Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 54

Putri Koreyea mengambil tusuk konde dan membuka ikatan bajunya. Ia memperlihatkan beberapa permata dan meletakkannya di dipan.

“Saya merasa lebih hina kalau Adik Tri menolak tusuk konde mutiara ini. Selebihnya Adik Tri bisa memberikan kepada penduduk, untuk sekadar pengganti ruangan dan perawatan saya selama beberapa hari.”

Gendhuk Tri ragu.

“Adik Tri tak usah menunggui. Saya bisa mati lusa, bisa bulan depan. Semua akan saya jalani dengan kekuatan yang ada. Kalau umur saya bisa panjang, sesuatu yang mustahil tapi tak apa kita bicarakan, barangkali kita akan berjumpa kembali. Kalau tidak sekarang, pada kehidupan yang akan datang. Adik Tri, saya putri Kaisar Koreyea sangat berterima kasih atas kebaikan dan kemuliaan Adik Tri.”

Kidungan Bumi dan Air
GENDHUK TRI merendahkan tubuhnya ketika Putri Koreyea berjongkok di tanah. Tangan kanannya menarik pundak Putri Koreyea. “Cukup, Putri, cukup.”

Ketika mendongak kembali, titik bening air mata menggenang di sudut. Menetes ke arah pipi yang penuh, berwarna sangat putih.

“Adik Tri akan berangkat malam ini juga?”

“Putri ingin saya berangkat besok?”

Putri Koreyea tersenyum malu-malu. “Pertanyaan saya terasa sebagai permintaan? Ah. Sesungguhnya rasa kewanitaan di mana saja tetap sama. Tak ada bedanya. Adik Tri, apakah saya boleh mengajukan pertanyaan pribadi?”

Bagi Gendhuk Tri sebenarnya masih terasa asing. Ada jarak tertentu. Apalagi dengan wanita seberang, yang ditemui pertama kali sebagai musuh utama. Di samping itu, ia sendiri jarang membuka isi hatinya. Barangkali selama ini hanya kepada Nyai Demang. Ah, di mana Nyai Demang sekarang?

“Kalau tidak juga tak apa.”

Namun Putri Koreyea berbeda. Nasib yang dideritanya menyebabkan Gendhuk Tri merasa dekat.

“Asal setiap pertanyaan saya juga dijawab.”

“Itu baik. Siapa yang mulai?”

Keduanya duduk di dipan bambu yang sudah berumur tua. Hanya dialasi daun kelapa kering yang tidak dianyam, tapi terasa menyenangkan.

“Silakan…”

“Adik Tri, siapa nama Adik Tri yang lengkap?”

Gendhuk Tri menyembunyikan senyum geli. Tak disangka bahwa pertanyaan yang bersifat pribadi hanya sebegini. “Nama saya, Jagattri. Jagat ketiga. Dalam pengertian negeri saya, biasanya ada dua jagat. Jagat pertama, atau jagat atas, yaitu langit, tempat bersemayam para Dewa. Jagat kedua, atau jagat bawah, yaitu tanah tempat kediaman manusia. Jagat ketiga, adalah jagat yang diada-adakan untuk menyebutkan bawah tanah. Artinya dari warna yang tidak berarti, tidak masuk dalam hitungan.”

“Warna?”

“Warna, kasta, pembagian warga masyarakat dalam tata krama tanah Hindia. Dengan kata lain, asal-usul saya dari kelompok yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Kalau saya menikah dengan kelompok ksatria atau kelompok brahmana, anak saya masuk kelompok itu, sedangkan saya sendiri tidak.”

“Apakah Pangeran Upasara Wulung mempertimbangkan itu?”

“Tunggu dulu, Putri. Putri telah bertanya dua kali. Giliran saya bertanya. Pertama, kenapa Putri mau menikah dengan Pangeran Hiang kalau Putri sudah tahu menderita penyakit? Kedua, kenapa Putri sekarang mau menjauhkan diri dan menunggu ajal tanpa berusaha?”

“Adik Jagattri, saya berasal dari Keraton Koreyea. Putri Keraton. Keraton Koreyea adalah keraton yang besar, yang mempunyai timbunan kain sutra cukup untuk membalut seluruh manusia di jagat ini. Para ksatrianya gagah dan berani. Tanahnya subur makmur. Di jagat ini Keraton Koreyea satu-satunya yang mengibarkan panji tinggi-tinggi. Meskipun sejarah mengatakan bahwa Keraton Koreyea tak ubahnya Keraton Cina, yang kini dikuasai Tartar, maupun Keraton Jepun. Menurut sejarah, ketiga keraton ini mempunyai nenek moyang yang sama. Dari ketiga turunan Dewa Matahari, Koreyea yang dianggap paling bungsu. Menurut kami itu tidak betul. Kami bertekad membuktikan sebagai putra sulung. Perebutan saudara tua, siapa yang sulung, menjadi pertarungan resmi. Pangeran Hiang yang datang dan menang. Saya bersedia menjadi istrinya. Ketika lamaran itu datang, saya belum menderita penyakit. Kini saya menderita, dan saya menjauhkan diri karena tak ingin menulari.”

“Jadi, Putri baru…”

“Itu pertanyaan baru.”

“Baik, silakan Putri bertanya lebih dulu.”

“Tidak, saya tidak akan bertanya. Dua pertanyaan sudah lebih dari cukup.”

Gendhuk Tri mengangkat alisnya dalam gelap. Cahaya kecil sanggup menerangi wajahnya. “Baiklah, kalau Putri ingin membawa rahasia itu. Hanya saya bisa menebak, bahwa Putri masih segar bugar ketika dilamar. Ada kesengajaan Putri untuk mencelakakan Pangeran Hiang. Dengan menularkan penyakit, Putri akan bisa membunuh Pangeran Hiang. Saya tak bisa keliru dalam soal ini.”

Tak ada jawaban. Malah pertanyaan. “Kenapa saya harus mendendam, Adik Jagattri?”

“Karena Putri adalah putri Keraton Koreyea. Yang mencintai keraton, bumi dan air Koreyea, seperti semua orang Koreyea, dan tidak mau menyerah kalah kepada keraton lain, apalagi kepada Keraton Cina. Kidungan mencintai bumi dan air, kidungan tak mau mengalah, bukan hanya milik orang Koreyea. Sri Baginda Raja Kertanegara juga tak mau menyerah. Putri, bukankah itu hal yang wajar dan biasa-biasa saja?”

“Adik Jagattri akan melakukan hal yang sama?”

“Saya bukan putri keraton. Tapi saya akan membunuh diri jika tidak mau dipersunting sebagai tanda menyerah. Oleh Pangeran Hiang sekalipun jika ia merasa sebagai pemenangnya.”

“Juga kalau misalnya Pangeran Upasara pemenangnya?”

Sejenak Gendhuk Tri ragu. “Ya,” jawabnya perlahan.

“Kenapa?”

“Kidung bumi dan air selalu ditembangkan sejak nenek moyang.”

“Adik Jagattri tidak suka kepada Pangeran Upasara?”

“Saya sangat menghormati. Saya mengenalnya sejak kanak-kanak. Tetapi maaf, saya sudah berjanji kepada ksatria lain.”

“Ooo…”

“Kenapa Putri Koreyea jadi ragu?”

“Apakah Pangeran Upasara mengetahui hal ini?”

“Ya, saya mengatakannya.”

“O…”

Gendhuk Tri baru mau mengulang ketika mendengar helaan napas berat.

“Saya tak tahu, Adik Jagattri. Sebelumnya saya memang berniat membalas dendam kekalahan Koreyea. Menjadi pembela Keraton. Namun ketika saya melihat sorot matanya, melihat kecintaannya, melihat sikapnya yang luhur, saya merasa bersalah. Pangeran Hiang tidak bisa disalahkan. Tidak harus menanggung penderitaan yang saya tanggung. Pertarungan batin saya membuat saya letih. Karena tidak mampu menjalankan tugas membalas dendam, saya memilih mati sendiri.”

“Pertarungan batin antara membela Keraton dan memenangkan asmara?”

“Antara kebenaran. Apakah tindakan saya bisa dibenarkan jika mencelakai Pangeran?”

“Bukankah sebelumnya tak ada keraguan?”

“Tidak.”

“Bukankah Putri Koreyea sengaja meracuni tubuh?”

“Ya.”

“Racun macam apa?”

“Racun yang paling menjijikkan. Perbuatan yang paling hina.”

“Saya tak bisa membayangkan apa itu.”

“Tidak akan pernah bisa. Saya sendiri yang mengalami. Saya yang menjalani semua ini. Oooo… O, betapa mengerikan. Perbuatan paling hina yang paling dikutuk Dewa. Itu yang saya pilih.”

“Putri, bukankah Putri bisa membalas dendam dengan cara lain? Dengan meracuni makanan, minuman, menikam, membunuh, mencekik, memenggal kepalanya?”

“Adik Jagattri tak akan mengetahui. Ada cara mati hina dan cara mati ksatria. Dibunuh atau terbunuh oleh lawan adalah cara mati ksatria. Saya ingin Pangeran Hiang mati dengan cara yang paling hina. Yang dikutuk Dewa. Mati dengan kehinaan yang tiada tara.”

Gendhuk Tri merinding. Semua bulu tubuhnya seakan berdiri. Keringatnya melembap. Sungguh tak dinyana tak diduga. Pasangan yang kelihatan begitu bahagia, begitu saling memperhatikan, begitu saling membagi kasih dan sayang, saling membela diri, ternyata menyembunyikan niatan yang paling busuk. Paling rendah. Paling hina. Dikutuk Dewa. Tersembunyi tindakan keji.

Kutukan Baginda Koryo
GENDHUK TRI tak bisa membayangkan sama sekali, bahwa di balik kemesraan yang membuat iri itu tersembunyi dendam yang membakar, yang berakar sangat dalam. Menembus tanah yang paling bawah. Sedemikian beringas dan mengenaskan, sehingga cara yang dilakukan benar-benar menjijikkan. Bahkan bagi pelakunya sendiri.

Putri Koreyea memang tidak menjelaskan bagaimana dendam Keraton Koreyea tidak sesederhana hanya karena dianggap saudara bungsu. Dendam seratus turunan itu telah berlangsung sejak Keraton Koreyea dikalahkan dan dikuasai Keraton Cina. Sehingga segala tata krama yang ada bersumber kepada Keraton Cina.

Mulai dari menulis, memilih huruf, memakai pakaian. Dan terutama perkembangan ilmu silat yang ada selalu bisa dikembalikan asalnya dari perguruan di Cina. Perlawanan yang tak kunjung berhenti tidak menemukan hasilnya. Puncak kekalahan itu justru ketika Pangeran Hiang datang dan menaklukkan secara resmi.

Kalau tadinya hanya perlu menghaturkan upeti, kini Keraton Koreyea benar-benar diinjak dengan telapak kaki. Dikalahkan. Dan salah seorang putri utamanya diboyong ke Keraton Tartar. Api neraka pun tak akan sepanas keinginan untuk membalas dendam. Tugas dan kewajiban itu jatuh ke pundak Putri Koreyea! Itu sebabnya ia memilih cara yang paling rendah dan kotor.

“Putri mencintai Pangeran Hiang?”

“Adik Jagattri, apakah kamu bisa menjawab jika menjadi saya sekarang ini? Apakah Adik Jagattri bisa membayangkan? Saya bukan terikat janji dengan seseorang seperti Adik, melainkan dengan nenek moyang seratus turunan! Bukan perbandingan yang gampang dimengerti. Padahal Adik sendiri bisa ragu, antara memilih Pangeran Upasara atau…”

“Maha Singanada….”

“Bisakah Adik bayangkan?”

“Tidak begitu tepat, tapi saya bisa mengerti.”

“Di mana pujaanmu?”

Gendhuk Tri menceritakan secara singkat pertemuan terakhir dengan Maha Singanada. Juga tindakan yang terpaksa dilakukan bersama Pangeran Anom ketika memotong kaki Singanada.

“Adik Jagattri. Kamulah wanita yang paling bahagia. Pastilah sukma yang menitis padamu sukma yang sepanjang jagat ini berbuat kebajikan.”

“Bahagia?”

“Tidakkah Adik merasakan?”

“Tidak,” jawaban Gendhuk Tri benar-benar menunjukkan kepolosan.

“Adik bisa berjalan di luar dinding Keraton. Bisa menemukan, mencari, dan memilih ksatria yang hebat serta gagah. Bisa berbuat sesuatu untuk pujaan hati.”

“Kalau dari sisi itu, ya.”

“Adik memotong kaki demi kebaikan dan untuk menolong.”

“Ya.”

“Saya? Apa yang saya lakukan? Melakukan daya asmara untuk membunuh dengan melumurkan kotoran kehinaan!”

Terdengar pekik keras. Penduduk yang rumahnya didiami sampai beranjak masuk. Gendhuk Tri menyuruh kembali keluar dengan tulus. Dan kembali lagi, membiarkan Putri Koreyea terguguk. Tersedu. Terisak. Tersengal.

“Saya harus melaksanakan Kutukan Chopatu!”

Gendhuk Tri menggeleng. Kata chopatu sama sekali tak dimengerti. Tetapi ia membayangkan sebagai kutukan Dewa Yang Mahabengis. Atau sejenis dengan itu. Baru kemudian sadar bahwa dugaannya agak keliru. Setelah Putri Koreyea menjelaskan secara tidak langsung.

“Chogori adalah yang saya kenakan ini, baju di bagian atas yang membungkus, yang Adik katakan membuat saya kepanasan. Paji adalah yang untuk menutup kaki sampai ke atas ini. Sedangkan turumagi, yang lebih membuat saya sangat kepanasan karena membungkus semuanya dari luar. Adik Tri jangan tersinggung kalau saya katakan bahwa tata krama susila Keraton kami sangat tinggi. Tubuh manusia, apalagi wanita, tidak seperti Adik ini, dibiarkan terbuka. Maaf, Adik Tri. Tidak akan kuku saya dilihat oleh mata lain. Tidak juga telapak kaki atau tengkuk saya. Akan tetapi ketiganya ini saya lepaskan, saya buka, saya hinakan tubuh saya, untuk menjalani kutukan! Kalau ada yang jatuh paling dalam di api penyiksaan, itu adalah saya! Putri Koreyea yang melakukan daya asmara dengan turunan Baginda Koryo, ayah saya!”

Kepala Gendhuk Tri bagai disambar halilintar, tubuhnya bagai diguncang ombak Laut Selatan. Matanya membelalak, mulutnya menganga, dan isi tubuhnya berhamburan. Keningnya berdenyut keras. Tamparan kewanitaan yang membuatnya muntah beberapa kali.

Penduduk yang berjaga di pintu heran. Kalau sebelumnya Putri Koreyea yang merintih, dan Gendhuk Tri segar bugar, kini malah berganti. Gendhuk Tri yang terhuyung-huyung, menekuk tubuh di tanah, sementara Putri Koreyea yang meminta mereka tidak masuk. Ganjil. Tapi Gendhuk Tri merasakan lebih dari sekadar keganjilan. Isi perutnya masih bergolakan, mengeluarkan suara, buih dan mulutnya terasa pedih. Perih.

Adalah di luar semua kemampuannya untuk menerima kenyataan yang diakui Putri Koreyea. Bahwa ia sengaja melakukan hubungan daya asmara dengan ayahnya sendiri, agar bisa menderita kutukan yang mengerikan. Yang pada kesempatan berikutnya nanti akan ditularkan ke Pangeran Hiang, dengan melakukan hubungan asmara juga. Benarkah jagat telah hancur-hancuran?

Gendhuk Tri masih meneriakkan suara keras, karena kini hanya angin yang bisa dimuntahkan. Dendam seratus turunan yang membakar, memapas, dan terus-menerus melukai perasaan. Turunan Raja Koryo! Raja yang menguasai tlatah Koreyea hingga bisa disebutkan sebagai Keraton Koreyea sekarang ini. Raja Koryo ini pula yang berhasil mempersatukan seluruh tlatah dan mendirikan Keraton.

Sungguh biadab. Sungguh tak bisa dimengerti bahwa Putri Koreyea dapat melakukan hal semacam itu. Kalau tadinya Gendhuk Tri masih membawa nama bumi dan air sebagai kidungan pembelaan, cara yang dilakukan Putri Koreyea tetap membuatnya terenyak keras. Gendhuk Tri masih memegangi perutnya ketika mencoba berdiri. Tangannya gemetar ketika mencoba menuding.

“Muntahan Adik Tri masih lebih mulia dari saya. Itukah yang ingin Adik katakan? Ya. Ya, saya memang lebih rendah lagi dari itu semua. Pun di tanah Jawa ini, di mana rajanya berniat menikahi saudara seayah! Saya memang lebih baik mati dengan cara seperti ini. Saya gagal. Saya telah menyebabkan ayah saya menjadi jahanam, tetapi saya tidak melakukan apa-apa kepada Pangeran Sang Hiang. Adakah di jagat ini yang lebih malang dari saya?”

Suaranya berlanjut dalam bahasa yang tak dimengerti Gendhuk Tri. Ini berlangsung lama. Sampai kelelahan sendiri. Dan tertidur. Gendhuk Tri tak bisa berkata apa-apa lagi. Tangannya menimbuni muntahan dengan tanah secara tidak teratur. Pikirannya masih kacau. Antara mengutuk dan membenarkan tindakan Putri Koreyea. Antara mendengar dan mempercayai apa yang diceritakan. Antara membayangkan cerita yang kembali memualkan perutnya.

Bagaimana mungkin Putri Koreyea bisa melakukan itu secara sadar? Bagaimana mungkin ayahnya yang disebut keturunan Baginda Koryo mampu melakukan itu semua? Bisa dimengerti kalau selama ini Putri Koreyea menyembunyikan. Karena kalaupun diungkapkan, tak akan mudah dipercaya. Bahkan Pangeran Hiang sendiri belum tentu mau menerima cerita ini. Yang lebih membuat Gendhuk Tri tak mampu menguasai keseimbangan pikiran adalah, bagaimana kemudian Putri Koreyea akhirnya bisa menceritakan hal ini. Pada orang lain.

Ketika sinar surya mulai terasakan semburatnya, barulah Gendhuk Tri menyadari bahwa tubuh Putri Koreyea telah dingin. Tak ada denyut kehidupan. Barangkali ini jawabannya kenapa Putri Koreyea membuka diri. Gendhuk Tri berlutut. Memohon kepada Dewa, agar nyawa Putri Koreyea mendapat pengampunan. Akan tetapi Gendhuk Tri sadar bahwa pemusatan pikirannya simpang siur tak menentu.

Pertemuan Turkana
SETELAH berusaha menenangkan diri beberapa saat, Gendhuk Tri menunggu sampai fajar betul-betul merekah. Ada semacam kepercayaan bahwa waktu menjelang fajar belum tentu rela untuk keberangkatan nyawa. Tapi Gendhuk Tri lebih menyandarkan pada kemungkinan bahwa Putri Koreyea memang belum meninggal. Sebab sebelumnya juga bisa dalam keadaan seperti tidur dan mati sekaligus. Bahkan malam harinya pun Gendhuk Tri masih menunggui.

Selepas fajar berikutnya, barulah Gendhuk Tri yakin bahwa Putri Koreyea benar-benar sudah meninggal dunia. Ia merasa bingung sejenak, akan diapakan mayat Putri Koreyea. Dikubur atau dibakar. Akhirnya yang terakhir yang dipilih. Terutama setelah sehari-semalam, semua kulit di wajah Putri Koreyea mengelupas, mengeluarkan semacam bau anyir yang menusuk hidung. Gendhuk Tri tak mau meninggalkan risiko bagi penduduk setempat.

Makanya kemudian dibakar, berikut dipan kayu dan daun kelapa yang digunakan untuk duduk. Ia menyarankan untuk melabuh abunya di laut, dan berdoa mudah-mudahan abu itu bisa kembali ke negerinya. Abu kemenangan. Setidaknya bagi diri Putri Koreyea. Kemenangan untuk pada akhirnya memilih mati tanpa menularkan penyakit kepada Pangeran Hiang. Sedikit-banyak perasaan ini menenteramkan Gendhuk Tri.

Yang merasa bahwa Putri Koreyea sengaja memilih jalan kematian. Kalau tidak, mestinya ia masih bisa bertahan untuk beberapa hari, atau beberapa waktu. Meskipun ada dugaan yang lain, bahwa ketika membuka penderitaan batinnya, Putri Koreyea tak kuat menanggungnya. Sehingga meninggal secara ngenes, secara menyedihkan. Tapi Gendhuk Tri tak mau terbelenggu pikiran itu.

Ia memberikan permata kepada penduduk. Dengan pesan agar kelebihan uang yang diperoleh bisalah untuk memperbaiki kehidupan. Jangan malah sebaliknya, karena tambahan harta seketika, seluruh kehidupan menjadi tidak keruan. Setelah itu Gendhuk Tri menuju Keraton.

Sebenarnya tak ada tujuan yang pasti untuk ke Keraton. Makanya dalam perjalanan Gendhuk Tri tidak terburu-buru. Sengaja ia memasang telinga, kalau-kalau mendengar adanya seorang yang menderita sakit kaki. Pikirannya masih belum lepas dari Maha Singanada. Ada semacam rasa penyesalan tak bisa merawat dengan baik. Akan tetapi berita pertama yang didengar justru mengenai Ratu Ayu Bawah Langit, yang akan menghadiri puncak pesta kesembuhan Permaisuri Praba Raga Karana.

Gendhuk Tri tak begitu peduli, andai tidak ada sangkut-pautnya dengan Upasara Wulung. Karena sejauh yang didengar kini, kedatangan mereka berdua resmi sebagai Raja dan Ratu Turkana. Raja menerima mereka berdua sebagai sesama penguasa tertinggi.

Gendhuk Tri setengah tidak percaya akan apa yang didengarnya. Akan tetapi ketika bertemu dengan Nyai Demang di alun-alun Keraton yang kini kembali dihias luar biasa, Gendhuk Tri baru percaya bahwa apa yang didengarnya bukan cerita burung.

“Jagattri…”

“Kenapa Mbakyu memanggil begitu?”

Nyai Demang tersenyum. “Rasanya sudah tidak pantas lagi memanggilmu Adik. Tubuhmu tumbuh luar biasa tinggi, mengalahkan siapa saja. Seolah ingin menjenguk gunung.”

Gendhuk Tri menceritakan pengalamannya, sejak perahu Siung Naga Bermahkota diledakkan dan dirinya terdampar. Hanya mengenai Putri Koreyea Gendhuk Tri menceritakan secara samar.

Nyai Demang menceritakan pengalaman yang kurang-lebih sama. Bahwa sejak menderita luka, ia tak tahu banyak perkembangan yang terjadi. Berkat pengobatan Tabib Tanca, ia bisa pulih kembali dan memutuskan kembali ke Perguruan Awan bersama Jaghana. Keduanya merasa itulah keputusan yang terbaik.

Jaghana menganggap bahwa apa yang dilakukan selama ini sudah cukup menjauhkan langkah-langkah yang dikehendaki Eyang Sepuh. Yaitu menelantarkan Perguruan Awan. Maka ia memutuskan kembali. Keinginannya tak tergoyahkan ketika menerima undangan Ratu Ayu.

“Paman Jaghana hanya menitipkan puja-puji dan pangestu, saling donga-dinonga, saling mendoakan dari jauh. Itu saja. Saya merasa ada sesuatu yang kurang menenteramkan di hati Paman Jaghana, akan tetapi Paman tidak menerangkan apa-apa. Bahkan Paman Jaghana tidak mau menemui Adimas Upasara lebih dulu.”

Kalau dulu Gendhuk Tri merasa serr setiap kali Nyai Demang mengucapkan “adimas” yang namanya seperti berubah, sekarang meskipun masih ada getaran emosi tapi tak terlalu mengganggu.

“Apa yang dikatakan Kakang Upasara?”

Nyai Demang terdiam sesaat. “Adimas Upasara tidak mengatakan apa-apa. Ketika saya menanyakan apakah benar akan datang ke Keraton bersama Ratu Ayu, jawabannya hanya anggukan pendek. Saya merasa kurang enak dan juga salah menanyakan hal ini. Bukankah sangat wajar mereka datang berdua. Selama ini secara resmi mereka berdua adalah Raja dan Ratu Turkana. Kurang pada tempatnya saya menanyakan hal itu. Saya menyesal.”

“Mbakyu sampaikan apa yang dikatakan Paman Jaghana?”

“Ya. Adimas Upasara hanya mengangguk pendek.”

Gendhuk Tri mengangguk pendek. Seperti mengikuti pikirannya yang membayangkan bagaimana kira-kira Upasara mengangguk. “Ini agak aneh, Mbakyu. Bagaimanapun juga Kakang Upasara adalah pemimpin Perguruan Awan. Boleh saja Kakang itu Raja Turkana atau negeri mana saja. Boleh saja ia ksatria hebat, akan tetapi tetap pewaris utama Perguruan Awan, pilihan Eyang Sepuh. Tak seharusnya ia hanya mengangguk pendek saat pesan Paman Jaghana Mbakyu sampaikan.”

“Saya tak bisa mengatakan apa-apa.”

Keduanya terdiam.

“Saya tak mau menduga yang tidak-tidak. Apakah ada kekuatan lain atau pengaruh tertentu. Adimas Upasara sudah dewasa. Sudah menguasai ilmu yang tinggi, sehingga sudah cukup bijaksana memutuskan apa yang akan dilakukan.”

“Dari mana datangnya Ratu Ayu?”

“Saya tak sempat bertanya. Hanya selama ini ia berusaha memulihkan tenaga dalamnya, dan ketika mendengar kabar santer dirinya dituduh melarikan dua putri Permaisuri Rajapatni, Ratu Ayu datang ke Keraton untuk menjernihkan namanya.”

“Saat itu ketemu Kakang?”

“Rasanya begitu.”

“Bagaimana keadaan Kakang sekarang ini?”

Nyai Demang memandang haru. “Jagattri, kamu ini bagaimana? Belum sebulan kamu selalu bersamanya. Apakah tiba-tiba berubah tangannya menjadi tiga atau telinganya tinggal satu? Jagattri, bukankah kamu yang bersama Adimas di saat terakhir? Saya justru ingin tahu apa yang terjadi selama bersamamu.”

Gendhuk Tri membuang jauh-jauh pikirannya. Nyai Demang menggenggam tangan Gendhuk Tri.

“Ada sesuatu yang harus kita lepaskan. Masa lalu. Betapapun manis atau menyakitkan. Ada sesuatu yang harus kita hadapi. Masa sekarang. Betapapun manis atau menyakitkan. Ada sesuatu yang akan kita jalani. Masa depan. Betapapun manis atau menyakitkan.”

Gendhuk Tri tersenyum. “Mbakyu jadi bijaksana.”

“Saya jadi tua,” suaranya sedikit getir. “Menjadi tua berarti menerima kenyataan seperti apa adanya. Kita berdua tak perlu saling menyembunyikan perasaan yang kita sendiri masing-masing sudah tahu. Sejak kita mengadakan perjalanan bersama Ratu Ayu dan Permaisuri Rajapatni, saya menemukan jawaban yang selama ini sebenarnya sudah tersedia. Kasunyatan, kenyataan. Belajar dari awal untuk mengerti dan menerima kenyataan. Bagaimana dengan Pangeran Anom?”

“Kenapa Mbakyu tiba-tiba menanyakan hal itu kepada saya?”

“Saya tahu Pangeran Anom menunggumu, mencarimu.”

Gendhuk Tri menghela napas. Sesak. “Saya tak tahu harus bersikap bagaimana sebaiknya.”

“Saya tahu kalau saya jadi kamu. Menemukan Maha Singanada.” Suara Nyai Demang lirih, seakan berbisik. “Saya pernah mengalami usia sepertimu.”

Mata Gendhuk Tri berkejap. “Mbakyu akan datang ke Keraton?”

Persembahan Raja-Raja
NYAI DEMANG menjawab dengan anggukan, cepat sekali. “Saya dengan sadar akan melihat puncak pesta di Keraton. Untuk melihat kebesaran Keraton, tempat kita mengabdikan diri. Keraton yang memberikan kebanggaan, memberikan naungan bagi kita. Saat sekarang ini Raja ingin mempersunting secara resmi Permaisuri Praba Raga Karana. Sekaligus menerima raja-raja dari seberang yang datang menunjukkan ketaatannya. Zaman yang pernah digariskan Sri Baginda Raja, yang tak sempat mengalami. Sekarang kebesaran itu datang. Tidakkah kita ikut merasakan?”

“Itu sebabnya Mbakyu tidak segera ke Perguruan Awan?”

“Ya, saya harus menerima kenyataan ini. Adik Jagattri, rasanya kita bisa datang bersama.”

Gendhuk Tri menggeleng. “Saya hanya akan menemui Kakang untuk mendoakan semoga bahagia, karena langkah saya masih jauh untuk bisa menikmati puncak pesta kenegaraan.”

“Siapa tahu Maha Singanada juga datang.”

“Kakang Singanada tak pernah tertarik dengan pesta semacam ini.”

“Akan tetapi kalau tahu kamu akan muncul, bukankah ia akan muncul juga?”

Gendhuk Tri menatap ragu. Kepalanya bisa menggeleng, bisa mengangguk. Menggeleng, karena mengikuti jalan pikirannya yang mengatakan bahwa Maha Singanada selama ini sengaja menyembunyikan diri. Barangkali kakinya belum sembuh sempurna, barangkali karena memang enggan memunculkan diri. Kalau tidak, pertarungan di Lodaya tepian Brantas sudah pasti akan membuatnya muncul. Rasanya tak ada ksatria yang tidak menampakkan diri pada saat segawat itu. Tapi nyatanya Maha Singanada tidak tampak.

Mengangguk, karena mengikuti jalan pikirannya bahwa Maha Singanada tak akan melupakan dan meninggalkannya begitu saja. Meskipun tidak mengenal terlalu jauh seperti mengenal Upasara, Gendhuk Tri yakin sifat-sifat Singanada. Jangan kata janji yang telah diucapkan, bahkan hal lain yang kelihatan sepele bisa menjadi penting, kalau itu menyangkut apa yang telah dikatakan. Juga tidak mungkin kalau Singanada sengaja menyembunyikan diri. Itu bukan sifatnya. Dua pendapat yang bertentangan itulah yang membuat Gendhuk Tri ragu. Dan juga kuatir. Kalau selama ini tak menampakkan diri, apa yang terjadi?

Gendhuk Tri merasa letih. Begitu banyak peristiwa yang menerkam perhatiannya dan menyusup dalam hatinya sejak berpisah dengan Maha Singanada. Baik pertemuannya dengan Pangeran Anom, maupun pemunculan kembali Upasara Wulung, sampai dengan pertemuan yang singkat namun sangat mengesankan dengan Putri Koreyea. Semuanya adalah peristiwa yang, seakan, tidak selesai. Masih menggantung. Itu yang menyebabkannya letih. Gendhuk Tri menghapus keringat di jidatnya.

“Mbakyu mau ke mana sekarang ini?”

“Mengantarmu ke tempat Adimas.”

“Saya akan menemui, tapi rasanya bukan sekarang.”

Nyai Demang merasakan nada yang getir. Yang tak disembunyikan. Nyai Demang sepenuhnya bisa memahami. Itu sebabnya tak menyinggung lagi. Namun juga tak meninggalkan Gendhuk Tri seorang diri. Kini dirinya juga merasa sendiri. Tak mempunyai teman erat, seperti dengan Jaghana, Gendhuk Tri, Galih Kaliki, Dewa Maut, dan Wilanda. Seperti dulu. Maka Nyai Demang mengajak Gendhuk Tri beristirahat di tempatnya. Yang disediakan bagi para tamu ksatria yang diundang menghadiri pesta di Keraton.

Karena tak mempunyai pilihan lain, Gendhuk Tri mengiyakan. Setelah mendapat jawaban bahwa Nyai Demang tidak akan menceritakan kepada siapa pun, baik kepada Pangeran Anom maupun kepada Upasara. Berada di perumahan yang disediakan khusus, Gendhuk Tri lebih banyak berdiam diri. Tidak banyak bergerak atau bercakap, juga tidak berlatih tenaga dalam.

“Jagattri, kamu merasa saya mengganggu kalau saya menemani?”

“Kenapa Mbakyu jadi begitu sungkan?”

“Kita memang satu hati. Akan tetapi ada saatnya kita ingin menyendiri, tak mau berbagi pikiran kegelisahan.”

“Mbakyu, bagi saya segalanya telah selesai. Saya tak akan merepotkan diri lagi dengan berbagai urusan. Saya ingin menikmati kehidupan dengan cara yang wajar. Kalau ada yang masih mengganjal, itu hanyalah karena menguatirkan Kakang Maha Singanada.”

“Dan saya? Saya telah lebih dulu selesai. Saya tak mencari apa-apa lagi. Segalanya telah berjalan sempurna. Kalaupun Halayudha sekarang menjabat pangkat mahapatih dan ilmunya berkembang pesat, saya tak menyimpan dendam apa-apa lagi. Memang kadang terpikir juga. Kenapakah saya ini masih seperti ini, ketika Adik Jagattri sendiri sudah bisa menemukan ilmu yang sejati, sudah menguasai Kitab Air. Ketika dengan satu loncatan yang hebat, Halayudha sudah menemukan sumber kekuatan sukma. Adik Jagattri pernah mendengar? Sekarang ini Halayudha sudah sampai pada tingkat memperdalam Ngrogoh Sukma Sejati, yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Alangkah tololnya saya ini. Kidungan Paminggir, Kidungan Pamungkas, beberapa bagian Kidungan Para Raja bisa saya hafal, akan tetapi tetap saja begini.”

“Mbakyu menyesali?”

“Saya menyesali kebodohan saya, bukan nasib. Adik Jagattri mendengar tentang kekuatan sukma sejati?”

“Rasanya Kakang Upasara pernah menyebut tentang hal itu selama di pulau terpencil.”

“Tidak tertarik?”

“Kalau dikatakan kehilangan semangat, barangkali sekarang ini pertama kali saya merasakan.”

“Bagaimana kalau kita menjajal?”

Gendhuk Tri menggeleng. “Saya bisa mencoba tetapi hasilnya tak akan ada.”

Gendhuk Tri membungkam. Nyai Demang menjauh. Meninggalkan. Tidak sepenuhnya. Karena kemudian Gendhuk Tri mendengar kidungan yang berulang.

Ada hari, ada nyanyi
Kenapa harus bersedih hati
Waktu bayi, temanmu adalah bidadari…

Kidungan pendek yang ditembangkan secara rengeng-rengeng, secara tersamar antara terdengar kata-katanya dan tidak, mengusik Gendhuk Tri. Itulah kidungan yang selalu ditembangkan gurunya sekaligus pengasuhnya Jagaddhita. Entah kenapa dulu tembangan itu yang selalu dinyanyikan. Seperti bagian yang belum selesai. Seperti menggambarkan kesendirian.

Kesan itu sangat kuat terasakan oleh Gendhuk Tri sekarang ini. Rasa sepinya seperti terusir. Menyingkir karena kelembutan Nyai Demang. Yang memang berusaha mendekatkan diri, berusaha menghiburnya. Berusaha menjadi sahabat, bagian dari sanak saudara.

Ada hari, ada nyanyi…

Ungkapan yang berusaha menggembirakan hati, karena berangkat dari kesendirian, dari kepedihan. Seperti yang terurai dari lirik berikutnya, “Kenapa harus bersedih hati, Waktu bayi, temanmu adalah bidadari? Dulu itu dirasakan Gendhuk Tri sebagai tembang yang khusus untuk dirinya. Karena merasa dirinya tak mempunyai siapa-siapa. Tetapi bukan tidak mungkin tembang itu juga menggambarkan suasana hati gurunya.

Yang tak sempat diketahui. Karena pertemuannya yang pendek, karena ia belum mengetahui apa yang harus ditanyakan saat itu. Baru sekarang perasaannya tergugah. Terusik, merasa tak bisa membalas kebaikan guru yang merawatnya, mendidiknya, menghidupinya. Tidak juga hanya dengan memahami apa yang dirasakan. Sudah barang tentu Gendhuk Tri tidak pernah setitik pun melupakan gurunya.

Atau menyangsikan kasih sayangnya, meskipun sekarang ilmu silatnya sudah berkembang lain. Akan tetapi itu tak pernah bisa terwujudkan. Kebutaan hatinya menutupi keinginan berterima kasih. Sungguh tepat kalau Nyai Demang menembangkan sekarang ini! Air mata Gendhuk Tri menetes. Membasahi pangkuannya. Makin basah.

Suara Masa Lalu
GENDHUK TRI merasa sedikit lega. Curahan air mata menguras kegelisahannya, menyuntak dalam tetesan. Dengan mata masih sembap, Gendhuk Tri beranjak dari kamarnya. Melangkah ke luar. Nyai Demang tersenyum di depan pintu.

“Terima kasih, Mbakyu….”

“Kamu masih ingat tembangan itu?”

Dua-duanya saling tersenyum, saling memandang akrab. Lebih dekat dari sebelumnya. Hanya sejenak, karena keduanya kemudian bengong. Memiringkan kepala ke arah datangnya suara. Suara kidungan!

Ada hari, ada nyanyi
Kenapa harus bersedih hati
Waktu bayi, temanmu adalah bidadari

Ada hari, tanpa nada, tanpa irama
Kenapa harus bertanya
Waktu bayi, temanmu menjadi bidadari
Menjadi kupu-kupu
Berkalung tangkai daun singkong
Membuat sungai

Ada hari, ada nyanyi
Kenapa harus bersedih hati
Waktu bayi, temanmu adalah bidadari…


Mereka berdua bengong. Karena Gendhuk Tri menduga itu tadi suara Nyai Demang. Dan ternyata Nyai Demang juga menduga bahwa Gendhuk Tri yang menembangkan! Itulah aneh. Pandangan sekilas yang saling bentrok sudah berbicara banyak. Gendhuk Tri tak bisa menahan diri untuk tidak menjejak lantai dan terbang ke arah datangnya suara. Nyai Demang melakukan hal yang sama. Meskipun tubuhnya kalah gesit dan kalah cepat.

JILID 53BUKU PERTAMAJILID 55

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 54

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 54

Putri Koreyea mengambil tusuk konde dan membuka ikatan bajunya. Ia memperlihatkan beberapa permata dan meletakkannya di dipan.

“Saya merasa lebih hina kalau Adik Tri menolak tusuk konde mutiara ini. Selebihnya Adik Tri bisa memberikan kepada penduduk, untuk sekadar pengganti ruangan dan perawatan saya selama beberapa hari.”

Gendhuk Tri ragu.

“Adik Tri tak usah menunggui. Saya bisa mati lusa, bisa bulan depan. Semua akan saya jalani dengan kekuatan yang ada. Kalau umur saya bisa panjang, sesuatu yang mustahil tapi tak apa kita bicarakan, barangkali kita akan berjumpa kembali. Kalau tidak sekarang, pada kehidupan yang akan datang. Adik Tri, saya putri Kaisar Koreyea sangat berterima kasih atas kebaikan dan kemuliaan Adik Tri.”

Kidungan Bumi dan Air
GENDHUK TRI merendahkan tubuhnya ketika Putri Koreyea berjongkok di tanah. Tangan kanannya menarik pundak Putri Koreyea. “Cukup, Putri, cukup.”

Ketika mendongak kembali, titik bening air mata menggenang di sudut. Menetes ke arah pipi yang penuh, berwarna sangat putih.

“Adik Tri akan berangkat malam ini juga?”

“Putri ingin saya berangkat besok?”

Putri Koreyea tersenyum malu-malu. “Pertanyaan saya terasa sebagai permintaan? Ah. Sesungguhnya rasa kewanitaan di mana saja tetap sama. Tak ada bedanya. Adik Tri, apakah saya boleh mengajukan pertanyaan pribadi?”

Bagi Gendhuk Tri sebenarnya masih terasa asing. Ada jarak tertentu. Apalagi dengan wanita seberang, yang ditemui pertama kali sebagai musuh utama. Di samping itu, ia sendiri jarang membuka isi hatinya. Barangkali selama ini hanya kepada Nyai Demang. Ah, di mana Nyai Demang sekarang?

“Kalau tidak juga tak apa.”

Namun Putri Koreyea berbeda. Nasib yang dideritanya menyebabkan Gendhuk Tri merasa dekat.

“Asal setiap pertanyaan saya juga dijawab.”

“Itu baik. Siapa yang mulai?”

Keduanya duduk di dipan bambu yang sudah berumur tua. Hanya dialasi daun kelapa kering yang tidak dianyam, tapi terasa menyenangkan.

“Silakan…”

“Adik Tri, siapa nama Adik Tri yang lengkap?”

Gendhuk Tri menyembunyikan senyum geli. Tak disangka bahwa pertanyaan yang bersifat pribadi hanya sebegini. “Nama saya, Jagattri. Jagat ketiga. Dalam pengertian negeri saya, biasanya ada dua jagat. Jagat pertama, atau jagat atas, yaitu langit, tempat bersemayam para Dewa. Jagat kedua, atau jagat bawah, yaitu tanah tempat kediaman manusia. Jagat ketiga, adalah jagat yang diada-adakan untuk menyebutkan bawah tanah. Artinya dari warna yang tidak berarti, tidak masuk dalam hitungan.”

“Warna?”

“Warna, kasta, pembagian warga masyarakat dalam tata krama tanah Hindia. Dengan kata lain, asal-usul saya dari kelompok yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Kalau saya menikah dengan kelompok ksatria atau kelompok brahmana, anak saya masuk kelompok itu, sedangkan saya sendiri tidak.”

“Apakah Pangeran Upasara Wulung mempertimbangkan itu?”

“Tunggu dulu, Putri. Putri telah bertanya dua kali. Giliran saya bertanya. Pertama, kenapa Putri mau menikah dengan Pangeran Hiang kalau Putri sudah tahu menderita penyakit? Kedua, kenapa Putri sekarang mau menjauhkan diri dan menunggu ajal tanpa berusaha?”

“Adik Jagattri, saya berasal dari Keraton Koreyea. Putri Keraton. Keraton Koreyea adalah keraton yang besar, yang mempunyai timbunan kain sutra cukup untuk membalut seluruh manusia di jagat ini. Para ksatrianya gagah dan berani. Tanahnya subur makmur. Di jagat ini Keraton Koreyea satu-satunya yang mengibarkan panji tinggi-tinggi. Meskipun sejarah mengatakan bahwa Keraton Koreyea tak ubahnya Keraton Cina, yang kini dikuasai Tartar, maupun Keraton Jepun. Menurut sejarah, ketiga keraton ini mempunyai nenek moyang yang sama. Dari ketiga turunan Dewa Matahari, Koreyea yang dianggap paling bungsu. Menurut kami itu tidak betul. Kami bertekad membuktikan sebagai putra sulung. Perebutan saudara tua, siapa yang sulung, menjadi pertarungan resmi. Pangeran Hiang yang datang dan menang. Saya bersedia menjadi istrinya. Ketika lamaran itu datang, saya belum menderita penyakit. Kini saya menderita, dan saya menjauhkan diri karena tak ingin menulari.”

“Jadi, Putri baru…”

“Itu pertanyaan baru.”

“Baik, silakan Putri bertanya lebih dulu.”

“Tidak, saya tidak akan bertanya. Dua pertanyaan sudah lebih dari cukup.”

Gendhuk Tri mengangkat alisnya dalam gelap. Cahaya kecil sanggup menerangi wajahnya. “Baiklah, kalau Putri ingin membawa rahasia itu. Hanya saya bisa menebak, bahwa Putri masih segar bugar ketika dilamar. Ada kesengajaan Putri untuk mencelakakan Pangeran Hiang. Dengan menularkan penyakit, Putri akan bisa membunuh Pangeran Hiang. Saya tak bisa keliru dalam soal ini.”

Tak ada jawaban. Malah pertanyaan. “Kenapa saya harus mendendam, Adik Jagattri?”

“Karena Putri adalah putri Keraton Koreyea. Yang mencintai keraton, bumi dan air Koreyea, seperti semua orang Koreyea, dan tidak mau menyerah kalah kepada keraton lain, apalagi kepada Keraton Cina. Kidungan mencintai bumi dan air, kidungan tak mau mengalah, bukan hanya milik orang Koreyea. Sri Baginda Raja Kertanegara juga tak mau menyerah. Putri, bukankah itu hal yang wajar dan biasa-biasa saja?”

“Adik Jagattri akan melakukan hal yang sama?”

“Saya bukan putri keraton. Tapi saya akan membunuh diri jika tidak mau dipersunting sebagai tanda menyerah. Oleh Pangeran Hiang sekalipun jika ia merasa sebagai pemenangnya.”

“Juga kalau misalnya Pangeran Upasara pemenangnya?”

Sejenak Gendhuk Tri ragu. “Ya,” jawabnya perlahan.

“Kenapa?”

“Kidung bumi dan air selalu ditembangkan sejak nenek moyang.”

“Adik Jagattri tidak suka kepada Pangeran Upasara?”

“Saya sangat menghormati. Saya mengenalnya sejak kanak-kanak. Tetapi maaf, saya sudah berjanji kepada ksatria lain.”

“Ooo…”

“Kenapa Putri Koreyea jadi ragu?”

“Apakah Pangeran Upasara mengetahui hal ini?”

“Ya, saya mengatakannya.”

“O…”

Gendhuk Tri baru mau mengulang ketika mendengar helaan napas berat.

“Saya tak tahu, Adik Jagattri. Sebelumnya saya memang berniat membalas dendam kekalahan Koreyea. Menjadi pembela Keraton. Namun ketika saya melihat sorot matanya, melihat kecintaannya, melihat sikapnya yang luhur, saya merasa bersalah. Pangeran Hiang tidak bisa disalahkan. Tidak harus menanggung penderitaan yang saya tanggung. Pertarungan batin saya membuat saya letih. Karena tidak mampu menjalankan tugas membalas dendam, saya memilih mati sendiri.”

“Pertarungan batin antara membela Keraton dan memenangkan asmara?”

“Antara kebenaran. Apakah tindakan saya bisa dibenarkan jika mencelakai Pangeran?”

“Bukankah sebelumnya tak ada keraguan?”

“Tidak.”

“Bukankah Putri Koreyea sengaja meracuni tubuh?”

“Ya.”

“Racun macam apa?”

“Racun yang paling menjijikkan. Perbuatan yang paling hina.”

“Saya tak bisa membayangkan apa itu.”

“Tidak akan pernah bisa. Saya sendiri yang mengalami. Saya yang menjalani semua ini. Oooo… O, betapa mengerikan. Perbuatan paling hina yang paling dikutuk Dewa. Itu yang saya pilih.”

“Putri, bukankah Putri bisa membalas dendam dengan cara lain? Dengan meracuni makanan, minuman, menikam, membunuh, mencekik, memenggal kepalanya?”

“Adik Jagattri tak akan mengetahui. Ada cara mati hina dan cara mati ksatria. Dibunuh atau terbunuh oleh lawan adalah cara mati ksatria. Saya ingin Pangeran Hiang mati dengan cara yang paling hina. Yang dikutuk Dewa. Mati dengan kehinaan yang tiada tara.”

Gendhuk Tri merinding. Semua bulu tubuhnya seakan berdiri. Keringatnya melembap. Sungguh tak dinyana tak diduga. Pasangan yang kelihatan begitu bahagia, begitu saling memperhatikan, begitu saling membagi kasih dan sayang, saling membela diri, ternyata menyembunyikan niatan yang paling busuk. Paling rendah. Paling hina. Dikutuk Dewa. Tersembunyi tindakan keji.

Kutukan Baginda Koryo
GENDHUK TRI tak bisa membayangkan sama sekali, bahwa di balik kemesraan yang membuat iri itu tersembunyi dendam yang membakar, yang berakar sangat dalam. Menembus tanah yang paling bawah. Sedemikian beringas dan mengenaskan, sehingga cara yang dilakukan benar-benar menjijikkan. Bahkan bagi pelakunya sendiri.

Putri Koreyea memang tidak menjelaskan bagaimana dendam Keraton Koreyea tidak sesederhana hanya karena dianggap saudara bungsu. Dendam seratus turunan itu telah berlangsung sejak Keraton Koreyea dikalahkan dan dikuasai Keraton Cina. Sehingga segala tata krama yang ada bersumber kepada Keraton Cina.

Mulai dari menulis, memilih huruf, memakai pakaian. Dan terutama perkembangan ilmu silat yang ada selalu bisa dikembalikan asalnya dari perguruan di Cina. Perlawanan yang tak kunjung berhenti tidak menemukan hasilnya. Puncak kekalahan itu justru ketika Pangeran Hiang datang dan menaklukkan secara resmi.

Kalau tadinya hanya perlu menghaturkan upeti, kini Keraton Koreyea benar-benar diinjak dengan telapak kaki. Dikalahkan. Dan salah seorang putri utamanya diboyong ke Keraton Tartar. Api neraka pun tak akan sepanas keinginan untuk membalas dendam. Tugas dan kewajiban itu jatuh ke pundak Putri Koreyea! Itu sebabnya ia memilih cara yang paling rendah dan kotor.

“Putri mencintai Pangeran Hiang?”

“Adik Jagattri, apakah kamu bisa menjawab jika menjadi saya sekarang ini? Apakah Adik Jagattri bisa membayangkan? Saya bukan terikat janji dengan seseorang seperti Adik, melainkan dengan nenek moyang seratus turunan! Bukan perbandingan yang gampang dimengerti. Padahal Adik sendiri bisa ragu, antara memilih Pangeran Upasara atau…”

“Maha Singanada….”

“Bisakah Adik bayangkan?”

“Tidak begitu tepat, tapi saya bisa mengerti.”

“Di mana pujaanmu?”

Gendhuk Tri menceritakan secara singkat pertemuan terakhir dengan Maha Singanada. Juga tindakan yang terpaksa dilakukan bersama Pangeran Anom ketika memotong kaki Singanada.

“Adik Jagattri. Kamulah wanita yang paling bahagia. Pastilah sukma yang menitis padamu sukma yang sepanjang jagat ini berbuat kebajikan.”

“Bahagia?”

“Tidakkah Adik merasakan?”

“Tidak,” jawaban Gendhuk Tri benar-benar menunjukkan kepolosan.

“Adik bisa berjalan di luar dinding Keraton. Bisa menemukan, mencari, dan memilih ksatria yang hebat serta gagah. Bisa berbuat sesuatu untuk pujaan hati.”

“Kalau dari sisi itu, ya.”

“Adik memotong kaki demi kebaikan dan untuk menolong.”

“Ya.”

“Saya? Apa yang saya lakukan? Melakukan daya asmara untuk membunuh dengan melumurkan kotoran kehinaan!”

Terdengar pekik keras. Penduduk yang rumahnya didiami sampai beranjak masuk. Gendhuk Tri menyuruh kembali keluar dengan tulus. Dan kembali lagi, membiarkan Putri Koreyea terguguk. Tersedu. Terisak. Tersengal.

“Saya harus melaksanakan Kutukan Chopatu!”

Gendhuk Tri menggeleng. Kata chopatu sama sekali tak dimengerti. Tetapi ia membayangkan sebagai kutukan Dewa Yang Mahabengis. Atau sejenis dengan itu. Baru kemudian sadar bahwa dugaannya agak keliru. Setelah Putri Koreyea menjelaskan secara tidak langsung.

“Chogori adalah yang saya kenakan ini, baju di bagian atas yang membungkus, yang Adik katakan membuat saya kepanasan. Paji adalah yang untuk menutup kaki sampai ke atas ini. Sedangkan turumagi, yang lebih membuat saya sangat kepanasan karena membungkus semuanya dari luar. Adik Tri jangan tersinggung kalau saya katakan bahwa tata krama susila Keraton kami sangat tinggi. Tubuh manusia, apalagi wanita, tidak seperti Adik ini, dibiarkan terbuka. Maaf, Adik Tri. Tidak akan kuku saya dilihat oleh mata lain. Tidak juga telapak kaki atau tengkuk saya. Akan tetapi ketiganya ini saya lepaskan, saya buka, saya hinakan tubuh saya, untuk menjalani kutukan! Kalau ada yang jatuh paling dalam di api penyiksaan, itu adalah saya! Putri Koreyea yang melakukan daya asmara dengan turunan Baginda Koryo, ayah saya!”

Kepala Gendhuk Tri bagai disambar halilintar, tubuhnya bagai diguncang ombak Laut Selatan. Matanya membelalak, mulutnya menganga, dan isi tubuhnya berhamburan. Keningnya berdenyut keras. Tamparan kewanitaan yang membuatnya muntah beberapa kali.

Penduduk yang berjaga di pintu heran. Kalau sebelumnya Putri Koreyea yang merintih, dan Gendhuk Tri segar bugar, kini malah berganti. Gendhuk Tri yang terhuyung-huyung, menekuk tubuh di tanah, sementara Putri Koreyea yang meminta mereka tidak masuk. Ganjil. Tapi Gendhuk Tri merasakan lebih dari sekadar keganjilan. Isi perutnya masih bergolakan, mengeluarkan suara, buih dan mulutnya terasa pedih. Perih.

Adalah di luar semua kemampuannya untuk menerima kenyataan yang diakui Putri Koreyea. Bahwa ia sengaja melakukan hubungan daya asmara dengan ayahnya sendiri, agar bisa menderita kutukan yang mengerikan. Yang pada kesempatan berikutnya nanti akan ditularkan ke Pangeran Hiang, dengan melakukan hubungan asmara juga. Benarkah jagat telah hancur-hancuran?

Gendhuk Tri masih meneriakkan suara keras, karena kini hanya angin yang bisa dimuntahkan. Dendam seratus turunan yang membakar, memapas, dan terus-menerus melukai perasaan. Turunan Raja Koryo! Raja yang menguasai tlatah Koreyea hingga bisa disebutkan sebagai Keraton Koreyea sekarang ini. Raja Koryo ini pula yang berhasil mempersatukan seluruh tlatah dan mendirikan Keraton.

Sungguh biadab. Sungguh tak bisa dimengerti bahwa Putri Koreyea dapat melakukan hal semacam itu. Kalau tadinya Gendhuk Tri masih membawa nama bumi dan air sebagai kidungan pembelaan, cara yang dilakukan Putri Koreyea tetap membuatnya terenyak keras. Gendhuk Tri masih memegangi perutnya ketika mencoba berdiri. Tangannya gemetar ketika mencoba menuding.

“Muntahan Adik Tri masih lebih mulia dari saya. Itukah yang ingin Adik katakan? Ya. Ya, saya memang lebih rendah lagi dari itu semua. Pun di tanah Jawa ini, di mana rajanya berniat menikahi saudara seayah! Saya memang lebih baik mati dengan cara seperti ini. Saya gagal. Saya telah menyebabkan ayah saya menjadi jahanam, tetapi saya tidak melakukan apa-apa kepada Pangeran Sang Hiang. Adakah di jagat ini yang lebih malang dari saya?”

Suaranya berlanjut dalam bahasa yang tak dimengerti Gendhuk Tri. Ini berlangsung lama. Sampai kelelahan sendiri. Dan tertidur. Gendhuk Tri tak bisa berkata apa-apa lagi. Tangannya menimbuni muntahan dengan tanah secara tidak teratur. Pikirannya masih kacau. Antara mengutuk dan membenarkan tindakan Putri Koreyea. Antara mendengar dan mempercayai apa yang diceritakan. Antara membayangkan cerita yang kembali memualkan perutnya.

Bagaimana mungkin Putri Koreyea bisa melakukan itu secara sadar? Bagaimana mungkin ayahnya yang disebut keturunan Baginda Koryo mampu melakukan itu semua? Bisa dimengerti kalau selama ini Putri Koreyea menyembunyikan. Karena kalaupun diungkapkan, tak akan mudah dipercaya. Bahkan Pangeran Hiang sendiri belum tentu mau menerima cerita ini. Yang lebih membuat Gendhuk Tri tak mampu menguasai keseimbangan pikiran adalah, bagaimana kemudian Putri Koreyea akhirnya bisa menceritakan hal ini. Pada orang lain.

Ketika sinar surya mulai terasakan semburatnya, barulah Gendhuk Tri menyadari bahwa tubuh Putri Koreyea telah dingin. Tak ada denyut kehidupan. Barangkali ini jawabannya kenapa Putri Koreyea membuka diri. Gendhuk Tri berlutut. Memohon kepada Dewa, agar nyawa Putri Koreyea mendapat pengampunan. Akan tetapi Gendhuk Tri sadar bahwa pemusatan pikirannya simpang siur tak menentu.

Pertemuan Turkana
SETELAH berusaha menenangkan diri beberapa saat, Gendhuk Tri menunggu sampai fajar betul-betul merekah. Ada semacam kepercayaan bahwa waktu menjelang fajar belum tentu rela untuk keberangkatan nyawa. Tapi Gendhuk Tri lebih menyandarkan pada kemungkinan bahwa Putri Koreyea memang belum meninggal. Sebab sebelumnya juga bisa dalam keadaan seperti tidur dan mati sekaligus. Bahkan malam harinya pun Gendhuk Tri masih menunggui.

Selepas fajar berikutnya, barulah Gendhuk Tri yakin bahwa Putri Koreyea benar-benar sudah meninggal dunia. Ia merasa bingung sejenak, akan diapakan mayat Putri Koreyea. Dikubur atau dibakar. Akhirnya yang terakhir yang dipilih. Terutama setelah sehari-semalam, semua kulit di wajah Putri Koreyea mengelupas, mengeluarkan semacam bau anyir yang menusuk hidung. Gendhuk Tri tak mau meninggalkan risiko bagi penduduk setempat.

Makanya kemudian dibakar, berikut dipan kayu dan daun kelapa yang digunakan untuk duduk. Ia menyarankan untuk melabuh abunya di laut, dan berdoa mudah-mudahan abu itu bisa kembali ke negerinya. Abu kemenangan. Setidaknya bagi diri Putri Koreyea. Kemenangan untuk pada akhirnya memilih mati tanpa menularkan penyakit kepada Pangeran Hiang. Sedikit-banyak perasaan ini menenteramkan Gendhuk Tri.

Yang merasa bahwa Putri Koreyea sengaja memilih jalan kematian. Kalau tidak, mestinya ia masih bisa bertahan untuk beberapa hari, atau beberapa waktu. Meskipun ada dugaan yang lain, bahwa ketika membuka penderitaan batinnya, Putri Koreyea tak kuat menanggungnya. Sehingga meninggal secara ngenes, secara menyedihkan. Tapi Gendhuk Tri tak mau terbelenggu pikiran itu.

Ia memberikan permata kepada penduduk. Dengan pesan agar kelebihan uang yang diperoleh bisalah untuk memperbaiki kehidupan. Jangan malah sebaliknya, karena tambahan harta seketika, seluruh kehidupan menjadi tidak keruan. Setelah itu Gendhuk Tri menuju Keraton.

Sebenarnya tak ada tujuan yang pasti untuk ke Keraton. Makanya dalam perjalanan Gendhuk Tri tidak terburu-buru. Sengaja ia memasang telinga, kalau-kalau mendengar adanya seorang yang menderita sakit kaki. Pikirannya masih belum lepas dari Maha Singanada. Ada semacam rasa penyesalan tak bisa merawat dengan baik. Akan tetapi berita pertama yang didengar justru mengenai Ratu Ayu Bawah Langit, yang akan menghadiri puncak pesta kesembuhan Permaisuri Praba Raga Karana.

Gendhuk Tri tak begitu peduli, andai tidak ada sangkut-pautnya dengan Upasara Wulung. Karena sejauh yang didengar kini, kedatangan mereka berdua resmi sebagai Raja dan Ratu Turkana. Raja menerima mereka berdua sebagai sesama penguasa tertinggi.

Gendhuk Tri setengah tidak percaya akan apa yang didengarnya. Akan tetapi ketika bertemu dengan Nyai Demang di alun-alun Keraton yang kini kembali dihias luar biasa, Gendhuk Tri baru percaya bahwa apa yang didengarnya bukan cerita burung.

“Jagattri…”

“Kenapa Mbakyu memanggil begitu?”

Nyai Demang tersenyum. “Rasanya sudah tidak pantas lagi memanggilmu Adik. Tubuhmu tumbuh luar biasa tinggi, mengalahkan siapa saja. Seolah ingin menjenguk gunung.”

Gendhuk Tri menceritakan pengalamannya, sejak perahu Siung Naga Bermahkota diledakkan dan dirinya terdampar. Hanya mengenai Putri Koreyea Gendhuk Tri menceritakan secara samar.

Nyai Demang menceritakan pengalaman yang kurang-lebih sama. Bahwa sejak menderita luka, ia tak tahu banyak perkembangan yang terjadi. Berkat pengobatan Tabib Tanca, ia bisa pulih kembali dan memutuskan kembali ke Perguruan Awan bersama Jaghana. Keduanya merasa itulah keputusan yang terbaik.

Jaghana menganggap bahwa apa yang dilakukan selama ini sudah cukup menjauhkan langkah-langkah yang dikehendaki Eyang Sepuh. Yaitu menelantarkan Perguruan Awan. Maka ia memutuskan kembali. Keinginannya tak tergoyahkan ketika menerima undangan Ratu Ayu.

“Paman Jaghana hanya menitipkan puja-puji dan pangestu, saling donga-dinonga, saling mendoakan dari jauh. Itu saja. Saya merasa ada sesuatu yang kurang menenteramkan di hati Paman Jaghana, akan tetapi Paman tidak menerangkan apa-apa. Bahkan Paman Jaghana tidak mau menemui Adimas Upasara lebih dulu.”

Kalau dulu Gendhuk Tri merasa serr setiap kali Nyai Demang mengucapkan “adimas” yang namanya seperti berubah, sekarang meskipun masih ada getaran emosi tapi tak terlalu mengganggu.

“Apa yang dikatakan Kakang Upasara?”

Nyai Demang terdiam sesaat. “Adimas Upasara tidak mengatakan apa-apa. Ketika saya menanyakan apakah benar akan datang ke Keraton bersama Ratu Ayu, jawabannya hanya anggukan pendek. Saya merasa kurang enak dan juga salah menanyakan hal ini. Bukankah sangat wajar mereka datang berdua. Selama ini secara resmi mereka berdua adalah Raja dan Ratu Turkana. Kurang pada tempatnya saya menanyakan hal itu. Saya menyesal.”

“Mbakyu sampaikan apa yang dikatakan Paman Jaghana?”

“Ya. Adimas Upasara hanya mengangguk pendek.”

Gendhuk Tri mengangguk pendek. Seperti mengikuti pikirannya yang membayangkan bagaimana kira-kira Upasara mengangguk. “Ini agak aneh, Mbakyu. Bagaimanapun juga Kakang Upasara adalah pemimpin Perguruan Awan. Boleh saja Kakang itu Raja Turkana atau negeri mana saja. Boleh saja ia ksatria hebat, akan tetapi tetap pewaris utama Perguruan Awan, pilihan Eyang Sepuh. Tak seharusnya ia hanya mengangguk pendek saat pesan Paman Jaghana Mbakyu sampaikan.”

“Saya tak bisa mengatakan apa-apa.”

Keduanya terdiam.

“Saya tak mau menduga yang tidak-tidak. Apakah ada kekuatan lain atau pengaruh tertentu. Adimas Upasara sudah dewasa. Sudah menguasai ilmu yang tinggi, sehingga sudah cukup bijaksana memutuskan apa yang akan dilakukan.”

“Dari mana datangnya Ratu Ayu?”

“Saya tak sempat bertanya. Hanya selama ini ia berusaha memulihkan tenaga dalamnya, dan ketika mendengar kabar santer dirinya dituduh melarikan dua putri Permaisuri Rajapatni, Ratu Ayu datang ke Keraton untuk menjernihkan namanya.”

“Saat itu ketemu Kakang?”

“Rasanya begitu.”

“Bagaimana keadaan Kakang sekarang ini?”

Nyai Demang memandang haru. “Jagattri, kamu ini bagaimana? Belum sebulan kamu selalu bersamanya. Apakah tiba-tiba berubah tangannya menjadi tiga atau telinganya tinggal satu? Jagattri, bukankah kamu yang bersama Adimas di saat terakhir? Saya justru ingin tahu apa yang terjadi selama bersamamu.”

Gendhuk Tri membuang jauh-jauh pikirannya. Nyai Demang menggenggam tangan Gendhuk Tri.

“Ada sesuatu yang harus kita lepaskan. Masa lalu. Betapapun manis atau menyakitkan. Ada sesuatu yang harus kita hadapi. Masa sekarang. Betapapun manis atau menyakitkan. Ada sesuatu yang akan kita jalani. Masa depan. Betapapun manis atau menyakitkan.”

Gendhuk Tri tersenyum. “Mbakyu jadi bijaksana.”

“Saya jadi tua,” suaranya sedikit getir. “Menjadi tua berarti menerima kenyataan seperti apa adanya. Kita berdua tak perlu saling menyembunyikan perasaan yang kita sendiri masing-masing sudah tahu. Sejak kita mengadakan perjalanan bersama Ratu Ayu dan Permaisuri Rajapatni, saya menemukan jawaban yang selama ini sebenarnya sudah tersedia. Kasunyatan, kenyataan. Belajar dari awal untuk mengerti dan menerima kenyataan. Bagaimana dengan Pangeran Anom?”

“Kenapa Mbakyu tiba-tiba menanyakan hal itu kepada saya?”

“Saya tahu Pangeran Anom menunggumu, mencarimu.”

Gendhuk Tri menghela napas. Sesak. “Saya tak tahu harus bersikap bagaimana sebaiknya.”

“Saya tahu kalau saya jadi kamu. Menemukan Maha Singanada.” Suara Nyai Demang lirih, seakan berbisik. “Saya pernah mengalami usia sepertimu.”

Mata Gendhuk Tri berkejap. “Mbakyu akan datang ke Keraton?”

Persembahan Raja-Raja
NYAI DEMANG menjawab dengan anggukan, cepat sekali. “Saya dengan sadar akan melihat puncak pesta di Keraton. Untuk melihat kebesaran Keraton, tempat kita mengabdikan diri. Keraton yang memberikan kebanggaan, memberikan naungan bagi kita. Saat sekarang ini Raja ingin mempersunting secara resmi Permaisuri Praba Raga Karana. Sekaligus menerima raja-raja dari seberang yang datang menunjukkan ketaatannya. Zaman yang pernah digariskan Sri Baginda Raja, yang tak sempat mengalami. Sekarang kebesaran itu datang. Tidakkah kita ikut merasakan?”

“Itu sebabnya Mbakyu tidak segera ke Perguruan Awan?”

“Ya, saya harus menerima kenyataan ini. Adik Jagattri, rasanya kita bisa datang bersama.”

Gendhuk Tri menggeleng. “Saya hanya akan menemui Kakang untuk mendoakan semoga bahagia, karena langkah saya masih jauh untuk bisa menikmati puncak pesta kenegaraan.”

“Siapa tahu Maha Singanada juga datang.”

“Kakang Singanada tak pernah tertarik dengan pesta semacam ini.”

“Akan tetapi kalau tahu kamu akan muncul, bukankah ia akan muncul juga?”

Gendhuk Tri menatap ragu. Kepalanya bisa menggeleng, bisa mengangguk. Menggeleng, karena mengikuti jalan pikirannya yang mengatakan bahwa Maha Singanada selama ini sengaja menyembunyikan diri. Barangkali kakinya belum sembuh sempurna, barangkali karena memang enggan memunculkan diri. Kalau tidak, pertarungan di Lodaya tepian Brantas sudah pasti akan membuatnya muncul. Rasanya tak ada ksatria yang tidak menampakkan diri pada saat segawat itu. Tapi nyatanya Maha Singanada tidak tampak.

Mengangguk, karena mengikuti jalan pikirannya bahwa Maha Singanada tak akan melupakan dan meninggalkannya begitu saja. Meskipun tidak mengenal terlalu jauh seperti mengenal Upasara, Gendhuk Tri yakin sifat-sifat Singanada. Jangan kata janji yang telah diucapkan, bahkan hal lain yang kelihatan sepele bisa menjadi penting, kalau itu menyangkut apa yang telah dikatakan. Juga tidak mungkin kalau Singanada sengaja menyembunyikan diri. Itu bukan sifatnya. Dua pendapat yang bertentangan itulah yang membuat Gendhuk Tri ragu. Dan juga kuatir. Kalau selama ini tak menampakkan diri, apa yang terjadi?

Gendhuk Tri merasa letih. Begitu banyak peristiwa yang menerkam perhatiannya dan menyusup dalam hatinya sejak berpisah dengan Maha Singanada. Baik pertemuannya dengan Pangeran Anom, maupun pemunculan kembali Upasara Wulung, sampai dengan pertemuan yang singkat namun sangat mengesankan dengan Putri Koreyea. Semuanya adalah peristiwa yang, seakan, tidak selesai. Masih menggantung. Itu yang menyebabkannya letih. Gendhuk Tri menghapus keringat di jidatnya.

“Mbakyu mau ke mana sekarang ini?”

“Mengantarmu ke tempat Adimas.”

“Saya akan menemui, tapi rasanya bukan sekarang.”

Nyai Demang merasakan nada yang getir. Yang tak disembunyikan. Nyai Demang sepenuhnya bisa memahami. Itu sebabnya tak menyinggung lagi. Namun juga tak meninggalkan Gendhuk Tri seorang diri. Kini dirinya juga merasa sendiri. Tak mempunyai teman erat, seperti dengan Jaghana, Gendhuk Tri, Galih Kaliki, Dewa Maut, dan Wilanda. Seperti dulu. Maka Nyai Demang mengajak Gendhuk Tri beristirahat di tempatnya. Yang disediakan bagi para tamu ksatria yang diundang menghadiri pesta di Keraton.

Karena tak mempunyai pilihan lain, Gendhuk Tri mengiyakan. Setelah mendapat jawaban bahwa Nyai Demang tidak akan menceritakan kepada siapa pun, baik kepada Pangeran Anom maupun kepada Upasara. Berada di perumahan yang disediakan khusus, Gendhuk Tri lebih banyak berdiam diri. Tidak banyak bergerak atau bercakap, juga tidak berlatih tenaga dalam.

“Jagattri, kamu merasa saya mengganggu kalau saya menemani?”

“Kenapa Mbakyu jadi begitu sungkan?”

“Kita memang satu hati. Akan tetapi ada saatnya kita ingin menyendiri, tak mau berbagi pikiran kegelisahan.”

“Mbakyu, bagi saya segalanya telah selesai. Saya tak akan merepotkan diri lagi dengan berbagai urusan. Saya ingin menikmati kehidupan dengan cara yang wajar. Kalau ada yang masih mengganjal, itu hanyalah karena menguatirkan Kakang Maha Singanada.”

“Dan saya? Saya telah lebih dulu selesai. Saya tak mencari apa-apa lagi. Segalanya telah berjalan sempurna. Kalaupun Halayudha sekarang menjabat pangkat mahapatih dan ilmunya berkembang pesat, saya tak menyimpan dendam apa-apa lagi. Memang kadang terpikir juga. Kenapakah saya ini masih seperti ini, ketika Adik Jagattri sendiri sudah bisa menemukan ilmu yang sejati, sudah menguasai Kitab Air. Ketika dengan satu loncatan yang hebat, Halayudha sudah menemukan sumber kekuatan sukma. Adik Jagattri pernah mendengar? Sekarang ini Halayudha sudah sampai pada tingkat memperdalam Ngrogoh Sukma Sejati, yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Alangkah tololnya saya ini. Kidungan Paminggir, Kidungan Pamungkas, beberapa bagian Kidungan Para Raja bisa saya hafal, akan tetapi tetap saja begini.”

“Mbakyu menyesali?”

“Saya menyesali kebodohan saya, bukan nasib. Adik Jagattri mendengar tentang kekuatan sukma sejati?”

“Rasanya Kakang Upasara pernah menyebut tentang hal itu selama di pulau terpencil.”

“Tidak tertarik?”

“Kalau dikatakan kehilangan semangat, barangkali sekarang ini pertama kali saya merasakan.”

“Bagaimana kalau kita menjajal?”

Gendhuk Tri menggeleng. “Saya bisa mencoba tetapi hasilnya tak akan ada.”

Gendhuk Tri membungkam. Nyai Demang menjauh. Meninggalkan. Tidak sepenuhnya. Karena kemudian Gendhuk Tri mendengar kidungan yang berulang.

Ada hari, ada nyanyi
Kenapa harus bersedih hati
Waktu bayi, temanmu adalah bidadari…

Kidungan pendek yang ditembangkan secara rengeng-rengeng, secara tersamar antara terdengar kata-katanya dan tidak, mengusik Gendhuk Tri. Itulah kidungan yang selalu ditembangkan gurunya sekaligus pengasuhnya Jagaddhita. Entah kenapa dulu tembangan itu yang selalu dinyanyikan. Seperti bagian yang belum selesai. Seperti menggambarkan kesendirian.

Kesan itu sangat kuat terasakan oleh Gendhuk Tri sekarang ini. Rasa sepinya seperti terusir. Menyingkir karena kelembutan Nyai Demang. Yang memang berusaha mendekatkan diri, berusaha menghiburnya. Berusaha menjadi sahabat, bagian dari sanak saudara.

Ada hari, ada nyanyi…

Ungkapan yang berusaha menggembirakan hati, karena berangkat dari kesendirian, dari kepedihan. Seperti yang terurai dari lirik berikutnya, “Kenapa harus bersedih hati, Waktu bayi, temanmu adalah bidadari? Dulu itu dirasakan Gendhuk Tri sebagai tembang yang khusus untuk dirinya. Karena merasa dirinya tak mempunyai siapa-siapa. Tetapi bukan tidak mungkin tembang itu juga menggambarkan suasana hati gurunya.

Yang tak sempat diketahui. Karena pertemuannya yang pendek, karena ia belum mengetahui apa yang harus ditanyakan saat itu. Baru sekarang perasaannya tergugah. Terusik, merasa tak bisa membalas kebaikan guru yang merawatnya, mendidiknya, menghidupinya. Tidak juga hanya dengan memahami apa yang dirasakan. Sudah barang tentu Gendhuk Tri tidak pernah setitik pun melupakan gurunya.

Atau menyangsikan kasih sayangnya, meskipun sekarang ilmu silatnya sudah berkembang lain. Akan tetapi itu tak pernah bisa terwujudkan. Kebutaan hatinya menutupi keinginan berterima kasih. Sungguh tepat kalau Nyai Demang menembangkan sekarang ini! Air mata Gendhuk Tri menetes. Membasahi pangkuannya. Makin basah.

Suara Masa Lalu
GENDHUK TRI merasa sedikit lega. Curahan air mata menguras kegelisahannya, menyuntak dalam tetesan. Dengan mata masih sembap, Gendhuk Tri beranjak dari kamarnya. Melangkah ke luar. Nyai Demang tersenyum di depan pintu.

“Terima kasih, Mbakyu….”

“Kamu masih ingat tembangan itu?”

Dua-duanya saling tersenyum, saling memandang akrab. Lebih dekat dari sebelumnya. Hanya sejenak, karena keduanya kemudian bengong. Memiringkan kepala ke arah datangnya suara. Suara kidungan!

Ada hari, ada nyanyi
Kenapa harus bersedih hati
Waktu bayi, temanmu adalah bidadari

Ada hari, tanpa nada, tanpa irama
Kenapa harus bertanya
Waktu bayi, temanmu menjadi bidadari
Menjadi kupu-kupu
Berkalung tangkai daun singkong
Membuat sungai

Ada hari, ada nyanyi
Kenapa harus bersedih hati
Waktu bayi, temanmu adalah bidadari…


Mereka berdua bengong. Karena Gendhuk Tri menduga itu tadi suara Nyai Demang. Dan ternyata Nyai Demang juga menduga bahwa Gendhuk Tri yang menembangkan! Itulah aneh. Pandangan sekilas yang saling bentrok sudah berbicara banyak. Gendhuk Tri tak bisa menahan diri untuk tidak menjejak lantai dan terbang ke arah datangnya suara. Nyai Demang melakukan hal yang sama. Meskipun tubuhnya kalah gesit dan kalah cepat.

JILID 53BUKU PERTAMAJILID 55