Pusaka Pulau Es Bagian 20

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

PUSAKA PULAU ES BAGIAN 20

TADI pun dalam keadaan keracunan dia melawan Gulam Sang. Bila dilanjutkan agaknya dia akan kalah karena setiap kali mengerahkan tenaga sinkang dadanya terasa nyeri. Kini dia mencoba untuk mengerahkan sinkangnya. Tidak terjadi sesuatu. Itu merupakan bukti bahwa obat itu memang manjur.

“Lepaskan dia!” kata Thian It Tosu kepada para muridnya dan dia sendiri lalu mencabut Pek-coa-kiam yang tadi oleh Gulam Sang ditancapkan ke atas papan.

Meski pun agak enggan, para murid menarik senjata mereka yang ditodongkan kepada Gulam Sang.

Gulam Sang tertawa menyeringai, lalu menoleh kepada Bi-kiam Niocu sambil berkata, “Niocu, maukah engkau pergi dengan aku?”

“Jahanam busuk! Membunuhmu aku mau, tapi kalau disuruh pergi bersamamu, jangan harap!”

Gulam Sang maklum bahwa dia telah kalah segala-galanya, maka dia sudah melangkah untuk meninggalkan panggung.

“Tahan dulu!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

Semua orang menoleh dan Gulam Sang juga memandang. Ketika melihat bahwa yang datang itu adalah dua orang pendeta Lama berjubah merah, wajahnya menjadi pucat sekali.

"Omitohud...! Dicari ke mana-mana ternyata berada di sini. Gulam Sang, atas perintah Yang Mulia Dalai Lama, kami harus menangkapmu. Menyerahlah engkau supaya kami tidak harus menggunakan kekerasan!”

Gulam Sang maklum bahwa kalau dia menyerah, tidak urung dia akan dibunuh. Dia dan ayahnya, Gosang Lama, sudah menyebabkan pemberontakan di Tibet. Ayahnya juga sudah terbunuh, dan selama ini dia masih dapat meloloskan diri karena bersembunyi di Bu-tong-pai. Ternyata pada saat kejatuhannya, dua orang Lama Jubah Merah muncul. Maka, Gulam Sang menjadi nekat.

"Kalian tidak akan dapat menangkapku hidup-hidup!" setelah membentak demikian, dia lalu menyerang kedua pendeta Lama itu dengan amat ganas.

Akan tetapi, kedua orang pendeta Lama itu adalah murid-murid Dalai Lama yang lebih tinggi tingkatnya dibandingkan Gulam Sang. Mereka menyambut terjangan itu dengan pukulan telapak tangan secara berbareng.

“Desss...!”

Tubuh Gulam Sang terpental dan bergulingan, kemudian diam dan tidak bergerak lagi. Ternyata dia telah tewas!

“Omitohud, setiap perbuatan jahat akan berakibat mala petaka bagi dirinya sendiri!” kata pendeta Lama yang perutnya gendut. Kemudian mereka berdua menghadapi Thian It Tosu dan yang kurus berkata dengan sikap hormat.

“Apakah Toyu ketua Bu-tong-pai?”
“Benar.”

“Kalau begitu, kami mohon dengan hormat untuk bisa mengadakan upacara membakar mayat di sini. Bolehkah?”

“Tentu saja boleh.”
Thian It Tosu kini menghadapi semua orang yang berkumpul di situ.

“Kami harap agar para tamu yang tergolong sesat seperti perkumpulan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, suka meninggalkan tempat ini. Kalian semua memang diundang, akan tetapi bukan pinto yang mengundang. Hendaknya kalian maklumi, bahwa Bu-tong-pai bukan perkumpulan pemberontak terhadap pemerintah. Kami hanya menentang orang-orang yang melakukan kejahatan. Yang tadinya merasa bersekutu dengan Bu-tong-pai di bawah pimpinan ketua palsu, diminta agar juga meninggalkan tempat ini!”

Mendengar ucapan ini, tiga orang datuk segera pergi tanpa banyak cakap lagi. Juga rombongan orang Pek-lian-pai serta Pat-kwa-pai, termasuk pula mereka yang tadinya disusupkan menjadi anggota Bu-tong-pai, semua pergi secepatnya dari tempat yang berbahaya bagi keselamatan mereka itu.

Kini yang masih tinggal d sana hanyalah orang-orang kang-ouw yang hidupnya sebagai pendekar dan yang selalu menentang orang-orang yang melakukan kejahatan. Tentu saja termasuk Yo Han, Tan Sian Li dan Yo Han Li yang sudah lama menjadi sahabat baik Thian It Tosu. Juga Bi-kiam Niocu masih berada di situ.

Keng Han menghampiri Bi-kiam Niocu, mengembalikan pedang yang tadi dipijamkan kepadanya, “Maaf, Niocu, pedangmu rusak dan patah ujungnya,” kata Keng Han.

“Tidak mengapa, engkau telah menyadarkan aku tentang Gulam Sang yang palsu itu,” kata wanita itu sambil menerima kembali pedangnya.

Thian It Tosu menghampiri Yo Han dan memberi hormat dengan merangkap dua tangan di depan dada yang segera dibalas oleh Yo Han.

“Terima kasih atas bantuan Yo-taihiap sekeluarga, juga terima kasih kepada Ji-wi yang muda-muda namun berilmu tinggi,” katanya dan ucapan terakhir ditujukan kepada Keng Han dan Bi-kiam Niocu.

“Ah, Totiang. Aku malah minta maaf bahwa aku sama sekali tidak tahu bahwa Totiang telah ditahan dan Thian It Tosu yang memimpin Bu-tong-pai adalah orang palsu! Pantas saja aku merasa heran sekali atas perubahan sikap Bu-tong-pai dan bersekutu dengan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Kiranya bukan Totiang orangnya.”

“Totiang, saya mohon ijin hendak mencari orang yang bernama Tao Seng, yang menjadi pimpinan pemberontakan ini. Menurut perhitungan saya, dia pasti bersembunyi di dalam Bu-tong-pai bersama datuk-datuk sesat tadi. Apakah di antara murid Totiang ada yang mengetahui di mana dia bersembunyi?”

Seorang murid Bu-tong-pai cepat-cepat maju dan berkata, “Memang ada seorang yang kemarin dulu diterima oleh ketua palsu sebagai tamu dan dia disebut Ji-wangwe.”

"Ya itulah orangnya!” seru Keng Han. “Tahukah engkau di mana dia bersembunyi?”

“Tadinya mereka semua bersembunyi di dalam kamar rahasia. Akan tetapi ketika terjadi perkelahian, Ji-wangwe itu keluar dari kamar rahasia, kemudian melarikan diri melalui pintu belakang.”

“Wah, aku harus mengejarnya!” kata Keng Han dan dia sudah meloncat pergi dari situ.

Keng Han lari ke belakang gedung, melalui taman dan terus melompat pagar tembok di belakang taman. Dia mengejar dan mencari terus, akan tetapi tidak nampak jejak orang yang dicarinya itu. Tugasnya membela keluarga kaisar sudah berhasil, sekarang tinggal menemukan ayahnya dan memaksa ayah itu ikut bersamanya ke Khitan, menghadap ibunya!

Dia tiba di sebuah bukit kecil. Cepat dia mendaki bukit itu dan di puncak bukit itu dia melihat sebuah rumah menyendiri. Mungkin ayahnya itu bersembunyi di sana, pikirnya penuh harapan.

Akan tetapi ketika tiba di pekarangan rumah itu, tiba-tiba terdengar suara tawa dan tiga orang lalu meluncur keluar dari dalam rumah itu. Mereka itu ternyata adalah Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Swat-hai Lo-kwi telah memegang pedang, Tung-hai Lo-mo juga telah memegang dayung bajanya dan Lam-hai Koai-jin memegang ruyungnya. Jelas bahwa kedatangannya itu sudah diketahui mereka dan mereka telah siap untuk menghadapinya.

“Ha-ha-ha-ha, orang muda. Beberapa kali engkau menggagalkan usaha kami, sekarang tiba saatnya kami melakukan pembalasan dan membunuhmu di sini!” berkata Swat-hai Lo-kwi sambil tertawa.

“Lo-kwi, ingat! Ketika kita berada di Pulau Hantu itu engkau pun berniat membunuhku, akan tetapi sampai sekarang aku masih hidup! Aku tidak takut biar pun kalian bersikap curang hendak mengeroyokku. Aku hanya ingin bertanya, apakah Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji itu berada di dalam? Kalau betul, lekas suruh dia keluar dan aku akan membawanya pergi. Aku tidak ada alasan untuk bertanding dengan kalian!”

Melihat sikap pemuda itu demikian tabah menghadapi mereka bertiga, Tung-hai Lo-mo yang wataknya angkuh itu membentak, “Dia memang berada di sini. Akan tetapi kami melindunginya. Kalau engkau dapat mengalahkan kami bertiga, barulah engkau boleh menemuinya!”

“Tung-hai Lo-mo, sudah kukatakan bahwa aku tidak butuh bertanding denganmu. Aku hanya menghendaki orang itu. Ketahuilah bahwa Pangeran Tao Seng itu adalah ayah kandungku!”

“Ha-ha-ha, jangan engkau membual!” kata Lam-hai Koai-jin. “Kalau dia memang ayah kandungmu, mengapa engkau malah menentangnya sehingga gerakannya gagal?”

“Karena dia berada di pihak yang bersalah. Dia berbuat jahat dan aku tidak ingin melihat dia berbuat jahat!” jawab Keng Han.

“Sudahlah, kawan-kawan, tak perlu berdebat dengan bocah ini. Mari kita bereskan saja dia!” Setelah berkata demikian Swat-hai Lo-kwi sudah menggerakkan pedangnya dan langsung menyerang Keng Han.

Keng Han menghindarkan diri dengan mengelak ke kiri. Akan tetapi dari sebelah kiri, dayung baja Tung-hai Lo-mo sudah menyapu ke arah pinggangnya! Keng Han meloncat tinggi ke atas sehingga dayung baja itu menyambar di bawah kakinya. Ketika dayung baja itu melayang tepat di bawahnya, Keng Han menginjak dayung itu dan meloncat ke belakang, berjungkir balik beberapa kali sebelum turun ke atas tanah.

Baru saja Keng Han hinggap di tanah, ruyung Lam-hai Koai-jin sudah menyerangnya, memukulkan ruyung yang besar dan berat ke arah kepalanya! Hebat serangan ini, tapi Keng Han tidak menjadi gentar. Kembali dia mengelak ke kanan dan sekarang kakinya menendang ke arah Swat-hai Lo-kwi. Lo-kwi mengelak dan Keng Han segera dikeroyok tiga orang datuk itu.

Keng Han telah memiliki tenaga sinkang yang dahsyat dan ilmu silatnya juga ilmu silat tinggi dan sakti dari Pulau Es. Akan tetapi kini dia menghadapi pengeroyokan tiga orang datuk besar di dunia persilatan. Apa lagi dia tak bersenjata, sedangkan tiga orang datuk yang menyerangnya itu menggunakan tiga macam senjata yang berbeda gerakannya. Tubuhnya berkelebatan di antara tiga gulungan sinar dari senjata musuh-musuhnya.

Ketiga orang datuk itu mengeroyok sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring, Namun Keng Han bukan saja mengelak, bahkan terhadap dayung baja dan ruyung itu beberapa kali ia menangkis dengan tangannya. Setiap kali ditangkis, pemegang senjata itu merasa tangannya tergetar oleh hawa yang dingin sekali kalau yang menangkis itu tangan kiri Keng Han, sedangkan kalau tangan kanan yang menangkis, lawannya akan merasakan hawa yang amat panas menyerang dirinya.

Tiba-tiba seorang muncul di depan pintu. Dia itu bukan lain adalah Tao Seng. Melihat betapa puteranya dikeroyok oleh tiga orang datuk itu, tiba-tiba Tao Seng teringat kepada Silani, isterinya yang ditinggalkan di Khitan. Maka dia pun tidak ingin melihat puteranya terbunuh.

“Sam-wi Locianpwe, jangan bunuh dia! Dia itu anakku, jangan bunuh dia!”

Swat-hai Lo-kwi menjadi jengkel mendengar ucapan Tao Seng itu. Baginya, orang itu adalah Hartawan Ji yang membiayai semua usaha pemberontakan itu. Dan kini, melihat hartawan itu malah melindungi Keng Han, dia menjadi marah.

“Kami harus membunuhnya! Dialah yang sudah menggagalkan semua usaha kita!” Dan dia pun menyerang semakin gencar terhadap Keng Han yang masih terus melakukan perlawanan dengan gigih.

Tao Seng melihat betapa Keng Han sudah terdesak amat hebat dan kalau perkelahian itu dilanjutkan, tentu akhirnya Keng Han akan tewas! Mati terbunuh di depan matanya. Anaknya!

Tiba-tiba dia menghunus pedang dan meloncat ke dalam pertandingan itu, sama sekali bukan untuk mengeroyok Keng Han, namun dia menggunakan pedangnya menyerang Swat-hai Lo-kwi!

“Heiii! Apa yang kau lakukan ini, Ji-wangwe!” bentak Swat-hai Lo-kwi sambil menangkis.

“Jangan bunuh dia! Jangan bunuh dia!” Tao Seng berteriak-teriak sambil terus untuk membantu Keng Han.

“Keparat!”

Swat-hai Lo-kwi berteriak marah sambil membalik dan menyerang Tao Seng. Baru diserang sebanyak lima jurus saja pedang di tangan Swat-hai Lo-kwi sudah menembus dada Tao Seng. Tao Seng berteriak dan roboh terguling.

“Ayahhh...!” Keng Han berseru keras melihat ayahnya roboh dengan mandi darah.

Dia lalu mengamuk. Akan tetapi dia dikeroyok tiga orang datuk yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi dan semua bersenjata, sedangkan dia sendiri bertangan kosong. Swat-hai Lo-kwi menusukkan pedangnya ke arah lambung Keng Han dan pada saat itu dayung baja Tung-hai Lo-mo menghantam ke arah kepalanya, sedang ruyung Lam-hai Koai-jin menghantam punggungnya!

Diserang secara serentak seperti itu, Keng Han cepat meloncat tinggi untuk menghindar dari semua serangan itu. Kedua kakinya menendang dan menangkis dayung baja dan ruyung, kemudian sambil menjejakkan kedua kakinya pada dua senjata itu, tubuhnya berjungkir balik ke belakang. Maka selamatlah dia dari ketiga serangan yang dilakukan serentak itu.

Akan tetapi jantungnya berdebar juga karena serangan berbareng itu sungguh sangat berbahaya. Kalau saja tidak melihat tiga orang datuk itu membunuh ayahnya, tentu dia sudah meninggalkan tiga orang lawannya. Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi telah membunuh ayahnya dan dia tidak dapat tinggal diam begitu saja. Dia pun meloncat ke dekat tubuh ayahnya.

“Ayah, engkau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“Keng Han, larilah selagi ada kesempatan... aku... aku tidak apa-apa...!”

Akan tetapi tiga orang datuk itu sudah mengurungnya lagi dan terpaksa dia melawan sekuat tenaga. Tanpa memegang senjata apa pun, sedangkan ketiga lawannya memiliki tiga macam senjata yang berbeda sifatnya, maka tidak heran kalau Keng Han langsung terdesak hebat.

Selagi keadaan amat gawat bagi Keng Han itu, tiba-tiba terdengar seruan, “Keng Han, terimalah pedangmu ini!”

Ternyata yang datang adalah Cu In! Gadis itu melemparkan pedang bengkok milik Keng Han yang sudah diberikan kepadanya. Keng Han menyambut pedang bengkok itu, lalu melepaskan sabuk sutera putih dan melemparkannya ke arah Cu In.

Cu In menyambut senjatanya itu dan langsung saja ia pun menyerang kepada Tung-hai Lo-mo dengan sabuk suteranya. Di tangan Cu In sabuk sutera itu menjadi senjata yang ampuh sekali, dapat melibat senjata lawan, dapat pula menotok jalan darah dan dengan sinkang-nya dia dapat membuat sabuk itu sebagai pecut yang dapat melecut dengan ganasnya!

Bagaimana Cu In dapat datang pada saat yang sangat gawat bagi Keng Han? Ternyata berita tentang Bu-tong-pai mengundang para tokoh kang-ouw itu sampai ke kota raja dan terdengar pula oleh The Ciangkun, ayah Cu In.

Mendengar ini, Cu In menduga bahwa Keng Han tentu pergi ke sana untuk mencari ayahnya. Maka hatinya merasa tidak enak dan ia berpamit dari ayah ibunya untuk pergi melihat-lihat keadaan di Bu-tong-pai.

“Aku dapat sekalian menyelidiki apa yang dikehendaki Bu-tong-pai dengan undangan itu, Ayah,” katanya kepada ayahnya.

Ayah dan ibunya tidak melarangnya dan pergilah The Cu In ke Bu-tong-pai, membawa pedang bengkok milik Keng Han yang tidak pernah lepas dari tubuhnya. Ternyata gadis itu datang terlambat dan pertemuan itu sudah selesai dengan terbongkarnya rahasia penyamaran Gulam Sang.

Ketika mendaki bukit Bu-tong-san, ia melihat Keng Han dikeroyok oleh tiga orang datuk itu. Maka ia cepat bertukar senjata dengan Keng Han dan segera menyerang Tung-hai Lo-mo yang amat dibencinya karena datuk ini pernah menyingkap cadarnya dan melihat mukanya.

Diserang dengan hebat oleh sabuk sutera di tangan Cu In, Tung-hai Lo-mo cepat-cepat menggerakkan dayung bajanya untuk menyambutnya. Segera terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka. Lo-mo yang bersenjata dayung baja yang berat itu segera terdesak. Senjatanya terlalu berat dan lamban, sedangkan gadis baju putih itu memiliki ginkang istimewa.

Selain gerakannya amat lincah dan cepat, juga senjata yang ringan itu bergerak dengan kecepatan kilat yang menyambar-nyambar. Meski pun hanya sabuk sutera, akan tetapi berbahaya sekali kalau serangannya mengenai tubuh lawan. Tung-hai Lo-mo terpaksa menghindarkan diri sambil mundur terus, dan didesak oleh Cu In yang penuh semangat untuk merobohkan lawan.

Sementara itu, Keng Han juga sedang mengamuk dengan pedang bengkoknya. Setelah menerima pedangnya dari Cu In, Keng Han seperti seekor harimau yang tumbuh sayap. Sepak terjangnya amat dahsyat, membuat dua orang pengeroyoknya kewalahan.

Swat-hai Lo-kwi menjadi penasaran. Pada suatu saat ia mengerahkan sinkang-nya dan memukul dengan tangan kiri terbuka ke arah dada Keng Han. Itulah pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin.

Akan tetapi Keng Han tidak menyingkir. Dia pun merendahkan tubuhnya dan tangan kirinya didorongkan ke depan dengan tenaga Swat-im Sinkang yang dilatihnya di Pulau Hantu.

“Wuuuuuttt...! Desss...!”

Benturan dua tenaga sakti yang hebat itu sampai dapat dirasakan oleh Lam-hai Koai-jin. Dia merasa ada hawa yang amat dingin, hampir membuatnya menggigil kalau dia tidak cepat-cepat mengerahkan sinkang-nya untuk melindungi dirinya.

Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi terdorong mundur. Mukanya pucat dan dia pun lalu roboh terguling. Ternyata tenaga dinginnya itu masih kalah kuat. Keng Han sendiri terhuyung sedikit dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lam-hai Koai-jin untuk menyerangnya dengan ruyung.

Akan tetapi Keng Han sudah cepat menguasai dirinya dan segera memainkan Hong-in Bun-hoat untuk menghadapi ruyung Lam-hai Koai-jin. Lam-hai Koai-jin adalah seorang datuk dari selatan yang memiliki ilmu ruyung hebat. Akan tetapi, menghadapi Keng Han yang mencorat-coret dengan pedangnya seperti orang menuliskan huruf-huruf itu, dia merasa bingung dan sebentar saja sudah terdesak hebat.

Swat-hai Lo-kwi yang telah menderita luka dalam tubuhnya itu, bangkit dan terhuyung meninggalkan tempat itu, tidak mempedulikan lagi kepada dua orang temannya karena dia harus menyelamatkan diri setelah terluka berat itu.

Tung-hai Lo-mo juga kewalahan menghadapi sabuk sutera putih di tangan Cu In. Dia hanya dapat memutar dayungnya sambil kadang-kadang mengelak. Tapi setelah lewat lima puluh jurus, ujung sabuk itu berhasil menotok pundaknya yang sebelah kanan.

Seketika lengan kanannya terasa lumpuh dan dayung baja itu lepas dari pegangannya. Selagi dia terhuyung, ujung sabuk telah menyambar lagi dan tepat mengenai ubun-ubun kepalanya.

“Prattt…!”

Tung-hai Lo-mo berteriak keras dan dia pun roboh, tewas seketika!

Melihat dua kawannya sudah kalah, Lam-hai Koai-jin cepat meloncat jauh ke belakang. “Orang muda, aku mengaku kalah sekali ini. Di antara kita tidak terdapat permusuhan, biarlah lain kali aku mencarimu untuk membuat perhitungan.” Dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri.

“Kau hendak lari ke mana?”

Cu In hendak mengejar, akan tetapi Keng Han berkata sambil menghampiri Cu In dan memegang lengannya. “Musuh yang sudah mengaku kalah tidak perlu dikejar!”

Mendengar kata-kata Keng Han ini, Cu In tidak jadi mengejar. Dia segera menyimpan kembali sabuk suteranya, dililitkan ke pinggangnya yang ramping.

Keng Han menghampiri ayahnya dan berlutut. Keadaan Tao Seng payah sekali. Keng Han menotok jalan darah untuk menggugah ayahnya dari keadaannya yang pingsan. Akhirnya bekas pangeran itu membuka matanya.

“Kau... Keng Han... puteraku...?”

“Ayah, aku datang hendak mengajak Ayah menemui Ibu di Khitan,” berkata Keng Han dengan nada sedih karena dia maklum bahwa ayahnya tidak mungkin dapat tertolong lagi. Pedang itu agaknya telah menembus jantungnya.

“Sudah... sudah terlambat... aku berdosa besar kepada ibumu... Keng Han, maukah... engkau memintakan maaf kepada Silani? Dan maukah engkau... memaafkan...aku...?”

Keng Han mengangguk dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Biar pun ayahnya telah berbuat jahat karena menuruti ambisi yang muluk, namun pada saat terakhir ayahnya itu berusaha untuk menolongnya sampai tewas!

“Tentu saja, Ayah. Ibu pasti akan memaafkanmu...” katanya dengan terharu.

“Terima kasih... ahhh, terima kasih, Tuhan! Kini... aku dapat... mati dengan… dengan tenang...!”

Leher itu terkulai dan mata itu terpejam, tanda bahwa Tao Seng telah menghembuskan napas terakhir.

“Ayah, ohhh... Ayah...” Saking sedih dan terharunya, Keng Han menangisi kematian ayahnya.

“Keng Han, ayahmu telah tewas, tidak ada gunanya ditangisi lagi,” kata Cu In sambil memegang pundak pemuda itu dengan suara halus.

Keng Han sadar dan menghentikan tangisnya. Kemudian dia menoleh kepada Cu In. “Kalau tidak ada engkau, agaknya aku pun sudah tewas menemani ayahku. Bagaimana engkau dapat berada di sini, Cu In?”

“Kebetulan saja, Keng Han. Agaknya Thian memang sudah menentukan begitu. Kami di kota raja mendengar akan pertemuan yang diadakan Bu-tong-pai dan aku menduga bahwa engkau akan mencari ayahmu di sini. Maka aku berpamit dari ayah ibuku untuk menyusulmu ke Bu-tong-pai. Dan ketika mendaki bukit, aku melihat engkau dikeroyok tiga orang datuk itu.”

Keng Han menoleh ke arah mayat Tung-hai Lo-mo. “Engkau membunuhnya?”

Cu In mengangguk. “Aku sudah bersumpah untuk membunuhnya. Ketika dia bersama Swat-hai Lo-kwi dahulu menawanku, Tung-hai Lo-mo ini hendak memperkosaku. Akan tetapi setelah dia menyingkap cadarku, dia tidak jadi melakukannya, bahkan hendak membunuhku. Orang seperti dia itu patut dilenyapkan dari muka bumi agar jangan suka menghina orang lagi.”

“Cu In, sekarang aku hendak mengubur jenazah ayahku di tempat ini, sekalian jenazah Tung-hai Lo-mo pula.”

“Tung-hai Lo-mo? Untuk apa kita bersusah payah mengubur jenazah manusia sesat itu?”

“Jangan berpendapat seperti itu, Cu In. Boleh jadi dia jahat di waktu hidupnya. Akan tetapi dia telah tewas dan yang berada di sini bukan lagi Tung-hai Lo-mo yang jahat, melainkan sebuah jenazah yang perlu diurus dan dikuburkan.”

Cu In menggangguk. Matanya memandang kepada pemuda itu dengan penuh kagum. Baru sekarang dia bertemu dengan seorang pemuda yang bukan saja gagah perkasa dan bersikap sopan, akan tetapi juga berpemandangan luas dan berbudi luhur.

Keng Han lalu menggali dua buah lubang dan menguburkan jenazah itu di pekarangan depan rumah itu. Dia meletakkan sebuah batu besar di depan makam ayahnya, dan sebuah batu lebih kecil di depan makam Tung-hai Lo-mo. Dia lalu bersemedhi sejenak di depan makam ayahnya. Cu In juga memberi hormat kepada makam Pangeran Tao Seng itu.

“Sekarang engkau hendak ke manakah, Keng Han?”

“Aku harus kembali dulu ke Khitan, Cu In. Pertama untuk mengabarkan kepada ibuku bahwa ayah sudah meninggal dunia sebagai seorang jantan karena dia tewas dalam membelaku, dan kedua kalinya aku hendak memberi tahu tentang perjodohan kita.”

Tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang memanggil dan melihat sesosok tubuh dengan cepatnya berlari ke arah mereka. Dari jauh saja Cu In sudah mengenal orang itu.

“Itu suci yang datang,” katanya.

Keng Han mengerutkan alisnya karena beberapa kali dia mengalami kesukaran kalau berdekatan dengan Bi-kiam Niocu. Akan tetapi sekali ini Cu In bersamanya, maka apa yang akan dapat dilakukan oleh Niocu?

Bi-kiam Niocu cepat sekali berlari dan telah tiba di tempat itu. Napasnya tidak terengah, seolah berlari secepat itu tidak melelahkan baginya.

“Aku tadi khawatir kalau engkau bertemu para datuk itu Keng Han. Dan ternyata engkau sudah berada di sini bersama Sumoi. Dan dua makam ini, makam siapakah?”

“Yang di sana itu adalah makam Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji, atau juga ayah kandungku. Sedangkan yang ini adalah makam Tung-hai Lo-mo!”

Bi-kiam Niocu terbelalak. “Apa yang sudah terjadi? Bagaimana mereka dapat tewas di sini dan kau kuburkan, Keng Han?”

“Aku bertemu dengan Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin di sini dan aku dikeroyok mereka bertiga. Kemudian muncul ayahku yang membelaku, akan tetapi dia tewas oleh Swat-hai Lo-kwi. Ketika aku masih dikeroyok tiga, datang In-moi yang membantuku. In-moi berhasil menewaskan Tung-hai Lo-mo, dan aku juga telah melukai Swat-hai Lo-kwi. Kemudian Swat-hai Lo-kwi dan Lam-hai Koai-jin melarikan diri.” Keng Han menceritakan dengan singkat.

“Aihhh, mereka bertiga begitu sakti, akan tetapi engkau mampu menandingi mereka. Sungguh hebat engkau, Keng Han. Kalau aku tahu, tentu aku akan membantumu.”

“Bukankah sepatutnya engkau membantu Gulam Sang, Niocu?” Keng Han mengejek.

Wajah Bi-kiam Niocu berubah merah. “Laki-laki jahat dan palsu itu! Hampir saja ia dapat mengelabui aku. Hampir saja aku mabuk oleh puji rayuannya. Tidak, setelah engkau memberi tahu akan kepalsuannya aku sudah membencinya setengah mati. Sayang dia tewas tidak olehku, melainkan oleh Lama-Lama Jubah Merah itu? Sumoi, bagaimana engkau dapat berada di sini. Bukankah engkau ikut... ibu dan ayahmu ke kota raja?”

“Benar, Suci. Akan tetapi di sana aku mendengar akan undangan Bu-tong-pai kepada para tokoh kang-ouw. Aku menduga bahwa Keng Han tentu mencari ayahnya di sini dan aku khawatir sekali. Juga ayah menyuruhku menyelidiki apa yang terjadi di Bu-tong-pai ini. Engkau belum sempat menceritakan kepadaku, Keng Han. Sebetulnya apakah yang telah terjadi di sana?”

Keng Han lalu menceritakan pengalamannya betapa dia menyusup ke dalam bangunan induk Bu-tong-pai dan berhasil membebaskan Thian It Tosu yang disekap di penjara bawah tanah oleh Gulam Sang. Betapa selama ini yang berada di Bu-tong-pai adalah Gulam Sang yang menyamar sebagai Thian It Tosu.

“Aihhh, pantas kalau begitu mengapa Bu-tong-pai mendadak saja berubah haluan dan bersekutu dengan perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai serta dibantu pula oleh para datuk sesat,” kata The Cu In.

Keng Han menghela napas panjang. “Harus diakui bahwa Gulam Sang itu memiliki otak yang cerdik sekali dan juga mempunyai ilmu silat yang tinggi. Sayang dia pergunakan kepandaiannya untuk berbuat jahat.”

“Memang benar. Kalau saja dia itu seorang pemuda Han yang melakukan semua itu demi menghancurkan pemerintah penjajah dan membebaskan rakyat dari penjajahan, masih bagus! Akan tetapi dia melakukan semua itu demi ambisinya untuk menjadi Pangeran Mahkota seandainya berhasil dan Pangeran Tao Seng menjadi Kaisar,” kata Bi-kiam Niocu.

“Sudahlah, sekarang ia telah tewas, tak perlu lagi membicarakan tentang kejahatannya. Selanjutnya begini, In-moi. Setelah terbuka kedoknya, Gulam Sang lalu ditangkap oleh orang-orang Bu-tong-pai. Akan tetapi dasar dia cerdik sekali, orang-orang Bu-tong-pai tidak berani membunuhnya karena dialah yang menyimpan obat pemunah racun yang meracuni tubuh Thian It Tosu. Gulam Sang mau menukar obat itu dengan pembebasan dirinya. Orang-orang Bu-tong-pai yang tidak ingin melihat Thian It Tosu tewas, terpaksa menyetujui. Obat diberikan dan Gulam Sang dibebaskan. Tiba-tiba muncul dua orang pendeta Lama Jubah Merah yang diutus oleh Dalai Lama untuk menangkap Gulam Sang. Gulam Sang melawan dan tewas oleh dua orang pendeta Lama itu.”

“Lalu kenapa engkau berada di sini dan dikeroyok oleh tiga orang datuk itu?” tanya pula Cu In.

“Tiga orang datuk itu meninggalkan Bu-tong-pai setelah mereka mengetahui bahwa ketua Bu-tong-pai yang mereka bela itu adalah ketua palsu. Aku lalu mencari ayahku di dalam bangunan Bu-tong-pai, akan tetapi mendapat keterangan bahwa pangeran itu telah pergi. Cepat aku melakukan pengejaran dan tiba di tempat ini. Dan ternyata benar, ayahku berada di sini. Aku dikeroyok oleh tiga orang datuk sesat. Aku kewalahan dan terdesak. Lalu muncul Pangeran Tao Seng, ayahku itu. Dia membelaku dan melarang tiga orang datuk itu membunuhku. Akan tetapi hal itu justru membuat para datuk marah kepadanya sehingga ayahku dibunuhnya. Aku terus mengamuk sampai engkau datang membantuku, In-moi.”

“Kalian memang serasi, selalu saling bantu dan saling menolong. Mudah-mudahan saja kelak kalian menjadi suami isteri yang berbahagia. Sekarang aku hendak kembali ke Beng-san,” kata Bi-kiam Niocu sambil memandang dengan hati iri.

Sumoinya yang berwajah cacat dan buruk itu memperoleh calon suami yang begitu baik, tampan dan gagah, juga berbudi mulia. Sedangkan ia, yang memiliki kecantikan yang dikagumi banyak orang, selalu menemukan orang yang salah. Pertama, ia jatuh cinta kepada Keng Han yang sama sekali tidak membalas cintanya. Kedua, ia tertarik kepada Gulam Sang tetapi ternyata pemuda itu adalah seorang jahat yang berbahaya.

“Selamat jalan, Suci. Kuharap kalau engkau pergi ke kota raja, suka singgah di rumah kami,” kata Cu In dengan ramah.

Ia dahulu tidak suka kepada sucinya ini karena terlalu kejam terhadap kaum pria. Akan tetapi sekarang ia merasa kasihan kepadanya.

“Selamat berpisah, Niocu. Semoga engkau berbahagia,” kata Keng Han yang merasa kasihan pula karena gadis itu pernah jatuh cinta kepadanya tapi tidak dapat dibalasnya.

“Hemmm...!” Bi-kiam Niocu mendengus dan sekali berkelebat ia sudah lenyap dari situ. Memang Bi-kiam Niocu memiliki ginkang yang hebat.

“Kasihan...!” Tanpa terasa Keng Han berkata lirih.

“Ehh? Kenapa kasihan, Han-ko?”

Bukan main senangnya hati Keng Han saat mendengar gadis itu menyebutnya Han-ko (kanda Han), karena biasanya gadis itu menyebut namanya begitu saja. Dia sendiri pun sudah mendahului Cu In dan menyebutnya In-moi (dinda In).

Tentu saja Keng Han tidak mau menceritakan tentang Bi-kiam Niocu yang jatuh cinta kepadanya. “Kasihan karena ia telah keliru memilih pria yang dicintanya. Gulam Sang adalah seorang yang jahat dan kejam. Bahkan dia menyuruh anak buahnya membunuh kekasihnya ketika kekasihnya itu berteriak hendak membuka rahasia penyamarannya. Suci mu itu sudah sepantasnya mendapatkan seorang jodoh yang baik.”

“Kuharap juga begitu. Akan tetapi agaknya itu merupakan hukuman baginya karena dahulu, entah berapa banyak pria yang dibunuhnya hanya karena pria itu sudah berani mencintainya.”

“Apakah engkau dahulu juga tidak seperti suci-mu itu, In-moi? Bukankah gurumu... ehh, ibumu mengajar kalian untuk membunuh pria yang menaruh hati kepadamu?”

“Tidak, Han-ko. Untung aku memiliki wajah yang buruk dan aku selalu menyembunyikan wajahku di belakang cadar sehingga tak ada orang yang sempat jatuh cinta kepadaku.”

“Siapa bilang tidak ada yang jatuh cinta kepadamu? Buktinya aku jatuh cinta kepadamu dengan seluruh jiwa ragaku!”

Dahi gadis itu berubah merah mendengar ucapan ini. “Engkau lain lagi, Han-ko. Engkau adalah seorang pendekar yang tampan dan gagah, akan tetapi bodoh!”

“Bodoh?”

“Ya, bodoh! Kalau tidak bodoh, mana mungkin engkau jatuh cinta kepada seorang gadis yang mukanya cacat dan buruk?”

“Sudahlah, jangan bicara tentang wajah! Aku mencintaimu dengan setulus hatiku, bukan karena baik atau buruknya wajahmu. Nah, sekarang pulanglah engkau ke kota raja, ke rumah orang tuamu.”

“Dan engkau?”

“Aku? Karena ayahku telah tewas, aku akan pulang dulu ke Khitan melaporkan kepada ibu bahwa ayah telah tewas dan juga mohon doa restunya supaya aku dapat menikah denganmu.”

“Ahh, aku hendak ikut, Han-ko! Aku pun ingin berkenalan dengan ibu, calon mertuaku!” kata Cu In dengan suara bersungguh-sungguh.

“Akan tetapi, engkau belum memberi tahu kepada ayah ibumu! Tentu mereka akan khawatir sekali kalau sampai lama engkau belum juga kembali ke kota raja!”

“Ibu akan mengerti dan tidak akan mengkhawatirkan aku. Ia pun dapat memberi tahu kepada ayah bahwa sejak muda sekali aku sudah sering berkelana di dunia kang-ouw dan selalu pulang dalam keadaan selamat. Apa lagi sekarang, melakukan perjalanan bersamamu. Apa bahayanya? Kita pasti akan mampu menanggulangi berdua!”

“Bukan bahaya yang kukhawatirkan, In-moi. Akan tetapi... seperti para ibu lain di dunia ini, ibuku tentu ingin sekali melihat wajahmu...”

“Biarkan saja dia melihatnya! Bukankah engkau juga sudah melihatku dan hal itu tidak mengurangi cintamu kepadaku?”

“Ahh, itu urusan lain lagi, In-moi. Kalau ibuku melihat wajahmu lalu melarangku berjodoh denganmu, aku tidak akan dapat menyalahkannya. Hal itu wajar saja, bukan? Aku tidak termasuk hitungan karena aku mencintamu dengan hati yang tulus ikhlas. Sebaiknya engkau tidak ikut, In-moi. Aku tidak akan lama tinggal di Khitan. Setelah kita menikah baru engkau akan kupertemukan dengan ibuku dan kakekku.”

“Tidak, Han-ko. Aku tak percaya bahwa seorang ibu yang melahirkanmu akan bersikap sepicik itu. Engkau bijaksana, maka ibumu tentu lebih bijaksana lagi!”

“Ibuku adalah seorang Khitan yang tidak berpendidikan dan tentu saja pikirannya masih kolot. Aku khawatir...”

“Khawatir kalau ia menolakku? Tenangkan hatimu. Aku telah siap menghadapi apa saja. Dan andai kata ibumu menolak aku menjadi calon menantunya sekali pun, perasaanku terhadapmu tak akan berubah. Kita harus bersikap jujur terhadap ibumu, Han-ko. Kalau ia menolakku itu sudah wajar. Akan tetapi kalau ia menerimaku tanpa melihatku, bagai mana akibatnya di belakang hari kalau ia menyesal mempunyai mantu seperti aku?”

Keng Han merasa terharu sekali dan dia memegang kedua tangan gadis itu. “Alangkah gagah beraninya engkau dalam menghadapi apa pun juga, In-moi. Aku menghargai sikapmu dan marilah kita berangkat ke Khitan.”

Sepasang orang muda itu dengan bergandeng tangan melanjutkan perjalanan setelah sekali lagi memberi hormat kepada makam Pangeran Tao Seng. Mereka nampak amat gembira dan bahagia menyongsong masa depan mereka. Cinta kasih di antara mereka membuat mereka merasa kuat sekali.

Cinta kasih yang murni hanya memberi dan sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, bersih dari nafsu menyenangkan diri sendiri. Kalau cinta itu didasari menyenangkan diri sendiri, maka cinta itu tidak akan tahan lama. Karena segala macam kesenangan di dunia ini selalu disusul kebosanan dan keinginan mencari yang lebih menyenangkan lagi. Akan tetapi kalau cinta itu didasari pementingan diri orang yang dicinta, kita selalu berusaha untuk menyenangkannya, untuk membahagiakannya karena kebahagiaan dia yang dicinta itu menimbulkan kebahagiaan bagi diri sendiri.

Cinta yang terdorong wajah tampan dan cantik, terdorong harta benda atau kedudukan, cinta seperti itu mudah luntur. Menimbulkan kebosanan dan kebencian yang berakhir dengan perpisahan atau perceraian. Cinta nafsu hanya menghendaki keuntungan bagi diri sendiri.

Seorang sahabat yang melakukan seribu satu kebaikan kepada kita akan terhapus oleh satu saja keburukan kepada kita. Cinta yang sejati tak lapuk oleh panas tak lekang oleh hujan. Seperti cinta kasih Tuhan kepada semua makhluk ciptaannya. Baik itu berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, terutama sekali manusia. Semua mendapatkan berkahNya, semua dapat menikmati hidup.

Baru matahari saja, seolah diciptakan Tuhan untuk kehidupan semua makhluk di dunia. Tanpa sinar matahari tak akan ada yang dapat hidup. Dan diberiNya tanpa pilih kasih, kepada siapa saja, yang kaya mau pun yang miskin, yang berkedudukan tinggi mau pun yang rendah, yang hidup benar dan baik mau pun yang hidup buruk dan jahat.

Tuhan memang bukan manusia, akan tetapi kita manusia seyogianya mawas diri dan mengkaji kembali cinta kasih kita kepada kekasih, kepada teman hidup, kepada anak-anak, keluarga, tetangga dan masyarakat. Kalau kita semua hidup dengan cinta kasih kepada sesamanya tanpa nafsu mementingkan diri sendiri, adanya hanya memberi dan membantu, maka kehidupan di dunia ini akan merupakan keindahan sorgawi!


**********

Gadis dan pemuda itu duduk berhadapan di sebuah hutan. Mereka duduk di atas batu di bawah naungan pohon yang rindang dan teduh. Mereka adalah Lo Siu Lan dan Gan Bu Tong. Kita masih ingat bahwa Lo Siu Lan merupakan puteri dari ketua Kwi-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Setan) Lo Cit yang berjuluk Toat-beng Kiam-sian (Dewa Pedang Pencabut Nyawa). Ada pun pemuda itu adalah Gan Bu Tong, suheng-nya dan murid dari Toat-beng Kiam-sian.

Mereka sedang berburu binatang. Akan tetapi hari itu agaknya mereka sedang sial. Sampai matahari naik tinggi, mereka belum mendapatkan buruan seekor pun. Karena siang itu panas sekali, mereka lalu beristirahat, duduk di bawah pohon, minum sambil bercakap-cakap.

“Sumoi,” kata Bu Tong, suaranya sedih dan penasaran. “Kita bergaul sejak kecil dan engkau tahu sendiri betapa besar kasihku kepadamu. Akan tetapi kenapa engkau tega menolakku kalau aku mengajak bicara tentang perjodohan kita?”

“Karena aku sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, Suheng. Sudahlah, jangan bicara tentang perjodohan, aku tidak menyukainya!” gadis itu menjawab dengan suara agak ketus.

Ia seorang gadis berusia kurang lebih sembilan belas tahun, cantik dan berkulit putih mulus. Rambutnya hitam panjang dan diikat ke belakang dengan sanggul manis di atas kepalanya. Lo Siu Lan memang seorang gadis yang sudah dewasa dan menarik hati.

“Akan tetapi ketika pemuda bernama Keng Han itu berada di sini, engkau bersikap lain! Kau tentu tahu bahwa aku mencintaimu sejak lama, Sumoi. Dan selama ini aku melihat bahwa engkau juga suka kepadaku sehingga pergaulan kita akrab sekali.”

“Tentu saja aku suka padamu, Suheng. Bukankah engkau suheng-ku? Akan tetapi rasa suka itu berbeda sekali dengan cinta. Aku menyukaimu seperti seorang adik menyukai kakaknya, bukan seperti seorang wanita mencinta pria. Mengertikah engkau, Suheng?”

Gan Bu Tong adalah seorang pemuda yang telah berusia dua puluh lima tahun, tampan dan gagah, tinggi besar dengan rambut panjang dikuncir tebal. Tentu saja dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh sumoi-nya itu.

Dahulu pun dia mencinta sumoi-nya ini sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Akan tetapi setelah Siu Lan menjadi dewasa, nampak cantik jelita, cintanya sebagai kakak itu berubah menjadi cinta seorang pria terhadap wanita dan mengharapkan sumoi-nya itu untuk menjadi jodohnya. Dan pada hari ini, ketika berdua saja di dalam hutan itu, dia mengambil keputusan untuk minta ketegasan sumoi-nya.

Mendengar jawaban bahwa sumoi-nya tidak mencintanya, namun hanya menyukainya sebagai seorang kakak, hatinya seperti ditusuk rasanya dan habislah harapannya. Jika gadis itu menjawab belum ada rasa cinta, hal itu masih ada kemungkinan dan harapan bahwa kelak gadis itu akan tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi kalau gadis itu menyukainya sebagai kakak, tidak mungkin ia dapat mencintanya sebagai kekasih.

Melihat wajah yang murung itu, wajah yang biasanya berseri itu kini nampak demikian sedih, Siu Lan merasa iba kepada suheng-nya itu.

“Suheng, harap jangan berduka. Tidak selamanya cinta berakhir dengan pernikahan, bukan? Kita bisa saling mencinta sebagai saudara, bersikap baik dan saling membantu, saling melindungi.”

“Akan tetapi, kepada Keng Han itu...”

“Terus terang saja, memang aku amat tertarik kepadanya, Suheng. Ia seorang pemuda yang bagiku amat menarik hati, apa lagi kepandaiannya pun jauh lebih tinggi dari pada kepandaian kita.”

“Akan tetapi dengan tegas dia menyatakan tidak mau kawin denganmu, Sumoi.”

Siu Lan menghela napas panjang. “Itu adalah hak dia! Memang tak mungkin dua orang menjadi suami isteri kalau cinta itu datangnya hanya sepihak.”

“Agaknya dia memiliki hubungan erat sekali dengan gadis bercadar itu!” Gan Bu Tong memanaskan hati sumoi-nya.

Siu Lan tidak marah, melainkan menghela napas lagi. “Entah bagaimana wajah gadis bercadar itu. Akan tetapi yang jelas, ia pun lihai bukan main. Agaknya nasib kita sama, Suheng. Kita berdua menjadi korban cinta yang gagal, mencinta seorang yang tidak membalas cinta kita. Agaknya memang bukan jodoh kita. Kita tidak boleh putus asa. Suheng, di dunia ini wanita bukan aku seorang, seperti juga di dunia ini pria bukan hanya Keng Han saja. Kelak kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita masing-masing! Mari kita teruskan berburu, Suheng, sudah terlalu lama kita beristirahat. Kalau kita pulang tidak membawa hasil buruan, tentu ayah akan mentertawakan kita.”

“Baiklah, mari kita menyusup ke tengah hutan ini,” jawab Bu Tong yang mendapatkan kembali kegembiraannya.

Betapa pun juga, hatinya menjadi lega. Biar pun cintanya gagal, keadaan ini lebih baik dari pada sebelumnya, harap-harap cemas. Kini dia telah mengetahui isi hati sumoi-nya dan yakin bahwa dia tidak boleh lagi mengharapkan sumoi-nya menjadi isterinya.

Hal ini, kepastian ini, melenyapkan keraguannya dan malah melegakan hatinya. Dia merasa bebas dari ikatan batinnya sendiri yang mencinta sumoi-nya, walau pun dia merasakan kepedihan cinta yang gagal. Sebagai seorang gagah dia harus mampu menahan pukulan ini!

Kedua orang muda itu menyusup ke tengah hutan dan tak lama kemudian mereka melihat sekawanan kijang sedang minum di tepi sungai kecil. Kijang-kijang itu berada di seberang sungai dan mereka tahu bahwa wilayah kekuasaan Kwi-kiam-pang hanya sampai di sungai itu.

Akan tetapi kijang-kijang itu berada begitu dekat dan mereka tidak tahu siapa yang menguasai wilayah seberang sungai itu. Kalau mereka tidak salah ingat, kabarnya yang berkuasa di seberang itu adalah perkumpulan Hek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam).

Karena sungai itu kecil saja, dua orang muda yang sudah haus korban buruan itu tidak lagi mempedulikan bahwa kijang-kijang itu berada di seberang sungai. Mereka sudah memasang anak panah pada busur mereka dan begitu melepaskan anak panah, dua ekor kijang terjungkal dan lainnya lari dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Bu Tong dan Siu Lan bersorak gembira, lalu mereka meloncati sungai kecil itu untuk mengambil hasil anak panah mereka. Akan tetapi baru saja mereka mencabut anak panah dari tubuh dua ekor kijang itu, muncul belasan orang yang berlompatan dari balik pohon-pohon dan semak belukar.

Melihat bahwa orang-orang itu memakai pakaian seragam bergambar harimau hitam, tahulah Bu Tong dan Siu Lan bahwa kini mereka berhadapan dengan para anggota perkumpulan Hek-houw-pang. Mereka itu dipimpin seorang pemuda yang gagah dan bermata lebar.

“Hemmm, dua orang yang lancang berani berburu binatang dalam wilayah kekuasaan kami?” bentak pemuda bermata lebar itu.

Gan Bu Tong cepat mengangkat tangan ke depan dada dan untuk memberi hormat kepada pemuda itu dan berkata, “Kami adalah dua orang murid dari Kwi-kiam-pang. Aku bernama Gan Bu Tong dan sumoi-ku ini adalah puteri ketua kami bernama Lo Siu Lan. Kami melihat buruan kami di tepi sungai kecil ini dan memanahnya. Kami sama sekali tidak bermaksud lancang memasuki wilayah orang lain!”

Mendengar perkenalan diri ini, pemuda itu nampak tertegun. Dia memandang kepada Siu Lan dengan penuh perhatian.

“Jadi kalian adalah murid-murid Kwi-kiam-pang? Kwi-kiam-pang tak pernah memandang kami sebagai sahabat. Kami dari Hek-houw-pang tidak pernah mengijinkan siapa pun juga untuk memasuki wilayah kami tanpa ijin. Kalian telah melanggar, maka terpaksa kami akan menahan kalian, dan kalau Toat-beng Kiam-sian Lo Cit sendiri yang datang minta maaf, barulah kami dapat melepaskan kalian.”

Kini Siu Lan tidak dapat menahan kesabarannya lagi. “Kalian berani berkata demikian? Siapakah engkau yang berani tidak memandang muka ayahku dan bersikap kurang ajar?!”

Pemuda bermata lebar itu tersenyum. “Perkenalkan, namaku Tang Hun dan aku adalah putera dari ketua Hek-houw-pang!”

Sekarang mengertilah dua orang muda dari Kwi-kiam-pang itu. Setahun yang lalu, ketua Hek-houw-pang pernah datang bertamu ke Kwi-kiam-pang. Ketua ini mengajukan usul untuk menjodohkan puteranya dengan Siu Lan. Akan tetapi, karena gadis itu tidak mau, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit menolak dengan halus.

Agaknya penolakan itu menyinggung perasaan keluarga Tang sehingga kini Tang Hun hendak membalas penolakan yang dianggap menghina itu. Dia menangkap Siu Lan dan Bu Tong dan baru mau membebaskan mereka kalau ketua Kwi-kiam-pang sendiri yang datang memintakan maaf!

Bu Tong adalah seorang pemuda yang cerdik. “Sobat, kalau engkau menganggap kami bersalah, maka maafkanlah kami dan kami tidak akan mengambil kijang buruan kami ini.”

“Tidak! Siapa berani berbuat harus berani menanggung resikonya. Kami akan menahan kalian dan sebelum ketua Kwi-kiam-pang sendiri yang minta maaf, kami tidak akan membebaskan kalian!” Tang Hun berkata tegas.

“Akan tetapi bagaimana mungkin? Kalau kalian menahan kami berdua, lalu siapa yang akan memberi kabar kepada suhu? Tangkap dan tahanlah aku, akan tetapi bebaskan Sumoi agar ia dapat melaporkan kepada suhu,” kata pula Bu Tong.

Tang Hun diam sejenak, lalu sambil memandang kepada Siu Lan dia berkata, “Baiklah, aku akan menahan nona Lo di sini, dan engkau boleh pulang untuk melapor!” kata-kata itu demikian tegas dan pasti.

“Sobat, sungguh tidak enak dan tidak pantas kalau kalian menahan seorang wanita. Biar aku yang ditahan dan Sumoi...”

“Cukup! Kalian tinggal pilih. Keduanya akan kami tahan atau hanya Nona ini!”

“Suheng, biarlah engkau yang pulang melapor kepada ayah bahwa aku ditawan oleh orang-orang Hek-ouw-pang. Jangan khawatir, mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu kepadaku!” kata Siu Lan sambil meraba gagang pedangnya.

“Akan tetapi, Sumoi...”

“Sudahlah, apakah engkau lebih suka kalau kita berdua yang menjadi tawanan? Siapa yang akan memberi tahu kepada ayah?” potong Siu Lan.

Bu Tong menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan pulang. Akan tetapi kalau kalian berani mengganggu sehelai saja rambut Sumoi, kami akan datang menghancurkan dan membinasakan kalian semua!”

“Hemmm, engkau boleh menggertak semau hatimu, Sobat. Kami tidak bersalah. Kami menahan orang yang melanggar perbatasan wilayah kami. Kalianlah yang bersalah, bukan kami!” tangkis Tang Hun sambil tertawa, wajahnya berseri.

Terpaksa Gan Bu Tong meloncati sungai kecil itu dan langsung melakukan perjalanan pulang sebelum hari menjadi sore. Dia berlari cepat dan pada suatu tikungan yang tertutup oleh pohon-pohon besar, hampir dia bertabrakan dengan seorang yang berjalan cepat dari depan. Tetapi, bagaikan seekor burung saja, orang itu telah melayang melewati kepalanya.
cerita silat karya kho ping hoo

Gan Bu Tong terkejut sekali dan juga amat kagum. Dia cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata orang itu adalah seorang gadis yang cantik sekali.

Gadis itu bukan lain adalah Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok. Bu Tong sampai ternganga saking kagumnya. Gadis yang cantik jelita, mukanya berseri dengan senyum tenang, kulitnya putih mulus, kedua pipinya kemerahan, sepasang mata serta bibirnya manis sekali, rambutnya agak keriting dan panjang.

“Hemmm, apakah engkau dikejar setan maka berlarian di tengah hutan seperti itu?” kata Niocu sambil tersenyum mengejek.

Akan tetapi matanya memandang penuh selidik. Seorang pemuda yang tampan dan gagah, pikirnya.

“Maafkan aku, Nona. Aku tidak sedang dikejar setan, akan tetapi bahkan lebih dari itu. Aku hendak melapor kepada suhu bahwa puteri suhu ditawan gerombolan orang-orang Hek-houw-pang!”

Bi-kiam Niocu mengerutkan alisnya. Ia memandang wajah pemuda itu penuh perhatian. “Kulihat engkau bukan orang lemah, kenapa engkau melarikan diri dan tidak menolong sumoi-mu itu?”

“Nona, tadi kami sudah dikepung oleh belasan orang yang dipimpin oleh putera ketua Hek-houw-pang. Kalau melawan kami pasti kalah. Mereka lalu menyandera sumoi dan mengatakan bahwa mereka akan membebaskan sumoi hanya kalau suhu sendiri yang datang ke sana minta maaf.”

“Hemmm, kesalahan apakah yang kalian lakukan?”

“Kami sedang berburu binatang dan memanah dua ekor kijang yang berada di seberang sungai kecil, wilayah kekuasaan mereka. Kami telah minta maaf akan tetapi mereka memaksa untuk menawan sumoi.”

“Hemmm, siapa namamu dan siapa nama sumoi-mu itu?” tanya Niocu yang semakin tertarik.

“Namaku Gan Bu Tong dan sumoi bernama Lo Siu Lan.”

“Kalian dari perkumpulan apa dan siapa suhu-mu?”

“Suhu adalah ketua dari Kwi-kiam-pang berjuluk Toat-beng Kiam-sian bernama Lo Cit,” Gan Bu Tong menjawab dengan bangga karena nama besar gurunya itu pasti dikenal semua tokoh kang-ouw.

Benar saja dugaannya. Niocu tersenyum mendengar nama ini.

“Ah, kiranya engkau murid kakek pincang itu? Gurumu pernah bersikap baik terhadap muridku, biarlah sekarang aku membantu muridnya. Cepat bawa aku ke tempat di mana sumoi-mu itu ditawan. Aku yang akan membebaskannya!”

Girang sekali hati Gan Bu Tong. Agaknya gadis itu tidak hanya membual. Gerakannya ketika meloncat di atas kepalanya menghindarkan tabrakan itu saja sudah membuktikan betapa hebat ginkang-nya. Apa lagi gadis ini sudah mengenal nama suhu-nya.

“Baik, Nona. Mari kita pergi ke sana!” kata Bu Tong.

Ia pun berlari kembali ke tempat tadi secepatnya. Akan tetapi, gadis itu seakan berjalan melangkah seenaknya biar pun kenyataannya dia tidak pernah dapat meninggalkannya. Sungguh merupakan ilmu berlari cepat yang hebat.

Akan tetapi ketika mereka tiba di seberang sungai itu, tidak nampak lagi bayangan Siu Lan.

“Tentu sumoi sudah mereka bawa ke sarang mereka!”

“Kita kejar!” kata Niocu.

Tanpa menanti jawaban ia sudah melompat ke depan berlari cepat. Bu Tong berusaha mengejarnya, akan tetapi sebentar saja dia sudah tertinggal jauh. Niocu yang berlari lebih cepat itu segera dapat mengejar orang-orang Hek-houw-pang yang menawan Siu Lan.

Gadis ini berjalan dengan sikap tenang di tengah-tengah mereka. Ia tidak merasa takut. Suheng-nya tentu akan melapor kepada ayahnya dan ayahnya tentu akan datang untuk membebaskannya.

Kini Siu Lan teringat mengapa pemuda itu seperti menaruh dendam kepada ayahnya. Setahun lebih yang lalu, ketua Hek-houw-pang pernah berkunjung ke rumah ayahnya. Dari ibunya ia kemudian mendengar bahwa ia telah dipinang oleh ketua Hek-houw-pang untuk dijodohkan dengan puteranya. Akan tetapi ia berkeras menolak karena ia belum pernah melihat putera ketua Hek-houw-pang itu.

Ayahnya lalu menolak pinangan itu dengan halus. Agaknya urusan itulah yang membuat pemuda itu hendak membalas dendam dengan menawannya supaya ayahnya datang minta maaf kepada ketua Hek-houw-pang!

Kini setelah melihat orangnya, ia harus mengakui bahwa pemuda itu cukup tampan dan gagah, akan tetapi matanya yang terlalu lebar itu tidak sedap dipandang, di samping ia belum mengetahui bagaimana watak pemuda itu. Kalau wataknya baik, belum tentu ia menolak pinangannya setelah melihat orangnya.

Pada waktu Siu Lan melangkah sambil melamun, tiba-tiba nampak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan rombongan itu telah berdiri seorang wanita cantik. Wanita itu memandang dengan matanya yang bersinar tajam dan mulutnya tersenyum mengejek.

“Belasan orang laki-laki menawan seorang gadis muda, sungguh merupakan perbuatan yang tidak tahu malu!” kata wanita itu yang bukan lain adalah Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok.

Tang Hun yang tadinya berjalan dekat Siu Lan, segera melangkah maju menghadapi Niocu. Dia mengangkat kedua tangannya ke depan dada sebagai penghormatan, lalu berkata, “Kami tidak mengenal Nona, sebaliknya Nona juga tidak mengenal kami. Setiap perbuatannya tentu ada sebabnya yang kuat, maka harap Nona jangan mencela dulu dan tidak mencampuri urusan pribadi kami!” Suaranya itu sopan namun nadanya keras.

“Tidak mungkin aku tidak mencampuri. Melihat seorang wanita ditawan belasan orang, bagaimana menyuruh aku tidak campur tangan? Cepat bebaskan dia atau aku akan memberi hajaran keras kepada kalian!”

“Wanita sombong. Apa kau kira aku takut kepadamu?”

“Heh-heh-heh, bukankah engkau adalah putera Hek-houw Tang Kwi? Dari pada engkau babak-belur, lebih baik engkau suruh ayahmu datang ke sini melawanku.”

“Nona, sebetulnya siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan ini? Ini adalah urusan antara Kwi-kiam-pang dan Hek-houw-pang. Nona tidak berhak untuk ikut mencampuri!”

“Hemmm, bocah seperti engkau ini hendak melawanku? Ketahuilah bahwa aku yang disebut orang Bi-kiam Niocu!”

Mendengar nama ini, Tang Hun terkejut. Tentu saja dia pernah mendengar akan nama Bi-kiam Niocu yang kabarnya amat kejam terhadap pria itu. Akan tetapi dia tidak merasa takut. Malu rasanya kalau takut melawan seorang wanita.

“Bagus! Nama Bi-kiam Niocu memang sudah terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi aku Tang Hun tidak gentar menghadapimu. Engkau yang mencari perkara, bukan kami!” Pemuda itu berkata demikian sambil mencabut pedangnya.

Pada saat itu, Bu Tong sudah tiba di situ. Melihat ini, Bi-kiam Niocu berseru kepadanya. “Gan Bu Tong, engkau bantulah sumoi-mu untuk menghajar orang-orang itu, sedangkan bocah she Tang ini serahkan saja kepadaku!”

“Baik, Nona.” Bu Tong berseru girang dan berkata kepada sumoi-nya, “Sumoi, mari kita lawan mereka!”

Kalau tadi kakak beradik seperguruan itu tidak berani memberontak adalah karena di situ ada Tang Hun dan belasan orang anak buahnya. Kini, setelah Tang Hun ada yang menghadapi, mereka menjadi berani dan Siu Lan juga mencabut pedangnya. Dua orang kakak beradik seperguruan ini lalu mengamuk dan dikepung serta dikeroyok belasan orang anak buah Hek-houw-pang.

Sementara itu Tang Hun mencabut pedangnya. Dia sudah mendengar akan kelihaian Bi-kiam Niocu, maka dia mencabut pedang lebih dulu lalu menyerang lawannya yang masih bertangan kosong.

Akan tetapi dengan gerakan yang cepat Niocu sudah menghindar dari serangan itu. Dia membiarkan pemuda itu menyerangnya hingga sepuluh jurus yang selalu bisa dielakkan oleh Niocu. Setelah membiarkan lawan menyerang sampai sepuluh jurus, barulah Niocu mencabut pedangnya.

Pedang ini adalah pedang baru karena pedangnya yang lama patah ujungnya ketika ia pinjamkan kepada Keng Han untuk melawan Thian It Tosu palsu yang mempergunakan pedang Pek-coa-kiam, pedang pusaka Bu-tong-pai. Ia membeli pedang baru yang juga baik sekali, terbuat dari baja pilihan.

Begitu Niocu menggunakan pedang untuk melawan, Tang Hun segera terdesak hebat. Akan tetapi Niocu sekarang bukan seperti Niocu dahulu ketika ia masih liar membenci kaum pria. Ia tidak berniat membunuh Tang Hun, hanya membebaskan Siu Lan saja.

Apa lagi memang ilmu kepandaian Tang Hun sudah cukup tangguh sehingga biar pun terdesak dia masih dapat melakukan perlawanan! Setelah pertandingan berjalan kurang lebih tiga puluh jurus, Tang Hun main mundur terus.

Pertandingan antara lima belas anak buahnya yang mengepung Lo Siu Lan dan Gan Bu Tong juga berlangsung seru. Meski dikeroyok belasan oleh orang, namun kakak beradik seperguruan ini dapat menggerakkan pedang mereka untuk melindungi diri, bahkan sempat pula merobohkan beberapa orang dengan tendangan kaki mereka.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

“Tang Hun, mundurlah, biarkan aku yang menghadapi!”

Tang Hun gembira sekali mendengar suara ini karena suara itu adalah suara ayahnya! Memang yang baru datang itu adalah Hek-houw Tang Kwi sendiri, seorang kakek yang bermuka hitam dan berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Begitu tiba di situ dia melihat puteranya didesak hebat oleh seorang wanita cantik. Dia tidak mengenal wanita itu, karena itu dia cepat menyuruh puteranya mundur dan dia menangkis pedang di tangan wanita itu yang menyambar cepat.

"Tranggggg...!”

Keduanya amat terkejut karena merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang tergetar hebat. Hek-houw Tang Kwi menjadi penasaran dan segera berseru, “Tahan senjata!”

Semua anak buahnya yang tadi mengeroyok Siu Lan dan Bu Tong juga menghentikan penyerangan mereka. Semua melompat ke belakang sehingga perkelahian itu terhenti.

“Apa artinya perkelahian ini? Heiii, bukankah engkau adalah puteri dan murid Toat-beng Kiam-sian Lo Cit? Dan engkau sendiri siapakah Nona?”

“Aku adalah Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok!” Niocu memperkenalkan diri.

“Ahhh...! Bukankah engkau murid Ang Hwa Nio-nio? Kenapa terjadi perkelahian dengan puteraku dan para anggota kami? Tang Hun, apa yang telah terjadi di sini?” Hek-houw Tang Kwi bertanya kepada puteranya.

“Begini, Ayah. Mula-mula kami melihat puteri dan murid Toat-beng Kiam-sian ini berburu binatang di dalam wilayah kita. Karena mereka memasuki wilayah kita tanpa ijin, kami lalu menahan nona Lo untuk dihadapkan kepada Ayah, dan membebaskan pemuda itu untuk melaporkan kepada ketuanya. Akan tetapi mendadak pemuda itu datang kembali bersama Bi-kiam Niocu dan hendak memaksa kami membebaskan nona Lo. Kami menolak dan terjadilah perkelahian ini.”

Hek-houw Tang Kwi mengerutkan alisnya dan berkata kepada Bi-kiam Niocu, “Bi-kiam Niocu, aku mendengar bahwa engkau seorang wanita gagah, akan tetapi mengapa engkau mencampuri urusan pribadi antara Hek-houw-pang dan Kwi-kiam-pang? Apa yang dilakukan puteraku sudah sepantasnya karena kedua orang murid Kwi-kiam-pang melanggar wilayah kekuasaan kami.”

“Hemmm, kalau puteramu itu tadi berani bertanding satu lawan satu dengan puteri ketua Kwi-kiam-pang, tentu aku tidak akan mencampurinya. Akan tetapi melihat belasan orang anak buahmu sudah menggunakan kekuatan banyak orang untuk menawannya, hal ini kuanggap tidak adil dan merupakan tindakan seorang pengecut. Karena itulah aku turun tangan membantu mereka!” Jawab Niocu sambil tersenyum mengejek.

“Tang Hun, benarkah engkau menggunakan anak buah untuk menangkap mereka?”

“Tidak, Ayah. Di antara kami dan mereka tadinya tak ada perkelahian. Kita menangkap mereka dan mereka merasa bersalah, maka nona Lo tidak keberatan kami tawan dan suheng-nya itu pun pergi untuk melapor kepada gurunya. Setelah Bi-kiam Niocu campur tangan barulah terjadi pertempuran.”

“Beranikah engkau melawan nona Lo, satu lawan satu?”

Wajah pemuda itu berubah kemerahan ketika dia memandang kepada Siu Lan. “Aku... aku tidak ingin memusuhinya, Ayah.”

Bi-kiam Niocu tertawa mengejek.

“Orang muda, katakan saja kalau engkau tidak berani. Hei, adik Lo, beranikah engkau melawan putera Hek-houw Tang Kwi ini?”

Siu Lan menegakkan tubuhnya dan menjawab, “Mengapa tidak berani? Asal jangan main keroyokan!”

“Nah, kau dengar itu, Tang Hun? Untuk menyelesaikan urusan ini, sambutlah tantangan nona Lo. Siapa pun di antara kalian yang kalah harus minta maaf dan urusan ini habis sampai di sini saja. Bagaimana pendapatmu, Bi-kiam Niocu? Atau, apakah engkau ingin kita bertanding terus mati-matian hanya untuk urusan sekecil ini?”

Niocu merasa tidak enak. Sebetulnya, sebagai orang luar ia memang tidak tersangkut urusan itu sama sekali. Kalau ia membantu, sebetulnya yang ia bantu adalah Gan Bu Tong karena ia tertarik dan suka kepada pemuda itu.

“Bertanding satu lawan satu itu baru adil dan aku tidak akan mencampuri, hanya akan menonton agar jangan ada yang main curang.”

“Nah, Tang Hun, engkau sudah mendengar sendiri. Bersiaplah untuk bertanding dengan nona Lo Siu Lan!” kata Hek-houw Tang Kwi.

“Akan tetapi, Ayah. Aku tidak ingin melukainya...,” kata pemuda itu ragu.

Melihat sikap dan mendengar ucapan Tang Hun, Siu Lan merasa jantungnya berdebar. Tadi ketika ia ditangkap, pemuda itu bersikap sopan padanya, seolah ia bukan seorang tawanan melainkan seorang tamu. Dan sekarang, pemuda itu mengatakan tidak ingin memusuhinya dan juga tidak ingin melukainya! Hal ini hanya mempunyai satu arti, ialah bahwa pemuda itu suka padanya!

Hek-houw Tang Kwi menjadi marah kepada puteranya. “Engkau tidak berani? Kalau begitu engkau harus minta maaf kepadanya!”

“Minta maaf? Aku tidak bersalah, melainkan mereka yang bersalah. Kenapa aku harus minta maaf? Dan aku tidak ingin berkelahi melawan nona Lo, sama sekali bukan karena takut melainkan...”

“Sudahlah jangan banyak bicara lagi. Layanilah nona Lo yang menantangmu!” berkata demikian Hek-houw Tang Kwi kemudian mendorong punggung puteranya supaya maju menghadapi Siu Lan.

Dengan terpaksa sekali dan sikap apa boleh buat Tang Hun maju menghadapi Siu Lan. Dia menyimpan pedangnya dan berkata dengan lembut. “Nona Lo, terpaksa aku harus melawanmu. Akan tetapi kita tidak bermusuhan, maka kita bertanding dengan tangan kosong saja.”

“Tidak bersenjata boleh, bersenjata juga boleh!” berkata Siu Lan yang juga menyimpan pedangnya. Kalau lawan tidak bersenjata tentu ia malu kalau harus melawan dengan pedangnya.

Mereka sudah memasang kuda-kuda masing-masing, akan tetapi Tang Hun belum juga mau menyerang.

“Hayo mulai!” kata Siu Lan. “Aku sudah siap!”

“Engkau adalah tamu, maka engkaulah yang harus memulai lebih dulu, Nona,” kata Tang Hun.

“Baik, bersiaplah dan sambut seranganku ini!” Siu Lan mulai memukul akan tetapi dapat dielakkan Tang Hun dengan baik.

Dua orang itu segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Akan tetapi Bi-kiam Niocu dan Hek-houw Tang Kwi keduanya dapat mengikuti gerakan mereka dengan baik dan mereka mendapat kenyataan bahwa dua orang itu tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh. Hek-houw Tang Kwi tahu benar bahwa puteranya tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya dan Bi-kiam Niocu juga melihat dengan jelas betapa Siu Lan juga tidak menyerang dengan sepenuh hatinya.

Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang kakek yang kaki kirinya timpang dan membawa tongkat.

"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya. Ketika melihat puterinya berkelahi melawan Tang Hun, dia lalu menghampiri Hek-houw Tang Kwi dan bertanya, "Ehh, Hek-houw, kenapa engkau membiarkan anak kita saling serang seperti itu?"

"Ssstt, lihatlah baik-baik, Kiam-sian. Bukankah kedua anak kita itu serasi dan cocok sekali? Mereka saling serang? Hemmm, kurasa tidak. Mereka hanya latihan saja dan saling mengalah!"

Dan kenyataannya memang demikianlah. Kedua orang muda itu sama sekali tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, dan tidak ingin melukai lawan. Siu Lan melihat datangnya ayahnya, maka ia meloncat jauh ke belakang dan mendekati ayahnya.

"Ayah, mereka hendak menawanku!" katanya dengan manja.

"Apa?! Siapa yang hendak menawan anakku?" bentak Toat-beng Kiam-sian dan kini barulah dia melihat adanya Bi-kiam Niocu di situ.

"Eh, engkau juga berada di sini, Bi-kiam Niocu? Apakah engkau yang hendak menawan anakku?" Berkata demikian Lo Cit melangkah maju menghampiri Bi-kiam Niocu yang hanya memandang kepadanya dengan senyum mengejek.

"Suhu, tidak sama sekali, Suhu!" Gan Bu Tong meloncat mendekati suhu-nya. "Nona ini sama sekali tidak mengganggu kami berdua, ia malah datang untuk menolong sumoi yang tadinya ditawan oleh orang-orang Hek-houw-pang!"

"Hemmm, apa yang terjadi di sini? Mengapa anakku dapat ditawan oleh orang-orang Hek-houw-pang?"

Hek-houw Tang Kwi dengan sikap tenang berkata kepada Lo Cit. "Kiam-sian, engkau dengarlah baik-baik keterangan dari anakku. Tang Hun, lekas ceritakan semua kepada pamanmu Lo ini apa yang telah terjadi sebenarnya."

Tang Hun maju memberi hormat kepada Lo Cit lalu berkata, "Sebetulnya begini, Paman. Kami tadi mendapatkan puteri dan murid Paman sudah melanggar wilayah kami dan membunuh dua ekor kijang. Karena mereka memasuki wilayah kami tanpa ijin, terpaksa saya menahan nona Lo untuk kami hadapkan kepada Ayah. Ia kami tahan sebagai seorang tamu, bukan sebagai tawanan. Akan tetapi tiba-tiba murid Paman ini datang bersama Bi-kiam Niocu dan menyerang kami. Untung ada Ayah, kalau tidak mungkin kita semua akan dibunuhnya!"

"Siu Lan, benarkah apa yang dikatakan Tang Hun itu?"

Dengan kedua pipi berubah kemerahan, Siu Lan menjawab, "Benar, Ayah. Akan tetapi kami hanya melanggar perbatasan sungai itu untuk mengejar kijang."

"Kalau begitu, engkau dan Bu Tong berada di pihak yang salah. Hayo kalian berdua minta maaf kepada pamanmu Tang Kwi!" bentak Lo Cit.

Siu Lan dan Bu Tong terpaksa memberi hormat kepada Hek-houw Tang Kwi sambil berkata, "Harap paman Tang sudi memaafkan kelancangan kami!"

"Ha-ha-ha-ha, semua ini hanya merupakan salah paham saja. Di antara orang sendiri mengapa harus minta maaf? Akan tetapi, Kiam-sian, bukankah engkau sudah melihat sendiri alangkah serasi dan cocok adanya putera-puteri kita? Maka kesempatan ini akan kugunakan untuk mengulang pinanganku tempo hari. Bagaimana bila kita menjodohkan mereka?"

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit tersenyum, kemudian bertanya kepada puterinya, "Siu Lan, engkau telah mendengar sendiri usul pamanmu Tang. Nah, bagaimana jawabanmu?"

Dengan muka kemerahan Siu Lan bersembunyi di belakang tubuh ayahnya, kemudian berkata, "Ahh, urusan itu bagaimana baiknya terserah kepada Ayah saja!"

Jawaban ini saja sudah jelas bagi semua orang. Kalau seorang anak tidak setuju, tentu ia akan marah-marah atau menangis. Tapi kalau ia setuju, tentu ia akan menyerahkan keputusannya kepada orang tuanya dan tersipu malu.

Melihat keadaan puterinya, Lo Cit menjadi girang sekali. Ketika pertama kali Tang Kwi meminang puterinya, sebetulnya dia sudah setuju sekali. Dia merasa suka kepada Tang Hun yang gagah dan tampan. Akan tetapi puterinya itu yang menolak.

Kini dia tahu mengapa dulu puterinya menolak. Karena belum pernah melihat Tang Hun. Setelah kini berhadapan, bahkan saling serang dalam pertandingan tadi, ia setuju akan pinangan itu.

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Marilah singgah di rumah kami di mana kami dapat menjamu kalian sebagai tamu agung dan kita dapat bercakap-cakap mengenal persoalan ini. Kami juga mengundang Niocu untuk ikut datang sebagai tamu kehormatan."

Bi-kiam Niocu mengerling kepada Gan Bu Tong. Ia melihat betapa pemuda itu juga memandang kepadanya penuh kagum, maka ia pun mengangguk. "Baiklah, aku tanpa sengaja telah terlibat dalam urusan kalian, tidak apa menjadi saksi dari hubungan antara kalian yang menjadi baik."

Mereka semua lalu menuju ke perkampungan Hek-houw-pang. Dan dalam perjalanan ini dengan sengaja Niocu mendekati Gan Bu Tong dan mengajaknya bercakap-cakap. Dia bertanya-tanya tentang keadaan pemuda itu dan hatinya girang mendengar bahwa pemuda itu sudah yatim piatu dan belum bertunangan apa lagi menikah. Dan pemuda itu pun jelas kelihatan amat kagum kepadanya. Juga usia Gan Bu Tong sudah dua puluh lima tahun, berarti dua tahun lebih tua dari pada usianya.

Sebaliknya sikap yang amat ramah dan bersahabat dari Niocu membuat dia akrab sekali dengan gadis itu. Tadinya Bu Tong memang agak sungkan terhadap Niocu yang dianggapnya mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari pada dia, juga namanya sudah terkenal sekali di dunia kangouw sebagai tokoh yang ditakuti. Akan tetapi setelah bercakap-cakap dengan dia, dia mendapat kenyataan bahwa Niocu amat manis budi dan bijaksana sehingga dia merasa cocok dan tidak menjadi rendah diri.

Demikian pula dengan Lo Siu Lan. Ia berterima kasih sekali kepada Niocu yang telah membantu untuk membebaskannya. Maka setelah mereka semua dijamu sebagai tamu kehormatan oleh Hek-houw Tang Kwi yang membicarakan dengan Lo Cit mengenai perjodohan antara anak mereka, Lo Siu Lan minta dengan sangat agar Niocu suka singgah di rumahnya. Permintaan ini diterima dengan senang hati oleh Niocu.

Setelah tinggal beberapa hari di rumah kediaman keluarga Lo, yaitu di perkampungan Kwi-kiam-pang, hubungan antara Niocu dan Bu Tong menjadi makin akrab. Pada suatu sore Niocu dan Bu Tong berjalan-jalan di luar perkampungan di Kwi-kiam-pang. Niocu yang mengajaknya dan Bu Tong dengan girang menyambut ajakan itu.

"Tong-ko, aku heran sekali melihatmu," kata Niocu sambil melangkah perlahan.

"Kenapa heran, Niocu?"

"Engkau murid seorang ketua perkumpulan yang terkenal. Engkau juga mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi dan hidupmu sudah sebatang kara karena tidak memiliki orang tua atau keluarga lain. Akan tetapi kenapa sampai usia dua puluh lima engkau belum juga menikah?"

Gan Bu Tong tersenyum malu-malu mendengar ini. "Ahh, Niocu. Orang seperti aku ini siapa yang suka menjadi isteriku? Pula, aku mengganggap suhu sebagai orang tuaku dan Lan-sumoi sebagai adik sendiri."

"Tidak keliru engkau memilih keluarga gurumu sebagai keluarga sendiri. Tetapi apakah engkau tidak ingin membentuk keluarga sendiri, berumah tangga dan mempunyai anak-anak?"

Bu Tong teringat kepada Siu Lan. Dia pernah jatuh cinta kepada sumoi-nya itu dan ingin memperisterinya, akan tetapi ternyata Siu Lan tak mencintainya, melainkan hanya suka sebagai seorang kakak. Bahkan Siu Lan agaknya kini tertarik kepada Tang Hun dan perjodohan mereka telah dibicarakan oleh orang tua masing-masing.

Habislah sudah harapannya untuk memperisteri Siu Lan. Sejak pertama kali bertemu dengan Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok, dia memang sudah tertarik dan kagum sekali. Apa lagi setelah pergaulan mereka akrab, dia semakin tertarik. Akan tetapi sedikit pun dia tidak mempunyai pikiran untuk jatuh cinta kepada tokoh yang terkenal ini. Dia tidak berani. Siu Lan saja menolaknya, apa lagi seorang tokoh besar seperti Bi-kiam Niocu!

Setelah menghela napas panjang beberapa kali, dia pun menjawab. "Tentu saja kadang timbul keinginanku untuk berumah tangga, Niocu. Akan tetapi seperti kukatakan tadi, siapa orangnya mau mendampingi aku sebagai isteriku? Aku seorang pemuda yang yatim piatu, tidak mempunyai apa-apa." Kemudian dia teringat bahwa gadis ini bertanya terlalu mendalam, maka timbul keberaniannya untuk bertanya. "Akan tetapi engkau sendiri, Niocu. Kulihat usiamu pasti lebih tua dari sumoi, mengapa engkau juga beIum berumah tangga?"

Bi-kiam Niocu tersenyum dan Bu Tong memandang dengan hati terpesona. Bukan main manisnya wanita ini kalau tersenyum!

"Tentu saja aku jauh lebih tua dari Siu Lan. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun. Terus terang saja, entah berapa banyak pria yang meminangku, akan tetapi semuanya itu kutolak. Aku belum menemukan seorang yang cocok untuk menjadi pilihanku. Karena itulah sampai kini aku belum juga menikah."

"Niocu, seorang gadis seperti engkau ini, cantik jelita, berilmu tinggi dan berbudi mulia, bijaksana, tentu saja berhak memilih seorang calon suami yang sebaik-baiknya."

"Ahh, jangan terlalu memuji padaku, Tong-ko. Dengarkanlah pendapat dunia kang-ouw tentang diriku dan engkau akan tahu bahwa aku tidak patut dipuji seperti itu. Aku pernah terkutuk, pernah bersumpah bahwa aku akan membunuh pria yang berani mencintaku! Entah sudah berapa orang yang kubunuh karena itu. Akan tetapi aku sekarang telah terbebas dari kutukan itu, bahkan aku mendambakan cinta kasih yang tulus ikhlas dari seorang pria. Aku tidak memilih yang muluk-muluk, melainkan yang berhati bersih, jujur dan mencintaku tanpa pamrih."

"Niocu...!"

"Ada apakah, Tong-ko?"

"Kalau sekarang ada seorang pria yang jatuh cinta kepadamu, seorang pria yang tidak berharga, miskin dan papa, yang tidak mampu menjanjikan apa pun kepadamu, apakah engkau dapat menerima cintanya?"

"Aku tidak membutuhkan pria yang kaya raya atau pun pandai dan berkedudukan. Aku membutuhkan pria yang jujur dan baik."

"Niocu, aku... aku seorang tak berharga, yatim piatu tidak mempunyai apa-apa..." Dia berhenti bicara.

“Ya...? Mengapa?"

"Aku yang hina ini telah berani bermimpi tentang bintang yang tidak terjangkau oleh tangan..."

"Tidak oleh tangan, melainkan harus dijangkau oleh hati yang penuh cinta kasih."

"Aku... maafkan aku, Niocu. Aku seperti dalam mimpi. Aku berani jatuh cinta padamu..."

Kedua pipi Bi-kiam Niocu menjadi merah padam, jantungnya berdebar karena girang. "Cintamu tidak sia-sia, Tong-ko!"

Bu Tong terbelalak memandang wajah yang cantik itu. "Maksudmu, engkau tidak marah padaku?"

Niocu menggeleng kepalanya. "Tidak, aku malah merasa girang dan berbahagia sekali karena pria dalam angan-anganku tadi sepertimu inilah, Tong-ko. Engkau jujur, engkau sederhana, engkau rendah hati."

Keduanya sudah berhenti melangkah sejak tadi dan berdiri saling berhadapan. Dua pasang mata saling bertemu bertaut dan dua pasang mata itu menjadi basah karena haru.

Bu Tong melangkah maju dan memegang kedua tangan Niocu. "Benarkah semua ini? Bukan mimpi kosong belaka? Niocu, benarkah engkau bisa menerima cintaku? Maukah engkau menjadi isteriku?"

"Kita berdua sama-sama yatim piatu, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Tentu saja aku mau menjadi isterimu, Tong-ko."

Bukan main girangnya hati Bu Tong di saat itu. Dengan kedua lengannya yang tegap itu dia memeluk Niocu sedemikian kuatnya, seolah dia ingin membenamkan kepala yang tersayang itu ke dalam dadanya.

Setelah merasa yakin bahwa dalam hidupnya ada Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok, Gan Bu Tong menjadi pemberani. Dengan terus terang dia mengajak kekasihnya menghadap gurunya.

"Suhu, teecu mohon doa restu dan persetujuan Suhu, karena teecu dan Niocu sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri!" Pengakuan ini dia katakan di depan Toat-beng Kiam-sian, isterinya dan juga di depan Lo Siu Lan.

Mendengar ini, Lo Siu Lan langsung berteriak girang. Dia segera menghampiri Niocu dan merangkulnya. "Ah, selamat kuucapkan kepada kalian! Enci Bi Kiok, hatiku merasa gembira bukan main mendengar berita yang membahagiakan ini!"

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit juga merasa heran dan gembira sekali. Dia menganggap bahwa muridnya itu berperuntungan baik sekali, dapat menjadi pilihan Bi-kiam Niocu untuk menjadi jodohnya.

"Tentu saja kami merasa berbahagia sekali, Bu Tong. Semoga kalian menjadi suami isteri yang berbahagia. Dan karena engkau tidak memiliki keluarga yang bisa menjadi wali, biarlah kami yang akan menikahkan kalian, berbareng dengan pernikahan Siu Lan dengan Tang Hun!" kata Toat-beng Kiam-sian Lo Cit.

Demikianlah, semenjak hari itu Niocu tinggal di Kwi-san untuk menunggu hari baik itu. Perjodohan antara mereka akan dibarengkan dengan perjodohan antara Siu Lan dan Tang Hun…..

**********

Di kota raja juga terjadi hal yang berbahagia. Setelah bertemu dengan Tao Kwi Hong, Cia Kun tergila-gila kepada saudara misan itu. Sebaliknya Kwi Hong juga tertarik sekali kepada putera Pangeran Cia Sun itu. Hubungan mereka menjadi semakin akrab dan akhirnya Cia Kun minta kepada ayah bundanya untuk melamarkan Tao Kwi Hong.

Pinangan itu diterima baik oleh Pangeran Tao Kuang, karena selain puterinya setuju, juga dia melihat bahwa Pangeran Cia Sun adalah seorang pangeran yang baik. Sebagai seorang pangeran namanya cukup bersih dan terhormat.

Lalu bagaimana dengan Keng Han? Pemuda ini melakukan perjalanan ke Barat Laut. Pada suatu hari sampailah dia di perkampungan Khitan. Ternyata kakeknya, Khalaban, telah meninggal dunia dan yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah Kalucin.

Silani, ibu Keng Han, dan juga Kalucin yang dipanggilnya paman, menyambut mereka dengan gembira. Bahkan Kalucin lalu mengadakan sebuah pesta untuk menyambut pulangnya pemuda itu. Seluruh perkampungan itu bergembira ria.

Sejak ditinggalkan oleh puteranya, siang malam Silani menanti kembalinya Keng Han dengan penuh harapan. Bahkan Kalucin sudah beberapa kali mengajukan pinangan kepadanya. Namun Silani selalu menolaknya, dan mengatakan bahwa dia masih isteri Pangeran Tao Seng yang belum diketahui bagaimana nasibnya itu.

Sampai berusia empat puluh lima tahun Kalucin masih belum beristeri. Dia benar-benar mencinta Silani dan tidak dapat menikah dengan wanita lain sebelum Silani bertemu kembali dengan suaminya.

Biar pun pulangnya Keng Han amat membahagiakan mereka semua, namun diam-diam Silani kecewa karena suaminya tidak datang bersama puteranya.

Setelah memperoleh kesempatan untuk bicara berdua saja dengan puteranya, Silani tidak dapat lagi menahan keinginan hatinya dan ia bertanya, "Bagaimana, Keng Han, apakah engkau sudah bertemu dengan ayahmu? Kenapa dia tidak ikut datang bersama denganmu? Apakah dia menyuruh memboyongku ke sana?"

Dihujani pertanyaan itu, Keng Han merasa kasihan sekali kepada ibunya. "Maafkan aku, Ibu. Aku datang tidak membawa berita yang baik. Ayah... ayah... sudah meninggal dunia."

Silani terbelalak, mulutnya terbuka lalu perlahan-lahan air matanya berjatuhan ke atas pipinya yang menjadi pucat, lalu ia menutupi mukanya dan menangis. Keng Han maju dan merangkulnya dan wanita itu menangis di dada puteranya. Keng Han mengelus pundak ibunya dan menghiburnya.

Setelah tangisnya mereda, dengan muka pucat sekali Silani bertanya apa yang telah terjadi dengan suaminya.

"Ayah memang seorang pangeran, Ibu. Akan tetapi ia bukan Pangeran Mahkota seperti yang diakuinya. Ketika dia meninggalkan ibu dan pulang ke kota raja, dia melakukan perbuatan yang buruk, yaitu dia hendak membunuh Pangeran Mahkota yang menjadi saudaranya sendiri. Dia ingin menjadi Pangeran Mahkota. Akan tetapi usahanya gagal, bahkan dia ditangkap dan dihukum buang selama dua puluh tahun."

"Ahh, pantas dia tidak memberi kabar sama sekali. Kiranya dia dihukum..."

"Pada waktu tiba di kota raja, aku mendapatkan ayah telah menyamar sebagai seorang hartawan she Ji dan kembali dia mendirikan komplotan untuk membunuh Kaisar dan Putera Mahkota karena dia ingin menjadi kaisar. Dan kembali usahanya gagal, bahkan ayah terbunuh dalam usahanya itu. Aku dikeroyok oleh tiga orang datuk sakti dan ayah hendak menolong dan membelaku, dan dalam usahanya inilah dia terbunuh. Aku sudah menguburkan jenazahnya di suatu tempat. Sebelum dia tewas dia berpesan kepadaku untuk memintakan ampun darimu, Ibu!"

"Ahhhhh...!" Kembali ibunya menangis.

Setelah tangisnya reda Silani bertanya kepada puteranya. "Akan tetapi kenapa engkau begitu lama pergi? Sampai hampir enam tahun engkau pergi, membuat hati kami semua selalu mengkhawatirkan keselamatanmu."

Mendengar pertanyaan ibunya ini, Keng Han lalu menceritakan semua pengalamannya dengan panjang lebar, betapa selama lima tahun dia hidup terasing di Pulau Hantu dan mempelajari ilmu silat yang dia temukan di sana. Kemudian dia menceritakan semua yang telah dialaminya.

Ibunya memandang kepadanya dengan kagum.

"Demikian banyak dan hebatnya pengalamanmu, anakku. Akan tetapi engkau pulang bersama gadis yang berkerudung itu. Siapakah dia, Keng Han?"

"Ia seorang sahabat baik bernama The Cu In, Ibu. Puteri seorang panglima tinggi di kota raja."

"Hemmm, sahabat baik? Sampai di mana kebaikan itu?"

"Dia sudah sering kali menolongku dari kesulitan dan bahaya, Ibu. Kalau tidak ada dia yang menolong, mungkin sekali aku tidak dapat pulang hari ini."

"Akan tetapi mengapa dia ikut ke sini?"

"Dia ikut agar dapat berkenalan dengan Ibu. Terus terang saja, Ibu, dia bukan sahabat biasa. Kami berdua sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri dan aku mengajaknya supaya Ibu dapat mengenal calon mantunya." Wajah Keng Han berubah kemerahan ketika membuat pengakuan itu.

"Calon menantuku? Ahhh, aku girang sekali. Akan tetapi mengapa dia selalu menutupi mukanya dengan cadar? Suruhlah dia membuka cadarnya agar semua orang melihat betapa cantiknya calon menantuku!"

Jantung Keng Han berdebar tegang mendengar ucapan ibunya itu. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa Cu In hanya mau memperlihatkan mukanya kepada ibunya saja, tidak kepada orang lain.

"Ibu, Cu In sudah bersumpah bahwa dia baru akan membuka cadarnya pada hari pernikahannya."

"Hemmm, sumpah yang aneh sekali. Bagaimana aku dapat menyetujui pilihanmu itu sebelum aku melihat wajah calon menantuku? Dia harus membuka cadarnya agar aku dapat melihat mukanya, Keng Han," kata Silani dengan tegas.

"Akan tetapi Ibu harus berjanji dulu padaku bahwa betapa pun jelek wajah Cu In, aku telah mencintanya dan ingin dia menjadi isteriku, Ibu."

Ibunya memandang wajah puteranya penuh selidik. "Cinta benarkah engkau padanya, anakku?"

"Aku mencintanya dengan seluruh jiwa ragaku. Bagiku, wajah tidak banyak artinya. Aku mencinta pribadinya, pembawaannya, sikap dan budinya, Ibu. Aku sudah sering kali bertemu wanita yang wajahnya cantik, akan tetapi aku tidak tertarik kepada mereka."

"Hemmm, dan bagaimana dengan gadis itu? Apakah dia juga mencintamu sebesar cintamu kepadanya?"

"Menurut pengakuannya begitu, Ibu. Dan juga sudah terbukti dari sepak terjangnya saat menolongku. Aku percaya sepenuhnya kepadanya!"

"Hemmm, cinta memang dapat memabukkan manusia, anakku. Baiklah, aku tidak akan terpengaruh oleh baik buruknya muka calon mantuku. Aku sudah merasa puas asal diperbolehkan melihatnya sendiri dengan mataku.”

"Kalau begitu, biar kupanggil dia menghadap Ibu," kata Keng Han yang segera keluar dari kamar ibunya dan mencari Cu In di dalam kamar yang disediakan untuk gadis itu.

Dia mengetuk pintu. Cu In membukanya dari dalam. "Cu In, apa yang kukhawatirkan telah terjadi," katanya dengan gelisah.

"Apakah itu, Han-ko?"

"Ibu ingin bicara denganmu, ingin bertemu dan ingin melihat wajahmu, In-moi!"

Tadinya Keng Han menduga bahwa kekasihnya tentu akan menjadi gugup dan gelisah pula. Akan tetapi dia kecelik. Cu In sama sekali tak nampak gugup atau gelisah, bahkan sepasang matanya berseri-seri.

"Kalau memang itu yang ibumu kehendaki, aku harus menghadapnya sekarang juga, Han-ko," katanya sambil bangkit berdiri.

Keng Han memegang pundaknya. "Tetapi kau... kau harus siap kalau ibuku terkejut, bahkan menolakmu. Jangan sampai perasaanmu tertusuk, In-moi."

"Aku tahu, Han-ko. Dan kurasa ibumu tidak akan begitu. Aku percaya sepenuhnya bahwa dia adalah seorang ibu bijaksana. Nah, biar aku menghadapnya, akan tetapi engkau tidak perlu ikut, Han-ko. Aku ingin berdua saja dengan ibumu."

Keng Han maklum. Gadis kekasihnya ini tidak ingin melihat perasaannya terpukul. Maka dia mengangguk dan menunjukkan di mana kamar ibunya. Akan tetapi dia tidak pergi meninggalkan begitu saja. Dia tetap melihat dari situ, siap untuk menghibur kekasihnya kalau nanti keluar sambil menangis.

Dengan langkah yang tegap Cu In menghampiri kamar Silani dan mengetuk pintunya.

"Siapa?" terdengar wanita itu bertanya dari dalam.

"Saya, Bibi. Saya Cu In, ingin menghadap dan bicara dengan Bibi."

"Ahhh, engkau Cu In, pintunya tidak terkunci, buka saja dan masuklah."

Cu In mendorong pintu kamar dan masuk. Jantung Keng Han berdebar tegang melihat gadis itu memasuki kamar ibunya. Dia memandang pintu kamar itu penuh perhatian, seolah pandang matanya ingin menembus pintu dan melihat apa yang terjadi di dalam.

Dia mengira bahwa tidak lama kemudian akan mendengar teriakan ibunya, lalu disusul keluarnya Cu In sambil menangis. Akan tetapi hal seperti yang dia khawatirkan itu tidak terjadi. Setelah menanti sampai lama sekali, akhirnya daun pintu terbuka dan Keng Han sudah siap menyambut dan menghibur kekasihnya yang keluar sambil menangis.

Akan tetapi kembali Keng Han kecelik. Gadis itu keluar tidak menangis, bahkan kedua matanya bersinar-sinar, diikuti ibunya yang juga tersenyum-senyum.

Keng Han menyongsong mereka dan bertanya kepada ibunya. "Ibu, apakah Ibu sudah melihat wajah Cu In? Bagaimana pendapat Ibu?”

"Keng Han, manusia tidak dapat dinilai dari cantik tidaknya wajahnya, melainkan dari budi pekertinya. Aku mendapatkan bahwa calon isterimu ini seorang yang bijaksana. Engkau memang pandai dan cocok sekali memilihnya sebagai isterimu."

"Akan tetapi, wajahnya...?" Saking herannya Keng Han bertanya.

"Jangan mempersoalkan tentang wajah. Melihat ia seorang gadis yang bijaksana sudah cukup bagiku!"

"Terima kasih, Ibu!" Keng Han girang bukan main, "Akan tetapi aku belum meminang dia dengan resmi kepada ayah bundanya, Ibu."

"Kenapa begitu?"

"Karena aku ingin memberi tahu dulu kepada Ibu dan minta persetujuan Ibu."

"Aku menyetujui sepenuhnya dan cepat-cepat engkau melamarnya, Keng Han. Karena ibumu berada di tempat jauh, biar engkau saja melamar sendiri. Kalau sudah menikah aku harap kalian suka menjenguk ibumu."

"Tentu saja, Ibu!"

Demikianlah, setelah tinggal di rumah ibunya sampai dua pekan, Keng Han dan Cu In kembali melakukan perjalanan ke timur, menuju ke kota raja.

Hati Keng Han gembira bukan main. Satu-satunya persoalan yang selama ini sangat mengganggu pikirannya adalah bagaimana jika ibunya melihat wajah Cu In yang cacat. Dia khawatir kalau-kalau ibunya akan menolaknya. Akan tetapi ternyata tidak. Ibunya menerima kenyataan itu dengan hati terbuka, dengan bijaksana.

Akan tetapi baru saja dia kematian ayahnya. Untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang putera, ketika mereka diterima oleh Panglima The dan membicarakan tentang perjodohannya dengan Cu In, dia mengatakan bahwa untuk melaksanakan pernikahan dia harus menunggu setahun setelah kematian ayahnya.

Mendengar ini, Panglima The bahkan mengagumi calon menantunya dan menyatakan setuju. Demikian pula Ang Hwa Nio-nio, sepenuhnya menyetujui. Cu In sendiri tentu saja merasa senang melihat calon suaminya membuktikan bahwa dirinya seorang anak yang berbakti.

Beberapa bulan kemudian, Keng Han dan Cu In menerima undangan dari Toat-beng Kiam-sian Lo Cit yang menikahkan Lo Siu Lan dengan Tang Hun, dan Gan Bu Tong dengan Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok. Perayaan mempelai kembar itu sangat meriah. Mereka juga menghadiri pernikahan yang dirayakan secara besar-besaran antara Cia Kun dan Tao Kwi Hong sebagai mempelai bangsawan.

Setelah lewat setahun meninggalnya Pangeran Tao Seng, maka pernikahan antara Cu In dan Keng Han dapat dilaksanakan. Semua tamu merasa heran karena mempelai wanita tetap memakai cadar.

Setelah sepasang mempelai berada berdua saja di dalam kamar, Keng Han hendak membuka cadar isterinya. "Jangan dulu, Han-ko!"

"Ehhh? Kenapa, In-moi? Bukankah engkau berjanji akan membuka cadar setelah kita menikah?"

"Nanti dulu, berjanjilah dulu bahwa engkau akan tetap mencintaku, bagaimana pun juga rupaku!"

"Ha-ha-ha, In-moi. Aku sudah pernah melihat wajahmu. Apakah ada perubahan yang kau lihat dalam sikapku kepadamu? Aku tetap mencintamu, bagaimana pun juga bentuk wajahmu."

"Benarkah? Engkau berani bersumpah?"

"Aku bersumpah, disaksikan Tuhan, Langit dan Bumi, bahwa aku akan tetap mencinta dirimu seutuhnya, bagaimana pun juga bentuk wajahmu!" kata Keng Han dengan suara tegas.

Terdengar gadis itu terisak. "Dan aku... aku pun hanya isterimu yang buruk dan bodoh, aku... aku selamanya mencintamu! Nah, sekarang bukalah cadarku, perlahan-lahan saja, Han-ko!"

Meski pun dia sudah tahu bahwa dari atas hidung ke bawah, wajah isterinya ini cacat menghitam, akan tetapi kedua tangannya gemetar juga ketika dia membuka cadar, disingkapkan ke atas. Setelah cadar dibuka, Keng Han meloncat ke belakang seperti diserang ular.

"Kau... kau... kau bukan Cu In!" Keng Han menatap wajah yang cantik jelita itu. "Siapa engkau...?"

Wanita itu menutupkan kembali cadarnya. "Aku adalah The Cu In, Han-ko. Engkau ini mengapakah?"

"Tapi, tetapi... wajahmu itu...!" Kembali dia menyingkap cadar itu, bahkan merenggut lepas dari kepala Cu In. "Engkau... benarkah engkau Cu In isteriku?"

Cu In bangkit berdiri dan tersenyum manis sekali. "Aku memang Cu In, isterimu. Dan mulai malam ini aku meninggalkan cadarku, juga menghapus penyamaranku."

"Jadi selama ini engkau menyamar? Mengapa engkau tega membohongi aku dengan menyamar sebagai gadis yang cacat mukanya?"

"Aku memang sengaja hendak menguji cintamu, Han-ko. Akan tetapi ternyata engkau tetap mencintaku dengan wajahku yang buruk. Aku... aku bersyukur dan berterima kasih sekali, suamiku..."

Keng Han melangkah maju dan merangkul Cu In yang menyembunyikan mukanya di dada suaminya sambil menangis.

"Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau selama ini menyamar sebagai dara yang cacat mukanya dan mengenakan cadar?"

"Semua ini gara-gara sikap ibuku. Ibuku selalu menceritakan bahwa semua laki-laki itu jahat, bagaikan kumbang yang sesudah puas menghisap madunya kembang kemudian meninggalkannya begitu saja. Aku lalu menyamar sebagai seorang gadis yang buruk muka karena cacar, lalu memakai cadar supaya jangan ada laki-laki mencintaku. Tidak tahunya muncullah engkau, laki-laki bodoh yang jatuh cinta kepadaku! Tidak ada yang mengetahui rahasiaku ini kecuali ibuku. Suciku sendiri pun tidak pernah tahu. Yang mengetahui hanya ibuku dan ibumu."

"Ibuku...?"

"Ya, ibumu. Lupakah engkau betapa ibumu ingin melihat mukaku? Nah, ketika itulah aku melepas penyamaranku sehingga ibumu dapat melihat wajah asliku. Akan tetapi aku berpesan agar beliau tidak membuka rahasiaku, juga tidak kepadamu."

"Ihh, engkau nakal, In-moi!" kata Keng Han sambil menciumnya. "Kenapa engkau terus menyembunyikan dariku pada hal engkau tahu bahwa bagaimana pun rupamu aku tetap mencintamu?"

"Aku ingin menguji cintamu sampai penghabisan, sampai kita menikah. Apakah engkau tidak senang melihat aku tidak cacat?"

"Tidak senang? Tentu saja aku bahagia sekali karena kalau begini aku tidak perlu menghajar orang!"

"Menghajar orang?"

"Ya, kalau engkau sudah membuka cadarmu dan ada orang yang mengejekmu, pasti kuhajar orang itu. Akan tetapi sekarang tidak akan, tidak ada yang mengejekmu, yang ada hanya memuji mu."

Keng Han lalu merenggangkan dirinya dan memegang wajah itu pada kedua pipinya untuk dipandang dengan penuh perhatian. Hatinya menjadi sebesar gunung karena wajah isterinya benar-benar cantik seperti bidadari.

"Kenapa engkau...?"
"Mengagumi wajahmu yang begitu cantik bagaikan seorang dewi turun dari kahyangan saja."
"Ihhh, engkau membuat aku malu!"
"Biar, inilah sebagai hukuman mu menggoda ku semenjak dahulu!" kata Keng Han sambil mendekatkan mukanya dan mencium isterinya.


TAMAT


Share Juga Ya Ke Teman-Teman Sosmed:

ARTIKEL TERKAIT

Previous
Next Post »