Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 66

Karena jauh dalam hati Nyai Demang, seperti juga Permaisuri Rajapatni berharap keduanya bisa menjadi pasangan. Doa perlahan atau terucapkan dalam batin sering menyertai Nyai Demang. Pun di saat menerima lamaran dari Ki Dalang Memeling. Kalau sekarang ini gagal, entah sampai kapan mereka mungkin bisa membicarakan lagi. Bisa-bisa seumur hidup hanya saling berdiam diri tak bertegur sapa. Atau mengulangi kisah Eyang Putri Pulangsih dengan Eyang Sepuh, atau dengan yang lainnya!

“Tak ada yang perlu dicemaskan,” kata Pangeran Hiang perlahan, dalam bahasa yang bisa dimengerti Nyai Demang. “Mega di atas akan bertemu dan berpisah, karena begitulah alam ini, mempertemukan dan memisahkan.”

Nyai Demang memandang Pangeran Hiang. “Akan tetapi…”

“Kita bisa menyayangkan, bisa berharap, akan tetapi segala apa bisa terjadi, Nyai. Belum tentu perpisahan awan sekejap berarti selamanya.”

“Rupanya Pangeran mengetahui.”

“Saya sudah tua, Nyai. Sedikit-banyak mengetahui yang pernah saya alami.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang. Saya tidak bermaksud membuka luka Pangeran.”

Pangeran Hiang meluruskan rambutnya dengan kedua tangannya. “Tidak ada luka. Tak ada yang terbuka. Semuanya hanya perasaan. Semuanya hanya hidup dalam bayangan. Begitu hebat keinginan untuk mengetahui apa yang terjadi pada istri saya, Putri Koreyea. Begitu ingin mencari jawaban, kenapa itu terjadi. Tetapi jawaban itu tak akan memuaskan. Bahkan kenapa istri saya menderita, saya tak akan tahu, karena istri saya tidak memberitahu. Dan saya akan menerima itu, sebagai bagian untuk menenteramkan hati saya.”

“Pangeran Hiang sungguh bijak. Saya mengalami…”

Tanpa terasa Nyai Demang menceritakan sebagian kisah hidupnya. Yang meluncur begitu saja. Baru kemudian dihentikan karena merasa membuka diri.

“Asmara dan takhta, dan juga harta. Itulah yang membuat kita sengsara dan bahagia. Memperoleh atau tidak memperoleh. Nyai, saya adalah pangeran pewaris takhta yang sah. Yang bisa memperoleh apa yang hilang kembali. Begitu seharusnya. Nyatanya tidak segampang itu. Ada yang saya temukan di tanah Jawa ini. Rasa, seperti yang Nyai katakan. Tarian perdamaian ini adalah tarian yang berasal dari rasa. Irama, cara bergerak, perwujudan langkah, menyadarkan saya bahwa tak akan pernah mengetahui tanpa menyatukan rasa. Mungkin sekali inilah kekalahan Keraton Tartar. Bahkan juga apa yang dialami Gemuka karena ini. Saudara Tua Gemuka yang gagah dan lihai tak terkalahkan menyadari unsur rasa sebagai unsur permainan-perasaan-pikiran, akan tetapi tidak larut di dalamnya. Sehingga dalam saat-saat terakhir terbentur. Karena dalam pertarungan ini, ternyata tidak selalu harus diakhiri dengan kekalahan dan kemenangan. Ada kemenangan tanpa mengalahkan, ada kekalahan untuk kemenangan. Ini yang saya peroleh dari tanah Jawa ini. Ini yang membuat saya ingin masuk lebih dalam.”

“Pangeran Sang Hiang tak pernah menjadi manusia Jawa.”

“Tidak seketika. Tidak kalau saya hanya berganti nama menjadi Kiai Sang Hiang Tartar. Tidak kalau hanya menetap di sini. Tidak kalau hanya menikahi wanita di sini. Tidak kalau hanya mempelajari dan memperdalam ilmu silat di sini. Tapi tanpa itu semuanya juga bisa. Paling tidak, bukan tidak mungkin. Ini yang pelik, tapi ini yang menarik. Ketika Nyai mengajak saya menjauh, saya tahu maksud Nyai. Seperti juga Pangeran Upasara dan Adik Jagattri tahu. Ketika kita sekarang ini berbicara dalam bahasa yang mereka berdua tak mengerti, mereka berdua tetap tahu apa yang kita bicarakan. Inilah yang luar biasa, Nyai. Inilah yang oleh Pangeran Upasara dipertunjukkan dengan nama Ngrogoh Sukma Sejati. Memunculkan Sukma Sejati, roh yang sesungguhnya, batin yang kudus. Dalam perwujudannya, Pangeran Upasara bisa muncul dalam tiga atau empat bayangan. Yang penuh. Ketika kita bertanya mana Pangeran Upasara yang sebenarnya, kita akan terjebak. Karena keempatnya adalah Pangeran Upasara, dan keempatnya sekaligus bukan Pangeran Upasara.”

Nyai Demang mengangguk-angguk. “Aneh. Pangeran Hiang bisa menjelaskan apa yang saya geluti tiap saat dengan lebih terang.”

“Tidak juga, Nyai. Saya hanya meraba-raba. Sebab dalam pertarungan yang baru saja terjadi, saya berhasil memukul pergelangan tangan Pangeran Upasara. Berhasil menotok tangan Pangeran Upasara. Kena! Dan dalam gerakannya yang kemudian, terasa sekali bahwa akibat sodokan kipas itu, bayangan Pangeran Upasara menjadi oleng, terpengaruh.”

“Ya, saya ingat.”

“Saat itu saya berpikir bahwa saya menemukan titik lemah dari kekuatan Sukma Sejati. Biar bagaimanapun, dengan menindih salah satu bayangan tubuh, akan berakibat sama dengan bayangan tubuh yang lain. Nyatanya tidak begitu. Kalau saya mendesak kuat ke arah itu, saya akan kecele, karena yang bergoyang, yang tertindih hanyalah bayangan tubuhnya. Sedangkan Pangeran Upasara sendiri tak bergerak. Saat itu saya masuk perangkap. Perangkap dari rasa saya yang tidak sesuai dengan rasa yang dimiliki Pangeran Upasara.”

“Saya bisa menangkap apa yang Pangeran Sang Hiang katakan. Apakah hal yang sama juga berlaku pada Gendhuk Tri?”

“Bisa dikatakan ya dan tidak. Adik Jagattri menggunakan kekuatan Sukma Sejati yang murni. Ketika Gemuka meluap dendamnya sampai membakar dirinya, perlawanan dengan tidak melawan justru melemahkan. Bisa dikatakan tidak, karena perwujudan kekuatan Sukma Sejati itu berbeda dari apa yang ditampilkan Pangeran Upasara.”

“Wah, wah, saya perlu belajar dari Pangeran Sang Hiang. Dengan kata lain, Gendhuk Tri juga menggunakan kekuatan Sukma Sejati?”

“Sejauh pendapat saya, jawabannya adalah ya.”

“Di mana ia mempelajari? Apakah Kitab Pamungkas juga telah diserap habis?”

“Saya tidak tahu pasti, Nyai. Akan tetapi kekuatan Sukma Sejati, merogoh dan mengeluarkan Sukma Sejati tidak harus melalui satu kitab tertentu. Bisa jadi ada ajaran yang menyebutkan secara jelas seperti Kitab atau Kidungan Pamungkas. Akan tetapi dalam pikiran saya, Kidungan Pamungkas tidak berdiri sendiri. Tidak tercipta begitu saja, tanpa kidungan-kidungan sebelumnya. Baik rangkaian dari Kitab Bumi, Kitab Penolak Bumi, Kitab Paminggir, Kitab Para Raja, atau lebih jauh dari itu. Bahkan Kitab Bumi pun tak diciptakan begitu saja.” Suara Pangeran Hiang berangsur rendah nadanya.

Manusia Mahadewa
SEAKAN menemukan irama yang sesuai antara irama hati dan irama yang akan dikatakan.

“Begitu banyak persamaan dengan kitab sebelumnya, baik yang ada di Tartar, Jepun, Koreyea, Hindia, ataupun bahkan sampai negeri Turkana. Semuanya seperti mempunyai sumber yang sama. Semuanya bersumber pada Yang Mahadewa. Pada manusia yang menjadi Mahadewa. Satu kata tersusun, satu langkah tersusun, sehingga akhirnya mendekati Mahadewa. Semuanya seperti menemukan jalan sendiri. Sehingga Eyang Sepuh mampu mengundang untuk mempertandingkan Jalan yang Sesungguhnya. Nyai, harus saya akui lahir dan batin saat ini, jalan yang ditempuh manusia Jawa, lewat Eyang Sepuh ataupun Pangeran Upasara, adalah jalan yang paling mengagumkan. Tidak berarti jalan yang paling benar, akan tetapi jalan yang membuka mata. Saya telah berkelana di padang pasir, telah berkeliaran di Keraton, menjelajah sampai Jepun dan Koreyea, akan tetapi belum pernah menemukan apa yang saya temukan seperti di tanah Jawa ini. Ajaran di mana manusia menjadi sumber utama pencarian untuk menemukan Mahadewa. Di mana Mahadewa yang menjadi tujuan utama adalah manusia juga. Di mana kematian dan keabadian menjadi satu. Di mana kekalahan dan kemenangan menyatu. Saya menunduk dan menaruh hormat.”

“Terima kasih atas pujian Pangeran Sang Hiang. Itu yang kita sebut mahamanusia…”

“Mahamanusia, atau Mahadewa yang manusia, pada akhirnya sama. Menyatukan manusia dengan Mahadewa dalam satu wujud, dalam satu pengertian.”

“Apakah itu berarti ilmu di tanah Jawa ini tak terkalahkan?”

“Ya. Saat ini.”

“Saat ini?”

“Ya, Nyai. Saat ini, dalam jangka separuh usia manusia kurang, tanah Jawa akan mencapai puncak keluhuran yang tiada taranya. Seperti juga prajurit Tartar yang mampu menguasai jagat.”

“Dan kemudian, dan kemudian…”

Pangeran Hiang menghela napas berat. Mendasar. “Keraton Tartar yang berdiri di atas segala keraton di jagat ini, siapa yang membayangkan bisa diungguli? Awan dan langit akan merendah bila Khan yang Tak Terkalahkan menaikkan atap bangunan. Tak ada pedang lain yang dilepas dari sarungnya jika prajurit Tartar mengitari jagat. Tapi siapa sangka semuanya runtuh dan terobrak-abrik di tanah Jawa ini? Tanah becek yang banyak airnya, yang anginnya lembap, sedang menemukan bentuk kekuatannya yang sejati. Kekuatan yang sesungguhnya. Sampai kemudian, ajaran manusia Mahadewa menemukan perpecahan.”

“Pangeran Sang Hiang, apakah Pangeran bisa meramal?”

Bibir Pangeran Hiang tergigit. “Saya hanya memperhitungkan unsur-unsur yang menyatukan yang membuat kuat. Unsur itu pula yang akan memecah dan menghancurkan. Apa yang saya katakan ini semuanya hanyalah omong kosong, hanya pembicaraan belaka. Kenyataannya bisa berbeda.”

“Terima kasih atas semua penjelasan Pangeran Sang Hiang. Terima kasih….” Nyai Demang menunduk hormat. Lalu, “Kalau Pangeran Sang Hiang tidak terganggu, saya ingin bertanya, apa rencana Pangeran selanjutnya?”

“Saya akan kembali ke Tartar, Nyai. Menyampaikan semua yang saya ketahui, saya alami.”

“Itu berarti akan ada utusan yang datang lagi?”

“Ya. Selama Tartar masih ada, selama tanah Jawa masih ada, akan selalu terjadi kunjung-mengunjungi. Akan terjadi pertarungan, juga dengan tanah Hindia, Koreyea, Jepun, Turkana, Syangka, dan tempat-tempat yang lain.”

“Pangeran masih menaruh dendam?”

“Dendam sudah saya kuburkan, Nyai. Tapi pertemuan lain lagi tak terhindarkan. Tidak selalu dalam pengertian prajurit bertemu prajurit. Karena saya bisa kembali tanpa kemenangan tanpa kekalahan. Besar harapan saya mengajak serta Pangeran Upasara Wulung…” Suaranya meninggi. Juga pada kalimat berikutnya. “…bersama Adik Jagattri. Dan akan lebih sempurna kalau Nyai Demang juga bersedia.”

“Saya?”

Pangeran Hiang mengangguk. Mantap. “Saya… saya untuk apa?”

“Untuk saya, Nyai. Untuk kita berdua.”

Kali ini Nyai Demang melongo. Bibirnya membuka. Darahnya berdebar kencang. Kena! Kena sendiri. Kalau tadi masih bisa memikirkan kekikukan Upasara dan kekerasan sikap Gendhuk Tri, sekarang dirasakan sendiri. Nyai Demang berusaha menguasai perasaannya. Barangkali pikirannya yang melancong terlalu jauh. Barangkali… Tapi tidak. Kalimat Pangeran Hiang sangat jelas.

“Salah satu bentuk kemenangan dan kekalahan yang tidak dibuktikan dengan darah dan kematian adalah perkawinan. Tetapi bukan itu alasan utama saya mengajak Nyai. Alasannya, karena saya menginginkan Nyai.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang…”

“Saya akan mengerti apa yang akan Nyai ucapkan. Saya siap mendengarkan.”

“Maaf, saya, saya, saya tak tahu harus menjawab apa. Pangeran Sang Hiang jangan salah mengerti. Saya ini sudah tua, sudah berkeluarga, sudah tidak pantas memikirkan pernikahan atau bahkan sudah lupa apa itu daya asmara.”

Pangeran Hiang menarik tegak tubuhnya. Punggungnya sedikit melengkung ke belakang. “Asmara, daya asmara juga soal rasa. Tak ada yang pantas atau tak pantas. Tak ada Permaisuri Praba yang pantas atau tak pantas. Awan di langit bisa mirip siapa, bisa tidak mirip siapa. Bisa pantas, bisa tak pantas. Itu hanya rasa. Awan tetap awan.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang. Tidak perlu secepat ini.” Nyai Demang sekarang merasa jengah. Tidak enak di hati. Malu menatap Pangeran Sang Hiang. Risi berada di dekatnya. Setitik pun tak pernah terpikirkan. Sekelebat pun tak terbayangkan. Bahkan beberapa kejap sebelum Pangeran Hiang mengutarakan, Nyai Demang sama sekali tak menduga. Inilah aneh.

Aneh? Selama ini tidak sedikit lelaki yang mengharapkan dirinya. Bukan hanya Galih Kaliki yang begitu tergila-gila hanya tak ketahuan juntrungannya. Bukan hanya Upasara yang saat itu masih belia. Bukan hanya Baginda yang khusus mengundangnya. Tetapi lamaran Pangeran Hiang tetap terasa ganjil. Ganjil? Atau karena dirinya selama ini tak menduga? Bukankah, bukankah sangat wajar?

Mata Nyai Demang berkejap-kejap. Ada perasaan bahagia yang membuatnya bersyukur luar biasa. Hati kecilnya sebagai wanita merasa sangat termuliakan. Pada usia seperti sekarang ini, masih ada lelaki yang meminangnya. Dan lelaki itu adalah Pangeran Sang Hiang, putra mahkota Tartar! Perasaan lain yang menggumuli, bagaimana keadaan di Tartar nanti, usianya merambat, kekejian yang pernah dilontarkan kepada Gemuka, akan tetapi tak semerisaukan lamaran ini. Mata Nyai Demang berkejap-kejap. Terasa basah. Butiran air bening menggelinding, melewati pipinya.

Kini, giliran Gendhuk Tri yang melihat. Dan merasa kaget bercampur heran. Apa yang tengah terjadi, setelah keduanya menjauh dan berbicara dalam bahasa Tartar? Selendang Gendhuk Tri tak lagi dipegangi Upasara Wulung. Akan tetapi kakinya terasa berat meninggalkan.

“Kakang…” Kalimat Gendhuk Tri terhenti.

Upasara tampak pucat sekali. Tangannya berusaha mengurut kakinya. Gendhuk Tri mendekat.

“Sakit sekali, Kakang?”

“Barangkali memang harus dipotong.”

“Kakang…”

“Agar Adik Tri mau menerimaku.”

Gendhuk Tri berdiri tegak. Meninggalkan Upasara yang dirasa amat sangat tidak lucu.

Menerka Angin Asmara
DI tempat yang berbeda pada waktu yang hampir bersamaan, Pangeran Muda Wengker merasa bahwa sejak tadi Pangeran Angon Kertawardhana memperhatikan dengan saksama. Sebagai orang yang lebih muda usianya, Pangeran Muda hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Tanpa terlihat sedikit pun. Sewaktu rombongan beriringan dan bergerak cepat menuju Keraton, Pangeran Angon tidak segera beranjak. Bahkan kemudian berada di barisan belakang. Paling belakang di antara para pembesar.

Beberapa kali Pangeran Angon seperti ingin membuka pembicaraan, akan tetapi kemudian urung. Hanya kudanya yang diperlambat langkahnya. Pangeran Muda mengikuti irama langkah kaki kudanya. Pangeran Muda merasa diperhatikan dengan saksama, karena memang tidak biasanya Pangeran Angon melirik dan mengamati. Keduanya sama-sama menyadari posisi dan boleh dikatakan mengadakan hubungan satu sama lain. Pangeran Angon yang berasal dari Cakradaran ini sering mengunjunginya ke Wengker. Adakalanya juga meminta Pangeran Muda datang.

Sering keduanya berbicara hanya berdua. Melewati hari-hari dengan membicarakan apa yang terjadi di Keraton. Tukar pandangan, rerasan, tentang Keraton. Keduanya menyadari bahwa sebagian wibawa dan keluhuran Keraton berada dalam tangan mereka. Sebagian kecil atau besar akan menjadi tanggung jawab mereka. Karena kedudukan mereka berdua adalah “pangeran muda”, yang pada situasi yang diperlukan keduanya memiliki kemungkinan itu. Andai terjadi sesuatu dengan Raja.

Secara tidak langsung, hal seperti itu juga menjadi bahan pembicaraan. Terutama ketika menerima pembicaraan Raja secara resmi untuk menjadikan Praba Raga Karana sebagai permaisuri. Ini berarti tidak lain bahwa keturunan Permaisuri Praba yang kelak akan meneruskan takhta. Dan bukan yang lain. Itu pula sebabnya Pangeran Muda heran, karena masalah peka dan pelik saja bisa diutarakan, sekarang ini justru berdiam diri.

Tanpa perlu mengamati, Pangeran Muda bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tersimpan dalam diri Pangeran Angon. Terasa adanya perbedaan dengan hari-hari biasanya. Kalau sekarang ini tidak segera pulang ke Cakradaran, itu masih bisa dimengerti. Karena di Keraton ada duka yang menyayat. Adalah sangat tidak hormat untuk segera kembali, tanpa melayat Permaisuri Praba Raga Karana. Walau kedudukannya secara resmi belum dinobatkan, akan tetapi tata krama Keraton mengharuskan siapa pun menganggap bahwa Praba Raga Karana adalah permaisuri yang sah. Pangeran Muda hanya bisa menunggu. Menunggu isyarat.

“Yayi Pangeran, apakah ada sesuatu yang melintas dalam pikiranmu?”

“Tidak ada yang istimewa, Kakang Pangeran.”

“Kamu akan menjawab dengan jujur jika aku menanyakan sesuatu?”

“Sumangga, Kakang Pangeran…” Hati Pangeran Muda bercekat. Sama sekali tidak menduga bahwa Pangeran Angon menjadi sangat kaku bicaranya.

“Aku perlu membicarakan sebelum terlalu jauh. Karena aku tak ingin melihat kita berdua memperpanjang penderitaan para prajurit dan penduduk.”

Pangeran Muda makin merasa tidak enak. Para prajurit yang mengiring berjalan lebih lambat.

“Kita belajar dari para leluhur. Selama ini kita berdua, juga Pangeran Anom, sebagai garis keturunan yang paling dekat dengan Keraton, berjanji dalam hati untuk tidak iri, untuk tidak mempersoalkan warisan Keraton.”

“Maaf, Kakang. Saya tak menangkap maksud Kakang.”

“Apakah Yayi Pangeran ingin mengajak kita berdua pergi ke kaputren?”

Wajah Pangeran Muda yang gagah, gasah, tampak kikuk. Senyumnya terlihat kaku.

“Aku bisa menjadi perantara kalau Yayi menghendaki.”

Pangeran Muda berdeham kecil. “Kakang, kaputren memang bagus, indah, asri, dan elok. Saya akan mengiringkan Kakang Pangeran Angon. Sumangga, Kakang…”

Kini ganti wajah Pangeran Angon yang berubah. Kaku. Keras. Tangannya terasa dingin. Memang itu yang dirasakan. Dipikirkan. Sejak melihat pemunculan Putri Tunggadewi, sukmanya tergetar hebat sekali. Terguncang, seakan belum pernah mengalami perasaan seperti itu sebelumnya. Sewaktu menerima undangan dari Raja, Pangeran Angon tak sedikit pun membayangkan bakal mengalami perasaan seperti ini. Nama harum Putri Tunggadewi telah tersebar ke seluruh penjuru Keraton.

Akan tetapi getaran itu baru terasakan mengguncang hebat ketika di pendapa. Ketika bisa menatap secara sempurna. Kalau ia pernah bermimpi, pernah mengharapkan sesuatu dalam angan-angannya tentang kemuliaan wanita, Putri Tunggadewi-lah orangnya. Itu yang membuatnya serbasalah dan dengan nekat maju ke pertempuran. Seperti juga Pangeran Muda.

Hanya karena perhatiannya yang begitu besar, tercipta rekaan dalam pikirannya sendiri, bahwa Pangeran Muda juga tersambar daya asmara. Sehingga Pangeran Angon perlu menjelaskan. Percakapan yang tidak langsung. Akan tetapi kini keduanya tak perlu menerka ke arah mana angin asmara bertiup.

“Maaf, Yayi…”

“Sumangga, Kakang… Saya menyadari jadi orang lebih muda. Tak nanti berani lancang di depan Kakang…”

Pangeran Angon mengangguk. Wajahnya terlihat cerah. Lega. “Hanya Yayi yang bisa memberitahukan kalau aku lupa. Hanya Yayi yang berani dan kuharapkan. Ini pelajaran berharga buat kita berdua. Sekurangnya buat diriku sendiri. Bantu aku, Yayi…”

“Sumangga…”

Pangeran Angon menggeprak kudanya. Meloncat ke depan dan bergegas. Kedua tangannya terangkat ke atas, seakan melambaikan kemenangan. Sesuatu yang tak mengherankan Pangeran Muda. Sesuatu yang membuat Pangeran Muda lebih memahami bahwa Raja pun bisa menjadi lebih lain dari biasanya. Sesuatu yang tak diduga ketika mempersoalkan masalah Praba Raga Karana. Pangeran Angon mengutarakan dengan panjang-lebar, dengan kalimat-kalimat keras dan meyakinkan. Bahwa sebagai seorang yang ditakdirkan menjadi bangsawan tinggi, harus bisa menjaga diri, menjaga derajat, dalam keadaan apa pun.

Akan tetapi sekarang mengalami sendiri. Bahwa angin asmara yang bertiup di tubuhnya bisa menyeret. Bisa membuatnya lupa bahwa dirinya pangeran yang mempunyai derajat dan pangkat. Pangeran Muda menjepit perut kudanya, mengikuti loncatan. Keduanya seakan berpacu berebut cepat menuju Keraton. Bahkan melewati pintu gerbang utama masih dengan kecepatan tinggi. Hanya saja di depan Keraton Pangeran Angon menahan kudanya kuat-kuat. Hingga kedua kaki depannya terangkat. Mahapatih Halayudha menghadang.

“Maaf, Paman Mahapatih…”

Pangeran Muda bergegas turun. Meskipun mereka berdua adalah pangeran muda yang dekat hubungannya dengan pemegang kekuasaan utama, akan tetapi tetap memberi hormat juga kepada Mahapatih. Begitu juga sebaliknya. Akan tetapi sikap Mahapatih Halayudha tampak keras.

“Maaf, Pangeran Angon serta Pangeran Muda Wengker. Raja tidak berkenan ada suara-suara yang mengganggu. Maka sebaiknya Pangeran berdua menempati kamandungan, atau kembali ke Cakradaran dan Keraton Tua…”

Kamandungan berada di sebelah barat bangunan utama Keraton. Termasuk tempat terhormat kedua sesudah bangunan utama. Bahwa selama ini mereka berdua ditempatkan di sana, itu tidak mengurangi kehormatan yang diberikan. Hanya saja cara Halayudha memberitahukan sungguh di luar dugaan. Kalaupun harus begitu, tidak selayaknya dikatakan di depan Keraton.

“Maaf, Mahapatih…”

“Ini perintah Raja.”

“Kami berdua justru akan sowan, untuk berdoa di dalam.”

“Tidak saat ini. Maaf, saya hanya menjalankan dawuh Dalem…”

Halayudha berbalik. Memerintahkan para prajurit yang berada di kamandungan dan di ksatrian supaya bersiap siaga. Semua berada di bawah perintahnya. Tak ada senopati lain yang berhak mengeluarkan perintah apa pun.

Mengabadikan Asmara
PANGERAN ANGON serta Pangeran Muda lebih heran lagi, karena para prajurit pengiringnya juga disatukan di ksatrian. Di dalam kamandungan, Pangeran Anom juga tidak disertai prajurit. Demikian juga para tetamu utama yang diundang Raja. Rasa heran yang meninggi, kecurigaan yang besar tetap tak akan bermuara pada apa yang direncanakan Halayudha. Yang ingin menyelesaikan semua rencananya hari ini juga. Esok jika matahari bersinar, dirinya sudah duduk di dampar kencana, kursi emas, dan mengenakan mahkota. Hari ini akan diselesaikan semua. Diselesaikan sendiri. Dengan tangannya.

Itu sebabnya para prajurit kawal Keraton diperintahkan bersiaga di luar Keraton. Sementara ia sendiri masuk. Menghadap Raja. Keningnya sedikit berkerut ketika mendapat laporan bahwa Senopati Jabung Krewes sudah lebih dulu dipanggil menghadap. Halayudha menyembah, duduk bersila di sebelah agak depan Jabung Krewes.

“Paman Mahapatih. Ingsun telah memerintahkan Tujuh Senopati Utama seleh pangkat dan derajat. Akan tetapi hari ini saya membutuhkan Tanca dan istrinya. Ingsun ingin agar tubuh Permaisuri Praba tetap awet seperti ketika masih hidup, tanpa luka sedikit pun. Bagaimana caranya? Apakah kamu juga akan matur seperti yang dikatakan Krewes?”

Halayudha menyembah. “Kalau Raja menghendaki, hamba yang akan memerintahkan Mpu Tanca serta istrinya, Nyai Makacaru, untuk mengawetkan, untuk mengabadikan Permaisuri Praba.”

“Ingsun menarik kembali…”

“Hamba yang memegang perintah, Sinuwun. Hamba yang mengatur semuanya, sehingga Sinuwun tak terganggu kewibawaan, keluhuran, nama besar, dan keabadian menyanding Permaisuri Praba Raga Karana.”

Senopati Jabung Krewes berdeham keras. Karena darahnya mendidih hingga melalui batas kesabarannya. Seolah daun telinganya menjadi panas dan mengeluarkan uap kedongkolan.

“Hamba berjanji tak akan mengurangi kesenangan Sinuwun sedikit pun, tidak akan mengganggu seujung rambut dan setitik bayangan Raja.”

Senopati Jabung Krewes mencabut kerisnya. Meletakkan di depan kakinya.

“Aku tahu, kamu akan meloncat dari tempatmu, Jabung Krewes. Aku sudah memperhitungkan itu. Tinggal kamu yang akan begitu. Tak ada yang lainnya. Tak ada siapa-siapa selain kita sekarang ini.”

Raja berdiri. “Kamu tidak main-main, Halayudha.”

“Hamba mengatakan yang sebenarnya. Sumangga, Ingkang Sinuwun, apakah dengan cara yang baik atau dengan cara mengadu kesaktian, membuktikan tulang siapa yang keras.”

Senopati Jabung Krewes mencabut kerisnya. Kekasaran yang tak bisa didengar lagi. Penghinaan yang paling tidak bisa dimaafkan. Akan tetapi Halayudha dengan gesit meloncat. Kakinya menginjak warangka keris, dan siku kirinya menyodok jidat Senopati Jabung Krewes. Jabung Krewes masih berusaha menghindar, akan tetapi tangan kanan Halayudha bergerak cepat. Dua jarinya menekan jakun Jabung Krewes.

“Satu sentakan, matamu tak bisa tertutup selamanya.” Hebat gerakan Halayudha. Dalam kondisi yang lebih dari separuh pulih, Jabung Krewes bukan tandingan Halayudha. Pada tingkat sekarang ini, Halayudha memang tak akan menemukan tandingan dalam Keraton. Jarak ilmu terlalu tinggi. Kalau Jabung Krewes terdiam beku, bukan karena takut jakunnya pecah kena pencet Halayudha. Apa pun akan dipertaruhkan untuk membela Raja. Hanya saja sekarang ini memang tak bisa bergerak.

“Halayudha!”

Halayudha melepaskan Jabung Krewes yang jatuh melongsor ke lantai bersih mengilat. “Duduk!”

Halayudha menggeleng. Tersenyum tipis. “Tidak, sebelum Raja menjelaskan apa yang akan diperintahkan. Hanya ada dua pilihan. Mengikuti apa yang hamba katakan dengan baik-baik, atau memilih jalan kekerasan.”

“Kamu tahu apa makna kata-katamu?”

“Sangat tahu, Sinuwun…? Ada nada menghormat yang telah menjadi tradisi hidupnya, tetapi juga kekerasan yang kurang ajar.

"Jadi kamu menghendaki takhta?”

“Maaf, Sinuwun, kata-kata penjelasan tidak diperlukan lagi. Hamba hanya menyilakan Sinuwun menentukan pilihan. Yang terbaik dan terhormat adalah penyerahan kekuasaan. Mengumumkan kepada seluruh rakyat. Dan hamba tak akan mengganggu sedikit pun. Cukup penat, letih, dan menyakitkan pengabdian hamba selama ini. Dan tidak menghasilkan apa-apa. Sekarang tak ada Dewa, tak ada ksatria, tak ada prajurit yang mampu menandingi hamba. Sekarang, Sinuwun…”

Raja tertawa. “Kamu menduga aku begitu bodoh mau menyerahkan takhta. Jawabannya tidak.”

Halayudha mengangguk. “Baik, Sinuwun. Jangan salahkan hamba kalau ada daging terobek atau tulang patah.”

“Jangan sesali jika prajurit-prajurit akan mencincangmu.”

Halayudha tertawa. Nadanya sama tinggi dengan Raja. “Tak ada. Tak akan ada. Kematian Sinuwun akan diterima, kalau melalui gering total seperti yang dialami Permaisuri Praba. Pewaris takhta Pangeran Anom, Pangeran Muda, Pangeran Angon hanya akan mengalami nasib yang sama jika menentang hamba. Telah hamba perhitungkan masak-masak. Hamba telah menunggu sejak Baginda memegang takhta. Dewa memberi kesempatan sekarang ini. Apa lagi yang akan hamba katakan selain restu dan menjalani perintah Dewa Yang Mahadewa? Sinuwun, tak ada yang akan melesat datang dan tiba-tiba bisa mengalahkan hamba. Upasara terlalu jauh, telah terluka, dan tak melihat Sinuwun lagi. Semua juga kekeliruan Sinuwun sendiri." Halayudha maju setindak.

Raja tetap berdiri. Bergeming. “Apa yang kamu inginkan?”

“Sinuwun memerintahkan, memberi sabda bahwa mulai sekarang ini Mahapatih Halayudha, dan hanya Mahapatih Halayudha, yang memegang pucuk pimpinan tertinggi. Setelah itu Sinuwun akan terus-menerus berada di dalam dalem kamandungan. Dalam pengawalan yang hamba perintahkan.”

“Ingsun…”

“Bagaimana nasib Sinuwun selanjutnya, tergantung apakah hamba merasa terancam atau tidak. Rasanya cukup jelas.”

Mendadak Halayudha menghentikan kalimatnya. Tubuhnya membalik bagai lingkaran. Kedua tangannya mengeluarkan tenaga penuh ke arah belakang. Terdengar pekik ngeri. Tiga prajurit kawal Keraton terdorong keras ke arah dinding, dan seketika itu juga lengket. Tubuhnya menempel ke dinding. Sekali lagi tangannya bergerak, dua prajurit yang lain menempel di pintu masuk. Hanya Mada yang berhasil meloloskan diri. Namun tak urung tubuhnya bergoyangan, sebelum ndeprok, melongsor di lantai. Dari pinggir bibirnya mengalir darah segar.

Mada memang selalu menyertai Senopati Jabung Krewes. Ketika dipanggil menghadap, Mada juga mengikuti. Hanya sampai di luar. Makanya masih bisa mendengar suara-suara yang ganjil. Mada nekat dan memerintahkan para prajurit untuk masuk. Meskipun mengetahui bahwa sesuatu yang hebat tengah terjadi di dalam, Mada dan para prajurit kawal Keraton tak menduga akan digempur begitu dahsyat. Disambut dengan pukulan yang keras, ganas, dan mematikan.

Karena penguasaan tenaga dalamnya lebih dari yang lain, Mada tidak menjadi lengket dengan dinding. Meskipun untuk itu harus ndeprok tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Bukan perhitungan Mada yang keliru. Kalaupun mereka semua bersiaga sepenuhnya, tetap tak akan bisa menandingi Halayudha.

“Ba…”

HALAYUDHA unggul segalanya.
Dari sisi ilmu silat, jelas para prajurit kawal Keraton tak mampu melukai ujung kukunya. Dari segi perhitungan strategi, juga jauh lebih unggul. Sepuluh lipat prajurit yang menyerbu masuk, tetap tak mengubah keadaan. Bahkan jika saat itu Tujuh Senopati Utama ada di dalam, Halayudha bisa membekuk mereka semua. Raja mundur tiga tindak. Halayudha berdiri di tengah.

“Sinuwun, hamba tak akan bertindak setengah-setengah. Sekarang saatnya hamba memaksa. Semua bangkai di sini tak akan diketahui tempat pembuangannya.”

Mada merintih. Bibirnya bergerak, dan darah menetes. “Ba…”

Halayudha menggeleng. Mantap. “Aku tahu, kamu paling istimewa, Mada. Kamu bakal menjadi prajurit besar. Tapi tidak selama masih ada Mahapatih Halayudha. Aku melihat ketegasanmu mengambil keputusan menyelamatkan Raja. Mataku tidak buta. Aku melihat ilmumu dua kelas di atas para prajurit. Hatiku tidak bisu. Aku tahu kamu menyimpan dendam yang berkobaran sejak aku membunuh saudara seperguruan mu. Kamu bisa menyembunyikan perasaan itu. Rasanya tidak beku. Aku tahu itu semua. Dalam saat-saat terakhir ini pun kamu ingin melakukan penjegalan. Kuakui kamu hebat, Mada. Tapi aku sudah berkata, selama masih ada Halayudha, tak ada yang kelihatan hebat. Kamu mempunyai bakat hebat, mempunyai mulut besar, mempunyai kandungan yang kokoh menyimpan perasaanmu. Di belakang hari akan menjadi prajurit pinunjul. Tapi garis tangan tak bisa diubah. Mada, Mada… Nasibmu jelek. Seperti Bango Tontong. Seperti Tujuh Senopati Utama. Seperti semua yang menahan langkahku.”

Kalimat Halayudha seperti menguap dari perasaan yang terendam sekian lama. “Sinuwun akan melihat sendiri sekarang. Mada akan saya jadikan contoh, bagaimana nasib yang diderita Permaisuri Praba bisa diulangi.”

“Kamu… kamu yang melakukan?”

“Hamba tak perlu berlindung. Tak perlu menutupi diri. Beban itu terlalu berat.” Halayudha menyedot suara hidungnya dengan keras.

“Mada, kamu dengar aku?”

Kepala Mada mengangguk oleng. Matanya mulai mengatup. Pandangannya sayu.

“Aku perlu belajar dari ilmumu yang menonjol. Akal licikmu yang mengilat. Baik. Sekarang aku mau lihat apa yang akan kamu katakan sebagai senjata pamungkasmu. Katakan, Mada.”

“Ba…”

“Kamu minta aku mendekat, dan kamu ingin mati bersamaku? Cara yang baik, tetapi tak mengena. Kamu akan mati sebelum memelukku. Dan aku tak akan mendekat.”

Mada menggerakkan tangannya. Kaku, lambat. Jarinya masuk ke mulutnya. Dengan darah tangannya menulis di lantai. Halayudha mengawasi, sambil tetap memperhatikan keadaan sekeliling.

Bapa.

Bapa, itulah tulisan Mada. Tangannya gemetar. Tak bisa berlanjut.

“Untuk apa berteka-teki seperti itu? Kalau aku jengkel, aku lumatkan kamu.”

Bapa, Tunggula Seta…

Telapak tangan Halayudha memancarkan tenaga panas, ketika Raja bergerak dari tempatnya. Dada Raja terasa sesak seketika, sehingga menarik atau mengeluarkan napas menjadi sulit. Halayudha sepenuhnya menguasai keadaan.

JILID 65BUKU PERTAMAJILID 67

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 66

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 66

Karena jauh dalam hati Nyai Demang, seperti juga Permaisuri Rajapatni berharap keduanya bisa menjadi pasangan. Doa perlahan atau terucapkan dalam batin sering menyertai Nyai Demang. Pun di saat menerima lamaran dari Ki Dalang Memeling. Kalau sekarang ini gagal, entah sampai kapan mereka mungkin bisa membicarakan lagi. Bisa-bisa seumur hidup hanya saling berdiam diri tak bertegur sapa. Atau mengulangi kisah Eyang Putri Pulangsih dengan Eyang Sepuh, atau dengan yang lainnya!

“Tak ada yang perlu dicemaskan,” kata Pangeran Hiang perlahan, dalam bahasa yang bisa dimengerti Nyai Demang. “Mega di atas akan bertemu dan berpisah, karena begitulah alam ini, mempertemukan dan memisahkan.”

Nyai Demang memandang Pangeran Hiang. “Akan tetapi…”

“Kita bisa menyayangkan, bisa berharap, akan tetapi segala apa bisa terjadi, Nyai. Belum tentu perpisahan awan sekejap berarti selamanya.”

“Rupanya Pangeran mengetahui.”

“Saya sudah tua, Nyai. Sedikit-banyak mengetahui yang pernah saya alami.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang. Saya tidak bermaksud membuka luka Pangeran.”

Pangeran Hiang meluruskan rambutnya dengan kedua tangannya. “Tidak ada luka. Tak ada yang terbuka. Semuanya hanya perasaan. Semuanya hanya hidup dalam bayangan. Begitu hebat keinginan untuk mengetahui apa yang terjadi pada istri saya, Putri Koreyea. Begitu ingin mencari jawaban, kenapa itu terjadi. Tetapi jawaban itu tak akan memuaskan. Bahkan kenapa istri saya menderita, saya tak akan tahu, karena istri saya tidak memberitahu. Dan saya akan menerima itu, sebagai bagian untuk menenteramkan hati saya.”

“Pangeran Hiang sungguh bijak. Saya mengalami…”

Tanpa terasa Nyai Demang menceritakan sebagian kisah hidupnya. Yang meluncur begitu saja. Baru kemudian dihentikan karena merasa membuka diri.

“Asmara dan takhta, dan juga harta. Itulah yang membuat kita sengsara dan bahagia. Memperoleh atau tidak memperoleh. Nyai, saya adalah pangeran pewaris takhta yang sah. Yang bisa memperoleh apa yang hilang kembali. Begitu seharusnya. Nyatanya tidak segampang itu. Ada yang saya temukan di tanah Jawa ini. Rasa, seperti yang Nyai katakan. Tarian perdamaian ini adalah tarian yang berasal dari rasa. Irama, cara bergerak, perwujudan langkah, menyadarkan saya bahwa tak akan pernah mengetahui tanpa menyatukan rasa. Mungkin sekali inilah kekalahan Keraton Tartar. Bahkan juga apa yang dialami Gemuka karena ini. Saudara Tua Gemuka yang gagah dan lihai tak terkalahkan menyadari unsur rasa sebagai unsur permainan-perasaan-pikiran, akan tetapi tidak larut di dalamnya. Sehingga dalam saat-saat terakhir terbentur. Karena dalam pertarungan ini, ternyata tidak selalu harus diakhiri dengan kekalahan dan kemenangan. Ada kemenangan tanpa mengalahkan, ada kekalahan untuk kemenangan. Ini yang saya peroleh dari tanah Jawa ini. Ini yang membuat saya ingin masuk lebih dalam.”

“Pangeran Sang Hiang tak pernah menjadi manusia Jawa.”

“Tidak seketika. Tidak kalau saya hanya berganti nama menjadi Kiai Sang Hiang Tartar. Tidak kalau hanya menetap di sini. Tidak kalau hanya menikahi wanita di sini. Tidak kalau hanya mempelajari dan memperdalam ilmu silat di sini. Tapi tanpa itu semuanya juga bisa. Paling tidak, bukan tidak mungkin. Ini yang pelik, tapi ini yang menarik. Ketika Nyai mengajak saya menjauh, saya tahu maksud Nyai. Seperti juga Pangeran Upasara dan Adik Jagattri tahu. Ketika kita sekarang ini berbicara dalam bahasa yang mereka berdua tak mengerti, mereka berdua tetap tahu apa yang kita bicarakan. Inilah yang luar biasa, Nyai. Inilah yang oleh Pangeran Upasara dipertunjukkan dengan nama Ngrogoh Sukma Sejati. Memunculkan Sukma Sejati, roh yang sesungguhnya, batin yang kudus. Dalam perwujudannya, Pangeran Upasara bisa muncul dalam tiga atau empat bayangan. Yang penuh. Ketika kita bertanya mana Pangeran Upasara yang sebenarnya, kita akan terjebak. Karena keempatnya adalah Pangeran Upasara, dan keempatnya sekaligus bukan Pangeran Upasara.”

Nyai Demang mengangguk-angguk. “Aneh. Pangeran Hiang bisa menjelaskan apa yang saya geluti tiap saat dengan lebih terang.”

“Tidak juga, Nyai. Saya hanya meraba-raba. Sebab dalam pertarungan yang baru saja terjadi, saya berhasil memukul pergelangan tangan Pangeran Upasara. Berhasil menotok tangan Pangeran Upasara. Kena! Dan dalam gerakannya yang kemudian, terasa sekali bahwa akibat sodokan kipas itu, bayangan Pangeran Upasara menjadi oleng, terpengaruh.”

“Ya, saya ingat.”

“Saat itu saya berpikir bahwa saya menemukan titik lemah dari kekuatan Sukma Sejati. Biar bagaimanapun, dengan menindih salah satu bayangan tubuh, akan berakibat sama dengan bayangan tubuh yang lain. Nyatanya tidak begitu. Kalau saya mendesak kuat ke arah itu, saya akan kecele, karena yang bergoyang, yang tertindih hanyalah bayangan tubuhnya. Sedangkan Pangeran Upasara sendiri tak bergerak. Saat itu saya masuk perangkap. Perangkap dari rasa saya yang tidak sesuai dengan rasa yang dimiliki Pangeran Upasara.”

“Saya bisa menangkap apa yang Pangeran Sang Hiang katakan. Apakah hal yang sama juga berlaku pada Gendhuk Tri?”

“Bisa dikatakan ya dan tidak. Adik Jagattri menggunakan kekuatan Sukma Sejati yang murni. Ketika Gemuka meluap dendamnya sampai membakar dirinya, perlawanan dengan tidak melawan justru melemahkan. Bisa dikatakan tidak, karena perwujudan kekuatan Sukma Sejati itu berbeda dari apa yang ditampilkan Pangeran Upasara.”

“Wah, wah, saya perlu belajar dari Pangeran Sang Hiang. Dengan kata lain, Gendhuk Tri juga menggunakan kekuatan Sukma Sejati?”

“Sejauh pendapat saya, jawabannya adalah ya.”

“Di mana ia mempelajari? Apakah Kitab Pamungkas juga telah diserap habis?”

“Saya tidak tahu pasti, Nyai. Akan tetapi kekuatan Sukma Sejati, merogoh dan mengeluarkan Sukma Sejati tidak harus melalui satu kitab tertentu. Bisa jadi ada ajaran yang menyebutkan secara jelas seperti Kitab atau Kidungan Pamungkas. Akan tetapi dalam pikiran saya, Kidungan Pamungkas tidak berdiri sendiri. Tidak tercipta begitu saja, tanpa kidungan-kidungan sebelumnya. Baik rangkaian dari Kitab Bumi, Kitab Penolak Bumi, Kitab Paminggir, Kitab Para Raja, atau lebih jauh dari itu. Bahkan Kitab Bumi pun tak diciptakan begitu saja.” Suara Pangeran Hiang berangsur rendah nadanya.

Manusia Mahadewa
SEAKAN menemukan irama yang sesuai antara irama hati dan irama yang akan dikatakan.

“Begitu banyak persamaan dengan kitab sebelumnya, baik yang ada di Tartar, Jepun, Koreyea, Hindia, ataupun bahkan sampai negeri Turkana. Semuanya seperti mempunyai sumber yang sama. Semuanya bersumber pada Yang Mahadewa. Pada manusia yang menjadi Mahadewa. Satu kata tersusun, satu langkah tersusun, sehingga akhirnya mendekati Mahadewa. Semuanya seperti menemukan jalan sendiri. Sehingga Eyang Sepuh mampu mengundang untuk mempertandingkan Jalan yang Sesungguhnya. Nyai, harus saya akui lahir dan batin saat ini, jalan yang ditempuh manusia Jawa, lewat Eyang Sepuh ataupun Pangeran Upasara, adalah jalan yang paling mengagumkan. Tidak berarti jalan yang paling benar, akan tetapi jalan yang membuka mata. Saya telah berkelana di padang pasir, telah berkeliaran di Keraton, menjelajah sampai Jepun dan Koreyea, akan tetapi belum pernah menemukan apa yang saya temukan seperti di tanah Jawa ini. Ajaran di mana manusia menjadi sumber utama pencarian untuk menemukan Mahadewa. Di mana Mahadewa yang menjadi tujuan utama adalah manusia juga. Di mana kematian dan keabadian menjadi satu. Di mana kekalahan dan kemenangan menyatu. Saya menunduk dan menaruh hormat.”

“Terima kasih atas pujian Pangeran Sang Hiang. Itu yang kita sebut mahamanusia…”

“Mahamanusia, atau Mahadewa yang manusia, pada akhirnya sama. Menyatukan manusia dengan Mahadewa dalam satu wujud, dalam satu pengertian.”

“Apakah itu berarti ilmu di tanah Jawa ini tak terkalahkan?”

“Ya. Saat ini.”

“Saat ini?”

“Ya, Nyai. Saat ini, dalam jangka separuh usia manusia kurang, tanah Jawa akan mencapai puncak keluhuran yang tiada taranya. Seperti juga prajurit Tartar yang mampu menguasai jagat.”

“Dan kemudian, dan kemudian…”

Pangeran Hiang menghela napas berat. Mendasar. “Keraton Tartar yang berdiri di atas segala keraton di jagat ini, siapa yang membayangkan bisa diungguli? Awan dan langit akan merendah bila Khan yang Tak Terkalahkan menaikkan atap bangunan. Tak ada pedang lain yang dilepas dari sarungnya jika prajurit Tartar mengitari jagat. Tapi siapa sangka semuanya runtuh dan terobrak-abrik di tanah Jawa ini? Tanah becek yang banyak airnya, yang anginnya lembap, sedang menemukan bentuk kekuatannya yang sejati. Kekuatan yang sesungguhnya. Sampai kemudian, ajaran manusia Mahadewa menemukan perpecahan.”

“Pangeran Sang Hiang, apakah Pangeran bisa meramal?”

Bibir Pangeran Hiang tergigit. “Saya hanya memperhitungkan unsur-unsur yang menyatukan yang membuat kuat. Unsur itu pula yang akan memecah dan menghancurkan. Apa yang saya katakan ini semuanya hanyalah omong kosong, hanya pembicaraan belaka. Kenyataannya bisa berbeda.”

“Terima kasih atas semua penjelasan Pangeran Sang Hiang. Terima kasih….” Nyai Demang menunduk hormat. Lalu, “Kalau Pangeran Sang Hiang tidak terganggu, saya ingin bertanya, apa rencana Pangeran selanjutnya?”

“Saya akan kembali ke Tartar, Nyai. Menyampaikan semua yang saya ketahui, saya alami.”

“Itu berarti akan ada utusan yang datang lagi?”

“Ya. Selama Tartar masih ada, selama tanah Jawa masih ada, akan selalu terjadi kunjung-mengunjungi. Akan terjadi pertarungan, juga dengan tanah Hindia, Koreyea, Jepun, Turkana, Syangka, dan tempat-tempat yang lain.”

“Pangeran masih menaruh dendam?”

“Dendam sudah saya kuburkan, Nyai. Tapi pertemuan lain lagi tak terhindarkan. Tidak selalu dalam pengertian prajurit bertemu prajurit. Karena saya bisa kembali tanpa kemenangan tanpa kekalahan. Besar harapan saya mengajak serta Pangeran Upasara Wulung…” Suaranya meninggi. Juga pada kalimat berikutnya. “…bersama Adik Jagattri. Dan akan lebih sempurna kalau Nyai Demang juga bersedia.”

“Saya?”

Pangeran Hiang mengangguk. Mantap. “Saya… saya untuk apa?”

“Untuk saya, Nyai. Untuk kita berdua.”

Kali ini Nyai Demang melongo. Bibirnya membuka. Darahnya berdebar kencang. Kena! Kena sendiri. Kalau tadi masih bisa memikirkan kekikukan Upasara dan kekerasan sikap Gendhuk Tri, sekarang dirasakan sendiri. Nyai Demang berusaha menguasai perasaannya. Barangkali pikirannya yang melancong terlalu jauh. Barangkali… Tapi tidak. Kalimat Pangeran Hiang sangat jelas.

“Salah satu bentuk kemenangan dan kekalahan yang tidak dibuktikan dengan darah dan kematian adalah perkawinan. Tetapi bukan itu alasan utama saya mengajak Nyai. Alasannya, karena saya menginginkan Nyai.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang…”

“Saya akan mengerti apa yang akan Nyai ucapkan. Saya siap mendengarkan.”

“Maaf, saya, saya, saya tak tahu harus menjawab apa. Pangeran Sang Hiang jangan salah mengerti. Saya ini sudah tua, sudah berkeluarga, sudah tidak pantas memikirkan pernikahan atau bahkan sudah lupa apa itu daya asmara.”

Pangeran Hiang menarik tegak tubuhnya. Punggungnya sedikit melengkung ke belakang. “Asmara, daya asmara juga soal rasa. Tak ada yang pantas atau tak pantas. Tak ada Permaisuri Praba yang pantas atau tak pantas. Awan di langit bisa mirip siapa, bisa tidak mirip siapa. Bisa pantas, bisa tak pantas. Itu hanya rasa. Awan tetap awan.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang. Tidak perlu secepat ini.” Nyai Demang sekarang merasa jengah. Tidak enak di hati. Malu menatap Pangeran Sang Hiang. Risi berada di dekatnya. Setitik pun tak pernah terpikirkan. Sekelebat pun tak terbayangkan. Bahkan beberapa kejap sebelum Pangeran Hiang mengutarakan, Nyai Demang sama sekali tak menduga. Inilah aneh.

Aneh? Selama ini tidak sedikit lelaki yang mengharapkan dirinya. Bukan hanya Galih Kaliki yang begitu tergila-gila hanya tak ketahuan juntrungannya. Bukan hanya Upasara yang saat itu masih belia. Bukan hanya Baginda yang khusus mengundangnya. Tetapi lamaran Pangeran Hiang tetap terasa ganjil. Ganjil? Atau karena dirinya selama ini tak menduga? Bukankah, bukankah sangat wajar?

Mata Nyai Demang berkejap-kejap. Ada perasaan bahagia yang membuatnya bersyukur luar biasa. Hati kecilnya sebagai wanita merasa sangat termuliakan. Pada usia seperti sekarang ini, masih ada lelaki yang meminangnya. Dan lelaki itu adalah Pangeran Sang Hiang, putra mahkota Tartar! Perasaan lain yang menggumuli, bagaimana keadaan di Tartar nanti, usianya merambat, kekejian yang pernah dilontarkan kepada Gemuka, akan tetapi tak semerisaukan lamaran ini. Mata Nyai Demang berkejap-kejap. Terasa basah. Butiran air bening menggelinding, melewati pipinya.

Kini, giliran Gendhuk Tri yang melihat. Dan merasa kaget bercampur heran. Apa yang tengah terjadi, setelah keduanya menjauh dan berbicara dalam bahasa Tartar? Selendang Gendhuk Tri tak lagi dipegangi Upasara Wulung. Akan tetapi kakinya terasa berat meninggalkan.

“Kakang…” Kalimat Gendhuk Tri terhenti.

Upasara tampak pucat sekali. Tangannya berusaha mengurut kakinya. Gendhuk Tri mendekat.

“Sakit sekali, Kakang?”

“Barangkali memang harus dipotong.”

“Kakang…”

“Agar Adik Tri mau menerimaku.”

Gendhuk Tri berdiri tegak. Meninggalkan Upasara yang dirasa amat sangat tidak lucu.

Menerka Angin Asmara
DI tempat yang berbeda pada waktu yang hampir bersamaan, Pangeran Muda Wengker merasa bahwa sejak tadi Pangeran Angon Kertawardhana memperhatikan dengan saksama. Sebagai orang yang lebih muda usianya, Pangeran Muda hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Tanpa terlihat sedikit pun. Sewaktu rombongan beriringan dan bergerak cepat menuju Keraton, Pangeran Angon tidak segera beranjak. Bahkan kemudian berada di barisan belakang. Paling belakang di antara para pembesar.

Beberapa kali Pangeran Angon seperti ingin membuka pembicaraan, akan tetapi kemudian urung. Hanya kudanya yang diperlambat langkahnya. Pangeran Muda mengikuti irama langkah kaki kudanya. Pangeran Muda merasa diperhatikan dengan saksama, karena memang tidak biasanya Pangeran Angon melirik dan mengamati. Keduanya sama-sama menyadari posisi dan boleh dikatakan mengadakan hubungan satu sama lain. Pangeran Angon yang berasal dari Cakradaran ini sering mengunjunginya ke Wengker. Adakalanya juga meminta Pangeran Muda datang.

Sering keduanya berbicara hanya berdua. Melewati hari-hari dengan membicarakan apa yang terjadi di Keraton. Tukar pandangan, rerasan, tentang Keraton. Keduanya menyadari bahwa sebagian wibawa dan keluhuran Keraton berada dalam tangan mereka. Sebagian kecil atau besar akan menjadi tanggung jawab mereka. Karena kedudukan mereka berdua adalah “pangeran muda”, yang pada situasi yang diperlukan keduanya memiliki kemungkinan itu. Andai terjadi sesuatu dengan Raja.

Secara tidak langsung, hal seperti itu juga menjadi bahan pembicaraan. Terutama ketika menerima pembicaraan Raja secara resmi untuk menjadikan Praba Raga Karana sebagai permaisuri. Ini berarti tidak lain bahwa keturunan Permaisuri Praba yang kelak akan meneruskan takhta. Dan bukan yang lain. Itu pula sebabnya Pangeran Muda heran, karena masalah peka dan pelik saja bisa diutarakan, sekarang ini justru berdiam diri.

Tanpa perlu mengamati, Pangeran Muda bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tersimpan dalam diri Pangeran Angon. Terasa adanya perbedaan dengan hari-hari biasanya. Kalau sekarang ini tidak segera pulang ke Cakradaran, itu masih bisa dimengerti. Karena di Keraton ada duka yang menyayat. Adalah sangat tidak hormat untuk segera kembali, tanpa melayat Permaisuri Praba Raga Karana. Walau kedudukannya secara resmi belum dinobatkan, akan tetapi tata krama Keraton mengharuskan siapa pun menganggap bahwa Praba Raga Karana adalah permaisuri yang sah. Pangeran Muda hanya bisa menunggu. Menunggu isyarat.

“Yayi Pangeran, apakah ada sesuatu yang melintas dalam pikiranmu?”

“Tidak ada yang istimewa, Kakang Pangeran.”

“Kamu akan menjawab dengan jujur jika aku menanyakan sesuatu?”

“Sumangga, Kakang Pangeran…” Hati Pangeran Muda bercekat. Sama sekali tidak menduga bahwa Pangeran Angon menjadi sangat kaku bicaranya.

“Aku perlu membicarakan sebelum terlalu jauh. Karena aku tak ingin melihat kita berdua memperpanjang penderitaan para prajurit dan penduduk.”

Pangeran Muda makin merasa tidak enak. Para prajurit yang mengiring berjalan lebih lambat.

“Kita belajar dari para leluhur. Selama ini kita berdua, juga Pangeran Anom, sebagai garis keturunan yang paling dekat dengan Keraton, berjanji dalam hati untuk tidak iri, untuk tidak mempersoalkan warisan Keraton.”

“Maaf, Kakang. Saya tak menangkap maksud Kakang.”

“Apakah Yayi Pangeran ingin mengajak kita berdua pergi ke kaputren?”

Wajah Pangeran Muda yang gagah, gasah, tampak kikuk. Senyumnya terlihat kaku.

“Aku bisa menjadi perantara kalau Yayi menghendaki.”

Pangeran Muda berdeham kecil. “Kakang, kaputren memang bagus, indah, asri, dan elok. Saya akan mengiringkan Kakang Pangeran Angon. Sumangga, Kakang…”

Kini ganti wajah Pangeran Angon yang berubah. Kaku. Keras. Tangannya terasa dingin. Memang itu yang dirasakan. Dipikirkan. Sejak melihat pemunculan Putri Tunggadewi, sukmanya tergetar hebat sekali. Terguncang, seakan belum pernah mengalami perasaan seperti itu sebelumnya. Sewaktu menerima undangan dari Raja, Pangeran Angon tak sedikit pun membayangkan bakal mengalami perasaan seperti ini. Nama harum Putri Tunggadewi telah tersebar ke seluruh penjuru Keraton.

Akan tetapi getaran itu baru terasakan mengguncang hebat ketika di pendapa. Ketika bisa menatap secara sempurna. Kalau ia pernah bermimpi, pernah mengharapkan sesuatu dalam angan-angannya tentang kemuliaan wanita, Putri Tunggadewi-lah orangnya. Itu yang membuatnya serbasalah dan dengan nekat maju ke pertempuran. Seperti juga Pangeran Muda.

Hanya karena perhatiannya yang begitu besar, tercipta rekaan dalam pikirannya sendiri, bahwa Pangeran Muda juga tersambar daya asmara. Sehingga Pangeran Angon perlu menjelaskan. Percakapan yang tidak langsung. Akan tetapi kini keduanya tak perlu menerka ke arah mana angin asmara bertiup.

“Maaf, Yayi…”

“Sumangga, Kakang… Saya menyadari jadi orang lebih muda. Tak nanti berani lancang di depan Kakang…”

Pangeran Angon mengangguk. Wajahnya terlihat cerah. Lega. “Hanya Yayi yang bisa memberitahukan kalau aku lupa. Hanya Yayi yang berani dan kuharapkan. Ini pelajaran berharga buat kita berdua. Sekurangnya buat diriku sendiri. Bantu aku, Yayi…”

“Sumangga…”

Pangeran Angon menggeprak kudanya. Meloncat ke depan dan bergegas. Kedua tangannya terangkat ke atas, seakan melambaikan kemenangan. Sesuatu yang tak mengherankan Pangeran Muda. Sesuatu yang membuat Pangeran Muda lebih memahami bahwa Raja pun bisa menjadi lebih lain dari biasanya. Sesuatu yang tak diduga ketika mempersoalkan masalah Praba Raga Karana. Pangeran Angon mengutarakan dengan panjang-lebar, dengan kalimat-kalimat keras dan meyakinkan. Bahwa sebagai seorang yang ditakdirkan menjadi bangsawan tinggi, harus bisa menjaga diri, menjaga derajat, dalam keadaan apa pun.

Akan tetapi sekarang mengalami sendiri. Bahwa angin asmara yang bertiup di tubuhnya bisa menyeret. Bisa membuatnya lupa bahwa dirinya pangeran yang mempunyai derajat dan pangkat. Pangeran Muda menjepit perut kudanya, mengikuti loncatan. Keduanya seakan berpacu berebut cepat menuju Keraton. Bahkan melewati pintu gerbang utama masih dengan kecepatan tinggi. Hanya saja di depan Keraton Pangeran Angon menahan kudanya kuat-kuat. Hingga kedua kaki depannya terangkat. Mahapatih Halayudha menghadang.

“Maaf, Paman Mahapatih…”

Pangeran Muda bergegas turun. Meskipun mereka berdua adalah pangeran muda yang dekat hubungannya dengan pemegang kekuasaan utama, akan tetapi tetap memberi hormat juga kepada Mahapatih. Begitu juga sebaliknya. Akan tetapi sikap Mahapatih Halayudha tampak keras.

“Maaf, Pangeran Angon serta Pangeran Muda Wengker. Raja tidak berkenan ada suara-suara yang mengganggu. Maka sebaiknya Pangeran berdua menempati kamandungan, atau kembali ke Cakradaran dan Keraton Tua…”

Kamandungan berada di sebelah barat bangunan utama Keraton. Termasuk tempat terhormat kedua sesudah bangunan utama. Bahwa selama ini mereka berdua ditempatkan di sana, itu tidak mengurangi kehormatan yang diberikan. Hanya saja cara Halayudha memberitahukan sungguh di luar dugaan. Kalaupun harus begitu, tidak selayaknya dikatakan di depan Keraton.

“Maaf, Mahapatih…”

“Ini perintah Raja.”

“Kami berdua justru akan sowan, untuk berdoa di dalam.”

“Tidak saat ini. Maaf, saya hanya menjalankan dawuh Dalem…”

Halayudha berbalik. Memerintahkan para prajurit yang berada di kamandungan dan di ksatrian supaya bersiap siaga. Semua berada di bawah perintahnya. Tak ada senopati lain yang berhak mengeluarkan perintah apa pun.

Mengabadikan Asmara
PANGERAN ANGON serta Pangeran Muda lebih heran lagi, karena para prajurit pengiringnya juga disatukan di ksatrian. Di dalam kamandungan, Pangeran Anom juga tidak disertai prajurit. Demikian juga para tetamu utama yang diundang Raja. Rasa heran yang meninggi, kecurigaan yang besar tetap tak akan bermuara pada apa yang direncanakan Halayudha. Yang ingin menyelesaikan semua rencananya hari ini juga. Esok jika matahari bersinar, dirinya sudah duduk di dampar kencana, kursi emas, dan mengenakan mahkota. Hari ini akan diselesaikan semua. Diselesaikan sendiri. Dengan tangannya.

Itu sebabnya para prajurit kawal Keraton diperintahkan bersiaga di luar Keraton. Sementara ia sendiri masuk. Menghadap Raja. Keningnya sedikit berkerut ketika mendapat laporan bahwa Senopati Jabung Krewes sudah lebih dulu dipanggil menghadap. Halayudha menyembah, duduk bersila di sebelah agak depan Jabung Krewes.

“Paman Mahapatih. Ingsun telah memerintahkan Tujuh Senopati Utama seleh pangkat dan derajat. Akan tetapi hari ini saya membutuhkan Tanca dan istrinya. Ingsun ingin agar tubuh Permaisuri Praba tetap awet seperti ketika masih hidup, tanpa luka sedikit pun. Bagaimana caranya? Apakah kamu juga akan matur seperti yang dikatakan Krewes?”

Halayudha menyembah. “Kalau Raja menghendaki, hamba yang akan memerintahkan Mpu Tanca serta istrinya, Nyai Makacaru, untuk mengawetkan, untuk mengabadikan Permaisuri Praba.”

“Ingsun menarik kembali…”

“Hamba yang memegang perintah, Sinuwun. Hamba yang mengatur semuanya, sehingga Sinuwun tak terganggu kewibawaan, keluhuran, nama besar, dan keabadian menyanding Permaisuri Praba Raga Karana.”

Senopati Jabung Krewes berdeham keras. Karena darahnya mendidih hingga melalui batas kesabarannya. Seolah daun telinganya menjadi panas dan mengeluarkan uap kedongkolan.

“Hamba berjanji tak akan mengurangi kesenangan Sinuwun sedikit pun, tidak akan mengganggu seujung rambut dan setitik bayangan Raja.”

Senopati Jabung Krewes mencabut kerisnya. Meletakkan di depan kakinya.

“Aku tahu, kamu akan meloncat dari tempatmu, Jabung Krewes. Aku sudah memperhitungkan itu. Tinggal kamu yang akan begitu. Tak ada yang lainnya. Tak ada siapa-siapa selain kita sekarang ini.”

Raja berdiri. “Kamu tidak main-main, Halayudha.”

“Hamba mengatakan yang sebenarnya. Sumangga, Ingkang Sinuwun, apakah dengan cara yang baik atau dengan cara mengadu kesaktian, membuktikan tulang siapa yang keras.”

Senopati Jabung Krewes mencabut kerisnya. Kekasaran yang tak bisa didengar lagi. Penghinaan yang paling tidak bisa dimaafkan. Akan tetapi Halayudha dengan gesit meloncat. Kakinya menginjak warangka keris, dan siku kirinya menyodok jidat Senopati Jabung Krewes. Jabung Krewes masih berusaha menghindar, akan tetapi tangan kanan Halayudha bergerak cepat. Dua jarinya menekan jakun Jabung Krewes.

“Satu sentakan, matamu tak bisa tertutup selamanya.” Hebat gerakan Halayudha. Dalam kondisi yang lebih dari separuh pulih, Jabung Krewes bukan tandingan Halayudha. Pada tingkat sekarang ini, Halayudha memang tak akan menemukan tandingan dalam Keraton. Jarak ilmu terlalu tinggi. Kalau Jabung Krewes terdiam beku, bukan karena takut jakunnya pecah kena pencet Halayudha. Apa pun akan dipertaruhkan untuk membela Raja. Hanya saja sekarang ini memang tak bisa bergerak.

“Halayudha!”

Halayudha melepaskan Jabung Krewes yang jatuh melongsor ke lantai bersih mengilat. “Duduk!”

Halayudha menggeleng. Tersenyum tipis. “Tidak, sebelum Raja menjelaskan apa yang akan diperintahkan. Hanya ada dua pilihan. Mengikuti apa yang hamba katakan dengan baik-baik, atau memilih jalan kekerasan.”

“Kamu tahu apa makna kata-katamu?”

“Sangat tahu, Sinuwun…? Ada nada menghormat yang telah menjadi tradisi hidupnya, tetapi juga kekerasan yang kurang ajar.

"Jadi kamu menghendaki takhta?”

“Maaf, Sinuwun, kata-kata penjelasan tidak diperlukan lagi. Hamba hanya menyilakan Sinuwun menentukan pilihan. Yang terbaik dan terhormat adalah penyerahan kekuasaan. Mengumumkan kepada seluruh rakyat. Dan hamba tak akan mengganggu sedikit pun. Cukup penat, letih, dan menyakitkan pengabdian hamba selama ini. Dan tidak menghasilkan apa-apa. Sekarang tak ada Dewa, tak ada ksatria, tak ada prajurit yang mampu menandingi hamba. Sekarang, Sinuwun…”

Raja tertawa. “Kamu menduga aku begitu bodoh mau menyerahkan takhta. Jawabannya tidak.”

Halayudha mengangguk. “Baik, Sinuwun. Jangan salahkan hamba kalau ada daging terobek atau tulang patah.”

“Jangan sesali jika prajurit-prajurit akan mencincangmu.”

Halayudha tertawa. Nadanya sama tinggi dengan Raja. “Tak ada. Tak akan ada. Kematian Sinuwun akan diterima, kalau melalui gering total seperti yang dialami Permaisuri Praba. Pewaris takhta Pangeran Anom, Pangeran Muda, Pangeran Angon hanya akan mengalami nasib yang sama jika menentang hamba. Telah hamba perhitungkan masak-masak. Hamba telah menunggu sejak Baginda memegang takhta. Dewa memberi kesempatan sekarang ini. Apa lagi yang akan hamba katakan selain restu dan menjalani perintah Dewa Yang Mahadewa? Sinuwun, tak ada yang akan melesat datang dan tiba-tiba bisa mengalahkan hamba. Upasara terlalu jauh, telah terluka, dan tak melihat Sinuwun lagi. Semua juga kekeliruan Sinuwun sendiri." Halayudha maju setindak.

Raja tetap berdiri. Bergeming. “Apa yang kamu inginkan?”

“Sinuwun memerintahkan, memberi sabda bahwa mulai sekarang ini Mahapatih Halayudha, dan hanya Mahapatih Halayudha, yang memegang pucuk pimpinan tertinggi. Setelah itu Sinuwun akan terus-menerus berada di dalam dalem kamandungan. Dalam pengawalan yang hamba perintahkan.”

“Ingsun…”

“Bagaimana nasib Sinuwun selanjutnya, tergantung apakah hamba merasa terancam atau tidak. Rasanya cukup jelas.”

Mendadak Halayudha menghentikan kalimatnya. Tubuhnya membalik bagai lingkaran. Kedua tangannya mengeluarkan tenaga penuh ke arah belakang. Terdengar pekik ngeri. Tiga prajurit kawal Keraton terdorong keras ke arah dinding, dan seketika itu juga lengket. Tubuhnya menempel ke dinding. Sekali lagi tangannya bergerak, dua prajurit yang lain menempel di pintu masuk. Hanya Mada yang berhasil meloloskan diri. Namun tak urung tubuhnya bergoyangan, sebelum ndeprok, melongsor di lantai. Dari pinggir bibirnya mengalir darah segar.

Mada memang selalu menyertai Senopati Jabung Krewes. Ketika dipanggil menghadap, Mada juga mengikuti. Hanya sampai di luar. Makanya masih bisa mendengar suara-suara yang ganjil. Mada nekat dan memerintahkan para prajurit untuk masuk. Meskipun mengetahui bahwa sesuatu yang hebat tengah terjadi di dalam, Mada dan para prajurit kawal Keraton tak menduga akan digempur begitu dahsyat. Disambut dengan pukulan yang keras, ganas, dan mematikan.

Karena penguasaan tenaga dalamnya lebih dari yang lain, Mada tidak menjadi lengket dengan dinding. Meskipun untuk itu harus ndeprok tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Bukan perhitungan Mada yang keliru. Kalaupun mereka semua bersiaga sepenuhnya, tetap tak akan bisa menandingi Halayudha.

“Ba…”

HALAYUDHA unggul segalanya.
Dari sisi ilmu silat, jelas para prajurit kawal Keraton tak mampu melukai ujung kukunya. Dari segi perhitungan strategi, juga jauh lebih unggul. Sepuluh lipat prajurit yang menyerbu masuk, tetap tak mengubah keadaan. Bahkan jika saat itu Tujuh Senopati Utama ada di dalam, Halayudha bisa membekuk mereka semua. Raja mundur tiga tindak. Halayudha berdiri di tengah.

“Sinuwun, hamba tak akan bertindak setengah-setengah. Sekarang saatnya hamba memaksa. Semua bangkai di sini tak akan diketahui tempat pembuangannya.”

Mada merintih. Bibirnya bergerak, dan darah menetes. “Ba…”

Halayudha menggeleng. Mantap. “Aku tahu, kamu paling istimewa, Mada. Kamu bakal menjadi prajurit besar. Tapi tidak selama masih ada Mahapatih Halayudha. Aku melihat ketegasanmu mengambil keputusan menyelamatkan Raja. Mataku tidak buta. Aku melihat ilmumu dua kelas di atas para prajurit. Hatiku tidak bisu. Aku tahu kamu menyimpan dendam yang berkobaran sejak aku membunuh saudara seperguruan mu. Kamu bisa menyembunyikan perasaan itu. Rasanya tidak beku. Aku tahu itu semua. Dalam saat-saat terakhir ini pun kamu ingin melakukan penjegalan. Kuakui kamu hebat, Mada. Tapi aku sudah berkata, selama masih ada Halayudha, tak ada yang kelihatan hebat. Kamu mempunyai bakat hebat, mempunyai mulut besar, mempunyai kandungan yang kokoh menyimpan perasaanmu. Di belakang hari akan menjadi prajurit pinunjul. Tapi garis tangan tak bisa diubah. Mada, Mada… Nasibmu jelek. Seperti Bango Tontong. Seperti Tujuh Senopati Utama. Seperti semua yang menahan langkahku.”

Kalimat Halayudha seperti menguap dari perasaan yang terendam sekian lama. “Sinuwun akan melihat sendiri sekarang. Mada akan saya jadikan contoh, bagaimana nasib yang diderita Permaisuri Praba bisa diulangi.”

“Kamu… kamu yang melakukan?”

“Hamba tak perlu berlindung. Tak perlu menutupi diri. Beban itu terlalu berat.” Halayudha menyedot suara hidungnya dengan keras.

“Mada, kamu dengar aku?”

Kepala Mada mengangguk oleng. Matanya mulai mengatup. Pandangannya sayu.

“Aku perlu belajar dari ilmumu yang menonjol. Akal licikmu yang mengilat. Baik. Sekarang aku mau lihat apa yang akan kamu katakan sebagai senjata pamungkasmu. Katakan, Mada.”

“Ba…”

“Kamu minta aku mendekat, dan kamu ingin mati bersamaku? Cara yang baik, tetapi tak mengena. Kamu akan mati sebelum memelukku. Dan aku tak akan mendekat.”

Mada menggerakkan tangannya. Kaku, lambat. Jarinya masuk ke mulutnya. Dengan darah tangannya menulis di lantai. Halayudha mengawasi, sambil tetap memperhatikan keadaan sekeliling.

Bapa.

Bapa, itulah tulisan Mada. Tangannya gemetar. Tak bisa berlanjut.

“Untuk apa berteka-teki seperti itu? Kalau aku jengkel, aku lumatkan kamu.”

Bapa, Tunggula Seta…

Telapak tangan Halayudha memancarkan tenaga panas, ketika Raja bergerak dari tempatnya. Dada Raja terasa sesak seketika, sehingga menarik atau mengeluarkan napas menjadi sulit. Halayudha sepenuhnya menguasai keadaan.

JILID 65BUKU PERTAMAJILID 67