Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 07
KEDATANGAN ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai tujuan tertentu. Dan mereka tidak mungkin menyelesaikan masalahnya begitu saja. Tetapi asal bisa mendapat kesempatan untuk mengatur nafas dan menjaga pintu batu agar mereka tidak menerobos masuk ke dalam, sudah lebih dari cukup.
Karena itu, Seebun Jit tidak memperdulikan keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-hahak. Setelah tertawa beberapa saat, dia mengayunkan golok di tangannya. "Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?" ujarnya dengan suara keras.
Sesaat ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh oleh sikap Seebun Jit. Mereka saling pandang sekilas, kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan mengeluarkan suara tertawa dingin. "Hem! Jangan senang dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti datang kembali! Tunggu saja!"
Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak. "Biar kapan pun kalian datang, asal aku..." Seebun Jit mengerutkan kening sedikit saja."Kata-kata yang bagus!" Sembari memapah kedua orang saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada Seebun Jit. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit. Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin Hua kok.
Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi menyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping..Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi. Diam-diam Seebun Jit menarik nafas panjang. Darah yang bergejolak di dalam dadanya sejak tadi, langsung tercurah keluar setelah perasaannya lebih lega. "Hooakkkk!!!!"
Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih. Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua dalam waktu yang singkat. Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit menggunakan goloknya untuk menopang dirinya. Baru saja kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah sudah terdengar suara batuk-batuk kecil.
Seebun Jit tersentak kaget. Diam-diam hatinya khawatir, apabila di saat seperti ini datang lagi seorang musuh yang tangguh. Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya. Cepat-cepat dia menghapus darah di sudut bibir dan jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya kembali, tampak di mulut lembah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering. Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular hijau yang bentuknya aneh. Ekor ular itu malah melilit di lehernya. Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.
Seebun Jit memaksakan dirinya untuk mengembangkan seulas senyuman. "Leng Coa sian sing, ada keperiuan apa berkunjung ke Gin Hua kok?" Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang berkecimpung di dunia kangouw sehingga orang-orang yang tahu namanya pun sedikit sekali, tetapi ilmunya memang tinggi sekali.
"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak ringan?" ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang yang satu ini. Karena itu dia tertawa getir. "Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperluan apa Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua kok ini?"
Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh. Mimik wajahnya sungguh mencurigakan. "Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?" Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah lencana berbentuk segi tiga yang ukurannya sebesar telapak tangan. Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya putih keperakan.
Seebun Jit tertegun melihatnya. "Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia bu-lim, siapa yang tidak kenal apa lagi tidak tahu?"
"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"
Seebun Jit terkejut sekali. "Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu. Benda yang demikian berharga, mengapa kau menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"
"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai pertimbangan sendiri."
Diam-diam Seebun Jit berpikir dalam hati, dia begitu memperhatikan Lie Cun Ju justru karena dia mengenali pemuda itu sebagai putra tocu Hek Cui to, sahabatnya. Tetapi mengapa ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung dan Leng Coa sian sing juga menginginkannya?
"Sahabat Seebun, apakah kau berani membantah perkataan kokcumu sendiri?" tanya Leng Coa sian sing sambil menggoyang-goyangkan lencana di tangannya. Sinarnya semakin berkilauan.
Seebun Jit mengangkat bahunya. "Sayang orangnya sudah tidak ada di sini, apalagi yang dapat aku lakukan?"
Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak. "Tadi ketika kau bertarung dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung, orangnya masih ada di dalam lembah, kok tiba-tiba bisa tidak ada?"
Mendengar ucapan itu, diam-diam hati Seebun Jit terkesiap. Dia langsung tersadar bahwa kedatangan Leng Coa sian sing ini bersamaan waktunya dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung. Hanya saja dia sengaja menyembunyikan diri dan menunggu kesempatan baik! Meskipun Seebun Jit belum mengerti mengapa Leng Coa sian sing dan Tiga Iblis dari Keluarga Lung menginginkan Lie Cun Ju, hatinya yakin mereka pasti berniat tidak baik. Karena itu, dia segera menenangkan hatinya.
"Leng Coa sian sing hanya tahu soal satunya tetapi tidak tahu mengenai yang lainnya. Ketika Tiga Iblis dari Keluarga Lung datang, sebetulnya Lie Cun Ju sudah tidak ada di sini, aku hanya ingin mempermainkan mereka saja!" sahut Seebun Jit.
Leng Coa sian sing merentangkan kedua tangannya kemudian mengangkat bahunya. "Kalau kau bisa mempermainkan tiga iblis dari keluarga Lung, berarti kau juga bisa saja mempermainkan aku. Pokoknya aku tidak percaya apa yang kau katakan. Aku ingin memeriksa seluruh lembah ini."
Seebun Jit tertegun sejenak. "Berani-beraninya kau!" bentaknya.
Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak. "Dengan adanya lencana ini, kedudukanku sekarang sama dengan kokcu lembah ini. Kau yang berani-berani menentang pemegang lencana perak!" sahutnya.
Diam-diam Seebun Jit mengeluh dalam hati. Dia melihat Leng Coa sian sing membawa lencana perak. Seandainya sampai terjadi perkelahian dengan orang itu dan diketahui oleh I Ki Hu, pasti Raja Iblis itu akan marah besar. Sama saja mengundang bencana. Karena I Ki Hu sudah menyatakan dengan tegas bahwa bertemu dengan pemegang lencana perak, tidak perduli siapa pun, ibarat bertemu dengan dirinya sendiri. Dengan demikian siapa pun tidak boleh menentang pemegang lencana itu.
Tetapi Seebun Jit pernah menerima budi besar dari tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Dan sekarang dia berhasil menemukan putranya yang selamat tempo dulu. Mana mungkin dia menyerahkan Lie Cun Ju kepada Leng Coa sian sing ini? Karena itu, dia menyurut mundur dua langkah dan menggetarkan golok di tangannya.
"Leng Coa sian sing, kalau kau tetap berkeras ingin menggunakan lencana itu untuk menekan aku, maka aku juga tidak akan sungkan lagi!"
Kembali Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak. "Sahabat Seebun, sekarang kau sedang terluka parah, tetapi masih berlagak gagah. Kau bisa menggertak tiga iblis dari keluarga Lung sampai mereka mengundurkan diri. Tetapi kau tidak bisa menggertak aku. Apabila dalam tiga jurus, aku tidak dapat membuatmu terkapar di atas tanah menjadi mayat, benar-benar percuma nama besar Leng Coa sian sing yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini."
Pergelangan tangan Leng Coa sian sing bergerak, ternyata dia melemparkan ular yang sebagian melilit di lehernya itu ke depan. Ular itu seperti seutas cambuk lemas yang meluncur mengincar pundak Seebun Jit.
Melihat sikap dirinya yang berlagak gagah tidak sanggup menggertak Leng Coa sian sing, diam-diam hati Seebun Jit tercekat. Ketika mengetahui Leng Coa sian sing menggunakan ularnya sebagai senjata, apalagi ular itu sedang meluncur kepadanya, cepat-cepat Seebun Jit membungkukkan tubuhnya sedikit sembari memaksakan dirinya sendiri menghimpun hawa murni dalam tubuh.
Golok di tangannya segera diangkat ke atas. Tampak cahaya berkilauan saat golok itu menyambut tubuh ular yang sedang meluncur ke arahnya. Leng Coa sian sing menghentakkan tubuh ular dari atas ke bawah. Jurus-jurus kedua orang itu dilakukan dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh pandangan mata. Ujung golok bekelebat dan tepat mengenai tubuh ular itu.
Hati Seebun Jit merasa gembira melihat goloknya berhasil menebas tubuh ular itu. Dia yakin ketajaman goloknya pasti akan memutus tubuh binatang melata yang dijadikan senjata oleh Leng Coa sian sing. Diam-diam dia berpikir dalam hati, setelah ular itu terputus menjadi dua, dia baru menentukan kembali langkah berikutnya.
Ternyata perkembangannya justru di luar dugaan Seebun Jit. Meskipun ketika goloknya bergerak ke atas tepat mengenai tubuh ular itu, tetapi Seebun Jit merasakan bahwa tenaga dorongan ular itu besar sekali, menyebabkan kakinya terhuyung-huyung setengah tindak ke belakang. Dalam keadaan panik, dia sempat mendongakkan wajahnya melihat sekilas.
Ternyata goloknya berada di bawah perut ular itu. Hatinya terkesiap setelah melihat tubuh ular tetap utuh. Bahkan ular itu makin bertambah marah. Ditekannya golok itu kuat-kuat. Tapi tekanan itu membuat kepala ular menjadi semakin menjulur ke depan dan menunduk mengincar jalan darah terpenting di ubun-ubun kepala Seebun Jit. Bukan main rasa terkejut Seebun Jit saat itu. Cepat-cepat dia mengangkat cambuk di tangan kanannya, kemudian dilecutkannya ke atas sembari memiringkan kepalanya menghindari serangan ular.
Tetapi dia terlambat juga, sehingga jalan darah di bagian samping kepalanya terpatuk juga oleh ular itu. Seebun Jit merasa di bagian samping kepalanya laksana tertimpa besi yang berat. Bagian kepala sebelah mana pun merupakan tempat yang paling membahayakan apabila terbentur. Memang tidak separah ubun-ubun kepala, tapi tetap saja membawa pengaruh yang hebat.
Begitu kepalanya terpatuk mulut ular itu, Seebun Jit merasa telinganya berdengung. Matanya berkunang-kunang. Kakinya limbung. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai tujuh-delapan tindak baru dapat berdiri dengan mantap. Luka yang diderita oleh Seebun Jit semakin parah. Meskipun dia tokoh kelas satu dari golongan hitam, tapi luka yang dideritanya membawa pengaruh hebat. Untung saja tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, sehingga sesaat dia masih bisa mempertahankan diri.
Sepasang matanya menatap ke arah Leng Coa sian sing lekat-lekat. Tampak Leng Coa sian sing tetap maju menghampirinya, Seebun Jit segera mengeluarkan suara bentakan. Baru saja dia ingin melancarkan serangan dengan tiba-tiba, untuk dapat meraih keuntungan di kala Leng Coa sian sing belum siap, tetapi tidak mendapatkan kesempatan sedikit pun.
Wajah Leng Coa sian sing mengembangkan senyuman yang licik. Kelima jari tangannya mengencang pada bagian ekor ular. Jelas saja ular itu kesakitan dan tiba-tiba menyentakkan kepalanya ke atas lalu diserudukkan ke bagian dada Seebun Jit. Ular berbisa itu merupakan jenis yang langka. Warna kulitnya bertotol-totol hijau sehingga tampak bagus sekali. Kulitnya keras sekali, bahkan merupakan ular yang kulitnya paling tebal dan keras di antara seluruh jenis ular yang ada di dunia ini.
Karena itu pula, walaupun golok Seebun Jit sangat tajam, tetap saja tidak sanggup melukainya sedikit pun. Lagipula tenaga ular itu kuat sekali. Leng Coa sian sing menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengintai goa tempat bersemayam ular itu di daerah Cin Lam. Baru kemudian berhasil menangkapnya. Begitu sayangnya Leng Coa sian sing kepada ular yang satu itu sehingga dia memandangnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri.
Dia memberi nama kepada ular itu dengan sebutan 'Cambuk kumala'. Mungkin karena warna kulitnya yang mirip dengan batu kumala. Justru dari nama yang diberikannya itu pula, Leng Coa sian sing mendapat ilham untuk menggunakannya sebagai senjata. Kekuatan tenaga ular itu tidak kalah dengan seekor harimau ataupun singa. Begitu membentur dada Seebun Jit yang tidak sempat menghindarinya, kembali dia menderita luka parah. Seebun Jit langsung terkulai di atas tanah tanpa sanggup berdiri lagi.
Leng Coa sian sing mengeluarkan suara dengusan dan maju beberapa Iangkah. "Seebun Jit, tanyakan pada dirimu sendiri apakah kau masih sanggup menyambut jurus ketigaku?" bentaknya sinis.
Seebun Jit memaksakan diri untuk mengatur pernafasannya. Beberapa kali dia berusaha bangkit, tetapi karena luka yang dideritanya terlalu parah, tenaganya tidak ada sama sekali. Akhirnya dia tetap terkulai di atas tanah dengan sepasang mata menyiratkan kegusaran. "Leng... Coa.... sian sing, mengapa... jurus.... keti gamu... belum... dilancarkan juga?"
"Bagus! Kau benar-benar tidak malu disebut seorang laki-Iaki sejati. Tetapi aku justru ingin melihat sampai di mana kekerasan hatimu."
Mendengar kata-katanya, Seebun Jit yakin Leng Coa sian sing tidak akan membunuhnya langsung. Mungkin dia akan menggunakan cara yang keji untuk menyiksanya. Pikirannya lalu tergerak, seandainya dia dapat menghadapi Leng Coa sian sing, tetap saja dia tidak bisa menghindarkan diri dari tiga iblis keluarga Lung yang akan datang kembali. Lebih baik menggunakan kesempatan di saat jalan darahnya belum tertotok oleh lawan untuk memutuskan urat nadinya sendiri.
Lagi pula mereka belum tentu dapat menemukan Lie Cun Ju yang disembunyikan di dalam ruangan batu. Dengan demikian dia tidak perlu menerima berbagai penderitaan sebelum terbunuh. Setelah mengambil keputusan, Seebun Jit langsung bermaksud menggunakan sisa tenaganya untuk memutuskan seluruh urat nadi di tubuhnya untuk membunuh diri.
Tiba-tiba dari luar lembah Gin Hua kok berkumandang suara derap kaki kuda. Baik Leng Coa sian sing maupun Seebun Jit adalah tokoh-tokoh yang bepengetahuan luas. Begitu mendengar suara derap kaki kuda, mereka langsung sadar bahwa tujuan orang itu pasti Gin Hua kok. Tanpa dapat ditahan lagi keduanya jadi tertegun.
Di saat keduanya masih termangu-mangu, suara derap kaki kuda itu sudah semakin mendekat. Kemudian tampak sesosok bayangan berkelebat, orang yang menunggang kuda itu sudah sampai di mulut lembah Gin Hua kok. Serentak Leng Coa sian sing dan Seebun Jit menolehkan kepalanya ke arah mulut lembah. Mereka melihat seekor kuda yang bersih mulus berwarna putih keperak-perakan dengan seorang gadis yang memegang pecut berwarna sama melaju datang secepat kilat.
Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi putri si Raja Iblis I Ki Hu yaitu I Giok Hong. Begitu melihat I Giok Hong, hati Leng Coa sian sing berkebat-kebit. Dia khawatir I Ki Hu juga menyusul dibelakang. Begitu terkejutnya kakek itu, sehingga kakinya menyurut mundur satu langkah.
I Giok Hong hanya berhenti sebentar di depan lembah. Kemudian mengayunkan pecutnya dan melesat datang. Gerakan pecutnya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sedikitpun. Secepat kilat melayang kearah Leng Coa Sian Sing. Manusia pecinta ular itu menghindarkan dirinya dengan panik. Gerakan pecut I Giok Hong yang tampaknya lemah itu justru berkelebat bagai cahaya kilat.
Trak!! Tahu-tahu lencana ditangan Leng Coa sian sing sudah terbelit oleh pecutnya dan melayang kembali kearah I Giok Hong. Wajah Leng Coa sian sing langsung berubah hebat. Kakinya terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.
"...kouwnio, lencana itu kau sendiri yang memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang kau mengambilnya kembali?" kata Leng Coa sian sing gugup.
I Giok Hong mendengus dingin. Lencana itu dimasukkan kedalam saku pakaiannya kemudian pecutnya diayunkan kembali. "Leng Coa sian sing, setelah menerima lencana ayahku ini, ternyata kau berani mengumbar lagakmu di lembah Gin Hua kok. Cepat pergi dari sini!"
Selembar wajah Leng Coa sian sing tampak merah padam bagai dilumuri darah. Perlahan-lahan dia mengundurkan diri. Sesampainya di mulut lembah, dia melongokkan kepalanya. Keadaan diluar lembah sunyi senyap. Tampaknya I KI Hu tidak mengiringi kepulangan putrinya I Giok Hong.
Ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga kadang-kadang kedatangan dan kepergiannya persis setan gentayangan yang tidak menimbulkan jejak dan suara sedikitpun. Kalau dilihat dari keadaan sekarag, tampaknya I Giok Hong memang hanya seorang diri. Tetapi siapa tahu si Raja Iblis itu bersembunyi disuatu tempat dan belum mau menampakkan dirinya. Meskipun hati Leng Coa sian sing mendongkol sekali, tetapi apabila dia sampai bergebrak dengan I Giok Hong, ada kemungkina I Ki Hu bisa muncul setiap saat.
Keadaan itu seperti perjudian yang hanya memegang besar atau kecil. Hanya ada kemungkianan yang taruhannya bukan uang atau harta benda yang dapat dicari penggantinya, tapi nyawanya sendiri. Karena itu Leng Coa sian sing termenung beberapa saat. Akhirnya dia tidak berani berspekulasi. Dia melilitkan sebagian tubuh dan ekor 'cambuk kumala' ke lehernya. Tubuhnya berkelebat dan menghilang di luar lembah.
Sebetulnya kakek Leng Coa sian sing tidak kembali ke Leng Coa ki (tempat tinggalnya). Dia hanya berlari ke tempat yang agak jauh kemudian kembali lagi dengan mengambil jalan memutar. Dia menyembunyikan dirinya di sekitar mulut lembah dan tidak berani masuk ke dalam.
Sejak kecil Leng Coa sian sing senang memelihara ular. Semua kepandaian yang dimilikinya sekarang merupakan ilmu yang didapatkannya dengan meniru gerak gerik ular. Bahkan ilmu ginkangnya lain daripada yang lain. Dia dapat merayap di atas tanah dan pulang pergi seperti melayang di atas tanah dengan tubuh tiarap. Bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun. Meskipun di luar lembah Gin Hua kok terdapat banyak pasir, tempat yang dilaluinya tidak meninggalkan jejak kaki sedikit pun karena dia bukan berjalan tapi melata seperti ular.
Setelah Leng Coa sian sing meninggalkan tempat itu, Seebun Jit baru bisa menghembuskan nafas lega. Dia mendongakkan kepalanya. "Siocia, kedatanganmu sungguh tepat, sehingga selembar nyawaku ini tertolong."
Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas, seakan ia sedang ada keperluan penting. "Siok-siok, kemana bocah she Li itu? Cepat suruh dia keluar, ayahku ingin menemuinya," tukas I Giok Hong.
Hati Seebun Jit langsung tertegun. Dia mengeluh dalam hati. "Aku berkelahi melawan tiga iblis dad keluarga Lung dan Leng Coa sian sing mati-matian justru karena ingin mempertahankan Lie Cun Ju. Tetapi kalau dilihat dari sikap I Giok Hong yang kalang kabut ini, tampaknya I Ki Hu juga mengandung niat tidak baik. Seebun Jit menarik nafas panjang.
"Siocia, aku yang bersalah. Setelah kalian pergi, tidak lama datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri." Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang cerita bohong, tetapi nada suaranya sedikit pun tidak meragukan.
Namun I Giok Hong seorang gadis yang luar biasa cerdasnya. Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan suara tertawa dingin. "Siok-siok, kau sedang mendustai aku."
"Siocia, masa hamba mempunyai nyali sebesar itu? Dia benar-benar sudah melarikan diri."
Wajah I Giok Hong berubah menjadi angker. "Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Gin Hoa Kok. Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, tia menahan kau disini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggil kau siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam, aku tidak akan membiarkannya," katanya.
Ketika Seebun Jit bermaksud berdebat, I Giok Hong sudah mengayunkan pecutnya ke atas tanah kemudian membalikkan tubuh dan berjalan pergi. Seebun Jit segera menolehkan kepalanya. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya mengeluh celaka. Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu tempat Lie Cun Ju disembunyikan.
Di depan goa batu itu memang telah diganjal dengan sebuah batu besar. Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali. Batu besar itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu. "Socia, tunggu dulu!" teriak Seebun Jit.
I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa cekikikan. "Rupanya kau menyimpan pemuda itu di goa batu tempat tinggalmu," katanya.
Seebun Jit langsung tertegun. Sekarang dia baru sadar bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah dengan I Giok Hong. Bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh. Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju disembunyikan. Tetapi saking paniknya Seebu Jit berteriak, itu sama halnya dengan memberitahukan kepada I Giok Hong.
Akhirnya Seebun Jit hanya dapat menarik nafas panjang. Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan menumpu diatas tanah. Dia berdiri juga berjalan maju beberapa langkah kemudian bersandar pada batang pohon.
Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu. Pecut ditangannya diayunkan, Tar! Sekali gerak saja batu besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti ledakan bom. Batu besar yang beratnya paling tidak dua-tiga ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah berhamburan.
Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu goa. Sekonyong-konyong batu besar yang mengganjal di depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan. Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda kearahnya. Tetapi ia bahkan menerjang kedepan. Melihat keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai mengeluarkan suara seruan terkejut.
Tetapi I Giok Hong sejak kecil memang sudah dilatih keras oleh ayahnya. Ilmu yang dimilikinya sesungguhnya tinggi sekali apabila mengingat usianya yang masih demikian muda. Tubuhnya berdiri tegak. Tangannya masih menggenggam pecut peraknya.
Sedangkan tali pecut itu masih melilit batu besar tadi. Secepat kilat tangannya begerak mengayunkan pecut lalu ia sendiri menghindar ke samping sejauh beberapa tindak. Pintu batu itu langsung terbuka karena batu yang mengganjalnya sudah pecah berantakan.
Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat. Cahaya pedang berkilauan. Bahkan siapa sosok yang menerjang keluar itu, I Giok Hong masih belum sempat melihat dengan jelas. Tahu-tahu sinar pedang sudah melintas dan meluncur ke arah dadanya.
"Bagus sekali," bentak I Giok Hong. Saat itu juga dia menarik nafas kemudian menyurutkan dadanya ke belakang. Pedang itu masih terus mengincarnya. Bahkan begitu sampai di depannya tampak pedang itu dijungkitkan sedikit ke atas.
Sret! Pakaian di dadanya langsung terkoyak sepanjang tiga cun. Wajah I Giok Hong yang cantik jelita langsung merah padam. Tanpa menunda waktu lagi dia segera mengayunkan pecutnya untuk melilit pedang panjang itu kemudian ditariknya sekuat tenaga.
Sosok yang menggenggam pedang itu dapat merasakan senjatanya terlilit oleh pecut lawan. Tentu saja dia tidak sudi membiarkannya, orang itu menghentakkan pergelangan tangannya kebelakang. Ternyata gerakan ini tidak menguntungkan pihak mana pun.
Hati mereka sama-sama terkesiap. Gebrakan mereka terjadi secara spontan. Kedua orang itu saling tidak sempat memperhatikan siapa lawannya. Sampai saat itu, mata mereka baru bertemu pandang. Masing-masing mendongakkan kepalanya dan sama-sama tertegun.
Diam-diam I Giok Hong mengeluarkan seruan terkejut di dalam hatinya. Pemuda ini tampan sekali, pikirnya. Rupanya orang yang bergebrak dengannya adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun dan mempunyai wajah tampan. Tetapi sikap pemuda itu tidak menunjukkan kegagahan.
Bahkan seperti orang yang sedang dilanda pukulan batin yang berat. Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang dan kirinya memanggul seseorang. Orang itu adalah Lie Cun Ju yang menjadi incaran orang banyak.
"Siapa kau?" bentak I Giok Hong.
Pemuda itu malah menarik nafas panjang. "Kouwnio, harap kau membiarkan aku pergi, jangan bertanya apa pun!"
I Giok Hong tertegun mendengar jawabannya. Diam-diam dia memaki dalam hati. Bagus sekali. Kau kira Gin Hua kok ini merupakan tempat yang boleh kau datangi dan kau pergi sesuka hatimu? Hawa murninya diedarkan, tenaga dalamnya disalurkan ke lengan kanan, dia sudah mengerahkan tenaga sebanyak delapan bagian. Kemudian dia menarik lagi pecutnya dengan sekuat tenaga.
Pemuda itu terhuyung-huyung, tubuhnya limbung ke depan. Tetapi di saat itu juga tiba-tiba pedangnya bergerak. Timbul suara dengungan, ternyata dia melancarkan tiga totokan ke bagian dada I Giok Hong. Seebun Jit sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan. Pada mulanya dia juga tidak mengenal siapa pemuda itu. Sampai pada gerakan pedangnya barusan, kakek itu baru terkesiap setengah mati.
"A... pa hubunganmu dengan Pat Sian kiam Tao Cu Hun? Mengapa kau menggunakan jurus Pat sian kiam?" teriak Seebun Jit tanpa sadar.
Mendengar teriakan Seebun Jit, I Giok Hong segera mengendurkan jari tangannya. Pedang dan pecut pun saling terlepas. Kemudian dia memperhatikan pemuda itu dengan seksama, lalu mengeluarkan suara tertawa dingin. "Rupanya kau?" ujar I Giok Hong.
Melihat pedangnya tidak dililit lagi oleh pecut si gadis, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sret! Sret! Sret! Sret! Dalam sekejap mata dia melancarkan empat serangan. Sinar pedang berkilauan dan gerakannya bukan main hebatnya.
Kali ini, I Giok Hong sudah bersiap sedia. Gerakan tubuhnya selincah burung walet mengikuti kelebatan pedang pemuda itu. Dalam keadaan yang benar-benar terjepit, berhasil juga dia menghindari keempat serangan tadi. Saat pedang lawan belum sempat ditarik kembali, matanya mengukur dengan tepat. Tiba-tiba jari tengahnya tampak meluncur ke depan dan menutul bagian tubuh pedang. Terdengar suara Tuk!
Meskipun hanya tutulan sebuah jari tangan, tapi I Giok Hong sudah menggunakan tenaga sebanyak delapan bagian. Saat itu juga, si pemuda merasa pedangnya seperti ditekan oleh batangan besi seberat ribuan kati. Jelas saja pedangnya terpental ke samping namun tidak sampai terlepas.
Tangan kanan pemuda itu memang menggenggam sebatang pedang, dan tangan kirinya memanggul seseorang. Maka begitu pedangnya terhempas ke samping, bagian dada menjadi terbuka. Dalam waktu yang bersamaan, I Giok Hong mengayunkan pecut di tangannya. Sinar perak berkilauan, berkelebat melalui bawah ketiaknya kemudian bergerak melingkar.
Pecut itu laksana aeekor ular yang tiba-tiba sudah melilit dadanya. Semakin lama llitan itu semakin kuat, apalagi setelah I Giok Hong mengerahkan tenaganya. Pemuda itu merasa tulang di sekitar rongga dadanya nyeri sekali sehingga dia berteriak kesakitan. Namun dia tidak ceroboh, Pedang panjangnya dikibaskan ke arah tali pecut itu.
Pedang itu tepat mengenai sasarannya, tetapi pecut lemas itu tidak putus. Pemuda itu dapat merasakan keadaannya yang tidak menguntungkan. Dengan mengikuti gerakan pecut, pedang terus meluncur ke depan dan sekali lagi mengancam pergelangan tangan I Giok Hong.
Jurus yang satu ini dikerahkan sesuai perkembangan yang berlangsung. Sebetulnya tidak ada keistimewaan apa-apa, tetapi dalam keadaan terdesak ternyata bermanfaat sekali. Pedang itu sudah sampai pada sasaran, tetapi saat itu juga terdengar suara trak! Ternyata pergelangan tangan I Giok Hong tidak terluka karena pedang itu tepat mengenai gelang batu giok yang dikenakannya.
I Giok Hong merasa dirinya tidak terluka. Tetapi dia menyadari bahwa ilmu pedang pemuda itu ternyata tidak dapat dipandang ringan. Sama sekali tidak boleh diberi kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu. Cepat-cepat dia menyurut mundur satu langkah. Dengan sepenuh tenaga dia menarik pecutnya, maka tali yang melilit pemuda itu semakin menguat. Terdengar pemuda itu meraung keras-keras kemudian melancarkan sebuah serangan lagi dalam keadaan terdesak.
Pecut di tangan I Giok Hong sudah membentuk lingkaran yang melilit dadanya. Ketika dia mengerahkan tenaga dalamnya, lilitannya semakin menciut. Pemuda itu harnpir tidak dapat menarik nafas karena dadanya terasa sesak. Dengan panik dia mengedarkan hawa murninya dan memberontak sekuat tenaga. Serangannya kali itu dilakukan dalam keadaan kalap. Tentu saja membahayakan sekali.
Tetapi I Giok Hong tetap tenang. Pecutnya ditarik ke samping sehingga gerakan pedang pun meleset dsri sasaran yang sebenarnya. Gadis itu kembali menjulurkan tangan kirinya ke atas dan lagi-lagi terdengar ketukan. Kali ini dia menggunakan tenaga yang lebih besar, sedangkan pemuda itu sudah mulai lemah karena dadanya yang terasa sesak. Seiring dengan suara ketukan itu pedang di tangan si pemuda terpental ke udara.
I Giok Hong merasa bangga sekali. Dia tertawa terbahak-bahak. "Jit siok, coba kau lihat bagaimana permainanku, lumayan bukan?"
Baru saja ucapannya selesai, pergelangan ta¬ngan kanannya menekan ke bawah. Tiba-tiba pecutnya melayang ke atas dan jalan darah di pundak si pemuda sudah tertotok. Setelah itu dia haru mengendorkan lilitannya lalu bergerak ke samping tiga langkah, sikapnya santai sekali. Dia berdiri tegak sambil mengembangkan seulas senyuman manis.
Seebun Jit yang berdiri di samping melihat dengan jelas setiap gerakan tubuh I Giok Hong. Meskipun dia tahu dirinya terlibat permusuhan yang dalam dengan I Ki Hu dan juga tahu kemenangan I Giok Hong yang berhati keji itu pasti membawa bencana baginya dan Lie Cun Ju, tetapi dia juga tidak dapat menahan diri untuk menarik nafas panjang.
"Kepandaian yang hebat," katanya. Meskipun pemuda tadi sudah tertotok jalan darahnya oleh I Giok Hong, tetapi mulutnya masih bisa bersuara. Dia mengedarkan hawa murninya untuk membebaskan dirinya dari totokan. "Untuk apa kau menahan aku di sini?" katanya.
"Aku lihat wajahmu ada kemiripan dengan Tao Ling, lagi pula kau juga pandai memainkan jurus pedang Pat Sian kiam. Mungkinkah kau Tao Heng Kan yang membunuh Li Po di gedung Kuan Hong Siau kemudian melarikan diri menjadi buronan orang-orang kang ouw? Tentunya tebakan itu tidak salah, bukan?" jawab I Giok Hong sambil tersenyum.
Mendengar I Giok Hong menyebut namanya dengan tepat, Tao Heng Kan segera memejamkan matanya dan tidak berkata-kata lagi. Wajah I Giok Hong justru semakin berseri-seri. "Ternyata kau memang Tao Heng Kan. Ini yang dinamakan dicari-cari tidak ketemu, eh tahu-tahunya malah datang sendiri," ujar I Giok Hong.
Tao Heng Kan sudah mengedarkan hawa murninya sebanyak dua kali. Dia merasa jalan darahnya yang tertotok sudah hampir bebas. Karena itu dia segera mengulur waktu agar dapat mengedarkan hawa murninya sekali lagi. Matanya tetap terpejam. Dia bertanya kepada I Giok Hong. "Siapa kau? Untuk apa kau mencariku?"
Ilmu totokan dengan ujung pecut seperti yang dikerahkan I Giok Hong itu, setiap jurusnya mengandung tenaga dalam yang murni. Jalan darah mana pun yang tertotok, tidak mudah dibebaskan dengan hanya mengedarkan hawa murni saja. Kecuali orang yang tenaga dalamnya sudah mencapai taraf kesempurnaan.
I Giok Hong sudah melihat bahwa lawannya adalah putra Pat Sian kiam Tao Cu Hun. Ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukannya, karena itu dia hanya menggunakan tiga bagian ketika menotok jalan darah Tao Heng Kan. Maksudnya agar pemuda itu dapat menjawab pertanyaannya dengan lancar. Tetapi maksud hatinya itu justru memberi kesempatan bagi Tao Heng Kan.
I Giok Hong juga tidak menyadari bahwa tenaga dalam lawannya sudah cukup tinggi, bahwa tidak seberapa jauh apabila dibandingkan dengan dirinya. Apalagi mempunyai dugaan bahwa anak muda itu bisa mengedarkan hawa murninya untuk melepaskan totokannya.
"Tentu saja ada urusan baru aku mencarimu. Aku ingin menanyakan dimana orang tuamu sekarang?" jawab I Giok Hong dengan tawa cekikikan.
"Aku tidak tahu," jawab Tao Heng Kan segera.
Dari sepasang mata I Giok Hong yang indah menyorot sinar yang tajam. "Kau bertanding ilmu dengan putra Pat Kua kim gin kiam Lie Yuan yang bernama Li Po. Mengapa tiba-tiba kau membunuhnya? Apakah demi...." tanyanya.
Baru berkata sampai di sini, Tao Heng Kan sudah mengedarkan hawa murni dalam tubuh untuk ketiga kalinya. Dia merasa tubuhnya menjadi ringan dan sudah bisa bergerak lagi. Tiba-tiba tangannya mengibas dan tiga titik sinar melesat keluar secepat kilat mengincar bagian dada I Giok Hong. Dalam waktu yang bersamaan, kakinya menghentak dan melesat ke samping.
I Giok Hong sedang berbicara dengan Tao Heng Kan, jarak mereka dekat sekali. Mungkin karena dia telah menotok jalan darah pemuda itu sehingga tidak khawtir bisa diserang secara mendadak olehnya. Dia sama sekali tidak membayangkan Tao Heng Kan bisa menembus sendiri jalan darahnya yang tertotok, bahkan menyambitkan tiga batang senjata rahasia kepadanya.
Ilmu kepandaian I Giok Hong saat itu sebetul-nya dapat menandingi jago bu-lim kelas satu yang mana pun. Tetapi dalam keadaan tanpa persiapan sedikit pun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Niatnya ingin mengayunkan pecut di tangannya, tetapi tidak keburu lagi. Terpaksa dia menekuk sepasang kakinya dan berjongkok dengan kepala menunduk.
Ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Tao Heng Kan pun melesat lewat di atas kepalanya. Jaraknya hanya tinggal beberapa cun. Kalau saja gerakannya kurang sigap, pasti saat ini dia sudah terkapar di atas tanah dengan dada tertembus senjata rahasia. Hawa amarah dalam dada I Giok Hong meluap seketika. Cepat-cepat dia bangun dan membalikkan tubuhnya.
Tampak Tao Heng Kan sudah melesat sejauh dua depaan. Kakinya mendarat tepat di samping pedang panjangnya yang dipentalkan oleh I Giok Hong tadi. Kakinya menendang, pedang itu pun mencelat ke atas. Bayangannya seperti pelangi melintas. Pedang itu terbang ke depan, gerak tubuh Tao Heng Kan pun melesat mengikutinya.
Sembari terus berlari, tangannya menjulur ke atas meraih pedang yang sedang melayang turun itu. Jaraknya sudah bertambah dua depa lagi. Tahu-tahu dia sudah mencapai mulut lembah Gin Hua kok. Tanpa menolehkan kepala sedikt pun, dia langsung berlari keluar.
I Giok Hong membentak dengan suara nyaring. "Manusia she Tao! Jangan lari!" Gerakan tubuhnya laksana terbang, dia menghambur ke arah kudanya yang berwarna putih perak. Sekali loncat ia sudah menunggang di atasnya. Pecutnya diayunkan dan menimbulkan suara Tarrr! Baru saja dia ingin melarikan kudanya untuk mengejar Tao Heng Kan, tiba-tiba terdengar Seebun Jit berteriak.
"Siocia! Jangan dikejar!"
Sepasang alis I Giok Hong langsung menjungkit ke atas. Dia mendengus satu kali. "Kau dan dia sama-sama prajurit yang sudah dikalahkan. Setelah aku menyelesaikan persoalanku dengan pemuda itu, aku akan kembali lagi untuk perhitungan denganmu." Sembari berkata, dia menghentakkan tali kendali kudanya kemudian melesat ke depan.
"Siocia, apa yang kukatakan adalah demi kebaikanmu sendiri. Apakah kau melihat senjata rahasia apa.yang disambitkannya tadi?" teriak Seebun Jit dengan gugup.
Sekali lagi I Giok Hong menghentakkan tali kendali kudanya dan memutar arah. Orangnya serta pecut di tangannya menimbulkan cahaya perak yang melingkar sehingga tampak indah sekali. Dia tidak menghentikan gerakannya, namun dari jauh masih terdengar teriakannya.
"Tidak perduli senjata rahasia apa pun yang digunakannya, pokoknya aku harus mengejarnya sampai dapat." Ketika suaranya sirap, orangnya pun sudah menghilang di belokan mulut lembah.
Seebun Jit menarik nafas panjang. Dengan menggunakan goloknya sebagai tongkat, dia berjalan tertatih-tatih sejauh beberapa depa. Kemudian dipungutnya ketiga batang senjata rahasia yang disambitkan Tao Heng Kan tadi. Senjata rahasia itu menyorotkan sinar yang berkilauan. Seebun Jit memungutnya dan memperhatikannya dengan teliti.
Bentuknya benar-benar aneh. Karena tidak sesuai dijadikan senjata rahasia. Panjangnya satu cun lebih. Ternyata benda itu adalah naga-nagaan dari emas murni yang buatannya halus sekali..Seebun Jit masih menggenggam ketiga buah senjata rahasia itu. Lalu dia menolehkan kepalanya kembali ke arah mulut lembah.
Terdengar dia menghela nafas panjang. Baru saja dia ingin memasukkan ketiga buah naga emas tadi ke dalam saku bajunya, tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat di mulut lembah. Rupanya Leng Coa sian sing sudah kembali lagi.
"Seebun Jit, orang yang melihat seharusnya mendapat bagian," kata Leng Coa sian sing.
"Leng Coa sian sing, di tanganku sekarang ada tiga buah naga emas, apakah kau masih berani bergebrak denganku?" sahut Seebun Jit sambil melintangkan goloknya di depan dada.
"Di dalam lembah ini tidak ada orang lain seandainya aku membunuhmu, rasanya tidak mungkin ada yang mengetahui," ucap Leng Coa sian sing dengan tawa cekikikan.
Wajah Seebun Jit tidak menyiratkan perasaan takut sedikit pun. Dia malah tertawa terbahak-bahak. "Leng Coa sian sing, sudah cukup lama kau mengasingkan diri di wilayah barat ini. Kehidupanmu tenang dan damai. Mengapa kau masih ingin menceburkan dirimu dalam kancah dunia bu-lim yang tidak habis-habisnya saling membunuh dan memperebutkan nama kosong? Pemilik naga emas ini bagai dewa yang sakti. Tidak ada hal yang tidak diketahuinya. Apabila kau berniat mengelabuinya, mungkin lebih sulit daripada terbang ke angkasa," kata Seebun Jit.
Wajah Leng Coa sian sing berubah hebat. Tampaknya dalam hati dia merasa agak takut, tetapi dalam sekejap mata penampilannya sudah pulih lagi seperti semula. "Seebun Jit, waktu kematianmu sudah tiba, buat apa kau membuka mulut sesumbar yang tidak-tidak?" Dia melangkah ke depan dua tindak. 'Cambuk kumala' yang rebah di tangannya langsung dikibaskan ke depan, tepat mengenai betis Seebun Jit.
Luka Seebun Jit sudah parah sekali. Dia mempertahankan diri berdiri dengan goloknya sebagai penopang. Begitu kena tersapu, Seebun Jit langsung jatuh ambruk di atas tanah. Leng Coa sian sing maju ke depan satu langkah, kakinya sudah siap menginjak dada lawannya. Tiba-tiba Seebun Jit melihat ada tiga sosok bayangan yang berkelebat di mulut lembah. Diam-diam hatinya merasa girang. "Leng Coa sian sing, ada orang yang datang," katanya.
Pada saat itu Leng Coa sian sing juga sudah mendengar suara langkah kaki. Hatinya tercekat. Apalagi setelah Seebun Jit mengibaskan tangannya melemparkan ketiga buah naga emas itu ke tempat yang jauh. Dalam waktu yang bersamaan, ketiga orang yang tadi berkelebat di mulut lembah juga sudah menghambur ke dalam.
Ternyata memang tiga iblis dari keluarga Lung. Begitu melihat sinar berkilauan melesat lalu terjatuh di atas tanah, mereka segera menghampirinya. Setelah melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah tiga buah naga-nagaan dari emas yang panjangnya satu cun lebih, wajah mereka langsung berseri-seri.
"Tong tian pao Hong! (Naga pusaka penembus langit)." Seru mereka serentak. Setelah mengeluarkan seruan tadi. Tanpa bersepakat lagi ketiganya langsung menerjang ke arah tiga naga emas itu. Leng Coa sian sing yang melihat ketiga iblis dari keluarga Lung akan memungut naga-nagaan dari emas, langsung panik. 'Dia berteriak sekeras-kerasnya.
"Tunggu dulu!" Lupa sudah dia akan tujuan semula yang ingin membunuh Seebun Jit. Tubuh-nya membalik lalu melesat bagai terbang, gerakan-nya memutar bagai angin topan. Setelah tujuh-delapan kali putaran, dia langsung menerjang ke arah tiga iblis dari keluarga Lung. 'Cambuk kumala' di tangannya mengeluarkan suara desisan yang aneh. Binatang itu menjulurkan kepalanya dan menyapu tiga orang itu.
Tiga iblis dari keluarga Lung mengeluarkan suara pekikan yang menyeramkan. Mereka melon-cat ke samping untuk menghindarkan diri. Tetapi sekejap kemudian mereka berkumpul kembali dan mengurung Leng Coa sian sing. Keempat orang itu pun terlibat perkelahian yang seru. Tampak ba-yangan manusia berkelebat kesana kemari. Bayangan ular yang mirip pecut lemas juga bergerak kian kemari. Pertarungan itu sungguh sengit.
Sedangkan ketiga naga-nagaan dari emas itu belum sempat dipungut oleh siapapun dan masih menggeletak di atas tanah. Seebun Jit melihat keempat musuhnya terlihat dalam perkelahian yang seru. Matanya menatap lekat-lekat pada ketiga naga-nagaan dari emas yang tergeletak di atas tanah. Hatinya timbul perasaan sayang. Ketiga naga-nagaan dari emas itu merupakan benda yang diinginkan setiap tokoh persilatan di bulim. Sekarang benda itu justru hanya berjarak tiga-empat depa di hadapannya.
Seebun Jit juga tahu, apabila dia merayap ke depan untuk memungut ketiga naga-nagaan dari emas itu, tiga iblis dari keluarga Lung beserta Leng Coa sian sing yang terlibat perbentrokan justru karena benda yang sama, pasti tidak akan membiarkannya. Bisa jadi mereka malah bersatu untuk mengeroyok dirinya.
Dengan kata lain, meskipun Seebun Jit bisa mendapatkan ketiga naga-nagaan dari emas itu, dia pasti terbunuh di dalam lembah Gin Hua kok. Menurut cerita yang tersebar di dunia kang ouw, naga-nagaan yang sejenis jumlahnya ada tujuh buah. Walaupun dia bisa mendapatkan semuanya sekaligus, namun kalau akibatnya seperti itu, apa gunanya?
Seebun Jit merenung dengan termangu-mangu sekian lama. Leng Coa sian sing dan tiga iblis dari keluarga Lung yang bertarung mati-matian juga tidak memperhatikan gerak gerik Seebun Jit.
Sebenarnya tidak ada kesulitan bagi tiga iblis untuk mengalahkan Leng Coa sian sing. Semestinya manusia pemelihara ular itu sudah bisa dikalahkan sejak tadi. Namun karena sebelumnya Lung Sen dan Lung Ping pernah terluka di tangan Seebun Jit, maka gerakan kaki mereka menjadi kurang gesit.
Sedangkan Leng Coa sian sing merasa, dirinyalah yang.seharusnya mendapatkan ketiga ekor naga-nagaan itu. Dengan menggunakan 'cambuk kumala'-nya sebagai senjata, dia mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi tiga iblis dari keluarga Lung.
Leng Coa sian sing memijit keras-keras bagian ekor ularnya. Cambuk Kumala kesakitan, maka menjadi buas seketika. Asal Leng Coa sian sing menggerakkan tangannya sedikit saja, ular itu langsung menyeruduk ke depan dengan kalap. Serangannya merupakan gerakan yang sulit ditirukan oleh manusia.
Lagipula tindakannya kalap seperti tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri. Inilah perbedaan ular dengan manusia. Manusia, pasti mempunyai berbagai pertimbangan, sedangkan ular hanya ingin melepaskan dirinya dari rasa sakit. Hal lain tidak diperdulikan.
Terdengar suara desisan yang semakin lama semakin keras. Ular itu menyemburkan bisanya kesana kemari. Tiga iblis dari keluarga Lung tidak berani melawan dengan kekerasan. Karena itu, meskipun bertiga mereka mengeroyok satu orang, hasilnya sampai sekian lama tetap seimbang.
Seebun Jit sendiri sudah merayap sampai keluar mulut lembah. Di kejauhan terlihat debu beterbangan di angkasa. Tentu kuda I Giok Hong yang sedang mengejar Tao Heng Kan. Seebun Jit menarik nafas panjang, setelah itu dia menepi untuk merawat lukanya.
Tao Heng Kan yang berlari secepat kilat meninggalkan Gin Hua kok, dikejar ketat oleh I Giok Hong di belakangnya. Beberapa bulan yang lalu, ilmu kepandaian Tao Heng Kan masih belum terhitung apa-apa, tetapi sejak pertandingan ilmu melawan Li Po di gedung kediaman Kuan Hong Siau, tampaknya dia menemukan suatu mukjijat yang membuat ilmu silatnya maju pesat.
Kalau tidak, ketika dia bertarung melawan I Giok Hong di dalam lembah Gin Hua kok tadi, tidak mungkin tenaga dalamnya bisa seimbang dengan gadis itu. Meskipun ilmu silat Tao Heng Kan mengalami kemajuan pesat, tetapi saat itu dia sedang memanggul Lie Cun Ju. Ditambah lagi tunggangan I Giok Hong yang merupakan kuda pilihan. Maka semakin lama jarak ked'ua orang itu pun semakin mendekat.
Tao Heng Kan menolehkan kepalanya. Tampak cahaya putih berkilauan. Gerakan I Giok Hong dan kudanya seperti melesat tanpa memijak tanah. Jarak mereka sekarang tinggal tiga-empat depa. Dalam hati dia sadar tidak bisa lolos dari kejaran gadis itu. Karenanya, dia segera menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan memaksakan kakinya berhenti berlari. Setelah itu dia berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada.
"I kouwnio, antara kita tidak ada permusuhan apa pun. Untuk apa kau mendesakku sedemikian rupa?"
Baru saja ucapannya selesai, I Giok Hong sudah menyusul tiba. Tangan kirinya menarik tali kendali kuda erat-erat, kemudian tubuhnya bergerak turun dengan lincah. Dalam sekejap mata dia sudah berdiri di hadapan Tao Heng Kan sambil tertawa dingin. Tangannya menunjuk kepada Lie Cun Ju yang ada dalam panggulan pemuda itu.
"Kau berani masuk ke dalam Gin Hua kok secara sembarangan. Hal itu sudah merupakan kesalahan besar. Apalagi kau berani menculik orang lembah itu."
"I kouwnio, aku menculik orang ini bukan atas kemauanku sendiri. Aku terpaksa melakukannya. Seandainya I kouwnio bisa melapangkan hati sedikit, aku juga tidak ingin bergebrak dengan nona. Dengan demikian masing-masing tidak akan mengalami kerugian apa-apa," kata Tao Heng Kan sambil menarik napas panjang.
I Giok Hong mendengus dingin. "Kenapa? Kau kira kalau terjadi perkelahian, aku akan kalah di tanganmu?"
Bibir Tao Heng Kan bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya dia membatalkan niatnya. Kakinya menyurut mundur satu langkah.
"Kalau I kouwnio berkeras ingin berkelahi, silakan membuka serangan!" ujar Tao Heng Kan kemudian.
I Giok Hong adalah seorang gadis yang sangat cerdas. Sejak tadi dia sudah melihat ada ucapan yang ingin dikatakan oleh Tao Heng Kan tetapi dibatalkannya. Meskipun dalam hati dia merasa benci melihat tindakan Tao Heng Kan yang seenaknya menculik Lie Cun Ju dari lembah Gin Hua kok, malah ketiga batang senjata rahasia yang dilontarkannya hampir saja melukai dirinya.
Tetapi sejak Tao Heng Kan bertanding ilmu dengan Li Po di gedung kediaman Kuan Hong Siau, lalu mem-bunuhnya tanpa sebab musabab yang pasti, hal ini sudah diketahui seluruh bu Hm, bahkan Tao Heng Kan dianggap sebagai tokoh yang misterius.
Ketika I Giok Hong menolong Lie Cun Ju dan Tao Ling yang hampir mati di dalam gedung 'Ling Wei piau kiok', dia justru mengira Lie Cun Ju adalah Tao Heng Kan. Namun akhirnya ternyata dugaannya salah. Karena itu dia merasa tidak memerlukan pemuda itu dan melemparkannya ke tepi jalan begitu saja. Sekarang ini, di dalam hatinya justru timbul perasaan ingin tahu tentang diri pemuda tampan yang berdiri di hadapannya itu. Sebetulnya apa yang membuat Tao Heng Kan tiba-tiba membunuh LiPo.
"Apa yang ingin kau katakan barusan? Mengapa akhirnya kau tidak jadi mengatakannya?" tanya I Giok Hong.
Tao Heng Kan tertegun. Seakan dia menjadi bimbang karena I Giok Hong berhasil menebak isi hatinya. Tampak dia menarik nafas panjang. "I kouwnio, seandainya terjadi perkelahian di antara kita, mungkin aku tidak dapat mengalahkanmu. Tetapi kalau kau sampai melukaiku sedikit saja, bisa menimbulkan kemarahan seorang tokoh besar. Mungkin ayahmu sendiri tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap tokoh yang satu ini."
I Giok Hong mendengar nada suara Tao Heng Kan yang serius dan wajahnya juga menandakan bukan orang yang sedang bergurau. Tetapi dia tidak percaya di dunia bu lim ada tokoh yang ayahnya sendiri tidak berani mencari gara-gara dengannya. Tapi di samping itu dia juga tahu Tao Heng Kan tidak berdusta. Kemarahan dalam hatinya agak reda seketika, bibirnya tertawa sumbang. "Kalau begitu, kau tidak ingin berkelahi denganku, justru karena kebaikanku sendiri?"
Wajah Tao Heng Kan menjadi merah padam. Dia merasa malu sekali. "Memang demikianlah maksudku," ujar Tao Heng Kan.
"Boleh saja aku tidak berkelahi denganmu, asal kau kembalikan orang yang kau panggul itu. Aku pun akan menyudahi urusan ini," kata I Giok Hong.
Kata-kata dan tingkah laku I Giok Hong kali ini sudah terhitung sungkan sekali. Karena Gin leng hiat dang I Ki Hu tidak pernah memandang sebelah mata terhadap siapa pun, sebagai putrinya jelas I Giok Hong mempunyai sifat yang sama. Apabila dia bersedia melepaskan Tao Heng Kan begitu saja, bagi orang yang mengenalnya benar-benar merupakan suatu kejadian yang langka. Bahkan I Giok Hong sendiri tidak mengerti mengapa dia demikian menaruh simpatik terhadap pemuda tampan yang ada di hadapannya ini.
Di dalam hati Tao Heng Kan juga dapat merasakan sikap istimewa I Giok Hong terhadap dirinya. Tetapi dia benar-benar mempunyai kesulitan tersendiri yang membuatnya tidak dapat menyerahkan Lie Cun Ju. Tao Heng Kan menyelinap ke dalam lembah Gin Hua kok untuk menculik Lie Cun Ju sebetulnya mendapatkan waktu yang tepat. Karena pada saat itu Seebun Jit sudah terluka parah, I Ki Hu pun sedang bepergian.
Tetapi semua ini dilakukannya bukan karena dia sudah mengintai datangnya kesempatan. Kalaupun saat itu Seebun Jit belum terluka dan I Ki Hu ada di dalam lembah Gin Hua kok, tetap dia harus menculik Lie Cun Ju. Karena itu, mendengar permintaan I Giok Hong, dia terpaksa tertawa getir serta meng-gelengkan kepalanya.
"I kouwnio, aku tahu sikapmu yang rela melepaskan aku pergi begitu saja merupakan hal yang sulit ditemui. Tapi.... aku masih mempunyai satu permohonan, entah I kouwnio bersedia mengabulkannya atau tidak?" Sembari berkata, sepasang mata Tao Heng Kan yang menyiratkan penderitaan menatap I Giok Hong lekat-lekat.
Gadis itu sendiri merasa bahwa selama ini hatinya belum pernah mempunyai perasaan yang demikian ganjil. Tanpa terasa wajahnya menjadi merah. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Aneh sekali! Rasanya aku ingin mendengarkan perkataannya. Mengapa bisa mempunyai perasaan seperti ini? Apa sebabnya?" Di dalam hatinya berpikir, tetapi mulutnya sudah langsung menjawab. "Ada urusan apa? Silakan utarakan saja...!"