Social Items


SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode: Gadis Buronan
Karya: Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit: Cintamedia, Jakarta


Gadis Buronan



SATU
"Hiya! Hiya...!"
Seorang pemuda berbaju merah muda menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi. Kuda coklat belang putih itu berpacu bagai kesetanan. Setiap kali tangan pemuda itu menepuk pinggul kudanya, terdengar ringkikan keras, maka kuda itu pun semakin cepat berpacu. Debu mengepul diudara, menambah sesaknya siang yang panas menyengat ini.

Kuda coklat belang putih itu tiba-tiba saja meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Pemuda yang menunggangnya, cepat-cepat menarik tali kekangnya kuat-kuat Tapi kuda itu semakin liar, berjingkrakan sambil meringkik keras. Sukar untuk mengendalikan lagi. Dan ketika kuda itu melompat dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi ke udara, pemuda itu kehilangan keseimbangan. Dia jatuh bergulingan di tanah.

"Hup!"

Bergegas pemuda itu bangkit, dan melompat ke punggung kudanya ke mbali. Tapi kuda coklat itu ma lah berlari kencang, sehingga pemuda itu terbanting keras ke tanah dan kembali bergulingan. Bergegas dia bangkit, namun kudanya sudah begitu jauh meninggalkannya sendirian.

"Kuda sialan!" umpat pe muda itu kesal.
"Jangan salahkan kuda, dasar kau saja yang tidak becus!" tiba-tiba terdengar suara mengguma m, namun terdengar keras mengejutkan.
"Heh! Siapa kau...?" pemuda itu terkejut, langsung berbalik menatap ke suatu arah.

"He he he...!"
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan pemuda berbaju merah muda itu telah berdiri seorang laki-laki tua berjubah biru tua. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya yang agak bungkuk. Laki-la ki tua itu tertawa terkekeh-kekeh seraya bergerak mengha mpiri, dan baru berhenti setelah jaraknya sekitar lima langkah lagi.

"Siapa kau?" dengus pemuda Itu masih dihinggapi perasaan kesal karena dit inggalkan kudanya bergitu saja.
"He he he...," laki-laki tua berjubah biru tua itu hanya terkekeh saja.

Dan belum lagi hilang suara tawanya, tiba-tiba laki-laki tua itu melompat cepat sa mbil mengibaskan tongkatnya ke arah kepala pemuda itu. Tentu saja serangan yang demikian cepat dan mendadak itu, membuat pemuda berbaju merah muda kelabakan. Tapi dengan cepat dirundukkan kepalanya, dan langsung digeser kakinya ke kanan.

Belum juga pe muda itu bisa mengangkat kepalanya kembali, laki-laki tua itu sudah kembali menyerang lebih cepat Kali ini tongkatnya diputar dari atas ke bawah, mengarah ke kaki. Serangannya begitu cepat dan sukar diikuti mata biasa.

"Hait..!"

Cepat sekali pemuda itu melompat menghindari tebasan tongkat itu. Dan pada kesempatan yang sedikit, dengan kecepatan kilat dihentakkan kakinya ke depan, langsung diarahkan ke dada laki-laki tua itu.

"Uts!"

Laki-laki tua itu menyilangkan tongkatnya, memapak tendangan yang menggeledek dan cepat itu. Tak dapat dihindarkan lagi. Kaki pemuda itu menghantam tongkat yang menyilang di depan dada. Tapi pemuda itu cukup cerdik. Dengan menggunakan tenaga pinjaman, dia melompat ke belakang. Tubuhnya berputar tiga kali di udara, dan mendarat lunak di tanah

Sret!

Pemuda berbaju merah muda itu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Disilangkan pedang itu di depan dadanya. Tatapan matanya begitu taja m menusuk.

"Kisanak, kenapa kau menyerangku?" tanya pemuda itu bernada kesal.
"He he he.... Karena kau keras kepala, Awijaya!" sahut laki-laki tua itu diiringi suara tawanya yang terkekeh.
"Heh! Kau tahu nama ku?! Siapa kau sebenarnya?" tanya pemuda yang ternyata bernama Awijaya.

Tentu saja Awijaya terkejut, karena dia merasa dirinya sudah berubah jauh dengan banyaknya luka goresan di wajahnya. Belum lagi rambutnya yang kasar memenuhi wajahnya, membuat penampilan Awijaya jauh berubah dari tiga tahun yang lalu.

"Kau tak perlu tahu siapa aku, Awijaya. Aku hanya ingin mengatakan, jangan kau teruskan pekerjaanmu. Dia bukan milikmu!" sahut lelaki tua itu dingin.

"Jangan berbelit-belit, Kisanak! Apa keinginanmu sebenarnya?" dengus Awijaya semakin kesal.
"He he he..," laki-laki tua itu hanya terkekeh saja.
Tiba-tiba saja dia me lesat cepat, dan langsung lenyap dari pandangan.
"Hey...! Tunggu...!" teriak Awijaya terkejut

Tapi bayangan lelaki tua aneh dan tak dikenal itu sudah lenyap. Tak tahu lagi ke mana perginya. Tinggal suara tawanya saja yang masih terdengar, kemudian menghilang terbawa angin. Awijaya bersungut kesal, karena kini harus berjalan kaki. Kudanya kabur entah ke mana, dan kini ada lelaki tua yang tak diketahui maksudnya. Tahu-tahu muncul dan menyerang. Bahkan meninggalkan kata-kata yang sama sekali tak dimengertinya.

"Huh! Orang tua edan...!" dengus Awijaya menggerutu kesal.

***

Senja baru saja turun ke dalam pe lukan bumi. Cahaya matahari tidak lagi terik menyengat Sinarnya nampak kemerahan menyemburat di ufuk Barat. Bola merah raksasa itu terlihat agak tenggelam, seakan hendak mengucapkan selamat tinggal. Di jalan setapak berdebu, tampak Awijaya berjalan pelahan-lahan. Wajahnya bersimbah keringat, dan bajunya kotor berdebu. Pandangannya lurus ke depan ke arah sebuah desa yang nampak tenang.

Angin bertiup tidak terlalu kencang. Sebagian rambutnya tergulung ke atas diikat pita merah muda. Sedangkan sebagian lagi melambai-lambai mengikuti alunan tiupan angin senja ini. Awijaya terus melangkah me masuki desa yang belum diketahui namanya. Beberapa penduduk yang kebetulan berpapasan, sempat memperhatikannya. Namun mereka tidak peduli. Desa ini tidak terlalu kecil, tapi suasananya begitu damai tentram. Awijaya mengayunkan kakinya menuju sebuah rumah yang bertuliskan. "Rumah Penginapan dan Kedai Nyai Supit" di atas pintunya.

Seorang perempuan bertubuh gemuk menyambut kedatangan Awijaya. Dengan senyum lebar dan sikap ramah, dipersilahkan pemuda itu masuk, Awijaya dibawa kesalah satu tempat yang terdapat meja bundar dan dua buah kursi. Ada beberapa meja dan kursi sejenis tertata rapih di ruangan yang cukup besar ini. Awijaya duduk tenang, seraya mengamati keadaan ruangan kedai ini.

"Pesan apa, Den?" tanya perempuan gemuk itu ramah.
"Aku perlu kamar untuk menginap," sahut Awijaya langsung tanpa basa-basi lagi "Tidak makan dulu, Den?" perempuan gemuk itu menawarkan.
"Minum saja."
"Arak?"
"Iya."
"Sebentar, Den."

Perempuan tua itu tergopoh-gopoh meninggalkannya. Sementara Awijaya kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak banyak orang di kedai ini. Satu orang duduk menghadapi makanan yang begitu banyak. Sepertinya tidak akan habis dimakan oleh tubuhnya yang kecil kurus itu. Di pojok lain ada empat orang laki-laki berwajah beringas yang juga tengah menikmati makanannya. Mereka bicara ribut sekali, seolah-olah tidak mempedulikan pengunjung lainnya.

Masih ada lagi beberapa orang. Dan pandangan Awijaya tertuju pada enam orang wanita yang duduk menghadapi satu meja. Mereka hanya minum arak ringan dan makanan kecil yang terhidang di atas meja. Dari punggungnya yang membawa pedang, keenam wanita muda itu pasti dari kalangan rimba persilatan. Mereka masih muda dan cantik. Yang menarik perhatian Awijaya adalah gambar sekuntum bunga yang tersulam di bagian dada sebelah kiri mereka.

"Hm..., ada apa mereka datang ke sini?" gumam Awijaya dalam hati.

Pertanyaan Awijaya belum terjawab, karena perempuan gemuk itu datang lagi sambil membawa seguci arak manis dan sepiring makanan kecil. Dengan sikap yang ramah, diletakan pesanan itu diatas meja, lalu dipersilahkan Awijaya untuk menikmatinya. Kemudian dia berbalik meninggalkan tergopoh-gopoh, karena ada lagi orang yang datang.

Orang yang baru datang itu sungguh menarik perhatian semua pengunjung kedai ini, karena pakaiannya berbeda dari biasanya. Dia seorang pemuda dengan garis-garis kekerasan yang tersirat pada wajahnya yang tampan. Tubuhnya tinggi tegap dan berotot, terbungkus baju dari kulit harimau. Dipilihnya tempat di bawah jendela besar yang terbuka, dan berjeruji dari kayu bulat Dia hanya memesan arak, tanpa ada makanan lain.

"Pendekar Pulau Neraka...," desis Awijaya mengenali pemuda berbaju kulit harimau yang baru masuk tadi "Hm...,mudah-mudahan kedatangannya hanya sekadar singgah. Bisa runyam nanti urusannya kalau dia tahu."

Senja terus merayap semakin jauh. Suasana jadi semakin remang-remang. Perempuan gemuk pemilik kedai ini menyalakan beberapa pelita, sehingga ruangan kedai ini jadi terang benderang. Satu per satu tamu di dalam kedai ini beranjak pergi, dan kebanyakan masuk kebagian be lakang. Mungkin menginap di tempat ini juga.

"Sini...!" Awijaya melambaikan tangannya pada perempuan gemuk yang bernama Nyai Supit
"Ada apa, Den?" Nyai Supit menghampiri tergopoh-gopoh.
"Masih ada ka mar untukku?" tanya Awijaya langsung.

"Ada, Den. Banyak," sahut Nyai Supit.
"Hm.... Kulihat banyak sekali tamumu. Aku khawatir tidak ada lagi kamar penginapan di sini."
"Jangan khawatir, Den. Ada dua puluh kamar yang bisa disewa. Dan baru separuhnya terisi."
"Kalau begitu, siapkan kamar satu untukku."
"Baik, Den."

Nyai Supit berbalik dan pergi, tapi Awijaya mencegahnya. Perempuan gemuk itu kembali berbalik menghadap pemuda itu. Sikapnya masih ramah disertai senyum yang tidak pernah lepas mengembang dari bibirnya.

"Ada apa, Den?"
"Nyai, apakah mereka pendatang juga?" tanya Awijaya setengah berbisik, dan kepala disorongkan kedepan.
"Benar, Den. Beberapa hari ini banyak sekali orang datang ke sini Mungkin karena berita itu," sahut Nyai Supit.

Awijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Raden juga ingin ikut?" tanya Nyai Supit. "Sebaiknya jangan, Den. Tidak mungkin berhasil. Sudah banyak yang mencoba, tapi tidak ada yang pernah kembali lagi. Mendengar namanya saja, sudah tidak lagi.

Mungkin mati, atau hilang."
"Perjalananku masih panjang. Nyai. Aku tidak tertarik sama sekali," kata Awijaya tersenyum kecut.

"Syukurlah kalau begitu. Raden masih muda, lebih baik cari gadis lain. Masih banyak yang cantik. Di Desa Munding ini juga banyak gadis cantik, Den."

Awijaya hanya tersenyum saja, kemudian bangkit berdiri.
"Mana kamarku, Nyai?"
"Mari, Den. Ikuti aku."

***

Suasana di Desa Munding hari ini tidak seperti biasanya. Keramaian begitu menyetok. Dari segala penjuru orang-orang berdatangan menuju sebuah rumah besar yang memiliki halaman luas bagai lapangan. Keramaian seperti ini tentu saja menguntungkan para pedagang musiman. Sejak pagi-pagi buta tadi, mereka sudah mengambil tempat yang dianggap tepat. Tak tertinggal anak-anak berlarian bermain tanpa mengerti maksud keramaian ini. Sedangkan beberapa kelompok pemuda berceloteh menggoda gadis-gadis. Tidak jarang gadis-gadis yang digoda malah membalas dengan menyakitkan.

Di depan kedai Nyai Supit yang terletak tidak jauh dari rumah besar yang berhalaman luas dan kini dipenuhi orang itu, tampak berdiri Awijaya. Di sampingnya. Nyai Supit duduk di balai bambu yang merapat pada dinding kedainya. Orang-orang yang keluar masuk kedainya tidak dipedulikan lagi. Hari ini semua pekerjaannya diserahkan pada pelayannya.

"Tida k ke sana, Den?" tegur Nyai Supit yang agak heran juga melihat Awijaya hanya berdiri saja memandangi keramaian itu.
"Malas," sahut Awijaya kelihatan enggan. Tapi matanya terus memandang ke arah sana.
"Pasti ramai. Soalnya, banyak orang sakti mengadu ilmu di sana," kata Nyai Supit lagi.
"Manusia diadu seperti ayam!" dengus Awijaya tanpa sadar.

"Benar, Den. Tapi memang wataknya Ki Praba begitu!" sambut Nyai Supit. "Dia pikir, cuma dirinya saja yang tinggi ilmunya.... Padahal banyak orang yang lebih tinggi kepandaiannya. Biar saja, nanti juga kena batunya!"


Awijaya melirik pada perempuan gemuk itu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti, namun tidak mudah untuk dilukiskan. Rasanya terlalu hambar dan pahit sekali. Tapi Nyai Supit tidak memperhatikan, dan terlalu sibuk memperhatikan keramaian itu.

Tiba-tiba saja senyum di bibir Awijaya lenyap. Dan kini pandangannya terpaku pada seorang laki-laki tua berjubah biru tua yang berdiri di bawah pohon ke muning. Tongkat hitam berkeluk tujuh menyangga tubuhnya yang agak bungkuk Pada saat yang sama, laki-laki tua itu me mandang ke arah Awijaya. Bibirnya yang tipis dan hampir tertutup kumis putih, menyunggingkan senyuman lebar.

Awijaya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi
sesekali dilirik juga la ki-laki tua itu yang tetap saja memandangnya disertai senyuman lebar mengandung ejekan. Entah kenapa, Awijaya jadi mual, dan muak melihat senyum laki-laki yang pernah menghadang dan menyerangnya tanpa alasan itu.

"Kau kenal orang tua itu. Den?" tiba-tiba Nyai Supit menegur.
"Oh!" Awijaya tersentak kaget. Langsung ditatapnya perempuan tua ge muk di sa mpingnya.

"Ki Praba pasti kena batunya hari ini kalau dia ikut," kata Nyai Supit lagi.
"Hm.... Tampaknya kau kenal dengannya, Nyai," kata Awijaya bernada menyelidik. Dia memang penasaran sekali terhadap laki-laki tua yang me mbuat perutnya jadi mual.

"Semua orang di sini pasti mengenalnya, Den. Namanya, Ki Sampar Watu. Kepandaiannya sangat tinggi, sukar dicari tandingannya," jelas Nyai Supit
"Tampaknya kau begitu banyak mengetahui tentang dunia
persilatan," ujar Awijaya setengah berguma m.

'Tida k seluruhnya, Den. Hanya sedikit saja," Nyai Supit mengakui terus terang.
"O...?!" Awijaya berkerut keningnya, sampai alisnya hampir bertaut.

"Suamiku dulu seorang pendekar. Tapi sayang, meninggal terlalu cepat..," ada kesenduan pada nada suara Nyai Supit. Awijaya memperhatikan kalau perempuan tua gemuk itu menatap tajam la ki-laki tua berjubah biru yang bernama Ki Sampar Watu itu.

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapannya yang tajam. Dan Awijaya jadi ingin tahu, tapi tidak ingin terlalu gegabah dan terburu napsu. Terutama mengenai laki-laki tua berjubah biru itu.
"Siapa yang menewaskannya, Nyai?" tanya Awijaya hari-hari.
"Ah! Kau terlalu cepat tanggap, Raden," desah Nyai Supit.

"Aku juga sedikit mengerti tentang dunia persilatan. Nyai. Biasanya seorang pendekar yang meninggal begitu cepat, karena kalah bertarung."
"Sua miku me mang bertarung, dan kalah," peian suara Nyai Supit.
"Kenapa mesti bertarung?"
"Persoalan yang sa ma dengan sekarang."
"Ohhh...!" lagi-lagi Awijaya mengerutkan keningnya.

Kata-kata Nyai Supit se makin menarik hati Awijaya, dan jadi sema kin ingin tahu saja. Pemuda itu mengha mpiri dan duduk di sebelah Nyai Supit. Sebentar sempat dilirik ke arah Ki Sampar Watu. Tapi laki-laki tua berjubah biru itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Di bawah pohon ke muning itu sudah diisi oleh tukang dawet. Awijaya sempat pula mengedarkan pandangannya, dan masih melihat Ki Sa mpar Watu melangkah terseok-seok menyibak kerumunan banyak orang. Jelas kalau tujuannya ke rumah besar yang semakin padat itu. Tapi pada bagian tengah halamannya tampak kosong, karena ada sebuah panggung besar berdiri kokoh.

"Nyai, apakah Ki Praba masih mempertaruhkan anaknya?" tanya Awijaya semakin hati-hati.
"Kau sudah tahu rupanya, Raden."
"Sudah lama aku tahu, Nyai."
"Memang begitu. Padahal sampai sekarang ini, Rara Wanti tidak pernah ke luar. Bahkan tidak ada seorang pun yang melihatnya."
"Hhh..., itulah...," desah Awgaya tanpa sadar. "Kau juga ada urusan dengannya. Raden?" Nyai Supit menatap tajam.
"Terus terang, iya."

"Sebaiknya jangan, Raden. Ki Praba itu sangat kejam. Dia tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menantangnya. Suamiku dulu pun tewas karena berusaha mempertahankan sebidang tanah milik orang tuanya yang direbut paksa olehnya. Yaaah.... Memang bukan dirinya sendiri yang melakukan, tapi orang lain yang dibayar mahal, dan dijanjikan akan mendapatkan anak gadisnya. Tapi sampai sekarang janjinya tidak pernah dipenuhi."

"Sayang sekali, Nyai. Justru kedatanganku ke desa ini untuk membawa pergi Rara Wanti," kata Awijaya terus terang.
"Oh...!" Nyai Supit tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.

Perempuan gemuk itu menatap dalam-dalam, langsung ke bola mata Awijaya. Bibirnya yang kecil hampir tertutup pipi itu bergerak-gerak bergetar, seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu. Sesaat lamanya mereka- tidak berkata-kata.
"Tidak..., tidak mungkin! Kau pasti bukan dia. Sudah tiga tahun menghilang setelah pe...," kata-kata Nyai Supit terhenti.

"Aku Awijaya, Nyai. Putra asli desa ini! Aku datang justru untuk menyelesaikan persoalan kami!" tegas kata-kata Awijaya.
"Ohhh...," Nyai Supit mendesah panjang sambil menggeleng beberapa kali.
"Maaf, kalau selama ini aku berpura-pura tidak tahu," sambung Awijaya.
"Sebaiknya kita masuk. Ayo! Jangan sampai ada orang yang mengetahuimu," kata Nyai Supit langsung beranjak bangkit.

Perempuan gemuk itu menarik tangan Awijaya, sehingga pemuda itu tidak bisa lagi menolak. Mereka masuk kedalam kedai, dan langsung menuju bagian belakang. Nyai Supit mencekal tangan pemuda itu erat-erat seakan-akan tidak ingin melepaskan lagi. Dan Awijaya sendiri seperti kerbau dicucuk hidungnya, menurut saja tanpa membantah lagi.

***
DUA

Awijaya terlonjak kaget, dan langsung melompat keluar melalui jendela. Nyai Supit juga bergegas keluar. Meskipun tubuhnya gemuk, tapi gerakannya begitu ringan. Dengan sekali lompat saja tubuhnya sudah ada di luar. Tampak orang yang jumlahnya lebih dari seratus berlarian sa mbil berteriak-teriak.

"Ada apa?" tanya Awijaya seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Lihat, Awijaya!" seru Nyai Supit menunjuk ke tengah-tengah halaman rumah Ki Praba.

Awijaya langsung mengaratikan pandangannya ke rumah Ki Praba Tampak seorang la ki-laki tua tengah mengamuk membabi buta, menghajar siapa saja yang berada di dekatnya. Tidak jauh dari laki-laki tua berjubah biru yang mengamuk itu, juga terlihat seorang laki-laki berbaju indah dikelilingi puluhan orang bersenjata Mereka berusaha bergerak masuk ke dala m rumah. Hampir lima puluh orang mencoba menghadang amukan orang tua berjubah biru itu.

"Ki Sampar Watu..., apa yang dilakukannya di sana?" gumam Awijaya seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Dia ingin menagih haknya," celetuk Nyai Supit. "Hak...?"
"Seharusnya Ki Praba menyerahkan Rara Wanti padanya untuk dijadikan istri."
"Apa...?!" Awijaya terkejut bukan main. "Ini tidak boleh didiamkan. Orang tua gila itu harus dicegah!"
"Awijaya...!"

Tapi Awijaya sudah lebih dulu cepat melompat, melewati beberapa kepala orang yang sedang berlarian menyelamatkan diri. Dua kali pemuda itu berputar di udara, lalu meluruk langsung menghadang Ki Sampar Watu yang baru saja me mbabat buntung tiga kepala sekaligus.

"Orang tua edan! Hentikan...!" bentak Awijaya keras menggelegar.

Ki Sampar Watu langsung berhenti mengamuk Dia menggeram,ketika melihat Awijaya sudah berdiri berkacak pinggang di depannya. Sementara ada sekitar tiga puluh orang bersenjata golok dan tombak mengepung. Tampak ditangga depan rumah besar, Ki Praba berdiri memperhatikan, dikawal sekitar dua puluh orang bersenjata terhunus.

"Jantar, siapa anak muda jelek itu?" tanya Ki Praba.

"Nampaknya orang asing," sahut seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun yang berdiri di samping kanan Ki Praba.

"Hm...," Ki Praba bergumam dengan alis bertaut menjadi satu.

Laki-laki setengah baya itu terus memperhatikan tanpa berkedip pemuda yang berkacak pinggang di depan Ki Sampar Watu, kemudian melangkah me nuruni anak-anak tangga beranda rumahnya yang besar bagai istana itu. Dua puluh anak buahnya mengikuti disertai sikap berjaga-jaga. Ki Praba berhenti melangkah di ujung tangga beranda.

"Aku seperti pernah melihatnya...," gumam Ki Praba seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Sepertinya...."

Belum juga Jantar meneruskan ucapannya, mendadak saja mereka semua dikejutkan suara teriakan keras menggelegar dari Ki Sampar Watu. Ternyata laki-laki tua itu tengah melesat cepat bagaikan kilat menerjang Awijaya. Namun terjangan yang cepat dan dahsyat itu dapat mudah sekali dielakkan pemuda itu.

Pertarungan sengit tidak dapat dihindarkan lagi. Ki Sampar Watu bertarung bagai kesetanan. Tidak sedikit pun Awijaya diberi kesempatan untuk balas menyerang. Pemuda itu hanya berlompatan berkelit menghindari setiap serangan yang datang begitu gencar. Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu jadi menahan napas.

"Menyingkirlah, bocah! Kau akan mampus di tanganku!" bentak Ki Sampar Watu keras sambil mengirimkan satu pukulan menggeledek.

"Seharusnya kau yang menyingkir! Orang tua tidak tahu diri!" balas Awijaya seraya melompat ke belakang menghindari pukulan laki-laki tua itu.

"Bocah keparat! Mampus kau! Hiyaaat..!"

Ki Sampar Watu tidak bisa lagi menahan amarahnya. Langsung digerakkan tongkatnya cepat, menusuk ke arah dada Awijaya. Namun lewat suatu gerakan Indah dan sukar diikuti mata, Awijaya cepat berkelit, dan langsung melompat tinggi melewati kepala laki-laki tua itu. Dan begitu dijajakkan kakinya di tanah, tepat di belakang Ki Sampar Watu, dengan cepat diputar tubuhnya sambil mencabut pedang.

Sret!
"Halttt..!" "Uis!"

Ki Sampar Watu bergegas menjulurkan tongkat ke belakang punggungnya, sehingga pedang Awijaya menghantam tongkat itu. Pijaran api memercik begitu dua benda beradu keras. Tampak Awijaya melompat mundur, dan Ki Sampar Watu membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya yang memegang tongkat itu agak menyilang di depan dada. Sementara Awijaya tampak meringis, dan tangan kanannya bergetar.

"Uh!" Awijaya mengeluh pendek.
Pemuda berbaju merah muda itu menyadari kalau tenaga dalamnya kalah jauh dibanding laki-la ki tua itu. Adu senjata yang terjadi tadi sudah bisa dijadikan ukuran kekuatan dan ketinggian tenaga dalam masing-masing.

"He he he...!" Ki Sampar Watu tertawa terkekeh.

***

Tak ada seorang pun yang memperhatikan kalau di balik sebuah pohon beringin, seorang pemuda berbaju kulit harimau menyaksikan semua kejadian itu. Agaknya hatinya begitu tertarik akan kegigihan Awijaya. Meskipun tahu kalau tingkat kepandaiannya masih kalah jauh. Tapi tetap menantang Ki Sampar Watu. Hanya saja yang lebih menarik perhatian pemuda berbaju kulit harimau itu adalah Ki Praba.

"Hm.... Tampaknya aku harus mempercayai kata-katanya," laki-laki berbaju kulit harimau itu menggumam pelan.

Sementara itu Awijaya sudah melompat kembali menerjang Ki Sampar Watu. Dengan pedang di tangan, Awijaya bertarung semakin sengit. Serangan-serangannya sangat cepat dan berbahaya. Beberapa kali pedangnya hampir menembus tubuh Ki Sampar Watu, tapi laki-laki tua agak bungkuk itu masih mampu menghindari. Bahkan tidak jarang juga memberi serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Sedangkan di tempat lain, terlihat Nyai Supit memperhatikan jalannya pertarungan dengan perasaan cemas. Dia tahu betul kalau Ki Sampar Watu seorang tokoh rimba persilatan yang sangat kejam. Laki-laki tua itu tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menantangnya. Bahkan kesalahpahaman sedikit saja bisa mengakibatkan tangannya bernoda darah.

"Hiyaaa...!" tiba-tiba Ki Sampar Watu berteriak keras.

Dan saat itu juga tubuhnya melompat cepat bagaikan kilat, langsung ke arah Awijaya seraya cepat mengelebatkan
tongkat Sesaat Awijaya terhenyak, namun dengan cepat
me lompat mundur sa mbil me m-babatkan pedangnya ke
depan.

Tring!

"Akh!" Awijaya memekik tertahan ketika pedangnya beradu dengan tongkat Ki Sampar Watu.

Dan pada saat pedangnya terlontar balik, tanpa diduga sama sekali Ki Sampar Watu menghunjamkan ujung tongkatnya yang runcing ke arah dada pemuda itu. Namun pada saat yang sangat kritis, tiba-tiba saja Ki Sampar Watu memekik keras, dan tubuhnya terlontar jauh ke belakang.

Semua orang yang berada di sekitar pertarungan Itu jadi terlongong tidak mengerti. Ki Sampar Watu yang terbanting ketanah, langsung melompat bangun. Tampak dari mulutnya mengucurkan darah kental Tangan kirinya menekap dada yang kurus, memamerkan tulang-tulangnya.

"Setan belang! Siapa yang berani main api denganku, heh?!" geram Ki Sampar Watu berang. Bola mata yang cekung memerah itu menatap ke sekeliling. Tampak orang-orang yang berada di sekitar tempat itu bergerak surut ke be lakang. Tatapan mata Ki Sampar Watu begitu dalam menusuk, tak ada yang sanggup menghadapinya. Ternyata tatapan itu langsung menerobos pada Ki Praba yang didampingi tidak kurang dari dua puluh anak buahnya yang bersenjata terhunus.

"Kau iblis keparat, Praba!" geram Ki Sampar Watu menuding Ki Praba dengan ujung tongkatnya.

"Sampar Watu, sebaiknya kau segera pergi. Aku tidak mengundangmu ke sini," kata Ki Praba lantang.

"Ha ha ha... Sekarang kau dapat berkata begitu, Praba! Apa kau sudah lupa sewaktu merengek memohon bantuan padaku?! Kau ingkar janjimu, Praba. Justru aku datang karena kau sengaja mengumpulkan tokoh persilatan untuk menghadapiku! Picik! Iblis kau Praba!"

"Sampar Watu, seharusnya kau sadar kalau dirimu sudah tua! Kau lebih tua dariku, malah sepantasnya, Rara Wanti memanggilmu kakek!"

"Keparat! Kau pikir cuma anakmu saja yang cantik, heh?! Sepuluh gadis yang lebih cantik dari anakmu bisa kuperoleh!" geram Ki Sampar Watu semakin berang.

"Kenapa tidak kau lakukan? Paling-paling gadis tidak waras yang bisa kau peroleh!" tantang Ki Praba mengejek.

"Setan belang! Aku bersumpah, kau dan anakmu harus mampus di tanganku! Dengar sumpahku, Praba...!" lantang suara Ki Sampar Watu..

Setelah berkata demikian, Ki Sampar Watu melompat cepat meninggalkan tempat itu. Tapi, mendadak saja terdengar suara jeritan melengking saling sambut. Dan tampak tidak kurang dari sepuluh anak buah Ki Praba menggeletak dengan kepala buntung. Sungguh tinggi kepandaian Ki Sampar Watu. Sambil melesat pergi, masih sempat membantai begitu banyak orang tanpa diketahui gerakannya. Dan kini laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangan.

Ki Praba menggeram menyaksikan kejadian itu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ki Sampar Watu sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Sesaat lamanya di halaman depan rumah yang luas itu menjadi hening. Tidak terdengar suara apa pun. Hanya angin saja yang menderu menerbangkan daun-daunan kering, membawa bau anyir darah yang membasahi rerumputan di halaman yang luas ini.

Ki Praba me langkah mengha mpiri Awijaya yang sudah
dida mpingi Nyai Supit Pe muda berbaju merah muda itu
me mperhatikan Ki Praba dengan tatapan mata sukar diartikan.
Ki Praba berhenti sekitar tiga langkah di depan Awijaya. Nyai Supit menggeser kakinya agak ke belakang dari tubuh pemuda itu.

"Aku cukup kagum akan keberanianmu, anak muda. Tapi lain kali berpikirlah dulu untuk menghadapinya," kata Ki Praba lunak suaranya.
"Terima kasih. Sebenarnya memang bukan dia sasaranku," kata Awijaya.
"Hm.... Aku seperti pernah bertemu denganmu, anak muda. Tapi entah di mana. Siapa nama mu?" tanya Ki Praba setelah bergumam pelan.

"Awijaya," sahut Awijaya tegas.

Sret!
Tampak Jantar mencabut pedangnya begitu mendengar nama pemuda berbaju merah itu. Tapi Ki Praba cepat-cepat memegang tangan pengawal pribadinya ini. Jantar memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya di pinggang. Tapi tatapan mata Jantar mengandung sejuta arti yang sangat dalam pada Awijaya.

'Tiga tahun kau tidak pernah lagi ke lihatan. Rupanya sudah banyak perubahan pada dirimu, Awijaya," ujar Ki Praba masih terdengar tenang nada suaranya.
"Terima kasih," ucap Awijaya dingin. "Aku yakin kau tahu maksud kedatanganku kali ini, Ki Praba!"

"Sayang, kau tidak akan mendapatkannya. Dia sudah tidak ada lagi di sini," jelas Ki Praba langsung dapat mengerti.
"Bajingan...!" geram Awijaya hampir tidak tertahankan ke marahannya.

"Kalau dengar pengumuman tadi, kau pasti sudah tidak disini lagi, Awijaya. Kalau kau memang mencintainya, carilah sampai dapat. Aku tidak peduli lagi terhadap nasibnya!" kata Ki Praba lagi.

Setelah berkata demikian, Ki Praba berbalik dan langsung melangkah pergi Awijaya menggerang berusaha menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Wajahnya memerah, dan matanya tajam menatap laki-laki setengah baya yang sudah meniti anak tangga beranda rumahnya yang bagai istana itu.

"Kita pergi, Awijaya," ajak Nyai Supit sambil menggamit tangan pemuda itu.

Awijaya tidak menyahut, tapi mengikuti juga ajakan perempuan gemuk itu. Meskipun masih diliputi kemarahan yang memuncak, namun dia harus mendinginkan kepalanya. Disadarinya kalau tidak akan mungkin dapat melabrak Ki Praba yang disegani dan ditakuti seluruh penduduk Desa Munding ini.

Awijaya duduk memeluk lutut di balai bambu depan kedai Nyai Supit Sudah dua hari dia tinggal di salah satu kamar penginapan milik perempuan gemuk Itu. Pikirannya jadi kacau, karena telah didengar kalau Rara Wanti sudah dua bulan ini kabur dari rumahnya. Gadis itu telah memberontak dengan sikap ayahnya yang selalu mengatur dan bersikap keras padanya.

Tiga tahun lamanya Awijaya harus menanti, dan sekarang kedatangannya untuk membawa Rara Wanti pergi dari desa yang menurutnya bagaikan neraka ini. Tapi selama penantiannya itu, akhirnya hanya kekecewaan dan kemarahan saja yang diperoleh. Rara Wanti sudah pergi. Dan lagi, ayahnya yang bernama Ki Praba itu malah mengumumkan pada semua orang bahwa Rara Wanti tidak diakui lagi sebagai anaknya. Bahkan juga meminta kepada siapa saja untuk membawa kepala gadis itu dengan hadiah yang sangat menggiurkan.

"Awijaya...." Awijaya mengangkat kepalanya. Digeser duduknya begitu melihat Nyai Supit sudah berada di dekatnya. Perempuan gemuk itu mendekati dan duduk di samping pemuda itu.

"Dari tadi pagi kau duduk saja di sini. Sudah siang, makan dulu," ajak Nyai Supit lembut, bagai seorang ibu pada anaknya.

"Aku belum lapar, Nyai," kata Awijaya pelan.

"Awi... Bisa kurasakan semua yang kau rasakan saat ini. Ibumu dulu sahabat baikku. Demikian pula ayahmu. Sejak kecil kau selalu bermain di sini, sampai kau dan seluruh keluargamu menghilang. Aku tahu betul apa yang terjadi pada diri dan keluarga mu, Awijaya. Kuharap, jangan sungkan-sungkan lagi padaku," ujar Nyai Supit lembut.

"Terima kasih. Nyai begitu baik padaku," ucap Awijaya terharu.
"Sudahlah! Bagiku kau bukan orang lain lagi, Awijaya."

Getir sekali Awijaya membalas senyuman Nyai Supit. Meskipun sudah tiga tahun tidak pernah lagi menginjak tanah kelahirannya ini, tapi masih segar dalam ingatannya tentang Nyai Supit, dan orang-orang yang tinggal di Desa Munding ini Orang-orang yang selama hidupnya tidak pernah mengenyam kebahagiaan. Meskipun terkadang mereka bisa bergembira dan tertawa, tapi semua itu hanyalah semu belaka.

Dulu Desa Munding adalah desa yang damai dan tentram. Tidak ada keluh kesah, tidak ada penderitaan yang berantai. Tak ada darah menggenang hanya karena persoalan yang sepele. Tapi semua itu berubah total setelah kedatangan Ki Praba. Kedatangannya yang sebagai saudagar kaya, langsung me mbe li tanah-tanah penduduk dengan harga kecil dan dengan cara paksa. Bahkan kepala desa tewas terbunuh karena tidak bersedia menjual tanahnya.

Tidak sedikit penduduk desa yang tewas karena mempertahankan miliknya. Tapi Ki Praba memang kuat Belum lagi tukang-tukang pukulnya, dan para pengawalnya yang rata-rata memiliki kepandaian ilmu olah kanuragan. Sedangkan Penduduk Desa Munding hanya terdiri dari petani yang tidak mengerti ilmu olah kanuragan. Memang ada beberapa yang memiliki ilmu olah kanuragan, tapi tidak berdaya. Bahkan mereka tewas dengan cara menyedihkan di tangan jago bayaran yang disewa Ki Praba, demikian pula Awijaya yang terpaksa pergi, karena tidak tahan mendapat tekanan yang tak henti-hentinya. Termasuk suami Nyai Supit ini.

Awijaya, ibunya, dan kedua adiknya pergi setelah terjadi peristiwa yang membuat nyawa ayahnya lenyap di tangan tukang-tukang pukul Ki Praba. Itu semua karena Awijaya dan Rara Wanti memadu asmara, lalu diketahui Ki Praba yang menentang keras hubungan mereka. Masalahnya Rara Wanti selalu dijadikan boneka dan barang pertaruhan bagi kegilaan ayah gadis itu dalam mengadu jago-jago rimba persilatan. Semua itu diketahui Awijaya dari Rara Wanti sendiri yang menceritakan semua keluhannya. Untung saja, dalam peristiwa itu Awijaya berhasil diselamatkan suami Nyai Supit. Tapi tak urung, wajahnya sempat tergores pedang salah seorang tukang pukul Ki Praba, bahkan dibuat cacat. Dan Awijaya masih ingat orangnya. Dia ada lah orang kepercayaan Ki Praba sendiri. Namanya Jantar!

"Kutinggal dulu. Ada tamu," ucap Nyai Supit membangunkan lamunan Awijaya.

Pemuda berbaju merah muda itu mengangkat kepalanya. Jantungnya hampir berhenti berdetak seketika begitu melihat seorang pemuda berbaju kulit harimau masuk ke dalam kedai. Awijaya tahu siapa pemuda itu. Dia sering mendengar namanya. Bahkan pernah melihatnya ketika bertarung, meskipun dari tempat yang sangat tersembunyi.

"Pendekar Pulau Neraka...," desis Awijaya dalam hati.
"Sudah beberapa hari dia di sini Hm..., tentunya ada sesuatu. Seorang pendekar kelana berada di suatu tempat sampai lebih tiga hari, pasti ada yang diinginkan. Atau...," Awijaya tidak melanjutkan pikirannya

Nyai Supit kembali keluar dari kedainya, dan menghampiri pemuda berbaju merah muda itu. Awijaya memandangi.

"Ada yang menitipkan ini pada mu," kata Nyai Supit seraya memberikan gulungan daun lontar terikat pita merah muda.
"Siapa yang memberi ini?" tanya Awijaya seraya menerima gulungan daun lontar itu.

"Aku tidak kenal. Tapi pakaiannya menyolok sekali," sahut Nyai Supit.

Awijaya membuka gulungan daun lontar, lalu membaca sebaris kalimat yang tertulis di situ. Seketika wajahnya berubah. Langsung ditatapnya dalam-dalam Nyai Supit. Bergegas dia menggerinjang bangkit, menerobos masuk ke dalam kedai. Sesaat dipandangi seluruh ruangan kedai itu, lalu kembali berbalik keluar menemui Nyai Supit.

"Apakah orang itu yang baru masuk tadi, Nyai?" tanya Awijaya.
"Benar. Dia pakai baju dari kulit harimau," sahut Nyai Supit sedikit keheranan melihat wajah Awijaya.
"Pendekar Pulau Neraka...," gumam Awijaya pelarian. "Di mana se karang, Nyai?"
"Di dalam," sahut Nyai Supit.
"Tida k ada."
"Ah, masa...."

Nyai Supit tidak percaya. Dijulurkan kepalanya ke dalam kedai, lalu sebentar diperhatikan ruangan kedainya. Memang ada beberapa pengunjung, tapi tidak begitu banyak. Dan tidak terlihat seseorang yang memakai baju dari kulit harimau disana. Nyai Supit menarik ke luar kembali kepalanya, tapi jadi terkejut. Ternyata Awijaya sudah tidak ada lagi.

"He! Ke ma na anak itu...?"

***
TIGA

Malam sudah demikian larut. Bulan bergelayut penuh dilangit yang jernih. Bintang bintang gemerlapan menambah indahnya pemandangan di angkasa sana. Pemandangan malam ini semakin terasa indah jika dilihat dari puncak bukit sebelah Timur Desa Munding. Tampak seorang gadis muda duduk menjuntai di atas sebongkah batu hitam. Pandangannya lurus menatap Desa Munding di bawah sana. Hanya kerlip lampu-lampu pelita saja yang terlihat di sela-sela pepohonan lebat

"Kau belum t idur, Rara Wanti...."
"Oh...!" gadis itu tersentak kaget begitu mendengar suara lembut dari belakangnya.

Gadis yang dipanggil Rara Wanti itu membalikkan tubuhnya. Kini di depannya sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan, namun terlihat jelas garis-garis ketegasan dan kekerasannya. Pemuda yang memakai baju kulit harimau itu segera mendekati dan duduk di sampingnya

"Ada yang kau pikirkan, Rara Wanti?" tetap lembut suara pemuda itu.
"Mungkin...," desah Rara Wanti disertai hembusan napas panjang dan terasa berat. "Sudah dua bulan...."

"Terima kasih," potong Rara Wanti. "Memang seharusnya aku tidak menggantungkan diri pada mu. Kau begitu baik, Kakang Bayu. Tidak seharusnya membuat mu repot."

'Tidak ada masalah, jika kau berterus terang tentang kesulitanmu. Barangkali saja dapat kubantu untuk memecahkannya," ujar pemuda berbaju kulit harimau yang ternyata adalah Pendekar Pulau Neraka atau Bayu Hanggara.

"Sebaiknya jangan. Aku tidak ingin menyeretmu! terlalu jauh. Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu. Kau begitu baik. Mencegahku bunuh diri, menemaniku, memberi petuah-petuah hidup yang sungguh tidak ternilai harganya. Terus terang, aku merasa malu. Sungguh kecil diriku berada di depanmu, Kakang."

"Kau terlalu merendahkan diri, Rara Wanti. Aku tahu, kau seorang gadis yang tabah, berani, dan berpikiran sehat. Hanya saja mungkin persoalan yang kau hadapi terlalu berat, sehingga berpikiran kotor ingin mengakhiri hidup."

"Mungkin," desah Rara Wanti seraya tertunduk.
"Beberapa hari ini aku sering ke Desa Munding," jelas Bayu setelah berdiam diri agak lama.

"Mau apa kau ke sana?" Rara Wanti tersentak, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Hanya jalan-jalan. Yah..., sekadar melihat suasana disana," sahut Bayu ringan.

"Kau tidak berusaha menyelidiki diriku, bukan?"
"Sama sekali tidak."

Rara Wanti menarik napas panjang, seperti hendak melonggarkan dadanya yang terasa sesak seketika. Entah kenapa, dia tidak ingin Bayu mengetahui tentang dirinya. Seperti ada sesuatu yang tidak boleh orang lain tahu. Dan yang jelas, Rara Wanti tidak ingin keberadaannya di sini diketahui orang lain. Ingin dilupa kan masa lalunya. Bahkan tidak ingin menjadi dirinya yang dulu. Yang diinginkan adalah menjadi Rara Wanti seutuhnya.

"Oh...!" tiba-tiba Rara Wanti tersentak.

Gadis itu segera menggelinjang bangkit. Bayu juga berdiri, dan bergegas melangkah begitu Rara Wanti berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Mereka masuk ke dalam sebuah gua yang kecil mulutnya, tapi di dalam cukup lebar dan hangat. Rara Wanti menutupi gua itu dengan pohon semak kering, dan sebongkah batu yang cukup besar. Bayu hanya memperhatikan saja.

Tidak berapa lama berselang, terdengar suara langkah kaki dekat gua ini. Rara Wanti dan Pendekar Pulau Neraka mengintip dari celah mulut gua yang sudah tertutup dan tersamar rapih. Tampak wajah gadis itu berubah seketika begitu melihat seorang laki-laki berdiri tegak tidak jauh dari gua ini. Dan Bayu dapat melihat perubahan wajah gadis itu, tapi hanya diam saja.

Agak lama juga laki-laki muda itu berdiri tegak memandang sekitarnya. Pelahan namun pasti, dia pergi dengan ayunan kaki lesu dan kepala tertunduk. Rara Wanti menarik napas panjang, lalu menghenyakkan tubuhnya bersandar pada dinding gua yang lembab berlumut. Bayu me mperhatikan seraya duduk. Kemudian, dinyalakan api dari ranting-ranting kering yang sudah tersusun pada batu berbentuk tungku.

"Ada apa, Rara?" tanya Bayu setelah gua itu dihiasi cahaya api.
"Tidak..., tidak apa-apa," sahut Rara Wanti seraya menggeser duduknya mendekati api.
"Kau kelihatan gelisah sekali Kau kenal orang itu?"
"Tid... tidak!" sahut Rara Wanti tergagap.
"Wajahmu pucat."
"Sudahlah, Kakang. Jangan mendesakku terus...," pinta Rara Wanti memohon.

Bayu mengangkat bahunya, kemudian diam tidak berkata-kata lagi. Pendekar Pulau Neraka itu merebahkan tubuhnya diatas tumpukan daun kering, tapi matanya tetap memandangi Rara Wanti yang terus saja gelisah. Gadis itu memainmainkan api dengan ranting kering, tepi kegelisahannya tak juga reda. Bayu terus memperhatikan dengan mata setengah terpejam.

***

Pagi-pagi sekali Bayu tersentak bangun dari tidurnya. Telinganya yang sudah terlatih, mendengar suara-suara ringan. Agak terkejut juga hatinya ketika melihat Rara Wanti mengendap-endap ke luar dari dalam gua ini. Pendekar Pulau Neraka itu tidak langsung beranjak bangun, tapi malah sengaja berpura-pura tidur. Bahkan dipejamkan matanya begitu Rara Wanti menengok padanya.

Bayu baru menggerinjang bangun begitu Rara Wanti sudah berada di luar gua. Bergegas dia melompat ke luar, dan melihat gadis itu berlari kencang menuju ke Utara. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka itu bergegas berlari mengejar, tapi sengaja menjaga jarak. Tubuhnya ke mudian melompat ke atas pohon.

Bagai seekor burung, Pendekar Pulau Neraka itu berlompatan dari satu cabang pohon ke cabang pohon lainnya. Matanya tidak lepas memperhatikan Rara Wanti pergi. Bayu kagum juga melihat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki gadis itu. Gerakan berlarinya demikian ringan, bahkan sepertinya tidak menyentuh tanah sama sekali.

"Heh...!"

Bayu tersentak kaget begitu tiba-tiba melihat sebuah bayangan biru berkelebat cepat menghadang arah lari Rara Wanti. Dan tiba-tiba saja di depan gadis itu sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh kurus dan agak membungkuk. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya. Dia tertawa terkekeh. Sedangkan Rara Wanti berhenti berlari, dan melangkah mundur beberapa tindak.

"Ki Sampar Watu. Ada apa kau ke sini?!" dengus Rara Wanti mendahului.

"He he he..., mengapa kau selalu bersikap kasar padaku, Manis? Kau adalah milikku, dan kau akan kubawa ke mana saja aku pergi. He he he...," Ki Sampar Watu terkekeh mengge likan.

"Phuih! Tua bangka tidak tahu malu! Sudah bau tanah masih juga mencari gadis muda!" dengus Rara Wanti sengit.
"Bukan aku yang mencari. Tapi, ayahmulah yang takut kehabisan laki-laki untukmu."

"Jangan sebut-sebut ayahku! Dia bukan ayahku!" bentak Rara Wanti berang.
"Peduli setan! Ayahmu atau bukan, yang jelas. Sekarang kau harus ikut aku. Kau harus jadi gundikku!"
"Tua bangka keparat...!" geram Rara Wanti memuncak amarahnya.

Harga diri gadis itu sepertinya sudah terinjak-injak. Ini semua akibat ulah ayahnya. Rara Wanti benar-benar geram, dilemparkan buntalan kain yang dibawanya dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Buntalan kain itu meluncur deras ke arah Ki Sampar Watu. Namun sambil terkekeh, laki-laki tua berjubah biru itu mengegoskan tubuhnya sedikit ke kiri. Maka, buntalan kain itu lewat sedikit di samping tubuhnya. Dia tetap tertawa terkekeh meremehkan.

"Untuk apa buang-buang tenaga percuma. Manis? Sebaiknya kau simpan saja tenagamu untuk melayaniku," ujar Ki Sampar Watu.
"Kurang ajar! Kusobek mulut mu yang kotor itu, tua bangka!" gera m Rara Wanti merah padam wajahnya.

Rara Wanti langsung melompat sambil mencabut pedangnya yang tersampir di punggung. Cepat sekali gerakan gadis itu. Pedangnya berkelebatan bagai kilat menyambar beberapa bagian tubuh Ki Sampar Watu. Namun laki-laki tua itu manis sekali mengelakkan setiap serangan Rara Wanti. Bahkan tanpa diduga sama sekali, tangannya bergerak cepat nyelonong ke bagian dada.

"Setan! Kurang ajar...!" geram Rara Wanti sambil melompat mundur. Wajahnya semakin memerah bagai terbakar.
"Kau semakin cantik kalau marah begitu, Manis. Sungguh menggairahkan...."

"Kubunuh kau, setan tua keparat! Hiyaaat...!"

Rara Wanti kembali menyerang ganas. Kali ini dikerahkan seluruh jurus andalannya yang sangat dahsyat. Jurus permainan pedang yang diajarkan Ki Praba padanya. Jurus pedang itu memang sungguh luar biasa. Pedang ditangannya bagai memiliki mata yang berjumlah seribu, mengurung tubuh Ki Sampar Watu.

Namun laki-laki tua itu malah terkekeh. Sampai sejauh ini, tidak satu pun serangan Rara Wanti mengenai sasaran dengan tepat. Bahkan dupakan kaki Ki Sampar Watu membuat gadis itu tersungkur.

"Auh..!" Rara Wanti terpekik tertahan.

Selagi tubuh Rara Wanti tergeletak di tanah, Ki Sampar Watu melompat hendak menerkamnya. Gadis itu terbeliak, karena sukar menggerakkan tubuhnya lagi. Disadari kalau tadi Ki Sampar Watu sempat menotok jalan darahnya, sehingga jadi lumpuh seketika.

"Oh tidak...," rintih Rara Wanti lirih.

Gadis itu memejamkan matanya. Tapi ketika ditunggu-tunggu, terkaman Ki Sampar Watu tidak kunjung datang. Bahkan didengarnya satu erangan tertahan. Rara Wanti membuka matanya. Matanya semakin membeliak begitu me lihat Ki Sampar Watu tengah berusaha bangkit berdiri diantara reruntuhan pohon. Tampak di depan gadis itu berdiri seorang pemuda berbaju dari kulit harimau.

"Kakang Bayu...," desah Rara Wanti. Ada kelegaan dalam dadanya melihat ke munculan Pendekar Pulau Neraka itu.

"Hm...," Bayu menggumam pelan, kemudian membungkuk. Dibukanya totokan Ki Sampar Watu di tubuh Rara Wanti dengan totokan pula.

Rara Wanti menggerinjang bangkit. Dipungut pedangnya yang tergeletak. Sementara itu Ki Sampar Watu menggerung kesal, tapi sudah bisa berdiri. Matanya tajam memerah menatap Pendekar Pulau Neraka yang berdiri tegak sambil melipat tangan di depan dada. Sikap Bayu jelas-jelas melindungi Rara Wanti.

"Bocah gendeng! Siapa kau? Berani mencampuri urusanku!" bentak Ki Sampar Watu geram.
"Aku Pendekar Pulau Neraka. Sebelum pikiranku berubah, sebaiknya enyah dari sini!" dingin nada suara Bayu.
"Setan keparat! Lidahmu perlu diberi pelajaran, agar bisa sedikit sopan pada orang tua!"

"Adakalanya orang tua harus bertindak sopan pada yang lebih muda."
"Phuih! Lebih suka mampus rupanya kau, heh!"
"Mati dan hidupku bukan di tanganmu, tapi nyawamu ada di ujung jariku!" "Edan! Kampret...!"

Ki Sampar Watu mengumpat habis-habisan. Hatinya begitu geram mendengar kata-kata yang menyakitkan telinga itu. Wajahnya semakin memerah, dan gerahamnya bergemeletuk menahan amarah. Tanpa berkata-kata lagi, laki-laki tua itu melompat bagai kilat menerjang Pendekar Pulau Neraka.

"Mampus kau! Hiyaaat...!"
"Hup!"

Sebelum terjangan Ki Sampar Watu sampai, Bayu sudah melentingkan tubuhnya ke atas sambil menyambar pinggang Rara Wanti. Manis sekali Pendekar Pulau Neraka itu hinggap di dahan yang tinggi. Dan sebelum Ki Sampar Watu menyadari, Bayu sudah meluruk turun meninggalkan Rara Wanti di atas pohon. Kakinya yang kokoh tepat mendarat di depan Ki Sampar Watu.

***

"Hiyaaat.,"
Secepat Bayu mendarat, secepat itu pula kakinya melayang deras ke arah dada Ki Sampar Watu. Tendangan kilat yang begitu cepat dan tiba-tiba itu tidak mungkin lagi dihindari. Buru-buru Ki Sampar Watu mengibaskan tongkatnya menyampok tendangan itu.

Trak!"
"Heh...!"

Ki Sampar Watu terkejut bukan main dan buru-buru melompat mundur ke belakang. Hampir tidak dipercaya dengan apa yang baru terjadi tadi. Kedua bola matanya membeliak lebar memandangi tongkatnya yang terpotong jadi dua bagian.

Sungguh sempurna tenaga dalam yang dimiliki Pendekar Pulau Neraka. Tongkat maut yang menjadi kebanggaan Ki Sampar Watu bisa terpotong jadi dua kena tendangannya. Sedangkan Bayu sendiri tidak mengalami luka sedikit pun. Bahkan kini malah berdiri dengan tangan melipat di depan dada.

"Aku masih memberimu kesempatan hidup, Kisanak," ucap Bayu dibuat tenang.
"Phuih! Satu saat kau akan menyesal, bocah!" dengus Ki Sampar Watu geram.

Setelah berkata demikian, Ki Sampar Watu melesat cepat meninggalkan tampat itu. Begitu cepatnya melesat, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan mata. Bayu memandang ke atas, lalu tersenyum melihat Rara Wanti duduk mencangkung di dahan pohon yang cukup tinggi.

"Dia sudah pergi! Turunlah, Rara!" seru Bayi keras.
"Hup!"

Rara Wanti meluruk turun dengan manisnya! Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, gadis ini menjejak tanah tepat di depan Pendekar Pulau Neraka!
"Kau hebat, Kakang. Bisa mengusir si tua bangka cabul itu!" puji Rara Wanti agak tertekan nada suaranya pada bagian akhir.

"Kau pun bisa menandinginya kalau mampu, menahan sedikit kemarahanmu," kata Bayu merendah.
"Kau hanya membesarkan hatiku saja, Kakang."

"Tidak! Aku berkata yang sebenarnya. Tadi kau terlalu dihinggapi amarah yang meluap, sehingga tidak bisa mengontrol diri. Seorang yang tangguh seperti apa pun akan mudah dikalahkan jika tidak bisa mengendalikan amarahnya."

"Filsafat lagi." "Bukan filsafat. Tapi semua orang akan menghadapi hal yang sama. Bukan hanya dalam ilmu olah kanuragan, tapi juga dalam hal lain, ketenangan dan pengontrolan diri, akan menghasilkan hasil yang memuaskan."
"Terima kasih, Empu...," goda Rara Wanti.
"Kunyuk! Bukannya didengarkan, malah meledek!" rungut Bayu seraya berbalik dan melangkah pergi.

"Kakang, tunggu...!"
Rara Wanti berlari mengejar, dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Pulau Neraka itu.
"Kenapa mengikutiku? Bukannya tadi kau akan pergi?" sindir Bayu.
'Tidak jadi," rungut Rara Wanti. Sindiran itu langsung mengena ke hatinya.
"Lho...?!" Bayu menghentikan langkahnya. Dipandanginya wajah cantik gadis itu.
"Pikiranku berubah," kata Rara Wanti tertunduk.

"Cepat sekali...? Belum pernah kutemukan seseorang yang begitu cepat berubah pikiran."
"Aku serius, Kakang. Aku tidak jadi pergi sendirian. Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Sungguh...," nada suara Rara Wanti terdengar begitu berharap.
"Ha ha ha...!" Bayu tertawa terbahak-bahak.
"Huuuh...! Malah ketawa!" rungut Rara Wanti memberengut.
"Lucu...."
"Memangnya aku badut?!" Rara Wanti masih memberengut.

Bayu tersenyum-senyum geli, dan kembali melangkah. Rara Wanti mengikutinya, dan mensejajarkan langkahnya disamping pemuda berbaju kulit harimau itu. Mereka berjalan tidak berkata-kata lagi. Tanpa setahu mereka, seseorang memperhatikan dari jarak yang cukup jauh. Orang itu bergegas pergi, berlari kencang menuju Desa Munding. Sementara Bayu dan Rara Wanti terus berjalan sambil berbicara ringan.

Mereka berjalan tanpa tujuan yang pasti. Ke mana kaki melangkah, ke situ arah yang dituju. Tidak terasa! mereka sudah berjalan cukup jauh. Sementara matahari sudah tinggi di atas kepala. Mereka berhenti di tepi sungai kecil yang mengalir jernih. Rara Wanti membasuh wajahnya.

"Kau pasti sengaja mengikutiku tadi pagi," tebak Rara Wanti sambil menghampiri Bayu yang duduk di atas batu dengan kedua kakinya terendam ke dalam sungai.

"Iya," sahut Bayu kalem.
"Kenapa? Aku kan bukan adikmu, juga bukan apa-apamu," Rara Wanti ingin tahu.
"Karena kau perlu seorang teman, dan aku rasa...."
"Kau orang yang tepat. Begitu kan?" potong Rara Wanti cepat.
"Mungkin. Itu pun kalau tidak berkeberatan "
'Tentu saja tidak. Aku merasa terlindung bersama mu. Kau hebat, bisa mengalahkan si tua bangka cabul itu."
'Tidak selamanya aku harus melindungimu, Rara. Satu saat kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Bukan untuk selamanya aku berada bersama mu."
"Kau akan meninggalkanku, Kakang?"
"Aku tidak dapat menolak seandainya memang harus berpisah."

Rara Wanti terdiam. Matanya berputar merayapi wajah tampan di depannya, seolah-olah hendak mencari sesuatu diwajah yang keras dengan garis-garis ketegasan itu. Tapi hatinya jadi kecewa, karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Rara Wanti menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat

"Ada seseorang yang lebih berhak menjadi pelindung dan sandaran hidupmu, Rara," ujar Bayu pelahan.
"Tidak ada!" sentak Rara Wanti cepat. Bayu hanya tersenyum saja. "Kenapa tersenyum?"

"Kau menyembunyikan perasaanmu, Rara. Aku tahu, didalam hati kecilmu kau tengah mengharapkan seseorang. Entah siapa, yang jelas seseorang yang telah menyebarkan bibit asmara di hatimu. Aku bisa merasakan itu, Rara. Dari sinar matamu," lembut nada suara Bayu.

Rara Wanti terdiam membisu. Ucapan Bayu yang lembut itu terasa mengena lubuk hatinya yang pating dalam. Memang tidak bisa dibantah. Dan secara jujur memang diakui kebenaran kata-kata itu. Saat ini memang tengah diharapkan kehadiran seseorang yang sangat dicintainya. Tapi juga dibenci dan mengecewakan hatinya. Seseorang yang diharapkan akan mengeluarkannya dari kurungan sangkar emas, ternyata menghilang begitu saja selama tiga tahun. Tanpa kabar, tanpa berita, juga tanpa kata-kata perpisahan. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Menunggu dalam penantian, terkurung dalam kemewahan yang semu.

Kini setelah muncul seorang pemuda yang begitu cepat menarik simpatinya, tapi pemuda itu malah seperti menghindar. Memang tidak mungkin seorang gadis mengemukakan perasaannya lebih dahulu, meskipun semua itu sudah ada di hatinya. Bahkan hampir meledak. Tapi biar bagaimanapun setiap gadis pasti akan menyimpannya rapat-rapat. Paling tidak menunggu pancingan yang tepat mengoyak dinding hatinya.

"Melamun lagi. Perut tidak kenyang diisi lamunan terus," goda Bayu.
Rara Wanti tersenyum kecut.
"Bawa bekal?" tanya Bayu.
"Tida k," Rara Wanti menggeleng.
"Itu?" Bayu menunjuk buntalan kain di bahu kanan gadis itu.
"Hanya pakaian, dan sedikit uang serta perhiasan," sahut Rara Wanti.

"Terpaksa, kita harus berburu. Tidak ada kedai di tengah hutan begini."
"Aku kenal daerah ini Di hulu sungai ada sebuah desa. Tidak besar, tapi kedai di sana cukup nyaman. Makanannya pun cukup enak," kata Rara Wanti.
"Desa apa?" tanya Bayu.
"Desa Pekacangan."
"Pernah ke sana?"
"Pernah juga, tapi tidak sering."
"Baiklah. Perut juga sudah minta diisi nih."

Lagi-lagi Rara Wanti tersenyum. Kali ini senyumnya begitu manis dan lepas. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri sungai menuju ke hulu. Sepanjang jalan yang dibicarakan hanyalah hal-hal ringan saja. Dan setiap kali Bayu menyinggung kehidupan pribadi gadis itu, Rara Wanti langsung mengelak. Malah membelokkannya ke arah pembicaraan lainnya.

***
EMPAT

Di dalam rumah besar di Desa Munding, Ki Praba tampak uring-uringan mendengar laporan salah seorang anak buahnya yang melihat Rara Wanti dan Pendekar Pulau Neraka di hutan Bukit Sidayu. Dikumpulkanlah semua tukang pukulnya yang rata-rata memiliki tubuh kekar dan berkepandaian cukup tinggi.

"Dengar! Siapa saja di antara kalian yang bisa membawa hidup-hidup anak celaka itu akan kuberikan untuk kalian. Dan kalau kepalanya, seribu keping uang emas sebagai hadiahnya!" kata Ki Praba mantap.

Perintah Ki Praba disambut gembira semua tukang pukulnya. Bahkan yang hanya berkemampuan pas-pasan ikut menyambut penuh semangat. Siapa yang tidak tergiur dengan seribu keping uang emas? Bahkan mereka bisa saja menikmati dulu kemolekan tubuh Rara Wanti, lalu membawa kepalanya pada Ki Praba Berbagai macam bayangan indah berkecamuk di dalam lima puluh kepala anak buah Ki Praba.

"Sekarang juga kalian bisa laksanakan!" lanjut Ki Praba.

Lima puluh orang yang menjadi tukang kepruk Ki Praba bergegas meninggalkan ruangan depan yang luas itu. Sedangkan Ki Praba masih duduk di kursinya bersama Jantar yang tetap menemani dengan raut wajah berubah-ubah.

"Aku rasa keputusanmu terlalu cepat, Ki," ujar Jantar hati-hati.
"Hm.... Apa maksudmu, Jantar?" gumam Ki Praba seraya menatap tajam laki-laki berusia sekitar ilua puluh lima tahun itu.

"Kita belum tahu jelas, siapa pemuda yang bersama Rara Wanti. Laporan itu masih samar-samar sama sekali. Seharusnya diselidiki dulu kebenarannya, baru mengambil keputusan. Tapi jika Rara Wanti dibunuh aku yakin masalah ini belum tentu selesai, Ki. Ki Sampar Watu pasti tidak akan puas, dan tetap menuntut janjimu."

"Hm...," Ki Praba hanya bergumam tidak jelas.
"Bukan hanya Ki Sampar Watu. Yang jelas masih banyak orang-orang yang harus kita hadapi. Ada Muka Mayat, Kebo Ireng, dan yang terpenting Nyai Supit sendiri. Sikapnya belakangan ini sangat mencurigakan terutama sejak munculnya Awijaya yang menginap dirumahnya," lanjut Jantar.

"Kau berada di sini bukan untuk mengajariku, Jantar. Tugasmu hanya mengawalku, lain tidak!" dingin nada suara Ki Praba.
"Maaf, Ki. Aku hanya mengemukakan pendapat."
"Kau berkata seperti takut menghadapi mereka. atau memang gentar?" sinis ucapan Ki Praba.

"Tidak ada yang membuatku gentar, Ki. Aku hanya ingin menyampaikan kalau keputusanmu terlalu cepat. Kau perintahkan semua anak buah kita pergi mencari Rara Wanti, sementara kau juga tidak berpikir untuk menjaga tempat ini," Jantar mengingatkan.

"Jangan cemas, Jantar. Besok sahabat sahabatku datang. Tiga orang ditambah dirimu, aku rasa sudah cukup menghadapi mereka semua. Aku tidak butuh tikus-tikus yang hanya bisa mengeruk gentong nasi tanpa bekerja yang becus. Biar mereka pergi menemui ke matiannya. Toh mereka tidak akan sanggup menandingi Rara Wanti."

"Terus terang, aku tidak mengerti tujuanmu, Ki"

Ki Praba hanya tersenyum saja, lalu bangkit berdiri dan melangkah masuk kedalam ruangan tengah. Jantar hanya memandangi saja. Masih belum bisa paham jalan pikiran Ki Praba. Keberadaannya di sini memang dibayar untuk mengawal laki-laki angkuh di samping nyawanya pernah diselamatkan ketika hampir kalah bertarung melawan seorang tokoh berkepandaian tinggi. Dia merasa berhutang budi, bertekad untuk selalu mendampingi Ki Praba yang biasanya sejalan dan sepikiran dengannya. Tapi, sekarang ini Jantar sungguh-sungguh sukar mengerti jalan pikiran dan tujuan yang akan ditempuh Ki Praba Bahkan sampai tidak habis mengerti, kenapa Ki Praba sampai tega hendak membunuh anaknya sendiri?

***

Entah dari mana awalnya, berita tentang Rara Wanti yang kini berjalan bersama seorang pemuda berbaju kulit harimau sudah tersebar luas. Dan berita itu pun juga telah sampai ke telinga Awijaya. Tentu saja pemuda itu sudah menduga, dengan siapa Rara Wanti sekarang. Dan itulah yang membuat dirinya kini jadi uring-uringan tidak menentu. Disadari kalau tingkat kepandaiannya jauh di bawah Pendekar Pulau Neraka. Apalagi dia tahu betul watak Rara Wanti yang mudah simpati terhadap pemuda berkepandaian tinggi. Ditambah lagi, pemuda itu tampan, gagah, dan memiliki kelebihan tertentu. Tapi yang jelas, Rara Wanti selalu mengagumi pemuda berkepandaian tinggi. Lebih tinggi dari kepandaian yang dimiliki gadis itu.

Untuk menghadapi Rara Wanti, Awijaya memang bisa mengungguli. Tapi menghadapi Pendekar Pulau Neraka....
Awijaya tidak tahu lagi, apa yang harus diakukannya. Tiga tahun menempa diri dan memperdaalam ilmu olah kanuragan di tempat yang jauh dari desa ini hanya untuk satu tujuan. Tapi semua usaha yang dilakukannya jadi terasa sia-sia. Ada sedikit keputusasaan terselip dalam hatinya.

鈥淎ku memang sering mendengar sepak terjang pendekar Pulau Neraka. Tapi kalau mendengar petualangannya dalam memikat seorang gadis rasanya belum pernah," kata Nyai Supit.

Awijaya hanya diam saja. Semua memang sudah diceritakannya pada perempuan gemuk itu. Bahkan tentang tulisan yang dikirimkan Pendekar Pulau Neraka padanya diperlihatkan pada Nyai Supit.

"Dari surat yang dikirimkan untukmu saja sudah jelas, kalau kau akan dipertemukan dengan Rara Wanti. Bersabarlah, jangan menuruti darah muda dan hawa nafsu yang tidak terkendali. Aku yakin kalau Pendekar Pulau Neraka bermaksud baik untuk dirimu dan Rara Wanti," sambung Nyai Supit.

"Tapi Rara Wanti mudah sekali jatuh simpati pada setiap orang yang berkemampuan tinggi, Nyai," tegas Awijaya.

"Rasanya aku masih ingat ketika seorang anak pembesar kadipaten mencoba merebut Rara Wanti dari tanganmu. Meskipun kau berhasil dibuat babak belur, dan ayahnya mendesak Rara Wanti untuk menerima pinangannya, tapi dia tetap memilihmu. Aku rasa Rara Wanti juga tidak melihat kepandaian seseorang, Awijaya. Kalau hanya sekadar simpati, aku juga selalu jatuh simpati kalau me lihat seseorang berkemampuan tinggi. Tapi itu bukan berarti mencintainya," Nyai Supit menasehati.

Awijaya hanya diam saja. Secara jujur diakui kebenaran pada ucapan Nyai Supit Tapi tetap saja hatinya merasa khawatir kalau Rara Wanti akan terenggut darinya. Masalahnya, yang bersama gadis itu sekarang ini adalah orang pendekar muda dan tampan yang sudah kondang namanya. Tingkat kepandaiainya pun sukar diukur, dan sulit dicari tandingannya

"Awijaya, kau seorang laki-laki. Usia mu sudah ukup matang, dan mampu berpikir secara dewasa. Aku percaya kau bisa menghadapi persoalan ini dengan kepala dingin," sambung Nyai Supit lagi. suaranya tetap terdengar lembut.
"Tapi bagaimanapun juga aku harus pergi, Nyai. Aku harus menemuinya sebelum orang-orang Ki Praba mendapatkannya," ujar Awijaya bertekad.

"Kalau maksudmu mulia, tentu akan kudukung. tapi kalau niatmu untuk memusuhi Pendekar Pulau Neraka, dan membawa Rara Wanti secara paksa, itu sama saja bunuh diri. Dan mungkin seumur hidupku tidak akan kulihat kuburanmu," tegas kata-kata Nyai Supit.

"Aku tahu, Nyai. Meskipun kabar yang kudengar tentang Pendekar Pulau Neraka tidak terlalu baik, tapi aku akan berusaha mengenalnya lebih dekat," janji Awijaya

"Bagus, kapan kau akan berangkat?"
"Besok pagi."
"Akan kuserahkan kedai dan penginapan ini pada keponakanku."
"Nyai...!" Awijaya terkejut.
"Sudah waktunya aku istirahat, Awijaya. Aku ingin bersama-sama ibumu dan adik-adikmu. Tapi sebelum itu ingin, kubalas sakit hati suamiku dulu."

"Itu berarti Nyai akan menantang Ki Praba?"
Nyai Supit hanya tersenyum saja.

"Meskipun Ayah mati karenanya, tapi aku tidak akan mendendam. Nyai. Biar bagaimanapun aku masih bisa menghargai perasaan Rara Wanti. Maaf kalau aku tidak bisa membantumu, Nyai," ucap Awijaya agak menyesal.

"Percayalah, aku tidak akan melibatkanmu."
"Mudah-mudahan berhasil, Nyai."
Lagi-lagi Nyai Supit hanya tersenyum saja

***
Hampir tengah malam Awijaya belum Juga bisa memicingkan matanya. Pikirannya masih menerawang jauh, melayang tanpa batas akhir. Hatinya kelihatan gelisah di pembaringan. Udara malam yang dingin, jadi terasa panas. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya.

"Rara Wanti.... Akan sia-siakah harapanku selama ini...?" desah Awijaya lirih.

Awijaya menggelinjang bangun, lalu duduk menjuntai ditepi pembaringan. Pandangannya kosong menembus langsung ke luar melalui jendela yang terbuka lebar. Sebentar ditarik napas panjang, dan di hembuskannya kuat-kuat Pelahan-lahan tubuhnya bangkit berdiri. Namun belum juga berdiri tegak.

tiba-tiba....
"Akh...!"

"Heh...!" Awijaya tersentak kaget begitu mendengar suara pekikan tertahan.

Pemuda yang selalu mengenakan baju merah muda itu melompat ke jendela. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba terlihat dua bayangan keluar dari salah satu jendela kamar. Awijaya tersentak. Jelas itu adalah kamar Nyai Supit.

"Hup!"

Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda itu melompat keluar dari jendela kamarnya, langsung menuju ke jendela kamar Nyai Supit yang tebuka lebar. Dua bayangan yan berkelebat tadi sudah lenyap dari pandangan mata, hilang ditelan kegelapan malam. Awijaya menerobos masuk ke kamar perempuan ge muk itu.

"Nyai...!" Awijaya terpekik kaget begitu berada di dalam kamar itu.

Bergegas Awijaya memburu sosok tubuh gemuk yang menggeletak berlumuran darah di atas pe mbaringan. Suasana di dalam kamar itu benar-benar berantakan. Meja kursi, lemari, dan perabotan lain bergelimpangan hancur berantakan.

"Nyai...," agak tertahan suara Awijaya.

Bola mata pemuda itu berputar, merayapi darah yang mengucur deras dari dada dan leher Nyai Supit Pemuda itu sempat melihat adanya gerakan lemah dari kepala wanita gemuk itu.

"Ki Praba...," hanya itu yang bisa diucapkan Nyai Supit.

Seketika itu juga kepalanya terkulai, tidak bergerak-gerak lagi. Awijaya mengguncang-guncangkan tubuh tambun itu. Tapi nyawa Nyai Supit sudah menghilang, terbang dari raganya. Awijaya terduduk lemas. Wajahnya sebentar memerah, sebentar memucat pasi Dadanya bergemuruh hebat, kemudian bangkit berdiri "Nyai, aku akan membalas kematianmu. Ki Praba harus mati. Aku janji, Nyai...!" agak tersendat suara Awijaya.

Secepat kilat pemuda berbaju merah muda itu melesat keluar melalui jendela kamar yang terbuka berantakan. Dalam sekejap saja dia sudah berlari kencang menembus kegelapan malam. Tujuannya jelas kediaman Ki Praba yang tidak berapa jauh dari rumah penginapan dan kedai Nyai Supit. Tanpa menghentikan larinya, Awijaya melompat melewati pagar batu yang cukup tinggi seperti benteng. Langsung didaratkan kakinya ringan di tengah-tengal halaman yang luas bagai lapangan. Keadaannya sangat sunyi, tidak terlihat seorang pun di sekitarnya. Bahkan hanya ada sebuah pelita saja yang menyala di bagian beranda depan. Selebihnya hanya kegelapan yang ada.

"Ki Praba! Keluar kau...!" teriak Awijaya lantang. Sepi. Tidak ada sahutan sedikit pun. Hanya angin malam yang dingin menyahuti teriakan pemuda itu Awijaya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tetap sunyi. Tidak terlihat seorang pun di sekitar rumah besar ini
"Pengecut!" geram Awijaya.

Pemuda berbaju merah muda itu melompat dan berputaran dua kali di udara. Dan dengan manis sekali, tanpa menimbulkan suara sedikit pun kakinya mendarat di beranda depan. Kembali dia berteriak keras, menyuruh Ki Praba keluar. Tapi tetap saja tidak ada sahutan. Awijaya semakin kesal tak tertahankan. Dirampasnya pelita yang tergantung di beranda. Dengan kemarahan yang meluap, pemuda itu melemparkan pelita ke dalam rumah. Seketika saja api berkobar besar melahap bagian dalam ru

Awijaya melompat ke atas atap, dan terus berlari ke bagian belakang. Ringan sekali tubuhnya melunak turun, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pemuda itu mendarat lunak dibagian belakang rumah besar ini. Sebuah pelita yang menempel di dinding direnggut secara kasar, lalu dilemparkannya ke dalam rumah. Kembali api berkobar membesar begitu pelita itu pecah berantakan.

"Huh!" Awijaya mendengus menyemburkan ludahnya.

Tanpa menghiraukan api yang semakin membesar melahap rumah besar itu, Awijaya melentingkan tubuhnya keluar, kembali ke halaman depan. Betapa terkejutnya dia begitu kakinya mendarat. Tampak penduduk berbondong-bondong membawa obor, lalu melemparkannya ke rumah besar yang selama ini dibencinya.

Tindakan Awijaya membuat para penduduk yang selama ini hanya diam tertekan penderitaan, benar-benar ingin melampiaskan segala tekanan batinnya pada rumah besar itu. Api semakin besar berkobar melahap setiap bagian rumah besar bagai istana itu. Awijaya memandanginya tanpa berkedip. Ada sedikit keharuan di hatinya ketika melihat para penduduk bersorak-sorai gembira menyaksikan rumah yang dianggap sebagai sumber neraka dan malapetaka kini dilahap api dengan ganasnya.

Awijaya membalikkan tubuhnya, dan melangkah meninggalkan tempat yang terang benderang dilahap api Dia berjalan sambil menyibakkan kerumunan penduduk yang memadati halaman besar rumah itu. Ada kegembiraan, kesedihan, dan keharuan di dalam hatinya. Bermacam perasaan berkecamuk, sukar untuk diungkapkan dengan untaian kalimat Tak ada seorang yang memperhatikan pemuda berbaju merah muda yang terus melangkah semakin jauh.

***

鈥淪iapa sebenarnya yang membunuh Nyai Supit? Kemana Ki Praba pergi...?鈥�

Tak sedikit pertanyaan yang mengganggu pikiran Awijaya Pemuda itu pergi tanpa tujuan dengan membawa hati yang panas, terselimut dendam membara.

Hanya satu dalam pikirannya. Mencari Ki Praba. Dia yakin betul kalau laki-laki itulah yang membunuh Nyai Supit. Meskipun dalam keadaan gelap, masih sempat dikenali salah satu bayangan yang berkelebat cepat keluar dari kamar Nyai Supit malam itu.

Sementara itu, di sebelah Utara Bukit Sidayu, tampak Ki Praba duduk mencangkung di atas batu. Kedua kakinya terendam kedalam sungai yang kecil berair jernih. Didekatnya berdiri Jantar. Pandangan mata pemuda itu menatap lurus ke tanah di tepi sungai kecil ini.

"Ki...," panggil Jantar, seraya berjongkok menekuri tanah berair.
"Ada apa?" tanya Ki Praba menghampiri.
"Ada jejak kaki dua orang. Arahnya menuju kehulu," jelas Jantar "Hm...," Ki Praba menggumam pelahan. Dia mati jejak-jejak kaki yang hampir tenggelam. Kelihatan masih jelas membekas di tanah.

"Jelas kalau ini jejak kaki laki-laki dan perempuan, Ki," tegas Jantar seraya berdiri dan melangkah pelan-pelan mengikuti jejak-jejak kaki yang tertera cukup jelas di tanah tepi sungai ini.
"Belum ada yang ke hulu melalui tepi sungai ini...," gumam Ki Praba.
"Kecuali Rara Wanti," sambung Jantar.
"Benar. Ayo kita ke sana!" seru Ki Praba.

Kedua laki-laki itu bergegas mengayunkan kakinya mengikuti jejak yang menuju ke hulu. Mereka tahu kalau di bagian hulu sungai ini ada sebuah desa kecil. Desa Pekacangan yang kerap didatanginya. Di desa itu Ki Praba juga mempunyai teman yang setiap saat bisa membantunya. Ki Praba semakin bersemangat Memang kepala Rara Wanti dan orang yang membawanya ingin segera dipenggalnya.

"Kenapa bergegas, Ki Praba...?" tiba-tiba terdengar suara teguran lunak.

Ki Praba dan Jantar tersentak kaget. Mereka langsung berhenti melangkah, dan menoleh kearah datangnya suara tadi Tampak seorang laki-laki yang masih muda usianya tengah duduk bersila di atas sebatang pohon tumbang. Pakaiannya putih panjang, hampir menutupi kakinya. Rambutnya putih. Dan yang paling menonjol adalah raut wajahnya yang pucat bagai mayat. Ki Praba kenal betul, kalau laki-laki itu adalah si Muka Mayat, salah seorang musuhnya.

"Sukar dipercaya kalau Ki Praba rela turun tangan hanya untuk memburu seseorang. Ah...,mungkin pamornya sudah hilang, sehingga berjalan kaki tergesa-gesa hanya ditemani seekor anjing geladak," pelan kata-kata si Muka Mayat, tapi sanggup membuat wajah Jantar merah padam.

"Muka Mayat! Apa pedulimu dengan urusanku?!" bentak Ki Praba sengit
"Tentu saja aku peduli kalau kau tetap memburu Rara Wanti," sahut si Muka Mayat kalem.
"Phuih! Dia anakku, tida k ada urusannya denganmu! "

"Anakmu...? Ha ha ha...!" si Muka Mayat tertawa tergelak-gelak. Namun suara tawanya begitu sumbang dan tidak enak didengar. "Sejak kapan kau punya anak, Ki Praba? Bukankah Rara Wanti itu hanya budak pajanganmu? Lambang hadiahmu? Sungguh dunia sudah terbalik...!"

"Tutup mulutmu, keparat!" geram Ki Praba gusar, lalu melirik Jantar.
"Ha ha ha...!" si Muka Mayat semakin keras tergelak. Perutnya yang agak buncit terguncang-guncang menahan rasa geli yang menggelitik tenggorokannya.
"Keparat..! Mampus kau! Hiyaaat..!"

Ki Praba tidak bisa lagi menahan amarahnya, dan langsung melompat cepat bagai kilat menerjang laki-laki muda yang usianya sekitar tiga puluh tahun itu. Secepat itu pula Ki Praba melontarkan dua pukulan dahsyat bertenaga dalam tinggi secara beruntun.

"Hait..!"

Namun dengan manis sekali si Muka Mayat berkelit melambungkan dirinya ke atas, kemudian berputaran di udara melewati kepala Ki Praba. Dan sebelum kakinya menjejak tanah, satu tendangan menyamping diarahkan ke punggung laki-laki setengah baya itu. Tapi belum juga tendangannya sampai pada sasaran, mendadak dua buah pisau kecil meluncur deras ke arahnya.
"Ikh! Curang!" dengus si Muka Mayat seraya melentingkan tubuhnya ke belakang.

Dan begitu kaki si Muka Mayat mendarat di tanah, kembali dua buah pisau tipis meluncur bagai kilat ke arahnya, disusul tebasan sebilah pedang ke arah leher. Menghadapi dua serangan kilat dan dahsyat itu, si Muka Mayat tidak punya pilihan lain lagi. Secepat kilat dilepaskan sabuknya, dan langsung diputarnya bagai baling-baling.

Trang! Tring!

Baik Ki Praba maupun Jantar terkejut saat senjata-senjatanya berbenturan dengan sabuk si Muka Mayat Sabuk yang kelihatan lemas itu ternyata sangat kuat melebihi baja. Senjata Ki Praba sampai terpental hampir terlepas dari tangan. Sedangkan pisau-pisau yang dilepaskan Jantar mental balik kearah pemiliknya.

"Hup!"

Jantar menggerakkan tangannya cepat, dan tangkas sekali menangkap pisau-pisau itu. Si Muka Mayat tertawa terkekeh. Sementara Ki Praba dan Jantar saling berpandangan sejenak, ke mudian serempak menyerang menggunakan senjata masing-masing dari dua arah yang berlawanan.

***
LIMA

Ki Praba dan Jantar benar-benar tidak lagi memberi kesempatan si Muka Mayat untuk tetap hidup. Mereka menyerang secara beruntun dan bergantian. Sedikit pun tidak memberi peluang lawan untuk balas menyerang. Hal ini tentu saja membuat si Muka Mayat kelabakan setengah mati. Beberapa pukulan dan tendangan bertenaga dalam tinggi bersarang di tubuhnya. Beberapa kali dia berusaha kabur, tapi selalu dapat terkejar.

Tempat pertarungan sudah berpindah pindah, dan semakin menjauhi sungai. Tanpa disadari, justru mereka semakin dekat ke hulu. Daerah sekitar pertarungan itu benar-benar porak-poranda. Pohon-pohon bertumbangan, batu-batu pecah berantakan. Tapi pertarungan itu masih terus berlangsung sengit.

"Jantar, ambil kaki...!" tiba-tiba Ki Praba berseru nyaring.
"Baik, Ki!" sahut Jantar. "Hiyaaat...!"

Jantar tidak membuang waktu lagi, dan langsung menyusur mempergunakan jurus 'Ular Melibat Bukit'. Sasaran yang diincar tentu saja kaki lawan. Hal ini membuat si Muka Mayat harus berpelantingan ke atas menghindari serangan yang tidak pernah berpindah itu. Tapi laki-laki muda itu jadi tersentak, karena Ki Praba justru mengarahkan serangan ke bagian dada dan kepala.

"Modar...!" seru Ki Praba tiba-tiba.

Seketika itu juga Ki Praba menggedor tangannya ke arah dada si Muka Mayat, namun masih juga bisa dihindari. Tapi si Muka Mayat tidak bisa lagi menghindari sabetan tangan Jantar pada betisnya, dan....

"Akh...!" si Muka Mayat me mekik tertahan.

Tulang betis si Muka Mayat langsung remuk seketika, dan tubuhnya jatuh bergulingan di atas tanah. Pada saat itu, Ki Praba menghunjamkan pedangnya ke arah dada si Muka Mayat

"Mampus kau! Hiyaaat..!"
Cleb!
"Aaakh...!" si Muka Mayat menjerit keras melengking.

Darah langsung muncrat begitu pedang Ki Praba ditarik keluar. Dan laki-laki setengah baya itu belum juga puas meskipun lawannya sudah menggelepar meregang nyawa. Maka dibabatkan pedangnya ke arah leher, hingga kepala si Muka Mayat terpisah dari tubuhnya.

'Tamat riwayatmu, Muka Mayat!" desis Ki Praba diiringi desahan napas panjang.

Ki Praba memasukkan kembali pedangnya kedalam sarungnya di punggung. Kakinya melangkah menghampiri Jantar, yang sudah berdiri tegak mengatur jalan napasnya. Sebentar mereka saling berpandangan, kemudian melangkah menuju ke Desa Pekacangan yang tidak berapa jauh lagi. Mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi.

Tapi tiba-tiba saja Jantar berhenti melangkah, lalu menatap tajam pada Ki Praba. Dan Ki Praba juga menghentikan langkahnya. Agak heran juga laki-laki setengah baya ketika melihat tatapan mata yang begitu tajam menusuk.

"Ada apa, Jantar?" tanya Ki Praba.
"Benarkah yang dikatakan si Muka Mayat tadi, Ki?" Jantar balik bertanya. Suaranya datar, bernada minta penjelasan.
"Kata-kata yang mana?"
"Tentang Rara Wanti. Benarkah dia bukan anakmu?"
"Ha ha ha...!" Ki Praba tertawa terbahak-bahak. "Benar Rara Wanti bukan anakmu, Ki?" tanya Jantar mengulangi pertanyaan. Ada sedikit tekanan pada nada suara pemuda itu.

"Tidak usah kau hiraukan, Jantar. Rara Wanti itu anakku," jelas Ki Praba seraya menepuk bahu kanan pemuda itu.
"Tapi kenapa kau akan membunuhnya?" tanya Jantar meminta penjelasan.
"Bagiku seorang pengkhianat harus dibunuh, tidak peduli apakah anak atau bukan!" tegas jawaban Ki Praba.

Jantar terdiam. Jawaban tegas itu membuatnya teringat peristiwa beberapa tahun yang laki. Ki Praba memenggal istri ketiganya tanpa bergeming sedikit pun. Padahal hanya karena istri ketiganya berbicara berdua dengan seorang lelaki ditegalan. Bahkan tega-teganya Ki Praba memancang kepalanya di atas tonggak bambu selama tujuh hari. Katanya, itu sebagai peringatan bagi yang lain agar berpikir dua kali kalau ingin mengkhianatinya. Tapi, benarkah Rara Wanti berkhianat?

Jantar sendiri tak mengerti. Masalahnya hanya sepele. Rara Wanti kabur dari rumah karena tak ingin terus-menerus dijadikan barang pajangan untuk pertarungan yang selalu diingkari Ki Praba. Sudah beberapa kali Ki Praba mengadakan adu kepandaian jago-jago rimba persilatan, yang berhadiah seribu keping uang emas ditambah boleh memboyong Rara Wanti. Hadiah yang menggiurkan, tapi Ki Praba tak pernah menepatinya Tentu saja hai ini membuat mereka yang sudah menang jadi sakit hati, termasuk si Muka Mayat tadi. Juga, Ki Sampar Watu dan Kebo Ireng. Mereka berusaha untuk mengambil Rara Wanti dan membunuh Ki Praba, tapi selalu gagal. Hingga sekarang ini, Rara Wanti jadi seorang gadis buronan.

"Ayo, jalan lagi," ajak Ki Praba Jantar kembali melangkah meskipun jawaban yang diberikan Ki Praba belum memuaskan hatinya.
Tapi hal itu tidak berani ditanyakannya lagi. Masalahnya, sedikit saja Ki Praba merasa tersinggung, kepala Jantar bisa terpisah seketika.

"Jantar, bagaimana kalau kutawarkan Rara Wanti untukmu?" ujar Ki Praba setelah lama terdiam.
"Ah, Ki Praba bergurau," desah Jantar tidak percaya.
"Syaratnya hanya satu. Itu pun kalau kau terima, Jantar," kata Ki Praba lagi.

"Rara Wanti terlalu cantik untukku, Ki. Lagi pula dia tidak bakal mau."
"Semua bisa diatur, Jantar. Aku hanya menginginkan agar kau membunuh laki-laki yang sekarang bersamanya. Hanya itu," tegas Ki Praba lagi.
"Lalu, bagaimana kalau Rara Wanti menolak?"
"Paksa!',

"Apa...?"
"Ha ha ha...!" Ki Praba tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Jantar yang memerah tersipu malu.

Bicara Ki Praba memang selalu blak-blakan. Bahkan terlalu gamblang, tidak mempedulikan perasaan orang lain. Meskipun usianya sudah cukup, tapi Jantar belum pernah sekali pun bergaul dengan seorang gadis. Apalagi untuk memaksakan kehendaknya pada wanita. Memang diam-diam Jantar selalu mengimpikan bisa menyunting Rara Wanti. Bahkan sering juga mengintip gadis itu jika mandi di sungai, atau berganti pakaian di kamarnya. Tapi hanya segitu saja keberaniannya. Tidak lebih!

Jika sekarang mendapat tawaran demikian, maka Jantar merasakan seperti mendapat durian runtuh. Sudah lama diinginkan tawaran seperti itu. Dan secara jujur hatinya selalu berdebar jika ada seorang jago yang seharusnya berhak memboyong Rara Wanti. Tapi akhirnya dia selalu dapat menarik napas lega, karena sampai saat ini belum ada seorang laki-laki pun yang dapat memboyong Rara Wanti. Hanya saja gadis itu kini bersama laki-laki lain. Dan itu pun setelah Rara Wanti menjadi gadis buronan secara terbuka.

"Bagaimana, Jantar. Kau terima?" desak Ki Praba.
"Sulit untuk menjawabnya, Ki!" Jantar masih merendahkan diri.
"Tidak perlu dijawab. Asal kau tunjukkan keinginanmu, aku sudah bisa mengerti. Pokoknya, bunuhlah laki-laki itu, kemudian kau boyong putriku. Kemudian kita bisa kembali ke Desa Munding, dan menguasai desa itu selamanya. Ha ha ha...!"

Jantar hanya tersenyum dikulum. Meskipun senang, tapi hati kecilnya masih diliputi keraguan. Bukan satu atau dua tahun bersama Ki Praba. Tentu sudah kenal betul wataknya. Bisa saja dia bertarung mati-matian, tapi hati kecilnya melarang untuk lebih banyak lagi mengharap. Tidak akan mungkin Rara Wanti bisa didapat kecuali dibawa pergi, dan bersama-sama menjadi buronan Ki Praba. Itu pun kalau Rara Wanti mau. Sulit bagi Jantar untuk bisa bergembira dulu sekarang ini.

***

Sementara itu, tidak jauh dari Desa Pekacangan, Bayu Hanggara tengah disibuki tingkah Rara Wanti yang selalu membuntuti dan ingin ikut bersamanya. Bukannya tidak melihat kecantikan dan kemolekan gadis itu, tapi Bayu tahu kalau ada seorang pemuda yang lebih berhak terhadap Rara Wanti. Dan hal ini sudah diutarakan pada Nyai Supit untuk mengembalikan Rara Wanti pada Awijaya.

"Ini kan jalan ke Desa Munding...," gumam Rara Wanti begitu mengenali jalan yang ditempuhnya. "Memang," sahut Bayu kalem.
"Mau apa ke sana?" Rara Wanti membeliak, dan langsung berhenti melangkah.
"Aku ada janji dengan seseorang di sana," sahut Bayu masih tetap kalem.
"Janji sama siapa?" tanya Rara Wanti. Nada suaranya sedikit ditekan.
"Teman," sahut Bayu singkat, seraya kembali melangkah.
"Wanita?" tebak Rara Wanti kembali berjalan di samping Pendekar Pulau Neraka itu.
"He-eh."
"Cantik?"

Bayu tidak menjawab, tapi hanya tersenyum saja. Dari nada suaranya, Bayu sudah bisa menebak apa yang diingini gadis ini. Tapi justru itulah yang tidak diinginkannya. Bayu selalu menjaga jarak, meskipun beberapa kali sikap Rara Wanti seperti sengaja memancingnya.

"Cantik mana dia denganku?"

Terkejut juga Bayu mendengar pertanyaan itu, sehingga langsung berhenti melangkah. Ditatapnya dalam-dalam bola mata yang bulat, bening dan indah itu. Rara Wanti bukannya memalingkan muka, tapi malah membalasnya dengan tajam pula. Sepertinya gadis ini sudah nekad, sehingga tidak bisa lagi memendam terus perasaannya pada pendekar muda yang tampan dan sangat tinggi kepandaiannya ini. Memang sudah menjadi wataknya bahwa Rara Wanti selalu mengagumi pemuda yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Terlebih lagi pemuda itu berwajah tampan dan tegap berisi.

"Sudah sore, sebaiknya kita cari tempat bermalam," kata Bayu tidak ingin melanjutkan. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Kakang," desak Rara Wanti.
"Nanti juga kau akan tahu...," ucapan Bayu terputus.

Telinga Pendekar Pulau Neraka yang tajam dan terlatih, tiba-tiba mendengar langkah kaki yang halus, tidak beberapa jauh dari tempat ini Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bayu menarik tangan Rara Wanti, dan langsung melompat tinggi keatas. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Pendekar Pulau Neraka itu hinggap bersama Rara Wanti di atas dahan yang tinggi.

"Ada apa?" bisik Rara Wanti.
"Ssst...!" Bayu menutup bibir gadis itu dengan jari telunjuknya.

Rara Wanti malah memegang jari itu dan menciumnya lembut. Sejenak Bayu menatap, ke mudian menarik tangannya tanpa membuat hati gadis itu tersinggung. Dan belum lagi Rara Wanti mengucapkan sesuatu, terlihat dua orang laki-laki berjalan cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

Hampir saja Rara Wanti memekik begitu mengenali dua orang yang berjalan di bawah pohon ini. Untung saja Bayu cepat-cepat membekap mulutnya. Dua orang laki-laki itu terus saja berjalan cepat tanpa ada suara sedikit pun yang ditimbulkannya. Bayu baru melepaskan bekapannya setelah kedua orang itu tidak terlihat lagi.

"Ayah..., mau apa dia?" tanya Rara Wanti untuk dirinya sendiri.
"Arahnya ke Desa Pekacangan," kata Bayu.
"Ayah pasti ke rumah Paman Praraga. Celaka, Bayu!" sentak Rara Wanti langsung pucat wajahnya.
"Kenapa?" Bayu menatap dalam-dalam bola mata gadis itu. "Paman Praraga sangat tinggi ilmunya, dan kejam sekali. Dia satu-satunya kerabat Ayah yang tidak pernah menyukaiku," jelas Rara Wanti singkat.
"Hm..., Pasti ada sebabnya, bukan?" gumam Bayu.
"Ya. Aku telah menolak pinangan anaknya."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka terhadap laki-laki lemah. Sekali pukul saja pasti sudah mampus. Dia kutu buku, lebih senang mempelajari ilmu sastra dari pada ilmu olah kanuragan. Lagaknya saja seperti perempuan!" terdengar sengit nada suara Rara Wanti.
"Tidak kusangka! Ternyata begitu banyak laki-laki yang menyuka imu, Rara Wanti," ujar Bayu tersenyum tipis.

"Huh! Aku benci mereka semua. Hanya melihat dari kecantikan saja. Mereka memilikiku bukan karena cinta dan kasih sayang, tapi karena nafsu. Aku tidak suka laki-laki seperti itu."
"Tapi masih ada yang mengharapkanmu bukan karena nafsu, tapi didasarkan pada cinta yang tulus dan murni," potong Bayu cepat.

Rara Wanti menatap dalam-dalam pemuda itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melompat turun. Gerakannya sungguh ringan dan indah. Jelas, gadis itu memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Bayu bergegas mengikuti, dan menjejak tanah hampir berbarengan dengan gadis itu.

"Aku berharap orang itu juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Bukan hanya cinta yang kubutuhkan, tapi perlindungan dari seorang laki-laki jantan, pemberani, dan berkepandaian tinggi," mantap kata-kata Rara Wanti.

"Kalau ternyata tidak ada laki-laki seperti harapanmu?" Bayu coba ingin tahu.
"Lebih baik tidak kawin." "Ha ha ha...!" Pendekar Pulau Neraka tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa tertawa?" rungut Rara Wanti memberengut.
"Aku tidak yakin kalau kau berkata sungguh-sungguh, Rara," sahut Bayu masih tersenyum.
"Aku serius!"

'Tidak ada di dunia ini yang memiliki kepandaian tinggi dan tidak terkalahkan. Gunung yang begitu tinggi, tapi masih ada yang lebih tinggi lagi. Begitu juga kepandaian manusia. Tidak ada orang yang lebih tinggi dan sempurna segala-galanya. Walaupun hanya sekecil biji sawi, pasti ada kekurangannya. Begitu juga kau, Rara Wanti. Kau cantik, menarik, dan selalu menggairahkan. Bahkan juga cerdas, berani, tangkas, dan berkemampuan tinggi. Tapi di balik kesempurnaannya pasti ada kekurangan yang mungkin saja tidak kau sadari. Termasuk juga aku," kata Bayu.

"Huh! Filsafat lagi. Aku bosan mendengar segala macam filsafat!" dengus Rara Wanti.
"Bukannya Filsafat, tapi untuk cermin kehidupan."

Rara Wanti mengangkat bahunya, kemudian melangkah kembali. Pendekar Pulau Neraka mengikuti berjalan di samping gadis itu. Tak ada kata-kata lagi yang terucap. Tapi di dalam hati Rara Wanti, semakin mekar rasa kagumnya pada Bayu Hanggara. Dia memang tidak pernah menyukai kata-kata filsafat kehidupan. Tapi setiap kali Bayu yang mengucapkan! selalu menyentuh sanubarinya. Dan setiap kali itu pula rasa kagumnya bertambah. Rara Wanti tidak dapat mengelak kalau sudah jatuh hati pada Pendekar Pulau Neraka ini.

***

Malam sudah larut, jatuh ke dalam pelukan bumi. Kegelapan menyelimuti sebagian permukaan bumi. Bulan bersinar penuh cahayanya begitu lembut, mencoba menghalau kegelapan. Bintang-bintang bergemerlapan menambah semaraknya angkasa yang kelam menghitam. Bayu duduk memeluk lutut menghadapi api unggun kecil di bawah sebatang pohon beringin. Di sampingnya duduk Rara Wanti.

Kebisuan menyelimuti mereka berdua. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sesekali Rara Wanti melirik pemuda tampan di sampingnya. Pelahan gadis itu menggeser tubuhnya agar lebih merapat lagi. Semakin rapat, semakin berkurang jarak di antara mereka. Bayu menoleh begitu merasakan sentuhan kulit yang halus lembut pada tangannya.

"Dingin, ya...," desah Rara Wanti seraya memandangi wajah Pendekar Pulau Neraka.
"Hhh...!" Bayu hanya menghembuskan napas panjang.

Bayu hanya diam saja saat Rara Wanti menjatuhkan kepala di bahunya. Bahkan tangan gadis itu melingkar memeluknya erat. Darah dalam tubuh Pendekar Pulau Neraka itu serasa lebih cepat mengalir. Bahkan jantungnya juga berdetak kencang tidak menentu. Bayu menggeser duduknya, lalu mengangkat kepala gadis itu dengan jari menopang dagu yang runcing.

"Kenapa? Kau tidak suka aku sedikit bermanja?' lembut suara Rara Wanti.

Bayu tidak bisa menjawab. Secara jujur, hatinya memang tertarik melihat kecantikan gadis ini. Tapi mengingat ada seorang pemuda yang begitu mencintainya, dan rela berkorban apa saja untuk memperoleh cintanya kembali, Bayu harus bisa menekan segala perasaannya sendiri. Selama beberapa kali ke Desa Munding, dia tahu semua yang terjadi dari Nyai Supit. Wanita gemuk yang begitu ramah dan mengetahui semua yang terjadi di desa itu.

Bayu mempercayai wanita itu, karena selalu berterus terang dan menjawab semua pertanyaannya apa adanya. Terlebih lagi setelah menyangkut persoalan yang melibatkan Rara Wanti. Bayu pun tahu hubungan yang pernah terjadi antara Rara Wanti dengan Awijaya. Dia juga sudah tahu pemuda itu, meskipun belum pernah bertegur sapa. Pernah sekali Bayu mencoba mempertemukan keduanya, tapi gagal. Masalahnya Rara Wanti tidak ingin menemuinya, bahkan kelihatan membencinya.

Pendekar Pulau Neraka itu tersentak kaget ketika tiba-tiba dirasakan satu kecupan lembut mendarat di bibirnya. Dan lebih kaget lagi begitu menyadari kalau Rara Wanti sudah melingkarkan tangannya ke leher. Bayu berusaha melepaskannya, tapi pelukan gadis itu demikian kuat Bahkan kini mulut mereka sudah menyatu rapat.

"Rara...," desah Bayu begitu Rara Wanti melepaskan mulutnya dari bibir pemuda itu.
"Kenapa? Kau belum pernah bercinta?" tetap lembut nada suara Rara Wanti.
"Bukan. Bukan itu masalahnya," bantah Bayu dengan nada tegas.
"Lalu? Apa aku tidak pantas bercinta denganmu?" Rara Wanti semakin berani. Memang tidak bisa lagi ditahan geloranya yang mengaduk-aduk se luruh rongga dadanya.

Untuk sesaat Bayu tidak bisa menjawab. Ditelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang kering mendadak. Dipandanginya wajah yang begitu dekat. Sedemikian dekatnya, sehingga desah napas Rara Wanti terasa hangat menerpa kulit wajah Pendekar Pulau Neraka.
Rara Wanti menggerakkan tubuhnya sedikit. Entah disengaja atau tidak, belahan baju pada bagian dadanya sedikit terbuka. Tentu saja dua buah tonjolan yang ranum terbalut kulit putih sedikit tampak oleh mata telanjang. Bayu tidak bisa mencegah matanya untuk melirik ke arah pemandangan indah itu. Dadanya semakin keras berdebar. Beberapa kali ditelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa semakin kering kerontang.

"Peluk aku, Kakang. Cumbulah sepuasmu...,! desah Rara Wanti agak tertahan suaranya.

Bayu jadi serba salah. Pikirannya kacau tidak menentu. Ada dua kutub yang saling bertentangan, dan begitu kuat menarik dirinya. Pendekar Pulau Neraka itu tidak mampu lagi menolak saat jari-jari tangan yang lentik dan halus menggerayangi tubuhnya. Dan pertahanan Bayu semakin rapuh begitu Rara Wanti secara sengaja menyingkap pahanya.

"Ah...," Bayu mendesah panjang melihat sebentuk daging putih yang mulus dan indah tanpa cacat, Tangannya tak mungkin bisa ditahan lagi.

Rara Wanti mendesis lirih merasakan halusnya belaian tangan Pendekar Pulau Neraka pada bagian pahanya yang gempal. Semakin lama jari-jari tangan itu semakin merayap naik. Hilang sudah pertahanan Bayu Dibaringkan tubuh Rara Wanti dengan lembut, dan melumat bibir gadis itu disertai gairah yang menggelegak dalam dada. Rara Wanti merintih, desis, dan menggeliat-geliatkan tubuhnya.

"Oh..., Kakang...," desis Rara Wanti lirih.

***
ENAM

Bayu menggelinjang bangun ketika merasakan kehangatan pada tubuh yang tersiram sinar matahari pagi. Bergegas dia bangkit duduk, dan merapihkan pakaiannya. Pendekar Pulau Neraka itu menarik napas panjang. Tatapannya langsung tertuju pada Rara Wanti yang tengah duduk, memanggang seekor ikan yang cukup besar. Gadis itu tersenyum manis.

"Kau tidur nyenyak sekali," ujar Rara Wanti lembut
"Hm...," Bayu hanya menggumam saja.
"Kenapa? Kok murung begitu?"
"Tidak apa-apa," sahut Bayu seraya bangkit berdiri. Digerak-gerakkan tubuhnya untuk melemaskan otot-otot yang kaku.
"Kau kecewa semalam, Kakang?" pelan suara Rara Wanti

Bayu tidak menyahuti, lalu kembali duduk dan bersandar pada pohon beringin yang menaunginya dari sengatan matahari. Dipandanginya gadis cantik tidak jauh di depannya. Saat itu, Rara Wanti juga tengah menatap dengan sinar mata redup. Bayu menarik napas panjang, seakan-akan ingin melonggarkan rongga dadanya.

Apa yang terjadi semalam, memang tidak pernah diduga sama sekali sebelumnya. Sukar bagi Bayu untuk bisa memahami. Desahan dan rintihan lirih Rara Wanti dalam pelukannya memang mampu membangkitkan gairahnya sebagai seorang laki-laki normal. Tapi yang sulit dimengerti, ternyata Rara Wanti sudah.... Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dicobanya untuk melupakan semua yang telah terjadi semalam.

"Ada apa, Kakang? Kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Rara Wanti seraya mendekati. Gadis itu duduk di depan Bayu, dan tidak lagi mempedulikan ikan bakarnya.
"Seharusnya kau berterus terang semalam, Rara," desah Bayu menyesali.
"Kau menyesal karena aku sudah...."
"Tidak," potong Bayu cepat
"Lalu ?"
"Hhh...!" Bayu menarik napas panjang. Sukar sekali lidahnya diajak berterus terang. Rasanya tidak tega membuat hari gadis itu terluka.
"Aku tahu, kau menyesal kerena aku sudah tidak gadis lagi. Iya, kan?" tebak Rara Wanti langsung. Ringan dan tidak ada nada bersalah pada suaranya.
"Kenapa sampai kau lakukan itu?" tanya Bayu pelan.
"Karena aku mencintainya. Aku tidak ingin ada laki-laki lain yang tidak kucintai menjamah tubuhku! Yang penting aku rela melakukan untuknya. Jadi kalau sekarang ini ada laki-laki lain yang menjamah tubuhku, aku tidak menyesal lagi. Karena semua sudah kuserahkan padanya," tenang sekali kata-kata Rara Wanti.

"Kau mencintainya, tapi kenapa tidak menemui nya?" tanya Bayu ingin tahu.
"Dulu aku memang mencintainya, tapi sekarang tidak! Dia telah membuatku kecewa. Tidak kusangka kalau dia seperti laki-laki lain yang punya hati kecil dan berjiwa kerdil. Merasa puas setelah merenggut dari menghirup manisnya madu, tapi tidak lagi peduli dengan sepahnya. Aku dicampakkannya begitu saja bagai sampah kotor tak berguna!" agak keras suara Rara Wanti.

"Kau yakin penilaianmu itu benar?"
"Yakin sekali! Tiga tahun kutunggu, tapi dia menghilang begitu saja. Pertamanya saja manis, berani berkorban meskipun nyawa taruhannya. Ternyata dia hanya seorang pengecut yang tidak bisa lepas dari lindungan ketiak ibunya!"
"Mungkin dia punya pertimbangan lain," Bayu terus memancing perasaan gadis ini.

"Pertimbangan.. ? Pertimbangan apa? Dia lari bersama ibu dan adiknya. Padahal, ayahnya setengah mati mempertahankan nyawa dari orang-orang bayaran ayahku. Seharusnya dia membela, meskipun hanya memiliki kepandaian sedikit. Aku lebih senang melihatnya mati membela hak dan kehormatan orang tuanya, daripada ikut kabur mengungsi selama tiga tahun. Tanpa kabar, tanpa berita sama sekali. Menghilang begitu saja. Tidak lagi menghiraukan diriku yang terus-menerus menanti dan diliputi kecemasan, karena Ayah selalu menjadikanku boneka pajangan dan piala pertarungan. Kalau saja aku seorang wanita yang lemah, mungkin sudah dari dulu bunuh diri. Tapi semua tidak kulakukan itu. Aku mau membalas perlakuan Ayah padaku, meskipun aku tahu resikonya. Lari...!"

"Hm. Jadi itu sebabnya kau lari dari rumah?" Bayu mulai mengerti jelas persoalannya sekarang.
"Masih banyak lagi. Tapi tidak bisa kuutarakan pada mu, Kakang. Hanya satu yang bisa kukatakan padamu, kalau aku ini sebenarnya bukan anak Ki Praba!"

"Oh...!" Bayu tersentak kaget.
"Sudah kuduga, kau pasti tidak percaya."
"Bagaimana kau bisa memastikan semua itu, Rara?" tanya Bayu ingin tahu.
"Banyak yang berkata seperti itu padaku. Salah seorang yang bisa kupercaya hanya Nyai Supit. Meskipun suaminya mati dibunuh orang bayaran Ayah, tapi hatinya tetap bersih. Tidak tersimpan dendam di hatinya. Dialah yang menceritakan semua tentang diriku. Dia tahu semuanya tentang diriku sejak aku dilahirkan, lalu diambil Ki Praba, hingga sampai sekarang ini," jelas Rara Wanti singkat.

"Orang tuamu masih ada?" tanya Bayu.

"Hanya Ibu. Tapi aku juga tidak tahu di mana sekarang. Ayah sudah meninggal sejak aku masih bayi. Ki Praba jugalah yang membunuh. Sudah lama Ki Praba menginginkan Ibu untuk jadi istrinya, sejak Ibu masih gadis. Tapi Ibu memilih Ayah. Hal ini membuat Ki Praba tidak senang. Maka dibunuhlah Ayah dan seluruh keluarga. Untungnya Ibu masih bisa menyelamatkan diri bersama adik laki-lakinya, tapi tidak sempat membawaku. Ki Praba mengetahui kalau aku bayi perempuan, lalu mengambil dan merawatku sampai besar...."

"Jadi Ki Praba itu masih dendam, dan ditumpahkan padamu. Begitu?" Bayu mulai mengerti.

"Benar. Semuanya harus kutanggung sendiri. Ki Praba selalu menambah ilmu dan menyempurnakannya. Jago-jago rimba persilatan dianggap sebagai musuhnya. Dulu sebelum memiliki ilmu olah kanuragan, semua orang yang punya selalu mencela dan memandangnya rendah. Maka kini dilampiaskan dendam masa mudanya dulu dengan mengundang jago-jago persilatan. Mereka diadu seperti ayam, dan aku sebagai taruhannya. Tapi semua itu hanya akal liciknya saja. Ki Praba tidak pernah menyerahkan semua hadiah yang dijanjikan, termasuk aku yang selalu dipertahankannya. Hatinya senang sekali melihat orang-orang saling bunuh. Dia puas dapat mengadu orang-orang berilmu. Dia gila, Kakang. Dia bukan lagi manusia waras."

"Aku tahu, Rara. Hanya saja yang tidak kumengerti, kenapa baru sekarang ini kau memberontak? Kenapa tidak dari dulu saja?" tanya Bayu.

"Kau pikir mudah keluar dari sangkar emas itu? Ke mana saja aku pergi, selalu diikuti tidak kurang dua puluh orang bersenjata lengkap."
"Lalu, bagaimana caranya bisa keluar tanpa diketahui?" tanya Bayu lagi semakin ingin tahu.

"Dengan bantuan pelayanku. Dialah yang memberi jalan. Aku menyamar menjadi dirinya, memakai pakaiannya, menutupi kepala dan wajahku dengan kerudung. Aku bisa lolos tanpa mendapat hambatan apa pun. Tapi kasihan, pelayan itu mati dipenggal lehernya. Memang hal itu tidak kulihat, tapi semua orang berkata begitu. Dan aku hanya bisa melihat mayatnya yang terpancang dengan kepala terpisah ditiang."

"Hhh...!" Bayu menarik napas panjang dan berat.

"Sekarang kau sudah tahu siapa dan bagaimana diriku sebenarnya. Aku tidak akan marah atau tersinggung kalau kau membenciku. Rasanya tidak ada salahnya jika aku menginginkan seorang laki-laki yang bisa menjadi pelindungku," kata Rara Wanti mengakhiri kisah hidupnya.

"Aku bisa mengerti, Rara," desah Bayu pelan.
"Terima kasih. Hanya kau satu-satunya laki-laki yang bersedia mengerti tentang diriku," ujar Rara Wanti tersenyum tipis.
"Masih ada satu lagi."
"Oh...! Siapa?" Rara Wanti terkejut.
"Awijaya."
"Siapa...?!"

Sepanjang jalan Rara Wanti hanya membisu saja, meskipun Bayu sudah mengatakan semua yang diketahuinya. Juga pertemuannya dengan Nyai Supit pun sudah diceritakannya. Juga semua cerita-cerita perempuan tua itu. Dia tahu tentang Awijaya juga dari perempuan gemuk pemilik kedai dan rumah penginapan itu.
Bayu sendiri tidak bisa menebak, apa yang sedang terjadi dalam diri Rara Wanti saat ini. Yang jelas, sekarang gadis itu hanya diam membisu seperti tidak mendengar semua yang dikatakan Bayu. Ayunan kakinya pelahan, dan kepalanya selalu tertunduk menekuri ujung jari kakinya di jalan setapak berumput kering.

"Bukan maksudku ingin mencampuri semua urusanmu, Rara. Terlebih lagi urusan pribadimu. Aku hanya ingin mengatakan kalau, sebenarnya Awijaya selalu berjuang untuk membebaskanmu dari cengkeraman Ki Praba. Dia sudah tahu semua tentang dirimu, bahkan bertekad untuk mencari ibumu. Selama tiga tahun ini diperdalam kepandaiannya untuk menghadapi ayah angkatmu, dan membawamu pergi," kata Bayu berusaha menyakinkan hati Rara Wanti.

"Kenapa kau katakan semua itu, Kakang?" tanya Rara Wanti seraya mengangkat kepalanya, menatap jauh ke depan.
"Karena aku mengagumimu. Pokoknya aku tidak ingin kau merusak kekagumanku dengan bersikap masa bodoh seperti itu," sahut Bayu mantap.

'Bukan karena kau iba padaku, Kakang?"

"Tidak! Aku tahu kau tidak suka dikasihani. Dan lagi aku memang tidak pernah kasihan terhadap penderitaanmu selama ini. Sama sekali tidak! Justru aku kagum akan ketabahanmu"

Rara Wanti menghentikan langkahnya. Diputar tubuhnya menghadap Pendekar Pulau Neraka. Ditatapnya dalam-dalam wajah tampan di depannya, seakan-akan hendak mencari sesuatu pada sorot mata yang selalu tajam itu.

"Kau berkata yang sebenarnya, Kakang?" pelan suara Rara Wanti.
'Tentu," sahut Bayu mantap.
"Sungguh? " Bayu mengangguk pasti. "Oh, Kakang...."

Bayu jadi gelagapan begitu tiba-tiba Rara Wanti memeluknya erat-erat. Ragu-ragu Bayu membalas pelukan itu. Entah kenapa, mendadak saja dirasakan dadanya jadi longgar. Hatinya terasa lapang, bagai tersiram setetes air yang begitu menyejukkan. Tapi, semua yang dirasakan itu hanya sesaat, karena tiba tiba saja terdengar suara bentakan keras mengejutkan! "

Rara...! Keparat..!"

Rara Wanti langsung melepaskan pelukannya, lalu berbalik ke arah datangnya suara bentakan tadi Tampak di situ berdiri seorang pemuda berwajah penuh luka dan berewokan. Bajunya merah muda dengan sebilah pedang tergantung di pinggangnya. Bayu juga mengarahkan pandangannya ke sana, dan langsung mengenali pemuda itu.

"Kakang Awijaya...," desis Rara Wanti bergetar.

Rara Wanti jadi serba salah. Sebentar ditatapnya Awijaya, dan sebentar beralih pada Pendekar Pulau Neraka. Entah kenapa, tiba-tiba. Sudah jelas kalau pemuda itu tadi melihatnya tengah berpelukan.

"Kakang, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rara Wanti memecah kebisuan yang terjadi beberapa saat lamanya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu pada mu, Rara!" dingin nada suara Awijaya.
"Aku... aku tidak melakukan apa-apa," bergetar dan tergagap kata-kata Rara Wanti.
"Kau pikir mataku buta! Aku belum buta, Rara Aku belum tuli! Aku tahu semua yang kau lakukan bersama keparat penculik itu!" Awijaya menuding Pendekar Pulau Neraka.

"Kau salah sangka. Aku tidak menculik Rara Wanti, Kisanak," sergah Bayu berusaha tenang. "Diam! Aku tidak bicara denganmu!" bentak Awijaya kasar.
Bayu langsung diam, tapi tatapan matanya tajam menusuk.
"Sabar, Kakang. Akan kujelaskan semuanya padamu," kata Rara Wanti buru-buru.

"Tida ada yang perlu dijelaskan lagi, Rara. Menyesal aku bersusah payah, jauh-jauh datang ke sini untuk menerima kekecewaan. Seharusnya aku tahu, kalau kau memang bukan seorang gadis.... Ah! Keparat kau, Rara!" geram Awijaya.

"Kakang...!" sentak Rara Wanti memerah wajahnya.

Rara Wanti yang sudah mulai menyadari kekeliruannya tadi, dan mencoba untuk bersikap sabar dan lunak, menjadi berang mendapat perkataan kasar itu. Wajahnya merah padam, gerahamnya bergemelutuk menahan amarah. Tapi gadis itu masih berusaha untuk tetap tenang. Semua kata-kata dan nasehat Pendekar Pulau Neraka sudah merasuk dalam hatinya. Yang jelas, dia ingin menjadi seorang wanita yang tabah, tenang, dan berpikiran luas.

"Minggir kau Rara! Aku sudah bersumpah untuk memenggal siapa saja yang berada di belakangmu Termasuk kau, Pendekar Pulau Neraka keparat!" keras dan lantang suara Awijaya.

Setelah berkata demikian, Awijaya langsung melompat secepat anak panah terlepas dari busurnya! Tangan kirinya mendorong tubuh Rara Wanti, sedangkan tangan kanannya melepaskan pukulan keras bertenaga dalam tinggi ke arah Pendekar Pulau Neraka

"Ah...!" Rara Wanti terperanjat tubuhnya terdorong sejauh tiga batang tombak ke belakang. Pada saat yang sama, Bayu Hanggara terkesiap. Kelihatannya sulit untuk menghindari terjangan yang cepat dan tidak terduga itu. Pukulan yang keras bertenaga dalam tinggi telak menghantam dadanya.
"Akh!" Bayu memekik tertahan. Tubuhnya terlontar cukup jauh.

Tiga batang pohon kontan tumbang terlanda tubuh Pendekar Pulau Neraka itu. Namun dengan cepat Bayu melompat bangkit berdiri. Bibirnya meringis merasakan nyeri pada tulang-tulang rongga dadanya Tampak dari sudut bibirnya mengalir darah kental. Bayu menggerak-gerakkan tangannya di depan dada untuk menyalurkan hawa murni agar rasa nyeri yang menyesakkan dadanya terusir.

"Hiyaaat...!"

Sambil berteriak keras, Awijaya sudah kembali menerjang selagi Bayu berusaha memulihkan kondisi tubuhnya. Meskipun rasa nyeri masih menghinggapi dadanya, tapi Bayu cepat-cepat berkelit. Dibanting tubuhnya ke tanah dan bergulingan beberapa kail Bergegas Pendekar Pulau Neraka itu bangkit berdiri, langsung bersiap menghadapi serangan berikutnya.

Dan memang, Awijaya begitu cepat berbalik. Bahkan kini langsung menyerang kembali dengan dahsyatnya. Setiap lontaran pukulannya mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi dan sangat berbahaya. Bayu harus sedikit berhati-hati. Sudah dirasakan betapa hebatnya tenaga dalam yang dimiliki Awijaya, meskipun masih kalah jauh bila dibandingkan dengannya. Kalau saja pukulan tadi mengenai orang yang berkepandaian setingkat Awijaya, pati sudah tidak bisa bangun lagi. Tapi untuk Pendekar Pulau Neraka, pukulan itu hanya mengakibatkan nyeri dan sesak sebentar. Karena, secara naluriah tenaga dalam dan hawa murni Pendekar Pulau Neraka langsung bekerja begitu menerima hentakan tenaga dalam dari luar tubuh. Meskipun tidak secara penuh kerjanya, tapi itu sudah membantu menjaga perlindungan diri.

Pertarungan terus berlanjut semakin sengit. Namun dapat dilihat kalau Pendekar Pulau Neraka hanya berkelit tidak membalas sama sekali. Sementara di tempat lain, tampak Rara Wanti menyaksikan disertai perasaan cemas. Dia tidak menginginkan salah satu dari kedua pemuda itu ada yang cedera.

***
TUJUH

"Hup! Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Awijaya menghentakkan kedua tangannya ke depan sambil berteriak keras menggelegar. Tampak kedua telapak tangan pemuda berbaju merah muda itu berwarna merah membara bagai terbakar.

"Hap!"

Secepat kilat Bayu menyatukan tangannya dalam jarinya terkepal rapat. Semua tangannya menyatu rapat, sehingga kedua siku bertemu, ditekuk ke atas di depan mukanya. Kedua kakinya terpentang lebar agak tertekuk. Kini dinantikan serangan Awijaya yang sudah meluncur deras dengan kedua tangan terbuka lebar ke depan.

"Yeaaah...!"
"Hiyaaa...!"
鈥淕larrr...!"

Ledakan keras menggelegar terjadi begitu telapak tangan Awijaya membentur kedua tangan Pendekar Pulau Neraka yang menyatu rapat di depan mukanya. Tampak tubuh Awijaya terpental jauh hingga lima batang tombak. Dua pohon dan sebongkah batu besar hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya.

Sementara itu Bayu masih tetap pada tempatnya, tidak bergeming sedikit pun. Pelahan-lahan diturunkan tangannya, dan dirapatkan kakinya kembali. Matanya lurus menatap Awijaya yang masih menggeletak di atas reruntuhan bebatuan yang hancur terlanda tubuhnya.

"Kakang...!" jerit Rara Wanti langsung menghambur menghampiri Awijaya.
"Oh, Hughk...!"
Awijaya mengeluh pendek, kemudian berdahak memuntahkan darah kental. Rara Wanti menghambur menubruk dan memeluk tubuh pemuda itu. Diangkat dan disandarkan tubuh pemuda itu ke tubuhnya. Darah di mulut Awijaya dihapus dengan jari-jarinya yang lentik dan halus. Sementara Bayu hanya memandangi saja, lalu pelahan-lahan melangkah menghampiri.

"Kakang...," rintih Rara Wanti lirih.

Bagaimanapun bencinya gadis itu pada Awijaya yang telah dianggap mengecewa kan dirinya, tapi benih cinta masih juga tertinggal di dalam hatinya. Tanpa dapat dicegah lagi, Rara Wanti menitikkan air mata melihat keadaan Awijaya yang begitu lemah. Napasnya tersengal pelahan, dan sinar matanya redup. Hampir tidak bercahaya. Diangkat kepalanya, dan ditatapnya wajah cantik yang sudah dipenuhi air mata itu. Sementara Bayu sudah berlutut di depan Rara Wanti.

"Rara...," lemah suara Awijaya.

"Oh.... Kenapa kau lakukan itu, Kakang? Aku mencintaimu, dan selalu mengharapkan dirimu. Seharusnya kau dengarkan semua penjelasanku dulu," ratap Rara Wanti menyesali.

"Maafkan aku, Rara. Aku.... Hoekh...!"
"Kakang...!"

Rara Wanti menjerit, mengguncang-guncangkan tubuh Awijaya yang sudah diam dengan kepala terkulai setelah memuntahkan darah kental. Bayu segera meletakkan jari tangannya di leher dekat rahang pemuda berbaju merah muda itu.

"Hanya pingsan," ujar Bayu pelan.
"Oh, Kakang...," rintih Rara Wanti memeluk dan menciumi wajah Awijaya disertai linangan air mata seperti tanggul jebol. "Sudah, Rara. Biarkan dia berbaring. Aku akan menyadarkannya," bujuk Bayu lembut.
"Tolong sembuhkan, aku mencintainya. Jangan biarkan dia mati...," rintih Rara Wanti seraya menatap Bayu.
"Tenanglah. Akan kucoba menyembuhkannya," sahut Bayu.

Rara Wanti melepaskan pelukannya pada tubuh yang diam tak bergerak-gerak lagi Bayu mengangkatnya, dan memindahkannya ketempat yang teduh dan cukup nyaman. Dibaringkan Awijaya di bawah pohon beringin. Sebentar jari-jari tangannya bergerak lincah menotok beberapa bagian jalan darah di tubuh pemuda berbaju merah muda itu.

Selagi Pendekar Pulau Neraka mencoba menyadarkan dan menyembuhkan luka dalam Awijaya, Rara Wanti hanya duduk memandangi. Disusut air matanya dengan ujung bajunya. Sesekali masih terdengar suara isaknya yang tertahan. Agak lama juga Bayu menyadarkan Awijaya dari ketidaksadarannya. Dan setelah Awijaya membuka matanya, baru Pendekar Pulau Neraka itu mencoba menyembuhkan luka dalam pmuda itu.

"Hoehk...!" lagi-lagi Awijaya memuntahkan darah kental, dan kali ini berwarna kehitaman.

Dua kali Awijaya memuntahkan darah kental. Dan pada muntahan yang ketiga, kembali jatuh pingsan. Bayu menyadarkan kembali dengan memberikan rangsangan pada urat-urat syarafnya. Awijaya kembali sadar, belum bisa bergerak. Hanya matanya saja yang redup memandangi wajah Rara Wanti dan Bayu secara bergantian. Sedikit pun tak terucap kata, meskipun bibirnya bergetar.

"Kakang...," lirih suara Rara Wanti. Gadis itu menyeka darah yang masih melekat di sekitar bibir Awijaya. Rara Wanti berusaha tersenyum, meskipun terasa hambar dan bergetar. Pelahan-lahan tangan Awijaya terangkat, dan membelai pipi gadis itu.
"Oh...," Rara Wanti mendesah lirih. Gadis itu mendekati tangan itu dan menciuminya. Pelahan sekali Awijaya tersenyum. Matanya sebentar terpejam, kemudian kembali terbuka. Langsung ditatapnya Bayu yang duduk bersila di samping kanannya! Pendekar Pulau Neraka itu tersenyum dan menepuk punggung tangan Awijaya.

"Bersemadilah dengan berbaring," ujar Bayu lembut.

Awijaya tidak menyahuti, namun sinar matanya begitu banyak menyiratkan kata-kata. Bayu beranjak! bangkit berdiri dan melangkah menjauh, sengaja memberi kesempatan pada Rara Wanti untuk berdua saja dengan kekasihnya.

***

Suatu suara mendesing membangunkan Bayu dari semadinya Pendekar Pulau Neraka itu menarik kepalanya ke belakang, maka sebatang ranting kering melesat cepat didepan mukanya. Belum lagi Bayu menarik pulang kepalanya, tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh.

"He he he...!"

Bayu kontan melompat berdiri. Sempat diliriknya ke arah Awijaya yang sudah bisa duduk bersemadi di dampingi Rara Wanti. Gadis itu juga tampak terkejut, dan menatap Pendekar Pulau Neraka. Suara tawa terkekeh masih juga terdengar menggema, seakan-akan datang dari segala penjuru.

"Hm...," Bayu menggumam pelahan.

Pendekar Pulau Neraka itu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Rara Wanti jangan bergerak. Gadis itu tidak jadi bangkit. Sebentar ditatapnya Awijaya yang masih saja duduk bersemadi sambil memejamkan mata. Raut wajah pemuda itu sudah kelihatan segar kembali, dan napasnya pun sudah teratur baik. Rara Wanti kembali mengarahkan pandangannya pada Pendekar Pulau Neraka. Seketika dia terkejut, karena tahu-tahu di depan Bayu sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh gemuk bulat pendek bagai bola. Kepalanya kecil gundul. Dia mengenakan jubah berwarna biru gelap yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Rara Wanti kenal betul orang bulat seperti bola itu Dia adalah Kebo Ireng. Kulitnya memang hitam hangus seperti kayu terbakar jadi arang.

"Sungguh beruntung kau bisa memboyong Rara Wanti, anak muda," ucap Kebo Ireng disertai tawanya yang terkekeh.
"Hm...," Bayu hanya menggumam tidak jelas.
'Tapi sayang, gadis itu sudah jadi milikku. Akulah yang pertama kali memenangkannya jauh sebelummu, anak muda," lanjut Kebo Ireng.

"Rara Wanti bukan milikku, juga bukan milikmu. Dia sudah punya calon suami!" tegas Bayu.
"He he he...! Siapa pun calon suaminya, harus berhadapan denganku dulu. Dia sudah dipertaruhkan, dan akulah pemenangnya!" sambut Kebo Ireng.

Merah padam wajah Rara Wanti. Kata-kata Kebo Ireng sungguh merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita. Kalau saja Bayu tidak cepat-cepat memberi isyarat, pasti Rara Wanti sudah melompat menerjang laki-laki gemuk bulat dan pendek bagai bola itu.

"Kisanak, calon suami Rara Wanti sedang sakit. Jika tidak keberatan, aku akan mewakilinya," kata Bayu tegas.
"He he he.... Kau terlalu muda untuk menandingiku, bocah," Kebo Ireng meremehkan.
"Dan kau terlalu jelek untuk Rara Wanti!" balas Bayu dingin.
"He he he.... Berani juga umbar bacot di depanku, bocah!" agak memerah wajah Kebo Ireng.
"Mengapa tidak? Memecahkan kepala mu yang gundul saja aku berani!" tantang Bayu.
"Edaan.. phuih!" Kebo Ireng menyemburkan ludahnya.
"Bagaimana? Kau berani menghadapiku. Kalau tidak, lebih baik angkat kaki saja sebelum kugantung," Bayu memanasi.
"Bocah edan!" dengus Kebo Ireng menggeram. "Terima ini!

Hiyaaat..!"

Kebo Ireng langsung mengebutkan tangan kanannya kedepan. Seketika dari balik lengan bajunya, meluncur beberapa benda kecil berwarna hitam pekat.

"Hait...!"

Bayu segera memiringkan tubuhnya ke samping, dan menariknya ke belakang. Lalu cepat diangkat tangan kanannya ke atas, sejajar kepala.

Slap! Slap...!

Kebo Ireng membeliak melihat jarum-jarum hitamnya menempel pada Cakra yang berada di pergelangan tangan kanan pemuda itu. Dan belum lagi hilang dari keterkejutannya, mendadak saja Bayu mengibaskan tangan kanannya.

"Nih, kukembalikan barangmu!"
Wut!
"Hup...!"

Kebo Ireng berlompatan menghindari jarum-jarumnya sendiri yang berbalik arah menyerangnya. Senjata-senjata kecil hitam pekat itu meluncur deras bagai kilat, melewati tubuh gemuk cebol yang berjumpalitan menghindarinya. Dan begitu kakinya menjejak tanah, Bayu sudah melompat cepat sambil melepaskan pukulan keras bertenaga dalam sempurna.

"Kadal! Hih...!"
Tidak ada pilihan lain lagi bagi Kebo Ireng. Segera diangkat tangannya untuk menerima pukulan Pendekar Pulau Neraka itu. Tak dapat dihindari lagi, dua tangan beradu keras sehingga menimbulkan ledakan keras menggelagar.

"Akh...!" Kebo Ireng memekik tertahan.

Tubuh yang gemuk cebol seperti bola itu terpental sejauh satu batang tombak. Sedangkan Bayu mendarat di bekas tempat Kebo Ireng berdiri tadi. Pendekar Pulau Neraka itu melipat tangannya di depan dada.

"Bagaimana, Cebol?" ejek Bayu disertai senyuman sinis.

"Huh!" Kebo Ireng mendengus berat Sebentar digerak-gerakkan tangannya di depan dada. Kemudian sambil berteriak keras, Kebo Ireng melompat menyerang Pendekar Pulau Neraka. Kali ini laki-laki gemuk pendek itu tidak lagi memandang enteng pada anak muda lawannya ini. Pertarungannya kini pun memperguna kan jurus-jurus yang aneh, tapi sangat dahsyat dan mengandung tenaga dalam tinggi. Namun Pendekar Pulau Neraka hanya melayaninya dengan tenang.

Beberapa kali serangan balik Bayu Hanggara membuat Kebo Ireng harus berjumpalitan dan bergelimpangan di tanah untuk menghindarinya. Bahkan tidak jarang dia memekik keras menerima pukulan atau tendangan yang keras bertenaga dalam tinggi. Walaupun Bayu mengerahkan tenaga dalamnya tidak penuh tapi sudah membuat Kebo Ireng kerepotan setengah mati

Jurus demi jurus dilalui cepat. Dan Kebo Ireng menyadari kalau tidak mungkin dapat mengungguli pemuda itu. Hingga pada satu kesempatan, laki-laki bulat pendek itu melompat mundur. Tampak seluruh wajahnya memerah bersimbah keringat. Napasnya mendengus-dengus bagai kuda baru saja habis dipacu cepat.
"Kenapa berhenti?" tegur Bayu diiringi senyum lebar. Dilipat tangannya di depan dada.
"Anak muda, siapa namamu?" Kebo Ireng malah balik bertanya.
"Bayu. Tapi aku lebih dikenal dengan nama Pendekar Pulau Neraka," sahut Bayu kalem.

"Pendekar Pulau Neraka...!" sentak Kebo Ireng membeliak matanya.
"Kenapa? Kau seperti melihat hantu saja."
"Kisanak, sebaiknya persoalan ini dilupakan saja. Aku mohon diri," ujar Kebo Ireng seraya membungkukkan badannya.
Bayu jadi keheranan, tapi membalas juga penghormatan Kebo Ireng dengan membungkuk sedikit.
"Tunggu...!" cegah Bayu begitu Kebo Ireng berbalik.

Laki-laki cebol seperti bola itu memutar tubuhnya kembali.
"Rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Kisanak. Akan kukatakan pada yang lain untuk tidak mengganggu Rara Wanti lagi. Aku mengaku kalah, dan berjanji akan menghadapi siapa saja yang mencoba mengganggu Rara Wanti. Saat itu juga dia menjadi anak angkatku," jelas Kebo Ireng tegas sebelum Bayu mengucapkan sesuatu.

Dan belum juga Bayu membuka suaranya, laki-laki gemuk cebol itu sudah melesat cepat. Begitu cepatnya, tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata., Bayu menarik napas panjang, lalu menoleh begitu mendengar suara langkah kaki menghampiri. Tampak Rara Wanti berjalan tergesa-gesa mendekati.

"Jangan katakan apa-apa. Kau sudah dengar semua kata-katanya tadi," kata Bayu mendahului. "Tapi bukan hanya dia yang berusaha merebutku, Kakang," ada nada kecemasan dalam suara Rara Wanti.
"Mudah-mudahan saja janjinya ditepati," kata Bayu.

"Aku tidak percaya, Kakang. Bisa saja dia gentar begitu mengetahui nama mu, tapi akan datang lagi untuk merebutku setelah kau tidak ada. Dia itu licik dan kejam, Kakang."
"Janji seorang tokoh persilatan harus dipegang kuat. Dia tidak akan mendapatkan tempat dalam dunia persilatan jika melanggar janjinya sendiri. Aku percaya dengan kata-katanya tadi."

"Kalau ingkar janji, bagaimana?"
"Aku yakin, Awijaya akan melindungimu," sahut Bayu.
"Tentu...!" tiba-tiba ada suara dari arah belakang.
"Kakang...!" desis Rara Wanti.

****
Rara Wanti bergegas menghampiri Awijaya yang sudah selesai bersemadi, tapi masih tetap duduk bersila. Bayu juga melangkah menghampiri, dan duduk bersila di depannya. Sedangkan Rara Wanti berada di sisi Awijaya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bayu.
'Terima kasih," ucap Awijaya. "Aku merasa malu pada diriku sendiri."
"Ah, sudahlah. Anggap saja itu hanya kejadian kecil," desah Bayu.
"Tapi sangat berharga bagiku. Merupakan satu pelajaran yang tidak pernah kulupakan."

Bayu tersenyum meringis. Entah kenapa, dirasakan ada kelainan pada dirinya. Di sini, dia rasanya benar-benar seorang pendekar. Tidak tega rasanya menjatuhkan tangan kejam pada lawan. Bahkan selalu saja bisa ditahan kesabarannya, meskipun darah sudah menggelegak mendidih. Mungkin juga karena dirinya sudah banyak menerima pelajaran dari beberapa tokoh golongan putih yang sempat ditemui, sehingga membentuk pribadi baru dalam dirinya. Atau mungkin juga karena pengaruh Rara Wanti. Entahlah! Yang jelas Bayu merasa adanya keganjilan pada dirinya saat ini. Ya..., sejak bertemu Rara Wanti tiga bulan yang lalu.

"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Bayu.

Awijaya tidak langsung menjawab. Demikian pula Rara Wanti. Mereka malah saling berpandangan, dan masing-masing melemparkan senyuman. Kemudian sama-sama berpaling menatap Pendekar Pulau Neraka. Bayu merasakan adanya siratan lain dari tatapan mata Rara Wanti, tapi sulit untuk mengartikannya.

"Mungkin aku akan berkelana mencari ibu kandung Rara Wanti Setelah itu, terserah dia sendiri," kata Awijaya seraya melirik gadis disampingnya.

"Kok, terserah aku sih...?" Rara Wanti merasa tidak enak.

Mereka tertawa lepas bergerai. Dan memang baru hari ini bisa tertawa begitu lepas, setelah menghadapi berbagai macam peristiwa yang membuat otak terasa kaku, dan otot mengejang. Mereka kemudian mengisi dengan pembicaraan ringan. Sesekali terdengar tawa kalau ada hal-hal yang lucu. Sementara hari terus merambat semakin tinggi. Dan siang pun berlalu, berganti senja. Suasana mulai meremang. Sebentar lagi malam akan datang menjelang.

"Rara, bagaimana dengan ayah angkatmu?" tanya Bayu tiba-tiba

Rara Wanti tidak langsung menjawab, tapi malah menatap Awijaya yang juga menatapnya.
"Maaf, bukannya hendak mencampuri urusan pribadi kalian berdua. Masalahnya aku banyak mendengar tentang Ki Praba. Dan rasanya tidak mungkin membiarkan kalian berdua menghadapinya. Menghindar pun rasanya tidak akan membuat tenang. Ki Praba pasti akan mencari kalian sampai kapan pun. Terlebih lagi kau sudah membakar tempat tinggalnya, Awijaya," kata Bayu.

Awijaya memang sudah menceritakan semua peristiwa yang dialami. Juga dikabarkannya tentang kematian Nyai Supit. Meskipun malam itu gelap, tapi masih sempat melihat dan mengenali Jantar. Dia memang salah seorang yang keluar cepat dari kamar Nyai Supit Hanya dua orang, dan yang pasti seorang lagi adalah Ki Praba.

Dan belum sempat ada yang membuka suara lagi, tiba-tiba mereka dikejutkan suara langkah dahsyat menggelegar. Bumi rasanya berguncang hebat. Ketiga anak muda itu langsung melompat bangkit Belum lagi hilang rasa terkejut, mereka kembali dikejutkan oleh munculnya puluhan anak panah dari segala penjuru.

"Awas panah...!" seru Bayu keras.

Ketiga anak muda itu berlompatan. Awijaya serta Rara Wanti langsung mencabut pedangnya. Sedangkan Bayu hanya mengandalkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh saja menghindari hujan panah itu. Hanya sebentar memang hujan panah itu, tapi cukup membuat repot juga. Mereka berdiri saling beradu punggung.

"Jangan berpisah dariku," bisik Bayu.
"Baik,' sahut Rara Wanti dan Awijaya berbarengan.

Bayu segera menggerak-gerakkan tangannya, lalu kakinya dibuka agar terpentang lebar sedikit tertekuk. Kemudian, dihentakkan tangannya ke samping lebar-lebar. Tiba-tiba saja bertiup angin kencang, yang semakin lama semakin dahsyat. Pohon-pohon mulai tercabut dan beterbangan. Batu-batu terangkat ke udara. Di antara deru angin topan yang dahsyat itu, terdengar suara jeritan melengking saling sahut Disusul beterbangannya tubuh-tubuh manusia.

Cukup lama juga Bayu mengerahkan ajiannya yang tidak pernah digunakan sebelumnya. Aji 'Badai Dewa Murka', adalah ajian yang sangat dahsyat sehingga bisa menimbulkan badai. Tapi, di sekitar Pendekar Pulau Neraka itu berdiri, tidak terasa adanya angin berhembus. Bahkan Rara Wanti dan Awijaya jadi keheranan sendiri. Tapi mereka tidak berani bergerak, karena sudah dipesan sebelumnya.

"Hop!"

Bayu merapatkan tangannya di depan dada, maka seketika itu juga badai topan berhenti. Sungguh dahsyat luar biasa akibat Aji 'Badai Dewa Murka' itu. Sekitar tempat itu jadi berantakan tidak karuan. Pohon-pohon besar kecil bertumbangan. Batu-batu berpindah tempat. Bahkan terlihat mayat-mayat bergelimpangan dalam segala bentuk. Kebanyakan mereka tertimpa pohon dan bebatuan. Semua orang yang menyerang secara gelap itu mari terhantam Aji 'Bada Dewa Murka'.

"Hhh...! Mereka tukang pukul Ayah," desah Wanti bergumam pelan. Begitu pelannya hampir tidak terdengar.
"Itu berarti dia memang benar-benar ingin memenggal kepala mu, Rara," kata Awijaya.
"Hhh...!" Rara Wanti menarik napas panjang.
"Kudengar, Ki Praba menyediakan seribu keping uang emas dan dirimu sendiri sebagai hadian jika ada yang berhasil membawa mu kepadanya," lanjut Awijaya.

"Hebat...!" desis Bayu bernada sinis.
"Dia memang gila!" dengus Rara Wanti. "Kalau saja aku mampu, sudah kubunuh dari dulu!"
"Selama Ki Praba masih hidup, ke mana pun kita pergi, tidak akan dapat tenang. Memang benar kata mu, Bayu. Apa pun yang terjadi, harus kuhadapi! Meskipun nyawa taruhannya!" tegas Awijaya mantap.

"Harus ada cara untuk menghadapinya," gumam Bayu perlahan, seperti untuk dirinya sendiri.
"Benar! Kau punya rencana, Bayu?" sambut Awijaya.

Bayu terdiam beberapa saat. Dipandangi Awijaya dalam-dalam. Sementara Rara Wanti hanya diam saja memperhatikan. Agak lama juga Bayu hanya berdiam sambil terus menatap dalam-dalam Awijaya. Sepertinya sedang mencari sesuatu dalam tatarannya itu.

"Kau tahu di mana Ki Praba sekarang berada, Awijaya?" tanyanya Bayu.
"Dia pasti ada di Desa Pekacangan, di rumah Paman Praraga," celetuk Rara Wanti.
"Temui dia. Katakan kalau kau tahu di mana Rara Wanti berada. Lalu, bawa dia ke puncak Bukit Sidayu. Aku dan Rara Wanti akan menunggu di sana," ujar Bayu mengemukakan rencananya.
"Mustahil! Ki Praba sudah mengenaliku!" dengus! Awijaya.
"Itu lebih bagus lagi!" seru Bayu gembira.
"Apanya yang bagus? Begitu aku muncul, dia pasti sudah lebih dulu menyerang!"
"Tidak! Asal saja kau berikan alasan yang kuat."
"Bagaimana caranya?" tanya Awijaya.

"Katakan kalau kau sudah bertemu Rara Wanti, dan akan mengajaknya pergi. Tapi Rara Wanti membangkang, dan kau sempat bertarung denganku. Katakan saja kalau aku menantangnya di Puncak Bukit Sidayu. Aku yakin, dia pasti datang," Bayu mengemukakan rencananya.

"Lalu?" tanya Awijaya lagi.
"Dia pasti percaya kata-katamu, asal kau bisa bermimik marah dan sakit hati. Wajahmu yang babak belur itu, sudah cukup memberi alasan kuat."

Awijaya meraba mukanya yang memang membiru pada bagian mata kiri. Bibirnya yang pecah pun masih terasa nyeri. Belum lagi pakaiannya kotor dan agak koyak.

"Di samping itu, mintalah hadiahnya yang seribu keping uang emas. Dengan hadiah itu kalian bisa hidup tenang dan bisa mencari ibu kandungmu, Rara," lanjut Bayu.
"Ki Praba pasti tidak bakal menyediakan hadiah itu. Apalagi memberikannya padaku!" ujar Awijaya yakin.

"Aku yakin pasti dia setuju. Bagaimana caranya, itu terserah padamu sendiri," sahut Bayu.
"Baiklah, kapan aku mulai?"
"Sekarang juga!"

***
SEMBILAN

Bayu berdiri tegak di tengah-tengah Puncak Bukit Sidayu. Di sampingnya Rara Wanti kelihatan gelisah. Sebentar-sebentar dilayangkan pandangannya ke arah kaki bukit. Dari situ memang terlihat jelas sungai yang mengalir menuju Desa Pekacangan. Dari sanalah nanti Awijaya datang bersama Ki Praba.

"Kok lama, ya...?" gumam Rara Wanti semakin gelisah, karena tidak melihat tanda-tanda Awijaya bakal muncul.
"Sabar.... Dia pasti datang," kata Bayu menenangkan.
"Kalau gagal?"
"Aku yakin tidak."

Rara Wanti menatap dalam-dalam Pendekar Pulau Neraka itu. Pada saat yang sama, Bayu juga memalingkan mukanya menatap gadis itu. Sesaat mereka tidak berbicara, dan hanya saling tatap saja. Pelahan Rara Wanti mendekat, lalu melingkarkan tangannya ke leher Bayu. Tubuh mereka merapat. Tak ada jarak lagi yang merenggang. Wajah mereka begitu dekat, sehingga terasa hangat desah napas masing-masing.

"Kakang, sebenarnya aku lebih suka bersama mu. Kau lebih segala-galanya daripada Kakang Awijaya," kata Rara Wanti pelan.

"Awijaya orang yang bertanggung jawab, Rara. Aku yakin, kau akan hidup bahagia di sampingnya."
"Hhh...! Seandainya ada waktu...," desah Rara Wanti.

"Jangan ulangi lagi, Rara. Padaku, atau pada siapa saja. Kau akan menyesal nanti. Hargailah dirimu sendiri," ujar Bayu seraya melepaskan pelukan gadis itu di lehernya.

"Hanya Kakang Awijaya dan kau saja yang bisa menjamahku, Kakang. Aku janji. Kapan saja kau datang, aku selalu menyediakan waktu untukmu, Kakang. Ini hanya untuk kita berdua."

Bayu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa? Aku mencintaimu, Kakang. Aku menyukaimu. Meskipun sekarang ada Kakang Awijaya, tapi aku tetap mencintaimu. Separuh hatiku milikmu, Kakang."
"Aku harap pikiranmu bisa berubah kelak," desah Bayu setengah bergumam.

Pendekar Pulau Neraka itu melangkah mundur. Tapi tiba-tiba Rara Wanti menarik tangan pemuda itu, dan memeluknya erat-erat. Bayu jadi gelagapan, karena cepat sekali Rara Wanti sudah mengulum bibirnya penuh gairah yang menggelora.

"Rara...," kata Bayu begitu bibirnya terlepas dari pagutan gadis itu. Tapi pelukan Rara Wanti masih sulit dilepaskan.

"Kakang Awijaya tidak akan datang malam ini, Kakang. Bersediakah kau memberiku untuk yang terakhir, Kakang?" bujuk Rara Wanti sambil mendesah.

"Jangan sekarang," Bayu benar-benar kewalahan menghadapi gadis itu. Harus dicarinya jalan agar benar-benar terlepas dari lingkaran jerat asmara Rara Wanti.
"Kapan?"
"Nanti, kalau semuanya sudah tenang,"
"Kau rela menyediakan waktu untukku, Kakang?"
"Tentu, kalau sudah tenang nanti." "Sungguh?"

Bayu terpaksa mengangguk. Untuk meyakinkan Rara Wanti, dikecupnya bibir gadis itu. Rara Wanti tersenyum senang. Wajahnya kembali cerah, dan melepaskan pelukannya pelahan-lahan. Bayu tersenyum getir, kemudian melayangkan pandangannya ke arah kaki bukit yang dialiri sungai kecil jernih menuju ke Desa Pekacangan.
Sementara malam semakin bertambah larut. Pantulan cahaya bulan pada riak air sungai bagai untaian mutiara memanjang membelah hutan yang cukup lebat Sungguh indah pemandangan dari puncak bukit ini. Dan Bayu menikmati keindahan itu dengan benak dipenuhi berbagai pikiran. Ada sedikit kecemasan karena Awijaya belum juga kembali. Sementara Rara Wanti sudah tidak gelisah lagi. Hatinya merasa tenang meskipun Awijaya tidak akan kembali lagi. Apalagi setelah mendengar janji yang diucapkan Bayu tadi.

***

Semalaman penuh Bayu tidak memejamkan matanya. Sedangkan Rara Wanti sempat tidur, meskipun hanya sebentar saja. Pagi telah menyingsing, dan sinar matahari telah menghangatkan Puncak Bukit Sidayu ini. Saat berdiri tegak sepanjang malam, tadi, Bayu menyempatkan untuk bersemadi dan melatih pengembangan hawa mumi. Meskipun tidak tidur, tapi rasanya sudah cukup. Bahkan berlebihan dalam menjaga kondisi tubuhnya.

"Hm...," Bayu menggumam kecil ketika pandangannya menangkap ada gerakan halus di bawah sana. Pendekar Pulau Neraka itu menajamkan penglihatannya. Tampak gerakan itu menuju puncak bukit ini. Begitu halus dan cepat, hampir tidak terlihat.

Semakin lama gerakan itu semakin terlihat jelas. Bayu tersenyum ketika melihat tiga orang bergerak mendaki bukit. Dia hanya melirik sedikit saat menyadari Rara Wanti berdiri disampingnya. Gadis itu juga sudah tahu kedatangan tiga orang yang kini tengah mendaki bukit.

"Mereka datang, Kakang," bisik Rara Wanti.
"Aku tahu. Biarkan saja sampai ke sini," sahut Bayu.

Tidak beberapa lama, tiga orang yang dilihatnya mendaki bukit telah tiba di puncak. Tampak Awijaya berada di antara mereka. Pemuda itu langsung berjalan cepat menghampiri Rara Wanti yang berdiri di samping Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan dua orang lagi tidak lain dari Ki Praba dan Jantar. Jelas sekali wajah Ki Praba memancarkan keberangan melihat Rara Wanti tampak segar bersama seorang pemuda berbaju dari kulit harimau.

"Heh.... Kau rupanya yang membawa lari, anak muda," ujar Ki Praba sinis.
"Tidak salah. Tapi sekarang dia senang bersamaku," sahut Bayu kalem, namun bernada tegas.
"Bagus! Itu berarti kalian semua harus mati di sini!" dengus Ki Praba.
"Begitu mudah mengucapkan kata mati, tapi sukar melakukannya. Aku khawatir malah kau yang dulu terbang ke neraka, Ki Praba," sambut Bayu memanasi.
"Ha ha ha...!" Ki Praba tertawa terbahak-bahak.
'Tertawalah sepuasnya sebelum terbang ke neraka!"
"Jantar!" Ki Praba menghentakkan tangannya.

"Hait...!" Jantar langsung melompat ke depan, membuka jurus serangan. Bayu hanya tersenyum saja memperhatikan Jantar yang berpentilan membuka ke mbangan jurus penyerangan. Dan tiba-tiba saja Jantar melompat cepat dibarengi lontaran dua buah pisau kecil yang sangat tipis.

Pendekar Pulau Neraka yang sudah menyadari sebelumnya, segera mengegoskan tubuhnya ke samping. Ditarik kakinya bergeser dua tindak. Cerat sekali digerakkan tangan, dan ditangkap dua pisau yang dilepaskan Jantar. Secepat itu pula dia melompat ke atas melewati kepala Jantar yang meluruk memberikan serangan cepat.

Jantar terkejut, karena dua pukulannya hanya mengenai angin saja. Dan belum lagi hilang keterkejutannya, tiba-tiba saja dia terpekik Tubuhnya langsung tersuruk jatuh ke depan mencium tanah. Satu pukulan keras tanpa pengerahan tenaga dalam dilepaskan Bayu pada punggung pemuda itu.

"Huh!" Jantar mendengus, langsung bergegas melompat bangkit berdiri.
"Kau perlu pisaumu? Nih! Kukembalikan!" sentak Bayu

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka itu melemparkan pisau-pisau Jantar. Sesaat Jantar terkesiap, dan buru-buru melompat menghindari sambitan pisaunya sendiri. Pisau itu menghunjam dalam di tanah, tepat di tempat kaki Jantar tadi berpijak.

"Keparat! Hup, hiyaaa...!"

Jantar kembali melompat menerjang, dan kali ini tidak lagi menganggap remeh lawannya. Serangannya cepat dan dahsyat. Setiap pukulannya mengandung tenaga dalam cukup tinggi. Namun Pendekar Pula Neraka tidak mudah dirobohkan begitu saja. Setiap serangan yang datang, dengan manis selalu di dihindari. Bahkan serangan balasannya membuat Jantar kelabakan.

"Sudah cukup kita bermain! Bersiaplah...!" seru Bayu keras.

Setelah berkata demikian, Pendekar Pulau Neraka langsung melompat ke atas, lalu dengan cepat menukik turun diikuti hentakan tangan kanannya. Cakra Maut berkelebat cepat mengarah ke bagian leher Jantar. Sesaat pemuda itu terkesiap, lalu buru-buru menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan bergulingan beberapa kali. Tapi begitu melompat bangkit, satu tendangan keras tidak bisa dihindari lagi.

"Akh...!" Jantar me mekik tertahan.

Tubuh pemuda itu langsung terdorong kebelakang. Dan belum lagi dapat menguasai dirinya, mendadak saja secercah kilat keperakan menyambar cepat. Jantar tidak mampu berkelit lagi. dan....
"Aaa...!" Jantar memekik keras melengking tinggi

Tampak dadanya berlubang tertembus Cakra Maut hingga tembus sampai ke punggung. Senjata bersegi enam itu berputar balik, dan langsung menempel pada pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka. Sebentar Jantar masih mampu berdiri. Sesaat kemudian tubuhnya limbung, dan ambruk menggelepar ke atas tanah. Darah bersimbah dari dadanya yang berlubang. Hanya sebentar Jantar mampu bergerak, kemudian diam dengan nyawa terbang dari tubuhnya.

Bayu memutar tubuhnya menghadap Ki Praba yang terlongong menyaksikan kematian Jantar begitu cepatnya. Namun laki-laki setengah baya itu tidak bisa berlama-lama memandangi tubuh pengawal pribadinya yang berlumuran darah segar. Ternyata Bayu Hanggara sudah berteriak keras sambil mengebutkan senjata mautnya.

"Uts...!" Ki Praba mengegoskan kepalanya sedikit ke kanan, dan Cakra Maut itu melesat lewat di samping kepalanya. Tapi Cakra itu berputar balik. Mau tidak mau Ki Praba melompat ke samping. Bayu mengangkat tangan kanannya keatas, maka Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangannya. Serangan tadi memang sengaja tidak diarahkan ke sasarannya secara langsung. Lemparan cakranya sengaja dimelencengkan hanya untuk menggugah Ki Praba saja.

"Jangan berbangga dulu bisa mengalahkan Jantar, anak muda!" dengus Ki Praba.
"Sebentar lagi kau akan menyusul," balas Bayu dingin.
"Sombong! Hih...! Terima seranganku!
Hiyaaa...!"

Ki Praba melompat cepat bagai kilat menerjang Pendekar Pulau Neraka. Namun terjangan itu manis sekali mampu dihindari. Kembali Bayu harus bertarung melawan Ki Praba. Kali ini Bayu menyadari kalau Praba jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya dibanding Jantar. Dan Pendekar Pulau Neraka itu harus bersikap hati-hati melayaninya.

Tidak mudah bagi Pendekar Pulau Neraka untuk menjatuhkan Ki Praba. Laki-laki setengah tua itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi juga. Jurus-jurusnya luar biasa, dan tenaga dalamnya juga hampir mencapai taraf kesempurnaan. Jurus demi jurus berlalu cepat, tapi belum ada tanda-tanda pertarungan bakal berakhir. Beberapa kali Bayu melepaskan senjatanya yang terkenal maut itu, tapi Ki Praba mampu berkelit manis menghindarinya.

Pertarungan terus berlangsung semakin sengit. Sementara di tempat lain, Awijaya dan Rara Wanti menyaksikan dengan perasaan cemas. Hanya Awijaya yang kelihatan sedikit tenang, karena telah sering mendengar kehebatan Pendekar Pulau Neraka. Entah kenapa, hatinya begitu yakin kalau Bayu pasti dapat mengalahkan Ki Praba. Tapi tidak demikian dengan Rara Wanti. Dia khawatir betul kalau Bayu akan tewas di tangan ayah angkat yang sangat dibencinya. Rara Wanti lebih senang kalau Ki Praba yang tewas.

"Sebaiknya kau bantu dia, Kakang," kata Rara Wanti tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Tenang saja, Rara. Bayu pasti bisa mengatasi," sahut Awijaya.
"Tapi, sudah lebih dari dua puluh jurus...."

Awijaya diam saja. Memang pertarungan itu sudah memakan lebih dari dua puluh jurus, tapi belum ada yang terdesak. Tapi me masuki jurus ke tiga puluh, kelihatan kalau Ki Praba mulai kerepotan menghadapi serangan-serangan Pendekar Pulau Neraka. Dia sudah jatuh bangun, dan bahkan beberapa kali menerima pukulan serta tendangan keras bertenaga dalam tinggi. Tapi Ki Praba masih juga mampu bertahan, meskipun darah sudah mengucur dari mulutnya. Bagian pelipis telah sobek mengeluarkan darah. Dan bahu kirinya juga sobek terkena sambaran Cakra Maut.
Keadan Ki Praba sudah tidak menguntungkan lagi. Tubuhnya jadi bulan-bulanan Pendekar Pulau Neraka. Jatuh bangun tanpa mampu membalas. Darah semakin banyak membanjiri tubuhnya. Tapi Bayu tidak juga berhenti. Hingga pada pukulannya yang terakhir....

"Akh...!" Ki Praba memekik keras tertahan.

Pukulan yang keras bertenaga dalam sangat tinggi itu tepat mengenai dada Ki Praba. Akibatnya, laki-laki setengah baya itu terpental jauh ke belakang. Sebuah pohon besar tumbang terlanda tubuhnya. Ki Praba menggeliat-geliat berusaha bangun. Meskipun tubuhnya sudah dipenuhi luka, tapi masih juga mampu berdiri. Dengan tubuh limbung, laki-
laki setengah baya itu berjalan menghampiri Pendekar Pulau Neraka.

"Grrr...!" Ki Praba menggeram bagai seekor binatang buas.

Tatapan matanya begitu tajam menusuk. Langkahnya terhenti setelah jaraknya tinggal sekitar tiga batang tombak lagi di depan Pendekar Pulau Neraka. Sesaat dia hanya diam saja menatap tajam, kemudian tiba-tiba sekali tangan kanannya bergerak mengibas ke samping. Dan puluhan jarum berwarna keperakan melesat deras ke arah Rara Wanti dan Awijaya.

"Awas...!" seru Bayu keras.

Tapi Awijaya dan Rara Wanti hanya terbeliak terperangah. Memang tidak disangka kalau Ki Praba akan berbuat curang begitu. Dan sebelum kedua anak muda itu bisa melakukan sesuatu, secepat kilat Bayu mengibaskan tangan kanannya.

Wut..l

Cakra Maut melesat bagai kilat melebihi anak panah yang terlepas dari busurnya. Senjata lingkaran bersegi enam berwarna keperakan itu meluncur me motong arah jarum-jarum yang dilepaskan Ki Praba. Sungguh tidak diduga sama sekali, jarum-jarum itu meluruk ke arah Cakra Maut, dan menempel pada senjata itu. Bayu menghentakkan tangannya ke atas, maka Cakra Maut melesat balik ke arahnya setelah seluruh jarum keperakan melekat pada permukaan bagian atas senjata bersergi enam Itu.

"Hap! Yaaah...!"

Secepat Cakra Maut melekat di pergelangan tangan, secepat itu pula Pendekar Pulau Neraka mengibaskannya lagi. Dan Cakra Maut kembali melesat cepat bagai kilat ke arah Ki Praba. Tampak, jarum-jarum yang melekat di senjata itu rotok luruh ke tanah. Saat itu Ki Praba sudah tidak bisa lagi bergerak cepat Maka tak pelak lagi, Cakra Maut menghunjam dadanya hingga tembus ke punggung.

"Aaa...!" Ki Praba menjerit melengking t inggi.

"Hap!" Bayu mengangkat tangannya ke atas. Begitu senjata bersegi enam itu melekat di pergelangan tangannya, dengan cepat Bayu melompat sambil menghentakkan kakinya ke depan. Tendangan yang disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu tepat menghantam kepala Ki Praba. Kembali laki-laki tua itu menjerit melengking. Hanya sesaat mampu berdiri, kemudian limbung, lalu ambruk menggelepar di tanah. Darah mengalir deras dari dada yang berlubang dan kepala hancur berantakan.

Bayu menarik napas panjang. Dia berdiri tegak memandangi mayat Ki Praba yang membujur kaku bersimbah darah. Sebentar ditariknya napas panjang, kemudian berbalik memandang Awijaya dan Rara Wanti yang masih berdiri di tempatnya. Kedua anak muda itu seperti terkesima melihat kematian Ki Praba begitu tragis.

***

Bayu melangkah tegap menghampiri kedua anak muda yang masih berdiri terpaku pada tempatnya. Rara Wanti terlebih dahulu yang mengangkat wajahnya menatap Pendekar Pulau Neraka itu. Entah apa yang ada di dalam sinar mata gadis itu. Bayu sendiri sukar untuk mengartikannya. Pendekar Pulau Neraka itu berhenti melangkah setelah jaraknya tinggal lima langkah lagi di depan kedua anak muda itu.

"Aku rasa semuanya sudah selesai..," tegas Bayu pelan.
"Tunggu, kau akan kemana?" tanya Awijaya mencegah kepergian Bayu.

Bayu hanya tersenyum saja, dan langsung berbalik dan melangkah pergi. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, Rara Wanti mengejar, dan menghadangnya. Bayu menoleh menatap Awijaya yang tetap berdiri di tempatnya.

"Kakang, kau tetap akan pergi juga...?" agak tertahan suara Rara Wanti
"Kau sudah menemukan laki-laki impianmu, Rara. Kuharap kau bahagia berada di sampingnya," kata Bayu lembut.
"Tapi.... Kau akan kembali lagi, bukan?"

Bayu tidak menjawab, tapi hanya tersenyum saja. Kemudian berbalik dan melangkah pergi. Sebentar ditatapnya Awijaya, dan ditepuknya pundak pemuda berbaju merah muda itu. Awijaya tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya memandangi kepergian Pendekar Pulau Neraka itu. Ada sedikit penyesalan terselip di hatinya karena telah menyangka buruk pada pendekar muda itu. Ternyata kabar cerita yang pernah di dengarnya tentang Pendekar Pulau Neraka tidak semuanya benar. Buktinya Awijaya tidak melihat kekejaman pada pendekar muda itu. Bahkan kata-katanya selalu lembut, dan segala tindakannya tenang. Hanya saja, Bayu memang tidak pernah mau berkompromi pada setiap lawannya yang diyakini harus tewas di tangannya.

Bayu terus berjalan semakin jauh. Sementara Awijaya sudah berada di samping Rara Wanti. Pemuda itu melingkarkan tangannya di pundak Rara Wanti. Gadis itu pun merebahkan kepala di bahu pemuda di sampingnya Mereka memandangi kepergian Pendekar Pulau Neraka dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada.

"Ayo kita pergi, Rara," ajak Awijaya setelah tubuh Pendekar Pulau Neraka tidak terlihat lagi.
"Ke mana?" tanya Rara Wanti agak lesu.

Rara Wanti masih menatap ke arah kepergian Bayu, meskipun Pendekar Pulau Neraka itu tidak terlihat lagi. Gadis itu merasakan sekeping hatinya terbawa pergi oleh Bayu Hanggara. Bagaimanapun juga tidak akan bisa dilupakan pengalamannya bersama pemuda yang telah merenggut sekeping hatinya. Pemuda yang telah memberikan kebahagiaan tersendiri.

"Kita cari dulu ibumu, baru menemui ibuku. Kita akan hidup bersama tanpa harus bergelimang kekerasan dan darah lagi," jelas Awijaya lembut

Rara Wanti tidak menyahuti, membalikkan tubuhnya menghadap pemuda itu. Mereka saling berpelukan, dan saling melempar pandang.

"Oh, Kakang...," desah Rara Wanti lirih. Awijaya semakin erat memeluk gadis itu. Sebentar ditatap dalam-dalam bola mata yang bening indah depannya. Kemudian pelahan-lahan sekali ditundukkan kepalanya, dan sesaat bibir mereka sudah menyatu rapat. Erat sekali Awijaya mendekap tubuh ramping itu, seakan-akan tidak ingin melepaskannya kembali. Sementara siang sudah beralih, menggulir menuju senja. Matahari sudah semakin condong ke arah Barat Sinarnya yang redup memberikan bayang-bayang bagi sepasang insan menyatu dalam raga dan jiwa di Puncak Bukit Sidayu.

Episode berikutnya: Istana Iblis
SELESAI

Gadis Buronan


SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode: Gadis Buronan
Karya: Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit: Cintamedia, Jakarta


Gadis Buronan



SATU
"Hiya! Hiya...!"
Seorang pemuda berbaju merah muda menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi. Kuda coklat belang putih itu berpacu bagai kesetanan. Setiap kali tangan pemuda itu menepuk pinggul kudanya, terdengar ringkikan keras, maka kuda itu pun semakin cepat berpacu. Debu mengepul diudara, menambah sesaknya siang yang panas menyengat ini.

Kuda coklat belang putih itu tiba-tiba saja meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Pemuda yang menunggangnya, cepat-cepat menarik tali kekangnya kuat-kuat Tapi kuda itu semakin liar, berjingkrakan sambil meringkik keras. Sukar untuk mengendalikan lagi. Dan ketika kuda itu melompat dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi ke udara, pemuda itu kehilangan keseimbangan. Dia jatuh bergulingan di tanah.

"Hup!"

Bergegas pemuda itu bangkit, dan melompat ke punggung kudanya ke mbali. Tapi kuda coklat itu ma lah berlari kencang, sehingga pemuda itu terbanting keras ke tanah dan kembali bergulingan. Bergegas dia bangkit, namun kudanya sudah begitu jauh meninggalkannya sendirian.

"Kuda sialan!" umpat pe muda itu kesal.
"Jangan salahkan kuda, dasar kau saja yang tidak becus!" tiba-tiba terdengar suara mengguma m, namun terdengar keras mengejutkan.
"Heh! Siapa kau...?" pemuda itu terkejut, langsung berbalik menatap ke suatu arah.

"He he he...!"
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan pemuda berbaju merah muda itu telah berdiri seorang laki-laki tua berjubah biru tua. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya yang agak bungkuk. Laki-la ki tua itu tertawa terkekeh-kekeh seraya bergerak mengha mpiri, dan baru berhenti setelah jaraknya sekitar lima langkah lagi.

"Siapa kau?" dengus pemuda Itu masih dihinggapi perasaan kesal karena dit inggalkan kudanya bergitu saja.
"He he he...," laki-laki tua berjubah biru tua itu hanya terkekeh saja.

Dan belum lagi hilang suara tawanya, tiba-tiba laki-laki tua itu melompat cepat sa mbil mengibaskan tongkatnya ke arah kepala pemuda itu. Tentu saja serangan yang demikian cepat dan mendadak itu, membuat pemuda berbaju merah muda kelabakan. Tapi dengan cepat dirundukkan kepalanya, dan langsung digeser kakinya ke kanan.

Belum juga pe muda itu bisa mengangkat kepalanya kembali, laki-laki tua itu sudah kembali menyerang lebih cepat Kali ini tongkatnya diputar dari atas ke bawah, mengarah ke kaki. Serangannya begitu cepat dan sukar diikuti mata biasa.

"Hait..!"

Cepat sekali pemuda itu melompat menghindari tebasan tongkat itu. Dan pada kesempatan yang sedikit, dengan kecepatan kilat dihentakkan kakinya ke depan, langsung diarahkan ke dada laki-laki tua itu.

"Uts!"

Laki-laki tua itu menyilangkan tongkatnya, memapak tendangan yang menggeledek dan cepat itu. Tak dapat dihindarkan lagi. Kaki pemuda itu menghantam tongkat yang menyilang di depan dada. Tapi pemuda itu cukup cerdik. Dengan menggunakan tenaga pinjaman, dia melompat ke belakang. Tubuhnya berputar tiga kali di udara, dan mendarat lunak di tanah

Sret!

Pemuda berbaju merah muda itu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Disilangkan pedang itu di depan dadanya. Tatapan matanya begitu taja m menusuk.

"Kisanak, kenapa kau menyerangku?" tanya pemuda itu bernada kesal.
"He he he.... Karena kau keras kepala, Awijaya!" sahut laki-laki tua itu diiringi suara tawanya yang terkekeh.
"Heh! Kau tahu nama ku?! Siapa kau sebenarnya?" tanya pemuda yang ternyata bernama Awijaya.

Tentu saja Awijaya terkejut, karena dia merasa dirinya sudah berubah jauh dengan banyaknya luka goresan di wajahnya. Belum lagi rambutnya yang kasar memenuhi wajahnya, membuat penampilan Awijaya jauh berubah dari tiga tahun yang lalu.

"Kau tak perlu tahu siapa aku, Awijaya. Aku hanya ingin mengatakan, jangan kau teruskan pekerjaanmu. Dia bukan milikmu!" sahut lelaki tua itu dingin.

"Jangan berbelit-belit, Kisanak! Apa keinginanmu sebenarnya?" dengus Awijaya semakin kesal.
"He he he..," laki-laki tua itu hanya terkekeh saja.
Tiba-tiba saja dia me lesat cepat, dan langsung lenyap dari pandangan.
"Hey...! Tunggu...!" teriak Awijaya terkejut

Tapi bayangan lelaki tua aneh dan tak dikenal itu sudah lenyap. Tak tahu lagi ke mana perginya. Tinggal suara tawanya saja yang masih terdengar, kemudian menghilang terbawa angin. Awijaya bersungut kesal, karena kini harus berjalan kaki. Kudanya kabur entah ke mana, dan kini ada lelaki tua yang tak diketahui maksudnya. Tahu-tahu muncul dan menyerang. Bahkan meninggalkan kata-kata yang sama sekali tak dimengertinya.

"Huh! Orang tua edan...!" dengus Awijaya menggerutu kesal.

***

Senja baru saja turun ke dalam pe lukan bumi. Cahaya matahari tidak lagi terik menyengat Sinarnya nampak kemerahan menyemburat di ufuk Barat. Bola merah raksasa itu terlihat agak tenggelam, seakan hendak mengucapkan selamat tinggal. Di jalan setapak berdebu, tampak Awijaya berjalan pelahan-lahan. Wajahnya bersimbah keringat, dan bajunya kotor berdebu. Pandangannya lurus ke depan ke arah sebuah desa yang nampak tenang.

Angin bertiup tidak terlalu kencang. Sebagian rambutnya tergulung ke atas diikat pita merah muda. Sedangkan sebagian lagi melambai-lambai mengikuti alunan tiupan angin senja ini. Awijaya terus melangkah me masuki desa yang belum diketahui namanya. Beberapa penduduk yang kebetulan berpapasan, sempat memperhatikannya. Namun mereka tidak peduli. Desa ini tidak terlalu kecil, tapi suasananya begitu damai tentram. Awijaya mengayunkan kakinya menuju sebuah rumah yang bertuliskan. "Rumah Penginapan dan Kedai Nyai Supit" di atas pintunya.

Seorang perempuan bertubuh gemuk menyambut kedatangan Awijaya. Dengan senyum lebar dan sikap ramah, dipersilahkan pemuda itu masuk, Awijaya dibawa kesalah satu tempat yang terdapat meja bundar dan dua buah kursi. Ada beberapa meja dan kursi sejenis tertata rapih di ruangan yang cukup besar ini. Awijaya duduk tenang, seraya mengamati keadaan ruangan kedai ini.

"Pesan apa, Den?" tanya perempuan gemuk itu ramah.
"Aku perlu kamar untuk menginap," sahut Awijaya langsung tanpa basa-basi lagi "Tidak makan dulu, Den?" perempuan gemuk itu menawarkan.
"Minum saja."
"Arak?"
"Iya."
"Sebentar, Den."

Perempuan tua itu tergopoh-gopoh meninggalkannya. Sementara Awijaya kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak banyak orang di kedai ini. Satu orang duduk menghadapi makanan yang begitu banyak. Sepertinya tidak akan habis dimakan oleh tubuhnya yang kecil kurus itu. Di pojok lain ada empat orang laki-laki berwajah beringas yang juga tengah menikmati makanannya. Mereka bicara ribut sekali, seolah-olah tidak mempedulikan pengunjung lainnya.

Masih ada lagi beberapa orang. Dan pandangan Awijaya tertuju pada enam orang wanita yang duduk menghadapi satu meja. Mereka hanya minum arak ringan dan makanan kecil yang terhidang di atas meja. Dari punggungnya yang membawa pedang, keenam wanita muda itu pasti dari kalangan rimba persilatan. Mereka masih muda dan cantik. Yang menarik perhatian Awijaya adalah gambar sekuntum bunga yang tersulam di bagian dada sebelah kiri mereka.

"Hm..., ada apa mereka datang ke sini?" gumam Awijaya dalam hati.

Pertanyaan Awijaya belum terjawab, karena perempuan gemuk itu datang lagi sambil membawa seguci arak manis dan sepiring makanan kecil. Dengan sikap yang ramah, diletakan pesanan itu diatas meja, lalu dipersilahkan Awijaya untuk menikmatinya. Kemudian dia berbalik meninggalkan tergopoh-gopoh, karena ada lagi orang yang datang.

Orang yang baru datang itu sungguh menarik perhatian semua pengunjung kedai ini, karena pakaiannya berbeda dari biasanya. Dia seorang pemuda dengan garis-garis kekerasan yang tersirat pada wajahnya yang tampan. Tubuhnya tinggi tegap dan berotot, terbungkus baju dari kulit harimau. Dipilihnya tempat di bawah jendela besar yang terbuka, dan berjeruji dari kayu bulat Dia hanya memesan arak, tanpa ada makanan lain.

"Pendekar Pulau Neraka...," desis Awijaya mengenali pemuda berbaju kulit harimau yang baru masuk tadi "Hm...,mudah-mudahan kedatangannya hanya sekadar singgah. Bisa runyam nanti urusannya kalau dia tahu."

Senja terus merayap semakin jauh. Suasana jadi semakin remang-remang. Perempuan gemuk pemilik kedai ini menyalakan beberapa pelita, sehingga ruangan kedai ini jadi terang benderang. Satu per satu tamu di dalam kedai ini beranjak pergi, dan kebanyakan masuk kebagian be lakang. Mungkin menginap di tempat ini juga.

"Sini...!" Awijaya melambaikan tangannya pada perempuan gemuk yang bernama Nyai Supit
"Ada apa, Den?" Nyai Supit menghampiri tergopoh-gopoh.
"Masih ada ka mar untukku?" tanya Awijaya langsung.

"Ada, Den. Banyak," sahut Nyai Supit.
"Hm.... Kulihat banyak sekali tamumu. Aku khawatir tidak ada lagi kamar penginapan di sini."
"Jangan khawatir, Den. Ada dua puluh kamar yang bisa disewa. Dan baru separuhnya terisi."
"Kalau begitu, siapkan kamar satu untukku."
"Baik, Den."

Nyai Supit berbalik dan pergi, tapi Awijaya mencegahnya. Perempuan gemuk itu kembali berbalik menghadap pemuda itu. Sikapnya masih ramah disertai senyum yang tidak pernah lepas mengembang dari bibirnya.

"Ada apa, Den?"
"Nyai, apakah mereka pendatang juga?" tanya Awijaya setengah berbisik, dan kepala disorongkan kedepan.
"Benar, Den. Beberapa hari ini banyak sekali orang datang ke sini Mungkin karena berita itu," sahut Nyai Supit.

Awijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Raden juga ingin ikut?" tanya Nyai Supit. "Sebaiknya jangan, Den. Tidak mungkin berhasil. Sudah banyak yang mencoba, tapi tidak ada yang pernah kembali lagi. Mendengar namanya saja, sudah tidak lagi.

Mungkin mati, atau hilang."
"Perjalananku masih panjang. Nyai. Aku tidak tertarik sama sekali," kata Awijaya tersenyum kecut.

"Syukurlah kalau begitu. Raden masih muda, lebih baik cari gadis lain. Masih banyak yang cantik. Di Desa Munding ini juga banyak gadis cantik, Den."

Awijaya hanya tersenyum saja, kemudian bangkit berdiri.
"Mana kamarku, Nyai?"
"Mari, Den. Ikuti aku."

***

Suasana di Desa Munding hari ini tidak seperti biasanya. Keramaian begitu menyetok. Dari segala penjuru orang-orang berdatangan menuju sebuah rumah besar yang memiliki halaman luas bagai lapangan. Keramaian seperti ini tentu saja menguntungkan para pedagang musiman. Sejak pagi-pagi buta tadi, mereka sudah mengambil tempat yang dianggap tepat. Tak tertinggal anak-anak berlarian bermain tanpa mengerti maksud keramaian ini. Sedangkan beberapa kelompok pemuda berceloteh menggoda gadis-gadis. Tidak jarang gadis-gadis yang digoda malah membalas dengan menyakitkan.

Di depan kedai Nyai Supit yang terletak tidak jauh dari rumah besar yang berhalaman luas dan kini dipenuhi orang itu, tampak berdiri Awijaya. Di sampingnya. Nyai Supit duduk di balai bambu yang merapat pada dinding kedainya. Orang-orang yang keluar masuk kedainya tidak dipedulikan lagi. Hari ini semua pekerjaannya diserahkan pada pelayannya.

"Tida k ke sana, Den?" tegur Nyai Supit yang agak heran juga melihat Awijaya hanya berdiri saja memandangi keramaian itu.
"Malas," sahut Awijaya kelihatan enggan. Tapi matanya terus memandang ke arah sana.
"Pasti ramai. Soalnya, banyak orang sakti mengadu ilmu di sana," kata Nyai Supit lagi.
"Manusia diadu seperti ayam!" dengus Awijaya tanpa sadar.

"Benar, Den. Tapi memang wataknya Ki Praba begitu!" sambut Nyai Supit. "Dia pikir, cuma dirinya saja yang tinggi ilmunya.... Padahal banyak orang yang lebih tinggi kepandaiannya. Biar saja, nanti juga kena batunya!"


Awijaya melirik pada perempuan gemuk itu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti, namun tidak mudah untuk dilukiskan. Rasanya terlalu hambar dan pahit sekali. Tapi Nyai Supit tidak memperhatikan, dan terlalu sibuk memperhatikan keramaian itu.

Tiba-tiba saja senyum di bibir Awijaya lenyap. Dan kini pandangannya terpaku pada seorang laki-laki tua berjubah biru tua yang berdiri di bawah pohon ke muning. Tongkat hitam berkeluk tujuh menyangga tubuhnya yang agak bungkuk Pada saat yang sama, laki-laki tua itu me mandang ke arah Awijaya. Bibirnya yang tipis dan hampir tertutup kumis putih, menyunggingkan senyuman lebar.

Awijaya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi
sesekali dilirik juga la ki-laki tua itu yang tetap saja memandangnya disertai senyuman lebar mengandung ejekan. Entah kenapa, Awijaya jadi mual, dan muak melihat senyum laki-laki yang pernah menghadang dan menyerangnya tanpa alasan itu.

"Kau kenal orang tua itu. Den?" tiba-tiba Nyai Supit menegur.
"Oh!" Awijaya tersentak kaget. Langsung ditatapnya perempuan tua ge muk di sa mpingnya.

"Ki Praba pasti kena batunya hari ini kalau dia ikut," kata Nyai Supit lagi.
"Hm.... Tampaknya kau kenal dengannya, Nyai," kata Awijaya bernada menyelidik. Dia memang penasaran sekali terhadap laki-laki tua yang me mbuat perutnya jadi mual.

"Semua orang di sini pasti mengenalnya, Den. Namanya, Ki Sampar Watu. Kepandaiannya sangat tinggi, sukar dicari tandingannya," jelas Nyai Supit
"Tampaknya kau begitu banyak mengetahui tentang dunia
persilatan," ujar Awijaya setengah berguma m.

'Tida k seluruhnya, Den. Hanya sedikit saja," Nyai Supit mengakui terus terang.
"O...?!" Awijaya berkerut keningnya, sampai alisnya hampir bertaut.

"Suamiku dulu seorang pendekar. Tapi sayang, meninggal terlalu cepat..," ada kesenduan pada nada suara Nyai Supit. Awijaya memperhatikan kalau perempuan tua gemuk itu menatap tajam la ki-laki tua berjubah biru yang bernama Ki Sampar Watu itu.

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapannya yang tajam. Dan Awijaya jadi ingin tahu, tapi tidak ingin terlalu gegabah dan terburu napsu. Terutama mengenai laki-laki tua berjubah biru itu.
"Siapa yang menewaskannya, Nyai?" tanya Awijaya hari-hari.
"Ah! Kau terlalu cepat tanggap, Raden," desah Nyai Supit.

"Aku juga sedikit mengerti tentang dunia persilatan. Nyai. Biasanya seorang pendekar yang meninggal begitu cepat, karena kalah bertarung."
"Sua miku me mang bertarung, dan kalah," peian suara Nyai Supit.
"Kenapa mesti bertarung?"
"Persoalan yang sa ma dengan sekarang."
"Ohhh...!" lagi-lagi Awijaya mengerutkan keningnya.

Kata-kata Nyai Supit se makin menarik hati Awijaya, dan jadi sema kin ingin tahu saja. Pemuda itu mengha mpiri dan duduk di sebelah Nyai Supit. Sebentar sempat dilirik ke arah Ki Sampar Watu. Tapi laki-laki tua berjubah biru itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Di bawah pohon ke muning itu sudah diisi oleh tukang dawet. Awijaya sempat pula mengedarkan pandangannya, dan masih melihat Ki Sa mpar Watu melangkah terseok-seok menyibak kerumunan banyak orang. Jelas kalau tujuannya ke rumah besar yang semakin padat itu. Tapi pada bagian tengah halamannya tampak kosong, karena ada sebuah panggung besar berdiri kokoh.

"Nyai, apakah Ki Praba masih mempertaruhkan anaknya?" tanya Awijaya semakin hati-hati.
"Kau sudah tahu rupanya, Raden."
"Sudah lama aku tahu, Nyai."
"Memang begitu. Padahal sampai sekarang ini, Rara Wanti tidak pernah ke luar. Bahkan tidak ada seorang pun yang melihatnya."
"Hhh..., itulah...," desah Awgaya tanpa sadar. "Kau juga ada urusan dengannya. Raden?" Nyai Supit menatap tajam.
"Terus terang, iya."

"Sebaiknya jangan, Raden. Ki Praba itu sangat kejam. Dia tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menantangnya. Suamiku dulu pun tewas karena berusaha mempertahankan sebidang tanah milik orang tuanya yang direbut paksa olehnya. Yaaah.... Memang bukan dirinya sendiri yang melakukan, tapi orang lain yang dibayar mahal, dan dijanjikan akan mendapatkan anak gadisnya. Tapi sampai sekarang janjinya tidak pernah dipenuhi."

"Sayang sekali, Nyai. Justru kedatanganku ke desa ini untuk membawa pergi Rara Wanti," kata Awijaya terus terang.
"Oh...!" Nyai Supit tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.

Perempuan gemuk itu menatap dalam-dalam, langsung ke bola mata Awijaya. Bibirnya yang kecil hampir tertutup pipi itu bergerak-gerak bergetar, seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu. Sesaat lamanya mereka- tidak berkata-kata.
"Tidak..., tidak mungkin! Kau pasti bukan dia. Sudah tiga tahun menghilang setelah pe...," kata-kata Nyai Supit terhenti.

"Aku Awijaya, Nyai. Putra asli desa ini! Aku datang justru untuk menyelesaikan persoalan kami!" tegas kata-kata Awijaya.
"Ohhh...," Nyai Supit mendesah panjang sambil menggeleng beberapa kali.
"Maaf, kalau selama ini aku berpura-pura tidak tahu," sambung Awijaya.
"Sebaiknya kita masuk. Ayo! Jangan sampai ada orang yang mengetahuimu," kata Nyai Supit langsung beranjak bangkit.

Perempuan gemuk itu menarik tangan Awijaya, sehingga pemuda itu tidak bisa lagi menolak. Mereka masuk kedalam kedai, dan langsung menuju bagian belakang. Nyai Supit mencekal tangan pemuda itu erat-erat seakan-akan tidak ingin melepaskan lagi. Dan Awijaya sendiri seperti kerbau dicucuk hidungnya, menurut saja tanpa membantah lagi.

***
DUA

Awijaya terlonjak kaget, dan langsung melompat keluar melalui jendela. Nyai Supit juga bergegas keluar. Meskipun tubuhnya gemuk, tapi gerakannya begitu ringan. Dengan sekali lompat saja tubuhnya sudah ada di luar. Tampak orang yang jumlahnya lebih dari seratus berlarian sa mbil berteriak-teriak.

"Ada apa?" tanya Awijaya seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Lihat, Awijaya!" seru Nyai Supit menunjuk ke tengah-tengah halaman rumah Ki Praba.

Awijaya langsung mengaratikan pandangannya ke rumah Ki Praba Tampak seorang la ki-laki tua tengah mengamuk membabi buta, menghajar siapa saja yang berada di dekatnya. Tidak jauh dari laki-laki tua berjubah biru yang mengamuk itu, juga terlihat seorang laki-laki berbaju indah dikelilingi puluhan orang bersenjata Mereka berusaha bergerak masuk ke dala m rumah. Hampir lima puluh orang mencoba menghadang amukan orang tua berjubah biru itu.

"Ki Sampar Watu..., apa yang dilakukannya di sana?" gumam Awijaya seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Dia ingin menagih haknya," celetuk Nyai Supit. "Hak...?"
"Seharusnya Ki Praba menyerahkan Rara Wanti padanya untuk dijadikan istri."
"Apa...?!" Awijaya terkejut bukan main. "Ini tidak boleh didiamkan. Orang tua gila itu harus dicegah!"
"Awijaya...!"

Tapi Awijaya sudah lebih dulu cepat melompat, melewati beberapa kepala orang yang sedang berlarian menyelamatkan diri. Dua kali pemuda itu berputar di udara, lalu meluruk langsung menghadang Ki Sampar Watu yang baru saja me mbabat buntung tiga kepala sekaligus.

"Orang tua edan! Hentikan...!" bentak Awijaya keras menggelegar.

Ki Sampar Watu langsung berhenti mengamuk Dia menggeram,ketika melihat Awijaya sudah berdiri berkacak pinggang di depannya. Sementara ada sekitar tiga puluh orang bersenjata golok dan tombak mengepung. Tampak ditangga depan rumah besar, Ki Praba berdiri memperhatikan, dikawal sekitar dua puluh orang bersenjata terhunus.

"Jantar, siapa anak muda jelek itu?" tanya Ki Praba.

"Nampaknya orang asing," sahut seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun yang berdiri di samping kanan Ki Praba.

"Hm...," Ki Praba bergumam dengan alis bertaut menjadi satu.

Laki-laki setengah baya itu terus memperhatikan tanpa berkedip pemuda yang berkacak pinggang di depan Ki Sampar Watu, kemudian melangkah me nuruni anak-anak tangga beranda rumahnya yang besar bagai istana itu. Dua puluh anak buahnya mengikuti disertai sikap berjaga-jaga. Ki Praba berhenti melangkah di ujung tangga beranda.

"Aku seperti pernah melihatnya...," gumam Ki Praba seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Sepertinya...."

Belum juga Jantar meneruskan ucapannya, mendadak saja mereka semua dikejutkan suara teriakan keras menggelegar dari Ki Sampar Watu. Ternyata laki-laki tua itu tengah melesat cepat bagaikan kilat menerjang Awijaya. Namun terjangan yang cepat dan dahsyat itu dapat mudah sekali dielakkan pemuda itu.

Pertarungan sengit tidak dapat dihindarkan lagi. Ki Sampar Watu bertarung bagai kesetanan. Tidak sedikit pun Awijaya diberi kesempatan untuk balas menyerang. Pemuda itu hanya berlompatan berkelit menghindari setiap serangan yang datang begitu gencar. Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu jadi menahan napas.

"Menyingkirlah, bocah! Kau akan mampus di tanganku!" bentak Ki Sampar Watu keras sambil mengirimkan satu pukulan menggeledek.

"Seharusnya kau yang menyingkir! Orang tua tidak tahu diri!" balas Awijaya seraya melompat ke belakang menghindari pukulan laki-laki tua itu.

"Bocah keparat! Mampus kau! Hiyaaat..!"

Ki Sampar Watu tidak bisa lagi menahan amarahnya. Langsung digerakkan tongkatnya cepat, menusuk ke arah dada Awijaya. Namun lewat suatu gerakan Indah dan sukar diikuti mata, Awijaya cepat berkelit, dan langsung melompat tinggi melewati kepala laki-laki tua itu. Dan begitu dijajakkan kakinya di tanah, tepat di belakang Ki Sampar Watu, dengan cepat diputar tubuhnya sambil mencabut pedang.

Sret!
"Halttt..!" "Uis!"

Ki Sampar Watu bergegas menjulurkan tongkat ke belakang punggungnya, sehingga pedang Awijaya menghantam tongkat itu. Pijaran api memercik begitu dua benda beradu keras. Tampak Awijaya melompat mundur, dan Ki Sampar Watu membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya yang memegang tongkat itu agak menyilang di depan dada. Sementara Awijaya tampak meringis, dan tangan kanannya bergetar.

"Uh!" Awijaya mengeluh pendek.
Pemuda berbaju merah muda itu menyadari kalau tenaga dalamnya kalah jauh dibanding laki-la ki tua itu. Adu senjata yang terjadi tadi sudah bisa dijadikan ukuran kekuatan dan ketinggian tenaga dalam masing-masing.

"He he he...!" Ki Sampar Watu tertawa terkekeh.

***

Tak ada seorang pun yang memperhatikan kalau di balik sebuah pohon beringin, seorang pemuda berbaju kulit harimau menyaksikan semua kejadian itu. Agaknya hatinya begitu tertarik akan kegigihan Awijaya. Meskipun tahu kalau tingkat kepandaiannya masih kalah jauh. Tapi tetap menantang Ki Sampar Watu. Hanya saja yang lebih menarik perhatian pemuda berbaju kulit harimau itu adalah Ki Praba.

"Hm.... Tampaknya aku harus mempercayai kata-katanya," laki-laki berbaju kulit harimau itu menggumam pelan.

Sementara itu Awijaya sudah melompat kembali menerjang Ki Sampar Watu. Dengan pedang di tangan, Awijaya bertarung semakin sengit. Serangan-serangannya sangat cepat dan berbahaya. Beberapa kali pedangnya hampir menembus tubuh Ki Sampar Watu, tapi laki-laki tua agak bungkuk itu masih mampu menghindari. Bahkan tidak jarang juga memberi serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Sedangkan di tempat lain, terlihat Nyai Supit memperhatikan jalannya pertarungan dengan perasaan cemas. Dia tahu betul kalau Ki Sampar Watu seorang tokoh rimba persilatan yang sangat kejam. Laki-laki tua itu tidak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menantangnya. Bahkan kesalahpahaman sedikit saja bisa mengakibatkan tangannya bernoda darah.

"Hiyaaa...!" tiba-tiba Ki Sampar Watu berteriak keras.

Dan saat itu juga tubuhnya melompat cepat bagaikan kilat, langsung ke arah Awijaya seraya cepat mengelebatkan
tongkat Sesaat Awijaya terhenyak, namun dengan cepat
me lompat mundur sa mbil me m-babatkan pedangnya ke
depan.

Tring!

"Akh!" Awijaya memekik tertahan ketika pedangnya beradu dengan tongkat Ki Sampar Watu.

Dan pada saat pedangnya terlontar balik, tanpa diduga sama sekali Ki Sampar Watu menghunjamkan ujung tongkatnya yang runcing ke arah dada pemuda itu. Namun pada saat yang sangat kritis, tiba-tiba saja Ki Sampar Watu memekik keras, dan tubuhnya terlontar jauh ke belakang.

Semua orang yang berada di sekitar pertarungan Itu jadi terlongong tidak mengerti. Ki Sampar Watu yang terbanting ketanah, langsung melompat bangun. Tampak dari mulutnya mengucurkan darah kental Tangan kirinya menekap dada yang kurus, memamerkan tulang-tulangnya.

"Setan belang! Siapa yang berani main api denganku, heh?!" geram Ki Sampar Watu berang. Bola mata yang cekung memerah itu menatap ke sekeliling. Tampak orang-orang yang berada di sekitar tempat itu bergerak surut ke be lakang. Tatapan mata Ki Sampar Watu begitu dalam menusuk, tak ada yang sanggup menghadapinya. Ternyata tatapan itu langsung menerobos pada Ki Praba yang didampingi tidak kurang dari dua puluh anak buahnya yang bersenjata terhunus.

"Kau iblis keparat, Praba!" geram Ki Sampar Watu menuding Ki Praba dengan ujung tongkatnya.

"Sampar Watu, sebaiknya kau segera pergi. Aku tidak mengundangmu ke sini," kata Ki Praba lantang.

"Ha ha ha... Sekarang kau dapat berkata begitu, Praba! Apa kau sudah lupa sewaktu merengek memohon bantuan padaku?! Kau ingkar janjimu, Praba. Justru aku datang karena kau sengaja mengumpulkan tokoh persilatan untuk menghadapiku! Picik! Iblis kau Praba!"

"Sampar Watu, seharusnya kau sadar kalau dirimu sudah tua! Kau lebih tua dariku, malah sepantasnya, Rara Wanti memanggilmu kakek!"

"Keparat! Kau pikir cuma anakmu saja yang cantik, heh?! Sepuluh gadis yang lebih cantik dari anakmu bisa kuperoleh!" geram Ki Sampar Watu semakin berang.

"Kenapa tidak kau lakukan? Paling-paling gadis tidak waras yang bisa kau peroleh!" tantang Ki Praba mengejek.

"Setan belang! Aku bersumpah, kau dan anakmu harus mampus di tanganku! Dengar sumpahku, Praba...!" lantang suara Ki Sampar Watu..

Setelah berkata demikian, Ki Sampar Watu melompat cepat meninggalkan tempat itu. Tapi, mendadak saja terdengar suara jeritan melengking saling sambut. Dan tampak tidak kurang dari sepuluh anak buah Ki Praba menggeletak dengan kepala buntung. Sungguh tinggi kepandaian Ki Sampar Watu. Sambil melesat pergi, masih sempat membantai begitu banyak orang tanpa diketahui gerakannya. Dan kini laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangan.

Ki Praba menggeram menyaksikan kejadian itu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ki Sampar Watu sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Sesaat lamanya di halaman depan rumah yang luas itu menjadi hening. Tidak terdengar suara apa pun. Hanya angin saja yang menderu menerbangkan daun-daunan kering, membawa bau anyir darah yang membasahi rerumputan di halaman yang luas ini.

Ki Praba me langkah mengha mpiri Awijaya yang sudah
dida mpingi Nyai Supit Pe muda berbaju merah muda itu
me mperhatikan Ki Praba dengan tatapan mata sukar diartikan.
Ki Praba berhenti sekitar tiga langkah di depan Awijaya. Nyai Supit menggeser kakinya agak ke belakang dari tubuh pemuda itu.

"Aku cukup kagum akan keberanianmu, anak muda. Tapi lain kali berpikirlah dulu untuk menghadapinya," kata Ki Praba lunak suaranya.
"Terima kasih. Sebenarnya memang bukan dia sasaranku," kata Awijaya.
"Hm.... Aku seperti pernah bertemu denganmu, anak muda. Tapi entah di mana. Siapa nama mu?" tanya Ki Praba setelah bergumam pelan.

"Awijaya," sahut Awijaya tegas.

Sret!
Tampak Jantar mencabut pedangnya begitu mendengar nama pemuda berbaju merah itu. Tapi Ki Praba cepat-cepat memegang tangan pengawal pribadinya ini. Jantar memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya di pinggang. Tapi tatapan mata Jantar mengandung sejuta arti yang sangat dalam pada Awijaya.

'Tiga tahun kau tidak pernah lagi ke lihatan. Rupanya sudah banyak perubahan pada dirimu, Awijaya," ujar Ki Praba masih terdengar tenang nada suaranya.
"Terima kasih," ucap Awijaya dingin. "Aku yakin kau tahu maksud kedatanganku kali ini, Ki Praba!"

"Sayang, kau tidak akan mendapatkannya. Dia sudah tidak ada lagi di sini," jelas Ki Praba langsung dapat mengerti.
"Bajingan...!" geram Awijaya hampir tidak tertahankan ke marahannya.

"Kalau dengar pengumuman tadi, kau pasti sudah tidak disini lagi, Awijaya. Kalau kau memang mencintainya, carilah sampai dapat. Aku tidak peduli lagi terhadap nasibnya!" kata Ki Praba lagi.

Setelah berkata demikian, Ki Praba berbalik dan langsung melangkah pergi Awijaya menggerang berusaha menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Wajahnya memerah, dan matanya tajam menatap laki-laki setengah baya yang sudah meniti anak tangga beranda rumahnya yang bagai istana itu.

"Kita pergi, Awijaya," ajak Nyai Supit sambil menggamit tangan pemuda itu.

Awijaya tidak menyahut, tapi mengikuti juga ajakan perempuan gemuk itu. Meskipun masih diliputi kemarahan yang memuncak, namun dia harus mendinginkan kepalanya. Disadarinya kalau tidak akan mungkin dapat melabrak Ki Praba yang disegani dan ditakuti seluruh penduduk Desa Munding ini.

Awijaya duduk memeluk lutut di balai bambu depan kedai Nyai Supit Sudah dua hari dia tinggal di salah satu kamar penginapan milik perempuan gemuk Itu. Pikirannya jadi kacau, karena telah didengar kalau Rara Wanti sudah dua bulan ini kabur dari rumahnya. Gadis itu telah memberontak dengan sikap ayahnya yang selalu mengatur dan bersikap keras padanya.

Tiga tahun lamanya Awijaya harus menanti, dan sekarang kedatangannya untuk membawa Rara Wanti pergi dari desa yang menurutnya bagaikan neraka ini. Tapi selama penantiannya itu, akhirnya hanya kekecewaan dan kemarahan saja yang diperoleh. Rara Wanti sudah pergi. Dan lagi, ayahnya yang bernama Ki Praba itu malah mengumumkan pada semua orang bahwa Rara Wanti tidak diakui lagi sebagai anaknya. Bahkan juga meminta kepada siapa saja untuk membawa kepala gadis itu dengan hadiah yang sangat menggiurkan.

"Awijaya...." Awijaya mengangkat kepalanya. Digeser duduknya begitu melihat Nyai Supit sudah berada di dekatnya. Perempuan gemuk itu mendekati dan duduk di samping pemuda itu.

"Dari tadi pagi kau duduk saja di sini. Sudah siang, makan dulu," ajak Nyai Supit lembut, bagai seorang ibu pada anaknya.

"Aku belum lapar, Nyai," kata Awijaya pelan.

"Awi... Bisa kurasakan semua yang kau rasakan saat ini. Ibumu dulu sahabat baikku. Demikian pula ayahmu. Sejak kecil kau selalu bermain di sini, sampai kau dan seluruh keluargamu menghilang. Aku tahu betul apa yang terjadi pada diri dan keluarga mu, Awijaya. Kuharap, jangan sungkan-sungkan lagi padaku," ujar Nyai Supit lembut.

"Terima kasih. Nyai begitu baik padaku," ucap Awijaya terharu.
"Sudahlah! Bagiku kau bukan orang lain lagi, Awijaya."

Getir sekali Awijaya membalas senyuman Nyai Supit. Meskipun sudah tiga tahun tidak pernah lagi menginjak tanah kelahirannya ini, tapi masih segar dalam ingatannya tentang Nyai Supit, dan orang-orang yang tinggal di Desa Munding ini Orang-orang yang selama hidupnya tidak pernah mengenyam kebahagiaan. Meskipun terkadang mereka bisa bergembira dan tertawa, tapi semua itu hanyalah semu belaka.

Dulu Desa Munding adalah desa yang damai dan tentram. Tidak ada keluh kesah, tidak ada penderitaan yang berantai. Tak ada darah menggenang hanya karena persoalan yang sepele. Tapi semua itu berubah total setelah kedatangan Ki Praba. Kedatangannya yang sebagai saudagar kaya, langsung me mbe li tanah-tanah penduduk dengan harga kecil dan dengan cara paksa. Bahkan kepala desa tewas terbunuh karena tidak bersedia menjual tanahnya.

Tidak sedikit penduduk desa yang tewas karena mempertahankan miliknya. Tapi Ki Praba memang kuat Belum lagi tukang-tukang pukulnya, dan para pengawalnya yang rata-rata memiliki kepandaian ilmu olah kanuragan. Sedangkan Penduduk Desa Munding hanya terdiri dari petani yang tidak mengerti ilmu olah kanuragan. Memang ada beberapa yang memiliki ilmu olah kanuragan, tapi tidak berdaya. Bahkan mereka tewas dengan cara menyedihkan di tangan jago bayaran yang disewa Ki Praba, demikian pula Awijaya yang terpaksa pergi, karena tidak tahan mendapat tekanan yang tak henti-hentinya. Termasuk suami Nyai Supit ini.

Awijaya, ibunya, dan kedua adiknya pergi setelah terjadi peristiwa yang membuat nyawa ayahnya lenyap di tangan tukang-tukang pukul Ki Praba. Itu semua karena Awijaya dan Rara Wanti memadu asmara, lalu diketahui Ki Praba yang menentang keras hubungan mereka. Masalahnya Rara Wanti selalu dijadikan boneka dan barang pertaruhan bagi kegilaan ayah gadis itu dalam mengadu jago-jago rimba persilatan. Semua itu diketahui Awijaya dari Rara Wanti sendiri yang menceritakan semua keluhannya. Untung saja, dalam peristiwa itu Awijaya berhasil diselamatkan suami Nyai Supit. Tapi tak urung, wajahnya sempat tergores pedang salah seorang tukang pukul Ki Praba, bahkan dibuat cacat. Dan Awijaya masih ingat orangnya. Dia ada lah orang kepercayaan Ki Praba sendiri. Namanya Jantar!

"Kutinggal dulu. Ada tamu," ucap Nyai Supit membangunkan lamunan Awijaya.

Pemuda berbaju merah muda itu mengangkat kepalanya. Jantungnya hampir berhenti berdetak seketika begitu melihat seorang pemuda berbaju kulit harimau masuk ke dalam kedai. Awijaya tahu siapa pemuda itu. Dia sering mendengar namanya. Bahkan pernah melihatnya ketika bertarung, meskipun dari tempat yang sangat tersembunyi.

"Pendekar Pulau Neraka...," desis Awijaya dalam hati.
"Sudah beberapa hari dia di sini Hm..., tentunya ada sesuatu. Seorang pendekar kelana berada di suatu tempat sampai lebih tiga hari, pasti ada yang diinginkan. Atau...," Awijaya tidak melanjutkan pikirannya

Nyai Supit kembali keluar dari kedainya, dan menghampiri pemuda berbaju merah muda itu. Awijaya memandangi.

"Ada yang menitipkan ini pada mu," kata Nyai Supit seraya memberikan gulungan daun lontar terikat pita merah muda.
"Siapa yang memberi ini?" tanya Awijaya seraya menerima gulungan daun lontar itu.

"Aku tidak kenal. Tapi pakaiannya menyolok sekali," sahut Nyai Supit.

Awijaya membuka gulungan daun lontar, lalu membaca sebaris kalimat yang tertulis di situ. Seketika wajahnya berubah. Langsung ditatapnya dalam-dalam Nyai Supit. Bergegas dia menggerinjang bangkit, menerobos masuk ke dalam kedai. Sesaat dipandangi seluruh ruangan kedai itu, lalu kembali berbalik keluar menemui Nyai Supit.

"Apakah orang itu yang baru masuk tadi, Nyai?" tanya Awijaya.
"Benar. Dia pakai baju dari kulit harimau," sahut Nyai Supit sedikit keheranan melihat wajah Awijaya.
"Pendekar Pulau Neraka...," gumam Awijaya pelarian. "Di mana se karang, Nyai?"
"Di dalam," sahut Nyai Supit.
"Tida k ada."
"Ah, masa...."

Nyai Supit tidak percaya. Dijulurkan kepalanya ke dalam kedai, lalu sebentar diperhatikan ruangan kedainya. Memang ada beberapa pengunjung, tapi tidak begitu banyak. Dan tidak terlihat seseorang yang memakai baju dari kulit harimau disana. Nyai Supit menarik ke luar kembali kepalanya, tapi jadi terkejut. Ternyata Awijaya sudah tidak ada lagi.

"He! Ke ma na anak itu...?"

***
TIGA

Malam sudah demikian larut. Bulan bergelayut penuh dilangit yang jernih. Bintang bintang gemerlapan menambah indahnya pemandangan di angkasa sana. Pemandangan malam ini semakin terasa indah jika dilihat dari puncak bukit sebelah Timur Desa Munding. Tampak seorang gadis muda duduk menjuntai di atas sebongkah batu hitam. Pandangannya lurus menatap Desa Munding di bawah sana. Hanya kerlip lampu-lampu pelita saja yang terlihat di sela-sela pepohonan lebat

"Kau belum t idur, Rara Wanti...."
"Oh...!" gadis itu tersentak kaget begitu mendengar suara lembut dari belakangnya.

Gadis yang dipanggil Rara Wanti itu membalikkan tubuhnya. Kini di depannya sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan, namun terlihat jelas garis-garis ketegasan dan kekerasannya. Pemuda yang memakai baju kulit harimau itu segera mendekati dan duduk di sampingnya

"Ada yang kau pikirkan, Rara Wanti?" tetap lembut suara pemuda itu.
"Mungkin...," desah Rara Wanti disertai hembusan napas panjang dan terasa berat. "Sudah dua bulan...."

"Terima kasih," potong Rara Wanti. "Memang seharusnya aku tidak menggantungkan diri pada mu. Kau begitu baik, Kakang Bayu. Tidak seharusnya membuat mu repot."

'Tidak ada masalah, jika kau berterus terang tentang kesulitanmu. Barangkali saja dapat kubantu untuk memecahkannya," ujar pemuda berbaju kulit harimau yang ternyata adalah Pendekar Pulau Neraka atau Bayu Hanggara.

"Sebaiknya jangan. Aku tidak ingin menyeretmu! terlalu jauh. Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu. Kau begitu baik. Mencegahku bunuh diri, menemaniku, memberi petuah-petuah hidup yang sungguh tidak ternilai harganya. Terus terang, aku merasa malu. Sungguh kecil diriku berada di depanmu, Kakang."

"Kau terlalu merendahkan diri, Rara Wanti. Aku tahu, kau seorang gadis yang tabah, berani, dan berpikiran sehat. Hanya saja mungkin persoalan yang kau hadapi terlalu berat, sehingga berpikiran kotor ingin mengakhiri hidup."

"Mungkin," desah Rara Wanti seraya tertunduk.
"Beberapa hari ini aku sering ke Desa Munding," jelas Bayu setelah berdiam diri agak lama.

"Mau apa kau ke sana?" Rara Wanti tersentak, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Hanya jalan-jalan. Yah..., sekadar melihat suasana disana," sahut Bayu ringan.

"Kau tidak berusaha menyelidiki diriku, bukan?"
"Sama sekali tidak."

Rara Wanti menarik napas panjang, seperti hendak melonggarkan dadanya yang terasa sesak seketika. Entah kenapa, dia tidak ingin Bayu mengetahui tentang dirinya. Seperti ada sesuatu yang tidak boleh orang lain tahu. Dan yang jelas, Rara Wanti tidak ingin keberadaannya di sini diketahui orang lain. Ingin dilupa kan masa lalunya. Bahkan tidak ingin menjadi dirinya yang dulu. Yang diinginkan adalah menjadi Rara Wanti seutuhnya.

"Oh...!" tiba-tiba Rara Wanti tersentak.

Gadis itu segera menggelinjang bangkit. Bayu juga berdiri, dan bergegas melangkah begitu Rara Wanti berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Mereka masuk ke dalam sebuah gua yang kecil mulutnya, tapi di dalam cukup lebar dan hangat. Rara Wanti menutupi gua itu dengan pohon semak kering, dan sebongkah batu yang cukup besar. Bayu hanya memperhatikan saja.

Tidak berapa lama berselang, terdengar suara langkah kaki dekat gua ini. Rara Wanti dan Pendekar Pulau Neraka mengintip dari celah mulut gua yang sudah tertutup dan tersamar rapih. Tampak wajah gadis itu berubah seketika begitu melihat seorang laki-laki berdiri tegak tidak jauh dari gua ini. Dan Bayu dapat melihat perubahan wajah gadis itu, tapi hanya diam saja.

Agak lama juga laki-laki muda itu berdiri tegak memandang sekitarnya. Pelahan namun pasti, dia pergi dengan ayunan kaki lesu dan kepala tertunduk. Rara Wanti menarik napas panjang, lalu menghenyakkan tubuhnya bersandar pada dinding gua yang lembab berlumut. Bayu me mperhatikan seraya duduk. Kemudian, dinyalakan api dari ranting-ranting kering yang sudah tersusun pada batu berbentuk tungku.

"Ada apa, Rara?" tanya Bayu setelah gua itu dihiasi cahaya api.
"Tidak..., tidak apa-apa," sahut Rara Wanti seraya menggeser duduknya mendekati api.
"Kau kelihatan gelisah sekali Kau kenal orang itu?"
"Tid... tidak!" sahut Rara Wanti tergagap.
"Wajahmu pucat."
"Sudahlah, Kakang. Jangan mendesakku terus...," pinta Rara Wanti memohon.

Bayu mengangkat bahunya, kemudian diam tidak berkata-kata lagi. Pendekar Pulau Neraka itu merebahkan tubuhnya diatas tumpukan daun kering, tapi matanya tetap memandangi Rara Wanti yang terus saja gelisah. Gadis itu memainmainkan api dengan ranting kering, tepi kegelisahannya tak juga reda. Bayu terus memperhatikan dengan mata setengah terpejam.

***

Pagi-pagi sekali Bayu tersentak bangun dari tidurnya. Telinganya yang sudah terlatih, mendengar suara-suara ringan. Agak terkejut juga hatinya ketika melihat Rara Wanti mengendap-endap ke luar dari dalam gua ini. Pendekar Pulau Neraka itu tidak langsung beranjak bangun, tapi malah sengaja berpura-pura tidur. Bahkan dipejamkan matanya begitu Rara Wanti menengok padanya.

Bayu baru menggerinjang bangun begitu Rara Wanti sudah berada di luar gua. Bergegas dia melompat ke luar, dan melihat gadis itu berlari kencang menuju ke Utara. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Pulau Neraka itu bergegas berlari mengejar, tapi sengaja menjaga jarak. Tubuhnya ke mudian melompat ke atas pohon.

Bagai seekor burung, Pendekar Pulau Neraka itu berlompatan dari satu cabang pohon ke cabang pohon lainnya. Matanya tidak lepas memperhatikan Rara Wanti pergi. Bayu kagum juga melihat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki gadis itu. Gerakan berlarinya demikian ringan, bahkan sepertinya tidak menyentuh tanah sama sekali.

"Heh...!"

Bayu tersentak kaget begitu tiba-tiba melihat sebuah bayangan biru berkelebat cepat menghadang arah lari Rara Wanti. Dan tiba-tiba saja di depan gadis itu sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh kurus dan agak membungkuk. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya. Dia tertawa terkekeh. Sedangkan Rara Wanti berhenti berlari, dan melangkah mundur beberapa tindak.

"Ki Sampar Watu. Ada apa kau ke sini?!" dengus Rara Wanti mendahului.

"He he he..., mengapa kau selalu bersikap kasar padaku, Manis? Kau adalah milikku, dan kau akan kubawa ke mana saja aku pergi. He he he...," Ki Sampar Watu terkekeh mengge likan.

"Phuih! Tua bangka tidak tahu malu! Sudah bau tanah masih juga mencari gadis muda!" dengus Rara Wanti sengit.
"Bukan aku yang mencari. Tapi, ayahmulah yang takut kehabisan laki-laki untukmu."

"Jangan sebut-sebut ayahku! Dia bukan ayahku!" bentak Rara Wanti berang.
"Peduli setan! Ayahmu atau bukan, yang jelas. Sekarang kau harus ikut aku. Kau harus jadi gundikku!"
"Tua bangka keparat...!" geram Rara Wanti memuncak amarahnya.

Harga diri gadis itu sepertinya sudah terinjak-injak. Ini semua akibat ulah ayahnya. Rara Wanti benar-benar geram, dilemparkan buntalan kain yang dibawanya dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Buntalan kain itu meluncur deras ke arah Ki Sampar Watu. Namun sambil terkekeh, laki-laki tua berjubah biru itu mengegoskan tubuhnya sedikit ke kiri. Maka, buntalan kain itu lewat sedikit di samping tubuhnya. Dia tetap tertawa terkekeh meremehkan.

"Untuk apa buang-buang tenaga percuma. Manis? Sebaiknya kau simpan saja tenagamu untuk melayaniku," ujar Ki Sampar Watu.
"Kurang ajar! Kusobek mulut mu yang kotor itu, tua bangka!" gera m Rara Wanti merah padam wajahnya.

Rara Wanti langsung melompat sambil mencabut pedangnya yang tersampir di punggung. Cepat sekali gerakan gadis itu. Pedangnya berkelebatan bagai kilat menyambar beberapa bagian tubuh Ki Sampar Watu. Namun laki-laki tua itu manis sekali mengelakkan setiap serangan Rara Wanti. Bahkan tanpa diduga sama sekali, tangannya bergerak cepat nyelonong ke bagian dada.

"Setan! Kurang ajar...!" geram Rara Wanti sambil melompat mundur. Wajahnya semakin memerah bagai terbakar.
"Kau semakin cantik kalau marah begitu, Manis. Sungguh menggairahkan...."

"Kubunuh kau, setan tua keparat! Hiyaaat...!"

Rara Wanti kembali menyerang ganas. Kali ini dikerahkan seluruh jurus andalannya yang sangat dahsyat. Jurus permainan pedang yang diajarkan Ki Praba padanya. Jurus pedang itu memang sungguh luar biasa. Pedang ditangannya bagai memiliki mata yang berjumlah seribu, mengurung tubuh Ki Sampar Watu.

Namun laki-laki tua itu malah terkekeh. Sampai sejauh ini, tidak satu pun serangan Rara Wanti mengenai sasaran dengan tepat. Bahkan dupakan kaki Ki Sampar Watu membuat gadis itu tersungkur.

"Auh..!" Rara Wanti terpekik tertahan.

Selagi tubuh Rara Wanti tergeletak di tanah, Ki Sampar Watu melompat hendak menerkamnya. Gadis itu terbeliak, karena sukar menggerakkan tubuhnya lagi. Disadari kalau tadi Ki Sampar Watu sempat menotok jalan darahnya, sehingga jadi lumpuh seketika.

"Oh tidak...," rintih Rara Wanti lirih.

Gadis itu memejamkan matanya. Tapi ketika ditunggu-tunggu, terkaman Ki Sampar Watu tidak kunjung datang. Bahkan didengarnya satu erangan tertahan. Rara Wanti membuka matanya. Matanya semakin membeliak begitu me lihat Ki Sampar Watu tengah berusaha bangkit berdiri diantara reruntuhan pohon. Tampak di depan gadis itu berdiri seorang pemuda berbaju dari kulit harimau.

"Kakang Bayu...," desah Rara Wanti. Ada kelegaan dalam dadanya melihat ke munculan Pendekar Pulau Neraka itu.

"Hm...," Bayu menggumam pelan, kemudian membungkuk. Dibukanya totokan Ki Sampar Watu di tubuh Rara Wanti dengan totokan pula.

Rara Wanti menggerinjang bangkit. Dipungut pedangnya yang tergeletak. Sementara itu Ki Sampar Watu menggerung kesal, tapi sudah bisa berdiri. Matanya tajam memerah menatap Pendekar Pulau Neraka yang berdiri tegak sambil melipat tangan di depan dada. Sikap Bayu jelas-jelas melindungi Rara Wanti.

"Bocah gendeng! Siapa kau? Berani mencampuri urusanku!" bentak Ki Sampar Watu geram.
"Aku Pendekar Pulau Neraka. Sebelum pikiranku berubah, sebaiknya enyah dari sini!" dingin nada suara Bayu.
"Setan keparat! Lidahmu perlu diberi pelajaran, agar bisa sedikit sopan pada orang tua!"

"Adakalanya orang tua harus bertindak sopan pada yang lebih muda."
"Phuih! Lebih suka mampus rupanya kau, heh!"
"Mati dan hidupku bukan di tanganmu, tapi nyawamu ada di ujung jariku!" "Edan! Kampret...!"

Ki Sampar Watu mengumpat habis-habisan. Hatinya begitu geram mendengar kata-kata yang menyakitkan telinga itu. Wajahnya semakin memerah, dan gerahamnya bergemeletuk menahan amarah. Tanpa berkata-kata lagi, laki-laki tua itu melompat bagai kilat menerjang Pendekar Pulau Neraka.

"Mampus kau! Hiyaaat...!"
"Hup!"

Sebelum terjangan Ki Sampar Watu sampai, Bayu sudah melentingkan tubuhnya ke atas sambil menyambar pinggang Rara Wanti. Manis sekali Pendekar Pulau Neraka itu hinggap di dahan yang tinggi. Dan sebelum Ki Sampar Watu menyadari, Bayu sudah meluruk turun meninggalkan Rara Wanti di atas pohon. Kakinya yang kokoh tepat mendarat di depan Ki Sampar Watu.

***

"Hiyaaat.,"
Secepat Bayu mendarat, secepat itu pula kakinya melayang deras ke arah dada Ki Sampar Watu. Tendangan kilat yang begitu cepat dan tiba-tiba itu tidak mungkin lagi dihindari. Buru-buru Ki Sampar Watu mengibaskan tongkatnya menyampok tendangan itu.

Trak!"
"Heh...!"

Ki Sampar Watu terkejut bukan main dan buru-buru melompat mundur ke belakang. Hampir tidak dipercaya dengan apa yang baru terjadi tadi. Kedua bola matanya membeliak lebar memandangi tongkatnya yang terpotong jadi dua bagian.

Sungguh sempurna tenaga dalam yang dimiliki Pendekar Pulau Neraka. Tongkat maut yang menjadi kebanggaan Ki Sampar Watu bisa terpotong jadi dua kena tendangannya. Sedangkan Bayu sendiri tidak mengalami luka sedikit pun. Bahkan kini malah berdiri dengan tangan melipat di depan dada.

"Aku masih memberimu kesempatan hidup, Kisanak," ucap Bayu dibuat tenang.
"Phuih! Satu saat kau akan menyesal, bocah!" dengus Ki Sampar Watu geram.

Setelah berkata demikian, Ki Sampar Watu melesat cepat meninggalkan tampat itu. Begitu cepatnya melesat, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan mata. Bayu memandang ke atas, lalu tersenyum melihat Rara Wanti duduk mencangkung di dahan pohon yang cukup tinggi.

"Dia sudah pergi! Turunlah, Rara!" seru Bayi keras.
"Hup!"

Rara Wanti meluruk turun dengan manisnya! Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, gadis ini menjejak tanah tepat di depan Pendekar Pulau Neraka!
"Kau hebat, Kakang. Bisa mengusir si tua bangka cabul itu!" puji Rara Wanti agak tertekan nada suaranya pada bagian akhir.

"Kau pun bisa menandinginya kalau mampu, menahan sedikit kemarahanmu," kata Bayu merendah.
"Kau hanya membesarkan hatiku saja, Kakang."

"Tidak! Aku berkata yang sebenarnya. Tadi kau terlalu dihinggapi amarah yang meluap, sehingga tidak bisa mengontrol diri. Seorang yang tangguh seperti apa pun akan mudah dikalahkan jika tidak bisa mengendalikan amarahnya."

"Filsafat lagi." "Bukan filsafat. Tapi semua orang akan menghadapi hal yang sama. Bukan hanya dalam ilmu olah kanuragan, tapi juga dalam hal lain, ketenangan dan pengontrolan diri, akan menghasilkan hasil yang memuaskan."
"Terima kasih, Empu...," goda Rara Wanti.
"Kunyuk! Bukannya didengarkan, malah meledek!" rungut Bayu seraya berbalik dan melangkah pergi.

"Kakang, tunggu...!"
Rara Wanti berlari mengejar, dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Pulau Neraka itu.
"Kenapa mengikutiku? Bukannya tadi kau akan pergi?" sindir Bayu.
'Tidak jadi," rungut Rara Wanti. Sindiran itu langsung mengena ke hatinya.
"Lho...?!" Bayu menghentikan langkahnya. Dipandanginya wajah cantik gadis itu.
"Pikiranku berubah," kata Rara Wanti tertunduk.

"Cepat sekali...? Belum pernah kutemukan seseorang yang begitu cepat berubah pikiran."
"Aku serius, Kakang. Aku tidak jadi pergi sendirian. Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Sungguh...," nada suara Rara Wanti terdengar begitu berharap.
"Ha ha ha...!" Bayu tertawa terbahak-bahak.
"Huuuh...! Malah ketawa!" rungut Rara Wanti memberengut.
"Lucu...."
"Memangnya aku badut?!" Rara Wanti masih memberengut.

Bayu tersenyum-senyum geli, dan kembali melangkah. Rara Wanti mengikutinya, dan mensejajarkan langkahnya disamping pemuda berbaju kulit harimau itu. Mereka berjalan tidak berkata-kata lagi. Tanpa setahu mereka, seseorang memperhatikan dari jarak yang cukup jauh. Orang itu bergegas pergi, berlari kencang menuju Desa Munding. Sementara Bayu dan Rara Wanti terus berjalan sambil berbicara ringan.

Mereka berjalan tanpa tujuan yang pasti. Ke mana kaki melangkah, ke situ arah yang dituju. Tidak terasa! mereka sudah berjalan cukup jauh. Sementara matahari sudah tinggi di atas kepala. Mereka berhenti di tepi sungai kecil yang mengalir jernih. Rara Wanti membasuh wajahnya.

"Kau pasti sengaja mengikutiku tadi pagi," tebak Rara Wanti sambil menghampiri Bayu yang duduk di atas batu dengan kedua kakinya terendam ke dalam sungai.

"Iya," sahut Bayu kalem.
"Kenapa? Aku kan bukan adikmu, juga bukan apa-apamu," Rara Wanti ingin tahu.
"Karena kau perlu seorang teman, dan aku rasa...."
"Kau orang yang tepat. Begitu kan?" potong Rara Wanti cepat.
"Mungkin. Itu pun kalau tidak berkeberatan "
'Tentu saja tidak. Aku merasa terlindung bersama mu. Kau hebat, bisa mengalahkan si tua bangka cabul itu."
'Tidak selamanya aku harus melindungimu, Rara. Satu saat kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Bukan untuk selamanya aku berada bersama mu."
"Kau akan meninggalkanku, Kakang?"
"Aku tidak dapat menolak seandainya memang harus berpisah."

Rara Wanti terdiam. Matanya berputar merayapi wajah tampan di depannya, seolah-olah hendak mencari sesuatu diwajah yang keras dengan garis-garis ketegasan itu. Tapi hatinya jadi kecewa, karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Rara Wanti menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat

"Ada seseorang yang lebih berhak menjadi pelindung dan sandaran hidupmu, Rara," ujar Bayu pelahan.
"Tidak ada!" sentak Rara Wanti cepat. Bayu hanya tersenyum saja. "Kenapa tersenyum?"

"Kau menyembunyikan perasaanmu, Rara. Aku tahu, didalam hati kecilmu kau tengah mengharapkan seseorang. Entah siapa, yang jelas seseorang yang telah menyebarkan bibit asmara di hatimu. Aku bisa merasakan itu, Rara. Dari sinar matamu," lembut nada suara Bayu.

Rara Wanti terdiam membisu. Ucapan Bayu yang lembut itu terasa mengena lubuk hatinya yang pating dalam. Memang tidak bisa dibantah. Dan secara jujur memang diakui kebenaran kata-kata itu. Saat ini memang tengah diharapkan kehadiran seseorang yang sangat dicintainya. Tapi juga dibenci dan mengecewakan hatinya. Seseorang yang diharapkan akan mengeluarkannya dari kurungan sangkar emas, ternyata menghilang begitu saja selama tiga tahun. Tanpa kabar, tanpa berita, juga tanpa kata-kata perpisahan. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Menunggu dalam penantian, terkurung dalam kemewahan yang semu.

Kini setelah muncul seorang pemuda yang begitu cepat menarik simpatinya, tapi pemuda itu malah seperti menghindar. Memang tidak mungkin seorang gadis mengemukakan perasaannya lebih dahulu, meskipun semua itu sudah ada di hatinya. Bahkan hampir meledak. Tapi biar bagaimanapun setiap gadis pasti akan menyimpannya rapat-rapat. Paling tidak menunggu pancingan yang tepat mengoyak dinding hatinya.

"Melamun lagi. Perut tidak kenyang diisi lamunan terus," goda Bayu.
Rara Wanti tersenyum kecut.
"Bawa bekal?" tanya Bayu.
"Tida k," Rara Wanti menggeleng.
"Itu?" Bayu menunjuk buntalan kain di bahu kanan gadis itu.
"Hanya pakaian, dan sedikit uang serta perhiasan," sahut Rara Wanti.

"Terpaksa, kita harus berburu. Tidak ada kedai di tengah hutan begini."
"Aku kenal daerah ini Di hulu sungai ada sebuah desa. Tidak besar, tapi kedai di sana cukup nyaman. Makanannya pun cukup enak," kata Rara Wanti.
"Desa apa?" tanya Bayu.
"Desa Pekacangan."
"Pernah ke sana?"
"Pernah juga, tapi tidak sering."
"Baiklah. Perut juga sudah minta diisi nih."

Lagi-lagi Rara Wanti tersenyum. Kali ini senyumnya begitu manis dan lepas. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri sungai menuju ke hulu. Sepanjang jalan yang dibicarakan hanyalah hal-hal ringan saja. Dan setiap kali Bayu menyinggung kehidupan pribadi gadis itu, Rara Wanti langsung mengelak. Malah membelokkannya ke arah pembicaraan lainnya.

***
EMPAT

Di dalam rumah besar di Desa Munding, Ki Praba tampak uring-uringan mendengar laporan salah seorang anak buahnya yang melihat Rara Wanti dan Pendekar Pulau Neraka di hutan Bukit Sidayu. Dikumpulkanlah semua tukang pukulnya yang rata-rata memiliki tubuh kekar dan berkepandaian cukup tinggi.

"Dengar! Siapa saja di antara kalian yang bisa membawa hidup-hidup anak celaka itu akan kuberikan untuk kalian. Dan kalau kepalanya, seribu keping uang emas sebagai hadiahnya!" kata Ki Praba mantap.

Perintah Ki Praba disambut gembira semua tukang pukulnya. Bahkan yang hanya berkemampuan pas-pasan ikut menyambut penuh semangat. Siapa yang tidak tergiur dengan seribu keping uang emas? Bahkan mereka bisa saja menikmati dulu kemolekan tubuh Rara Wanti, lalu membawa kepalanya pada Ki Praba Berbagai macam bayangan indah berkecamuk di dalam lima puluh kepala anak buah Ki Praba.

"Sekarang juga kalian bisa laksanakan!" lanjut Ki Praba.

Lima puluh orang yang menjadi tukang kepruk Ki Praba bergegas meninggalkan ruangan depan yang luas itu. Sedangkan Ki Praba masih duduk di kursinya bersama Jantar yang tetap menemani dengan raut wajah berubah-ubah.

"Aku rasa keputusanmu terlalu cepat, Ki," ujar Jantar hati-hati.
"Hm.... Apa maksudmu, Jantar?" gumam Ki Praba seraya menatap tajam laki-laki berusia sekitar ilua puluh lima tahun itu.

"Kita belum tahu jelas, siapa pemuda yang bersama Rara Wanti. Laporan itu masih samar-samar sama sekali. Seharusnya diselidiki dulu kebenarannya, baru mengambil keputusan. Tapi jika Rara Wanti dibunuh aku yakin masalah ini belum tentu selesai, Ki. Ki Sampar Watu pasti tidak akan puas, dan tetap menuntut janjimu."

"Hm...," Ki Praba hanya bergumam tidak jelas.
"Bukan hanya Ki Sampar Watu. Yang jelas masih banyak orang-orang yang harus kita hadapi. Ada Muka Mayat, Kebo Ireng, dan yang terpenting Nyai Supit sendiri. Sikapnya belakangan ini sangat mencurigakan terutama sejak munculnya Awijaya yang menginap dirumahnya," lanjut Jantar.

"Kau berada di sini bukan untuk mengajariku, Jantar. Tugasmu hanya mengawalku, lain tidak!" dingin nada suara Ki Praba.
"Maaf, Ki. Aku hanya mengemukakan pendapat."
"Kau berkata seperti takut menghadapi mereka. atau memang gentar?" sinis ucapan Ki Praba.

"Tidak ada yang membuatku gentar, Ki. Aku hanya ingin menyampaikan kalau keputusanmu terlalu cepat. Kau perintahkan semua anak buah kita pergi mencari Rara Wanti, sementara kau juga tidak berpikir untuk menjaga tempat ini," Jantar mengingatkan.

"Jangan cemas, Jantar. Besok sahabat sahabatku datang. Tiga orang ditambah dirimu, aku rasa sudah cukup menghadapi mereka semua. Aku tidak butuh tikus-tikus yang hanya bisa mengeruk gentong nasi tanpa bekerja yang becus. Biar mereka pergi menemui ke matiannya. Toh mereka tidak akan sanggup menandingi Rara Wanti."

"Terus terang, aku tidak mengerti tujuanmu, Ki"

Ki Praba hanya tersenyum saja, lalu bangkit berdiri dan melangkah masuk kedalam ruangan tengah. Jantar hanya memandangi saja. Masih belum bisa paham jalan pikiran Ki Praba. Keberadaannya di sini memang dibayar untuk mengawal laki-laki angkuh di samping nyawanya pernah diselamatkan ketika hampir kalah bertarung melawan seorang tokoh berkepandaian tinggi. Dia merasa berhutang budi, bertekad untuk selalu mendampingi Ki Praba yang biasanya sejalan dan sepikiran dengannya. Tapi, sekarang ini Jantar sungguh-sungguh sukar mengerti jalan pikiran dan tujuan yang akan ditempuh Ki Praba Bahkan sampai tidak habis mengerti, kenapa Ki Praba sampai tega hendak membunuh anaknya sendiri?

***

Entah dari mana awalnya, berita tentang Rara Wanti yang kini berjalan bersama seorang pemuda berbaju kulit harimau sudah tersebar luas. Dan berita itu pun juga telah sampai ke telinga Awijaya. Tentu saja pemuda itu sudah menduga, dengan siapa Rara Wanti sekarang. Dan itulah yang membuat dirinya kini jadi uring-uringan tidak menentu. Disadari kalau tingkat kepandaiannya jauh di bawah Pendekar Pulau Neraka. Apalagi dia tahu betul watak Rara Wanti yang mudah simpati terhadap pemuda berkepandaian tinggi. Ditambah lagi, pemuda itu tampan, gagah, dan memiliki kelebihan tertentu. Tapi yang jelas, Rara Wanti selalu mengagumi pemuda berkepandaian tinggi. Lebih tinggi dari kepandaian yang dimiliki gadis itu.

Untuk menghadapi Rara Wanti, Awijaya memang bisa mengungguli. Tapi menghadapi Pendekar Pulau Neraka....
Awijaya tidak tahu lagi, apa yang harus diakukannya. Tiga tahun menempa diri dan memperdaalam ilmu olah kanuragan di tempat yang jauh dari desa ini hanya untuk satu tujuan. Tapi semua usaha yang dilakukannya jadi terasa sia-sia. Ada sedikit keputusasaan terselip dalam hatinya.

鈥淎ku memang sering mendengar sepak terjang pendekar Pulau Neraka. Tapi kalau mendengar petualangannya dalam memikat seorang gadis rasanya belum pernah," kata Nyai Supit.

Awijaya hanya diam saja. Semua memang sudah diceritakannya pada perempuan gemuk itu. Bahkan tentang tulisan yang dikirimkan Pendekar Pulau Neraka padanya diperlihatkan pada Nyai Supit.

"Dari surat yang dikirimkan untukmu saja sudah jelas, kalau kau akan dipertemukan dengan Rara Wanti. Bersabarlah, jangan menuruti darah muda dan hawa nafsu yang tidak terkendali. Aku yakin kalau Pendekar Pulau Neraka bermaksud baik untuk dirimu dan Rara Wanti," sambung Nyai Supit.

"Tapi Rara Wanti mudah sekali jatuh simpati pada setiap orang yang berkemampuan tinggi, Nyai," tegas Awijaya.

"Rasanya aku masih ingat ketika seorang anak pembesar kadipaten mencoba merebut Rara Wanti dari tanganmu. Meskipun kau berhasil dibuat babak belur, dan ayahnya mendesak Rara Wanti untuk menerima pinangannya, tapi dia tetap memilihmu. Aku rasa Rara Wanti juga tidak melihat kepandaian seseorang, Awijaya. Kalau hanya sekadar simpati, aku juga selalu jatuh simpati kalau me lihat seseorang berkemampuan tinggi. Tapi itu bukan berarti mencintainya," Nyai Supit menasehati.

Awijaya hanya diam saja. Secara jujur diakui kebenaran pada ucapan Nyai Supit Tapi tetap saja hatinya merasa khawatir kalau Rara Wanti akan terenggut darinya. Masalahnya, yang bersama gadis itu sekarang ini adalah orang pendekar muda dan tampan yang sudah kondang namanya. Tingkat kepandaiainya pun sukar diukur, dan sulit dicari tandingannya

"Awijaya, kau seorang laki-laki. Usia mu sudah ukup matang, dan mampu berpikir secara dewasa. Aku percaya kau bisa menghadapi persoalan ini dengan kepala dingin," sambung Nyai Supit lagi. suaranya tetap terdengar lembut.
"Tapi bagaimanapun juga aku harus pergi, Nyai. Aku harus menemuinya sebelum orang-orang Ki Praba mendapatkannya," ujar Awijaya bertekad.

"Kalau maksudmu mulia, tentu akan kudukung. tapi kalau niatmu untuk memusuhi Pendekar Pulau Neraka, dan membawa Rara Wanti secara paksa, itu sama saja bunuh diri. Dan mungkin seumur hidupku tidak akan kulihat kuburanmu," tegas kata-kata Nyai Supit.

"Aku tahu, Nyai. Meskipun kabar yang kudengar tentang Pendekar Pulau Neraka tidak terlalu baik, tapi aku akan berusaha mengenalnya lebih dekat," janji Awijaya

"Bagus, kapan kau akan berangkat?"
"Besok pagi."
"Akan kuserahkan kedai dan penginapan ini pada keponakanku."
"Nyai...!" Awijaya terkejut.
"Sudah waktunya aku istirahat, Awijaya. Aku ingin bersama-sama ibumu dan adik-adikmu. Tapi sebelum itu ingin, kubalas sakit hati suamiku dulu."

"Itu berarti Nyai akan menantang Ki Praba?"
Nyai Supit hanya tersenyum saja.

"Meskipun Ayah mati karenanya, tapi aku tidak akan mendendam. Nyai. Biar bagaimanapun aku masih bisa menghargai perasaan Rara Wanti. Maaf kalau aku tidak bisa membantumu, Nyai," ucap Awijaya agak menyesal.

"Percayalah, aku tidak akan melibatkanmu."
"Mudah-mudahan berhasil, Nyai."
Lagi-lagi Nyai Supit hanya tersenyum saja

***
Hampir tengah malam Awijaya belum Juga bisa memicingkan matanya. Pikirannya masih menerawang jauh, melayang tanpa batas akhir. Hatinya kelihatan gelisah di pembaringan. Udara malam yang dingin, jadi terasa panas. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya.

"Rara Wanti.... Akan sia-siakah harapanku selama ini...?" desah Awijaya lirih.

Awijaya menggelinjang bangun, lalu duduk menjuntai ditepi pembaringan. Pandangannya kosong menembus langsung ke luar melalui jendela yang terbuka lebar. Sebentar ditarik napas panjang, dan di hembuskannya kuat-kuat Pelahan-lahan tubuhnya bangkit berdiri. Namun belum juga berdiri tegak.

tiba-tiba....
"Akh...!"

"Heh...!" Awijaya tersentak kaget begitu mendengar suara pekikan tertahan.

Pemuda yang selalu mengenakan baju merah muda itu melompat ke jendela. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba terlihat dua bayangan keluar dari salah satu jendela kamar. Awijaya tersentak. Jelas itu adalah kamar Nyai Supit.

"Hup!"

Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda itu melompat keluar dari jendela kamarnya, langsung menuju ke jendela kamar Nyai Supit yang tebuka lebar. Dua bayangan yan berkelebat tadi sudah lenyap dari pandangan mata, hilang ditelan kegelapan malam. Awijaya menerobos masuk ke kamar perempuan ge muk itu.

"Nyai...!" Awijaya terpekik kaget begitu berada di dalam kamar itu.

Bergegas Awijaya memburu sosok tubuh gemuk yang menggeletak berlumuran darah di atas pe mbaringan. Suasana di dalam kamar itu benar-benar berantakan. Meja kursi, lemari, dan perabotan lain bergelimpangan hancur berantakan.

"Nyai...," agak tertahan suara Awijaya.

Bola mata pemuda itu berputar, merayapi darah yang mengucur deras dari dada dan leher Nyai Supit Pemuda itu sempat melihat adanya gerakan lemah dari kepala wanita gemuk itu.

"Ki Praba...," hanya itu yang bisa diucapkan Nyai Supit.

Seketika itu juga kepalanya terkulai, tidak bergerak-gerak lagi. Awijaya mengguncang-guncangkan tubuh tambun itu. Tapi nyawa Nyai Supit sudah menghilang, terbang dari raganya. Awijaya terduduk lemas. Wajahnya sebentar memerah, sebentar memucat pasi Dadanya bergemuruh hebat, kemudian bangkit berdiri "Nyai, aku akan membalas kematianmu. Ki Praba harus mati. Aku janji, Nyai...!" agak tersendat suara Awijaya.

Secepat kilat pemuda berbaju merah muda itu melesat keluar melalui jendela kamar yang terbuka berantakan. Dalam sekejap saja dia sudah berlari kencang menembus kegelapan malam. Tujuannya jelas kediaman Ki Praba yang tidak berapa jauh dari rumah penginapan dan kedai Nyai Supit. Tanpa menghentikan larinya, Awijaya melompat melewati pagar batu yang cukup tinggi seperti benteng. Langsung didaratkan kakinya ringan di tengah-tengal halaman yang luas bagai lapangan. Keadaannya sangat sunyi, tidak terlihat seorang pun di sekitarnya. Bahkan hanya ada sebuah pelita saja yang menyala di bagian beranda depan. Selebihnya hanya kegelapan yang ada.

"Ki Praba! Keluar kau...!" teriak Awijaya lantang. Sepi. Tidak ada sahutan sedikit pun. Hanya angin malam yang dingin menyahuti teriakan pemuda itu Awijaya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tetap sunyi. Tidak terlihat seorang pun di sekitar rumah besar ini
"Pengecut!" geram Awijaya.

Pemuda berbaju merah muda itu melompat dan berputaran dua kali di udara. Dan dengan manis sekali, tanpa menimbulkan suara sedikit pun kakinya mendarat di beranda depan. Kembali dia berteriak keras, menyuruh Ki Praba keluar. Tapi tetap saja tidak ada sahutan. Awijaya semakin kesal tak tertahankan. Dirampasnya pelita yang tergantung di beranda. Dengan kemarahan yang meluap, pemuda itu melemparkan pelita ke dalam rumah. Seketika saja api berkobar besar melahap bagian dalam ru

Awijaya melompat ke atas atap, dan terus berlari ke bagian belakang. Ringan sekali tubuhnya melunak turun, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pemuda itu mendarat lunak dibagian belakang rumah besar ini. Sebuah pelita yang menempel di dinding direnggut secara kasar, lalu dilemparkannya ke dalam rumah. Kembali api berkobar membesar begitu pelita itu pecah berantakan.

"Huh!" Awijaya mendengus menyemburkan ludahnya.

Tanpa menghiraukan api yang semakin membesar melahap rumah besar itu, Awijaya melentingkan tubuhnya keluar, kembali ke halaman depan. Betapa terkejutnya dia begitu kakinya mendarat. Tampak penduduk berbondong-bondong membawa obor, lalu melemparkannya ke rumah besar yang selama ini dibencinya.

Tindakan Awijaya membuat para penduduk yang selama ini hanya diam tertekan penderitaan, benar-benar ingin melampiaskan segala tekanan batinnya pada rumah besar itu. Api semakin besar berkobar melahap setiap bagian rumah besar bagai istana itu. Awijaya memandanginya tanpa berkedip. Ada sedikit keharuan di hatinya ketika melihat para penduduk bersorak-sorai gembira menyaksikan rumah yang dianggap sebagai sumber neraka dan malapetaka kini dilahap api dengan ganasnya.

Awijaya membalikkan tubuhnya, dan melangkah meninggalkan tempat yang terang benderang dilahap api Dia berjalan sambil menyibakkan kerumunan penduduk yang memadati halaman besar rumah itu. Ada kegembiraan, kesedihan, dan keharuan di dalam hatinya. Bermacam perasaan berkecamuk, sukar untuk diungkapkan dengan untaian kalimat Tak ada seorang yang memperhatikan pemuda berbaju merah muda yang terus melangkah semakin jauh.

***

鈥淪iapa sebenarnya yang membunuh Nyai Supit? Kemana Ki Praba pergi...?鈥�

Tak sedikit pertanyaan yang mengganggu pikiran Awijaya Pemuda itu pergi tanpa tujuan dengan membawa hati yang panas, terselimut dendam membara.

Hanya satu dalam pikirannya. Mencari Ki Praba. Dia yakin betul kalau laki-laki itulah yang membunuh Nyai Supit. Meskipun dalam keadaan gelap, masih sempat dikenali salah satu bayangan yang berkelebat cepat keluar dari kamar Nyai Supit malam itu.

Sementara itu, di sebelah Utara Bukit Sidayu, tampak Ki Praba duduk mencangkung di atas batu. Kedua kakinya terendam kedalam sungai yang kecil berair jernih. Didekatnya berdiri Jantar. Pandangan mata pemuda itu menatap lurus ke tanah di tepi sungai kecil ini.

"Ki...," panggil Jantar, seraya berjongkok menekuri tanah berair.
"Ada apa?" tanya Ki Praba menghampiri.
"Ada jejak kaki dua orang. Arahnya menuju kehulu," jelas Jantar "Hm...," Ki Praba menggumam pelahan. Dia mati jejak-jejak kaki yang hampir tenggelam. Kelihatan masih jelas membekas di tanah.

"Jelas kalau ini jejak kaki laki-laki dan perempuan, Ki," tegas Jantar seraya berdiri dan melangkah pelan-pelan mengikuti jejak-jejak kaki yang tertera cukup jelas di tanah tepi sungai ini.
"Belum ada yang ke hulu melalui tepi sungai ini...," gumam Ki Praba.
"Kecuali Rara Wanti," sambung Jantar.
"Benar. Ayo kita ke sana!" seru Ki Praba.

Kedua laki-laki itu bergegas mengayunkan kakinya mengikuti jejak yang menuju ke hulu. Mereka tahu kalau di bagian hulu sungai ini ada sebuah desa kecil. Desa Pekacangan yang kerap didatanginya. Di desa itu Ki Praba juga mempunyai teman yang setiap saat bisa membantunya. Ki Praba semakin bersemangat Memang kepala Rara Wanti dan orang yang membawanya ingin segera dipenggalnya.

"Kenapa bergegas, Ki Praba...?" tiba-tiba terdengar suara teguran lunak.

Ki Praba dan Jantar tersentak kaget. Mereka langsung berhenti melangkah, dan menoleh kearah datangnya suara tadi Tampak seorang laki-laki yang masih muda usianya tengah duduk bersila di atas sebatang pohon tumbang. Pakaiannya putih panjang, hampir menutupi kakinya. Rambutnya putih. Dan yang paling menonjol adalah raut wajahnya yang pucat bagai mayat. Ki Praba kenal betul, kalau laki-laki itu adalah si Muka Mayat, salah seorang musuhnya.

"Sukar dipercaya kalau Ki Praba rela turun tangan hanya untuk memburu seseorang. Ah...,mungkin pamornya sudah hilang, sehingga berjalan kaki tergesa-gesa hanya ditemani seekor anjing geladak," pelan kata-kata si Muka Mayat, tapi sanggup membuat wajah Jantar merah padam.

"Muka Mayat! Apa pedulimu dengan urusanku?!" bentak Ki Praba sengit
"Tentu saja aku peduli kalau kau tetap memburu Rara Wanti," sahut si Muka Mayat kalem.
"Phuih! Dia anakku, tida k ada urusannya denganmu! "

"Anakmu...? Ha ha ha...!" si Muka Mayat tertawa tergelak-gelak. Namun suara tawanya begitu sumbang dan tidak enak didengar. "Sejak kapan kau punya anak, Ki Praba? Bukankah Rara Wanti itu hanya budak pajanganmu? Lambang hadiahmu? Sungguh dunia sudah terbalik...!"

"Tutup mulutmu, keparat!" geram Ki Praba gusar, lalu melirik Jantar.
"Ha ha ha...!" si Muka Mayat semakin keras tergelak. Perutnya yang agak buncit terguncang-guncang menahan rasa geli yang menggelitik tenggorokannya.
"Keparat..! Mampus kau! Hiyaaat..!"

Ki Praba tidak bisa lagi menahan amarahnya, dan langsung melompat cepat bagai kilat menerjang laki-laki muda yang usianya sekitar tiga puluh tahun itu. Secepat itu pula Ki Praba melontarkan dua pukulan dahsyat bertenaga dalam tinggi secara beruntun.

"Hait..!"

Namun dengan manis sekali si Muka Mayat berkelit melambungkan dirinya ke atas, kemudian berputaran di udara melewati kepala Ki Praba. Dan sebelum kakinya menjejak tanah, satu tendangan menyamping diarahkan ke punggung laki-laki setengah baya itu. Tapi belum juga tendangannya sampai pada sasaran, mendadak dua buah pisau kecil meluncur deras ke arahnya.
"Ikh! Curang!" dengus si Muka Mayat seraya melentingkan tubuhnya ke belakang.

Dan begitu kaki si Muka Mayat mendarat di tanah, kembali dua buah pisau tipis meluncur bagai kilat ke arahnya, disusul tebasan sebilah pedang ke arah leher. Menghadapi dua serangan kilat dan dahsyat itu, si Muka Mayat tidak punya pilihan lain lagi. Secepat kilat dilepaskan sabuknya, dan langsung diputarnya bagai baling-baling.

Trang! Tring!

Baik Ki Praba maupun Jantar terkejut saat senjata-senjatanya berbenturan dengan sabuk si Muka Mayat Sabuk yang kelihatan lemas itu ternyata sangat kuat melebihi baja. Senjata Ki Praba sampai terpental hampir terlepas dari tangan. Sedangkan pisau-pisau yang dilepaskan Jantar mental balik kearah pemiliknya.

"Hup!"

Jantar menggerakkan tangannya cepat, dan tangkas sekali menangkap pisau-pisau itu. Si Muka Mayat tertawa terkekeh. Sementara Ki Praba dan Jantar saling berpandangan sejenak, ke mudian serempak menyerang menggunakan senjata masing-masing dari dua arah yang berlawanan.

***
LIMA

Ki Praba dan Jantar benar-benar tidak lagi memberi kesempatan si Muka Mayat untuk tetap hidup. Mereka menyerang secara beruntun dan bergantian. Sedikit pun tidak memberi peluang lawan untuk balas menyerang. Hal ini tentu saja membuat si Muka Mayat kelabakan setengah mati. Beberapa pukulan dan tendangan bertenaga dalam tinggi bersarang di tubuhnya. Beberapa kali dia berusaha kabur, tapi selalu dapat terkejar.

Tempat pertarungan sudah berpindah pindah, dan semakin menjauhi sungai. Tanpa disadari, justru mereka semakin dekat ke hulu. Daerah sekitar pertarungan itu benar-benar porak-poranda. Pohon-pohon bertumbangan, batu-batu pecah berantakan. Tapi pertarungan itu masih terus berlangsung sengit.

"Jantar, ambil kaki...!" tiba-tiba Ki Praba berseru nyaring.
"Baik, Ki!" sahut Jantar. "Hiyaaat...!"

Jantar tidak membuang waktu lagi, dan langsung menyusur mempergunakan jurus 'Ular Melibat Bukit'. Sasaran yang diincar tentu saja kaki lawan. Hal ini membuat si Muka Mayat harus berpelantingan ke atas menghindari serangan yang tidak pernah berpindah itu. Tapi laki-laki muda itu jadi tersentak, karena Ki Praba justru mengarahkan serangan ke bagian dada dan kepala.

"Modar...!" seru Ki Praba tiba-tiba.

Seketika itu juga Ki Praba menggedor tangannya ke arah dada si Muka Mayat, namun masih juga bisa dihindari. Tapi si Muka Mayat tidak bisa lagi menghindari sabetan tangan Jantar pada betisnya, dan....

"Akh...!" si Muka Mayat me mekik tertahan.

Tulang betis si Muka Mayat langsung remuk seketika, dan tubuhnya jatuh bergulingan di atas tanah. Pada saat itu, Ki Praba menghunjamkan pedangnya ke arah dada si Muka Mayat

"Mampus kau! Hiyaaat..!"
Cleb!
"Aaakh...!" si Muka Mayat menjerit keras melengking.

Darah langsung muncrat begitu pedang Ki Praba ditarik keluar. Dan laki-laki setengah baya itu belum juga puas meskipun lawannya sudah menggelepar meregang nyawa. Maka dibabatkan pedangnya ke arah leher, hingga kepala si Muka Mayat terpisah dari tubuhnya.

'Tamat riwayatmu, Muka Mayat!" desis Ki Praba diiringi desahan napas panjang.

Ki Praba memasukkan kembali pedangnya kedalam sarungnya di punggung. Kakinya melangkah menghampiri Jantar, yang sudah berdiri tegak mengatur jalan napasnya. Sebentar mereka saling berpandangan, kemudian melangkah menuju ke Desa Pekacangan yang tidak berapa jauh lagi. Mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi.

Tapi tiba-tiba saja Jantar berhenti melangkah, lalu menatap tajam pada Ki Praba. Dan Ki Praba juga menghentikan langkahnya. Agak heran juga laki-laki setengah baya ketika melihat tatapan mata yang begitu tajam menusuk.

"Ada apa, Jantar?" tanya Ki Praba.
"Benarkah yang dikatakan si Muka Mayat tadi, Ki?" Jantar balik bertanya. Suaranya datar, bernada minta penjelasan.
"Kata-kata yang mana?"
"Tentang Rara Wanti. Benarkah dia bukan anakmu?"
"Ha ha ha...!" Ki Praba tertawa terbahak-bahak. "Benar Rara Wanti bukan anakmu, Ki?" tanya Jantar mengulangi pertanyaan. Ada sedikit tekanan pada nada suara pemuda itu.

"Tidak usah kau hiraukan, Jantar. Rara Wanti itu anakku," jelas Ki Praba seraya menepuk bahu kanan pemuda itu.
"Tapi kenapa kau akan membunuhnya?" tanya Jantar meminta penjelasan.
"Bagiku seorang pengkhianat harus dibunuh, tidak peduli apakah anak atau bukan!" tegas jawaban Ki Praba.

Jantar terdiam. Jawaban tegas itu membuatnya teringat peristiwa beberapa tahun yang laki. Ki Praba memenggal istri ketiganya tanpa bergeming sedikit pun. Padahal hanya karena istri ketiganya berbicara berdua dengan seorang lelaki ditegalan. Bahkan tega-teganya Ki Praba memancang kepalanya di atas tonggak bambu selama tujuh hari. Katanya, itu sebagai peringatan bagi yang lain agar berpikir dua kali kalau ingin mengkhianatinya. Tapi, benarkah Rara Wanti berkhianat?

Jantar sendiri tak mengerti. Masalahnya hanya sepele. Rara Wanti kabur dari rumah karena tak ingin terus-menerus dijadikan barang pajangan untuk pertarungan yang selalu diingkari Ki Praba. Sudah beberapa kali Ki Praba mengadakan adu kepandaian jago-jago rimba persilatan, yang berhadiah seribu keping uang emas ditambah boleh memboyong Rara Wanti. Hadiah yang menggiurkan, tapi Ki Praba tak pernah menepatinya Tentu saja hai ini membuat mereka yang sudah menang jadi sakit hati, termasuk si Muka Mayat tadi. Juga, Ki Sampar Watu dan Kebo Ireng. Mereka berusaha untuk mengambil Rara Wanti dan membunuh Ki Praba, tapi selalu gagal. Hingga sekarang ini, Rara Wanti jadi seorang gadis buronan.

"Ayo, jalan lagi," ajak Ki Praba Jantar kembali melangkah meskipun jawaban yang diberikan Ki Praba belum memuaskan hatinya.
Tapi hal itu tidak berani ditanyakannya lagi. Masalahnya, sedikit saja Ki Praba merasa tersinggung, kepala Jantar bisa terpisah seketika.

"Jantar, bagaimana kalau kutawarkan Rara Wanti untukmu?" ujar Ki Praba setelah lama terdiam.
"Ah, Ki Praba bergurau," desah Jantar tidak percaya.
"Syaratnya hanya satu. Itu pun kalau kau terima, Jantar," kata Ki Praba lagi.

"Rara Wanti terlalu cantik untukku, Ki. Lagi pula dia tidak bakal mau."
"Semua bisa diatur, Jantar. Aku hanya menginginkan agar kau membunuh laki-laki yang sekarang bersamanya. Hanya itu," tegas Ki Praba lagi.
"Lalu, bagaimana kalau Rara Wanti menolak?"
"Paksa!',

"Apa...?"
"Ha ha ha...!" Ki Praba tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Jantar yang memerah tersipu malu.

Bicara Ki Praba memang selalu blak-blakan. Bahkan terlalu gamblang, tidak mempedulikan perasaan orang lain. Meskipun usianya sudah cukup, tapi Jantar belum pernah sekali pun bergaul dengan seorang gadis. Apalagi untuk memaksakan kehendaknya pada wanita. Memang diam-diam Jantar selalu mengimpikan bisa menyunting Rara Wanti. Bahkan sering juga mengintip gadis itu jika mandi di sungai, atau berganti pakaian di kamarnya. Tapi hanya segitu saja keberaniannya. Tidak lebih!

Jika sekarang mendapat tawaran demikian, maka Jantar merasakan seperti mendapat durian runtuh. Sudah lama diinginkan tawaran seperti itu. Dan secara jujur hatinya selalu berdebar jika ada seorang jago yang seharusnya berhak memboyong Rara Wanti. Tapi akhirnya dia selalu dapat menarik napas lega, karena sampai saat ini belum ada seorang laki-laki pun yang dapat memboyong Rara Wanti. Hanya saja gadis itu kini bersama laki-laki lain. Dan itu pun setelah Rara Wanti menjadi gadis buronan secara terbuka.

"Bagaimana, Jantar. Kau terima?" desak Ki Praba.
"Sulit untuk menjawabnya, Ki!" Jantar masih merendahkan diri.
"Tidak perlu dijawab. Asal kau tunjukkan keinginanmu, aku sudah bisa mengerti. Pokoknya, bunuhlah laki-laki itu, kemudian kau boyong putriku. Kemudian kita bisa kembali ke Desa Munding, dan menguasai desa itu selamanya. Ha ha ha...!"

Jantar hanya tersenyum dikulum. Meskipun senang, tapi hati kecilnya masih diliputi keraguan. Bukan satu atau dua tahun bersama Ki Praba. Tentu sudah kenal betul wataknya. Bisa saja dia bertarung mati-matian, tapi hati kecilnya melarang untuk lebih banyak lagi mengharap. Tidak akan mungkin Rara Wanti bisa didapat kecuali dibawa pergi, dan bersama-sama menjadi buronan Ki Praba. Itu pun kalau Rara Wanti mau. Sulit bagi Jantar untuk bisa bergembira dulu sekarang ini.

***

Sementara itu, tidak jauh dari Desa Pekacangan, Bayu Hanggara tengah disibuki tingkah Rara Wanti yang selalu membuntuti dan ingin ikut bersamanya. Bukannya tidak melihat kecantikan dan kemolekan gadis itu, tapi Bayu tahu kalau ada seorang pemuda yang lebih berhak terhadap Rara Wanti. Dan hal ini sudah diutarakan pada Nyai Supit untuk mengembalikan Rara Wanti pada Awijaya.

"Ini kan jalan ke Desa Munding...," gumam Rara Wanti begitu mengenali jalan yang ditempuhnya. "Memang," sahut Bayu kalem.
"Mau apa ke sana?" Rara Wanti membeliak, dan langsung berhenti melangkah.
"Aku ada janji dengan seseorang di sana," sahut Bayu masih tetap kalem.
"Janji sama siapa?" tanya Rara Wanti. Nada suaranya sedikit ditekan.
"Teman," sahut Bayu singkat, seraya kembali melangkah.
"Wanita?" tebak Rara Wanti kembali berjalan di samping Pendekar Pulau Neraka itu.
"He-eh."
"Cantik?"

Bayu tidak menjawab, tapi hanya tersenyum saja. Dari nada suaranya, Bayu sudah bisa menebak apa yang diingini gadis ini. Tapi justru itulah yang tidak diinginkannya. Bayu selalu menjaga jarak, meskipun beberapa kali sikap Rara Wanti seperti sengaja memancingnya.

"Cantik mana dia denganku?"

Terkejut juga Bayu mendengar pertanyaan itu, sehingga langsung berhenti melangkah. Ditatapnya dalam-dalam bola mata yang bulat, bening dan indah itu. Rara Wanti bukannya memalingkan muka, tapi malah membalasnya dengan tajam pula. Sepertinya gadis ini sudah nekad, sehingga tidak bisa lagi memendam terus perasaannya pada pendekar muda yang tampan dan sangat tinggi kepandaiannya ini. Memang sudah menjadi wataknya bahwa Rara Wanti selalu mengagumi pemuda yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Terlebih lagi pemuda itu berwajah tampan dan tegap berisi.

"Sudah sore, sebaiknya kita cari tempat bermalam," kata Bayu tidak ingin melanjutkan. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Kakang," desak Rara Wanti.
"Nanti juga kau akan tahu...," ucapan Bayu terputus.

Telinga Pendekar Pulau Neraka yang tajam dan terlatih, tiba-tiba mendengar langkah kaki yang halus, tidak beberapa jauh dari tempat ini Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bayu menarik tangan Rara Wanti, dan langsung melompat tinggi keatas. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Pendekar Pulau Neraka itu hinggap bersama Rara Wanti di atas dahan yang tinggi.

"Ada apa?" bisik Rara Wanti.
"Ssst...!" Bayu menutup bibir gadis itu dengan jari telunjuknya.

Rara Wanti malah memegang jari itu dan menciumnya lembut. Sejenak Bayu menatap, ke mudian menarik tangannya tanpa membuat hati gadis itu tersinggung. Dan belum lagi Rara Wanti mengucapkan sesuatu, terlihat dua orang laki-laki berjalan cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

Hampir saja Rara Wanti memekik begitu mengenali dua orang yang berjalan di bawah pohon ini. Untung saja Bayu cepat-cepat membekap mulutnya. Dua orang laki-laki itu terus saja berjalan cepat tanpa ada suara sedikit pun yang ditimbulkannya. Bayu baru melepaskan bekapannya setelah kedua orang itu tidak terlihat lagi.

"Ayah..., mau apa dia?" tanya Rara Wanti untuk dirinya sendiri.
"Arahnya ke Desa Pekacangan," kata Bayu.
"Ayah pasti ke rumah Paman Praraga. Celaka, Bayu!" sentak Rara Wanti langsung pucat wajahnya.
"Kenapa?" Bayu menatap dalam-dalam bola mata gadis itu. "Paman Praraga sangat tinggi ilmunya, dan kejam sekali. Dia satu-satunya kerabat Ayah yang tidak pernah menyukaiku," jelas Rara Wanti singkat.
"Hm..., Pasti ada sebabnya, bukan?" gumam Bayu.
"Ya. Aku telah menolak pinangan anaknya."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka terhadap laki-laki lemah. Sekali pukul saja pasti sudah mampus. Dia kutu buku, lebih senang mempelajari ilmu sastra dari pada ilmu olah kanuragan. Lagaknya saja seperti perempuan!" terdengar sengit nada suara Rara Wanti.
"Tidak kusangka! Ternyata begitu banyak laki-laki yang menyuka imu, Rara Wanti," ujar Bayu tersenyum tipis.

"Huh! Aku benci mereka semua. Hanya melihat dari kecantikan saja. Mereka memilikiku bukan karena cinta dan kasih sayang, tapi karena nafsu. Aku tidak suka laki-laki seperti itu."
"Tapi masih ada yang mengharapkanmu bukan karena nafsu, tapi didasarkan pada cinta yang tulus dan murni," potong Bayu cepat.

Rara Wanti menatap dalam-dalam pemuda itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melompat turun. Gerakannya sungguh ringan dan indah. Jelas, gadis itu memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Bayu bergegas mengikuti, dan menjejak tanah hampir berbarengan dengan gadis itu.

"Aku berharap orang itu juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Bukan hanya cinta yang kubutuhkan, tapi perlindungan dari seorang laki-laki jantan, pemberani, dan berkepandaian tinggi," mantap kata-kata Rara Wanti.

"Kalau ternyata tidak ada laki-laki seperti harapanmu?" Bayu coba ingin tahu.
"Lebih baik tidak kawin." "Ha ha ha...!" Pendekar Pulau Neraka tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa tertawa?" rungut Rara Wanti memberengut.
"Aku tidak yakin kalau kau berkata sungguh-sungguh, Rara," sahut Bayu masih tersenyum.
"Aku serius!"

'Tidak ada di dunia ini yang memiliki kepandaian tinggi dan tidak terkalahkan. Gunung yang begitu tinggi, tapi masih ada yang lebih tinggi lagi. Begitu juga kepandaian manusia. Tidak ada orang yang lebih tinggi dan sempurna segala-galanya. Walaupun hanya sekecil biji sawi, pasti ada kekurangannya. Begitu juga kau, Rara Wanti. Kau cantik, menarik, dan selalu menggairahkan. Bahkan juga cerdas, berani, tangkas, dan berkemampuan tinggi. Tapi di balik kesempurnaannya pasti ada kekurangan yang mungkin saja tidak kau sadari. Termasuk juga aku," kata Bayu.

"Huh! Filsafat lagi. Aku bosan mendengar segala macam filsafat!" dengus Rara Wanti.
"Bukannya Filsafat, tapi untuk cermin kehidupan."

Rara Wanti mengangkat bahunya, kemudian melangkah kembali. Pendekar Pulau Neraka mengikuti berjalan di samping gadis itu. Tak ada kata-kata lagi yang terucap. Tapi di dalam hati Rara Wanti, semakin mekar rasa kagumnya pada Bayu Hanggara. Dia memang tidak pernah menyukai kata-kata filsafat kehidupan. Tapi setiap kali Bayu yang mengucapkan! selalu menyentuh sanubarinya. Dan setiap kali itu pula rasa kagumnya bertambah. Rara Wanti tidak dapat mengelak kalau sudah jatuh hati pada Pendekar Pulau Neraka ini.

***

Malam sudah larut, jatuh ke dalam pelukan bumi. Kegelapan menyelimuti sebagian permukaan bumi. Bulan bersinar penuh cahayanya begitu lembut, mencoba menghalau kegelapan. Bintang-bintang bergemerlapan menambah semaraknya angkasa yang kelam menghitam. Bayu duduk memeluk lutut menghadapi api unggun kecil di bawah sebatang pohon beringin. Di sampingnya duduk Rara Wanti.

Kebisuan menyelimuti mereka berdua. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sesekali Rara Wanti melirik pemuda tampan di sampingnya. Pelahan gadis itu menggeser tubuhnya agar lebih merapat lagi. Semakin rapat, semakin berkurang jarak di antara mereka. Bayu menoleh begitu merasakan sentuhan kulit yang halus lembut pada tangannya.

"Dingin, ya...," desah Rara Wanti seraya memandangi wajah Pendekar Pulau Neraka.
"Hhh...!" Bayu hanya menghembuskan napas panjang.

Bayu hanya diam saja saat Rara Wanti menjatuhkan kepala di bahunya. Bahkan tangan gadis itu melingkar memeluknya erat. Darah dalam tubuh Pendekar Pulau Neraka itu serasa lebih cepat mengalir. Bahkan jantungnya juga berdetak kencang tidak menentu. Bayu menggeser duduknya, lalu mengangkat kepala gadis itu dengan jari menopang dagu yang runcing.

"Kenapa? Kau tidak suka aku sedikit bermanja?' lembut suara Rara Wanti.

Bayu tidak bisa menjawab. Secara jujur, hatinya memang tertarik melihat kecantikan gadis ini. Tapi mengingat ada seorang pemuda yang begitu mencintainya, dan rela berkorban apa saja untuk memperoleh cintanya kembali, Bayu harus bisa menekan segala perasaannya sendiri. Selama beberapa kali ke Desa Munding, dia tahu semua yang terjadi dari Nyai Supit. Wanita gemuk yang begitu ramah dan mengetahui semua yang terjadi di desa itu.

Bayu mempercayai wanita itu, karena selalu berterus terang dan menjawab semua pertanyaannya apa adanya. Terlebih lagi setelah menyangkut persoalan yang melibatkan Rara Wanti. Bayu pun tahu hubungan yang pernah terjadi antara Rara Wanti dengan Awijaya. Dia juga sudah tahu pemuda itu, meskipun belum pernah bertegur sapa. Pernah sekali Bayu mencoba mempertemukan keduanya, tapi gagal. Masalahnya Rara Wanti tidak ingin menemuinya, bahkan kelihatan membencinya.

Pendekar Pulau Neraka itu tersentak kaget ketika tiba-tiba dirasakan satu kecupan lembut mendarat di bibirnya. Dan lebih kaget lagi begitu menyadari kalau Rara Wanti sudah melingkarkan tangannya ke leher. Bayu berusaha melepaskannya, tapi pelukan gadis itu demikian kuat Bahkan kini mulut mereka sudah menyatu rapat.

"Rara...," desah Bayu begitu Rara Wanti melepaskan mulutnya dari bibir pemuda itu.
"Kenapa? Kau belum pernah bercinta?" tetap lembut nada suara Rara Wanti.
"Bukan. Bukan itu masalahnya," bantah Bayu dengan nada tegas.
"Lalu? Apa aku tidak pantas bercinta denganmu?" Rara Wanti semakin berani. Memang tidak bisa lagi ditahan geloranya yang mengaduk-aduk se luruh rongga dadanya.

Untuk sesaat Bayu tidak bisa menjawab. Ditelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang kering mendadak. Dipandanginya wajah yang begitu dekat. Sedemikian dekatnya, sehingga desah napas Rara Wanti terasa hangat menerpa kulit wajah Pendekar Pulau Neraka.
Rara Wanti menggerakkan tubuhnya sedikit. Entah disengaja atau tidak, belahan baju pada bagian dadanya sedikit terbuka. Tentu saja dua buah tonjolan yang ranum terbalut kulit putih sedikit tampak oleh mata telanjang. Bayu tidak bisa mencegah matanya untuk melirik ke arah pemandangan indah itu. Dadanya semakin keras berdebar. Beberapa kali ditelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa semakin kering kerontang.

"Peluk aku, Kakang. Cumbulah sepuasmu...,! desah Rara Wanti agak tertahan suaranya.

Bayu jadi serba salah. Pikirannya kacau tidak menentu. Ada dua kutub yang saling bertentangan, dan begitu kuat menarik dirinya. Pendekar Pulau Neraka itu tidak mampu lagi menolak saat jari-jari tangan yang lentik dan halus menggerayangi tubuhnya. Dan pertahanan Bayu semakin rapuh begitu Rara Wanti secara sengaja menyingkap pahanya.

"Ah...," Bayu mendesah panjang melihat sebentuk daging putih yang mulus dan indah tanpa cacat, Tangannya tak mungkin bisa ditahan lagi.

Rara Wanti mendesis lirih merasakan halusnya belaian tangan Pendekar Pulau Neraka pada bagian pahanya yang gempal. Semakin lama jari-jari tangan itu semakin merayap naik. Hilang sudah pertahanan Bayu Dibaringkan tubuh Rara Wanti dengan lembut, dan melumat bibir gadis itu disertai gairah yang menggelegak dalam dada. Rara Wanti merintih, desis, dan menggeliat-geliatkan tubuhnya.

"Oh..., Kakang...," desis Rara Wanti lirih.

***
ENAM

Bayu menggelinjang bangun ketika merasakan kehangatan pada tubuh yang tersiram sinar matahari pagi. Bergegas dia bangkit duduk, dan merapihkan pakaiannya. Pendekar Pulau Neraka itu menarik napas panjang. Tatapannya langsung tertuju pada Rara Wanti yang tengah duduk, memanggang seekor ikan yang cukup besar. Gadis itu tersenyum manis.

"Kau tidur nyenyak sekali," ujar Rara Wanti lembut
"Hm...," Bayu hanya menggumam saja.
"Kenapa? Kok murung begitu?"
"Tidak apa-apa," sahut Bayu seraya bangkit berdiri. Digerak-gerakkan tubuhnya untuk melemaskan otot-otot yang kaku.
"Kau kecewa semalam, Kakang?" pelan suara Rara Wanti

Bayu tidak menyahuti, lalu kembali duduk dan bersandar pada pohon beringin yang menaunginya dari sengatan matahari. Dipandanginya gadis cantik tidak jauh di depannya. Saat itu, Rara Wanti juga tengah menatap dengan sinar mata redup. Bayu menarik napas panjang, seakan-akan ingin melonggarkan rongga dadanya.

Apa yang terjadi semalam, memang tidak pernah diduga sama sekali sebelumnya. Sukar bagi Bayu untuk bisa memahami. Desahan dan rintihan lirih Rara Wanti dalam pelukannya memang mampu membangkitkan gairahnya sebagai seorang laki-laki normal. Tapi yang sulit dimengerti, ternyata Rara Wanti sudah.... Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dicobanya untuk melupakan semua yang telah terjadi semalam.

"Ada apa, Kakang? Kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Rara Wanti seraya mendekati. Gadis itu duduk di depan Bayu, dan tidak lagi mempedulikan ikan bakarnya.
"Seharusnya kau berterus terang semalam, Rara," desah Bayu menyesali.
"Kau menyesal karena aku sudah...."
"Tidak," potong Bayu cepat
"Lalu ?"
"Hhh...!" Bayu menarik napas panjang. Sukar sekali lidahnya diajak berterus terang. Rasanya tidak tega membuat hari gadis itu terluka.
"Aku tahu, kau menyesal kerena aku sudah tidak gadis lagi. Iya, kan?" tebak Rara Wanti langsung. Ringan dan tidak ada nada bersalah pada suaranya.
"Kenapa sampai kau lakukan itu?" tanya Bayu pelan.
"Karena aku mencintainya. Aku tidak ingin ada laki-laki lain yang tidak kucintai menjamah tubuhku! Yang penting aku rela melakukan untuknya. Jadi kalau sekarang ini ada laki-laki lain yang menjamah tubuhku, aku tidak menyesal lagi. Karena semua sudah kuserahkan padanya," tenang sekali kata-kata Rara Wanti.

"Kau mencintainya, tapi kenapa tidak menemui nya?" tanya Bayu ingin tahu.
"Dulu aku memang mencintainya, tapi sekarang tidak! Dia telah membuatku kecewa. Tidak kusangka kalau dia seperti laki-laki lain yang punya hati kecil dan berjiwa kerdil. Merasa puas setelah merenggut dari menghirup manisnya madu, tapi tidak lagi peduli dengan sepahnya. Aku dicampakkannya begitu saja bagai sampah kotor tak berguna!" agak keras suara Rara Wanti.

"Kau yakin penilaianmu itu benar?"
"Yakin sekali! Tiga tahun kutunggu, tapi dia menghilang begitu saja. Pertamanya saja manis, berani berkorban meskipun nyawa taruhannya. Ternyata dia hanya seorang pengecut yang tidak bisa lepas dari lindungan ketiak ibunya!"
"Mungkin dia punya pertimbangan lain," Bayu terus memancing perasaan gadis ini.

"Pertimbangan.. ? Pertimbangan apa? Dia lari bersama ibu dan adiknya. Padahal, ayahnya setengah mati mempertahankan nyawa dari orang-orang bayaran ayahku. Seharusnya dia membela, meskipun hanya memiliki kepandaian sedikit. Aku lebih senang melihatnya mati membela hak dan kehormatan orang tuanya, daripada ikut kabur mengungsi selama tiga tahun. Tanpa kabar, tanpa berita sama sekali. Menghilang begitu saja. Tidak lagi menghiraukan diriku yang terus-menerus menanti dan diliputi kecemasan, karena Ayah selalu menjadikanku boneka pajangan dan piala pertarungan. Kalau saja aku seorang wanita yang lemah, mungkin sudah dari dulu bunuh diri. Tapi semua tidak kulakukan itu. Aku mau membalas perlakuan Ayah padaku, meskipun aku tahu resikonya. Lari...!"

"Hm. Jadi itu sebabnya kau lari dari rumah?" Bayu mulai mengerti jelas persoalannya sekarang.
"Masih banyak lagi. Tapi tidak bisa kuutarakan pada mu, Kakang. Hanya satu yang bisa kukatakan padamu, kalau aku ini sebenarnya bukan anak Ki Praba!"

"Oh...!" Bayu tersentak kaget.
"Sudah kuduga, kau pasti tidak percaya."
"Bagaimana kau bisa memastikan semua itu, Rara?" tanya Bayu ingin tahu.
"Banyak yang berkata seperti itu padaku. Salah seorang yang bisa kupercaya hanya Nyai Supit. Meskipun suaminya mati dibunuh orang bayaran Ayah, tapi hatinya tetap bersih. Tidak tersimpan dendam di hatinya. Dialah yang menceritakan semua tentang diriku. Dia tahu semuanya tentang diriku sejak aku dilahirkan, lalu diambil Ki Praba, hingga sampai sekarang ini," jelas Rara Wanti singkat.

"Orang tuamu masih ada?" tanya Bayu.

"Hanya Ibu. Tapi aku juga tidak tahu di mana sekarang. Ayah sudah meninggal sejak aku masih bayi. Ki Praba jugalah yang membunuh. Sudah lama Ki Praba menginginkan Ibu untuk jadi istrinya, sejak Ibu masih gadis. Tapi Ibu memilih Ayah. Hal ini membuat Ki Praba tidak senang. Maka dibunuhlah Ayah dan seluruh keluarga. Untungnya Ibu masih bisa menyelamatkan diri bersama adik laki-lakinya, tapi tidak sempat membawaku. Ki Praba mengetahui kalau aku bayi perempuan, lalu mengambil dan merawatku sampai besar...."

"Jadi Ki Praba itu masih dendam, dan ditumpahkan padamu. Begitu?" Bayu mulai mengerti.

"Benar. Semuanya harus kutanggung sendiri. Ki Praba selalu menambah ilmu dan menyempurnakannya. Jago-jago rimba persilatan dianggap sebagai musuhnya. Dulu sebelum memiliki ilmu olah kanuragan, semua orang yang punya selalu mencela dan memandangnya rendah. Maka kini dilampiaskan dendam masa mudanya dulu dengan mengundang jago-jago persilatan. Mereka diadu seperti ayam, dan aku sebagai taruhannya. Tapi semua itu hanya akal liciknya saja. Ki Praba tidak pernah menyerahkan semua hadiah yang dijanjikan, termasuk aku yang selalu dipertahankannya. Hatinya senang sekali melihat orang-orang saling bunuh. Dia puas dapat mengadu orang-orang berilmu. Dia gila, Kakang. Dia bukan lagi manusia waras."

"Aku tahu, Rara. Hanya saja yang tidak kumengerti, kenapa baru sekarang ini kau memberontak? Kenapa tidak dari dulu saja?" tanya Bayu.

"Kau pikir mudah keluar dari sangkar emas itu? Ke mana saja aku pergi, selalu diikuti tidak kurang dua puluh orang bersenjata lengkap."
"Lalu, bagaimana caranya bisa keluar tanpa diketahui?" tanya Bayu lagi semakin ingin tahu.

"Dengan bantuan pelayanku. Dialah yang memberi jalan. Aku menyamar menjadi dirinya, memakai pakaiannya, menutupi kepala dan wajahku dengan kerudung. Aku bisa lolos tanpa mendapat hambatan apa pun. Tapi kasihan, pelayan itu mati dipenggal lehernya. Memang hal itu tidak kulihat, tapi semua orang berkata begitu. Dan aku hanya bisa melihat mayatnya yang terpancang dengan kepala terpisah ditiang."

"Hhh...!" Bayu menarik napas panjang dan berat.

"Sekarang kau sudah tahu siapa dan bagaimana diriku sebenarnya. Aku tidak akan marah atau tersinggung kalau kau membenciku. Rasanya tidak ada salahnya jika aku menginginkan seorang laki-laki yang bisa menjadi pelindungku," kata Rara Wanti mengakhiri kisah hidupnya.

"Aku bisa mengerti, Rara," desah Bayu pelan.
"Terima kasih. Hanya kau satu-satunya laki-laki yang bersedia mengerti tentang diriku," ujar Rara Wanti tersenyum tipis.
"Masih ada satu lagi."
"Oh...! Siapa?" Rara Wanti terkejut.
"Awijaya."
"Siapa...?!"

Sepanjang jalan Rara Wanti hanya membisu saja, meskipun Bayu sudah mengatakan semua yang diketahuinya. Juga pertemuannya dengan Nyai Supit pun sudah diceritakannya. Juga semua cerita-cerita perempuan tua itu. Dia tahu tentang Awijaya juga dari perempuan gemuk pemilik kedai dan rumah penginapan itu.
Bayu sendiri tidak bisa menebak, apa yang sedang terjadi dalam diri Rara Wanti saat ini. Yang jelas, sekarang gadis itu hanya diam membisu seperti tidak mendengar semua yang dikatakan Bayu. Ayunan kakinya pelahan, dan kepalanya selalu tertunduk menekuri ujung jari kakinya di jalan setapak berumput kering.

"Bukan maksudku ingin mencampuri semua urusanmu, Rara. Terlebih lagi urusan pribadimu. Aku hanya ingin mengatakan kalau, sebenarnya Awijaya selalu berjuang untuk membebaskanmu dari cengkeraman Ki Praba. Dia sudah tahu semua tentang dirimu, bahkan bertekad untuk mencari ibumu. Selama tiga tahun ini diperdalam kepandaiannya untuk menghadapi ayah angkatmu, dan membawamu pergi," kata Bayu berusaha menyakinkan hati Rara Wanti.

"Kenapa kau katakan semua itu, Kakang?" tanya Rara Wanti seraya mengangkat kepalanya, menatap jauh ke depan.
"Karena aku mengagumimu. Pokoknya aku tidak ingin kau merusak kekagumanku dengan bersikap masa bodoh seperti itu," sahut Bayu mantap.

'Bukan karena kau iba padaku, Kakang?"

"Tidak! Aku tahu kau tidak suka dikasihani. Dan lagi aku memang tidak pernah kasihan terhadap penderitaanmu selama ini. Sama sekali tidak! Justru aku kagum akan ketabahanmu"

Rara Wanti menghentikan langkahnya. Diputar tubuhnya menghadap Pendekar Pulau Neraka. Ditatapnya dalam-dalam wajah tampan di depannya, seakan-akan hendak mencari sesuatu pada sorot mata yang selalu tajam itu.

"Kau berkata yang sebenarnya, Kakang?" pelan suara Rara Wanti.
'Tentu," sahut Bayu mantap.
"Sungguh? " Bayu mengangguk pasti. "Oh, Kakang...."

Bayu jadi gelagapan begitu tiba-tiba Rara Wanti memeluknya erat-erat. Ragu-ragu Bayu membalas pelukan itu. Entah kenapa, mendadak saja dirasakan dadanya jadi longgar. Hatinya terasa lapang, bagai tersiram setetes air yang begitu menyejukkan. Tapi, semua yang dirasakan itu hanya sesaat, karena tiba tiba saja terdengar suara bentakan keras mengejutkan! "

Rara...! Keparat..!"

Rara Wanti langsung melepaskan pelukannya, lalu berbalik ke arah datangnya suara bentakan tadi Tampak di situ berdiri seorang pemuda berwajah penuh luka dan berewokan. Bajunya merah muda dengan sebilah pedang tergantung di pinggangnya. Bayu juga mengarahkan pandangannya ke sana, dan langsung mengenali pemuda itu.

"Kakang Awijaya...," desis Rara Wanti bergetar.

Rara Wanti jadi serba salah. Sebentar ditatapnya Awijaya, dan sebentar beralih pada Pendekar Pulau Neraka. Entah kenapa, tiba-tiba. Sudah jelas kalau pemuda itu tadi melihatnya tengah berpelukan.

"Kakang, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rara Wanti memecah kebisuan yang terjadi beberapa saat lamanya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu pada mu, Rara!" dingin nada suara Awijaya.
"Aku... aku tidak melakukan apa-apa," bergetar dan tergagap kata-kata Rara Wanti.
"Kau pikir mataku buta! Aku belum buta, Rara Aku belum tuli! Aku tahu semua yang kau lakukan bersama keparat penculik itu!" Awijaya menuding Pendekar Pulau Neraka.

"Kau salah sangka. Aku tidak menculik Rara Wanti, Kisanak," sergah Bayu berusaha tenang. "Diam! Aku tidak bicara denganmu!" bentak Awijaya kasar.
Bayu langsung diam, tapi tatapan matanya tajam menusuk.
"Sabar, Kakang. Akan kujelaskan semuanya padamu," kata Rara Wanti buru-buru.

"Tida ada yang perlu dijelaskan lagi, Rara. Menyesal aku bersusah payah, jauh-jauh datang ke sini untuk menerima kekecewaan. Seharusnya aku tahu, kalau kau memang bukan seorang gadis.... Ah! Keparat kau, Rara!" geram Awijaya.

"Kakang...!" sentak Rara Wanti memerah wajahnya.

Rara Wanti yang sudah mulai menyadari kekeliruannya tadi, dan mencoba untuk bersikap sabar dan lunak, menjadi berang mendapat perkataan kasar itu. Wajahnya merah padam, gerahamnya bergemelutuk menahan amarah. Tapi gadis itu masih berusaha untuk tetap tenang. Semua kata-kata dan nasehat Pendekar Pulau Neraka sudah merasuk dalam hatinya. Yang jelas, dia ingin menjadi seorang wanita yang tabah, tenang, dan berpikiran luas.

"Minggir kau Rara! Aku sudah bersumpah untuk memenggal siapa saja yang berada di belakangmu Termasuk kau, Pendekar Pulau Neraka keparat!" keras dan lantang suara Awijaya.

Setelah berkata demikian, Awijaya langsung melompat secepat anak panah terlepas dari busurnya! Tangan kirinya mendorong tubuh Rara Wanti, sedangkan tangan kanannya melepaskan pukulan keras bertenaga dalam tinggi ke arah Pendekar Pulau Neraka

"Ah...!" Rara Wanti terperanjat tubuhnya terdorong sejauh tiga batang tombak ke belakang. Pada saat yang sama, Bayu Hanggara terkesiap. Kelihatannya sulit untuk menghindari terjangan yang cepat dan tidak terduga itu. Pukulan yang keras bertenaga dalam tinggi telak menghantam dadanya.
"Akh!" Bayu memekik tertahan. Tubuhnya terlontar cukup jauh.

Tiga batang pohon kontan tumbang terlanda tubuh Pendekar Pulau Neraka itu. Namun dengan cepat Bayu melompat bangkit berdiri. Bibirnya meringis merasakan nyeri pada tulang-tulang rongga dadanya Tampak dari sudut bibirnya mengalir darah kental. Bayu menggerak-gerakkan tangannya di depan dada untuk menyalurkan hawa murni agar rasa nyeri yang menyesakkan dadanya terusir.

"Hiyaaat...!"

Sambil berteriak keras, Awijaya sudah kembali menerjang selagi Bayu berusaha memulihkan kondisi tubuhnya. Meskipun rasa nyeri masih menghinggapi dadanya, tapi Bayu cepat-cepat berkelit. Dibanting tubuhnya ke tanah dan bergulingan beberapa kail Bergegas Pendekar Pulau Neraka itu bangkit berdiri, langsung bersiap menghadapi serangan berikutnya.

Dan memang, Awijaya begitu cepat berbalik. Bahkan kini langsung menyerang kembali dengan dahsyatnya. Setiap lontaran pukulannya mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi dan sangat berbahaya. Bayu harus sedikit berhati-hati. Sudah dirasakan betapa hebatnya tenaga dalam yang dimiliki Awijaya, meskipun masih kalah jauh bila dibandingkan dengannya. Kalau saja pukulan tadi mengenai orang yang berkepandaian setingkat Awijaya, pati sudah tidak bisa bangun lagi. Tapi untuk Pendekar Pulau Neraka, pukulan itu hanya mengakibatkan nyeri dan sesak sebentar. Karena, secara naluriah tenaga dalam dan hawa murni Pendekar Pulau Neraka langsung bekerja begitu menerima hentakan tenaga dalam dari luar tubuh. Meskipun tidak secara penuh kerjanya, tapi itu sudah membantu menjaga perlindungan diri.

Pertarungan terus berlanjut semakin sengit. Namun dapat dilihat kalau Pendekar Pulau Neraka hanya berkelit tidak membalas sama sekali. Sementara di tempat lain, tampak Rara Wanti menyaksikan disertai perasaan cemas. Dia tidak menginginkan salah satu dari kedua pemuda itu ada yang cedera.

***
TUJUH

"Hup! Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Awijaya menghentakkan kedua tangannya ke depan sambil berteriak keras menggelegar. Tampak kedua telapak tangan pemuda berbaju merah muda itu berwarna merah membara bagai terbakar.

"Hap!"

Secepat kilat Bayu menyatukan tangannya dalam jarinya terkepal rapat. Semua tangannya menyatu rapat, sehingga kedua siku bertemu, ditekuk ke atas di depan mukanya. Kedua kakinya terpentang lebar agak tertekuk. Kini dinantikan serangan Awijaya yang sudah meluncur deras dengan kedua tangan terbuka lebar ke depan.

"Yeaaah...!"
"Hiyaaa...!"
鈥淕larrr...!"

Ledakan keras menggelegar terjadi begitu telapak tangan Awijaya membentur kedua tangan Pendekar Pulau Neraka yang menyatu rapat di depan mukanya. Tampak tubuh Awijaya terpental jauh hingga lima batang tombak. Dua pohon dan sebongkah batu besar hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya.

Sementara itu Bayu masih tetap pada tempatnya, tidak bergeming sedikit pun. Pelahan-lahan diturunkan tangannya, dan dirapatkan kakinya kembali. Matanya lurus menatap Awijaya yang masih menggeletak di atas reruntuhan bebatuan yang hancur terlanda tubuhnya.

"Kakang...!" jerit Rara Wanti langsung menghambur menghampiri Awijaya.
"Oh, Hughk...!"
Awijaya mengeluh pendek, kemudian berdahak memuntahkan darah kental. Rara Wanti menghambur menubruk dan memeluk tubuh pemuda itu. Diangkat dan disandarkan tubuh pemuda itu ke tubuhnya. Darah di mulut Awijaya dihapus dengan jari-jarinya yang lentik dan halus. Sementara Bayu hanya memandangi saja, lalu pelahan-lahan melangkah menghampiri.

"Kakang...," rintih Rara Wanti lirih.

Bagaimanapun bencinya gadis itu pada Awijaya yang telah dianggap mengecewa kan dirinya, tapi benih cinta masih juga tertinggal di dalam hatinya. Tanpa dapat dicegah lagi, Rara Wanti menitikkan air mata melihat keadaan Awijaya yang begitu lemah. Napasnya tersengal pelahan, dan sinar matanya redup. Hampir tidak bercahaya. Diangkat kepalanya, dan ditatapnya wajah cantik yang sudah dipenuhi air mata itu. Sementara Bayu sudah berlutut di depan Rara Wanti.

"Rara...," lemah suara Awijaya.

"Oh.... Kenapa kau lakukan itu, Kakang? Aku mencintaimu, dan selalu mengharapkan dirimu. Seharusnya kau dengarkan semua penjelasanku dulu," ratap Rara Wanti menyesali.

"Maafkan aku, Rara. Aku.... Hoekh...!"
"Kakang...!"

Rara Wanti menjerit, mengguncang-guncangkan tubuh Awijaya yang sudah diam dengan kepala terkulai setelah memuntahkan darah kental. Bayu segera meletakkan jari tangannya di leher dekat rahang pemuda berbaju merah muda itu.

"Hanya pingsan," ujar Bayu pelan.
"Oh, Kakang...," rintih Rara Wanti memeluk dan menciumi wajah Awijaya disertai linangan air mata seperti tanggul jebol. "Sudah, Rara. Biarkan dia berbaring. Aku akan menyadarkannya," bujuk Bayu lembut.
"Tolong sembuhkan, aku mencintainya. Jangan biarkan dia mati...," rintih Rara Wanti seraya menatap Bayu.
"Tenanglah. Akan kucoba menyembuhkannya," sahut Bayu.

Rara Wanti melepaskan pelukannya pada tubuh yang diam tak bergerak-gerak lagi Bayu mengangkatnya, dan memindahkannya ketempat yang teduh dan cukup nyaman. Dibaringkan Awijaya di bawah pohon beringin. Sebentar jari-jari tangannya bergerak lincah menotok beberapa bagian jalan darah di tubuh pemuda berbaju merah muda itu.

Selagi Pendekar Pulau Neraka mencoba menyadarkan dan menyembuhkan luka dalam Awijaya, Rara Wanti hanya duduk memandangi. Disusut air matanya dengan ujung bajunya. Sesekali masih terdengar suara isaknya yang tertahan. Agak lama juga Bayu menyadarkan Awijaya dari ketidaksadarannya. Dan setelah Awijaya membuka matanya, baru Pendekar Pulau Neraka itu mencoba menyembuhkan luka dalam pmuda itu.

"Hoehk...!" lagi-lagi Awijaya memuntahkan darah kental, dan kali ini berwarna kehitaman.

Dua kali Awijaya memuntahkan darah kental. Dan pada muntahan yang ketiga, kembali jatuh pingsan. Bayu menyadarkan kembali dengan memberikan rangsangan pada urat-urat syarafnya. Awijaya kembali sadar, belum bisa bergerak. Hanya matanya saja yang redup memandangi wajah Rara Wanti dan Bayu secara bergantian. Sedikit pun tak terucap kata, meskipun bibirnya bergetar.

"Kakang...," lirih suara Rara Wanti. Gadis itu menyeka darah yang masih melekat di sekitar bibir Awijaya. Rara Wanti berusaha tersenyum, meskipun terasa hambar dan bergetar. Pelahan-lahan tangan Awijaya terangkat, dan membelai pipi gadis itu.
"Oh...," Rara Wanti mendesah lirih. Gadis itu mendekati tangan itu dan menciuminya. Pelahan sekali Awijaya tersenyum. Matanya sebentar terpejam, kemudian kembali terbuka. Langsung ditatapnya Bayu yang duduk bersila di samping kanannya! Pendekar Pulau Neraka itu tersenyum dan menepuk punggung tangan Awijaya.

"Bersemadilah dengan berbaring," ujar Bayu lembut.

Awijaya tidak menyahuti, namun sinar matanya begitu banyak menyiratkan kata-kata. Bayu beranjak! bangkit berdiri dan melangkah menjauh, sengaja memberi kesempatan pada Rara Wanti untuk berdua saja dengan kekasihnya.

***

Suatu suara mendesing membangunkan Bayu dari semadinya Pendekar Pulau Neraka itu menarik kepalanya ke belakang, maka sebatang ranting kering melesat cepat didepan mukanya. Belum lagi Bayu menarik pulang kepalanya, tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh.

"He he he...!"

Bayu kontan melompat berdiri. Sempat diliriknya ke arah Awijaya yang sudah bisa duduk bersemadi di dampingi Rara Wanti. Gadis itu juga tampak terkejut, dan menatap Pendekar Pulau Neraka. Suara tawa terkekeh masih juga terdengar menggema, seakan-akan datang dari segala penjuru.

"Hm...," Bayu menggumam pelahan.

Pendekar Pulau Neraka itu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Rara Wanti jangan bergerak. Gadis itu tidak jadi bangkit. Sebentar ditatapnya Awijaya yang masih saja duduk bersemadi sambil memejamkan mata. Raut wajah pemuda itu sudah kelihatan segar kembali, dan napasnya pun sudah teratur baik. Rara Wanti kembali mengarahkan pandangannya pada Pendekar Pulau Neraka. Seketika dia terkejut, karena tahu-tahu di depan Bayu sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh gemuk bulat pendek bagai bola. Kepalanya kecil gundul. Dia mengenakan jubah berwarna biru gelap yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Rara Wanti kenal betul orang bulat seperti bola itu Dia adalah Kebo Ireng. Kulitnya memang hitam hangus seperti kayu terbakar jadi arang.

"Sungguh beruntung kau bisa memboyong Rara Wanti, anak muda," ucap Kebo Ireng disertai tawanya yang terkekeh.
"Hm...," Bayu hanya menggumam tidak jelas.
'Tapi sayang, gadis itu sudah jadi milikku. Akulah yang pertama kali memenangkannya jauh sebelummu, anak muda," lanjut Kebo Ireng.

"Rara Wanti bukan milikku, juga bukan milikmu. Dia sudah punya calon suami!" tegas Bayu.
"He he he...! Siapa pun calon suaminya, harus berhadapan denganku dulu. Dia sudah dipertaruhkan, dan akulah pemenangnya!" sambut Kebo Ireng.

Merah padam wajah Rara Wanti. Kata-kata Kebo Ireng sungguh merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita. Kalau saja Bayu tidak cepat-cepat memberi isyarat, pasti Rara Wanti sudah melompat menerjang laki-laki gemuk bulat dan pendek bagai bola itu.

"Kisanak, calon suami Rara Wanti sedang sakit. Jika tidak keberatan, aku akan mewakilinya," kata Bayu tegas.
"He he he.... Kau terlalu muda untuk menandingiku, bocah," Kebo Ireng meremehkan.
"Dan kau terlalu jelek untuk Rara Wanti!" balas Bayu dingin.
"He he he.... Berani juga umbar bacot di depanku, bocah!" agak memerah wajah Kebo Ireng.
"Mengapa tidak? Memecahkan kepala mu yang gundul saja aku berani!" tantang Bayu.
"Edaan.. phuih!" Kebo Ireng menyemburkan ludahnya.
"Bagaimana? Kau berani menghadapiku. Kalau tidak, lebih baik angkat kaki saja sebelum kugantung," Bayu memanasi.
"Bocah edan!" dengus Kebo Ireng menggeram. "Terima ini!

Hiyaaat..!"

Kebo Ireng langsung mengebutkan tangan kanannya kedepan. Seketika dari balik lengan bajunya, meluncur beberapa benda kecil berwarna hitam pekat.

"Hait...!"

Bayu segera memiringkan tubuhnya ke samping, dan menariknya ke belakang. Lalu cepat diangkat tangan kanannya ke atas, sejajar kepala.

Slap! Slap...!

Kebo Ireng membeliak melihat jarum-jarum hitamnya menempel pada Cakra yang berada di pergelangan tangan kanan pemuda itu. Dan belum lagi hilang dari keterkejutannya, mendadak saja Bayu mengibaskan tangan kanannya.

"Nih, kukembalikan barangmu!"
Wut!
"Hup...!"

Kebo Ireng berlompatan menghindari jarum-jarumnya sendiri yang berbalik arah menyerangnya. Senjata-senjata kecil hitam pekat itu meluncur deras bagai kilat, melewati tubuh gemuk cebol yang berjumpalitan menghindarinya. Dan begitu kakinya menjejak tanah, Bayu sudah melompat cepat sambil melepaskan pukulan keras bertenaga dalam sempurna.

"Kadal! Hih...!"
Tidak ada pilihan lain lagi bagi Kebo Ireng. Segera diangkat tangannya untuk menerima pukulan Pendekar Pulau Neraka itu. Tak dapat dihindari lagi, dua tangan beradu keras sehingga menimbulkan ledakan keras menggelagar.

"Akh...!" Kebo Ireng memekik tertahan.

Tubuh yang gemuk cebol seperti bola itu terpental sejauh satu batang tombak. Sedangkan Bayu mendarat di bekas tempat Kebo Ireng berdiri tadi. Pendekar Pulau Neraka itu melipat tangannya di depan dada.

"Bagaimana, Cebol?" ejek Bayu disertai senyuman sinis.

"Huh!" Kebo Ireng mendengus berat Sebentar digerak-gerakkan tangannya di depan dada. Kemudian sambil berteriak keras, Kebo Ireng melompat menyerang Pendekar Pulau Neraka. Kali ini laki-laki gemuk pendek itu tidak lagi memandang enteng pada anak muda lawannya ini. Pertarungannya kini pun memperguna kan jurus-jurus yang aneh, tapi sangat dahsyat dan mengandung tenaga dalam tinggi. Namun Pendekar Pulau Neraka hanya melayaninya dengan tenang.

Beberapa kali serangan balik Bayu Hanggara membuat Kebo Ireng harus berjumpalitan dan bergelimpangan di tanah untuk menghindarinya. Bahkan tidak jarang dia memekik keras menerima pukulan atau tendangan yang keras bertenaga dalam tinggi. Walaupun Bayu mengerahkan tenaga dalamnya tidak penuh tapi sudah membuat Kebo Ireng kerepotan setengah mati

Jurus demi jurus dilalui cepat. Dan Kebo Ireng menyadari kalau tidak mungkin dapat mengungguli pemuda itu. Hingga pada satu kesempatan, laki-laki bulat pendek itu melompat mundur. Tampak seluruh wajahnya memerah bersimbah keringat. Napasnya mendengus-dengus bagai kuda baru saja habis dipacu cepat.
"Kenapa berhenti?" tegur Bayu diiringi senyum lebar. Dilipat tangannya di depan dada.
"Anak muda, siapa namamu?" Kebo Ireng malah balik bertanya.
"Bayu. Tapi aku lebih dikenal dengan nama Pendekar Pulau Neraka," sahut Bayu kalem.

"Pendekar Pulau Neraka...!" sentak Kebo Ireng membeliak matanya.
"Kenapa? Kau seperti melihat hantu saja."
"Kisanak, sebaiknya persoalan ini dilupakan saja. Aku mohon diri," ujar Kebo Ireng seraya membungkukkan badannya.
Bayu jadi keheranan, tapi membalas juga penghormatan Kebo Ireng dengan membungkuk sedikit.
"Tunggu...!" cegah Bayu begitu Kebo Ireng berbalik.

Laki-laki cebol seperti bola itu memutar tubuhnya kembali.
"Rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Kisanak. Akan kukatakan pada yang lain untuk tidak mengganggu Rara Wanti lagi. Aku mengaku kalah, dan berjanji akan menghadapi siapa saja yang mencoba mengganggu Rara Wanti. Saat itu juga dia menjadi anak angkatku," jelas Kebo Ireng tegas sebelum Bayu mengucapkan sesuatu.

Dan belum juga Bayu membuka suaranya, laki-laki gemuk cebol itu sudah melesat cepat. Begitu cepatnya, tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata., Bayu menarik napas panjang, lalu menoleh begitu mendengar suara langkah kaki menghampiri. Tampak Rara Wanti berjalan tergesa-gesa mendekati.

"Jangan katakan apa-apa. Kau sudah dengar semua kata-katanya tadi," kata Bayu mendahului. "Tapi bukan hanya dia yang berusaha merebutku, Kakang," ada nada kecemasan dalam suara Rara Wanti.
"Mudah-mudahan saja janjinya ditepati," kata Bayu.

"Aku tidak percaya, Kakang. Bisa saja dia gentar begitu mengetahui nama mu, tapi akan datang lagi untuk merebutku setelah kau tidak ada. Dia itu licik dan kejam, Kakang."
"Janji seorang tokoh persilatan harus dipegang kuat. Dia tidak akan mendapatkan tempat dalam dunia persilatan jika melanggar janjinya sendiri. Aku percaya dengan kata-katanya tadi."

"Kalau ingkar janji, bagaimana?"
"Aku yakin, Awijaya akan melindungimu," sahut Bayu.
"Tentu...!" tiba-tiba ada suara dari arah belakang.
"Kakang...!" desis Rara Wanti.

****
Rara Wanti bergegas menghampiri Awijaya yang sudah selesai bersemadi, tapi masih tetap duduk bersila. Bayu juga melangkah menghampiri, dan duduk bersila di depannya. Sedangkan Rara Wanti berada di sisi Awijaya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bayu.
'Terima kasih," ucap Awijaya. "Aku merasa malu pada diriku sendiri."
"Ah, sudahlah. Anggap saja itu hanya kejadian kecil," desah Bayu.
"Tapi sangat berharga bagiku. Merupakan satu pelajaran yang tidak pernah kulupakan."

Bayu tersenyum meringis. Entah kenapa, dirasakan ada kelainan pada dirinya. Di sini, dia rasanya benar-benar seorang pendekar. Tidak tega rasanya menjatuhkan tangan kejam pada lawan. Bahkan selalu saja bisa ditahan kesabarannya, meskipun darah sudah menggelegak mendidih. Mungkin juga karena dirinya sudah banyak menerima pelajaran dari beberapa tokoh golongan putih yang sempat ditemui, sehingga membentuk pribadi baru dalam dirinya. Atau mungkin juga karena pengaruh Rara Wanti. Entahlah! Yang jelas Bayu merasa adanya keganjilan pada dirinya saat ini. Ya..., sejak bertemu Rara Wanti tiga bulan yang lalu.

"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Bayu.

Awijaya tidak langsung menjawab. Demikian pula Rara Wanti. Mereka malah saling berpandangan, dan masing-masing melemparkan senyuman. Kemudian sama-sama berpaling menatap Pendekar Pulau Neraka. Bayu merasakan adanya siratan lain dari tatapan mata Rara Wanti, tapi sulit untuk mengartikannya.

"Mungkin aku akan berkelana mencari ibu kandung Rara Wanti Setelah itu, terserah dia sendiri," kata Awijaya seraya melirik gadis disampingnya.

"Kok, terserah aku sih...?" Rara Wanti merasa tidak enak.

Mereka tertawa lepas bergerai. Dan memang baru hari ini bisa tertawa begitu lepas, setelah menghadapi berbagai macam peristiwa yang membuat otak terasa kaku, dan otot mengejang. Mereka kemudian mengisi dengan pembicaraan ringan. Sesekali terdengar tawa kalau ada hal-hal yang lucu. Sementara hari terus merambat semakin tinggi. Dan siang pun berlalu, berganti senja. Suasana mulai meremang. Sebentar lagi malam akan datang menjelang.

"Rara, bagaimana dengan ayah angkatmu?" tanya Bayu tiba-tiba

Rara Wanti tidak langsung menjawab, tapi malah menatap Awijaya yang juga menatapnya.
"Maaf, bukannya hendak mencampuri urusan pribadi kalian berdua. Masalahnya aku banyak mendengar tentang Ki Praba. Dan rasanya tidak mungkin membiarkan kalian berdua menghadapinya. Menghindar pun rasanya tidak akan membuat tenang. Ki Praba pasti akan mencari kalian sampai kapan pun. Terlebih lagi kau sudah membakar tempat tinggalnya, Awijaya," kata Bayu.

Awijaya memang sudah menceritakan semua peristiwa yang dialami. Juga dikabarkannya tentang kematian Nyai Supit. Meskipun malam itu gelap, tapi masih sempat melihat dan mengenali Jantar. Dia memang salah seorang yang keluar cepat dari kamar Nyai Supit Hanya dua orang, dan yang pasti seorang lagi adalah Ki Praba.

Dan belum sempat ada yang membuka suara lagi, tiba-tiba mereka dikejutkan suara langkah dahsyat menggelegar. Bumi rasanya berguncang hebat. Ketiga anak muda itu langsung melompat bangkit Belum lagi hilang rasa terkejut, mereka kembali dikejutkan oleh munculnya puluhan anak panah dari segala penjuru.

"Awas panah...!" seru Bayu keras.

Ketiga anak muda itu berlompatan. Awijaya serta Rara Wanti langsung mencabut pedangnya. Sedangkan Bayu hanya mengandalkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh saja menghindari hujan panah itu. Hanya sebentar memang hujan panah itu, tapi cukup membuat repot juga. Mereka berdiri saling beradu punggung.

"Jangan berpisah dariku," bisik Bayu.
"Baik,' sahut Rara Wanti dan Awijaya berbarengan.

Bayu segera menggerak-gerakkan tangannya, lalu kakinya dibuka agar terpentang lebar sedikit tertekuk. Kemudian, dihentakkan tangannya ke samping lebar-lebar. Tiba-tiba saja bertiup angin kencang, yang semakin lama semakin dahsyat. Pohon-pohon mulai tercabut dan beterbangan. Batu-batu terangkat ke udara. Di antara deru angin topan yang dahsyat itu, terdengar suara jeritan melengking saling sahut Disusul beterbangannya tubuh-tubuh manusia.

Cukup lama juga Bayu mengerahkan ajiannya yang tidak pernah digunakan sebelumnya. Aji 'Badai Dewa Murka', adalah ajian yang sangat dahsyat sehingga bisa menimbulkan badai. Tapi, di sekitar Pendekar Pulau Neraka itu berdiri, tidak terasa adanya angin berhembus. Bahkan Rara Wanti dan Awijaya jadi keheranan sendiri. Tapi mereka tidak berani bergerak, karena sudah dipesan sebelumnya.

"Hop!"

Bayu merapatkan tangannya di depan dada, maka seketika itu juga badai topan berhenti. Sungguh dahsyat luar biasa akibat Aji 'Badai Dewa Murka' itu. Sekitar tempat itu jadi berantakan tidak karuan. Pohon-pohon besar kecil bertumbangan. Batu-batu berpindah tempat. Bahkan terlihat mayat-mayat bergelimpangan dalam segala bentuk. Kebanyakan mereka tertimpa pohon dan bebatuan. Semua orang yang menyerang secara gelap itu mari terhantam Aji 'Bada Dewa Murka'.

"Hhh...! Mereka tukang pukul Ayah," desah Wanti bergumam pelan. Begitu pelannya hampir tidak terdengar.
"Itu berarti dia memang benar-benar ingin memenggal kepala mu, Rara," kata Awijaya.
"Hhh...!" Rara Wanti menarik napas panjang.
"Kudengar, Ki Praba menyediakan seribu keping uang emas dan dirimu sendiri sebagai hadian jika ada yang berhasil membawa mu kepadanya," lanjut Awijaya.

"Hebat...!" desis Bayu bernada sinis.
"Dia memang gila!" dengus Rara Wanti. "Kalau saja aku mampu, sudah kubunuh dari dulu!"
"Selama Ki Praba masih hidup, ke mana pun kita pergi, tidak akan dapat tenang. Memang benar kata mu, Bayu. Apa pun yang terjadi, harus kuhadapi! Meskipun nyawa taruhannya!" tegas Awijaya mantap.

"Harus ada cara untuk menghadapinya," gumam Bayu perlahan, seperti untuk dirinya sendiri.
"Benar! Kau punya rencana, Bayu?" sambut Awijaya.

Bayu terdiam beberapa saat. Dipandangi Awijaya dalam-dalam. Sementara Rara Wanti hanya diam saja memperhatikan. Agak lama juga Bayu hanya berdiam sambil terus menatap dalam-dalam Awijaya. Sepertinya sedang mencari sesuatu dalam tatarannya itu.

"Kau tahu di mana Ki Praba sekarang berada, Awijaya?" tanyanya Bayu.
"Dia pasti ada di Desa Pekacangan, di rumah Paman Praraga," celetuk Rara Wanti.
"Temui dia. Katakan kalau kau tahu di mana Rara Wanti berada. Lalu, bawa dia ke puncak Bukit Sidayu. Aku dan Rara Wanti akan menunggu di sana," ujar Bayu mengemukakan rencananya.
"Mustahil! Ki Praba sudah mengenaliku!" dengus! Awijaya.
"Itu lebih bagus lagi!" seru Bayu gembira.
"Apanya yang bagus? Begitu aku muncul, dia pasti sudah lebih dulu menyerang!"
"Tidak! Asal saja kau berikan alasan yang kuat."
"Bagaimana caranya?" tanya Awijaya.

"Katakan kalau kau sudah bertemu Rara Wanti, dan akan mengajaknya pergi. Tapi Rara Wanti membangkang, dan kau sempat bertarung denganku. Katakan saja kalau aku menantangnya di Puncak Bukit Sidayu. Aku yakin, dia pasti datang," Bayu mengemukakan rencananya.

"Lalu?" tanya Awijaya lagi.
"Dia pasti percaya kata-katamu, asal kau bisa bermimik marah dan sakit hati. Wajahmu yang babak belur itu, sudah cukup memberi alasan kuat."

Awijaya meraba mukanya yang memang membiru pada bagian mata kiri. Bibirnya yang pecah pun masih terasa nyeri. Belum lagi pakaiannya kotor dan agak koyak.

"Di samping itu, mintalah hadiahnya yang seribu keping uang emas. Dengan hadiah itu kalian bisa hidup tenang dan bisa mencari ibu kandungmu, Rara," lanjut Bayu.
"Ki Praba pasti tidak bakal menyediakan hadiah itu. Apalagi memberikannya padaku!" ujar Awijaya yakin.

"Aku yakin pasti dia setuju. Bagaimana caranya, itu terserah padamu sendiri," sahut Bayu.
"Baiklah, kapan aku mulai?"
"Sekarang juga!"

***
SEMBILAN

Bayu berdiri tegak di tengah-tengah Puncak Bukit Sidayu. Di sampingnya Rara Wanti kelihatan gelisah. Sebentar-sebentar dilayangkan pandangannya ke arah kaki bukit. Dari situ memang terlihat jelas sungai yang mengalir menuju Desa Pekacangan. Dari sanalah nanti Awijaya datang bersama Ki Praba.

"Kok lama, ya...?" gumam Rara Wanti semakin gelisah, karena tidak melihat tanda-tanda Awijaya bakal muncul.
"Sabar.... Dia pasti datang," kata Bayu menenangkan.
"Kalau gagal?"
"Aku yakin tidak."

Rara Wanti menatap dalam-dalam Pendekar Pulau Neraka itu. Pada saat yang sama, Bayu juga memalingkan mukanya menatap gadis itu. Sesaat mereka tidak berbicara, dan hanya saling tatap saja. Pelahan Rara Wanti mendekat, lalu melingkarkan tangannya ke leher Bayu. Tubuh mereka merapat. Tak ada jarak lagi yang merenggang. Wajah mereka begitu dekat, sehingga terasa hangat desah napas masing-masing.

"Kakang, sebenarnya aku lebih suka bersama mu. Kau lebih segala-galanya daripada Kakang Awijaya," kata Rara Wanti pelan.

"Awijaya orang yang bertanggung jawab, Rara. Aku yakin, kau akan hidup bahagia di sampingnya."
"Hhh...! Seandainya ada waktu...," desah Rara Wanti.

"Jangan ulangi lagi, Rara. Padaku, atau pada siapa saja. Kau akan menyesal nanti. Hargailah dirimu sendiri," ujar Bayu seraya melepaskan pelukan gadis itu di lehernya.

"Hanya Kakang Awijaya dan kau saja yang bisa menjamahku, Kakang. Aku janji. Kapan saja kau datang, aku selalu menyediakan waktu untukmu, Kakang. Ini hanya untuk kita berdua."

Bayu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa? Aku mencintaimu, Kakang. Aku menyukaimu. Meskipun sekarang ada Kakang Awijaya, tapi aku tetap mencintaimu. Separuh hatiku milikmu, Kakang."
"Aku harap pikiranmu bisa berubah kelak," desah Bayu setengah bergumam.

Pendekar Pulau Neraka itu melangkah mundur. Tapi tiba-tiba Rara Wanti menarik tangan pemuda itu, dan memeluknya erat-erat. Bayu jadi gelagapan, karena cepat sekali Rara Wanti sudah mengulum bibirnya penuh gairah yang menggelora.

"Rara...," kata Bayu begitu bibirnya terlepas dari pagutan gadis itu. Tapi pelukan Rara Wanti masih sulit dilepaskan.

"Kakang Awijaya tidak akan datang malam ini, Kakang. Bersediakah kau memberiku untuk yang terakhir, Kakang?" bujuk Rara Wanti sambil mendesah.

"Jangan sekarang," Bayu benar-benar kewalahan menghadapi gadis itu. Harus dicarinya jalan agar benar-benar terlepas dari lingkaran jerat asmara Rara Wanti.
"Kapan?"
"Nanti, kalau semuanya sudah tenang,"
"Kau rela menyediakan waktu untukku, Kakang?"
"Tentu, kalau sudah tenang nanti." "Sungguh?"

Bayu terpaksa mengangguk. Untuk meyakinkan Rara Wanti, dikecupnya bibir gadis itu. Rara Wanti tersenyum senang. Wajahnya kembali cerah, dan melepaskan pelukannya pelahan-lahan. Bayu tersenyum getir, kemudian melayangkan pandangannya ke arah kaki bukit yang dialiri sungai kecil jernih menuju ke Desa Pekacangan.
Sementara malam semakin bertambah larut. Pantulan cahaya bulan pada riak air sungai bagai untaian mutiara memanjang membelah hutan yang cukup lebat Sungguh indah pemandangan dari puncak bukit ini. Dan Bayu menikmati keindahan itu dengan benak dipenuhi berbagai pikiran. Ada sedikit kecemasan karena Awijaya belum juga kembali. Sementara Rara Wanti sudah tidak gelisah lagi. Hatinya merasa tenang meskipun Awijaya tidak akan kembali lagi. Apalagi setelah mendengar janji yang diucapkan Bayu tadi.

***

Semalaman penuh Bayu tidak memejamkan matanya. Sedangkan Rara Wanti sempat tidur, meskipun hanya sebentar saja. Pagi telah menyingsing, dan sinar matahari telah menghangatkan Puncak Bukit Sidayu ini. Saat berdiri tegak sepanjang malam, tadi, Bayu menyempatkan untuk bersemadi dan melatih pengembangan hawa mumi. Meskipun tidak tidur, tapi rasanya sudah cukup. Bahkan berlebihan dalam menjaga kondisi tubuhnya.

"Hm...," Bayu menggumam kecil ketika pandangannya menangkap ada gerakan halus di bawah sana. Pendekar Pulau Neraka itu menajamkan penglihatannya. Tampak gerakan itu menuju puncak bukit ini. Begitu halus dan cepat, hampir tidak terlihat.

Semakin lama gerakan itu semakin terlihat jelas. Bayu tersenyum ketika melihat tiga orang bergerak mendaki bukit. Dia hanya melirik sedikit saat menyadari Rara Wanti berdiri disampingnya. Gadis itu juga sudah tahu kedatangan tiga orang yang kini tengah mendaki bukit.

"Mereka datang, Kakang," bisik Rara Wanti.
"Aku tahu. Biarkan saja sampai ke sini," sahut Bayu.

Tidak beberapa lama, tiga orang yang dilihatnya mendaki bukit telah tiba di puncak. Tampak Awijaya berada di antara mereka. Pemuda itu langsung berjalan cepat menghampiri Rara Wanti yang berdiri di samping Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan dua orang lagi tidak lain dari Ki Praba dan Jantar. Jelas sekali wajah Ki Praba memancarkan keberangan melihat Rara Wanti tampak segar bersama seorang pemuda berbaju dari kulit harimau.

"Heh.... Kau rupanya yang membawa lari, anak muda," ujar Ki Praba sinis.
"Tidak salah. Tapi sekarang dia senang bersamaku," sahut Bayu kalem, namun bernada tegas.
"Bagus! Itu berarti kalian semua harus mati di sini!" dengus Ki Praba.
"Begitu mudah mengucapkan kata mati, tapi sukar melakukannya. Aku khawatir malah kau yang dulu terbang ke neraka, Ki Praba," sambut Bayu memanasi.
"Ha ha ha...!" Ki Praba tertawa terbahak-bahak.
'Tertawalah sepuasnya sebelum terbang ke neraka!"
"Jantar!" Ki Praba menghentakkan tangannya.

"Hait...!" Jantar langsung melompat ke depan, membuka jurus serangan. Bayu hanya tersenyum saja memperhatikan Jantar yang berpentilan membuka ke mbangan jurus penyerangan. Dan tiba-tiba saja Jantar melompat cepat dibarengi lontaran dua buah pisau kecil yang sangat tipis.

Pendekar Pulau Neraka yang sudah menyadari sebelumnya, segera mengegoskan tubuhnya ke samping. Ditarik kakinya bergeser dua tindak. Cerat sekali digerakkan tangan, dan ditangkap dua pisau yang dilepaskan Jantar. Secepat itu pula dia melompat ke atas melewati kepala Jantar yang meluruk memberikan serangan cepat.

Jantar terkejut, karena dua pukulannya hanya mengenai angin saja. Dan belum lagi hilang keterkejutannya, tiba-tiba saja dia terpekik Tubuhnya langsung tersuruk jatuh ke depan mencium tanah. Satu pukulan keras tanpa pengerahan tenaga dalam dilepaskan Bayu pada punggung pemuda itu.

"Huh!" Jantar mendengus, langsung bergegas melompat bangkit berdiri.
"Kau perlu pisaumu? Nih! Kukembalikan!" sentak Bayu

Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka itu melemparkan pisau-pisau Jantar. Sesaat Jantar terkesiap, dan buru-buru melompat menghindari sambitan pisaunya sendiri. Pisau itu menghunjam dalam di tanah, tepat di tempat kaki Jantar tadi berpijak.

"Keparat! Hup, hiyaaa...!"

Jantar kembali melompat menerjang, dan kali ini tidak lagi menganggap remeh lawannya. Serangannya cepat dan dahsyat. Setiap pukulannya mengandung tenaga dalam cukup tinggi. Namun Pendekar Pula Neraka tidak mudah dirobohkan begitu saja. Setiap serangan yang datang, dengan manis selalu di dihindari. Bahkan serangan balasannya membuat Jantar kelabakan.

"Sudah cukup kita bermain! Bersiaplah...!" seru Bayu keras.

Setelah berkata demikian, Pendekar Pulau Neraka langsung melompat ke atas, lalu dengan cepat menukik turun diikuti hentakan tangan kanannya. Cakra Maut berkelebat cepat mengarah ke bagian leher Jantar. Sesaat pemuda itu terkesiap, lalu buru-buru menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan bergulingan beberapa kali. Tapi begitu melompat bangkit, satu tendangan keras tidak bisa dihindari lagi.

"Akh...!" Jantar me mekik tertahan.

Tubuh pemuda itu langsung terdorong kebelakang. Dan belum lagi dapat menguasai dirinya, mendadak saja secercah kilat keperakan menyambar cepat. Jantar tidak mampu berkelit lagi. dan....
"Aaa...!" Jantar memekik keras melengking tinggi

Tampak dadanya berlubang tertembus Cakra Maut hingga tembus sampai ke punggung. Senjata bersegi enam itu berputar balik, dan langsung menempel pada pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka. Sebentar Jantar masih mampu berdiri. Sesaat kemudian tubuhnya limbung, dan ambruk menggelepar ke atas tanah. Darah bersimbah dari dadanya yang berlubang. Hanya sebentar Jantar mampu bergerak, kemudian diam dengan nyawa terbang dari tubuhnya.

Bayu memutar tubuhnya menghadap Ki Praba yang terlongong menyaksikan kematian Jantar begitu cepatnya. Namun laki-laki setengah baya itu tidak bisa berlama-lama memandangi tubuh pengawal pribadinya yang berlumuran darah segar. Ternyata Bayu Hanggara sudah berteriak keras sambil mengebutkan senjata mautnya.

"Uts...!" Ki Praba mengegoskan kepalanya sedikit ke kanan, dan Cakra Maut itu melesat lewat di samping kepalanya. Tapi Cakra itu berputar balik. Mau tidak mau Ki Praba melompat ke samping. Bayu mengangkat tangan kanannya keatas, maka Cakra Maut kembali menempel di pergelangan tangannya. Serangan tadi memang sengaja tidak diarahkan ke sasarannya secara langsung. Lemparan cakranya sengaja dimelencengkan hanya untuk menggugah Ki Praba saja.

"Jangan berbangga dulu bisa mengalahkan Jantar, anak muda!" dengus Ki Praba.
"Sebentar lagi kau akan menyusul," balas Bayu dingin.
"Sombong! Hih...! Terima seranganku!
Hiyaaa...!"

Ki Praba melompat cepat bagai kilat menerjang Pendekar Pulau Neraka. Namun terjangan itu manis sekali mampu dihindari. Kembali Bayu harus bertarung melawan Ki Praba. Kali ini Bayu menyadari kalau Praba jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya dibanding Jantar. Dan Pendekar Pulau Neraka itu harus bersikap hati-hati melayaninya.

Tidak mudah bagi Pendekar Pulau Neraka untuk menjatuhkan Ki Praba. Laki-laki setengah tua itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi juga. Jurus-jurusnya luar biasa, dan tenaga dalamnya juga hampir mencapai taraf kesempurnaan. Jurus demi jurus berlalu cepat, tapi belum ada tanda-tanda pertarungan bakal berakhir. Beberapa kali Bayu melepaskan senjatanya yang terkenal maut itu, tapi Ki Praba mampu berkelit manis menghindarinya.

Pertarungan terus berlangsung semakin sengit. Sementara di tempat lain, Awijaya dan Rara Wanti menyaksikan dengan perasaan cemas. Hanya Awijaya yang kelihatan sedikit tenang, karena telah sering mendengar kehebatan Pendekar Pulau Neraka. Entah kenapa, hatinya begitu yakin kalau Bayu pasti dapat mengalahkan Ki Praba. Tapi tidak demikian dengan Rara Wanti. Dia khawatir betul kalau Bayu akan tewas di tangan ayah angkat yang sangat dibencinya. Rara Wanti lebih senang kalau Ki Praba yang tewas.

"Sebaiknya kau bantu dia, Kakang," kata Rara Wanti tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Tenang saja, Rara. Bayu pasti bisa mengatasi," sahut Awijaya.
"Tapi, sudah lebih dari dua puluh jurus...."

Awijaya diam saja. Memang pertarungan itu sudah memakan lebih dari dua puluh jurus, tapi belum ada yang terdesak. Tapi me masuki jurus ke tiga puluh, kelihatan kalau Ki Praba mulai kerepotan menghadapi serangan-serangan Pendekar Pulau Neraka. Dia sudah jatuh bangun, dan bahkan beberapa kali menerima pukulan serta tendangan keras bertenaga dalam tinggi. Tapi Ki Praba masih juga mampu bertahan, meskipun darah sudah mengucur dari mulutnya. Bagian pelipis telah sobek mengeluarkan darah. Dan bahu kirinya juga sobek terkena sambaran Cakra Maut.
Keadan Ki Praba sudah tidak menguntungkan lagi. Tubuhnya jadi bulan-bulanan Pendekar Pulau Neraka. Jatuh bangun tanpa mampu membalas. Darah semakin banyak membanjiri tubuhnya. Tapi Bayu tidak juga berhenti. Hingga pada pukulannya yang terakhir....

"Akh...!" Ki Praba memekik keras tertahan.

Pukulan yang keras bertenaga dalam sangat tinggi itu tepat mengenai dada Ki Praba. Akibatnya, laki-laki setengah baya itu terpental jauh ke belakang. Sebuah pohon besar tumbang terlanda tubuhnya. Ki Praba menggeliat-geliat berusaha bangun. Meskipun tubuhnya sudah dipenuhi luka, tapi masih juga mampu berdiri. Dengan tubuh limbung, laki-
laki setengah baya itu berjalan menghampiri Pendekar Pulau Neraka.

"Grrr...!" Ki Praba menggeram bagai seekor binatang buas.

Tatapan matanya begitu tajam menusuk. Langkahnya terhenti setelah jaraknya tinggal sekitar tiga batang tombak lagi di depan Pendekar Pulau Neraka. Sesaat dia hanya diam saja menatap tajam, kemudian tiba-tiba sekali tangan kanannya bergerak mengibas ke samping. Dan puluhan jarum berwarna keperakan melesat deras ke arah Rara Wanti dan Awijaya.

"Awas...!" seru Bayu keras.

Tapi Awijaya dan Rara Wanti hanya terbeliak terperangah. Memang tidak disangka kalau Ki Praba akan berbuat curang begitu. Dan sebelum kedua anak muda itu bisa melakukan sesuatu, secepat kilat Bayu mengibaskan tangan kanannya.

Wut..l

Cakra Maut melesat bagai kilat melebihi anak panah yang terlepas dari busurnya. Senjata lingkaran bersegi enam berwarna keperakan itu meluncur me motong arah jarum-jarum yang dilepaskan Ki Praba. Sungguh tidak diduga sama sekali, jarum-jarum itu meluruk ke arah Cakra Maut, dan menempel pada senjata itu. Bayu menghentakkan tangannya ke atas, maka Cakra Maut melesat balik ke arahnya setelah seluruh jarum keperakan melekat pada permukaan bagian atas senjata bersergi enam Itu.

"Hap! Yaaah...!"

Secepat Cakra Maut melekat di pergelangan tangan, secepat itu pula Pendekar Pulau Neraka mengibaskannya lagi. Dan Cakra Maut kembali melesat cepat bagai kilat ke arah Ki Praba. Tampak, jarum-jarum yang melekat di senjata itu rotok luruh ke tanah. Saat itu Ki Praba sudah tidak bisa lagi bergerak cepat Maka tak pelak lagi, Cakra Maut menghunjam dadanya hingga tembus ke punggung.

"Aaa...!" Ki Praba menjerit melengking t inggi.

"Hap!" Bayu mengangkat tangannya ke atas. Begitu senjata bersegi enam itu melekat di pergelangan tangannya, dengan cepat Bayu melompat sambil menghentakkan kakinya ke depan. Tendangan yang disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu tepat menghantam kepala Ki Praba. Kembali laki-laki tua itu menjerit melengking. Hanya sesaat mampu berdiri, kemudian limbung, lalu ambruk menggelepar di tanah. Darah mengalir deras dari dada yang berlubang dan kepala hancur berantakan.

Bayu menarik napas panjang. Dia berdiri tegak memandangi mayat Ki Praba yang membujur kaku bersimbah darah. Sebentar ditariknya napas panjang, kemudian berbalik memandang Awijaya dan Rara Wanti yang masih berdiri di tempatnya. Kedua anak muda itu seperti terkesima melihat kematian Ki Praba begitu tragis.

***

Bayu melangkah tegap menghampiri kedua anak muda yang masih berdiri terpaku pada tempatnya. Rara Wanti terlebih dahulu yang mengangkat wajahnya menatap Pendekar Pulau Neraka itu. Entah apa yang ada di dalam sinar mata gadis itu. Bayu sendiri sukar untuk mengartikannya. Pendekar Pulau Neraka itu berhenti melangkah setelah jaraknya tinggal lima langkah lagi di depan kedua anak muda itu.

"Aku rasa semuanya sudah selesai..," tegas Bayu pelan.
"Tunggu, kau akan kemana?" tanya Awijaya mencegah kepergian Bayu.

Bayu hanya tersenyum saja, dan langsung berbalik dan melangkah pergi. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, Rara Wanti mengejar, dan menghadangnya. Bayu menoleh menatap Awijaya yang tetap berdiri di tempatnya.

"Kakang, kau tetap akan pergi juga...?" agak tertahan suara Rara Wanti
"Kau sudah menemukan laki-laki impianmu, Rara. Kuharap kau bahagia berada di sampingnya," kata Bayu lembut.
"Tapi.... Kau akan kembali lagi, bukan?"

Bayu tidak menjawab, tapi hanya tersenyum saja. Kemudian berbalik dan melangkah pergi. Sebentar ditatapnya Awijaya, dan ditepuknya pundak pemuda berbaju merah muda itu. Awijaya tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya memandangi kepergian Pendekar Pulau Neraka itu. Ada sedikit penyesalan terselip di hatinya karena telah menyangka buruk pada pendekar muda itu. Ternyata kabar cerita yang pernah di dengarnya tentang Pendekar Pulau Neraka tidak semuanya benar. Buktinya Awijaya tidak melihat kekejaman pada pendekar muda itu. Bahkan kata-katanya selalu lembut, dan segala tindakannya tenang. Hanya saja, Bayu memang tidak pernah mau berkompromi pada setiap lawannya yang diyakini harus tewas di tangannya.

Bayu terus berjalan semakin jauh. Sementara Awijaya sudah berada di samping Rara Wanti. Pemuda itu melingkarkan tangannya di pundak Rara Wanti. Gadis itu pun merebahkan kepala di bahu pemuda di sampingnya Mereka memandangi kepergian Pendekar Pulau Neraka dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada.

"Ayo kita pergi, Rara," ajak Awijaya setelah tubuh Pendekar Pulau Neraka tidak terlihat lagi.
"Ke mana?" tanya Rara Wanti agak lesu.

Rara Wanti masih menatap ke arah kepergian Bayu, meskipun Pendekar Pulau Neraka itu tidak terlihat lagi. Gadis itu merasakan sekeping hatinya terbawa pergi oleh Bayu Hanggara. Bagaimanapun juga tidak akan bisa dilupakan pengalamannya bersama pemuda yang telah merenggut sekeping hatinya. Pemuda yang telah memberikan kebahagiaan tersendiri.

"Kita cari dulu ibumu, baru menemui ibuku. Kita akan hidup bersama tanpa harus bergelimang kekerasan dan darah lagi," jelas Awijaya lembut

Rara Wanti tidak menyahuti, membalikkan tubuhnya menghadap pemuda itu. Mereka saling berpelukan, dan saling melempar pandang.

"Oh, Kakang...," desah Rara Wanti lirih. Awijaya semakin erat memeluk gadis itu. Sebentar ditatap dalam-dalam bola mata yang bening indah depannya. Kemudian pelahan-lahan sekali ditundukkan kepalanya, dan sesaat bibir mereka sudah menyatu rapat. Erat sekali Awijaya mendekap tubuh ramping itu, seakan-akan tidak ingin melepaskannya kembali. Sementara siang sudah beralih, menggulir menuju senja. Matahari sudah semakin condong ke arah Barat Sinarnya yang redup memberikan bayang-bayang bagi sepasang insan menyatu dalam raga dan jiwa di Puncak Bukit Sidayu.

Episode berikutnya: Istana Iblis
SELESAI