Social Items


Suara buruh dalam pemilu 2014 mendatang sangat sengit untuk di perebutkan, Mengingat jumlah buruh di wilayah Tangerang raya cukup banyak.

SBSI 1992 menggelar diskusi dengan mengundang calon anggota legislatif yang akan bertarung dalam pesta demokrasi bulan april 2014 nanti. Bertempat di salah satu rumah makan di kawasan serpong, Diskusi bertema Suara buruh pada pemilu 2014 yang di hadiri oleh perwakilan buruh dari SBSI 1992 dan Gaspermindo.

Ketua umum DPP SBSI 1992, Ibu Sunarti menjelaskan bahwa buruh selama ini selalu di bohongi oleh pengusaha terutama dalam masalah kesejahteraan dan upah. Untuk itu kedepannya Anggota legislatif harus bisa memperjuangkan buruh.

Saat ini buruh terus berjuang dalam hal kebebasan berserikat, Karena diskriminasi masih terus terjadi. Untuk kedepannya anggota legislatif harus berani menjamin dalam mengangkat harkat dan martabat buruh.

Menurut ketua umum SBSI 1992 Ibu Sunarti, Sudah saatnya buruh menitipkan nasib mereka ditangan mereka sendiri dengan memilih Caleg yang berasal dari buruh karena nasib buruh harus bisa diperjuangkan dengan usaha sendiri" Menurut Ketua umum SBSI 1992, Buruh sudah sering menitipkan nasib kepada anggota legislatif dalam pemilu-pemilu sebelumnya, Namun kenyataan tidak ada perbaikan. jangan sampai buruh mengulangi kesalahan yang sama dengan memilih caleg yang tidak memperhatikan buruh

Dalam diskusi ini Caleg DPR-RI yang hadir yaitu Hermawi Taslim mewakili partai nomor satu NasDem. Hermawi Taslim menjelaskan bahwa saat ini gerakan buruh hanya dua cara yaitu mogok kerja dan aksi unjuk rasa, Kedepannya buruh harus mempunyai kemampuan dalam menangani sengketa dan permasalahan buruh. "Saat ini saya melihat buruh sering kalah dalam perundingan ditingkat tripartit. untuk itu saya akan berupaya memperjuangkan nasib buruh jika perlu buat fakta intergritas atau perjanjian di Notaris, Tetapi harus jelas keinginan buruh dan apa yang akan diperjuangkan" kata Hermawi Taslim.

Hermawi Taslim juga mengatakan bahwa, Serikat pekerja harus memiliki kemampuan dalam membela angotanya jangan hanya menerima fasilitas dari perusahaan saja. Serikat pekerja merupakan kekuatan yang sangat luar biasa, Untuk itu diperlukan kemampuan agar bisa menang ditingkat pengadilan.

Harapan para buruh kepada Caleg minimal bisa membawa aspirasi, Salah satunya UU nomor 13 tentang ketenagakerjaan termasuk sistem outsourcing. Seharusnya kebijakan tersebut di hapus dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para wakil rakyat pada periode 2014-2019. "bukan hanya say hello terhadap buruh" Tetapi harus diperjuangkan.

Kepada semua serikat pekerja maupun buruh "harus kompak" Jangan terpecah belah kalau menyuarakan tuntutan. Untuk itu mari kita bersama-sama berjuang dengan memilih Caleg yang bisa membawa aspirasi untuk memperjuangkan nasib buruh, Jangan sampai buruh membeli kucing dalam karung. Buruh harus tau track record Caleg tersebut.

Agar hal itu bisa diperjuangkan, Kami SBSI 1992 mengajak kepada seluruh buruh menggunakan hak pilihnya dan kami menyerukan agar lebih selektif dalam memilih wakil di parlemen.

Suara buruh pada pemilu 2014


Suara buruh dalam pemilu 2014 mendatang sangat sengit untuk di perebutkan, Mengingat jumlah buruh di wilayah Tangerang raya cukup banyak.

SBSI 1992 menggelar diskusi dengan mengundang calon anggota legislatif yang akan bertarung dalam pesta demokrasi bulan april 2014 nanti. Bertempat di salah satu rumah makan di kawasan serpong, Diskusi bertema Suara buruh pada pemilu 2014 yang di hadiri oleh perwakilan buruh dari SBSI 1992 dan Gaspermindo.

Ketua umum DPP SBSI 1992, Ibu Sunarti menjelaskan bahwa buruh selama ini selalu di bohongi oleh pengusaha terutama dalam masalah kesejahteraan dan upah. Untuk itu kedepannya Anggota legislatif harus bisa memperjuangkan buruh.

Saat ini buruh terus berjuang dalam hal kebebasan berserikat, Karena diskriminasi masih terus terjadi. Untuk kedepannya anggota legislatif harus berani menjamin dalam mengangkat harkat dan martabat buruh.

Menurut ketua umum SBSI 1992 Ibu Sunarti, Sudah saatnya buruh menitipkan nasib mereka ditangan mereka sendiri dengan memilih Caleg yang berasal dari buruh karena nasib buruh harus bisa diperjuangkan dengan usaha sendiri" Menurut Ketua umum SBSI 1992, Buruh sudah sering menitipkan nasib kepada anggota legislatif dalam pemilu-pemilu sebelumnya, Namun kenyataan tidak ada perbaikan. jangan sampai buruh mengulangi kesalahan yang sama dengan memilih caleg yang tidak memperhatikan buruh

Dalam diskusi ini Caleg DPR-RI yang hadir yaitu Hermawi Taslim mewakili partai nomor satu NasDem. Hermawi Taslim menjelaskan bahwa saat ini gerakan buruh hanya dua cara yaitu mogok kerja dan aksi unjuk rasa, Kedepannya buruh harus mempunyai kemampuan dalam menangani sengketa dan permasalahan buruh. "Saat ini saya melihat buruh sering kalah dalam perundingan ditingkat tripartit. untuk itu saya akan berupaya memperjuangkan nasib buruh jika perlu buat fakta intergritas atau perjanjian di Notaris, Tetapi harus jelas keinginan buruh dan apa yang akan diperjuangkan" kata Hermawi Taslim.

Hermawi Taslim juga mengatakan bahwa, Serikat pekerja harus memiliki kemampuan dalam membela angotanya jangan hanya menerima fasilitas dari perusahaan saja. Serikat pekerja merupakan kekuatan yang sangat luar biasa, Untuk itu diperlukan kemampuan agar bisa menang ditingkat pengadilan.

Harapan para buruh kepada Caleg minimal bisa membawa aspirasi, Salah satunya UU nomor 13 tentang ketenagakerjaan termasuk sistem outsourcing. Seharusnya kebijakan tersebut di hapus dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para wakil rakyat pada periode 2014-2019. "bukan hanya say hello terhadap buruh" Tetapi harus diperjuangkan.

Kepada semua serikat pekerja maupun buruh "harus kompak" Jangan terpecah belah kalau menyuarakan tuntutan. Untuk itu mari kita bersama-sama berjuang dengan memilih Caleg yang bisa membawa aspirasi untuk memperjuangkan nasib buruh, Jangan sampai buruh membeli kucing dalam karung. Buruh harus tau track record Caleg tersebut.

Agar hal itu bisa diperjuangkan, Kami SBSI 1992 mengajak kepada seluruh buruh menggunakan hak pilihnya dan kami menyerukan agar lebih selektif dalam memilih wakil di parlemen.