Social Items


Surat Cinta untuk kekasih di surga

Sayang...
Kuharap kamu tidak sedang terkejut membaca tulisanku ini.

Aku memutuskan untuk menulis surat untuk mu. Aku yakin, kamu akan bisa membaca suratku ini selain mendengar doaku, meskipun aku kurang begitu yakin apakah ada internet di surga.

Sayang...
Saat menulis surat ini, aku baru saja kembali dari perjalanan pulang dari tempat kerja...

Aaahh...tubuhku rasanya letih sekali, tapi tak menghapuskan niatku untuk menulis surat cinta untuk mu...

Oh ya...kamu tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan sore tadi di jalan. Jadi tak perlu kamu pasang muka cemberut mu, sambil tetiba mencubit pinggangku, dan memaksa ku untuk makan, seperti yang sering kamu lakukan dulu...

Sebulan yang lalu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah tulisan di buku diary mu yang sempat tertinggal di bagasi motor ku.

Aku baru sadar, kalau ternyata yang kamu tulis adalah ungkapan sayang mu untuk ku jaga sekalipun kamu tak lagi bersama ku.

Aku terus mengulang-ulang ingatan, bagian ketika aku bernyanyi di sebelahmu dengan suaraku yang menurut mu tak ramah lingkungan...

Namun semua nyanyianku, cukup untuk membuat mu tersenyum. Aku tak tau pasti apakah kamu malu atau lucu menahan mulas mu tentang suaraku.

Sayang...
Aku terus mengingat dengan seksama pesan terakhir mu, bagaimana tentang rindu itu kau jaga, ketulusan mu, semacam suplemen yang memberi energi, semua itu sekejap membuatku tertegun membisu dan tanpa kusadari mataku sudah berawan 😢

Aku sungguh merindukan mu!!!

Kamu tahu? Aku selalu bergelut dalam rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh dan bersemi tak tertahan di dalam hatiku.

Tapi aku cukup bahagia dengan itu, walau sekarang aku kesepian. Bahkan, rindulah yang selama ini menyatukan kita dalam angkuhnya waktu, meskipun kamu tak disampingku lagi, disini...

Entah mengapa, aku selalu menahan nafas setiap memanggil mu sayang di surat ini, juga dalam setiap doaku. Belum lagi bayangan wajahmu, yang sepertinya membatu di ingatan ku.

Sering aku membenci pagi, yang selalu memaksaku menyaksikan mu yang tak lagi bisa untuk aku temui.

Sejujurnya, aku lebih suka akan malam, saat aku bisa terpejam dan menemukan mu disana. Kamu muncul teratur seperti darah terhadap jantung, yang berdegup seirama.

Terkadang aku tak yakin dimana aku sedang hidup sekarang, yang aku tahu, aku sedang pada titik dimana semua terlihat samar dan satu-satunya yang ku lihat jelas adalah kamu.

Sayangku...
Sebelum aku beranjak tidur, aku ingin  mengecup kening mu walau sekedar lewat surat ini, mengusap rambut mu hingga kamu terlihat gemas dalam manjamu.

Sayang...
Tak perlu ragu, pejamkan saja matamu, karena aku akan tiba disana dan memeluk mu dengan erat.

Selamat malam, selamat tidur sayang!

Aku masih akan terus menghitung bagian detik yang berkurang satu demi satu sampai kita dipertemukan kembali, nanti...

Surat Cinta Untuk Kekasih Di Surga


Surat Cinta untuk kekasih di surga

Sayang...
Kuharap kamu tidak sedang terkejut membaca tulisanku ini.

Aku memutuskan untuk menulis surat untuk mu. Aku yakin, kamu akan bisa membaca suratku ini selain mendengar doaku, meskipun aku kurang begitu yakin apakah ada internet di surga.

Sayang...
Saat menulis surat ini, aku baru saja kembali dari perjalanan pulang dari tempat kerja...

Aaahh...tubuhku rasanya letih sekali, tapi tak menghapuskan niatku untuk menulis surat cinta untuk mu...

Oh ya...kamu tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan sore tadi di jalan. Jadi tak perlu kamu pasang muka cemberut mu, sambil tetiba mencubit pinggangku, dan memaksa ku untuk makan, seperti yang sering kamu lakukan dulu...

Sebulan yang lalu, tanpa sengaja aku menemukan sebuah tulisan di buku diary mu yang sempat tertinggal di bagasi motor ku.

Aku baru sadar, kalau ternyata yang kamu tulis adalah ungkapan sayang mu untuk ku jaga sekalipun kamu tak lagi bersama ku.

Aku terus mengulang-ulang ingatan, bagian ketika aku bernyanyi di sebelahmu dengan suaraku yang menurut mu tak ramah lingkungan...

Namun semua nyanyianku, cukup untuk membuat mu tersenyum. Aku tak tau pasti apakah kamu malu atau lucu menahan mulas mu tentang suaraku.

Sayang...
Aku terus mengingat dengan seksama pesan terakhir mu, bagaimana tentang rindu itu kau jaga, ketulusan mu, semacam suplemen yang memberi energi, semua itu sekejap membuatku tertegun membisu dan tanpa kusadari mataku sudah berawan 😢

Aku sungguh merindukan mu!!!

Kamu tahu? Aku selalu bergelut dalam rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh dan bersemi tak tertahan di dalam hatiku.

Tapi aku cukup bahagia dengan itu, walau sekarang aku kesepian. Bahkan, rindulah yang selama ini menyatukan kita dalam angkuhnya waktu, meskipun kamu tak disampingku lagi, disini...

Entah mengapa, aku selalu menahan nafas setiap memanggil mu sayang di surat ini, juga dalam setiap doaku. Belum lagi bayangan wajahmu, yang sepertinya membatu di ingatan ku.

Sering aku membenci pagi, yang selalu memaksaku menyaksikan mu yang tak lagi bisa untuk aku temui.

Sejujurnya, aku lebih suka akan malam, saat aku bisa terpejam dan menemukan mu disana. Kamu muncul teratur seperti darah terhadap jantung, yang berdegup seirama.

Terkadang aku tak yakin dimana aku sedang hidup sekarang, yang aku tahu, aku sedang pada titik dimana semua terlihat samar dan satu-satunya yang ku lihat jelas adalah kamu.

Sayangku...
Sebelum aku beranjak tidur, aku ingin  mengecup kening mu walau sekedar lewat surat ini, mengusap rambut mu hingga kamu terlihat gemas dalam manjamu.

Sayang...
Tak perlu ragu, pejamkan saja matamu, karena aku akan tiba disana dan memeluk mu dengan erat.

Selamat malam, selamat tidur sayang!

Aku masih akan terus menghitung bagian detik yang berkurang satu demi satu sampai kita dipertemukan kembali, nanti...