Cakar Harimau

SERIAL PENDEKAR PULAU NERAKA
Episode: Cakar Harimau
Karya: Teguh Suprianto
Gambar: Tony G
Penerbit: Cintamedia, Jakarta

Cakar Harimau


SATU


Dua ekor kuda berjalan perlahan menuruni lereng sebuah gunung yang berdiri megah dan angkuh menantang langit cerah yang membiru. Hari ini memang seluruh alam diliputi kecerahan. Langit tampak. bening, tanpa awan sedikit pun menggumpal. Matahari bersinar terang, namun tak begitu terik Memang saat. itu angin bertiup kencang seperti mengusir udara panas jauh-jauh. Dua ekor kuda itu terus bergerak perlahan. Penunggangnya yang terdiri dari dua orang gadis berparas cantik, terlihat lelah sekali.

"Berapa jauh lagi Desa Malanapa, Kak?" tanya seorang gadis yang mengenakan baju warna biru muda.

"Di kaki Gunung Parang ini," sahut gadis satunya lagi yang mengenakan baju warna merah. "Kau. sudah lelah, Suci?"
"Sedikit," sahut gadis berbaju biru muda yang dipanggil Suci. "Kak Intan sendiri...?"

Gadis berbaju merah hanya tersenyum saja, tanpa menjawab sedikit pun. Langkah kaki kudanya dihentikan, tepat di tepi sebuah sungai kecil yang mengalir menghadang melingkari gunung ini. Gerakannya indah dan ringan sekali saat turun dari punggung kudanya. Suci mengikuti. Mereka sama-sama menghempaskan diri, duduk di tepi sungai. Untuk beberapa saat mereka tidak ada yang membuka suara. Sama-sama diam memandangi kuda yang tengah mereguk sejuknya air sungai, Memang sejak kemarin kuda-kuda mereka tidak menemukan air. Dan mereka sendiri sebenarnya sudah terlalu lelah, lapar, dan haus sekali. Keadaan ini bisa terlihat dari raut wajah dan sorot mata mereka yang redup.

"Aku heran, Kak..," ujar Suci dengan nada suara terputus dan agak mengeluh. "Heran kenapa?" tanya Intan. "Mengapa kita yang diberi tugas begini? Mengapa bukan Kakang Seta atau Kakang Darmasaka saja, Kak..? Mereka kan kepandaiannya lebih tinggi dari kita," ungkap Suci, mengemukakan isi hatinya.

"Yang jelas, Eyang Purata tidak akan salah, sahut Intan. "Ah, sudahlah.... Kenapa harus mempersoalkan itu sih...?"
"Bukannya begitu, Kak. Aku yakin ada sesuatu dengan tugas ini."
"Maksudmu...? Aku kok tidak mengerti, Suci."

"Eyang Purata pasti punya maksud tertentu yang tidak kita ketahui, Kak. Aku yakin itu," mantap sekali suara Suci.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Suci Walau pun Eyang Purata punya maksud tertentu, tidak mungkin akan mencelakakan murid-muridnya sendiri. Aku yakin, seandainya perasaanmu itu benar, pasti ada baiknya untukmu dan untukku."

"Tapi, Kak..."
"Ah..., sudahlah. Hilangkan saja sangkaan buruk di kepalamu itu," potong Intan cepat.

Suci jadi diam membisu, namun masih tetap yakin kalau tugas yang diberikan gurunya mempunyai tujuan tertentu yang tidak diketahui secara pasti. Keyakinannya itu semakin menebal saat mereka sudah semakin dekat dengan Desa Malanapa yang terletak di kaki gunung Parang ini. Suci memang mengakui kebenaran kata-kata kakak seperguruannya ini. Yang pasti, meskipun Eyang Purata mempunyai tujuan tertentu, tidak akan mungkin mencelakakan muridnya sendiri. Terlebih lagi, sampai mengorbankannya.

Kecurigaan Suci muncul ketika kemarin secara tiba-tiba saja mereka diserang oleh empat orang yang tidak mau menunjukkan wajahnya. Empat orang itu meminta sesuatu yang sama sekali tidak diketahui kedua gadis ini. Kemudian mereka langsung menyerang setelah Intan mengatakan tidak memiliki yang diinginkan. Namun mereka seketika itu Juga pergi, sebelum kedua gadis ini memberi serangan balasan yang berarti.

Sejak kejadian kemarin itu, benak Suci jadi dipenuhi berbagai macam pikiran dan dugaan yang sukar dijawab dengan cepat. Sedangkan setiap kali hal itu dibicarakannya, Intan seperti tidak ingin persoalan itu diperpanjang lagi. Suci memang tidak bisa menyalahkan. Dan itu memang sudah watak Intan, yang tidak pernah mau men perpanjang setiap persoalan. Apalagi memikirkannya, sehingga membuat kepala jadi berdenyut.

"Sudah cukup, ayo jalan lagi," ajak Intan seraya bangkit berdiri. Dengan malas, Suci ikut bangkit berdiri. Saat itu matahari memang sudah agak condong ke Barat. Dan tentu saja mereka tidak ingin bermalam lagi di tengah hutan. Sebelum matahari benar-benar tenggelam nanti, mereka harus sudah sampai di Desa Malanapa yang menjadi tujuan kedua gadis ini.

***

Saat matahari tenggelam di balik peraduannya, Intan dan Suci sudah sampai di Desa Malanapa. Mereka turun dari kuda, lalu berjalan kaki sambil menuntun kuda masing-masing. Dua gadis itu berjalan perlahan-lahan sambil melihat-lihat suasana di desa yang tidak begitu besar ini. Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan tanah yang berdebu ini, sebagian sudah menyalakan pelita. Memang suasana petang ini sudah mulai gelap. Dan pasti, sebentar lagi malam akan datang menyelimuti maya pada.

"Apakah kita langsung ke rumah kepala desa saja, Kak?" tanya Suci.
"Nanti saja. Yang penting, sekarang kita cari penginapan dulu," sahut Intan.
"Apa ada penginapan yang baik di desa ini?"
"Mudah-mudahan saja ada,"

Suci tidak bertanya lagi. Gadis itu yakin kalau di desa yang kecil ini, tidak ada penginapan yang baik. Kalaupun ada, pasti hanya sebuah penginapan kecil yang kumuh dan tidak sedap dipandang. Namun Suci harus bisa memaklumi. Dalam keadaan seperti ini, tidur di dalam kamar rumah penginapan masih lebih baik, daripada tidur di alam terbuka. Kedua gadis itu terus saja berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan tanah berdebu.

Sementara, keadaan sudah semakin gelap saja. Di langit sana, bulan mulai menampakkan sebagian wajahnya yang besinar lembut. Cahayanya yang redup dan samar-samar, seakan enggan menyinari bumi ini. Kedua gadis itu berhenti melangkah di depan sebuah rumah yang cukup besar. Tampak di bagian depan rumah itu dipenuhi orang-orang yang sedang menikmati makanan dan minuman. Sebentar Intan memandang pada Suci.

"Kedai inilah yang terbaik di Desa Malanapa," jelas Intan. Terus, untuk menginapnya?" tanya Suci.
"Ada.... Kedai ini juga merangkap menyewakan kamar untuk bermalam," jelas Intan kembali.

"Kelihatannya kedai ini ramai sekali, Kak," kata Suci yang sejak tadi memperhatikan bagian dalam kedai di depannya.
"Kedai Ki Karta memang selalu ramai." "Apa masakannya enak, Kak?" tanya Suci lagi. "Bisa kau coba nanti."

Suci hanya tersenyum saja. Gadis itu tahu kalau Intan mendesaknya untuk memasuki kedai Ki Karta. Dan hal itu tidak bisa ditolaknya lagi. Tak berapa kemudian kedua gadis itu sudah melangkah memasuki kedai yang selalu ramai. Seorang laki-laki berusia setengah baya, menyongsong kedua gadis itu. Dengan sikap ramah, dipersilakannya kedua gadis itu duduk di tempat yang kebetulan kosong. Meskipun kedai ini kelihatannya ramai, tapi masih ada be berapa meja yang belum terisi. Suci merasa kalau kedai ini cukup besar dan bersih.

"Minta makanannya saja, Ki," Intan memesan.
"Tidak pakai arak?" laki-laki tua yang dikenal bernama Ki Karta itu menawarkan.
"Tidak, air biasa saja," tolak Intan.
"Baiklah, Den Ayu. Sebentar disiapkan."

Ki Karta meninggalkan kedua gadis itu. Sebentar laki-laki tua itu berbicara dengan salah seorang pelayan kedai ini, kemudian sudah kembali sibuk menyambut tamu yang baru masuk lagi. Kali ini tamunya adalah seorang pemuda berpakaian yang sangat lain dengan orang-orang yang berada di kedai ini. Seorang pemuda berwajah tampan. Bajunya dari kulit harimau. Sikapnya terlihat agak dingin. Sorot matanya memancar cukup tajam, namun tercermin suatu kelembutan dan ketegasan pribadinya. Dia tidak banyak bicara, dan hanya memesan seguci arak manis saja. Ki Karta tetap melayaninya dengan senyuman ramah di bibir.

"Ki...." Intan melambaikan tangannya memanggil pemilik kedai itu. Ki Karta bergegas menghampiri. "Ada apa, Den Ayu?" tanya Ki Karta setelah berada di dekat Intan.
"Masih ada kamar kosong?" tanya Intan. "Masih ada, perlu berapa kamar?" "Satu saja, Dan kalau bisa, yang menghadap langsung ke jalan."

"Ah, kebetulan sekali. Tinggal satu yang menghadap ke jalan, Den Ayu."
"Kalau begitu, siapkan saja, Ki. Selesai makan, kami berdua langsung ingin istirahat" "Baik, Den Ayu."

Baru saja Intan akan membuka mulut, mendadak saja terdengar bentakan keras dari belakangnya.

"Ki Karta, sini...!"

Laki-laki tua itu bergegas menghampiri orang yang memanggil dengan suara keras menggelegar bagaikan guntur. Sedangkan Intan hanya melirik sedikit saja. Tampak Ki Karta agak terbungkuk di depan sebuah meja yang tepat di belakang Intan. Dan di sana, duduk seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun. Namun wajah yang kasar dan penuh brewok, membuatnya kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya.

"Beri aku arak lagi," pinta laki-laki berwajah penuh brewok itu. Suaranya terdengar berat dan kasar sekali.

"Tapi, Den Basra.... Raden sudah terlalu banyak minum...," kata Ki Karta dengan sikap takut-takut.

"Sejak kapan kau berani membantah, heh...?!" bentak pemuda yang dipanggil Basra itu.

Dengan sikap kasar sekali, Basra menarik baju Karta, hingga jadi limbung. Hampir saja dia terjatuh kalau tidak cepat-cepat menekan bibir meja hingga tertahan.

"Iya.... Iya, Den. Sebentar disediakan," kata Karta tergagap. "Huh!" Basra menghentakkan tangannya yang mencengkeram baju laki-laki tua pemilik kedai ini. Hampir saja Ki Karta menabrak Intan. Untung, gadis itu cepat-cepat menahannya. Namun Intan masih tetap saja duduk kursinya.

"Oh.... Terima kasih, Den Ayu," ucap Ki Karta.
"Kau tidak apa-apa, Ki?" tanya Intan. "Tidak," sahut Ki Karta.

"Ki Karta, sini...!" kembali Basra memanggil dengan suara keras menggelegar. Ki Karta akan menghampiri, tapi Intan sudah
keburu mencegah dengan mencekal tangan Ki Karta. Bahkan dengan halus sekali, Intan meminta Ki Karta tetap melayaninya. Dan ini membuat laki-laki tua jadi kebingungan. Dia tidak tahu, yang mana harus didahulukan.

"Jangan hiraukan, Ki," tegas Intan. Ki Karta semakin kebingungan. Wajahnya seketika memucat begitu melihat Basra bangkit berdiri dan menghampiri. Laki-laki berwajah kasar itu menggeser gagang goloknya yang terselip di pinggangnya. Kemudian langkahnya berhenti di depan meja yang ditempati Intan.

"Ha ha ha...!" tiba-tiba saja Basra tertawa terbahak-bahak.
"Hm...," Intan hanya menggumam pelan saja.

Sedangkan Ki Karta semakin kelihatan pucat dan gemetar. Kakinya bergeser, dan berdiri di belakang Intan.

Tapi mendadak saja Basra mengibaskan tangannya ke arah laki-laki tua itu, melewati kepala Intan. Namun....

Bet!

"Heh...?!" Basra terkejut bukan main. Buru-buru tangannya ditarik kembali, begitu tiba-tiba sekali Intan mengebutkan tangan untuk menyampok kibasan tangan Basra. Kebutan tangan gadis itu demikian cepat. Walaupun Basra sudah bergegas menarik, namun ujung jari tangannya masih juga terkena kebutan tangan gadis itu. Dan hal ini membuatnya semakin terkejut saja, karena mendadak jari jari tangannya seperti tersengat ribuan kala berbisa. Nyeri dan menggetarkan sekali!

"Hih...!"

Basra melompat mundur satu tindak. Matanya tajam memandangi Intan, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Jari-jari tangannya masih bergetar, dan sedikit terasa nyeri. Memang sukar baginya untuk percaya. Ternyata gadis muda dan cantik seperti ini memiliki kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.

"Rupanya kau ingin unjuk kebolehan di sini..." desis Basra dingin.
"Maaf, aku tidak ingin mengotori tanganku," balas Intan kalem.
"Setan...!" geram Basra langsung memerah wajahnya.

Kata-kata Intan yang terdengar kalem itu, namun sangat menusuk perasaan. Basra merasa kalau kata-kata itu sangat merendahkan dan mengejeknya. Dan baginya, itu merupakan tantangan yang dilontarkan halus, tapi nyata sekali. Pantang bagi Basra mendapatkan hinaan seperti ini. Apalagi datangnya dari seorang gadis cantik yang kelihatannya lemah.

Bet!

Mendadak saja Basra mengebutkan tangan kiri ke arah muka Intan. Kebutan yang cepat dan mendadak itu, sempat membuat Intan sedikit terperangah. Namun dengan sedikit menarik kepalanya, kebutan tangan yang dilancarkan Basra bisa dielakkan. Ujung jari tangan laki-laki berwajah kasar penuh brewok itu. hanya lewat sedikit saja di depan muka Intan.

"Edan...!" geram Basra.

Kemarahan laki-laki kasar itu semakin memuncak karena dua kali dibuat terpana oleh tindakan Intan yang kalem dan manis sekali. Kejadian itu membuat pengunjung kedai jadi tertarik. Mereka semua memperhatikan, seakan-akan sedang disuguhi satu tontonan menarik. Beberapa orang mulai melontarkan kata-kata yang membuat telinga Basra jadi memerah panas.

"Bedebah...!" desis Basra geram.
"Yeaaah...!"

Dengan hati panas diliputi kemarahan dan perasaan malu, Basra langsung menyerang gadis itu. Di lontarkannya dua pukulan sekaligus, disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Namun tanpa diduga sama sekali, Intan hanya meliukkan tubuhnya saja. Bahkan tanpa memindah duduknya sedikit pun. Dua pukulan bertenaga dalam cukup tinggi yang dilepaskan Basra tidak mengenai sasaran sama sekali.

Kembali terdengar suara suara usil mengejek Basra. Dan ini membuatnya semakin geram saja. Dia benar-benar marah, karena merasa sudah dipermainkan dan dipermalukan seorang gadis cantik yang lemah ini. Sambil menggereng marah, kembali dilancarkannya serangan serangan yang cepat dan beruntun. Beberapa serangan laki-laki brewok itu masih bisa di hadapi Intan tanpa beranjak dari kursinya. Namun ketika Basra mencabut golok dan langsung dikibaskan ke arah leher yang putih jenjang itu, Intan tidak lagi berdiam di kursinya.

Tepat ketika baru berhasil mengelakkan tebasan golok yang mengarah ke leher, bagaikan kilat tubuhnya melenting tinggi ke udara. Sambil berputaran ke belakang, Intan menghentakkan kakinya ke arah dada laki-laki bersenjata golok itu. Serangan yang dilancarkan gadis itu, membuat Basra terperangah tidak menyangka. Laki-laki kasar itu tidak dapat lagi menghindari tendangan yang cepat dan tidak terduga. Sehingga....

"Yeaaah...!"
Diegkh!
"Akh...!" pekik Basra keras.

Tendangan yang dilancarkan Intan, tepat menghantam dada laki-laki bersenjata golok itu, akibatnya Basra terpental sejauh dua batang tombak ke belakang. Keras sekali tubuhnya terbanting, menghantam sebuah meja hingga hancur berantakan. Dan pada baru saja bangkit berdiri, Intan sudah kembali melompat menerjangnya. Lagi-lagi gadis itu melontarkan tendangan keras menggeledek.

"Hiyaaa...!"
"Hah...?!"

Basra hanya bisa terperangah dengan mulut terbuka. Dan dia tidak bisa lagi melakukan sesuatu, karena tendangan keras Intan sudah kembali mendarat telak di dadanya. Tak pelak lagi, tubuh laki-laki berotot itu kembali terpental ke belakang deras sekali.

Brak!

Dinding bagian depan kedai ini jebol terlanda tubuh yang tinggi besar dan berotot itu. Basra jatuh bergulingan di luar kedai setelah tubuhnya menghantam dinding yang terbuat dari belahan papan, hingga berantakan. Sedangkan Intan sudah kembali menghampiri mejanya. Namun sebelum sempat duduk, tiba-tiba terdengar tawa mengikik, disertai kata-kata bernada kering dan mengejek. Intan tidak jadi duduk di tempatnya semula. Gadis itu hanya menggumam kecil, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Hm...."

Tatapan mata gadis itu tertuju pada seorang perempuan tua yang mengenakan jubah warna biru terang. Perempuan tua itu duduk tepat di dekat jendela. Tidak jauh dari perempuan tua itu, duduk seorang pemuda berwajah tampan yang mengenakan baju kulit harimau. Pemuda itu kelihatannya tidak Mempedulikan sama sekali dengan suasana yang mulai memanas di dalam kedai ini.

"Setan Kobra Betina...," desis Intan, mengenali perempuan tua yang duduk sekitar tiga batang tombak di hadapannya. Dan pandangan Intan beralih pada pemuda berbaju kulit harimau. Pada saat yang sama, pemuda itu mengarahkan pandangannya kepada gadis ini. Dan untuk beberapa saat pandangan mereka bertemu pada satu titik. Entah kenapa, tiba-tiba saja Intan merasakan darahnya berdesir mengalir cepat. Bahkan jantungnya berdetak kencang tidak seperti biasanya. Buru-buru pandangannya dialihkan ke arah perempuan tua berjubah biru terang.

"Hm...," lagi-lagi Intan menggumam kecil.

***

DUA

"He he he.... Jurus 'Tendangan Halilintar' mu cukup dahsyat juga. Tapi rasanya tidak berarti jika diikutsertakan dalam perlombaan di Gunung Parang!" nada suara Si Setan Kobra Betina terdengar kering bergetar.

Intan tidak mempedulikan, lalu duduk di tempat nya semula. Diraihnya gelas yang terbuat dari bambu yang dihaluskan, lalu diteguknya air bening di dalamnya. Namun sebelum air di dalam gelas itu habis, mendadak saja gelas itu pecah. Seketika airnya tumpah membasahi baju gadis ini.

"Bedebah...!" desis Intan geram. Gadis itu langsung menatap si Setan Kobra Betina kemudian memandangi pecahan gelas yang tergeletak di atas meja di depannya. Di antara kepingan pecahan gelas bambu itu, tergeletak serpihan kulit kayu. Intan kembali menatap perempuan tua berjubah biru yang duduk tidak seberapa jauh di depannya. Tampak kulit kayu sudut meja di depan si Setan Kobra Betina terkelupas.

"Aku tidak mempunyai urusan denganmu, Setan Kobra Betina," tegas Intan dingin menggetarkan.

"Kehadiranmu di sini menjadi urusanku, Intan." sahut Setan Kobra Betina, tidak kalah dingin.
"Aku disini hanya sekadar lewat, dan tidak pernah mengganggu segala macam urusanmu. Jangan mencari gara-gara tanpa alasan, Setan Kobra Betina," semakin dingin nada suara Intan.

Gadis itu tahu, kalau Setan Kobra Betina bukanlah tandingannya. Mereka pernah bentrok sekali, dan Intan hampir saja tewas kalau tidak segera diselamatkan Eyang Purata yang kini menjadi gurunya. Sejak itulah dia tinggal di padepokan milik Eyang Purata. Dan sekarang, dia bertemu lagi dengan perempuan tua itu. Yang pasti, Setan Kobra Betina tidak akan melupakan pertarungannya dengan Intan.

"Siapa dia, Kak Intan?" tanya Suci yang sejak tadi diam saja memperhatikan.

"Hm...," Intan hanya menggumam saja tanpa menjawab sedikit pun pertanyaan adik seperguruannya itu. Sedangkan pandangan Intan tetap tertuju pada perempuan tua berjubah biru di depannya, dan hanya terhalang beberapa meja dan kursi yang sudah ditinggalkan pengunjung kedai ini. Dan sejak pertarungan yang singkat tadi, sebagian pengunjung kedai sudah berhamburan ke luar. Kini tinggal beberapa orang saja yang tampaknya memiliki kepandaian tinggi. Sementara tak satu pun pelayan kedai ini yang terlihat. Ki Karta sendiri sudah menghilang entah ke mana. Suasana di dalam kedai yang besar ini semakin bertambah panas dan menegangkan sekali.

"Aku ingin menyelesaikan persoalan lama di antara kita di sini, Intan. Aku yakin, kau sudah bertambah maju sekarang," tegas si Setan Kobra Betina langsung mengajukan tantangan. Intan tidak menjawab. Dan sebenarnya, tantangan ini ingin dihindarinya. Tapi, perempuan tua itu sepertinya mengetahui jalan pikiran Intan. Maka, tantangan itu segera diungkapkan secara langsung, tanpa basa basi lagi. Intan melirik sedikit pada Suci yang saat tengah memandanginya. Gadis itu tahu kalau Suci meminta penjelasan tentang kejadian semua ini. Tapi saat ini, memang tidak ada waktu untuk bisa menjelaskan.

"Bersiaplah, Intan. Hiyaaa....!"

Si Setan Kobra Betina seketika mengebutkan tongkatnya yang berbentuk seekor ular kobra hitam yang mengembangkan leher ke arah gadis berbaju merah yang duduk di depannya.

Slap!
"Uts!"

Bergegas Intan memiringkan tubuh ke kanan ketika dari mulut tongkat berbentuk ular kobra, meluncur seberkas sinar merah berbentuk bulat sebesar mata kucing. Cepat sekali sinar merah itu meluruk, namun hanya lewat sedikit di samping tubuh Intan. Saat itu juga terdengar ledakan keras menggelegar ketika sinar merah bulat sebesar mata kucing itu menghantam dinding kedai di belakang gadis ini.

"Hm..," Intan menggumam kecil. Dalam hatinya, diakui kalau serangan yang dilancarkan si Setan Kobra Betina itu sangat dahsyat. Bisa dibayangkan kalau sinar merah itu mengenai tubuh manusia, pasti hancur berkeping-keping seperti dinding kedai di belakang Intan itu. Dan di saat gadis ini sedang diam dengan otak berputar keras, si Setan Kobra Betina sudah kembali melancarkan serangan.

"Hiya! Hiya! Yeaaah...!"

Beberapa kali perempuan tua berjubah biru itu mengebutkan tongkatnya ke depan. Maka sinar-sinar merah bulat sebesar mata kucing berdesiran deras ke arah Intan. Serangan yang beruntun ini tidak mungkin lagi dihadapi dengan hanya duduk sambil mengelakkan tubuhnya. Seketika Intan bergegas melentingkan tubuhnya ke udara. Kemudian gadis itu berputaran beberapa kali, menghindari serangan-serangan yang dahsyat itu.

"Yeaaah...!"

Sambil berteriak keras, Intan meluruk deras ke arah si Setan Kobra Betina. Itu dilakukannya ketika telah berhasil mengelakkan semua sinar-sinar merah yang keluar dari ujung tongkat perempuan tua berjubah biru itu. Begitu cepatnya Intan meluruk sambil melontarkan dua pukulan bertenaga dalam tinggi, sehingga membuat si Setan Kobra Betina terperangah sesaat. Memang sungguh tidak disangka kalau Intan bisa meluruk begitu deras, selagi berada di udara.

"Hiyaaa...!"

Buru-buru perempuan tua berjubah biru itu melompat ke samping sambil mengibaskan tongkat, menghadang arus terjangan gadis itu. Dan tak dapat dihindarkan lagi ketika satu pukulan yang dilancarkan Intan, menghantam kepala tongkat yang berbentuk ular kobra itu.

Blarrr!

Ledakan keras terdengar menggelegar memekakkan telinga, begitu pukulan Intan menghantam kepala tongkat si Setan Kobra Betina. Tampak Intan memutar tubuhnya ke belakang beberapa kali, lalu manis sekali mendarat di permukaan sebuah meja. Sedangkan si Setan Kobra Betina terdorong sekitar tiga langkah belakang.

"Edan...!" desis si Setan Kobra Betina.
"Ugh...!" Intan mengeluh kecil sambil menghembuskan napas panjang.
"Kau telah memperoleh kemajuan yang pesat Intan. Bagus...! Aku senang bila kau bisa menghadapiku lebih dari lima jurus," puji Setan Kobra Betina.
"Hm...," Intan hanya menggumam kecil saja.

Pada saat itu si Setan Kobra Betina sudah kembali melancarkan serangan. Tongkatnya berkelebat cepat mengincar tubuh Intan yang paling mematikan. Serangan-serangan yang cepat dan beruntun itu, sempat membuat Intan kelabakan menghindari. Namun pada serangan berikut, tepatnya saat si Setan Kobra Betina menusukkan ujung tongkat ke arah dada, Intan tak mungkin lagi berkelit. Jalan satu-satunya yang harus dilakukan adalah melompat ke belakang. Maka...

"Hiyaaa...!"
Brak!

Tubuh yang ramping itu menabrak dinding kedai yang terbuat dari belahan papan. Akibatnya dinding itu hancur berkeping-keping, dan tubuh melesat hingga keluar dari dalam kedai. Pada saat yang bersamaan, si Setan Kobra Betina sudah melesat mengejar. Dia melompat ke atas untuk menjebol atap kedai ini. Tubuhnya langsung meluruk ke halaman, tempat Intan berada di sana.

***

Pertarungan terus berlanjut di depan halaman kedai Ki Karta. Jurus demi jurus berlalu cepat Lima jurus yang dijanjikan si Setan Kobra Betina, sudah terlewati. Namun demikian perempuan tua itu belum juga mampu mengalahkan Intan. Bahkan mendesak saja belum bisa. Intan ternyata masih cukup tangguh melayani beberapa jurus lagi. Sampai-sampai si Setan Kobra betina tertegun melihat kemajuan pesat yang dicapai gadis itu. Sementara itu Suci sudah keluar dari kedai. Gadis itu ingin sekali membantu Intan, tapi hati kecilnya tidak mengizinkan. Lebih-lebih dia tidak tahu permasalahan nya. Memang sedikit sudah bisa ditangkap kalau antara Intan dan perempuan tua itu ada persoalan lama, dan kebetulan bertemu di kedai ini. Persoalan yang tidak diketahui itulah yang membuat. Suci tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hatinya jadi penonton. Sedangkan pertarungan itu terus berlangsung sengit.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja tubuh Setan Kobra Betina melenting ke udara sambil berteriak nyaring. Dan secepat itu tongkatnya dikebutkan ke arah kepala Intan. Seketika itu juga kepala tongkat yang berbentuk ular kobra memancarkan cahaya merah bagai terbakar.

"Oh...?!" Intan terkejut setengah mati. Buru-buru gadis itu melompat ke samping, langsung menjatuhkan tubuh ke tanah. Beberapa kali dia bergulingan, mencoba keluar dari naungan cahaya merah yang semakin lama semakin menyebar.

"Ha ha ha...!" Setan Kobra Betina tertawa terbahak-bahak. Perempuan tua berjubah biru itu kini sudah tegak dengan angkuhnya di tengah-tengah halaman depan kedai. Tangan kanannya agak bergetar memegangi tongkat yang terus memancarkan sinar merah. Pada saat itu, seekor burung lewat di atas kepalanya. Maka mendadak saja burung itu memekik keras langsung jatuh menggelepar di dekat kaki si Setan Kobra Betina.

"Ha ha ha...!"

Sementara Intan terus cepat bergulingan, tidak terkena cahaya merah yang semakin meluas. Namun gerakannya memang kalah cepat bila di banding penyebaran cahaya itu. Hingga....

"Aaakh...!" mendadak saja Intan menjerit melengking tinggi. Dan selagi tubuh gadis itu menggelepar, mendadak sebuah bayangan berkelebat cepat menyambarnya. Begitu cepatnya, tahu-tahu Intan sudah lenyap dari pandangan.

"Heh.?" Setan Kobra Betina terkejut setengah mati. Begitu tongkat di tangan kanannya terhentak, cahaya merah itu seketika lenyap. Matanya nyalang beredar berkeliling, tapi tidak lagi terlihat Intan di sekitar tempat ini. Dan pandangannya langsung tertuju pada Suci, gadis yang datang ke desa ini bersama-sama Intan. Dan Suci sendiri juga terkejut melihat ada bayangan berkelebat cepat menyambarnya.

"Grrrrr! Kau temannya. Maka, kau juga harus mampus, Bocah...!" geram Setan Kobra Betina. Perempuan tua ini mengalihkan kemarahannya Suci. Geramannya memang perlahan, namun terdengar jelas sekali. Tentu saja Suci terperangah setengah mati. Disadari kalau kemampuan yang dimilikinya tidak akan sanggup menghadapi perempuan tua ini. Dari pertarungannya dengan Intan saja, Suci sudah bisa mengukur kemampuan diri sendiri. kepandaiannya tidak sebanding dengan kepandaian yang dimiliki perempuan tua ini.

"Hiyaaa..!"

Tiba-tiba saja si Setan Kobra Betina melompat cepat bagai kilat menerjang Suci. Begitu cepatnya, sehingga membuat gadis itu terhenyak, langsung membelalak lebar. Tapi dia cepat tersadar, dan buru-buru melompat ke samping.

"Hup...!"

Namun gerakan gadis itu memang kalah cepat dibanding serangan yang dilancarkan si Setan Kobra Betina. Terlebih lagi Suci sempat terperangah tadi. Akibatnya, satu pukulan keras yang dilepaskan perempuan tua itu masih sempat menyerempet bahu kirinya.

"Akh...!" Suci terpekik kaget. Gadis itu jatuh bergulingan di tanah beberapa kali. Ketika mencoba bangkit berdiri, namun bahu kirinya terasa sakit sekali. Seakan-akan, tulang-tulang bahu kirinya berpatahan terserempet pukulan yang dilepaskan perempuan tua itu. Dan sebelum Suci bisa berdiri tegak, kembali si Setan Kobra Betina sudah cepat melompat menerjang.

"Oh...," Suci hanya bisa terhenyak. Gadis itu benar-benar tidak bisa lagi melakukan sesuatu. Maka, telak sekali pukulan keras yang dilepaskan si Setan Kobra Betina menghantam dadanya. Begitu kerasnya, sehingga gadis, itu harus menjerit keras, tepat saat tubuhnya terpental jauh ke belakang. Keras sekali gadis itu jatuh menghantam tanah.

"Hoaghk..!"

Suci memuntahkan darah kental begitu mencoba bangkit berdiri. Dia sendiri tidak tahu, apakah sudah mati atau masih hidup. Yang jelas, saat itu si Setan Kobra Betina sudah kembali melompat hendak menyerangnya. Kali ini tongkatnya yang sudah berwarna merah bagai terbakar, terayun ke arahnya. Dan Suci tidak mungkin akan bisa menghindar dari serangan!

"Mampus kau, Bocah! Hiyaaa...!"
"Mati aku...," desah Suci seraya memejamkan matanya sedikit
.
Wut! Slap!

Tepat ketika si Setan Kobra Betina mengayunkan tongkat ke kepala Suci, mendadak saja sebuah bayangan kembali berkelebat cepat menyambar gadis itu. Si Setan Kobra Betina terkejut setengah mati, dan tidak bisa menarik pukulan tongkatnya lagi.

Glaaar...!

Ledakan keras menggelegar terdengar dahsyat begitu tongkat berbentuk ular kobra itu menghantam tanah. Seketika tanah tempat Suci berada tadi, terbongkar. Kepulan debu seketika tercipta, dan langsung membumbung tinggi ke angkasa.

"Setan keparat...!" geram Setan Kobra Betina berteriak keras. Dua kali lawannya lenyap disambar bayangan-bayangan yang bergerak begitu cepat tanpa dapat di ketahui. Meskipun sempat melihat bayangan itu, tapi Setan Kobra Betina tidak bisa mengetahui jelas. Yang pasti, dua bayangan itu berbeda.

***

Ke mana sebenarnya Intan dan Suci berada...? Malam sudah begitu jauh merambat, menyelimuti sekitar Gunung Parang. Malam ini terasa begitu pekat. Tak sedikit pun ada cahaya menerangi. Langit tampak kelam, tanpa cahaya bintang maupun bulan yang menerangi. Begitu pekatnya, sehingga Gunung Parang terlihat bagai sosok raksasa yang berdiri angkuh menentang langit yang menghitam pekat. Di bagian lain lereng Gunung Parang, terlihat orang tengah duduk bersila saling berhadapan. Yang seorang tengah merentangkan tangan ke depan, sehingga kedua telapaknya menempel di dada orang yang di depannya. Mereka sama-sama memejamkan mata, dengan napas teratur dan perlahan sekali. Hampir tidak terdengar teriakan nafasnya.

"Huh...!"

Bersamaan dengan terdengarnya hembusan nafas panjang, kedua telapak tangan itu terlepas dari dada. Dan salah seorang langsung jatuh terkulai, menggeletak di tanah. Seorang lagi menggerak-gerakkan tangannya sebentar, lalu membetulkan letak orang yang kini tergeletak di tanah. Dibaringkannya tubuh itu di dekat bakaran api unggun.

"Kau akan sembuh kembali. Besok saat fajar tiba, kau pasti sudah segar," kata laki-laki muda yang mengenakan baju kulit harimau. Kemudian laki-laki muda itu duduk bersila di samping sosok tubuh ramping yang terbaring di dekat api. Terlihat jelas, kalau tarikan nafasnya begitu ringan dan teratur. Sebentar dipandanginya tubuh ramping di sampingnya, kemudian nafasnya ditarik dalam dan dihembuskan kuat-kuat.

"Hhh...!" kembali pemuda itu menghembuskan napas panjang. Setelah menarik napas dalam dalam, kemudian matanya dipejamkan perlahan-lahan. Sebentar kemudian jalan nafasnya diatur agar lebih teratur lagi. Kedua telapak tangannya berada di atas lutut yang menekuk. Namun tak lama melakukan semadi, telinganya mendengar rintihan lirih. Kembali matanya dibuka, langsung menatap sosok tubuh ramping yang terbaring di sampingnya.

Tampak orang yang terbaring itu mulai menggerakkan kepalanya sambil memperdengarkan rintihan kecil. Sebentar kemudian matanya terbuka, lalu mengerjap beberapa kali. Hatinya agak terkejut begitu melihat di sampingnya duduk seorang laki-laki yang tidak dikenal sama sekali. Dia mencoba bangkit, namun pemuda berbaju kulit harimau itu sudah mencegah, agar tetap berbaring.

"Kau masih lemah, jangan bangkit dulu," lembut sekali suara pemuda itu.
"Siapa kau? Mengapa aku berada di tempat ini?" tanya gadis yang mengenakan baju biru muda itu.
"Aku Bayu," pemuda berbaju kulit harimau itu memperkenalkan diri.
"Aku...."
"Aku tahu siapa dirimu. istirahat saja dulu. Luka dalammu belum sembuh benar." potong pemuda yang mengaku bernama Bayu.

Dan memang, dia bernama Bayu yang lebih dikenal bergelar Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan gadis berbaju biru muda itu adalah Suci, yang hampir saja tewas di tangan Setan Kobra Betina. Gadis itu. coba untuk mengingat-ingat, apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia bisa mengingat sedikit, tapi terus menghilang dan tidak tahu lagi. Suci masih sadar saat dirinya jatuh pingsan begitu tongkat si Setan Kobra Betina terarah ke kepalanya. Namun gadis itu tidak tahu, apakah tongkat itu sempat menghantam kepalanya atau tidak. Dan sama sekali tidak diketahuinya kalau Pendekar Pulau Neraka ini yang menyambarnya, sebelum ujung tongkat berbentuk seekor ular kobra itu menghantam kepalanya.

"Apa yang terjadi padaku...?" tanya Suci dengan suara lemah.
"Kau terluka dalam cukup parah, Suci," jelas Bayu. "Kau bertarung dengan perempuan tua yang mengaku bernama Setan Kobra Betina."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Suci lagi.
"Aku berada di kedai itu, sehingga melihat semua kejadiannya," jawab Bayu sambil tersenyum.

Suci menghembuskan napas panjang. Dia kini ingat. Jadi, pemuda berbaju kulit harimau inilah yang duduk tidak jauh dari perempuan tua berjubah biru yang dikenal bernama Setan Kobra Betina. Perempuan tua itu pulalah yang telah memisahkannya dari kakak seperguruannya. Kembali Suci memandang pemuda tampan yang tetap duduk bersila di sampingnya. Dan Suci tidak bertanya, dari mana pemuda yang tidak pernah dikenal sebelumnya ini mengetahui tentang dirinya. Yang jelas, pasti pemuda berbaju kulit harimau ini bisa mendengar kalau Intan menyebut namanya.

"Apakah kau juga yang menolong Kak Intan?" tanya Suci begitu teringat kalau Intan juga menghilang begitu saja.

Bayu hanya menggelengkan kepalanya.

"Lalu, siapa yang membawa Kak Intan?"
"Aku tidak tahu. Mungkin guru kalian, atau juga kakak-kakak seperguruanmu," sahut Bayu lagi.
"Kau tahu tentang kami...?" Suci tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya lagi.
Bayu hanya tersenyum saja.
"Sebaiknya kau tidur saja, Suci. Tubuhmu perlu istirahat sepanjang malam ini," saran Bayu.
"Aku tidak bisa tidur," Suci menolak.
"Kenapa?"

"Aku harus tahu, apakah Kak Intan selamat atau tidak."
"Tidak mungkin mengetahui malam ini juga, Suci. Sudah terlalu larut, dan keadaanmu juga tidak memungkinkan untuk berjalan."
Suci mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi baru sedikit saja bergerak, seluruh rongga dadanya sudah terasa nyeri dan nafasnya menjadi sesak. Gadis itu mencoba mengatur nafasnya, kemudian memandang Bayu yang hanya tersenyum saja memperhatikan.

"Kenapa kau tersenyum...?" tegur Suci merasa tidak suka dipandangi seperti orang tidak punya daya sama sekali.
"Kau terlalu keras, Suci. Sebaiknya sadarilah keadaan dirimu," sahut Bayu kalem.
"Kau pasti senang melihatku begini," dengus Suci memberengut.

Bayu hanya menggelengkan kepalanya saja. Dalam hati Pendekar Pulau Neraka tersenyum geli melihat sikap gadis ini. Begitu manja dan mudah sekali tersinggung. Juga sangat keras kepala, tidak bisa menyadari keadaan dirinya yang tidak memungkinkan melakukan sesuatu.

"Aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawaku malam ini.. Tapi itu bukan berarti bisa seenaknya memerintah. Akan kubayar semua hutang ini," tegas Suci lagi.

"Terserahlah," sambut Bayu tersenyum.
"Hutang ini akan kubayar."

Lagi-lagi Bayu hanya tersenyum saja. Kemudian duduknya bergeser agak menjauh. Dan kini Pendekar Pulau Neraka memejamkan matanya kembali. Sebentar ditarik napas panjang-panjang, kemudian diatur dengan baik sekali. Bayu memang melakukan semadi, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang terkuras karena menyembuhkan luka dalam yang diderita Suci tadi. Sementara itu Suci hanya memandangi saja. Beberapa kali napas panjang dihembuskan dengan kepala menggeleng kecil. Entah kenapa, terasa sukar baginya untuk memejamkan mata. Bahkan untuk mengalihkan pandangan saja sulit sekali.

"Uh! Kenapa aku ini...?" dengus Suci dalam hati.

***

TIGA

Suci mengayunkan kakinya perlahan-lahan di samping Pendekar Pulau Neraka. Sejak pagi tadi, mereka berjalan. Namun sampai saat ini, belum ada seorang pun yang membuka suara. Beberapa kali gadis itu menghembuskan napas panjang seraya melirik pemuda berbaju kulit harimau di sampingnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Sedangkan Bayu sendiri terus saja mengayunkan kakinya perlahan-lahan. Mereka menembus hutan yang tidak begitu lebat di lereng Gunung Parang. Suci tahu, kalau sekarang ini arah yang dituju adalah Desa Malanapa.

"Seharusnya kau tidak perlu mengikutiku terus Kakang," kata Suci yang sudah membiasakan dengan memanggil kakang pada Pendekar Pulau Neraka.

"Tujuanku memang ke sana. Dan kau sendiri hendak ke desa itu juga. Jadi, tidak ada salahnya jika kita berjalan sama-sama," sahut Bayu kalem.

"Kau ada urusan di sana, Kakang?" tanya Suci ingin tahu.

Bayu tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan gadis itu.

"Kau sendiri...?" Bayu malah balik bertanya.
"Hanya sekadar lewat saja," sahut Suci, seenaknya.
"Bukan karena perintah gurumu?" Suci tersentak kaget mendengar pertanyaan Pendekar Pulau Neraka itu.

Bahkan sampai berhenti melangkah, lalu menatap Bayu dalam-dalam. Entah dari mana datangnya, di hati gadis ini mulai terselip rasa curiga. Pemuda berbaju kulit harimau ini baru dikenalnya tidak begitu lama, tapi mengapa sudah bisa menebak maksudnya? Dan dia tidak tahu, siapa sebenarnya Bayu. Tapi kata-kata dan pertanyaan yang selalu dilontarkannya, menandakan kalau dia sudah mengenal banyak tentang diri Suci. Dan ini membuat gadis itu jadi curiga.

"Siapa kau sebenarnya, Kakang?" tanya Suci, agak dalam nada suaranya.
"Namaku Bayu, dan hanya seorang pengembara biasa saja. Dan...."
"Cukup...!" sentak Suci agak keras.

Bayu mengangkat alisnya sedikit. Dipandanginya gadis ini dalam-dalam. Pada saat yang sama, Suci juga tengah memandang tajam padanya. Untuk beberapa saat lamanya mereka hanya diam saling melemparkan pandangan yang penuh arti. Entah kenapa, Suci merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya tidak sanggup lagi menatap bola mata pemuda itu.. Namun hatinya terus dikuatkan dan terus menatap tajam.

"Aku tidak percaya jika kau hanya kebetulan saja menolongku," tegas Suci. Jelas sekali kalau nada suara gadis itu mengandung kecurigaan.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Suci?" kata lembut suara Bayu.
"Kau sepertinya mengetahui banyak tentang diri ku. Bahkan sepertinya juga tahu tentang Eyang Purata."
"Mungkin kau tidak percaya. Tapi aku memang benar-benar tidak tahu tentang dirimu. Apalagi orang yang kau sebutkan tadi, Suci."
"Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu?" desak Suci tetap curiga.
"Hanya menebak saja. Dan yang pasti, kau memiliki seorang guru, yang memberi tugas kepadamu." sahut Bayu, tetap kalem suaranya.
"Aku tidak percaya dengan jawabanmu, Kakang, dengus Suci.

Bayu hanya mengangkat bahunya saja. Pendekar Pulau Neraka kembali mengayunkan kakinya. Sebentar Suci masih diam memandangi pemuda berbaju kulit harimau itu. Setelah Bayu berjalan sejauh dua batang tombak, gadis itu baru melangkah menyusul. Ayunan kakinya lebar-lebar dan cepat, sehingga sebentar saja sudah berada di samping Pendekar Pulau Neraka lagi.

Wus!

"Awas...!" seru Bayu tiba-tiba. Mendadak saja Pendekar Pulau Neraka mendorong tubuh Suci, hingga terpental ke samping dan jatuh bergulingan di tanah. Sedangkan Bayu sendiri langsung melentingkan tubuh ke udara. Dan seketika tangan kirinya bergerak cepat mengibas ke bawah, tepat di saat sebatang ranting kering meluncur cepat bagai anak panah yang dilepaskan dari busur.

Tap!

Manis sekali Pendekar Pulau Neraka menangkap sebatang ranting kering sepanjang tiga jengkal yang meluncur deras ke arahnya. Kemudian setelah memutar tubuhnya sekali di udara, kakinya mendarat ringan di tanah, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pada saat yang sama, Suci sudah bisa berdiri kembali.

"Apa yang kau lakukan, Kakang...?!" sentak Suci, tidak menerima perlakuan Bayu tadi.
"Ada yang menyambut kita, Suci," sahut Bayu tanpa berpaling sedikit pun juga.

Pendekar Pulau Neraka segera menyodorkan ranting kering yang berhasil ditangkapnya tadi. Sebentar Suci memandangi, kemudian mengambil batang ranting kering sepanjang. tiga jengkal itu. Langsung gadis itu memandang Pendekar Pulau Neraka yang tengah memusatkan pandangan dan pendengarannya ke sekeliling tempat ini, Perlahan Suci mendekati pemuda berbaju kulit harimau itu, lalu berdiri di sampingnya. Gadis itu juga ikut mengedarkan pandangannya berkeliling. Namun, sebentar kemudian malah menatap dalam-dalam wajah tampan di sampingnya. Ada sedikit getaran menyelinap di hati gadis itu, saat ini Suci merasakan kalau di dalam hatinya tengah terjadi pertentangan hebat. Dan dia sendiri tidak tahu, pertentangan apa yang terjadi dalam dirinya.

"Tampaknya ada yang tidak menyukai kedatangan kita kembali ke Desa Malanapa, Suci. Entah untuk mencegahmu, atau mencegah ku ke sana," jelas Bayu pelan, setengah bergumam suaranya.

Suci tidak menyahuti. Dia diam saja dan kembali mengedarkan pandangannya berkeliling. Saat itu juga benaknya langsung berputar. Kedatangannya ke wilayah Gunung Parang ini memang karena tugas gurunya, Eyang Purata. Tapi dia tidak begitu jelas maksud gurunya yang sebenarnya. Walaupun sebagian sudah diketahui meski tidak jelas.

"Ayo, kita jalan lagi," ajak Bayu.
"He he he..., tidak perlu bersusah payah ke Malanapa, Pendekar Pulau Neraka...!"
"Heh...?!" Bayu tersentak kaget ketika tiba-tiba saja terdengar suara keras menggema.

Bukan hanya Bayu yang terkejut. Suci pun ikut tersentak kaget mendengarnya. Pandangan mereka beredar ke sekeliling, dan tidak jadi melanjutkan perjalanan. Namun tidak ada seorang pun di tempat ini, kecuali mereka berdua. Sedangkan suara itu demikian jelas terdengar, seakan-akan datang dari segala penjuru mata angin.

"Hm...," gumam Bayu perlahan.

Sementara itu Suci sudah menggeser pedangnya yang tergantung di pinggang. Sedangkan Pendekar Pulau Neraka hanya bergumam pelan. Dan sebelum mulutnya terbuka, mendadak saja sebuah bayangan hitam berkelebat di depannya. Dan tahu-tahu, di depan mereka sudah berdiri seorang laki-laki tua berjubah hitam. Sebatang tongkat hitam tak beraturan bentuknya, tergenggam di tangan kanan. Sebentar Bayu memandangi orang tua berjubah hitam itu, kemudian melirik Suci yang berdiri di samping kanannya. Kembali ditatapnya orang tua berjubah hitam yang berdiri di depan. Tatapan matanya begitu tajam menusuk, seakan-akan tengah menyelidik dan mengukur kepandaian orang tua itu. Pada saat yang sama, orang tua berjubah hitam itu juga memandang Pendekar Pulau Neraka. Seakan-akan, dia juga sedang mengukur tingkat kepandaian yang dimiliki pemuda berbaju kulit harimau itu.

"Kau memang cukup tangguh, Pendekar Pulau Neraka. Tapi sebaiknya cepat tinggalkan wilayah Gunung Parang ini," dingin sekali nada suara laki-laki tua berjubah hitam itu.

"Hm.... Siapa kau, Orang Tua? Bagaimana kau tahu tentang diriku?" tanya Bayu kalem, meskipun sempat terkejut karena orang tua berjubah hitam itu mengetahui julukannya.

***

Satu julukan yang bisa membuat orang gemetaran bila mendengarnya. Terlebih lagi, sikap, dan sepak terjang Pendekar Pulau Neraka memang sukar digolongkan. Pendekar itu bisa bertindak lebih kejam daripada seorang tokoh hitam. Tapi, dia juga bisa lembut dan berhati emas bagai seorang pendekar sejati. Meskipun Bayu jarang sekali memberi ampun pada setiap lawannya, tapi semua yang dilakukannya berdasarkan alasan yang tepat. Pendekar Pulau Neraka tidak akan menewaskan lawannya, kalau tidak terpaksa sekali.

"He he he...," orang tua berjubah hitam itu hanya terkekeh saja menjawab pertanyaan Pendekar Pulau Neraka.
"Kau kenal dia, Suci?" tanya Bayu pada Suci yang sudah berada di sampingnya lagi.
"Tidak," sahut Suci sambil tetap memandangi laki-laki tua di depannya.
"Hm...," lagi-lagi Bayu bergumam pelan.

Kembali dipandanginya laki-laki tua ini. Tapi, laki-laki tua itu sudah menyerangnya. Dan Bayu yakin kalau serangan itu bukan hanya sekadar main-main. Yang jelas, pasti mempunyai alasan kuat. Terlebih lagi tadi sudah meminta Pendekar Pulau Neraka untuk segera meninggalkan Gunung Parang ini.

"Kenapa kau meminta ku meninggalkan tempat ini, Orang Tua?" tanya Bayu lagi. Dari nada suaranya yang tenang, Pendekar Pulau Neraka masih mencoba menekan kesabarannya.

"Karena kau tidak ada urusan di sini, Pendekar Pulau Neraka," sahut orang tua itu tegas.
"Barangkali penyerangan mu tadi sudah memberi satu persoalan padaku," tandas Bayu.
"Kau memang keras kepala sekali, Pendekar Pulau Neraka. Mungkin memang harus digunakan cara lain untuk memaksamu keluar wilayah ini," semakin dingin nada suara orang tua ini.
"Cara apa yang akan kau gunakan...?"

Laki-laki tua berjubah hitam itu tidak menjawab. Pertanyaan Bayu barusan, sudah jelas maksudnya. Tantangan. Laki-laki tua itu menghentakkan tongkatnya sedikit ke tanah. Meskipun kelihatannya hanya sedikit saja ujung tongkatnya dipukulkan ke tanah, namun Bayu dan Suci merasakan kalau tanah yang dipijak agak bergetar.

"Hm...," lagi-lagi Bayu menggumam pelan. Dan sebelum Pendekar Pulau Neraka bisa berpikir panjang, laki-laki tua itu sudah memutar tongkatnya di depan dada. Putarannya demikian cepat, sehingga yang terlihat hanya lingkaran hitam kecoklatan. Bahkan juga menimbulkan suara angin yang menderu-deru bagai hendak terjadi badai saja.

Wut!

Mendadak saja laki-laki tua berjubah hitam itu mengebutkan tongkatnya ke depan. Seketika itu juga berhembus angin kencang, disertai memancarnya seberkas sinar kilat yang mengarah ke tubuh Pendekar Pulau Neraka.

"Uts...!"

Cepat sekali Bayu mendorong tubuh Suci, sehingga untuk kedua kalinya gadis itu terhuyung. Dan pada saat yang sama, Pendekar Pulau Neraka melompat ke samping, Cahaya kilat yang keluar dari ujung tongkat berbentuk tak beraturan itu lewat sedikit saja di samping tubuh Bayu.

Glarr!

Ledakan keras terdengar saat ujung kilat itu menghantam pohon yang tadi tepat dibelakang Pendekar Pulau Neraka. Bayu sempat sedikit menoleh, begitu kakinya mendarat lagi. Dalam hatinya, Pendekar Pulau Neraka mengagumi kehebatan laki-laki tua berjubah hitam itu. Sungguh dahsyat serangannya barusan. Bisa dibayangkan, bagaimana kalau ujung tongkat itu mengenai dirinya.

"Itu baru permulaan, Pendekar Pulau Neraka," tegas laki-laki tua ini. "Dan sebaiknya jangan memaksa ku untuk memperingatkan kedua kalinya."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Orang Tua?" tanya Bayu agak jengkel juga jadinya.
"He he he..." lagi-lagi orang tua berjubah hitam itu hanya terkekeh saja menjawab pertanyaan Pendekar Pulau Neraka.

Orang tua itu masih tetap merentangkan tongkatnya lurus ke depan, terarah langsung ke dada Pendekar Pulau Neraka. Sementara tatapan matanya demikian tajam, menusuk langsung ke bola mata pemuda berbaju kulit harimau di depannya. Untuk waktu yang agak lama, mereka hanya berdiam diri sambil saling menatap tajam. Sepertinya mereka sedang mengukur kepandaian masing-masing.

***

"Sebenarnya aku tidak ingin bersikap keras denganmu, Pendekar Pulau Neraka. Tapi tampaknya kau memaksaku untuk melakukan kekerasan," terdengar dingin sekali suara orang tua berjubah hitam itu.

"Aneh...! Semua pembicaraanmu tidak bisa kumengerti," desis Bayu pelan.
"Memang seharusnya kau tidak perlu mengerti, Pendekar Pulau Neraka. Jika tidak segera enyah dari sini, aku yang akan membantumu pergi," semakin dingin suara orang tua itu.

Belum juga Bayu sempat membuka mulut, mendadak saja orang tua itu memutar tongkatnya cepat bagai kilat. Lalu kembali berteriak nyaring melengking dia melompat cepat menerjang Pendekar Pulau Neraka.

"Hiyaaa...!"
"Heh...?!
Hup!"

Bergegas Bayu melompat ke samping sambil memiringkan tubuhnya. Maka sabetan tongkat orang tua itu tidak berhasil mendapatkan sasaran. Namun tanpa diduga sama sekali, tubuhnya bisa memutar selagi kakinya belum juga menjejak tanah. Secepat itu pula tongkatnya dikibaskan ke arah Pendekar Pulau Neraka.

Bet!

Kali ini Bayu tidak sempat lagi menghindar dari kebutan tongkat hitam yang tak beraturan bentuknya itu. Dengan cepat tangannya diangkat Lalu sambil mengerahkan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf sempurna, Pendekar Pulau Neraka membenturkan pergelangan tangan kanannya dengan tongkat hitam orang tua itu.

Trang!

Bunga api memercik begitu Cakra Maut yang menempel di pergelangan tangan Bayu membentur tongkat hitam orang tua itu. Tampak masing-masing terpental ke belakang sejauh lima langkah. Orang tua berjubah hitam itu kelihatan terkejut saat seluruh jari-jari tangannya terasa menegang kaku. Sungguh tidak disangka kalau kekuatan tenaga dalam Pendekar Pulau Neraka mampu mengimbangi kekuatan tenaga dalamnya. Sedangkan Bayu sendiri sempat meringis. Dia juga terkejut begitu merasakan kekuatan tenaga dalam orang tua berjubah hitam itu demikian dahsyat. Tulang pergelangan tangannya seperti remuk. Sebentar senjata andalannya yang selalu melekat kuat di pergelangan tangan kanan diperiksa. Sepertinya tak ada satu goresan sedikit pun pada Cakra Maut.

"Hiyaaa...!"

Bagaikan kilat orang tua berjubah hitam itu kembali melompat menyerang Pendekar Pulau Neraka. serangannya begitu dahsyat, sehingga ayunan tongkatnya saja sukar diikuti pandangan mata biasa. Namun Bayu yang sudah siap sejak tadi, manis sekali menghindari serangan yang dilancarkan orang tua ini. Bagai seekor burung sri gunting, Pendekar Pulau Neraka berlompatan sambil meliuk-liukkan tubuhnya untuk menghindari serangan yang dilancarkan orang tua berjubah hitam itu. Beberapa kali tebasan ataupun tusukan tongkat hitam itu terpaksa harus di tangkis. Beberapa kali pula terdengar ledakan keras, percikan bunga api setiap kali tongkat hitam berbenturan dengan Cakra Maut yang berada di pergelangan Pendekar Pulau Neraka.

Pertarungan terus berjalan sengit. Jurus demi jurus berlalu, saling berganti dengan cepat. Tanpa terasa mereka sama-sama sudah menghabiskan lebih dua puluh jurus. Namun pertarungan belum juga berakhir. Bahkan belum ada tanda-tanda yang terdesak. Sementara Suci yang menyaksikan pertarungan tingkat tinggi itu seketika kepalanya terasa pening dan matanya berkunang-kunang, karena mengikuti setiap gerakan yang dilakukan dua orang yang bertarung itu.

"Oh...?!"

Tiba-tiba Suci menutup mulutnya ketika melihat orang tua berjubah hitam itu menyodokkan tongkat ke arah dada Pendekar Pulau Neraka. Itu terjadi tepat saat pemuda berbaju kulit harimau itu baru menangkis satu tendangan menggeledek yang dilepaskan orang tua itu.

Bet!

Cepat sekali Bayu mengebutkan tangan kanannya ke depan dada untuk menyampok sodokan tongkat hitam yang tak beraturan bentuknya itu. Satu benturan keras bertenaga dalam tinggi pun tak terelakkan. Ledakan keras seketika terdengar menggelegar bagai guntur membelah angkasa. Bunga api memercik menyebar ke segala arah. Tampak orang tua berjubah hitam itu terpental balik ke belakang sejauh dua batang tombak. Sedangkan Bayu melentingkan tubuhnya ke udara, dan seketika itu juga mengibaskan tangan kanan ke depan sambil memutar tubuh di udara.

Wus!

Cakra Maut bersegi enam berwarna keperakan yang selalu menempel di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka itu seketika melesat cepat ke arah orang tua berjubah hitam. Begitu cepatnya melesat, hingga membuat orang tua itu terperangah sejenak. Namun cepat sekali tongkatnya dikebutkan, menyampok senjata maut Pendekar Pulau Neraka.

"Yeaaah...!"
Bet!
"Heh...?!"

***

Bukan main terkejutnya orang tua berjubah hitam itu, ketika Cakra Maut yang meluncur deras itu tiba-tiba saja meliuk menghindari tebasan tongkatnya. Belum lagi hilang keterkejutannya, mendadak Cakra Maut bersegi enam itu sudah meluruk deras ke arah kepala orang tua berjubah hitam itu.

"Ih...! Uts!"

Buru-buru kepalanya di egoskan ke samping. Dan begitu Cakra Maut lewat ke samping kanan. Langsung tubuhnya diputar dan tongkatnya dikibaskan, menghajar Cakra Maut yang saat itu sudah kembali berputar berbalik hendak menyerang kembali.

Bet!
Tring!
"Ikh...!"

Orang tua berjubah hitam itu terkejut setengah mati ketika tongkatnya berbenturan dengan senjata cakra perak yang dilepaskan Pendekar Pulau Neraka. Cepat dia melompat mundur, lalu tubuhnya memutar menghadap kembali pada Pendekar Pulau Neraka. Pada saat yang sama, Bayu menghentakkan tangan kanan ke atas kepalanya. Maka Cakra Maut membalik, langsung menempel di pergelangan tangan kanannya.

Tap!

"Cakra Maut...," desis laki-laki tua itu seakan akan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Hampir saja orang tua berjubah hitam itu tewas oleh senjata Pendekar Pulau Neraka yang begitu dahsyat dan tak ada bandingnya saat ini. Sama sekali pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka tidak diperhatikannya. Sedangkan matanya memandang Bayu seperti melihat hantu saja. Sedangkan yang dipandang hanya berdiri tegak, membalas dengan tatapan tajam menusuk.

"Ada hubungan apa kau dengan Gardika si Cakra Maut?" tanya orang tua berjubah hitam itu.
"Dari mana kau tahu tentang Eyang Gardika?

Bayu malah batik bertanya. Pendekar Pulau Neraka terkejut juga mendengar pertanyaan orang tua berjubah hitam ini. Pandangan matanya semakin tajam dan penuh kecurigaan. Dia teringat gurunya, si Cakra Maut. Dalam sisa-sisa hidupnya, Eyang Gardika harus sengsara dengan kedua kaki buntung dan buta. Semua itu akibat ulah musuh-musuhnya. Dan Bayu harus mencari mereka yang telah membuntungi dan membutakan gurunya itu. Sedangkan di depannya kini berdiri seorang laki-laki tua yang mengenal gurunya. Tentu saja setelah Pendekar Pulau Neraka menggunakan senjata andalan yang diperoleh dari gurunya. Bayu mencoba mengingat-ingat nama-nama yang telah diberikan gurunya. Nama-nama orang yang telah membuat si Cakra Maut cacat seumur hidup.

"Hm...," terdengar gumaman kecil dari bibir Pendekar Pulau Neraka. Ingatan Pendekar Pulau Neraka langsung teringat pada kata-kata gurunya, tentang nama-nama tokoh yang harus dihadapinya. Salah satu ciri-ciri orang yang disebutkan Eyang Gardika kini ada di depannya. Memang, sebelumnya Bayu tidak mengenal orang itu. Namun begitu Orang berjubah hitam itu menyebut nama Eyang Gardika, maka ingatannya langsung terarah ke situ.

***

EMPAT

"Dari mana senjata itu kau dapatkan, Pendekar Pulau Neraka?" tanya orang tua berjubah hitam dingin.
"Ini senjataku. Kapan dan dari mana ku peroleh bukan urusanmu, Iblis Tongkat Hitam," sahut Bayu tidak kalah dinginnya.

"Heh....?! Kau tahu julukanku...?" orang tua berjubah hitam itu terkejut mendengar julukannya disebut Pendekar Pulau Neraka. Padahal sama sekali namanya tidak pernah disebutkan tadi.

Bayu hanya tersenyum sinis saja. Sedangkan kakinya bergeser sedikit ke kanan dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Sementara, sorot matanya tetap tajam menusuk langsung ke bola mata laki-laki tua berjubah hitam yang dikenali berjuluk Iblis Tongkat Hitam. Bayu bisa mengenalinya, setelah mengingat-ingat nama-nama yang diberikan gurunya. Juga, ciri-ciri serta jurus-jurus yang dimilikinya. Dan semua itu ada pada diri laki-laki tua berjubah hitam ini, sehingga Bayu tidak ragu-ragu lagi. Laki-laki tua ini adalah salah seorang tokoh persilatan yang mengeroyok si Cakra Maut sampai kedua kakinya buntung dan sepasang matanya buta.

"Asal tahu saja, Iblis Tongkat Hitam. Pemilik pertama senjata ini, meminta ku untuk membalaskan perlakuan orang-orang yang telah membuat sengsara selama hidupnya," tandas Bayu lagi, dengan suara yang tetap dingin.

"Hm.... Siapa sebenarnya kau, Pendekar Pulau Neraka?" tanya Iblis Tongkat Hitam mendesis.
"Aku hanya anak kemarin sore yang mencari manusia-manusia bejat sepertimu," sahut Bayu, semakin dingin nada suaranya.

"Bersiaplah untuk mati,
Iblis Tongkat Hitam...."

Setelah berkata demikian, Bayu langsung berteriak keras menggelegar. Sebentar tangannya bergerak-gerak di depan dada, kemudian cepat sekali tubuhnya melompat menerjang laki-laki tua berjubah hitam itu. Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka, sehingga membuat si Iblis Tongkat Hitam jadi terperangah sejenak.

"Uts...!?"

Buru-buru Iblis Tongkat Hitam mengegoskan tubuhnya, menghindari satu pukulan menggeledek mengandung tenaga dalam tinggi yang dilepaskan Pendekar Pulau Neraka. Tapi sebelum tubuhnya sempat ditarik kembali, Bayu sudah memberi lagi satu serangan cepat dan dahsyat Terpaksa si Iblis Tongkat Hitam melentingkan tubuhnya ke udara, menghindari serangan yang begitu cepat dan dahsyat.

"Hiyaaa...!"

Melihat lawannya meleset ke udara, maka Bayu cepat menggenjot tubuhnya hingga melesat bagai kilat ke udara menyusul laki-laki tua berjubah hitam itu. Saat itu juga dilontarkannya beberapa pukulan beruntun yang disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"
"Uts! Hup...!"

Beberapa kali Bayu melepaskan pukulan keras menggeledek, tapi si Iblis Tongkat Hitam masih mampu menghindarinya. Kelihatannya, laki-laki tua itu begitu kewalahan, bahkan hampir-hampir pukulan terakhir yang dilepaskan Bayu mengenai dadanya. Untung tongkatnya cepat dikibaskan untuk melindungi dadanya dari pukulan Pendekar Pulau Neraka.

Trak!

Bayu sengaja tidak menarik pulang pukulannya, sehingga menghantam tongkat hitam yang menyilang di depan dada. Seketika satu ledakan keras pecah menggelegar. Bersamaan dengan itu, tampak kedua orang yang bertarung di udara itu terpental ke belakang. Mereka sama-sama berputaran di udara, kemudian meluruk turun. Hampir bersamaan kaki mereka menjejak tanah, dan sama-sama langsung terhuyung.

"Hup!"

Bayu cepat menggerak-gerakkan tangannya, sambil mengatur pernafasannya. Sedangkan si Iblis Tongkat Hitam cepat memutar tongkatnya, kemudian keras sekali menghentakkan ujungnya ke tanah. Untuk beberapa saat mereka terdiam berdiri tegak, dengan mata saling menyorot tajam

"Kau menggunakan jurus-jurus milik si Cakra Maut. Apakah kau muridnya, Pendekar Pulau Neraka?" si Iblis Tongkat Hitam ingin tahu, setelah mengetahui jurus-jurus yang dikeluarkan Pendekar Pulau Neraka.

"Benar! Dan aku akan membalas perlakuanmu pada guruku," sahut Bayu dingin menggetarkan.

"Ha ha ha.!" tiba-tiba saja si Iblis Tongkat Hitam tertawa terbahak-bahak.

"Hm...," Bayu hanya menggumam kecil saja. Tatapan mata Pendekar Pulau Neraka tidak berkedip sedikit pun, dan tajam sekali. Sementara si Iblis Tongkat Hitam terus tertawa terbahak-bahak dengan suara keras sekali. Akibatnya, membuat telinga orang yang berada di sekitarnya terasa sakit, seperti akan pecah.

"Si Cakra Maut sendiri tidak sanggup menandingi ku, Bocah. Aku khawatir kau akan bernasib sama dengannya," ejek si Iblis Tongkat Hitam.

"Kau bisa mengalahkannya karena main keroyok, Iblis Tongkat Hitam," desis Bayu.
"Phuih! Tanpa mereka pun, aku mampu mengirimnya ke neraka, Bocah!"
"Dan sekarang kau yang akan kukirim ke neraka, iblis!"
"Setan...! Kau murid si Cakra Maut, maka tidak pantas rasanya hidup lebih lama lagi.!

Hiyaaat..!"

Bagaikan kilat, si Iblis Tongkat Hitam melompat menerjang Pendekar Pulau Neraka. Tongkat hitam yang tidak beraturan bentuknya itu berkelebat cepat mengurung ruang gerak pemuda berbaju kulit harimau. Namun Bayu yang sudah siap dan sudah mengetahui laki-laki tua ini sebenarnya, tidak lagi bertindak tanggung-tanggung. Segera dikerahkannya jurus-jurus yang dahsyat disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

"Setan alas...!" desis si Iblis Tongkat Hitam geram. Betapa tidak...? Sungguh sama sekali tidak disangka kalau jurus-jurus si Cakra Maut yang dimainkan Pendekar Pulau Neraka lebih dahsyat dari pemiliknya sendiri. Bahkan beberapa kali laki-laki tua itu terpaksa harus berjumpalitan di udara, menghindari serangan-serangan balasan yang dilancarkan Bayu.

***

"Hiyaaa....!"
Tiba-tiba saja Bayu berteriak nyaring melengking tinggi. Dan bersamaan dengan itu, tubuhnya melenting sambil mengebutkan tangan kanannya. Bagaikan kilat. Cakra Maut yang menempel di pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka melesat cepat.

"Ufs!"

Cepat sekali si Iblis Tongkat Hitam meliukkan tubuhnya, menghindari terjangan senjata maut Pendekar Pulau Neraka. Tapi belum juga posisi tubuhnya bisa dikembalikan, mendadak saja Bayu sudah meluruk deras ke arahnya sambil melontarkan dua terjangan menggeledek secara beruntun.

"Heh...?!"

Bukan main terkejutnya si Iblis Tongkat Hitam, mendapatkan serangan yang demikian cepat beruntun. Bergegas laki-laki tua itu melompat ke belakang. Namun satu tendangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka tidak bisa dihindari lagi.

Begkh...!
"Akh...!"

Iblis Tongkat Hitam memekik keras. Tendangan Pendekar Pulau Neraka tepat menghantam dada Iblis Tongkat Hitam yang lowong, Begitu kerasnya tendangan itu, sehingga membuat tubuhnya terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak.

Bruk!

Keras sekali Iblis Tongkat Hitam jatuh tersuruk di tanah, namun cepat bangkit kembali, meskipun sempoyongan. Dan sebelum keadaan tubuhnya sempat dikuasai, Bayu sudah kembali melompat menyerang. Dua pukulan keras dilontarkan dengan cepat. Hal ini membuat si Iblis Tongkat Hitam terperangah beberapa saat.

"Hup!"

Bergegas tubuhnya melenting ke udara, dan berputaran beberapa kali. Manis sekali laki-laki tua itu mendarat di atas cabang sebuah pohon yang cukup tinggi. Sedangkan Bayu sudah berdiri tegak bertolak pinggang.

"Turun kau...!" bentak Bayu menggelegar suaranya.

"Kuakui, kau memang lebih hebat dari gurumu, Pendekar Pulau Neraka," puji si Iblis Tongkat Hitam agak terengah suaranya.

"Terima kasih. Tapi aku tidak butuh pujian. Pembalasan tetap berlangsung, Iblis Tongkat Hitam," sambut Bayu dingin.
"Sayang sekali, aku ada keperluan lain yang lebih penting. Maaf..."

"Hei...!"

Tapi Bayu tidak mungkin bisa mengejar orang tua berjubah hitam yang sudah melesat cepat sekali. Dalam sekejap saja, Iblis Tongkat Hitam itu sudah menghilang dari pandangan mata. Dan Bayu hanya menggerutu. Satu orang yang harus ditemui kini lenyap lagi, sebelum sakit hati gurunya terbalaskan. Pendekar Pulau Neraka memutar tubuhnya mendengar suara gemerisik ayunan langkah yang halus. Ternyata dia adalah Suci yang tengah menghampiri pemuda berbaju dari kulit harimau itu. Gadis itu berhenti melangkah setelah tinggal tiga tindak lagi di depan Pendekar Pulau Neraka.

"Kau sudah tahu siapa aku, Suci. Sebaiknya kau pergi saja," kata Bayu sebelum Suci sempat membuka suara.

"Guruku sering menceritakan tentang dirimu, kang. Maaf, kalau sikapku selama ini tidak menyenangkan hatimu," lembut sekali suara Suci, nadanya terdengar menyesal atas sikapnya selama ini pada Bayu.

"Lupakan saja," desah Bayu seraya mengayunkan kakinya.
"Kakang, tunggu...!" seru Suci seraya bergegas mengejar.

Gadis itu mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan Bayu sendiri terus berjalan tanpa berpaling sedikit pun. Disadari kalau selama ini sepak terjangnya sudah menjadi buah bibir tokoh-tokoh rimba persilatan. Jadi, tidak heran jika guru gadis ini sudah mendengar dan mengetahui namanya. Dan memang hal itu yang tidak diinginkan Bayu. Mulai disadari kalau di sekitar Gunung Parang ini terdapat musuh-musuh gurunya. Sedangkan dirinya sendiri masih memiliki kewajiban darma bakti pada gurunya, meskipun terkadang sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Tapi demi semua itu, Bayu harus menjalankan amanat terakhir yang diembannya. Sakit hati Eyang Gardika harus dibalaskan, pada orang-orang yang telah membuatnya cacat. Dan Pendekar Pulau Neraka tidak ingin ada orang lain yang terlibat dalam urusan pribadinya.

"Kenapa kau terus mengikutiku, Suci?" tanya Bayu seraya menoleh sedikit pada gadis yang berjalan di sampingnya.
"Aku ingin minta bantuanmu," sahut Suci langsung.
"Bantuan apa?" tanya Bayu.
"Mencari Kak Intan."

Bayu menghentikan ayunan langkahnya. Ditatapnya gadis itu dalam-dalam.
"Kenapa kau berubah begitu cepat, Suci?" tanya Bayu ingin tahu.

Suci tidak menjawab, tapi malah tersenyum. Gadis itu kembali mengayunkan kakinya setelah berhenti sebentar. Dan Bayu hanya memandangi gadis itu beberapa saat, kemudian melangkah lagi. Ayunan kakinya disejajarkan di samping gadis ini. Mereka terus berjalan menuju Desa Malanapa. Tak ada lagi yang berbicara. Masing-masing sibuk berbicara dalam hatinya sendiri-sendiri. Beberapa kali Suci mencuri pandang pada pemuda tampan berbaju harimau di sampingnya. Di dalam hatinya, Suci tak bisa lagi membantah kalau hatinya tertarik setelah mengetahui pemuda ini sebenarnya. Dia sudah sering mendengar tentang Pendekar Pulau Neraka. Dan sekarang, pendekar yang selalu menjadi buah bibir berjalan di sampingnya. Ada sedikit kebanggaan terselip di hatinya, karena bisa berjalan bersama seorang pendekar digdaya yang disegani lawan maupun kawan.

***

Memang tidak mudah mencari seseorang yang tidak diketahui di mana adanya. Sudah tiga hari Bayu dan Suci menjelajahi Desa Malanapa dan sekitar Gunung Parang, tapi tidak juga bisa menemukan Intan. Kakak seperguruan Suci ini lenyap entah kemana, setelah bertarung dengan seorang perempuan tua yang mengaku berjuluk Setan Kobra Betina. Sedangkan perempuan tua itu sendiri seperti menghilang ditelan bumi saja. Tidak ada lagi kabar beritanya di sekitar Gunung Parang ini. Bukan hanya di Desa Malanapa. Bahkan desa-desa lain yang berada di sekitar Gunung Parang, sudah dimasuki Bayu dan Suci Tapi, mereka tetap belum menemukan jejak Intan saat ini.

"Ke mana lagi harus mencari kakak seperguruan mu, Suci?" tanya Bayu, saat mereka baru saja meninggalkan sebuah desa yang berada di sebelah Selatan kaki Gunung Parang.

"Hhh...!" Suci hanya menghembuskan nafasnya saja, seraya mengangkat bahu tinggi-tinggi. Gadis itu sendiri tidak tahu, ke mana lagi harus mencari Intan. Tiga hari bukanlah waktu yang sedikit Dan mereka sudah menjelajahi daerah yang luas, meskipun belum sampai keluar dari wilayah Gunung Parang.

"Tidak ada lagi perkampungan di sekitar Gunung Parang ini, Suci. Dan itu tadi desa terakhir. Tapi di sana juga tidak ada tanda tandanya," sambung Bayu seraya melemparkan sebuah kerikil ke dalam sungai yang mengalir di depannya.

"Kita belum mencari ke puncak gunung, Kakang," tegas Suci mengingatkan."
"Tidak ada apa-apa di sana, Suci," sahut Bayu.
"Tapi kudengar, orang-orang persilatan saat ini tengah menuju ke sana. Barangkali saja disana kita bisa bertemu Kak Intan. Atau paling tidak, bisa menemukan petunjuk," Suci beralasan.

Bayu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Bukan hanya Suci saja yang tahu. Pendekar Pulau Neraka pun tahu kalau orang-orang persilatan kini tengah menuju Puncak Gunung Parang. Dan Bayu pun tahu, untuk apa tokoh-tokoh persilatan itu menuju ke sana. Sedangkan dirinya sendiri sebenarnya memang ingin ke sana, tapi yang pasti dengan tujuan yang berbeda dari mereka semua.

"Atau sebaiknya kita kembali lagi ke Desa Malanapa, Kakang," usul Suci lagi.
"Untuk apa?" tanya Bayu.
"Aku ada titipan yang harus disampaikan pada kepala desa," jawab Suci.
"Kenapa tidak dari kemarin kau berikan?"
"Aku baru ingat sekarang."

Sambil menghembuskan napas panjang, Pendekar Pulau Neraka bangkit berdiri. Saat itu Suci sudah berdiri lebih dahulu. Tanpa mengeluarkan satu kata pun mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hanya saja mereka berjalan tidak terburu-buru.

"Pesan apa yang ingin kau sampaikan, Suci?" tanya Bayu.
"Eyang Purata hanya menitipkan bingkisan saja. Aku tidak tahu, apa isinya," sahut Suci. "Penting?"

"Kelihatannya begitu. Soalnya Eyang Purata minta agar aku hati-hati menjaganya. Dan lagi, hanya Ki Gandul saja yang boleh menerimanya."

"Kalau memang penting, seharusnya jangan dilalaikan, Suci. Kita bisa mencari kakakmu, setelah pesan gurumu disampaikan," nada suara Bayu terdengar seperti menyesali Suci yang telah melalaikan tugas utama gurunya.

"Aku lupa, Kakang. Aku begitu khawatir pada Kak Intan," Suci mencoba membela diri.
"Aku bisa mengerti, Suci, Sebaiknya untuk saat ini, kau lupakan dulu masalah kakakmu. Nanti setelah titipan gurumu kau berikan pada Ki Gandul, baru seluruh perhatianmu bisa dipusatkan pada kakakmu."
"Baiklah," sahut Suci mendesah.

Bayu tidak berkata-kata lagi. Mereka terus ber jalan dengan bibir terkatup rapat Kedua orang itu sengaja memilih jalan yang biasa dilalui orang. Padahal bisa saja mereka merambah hutan, memotong jalan agar lebih cepat sampai. Tapi entah kenapa, baik Bayu maupun Suci malah memilih jalan biasa, yang menghubungkan desa yang satu dengan desa lainnya.

***

LIMA

Bayu duduk bersila di samping Suci. Di depan mereka bersila seorang laki-laki bertubuh gemuk berusia sekitar lima puluh tahun. Pakaiannya putih bersih, dan terlihat perlente sekali. Rambutnya berkilat, tertata rapi. Sebaris kumis tipis menghiasi bibirnya. Laki-laki setengah baya inilah yang mengepalai Desa Malanapa. Dan biasanya, dipanggil dengan nama Gandul.

"Jadi, kau yang bernama Suci...,?" tanya Ki Gandul seraya menatap Suci, seakan-akan ingin memastikan kalau gadis di depannya ini memang bernama Suci.

"Benar," sahut Suci.
"Dan kau, Anak Muda?" Ki Gandul beralih menatap Pendekar Pulau Neraka.
"Bayu," sahut Bayu memperkenalkan namanya.
"Kau juga dari Padepokan Sokalima?"
"Bukan, aku hanya seorang pengembara," jelas Bayu.

Ki Gandul mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali ditatapnya Suci yang selalu diam, dan baru bicara kalau ditanya. Suasana di ruangan depan rumah kepala desa ini pun menjadi sunyi. Pandangan Ki Gandul kembali beralih pada gulungan daun lontar dan kotak kayu kecil yang berada di tangannya. Barang-barang itu titipan dari Eyang Purata.

"Eyang Purata mengatakan kalau kau akan datang bersama Intan. Bagaimana kau bisa berpisah dengan kakak seperguruanmu, Suci?" Ki Gandul meminta penjelasan.

Tanpa diminta dua kali, Suci menceritakan semua kejadian yang dialami. Dari peristiwa di kedai Ki Karta sampai Intan lenyap disambar sebuah bayangan yang tidak ketahui siapa orangnya. Sedangkan dirinya sendiri sampai saat ini masih bisa bernapas. Itu pun karena ditolong Pendekar Pulau Neraka, yang kini duduk di samping kanannya. Ki Gandul mendengarkan penuh perhatian semua kisah yang dituturkan Suci. Sesekali dia bergumam dengan kepala terangguk-angguk. Laki-laki setengah baya itu masih terdiam, meskipun Suci sudah menyelesaikan ceritanya.

"Tidak kuduga kalau hal ini sudah menyebar begitu luas, sehingga orang-orang persilatan datang ke Gunung Parang," ujar Ki Gandul setengah bergumam, seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri.

Sebentar laki-laki setengah baya itu menarik napas panjang, dan dihembuskannya perlahan-lahan. Pandangannya beralih dari Suci ke Pendekar Pulau Neraka secara bergantian. Beberapa kali napas panjang di hembuskan, dan terasa berat sekali. Sedangkan baik Suci maupun Bayu hanya diam saja menunggu.

"Apa yang dikatakan Eyang Purata di dalam suratnya, Ki?" tanya Suci ingin tahu.

Gadis itu jadi penasaran, dan ingin tahu isi surat yang diberikan gurunya pada kepala desa ini. Terlebih lagi setelah melihat sikap Ki Gandul yang sepertinya tengah menanggung beban berat, setelah menerima surat dari Eyang Purata. Laki-laki setengah baya itu kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat Sepertinya dia begitu berat mengatakan isi surat ini pada Suci.

"Apa gurumu tidak mengatakannya, Suci?" Ki Gandul malah balik bertanya.
"Tidak," sahut Suci seraya menggelengkan kepalanya.
"Kau diperintahkan ke Puncak Gunung Parang, Suci," jelas Ki Gandul, suaranya terdengar berat sekali.
"Ke Puncak Gunung Parang..? Untuk apa...?" Suci bertanya seperti untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Hanya, Eyang Purata meminta agar aku menyertaimu ke sana," sahut Ki Gandul "Tapi sayang, kakak seperguruanmu telah hilang."
"Apakah ada hubungannya dengan Kak Intan, Ki?" tanya Suci menduga-duga.

Ki Gandul tidak langsung menjawab, namun kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Pandangannya kembali tertuju pada Bayu yang sejak tadi hanya diam saja, sementara Suci sudah mulai banyak bertanya. Pendekar Pulau Neraka merasa kalau ini bukan urusannya. Makanya, dia memilih diam mendengarkan daripada ikut campur. Memang dirinya sendiri tidak mengerti, apa yang dibicarakan kepala desa ini dengan Suci

"Kau sudah menyelamatkan nyawa Suci. Jadi, aku percaya kalau kau juga bisa melindunginya, Anak Muda," kata Ki Gandul pelan.

"Hanya kebetulan saja, Ki," sahut Bayu merendah.
"Aku tahu siapa itu Setan Kobra Betina. Kepandaiannya sangat tinggi, dan sukar dicari tandingannya. Kau bisa menyelamatkan dirimu dari serangannya, sekaligus menyelamatkan Suci. Itu berarti kepandaian mu tinggi, Anak Muda. Jadi rasanya aku tidak ragu-ragu lagi memberi kepercayaan padamu untuk mendampingi Suci ke Puncak Gunung Parang," lembut dan cukup berwibawa nada suara Ki Gandul.

Bayu melirik gadis yang duduk di sampingnya. Pada saat yang hampir bersamaan, gadis itu juga melirik Pendekar Pulau Neraka. Sesaat dua pasang mata beradu pada satu titik, kemudian sama-sama mengalihkan pandangannya pada Ki Gandul.

"Kapan kau akan berangkat, Suci?" tanya Ki Gandul.
Suci tidak segera menjawab. Kembali di liriknya sedikit pemuda berbaju kulit harimau yang duduk di sampingnya.
"Secepatnya, Ki," sahut Suci.
"Memang sebaiknya begitu, Suci Lebih cepat, lebih baik lagi. Maaf, aku tidak bisa mendampingimu ke sana. Banyak yang harus kukerjakan di sini"

"Tidak mengapa, Ki" Suci mencoba tersenyum memaklumi. Kalau mau jujur, Suci memang lebih suka jika kepergiannya ke Puncak Gunung Parang ditemani Pendekar Pulau Neraka. Bukan hanya karena pemuda ini tampan, tapi kepandaiannya yang tinggi sangat menarik perhatiannya. Dan gadis itu sudah menyaksikan. kehebatan Pendekar Pulau Neraka saat bertarung dengan laki-laki tua berjuluk Iblis Tongkat Hitam.

***

Siang itu juga Suci berangkat ke Gunung Parang, ditemani Pendekar Pulau Neraka. Ki Gandul tak lupa memberi mereka kuda, agar perjalanan lebih cepat dan mudah. Namun sampai di lereng Gunung Parang, mereka terpaksa meninggalkan kuda-kuda itu. Pepohonan di lereng gunung ini begitu lebat, dan sukar sekali dilalui dengan kuda.

"Sepertinya kita harus bermalam di sini, Kakang," kata Suci sambil menyibakkan gerumbul semak di depannya.

"Kurang cocok bermalam di sini, Suci," sahut Bayu seraya memandang ke sekelilingnya.

"Apa ada tempat yang lebih baik lagi daripada ini?" tanya Suci seraya menghentikan langkahnya.

"Mungkin agak ke atas lagi," sahut Bayu terus saja melangkah.

Suci terpaksa mengayunkan kakinya kembali. Padahal, keadaannya sudah begitu lelah, setelah satu harian berjalan mendaki lereng gunung yang lebat dan seperti tidak pernah terjamah manusia ini. Keringat sudah mengucur deras, membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Namun gadis itu agak heran juga ketika melihat Bayu seperti tidak kelihatan lelah sedikit pun. Bahkan sama sekali tidak ada keringat menetes di tubuhnya. Pemuda berbaju kulit harimau itu terus berjalan dengan ayunan langkah yang mantap. Pendekar Pulau Neraka seperti tidak mendapatkan kesukaran melintasi hutan yang begini lebat, dengan pepohonannya yang rapat bagai kaki-kaki raksasa menghadang.

Pendekar Pulau Neraka baru berhenti setelah sampai di tempat yang agak lapang. Pepohonan di sini tidak begitu rapat, karena banyak batu besar maupun kecil tersebar. Sebentar Bayu mengedarkan pandangannya berkeliling dari atas sebongkah batu yang cukup besar. Kemudian dengan gerakan ringan sekali, dia melompat ke atas batu lainnya. Setelah melewati lima buah batu yang cukup besar, Pendekar Pulau Neraka baru berhenti. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat genangan air di antara bebatuan. Genangan air itu bagai sebuah kolam. Airnya begitu jernih. Suara gemericik dari air yang mengalir di antara sela-sela bebatuan semakin membuat orang ingin segera mandi saja rasanya. Saat Bayu membasuh mukanya dengan air itu, Suci tiba di sampingnya.

"Wah..., jernih sekali...," desah Suci kagum.
"Mau mandi?" tanya Bayu seraya berpaling.
"Asal kau jauh-jauh dari sini," sahut Suci.
"Kenapa? Malu...?" goda Bayu.
"Huuuh..., maumu," cibir Suci.

Bayu tertawa saja melihat gadis itu memberengut. Tapi kakinya diayunkan juga, menjauhi kolam batu itu. Sedangkan Suci hanya memandanginya saja. Gadis itu memang ingin menyegarkan tubuhnya yang penat. Apalagi sejak pagi tadi belum tersentuh air sedikit pun.

"Heh...! Kenapa berhenti di situ...?" seru Suci melihat Bayu berhenti tidak jauh dari kolam batu ini.
"Mandi saja, aku tidak mungkin mengganggumu. sahut Bayu kalem.

Pendekar Pulau Neraka itu tidak peduli pada gadis yang mendelik berang saat di liriknya. Bahkan malah menghenyakkan tubuhnya di atas batu yang agak datar dan rendah. Sedikit dilirik Suci kembali yang masih saja berdiri di bibir kolam.

"Awas ular...!" teriak Bayu tiba-tiba.
"Mana...?!" sentak Suci terkejut.

Begitu terkejutnya, sampai-sampai dia terlompat dan tidak sadar kalau tengah berdiri di tepi kolam. Dan gadis itu terpekik begitu terjatuh ke tengah kolam. Sedangkan Bayu hanya tertawa terbahak-bahak melihat gadis itu basah kuyup di tengah kolam.

"Monyet! Tidak lucu...!" Suci memberengut kesal.
Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk membalas.
"Akh! Toloong...!" mendadak saja Suci menjerit kencang sambil menggapai-gapai.
"Tipuan mu tidak manjur, Suci...!" seru Bayu kembali tertawa.
"Kunyuk!" Suci menggerutu.
"Kolam itu dangkal. Jadi tidak mungkin akan tenggelam," kata Bayu lagi.

Suci hanya bisa menggerutu dalam hati. Perlahan tubuhnya menepi, dan berlindung di balik sebuah batu yang cukup besar dan menjorok ke dalam kolam ini. Di sana bajunya dibuka. Tapi baru saja membuka bagian atas, tangannya berhenti melepaskan baju.

"Hhh...! Kolam ini jernih sekali. Pasti dia bisa melihat dengan jelas. Huh! Dasar buaya...!" dengus Suci.

Kembali tubuhnya ditutup, dan bajunya tidak jadi dibuka. Namun sebentar dia tertegun. Dan....

"Masa bodoh, ah! Kalau ingin macam-macam, tidak peduli kepandaiannya tinggi." Suci kembali melepaskan seluruh bajunya tanpa ragu-ragu lagi, kemudian meletakkannya di atas batu. Dengan gerakan lincah dan lembut sekali, gadis itu berenang bagaikan seekor ikan yang gembira bisa bertemu air lagi. Sedangkan Bayu sama sekali tidak mempedulikan, tapi malah duduk dengan sikap bersemadi. Suci yang iseng melirik, jadi tertegun.

"Sial...!" dengus gadis itu dalam hati. "Rupanya dia termasuk Laki-laki yang tidak peduli terhadap perempuan. Tapi..., biarlah, itu lebih baik lagi. Jadi, aku tidak perlu khawatir karena dia tak akan berbuat macam-macam."

Suci benar-benar menikmati sejuknya air dalam kolam batu ini. Namun sama sekali tidak disadari kalau di dalam sikap bersemadinya, sebenarnya Bayu tidak bersemadi. Kelopak matanya memang terlihat terpejam, tapi perhatiannya tidak lepas pada gadis itu. Bahkan dari tempatnya duduk, Bayu bisa melihat jelas lekuk-lekuk tubuh Suci yang begitu indah berbalut kulit putih mulus, tanpa cacat sedikit pun.

"Cantik dan menggairahkan sekali gadis ini...," gumam Bayu dalam hati.

***

Malam sudah menyelimuti seluruh permukaan Gunung Parang. Malam itu, bulan bersinar penuh. Langit tampak bening tanpa awan sedikit pun menggantung di sana. Keindahan malam ini semakin semarak oleh cahaya bintang bergemerlapan yang menghiasi angkasa luas tak bertepi ini! Malam semakin terasa indah dengan adanya kemerlip cahaya api dari ranting-ranting kering di antara bebatuan yang tersusun melingkar bagai sebuah cincin. Di dalam siraman api itu, duduk bersila Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan Suci berada agak Jauh di depannya. Hanya seonggok api unggun yang membatasi mereka berdua. Sejak melihat Suci mandi sore tadi, Bayu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memandangnya di kala lengah. Dan sama sekali Suci tidak menyadari pada sikap Bayu yang selalu mencuri-curi pandang.

"Matamu, Kakang...!" sentak Suci tiba-tiba. Ditegur demikian, Bayu hanya tersenyum saja. Gadis itu akhirnya tahu juga kalau pemuda di depannya selalu mencuri-curi pandang. Dan dia merasa jengah juga. Dan Suci merasa jengah dipandangi terus menerus. Maka wajahnya segera dipalingkan untuk menyembunyikan semburat merah yang merona di wajahnya.

"Kau cantik, Suci," ujar Bayu lembut.
"Huh! Mulai...," dengus Suci dalam hati.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau pujian itu sempat merobek hatinya, dan membuatnya semakin tidak sanggup memandang pemuda itu. Suci sendiri tidak mengerti, kenapa darahnya berdesir begitu cepat. Rasanya ingin sekali mendengar pujian itu sekali lagi. Bahkan seratus kali pun dia akan senang mendengarnya. Namun Bayu tidak mengucapkan lagi.

"Berapa usia mu, Suci?" tanya Bayu, lebih lembut lagi suaranya.
"Sem..., eh! Sembilan belas," sahut Suci jadi tergagap.

Gadis Itu memaki dirinya sendiri di dalam hati. Suci tidak mengerti, kenapa hatinya jadi tidak menentu begini. Beberapa kali pemuda itu dilirik. Dan setiap kali lirikannya bertemu pandangan Bayu, langsung darahnya berdesir kencang. Bahkan jantungnya berdetak tidak beraturan. Suci semakin tidak menentu saat melihat Bayu bangkit berdiri dan melangkah menghampiri. Dan tidak bisa dicegah lagi keringat yang mendadak saja mengalir deras, begitu Bayu duduk di sampingnya. Begitu dekat, sehingga hampir tidak ada jarak.

"Suci...."
"Oh...!"

Suci tersentak ketika Bayu menyentuh lembut punggung tangannya. Seluruh tubuhnya menggeletar saat jari-jari tangannya digenggam dan diremas dengan hangat sekali. Sungguh gadis itu tidak sanggup lagi menarik tangannya. Bahkan untuk menolak pun tidak kuasa. Keringat semakin deras bercucuran di sekujur tubuhnya. Nafasnya serasa terhenti saat Bayu merengkuhnya ke dalam pelukan. Lembut sekali Pendekar Pulau Neraka mengangkat wajah Suci, sehingga gadis itu terpaksa memandang seraut wajah tampan yang begitu dekat. Desah napas Bayu yang hangat menerpa lembut wajah Suci. Mau tak mau gadis semakin terperangkap ke dalam gelombang samudra yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya.

Suci tak sanggup lagi membuka matanya, ketika Bayu mendekatkan wajahnya. Dan mendadak saja tubuhnya menggigil begitu satu kecupan terasa lembut menyentuh bibirnya. Saat itu juga, Suci merasakan seakan-akan tubuhnya ringan, bagai melayang di angkasa.

"Suci..., kau sakit..?" tanya Bayu lembut.
"Oh, tid..., tidak...," sahut Suci gugup.

Buru-buru wajahnya yang memerah disembunyikan. Kecupan Bayu yang begitu lembut, masih terasa membekas di bibirnya, Untuk pertama kali ini gadis itu merasakan kecupan seorang laki-laki di bibirnya. Dia sendiri tidak tahu, kenapa begitu pasrah pada pemuda tampan berbaju kulit harimau ini.

"Kau belum pernah, Suci...?" tanya Bayu menebak.

Suci tidak bisa menjawab. Ada perasaan malu, takut, dan keinginan yang besar mendesak dirinya. Tapi semua itu hanya ada dalam hati. Perasaannya itu tidak bisa dikeluarkan melalui kata-kata. Lidahnya terasa kelu, sukar sekali diajak bicara. Melihat Suci yang begitu kaku dan tubuhnya gemetar, Bayu merasa tidak tega juga. Perlahan pelukannya dilepaskan, dan duduknya digeser. Sedangkan Suci hanya diam saja. Ingin sekali rasanya sepanjang malam ini berada dalam pelukan Pendekar Pulau Neraka. Tapi Suci tidak bisa meminta. Dia hanya bisa diam dengan hati terus berkecamuk.

***

Sejak malam itu, Suci jadi jauh berubah. Sikapnya selalu kelihatan kaku, dan tidak pernah lagi mau memandang Bayu. Masih terbayang dan terasa jelas kecupan Pendekar Pulau Neraka di bibirnya. Walaupun hanya sekali dan tipis, namun sangat membekas di hati gadis ini. Kecupan pertama yang dirasakan dari seorang pemuda. Sampai mereka tiba di Puncak Gunung Parang, Suci masih saja diam. Dia baru bicara kalau Bayu tanya. Itu pun hanya sesekali saja, dan jawabannya pendek-pendek. Dan gadis itu tak pernah memandang pemuda itu. Sikap Suci yang jauh berubah ini sangat terasa sekali bagi Bayu, namun didiamkan saja. Bayu tahu kalau Suci belum pernah dicium, dan semalam merupakan pengalaman pertamanya. Jadi, bisa dimaklumi kalau gadis ini bersikap lain.

"Tidak ada seorang pun di sini," gumam Bayu seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Hhh...," Suci hanya menghembuskan nafasnya saja.

Di Puncak Gunung Parang ini memang tidak ada seorang pun yang terlihat selain mereka berdua. Keadaannya begitu sunyi. Bahkan suara binatang pun tidak terdengar sama sekali. Hanya hembusan angin saja yang terdengar mengusik telinga. Mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tanpa disadari, Suci menatap Pendekar Pulau Neraka yang berdiri sampingnya. Pada saat yang bersamaan, Bayu juga menatap padanya. Buru-buru Suci memalingkan wajah, memandang ke arah lain. Entah kenapa, mendadak saja wajahnya menyemburat merah jambu. Saat itu juga jantungnya terasa berdetak keras, dan keringat mulai merembes di lehernya yang putih jenjang.

"Kau sakit, Suci?" tanya Bayu berpura-pura. Padahal Pendekar Pulau Neraka tahu, apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Yang jelas, hanya Suci sendiri yang bisa merasakannya. Pertanyaan Bayu terasa sukar dijawab. Dan gadis itu hanya menggelengkan kepala saja. Bayu mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya. Agak terkejut juga pemuda itu ketika merasakan tangan Suci begitu dingin, bagai mayat. Keringat semakin deras mengucur. Sedangkan gadis itu tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya. Untuk melepaskan genggaman tangan Bayu saja, terasa sulit.

"Aku tidak tahu, apa yang harus kita lakukan di sini," desah Bayu mencoba mengusir kekakuan yang terjadi di antara mereka berdua. Juga segera dilepaskannya genggaman tangan pada gadis itu.

"Yaaah..,, aku juga tidak tahu," sahut Suci mendesah. Pelan sekali suaranya, hampir tidak terdengar.

"Sayang, Ki Gandul tidak mengatakan dengan jelas," kata Bayu lagi.
"Eyang Purata memang tidak mengatakan apa-apa dalam suratnya, Kakang. Aku juga tidak tahu maksudnya menyuruhku datang ke sini," sambut Suci, masih pelan suaranya.

Bayu terdiam merenung. Dirasakan ada suatu maksud tertentu dari Eyang Purata. Rasanya memang tidak mungkin seorang guru menyuruh muridnya tanpa ada maksud tertentu. Tapi apa...? Belum lagi Bayu bisa menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati, mendadak saja....

Slap!
"Suci, awas...!
Hup!"

Sambil berseru keras, Bayu melompat seraya menyambar pinggang gadis di sampingnya. Cepat sekali gerakan Pendekar Pulau Neraka, hingga Suci tidak sempat menyadari. Tahu-tahu tubuhnya sudah bergu-lingan di dalam pelukan Bayu, di atas tanah berumput agak basah. Dan sebelum Suci bisa menyadari apa yang baru saja terjadi, Pendekar Pulau Neraka sudah melepaskan pelukannya. Bagai kilat, pemuda berbaju kulit harimau itu melesat ke atas, lalu berputaran beberapa kali udara. Pada saat yang bersamaan, Suci melihat berapa batang anak panah meluncur deras ke arah Pendekar Pulau Neraka. Namun dengan gerakan manis dan cepat sekali, semua panah yang meluncur itu rontok di tengah jalan.

"Hup!"

Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Bayu menjejakkan kakinya di tanah. Ada sekitar tujuh batang anak panah tergenggam di tangannya. Dan begitu kakinya menjejak tanah, secepat itu pula panah-panah yang berhasil ditangkapnya dilontarkan.

"Hiyaaa...!"
Wut...!

Panah-panah itu meluncur deras ke arah kanan. Dan sesaat kemudian, terdengar teriakan-teriakan keras melengking tinggi, itu pun masih disusul bermunculannya tubuh-tubuh tertancap anak panah. Saat itu Suci sudah berdiri, dan sempat terkejut melihat lima orang sudah tergeletak tak bernyawa lagi dengan tubuh tertembus anak panah. Mereka semua membawa kantung panah dari kulit dan sebatang busur yang cukup besar ukurannya.

"Hm.... Rupanya kedatangan kita sudah ditunggu, Suci," gumam Bayu pelan. Lagi-lagi Suci hanya menghembuskan napas saja.
"Hik hik hik..!" tiba-tiba saja terdengar tawa mengirik.

Belum lagi suara itu lenyap dari pendengaran, mendadak saja dari arah kanan berkelebat cepat sebuah bayangan biru ke arah Suci. Begitu cepatnya berkelebat, sehingga Suci hanya bisa terpaku bengong. Namun sebelum bayangan itu bisa menyambar tubuh Suci, bagaikan kilat Pendekar Pulau Neraka mengibaskan tangan kanannya.

"Yeaaah,..!"
Wus!

***

ENAM

Secercah cahaya keperakan meluncur deras bagai kilat dari pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka. Namun bayangan biru itu lebih cepat lagi bergerak, melenting ke atas. Cahaya keperakan itu lewat di bawah bayangan biru yang berputaran cepat di udara.

"Hap!"

Bayu menghentakkan tangan kanannya ke atas kepala. Seketika itu juga Cakra Maut yang dilontarkannya, berputar balik dengan kecepatan tinggi.

Tap!

Cakra Maut bersegi enam berwarna keperakan itu kembali menempel di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka. Pada saat yang sama bayangan biru itu sudah mendarat sekitar tiga tombak di depan Suci. Bayu melompat ke samping gadis itu.

"Setan Kobra Betina...," desis Bayu mengenali perempuan tua yang mengenakan jubah warna biru di depannya.

Bayangan biru yang menyerang Suci tadi, memang seorang perempuan tua berjubah biru yang dikenal berjuluk Setan Kobra Betina. Dia berdiri tegak dengan tongkat ular kobra tergenggam erat di tangan kanan. Tatapan matanya begitu tajam menusuk langsung ke bola mata Pendekar Pulau Neraka. Sama sekali seorang gadis di samping pemuda berbaju dari kulit harimau itu tidak dianggapnya.

"Seharusnya aku sudah tahu kalau kau yang menolong bocah ingusan itu...," desis Setan Kobra Betina, dingin nada suaranya.

"Aku tidak ada urusan denganmu, Perempuan Tua!" bentak Suci gusar dipanggil bocah ingusan.

"Sungguh memalukan! Secantik apa pun, tetap saja kau seorang pencuri busuk!" tetap dingin nada suara si Setan Kobra Betina.
"Kurang ajar...!" desis Suci geram.

Hampir saja pedangnya dicabut kalau saja Bayu tidak cepat mencekal pergelangan tangan gadis itu. Terpaksa Suci harus menahan kesabarannya. Tuduhan secara langsung dan terbuka itu, membuatnya merasa terhina. Tarikan nafasnya langsung tersengal, dan seluruh wajahnya memerah menahan geram.

"Bertahun-tahun kau tenggelam, bersembunyi di balik punggung si Sumpit Sakti. Orang lain memang bisa kau kelabuhi. Tapi jangan harap bisa mengelabui ku, Cakar Harimau," nada suara si Setan Kobra Betina tetap terdengar mendesis dan dingin sekali.

"Cakar Harimau...? Siapa itu? Aku tidak mengerti maksudmu?" kata Suci bingung.

"Hik hik hik.., jangan berpura-pura bodoh, Cakar Harimau. Tujuh belas tahun kau menghilang, tapi wajahmu tetap saja seperti dulu. Ah..., sudahlah. Lebih baik serahkan saja benda itu padaku, dan urusan ini tidak akan ku perpanjang."

"Kau bicara semakin ngawur saja, Perempuan Tua!" desis Suci semakin tidak mengerti perkataan Setan Kobra Betina.

"Tidak perlu lagi berpura-pura, Cakar Harimau. Kau datang ke sini, untuk apa lagi kalau bukan mengambil benda itu, heh...?"

"Aku...," suara Suci terhenti.

Suci benar-benar tidak mengerti semua yang dikatakan Setan Kobra Betina ini. Sedangkan Bayu hanya diam saja mendengarkan. Sebentar dipandangnya Suci, dan sebentar kemudian beralih pada perempuan tua berjubah biru di depannya. Pendekar Pulau Neraka juga tidak tahu, apa yang sedang diributkan kedua wanita ini.

"Sudah cukup lama aku bersabar, Cakar Harimau. Dan aku tidak bisa lagi bersabar," tegas Setan Kobra Betina. Nada suaranya jelas terdengar mengandung ancaman.

"Aku tidak kenal dengan mu. Dan aku tidak tahu, apa yang kau bicarakan, Perempuan Tua. Jadi apa maumu sekarang...?" Suci juga sudah tidak bisa menahan kesabarannya.

"Kau benar-benar bocah keras kepala!" Setan Kobra Betina gusar. "Jangan katakan aku kejam, kalau kau mampus di tanganku, Bocah!"

"Bukan kau yang menentukan mati dan hidup Setan Kobra Betina!" desis Suci dingin.
"Phuih! Lepas kepalamu..! Hiyaaat...!"

Mendadak saja si Setan Kobra Betina melompat cepat bagai kilat menerjang Suci sambil mengibaskan tongkatnya. Kibasan itu demikian kuat, dan sudah pasti mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Ini di buktikan oleh suara angin yang menderu bagai terjadi badai topan. Sesaat Suci terperangah melihat serangan perempuan tua berjubah biru itu ternyata demikian cepat dan dahsyat sekali. Buru-buru gadis itu melompat ke samping menghindari terjangan si Setan Kobra Betina. Namun dia jadi terkejut, karena tongkat perempuan tua itu mendadak saja bisa berputar cepat, begitu tebasannya dapat dielakkan.

Bet!
"Ikh...!"
Trang!
"Heh...?!"

***

Untuk kedua kalinya Setan Kobra Betina terkejut, begitu tongkatnya hampir saja menyambar kepala Suci. Betapa tidak...? Ternyata tongkatnya mendadak saja berbalik dan terasa seperti menghantam sebongkah batu karang yang keras. Cepat dia melompat mundur ke belakang, lalu berputaran dua kali sebelum kakinya menjejak tanah. Lagi-lagi perempuan tua itu mendesis geram melihat Bayu sudah berada di samping Suci.

"Keparat..!" geram Setan Kobra Betina.
"Dia bukan lawanmu, Setan Kobra Betina," kata Bayu dingin.
"Phuih! Kau benar-benar tidak bisa diberi kelonggaran, Pendekar Pulau Neraka!"

Setelah berkata demikian, Setan Kobra Betina menghentakkan tongkatnya ke depan. Dan seketika itu juga, dari ujung tongkat yang berbentuk kepala ular kobra itu meluncur seberkas sinar merah. Sinar merah itu meluruk deras ke arah Pendekar Pulau Neraka.

"Hup! Yeaaah...!"

Bagai seekor burung camar menyambar ikan di laut, Bayu melesat cepat ke angkasa, lalu secepat itu pula meluruk deras ke arah kepala si Setan Kobra Betina. Sinar merah itu lewat di bawah tubuhnya.

"Monyet! Hup...!"

Gerakan Pendekar Pulau Neraka memang sungguh mengejutkan. Hal ini membuat si Setan Kobra Betina terpaksa melentingkan tubuh ke belakang, lalu berputaran tiga kali di udara. Dan begitu kakinya mendarat di tanah, dengan cepat tongkatnya dikebutkan ke arah dada Pendekar Pulau Neraka.

Bet!

Bayu yang masih berada di udara, seketika menghentakkan tangan kanan untuk menangkis tebasan tongkat ular kobra hitam itu. Tak pelak lagi, benturan keras terjadi hingga menimbulkan ledakan dahsyat menggelegar. Kedua orang itu sama-sama melompat ke belakang beberapa tindak. Dan begitu menjejakkan kakinya di tanah, seketika itu juga mereka sama-sama melompat saling menyerang. Begitu cepatnya gerakan mereka, sampai-sampai Suci yang menyaksikan pertarungan itu tidak bisa mengikuti. Padahal matanya telah dipentang lebar-lebar.

Glarrr!

Terdengar ledakan keras menggelegar begitu telapak tangan Bayu dan tongkat si Setan Kobra Betina berbenturan keras di udara. Tampak mereka berpentalan ke belakang, dan sama-sama mendarat di tanah.

"Ugkh...!" Setan Kobra Betina mengeluh pendek sambil terhuyung-huyung. Sedangkan Bayu masih tetap berdiri tegak dengan tenang. Pendekar Pulau Neraka seperti memberi kesempatan pada perempuan tua itu untuk mengendalikan keseimbangan tubuhnya kembali.

"Keparat..!" geram Setan Kobra Betina. Sebentar tongkatnya digerak-gerakkan di depan dada. Tatapan matanya begitu tajam menusuk langsung ke bola mata Pendekar Pulau Neraka di depannya. Beberapa kali perempuan tua itu beradu kekuatan tenaga dalam dengan pemuda berbaju kulit harimau itu. Dan beberapa kali pula tenaga dalamnya terasa masih kalah satu tingkat dibanding pemuda itu.

"Kau memang tangguh, Pendekar Pulau Neraka. Tapi coba tahan jurus 'Naga Melibat Gunung'...," desis Setan Kobra Betina dingin. Setelah berkata demikian Setan, Kobra Betina menghentakkan tongkatnya ke tanah. Ujung tongkat itu terbenam sedalam satu jengkal ke dalam tanah. Lalu, tongkatnya dilepaskan dari genggaman. Sebentar dia diam, memusatkan perhatiannya untuk mengerahkan jurus andalan.

Bet!
Bet!

Cepat sekali tangannya digerak-gerakkan di depan dada. Kemudian kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, lalu perlahan ditarik sampai sejajar dengan dada. Sementara itu Bayu masih tetap berdiri tenang. Diperhatikannya setiap gerakan yang dilakukan perempuan tua berjubah biru itu dengan cermat tanpa berkedip.

"Hep!"

Bayu cepat mendorong tangan ke depan. Jari-jari tangannya terkembang lebar, tepat ketika si Setan Kobra Betina menyambar tongkatnya sendiri. Perempuan tua itu langsung melompat cepat menyerang Pendekar Pulau Neraka.

"Hiyaaat.!"
"Hup! Yeaaah."
Glarrr!

Ledakan keras menggelegar terjadi ketika telapak tangan Pendekar Pulau Neraka kembali berbenturan dengan tongkat si Setan Kobra Betina. Ledakan keras itu disertai percikan bunga api ke segala penjuru mata angin. Tampak mereka berpentalan di udara, dan berputaran beberapa kali sebelum jatuh menghantam bumi.

"Ugkh! Hoeghk..!"

Setan Kobra Betina memuntahkan darah segar begitu tubuhnya keras sekali menghantam tanah. Sedangkan Pendekar Pulau Neraka hanya terhuyung sebentar, lalu cepat menguasai keseimbangan tubuhnya kembali.

"Kau.... Dari mana kau peroleh jurus 'Kelelawar Maut...?" agak terbata suara Setan Kobra Betina.

"Guruku," sahut Bayu kalem. Pendekar Pulau Neraka tadi memang menggunakan jurus andalan 'Kelelawar Maut, yang jarang sekali digunakan. Bayu sebenarnya terkejut juga mendengar pertanyaan perempuan tua itu. Penggunaan jurus itu bisa dihitung dengan jari, sejak meninggalkan Pulau Neraka. Tapi anehnya, perempuan tua ini sudah mengenalinya.

"Siapa gurumu?" tanya Setan Kobra Betina seraya bangkit berdiri.
"Untuk apa kau tahu guruku?" Bayu balik bertanya. Perempuan tua berjubah biru itu menatap Bayu dalam-dalam. Tatapan matanya tertumbuk pada pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka. Dia seperti tidak percaya melihat senjata Cakra Maut menempel di pergelangan tangan pemuda berbaju kulit harimau itu. Kemudian kembali dipandanginya Pendekar Pulau Neraka. Sungguh tidak diperhatikannya pergelangan tangan Bayu. Dan benar-benar tidak disadarinya kalau beberapa kali tadi sempat berhadapan dengan senjata maut itu.

"Ada hubungan apa kau dengan si Cakra Maut?" tanya Setan Kobra Betina.
"Dia guruku," sahut Bayu tidak bisa lagi menyembunyikan kerahasiaan gurunya.
"Kau jangan coba-coba membohongi ku, Anak Muda. Cakra Maut sudah mati dua puluh lima tahun yang lalu. Dan lagi, tidak mungkin dia memiliki murid!" Setan Kobra Betina tidak percaya.

"Dari mana kau tahu tentang guruku?" Bayu malah balik bertanya. Ada nada kecurigaan di dalam suara Pendekar Pulau Neraka. Kini tatapan matanya begitu tajam menusuk. Seakan-akan tengah menyelidiki, siapa sebenarnya perempuan tua berjubah biru ini. Dicobanya untuk mengingat-ingat musuh-musuh gurunya yang masih hidup. Sedangkan Setan Kobra Betina masih belum percaya kalau Pendekar Pulau Neraka adalah murid tunggal si Cakra Maut, yang diketahui semua orang rimba persilatan sudah tewas dua puluh lima tahun yang lalu.

"Hm.... Kau pasti si Setan Kobra dari Gua Ular," Bayu agak mendesis suaranya.
"Benar. Aku memang Setan Kobra dari Gua Ular," si Setan Kobra Betina mengakui.

"Kalau begitu kau harus mati!" semakin dingin nada suara Bayu.
"Tapi aku tidak akan membunuhmu begitu saja, Setan Kobra. Harus kau rasakan dulu, bagaimana tersiksanya hidup tanpa mata dan kedua kaki, seperti yang dialami si Cakra Maut!"

"Heh...! Siapa kau sebenarnya, Anak Muda...?!" Setan Kobra Betina terkejut bukan main.
"Aku murid tunggal si Cakra Maut. Dan aku akan menuntut balas dari perbuatan manusia-manusia bejat sepertimu!" dingin sekali jawaban Bayu.

Dan sebelum si Setan Kobra Betina bisa membuka mulutnya, Bayu sudah melompat menerjang dengan kecepatan tinggi. Begitu cepatnya, sehingga membuat perempuan tua itu sejenak terperangah. Namun cepat-cepat tubuhnya bergerak, berkelit menghindari serangan yang dilancarkan Pendekar Pulau Neraka.

***

Pertarungan itu terus berjalan sengit masing-masing mengeluarkan jurus-jurus dahsyat, sehingga tempat pertarungan jadi porak poranda. Pohon-pohon bertumbangan saling tumpang tindih. Batu-batu pecah berhamburan, terkena pukulan-pukulan yang tidak mengenai sasaran, Sementara Suci hanya bisa menyaksikan saja dengan perasaan takjub. Sama sekali gadis itu tidak bisa melakukan sesuatu. Disadari kalau pertarungan itu sangat dahsyat dan berbahaya. Juga disadari kalau kemampuan yang dimilikinya tidak akan mungkin bisa menghentikan pertarungan itu. Jadi, yang bisa dilakukan hanyalah diam dan menyaksikan saja.

"Yeaaah...!" tiba-tiba saja Bayu berteriak nyaring. Dan mendadak, tangan kanannya mengibas ke depan dengan cepat sekali. Begitu Cakra Maut yang selalu menempel di pergelangan tangan kanannya melesat ke arah si Setan Kobra Betina, secepat itu pula Pendekar Pulau Neraka melompat menerjang sambil melontarkan satu pukulan keras bertenaga dalam sempurna.

"Uts!"

Setan Kobra Betina buru-buru mengebutkan tongkatnya, menyampok senjata maut Pendekar Pulau Neraka.

Tring!

Dentingan keras terdengar, begitu dua senjata beradu keras di udara. Bunga api seketika memercik, menyebar ke segala penjuru. Dan sebelum si Setan Kobra Betina bisa menarik kembali tongkatnya, mendadak saja pukulan yang dilepaskan Pendekar Pulau Neraka datang. Tentu saja hal itu mengejutkan perempuan tua itu. Begitu cepatnya serangan itu datang, sehingga si Setan Kobra Betina tidak sempat lagi berkelit menghindar.

Bugkh!
"Akh...!"

Setan Kobra Betina memekik melengking tinggi. Pukulan Pendekar Pulau Neraka yang mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna itu tak dapat lagi dihindari. Akibatnya, pukulan Bayu telak menghantam dada perempuan tua itu.

Bruk!

Keras sekali tubuh tua berjubah biru itu jatuh terjengkang di tanah. Dan sebelum si Setan Kobra Betina sempat melakukan sesuatu, Bayu sudah kembali melancarkan serangan dahsyat luar biasa.

"Hiyaaat...!"
Bres!
"Aaa...!"

Satu jeritan panjang melengking tinggi, mengiringi kematian si Setan Kobra Betina. Sungguh dahsyat sekali sodokan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka yang mendarat telak di dada perempuan tua itu. Tangan kanan pemuda berbaju kulit harimau itu melesak masuk ke dalam dada. Dan begitu ditarik keluar, darah langsung memuncrat deras sekali. Bayu melompat mundur dua tindak. Tangan kanannya yang berlumur darah diangkat ke atas kepala. Maka Cakra Maut yang masih melayang kembali menempel di pergelangan tangan Pendekar Pulau Neraka. Tatapan matanya tidak berkedip dan sangat tajam menusuk langsung pada tubuh perempuan tua yang tergeletak tak bernyawa lagi.

"Aku terpaksa membunuhmu, Setan Kobra Betina," desah Bayu pelan. Pendekar Pulau Neraka itu memutar tubuhnya ketika mendengar langkah kaki yang cepat menghampiri. Dia sedikit tersenyum melihat Suci setengah berlari menghampirinya.

"Kau tidak apa-apa, Kakang...?" tanya Suci begitu dekat di depan Bayu.
"Tidak," sahut Bayu seraya memberikan senyum.

Suci memandangi tubuh Setan Kobra Betina yang tergeletak tak bernyawa lagi. Darah masih mengalir dari dada yang berlubang sebesar kepalan tangan. Kemudian kembali ditatapnya pemuda tampan berbaju kulit harimau di depannya. Untuk beberapa saat lamanya mereka saling berpandangan saja tanpa berkata apa-apa. Perlahan Bayu menghembuskan napas panjang, kemudian berbalik dan mengayunkan kakinya perlahan lahan. Suci memandangi pemuda berbaju kulit harimau itu, lalu ikut melangkah. Ayunan kakinya disejajarkan di samping Pendekar Pulau Neraka. Belum juga ada yang bicara. Sementara matahari sudah begitu condong ke Barat Dan itu berarti hampir satu harian Bayu bertarung dengan si Setan Kobra Betina.

***

Sudah tiga hari Bayu dan Suci berada di Puncak Gunung Parang. Namun selama itu, mereka tidak mengetahui apa yang harus diperbuat di tempat sunyi dan selalu berkabut ini. Dan selama tiga hari pula, mereka terpaksa harus berhadapan dengan beberapa tokoh rimba persilatan. Yang membuat Bayu tidak habis mengerti, mereka semua selalu memanggil Suci dengan julukan si Cakar Harimau. Bahkan mereka selalu menuduh gadis ini mencuri sebuah benda. Beberapa kali Bayu mendesak, namun Suci tetap tidak merasa kalau dirinya adalah si Cakar Harimau. Gadis itu juga tidak tahu, benda yang dimaksudkan mereka.

"Suci. Aku yakin kejadian ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu mu," tebak Bayu ketika malam itu mereka tengah duduk berdua menghadapi seonggok api unggun.

"Maksudmu?" tanya Suci tidak mengerti. "Seharusnya kau sudah tahu, Suci. Mereka semua menuduh mu sebagai si Cakar Harimau," sahut Bayu.

"Tapi aku bukan si Cakar Harimau. Lagi pula aku tidak tahu, benda apa yang diinginkan itu," Suci tetap pada pendiriannya.

"Barangkali orang tuamu, Suci. Atau mungkin juga sanak keluargamu."
"Aku tidak tahu. Sejak kecil aku berada di padepokan, bersama Eyang Purata. Jadi aku tidak tahu, siapa orang tuaku," sahut Suci.

"Kau tidak pernah bertanya tentang orang tua mu pada Eyang Purata, Suci?" tanya Bayu. Suci hanya menggelengkan kepalanya saja. Terlihat dalam keremangan cahaya api unggun, ada kesenduan dalam sorot matanya. Gadis itu memang tidak pernah mengetahui, siapa dan di mana orang tuanya. Bahkan selama ini tidak pernah peduli, dan selalu menganggap Eyang Purata adalah orang tua satu-satunya. Dan kini baru disadari kalau asal-usul leluhur memang sangat perlu untuk diketahui.

"Apakah aku harus menanyakan hal ini pada Eyang Purata, Kakang?" tanya Suci, seperti untuk dirinya sendiri.

Bayu hanya tersenyum saja. Dan sebelum Pendekar Pulau Neraka menjawab pertanyaan gadis ini, mendadak saja mereka dikejutkan sebuah suara berat, dan berwibawa sekali.

"Tidak perlu bertanya, Suci...."

Bayu dan Suci sama-sama menoleh ke arah datangnya suara itu. Mereka benar-benar terkejut. Karena tanpa diketahui sama sekali, tahu-tahu di tempat ini sudah ada seorang laki-laki tua berjubah putih. Terlebih lagi Pendekar Pulau Neraka. Dia yang tingkat kepandaiannya sudah hampir mencapai tahap kesempurnaan, sama sekali tidak mengetahui kedatangan orang tua ini.

"Eyang...," desis Suci.

Gadis itu buru-buru bangkit berdiri dan menghampiri laki-laki tua berjubah putih itu, kemudian berlutut di depannya. Kepalanya tertunduk dalam, dengan sikap begitu hormat. Sedangkan Bayu yang sudah berdiri, hanya memandangi saja. Tanpa dijelaskan pun, Pendekar Pulau Neraka tahu kalau laki-laki tua ini adalah Eyang Purata. Dan sudah bisa ditebak kalau kepandaian laki-laki tua ini tidak bisa dibuat main-main. Itu sudah terbukti dengan kemunculannya yang tidak diketahui sama sekali.

"Bangkitlah, Anakku," ujar Eyang Purata. Begitu dalam dan berwibawa sekali suaranya. Suci memberi sembah dengan merapatkan kedua tangannya di depan hidung, kemudian perlahan-lahan bangkit berdiri. Gadis itu melangkah ke belakang dua tindak. Dia masih menundukkan kepalanya, seakan-akan tidak sanggup membalas tatapan mata laki-laki tua ini.

"Siapa kau, Anak Muda?" tanya Eyang Purata seraya menatap Pendekar Pulau Neraka.
"Bayu," sahut Bayu memperkenalkan diri.
"Beberapa kali Kakang Bayu menyelamatkan diriku, Eyang," selak Suci memberi tahu, tanpa menunggu ditanya lagi.

Eyang Purata seperti tidak mendengarkan kata-kata Suci, dan tetap saja menatap Bayu. Sinar matanya seakan-akan sedang menyelidiki pemuda berbaju kulit harimau ini. Sedangkan Bayu hanya sambil lalu membalas tatapan itu. Tapi dia sendiri sebenarnya seperti tengah terpesona oleh penampilan laki-laki tua berjubah putih ini. Sinar mata Eyang Purata memang terlihat tajam. Namun di dalamnya tersimpan satu kelembutan dan keteduhan jiwa. Bayu merasakan sepertinya tengah berhadapan dengan sosok dewa yang turun ke mayapada. Dari sorot mata dan sikapnya saja, Bayu sudah bisa menilai kalau orang tua berjubah putih itu memiliki kepandaian yang sukar diukur.

"Apakah kau yang berjuluk Pendekar Pulau Neraka, Anak Muda?" tanya Eyang Purata menebak.
"Benar," sahut Bayu agak terkejut mendengar pertanyaan itu.

Eyang Purata mengangguk-anggukkan kepalanya. Tatapan matanya masih tetap tajam, mengarah langsung ke bola mata Pendekar Pulau Neraka.

"Dari mana kau tahu julukanku?" tanya Bayu ingin tahu.
"Di dunia ini hanya satu pendekar muda yang mengenakan baju kulit harimau, dengan senjata sebuah cakra di pergelangan tangannya," sahut Eyang Purata.
"Hm..., dari mana kau peroleh senjata itu, Anak Muda?"

Bayu tidak segera menjawab. Dalam hatinya terbesit satu kecurigaan pada laki-laki tua ini. Entah kenapa, dia selalu menaruh curiga pada orang yang mengenal senjatanya.

"Aku kenal pemilik Cakra Maut. Di mana dia sekarang berada?"

Bayu tetap saja diam. Perasaannya semakin curiga terhadap laki-laki tua berjubah putih ini. Sedangkan Suci hanya memperhatikan saja. Dia tidak mengerti semua pembicaraan kedua laki-laki ini.

"Aku sering mendengar sepak terjang mu. Pendekar Pulau Neraka. Aku tahu, kau berada di sini untuk mencari orang-orang yang telah mencelakakan Cakra Maut. Memang, kebanyakan dari mereka tengah berkumpul di sekitar Gunung Parang ini. Dan kau telah menewaskan beberapa di antaranya," kata Eyang Purata lagi.

Bayu semakin terpana mendengarnya. Sungguh tidak disangka kalau laki-laki tua ini tahu maksud kedatangannya ke Gunung Parang ini.

"Tapi kau tidak perlu curiga padaku, Anak muda. Meskipun jalan yang ditempuh si Cakra Maut bertentangan denganku, tapi aku tidak pernah melakukan perbuatan keji seperti itu. Perbuatan mereka memang patut mendapat ganjaran. Dan kau sebagai pemegang senjata Cakra Maut sudah sepantasnya menuntut balas. Aku yakin, kau adalah pewaris tunggal Cakra Maut. Entah bagaimana caranya kau bisa memiliki senjata itu," kata Eyang Purata panjang lebar.

"Tampaknya kau tahu banyak tentang diriku dan si Cakra Maut, Eyang," ujar Bayu, agak bergumam suaranya. "Dari mana kau tahu semua itu?"

Eyang Purata hanya tertawa saja mendengar pertanyaan Bayu barusan. Begitu lepas suara tawanya, namun terdengar sangat dalam dan penuh kewibawaan. Sedangkan Bayu hanya bergumam kecil. Ingin diketahuinya, dari mana laki-laki tua ini bisa tahu begitu banyak tentang diri dan gurunya. Sementara malam terus merayap semakin larut. Udara di sekitar Puncak Gunung Parang ini semakin terasa dingin. Kini di dekat api unggun itu duduk berkeliling tiga orang yang tengah menghangatkan diri.

***

TUJUH

Malam terus merambat semakin larut Untuk malam ini, Bayu dan Suci merasakan ketegangan agak berkurang. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, yang selalu dihantui ketegangan dan ketidaktenangan. Kemunculan Eyang Purata, seakan-akan membawa kedamaian tersendiri yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Bukan hanya Bayu yang bisa merasakannya. Bahkan Suci pun merasa hari ini begitu damai. Kemunculan gurunya itu mempunyai arti khusus, dan hanya dirinya yang bisa merasakan.

"Eyang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan," kata Suci saat keadaan sudah terasa lebih tenang, dan tidak lagi menegang seperti tadi.

"Kau pasti ingin menanyakan tentang Cakar Harimau, bukan...?" tebak Eyang Purata langsung. Suci hanya diam saja. Memang itu yang hendak ditanyakannya. Dan itu memang anjuran Bayu, sebelum laki-laki tua berjubah putih ini muncul. Dan sebenarnya bukan hanya itu saja. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan gadis ini.

"Waktu itu kau memang masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya, Suci. Jadi, terpaksa ku rahasiakan tentang dirimu," Eyang Purata mulai membuka riwayat muridnya ini. Suci hanya diam saja mendengarkan. Sedangkan Bayu juga diam membisu, sambil tidak lepas memandangi laki-laki tua berjubah putih yang duduk bersila di depannya. Hanya seonggok api unggun kecil yang membatasi mereka.

"Aku bertemu denganmu ketika kau masih berusia sekitar dua tahun, Suci. Masih begitu polos dan lucu. Dosa besar jika anak berumur dua tahun ku libatkan dalam persoalan orang dewasa. Jadi, terpaksa aku harus menunggu sampai kau benar-benar siap untuk menghadapinya," sambung Eyang Purata.

Suci tetap diam membisu. Dicobanya untuk mengingat-ingat ketika masih berusia sekitar satu atau dua tahun. Tapi masa-masa seperti itu memang sukar bisa diulang dalam ingatannya saat ini. Karena setahunya, tidak ada yang istimewa dalam dirinya pada masa-masa itu. Selama hidupnya dalam padepokan, memang tidak ada yang terlalu istimewa. Dan ini merupakan satu kekurangan yang ada dalam dirinya. Tidak pernah mengingat apa pun yang telah terjadi di masa lalu.

"Teruskan, Eyang," pinta Suci melihat Eyang Purata diam saja.
"Tujuh belas tahun yang lalu, saat itu aku baru saja mendirikan padepokan. Dan muridku baru tiga orang. Kau datang diantar seorang perempuan muda yang dalam keadaan luka parah. Dia hanya memberikan beberapa potong kalimat dan sebuah benda padaku," lanjut Eyang Purata.

"Benda...? Benda apa itu, Eyang?" tanya Suci.
"Sepotong Cakar Harimau," sahut Eyang Purata.
"Cakar Harimau...? Maksud, Eyang?" Suci benar-benar tidak mengerti.

"Kalau tidak ada halangan, besok kau akan menerimanya dari Intan," sahut Eyang Purata.
"Intan...?!" Suci terkejut bukan main.
"Sekarang dia dalam perjalanan ke sini bersama Seta dan Darmasaka."

"Jadi...?"
"Aku yang membawanya pergi. Untung luka-lukanya tidak terlalu parah," jelas Eyang Purata singkat.

"Oh...," Suci mendesah lega mendengar Intan selamat. "Bagaimana Eyang bisa sampai dengan cepat?"
"Aku memang mengikuti kalian," sahut Eyang Purata.

"Bersama Kakang Seta dan Kakang Darmasaka?" tanya Suci ingin ketegasan. "Benar."
"Kenapa Eyang lakukan itu?"

"Hanya ingin menjaga keselamatan kalian. Terutama sekali kau, Suci. Karena aku tahu, perjalananmu akan mendapat rintangan yang tidak kecil. Sedangkan kemampuan yang kau miliki masih kurang sekali. Masih banyak yang harus kau pelajari. Dan semua itu tidak akan kau dapatkan di padepokan. Dengan pengalaman seperti ini, kau bisa melihat bagaimana kehidupan dalam rimba persilatan," kembali Eyang Purata menjelaskan.

Suci hanya diam saja. Diliriknya Bayu yang duduk di sampingnya. Pendekar Pulau Neraka juga hanya diam mendengarkan. Gadis itu jadi teringat kata-kata Bayu. Memang benar, ternyata gurunya ini tidak akan mungkin melepaskannya begitu saja. Terlebih mencelakakan dirinya. Seorang guru yang bijaksana, pasti akan menjaga dan membela muridnya. Hanya saja, Suci belum begitu mengerti maksud Eyang Purata sebenarnya yang menyuruhnya ke Puncak Gunung Parang ini. Dan diyakini kalau ada satu maksud tersembunyi di balik semua ini.

"Eyang...," terdengar agak ragu-ragu suara Suci.
"Ada apa?" lembut sekali suara Eyang Purata, seperti orang tua terhadap anak kesayangannya.
"Boleh bertanya lagi..?" pinta Suci.
"Tanyakan saja semua yang ingin kau ketahui, Suci."
"Apa maksud Eyang menyuruh aku dan Kak Intan ke sini?" tanya Suci setelah menarik napas dalam-dalam.

Eyang Purata tidak langsung menjawab, tapi malah tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan sudah berwarna putih semua. Diliriknya sedikit Pendekar Pulau Neraka yang duduk di samping Suci. Lirikan yang sedikit itu, dapat di tangkap Bayu, maka dia langsung bisa mengerti maksudnya.

"Maaf, kalau boleh aku ingin berjalan-jalan sebentar," ujar Bayu seraya bangkit berdiri.

Sebelum ada yang menyahut, Pendekar Pulau Neraka sudah berjalan pergi. Sedangkan Eyang Purata hanya tersenyum saja memandangi kepergian pemuda berbaju kulit harimau itu. Dalam hati dikaguminya daya tangkap Bayu yang begitu cepat bisa mengerti maksudnya. Padahal, itu dilakukan hanya dengan sedikit lirikan mata saja. Bayu terus berjalan semakin jauh, dan akhirnya lenyap ditelan kegelapan malam.

"Kenapa Eyang memintanya pergi?" tanya Suci yang rupanya juga melihat lirikan laki-laki tua ini.

"Mungkin lebih enak jika hanya kau saja yang mengetahui, Suci," sahut Eyang Purata. Suci seperti tidak setuju pendapat gurunya ini, tapi tidak ingin membantah lagi. Dia tahu, dan bisa menebak kalau Eyang Purata pasti akan menyampaikan suatu rahasia yang tidak boleh seorang pun mengetahuinya. Dan ini yang membuatnya semakin dihinggapi perasaan penasaran ingin mengetahuinya. Terlebih lagi, hal ini menyangkut dirinya. Dan memang, pangkal persoalannya berasal dari dirinya.

***

Bayu mengayunkan kakinya perlahan, semakin jauh meninggalkan Suci dan gurunya yang tengah duduk menghadapi seonggok api unggun. Pendekar Pulau Neraka baru berhenti melangkah setelah diyakini kalau jaraknya dengan tempat itu sudah cukup jauh. Sebentar kepalanya berpaling ke belakang. Bibirnya tersenyum kala melihat dua orang murid dan guru sedang asyik berbicara. Pendekar Pulau Neraka itu cepat memutar tubuhnya ketika tiba-tiba saja terdengar suara ranting patah terinjak. Suara itu memang kecil sekali, namun sangat jelas terdengar di telinga pemuda berbaju kulit harimau itu. Sebentar Bayu terdiam sambil menajamkan pendengarannya.

"Hm..., siapa lagi nyamuk kecil ini...," gumam Bayu dalam hari. Pendekar Pulau Neraka menjentikkan ujung jari kakinya. Maka sebatang ranting kering terpental ke atas. Dan secepat kilat, Pendekar Pulau Neraka menangkap ranting kering, dan secepat itu pula dihentakkan ke arah kanan.

Wut!
Srak...!

Bersamaan dengan amblasnya ranting itu ke dalam semak, sebuah bayangan berkelebat keluar dari situ. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Bayu melesat ke udara mengejar bayangan itu.

"Yeaaah...!"
Bet!

Satu pukulan dilepaskan Pendekar Pulau Neraka, namun sama sekali tidak disertai pengerahan tenaga dalam. Pukulan yang cepat itu, tepat mengenai bayangan yang berputaran di udara. Seketika suara mengaduh kecil terdengar. Sedangkan bayangan itu meluruk turun dengan derasnya.

"Hap...!"

Manis sekali kakinya mendarat di tanah. Saat yang sama, Bayu juga menjejakkan kedua kakinya di tanah. Kini di depan Pendekar Pulau Neraka sudah berdiri seorang perempuan muda mengenakan baju warna merah menyala. Wanita itu cantik sekali, sehingga Bayu sempat terpana memandang raut wajahnya. Tubuhnya yang ramping terbungkus baju ketat, sehingga memetakan lekuk-lekuk menggairahkan.

"Siapa kau...?" tanya Bayu setelah bisa menghilangkan keterpanaannya.

"Aku Rara Asih. Kedatanganku ke sini untuk membalas kematian guruku!" sahut wanita muda itu tegas.

"Gurumu...? Siapa gurumu?" tanya Bayu dengan kening agak berkerut.

"Setan Kobra Betina," sahut Rara Asih, agak ketus suaranya.

Kening Bayu semakin dalam berkerenyut. Dipandanginya gadis itu dalam-dalam. Seakan-akan sulit dipercaya kalau gadis cantik yang mengaku bernama Rara Asih ini adalah murid si Setan Kobra Betina. Namun dari senjata yang terselip di pinggang yang ramping, Bayu harus percaya. Senjata itu berupa tongkat pendek sepanjang lima jengkal, berbentuk seekor ular kobra hitam. Ikat kepala yang dikenakan gadis itu juga berbentuk seekor ular kobra. Untuk beberapa saat lamanya, Bayu terdiam memandangi gadis cantik di depannya. Meskipun dari senjata dan pakaiannya sudah bisa dipastikan kalau gadis ini memang murid si Setan Kobra Betina, namun tampaknya Bayu masih belum bisa percaya penuh.

"Dari mana kau tahu kalau aku menewaskan si Setan Kobra Betina?" tanya Bayu. Pendekar Pulau Neraka tahu betul, kalau pertarungannya dengan si Setan Kobra Betina hanya Suci yang menyaksikan. Tidak ada seorang pun yang melihat pertarungan itu, selain Suci. Dan sekarang ada seorang gadis cantik yang mengaku murid si Setan Kobra Betina.

"Seluruh gunung ini sudah ku kuasai, Pendekar Pulau Neraka. Jadi aku bisa mengetahui semua peristiwa yang terjadi di sini," sahut Rara Asih seraya tersenyum sinis.

Bayu ingin membuka mulut lagi, tapi cepat di urungkannya. Pendekar Pulau Neraka hanya menggumam perlahan. Pendengarannya yang tajam langsung dapat mendengar kalau di sekitarnya ada beberapa orang, dengan tarikan napas halus dan hampir tidak terdengar. Dihitungnya di dalam hati, setelah disadari kalau tempat ini sudah terkepung.

"Gila..,! Banyak juga...," dengus Bayu dalam hati.

"Kau tidak akan bisa lolos dari kematian, Pendekar Pulau Neraka. Semua tempat sudah terkepung, dan jangan harap bisa menembus kepungan anak buah ku," dingin sekali nada suara Rara Asih.

Bayu tersentak kaget Kembali dipandanginya gadis itu dalam-dalam. Dia benar-benar terkejut, karena Rara Asih seperti bisa membaca pikirannya. Dan memang pada saat itu Bayu tengah memikirkan cara untuk bisa terlepas dari tempat ini, setelah menyadari kalau seluruh tempat ini sudah terkepung puluhan orang yang bersembunyi.

"Suiiit..!" tiba-tiba saja Rara Asih bersiul nyaring.

"Heh...!" Bayu kembali tersentak kaget Dan sebelum keterkejutan Pendekar Pulau Neraka lenyap, mendadak saja dari empat arah berlompatan empat orang berpakaian serba merah yang terdapat gambar seekor ular kobra hitam di bagian punggungnya. Mereka semua menggenggam senjata tongkat pendek berbentuk ular, yang bagian ekornya runcing seperti mata tombak.

"Bersiaplah untuk mati, Pendekar Pulau Neraka. Ha ha ha...!"

Begitu Rara Asih menghentakkan tangan kanannya ke depan, seketika itu juga empat orang laki-laki muda yang mengepung Bayu cepat berlompatan. Mereka langsung menyerang Pendekar Pulau Neraka.

"Hiyaaa...!"
"Hup! Yeaaah...!"

***

DELAPAN

Bayu tidak sempat lagi mencegah mereka. Terpaksa harus dilayaninya empat orang laki-laki muda yang menyerang secara bergantian dengan kecepatan tinggi dari empat jurusan. Dalam beberapa gebrak saja, Bayu sudah bisa mengukur tingkat kepandaian mereka. Namun Pendekar Pulau Neraka tidak mudah mengambil kesempatan untuk memberi serangan balasan yang bisa menghentikan perlawanan mereka. Memang, empat orang berbaju merah itu selalu menyerang cepat dan saling bergantian. Bayu sempat terpana juga menghadapi pola serangan yang begitu kompak dan beragam. Beberapa kali tubuhnya terpaksa dibanting ke tanah, atau berjumpalitan di udara menghindari serangan-serangan yang datang cepat dan beruntun itu.

"Phuih! Tenaga dalam mereka belum tinggi, tapi kerja sama serangannya sungguh mengagumkan...," dengus Bayu dalam hati.

Meskipun agak kerepotan juga, namun Pendekar Pulau Neraka sempat memuji dalam hati. Kekagumannya semakin bertambah, setelah keempat orang lawannya kini menyerang dengan mempergunakan senjata tongkat pendek berbentuk ular kobra hitam.

"Uts...!" tiba-tiba saja Bayu merundukkan kepala nya ketika satu tebasan tongkat hitam menyambar ke arah kepalanya. Belum lagi pemuda berbaju kulit harimau itu sempat menegakkan kepala kembali, mendadak saja satu sodokan tongkat mengandung pengerahan tenaga dalam cukup tinggi mengarah ke perutnya.

"Hih...!"

Tidak ada lagi kesempatan bagi Bayu untuk menghindar. Cepat sekali Pendekar Pulau Neraka itu mengibaskan tangan kanannya, menyampok sodokan tongkat hitam dari arah depan. Tak pelak lagi, satu benturan keras terjadi.

Trak!

Terdengar suara sesuatu yang patah. Tampak orang berbaju serba merah di depan Bayu terhuyung-huyung ke belakang. Bukan hanya dirinya yang terkejut Bahkan ketiga temannya serta Rara Asih, terperanjat bukan main melihat tongkat di tangan pemuda berbaju merah itu patah jadi dua bagian.

"Hiyaaa...!"

Bayu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sedikit ini. Bagaikan kilat, Pendekar Pulau Neraka melompat ke depan. Langsung diterjangnya pemuda berbaju merah yang masih terhuyung-huyung akibat benturan senjata tongkat dengan pergelangan tangan Bayu. Dua pukulan bertenaga dalam tinggi cepat dilepaskan Bayu.

"Hiya! Yeaaah...!"
Des!
"Aaakh...!"

Orang berbaju merah itu menjerit melengking tinggi. Keras sekali pukulan yang dilepaskan Pendekar Pulau Neraka, sehingga membuat orang berbaju merah itu terpental jauh ke belakang. Nyawanya langsung melayang begitu tubuhnya mencium tanah. Bayu cepat memutar tubuhnya, memandangi tiga orang lagi yang terpana menyaksikan kecepatan gerak Pendekar Pulau Neraka barusan.

"Aku tidak punya urusan dengan kalian. Sebaiknya cepat tinggalkan tempat ini, sebelum bernasib sama dengannya," Bayu menunjuk orang yang tergeletak tak bernyawa lagi.

"Ha ha ha...! Kau tidak bisa menggertak mereka, Pendekar Pulau Neraka!" Rara Asih menyahut sambil tertawa terbahak-bahak. Bayu mendengus kecil seraya melirik gadis cantik berbaju merah. Sementara itu, tiga orang laki-laki muda di depannya, hanya saling berpandangan. Untuk beberapa saat, kesunyian yang menegangkan menyelimuti mereka.

"Kau jangan berbangga dulu, hanya karena bisa membunuh salah seorang dari mereka, Pendekar Pulau Neraka. Lihatlah sekelilingmu...!"

Setelah, berkata demikian, Rara Asih bersiul nyaring. Dan seketika itu juga, dan balik kegelapan bermunculan orang-orang berbaju merah. Mereka bersenjatakan tongkat pendek berbentuk ular kobra hitam yang tergenggam di tangan. Bayu yang sudah menduga, tidak terkejut lagi melihat kemunculan mereka. Namun sungguh tidak disangka akan sebanyak ini. Jumlah mereka begitu besar, bagai satu pasukan prajurit.

"Hm...!" gumam Bayu perlahan sambil mengedarkan pandangannya berkeliling.

"Ha ha ha...!"

Pandangan Pendekar Pulau Neraka kemudian tertumbuk pada gadis berbaju merah yang tertawa terbahak-bahak. Bayu hanya mendengus dalam hati. Diakui kalau melihat keadaan ini, Rara Asih memang boleh merasa menang. jumlah orang yang begitu besar, memang tidak mudah dilawan.

"Sebaiknya mohon ampun dulu pada roh guruku, sebelum terbang ke akherat, Pendekar Pulau Neraka," dingin sekali suara Rara Asih.

"Aku tidak yakin orang-orangmu mampu melakukannya, Rara Asih," sambut Bayu tidak kalah dinginnya.

"Boleh dicoba.... Aku ingin tahu, seberapa kuatnya dirimu menghadapi mereka." Rara Asih menghentakkan tangannya ke depan. Maka seketika itu juga, orang-orang berbaju merah berlompatan sambil berteriak-teriak menyerang Pendekar Pulau Neraka. Saat itu memang tidak ada pilihan lain lagi bagi Bayu, kecuali harus menghadapi keroyokan ini.

"Yeaaah....!"

***

Pertarungan memang tidak mungkin lagi dihindari. Teriakan-teriakan keras disertai denting senjata terdengar membahana, memecah kesunyian malam. Menghadapi keroyokan begitu banyak, Bayu tidak mungkin bisa melontarkan senjatanya. Dan yang pasti, tidak ada kesempatan memusatkan perhatian untuk mengendalikan senjata mautnya. Maka Pendekar Pulau Neraka menggenggam Cakra Maut pada salah satu ujungnya. Jerit dan pekikan melengking tinggi terdengar menyayat saling sambut. Dalam waktu yang tidak berapa lama saja, sudah terlihat beberapa tubuh bergelimpangan tak bernyawa lagi. Darah menyembur membasahi tanah berumput, bercampur keringat dan embun. Meskipun sudah banyak yang bergelimpangan tak bernyawa lagi, namun orang-orang berbaju merah itu tidak merasa gentar sama sekali. Bahkan terus merangsek, dan semakin rapat mengepung Pendekar Pulau Neraka. Akibatnya, ruang gerak pemuda berbaju kulit harimau itu semakin mengecil.

"Waaa...!"
"Aaa...!"

Mendadak saja terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi dari arah luar kepungan itu. Dan terlihat tubuh-tubuh berbaju merah berpentalan di udara. Saat itu juga orang-orang berbaju merah yang terdapat gambar ular kobra di punggungnya, jadi terpecah perhatiannya. Sedikit Bayu bisa menangkap ada dua orang yang mengamuk, memporak-porandakan para pengeroyoknya ini. jerit dan pekik menyayat semakin sering terdengar. Tubuh-tubuh berbaju merah, semakin banyak berpentalan di udara, dengan darah menyemburat keluar dari tubuh yang terluka.

"Suci...," desis Bayu begitu bisa melihat gadis berbaju biru muda mengamuk di dekat seorang laki-laki berjubah putih. Melihat Suci dan Eyang Purata membantu, Pendekar Pulau Neraka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil berteriak menggelegar, dia melompat cepat bagaikan kilat sambil mengibaskan tangannya beberapa kali.

"Hiya! Hiya! Yeaaah...!"

Gerakan-gerakan yang dilakukan Bayu sungguh cepat luar biasa. Terlebih lagi, senjata Cakra Maut yang tergenggam di tangan kanannya bagaikan senjata dewa yang murka melihat ketidakadilan di dunia ini. Begitu cepatnya Pendekar Pulau Neraka memainkan senjatanya, sehingga sukar dilihat mata biasa.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Pendekar Pulau Neraka melompat cepat bagaikan kilat, sambil mengibaskan tangannya beberapa kali. Jerit dan pekikan melengking tinggi terdengar beberapa kali saling susul dan menyayat. Tubuh pemuda berbaju kulit harimau itu meluruk deras ke arah Rara Asih yang tengah mengumpat dan memaki, karena orang-orangnya berantakan tidak karuan. Gadis itu terkejut bukan main. Sebab, mendadak saja Bayu meluruk deras kearahnya, sambil melontarkan dua pukulan sekaligus.

"Hup! Yeaaah...!"

Cepat sekali Rara Asih mengegoskan tubuhnya, menghindari serangan yang dilancarkan Bayu. Begitu terlepas dari incaran maut Pendekar Pulau Neraka, dengan cepat Rara Asih melompat ke belakang sejauh dua batang tombak.

"Phuih!" Rara Asih menyemburkan ludahnya.
"Awas, Kakang...!" tiba-tiba saja ada seruan keras dari arah belakang.

"Uts! Yeaaah...!"

Bayu cepat memutar tubuhnya. Dan secepat itu pula tangan kanannya yang menggenggam Cakra Maut dikibaskan. Pada saat yang sama, satu orang anak buah Rara Asih melompat hendak membokongnya. Namun gerakannya kalah cepat sehingga....

Bret!
"Aaakh...!"

Orang berbaju merah itu menjerit melengking tinggi. Ujung Cakra Maut dalam genggaman tangan kanan Pendekar Pulau Neraka merobek dalam sekali dada orang itu. Darah segar pun seketika muncrat. Satu pukulan keras bertenaga dalam sempurna, dilepaskan Bayu, telak menghantam dada. Akibatnya, orang itu terpental sejauh dua batang tombak. Hanya sebentar orang berbaju merah itu menggeliat, kemudian diam tak bernyawa lagi. Bayu mengangkat tangannya pada Suci yang telah memperingati dirinya. Dari gadis itu hanya membalas dengan senyuman saja, karena harus sibuk menghalau orang-orang berbaju merah yang sudah menyerang kembali dengan ganas sekali. Bayu memutar tubuhnya, kembali menghadap Rara Asih.

***

"Sebaiknya suruh mereka berhenti, Nisanak. Sebelum seluruh anak buahmu habis," kata Bayu memperingatkan.

"Aku punya orang-orang yang cukup untuk menghancurkan kau dan kedua temanmu itu, Pendekar Pulau Neraka," desis Rara Asih dingin. Rara Asih kembali bersiul nyaring melengking. Bayu sempat terkejut Dan memang, dari balik pepohonan dan semak serta bebatuan yang banyak terdapat di tempat ini, bermunculan orang-orang berbaju serba merah. Jumlah mereka kini tiga kali lipat dari yang pertama. Pendekar Pulau Neraka tidak menyangka kalau gadis ini memiliki anak buah yang begitu besar jumlahnya. Pada saat yang sama, orang-orang berbaju merah yang tengah bertarung dengan Eyang Purata dan Suci, berlompatan mundur. Guru dan murid itu bergegas menghampiri Bayu. Mereka juga terkejut melihat di sekelilingnya sudah padat oleh orang-orang berbaju merah. Tak ada lagi celah yang bisa digunakan untuk keluar dari tempat ini.

"Sebaiknya kalian menyerah saja, daripada membuang tenaga percuma," tegas Rara Asih diikuti tawanya yang lepas berderai.

Gadis itu benar-benar sudah merasa yakin berada di atas angin. Dengan jumlah anak buah yang lebih dari dua ratus orang, memang tidak mungkin bisa dihadapi tiga orang saja. Meskipun tingkat kepandaian Eyang Purata dan Pendekar Pulau Neraka tidak bisa dikatakan rendah, namun kedua orang itu harus berpikir keras juga.

"Maaf. Muridku telah menyeret mu ke dalam persoalan ini, Anak Muda," ucap Eyang Purata perlahan.

Bayu melirik sedikit pada laki-laki tua berjubah putih yang kini sudah berdiri di samping kanannya. Pendekar Pulau Neraka kemudian menatap Suci yang berada di samping gurunya itu. Sedangkan gadis itu hanya diam saja, dan sepertinya tidak bisa membalas tatapan Bayu Kembali Pendekar, Pulau Neraka me-mandang Rara Asih.

"Sebenarnya aku sengaja mengutus Suci dan Intan untuk memancing perempuan ini keluar. Gerombolan mereka memang sudah lama meresahkan seluruh penduduk desa di sekitar Gunung Parang ini, Anak Muda," jelas Eyang Purata.

Bayu hanya diam saja. Pandangannya beredar ke sekeliling. Walaupun memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tapi tidak akan mungkin bisa menghadapi lawan begini banyak jumlahnya. Pendekar Pulau Neraka berpaling menatap Eyang Purata.

"Perempuan ini tidak akan mati meskipun kau menggunakan kesaktian yang tangguh sekalipun. Hanya Cakar Harimau yang bisa menewaskannya," jelas Eyang Purata lagi.

"Kenapa?" tanya Bayu ingin tahu.
"Karena di dalam tubuhnya tersimpan Warangka Cakar Harimau. Dulu dia pernah bertarung denganku, lalu ku hujamkan Warangka Cakar Harimau dalam tubuhnya. Dia memang tidak mati, tapi warangka itu akan melumpuhkannya."

Bayu mengerutkan keningnya sedikit.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Bayu.
"Cukup...!" tiba-tiba Rara Asih membentak keras.

Eyang Purata yang hendak menjawab, jadi mengurungkan niatnya. Dia dan Bayu langsung menatap wanita cantik berbaju merah menyala itu. Pada saat itu, pagi sudah datang menjelang. Di ufuk sebelah Timur, cahaya matahari menyemburat merah, menandakan sebentar lagi seluruh Puncak Gunung Parang ini akan tersiram oleh cahayanya yang menyengat.

"Apa yang harus kita lakukan, Eyang?" tanya Suci yang sejak tadi diam saja.

Eyang Purata tidak langsung menjawab, tapi melirik Pendekar Pulau Neraka. Sedangkan yang dilirik hanya diam saja. Bayu seperti tidak mengetahui, kalau orang tua itu meminta pendapat padanya. Padahal pemuda itu tidak tahu, apa yang harus dilakukannya saat ini.

"Eyang Purata! Kau yang menanam Warangka Cakar Harimau di tubuhku. Dan sekarang aku ingin agar cakar itu diserahkan padaku," bentak Rara Asih.

"Benda itu tidak ada padaku," sahut Eyang Purata.
"Kau pikir aku bodoh, heh...?! Bertahun-tahun benda itu kau simpan. Maka, sekaranglah saatnya aku meminta benda itu, karena warangkanya sudah menyatu dalam diriku!" dingin sekali suara Rara Asih.

"Kau akan lumpuh oleh benda itu, Rara Asih," ujar Eyang Purata.
"Ha ha ha...! Kau memang orang tua bodoh! Bertahun-tahun aku terus mencoba mengendalikan Warangka Cakar Harimau. Dan sekarang aku sudah berhasil menjinakkannya."
"Bagaimana kau bisa melakukannya...?" tanya Eyang Purata agak terkejut juga.

"Dengan ini," sahut Rara Asih seraya menunjukkan kalung yang melingkar lehernya.
"Taring Harimau...," desis Eyang Purata terbeliak.
"Aku tahu kau mengubur mayat si Cakar Harimau yang kau bunuh di Puncak Gunung Parang ini. Dan kau merasa terusik begitu aku bisa menguasai seluruh wilayah gunung ini, Eyang Purata. Lalu kau peralat muridmu sendiri dengan menyebarkan berita bohong kalau murid dungu mu itu adalah si Cakar Harimau. Tapi jangan harap bisa mengelabui aku, Eyang Purata. Kau memang boleh berbangga bisa mengelabui guru ku si Setan Kobra Betina tapi tidak terhadapku.

Hhh! Aku tidak punya waktu banyak untuk mu. Sebaiknya, serahkan saja-Cakar Harimau itu padaku!"
"Sudah kukatakan, benda itu tidak ada padaku!" bentak Eyang Purata.
"Kau memang harus mampus, Orang Tua...! Serang...!"

Maka, seketika orang-orang berbaju merah segera menyerang Eyang Purata. Bagaikan kilat, laki-laki tua berjubah putih itu melompat, mencoba menghadang orang-orang berbaju merah yang hendak menyerangnya. Namun demikian, Rara Asih masih juga mengibaskan tangan kirinya.

Slap!

Beberapa buah benda halus seperti jarum berwarna merah, meluncur deras ke arah Eyang Purata. Serangan dengan cara membokong ini membuat laki-laki tua itu terkejut Cepat tubuhnya diputar, menghindari jarum-jarum merah yang sangat halus itu.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Sambil berjumpalitan di udara, Eyang Purata mengebutkan kedua tangannya. Dicobanya untuk menghalau jarum-jarum merah itu. Sementara Suci juga sudah sibuk menghadapi sekitar dua puluh orang berpakaian serba merah yang bersenjatakan tongkat pendek berbentuk ular kobra hitam.

"Curang...!" geram Eyang Purata begitu bisa terlepas dari serbuan jarum-jarum merah mengandung racun yang dilepaskan Rara Asih.

"Mampus kau, Perempuan Iblis! Hiyaaat..!"

Eyang Purata langsung meluruk deras menyerang Rara Asih. Namun sebelum sampai pada wanita cantik itu, orang-orang berbaju merah yang memang sudah siap sejak tadi segera berlompatan menghadang. Hal ini membuat Eyang Purata semakin geram saja. Segera dikerahkannya jurus-jurus ampuh dan dahsyat untuk menghalau orang-orang berbaju merah yang sema banyak meluruk ke arahnya.

"Setan keparat..! Hiyaaat..!"

Bagaikan seekor banteng yang terluka, Eyang Purata mengamuk, dengan hati dihinggapi kemarahan yang amat sangat. Laki-laki tua itu benar-benar marah, karena Rara Asih telah membongkar rahasia yang telah ditutup rapat-rapat selama beberapa tahun ini. Sebuah rahasia yang mengatakan kalau Suci adalah si Cakar Harimau. Padahal, tokoh itu telah lama mati. Sementara itu, Bayu yang menyaksikan kecurangan dan ketidakadilan dari cara pertarungan ini, tidak bisa tinggal diam begitu saja. Namun sebelum pendekar muda ini dapat bergerak, orang-orang berbaju merah sudah lebih dahulu berlompatan merangsek.

"Hiyaaa...!"

Memang tidak ada pilihan lain lagi bagi Pendekar Pulau Neraka. Mau tak mau Bayu harus menguras tenaga juga, menghadapi orang-orang yang sepertinya tidak mengenal rasa jera dan takut ini. Melihat mereka bersungguh-sungguh hendak membunuhnya, Bayu tidak bisa lagi bermain-main. Maka dikerahkannya jurus-jurus ampuh dan dahsyat. Setiap pukulan dan tendangan yang dilontarkan, mengandung kekuatan tenaga dalam sempurna. Kembali Puncak Gunung Parang ini dipecahkan jerit dan pekik pertempuran yang berbaur dengan jeritan menyayat. Dentingan senjata beradu, mewarnai pagi yang seharusnya indah untuk dinikmati. Satu pertarungan yang tidak seimbang sama sekali. Tiga orang harus menghadapi ratusan orang bersenjata tongkat pendek.

"Ha ha ha...!"

***

Suara tawa Rara Asih mendadak terhenti ketika tiba-tiba saja orang-orangnya terlihat jadi kalang kabut. Dia mendengus geram begitu menyaksikan dari arah bagian luar, anak buahnya berhamburan seperti daun tertiup angin.

"Keparat..!" desis Rara Asih geram. Keadaan yang kacau ini, rupanya juga diketahui Pendekar Pulau Neraka. Dan pemuda berbaju kulit harimau ini bisa menarik napas lega, melihat orang-orang berpakaian prajurit memporak-porandakan anak buah Rara Asih.

"Hiyaaa...!"

Bayu tidak mempedulikan dari mana para prajurit itu datang. Yang penting, dia punya kesempatan baik untuk bisa mendekati perempuan cantik berhati iblis itu. Dengan sekali lompatan saja, Pendekar Pulau Neraka bisa mencapai tempat Rara Asih berdiri.

"Sudah saatnya kau berhadapan denganku, Rara Asih," desis Bayu.

"Phuih!" Rara Asih menyemburkan ludahnya. Mendadak saja wanita itu bergerak cepat, dan tahu-tahu sudah memberi satu serangan kilat terhadap Pendekar Pulau Neraka. Sejenak Bayu terperangah, namun cepat dia berkelit untuk menghindari serangan yang dilancarkan wanita cantik berbaju merah ini.

"Mampus kau! Hiyaaa...!"

Kemarahan Rara Asih semakin memuncak manakala sempat melihat orang-orangnya semakin berantakan tidak beraturan lagi. Bahkan kini dari segala arah, bermunculan orang-orang berpakaian seragam prajurit yang langsung menyerang dan memporakporandakan anak buahnya.

"Yeaaah...!"

Mendadak saja Bayu berteriak keras sambil memberi satu pukulan keras menggeledek ke arah dada. Begitu cepatnya pukulan yang dilontarkan, sehingga membuat Rara Asih tidak sempat lagi menghindar. Dan pukulan pemuda berbaju kulit harimau itu tepat menghantam dadanya.

Deghk!
"Heh...?!"

Bukan main terkejutnya Pendekar, Pulau Neraka tatkala pukulannya tepat mengenai dada Rara Asih. Tangannya terasa seperti memukul segumpal karet yang kenyal, sehingga berbalik.

"Ha ha ha...!" Rara Asih tertawa terbahak-bahak.

Bayu langsung teringat kata-kata Eyang Purata. Gadis ini memang sukar dikalahkan, kecuali dengan Cakar Harimau. Teringat hal itu, Bayu ingin mencoba kekebalan gadis ini. Segera tubuhnya dimiringkan dan agak membungkuk sedikit Lalu sambil berteriak keras, tangan kanannya mengibas ke depan. Cakra Maut yang sudah menempel kembali di pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka, seketika melesat cepat bagaikan kilat menerjang Rara Asih. Namun gadis itu menyambutnya dengan senyuman, dan sedikit pun tidak mencoba menghindar. Sehingga telak sekali Cakra Maut menghantam dadanya. Namun apa yang terjadi...?

"Edan...!" dengus Bayu hampir tidak percaya. Senjata andalan Pendekar Pulau Neraka terpental balik begitu menghantam dada Rara Asih, lalu kembali menempel di pergelangan tangan pemiliknya. Sejenak Bayu tertegun melihat wanita itu masih berdiri tegar. Padahal tadi jelas sekali kalau dadanya tersambar Cakra Maut milik Pendekar Pulau Neraka.

"Dia bukan lawanmu, Kisanak..."

Pendekar Pulau Neraka terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara halus dari arah belakang. Dia memang sedang tertegun pada kekebalan Rara Asih sehingga sampai tidak menyadari kalau ada seorang gadis lain berdiri di belakangnya. Gadis itu berparas cantik, mengenakan baju warna merah muda. Dia melangkah maju melewati Pendekar Pulau Neraka.

"Kau akan mampus dengan ini...!" dengus gadis itu seraya mengeluarkan sebuah benda berbentuk sebuah kaki seekor harimau, dari balik lipatan bajunya.

"Heh...?!" Rara Asih tampak terkejut. Begitu terkejutnya, hingga sampai terlompat dua tindak ke belakang. Rara Asih seperti tidak percaya melihat benda yang tergenggam di tangan gadis di depannya. Namun sebelum sempat melakukan sesuatu, gadis itu sudah melompat menyerangnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Namun Rara Asih bukanlah wanita kosong yang mudah menyerah begitu saja. Dengan satu gerakan ringan dan cepat, serangan itu bisa dielakkan. Bahkan mampu memberi serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Sementara Bayu jadi bengong dan hanya menyaksikan saja. Dia pernah melihat gadis itu. Kini Bayu ingat, kalau pernah melihatnya di kedai Ki Karta.

"Aku yakin, dia pasti Intan..." gumam Bayu dalam hati. Dan dugaan Pendekar Pulau Neraka memang tepat Gadis itu memang Intan, yang baru saja sampai ke Puncak Gunung Parang ini bersama Seta dan Darmasaka. Dan kini, dua pemuda itu langsung terjun dalam kancah pertempuran. Sedangkan Intan sendiri, menghadapi Rara Asih.

"Yeaaah...!"

Mendadak saja Rara Asih cepat memutar tubuhnya. Begitu cepatnya, sehingga Intan tidak sempat menyadari apa yang dilakukan wanita itu. Dan tahu-tahu....

"Akh..." Intan memekik keras. Bayu yang sejak tadi selalu memperhatikan, jadi terkejut juga melihat Rara Asih berhasil mendaratkan satu pukulan keras ke dada Intan. Akibatnya, gadis itu terhuyung ke belakang. Cakar Harimau yang berada di dalam genggaman tangannya, terpental ke udara.

"Hiyaaa...!"

Bergegas Bayu melentingkan tubuhnya, mengejar benda yang bisa dijadikan senjata maut itu. Cepat sekali lesatan Pendekar Pulau Neraka. Dan sebelum Rara Asih maupun Intan menyadari, Bayu sudah berhasil menangkap Cakar Harimau. Pendekar Pulau Neraka kembali meluruk cepat ke bawah.

"Yeaaah...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bayu segera menyerang Rara Asih. Hal ini membuat wanita itu terkejut setengah mati. Cepat-cepat wanita itu melompat mundur, menghindari serangan yang dilancarkan Bayu Namun Pendekar Pulau Neraka tidak memberi kesempatan lagi, dan terus mencecar dengan jurus-jurus yang dahsyat dan berbahaya. Sementara Bayu kini tengah bertarung dengan Rara Asih, di tempat lain pun pertarungan juga masih terus berlangsung. Tampak Eyang Purata, Suci, Seta dan Darmasaka bahu membahu bersama prajurit untuk menghancurkan anak buah Rara Asih. Dan tampaknya, prajurit itu berasal dari Kerajaan Galagong. Lalu bagaimana para prajurit itu bisa datang ke Puncak Gunung Parang?

Ini berkat Ki Gandul, Kepala Desa Malanapa. Laki-laki gendut itu, begitu mendapat surat dari Eyang Purata yang dititipkan pada Suci, segera pergi ke Kerajaan Galagong. Memang, Desa Malanapa masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Galagong. Ki Gandul sengaja tidak menceritakan seluruh isi surat kepada Suci, agar tugas yang diemban gadis itu tidak berantakan di tengah jalan. Tugas itu adalah memancing keluar Rara Asih dan gerombolannya dari tempat persembunyian mereka di Gunung Parang. Dan pada kenyataannya, gerombolan itu telah keluar. Bahkan sekarang, boleh dibilang hampir terdesak. Terlihat jelas kalau orang orang berbaju merah itu semakin terdesak saja. Bahkan tidak sedikit yang melarikan diri, mencari selamat, dan tidak sedikit pula yang tewas berlumuran darah.

"Jebol...!" tiba-tiba Bayu berseru keras. Seketika itu juga, Pendekar Pulau Neraka memberi satu sodokan tangan kiri ke arah dada Rara Asih. Tapi manis sekali gadis itu berhasil menghindarinya. Namun tanpa diduga sama sekali, Bayu menghentak kan tangan kanannya tanpa menarik pulang tangan kiri.

"Uts...!"

Rara Asih terkejut bukan main Buru-buru tubuhnya diegoskan ketika Cakra Maut melesat cepat bagaikan kilat mengincar tubuhnya. Namun begitu senjata itu lewat, tanpa diduga sama sekali Bayu sudah mengibaskan kembali tangan kanan yang menggenggam Cakar Harimau.

"Yeaaah...!"
"Ikh...!"
Bret!

Rara Asih hanya bisa mendelik, dan tak sempat lagi menghindar. Wanita cantik itu memekik agak tertahan ketika ujung Cakar Harimau menyobek bahu kanannya. Dan sebelum sempat disadari apa yang terjadi, Bayu sudah kembali menyodokkan Cakar Harimau tepat ke arah dada. Begitu cepatnya sodokan yang dilakukan Pendekar Pulau Neraka. Dan itu membuat Rara Asih tidak sempat lagi berkelit menghindar. Dan....

Bres!
"Aaa...!"

Satu jeritan panjang melengking tinggi mengiringi kematian wanita cantik itu. Cakar Harimau terbenam dalam di dada. Darah langsung merembes deras sekali. Bayu melepaskan genggamannya pada Cakar Harimau itu, begitu tubuh Rata Asih ambruk ke tanah.

"Hhh...!" Bayu menghembuskan napas panjang. Sebentar Pendekar Pulau Neraka mengedarkan pandangannya berkeliling. Senyumnya sedikit tersungging ketika melihat anak buah Rara Asih mulai berlarian begitu mengetahui pemimpinnya tewas. Namun para prajurit Kerajaan Galagong tidak membiarkannya begitu saja. Sebagian langsung mengejar, dan sebagian lagi tetap tinggal. Eyang Purata, Seta dan Darmasaka bergegas menghampiri Intan. Orang tua itu membungkuk dengan merapatkan kedua tangan di depan dada, diikuti Seta dan Darmasaka. Suci yang melihat guru dan kakak-kakak seperguruannya bersikap begitu, jadi keheranan.

"Suci, beri hormat pada Gusti Ayu," perintah Eyang Purata.
"Gusti Ayu...?" Suci tidak mengerti.
"Ah, sudahlah. Tidak perlu bersikap demikian. Sebaiknya kita kembali saja ke padepokan. Biarkan prajurit-prajurit yang mengurus mereka," ujar Intan seraya tersenyum.

Mereka kemudian melangkah pergi. Suci tetap ingin meminta penjelasan tentang diri Intan. Dengan singkat Eyang Purata menjelaskan kalau Intan adalah putri bungsu dari Raja Kerajaan Galagong yang menuntut ilmu padanya. Dan sebenarnya, Intan memang telah diselamatkan Eyang Purata. Gadis itu dititipkan pada Ki Gandul. Dia ditunggui oleh Seta dan Darmasaka di rumah kepala desa itu Dan ternyata bingkisan yang diberikan pada Ki Gandul itu berisi Cakar Harimau. Pusaka itu rencananya memang akan digunakan untuk menghabisi riwayat Rara Asih.

Sementara itu Bayu memandangi mereka sebentar seraya tersenyum tipis. Kemudian dengan cepat melesat pergi. Begitu cepat dan sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Sehingga dalam sekejap saja bayangan tubuh Pendekar Pulau Neraka sudah lenyap seperti ditelan bumi.



SELESAI
Thanks for reading Cakar Harimau I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »