Wajar Itulah Bahagia

wajar itulah bahagia

Kita sering mendengar kata-kata seperti ini, “Hidup sudah susah, buat apa dibikin tambah susah lagi"

Hidup bukan mudah, tetapi hidup itu indah dan bahagia. Bila hidup itu susah, karena kita sendiri yang membuatnya susah. Dan semuanya berawal dari pikiran negatif. Berlanjut ke tindakan yang negatif, dan berakibat yang negatif pula.

Orang membiarkan dirinya larut dan hanyut dalam pikiran negatifnya, entah karena ucapan atau tindakan dari orang sekitarnya sehingga merasuki dirinya dan menciptakan gambaran diri yang buruk. Akibatnya, mereka tidak mampu mengalihkan pikiran dan perhatian mereka pada hal-hal yang negatif. Mereka lupa untuk fokus pada hal-hal yang positif.

Masing-masing dari kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit atau susah, tetapi hanya sedikit orang yang mampu bangkit kembali karena tidak terus-menerus mengasihani diri sendiri. Itu karena mereka memilih untuk bangkit. Dan mereka yang mampu bangkit kembali pasti berani mengatakan bahwa hidup mereka indah dan bahagia. Karena mereka menikmati setiap langkah dalam hidupnya. Mereka yang tidak menikmati hidupnya adalah mereka yang akan selalu merasa hidupnya susah. Hidup ini indah, apabila kita memilih untuk bahagia dan menikmatinya.

Menginginkan sesuatu yang diinginkan jika tercapai memang akan terasa indah, akan tetapi sekali terdapat akan lenyap keindahannya. Yang tidak membutuhkan sesuatu berarti sudah mendapatkan semuanya, Adakah manusia yang lebih suci dan lebih bahagia daripada seorang bayi? Karena bayi tidak menginginkan sesuatu, tidak membutuhkan sesuatu, dia_lah manusia paling bahagia. WAJAR itulah BAHAGIA

Jika saya ditanya apakah saya senang atau susah, dengan segala kesungguhan hati, saya akan menjawab bahwa saya tidak senang juga tidak susah, tidak duka juga tidak suka.

Segala peristiwa yang terjadi adalah wajar dan sudah semestinya. Untuk menghadapi setiap peristiwa, kita di anugerahi akal dan pikiran yang boleh kita pergunakan sebagai hak kita. Menghadapi urusan yang tidak benar boleh kita benarkan dengan alat dan panca indera kita. Kalau ada orang yang suka menikmati kesenangan, boleh saja karena kesenangan yang dapat dinikmatinya itu pun merupakan anugerah, hanya dia pun harus siap pula merasakan kesusahan yang menjadi pasangan kesenangannya (ada senang juga ada susah).

"Hadapi dan jalani hidup ini sesuai dengan garis yang telah di tentukan Tuhan, karena tuhan yang menentukan atas diri kita.."

Dan aku selalu berusaha beranggapan begitu supaya bisa tetap tenang dan bisa menerima keadaan apa pun tanpa keluh kesah dan jiwa yang lemah. Dengan menerima sang takdir, kita akan memperoleh ketenangan sekalipun dalam keadaan yang menyedihkan. Begitulah caraku mengobati hati jika sedang menghadapi kesusahan dan kekecewaan.

Apa pun yang terjadi, apa pun yang kita hadapi, kita selalu mempunyai pilihan. Pilihan itu kitalah yang menciptakannya. Dan kita selalu bisa memilih untuk melakukan apa yang baik dan benar.

Hidup ini indah, dan akan bahagia, semua tergantung pada pilihan kita.

Memilih untuk tersenyum atau cemberut?
Tertawa atau menangis?
Bersyukur atau mengeluh?
Bahagia atau bersedih?

Tetaplah tersenyum dan nikmati hidup. Karena hidup itu indah...
Thanks for reading Wajar Itulah Bahagia I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »