Asmara Berdarah Jilid 39

Sesungguhnya, kalau kita mau melihat kenyataan, timbul sebuah pertanyaan. Dapatkah kebahagiaan dikejar dan dicari? Sebelum menjawab ini, sebaiknya diselidiki lebih dahulu apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan BAHAGIA itu? Apakah kebahagiaan itu kepuasan hati karena tercapainya sesuatu yang diinginkan? Kalau begini, maka bahagia itu akan terbatas sekali dan berumur beberapa lama saja karena kepuasan ini pun hanya sementara saja, lalu segera berubah dengan kebosanan.

Apakah bahagia itu kesenangan? Juga tidak, sebab kesenangan hanya pemuasan nafsu saja, rasa nyaman dan enak bagi badan dan pikiran kita, dan kesenangan ini pun hanya sementara saja, sangat pendek umurnya, dan kesenangan biasanya diselingi kebosanan dan bahkan mempunyai saudara kembar, yaitu kesusahan, seperti tawa dan tangis yang datang silih berganti seperti datangnya musim. Kalau semua itu bukan, lalu apakah yang dimaksudkan dengan kebahagiaan?

Bagaimana kita bisa menggambarkan kebahagiaan bila kita sendiri selalu berada dalam permainan susah dan senang, kalau kita selalu diombang-ambingkan gelombang nafsu? Kebahagiaan bukan sesuatu yang mati, bukan pula sesuatu yang sudah pasti sehingga mudah dicari dan dicapai.

Jika kita menghentikan segala kesibukan pikiran kita yang mengejar-ngejar kesenangan, mengejar-ngejar kebahagiaan itu sendiri, apa bila kita sudah tidak terseret lagi ke dalam tarikan-tarikan susah dan senang yang bertentangan, kalau sudah tidak ada lagi konflik atau pertentangan dalam batin antara kenyataan yang ada dengan gambaran yang kita inginkan, kalau KITA SUDAH TIDAK MENGEJAR APA-APA, tidak menginginkan apa pun yang berada di luar jangkauan kita, nah, mungkin sekali kita akan dapat merasakan dan mengerti apa artinya bahagia itu.

Maka jelaslah bahwa yang dapat dikejar dan dicari hanyalah kesenangan dan kepuasan sementara dari dorongan keinginan kita untuk mendapat kesenangan itu. Dengan begini maka kebahagiaan itu tidak mungkin dapat dicari, tidak mungkin bisa didapatkan melalui pengejaran.

Kita selalu condong untuk mengejar. Karena mengira bahwa kebahagiaan berada di luar diri, kita lantas mengejar keluar, kita merubah-rubah yang berada di luar. Maka terjadilah pergolakan-pergolakan, terjadilah revolusi-revolusi, terjadilah perang. Kita selalu condong untuk membuat keindahan di luar diri. Kita lupa bahwa sebenarnya, yang indah itu ada di dalam, yang indah itu timbul dari dalam, dan bahagia itu adalah urusan batin, urusan di dalam diri kita sendiri.

Tinggal di dalam sebuah gedung memang menyenangkan namun belum tentu bahagia, sebaliknya tinggal di dalam gubuk mungkin saja merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak berada di dalam gedung indah, tidak berada di dalam makanan lezat, tidak berada dalam kedudukan tinggi atau di antara tumpukan emas.

Bila mana batin sudah tidak mengejar-ngejar, tidak mencari-cari apa yang berada di luar jangkauan kita, maka batin itu akan menjadi tenteram dan kita dapat menerima segala sesuatu sebagai hal yang wajar saja, tanpa mengeluh sedikit pun juga, bahkan dengan senyum tulus ikhlas karena kewaspadaan akan membuat kita mengerti bahwa segala itu merupakan suatu kenyataan dan kenyataan itu mengandung keindahan.

Segala sesuatu di dunia ini mengandung keindahan bagi batin yang tidak mencari apa pun. Baik hujan mau pun panas, dihadapi dengan senyum dan dipandang sebagai suatu keindahan, tanpa keluhan karena tidak ada yang perlu dikeluhkan, karena tidak ada rasa penyesalan dalam batin, karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan yang dicari, karena memang tak ada yang dicari-cari! Dalam keadaan inilah kita mungkin sekali akan merasakan dan mengerti apa sesungguhnya hakekat kebahagiaan itu.

Tidak mencari kesenangan sama sekali bukan berarti bahwa kita menolak kesenangan! Orang-orang yang menolak kesenangan, orang yang mengasingkan diri di puncak bukit dan mengharamkan segala hal yang mendatangkan rasa enak dan nikmat, sebenarnya adalah orang-orang yang MENCARI KESENANGAN, dalam bentuk lain!

Memang, orang sering kali lupa diri dalam mencari kesenangan, bahkan mau bersusah payah menyiksa diri, dalam mengejar kesenangan yang dinamakan cita-cita. Dan andai kata yang dikejar dengan cara menyiksa diri itu tercapai, maka yang didapatkannya itu pun hanyalah suatu bentuk kepuasan, suatu bentuk kesenangan perasaan belaka yang ekornya dapat berupa kekecewaan dan kebosanan pula.

Perasaan enak, nyaman, nikmat yang dinamakan kesenangan adalah sebuah anugerah hidup. Tubuh dan perasaan kita dibekali alat-alat penangkap rasa senang ini, maka kita berhak menikmati kesenangan di dalam hidup ini. Kesenangan adalah berkah dan sama sekali tak berbahaya. Yang berbahaya adalah PENGEJARAN itulah, PENCARIAN itulah, karena dalam mengejar inilah timbulnya segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang pada umumnya disebut jahat.

Pengejaran kesenangan yang berbentuk kedudukan dan kemuliaan, seperti yang terjadi pada Raja dan Ratu Iblis, menimbulkan perang dan permusuhan, bunuh-bunuhan antara manusia. Pengejaran kesenangan dalam bentuk harta benda menyebabkan perbuatan-perbuatan culas, korupsi, penipuan, perampokan, pencurian dan sebagainya. Pengejaran kepada kesenangan dalam bentuk nafsu birahi menimbulkan perkosaan, pelacuran, dan sebagainya dan segala macam perbuatan yang pada umumnya merugikan dan dianggap jahat, kalau ditelusur, sudah pasti dasarnya adalah pengejaran kesenangan itu.

Akan tetapi orang yang tidak mengejar kesenangan menganggap segala hal yang terjadi merupakan suatu kewajaran dan di dalam kewajaran ini, di mana tidak terdapat keluhan, tidak terdapat kekecewaan karena tak ada pengejaran, terkandunglah kesenangan yang lain lagi! Kenikmatan sebab cita rasa memang menganggapnya enak, bukan kenikmatan karena tercapainya suatu pengejaran.

Bagi orang yang tidak mengejar, memperoleh minuman apa pun akan terasa nikmat, baik itu berupa air jernih belaka mau pun minuman yang amat mahal harganya. Kenikmatan terdapat pula di dalam nasi sambal mau pun dalam nasi beserta masakan yang mahal bagi mereka yang tidak mengejar.

Bukan berarti pula bahwa orang yang tidak mengejar kesenangan lalu menjadi lumpuh semangat dan hanya duduk menganggur! Sama sekali tidak demikian! Akan tetapi orang bahagia seperti ini, jika bekerja bukan bermaksud mengejar uang, melainkan melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat dan yang sesuai dengan minatnya sehingga di dalam pekerjaan itu sendiri dia telah mengecap kenikmatan! Uang sebagai upah atau hasil dari pekerjaannya hanya merupakan akibat saja dalam dunia yang kesemuanya sudah diukur dengan uang ini. Akan tetapi uang bukanlah menjadi tujuan utama untuk dikejar melalui pekerjaan.

Jika pekerjaan itu dilakukan sebagai cara untuk mencari uang, maka akan timbul hal-hal yang buruk dan curang. Pekerjaan itu mungkin menjadi kotor, pegawai berbuat korupsi, pedagang menipu dan memalsu, memanipulasi, penyelundupan, dan berbagai keburukan yang terdapat dalam pekerjaan dan perdagangan.

Sejak ribuan tahun yang lalu, para cerdik pandai, para cendekiawan, para budiman telah berusaha mati-matian untuk mencari cara yang baik agar manusia dapat hidup benar dan besar. Berbagai macam cara hidup sudah diciptakan manusia dengan berbagai paham (isme), berbagai garis hidup sudah dipaksakan kepada manusia.

Akan tetapi, apa bila kita sekarang menengok keadaan di seluruh dunia, semua cara itu ternyata tidak menolong, tak dapat membebaskan manusia dari pada kesengsaraan, dari pada kemurkaan, ketamakan, ketakutan, kebencian dan permusuhan. Ternyata segala macam kedudukan tinggi, kehidupan mewah, ilmu pengetahuan yang tinggi-tinggi, tidak mampu memperbaiki kehidupan batin manusia, tidak mampu mengusir kesengsaraan manusia, tidak mampu mendatangkan KEBAHAGIAAN dalam batin manusia.

Tidak ada paham (isme) apa pun, tidak ada cara apa pun, yang akan dapat merubah batin manusia kecuali dirinya sendiri. Dan perubahan itu baru bisa terjadi kalau kita mau mengenali diri kita sendiri, mengamati diri kita sendiri serta lika-liku kehidupan kita setiap hari dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan.

Pengamatan yang mendalam setiap saat akan membuka mata kita bahwa kita sendirilah yang menjadi sumber segala derita, kita sendiri pencipta kesengsaraan, kita sendiri yang menjauhkan diri dari kebahagiaan, menjauhkan diri dari Tuhan! Dengan segala berkah yang berlimpahan, sedetik pun Tuhan tidak pernah menjauhi kita. Adalah kita yang setiap saat, demi pengejaran kesenangan, menjauhi Tuhan dan sesudah akibat dari pengejaran itu menjerumuskan kita ke dalam lembah kesengsaraan, baru berteriak-teriak mengeluh kenapa Tuhan meninggalkan kita!

Orang bahagia akan selalu menerima segala hal yang terjadi sebagai suatu kenyataan hidup tanpa menilai hal itu sebagai baik atau buruk. Tidak mengeluh, tidak menyalahkan siapa pun, melainkan membuka mata dengan waspada akan gerak-gerik monyet putih yang bercokol di dalam pikiran kita.


********************

Gadis itu menangis sejadi-jadinya sambil duduk di bawah pohon di tempat sunyi itu. Dia tak peduli pakaiannya kotor terkena tanah yang agak basah. Dia duduk sambil menopang kepalanya yang ditundukkan, muka yang disembunyikan di antara kedua lengannya yang bersilang dan melintang di atas kedua lututnya.

Sui Cin adalah seorang gadis yang biasanya keras hati, berandalan, gembira dan tidak pernah menangis. Bahkan tangis dianggapnya suatu kecengengan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang gagah. Akan tetapi sekali ini, semakin mengingat keadaan dirinya, makin sedih hatinya dan makin keras tangisnya. Apa lagi di sana tidak terdapat orang lain sehingga dia boleh menangis sepuas hatinya tanpa dilihat orang lain.

Betapa hatinya tidak akan berduka? Peristiwa yang menimpa diri Ci Kang, yang berakibat buntungnya lengan kiri pemuda itu, membuat hatinya terasa pedih karena dia tahu bahwa Ci Kang mengorbankan lengan kirinya semata-mata untuk dirinya, karena Ci Kang hendak melindungi Hui Song yang diketahuinya menjadi pilihan hatinya. Juga dia maklum bahwa sungguh pun tidak menyatakan sesuatu, Cia Sun juga patah hati karena cinta kepadanya namun tidak dibalasnya.

Hatinya telah melekat pada Hui Song dan hanya pemuda itu yang telah menawan hatinya. Dia mencinta Hui Song dan mengharapkan untuk menjadi isteri putera ketua Cin-ling-pai itu. Akan tetapi, ayah dan ibunya tidak setuju!

Dan mengingat betapa sesudah bertahun-tahun berpisah dari ayah bundanya, kini begitu bertemu dia terpaksa berselisih paham dengan mereka, benar-benar merupakan peristiwa yang amat menyedihkan hatinya. Jika menurutkan perasaan hatinya, dia boleh tidak ambil peduli terhadap ayah bundanya dan langsung saja menemui Hui Song kemudian hidup bersama pemuda itu selamanya. Akan tetapi dia pun tahu bahwa perbuatannya itu akan menghancurkan perasaan hati orang tuanya yang hanya memiliki anak dia seorang saja.

"Hu-huh-huuuhhh...!" Dia tersedu lagi sambil menyembunyikan mukanya di antara lengan, tubuhnya terguncang karena tangisnya.

Sebuah tangan dengan halus menyentuh pundaknya lalu terdengar suara tawa terkekeh. "Heh-heh-heh, sungguh lucu melihat engkau menangis! Engkau sama sekali tidak pantas kalau menangis, Sui Cin, seperti masakan kurang garam!"

Sui Cin mengangkat mukanya dan memandang pada kakek katai yang menjadi gurunya itu dengan mulut cemberut. "Suhu malah mengejek, ya? Tidak tahu orang sedang susah, malah diejek. Apa artinya orang menangis seperti masakan kurang garam?" kata Sui Cin dengan marah.

"Heh-heh-heh, bagaimana rasanya masakan kurang garam? Tentu saja hambar dan tidak enak. Tangismu juga demikian, tidak enak dipandang, tidak sedap didengar, sama sekali tidak menyedihkan malah menggelikan. Maka, jangan menangis!"

Akan tetapi Sui Cin segera teringat kembali akan keadaan dirinya maka dia pun menangis lagi tanpa mempedulikan ejekan gurunya.

"Ha-ha-ha, muridmu ternyata hanya seorang bocah perempuan yang cengeng dan lemah sekali, Ciu-sian! Ha-ha-ha!"

Sui Cin kembali mengangkat mukanya dan memandang pada Siang-kiang Lo-jin dengan mata melotot. "Siapa cengeng?" katanya marah. "Kalau kalian berdua yang mengalami hal seperti aku, mungkin sudah membunuh diri!"

Dua orang kakek itu saling berpandangan, lalu keduanya tertawa bergelak. "Kami berdua tak pernah jatuh cinta, apa lagi harus kerepotan dalam memilih jodoh!" kata kakek pendek berjenggot panjang Wu-yi Lo-jin atau Si Dewa Arak. "Sudahlah, Sui Cin, engkau adalah muridku yang baik, yang gagah perkasa, yang berbatin kuat. Kenapa sekarang menangis seperti anak kecil hanya karena sikap orang tuamu?"

"Aih, suhu. Bagaimana aku tidak akan menjadi sedih? Ayah dan ibu memperlihatkan sikap keras dan terang-terangan menolak ikatan jodoh antara aku dan Song-ko. Lalu apa yang harus kulakukan? Menurut kepada mereka yang hendak menjodohkan aku dengan putera Gubernur Ce-kiang? Aku tidak sudi!"

"Wah, mengapa harus memikirkan orang tua yang tidak ingin membahagiakan anaknya?" Kakek pendek itu berseru.

"Akan tetapi, suhu. Ayah Song-ko juga mengambil sikap tidak peduli, bahkan tidak mau mengambil keputusan ketika suhu berdua mengajukan pertanyaan. Lalu apa yang dapat kulakukan?"

"Ha-ha-ha, mengapa gelisah? Kalau ayah Hui Song tidak mau mengurusi lagi puteranya, masih ada aku gurunya yang dapat mewakili dan akulah yang akan mengajukan pinangan untuk muridku Hui Song. Beres, kan?"

"Tapi, kalau locianpwe meminangku kepada ayah dan ditolak?"

"Heh-heh-heh, masih ada aku di sini! Jangan pedulikan orang tuamu yang mau senang sendiri itu. Aku adalah gurumu dan aku berhak mewakili mereka dan menerima pinangan si gendut ini!" kata Wu-yi Lo-jin.

Siang-kiang Lo-jin tertawa bergelak. "Benar! Benar itu! Orang-orang tua yang tidak becus seperti ayah bundamu dan ayah Hui Song itu biar kita tinggalkan saja!"

"Itu benar, Sui Cin. Apa bila ayah bundamu hendak memaksamu menikah dengan orang yang tidak kau sukai, biarkan mereka berdua saja yang menikah dengan pilihan mereka!" kata Wu-yi Lo-jin penuh semangat.

"Tepat sekali! Orang tua yang tidak dapat membahagiakan anaknya, berarti orang tua itu tidak mencinta anaknya, melainkan mencinta dirinya sendiri saja dan patut kita tentang!" sambung Siang-kiang Lo-jin.

"Jangan takut, Sui Cin. Kalau ayah ibumu marah dan hendak memaksamu, kami berdua yang akan menentang mereka dan melindungimu!" gurunya berkata penuh semangat.

Tiba-tiba saja kedua orang kakek itu berhenti bicara dan memandang ke kiri. Sui Cin juga mendengar suara mencurigakan dari sebelah kiri, maka terkejutlah gadis ini ketika melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu di situ sudah muncul Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, ayahnya!

Pendekar ini kelihatan gagah perkasa, dengan pakaiannya yang indah dan baru, dengan topinya yang dihias bulu. Seorang pendekar yang tampan gagah biar pun usianya sudah hampir lima puluh tahun dan sikapnya penuh wibawa saat dia berdiri memandang kepada Sui Cin dengan sinar mata mencorong marah.

"Sui Cin!" bentak pendekar ini. "Engkau hendak menentang orang tuamu?"

Suara pendekar ini penuh amarah sehingga Sui Cin menjadi gentar sekali. Belum pernah ayahnya marah seperti itu terhadap dirinya. Belum pernah dia melihat sinar mata ayahnya mencorong seperti itu, seakan-akan mengeluarkan api yang hendak membakar dirinya. Dengan sikap gentar gadis ini cepat menyembunyikan diri atau beraling di belakang tubuh Wu-yi Lo-jin yang pendek kecil.

Sejenak Dewa Arak dan Dewa Kipas terbelalak memandang pada Pendekar Sadis yang telah berdiri di depan mereka dengan gagahnya. Jika tadi mereka mengeluarkan ucapan-ucapan keras terhadap Pendekar Sadis dan isterinya, hal itu hanya mereka lakukan untuk menghibur hati Sui Cin. Kini, sesudah orang yang tadi dicela dan ditantangnya berdiri di depan mereka, keduanya menjadi bingung dan tak tahu harus berkata atau berbuat apa.

"Suhu... locianpwe... lekas kalian bertindak...!" Sui Cin berbisik dari belakang tubuh Dewa Arak, karena dia sendiri merasa takut untuk menghadapi ayahnya yang sedang marah itu.

Akan tetapi dua orang itu hanya saling pandang, lalu memandang kepada Ceng Thian Sin, saling pandang lagi dan keduanya seperti sudah kehilangan suara.

"Suhu... locianpwe... ingat janji kalian tadi...," kembali Sui Cin berbisik.

"Heh, kerdil tua bangka, muridmu benar, engkau harus ingat janjimu tadi!"

Tiba-tiba Dewa Kipas berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah dahi Dewa Arak. "Nah, kau tepatilah janjimu tadi."

"Apa?! Gendut brengsek! Engkau yang tadi berjanji akan melindunginya!" Kakek kerdil itu membalas, telapak kanannya mendorong perut gendut sedangkan telunjuk kirinya balas menuding ke arah dahi si gendut, biar pun untuk ini terpaksa dia harus berjingkat karena terlalu pendek.

"Kau yang berjanji!"

"Kau juga berjanji!"

Keduanya tak mau mengalah dan agaknya siap untuk saling hantam sendiri. Sebetulnya, dua orang sakti semacam Dewa Arak dan Dewa Gendut tentu saja bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani bertanggung jawab. Akan tetapi karena mereka tidak setulus hati hendak menentang Pendekar Sadis dan kini mereka saling dorong dan saling tuduh, maka terjadilah keributan di antara mereka sendiri yang memang suka bersaing.

Ceng Thian Sin tadinya berdiri dengan sikap marah dan dua tangan terkepal, akan tetapi melihat tingkah dua orang kakek itu, sinar matanya yang tadi mencorong marah sekarang berubah. Mulut yang tadi cemberut kini mengarah senyum. Memang sesungguhnya Ceng Thian Sin tidak benar-benar marah.

Tadi, dengan ilmu kepandaiannya, sebentar saja dia dan isterinya dapat menyusul Sui Cin dan ketika mereka sampai di tempat itu, mereka berdua sempat mendengar bualan atau tantangan-tantangan yang diucapkan oleh dua orang kakek sakti. Biar pun mereka berdua tadi mengeluarkan kata-kata yang kasar dan keras seolah-olah sedang menantang, akan tetapi Pendekar Sadis dan isterinya adalah dua orang pendekar yang berpengalaman.

Mereka berdua maklum bahwa dua orang kakek sakti itu sudah tahu akan kedatangan mereka, bahwa kedua orang kakek itu sengaja menantang-nantang sambil mengerahkan khikang supaya suara mereka dapat terdengar oleh suami isteri yang sudah datang dan bersembunyi di balik batu karang itu.

Pasangan suami isteri ini telah mendengar semua percakapan itu, juga semua tantangan, maka mereka berdua kini pun yakin bahwa puteri mereka mencinta Hui Song dan betapa dua orang kakek yang menjadi guru Hui Song dan Sui Cin itu telah menyetujui perjodohan mereka. Hal ini saja sudah meyakinkan hati keduanya bahwa pilihan hati puteri mereka tidaklah keliru, karena kalau demikian halnya, tentu dua orang kakek sakti itu tidak akan mati-matian membelanya.

Pendekar Sadis yang berpura-pura marah itu, ketika melihat betapa dua orang kakek itu saling tuding, tidak dapat menahan kegelian hatinya dan pada saat itu, bayangan lain lalu berkelebat dan isterinya sudah berdiri di sisinya. Melihat ini, dua orang kakek itu agaknya menjadi semakin ketakutan.

"Nah, hayo keluarkan kegaranganmu tadi, tua bangka kerdil!" bentak Dewa Kipas.

"Dan di mana kegagahanmu? Engkau memikirkan enaknya perutmu sendiri saja, tak mau memikirkan kepentingan muridmu!" balas Dewa Arak.

Tiba-tiba terdengar Pendekar Sadis tertawa bergelak, diikuti oleh isterinya. Melihat kedua suami isteri ini tertawa-tawa, Sui Cin terbelalak heran dan dua orang kakek yang tadinya ribut-ribut itu pun berdiri bengong memandang.

"Sudahlah, ji-wi locianpwe tidak perlu bersandiwara lagi. Kami berdua bukanlah orang tua yang tidak ingin melihat kebahagiaan anak tunggal kami," Toan Kim Hong berkata dengan suara lantang kepada dua orang kakek itu.

"Ayah...! Ibu...! Benarkah... benarkah ayah ibu menyetujui...?" Sui Cin berteriak lantas lari menghampiri ayah bundanya.

Dua orang tua itu hanya membuka lengan mereka untuk menyambut dan di lain saat Sui Cin sudah berada dalam rangkulan ayah bundanya, menangis terisak-isak tanpa mampu mengeluarkan kata-kata lagi, sekali ini menangis saking bahagia dan terharu.

Toan Kim Hong menciumi wajah anaknya dan Ceng Thian Sin menepuk-nepuk pundak Sui Cin sambil berkata, "Kami hanya ingin menguji dan melihat sampai di mana cintamu terhadap Hui Song, maka kami berpura-pura tidak setuju."

"Ayah dan ibu... ahhh, betapa bahagianya hatiku. Suhu dan Siang-kiang Locianpwe, lihat betapa ayah ibuku telah setuju. Tinggal kalian berdua yang harus memenuhi janji!" dengan muka masih basah air mata, dengan sepasang mata masih basah kemerahan, kini Sui Cin menghadapi dua orang kakek itu sambil tersenyum.

"Wah, cebol, kita ditagih lagi!" Siang-kiang Lo-jin berseru tertawa lantas tiba-tiba saja dia menjura kepada Wu-yi Lo-jin sambil berkata dengan sikap sungguh-sungguh dan serius sekali, "Wu-yi Lo-jin, sebagai guru dari Cia Hui Song, dengan ini aku menyatakan hendak meminang muridmu yang bernama Ceng Sui Cin!"

Wu-yi Lo-jin juga menanggalkan sikap pura-pura serta gurauannya, kini dia pun menjura dengan hormat kepada Siang-kiang Lo-jin dan berkata, "Sebagai guru Ceng Sui Cin, aku menerima dengan baik pinangan itu dan merasa setuju sekali bila muridku menjadi calon jodoh muridmu."

Setelah berkata demikian, dua orang kakek itu menghadapi Ceng Thian Sin dan isterinya, memandang tajam dan seolah-olah menanti keputusan mereka. Ceng Thian Sin menarik napas panjang.

"Perjodohan adalah urusan yang ditentukan oleh Thian, dan syarat utamanya adalah cinta kasih antara pria dan wanita yang hendak mengikatkan diri satu sama lain melalui sebuah pernikahan. Sebagai orang tua pihak wanita, kami berdua hanya bisa menanti datangnya pinangan dari orang tua pihak pria. Hal ini tentu saja ji-wi locianpwe cukup maklum, dan kami akan menanti di Pulau Teratai Merah! Sui Cin, mari kita pulang."

Sui Cin yang merasa amat bahagia melihat orang tuanya telah menyetujui perjodohannya dengan Hui Song, mengerti akan maksud ayahnya. Sebagai seorang gadis, tentu saja dia hanya dapat menanti datangnya pinangan dari orang tua atau wakil Hui Song. Maka dia pun menghadapi dua orang kakek itu.

"Sampai sekarang, janji-janji kalian dua orang kakek yang kucinta dan kuhormati belum dipenuhi. Aku hanya dapat menunggu kalian di Pulau Teratai Merah dan di sana aku akan membuatkan masakan-masakan istimewa untuk kalian."

Ceng Thian Sin, Toan Kim Hong, dan Sui Cin memberi hormat kepada dua orang kakek itu lantas berkelebat pergi. Tinggal dua orang kakek itu yang bengong lalu saling pandang dan menarik napas panjang.

"Waah, ini adalah akibat kelancanganmu main-main, gendut!" Wu-yi Lo-jin berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak berambut. "Sekarang kita harus mendatangi ketua Cin-ling-pai dan harus dapat membujuknya agar mau pergi ke Pulau Teratai Merah untuk melakukan pinangan itu."

"Jangan khawatir!" Dewa Kipas menepuk-nepuk perutnya yang gendut. "Aku yakin kalau ketua Cin-ling-pai akan cukup bijaksana untuk bersedia mengunjungi Pulau Teratai Merah. Pengalaman pahit dalam urusan pemberontakan itu tentu merupakan obat yang membuat dia sadar bahwa hidup ini tidak berguna apa bila tidak dapat membahagiakan orang lain, terutama orang-orang yang terdekat dengannya. Demi kebabagiaan puteranya, tentu dia mau merendahkan diri sedikit untuk berkunjung ke Pulau Teratai Merah. Mari kita berdua pergi mengunjunginya dan membujuknya."

Dua orang kakek itu pun lalu pergi dengan langkah santai.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sungguh meriah pesta pernikahan yang dirayakan di puncak Pegunungan Cin-ling-san, di gedung perkumpulan Cin-ling-pai itu. Lebih dari seribu orang tamu dari berbagai penjuru memerlukan datang dan menghadiri perayaan itu. Sebagian besar dari para tamu adalah golongan kang-ouw atau tokoh-tokoh dunia persilatan.

Hal ini tidak mengherankan karena nama besar Cin-ling-pai sudah sangat dikenal di dunia persilatan. Apa lagi mengingat siapa adanya keluarga besan-besan dari ketua Cin-ling-pai yang sekaligus merayakan pernikahan dari puteranya dan murid perempuannya itu.

Cia Hui Song, putera ketua Cin-ling-pai itu, menikah dengan Ceng Sui Cin, puteri tunggal dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya yang amat terkenal. Sedangkan murid perempuannya yang disayang seperti puteri sendiri, Tan Siang Wi, menikah dengan Cia Sun, putera tunggal ketua Pek-liong-pang, pendekar dari Lembah Naga yang juga sangat terkenal.

Tiga besar itu, Cia Kong Liang, Cia Han Tiong, dan Ceng Thian Sin, memang bersepakat untuk merayakan dua pernikahan itu di Cin-ling-pai, karena bagaimana pun juga, mereka semua adalah pendekar-pendekar yang mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai.

Nama besar tiga keluarga ini sudah menjamin terlaksananya perayaan pesta pernikahan itu secara aman. Tidak ada yang berani mati mengganggu dan semua orang bergembira. Pesta dilakukan semenjak pagi sampai jauh malam dan semua tamu baru meninggalkan Cin-ling-pai setelah malam dengan hati gembira dan kagum, dengan perut kenyang.

Keadaan di Cin-ling-pai sunyi kembali setelah semua tamu pulang. Dua pasang pengantin telah memasuki kamar pengantin masing-masing dan hanya mereka berempat yang dapat merasakan kebahagiaan mereka, sedangkan orang-orang lain hanya tersenyum penuh arti menduga-duga atau membayangkan saja betapa bahagianya dua pasang pengantin yang kini tinggal berdua saja dalam kamar mereka.

Akan tetapi, di dalam bayangan pohon-pohon yang gelap, tidak jauh dari rumah besar di mana dua pasang pengantin itu berasyik mesra, nampak sesosok bayangan. Bayangan ini tidak gembira sama sekali, bahkan sejak berjam-jam dia berada di dalam kegelapan itu seperti sebuah patung, dan kini nampak tubuhnya terguncang-guncang.

Bayangan itu menangis. Lirih hampir tanpa suara sama sekali, namun air matanya terus bercucuran dan beberapa kali dicobanya untuk diusap dengan sepasang tangannya yang gemetar. Bayangan itu adalah Toan Hui Cu!

Dara ini merasa betapa hancur perasaan hatinya melihat pria yang dikasihinya, yang amat diharapkannya, Cia Sun, kini menikah dengan seorang gadis lain! Terasa olehnya betapa malang nasibnya, betapa sengsara keadaan dirinya.

Semenjak kecil dia hidup terasing, kemudian dia terancam oleh ayah kandungnya sendiri yang jahat seperti iblis. Ayah ibunya adalah raja dan ratu penjahat dan kini mereka telah tewas. Dia tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini, sebatang kara, tidak memiliki apa-apa sehingga terpaksa harus menghadapi kehidupan yang dianggapnya amat mengerikan dan kejam.

Dia tidak berpengalaman hidup dalam dunia ramai. Satu-satunya harapan dalam hatinya digantungkan kepada Cia Sun. Akan tetapi kini pemuda itu telah menjadi milik wanita lain dan dia tahu bahwa bagaimana pun juga, dia tidak berhak mendekati Cia Sun, tidak dapat mengharapkan lagi perlindungannya.

Melihat Cia Sun menikah dengan wanita lain, baginya seperti melihat Cia Sun juga telah mati meninggalkan dirinya, seperti ayah bundanya. Karena itu dapat dibayangkan betapa sedihnya, membuatnya hampir putus asa dan membuatnya tak berani melanjutkan hidup yang dianggapnya kejam dan mengerikan itu.

"Ibu... ohh, ibu... bagaimana dengan aku ini, ibu..." Dia merintih dan tangisnya semakin menjadi, sesenggukan karena pada saat itu yang dapat disambati hanyalah ibunya, yaitu satu-satunya orang yang pernah mencintanya tapi kini ibunya pun telah meninggalkannya.

"Ibu...!" Kedua pundaknya terguncang-guncang.

"Hui Cu..." Suara ini lirih dan ada tangan menyentuh pundaknya dengan halus.

Hui Cu tertegun. Suara Cia Sun-kah itu? Ia cepat menoleh penuh harapan dan di bawah sinar bulan yang bercahaya terang, dia dapat melihat wajah yang amat dikenalnya, wajah Siangkoan Ci Kang, orang kedua setelah Cia Sun yang dikaguminya. Wajah yang gagah, agak pucat dan basah air mata! Seketika tahulah Hui Cu bahwa Ci Kang juga seperti dia sendiri, sudah lama berada di situ, menangis seperti dia sendiri, menangisi kepergian Sui Cin!

"Hui Cu, engkau menangis?"

"Engkau juga menangis..."

鈥淓ngkau... kehilangan Cia Sun...?"

"Dan engkau kehilangan Sui Cin..." Hui Cu berhenti sebentar, lantas memandang ke arah lengan kiri yang buntung itu, "...dan kehilangan lengan kirimu karena Sui Cin pula..."

Mengertilah Ci Kang bahwa agaknya ketika melarikan dirinya, Hui Cu tidak pergi jauh dan mengintai sehingga tahu tentang apa yang terjadi selanjutnya, tentang buntungnya lengan kirinya. Dia mengangguk dan keduanya berdiam diri. Kini tangis mereka terhenti, agaknya memperoleh hiburan setelah saling bertemu dan saling mengerti akan kesengsaraan hati masing-masing.

Sesudah keduanya berdiam sampai beberapa saat lamanya sambil saling berpandangan, Ci Kang menarik napas panjang dan mengangguk. "Ya, aku kehilangan lengan kiriku, aku seorang yang bodoh, dan aku... aku hanya anak seorang penjahat kawakan yang rendah dan hina."

"Aku pun anak penjahat, bahkan raja dan ratu iblis, penjahat yang terbesar. Kita berdua sama-sama keturunan penjahat, orang-orang hina dan rendah..."

Tangan kanan yang kuat itu makin erat memegang pundak Hui Cu. "Engkau benar, Hui Cu. Kita sama-sama keturunan penjahat, bagaikan burung gagak yang paling rendah dan dianggap kotor, mana bisa disamakan dengan burung-burung Hong? Biarlah burung gaga berkawan dengan burung gagak pula, keturunan penjahat bersanding dengan keturunan penjahat pula. Hui Cu, bagaimana pendapatmu kalau kita yang senasib sependeritaan ini mulai sekarang hidup bersama? Maukah engkau melanjutkan hidup yang sangat kejam ini di sampingku, untuk selama-lamanya, suka sama dinikmati, duka sama diderita? Maukah engkau?"

Mereka saling bertatapan. Dua pasang mata itu hingga lama tak berkedip, saling pandang dengan tajam, seakan-akan ingin menyelami isi hati masing-masing. "Tapi... tapi... apakah engkau cinta padaku, Ci Kang?"

Senyum pahit menghias bibir pemuda itu. "Aku tidak tahu, Hui Cu. Sesungguhnya aku tidak pernah tahu apa artinya cinta itu. Akan tetapi aku kasihan padamu, dan aku suka dan kagum padamu."

Hui Cu menarik napas panjang dan Ci Kang dapat merasa betapa pundak yang tadinya meregang kaku di bawah telapak tangannya itu kini menjadi lunak dan hangat "Aku pun kagum padamu, suka dan aku pun kasihan padamu. Aku tidak tahu apakah perasaan kita yang sama ini, kagum suka dan kasihan, dapat memupuk cinta. Namun aku menerima tawaranmu seperti seorang kehausan mendapatkan air jernih, Ci Kang. Aku sudah putus harapan dan kau tiba-tiba datang dan aku... aku... ahh..." Gadis itu tiba-tiba saja menjadi lemas kemudian dia menjatuhkan dirinya di atas dada yang bidang itu sambil menangis, menyembunyikan mukanya di dada yang kokoh kuat itu.

Dengan hati merasa seperti tanah kering merekah menerima siraman air segar, Ci Kang merangkulkan lengan kanannya ke pundak gadis itu. Sejenak mereka berdiri seperti itu, tidak bergerak kecuali pundak Hui Cu yang bergoyang-goyang oleh tangisnya yang tidak berbunyi.

Sesudah tangis itu mereda, Ci Kang kemudian berbisik, "Hui Cu, sudah bulatkah hatimu menerimaku? Ingat, aku adalah seorang yang cacat, lengan kiriku buntung..."

"Tetapi hatimu tidak cacat, Ci Kang." Dan gadis itu pun membiarkan dirinya ditarik lantas diajak pergi dari situ.

Mereka berjalan perlahan-lahan, dengan lengan kanan Ci Kang masih merangkul dan hati mereka perlahan-lahan menjadi makin cerah dan tabah karena kini mereka merasa yakin akan kuat menempuh hidup baru berdua, tidak sendirian lagi, sebab mereka akan hadapi dengan tabah apa pun yang akan mereka hadapi dalam kehidupan selanjutnya.

Kebahagiaan adalah urusan hati, sebaliknya kesenangan adalah urusan badan. Selama batin kita dikeruhkan oleh segala urusan badan yang selalu mengejar kesenangan, maka kebahagiaan pun akan tiada, bagaikan cahaya yang tak dapat bersinar menembus kaca yang kotor penuh debu.

Kebahagiaan hanya terdapat di dalam batin yang jernih, yang terbebas dari pada segala ikatan, yang tidak membutuhkan apa-apa lagi, di mana tidak ada lagi konflik-konflik atau pertentangan antara senang dan susah, antara suka dan benci, antara kenyataan dan apa yang diharap-harapkan.

Kebahagiaan tidak akan lenyap walau pun badan boleh jadi tersiksa oleh penyakit, oleh kemiskinan, oleh penghinaan dan sebagainya selama batin masih dapat menerima dan menghadapi semua itu sebagai suatu hal yang wajar dan tidak menimbulkan guncangan. Kebahagiaan adalah TIDAK ADA-NYA penentangan batin terhadap segala sesuatu yang menimpa diri, dan kebahagiaan adalah CINTA KASIH.

T A M A T

Bagian Ke Sembilan Serial Pedang Kayu Harum Pendekar Mata Keranjang

Thanks for reading Asmara Berdarah Jilid 39 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »