Social Items

Bagi saya, bulan Juni adalah bulan yang istimewa. Betapa tidak, lembaran hari di bulan ini dibuka dengan peringatan lahirnya Pancasila, dilanjutkan dengan Hari anak-anak sedunia dan disusul kemudian dengan hari lahir saya, 10 Juni.

Mungkin itulah sebabnya, Bulan Juni (bagi saya) selalu menebarkan aroma optimisme. Juga harapan-harapan.

Saya masih bisa mengingat dengan baik, dulu, saat masih duduk di bangku sekolah, bulan ini merupakan bulan kenaikan kelas. Ada satu sensasi untuk belajar lebih giat, setidaknya dengan sebuah penyemangat bahwa itu akan menjadi kado indah ulang tahun saya.

Ya, apalagi yang bisa dibanggakan dari seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana, selain itu. Saat ini semangat itu juga masih terus menggelora, meski dengan skala yang berbeda.

Harapan Di Bulan Juni

Apa impian dan harapan saya?

Buat saya ini adalah pertanyaan besar. Sulit untuk merumuskan secara konkret, setidaknya ketika saya menulis posting ini.

Dalam banyak hal, saya menyadari bahwa jalan hidup yang saya tempuh tidak terencana dengan baik. Saya cenderung melakukan apa yang ingin saya lakukan, bukan apa yang penting dan harus saya lakukan. Tolak ukurnya bukan pada pentingnya agenda, tetapi pada apa yang saya sukai.

Hasilnya?

Bisa ditebak. Saya seperti tidak memiliki target yang jelas. Hanya menyelesaikan apa yang ada di depan mata, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menggali setiap potensi yang ada dalam diri saya. Saya seringkali mengejar kesenangan-kesenangan, yang ternyata adalah semu.

Saya larut dalam mimpi-mimpi, dan ketika terjaga baru menyadari banyak hal yang terbengkalai. Banyak janji yang tidak bisa saya tepati, banyak capaian yang biasa-biasa saja, padahal saya percaya punya kemampuan lebih untuk membuatnya menjadi sempurna.

Minggu malam kemarin, dalam perjalanan pulang sehabis mengikuti satu kegiatan di sekretariat DPC SBSI 1992 Kabupaten Tangerang, saya menemukan titik balik itu. Saat itu, saya seperti tersadarkan bahwa ada yang salah dalam diri saya. Saya seperti menemukan kembali jalan besar yang mengarah pada cita-cita yang sejak dulu saya idam-idamkan. Selama ini saya terlalu asyik menyusuri jalanan setapak, yang justru membuat saya semakin menjauh dari tujuan.

Tentu saja, harapan saya, setelah ini saya bisa lebih fokus pada hal-hal besar. Mengerjakan sesuatu yang harus saya lakukan, bukan apa yang ingin saya lakukan.

Harapan Di Bulan Juni

Bagi saya, bulan Juni adalah bulan yang istimewa. Betapa tidak, lembaran hari di bulan ini dibuka dengan peringatan lahirnya Pancasila, dilanjutkan dengan Hari anak-anak sedunia dan disusul kemudian dengan hari lahir saya, 10 Juni.

Mungkin itulah sebabnya, Bulan Juni (bagi saya) selalu menebarkan aroma optimisme. Juga harapan-harapan.

Saya masih bisa mengingat dengan baik, dulu, saat masih duduk di bangku sekolah, bulan ini merupakan bulan kenaikan kelas. Ada satu sensasi untuk belajar lebih giat, setidaknya dengan sebuah penyemangat bahwa itu akan menjadi kado indah ulang tahun saya.

Ya, apalagi yang bisa dibanggakan dari seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana, selain itu. Saat ini semangat itu juga masih terus menggelora, meski dengan skala yang berbeda.

Harapan Di Bulan Juni

Apa impian dan harapan saya?

Buat saya ini adalah pertanyaan besar. Sulit untuk merumuskan secara konkret, setidaknya ketika saya menulis posting ini.

Dalam banyak hal, saya menyadari bahwa jalan hidup yang saya tempuh tidak terencana dengan baik. Saya cenderung melakukan apa yang ingin saya lakukan, bukan apa yang penting dan harus saya lakukan. Tolak ukurnya bukan pada pentingnya agenda, tetapi pada apa yang saya sukai.

Hasilnya?

Bisa ditebak. Saya seperti tidak memiliki target yang jelas. Hanya menyelesaikan apa yang ada di depan mata, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menggali setiap potensi yang ada dalam diri saya. Saya seringkali mengejar kesenangan-kesenangan, yang ternyata adalah semu.

Saya larut dalam mimpi-mimpi, dan ketika terjaga baru menyadari banyak hal yang terbengkalai. Banyak janji yang tidak bisa saya tepati, banyak capaian yang biasa-biasa saja, padahal saya percaya punya kemampuan lebih untuk membuatnya menjadi sempurna.

Minggu malam kemarin, dalam perjalanan pulang sehabis mengikuti satu kegiatan di sekretariat DPC SBSI 1992 Kabupaten Tangerang, saya menemukan titik balik itu. Saat itu, saya seperti tersadarkan bahwa ada yang salah dalam diri saya. Saya seperti menemukan kembali jalan besar yang mengarah pada cita-cita yang sejak dulu saya idam-idamkan. Selama ini saya terlalu asyik menyusuri jalanan setapak, yang justru membuat saya semakin menjauh dari tujuan.

Tentu saja, harapan saya, setelah ini saya bisa lebih fokus pada hal-hal besar. Mengerjakan sesuatu yang harus saya lakukan, bukan apa yang ingin saya lakukan.