X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Manajemen Aksi

Peraturan ketenagakerjaan tentang manajemen aksi

PENDAHULUAN


Aksi merupakan proses dinamika sosial dan merupakan tindakan hidup manusia. Artinya, aksi adalah sebuah proses wajar dan alamiah dalam hidup. Maka aksi sebetulnya tidak bisa dimaknai secara sempit dan berkonotasi negatif, yaitu selain aksi dikatakan destruktif. Ini adalah pemikiran sempit. Apalagi aksi hanya dikaitkan dengan kegiatan unjuk rasa belaka.

Pada konteks ini memang ruang lingkupnya, aksi diterjemahkan sebagai proses hidup yang menunjukkan ketidaksukaan terhadap ketidakadilan, Kesewenangan serta mencoba bersikap konstruktif terhadap negara. Aksi dikaitkan dengan perangkat sosial politik modern.

JENIS DAN BENTUK AKSI


1. Aksi Massa

Merupakan jenis aksi yang dilaksanakan dengan jumlah massa yang relatif besar, karena dari segi tuntutan, aksi massa mempunyai substansi besar dan membumi. Aksi inipun membutuhkan banyak energi dan persiapan. Ada beberapa bentuk dari aksi masa, yaitu:

  • Rally - Aksi massa rally adalah berjalan kaki atau berkendaraan motor dijalan raya dengan tujuan tertentu. Harus ditentukan tempat berkumpul massa serta tujuan akhir dari massa. Titik kunci dari aksi ini untuk massa adalah simpul massa yang kuat dan disiplin.

  • Mimbar Bebas - Aksi mimbar bebas biasanya inheren dengan aksi rally, biasanya untuk memancing perhatian massa serta membangkitkan semangat dalam hitungan jarak tertentu dan situasi tertentu diadakan mimbar bebas. Tetapi aksi mimbar bebaspun dapat dilakukan sendiri, artinya hanya sebuah mimbar bebas yang dihadiri oleh massa yang juga relatif banyak. Perbedaan substantif aksi rally dengan mimbar bebas adalah rally dinamis. Dengan gerak berpindah tetapi mimbar bebas stagnan di sebuah tempat, seperti di gedung DPR/MPR.

  • Rapat Akbar - Rapat akbar adalah menghimpun massa disebuah tempat dengan isu tertentu dan pembicara adalah tokoh berpengaruh yang berbicara tentang isu tertentu.

2. Aksi Replektif

Aksi replektif dalam proses perencanaan tidak serumit aksi massa dan cenderung lebih individual serta tidak membutuhkan mobilisasi massa besar. Ada beberapa bentuk aksi yang dapat digolongkan sebagai aksi refleksi :

  • Diskusi Refleksi - Memperbincangkan tentang suatu topik masalah atau evaluasi terhadap kondisi tertentu dalam sebuah forum dan peserta boleh berbicara secara bebas dan replektif.

  • Statemen - Aksi statemen biasanya beriringan dengan banyak aksi seperti rally, mimbar bebas dan lainnya. Statemen adalah pernyataan sikap yang mewakili analisa serta opini sebuah permasalahan dari massa aksi. Tetapi statemen pun dapat pula dikeluarkan secara individual (perseorangan) ataupun organisasional.

3. Mogok

Aksi ini banyak dilakukan oleh kaum buruh, dapat juga digolongkan sebagai aksi massa, Tetapi dapat juga dilakukan secara sporadis, spontan dan individual. Aksi ini biasanya untuk memprotes kebijakan seseorang atau lainnya. Aksi ini juga dilakukan oleh mahasiswa.

4. Boikot

Boikot biasanya untuk menunjukkan secara langsung dan replektif akan ketidaksukaan terhadap sebuah keputusan atau hasil sebuah perundingan. Maka dilakukan boikot artinya keluar atau tidak menghadiri sebuah pertemuan.

5. Aksi Delegasi

Aksi dari perwakilan dari sebuah organisasi atau lebih untuk menyampaikan permasalahan kepada obyek aksi. Aksi ini juga dapat bersatu dengan aksi rally atau mogok.

6. Anarkisme Aksi

Saat ini berkembang sebuah jenis aksi massa yang sifatnya sporadis dan anarkis, yaitu penjarahan dan brutal (merusak). Banyak analisa yang mencoba mempelajari aksi ini dari dasar-dasar serta tujuannya, mengarah pada situasi dan kondisi negara. Sangat susah dipetakan siapakah yang merancang aksi ini kalau terjadi, karena syarat oleh beragam versi.

PRINSIP-PRINSIP AKSI


Ada beberapa prinsip aksi yang harus dipegang dalam menjalankan aksi. Karena aksi bukanlah tindakan sesaat, aksi merupakan proses akumulasi yang sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.
  • Aksi harus mempunyai target dan tujuan yang jelas.
  • Permasalahan yang diangkat harus mewakili semua peserta aksi.
  • Permasalahan yang diangkat harus dapat dipahami dan dicerna dengan mudah oleh masyarakat.
  • Aksi harus memperbanyak kawan serta memperkecil lawan.
  • Aksi harus dapat menarik simpati massa secara umum.
  • Aksi harus menghindari hal-hal yang dapat memancing provokasi dan anarki.

STRATEGI MEMBANGUN OPINI DAN MOBILISASI MASSA


Dalam sebuah aksi kita membutuhkan massa, akan tetapi sering kali kita kesulitan untuk dapat memobilisasi serta membangun opini yang utuh untuk dapat meningkatkan pemahaman kepada massa aksi khususnya dan massa aksi masyarakat umum pada umumnya. Untuk dapat menyelesaikan problem ini, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membangun opini dan mobilisasi massa.

1. Strategi selebaran

Seringkali orang menganggap kata selebaran itu sesuatu yang jelek dan sifatnya memfitnah, oleh karena itu bisa saja kita ganti selebaran dengan kata brosur atau pamplet. Manfaat dari selebaran itu sangat banyak, diantaranya kita dapat menuliskan atau bila perlu dalam bentuk gambar, kita dapat menggambarkan tentang sesuatu hal atau permasalahan yang hendak kita angkat didalam selebaran tersebut.

Selebaran yang telah kita buat dapat kita bagikan kepada massa sasaran aksi dan umum untuk dapat menciptakan opini tentang sesuatu permasalahan yang hendak kita angkat dalam sebuah aksi. Akan tetapi apabila kita ingin memakai metode selebaran ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar selebaran itu dapat dengan mudah di mengerti dan dapat sampai ketujuan dengan aman. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa isi dari selebaran itu, menggunakan bahasa yang jelas dan sederhana langsung kepada pokok persoalan, apalagi bila massa yang hendak kita targetkan adalah buruh atau masyarakat awam.

Selain itu metode selebaran membutuhkan tehnik advokasi dan keamanan yang sungguh-sungguh canggih, karena apabila sampai kita lalai dalam hal keamanan ini, maka akibatnya bisa membahayakan personal ataupun organisasi. Sebagai contoh ketika kita hendak membagikan selebaran, misal kita pilih di 'A' untuk membagikan disuatu wilayah tertentu maka kita tidak boleh membiarkannya pergi sendirian tanpa pantauan dari tim keamanan yang kita bentuk sebelumnya. Setidaknya, ketika terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki maka dapat segera melakukan advokasi terhadapnya.

Selain keamanan seperti itu usahakanlah pembagian selebaran dilakukan secara serentak disemua wilayah yang hendak kita jangkau, hal ini dilakukan guna mengancam sentralitas pantauan aparat. Kita harus dapat mengatur waktu secara matang dan disiplin. Sebagai contoh, apabila kita menentukan waktu pembagian disemua wilayah adalah pukul 10.00 wib dan harus selesai pukul 12.00 wib.

Maka semua tenaga pembagi selebaran harus mentaati ketentuan tersebut demi keamanan mereka sendiri dan apabila ada salah seorang tenaga pembagi tidak kembali sesuai dengan waktu yang ditentukan maka kita harus segera mencari informasi secepat mungkin, ini tentunya untuk menghindari penculikan atau penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Memang terasa sedikit rumit, akan tetapi apabila kita sudah biasa menggunakannya maka kita akan terbiasa. Dan kenapa kita perlu keamanan yang ketat, karena tentunya untuk mengantisipasi korban dengan cara menggunakan tehnik yang matang.

Berapa kali kita harus membagikan selebaran kepada massa? Hal ini tentunya disesuaikan dengan kemampuan sumber daya dan finansial yang ada, selain juga target yang kita kehendaki. Pembagian selebaran tidak harus satu kali, bila dilakukan beberapa kali tentunya opini yang akan tergabung juga semakin baik. Tetapi sebagai catatan, kita tidak boleh melupakan keamanan dan dana.

Sebagai contoh, kita hendak mengangkat isu tentang kenaikan harga BBM, bisa saja kita membagikan selebaran secara rutin. Apabila kesadaran massa masih lemah tentang hubungan kenaikan harga BBM ini dengan mereka tentunya massa tidak akan mau turut dalam aksi tersebut.

Tetapi apabila mereka telah memahami tentang pentingnya sebuah aksi buat mereka maka tanpa diminta lagi mereka akan dengan sukarela mengikutinya. Metode selebaran ini biasanya dipakai bila kita hendak menjangkau massa diluar massa solid yang kita miliki dan aksi yang akan dilakukan adalah aksi massa besar.

2. Strategi Diskusi

Metode diskusi ini bisa kita pakai untuk membangun opini dan mobilisasi massa. Diskusi yang kita selenggarakan bisa saja berbentuk diskusi besar ataupun diskusi kecil (diskusi). Hal ini tergantung dari kebutuhan.

Manfaat dari metode diskusi ini adalah pembangunan opini lebih mateng karena massa/peserta diskusi dapat bertanya apabila merasa belum puas sehingga kesadaran yang di peroleh akan lebih besar. Akan tetapi metode diskusi membutuhkan waktu yang lebih lama dan memakan biaya untuk menyelenggarakannya, apalagi bila diskusi yang kita kehendaki adalah diskusi yang besar.

Seperti metode selebaran, maka metode diskusi pun membutuhkan advokasi dan tehnik keamanan yang matang. Tentunya ini untuk mengantisipasi segala sesuatu yang tidak kita kehendaki, misal ada penggerebekan pada saat diskusi diselenggarakan. Tentunya untuk meminimalisir hal semacam ini kita harus disiplin dan hati-hati. Apabila kita tidak mampu menyelenggarakan diskusi yang sifatnya besar maka bisa saja berbentuk diskusi kecil yang kira-kira berjumlah 4-7 orang.

Biasanya diskusi kecil lebih aman dan tidak memakan biaya tetapi butuh waktu yang cukup lama, karena jumlah massa yang dijangkau sedikit maka perlu beberapa kali menyelenggarakannya pada beberapa tempat yang berbeda. Bisa saja diskusi yang diselenggarakan dengan diiringi acara rujakan atau pesta kecil supaya massa tidak jenuh dan bosan.

3. Strategi Selebaran dan Diskusi

Strategi ini adalah penggabungan antara selebaran dan diskusi. pelaksanaannya bisa kita improvisasi sesuai yang kita kehendaki. Bisa saja diskusi kita pakai untuk penggalangan massa solid dan strategi selebaran untuk penggalangan massa diluar massa kita hendak dijangkau. Untuk melaksanakan keduanya kita butuh tenaga, waktu dan dana. Akan tetapi hasil yang maksimal akan kita rasakan nantinya.

Selain dari ketiga metode yang ditawarkan diatas, bisa saja diskusi kita menggunakan metode yang lain yang dirasa perlu. ini tergantung improvisasi kita, improvisasi ini dalam arti positif. Yang jelas kita sadari adalah bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal kita harus matang dan membutuhkan pengorbanan. Dan sudah barang tentu bahwa yang namanya sebuah aksi bukanlah sebuah permainan karena mempunyai tingkat resiko yang harus kita perhitungkan.

Oleh karena itu bagaimana caranya kita bisa mengurangi resiko tersebut dan mencapai hasil yang maksimal. Sebuah aksi, apapun bentuk aksi tersebut harus ada perencanaan yang solid. Selain tehnik yang canggih, juga bisa menyelaraskannya dengan bentuk atau jenis aksi yang hendak kita selenggarakan. Semua ini tergantung dari isu dan target yang hendak di capai.

PERANGKAT AKSI


1. Koordinasi Aksi

Koordinasi aksi adalah seseorang yang bertanggung jawab memimpin aksi mulai dari perencanaan (pra aksi), pelaksanaan aksi. Untuk dapat menjalankan tugasnya ini maka diusahakan agar koordinasi aksi jangan sampai tertangkap, maka bisa saja koordinator aksi tidak berada dilokasi aksi tetapi memantau aksi melalui SI (sentra informasi).

  • Memimpin jalannya rapat aksi mulai dari perencanaan hingga pasca aksi.
  • Bertanggung jawab mengkoordinasikan semua perangkat aksi agar dapat berjalan selaras dan seirama.
  • Melakukan lobby kepada pihak lain yang dirasa perlu untuk diajak kerja sama dan membantu pelaksanaan aksi.
  • Mengambil keputusan, yang belum diputuskan oleh rapat dan harus mempertanggung jawabkannya pada saat rapat evaluasi.
  • Seorang koordinator aksi haruslah seorang yang berwibawa dan punya hubungan yang baik. Pasca aksi biasanya berisi evaluasi aksi, advokasi.
  • Koordinator aksi bertanggung jawab kepada organisasi dan forum.

2. Koordinator Lapangan (Korlap)

Korlap adalah seorang yang mempunyai tanggung jawab yang memimpin massa pada saat dilapangan. Dia adalah orang kedua yang bertanggung jawab selain koordinator aksi.

Tugas Korlap

  1. Tugas Kerlap adalah memimpin dan mengkomandoi jalannya aksi.
  2. Bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan barisan massa pada saat dilapangan.
  3. Melakukan improvikasi dilapangan apabila terjadi sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.
  4. Mengkoordinasi perangkat aksi pada saat dilapangan agar selaras dan seirama.
  5. Menjaga stamina massa pada saat dilapangan.
  6. Apabila situasi mulus, maka memimpin barisan untuk pulang.
  7. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.
 
Seorang korlap haruslah orang yang mempunyai inisiatif tinggi, maka akan baik bila dia adalah seorang yang punya karakter inisiator. Dan korlap adalah orang yang mampu memimpin massa dan mendinamisasikannya, selain itu akan lebih bagus lagi jika korlap adalah orang yang berani dan tidak mudah terprovokasi, tentunya siap menjadi target orang yang akan diambil oleh aparat. Korlap bertanggung jawab kepada koordinator aksi.

3. Wakil Koordinator Lapangan

Wakil korlap lapangan adalah membantu tugas korlap dilapangan. Dia bertanggung jawab kepada korlap.

Tugas wakil korlap:

  1. Membantu korlap memimpin barisan pada saat dilapangan.
  2. Menjalankan perintah korlap.
  3. Apabila dia dibutuhkan dia bisa menggantikan korlap, pada saat situasi kacau.
  4. Membantu korlap mengkoordinasikan perangkat aksi lainnya.
  5. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.

Seorang wakorlap yang dipilih tentunya dia harus seorang yang dapat bekerja-sama dengan korlap. Sedikit banyak kriteria seorang wakorlap hampir mirip dengan korlap.

4. Keamanan

Keamanan dalam sebuah aksi adalah orang atau suatu tim yang bertanggung jawab tentang keamanan penyelenggaraan aksi hingga pasca aksi. Biasanya keamanan berjumlah lebih dari minimal 3 orang apabila aksi kecil atau sifatnya aksi delegasi, dan berjumlah lebih dari tiga bila aksi tersebut aksi rally.

Jumlah keamanan tergantung pada jenis aksi, jenis metode pembangunan opini dan pengerahan massa (seperti yang diuraikan pada sub-materi pembangunan opini dan pengerahan massa). Yang jelas semua aksi yang kita rencanakan membutuhkan keamanan. Dalam tim keamanan biasanya kita pilih salah seorang sebagai koordinatornya.

Dan selain koordinatornya juga ada perangkat lainnya yang berada dibawah keamanan, semacam kurir. Koordinator yang kita pilih harus mempunyai pengalaman dibidang ini, orang ini juga harus mempunyai insting sekuritas tinggi, lihai dan tidak mudah terprovokasi.

Karena bagaimanapun kita juga kita tidak mempunyai alat komunikasi yang lebih canggih dari aparat/intelijen. untuk itu, kita tidak bisa sembarangan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada orang yang tidak memahami tugas ini.

Biasanya keamanan kita beri hak otonom untuk menentukan rapat-rapat diluar rapat umum, sifat rapatnya bisa tertutup dan bahkan mempunyai hak untuk tidak memberikan informasi kepada orang tertentu, demi keamanan aksi dan organisasi.

Seperti dimana tempat evakuasi, tidak semua orang harus diberitahu. Bahkan koordinator aksipun, bila perlu tidak boleh mencampuri urusan keamanan. Hal ini untuk menghindari kebocoran informasi kepada orang yang tidak kita kehendaki.

Prinsip keamanan adalah semakin sedikit orang yang tau maka semakin baik dan aman. Tim keamanan harus dapat merumuskan tehnik keamanan yang hendak dipakai untuk melaksanakan aksi.

Tim ini juga harus mempunyai banyak desain yang hendak dipakai. Misal, bila taktik A gagal atau telah dibaca oleh aparat maka tim ini harus mempersiapkan taktik B. Setidaknya ada tiga konsep yang harus dimiliki. Oleh karena itu salah jika keamanan adalah orang yang kuat secara fisik.

Koordinator keamanan tugasnya:

  1. Bertanggung jawab kepada koordinator aksi.
  2. Memimpin dan mengkoordinasi tim keamanan.
  3. Membuat konsep sekuritas, bersama tim lain.
  4. Bertanggung jawab terhadap keselamatan massa dari pra-aksi hingga pasca aksi.
  5. Bertanggung jawab terhadap keselamatan perangkat aksi lainnya.

Ada dua tingkat keamanan yang bisa dipakai:

Keamanan AtasKeamanan atas adalah perangkat keamanan yang ditempatkan dilapangan pada saat aksi, dan keamanan atas boleh diketahui posisinya oleh massa pada saat dilapangan. Tugasnya:
  1. Bertanggung jawab terhadap keamanan barisan dari orang yang tidak dikenal/susupan.
  2. Melindungi massa, pada saat terjadi kekacauan barisan bila perlu dengan cara merelakan diri untuk ditangkap.
  3. Mengingatkan atau bila perlu mengeluarkan orang yang dianggap terlalu provokatif, dan tidak jelas asal usulnya pada saat dilapangan.
  4. Menyampaikan pesan dari kurir atas kepada korlap, sehingga korlap akan terus mendapat informasi tentang situasi diluar lapangan dan ini tentunya sangat penting korlap karena akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh korlap.

Keamanan atas ini, bila aksinya adalah aksi massa apalagi rally maka dibutuhkan banyak orang. Dan terkadang keamanan atas ada kemungkinan menjadi target aparat maka bisa tidak dilibatkan pada saat rapat keamanan yang sifatnya tertutup. Ini untuk menghindari apabila terjadi introgasi pada saat ditangkap dan untuk memotong informasi yang sifatnya rahasia, semacam tempat-tempat evakuasi.

Keamanan Bawah - Keamanan bawah terdiri dari dua yaitu kurir atas dan kurir bawah, keamanan bawah ini kadang bisa saja ada dilokasi aksi akan tetapi diharapkan keberadaannya tidak diketahui oleh banyak massa, cukup orang tertentu saja yang tahu. Oleh karena itu keamanan bawah ini bila diperlukan bisa saja menyamarkan identitasnya, dengan cara memakai topi atau kaca mata.

5. Kurir Atas

Kurir atas adalah orang yang berada dibawah koordinasi keamanan, dan posisinya berada disekitar lokasi aksi, kurir atas harus melakukan sweeping lapangan baik dari pra-aksi dan pada saat aksi dimulai.

Tugas kurir atas:

  1. Bertanggung jawab kepada koordinator keamanan.
  2. Melakukan sweeping lapangan baik pra-aksi dan pada saat aksi berlangsung.
  3. Menyampaikan informasi tentang kondisi disekitar lapangan kepada keamanan atas untuk segera disampaikan kepada korlap.
  4. Menyampaikan informasi tentang situasi lapangan kepada kurir bawah untuk segera disampaikan kepada SI (sentral informasi).
  5. Melakukan evakuasi terhadap "orang" dengan bantuan keamanan atas, orang disini adalah yang perlu dibawa pergi karena keselamatannya terancam dan menjadi incaran.

6. Kurir Bawah

Adalah orang yang posisinya tidak boleh diketahui oleh koordinator keamanan dan kurir atas saja. Untuk itu dia bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan kesepakatan yang dibuat terhadap koordinator keamanan dan kurir atas.

Tugas Kurir Bawah:

  1. Menerima informasi dari kurir atas dan segera menyampaikan kepada SI (Sentra Informas).
  2. Menyampaikan informasi dari sentral informasi kepada kurir atas apabila ada perubahan kebijakan yang dibuat mendadak atas perintah keamanan dan apabila situasi tidak memungkinkan.
  3. Melakukan evakuasi lanjutan pada saat aksi ataupun pada saat setelah aksi, baik evakuasi terhadap personal ataupun dokumen.
  4. Memantau keamanan peserta aksi.

7. Delegator

Tim yang menjadi perwakilan massa untuk menyampaikan dan berdialog tentang permasalahan yang dibawa. Biasanya perangkat aksi yang satu ini dibutuhkan jika menghendaki ada delegasi. Orang yang kita pilih menjadi delegasi diharapkan orang yang menguasai permasalahan dan pandai berargumentasi. Apabila aksinya adalah aksi aliansi maka setiap organisasi harus ada perwakilannya, bila aksi banyak melibatkan kelompok masyarakat juga harus ada perwakilan dari masing-masing kelompok.

Tugas Delegator:

  1. Menyampaikan dan melakukan dialog kepada instansi yang di inginkan.
  2. Merumuskan segala sesuatu yang hendak didialogkan.
  3. Bila dikehendaki Delegator juga menyusun statemen dan realease.
  4. Menyampaikan segala yang menjadi keputusan pada saat dialog kepada massa.
  5. Bertanggung jawab kepada koordinator aksi.

8. Negosiator

Adalah tim yang dipilih untuk melakukan negosiasi atau tawar-menawar kepada pihak yang hendak menghalangi jalannya aksi, Baik pada saat aksi belum dimulai ataupun pada saat jalannya aksi. Negosiasi ini biasanya dibutuhkan terus dalam setiap jenis aksi apapun.

Tugas Negosiator:

  1. Berada didepan barisan menemani korlap.
  2. Melakukan negosiasi kepada aparat keamanan atau siapapun yang hendak membubarkan aksi.
  3. Menyampaikan hasil negosiasi kepada korlap, untuk segera disampaikan kepada massa.
  4. Mengusahakan jangan sampai aparat dapat berbicara secara langsung kepada massa, hal ini untuk menghindari agar mereka tidak mengomandoi massa, untuk itu sebagai catatan jangan sampai korlap ikut melakukan negosiasi tetapi korlap tetap harus memimpin dan menjaga agar tidak terjadi kevakuman dibarisan pada saat terjadi negosiasi.
  5. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.

9. Humas

Mengapa humas ini diperlukan? Karena kadang kala aksi jadi kacau karena wartawan memburu korlap untuk diwawancarai serta dimintai informasi, Sehingga konsentrasi korlap menjadi buyar dan massa bisa dengan mudah diprovokasi dan menimbulkan kekacauan. Untuk ini maka harus ada humas. Kadang kala wartawan meminta keterangan kepada peserta aksi yang tidak terlalu banyak mengetahui masalah sehingga opini yang muncul tidak sesuai dengan yang kita kehendaki.

Ada baiknya kita pilih humas yang mempunyai banyak hubungan baik dengan wartawan. Ini dimaksudkan agar humas tidak salah memberikan informasi kepada orang yang kita tidak kehendaki. Karena sering sekali aparat keamanan yang berpura-pura menjadi wartawan gadungan.

Tugas Humas:

  1. Melakukan publikasi dan kampanye kepada wartawan pada saat aksi atau sebagai juru bicara.
  2. Melakukan pendekatan kepada wartawan.
  3. Mendistribusikan statemen dan realease.
  4. Menyelenggarakan konferensi pers (bila diperlukan).
  5. Bertanggung jawab kepada koordinator aksi.

10. Sentral Informasi (SI)

Sentral informasi diperlukan karena sering kali kita kehilangan kontak pada saat aksi berlangsung dan kebingungan dengan apa yang mesti dikerjakan, apalagi pada saat terjadi kekacauan. Adanya sentral informasi dapat mengkoordinasikan perangkat aksi dalam bekerja dengan tidak perlu bertemu secara langsung.

Sentral informasi harus disediakan peralatan komunikasi yang bersih (artinya tidak disadap). Biasanya sentral informasi juga kita butuhkan pada saat menggunakan metode selebaran. keberadaan sentral informasi dapat menjadi penghubung antara koordinator aksi dengan korlap yang tidak saling bertemu pada saat aksi berlangsung.

Tugas sentral informasi:

  1. Menerima dan menyampaikan informasi.
  2. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.

11. Logistik

Logistik diperlukan pada saat kita memilih jenis aksi yang sifatnya melibatkan massa.

Tugas logistik:

  1. Menyediakan semua perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan aksi seperti poster, minuman, spanduk, dan megapon/pengeras suara.
  2. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.

Dalam melakukan tugas ini tim logistik harus berkoordinasi dengan forum perencanaan aksi untuk menentukan kata-kata apa yang boleh dan tidak diperbolehkan ditulis dalam spanduk. Karena dalam pengalaman sering kali kita lalai dalam hal kecil ini dan akibatnya bisa fatal. 

Apalagi jika aksi yang kita buat adalah aksi aliansi. Karena terkadang ketidak sengajaan menulis pada poster bisa menyebabkan permasalahan antar organisasi. Dan poster pun juga bisa menjadi barang bukti jika terjadi penangkapan. Untuk itu poster dan spanduk harus ikut dievakuasi oleh tim keamanan. tugas logistik kelihatannya sederhana akan tetapi bila tidak dilakukan secara serius bisa mengakibatkan kefatalan.

Contoh, pada saat aksi tidak ada pengeras suara sehingga orang melakukan orasi kehabisan suara karena harus berteriak-teriak. ini hal yang kecil tapi kalau tidak dipikirkan dari jauh hari maka bisa mengurangi keberhasilan aksi.

12. Dinamisator Lapangan

Dinamisator lapangan kadang menjadi terlupakan pada saat kita menyusun perangkat aksi. Padahal jika kita melakukan aksi massa dan tidak terdapat dinamisator lapangan maka akan bisa menurunkan stamina massa pada saat aksi. Dan sudah barang tentu keberadaan dinamisator lapangan sangat membantu tugas dari korlap. Dinamisator lapangan kita pilih adalah massa solid yang kita miliki.

Tugas Dinamisator:

  1. Mengikuti dan mensosialisasikan apa yang diteriakkan oleh korlap.
  2. Menjaga stamina massa aksi agar selalu stabil.
  3. Menjaga agar barisan massa tidak terprovokasi, sehingga menyimpang dengan apa yang kita rumuskan pada saat rapat.
  4. Meneriakkan yel-yel atau menyanyikan lagu-lagu jika terjadi kevakuman.
  5. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.

13. Acara

Keberadaan acara, tidak hanya dibutuhkan pada acara yang sifatnya legal/formal saja. Tetapi dalam aksi pun kita membutuhkan orang yang bertugas mengatur dan bertanggung jawab untuk menyusun dan melaksanakan urutan-urutan acara dengan baik dan sesuai dengan yang dirumuskan. Sehingga aksi lebih terarah lagi dari awal sampai akhir. Dalam menyusun acara juga harus koordinasi dengan keamanan.

Dalam tim acara biasanya ada seorang yang tugasnya khusus menyusun kronologi jalannya aksi mulai dari massa berkumpul hingga berakhir. Hal ini penting sekali dibutuhkan oleh humas untuk melakukan publikasi dan kampanye pada saat konferensi pers. Juga kronologi ini dibutuhkan untuk advokasi baik dalam melakukan advokasi hukum maupun advokasi politik. Oleh karena itu pencatat kronologis harus hadir lebih awal dilapangan ketimbang massa aksi.

Tugas Acara:

  1. Menyusun susunan acara.
  2. Melakukan koordinasi dengan keamanan menyusun acara.
  3. Menyiapkan beberapa materi seperti puisi, lagu-lagu, teater yang akan dinyanyikan pada saat aksi.
  4. Menghubungi dan menyelaraskan orator agar tidak terjadi tumpang tindih dalam orasi.
  5. Bertanggung jawab terhadap koordinator aksi.

14. Orator

Orator adalah orang-orang yang akan dipilih untuk menjadi pembicara dalam aksi, terutama untuk membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan aksi atau melakukan pembangunan opini terhadap massa pada saat dilapangan. Orator ini di koordinasi oleh acara.

15. Advokasi

Advokasi adalah Tim yang bertugas melakukan advokasi terhadap massa yang ditangkap, di intimidasi atau menerima kekerasan fisik pada saat pra-aksi sampai pasca aksi. Advokasi dilakukan bisa berbentuk advokasi secara hukum dan juga bisa berupa advokasi secara politik.

Adapun beda kedua advokasi tersebut adalah, kalau advokasi hukum kita pakai jalur hukum yang sudah berlangsung selama ini, biasanya kita membutuhkan seorang lawyer atau LBH.

Sedang advokasi politik yang dimaksud disini adalah advokasi yang bisa saja berbentuk aksi massa atau aksi delegasi baik menghadap ke komnas HAM ataupun untuk delegasi ke DPR atau instansi lainnya, dengan maksud agar tindak kekerasan, intimidasi atau penangkapan yang tidak terpublikasi mendapat perhatian yang lebih serius. Advokasi semacam ini bertujuan untuk menggalang solidaritas dan menjaga agar isu yang kita angkat tetap hangat.

Tugas Advokasi:

  1. Melakukan advokasi baik secara hukum maupun secara politik jika terjadi tindak kekerasan, penangkapan, intimidasi baik pada saat pra-aksi maupun pasca aksi.
  2. Melakukan kampanye baik keluar negeri maupun dalam negeri, kepada semua kelompok untuk menggalang solidaritas.
  3. Bertanggung jawab kepada koordinator aksi.

Akhirnya kunci dari sebuah aksi adalah persiapan matang dan kedisiplinan. Memegang teguh tugas dan memegang garis perintah yang jelas harus ditanamkan didalam jiwa.