Delapan Surat Kematian



Serial Cerita Silat Mahesa Kelud Karya Alm. Bastian Tito
Hak Cipta dan Copyright Milik Alm. Bastian Tito.




Assalamualaikum Wr Wb
Salam kepada semua pembaca setia blog Sonny Ogawa khususnya penggemar Cerita Silat Karya Alm. Bastian Tito.

Kali ini Admin akan share Cersil Mahesa Kelud sesuai permintaan Gilang Andrean.

Dan tidak lupa juga Admin ucapkan terimakasih kepada Kakek Segala Tahu Dan Dunia Abu Keisel atas Ebooknya.

Selamat membaca..!


Mahesa Kelud


MAHESA KELUD
PEDANG SAKTI KERIS ULAR EMAS
KARYA: BASTIAN TITO

DELAPAN SURAT KEMATIAN


SATU

REMBULAN di angkasa serta merta lenyap dari pemandangan begitu kelompok awan gelap tebal menutupinya. Malam menjadi semakin gelap, udara tambah dingin, demikian dinginnya sehingga terasa sampai menyusup ke tulang-tulang sum-sum. Awan gelap makin banyak, langit makin menggelap sedang tiupan angin tambah keras. Panji Ireng hampir-hampir tak dapat melihat jalan yang ditempuhnya. Beberapa kali kakinya terserandung. Setiap kali terserandung setiap kali pemuda tanggung ini memaki dalam hatinya. Dia mempercepat langkah karena tahu bahwa kampungnya masih jauh dan masih harus menyeberangi Kali Brantas di samping itu hari hendak hujan pula. Panji Ireng seorang pemuda tanggung berumur enam belas tahun. Jika melihat kepada perawakan badannya agaknya tak seorang pun akan percaya bahwa dia baru berumur sekian.
Bagaimana tidak, tubuhnya tinggi kekar. Otot-ototnya kuat. Rambutnya hitam sedikit berombak dan tebal. Di bawah kedua alis matanya terdapat sepasang mata yang tajam. Hidungnya tinggi sedang bibirnya tipis panjang. Bibir yang tipis panjang ini serta mata yang tajam cukup memberikan gambaran bahwa Panji Ireng seorang yang berhati keras. Panji seorang anak petani miskin di kampung Sariwangi yang terletak di seberang timur Kali Brantas. Malam itu dia habis melihat pertunjukan wayang kulit di desa tetangga. Panji Ireng memang seorang paling suka pada pertunjukan seperti itu. Walau di mana pun tempatnya, walau  bagaimanapun jauhnya, tapi bila mendengar ada wayang maka dia pasti akan pergi ke sana. Apalagi kalau diketahuinya cerita wayang bagus serta Ki Dalang yang membawakannya Ki Dalang kesayangannya, biar sakit biar udara buruk, dia pasti pergi juga.
Tapi yang sekali itu, entah mengapa selewatnya tengah malam Panji Ireng merasa matanya sangat mengantuk. Hatinya tidak enak dan ingatannya selalu kepada pulang. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya awan gelap berkelompok-kelompok tanda hari akan hujan. Panji Ireng menguap dan mulai berpikir-pikir untuk pulang. Tapi dia ingat akan pantangan bagi seorang yang menonton pertunjukan wayang yaitu bila hendak pulang harus sebelum tepat tengah malam.
Bila pulang sesudah tengah malam pasti orang yang pulang itu akan mengalami apa-apa yang tidak baik di tengah jalan. Hati pemuda itu menjadi bimbang. Pulang atau tidak? Kakinya terasa pegal, mata memberat dan dia menguap lagi untuk kesekian kalinya. Akhirnya tarikan pulang tak bisa ditahannya. Panji Ireng menyeruak di antara orang banyak dan meninggalkan tempat pertunjukan. Pada saat dia mencapai kali, kilat yang pertama menyambar disusul oleh suara gelegar guruh seperti hendak memecahkan anak telinga. Angin kencangnya bukan main tak ubahnya seperti suara ratusan seruling yang ditiup secara bersamaan. Guruh menggelegar lagi tanpa didahului oleh kilat, membuat Panji Ireng jadi terkejut sehingga bulu tengkuknya merinding. Di dalam kegelapannya malam, diantara gemuruh suara guruh dan kilat petir yang sambung-menyambung pemuda itu menyusuri tepi kali, mencari rakit penyeberang. Di Kali Brantas, dalam jarak-jarak tertentu biasanya terdapat rakit-rakit untuk menyeberang. Panji Ireng sampai ke bagian kali di mana tertambat sebuah rakit kecil. Dia meluncur di tebing kali dan naik ke atas rakit. Pada saat kakinya menginjak bambu-bambu rakit tersebut barulah diketahuinya betapa derasnya arus air kali saat itu. Kakinya bergetar. Dengan susah payah dilepaskannya tali tambatan rakit. Rakit bergoyang keras dilanda arus sungai. Sementara itu seperti dicurahkan dari langit layaknya hujan pun mulai turun sangat lebatnya. Dalam beberapa detik saja seluruh pakaian dan tubuh Panji Ireng sudah basah kuyup.
Pemuda ini menggigil kedinginan. Dipegangnya tali rakit penyeberang yang menghubungkan tepi kali dengan tepi lainnya. Diantara gemuruh suara guntur dan kilapan kilat yang menyambar, di bawah hujan lebat, dalam keadaan arus sungai mengamuk gila maka Panji Ireng mulai menarik tali penghubung. Dalam keadaan seperti itu sukar bagi rakitnya untuk bisa bergerak ke seberang. Beberapa lamanya rakit tersebut  berputar-putar  dan  dihempas-hempaskan arus. Sebelum mencapai pertengahan kali tali pengikat rakit dengan tali penghubung putus!
"Celaka!" kata Panji Ireng dalam hatinya. Arus sungai melanda dengan deras membuat rakit di mana dia berada berputar miring. Pemuda itu terpelanting dan jatuh terguling. Untung dia masih sempat memegang tepi rakit, kalau tidak pasti tubuhnya tenggelam ke dasar sungai di telan arus yang mengamuk hebat. Panji Ireng berpegang seerat-eratnya pada bambu itu sementara arus membanting-banting dan melemparkan rakit kian kemari. Panji merasakan urat-urat dan otot-otot tubuhnya menjadi kaku mengejang. Tenaganya semakin berkurang. Pegangannya pada bambu rakit sudah tidak berarti lagi. Akhirnya ketika satu arus keras memukul rakit, Panji Ireng tak punya daya lagi. Pegangannya terlepas. Tubuhnya dipermainkan arus beberapa saat lamanya. Panji menggapai-gapaikan kedua tangannya ke atas dan berteriak minta tolong. Berbuat demikian membuat tubuhnya cepat tenggelam ditelan air sungai dan lagi pula kepada siapa dia akan minta tolong dimalam buta begitu? Ujung bambu rakit yang berputar-putar membentur kepala Panji Ireng.
Tak ampun lagi pemuda ini segera tak sadarkan diri. Tubuhnya mulai tenggelam dan sedetik lagi niscaya segera hilang dari permukaan air. Namun pada detik tegang yang menentukan ini pulalah dari seberang kali meloncat melesat sesosok tubuh yang tak dapat dikenal siapa adanya karena malam begitu gelap dan hujan begitu lebat menghalangi pemandangan. Begitu kedua kakinya menjejak rakit orang ini segera mengulurkan tangan menjangkau dan mencekal tengkuk pakaian Panji Ireng. Dengan satu lompatan yang sangat enteng kemudian dia membawa tubuh Panji Ireng ke seberang sungai!
Melihat bagaimana cara dan kecepatan melompatnya manusia ini, melihat bagaimana dia kemudian membawa Panji Ireng ke tepi sungai dengan satu tangan dan tangan kiri pula, maka siapa pun adanya manusia itu sudah dapat kita ambil kepastian bahwa dia bukan manusia sembarangan, tapi manusia yang punya ilmu tinggi sekali!

***

DUA

PANJI Ireng mulai sadarkan diri. Perlahan-lahan dibukanya kedua matanya. Ternyata saat itu tubuhnya terbaring menelungkup. Dengan memutarkan kedua bola matanya dia coba me mandang berkeliling. Tanah di mana dia terbujur dan tanah di sekelilingnya basah dan becek. Banyak semak belukar serta pepohonan. Kemudian disadarinya bahwa saat itu dia berada di tepi sungai, di tepi Kali Brantas. Pemuda ini menjadi keheran-heranan sendiri memikirkan bagaimana dia bisa sampai berada di situ, dalam keadaan basah kuyup dan di malam yang dingin serta gelap menggidikkan.
Dicobanya mengingat-ingat. Malam itu dia pulang menonton wayang golek di desa tetangga...lalu hari hujan...dia naik rakit menyeberangi sungai...tali rakit putus...dia terpelanting jatuh...kemudian mental ke dalam air... sesudah itu bambu rakit membentur kepalanya membuat dia tidak ingat apa-apa lagi. Lalu mengapa dia kini bisa berada terbaring dalam keadaan seperti itu ditepi sungai? Tak bisa dimengertinya. Mungkin arus sungai telah melemparkannya ke tebing itu? Tidak bisa jadi, pikir Panji Ireng. Atau mungkin ada seseorang yang telah menolongnya? Ini juga suatu hal yang mustahil karena siapa pula manusianya yang malam-malam seperti itu akan berada di sekitar sungai. Kalau pun ada juga mustahil dia bisa menolong. Barangkali... barangkali penghuni sungai yang telah menolongnya?  Setan, iblis, jin, dedemit?! Meskipun udara dingin dan tubuhnya basah kuyup tapi tak urung bulu tengkuk pemuda ini menjadi merinding!
Berpikir-pikir dan mengingat-ingat itu membuat kepalanya menjadi sakit berdenyut-denyut, terutama di bagian yang luka kena benturan rakit. Sementara itu seperti orang mendengar suara petir di liang telinganya maka demikianlah terkejutnya pemuda ini ketika mendadak sontak dia mendengar satu suara halus tapi nyaring disampingnya.
"Bagus... bagus! Kau sudah siuman Panji?
Bagus! Bangkitlah dan duduk!"
Demikian halusnya suara yang tak dikenal ini, Panji Ireng tak dapat memastikan apakah itu suara orang laki-laki atau suara perempuan. Di samping rasa takut yang semakin mencekam Panji Ireng juga kepingin tahu. Ia putar kepalanya dengan perlahan. Pandangannya membentur sepasang kaki yang memakai gelang akar bahar. Kaki ini penuh dengan bulu-bulu kasar. Pandangannya naik ke atas dan mengetahui bahwa orang yang berdiri di sampingnya itu hanya memakai sehelai celana hitam sebatas dengkul. Dadanya terbuka jelas dapat dilihat tulang-tulang iganya bertonjolan tanda bahwa orang itu berperawakan kurus. Akhirnya pandangan Panji Ireng mencapai muka orang tersebut.
Tubuh pemuda belasan tahun itu jadi menggigil. Bukan karena dinginnya udara malam atau basah kuyupnya baju melainkan karena kengerian yang tak bisa dilukiskan ketika dia melihat wajah itu. Manusia tak dikenal bertubuh kurus ini bertampang luar biasa menyeramkan. Telinganya yang ada cuma sebelah kiri sedang yang kanan licin sumpung. Hidungnya sangat besar tapi pesek. Mulutnya kecil runcing, jadi tambah runcing karena kedua pipinya yang cekung. Orang ini tidak berkumis tapi memiliki janggut tebal hitam sampai ke dada. Mukanya penuh dengan kerenyut-kerenyut. Namun apa yang paling menyeramkan dari tampang manusia ini adalah kedua matanya.
Matanya cuma satu yaitu yang sebelah kanan, besar melotot serta berwarna merah. Dalam gelapnya malam Panji Ireng dapat melihat bagaimana mata yang satu itu memandang menyorot kepadanya menyala laksana bara api. Berlainan dengan mata kanan ini maka mata kiri orang itu cuma merupakan satu rongga yang besar dan gelap hitam menggidikkan. Rambutnya gondrong awut-awutan.
"Ya Tuhan... tolong hamba Mu ini..." kata Panji Ireng dalam hati. Kengeriannya tiada terperikan. Dia hendak bangkit dan lari tapi tubuhnya terasa lemah lunglai seakan-akan dia tidak punya tulang-tulang lagi saat itu.
"Celaka! Mati aku... pasti ini setan penghuni sungai! Pasti aku dicekiknya! Tuhan selamatkan aku...."
Panji Ireng merasakan tanah di mana dia terbujur menjadi bergetar ketika dia dengar suara manusia bermuka setan itu berkata dengan keras dan tinggi "Panji Ireng, bangun kataku!" Diantara kengeriannya pemuda itu tak habis mengerti bagaimana manusia di hadapan yaitu bisa tahu namanya.
"Panji Ireng!" bentak si muka setan ketika melihat pemuda tersebut masih saja berbaring menelungkup di tanah. Panji hendak berteriak minta tolong tapi tenggorokannya seperti tersumbat dan lidahnya terasa kelu membatu. Orang dihadapannya dilihatnya menggeserkan kaki kanannya. Sedetik kemudian Panji Ireng merasa adanya sesuatu kekuatan masuk ke dalam tubuhnya. Mula-mula tubuhnya terasa panas. Lalu denyutan sakit di kepalanya yang luka hilang. Sesudah itu kekuatannya perlahan-lahan menjadi pulih seperti sedia kala. Dan anehnya pemuda ini kemudian menggerakkan tubuhnya bangkit.
"Bagus! Duduklah!" kata si muka setan. Panji Ireng dudukkan dirinya di hadapan orang itu. Dia duduk bersila. Meskipun dia tak sanggup menahan kengeriannya tapi kedua matanya tidak berkesip memandang ke wajah yangmenyeramkan itu.
"Berdiri, Panji!"
Si pemuda berdiri. Dia melakukan semua perintah di atas itu seperti orang yang kena sirap.
"Putar tubuhmu ke kiri!" datang lagi perintah dari si muka setan. Mula-mula Panji Ireng tetap tak bergerak tapi sorotan mata kanan yang melotot itu membuat hatinya menjadi gentar dan ia putarkan tubuhnya sebagaimana yang diperintahkan. Kini dia menghadap ke rimba belantara di tepi Kali Brantas sebelah barat. Karena tak biasa mula-mula dalam kegelapan itu kedua matanya hampir tidak melihat apa-apa. Tapi sesaat kemudian pemandangannya mulai terang dan samar-samar dilihatnya sesosok tubuh manusia bersandar ke sebatang pohon beberapa langkah di hadapannya.
"Kau lihat sosok tubuh itu, Panji?" terdengar suara bertanya. Panji Ireng menoleh pada si muka setan dan mengangguk. Kembali dia memutar kepala memandang ke arah sosok tubuh di hadapannya. Dan pada kali inilah untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa tubuh manusia yang di hadapannya itu tidak punya kepala sama sekali!
Bukan main terkejutnya pemuda itu. Lututnya kembali goyah, bulu tengkuknya yang sejak tadi memang sudah merinding jadi tambah merinding. Dia sudah bulat tekad untuk melarikan diri tapi tidak dapat. Satu kekuatan aneh seakan-akan memaku kedua kakinya ke tanah saat itu.
"Buka pakaianmu, Panji!" terdengar lagi perintah si muka setan. Kedua alis mata Panji Ireng menaik. Dia pura-pura tidak mendengar perintah itu.
"Buka pakaianmu, Panji!" datang lagi perintah yang sama untuk kedua kalinya. "Jangan pura-pura jadi tuli!"
Di luar kemauannya, di luar kesadarannya Panji Ireng kemudian membuka kemejanya yang basah kuyup.
"Sekarang buka celanamu!"
Panji Ireng memandang tak mengerti pada si muka setan.
"Celanamu!" bentak si muka setan seraya menunjuk ke celana Panji Ireng dengan tangan kirinya. Saat itu baru si pemuda mengetahui bahwa makhluk yang mengerikan itu tangan kirinya bengkok. Juga di luar kemauan dan kesadarannya Panji Ireng kemudian membuka celananya. Dimalam yang berudara dingin itu dia cuma mengenakan cawat saja kini.
"Cawatmu!"
Nafas Panji Ireng menyesak mendengar perintah yang selanjutnya ini. Hatinya berontak tidak mau mengikuti perintah tersebut. Tapi kekuatan gaib yang menguasai dirinya membuat dia tidak punya daya dan lagi-lagi di luar maunya tangannya mulai membuka cawat yang dikenakannya. Dengan demikian pemuda itu kini menjadi tidak memakai secarik kain pun untuk menutupi tubuhnya alias telanjang bulat.
"Melangkah ke hadapan sosok tubuh yang tersandar di batang pohon itu!" Ini adalah perintah selanjutnya dari manusia bermuka setan. Panji Ireng menurut patuh. Saat itu dengan masih memegangi pakaiannya yang tadi dibuka dia langkahkan kakinya ke muka. Satu langkah di hadapan sosok tubuh tanpa kepala atau jelasnya mayat tanpa kepala Panji menghentikan langkah.
"Buka seluruh pakaian mayat itu, Panji!"
Berdiri sedekat itu dengan mayat yang mengerikan membuat Panji seperti mau gila. Seramnya bukan main tapi hendak lari tidak dapat. Jangankan lari membuka mulutnya pun tidak bisa!
"Cepat Panji! Kerjakan perintahku! Nanti hari keburu siang!" kata si muka setan sambil memandang ke langit jurusan timur. Dengan tubuh menggigil si pemuda menjalankan perintah itu. Dia berlutut di hadapan mayat. Dapat dilihatnya dengan jelas leher yang putus penuh dengan gumpalan-gumpalan darah beku. Pada pakaian mayat juga terdapat banyak noda-noda darah. Panji mengulurkan tangannya yang gemetar mulai membuka pakaian si mayat. Dalam keadaan serupa itu sukar untuk membuka bajunya karena tubuhnya tersandar ke batang pohon. Tiba-tiba sosok tubuh itu jatuh tergelimpang ke tanah! Panji ikut pula jatuh duduk. Nafasnya memburu, tubuhnya mengejang karena terkejut.
"Ayo Panji! Cepat!"
Satu demi satu Panji Ireng membuka pakaian mayat itu. Kini tubuh mereka sama-sama telanjang. Cuma bedanya yang satu sudah tidak punya kepala dan tak bernafas sedang yang satu masih punya kepala dan masih hidup!
"Selesai?!"
Tanpa menoleh pada si muka setan Panji Ireng menganggukkan kepalanya.
"Bagus! Sekarang pakai olehmu pakaian mayat itu!"
Perintah ini pun diturut oleh si pemuda tanpa bantahan. Pakaian mayat tak dikenal sesuai dengan perawakan tubuhnya, cuma pakaian itu bau busuk dan amisnya darah. Panji berpaling pada si muka setan yang dari tadi tetap berdiri ditempatnya dengan segala keangkerannya.
"Kenakan pakaianmu pada mayat itu."
Perintah ini pun dituruti oleh si pemuda. Begitu selesai terdengar pula perintah si muka setan.
"Berdirilah dan melangkah ke hadapanku!"
Panji Ireng berdiri lalu melangkah ke hadapan manusia angker itu. Berdiri demikian dekatnya lebih jelas betapa mengerikan mukanya. Tak terlihat oleh Panji tiba-tiba si muka setan menggerakkan tangan kirinya yang Bengkok ke arah dada si pemuda. Panji Ireng mengeluh kesakitan. Tubuhnya pada detik yang sama menjadi kaku kejang dan tak sadarkan diri. Dia rebah ke muka dan si muka setan cepat rundukkan tubuhnya sehingga tubuh Panji Ireng jatuh tepat di bahu kirinya. Dengan tubuh Panji Ireng berada di atas pundaknya, si muka setan membuat satu gerakan enteng. Tahu-tahu tubuhnya sudah melesat ke muka dan lenyap di telan kegelapan malam yang hampir mencapai pagi. Bersamaan dengan lenyapnya si muka setan bersama pemuda boyongan maka di kejauhan, di dalam rimba belantara terdengar suara lolongan anjing hutan yang mengerikan.

***

TIGA

KAMPUNG SARIWANGI.... Pada pagi hari itu, belum lagi matahari naik, Pak Ireng sudah kelihatan berdiri di ambang pintu muka pondoknya. Laki-laki ini sudah enam puluh lebih umurnya. Rambut dan kumis bahkan alis matanya sudah memutih. Geraham-gerahamnya tak satu pun lagi yang tinggal. Keseluruhan giginya di barisan sebelah bawah sudah tanggal semua. Cuma dibagian atas masih ada dua buah gigi. Salah satu diantaranya sudah goyah pula. Pak Ireng batuk-batuk beberapa kali, meludah ke tanah lalu memandang ke tepi jalan. Diambilnya sabuk tembakau dan daun kaung. Maka mulailah orang tua ini menggulung rokok. Rokok yang pertama dipagi itu. Baru tiga kali dihisapnya maka di pintu muncullah seorang perempuan. Rambutnya sudah memutih pula sedang mukanya penuh dengan kerut-kerut tanda bahwa dia tak berapa beda umurnya dengan Pak Ireng. Perempuan ini adalah isteri Pak Ireng.
"Pakne, masih belum kelihatan juga dia?"
"Belum," kata Pak Ireng menjawab pertanyaan isterinya. "Tak mengerti aku, ke mana anak itu ngelanturnya." Pak Ireng menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Semalam dia bilang mau pergi melihat wayang kulit di desa Waringin. Mungkin dia menginap di rumah salah seorang kawannya di sana. Bukankah hari hujan lebat semalam?"
"Tapi kalau dia nginap, pagi ini pasti sudah kembali."
"Mungkin dia kepulasan, maklumlah anak seumur dia itu biasanya tukang penidur. Ditambah udara dingin pula," kata Bu Ireng menenangkan hati suaminya padahal hatinya sendiri saat itu sudah gelisah.
Pak Ireng masuk ke dalam mengambil topi pandan, pacul dan sabit. "Aku ke ladang dulu, Bu," katanya pamitan pada isterinya. Sang isteri anggukkan kepala dan memperhatikan kepergian suaminya sampai hilang dikelokan jalan. Dulu Pak Ireng punya sebidang ladang sayur mayur. Karena terdesak hidup ladang itu dijual pada seorang tetangga. Kini karena tidak punya tanah lagi terpaksa mengambil pekerjaan di ladang orang lain. Sebelum tengah hari Pak Ireng sudah pulang.
"Lho, kok cepat pulang sekali ini, Pak?"
"Hatiku gelisah dan tak enak sejak pagi tadi. Sudah pulang si Panji...?"
"Itulah Pakne...."
"Jadi belum juga kembali?" bertanya Pak Ireng memotong kata-kata isterinya. Dia sudah maklum bahwa anak mereka Panji Ireng belum pulang. Dan kemudian dilihatnya isterinya menganggukkan kepala. Orang tua itu membuka topinya. Meletakkan sabit dan paculnya lalu duduk di balai-balai reyot, termenung.
"Benar-benar si Panji ini! Ke mana dia? Dia musti sudah pulang saat ini. Terlalu! Tak tahu kecemasan orang tua.... Aku khawatir kalau terjadi apa-apa dengan dia, Bu."
"Aku juga demikian Pakne. Tapi biar kita tunggu sampai sore nanti...."
"Dan kalau sore nanti dia tetap tidak pulang juga, bagaimana?!"
Bu Ireng menyahut. "Makanlah dulu,Pakne. Kebetulan nasi sudah masak."
Memasuki rembang petang, Pak Ireng berkata.
"Pasti ada apa-apa terjadi dengan dirinya. "Dijangkaunya topi pandannya. Golok pendek yang tersisip di dinding diselipkannya di pinggang.
"Kau mau pergi, Pakne?"
"Ya. Ke desa Waringin," kata Pak Ireng menjawab pertanyaan isterinya.
"Hati-hati di jalan."
Di bawah sorotan sinar matahari sore yang kuning kemerahan maka berjalanlah orang tua itu dengan terbungkuk-bungkuk. Dikelokan jalan yang hendak menuju ke sungai seseorang menegurnya.
"Mau ke mana Pak Ireng? Ada suatu urusan penting agaknya sampai berjalan secepat itu?"
Si orang tua palingkan kepala. Yang menegurnya ternyata seorang pemuda bernama Kebo Ninggul, kawan Panji Ireng. Tanpa mengacuhkan pertanyaan anak muda itu Pak Ireng balik bertanya. "Ada kau lihat si Panji?"
"Tidak, Pak. Saya sendiri juga heran. Dia tak muncul-muncul sejak...."
"Malam tadi dia pergi ke desa Waringin. Katanya ada wayang kulit di sana. Tapi sampai begini hari dia belum pulang."
"Mungkin dia mampir di tempat kawannya."
"Mungkin, tapi tidak sampai selama itu. Aku khawatir ada terjadi sesuatu dengan dia. Aku akan pergi ke desa Waringin."
Kebo Ninggul berpikir sejurus lalu berkata: "Saya ikut bersama Bapak." Kedua orang itu sampai di tepi Kali Brantas. Baik Pak Ireng maupun Kebo Ninggul sama terheran-heran.
"Seharusnya di sini terdapat rakit penyeberang," kata si orang tua.
"Betul. Ke mana perginya?" Kebo Ninggul memandang ke seberang sana. Tak ada rakit yang dicarinya. Dia memandang berkeliling dan melihat tali penghubung yang putus. "Rupanya hujan lebat semalam membuat arus jadi besar. Tali penghubung putus dan rakit dihancurkan."
"Boleh jadi..." membenarkan Pak Ireng. Sambil memandang berkeliling Kebo Ninggul berkata: "Kita ke hilir saja. Di sana ada rakit...."
Ini pemuda tak bisa teruskan kata-katanya. Pandangan matanya membentur sesuatu di bawah pohon di tepi rimba.
"Ada apa?" tanya Pak Ireng menghentikan langkah.
"Itu. Seseorang di bawah pohon besar. Mungkin...."
Si orang tua memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk Kebo Ninggul. Dia jadi terkejut dan berseru: "Anakku! Itu pasti si Panji. Dia memang mengenakan pakaian itu semalam!" Pak Ireng dengan tersaruk-saruk berlari ke bawah pohon di mana sesosok tubuh terbujur. Kebo Ninggul menyusul. Orang tua ini berlutut di samping tubuh itu. Digoyang-goyangnya tubuh tersebut. "Panji! Nak?! Apa yang terjadi...." Ucapan Pak Ireng jadi terhenti dengan serta merta ketika kedua matanya memandang ke bagian leher dari orang yang disangkanya anaknya itu. Air mukanya berubah. Pucat pasi seperti orang yang melihat setan mengerikan. "Gusti Allah! Panji...!!!" Sehabis mengeluarkan seruan yang keras setinggi langit itu, Pak Ireng roboh ke tanah tanpa sadarkan diri. Kebo Ninggul yang sampai ke sana jadi terkejut melihat si orang tua sudah melosoh. Dia berlutut hendak menolong. Tapi.... Kedua mata pemuda ini melotot besar. Tubuhnya menggigil. Seluruh bulu romanya merinding ngeri ketika melihat sosok tubuh kawannya yang tidak berkepala lagi. Untung dia masih tahan sehingga tak sampai jatuh pingsan seperti si orang tua. Tanpa pikir panjang pemuda ini segera putar tubuh dan ambil langkah seribu. Dia lari terus pontang panting seperti orang dikejar jin hutan. Lari kembali ke kampung Sariwangi sambil berteriak-teriak. Apa yang diteriakkannya itu tidak jelas. Dia sudah seperti orang gila. Setiap orang yang bertemu dan melihatnya jadi terheran-heran. Sudah pasti pemuda itu gila, pikir mereka. Kalau tidak tentu dia kemasukan setan. Maka hebohlah seluruh Sariwangi. Seorang yang berpakaian bagus bertubuh tinggi kurus bernama Sura Djali, kepala kampung Sariwangi berlari keluar dari dalam rumahnya ketika mendengar kehebohan itu. Di mukanya dilihatnya seorang pemuda tengah lari dengan cepat.
"Hai Kebo Ninggul! Tahan! Ada apa dengan dirimu?!" tanya Sura Djali. Ketika Kebo Ninggul sampai di hadapannya segera dicekalnya lengan pemuda itu. Kebo Ninggul meronta hendak terus lari. Tapi cekalan Sura Djali bukan cekalan biasa melainkan sudah berisi tenaga dalam. Pemuda itu tidak dapat bergerak barang selangkah pun.
"Apa yang terjadi Kebo Ninggul?" tanya Sura Djali. Si pemuda tak segera memberikan jawaban. Hidungnya kembang kempis. Nafasnya megap-megap. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. "Kebo Ninggul! Jawab pertanyaanku!" mengulangi Sura Djali sementara itu penduduk kampung sudah ramai mengerumuni mereka karena juga sama ingin tahu apa yang membuat si pemuda sampai lari sedemikian rupa.
"Panji.... Panji Ireng..." kata Kebo Ninggul dengan terputus-putus.
"Mengapa, mengapa Panji Ireng?!"
"Kepalanya... kepalanya putus!"
Semua orang saling berpandangan. "Bicaralah yang terang. Tak usah kesusu," kata Sura Djali. Dia masih mencekal lengan pemuda itu. Di samping supaya Kebo Ninggul tidak larikan diri dia juga berusaha menenangkan pemuda ini dengan tenaga dalamnya.
"Beberapa waktu yang lalu saya berpapasan dengan Pak Ireng..." mulai menerangkan Kebo Ninggul, "Ia menanyakan tentang anaknya, Panji Ireng. Saya sendiri tidak melihat pemuda itu sejak pagi. Pak Ireng bilang bahwa anaknya pergi ke desa Waringin malam tadi. Melihat pertunjukan wayang kulit."
"Memang di desa itu ada orang yang kawinan. Lantas?" menyela Sura Djali.
"Sampai sore ini Panji tidak kembali. Pak Ireng khawatir. Dia pergi ke desa itu untuk mencari anaknya dan saya turut bersama dia. Di tepi sungai, ketika kami tengah mencari-cari rakit untuk menyeberang tiba-tiba kelihatan sesosok tubuh tergelimpang di bawah satu pohon, di tepi rimba...."
"Panji Ireng?"
Kebo Ninggul manggut. "Pak Ireng lari mendapatkan tubuh anaknya. Mendadak sontak kemudian saya lihat orang tua itu jatuh pingsan dan rebah ke tanah. Saya datang menyusul dan...dan...."
"Dan apa?!" tanya Sura Djali tak sabaran sedang orang banyak di sekeliling mereka mulai merasa bergidik.
"Tubuh Panji Ireng cuma tinggal badan saja! Kepalanya lenyap! Putus!"
Semua orang jadi terkejut. Semua mulut jadi menganga dan semua mata jadi melotot.
"Kepalanya lenyap?"
"Putus?!"
"Siapa yang memutus?!" tanya Sura Djali.
"Saya tidak tahu. Begitu saya lihat tubuh yang mengerikan itu saya lantas lari pontang panting!" Tubuh Kebo Ninggul jelas kelihatan gemetaran ketika dia menerangkan semua itu tanda bahwa rasa ngeri masih saja menggerayangi dirinya. Sura Djali melepaskan cekalannya dengan perlahan-lahan. Begitu terasa tangannya dilepaskan, Kebo Ninggul segera lari meninggalkan tempat itu. Lari pulang ke rumahnya. Sura Djali sendiri dengan diikuti beberapa orang penduduk kampung yang ingin tahu dan punya nyali segera berlari cepat menuju ke sungai. Bu Ireng, begitu dia mendengar nasib anaknya dari seorang tetangga, belum lagi dia melihat dengan mata kepala sendiri, perempuan ini meraung tinggi dan rubuh tak sadarkan diri. Tubuh Pak Ireng dibopong orang sedang mayat "Panji Ireng" dibawa di atas sebuah tandu, ditutup dengan sehelai kain sarung. Esok harinya, mayat "Panji Ireng" yang sudah biru kehijau-hijauan itu dikuburkan. Baik Pak Ireng dan isterinya, maupun seluruh penduduk kampung Sariwangi, tak ada yang tahu kalau mayat yang mereka kuburkan hari itu bukanlah mayat Panji Ireng yang sebenarnya. Juga tidak satu orang pun yang tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi dengan si pemuda. Ada yang mengatakan bahwa kepalanya dimakan buaya Kali Brantas. Ada yang menduga kepala Panji Ireng diterkam raja hutan dalam rimba belantara. Dan ada pula yang mengatakan bahwa pemuda itu telah dipuntir dan ditanggalkan kepalanya oleh setan atau dedemit penghuni sungai!

***

EMPAT

LIMA tahun lebih berlalu sudah. Kalau di kampung Sariwangi boleh dikatakan tak ada lagi orang yang membicarakan peristiwa kematian Panji Ireng maka sementara itu di puncak gunung Kelud....
Awan putih kelihatan menutupi puncak gunung yang tinggi ini. Meskipun matahari bersinar terik namun udara terasa sejuk. Selama belum ada satu manusia pun yang menginjakkan kaki di puncak gunung ini maka tidak ada yang tahu kalau di sana terdapat satu pondok kayu itu mempunyai penghuni. Selama puluhan tahun Gunung Kelud dianggap sebagai gunung angker, karenanya tidak ada manusia yang berani berada di sekitar sana. Kalau pun ada maka cuma dekat kaki-kakinya saja. Di dalam pondok....
Dengan matanya yang cuma satu itu dia pandang muridnya yang duduk bersila khidmat di hadapannya. Sejak lima tahun yang lalu rambutnya tak pernah dicukur dan tak pernah disisir, sehingga rambut yang awut-awutan dan kotor itu panjangnya sampai ke bahu, seperti rambut perempuan. Keriput-keriput yang menghiasi mukanya yang cekung itu juga tambah banyak. Rongga matanya sebelah kiri yang besar menyeramkan itu seperti tambah dalam. Inilah si muka setan yang lima tahun lewat telah melarikan Panji Ireng dari tepi Kali Brantas.
Embah Jagatnata alias si muka setan buka suara "Panji Ireng, di saat perpisahan ini aku tidak akan bicara panjang lebar dengan kau. Kau turun gunung hari ini juga dengan ku bekali dua buah tugas!"
"Apakah tugas itu Embah?" tanya Panji Ireng yang kini sudah berumur dua puluh satu tahun itu. Tubuhnya tegap kekar.
"Aku akan katakan sebentar lagi," sahut Embah Jagatnata pula. "Yang penting adalah kesadaran bahwa selama berguru lima tahun kepadaku, ilmu kesaktian yang kau miliki masih belum berarti apa-apa, masih kurang...."
"Bagi saya semua ilmu yang Embah ajarkan sudah terlalu banyak dan sangat tinggi...."
"Jangan dulu potong kata-kataku!" tukas Embah Jagatnata. Orang tua aneh dan sakti itu sudah biasa suka membentak seperti itu. Panji Ireng mengunci mulutnya. "Karena belum berarti apa-apa, karena masih kurang maka aku nasihatkan pada kau untuk mencari guru lain dan belajar kepadanya yaitu sesudah kau turun gunung nanti. Ini adalah mengingat betapa beratnya tugas yang kubekalkan kepadamu itu!"
Embah Jagatnata komat-kamitkan mulutnya seketika lalu meneruskan: "Mulai detik kau turun gunung, kau harus ganti nama. Kepada siapa pun sekali-kali tak boleh kau beritahu bahwa namamu sebenarnya adalah Panji Ireng. Kau dengar?!"
"Dengar Embah. Nama apa yang harus saya pakai?"
"Mahesa Kelud."
"Mahesa Kelud...?"
Sang guru manggutkan kepala. "Juga pesanku yang satu ini harus kau ingat benar-benar. Selama kau turun gunung, selama kau masih belum menyelesaikan tugasmu, sekali-kali kau tidak boleh datang ke Kampung Sariwangi, apalagi menyambangi kau punya orang tua. Kau harus menjauh dari kampung itu. Mengerti?"
"Mengerti Embah," jawab Panji Ireng.
"Kini tentang dua tugas yang harus kau jalankan. Dengar baik-baik, aku tak sudi bicara diulang-ulang. Pertama kau harus cari dan dapatkan sebuah pedang bernama Samber Nyawa. Yang kedua kau harus cari dan bunuh seorang manusia bernama Simo Gembong."
"Pedang Samber Nyawa dan manusia Simo Gembong," mengulang Panji Ireng dalam hati. "Kau harus berhasil dengan tugas yang pertama. Tanpa mendapatkan pedang Samber Nyawa itu niscaya kau tidak mampu melaksanakan tugas yang kedua karena manusia Simo Gembong hanya bisa dibunuh dengan pedang tersebut!"
"Kalau murid boleh tanya," kata Panji Ireng pula, "Siapa adanya manusia bernama Simo Gemblong itu, Embah."
"Justru itulah sebabnya aku suruh kau untuk mencarinya. Bila kau berhasil menemuinya dan memang kau harus berhasil... maka kau akan tahu siapa adanya itu manusia! Dan sesudah kau tahu siapa dia kau harus ambil nyawanya!"
"Saya akan laksanakan kedua tugas itu, Embah," kata Panji Ireng. "Mohon doa restu dari Embah."
Jagatnata mengangguk. "Kau boleh pergi sekarang, kecuali kalau ada yang kau ingin katakan."
"Selama lima tahun saya telah dididik dan diberi berbagai ilmu kesaktian luar biasa oleh Embah. Sebagai orang yang sudah diambil jadi murid maka sudah sepantasnya saja...."
Si orang tua yang sudah tahu apa yang hendak diucapkan oleh muridnya itu segera memotong: "Kalau kau mau menghaturkan terima kasih, tak usah katakan. Aku tak ingin kau minta terima kasih padaku."
Sang murid memandangi wajah gurunya yang buruk dan seram itu dengan rasa tidak mengerti. Dia tak berani teruskan kata-katanya. Karena merasa tak ada lagi yang harus dikatakannya maka berdirilah dia.
"Saya pergi, Embah."Sang guru mengangguk.
"Mohon doa restu agar saya bisa laksanakan tugas yang Embah bekalkan."
"Kau pasti berhasil," ujar Jagatnata. Di hadapan gurunya Panji Ireng menjura tiga kali berturut-turut lalu memutar tubuh dan melangkah ke pintu.

***

LIMA

KETIKA sore berganti senja dan malam yang gelap muncul maka Mahesa Kelud alias Panji Ireng sudah berada sangat jauh dari kaki gunung Kelud. Ini disebabkan tak lain karena dia pergunakan ilmu lari ajaran gurunya yang bernama "Kaki Angin". Larinya cepat luar biasa seperti angin, gerakannya enteng. Pemuda yang baru turun gunung ini baru memikirkan arah tujuannya ketika perutnya mulai keroncongan minta diisi. Saat itu dia tengah berlari cepat di lereng sebuah bukit. Jauh di kaki bukit sebelah selatan dilihatnya suatu nyala api yang sangat kecil. Demikian kecilnya sehingga kalau bukan dengan mata yang tajam seperti pemuda itu tak mungkin akan sanggup untuk dilihat. Tanpa pikir panjang Mahesa Kelud segera putar arah larinya kejurusan nyala api tersebut. Ternyata nyala api yang dilihatnya ini adalah api pelita yang terletak di atas sebuah meja kecil dalam satu pondok kajang beratap rumbia. Daun pintu terbuka sedikit dan dari celah daun pintu inilah api pelita memancar keluar. Suasana sekitar pondok sunyi sepi seperti di pekuburan. Mahesa Kelud melangkah ke muka pintu. Diketuknya daun pintu. Tak ada jawaban. Dia mengetuk lagi. Lalu sekali lagi tetap masih tak ada jawaban. Pemuda ini menjadi heran. Apakah tak ada penghuni dalam pondok ini, pikirnya. Mustahil, karena di dalam ada pelita yang menyala. Mahesa hendak mengetuk sekali lagi. Saat ini didengarnya ada suara yang ditimbulkan oleh sesuatu benda yang bergerak-gerak di dalam pondok. Pemuda ini beranikan diri. Daun pintu didorongnya, suaranya berkereketan. Cepat-cepat Mahesa masuk ke dalam. Langkahnya dengan serta merta terhenti begitu dia melewati ambang pintu beberapa langkah. Di hadapannya, di lantai pondok terbujur sesosok tubuh laki-laki yang pakaiannya penuh dengan darah. Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang yang juga ada lumuran darahnya. Ketika diperhatikannya jari-jari tangan yang berkuku panjang dari orang itu maka Mahesa Kelud bisa menduga siapa adanya dia. Dari gurunya dia pernah mendapat keterangan bahwa di sebelah barat gunung Kelud, tak jauh dari kaki gunung Wilis terdapat seorang pendekar tua ternama yang memiliki kuku-kuku panjang beracun dan digelari "Si Cakar Setan" oleh orang-orang dunia persilatan.
"Ini pasti si Cakar Setan," kata Mahesa Kelud dalam hatinya. "Kalau begitu aku berada didaerah sekitar gunung Wilis...."
Tubuh si Cakar Setan bergerak-gerak. Kedua kakinya melejang-lejang walaupun tidak melejang keras sedang tangan kirinya menggapai-gapai lantai. Pendekar tua yang tengah meregang nyawa ini terbujur menelungkup. Dari mulutnya terdengar suara erangan. Mahesa Kelud melangkah lebih dekat lalu berlutut. Hidungnya membaui amisnya darah di seluruh tubuh si Cakar Setan.
"Jaliteng.... Jaliteng...." Terdengar si Cakar Setan menyebutkan nama seseorang diantara suara erangannya.
"Siapa Jaliteng ini..." pikir Mahesa Kelud.
"Mungkin orang yang telah membuat urusan dengan dia?"
"Jaliteng... muridku..." terdengar lagi suara si Cakar Setan. "Jaliteng, mendekatlah...."
Mahesa Kelud kini mengerti. "Kasihan, dia menyangka aku muridnya," kata Mahesa dalam hati. Dia mendekat. Dengan susah payah, dalam keadaan yang boleh dikatakan sudah tidak punya daya karena tengah meregang nyawa, si Cakar Setan masih sanggup membalikkan tubuhnya dengan pertolongan tangan kirinya. Kini dia terbaring menelentang. Sungguh dahsyat manusia ini. Pada muka si Cakar Setan kelihatan satu luka hebat memanjang mulai dari kening, lewat antara kedua alis matanya terus ke pipi. Dari luka itu bisa dipastikan bahwa si Cakar Setan kena bacokan golok atau pedang lawan yang tangguh. Darah dari luka besar ini membanjir dan menggenang membasahi kedua matanya sehingga si Cakar Setan tidak sanggup melihat apa-apa lagi.
"Jaliteng...?"
"Ya... guru," sahut Mahesa Kelud dengan perlahan agar si Cakar Setan tidak mengenali suaranya.
"Surat itu... surat itu ada dalam... dalam pedang. Kau ambil dan cari manusia yang mencelakaiku. Namanya...." Si Cakar Setan hanya sanggup bicara sampai di situ. Keterangannya terputus karena nyawanya keburu melayang lebih dahulu.... Kedua matanya yang digenangi darah membeliak sedang mulutnya menganga.
"Surat..." desis Mahesa Kelud. "Surat apa agaknya?" Pemuda ini beringsut ke muka. Diperhatikannya pedang yang tergenggam di tangan mayat. Menurut keterangan si Cakar Setan surat itu ada di dalam pedang. Apakah pedang yang tergenggam di tangannya saat itu atau pedang yang lain? Kalau dalam pedang yang dipegangnya berarti pada senjata ini terdapat satu rongga tempat menyembunyikannya. Agak susah juga bagi Mahesa Kelud untuk melepaskan pedang itu dari genggaman si Cakar Setan karena pegangan pendekar tua itu sangat erat meskipun nyawanya sudah pisah dengan tubuh kasar. Diperhatikannya senjata itu dengan teliti. Mulai dari ujungnya yang runcing dan bertanda sampai ke hulunya. Pedang milik si Cakar Setan meskipun besar serta panjang tetapi enteng. Ini tandanya bahwa pedang itu bukan senjata sembarangan. Warnanya kuning sedang hulunya putih, terbuat dari perak yang berukirkan kepala naga. Mahesa ingat pada tugas yang dibekalkan gurunya yaitu mencari satu pedang yang bernama Samber Nyawa. Mungkinkah ini pedangnya? Sipemuda tak bisa memastikan. Lama sekali dia meneliti pedang itu. Di bagian manakah dari senjata ini disembunyikan surat yang diterangkan oleh si Cakar Setan tadi? Pada kali yang ketiga matanya memperhatikan hulu pedang, maka Mahesa Kelud akhirnya melihat satu celah yang sangat halus pada bagian leher dari ukiran naga di hulu pedang. Kini pemuda itu tahu rahasia tempat persembunyian surat yang dimaksudkan si Cakar Setan. Dia putar kepala naga ke kanan. Tapi kepala naga itu tidak bergerak barang sedikit pun. Mahesa mengganti arah putaran. Kini ke kiri. Dan... memang kepala naga itu kini bergerak memutar sedikit demi sedikit sampai akhirnya terlepas sama sekali dari lehernya. Kemudian pada bagian leher naga yang masih melekat ke hulu pedang kelihatanlah satu lobang sebesar lobang kunci. Di dalam lobang yang kecil ini terdapat secarik kertas yang digulung rapi. Mahesa segera congkel itu kertas dan menariknya keluar. Ternyata isinya adalah sepucuk surat yang agak aneh bagi Mahesa Kelud. Surat ini berbunyi:

Kepada pendekar-pendekar utama dari delapan penjuru angin,
Siapa-siapa dari kalian yang ingin merajai dunia persilatan datanglah membawa surat
ini ke Gua Iblis untuk mendapatkan senjata ampuh Cambuk Iblis

Mahesa Kelud kerenyitkan keningnya sehabis membaca surat tersebut. Tentang senjata ampuh yang bernama Cambuk Iblis itu tak pernah didengarnya, tapi mengenai Gua Iblis dia memang pernah dengar yaitu sebuah gua yang terletak di muara sungai Ngulon ngidul di pantai Selatan. Mahesa Kelud menggulung surat kecil itu kembali dan memasukkannya ke dalam sakunya. Kepala naga pada hulu pedang dipasangnya kembali. Ditimang-timangnya pedang itu sejurus. Setelah noda darah dibersihkannya dia berpikir-pikir lalu senjata tersebut diselipkannya di belakang punggungnya. Mahesa memandang berkeliling. Perabotan yang ada di dalam pondok itu tidak banyak. Sebuah lemari kecil kelihatan terbuka melompong. Isinya bertaburan acak-acakan tanda lemari itu habis digeledah orang. Pasti lawan yang telah mencelakai si Cakar Setan, pikir Mahesa. Tikar penutup balai-balai dan bantal juga bertaburan. Di sudut sana terdapat sebuah gentong air tanah liat yang sudah pecah berantakan dan airnya menggenangi lantai pondok. Kedua bola mata Mahesa Kelud tampak membesar ketika pandangannya membentur suatu benda di lantai, tak berapa jauh dari tubuh si Cakar Setan. Benda ini tak lain adalah potongan tangan kiri manusia. Mula-mula Mahesa tidak bisa mengerti namun kemudian jelas juga duduk persoalan baginya. Sebelumnya antara Cakar Setan dan lawannya telah terjadi perkelahian seru. Lawan Cakar Setan berhasil merubuhkan pendekar tua itu tapi sebaliknya Cakar Setan sendiri berhasil membabat puntung tangan kiri lawannya. Si lawan kemudian melarikan diri. Mahesa Kelud melangkah ke pintu maksudnya hendak segera pergi. Tapi tidak terduga, mendadak dari luar melompat masuk sesosok tubuh. Mahesa cepat hindarkan diri karena dari derasnya siuran angin dia sudah maklum bahwa orang yang baru masuk itu punya ilmu yang tidak bisa dianggap enteng. Mahesa melompat ke belakang sejauh dua tombak. Dia menyangka yang datang ini adalah Jaliteng, murid si Cakar Setan. Tapi dugaannya meleset. Orang yang berdiri di hadapannya bertubuh pendek kate. Kepalanya botak dan berkilat-kilat ditimpa cahaya pelita. Berlawanan dengan kepalanya yang licin polos itu maka mukanya penuh dengan berewok kasar meliar sehingga tampangnya penuh keseraman. Mahesa melihat manusia kate ini tidak punya tangan kiri alias buntung. Ketika diperhatikannya lebih teliti ternyata buntungan tangan itu masih baru karena di sekitar buntungan terdapat bekas-bekas noda darah!
Kini Mahesa Kelud tahu. Siapa pun adanya ini orang kate maka dia adalah orang yang telah baku hantam dan membunuh si Cakar Hitam. Ditangan kanan si kate tergenggam sebatang golok panjang.
Si kate menyeringai buruk. "Kau muridnya si Cakar Setan?!" tanyanya dengan membentak.
"Kau sendiri siapa, manusia kate?!" balik menanya Mahesa Kelud.
"Sialan! Ditanya malah menanya! Jawab,kau muridnya Cakar Setan?!"
"Kalau ya mengapa?"
"Kau harus serahkan surat itu!"
"Surat? Surat apa...?" tanya Mahesa pura-pura tidak mengerti.
"Sompret! Jangan berlagak pilon! Aku minta surat rahasia itu sekarang juga! Cepat!"

***

ENAM

MAHESA silangkan tangan di muka dada dan merenggangkan kedua kakinya. "Dengar manusia kate! Jangan bicara segala macam surat yang aku tidak mengerti. Berlalulah dari sini. Aku tak suka cari urusan denganmu."
Si kate terheran-heran mendengar kalimat yang terakhir dari Mahesa Kelud ini. Mengapa dia mengatakan tidak mau cari urusan?
Kalau ini pemuda benar-benar murid si Cakar Setan pasti dia sudah sejak tadi menyerangnya. Atau mungkin dia tidak tahu bahwa aku telah membereskan nyawa gurunya? Si kate memancing, "Anak muda bernyali besar, terhadapku jangan bicara seenak bacotmu! Kau mau terima nasib seperti kau punya guru?!"
Mahesa Kelud balas ancaman itu dengan ejekan. "Guruku telah buntungkan lengan kirimu. Rupanya kau inginkan muridnya buntungkan lengan kananmu!"
Si kate tertawa bekakakan. "Pemuda ingusan hendak menipuku! Ha... ha! Hendak menipu Warok Kate! Mengaku murid si Cakar Setan. Padahal cuma maling kesiangan!"
Mahesa Kelud terkejut ketika mendengar nama Warok Kate yang disebutkan oleh orang di hadapannya itu. Warok Kate adalah seorang yang memimpin gerombolan perampok yang bersarang di bukit Jatiluwak, yang punya ilmu tinggi. Dulunya dia seorang murid pertapa sakti tapi kemudiannya berhati serong melakukan pekerjaan-pekerjaan salah menjadi kepala rampok. Mahesa tak menyangka kalau kini dia berhadap-hadapan dengan Warok Kate sendiri! "Ha... ha! Hilang kau punya nyali ketika mengetahui dan mendengar namaku?!" kata Warok Kate pula. "Karena itu cepat-cepat keluarkan surat tersebut dari dalam sakumu dan berikan kepadaku. Tapi kalau kau mencari mampus, silahkan kita mulai bikin urusan!" Si kate melintangkan golok panjangnya di muka dada.
"Dengar Warok," sahut Mahesa Kelud. "Surat itu tidak ada padaku! Aku cuma kebetulan lewat di sini dan tidak tahu apa-apa!"
"Kalau begitu kau benar-benar mencari mampus! Aku intip sendiri kau mengeluarkan surat itu dari gagang pedang yang kini ada di punggungmu! Kau mencari mampus!"
Bersamaan dengan itu tubuh Warok Kate melesat ke muka. Goloknya menyambar ke kepala Mahesa Kelud laksana seekor alap-alap menyambar mangsanya. Melihat ini murid Embah Jagatnata segera rundukkan kepala. Golok lewat diatas kepalanya mengeluarkan angin dingin bersiuran. Tapi tak terduga senjata yang telah lewat itu mendadak berbalik dengan sangat cepat dan kini menyambar ke perutnya. Mahesa terkejut bukan main melihat serangan yang hebat dan cepat ini. Buru-buru dia melompat mundur ke belakang sambil kirimkan satu jotosan tangan kanan ke muka lawan. Kini Warok Kate yang terkejut. Jotosan lawannya tidak diduga memiliki tenaga yang tinggi ampuh. Kepala rampok dari bukit Jatiluwak ini tidak mau ambil risiko. Dia miringkan kepalanya seraya menggeser kakinya ke belakang. Jotosan Mahesa lewat di samping kirinya tapi tak urung angin pukulan lawan yang terasa dingin memerihkan matanya membuat dia terkesiap dan mundur lebih jauh.
"Pemuda ingusan! Kau punya sedikit ilmu juga huh?!" bentak Warok Kate. "Beritahu kau punya nama dan siapa gurumu sebelum nyawamu kukirim ke neraka!"
Warok Kate kembali mengeluarkan suara bekakakan. Dia sabetkan goloknya ke arah lambung Mahesa Kelud. Ketika serangan ini dapat dielakkan oleh pemuda itu dia segera kirimkan lagi tiga serangan berantai dengan cepat. Meskipun terdesak ke sudut pondok namun Mahesa masih sanggup mengelakkan ketiga serangan yang dahsyat itu. Ini membuat lawannya jadi penasaran. Warok Kate hantamkan golok panjangnya kian kemari. Beberapa jurus lamanya dia kuasai. Mahesa dibuat sibuk dan melompat kian kemari. Jika saja dia tidak memiliki ilmu mengentengi tubuh yang tinggi serta tidak gesit maka pasti saat itu Mahesa sudah kena sambaran senjata lawannya.
Diam-diam Warok Kate jadi terkejut dan mengagumi kehebatan pemuda lawannya itu. Saat itu mereka sudah bertempur sebanyak delapan jurus. Sebelumnya, dengan golok di tangan tak pernah Warok Kate memberi kesempatan bertahan pada lawannya sampai lima atau enam jurus tanpa berhasil melukainya. Tapi kini dengan pemuda yang tadi diremehkannya itu dia masih tidak sanggup membuat segores luka pun pada tubuh lawannya. Jangankan segores luka, bahkan goloknya tak sanggup menyentuh pakaian si pemuda! Dan lebih membuat si kate ini menjadi lebih geram serta penasaran ialah karena sampai saat itu Mahesa Kelud masih saja melayaninya dengan tangan kosong!
Mahesa Kelud miringkan bahunya ke kiri ketika ujung golok Warok Kate datang menusuk dari muka. Begitu serangannya gagal lagi, maka si kate hantamkan mata goloknya ke pinggul Mahesa. Tapi sang lawan tidak bodoh. Sebelumnya dia sudah duga lanjutan serangan kepala rampok itu. Mahesa menggeser tubuhnya ke samping kiri dengan cepat. Tangan kirinya bekerja, melayang ke arah sambungan siku tangan kanan lawannya. Warok mengerti apa yang bakal dialaminya. Sambungan sikunya akan putus bahkan tulang sikunya mungkin akan ambruk bila dia teruskan serangan goloknya.
Cepat-cepat kepala rampok ini putar goloknya sedemikian rupa dan melompat ke samping kanan untuk menyelamatkan sikunya. Kedua orang itu berhadap-hadapan satu sama lain kembali. "Anak muda! Keluarkanlah senjatamu! Untuk jurus selanjutnya aku tidak sungkan-sungkan lagi!" kata Warok Kate. Rupanya manusia ini hendak mengeluarkan ilmu simpanannya karena Mahesa Kelud melihat Warok Kate merubah cara pegangan pedangnya.
"Memang tak usah sungkan-sungkan, Warok. Biar, aku tetap layani kau dengan tangan kosong," jawab Mahesa pula.
Merasa dihina direndahkan Warok Kate seperti orang kalap segera menyerang pemuda itu. Permainan goloknya memang sangat berubah kini dari yang tadi. Sambaran-sambaran, sabetan-sabetan dan tusukan-tusukannya cepat dan deras serta hampir tak terduga arahnya. Mahesa Kelud berkelebatan kian kemari namun tak urung akhirnya ujung golok lawannya menyambar secara tak terduga ke arah dadanya ketika dia berada dalam posisi yang sulit di pojok pondok. Dengan mengandalkan cuma satu kaki yaitu kaki kiri yang menjejak lantai, Mahesa coba membuang diri ke samping. Ini dilakukannya dengan untung-untungan. Meskipun dia memiliki ilmu kebal tapi Mahesa tak mau andalkan ilmu itu jika masih bisa mencari jalan mengelak yang lain. Dan gerakan yang dibuatnya itu memang berhasil. Tapi tak urung pakaiannya di bagian dada kena tersambar ujung golok dan robek besar.
"Ha... ha! Pemuda sombong! Masih juga berani meremehkanku dengan ilmu silat tangan kosongmu?!" ejek Warok Kate.
"Jangan buru-buru merasa menang, Warok!" tukas Mahesa Kelud. Kali ini Mahesa yang memulai serangan. Serangan yang dilancarkannya memang hebat bertubi-tubi namun Warok melindungi tubuhnya dengan putaran golok yang bergulung-gulung. Murid Embah Jagatnata itu kehabisan kesabarannya. Akhirnya pemuda ini keluarkan pedang yang tersisip di belakang punggungnya.
"Nah... nah! Itu namanya manusia yang tahu peradatan dunia persilatan. Majulah dengan pedang itu, meskipun cuma sebuah pedang curian!" ejek Warok Kate. Jawaban dari Mahesa Kelud ialah sambaran pedang yang tak terduga. Mulanya Warok Kate hendak menangkis serangan ini dengan goloknya. Tapi mengetahui bahwa tenaga dalam lawannya tidak berada di bawahnya dia urungkan niat itu. Apalagi dia maklum bahwa pedang berhulu naga milik si Cakar Setan yang di tangan Mahesa Kelud saat itu bukan pedang sembarangan. Kalau selama jurus-jurus yang lewat Mahesa Kelud cuma bersikap sebagai pihak yang bertahan maka sesudah dia bersenjatakan pedang milik Cakar Setan itu keadaan berubah seperti siang dengan malam. Pedang Cakar Setan bukan pedang sembarangan, sedang yang memegangnya bukan pula manusia sembarangan tapi murid Embah Jagatnata yang punya ilmu tinggi luar biasa. Keadaan jadi berubah seperti siang malam. Warok Kate dibikin kelabakan. Gulungan sinar kuning dari pedang di tangan Mahesa Kelud kelihatan dengan jelas mengurung setiap gerakan golok. Setiap serangan yang coba dilancarkan oleh kepala rampok itu senantiasa menemui jalan buntu di tengah jalan karena siang-siang sudah dipapasi atau dipatahkan oleh serangan yang bertubi-tubi dari Mahesa Kelud. Warok Kate terdesak hebat ke pojok pondok. Tubuhnya sudah basah oleh keringat. Gerakannya sudah mulai kacau. Mahesa tidak memberi kesempatan. Serangannya seperti hujan lebat menggempur dan membobolkan setiap pertahanan lawan.
"Celaka!" kutuk Warok Kate dalam hati.
"Tak disangka bangsat rendah ini punya ilmu tinggi!"
Diputarnya goloknya sedemikian rupa coba mengimbangi permainan lawan. Tapi jangankan untuk mengimbangi, bahkan sebaliknya Warok semakin terdesak. Satu kali pedang di tangan Mahesa Kelud membabat deras ke dada Warok Kate. Kepala rampok dari bukit Jatiluwak ini melompat mundur ke belakang. Tapi ujung pedang lawan memburu terus. Dia tak berani mematahkan serangan itu dengan memapasi pakai golok karena sebelumnya senjata mereka sudah beberapa kali beradu dan Warok tahu kalau tenaga dalam lawannya berada di atasnya. Dia khawatir kalau goloknya buntung atau terlepas mental yang mana tentu akan mencelakakan jiwanya. Warok Kate melompat lagi ke belakang. Tapi saat itu dia sudah memepet ke dinding sehingga tubuhnya tertahan setengah lompatan. Sementara itu pedang di tangan lawan menyambar deras ke kepalanya. Warok Kate terkesiap. Untung dia tidak menjadi gugup atau kehilangan akal. Dia babatkan golok panjangnya ke perut lawan bersamaan dengan itu kaki kanannya mengirimkan tendangan ke awah perut Mahesa Kelud. Murid Embah Jagatnata segera bantingkan diri kesamping. Pedangnya menghantam dinding kajang sampai bobol sedang kedua serangan Warok Kate masih sempat dielakkannya dengan sekaligus. Meskipun serangan pedang Mahesa Kelud tidak mengenai sasaran namun goloknya masih tertahan oleh dinding kajang sehingga tubuhnya tidak sampai terdorong ke muka. Berlainan halnya dengan Warok Kate serangan golok dan tendangan kaki kepala rampok ini dilancarkan dengan sekuat tenaga, dan kedua-duanya mengenai tempat kosong. Akibatnya tubuh Warok Kate terdorong ke muka. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahesa Kelud. Dia geserkan kedua kakinya dengan cepat. Bersamaan dengan itu jotosan tangan kirinya yang berisi aji "Kelabang Merah" dihantamkannya ke pangkal tengkuk Warok Kate. Tak ampun lagi kepala rampok ini menjerit tinggi. Tubuhnya mental dan jatuh menelungkup di lantai pondok sedang goloknya terlepas. Warok gulingkan dirinya menjauhi musuh. Dia berdiri dengan sempoyongan. Pangkal tengkuknya yang kena pukul lawan sakitnya bukan main dan kelihatan sangat merah. Dia sadar bahwa bila saja tenaga dalamnya masih dalam tingkat tanggung tanggungan pasti pukulan "Kelabang Merah" menamatkan riwayatnya. Kini Warok maklum bahwa meskipun masih muda belia, tapi Mahesa Kelud bukan tandingannya. Hatinya sangat dongkol dan geram. Darahnya mendidih. Tapi apa daya, ilmunya jauh berada di bawah lawan.
"Ayo Warok! Ambil goloknya, tak usah malu-malu!" kata Mahesa Kelud. Muka kepala rampok itu kelihatan sangat merah oleh ejekan tersebut. Dia melompat ke samping, membungkuk dan mengambil goloknya yang di lantai. Kedua matanya memandang penuh kegeraman pada Mahesa Kelud. Mulutnya komat-kamit.
"Bangsat rendah!" maki Warok Kate. "Lain kali aku pasti temui kau lagi! Dan kali itu bersiap-siaplah untuk mampus!" Warok kirimkan satu serangan ke dada Mahesa lalu terus melesat menuju ke pintu pondok.
"Mengapa lari, Warok?!"
"Anjing ingusan! Satu hari aku akan datang untuk bikin kau mampus!" jawab Warok Kate yang sudah berada di luar pondok. Dia tahu walau bagaimana pun dia tak akan sanggup melayani pemuda ini. Karenanya meskipun darahnya mendidih namun dia terpaksa mengundurkan diri. Dia sudah bulat tekad bahwa di lain kesempatan dia pasti membuat penyelesaian hitungan dengan pemuda itu. Mahesa Kelud sendiri yang tidak ingin meneruskan cari urusan dengan si kepala rampok tidak punya tekat untuk mengejarnya.

***

TUJUH

DISETIAP muara sungai biasanya selalu terdapat rumah penduduk yang kebanyakan mencari hidup dengan menjadi nelayan. Tapi tidak demikian dengan muara sungai Ngulon ngidul. Tak ada satu rumah penduduk pun terlihat di sana. Tak ada satu gubuk atau teratak nelayan pun terdapat di situ. Ini disebabkan karena semua orang yang berdiam agak jauh dari muara sungai tersebut sama mengetahui bahwa muara sungai Ngulon ngidul sangat angker dan ditakuti sehingga kalau bukan manusia-manusia yang berilmu tinggi dan sakti serta tidak mempunyai urusan sangat penting, pasti tidak akan punya nyali untuk berada dekat-dekat ke sana. Bahkan para nelayan di pesisir selatan bila pergi ke laut senantiasa menjauhi muara sungai itu. Pernah terdengar kabar ada beberapa orang yang tersesat ke sana, tapi kemudian hilang lenyap tanpa tentu rimbanya. Kabarnya pula muara sungai itu mempunyai penghuni yaitu sejenis setan tinggi yang pasti akan merampas nyawa siapa saja yang berani datang ke sana. Sampai di mana kebenaran hal ini tidak satu orang pun dapat memastikan. Tapi baik benar entah tidaknya tetap saja tak ada orang yang berani dekat-dekat ke sana.
Malam itu gelap gulita. Udara mendung sedang di langit tak ada bulan atau pun bintang yang memancarkan sinarnya menerangi bumi. Dari laut bertiup angin dingin mengandung garam. Daun-daun pohon kelapa berlambaian dan mengeluarkan suara mendesir menambah keseraman suasana sekitar muara sungai Ngulon ngidul. Diselingi pula dengan suara deburan ombak yang bergulung-gulung lalu memecah di pasir, rasa seram itu menjadi lebih kentara. Tapi anehnya, di malam yang sedemikian itu, samar-samar dalam kegelapan kelihatan sesosok bayangan berkelebat cepat, berlari kencang menuju muara sungai. Tak dapat dipastikan apakah sesosok bayangan ini adalah manusia atau setan penghuni sungai Ngulon ngidul sendiri! Dia berhenti dan berdiri di atas satu unggukan pasir laut. Diusapnya mukanya beberapa kali lalu dia mulai memandang berkeliling. Dengan kedua matanya yang tajam dia coba menembus kegelapan malam. Ternyata dia seorang manusia juga dan tak lain daripada Mahesa Kelud atau Panji Ireng adanya.
Pemuda berilmu tinggi ini berada di sekitar muara sungai yang angker itu sehubungan dengan surat aneh yang ditemukannya dalam pedang milik si Cakar Setan. Dia tidak punya maksud sama sekali untuk menjadi raja dunia persilatan dengan jalan berusaha mendapatkan Cambuk Iblis itu. Yang dipentingkan oleh Mahesa ialah pengalaman dan disamping itu siapa tahu dia mendapat jalan guna menunaikan tugas gurunya yakni mencari pedang Samber Nyawa dan mencari serta membunuh Simo Gembong. Mahesa tidak tahu dengan pasti dimana Gua Iblis itu terletaknya. Tengah dia berdiri seperti itu dengan memandang berkeliling mendadak dari rerumpunan pohon-pohon dan semak belukar yang lebat dan gelap melesat satu benda hitam sebesar butiran jagung. Mahesa Kelud hampir tidak melihat benda itu. Tapi dia bisa mendengar suara desirannya yang mengeluarkan angin bersiuran. Tahu bahwa bahaya besar hendak mencelakainya pemuda itu segera melompat mundur. Benda hitam lewat. Namun belum lagi Mahesa Kelud sempat memalingkan kepala mencari sumber dari mana datangnya benda atau senjata rahasia itu maka dua butir benda yang sama menyusul melesat lagi ke arahnya. Yang pertama menyerang ke jurusan lehernya sedang yang kedua mengarah bawah perutnya. Mahesa Kelud terkejut melihat serangan yang bisa mematikan ini. Hatinya juga menjadi geram karena dia tahu dari serangan tersebut musuh gelap yang menyerangnya bermaksud untuk merampas nyawanya. Dengan cepat pemuda ini melompat ke atas. Tubuhnya melesat tinggi. Senjata rahasia yang tadi mengarah ke bawah perutnya lewat di selangkangannya sedang yang mengarah leher dibikin mental dengan lambaian tangan kiri berisi kekuatan tenaga dalam ampuh. Namun penyerang gelap yang bersembunyi di balik semak-semak rupanya tidak mau memberi kesempatan pada Mahesa Kelud. Begitu dilihatnya pemuda itu berhasil memusnahkan serangannya dia segera lemparkan lagi empat butir senjata rahasianya. Secepat kilat murid Embah Jagatnata menjatuhkan diri ke tanah. Gerakannya ini sekaligus berhasil mengelakkan dua butir senjata rahasia yang menyerangnya. Butiran ketiga yang mengarah dadanya dielakkan dengan jalan bergulingan di tanah sedang butiran senjata rahasia keempat ditangkapnya dengan tangan kiri. Meskipun telapak tangannya agak pedih ketika terbentur senjata musuh tersebut namun tanpa menunggu lebih lama Mahesa Kelud segera melemparkan senjata itu ke jurusan semak-semak. Penyerang gelap yang bersembunyi di balik semak-semak mau tak mau jadi terkejut melihat senjata rahasianya ditangkap sedemikian rupa dan dilemparkan kembali kepadanya. Dengan mengeluarkan suara cekikikan melengking di malam sunyi itu, dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
Sejurus kemudian penyerang ini sudah berada di hadapan Mahesa Kelud. Ternyata dia adalah seorang nenek-nenek, bertubuh kurus tapi tinggi, lebih tinggi dari Mahesa. Mukanya cekung dan keriputan. Kedua matanya sipit. Rambutnya berwarna putih dan jarang sehingga batok kepalanya bisa terlihat dengan jelas. Di setiap telinganya terdapat sepasang anting-anting hitam. Dia hanya mengenakan sehelai kain panjang hitam yang dipakai lewat dengkul sehingga kakinya yang kecil kurus dan bengkok tersingkap sama sekali. Di hadapan Mahesa Kelud dia masih terus tertawa cekikikan memperlihatkan barisan gigi-giginya yang sudah banyak ompongnya. Mau tak mau Mahesa Kelud jadi bergidik juga melihat perempuan tua aneh ini. Meskipun hatinya masih geram terhadap manusia ini karena tadi dia telah diserang secara pengecut dan membabi buta, namun memaklumi bahwa dia berhadapan bukan dengan orang sembarangan, Mahesa Kelud tidak mau bertindak gegabah. Hembusan nafas perempuan tua ini sangat tajam dan memerihkan mata. Mahesa kerahkan tenaga dalamnya dan bertanya.
"Nenek, kau siapa?"
Yang ditanya cekikikan setinggi langit. Mahesa menggeram dalam hatinya. Tapi dia menunggu dan waspada. "Pemuda, kau rupanya punya ilmu yang diandalkan heh?! Kau tahu bahwa berada di sekitar sini berarti mencari mampus?!"
"Harap dimaafkan kalau kedatanganku mengganggu ketentraman Nenek..." kata Mahesa Kelud tetap tenang dan menghormat. "Tapi aku tidak punya maksud demikian."
"Ho... ho! Lalu kau punya maksud apa?!"
"Aku tengah mencari di mana letaknya Gua iblis." menerangkan Mahesa Kelud.
Si nenek tertawa melengking. "Aku sudah duga," katanya, ia tudingkan ibu jari tangan kanannya ke dadanya yang rata dan kulitnya keriputan. "Aku adalah Nenek Iblis. Aku pemilik Gua Iblis itu. Ikut aku...!"
Si nenek berkelebat. Tubuhnya lenyap dari hadapan Mahesa Kelud. Pemuda ini segera gerakkan kaki menyusul si nenek. Meskipun si Nenek Iblis tidak dapat dilihatnya dengan jelas ke mana larinya, namun dari tertawa cekikikannya yang terus menerus terdengar. Mahesa Kelud masih sanggup mengetahui ke mana perginya si nenek. Mahesa lari dengan kencang di antara pepohonan rapat dan sekali-sekali terpaksa melompati semak belukar tinggi. Mendadak tawa cekikian si Nenek Iblis lenyap. Mahesa Kelud menghentikan larinya. Dia memandang berkeliling mencari-cari di mana si nenek adanya.
"Anak muda! Kemari!"
Mahesa memutar tubuhnya ke kiri ke arah dari mana datangnya suara memanggil itu. Di muka sana, di ambang pintu gua besar yang tertutup batu karang tebal berdiri si Nenek Iblis bertolak pinggang. Kepalanya yang berambut putih jarang menyondak bagian atas gua. Mahesa Kelud melangkah ke hadapan si Nenek Iblis. Begitu dia sampai di hadapan si Nenek Iblis pertanyaan pertama segera diajukan kepadanya. "Kau punya nama siapa?!"
"Jaliteng," jawab Mahesa Kelud berdusta.
"Kau murid siapa?" tanya lagi si Nenek Iblis. Si Cakar Setan di kaki gunung Wilis."
Kini tampak perubahan di wajah keriput nenek-nenek itu ketika dia dengar nama Cakar Setan. Satu seringai kemudian muncul di wajahnya.
"Pantas kau punya nyali datang ke sini heh!
Bagus... bagus... bagus Jaliteng! Kau inginkan Cambuk Iblis itu, bukan?!"
Jaliteng alis Mahesa Kelud alias Panji Ireng mengangguk.
"Tidak mudah untuk mendapatkan senjata digjaya itu anak muda...."
"Aku tahu. Tapi aku akan coba Nek."
"Bagus... bagus. Mana itu surat rahasia sebagai bukti?!"
Dari dalam sakunya Mahesa Kelud mengeluarkan surat rahasia yang ditemuinya dalam pedang si Cakar Setan satu minggu yang lewat. Waktu diperlihatkan surat tersebut, diam-diam si nenek memperhatikan jari-jari tangan Mahesa Kelud. Surat itu diambilnya kemudian dirobek-robeknya. Tiba-tiba, dengan sangat cepat dan tidak terduga kedua tangan yang tengah merobek-robek itu melesat ke muka.
"Bukk!"
Dua pukulan yang sangat keras menghantam tubuh Mahesa Kelud dalam waktu yang bersamaan. Yang pertama mendarat di ulu hatinya sedang yang kedua menghantam pangkal tenggorokannya, tepat pada urat aliran darah. Karena tak menduga akan dipukul mendadak sedemikian rupa dan lagi dua pukulan si Nenek Iblis bukan pukulan biasa melainkan berisi tenaga dalam yang tinggi, maka tak ampun lagi Mahesa Kelud roboh dan jatuh pingsan, melingkar di tanah di muka kaki si Nenek Iblis. Perempuan tua bermuka buruk itu tertawa cekikikan beberapa lamanya. Tubuhnya diputar. Dengan tangan kanannya digedornya pintu batu karang yang menutupi mulut gua. Digedor sedemikian rupa anehnya batu karang yang kukuh dan tebal segera menggeser membuka. Dengan tangan kirinya si nenek menyeret tubuh Mahesa Kelud ke dalam gua. Di antara cekikikannya dia berkata: "Pemuda hijau hendak menipu aku si Nenek Iblis!
Mengaku bernama Jaliteng murid si Cakar Setan! Hi... hi! Tak apa... tak apa! Pemuda macam kaupun sudah cukup bagiku! Hi... hi... hi!!"
Dengan mempergunakan tumit kaki kirinya si nenek kemudian menendang batu karang di belakangnya. Batu itu bergeser lagi dan mulut gua pun tertutup. Di dalam gua gelapnya bukan main. Bila jari-jari tangan diletakkan di muka mata pun tidak akan kelihatan. Tapi si nenek yang sudah tahu seluk beluk gua itu dan juga memakai perasaan serta pendengarannya yang tinggi, berjalan dengan seenaknya sambil menyeret tubuh Mahesa Kelud. Di satu bagian gua terdapat banyak lorong- lorong kecil. Si Nenek Iblis membelok ke salah satu lorong tersebut kemudian berhenti di hadapan dinding yang berbentuk empat segi. Ini adalah sebuah pintu. Kembali dia pergunakan tangan kanannya untuk menggedor salah satu bagian rahasia dari pintu tersebut, dan seperti pintu di mulut gua, batu karang berat dan tebal menggeser secara aneh ke samping.
"Masuk!" bentak si nenek. Tubuh Mahesa Kelud ditendangnya sampai mental masuk ke dalam ruangan batu karang yang sempit dan gelap. Di hadapan pintu itu si nenek tertawa sepuas hatinya.
"Satu korban lagi! Satu korban lagi...!" katanya. Kemudian pintu digedornya. Batu karang penutup pintu tertutup pula dengan rapat.

***

DELAPAN

ENTAH berapa lama waktu berlalu.... Mahesa Kelud siuman sadarkan diri. Tubuhnya lemah lunglai. Tulang-tulangnya terasa sakit. Perlahan-lahan dibukakannya kedua matanya. Dia jadi terkejut karena sama sekali tidak melihat apa-apa selain kegelapan yang amat sangat. Digosok-gosoknya kedua matanya. Masih gelap. Digosoknya lagi, tetap saja tidak berubah. Pemuda ini menyangka bahwa kedua matanya sudah menjadi buta! Kepalanya seperti mau pecah! Dia berteriak keras! Tak jelas apa yang diteriakkannya itu. Suara teriakannya menggema dan menyakitkan anak telinganya. Dengan penuh keputusasaan pemuda ini berdiri sempoyongan. Dia meraba-raba. Tapak tangannya menyentuh dinding karang yang sangat tebal. Diputarinya ruangan itu. Setiap dia meraba selalu saja dinding karang tebal yang dipegangnya. Dinding karang ini dingin dan berlumut. Mahesa Kelud kini menyadari bahwa dirinya dikurung di satu ruang kecil dan gelap tanpa jendela atau pun pintu.
"Tapi mustahil tidak ada pintu. Kalau tidak ada bagaimana aku dijebloskan ke sini?" pikir si pemuda. Dia berkeliling sekali lagi dalam ruangan gelap itu. Akhirnya dirasakannya satu legukan
pada dinding. "Ini mungkin pintunya," pikir Mahesa. Dikerahkannya segala kekuatan dan tenaga
dalamnya. Dengan bahunya dia dorong bagian dinding yang leguk itu berkali-kali. Tapi hasilnya
nihil. Dicobanya memukul dan menendang. Pukulan dan tendangannya berisi aji kesaktian yang
diajarkan Embah Jagatnata, tapi hasilnya tetap kesia-siaan belaka. Tubuh pemuda ini basah oleh
keringat. Tangan dan kakinya sakit-sakit. Dia jatuhkan diri ke lantai dan duduk bersandar di dinding. "Celaka! Bila aku dikurung terus-terusan di sini aku bisa mati konyol! Terkutuk perempuan tua itu!" kata Mahesa memaki. Mendadak terdengar ketukan pada dinding di mana dia bersandar. Mahesa terkejut. Dipasangnya telinganya. Terdengar lagi suara ketukan yang serupa. Lebih jelas.
"Orang yang memaki, kau siapa?" Suara ketukan disusul oleh suara pertanyaan halus. Agaknya yang bertanya ini seorang tua renta.
Mahesa Kelud jadi terkejut. Terdengar suara halus bertanya: "Orang di kamar sebelah, kau siapa? Apakah kau tawanan baru?"
"Betul," sahut Mahesa Kelud. "Kau sendiri siapa, orang tua...?" balik menanya Mahesa.
"Orang-orang menjuluki aku si Karang Sewu. Tapi kini cepat atau lambat akan tamatlah riwayat si Karang Sewu!"
Mahesa Kelud terkejut bukan main. Dalam dunia persilatan siapa manusianya yang tidak kenal dengan si Karang Sewu? Karang Sewu, seorang tokoh kelas satu yang pernah menggetarkan dunia persilatan bahkan boleh dikatakan merajai dunia persilatan secara tidak resmi, kini tahu-
tahu berada di dalam Gua Iblis itu.
"Aku kena ditipu dan dipenjarakan di sini oleh si Nenek Iblis."
Ingat kepada nasibnya sendiri, Mahesa bertanya pula. "Bagaimana kau orang yang lihay bisa kena ditipu?"
"Sepuluh tahun yang lalu...."
"Sepuluh tahu yang lalu?" memotong Mahesa. "Jadi selama itu kau sudah dipenjara di sini?"
"Betul. Aku hanya tunggu detik kematian saja lagi."
"Ampun..." kata Mahesa dalam hati. "Bila aku dipenjarakan sampai sekian lama bisa celaka!" Mahesa memandang ke dinding yang tak kelihatan di hadapannya. "Karang Sewu, selama sepuluh tahun itu apa kau tidak berhasil mencari usaha untuk lari...?"
Si orang tua terdengar menarik nafas dalam. "Sebaiknya aku akan tuturkan padamu riwayatku agar menjadi jelas."
"Aku akan dengarkan dengan senang hati, Karang Sewu," kata Mahesa sambil rapatkan telinga ke dinding. Karang Sewu mulai tuturkan riwayat.
"Sepuluh tahun yang lewat, ketika aku masih mengembara di sebelah barat, dari seorang pengemis aneh aku mendapatkan sepucuk surat rahasia. Surat rahasia ini diberikannya padaku
karena aku telah selamatkan nyawanya dari satu malapetaka. Surat itu pendek dan isinya kalau
aku tidak salah ditujukan kepada pendekar-pendekar utama dari delapan penjuru angin. Siapa-siapa di antara mereka yang ingin merajai dunia persilatan diajurkan untuk datang ke Gua Iblis di mana terdapat satu senjata ampuh bernama Cambuk Iblis."
Sampai di sini sebenarnya Mahesa Kelud hendak menyela penuturan itu, hendak menerangkan bahwa dia pun sampai ke gua tersebut adalah karena sepucuk surat yang sama. Namun Mahesa membatalkan niatnya. Dia biarkan Karang Sewu merenungkan riwayatnya.
"Menurut si pengemis, surat seperti itu ada delapan helai. Lima di antaranya sudah jatuh ke tangan pendekar-pendekar silat kelas satu yang kemudian segera pergi mencari di mana letak Gua Iblis tersebut. Sebegitu jauh kelima pendekar itu tidak pernah lagi didengar kabarnya. Mereka seperti hilang tak tahu rimbanya. Setelah dapatkan surat itu diam-diam aku memutuskan untuk mencari Gua Iblis. Maksudku bukan untuk menjadi raja dunia silat, sama sekali tidak. Aku hanya ingin cari pengalaman. Ingin tahu senjata macam mana dan bagaimana keampuhannya Cambuk Iblis itu serta ingin menyelidik apa yang telah terjadi dengan kelima pendekar kelas satu tadi. Ada kira-kira dua purnama aku berkeliling baru mendapatkan keterangan di mana letaknya gua itu. Aku sampai ke sini pada suatu pagi yang mendung. Ketika aku berdiri di mulut gua yang tertutup batu karang dengan bingung karena pintu itu sukar dibuka, maka aku putuskan untuk menghancurkan batu karang yang menyumpal mulut gua dengan pukulanku yang berisi aji Karang Sewu, bukan aku sombong tapi sebegitu jauh tak ada satu benda apa pun yang tahan terhadap pukulanku...."
"Jika memang demikian mengapa kau tidak hancurkan saja dinding kamar di mana kau dipenjarakan saat ini dan melarikan diri?" tanya Mahesa Kelud memotong.
"Itulah..." sahut Karang Sewu dan untuk kesekian kalinya jago tua ini tarik nafas dalam.
"Nanti dalam kelanjutan penuturanku kau akan tahu juga. Ketika baru saja aku ayunkan tinju kanan untuk menghancurkan batu karang yang menutup pintu gua, tiba-tiba melayang satu butir benda hitam ke arah tanganku. Melihat kepada bentuknya benda itu serta kecepatan melesatnya yang luar biasa, aku segera tahu bahwa itu adalah jenis senjata rahasia yang berbahaya. Aku tidak mau celaka dan cepat-cepat menarik pulang tanganku. Beberapa butir senjata rahasia semacam itu menyerangku lagi dari tempat yang tersembunyi. Semuanya berhasil kuelakkan. Aku mencari perlindungan di balik sebatang pohon besar dan berteriak agar musuh gelap yang bersembunyi segera keluar memperlihatkan tampangnya.
Dari atas pohon di belakang gua kemudian melayang turun sesosok tubuh perempuan memakai kain hitam. Tanpa menimbulkan suara kedua kakinya mencapai tanah di muka pintu gua. Perempuan tua ini kemudian kuketahui adalah si Nenek Iblis yang memiliki gua. Dia membentakku agar datang ke hadapannya. Aku melompat ke muka gua. Dia tanya apakah aku mau mencari mampus berani-beranian datang ke daerahnya. Kuterangkan bahwa aku mencari Cambuk Iblis. Dia meminta surat rahasia. Surat itu kuberikan. Setelah diperhatikannya lalu dirobek-robeknya. Aku berbuat salah. Aku lengah waktu itu. Tanpa terduga sama sekali tangan yang tengah merobek-robek itu tahu-tahu melayang menghantam aliran darah dan perutku! Aku tak ingat apa-apa lagi. Ketika aku siuman ternyata diriku sudah dibikin cacat oleh Nenek berhati iblis itu. Kedua tangan dan kakiku telah dibacok putus! Si perempuan iblis itu tahu selama kedua tangan dan kakiku masih tetap utuh, penjara manapun tak sanggup mengurungku. Dalam waktu yang singkat aku akan segera bisa lolos. Karena itu siang-siang, selagi aku pingsan tak berdaya dia pergunakan kesempatan untuk melakukan perbuatan durjana itu. Nah, kini kau tahu anak muda. Meskipun aku masih tetap memiliki aji kesaktian Karang Sewu tak ada gunanya karena aku tidak bisa pergunakan tangan ataupun kakiku yang sudah buntung!"
"Mengapa dia tidak bunuh kau saja dengan seketika?" bertanya Mahesa Kelud.
"Tentu ada sebabnya," sahut Karang Sewu.
"Si Nenek Iblis tidak ingin melihat tawanannya mati dengan cepat. Dia ingin menyiksa sedikit demi sedikit dulu sampai akhirnya sang tawanan meregang nyawa dengan sendirinya...."
"Maksudmu?" tanya Mahesa Kelud tak mengerti.
"Setiap tawanan di sini tak pernah diberi makan. Dengan sendirinya mereka akan mati kelaparan!"
"Tapi mengapa kau sampai saat ini masih hidup? Kau bilang sudah sepuluh tahun dikurung di sini padahal tak pernah diberi makan."
"Si Nenek keparat itu memang tidak memberi makan. Tapi dia tidak tahu bahwa di dalam sini aku bisa mendapatkan makanan!"
"Makanan? Makanan dari siapa?" tanya Mahesa Kelud pula.
"Bukan dari siapa-siapa. Anak muda, coba kau pegang dinding karang di dekatmu...."
Mahesa ulurkan tangannya dan meraba dinding karang di hadapannya.
"Sudah?"
"Sudah."
"Nah, apa yang kau rasakan di dinding itu?"
"Dinding ini lembab, licin dan berlumut," jawab Mahesa Kelud.
"Betul... betul! Kau tadi menyebutkan lumut! Ya... lumut itulah yang telah menyambung nyawaku selama sepuluh tahun di sini. Selama aku terpenjara lumut itu yang aku makan...."
Mahesa Kelud menggigit bibir. Dia maklum, kalau sampai tahunan pula dia dikurung di ruang batu karang itu untuk hidup satu-satunya hanyalah dengan makanan lumut. Kemudian terdengar lagi suara si Karang Sewu. "Mula-mula sangat tidak enak dan pahit rasanya lumut itu. Pertama kali aku makan, aku muntah-muntah. Tapi seminggu kemudian aku sudah mulai bisa...."
"Selama sepuluh tahun itu apakah lumut di dinding dalam ruanganmu tidak habis-habis?" tanya Mahesa.
"Tidak. Kau tahu penjara ini terletak di tepi sebuah anak sungai. Udara selalu lembab. Dalam waktu satu hari saja lumut-lumut yang baru bertumbuhan dengan cepat."
Mahesa saat itu memang merasakan perutnya sangat lapar. Dikoreknya sedikit lumut dari dinding lalu coba dicicipinya. Sesaat kemudian lumut itu diludahkannya ke lantai.
"Hai, ada apa kau meludah-ludah?" terdengar suara Karang Sewu dari kamar sebelah.
"Pahit!"
"Apa yang pahit?"
"Lumut ini. Kucoba mencicipinya!"
Si Karang Sewu tertawa perlahan. "Mula-mula memang terasa demikian, namun lama-lama kau akan biasa dan lidahmu akan merasanya manis," kata jago tua itu pula. "Anak muda, omong-omong kau belum perkenalkan diri dan beritahu siapa nama gurumu."
Mahesa berpikir-pikir. Apakah dia akan beri keterangan palsu atau mengatakan dengan jujur siapa dia dan siapa gurunya. "Karang Sewu, apa kau sudi dengar riwayatku?"
"Oh tentu sudi. Ceritalah anak muda...."

***

SEMBILAN

"NASIB yang membawaku sampai ke sini tiada beda dengan nasibmu. Aku baru saja turun gunung dilepas guruku yang bernama Embah Jagatnata. Mungkin kau pernah dengar nama beliau...."
"Jagatnata...? Embah Jagatnata?" Karang Sewu berpikir-pikir. "Tidak," katanya. "Tak pernah
kudengar nama itu. Di mana gurumu berdiam?"


"Puncak gunung Kelud."
"Puncak gunung Kelud? Aneh... selama puluhan tahun gunung itu dianggap angker. Semua orang dalam kalangan persilatan sama mengetahui bahwa tak ada orang sakti yang bermukim di sana. Ini adalah satu kabar aneh yang aku baru dengar. Tapi aku maklum, selama sepuluh tahun terkurung di sini, dunia luaran tentu telah banyak mengalami perubahan. Jago-jago baru banyak bermunculan. Gurumu pasti seorang sakti luar biasa. Kalau tidak mana mungkin dia mencari tempat kediaman di puncak gunung Kelud."
"Guruku biasa saja, Karang Sewu. Kurasa ilmunya tak beda dengan yang dimiliki orang-orang sakti lainnya termasuk kau," kata Mahesa Kelud pula.
"Ah... kau pandai merendah diri. Aku suka padamu. Tapi kau masih belum beritahu namamu."
"Maaf, aku sampai kelupaan. Aku Mahesa Kelud."
Teruskan kisahmu, Mahesa."
"Aku turun gunung. Ketika malam tiba kulihat ada nyala api di kejauhan. Ketika kudatangi ternyata nyala api ini adalah sebuah pelita yang terletak di atas meja di dalam sebuah pondok. Aku masuk. Dan terkejut ketika menemui ada orang terkapar di lantai. Tubuhnya mandi darah. Mukanya kena bacok.. Orang yang tengah meregang nyawa itu ternyata adalah si Cakar Setan...."
"Cakar Setan!" kata Karang Sewu setengah berseru karena terkejut. "Apa yang terjadi dengan jago silat itu?!"
"Rupanya surat rahasia dari Gua iblis ini salah satu di antaranya jatuh ke tangan si Cakar Setan. Di lain pihak seorang jago silat yaitu Warok Kate kurasa mengetahui pula perihal surat itu lalu mendatangi tempat kediaman si Cakar Setan...."
"Warok Kate memang seorang kepala rampok tamak dan jahat.!" tukas Karang Sewu.
"Tentunya telah terjadi perang tanding antara kedua pendekar itu. Dan si Cakar Setan berhasil dikalahkan oleh Warok Kate. Kepala rampok itu kemudian menggeledah isi pondok kediaman Cakar Setan, mencari surat rahasia tersebut. Tapi tak berhasil. Dalam keadaan tangannya sendiri buntung Warok Kate kemudian tinggalkan si Cakar Setan. Saat itulah aku muncul. Kasihan si Cakar Setan. Kedua matanya tidak bisa melihat karena tergenang oleh darah yang keluar membanjir dari luka bekas bacokan Warok Kate pada mukanya. Dia sangka aku adalah muridnya, Jaliteng. Lantas saja dia terangkan padaku di mana surat rahasia tersebut berada yaitu di dalam pedang...."
"Si Cakar Setan memang seorang cerdik dalam hal menyembunyikan apa-apa. Lalu kau temui surat itu?" tanya Karang Sewu dari kamar sebelah.
"Betul. Ternyata disembunyikan dalam leher ukiran naga pada gagang pedang. Pedang kuning milik si Cakar Setan kuambil, sekarang ada padaku...."
"Kau mencurinya?!"
"Aku tidak bermaksud demikian. Tapi karena aku tahu bahwa senjata itu bukan senjata sembarangan dan khawatir sepeninggalku akan dicuri orang lain untuk dipergunakan dalam maksud-maksud jahat maka aku putuskan untuk membawanya. Di satu waktu aku akan berikan
pedang ini kepada siapa yang berhak mewarisinya. Mungkin Jaliteng, murid si Cakar Setan sendiri...."
"Tapi di samping Jaliteng, si Cakar Setan masih memiliki beberapa orang murid lagi. Satu di antaranya seorang gadis! Kau bisa kena celaka, Mahesa! Murid-murid si Cakar Setan pasti akan
menjatuhkan tuduhan kepadamu! Tuduhan berat yaitu membunuh guru mereka mencuri pedang dan surat rahasia! Mereka pasti mengadu nyawa dengan kau sampai seribu jurus!"
"Hal itu bisa dimaklumi!" sahut Mahesa Kelud sambil meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal di lantai. "Namun bila aku berhadapan dengan salah seorang dari mereka nanti aku akan terangkan kejadian yang sebenarnya."
"Memang harus demikian supaya mereka tidak salah sangka," ujar Karang Sewu pula. "Teruskanlah kisahmu."
"Ketika aku berniat untuk pergi mendadak seseorang menerobos masuk lewat pintu pondok. Manusia ini ternyata adalah Warok Kate! Rupanya diam-diam dia telah mengintip kedatanganku ke pondok itu dan mengetahui bahwa surat rahasia yang dicari-carinya kini berada di tanganku. Dengan membentak dan mengancam dia meminta surat tersebut. Karena aku sudah bertekad untuk mempertahankan surat itu maka terjadilah perkelahian seru antara kami. Warok Kate, memang seorang yang lihay dan gesit. Untung sekali pedang si Cakar Setan ada padaku sehingga setelah bertempur belasan jurus Warok Kate yang mulai merasakan dirinya terdesak segera ambil keputusan untuk kabur. Sebelum berlalu dia masih sampaikan ancaman padaku bahwa satu ketika dia akan datang kembali untuk merampas nyawaku!"
"Aku tahu sifat Warok Kate," kata Karang Sewu pula. "Ancamannya itu bukan ancaman kosong. Dia pasti mencari guru yang lihay. Setelah mendapatkan ilmu tambahan baru dia akan menghadapi kau mungkin pula dia membawa serta benggolan-benggolan rampok kawakan lain-
nya...."
Menurut Mahesa Kelud apa yang dikatakan orang tua itu memang benar. Dia kembali termenung memikirkan nasibnya yang baru saja turun gunung, belum apa-apa tahu-tahu sudah kejeblos ke dalam penjara tanpa ada harapan untuk bisa kabur melarikan diri. Sampai puluhan tahun dia akan mendekam di ruang batu karang yang sempit gelap dan lembab itu sampai akhirnya dia menghembuskan nafas penghabisan tanpa sanggup menunaikan tugas-tugas yang diberikan gurunya Embah Jagatnata.
"Bagaimana dengan kelima jago-jago silat yang kau terangkan tadi? Apa berhasil mencari atau mengetahui jejak mereka?" tanya Mahesa.
"Tidak. Namun kuduga mereka juga sudah menjadi korban si Nenek Iblis, dipenjarakan di gua ini. Kau tahu di sini terdapat banyak lorong-lorong dan setiap lorong ada kamar-kamar penjara seperti tempat di mana kita di kurung saat ini. Kalau saja kelima orang itu tahu bahwa lumut di
dinding karang ini bisa dimakan, mungkin mereka masih hidup sampai saat ini...."
"Kasihan mereka...."
"Ah... mengapa harus kasihan sama mereka? Mengapa harus pikirkan nasib mereka? Kita sendiri harus kasihan pada diri kita yang sudah ditimpa nasib celaka ini. Kita harus pikirkan nasib kita sendiri..." ujar si Karang Sewu pula.
"Karang Sewu," kata Mahesa Kelud. Dia putar pembicaraan. "Kau jauh lebih tua dariku.Tentu lebih banyak pengetahuan. Aku tidak mengerti mengapa pemilik gua ini berhati jahat dan menyebarkan surat-surat celaka itu. Siapa si Nenek Iblis ini sebenarnya?"
"Mengapa dia sampai berhati sejahat Iblis, ada riwayatnya," jawab Karang Sewu.
"Kalau kau tak keberatan menuturkannya..." mohon Mahesa.
"Aku akan tuturkan. Dulunya si Nenek Iblis ini seorang perempuan baik-baik. Nama aslinya aku tak ingat lagi. Ketika masih belasan tahun dia sudah diambil murid oleh seorang pertapa sakti disatu pulau kecil di pantai utara. Menanjak dewasa nyatalah bahwa dia bakal menjadi seorang gadis berparas jelita. Banyak pendekar-pendekar muda yang jatuh cinta tergila-gila padanya. Dia sendiri jinak-jinak merpati. Namun demikian akhirnya dia terpikat juga pada seorang pemuda berilmu tinggi dan dijuluki Simo Gembong...."
"Simo Gembong?" seru Mahesa Kelud.
"Hai, kau terkejut sekali mendengar nama itu. Kau kenal Simo Gembong?" tanya Karang Sewu dari kamar sebelah.
"Tidak. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Simo Gembong adalah manusia yang aku harus cari," menerangkan Mahesa Kelud.
"Hemm... kau punya urusan dengan orang itu agaknya?"
Mahesa ragu-ragu seketika lalu membuka mulut. "Karang Sewu, ketahuilah bahwa waktu aku dilepas turun gunung oleh guruku, beliau memberikan dua buah tugas penting padaku. Salah satu di antaranya ialah harus mencari sampai dapat seorang yang bernama Simo Gembong dan
membunuhnya!"
Di kamar sebelah si Karang Sewu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mahesa Kelud," katanya, "Bukan aku memandang rendah kepada ilmumu atau meremehkanmu. Tapi jika Simo Gembong masih hidup saat ini, kurasa sukar dicari orang yang sanggup menandinginya. Aku sendiri tidak sungkan-sungkan mengaku bahwa ilmuku masih berada di bawahnya. Berbahaya, terlalu berbahaya mencari urusan dengan dia Mahesa!"
"Tapi Karang Sewu," berkata Mahesa Kelud. "Guruku agaknya juga memaklumi kehebatan Simo Gembong tersebut. Karenanya sebelum aku mencari dia, Embah Jagatnata menugaskan aku agar terlebih dahulu mencari sebuah pedang bernama Samber Nyawa. Menurut beliau hanya dengan pedang itulah si Simo Gembong bisa dihabisi riwayatnya."
"Kalau kau sebut-sebut pedang Samber Nyawa, itu lain perkara, Mahesa."
"Jadi kau tahu mengenai senjata ini?"
"Semua jago silat dalam dunia persilatan pernah mendengar tentang pedang sakti itu. Semua mereka ingin memilikinya. Namun sebegitu jauh tidak satu orangpun yang tahu di mana pedang itu berada, termasuk aku. Lambat laun diragukan tentang adanya senjata tersebut. Mahesa... tugas yang diletakkan gurumu di atas pundakmu adalah tugas sangat berat. Nyawa hadangannya."
"Aku maklum Karang Sewu. Tapi sebagai murid aku harus laksanakan. Kapan lagi aku berbakti kepadanya...."
"Betul, betul.... Tandanya kau seorang murid yang tahu balas jasa. Mari kuteruskan mengenai riwayat si Nenek Iblis tadi. Jadi semasa gadisnya dia adalah seorang gadis yang jelita. Banyak pemuda tergila padanya sampai suatu hari dia terpikat pada Simo Gembong yang juga masa itu merupakan seorang pemuda gagah dan berilmu. Simo Gembong sebenarnya adalah pemuda hidung belang doyan perempuan. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. Dia segera tempel si gadis. Sebagaimana setiap pemuda hidung belang maka begitulah, Simo Gembong cuma permainkan itu gadis. Ketika dia puas mencicipi tubuh yang indah dan mulai bosan maka dia segera tinggalkan si gadis. Padahal saat itu gadis tersebut sudah berbadan dua!
Si gadis mencari Simo Gembong. Celakanya waktu itu dipergokinya Simo Gembong sedang meniduri anak gadis orang di satu pondok di tengah ladang yang sepi. Si Nenek Iblis tidak mau ambil perduli dengan urusan Simo Gembong. Yang penting baginya ialah mendapatkan pemuda itu dan meminta pertanggung jawabnya. Si Nenek Iblis yang cinta akan Simo Gembong mengharap agar mereka bisa buru-buru kawin demi menutupi malu karena kandungannya sudah membesar. Tapi Simo Gembong mengelak diri dan tidak mengacuhkan dia sama sekali. Si Nenek Iblis jadi kalap dan mengamuk hebat. Dia serang Simo Gembong. Maka terjadilah perkelahian yang sangat hebat. Tadinya mereka saling suka sama suka dan kini sebaliknya bertekad bulat untuk mencabut nyawa satu sama lain. Sekali lagi Simo Gembong menunjukkan kepengecutan di mana dia tidak bertanggung jawab. Tahu bahwa bekas kekasihnya itu memiliki ilmu yang lebih tinggi, maka ketika dia mulai kepepet dia segera ambil langkah seribu dan kabur. Si Nenek Iblis mengejar dan memburunya terus. Tapi Simo Gembong hilang lenyap seperti di telan bumi. Sampai saat ini tidak satu orangpun tahu di mana dia berada. Cuma satu hal yang dapat dipastikan ialah bahwa tentunya, kalau dia masih hidup maka ilmu silat dan kesaktiannya tentu sudah mencapai tingkat yang tinggi, yang bukan sembarang orang bisa mencapainya...."
"Bagaimana dengan si Nenek Iblis sesudah dia tak berhasil menemui Simo Gembong?" tanya Mahesa Kelud.
"Beberapa bulan sesudah Simo Gembong lenyap maka diapun melahirkan. Ternyata anak haram jadah yang ia brojolkan ke dunia ini adalah seorang laki-laki dan celakanya tampangnya
sangat sama dengan Simo Gembong. Sudah barang tentu dendam si Nenek Iblis terhadap Simo
Gembong menggejolak kembali, ditambah pula bahwa itu adalah anak haram jadah maka tanpa
hati kemanusiaan sedikit pun si Nenek Iblis lantas saja bunuh itu bayi! Sejak dia membunuh anak sendiri, sejak itu sifatnya yang kejam dan terkutuk menjadi-jadi. Dia membenci kepada semua orang, terutama terhadap laki-laki yang bertampang gagah dan punya ilmu tinggi. Di mana-mana dia mencari lantaran, menganiaya dan membunuh. Sementara itu dia tak henti-hentinya mengelana mencari Simo Gembong. Sambil mengelana dia menyebar maut. Dan ketika puluhan tahun kemudian dia sudah menjadi seorang nenek-nenek maka orang-orang menggelarinya si Nenek Iblis. Kurasa gelar itu sangat cocok."
"Lantas apa perlunya si Nenek Iblis menyebarkan delapan surat rahasia itu?" tanya Mahesa Kelud.
"Dengan dua maksud," jawab Karang Sewu. "Pertama untuk mengundang pendekar-pendekar kawakan di delapan penjuru angin. Dan jika mereka datang ke sini lantas dipenjarakan hidup-hidup tanpa diberi makan sampai akhirnya mereka menemui ajal mati kelaparan. Ini adalah disebabkan karena lekatnya sifat membenci dalam diri si Nenek Iblis terhadap setiap laki-laki karena seorang laki-lakilah yaitu Simo Gembong yang telah merusakkan kehidupannya. Maksud
yang kedua tak lain adalah untuk memancing datangnya Simo Gembong sendiri ke Gua Iblis ini.
Dan bila ini benar-benar kejadian maka mungkin akan kesampaian maksud si Nenek iblis untuk
membalas dendam. Namun sebegitu jauh, sampai saat ini Simo Gembong tak pernah kelihatan mata hidungnya. Hilang lenyap seperti gaib. Entah masih hidup entah sudah berkubur...."
"Bagaimana dengan Cambuk Iblis yang tertera dalam surat rahasia itu?" tanya Mahesa.
"Sudah aku katakan kita semua yang datang ke sini tertipu. Cambuk Iblis itu sama sekali tidak pernah ada!" sahut Karang Sewu.
Mahesa Kelud tak habisnya menyumpah dan memaki dalam hati. Tapi apa mau dikata. Dirinya sendiri sudah kena dikeram dalam Gua Iblis itu!

***

SEPULUH

MENDADAK di luar terdengar lapat-lapat suara menderu yang halus. Mahesa Kelud pasang telinganya, coba menduga suara apa itu adanya, tapi tak berhasil. Diketuknya dinding karang di
sampingnya.
"Karang Sewu..." dia memanggil.
"Ya, ada apa Mahesa?" terdengar suara si orang tua dari kamar sebelah.
"Kau dengar suara menderu di luar sana?"
"Oh itu? Tak usah khawatir. Itu cuma suara hujan dan derasnya arus sungai di belakang dinding karang ini," menerangkan Karang Sewu.
Sunyi seketika. Lalu terdengar suara si orang tua bertanya. "Mahesa, kau tahu bahwa kau tak akan bisa keluar lagi hidup-hidup dari penjara iblis ini?"
Mahesa Kelud tak menjawab. "Tak ada seorang pun di dunia luar yang sanggup menolong kita."
"Sebaiknya kita tak usah bicarakan hal itu," kata Mahesa Kelud jadi tidak enak. "Bukankah lebih bagus bila kita berpikir berusaha mencari akal agar bisa keluar dari sini?"
"Sudah sejak sepuluh tahun lalu aku mencari akal anak muda," ujar si orang tua pula.
"Dan buktinya sampai saat ini aku masih tetap mengeram di sini, menunggu mampus!"
"Namun tidak ada yang tidak mungkin diatas jagat ini. Siapa tahu ada yang akan menolong kita."
"Betul, Mahesa. Betul sekali katamu. Kau mungkin bisa ditolong tapi aku tidak. Kau mungkin bisa lolos tapi aku tidak. Dan aku ingin agar kau bisa keluar hidup-hidup dari sini!"
"Kau punya akal?" tanya Mahesa Kelud penuh harapan seraya ingsutkan diri lebih rapat ke dinding.
"Akal dan cara," jawab si Karang Sewu.
"Katakanlah!" ujar Mahesa tak sabaran.
"Tapi sebelumnya kau mau berjanji? Yaitu bila aku tolong kau maka apa kau mau tolong aku?" "Sudah barang tentu! Bila saja aku berhasil keluar dari penjara batu karang ini maka aku akan adu jiwa untuk selamatkan kau!"
"Oh, bukan... bukan itu maksudku," kata Karang Sewu pula.
"Lantas?"
"Dengar Mahesa, aku tolong kau keluar dari sini dan sebagai ganti budi aku minta agar kau melaksanakan beberapa tugas. Tugas-tugas yang berat, Mahesa."
"Melaksanakan tugas-tugas berat bagiku adalah lebih baik daripada terkurung di sini menunggu ajal!"
"Bagus aku gembira kau bicara demikian. Aku akan beritahu tugas-tugas itu lebih dahulu, baru cara bagaimana aku menolongmu lolos dari sini. Pertama, bila kau sudah berada di luar nanti maka pergilah ke barat, ke daerah kesultanan Banten, hambakan dirimu di sana karena aku mendapat firasat bahwa Banten kini tengah berada dalam kekalutan. Bila kekalutan itu berakhir
sudah maka berarti selesainya tugasmu. Sanggup kau laksanakan tugas yang pertama ini?"
"Dengan doa restumu, Karang Sewu."
"Bagus. Sekarang tugas yang kedua atau yang terakhir. Pergilah ke Lembah Maut yang terletak di tanah utara di mana bersarang seorang gadis berhati jahat digelari si Dewi Maut. Dia telah membunuh dua orang anak laki-lakiku. Kuharapkan kepadamu agar kau bisa menuntut balas untukku. Sanggup?"
"Sanggup Karang Sewu," kata Mahesa Kelud tanpa ragu-ragu. Meskipun dua tugas yang dipikulkan gurunya sendiri di pundaknya belum terlaksana dan kini mendapat dua tugas tambahan yang tak kalah beratnya namun bagi Mahesa itu adalah lebih baik daripada harus mengeram menunggu mati di dalam penjara Gua Iblis.
"Nah, sekarang aku akan terangkan padamu cara bagaimana aku bisa menolongmu lolos dari sini," kata Karang Sewu.
Mahesa Kelud merasakan dadanya berdebar. Kemudian didengarnya suara si orang sakti dari balik dinding. "Dengar baik-baik, Mahesa. Mulai saat ini aku akan ajarkan kepadamu aji kesaktian pukulan Karang Sewu. Dengan mempergunakan ilmu pukulan itu nanti kau akan sanggup menghancurkan dinding karang dan melarikan diri!"
"Kalau begitu aku akan panggil kau guru, Karang Sewu!" seru Mahesa Kelud penuh gembira.
"Ah, tak usah pakai peradatan segala Mahesa."
"Bila nanti kau sudah keluar, aku akan segera tolong kau menyelamatkan diri dari sini," berjanji pemuda itu.
"Tentang diriku tak usah dipikirkan. Dalam keadaan tubuh yang cacat seperti ini hidup di dunia bebas tak ada artinya bagiku. Biar aku tetap mengeram di sini menunggu ajal, tak usah dipikirkan. Yang penting jalankan tugas yang aku pikulkan atasmu. Dengan demikian aku bisa menjadi puas."
"Baiklah kalau itu maumu," ujar Mahesa Kelud namun dalam hatinya dia tetap berniat untuk bebaskan si orang tua.
"Nah, Mahesa. Bersiap-siaplah untuk menerima pelajaran permulaan.
"Baik guru."

***

Dua bulan berlalu seperti tak terasa...
"Mahesa, syukur kau sudah mempunyai dasar ilmu dalam yang sangat tinggi sehingga kini kurasa kau sudah memiliki ilmu pukulan Karang Sewu, sama dengan yang kumiliki. Kau tinggal
memilih waktu saja lagi kapan kau akan melarikan diri dari sini. Lebih cepat lebih baik."
"Kalau aku memiliki ilmu pukulan yang ampuh, maka itu adalah berkat keikhlasanmu, Karang Sewu. Aku mengucapkan terima kasih dan tak akan lupakan budimu. Kalau kau tak keberatan aku akan pergi sekarang juga."
"Ya, pergilah Mahesa. Hati-hati dan jangan lupa tugas yang kupikulkan padamu."
"Menghindarlah ke sudut ruangan, Karang Sewu. Aku akan bobolkan dinding yang membatasi tempat kita agar kita berdua bisa keluar sama-sama."
"Mahesa, kau tidak ingat kata-kataku tempo hari. Jangan pikirkan aku, tak usah tolong diriku. Kau pergilah sendirian. Aku...."
Karang Sewu hentikan kalimatnya dengan serta merta ketika di luar sana mendadak terdengar suara tertawa cekikikan. Mahesa sendiri juga terkejut.
"Mahesa, larilah! Cepat sebelum si Nenek Iblis itu mengetahuinya!" kata Karang Sewu.
"Hi... hi... hi! Tidak ada satu manusia pun yang bisa lari dari sini! Tidak satu manusia pun! Karang Sewu, rupanya kau sudah bosan hidup...sudah mau cepat-cepat pergi ke neraka. Aku dengar semua apa yang kau bicarakan dengan itu pemuda. Karenanya kau harus mampus saat ini juga."
Dari tempat di mana dia berada Mahesa Kelud mendengar dinding karang digedor lalu suara benda berat bergeser yang disusul dengan suara tertawa cekikikan menegakkan bulu roma.  Mahesa segera tahu bahwa si Nenek iblis tengah membuka pintu karang di tempat di mana Karang Sewu dipenjarakan. Tanpa menunggu lebih lama pemuda ini kerahkan aji kesaktian yang diterimanya dari si orang tua. Tangan kanannya terasa panas dan bergetar. Tangan kanan yang membentuk tinju itu kemudian dihantamkannya ke muka.
"Braak!!!"
Sungguh luar biasa! Dinding karang di hadapannya ambruk bobol. Karena pintu di kamar sebelah terbuka maka di antara sinar tipis yang masuk, samar-samar Mahesa Kelud dapat melihat si Nenek Iblis. Dia segera menerobos masuk ke kamar sebelah itu. Tapi Mahesa Kelud terlambat. Dengan satu gerakan cepat luar biasa si Nenek Iblis yang menggenggam pedang pada tangan kanannya melompat ke muka dan menghunjamkan senjata itu dalam-dalam ke dada Karang Sewu yang terbaring tanpa daya di lantai. Orang tua ini mengeluh tinggi. Nyawanya melayang seketika itu juga.
"Perempuan laknat!" maki Mahesa Kelud seraya mencabut pedangnya dari balik punggung.
"Pemuda sedeng!" semprot si Nenek Iblis.
"Berani memaki aku! Apa tidak tahu nyawamu hanya tinggal sekejapan mata saja?! Kau akan segera susul anjing tua itu!"
Si Nenek Iblis cabut pedangnya dari dada Karang Sewu yang sudah menjadi mayat dan menangkis sambaran pedang Mahesa Kelud yang menderu ke arah kepalanya.
Trang!
Dua senjata beradu keras mengeluarkan suara nyaring. Bunga api memercik. Kedua musuh itu sama-sama mundur ke belakang. Mahesa merasakan tangannya bergetar, sebaliknya si Nenek Iblis merasa tangan kanannya panas dan pedas! Mau tak mau ini membuat dia terkejut. Tidak menunggu lebih lama dia segera putarkan pedangnya sampai mengeluarkan suara menderu. Namun Mahesa tidak kalah sigap. Gerakan pedangnya yang tidak terduga-duga memaksa si Nenek Iblis mengambil sikap bertahan. Demikianlah di dalam ruangan yang samar-samar itu kedua manusia tersebut bertempur dahsyat. Yang satu perempuan yang lain laki-laki. Yang satu sudah tua renta sedang yang lain masih muda belia!
Mereka lebih banyak mempergunakan perasaan dari pada penglihatan. Si Nenek Iblis memaki dalam hatinya ketika dia kena didesak keluar kamar. Tanpa perdulikan tata cara persilatan tangan kirinya menyelinap cepat ke balik kain yang dipakainya. Ketika tangan itu keluar maka melayanglah tiga butir senjata rahasia ke jurusan Mahesa Kelud.
"Licik!" teriak si pemuda seraya miringkan kepalanya dengan cepat. Dua buah senjata rahasia yang menyerang ke arah sepasang matanya lewat. Yang ketiga dibuat mental dengan lambaian
tangan kiri!
Si Nenek menggerakkan tangannya kembali tapi kali ini Mahesa Kelud tidak mau memberi kesempatan. Tubuhnya melesat ke muka. Pedang membabat bersiuran sedang kaki kanan menendang ke tangan kiri lawannya. Si Nenek miringkan tubuh. Tendangan kaki kanan Mahesa lewat. Serangan pedang ditangkis dengan pedang. Untuk kesekian kalinya sepasang senjata itu beradu lagi. Tapi kali ini si Nenek Iblis sudah kepayahan dan kehabisan tenaga. Pedangnya terlepas dan mental.
"Celaka!" kata si Nenek Iblis dalam hati. Dia melompat mundur menjauh lalu putarkan tubuh hendak lari.
"Perempuan iblis! Mau lari ke mana?!" teriak Mahesa seraya lari mengejar. Tapi si Nenek Iblis sudah lenyap di dalam salah satu lorong gua yang sangat gelap!

***

SEBELAS

MAHESA Kelud geram bukan main. Tapi apa mau dikata. Musuh besarnya itu sudah lenyap. Dia tidak mau mengejar karena dalam lorong gua yang gelap itu akan mudah bagi si Nenek Iblis untuk membokong mencelakainya. Pemuda itu putar tubuh dan masuk ke dalam ruangan batu karang di mana sebelumnya Karang Sewu dipenjarakan. Dia berlutut di hadapan mayat Karang Sewu. Hatinya terharu. Bukan saja terharu melihat tubuh cacat dari si orang tua tapi juga terharu karena Karang Sewulah yang menyelamatkan nyawanya keluar dari penjara maut itu dan kini manusia sakti yang telah menolongnya itu harus mati dalam keadaan seperti itu.
"Karang Sewu," kata Mahesa Kelud. "Aku bersumpah di hadapan mayatmu untuk membunuh si Nenek Iblis!" Diangkatnya mayat si orang tua dan diletakkannya di bahu kirinya. Mahesa meninggalkan tempat itu, mencari jalan keluar. Setiap dia menemui dinding karang yang menghadang, dia pergunakan pukulan Karang Sewunya untuk membobolkan dinding tersebut. Akhirnya ketika dia membobolkan untuk kesekian kalinya dinding karang di hadapannya maka masuklah sinar terang yang menyilaukan mata. Ternyata sinar matahari. Mahesa menarik nafas lega.
Kini dia sudah sampai di luar gua maut itu. Untung sekali saat itu hari siang sehingga tidak sukar bagi si pemuda untuk mencari tanah yang baik guna menguburkan mayat Karang Sewu. Mahesa Kelud kemudian teringat akan lima orang pendekar silat yang diceritakan oleh Karang Sewu tempo hari. Jika mereka benar-benar menjadi tawanan si Nenek Iblis... dan masih hidup saat itu... Mahesa bulatkan tekat bahwa dia harus menolong kelima pendekar yang malang itu. Dibuatnya sebuah obor. Lalu dia melangkah masuk ke dalam gua melalui bagian yang bobol dari
mana dia keluar tadi. Tapi baru saja dia sampai dihadapan bagian gua yang bobol itu mendadak
sontak terdengar suara tertawa cekikikan di belakangnya.
Pemuda ini terkejut dan cepat putar tubuhnya. Di hadapannya berdiri si Nenek Iblis. Ditangan kanannya tergenggam sebatang tombak aneh bermata tiga sedang pada tangan kirinya ada sebuah senjata lain dari yang lain yaitu sebuah kendi! Sekilas pandang kendi itu tak ubahnya seperti kendi-kendi lain yang terbuat dari tanah liat. Tapi Mahesa tahu bahwa kendi yang ada di tangan Nenek Iblis saat itu adalah terbuat dari besi dan merupakan senjata yang berbahaya!
Namun dari semuanya itu, apa yang sangat mengejutkan Mahesa Kelud ialah bahwa si Nenek Iblis yang berdiri di hadapannya saat itu sama sekali tidak berpakaian alias telanjang bulat!
"Perempuan edan!" maki Mahesa dalam hatinya. Diperhatikannya tubuh Nenek Iblis yang kurus tinggi, seluruh kulitnya hitam keriputan. Buah dadanya yang hampir sama rata dengan tubuhnya kelihatan bergoyak-goyak melepet karena tertawanya yang cekikikan.
"Ha...! Ha...! Kau terkejut Mahesa Kelud?!
Pandangi tubuhku yang bagus ini baik-baik! Kau tidak punya kesempatan lama untuk menikmatinya karena sebentar lagi nyawamu akan minggat ke neraka!"
"Perempuan terkutuk!" maki Mahesa. Bersamaan dengan itu dilemparkannya obor yang di tangannya ke muka si nenek. Nenek Iblis menangkis obor itu dengan tombak di tangan kanannya. Lalu sambil mengeluarkan suara jeritan melengking mengerikan tubuhnya melesat ke hadapan Mahesa Kelud.
Si pemuda tidak tunggu lebih lama. Dia segera cabut pedang milik Cakar Setan yang tersisip di punggungnya. Senjata ini diputarkannya sedemikian rupa untuk menangkis dan melindungi dirinya dari serangan ganas Nenek Iblis. Pedang dan tombak beradu. Suaranya berdencing dan meskipun hari siang tapi samar-samar masih kelihatan bunga api. Tubuh si Nenek Iblis sempoyongan sedang tubuh Mahesa Kelud tidak bergerak sedikit pun! Ini tak lain berkat keampuhan ilmu Karang Sewu yang dimilikinya. Meskipun tahu bahwa tenaga dalam lawannya lebih tinggi namun Nenek Iblis yang sudah seperti kalap terus saja mengirimkan serangan kedua.
Dia tusukkan tombak bermata tiganya ke arah dada Mahesa Kelud. Si pemuda menggeser tubuhnya ke samping tapi ujung tombak itu dengan cepat mengikuti arah elakannya. Mahesa pergunakan pedangnya untuk memapas tombak. Tapi tak terduga Nenek Iblis enjot tubuh dan melesat tinggi ke atas. Saat itu dengan berbarengan dia lancarkan dua serangan sekaligus!
Yang pertama yaitu serangan tombak bermata tiga menusuk lurus dengan deras dari atas ke arah batok kepala Mahesa Kelud yang tertutup dengan sapu tangan putih. Sedang yang kedua adalah hantaman senjata berbentuk kendi mengarah lambung Si pemuda. Jika Mahesa membungkuk mengelakkan tusukan tombak maka senjata yang berbentuk kendi pasti akan menghantam dagunya. Sebaliknya jika dia melompat maka tusukan tombak niscaya menembus kepalanya!
Dalam posisi yang menegangkan itu tiba-tiba Mahesa keluarkan suara membentak menggeledek! Lutut kiri dilipat, kepala dimiringkan. Dia enjot kaki kanannya dan sedetik kemudian tubuhnya rebah jungkir balik ke belakang! Serangan tombak dan kendi besi lewat sekaligus. Dengan gusar si nenek memburu ke muka untuk kirimkan serangan berantai. Tapi ketika jungkir balik ke belakang tadi Mahesa Kelud tidak bodoh. Dia babatkan pedang kuning di tangannya ke arah perut Nenek Iblis, membuat perempuan berhati setan ini terpaksa menarik pulang serangannya. Untuk menangkis senjata Mahesa dia tidak punya nyali karena dia maklum akan kalah tenaga dalam.
Jurus selanjutnya Mahesa Kelud yang membuka serangan. Pedangnya berputar tak menentu, menyerang ke bagian-bagian mematikan dari tubuh si Nenek Iblis yang telanjang bulat. Perempuan itu tidak mau kalah. Tubuhnya berkelebat cepat seperti bayang-bayang. Ilmu mengentengi tubuhnya memang patut dikagumi. Tapi walau bagaimanapun pemuda yang menjadi tandingannya tetap berada di atas angin. Memasuki jurus ke sembilan terlihatlah Mahesa mulai mendesak si Nenek Iblis ke arah semak-semak. Dengan lebih mempercepat gerakannya si Nenek Iblis coba untuk bertahan bahkan sekali dua ganti melancarkan serangan. Tapi tidak ada guna. Mahesa tidak memberikan kesempatan padanya. Gulungan pedang kuning seakan-akan mengurung tubuh si Nenek Iblis dan dia terdesak hebat!
"Keparat!" gertak Nenek Iblis penuh geram. Dia pasang kuda-kuda baru dan ketika dia lancarkan serangan maka gerakan ilmu silatnya berubah sama sekali. Sangat gesit dan serangan- serangan yang dilancarkannya tidak terduga. Mahesa dibikin sibuk kini! Tapi pemuda ini tetap tenang. Gerakannya diperhitungkannya benar-benar.
"Nah... nah Jaliteng palsu! Nyawamu sudah tinggal sekejapan mata lagi! Sebutkan nama gurumu!"
"Perempuan bejat pembunuh anak kandung sendiri!" balas memaki Mahesa Kelud. "Tak usah banyak bacot!" Pemuda ini kirimkan satu tusukan ke dada lawannya tapi dengan mudah dielakkan oleh si Nenek Iblis. Namun demikian perempuan ini salah duga, tak tahu kalau serangan empuk itu adalah tipuan belaka. Dengan kesusu dan sembrono begitu mengelak dia segera hantamkan kendi besinya ke arah sambungan siku lawan. Mahesa sengaja tidak menghindarkan tangannya cepat-cepat dan si Nenek sudah dapat membayangkan bagaimana sesaat lagi siku lawannya itu akan menjadi hancur luluh!
Si Nenek Iblis menjadi terkejut ketika kendi besinya sudah sangat dekat dengan siku lawan tiba-tiba Mahesa Kelud melesat ke udara. Nenek Iblis hantamkan mata tombaknya ke perut pemuda itu. Tapi dia terlambat. Siku kanan Mahesa yang dahsyat lebih dahulu menghantam rahangnya.
Si Nenek menjerit keras. Tubuhnya mental dan terguling beberapa tombak. Mahesa tetap berdiri di tempatnya dengan pedang di tangan, memperhatikan tak berkesiap. Perempuan bejat
ini berdiri terhuyung-huyung. Mukanya mengelam sedang rahangnya kelihatan merah dan bengkak besar. Kepalanya yang berambut putih jarang itu miring. Mulutnya kini menjadi mencong! Kedua matanya memandang garang tak berkedip pada Mahesa Kelud. Dia maju selangkah demi selangkah mendekati si pemuda.
"Setan alas! Mampuslah!" Bersamaan dengan makian itu Nenek Iblis menyerbu ke muka. Dia ayunkan kendi besinya ke pinggang Mahesa. Tombak di tangan kanan menusuk ke arah tenggorokan. Mahesa miringkan kepalanya. Ketika tombak lewat dengan tangan kiri dia coba memukul pangkal ketiak si nenek. Tapi dengan gesit, meskipun sudah kena cedera perempuan tua itu masih sanggup mengelak sambil kirimkan tendangan kaki kanan sementara kendi besinya mencari sasaran di pinggang Mahesa.

***

DUA BELAS

MURID Embah Jagatnata babatkan pedangnya dari atas ke bawah. Maksudnya sekaligus hendak memapas dan memusnahkan tendangan serta serangan kendi besi lawan yang sangat berbahaya. Tapi dengan cerdik segera Nenek Iblis hunjamkan tombaknya ke bahu Mahesa membuat pemuda ini terpaksa pergunakan pedangnya untuk menangkis. Tombak si Nenek Iblis putus kena dibabat oleh pedang kuning. Bersamaan dengan itu Mahesa membuang diri ke samping. Meskipun dia bisa luput dari hantaman kendi besi tapi tak urung tendangan kaki Nenek Iblis bersarang juga di pinggulnya. Mahesa terhuyung-huyung beberapa langkah. Jangankan mengeluh sakit, mengerenyit pun pemuda ini tidak! Melihat tendangan dahsyatnya tidak berhasil merobohkan lawan Nenek Iblis jadi beringas. Dilemparkannya patahan tombaknya ke arah Mahesa. Si pemuda menghantam patahan tombak tersebut dengan pedangnya sehingga terpotong dua lagi dan bermentalan. Dengan dua senjata di tangan Nenek Iblis belum tentu bisa melayani Mahesa apalagi kini cuma dengan kendi besi itu saja. Menyadari hal itu si Nenek Iblis segera gerakkan tangannya kearah konde kecil di belakang kepala. Konde itu terlepas dan di tangan kirinya kini kelihatan satu tusuk konde berwarna hijau. Mahesa Kelud tidak mau meremehkan tusuk konde kecil itu. Dia tahu bahwa benda semacam itu besar juga bahayanya bila tidak waspada. Dan bukan mustahil kalau tusuk konde tersebut diberi racun berbisa!
"Seranglah, anak muda!" kata si Nenek Iblis. Kedua tangannya dikembangkannya ke samping sehingga susunya yang sudah rata jadi tambah rata dan memuakkan untuk dipandang. "Seranglah!" teriaknya sekali lagi ketika Mahesa masih tetap berdiri di tempatnya.
"Kalau kau tidak punya nyali, ini rasakan!"
Si Nenek melompat ke muka. Gerakannya seperti seekor alap-alap hendak menyambar anak ayam. Setengah lompatan tiba-tiba kedua tangannya bergerak ke muka. Maksudnya hendak menggerus kepala Mahesa Kelud. Si pemuda mendongakkan kepalanya ke belakang seraya kirimkan tusukan pedang ke perut lawan yang telanjang. Menyadari bahwa ujung pedang yang lebih panjang akan mengenai tubuhnya lebih dahulu Nenek iblis cepat ayunkan kendi besinya ke arah lengan Mahesa sambil miringkan tubuh. Mau tak mau Mahesa tarik pulang tangannya. Arah serangan pedangnya dirubah ke tangan kiri lawan yang memegang tusuk konde. Si Nenek pagi-pagi sudah merubah kedudukannya sehingga tusuk konde yang di tangan kirinya kalau tadi menyerang kepala kini menusuk ke arah leher. Mahesa Kelud terkejut ketika merasakan angin dingin menyambar keluar dari tusuk konde di tangan kiri Nenek Iblis. Pasti sudah bahwa senjata itu mengandung racun sangat berbisa dan jahat. Dengan cepat dia menggerakkan tubuhnya ke samping kanan. Si Nenek Iblis memburu. Tapi dia kena tertipu! Meskipun tubuh lawannya dilihatnya miring ke samping kanan namun dengan menggeserkan kedua kakinya cepat sekali maka Mahesa tahu-tahu sudah melesatkan diri ke samping kiri. Dengan sendirinya kedua senjata si Nenek Iblis lewat. Akibat menyerang sasaran kosong tubuh perempuan jahat itu menjadi terhuyung-huyung. Dalam keadaan itu dia tidak dapat lagi mengelakkan kaki kanan Mahesa yang menyerang ke arah perutnya yang telanjang!
Untuk mengelak si Nenek Iblis sudah tidak punya kesempatan. Satu-satunya jalan menyelamatkan diri hanyalah dengan mempergunakan kendi besi di tangan kanannya untuk dipakai memukul kaki Mahesa Kelud. Si Nenek Iblis mengadu untung! Sedetik kemudian kaki kanan Mahesa Kelud saling beradu dengan kendi besi. Terdengar suara seperti letusan. Kendi besi Nenek Iblis mental ke belakang sedang Mahesa merasakan kaki kanannya kesemutan. Si Nenek Iblis mulai jeri. Mahesa maklum kalau lawannya mulai bimbang untuk menghadapinya terus. Tanpa menunggu lebih lama pemuda sakti ini segera menyerang. Pedang milik si Cakar Setan yang di tangan kanannya menderu bergulung-gulung. Dengan hanya mengandalkan tusuk
konde dan kegesitannya si Nenek tak bisa mempertahankan diri. Dia terdesak hebat. Kedua matanya yang sipit berputar liar mencari kesempatan untuk larikan diri.
"Mau coba lari perempuan terkutuk?!" tanya Mahesa Kelud mengejek yang siang-siang sudah tahu maksud lawannya itu.
"Setan alas!" maki Nenek Iblis. "Aku bukan manusia pengecut!" Dia kirimkan pukulan tangan kiri yang dahsyat. Ketika Mahesa melompat untuk mengelak maka si Nenek segera putar tubuh dan merat!
"Jangan lari manusia rendah!" teriak Mahesa Kelud. Pemuda ini menjejakkan kedua kakinya di tanah. Tubuhnya membungkuk dan seperti anak panah lepas dari busurnya Mahesa Kelud kemudian melesat cepat ke udara. Inilah ilmu warisan Embah Jagatnata yang bernama "Gendewa Emas Melepas Anak".  Si Nenek Iblis yang lari cepat tidak tahu sama sekali kalau saat itu musuhnya seperti terbang sudah berada di atasnya! Dia baru menyadari dan terkejut setengah mati ketika satu tangan menjambak rambutnya yang putih jarang!
"Anjing busuk! Mampuslah!" rutuk Nenek Iblis sambil menusukkan tusuk kondenya ke selangkangan Mahesa Kelud yang ada di atasnya. Serangannya ini meskipun mematikan namun tidak pakai perhitungan. Akibatnya dia harus tanggung sendiri. Tak ayal lagi Mahesa Kelud babatkan pedangnya!
"Trass!"
Suara tertebasnya lengan kiri Nenek iblis dibarengi dengan jeritan yang melolong tinggi. Darah menyembur dari urat nadinya, membasahi pakaian Mahesa. Si Nenek mengamuk seperti orang gila. Dia meronta-ronta. Rambutnya yang dijambak Mahesa bertanggalan. Tubuh telanjangnya bergelimang darah yang keluar dari tangan kirinya yang buntung. Dari mulutnya keluar jerit bercampur kutuk serapah.
"Manusia iblis! Jangan terlalu banyak merutuk di tempat ini! Sisakan nanti di liang neraka!" teriak Mahesa Kelud. Lalu dia hantamkan kaki kirinya ke kepala perempuan tua itu.
"Praaak!"
Jerit dan kutuk serapah Nenek Iblis lenyap. Kaki kiri Mahesa Kelud yang mengandung aji Karang Sewu telah membuat kepala itu rengkah mengerikan!
Mahesa Kelud pandangi tubuh telanjang tanpa nyawa itu. Beberapa kali dia meludah karena jijik. Selama puluhan tahun si Nenek iblis telah menjadi penghuni dan penguasa Gua Iblis yang menjadi tempat kematian bagi siapa saja yang berani datang. Delapan surat kematian telah disebarnya selama hidupnya.
"Menurut Karang Sewu lima surat telah jatuh ke tangan lima tokoh silat. Lima tokoh silat itu kemudian diketahui lenyap secara aneh. Mungkinkah mereka sudah terkubur di dalam Gua iblis ini? Delapan surat kematian telah disebar oleh manusia celaka itu. Yang keenam jatuh ke tangan Karang Sewu. Yang ketujuh sampai di tanganku. Berarti masih ada satu surat lagi....Aku harus menyelidik. Si nenek jelas punya dosa besar selangit tembus. Menjadi pembunuh para tokoh yang kena ditipunya. Tapi kalau dipikir lebih dalam manusia bernama Simo Gembong itu
yang jadi biang racun pangkal bahala! Justru guru menugaskan diriku untuk mencari dan membunuhnya!"
Mahesa Kelud ambil beberapa lembar daun pepohonan. Dengan daun itu dibersihkannya noda-noda darah yang melekat di tangan serta pakaiannya. "Aku harus menyelidik masuk ke dalam Gua Iblis itu..." membathin Mahesa "Siapa tahu, bukan hanya lima orang yang dipendam si nenek di dalam sana. Siapa tahu pula masih ada yang hidup.... Di samping itu aku harus mengurus dan mengebumikan jenazah Karang Sewu. Orang tua sakti itu.... Kalau tak ada dia pasti aku akan terpendam sampai mati di gua celaka itu!"

***
TAMAT
Selanjutnya:
Thanks for reading Delapan Surat Kematian I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »

Silahkan berikan sarannya untuk artikel diatas tanpa spam