Banjir Darah Di Ujung Kulon

MAHESA KELUD
PEDANG SAKTI KERIS ULAR EMAS
KARYA: BASTIAN TITO


mahesa kelud. banjir darah di ujung kulon

Episode:

BANJIR DARAH DI UJUNG KULON




SATU

PUNCAK bukit itu kini diselimuti kesunyian. Orang tua berambut putih duduk menjelepok di tanah di hadapan sosok tubuh Udayana yang masih berada dalam keadaan terikat dan pingsan tak berkutik.
"Nyi Gambir sompret!" Orang tua itu memaki menyebut nama nenek yang barusan saja tinggalkan tempat itu. "Kalau dia tidak muncul mengganggu, urusanku dengan pemuda sialan ini pasti sudah selesai! Sekarang aku terpaksa harus menunggu sampai dia siuman! Sompret betul!"
Dia garuk-garuk kepalanya berulang kali. Lalu sudut matanya menangkap sesuatu melayang di udara. "Hemmm... ada baiknya sambil menunggu aku mengisi perut dulu!" katanya dalam hati. Dekat tempatnya duduk menjelepok di tanah ada sebuah batu sebesar ibu jari kaki. Batu itu diambilnya. Lalu acuh tak acuh, tanpa mendongakkan kepalanya ke atas, orang tua ini lemparkan batu itu ke udara.
"Plekkk!"
Terdengar suara batu mengenai benda yang terbang di udara menyusul suara berkuik pendek. Lalu benda itu jatuh ke bawah dan "breekk!" Jatuh tepat di atas pangkuan orang tua itu.
"Hemmm... Cuma seekor burung hutan. Kurang sedap tapi lumayan dari pada tidak makan apa-apa!". Orang tua ini lantas dengan cepat menguliti burung besar yang barusan dihantamnya jatuh dengan lemparan batu. Tak lama kemudian tampak dia komat kamit asyik menyantap daging burung mentah itu.
"Sialan! Kalau gigiku tidak pada ompong tentu akan lebih cepat burung ini kuhabiskan!" Si orang tua memaki sendiri.
Sebelum burung itu habis disantapnya tiba-tiba dia melihat tubuh Udayana bergerak. Si orang tua buang daging burung yang tengah dimakannya.
"Hemmmm.... Anak sompret, kau sudah siuman rupanya! Bagus!"
Si orang tua tepuk-tepuk pipi Udayana kiri kanan. Karena tepukan itu sama saja dengan tamparan tak urung Udayana jadi menjerit kesakitan!
"Bangun! Jangan tidur saja sompret!" maki si orang tua yang menganggap pingsannya si pemuda sebagai tidur. "Tadi kau bilang kau muridnya Empu Sora! Betul?!"
Sambil menahan sakit Udayana menjawab. "Betul! Apa kau kini mau percaya?" Pemuda murid Empu Sora dari Ujung Kulon itu menatap wajah si kakek sementara dalam hatinya dia bertanya-tanya apa yang barusan telah terjadi atas dirinya. Mengapa dia kini terbujur di tanah dan dengan bertanyanya si orang tua apakah kini dia punya harapan?
"Kalau kau memang anak murid perguruan Ujung Kulon, coba kau tunjukkan bukti!"
"Bukti...? Bagaimana aku harus membuktikan...?" Udayana membatin. Tiba-tiba dia ingat pada pedang hijau di punggungnya. Dia gerakkan tangan hendak mencabut tapi baru sadar kalau saat itu sekujur tubuhnya masih berada dalam keadaan terikat tali hitam aneh.
"Sompret! Mana buktinya! Jangan kau berani dusta padaku!" membentak si orang tua.
"Di punggungku! Aku membawa sebilah pedang hijau pemberian guru pertanda aku murid perguruan Ujung Kulon," menjawab Udayana.
"Coba tunjukkan! Perlihatkan senjata itu padaku!"
"Tubuhku terikat! Mana mungkin mengambil pedang!" ujar Udayana.
"Sompret!" Si orang tua aneh segera lepaskan ikatan Udayana. Begitu ikatan dilepaskan. Udayana segera cabut pedang hijau dari balik punggung, dia berdiri dan perlihatkan senjata itu pada si orang tua.
"Baik, aku percaya sekarang! Tapi aku tidak percaya kalau Empu Sora mati dibunuh orang! Kau jangan bicara ngaco! Sompret!"
Udayana telan air ludahnya. Jakun-jakunnya bergerak. "Orang tua, aku sama sekali tidak bicara ngaco! Mula pertama kami semua anak-anak murid Perguruan Ujung Kulon tidak dapat percaya mendengar nasib guru kami! Beberapa orang kemudian pergi ke pulau Bawean! Tujuh yang pergi tapi hanya seorang yang kembali membawa jenazah guru...."
"Yang enam orang lainnya mampus?!"
Udayana mengangguk. "Mereka gugur secara kesatria...."
"Aku tidak tanya itu, sompret! Siapa yang bunuh gurumu?"
"Jayengrana, bekas murid sendiri. Sekarang memakai nama Lutung Gila?"
"Kenapa begitu...?"
"Karena dia memang gila! Miring otak!"
Orang tua itu tertawa. Inilah untuk kali pertama Udayana melihatnya tertawa lebar seperti itu. "Kau juga tadi bilang bahwa perguruanmu terancam bahaya besar! Sebagaimana besarnya?
Ada kira-kira segunung eh, sompret?!"
Udayana hendak memaki dalam hati tapi tak jadi karena khawatir orang tua aneh itu akan tahu pula. "Menurutku orang tua, bahaya itu lebih besar dari gunung...." Udayana kemudian menuturkan bahaya besar yang mengancam Perguruan Ujung Kulon yaitu malapetaka yang bakal ditimbulkan oleh Lutung Gila dan istrinya serta dua orang lainnya. Orang tua itu manggut-manggutkan kepalanya seperti seorang kyai.
"Kualat!" katanya tiba-tiba. Udayana hendak bertanya siapa yang kualat, tapi kemudian memutuskan untuk diam saja.
"Kualat!" kata kakek-kakek itu lagi.
"Siapa... siapa yang kualat orang tua?" akhirnya bertanya anak murid Perguruan Ujung Kulon itu.
"Jayengrena. Sompret!"
"Kualat dan murtad!" menyambung Udayana. Orang tua itu garuk-garuk rambutnya yang putih sehingga jadi awut-awutan. Sepasang matanya melotot pandangi wajah Udayana membuat pemuda itu gentar hatinya.
"Orang tua," kata Udayana pula. "Aku harus pergi sekarang... aku harus cari kakek guru untuk selamatkan perguruan dari kehancuran."
"Eee kunyuk! Tunggu dulu! Betul kau mencari kakek gurumu?!"
Udayana mengangguk.
"Kau sudah lihat lereng bukit sebelah timur hah, sompret?!"
Udayana mengangguk lagi. "Kini kau tahu apa nama bukit ini, kunyuk?!"
Udayana berpikir, tapi otaknya mana bisa bekerja tajam saat itu. Rasa takut masih tetap menjalari dirinya sedang kekesalannya terhadap si orang tua aneh itu makin detik makin tambah. Dia menggeleng.
"Anak murid Ujung Kulon goblok!" semprot si orang tua.... "Lihat ini!" katanya pula. Orang tua berambut putih seperti kapas itu angkat kedua tangannya tinggi-tinggi di udara lalu diputar-putar sedang mulutnya yang kempot senantiasa meniup-niup ke muka. Putaran tangan dan tiupan mulut menimbulkan angin aneh yang keras sekali. Daun-daun sekitar sana bergerak-gerak menggerisik, cabang dan ranting-ranting pohon bergoyangan sedang debu dan pasir beterbangan! Sesaat kemudian di sekitar situ menghamparlah bau busuk yang amat sangat, bau mayat, mayat yang banyak sekali! Udayana tekap hidungnya, tutup mulut rapat-rapat. Kepalanya terasa pusing. Dipejamkannya matanya. Meski hidung serta mulutnya sudah ditutup rapat namun bau busuk yang amat sangat itu seperti menembus kulit tubuhnya, seperti merasuk lewat pori-pori yang membuat napasnya detik demi detik jadi menyengal. Dirinya tak ubah laksana seorang yang tengah dicekik saat itu! Orang tua tersebut hentikan putaran-putaran tangan dan tiupannya. Saat itu juga bau busuknya mayat pun lenyap!
"Ei sompret! Kau sudah tahu apa nama bukit ini sekarang?!"
"Ya... ya orang tua..." sahut Udayana dengan buka kedua mata serta turunkan tangannya yang menutup hidung.
"Apa?!"
"Mun... mungkin Inilah Bukit Mayat."
"Naa... naaaa... kau tidak goblok lagi. Sompret! Tahu namaku siapa?!"
Udayana kini berpikiran cerdik. Kalau bukit itu bernama Bukit Mayat, tak boleh tidak si orang tua yang di hadapannya adalah kakek gurunya yang memang tengah dicari! Buru-buru anak murid Perguruan Ujung Kulon ini jatuhkan diri berlutut. Orang tua itu tertawa mengakak. "Namaku bukan kakek Guru, sompret!" Kaki kanannya bergerak ke muka dan masuk di bawah selangkangan Udayana. Ketika kaki itu bergerak sedikit maka kelihatanlah Udayana mental ke udara sampai tujuh tombak. Orang tua itu memang tiada lain dari kakek guru Perguruan Ujung Kulon yang bernama Lor Munding Saksana tertawa lagi. Begitu tubuh Udayana jatuh ke bawah segera disambutnya. Dipanggul di bahu kanan dan dengan kecepatan seperti angin dilarikannya ke arah lereng bukit sebelah barat!
 


***

DUA

HARI tujuh bulan tujuh hanya tinggal tiga hari di muka. Perguruan Ujung Kulon menjadi kalang kabut. Udayana yang meninggalkan perguruan sejak tiga bulan lewat sampai hari itu belum juga muncul! Apakah anak murid kelas empat itu berhasil menemui kakek guru Lor Munding Saksana atau tidak, sama sekali tidak diketahui. Juga apakah Udayana hanya tinggal nama belaka sekarang ini tak pula diketahui!
Hari itu Dipa Putra, anak murid Perguruan Ujung Kulon kelas satu yang sementara diangkat menjadi pemegang pucuk pimpinan perguruan mengumpulkan seluruh saudara-saudara seperguruannya di ruang pertemuan.
"Saudara-saudaraku sekalian. Hampir tiga bulan telah lalu. Hari tujuh bulan tujuh sudah didepan mata sedang saudara kita Udayana sampai hari ini tiada berita tiada kabar, apakah dia berhasil menemui kakek guru ataukah sudah menemui nasib seperti saudara-saudara kita yang terdahulu. Jika sampai lewat tengah hari nanti Udayana tidak datang juga maka beberapa orang di antara kita harus pergi menemui orang-orang sakti di beberapa perguruan yang menjadi sahabat guru kita untuk dimintakan pertolongan mereka!"
Ruang pertemuan itu sunyi senyap beberapa lamanya. Kemudian terdengar suara Waranoa, si kakek tua yang juga menjadi murid merangkap tukang masak di perguruan. "Apa yang dikatakan Dipa Putra betul. Kita tunggu sampai lewat tengah hari, mudah-mudahan Udayana kembali. Kalau tidak baru ambil tindakan lain...."
Detik demi detik senantiasa diselimuti ketegangan di perguruan tersebut. Waktu seolah-olah merayap-rayap. Dipa Putra akhirnya mengusulkan. "Sebaiknya kita menunggu di luar, di sekeliling makam guru."
Saudara-saudara seperguruannya tak ada yang menjawab tapi mereka semua berdiri tanda setuju dan pergi keluar. Mereka berkumpul di sekeliling makam Empu Sora. Di hati masing-masing mereka memohon restu sang guru agar perguruan yang dibina sejak bertahun-tahun itu diselamatkan dari kehancuran. Permohonan itu disertai pula dengan panjatan doa kepada Yang Esa. Udara panas terik. Di langit matahari semakin dekat juga menggeser ke titik tertingginya. Tak lama kemudian sang surya itupun mencapai titik tertingginya di langit cerah tiada berawan. Ini tanda bahwa saat itu sudah tepat tengah hari. Dan Udayana tidak juga kembali. Kegelisahan yang sudah menyungkupi hati anak-anak murid Perguruan Ujung Kulon itu kini semakin mencekam. Mereka saling lirik dan saling pandang. Biasanya mereka selalu bersikap arif tenang kini tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Hanya Dipa Putra si murid utama tetap berdiri dengan tenang sambil memegang nisan makam gurunya. Pemuda ini tundukkan kepala. Sepeminuman teh lewat. Masa penantian sudah lampau dari batas dan Dipa Putra akhirnya angkatkan kepala. Di mukanya yang licin itu tiada terbayang sama sekali kegelisahan ataupun kecemasan. Ini berkat pandainya dia menahan gelisah hatinya. Jika dia bersikap kecut gelisah pasti akan membawa pengaruh yang lebih tidak diinginkan pada diri saudara-saudara seperguruannya.
Dipandangnya satu demi satu paras saudara-saudara seperguruannya itu. "Beberapa di antara kita harus pergi saat ini juga," katanya.
"Jombang Ulo, kau pergi ke puncak... "
Kalimat Dipa Putra terputus oleh satu suara dahsyat melengking tinggi mendesing di anak telinga. Suara lengkingan ini datangnya seperti dari atas langit! Bukan saja menggetarkan hati dan menyentak perasaan tapi juga menggetarkan segala apa yang ada di sekitar tempat tersebut.Semua orang terkejut dan semangat mereka serasa terbang!
Satu bayangan hitam besar dan tinggi berkelebat laksana kilat, mendatangkan angin sederas topan. Dan pada detik itu pula terdengarlah jeritan kematian membelah langit! Enam orang anak murid Perguruan Ujung Kulon mencelat mental menggeletak di tanah, meregang nyawa dalam keadaan mengerikan! Empat dari mereka koyak dadanya sehingga tulang dada dan tulang-tulang iga mereka kelihatan jelas memutih, kemudian tertutup oleh darah yang menggelimang. Yang dua lagi hancur luluh robek muka mereka! Kelimanya mati seperti orang-orang dicakar setan buas berkuku panjang!
Anak-anak murid Perguruan Ujung Kulon yang lain dengan muka pucat pasi segera mundur menyebar dan cabut pedang. Sembilan belas pedang hijau berkilauan di bawah pantulan sinar matahari berada di tangan. Sembilan belas pasang mata memandang ke satu jurusan di mana berdiri satu makhluk yang mereka belum pernah lihat sebelumnya!
Seekor lutung berbulu hitam panjang, berbadan besar setinggi tiga meter berdiri dengan seringai menggidikkan. Gigi-gigi serta calingnya besar dan runcing tajam.
"Raja Lutung!" kata Gagak Nandra yang pernah melihat makhluk ini di pulau Bawean, memberitahukan kepada saudara-saudara seperguruannya. "Hati-hati makhluk ini berbahaya dan sakti sekali!"
"Kenapa dia datang sendirian?" tanya Dipa Putra.
"Tidak, dia pasti tidak datang sendirian," sahut Gagak Nandra. Diperhatikannya kuku-kuku tangan makhluk tersebut yang berlumuran darah. Darah enam orang saudara-saudara seperguruannya yang barusan dibunuh! Menggelegak amarah pemuda ini. Dia maju ke muka tapi kakak seperguruannya memberi isyarat. Dipa Putra melangkah ke depan sambil melintangkan pedang hijau di muka dada.
"Raja Lutung! Kami tidak punya permusuhan dengan kau, mengapa lakukan kekejaman ini?!" tanya Dipa Putra. Raja Lutung menggereng dan menyeringai memperlihatkan taringnya yang besar serta runcing. Dari mulutnya melengking teriakan tinggi membelah langit dan sedetik kemudian tubuhnya melesat ke muka dengan kedua tangan terulur siap untuk mengoyak muka serta dada Dipa Putra!
Melihat serangan ini, anak murid terpandai dari Perguruan Ujung Kulon segera memapas dengan pedang sakti pemberian gurunya. Namun terjadilah hal yang benar-benar luar biasa bagi semua murid-murid Empu Sora itu. Serangan yang dilancarkan oleh Dipa Putra adalah serangan hebat dan tersulit serta mematikan. Sampai saat itu hanya Dipa Putra sendiri yang berhasil memiliki jurus serangan tersebut, yang lain-lainnya masih belum! Betapa mengenaskan sekali ketika Raja Lutung dengan gerakan sedikit saja tangan kirinya berhasil merampas pedang di tangan Dipa Putra. Senjata itu digigitnya, hulu pedang ditekan ke bawah.
"Trak!" pedang patah dua!
Bersamaan dengan gerakan merampas serta mematahkan pedang tadi maka tangan kanan Raja Lutung bergerak pula ke muka. Untung saja Dipa Putra berlaku sebat rundukkan kepala karena kalau tidak maka pastilah mukanya akan robek besar! Namun demikian Raja Lutung tidak tinggal diam. Cakaran kuku-kukunya yang panjang serta tajam itu diteruskan ke dada. Sukar bagi Dipa Putra untuk mengelak. Namun demikian dia berusaha juga membuang diri ke belakang, tapi tak urung pakaiannya kena juga dicakar dan koyak, tubuhnya terasa dingin ngilu! Begitu lawannya jatuh ke tanah, Raja Lutung kirimkan tendangan ke kepala Dipa Putra. Pemuda ini juga masih untung karena sebelum tendangan sampai dia sudah berguling menjauh! Dia cepat berdiri, mukanya pucat pasi. Dipa Putra maklum bahwa meski bagaimana pun, meski segala ilmu yang dipelajarinya dikeluarkan, maka untuk menghadapi Raja Lutung dia tak akan mampu! Dipa Putra segera beri tanda. Dua belas orang saudaranya segera menyerbu. Dipa Putra sendiri mengeluarkan sebilah keris dari pinggangnya!
Raja Lutung meringkik seperti kuda! Sekali tubuhnya berkelebat maka empat orang lagi anak murid Perguruan Ujung Kulon menemui ajalnya! Yang lain-lain segera mundur dan merinding bulu tengkuk mereka! Pada saat itu terdengarlah suara pekik perempuan melengking dibarengi dengan suara tertawa mengikik.
"Raja Lutung! Pelajaran itu sudah cukup baik bagi kunyuk-kunyuk macam mereka!"
Raja Lutung mundur menjauh sedang semua anak-anak murid Perguruan Ujung Kulon sama palingkan kepala ke jurusan datangnya suara tertawa serta pekik melengking tadi. Di sana, sembilan tombak di hadapan mereka berdiri dua sosok tubuh manusia. Laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki hanya kepalanya saja yang masih kelihatan tersembul seperti manusia sedang sebatas leher ke bawah, terbungkus dengan sejenis pakaian yang tak ubahnya seperti kulit lutung berbulu-bulu dan memang pakaian itu dibuat dari kulit lutung dan yang memakainya adalah Lutung Gila. Di samping Lutung Gila berdiri seorang perempuan muda yang sebelumnya tak pernah dilihat oleh anak-anak murid Perguruan Ujung Kulon itu, kecuali Gagak Nandra. Perempuan muda ini berpakaian kotor dan tidak karuan. Rambutnya awut-awutan. Namun ini tidak dapat menyembunyikan kecantikan alamiah yang dimiliknya. Pipinya yang montok kelihatan merah sedang sepasang matanya bening menyorotkan sinar galak, pandangannya buas. Dia mendukung seorang bayi!
"Celaka, Kakak Dipa Putra," bisik Gagak Nandra. "Manusia-manusia penyebar bahala ini datang lebih cepat dari waktu yang dikatakan mereka!"
"Jayengrana!" kata Dipa Putra. "Apakah kau datang ke sini untuk menyerahkan diri, menebus dosa atas apa yang kau telah lakukan terhadap guru?!"
Jayengrana alias Lutung Gila komat-kamitkan mulutnya beberapa kali. Tiba-tiba meledaklah tertawanya. Tertawa aneh tapi juga menggidikkan telinga yang mendengarkannya.
"Jayengrana," kata Dipa Putra lagi. "Mendiang guru telah mengusir kau dari sini, sekarang kau kembali! Kembali dengan membawa dosa besar, membunuh guru sendiri! Kau mau apa datang anak beranak kemari?! Dosamu sudah lewat dari takaran! Batang lehermu jadi imbalannya, Jayengrana!"
"Eeeeeee biung! Lagakmu segagah seorang Pangeran! Mulutmu sebesar kawah gunung meletus! Biung... biung!"
"Ciluk! Kau dengar bagaimana manusia ini buka bacot?! Biung! Hei kunyuk, namamu Putra Dipa ya?!"
Gagak Nandra yang memang sudah sejak peristiwa di pulau Bawean mendendam berurat berakar terhadap Lutung Gila yang telah membunuh gurunya itu segera melompat ke muka dan membabatkan pedang hijaunya ke leher Lutung Gila!
"Murid murtad! Lebih cepat kau mampus lebih baik!" maki Gagak Nandra membentak.
"Biung! Masih muda sudah kepingin mampus! Baah!" Lutung Gila pukulkan tangan kanannya ke muka, kakinya menyelinap di bawah ketiak Gagak Nandra, dalam gerakan yang aneh!
"Trak!" tulang pangkal bahu Gagak Nandra patah. Pedangnya mental jauh ke tanah. Tubuhnya mencelat ke belakang diiringi dengan jeritan yang menggidikkan. Dia coba imbangi diri tapi tak berhasil. Setelah muntah darah anak murid Perguruan Ujung Kulon kelas dua inipun rebah ke tanah dan tak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya!
Saudara-saudara seperguruan Gagak Nandra termasuk Dipa Putra yang menyaksikan kejadian itu benar-benar menjadi kecut nyali mereka. Mereka perhatikan tadi gerakan yang dibuat Lutung Gila, aneh tak teratur seperti sembarangan saja! Namun justru dengan gerakan yang aneh ngelantur itu Gagak Nandra yang tidak berilmu rendah bisa dirobohkan dalam satu gebrakan saja!
"Biung... biung! Terlalu buruk mati terlalu muda. Sorga dunia banyak ragamnya, mengapa memilih mati?! Biung masih ada yang mau menyusul?!" Lutung Gila ucapkan kata-kata itu dengan tolak pinggang serta goleng-golengkan kepala!
Kemaladewi yang berdiri di sampingnya, mendukung anaknya Lutung Bawean mengejek dan perhatikan muka manusia-manusia di hadapannya itu satu demi satu. "Kalian saksikan sendiri," dia berkata. "Siapa tak tahu tingginya gunung akan hancur! Siapa tak tahu besarnya ombak akan lebur! Kalian monyet-monyet Ujung Kulon berlututlah di hadapanku! Aku Ketua Perguruan kalian yang baru!"
Dipa Putra dan saudara-saudara seperguruannya kaget sekali dan saling pandang.
"Biung buset! Kalian apa tuli semua! Tidak dengar perintah istriku?" bentak Lutung Gila dengan hentakan kaki kirinya ke tanah dan tanah itu melesak sampai sejengkal! "Ayo lekas berlutut!"
"Jayengrana! Kau benar-benar terkutuk! Bukan manusia! Kau benar-benar binatang! Lutung jahanam! Kau membunuh guru! Membunuh saudara-saudaramu sendiri!" berteriak Dipa Putra.
"Biung... biung! Kalau aku binatang kalian apa?! Pasti moyangnya binatang! Biung! Baah.... Dipa Putra, kau juga mau mampus ya? Konyol! Eeeee aku tanya kau mau mampus cara bagaimana, kunyuk?! Mau cara meram atau cara melek?! Icuh... icuh!"
Dipa Putra tak dapat tekan kesabarannya lagi. Dengan keris yang sudah sejak tadi dipegangnya di tangan dia siap untuk menerjang ke muka. Namun satu suara membuat dia hentikan gerakannya.
"Dipa, tahan dulu!" Orang yang berkata ini adalah Waranoa, orang tertua yang menjadi murid Empu Sora dan dihormati karena umurnya oleh sesama saudara seperguruan. Waranoa melangkah ke hadapan Lutung Gila. Sepasang matanya yang penuh kerenyut-kerenyut ketuaan di kulit pinggiran mata itu memandang tepat-tepat ke muka Lutung Gila. Lutung Gila seperti hendak tertawa mengakak. Tapi mendadak mukanya berubah buas. Dia membentak! "Orang tua bau amis! Kau mau jual tampang sama kami anak beranak?! Icuh!"
"Jayengrana, sudah waktunya kau harus kembali pada pikiran yang sehat...."
"Eeee biung! Memangnya kau sudah lihat isi kepalaku berani bilang aku tidak sehat?!
Orang tua gelo! Tapi... hemm...." Lutung Gila usap-usap dagunya yang berjanggut tebal liar. Dia melirik pada bayi yang dalam dukungan Kemaladewi. "Cocok! Cocok!" katanya. "Kau pantas untuk jadi pengasuh anakku, orang tua! Ee... kau punya nama siapa biung?!"
"Mengapa kau lakukan ini semua, Jayengrana?"
"Biung buset! Kenapa kau orang tua jadi banyak tanya, sudah bagus kau diambil jadi pengasuh anakku! Sudah minggir sana! Jangan sampai aku jadi muak!" Lutung Gila lambaikan tangan kirinya dan Waranoa terjajar beberapa langkah ke belakang, hampir jatuh duduk di tanah kalau tidak salah seorang saudara seperguruannya segera menolong. Waranoa begitu bisa mengimbangi diri, dengan bersemangat dia melangkah ke hadapan Lutung Gila kembali dan menuding. "Lihat tempat sekelilingmu di mana kau berada, Jayengrana...!"
"Aku bukan Jayengrana, monyet tua!"
"Lihat sekelilingmu, kataku," ujar Waranoa tanpa mengacuhkan kata-kata Lutung Gila. "Disini, di tempat inilah kau dulu dididik, diberi berbagai pelajaran oleh Empu Sora, diambil murid oleh orang tua sakti itu! Aku tahu riwayatmu Jayengrana. Kau anak sepasang suami istri miskin! Kau dibuang di tengah hutan karena kau bukan anak yang dilahirkan secara syah! Karena kau anak haram! Orang tuamu berzinah dulu baru kawin blak-blakan! Seharusnya anak haram jadah macam kau ini tak pantas hidup di dunia milik Tuhan yang begini suci dan kudus! Tapi Tuhan masih punya rasa kasih terhadapmu! Masih Adil! Empu Sora menerimamu dalam sebuah keranjang beralaskan kain di tengah hutan! Dan kau dibawanya ke sini, diasuhnya seperti anak sendiri, dididiknya, diberi berbagai ilmu sehingga kau menjadi besar! Tapi setelah besar kau ternyata bukan seorang manusia berbudi karena kau memang dasar manusia jahanam turunan haram jadah yang tak bisa lagi diperbaiki! Kau beri nama buruk dan malu besar pada Empu Sora. Kau diusir dari sini dengan harapan agar kau menjadi sadar tapi diluaran kau bikin lagi segala macam kebejatan dan membuat kepala guru jadi lebih besar! Ketika guru datang untuk menghukummu kau bunuh beliau! Itukah balasanmu terhadapnya? Terhadap seorang guru? Terhadap seorang tua? Terhadap seorang yang telah mengasuhmu dari masih bayi sampai dewasa?! Pikir, Jayengrana! Pikir baik-baik! Apakah itu perbuatan baik yang kau lakukan ataukah satu dosa besar tiada berampun?! Pikir Jayengrana! Kau masih punya otak dan pasti bisa berpikir!"
Untuk beberapa lamanya Lutung Gila berdiri tak bergerak seperti patung batu! Sepasang matanya yang buas menjadi redup! Tapi itu hanya seketika belaka, hanya beberapa detik saja! Karena sesaat kemudian mata yang redup itupun kembali menjadi menyorot ganas dan parasnya menjadi beringas buas!
"Orang tua buruk! Biung baaa icuh! Menghindar! Minggir dari hadapanku! Kalau tidak kau pasti konyol! Buset!"
Waranoa tetap di tempatnya. "Ingat, Jayengrana. Bila kau mau bertobat dan minta ampun, dosamu pasti diampuni Tuhan! Ingat!"
"Biung! Disuruh minggir malah banyak mulut! Orang buruk macammu bikin malu dunia saja kalau hidup lama-lama! Pergi cari kawan-kawanmu di neraka!" Habis berkata begitu Lutung Gila melangkah berputar-putar ke muka.
"Awas!" teriak Dipa Putra memperingatkan Waranoa. Tubuh orang tua itu didorongnya ke samping namun kasip.
"Bluk!" Tempelak tangan kanan Lutung Gila sudah mendarat di dadanya. Waranoa menjerit ngeri. Darah membusah dari mulutnya. Orang tua yang malang ini menggeletak di tanah tanpa nyawa!
"Manusia iblis durjana!" bentak Dipa Putra. Dengan keris dia menyerbu ke muka.
"Biung! Ini satu lagi contoh kunyuk yang mau mampus! Icuh... icuh!"
"Lutung Gila, biar aku layani yang satu ini!" terdengar suara Kemaladewi. Lutung Gila agak menggerutu namun dengan patuh dia mundur ke belakang dan Kemaladewi dengan anaknya Lutung Bawean dalam dukungan menyambut serangan Dipa Putra! Sudah barang tentu murid terpandai dari mendiang Empu Sora itu jadi terkejut melihat serangannya dipapasi oleh perempuan muda belia yang mendukung anak! Buru-buru tusukan keris yang tadi dilancarkannya ke muka ditarik pulang karena dia khawatir akan mengenai bayi dalam dukungan Kemaladewi! Dipa Putra mundur.
"Manusia bernyali besar kenapa mundur!" bentak Kemaladewi.
"Siapa sudi melawan perempuan!" tukas Dipa Putra. "Suruh lakimu maju atau Lutung peliharaanmu itu!"
"Bangsat rendah, bicara seenak kentut saja!" semprot Kemaladewi. Tubuhnya miring ke kiri dan dia lari ke arah Dipa Putra dengan langkah-langkah yang aneh sambil berteriak melengking-lengking persis seperti seekor lutung! Dipa Putra yang masih ragu-ragu mundur terus. Tapi ini justru membuat dirinya celaka. Setiap kaki kiri atau kanan Kemaladewi bergerak menimbulkan angin dahsyat sekali. Dan ketika kaki itu menendang pergelangan tangan yang memegang keris, tulang lengan Dipa Putra patah dua, senjatanya mental. Sementara tubuh anak murid Perguruan Ujung Kulon ini terhuyung limbung, dengan satu gerakan sebat Kemaladewi kirimkan tendangan yang tak terelakkan ke ulu hati Dipa Putra. Laki-laki ini meliuk ke muka. Perutnya bobol, darah membanjir dan dia mati dengan menelungkup! Melihat bagaimana Kemaladewi yang masih begitu muda, seorang perempuan pula dan dengan mendukung bayi di tangan dapat mengalahkan murid utama Empu Sora, dapatlah dijajagi betapa hebatnya Ilmu yang telah dimiliki perempuan itu sejak beberapa bulan saja dia berada di pulau Bawean!
 

***

TIGA

KALAU tadi semua mata murid-murid mendiang Empu Sora sudah membuka lebar maka kini tambah membeliak tak berkedip. Semua hati berdebar ngeri dan bulu-bulu tengkuk mereka berdiri merinding! Mereka saksikan sendiri bagaimana saudara seperguruan mereka yang terpandai dan paling tinggi ilmunya dibikin roboh oleh seorang perempuan muda belia yang bertempur sambil menggendong bayi! Benar-benar mereka hampir tak bisa percaya!
"Icuh icuh!" terdengar suara Lutung Gila. Dia melompat-lompat seperti anak kecil sedang kedua jempol tangannya ditudingkan. "Biung ciluk!"
Kemaladewi tertawa melengking seperti seekor lutung betina. Begitu suara tertawanya berhenti maka terdengarlah suara bentakannya yang ditujukan kepada anak-anak murid mendiang Empu Sora.
"Kalian semua berlututlah! Hari ini aku mengangkat diri sebagai Ketua Perguruan Ujung Kulon yang baru! Berlutut! Berlutut atau mampus!"
"Berlutut atau mampus! Icuh! Biung!" menirukan Lutung Gila. Saat itu murid-murid mendiang Empu Sora yang masih hidup hanya tinggal enam orang. Dua murid-murid kelas lima dan empat dari kolas keempat. Di hadapan mereka, di atas tanah halaman perguruan bergeletakan mayat-mayat saudara-saudara mereka. Tiga belas orang semuanya termasuk mayat Dipa Putra, Gagak Nandra dan Waranoa! Tak ada satu orang pun mula-mula yang bergerak ketika Kemaladewi memerintah dengan membentak tadi!
"Biung buset?! Apa kuping kalian tuli semua?!" hardik Lutung Gila.
"Berlutut!" perintah Kemaladewi sekali lagi sambil menggeser kedua kakinya. Pandangan mata serta mimik parasnya galak membuas. Tiga orang anak-anak murid kelas keempat dan seorang tingkat kelima yang menyadari bahwa kalau melawan tak akan ada gunanya selain korbankan nyawa setelah bimbang seketika akhirnya berlutut di tanah di hadapan Kemaladewi. Keempatnya kemudian merasa malu sendiri ketika melihat bagaimana dua orang saudara seperguruannya masih tetap berdiri dengan pedang di tangan.
"Kalian berdua mau pergi ke neraka?!" hardik Kemaladewi.
"Kami lebih baik mati dari pada berlutut di hadapan perempuan Iblis macam kau!"
Tanpa banyak bicara lagi dua orang pemuda berhati jantan dan berjiwa besar serta tahu harga diri itu segera menyerbu ke muka meskipun mereka tahu bahwa mereka pasti akan mati! Pemuda yang melompat dari kanan menebaskan pedangnya ke batang leher Kemaladewi sedang saudaranya melancarkan tusukkan sebat ke dada perempuan itu! Kemaladewi hanya keluarkan tertawa melengking melihat serangan-serangan tersebut. Kedua kakinya bergerak aneh. Pedang yang menyambar leher lewat di atas kepalanya. Kaki kirinya bergerak dan tusukkan ke dada lolos lalu Kemaladewi membuat satu gerakan lagi dan kali ini korban yang pertama mencelat ke belakang kena hantam ujung siku tangan kiri Kemaladewi, berputar-putar sebentar lalu rebah ke tanah tanpa nyawa! Saudaranya yang satu lagi memutar pedang dengan deras. Tubuh Kemaladewi seperti terkurung sinar hijau. Namun setengah jurus saja pemuda itu bisa bertahan. Lewat yang setengah jurus itu maka dia pun menyusul saudaranya meregang nyawa!
Lutung Gila komat-kamit senyum-senyum, "Itu bagiannya manusia-manusia yang keras kepala berotak encer! Pilih mampus dari pada hidup! Biung! istriku, suruh kunyuk-kunyuk yang empat orang ini untuk angkat sumpah mengakui kau sebagai Ketua Perguruan Ujung Kulon!"
Kemaladewi mengangguk, "Kalian ikuti apa yang aku katakan!" perintahnya. "Kami...!"
"Kami!" menirukan keempat murid-murid Empu Sora yang berlutut itu.
"Kunyuk-kunyuk Ujung Kulon!"
"Kunyuk-kunyuk Ujung Kulon!"
"Hari ini!"
"Hari ini!"
"Mengangkat dan mengakui!"
"Mengangkat dan mengakui!"
"Bahwa Kemaladewi!"
"Bahwa Kemaladewi!"
"Adalah Ketua Perguruan Ujung Kulon yang baru...."
"Adalah Ketua Perguruan Ujung Kulon yang baru...."
"Yang harus kami patuhi! Kecuali kalau kami mau mampus!"
"Yang harus kami patuhi! Kecuali kalau kami mau mampus!"
"Selesai!"
"Selesai!" menirukan pula keempat orang itu.
"Kunyuk-kunyuk sompret! Itu tak usah kau tirukan!" bentak Kemaladewi geram.
Demikianlah, hari itu Kemaladewi di hadapan murid-murid mendiang Empu Sora mengangkat diri sebagai Ketua Perguruan Ujung Kulon. Kelak hal ini akan menggemparkan dunia persilatan!
Kemaladewi memutar tubuh ke arah rumah besar dan melangkah. "Eee ciluk! Tunggu dulu!" kata Lutung Gila pula. "Ini mayat-mayat busuk apa dibiarkan di sini saja?!"
"Lemparkan semuanya ke jurang! Suruh kunyuk-kunyuk itu melakukannya!" sahut Kemaladewi sambil terus melangkah tanpa putar kepala sedang Raja Lutung duduk di dahan rendah sebuah pohon besar dan menggaruk-garuk kepala. Lutung Gila berpaling pada keempat orang yang masih berlutut. "Eeeit kunyuk! Berdiri dan lemparkan mayat-mayat ini ke jurang dekat laut sana! Cepat!"
Dengan hati pilu perih keempatnya menyeret mayat saudara-saudara seperguruan mereka ke tepi jurang karang di pinggir laut. Keempatnya sama-sama mengintai mencari kesempatan untuk melarikan diri dalam melakukan perintah tersebut namun Lutung Gila senantiasa memperhatikan gerak-gerik mereka.
 

***

Apa yang telah terjadi dengan diri Empu Sora, apa pula yang telah terjadi di Perguruan Ujung Kulon dalam waktu singkat tersebar luas ke pelbagai penjuru dunia persilatan. Semua orang hampir tak percaya, terutama tokoh-tokoh persilatan. Tak percaya bahwa seorang guru dibunuh oleh muridnya sendiri bahkan jabatan Ketua Perguruan Ujung Kulon kini dipegang oleh istri murid murtad itu! Pastilah keduanya merupakan manusia-manusia iblis yang tidak punya otak sehat dan tidak berhati manusia lagi!
Beberapa orang tokoh persilatan yang cukup terkenal yang menjadi kawan baik dari mendiang Empu Sora berdatangan ke Ujung Kulon, bukan saja untuk membuktikan apa yang mereka dengar itu betul adanya, tapi juga untuk menghukum kedua suami istri tersebut! Mereka sama-sama dapat memastikan bahwa dunia persilatan akan kejangkitan perbuatan-perbuatan kejam busuk dan menusuk mata seperti apa yang dilakukan oleh Kemaladewi dan Lutung Gila. Karenanya sebelum kedua orang ini berbuat lebih jauh, satu demi satu datanglah tokoh-tokoh silat tersebut.
Sebagai seorang sahabat, mereka wajib membalaskan sakit hati Empu Sora, sekurang-kurangnya membuat tenteram arwah Empu Sora di alam baka. Namun semua tokoh silat yang datang ke Ujung Kulon tersebut sama mengalami nasib mengenaskan. Mati di tangan Kemaladewi atau Lutung Gila atau Raja Lutung. Dunia persilatan kehilangan tokoh-tokoh berhati jujur, polos dan berbudi luhur serta berjiwa besar! Dan kematian tokoh-tokoh tersebut tentu pula menambah gegernya dunia persilatan!


***

EMPAT

MATAHARI bersinar terik. Angin dari laut bertiup kencang, Lor Munding Saksana berlari secepat tiupan angin topan. Debu berterbangan diudara, batu-batu kerikil yang terpijak berpelantingan. Di bahu kirinya terbujur tubuh Udayana. Pemuda ini pejamkan mata karena ngeri dibawa lari sedemikian cepatnya. Ketika dia coba membukakan matanya ternyata dikesilauan matahari dilihatnya dia sudah sampai ke daerah di mana Perguruan Ujung Kulon terletak. Kemudian Udayana merasakan kakek-kakek sakti yang mendukungnya menghentikan lari dan sebelum dia membuka mata dia sudah diturunkan dari atas bahu dan dilemparkan sampai terguling ke semak-semak. Cepat-cepat Udayana berdiri dan memandang ke depan. Lor Munding Saksana kelihatan menggaruk-garuk rambutnya yang putih awut-awutan. Mulutnya komat-kamit sedang sepasang matanya memandang ke jurusan seorang perempuan yang berdiri dekat batu besar membelakanginya, tengah menimang-nimang seorang bayi. Perempuan ini adalah Kemaladewi, perempuan muda berilmu tinggi. Namun demikian sepasang telinganya yang tajam masih tak sanggup menangkap langkah suara larinya kedua kaki Lor Munding Saksana! Ini bukan saja menyatakan betapa hebatnya ilmu mengentengi tubuh serta ilmu lari cepat orang tua itu namun juga sekaligus menyatakan bahwa bagaimana pun tingginya ilmu kesaktian Kemaladewi namun tetap saja masih berada di bawah kesaktian Lor Munding Saksana!
Udayana sendiri tampak terheran-heran melihat di situ ada seorang perempuan muda tengah mendukung bayi. Siapakah gerangan perempuan ini! Hati Udayana berdebar keras ketika dugaannya berat bahwa perempuan ini adalah istri Lutung Gila! Lagi pula saat itu memang sudah lewat hari tujuh bulan tujuh!
"Eiiit sompret! Coba putar tubuh! Aku mau lihat tampangmu!" kata Lor Munding Saksana seraya ulurkan tangan menjangkau ranting rendah sebuah pohon dan mematahkannya. Ujung ranting itu dilemparkannya ke udara dengan sikap acuh tak acuh, demikian tingginya sehingga lenyap di udara dari pemandangan mata. Ketika ranting kayu jatuh kembali ke bawah, ranting tersebut amblas dan hilang di dalam tanah!
Begitu mendengar suara seseorang di belakangnya yang memaki dan menyuruhnya putar tubuh, bukan main terkejutnya Kemaladewi. Parasnya menjadi merah karena marah. Dengan cepat dia memutar tubuh. Sepasang matanya yang tajam menyipit menyorot. Dia melirik pada Udayana sekilas.
"Orang tua buruk, kau siapa?!" bentak Kemaladewi dengan mata melotot meneliti Lor Munding Saksana mulai dari rambutnya yang putih sampai ke kaki. Lor Munding Saksana mendongak ke langit, mengeluarkan suara tertawa panjang. Tangannya digerakkan lagi menjangkau ujung ranting. Ketika di udara dilihatnya melayang seekor burung maka ranting yang di tangannya dilemparkan ke atas. Burung yang terbang di udara bergelepakan lalu jatuh ke bawah. Sambil ulurkan tangan kiri menyambut binatang tersebut Lor Munding Saksana melompat ke atas ranting kecil dan duduk di sana! Kedua kakinya digoyang-goyang. Dan dia mulai memakan burung mentah itu seenaknya!
Apa yang disaksikan oleh Kemaladewi tentu saja membuat perempuan muda tersebut kaget bukan main! Dia masih mungkin bisa meniru perbuatan kakek-kakek tak dikenalnya itu melempar burung yang terbang di udara, tapi untuk duduk di ujung ranting demikian kecil sambil ongkang-ongkang kaki, benar-benar dia tak sanggup! Lutung Gila sendiri pun tidak akan sanggup!
"Ahoi...! Kau terkejut ya?! Kau heran ya?! Sompret!"
Kemaladewi menjadi marah. "Orang tua gila!" balasnya memaki. "Kau siapa sebenarnya? Jawab! Kalau tidak jangan menyesal...."
"Hemmm..." Lor Munding Saksana mengunyah daging burung mentah yang di dalam mulutnya sambil mengeluarkan suara bergumam.
"Tampangmu boleh juga, sompret! Tapi, coba kau dulu kasih keterangan siapa kau adanya! Aku yang sudah tua pasti tak akan menyesal bila kau beritahu namamu! Ahoi!"
Kemaladewi marahnya bukan main. Namun dia tidak berani bertindak kesusu. Dia tahu orang tua ini bukan manusia sembarangan dan dia sadar bahwa ilmunya mungkin sekali berada di bawah tingkat Ilmu yang dimiliki orang tua tersebut.
"Orang tua edan! Kalau kau mau tahu akulah Ketua Perguruan Ujung Kulon yang baru!"
"Oho,,,?!" Lor Munding Saksana berhenti mengunyah. Dia menatap paras Kemaladewi sejurus lalu berpaling pada Udayana. "Eit sompret! Betul ini dia Ketua Perguruan Ujung Kulon?!"
Udayana menjawab cepat "Tidak! Perempuan ini pastilah istri Lutung Gila yang telah merampas kedudukan Ketua Perguruan dari tangan saudara seperguruanku!"
"Pemuda, jadi kau salah seorang anak murid Perguruan Ujung Kulon? Kalau begitu berlututlah di hadapan Ketuamu yang baru!" perintah Kemaladewi.
"Siapa sudi!" jawab Udayana.
"Tidak sudi berarti minta mampus!" Kemaladewi hendak melangkah ke muka.
"Sompret! Tunggu dulu!" kata Lor Munding Saksana cepat. "Jika kau mengaku sebagai Ketua Perguruan Ujung Kulon, maka kaulah yang harus berlutut di hadapanku! Sompret!"
Kemaladewi hentikan langkah, "Ahoi! Jangan marah tapi cepat berlutut arena aku adalah kakek guru dari anak-anak murid Empu Sora! Ayo berlutut sompret!"
Bahwa orang tua yang di hadapannya itu mengaku sebagai kakek guru murid Empu Sora sungguh mengejutkan hati Kemaladewi!
"Sompret! Kenapa berdiri bengong?! Ayo berlutut!" bentak Lor Munding Saksana.
"Orang tua, kalau kau datang untuk mencari mampus turunlah dari ranting itu!" menantang Kemaladewi. Bayi yang dalam dukungannya diletakkan di atas batu besar. Waktu meletakkan bayi tersebut tubuhnya membungkuk. Lor Munding Saksana kelihatan cengar-cengir. Tulang belulang burung mentah yang dimakannya dilemparkan dari "pluk" jatuhnya tepat di pantat Kemaladewi!
"Orang tua gelo! Kau benar-benar sudah bosan hidup! Kurang ajar!" Kemaladewi putar badannya kaki kanannya menendang ke muka, tangan kiri memukul ke depan. Dua rangkum angin dahsyat melesat menyerang Lor Munding Saksana. Ranting yang didudukinya patah sampai ke cabang-cabang pohon. Daun-daun pohon berguguran. Akar pohon itu terbongkar dan sesaat kemudian pohon tersebut pun tumbanglah!
Pada waktu dirinya diserang dan ranting yang didudukinya patah, Lor Munding Saksana membuat gerakan memutar seperti seorang akrobatik yang lihay. Dia turun ke tanah dengan kedua tangan lebih dahulu sedang kedua kakinya menerjang melancarkan tendangan jarak jauh!
Kemaladewi terkejut besar dan cepat-cepat menghindar ke samping mengelakkan angin tendangan yang dahsyatnya bukan main.
"Krak!" Pohon besar di belakang perempuan muda itu patah dan tumbang! Sedang Lor Munding Saksana sudah berdiri kembali dengan bertolak pinggang.
"Ayo! Masih belum mau berlutut?! Masih belum mau minta ampun terhadapku, perempuan sompret?!"
Kemaladewi kertakkan rahang-rahangnya. Parasnya benar-benar tertutup oleh kabut kegeraman dan amarah yang memuncak kini. Kedua kakinya bergerak cepat tak teratur, kedua tangannya yang seperti tambah panjang disentak-sentakkan dan semua gerakan ini adalah merupakan serangan yang berbahaya!
Lor Munding Saksana mula-mula terheran-heran melihat gerakan serangan yang aneh dari lawannya ini. Dia menggeser ke samping siap untuk menotok urat besar di sisi tubuh sebelah kiri perempuan itu, namun secara aneh pula Kemaladewi merubah gerakannya. Sepasang tangannya bergerak hendak mencengkeram muka dan dada Lor Munding Saksana. Orang tua ini mundur ke belakang sambil rundukkan kepala dan memonyongkan mulutnya meniup ke muka. Angin deras berbau busuknya mayat menyerang muka Kemaladewi! Perempuan ini terhuyung nanar ke belakang. Sebelum dia sempat mengimbangi tubuh ataupun membuat gerakan yang lain tahu-tahu jotosan keras menghantam dadanya. Kemaladewi menjerit. Tubuhnya terguling dan jatuh tersandar di atas batu besar di mana anaknya, Lutung Bawean, tadi dibaringkannya. Kemaladewi merasakan dadanya sangat sakit dan napasnya menyesak. Dia berdiri sambil mengatur jalan napas dan peredaran darah. Selama dia mendapat pelajaran ilmu silat dari Lutung Gila dan Raja Lutung baru hari itulah seorang lawan dapat menyentuh tubuh dan memukulnya demikian hebat! Dengan gemas perempuan ini cabut pedang hijau dari balik punggungnya. Pedang ini adalah milik Empu Sora, pedang pusaka tumbal pertanda bahwa siapa yang memegang atau memiliki senjata tersebut maka dia adalah Ketua Perguruan Ujung Kulon.
"Kau lihat pedang ini, anjing tua?!"
"Eit, aku tidak buta, sompret!"
"Bagus! Bersiaplah untuk terima mampus!"
Dengan pedang di tangan, dengan mempergunakan jurus ilmu silat yang dipelajarinya dari Raja Lutung maka menyeranglah Kemaladewi dengan segala kehebatannya. Lor Munding Saksana yang diserang hanya tertawa meringis. "Pedang pusaka sakti itu tak pantas berada di tangan manusia iblis macammu ini, sompret! Ayo berikan padaku!" Habis bicara demikian si orang tua maju ke muka ulurkan tangan kanan menyongsong serangan Kemaladewi. Perempuan itu jadi semakin naik pitam melihat serangannya dipapasi. Sambaran pedang menderu tak tanggung-tanggung Kemaladewi sekaligus hantamkan pula kaki kanannya ke selangkangan lawan. Gerakannya serba tak teratur dan aneh. Jika saja yang dihadapinya itu bukan orang tua sakti macam Lor Munding Saksana pasti sejak jurus pertama tadi dia sudah kena dicelakai!
Betapa kagetnya Kemaladewi ketika dengan satu gerakan kilat saja Lor Munding Saksana bukan saja dapat mengelakkan tendangan kaki kanannya tapi bahkan juga berhasil merampas pedang hijau di tangannya!
"Aha.... Bukankah tadi aku bilang bahwa pedang pusaka ini tidak pantas di tangan manusia macammu?! Nah sompret! Apa kau masih belum mau bertobat dan berlutut minta ampun di hadapanku? Ayo berlutut som...."
Ucapan orang tua itu belum lagi habis. Mendadak dari samping datang satu bayangan sosok tubuh dan "buk!" Lor Munding Saksana terjajar sampai beberapa tombak ke kanan. Bahunya sakit bukan main, tulang tangannya serasa hancur! Dipalingkannya kepalanya dan orang tua ini kemudian melihat sosok tubuh seperti lutung tapi kepala manusia.
"Sompret! Kau pastilah setan alasnya yang bernama Lutung Gila! Murid murtad! Murtad tujuh turunan!"
"Icuh! Biung! Sudah tua bangka masih bermulut kotor! Biung! Apa tak tahu kalau umur hanya tinggal sekejapan mata? Apa tidak sadar kalau liang kubur sudah di depan hidung?! Icuh...icuh!"
 

***

LIMA

LOR Munding Saksana marah bukan main. Diputarnya pedang hijau di tangannya dengan sebat sehingga senjata itu tak ubahnya seperti seekor ular panjang yang memancarkan sinar hijau kemilau mengurung dan menyerang Lutung Gila serta Kemaladewi! Demikian kejadiannya, seorang tua renta sakti berotak miring, bertempur melawan dua orang suami istri berotak gila!
Satu sampai dua jurus di muka Lutung Gila dan Kemaladewi masih bisa mengimbangi lawan mereka bahkan ganti balas melancarkan serangan. Namun memasuki jurus ketiga, keempat dan seterusnya keduanya mulai terdesak dan dibikin tak berdaya. Kemarahan Lor Munding Saksana lebih besar terhadap Jayengrana alias Lutung Gila, bukan saja karena manusia ini seorang murid murtad yang telah membunuh guru serta saudara-saudara seperguruannya tapi juga karena dialah tadi yang memukul dari samping maka Lor Munding Saksana boleh dikatakan memusatkan hampir seluruh serangannya terhadap Lutung Gila! Lutung Gila menjadi repot sekali. Betapa pun lihaynya dia selama ini namun saat itu dia benar-benar ketemu batu! Dalam keadaan terdesak hebat dan tak berdaya akhirnya pedang pusaka Perguruan Ujung Kulon tak dapat lagi dielakkan oleh Jayengrana si murid murtad! Dua tulang iganya terbabat putus. Kulit dada robek besar sampai ke perut. Ususnya menjela-jela. Lutung Gila terhuyung megap-megap.
Darah kental membuih di sudut-sudut bibirnya. Lutung Gila melengking setinggi langit, sesudah
itu tubuhnya pun rebah ke tanah tak bergerak lagi!
"Keparat edan! Hari ini aku mengadu nyawa dengan kau sampai seribu jurus!" teriak Kemaladewi. Dikeluarkannya tongkat rotan berkeluk pemberian gurunya dulu yakni Dewa Tongkat. Dengan senjata tersebut di tangan seperti orang kemasukan setan dia menerjang ke muka. Udayana yang berdiri di kejauhan menyaksikan pertempuran itu diam-diam merasa lega.
Jika kakek gurunya berhasil mengalahkan Lutung Gila, membunuh perempuan muda itu pasti tidak akan lebih sukar. Dia merasa gembira dan bangga pada diri sendiri karena tugas yang diletakkan di atas pundaknya untuk mencari kakek gurunya demi menyelamatkan Perguruan ini tampaknya sudah hampir selesai setengah jalan.
"Aku yang sudah tua telah beri kesempatan untuk minta tobat dan berlutut minta ampun!
Tapi dasar kau manusia sompret sontoloyo! Malahan mau mampus! Nah mampuslah kini sompret!"
Pedang hijau di tangan Lor Munding Saksana membabat ke kiri, membalik ke kanan, memapas kembali ke pinggang dan menusuk ke leher. Kemaladewi geser kaki dan badannya dalam gerakan aneh guna hindarkan tusukan tersebut. Namun kenyataannya tusukan pedang yang dilancarkan oleh si orang tua hanyalah tusukan tipuan belaka! Karena sesaat kemudian dengan
sangat cepat pedang hijau itu membuat gerakan babatan ke kanan, membalik ke kiri. Memapas ke pinggang dan menusuk ke perut, tusukan mana tak dapat lagi dielakkan oleh Kemaladewi!
Perempuan itu menjerit melengking. "Raja Lutung! Tolong aku!"
Sedetik sebelum ujung pedang bersarang di perut Kemaladewi maka "trang", terdengar suara beradunya senjata. Bunga api berpijar. Pedang ditangan Lor Munding Saksana terangkat ke atas
dan gompal bagian yang tajamnya! Merasakan tangannya tergetar hebat kesemutan cepat-cepat orang tua itu melompat mundur. Lor Munding Saksana terkejut ketika menyaksikan bahwa yang berdiri di hadapannya bukanlah seekor lutung yang bernama Raja Lutung, tapi seorang laki-laki muda dengan paras cakap dan potongan tubuh kekar berpakaian serba putih! Di tangannya ada sebilah pedang mustika memancarkan sinar merah, sinar mana menggetarkan hati Lor Munding Saksana karena sinar merah senjata tersebut membuat sinar hijau pedang di tangannya menjadi redup!
Jika orang tua itu terkejut maka Kemaladewi jauh lebih terkejut lagi. Mata perempuan ini terbuka lebar-lebar. Mulutnya menganga bahkan kaget dan tak percaya. Tapi parasnya menjadi pucat pasi sedang sepasang matanya yang bening kelihatan berkaca-kaca.
"Mahesa..." kata Kemaladewi berbisik antara terdengar dan tiada. "Kucari kau berminggu bahkan berbilang bulan tidak kunjung bersua. Kini kau datang... kau selamatkan nyawaku. Kakak... untuk menepati janjimu dulukah kau datang ke sini...?" Waktu mengucapkan kata-kata
yang tertahan-tahan itu butiran-butiran air mata mulai jatuh menetes meluncur di pipinya yang licin.
Kata-kata yang diucapkan Kemaladewi itu, terutama pertanyaan yang diajukannya sungguh mengiris hati menyayat sanubari Mahesa Kelud. Tenggorokannya turun naik. Mulutnya membuka tapi tak sepatah ucapanmu bisa diluncurkannya.
"Manusia-manusia sompret!" terdengar suara Lor Munding Saksana. Dia memandang silih berganti pada Kemaladewi dan Mahesa Kelud.
"Kalian berdua rupanya tengah main sandiwara ya? Gila! Pakai nangis segala! Dasar sompret! Ini bukan panggung. Kalian..."
Angin sedahsyat badai menyambar dari belakang. Lor Munding Saksana hampir terjungkal ke muka kalau ia tidak cepat-cepat melompat ke samping. Dia membalikkan tubuhnya ketika satu
lengkingan sangat keras menggetarkan dada dan seperti memecahkan gendang-gendang anak telinga terdengar. Di hadapannya berdiri seekor lutung setinggi tiga meter, menyeringai menggidikkan memperlihatkan taring serta gigi-giginya yang besar dan runcing!
"Lutung bego! Menyerang dari belakang, dasar binatang sompret! Kalau kau bernama Lutung maka kau juga musti mampus!" Dengan pedang di tangan orang tua itu menyerbu ke muka maka terjadilah pertempuran yang seru!
"Kakak... kau datang untuk menepati janjimu dulu... benar...?" terdengar lagi suara merawankan hati dari Kemaladewi. Kalau dulu dendamnya demikian berurat berakar, amarahnya begitu berkobar menggelegak dan kebenciannya tiada terperikan terhadap Mahesa Kelud, maka kini sesudah berhadap-hadapan dengan laki-laki itu hilang semua perasaan tersebut, hilang lenyap tanpa bekas laksana setetes air yang setitik jatuh di atas pasir di gurun Sahara. Bahkan detik pertama dia melihat Mahesa Kelud, ingin sekali Kemala hendak menubruk dan memeluk laki-laki itu!
"Kemaladewi..." ujar Mahesa. "Aku datang hanya untuk bertanya...."
"Untuk bertanya?"
Mahesa mengangguk. Kemaladewi kerenyitkan kening.
"Mengapa kau jadi sampai begini, Adik? Melakukan segala hal yang hampir tidak dapat diterima akal manusia sehat? Kau bunuh gurumu...kau kawin dengan manusia setengah orang setengah lutung! Dan ilmu kesaktianmu kau pakai untuk membunuh manusia-manusia tidak berdosa, membunuh tokoh-tokoh persilatan, merusak tempat kediaman dan Perguruan orang lain. Mengapa Kemala...?"
Kemaladewi merasakan tubuhnya lemah lunglai. Tak ubah laksana seseorang yang dibanting dihenyakkan ke bumi! "Itu maksud kedatanganmu Mahesa? Hanya untuk bertanya...?!"
"Dan juga untuk meminta agar kau menghentikan semua perbuatan keblinger ini!" jawab
Mahesa Kelud. Perempuan itu terdiam sejurus. Parasnya kemudian berobah. "Kau tanya mengapa, baik! Aku akan jawab. Semua itu kulakukan adalah karena kau! Karena kau seorang manusia yang tidak bertanggung jawab! Tidak bertanggung jawab atas apa yang kau telah perbuat! Kau lari...kau manusia pengecut berjiwa kintel! Manusia macammu ini harus dilenyapkan dari muka bumi agar tidak merusak gadis-gadis lainnya!"
Muka Mahesa Kelud menjadi sangat merah sampai ke telinga. Sebelum dia membuka mulut maka Kemaladewi sudah menyerang dengan tongkat rotannya. Terkejut juga Mahesa Kelud melihat gerakan yang aneh dari cara melancarkan serangan tersebut. Untung saja dia sudah siap waspada sehingga dengan cepat sempat mengelak sambaran tongkat yang menyerang kepalanya!
Penuh penasaran Kemaladewi menyerang kembali. Sekali ini Mahesa Kelud tidak tinggal diam. Begitu serangan tongkat dielakkannya maka dengan sebat tangan kirinya bergerak! Dan tongkat rotan berkeluk lepas dari pegangan Kemaladewi! Paras Kemaladewi semakin pucat. Dia mulai sesenggukan menangis. Selagi dia menjadi murid Dewa Tongkat memang ilmunya berada dibawah tingkat laki-laki itu. Sesudah dia belajar dan dapat banyak ilmu tambahan dari Lutung Gila serta Raja Lutung disangkanya dia akan mudah saja dapat mengalahkan Mahesa namun kenyataannya dalam satu tahun belakangan ini kepandaian Mahesa Kelud sudah tambah lebih jauh dari yang dimilikinya!
Kemala berdiri tak bergerak-gerak. "Mahesa aku tak sanggup hidup lebih lama dengan cara begini! Tusukkan pedang itu ke dadaku! Bunuh aku! Biar lepas segala-galanya dari bathinku, biar bebas aku dari penderitaan yang berlarut-larut ini! Bunuh aku, Mahesa dan bila kau sudah bunuh aku maka bunuh pulalah bayi yang di atas batu sana, dia adalah anakku. Anakku dan juga
anakmu, hasil dari hubungan kita di goa batu tempo hari...."
Jika saja ada seekor singa atau harimau yang tahu-tahu menerkam di muka hidungnya saat itu mungkin tidak demikianlah terkejutnya Mahesa Kelud ketika dia mendengar apa yang diucapkan oleh Kemaladewi.
"Kau bilang apa, Kemala?! Anakmu dan anakku?!" Mahesa berpaling ke batu besar di seberangnya dan memang di atas batu itu dilihatnya seorang bayi terbaring. Kulitnya merah tanda umurnya masih beberapa bulan saja. Mahesa melangkah ke arah batu tempat bayi terbaring.
"Jangan dekat!" bentak Kemaladewi lantang.
"Bunuh aku lalu bayi itu!"
Mahesa hentikan langkah. Lututnya goyah seperti mau lepas dari persendiannya. Kedua matanya memandang sayu pada Kemaladewi. Hatinya teriris-iris. Dicobanya untuk menekan perasaan yang ada dan agar jangan sampai meneteskan air mata. "Adikku, kau tahu... peristiwa itu terjadi bukan mauku. Di luar kesadaran kita berdua...."
"Meski demikian lantas apa anak itu bukan anakmu?!"
"Aku masih belum bisa memastikan, Kemala. Karena bukankah kudengar pula kabar bahwa kau kawin dengan Lutung Gila?!"
"Kami tidak kawin!" tukas Kemaladewi.
"Aku hanya menganggap dia sebagai suami dan dia menganggap aku sebagai istri! Kami tidak
pernah campur! Jangan membalikkan tuduhan, Mahesa! Jangan mengambing hitamkan orang
lain dan jangan coba-coba hendak cuci tangan! Bayi itu adalah anakmu! Kau dengar?! Anakmu!"
"Kalau begitu kau serahkan dia padaku dan kau kembalilah ke jalan yang benar...."
"Jalan benar macam bagaimana, Mahesa? Macam yang telah kau perbuat atasku? Tak ada pertanggung jawaban sama sekali?! Cis, kau laki-laki pengecut! Dosamu terlalu besar! Tidak terampunkan! Kau lari.... Pengecut! Berani berbuat tak berani tanggung jawab!"
"Kemala...."
"Jangan sebut namaku!" potong perempuan itu.
"Kalau menurutmu dosaku tidak terampunkan dan bila kau katakan aku tidak bertanggung jawab maka ambil pedang ini dan kau yang membunuh aku!" Habis berkata demikian Mahesa Kelud mengangsurkan hulu pedang merah di tangannya ke muka Kemaladewi tapi perempuan ini tak mau menyambutnya.
"Tidak, terlalu enak bagimu mati dengan cara ini, Mahesa. Dengar baik-baik, kelak bayi itu, anakmu sendiri nanti di satu hari akan membunuhmu! Ingat itu! Anak sendiri yang akan membunuh ayahnya!"
Kemaladewi memutar tubuh, lari ke arah batu besar. Lutung Bawean didukungnya lalu dia berteriak. "Raja Lutung! Mari kita tinggalkan tempat ini!"
Saat itu Raja Lutung yang tengah bertempur dengan Lor Munding Saksana berada di atas angin. Si orang tua sudah terdesak hebat. Pedang hijau yang dipegangnya berhasil dirampas dan dipatahkan oleh lawan. Dalam dua tiga jurus dimuka pastilah Raja Lutung akan dapat menyelesaikan lawannya yang saat itu sudah babak belur!
Namun begitu mendengar perintah Kemaladewi, dengan patuh Raja Lutung melompat dari kalangan pertempuran lalu lari menyusul Kemaladewi. Mahesa hendak mengejar mereka. Namun membatalkan niat tersebut.
 

***

ENAM

LOR Munding Saksana berdiri terhuyung-huyung. Orang tua ini akhirnya dudukkan diri ditanah bersandar ke batang kayu tumbang. Pipi sebelah kiri berselomotan darah yang keluar dari luka-luka bekas cakaran Raja Lutung. Tangan kanan sukar digerakkan karena persendian bahu terlepas. Kakek guru Perguruan Ujung Kulon ini mengerang pelahan. Matanya antara membuka
dan terpejam. Sebagaimana yang sudah kita saksikan dan ketahui, dia bukan seorang berilmu rendah, namun menghadapi Raja Lutung memang cukup berat. Dalam pertempuran tadi beberapa kali jotosan-jotosan mautnya mendarat di tubuh lawan namun Raja Lutung dapat menghadapi semua itu dengan segala kehebatannya. Lor Munding Saksana sendiri beberapa kali pula mendapat serangan dahsyat. Jika saja ilmunya tidak sampai pada tingkat yang dimilikinya saat itu, niscayalah luka-luka di tubuhnya akan mencelakai jiwanya!
Mahesa Kelud melangkah mendekati orang tua itu dan memperhatikan luka cakaran serta keadaan tangan kanannya. Ketika disentuhnya tubuh Lor Munding Saksana terasa panas sekali
seperti lembaran seng yang terjemur diteriknya matahari! Lor Munding Saksana buka kedua matanya.
"Sompret! Pergi kau!" bentaknya.
"Orang tua, kau terluka berat!"
"Eit sompret! Aku suruh kau pergi! Sudah tahu orang terluka diajak bicara! Gila!"
Kalau saja orang tua tersebut tidak berada dalam keadaan demikian rupa mungkin mulutnya
sudah ditampar oleh Mahesa Kelud.
"Orang tua, kau siapa dan ada permusuhan apa dengan kedua suami istri itu?" Bertanya
Mahesa.
"Benar-benar sompret! Pergi kataku!" bentak Lor Munding Saksana.
"Hem... kalau otakmu tidak senewen pasti kau setengah sinting!" kata Mahesa pula dengan hati dongkol karena dimaki terus-terusan. Dia melangkah hendak meninggalkan tempat itu. Lor Munding Saksana memandang berkeliling mencari Udayana. Namun pemuda tersebut bersama
empat orang saudara seperguruannya yang masih hidup sudah sejak tadi lenyap melarikan diri yaitu ketika mereka melihat bagaimana kakek guru mereka dibikin kewalahan oleh Raja Lutung!
Lor Munding Saksana menoleh pada Mahesa.
"Hai, sompret! Tunggu dulu!" teriaknya. Mahesa jalan terus.
"Hai, kembali sompret! Tolong aku dulu!" teriak orang tua itu sekali lagi.
Mahesa Kelud tetap tak mengacuhkan.
"Pura-pura tuli kau ya? Awas!" Lor Munding Saksana memonyongkan mulutnya dan meniup ke depan. Serangkum angin deras berbau mayat busuk menyambar ke punggung Mahesa. Laki-laki ini cepat buang diri ke samping. Sesaat kemudian dirasakan oleh Mahesa segulung tali hitam melibat kedua kakinya sehingga dia tak dapat lagi bergerak atau melangkah. Dengan tenaga dalamnya dicobanya untuk memutuskan tali hitam tersebut tapi tak berhasil. Mahesa cabut pedang merahnya.
"Tras!" Sekali tebas saja tali hitam itupun putuslah. Lor Munding Saksana jadi melongo! Sepasang matanya meneliti pada pedang di tangan Mahesa. Otaknya coba mengingat-ingat. Kemudian dia berseru: "Jika kau merasa muridnya Suara Tanpa Rupa kembalilah dan tolong aku! Jika tidak, pergi bersama kutukanku!"
Mendengar nama gurunya disebut-sebut Mahesa memutar langkah. Dia berdiri di hadapan orang tua itu kembali. Lor Munding Saksana tertawa.
"Aha, jadi kau benar-benar muridnya Suara Tanpa Rupa, ya?!"
"Orang tua, kau siapa sebenarnya?"
"Sompret! Jangan banyak tanya, tolong aku dulu!"
"Tolong apa?"
"Tolong apa... tolong apa! Apa kau tidak lihat tubuhku terluka?! Sompret!"
Mahesa Kelud dengan menahan rasa dongkolnya berlutut. Dari mulut orang tua itu terbau olehnya bau busuk mayat. Mahesa menutup jalan pernapasan lewat hidung. Hal ini diketahui oleh Lor Munding Saksana dan dia tertawa. "Di dalam kantong pakaianku sebelah kiri ada sekotak bubuk obat. Ambil dan kunyah lalu semburkan ke luka di pipiku! Ayo sompret!"
"Orang tua gila," rutuk Mahesa Kelud dalam hati. "Sudah hendak ditolong masih saja memaki!"
"Nah... nah... kau merutuk dalam hati ya, sompret!"
Mahesa Kelud menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mendengar kata-kata orang tua itu. Dari dalam kantong sebelah kiri ditemuinya sebuah kotak. Di dalam kotak ini ada satu benda berbentuk akar pohon kecil, diselimuti oleh sejenis bubuk berwarna hitam. Mahesa menuangkan sedikit bubuk itu ke dalam telapak tangan kirinya lalu mengunyah. Dia hampir-hampir saja hendak membuang bubuk tersebut keluar kembali karena pahitnya bukan main!
"Ayo semburkan ke pipiku!" perintah Lor Munding Saksana tanpa menambahkan ucapan "sompret".
Seperti yang dikatakan maka Mahesa Kelud menyemburkan bubuk hitam di dalam mulutnya ke pipi terluka dari Lor Munding Saksana. Luka-luka bekas cakaran tertutup oleh ludah campur bubuk dan kelihatan mengepulkan asap hitam. Si orang tua mengerenyitkan kulit mukanya yang sudah keriputan itu menahan sakit, matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit, membaca mantera. Diludahinya tangan kirinya tiga kali berturut-turut lalu diusapkannya ke pipinya yang terluka. Sungguh aneh! Luka bekas cakaran tadi lenyap tiada berbekas. Pipinya utuh seperti semula hanya agak kehitaman oleh bubuk hitam yang masih melekat!
Lor Munding Saksana buka kedua matanya. Untuk pertama kalinya dia tertawa kepada Mahesa Kelud. Namun sesaat kemudian mulutnya kembali melontarkan makian. "Eh sompret! Mengapa diam saja? Persendian tangan kananku masih lepas! Ayo tolong sambung kembali cepat!"
Sesudah memasukkan kotak obat ke dalam saku kiri Lor Munding Saksana maka Mahesa Kelud kemudian meneliti keadaan tangan orang tua itu. Kulit tangan mulai dari pangkal bahu sampai ke lengan bengkak biru serta panas, kaku tak dapat digerakkan. Terlebih dahulu Mahesa Kelud mengalirkan tenaga dalamnya yang beraliran dingin ke dalam tubuh orang tua itu lewat telapak
tangannya sampai hawa panas yang menjalari sekujur tubuh terutama lengan kanan itu menjadi punah.
"Ehhh, kenapa jadi sejuk rasanya? Kenapa sompret?!"
"Diam sajalah!" tukas Mahesa kesal. Dipijitnya bahu kanan Lor Munding Saksana. Orang tua itu merintih. Dengan cepat Mahesa kemudian memutar lengan si orang tua dan mendorongnya dengan keras tapi hati-hati. Persendian bahu bersambung kembali ke tempatnya. Lor Munding Saksana menggerak-gerakkan tangan kanannya, makin lama makin cepat dan tak terasa sakit sama sekali. Dia tertawa.
"Bagus! Tidak percuma kau jadi muridnya Suara Tanpa Rupa. Sompret! Namamu siapa?!"
"Mahesa Kelud."
"Hemmm...." Lor Munding Saksana berdiri.
"Di mana gurumu sekarang?"
Mahesa berdiri pula dan menjawab bahwa dia tak tahu di mana gurunya berada.
"Goblok! Masa guru sendiri tak tahu berada di mana!"
"Kau belum terangkan namamu, orang tua," ujar Mahesa.
"Buat apa namaku? Apa kau mau pungut aku jadi mantumu?"
"Orang tua, meski otakmu miring tapi kurasa kau bisa bicara benar seperti orang sehat!"
"Siapa bilang aku sakit?! Sompret!"
Mahesa hampir-hampir habis kesabarannya. Sebaliknya Lor Munding Saksana tertawa terpingkal, membuat laki-laki muda itu jadi tambah dongkol!
"Mahesa Belut dengar..." kata Lor Munding Saksana pula. Mahesa diamkan saja namanya disebut salah. "Aku Lor Munding Saksana, guru Empu Sora, kakek guru anak-anak Perguruan Ujung Kulon! Nah puas kau sekarang?!"
"Belum."
"Sompret! Aku juga sebenarnya tidak senang dengan kau! Kenapa kau selamatkan perempuan tadi? Dia gendakmu ya?!"
Merah muka Mahesa Kelud mendengar ucapan itu. Dia memperingatkan. "Orang tua, kuharap kau tahu diri sedikit! Jaga mulutmu!"
"Eh, yang muda mau kasih nasihat pada yang tua? Gila!"
"Kau yang gila!" bentak Mahesa karena sudah hilang kesabarannya.
"Sompret, berani memaki!" Lor Munding Saksana angkat tangan kanannya untuk menampar muka Mahesa Kelud. Tapi setengah jalan laki-laki itu sudah menangkis. Dua lengan saling beradu keras! Lor Munding Saksana mengeluh kesakitan karena tulang bahunya terlepas kembali!
"Uh... orang muda... aduh."
"Sompret kau. Tolong... tolong... persendian bahuku lepas lagi!"
"Biar rasa!" semprot Mahesa.
"Aduh... eh sompret tolonglah.... Kalau kau tidak mau tolong percuma jadi murid Suara Tanpa Rupa. Percuma jadi orang sakti dan pandai tapi tak punya jiwa welas asih!"
Mahesa menarik lengan kanan orang tua itu. "Kau mau kurenggutkan tulang lenganmu ini hah?!"
"Auw... sakit sompret! Orang minta tolong malah dipersakit!" Lor Munding Saksana mengerenyit-ngerenyit. Keringat berlelehan di keningnya. Mahesa memutar persendian bahu orang tua itu dan mengembalikan letaknya ke tempatnya. Lor Munding Saksana merasa lega begitu mengetahui bahwa untuk kedua kalinya Mahesa Kelud berhasil menolongnya. Mahesa sendiri tidak menunggu lebih lama. Dia putar tubuh untuk berlalu.
"Eiit tunggu dulu Mahesa Kelud! Tunggu...!"
"Apalagi?!"
"Aku belum bilang terima kasih padamu."
"Tak perlu," jawab Mahesa sambil terus melangkah.
"Tak perlu? Baiklah...! Tapi sebentar!
Tunggu sebentar! Bagaimana aku harus balas jasamu?!"
"Aku tak membutuhkan balasan!"
"Itu bagus! Tapi hem... mungkin... mungkin kau hendak mengajukan pertanyaan... mungkin juga kau mohon beberapa keterangan? Kau tahu orang muda... dalam dunia ini banyak seribu satu hal aneh. Karenanya juga banyak seribu satu pertanyaan yang sukar dijawab sehingga manusia pun butuh seribu satu macam keterangan. Bukankah begitu...?!"
Mahesa Kelud menjadi bimbang dan akhirnya laki-laki ini menghentikan langkahnya. Dia berpaling kembali sedang Lor Munding Saksana tertawa kepadanya.
"Apa yang kau ingin tanyakan orang muda?"
"Pernah dengar tentang sebuah pedang sakti bernama Samber Nyawa?" bertanya Mahesa Kelud. Lor Munding Saksana termenung sejurus. Mulutnya komat-kamit dan tangan kirinya menggaruk-garuk kepalanya sehingga rambutnya yang putih semakin awut-awutan. "Eh, kau tanya apa tadi sompret?!"
Mahesa Kelud menahan kekesalannya sedapat mungkin. "Pedang Samber Nyawa! Pernah dengar...?"
"Oh tentu!"
"Aku mendapat beberapa keterangan yang menyatakan bahwa senjata tersebut berada di satu pulau yakni Pulau Mayat. Apa keterangan itu betul? Kalau betul di mana letak pulau tersebut?"
Lor Munding Saksana nampak berpikir-pikir lagi. Kemudian berikan jawaban. "Keterangan yang kau dapat itu memang betul. Tapi ada apa kau tanya tentang pedang itu, sompret?!"
"Guruku menyuruh untuk mencarinya," menerangkan Mahesa.
"Suara Tanpa Rupa?"
"Bukan. Embah Jagatnata, guruku yang pertama. Kau juga kenal dengan beliau...?"
Lor Munding Saksana gelengkan kepala.
"Selama puluhan tahun hidup mengembara di delapan penjuru angin dan selama puluhan tahun diam di bukit Mayat tak pernah kudengar nama tokoh persilatan itu! Gurumu yang satu ini, dimana tempat tinggalnya?!"
"Puncak Gunung Kelud...."
"Ah... kau pasti berdusta terhadapku sompret! Kau berdusta ya?! Tak ada satu tokoh silat pun pernah diam di puncak gunung itu! Sialan kau!"
"Aku tidak bicara dusta. Percaya atau tidak itu bukan urusanku...."
"Baik... baik... baik! Kau bilang gurumu suruh mencari pedang Samber Nyawa itu. Betul?"
Mahesa Kelud mengangguk.
"Kalau begitu dia sudah gila!"
Mahesa maju ke hadapan si orang tua dengan kedua tangan terkepal. "Tak seorang pun kubiarkan berani menghina guru di hadapan mata kepalaku!" Dua jotosan yang keras mendarat berturut-turut di tubuh Lor Munding Saksana tanpa dapat terelakkan karena demikian cepatnya. Orang tua itu mencelat mental dan terguling ditanah sampai beberapa tombak jauhnya. Dia berdiri huyung sambil mengusap dadanya yang terasa menyesak. Napasnya menyengal.
"Sompret! Dari mana kau dapat belajar Ilmu pukulan batu karang itu hah?!" bentak Lor
Munding Saksana. "Sialan kau!"
Di samping kagum melihat kehebatan lawannya yang sanggup menahan dua pukulan batu karang sekaligus, Mahesa Kelud juga terkejut bahwa orang tua itu mengetahui pukulan apa yang tadi dilancarkannya! Tiba-tiba dilihatnya Lor Munding Saksana memutar-mutar kedua lengannya di udara sedang mulutnya meniup-niup ke depan. Angin deras berhembus menghamparkan bau busuk yang tiada terkirakan! Mahesa maklum bahwa orang tua itu tengah menyerangnya dengan ilmu aneh tapi berbahaya. Cepat-cepat dia menutup jalan pernapasan. Ketika tubuhnya tergetar hebat oleh tiupan angin busuk itu, Mahesa rangkapkan kedua kaki, membungkuk sedikit dan memukul ke depan! Seberkas sinar putih menyilaukan mata menyambar. Lor Munding Saksana terkejut bukan main! Serangan angin busuknya musnah dan dia sendiri pasti akan dapat celaka besar bila seandainya tidak cepat-cepat dapat hindarkan diri dari pukulan. "Api-Salju" yang dilancarkan oleh Mahesa Kelud. Meski diam-diam dia keluarkan keringat dingin namun Lor Munding Saksana coba tertawa bergelak. "Sompret, ilmu pukulan apa itu hah? Kau benar-benar hebat Mahesa! Aku yakin kau pasti punya banyak guru...."
"Dan bila kau menghina salah seorang dari mereka berarti kau menghina semua guruku!" tukas Mahesa Kelud pula masih geram.
"Dengar orang muda... dengar sompret! Aku pasti punya alasan mengapa kukatakan gurumu itu gila, maksudku gurumu yang pertama! Kau bilang namanya Embah Jagatnata sedang aku yang sudah tua tak pernah dengar nama itu berarti gurumu tidak terkenal dalam dunia persilatan dan kalau dia tidak terkenal maka berarti ilmunya rendah! Dengan bekal ilmu rendah kau disuruhnya mencari pedang Samber Nyawa! Sungguh satu kesia-siaan belaka! Seorang yang punya nyawa rangkap pun belum tentu akan dapat berhasil mendapatkan senjata sakti tersebut! Kau tahu orang muda, di Pulau Mayat di ujung timur Pulau Jawa, sudah puluhan manusia dan tokoh-tokoh silat ternama datang ke sana untuk mencarinya, jangankan untuk dapat memiliki senjata tersebut, sebelum mereka sempat melihatnya pun mereka sudah meregang nyawa! Lembah Maut dan Pulau Mayat dikuasai oleh sekumpulan perempuan-perempuan setan berhati iblis yang akan membunuh siapa saja yang menginjakkan kakinya di sana! Perempuan-perempuan setan itu dikepalai oleh seorang gadis bernama Dewi Maut, sakti luar biasa! Tapi aku tidak memuji... aku tidak memuji kau sompret! Dengan pedang merah yang kau miliki dan sedikit ilmu yang kau pamerkan tadi ada kemungkinan kau bisa mendapatkan pedang sakti tersebut! Sekali senjata itu berada di tanganmu maka kau akan menjadi Raja Pedang Dunia Persilatan! Kau dengar itu?! Raja Pedang sompret!"
Mendapat keterangan itu Mahesa kini tidak lagi menjadi kesal meskipun dia terus-terusan dipanggil dengan "sompret". Karang Sewu pernah menyuruhnya untuk pergi ke Lembah Maut guna membunuh Dewi Maut yang jahat dan luar biasa itu. Tak tahunya sang Dewi adalah sekaligus pemilik pedang Samber Nyawa. Dua tugas berada di satu tempat tujuan!
"Hai sompret! Mengapa kau jadi bengong melompong? Ada pertanyaan lagi?!" terdengar suara Lor Munding Saksana.
"Guruku yang pertama juga menugaskan aku untuk mencari seorang manusia bernama Simo Gembong. Kenal nama itu?"
"Simo Gembong?! Cilaka! Cilaka, kau bisa cilaka sompret!" kata Lor Munding Saksana seraya pukul keningnya sendiri.
"Cilaka bagaimana?!"
"Simo Gembong seorang manusia bermuka buruk seram seperti iblis dan hatinya sejahat hati nenek moyang iblis! Pembunuh tanpa hati kemanusiaan sedikit pun! Tukang rusak rumah tangga orang lain, doyan perempuan! Tapi ilmu kesaktiannya tinggi sekali dan setahuku sejak akhir-akhir ini dia tak pernah kelihatan muncul dalam kalangan persilatan...! Ada apa kau tanyakan tentang tokoh sakti itu?!"
"Guruku menugaskan untuk membunuhnya!" menerangkan Mahesa Kelud.
"Seribu kali lebih celaka kalau begitu sompret! Kalau Simo Gembong masih hidup dan kau berhasil menemuinya, sebelum kau turun tangan nyawamu pasti sudah dilemparkan ke neraka! Sepuluh manusia macam kau akan dilalapnya mentah-mentah!"
"Menurut Embah Jagatnata..." kata Mahesa Kelud pula, "Aku harus mendapatkan pedang sakti Samber Nyawa itu lebih dahulu baru pergi mencari Simo Gembong karena hanya satu-satu itulah senjata sakti yang dapat menamatkan riwayat Simo Gembong!"
"Hem... itu mungkin, tapi aku masih sangsi Mahesa...."
Kedua orang itu diam sejurus. Mahesa Kelud membuka pembicaraan kembali. Tadi kau bilang bahwa Simo Gembong seorang manusia bermuka buruk seram seperti iblis. Apakah kau sudah pernah berhadapan muka dengan dia?!"
"Pernah, tapi cuma secara singkat," jawab Lor Munding Saksana sambil menggaruk rambutnya untuk kesekian kalinya.
"Bisa kau terangkan ciri-cirinya...?" tanya Mahesa Kelud.
"Rambutnya gondrong awut-awutan seperti rambutku! Umurnya sudah sangat tua, lebih tua dariku dan mukanya penuh keriputan. Dia memelihara janggut sampai ke dada panjangnya. Memiliki hidung yang besar tapi pesek hampir sama rata dengan kulit pipinya yang keriput! Telinga kanan sumplung akibat ditebas oleh salah seorang perempuan yang pernah dipermainkannya semasa muda dan mata kiri picak buta. Tubuhnya sedikit bungkuk... mungkin sekarang sudah bungkuk melipat! Itulah Simo Gembong yang pernah kulihat sekitar sepuluh tahun lalu. Sekarang bagaimana tampangnya aku tak bisa tahu pasti jauh lebih buruk seperti biang iblis!"
Mahesa Kelud mengingat-ingat baik-baik setiap ciri-ciri tentang Simo Gembong yang diberikan oleh Lor Munding Saksana. Kemudian dia mengucapkan terima kasih dan hendak berlalu.
"Eit sompret! Tunggu dulu!" seru si orang tua. "Kau mau pergi enak-enakan begitu saja?
Aku juga hendak bertanya dengan kau sompret!"
"Bertanya apa?"
"Apa yang membawamu ke pulau ini dan apa hubunganmu dengan kedua suami istri gila itu! Terutama yang perempuan! Ayo jawab dan awas kalau kau berani dusta!"
"Aku tidak suka pada manusia-manusia sakti yang mempergunakan ketinggian ilmunya untuk berbuat kejahatan di atas muka bumi."
"Itu alasan yang bisa diterima," ujar Lor Munding Saksana. "Tapi kau pasti punya alasan lain, ayo terangkan!"
"Tak ada alasan-alasan lain, aku datang hanya untuk membasmi angkara murka yang merajalela tanpa kemanusiaan!"
"Dusta! Kau pasti ada hubungan apa-apa dengan perempuan muda tadi! Hubungan yang menghasilkan anak ya?!"
Wajah Mahesa Kelud menjadi sangat merah.
"Nah, tampangmu jadi merah! Kata-kataku pasti kena batunya!" Orang tua itu tertawa bergelak. Mahesa dengan kesal putar tubuh lalu lari meninggalkan tempat itu. "Hai sompret, tunggu dulu! Mari kita pergi sama-sama!" seru Lor Munding Saksana. Tapi Mahesa sudah lenyap dari pemandangan.
 

***

TUJUH

MATAHARI hampir tenggelam. Di hadapannya membentang laut luas. Jauh di seberang sana kelihatan pulau-pulau kecil bertebaran. Dan di mana-mana tampak pula perahu-perahu nelayan. Sinar matahari yang hendak tenggelam membuat air laut yang biru menjadi seperti merah kuning keemasan. Seorang nelayan tua berjalan di belakangnya. Mahesa Kelud memutar badan dan melangkah mendapatkan nelayan tersebut.
Mengetahui ada seseorang yang mendatanginya nelayan tua berpaling dan hentikan langkah. "Ya, orang muda ada apa?"
Mahesa mengangguk hormat. "Mungkin Bapak bisa memberikan keterangan yang mana di antara sekian banyaknya pulau-pulau di ujung sana itu yang bernama Pulau Mayat."
Paras nelayan tua jelas kelihatan berubah. Dia memandang ke kiri dan ke kanan seakan-akan khawatir kalau-kalau ada seseorang lain berada di sekitar sana mendengarkan percakapan mereka. Tapi tak ada siapa-siapa. "Orang muda," kata nelayan itu pula dengan suara perlahan sekali dan gemetar, "Aku tak bisa berikan keterangan apa-apa padamu. Cari orang lain saja..." Lalu cepat-cepat orang tua itu hendak berlalu namun bahunya dipegang oleh Mahesa Kelud.
"Kau seperti seorang yang ketakutan saja orang tua, aku hanya sekedar bertanya. Tak ada yang harus ditakutkan...."
"Kau orang asing di sini. Kau tidak tahu apa-apa...." Nelayan itu menurunkan tangan Mahesa lalu melangkah lagi. Mahesa mengikutinya.
"Justru karena aku orang asing dan tidak tahulah maka aku bertanya," kata Mahesa pula.
"Aku yakin kau yang sudah tua tahu pasti di mana letak pulau tersebut!"
Orang tua itu melangkah terus bahkan mempercepat langkahnya. "Jika kau bicara pada siapa saja tentang letak pulau itu, aku akan mati!
Setiap orang yang bicara tentang pulau itu akan mati, termasuk kau!"
"Hem...." Mahesa menggumam dan usap dagunya tapi juga tetap terus melangkah mengikuti si orang tua.
"Kenapa demikian?"
"Aku tak mau bicara denganmu di sini orang muda...."
"Kalau begitu di mana kita bisa bicara?" bertanya Mahesa Kelud.
Nelayan itu menghentikan langkahnya. Ditelitinya Mahesa Kelud dari kepala sampai ke kaki. Dia menggoyangkan kepalanya. "Ikut aku kepondokku," katanya dengan suara perlahan.
Mahesa Kelud melangkah mengikuti orang tua itu. Pondok nelayan ini terletak tak berapa jauh dari pantai. Seorang gadis berkulit hitam manis membukakan pintu. Dekat pintu dapur berdiri perempuan separuh baya, istri nelayan tua tadi sedang gadis yang membuka pintu adalah anak tunggalnya.
"Silahkan duduk," kata nelayan itu pula.
Kemudian dia menerangkan namanya pada Mahesa dan Mahesa memberitahukan pula namanya pada nelayan itu. Di luar senja sudah mendatang dan malam menggantikan siang.
"Pak Rono, tadi kau bilang bahwa siapa-siapa yang bicara tentang Pulau Mayat akan menemui kematian. Mengapa begitu?"
"Anak muda, ketahuilah bahwa di pulau tersebut terdapat sebuah lembah bernama Lembah Maut. Di sini diam seorang gadis jelita tapi jahat luar biasa bernama Dewi Maut. Dia mengepalai kira-kira selusin dara-dara jelita yang rata-rata berkepandaian tinggi dan sama jahatnya dengan Dewi Maut itu sendiri! Tiada seorang pun yang berani menginjakkan kaki di pulau tersebut. Karena datang ke sana berarti maut! Dewi Mautpun mempunyai banyak sekali mata-mata sehingga siapa saja yang mencari jalan untuk datang ke pulaunya atau mencari keterangan apa
saja tentang dia pasti ketahuan dan orang itu pasti akan menemui ajalnya! Pernah beberapa nelayan tak berdosa terhampar di sana waktu ombak besar. Nelayan-nelayan itu pun meski mereka datang ke sana secara tidak sengaja dibunuh tanpa peri kemanusiaan sama sekali! Beberapa orang tokoh persilatan berusaha menumpas komplotan terkutuk Dewi Maut itu namun sukar bagi mereka untuk menentukan di mana sebenarnya letak pulau tersebut karena tak seorang pun bisa memberi keterangan. Kalau pun ada tokoh-tokoh silat yang sampai ke sana maka pastilah Cuma untuk mengantarkan nyawa karena Dewi Maut sakti luar biasa...."
"Jadi Pak Rono sendiri sebenarnya juga tidak tahu tepat letak pulau tersebut?"
"Letak tepatnya memang tidak. Namun seseorang akan bisa mengetahuinya dari tanda-tanda," jawab nelayan tua itu.
"Apakah tanda-tanda tersebut kiranya?" tanya Mahesa Kelud.
"Pulau itu bernama Pulau Mayat, berarti banyak mayat berhamparan di sana. Di mana terdapat mayat akan terdapat pula burung-burung pemakan mayat beterbangan. Kau maklum maksudku, orang muda?"
Mahesa mengangguk. "Maksud Bapak pastilah bahwa di atas pulau tersebut terlihat lebih banyak burung-burung dari pada pulau-pulau lainnya."
"Benar."
"Bapak memiliki perahu bukan?"
"Ya. Tapi kalau untuk mengantarkanmu mencari pulau itu, sebaiknya kau cari orang lain," sahut pak Rono yang sudah dapat meraba pikiran Mahesa Kelud.
"Bagaimana kalau perahu Bapak saya sewa?"
Pak Rono gelengkan kepala. "Harap maafkan Mahesa, aku bukan tak mau menolongmu. Sebagaimana kukatakan tadi Dewi Maut mempunyai banyak mata-mata. Sekali dia kenali perahuku, tamatlah riwayatku dan...."
Tiba-tiba pintu muka pondok terpentang lebar oleh satu tendangan. Sekelebatan kelihatan bayangan sesosok manusia melemparkan sebuah pisau terbang ke arah nelayan tua itu. Mahesa Kelud bertindak cepat. Tangan kirinya dilambaikan. Begitu pisau mental dan menancap di dinding maka dia segera menghambur keluar mengejar si pembunuh gelap. Mahesa berkeyakinan manusia itu pastilah salah seorang dari kaki-kaki tangan atau mata-mata Dewi Maut! Di luar malam yang gelap dan berangin deras menyambut Mahesa. Matanya yang tajam masih sempat melihat ke mana larinya sosok tubuh tadi. Mahesa segera mengejar. Dia berhasil menyusul si pembokong.
Tahu bahwa dirinya tak bisa lari lebih jauh maka manusia berpakaian serba hitam segera cabut pedang dan lemparkan sebilah pisau terbang ke arah Mahesa. Pisau dibikin mental dengan lambaian tangan. Serangan pedang dielakkan. Mahesa ingin menangkap manusia itu hidup-hidup. Dengan cepat dirampasnya pedang di tangan lawan. Sang lawan yang mengetahui kehebatan luar biasa dari musuhnya tanpa banyak cerita segera cabut belati besar dari balik pinggang dan menggorok lehernya sendiri! Darah menyembur. Tubuhnya rebah ke pasir tanpa nyawa. Dari arah pondok terdengar suara pekik merobek udara malam. Mahesa Kelud terkejut.
Suara pekikan tadi disusul dengan dua suara pekikan lainnya. Ketika Mahesa sampai ke dalam pondok didapatinya istri dan anak pak Rono tengah memeluki tubuh nelayan itu yang menggeletak di lantai pondok dalam keadaan tak bernyawa lagi. Pada tenggorokannya menancap sebuah pisau yang sama bentuknya dengan pisau yang dilemparkan oleh manusia berpakaian serba hitam. Kedua anak beranak itu menangis sejadi-jadinya menyayat hati mengharukan. Mahesa keluar dari pondok dengan cepat untuk mencari si pembunuh namun hanya kepekatan malam yang ditemuinya.
Mahesa masuk lagi ke dalam pondok. Kali yang kedua ini ketika matanya memandang ke atas maka dilihatnyalah atap rumbia pohon bobol. Pasti si pembunuh bersembunyi di atas atap. Pada waktu Mahesa keluar mengejar kawannya yang satu ini lalu turun dan membunuh pak Rono untuk kemudian melompat lagi ke atas atap dan melarikan diri! Mahesa Kelud hanya bisa kepalkan tinju menahan kegeramannya. Dia merasa bahwa karena dialah sampai nelayan tua tiada berdosa itu menemui kematiannya dengan cara mengerikan seperti itu!
 

***

DELAPAN

PULAU Mayat.... Di sekeliling pulau tumbuh pohon-pohon kelapa. Melihat rapatnya pohon-pohon tersebut satu sama lain jelaslah bahwa pohon-pohon kelapa tersebut sengaja ditanam demikian rupa membentuk pagar tinggi yang kokoh. Di sebelah dalam tumbuh lagi berbagai pohon serta semak belukar rapat. Lalu menyusul pedataran yang penuh dengan batu-batu karang lancip tinggi diselingi oleh batu hitam besar-besar. Selewatnya daerah berbatu-batu ini tanah pulau menurun ceguk seperti pasir turun di bagian bawah yang menjadi pusat bersembunyinya undur-undur. Inilah yang dinamakan Lembah Maut. Bila dilihat begitu saja maka pulau itu sunyi senyap seperti tiada berpenghuni, namun bila seseorang menginjakkan kaki di sana maka sesungguhnya dari tempat-tempat yang tersembunyi mengintai belasan pasang mata tajam yang memancarkan sorotan maut!
Pulau itu mempunyai udara berbau busuk karena mulai dari balik pagar pohon-pohon kelapa yang menjulang sampai ke dasar pusat lembah bertebaran mayat-mayat manusia. Ada yang mati menggeletak memalang di atas pohon-pohon kayu, ada yang mendekam di dalam semak-semak, ada yang terpancang di pohon kelapa, banyak pula yang terbantai di atas batu-batu karang atau batu-batu hitam. Yang bertebaran ditanah tak terhitungkan lagi. Sebagian besar dari mayat-mayat itu hanya merupakan jerangkong-jerangkong tulang belulang saja. Mayat-mayat barulah yang menimbulkan bau busuk. Langit diatas pulau senantiasa penuh oleh burung-burung pemakan mayat. Bau busuknya mayat-mayat tersebut menarik binatang-binatang itu untuk datang ke pulau.
Di bawah sorotan matahari pagi Mahesa Kelud mengayuh perahunya. Meskipun ilmu mengentengi tubuhnya belum mencapai tingkat kesempurnaan paling tinggi namun sebenarnya laki-laki ini sudah sanggup mempergunakan ilmu lari di atas air. Tapi hal itu tak dilakukannya karena sudah barang tentu akan menarik perhatian orang banyak, terutama para kaki tangan dan mata-mata Dewi Maut. Bahkan dengan adanya peristiwa malam tadi Mahesa sudah menduga bahwa Dewi Maut telah mengetahui tentang dirinya. Karena itulah Mahesa sengaja menyamar seperti seorang nelayan.
Dalam perahunya dia membawa serta jala dan pancingnya. Tak lupa dimuatinya perahu itu dengan ikan-ikan basah. Pakaiannya ditambal disana sini dan kepalanya ditutup dengan sebuah
topi daun pandan. Di bawah topi, sepasang matanya senantiasa tertuju tajam pada salah satu dari sekian banyaknya pulau-pulau yang berada di lautan luas di ujung Pulau Jawa sebelah timur itu. Sudah sejak tadi dilihatnya di atas pulau yang satu ini banyak beterbangan burung-burung laut. Sebentar-sebentar binatang-binatang itu menukik ke bawah lalu terbang lagi berputar-putar di udara untuk kemudian menukik lagi, demikian tiada kunjung hentinya. Makin lama makin dekat juga Mahesa Kelud ke pulau tersebut. Pada jarak yang telah ditentukannya, dengan satu pukulan tangan kiri Mahesa Kelud menghantam tiang layar perahu kecilnya. Tiang patah dan layar rebah, perahu terbalik. Mahesa melompat dengan cekatan. Dipegangnya tepi perahu dan perlahan-lahan laki-laki ini berenang mendorong perahu tersebut mendekati Pulau Mayat.
 

***

SEMBILAN

DI BAWAH pusaran Lembah Maut di Pulau Mayat terdapat banyak sekali lorong-lorong gang yang berpenerangan lampu minyak berbentuk aneh. Seorang dari luar yang masuk ke dalam gang-gang tersebut pastilah akan tersesat dan tak dapat keluar lagi sampai akhirnya menemui ajal karena kelaparan! Pada setiap gang terdapat pintu-pintu rahasia. Salah satu dari pintu rahasia diujung gang kesembilan belas terbuka dan seorang dara jelita berpakaian berbentuk jubah berwarna biru keluar. Pada pinggangnya yang ramping terikat sebuah ikat pinggang kulit, tergantung sebilah pedang hitam. Gadis ini menunggu sebentar. Begitu pintu di belakangnya menutup kembali maka baru dia melangkahkan kaki. Gang itu disusurinya ke arah ujung kanan. Di sini dia membelok memasuki gang seratus empat belas sampai akhirnya dia berdiri di hadapan sebuah pintu. Mulutnya komat-kamit. Kemudian diketuknya pintu batu tersebut dua kali, lalu tiga kali kemudian dua kali lagi. Pintu batu membuka secara aneh. Dia masuk dan pintu menutup kembali. Gadis itu sampai ke sebuah taman yang indah sekali. Kalau dipikir memang tak masuk akal bahwa sebuah pulau, di bawah lembah terdapat sebuah taman sedemikian bagusnya. Tapi ini barulah salah satu dari sekian banyaknya keanehan yang terdapat di Pulau Mayat.
Di tengah taman terdapat sebuah lantai ubin merah berkilat. Gadis baju biru tadi melangkah dengan dada dibusungkan dan kepala senantiasa menghadap ke depan. Di hadapannya terdapat sebuah bangunan mungil berbentuk istana yang keseluruhannya dicat putih bersih. Gadis ini menaiki tangga bangunan tersebut dan berhenti di muka pintu besi yang tertutup. Di sudut bawah pintu terdapat sebuah alat rahasia berbentuk tombol yang kalau dilihat sepintas lalu hanya merupakan sebuah paku biasa saja. Gadis ini memandang berkeliling lebih dahulu kemudian angsurkan kaki kanannya ke muka. Ibu jari kakinya menekan tombol tersebut. Si gadis menunggu dengan perasaan tegang. Khawatir kalau-kalau pintu di hadapannya tak akan terbuka.
Sesaat menunggu maka pintu besi itu pun terbukalah. Gadis baju biru cepat-cepat masuk karena hanya sedetik sesudah dia masuk pintu besi menutup kembali! Ruang di belakang pintu
besi terang benderang. Gadis ini melangkah di sepanjang jalur permadani yang menuju ke arah lapisan-lapisan lima tirai berwarna. Tirai pertama berwarna hitam pekat disingkapkannya. Di belakang tirai ini berdiri seorang gadis jelita berpakaian yang sama dengan gadis pertama tadi. Keduanya saling mengangguk. Gadis pertama melangkah terus dan mencapai tirai terakhir berwarna hijau. Seseorang tak akan dapat melewati tirai-tirai tersebut tanpa diketahui para gadis pengawal. Selain tirai tersebut tebal dan berat sekali sehingga membutuhkan tenaga untuk menyibakkannya maka pada bagian-bagian bawah tirai terdapat semacam giring-giring yang akan berbunyi bilamana tirai bergerak sedikit saja!
Ketika tirai kelima dibuka maka di atas sebuah pembaringan yang indah sekali kelihatanlah seorang gadis berpakaian serba hijau. Salah satu kakinya terjuntai ke lantai yang beralaskan permadani sehingga pahanya yang putih bagus tersingkap jelas! Gadis baju hijau ini cantiknya bukan main! Di kiri kanannya dua orang gadis baju biru berdiri mengipasinya! Inilah dia Dewi Maut penguasa Lembah Maut dan Pulau Mayat.
Dewi Maut memandang ke muka ketika tirai di hadapannya terbuka. Gadis baju biru yang masuk segera berlutut lalu berdiri kembali.
"Ada kabar apa Empat Biru?" tanya Dewi Maut pada gadis itu. Terhadap para murid atau anak buah atau pengawal-pengawalnya yang semua terdiri dari gadis-gadis jelita sejumlah dua belas orang. Dewi Maut memberikan nama panggilan sesuai dengan deretan angka-angka. Gadis yang datang itu gadis nomor empat, karenanya kepadanya diberi nama panggilan Empat Biru.
"Selamat sejahtera di hari ini, Dewi," kata Empat Biru. "Menyesal kalau di hari sembilan di bulan sepuluh ini Empat Biru datang menghadap membawa kabar buruk"
Sepasang alis yang indah dari Dewi Maut menaik ke atas. "Kabar buruk apakah gerangan yang kau bawa?" tanya Dewi Maut pula. "Coba ceritakan!"
"Kemarin sore menjelang senja di kampung nelayan di ujung pulau seberang sebelah timur telah datang seorang laki-laki muda. Ternyata dia adalah seorang yang datang untuk menyelidik
tentang Lembah dan Pulau kita...."
"Tentang Lembah dan Pulau ini...?"
"Betul Dewi," sahut Empat Biru. Kemudian diteruskannya keterangannya. "Dua orang mata-mata kita berhasil mempergoki orang tersebut di memberi keterangan padanya. Salah seorang dari mata-mata berhasil membunuh nelayan itu namun kawannya yang tak sempat melarikan diri terpaksa menemui ajal di tangan orang muda tersebut."
"Kurang ajar!" maki Dewi Maut seraya duduk di tepi pembaringan. "Apakah kau sudah suruh selidik mata-mata kita yang lain atas diri itu orang muda?!"
"Sudah Dewi."
"Siapa dia adanya?"
"Namanya Mahesa Kelud berasal dari tanah barat. Melihat gerak-geriknya serta apa yang telah dilakukannya terhadap salah seorang mata-mata kita pastilah dia tidak berilmu rendah! Namun
ada sedikit kesangsian, Dewi...."
"Mengenai apa?"
"Mengenai apakah betul orang asing tersebut yang membunuh mata-mata kita atau mata-mata kita sendiri yang bunuh diri."
"Kenapa kau bilang demikian?"
"Karena pisau belati yang menancap di leh-
er mata-mata itu adalah miliknya sendiri!"
Dewi Maut manggut-manggutkan kepalanya beberapa kali. "Empat Biru kau kembali ke tempat, perintahkan kawan-kawanmu yang lain untuk lebih waspada dari yang sudah-sudah!"
"Baik Dewi!" Empat Biru berlutut lalu berdiri kembali dan meninggalkan ruangan itu.
Mahesa Kelud memeriksa keadaan dirinya ketika dia semakin dekat juga ke pantai pulau tujuannya. Pedang serta keris sakti tersembunyi dengan baik di balik bajunya. Dengan satu dorongan keras serta bantuan ombak maka menghamparlah dia bersama perahunya ke tepi pasir. Mahesa Kelud menggeletak menelungkup tak bergerak-gerak. Namun sepasang telinganya mendengarkan setiap suara dengan tajam sedang kedua matanya yang seperti terpejam itu terbuka sedikit memperhatikan keadaan sekitarnya. Mahesa Kelud tak menunggu lebih lama karena sejurus kemudian telinganya mendengar suara desiran angin dan dari batang kelapa tinggi di muka sana melesat turun bayangan biru.
Di hadapannya kemudian dilihatnya dua orang dara jelita berdiri. Ketika Mahesa memperhatikan pasir pantai sama sekali tidak kelihatan bekas-bekas jejak kaki kedua dara tersebut padahal dia telah meloncat dalam jarak yang tinggi sekali! Diam-diam Mahesa mengagumi kehebatan ilmu mengentengi tubuh dara-dara muda itu dan dia maklum sudah bahwa mereka pastilah dua orang anak buahnya Dewi Maut.
"Nelayan muda yang terdampar," kata salah seorang dari gadis itu. Dia adalah anak buah yang kesembilan dan nama panggilannya Sembilan Biru.
"Tapi bukan mustahil dia adalah orang asing yang diterangkan oleh mata-mata kita," sahut kawannya yaitu si Empat Biru.
"Coba periksa perahunya!" Sembilan Biru memeriksa perahu yang terdampar tak jauh dari sana. Sesaat kemudian dia kembali. "Tiang layar perahu patah...."
"Patah?" desis Empat Biru. "Aneh, tak ada topan atau angin besar di lautan sekitar sini, bagaimana tiang perahu itu bisa patah?!"
"Mungkin tiangnya sudah sangat tua," ujar Sembilan Biru.
"Apalagi yang kau temui di perahu itu, Sembilan Biru?"
"Alat penangkap ikan, beberapa ekor ikan dan kain-kain buruk."
Empat Biru memandang pada Mahesa Kelud yang menggeletak tak bergerak-gerak. "Dilihat kepada pakaiannya aku percaya bahwa dia seorang nelayan muda yang miskin. Tapi dilihat kepada tampang serta kulitnya, aku tetap masih bercuriga. Coba kau perhatikan Sembilan Biru.
Tampangnya bagus dan kulit tubuhnya kuning langsat halus seperti perempuan! Mana ada kulit
nelayan yang senantiasa berkenalan dengan matahari begini macam!"
"Apa yang harus kita lakukan kalau begitu?!"
"Apa yang harus kita lakukan katamu?!" ujar Empat Biru. Tangannya bergerak mencabut pedang hitam yang tergantung di pinggangnya. Mahesa Kelud dapat mendengar suara gesekan pedang yang dicabut dari sarungnya. Sepasang matanya lebih dibukakan. Dia bersiap sedia.
"Tunggu dulu Empat Biru," kata Sembilan Biru. "Dewi tidak memberi perintah cabut nyawa atas manusia ini! Aku khawatir kalau kita kesalahan tangan!"
Empat Biru tersenyum. "Bukan Dewi yang kau khawatirkan tapi paras orang muda yang gagah ini bukan? Hem.... Dia memang cakap!"
Sembilan Biru jadi kemerah-merahan parasnya. Dia memandang ke deretan pohon-pohon kelapa rapat dan berkata: "Sebaiknya kita tanyakan dulu pada Dewi."
"Tanyakanlah. Aku yakin Dewi akan menyuruh kita memancung kepala manusia ini!" ujar Empat Biru. Sembilan Biru berteriak. Suara teriakannya yang disertai tenaga dalam tinggi menggelombang ke arah Lembah dan masuk ke tempat pembaringan Dewi Maut.
"Dewi, di sini Sembilan Biru dan Empat Biru. Kami menemui seorang nelayan muda terdampar di pasir. Mohon petunjuk apa yang kami harus lakukan! Dia masih bernapas!"
Dari arah Lembah terdengar suara jawaban Dewi Maut. Jawabannya adalah sekalimat bertanya. "Apakah ada hal-hal yang tidak pada tempatnya yang kalian lihat dengan diri manusia itu?!"
"Ada," jawab Sembilan Biru dan Empat Biru hampir bersamaan.
"Kalau begitu bawa dia hidup-hidup ke ruang pembantaian!" terdengar perintah Dewi Maut. Sembilan Biru melirik pada kawannya. Lirikan kemenangan. Kedua orang itu kemudian masing-masing memegang tangan serta kaki Mahesa Kelud. Mahesa merasa tubuhnya seperti dibawa terbang melewati pohon-pohon kelapa tinggi lalu dibawa berlari di antara pepohonan. Di sana sini dilihatnya mayat-mayat membusuk serta tulang belulang manusia. Bau busuk menyesakkan
pernapasan. Kemudian di sekitarnya tampak batu-batu karang runcing tinggi serta batu-batu hi-
tam besar. Sesudah itu tubuhnya dibawa berlari memasuki lorong sampai akhirnya berhenti di
hadapan sebuah pintu besi.
Pintu besi terbuka aneh dengan mengeluarkan suara berkereketan. Orang yang mendukungnya menerobos melewati pintu itu. Tak selang berapa lama terlihat lagi sebuah pintu. Mahesa dibawa masuk ke dalam lalu dilemparkan seperti melemparkan sarapan. Murid Embah Jagatnata menyumpah dalam hati. Dia memandang berkeliling cepat meneliti keadaan. Namun belum sempat hal itu dilakukan tiba-tiba dinding di sebelah kanan terbuka secara aneh dan saat itu pula menerobos cahaya putih menyilaukan. Begitu cahaya putih lenyap, di hadapan Mahesa kini membentuk satu dinding tembus pandang, tak ubahnya terbuat dari kaca. Di belakang dinding kaca tegak sesosok tubuh perempuan muda cantik jelita mengenakan pakaian hijau sangat tipis hingga lekuk-lekuk auratnya terlihat dengan jelas. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang bersarung hitam. Walaupun rasa ngeri dan kecemasan masih menguasai dirinya namun diam-diam dalam hati Mahesa Kelud muncul satu harapan besar. Dia membatin.
"Tidak salah datang ke tempat ini walau nyawaku hampir melayang beberapa kali. Tugas pertama dari Embah Jagatnata untuk mendapatkan pedang Samber Nyawa agaknya akan dapat aku selesaikan."
 

***

TAMAT
Episode selanjutnya:


Thanks for reading Banjir Darah Di Ujung Kulon I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »

Silahkan berikan sarannya untuk artikel diatas tanpa spam