Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 06

AKAN tetapi, diserang secara tiba-tiba itu Ciok Gun sama sekali tidak kelihatan gugup atau heran. Dengan tenang saja dia miringkan tubuhnya sambil menangkis dan meloncat dari kursinya. Tangkisan itu terasa kuat bukan main oleh Kui Hong dan ketika dia memandang kepada Ciok Gun yang sekarang sudah berdiri, pemuda itu sama sekali tidak terkejut atau penasaran, hanya memandang kepadanya dengan wajah dingin.

"Pangcu, mengapa menyerangku?" Pertanyaan itu diajukan, akan tetapi sikap kaki tangan Ciok Gun menunjukkan bahwa dia siap untuk berkelahi! Hal ini tak lepas dari pengamatan Kui Hong.

"Aku hanya hendak bertanya, Suheng. Dengan adanya Suheng membantu Gouw Susiok, bagaimana rnungkin kalian sampai tidak mampu membongkar rahasia ini? Banyak murid Cin-ling-pai dituduh memperkosa dan membunuh, mengeroyok dan menghina para tamu kehormatan, namun kalian sama sekali tidak mampu menangkap seorang pun di antara mereka. Rasanya mustahil sekali!"

"Pangcu, kami sudah berusaha sekuat tenaga namun gagal," kata Ciok Gun.

Ketika itu pula Bi Hwa masuk sambil membawa hidangan yang masih panas. "Pangcu, masakan sudah siap. Mari, Pangcu. Selagi masih panas, silakan makan dan minum dulu. Pangcu habis melakukan perjalanan jauh, tentu lapar." Lalu dia melirik kepada suaminya dan kepada Ciok Gun, "Mari kalian temani Pangcu makan." Dengan ramah wanita ini lalu mengatur hidangan di atas meja. Dia pura-pura tidak tahu betapa semenjak tadi Kui Hong terus mengamatinya dengan penuh perhatian dan penuh selidik.

Melihat betapa baik Kui Hong mau pun suaminya dan Ciok Gun tampak tegang dan tidak gembira, Bi Hwa menghampiri suaminya. "Ehh, kenapa kalian nampak bingung? Silakan makan minum dahulu, baru bicara lagi.”

Kian Sun terpaksa menjawab. “Kami tengah membicarakan ancaman tiga hari mendatang dan...”

“Aihh, Sun-ko, kenapa murung? Setelah Pangcu pulang, apa lagi yang harus ditakutkan? Engkau pernah bercerita bahwa biar pun terhitung murid keponakanmu, Pangcu memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Kalau orang-orang yang tidak tahu aturan itu berani mengacau Cin-ling-pai dan menuduh yang bukan-bukan lantas hendak menyerang, tentu Pangcu akan sanggup mengalahkan mereka.”

“Pangcu!” kata Ciok Gun penuh semangat. “Para utusan itu memang keterlaluan. Mereka hanya menuduh, akan tetapi kami tidak dapat menemukan buktinya. Memang ada murid mereka yang tewas, tetapi apa buktinya bahwa murid-murid Cin-ling-pai yang melakukan pembunuhan itu? Kalau mereka mendesak, biar aku yang akan melawan sekuat tenaga!”

Kui Hong tersenyum dan waspada. Dari ucapannya tadi dia tahu bahwa isteri Gouw Kian Sun itu seorang wanita yang amat cerdik, walau pun nampaknya halus dan ramah.

"Ciok Gun Suheng, engkau tidak boleh bertindak tanpa perintahku! Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi, kini aku ingin beristirahat," kata Kui Hong dan dia membalik hendak pergi ke kamamya sendiri.

"Aihh, Pangcu. Apakah engkau tidak makan dulu? Sudah kuhidangkan semua ini...”

Kui Hong menghadapi wanita itu dengan sinar matanya yang mencorong penuh selidik. "Enci," katanya dengan suara tegas, "engkau bukan murid Cin-ling-pai, maka tidak perlu menyebutku pangcu. Namaku Kui Hong, Cia Kui Hong, dan pada saat ini aku tidak lapar. Terima kasih atas keramahanmu. Aku hendak beristirahat di kamarku dan menenangkan pikiran. Aku tidak mau diganggu siapa pun!"

Kui Hong meninggalkan ruangan itu, akan tetapi setelah tiba di luar ruangan itu dia cepat menyelinap ke balik pilar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan tiga orang di dalam itu.

“Ahhh, dia marah sekali," Kui Hong mendengar suara Kian Sun, suara yang mengandung kedukaan dan kekhawatiran.

"Sudahlah, biar dia yang memikirkan hal itu. Dia adalah ketua Cin-ling-pai. Yang penting engkau tak bersalah dan tidak ada bukti bahwa murid-murid Cin-ling-pai yang melakukan semua itu,” terdengar suara Bi Hwa yang halus merdu, seolah menghibur suaminya.

"Benar, Suhu. Kalau mereka datang menyerang, kini sudah ada pangcu di sini. Dan kita dapat mengerahkan seluruh murid Cin-ling-pai untuk melawan mereka. Aku sendiri akan menghadapi mereka dengan mati-matian!" terdengar suara Ciok Gun.

Ketika mereka tidak bicara lagi dan terdengar langkah kaki mereka hendak meninggalkan ruangan, Kui Hong segera menyelinap dan pergi ke kamarnya. Dia tidak tahu betapa Bi Hwa memberi isyarat dengan telunjuknya di depan mulut kepada Kian Sun dan Ciok Gun agar mereka tidak bicara lagi!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sesudah memasuki kamarnya Kui Hong segera mengunci semua daun pintu dan jendela kamarnya, kemudian dia duduk termenung di atas kursi. Dia yakin bahwa rahasia semua peristiwa itu pasti berada di tangan Kian Sun, Ciok Gun dan Bi Hwa. Kedua orang murid Cin-ling-pai itu nampak tidak wajar, tidak seperti biasa yang sudah dikenalnya. Kian Sun nampak seperti orang tertekan yang menderita duka dan kegelisahan. Ciok Gun nampak demikian dingin dan penuh perhitungan, seakan-akan kepribadiannya telah berubah sama sekali.

Dan wanita itu, walau pun kelihatan cantik dan ramah, namun dia dapat menduga bahwa di balik keramahannya itu tersembunyi kecerdikan luar biasa. Yang sangat mengherankan adalah Ciok Gun. Dia berubah sama sekali! Ada apakah ini? Pengaruh apakah? Sihir?

Sihir! Ahh, kenapa tidak? Mungkin sekali! Dan membayangkan kemungkinan penggunaan sihir, segera dia teringat pada Hay Hay. Tentu Hay Hay bisa membantunya memecahkan rahasia yang mengancam nama dan kehormatan Cin-ling-pai ini.

Kui Hong lalu mengangkat muka, memandang ke langit-langit kamarnya penuh perhatian. Dengan sekali meloncat tubuhnya segera melayang naik, kemudian tangan kirinya cepat menangkap balok melintang.

Dia bergantung di sana dan memeriksa sebatang paku besar yang menancap di balok itu seperti paku penyambung antara dua balok. Dia meneliti paku itu, dan ternyata sekeliling paku itu masih diliputi debu, tidak ada tanda pernah dijamah orang. Dia lantas mendorong paku itu dengan jari tangannya sambil mengerahkan tenaga.

Lantai di bawah pembaringan di kamar itu bergeser dan terbuka sebuah lubang di bawah pembaringan itu, yang tidak terlihat dari luar. Kui Hong meloncat turun, lantas merangkak ke bawah pembaringan dan memasuki lubang itu. Ternyata di bawah lubang itu terdapat terowongan bawah tanah.

Dia menggerakkan kembali lantai di bawah pembaringan dengan menarik besi panjang di dalam terowongan. Lantai itu pun bergerak dan pulih kembali menutupi lubang. Lubang ini merupakan terowongan rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Cia saja, tidak ada murid lain yang mengetahuinya.

Sambil meraba-raba Kui Hong merangkak di dalam terowongan kecil itu dan kurang lebih dua ratus meter kemudian, terowongan itu menembus sebuah retakan lebar yang tertutup batu di tebing gunung.

Dia mempergunakan sinkang-nya mendorong batu itu sehingga bergeser dan keluar dari lubang retakan, kemudian dari luar dia mendorong kembali batu itu sehingga menutupi lubang. Batu itu sendiri tertutup oleh semak belukar sehingga tak mungkin ada orang luar yang bisa menggunakan terowongan rahasia itu, selain harus mengenal rahasianya, juga harus memiliki tenaga sinkang untuk menggeser batu besar.

Setelah mengintai dari balik semak-semak di depan pintu besar dan tidak melihat seorang pun manusia, Kui Hong lalu melompat keluar dan dia melangkah ke tepi hutan. Beberapa kali dia menengok dan memandang ke sekeliling untuk melihat apakah ada orang yang membayanginya, namun tempat itu sepi dan tidak nampak orang lain.

Biar pun demikian, begitu tiba di hutan Kui Hong yang telah memiliki banyak pengalaman dalam petualangannya di dunia persilatan segera memilih pohon yang besar dan tinggi, melompat ke atas dan bersembunyi di puncak pohon rindang itu, lantas memandang ke sekeliling. Dari puncak pohon ini dia dapat melihat sekelliling sampai agak jauh sehingga andai kata ada orang yang membayanginya, biar pun dalam jarak jauh, tentu akan dapat dilihatnya. Dia amat hati-hati karena dia menghadapi urusan besar, bahkan bahaya besar yang mengancam Cin-ling-pai.

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Bagai seekor burung garuda bayangan itu meluncur ke arah pohon di mana Kui Hong bersembunyi. Tentu saja Kui Hong terkejut bukan main dan dia sudah siap menghadapi lawan yang lihai. Namun wajahnya yang tadinya tegang berubah cerah ketika dia mengenal siapa bayangan itu. Bukan lain adalah Hay Hay!

“Ihhh, kau mengagetkan orang saja!” tegurnya cemberut, akan tetapi pandang matanya tertawa.

“Bagaimana hasilnya? Uhh, orang-orang Cin-ling-pai itu sungguh aneh. Bagaimana para murid itu bahkan berani menyerangmu?”

Kui Hong menghela napas panjang. “Aihh, panjang ceritanya. Yang lebih aneh lagi, pada saat tak ada seorang pun keluarga Cia di Cin-ling-pai, tahu-tahu mendadak Gouw-susiok telah menikah!” dan Kui Hong menceritakan semua pengalamannya tadi.

Hay Hay mendengarkan penuh perhatian, “Tentu ada sesuatu yang mereka rahasiakan,” dia menanggapi.

Kui Hong mengangguk. “Ada tiga orang yang amat mencurigakan hatiku. Pertama adalah Gouw-susiok sendiri. Dia yang biasanya pendiam dan tenang, setia dan bijaksana, tetapi kenapa sekarang sikapnya seperti orang yang selalu dalam ketakutan dan kebingungan, seakan-akan sedang terhimpit sesuatu. Kemudian isterinya itu, wanita muda yang cantik. Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul dan menjadi isteri Gouw-susiok? Alasan susiok yang menceritakan pertemuan di antara mereka sangat meragukan. Dan wanita itu, meski pun cantik, halus dan ramah, namun jelas pandang matanya membayangkan kecerdikan yang luar biasa. Wanita itu bisa berbahaya sekali!”

“Aku sudah melihatnya dari pengintaian. Biar pun agak jauh, aku dapat melihat bahwa dia memang cantik menarik. Terutama sekali mulutnya...”

Kui Hong mengerutkan alis dan memandang kepada kekasihnya dengan bibir cemberut. “Kenapa mulutnya?”

“Mulutnya memiliki bentuk yang menggairahkan, mulut itu pasti pandai merayu.”

“Huh, setiap kali melihat perempuan, yang kau perhatikan hanya kecantikannya saja, ya? Dasar mata keranjang!” Kui Hong makin meruncingkan bibirnya.

Hay Hay tersenyum. “Bukan begitu, Hong-moi. Akan tetapi dari wajah seseorang kita bisa menjenguk isi hati dan wataknya. Dan wajah cantik seperti yang menjadi isteri susiok-mu itu dapat mencerminkan kecerdikan dan kelicikan yang berbahaya sekali. Wajah itu tidak dapat dipercaya.”

Kui Hong tidak cemberut lagi. “Engkau benar. Aku yakin pasti ada sesuatu di balik semua ini, dan yang tahu rahasianya hanya tiga orang itu. Gouw-suisok kelihatan begitu berduka dan gelisah, juga amat lemah, tidak seperti biasanya. Dan yang lebih aneh adalah suheng Ciok Gun. Sekarang dia berubah menjadi manusia berwajah topeng, begitu dingin, seperti mayat hidup sehingga beberapa kali bulu tengkukku berdiri kalau kami bertemu pandang.”

Hay Hay tertawa. “Aihh, aku belum pernah melihat bagaimana bulu tengkukmu berdiri, Hong-moi. Kulihat di tengkukmu sebelah atas hanya terdapat anak rambut dan bulu yang halus sekali, begitu lembut, bagaimana bisa berdiri...?”

Merasa betapa tengkuknya diraba oleh jari tangan Hay Hay, Kui Hong menggelinjang dan melengak mundur. “Ihhh! Aku bicara serius tetapi engkau malah main-main dan merayu!” Dia merajuk.

“Kalau engkau serius, aku malah tigarius, Hong-moi!” Hay Hay tetap berkelakar. “Aku juga bersungguh-sungguh ketika memuji tengkukmu, bukan main-main. Nah, sekarang coba katakan, apa yang akan kau lakukan, atau apa yang harus kulakukan?”

“Justru aku ingin engkau membantuku mencari jalan keluar, Hay-ko. Aku memberi waktu tiga hari kepada para locianpwe dari partai-partai besar itu. Sebelum batas waktu itu tiba, aku harus sudah bisa menangkap biang keladi semua peristiwa yang memburukkan nama baik Cin-ling-pai ini.”

“Hemmm, kalau menurut ceritamu tadi, agaknya suheng-mu bernama Ciok Gun itu yang paling mencurigakan. Agaknya sikapnya dingin, wajahnya yang membuatmu ngeri seperti kedok itu sama sekali tidak wajar. Mungkin dia telah dikuasai sihir atau racun oleh orang-orang yang sengaja hendak mempergunakan dia.”

“Aku pun berpikir demikian, Gouw-susiok agaknya ditekan, maka dia gelisah dan berduka. Dan suheng Ciok Gun agaknya berada dalam kekuasaan pengaruh yang aneh dan jahat.”

“Kurasa tidak ada jalan lain kecuali mencoba untuk mengorek rahasia dari pengakuan dua orang ini. Kau cobalah dulu agar susiok-mu itu mau mengaku. Tentu saja sebaiknya kalau kau ajak dia berbicara empat mata. Kemudian, kalau tidak berhasil, bujuklah agar engkau dapat membawa Ciok Gun itu keluar dari Cin-ling-pai dan kau ajak ke sini. Biar aku yang akan menghadapinya.”

Mereka berunding dan mengatur siasat. Kemudian Kui Hong meninggalkan Hay Hay dan kembali ke lereng Cin-ling-pai melalui jalan terowongan yang menembus sampai ke dalam kamarnya.

Tidak sukar bagi Cia Kui Hong untuk mengajak Gouw Kian Sun berbicara empat mata dengannya. Dia sengaja mengajak susiok-nya itu bicara ketika mereka bersama Bi Hwa dan Ciok Gun selesai makan siang. Dia hendak melihat bagaimana sikap dua orang itu.

“Susiok, aku ingin bicara empat mata denganmu. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Marilah kita masuk ke kamar belakang dan kita bicara berdua saja.”

Diam-diam Kui Hong melirik ke arah Bi Hwa dan Ciok Gun untuk melihat sikap mereka. Ciok Gun nampak tenang dan dingin saja seakan-akan ucapannya itu tidak mengandung arti sama sekali. Sedangkan Bi Hwa malah tersenyum maklum.

“Kenapa kalian tidak bicara saja di ruangan ini? Biar kami yang akan pergi meninggalkan kalian di sini. Mari, Ciok Gun, kita keluar. Pangcu hendak bicara dengan suhu-mu.”

Ciok Gun membantu isteri suhu-nya membawa keluar mangkuk piring yang habis dipakai makan siang, dan tidak lama kemudian Kui Hong sudah duduk berdua saja dengan Gouw Kian Sun. Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain yang ikut mendengarkan dan mengintai percakapan mereka, Kui Hong lalu bersikap sungguh-sungguh. Dia yang duduk berhadapan dengan susiok-nya lantas berkata dengan nada suara tegas dan sepasang matanya memandang penuh selidik.

“Nah, sekarang kita hanya berdua saja di ruangan ini, Susiok. Tidak ada orang lain yang mendengarkan.”

Kian Sun nampak gelisah, bahkan terang-terangan dia menoleh ke sekeliling seolah ada yang ditakutinya. Melihat ini Kui Hong menjadi tidak sabar lagi.

“Gouw Susiok! Pandanglah aku! Kenapa engkau menjadi begini? Engkau telah mengenal aku sejak aku masih kecil, dan aku tahu bahwa Susiok adalah seorang pendekar sejati yang gagah perkasa. Sekarang engkau menjadi seorang penakut, ini tentu ada sebabnya! Susiok, engkau tahu bahwa aku sanggup mengatasi semua persoalan, kuat menghadapi lawan yang mana pun. Kenapa tidak berterus terang? Tidak ada orang lain yang melihat kita. Katakan siapa yang kau takuti dan sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Cin-ling-pai?”

Gatal-gatal rasanya lidah Kian Sun. Alangkah mudahnya untuk membuat pengakuan dan alangkah lega hatinya kalau dia melakukan itu. Dia akan merasa bebas dari tekanan yang sangat menghimpit perasaannya. Akan tetapi dia pun tahu bahwa nyawa gurunya, kakek Cia Kong Liang, juga nyawa suheng-nya dan isteri serta putera suheng-nya, tergantung dari sikapnya saat ini. Bila dia membuka rahasia itu kepada Kui Hong, maka empat orang yang sangat disayang dan dihormatinya itu tentu akan langsung dibunuh tanpa dia dapat mencegahnya sama sekali!

Tidak, dia lebih suka mengorbankan dirinya dari pada mereka mati konyol. Betapa ingin dia bebas dari semua ini. Dapat saja dia membunuh diri, akan tetapi hal itu pun tidak akan menolong mereka. Maka dia semakin menjadi bingung dan gelisah. Namun kemudian dia mengeraskan hatinya dan berkata dengan suara nyaring dan tegas, dengan maksud agar pendiriannya itu dapat didengar oleh Bi Hwa dan kawan-kawannya.

“Aku tidak takut apa-apa, Pangcu. Tidak ada apa-apa yang janggal di sini!”

Kui Hong marah sekali dan dia membanting-banting kaki kanannya. Kian Sun yang sudah mengenal baik watak dan kebiasaan murid keponakan yang amat lihai ini maklum bahwa Kui Hong marah sekali kepadanya. Gadis yang amat lihai dan cerdik ini tentu telah dapat menduga bahwa sudah terjadi sesuatu yang hebat di Cin-ling-pai!

“Engkau bohong, Susiok! Sungguh aku tak mengerti, bagaimana seorang seperti engkau, yang dipercaya oleh kongkong, dipercaya oleh ayah lalu kupercaya pula, bisa berbohong kepadaku dan mengkhianati Cin-ling-pai, tempat di mana engkau tinggal dan memperoleh segalanya sejak kau kecil sampai sekarang!”

Wajah Gouw Kian Sun berubah pucat sekali mendengar umpatan ini. “Tidak, sama sekali tidak. Sungguh mati, aku tidak berkhianat kepada Cin-ling-pai, Pangcu. Jika Pangcu tetap menuduhku, biarlah Pangcu jatuhkan hukuman mati kepadaku, dan aku dengan rela akan menyerahkan nyawaku!” Kian Sun lalu berlutut di depan Kui Hong sambil menundukkan kepala, menyerah sepenuhnya!

Sikap susiok-nya membuat Kui Hong tertegun! Bukan begini sikap orang yang ketakutan. Paman gurunya tetap gagah dan tidak takut mati! Akan tetapi kenapa tidak mau berterus terang kepadanya? Tentu ada sesuatu yang memaksanya bersikap seperti itu dan jelas bahwa susiok-nya bersikap seperti ini bukan dikarenakan takut ancaman terhadap dirinya sendiri.

Pada saat itu pula Su Bi Hwa dan Ciok Gun bergegas memasuki ruangan itu lalu mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap Kui Hong.

“Pangcu, harap ampunkan suamiku!” kata wanita itu.

“Pangcu, suhu tidak bersalah apa-apa, harap Pangcu suka memberi ampun,” kata pula Ciok Gun.

Munculnya dua orang ini membuat Kui Hong semakin marah. “Bagus!” bentaknya. “Kalian mengintai?”

“Tidak, Pangcu. Sama sekali tidak,” Su Bi Hwa berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Akan tetapi suara Pangcu dan suami saya demikian nyaring sehingga terdengar dari luar dan mendengar suami saya hendak menyerahkan nyawa, saya menjadi terkejut lalu nekat masuk. Harap Pangcu suka memaafkan seorang isteri yang khawatir akan keselamatan suaminya.”

Tiba-tiba Kui Hong bergerak ke depan dan tangannya menyambar ke arah kepala wanita itu. Tentu saja dia hanya menguji, bukan menyerang sesungguhnya biar pun gerakannya yang sangat cepat itu tidak menimbulkan keraguan. Dan serangannya luput ketika wanita itu membuang diri ke samping lalu melompat berdiri.

“Hemm, engkau pandai silat?” tanya Kui Hong sambil memandang tajam penuh selidik.

Su Bi Hwa baru menyadari bahwa ketua Cin-ling-pai itu hanya hendak mengujinya, maka cepat dia memberi hormat. “Saya pernah mempelajari sedikit ilmu silat, Pangcu.”

“Hemm, bagus. Hendak kulihat sampai di mana kehebatanmu!” bentak Kui Hong.

“Maafkan, Pangcu. Saya tidak berani melawan. Kalau tadi saya mengelak, hal itu hanya karena saya terkejut,” kata Bi Hwa yang maklum bahwa ketua itu hanya ingin mengujinya. Kini dia menunduk dan tidak mau melawan.

Watak Kui Hong yang gagah melarang dia menyerang orang yang tak mau melawan. Dia mengerutkan alisnya. Agaknya sukarlah membongkar rahasia itu melalui Gouw Kian Sun dan Bi Hwa. Tinggal seorang lagi, yaitu Ciok Gun.

“Suheng Ciok Gun, apakah engkau masih mengakui aku sebagai ketua Cin-ling-pai?” tiba-tiba ia bertanya kepada Ciok Gun yang masih berlutut.

Ciok Gun mengangkat muka memandang. “Tentu saja Pangcu.”

“Dan engkau siap mentaati semua perintahku sebagai ketuamu?”

“Ya, tentu saja,” jawab Ciok Gun singkat dengan sikap tenang dan muka dingin.

“Kalau begitu, mari engkau ikut bersamaku dan jangan bertanya ke mana kita pergi dan apa keperluannya. Mari!”

Ciok Gun nampak ragu-ragu dan mengerutkan alisnya. Pada saat itu, selagi dia bingung karena perintah ketua itu demikian tiba-tiba dan dia belum ‘diisi’ mengenai hal ini, Su Bi Hwa yang berdiri didekatnya berkata lembut.

“Ciok Gun, ketua telah memberi perintah. Tunggu apa lagi? Taatilah perintahnya!”

Mendengar ini, Ciok Gun bangkit dengan cepat dan tentu saja hal ini tidak terlewat begitu saja oleh perhatian Kui Hong. Diam-diam dia mencatat betapa taatnya Ciok Gun terhadap ucapan wanita cantik itu! Akan tetapi karena tidak ada sesuatu bukti yang mencurigakan, dan ucapan itu seperti bujukan halus supaya murid suaminya itu mentaati perintah ketua, sikap yang wajar sekali, maka Kui Hong juga tidak dapat berbuat sesuatu.

“Mari kita pergi!” katanya dan dia pun keluar dari dalam rumah itu, diikuti oleh Ciok Gun.

Kui Hong berlari cepat keluar dari Cin-ling-pai, menuruni puncak menuju ke lereng bukit di mana terdapat sebuah hutan. Di hutan itulah dia berjanji untuk bertemu dengan Hay Hay. Akan tetapi, sambil menunggu munculnya Hay Hay dia hendak mencoba untuk memaksa suheng-nya itu mengaku. Maka, setelah sampai di dalam hutan dia pun berhenti dan Ciok Gun juga berhenti. Mereka berhadapan. Ciok Gun berdiri dengan sikapnya yang terlalu tenang dan dingin, menundukkan mukanya dengan sikap menanti.

“Nah, Suheng. Sekarang kita berada di tengah hutan, hanya berdua saja. Coba katakan, apa yang kau ketahui mengenai segala peristiwa yang terjadi di Cin-ling-pai? Siapakah orang-orang yang mengatur semua ini? Siapa yang membuat Gouw Kian Sun ketakutan, dan siapa yang melempar fitnah kepada Cin-ling-pai dengan melakukan semua perbuatan keji terhadap para tokoh partai besar itu?”

Sikap Ciok Gun masih tenang saja dan wajahnya dingin, sedikit pun tidak membayangkan sikap bersalah ketika dia menjawab. “Aku tidak tahu, Pangcu. Aku tidak tahu apa-apa.”

Kui Hong mengerutkan alisnya. Baginya sekarang tinggal Ciok Gun satu-satunya harapan untuk membongkar rahasia itu. Dia harus memaksa orang ini supaya membuka rahasia. Maka ia pun lalu membentaknya, “Suheng, apakah aku harus menggunakan kekerasan?”

Sepasang mata itu menatapnya dan Kui Hong terkejut sekali. Mata itu sama sekali tidak memancarkan perasaan, seperti orang mati. “Terserah kepadamu!” jawaban itu pun sama sekali tidak mencerminkan sikap Ciok Gun yang dahulu selalu sayang dan sangat hormat kepadanya.

“Bagus! Kau sambut ini!” bentak Kui Hong.

Dia segera menyerang dengan cepat, menotok ke arah pundak Ciok Gun. Namun dengan gerakan sigap Ciok Gun mengelak sambil membalas serangan dengan cengkeraman ke arah perut Kui Hong. Serangan ini merupakan serangan maut yang sangat berbahaya! Ini pun hal yang luar biasa! Bagaimana mungkin suheng-nya mendadak membalas dengan serangan maut terhadap dirinya?

Kui Hong meloncat ke belakang lantas maju lagi mengirim serangan bertubi-tubi. Dia ingin cepat menotok roboh suheng-nya itu agar dapat membujuk dan kalau perlu memaksanya membuka rahasia yang dia yakin diketahui suheng-nya itu. Namun dia sangat terkejut dan merasa heran sekali melihat kenyataan bahwa ternyata Ciok Gun mampu menandinginya dengan baik! Dia tahu benar bahwa ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dibandingkan suheng-nya itu. Demikian cepatkah dia mendapatkan kemajuan? Dia merasa penasaran bukan main!

Sesudah lewat tiga puluh jurus dan dia belum mampu merobohkan Ciok Gun, Kui Hong menjadi makin penasaran. Hal ini sudah tidak mungkin sama sekali! Cepat dia mengubah gerakannya dan dengan tubuh merendah dia lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan bentakan dahsyat sambil memukul dengan dorongan kedua tangan.

Itulah sebuah jurus dari Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Menaklukan Naga). Ilmu silat dahsyat yang pernah dia pelajari dari kakeknya, Pendekar Sadis Ceng Thian Sin di pulau Teratai Merah. Angin dahsyat menyambar ke arah Ciok Gun yang menyambutnya dengan kedua tangan di dorongkan ke depan.

“Desss...!”

Akibatnya, tubuh Ciok Gun terjengkang lantas bergulingan. Kui Hong meloncat ke depan, mengejar untuk melihat keadaan suheng-nya. Akan tetapi alangkah heran serta kagetnya ketika tubuh yang telah terkena sambaran hawa pukulan Hok-liong Sin-ciang itu sehingga setidaknya tentu akan pingsan, tiba-tiba saja meloncat bangun dan sudah menyambutnya dengan serangan lagi!

“Ehhh...?” Kui Hong yang lincah dapat mengelak ke kiri dan matanya terbelalak.

Ini sama sekali tidak mungkin! Bagaimana suheng-nya yang roboh dilanda hawa pukulan Hok-liong Sin-ciang tidak menderita apa pun dan begitu roboh dapat bangun kembali lalu menyerangnya dengan dahsyat? Dia pun mengeluarkan kepandaiannya, bersilat dengan amat cepat karena dia memainkan Pat-thong-sin-kun yang membuat tubuhnya berkelebat di delapan penjuru dan tangannya tiba-tiba meluncur sambil mengirim totokan yang tepat mengenai jalan darah di punggung lawan.

“Tukkk!”

Tubuh Ciok Gun langsung terkulai roboh. Akan tetapi kembali Kui Hong terbelalak karena begitu roboh, Ciok Gun yang terkena totokannya itu telah bangkit kembali! Suheng-nya itu seperti tidak merasakan akibat totokannya!

“Wah, dia lihai sekali!” tiba-tiba terdengar suara Hay Hay dan sekarang pemuda itu sudah berhadapan dengan Ciok Gun.

Ciok Gun nampak bingung ketika melihat munculnya seorang pemuda tampan berpakaian biru yang matanya mencorong dan tersenyum-senyum.

“Siapa kau?!” bentak Ciok Gun sambil siap untuk menyerang.

Hay Hay tertawa dan secara diam-diam sudah mengerahkan kekuatan sihirnya, menatap kepada Ciok Gun, lalu bertolak pinggang sambil menudingkan telunjuknya ke muka murid Cin-ling-pai itu. “Ha-ha-ha, Ciok Gun, apakah engkau sudah lupa kepada kakekmu? Aku kakekmu! Hayo engkau memberi hormat dan berlutut kepadaku!”

Seketika Ciok Gun nampak bingung. Kedua matanya terbelalak memandang kepada Hay Hay dan menggagap. “Ehh…? Apa kau bilang? Kakekku... engkau kakekku...?”

Dan kini terjadi hal yang mengejutkan dan mengherankan hati Hay Hay. Ciok Gun hanya sebentar saja nampak bingung, lalu tiba-tiba saja menyerangnya dengan geraman seperti seekor binatang buas. Murid Cin-ling-pai itu tidak terpengaruh sihirnya! Dan serangannya sungguh liar berbahaya!

Akan tetapi, tentu saja Hay Hay dapat menghadapi serangan itu dengan mudah. Tingkat ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi, maka begitu melihat Ciok Gun menyerang dengan cengkeraman dua tangan ke arah leher dan perutnya, dia pun cepat menggeser kakinya, tubuhnya miring dan serangan itu luput. Kemudian dari samping, dia menyapu kedua kaki lawan. Tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Ciok Gun langsung terpelanting! Sebelum dia dapat bangkit, Hay Hay sudah membentaknya dengan pengerahan sihirnya.

“Ciok Gun, rebahlah dan engkau tidak mampu bangun kembali!” Suaranya mengandung kekuatan yang sangat dahsyat dan amat berpengaruh sehingga sejenak Ciok Gun hanya terbelalak, tidak mampu bangkit.

Akan tetapi hanya sebentar dia terpengaruh karena dia segera bangkit kembali meski pun dengan susah payah. Seolah dia bersitegang di antara dua kekuatan yang tidak nampak, yang satu memaksa dan menekannya agar rebah terus, yang kedua mendorongnya agar bangkit dan menyerang!

Melihat ini Hay Hay segera dapat merasakan getaran yang kuat, yang melawan kekuatan sihirnya. Maka dia pun berkata kepada Kui Hong. “Hong-moi, cepat kau cari orang yang menguasainya dengan sihir. Tak jauh dari sini...!”

Hay Hay menyambut bangkitnya Ciok Gun dengan totokan yang membuat tubuh murid Cin-ling-pai itu terkulai kembali. Karena maklum tubuh Ciok Gun telah memiliki kekebalan yang tidak wajar, dan pengaruh totokannya itu hanya sebentar saja, Hay Hay lalu cepat menelikung kedua tangan Ciok Gun ke belakang dan mengikat dua pergelangan tangan itu dengan sehelai sabuk sutera yang kuat. Juga kedua kakinya diikat sehingga kini, biar pun pengaruh totokan sudah membuyar kembali, Ciok Gun tidak mampu bergerak, hanya mengeluarkan suara menggereng dan mencoba meronta sambil kedua matanya melotot memandang ke arah Hay Hay.

Beberapa kali Hay Hay mengerahkan kekuatan sihirnya untuk menaklukkan semangat perlawanan pada diri Ciok Gun, akan tetapi hanya sebentar orang itu tunduk lalu melawan kembali dan bersikap liar. Jelas bahwa ada kekuatan rahasia yang mengendalikan Ciok Gun!

Sementara itu, begitu mendengar seruan Hay Hay, Kui Hong segera berkelebat lenyap di antara pohon-pohon di hutan itu. Ia maklum apa yang dikatakan kekasihnya itu. Tentu ada orang ketiga yang bersembunyi dan mengendalikan Ciok Gun dengan ilmu sihirnya. Dan tentu orang itu biang keladi semua kejadian yang penuh rahasia di Cin-ling-pai! Kiranya ada orang yang membayanginya ketika dia tadi memasuki hutan mengajak Ciok Gun.

Tadi pun dia sudah waspada dan selalu menyelidiki keadaan sekeliling, akan tetapi tidak menemukan sesuatu. Hal itu saja menunjukkan bahwa kalau memang benar ada orang yang membayanginya, tentu orang itu sangat lihai sehingga dia tidak dapat melihat atau mendengarnya.

Sesudah mencari-cari di sekitar tempat itu, akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya! Seorang tosu bertubuh tinggi besar, berusia kurang lebih enam puluh tahun, rambutnya di gelung ke atas dan mengenakan jubah pendeta, sedang duduk bersila seorang diri di atas petak rumput di antara pohon-pohon. Tosu itu sedang dalam keadaan semedhi, matanya dipejamkan, mulutnya berkomat-kamit, ada pun telunjuk tangan kanannya mencorat-coret tanah di depannya. Ada beberapa batang hio (dupa biting) mengepulkan asap di samping kirinya.

“Pendeta palsu! Kiranya engkau yang mengacau di Cin-ling-pai!” seru Kui Hong dengan marah. Sekali pandang saja dia merasa yakin bahwa pendeta inilah yang mempengeruhi Ciok Gun.

Pendeta itu bukan lain adalah Lan Hwa Cu, seorang di antara tiga orang pendeta Pek-lian-kauw yang terkenal dengan julukan Pek-lian Sam-kwi (Tiga Iblis Pek-lian-kauw) yang bersama Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa bertugas untuk mengadu domba para tokoh partai besar dengan Cin-ling-pai. Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar bentakan itu.

Ketika tadi Ciok Gun diajak pergi, Su Bi Hwa cepat memberi tahu kepada tiga orang suhu-nya. Lan Hwa Cu segera membayangi ketua Cin-ling-pai yang mengajak Ciok Gun keluar itu dan dengan kepandaiannya yang amat tinggi, Lan Hwa Cu berhasil membayangi Kui Hong tanpa diketahui oleh gadis itu.

Dia tahu bahwa Ciok Gun telah menjadi boneka mereka. Murid Cin-ling-pai yang tadinya setia itu telah dicekoki racun pembius dan sudah dikuasainya dengan ilmu sihir sehingga selain tubuhnya menjadi kebal, juga dia dapat dikendalikan dari jauh dengan kekuatan sihir.

Biar pun Lan Hwa Cu sudah percaya bahwa Ciok Gun telah menjadi seperti boneka hidup yang akan setia sampai mati kepada Pek-lian Sam-kwi dan Su Bi Hwa, namun dia tetap merasa khawatir. Karena itu, sesudah melihat Kui Hong berhenti di tengah hutan, dia pun segera memilih tempat tersembunyi lalu cepat duduk bersila untuk menguasai Ciok Gun sepenuhnya dengan sihirnya. Karena bantuannya inilah maka Ciok Gun menjadi semakin kuat sehingga sukar ditundukkan oleh sihir Hay Hay!

Ketika Lan Hwa Cu mendengar bentakan itu, dia cepat membuka mata dan memandang. Terkejutlah dia melihat Cia Kui Hong telah berdiri di hadapannya, dalam jarak empat lima meter. Gadis itu terlihat begitu anggun dan berwibawa, bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan sepasang mata mencorong seperti mata naga!

Maklum bahwa keadaannya sudah ketahuan orang, dia pun mengambil keputusan cepat. Gadis ini harus dibunuhnya atau ditawannya, jika tidak maka semua usaha kelompoknya terancam bahaya kegagalan.

“Haiiiiiiittttt....!”

Lan Hwa Cu meloncat berdiri dan tangan kirinya terayun. Serangkum sinar menyambar ke arah Kui Hong. Gadis ini maklum bahwa dia diserang dengan senjata rahasia jarum. Dia sendiri adalah seorang ahli senjata rahasia jarum yang dipelajarinya dari neneknya, maka tentu saja dengan mudah dia dapat mengelak dengan lompatan ke samping dan tangan kirinya juga digerakkan sehingga nampak sinar merah menyambar ke arah lawan!

Lan Hwa Cu terkejut bukan main. Dengan mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dan panjang dia dapat meruntuhkan semua jarum merah itu dan melihat kelihaian wanita muda itu membuat dia amat kaget. Bukan saja mampu mengelak dari serangan jarumnya, bahkan membalas dengan jarum yang lebih hebat, karena ketika dia mengebutkan ujung lengan bajunya tadi, dia mencium bau harum yang kuat, tanda bahwa jarum-jarum merah itu mengandung racun yang ampuh!

Maklum bahwa lawannya lihai sekali, Lan Hwa Cu yang merupakan tokoh kelas dua dari Pek-lian-kauw yang biasanya memandang rendah lawan, segera melompat ke depan dan sabuknya yang panjang dengan kedua ujungnya dipasangi bola dan bintang baja sudah menyambar-nyambar dengan ganasnya.

Karena ingin tahu siapa lawannya, Kui Hong kembali mengelak dengan lompatan jauh ke belakang. Dia lalu menudingkan telunjuk tangan kirinya. “Tahan senjata! Totiang katakan dulu siapa engkau dan mengapa pula menyerangku!”

Namun tentu saja Lan Hwa Cu tidak mau banyak bicara lagi. Dari pertanyaan itu, tahulah dia bahwa ketua Cin-ling-pai ini hanya menduga saja bahwa dia yang mengacau di Cin-ling-pai. Gadis itu belum mengenalnya dan belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Cin-ling-pai. Karena itu, tentu saja dia tidak akan membongkar rahasia Pek-lian-kauw dan dia pun sudah menyerang lagi dengan ganasnya, menggunakan sabuknya.

Ujung bola dan bintang baja itu beterbangan menyambar-nyambar dalam serangan yang dahsyat sehingga Kui Hong terpaksa berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran maut itu. Gadis sakti ini amat terkejut karena dari sambaran senjata itu dia pun dapat mengukur tenaga lawan dan tahu bahwa lawannya ini selain pandai ilmu sihir, juga memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang kuat. Maka dia pun cepat mencabut sepasang pedangnya.

Begitu sepasang pedang itu tercabut maka tampaklah sinar-sinar hitam yang menyilaukan mata. Lan Hwa Cu terkejut. Itulah Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang amat ampuh. Tanpa disadarinya pendeta itu mengeluarkan seruan tinggi seperti jerit seorang wanita, Kui Hong terheran karena suara pendeta itu sungguh seperti jerit seorang wanita! Akan tetapi karena lawan terus menyerangnya, dia pun menggerakkan sepasang pedangnya, menangkis dan balas menyerang.

“Singggg...!”

Bintang baja itu menyambar ke arah pelipis kiri Kui Hong dengan gerakan melingkar dan menyerong dari atas. Serangan ini sungguh berbahaya. Namun Kui Hong adalah seorang gadis pendekar yang telah matang ilmunya. Bukan saja dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari ayah ibunya yang juga merupakan sepasang suami isteri pendekar, bahkan dia juga telah digembleng oleh kakek dan neneknya, yaitu Pendekar Sadis dan isterinya yang sakti di pulau Teratai Merah. Tingkat kepandaian Kui Hong kini bahkan sudah melampaui tingkat kepandaian ayahnya dan ibunya!

Ketika bintang baja itu menyambar ke arah pelipisnya, Kui Hong menggerakkan pedang di tangan kiri, mencoba untuk membabat putus sabuk itu. Akan tetapi sabuk itu tidak putus terbabat, bahkan melibat pedang dan ujungnya masih menyambar sehingga kini bintang baja itu menyambar ke arah mukanya. Kui Hong menarik kepalanya ke belakang, namun pada saat itu pula bola baja di ujung kedua sabuk lawan menyambar ke arah perutnya!

Tosu itu lihai bukan main. Akan tetapi Kui Hong tidak menjadi gugup. Dia menggerakkan pedang kanannya membacok ke arah bola baja, sedangkan pedang kirinya masih terlibat sabuk.

“Trangggg...!” Bola baja itu terpental.

Lan Hwa Cu kembali mengeluarkan jeritan wanita karena tangannya terasa panas sekali dan bola baja itu hampir saja mengenai kepalanya sendiri sehingga terpaksa dia meloncat ke belakang dan melepaskan libatan sabuknya. Melihat lawannya meloncat ke belakang, Kui Hong yang sudah penasaran itu mengejar dan sepasang pedangnya berubah menjadi dua gulungan sinar hitam yang dahsyat sekali, bagaikan dua ekor naga hitam mengamuk!

Lan Hwa Cu menangkis dan membalas, namun dia merasa kewalahan juga menghadapi gelombang serangan sepasang pedang hitam yang ampuh itu. Permainan pedang ketua Cin-ling-pai itu amatlah hebatnya sehingga besar kemungkinan dia akan terancam bahaya maut kalau dia terus melawan.

Ujung pedang kanan di tangan Kui Hong sudah meluncur lagi dan hampir saja mengenai pundaknya. Lan Hwa Cu cepat melompat ke belakang dan ketika tangan kirinya terayun, segera terdengar ledakan dan tampak asap hitam mengepul tebal. Kui Hong meloncat ke belakang, khawatir kalau-kalau asap itu beracun. Ketika dia masih berloncatan mengitari asap itu, ternyata lawannya sudah lenyap.

Kui Hong tidak mengejar sebab maklum bahwa selain hal itu sia-sia karena dia tidak tahu ke arah mana lawan pergi, juga amat berbahaya dan ia ingin melihat bagaimana hasilnya Hay Hay menguasai Ciok Gun. Dia pun cepat lari ke tempat tadi dia meninggalkan Ciok Gun. Lega hatinya melihat betapa Ciok Gun sudah dapat dikuasai Hay Hay, sudah rebah dengan kaki tangan terbelenggu.

Melihat Ciok Gun seperti orang pingsan, dia lantas berkata, “Hay-ko, cepat sadarkan dia agar terbebas dari pengaruh jahat dan dapat menceritakan semua rahasia kepada kita.”

“Nanti dulu, Hong-moi. Justru dalam keadaan terbius dan tersihir seperti inilah dia dapat menceritakan segala rahasia kepada kita. Kalau dia sadar, mungkin dia sudah melupakan segalanya.” Setelah berkata demikian, Hay Hay lalu menotok pundak dan tengkuk Ciok Gun.

Murid Cin-ling-pai itu mengeluh kemudian membuka mata. Pada saat itu Hay Hay sudah mengerahkan tenaga sihirnya dan memandang wajah Ciok Gun, lalu terdengar suaranya yang penuh wibawa ketika dia berkata.

“Ciok Gun, engkau selalu taat terhadap kami! Engkau membantu kami dalam menghadapi orang-orang Cin-ling-pai. Ingat?”

Sejenak Ciok Gun memandang kepada Hay Hay seperti orang kehilangan semangat, tapi kemudian dia mengangguk. “Aku... aku ingat...”

“Engkau harus selalu taat kepada kami! Masih ingatkah engkau siapa kami? Hayo jawab!”

Ciok Gun seperti termenung, lalu terdengarlah jawabannya yang lirih. “Pek-lian Sam-kwi... aku harus taat kepada Pek-lian Sam-kwi...”

Kui Hong mengepal tinjunya. Ternyata Pek-lian-kauw yang menjadi biang keladinya! Kini tahulah dia bahwa tosu yang lihai tadi adalah orang Pek-lian-kauw, tentu seorang di antara Pek-lian Sam-kwi, tiga iblis dari Pek-lian-kauw yang namanya sudah pernah didengarnya akan tetapi belum pernah dijumpainya itu.

“Siapa lagi selain Pek-lian Sam-kwi? Hayo jawab sesungguhnya!”

“Tok-ciang Bi Moli...”

“Ahh, Su Bi Hwa itu?” tanya Kui Hong.

Ciok Gun tidak menjawab pertanyaan Kui Hong tadi. Dalam keadaan seperti itu dia hanya mengenal satu suara saja, yaitu suara orang yang menguasainya lewat kekuatan sihir dan pada saat itu Hay Hay yang menguasai, sesudah pengaruh sihir para tosu Pek-lian-kauw menipis.

Tadi Lan Hwa Cu masih mengendalikan Ciok Gun, karena itu sukar bagi Hay Hay untuk menguasainya. Hal ini karena sudah terlalu lama dan mendalam Ciok Gun dicengkeram dalam kekuasaan sihir para tosu Pek-lian-kauw itu. Kini, sesudah Lan Hwa Cu diganggu Kui Hong hingga terpaksa melarikan diri, cengkeraman itu menjadi mengendur dan dalam keadaan lemah ini dengan mudah Hay Hay dapat menguasai Ciok Gun.

“Ciok Gun, lekas katakan siapa nama Tok-ciang Bi Moli itu!” kata Hay Hay dengan suara mengandung perintah.

“Namanya Su Bi Hwa…”

Tentu saja Kui Hong menjadi semakin marah. Ternyata isteri Gouw Kian Sun itu berjuluk Tok-ciang Bi Moli dan merupakan salah seorang di antara gerombolan yang mengacau di Cin-ling-pai.

“Ciok Gun, engkau tahu mengapa Gouw Kian Sun begitu taat kepada Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa dan mau menerimanya sebagai isteri? Ceritakan semuanya dengan jelas!”

Kini Ciok Gun telah sepenuhnya berada dalam kekuasaan Hay Hay, maka tanpa ragu lagi dia pun menjawab dengan lancar. “Keluarga Cia ditawan oleh orang-orang Pek-lian-kauw. Kalau suhu Gouw Kian Sun menolak, maka keluarga itu akan dibunuh.”

Pucat wajah Kui Hong mendengar ini. “Siapa yang ditawan? Siapa?”

Kembali Ciok Gun tidak menjawab dan kelihatan bingung.

“Ciok Gun,” kata Hay Hay. “Katakan siapa saja yang ditawan oleh orang Pek-lian-kauw.”

“Kakek guru Cia Kong Liang, supek (uwa guru) Cia Hui Song, supek-bo Ceng Sui Cin dan putera mereka, Cia Kui Bu...”

“Keparat jahanam...!” Kui Hong berseru karena terkejut dan marah bukan main. Kakeknya, ayah ibunya dan adiknya telah ditawan oleh orang-orang Pek-lian-kauw!

Kiranya susiok-nya, Gouw Kian Sun, menjadi lemah tidak berdaya dan terpaksa menurut saja kemauan orang-orang Pek-lian-kauw sebab mereka mengancam hendak membunuh keluarga Cia! Orang-orang Pek-lian-kauw menekan Kian Sun dengan ancaman tersebut, dan menguasai Ciok Gun dengan bius dan sihir! Jelas mereka akan menghancurkan Cin-ling-pai dan mengadu domba dengan partai-partai besar di dunia persilatan!

Sekali memerintahkan Ciok Gun untuk tidur, murid Cin-ling-pai yang sepenuhnya sudah dikuasai Hay Hay itu pun segera tertidur pulas.

“Kita harus membebaskan ayah dan ibu sekarang juga, lalu kita basmi orang-orang Pek-lian-kauw itu!” bentak Kui Hong dengan muka yang menjadi kemerahan saking marahnya.

“Tenangkan hatimu dulu, Hong-moi. Kita harus cerdik dan mempergunakan siasat dalam menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw yang licik, curang dan penuh tipu muslihat.”

“Aku tidak takut! Kita tunggu apa lagi? Sudah jelas mereka menawan kongkong, ayah, ibu dan adik Kui Bu. Mereka mempengaruhi Gouw Susiok dan suheng ini, mereka menguasai Cin-ling-pai dan hendak menghancurkan Cin-ling-pai, mengadu domba kita dengan partai-partai lain! Mari kau bantu aku menghancurkan dan membasmi gerombolan jahat ini, Hay-ko!”

“Tenanglah, Hong-moi. Ingat bahwa kongkong-mu, juga ayah dan ibumu, mereka bertiga adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Tapi tetap saja mereka sampai tertawan! Tentu Pek-lian-kauw menggunakan akal busuk! Kita harus cerdik, jangan sampai kita juga tertipu. Lagi pula, andai kata sekarang kita menggunakan kekerasan, bagaimana engkau akan menghadapi para tokoh partai besar itu besok lusa?”

“Akan kuhancurkan gerombolan itu dan akan kupaksa mereka mengaku di hadapan para locianpwe bahwa Pek-lian-kauw yang melakukan semua pembunuhan itu!”

“Hemm, itu mudah dikatakan akan tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang jahat dan licik. Bagaimana kalau mereka sempat meloloskan diri? Tetap saja Cin-ling-pai yang akan dituduh melakukan semua pembunuhan itu. Kita harus menangkap basah mereka, kita hadapi kelicikan mereka dengan siasat.”

Diam-diam Kui Hong tertegun. Dia dapat melihat kebenaran ucapan kekasihnya. Biar pun hatinya tidak sabar, terpaksa dia mengangguk. “Lalu apa yang akan kita lakukan, Hay-ko? Aku khawatir sekali akan keselamatan keluargaku.”

“Kita gunakan Ciok Gun untuk memancing! Kalau tadinya Ciok Gun menjadi alat mereka, kini kita menyadarkan Ciok Gun sehingga dia dapat membantu kita memancing mereka agar melanjutkan perbuatan mereka sampai besok lusa. Di depan para locianpwe itu kita telanjangi mereka, kita buka rahasia mereka sehingga mereka tak sempat mengelak atau melarikan diri lagi.”

“Tetapi aku khawatir sekali akan nasib keluargaku!”

“Tak perlu khawatir, Hong-moi. Mereka menawan keluargamu hanya dengan maksud agar keluargamu tidak dapat menghalangi rencana mereka.”

“Tapi bagaimana kalau nanti suheng Ciok Gun mereka kuasai lagi? Semua siasatmu bisa hancur berantakan!”

“Jangan khawatir, Hong-moi. Aku mempunyai batu kemala yang dapat melindunginya dari pengaruh sihir orang-orang Pek-lian-kauw.” Hay Hay mengeluarkan sebuah kalung lantas memasangnya di leher Ciok Gun, disembunyikan di balik bajunya.

“Terserah kepadamu, Hay-ko. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai gagal. Ini menyangkut keselamatan kakek, ayah, ibu dan adikku, juga menyangkut nama baik Cin-ling-pai.”

“Aku mengerti, Hong-moi, dan jangan khawatir.” Hay Hay lalu membebaskan totokan Ciok Gun.

Murid Cin-ling-pai ini sudah dibebaskan dari belenggunya, dan sesudah totokannya bebas maka dia pun tersadar, membuka mata, dengan heran memandang wajah Hay Hay yang tak dikenalnya. Kemudian dia melirik ke kiri dan begitu melihat Kui Hong, dia cepat-cepat bangkit duduk sambil memandang heran.

“Sumoi... ehh, Pangcu! Di mana kita? Apa yang terjadi dan siapa... siapa saudara ini...?”

Hati Kui Hong terasa lega. Dari sikap, pandang mata dan suaranya, jelas bahwa suheng-nya sudah kembali normal. “Hemm, suheng Ciok Gun. Apakah engkau tidak ingat lagi apa yang sudah kau lakukan selama ini sehingga engkau mencelakakan keluarga kongkong dan membahayakan keadaan Cin-ling-pai?” tanya Kui Hong dengan suara penuh teguran.

Ditanya demikian Ciok Gun lalu termenung sambil meraba-raba dahinya, mengingat-ingat. Laksana bayangan yang samar-samar, ada sebagian peristiwa yang diingatnya, terutama sekali kakek gurunya, uwa gurunya dan keluarga Cia Kui Bu yang kini meringkuk di dalam tempat tahanan! Dan wajahnya lantas berubah merah sekali ketika teringat akan keadaan dirinya, betapa dia tak mampu menolak dan tunduk serta taat akan semua kehendak Tok-ciang Bi Moli yang hina.

“Pangcu, apakah yang sudah terjadi? Seperti mimpi buruk saja... dan dalam mimpi itu aku melihat betapa kakek guru, ayah ibumu serta adikmu, menjadi tawanan dan aku… aku... mengapa aku membantu iblis betina dan kawan-kawannya itu? Sesungguhnya apa yang terjadi atas diriku?”

“Tenanglah, Ciok-toako (kakak Ciok), engkau hanya menjadi korban kekuatan ilmu sihir dan obat pembius dari orang-orang Pek-lian-kauw,” kata Hay Hay menghiburnya.

Ciok Gun memandang ke arah Hay Hay dengan kedua alis berkerut. “Siapakah engkau? Pangcu, apakah orang ini boleh dipercaya? Sekarang di Cin-ling-pai berkeliaran banyak orang jahat!”

Kui Hong semakin maklum bahwa jalan pikiran suheng-nya ini masih kacau. “Ketahuilah, Ciok Suheng. Dia adalah Pendekar Tang Hay, sahabat baikku yang boleh kau percayai. Bahkan pikiranmu bisa pulih kembali karena pertolongannya. Dialah yang sudah mengusir pengaruh sihir dan pembius yang tadinya meracunimu sehingga membuat engkau menjadi hamba dan alat dari iblis betina itu dan kawan-kawannya.”

Mendengar ini, Ciok Gun segera memberi hormat kepada Hay Hay. “Ahhh, maafkan aku, Taihiap (pendekar besar). Aku... aku masih bingung...”

“Toako, kau raba kalung yang kugantungkan di lehermu itu. Sembunyikan kalung itu baik-baik di balik bajumu. Mustika itu kupinjamkan padamu dan selama engkau mengenakan mustika itu sebagai kalung maka orang-orang Pek-lian-kauw tidak bisa mempengaruhimu dengan sihir lagi.”

“Pek-lian-kauw...?” Ciok Gun terkejut.

“Benar, Suheng. Kita telah terancam oleh orang-orang Pek-lian-kauw. Seperti kau katakan tadi, ketika engkau masih dalam pengaruh sihir dan dicengkeram mereka, agaknya Pek-lian-kauw mengirim Pek-lian Sam-kwi dan Tok-ciang Bi Moli untuk mengacau Cin-ling-pai. Mereka datang ke sini, kemudian entah dengan akal bagaimana mereka dapat menawan kongkong, ayah, ibu dan adikku. Mereka juga dapat menguasaimu dengan bius dan sihir hingga engkau menjadi alat mereka. Susiok Gouw Kian Sun mereka kuasai pula dengan jalan mengancam dia bahwa kalau dia tidak tunduk, maka keluarga Cia akan dibunuh!”

“Ahh, aku ingat sekarang! Di dalam mimpi buruk itu… aku… aku membantu mereka. Aku yang memancing dan menjebak... ahhh, apa yang sudah kulakukan? Benarkah semua itu terjadi? Aku... aku menjadi pengkhhianat, aku membantu orang jahat menangkapi orang-orang yang kuhormati dan kumuliakan!”

“Semua itu sudah terjadi diluar kesadaranmu karena engkau terbius dan tersihir, Suheng. Bukan itu saja. Orang-orang Pek-lian-kauw telah memaksa Gouw Susiok menikah dengan Su Bi Hwa itu, juga mengadu domba Cin-ling-pai. Mereka membunuh dan memperkosa murid-murid para tokoh partai besar dengan menggunakan nama murid Cin-ling-pai….”

“Ahhh, benar...! Aku ingat sekarang! Aduh, Pangcu. Dosaku besar sekali. Aku mengaku berdosa dan aku siap menerima hukuman. Hukumlah, bunuhlah aku, Pangcu. Dosaku tak dapat diampuni lagi...” Dan Ciok Gun, orang yang biasanya tenang dan pemberani itu, kini menangis seperti anak kecil!

“Ciok-taoko, hentikan tangismu yang tidak ada gunanya itu,” kata Hay Hay pula. “Engkau melakukan semua itu di luar kesadaranmu, oleh karena itu tidak perlu engkau menyesali perbuatanmu. Sekarang yang terpenting adalah dapat melakukan sesuatu untuk menebus semua itu, untuk menyelamatkan keluarga Cia dan untuk menyelamatkan Cin-ling-pai dan menghancurkan para penjahat. Maukah engkau membantu kami?”

Ciok Gun mengusap air matanya dan dengan penuh semangat dia lantas berkata, “Tang Taihiap, aku siap mengorbankan nyawaku untuk menebus semua dosa-dosaku dan untuk menyelamatkan keluarga Cia dan Cin-ling-pai!”

“Bagus! Kalau begitu dengarkan rencana kami baik-baik…”

Mereka lalu berbisik-bisik mengatur rencana mereka seperti yang dikemukakan Hay Hay. Mereka tidak lama berunding di situ karena Hay Hay dan Kui Hong segera meninggalkan Ciok Gun agar jangan sampai pertemuan mereka itu diketahui oleh orang-orang Pek-lian-kauw.

Perhitungan Hay Hay memang tepat. Tidak lama setelah dia dan Kui Hong pergi, muncul Lan Hwa Cu, Siok Hwa Cu, Kim Hwa Cu dan Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa di hutan itu. Tadi empat orang ini berindap-indap memasuki hutan dan sesudah mereka mengintai dan hanya melihat Ciok Gun seorang di situ, mereka segera berloncatan menghampiri.

Mereka melihat Ciok Gun dalam keadaan pingsan tertotok. Dengan perasaan gelisah Su Bi Hwa lalu membebaskan totokan itu dan Ciok Gun siuman kembali. Dia bangkit duduk lantas memandang mereka dengan sikap biasa, siap menanti perintah! Akan tetapi Su Bi Hwa masih merasa khawatir dan curiga, maka dia memberi isyarat kedipan mata kepada tiga orang gurunya.

“Ciok Gun, berdirilah engkau!” tiba-tiba Lan Hwa Cu berseru dengan suara garang.

Seperti boneka hidup Ciok Gun bangkit berdiri dengan tegak. Wajahnya dingin, matanya tidak membayangkan perasaan dan sikapnya siap siaga. Bi Hwa maju menghampirinya, kemudian merangkulnya dan mencium pipinya. Ciok Gun tetap tidak membuat gerakan melawan atau menyambut, seperti arca batu saja. Lalu Bi Hwa melepaskan rangkulannya dan mengayun tangan.

“Plakkk!” Keras sekali tamparan itu dan akibatnya, tubuh Ciok Gun terhuyung. Akan tetapi tetap saja dia tidak melawan, dan berdiri lagi dengan tegak.

Empat orang itu saling pandang dan mengangguk. Lalu Bi Hwa memegang tangan Ciok Gun. “Ciok Gun, duduklah dan ceritakan apa yang sudah kau alami ketika engkau diajak pergi oleh Cia Kui Hong tadi.”

Mereka duduk di atas tanah berumput di bawah pohon, lantas Ciok Gun bercerita dengan suara yang wajar seperti biasa. “Pangcu membawaku ke sini dan dia memaksaku untuk mengaku. Kukatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa, bahkan di sini semuanya biasa dan wajar saja. Dia membujuk dan mengancam, bahkan menghajarku, akan tetapi aku tidak mengatakan sesuatu di luar kehendak kalian. Ia menyerangku, menotok dan karena ilmu kepandaiannya sangat tinggi maka aku tertotok dan dan tidak ingat apa-apa lagi.”

Lan Hwa Cu mengangguk-angguk. “Gadis itu memang lihai sekali. Sesudah merobohkan Ciok Gun, agaknya dia lalu mencariku dan menyerangku. Dia berbahaya sekali.”

“Sebaiknya kalau gadis itu juga kita tangkap,” kata Kim Hwa Cu.

“Ya, dan berikan dia kepadaku. Akan kubebaskan dia dari keliarannya!” kata Siok Hwa Cu sambil tersenyum kejam.

“Aihh, Sam-wi Suhu terlalu sembrono. Serahkan saja kepadaku.”

“Ha-ha, Bi Hwa. Apakah engkau ditulari pengakit Suheng Lan Hwa Cu? Dia seorang pria yang hanya senang kepada pria, tidak menyukai wanita. Apakah sekarang seleramu juga beralih kepada sesama wanita?” Siok Hwa Cu mengejek.

“Bukan begitu maksudku, Ji-suhu (guru kedua). Cia Kui Hong itu lihai ilmu silatnya. Hal ini lebih baik lagi. Kalian tentu ingat bahwa lusa adalah hari yang dijanjikan Kui Hong kepada para pemimpin partai-partai persilatan besar. Tentu akan terjadi pertempuran hebat dan kalau mereka saling bertanding, berarti mereka akan kehilangan tenaga. Bila sudah loyo semua, mudah saja bagi kita untuk membabat mereka. Bukankah begitu? Untung bahwa Ciok Gun masih menjadi pembantu kita yang teguh dan setia. Rencana tetap dilanjutkan. Kita menunggu sampai lusa dan selama dua hari ini kita tinggal bersembunyi saja sambil berpesan kepada anak buah agar jangan melakukan sesuatu yang akan menggoncangkan keadaan. Cia Kui Hong pasti tdiak akan menemukan apa-apa sampai esok lusa.”

“Bagus! Kita akan berjaga-jaga dengan anak buah kita. Kalau mereka semua telah saling serang dan menjadi lemah, baru kita turun tangan,” kata Lan Hwa Cu. “Tetapi bagaimana dengan Ciok Gun? Apa bila kita juga turut bertempur, tentu saja kami bertiga tidak dapat mengendalikannya.”

Bi Hwa menoleh kepada Ciok Gun yang duduk laksana patung. Selama berada di bawah pengaruh sihir ketiga orang tosu itu, memang dia seperti boneka hidup dan hanya akan mengadakan reaksi kalau empat orang itu mengajaknya bicara.

“Ciok Gun!” kata Bi Hwa sambil memegang lengannya. Ciok Gun langsung menoleh dan memandang kepada Bi Hwa dengan pandang mata kosong.

“Apa yang dapat kulakukan untukmu, Moli?” tanyanya.

“Kalau esok lusa terjadi pertempuran, apa yang dapat kau lakukan untuk kami?”

“Aku akan membantu dengan taruhan nyawa!” katanya kaku.

“Membantu apa?”

“Apa saja! Kalau perlu, aku dapat menjaga para tawanan itu, atau membunuh mereka kalau kalian kehendaki,” kata pula Ciok Gun.

“Bagus sekali!” tiba-tiba Lan Hwa Cu berkata. “Memang sebaiknya dia diberi tugas untuk menjaga dan membunuh mereka semua kalau sampai usaha kita gagal. Mereka itu amat berbahaya, maka kita tidak bisa mempercayakan kepada anak buah kita. Ciok Gun yang paling tepat dan dapat diandalkan untuk menjamin agar mereka tidak sampai meloloskan diri.”

Mereka semua bersepakat untuk menjalankan siasat, yaitu membiarkan para tokoh partai persilatan besar memperebutkan kebenaran dan bentrok dengan Cin-ling-pai, terlebih lagi jika sampai gadis ketua Cin-ling-pai yang lihai itu terbunuh atau setidaknya terluka. Kalau sudah sejauh itu maka membebaskan keluarga Cia juga tak mengapa, bahkan lebih baik karena para tokoh Cin-ling-pai itu pasti tidak tinggal diam dan permusuhan akan menjadi semakin menghebat. Kalau sudah begitu, maka tugas mereka untuk mengadu domba dan menghancurkan Cin-ling-pai berhasil baik.

Tetapi andai kata siasat mengadu domba itu gagal dan Cin-ling-pai tak sampai bertempur melawan partai-partai lain, masih belum terlambat untuk untuk membunuh para tawanan itu. Dan untuk tugas ini, Ciok Gun yang telah menjadi seperti boneka hidup itu pasti akan mampu melaksanakannya dengan baik. Asap beracun akan dapat disemprotkan dari luar kamar tahanan dan betapa pun lihainya, keluarga Cia itu tidak akan mampu membela diri, apa lagi melepaskan diri.

********************

Hari yang telah dijanjikan Cia Kui Hong kepada para tokoh partai-partai besar itu pun tiba. Pagi-pagi sekali, rombongan demi rombongan dari perkumpulan Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Siauw-lim-pai sudah mendaki puncak dan menunggu di pekarangan depan bangunan yang menjadi pusat perkumpulan Cin-ling-pai.

Sepuluh orang tokoh Go-bi-pai dipimpin oleh Poa Cin An. Yang Tek Tosu memimpin lima orang tosu Kun-lun-pai. Tiong Gi Cinjin memimpin tujuh orang Bu-tong-pai, ada pun dari Siauw-lim-pai hanya dua orang saja, yaitu Thian Hok Hwesio dan Thian Ki Hwesio. Wajah semua orang nampak tegang, juga banyak di antara mereka yang nampak penasaran dan marah.

Cia Kui Hong juga sudah siap menyambut mereka. Puluhan orang anak buah Cin-ling-pai telah menerima perintah untuk berbaris rapi di kanan kiri sepanjang pekarangan yang luas itu, dan di beranda juga berdiri murid-murid yang tingkatnya lebih tinggi, dalam keadaan siap siaga dan tinggal menunggu perintah ketua mereka.

Para anggota Cin-ling-pai yang baru, yaitu anak buah Pek-lian-kauw yang diselundupkan oleh Bi Hwa lantas dijadikan anggota Cin-ling-pai, berkelompok membentuk barisan pula di sebelah kanan kiri pekarangan, bercampur dengan para anggota Cin-ling-pai yang asli. Kui Hong tahu akan hal ini namun dia pun diam saja, pura-pura tidak tahu. Akan tetapi dia yakin bahwa seluruh anggota Cin-ling-pai yang asli telah mengenal dan mengetahui mana anggota baru dan mana yang lama.

Thanks for reading Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 06 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »