Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Sepasang Mambang Lembah Maut
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

PAGI mulai datang mengusir kegelapan. Semilir angin lembut mengusap pucuk-pucuk dedaunan, dan menghempaskan butir-butir embun yang melekat di atasnya. Kicau burung-burung terdengar ramai menyemarakkan suasana pagi yang indah ini.

Sayang, suasana pagi di Gunung Larang mulai terganggu teriakan-teriakan nyaring yang berganti-ganti. Demikian hebatnya teriakan yang susul-menyusul itu, hingga beberapa ekor burung yang kebetulan tidak jauh dari sumber suara, langsung jatuh. Bahkan langsung tewas seketika! Dari kejadian itu saja sudah dapat diukur, betapa mengerikannya tenaga sakti yang tersalur melalui teriakan-teriakan keras itu.

Suara teriakan-teriakan dan bentakan yang terkadang nyaring melengking tinggi itu, sesekali berubah parau bagaikan raungan binatang buas yang tengah murka. Jangankan manusia. Rasanya binatang buas sekalipun pasti akan terbirit-birit apabila mendengar teriakan parau yang terasa hendak mencopot jantung itu!

Ternyata, bukan hanya bentakan-bentakan itu saja yang mengerikan. Bahkan tempat asal teriakan-teriakan itupun merupakan sebuah tempat yang dianggap keramat. Bahkan sangat ditakuti, baik oleh penduduk desa sekitar, maupun kaum rimba persilatan!

Lembah Maut! Itulah nama tempat suara-suara teriakan dan bentakan dahsyat tadi berasal. Lembah itu terletak di sebelah Utara Gunung Larang. Selain agak tersembunyi dan menjorok ke dalam, lembah itu pun tidak pernah lepas dari lapisan kabut. Tidak peduli siang panas terik, kabut tebal selalu saja melapisinya.

Nama Lembah Maut bukan sekadar julukan belaka. Nama itu diberikan karena selain tempatnya sangat tersembunyi dan selalu dilapisi kabut tebal, juga terdapat jurang-jurang yang menganga lebar, dan perangkap-perangkap alam yang bisa mendatangkan kematian. Tidak sedikit korban yang tertelan jurang-jurang yang disamarkan oleh lapisan kabut. Sehingga, orang menamakan tempat itu sebagai Lembah Maut!

Lembah yang terletak di lereng sebelah Utara Gunung Larang itu ternyata tidak ditakuti semua orang. Para penduduk desa sekitar kaki gunung itu tahu kalau Lembah Maut juga dihuni dua orang aneh berwajah mengerikan! Meski jarang menampakkan diri, namun penduduk desa sekitar tahu kalau kedua orang aneh itulah yang menjadi Penguasa Lembah Maut!

Bagi tokoh-tokoh persilatan sendiri, kedua penghuni lembah itu telah sangat dikenal. Mereka memberi sebuah julukan yang tidak kalah mengerikan dengan lembah itu sendiri. Kesaktian yang mengiriskan, dan wajah yang membuat orang terbirit-birit ketakutan, membuat kaum persilatan memberikan julukan Sepasang Mambang kepada kedua orang tokoh itu. Kemudian julukan itu dikaitkan dengan nama tempat yang dihuninya. Sehingga dalam dunia persilatan, bergaunglah sebuah julukan yang menggetarkan! Sepasang Mambang Lembah Maut!

Dari kedua orang tokoh itulah bentakan dan teriakan dahsyat berasal. Tokoh mengiriskan yang tidak diketahui asal-usulnya itu, seperti biasa selalu melatih ilmu-ilmu setiap hari. Itulah sebabnya, mengapa sepagi itu di Lembah Maut sudah bergaung teriakan dan bentakan menggelegar!

"Haiiit..!"

Untuk kesekian kalinya, kembali terdengar teriakan nyaring menggetarkan jantung! Sesosok tubuh ramping tampak berkelebatan cepat, bagaikan tidak menyentuh permukaan tanah! Kemudian dengan indahnya, sosok tubuh itu mulai memainkan jurus-jurus maut! Sambaran tangan dan kakinya selalu dibarengi deru angin mencicit dalam setiap lontaran. Hal itu menandakan kalau sosok ramping itu jelas memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, dan jarang tandingannya

"Yiaaah...!"

Sosok tubuh yang wajahnya tersembunyi di balik topeng tengkorak itu menutup gerakannya dengan sebuah pekikan halus, namun menyakitkan telinga. Saat itu juga, tubuhnya melenting ke udara. Kemudian, kakinya mendarat manis di atas rentangan tali setelah berputaran beberapa kali. Gerakan yang demikian ringan dan indah itu jelas menandakan kalau sosok ramping itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa!

Apabila orang menyaksikan apa yang dilakukan sosok tubuh itu, tentu akan terbeliak dengan wajah pucat! Sebab, sosok itu enak saja memainkan jurus-jurus silatnya di atas rentangan tali yang di bawahnya menganga jurang tak berdasar. Bukan main! Jelas sekali bahwa tokoh penghuni Lembah Maut itu tengah melatih ilmu meringankan tubuhnya di atas rentangan tali sebesar ibu jari itu

"Bagus... bagus...!"

Terdengar seruan memuji yang diiringi tepuk tangan Seseorang tengah berdiri sambil menatap ke arah sosok ramping yang bagaikan tengah menari-nari di atas rentangan tali-tali itu. Raut wajahnya juga terlindung sebuah topeng tengkorak yang mengerikan. Jelas, mereka itulah yang dijuluki sebagai Sepasang Mambang Lembah Maut.

Setelah cukup lama berada di atas rentangan tali, sosok raping itu pun kembali berseru menutup permainannya. Tubuhnya melenting, dan berputar beberapa kali. Kemudian, dia mendarat di samping sosok yang bertubuh agak gemuk. Kilatan cahaya sepasang mata orang yang bertubuh gemuk, jelas menggambarkan kepuasan hati.

"Hm.... Kini kita hanya tinggal menyempurnakan satu ilmu lagi. Setelah itu, dunia persilatan akan gempar! Mereka yang mengaku sebagai pendekar, harus tahu siapa sebenarnya Mambang Lembah Maut!" kata sosok bertubuh gemuk dan jangkung, berkata sambil mengepalkan tinjunya Hingga, terdengarlah suara tulang-tulang yang berkerotokan.

"Benar. Tapi karena musuh kita yang lain telah tewas, maka hanya satu yang kini harus dilenyapkan. Apalagi, orang itu merupakan penghalang besar bagi kita...," sosok yang bertubuh lebih kecil menyahuti, dengan nada geram. Tampaknya, Sepasang Mambang Lembah Maut menyimpan dendam yang dalam. Semua itu terbukti dari ucapan-ucapan mereka!

"Hm...,"gumam sosok yang bertubuh lebih tegap, sambil menengadahkan wajah menatap langit cerah. Sepasang mata di balik kedok tengkorak itu tampak menerawang ke masa lalunya. Sesekali, terdengar helaan napasnya yang berat dan panjang.

"Apa yang tengah kau pikirkan, Kakang Jonggala?" tanya sosok yang lebih ramping, menatap orang yang dipanggil Jonggala.

"Sayang, Resi Begawa yang berjuluk si Cambuk Hujan dan Badai telah tewas, Jonggala. Jadi, kekalahan kita pada beberapa tahun lewat, tidak bisa terbalas. Kalau saja masih hidup, mungkin ia orang pertama bagi percobaan kita...," desah Jonggala sesaat kemudian, wajahnya berpaling kepada kembarannya yang ternyata bernama Jonggali

"Yahhh..., hanya orang tua itulah yang dulu pernah merasakan 'Ilmu Golok Terbang Perenggut Sukma'. Dan, dia pulalah yang bisa menilai kemajuan ilmu itu. Sayang, keinginan kita tidak bisa terlaksana...," sesal Jonggali, orang kedua dari Sepasang Mambang Lembah Maut.

Memang musuh mereka yang bernama Resi Begawa telah tewas. Sehingga, mereka benar-benar menyesalinya. Sebab, tokoh itulah yang menjadi musuh bebuyutan mereka. (Untuk lebih jelasnya, baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Penghuni Rimba Gerantang)

"Sudahlah! Lupakan tentang tua bangka itu, Jonggali. Sebaiknya kita segera menyempurnakan ilmu "Golok Terbang Perenggut Sukma' yang hanya tinggal menyempurnakannya saja. Setelah itu, baru kita tinggalkan Lembah Maut untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang menamakan dirinya pendekar persilatan...," ujar Jonggala yang segera beranjak meninggalkan bibir jurang.

Sehingga, Jonggali pun mau tidak mau harus mengikutinya. Tidak berapa lama kemudian, kembali terdengar bentakan-bentakan keras yang diselingi deru napas bagai kuda pacu. Jelas, Sepasang Mambang Lembah Maut tengah melatih ilmu-ilmu tingkat tingginya.

********************

Desiran angin bertiup silir-silir lembut mengiringi langkah kaki tiga orang laki-laki tegap. Suara gemerincing terdengar mengiringi ayunan langkah mereka, yang berasal dari gelang-gelang baja putih di kedua tangan mereka. Menilik dari beratnya gelang-gelang baja putih di tangan ketiga orang lelaki itu, jelas kalau mereka adalah tokoh-tokoh persilatan.

Dugaan itu memang beralasan. Ketiga orang lelaki gagah itu adalah murid-murid Perguruan Gelang Terbang yang sudah cukup terkenal di kalangan rimba persilatan. Bahkan mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang cukup penting dalam perguruan. Semua itu dapat diketahui dari adanya gelang-gelang baja putih di tangan mereka. Makin sedikit jumlah gelang baja di tangan murid-murid Perguruan Gelang Terbang, makin tinggilah kepandaian yang dimiliki. Hanya saja meskipun jumlah gelang itu lebih sedikit, tapi bebannya jauh lebih berat. Itulah ciri-ciri yang telah tersebar di kalangan persilatan.

"Hanya tinggal sebuah undangan lagi yang tersisa, Karpala, Ratmala. Setelah itu, kita harus segera kembali sebagaimana pesan guru...," kata salah seorang dari ketiga lelaki itu.

Melihat dari jumlah gelang baja yang sembilan ditangannya, jelas kalau lelaki gagah berkumis tipis itu merupakan tokoh tingkat tiga. Demikian pula kedua kawannya yang dipanggil Karpala dan Ratmala. Masing-masing dari mereka mengenakan sembilan gelang baja pada kedua lengannya.

"Benar. Kalau tidak salah, hanya tinggal Pendekar Cakar Maut sajalah yang tersisa. Setelah itu, maka selesailah tugas kita...," timpal orang yang terlihat paling muda, yang bernama Karpala. Pada sepasang matanya tampak tersirat kelegaan, karena tugas yang dibebankan kepada mereka dapat dilaksanakan dengan baik.

"Ssst...!" Tiba-tiba saja lelaki berkumis tipis yang usianya jauh lebih tua ketimbang dua temannya, memberi isyarat sambil meletakkan jari telunjuk di bibir. Keningnya berkerut seolah-olah hendak mempertajam pendengarannya.

"Ada apa, Kakang Sentana...?" tanya Ratmala, lelaki gemuk yang tulang pipinya menonjol. Dia berbisik lirih di telinga kawannya, sehingga suaranya hampir tak terdengar.

Meski demikian, wajah Ratmala tampak tenang. Memang, la sama sekali tidak mengetahui apa maksud tingkah laku aneh saudara seperguruannya yang bernama Sentana. Jelas, hal itu membuatnya penasaran!

"Hati-hatilah...! Entah mengapa, dadaku tiba-tiba berdebar tanpa sebab. Dan..., sepertinya aku mendengar langkah kaki berat. Tapi..., sekarang lenyap begitu saja...," lelaki berkumis tipis yang bernama Sentana itu menjawab, juga dengan nada berbisik. Napasnya terdengar agak memburu, karena hatinya memang tengah dilanda ketegangan.

"Kakang, lihat..."

Belum lagi Sentana dan Ratmala sempat bertukar pendapat, tiba-tiba terdengar teriakan Karpala. Cepat mereka menoleh ke arah yang ditunjuk lelaki kurus bermuka hitam itu.

"Hm.... Siapa mereka...? Apa maksudnya menghadang di tengah jalan? Hati-hatilah. Mungkin mereka memang sengaja hendak membegal kita...," desis Sentana, mengingatkan kedua orang saudara seperguruannya agar berhati-hati. Dia sendiri sudah meraba gagang pedangnya, sambil melangkah maju

Semula, baik Sentana maupun Karpala dan Ratmala, sama sekali tidak merasa gentar dengan kedua orang penghadang itu. Namun keberanian dan semangat mereka langsung terbang seketika, saat mengenali kedua orang berpakaian putih itu. Setelah jarak di antara mereka semakin dekat, nyatalah kalau kedua penghadang itu mengenakan topeng tengkorak!

"Sepasang Mambang Lembah Maut..?!"

Sentana dan dua orang saudara seperguruannya langsung melompat mundur dengan wajah pias! Hampir mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat mereka. Masalahnya, selain kedua orang tokoh sesat itu tidak pernah terdengar lagi dalam kancah rimba persilatan, tempat mereka dihadang sekarang pun cukup jauh terpisah dari Gunung Larang. Jadi, wajar saja kalau Sentana, Karpala Dan Ratmala terkejut setengah mati.

"Mau apa kalian...?! Mengapa menghadang perjalanan kami?" sentak Santana coba memberanikan diri. Wajah laki-laki berkumis tipis itu tampak demikian tegang! Bahkan sepasang tangannya tampak telah dialiri tenaga dalam, dan siap melepaskan gelang-gelang bajanya. Wajar saja, karena untuk menghadapi lawan-lawan berat, senjata andalannyalah yang harus dipergunakan.

"Hm.... Kudengar Perguruan Gelang Terbang hendak merayakan hari ulang tahunnya. Lalu, mengapa kami berdua tidak diundang?" kata sosok yang lebih tegap Suaranya berat dan dalam, tanpa mempedulikan pertanyaan Sentana. Jelas Sepasang Mambang Lembah Maut memang tidak memandang sebelah mata pun kepada murid-murid tingkat tiga Perguruan Gelang Terbang Tentu saja hal itu tidak aneh. Selain merupakan tokoh puncak golongan sesat. Sepasang Mambang Lembah Maut memang memiliki watak yang angkuh, dan tidak pernah sudi menghormati orang lain.

"Jangan tanya kepada kami. Aku dan dua orang saudaraku ini hanya melaksanakan tugas beliau. Soal diundang atau tidaknya kalian, aku sama sekali tidak tahu menahu. Maka, harap menyingkirlah. Beri kami jalan...." Sentana mencoba membela diri dan sebisa mungkin menghindari bentrokan dengan sepasang tokoh maut itu.

"Hm..., kalian hendak pergi ke manakah...?" kali ini sosok yang lebih langsing dan bernama Jonggali yang bertanya. Suara Jonggali terdengar lebih lunak dan nyaring, dan lebih tepat dimiliki seorang perempuan. Sayangnya dalam soal kekejaman, Jonggali sama sekali tidak kalah oleh kembarannya. Bahkan terkadang tindakan dan tingkahnya jauh lebih kejam dan beringas daripada Jonggala.

"Kami hendak mengantarkan undangan kepada Pendekar Cakar Maut. Maka, harap kalian memberi jalan. Undangan ini penting sekali. Dan kalau Pendekar Cakar Maut sampai mendengar adanya orang yang menghalangi perjalanan kami, tentu dia tidak akan tinggal diam. Dengan demikian, berarti kesulitan akan menimpa kalian...," Sentana mencoba menggunakan nama tokoh yang tercantum dalam surat undangannya. Tentu saja, lelaki berkumis tipis itu hanya sekadar menggertak agar tidak sampai diganggu oleh kedua tokoh dari Lembah Maut itu.

Sayang, ucapan Sentana sama sekali tidak digubris Jonggala dan Jonggali. Kedua tokoh sesat itu bahkan tertawa bergelak gelak mendengar ancaman Sentana.

"Hua ha ha..." Jonggala sampai memegangi perutnya yang te- rasa sakit mendengar ancaman itu. Jelas, gertakan Sentana lebih merupakan sesuatu yang lucu, ketimbang sebuah ancaman. Memang begitulah anggapan bagi Sepasang Mambang Lembah Maut.

"Mana surat undangan itu! Berikan padaku ," Sesaat setelah gema tawa mereka lenyap, Jonggala mengulurkan tangannya merenggut tubuh Sentana. Tapi, lelaki gagah berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tentu tidak tinggal diam. Cepat Sentana melompat panjang kebelakang, sehingga cengkeraman Jonggala luput!

Tapi, apa yang kemudian terjadi benar-benar membuat Sentana pucat! Ternyata cengkeraman orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu masih terus mengejarnya! Tentu saja kenyataan itu membuat Sentana kelabakan!

"Gila...?!" umpat Sentana melihat lengan lawan terus memanjang mengincar tubuhnya. Seolah-olah lengan Jonggala bertambah panjang beberapa jengkal! Tentu saja kenyataan itu membuatnya menjadi gugup!

Untunglah pada saat yang gawat bagi keselamatan Sentana, Karpala dan Ratmala bertindak cepat. Terdengar suara gemerincing saat keduanya melolos gelang-gelang baja dari tangan masing-masing. Lalu, mereka melepaskannya dengan pengerahan tenaga dalam yang mereka miliki!

Ziiing! Ziiing!

Empat buah gelang baja berbentuk pipih melesat diiringi suara berdesing tajam! Senjata-senjata berbentuk gelang itu memang tidak bisa dipandang remeh! Karena selain dapat merenggut nyawa lawan dari jarak jauh, gelang itu pun dapat berputar kembali ke arah tuannya. Itulah keistimewaan 'Ilmu Gelang Terbang" yang sudah terkenal di kalangan rimba persilatan.

Jonggala mendengus kasar dengan nada meremehkan. Empat buah gelang baja yang mengincar tubuh dan sikunya, memang berhasil menyelamatkan nyawa Sentana. Tapi untuk itu, kedua adik seperguruan Sentana harus membayar dengan mahal! Buktinya, dengan kecepatan yang sukar diikuti mata, Jonggala memutar lengannya. Langsung dikibasnya keempat senjata itu sehingga berbalik arah.

"Hiaaah...!"

Hebat sekali akibat kibasan lengan yang terlihat sembarangan itu! Setelah mengapung bagai ditahan tangan-tangan yang tak tampak, gelang-gelang baja itu berbalik melesat dengan kecepatan dan kekuatan berlipat ganda!

Crabbb! Crabbb!

"Arghhh...!"

"Akhhh...!"

Dalam waktu yang tidak lebih dari sekejap mata, gelang-gelang baja itu telah menembus leher Ratmala dan Karpala. Mereka ambruk ke tanah. Setelah meregang nyawa sesaat, mereka langsung tewas. Memang, gelang-gelang baja itu telah menembus leher mereka lebih dari separuhnya!

"Bangsat keji...!" maki Sentana kalap.

Tampak kedua orang saudara seperguruannya telah roboh mandi darah! Dengan kemarahan yang meluap-luap, empat buah gelang bajanya diloloskan dari tangannya dan langsung dilepaskan disertai bentakan keras!

Lagi-lagi Jonggala hanya mendengus kasar! Cepat bagai kilat, tangannya berkelebat. Maka tahu-tahu saja, empat buah gelang baja itu telah dapat ditangkapnya! Karuan saja tindakan lawan yang boleh dibilang mustahil itu membuat Sentana terpaku dengan mata terbelalak lebar! Kalau saja tidak melihat dengan mata kepala sendiri, Sentana tidak mungkin mempercayainya.

"Hmhhh...!"

Sayang, Sentana tidak dapat berpikir lebih jauh lagi. Sebab disertai sebuah dengusan kasar, Jonggala telah mengirimkan kembali senjata itu kepada tuannya! Dan....

Ziiing! Ziiing!

"Aaa !"

Sentana meraung begitu gelang baja miliknya menembus tubuh dan lehernya! Tanpa ampun lagi, tubuh lelaki gagah itu pun terjungkal. Dia kelojotan sesaat, lalu diam tak bergerak lagi.

"Hm..., akan kubuat gempar Perguruan Gelang Terbang pada hari perayaan nanti...," desis Jonggala yang kemudian tertawa berkakakan, diikuti Jonggali.

********************

DUA

Hari ini di setiap sudut bangunan Perguruan Gelang Terbang tampak telah terjadi kesibukan. Segala hiasan indah berwarna cerah tampak menghiasi bagian dalam bangunan. Bahkan bendera-bendera yang bertuliskan Perguruan Gelang Terbang, tampak terpancang menyemaraki di pelataran bangunan perguruan itu. Tampaknya Perguruan Gelang Terbang hendak merayakan hari jadinya yang kelima.

Di tengah kesibukan murid-murid Perguruan Gelang Terbang yang tengah bekerja, terlihat seorang lelaki gagah bertubuh kekar sedang berdiri mengamati. Sepasang matanya yang tajam dengan brewok menghias wajahnya, membuat penampilan lelaki itu semakin bertambah angker. Melihat tiga buah gelang perak yang menghias sepasang tangannya, dapat ditebak kalau lelaki itu adalah murid utama Perguruan Gelang Terbang.

"Kakang...," sapa seorang lelaki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Dia menyapa lelaki gagah itu dengan napas agak memburu, seperti begitu tergesa-gesa.

"Ada apa...?" tanya lelaki gagah berwajah brewok itu dengan suara berat.

"Guru menyuruhku untuk memanggil Kakang Panawangan, agar menghadap sekarang juga...," sahut lelaki muda itu sambil mengangguk hormat.

"Hm..., baiklah "

Meski agak heran, lelaki gagah bernama Panawangan itu beranjak juga untuk menghadap guru besarnya. Namun sambil melangkah lebar-lebar, batinnya bertanya-tanya. Maka begitu tiba di dalam bangunan utama, ia langsung masuk ke dalam ruang pertemuan. Didapatinya dua orang murid tingkat satu dan empat murid tingkat dua tengah berkumpul di dalam ruangan.

"Guru...." Panawangan membungkuk memberi hormat, kemudian duduk di hadapan gurunya.

"Panawangan! Tadi aku bertanya kepada Subadra dan Kandira. Kata mereka, Sentana, Ratmaja, dan Karpala belum terlihat kembali. Apa itu betul?" tanya seorang lelaki berkumis lebat, berusia sekitar enam puluh tahun. Laki-laki itu adalah Ki Pangrawit. Atau, lebih dikenal sebagai Pendekar Gelang Maut. Pada kedua lengannya masing-masing terlihat sepasang gelang yang terbuat dari emas.

"Betul, Guru. Aku pun merasa heran atas keterlambatan mereka. Padahal, semestinya kemarin sudah harus tiba di perguruan. Aku khawatir ada sesuatu yang telah menimpa mereka," Panawangan membenarkan keterangan Subadra dan Kandira.

"Hm Rasanya, tidak mungkin mereka sengaja melakukannya. Tapi kalau memang ada sesuatu yang terjadi terhadap mereka, mengapa kita tidak mendapat kabar! Apa sebenarnya yang membuat mereka belum juga kembali...?" gumam Ki Pangrawit pelan sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan lebat.

Sepasang mata tua Ki Pangrawit tampak menyipit, seolah-olah hendak mencari dugaan atas keterlambatan ketiga orang muridnya yang belum juga kembali dari tugas yang diberikan.

"Apa mungkin mereka mengalami kesulitan di jalan...," gumam Subadra, seorang lelaki berwajah kurus yang juga murid utama Ki Pangrawit bergumam lirih. Meski demikian, ucapannya terdengar jelas oleh orang-orang di ruangan itu.

"Kesulitan di jalan...?" gumam Ki Pangrawit dengan kening berkerut. "Rasanya, kemungkinan itu kecil sekali, Subadra. Sebelum berangkat, mereka telah ku pesan tegas-tegas, agar menghindari setiap perkara yang bisa membawa keributan. Dan aku percaya kalau mereka pasti akan mentaatinya."

"Aku rasa, kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi, Guru. Kalau ada orang yang mencari keributan dan terlalu menghina, mungkin saja Sentana dan teman-temannya terpaksa menghadapi," timpal Panawangan, yang memiliki dugaan sama dengan Subadra.

"Hm...," Ki Pangrawit hanya menggumam tak jelas menanggapi pendapat murid-muridnya.

Suasana menjadi hening sejenak, ketika orang tua gagah itu termenung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi terhadap Sentana dan dua orang murid lainnya. Panawangan dan murid-murid lainnya termenung, seperti tengah ikut memikirkan Sentana dan kawan-kawannya yang belum kembali Bahkan bebera- pa orang di antaranya terlihat mengerutkan kening, seperti tengah berpikir keras untuk mencari jawaban atas persoalan itu.

"Hhh..." Terdengar helaan napas berat Ki Pangrawit se- telah kesunyian mengungkungi ruangan itu. "Sudahlah. Sebaiknya kita bersiap-siap menyambut tamu. Untuk sementara, lupakan saja masalah Sentana. Dan, ingat. Persoalan ini jangan diceritakan kepada murid-murid yang lain. Aku tidak ingin perayaan ini terganggu," ujar Ki Pangrawit yang segera membubarkan murid-murid lainnya.

"Baik, Guru..."

Secara serempak, ketujuh orang tokoh Perguruan Gelang Terbang berpamitan meninggalkan ruang itu. Kini, tinggallah Ki Pangrawit termenung seorang diri memikirkan persoalan itu.

********************

Ketika matahari mulai naik tinggi, satu-persatu para undangan mulai berdatangan. Suasana di dalam bangunan Perguruan Gelang Terbang pun semakin bertambah ramai. Hal itu memang tidak terlalu aneh, sebab nama Pendekar Gelang Maut telah dikenal oleh hampir seluruh tokoh persilatan. Tidak heran kalau perayaan itu juga dihadiri pejabat-pejabat pemerintah setempat.

Ki Pangrawit yang duduk di bangku kehormatan bersama tokoh-tokoh seangkatan yang diundangnya, tersenyum penuh kepuasan. Memang, hampir semua yang diundangnya datang menghadiri perayaan itu. Tentu saja hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri di hatinya. Sebab, hal ini berarti namanya masih cukup disegani dan dihormati orang.

Panawangan yang bersama Subadra dan Kandira duduk di belakang gurunya, sejenak mengawasi tempat para undangan yang telah penuh. Berbagai hadiah yang dibawa para undangan telah bertumpuk-tumpuk tiga meja penuh, membuat para murid perguruan itu sempat kewalahan menanganinya. Ki Pangrawit memang menyebar undangan tidak kurang dari tiga ratus, sehingga perayaan itu terlihat sangat meriah.

"Hm.... Rupanya, semakin tua usia perguruan ini semakin terkenal. Selamat kuucapkan untukmu, Pendekar Gelang Maut. Semoga di tahun-tahun mendatang perguruan ini semakin bertambah maju, dan bisa menghasilkan murid-murid pandai berhati luhur," ucap seorang lelaki tinggi kurus mengenakan pakaian sederhana. Dia tampak memberi hormat kepada Ki Pangrawit. Sementara, Ki Pangrawit langsung bangkit menyambut tamunya.

"Terima kasih..., terima kasih. Ah..., kau semakin bertambah gagah saja Ki Janiga. Lima tahun tidak berjumpa, ternyata kau semakin bertambah gemuk. Ha ha ha.... Silakan..., silakan...," sambut Ki Pangrawit tertawa gembira menerima kedatangan lelaki jangkung itu.

"Kau bisa saja, Ki Pangrawit. Apa untuk pujian itu aku harus memberi hadiah yang lebih besar kepadamu?" lelaki jangkung bernama Ki Janiga itu pun tertawa gembira. Sepertinya, pertemuan itu benar-benar membuat mereka gembira.

"Tidak juga, Sahabatku. Yang jelas, aku sangat gembira atas kehadiranmu kali ini. Tidak seperti tahun-tahun lalu, saat kau selalu sibuk dan sulit ditemui," sanggah Ki Pangrawit seraya mempersilakan Ki Janiga untuk memilih tempat duduk.

Ki Janiga menyalami tokoh-tokoh lainnya sebelum menghempaskan pantatnya di atas kursi. Tapi suasana gembira itu tiba-tiba berubah tegang, begitu dari pintu gerbang tempat penerimaan para tamu, terdengar jeritan-jeritan kesakitan. Beberapa orang murid yang ditugaskan menyambut para undangan, tampak terpental ke dalam bangunan perguruan. Jelas, ada kejadian yang tak dinginkan di depan pintu gerbang itu.

"Coba kau lihat, Panawangan. Ada apa di depan sana? Hati-hati, jangan memperpanjang urusan," perintah Ki Pangrawit, sambil tak lupa berpesan.

Tanpa diperintah dua kali, Panawangan segera saja bergerak bangkit dan berlari menuju pintu gerbang utama. Sedang Subadra dan Kandira tetap di tempat, karena tidak berani bertindak tanpa diperintah Ki Pangrawit.

Panawangan yang tiba di depan pintu gerbang, tentu saja menjadi terkejut. Cepat kemarahannya yang sudah naik ke kepalanya ditekan, begitu melihat enam orang yang ditugaskan menyambut kedatangan para tamu telah bergeletakan pingsan. Kalau saja Panawangan tidak teringat pesan gurunya, rasanya batok kepala pengacau itu ingin dihancurkannya.

"Ada apa ini...?" tegur Panawangan, kaku. Memang, biar bagaimanapun kemarahan yang ditekannya itu tidak hilang seluruhnya. Sehingga meski diusahakan untuk tenang, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Lelaki gagah berwajah brewok itu menatap tajam ke arah seorang lelaki gemuk berwajah bulat yang tengah dikepung murid-murid tingkat dua dan tiga. Panawangan heran melihat kilatan kemarahan di mata lelaki gemuk itu. Kemudian, kakinya melangkah lebar menghampiri orang-orang yang telah siap bertarung.

"Kami tidak mengenal lelaki gemuk itu, Kakang. Begitu datang, dia langsung marah-marah. Selain itu, dia juga tidak membawa undangan. Dan ketika kawan-kawan yang bertugas menanyakan secara baik-baik, tapi ia malah menghajarnya. Bahkan sambil memaki Guru Besar kita!" lapor seorang murid tingkat tiga kepada Panawangan.

Sehingga, lelaki gagah itu semakin dalam mengerutkan keningnya. "Orang tua! Siapakah kau! Dan mengapa membuat keributan di tempat ini?!" tegur Panawangan. Sikapnya tetap kaku, meski telah dicoba untuk ramah.

"Hm.... Kau pasti murid Tua Bangka Sombong Pangrawit itu, bukan? Katakan pada Gurumu! Aku, si Cakar Maut datang berkunjung, namun kawan-kawanmu menahanku, dengan alasan kalau aku tidak mempunyai undangan. Padahal, kedatanganku bukan karena tertarik menghadiri perayaan gombal ini! Tapi, kesombongan gurumulah yang membawa langkahku datang ke sini!" sahut lelaki gemuk yang mengaku berjuluk Cakar Maut. Tentu saja pengakuan itu membuat Panawangan terkejut.

"Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Cakar Maut?" desis Panawangan, tak yakin. Di telitinya sosok tubuh lelaki gemuk berusia lima puluh tahun itu. "Maaf, mungkin guruku lupa karena banyaknya sahabat beliau. Tapi, tidak seharusnya kau berbuat sedemikian kasar terhadap murid-murid kami yang tidak berdosa."

Panawangan sepertinya belum percaya sepenuhnya kepada lelaki gemuk itu. Memang, ia tahu betul kalau tokoh berjuluk Pendekar Cakar Maut telah terdaftar namanya dalam undangan. Dan karena tidak pernah berjumpa sebelumnya, maka Panawangan pun masih belum mempercayainya. Maka, rasa tidak senangnya belum juga lenyap.

"Hm.... Masih untung mereka tidak kubikin mampus! Kau tahu! Dengan mengadakan perayaan ini tanpa mengundangku, itu sama artinya Ki Pangrawit tidak memandang mukaku! Dan itu sama saja sebuah penghinaan!" bentak Pendekar Cakar Maut.

Rupanya, laki-laki gemuk itu tidak menerima undangan dari Ki Pangrawit Maka tentu saja tokoh itu marah, karena sama artinya dianggap remeh oleh Pendekar Gelang Maut. Baginya itu merupakan penghinaan!

Mendengar dirinya dibentak-bentak, kontan kemarahan yang semula ditahan-tahan Panawangan, serentak naik ke kepalanya. Karuan saja, wajahnya gelap seketika. Bahkan sorot matanya pun memancarkan kilatan kemarahan.

"Hm... Ucapanmu terlalu sombong, Orang Tua! Apa kau kira begitu mudah membuktikan ucapan itu? Hmh! Dengan ucapanmu itu, sama saja sebuah penghinaan bagi perguruan kami! Dan aku tidak bisa terima!" desis Panawangan, sambil menggertakkan giginya hingga menimbulkan suara bergemelutuk yang cukup jelas.

"Hm.... Sudah kuduga. Perguruan Gelang Terbang telah menjadi besar kepala seiring kemajuannya. Benar-benar mengagumkan. Kalau begitu, mengapa kau tidak segera turun tangan memberi pelajaran kepadaku? Ingin kulihat, apakah kepandaianmu sebesar mulutmu?" ejek Pendekar Cakar Maut yang semakin tersinggung atas sikap Panawangan, yang dianggap tidak sopan terhadap tokoh yang tingkatannya sejajar gurunya.

"Keparat! Siapa takut kepadamu!" bentak Panawangan. Laki-laki berwajah brewok jadi lepas kendali karena merasa diremehkan. Begitu ucapannya selesai, langsung diterjangnya lelaki gemuk yang mengaku sebagai Pendekar Cakar Maut itu.

"Hiaaat...!"

Dengan mengandalkan jurus-jurus tangan kosongnya Panawangan merangsek maju. Terdengar angin berkesiutan saat pukulan dan tendangan lelaki brewok itu meluncur membelah udara!

Whuuut! Whuuut!

"Hm.... Tidak jelek..," desis lelaki gemuk itu sambil menggeser langkahnya menghindari serangan Panawangan.

Sampai lima jurus lamanya, serangan murid utama Ki Pangrawit sama sekali tidak mengenai sasaran, luput tanpa hasil! Memang gerakan lelaki gemuk itu masih jauh lebih cepat ketimbang Panawangan. Dan semua itu semakin menambah kemarahan di hati murid utama Ki Pangrawit!

"Yeaaah...!" Rasa kemarahan dan penasaran membuat Panawangan terhina. Sehingga, serangan-serangan semakin di perhebat Bahkan terlihat sudah mulai menggunakan gelang peraknya sebagai senjata.

"Awasss...!" Ketika pertarungan memasuki jurus yang kedua puluh, Cakar Maut mengejutkan lawannya dengan sebuah seruan tiba-tiba. Pada saat yang sama tubuhnya melompat tinggi, dan langsung melepaskan sebuah tendangan ke dada lawannya.

Karuan saja Panawangan menjadi gugup dibuatnya. Padahal, ia tengah menahan debaran akibat seruan mendadak lawannya. Tapi, pada saat itu pula, Pendekar Cakar Maut tiba-tiba melepaskan tendangan kilatnya. Akibatnya....

Bukkk!

"Hukhhh...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Panawangan langsung terjajar hingga sejauh satu tombak. Merasa kalau lawan sengaja mengurangi tenaganya pada saat menendangnya, membuat Panawangan merasa terhina! Maka kemarahannya pun kian berlipat. Dia merasa kalau lawan terlalu menganggap remeh dirinya.

"Hm.... Hadapilah senjataku. Keparat Sombong...!" geram Panawangan sambil meloloskan gelang perak di lengannya. Sekejap saja, di tangan Panawangan telah tergenggam dua pasang gelang perak.

"Bagus! Ingin kulihat, sampai di mana ilmu yang telah diturunkan orang tua sombong itu kepadamu, Orang Gagah ," ejek Cakar Maut. Wajahnya tampak mengulas senyum, sehingga menyakitkan hati Panawangan.

Ucapan Cakar Maut rupanya bukan hanya sekadar omong kosong: Buktinya, meskipun Panawangan telah menggunakan senjata andalannya, tetap saja tidak bisa mendesak lawan. Memang nyata sekali kalau kepandaian lelaki gemuk itu masih berada di atasnya.

"Hiaaah...!" „ Dalam kepenasarannya, Panawangan mulai menggunakan gelang peraknya sungguh-sungguh. Diiringi sebuah bentakan nyaring, lelaki gagah itu mendadak melompat mundur jauh kebelakang. Sambil melompat, tangannya mengibaskan melepaskan sepasang gelang terbang di tangan kanannya!

Ziiing! Ziiing!

Dua buah gelang perak itu langsung mengaung tajam merobek udara siang! Dan senjata itu terus melaju pesat, mengancam Pendekar Cakar Maut!

"Haiiit...!"

Panawangan tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu sepasang senjatanya terlontar, lelaki gagah itu ikut melesat sambil kembali melontarkan sepasang gelang peraknya yang di tangan kiri! Sebuah serangan hebat, dan Jelas menggambarkan kecerdikan otaknya!

"Bagus...," puji Pendekar Cakar Maut, tulus. Pujiannya kali ini bukan merupakan ejekan. Memang, apa yang dilakukan lelaki gagah itu benar-benar patut dipuji.

"Hiaaah..!" Dibarengi sebuah bentakan keras, tubuh lelaki gemuk itu berputar bagaikan kitiran. Sepasang gelang terbang pertama luput, dan kembali berputar ke arah tuannya. Sedangkan sambaran sepasang gelang perak kedua, dihindari Pendekar Cakar Maut melambung ke atas, dan berputar melewati gelang-gelang lawannya!

Panawangan rupanya tidak sekadar mengandalkan senjata-senjatanya saja. Lelaki gagah itu bahkan menyertainya dengan serangkaian serangan kilat untuk menyusuli senjatanya, sehingga semakin membuat kagum lawannya!

Whuuut! Whuuut!

"Haiiit...!"

Pendekar Cakar Maut membentak keras dalam menyambut pukulan Panawangan. Tubuh gemuk itu bergerak miring ke kiri, meskipun kedua kakinya baru saja menyentuh tanah. Namun serangan Panawangan dapat dihindarinya! Bahkan sebuah cengkeraman mautnya nyaris merobek tenggorokan lawan! **Gila.-.!" desis Panawangan.

Untungnya laki-laki brewok itu telan lebih dulu melompat mundur ke belakang. Sehingga, cengkeraman jari-jari sekeras besi itu tidak sampai mencelakai dirinya!

"Berhenti...!"

Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras yang membuat kedua orang itu menghentikan gerakannya. Berbarengan suara bentakan itu, berkelebat sesosok tubuh yang langsung menjejakkan kakinya di tengah arena pertarungan!

TIGA

"Guru...!"

"Ki Pangrawit..!"

Baik Panawangan mau pun Pendekar Cakar Maut sama-sama berseru ketika mengenali sosok tegap yang melerai pertarungan mereka. Panawangan sendiri sudah langsung membungkuk hormat kepada gu- runya. Sedangkan Pendekar Cakar Maut tetap berdiri tegak dengan tatapan tajam.

Ki Pangrawit menatap Panawangan lekat-lekat Dari kilatan matanya, jelas sekali kalau orang tua itu tidak suka atas kelakuan murid utamanya.

"Kau lupa pesanku tadi, Panawangan...?" tegur Ki Pangrawit penuh kekecewaan.

"Ampun, Guru. Aku tidak mungkin berani melanggar pesan itu kalau saja dia tidak memaksa dan menghina Guru di depanku...," dengan wajah tertunduk, Panawangan mencoba membela diri Jelas, ia tidak mau disalahkan dalam persoalan ini.

"Hm.... Biar bagaimanapun, kau tetap salah, Panawangan. Bukankah kau bisa melaporkannya padaku? Lalu, mengapa tidak kau lakukan? Apakah kau sudah merasa hebat, hingga ingin menyelesaikan masalah ini seorang diri dengan mengandalkan kepandaianmu?" kata Ki Pangrawit, kembali memojokkan Panawangan. Memang bagaimanapun, lelaki gagah itu telah bersalah karena telah mendahului gurunya. Itu yang tidak bisa diterima Ki Pangrawit

"Ampun, Guru. Aku mengaku salah ..." Akhirnya Panawangan tidak bisa membantah lagi. Apa yang dikatakan gurunya sangat jelas dan terang. Dan disadari kebenaran ucapan gurunya itu.

"Hhh..., sudahlah. Lain kali, pikirkanlah dulu sebelum mengambil tindakan," ujar Ki Pangrawit di dahului desahan napas panjang. Kemudian, Ketua Perguruan Gelang Terbang itu berpaling kepada Pendekar Cakar Maut. Tubuhnya segera dibungkukkan, memberi hormat dengan sapaan ramah serta permohonan maaf atas kelancangan muridnya.

"Hmh...!" dengus Pendekar Cakar Maut, kasar. Sikapnya jelas-jelas menyiratkan kesombongan hatinya.

Tentu saja Ki Pangrawit agak heran melihatnya. Setahunya, sahabatnya yang berjuluk Cakar Maut ini sama sekali tidak memiliki perangai sombong. "Maaf, atas semua kejadian yang tidak menyenangkan hatimu. Sahabat Cakar Maut. Kuharap, kau berkenan melupakannya. Sekarang, marilah kita ke dalam. Cukup banyak sahabat kita yang telah berkumpul dan ingin segera berjumpa denganmu," ucap Ki Pangrawit tetap bersabar. Dengan wajah penuh senyum, orang tua itu mempersilakan Pendekar Cakar Maut untuk segera bergabung dengan tamu-tamu lainnya.

"Hmhhh...! Jangan berpura-pura manis, Pangrawit! Katakanlah sejujurnya. Apa maksudmu tidak mengirim undangan kepadaku? Apakah aku sudah sedemikian rendah hingga tidak pantas menghadiri ulang tahun perguruanmu?" dengus Pendekar Cakar Maut. Pendekar Cakar Maut sepertinya tidak tergerak oleh sikap manis sahabatnya. Lelaki bertubuh gemuk itu seperti menuntut jawaban dari Ki Pangrawit

"Tidak mengundangmu...? Mana mungkin. Sahabat! Aku belum gila untuk memutuskan persahabatan di antara kita. Undangan untukmu tentu saja telah kukirimkan. Apakah kau benar-benar tidak menerimanya?" Ki Pangrawit malah bertanya dengan kening berkerut dalam. Jelas sekali kalau orang tua itu merasa terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya.

"Hm.... Jadi, kau telah mengirimkan undangan kepadaku, begitu?" tukas Pendekar Cakar Maut bernada sangat tidak enak didengar.

"Tentu saja ," sahut Ki Pangrawit cepat. Orang tua itu tetap bersabar meski ucapan Pendekar Cakar Maut seperti sengaja memancing kemarahannya.

"Hm... kalau begitu, coba panggil orang yang mengirimkan undangan untukku. Aku ingin melihat, seperti apa orangnya...," kembali Pendekar Cakar Maut mendesak dengan wajah tidak sedap dipandang.

"Itulah yang masih menjadi pikiranku, Cakar Maut. Sebab, sampai hari ini ketiga orang muridku yang bertugas mengantarkan undangan kepadamu belum juga kembali. Apakah kau tidak menerima undangan itu...?" tanya Ki Pangrawit, agak heran.

"Menurutmu sendiri, bagaimana?" sahut Pendekar Cakar Maut cepat. Sikapnya tetap belum berubah.

"Maaf kalau aku terpaksa mencampuri urusan ini..." Tiba-tiba terdengar sebuah suara menimpali. Dari dalam bangunan, melangkah seorang lelaki tinggi kurus yang mengenakan pakaian sederhana.

"Tinju Pemecah Badai...! Rupanya kau sudah datang ke tempat ini. Apakah kau hendak membela Ki Pangrawit..?" seru Pendekar Cakar Maut. Wajahnya terlihat agak berseri begitu mengenali orang yang datang.

Lelaki tinggi kurus yang berjuluk Tinju Pemecah Badai itu tak lain dari Ki Janiga. Langkahnya lebar-lebar menghampiri sahabat-sahabatnya yang tengah bersitegang itu. Dia kemudian memberi hormat kepada Pendekar Cakar Maut, dan berdiri di samping Ki Pangrawit.

"Sahabat, Cakar Maut. Apa yang dikatakan Ki Pangrawit sama sekali tidak bohong. Memang, pada saat aku menerima undangan yang disampaikan melalui tiga orang muridnya, sempat kulihat undangan terakhir yang menurut mereka akan disampaikan kepadamu. Nah, apakah kau pun akan menuduhku sebagai pembohong?" kata Ki Janiga, sambil menatap tajam wajah Pendekar Cakar Maut. Kemudian, kepalanya terangguk memohon pengertian sahabatnya.

Pendekar Cakar Maut termenung ketika mendengar penjelasan Ki Janiga. Sebenarnya, ia pun bukan tidak mempercayai keterangan Ki Pangrawit. Tapi karena merasa terhina dan tidak sudi dianggap remeh, maka la masih bersikap keras kepala. Maka, ikut campurnya Ki Janiga tentu saja membuat Pendekar Cakar Maut tidak enak hati. Sebagaimana Ki Pangrawit, Ki Janiga pun merupakan sahabat baiknya. Dan kini, lelaki gemuk itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mencoba mengerti.

"Baiklah. Tapi, mengapa ketiga orang murid yang kau tugaskan itu tidak sampai ke tempatku? Dan..., benarkan mereka belum kembali?" tanya Pendekar Cakar Maut, meminta penjelasan Ki Pangrawit.

"Aku pun tidak tahu, Cakar Maut. Tapi sebaiknya, kita lupakan saja masalah itu, agar tidak mengganggu jalannya perayaan ini. Mudah-mudahan saja mereka hanya terlambat, dan bukan mengalami musibah...," sahut Ki Pangrawit berharap.

"Ya.... Kalau begitu, maafkanlah tindakanku yang mungkin telah mengganggu jalannya acaramu...," ucap Pendekar Cakar Maut, yang akhirnya bersedia mengerti keterangan Ki Pangrawit.

"Ayolah...," ajak Ki Pangrawit mempersilakan kedua orang sahabatnya ke tempat yang telah disediakan.

Panawangan pun segera beranjak meninggalkan gerbang depan, setelah berpesan kepada para muridnya yang ditugaskan di tempat itu.

********************

"Para sahabat sekalian. Aku sebagai tuan rumah, mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan kalian. Hari ini, adalah hari jadinya Perguruan Gelang Terbang yang kelima. Seperti biasanya, kami akan memperlihatkan kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh murid-murid Perguruan Gelang Terbang. Dan apabila ada sesuatu yang kurang dalam penyambutan maupun pelayanan, harap mohon dimaafkan," Panawangan yang bertugas mewakili Ki Pangrawit untuk membuka perayaan itu, menghentikan ucapannya sejenak. Karena saat itu, terdengar tepuk tangan para tamu menyambut ucapannya. Bahkan sekelompok undangan di sebelah kanan, berteriak-teriak ramai.

"Hidup Perguruan Gelang Terbang...!"

Teriakan-teriakan itu terus bergemuruh bagai hendak meruntuhkan bangunan gedung. Panawangan tersenyum-senyum sambil membungkukkan tubuhnya ke segala arah. Lelaki gagah itu baru melanjutkan ucapannya setelah suara teriakan itu lenyap.

"Seperti biasanya, dalam acara ini kami membuka kesempatan kepada para undangan sekalian untuk mengisi acara bebas ini. Untuk itu, yang berminat silakan naik ke atas panggung..."

Baru saja ucapan Panawangan selesai, terlihat sesosok tubuh bergerak melenting ke udara. Kemudian, kakinya menjejak di atas panggung setelah berputaran di udara. Langsung saja para undangan bertepuk tangan riuh menyambut pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang hebat itu.

"Sahabat! Aku, Rajawali Merah hendak ikut meramaikan pesta ini..." Sambil berkata demikian, lelaki berusia kira-kira tiga puluh tahun berpakaian serba merah itu membungkukkan tubuhnya kepada Panawangan. Kemudian, dia berputar memberi hormat kepada para undangan di tiga penjuru.

"Terima kasih atas kesediaan sahabat...," ucap Panawangan. Laki-laki brewok itu segera saja beranjak turun untuk memberi keleluasaan kepada lelaki muda bertu- buh sedang yang terlihat gesit. Dari caranya melompat ke atas panggung, memang pantas sekali dia memakai julukan 'Rajawali'. Sebab, gerakannya sangat gesit, tak ubahnya seekor burung rajawali yang bermain-main di angkasa.

Namun sayang. Baru saja lelaki berjuluk Rajawali Merah itu bergerak mempertontonkan kebolehannya, tiba-tiba terdengar kegaduhan yang berasal dari gerbang depan. Serentak para tamu menoleh ke arah pintu gerbang. Itu berarti pertunjukan Rajawali Merah sama sekali tidak mendapat perhatian untuk beberapa saat lamanya.

Subadra dan Kandira yang bertugas mengamankan suasana, segera saja bergegas menuju gerbang. Beberapa saat kemudian, salah satu di antaranya telah kembali bersama seorang lelaki gagah. Dilihat dari pakaiannya, dapat ditebak kalau lelaki itu merupakan anggota pengawal barang. Kini, orang itu menghadap Ki Pangrawit dengan diantar Kandira.

"Kami ditugaskan dua orang yang tidak dikenal untuk menyampaikan hadiah ini kepada Ketua Perguruan Gelang Terbang. Mereka mohon maaf, karena tidak bisa hadir meramaikan pesta yang diadakan Perguruan Gelang Terbang..." Sambil berkata demikian, lelaki gagah berusia sekitar empat puluh tahun itu menyerahkan sebuah peri berukir kepada Ki Pangrawit. Sementara, Ketua Perguruan Gelang Terbang itu segera menyambutnya

"Apakah Kisanak tidak mengenal kedua orang itu?" tanya Ki Pangrawit, dengan sikap wajar. Memang pada peti yang cukup besar itu tidak tertera nama pengirimnya.

"Maaf. Kami sama sekali tidak mengenal kedua orang itu. Tapi menurut mereka, Ki Pangrawit akan segera tahu setelah membuka peti itu. Mungkin di dalamnya terdapat keterangan, siapa pengirim hadiah itu...," jelas lelaki pengawal barang itu menerangkan.

"Hm...," Ki Pangrawit hanya bergumam dengan kening berkerut. Karena merasa penasaran. Lelaki tua itu segera saja membukanya di depan beberapa murid dan sahabatnya. Dan....

"Aaah !?"

"Keji...!"

Berbagai seruan terdengar saling bersahutan, saat peti itu di buka Ki Pangrawit. Wajah lelaki tua itu seketika menjadi gelap. Sepasang tangannya mengepal memperdengarkan suara berkerotokan buku-buku jarinya.

"Biadab...!" desis Ki Pangrawit, gemetar. Orang tua yang biasanya sabar dan bijaksana itu, ternyata tidak sanggup menahan kemarahannya. Memang, dia telah menyaksikan bentuk hadiah yang dikirimkannya melalui perkumpulan pengawal barang itu.

Pendekar Cakar Maut dan Tinju Pemecah Badai menjadi penasaran. Keduanya segera melangkah melihat wajah Ki Pangrawit yang nampak dijalari kemarahan besar itu.

"Aaah...?!" seru Pendekar Cakar Maut, kaget ketika melihat isi peti.

Demikian pula halnya Ki Janiga. Pendekar bertubuh tinggi kurus itu mendesis geram begitu melihat bentuk hadiah yang diterima sahabatnya.

"Ya..., Sentana, Karpala dan Ratmana inilah yang kutugaskan mengirimkan undangan kepada sahabat-sahabatku. Termasuk, kau dan Cakar Maut. Rupanya, inilah yang membuat undangan itu tidak sampai ke tanganmu, Cakar Maut...," sahut Ki Pan- grawit seraya menundukkan wajahnya. Kemudian segera ditutupnya kembali peti berukir indah itu.

Pendekar Cakar maut yang merasa bersalah dalam hal ini segera saja menyambar leher baju lelaki gagah yang mengantarkan hadiah itu. Gerakannya demikian cepat, sehingga tidak sempat lagi dihindari. Sehingga, tahu-tahu tubuh lelaki gagah itu telah terangkat ke udara dalam cengkeraman Pendekar Cakar Maut!

"Katakan, siapa yang menyuruhmu mengirimkan hadiah terkutuk itu! Jawab! Kalau tidak, kepalamu terpaksa kuhancurkan sekarang juga!" bentak Pendekar Cakar Maut dengan wajah merah padam. Kepalan tangan kanannya terlihat telah siap merenggut nyawa orang itu.

Tentu saja perbuatan yang tak disangka-sangka ini membuat lelaki gagah itu pucat. Sadar, kalau ia tidak mungkin selamat dari ancaman maut itu. Sehingga, keringat dingin pun mulai merembes membasahi pakaiannya.

"Aku..., aku sungguh-sungguh tidak tahu, Ki. Mereka sama sekali tidak mengatakannya...," kata lelaki gagah itu. Dia semakin bertambah ciut nyalinya setelah mengenali orang yang mengancam dirinya.

"Bohong! Sekali lagi, kuberi kesempatan! Jawab sejujurnya, atau kau tunggu mereka di akhirat!" ancam Pendekar Cakar Maut lagi, tak percaya terhadap keterangan orang itu.

Ki Pangrawit yang melihat kejadian itu segera saja bertindak mencegah. "Sabarlah, sahabat. Orang ini memang tidak bersalah. Sebagai pengawal barang, tentu saja ia tidak perlu bertanya panjang lebar mengenai diri pelanggannya. Aku yakin, ia berkata benar," bujuk Ki Pangrawit sambil menepuk bahu Pendekar Cakar Maut.

Maka, lelaki gemuk itu mengendorkan cekalannya, dan melepaskannya begitu saja. Karuan saja lelaki gagah anggota pengawal barang itu terbanting jatuh di tanah, karena pendekar Cakar Maut melepaskannya secara mendadak.

"Aku merasa malu sekali kepadamu, Pangrawit. Maaf kalau aku tidak bisa menahan diri setelah tahu kalau tiga buah kepala itu adalah murid-muridmu yang bertugas mengantarkan undangan untukku. Bukankah secara tidak langsung aku ikut terlibat di dalamnya?" bantah Pendekar Cakar Maut yang kemarahannya masih juga belum lenyap.

"Kau tidak perlu merasa bersalah dalam hal ini. Menurutku, orang yang melakukan perbuatan biadab ini memang sengaja. Mengenai siapa mereka, aku belum jelas," ujar Ki Pangrawit dengan wajah berduka. Jelas sekali kalau ia cukup terpukul atas kejadian yang menimpa ketiga orang itu. Bahkan wajahnya yang semula cerah, tampak mendung kelabu. Namun, dia masih bisa menahan kesabarannya.

"Yang jelas, dia pasti seorang tokoh sesat berhati keji. Mustahil seorang tokoh golongan putih sampai tega melakukan kebiadaban seperti ini...," timpal Ki Janiga. Sepertinya, Tinju Pemecah Badai pun tergerak jiwa kependekarannya menyaksikan kejadian yang menimpa perguruan sahabatnya.

"Hhh.... Sudah bertahun-tahun aku tidak meninggalkan perguruan. Kalau pun ada tokoh-tokoh sesat yang mendendam kepadaku, mungkin aku sudah tidak ingat lagi," desah Ki Pangrawit yang tidak bisa mengambil kesimpulan mengenai si pembunuh keji itu.

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sama-sama termenung, mendengar jawaban Ki Pangrawit. Memang, seperti halnya orang tua itu, mereka pun jarang meninggalkan tempat kediamannya untuk bertualang. Sehingga untuk menduga siapa yang masih menyimpan dendam terhadap" Pendekar Gelang Terbang, tentu saja sangat sulit.

Sementara itu, perayaan ulang tahun Perguruan Gelang Terbang masih berlangsung semarak. Ki Pangrawit yang tidak ingin acaranya terganggu, meminta kepada yang lain untuk tidak menceritakan masalah yang baru saja terjadi. Mereka pun kembali ke tempat semula, setelah anggota pengawal barang itu memohon pamit. Ki Pangrawit yang berusaha untuk menahan, terpaksa, melepaskan kepergian lelaki pengawal barang itu. Karena, Ketua Perguruan Gelang Terbang maklum akan kesibukan sebagai pengawal barang

"Selamat jalan, Kisanak. Kuharap, kau bersedia memberitahukan apabila si pengirim hadiah itu datang menemuimu kembali," ucap Ki Pangrawit berbasa-basi. Memang la sendiri yakin kalau pengirim tiga kepala muridnya itu tidak mungkin akan menemui pengawal barang itu lagi

********************

EMPAT

Semenjak melihat kiriman tiga kepala muridnya, Ki Pangrawit tidak lagi banyak bicara. Orang tua itu lebih banyak termenung, ketimbang menyaksikan pertunjukan-pertunjukan di atas panggung. Semua sikap Pendekar Gelang Terbang tidak lepas dari pengamatan dua orang sahabatnya. Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut hanya bisa menghela napas melihat kemurungan sahabatnya.

Namun mereka tidak banyak bicara. Seperti halnya Ki Pangrawit, kedua tokoh itu juga tidak memperhatikan pertunjukan di atas panggung. Padahal, saat itu para undangan berteriak-teriak memberi semangat kepada jago masing-masing. Memang di atas panggung tengah terjadi pertarungan persahabatan yang sangat seru. Pertarungan itu hanya untuk meramaikan perayaan berdirinya Perguruan Gelang Terbang yang kelima.

Sedangkan Panawangan yang bertindak sebagai pembawa acara, memperhatikan pertunjukan di atas panggung dengan wajah berseri. Lelaki gagah murid utama Ki Pangrawit itu sama sekali tidak sempat memperhatikan sikap gurunya yang duduk di sebelahnya. Semua perhatiannya tercurah pada pertarungan seru di atas panggung. Bahkan dia juga tidak tahu kalau adik seperguruannya tertimpa musibah yang sempat membuat gurunya resah.

Sesekali terlihat Panawangan mengangguk-angguk kagum terhadap sosok berpakaian merah yang terlihat mulai mendesak lawannya. Lelaki gagah bercambang bauk itu benar-benar terpesona oleh penampilan tokoh yang berjuluk Rajawali Merah itu. Meskipun sudah mengalahkan lima orang lawan sebelumnya, namun kegesitan serta tenaga Rajawali Merah sama sekali tidak kelihatan berkurang. Terbukti pada pertarungan keenam, Rajawali Merah masih mampu mendesak lawannya. Dari kenyataan itu saja, sudah menandakan kelihaian Rajawali Merah.

"Hebat sekali tokoh yang berjuluk Rajawali Merah itu. Guru. Rasanya kali ini pun, ia pasti akan memenangkan pertarungan kembali," bisik Panawangan, di sebelah kiri Ki Pangrawit.

Ketika tidak mendengar tanggapan gurunya, Panawangan mengangkat wajahnya. Langsung ditatapnya Ki Pangrawit. Memang, ketika berbisik tadi, matanya tak lepas dari pertarungan sengit di atas panggung, tanpa memandang wajah gurunya.

Ki Pangrawit yang tengah termenung dengan pikiran tak menentu, sama sekali tidak sadar kalau kening Panawangan berkerut menyaksikan wajah murungnya. Kini Panawangan sadar kalau semenjak tadi gurunya sama sekali tidak memperhatikan pertarungan di atas panggung. Tentu saja sikap Ki Pangrawit menimbulkan tanda tanya besar di hati murid utamanya.

"Guru...," panggil Panawangan hati-hati dengan sedikit tekanan untuk mengembalikan kesadaran orang tua itu. Karena Ki Pangrawit tetap tidak berpaling, akhirnya Panawangan menyentuh lengan gurunya perlahan. Tak lama kemudian....

"Ehhh?!" Sentuhan Panawangan yang hanya perlahan itu ternyata mengakibatkan Ki Pangrawit tersentak kaget. Bahkan langsung melompat bangkit dari kursinya. Karuan saja Panawangan ikut-ikutan tegang!

Sadar akan sikapnya yang tidak wajar, Ki Pangrawit kembali menghempaskan pantatnya di atas kursi. Terdengar helaan napasnya yang berat dan panjang. Sehingga membuat kerutan di kening Panawangan semakin dalam.

"Kau mengejutkanku, Panawangan..." Terdengar desisan tak senang keluar dari orang tua itu. Dari tatapan tajam yang menyorot wajah murid utamanya, jelas kalau Ki Pangrawit berusaha menelan kejengkelannya.

"Maaf, Guru. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Tapi, mengapa Guru kupanggil berkali-kali tidak juga mendengar? Apakah ada sesuatu yang dipikirkan?" tanya Panawangan.

"Betulkah...?" tanya Ki Pangrawit, tak yakin akan keterangan muridnya.

Panawangan hanya mengangguk untuk memastikan keterangannya. Kemudian, lelaki gagah itu menatap gurunya, untuk minta penjelasan atas sikap aneh orang tua itu.

"Hhh... Mungkin aku hanya sedikit lelah, Panawangan. Tapi, kau tidak perlu cemas. Setelah perayaan ini selesai, tentu aku bisa banyak beristirahat," desah Ketua Perguruan Gelang Terbang itu. Ki Pangrawit terpaksa berbohong, karena tidak ingin Panawangan ikut memikirkan apa yang telah menimpa tiga orang muridnya. Apa lagi, hal itu bisa-bisa mengganggu kelancaran acara yang menjadi tugas Panawangan. itu sebabnya, Ki Pangrawit terpaksa berbohong.

Kembali Panawangan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian kembali berpaling ke atas panggung. Saat itu, pertarungan sudah semakin memuncak dan bertambah seru

"Saudara-saudara sekalian..."

Baru saja Panawangan hendak melanjutkan acara yang bagi para tamu sangat menarik, tiba-tiba terdengar jerit kematian susul-menyusul. Cepat-cepat lelaki gagah itu menoleh ke arah deretan tamu di sebelah kanan panggung. Kening Panawangan tampak berkerut ketika melihat para undangan yang berada di tempat itu berlarian meninggalkan tempatnya masing-masing. Subadra dan Kandira yang sudah tiba di tempat itu menjadi pucat selebar wajahnya. Betapa tidak, sebab delapan orang undangan terlihat menggelepar di atas tanah mirip seperti ayam disembelih dengan mulut berbusa.

"Apa yang terjadi terhadap mereka...?" tanya Subadra, sambil menangkap lengan seorang undangan untuk dimintai keterangannya. Dalam ketegangannya, Subadra sampai tidak menyadari ada tenaga dalamnya yang tersalur melalui jari-jari tangannya. Lelaki itu baru tersadar setelah melihat wajah orang yang dicekalnya meringis kesakitan.

"Maaf..., maaf...," ucap Subadra sambil melepaskan cekalan tangannya. "Tolong jelaskan, apa yang telah terjadi terhadap mereka?"

Seorang tamu bertubuh raksasa menghampiri Subadra. Dari sorot matanya yang tajam, Subadra tahu kalau orang itu tengah menahan kemarahan.

"Kalian orang-orang Gelang Terbang sengaja berpura-pura tidak tahu! Mereka tewas setelah minum air yang dihidangkan murid-murid Perguruan Gelang Terbang! Jelas, kalian sengaja hendak membunuh tokoh-tokoh persilatan untuk menguasai rimba persilatan! Jangan kira aku tidak tahu akal busuk ini!" bentak lelaki bertubuh raksasa itu dengan wajah merah padam. Tentu saja tuduhan itu membuat amarah Subadra bangkit seketika.

"Jaga mulutmu, Kisanak! Ucapanmu itu bisa membuat keruh suasana! Sebaiknya, teliti dulu sebelum melemparkan tuduhan kotor itu kepada kami! Bisa saja kau yang justru melakukannya dengan mengkambinghitamkan Perguruan Gelang Terbang!" Dengan wajah yang juga merah padam, Subadra melempar balik tuduhan yang dilontarkan oleh lelaki bertubuh raksasa itu. Sehingga, lelaki bertubuh raksasa itu tidak dapat lagi menahan kemarahannya!

"Keparat kau, Manusia Licik! Kau harus bayar mahal tuduhan itu! Sambut pukulanku...!" sentak lelaki bertubuh raksasa itu kemudian dia melompat disertai luncuran kepalanya yang sebesar kepala bayi!

Whuuut!

Subadra pun tidak sudi jadi sasaran empuk begitu saja! Pukulan yang mengancam dadanya segera dielakkan dengan menarik mundur tubuhnya ke belakang! Kemudian dengan kecepatan berbahaya, murid utama Ki Pangrawit itu langsung melepaskan sebuah tendangan kilat ke tubuh lawan!

Plakkk!

"Uhhh...?!" Bukan main terkejutnya Subadra ketika tubuhnya terdorong akibat tangkisan lengan kekar berbulu lebat itu. Baru disadari kalau lelaki bertubuh raksasa Itu memiliki tenaga luar yang sangat besar. Maka, ia segera melompat mundur dan mengatur serangannya kembali.

"Kupecahkan batok kepalamu. Manusia Licik...!" Lelaki bertubuh raksasa itu kembali melesat dengan pukulannya yang susul-menyusul Sambaran angin menderu-deru menyertai lontaran kepalan yang besar dan mengerikan.

Sebagai murid utama Ki Pangrawit, tentu saja Subadra telah memiliki bekal yang cukup. Pertarungan pun kembali berlanjut, dan bertambah seru! Mereka saling terjang bagaikan dua orang musuh bebuyutan yang ingin membunuh lawan satu sama lain. Tentu saja keadaan tempat itu menjadi kacau!

Pertarungan yang terjadi antara Subadra dan lelaki bertubuh raksasa itu terus menjalar ke tamu-tamu lainnya. Ucapan lelaki bertubuh raksasa itu telah mempengaruhi tamu-tamu yang lain. Sehingga, semakin kewalahanlah para murid Perguruan Gelang Terbang menahan gelombang serangan para undangan yang kebanyakan terdiri dari tokoh-tokoh persilatan.

Suasana yang semula semarak oleh tepuk sorak dan keakraban, kini berubah menjadi medan pertempuran yang kacau dan tidak beraturan. Bahkan, beberapa orang murid Perguruan Gelang Terbang mulai jatuh mandi darah! Hal Itu wajar saja, karena yang harus dihadapi adalah tokoh-tokoh persilatan yang telah malang melintang dan banyak pengalaman. Sehingga, pihak Perguruan Gelang Terbang nampak terdesak hebat!

Sedangkan di atas panggung, Panawangan hanya memandang bingung. Sungguh tidak pernah dibayangkan kalau suasana yang semula meriah, akan menjadi medan pertarungan yang membawa maut. Kenyataan yang tiba-tiba membuatnya terkesima untuk beberapa saat lamanya.

Rajawali Merah yang saat itu masih berada diatas panggung, berpaling ke arah lelaki gagah itu dengan pandangan curiga. Tentu saja tatapan penuh curiga itu membuat Panawangan naik pitam. Namun dengan cepat ia berusaha menekan rasa jengkel, dan mencoba memberi pengertian kepada Rajawali Merah yang nampaknya sudah terpancing dengan kata-kata Longgawa.

"Tidak perlu bersandiwara lagi, Panawangan. Semua yang terjadi di sebelah kanan panggung telah kudengar. Huh! Sungguh tidak kusangka kalau Perguruan Gelang Terbang ternyata berhati busuk!" bentak Rajawali Merah sambil menudingkan jari telunjuknya ke wajah Panawangan. Jelas, tokoh yang tidak terikat perguruan manapun itu, telah terpengaruh ucapan lelaki bertubuh raksasa tadi. Makanya, dia langsung naik pitam, dan Panawangan-lah sasarannya.

"Jangan bodoh, Kisanak. Lebih baik kita berbicara baik-baik. Aku yakin, pasti ada orang yang menjadi dalangnya, dan sengaja mengadu domba kita semua. Harap kau sudi membantu kami untuk menjernihkan masalah ini. Percayalah kami tidak sebusuk persangkaanmu," bantah Panawangan.

Laki-laki brewok itu masih memberikan pengertian kepada tokoh muda yang berjuluk Rajawali Merah. Tapi tentu saja semua itu bukan karena Panawangan merasa gentar terhadapnya, la hanya tidak ingin suasana menjadi semakin keruh apabila mereka ikut bertarung.

Sementara itu, Ki Pangrawit, Ki Janiga, dan Pendekar Cakar Maut berusaha menarik mundur murid-murid Perguruan Gelang Terbang. Ketiga orang tokoh berkepandaian tinggi itu berusaha menyelamatkan anggota Gelang Terbang, dengan memukul mundur tokoh-tokoh persilatan yang tengah dilanda kemarahan.

Ki Pangrawit sendiri merasa berterima kasih terhadap kedua orang sahabatnya yang tidak terpancing. Ngeri juga orang tua itu membayangkan nasib perguruannya, apabila Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sampai ikut memusuhi Perguruan Gelang Terbang. Untunglah, kekhawatirannya tidak sampai menjadi kenyataan. Sehingga, Ki Pangrawit bisa menarik napas lega

Dengan kepandaiannya yang tinggi, ketiga tokoh sakti itu berhasil menggiring murid Ki Pangrawit hingga dapat bersatu. Dengan adanya ketiga tokoh sakti dibarisan depan, semua tokoh persilatan yang menggempur murid-murid Perguruan Gelang Terbang dapat dipukul mundur.

Panawangan yang merasa bersyukur karena telah dapat membujuk Rajawali Merah, segera menggabungkan diri dengan pihak murid-murid Gelang Terbang. Ki Pangrawit mengucap syukur melihat tokoh muda berjuluk Rajawali Merah tidak ikut terpengaruh. Memang, biarpun kepandaian tokoh muda itu masih berada di bawah kepandaiannya, tapi bisa mendatangkan kesulitan juga apabila ikut-ikutan dengan tokoh persilatan lainnya!

Dengan dibantu tiga murid utama dan Rajawali Merah, ketiga tokoh sakti itu mulai dapat memecah kekuatan lawan. Sehingga, kedua belah pihak kini saling berhadapan dalam jarak satu tombak.

"Sahabat sekalian, harap hentikan pertumpahan darah yang tiada guna ini...!"

Dengan pengerahan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, Ki Pangrawit berseru untuk menghentikan pertarungan berdarah ini. Orang tua itu berdiri gagah ditemani Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut, Rajawali Merah, dan murid-murid utamanya. Mereka berdiri berjajar melindungi murid-murid Gelang Terbang, dan para undangan yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat.

Seorang lelaki bertubuh raksasa menyibak kerumunan tokoh-tokoh persilatan, dan melangkah maju ke depan. Di lari-kanannya ikut menyertai delapan orang tokoh persilatan. Seolah-olah kedelapan tokoh persilatan itu hendak melindungi lelaki bertubuh raksasa yang bertindak sebagai wakil mereka.

"Ki Pangrawit..!" geram lelaki bertubuh raksasa itu dengan wajah gelap, "Kau tidak perlu mungkir lagi! Telah ku saksikan sendiri kematian tokoh persilatan yang meminum air suguhan murid-muridmu! Kalau kau memang ingin menguasai dunia persilatan, jangan begitu caranya. Kau bisa mengundang para tokoh untuk memperebutkan jago nomor satu di negeri ini melalui sebuah pertandingan jujur. Dan bukan kelicikan seperti yang kau lakukan ini! Tak kusangka, ternyata Pendekar Gelang Terbang memiliki hati kejam dan licik!"

"Dengar, Longgawa. Selama mengenalku, pernahkah kau menemukan sifat jahat dan licik padaku? Pernahkah kau mendengar bahwa aku berniat menjadi jago nomor satu? Telitilah baik-baik. Aku khawatir, semua ini adalah perbuatan orang-orang golongan hitam yang hendak memecah belah kita. Sadarilah kekeliruan ini sebelum terlambat," sahut Ki Pangrawit memberi keterangan panjang lebar kepada orang yang bernama Longgawa itu.

Untuk beberapa saat lamanya, Longgawa dan para tokoh lainnya saling bertukar pandang. Jelas, ucapan Ki Pangrawit cukup mengena di hati Longgawa dan para tokoh persilatan lainnya. Memang, selama mereka mengenal Ki Pangrawit dalam rimba persilatan sebagai orang yang belum pernah berbuat kesalahan. Sehingga, Longgawa dan para tokoh lainnya menjadi ragu.

"Longgawa! Kau pun cukup mengenalku, bukan?" Ki Janiga yang dalam kalangan persilatan berjuluk Tinju Pemecah Badai, juga ikut angkat bicara untuk melerai perselisihan diantara kedua tokoh itu.

"Aku cukup mengenalmu, Ki...," jawab Longgawa tanpa keraguan sedikit pun. Bahkan beberapa orang tokoh persilatan ikut menganggukkan kepalanya tanda mengenal tokoh yang berjuluk Pendekar Pemecah Badai itu.

"Nah! Katakanlah dengan jujur, bagaimana tindakanku dalam menangani kejahatan yang baru kau dengar selama ini? Apakah aku akan membela orang yang salah walaupun ia sahabat baik, atau keluargaku?" tanya Ki Janiga lagi, tenang.

"Tapi..., aku melihat sendiri apa yang menimpa delapan orang tokoh persilatan itu. Mereka tewas setelah meneguk minuman yang disuguhkan, murid-murid Ki Pangrawit," bantah Longgawa. Tokoh bertubuh raksasa itu memang tidak jauh dari korban-korban keracunan yang tewas seketika itu juga.

"Hm.... Kau belum menjawab pertanyaanku, Longgawa. Masalah lain bisa diselesaikan setelahnya," tukas Ki Janiga, terhadap ucapan Longgawa yang seperti hendak membela diri.

"Baiklah. Aku memang tidak mungkin meragukan jiwa pendekarmu, Ki Janiga. Dan aku pun percaya kalau kau akan menindak tegas setiap kejahatan meski keluargamu sendiri yang harus ditindak. Tapi..."

"Cukup!" potong Ki Janiga tegas. "Nah! kalau sekarang aku membela Ki Pangrawit, apakah bukan berarti aku telah melakukan tindakan yang benar? Lalu, apa pendapatmu tentang tindakanku ini? Apakah aku telah membela orang yang salah?"

Ki Janiga terus memojokkan Longgawa dengan mengandalkan jawaban lelaki bertubuh raksasa itu. Sehingga, Longgawa tidak mampu menjawab untuk beberapa saat lamanya.

"Aku harus mendengar sendiri penjelasan Ki Pangrawit mengenai kematian para tokoh persilatan yang keracunan itu. Sesudah itu, mungkin aku bisa mempertimbangkannya." Akhirnya, hanya ucapan itulah yang keluar dari mulut Longgawa. Jelas, lelaki bertubuh raksasa itu telah menyerah.

"Bagus. Kalau begitu, mari kita bicarakan baik-baik," ajak Ki Janiga.

Kini Ki Janiga merasa lega karena pertumpahan darah itu tidak berkelanjutan dan memakan korban terlalu banyak. Kemudian, dibawanya Longgawa dan delapan tokoh persilatan itu ke dalam ruang pertemuan Perguruan Gelang Terbang. Ki Pangrawit, Pendekar Cakar Maut, dan Rajawali Merah ikut menyertainya. Sedangkan Panawangan, Subadra, Kandira dan murid-murid Perguruan Gelang Terbang di tempat, menanti keputusan perundingan itu.

LIMA

Tidak berapa lama kemudian, Ki Pangrawit dan para tokoh lainnya keluar dari dalam ruang pertemuan. Wajah-wajah mereka tampak tidak setegang semula. Sehingga, baik pihak murid-murid Perguruan Gelang Terbang maupun tokoh persilatan sama-sama menarik napas lega.

Ki Pangrawit melangkah menghampiri ketiga orang murid utamanya. Jelas, Panawangan dan dua orang lainnya sudah tidak sabar lagi ingin mendengar penyelesaian dari kejadian itu.

"Kalian tetaplah berjaga-jaga di sini, bersama murid yang lain. Ingat, jangan buat kesulitan baru," pesan Ki Pangrawit Kemudian, dia berbalik meninggalkan Panawangan, Subadra, Kandira yang hanya mengangguk bingung.

Longgawa juga berbuat hal yang serupa. Tokoh bertubuh raksasa itu berpesan kepada yang lain agar tidak bertindak sendiri-sendiri. Setelah itu, dia beranjak mengikuti langkah Ki Pangrawit bersama para tokoh lain. Ki Pangrawit terus membawa Longgawa dan para tokoh persilatan menuju bagian dapur.

"Nah! Kalau air yang kami suguhkan memang benar dibubuhi racun, pastilah semua air yang disediakan di sini juga mengandung racun. Untuk itu, biarlah ku percayakan kepada Ki Janiga," kata Ki Pangrawit, setelah tiba di bagian belakang bangunan utama perguruan.

"Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan kepadaku, Ki Pangrawit," ucap Ki Janiga. Si Tinju Pemecah Badai itu memang tahu banyak tentang masalah racun. Maka segera saja dipe- riksanya tempat-tempat air teh yang telah disediakan untuk keperluan pesta perayaan.

Dengan wajah agak tegang, Ki Pangrawit dan yang lain menanti hasil pemeriksaan Ki Janiga. Bahkan Longgawa merasa agak gelisah.

"Bagaimana, Ki...?" Longgawa langsung bergerak maju ketika Ki Janiga membalikkan tubuhnya, setelah selesai memeriksa. Wajah tokoh itu tampak agak gelap. Sehingga, Ki Pangrawit menjadi berdebar karenanya.

"Kau menemukan di dalam minuman-minuman itu, Ki Janiga?" tanya Ki Pangrawit yang mendadak hatinya berdebar melihat wajah murung sahabatnya.

"Hhh.. " Ki Janiga menghela napas berat dan menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah kecewa. "Aneh! Semua minuman di sini ternyata mengandung racun jahat yang mematikan..."

Longgawa menghela napas lega mendengar jawaban Ki Janiga. Maka segera saja lelaki bertubuh raksasa itu berpaling menatap Ki Pangrawit Senyum kemenangan tampak menghias wajahnya.

"Nah, sekarang apa jawabanmu setelah mendengar hasil pemeriksaan Ki Janiga? Apakah kau ingin mungkir lagi?" terdengar ucapan bernada sinis dari mulut Longgawa.

Ki Pangrawit sama sekali tidak menimpali ucapan Longgawa. Orang tua yang tubuhnya masih nampak gagah itu menoleh ke kiri dan kanan, seperti tengah mencari sesuatu. Kemudian, dia terus bergerak ke belakang tanpa mempedulikan tatapan heran yang lainnya.

Longgawa yang kini benar-benar merasa yakin kalau Ki Pangrawit jelas bersalah, segera saja bergerak mengejar. Sepertinya, lelaki bertubuh raksasa itu hendak mencegah Ki Pangrawit melarikan diri.

"Hendak lari ke mana kau, Ki Pangrawit..?" seru Longgawa sambil melesat mengejarnya.

Ki Janiga dan tokoh lainnya tentu saja heran terhadap tingkah laku Ki Pangrawit. Bergegas para tokoh itu bergerak mengejar ke arah taman belakang Perguruan Gelang Terbang. Longgawa merasa geram terhadap Ki Pangrawit, segera mengerahkan ilmu lari cepatnya. Setelah berjumpalitan beberapa kali, lelaki itu mendarat empuk satu tombak di depan Ki Pangrawit. Hal itu terjadi bukan karena ilmu lari Longgawa lebih hebat, tapi karenaKi Pangrawit memang tidak bermaksud melarikan diri.Itu sebabnya, Longgawa dapat menyusul orang tua itu.

"Hm... Hendak lari ke mana kau, Ki Pangrawit? Lebih baik menyerah, sebelum tokoh-tokoh persilatan menghancurkan perguruan ini!" ancam Longgawa.

Ki Pangrawit tertegun sejenak ketika mendengar ancaman itu. Sepertinya, orang tua sakti itu baru sadar kalau sikapnya telah menimbulkan dugaan bahwa ia hendak melarikan diri. Tampak Ki Pangrawit menahan langkahnya, lalu menarik napas panjang.

"Longgawa! Kalau aku memang bersalah, tidak nanti aku mengambil tindakan pengecut melarikan diri. Maaf kalau sikapku telah menimbulkan dugaan jelek. Terus terang aku bukan hendak melarikan diri seperti yang kau duga. Tapi, aku ingin mencari murid-muridku yang bertugas menyiapkan hidangan untuk para tamu. Kau lihat sendiri, di ruang tadi tidak nampak satu pun dari mereka," jelas Ki Pangrawit bernada tetap tenang. Karena, ia sama sekali tidak merasa berbuat salah.

"Lalu, mengapa kau pergi dengan sikap mencurigakan? Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?" tanya Longgawa tetap waspada. Rupanya, laki-laki bertubuh raksasa itu siap untuk menghadapi kalau-kalau orang tua itu menyerang selagi berbicara. Jelas, kepercayaan Longgawa terhadap Pendekar Gelang Terbang telah pudar.

"Aku jelas mencurigai keadaan ini. Sebab aku yakin, perbuatan ini pasti dilakukan orang-orang licik yang hendak mengadu domba kita. Untuk itu, bantulah aku menemukan murid-muridku yang bertugas di dapur. Carilah di sekitar taman ini. Kalau tidak, biarlah aku rela menebus kesalahan yang tidak pernah kulakukan itu," ujar Ki Pangrawit setengah meminta.

Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut, dan para tokoh lainnya yang baru tiba di tempat itu segera saja menyebar begitu mendengar ucapan Ki Pangrawit. Jelas, mereka masih menaruh sedikit kepercayaan kepada orang tua itu. Longgawa sendiri segera beranjak meninggalkan Ki Pangrawit, setelah melihat tokoh-tokoh lain telah memenuhi keinginan orang tua itu. Meski dengan separuh hati, lelaki bertubuh raksasa itu ikut juga mencari murid-murid yang dimaksudkan Ki Pangrawit. Beberapa saat setelah para tokoh itu berpencar, terdengar siulan nyaring yang panjang. Sebentar saja,para tokoh persilatan itu telah berlarian mendatangi asal siulan.

"Ada apa. Rajawali Merah...?" Ki Pangrawit dan Longgawa bertanya bersamaan. Mereka menatap Rajawali Merah, seperti meminta penjelasan arti siulan itu.

"Lihatlah sendiri di semak-semak itu...," sahut Rajawali Merah sambil menuding semak-semak yang berada satu tombak di sebelah kanannya.

Tanpa diperintah dua kali, Ki Pangrawit dan Longgawa seperti berlomba menyibakkan semak pepohonan itu. Dan apa yang ada dibalik semak-semak itu, membuat mata mereka terbelalak!

"Biadab...!" desis Ki Pangrawit ketika melihat tidak kurang dari sepuluh mayat muridnya yang ditugaskan di bagian dapur. Tentu saja kenyataan itu membuat Ki Pangrawit geram.

Longgawa sendiri terdiam tanpa mampu berkata-kata. Sebab dengan bukti mayat-mayat petugas dapur itu, tentu saja membuatnya terpaksa harus minta maaf, dan menarik tuduhannya terhadap Ketua Perguruan Gelang Terbang.

"Dugaanku ternyata keliru, Ki Pangrawit. Harap kau sudi memaafkan kesalahanku," desah Longgawa, penuh penyesalan.

"Tidak perlu meminta maaf padaku, Longgawa. Tindakanmu tidak seluruhnya salah. Hanya saja, lain kali kita harus lebih berhati-hati dalam menghadapi suatu masalah," sahut Ki Pangrawit, sehingga membuat Longgawa tersenyum pahit

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sedangkan kematian murid-murid Ki Pangrawit dan tokoh-tokoh persilatan lain masih belum jelas." Rajawali Merah yang merasa penasaran atas kejadian itu mengutarakan rasa penasarannya.

"Hm.... Karena masalah ini jelas merupakan masalah perguruanku, biarlah aku yang akan menyelidikinya. Longgawa, jelaskanlah masalah ini kepada yang lain. Dan, bawa mereka kembali ketempatnya masing-masing," ujar Ki Pangrawit kepada para tokoh persilatan yang berkumpul di tempat itu. Terutama sekali, kepada Longgawa. Karena lelaki raksasa itu memang merupakan wakil dari tokoh-tokoh persilatan yang diundangnya.

"Kami akan menetap di tempatmu untuk sementara. Tentu saja, kalau kau tidak keberatan." Ki Janiga bersama Pendekar Cakar Maut dan Rajawali Merah rupanya bersepakat membantu Ki Pangrawit untuk menyingkap teka-teki ini.

Longgawa dan delapan orang tokoh persilatan lain segera berpamitan kepada keempat orang tokoh itu. Kemudian, mereka berlalu untuk memenuhi permintaan Ki Pangrawit.

********************

Seorang pemuda tampan berjubah putih tampak tengah melangkah ringan menyibak rerumputan hijau. Rambutnya yang terurai dengan ikat kepala putih, tampak melambai tertiup angin yang sesekali berhembus keras. Bibirnya selalu membentuk senyum ramah, membuat orang merasa suka. Meskipun, baru sekali bertemu dengannya. Dia memang pemuda yang gagah dan menarik.

Di sebelah kiri pemuda tampan itu, seorang gadis berpakaian serba hijau melangkah mengiringinya. Wajahnya tampak demikian jelita, dan penuh daya pikat Menatap wajah gadis itu, mengingatkan orang akan dongeng kecantikan bidadari. Sebatang pedang yang tergantung di pinggang kirinya, menandakan kalau gadis itu adalah tokoh rimba persilatan.

Tentu saja dugaan itu tidak salah, karena sepasang anak muda itu tak lain Pendekar Naga Putih dan Kenanga yang selalu bertualang untuk menumpas keangkara murkaan. Panji dan Kenanga yang melangkah dengan tatapan lurus ke depan, sama-sama seperti menyipitkan mata ketika melihat kepulan debu tebal di depannya.

"Lebih baik kita menepi, Kenanga. Sepertinya di depan sana ada serombongan orang berkuda yang akan melintasi jalan ini," ujar Panji yang segera menggenggam tangan dara jelita itu. Kemudian Kenanga dibawanya ketepi.

Kenanga sama sekali tidak membantah. Dara jelita itu menurut saja ketika Panji membawanya ke tepi. Tidak berapa lama kemudian, dari jarak sekitar sepuluh tombak tampak serombongan orang berkuda tengah menuju ke arah mereka. Mereka segera menundukkan kepala, untuk menghindari debu yang bisa mengotori wajah mereka.

"Heyaaa...! Heyaaa...!"

Terdengar teriakan-teriakan nyaring yang diiringi suara gemuruh kaki kuda. Sebentar kemudian, rombongan itu pun telah melewati sepasang pendekar ini. Tapi sebelum debu-debu yang mengepul itu lenyap tersaput angin, tiba-tiba rombongan penunggang kuda yang berada di belakang segera menghentikan lari kudanya. Tentu saja hal itu membuat Panji dan kekasihnya menoleh, hendak mengetahui apa yang membuat rombongan itu berhenti.

Kenanga mengerutkan keningnya ketika melihat rombongan itu berbalik kembali ke arah mereka. Karena sempat melirik wajah-wajah mereka ketika melintas disampingnya, kecurigaan dara jelita itu pun timbul. Apalagi wajah-wajah kasar yang sempat dilihatnya meski sekilas itu menunjukkan kalau mereka bukan orang baik-baik.

"Mereka kembali, Kakang...," kata Kenanga, seolah-olah hendak meminta pendapat kekasihnya.

"Mmm... Mungkin mereka hendak menanyakan sesuatu kepada kita," sahut Panji yang tetap bersikap tenang, meski tahu akan perasaan hati kekasihnya

"Menurutku, bukan itu yang mereka kehendaki. Menilik dari wajahnya, jelas mereka bukan orang baik-baik. Mungkin sebangsa perampok yang tengah mencari mangsa," bantah Kenanga, mengungkapkan dugaannya.

"Kalaupun begitu, apa yang dapat mereka rampas dari kita? Rasanya, salah alamat kalau kita hendak dirampok," sahut Panji sambil tersenyum.

Terus-terang ada keharuan yang sempat menyelinap di relung hati Pendekar Naga Putih. Jelas, ucapannya itu mengingatkannya kalau Kenanga sama sekali tidak memakai perhiasan, sebagaimana wanita-wanita umumnya. Kenanga yang sempat menangkap semua itu dari tatap mata kekasihnya, segera saja tersenyum. Kemudian, jemarinya menggenggam hangat jemari pemuda itu.

"Kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Kakang. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Selain itu, aku pun tidak pernah menuntut yang bukan-bukan darimu. Jadi hal itu jangan sampai mengganggu pikiranmu," hibur Kenanga sambil meremas jemari pemuda itu sebagai ungkapan rasa bahagianya.

Panji tidak sempat lagi menimpali ucapan kekasihnya. Karena, saat itu rombongan penunggang kuda telah berada satu tombak dihadapan mereka. Tiga orang dari penunggang kuda itu terlihat melompat turun dari atas punggung kuda. Sikap mereka tampak angkuh dengan wajah dibuat sebengis mungkin. Jelas, rombongan penunggang kuda itu seperti sengaja mencari gara-gara.

"Adakah yang bisa kami bantu, Kisanak...?" tanya Panji, seraya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Kenanga sudah menundukkan kepala dalam-dalam. Memang ia tidak ingin kilatan matanya yang memancarkan kemarahan sampai terlihat oleh rombongan itu. Karena akan menimbulkan keributan di antara mereka.

"Hm…."

Ketiga orang lelaki kasar yang sepertinya pimpinan rombongan itu hanya bergumam, tanpa mempedulikan pertanyaan Panji. Mereka kemudian mengitari pasangan pendekar itu dengan mata tak lepas dari sosok berpakaian hijau itu.

"Hm.... Kau benar-benar bersedia membantu kami, Kisanak...?" Tiba-tiba salah satu dari ketiga orang itu menghampiri Panji. Sepertinya, ada maksud tersembunyi dalam ucapannya.

Panji tersenyum menatap wajah penuh cambang bauk itu. "Kalau aku bisa, aku ikhlas membantu kalian. Katakanlah. Mudah-mudahan saja aku dapat membantu:..," jawab Panji, tenang. Sebuah jawaban yang cerdik, dan sukar dicari kelemahannya.

Lelaki bercambang bauk dengan sepasang mata agak redup itu terdiam beberapa saat. Setelah beberapa kali melirik ke arah Kenanga, ia kembali melanjutkan ucapannya.

"Kalau begitu, tolong bantu kami. Tinggalkanlah gadis ini. Untuk itu, aku akan sangat berterima kasih sekali."

"Aaah... Kalau itu, tentu saja aku tidak dapat membantu. Mintalah yang lain. Maka, aku berjanji akan membantu, itu pun kalau bisa...," sahut Panji tanpa rasa terkejut sedikit pun. Memang, sejak semula pemuda itu telah menduganya.

"Hm.... Ternyata kau pendusta, Anak Muda! Tadi kau katakan akan menolong kami. Tapi nyatanya...!" hardik lelaki bermata sayu itu sambil menuding wajah Pendekar Naga Putih. Terlihat ancaman maut membayang diwajahnya.

"Hm kau salah, Kisanak. Tadi sudah kukatakan, kalau aku bisa. Tapi yang ini..., tentu saja tidak bisa. Jadi maaf kalau aku telah mengecewakan kalian...," sahut Panji tanpa mempedulikan kemarahan lelaki brewok itu.

"Aaah! Mengapa mesti bertele-tele. Hajar saja, habis perkara!" bentak yang lain tak sabar. Begitu ucapannya selesai, orang berhidung besar itu langsung mencabut sebuah golok panjangnya. Kemudian, diayunkannya golok itu ke leher Panji!

Whuuut!

Ayunan golok panjang itu meluncur deras diiringi suara mengaung tajam! Tapi kecepatan dan kekuatan serangan itu sama sekali tidak membuat Panji gugup. Bahkan gerakan orang itu terlihat masih terlalu lambat bagi Pendekar Naga Putih. Maka tanpa kesulitan sedikit pun, pemuda itu sudah menggeser tubuhnya, sehingga luput dari incaran mata golok lawan!

"Setaan..!" Lelaki berhidung besar itu tentu saja semakin bertambah penasaran. Golok di tangannya berputar cepat, kemudian dia kembali meluruk tajam mengan- cam pemuda berjubah putih itu.

Untuk kali ini, Panji tidak berusaha mengelak Sudah dapat diukurnya kekuatan tenaga lawan, melalui sambaran pertama tadi. Maka pada serangan kali ini, Panji hanya berdiri tegak menanti datangnya mata golok yang hendak memenggal lehernya!

Beuuut! Trakkk!

"Aaakh ?!" Lelaki berhidung besar itu memekik kesakitan! Pedang di tangannya terpental dalam keadaan patah! Sedang ia sendiri terlempar hingga satu setengah tombak jauhnya! Bahkan tangan kanannya yang menggenggam golok, terlihat bengkak dan berwarna hijau kebiruan.

"Iblisss...!"

Dua orang pimpinan rombongan orang berkuda itu mendesis dengan wajah pucat! Mereka sempat menyaksikan begitu mata golok menghantam leher, terlihat adanya lapisan kabut bersinar putih keperakan yang muncul tiba-tiba di seluruh tubuh pemuda itu. kemudian kabut itu lenyap kembali setelah lawannya terpental! Itulah yang membuat mereka gentar!

"Hm..." Panji yang sepertinya ingin membuat kapok para penunggang kuda itu, kembali mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Kemudian bertiuplah angin dingin yang menusuk tulang.

"Brrr..."

Dua orang kepala rombongan yang tengah menarik bangkit kawannya, kontan menggigil kedinginan dengan gigi bergemelutuk. Jelas mereka yang bertiga berada paling depan tentu saja terpengaruh hawa dingin yang diciptakan Pendekar Naga Putih.

"Mari kita pergi...," ajak lelaki brewok bermata sayu dengan suara gemetar karena kedinginan.

Sedangkan para anggota lainnya yang masih berada di atas kuda telah lebih dulu dilarikan kuda-kuda mereka, pada saat hawa dingin itu muncul. Panji dan Kenanga hanya menatap kepergian rombongan itu dengan tarikan napas lega.

"Hm.... Untunglah mereka dapat kuusir hanya dengan gertakan saja. Padahal, kalau sampai terjadi pertarungan belum tentu aku dapat menundukkan mereka dalam waktu singkat..," desah Panji.

Kenanga hanya menghela napas panjang mendengar ucapan Panji. Gadis itu bukan tidak tahu, apa yang dilakukan kekasihnya. Memang, Pendekar Naga Putih mengusir rombongan penunggang kuda itu dengan mempergunakan kesaktiannya tanpa harus bertempur lama. Masalahnya kalau sampai pertempuran terjadi, bukan tidak mungkin akan banyak jatuh korban dari rombongan yang berjumlah 10 orang itu, termakan pedangnya. Kenanga jelas mengerti maksud pemuda itu.

Panji yang melihat dara jelita itu tercenung, segera saja mengulurkan tangannya. Langsung direngkuhnya bahu Kenanga. Kemudian, mereka melangkah tanpa melanjutkan perjalanan.

"Apakah perjalanan menuju Perguruan Gelang Terbang jadi dilanjutkan?" tanya Panji.

"Kurasa, kalau tidak datang rasanya tidak enak, Kakang," sahut Kenanga.

"Tapi kita sudah terlambat, Kenanga."

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Aku yakin, Ki Pangrawit mau memaklumi kita. Jelaskan saja persoalannya, kenapa kita terlambat," tegas Kenanga.

Kemudian sepasang pendekar itu melangkah tenang menuju Perguruan Gelang Terbang

********************

ENAM

Cahaya merah jelaga yang menghias langit sebelah Barat, tampak telah mulai pudar. Sebentar kemudian, senja pun menunjukkan kekuasaan. Kegelapan terus merambat, menyelimuti permukaan bumi. Dan kini, malam pun mulai datang.

Malam itu, di dalam ruang pertemuan Perguruan Gelang Terbang, tampak Ki Pangrawit mengumpulkan ketiga orang murid utamanya. Demikian pula ketiga tokoh persilatan yang merupakan sahabat dan juga tamunya. Tokoh-tokoh itu berkumpul untuk membahas kejadian yang telah menimpa Perguruan Gelang Terbang baru-baru ini.

"Apakah kau sudah mempunyai dugaan, Ki..?" tanya Rajawali Merah. Dia memang menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk membantu Perguruan Gelang Terbang yang tengah dilanda musibah.

"Hhh.... Sayang sekali, aku belum bisa menemukan tokoh yang telah sekeji itu. Dari sekian banyak tokoh sesat yang menjadi musuhku, tak seorang pun yang menggunakan racun dalam setiap kejahatannya. Jadi, bisa dikatakan kalau aku telah gagal menemukan si pembuat onar itu..." ujar Ki Pangrawit dengan wajah kecewa.

Sepasang mata Ketua Perguruan Gelang Terbang tampak menatap ketiga orang sahabatnya penuh harap. Jelas, Ki Pangrawit mengharapkan agar ketiga orang sahabatnya membantu untuk menemukan si pembuat onar.

"Bagaimana denganmu, Ki Janiga? Apakah penyelidikan mu membawa hasil..?" Pendekar Cakar Maut menoleh ke arah Tinju Pemecah Badai yang tampak terangguk-angguk dengan kening berkerut. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Hhh..." Ki Janiga menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Pendekar Cakar Maut. "Ada suatu yang aneh kutemukan dalam penyelidikanku beberapa hari ini," lanjut Ki Janiga.

Semenjak hari kejadian, Ki Janiga telah meninggalkan Perguruan Gelang Terbang untuk melakukan penyelidikan. Dan baru siang tadi kembali. Sedangkan Pendekar Cakar Maut dan Rajawali Merah, baru kembali sore tadi. Itulah sebabnya, mengapa mereka baru berkumpul malam ini.

"Keanehan seperti apa yang kau maksudkan, Ki Janiga? Tolong kau jelaskan secara rinci, agar kami tidak bertanya-tanya," desak Ki Pangrawit, tak sabar.

"Benar, Ki. Atau kau memang sengaja hendak membuat teka-teki agar kami menduga-duga?" timpal Rajawali Merah yang sama tidak sabarnya dengan Ki Pangrawit.

Sedangkan Pendekar Cakar Maut dan tiga murid utama Ki Pangrawit terdiam menunggu jawaban Ki Janiga.

"Pertama-tama, aku mendatangi perkumpulan pengawal barang yang mengantarkan bingkisan tiga kepala murid Ki Pangrawit Terus terang, aku merasa aneh dengan keterangan tentang ciri-ciri pelanggan yang menyuruh mereka mengantarkan peti itu. Maka, aku harus berkeliling untuk mencari orang yang mirip dengan yang digambarkan pengawal barang itu. Sayang, aku gagal menemukannya. Anehnya, aku tidak bisa percaya kalau orang itu yang telah mengecoh kita. Rasanya tidak mungkin! Kalian tahu, siapa orang yang dimaksudkan kelompok pengawal barang itu...?" tanya Ki Janiga mengakhiri ceritanya.

Tentu saja, yang lain langsung menggelengkan kepala. Mungkin enggan untuk berpikir, atau memang benar-benar tidak tahu, yang jelas, jawaban itu membuat Ki Janiga tersenyum, dan siap melanjutkan ceritanya.

"Tunggu dulu...!" Tiba-tiba saja Pendekar Cakar Maut mengangkat tangannya. Serentak semua yang berada di ruangan itu menoleh ke arah lelaki gemuk itu, termasuk juga Ki Janiga.

"Kau bisa menduganya, Cakar Maut..?" desak Ki Janiga meminta ketegasan tokoh itu.

Pendekar Cakar Maut mengangguk pasti.

"Kalau begitu, mengapa tidak segera kau sebutkan?" desak Ki Pangrawit. Ki Pangrawit menjadi semakin tak sabar ketika melihat Pendekar Cakar maut seperti sengaja membuat penasaran. Bagaikan tidak merasa bersalah, lelaki gemuk itu mengusap-usap kening seolah tengah berpikir keras.

"Hm...! Kalau tidak salah, ciri-ciri yang kau sebutkan tadi mirip pimpinan gerombolan perampok. Sebenarnya, mereka bertiga. Dan mereka dijuluki sebagai Tiga Brewok Hutan Larang. Apakah dugaanku salah, Ki Janiga...?" tebak Pendekar Cakar Maut sambil mengembangkan senyum.

"Dugaanmu tepat. Cakar Maut. Lalu, dapatkah kau lihat keanehannya, apabila dihubungkan dengan peristiwa yang menimpa Perguruan Gelang Terbang?" Ki Janiga melontarkan pertanyaan itu. Seolah-olah dia mengetahui sampai di mana kecerdikan Pendekar Cakar Maut.

"Tentu saja aku tahu, Ki Janiga. Gerombolan perampok itu tidak seberapa kuat. Bahkan kepandaian tiga orang pemimpinnya masih belum mampu untuk melawanku. Jadi tidak mungkin rasanya kalau gerombolan perampok itu berani berbuat macam-macam terhadap Perguruan Gelang Terbang. Jadi, ini pasti ada orang di belakang layar yang sengaja menggunakan mereka untuk membingungkan kita," jelas Pendekar Cakar Maut. Kening pendekar bertubuh gemuk itu menjadi berkerut ketika teringat akan tokoh tersembunyi yang sengaja hendak mengadu domba tokoh-tokoh golongan putih.

"Tepat! Ternyata kau masih dapat berpikir jernih. Cakar Maut. Itulah yang tengah ku pikirkan. Tokoh tersembunyi, yang sengaja menggunakan Tiga Brewok Hutan Larang untuk mengecoh kita. Sayang, aku belum bisa menduga siapa adanya tokoh licik itu...," desah Ki Janiga menggelengkan kepala.

"Mengapa tidak kita cari saja gerombolan perampok itu? Dari mereka, kita bisa minta keterangan. Bukankah hal itu tidak terlalu sulit?" usul Rajawali Merah yang semenjak tadi hanya mendengarkan saja.

"Ah! Kau ini bagaimana, Rajawali Merah. Sepertinya yang kukatakan tadi, perampok-perampok itu telah kabur entah ke mana. Mungkin setelah persoalan ini selesai, mereka baru kembali. Tapi kita tidak boleh menyerah, dan harus mampu membongkar teka-teki manusia licik itu" tegas Ki Janiga seraya mengepalkan tinjunya erat-erat. Sehingga, yang lainnya ikut terpengaruh oleh ketinggian semangat Ki Janiga.

"Hua ha ha...!"

Baru saja ucapan Ki Janiga selesai, tiba-tiba terdengar gaung suara yang mengandung kekuatan hebat, dan mendirikan bulu roma. Karuan saja ketujuh orang tokoh itu serentak bangkit, dan berlari keluar ruangan.

Ki Pangrawit yang tiba di luar lebih dahulu, memandang berkeliling. Lelaki berusia enam puluh tahun namun masih tampak gagah itu terkejut melihat obor-obor di kedua sudut bangunan perguruan tampak padam. Tidak terlihatnya penjaga-penjaga di atas pintu gerbang, membuat Ki Pangrawit segera menyadari kalau murid-muridnya mungkin telah tewas!

Ki Janiga dan yang lain berdiri berjajar di depan pintu ruang pertemuan. Para tokoh itu sama-sama terkejut saat melihat obor yang menerangi gerbang depan telah padam seluruhnya.

"Hm Ada musuh yang telah menyusup ke dalam bangunan ini," bisik Ki Janiga di dekat telinga Ki Pangrawit.

Orang tua itu hanya mengangguk sambil tetap mengedarkan pandangan ke kegelapan malam. Panawangan yang sempat mendengar bisikan Ki Janiga, tentu saja menjadi khawatir terhadap nasib saudara-saudaranya yang tengah berjaga di pos pintu gerbang. Rasa kekhawatiran itu membuatnya segera melesat menuju gerbang.

Melihat perbuatan muridnya, tentu saja Ki Pangrawit menjadi terkejut bukan main! Cepat tubuhnya ikut melesat sambil berseru mencegah!

"Panawangan, tahan !"

Kekhawatiran Ki Pangrawit rupanya bukan hanya dugaan kosong. Terbukti pada saat tubuh Panawangan melesat ke gerbang depan yang berjarak kira-kira sepuluh tombak dari mereka, terlihat dua sosok bayangan putih melayang bagaikan seekor elang hendak menyambar anak ayam!

"Awaaas !"

Ki Janiga dan para tokoh lain yang melihat dua kilatan mirip cahaya putih itu segera saja berseru memperingatkan! Mereka juga tidak tinggal diam. Sambil berseru, tubuh para tokoh itu segera melesat disertai pengerahan seluruh ilmu lari cepat.

Ki Pangrawit yang merasakan adanya bahaya mengancam muridnya, segera saja mendorong tubuh Panawangan hingga tersungkur mencium tanah! Sedangkan la sendiri segera menjatuhkan dirinya, sambil melepaskan tendangan ke arah salah satu dari kedua sosok bayangan putih yang mengancamnya!

Namun, sosok bayangan putih yang tengah mengulurkan cengkeramannya itu sama sekali tidak menarik pulang serangannya. Dengan gerakan cepat dan sukar ditangkap mata, sosok bayangan putih itu memutar pergelangan lengannya, dan langsung menangkis tendangan Ki Pangrawit!

Plakkk!

"Aaakh...!" Terdengar jerit tertahan yang dibarengi ledakan bagai sambaran petir!

Sosok bayangan putih itu melenting kembali ke udara, karena pada saat itu juga Ki Janiga dan yang lain telah datang menyelamatkan Ki Pangrawit. Kalau tidak, pastilah Ketua Perguruan Gelang Terbang yang terdorong dalam keadaan rebah terlentang itu, tidak akan terlepas dari susulan cengkeraman maut sosok bayangan putih tadi.

"Uhhh.... Gila! Apa sebenarnya yang telah menyerangku itu? Tenaga dan kecepatannya benar-benar mengiriskan. Rasanya, aku belum pernah menyaksikannya! Untunglah kalian cepat tiba." desah Ki Pangrawit

Ketua Perguruan Gelang Terbang itu kemudian bergerak bangkit dengan agak terpincang. Jelas, tangkisan telapak tangan sosok bayangan putih tadi telah membuatnya menderita. Pergelangan kaki kanannya terasa nyeri dan agak membengkak.

"Jangan meremehkan kepandaian sendiri, Ki. Meskipun aku menduga begitu, tapi kau tidak dalam keadaan siap. Lain halnya dengan sosok bayangan itu, yang memang telah menyiapkan serangan sebelumnya. Jadi, wajar saja kalau kau menderita kerugian karenanya," hibur Ki Janiga sambil menepuk bahu sahabatnya perlahan.

Panawangan sendiri sudah bergerak bangkit, dan segera meminta maaf atas kecerobohannya. Kini, ketujuh tokoh itu berkumpul di halaman depan bangunan utama, menanti kedua sosok bayangan putih yang lenyap entah kemana.

"Hua ha ha.... Dengarlah, hai tokoh-tokoh pendekar berhati sombong! Mulai hari ini, kalian akan ku bantai satu persatu. Seperti halnya, ketiga orang murid Perguruan Gelang Terbang, dan juga para tokoh yang tewas keracunan. Hanya saja, kalian kuberi kesempatan untuk membela diri. Nah, bersiaplah. Akan segera ku mulai..."

Suara tanpa wujud itu terdengar jelas, bagai muncul dari segala sudut bangunan Perguruan Gelang Terbang Tentu saja hal itu membuat Ki Pangrawit dan yang lain menjadi terkejut setengah mati.

"Keparat..! Pengecut itu sengaja menggunakan 'Ilmu Memecah Suara'. Dengan begitu, kita tidak akan dapat menduga di mana iblis-iblis itu bersembunyi. Benar-benar licik..!" desis Ki Pangrawit

Ketua Perguruan Gelang Terbang itu menjadi terkejut ketika mengenali ilmu yang dipergunakan sosok bayangan putih yang entah berada di mana. Diam-diam, timbul kekhawatiran dalam hatinya, karena dari ilmu itu bisa ditebak kalau lawan memiliki kepandaian sangat tinggi. Semua itu terbukti dengan 'Ilmu Pemecah Suara' yang setahunya merupakan ilmu langka dan sulit dipelajari.

"Gila...! Siapa sebenarnya orang gila itu? Lalu apa pula alasannya sehingga kita dimusuhi...?" Ki Janiga yang juga mengetahui tentang 'Ilmu Pemecah Suara', tentu saja tidak kalah terkejutnya dengan Ki Pangrawit.

"Hai, Manusia-manusia Pengecut! Mengapa kalian tidak berani menampakkan diri?! Kalau memang hendak bertarung, keluarlah! Kami tidak sudi berhadapan dengan manusia pengecut'" Pendekar Cakar Maut yang merasa marah, segera saja berteriak menantang. Lelaki gemuk itu menatap berkeliling sambil bertolak pinggang. Dengan tatapan matanya yang tajam, dicobanya mencari tempat musuh-musuhnya bersembunyi.

"Heee...!"

"Akh...!"

Mendadak, baru saja ucapan Pendekar Cakar Maut selesai, terdengar pekikan-pekikan parau uang saling susul. Karena pekikan-pekikan nyaring itu juga menggunakan 'Ilmu Pemecah Suara', tentu saja ketujuh orang tokoh ini menjadi kebingungan. Mereka tidak bisa menduga secara pasti, di mana lawan memulai serangan. Ki Pangrawit yang tidak bergerak dari tempatnya, menatap tajam menggunakan tenaga batinnya. Dengan begitu, meski tidak terlalu jelas, arah serangan lawan dapat dirasakannya.

"Awaaas...!" Ki Pangrawit cepat berseru mengingatkan, ketika menangkap dua buah sinar putih melesat ke arah mereka dari sebelah kanan!

Serentak para tokoh persilatan itu berpencaran ke segala arah! Namun, kesaktian dua sosok bayangan putih itu benar-benar mengerikan! Bagaikan dua ekor burung besar tubuh keduanya berputar tanpa menginjak tanah, kemudian terus melesat berbarengan ke arah Panawangan! Panawangan sadar kalau dirinya jadi sasaran pertama dua sosok bayangan putih itu. Maka, segera saja gelang peraknya yang dua pasang, segera diloloskan dan langsung dilontarkan sekuat tenaga begitu kedua sosok itu datang mendekat!

Ziiing! Ziiing!

Dua pasang gelang perak itu langsung meluncur diiringi suara mengaung tajam!

"Bagus...," terdengar pujian keluar dari salah satu bayangan putih itu.

Sayangnya pujian itu bukan berarti mereka tidak sanggup mematahkan serangan gelang perak Panawangan. Memang, dengan ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai taraf kesempurnaan, tidak sulit bagi sosok bayangan putih itu untuk menghindar dari gelang perak Panawangan.

Apa yang dilakukan sepasang bayangan putih itu benar-benar membuat Panawangan dan yang lain ternganga! Betapa tidak? Untuk kesekian kalinya, kedua sosok tubuh itu kembali melenting tanpa menyentuh tanah lagi. Benar-benar sebuah ilmu meringankan tubuh yang sangat langka, dan jarang ada duanya di dunia.

Meskipun serangan gelang peraknya dapat dihindari lawan dengan cara melenting ke atas, namun Panawangan tidak putus asa. Gelang perak yang kini tinggal sepasang di tangannya, kembali dilontarkan sesaat, setelah serangan pertamanya gagal!

"Hiaaah...!"

Kali ini sepasang gelang perak Panawangan hanya mengancam salah satu dari kedua sosok bayangan putih itu. Sedang dua pasang gelang yang pertama dilepaskannya, telah berputar balik kembali kepada tuannya. Sayang, serangan yang kedua itu pun terpaksa harus gagal!

Ternyata, sosok bayangan putih yang terancam sepasang gelang perak Panawangan cepat mengulurkan tangan, tanpa khawatir jari-jarinya terpapas! Lagi-lagi, Panawangan harus menerima kenyataan pahit! Begitu telapak tangan sosok bayangan putih itu terulur, sepasang gelang terbang Panawangan berhenti dan melayang di udara. Seolah-olah kedua gelang perak itu seperti kupu-kupu yang jinak Tentu saja kenyataan itu cukup mengejutkan! Dan dalam sekejap mata, sosok bayangan putih melontar balik gelang terbang Panawangan dengan kecepatan berlipat ganda!

Wuuung! Wuuung!

Diiringi sebuah gaung tajam, dua buah gelang terbang itu meluncur tanpa terlihat jelas bentuknya. Yang terlihat hanyalah dua sinar perak yang bergerak bagai kilat, mengancam leher dan dada Panawangan! Hebatnya, sepasang gelang terbang itu tiba lebih dulu daripada dua pasang gelang terbang yang tengah meluncur balik ke arah tuanya. Dan...

"Arrrgh...!" Panawangan memekik begitu sepasang gelang perak miliknya amblas hingga hampir tak terlihat! Kedua gelang terbang itu melesat ke dalam leher dan dada majikannya! Benar-benar sebuah kematian yang menyedihkan!

"Panawangan...?!" Ki Pangrawit berseru parau. Kejadian yang sangat singkat itu tidak sempat dicegahnya. Dan hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi batin Ki Pangrawit. Murid utamanya terpaksa tewas di depan matanya, tanpa mampu untuk diselamatkannya! Benar- benar sebuah peristiwa yang amat menyakitkan! Tubuh Panawangan ambruk ke tanah disertai lelehan darah dari mulut, dada, dan lehernya. Napas lelaki gagah itu putus seketika!

Ki Janiga dan yang lain segera saja melesat menerjang dua sosok tubuh yang masih juga melayang di udara, setelah tadi terlihat menginjak tanah, selesai menewaskan Panawangan. Para tokoh itu pun tidak sempat menyelamatkan murid utama Ki Pangrawit, karena kejadiannya memang terlalu singkat Sehingga, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut bahkan Rajawali Merah yang terkenal gesit hanya mampu terbelalak takjub ketika menyaksikan perbuatan kedua sosok bayangan putih itu, yang dalam waktu sangat singkat telah melesat ke arah pintu gerbang yang terletak kurang lebih sekitar lima tombak dari mereka.

"Berhenti, Pengecut..!"

Bentakan Pendekar Cakar Maut yang merasa penasaran bukan main, keluar disertai pengerahan tenaga dalam Kemudian kekuatan ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan untuk melakukan pengejaran! Tapi usaha lelaki gemuk itu sia-sia belaka, karena kedua sosok bayangan putih itu telah melewati pintu gerbang, untuk kemudian lenyap ditelan kegelapan.

********************

TUJUH

Keesokan paginya, Perguruan Gelang Terbang kembali dilanda kegemparan! Enam orang murid yang bertugas menjaga pintu gerbang kedapatan tewas di pos jaga. Lalu enam orang peronda malam juga ditemukan tewas dengan kepala pecah! Tentu saja musibah itu membuat Ki Pangrawit sangat terpukul. Apalagi, semua itu masih ditambah kematian Panawangan yang tewas secara menyedihkan. Semua kejadian itu, membuat Ki Pangrawit tidak mau diganggu. Ketua Perguruan Gelang Terbang terpekur di dalam kamarnya dengan wajah berduka.

"Apa yang harus kami lakukan, Ki? Guru sendiri telah mengurung diri tanpa mau diganggu. Padahal, kita masih belum terlepas dari ancaman sepasang iblis yang hanya berupa bayangan putih itu. Hhh..., aku benar-benar tidak habis pikir...," ungkap Subadra kepada Ki Janiga, setelah selesai menguburkan mayat saudara-saudaranya, termasuk Panawangan.

Sedangkan Kandira hanya termenung dengan pandangan menerawang. Sepertinya, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu pun tengah bingung memikirkan cara untuk menghadapi maut uang mengancam penghuni Perguruan Gelang Terbang.

"Hm.... Kau bersabarlah, Subadra. Bisa ku maklumi apa yang saat ini tengah dirasakan gurumu. Beliau benar-benar sangat terpukul atas kematian Panawangan. Kalau saja Ki Pangrawit tidak menyaksikannya sendiri, mungkin tidak akan terpukul sedemikian parahnya. Tapi, semua itu terjadi di depan matanya, tanpa mampu dicegahnya. Kenyataan itulah yang membuatnya merasa berdosa. Karena sebagai guru, ternyata ia tidak bisa melindungi nyawa muridnya. Kau paham apa yang kumaksudkan, Subadra...?" tanya Ki Janiga setelah menjelaskan secara panjang lebar.

"Yaaah.... Tapi, mengapa guru harus mengurung diri? Tidakkah beliau sadar kalau malam nanti, sepasang iblis itu akan datang kembali untuk mengambil nyawa salah seorang di antara kita!" Subadra yang meskipun telah cukup mengerti apa yang dimaksudkan Ki Janiga, tetap saja tidak bisa menerima tindakan gurunya dalam hal itu.

"Hm.... Memang licik sekali sepasang iblis itu. Mereka sengaja tidak membunuh kita sekaligus. Dengan ancaman-ancaman seperti itu, mereka bisa membuat kita tidak tenang. Dan mungkin juga, kita telah pasrah sebelum mereka datang. Mereka menakut-nakuti kita sehingga bisa mengganggu pikiran. Benar-benar keji sekali sepasang iblis itu...," geram Rajawali Merah. Semenjak kejadian semalam, wajah Rajawali Merah nampak selalu tegang. Jelas, ia pun telah terpengaruh ancaman pembunuh keji itu. Sebenarnya, bukan hanya Rajawali Merah yang merasa tegang dan cemas. Bahkan Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sendiri mengalami hal yang sama. Selain belum dapat diterka siapa sebenarnya musuh yang harus dihadapi, juga musuh itu pun memiliki kesaktian yang mengiriskan! Hingga dapat dipastikan kalau untuk selamat dari incaran maut, sulit sekali.

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut mencoba untuk tetap tenang. Semua itu dimaksudkan agar murid-murid Perguruan Gelang Terbang tidak dilanda resah. Meskipun usaha itu tidak seluruhnya berhasil, tapi sedikitnya telah melenyapkan sebagian rasa takut yang dialami hampir seluruh murid perguruan itu.

Ketika hari telah menjelang sore, dan saat Ki Janiga mengatur siasat untuk menjebak musuh, Ki Pangrawit muncul dengan wajah agak pucat. Meski demikian, kehadirannya telah membangkitkan semangat baru bagi murid-muridnya.

"Maaf, kalau aku telah menyusahkan kalian...," ucap Ki Pangrawit kepada Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut, dan Rajawali Merah.

Betapa terharunya Ketua Perguruan Gelang Terbang itu karena ketiga orang sahabatnya masih tetap bersedia membantu, meski untuk itu nyawa taruhannya. Pengorbanan tanpa pamrih dari tokoh-tokoh itulah yang membuat Ki Pangrawit keluar dari dalam kamarnya. Karena, tidak mungkin tanggung jawabnya dilepaskan begitu saja kepada orang lain. Meskipun, orang itu merupakan sahabat baiknya.

Keempat orang tokoh itu pun, kembali berkumpul dengan ditemani Subadra dan Kandira. Mereka menyusun rencana untuk menghadapi musuh yang belum diketahui, siapa sebenarnya.

********************

Saat kegelapan mulai menyelimuti alam, suasana Perguruan Gelang Terbang tampak gelap dan sunyi. Di dekat gerbang atau di sudut-sudut bangunan, tidak lagi terlihat cahaya obor. Malam itu Perguruan Gelang Terbang terasa mati, bagaikan bangunan tua yang dihuni hantu!

Suara binatang malam terus bersahutan menyemarakkan sang malam. Tiupan angin terasa sejuk, membuat tubuh terasa letih dan mudah terlena. Untungnya, malam itu sang Dewi Malam demikian berani memancarkan cahayanya. Sehingga, kegelapan yang demikian pekat mulai memudar.

Mendadak saja, jantung Ki Pangrawit yang bersembunyi bersama ketiga orang sahabatnya berdebar, saat menatap pintu gerbang depan. Di kiri kanan gerbang, tampak dua sosok bayangan putih bertengger di atas kayu-kayu bulat. Pakaiannya yang lebar berkibaran tertiup angin. Pemandangan itu benar-benar mendebarkan, dan sanggup membuat seorang yang penakut pingsan seketika!

"Hm... Iblis itu sudah muncul... Tampaknya mereka sengaja menunjukkan kedatangannya kali ini Sayang, jaraknya masih terlalu jauh. Sulit untuk mengenalinya," desah Ki Pangrawit sambil menajamkan pandangan matanya agar bisa mengenali sepasang sosok bayangan putih itu.

"Mudah-mudahan Subadra dan Kandira dapat menahan diri sesuai rencana kita,..," bisik Ki Janiga, lirih. Lelaki bertubuh tinggi kurus itu pun tengah mengawasi dua sosok bayangan putih yang tegak di atas gerbang.

"Nampaknya, Iblis-iblis itu lebih berhati-hati. Lihat saja. Mereka masih tetap tegak tanpa berani melewati gerbang. Jelas, Mereka telah menaruh curiga dengan suasana sunyi dan tanpa penerangan ini," gumam Pendekar Cakar Maut. Rupanya, Pendekar Cakar Maut yang memiliki watak berangasan, tidak sabar melihat kedua sosok bayangan putih itu masih tetap tegak bagai patung.

"Biarlah. Kita lihat saja, apakah mereka berani masuk atau tidak," timpal Rajawali Merah yang juga ikut mengawasi dua sosok berpakaian putih itu. Wajah tokoh muda itu terlihat agak tegang dan sedikit pucat Meski demikian, ia tetap berusaha tenang dan terus menatap kedua sosok putih di atas gerbang.

"Hua ha ha...! Bagus, Ki Pangrawit! Rencana yang kau susun memang tidak jelek! Sayangnya, tipuan-tipuanmu sama sekali tidak berarti bagiku...!"

Selagi puluhan pasang mata yang tersembunyi di tempat gelap sambil sama-sama mengawasi sosok di atas gerbang, tiba-tiba terdengar gema tawa berkepanjangan yang membuat jantung para murid Gelang Terbang hampir copot dibuatnya.

"Gila! Iblis itu benar-benar licik! Apa yang kita bicarakan bisa didengar mereka, sehingga membuat rencana kita gagal, Ki Janiga. Aku khawatir, Subadra dan Kandira tidak bisa menenangkan murid-muridku...," desis Ki Pangrawit yang menjadi cemas bukan main atas kejadian itu.

Apa yang dikhawatirkan Ki Pangrawit ternyata tidak meleset! Baru saja ucapannya selesai, terdengar teriakan-teriakan ribut yang disusul berloncatannya murid-murid Gelang Terbang dari tempat persembunyian. Jelas, suara tanpa wujud itu telah mempengaruhi mereka.

"Hei, kembali...!" cegah Subadra yang bertugas mengepalai dua puluh lima orang murid.

Sayang semuanya sudah terlambat. Apalagi dari tempat lain pun murid-murid yang dipimpin Kandira juga telah berlompatan keluar. Karuan saja Ki Pangrawit, Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut dan Rajawali Merah menjadi terkejut. Mereka yang bersembunyi di dua tempat itu ikut berteriak mencegah. Bahkan ikut melompat keluar dari persembunyian karena mengkhawatirkan keselamatan murid-murid Ki Pangrawit.

Tepat pada saat yang bersamaan, dua sosok bayangan putih melesat bagaikan dua ekor burung malam mencari mangsa. Dengan sepasang tangan membentuk cakar, kedua sosok bayangan putih itu langsung menyambar murid-murid Perguruan Gelang Terbang yang tengah ketakutan. Tapi, keempat orang tokoh itu pun tidak tinggal diam. Sebelum korban berjatuhan, serentak mereka bergerak menyambut dua sosok bayangan putih itu.

"Merunduuuk...!" Sambil berteriak memerintahkan murid- muridnya merunduk, Ki Pangrawit bersama Rajawali Merah bergerak memapak cengkeraman bayangan putih yang berada di sebelah kanan. Sadar kalau kedua sosok bayangan putih itu bukan tokoh sembarangan, maka seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimiliki dikerahkan. Dan...

Plakkk! Plakkk!

"Ughhh.!"

"Aaaah...!"

Terdengarlah benturan keras yang diiringi keluhan tertahan dari mulut Ki Pangrawit dan Rajawali Merah. Tubuh mereka sama-sama terpental ke belakang! Bedanya, Ki Pangrawit dapat mematahkan daya luncur tubuhnya dengan berjumpalitan beberapa kali di udara. Sedangkan Rajawali Merah terpaksa harus rela tubuhnya terbanting ditanah!

Sedangkan sosok bayangan putih itu sendiri melenting kembali ke udara. Kemudian kedua kakinya mendarat di tanah, setelah berjumpalitan sebanyak tiga kali di udara. Jelas, sosok itu pun merasakan akibat dari benturan dua orang tokoh yang memang berkepandaian tinggi itu.

"Sepasang Mambang Lembah Maut..?!"

Ki Pangrawit dan Rajawali Merah sama-sama berseru dengan wajah berubah hebat! Mereka terkejut bukan main melihat wajah sosok bayangan putih itu yang terlindung di balik topeng tengkorak. Jelas sudah, siapa sebenarnya yang telah melakukan serangkaian tindak kekerasan terhadap Perguruan Gelang Terbang.

Bukan Hanya Ki Pangrawit dan Rajawali Merah saja yang merasa terkejut. Ki Janiga dan Pendekar Ca- kar Maut juga sama-sama terkejutnya melihat kedua orang sahabatnya. Mereka yang juga berhasil menyelamatkan nyawa murid-murid Gelang Terbang dengan memapak serangan sosok bayangan putih lainnya, merasakan akibat yang sama. Dan keduanya pun tersentak pucat begitu mengenali sosok yang tangan mautnya tengah merajalela.

Belum lagi lenyap rasa keterkejutan keempat orang tokoh sakti itu, tiba-tiba terdengar jerit kematian susul menyusul! Untuk kedua kalinya, keempat orang tokoh itu kembali dikejutkan adanya dua sosok bayangan putih lain yang mengamuk membantai murid-murid Perguruan Gelang Terbang. Untunglah, Subadra dan Kandira cepat bertindak menghadapi kedua sosok bayangan putih yang melayang turun dari atas pintu gerbang itu. Sehingga, korban di pihak mereka tidak bertambah banyak.

"Gila! Entah siapa lagi kedua sosok bayangan putih itu? Untunglah kepandaiannya tidak begitu tinggi, sehingga Subadra dan Kandira dapat menghada- pinya...," desis Ki Pangrawit yang bertambah heran melihat adanya dua sosok bayangan putih itu.

"Hm.... Menurutku, mereka pasti dua di antara Tiga Brewok Hutan Larang. Sepertinya, mereka kembali dipergunakan Sepasang Mambang Lembah Maut untuk mengecoh kita tadi...," duga Ki Janiga.

Rupanya, si Tinju Pemecah Badai itu langsung saja bisa menebak tepat, siapa adanya kedua sosok bayangan putih itu. Tapi, pembicaraan mereka tidak dapat berlanjut lagi, karena saat itu sepasang Mambang Lembah Maut tengah melangkah menghampiri. Serentak keempat orang pendekar itu saling berpencar, dan siap melakukan pertarungan mati-matian!

"Sepasang Mambang Lembah Maut, apa kesalahan kami sehingga kalian sampai tega berbuat kekejian ini? Sedangkan di antara kita belum pernah ada urusan," tegur Ki Pangrawit. Ketua Perguruan Gelang Terbang itu ingin mendapat penjelasan atas segala tindakan tokoh sesat yang telah lama mengasingkan diri itu.

"Hm.... Di antara kita memang tidak ada permusuhan, Pendekar Gelang Terbang. Tapi di antara golongan kita, memang tidak pernah sependapat. Aku sengaja muncul untuk membasmi manusia-manusia sombong yang menganggap sebagai seorang pendekar berbudi. Entah sudah berapa banyak korban dari golonganku yang tewas, karena kalian ingin dianggap sebagai pembela kebenaran. Untuk alasan itulah, aku akan menghancur-leburkan semua manusia sombong yang selalu mengganggu golonganku. Dengan begitu, barulah orang-orang golongan hitam dapat bergerak leluasa di dalam rimba persilatan ini," jelas salah seorang dari pasangan Mambang Lembah Maut yang bertubuh lebih tinggi dan berbadan tegap. Dia adalah orang yang bernama Jonggala.

"Kau salah, Sepasang Mambang. Semua itu kami lakukan sama sekali bukan karena ingin dipuji atau dianggap sebagai pahlawan. Tapi, semua itu memang sudah kewajiban untuk memberantas segala bentuk kejahatan yang ada di bumi ini. Dan, kami tidak perlu pendapatmu. Jangan dikira kami takut menghadapi kalian berdua, meskipun dengan taruhan nyawa. Bagi kami, lebih baik mati dalam membela kebenaran dan keadilan ketimbang berpangku tangan menyaksikan kekejaman yang dilakukan orang-orang golonganmu," timpal Ki Janiga.

"Hm.... Kalau begitu, bersiaplah melayat ke akherat!" timpal Jonggali, orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut. Setelah berkata demikian, kedua tokoh yang mengiriskan itu segera melangkah menghampiri keempat orang tokoh yang sudah merenggang dan siap menghadapi pertarungan mati-matian.

"Yeaaa...!"

Dibarengi pekikan menggetarkan jantung, Sepasang Mambang Lembah Maut bergerak secara bersamaan. Tubuh mereka bagaikan terbang dan saling bersilangan sehingga membingungkan Ki Pangrawit dan kawan-kawan.

Whuuut! Whuuut!

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut segera saja melompat ke kanan menghindari cengkeraman jari-jari sekeras baja lawan. Dari sambaran angin yang mencicit tajam, sadarlah kedua orang tokoh itu kalau kekuatan tenaga sakti lawan benar-benar telah mencapai titik kesempurnaan. Untuk itu, mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan agar tidak sampai celaka di tangan Sepasang Mambang Lembah Maut.

Demikian pula halnya Ki Pangrawit dan Rajawali Merah. Mereka yang bertarung menghadapi orang tertua dari sepasang mambang itu benar-benar harus bekerja keras menyelamatkan selembar nyawa. Memang serangan-serangan tokoh sesat itu benar-benar sangat cepat dan menimbulkan sambaran angin tajam. Jangankan terkena cakaran mautnya. Bahkan sambaran anginnya saja rasanya sanggup menewaskan seorang tokoh yang memiliki kepandaian tanggung. Dapat dibayangkan, betapa berbahayanya serangan-serangan cakar maut itu.

Ki Pangrawit yang dalam dunia persilatan dijuluki Pendekar Gelang Terbang mempergunakan gelang-gelang emasnya untuk membendung gempuran lawan. Meskipun beberapa kali senjatanya dapat dipukul balik Jonggala, namun orang tua itu tetap gigih melakukan perlawanan! Sehingga, pertarungan antara ketiga orang tokoh itu benar-benar sangat seru dan menegangkan!

Tapi ketika pertarungan menginjak jurus yang kelima puluh, baik Ki Pangrawit maupun Rajawali Merah terpaksa harus mengakui kehebatan ilmu lawannya. Memang, pada jurus-jurus itu mereka mulai merasakan tekanan berat lawannya! Bahkan Rajawali Merah yang biasanya sangat gesit dan tidak pernah kehabisan tenaga, kali ini sudah benar-benar kepayahan. Selain kepandaiannya yang memang berada di bawah Ki Pangrawit, kepandaian lawannya pun telah membuatnya tak berdaya.

"Haiiit...!"

Jonggala, orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut rupanya memiliki mata yang sangat jeli. Buktinya, dia lebih banyak mencecar Rajawali Merah ketimbang Ki Pangrawit Sehingga pada jurus yang kelima puluh lima. Rajawali Merah terpaksa harus mengakui keunggulan lawan. Sebuah lontaran telapak tangan yang mengancam dadanya, tidak mampu lagi dihindari! Maka....

Whuuut...! Buggg...!

"Huaaakh...!"

Hebat bukan main akibat hantaman telapak tangan Jonggala. Bagaikan selembar daun kering yang tertiup angin, tubuh Rajawali Merah terlempar hingga tiga tombak lebih. Darah segar kontan berhamburan membasahi tanah!

Brakkk!

Dinding bangunan utama Perguruan Gelang Terbang langsung jebol ketika terlanda keras tubuh Rajawali Merah, diiringi suara berderak ribut! Tubuh Rajawali Merah terbanting jatuh di antara reruntuhan dinding bangunan itu.

"Huaaakh...!" Untuk yang kedua kalinya. Rajawali Merah memuntahkan darah segar. Setelah meregang sebentar, tubuhnya pun tergolek lemah. Tewas!

"Biadab keji...!" maki Ki Pangrawit. Ketua Perguruan Gelang Terbang itu merasa marah bukan kepalang menyaksikan kematian orang yang membela perguruannya tanpa pamrih. Kenyataan itu membuat Ki Pangrawit mengamuk tanpa mempedulikan keselamatan dirinya lagi.

"Heaaat..!"

Ki Pangrawit yang berjuluk Pendekar Gelang Terbang berteriak mengguntur sambil melepaskan senjata andalannya disertai pengerahan seluruh sisa-sisa tenaganya. Pada saat yang sama, tubuhnya bergerak meluncur dengan serangan sepasang tangan yang menggunakan jurus-jurus tangan kosong!

Sayang, meski serangan yang dilancarkan Ki Pangrawit begitu hebat, namun lawan memang terlalu kuat baginya. Dalam lima jurus saja, orang tua itu kembali terdesak hebat. Sehingga, ia tidak mampu lagi melontarkan serangan. Ki Pangrawit hanya bisa mengelak sambil sesekali menangkis. Meskipun demikian itu masih membuatnya jatuh bangun. Karena,tenaga dalam Jonggala masih jauh di atasnya.

"Haiiih...!"

Ki Pangrawit yang benar-benar sudah tidak mempunyai daya untuk membalas serangan lawan, jadi tertegun dengan tubuh gemetar ketika Jonggala mengeluarkan pekikan nyaring disertai pengerahan tenaga dalam. Dan saat itu pula, cengkeraman lawannya datang mengancam leher orang tua itu!

"Haiiit..!"

Pada saat yang sangat menentukan bagi mati hidupnya Ketua Perguruan Gelang Terbang, tiba-tiba terdengar pekikan lain yang tidak kalah dahsyatnya! Berbarengan dengan itu, sesosok tubuh yang bersinar putih keperakan disertai hawa dingin menusuk tulang, melesat memapak serangan Jonggala! Akibatnya...!

Brrresh!

"Aaah...?!"

"Haiiit..?!"

Seiring suara dentuman akibat pertemuan dua gelombang tenaga sakti yang maha dahsyat, terdengar seruan-seruan terkejut dari mulut kedua sosok bayangan yang tadi saling berbenturan! Bahkan tubuh satu sama lain terdorong deras ke belakang.

Jonggala, orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut cepat menguasai daya luncur tubuhnya dengan melakukan salto beberapa kali di udara. Kemudian, kakinya mendarat ke tanah meski dengan kuda-kuda agak goyah! Tentu saja kenyataan itu sangat mengejutkan baginya!

Demikian pula halnya sosok tubuh yang terselimuti kabut putih keperakan itu. Sosok yang telah menyelamatkan Ki Pangrawit itu juga dapat mengatasi daya dorong akibat benturan dahsyat tadi. Dengan melakukan tiga kali putaran menakjubkan, sosok tubuh itu dapat mendarat indah dengan kuda-kuda kokoh dan tidak tergoyahkan. Dari sini saja dapat dinilai, kalau sosok bersinar putih keperakan itu masih lebih kuat dibanding Jonggala.

Ki Pangrawit yang tidak menyangka kalau dirinya masih dapat selamat, menatap sosok yang terselimut lapisan kabut putih keperakan itu dengan sepasang mata terbelelak. Tapi sebentar kemudian, wajah orang tua itu telah langsung berseri gembira ke arah penolongnya.

DELAPAN

Sementara itu di arena pertarungan, Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut melawan Jonggali yang merupakan orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut, juga terjadi perubahan hebat. Jonggali yang sudah berada di atas angin dan siap menghabisi nyawa lawan-lawannya, tiba-tiba terkejut ketika pukulan mautnya terpapak oleh sesosok bayangan hijau. Benturan keras pun tak terhindarkan lagi!

Tapi dalam benturan dua gelombang tenaga dalam yang amat kuat itu, Jonggali terlihat masih unggul. Orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu hanya terjajar mundur beberapa langkah, sedangkan sosok berpakaian hijau itu terpental dengan derasnya. Untungnya, sosok bayangan hijau itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Sehingga, kedua kakinya dapat mendarat dengan selamat.

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sama-sama terkejut sekaligus juga kagum terhadap penolongnya yang ternyata seorang gadis muda berparas jelita. Kalau saja mereka tidak membuktikan sendiri, rasanya belum tentu percaya kalau gadis muda jelita itu mampu menahan gempuran dahsyat Jonggali.

Sedangkan sosok berpakaian hijau itu tampak mengatur pernapasannya. Dari wajahnya yang nampak agak pucat itu, nampaknya ia cukup menderita akibat benturan tenaga dalam yang hebat tadi. Bahkan dari sudut bibir indah itu, nampak cairan merah mengalir turun.

Hadirnya dua penolong yang menyelamatkan tokoh-tokoh persilatan itu dari kematian, membuat Jonggala dan Jonggali bersatu kembali. Sepertinya, mereka merasa kalau kehadiran kedua sosok bayan-gan putih dan hijau itu patut diperhitungkan. Demikian pula halnya sosok bayangan putih dan hijau. Mereka pun bersatu dan berkumpul dengan sisa dari tokoh persilatan itu. Sebab, Rajawali Merah telah lebih dulu tewas di tangan Jonggala.

"Pendekar Naga Putih! Akhirnya kau datang juga memenuhi undanganku," kata KiPangrawit

"Benar, Ki. Maaf atas keterlambatanku," sahut pemuda tampan berjubah putih yang ternyata Pendekar Naga Putih.

"Bagus!" Tiba-tiba terdengar suara parau yang membuat para pendekar itu menolehkan wajah.

"Kehadiranmu memang sangat tepat sekali, Pendekar Naga Putih. Dengan demikian, berarti aku tidak perlu bersusah payah lagi mencarimu...," lanjut Jonggala. Rupanya dia masih juga menampakkan kesombongannya. Padahal, sebenarnya hari kedua tokoh sesat itu agak bergetar atas kemunculan Pendekar Naga Putih yang tidak disangka-sangka. Tapi, Sepasang Mambang Lembah Maut tidak mau menunjukkan rasa terkejutnya di hadapan lawan-lawannya.

"Hm..., Sepasang Mambang Lembah Maut..," sebut Panji yang segera mengenali sepasang tokoh sesat itu dari topeng tengkorak yang dikenakan, "Rupanya, kaulah yang menjadi biang keladi dari semua kejahatan-kejahatan yang kudengar baru-baru ini. Apa sebenarnya yang kau inginkan, hingga begitu tega melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Bahkan mengganggu acara Ki Pangrawit?!"

"Hua ha ha…!"

Tawa Sepasang Mambang Lembah Maut terdengar berderai panjang. Jelas, mereka merasa kalau ucapan Pendekar Naga Putih merupakan sesuatu yang lucu. Sehingga, Ki Pangrawit dan kawan-kawannya mengerutkan kening tak senang.

"Pendekar Naga Putih! Lebih baik kau bersiaplah melihat alam akhirat'" bentak Jonggala.

Dengan penuh keyakinan kalau mampu menamatkan petualangan Pendekar Naga Putih, Jonggala berkacak pinggang. Meskipun tahu pihak lawan lebih banyak, tapi Jonggala mengerti orang-orang golongan putih tidak akan melakukan pengeroyokan, kalau tidak terpaksa. Itulah sebabnya, mengapa Sepasang Mambang Lembah Maut tidak merasa gentar.

"Hm.... Harap kalian semua menyingkir. Menurut penilaianku, kedua orang tokoh sesat ini sangat berbahaya. Bahkan mungkin mereka belum mengeluarkan semua kesaktian pada pertempuran tadi," ujar Panji dengan suara tetap tenang, tanpa kesan sombong.

"Tapi, Kakang! Tidakkah terlalu berbahaya bila kau menghadapi mereka seorang diri...?" bisik Kenanga agak khawatir. Memang gadis itu tadi sudah merasakan betapa kepandaian yang dimilikinya masih beberapa tingkat di bawah salah seorang tokoh sesat itu. Tentu saja pengalaman itu membuatnya merasa khawatir akan keselamatan kekasihnya.

"Berdoalah. Mudah-mudahan, aku bisa mengatasi mereka...," sahut Panji, tidak ingin takabur.

"Baiklah, Kakang. Hati-hatilah...," bisik Kenanga, dan segera menepi berkumpul bersama Ki Pangrawit dan kedua orang pendekar lainnya.

"Hua ha ha.... Pendekar Naga Putih. Ingatlah! Kami selalu tampil berpasangan. Rasanya, tidak adil kalau kau maju seorang diri untuk menghadapi kami berdua. Sebaiknya, ajaklah salah seorang kawanmu agar pertandingan terlihat lebih adil...," pancing Jonggali, orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut.

"Hm... Tidak perlu kau mengutarakan apa yang sebenarnya tidak kau inginkan, Kisanak. Sebaiknya, kalian bersiaplah. Dan jangan terlalu mengumbar omong kosong...," tukas Pendekar Naga Putih, memukul balik ucapan lawannya. Sehingga, tokoh itu terlihat agak kaget mendengar jawaban yang seperti menelanjangi mereka.

"Hm...." Jonggali, orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut menggeram gusar. Rupanya ia merasa marah mendengar ucapan balik pemuda itu.

Panji bergegas menggeser langkahnya ke kiri ketika melihat kedua orang lawannya mulai bergerak maju. Meskipun Sepasang Mambang Lembah Maut bergerak maju dengan siasat licik dan berganti-ganti, tapi Pendekar Naga Putih tetap tenang. Ditatapnya gerak-gerik lawannya dengan sinar mata mencorong tajam. Pendekar Naga Putih siap menanti lawan membuka serangan terlebih dulu.

"Yeaaat..!"

Salah satu dari Sepasang Mambang yang berada paling depan, berseru nyaring disertai luncuran tubuhnya yang bergulingan bagaikan seekor trenggiling. Seiring dengan itu, Jonggali yang berada di belakang melenting ke udara, tanpa mengeluarkan teriakan sedikit pun. Jelas, siasat itu digunakan untuk memecah perhatian lawan.

Meskipun begitu, Pendekar Naga Putih tetap tenang dan menanti datangnya serangan lawan. Pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh gerakan Jonggala yang bergulingan di tanah dalam serangan pembukaan itu.

"Yiaaah...!"

Jonggali yang melancarkan serangan dari atas, terlihat mulai mengulurkan cengkeraman-cengkeraman mautnya diiringi suara mencicit tajam! Jelas tokoh sesat itu telah mengerahkan tenaga dalamnya yang tinggi dalam serangan pertamanya.

Tapi sebelum serangan Jonggali tiba, mendadak saja Jonggala yang semula tengah bergulingan mendekat melenting ke udara. Langsung dilontarkan cengkeramannya ke arah leher dan dada Pendekar Naga Putih. Sedangkan Jonggali telah meluncur turun sambil melontarkan tendangan-tendangan maut susul menyusul!

Panji yang telah mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' dan 'Jurus Naga Sakti'nya, bergerak menghindar sambil melontarkan serangan balasan yang tidak kalah berbahaya. Tubuh pemuda tampan berjubah putih itu berkelebat bagaikan seekor naga sakti yang tengah meliuk-liuk indahnya. Sesekali, sambaran cakar naganya mencicit mengancam tubuh kedua orang lawannya. Jelas, seluruh kekuatan tenaga saktinya telah dikerahkan untuk menghadapi gempuran Sepasang Mambang Lembah Maut'

"Hyaaat..!"

Bettt! Bettt!

Jonggala yang menjadi sasaran cengkeraman cakar naga lawan, bergerak ke kiri. Langsung dilontarkannya sebuah tendangan kilat yang mengejutkan. Sepertinya, dalam soal kecepatan dan ilmu meringankan tubuh, kedua tokoh sesat itu memang tidak berada di bawah lawannya. Hal itu pun dapat dirasakan Pendekar Naga Putih. Sehingga, pemuda tampan itu sempat terkagum-kagum dibuatnya!

Plakkk!

"Uuuh...!" Jonggala, orang tertua dari Sepasang Mambang mengeluh perlahan ketika tendangannya dapat ditepis telapak tangan Pendekar Naga Putih. Karuan saja tubuh tokoh sesat itu tergetar mundur, hampir sejauh satu tombak. Itu menandakan kalau dalam hal tenaga sakti, Jonggala masih kalah.

Pendekar Naga Putih sendiri sama sekali tidak tergoyah dalam menangkis tendangan lawannya. Bahkan pemuda itu kini terlihat bergerak mendesak Jonggali. Karuan saja tokoh sesat itu kelabakan menghadapi gempuran Pendekar Naga Putih yang datang bagaikan gelombang badai salju itu. Untungnya dalam keadaan terdesak, Jonggala telah masuk kembali dalam arena pertarungan. Sehingga, Jonggali dapat menarik napas lega, karena terbebas tekanan lawan. Kenyataan itu membuat Jonggali sadar kalau kesaktiannya ternyata masih di bawah Pendekar Naga Putih.

"Kreeegh...!"

Pada saat pertarungan menginjak jurus keseratus dua puluh, tiba-tiba saja Panji melenting ke udara disertai pekikan 'Naga Marah'nya. Hembusan angin dingin bertiup semakin kuat, mengiringi putaran sepasang tangan Pendekar Naga Putih yang disertai pendaran cahaya putih keperakan. Karuan saja jurus pamungkas pendekar muda itu mengejutkan kedua orang lawannya!

Whuuut... Desss!

"Aaakh...?!" Jonggali memekik kesakitan ketika sebuah hantaman telapak tangan yang berkecepatan tinggi, tahu-tahu saja telah menggedor dada kirinya! Darah segar langsung menyembur diiringi terlemparnya tubuh orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu.

Demikian pula halnya Jonggala. Orang tertua dari Sepasang Mambang itu pun mendapat bagian yang sama. Sebuah sambaran cakar Pendekar Naga Putih, membuat tubuh tokoh sesat itu melintir bagaikan kitiran! Darah segar segera saja membasahi pakaiannya yang putih. Karena, luka cakaran Panji cukup dalam pada bagian bahunya.

Panji yang ingin menyelesaikan pertarungan itu selekas mungkin, segera saja memburu lawan-lawannya dengan cengkeraman-cengkeraman maut!

Namun dengan sisa-sisa tenaganya, kedua orang tokoh sesat itu dapat menyelamatkan dirinya dengan lompatan jauh kebelakang. Begitu terbebas dari kejaran serangan maut lawan. Sepasang Mambang Lembah Maut langsung menjatuhkan tubuh di atas tanah secara bersamaan. Keduanya duduk bersila sebelah menyebelah, dengan salah satu telapak tangan bersatu. Hal itu dilakukan setelah meletakkan senjatanya yang berbentuk clurit di depan mereka.

Panji tersentak mundur ketika merasakan adanya gelombang tenaga aneh yang menolak tubuhnya ke belakang. Keterkejutannya semakin menjadi tatkala melihat sepasang senjata berbentuk clurit itu bergerak naik seperti bernyawa. Sadarlah Panji kalau dua lawan telah menggunakan ilmu yang menggunakan tenaga batin.

"Ilmu 'Golok Terbang Perenggut Sukma'...?!" desis Pendekar Naga Putih ketika dapat mengenali ilmu yang kini digunakan Sepasang Mambang Lembah Maut untuk menghadapinya.

Ternyata, bukan hanya Pendekar Naga Putih saja yang merasa terkejut dengan ilmu lawannya. Bahkan Kenanga, Ki Pangrawit, Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sampai terbelalak kagum menyaksikan ilmu yang tengah dipergunakan Sepasang Mambang Lembah Maut. Diam-diam, para tokoh persilatan itu merasa bersyukur kalau di pihak mereka ada Pendekar Naga Putih. Kalau tidak, sulit dibayangkan, bagaimana caranya menghadapi ilmu aneh itu. Kini, mereka hanya tinggal menunggu, bagaimana Pendekar Naga Putih menghadapi ilmu Sepasang Mambang Lembah Maut.

Di antara keempat orang itu, hanya Kenanga saja yang tidak merasa tegang. Memang, gadis jelita itu tahu kalau kekasihnya juga memiliki sebuah ilmu yang menggunakan tenaga batin. Bahkan Kenanga percaya kalau ilmu kekasihnya masih jauh lebih hebat ketimbang ilmu Sepasang Mambang Lembah Maut.

Dugaan Kenanga ternyata tidak meleset jauh. Panji yang melihat sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu mulai meluncur ke arah dirinya, segera saja memusatkan pikirannya. Sebentar kemudian, terciptalah sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning keemasan. Itulah Pedang Naga Langit yang selama ini tersimpan di dalam tubuh pemuda itu, dan berubah menjadi suatu kekuatan yang dahsyat.

Panji membuka kedua matanya setelah merasakan adanya sebatang pedang dalam genggaman. Langsung saja Pedang Naga Langit itu dilemparkan ke udara. Pedang Pusaka Naga Langit mengapung sejenak sebelum berputar, dan meluncur memapaki datangnya sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu, yang tengah mengancam Pendekar Naga Putih.

Terjadilah suatu peristiwa aneh yang sulit ditangkap akal sehat. Tampak, ketiga batang senjata itu saling berusaha menekan, dalam usaha membantu majikan masing- masing. Sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu berusaha mengapit pedang Pendekar Naga Putih dari kiri kanan. Terdengar suara mengaung tajam ketika senjata-senjata itu bergerak dengan kecepatan tinggi untuk meruntuhkan pedang Pendekar Naga Putih. Sayangnya, pedang milik Panji lebih hidup daripada senjata lawan-lawannya. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu dapat didesak Pendekar Naga Putih. Kemudian, senjata-senjata itu terpental kembali ke arah majikan masing-masing!

Sepasang Mambang Lembah Maut yang memejamkan mata tampak telah dibanjiri peluh pada tubuh mereka. Bahkan pada saat sepasang senjata mereka dipukul balik oleh pedang lawan, terlihat tubuh Sepasang Mambang Lembah Lembah Maut terjungkal ke belakang. Dan sebelum keduanya sempat menyadari hal yang dianggap mustahil itu, sepasang senjata bulan sabit mereka telah meluncur deras. Bahkan langsung menembus jantung kedua tokoh sesat itu!

"Ughhh...!"

Terdengar jerit kematian yang susul-menyusul dari mulut kedua tokoh sesat mengiriskan itu. Darah segar kontan mengucur keluar dari luka akibat senjata makan tuan. Sebentar kemudian, putuslah nyawa Sepasang Lembah Maut karena termakan senjatanya sendiri.

Pendekar Naga Putih kembali memerintahkan pedangnya melalui tenaga batin agar segera kembali. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu saja Pedang Naga Langit telah kembali ke dalam genggaman Panji, kemudian lenyap tanpa bekas. Memang, Panji telah menyatukan pedang itu kembali kedalam tubuhnya.

Sementara itu, pertarungan lain pun telah pula usai. Dua dari Tiga Brewok Hutan Larang telah berhasil dilenyapkan Subadra dan Kandira. Sehingga, seluruh murid termasuk Ketua Perguruan Gelang terbang merasa lega. Mereka bersorak menyambut kemenangan Pendekar Naga Putih yang kembali mengukir namanya di dalam hati tokoh-tokoh persilatan.

"Pendekar Naga Putih! Aku benar-benar merasa berhutang kepadamu. Entah, bagaimana aku harus membalas hutang budi ini..." ucap Ki Pangrawit yang langsung memeluk tubuh pendekar muda itu sebagai tanda terima kasihnya.

"Tidak perlu dibesar-besarkan, Ki. Kita semua sama-sama mengetahui kalau apa yang kulakukan hanyalah suatu kewajiban belaka. Jadi, janganlah Ki Pangrawit merasa berhutang budi," sergah Panji disertai senyum di wajah tampannya.

"Hm.... Sebagai tanda syukur dan terima kasih pada tamu kita Pendekar Naga Putih, marilah kita mengadakan pesta," ujar Ki Pangrawit di hadapan sahabat dan murid-muridnya.

Panji dan Kenanga hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Karena bila menolak, mereka takut menyinggung perasaan Ki Pangrawit dan yang lain. Pendekar Naga Putih dan Kenanga hanya bisa pasrah ketika mereka digiring memasuki bangunan utama Perguruan Gelang Terbang, diiringi sorak-sorai murid-murid Ki Pangrawit.

S E L E S A I

Sepasang Mambang Lembah Maut

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Sepasang Mambang Lembah Maut
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

PAGI mulai datang mengusir kegelapan. Semilir angin lembut mengusap pucuk-pucuk dedaunan, dan menghempaskan butir-butir embun yang melekat di atasnya. Kicau burung-burung terdengar ramai menyemarakkan suasana pagi yang indah ini.

Sayang, suasana pagi di Gunung Larang mulai terganggu teriakan-teriakan nyaring yang berganti-ganti. Demikian hebatnya teriakan yang susul-menyusul itu, hingga beberapa ekor burung yang kebetulan tidak jauh dari sumber suara, langsung jatuh. Bahkan langsung tewas seketika! Dari kejadian itu saja sudah dapat diukur, betapa mengerikannya tenaga sakti yang tersalur melalui teriakan-teriakan keras itu.

Suara teriakan-teriakan dan bentakan yang terkadang nyaring melengking tinggi itu, sesekali berubah parau bagaikan raungan binatang buas yang tengah murka. Jangankan manusia. Rasanya binatang buas sekalipun pasti akan terbirit-birit apabila mendengar teriakan parau yang terasa hendak mencopot jantung itu!

Ternyata, bukan hanya bentakan-bentakan itu saja yang mengerikan. Bahkan tempat asal teriakan-teriakan itupun merupakan sebuah tempat yang dianggap keramat. Bahkan sangat ditakuti, baik oleh penduduk desa sekitar, maupun kaum rimba persilatan!

Lembah Maut! Itulah nama tempat suara-suara teriakan dan bentakan dahsyat tadi berasal. Lembah itu terletak di sebelah Utara Gunung Larang. Selain agak tersembunyi dan menjorok ke dalam, lembah itu pun tidak pernah lepas dari lapisan kabut. Tidak peduli siang panas terik, kabut tebal selalu saja melapisinya.

Nama Lembah Maut bukan sekadar julukan belaka. Nama itu diberikan karena selain tempatnya sangat tersembunyi dan selalu dilapisi kabut tebal, juga terdapat jurang-jurang yang menganga lebar, dan perangkap-perangkap alam yang bisa mendatangkan kematian. Tidak sedikit korban yang tertelan jurang-jurang yang disamarkan oleh lapisan kabut. Sehingga, orang menamakan tempat itu sebagai Lembah Maut!

Lembah yang terletak di lereng sebelah Utara Gunung Larang itu ternyata tidak ditakuti semua orang. Para penduduk desa sekitar kaki gunung itu tahu kalau Lembah Maut juga dihuni dua orang aneh berwajah mengerikan! Meski jarang menampakkan diri, namun penduduk desa sekitar tahu kalau kedua orang aneh itulah yang menjadi Penguasa Lembah Maut!

Bagi tokoh-tokoh persilatan sendiri, kedua penghuni lembah itu telah sangat dikenal. Mereka memberi sebuah julukan yang tidak kalah mengerikan dengan lembah itu sendiri. Kesaktian yang mengiriskan, dan wajah yang membuat orang terbirit-birit ketakutan, membuat kaum persilatan memberikan julukan Sepasang Mambang kepada kedua orang tokoh itu. Kemudian julukan itu dikaitkan dengan nama tempat yang dihuninya. Sehingga dalam dunia persilatan, bergaunglah sebuah julukan yang menggetarkan! Sepasang Mambang Lembah Maut!

Dari kedua orang tokoh itulah bentakan dan teriakan dahsyat berasal. Tokoh mengiriskan yang tidak diketahui asal-usulnya itu, seperti biasa selalu melatih ilmu-ilmu setiap hari. Itulah sebabnya, mengapa sepagi itu di Lembah Maut sudah bergaung teriakan dan bentakan menggelegar!

"Haiiit..!"

Untuk kesekian kalinya, kembali terdengar teriakan nyaring menggetarkan jantung! Sesosok tubuh ramping tampak berkelebatan cepat, bagaikan tidak menyentuh permukaan tanah! Kemudian dengan indahnya, sosok tubuh itu mulai memainkan jurus-jurus maut! Sambaran tangan dan kakinya selalu dibarengi deru angin mencicit dalam setiap lontaran. Hal itu menandakan kalau sosok ramping itu jelas memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, dan jarang tandingannya

"Yiaaah...!"

Sosok tubuh yang wajahnya tersembunyi di balik topeng tengkorak itu menutup gerakannya dengan sebuah pekikan halus, namun menyakitkan telinga. Saat itu juga, tubuhnya melenting ke udara. Kemudian, kakinya mendarat manis di atas rentangan tali setelah berputaran beberapa kali. Gerakan yang demikian ringan dan indah itu jelas menandakan kalau sosok ramping itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa!

Apabila orang menyaksikan apa yang dilakukan sosok tubuh itu, tentu akan terbeliak dengan wajah pucat! Sebab, sosok itu enak saja memainkan jurus-jurus silatnya di atas rentangan tali yang di bawahnya menganga jurang tak berdasar. Bukan main! Jelas sekali bahwa tokoh penghuni Lembah Maut itu tengah melatih ilmu meringankan tubuhnya di atas rentangan tali sebesar ibu jari itu

"Bagus... bagus...!"

Terdengar seruan memuji yang diiringi tepuk tangan Seseorang tengah berdiri sambil menatap ke arah sosok ramping yang bagaikan tengah menari-nari di atas rentangan tali-tali itu. Raut wajahnya juga terlindung sebuah topeng tengkorak yang mengerikan. Jelas, mereka itulah yang dijuluki sebagai Sepasang Mambang Lembah Maut.

Setelah cukup lama berada di atas rentangan tali, sosok raping itu pun kembali berseru menutup permainannya. Tubuhnya melenting, dan berputar beberapa kali. Kemudian, dia mendarat di samping sosok yang bertubuh agak gemuk. Kilatan cahaya sepasang mata orang yang bertubuh gemuk, jelas menggambarkan kepuasan hati.

"Hm.... Kini kita hanya tinggal menyempurnakan satu ilmu lagi. Setelah itu, dunia persilatan akan gempar! Mereka yang mengaku sebagai pendekar, harus tahu siapa sebenarnya Mambang Lembah Maut!" kata sosok bertubuh gemuk dan jangkung, berkata sambil mengepalkan tinjunya Hingga, terdengarlah suara tulang-tulang yang berkerotokan.

"Benar. Tapi karena musuh kita yang lain telah tewas, maka hanya satu yang kini harus dilenyapkan. Apalagi, orang itu merupakan penghalang besar bagi kita...," sosok yang bertubuh lebih kecil menyahuti, dengan nada geram. Tampaknya, Sepasang Mambang Lembah Maut menyimpan dendam yang dalam. Semua itu terbukti dari ucapan-ucapan mereka!

"Hm...,"gumam sosok yang bertubuh lebih tegap, sambil menengadahkan wajah menatap langit cerah. Sepasang mata di balik kedok tengkorak itu tampak menerawang ke masa lalunya. Sesekali, terdengar helaan napasnya yang berat dan panjang.

"Apa yang tengah kau pikirkan, Kakang Jonggala?" tanya sosok yang lebih ramping, menatap orang yang dipanggil Jonggala.

"Sayang, Resi Begawa yang berjuluk si Cambuk Hujan dan Badai telah tewas, Jonggala. Jadi, kekalahan kita pada beberapa tahun lewat, tidak bisa terbalas. Kalau saja masih hidup, mungkin ia orang pertama bagi percobaan kita...," desah Jonggala sesaat kemudian, wajahnya berpaling kepada kembarannya yang ternyata bernama Jonggali

"Yahhh..., hanya orang tua itulah yang dulu pernah merasakan 'Ilmu Golok Terbang Perenggut Sukma'. Dan, dia pulalah yang bisa menilai kemajuan ilmu itu. Sayang, keinginan kita tidak bisa terlaksana...," sesal Jonggali, orang kedua dari Sepasang Mambang Lembah Maut.

Memang musuh mereka yang bernama Resi Begawa telah tewas. Sehingga, mereka benar-benar menyesalinya. Sebab, tokoh itulah yang menjadi musuh bebuyutan mereka. (Untuk lebih jelasnya, baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Penghuni Rimba Gerantang)

"Sudahlah! Lupakan tentang tua bangka itu, Jonggali. Sebaiknya kita segera menyempurnakan ilmu "Golok Terbang Perenggut Sukma' yang hanya tinggal menyempurnakannya saja. Setelah itu, baru kita tinggalkan Lembah Maut untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang menamakan dirinya pendekar persilatan...," ujar Jonggala yang segera beranjak meninggalkan bibir jurang.

Sehingga, Jonggali pun mau tidak mau harus mengikutinya. Tidak berapa lama kemudian, kembali terdengar bentakan-bentakan keras yang diselingi deru napas bagai kuda pacu. Jelas, Sepasang Mambang Lembah Maut tengah melatih ilmu-ilmu tingkat tingginya.

********************

Desiran angin bertiup silir-silir lembut mengiringi langkah kaki tiga orang laki-laki tegap. Suara gemerincing terdengar mengiringi ayunan langkah mereka, yang berasal dari gelang-gelang baja putih di kedua tangan mereka. Menilik dari beratnya gelang-gelang baja putih di tangan ketiga orang lelaki itu, jelas kalau mereka adalah tokoh-tokoh persilatan.

Dugaan itu memang beralasan. Ketiga orang lelaki gagah itu adalah murid-murid Perguruan Gelang Terbang yang sudah cukup terkenal di kalangan rimba persilatan. Bahkan mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang cukup penting dalam perguruan. Semua itu dapat diketahui dari adanya gelang-gelang baja putih di tangan mereka. Makin sedikit jumlah gelang baja di tangan murid-murid Perguruan Gelang Terbang, makin tinggilah kepandaian yang dimiliki. Hanya saja meskipun jumlah gelang itu lebih sedikit, tapi bebannya jauh lebih berat. Itulah ciri-ciri yang telah tersebar di kalangan persilatan.

"Hanya tinggal sebuah undangan lagi yang tersisa, Karpala, Ratmala. Setelah itu, kita harus segera kembali sebagaimana pesan guru...," kata salah seorang dari ketiga lelaki itu.

Melihat dari jumlah gelang baja yang sembilan ditangannya, jelas kalau lelaki gagah berkumis tipis itu merupakan tokoh tingkat tiga. Demikian pula kedua kawannya yang dipanggil Karpala dan Ratmala. Masing-masing dari mereka mengenakan sembilan gelang baja pada kedua lengannya.

"Benar. Kalau tidak salah, hanya tinggal Pendekar Cakar Maut sajalah yang tersisa. Setelah itu, maka selesailah tugas kita...," timpal orang yang terlihat paling muda, yang bernama Karpala. Pada sepasang matanya tampak tersirat kelegaan, karena tugas yang dibebankan kepada mereka dapat dilaksanakan dengan baik.

"Ssst...!" Tiba-tiba saja lelaki berkumis tipis yang usianya jauh lebih tua ketimbang dua temannya, memberi isyarat sambil meletakkan jari telunjuk di bibir. Keningnya berkerut seolah-olah hendak mempertajam pendengarannya.

"Ada apa, Kakang Sentana...?" tanya Ratmala, lelaki gemuk yang tulang pipinya menonjol. Dia berbisik lirih di telinga kawannya, sehingga suaranya hampir tak terdengar.

Meski demikian, wajah Ratmala tampak tenang. Memang, la sama sekali tidak mengetahui apa maksud tingkah laku aneh saudara seperguruannya yang bernama Sentana. Jelas, hal itu membuatnya penasaran!

"Hati-hatilah...! Entah mengapa, dadaku tiba-tiba berdebar tanpa sebab. Dan..., sepertinya aku mendengar langkah kaki berat. Tapi..., sekarang lenyap begitu saja...," lelaki berkumis tipis yang bernama Sentana itu menjawab, juga dengan nada berbisik. Napasnya terdengar agak memburu, karena hatinya memang tengah dilanda ketegangan.

"Kakang, lihat..."

Belum lagi Sentana dan Ratmala sempat bertukar pendapat, tiba-tiba terdengar teriakan Karpala. Cepat mereka menoleh ke arah yang ditunjuk lelaki kurus bermuka hitam itu.

"Hm.... Siapa mereka...? Apa maksudnya menghadang di tengah jalan? Hati-hatilah. Mungkin mereka memang sengaja hendak membegal kita...," desis Sentana, mengingatkan kedua orang saudara seperguruannya agar berhati-hati. Dia sendiri sudah meraba gagang pedangnya, sambil melangkah maju

Semula, baik Sentana maupun Karpala dan Ratmala, sama sekali tidak merasa gentar dengan kedua orang penghadang itu. Namun keberanian dan semangat mereka langsung terbang seketika, saat mengenali kedua orang berpakaian putih itu. Setelah jarak di antara mereka semakin dekat, nyatalah kalau kedua penghadang itu mengenakan topeng tengkorak!

"Sepasang Mambang Lembah Maut..?!"

Sentana dan dua orang saudara seperguruannya langsung melompat mundur dengan wajah pias! Hampir mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat mereka. Masalahnya, selain kedua orang tokoh sesat itu tidak pernah terdengar lagi dalam kancah rimba persilatan, tempat mereka dihadang sekarang pun cukup jauh terpisah dari Gunung Larang. Jadi, wajar saja kalau Sentana, Karpala Dan Ratmala terkejut setengah mati.

"Mau apa kalian...?! Mengapa menghadang perjalanan kami?" sentak Santana coba memberanikan diri. Wajah laki-laki berkumis tipis itu tampak demikian tegang! Bahkan sepasang tangannya tampak telah dialiri tenaga dalam, dan siap melepaskan gelang-gelang bajanya. Wajar saja, karena untuk menghadapi lawan-lawan berat, senjata andalannyalah yang harus dipergunakan.

"Hm.... Kudengar Perguruan Gelang Terbang hendak merayakan hari ulang tahunnya. Lalu, mengapa kami berdua tidak diundang?" kata sosok yang lebih tegap Suaranya berat dan dalam, tanpa mempedulikan pertanyaan Sentana. Jelas Sepasang Mambang Lembah Maut memang tidak memandang sebelah mata pun kepada murid-murid tingkat tiga Perguruan Gelang Terbang Tentu saja hal itu tidak aneh. Selain merupakan tokoh puncak golongan sesat. Sepasang Mambang Lembah Maut memang memiliki watak yang angkuh, dan tidak pernah sudi menghormati orang lain.

"Jangan tanya kepada kami. Aku dan dua orang saudaraku ini hanya melaksanakan tugas beliau. Soal diundang atau tidaknya kalian, aku sama sekali tidak tahu menahu. Maka, harap menyingkirlah. Beri kami jalan...." Sentana mencoba membela diri dan sebisa mungkin menghindari bentrokan dengan sepasang tokoh maut itu.

"Hm..., kalian hendak pergi ke manakah...?" kali ini sosok yang lebih langsing dan bernama Jonggali yang bertanya. Suara Jonggali terdengar lebih lunak dan nyaring, dan lebih tepat dimiliki seorang perempuan. Sayangnya dalam soal kekejaman, Jonggali sama sekali tidak kalah oleh kembarannya. Bahkan terkadang tindakan dan tingkahnya jauh lebih kejam dan beringas daripada Jonggala.

"Kami hendak mengantarkan undangan kepada Pendekar Cakar Maut. Maka, harap kalian memberi jalan. Undangan ini penting sekali. Dan kalau Pendekar Cakar Maut sampai mendengar adanya orang yang menghalangi perjalanan kami, tentu dia tidak akan tinggal diam. Dengan demikian, berarti kesulitan akan menimpa kalian...," Sentana mencoba menggunakan nama tokoh yang tercantum dalam surat undangannya. Tentu saja, lelaki berkumis tipis itu hanya sekadar menggertak agar tidak sampai diganggu oleh kedua tokoh dari Lembah Maut itu.

Sayang, ucapan Sentana sama sekali tidak digubris Jonggala dan Jonggali. Kedua tokoh sesat itu bahkan tertawa bergelak gelak mendengar ancaman Sentana.

"Hua ha ha..." Jonggala sampai memegangi perutnya yang te- rasa sakit mendengar ancaman itu. Jelas, gertakan Sentana lebih merupakan sesuatu yang lucu, ketimbang sebuah ancaman. Memang begitulah anggapan bagi Sepasang Mambang Lembah Maut.

"Mana surat undangan itu! Berikan padaku ," Sesaat setelah gema tawa mereka lenyap, Jonggala mengulurkan tangannya merenggut tubuh Sentana. Tapi, lelaki gagah berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tentu tidak tinggal diam. Cepat Sentana melompat panjang kebelakang, sehingga cengkeraman Jonggala luput!

Tapi, apa yang kemudian terjadi benar-benar membuat Sentana pucat! Ternyata cengkeraman orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu masih terus mengejarnya! Tentu saja kenyataan itu membuat Sentana kelabakan!

"Gila...?!" umpat Sentana melihat lengan lawan terus memanjang mengincar tubuhnya. Seolah-olah lengan Jonggala bertambah panjang beberapa jengkal! Tentu saja kenyataan itu membuatnya menjadi gugup!

Untunglah pada saat yang gawat bagi keselamatan Sentana, Karpala dan Ratmala bertindak cepat. Terdengar suara gemerincing saat keduanya melolos gelang-gelang baja dari tangan masing-masing. Lalu, mereka melepaskannya dengan pengerahan tenaga dalam yang mereka miliki!

Ziiing! Ziiing!

Empat buah gelang baja berbentuk pipih melesat diiringi suara berdesing tajam! Senjata-senjata berbentuk gelang itu memang tidak bisa dipandang remeh! Karena selain dapat merenggut nyawa lawan dari jarak jauh, gelang itu pun dapat berputar kembali ke arah tuannya. Itulah keistimewaan 'Ilmu Gelang Terbang" yang sudah terkenal di kalangan rimba persilatan.

Jonggala mendengus kasar dengan nada meremehkan. Empat buah gelang baja yang mengincar tubuh dan sikunya, memang berhasil menyelamatkan nyawa Sentana. Tapi untuk itu, kedua adik seperguruan Sentana harus membayar dengan mahal! Buktinya, dengan kecepatan yang sukar diikuti mata, Jonggala memutar lengannya. Langsung dikibasnya keempat senjata itu sehingga berbalik arah.

"Hiaaah...!"

Hebat sekali akibat kibasan lengan yang terlihat sembarangan itu! Setelah mengapung bagai ditahan tangan-tangan yang tak tampak, gelang-gelang baja itu berbalik melesat dengan kecepatan dan kekuatan berlipat ganda!

Crabbb! Crabbb!

"Arghhh...!"

"Akhhh...!"

Dalam waktu yang tidak lebih dari sekejap mata, gelang-gelang baja itu telah menembus leher Ratmala dan Karpala. Mereka ambruk ke tanah. Setelah meregang nyawa sesaat, mereka langsung tewas. Memang, gelang-gelang baja itu telah menembus leher mereka lebih dari separuhnya!

"Bangsat keji...!" maki Sentana kalap.

Tampak kedua orang saudara seperguruannya telah roboh mandi darah! Dengan kemarahan yang meluap-luap, empat buah gelang bajanya diloloskan dari tangannya dan langsung dilepaskan disertai bentakan keras!

Lagi-lagi Jonggala hanya mendengus kasar! Cepat bagai kilat, tangannya berkelebat. Maka tahu-tahu saja, empat buah gelang baja itu telah dapat ditangkapnya! Karuan saja tindakan lawan yang boleh dibilang mustahil itu membuat Sentana terpaku dengan mata terbelalak lebar! Kalau saja tidak melihat dengan mata kepala sendiri, Sentana tidak mungkin mempercayainya.

"Hmhhh...!"

Sayang, Sentana tidak dapat berpikir lebih jauh lagi. Sebab disertai sebuah dengusan kasar, Jonggala telah mengirimkan kembali senjata itu kepada tuannya! Dan....

Ziiing! Ziiing!

"Aaa !"

Sentana meraung begitu gelang baja miliknya menembus tubuh dan lehernya! Tanpa ampun lagi, tubuh lelaki gagah itu pun terjungkal. Dia kelojotan sesaat, lalu diam tak bergerak lagi.

"Hm..., akan kubuat gempar Perguruan Gelang Terbang pada hari perayaan nanti...," desis Jonggala yang kemudian tertawa berkakakan, diikuti Jonggali.

********************

DUA

Hari ini di setiap sudut bangunan Perguruan Gelang Terbang tampak telah terjadi kesibukan. Segala hiasan indah berwarna cerah tampak menghiasi bagian dalam bangunan. Bahkan bendera-bendera yang bertuliskan Perguruan Gelang Terbang, tampak terpancang menyemaraki di pelataran bangunan perguruan itu. Tampaknya Perguruan Gelang Terbang hendak merayakan hari jadinya yang kelima.

Di tengah kesibukan murid-murid Perguruan Gelang Terbang yang tengah bekerja, terlihat seorang lelaki gagah bertubuh kekar sedang berdiri mengamati. Sepasang matanya yang tajam dengan brewok menghias wajahnya, membuat penampilan lelaki itu semakin bertambah angker. Melihat tiga buah gelang perak yang menghias sepasang tangannya, dapat ditebak kalau lelaki itu adalah murid utama Perguruan Gelang Terbang.

"Kakang...," sapa seorang lelaki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Dia menyapa lelaki gagah itu dengan napas agak memburu, seperti begitu tergesa-gesa.

"Ada apa...?" tanya lelaki gagah berwajah brewok itu dengan suara berat.

"Guru menyuruhku untuk memanggil Kakang Panawangan, agar menghadap sekarang juga...," sahut lelaki muda itu sambil mengangguk hormat.

"Hm..., baiklah "

Meski agak heran, lelaki gagah bernama Panawangan itu beranjak juga untuk menghadap guru besarnya. Namun sambil melangkah lebar-lebar, batinnya bertanya-tanya. Maka begitu tiba di dalam bangunan utama, ia langsung masuk ke dalam ruang pertemuan. Didapatinya dua orang murid tingkat satu dan empat murid tingkat dua tengah berkumpul di dalam ruangan.

"Guru...." Panawangan membungkuk memberi hormat, kemudian duduk di hadapan gurunya.

"Panawangan! Tadi aku bertanya kepada Subadra dan Kandira. Kata mereka, Sentana, Ratmaja, dan Karpala belum terlihat kembali. Apa itu betul?" tanya seorang lelaki berkumis lebat, berusia sekitar enam puluh tahun. Laki-laki itu adalah Ki Pangrawit. Atau, lebih dikenal sebagai Pendekar Gelang Maut. Pada kedua lengannya masing-masing terlihat sepasang gelang yang terbuat dari emas.

"Betul, Guru. Aku pun merasa heran atas keterlambatan mereka. Padahal, semestinya kemarin sudah harus tiba di perguruan. Aku khawatir ada sesuatu yang telah menimpa mereka," Panawangan membenarkan keterangan Subadra dan Kandira.

"Hm Rasanya, tidak mungkin mereka sengaja melakukannya. Tapi kalau memang ada sesuatu yang terjadi terhadap mereka, mengapa kita tidak mendapat kabar! Apa sebenarnya yang membuat mereka belum juga kembali...?" gumam Ki Pangrawit pelan sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan lebat.

Sepasang mata tua Ki Pangrawit tampak menyipit, seolah-olah hendak mencari dugaan atas keterlambatan ketiga orang muridnya yang belum juga kembali dari tugas yang diberikan.

"Apa mungkin mereka mengalami kesulitan di jalan...," gumam Subadra, seorang lelaki berwajah kurus yang juga murid utama Ki Pangrawit bergumam lirih. Meski demikian, ucapannya terdengar jelas oleh orang-orang di ruangan itu.

"Kesulitan di jalan...?" gumam Ki Pangrawit dengan kening berkerut. "Rasanya, kemungkinan itu kecil sekali, Subadra. Sebelum berangkat, mereka telah ku pesan tegas-tegas, agar menghindari setiap perkara yang bisa membawa keributan. Dan aku percaya kalau mereka pasti akan mentaatinya."

"Aku rasa, kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi, Guru. Kalau ada orang yang mencari keributan dan terlalu menghina, mungkin saja Sentana dan teman-temannya terpaksa menghadapi," timpal Panawangan, yang memiliki dugaan sama dengan Subadra.

"Hm...," Ki Pangrawit hanya menggumam tak jelas menanggapi pendapat murid-muridnya.

Suasana menjadi hening sejenak, ketika orang tua gagah itu termenung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi terhadap Sentana dan dua orang murid lainnya. Panawangan dan murid-murid lainnya termenung, seperti tengah ikut memikirkan Sentana dan kawan-kawannya yang belum kembali Bahkan bebera- pa orang di antaranya terlihat mengerutkan kening, seperti tengah berpikir keras untuk mencari jawaban atas persoalan itu.

"Hhh..." Terdengar helaan napas berat Ki Pangrawit se- telah kesunyian mengungkungi ruangan itu. "Sudahlah. Sebaiknya kita bersiap-siap menyambut tamu. Untuk sementara, lupakan saja masalah Sentana. Dan, ingat. Persoalan ini jangan diceritakan kepada murid-murid yang lain. Aku tidak ingin perayaan ini terganggu," ujar Ki Pangrawit yang segera membubarkan murid-murid lainnya.

"Baik, Guru..."

Secara serempak, ketujuh orang tokoh Perguruan Gelang Terbang berpamitan meninggalkan ruang itu. Kini, tinggallah Ki Pangrawit termenung seorang diri memikirkan persoalan itu.

********************

Ketika matahari mulai naik tinggi, satu-persatu para undangan mulai berdatangan. Suasana di dalam bangunan Perguruan Gelang Terbang pun semakin bertambah ramai. Hal itu memang tidak terlalu aneh, sebab nama Pendekar Gelang Maut telah dikenal oleh hampir seluruh tokoh persilatan. Tidak heran kalau perayaan itu juga dihadiri pejabat-pejabat pemerintah setempat.

Ki Pangrawit yang duduk di bangku kehormatan bersama tokoh-tokoh seangkatan yang diundangnya, tersenyum penuh kepuasan. Memang, hampir semua yang diundangnya datang menghadiri perayaan itu. Tentu saja hal ini menimbulkan kebanggaan tersendiri di hatinya. Sebab, hal ini berarti namanya masih cukup disegani dan dihormati orang.

Panawangan yang bersama Subadra dan Kandira duduk di belakang gurunya, sejenak mengawasi tempat para undangan yang telah penuh. Berbagai hadiah yang dibawa para undangan telah bertumpuk-tumpuk tiga meja penuh, membuat para murid perguruan itu sempat kewalahan menanganinya. Ki Pangrawit memang menyebar undangan tidak kurang dari tiga ratus, sehingga perayaan itu terlihat sangat meriah.

"Hm.... Rupanya, semakin tua usia perguruan ini semakin terkenal. Selamat kuucapkan untukmu, Pendekar Gelang Maut. Semoga di tahun-tahun mendatang perguruan ini semakin bertambah maju, dan bisa menghasilkan murid-murid pandai berhati luhur," ucap seorang lelaki tinggi kurus mengenakan pakaian sederhana. Dia tampak memberi hormat kepada Ki Pangrawit. Sementara, Ki Pangrawit langsung bangkit menyambut tamunya.

"Terima kasih..., terima kasih. Ah..., kau semakin bertambah gagah saja Ki Janiga. Lima tahun tidak berjumpa, ternyata kau semakin bertambah gemuk. Ha ha ha.... Silakan..., silakan...," sambut Ki Pangrawit tertawa gembira menerima kedatangan lelaki jangkung itu.

"Kau bisa saja, Ki Pangrawit. Apa untuk pujian itu aku harus memberi hadiah yang lebih besar kepadamu?" lelaki jangkung bernama Ki Janiga itu pun tertawa gembira. Sepertinya, pertemuan itu benar-benar membuat mereka gembira.

"Tidak juga, Sahabatku. Yang jelas, aku sangat gembira atas kehadiranmu kali ini. Tidak seperti tahun-tahun lalu, saat kau selalu sibuk dan sulit ditemui," sanggah Ki Pangrawit seraya mempersilakan Ki Janiga untuk memilih tempat duduk.

Ki Janiga menyalami tokoh-tokoh lainnya sebelum menghempaskan pantatnya di atas kursi. Tapi suasana gembira itu tiba-tiba berubah tegang, begitu dari pintu gerbang tempat penerimaan para tamu, terdengar jeritan-jeritan kesakitan. Beberapa orang murid yang ditugaskan menyambut para undangan, tampak terpental ke dalam bangunan perguruan. Jelas, ada kejadian yang tak dinginkan di depan pintu gerbang itu.

"Coba kau lihat, Panawangan. Ada apa di depan sana? Hati-hati, jangan memperpanjang urusan," perintah Ki Pangrawit, sambil tak lupa berpesan.

Tanpa diperintah dua kali, Panawangan segera saja bergerak bangkit dan berlari menuju pintu gerbang utama. Sedang Subadra dan Kandira tetap di tempat, karena tidak berani bertindak tanpa diperintah Ki Pangrawit.

Panawangan yang tiba di depan pintu gerbang, tentu saja menjadi terkejut. Cepat kemarahannya yang sudah naik ke kepalanya ditekan, begitu melihat enam orang yang ditugaskan menyambut kedatangan para tamu telah bergeletakan pingsan. Kalau saja Panawangan tidak teringat pesan gurunya, rasanya batok kepala pengacau itu ingin dihancurkannya.

"Ada apa ini...?" tegur Panawangan, kaku. Memang, biar bagaimanapun kemarahan yang ditekannya itu tidak hilang seluruhnya. Sehingga meski diusahakan untuk tenang, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Lelaki gagah berwajah brewok itu menatap tajam ke arah seorang lelaki gemuk berwajah bulat yang tengah dikepung murid-murid tingkat dua dan tiga. Panawangan heran melihat kilatan kemarahan di mata lelaki gemuk itu. Kemudian, kakinya melangkah lebar menghampiri orang-orang yang telah siap bertarung.

"Kami tidak mengenal lelaki gemuk itu, Kakang. Begitu datang, dia langsung marah-marah. Selain itu, dia juga tidak membawa undangan. Dan ketika kawan-kawan yang bertugas menanyakan secara baik-baik, tapi ia malah menghajarnya. Bahkan sambil memaki Guru Besar kita!" lapor seorang murid tingkat tiga kepada Panawangan.

Sehingga, lelaki gagah itu semakin dalam mengerutkan keningnya. "Orang tua! Siapakah kau! Dan mengapa membuat keributan di tempat ini?!" tegur Panawangan. Sikapnya tetap kaku, meski telah dicoba untuk ramah.

"Hm.... Kau pasti murid Tua Bangka Sombong Pangrawit itu, bukan? Katakan pada Gurumu! Aku, si Cakar Maut datang berkunjung, namun kawan-kawanmu menahanku, dengan alasan kalau aku tidak mempunyai undangan. Padahal, kedatanganku bukan karena tertarik menghadiri perayaan gombal ini! Tapi, kesombongan gurumulah yang membawa langkahku datang ke sini!" sahut lelaki gemuk yang mengaku berjuluk Cakar Maut. Tentu saja pengakuan itu membuat Panawangan terkejut.

"Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Cakar Maut?" desis Panawangan, tak yakin. Di telitinya sosok tubuh lelaki gemuk berusia lima puluh tahun itu. "Maaf, mungkin guruku lupa karena banyaknya sahabat beliau. Tapi, tidak seharusnya kau berbuat sedemikian kasar terhadap murid-murid kami yang tidak berdosa."

Panawangan sepertinya belum percaya sepenuhnya kepada lelaki gemuk itu. Memang, ia tahu betul kalau tokoh berjuluk Pendekar Cakar Maut telah terdaftar namanya dalam undangan. Dan karena tidak pernah berjumpa sebelumnya, maka Panawangan pun masih belum mempercayainya. Maka, rasa tidak senangnya belum juga lenyap.

"Hm.... Masih untung mereka tidak kubikin mampus! Kau tahu! Dengan mengadakan perayaan ini tanpa mengundangku, itu sama artinya Ki Pangrawit tidak memandang mukaku! Dan itu sama saja sebuah penghinaan!" bentak Pendekar Cakar Maut.

Rupanya, laki-laki gemuk itu tidak menerima undangan dari Ki Pangrawit Maka tentu saja tokoh itu marah, karena sama artinya dianggap remeh oleh Pendekar Gelang Maut. Baginya itu merupakan penghinaan!

Mendengar dirinya dibentak-bentak, kontan kemarahan yang semula ditahan-tahan Panawangan, serentak naik ke kepalanya. Karuan saja, wajahnya gelap seketika. Bahkan sorot matanya pun memancarkan kilatan kemarahan.

"Hm... Ucapanmu terlalu sombong, Orang Tua! Apa kau kira begitu mudah membuktikan ucapan itu? Hmh! Dengan ucapanmu itu, sama saja sebuah penghinaan bagi perguruan kami! Dan aku tidak bisa terima!" desis Panawangan, sambil menggertakkan giginya hingga menimbulkan suara bergemelutuk yang cukup jelas.

"Hm.... Sudah kuduga. Perguruan Gelang Terbang telah menjadi besar kepala seiring kemajuannya. Benar-benar mengagumkan. Kalau begitu, mengapa kau tidak segera turun tangan memberi pelajaran kepadaku? Ingin kulihat, apakah kepandaianmu sebesar mulutmu?" ejek Pendekar Cakar Maut yang semakin tersinggung atas sikap Panawangan, yang dianggap tidak sopan terhadap tokoh yang tingkatannya sejajar gurunya.

"Keparat! Siapa takut kepadamu!" bentak Panawangan. Laki-laki berwajah brewok jadi lepas kendali karena merasa diremehkan. Begitu ucapannya selesai, langsung diterjangnya lelaki gemuk yang mengaku sebagai Pendekar Cakar Maut itu.

"Hiaaat...!"

Dengan mengandalkan jurus-jurus tangan kosongnya Panawangan merangsek maju. Terdengar angin berkesiutan saat pukulan dan tendangan lelaki brewok itu meluncur membelah udara!

Whuuut! Whuuut!

"Hm.... Tidak jelek..," desis lelaki gemuk itu sambil menggeser langkahnya menghindari serangan Panawangan.

Sampai lima jurus lamanya, serangan murid utama Ki Pangrawit sama sekali tidak mengenai sasaran, luput tanpa hasil! Memang gerakan lelaki gemuk itu masih jauh lebih cepat ketimbang Panawangan. Dan semua itu semakin menambah kemarahan di hati murid utama Ki Pangrawit!

"Yeaaah...!" Rasa kemarahan dan penasaran membuat Panawangan terhina. Sehingga, serangan-serangan semakin di perhebat Bahkan terlihat sudah mulai menggunakan gelang peraknya sebagai senjata.

"Awasss...!" Ketika pertarungan memasuki jurus yang kedua puluh, Cakar Maut mengejutkan lawannya dengan sebuah seruan tiba-tiba. Pada saat yang sama tubuhnya melompat tinggi, dan langsung melepaskan sebuah tendangan ke dada lawannya.

Karuan saja Panawangan menjadi gugup dibuatnya. Padahal, ia tengah menahan debaran akibat seruan mendadak lawannya. Tapi, pada saat itu pula, Pendekar Cakar Maut tiba-tiba melepaskan tendangan kilatnya. Akibatnya....

Bukkk!

"Hukhhh...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Panawangan langsung terjajar hingga sejauh satu tombak. Merasa kalau lawan sengaja mengurangi tenaganya pada saat menendangnya, membuat Panawangan merasa terhina! Maka kemarahannya pun kian berlipat. Dia merasa kalau lawan terlalu menganggap remeh dirinya.

"Hm.... Hadapilah senjataku. Keparat Sombong...!" geram Panawangan sambil meloloskan gelang perak di lengannya. Sekejap saja, di tangan Panawangan telah tergenggam dua pasang gelang perak.

"Bagus! Ingin kulihat, sampai di mana ilmu yang telah diturunkan orang tua sombong itu kepadamu, Orang Gagah ," ejek Cakar Maut. Wajahnya tampak mengulas senyum, sehingga menyakitkan hati Panawangan.

Ucapan Cakar Maut rupanya bukan hanya sekadar omong kosong: Buktinya, meskipun Panawangan telah menggunakan senjata andalannya, tetap saja tidak bisa mendesak lawan. Memang nyata sekali kalau kepandaian lelaki gemuk itu masih berada di atasnya.

"Hiaaah...!" „ Dalam kepenasarannya, Panawangan mulai menggunakan gelang peraknya sungguh-sungguh. Diiringi sebuah bentakan nyaring, lelaki gagah itu mendadak melompat mundur jauh kebelakang. Sambil melompat, tangannya mengibaskan melepaskan sepasang gelang terbang di tangan kanannya!

Ziiing! Ziiing!

Dua buah gelang perak itu langsung mengaung tajam merobek udara siang! Dan senjata itu terus melaju pesat, mengancam Pendekar Cakar Maut!

"Haiiit...!"

Panawangan tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu sepasang senjatanya terlontar, lelaki gagah itu ikut melesat sambil kembali melontarkan sepasang gelang peraknya yang di tangan kiri! Sebuah serangan hebat, dan Jelas menggambarkan kecerdikan otaknya!

"Bagus...," puji Pendekar Cakar Maut, tulus. Pujiannya kali ini bukan merupakan ejekan. Memang, apa yang dilakukan lelaki gagah itu benar-benar patut dipuji.

"Hiaaah..!" Dibarengi sebuah bentakan keras, tubuh lelaki gemuk itu berputar bagaikan kitiran. Sepasang gelang terbang pertama luput, dan kembali berputar ke arah tuannya. Sedangkan sambaran sepasang gelang perak kedua, dihindari Pendekar Cakar Maut melambung ke atas, dan berputar melewati gelang-gelang lawannya!

Panawangan rupanya tidak sekadar mengandalkan senjata-senjatanya saja. Lelaki gagah itu bahkan menyertainya dengan serangkaian serangan kilat untuk menyusuli senjatanya, sehingga semakin membuat kagum lawannya!

Whuuut! Whuuut!

"Haiiit...!"

Pendekar Cakar Maut membentak keras dalam menyambut pukulan Panawangan. Tubuh gemuk itu bergerak miring ke kiri, meskipun kedua kakinya baru saja menyentuh tanah. Namun serangan Panawangan dapat dihindarinya! Bahkan sebuah cengkeraman mautnya nyaris merobek tenggorokan lawan! **Gila.-.!" desis Panawangan.

Untungnya laki-laki brewok itu telan lebih dulu melompat mundur ke belakang. Sehingga, cengkeraman jari-jari sekeras besi itu tidak sampai mencelakai dirinya!

"Berhenti...!"

Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras yang membuat kedua orang itu menghentikan gerakannya. Berbarengan suara bentakan itu, berkelebat sesosok tubuh yang langsung menjejakkan kakinya di tengah arena pertarungan!

TIGA

"Guru...!"

"Ki Pangrawit..!"

Baik Panawangan mau pun Pendekar Cakar Maut sama-sama berseru ketika mengenali sosok tegap yang melerai pertarungan mereka. Panawangan sendiri sudah langsung membungkuk hormat kepada gu- runya. Sedangkan Pendekar Cakar Maut tetap berdiri tegak dengan tatapan tajam.

Ki Pangrawit menatap Panawangan lekat-lekat Dari kilatan matanya, jelas sekali kalau orang tua itu tidak suka atas kelakuan murid utamanya.

"Kau lupa pesanku tadi, Panawangan...?" tegur Ki Pangrawit penuh kekecewaan.

"Ampun, Guru. Aku tidak mungkin berani melanggar pesan itu kalau saja dia tidak memaksa dan menghina Guru di depanku...," dengan wajah tertunduk, Panawangan mencoba membela diri Jelas, ia tidak mau disalahkan dalam persoalan ini.

"Hm.... Biar bagaimanapun, kau tetap salah, Panawangan. Bukankah kau bisa melaporkannya padaku? Lalu, mengapa tidak kau lakukan? Apakah kau sudah merasa hebat, hingga ingin menyelesaikan masalah ini seorang diri dengan mengandalkan kepandaianmu?" kata Ki Pangrawit, kembali memojokkan Panawangan. Memang bagaimanapun, lelaki gagah itu telah bersalah karena telah mendahului gurunya. Itu yang tidak bisa diterima Ki Pangrawit

"Ampun, Guru. Aku mengaku salah ..." Akhirnya Panawangan tidak bisa membantah lagi. Apa yang dikatakan gurunya sangat jelas dan terang. Dan disadari kebenaran ucapan gurunya itu.

"Hhh..., sudahlah. Lain kali, pikirkanlah dulu sebelum mengambil tindakan," ujar Ki Pangrawit di dahului desahan napas panjang. Kemudian, Ketua Perguruan Gelang Terbang itu berpaling kepada Pendekar Cakar Maut. Tubuhnya segera dibungkukkan, memberi hormat dengan sapaan ramah serta permohonan maaf atas kelancangan muridnya.

"Hmh...!" dengus Pendekar Cakar Maut, kasar. Sikapnya jelas-jelas menyiratkan kesombongan hatinya.

Tentu saja Ki Pangrawit agak heran melihatnya. Setahunya, sahabatnya yang berjuluk Cakar Maut ini sama sekali tidak memiliki perangai sombong. "Maaf, atas semua kejadian yang tidak menyenangkan hatimu. Sahabat Cakar Maut. Kuharap, kau berkenan melupakannya. Sekarang, marilah kita ke dalam. Cukup banyak sahabat kita yang telah berkumpul dan ingin segera berjumpa denganmu," ucap Ki Pangrawit tetap bersabar. Dengan wajah penuh senyum, orang tua itu mempersilakan Pendekar Cakar Maut untuk segera bergabung dengan tamu-tamu lainnya.

"Hmhhh...! Jangan berpura-pura manis, Pangrawit! Katakanlah sejujurnya. Apa maksudmu tidak mengirim undangan kepadaku? Apakah aku sudah sedemikian rendah hingga tidak pantas menghadiri ulang tahun perguruanmu?" dengus Pendekar Cakar Maut. Pendekar Cakar Maut sepertinya tidak tergerak oleh sikap manis sahabatnya. Lelaki bertubuh gemuk itu seperti menuntut jawaban dari Ki Pangrawit

"Tidak mengundangmu...? Mana mungkin. Sahabat! Aku belum gila untuk memutuskan persahabatan di antara kita. Undangan untukmu tentu saja telah kukirimkan. Apakah kau benar-benar tidak menerimanya?" Ki Pangrawit malah bertanya dengan kening berkerut dalam. Jelas sekali kalau orang tua itu merasa terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya.

"Hm.... Jadi, kau telah mengirimkan undangan kepadaku, begitu?" tukas Pendekar Cakar Maut bernada sangat tidak enak didengar.

"Tentu saja ," sahut Ki Pangrawit cepat. Orang tua itu tetap bersabar meski ucapan Pendekar Cakar Maut seperti sengaja memancing kemarahannya.

"Hm... kalau begitu, coba panggil orang yang mengirimkan undangan untukku. Aku ingin melihat, seperti apa orangnya...," kembali Pendekar Cakar Maut mendesak dengan wajah tidak sedap dipandang.

"Itulah yang masih menjadi pikiranku, Cakar Maut. Sebab, sampai hari ini ketiga orang muridku yang bertugas mengantarkan undangan kepadamu belum juga kembali. Apakah kau tidak menerima undangan itu...?" tanya Ki Pangrawit, agak heran.

"Menurutmu sendiri, bagaimana?" sahut Pendekar Cakar Maut cepat. Sikapnya tetap belum berubah.

"Maaf kalau aku terpaksa mencampuri urusan ini..." Tiba-tiba terdengar sebuah suara menimpali. Dari dalam bangunan, melangkah seorang lelaki tinggi kurus yang mengenakan pakaian sederhana.

"Tinju Pemecah Badai...! Rupanya kau sudah datang ke tempat ini. Apakah kau hendak membela Ki Pangrawit..?" seru Pendekar Cakar Maut. Wajahnya terlihat agak berseri begitu mengenali orang yang datang.

Lelaki tinggi kurus yang berjuluk Tinju Pemecah Badai itu tak lain dari Ki Janiga. Langkahnya lebar-lebar menghampiri sahabat-sahabatnya yang tengah bersitegang itu. Dia kemudian memberi hormat kepada Pendekar Cakar Maut, dan berdiri di samping Ki Pangrawit.

"Sahabat, Cakar Maut. Apa yang dikatakan Ki Pangrawit sama sekali tidak bohong. Memang, pada saat aku menerima undangan yang disampaikan melalui tiga orang muridnya, sempat kulihat undangan terakhir yang menurut mereka akan disampaikan kepadamu. Nah, apakah kau pun akan menuduhku sebagai pembohong?" kata Ki Janiga, sambil menatap tajam wajah Pendekar Cakar Maut. Kemudian, kepalanya terangguk memohon pengertian sahabatnya.

Pendekar Cakar Maut termenung ketika mendengar penjelasan Ki Janiga. Sebenarnya, ia pun bukan tidak mempercayai keterangan Ki Pangrawit. Tapi karena merasa terhina dan tidak sudi dianggap remeh, maka la masih bersikap keras kepala. Maka, ikut campurnya Ki Janiga tentu saja membuat Pendekar Cakar Maut tidak enak hati. Sebagaimana Ki Pangrawit, Ki Janiga pun merupakan sahabat baiknya. Dan kini, lelaki gemuk itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mencoba mengerti.

"Baiklah. Tapi, mengapa ketiga orang murid yang kau tugaskan itu tidak sampai ke tempatku? Dan..., benarkan mereka belum kembali?" tanya Pendekar Cakar Maut, meminta penjelasan Ki Pangrawit.

"Aku pun tidak tahu, Cakar Maut. Tapi sebaiknya, kita lupakan saja masalah itu, agar tidak mengganggu jalannya perayaan ini. Mudah-mudahan saja mereka hanya terlambat, dan bukan mengalami musibah...," sahut Ki Pangrawit berharap.

"Ya.... Kalau begitu, maafkanlah tindakanku yang mungkin telah mengganggu jalannya acaramu...," ucap Pendekar Cakar Maut, yang akhirnya bersedia mengerti keterangan Ki Pangrawit.

"Ayolah...," ajak Ki Pangrawit mempersilakan kedua orang sahabatnya ke tempat yang telah disediakan.

Panawangan pun segera beranjak meninggalkan gerbang depan, setelah berpesan kepada para muridnya yang ditugaskan di tempat itu.

********************

"Para sahabat sekalian. Aku sebagai tuan rumah, mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan kalian. Hari ini, adalah hari jadinya Perguruan Gelang Terbang yang kelima. Seperti biasanya, kami akan memperlihatkan kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh murid-murid Perguruan Gelang Terbang. Dan apabila ada sesuatu yang kurang dalam penyambutan maupun pelayanan, harap mohon dimaafkan," Panawangan yang bertugas mewakili Ki Pangrawit untuk membuka perayaan itu, menghentikan ucapannya sejenak. Karena saat itu, terdengar tepuk tangan para tamu menyambut ucapannya. Bahkan sekelompok undangan di sebelah kanan, berteriak-teriak ramai.

"Hidup Perguruan Gelang Terbang...!"

Teriakan-teriakan itu terus bergemuruh bagai hendak meruntuhkan bangunan gedung. Panawangan tersenyum-senyum sambil membungkukkan tubuhnya ke segala arah. Lelaki gagah itu baru melanjutkan ucapannya setelah suara teriakan itu lenyap.

"Seperti biasanya, dalam acara ini kami membuka kesempatan kepada para undangan sekalian untuk mengisi acara bebas ini. Untuk itu, yang berminat silakan naik ke atas panggung..."

Baru saja ucapan Panawangan selesai, terlihat sesosok tubuh bergerak melenting ke udara. Kemudian, kakinya menjejak di atas panggung setelah berputaran di udara. Langsung saja para undangan bertepuk tangan riuh menyambut pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang hebat itu.

"Sahabat! Aku, Rajawali Merah hendak ikut meramaikan pesta ini..." Sambil berkata demikian, lelaki berusia kira-kira tiga puluh tahun berpakaian serba merah itu membungkukkan tubuhnya kepada Panawangan. Kemudian, dia berputar memberi hormat kepada para undangan di tiga penjuru.

"Terima kasih atas kesediaan sahabat...," ucap Panawangan. Laki-laki brewok itu segera saja beranjak turun untuk memberi keleluasaan kepada lelaki muda bertu- buh sedang yang terlihat gesit. Dari caranya melompat ke atas panggung, memang pantas sekali dia memakai julukan 'Rajawali'. Sebab, gerakannya sangat gesit, tak ubahnya seekor burung rajawali yang bermain-main di angkasa.

Namun sayang. Baru saja lelaki berjuluk Rajawali Merah itu bergerak mempertontonkan kebolehannya, tiba-tiba terdengar kegaduhan yang berasal dari gerbang depan. Serentak para tamu menoleh ke arah pintu gerbang. Itu berarti pertunjukan Rajawali Merah sama sekali tidak mendapat perhatian untuk beberapa saat lamanya.

Subadra dan Kandira yang bertugas mengamankan suasana, segera saja bergegas menuju gerbang. Beberapa saat kemudian, salah satu di antaranya telah kembali bersama seorang lelaki gagah. Dilihat dari pakaiannya, dapat ditebak kalau lelaki itu merupakan anggota pengawal barang. Kini, orang itu menghadap Ki Pangrawit dengan diantar Kandira.

"Kami ditugaskan dua orang yang tidak dikenal untuk menyampaikan hadiah ini kepada Ketua Perguruan Gelang Terbang. Mereka mohon maaf, karena tidak bisa hadir meramaikan pesta yang diadakan Perguruan Gelang Terbang..." Sambil berkata demikian, lelaki gagah berusia sekitar empat puluh tahun itu menyerahkan sebuah peri berukir kepada Ki Pangrawit. Sementara, Ketua Perguruan Gelang Terbang itu segera menyambutnya

"Apakah Kisanak tidak mengenal kedua orang itu?" tanya Ki Pangrawit, dengan sikap wajar. Memang pada peti yang cukup besar itu tidak tertera nama pengirimnya.

"Maaf. Kami sama sekali tidak mengenal kedua orang itu. Tapi menurut mereka, Ki Pangrawit akan segera tahu setelah membuka peti itu. Mungkin di dalamnya terdapat keterangan, siapa pengirim hadiah itu...," jelas lelaki pengawal barang itu menerangkan.

"Hm...," Ki Pangrawit hanya bergumam dengan kening berkerut. Karena merasa penasaran. Lelaki tua itu segera saja membukanya di depan beberapa murid dan sahabatnya. Dan....

"Aaah !?"

"Keji...!"

Berbagai seruan terdengar saling bersahutan, saat peti itu di buka Ki Pangrawit. Wajah lelaki tua itu seketika menjadi gelap. Sepasang tangannya mengepal memperdengarkan suara berkerotokan buku-buku jarinya.

"Biadab...!" desis Ki Pangrawit, gemetar. Orang tua yang biasanya sabar dan bijaksana itu, ternyata tidak sanggup menahan kemarahannya. Memang, dia telah menyaksikan bentuk hadiah yang dikirimkannya melalui perkumpulan pengawal barang itu.

Pendekar Cakar Maut dan Tinju Pemecah Badai menjadi penasaran. Keduanya segera melangkah melihat wajah Ki Pangrawit yang nampak dijalari kemarahan besar itu.

"Aaah...?!" seru Pendekar Cakar Maut, kaget ketika melihat isi peti.

Demikian pula halnya Ki Janiga. Pendekar bertubuh tinggi kurus itu mendesis geram begitu melihat bentuk hadiah yang diterima sahabatnya.

"Ya..., Sentana, Karpala dan Ratmana inilah yang kutugaskan mengirimkan undangan kepada sahabat-sahabatku. Termasuk, kau dan Cakar Maut. Rupanya, inilah yang membuat undangan itu tidak sampai ke tanganmu, Cakar Maut...," sahut Ki Pan- grawit seraya menundukkan wajahnya. Kemudian segera ditutupnya kembali peti berukir indah itu.

Pendekar Cakar maut yang merasa bersalah dalam hal ini segera saja menyambar leher baju lelaki gagah yang mengantarkan hadiah itu. Gerakannya demikian cepat, sehingga tidak sempat lagi dihindari. Sehingga, tahu-tahu tubuh lelaki gagah itu telah terangkat ke udara dalam cengkeraman Pendekar Cakar Maut!

"Katakan, siapa yang menyuruhmu mengirimkan hadiah terkutuk itu! Jawab! Kalau tidak, kepalamu terpaksa kuhancurkan sekarang juga!" bentak Pendekar Cakar Maut dengan wajah merah padam. Kepalan tangan kanannya terlihat telah siap merenggut nyawa orang itu.

Tentu saja perbuatan yang tak disangka-sangka ini membuat lelaki gagah itu pucat. Sadar, kalau ia tidak mungkin selamat dari ancaman maut itu. Sehingga, keringat dingin pun mulai merembes membasahi pakaiannya.

"Aku..., aku sungguh-sungguh tidak tahu, Ki. Mereka sama sekali tidak mengatakannya...," kata lelaki gagah itu. Dia semakin bertambah ciut nyalinya setelah mengenali orang yang mengancam dirinya.

"Bohong! Sekali lagi, kuberi kesempatan! Jawab sejujurnya, atau kau tunggu mereka di akhirat!" ancam Pendekar Cakar Maut lagi, tak percaya terhadap keterangan orang itu.

Ki Pangrawit yang melihat kejadian itu segera saja bertindak mencegah. "Sabarlah, sahabat. Orang ini memang tidak bersalah. Sebagai pengawal barang, tentu saja ia tidak perlu bertanya panjang lebar mengenai diri pelanggannya. Aku yakin, ia berkata benar," bujuk Ki Pangrawit sambil menepuk bahu Pendekar Cakar Maut.

Maka, lelaki gemuk itu mengendorkan cekalannya, dan melepaskannya begitu saja. Karuan saja lelaki gagah anggota pengawal barang itu terbanting jatuh di tanah, karena pendekar Cakar Maut melepaskannya secara mendadak.

"Aku merasa malu sekali kepadamu, Pangrawit. Maaf kalau aku tidak bisa menahan diri setelah tahu kalau tiga buah kepala itu adalah murid-muridmu yang bertugas mengantarkan undangan untukku. Bukankah secara tidak langsung aku ikut terlibat di dalamnya?" bantah Pendekar Cakar Maut yang kemarahannya masih juga belum lenyap.

"Kau tidak perlu merasa bersalah dalam hal ini. Menurutku, orang yang melakukan perbuatan biadab ini memang sengaja. Mengenai siapa mereka, aku belum jelas," ujar Ki Pangrawit dengan wajah berduka. Jelas sekali kalau ia cukup terpukul atas kejadian yang menimpa ketiga orang itu. Bahkan wajahnya yang semula cerah, tampak mendung kelabu. Namun, dia masih bisa menahan kesabarannya.

"Yang jelas, dia pasti seorang tokoh sesat berhati keji. Mustahil seorang tokoh golongan putih sampai tega melakukan kebiadaban seperti ini...," timpal Ki Janiga. Sepertinya, Tinju Pemecah Badai pun tergerak jiwa kependekarannya menyaksikan kejadian yang menimpa perguruan sahabatnya.

"Hhh.... Sudah bertahun-tahun aku tidak meninggalkan perguruan. Kalau pun ada tokoh-tokoh sesat yang mendendam kepadaku, mungkin aku sudah tidak ingat lagi," desah Ki Pangrawit yang tidak bisa mengambil kesimpulan mengenai si pembunuh keji itu.

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sama-sama termenung, mendengar jawaban Ki Pangrawit. Memang, seperti halnya orang tua itu, mereka pun jarang meninggalkan tempat kediamannya untuk bertualang. Sehingga untuk menduga siapa yang masih menyimpan dendam terhadap" Pendekar Gelang Terbang, tentu saja sangat sulit.

Sementara itu, perayaan ulang tahun Perguruan Gelang Terbang masih berlangsung semarak. Ki Pangrawit yang tidak ingin acaranya terganggu, meminta kepada yang lain untuk tidak menceritakan masalah yang baru saja terjadi. Mereka pun kembali ke tempat semula, setelah anggota pengawal barang itu memohon pamit. Ki Pangrawit yang berusaha untuk menahan, terpaksa, melepaskan kepergian lelaki pengawal barang itu. Karena, Ketua Perguruan Gelang Terbang maklum akan kesibukan sebagai pengawal barang

"Selamat jalan, Kisanak. Kuharap, kau bersedia memberitahukan apabila si pengirim hadiah itu datang menemuimu kembali," ucap Ki Pangrawit berbasa-basi. Memang la sendiri yakin kalau pengirim tiga kepala muridnya itu tidak mungkin akan menemui pengawal barang itu lagi

********************

EMPAT

Semenjak melihat kiriman tiga kepala muridnya, Ki Pangrawit tidak lagi banyak bicara. Orang tua itu lebih banyak termenung, ketimbang menyaksikan pertunjukan-pertunjukan di atas panggung. Semua sikap Pendekar Gelang Terbang tidak lepas dari pengamatan dua orang sahabatnya. Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut hanya bisa menghela napas melihat kemurungan sahabatnya.

Namun mereka tidak banyak bicara. Seperti halnya Ki Pangrawit, kedua tokoh itu juga tidak memperhatikan pertunjukan di atas panggung. Padahal, saat itu para undangan berteriak-teriak memberi semangat kepada jago masing-masing. Memang di atas panggung tengah terjadi pertarungan persahabatan yang sangat seru. Pertarungan itu hanya untuk meramaikan perayaan berdirinya Perguruan Gelang Terbang yang kelima.

Sedangkan Panawangan yang bertindak sebagai pembawa acara, memperhatikan pertunjukan di atas panggung dengan wajah berseri. Lelaki gagah murid utama Ki Pangrawit itu sama sekali tidak sempat memperhatikan sikap gurunya yang duduk di sebelahnya. Semua perhatiannya tercurah pada pertarungan seru di atas panggung. Bahkan dia juga tidak tahu kalau adik seperguruannya tertimpa musibah yang sempat membuat gurunya resah.

Sesekali terlihat Panawangan mengangguk-angguk kagum terhadap sosok berpakaian merah yang terlihat mulai mendesak lawannya. Lelaki gagah bercambang bauk itu benar-benar terpesona oleh penampilan tokoh yang berjuluk Rajawali Merah itu. Meskipun sudah mengalahkan lima orang lawan sebelumnya, namun kegesitan serta tenaga Rajawali Merah sama sekali tidak kelihatan berkurang. Terbukti pada pertarungan keenam, Rajawali Merah masih mampu mendesak lawannya. Dari kenyataan itu saja, sudah menandakan kelihaian Rajawali Merah.

"Hebat sekali tokoh yang berjuluk Rajawali Merah itu. Guru. Rasanya kali ini pun, ia pasti akan memenangkan pertarungan kembali," bisik Panawangan, di sebelah kiri Ki Pangrawit.

Ketika tidak mendengar tanggapan gurunya, Panawangan mengangkat wajahnya. Langsung ditatapnya Ki Pangrawit. Memang, ketika berbisik tadi, matanya tak lepas dari pertarungan sengit di atas panggung, tanpa memandang wajah gurunya.

Ki Pangrawit yang tengah termenung dengan pikiran tak menentu, sama sekali tidak sadar kalau kening Panawangan berkerut menyaksikan wajah murungnya. Kini Panawangan sadar kalau semenjak tadi gurunya sama sekali tidak memperhatikan pertarungan di atas panggung. Tentu saja sikap Ki Pangrawit menimbulkan tanda tanya besar di hati murid utamanya.

"Guru...," panggil Panawangan hati-hati dengan sedikit tekanan untuk mengembalikan kesadaran orang tua itu. Karena Ki Pangrawit tetap tidak berpaling, akhirnya Panawangan menyentuh lengan gurunya perlahan. Tak lama kemudian....

"Ehhh?!" Sentuhan Panawangan yang hanya perlahan itu ternyata mengakibatkan Ki Pangrawit tersentak kaget. Bahkan langsung melompat bangkit dari kursinya. Karuan saja Panawangan ikut-ikutan tegang!

Sadar akan sikapnya yang tidak wajar, Ki Pangrawit kembali menghempaskan pantatnya di atas kursi. Terdengar helaan napasnya yang berat dan panjang. Sehingga membuat kerutan di kening Panawangan semakin dalam.

"Kau mengejutkanku, Panawangan..." Terdengar desisan tak senang keluar dari orang tua itu. Dari tatapan tajam yang menyorot wajah murid utamanya, jelas kalau Ki Pangrawit berusaha menelan kejengkelannya.

"Maaf, Guru. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Tapi, mengapa Guru kupanggil berkali-kali tidak juga mendengar? Apakah ada sesuatu yang dipikirkan?" tanya Panawangan.

"Betulkah...?" tanya Ki Pangrawit, tak yakin akan keterangan muridnya.

Panawangan hanya mengangguk untuk memastikan keterangannya. Kemudian, lelaki gagah itu menatap gurunya, untuk minta penjelasan atas sikap aneh orang tua itu.

"Hhh... Mungkin aku hanya sedikit lelah, Panawangan. Tapi, kau tidak perlu cemas. Setelah perayaan ini selesai, tentu aku bisa banyak beristirahat," desah Ketua Perguruan Gelang Terbang itu. Ki Pangrawit terpaksa berbohong, karena tidak ingin Panawangan ikut memikirkan apa yang telah menimpa tiga orang muridnya. Apa lagi, hal itu bisa-bisa mengganggu kelancaran acara yang menjadi tugas Panawangan. itu sebabnya, Ki Pangrawit terpaksa berbohong.

Kembali Panawangan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian kembali berpaling ke atas panggung. Saat itu, pertarungan sudah semakin memuncak dan bertambah seru

"Saudara-saudara sekalian..."

Baru saja Panawangan hendak melanjutkan acara yang bagi para tamu sangat menarik, tiba-tiba terdengar jerit kematian susul-menyusul. Cepat-cepat lelaki gagah itu menoleh ke arah deretan tamu di sebelah kanan panggung. Kening Panawangan tampak berkerut ketika melihat para undangan yang berada di tempat itu berlarian meninggalkan tempatnya masing-masing. Subadra dan Kandira yang sudah tiba di tempat itu menjadi pucat selebar wajahnya. Betapa tidak, sebab delapan orang undangan terlihat menggelepar di atas tanah mirip seperti ayam disembelih dengan mulut berbusa.

"Apa yang terjadi terhadap mereka...?" tanya Subadra, sambil menangkap lengan seorang undangan untuk dimintai keterangannya. Dalam ketegangannya, Subadra sampai tidak menyadari ada tenaga dalamnya yang tersalur melalui jari-jari tangannya. Lelaki itu baru tersadar setelah melihat wajah orang yang dicekalnya meringis kesakitan.

"Maaf..., maaf...," ucap Subadra sambil melepaskan cekalan tangannya. "Tolong jelaskan, apa yang telah terjadi terhadap mereka?"

Seorang tamu bertubuh raksasa menghampiri Subadra. Dari sorot matanya yang tajam, Subadra tahu kalau orang itu tengah menahan kemarahan.

"Kalian orang-orang Gelang Terbang sengaja berpura-pura tidak tahu! Mereka tewas setelah minum air yang dihidangkan murid-murid Perguruan Gelang Terbang! Jelas, kalian sengaja hendak membunuh tokoh-tokoh persilatan untuk menguasai rimba persilatan! Jangan kira aku tidak tahu akal busuk ini!" bentak lelaki bertubuh raksasa itu dengan wajah merah padam. Tentu saja tuduhan itu membuat amarah Subadra bangkit seketika.

"Jaga mulutmu, Kisanak! Ucapanmu itu bisa membuat keruh suasana! Sebaiknya, teliti dulu sebelum melemparkan tuduhan kotor itu kepada kami! Bisa saja kau yang justru melakukannya dengan mengkambinghitamkan Perguruan Gelang Terbang!" Dengan wajah yang juga merah padam, Subadra melempar balik tuduhan yang dilontarkan oleh lelaki bertubuh raksasa itu. Sehingga, lelaki bertubuh raksasa itu tidak dapat lagi menahan kemarahannya!

"Keparat kau, Manusia Licik! Kau harus bayar mahal tuduhan itu! Sambut pukulanku...!" sentak lelaki bertubuh raksasa itu kemudian dia melompat disertai luncuran kepalanya yang sebesar kepala bayi!

Whuuut!

Subadra pun tidak sudi jadi sasaran empuk begitu saja! Pukulan yang mengancam dadanya segera dielakkan dengan menarik mundur tubuhnya ke belakang! Kemudian dengan kecepatan berbahaya, murid utama Ki Pangrawit itu langsung melepaskan sebuah tendangan kilat ke tubuh lawan!

Plakkk!

"Uhhh...?!" Bukan main terkejutnya Subadra ketika tubuhnya terdorong akibat tangkisan lengan kekar berbulu lebat itu. Baru disadari kalau lelaki bertubuh raksasa Itu memiliki tenaga luar yang sangat besar. Maka, ia segera melompat mundur dan mengatur serangannya kembali.

"Kupecahkan batok kepalamu. Manusia Licik...!" Lelaki bertubuh raksasa itu kembali melesat dengan pukulannya yang susul-menyusul Sambaran angin menderu-deru menyertai lontaran kepalan yang besar dan mengerikan.

Sebagai murid utama Ki Pangrawit, tentu saja Subadra telah memiliki bekal yang cukup. Pertarungan pun kembali berlanjut, dan bertambah seru! Mereka saling terjang bagaikan dua orang musuh bebuyutan yang ingin membunuh lawan satu sama lain. Tentu saja keadaan tempat itu menjadi kacau!

Pertarungan yang terjadi antara Subadra dan lelaki bertubuh raksasa itu terus menjalar ke tamu-tamu lainnya. Ucapan lelaki bertubuh raksasa itu telah mempengaruhi tamu-tamu yang lain. Sehingga, semakin kewalahanlah para murid Perguruan Gelang Terbang menahan gelombang serangan para undangan yang kebanyakan terdiri dari tokoh-tokoh persilatan.

Suasana yang semula semarak oleh tepuk sorak dan keakraban, kini berubah menjadi medan pertempuran yang kacau dan tidak beraturan. Bahkan, beberapa orang murid Perguruan Gelang Terbang mulai jatuh mandi darah! Hal Itu wajar saja, karena yang harus dihadapi adalah tokoh-tokoh persilatan yang telah malang melintang dan banyak pengalaman. Sehingga, pihak Perguruan Gelang Terbang nampak terdesak hebat!

Sedangkan di atas panggung, Panawangan hanya memandang bingung. Sungguh tidak pernah dibayangkan kalau suasana yang semula meriah, akan menjadi medan pertarungan yang membawa maut. Kenyataan yang tiba-tiba membuatnya terkesima untuk beberapa saat lamanya.

Rajawali Merah yang saat itu masih berada diatas panggung, berpaling ke arah lelaki gagah itu dengan pandangan curiga. Tentu saja tatapan penuh curiga itu membuat Panawangan naik pitam. Namun dengan cepat ia berusaha menekan rasa jengkel, dan mencoba memberi pengertian kepada Rajawali Merah yang nampaknya sudah terpancing dengan kata-kata Longgawa.

"Tidak perlu bersandiwara lagi, Panawangan. Semua yang terjadi di sebelah kanan panggung telah kudengar. Huh! Sungguh tidak kusangka kalau Perguruan Gelang Terbang ternyata berhati busuk!" bentak Rajawali Merah sambil menudingkan jari telunjuknya ke wajah Panawangan. Jelas, tokoh yang tidak terikat perguruan manapun itu, telah terpengaruh ucapan lelaki bertubuh raksasa tadi. Makanya, dia langsung naik pitam, dan Panawangan-lah sasarannya.

"Jangan bodoh, Kisanak. Lebih baik kita berbicara baik-baik. Aku yakin, pasti ada orang yang menjadi dalangnya, dan sengaja mengadu domba kita semua. Harap kau sudi membantu kami untuk menjernihkan masalah ini. Percayalah kami tidak sebusuk persangkaanmu," bantah Panawangan.

Laki-laki brewok itu masih memberikan pengertian kepada tokoh muda yang berjuluk Rajawali Merah. Tapi tentu saja semua itu bukan karena Panawangan merasa gentar terhadapnya, la hanya tidak ingin suasana menjadi semakin keruh apabila mereka ikut bertarung.

Sementara itu, Ki Pangrawit, Ki Janiga, dan Pendekar Cakar Maut berusaha menarik mundur murid-murid Perguruan Gelang Terbang. Ketiga orang tokoh berkepandaian tinggi itu berusaha menyelamatkan anggota Gelang Terbang, dengan memukul mundur tokoh-tokoh persilatan yang tengah dilanda kemarahan.

Ki Pangrawit sendiri merasa berterima kasih terhadap kedua orang sahabatnya yang tidak terpancing. Ngeri juga orang tua itu membayangkan nasib perguruannya, apabila Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sampai ikut memusuhi Perguruan Gelang Terbang. Untunglah, kekhawatirannya tidak sampai menjadi kenyataan. Sehingga, Ki Pangrawit bisa menarik napas lega

Dengan kepandaiannya yang tinggi, ketiga tokoh sakti itu berhasil menggiring murid Ki Pangrawit hingga dapat bersatu. Dengan adanya ketiga tokoh sakti dibarisan depan, semua tokoh persilatan yang menggempur murid-murid Perguruan Gelang Terbang dapat dipukul mundur.

Panawangan yang merasa bersyukur karena telah dapat membujuk Rajawali Merah, segera menggabungkan diri dengan pihak murid-murid Gelang Terbang. Ki Pangrawit mengucap syukur melihat tokoh muda berjuluk Rajawali Merah tidak ikut terpengaruh. Memang, biarpun kepandaian tokoh muda itu masih berada di bawah kepandaiannya, tapi bisa mendatangkan kesulitan juga apabila ikut-ikutan dengan tokoh persilatan lainnya!

Dengan dibantu tiga murid utama dan Rajawali Merah, ketiga tokoh sakti itu mulai dapat memecah kekuatan lawan. Sehingga, kedua belah pihak kini saling berhadapan dalam jarak satu tombak.

"Sahabat sekalian, harap hentikan pertumpahan darah yang tiada guna ini...!"

Dengan pengerahan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, Ki Pangrawit berseru untuk menghentikan pertarungan berdarah ini. Orang tua itu berdiri gagah ditemani Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut, Rajawali Merah, dan murid-murid utamanya. Mereka berdiri berjajar melindungi murid-murid Gelang Terbang, dan para undangan yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat.

Seorang lelaki bertubuh raksasa menyibak kerumunan tokoh-tokoh persilatan, dan melangkah maju ke depan. Di lari-kanannya ikut menyertai delapan orang tokoh persilatan. Seolah-olah kedelapan tokoh persilatan itu hendak melindungi lelaki bertubuh raksasa yang bertindak sebagai wakil mereka.

"Ki Pangrawit..!" geram lelaki bertubuh raksasa itu dengan wajah gelap, "Kau tidak perlu mungkir lagi! Telah ku saksikan sendiri kematian tokoh persilatan yang meminum air suguhan murid-muridmu! Kalau kau memang ingin menguasai dunia persilatan, jangan begitu caranya. Kau bisa mengundang para tokoh untuk memperebutkan jago nomor satu di negeri ini melalui sebuah pertandingan jujur. Dan bukan kelicikan seperti yang kau lakukan ini! Tak kusangka, ternyata Pendekar Gelang Terbang memiliki hati kejam dan licik!"

"Dengar, Longgawa. Selama mengenalku, pernahkah kau menemukan sifat jahat dan licik padaku? Pernahkah kau mendengar bahwa aku berniat menjadi jago nomor satu? Telitilah baik-baik. Aku khawatir, semua ini adalah perbuatan orang-orang golongan hitam yang hendak memecah belah kita. Sadarilah kekeliruan ini sebelum terlambat," sahut Ki Pangrawit memberi keterangan panjang lebar kepada orang yang bernama Longgawa itu.

Untuk beberapa saat lamanya, Longgawa dan para tokoh lainnya saling bertukar pandang. Jelas, ucapan Ki Pangrawit cukup mengena di hati Longgawa dan para tokoh persilatan lainnya. Memang, selama mereka mengenal Ki Pangrawit dalam rimba persilatan sebagai orang yang belum pernah berbuat kesalahan. Sehingga, Longgawa dan para tokoh lainnya menjadi ragu.

"Longgawa! Kau pun cukup mengenalku, bukan?" Ki Janiga yang dalam kalangan persilatan berjuluk Tinju Pemecah Badai, juga ikut angkat bicara untuk melerai perselisihan diantara kedua tokoh itu.

"Aku cukup mengenalmu, Ki...," jawab Longgawa tanpa keraguan sedikit pun. Bahkan beberapa orang tokoh persilatan ikut menganggukkan kepalanya tanda mengenal tokoh yang berjuluk Pendekar Pemecah Badai itu.

"Nah! Katakanlah dengan jujur, bagaimana tindakanku dalam menangani kejahatan yang baru kau dengar selama ini? Apakah aku akan membela orang yang salah walaupun ia sahabat baik, atau keluargaku?" tanya Ki Janiga lagi, tenang.

"Tapi..., aku melihat sendiri apa yang menimpa delapan orang tokoh persilatan itu. Mereka tewas setelah meneguk minuman yang disuguhkan, murid-murid Ki Pangrawit," bantah Longgawa. Tokoh bertubuh raksasa itu memang tidak jauh dari korban-korban keracunan yang tewas seketika itu juga.

"Hm.... Kau belum menjawab pertanyaanku, Longgawa. Masalah lain bisa diselesaikan setelahnya," tukas Ki Janiga, terhadap ucapan Longgawa yang seperti hendak membela diri.

"Baiklah. Aku memang tidak mungkin meragukan jiwa pendekarmu, Ki Janiga. Dan aku pun percaya kalau kau akan menindak tegas setiap kejahatan meski keluargamu sendiri yang harus ditindak. Tapi..."

"Cukup!" potong Ki Janiga tegas. "Nah! kalau sekarang aku membela Ki Pangrawit, apakah bukan berarti aku telah melakukan tindakan yang benar? Lalu, apa pendapatmu tentang tindakanku ini? Apakah aku telah membela orang yang salah?"

Ki Janiga terus memojokkan Longgawa dengan mengandalkan jawaban lelaki bertubuh raksasa itu. Sehingga, Longgawa tidak mampu menjawab untuk beberapa saat lamanya.

"Aku harus mendengar sendiri penjelasan Ki Pangrawit mengenai kematian para tokoh persilatan yang keracunan itu. Sesudah itu, mungkin aku bisa mempertimbangkannya." Akhirnya, hanya ucapan itulah yang keluar dari mulut Longgawa. Jelas, lelaki bertubuh raksasa itu telah menyerah.

"Bagus. Kalau begitu, mari kita bicarakan baik-baik," ajak Ki Janiga.

Kini Ki Janiga merasa lega karena pertumpahan darah itu tidak berkelanjutan dan memakan korban terlalu banyak. Kemudian, dibawanya Longgawa dan delapan tokoh persilatan itu ke dalam ruang pertemuan Perguruan Gelang Terbang. Ki Pangrawit, Pendekar Cakar Maut, dan Rajawali Merah ikut menyertainya. Sedangkan Panawangan, Subadra, Kandira dan murid-murid Perguruan Gelang Terbang di tempat, menanti keputusan perundingan itu.

LIMA

Tidak berapa lama kemudian, Ki Pangrawit dan para tokoh lainnya keluar dari dalam ruang pertemuan. Wajah-wajah mereka tampak tidak setegang semula. Sehingga, baik pihak murid-murid Perguruan Gelang Terbang maupun tokoh persilatan sama-sama menarik napas lega.

Ki Pangrawit melangkah menghampiri ketiga orang murid utamanya. Jelas, Panawangan dan dua orang lainnya sudah tidak sabar lagi ingin mendengar penyelesaian dari kejadian itu.

"Kalian tetaplah berjaga-jaga di sini, bersama murid yang lain. Ingat, jangan buat kesulitan baru," pesan Ki Pangrawit Kemudian, dia berbalik meninggalkan Panawangan, Subadra, Kandira yang hanya mengangguk bingung.

Longgawa juga berbuat hal yang serupa. Tokoh bertubuh raksasa itu berpesan kepada yang lain agar tidak bertindak sendiri-sendiri. Setelah itu, dia beranjak mengikuti langkah Ki Pangrawit bersama para tokoh lain. Ki Pangrawit terus membawa Longgawa dan para tokoh persilatan menuju bagian dapur.

"Nah! Kalau air yang kami suguhkan memang benar dibubuhi racun, pastilah semua air yang disediakan di sini juga mengandung racun. Untuk itu, biarlah ku percayakan kepada Ki Janiga," kata Ki Pangrawit, setelah tiba di bagian belakang bangunan utama perguruan.

"Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan kepadaku, Ki Pangrawit," ucap Ki Janiga. Si Tinju Pemecah Badai itu memang tahu banyak tentang masalah racun. Maka segera saja dipe- riksanya tempat-tempat air teh yang telah disediakan untuk keperluan pesta perayaan.

Dengan wajah agak tegang, Ki Pangrawit dan yang lain menanti hasil pemeriksaan Ki Janiga. Bahkan Longgawa merasa agak gelisah.

"Bagaimana, Ki...?" Longgawa langsung bergerak maju ketika Ki Janiga membalikkan tubuhnya, setelah selesai memeriksa. Wajah tokoh itu tampak agak gelap. Sehingga, Ki Pangrawit menjadi berdebar karenanya.

"Kau menemukan di dalam minuman-minuman itu, Ki Janiga?" tanya Ki Pangrawit yang mendadak hatinya berdebar melihat wajah murung sahabatnya.

"Hhh.. " Ki Janiga menghela napas berat dan menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah kecewa. "Aneh! Semua minuman di sini ternyata mengandung racun jahat yang mematikan..."

Longgawa menghela napas lega mendengar jawaban Ki Janiga. Maka segera saja lelaki bertubuh raksasa itu berpaling menatap Ki Pangrawit Senyum kemenangan tampak menghias wajahnya.

"Nah, sekarang apa jawabanmu setelah mendengar hasil pemeriksaan Ki Janiga? Apakah kau ingin mungkir lagi?" terdengar ucapan bernada sinis dari mulut Longgawa.

Ki Pangrawit sama sekali tidak menimpali ucapan Longgawa. Orang tua yang tubuhnya masih nampak gagah itu menoleh ke kiri dan kanan, seperti tengah mencari sesuatu. Kemudian, dia terus bergerak ke belakang tanpa mempedulikan tatapan heran yang lainnya.

Longgawa yang kini benar-benar merasa yakin kalau Ki Pangrawit jelas bersalah, segera saja bergerak mengejar. Sepertinya, lelaki bertubuh raksasa itu hendak mencegah Ki Pangrawit melarikan diri.

"Hendak lari ke mana kau, Ki Pangrawit..?" seru Longgawa sambil melesat mengejarnya.

Ki Janiga dan tokoh lainnya tentu saja heran terhadap tingkah laku Ki Pangrawit. Bergegas para tokoh itu bergerak mengejar ke arah taman belakang Perguruan Gelang Terbang. Longgawa merasa geram terhadap Ki Pangrawit, segera mengerahkan ilmu lari cepatnya. Setelah berjumpalitan beberapa kali, lelaki itu mendarat empuk satu tombak di depan Ki Pangrawit. Hal itu terjadi bukan karena ilmu lari Longgawa lebih hebat, tapi karenaKi Pangrawit memang tidak bermaksud melarikan diri.Itu sebabnya, Longgawa dapat menyusul orang tua itu.

"Hm... Hendak lari ke mana kau, Ki Pangrawit? Lebih baik menyerah, sebelum tokoh-tokoh persilatan menghancurkan perguruan ini!" ancam Longgawa.

Ki Pangrawit tertegun sejenak ketika mendengar ancaman itu. Sepertinya, orang tua sakti itu baru sadar kalau sikapnya telah menimbulkan dugaan bahwa ia hendak melarikan diri. Tampak Ki Pangrawit menahan langkahnya, lalu menarik napas panjang.

"Longgawa! Kalau aku memang bersalah, tidak nanti aku mengambil tindakan pengecut melarikan diri. Maaf kalau sikapku telah menimbulkan dugaan jelek. Terus terang aku bukan hendak melarikan diri seperti yang kau duga. Tapi, aku ingin mencari murid-muridku yang bertugas menyiapkan hidangan untuk para tamu. Kau lihat sendiri, di ruang tadi tidak nampak satu pun dari mereka," jelas Ki Pangrawit bernada tetap tenang. Karena, ia sama sekali tidak merasa berbuat salah.

"Lalu, mengapa kau pergi dengan sikap mencurigakan? Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?" tanya Longgawa tetap waspada. Rupanya, laki-laki bertubuh raksasa itu siap untuk menghadapi kalau-kalau orang tua itu menyerang selagi berbicara. Jelas, kepercayaan Longgawa terhadap Pendekar Gelang Terbang telah pudar.

"Aku jelas mencurigai keadaan ini. Sebab aku yakin, perbuatan ini pasti dilakukan orang-orang licik yang hendak mengadu domba kita. Untuk itu, bantulah aku menemukan murid-muridku yang bertugas di dapur. Carilah di sekitar taman ini. Kalau tidak, biarlah aku rela menebus kesalahan yang tidak pernah kulakukan itu," ujar Ki Pangrawit setengah meminta.

Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut, dan para tokoh lainnya yang baru tiba di tempat itu segera saja menyebar begitu mendengar ucapan Ki Pangrawit. Jelas, mereka masih menaruh sedikit kepercayaan kepada orang tua itu. Longgawa sendiri segera beranjak meninggalkan Ki Pangrawit, setelah melihat tokoh-tokoh lain telah memenuhi keinginan orang tua itu. Meski dengan separuh hati, lelaki bertubuh raksasa itu ikut juga mencari murid-murid yang dimaksudkan Ki Pangrawit. Beberapa saat setelah para tokoh itu berpencar, terdengar siulan nyaring yang panjang. Sebentar saja,para tokoh persilatan itu telah berlarian mendatangi asal siulan.

"Ada apa. Rajawali Merah...?" Ki Pangrawit dan Longgawa bertanya bersamaan. Mereka menatap Rajawali Merah, seperti meminta penjelasan arti siulan itu.

"Lihatlah sendiri di semak-semak itu...," sahut Rajawali Merah sambil menuding semak-semak yang berada satu tombak di sebelah kanannya.

Tanpa diperintah dua kali, Ki Pangrawit dan Longgawa seperti berlomba menyibakkan semak pepohonan itu. Dan apa yang ada dibalik semak-semak itu, membuat mata mereka terbelalak!

"Biadab...!" desis Ki Pangrawit ketika melihat tidak kurang dari sepuluh mayat muridnya yang ditugaskan di bagian dapur. Tentu saja kenyataan itu membuat Ki Pangrawit geram.

Longgawa sendiri terdiam tanpa mampu berkata-kata. Sebab dengan bukti mayat-mayat petugas dapur itu, tentu saja membuatnya terpaksa harus minta maaf, dan menarik tuduhannya terhadap Ketua Perguruan Gelang Terbang.

"Dugaanku ternyata keliru, Ki Pangrawit. Harap kau sudi memaafkan kesalahanku," desah Longgawa, penuh penyesalan.

"Tidak perlu meminta maaf padaku, Longgawa. Tindakanmu tidak seluruhnya salah. Hanya saja, lain kali kita harus lebih berhati-hati dalam menghadapi suatu masalah," sahut Ki Pangrawit, sehingga membuat Longgawa tersenyum pahit

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sedangkan kematian murid-murid Ki Pangrawit dan tokoh-tokoh persilatan lain masih belum jelas." Rajawali Merah yang merasa penasaran atas kejadian itu mengutarakan rasa penasarannya.

"Hm.... Karena masalah ini jelas merupakan masalah perguruanku, biarlah aku yang akan menyelidikinya. Longgawa, jelaskanlah masalah ini kepada yang lain. Dan, bawa mereka kembali ketempatnya masing-masing," ujar Ki Pangrawit kepada para tokoh persilatan yang berkumpul di tempat itu. Terutama sekali, kepada Longgawa. Karena lelaki raksasa itu memang merupakan wakil dari tokoh-tokoh persilatan yang diundangnya.

"Kami akan menetap di tempatmu untuk sementara. Tentu saja, kalau kau tidak keberatan." Ki Janiga bersama Pendekar Cakar Maut dan Rajawali Merah rupanya bersepakat membantu Ki Pangrawit untuk menyingkap teka-teki ini.

Longgawa dan delapan orang tokoh persilatan lain segera berpamitan kepada keempat orang tokoh itu. Kemudian, mereka berlalu untuk memenuhi permintaan Ki Pangrawit.

********************

Seorang pemuda tampan berjubah putih tampak tengah melangkah ringan menyibak rerumputan hijau. Rambutnya yang terurai dengan ikat kepala putih, tampak melambai tertiup angin yang sesekali berhembus keras. Bibirnya selalu membentuk senyum ramah, membuat orang merasa suka. Meskipun, baru sekali bertemu dengannya. Dia memang pemuda yang gagah dan menarik.

Di sebelah kiri pemuda tampan itu, seorang gadis berpakaian serba hijau melangkah mengiringinya. Wajahnya tampak demikian jelita, dan penuh daya pikat Menatap wajah gadis itu, mengingatkan orang akan dongeng kecantikan bidadari. Sebatang pedang yang tergantung di pinggang kirinya, menandakan kalau gadis itu adalah tokoh rimba persilatan.

Tentu saja dugaan itu tidak salah, karena sepasang anak muda itu tak lain Pendekar Naga Putih dan Kenanga yang selalu bertualang untuk menumpas keangkara murkaan. Panji dan Kenanga yang melangkah dengan tatapan lurus ke depan, sama-sama seperti menyipitkan mata ketika melihat kepulan debu tebal di depannya.

"Lebih baik kita menepi, Kenanga. Sepertinya di depan sana ada serombongan orang berkuda yang akan melintasi jalan ini," ujar Panji yang segera menggenggam tangan dara jelita itu. Kemudian Kenanga dibawanya ketepi.

Kenanga sama sekali tidak membantah. Dara jelita itu menurut saja ketika Panji membawanya ke tepi. Tidak berapa lama kemudian, dari jarak sekitar sepuluh tombak tampak serombongan orang berkuda tengah menuju ke arah mereka. Mereka segera menundukkan kepala, untuk menghindari debu yang bisa mengotori wajah mereka.

"Heyaaa...! Heyaaa...!"

Terdengar teriakan-teriakan nyaring yang diiringi suara gemuruh kaki kuda. Sebentar kemudian, rombongan itu pun telah melewati sepasang pendekar ini. Tapi sebelum debu-debu yang mengepul itu lenyap tersaput angin, tiba-tiba rombongan penunggang kuda yang berada di belakang segera menghentikan lari kudanya. Tentu saja hal itu membuat Panji dan kekasihnya menoleh, hendak mengetahui apa yang membuat rombongan itu berhenti.

Kenanga mengerutkan keningnya ketika melihat rombongan itu berbalik kembali ke arah mereka. Karena sempat melirik wajah-wajah mereka ketika melintas disampingnya, kecurigaan dara jelita itu pun timbul. Apalagi wajah-wajah kasar yang sempat dilihatnya meski sekilas itu menunjukkan kalau mereka bukan orang baik-baik.

"Mereka kembali, Kakang...," kata Kenanga, seolah-olah hendak meminta pendapat kekasihnya.

"Mmm... Mungkin mereka hendak menanyakan sesuatu kepada kita," sahut Panji yang tetap bersikap tenang, meski tahu akan perasaan hati kekasihnya

"Menurutku, bukan itu yang mereka kehendaki. Menilik dari wajahnya, jelas mereka bukan orang baik-baik. Mungkin sebangsa perampok yang tengah mencari mangsa," bantah Kenanga, mengungkapkan dugaannya.

"Kalaupun begitu, apa yang dapat mereka rampas dari kita? Rasanya, salah alamat kalau kita hendak dirampok," sahut Panji sambil tersenyum.

Terus-terang ada keharuan yang sempat menyelinap di relung hati Pendekar Naga Putih. Jelas, ucapannya itu mengingatkannya kalau Kenanga sama sekali tidak memakai perhiasan, sebagaimana wanita-wanita umumnya. Kenanga yang sempat menangkap semua itu dari tatap mata kekasihnya, segera saja tersenyum. Kemudian, jemarinya menggenggam hangat jemari pemuda itu.

"Kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Kakang. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Selain itu, aku pun tidak pernah menuntut yang bukan-bukan darimu. Jadi hal itu jangan sampai mengganggu pikiranmu," hibur Kenanga sambil meremas jemari pemuda itu sebagai ungkapan rasa bahagianya.

Panji tidak sempat lagi menimpali ucapan kekasihnya. Karena, saat itu rombongan penunggang kuda telah berada satu tombak dihadapan mereka. Tiga orang dari penunggang kuda itu terlihat melompat turun dari atas punggung kuda. Sikap mereka tampak angkuh dengan wajah dibuat sebengis mungkin. Jelas, rombongan penunggang kuda itu seperti sengaja mencari gara-gara.

"Adakah yang bisa kami bantu, Kisanak...?" tanya Panji, seraya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Kenanga sudah menundukkan kepala dalam-dalam. Memang ia tidak ingin kilatan matanya yang memancarkan kemarahan sampai terlihat oleh rombongan itu. Karena akan menimbulkan keributan di antara mereka.

"Hm…."

Ketiga orang lelaki kasar yang sepertinya pimpinan rombongan itu hanya bergumam, tanpa mempedulikan pertanyaan Panji. Mereka kemudian mengitari pasangan pendekar itu dengan mata tak lepas dari sosok berpakaian hijau itu.

"Hm.... Kau benar-benar bersedia membantu kami, Kisanak...?" Tiba-tiba salah satu dari ketiga orang itu menghampiri Panji. Sepertinya, ada maksud tersembunyi dalam ucapannya.

Panji tersenyum menatap wajah penuh cambang bauk itu. "Kalau aku bisa, aku ikhlas membantu kalian. Katakanlah. Mudah-mudahan saja aku dapat membantu:..," jawab Panji, tenang. Sebuah jawaban yang cerdik, dan sukar dicari kelemahannya.

Lelaki bercambang bauk dengan sepasang mata agak redup itu terdiam beberapa saat. Setelah beberapa kali melirik ke arah Kenanga, ia kembali melanjutkan ucapannya.

"Kalau begitu, tolong bantu kami. Tinggalkanlah gadis ini. Untuk itu, aku akan sangat berterima kasih sekali."

"Aaah... Kalau itu, tentu saja aku tidak dapat membantu. Mintalah yang lain. Maka, aku berjanji akan membantu, itu pun kalau bisa...," sahut Panji tanpa rasa terkejut sedikit pun. Memang, sejak semula pemuda itu telah menduganya.

"Hm.... Ternyata kau pendusta, Anak Muda! Tadi kau katakan akan menolong kami. Tapi nyatanya...!" hardik lelaki bermata sayu itu sambil menuding wajah Pendekar Naga Putih. Terlihat ancaman maut membayang diwajahnya.

"Hm kau salah, Kisanak. Tadi sudah kukatakan, kalau aku bisa. Tapi yang ini..., tentu saja tidak bisa. Jadi maaf kalau aku telah mengecewakan kalian...," sahut Panji tanpa mempedulikan kemarahan lelaki brewok itu.

"Aaah! Mengapa mesti bertele-tele. Hajar saja, habis perkara!" bentak yang lain tak sabar. Begitu ucapannya selesai, orang berhidung besar itu langsung mencabut sebuah golok panjangnya. Kemudian, diayunkannya golok itu ke leher Panji!

Whuuut!

Ayunan golok panjang itu meluncur deras diiringi suara mengaung tajam! Tapi kecepatan dan kekuatan serangan itu sama sekali tidak membuat Panji gugup. Bahkan gerakan orang itu terlihat masih terlalu lambat bagi Pendekar Naga Putih. Maka tanpa kesulitan sedikit pun, pemuda itu sudah menggeser tubuhnya, sehingga luput dari incaran mata golok lawan!

"Setaan..!" Lelaki berhidung besar itu tentu saja semakin bertambah penasaran. Golok di tangannya berputar cepat, kemudian dia kembali meluruk tajam mengan- cam pemuda berjubah putih itu.

Untuk kali ini, Panji tidak berusaha mengelak Sudah dapat diukurnya kekuatan tenaga lawan, melalui sambaran pertama tadi. Maka pada serangan kali ini, Panji hanya berdiri tegak menanti datangnya mata golok yang hendak memenggal lehernya!

Beuuut! Trakkk!

"Aaakh ?!" Lelaki berhidung besar itu memekik kesakitan! Pedang di tangannya terpental dalam keadaan patah! Sedang ia sendiri terlempar hingga satu setengah tombak jauhnya! Bahkan tangan kanannya yang menggenggam golok, terlihat bengkak dan berwarna hijau kebiruan.

"Iblisss...!"

Dua orang pimpinan rombongan orang berkuda itu mendesis dengan wajah pucat! Mereka sempat menyaksikan begitu mata golok menghantam leher, terlihat adanya lapisan kabut bersinar putih keperakan yang muncul tiba-tiba di seluruh tubuh pemuda itu. kemudian kabut itu lenyap kembali setelah lawannya terpental! Itulah yang membuat mereka gentar!

"Hm..." Panji yang sepertinya ingin membuat kapok para penunggang kuda itu, kembali mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Kemudian bertiuplah angin dingin yang menusuk tulang.

"Brrr..."

Dua orang kepala rombongan yang tengah menarik bangkit kawannya, kontan menggigil kedinginan dengan gigi bergemelutuk. Jelas mereka yang bertiga berada paling depan tentu saja terpengaruh hawa dingin yang diciptakan Pendekar Naga Putih.

"Mari kita pergi...," ajak lelaki brewok bermata sayu dengan suara gemetar karena kedinginan.

Sedangkan para anggota lainnya yang masih berada di atas kuda telah lebih dulu dilarikan kuda-kuda mereka, pada saat hawa dingin itu muncul. Panji dan Kenanga hanya menatap kepergian rombongan itu dengan tarikan napas lega.

"Hm.... Untunglah mereka dapat kuusir hanya dengan gertakan saja. Padahal, kalau sampai terjadi pertarungan belum tentu aku dapat menundukkan mereka dalam waktu singkat..," desah Panji.

Kenanga hanya menghela napas panjang mendengar ucapan Panji. Gadis itu bukan tidak tahu, apa yang dilakukan kekasihnya. Memang, Pendekar Naga Putih mengusir rombongan penunggang kuda itu dengan mempergunakan kesaktiannya tanpa harus bertempur lama. Masalahnya kalau sampai pertempuran terjadi, bukan tidak mungkin akan banyak jatuh korban dari rombongan yang berjumlah 10 orang itu, termakan pedangnya. Kenanga jelas mengerti maksud pemuda itu.

Panji yang melihat dara jelita itu tercenung, segera saja mengulurkan tangannya. Langsung direngkuhnya bahu Kenanga. Kemudian, mereka melangkah tanpa melanjutkan perjalanan.

"Apakah perjalanan menuju Perguruan Gelang Terbang jadi dilanjutkan?" tanya Panji.

"Kurasa, kalau tidak datang rasanya tidak enak, Kakang," sahut Kenanga.

"Tapi kita sudah terlambat, Kenanga."

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Aku yakin, Ki Pangrawit mau memaklumi kita. Jelaskan saja persoalannya, kenapa kita terlambat," tegas Kenanga.

Kemudian sepasang pendekar itu melangkah tenang menuju Perguruan Gelang Terbang

********************

ENAM

Cahaya merah jelaga yang menghias langit sebelah Barat, tampak telah mulai pudar. Sebentar kemudian, senja pun menunjukkan kekuasaan. Kegelapan terus merambat, menyelimuti permukaan bumi. Dan kini, malam pun mulai datang.

Malam itu, di dalam ruang pertemuan Perguruan Gelang Terbang, tampak Ki Pangrawit mengumpulkan ketiga orang murid utamanya. Demikian pula ketiga tokoh persilatan yang merupakan sahabat dan juga tamunya. Tokoh-tokoh itu berkumpul untuk membahas kejadian yang telah menimpa Perguruan Gelang Terbang baru-baru ini.

"Apakah kau sudah mempunyai dugaan, Ki..?" tanya Rajawali Merah. Dia memang menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk membantu Perguruan Gelang Terbang yang tengah dilanda musibah.

"Hhh.... Sayang sekali, aku belum bisa menemukan tokoh yang telah sekeji itu. Dari sekian banyak tokoh sesat yang menjadi musuhku, tak seorang pun yang menggunakan racun dalam setiap kejahatannya. Jadi, bisa dikatakan kalau aku telah gagal menemukan si pembuat onar itu..." ujar Ki Pangrawit dengan wajah kecewa.

Sepasang mata Ketua Perguruan Gelang Terbang tampak menatap ketiga orang sahabatnya penuh harap. Jelas, Ki Pangrawit mengharapkan agar ketiga orang sahabatnya membantu untuk menemukan si pembuat onar.

"Bagaimana denganmu, Ki Janiga? Apakah penyelidikan mu membawa hasil..?" Pendekar Cakar Maut menoleh ke arah Tinju Pemecah Badai yang tampak terangguk-angguk dengan kening berkerut. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Hhh..." Ki Janiga menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Pendekar Cakar Maut. "Ada suatu yang aneh kutemukan dalam penyelidikanku beberapa hari ini," lanjut Ki Janiga.

Semenjak hari kejadian, Ki Janiga telah meninggalkan Perguruan Gelang Terbang untuk melakukan penyelidikan. Dan baru siang tadi kembali. Sedangkan Pendekar Cakar Maut dan Rajawali Merah, baru kembali sore tadi. Itulah sebabnya, mengapa mereka baru berkumpul malam ini.

"Keanehan seperti apa yang kau maksudkan, Ki Janiga? Tolong kau jelaskan secara rinci, agar kami tidak bertanya-tanya," desak Ki Pangrawit, tak sabar.

"Benar, Ki. Atau kau memang sengaja hendak membuat teka-teki agar kami menduga-duga?" timpal Rajawali Merah yang sama tidak sabarnya dengan Ki Pangrawit.

Sedangkan Pendekar Cakar Maut dan tiga murid utama Ki Pangrawit terdiam menunggu jawaban Ki Janiga.

"Pertama-tama, aku mendatangi perkumpulan pengawal barang yang mengantarkan bingkisan tiga kepala murid Ki Pangrawit Terus terang, aku merasa aneh dengan keterangan tentang ciri-ciri pelanggan yang menyuruh mereka mengantarkan peti itu. Maka, aku harus berkeliling untuk mencari orang yang mirip dengan yang digambarkan pengawal barang itu. Sayang, aku gagal menemukannya. Anehnya, aku tidak bisa percaya kalau orang itu yang telah mengecoh kita. Rasanya tidak mungkin! Kalian tahu, siapa orang yang dimaksudkan kelompok pengawal barang itu...?" tanya Ki Janiga mengakhiri ceritanya.

Tentu saja, yang lain langsung menggelengkan kepala. Mungkin enggan untuk berpikir, atau memang benar-benar tidak tahu, yang jelas, jawaban itu membuat Ki Janiga tersenyum, dan siap melanjutkan ceritanya.

"Tunggu dulu...!" Tiba-tiba saja Pendekar Cakar Maut mengangkat tangannya. Serentak semua yang berada di ruangan itu menoleh ke arah lelaki gemuk itu, termasuk juga Ki Janiga.

"Kau bisa menduganya, Cakar Maut..?" desak Ki Janiga meminta ketegasan tokoh itu.

Pendekar Cakar Maut mengangguk pasti.

"Kalau begitu, mengapa tidak segera kau sebutkan?" desak Ki Pangrawit. Ki Pangrawit menjadi semakin tak sabar ketika melihat Pendekar Cakar maut seperti sengaja membuat penasaran. Bagaikan tidak merasa bersalah, lelaki gemuk itu mengusap-usap kening seolah tengah berpikir keras.

"Hm...! Kalau tidak salah, ciri-ciri yang kau sebutkan tadi mirip pimpinan gerombolan perampok. Sebenarnya, mereka bertiga. Dan mereka dijuluki sebagai Tiga Brewok Hutan Larang. Apakah dugaanku salah, Ki Janiga...?" tebak Pendekar Cakar Maut sambil mengembangkan senyum.

"Dugaanmu tepat. Cakar Maut. Lalu, dapatkah kau lihat keanehannya, apabila dihubungkan dengan peristiwa yang menimpa Perguruan Gelang Terbang?" Ki Janiga melontarkan pertanyaan itu. Seolah-olah dia mengetahui sampai di mana kecerdikan Pendekar Cakar Maut.

"Tentu saja aku tahu, Ki Janiga. Gerombolan perampok itu tidak seberapa kuat. Bahkan kepandaian tiga orang pemimpinnya masih belum mampu untuk melawanku. Jadi tidak mungkin rasanya kalau gerombolan perampok itu berani berbuat macam-macam terhadap Perguruan Gelang Terbang. Jadi, ini pasti ada orang di belakang layar yang sengaja menggunakan mereka untuk membingungkan kita," jelas Pendekar Cakar Maut. Kening pendekar bertubuh gemuk itu menjadi berkerut ketika teringat akan tokoh tersembunyi yang sengaja hendak mengadu domba tokoh-tokoh golongan putih.

"Tepat! Ternyata kau masih dapat berpikir jernih. Cakar Maut. Itulah yang tengah ku pikirkan. Tokoh tersembunyi, yang sengaja menggunakan Tiga Brewok Hutan Larang untuk mengecoh kita. Sayang, aku belum bisa menduga siapa adanya tokoh licik itu...," desah Ki Janiga menggelengkan kepala.

"Mengapa tidak kita cari saja gerombolan perampok itu? Dari mereka, kita bisa minta keterangan. Bukankah hal itu tidak terlalu sulit?" usul Rajawali Merah yang semenjak tadi hanya mendengarkan saja.

"Ah! Kau ini bagaimana, Rajawali Merah. Sepertinya yang kukatakan tadi, perampok-perampok itu telah kabur entah ke mana. Mungkin setelah persoalan ini selesai, mereka baru kembali. Tapi kita tidak boleh menyerah, dan harus mampu membongkar teka-teki manusia licik itu" tegas Ki Janiga seraya mengepalkan tinjunya erat-erat. Sehingga, yang lainnya ikut terpengaruh oleh ketinggian semangat Ki Janiga.

"Hua ha ha...!"

Baru saja ucapan Ki Janiga selesai, tiba-tiba terdengar gaung suara yang mengandung kekuatan hebat, dan mendirikan bulu roma. Karuan saja ketujuh orang tokoh itu serentak bangkit, dan berlari keluar ruangan.

Ki Pangrawit yang tiba di luar lebih dahulu, memandang berkeliling. Lelaki berusia enam puluh tahun namun masih tampak gagah itu terkejut melihat obor-obor di kedua sudut bangunan perguruan tampak padam. Tidak terlihatnya penjaga-penjaga di atas pintu gerbang, membuat Ki Pangrawit segera menyadari kalau murid-muridnya mungkin telah tewas!

Ki Janiga dan yang lain berdiri berjajar di depan pintu ruang pertemuan. Para tokoh itu sama-sama terkejut saat melihat obor yang menerangi gerbang depan telah padam seluruhnya.

"Hm Ada musuh yang telah menyusup ke dalam bangunan ini," bisik Ki Janiga di dekat telinga Ki Pangrawit.

Orang tua itu hanya mengangguk sambil tetap mengedarkan pandangan ke kegelapan malam. Panawangan yang sempat mendengar bisikan Ki Janiga, tentu saja menjadi khawatir terhadap nasib saudara-saudaranya yang tengah berjaga di pos pintu gerbang. Rasa kekhawatiran itu membuatnya segera melesat menuju gerbang.

Melihat perbuatan muridnya, tentu saja Ki Pangrawit menjadi terkejut bukan main! Cepat tubuhnya ikut melesat sambil berseru mencegah!

"Panawangan, tahan !"

Kekhawatiran Ki Pangrawit rupanya bukan hanya dugaan kosong. Terbukti pada saat tubuh Panawangan melesat ke gerbang depan yang berjarak kira-kira sepuluh tombak dari mereka, terlihat dua sosok bayangan putih melayang bagaikan seekor elang hendak menyambar anak ayam!

"Awaaas !"

Ki Janiga dan para tokoh lain yang melihat dua kilatan mirip cahaya putih itu segera saja berseru memperingatkan! Mereka juga tidak tinggal diam. Sambil berseru, tubuh para tokoh itu segera melesat disertai pengerahan seluruh ilmu lari cepat.

Ki Pangrawit yang merasakan adanya bahaya mengancam muridnya, segera saja mendorong tubuh Panawangan hingga tersungkur mencium tanah! Sedangkan la sendiri segera menjatuhkan dirinya, sambil melepaskan tendangan ke arah salah satu dari kedua sosok bayangan putih yang mengancamnya!

Namun, sosok bayangan putih yang tengah mengulurkan cengkeramannya itu sama sekali tidak menarik pulang serangannya. Dengan gerakan cepat dan sukar ditangkap mata, sosok bayangan putih itu memutar pergelangan lengannya, dan langsung menangkis tendangan Ki Pangrawit!

Plakkk!

"Aaakh...!" Terdengar jerit tertahan yang dibarengi ledakan bagai sambaran petir!

Sosok bayangan putih itu melenting kembali ke udara, karena pada saat itu juga Ki Janiga dan yang lain telah datang menyelamatkan Ki Pangrawit. Kalau tidak, pastilah Ketua Perguruan Gelang Terbang yang terdorong dalam keadaan rebah terlentang itu, tidak akan terlepas dari susulan cengkeraman maut sosok bayangan putih tadi.

"Uhhh.... Gila! Apa sebenarnya yang telah menyerangku itu? Tenaga dan kecepatannya benar-benar mengiriskan. Rasanya, aku belum pernah menyaksikannya! Untunglah kalian cepat tiba." desah Ki Pangrawit

Ketua Perguruan Gelang Terbang itu kemudian bergerak bangkit dengan agak terpincang. Jelas, tangkisan telapak tangan sosok bayangan putih tadi telah membuatnya menderita. Pergelangan kaki kanannya terasa nyeri dan agak membengkak.

"Jangan meremehkan kepandaian sendiri, Ki. Meskipun aku menduga begitu, tapi kau tidak dalam keadaan siap. Lain halnya dengan sosok bayangan itu, yang memang telah menyiapkan serangan sebelumnya. Jadi, wajar saja kalau kau menderita kerugian karenanya," hibur Ki Janiga sambil menepuk bahu sahabatnya perlahan.

Panawangan sendiri sudah bergerak bangkit, dan segera meminta maaf atas kecerobohannya. Kini, ketujuh tokoh itu berkumpul di halaman depan bangunan utama, menanti kedua sosok bayangan putih yang lenyap entah kemana.

"Hua ha ha.... Dengarlah, hai tokoh-tokoh pendekar berhati sombong! Mulai hari ini, kalian akan ku bantai satu persatu. Seperti halnya, ketiga orang murid Perguruan Gelang Terbang, dan juga para tokoh yang tewas keracunan. Hanya saja, kalian kuberi kesempatan untuk membela diri. Nah, bersiaplah. Akan segera ku mulai..."

Suara tanpa wujud itu terdengar jelas, bagai muncul dari segala sudut bangunan Perguruan Gelang Terbang Tentu saja hal itu membuat Ki Pangrawit dan yang lain menjadi terkejut setengah mati.

"Keparat..! Pengecut itu sengaja menggunakan 'Ilmu Memecah Suara'. Dengan begitu, kita tidak akan dapat menduga di mana iblis-iblis itu bersembunyi. Benar-benar licik..!" desis Ki Pangrawit

Ketua Perguruan Gelang Terbang itu menjadi terkejut ketika mengenali ilmu yang dipergunakan sosok bayangan putih yang entah berada di mana. Diam-diam, timbul kekhawatiran dalam hatinya, karena dari ilmu itu bisa ditebak kalau lawan memiliki kepandaian sangat tinggi. Semua itu terbukti dengan 'Ilmu Pemecah Suara' yang setahunya merupakan ilmu langka dan sulit dipelajari.

"Gila...! Siapa sebenarnya orang gila itu? Lalu apa pula alasannya sehingga kita dimusuhi...?" Ki Janiga yang juga mengetahui tentang 'Ilmu Pemecah Suara', tentu saja tidak kalah terkejutnya dengan Ki Pangrawit.

"Hai, Manusia-manusia Pengecut! Mengapa kalian tidak berani menampakkan diri?! Kalau memang hendak bertarung, keluarlah! Kami tidak sudi berhadapan dengan manusia pengecut'" Pendekar Cakar Maut yang merasa marah, segera saja berteriak menantang. Lelaki gemuk itu menatap berkeliling sambil bertolak pinggang. Dengan tatapan matanya yang tajam, dicobanya mencari tempat musuh-musuhnya bersembunyi.

"Heee...!"

"Akh...!"

Mendadak, baru saja ucapan Pendekar Cakar Maut selesai, terdengar pekikan-pekikan parau uang saling susul. Karena pekikan-pekikan nyaring itu juga menggunakan 'Ilmu Pemecah Suara', tentu saja ketujuh orang tokoh ini menjadi kebingungan. Mereka tidak bisa menduga secara pasti, di mana lawan memulai serangan. Ki Pangrawit yang tidak bergerak dari tempatnya, menatap tajam menggunakan tenaga batinnya. Dengan begitu, meski tidak terlalu jelas, arah serangan lawan dapat dirasakannya.

"Awaaas...!" Ki Pangrawit cepat berseru mengingatkan, ketika menangkap dua buah sinar putih melesat ke arah mereka dari sebelah kanan!

Serentak para tokoh persilatan itu berpencaran ke segala arah! Namun, kesaktian dua sosok bayangan putih itu benar-benar mengerikan! Bagaikan dua ekor burung besar tubuh keduanya berputar tanpa menginjak tanah, kemudian terus melesat berbarengan ke arah Panawangan! Panawangan sadar kalau dirinya jadi sasaran pertama dua sosok bayangan putih itu. Maka, segera saja gelang peraknya yang dua pasang, segera diloloskan dan langsung dilontarkan sekuat tenaga begitu kedua sosok itu datang mendekat!

Ziiing! Ziiing!

Dua pasang gelang perak itu langsung meluncur diiringi suara mengaung tajam!

"Bagus...," terdengar pujian keluar dari salah satu bayangan putih itu.

Sayangnya pujian itu bukan berarti mereka tidak sanggup mematahkan serangan gelang perak Panawangan. Memang, dengan ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai taraf kesempurnaan, tidak sulit bagi sosok bayangan putih itu untuk menghindar dari gelang perak Panawangan.

Apa yang dilakukan sepasang bayangan putih itu benar-benar membuat Panawangan dan yang lain ternganga! Betapa tidak? Untuk kesekian kalinya, kedua sosok tubuh itu kembali melenting tanpa menyentuh tanah lagi. Benar-benar sebuah ilmu meringankan tubuh yang sangat langka, dan jarang ada duanya di dunia.

Meskipun serangan gelang peraknya dapat dihindari lawan dengan cara melenting ke atas, namun Panawangan tidak putus asa. Gelang perak yang kini tinggal sepasang di tangannya, kembali dilontarkan sesaat, setelah serangan pertamanya gagal!

"Hiaaah...!"

Kali ini sepasang gelang perak Panawangan hanya mengancam salah satu dari kedua sosok bayangan putih itu. Sedang dua pasang gelang yang pertama dilepaskannya, telah berputar balik kembali kepada tuannya. Sayang, serangan yang kedua itu pun terpaksa harus gagal!

Ternyata, sosok bayangan putih yang terancam sepasang gelang perak Panawangan cepat mengulurkan tangan, tanpa khawatir jari-jarinya terpapas! Lagi-lagi, Panawangan harus menerima kenyataan pahit! Begitu telapak tangan sosok bayangan putih itu terulur, sepasang gelang terbang Panawangan berhenti dan melayang di udara. Seolah-olah kedua gelang perak itu seperti kupu-kupu yang jinak Tentu saja kenyataan itu cukup mengejutkan! Dan dalam sekejap mata, sosok bayangan putih melontar balik gelang terbang Panawangan dengan kecepatan berlipat ganda!

Wuuung! Wuuung!

Diiringi sebuah gaung tajam, dua buah gelang terbang itu meluncur tanpa terlihat jelas bentuknya. Yang terlihat hanyalah dua sinar perak yang bergerak bagai kilat, mengancam leher dan dada Panawangan! Hebatnya, sepasang gelang terbang itu tiba lebih dulu daripada dua pasang gelang terbang yang tengah meluncur balik ke arah tuanya. Dan...

"Arrrgh...!" Panawangan memekik begitu sepasang gelang perak miliknya amblas hingga hampir tak terlihat! Kedua gelang terbang itu melesat ke dalam leher dan dada majikannya! Benar-benar sebuah kematian yang menyedihkan!

"Panawangan...?!" Ki Pangrawit berseru parau. Kejadian yang sangat singkat itu tidak sempat dicegahnya. Dan hal ini merupakan sebuah pukulan berat bagi batin Ki Pangrawit. Murid utamanya terpaksa tewas di depan matanya, tanpa mampu untuk diselamatkannya! Benar- benar sebuah peristiwa yang amat menyakitkan! Tubuh Panawangan ambruk ke tanah disertai lelehan darah dari mulut, dada, dan lehernya. Napas lelaki gagah itu putus seketika!

Ki Janiga dan yang lain segera saja melesat menerjang dua sosok tubuh yang masih juga melayang di udara, setelah tadi terlihat menginjak tanah, selesai menewaskan Panawangan. Para tokoh itu pun tidak sempat menyelamatkan murid utama Ki Pangrawit, karena kejadiannya memang terlalu singkat Sehingga, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut bahkan Rajawali Merah yang terkenal gesit hanya mampu terbelalak takjub ketika menyaksikan perbuatan kedua sosok bayangan putih itu, yang dalam waktu sangat singkat telah melesat ke arah pintu gerbang yang terletak kurang lebih sekitar lima tombak dari mereka.

"Berhenti, Pengecut..!"

Bentakan Pendekar Cakar Maut yang merasa penasaran bukan main, keluar disertai pengerahan tenaga dalam Kemudian kekuatan ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan untuk melakukan pengejaran! Tapi usaha lelaki gemuk itu sia-sia belaka, karena kedua sosok bayangan putih itu telah melewati pintu gerbang, untuk kemudian lenyap ditelan kegelapan.

********************

TUJUH

Keesokan paginya, Perguruan Gelang Terbang kembali dilanda kegemparan! Enam orang murid yang bertugas menjaga pintu gerbang kedapatan tewas di pos jaga. Lalu enam orang peronda malam juga ditemukan tewas dengan kepala pecah! Tentu saja musibah itu membuat Ki Pangrawit sangat terpukul. Apalagi, semua itu masih ditambah kematian Panawangan yang tewas secara menyedihkan. Semua kejadian itu, membuat Ki Pangrawit tidak mau diganggu. Ketua Perguruan Gelang Terbang terpekur di dalam kamarnya dengan wajah berduka.

"Apa yang harus kami lakukan, Ki? Guru sendiri telah mengurung diri tanpa mau diganggu. Padahal, kita masih belum terlepas dari ancaman sepasang iblis yang hanya berupa bayangan putih itu. Hhh..., aku benar-benar tidak habis pikir...," ungkap Subadra kepada Ki Janiga, setelah selesai menguburkan mayat saudara-saudaranya, termasuk Panawangan.

Sedangkan Kandira hanya termenung dengan pandangan menerawang. Sepertinya, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu pun tengah bingung memikirkan cara untuk menghadapi maut uang mengancam penghuni Perguruan Gelang Terbang.

"Hm.... Kau bersabarlah, Subadra. Bisa ku maklumi apa yang saat ini tengah dirasakan gurumu. Beliau benar-benar sangat terpukul atas kematian Panawangan. Kalau saja Ki Pangrawit tidak menyaksikannya sendiri, mungkin tidak akan terpukul sedemikian parahnya. Tapi, semua itu terjadi di depan matanya, tanpa mampu dicegahnya. Kenyataan itulah yang membuatnya merasa berdosa. Karena sebagai guru, ternyata ia tidak bisa melindungi nyawa muridnya. Kau paham apa yang kumaksudkan, Subadra...?" tanya Ki Janiga setelah menjelaskan secara panjang lebar.

"Yaaah.... Tapi, mengapa guru harus mengurung diri? Tidakkah beliau sadar kalau malam nanti, sepasang iblis itu akan datang kembali untuk mengambil nyawa salah seorang di antara kita!" Subadra yang meskipun telah cukup mengerti apa yang dimaksudkan Ki Janiga, tetap saja tidak bisa menerima tindakan gurunya dalam hal itu.

"Hm.... Memang licik sekali sepasang iblis itu. Mereka sengaja tidak membunuh kita sekaligus. Dengan ancaman-ancaman seperti itu, mereka bisa membuat kita tidak tenang. Dan mungkin juga, kita telah pasrah sebelum mereka datang. Mereka menakut-nakuti kita sehingga bisa mengganggu pikiran. Benar-benar keji sekali sepasang iblis itu...," geram Rajawali Merah. Semenjak kejadian semalam, wajah Rajawali Merah nampak selalu tegang. Jelas, ia pun telah terpengaruh ancaman pembunuh keji itu. Sebenarnya, bukan hanya Rajawali Merah yang merasa tegang dan cemas. Bahkan Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sendiri mengalami hal yang sama. Selain belum dapat diterka siapa sebenarnya musuh yang harus dihadapi, juga musuh itu pun memiliki kesaktian yang mengiriskan! Hingga dapat dipastikan kalau untuk selamat dari incaran maut, sulit sekali.

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut mencoba untuk tetap tenang. Semua itu dimaksudkan agar murid-murid Perguruan Gelang Terbang tidak dilanda resah. Meskipun usaha itu tidak seluruhnya berhasil, tapi sedikitnya telah melenyapkan sebagian rasa takut yang dialami hampir seluruh murid perguruan itu.

Ketika hari telah menjelang sore, dan saat Ki Janiga mengatur siasat untuk menjebak musuh, Ki Pangrawit muncul dengan wajah agak pucat. Meski demikian, kehadirannya telah membangkitkan semangat baru bagi murid-muridnya.

"Maaf, kalau aku telah menyusahkan kalian...," ucap Ki Pangrawit kepada Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut, dan Rajawali Merah.

Betapa terharunya Ketua Perguruan Gelang Terbang itu karena ketiga orang sahabatnya masih tetap bersedia membantu, meski untuk itu nyawa taruhannya. Pengorbanan tanpa pamrih dari tokoh-tokoh itulah yang membuat Ki Pangrawit keluar dari dalam kamarnya. Karena, tidak mungkin tanggung jawabnya dilepaskan begitu saja kepada orang lain. Meskipun, orang itu merupakan sahabat baiknya.

Keempat orang tokoh itu pun, kembali berkumpul dengan ditemani Subadra dan Kandira. Mereka menyusun rencana untuk menghadapi musuh yang belum diketahui, siapa sebenarnya.

********************

Saat kegelapan mulai menyelimuti alam, suasana Perguruan Gelang Terbang tampak gelap dan sunyi. Di dekat gerbang atau di sudut-sudut bangunan, tidak lagi terlihat cahaya obor. Malam itu Perguruan Gelang Terbang terasa mati, bagaikan bangunan tua yang dihuni hantu!

Suara binatang malam terus bersahutan menyemarakkan sang malam. Tiupan angin terasa sejuk, membuat tubuh terasa letih dan mudah terlena. Untungnya, malam itu sang Dewi Malam demikian berani memancarkan cahayanya. Sehingga, kegelapan yang demikian pekat mulai memudar.

Mendadak saja, jantung Ki Pangrawit yang bersembunyi bersama ketiga orang sahabatnya berdebar, saat menatap pintu gerbang depan. Di kiri kanan gerbang, tampak dua sosok bayangan putih bertengger di atas kayu-kayu bulat. Pakaiannya yang lebar berkibaran tertiup angin. Pemandangan itu benar-benar mendebarkan, dan sanggup membuat seorang yang penakut pingsan seketika!

"Hm... Iblis itu sudah muncul... Tampaknya mereka sengaja menunjukkan kedatangannya kali ini Sayang, jaraknya masih terlalu jauh. Sulit untuk mengenalinya," desah Ki Pangrawit sambil menajamkan pandangan matanya agar bisa mengenali sepasang sosok bayangan putih itu.

"Mudah-mudahan Subadra dan Kandira dapat menahan diri sesuai rencana kita,..," bisik Ki Janiga, lirih. Lelaki bertubuh tinggi kurus itu pun tengah mengawasi dua sosok bayangan putih yang tegak di atas gerbang.

"Nampaknya, Iblis-iblis itu lebih berhati-hati. Lihat saja. Mereka masih tetap tegak tanpa berani melewati gerbang. Jelas, Mereka telah menaruh curiga dengan suasana sunyi dan tanpa penerangan ini," gumam Pendekar Cakar Maut. Rupanya, Pendekar Cakar Maut yang memiliki watak berangasan, tidak sabar melihat kedua sosok bayangan putih itu masih tetap tegak bagai patung.

"Biarlah. Kita lihat saja, apakah mereka berani masuk atau tidak," timpal Rajawali Merah yang juga ikut mengawasi dua sosok berpakaian putih itu. Wajah tokoh muda itu terlihat agak tegang dan sedikit pucat Meski demikian, ia tetap berusaha tenang dan terus menatap kedua sosok putih di atas gerbang.

"Hua ha ha...! Bagus, Ki Pangrawit! Rencana yang kau susun memang tidak jelek! Sayangnya, tipuan-tipuanmu sama sekali tidak berarti bagiku...!"

Selagi puluhan pasang mata yang tersembunyi di tempat gelap sambil sama-sama mengawasi sosok di atas gerbang, tiba-tiba terdengar gema tawa berkepanjangan yang membuat jantung para murid Gelang Terbang hampir copot dibuatnya.

"Gila! Iblis itu benar-benar licik! Apa yang kita bicarakan bisa didengar mereka, sehingga membuat rencana kita gagal, Ki Janiga. Aku khawatir, Subadra dan Kandira tidak bisa menenangkan murid-muridku...," desis Ki Pangrawit yang menjadi cemas bukan main atas kejadian itu.

Apa yang dikhawatirkan Ki Pangrawit ternyata tidak meleset! Baru saja ucapannya selesai, terdengar teriakan-teriakan ribut yang disusul berloncatannya murid-murid Gelang Terbang dari tempat persembunyian. Jelas, suara tanpa wujud itu telah mempengaruhi mereka.

"Hei, kembali...!" cegah Subadra yang bertugas mengepalai dua puluh lima orang murid.

Sayang semuanya sudah terlambat. Apalagi dari tempat lain pun murid-murid yang dipimpin Kandira juga telah berlompatan keluar. Karuan saja Ki Pangrawit, Ki Janiga, Pendekar Cakar Maut dan Rajawali Merah menjadi terkejut. Mereka yang bersembunyi di dua tempat itu ikut berteriak mencegah. Bahkan ikut melompat keluar dari persembunyian karena mengkhawatirkan keselamatan murid-murid Ki Pangrawit.

Tepat pada saat yang bersamaan, dua sosok bayangan putih melesat bagaikan dua ekor burung malam mencari mangsa. Dengan sepasang tangan membentuk cakar, kedua sosok bayangan putih itu langsung menyambar murid-murid Perguruan Gelang Terbang yang tengah ketakutan. Tapi, keempat orang tokoh itu pun tidak tinggal diam. Sebelum korban berjatuhan, serentak mereka bergerak menyambut dua sosok bayangan putih itu.

"Merunduuuk...!" Sambil berteriak memerintahkan murid- muridnya merunduk, Ki Pangrawit bersama Rajawali Merah bergerak memapak cengkeraman bayangan putih yang berada di sebelah kanan. Sadar kalau kedua sosok bayangan putih itu bukan tokoh sembarangan, maka seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimiliki dikerahkan. Dan...

Plakkk! Plakkk!

"Ughhh.!"

"Aaaah...!"

Terdengarlah benturan keras yang diiringi keluhan tertahan dari mulut Ki Pangrawit dan Rajawali Merah. Tubuh mereka sama-sama terpental ke belakang! Bedanya, Ki Pangrawit dapat mematahkan daya luncur tubuhnya dengan berjumpalitan beberapa kali di udara. Sedangkan Rajawali Merah terpaksa harus rela tubuhnya terbanting ditanah!

Sedangkan sosok bayangan putih itu sendiri melenting kembali ke udara. Kemudian kedua kakinya mendarat di tanah, setelah berjumpalitan sebanyak tiga kali di udara. Jelas, sosok itu pun merasakan akibat dari benturan dua orang tokoh yang memang berkepandaian tinggi itu.

"Sepasang Mambang Lembah Maut..?!"

Ki Pangrawit dan Rajawali Merah sama-sama berseru dengan wajah berubah hebat! Mereka terkejut bukan main melihat wajah sosok bayangan putih itu yang terlindung di balik topeng tengkorak. Jelas sudah, siapa sebenarnya yang telah melakukan serangkaian tindak kekerasan terhadap Perguruan Gelang Terbang.

Bukan Hanya Ki Pangrawit dan Rajawali Merah saja yang merasa terkejut. Ki Janiga dan Pendekar Ca- kar Maut juga sama-sama terkejutnya melihat kedua orang sahabatnya. Mereka yang juga berhasil menyelamatkan nyawa murid-murid Gelang Terbang dengan memapak serangan sosok bayangan putih lainnya, merasakan akibat yang sama. Dan keduanya pun tersentak pucat begitu mengenali sosok yang tangan mautnya tengah merajalela.

Belum lagi lenyap rasa keterkejutan keempat orang tokoh sakti itu, tiba-tiba terdengar jerit kematian susul menyusul! Untuk kedua kalinya, keempat orang tokoh itu kembali dikejutkan adanya dua sosok bayangan putih lain yang mengamuk membantai murid-murid Perguruan Gelang Terbang. Untunglah, Subadra dan Kandira cepat bertindak menghadapi kedua sosok bayangan putih yang melayang turun dari atas pintu gerbang itu. Sehingga, korban di pihak mereka tidak bertambah banyak.

"Gila! Entah siapa lagi kedua sosok bayangan putih itu? Untunglah kepandaiannya tidak begitu tinggi, sehingga Subadra dan Kandira dapat menghada- pinya...," desis Ki Pangrawit yang bertambah heran melihat adanya dua sosok bayangan putih itu.

"Hm.... Menurutku, mereka pasti dua di antara Tiga Brewok Hutan Larang. Sepertinya, mereka kembali dipergunakan Sepasang Mambang Lembah Maut untuk mengecoh kita tadi...," duga Ki Janiga.

Rupanya, si Tinju Pemecah Badai itu langsung saja bisa menebak tepat, siapa adanya kedua sosok bayangan putih itu. Tapi, pembicaraan mereka tidak dapat berlanjut lagi, karena saat itu sepasang Mambang Lembah Maut tengah melangkah menghampiri. Serentak keempat orang pendekar itu saling berpencar, dan siap melakukan pertarungan mati-matian!

"Sepasang Mambang Lembah Maut, apa kesalahan kami sehingga kalian sampai tega berbuat kekejian ini? Sedangkan di antara kita belum pernah ada urusan," tegur Ki Pangrawit. Ketua Perguruan Gelang Terbang itu ingin mendapat penjelasan atas segala tindakan tokoh sesat yang telah lama mengasingkan diri itu.

"Hm.... Di antara kita memang tidak ada permusuhan, Pendekar Gelang Terbang. Tapi di antara golongan kita, memang tidak pernah sependapat. Aku sengaja muncul untuk membasmi manusia-manusia sombong yang menganggap sebagai seorang pendekar berbudi. Entah sudah berapa banyak korban dari golonganku yang tewas, karena kalian ingin dianggap sebagai pembela kebenaran. Untuk alasan itulah, aku akan menghancur-leburkan semua manusia sombong yang selalu mengganggu golonganku. Dengan begitu, barulah orang-orang golongan hitam dapat bergerak leluasa di dalam rimba persilatan ini," jelas salah seorang dari pasangan Mambang Lembah Maut yang bertubuh lebih tinggi dan berbadan tegap. Dia adalah orang yang bernama Jonggala.

"Kau salah, Sepasang Mambang. Semua itu kami lakukan sama sekali bukan karena ingin dipuji atau dianggap sebagai pahlawan. Tapi, semua itu memang sudah kewajiban untuk memberantas segala bentuk kejahatan yang ada di bumi ini. Dan, kami tidak perlu pendapatmu. Jangan dikira kami takut menghadapi kalian berdua, meskipun dengan taruhan nyawa. Bagi kami, lebih baik mati dalam membela kebenaran dan keadilan ketimbang berpangku tangan menyaksikan kekejaman yang dilakukan orang-orang golonganmu," timpal Ki Janiga.

"Hm.... Kalau begitu, bersiaplah melayat ke akherat!" timpal Jonggali, orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut. Setelah berkata demikian, kedua tokoh yang mengiriskan itu segera melangkah menghampiri keempat orang tokoh yang sudah merenggang dan siap menghadapi pertarungan mati-matian.

"Yeaaa...!"

Dibarengi pekikan menggetarkan jantung, Sepasang Mambang Lembah Maut bergerak secara bersamaan. Tubuh mereka bagaikan terbang dan saling bersilangan sehingga membingungkan Ki Pangrawit dan kawan-kawan.

Whuuut! Whuuut!

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut segera saja melompat ke kanan menghindari cengkeraman jari-jari sekeras baja lawan. Dari sambaran angin yang mencicit tajam, sadarlah kedua orang tokoh itu kalau kekuatan tenaga sakti lawan benar-benar telah mencapai titik kesempurnaan. Untuk itu, mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan agar tidak sampai celaka di tangan Sepasang Mambang Lembah Maut.

Demikian pula halnya Ki Pangrawit dan Rajawali Merah. Mereka yang bertarung menghadapi orang tertua dari sepasang mambang itu benar-benar harus bekerja keras menyelamatkan selembar nyawa. Memang serangan-serangan tokoh sesat itu benar-benar sangat cepat dan menimbulkan sambaran angin tajam. Jangankan terkena cakaran mautnya. Bahkan sambaran anginnya saja rasanya sanggup menewaskan seorang tokoh yang memiliki kepandaian tanggung. Dapat dibayangkan, betapa berbahayanya serangan-serangan cakar maut itu.

Ki Pangrawit yang dalam dunia persilatan dijuluki Pendekar Gelang Terbang mempergunakan gelang-gelang emasnya untuk membendung gempuran lawan. Meskipun beberapa kali senjatanya dapat dipukul balik Jonggala, namun orang tua itu tetap gigih melakukan perlawanan! Sehingga, pertarungan antara ketiga orang tokoh itu benar-benar sangat seru dan menegangkan!

Tapi ketika pertarungan menginjak jurus yang kelima puluh, baik Ki Pangrawit maupun Rajawali Merah terpaksa harus mengakui kehebatan ilmu lawannya. Memang, pada jurus-jurus itu mereka mulai merasakan tekanan berat lawannya! Bahkan Rajawali Merah yang biasanya sangat gesit dan tidak pernah kehabisan tenaga, kali ini sudah benar-benar kepayahan. Selain kepandaiannya yang memang berada di bawah Ki Pangrawit, kepandaian lawannya pun telah membuatnya tak berdaya.

"Haiiit...!"

Jonggala, orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut rupanya memiliki mata yang sangat jeli. Buktinya, dia lebih banyak mencecar Rajawali Merah ketimbang Ki Pangrawit Sehingga pada jurus yang kelima puluh lima. Rajawali Merah terpaksa harus mengakui keunggulan lawan. Sebuah lontaran telapak tangan yang mengancam dadanya, tidak mampu lagi dihindari! Maka....

Whuuut...! Buggg...!

"Huaaakh...!"

Hebat bukan main akibat hantaman telapak tangan Jonggala. Bagaikan selembar daun kering yang tertiup angin, tubuh Rajawali Merah terlempar hingga tiga tombak lebih. Darah segar kontan berhamburan membasahi tanah!

Brakkk!

Dinding bangunan utama Perguruan Gelang Terbang langsung jebol ketika terlanda keras tubuh Rajawali Merah, diiringi suara berderak ribut! Tubuh Rajawali Merah terbanting jatuh di antara reruntuhan dinding bangunan itu.

"Huaaakh...!" Untuk yang kedua kalinya. Rajawali Merah memuntahkan darah segar. Setelah meregang sebentar, tubuhnya pun tergolek lemah. Tewas!

"Biadab keji...!" maki Ki Pangrawit. Ketua Perguruan Gelang Terbang itu merasa marah bukan kepalang menyaksikan kematian orang yang membela perguruannya tanpa pamrih. Kenyataan itu membuat Ki Pangrawit mengamuk tanpa mempedulikan keselamatan dirinya lagi.

"Heaaat..!"

Ki Pangrawit yang berjuluk Pendekar Gelang Terbang berteriak mengguntur sambil melepaskan senjata andalannya disertai pengerahan seluruh sisa-sisa tenaganya. Pada saat yang sama, tubuhnya bergerak meluncur dengan serangan sepasang tangan yang menggunakan jurus-jurus tangan kosong!

Sayang, meski serangan yang dilancarkan Ki Pangrawit begitu hebat, namun lawan memang terlalu kuat baginya. Dalam lima jurus saja, orang tua itu kembali terdesak hebat. Sehingga, ia tidak mampu lagi melontarkan serangan. Ki Pangrawit hanya bisa mengelak sambil sesekali menangkis. Meskipun demikian itu masih membuatnya jatuh bangun. Karena,tenaga dalam Jonggala masih jauh di atasnya.

"Haiiih...!"

Ki Pangrawit yang benar-benar sudah tidak mempunyai daya untuk membalas serangan lawan, jadi tertegun dengan tubuh gemetar ketika Jonggala mengeluarkan pekikan nyaring disertai pengerahan tenaga dalam. Dan saat itu pula, cengkeraman lawannya datang mengancam leher orang tua itu!

"Haiiit..!"

Pada saat yang sangat menentukan bagi mati hidupnya Ketua Perguruan Gelang Terbang, tiba-tiba terdengar pekikan lain yang tidak kalah dahsyatnya! Berbarengan dengan itu, sesosok tubuh yang bersinar putih keperakan disertai hawa dingin menusuk tulang, melesat memapak serangan Jonggala! Akibatnya...!

Brrresh!

"Aaah...?!"

"Haiiit..?!"

Seiring suara dentuman akibat pertemuan dua gelombang tenaga sakti yang maha dahsyat, terdengar seruan-seruan terkejut dari mulut kedua sosok bayangan yang tadi saling berbenturan! Bahkan tubuh satu sama lain terdorong deras ke belakang.

Jonggala, orang tertua dari Sepasang Mambang Lembah Maut cepat menguasai daya luncur tubuhnya dengan melakukan salto beberapa kali di udara. Kemudian, kakinya mendarat ke tanah meski dengan kuda-kuda agak goyah! Tentu saja kenyataan itu sangat mengejutkan baginya!

Demikian pula halnya sosok tubuh yang terselimuti kabut putih keperakan itu. Sosok yang telah menyelamatkan Ki Pangrawit itu juga dapat mengatasi daya dorong akibat benturan dahsyat tadi. Dengan melakukan tiga kali putaran menakjubkan, sosok tubuh itu dapat mendarat indah dengan kuda-kuda kokoh dan tidak tergoyahkan. Dari sini saja dapat dinilai, kalau sosok bersinar putih keperakan itu masih lebih kuat dibanding Jonggala.

Ki Pangrawit yang tidak menyangka kalau dirinya masih dapat selamat, menatap sosok yang terselimut lapisan kabut putih keperakan itu dengan sepasang mata terbelelak. Tapi sebentar kemudian, wajah orang tua itu telah langsung berseri gembira ke arah penolongnya.

DELAPAN

Sementara itu di arena pertarungan, Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut melawan Jonggali yang merupakan orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut, juga terjadi perubahan hebat. Jonggali yang sudah berada di atas angin dan siap menghabisi nyawa lawan-lawannya, tiba-tiba terkejut ketika pukulan mautnya terpapak oleh sesosok bayangan hijau. Benturan keras pun tak terhindarkan lagi!

Tapi dalam benturan dua gelombang tenaga dalam yang amat kuat itu, Jonggali terlihat masih unggul. Orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu hanya terjajar mundur beberapa langkah, sedangkan sosok berpakaian hijau itu terpental dengan derasnya. Untungnya, sosok bayangan hijau itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Sehingga, kedua kakinya dapat mendarat dengan selamat.

Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sama-sama terkejut sekaligus juga kagum terhadap penolongnya yang ternyata seorang gadis muda berparas jelita. Kalau saja mereka tidak membuktikan sendiri, rasanya belum tentu percaya kalau gadis muda jelita itu mampu menahan gempuran dahsyat Jonggali.

Sedangkan sosok berpakaian hijau itu tampak mengatur pernapasannya. Dari wajahnya yang nampak agak pucat itu, nampaknya ia cukup menderita akibat benturan tenaga dalam yang hebat tadi. Bahkan dari sudut bibir indah itu, nampak cairan merah mengalir turun.

Hadirnya dua penolong yang menyelamatkan tokoh-tokoh persilatan itu dari kematian, membuat Jonggala dan Jonggali bersatu kembali. Sepertinya, mereka merasa kalau kehadiran kedua sosok bayan-gan putih dan hijau itu patut diperhitungkan. Demikian pula halnya sosok bayangan putih dan hijau. Mereka pun bersatu dan berkumpul dengan sisa dari tokoh persilatan itu. Sebab, Rajawali Merah telah lebih dulu tewas di tangan Jonggala.

"Pendekar Naga Putih! Akhirnya kau datang juga memenuhi undanganku," kata KiPangrawit

"Benar, Ki. Maaf atas keterlambatanku," sahut pemuda tampan berjubah putih yang ternyata Pendekar Naga Putih.

"Bagus!" Tiba-tiba terdengar suara parau yang membuat para pendekar itu menolehkan wajah.

"Kehadiranmu memang sangat tepat sekali, Pendekar Naga Putih. Dengan demikian, berarti aku tidak perlu bersusah payah lagi mencarimu...," lanjut Jonggala. Rupanya dia masih juga menampakkan kesombongannya. Padahal, sebenarnya hari kedua tokoh sesat itu agak bergetar atas kemunculan Pendekar Naga Putih yang tidak disangka-sangka. Tapi, Sepasang Mambang Lembah Maut tidak mau menunjukkan rasa terkejutnya di hadapan lawan-lawannya.

"Hm..., Sepasang Mambang Lembah Maut..," sebut Panji yang segera mengenali sepasang tokoh sesat itu dari topeng tengkorak yang dikenakan, "Rupanya, kaulah yang menjadi biang keladi dari semua kejahatan-kejahatan yang kudengar baru-baru ini. Apa sebenarnya yang kau inginkan, hingga begitu tega melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Bahkan mengganggu acara Ki Pangrawit?!"

"Hua ha ha…!"

Tawa Sepasang Mambang Lembah Maut terdengar berderai panjang. Jelas, mereka merasa kalau ucapan Pendekar Naga Putih merupakan sesuatu yang lucu. Sehingga, Ki Pangrawit dan kawan-kawannya mengerutkan kening tak senang.

"Pendekar Naga Putih! Lebih baik kau bersiaplah melihat alam akhirat'" bentak Jonggala.

Dengan penuh keyakinan kalau mampu menamatkan petualangan Pendekar Naga Putih, Jonggala berkacak pinggang. Meskipun tahu pihak lawan lebih banyak, tapi Jonggala mengerti orang-orang golongan putih tidak akan melakukan pengeroyokan, kalau tidak terpaksa. Itulah sebabnya, mengapa Sepasang Mambang Lembah Maut tidak merasa gentar.

"Hm.... Harap kalian semua menyingkir. Menurut penilaianku, kedua orang tokoh sesat ini sangat berbahaya. Bahkan mungkin mereka belum mengeluarkan semua kesaktian pada pertempuran tadi," ujar Panji dengan suara tetap tenang, tanpa kesan sombong.

"Tapi, Kakang! Tidakkah terlalu berbahaya bila kau menghadapi mereka seorang diri...?" bisik Kenanga agak khawatir. Memang gadis itu tadi sudah merasakan betapa kepandaian yang dimilikinya masih beberapa tingkat di bawah salah seorang tokoh sesat itu. Tentu saja pengalaman itu membuatnya merasa khawatir akan keselamatan kekasihnya.

"Berdoalah. Mudah-mudahan, aku bisa mengatasi mereka...," sahut Panji, tidak ingin takabur.

"Baiklah, Kakang. Hati-hatilah...," bisik Kenanga, dan segera menepi berkumpul bersama Ki Pangrawit dan kedua orang pendekar lainnya.

"Hua ha ha.... Pendekar Naga Putih. Ingatlah! Kami selalu tampil berpasangan. Rasanya, tidak adil kalau kau maju seorang diri untuk menghadapi kami berdua. Sebaiknya, ajaklah salah seorang kawanmu agar pertandingan terlihat lebih adil...," pancing Jonggali, orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut.

"Hm... Tidak perlu kau mengutarakan apa yang sebenarnya tidak kau inginkan, Kisanak. Sebaiknya, kalian bersiaplah. Dan jangan terlalu mengumbar omong kosong...," tukas Pendekar Naga Putih, memukul balik ucapan lawannya. Sehingga, tokoh itu terlihat agak kaget mendengar jawaban yang seperti menelanjangi mereka.

"Hm...." Jonggali, orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut menggeram gusar. Rupanya ia merasa marah mendengar ucapan balik pemuda itu.

Panji bergegas menggeser langkahnya ke kiri ketika melihat kedua orang lawannya mulai bergerak maju. Meskipun Sepasang Mambang Lembah Maut bergerak maju dengan siasat licik dan berganti-ganti, tapi Pendekar Naga Putih tetap tenang. Ditatapnya gerak-gerik lawannya dengan sinar mata mencorong tajam. Pendekar Naga Putih siap menanti lawan membuka serangan terlebih dulu.

"Yeaaat..!"

Salah satu dari Sepasang Mambang yang berada paling depan, berseru nyaring disertai luncuran tubuhnya yang bergulingan bagaikan seekor trenggiling. Seiring dengan itu, Jonggali yang berada di belakang melenting ke udara, tanpa mengeluarkan teriakan sedikit pun. Jelas, siasat itu digunakan untuk memecah perhatian lawan.

Meskipun begitu, Pendekar Naga Putih tetap tenang dan menanti datangnya serangan lawan. Pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh gerakan Jonggala yang bergulingan di tanah dalam serangan pembukaan itu.

"Yiaaah...!"

Jonggali yang melancarkan serangan dari atas, terlihat mulai mengulurkan cengkeraman-cengkeraman mautnya diiringi suara mencicit tajam! Jelas tokoh sesat itu telah mengerahkan tenaga dalamnya yang tinggi dalam serangan pertamanya.

Tapi sebelum serangan Jonggali tiba, mendadak saja Jonggala yang semula tengah bergulingan mendekat melenting ke udara. Langsung dilontarkan cengkeramannya ke arah leher dan dada Pendekar Naga Putih. Sedangkan Jonggali telah meluncur turun sambil melontarkan tendangan-tendangan maut susul menyusul!

Panji yang telah mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' dan 'Jurus Naga Sakti'nya, bergerak menghindar sambil melontarkan serangan balasan yang tidak kalah berbahaya. Tubuh pemuda tampan berjubah putih itu berkelebat bagaikan seekor naga sakti yang tengah meliuk-liuk indahnya. Sesekali, sambaran cakar naganya mencicit mengancam tubuh kedua orang lawannya. Jelas, seluruh kekuatan tenaga saktinya telah dikerahkan untuk menghadapi gempuran Sepasang Mambang Lembah Maut'

"Hyaaat..!"

Bettt! Bettt!

Jonggala yang menjadi sasaran cengkeraman cakar naga lawan, bergerak ke kiri. Langsung dilontarkannya sebuah tendangan kilat yang mengejutkan. Sepertinya, dalam soal kecepatan dan ilmu meringankan tubuh, kedua tokoh sesat itu memang tidak berada di bawah lawannya. Hal itu pun dapat dirasakan Pendekar Naga Putih. Sehingga, pemuda tampan itu sempat terkagum-kagum dibuatnya!

Plakkk!

"Uuuh...!" Jonggala, orang tertua dari Sepasang Mambang mengeluh perlahan ketika tendangannya dapat ditepis telapak tangan Pendekar Naga Putih. Karuan saja tubuh tokoh sesat itu tergetar mundur, hampir sejauh satu tombak. Itu menandakan kalau dalam hal tenaga sakti, Jonggala masih kalah.

Pendekar Naga Putih sendiri sama sekali tidak tergoyah dalam menangkis tendangan lawannya. Bahkan pemuda itu kini terlihat bergerak mendesak Jonggali. Karuan saja tokoh sesat itu kelabakan menghadapi gempuran Pendekar Naga Putih yang datang bagaikan gelombang badai salju itu. Untungnya dalam keadaan terdesak, Jonggala telah masuk kembali dalam arena pertarungan. Sehingga, Jonggali dapat menarik napas lega, karena terbebas tekanan lawan. Kenyataan itu membuat Jonggali sadar kalau kesaktiannya ternyata masih di bawah Pendekar Naga Putih.

"Kreeegh...!"

Pada saat pertarungan menginjak jurus keseratus dua puluh, tiba-tiba saja Panji melenting ke udara disertai pekikan 'Naga Marah'nya. Hembusan angin dingin bertiup semakin kuat, mengiringi putaran sepasang tangan Pendekar Naga Putih yang disertai pendaran cahaya putih keperakan. Karuan saja jurus pamungkas pendekar muda itu mengejutkan kedua orang lawannya!

Whuuut... Desss!

"Aaakh...?!" Jonggali memekik kesakitan ketika sebuah hantaman telapak tangan yang berkecepatan tinggi, tahu-tahu saja telah menggedor dada kirinya! Darah segar langsung menyembur diiringi terlemparnya tubuh orang termuda dari Sepasang Mambang Lembah Maut itu.

Demikian pula halnya Jonggala. Orang tertua dari Sepasang Mambang itu pun mendapat bagian yang sama. Sebuah sambaran cakar Pendekar Naga Putih, membuat tubuh tokoh sesat itu melintir bagaikan kitiran! Darah segar segera saja membasahi pakaiannya yang putih. Karena, luka cakaran Panji cukup dalam pada bagian bahunya.

Panji yang ingin menyelesaikan pertarungan itu selekas mungkin, segera saja memburu lawan-lawannya dengan cengkeraman-cengkeraman maut!

Namun dengan sisa-sisa tenaganya, kedua orang tokoh sesat itu dapat menyelamatkan dirinya dengan lompatan jauh kebelakang. Begitu terbebas dari kejaran serangan maut lawan. Sepasang Mambang Lembah Maut langsung menjatuhkan tubuh di atas tanah secara bersamaan. Keduanya duduk bersila sebelah menyebelah, dengan salah satu telapak tangan bersatu. Hal itu dilakukan setelah meletakkan senjatanya yang berbentuk clurit di depan mereka.

Panji tersentak mundur ketika merasakan adanya gelombang tenaga aneh yang menolak tubuhnya ke belakang. Keterkejutannya semakin menjadi tatkala melihat sepasang senjata berbentuk clurit itu bergerak naik seperti bernyawa. Sadarlah Panji kalau dua lawan telah menggunakan ilmu yang menggunakan tenaga batin.

"Ilmu 'Golok Terbang Perenggut Sukma'...?!" desis Pendekar Naga Putih ketika dapat mengenali ilmu yang kini digunakan Sepasang Mambang Lembah Maut untuk menghadapinya.

Ternyata, bukan hanya Pendekar Naga Putih saja yang merasa terkejut dengan ilmu lawannya. Bahkan Kenanga, Ki Pangrawit, Ki Janiga dan Pendekar Cakar Maut sampai terbelalak kagum menyaksikan ilmu yang tengah dipergunakan Sepasang Mambang Lembah Maut. Diam-diam, para tokoh persilatan itu merasa bersyukur kalau di pihak mereka ada Pendekar Naga Putih. Kalau tidak, sulit dibayangkan, bagaimana caranya menghadapi ilmu aneh itu. Kini, mereka hanya tinggal menunggu, bagaimana Pendekar Naga Putih menghadapi ilmu Sepasang Mambang Lembah Maut.

Di antara keempat orang itu, hanya Kenanga saja yang tidak merasa tegang. Memang, gadis jelita itu tahu kalau kekasihnya juga memiliki sebuah ilmu yang menggunakan tenaga batin. Bahkan Kenanga percaya kalau ilmu kekasihnya masih jauh lebih hebat ketimbang ilmu Sepasang Mambang Lembah Maut.

Dugaan Kenanga ternyata tidak meleset jauh. Panji yang melihat sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu mulai meluncur ke arah dirinya, segera saja memusatkan pikirannya. Sebentar kemudian, terciptalah sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning keemasan. Itulah Pedang Naga Langit yang selama ini tersimpan di dalam tubuh pemuda itu, dan berubah menjadi suatu kekuatan yang dahsyat.

Panji membuka kedua matanya setelah merasakan adanya sebatang pedang dalam genggaman. Langsung saja Pedang Naga Langit itu dilemparkan ke udara. Pedang Pusaka Naga Langit mengapung sejenak sebelum berputar, dan meluncur memapaki datangnya sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu, yang tengah mengancam Pendekar Naga Putih.

Terjadilah suatu peristiwa aneh yang sulit ditangkap akal sehat. Tampak, ketiga batang senjata itu saling berusaha menekan, dalam usaha membantu majikan masing- masing. Sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu berusaha mengapit pedang Pendekar Naga Putih dari kiri kanan. Terdengar suara mengaung tajam ketika senjata-senjata itu bergerak dengan kecepatan tinggi untuk meruntuhkan pedang Pendekar Naga Putih. Sayangnya, pedang milik Panji lebih hidup daripada senjata lawan-lawannya. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, sepasang senjata berbentuk bulan sabit itu dapat didesak Pendekar Naga Putih. Kemudian, senjata-senjata itu terpental kembali ke arah majikan masing-masing!

Sepasang Mambang Lembah Maut yang memejamkan mata tampak telah dibanjiri peluh pada tubuh mereka. Bahkan pada saat sepasang senjata mereka dipukul balik oleh pedang lawan, terlihat tubuh Sepasang Mambang Lembah Lembah Maut terjungkal ke belakang. Dan sebelum keduanya sempat menyadari hal yang dianggap mustahil itu, sepasang senjata bulan sabit mereka telah meluncur deras. Bahkan langsung menembus jantung kedua tokoh sesat itu!

"Ughhh...!"

Terdengar jerit kematian yang susul-menyusul dari mulut kedua tokoh sesat mengiriskan itu. Darah segar kontan mengucur keluar dari luka akibat senjata makan tuan. Sebentar kemudian, putuslah nyawa Sepasang Lembah Maut karena termakan senjatanya sendiri.

Pendekar Naga Putih kembali memerintahkan pedangnya melalui tenaga batin agar segera kembali. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu saja Pedang Naga Langit telah kembali ke dalam genggaman Panji, kemudian lenyap tanpa bekas. Memang, Panji telah menyatukan pedang itu kembali kedalam tubuhnya.

Sementara itu, pertarungan lain pun telah pula usai. Dua dari Tiga Brewok Hutan Larang telah berhasil dilenyapkan Subadra dan Kandira. Sehingga, seluruh murid termasuk Ketua Perguruan Gelang terbang merasa lega. Mereka bersorak menyambut kemenangan Pendekar Naga Putih yang kembali mengukir namanya di dalam hati tokoh-tokoh persilatan.

"Pendekar Naga Putih! Aku benar-benar merasa berhutang kepadamu. Entah, bagaimana aku harus membalas hutang budi ini..." ucap Ki Pangrawit yang langsung memeluk tubuh pendekar muda itu sebagai tanda terima kasihnya.

"Tidak perlu dibesar-besarkan, Ki. Kita semua sama-sama mengetahui kalau apa yang kulakukan hanyalah suatu kewajiban belaka. Jadi, janganlah Ki Pangrawit merasa berhutang budi," sergah Panji disertai senyum di wajah tampannya.

"Hm.... Sebagai tanda syukur dan terima kasih pada tamu kita Pendekar Naga Putih, marilah kita mengadakan pesta," ujar Ki Pangrawit di hadapan sahabat dan murid-muridnya.

Panji dan Kenanga hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Karena bila menolak, mereka takut menyinggung perasaan Ki Pangrawit dan yang lain. Pendekar Naga Putih dan Kenanga hanya bisa pasrah ketika mereka digiring memasuki bangunan utama Perguruan Gelang Terbang, diiringi sorak-sorai murid-murid Ki Pangrawit.

S E L E S A I