Cerita Mudik Lebaran 2016

Cerita mudik lebaran 2016 - Semenjak merantau saya rutin mudik ke kampung halaman saya di Lampung Utara. Salah satu daya tarik yang membuat saya rajin mudik adalah tradisi lebaran khas kampung saya. Selain itu, makanan khas lebaran juga bikin saya sering kangen untuk mudik.

Biarpun saya berada jauh di tanah rantau, tapi saya selalu kangen ingin pulang ke Lampung, setidaknya setahun sekali, yaitu saat musim mudik lebaran.

Mudik Dengan Sepeda Motor
Dulu waktu awal merantau, saya belum punya motor, saya pun mudik menggunakan bis. Saat itu saya mempunyai impian bahwa suatu saat saya bisa mudik dengan sepeda motor (kata teman saya, mudik menggunakan motor mengasyikkan).

Saya membayangkan mudik dengan motor itu asyik, menyenangkan, dan serasa menjadi petualang sejati, tidak seperti mudik dengan bis yang terkesan cemen, karena sepanjang jalan cuma duduk doang, lalu sampai. Berbeda dengan mudik pakai sepeda motor, penuh perjuangan. Ketika di kampung pun, motor bisa digunakan untuk alat transportasi mengunjungi kerabat untuk bersilaturrahmi.

Beberapa tahun bekerja, akhirnya saya kesampaian membeli motor, dan saya gunakan untuk mudik. Persiapannya cukup mudah, dua hari sebelum mudik, motor di servis di bengkel langganan, tidak lupa untuk mengganti oli dengan oli yang cocok untuk perjalanan jauh. Begitu juga saat balik, ganti oli adalah wajib, untuk menjaga mesin tetap awet.

Selama merantau saya tidak pernah absen mudik. Makin mendekati lebaran, keinginan mudik makin kuat. Karena bekerja sebagai karyawan pabrik dan bagian produksi, jatah libur saya sangat mepet mendekati hari H. Orang lain sudah mudik, saya masih sibuk closing kerjaan.

Untuk mengobati rasa yang bergejolak, setiap malam saya sering menghibur diri dengan nongkrong di warung kopi pinggir jalan melihat lalu lalang kendaraan yang hendak mudik. Melihat mereka saja rasanya sudah senang merasakan uforia mudik.

Selain ingin berlebaran dengan keluarga di kampung, mudik juga membawa kenangan tersendiri, dari mulai kenangan sahur dan berbuka di jalan, meneduh di pinggir jalan saat kehujanan, hingga kenangan selama berlebaran di kampung.

TANGERANG - MERAK
Ini cerita perjalanan saya saat mudik lebaran menggunakan sepeda motor. Sebelum berangkat tak lupa saya berdo’a terlebih dahulu agar diberi kelancaran dalam perjalanan. Jam 19:00 WIB, saya berangkat dari Cikupa, Tangerang menuju Merak, lama tempuh perjalanan kurang lebih sekitar 2 jam.

MERAK - BAKAUHENI
Jam 21:00 WIB, Saya sampai di Merak, setelah mengisi bahan bakar di SPBU dan langsung bergegas ke pelabuhan untuk membeli tiket penyeberangan Merak-Bakauheni. Setelah itu segera menuju dermaga yang saat itu cukup ramai oleh kendaraan yang mengantri di depan kapal ferry yang sedang membongkar muatan. Disini tampak sekali keunggulan motor yang tidak perlu antri karena bisa menyodok langsung ke depan.

Setelah masuk kedalam kapal dan memarkir sepeda motor. Sasaran saya selanjutnya adalah menemukan ruangan yang nyaman untuk beristirahat. Beruntung masih mendapatkan ruang lesehan sehingga menjamin bisa tidur dengan nyenyak selama pelayaran.

BAKAUHENI - LAMPUNG TENGAH
Pukul 24.30 WIB, Kapal memasuki perairan Bakauheni Lampung. Sebelum meninggalkan kapal, saya sempatkan kembali berdoa supaya dilancarkan dalam perjalanan dan selamat sampai kampung halaman.

Pukul 01.00 WIB, Begitu kapal sandar di dermaga, saya segera keluar dari pelabuhan Bakauheni, Lampung. Selanjutnya perjalanan pun saya lanjutkan kembali ikut konvoi dengan pemudik lainnya.

Rute perjalanan yang saya lalui adalah Bakauheni, Bandar Lampung dan Lampung Tengah. Adapun kondisi jalan cukup baik dan mulus, selanjutnya adalah menikmati kebebasan. Bisa dikatakan jalan yang saya lintasan ini meskipun tidak terlalu lebar namun kondisinya cukup bagus dan mulus sehingga berbahaya.

Kenapa?

Karena aspalnya yang mulus, jalanan yang terbuka dan lalu lintasnya yang masih sepi, pasti mengoda siapa pun untuk memacu motor. Namun semua itu bisa berubah ketika menemukan tikungan tajam. Jadi tetap harus berhati-hati.

LAMPUNG TENGAH - BUKIT KEMUNING
Jam 03.45 saya mampir di SPBU Wates, Lampung Tengah untuk mengisi bahan bakar dan sahur. Setelah mengisi bahan bakar dan sahur, jam 04.15 WIB perjalanan pun dilanjutkan kembali rute Wates Lampung Tengah menuju Kotabumi, Bukit Kemuning, untuk kondisi jalannya mulus dan baik, dengan jalan cukup lebar. Kepadatan untuk arus mudik tidak begitu ramai sehingga perjalanan cukup menyenangkan.

Jam 07.00 WIB, Saya tiba di Bukit Kemuning. Ah, lega rasanya setelah sampai di Bukit kemuning.

Di Bukit Kemuning saya berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Setelah selesai membeli oleh-oleh, saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke kampung halaman saya yang berjarak tempuh kurang lebih 12 km.

Jam 07.30 saya melanjutkan perjalanan menuju kampung, Alhamdulillah jam 08.00 akhirnya sampai juga dirumah. Cukup melelahkan, tapi tergantikan ketika bisa berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara.

Cerita mudik lebaran 2016


  • Kegiatan menyambut lebaran dikampung
Orang kampung akan antusias menyambut datangnya lebaran. Para laki-laki akan bersih-bersih rumah, sedangkan yang perempuan akan membuat aneka kue untuk lebaran.

Kegiatan menyambut lebaran dilakukan secara gotong royong, disitulah letak keunikannya, yang membuat cerita mudik lebaran dikampung halaman selalu berkesan.


  • Tradisi Bagi THR
Tradisi bagi-bagi THR tidak hanya milik kaum pekerja saja, saat mudik pun, saya ada tradisi bagi-bagi THR. Pas lebaran, saya akan memberi uang THR kepada keponakan dan anak saudara yang bersilaturrahmi kerumah, tujuannya sich supaya si anak rajin silaturrahmi. Untuk anak yang berprestasi di sekolah, saya biasanya akan kasih lebih, untuk memberi support ke mereka agar semakin rajin belajar.

Melihat senyum manis mereka saat menerima uang THR, rasanya hati ini plong karena bisa membahagiakan mereka meski hanya di momen lebaran dan mudik doang.

Dulu waktu kecil juga saya sering dikasih uang oleh paman dan uwak, sekarang saat saya sudah bekerja, giliran saya meneruskan tradisi mereka. Itu yang membuat mudik saya berkesan.


  • Halal bi Halal, Momen Terindah
Tak lengkap rasanya mudik lebaran di kampung tanpa halal bi halal. Kalau sudah ikut acara halal bi halal rasanya mudik jadi komplit, karena sudah ketemu dengan seluruh keluarga besar, kami akan saling berbagi cerita tentang pengalaman merantau, cerita kabar keluarga, mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, dan juga dimanfaatkan sebagai ajang sharing.


  • Ketupat Lebaran
Opor ayam dan rendang serta ketupat adalah makanan khas lebaran di kampung halaman saat mudik. Menjelang lebaran, dirumah selalu disibukkan dengan membuat ketupat lebaran, bahannya dari janur atau daun muda pohon kelapa yang dianyam sedemikian rupa, setelah jadi, anyaman janur akan diisi dengan beras yang sudah dicuci, kemudian akan direbus dengan air mendidih sampai matang dan berwujud ketupat lebaran.

Bagi yang belum biasa, membuat bungkus ketupat dari janur sungguh ribet, namun sialnya, hingga detik ini saya belum juga becus bikin ketupat, tapi untung punya adik yang pinter bikin, jadi tidak harus beli atau nyuruh tetangga, he he

Di hari lebaran, sanak saudara saling kirim makanan, utamanya ketupat dan opor serta rendang. Yang lebih muda mendatangi rumah saudara yang lebih tua. Kalau sudah begini, hubungan silaturrahmi semakin kuat. Itu yang membuat lebaran dikampung tambah berkesan.

Akhirnya ( walaupun agak terlambat :D ), di momen Idul Fitri ini, ijinkan saya meminta maaf pada Anda semua. Minal aidin wal faizhin, mohon maaf lahir dan batin.

Selamat hari raya Idul fitri 1437 Hijriyah.



Pelabuhan Bakauheni Lampung


Kapal ferry


Saat pelayaran mudik


Panorama selat sunda


Silaturahmi bapak-bapak


Suasana lebaran di rumah

Thanks for reading Cerita Mudik Lebaran 2016 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »