah itu.

Glarrr

Seketika satu ledakan keras dan dahsyat terdengar menggelegar Bayu segera bangkit berdiri, dan melangkah tegap ke depan.

Kemudian dia berdiri tegak dengan tangan kanan yang menjulur ke depan sambil memegang Cakra Maut-nya. Tepat pada saat itu, mendadak sebuah bola api kembali meluncur ke arahnya. Dan seperti tadi, sebuah cahaya perak berbentuk bola kembali melesat ke luar dari Cakra Maut di tangan Pendekar Pulau Neraka.

Slap

Glarrr...

Beberapa kali terjadi luncuran-luncuran cahaya yang saling berbenturan di udara dan menimbulkan suara ledakan menggelegar memekakkan telinga. Tampak mereka yang menyaksikan semua itu, jadi terpana kagum.

Pertarungan aneh itu memang benar-benar mempesona, namun amat berbahaya dan dahsyat.

Dan pada saat Bayu tengah sibuk menghadang gempuran-gempuran kekuatan sihir dari Nyai Lumping, dari balik hutan di Kaki Leren Gunung Tangkar, mendadak bermunculan tidak kurang dari lima puluh orang yang berpakaian seragam prajurit Kerajaan Bumi Loka. Mereka terus berteriak-teriak dengan gegap-gempita bagai hendak menyerang musuh. Tampak Panglima Rupadi berlari paling depan dengan pedang yang sudah tergenggam di tangannya.

Melihat keadaan itu, Prabu Indrajaya segera memerintahkan pada kedua panglima dan tiga orang punggawanya untuk bersiap-siap menghadapi mereka. Sementara itu Dewi Puspita masih tercenung dan mengkhawatirkan keselamatan Bayu Hanggara yang masih terus bertempur melawan kekuatan sihir Nyai Lumping.

***

Sebentar saja para prajurit yang membelot dan ikut dengan Panglima Rupadi, sudah menyerbu pada Prabu Indrajaya yang hanya dikawal oleh dua orang panglima dan tiga orang punggawa. Pertempuran yang tidak seimbang segera berlangsung tanpa dapat dicegah lagi.

Sementara Dewi Puspita pun tidak bisa menahan diri lagi. Dengan kemarahan yang meluap-luap karena merasa difitnah, gadis itu langsung mengamuk seperti seekor singa betina yang kehilangan anaknya.

Pedangnya terus berkelebatan cepat bagai kilat, diiringi dengan gerakan tubuh yang lincah dan ringan. Sedangkan para prajurit pengkhianat itu yang memang bukan tandingan Dewi Puspita, segera berantakan kesana kemari.

Sementara itu Prabu Indrajaya yang juga memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi, mengamuk seperti banteng ketaton Pedangnya terus berkelebat cepat, dan selalu meminta nyawa. Sedangkan tidak jauh dari tempat pertempuran itu, Bayu masih tetap sibuk menghadapi gempuran kekuatan sihir Nyai Lumping jarak jauh.

"Hhh..., untunglah mereka masih mampu untuk menandingi para pengkhianat itu," desah Bayu yang matanya sempat melirik ke arah pertarungan yang tidak seimbang itu.

Memang, kekuatan yang sedikit dari pihak Prabu Indrajaya, tidak bisa dianggap remeh.

Dua orang panglima dan tiga orang punggawanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup tinggi. Dan tingkat kepandaian mereka rata-rata berada jauh di atas para prajurit pengkhianat tersebut. Sehingga kelihatannya tidak mengalami kesulitan dalam pertarungan itu.

Sebentar saja jerit dan pekik kematian terus membahana saling susul. Bersamaan dengan tubuh-tubuh yang bergelimpangan dengan bersimbah darah. Kini Kaki Lereng Gunung Tangkar kembali tersiram darah Namun pertempuran seakan tidak mau berhenti.

Saat itu, Dewi Puspita tampak berusaha untuk mendekati Panglima Rupadi yang tengah bertarung melawan salah seorang punggawa.

"Panglima Rupadi, akulah lawanmu..." teriak Dewi Puspita lantang. Dan bersamaan dengan itu juga tubuhnya segera melenting ke arah Panglima Rupadi. Tapi terlambat...Pedang di tangan panglima itu sudah berkelebat cepat dan menembus dada punggawa lawannya.

"Aaa..." punggawa itu menjerit melengking. Dada punggawa itu sobek dan menganga lebar Melihat itu, seketika Dewi Puspita menggeram hebat, dan langsung melancarkan serangan dengan jurus-jurus mautnya. Sedangkan Panglima Rupadi agak sedikit kewalahan, namun dengan cepat dia segera bisa menguasai diri.

Sebenarnya tingkat kepandaian Dewi Puspita seimbang dengan Panglima Rupadi. Tapi kali ini dia agak kewalahan, karena harus membagi perhatiannya pada para prajurit yang membantu panglima itu untuk menyerangnya.

"Ha ha ha... Ayo, Manis. Keluarkan semua kepandaianmu" ujar Panglima Rupadi yang mencoba membangkitkan amarah gadis itu.

Dewi Puspita hanya mendengus dan semakin memperhebat serangannya. Sejenak dia berkelit kesamping saat salah satu pedang prajurit hampir membelah iganya, lalu dengan cepat tangannya memutar pedangnya dan membabat robek dada prajurit itu. Namun pada saat itu, tiba-tiba Panglima Rupadi dengan licik membokongnya.

"Hup"

Panglima Rupadi menendang pedang yang berada dekat ujung kakinya, sehingga meluncur deras ke arah Dewi Puspita. Mau tidak mau, gadis itu segera melompat ke samping sambil memutar pedangnya untuk menangkis serangan yang tiba-tiba itu. Namun pada yang bersamaan, Panglima Rupadi sudah melompat seraya mengibaskan pedangnya kearah kepala Dewi Puspita.

"Hih"

Sejenak Dewi Puspita terperanjat Buru-buru dia menjatuhkan diri, sambil berusaha menghalau pedang yang meluncur deras ke arahnya. Namun gerakannya terlambat hanya sekejap mata saja. Ujung pedang Panglima Rupadi itu berhasil menggores pundak kiri gadis itu.

"Akh" Dewi Puspita memekik tertahan.

Bergegas gadis itu melompat berdiri.

Bibirnya mendesis menahan geram. Sedangkan darah terus mengucur deras dari bahu kirinya yang sobek cukup lebar. Pada saat itu, tiba-tiba seorang prajurit membokongnya dari belakang.

"Hait"

Tring

Dewi Puspita langsung memutar tubuhnya, menangkis senjata prajurit itu. Lalu dengan kecepatan kilat, dia segera membelokkan pedangnya, dan langsung merobek dada prajurit pembokong itu. "Akh"

Kembali Dewi Puspita memutar tubuhnya begitu mendengar suara desiran halus dari belakang. Dan tiba-tiba matanya membebak lebar, begitu melihat ujung pedang Panglima Rupadi sudah meluruk deras ke arahnya. Buru-buru gadis itu mengangkat pedangnya, dan menangkis serangan gelap panglima pembangkang itu. Namun satu dupakan kaki yang keras tidak dapat dihindarkan.

Duk

"Hugh..." Dewi Puspita mengeluh pendek, tubuhnya meluncur deras ke belakang.

"Mampus kau, Gadis Setan..." teriak Panglima Rupadi geram.

Dewi Puspita yang masih dalam keadaan terjajar, tidak mungkin lagi bisa mengelak.

Sebisanya dia mencoba mempertahankan diri, namun ujung pedang Panglima Rupadi berhasil juga menggores lengan gadis itu, bahkan satu pukulan tangan kiri bertenaga dalam dahsyat mendarat di bahu kanannya.

Gadis itu memekik tertahan, bahu kanannya terasa remuk, dan matanya berkunang-kunang.

Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Dewi Puspita tak sanggup lagi mengangkat pedangnya, tapi pada saat yang kritis itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan dan dengan cepat menyambar tubuh Dewi Puspita Hal itu tentu saja membuat Panglima Rupadi yang hendak menyerang kembali dengan pedangnya menjadi terperangah. Matanya dengan nyalang mencari. Namun Dewi Puspita sudah lenyap bagai ditelan bumi.

***


Delapan
Pertarungan terus berlangsung sengit Kekuatan rombongan Prabu Indrajaya yang cuma beberapa orang itu semakin berkurang. Kini sudah dua orang punggawa yang tewas, sedangkan Dewi Puspita lenyap disambar suatu bayangan. Sementara di pihak Panglima Rupadi, masih banyak prajurit yang masih hidup. Dan mereka sudah bisa menguasai jalannya pertarungan. Tampak Prabu Indrajaya yang kini hanya dibantu oleh dua panglima dan satu punggawa, semakin kelihatan terdesak

"Ha ha ha... Terus, gempur Jangan biarkan mereka hidup" Panglima Rupadi tertawa terbahak-bahak Dia tidak peduli lagi dengan hilangnya Dewi Puspita.

Sementara itu, Bayu yang sedang menahan gempuran Nyai Lumping, mendengar bisikan halus.

"Bayu, kau bereskan saja permasalahan di sini Kau jangan cemas memikirkan keadaan Dewi Puspita. Dia cucuku sendiri, dan akan aman bersamaku" bisik suara yang disampaikan dari jarak jauh itu.

Belum sempat Bayu berterima kasih pada orang yang berbisik itu, tiba-tiba dia telah menerima serangan mendadak yang melesat cepat ke arahnya.

"Hiyaaa..."

Bayu langsung mengibaskan senjata cakranya yang dia genggam. Seketika tiga orang lawan langsung menggelepar tanpa mampu membalas.

Pendekar Pulau Neraka itu terus bergerak cepat bagai kilat, berlompatan ke sana kemari dengan senjata cakra berkelebat mencabut nyawa.

Hanya dalam waktu yang singkat, sepuluh orang sudah tewas di tangannya. Dan keadaan jadi berbalik, kini semangat Prabu Indrajaya dan dua orang panglimanya bangkit kembali.

Saat itu seorang punggawa yang masih tersisa, sudah tewas di tangan Panglima Rupadi. Dan terjunnya Pendekar Pulau Neraka kedalam kancah pertarungan, tentu saja membuat Panglima Rupadi jadi cemas.

Dan kecemasan Panglima Rupadi semakin menebal, ketika melihat para prajuritnya sudah bergeletakan kena amukan Pendekar Pulau Neraka. Jerit dan pekik kematian terus membahana saling susul bersamaan dengan robohnya tubuh-tubuh yang bergelimpangan darah saling tumpang tindih. Kini jumlah prajurit pembangkang itu semakin berkurang dan menyusut. Dan semangat mereka pun tampaknya mulai mengendur. Melihat kenyataan ini, Panglima Rupadi langsung melesat kabur, namun....

"Rupadi Jangan lari kau" bentak Prabu Indrajaya.

Raja Bumi Loka itu langsung melesat mengejar. Tangannya yang menggenggam pedang, terus berkelebat cepat bagai kilat. Sedangkan Panglima Rupadi buru-buru merundukkan kepalanya dan memutar tubuhnya sambil mengibaskan senjatanya. Prabu Indrajaya menarik kembali pedangnya, lalu dengan cepat membenturkannya ke pedang Panglima Rupadi.

Tring

"Pengkhianat Kau harus mampus..." geram Prabu Indrajaya.

"Kaulah yang harus mampus, Raja Bodoh" balas Panglima Rupadi tak kalah sengit.

"Setan Hiyaaa..."

"Hup"

Prabu Indrajaya langsung menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Sementara Panglima Rupadi yang menyadari bahwa tingkat kepandaiannya masih berada di bawah Prabu Indrajaya, mengambil sikap hati-hati. Namun hanya dalam beberapa jurus saja, nampaknya dia sudah mulai terdesak.

Dan pada saat keadaan Panglima Rupadi semakin kritis itu, tiba-tiba melesatlah sesosok tubuh yang langsung menyerang Prabu Indrajaya.

"Paman Ardareja...." desis Prabu Indrajaya terkejut.

Kedatangan Patih Ardareja membuat semangat Panglima Rupadi bangkit kembali. Kakak beradik itu kemudian segera menyerang Prabu Indrajaya tanpa banyak bicara lagi. Sementara itu pertarungan di tempat lain sudah berakhir. Dua orang panglima yang masih hidup langsung berlompatan dan membantu Prabu Indrajaya.

"Paman Patih Ardareja, di mana kau sembunyikan permaisuriku?" bentak Prabu Indrajaya.

"Dia ada di tangan Nyai Lumping" sahut Patih Ardareja.

"Setan Kau harus kubunuh, Patih Ardareja" geram Prabu Indrajaya.

Kemarahan Prabu Indrajaya semakin memuncak ketika mendengar jawaban itu. Dan seperti orang yang kesetanan, dia langsung menggempur habis-habisan patih pembangkang itu. Sementara Panglima Rupadi harus melayani dua orang panglima lainnya.

"Hik hik hik..."

Tiba-tiba seorang perempuan tua muncul sambil memperdengarkan suara tawanya yang mengikik dan mendirikan bulu kuduk. Namun kehadirannya tidak mempengaruhi jalannya pertempuran. Dan memang kehadiran Nyai Lumping langsung disambut oleh Pendekar Pulau Neraka.

"Aku lawanmu, Perempuan Iblis" kata Bayu geram.

"Hik hik hik... Kau memang tangguh, Anak Muda. Tapi kau bukan tanandingiku" sahut Nyai Lumping pongah.

"Mari kita buktikan, siapa di antara kita yang lebih dulu terbang ke neraka"

"Hik hik hik..."

Tanpa buang-buang waktu lagi, Bayu langsung mengibaskan tangan kanannya ke depan dengan tubuh agak membungkuk miring. Tampak senjata cakra yang berada di pergelangan tangannya langsung melesat bagai kilat, dan mengarah ke tubuh perempuan tua itu.

"Hup"

Buru-buru Nyai Lumping mengangkat tongkatnya, dan menghalau cakra berwarna keperakan itu. Namun dia segera terperanjat, karena senjata itu bisa berkelit sendiri, dan langsung mencecarnya seperti memiliki mata saja. Sedangkan Bayu terus memain-mainkan jari-jari tangan kanannya untuk mengendalikan senjata andalannya itu.

Perempuan tua ahli sihir itu nampak agak kerepotan menghadapi senjata itu. Cakra Maut berwarna keperakan itu terus melayang-layang dengan kecepatan bagai kilat, mengarah kebagian-bagian tubuh Nyai Lumping yang mematikan.

"Hih Bocah Setan" rutuk Nyai Lumping sengit Nyai Lumping sempat melihat Bayu tengah mengendalikan cakra itu dari jarak yang cukup jauh. Dan tanpa membuang kesempatan lagi, perempuan tua itu langsung menghentakkan kepala tongkatnya ke arah Pendekar Pulau Neraka itu, sambil berkelit menghindari terjangan Cakra Maut

"Hup, hiyaaa..."

Buru-buru Bayu melentingkan tubuhnya ke udara saat melihat secercah sinar merah meluruk deras kearahnya. Dan sinar itu langsung menghantam tanah hingga menimbulkan suara yang menggelegar dan menggetarkan. Tepat pada saat tubuh Bayu berada di udara, Cakra Maut itu berbalik ke arahnya. Dan dengan cepat Bayu segera menangkapnya, dan langsung melemparkannya kembali ke arah Nyai Lumping.

"Heh"

Nyai Lumping terkejut setengah mati. Buru-buru dia merundukkan kepalanya untuk menghindar. Dan Cakra Maut itu hanya lewat sejengkal di atas kepalanya. Sedangkan Bayu kini sudah meluruk deras kearahnya. Kemudian bagaikan kilat, kaki kanannya langsung mendupak tubuh perempuan tua itu.

"Ikh Setaaan..."

Kembali Nyai Lumping tersentak kaget. Buru-buru dia melompat mundur. Tapi baru saja rubuhnya bisa berdiri, Cakra Maut itu sudah meluruk cepat dan menyerangnya. Mau tidak mau Nyai Lumping harus melompat ke udara menghindari terjangan senjata yang bagai bernyawa itu.

Dan pada saat itulah, Bayu juga melesat sambil mengirimkan 'Pukulan Racun Hitam'.
Seketika Nyai Lumping memekik tertahan, dia tidak bisa lagi untuk mengelak. Bahunya sudah terkena 'Pukulan Racun Hitam' dengan telak.

Tubuh perempuan tua itu meluruk deras, jatuh ke tanah dan bergulingan.

"Hup"

Bayu mendarat dengan manis di tanah. Sejenak tangannya terangkat dan Cakra Mautnya kembali menempel pada pergelangan tangan kanannya. Sementara Nyai Lumping sudah kembali bangkit, namun tubuhnya masih terhuyung-huyung. Tampak dari sudut bibirnya mengucur darah kental berwarna kehitaman. "Hoak..."

Nyai Lumping memuntahkan darah kental kehitaman. Matanya yang keriput membeliak lebar. Dia menyadari kalau dirinya sudah terkena pukulan beracun. Buru-buru dia mengambil sikap untuk menyalurkan hawa murni.

Tentu saja kesempatan itu tidak dibiarkan lewat oleh Bayu. Dengan cepat Pendekar Pulau Neraka itu menghentakkan tangan kanannya ke depan, seketika Cakra Maut dipergelangan tangan kanannya melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.

"Bocah setan Monyet buntung..." Nyai Lumping langsung memaki-maki tak karuan sambil berkelit menghindari terjangan senjata pipih yang bergerigi enam itu.

Sementara pertarungan di tempat lain terus berlangsung sengit. Belum ada satu pihak pun yang kelihatan bakal unggul. Rupanya kekuatan mereka cukup berimbang juga. Dan Bayu sudah kembali bertarung jarak dekat dengan Nyai Lumping. Namun sedikit pun dia tidak memberi kesempatan lagi pada perempuan tua itu untuk merapalkan ilmu sihirnya. Dia sudah merasakan kehebatan ilmu sihir perempuan tua itu. Dan menyadari tidak akan mampu untuk menandingi kekuatan ilmu sihirnya.

"Hiya..."

"Hiyaaa..."


***

Dalam ilmu sihir, Nyai Lumping memang sangat ditakuti Namun dalam ilmu olah kanuragan, dia masih bisa ditandingi, meskipun tingkatannya juga tinggi. Dan kini Nyai Lumping benar-benar merasa kewalahan menghadapi gempuran Bayu yang sama sekali tidak memberi kesempatan lagi padanya untuk menggunakan kekuatan sihirnya.

Nyai Lumping semakin geram saja, karena racun yang mengendap dalam tubuhnya mulai terasa bekerja. Kini napasnya mulai sesak, dan persendiannya juga terasa nyeri. Tapi bagaimanapun juga dia harus tetap menghadapi Bayu yang menyerang dengan kesetanan.

"Huh Dia benar-benar sudah tahu kelemahanku" dengus Nyai Lumping dalam hati.

Namun diam-diam Nyai Lumping segera merapalkan salah satu ilmu sihirnya. Tampak sepasang bola matanya jadi berwarna merah bagai darah menggumpal. Kemudian ia melesat mundur, dan pada saat Bayu hendak merangsek, tiba-tiba dari kedua mata perempuan tua itu meluncur sinar merah.

"Heh" Bayu tersentak kaget.

Buru-buru dia melompat ke samping, dan sinar merah itu langsung menghantam tanah, hingga segera menimbulkan suara ledakan yang dahsyat. Debu tampak mengepul dari hantaman sinar merah itu. Kali ini Bayu benar-benar dibuat jungkir-balik menghindari sinar-sinar merah yang terus-menerus meluruk ke arahnya.

"Bayu, jangan pandang matanya. Ikuti saja gerakan kakinya. Jangan kau hiraukan sinar-sinar merah itu, tidak akan berbahaya bagimu" tiba-tiba terdengar bisikan halus di telinga Bayu.

Sejenak Bayu tersentak, dia sudah kenal betul dengan suara itu. Suara Eyang Gardika, gurunya. Maka tanpa membuang waktu lagi, Bayu kemudian mengalihkan perhatiannya pada gerakan kaki Nyai Lumping. Dan dia membiarkan saja sinar-sinar merah itu menghajar tubuhnya.

Aneh Sinar merah itu bisa tersedot ke dalam senjata cakra di pergelangan tangannya. Bayu tampak tersenyum. Dalam hati dia mengucapkan terima kasih pada gurunya yang telah membantunya itu. Kini Pendekar Pulau Neraka itu terus bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Nyai Lumping. Lalu sedikit demi sedikit dia berusaha mendekatkan jaraknya. Dan begitu jaraknya tinggal satu batang tombak lagi, Bayu segera melenting dan mengebutkan tangan kanannya dengan cepat

Wut

"Akh" Nyai Lumping langsung memekik terperangah.

Buru-buru dia melompat mundur seraya berkelit ke samping, tapi terjangan yang datang secara beruntun itu membuatnya kelabakan. Lebih-lebih dalam keadaan mata yang sedang mengandung kekuatan ilmu sihir.

Penglihatan Nyai Lumping pun terhalang "Hih"

Seketika Bayu mencobloskan dua jarinya ke mata Nyai Lumping yang memerah membara.

"Aaakh..." Nyai Lumping segera menjerit melengking tinggi.

Dan belum lagi perempuan tua itu sempat menyadari apa yang terjadi, mendadak saja telinganya seperti terpanggang. Dan memang. Bayu menusuk telinga perempuan itu dengan menggunakan sebatang ranting yang dipungutnya dari tanah.

Bayu kemudian melompat mundur sejauh tiga batang tombak, dan dengan kecepatan penuh, dia langsung melontarkan senjatanya. Seketika Cakra Maut yang berwarna keperakan itu melesat cepat dengan suara mendesing. Tentu saja Nyai Lumping gelagapan, karena mata dan telinganya tidak lagi berfungsi. Maka tanpa ampun lagi, cakra itu langsung memenggal kepalanya.

"Hup"

Bayu segera menangkap cakra yang tengah kembali kepadanya. Dan dia langsung melenting cepat sambil mengarahkan kakinya ke tubuh wanita tua itu. Secara beruntun kedua kaki Pendekar Pulau Neraka itu menghajar tubuh tua yang bungkuk itu.

Tubuh Nyai Lumping terjengkang dan ambruk ke tanah dengan keras Kepalanya menggelinding terpisah agak jauh. Sejenak Bayu masih berdiri tegak dengan napas memburu. Baru kali ini dia benar-benar merasakan lawan yang sangat tangguh. Kalau saja tadi gurunya tidak membantu, mungkin akan lain jadinya.

***
Kematian Nyai Lumping benar-benar mengejutkan Patih Ardareja dan Panglima Rupadi. Seketika kepercayaan diri mereka langsung mengendur. Tentu saja hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Prabu Indrajaya.

Maka dengan satu teriakan yang melengking, Prabu Indrajaya langsung melompat cepat sambil mengibaskan pedangnya.

Sejenak Patih Ardareja terperangah, lalu buru-buru dia memapak serangan itu. Namun gerakannya kalah cepat dan dadanya tergores ujung pedang Prabu Indrajaya. Belum lagi Patih Ardareja bisa menguasai tubuhnya, tiba-tiba satu tendangan geledek sudah mendarat di dada dan kepalanya secara beruntun. Seketika tubuh Patih Ardareja limbung, dan....

"Aaakh..." Patih Ardareja menjerit melengking tinggi. Dengan cepat pedang Prabu Indrajaya menusuk tenggorokan patih pembangkang itu.

Sebentar Patih Ardareja masih sanggup berdiri limbung, namun begitu satu pukulan telak mendarat di dadanya, tubuhnya langsung ambruk di tanah. Tampak darah mengucur deras dari dada dan lehernya. Sejenak Prabu Indrajaya berdiri tegak sambil memandangi tubuh lawannya yang sudah tak berkutik itu.

"Gusti, sebaiknya kita segera mencari Gusti Permaisuri," kata Bayu yang tahu-tahu sudah berada di belakang Prabu Indrajaya.

"Baiklah, ayo," sahut Prabu Indrajaya.

Sejenak Prabu Indrajaya memandang ke arah dua panglimanya yang tengah bertarung melawan Panglima Rupadi. Kemudian Raja Bumi Loka itu segera berlari cepat mengikuti Pendekar Pulau Neraka. Mereka terus berlari mendaki Lereng Gunung Tangkal itu.

Sementara itu pertarungan antara Panglima Rupadi melawan dua orang Panglima Kerajaan Bumi Loka terus berlangsung dengan sengit.

Kini jelas terlihat kalau Panglima Rupadi kian terdesak, dan dalam beberapa jurus lagi, pasti bisa dikalahkan. Namun dasar otaknya yang memang cerdik, dia segera bisa mendapat jalan. Maka sambil melemparkan senjatanya ke arah seorang lawannya, Panglima Rupadi melesat cepat melarikan diri.

"Hey Jangan lari, kau" bentak salah seorang panglima seraya melesat mengejar.

Kedua panglima itu terus berlari cepat mengejar Panglima Rupadi. Dan salah seorang kemudian melemparkan pedangnya dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Pedang itu terus meluncur cepat ke arah tubuh Panglima Rupadi. Dan tanpa ampun lagi, pedang itu langsung menembus punggung Panglima Rupadi.

"Aaaa..." seketika Panglima Rupadi menjerit melengking. Tak pelak lagi, tubuhnya ambruk bergulingan di tanah. Salah seorang panglima yang masih memegang pedang, segera melompat sambil mengibaskan senjatanya. Dan langsung saja dia membabatkan pedangnya ke leher lawannya itu. Darah segar langsung muncrat ke luar dari leher yang hampir putus itu. Sejenak Panglima Rupadi menggelepar, dan kemudian diam untuk selamanya

***
Prabu Indrajaya segera berhenti berlari begitu sampai pada sebuah pondok kecil. Pondok itu berdiri agak terpencil di tengah-tengah Hutan Gunung Tangkar. Sejenak Prabu Indrajaya memandangi pintu pondok itu. Lalu dengan hati-hati kakinya terayun mendekati pintu yang masih tertutup rapat itu.

"Tunggu, Gusti Prabu," cegah Bayu menahan langkah Prabu Indrajaya.

Kemudian Bayu segera mendahului dan melangkah ke pintu pondok itu. Ayunan kakinya tetap perlahan-lahan dan hati-hati. Matanya tidak berkedip memandang ke arah pintu pondok.

Sementara Prabu Indrajaya hanya menunggu sambil memperhatikan dengan hati berdebar.

"Hiyaaa..." seketika Bayu berteriak keras.

Tubuhnya langsung melesat dan menjebol pintu pondok itu. Namun tidak lama kemudian Pendekar Pulau Neraka itu kembali melompat ke luar. Matanya langsung menatap Prabu Indrajaya dengan sinar mata yang sulit diartikan.

"Ada apa?" tanya Prabu Indrajaya sambil bergegas menghampiri.

Bayu tidak segera menjawab. Kepalanya kemudian tertunduk, seakan tidak sanggup lagi memandangi wajah Raja Bumi Loka ini. Prabu Indrajaya tidak sabar lagi. Dia bergegas masuk ke pondok, seketika matanya membelalak lebar begitu melihat tubuh permaisurinya telah menggeletak di lantai dengan hanya tertutup kain tipis seadanya. Sedangkan sebilah pisau tertanam dalam dadadanya. Darah juga menggenang di sekitar tubuh permaisuri itu.

"Dinda Puspa...," suara Prabu Indrajaya getir.

Prabu Indrajaya tak dapat menahan emosinya lagi. Dia langsung menubruk tubuh permaisurinya, dan memeluknya dengan erat.

Tubuh Permaisuri Puspa Sari terkulai lemas saat diangkat oleh Prabu Indrajaya. Lalu dengan langkah lesu, Prabu Indrajaya melangkah ke luar dari dalam pondok. Sementara Bayu hanya memandangnya saja dengan bibir yang terkatup rapat.

"Maafkan aku, Dinda. Aku datang terlambat...," rintih Prabu Indrajaya.

Raja Bumi Loka itu terus melangkah pelahan-lahan meninggalkan pondok kecil itu.

Sedangkan Bayu hanya bisa memperhatikannya dengan hati ikut berduka. Sedikit pun dia tidak merasa tersinggung karena Prabu Indrajaya tidak menghiraukannya lagi. Perasaan duka yang amat dalam, membuat Raja Bumi Loka itu lupa akan keadaan sekitarnya.

Prabu Indrajaya terus saja melangkah pelan-pelan sambil meratapi kematian permaisurinya. Saat itu langit tampak dipenuhi oleh awan hitam. Sementara angin pun berhenti berhembus, seakan-akan ikut merasakan kepedihan hati Prabu Indrajaya. Pepohonan juga seperti merunduk saat Raja Bumi Loka itu melewatinya. Kini rintik-rintik air hujan mulai jatuh menyiram bumi, sepertinya langit juga ikut berduka atas kematian wanita ayu Permaisuri Kerajaan Bumi Loka itu.

Sementara Bayu masih saja berdiri mematung sambil memandangi kepergian Raja Bumi Loka yang membawa mayat permaisurinya itu. Tiba-tiba saja pikirannya teringat pada ibunya, yang sampai saat ini belum ketahuan nasibnya.

Apakah sudah meninggal, atau masih hidup. Bayu mendesah panjang, lalu dengan cepat dia melesat meninggalkan Lereng Gunung Tangkar itu.

Tepat pada saat itu, dua orang panglima yang sudah menyelesaikan pertarungan telah tiba ditempat itu. Mereka langsung terkejut begitu melihat Prabu Indrajaya tengah melangkah lesu sambil memondong tubuh Permaisuri Puspa Sari yang terkulai lemas, dengan sebilah pisau tertanam di dada.

"Gusti Prabu...," salah seorang menghaturkan sembah.

"Cepat kembali ke istana, dan bawa kereta kencana ke sini," perintah Prabu Indrajaya.

"Hamba segera laksanakan, Gusti Prabu."

Kemudian salah seorang panglima segera berlari cepat menghampiri seekor kuda yang sedang merumput. Tampak ada beberapa ekor kuda milik para prajurit pembangkang sedangmerumput di situ. Dengan cepat panglima itu melompat ke punggung kuda, dan langsung menggebahnya menuju Istana Kerajaan Bumi Loka. Sementara Prabu Indrajaya terus melangkah pelan sambil memondong tubuh permaisurinya dengan diiringi oleh seorang panglimanya. Episode selanjutnya Lambang Kematian

Selesai
Thanks for reading Pembalasan Ratu Sihir I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »