Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Misteri Desa Siluman
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

HARI sudah menjelang sore. Matahari telah bergeser jauh ke ufuk Barat. Cahaya kemerahan memburat menghias cakrawala. Hembusan angin yang lembut mengiringi sang mentari bergulir ke peraduannya.

Dalam keremangan cuaca saat itu, tampak dua sosok tubuh bergerak menyusuri jalan. Langkah mereka terlihat agak bergegas. Sepertinya kedua sosok tubuh itu hendak berpacu dengan waktu.

"Bagaimana kalau di sebelah depan sana kita tidak menemukan desa untuk bermalam, Kakang...?" tanya sosok tubuh ramping yang berada di sebelah kiri teman seperjalanannya.

"Yahhh..., terpaksa kita bermalam di hutan, seperri biasanya. Apakah kau keberatan...?" ujar sosok tubuh sedang yang terlihat padat berisi. Nada suaranya terdengar tenang dan lembut, pertanda ia seorang penyabar.

"Bukan begitu, Kakang. Tapi, selama ini kita rasanya sudah terlalu sering bermalam di dalam hutan. Jadi, apa salahnya kalau sekali-sekali kita bermalam di tempat yang lebih tenang dan aman," elak sosok lubuh ramping berpakaian serba hijau itu. Lalu, kepalanya menoleh seraya melemparkan senyum manis. Seolah-olah sosok ramping, yang ternyata seorang gadis muda, berparas jelita itu ingin menunjukkan kalau dugaan kawannya sama sekali tidak benar.

Sosok berjubah putih itu menoleh sekilas ke arah si gadis berpakaian serba hijau. Terdengar hela napasnya yang lembut dan berkepanjangan. Kemudian, kembali matanya menatap lurus ke depan dengan wajah yang tetap tenang.

"Keinginan itu sama sekali tidak salah, Kenanga. Aku sebenarnya tidak ingin menyusahkanmu. Tapi sepertinya kau telah melupakan satu hal...," desis sosok berjubah pufih itu sambil memperlambat ayunan langkahnya. Siapa lagi sosok berjubah putih itu kalau bukan Panji atau Pendekar Naga Putih.

Kenanga, gadis jelita berpakaian serba hijau itu ikut memperlambat langkah seraya mengulurkan tangannya, dan menggenggam jemari pemuda itu. Lalu kepalanya disandarkan pada pangkal lengan kekasihnya.

"Apa itu, Kakang...?" tanya Kenanga dengan nada penasaran.

"Seperti kau ketahui, kita ini adalah petualang-petualang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dimana langit dijunjung, di situlah rumah kita. Jadi, kalau kita selama ini selalu melewatkan malam di dalam hutan, atau tempat-tempat sunyi lainnya, ya wajar saja. Sebab, itulah risiko yang harus kita terima. Kau sadar akan hal itu bukan?" jelas Panji sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping gadis jelita itu.

"Aku menyadari hal itu, Kakang. Kalau memang perkataanku tadi salah, harap kau maafkan...," sahut Kenanga dengan nada seperti menyesali ucapannya. Kemudian, ia pun melingkarkan lengannya ke pinggang Panji.

"Tidak, Kenanga. Perkataanmu sama sekali tidak salah. Kau tak perlu menyesalinya. Sebaiknya kita mempercepat perjalanan. Siapa tahu, sebelum malam jatuh, kita telah menemukan sebuah desa untuk menginap. Ayolah...," setelah melepaskan pelukannya, Panji segera melesat, mempergunakan ilmu larinya untuk mempersingkat waktu.

Kenanga sendiri tidak mau membuang-buang waktu lagi. Sekali kakinya menghentak ke tanah, tubuh gadis jelita itu pun melesat dengan kecepatan yang mengagumkan. Kemudian, menjejeri langkah Panji, yang memang sengaja tidak mengerahkan ilmu lari. Sehingga, keduanya dapat berlari berjajar.

********************

Keremangan malam mulai turun perlahan menyelimuti bumi. Sedangkan rembulan tampak menghiasi langit dengan pancaran cahayanya yang redup. Bintang-bintang pun bertebaran mewarnai cakrawala dengan kerlap-kerlipnya yang menawan. Sepertinya malam itu cuaca sangat cerah dan menyenangkan, meskipun wajah bulan tidak muncul utuh.

Saat itu, Panji dan Kenanga telah memasuki perbatasan sebuah desa kecil. Tampak cahaya lampu pelita menghiasi rumah penduduk, sehingga membuat wajah keduanya berseri. Karena, harapan untuk melewatkan malam di tempat yang tenang dan aman sudah terbayang di benaknya. Kemudian, keduanya bergerak memasuki mulut desa. Mata mereka melihat ada enam orang penjaga yang berkumpul di gardu, Panji pun bergerak mendekat.

"Maaf, Kisanak. Kami adalah dua orang pengembara yang kemalaman di jalan. Dapatkah kalian menunjukkan sebuah penginapan yang juga menyediakan makanan?" tanya Panji dengan nada lembut dan sopan.

Enam orang penjaga yang tengah mengitari api unggun itu serentak menoleh ke arah Panji. Sehingga, kening pemuda itu sempat berkerut ketika melihat wajah-wajah mereka yang pucat seperti mayat. Bahkan wajah-wajah itu tidak mencerminkan sikap bersahabat sama sekali, dingin dan beku!

Melihat keanehan sikap dan wajah keenam orang penjaga itu, Panji menyipitkan matanya dan mengamati wajah para penjaga itu dengan sikap curiga. Namun, seperti telah dapat membaca kecurigaan Panji, para penjaga itu mencoba melontarkan senyum ramah. Sayang, mereka tidak berhasil karena senyum yang mengembang pada wajahnya lebih mirip sebuah seringai yang menakutkan!

"Tentu saja kami bisa menunjukkannya. Mari aku antarkan ke tempat yang kau maksudkan, Kisanak...," ujar salah seorang dari mereka. Meskipun orang itu ingin memperlihatkan keramahannya, namun nada suaranya terdengar datar dan agak kaku.

Panji yang sudah telanjur curiga dengan penampilan keenam orang penjaga itu, berusaha bersikap wajar. Setelah berpamitan dengan empat orang lainnya, pemuda itu melangkah mengikuti dua orang penjaga yang hendak mengantarkannya.

"Kakang, sikap mereka sangat aneh, dan menimbulkan perasaan seram di hatiku. Apakah kau tidak merasakannya...?" bisik Kenanga pelan, sambil merapatkan tubuhnya kepada pemuda itu.

"Ah, kau terlalu mengada-ada, Kenanga. Mungkin mereka hanya merasa curiga saja kepada kita. Dan, mungkin juga mereka selalu mencurigai orang-orang asing yang singgah di desa ini...," Panji menghentikan sejenak penjelasannya. Sedangkan mata Kenanga memandangi wajah kekasihnya.

"Barangkali mereka mempunyai pengalaman yang pahit dengan orang-orang asing yang singgah di desa ini. Karena itu, bersikaplah ramah, dan tunjukkan bahwa kita berbeda dengan orang-orang asing yang pernah meninggalkan kesan buruk bagi mereka," jelas Panji tidak ingin hati kekasihnya menjadi resah. Sepertinya pemuda itu ingin menyimpan rasa curigannya sendiri, tanpa harus memusingkan kekasihnya yang memang terlihat lelah itu.

"Kisanak, apakah nama desa ini...?" Kenanga yang tidak bisa menghilangkan rasa seramnya, mencoba mengusir dengan bertanya sambil lalu kepada salah seorang pengantar.

"Desa Siluman...," sahut salah seorang yang bertubuh kurus dengan nada dingin dan tanpa menoleh.

Deg...!

Dada gadis jelita itu berdebar keras ketika mendengar nama desa itu. "Desa Siluman...?" desis Kenanga dengan bulu tengkuk meremang. Menilik dari perubahan wajahnya, jelas nama desa itu semakin menambah rasa seram di hatinya.

Dengan perasaan yang semakin galau, Kenanga meremas lengan Panji dan mencekal erat-erat. Jelas, ia sangat terpengaruh dengan nama desa itu. Ditambah lagi suasana desa yang menebarkan hawa aneh, dan semakin menambah keangkeran. Memang cocok sekali kalau desa terpencil itu dinamakan Desa Siluman.

Panji sendiri sempat tergetar ketika mendengar nama desa itu. Namun, untuk menenangkan perasaan hati kekasihnya, pemuda itu tetap bersikap acuh. Seolah-olah keadaan maupun nama desa itu sama sekali tidak menimbulkan perasaan apa-apa baginya.

"Jangan biarkan perasaanmu terpengaruh oleh nama dan sikap penduduknya. Menurutku, selama kita masih berada di jalan yang benar, tidak ada yang perlu kita takutkan. Lagi pula kita sama sekali tidak berbuat ulah terhadap mereka. Jadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk mencelakai kita," hibur Panji lagi sambil mendekap erat tubuh gadis jelita itu. Seolah-olah dengan berbuat demikian, ia ingin memberikan ketabahan kepada kekasihnya.

Apa yang dilakukan Panji sepertinya tidak sia-sia. Terlihat dari wajah gadis itu kembali tenang ketika merasakan hangatnya pelukan pemudaitu. "Terima kasih, Kakang...," desah Kenanga sambil menyandarkan kepalanya dengan sikap manja.

Mendengar jawaban itu, Panji mengulum senyum. Lalu, ia membelai rambut gadis jelita itu dengan penuh kasih. Dirapatkannya tubuh Kenanga dengan mengetatkan pelukan.

"Inilah tempat yang kau maksud, Kisanak. Beruntung hari ini tidak banyak pendatang yang singgah. Jadi, kau bisa mendapatkan kamar yang bersih dan nyaman untuk beristirahat. Maaf, kami tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam. Selamat beristirahat," ujar lelaki kurus, salah seorang dari penjaga itu.

"Terima kasih atas kebaikan kalian...," ucap Panji dengan tubuh sedikit membungkuk.

Kedua penjaga itu menganggukkan kepala sambil membalikkan tubuhnya, dan melangkah menuju mulut desa. Panji dan Kenanga belum bergerak dari tempatnya. Mereka berdiri tegak, seraya matanya menatap kepergian kedua orang penjaga perbatasan itu.

"Langkah kaki mereka terlihat tidak wajar, Kakang. Entah mengapa gerakan mereka lambat dan kaku. Hihhh..., mereka seperti mayat-mayat berjalan saja...," desah Kenanga setelah bayangan kedua orang itu lenyap ditelan kegelapan malam.

"Hm..., mungkin udara yang kurang baik di desa ini yang membuat penduduk bersikap demikian aneh. Sudahlah. Untuk apa memikirkan keanehan-keanehan itu. Yang penting, mereka tidak mengganggu kita" sahut Panji sambil mengajak gadis jelita itu menuju rumah penginapan.

"Kakang, menurutmu, apa pekerjaan para penduduk Desa Siluman ini? Apa kau juga melihat kalau di sekitar desa ini tidak mempunyai persawahan. Jelas penduduk Desa Siluman ini bukan petani. Entah apa yang mereka kerjakan untuk kehidupan sehari-hari...?" Kenanga yang sepertinya belum juga dapat menghilangkan kecurigaan hatinya, dan kembali meminta pendapat Panji.

"Entahlah. Mungkin mereka bekerja sebagai pemburu, dan hasilnya dijual ke tempat lain. Atau, bisa juga hasil buruan itu yang menunjang kehidupan penduduk Desa Siluman ini. Mengapa kau bertanya demikian? Apakah kau mempunyai dugaan lain...?" ujar Panji balik bertanya sambil memandangi wajah Kenanga.

"Aku hanya merasa seram dengan suasana dan sikap keenam orang penjaga tadi. Sepertinya kita bukan berada di sebuah desa. Tapi di...," Kenanga tidak melanjutkan ucapannya. Gadis itu malah menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sikap penuh curiga. Bahkan dalam nada ucapannya terkandung rasa cemas yang berusaha disembunyikan.

"Mengapa kau tidak melanjutkan ucapanmu itu, Kenanga. Apa sebenarnya yang ingin kau katakan...?" tanya Panji meminta penjelasan.

"Kau tidak merasa aneh atau seram, Kakang...?" ujar Kenanga tanpa mempedulikan pertanyaan kekasihnya.

"Kau ini bagaimana, Kenanga. Sebagai seorang pendekar, sejak kecil kita telah digembleng dengan berbagai macam ilmu silat, dan juga wejangan dari guru kita. Bahkan, selama dalam pengembaraan pun, sudah banyak hal-hal aneh dan mengerikan yang kita temui. Jadi, kalaupun dugaanmu itu benar, apa yang mesti kita takutkan?" sahut Panji. Kenanga diam saja. Hanya matanya yang menatap lekat- lekat wajah Panji.

"Jika memang di desa ini terdapat keanehan, maka menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki dan membereskannya. Apa yang kau rasakan itu adalah hal yang wajar, dan tidak perlu terlalu dipikirkan," Panji menambahkan penjelasannya sambil membelai lembut rambut gadis jelita itu.

"Tapi, aku merasa seperti berada di daerah pekuburan tua yang menyeramkan, Kakang. Dan, sulit sekali bagiku untuk melenyapkan pikiran itu," Kenanga masih mencoba membantah, dan menjelaskan perasaannya kepada Panji. "Jangan bohongi aku, Kakang. Katakanlah, apakah kau juga merasakan seperti apa yangkurasakan...?"

Panji tersenyum melihat wajah Kenanga yang meminta ketegasan. Perlahan pemuda tampan itu menundukkan wajahnya. Dikecupnya kening dara jelita itu lembut. "Sudahlah, Kenanga. Terus terang aku pun merasa curiga semenjak melihat wajah dan penampilan keenam orang penjaga tadi. Tapi, untuk apa kita memikirkannya. Mungkin saja mereka hanya merasa tidak suka terhadap orang-orang asing, seperti yang kukatakan padamu tadi. Nah, apakah kau belum puas?' ujar Panji dengan nada lembut, dan penuh perasaan kasih.

"Kata-kata itulah yang sejak tadi kutunggu, Kakang. Tapi kau seperti sengaja menyembunyikannya. Ada apa sebenarnya, Kakang?" rajuk gadis jelita itu sambil melepaskan pelukan Panji, dan melangkah lebih dulu menuju rumah penginapan yang nampak remang-remang itu.

Panji hanya tersenyum melihat kekasihnya merajuk seperti itu. Kakinya melangkah pelan-pelan menyusul Kenanga. Tapi, ketika ia melihat Kenanga yang telah memasuki penginapan dan kembali bergegas keluar dengan langkah setengah berlari, Panji segera melompat menyambutnya. Kening pemuda tampan itu sempat berkerut tatkala melihat wajah kekasihnya pucat. Bahkan, desah napasnya pun terdengar tak teratur.

"Ada apa, Kenanga? Mengapa kau seperti orang yang ketakutan?" tanya Panji setelah merengkuh tubuh gadis jelita itu ke dalam pelukannya.

"Pemilik kedai itu..., pelayan..., dan beberapa orang di dalamnya tengah berkumpul, sama..., seperti para penjaga tadi, Kakang. Mereka..., mereka menatapku, seperti hendak menelanku hidup-hidup. Aku..., ngeri, Kakang...," ujar Kenanga dengan nada terputus-putus.

"Ah..., mungkin mereka hanya terpesona dengan kecantikan wajahmu, Kenanga. Dan hal itu wajar saja. Karena kecantikanmu memang sangat menyolok, dan mengundang perhatian orang," hibur Panji berusaha menghilangkan ketegangan di hati kekasihnya.

"Kau..., kau tidak tahu, Kakang. Rasanya aku bukan melihat manusia, tapi mayat-mayat hidup yang kelaparan Lebih baik kita pergi saja dari desa ini," bantah Kenanga, tetap mempertahankan pendapatnya.

"Hm..., mengapa kau tiba-tiba menjadi lemah seperti itu, Kenanga. Kalaupun mereka memang benar mayat-mayat yang bangkit dari dalam kubur, untuk apa kita harus takut? Justru kenyataan itu mendorong kita untuk menyelidikinya. Aneh, ke mana perginya gadis pendekar gagah berani yang kukenal selama ini?" gumam Panji mencoba mengingatkan Kenanga tentang siapa diri mereka sebenarnya.

Dan usaha Panji ternyata tidak sia-sia. Setelah mendengar ucapan itu, Kenanga segera melepaskan pelukan kekasihnya. Wajah Kenanga yang semula agak pucat, kembali bersinar. Bahkan sepasang matanya telah memancarkan keberanian, yang sempat lenyap karena suasana dan penampilan penduduk Desa Siluman.

"Kau benar, Kakang. Aneh, mengapa hatiku menjadi lemah begini? Padahal, selama ini aku tidak pernah merasa takut terhadap lawan yang bagaimanapun seramnya. Kau bisa memberikan jawaban atas pertanyaanku itu, Kakang?" tanya Kenanga sambil menarik napas berulang-ulang, guna menenteramkan hatinya. Jelas, gadis jelita itu merasa curiga dengan kenyataan yang dihadapinya.

"Hm..., aku pun memang merasakan adanya keanehan, sejak memasuki desa ini. Sepertinya suatu pengaruh aneh yang selalu menimbulkan perasaan berdebar dan ngeri di hati kita. Aku pun merasakan semua itu. Tapi, demi untuk menenangkan perasaanmu, aku menyembunyikannya," jawab Panji sambil mengelus rambut gadis jelita itu.

"Jadi, memang ada hawa aneh di desa ini yang mempengaruhi perasaan kita? Begitukah menurutmu, Kakang?" ujar Kenanga meminta ketegasan kekasihnya.

"Benar. Justru itulah, mengapa aku bersikeras untuk tetap melewatkan malam ini di Desa Siluman. Sebab, aku merasa ada sesuatu yang tidak wajar menyelimuti desa terpencil ini. Dan hal itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mengungkap keanehan itu," jelas Panji dengan suara agak bergetar. Karena pada saat berkata, ia merasa ada hembusan angin dingin yang menebar dan menyergap sekujur tubuhnya. Sehingga, Panji sempat menggigil karenanya.

"Hihhh...," Kenanga yang juga sempat merasakan hembusan angin dingin yang menusuk tulang itu, melipat kedua tangannya ke dada. Pertanda gadis jelita itu pun merasakan seperti apa yang dirasakan Panji.

"Angin apa ini, ini, Kakang? Nampaknya tidak wajar...," desah Kenanga berbisik lirih sambil merapatkan tubuhnya kepada Panji.

"Entahlah. Yang jelas, kita harus berhati-hati. Kita tidak tahu, apa yang tengah terjadi di desa ini. Sebaiknya kita kembali ke tempat penginapan yang menyediakan makanan itu. Ayolah," ajak Panji seraya menarik lengan kekasihnya, dan melangkah menuju rumah penginapan yang juga merupakan kedai makan itu.

DUA

Panji dan Kenanga berdiri tegak di ambang pintu rumah penginapan itu. Keduanya memandang berkeliling. Namun, kedai makan itu terlihat sunyi, tanpa ada seorang pun di dalamnya.

"Eh, ke mana perginya orang-orang yang kulihat tadi? Apakah pandanganku yang salah...?" gumam Kenanga dengan kening berkerut.

"Hm..., mengapa harus dipikirkan? Mungkin saja mereka telah kembali ke kamarnya masing-masing," Panji yang sadar bahwa kekasihnya tengah dilanda kebingungan, segera saja menyahuti. Ia berharap ucapannya itu dapat membuat gadis ini kembali menjadi tenang. Kenanga yang hendak membantah ucapan Panji, segera menelan kata-katanya kembali. Karena sepasang matanya menangkap seorang pelayan menghampiri mereka.

"Hm..., kalian memerlukan kamar, atau hidangan...?" tanya pelayan setengah baya itu dengan sikap kaku, dan sama sekali tidak ramah.

"Terima kasih, Paman," Panji buru-buru menyahuti. "Kami memerlukan sebuah kamar yang cukup untuk kami berdua."

"Hm..., rupanya sepasang suami istri muda yang kemalaman," gumam pelayan setengah baya itu dengan nada suara tak jelas. Sedangkan sepasang matanya memandang penuh selidik.

"Betul, Paman. Kami adalah suami istri muda yang kemalaman. Mmm..., apakah kamar yang ku maksudkan itu ada, Paman...?" tanya Panji mengiyakan perkataan pelayan itu.

Tanpa berkata-kata lagi, pelayan setengah baya itu segera membalikkan tubuhnya. Kemudian melangkah, dan menaiki anak tangga menuju ke atas. Agaknya kamar-kamar penginapan itu berada di sebelah atas rumah ini.

Kenanga semula merasa terkejut ketika mendengar Panji memesan sebuah kamar untuk mereka berdua. Padahal, biasanya pemuda itu selalu meminta dua kamar, bila mereka kebetulan menginap di rumah-rumah penginapan. Tapi, gadis jelita itu sama sekali tidak membantah. Boleh jadi pemuda itu mempunyai rencana sehubungan dengan keanehan yang menyelimuti Desa Siluman, maupun para penduduknya. Pikiran itulah yang membuat Kenanga tidak membantah ketika mereka berdua dipersilakan memasuki sebuah kamar dengan dua pembaringan.

"Kalian tidak memerlukan apa-apa lagi...?" tanya pelayan setengah baya itu, sebelum meninggalkan Panji dan Kenanga.

"Mmm..., rasanya tidak, Paman. Terima kasih...," sahut Panji cepat. Meskipun semula mereka memang berniat untuk memesan hidangan, namun selera makan mereka lenyap dengan penampilan pelayan setengah baya itu. Sehingga Panji memutuskan untuk menahan rasa laparnya.

"Hhh..., sebenarnya aku sudah lapar sekali. Tapi melihat dan merasakan udara di desa ini, selera makanku lenyap seketika. Bahkan, untuk mencicipi hidangan di desa ini pun, aku curiga, Kakang. Jangan-jangan mereka membubuhi racun ganas di dalamnya," ujar Kenanga sepeninggal pelayan yang mengantarkan mereka.

"Dugaanmu bisa saja benar, Kenanga. Apalagi melihat sikap orang-orang yang kita temui di desa ini. Mereka rata-rata menunjukkan sikap kaku dan tidak bersahabat. Aku sepertinya merasakan ada pengaruh aneh yang menguasai penduduk di Desa Siluman ini. Tapi, aku belum dapat memastikannya. Yang jelas, malam ini kita tidak bisa beristirahat. Bukan tidak mungkin ada sesuatu yang akan terjadi malam ini...," ujar Panji yang duduk di sebuah kursi di samping pembaringan kekasihnya.

"Yahhh..., mungkin nasibku yang jelek, Kakang. Untuk beristirahat yang tenang pun, aku tidak dapat menikmatinya...," gumam Kenanga yang sudah merebahkan tubuhnya sambil menghela napas panjang.

"Hm...," Panji bergumam tak jelas sambil membalikkan tubuh ke arah jendela kamar. Dipandanginya pelita yang berada di atas meja.

Meskipun pemuda itu terlihat seperti tengah termenung, namun indera pendengarannya bekerja dengan baik. Dan bila ada sesuatu yang mencurigakan, maka telinga pemuda tampan itu pasti akan menangkapnya. Karena, tingkat kepandaian yang dimiliki Panji, sudah semakin meningkat. Sehingga tidak heran kalau pendengarannya makin tajam dan gerakan-gerakannya lmeah dan mantap. Bahkan hal itu hampir mencapai titik kesempurnaan.

********************

Malam semakin bertambah larut. Rembulan yang semula setia menemani sang malam, nampak disaput awan hitam. Bintang pun satu persatu lenyap. Sehingga, tidak secercah pun sinar yang menerangi kepekatanalam. Hembusan angin malam yang sesekali mengeras itu, menimbulkan suara-suara menyeramkan. Ditambah lagi, suara batang-batang pohon bambu yang saling bergesekan karena hembusan angin. Semua itu makin menambah suasana seram di Desa Siluman.

Panji yang saat itu telah merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, kembali tersadar. Telinganya menangkap langkah-langkah kaki seperti menaiki anak tangga. Kemudian, langkah itu menuju ke arah kamarnya. Tentu saja hal itu membuatnya termenung sejenak. Karena, suara langkah yang menuju kamarnya itu jelas tidak disembunyikan pemiliknya sama sekali.

Kecungaan Panji lenyap setelah berpikir tidak mungkin seseorang yang akan berbuat jahat, tanpa menyembunyikan suara langkahnya. Tapi, ketika suara langkah kaki itu terdengar semakin bertambah banyak, karuan saja hati Panji menjadi curiga. Ia pun langsung melompat bangkit dari pembaringan. Ditatapinya pintu kamar, dengan sikap waspada.

Tepat suara langkah itu berhenti di depan pintu kamar, Kenanga bangkit dari atas pembaringan, dan menimbulkan suara berderit. Untunglah Panji bertindak cepat dengan memberikan isyarat, meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Sehingga, Kenanga membatalkan pertanyaan yang semula siap terlontar dari mulutnya. Dengan gerakan ringan, tanpa menimbulkan suara berarti, Kenanga melompat dari atas pembaringan, dan mendekati kekasihnya. Wajah gadis itu terlihat tegang, ketika mendengar suara langkah itu seperti berkumpul di depan pintu kamar.

"Ada apa, Kakang...? Siapa mereka...?" tanya Kenanga melalui gerakan bibirnya, tanpa menimbulkan suara yang bisa didengar orang lain. Jelas, pertanyaan gadis itu dilontarkan dengan menggunakan 'Ilmu Mengirim Suara dari Jauh'. Sehingga, hanya kepada orang yang dituju saja suara itu terdengar.

"Entahlah. Aku belum dapat menduga, apa maksud mereka berkumpul di depan pintu kamar kita? Yang pasti, mereka tidak beritikad baik..." sahut Panji, juga menggunakan ilmu yang sama, menjawab pertanyaan kekasihnya.

"Eeeaaargh...!"

Saat keduanya tengah menanti dengan hati dipenuhi bermacam pertanyaan, tiba-tiba terdengar suara raungan parau yang sangat keras. Belum lagi Panji dan Kenanga dapat menebak makhluk apa yang mengeluarkan raungan mengerikan itu, tiba-tiba pintu kamar penginapan itu jebol dengan menimbulkan suara hiruk-pikuk yang ramai.

Namun, Pendekar Naga Putih dan kekasihnya bukanlah orang bodoh. Cepat tubuh keduanya melesat hampir bersamaan, ke arah kiri dan kanan pintu kamar itu. Serpihan-serpihan pintu, membuat tubuh keduanya cukup terhalang dari pandangan sosok-sosok tubuh kaku yang bergerak memasuki kamar.

Panji yang telah mengerahkan tenaga pada pandangan matanya, menjadi terkejut ketika melihat segerombolan sosok tubuh itu melangkah kaku. Apalagi di antara gerombolan itu terdapat enam penjaga gerbang desa, dan pelayan rumah penginapan yang mengantarkannya ke kamar.

Namun, suara-suara erangan aneh dari mulut sosok-sosok tubuh itu membuat Panji tidak menegurnya. Malah, ia segera menarik tangan Kenanga, dan diajaknya ke luar. Pada saat Panji dan Kenanga melesat keluar kamar, rupanya beberapa sosok tubuh itu sempat menangkap bayangan mereka. Terbukti, empat di antara sosok-sosok tubuh kaku itu berbalik dengan tatapan mata mencorong tajam dan bersinar kehijauan.

"Eaaakh...!"

Panji dan Kenanga sempat menoleh ketika mendengar suara erangan parau yang mengandung kekuatan aneh. Dan ketika keduanya menoleh, empat sosok kaku itu tengah melesat dengan tangan terulur membentuk cengkeraman-cengkeraman maut! Melihat cara keempat sosok tubuh kaku itu menyerang, jelas kalau mereka menginginkan kematian Panji dan Kenanga.

Semula Kenanga tidak menanggapi sama sekali cengkeraman-cengkeraman yang dilakukan sosok tubuh itu. Karena gerakan mereka terlihat kaku. Sehingga, ia tidak begitu mempedulikan serangan mereka.

Panji segera menilai keempat orang itu, karena ia telah bertindak penuh perhitungan, dan tidak mau meremehkan segala sesuatu yang masih asing baginya. Dan, betapa terkejut hati Pendekar Naga Putih ketika merasakan adanya getaran hawa aneh yang terkandung dalam serangan keempat orang itu. Kenyataan itu membuat Panji segera mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya guna menjaga segala kemungkinan.

Begitu dua dari empat penyerang memilihnya sebagai sasaran, cepat-cepat Panji menggeser kaki kirinya ke samping. Gerakan itu masih dibarengi dengan putaran tubuhnya, dan sekaligus menyampok empat lengan yang menginc tubuhnya.

Wukkk!

"Aaakh...!"

Terdengar erangan parau bersamaan dengan terpentalnya tubuh dua orang penyerang Panji. Namun bagai orang yang tidak mengenal rasa sakit, keduanya kembali melompat bangkit, sambil meraung sebagai tanda kegusaranmereka. Panji sendiri sempat kaget ketika merasakan getaran aneh, sewaktu lengannya berbenturan dengan keempat lengan lawan. Dan yang membuat pemuda itu tidak habis mengerti, adanya rasa ngilu yang menjalar dari kedua lengannya. Karuan saja kenyataan itu membuat Panji menjadi lebih berhati-hati.

Pendekar Naga Putih yang sudah bersiap menghadapi kedua orang lawannya, terkejut ketika mendengar teriakan kaget yang berasal dari samping kiri. Tepat pada saat kepalanya menoleh, ia melihat tubuh kekasihnya terjajar mundur sampai hampir satu tombak jauhnya.

"Kenanga...!"

Sambil berseru keras, Panji yang mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya, bergerak cepat menyambut tubuh gadis jelita itu. Pemuda itu segera mengerti penyebab kekasihnya terdorong mundur adalah akibat berbenturan dengan dua orang manusia aneh itu.

"Aku tidak apa-apa, Kakang. Hanya saja aku merasa terkejut dengan adanya tenaga aneh, yang berasal dari tangan-tangan mereka. Jelas ini tidak wajar, Kakang. Sepertinya mereka tidak merasakan apa-apa akibat tangkisanku tadi. Padahal, tenaga yang kukerahkan tidak sedikit dan rasanya cukup untuk membuat mereka jera. Kenyataannya, justru akulah yang kaget oleh kekuatan yang mereka miliki. Benar-benar aneh...?" ujar Kenanga dengan wajah berkerut-kerut. Jelas gadis jelita itu tidak dapat menerima kenyataan yang baru saja dialaminya.

"Aku juga merasakannya. Karena itu, kita harus segera meninggalkan penginapan ini, untuk mencari tahu keanehan yang terjadi di Desa Siluman ini," ucap Panji yang segera mengambil keputusan. Semua itu dilakukannya demi untuk mencari tahu apa penyebab dari keanehan penduduk desa ini.

Dan tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya, Panji segera melesat sambil menggenggam tangan Kenanga. Sehingga dalam waktu singkat, keduanya telah berada di luar rumah penginapan itu. Meskipun telah berada di luar, ternyata bahaya masih tetap mengincar mereka. Dan, apa yang disaksikan Panji dan Kenanga, memang sangat mengejutkan.

"Ahhh...!?" Kenanga menahan jeritannya ketika menyaksi apa yang ada di luar rumah penginapan itu. Sehingga tanpa sadar, gadis jelita yang biasanya tidak mengenal rasa takut itu, bergerak mundur sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Hanya sepasang matanya saja yang terbelalak seperti tak percaya dengan apa yang disaksikannya.

Panji sendiri bukan tidak terkejut melihat puluh sosok tubuh bergerak maju, begitu mereka muncul dari dalam rumah penginapan. Sikap puluhan sosok tubuh itu mencerminkan ancaman terhadap mereka. Sehingga, hati Pendekar Naga Putih sempat geram dibuatnya.

"Siapa kalian...? Dan apa yang kalian inginkan dari kami berdua?" cetus Panji geram, sambil menahan rasa marah yang mulai bangkit ketika menyaksi puluhan orang itu telah mengurung mereka berdua.

"Mereka tidak mengenal kompromi lagi, Kakang. Gerakan mereka demikian kaku, seperti mayat-mayat yang baru bangkir dari kubur," desis Kenanga tergetar hatinya, melihat penampilan puluhan sosok tubuh itu.

"Hm… aneh…!" gumam Panji pula setelah mengamati sosok- sosok tubuh yang berjalan kaku itu.

Pertanyaan Panji tidak mendapat tanggapan sama sekali. Bahkan puluhan sosok tubuh itu bergerak terus, bagaikan mayat-mayat yang bangkit dari kuburnya. Wajah-wajah mereka pun terlihat pucat, dingin dan beku, tanpa menyiratkan perasaan sedikit pun. Seolah-olah puluhan sosok tubuh itu mengenakan topeng untuk menyembunyikan wajah asli mereka.

"Hm..., aneh...!" gumam Panji setelah mengamati beberapa sosok tubuh yang tengah melangkah mendekatinya. Kening pemuda tampan itu berkerut dalam. Sepasang matanya mencorong tajam seperti hendak menembus hati pengepungnya. Jelas sekali kalau pemuda itu tengah berpikir keras untuk memecahkan misteri yang dihadapinya. Sebelum Panji dan Kenanga bergerak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba dari dalam rumah penginapan itu telah bermunculan sosok-sosok tubuh dan mengejar mereka. Cepat-cepat sepasang muda-mudi bergerak ke tempat aman.

"Hm..., sepertinya pertempuran tidak mungkin bisa dihindari lagi...," gumam Panji dengan wajah duka. Dari nada ucapannya, Pendekar Naga Putih tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena, penyebab puluhan orang itu hendak mencelakai mereka, belum diketahui. Menyadari kalau puluhan sosok tubuh itu barangkali tidak berdosa, Panji bersikap menghindari pertempuran. Karena ia tahu kekuatan sosok-sosok tubuh itu, sehingga bukan tidak mungkin akan menjadi korban. Hal itulah yang ingin dihindari Panji.

"Benar, Kakang. Setelah merasakan kekuatan yang mereka miliki, rasanya sulit untuk lolos tanpa melukai atau membunuh beberapa di antara mereka. Hihh..., apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kita...?" desah Kenanga yang menyadari keadaan benar-benar terjepit

"Kreaaagh...!"

Tiba-tiba, sebelum Panji memutuskan apa yang harus dilakukan, terdengar raungan parau yang sepertinya merupakan sebuah perintah. Hal itu terbukti dengan semakin cepatnya sosok-sosok tubuh kaku itu bergerak maju. Bahkan beberapa di antara mereka sudah melompat menerjang!

"Kita coba untuk lolos dari kepungan tanpa harus mencelakai mereka. Sebab, menurut penglihatanku, orang-orang ini seperti tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Pasti ada biang keladi dari semua kujadian ini...!" ujar Panji mengingatkan kekasihnya agar tidak sembarangan melepaskan pukulan.

"Aku akan berusaha sebisanya, Kakang...," sahut Kenanga sambil bersiap memasang kuda-kuda.

Belum habis gema suara gadis itu, tiba-tiba dari depan empat sosok tubuh kaku itu telah menerkam Kenanga. Bahkan, pada saat yang bersamaan, para pengejarnya yang berada di belakang ikut pula menyerbu. Sehingga kedudukan gadis jelita itu menjadi terjepit. Menyadari untuk menghadapi para pengeroyoknya harus menggunakan kelmeahan, maka Kenanga mulai menggeser tubuhnya dengan gerakan ringan. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, para pengroyok itu kehilangan buruannya.

"Haiiit..!"

Disertai sebuah seruan nyaring, Kenanga melesat sambil melontarkan pukulan guna mengurangi tekanan lawan. Karena gerakan gadis jelita itu hampir menyerupai bayang-bayang yang sukar untuk dijamah, maka dalam beberapa gerakan saja, beberapa orang pengeroyoknya terjungkal akibat hantaman telapak tangan gadis jelita itu.

Tapi kekuatan para pengeroyok itu benar-benar menakjubkan! Sehingga Kenanga sendiri hampir tidak mempercayai penglihatannya. Bahkan sampai-sampai ia mulai meragukan kekuatan tenaga saktinya. Karena setiap kali tubuh pengeroyoknya terjungkal keras mereka selalu bangkit seketika tanpa merintih kesakitan sedikit pun! Padahal, Kenanga tahu kalau pukulan yang dilontarkannya itu bisa menewaskan lawan yang tidak memiliki kekuatan tenaga dalam. Tapi, para pengeroyoknya itu seperti tidak merasakan kerasnya pukulan gadis jelita itu.

"Gila! Mereka pasti bukan manusia...!" umpat Kenanga yang terpaksa terus menggunakan kelemahannya sambil sesekali melontarkan pukulan dan tendangan.

Sadar kalau lama-kelamaan ia bisa kehabisan tenaga, bila selalu melontarkan pukulan dan tendangan, maka serangan balasannya pun mulai dikurangi. Sehingga, Kenanga lebih banyak menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menghadapi keroyokan makhluk-makhluk aneh yang sangat kuat itu.

Demikian pula halnya dengan Panji. Beberapa orang pengeroyoknya yang terkena pukulan keras, segera bangkit, membuat pemuda itu menjadi heran. Padahal, tenaga pukulan maupun tamparannya, dapat menghancurkan sebuah batu besar. Tapi, semua itu seperti tidak berarti apa-apa bagi para pengeroyoknya. Kenyataan itu membuat Panji terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh guna menekan desakan pengeroyoknya.

Kenyataan yang dialami Panji kali ini benar-benar membuat pemuda itu hampir tak percaya. Ketika ia menggunakan kelincahannya untuk mengurangi tekanan lawan, mendadak beberapa di antara para pengeroyoknya melesat dengan kecepatan kilat sambil melontarkan pukulan-pukulan maut yang menebarkan hawa aneh!

"Aihhhh...!"

Panji berseru tertahan ketika empat sosok tubuh yang muncul dari barisan pengeroyoknya, bergerak bagai kilat dengan posisi tubuh menelungkup. Tubuh-tubuh keempat orang itu tak ubahnya seperti terbang, menerjang Panji dengan cengkeraman-cengkeraman maut. Begitu berhasil menghindari serangan empat orang yang ternyata dapat bergerak cepat itu, Panji segera melanjutkan dengan lompatan dan berputar di udara.

"Hm..., hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut..," gumam Pendekar Naga Putih yang segera menyiapkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Kesadaran untuk menggunakan tenaga mukjizat jelman Pedang Naga Langit itu, segera muncul setelah melihat gerakan empat orang lawannya yang jelas-jelas sangat berbahaya. Selain itu, 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' merupakan suatu kekuatan ajaib yang mampu mengusir atau melenyapkan pengaruh-pengaruh aneh bagi lawan-lawannya. Beberapa pemikiran itulah yang membuat Panji memutuskan untuk menggunakan tenaga ajaibnya.

TIGA

"Hmh..."

Seiring geraman lirih yang keluar dari mulut Panji, terciptalah lapisan sinar kuning keemasan yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Namun, pada saat Panji telah siap melontarkan pukulan-pukulan, terdengar jerit kesakitan. Pendekar Naga Putih tahu suara itu berasal dari Kenanga. Maka, ketika itu juga tubuh Panji segera melesat untuk menyambut tubuh gadis jelita yang tengah melayang, dan mungkin akan terbanting bila Panji tidak segera menyambutnya.

"Uhhh..., mereka pasti bukan manusia, Kakang," rintih Kenanga dengan suara lirih. Dari sela-sela bibirnya terlihat cairan merah merembes keluar. Jelas, gadis jelita itu telah terkena pukulan dari salah seorang lawan.

"Hmh...," Panji menggeram gusar ketika melihat gadis jelita yang dikasihinya itu telah mendapat luka. Wajahnya yang semula tenang, berubah kemerahan. Jelas Pendekar Naga Putih telah terbangkit kemarahannya.

"Kita harus meloloskan diri dari kepungan mereka, Kakang. Tubuh mereka kebal terhadap pukul pukulan kita...," ujar Kenanga yang sudah bisa menguasai rasa sakitnya. Meskipun demikian, wajah itu telihat agak meringis sambil meremas lambungnya. Rupanya pukulan salah seorang pengeroyok mengenai lambungnya.

Sosok-sosok tubuh kaku yang tak ubahnya seperti mayat- mayat hidup itu terus bergerak mendekati mereka. Bahkan enam orang dari makhluk-makhluk aneh itu telah melesat bagaikan terbang dengan cengkeraman-cengkeraman mautnya! Keenam sosok tubuh itu jelas pimpinan makhluk aneh itu. Terbukti dari kepandaian mereka yang melebihi puluhan sosok lainnya.

"Yang mengenakan pakaian coklat itulah yang melukaiku, Kakang...," desah Kenanga yang telah bersiap kembali menghadapi segala kemungkinan.

"Hm..., sepertinya keenam orang itu pimpinan mereka. Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dan berbahaya daripada yang lainnya. Biar aku akan mencoba untuk melumpuhkan mereka terlebih dahulu...," ucap Panji sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang tangan pemuda itu kemudian bergerak membuka, dan siap melontarkan pukulan hebat.

"Haittt...!"

Begitu keenam sosok tubuh itu makin dekat. Panji berseru nyaring sambil mendorongkan kedua telapak tanganya ke depan.

Whusss...!

Serangkum cahaya kekuningan berpendar, dan meluncur memapaki keenam sosok tubuh yang tengah melayang di udara itu. Dan....

Bresssh...!

Terdengar dentuman keras yang kemudian disusul dengan memecahnya sinar kuning keemasan ke segala arah. Jelas dorongan telapak tangan Panji telah mengenai sasaran Apa yang dilakukan Pendekar Naga Putih, ternyata telah membawa hasil baik. Terbukti dua dari enam sosok tubuh yang tengah melayang itu, langsung terjerembab jatuh ke atas tanah. Tubuh kedua sosok itu tidak lagi bangkit seperti semula. Keduanya diam tak berkutik, seperti telah menjadi mayat.

"Tewaskah mereka, Kakang...?" tanya Kenanga telah melihat kedua sosok tubuh itu tidak lagi bergerak akibat pukulan kekasihnya.

"Entahlah. Tapi, kalau melihat adanya sinar keemasan yang menyelubungi mereka, jelas mereka belum tewas. Kalau sinar itu masih menyelimuti tubuh korban, berarti orang yang menjadi sasaran pukulan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' masih menyimpan racun atau luka dalam tubuhnya. Dan, boleh jadi pengaruh sihir yang tengah dilenyapkan oleh tenaga mukjizat itu," jelas Panji. Kenanga mengangguk-angguk puas.

Robohnya dua orang pengeroyok itu, ternyata menimbulkan pengaruh besar bagi sosok-sosok tubuh kaku lainnya. Terbukti mereka tidak lagi bergerak maju. Bahkan keempat orang yang memiliki kepandaian mengerikan itu, tertegun sambil menatapi tubuh kedua kawannya. Kesunyian itu berlangsung cukup lama. Sehingga baik Panji maupun Kenanga ikut terdiam, seperti menanti kelanjutan dari sosok-sosok tubuh kaku itu.

"Mengapa tidak kita tinggalkan saja tempat mengerikan ini, Kakang...?" tanya Kenanga yang sepertinya tidak mau menyia- nyiakan kesempatan baik itu.

"Sebentar. Aku ingin melihat tindakan mereka selanjutnya, setelah dua kawan mereka kupukul roboh," sahut Panji yang sepertinya tidak lagi merasa khawatir. Karena, telah menemukan cara untuk menundukkan para pengeroyoknya.

Tidak setujunya Panji dengan usul yang diajukan Kenanga itu, karena ia mengira kalau para pengeroyoknya akan menjadi jera. Dengan begitu, Panji berharap dapat menyingkap misteri yang menyelimuti Desa Siluman. Tapi, apa yang diharapkan Panji ternyata tidak menjadi kenyataan. Karena sosok-sosok tubuh itu kembali bergerak mendekati mereka, ketika hembusan angin dingin bertiup keras. Sehingga, pepohonan di sekitarnya berderak ribut. Karuan saja keadaan itu sempat membuat Panji terperangah.

"Mereka..., mulai lagi, Kakang...," desis Kenanga yang juga menjadi kaget.

Tapi bukan gerakan sosok-sosok tubuh kaku itu yang membuat Panji terperangah. Ada kejadian lain yang membuat Pendekar Naga Putih semakin tidak mengerti, sampai-sampai ia tertegun bagai tak mempercayai penglihatannya. Dua di antara empat pemimpin sosok-sosok tubuh kaku itu, terlihat merunduk, lalu menempelkan telapak tangannya ke dada dua orang yang tadi terkapar akibat hantaman Panji. Tampak kepulan uap putih keluar dari telapak tangan kedua sosok tubuh itu. Seiring dengan erangan parau yang panjang dan mendirikan bulu roma, dua sosok tubuh yang tengah terkapat itu mendadak bangkit dengan tubuh tegak bagaikan sebatang tonggak. Kejadian itulah yang membuat Pendekar Naga Putih terperangah.

"Gila! Ilmu iblis apa yang mereka pergunakan itu...?" desis Panji dengan perasaan takjub. Kendati pengalamannya selama ini telah cukup banyak, tapi ilmu yang disaksikannya itu belum pernah dilihatnya sama sekali. Wajar kalau pemuda itu terkejut.

"Jelas mereka memiliki ilmu sesat yang sangat tinggi, Kakang," ujar Kenanga yang juga terbelalak takjub melihat bangkitnya dua sosok tubuh yang tadi dirobohkan kekasihnya.

"Tidak ada jalan lain, kita harus meninggalkan tempat celaka ini...," ujar Panji sambil menghimpun 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'nya kembali, "Bersiaplah untuk lepas dari kepungan mereka, Kenanga"

"Baik, Kakang."

"Ikuti gerak langkah kakiku...!" perintah Panji sambil menggeser langkahnya ke samping kanan. Kemudian melontarkan hantaman telapak tangan susul-menyusul. Hal itu dilakukan Pendekar Naga Putih untuk mengacaukan kepungan lawan.

Whusss.!

Gumpalan sinar kuning keemasan berpendar dan memecah menjadi tiga bagian. Masing-masing dari gumpalan sinar itu menerjang belasan orang pengepung yang bergerak mendekat. Dan....

Blasss.... Bresssh.!

Letupan keras terdengar saling bersusulan, yang diiringi terjungkalnya sosok-sosok tubuh para pengepung ke segala arah, Kemudian jatuh terkapar tanpa dapat bangkit lagi. Tapi, lagi-lagi Pendekar Naga Putih dan Kenanga harus menyaksikan pemandangan yang membuat dada mereka berdebar tegang. Belasan sosok tubuh yang terkapar tak bergerak itu, kembali bangkit setelah kawan-kawannya yang lain mengusapkan telapak tangan pada bagian dada tubuh kawannya yang tergeletak. Hebatnya sosok-sosok tubuh itu kembali bangkit seperti tidak merasakan hantaman Pendekar Naga Putih.

Tapi, semua itu tidak sempat terpikirkan oleh Panji maupun Kenanga. Sebab, enam orang pimpinan rombongan manusia aneh itu telah melayang dengan cengkeraman-cengkeraman mautnya. Sehingga, Panji kembali melontarkan pukulan dahsyatnya ke arah mereka.

Blarrr...!

"Aaakh...!"

"Hugkh...!"

Terdengar jerit kesakitan ketika lontaran pukulan Panji telak mengenai empat orang terdepan. Akibatnya, keempat sosok tubuh itu terpental bagaikan sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Sedangkan dua orang lainnya sudah mendekati dan mengancam pemuda itu.

Bettt...! Bettt...!

Cepat-cepat Panji memutar tubuhnya sebanyak dua kali guna menghindari cengkeraman maut kedua lawannya. Kemudian dengan sebuah gerakan yang lincah, Panji melepaskan tendangan kilat yang sama kali tidak diduga lawannya. Untuk kesekian kalinya, Pendekar Naga Putih mengeluarkan suara pujian terhadap kedua lawannya. Karena serangan balasan yang dilontarkannya itu ternyata dapat dihindari lawan dengan menarik tubuh ke belakang dalam keadaan kuda-kuda rendah, dan doyong ke belakang.

Panji bukanlah pendekar kemarin sore yang tidak memiliki pengalaman bertempur. Sebaliknya malah sudah banyak sekali pengalaman-pengalaman hebat yang dialaminya. Dan, semua pengalaman itu telah membuatnya mampu membaca gerakan lawan. Sehingga, ketika tendangannya luput, tubuh Panji bergerak membungkuk dengan kuda-kuda rendah. Bersamaan dengan itu, sepasang tangannya bergerak bagai kilat menggedor dada lawan.

Blagggh...! Bukkk...!

Bukan main hebatnya akibat hantaman sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih. Tanpa dapat dicegah lagi, hantaman telak yang mengenal dada kedua orang lawannya, membuat keduanya terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang. Kedua sosok tubuh yang menjadi sasaran kegeraman Pendekar Naga Putih terkapar di atas tanah dengan rintihan parau.

"Huagkh...!"

Setelah memuntahkan darah segar dari mulut masing- masing, tubuh kedua korban hantaman telapak tangan Panji itu pun rebah dan tidak bergerak lagi. Jelas, mereka tewas akibat hantaman dahsyat Pendekar Naga Putih.

"Terpaksa aku melakukannya, Kenanga.... Semula aku berniat untuk menyembuhkan mereka, bila dugaanku benar bahwa mereka tengah dipengaruhi suatu kekuatan aneh. Tapi, desakan mereka telah membuatku khilaf...," desah Panji dengan nada penuh sesal. Jelas, hal itu memang di luar perhitungannya.

"Jadi pukulan-pukulan Kakang yang membuat mereka roboh sebelumnya, hanya untuk mengusir pengaruh aneh pada diri mereka...?" tanya Kenanga dengan wajah heran. Gadis ini memang tidak mengetahui rencana apa di benak kekasihnya. Tapi, untuk menjelaskan semua itu memang tidak ada waktu lagi.

"Benar. Itulah sebabnya mengapa mereka dapat bangkit kembali, tanpa mengalami luka ataupun memuntahkan darah. Tapi, dua orang itu tidak mungkin dapat bangkit lagi. Sebab, pukulanku bukan untuk melenyapkan mereka dari pengaruh aneh, tentu saja kalau dugaanku itu betul...," sahut Panji sambil menghela napas berat berkepanjangan.

"Sudahlah, Kakang. Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Sebaiknya kita segera meninggalkan desa ini, sebelum korban lain berjatuhan," usul Kenanga yang membuat Panji tersadar.

"Ayolah...," sahut Panji yang segera mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu, selagi para pengeroyoknya sibuk mengurusi tubuh-tubuh kawannya yang bergeletakan akibat pukulan Panji.

Hanya dalam sekejapan mata saja, sosok Panji dan Kenanga lenyap ditelan kegelapan malam. Keduanya terus melesat menuju perbatasan Desa Siluman. Sepertinya sepasang pendekar muda itu telah bertekad untuk menjauhi desa yang penuh misteri itu.

********************

Panji membuka kelopak matanya ketika cahaya matahari pagi menerobos celah dedaunan. Sambil menggosok kedua matanya, pemuda itu bangkit dan mengedarkan pandangan berkeliling.

"Ah, rupanya harum daging bakar itulah yang membuat perutku sudah keroncongan sepagi ini," ujar Panji. Sambil berkata demikian, bibir pemuda tampan itu menyunggingkan senyum manis ketika melihat dua ekor kelinci panggang sudah tersedia di dekatnya.

"Eit, nanti dulu, Tuan Besar...," cegah Kenanga tersenyum sambil menangkap tangan Panji yang tengah terulur hendak mengambil seekor kelinci bakar itu. "Bersihkan dulu tubuhmu, mana bisa begitu bangun tidur langsung makan."

Mendengar ucapan itu, Panji segera bangkit dari duduknya. Setelah melontarkan senyum kepada gadis itu, Panji pun bergegas menuju aliran sungai yang gemericik airnya terdengar dari tempat itu. Tidak berapa lama kemudian, Panji sudah kembali dengan rambut yang basah dan wajah segar. Pemuda tampan itu langsung saja menjatuhkan pantatnya di samping Kenanga.

"Hm..., kelinci hutan ini pasti sedap. Dari mana kau memperolehnya, Kenanga?" tanya Panji yang segera menyambar kelinci bakar itu.

"Kebetulan aku temukan kelinci itu di dekat semak belukar di tepi sungai. Tentu saja santapan lezat itu tidak kulewatkan," sahut Kenanga yang juga telah menyambar seekor daging kelinci bakar.

"Syukurlah. Dengan demikian, aku tidak perlu bersusah- payah lagi untuk mencari pengisi perut..," ujar Panji seraya tersenyum.

Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, keduanya segera menyantap habis daging kelinci itu. Sayang, kenikmatan mereka agak terganggu dengan suara derap kuda, yang sepertinya tengah melintas ke arah mereka. Sehingga, untuk beberapa saat mereka saling berpandangan dengan sikap waspada.

Tak lama kemudian, kira-kira enam tombak lebih dari tempat keduanya duduk, melintas lima ekor kuda. Melihat dari buntalan cukup besar di punggung kuda itu, jelas rombongan kecil itu merupakan pedagang-pedagang keliling, yang akan menjajakan barang dagangannya ke pelosok-pelosok desa.

"Kita harus mencegah mereka, Kakang. Sepertinya rombongan pedagang keliling itu hendak menuju Desa Siluman," ucap Kenanga yang menjadi cemas ketika melihat rombongan pedagang itu tengah menuju Desa Siluman yang penuh misteri.

Panji menganggukkan kepala, kemudian bangkit dan bergerak menghampiri rombongan kecil itu. Sedangkan Kenanga hanya mengikutinya dari belakang.

"Kisanak, berhenti sebentar...!" cegah Panji sambil melambaikan tangannya dari jarak dua tombak. Sehingga, para pedagang itu menoleh dengan kening berkerut.


"Hm.., ada keperluan apa kalian berdua menghadang perjalanan kami...?" tanya salah seorang dari lima orang pedagang itu dengan wajah tak sedap. Bahkan nada suaranya terdengar mengandung kecurigaan yang tidak disembunyikan.

"Maaf, kalau boleh aku tahu, hendak ke manakah Kisanak sekalian...?" tanya Panji setelah membungkuk hormat. Wajah dan nada suara pemuda itu tetap lembut dan sopan. Melihat sikap maupun cara berbicara Panji yang ramah dan sopan, kelima pedagang keliling itu sejenak saling berpandangan. Seolah-olah dengan saling berpandangan itu, mereka hendak meminta pendapat satu sama lain mengenai sikap pemuda tampan itu.

"Mmm..., melihat sikap dan wajahnya, jelas pemuda itu bukan orang jahat. Mungkin ia memang hendak mengetahui tujuan perjalanan kita," ucap salah seorang pedagang dengan suara berbisik lirih.

"Tapi, kita jangan percaya dulu dengan penampilan luar seseorang. Apalagi di tempat sunyi seperti ini, bisa jadi sikap ramah dan sopannya itu hanya tipuan belaka. Setelah kita lengah, maka habislah barang-barang kita dibawanya lari," dengus salah seorang pedagang yang tetap mencurigai Panji dan Kenanga.

Walaupun perdebatan itu dilakukan dengan berbalik, tapi bagi orang seperti Pendekar Naga Putih, tentu saja dapat menangkap pembicaraan mereka dengan baik. Pemuda itu tersenyum sabar. Kemudian kakinya melangkah lebih dekat.

"Paman sekalian," ujar Panji lagi, tetap sopan. Kecurigaan yang kalian tunjukkan itu sama sekali tidak salah. Sikap seperti itu memang perlu, apalagi bila berjumpa dengan seseorang yang tidak dikenal sama sekali di tempat sunyi. Tapi, percayalah kami berdua tidak berniat jahat terhadap kalian. Kami hanya ingin mengingatkan, desa di depan itu tidak baik bagi pedagang-pedagang seperti kalian. Lebih baik carilah desa lain, selain Desa Siluman itu," ujar Panji, mengutarakan kekhawatirannya terhadap pedagang-pedagang itu. Semua itu dijelaskan Panji untuk menghilangkan kecurigaan para pedagang itu.

Ketika mendengar keterangan Panji, para pedagang keliling itu hampir meledak tawanya. Mereka meremehkan apa yang dikatakan pemuda tampan itu.

"Ha ha ha...," karena tidak tahan mendengar keterangan Panji, salah seorang yang bertubuh kecil kurus, tertawa tergelak, meskipun berusaha ditahan. "Lalu, apa yang kau inginkan, Kisanak? Keteranganmu itu hanya pantas untuk seorang anak kecil. Dan kalau memang kau ingin merampas barang dagangan kami, pergunakanlah kepandaianmu, mengapa harus bersiasat seperti itu?" ejek pedagang kurus itu melecehkan.

"Benar, Anak Muda. Jangan coba-coba menakut-nakuti kami. Sebab hal itu akan percuma saja. Nah kalau mau merampas tidak perlu menggunakan siasat seperti itu," sambut yang lainnya seraya tertawa bergelak-gelak.

"Hei, manusia tidak tahu diuntung!" teriak Kenanga yang merasa tersinggung mendengar ucapan yang mengejek kekasihnya. Kemarahannya pun makin meluap. "Kalau kalian memang hendak singgah di Desa Siluman, silakan ke sana! Dan, jangan menyesal kalau kalian akan terbujur menjadi mayat!"

"Hm..., dari mana kalian mengenal desa itu sebagai Desa Siluman? Setahu kami, nama desa itu adalah Kalianyar. Jelas, kalau kalian berdua bermaksud menipu kami," sambut salah seorang pedagang itu yang juga merasa tersinggung dengan bentakan Kenanga.

"Desa Kalianyar...? Tapi, malam tadi kami baru saja singgah untuk bermalam di sana. Menurut keterangan salah seorang keamanan, desa itu bernama Desa Siluman. Mana mungkin kami salah dengar?" bantah Panji yang merasa heran ketika pedagang itu itu menyebut nama desa itu sebagai Desa Kalianyar. Jelas, menurutnya telah terjadi kekeliruan di antara mereka.

"Huh! Sudahlah, Kakang. Untuk apa mengingatkan orang- orang keras kepala yang konyol itu. Lebih baik kita lihat saja, semoga mereka tidak menjadi arwah penasaran!" geram Kenanga yang segera mengajak Panji meninggalkan rombongan pedagang itu. Sebab, kalau lama-lama berdebat dengan orang-orang itu, Kenanga khawatir kemarahannya bisa meledak, tanpa dapat ditahan.

Panji mengerti mengapa Kenanga mengajaknya meninggalkan rombongan pedagang keliling itu, dan ia sama sekali tidak berusaha untuk membantah. Pemuda itu menurut saja ketika tangannya ditarik oleh gadis jelita itu. Para pedagang keliling itu menggelengkan kepala setelah kedua orang muda itu semakin jauh. Kemudian, tanpa mempedulikan peringatan Panji dan Kenanga, rombongan pedagang itu pun kembali bergerak menuju Desa Kalianyar.

EMPAT

"Kita tidak bisa berdiam diri saja, apabila terjadi apa-apa dengan mereka, Kenanga. Lebih baik kita ikuti saja, dan baru turun tangan, bila terjadi sesuatu," usul Panji yang sudah berhenti melangkah, menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon.

"Untuk apa, Kakang? Bukankah kita sudah memberikan peringatan? Kalau memang nanti mereka mendapat celaka, itu sudah menjadi risiko mereka. Biar saja risiko itu mereka tanggung sendiri," Kenanga yang masih belum lenyap kekesalannya, tidak dapat menerima usul kekasihnya.

"Hm..., jangan bersikap seperti itu, Kenanga. Biar bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa. Lagi pula, mungkin saja desa itu bernama Kalianyar seperti yang dikatakan salah seorang pedagang tadi. Karena, ia sangat yakin dan mantap sekali mengucapkan nama desa itu," bujuk Panji yang mencoba melunakkan hati kekasihnya.

"Tapi kejadian yang baru kita alami semalam, Kakang. Jelas sekali mereka menyebut nama desa itu sebagai Desa Siluman ketika aku bertanya kepada salah seorang yang mengantarkan kita ke penginapan. Apakah mungkin pendengaranku kurang beres?" Kenanga masih tetap membantah dengan nada agak jengkel.

"Ya, aku pun mendengar jawaban itu. Tapi, sebaiknya kita selidiki dulu kebenaran kata-kata pedagang keliling itu. Ayolah, tidak baik kau mendendam hanya karena persoalan sepele seperti ini," ajak Panji yang segera melangkah dan mengulurkan tangannya membelai rambut gadis jelita yang tengah jengkel itu.

Kenanga tidak segera menyambut ajakan Panji. Gadis jelita itu bungkam dengan wajah muram. Baru setelah Panji memeluk tubuhnya, gadis jelita itu mendongak. Ditatapnya wajah Panji dengan sepasang mata beningnya.

"Baiklah, Kakang. Kita memang berniat menyelidiki desa penuh misteri itu. Jadi, kedatangan kita ke sana bukan cuma karena hendak menyelamatkan para pedagang sombong itu. Tapi, penduduk desa itulah yang harus kita selamatkan," akhirnya Kenanga menyetujui juga usul Panji, meskipun dengan alasan yang berbeda.

"Begitupun boleh," sahut Panji yang segera mengecup lembut rambut Kenanga.

Tak lama kemudian, mereka pun kembali melangkah menuju Desa Siluman. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Sepanjang perjalanan, mereka terbawa oleh arus pikirannya masing-masing.

Saat matahari mulai bergerak naik, sepasang pendekar itu pun tiba di mulut Desa Siluman. Dan apa yang mereka saksikan, benar-benar sulit dipercaya! Tampak mulut desa itu ramai oleh para pedagang. Panji dan Kenanga mengedarkan pandangan ke sekitar keramaian pasar itu. Kening keduanya berkerut menyaksikan wajah-wajah yang sama sekali jauh berbeda dengan apa yang mereka saksikan semalam. Tak satu pun dari orang-orang di pasar itu berwajah pucat dan bergerak kaku. Kenyataan itu tentu saja menimbulkan tanda tanya besar dalam hati mereka.

"Paman, kalau boleh kutahu, apakah nama desa ini...?" Kenanga tidak sabar lagi, langsung dihampirinya seorang pedagang kulit binatang, dan langsung menanyakan nama desa itu.

"Apakah Nisanak baru pertama kali datang ke desa ini?" pedagang yang ditanya itu malah balik bertanya, hingga Kenanga terpaksa menelan rasa kedongkolan dalam hatinya.

"Benar, Paman. Dan aku belum tahu nama desa ini," sahut Kenanga cepat-cepat.

"Kalau begitu, sering-seringlah singgah di Kalianyar ini. Setiap pekan, desa kecil ini selalu ramai dikunjungi para pendatang yang ingin membeli kulit binatang hasil tangkapan penduduk asli. Kulit dari jenis binatang apa pun, mudah diperoleh di sini hanya dengan beberapa keping uang," jelas lelaki itu sambil menawarkan barang dagangannya.

"Terima kasih. Saat ini aku belum membutuhkannya," sahut Kenanga yang segera berlalu meninggalkan pedagang itu. Kenanga yang jelas-jelas merasa tidak puas dengan jawaban pedagang kulit binatang itu, segera mengajak Panji menjauhi keramaian pasar.

"Jelas apa yang kita alami semalam sekadar mimpi. Dan, aku semakin penasaran untuk mengungkap misteri yang menyelimuti desa terpencil ini," gumam Panji yang rupanya mendapat keterangan yang sama dengan kekasihnya. Sehingga, hati pemuda itu kian bertambah penasaran.

"Sekarang marilah kita datangi rumah penginapan yang semalam kita tempati," usul Kenanga yang juga kian penasaran dengan semua keterangan dan apa yang dilihatnya pagi ini.

Gadis jelita itu merasa kalau ia dan kekasihnya telah dipermainkan oleh orang-orang yang sama sekali tidak diketahui. Ketika keduanya hampir tiba di dekat rumah penginapan yang juga menyediakan kedai makan itu, mendadak langkah Kenanga terhenti. Ia melihat di depan kedai itu ada lima ekor kuda yang tengah ditambatkan.

"Ada apa...?" tanya Panji ketika melihat Kenanga menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Pedagang-pedagang sombong itu ada di dalam kedai, Kakang. Lebih baik kita menghindar saja, daripada membuat keributan di dalam kedai makan itu." ujar Kenanga dengan wajah muram. Jelas sekali kalau gadis jelita itu tengah dilanda kemarahan.

Mendengar ucapan kekasihnya, Panji mengerti mengapa Kenanga mengurungkan niatnya untuk mendatangi kedai tempat mereka menginap semalam. Sebab, lima ekor kuda itu adalah milik pedagang-pedagang keliling yang sempat mereka nasihati. Pemuda itu pun tahu, bila ia memaksa untuk memasuki kedai, sudah pasti para pedagang keliling itu akan mencemoohkan mereka.

"Kalau begitu, kita cari kedai lain saja...," ajak Panji sambil melangkah meninggalkan kedai, yang hanya tinggal beberapa tombak di depan mereka.

Setelah keduanya agak lama mengitari desa ternyata mereka tidak menemukan adanya kedai lain. Kedai makan, tempat mereka menginap semalam merupakan satu-satunya penginapan dan sekaligus kedai makan di Desa Kalianyar itu. Memang hal itu wajar. Karena Desa Kalianyar merupakan desa kecil yang hanya dihuni beberapa puluh orang penduduk.

"Kurang ajar! Apa yang harus kita perbuat sekarang, Kakang?" geram Kenanga yang merasa jengkel dengan keadaan itu.

"Hm..., lebih baik kita terus saja keluar perbatas desa sebelah Timur. Dari sana mungkin kita bisa menyelidiki, kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pegangan," usul Panji yang segera disetujui Kenanga.

Pasangan pendekar yang tengah dilanda tanda tanya besar itu melangkah perlahan menuju batas desa sebelah Timur. Setelah jalan yang mereka lalui agak sepi, barulah keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mengitari Desa Kalianyar.

********************

Matahari sudah semakin naik tinggi ketika Panji dan Kenanga memasuki sebuah daerah perbukitan tandus. Keduanya mengernyitkan hidung ketika mencium sesuatu yang tidak sedap.

"Uh, bau apa ini, Kakang..?" desis Kenanga sambil memijit hidungnya ketika bau yang tak sedap menyergapnya.

"Seperti bau busuk yang berasal dari tubuh mayat. Sebaiknya kita selidiki lebih ke dalam," sahut Panji yang segera melanjutkan langkahnya sambil menahan rasa mual.

"Uhhh...," Kenanga kembali mengeluh dan jengkel. Dilepaskannya sabuk hijau yang melingkari pinggangnya. Kemudian dilekatkan ke kepalanya hingga menutupi hidung. Setelah itu, baru bergerak menyusul Panji.

Bau busuk yang memenuhi sekitar perbukitan itu terasa makin keras, ketika keduanya tiba di sebuah tempat yang agak rendah. Sewaktu Panji memaksakan diri melihat ke bawah, cepat pemuda itu melompat mundur.

"Ada apa, Kakang...?" tanya Kenanga dengan wajah berubah. Jelas, gerakan Panji yang tiba-tiba itu telah membuatnya terkejut.

"Bau busuk itu pasti berasal dari bawah sana," ujar Panji yang rupanya ketika menjenguk ke bawah ada hawa busuk yang sangat keras menyambar. Sehingga, pemuda itu terlompat kebelakang.

"Hm..., apa yang kalian cari di tempat sunyi ini."

Tiba-tiba terdengar teguran dengan suara parau dan napas agak terengah. Disusul munculnya seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, yang menggendong ranting kering di pundaknya. Hal itu menandakan kalau ia adalah seorang pencari kayu.

Baik Panji maupun Kenanga menoleh serentak ketika mendengar suara teguran yang mengejutkan itu. Keduanya menatap dengan kening berkerut ketika melihat seorang laki-laki tua menghampiri mereka.

"Siapakah Kakek? Dan mengapa muncul tiba-tiba. Anehnya, kami sama sekali tidak mendengar langkah kaki Kakek?" tanya Kenanga yang merasa curiga melihat kemunculan laki-laki tua itu yang demikian tiba-tiba.

"Ah..., benar-benar aneh sekali kau ini, Nisanak. Pertanyaanku belum lagi kau jawab, eh...! Sudah menanyakan orang. Aih..., benar-benar dunia sudah terbalik. Lagi pula mana bisa orang mendengar langkah kaki orang lain? Apakah kalian berdua ini malaikat sampai-sampai suara langkah kaki orang pun kalian pedulikan," omel laki-laki tua itu seperti tidak senang dengan sikap Kenanga. Namun, sorot matanya tanpa rasa tersinggung sedikit pun.

Melihat suasana yang kurang enak itu, Panji bergegas melangkah melewati Kenanga. Dengan sikap hormat, pemuda itu membungkukkan tubuhnya.

"Maaf, Kek. Kami adalah dua orang pengembara yang tersesat. Karena tertarik dengan adanya bau busuk di sekitar tempat ini, maka kami mencoba mencarinya. Sepertinya, kami sudah menemukan sumber bau tak sedap itu di kaki bukit sebelah Barat. Karena terlalu bernafsu, kami sampai tidak memperhatikan keadaan di sekeliling. Sehingga, kehadiran Kakek sempat mengejutkan kami berdua," ucap Panji dengan nada sopan.

"Hm..., anak baik.., anak baik. Nada bicara dan sikapmu sangat sopan sekali. Tentu kau orang kota yang kaya dan terpelajar. Apakah dugaanku salah?" ujar laki-laki tua itu, mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan, yang bernada menyelidik.

Panji bukanlah orang bodoh. Meskipun laki-laki tua itu mengatakan tidak mengerti ilmu silat, dengan mengibaratkan orang yang mendengar langkah kaki manusia lain sebagai malaikat, namun gerak-gerik laki-laki tua itu tidak luput dari pengamatan matanya yang tajam. Dari gerak langkah maupun potongan tubuh laki-laki tua itu, jelas ia bukan orang lemah.

Panji menduga paling tidak laki-laki tua itu memiliki atau pernah mempelajari ilmu silat. Tapi entah mengapa hal itu seperti hendak disembunyikannya. Hal itu membuat Pendekar Naga Putih mengambil keputusan untuk berpura-pura bodoh, dan tidak mengetahui. Sedangkan laki-laki tua itu sudah melangkah mengitari tubuh Panji. Menilik dari sikapnya, jelas hendak menilai Pendekar Naga Putih.

"Hm..., untuk apa kalian merepotkan diri, hanya untuk mencari sumber bangkai binatang hutan ini. Semua penduduk Desa Kalianyar sudah tahu, di kaki bukit sebelah Barat itu tempat pembuangan bangkai-bangkai binatang yang tidak disukai dagingnya. Jadi hanya kulitnya yang mereka bawa pulang. Apakah kau tidak tahu kalau penduduk desa itu bermata pencaharian sebagai pemburu?" tanya laki-laki tua itulagi sambil menghentikan langkah kakinya dan berdiri di depan Panji.

"Ah! Jadi tak jauh dari sini ada pemukim penduduk? Kalau begitu, kebetulan sekali. Kami memang hendak mencari tempat untuk beristirahat beberapa malam. Maklumlah kami telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan," aku Panji berbohong. Karena, ia mencurigai laki-laki tua itu.

"Hm..., kalian berdua tentunya sepasang suami istri muda yang tengah pesiar. Kusarankan agar kali mencari desa lain saja untuk bermalam. Sebab, Desa Kalianyar sangat terpencil dan jauh letaknya dari desa-desa lain. Suasananya tentu tidak menyenangkan bagi kalian berdua, bukan?" jawab laki-laki tua itu menasihati.

"Kalau memang begitu nasihat Kakek, baiklah. Kami berdua akan mencari tempat lain yang lebih menyenangkan," ujar Panji sambil merengkuh bahu Kenanga. Seolah-olah dengan berbuat demikian, dia ingin meyakinkan laki-laki tua itu bahwa mereka memang sepasang suami istri.

"Bagus, kalau kalian mengerti...," puji laki-laki tua itu dengan wajah gembira. "Nah! Aku pamit dulu, hendak membawa kayu bakar ini pulang. Istriku di rumah sangat cerewet. Telat sedikit saja, bisa-bisa aku kena marah." Setelah berkata demikian, laki-laki tua itu pun melangkah tertatih-tatih meninggalkan Kenanga dan Panji, yang melepasnya dengan pandangan penuh perhatian.

"Kau yakin kalau kakek itu tidak mengerti tentang ilmu silat, Kakang?" tanya Kenanga setelah bayangan laki-laki tua itu lenyap di balik pepohonan hutan.

"Entahlah. Yang jelas, aku sangat mencurigainya. Meskipun ia berusaha menyembunyikan, namun aku sempat melihat sorot mata aneh dari sepasang mata tuanya itu," jawab Panji sambil tetap menatap tempat di mana laki-laki tua tadi lenyap.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakang?" Kenanga sepertinya belum dapat memutuskan kelanjutan dari penyelidikan mereka.

"Hm..., aku masih merasa khawatir kalau kakek itu tidak pergi jauh dari tempat ini. Sebaiknya, kita berpura-pura meninggalkan tempat ini. Setelah agak aman, baru kita kembali untuk menyelidiki bangkai apa sebenarnya yang menimbulkan bau menusuk hidung itu," sahut Panji menjelaskan rencananya.

Mendengar rencana itu, Kenanga hanya mengangguk menyetujui. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi keduanya bergegas meninggalkan daerah perbukitan itu. Cukup lama juga pasangan pendekar itu berputar-putar, hanya untuk menghilangkan kecurigaan laki-laki tua, yang mungkin saja tengah mengintai mereka.

"Kita kembali sekarang, dengan mengambil jalan memutar," ujar Panji yang saat itu telah menghentikan larinya. Lalu, ia memutar langkah dan kembali menuju ke sebelah Barat perbukitan. Tujuannya jelas, ingin menyelidiki sumber bau yang menusuk hidung itu.

Setelah tiba di tempat yang dituju, keduanya bergegas menuruni daerah yang mirip sebuah lembah kecil itu. Pepohonan yang tumbuh tak beraturan menolong mereka dari penglihatan orang-orang yang berada di atas. Sehingga, keduanya lebih leluasa melakukan penyelidikan. Dengan wajah sebagian tertutup sabuk, keduanya bergerak terus meneliti setiap jengkal tanah di dataran rendah itu. Bau bangkai yang semakin keras itu membawa langkah mereka hingga ke dinding bukit. Panji menatap dengan kening berkerut ketika melihat sebuah mulut gua yang cukup lebar.

"Hm..., sepertinya dari dalam gua itulah asal bau busuk yang menusuk hidung," gumam Panji sambil menoleh ke arah kekasihnya. Kemudian, kakinya kembali melangkah dengan sikap yang lebih hati-hati.

"Apakah gua ini berpenghuni, Kakang...?" bisik Kenanga di telinga Panji.

"Entahlah. Yang jelas, kita harus tetap waspada," sahut Panji mengingatkan.

Panji mulai merasa yakin kalau gua itu tidak berpenghuni. Itu terlihat ketika mereka telah berada di mulut gua, tak satu gerakan pun terdengar dari dalam. Dan dengan pengerahan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' untuk menerangi bagian dalam gua, Panji bergerak masuk. Sementara itu, Kenanga hanya mengikuti dari belakang kekasihnya. Gadis jelita itu sudah meraba gagang senjatanya, seolah-olah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

LIMA

Matahari sudah semakin tergelincir ke sebelah Barat. Saat itu Panji dan Kenanga telah berada dalam gua. Hati keduanya semakin bertambah penasaran ketika mereka menemukan tumpukan tulang tengkorak manusia. Jelas, bau busuk itu bukan berasal dari bangkai binatang, seperti yang mereka dengar dari laki-laki tua pencari kayu bakar.

"Gua ini seperti tempat penjagalan manusia, Kakang...," desis Kenanga yang mulai merasa mual menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Panji sama sekali tidak menyahuti ucapan kekasihnya. Karena, saat itu ia telah menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan.

"Semuanya sudah jelas sekarang," gumam Panji ketika menemukan lima kepala wanita muda yang tampak membengkak.

"Ihhh...!" Kenanga memekik perlahan ketika melihat pemandangan yang membuat bulu tengkuknya berdiri. Tanpa mempedulikan Panji lagi, gadis jelita itu bergegas membalikkan tubuhnya, dan berlari menuju mulut gua. Jelas kalau Kenanga tidak sanggup melihat pemandangan yang disaksikannya itu.

Setelah meneliti dan memastikan semua mayat itu belum lama terjadi, Panji bergegas menyusul Kenanga. Belum lagi langkah pemuda itu sampai di mulut gua, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang disusul dengan gelapnya suasana di dalam gua itu.

"Kakang...!"

Bagaikan kilat, Panji melesat ke depan ketika mendengar suara jeritan kekasihnya. Namun, meski telah tiba di mulut gua, ia tidak menemukan sama kali tempat ke luar. Dinding gua telah tertutup oleh batu besar. Sehingga, Panji terkurung di dalamnya.

"Kenanga...!" Panji berteriak ketika tidak menemukan Kenanga di dalam gua itu. Hatinya bertambah cemas ketika lamat-lamat didengarnya pertempuran yang terjadi di luar gua. Jelas Kenanga telah hertarung melawan orang yang diketahui Panji.

Sadar dirinya telah dijebak secara licik, Panji menjadi gusar. Rasa cepat ingin menyelamatkan kekasihnya, membuat pemuda itu tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dengan diiringi sebuah geraman lirih, Panji menghimpun kekuatan tenaga saktinya, dan menyalurkan ke kedua belah tangannya.

"Heaaat..!"

Dengan sebuah teriakan membahana, Panji mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.

Whusss...!

Serangkum angin dahsyat berhawa dingin menusuk tulang, meluncur dengan kecepatan kilat, dan langsung menghantam batu besar yang menyumbat mulut gua itu. Dan....

Blarrr...!

Hebat sekali akibat pukulan jarak jauh yang dilontarkan Panji. Debu tebal mengepul, diiringi sebuah ledakan keras seperti akan meruntuhkan bukit itu. Seluruh isi gua bergetar akibat pukulan dahsyat pemuda itu. Bahkan langit-langit gua berderak, dan batu-batu kecil berjatuhan, bagai hujan kerikil.

Bagi Panji sendiri, hal itu tidak terlalu dipusingkannya Setelah melontarkan pukulan, tubuh pemuda itu langsung melesat menerobos kepulan debu tebal yang bergulung-gulung menutupi mulut gua.

"Haiiit..!"

Bagaikan bayangan hantu, tubuh Pendekar Naga Putih berkelebat dan berjumpalitan dengan gerakan yang indah. Begitu tiba di luar gua, Panji menjejakkan kedua kakinya di tempat yang aman. Panji segera mengedarkan pandangan matanya sekeliling tempat itu. Ketika melihat Kenanga dikeroyok belasan orang berpakaian hijau tua, cepat-cepat tubuh pemuda itu melesat ke arena pertempuran.

"Heaaah...!"

Panji langsung melontarkan dua buah pukulan keras, begitu tiba di tengah arena pertempuran. Sekali bergerak, pemuda itu telah dapat menyelamatkan kekasihnya dari incaran dua orang pengeroyoknya.

Desss! Desss!

Terdengar jerit kesakitan ketika dua orang pengeroyok Kenanga terpental bagai dilemparkan tangan-tangan raksasa. Kemudian jatuh ke atas tanah berbatu dengan menimbulkan suara berdebuk nyaring.

"Kakang..., tubuh mereka kebal terhadap senjata...," ujar Kenanga yang merasa lega ketika melihat Panji telah berada di dekatnya. Kecemasan gadis itu lenyap seketika begitu melihat kekasihnya selamat.

Mendengar ucapan Kenanga, Panji menoleh ke arah dua orang yang terkena pukulannya tadi. Keningnya sempat berkerut ketika melihat dua orang itu telah bangkit kembali tanpa terlihat seringai kesakitan di wajahnya.

"Hm..., aneh! Mengapa orang-orang yang kita temui dalam beberapa kali pertarungan selalu kebal terhadap pukulanku? Ilmu apa sebenarnya yang mereka miliki?" gumam Panji heran dengan suara perlahan.

Namun, kedua orang itu tidak berpikir lebih lama. Belasan orang berpakaian hijau tua itu telah bergerak ke arah mereka dengan senjata di tangan.

"Hm..." Panji menggeram dengan hati gusar. Beberapa kali ia diserang tanpa sebab oleh orang-orang aneh, yang belum pernah dijumpainya. Sehingga kemarahan pemuda itu bangkit. Tubuhnya berdiri tegak menanti datangnya serangan lawan. Ketika serangan empat orang terdepan mengancam tubuh Panji, pemuda itu sama sekali berusaha mengelak. Dengan kedua tangan terangkat ke atas, Panji siap memapaki serangan empat orang pengeroyoknya.

"Heaaahhh...!"

Dengan sebuah bentakan keras, Panji mendorongkan kedua tangannya ke depan menyambut serangan pengeroyoknya.

Bresssh.!

Terdengar suara ledakan keras ketika gumpalan sinar putih berhawa dingin itu membentur tubuh empat orang lawannya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh keempat orang pengeroyok itu langsung terpental ke segala arah. Tubuh keempat orang itu terbanting dengan menimbulkan suara berdebuk nyaring. Melihat cairan merah yang keluar dari sela-sela bibir mereka, tentu saja pukulan Panji telah menimbulkan luka dalam yang parah.

"Matikah mereka, Kakang...?" tanya Kenanga yang merasa terkejut melihat akibat pukulan kekasihnya.

"Tidak. Mereka hanya terluka parah. Aku sengaja tidak membunuh mereka, agar dapat mengorek keterangan tentang sebab pengeroyokan ini," sahut Panji menjelaskan rencananya kepada Kenanga.

Gertakan Panji rupanya cukup membuat lawan-lawannya tertegun. Terlihat sisa orang-orang berpakaian serba hijau itu berdiri dengan wajah kaku. Tampak mereka mulai merasa ragu untuk bergebrak dengan Pendekar Naga Putih, yang belum mereka kenal itu.

"Hm..., mengapa kalian hanya berdiri bagai patung? Ayo, majulah! Bukankah kalian menghendaki kematian kami berdua...?" tantang Panji dengan suara berat dan mengandung pengaruh yang menggetarkan.

Kawanan lelaki berpakaian serba hijau itu terlihat ragu. Sepertinya perbuatan Panji yang sekali pukul dan merobohkan empat orang kawannya, membuat mereka menjadi hati-hati. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya, kedua belah pihak hanya saling pandang dengan tatapan tajam.

Merasa mendapat kesempatan untuk berbicara, Panji bergerak maju beberapa langkah. Dirayapinya wajah-wajah pucat kehijauan itu dengan pandangan menyelidik. "Hm..., siapakah sebenarnya kalian? Mengapa kalian memusuhi kami berdua? Seingatku, di antara kita belum pernah bertemu, apalagi bermusuhan," ujar Panji meminta penjelasan dari gerombolan lelaki berpakaian serba hijau itu.

Barisan lelaki berpakaian serba hijau itu sama kali tidak menyahut. Bahkan mereka bergerak mundur ketika Panji kembali melangkah maju. Kelakuan orang-orang aneh yang penuh misteri itu tentu saja membuat Panji menjadi dongkol.

"Hm..., rupanya kalian lebih suka kalau aku menggunakan kekerasan. Baiklah kalau memang itu yang kalian inginkan," ujar Panji dengan sorot mata tajam yang menggiriskan.

Lelaki terdepan, yang mengenakan ikat kepala hijau dengan bulatan merah di tengah ikat kepalanya, bergerak mundur sambil mengacungkan senjatanya. Sepertinya ia telah dapat meraba apa yang akan dilakukan pemuda tampan berjubah putih itu.

"Bunuh mereka berdua...!"

Sambil menudingkan senjatanya ke arah Panji dan Kenanga, lelaki yang sepertinya pimpinan belasan orang itu memerintahkan dengan suara parau. Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat disertai dengai putaran pedangnya yang mengaum tajam.

Majunya sang Pemimpin, ternyata membuat yang lainnya segera ikut ambil bagian. Sehingga, Panji dan Kenanga kembali terkurung dalam lingkaran sebelas lelaki berpakaian serba hijau itu.

"Heaaa...!"

Diiringi teriakan parau, lelaki pimpinan kelompok orang berpakaian hijau itu membabatkan pedangnya dengan mendatar. Meskipun gerakannya terlihat kaku namun jelas mengandung kekuatan yang tidak rendah. Semua itu dapat ditebak oleh Panji melalui desingan senjata lawan.

Tapi, Panji tidak berniat main-main lagi. Begitu tebasan pedang lawannya berkelebat, pemuda itu menggeser tubuhnya ke samping, dan terus bergerak ke depan sambil melontarkan sebuah tendangan miring.

Zebbb!

Tendangan yang cepat dan kuat itu dielakkan lawannya dengan cara memutar tubuh sehingga kedudukannya berada di belakang Panji. Berbarengan dengan itu, pedang di tangannya kembali berkeredep dengan gerakan lurus. Dan yang menjadi tujuannya adalah punggung lawan. Belum lagi serangan lawan yang pertama itu tiba, senjata- senjata lawan dari tiga penjuru, mengancam tubuh pemuda tampan itu. Sehingga, kedudukan Panji menjadi terjepit.

Sialnya, yang dihadapi kelompok orang-orang berpakaian serba hijau yang misterius itu adalah Pendekar Naga Putih. Seorang pendekar besar yang sempat membuat dunia kaum sesat terjungkir balik karena sepak terjangnya. Sehingga, meskipun dalam keadaan terjepit oleh kelebatan senjata-senjata lawannya, pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Ia tetap berdiri tenang.

Empat batang senjata yang datang mengancam itu disambut Panji dengan kibasan kedua tangannya secara berbarengan. Dengan pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', pemuda itu menyambut senjata-senjata lawannya.

Kenanga yang saat itu tengah menghadapi keroyokan enam orang lainnya, sempat terbelalak ketika melihat kekasihnya memapaki senjata lawan dengan tangan telanjang. Karena baru pertama kali melihat Panji melakukannya, tentu saja Kenanga menjadi khawatir. Sedangkan Panji sendiri tentu saja merasa yakin akan keampuhan tenaga mukjizatnya. Dan semua ini dilakukannya dengan penuh perhitungan. Karena ia telah mengetahui kekuatan lawannya, maka Panji berani memapaki senjata lawan dengan kedua tangan telanjang.

"Heaaah...!"

Berbarengan dengan hentakan keras yang keluar dari mulutnya, Panji memukul balik empat batang senjata yang mengancam tubuhnya itu. Apa yang dilakukan Panji ternyata tidak sampai di situ saja. Begitu senjata keempat lawannya terpukul balik, tubuh pemuda tampan itu telah berputar bagai baling-baling. Tangan dan kakinya mencuat bergantian, mengirimkan serangan-serangan balasan yang tidak kalah berbahaya dengan senjata lawan.

Terdengar suara mengaduh susul-menyusul, tatkala tiga orang pengeroyok itu terlanggar pukulan dan tendangan Pendekar Naga Putih. Tubuh mereka terjengkang tanpa ampun akibat kerasnya serangan balasan pemuda itu. Sedangkan lelaki yang terdapat tanda bulatan merah di tengah ikat kepalanya, berhasil menarik mundur tubuhnya. Sehingga, jotosan Panji yang mengancam dadanya, dapat dihindari.

Luputnya serangan yang dilancarkan Panji, sama sekali tidak membuat pemuda itu kecewa. Dengan sebuah lesatan manis, tubuh pemuda itu meluruk ke arah pimpinan para pengeroyok. Sepasang tangannya yang menebarkan udara dingin, berputaran mengacaukan pandangan mata lawan. Sehingga, ketika lengan kiri pemuda itu meluncur dengan sebuah pukulan keras, lawan pun tidak sempat menghindarinya. Dan....

Wuttt! Buggg...!

"Huagkh...!"

Lelaki gemuk itu langsung memuntahkan darah segar ketika kepalan Panji menghajar telak dada kirinya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu pun terjungkal menyusul kawan- kawannya yang lain. Selesai merobohkan keempat orang pengeroyoknya, ternyata Panji belum bisa berpangku tangan. Kawanan lelaki berpakaian serba hijau yang lainnya, telah menerjang pemuda itu dengan kelebatan-kelebatan senjatanya yang menyilaukan mata.

"Hm..." Sambil bergumam tidak jelas, Panji menarik mundur tubuhnya dengan kedudukan kuda-kuda belakang. Sambil memutar kembali tubuhnya dengan menggunakan tenaga pinggang, pemuda itu langsung mengirimkan tendangan ke arah lawan, yang tengah menusuk dari samping kanan.

Tendangan Panji yang cepat dan kuat itu menghajar telak perut lawannya. Sehingga orang yang itu memuntahkan darah segar, dan langsung roboh. Pingsan! Kemudian, tanpa menoleh lagi, Panji langsung menjejak tanah dengan kedua kakinya. Saat itu juga, tubuh Pendekar Naga Putih melambung ke atas dan langsung mengirimkan tendangan dengan berputar.

Terdengar teriakan susul-menyusul ketika tendangan Pendekar Naga Putih yang bagaikan baling-baling itu, menghajar telak rahang para pengeroyoknya. Karuan saja lawan-lawannya terjungkal dan roboh pingsan seketika. Karena tenaga yang dikerahkan Panji sangat hebat.

Setelah menyelesaikan lawan-lawannya, Panji menoleh ke arah Kenanga yang menghadapi enam orang lawan. Pemuda itu sengaja tidak membantu karena tahu kalau Kenanga mampu menundukkan lawan-lawannya.

Benar saja! Tak lama setelah Panji merobohkan lawan- lawannya, terdengar teriakan kesakitan yang berasal dari tiga orang pengeroyok gadis jelita itu. Tubuh-tubuh lelaki misterius itu langsung bertumbangan dengan darah segar mengucur dari luka yang menganga di tubuh mereka. Tiga orang lawan lainnya bergerak mundur ketika melihat kawannya roboh mandi darah. Mata mereka yang kehijauan itu terbelalak bagai tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kenanga sendiri sempat tertegun menyaksikan para pengeroyoknya dapat dilukai. Padahal, semenjak bertarung tadi, senjatanya telah berkali-kali mengenai lubuh lawan. Tapi, baru saja saat ia mengerahkan kekuatan tenaga sakti sepenuhnya, baru lawannya luka dan roboh. Kenyataan itu tentu saja membuatnya wmakin bersemangat.

"Haiiit...!"

Dibarengi teriakan nyaring dan panjang, Kenanga melesat sambil membabatkan senjatanya berkali-kali. Tapi, apa yang terjadi kemudian, kembali membuat gadis itu terbelalak kaget. Ketiga orang lawannya itu serta-merta lenyap, dan berubah menjadi gulungan asap hijau yang berbau busuk.

"Hai! Ke mana mereka...?!" seru gadis jelita itu dengan wajah berubah agak pucat.

"Kenanga! Awas...!"

Panji yang semula sempat terkejut melihat lenyapnya ketiga orang lawan kekasihnya, berseru keras ketika melihat mereka tiba-tiba muncul dari belakang kekasihnya dengan satu tangan saling berpegangan. Sedangkan tangan lainnya meluncur ke arah punggung gadis itu dengan telapak terbuka.

Menyadari kekasihnya dalam bahaya maut, Panji segera melesat dengan seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya. Hebat sekali gerakan yang dilakukan pemuda itu. Tubuhnya melayang seperti seekor burung besar dengan kedua tangan mendorong ke depan. Angin dingin menderu keras mengiringi meluncurnya tubuh Pendekar Naga Putih.

Kenanga segera menyadari adanya bahaya ketika mendengar seruan Panji, cepat menjatuhkan tubuh begitu melihat kekasihnya meluncur dengan kecepatan menggiriskan.

Blarrr...!

Hebat dan mengerikan sekali akibat terjangan Panji dalam menyelamatkan kekasihnya. Ledakan dahsyat seperti akan meruntuhkan bukit, menggelegar memekakkan telinga. Tubuh ketiga orang berpakaian serba hijau terpental balik dalam keadaan terpisah. Lalu, mereka jatuh berserakan dengan percikan darah yang membasahi tanah di sekitarnya.

Panji berdiri tegak dengan tarikan napas panjang. Ditatapnya kepingan tubuh lawan yang berserakan sekitar tempat itu. Rupanya dalam kecemasannya tadi, Panji telah mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya yang maha dahsyat hingga, akibat yang ditimbulkannya pun sangat mengerikan.

Wajah Kenanga sendiri pucat ketika melihat tubuh ketiga orang lawannya hancur berkeping-keping akibat terjangan kekasihnya. Selama pengembaraannya bersama Panji, gadis jelita itu belum pernah sama sekali melihat kekuatan dahsyat yang dimiliki kekasihnya. Tak mengherankan kalau ia terkejut menyaksikan akibat pukulan Panji.

"Mengapa..., mereka tadi tiba-tiba lenyap, Kakang...?" setelah menenangkan hatinya, barulah gadis jelita itu dapat mengeluarkan suara.

"Mereka telah menggunakan ilmu sihir yang aneh. Sepertinya, selain kebal dan memiliki sihir aneh, orang-orang misterius ini pun memiliki sejenis racun aneh yang bisa merubah warna kulit mereka," jelas Panji perlahan.

Semua itu diduga Pendekar Naga Putih dengan cara melihat wajah-wajah orang misterius itu yang rata-rata berwarna kehijauan. Setelah berkata demikian, Panji melangkah menghampiri tubuh-tubuh lainnya yang tadi tergeletak pingsan. Namun, apa yang didapatkan pemuda itu benar-benar membuatnya terkejut. Lawan-lawannya yang tadi hanya dirobohkan, ternyata telah tewas dengan tubuh mengejang.

"Jangan sentuh...," cegah Panji ketika melihat Kenanga hendak menyentuh salah satu dari mayat-mayat itu. "Mereka telah menelan racun ganas yang kerjanya sangat cepat," jelas Panji ketika melihat tatapan mata Kenanga.

"Mengapa mereka bunuh diri, Kakang...?"

"Entahlah. Yang jelas, hal ini tidak aneh bagi kalangan kaum sesat. Apabila gagal dalam menunaikan tugas, mereka lebih memilih mati ketimbang memberi keterangan kepada kita. Sudahlah, lebih baik kita kembali ke Desa Kalianyar," ajak Panji yang segera melangkah meninggalkan tempat itu.

ENAM

"Kakang, ini bukan jalan menuju Desa Kalianyar! Apakah Kakang sudah lupa, atau memang sengaja?" tanya Kenanga yang merasa heran melihat kekasihnya mengambil jalan lain. Seingatnya, jalan itu memang ke luar desa, dan bukan ke Desa Kalianyar, seperti yang mereka rencanakan semula.

"Memang bukan. Aku sengaja merubah rencana. Mengingat banyaknya tengkorak manusia di dalam gua itu, aku menjadi berpikir lain," sahut Panji sambil tetap melanjutkan langkahnya.

"Rencana apa, Kakang? Apakah aku boleh mengetahuinya?" sambil bertanya demikian, Kenanga memegang lengan kekasihnya dengan mata menatap penuh tuntutan.

"Hm..., aku akan berusaha mencari keterangan dari desa- desa di sekitar daerah ini. Bukan tidak mungkin kalau keanehan-keanehan yang kita temui, dapat kita peroleh keterangan dari penduduk desa lainnya. Dengan demikian, akan memudahkan kita untuk mengungkap misteri yang menyelimuti Desa Kalianyar," jelas panji mengemukakan pemikiran, yang baru didapatinya di perjalanan. Itulah sebabnya mengapa Panji merubah rencananya, yang semula hendak kembali ke Desa Kalianyar.

"Ah! Mengapa kita tidak memikirkannya semula, Kakang. Kalau memang di Desa Kalianyar terjadi keanehan seperti yang kita lihat semalam bukan tidak mungkin orang lain pun pernah menyaksikan atau mengalaminya. Dan, barangkali saja penduduk desa lain pernah melihat atau mendengar tentang berita itu. Boleh jadi mereka juga pernah mengalaminya," ujar Kenanga yang pikirannya mulai terbuka ketika mendengar penuturan Panji.

"Yahhh..., mudah-mudahan saja dugaan kita tidak meleset jauh," desah Panji penuh harap. Setelah berkata demikian, pemuda itu mengajak Kenanga untuk mempercepat langkahnya.

Sesaat kemudian, terlihatlah dua sosok bayangan hijau dan putih berkelebatan di antara pepohonan dan semak belukar. Jelas, mereka sengaja memilih jalan pintas untuk dapat tiba lebih cepat di desa-desa yang mereka maksudkan. Sepasang pendekar yang merasa mempunyai kewajiban untuk mengungkap misteri Desa Siluman terus melesat bagai dua bayangan hantu yang tengah berkejar-kejaran. Sepertinya mereka menemukan semangat baru untuk segera mengungkapkan keanehan-keanehan yang mereka temukan di desa terpencil itu.

********************

Hari sudah mulai beranjak sore, ketika Kenanga dan Panji menyusuri jalanan. Di sepanjang jalan lebar yang menghubungkan satu desa ke lain desa, mereka sesekali bertemu dengan para petani yang baru kembali dari sawah. Dan lari keduanya mulai diperlambat ketika jalanan yang dilewati semakin ramai dilalui para petani.

"Mengapa kita tidak bertanya kepada salah seorang dari petani itu, Kakang? Siapa tahu dari mereka kita bisa memperoleh keterangan," tanya Kenanga yang merasa heran melihat kekasihnya tidak berusaha mencari keterangan dari salah seorang petani yang mereka temui.

"Aku sengaja hanya menyapa mereka sekadar basa-basi orang asing. Menurutku, lebih baik kita menemui langsung kepala desanya. Dengan demikian, kita tidak membuat resah hati para petani itu, tentu saja kalau mereka tidak mengetahuinya sama sekali. Lain halnya kalau orang yang kita tanya, memang telah melihat atau mengalaminya. Mungkin kita akan mendapatkan sedikit keterangan, dan mungkin juga dilebih-lebihkan. Tapi, kalau petani yang kita mintai keterangan sama sekali tidak mengetahuinya. Bukankah hal itu justru akan meresahkan mereka? Jadi, menurutku, lebih mudah mencari keterangan dari penguasa desa. Mereka tentu akan memberikan keterangan sebagaimana yang mereka ketahui, tanpa ditambahi bumbu-bumbu penyedap cerita," jawab Panji, mengemukakan alasan mengapa ia tidak mecari keterangan dari para petani yang mereka temui dijalan.

Mendengar penjelasan kekasihnya, Kenanga hanya mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya gadis jelita itu telah mengerti dan menyadari kekeliruannya. Alasan yang dikemukakan Panji memang sangat tepat sekali. Sehingga, ia menerimanya tanpa membantah lagi.

Sepasang pendekar yang kini tidak lagi berlari dalam melanjutkan perjalanannya itu, sejenak mengerutkan kening. Tampak, di mulut desa yang hanya tinggal lima atau enam tombak lagi, dijaga ketat oleh beberapa orang keamanan desa. Dugaan bahwa orang-orang itu adalah penjaga keamanan desa, mudah diketahui dari pakaian mereka yang rata-rata serupa satu sama lainnya. Sehingga orang-orang luar yang baru pertama kali singgah di desa itu pun langsung dapat menebaknya. Demikian pula halnya dengan Panji dan Kenanga.

"Sepertinya desa itu dijaga ketat, Kakang. Menilik dari raut wajah para keamanan desa itu, mudah diduga kalau mereka pasti akan menahan kita. Lalu mereka akan melontarkan berbagai macam pertanyaan," bisik Kenanga sambil terus melangkah di samping kekasihnya.

"Hm..., melihat dari ketatnya desa itu terjaga, ada kemungkinan mereka tengah menghadapi sesuatu yang mengancam keselamatan penduduknya. Mudah-mudahan saja apa yang mereka takuti, mempunyai hubungan dengan apa yang ingin kita cari," sahut Panji berharap.

"Sahabat, harap berhenti sebentar...!"

Ketika sepasang pendekar itu tiba di mulut desa, salah seorang dari penjaga itu berseru sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Kemudian, ia bergerak maju dengan ditemani empat penjaga lainnya yang mengapit lelaki pertama itu.

Lelaki bertubuh kekar yang sepertinya merupakan pimpinan para penjaga itu, menatap Panji dan Kenanga dengan penuh selidik. Kumisnya yang tebal dan hitam itu tampak bergerak-gerak ketika menatap raut wajah dara jelita berpakaian hijau itu. Terlihat lelaki itu agak salah tingkah ketika Kenanga membalas tatapannya dengan tidak kalah tajam. Sehingga, lelaki itu mengalihkan pandangannya ke wajah Panji. Jelas, lelaki itu tidak sanggup menentang tatapan mata yang indah dari gadis jelita itu.

"Kalian pasti bukan penduduk Desa Pawetan ini? Kalau aku boleh tahu, siapakah kalian berdua? Dan apa tujuan kalian singgah di desa ini? Harap dijawab dengan jujur, agar kalian tidak mengalami kesulitan," tanya lelaki kasar berkumis tebal itu, yang mengakhiri pertanyaannya dengan sebuah ancaman.

"Maaf, Paman," sahut Panji sambil membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda hormat kepada lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu. "Kami berdua datang ke desa ini dengan tujuan hendak menemui Kepala Desa Pawetan. Sedangkan kepentingan kami, terpaksa tidak bisa kami sampaikan kepada Paman. Tapi percayalah, kedatangan kami tidak bermaksud jahat. Harap Paman suka mengabarkannya kepada kepala desa...," jawab Panji tetap dengan nada sopan, dan bibir terhias senyum.

"Ingin menemui kepala desa...?" tegas lelaki berkumis lebat itu dengan kening berkerut. Sepasang matanya tampak menyipit merayapi wajah Panji. Jelas, ada nada tidak senang dalam kata-katanya.

"Benar, Paman. Ada suatu hal penting yang harus kami sampaikan kepada Kepala Desa Pawetan ini," jelas Panji lagi.

"Hm..., kalian adalah orang-orang asing, yang sama sekali tidak kami kenal. Kalau memang ada urusan, katakanlah kepadaku, biar nanti aku yang akan menyampaikan kepada kepala desa. Nah, sekarang katakanlah," tegas lelaki berkumis lebat itu dengan nada memaksa.

"Sekali lagi aku mohon maaf, Paman. Persoalan yang akan kami sampaikan ini sangatlah penting. Kami khawatir kalau berita ini akan meresahkan Paman, atau bahkan seluruh penduduk desa ini. Jadi, harap Paman mengerti," Panji tetap tidak mengatakan kepentingannya, dan bersikeras ingin menyampaikannya sendiri kepada Kepala Desa Pawetan.

Sikap Panji itu tentu saja dianggap bantahan yang membuat kepala keamanan desa itu tersinggung. Ditatapnya pemuda tampan itu dengan sorot mata tajam. Nyata sekali kalau ia sangat gusar dengan penolakan Panji.

"Hm..., kalau memang begitu keinginanmu, lebih baik tidak usah kau sampaikan kepentinganmu. Dan, silakan meninggalkan desa ini. Sikapmu sangat menjengkelkan!" ujar lelaki berkumis lebat itu dengan wajah gelap. Sambil berkata demikian, tangannya terulur ke depan dengan sikap mengusir. Jelas, keputusan lelaki itu tidak bisa dirubah.

Kenanga yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan itu, tentu saja menjadi dongkol melihat sikap kasar lelaki itu. Dengan sorot mata yang tajam, gadis jelita itu melangkah melewati Panji, dan berdiri bertolak pinggang di hadapan kepala keamanan desa itu.

"Dengarlah, Kisanak!" ujar Kenanga ketus. "Apa yang akan disampaikan kawanku ini, menyangkut keselamatan seluruh penduduk Desa Pawetan, bahkan mungkin seluruh penduduk desa di sekitar daerah ini. Dan kalau kau bersikeras tidak mengizinkan kami menghadap kepala desa, itu sama artinya kau ingin mencelakakan seluruh penduduk desa di sekitar daerah ini! Camkan itu...!"

"Apa..., apa maksudmu...?" cetus lelaki berkumis lebat itu dengan wajah semakin berubah. Dalam ucapannya terkesan rasa heran dan penasaran dalam.

"Tidak perlu kau mengetahui maksud ucapanku! Yang penting sekarang, bawalah kami menghadap kepala desa, titik!" tukas Kenanga tanpa mempedulikan sikap lelaki itu yang nampak mulai kebingungan.

Sedangkan empat orang yang berada di kiri kanan kepala keamanan desa itu, saling pandang dengan wajah berubah. Jelas kalau ucapan Kenanga telah menimbulkan pengaruh kepada mereka.

"Tidak bisa!" ujar lelaki berkumis lebat itu membentak jengkel. Sebagai kepala keamanan desa, tentu saja ia tidak ingin wibawanya turun di mata anak buahnya. Sehingga, meskipun hatinya mulai ragu, ia tetap mempertahankan keputusannya.

"Kalau begitu, aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menemui kepala desa!" bentak Kenanga tak mau kalah. Bahkan gadis jelita itu siap bertempur.

"Terserah, kalau itu keinginanmu! Kami tetap tidak mengizinkan kalian masuk ke desa ini!" sambil berkata demikian, kepala keamanan desa itu melangkah mundur dua tindak, dan bersiap menghadapi serangan. Melihat pedang yang tergantung di pinggang gadis itu, ia pun sadar kalau yang dihadapinya bukanlah wanita lemah.

Panji yang memang tidak menghendaki kekerasan, segera menyentuh lengan kekasihnya. Sehingga, gadis jelita yang sudah siap menerjang itu tarpaksa menahan gerakannya. Lalu, kepalanya menoleh ke arah Panji dengan pandangan menuntut jawaban atas sikap pemuda itu.

"Biarlah kita mengalah, Kenanga. Kekerasan hanya akan menimbulkan persoalan baru, dan membuat suasana menjadi keruh. Sebaiknya kita turuti saja apa kemauan mereka," bujuk Panji dengan wajah tetap tenang.

"Tapi, Kakang"

"Sudahlah. Persoalan yang satu belum lagi terungkap, sekarang kau hendak membuat persoalan baru?" ucap Panji lagi dengan nada lembut, sambil mengerdipkan sebelah matanya. Jelas sekali kalau pemuda itu mempunyai rencana lain yang mungkin baru didapatnya.

"Hm.., baiklah kalau memang begitu," ujar Kenanga yang mengerti isyarat kerdipan mata kekasihnya.

"Kami permisi dulu, Paman. ," pamit Panji sambil menggamit lengan kekasihnya. Kemudian, mereka pergi meninggalkan para keamanan desa itu, yang melepas kepergian keduanya dengan tatapan lega. Nampaknya mereka tidak begitu suka bertarung. Semua itu nyata dari pandangan maupun helaan napas lega beberapa orang dari mereka.

"Entah apa yang ingin mereka sampaikan kepada kepala desa. Nampaknya begitu penting...," gumam salah seorang dari penjaga keamanan desa itu, dengan wajah penasaran.

"Sudahlah, tidak perlu dipusingkan. Yang penting, kita telah menjalankan tugas dengan baik, seperti yang dipesankan Ki Wirjasana," tukas lelaki berkumis tebal itu yang sepertinya merasa tidak senang dengan ucapan salah seorang anak buahnya. Kemudian, tanpa banyak bicara lagi kakinya pun kembali melangkah ke gardu.

"Mengapa Kakang mencegahku? Orang kasar seperti mereka memang sepatutnya diberi pelajaran, biar mereka tahu siapa kita," Kenanga yang sepertinya merasa tak puas dengan sikap Panji tadi, mengungkapkan rasa ketidakpuasannya ketika keduanya menyusuri jalan yang menuju ke luar desa.

"Tidak baik mencari keributan tanpa sebab yang jelas. Mereka tidak bersalah sama sekali, dan mungkin mereka hanya menuruti perintah atasan saja. Jadi, sebaiknya kita menemui kepala desa itu tanpa perantara mereka," jawab Panji tersenyum melihat wajah Kenanga yang masih jengkel. Kemudian dibelainya rambut gadis itu dengan penuhkasih.

"Maksud Kakang...?" tanya Kenanga meminta ketegasan.

"Kita terpaksa masuk ke desa itu secara diam-diam, dan langsung menemui kepala desa, guna menyampaikan dugaan- dugaan kita," jelas Panji lagi sambil merapatkan tubuh kekasihnya, dan memeluk tubuh gadis jelita itu erat-erat.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi, Kakang? Malam nanti kita harus sudah berada di Desa Kalianyar. Aku masih penasaran dengan misteri yang kita temui semalam," ujar Kenanga mengingatkan.

"Hm..., baiklah. Kita terpaksa harus menggunakan kepandaian, agar dapat bertemu dengan Kepala Desa Pawetan itu," sahut Panji setelah mendengar ucapan kekasihnya, yang mengingatkan tentang niat mereka untuk kembali ke Desa Kalianyar malam hari nanti.

Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, keduanya bergegas mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sehingga dalam sekejap mata saja, sepasang pendekar itu telah lenyap. Yang tampak hanya dua sosok bayangan yang berkelebatan di antara pepohonan.

Tidak berapa lama kemudian, keduanya mulai memasuki desa melalui perkebunan penduduk. Terus berlompatan di atas atap-atap rumah penduduk. Untunglah saat itu hari telah menjelang malam. Sehingga, mereka tidak perlu merasa khawatir akan dipergoki penduduk. Hanya satu dua orang yang masih terlihat di jalan-jalan. Itu pun adalah petani-petani yang terlambat pulang.

Setelah melewati belasan rumah penduduk, sepasang pendekar itu tiba di atas atap balai desa. Tidak sulit bagi keduanya untuk mencari rumah Kepala Desa Pawetan. Karena rumah penguasa desa itu paling besar di antara rumah penduduk. Dan untuk menandakannya pun tidak sulit. Adanya beberapa orang penjaga di depan halaman, menunjukkan rumah itu pastilah milik kepala desa. Ketika keduanya telah berada di dalam lingkungan rumah Kepala Desa Pawetan, Panji mengisyaratkan kepada kekasihnya untuk melayang turun, dan merapat ke dinding rumah. Kemudian, mereka terus menyelinap ke pekarangan depan.

Tok, tok, tok..!

Karena tidak ingin menimbulkan kegemparan dengan cara masuk sembunyi-sembunyi, Panji segera mengetuk pintu tebal yang menghubungkan ke ruangan depan rumah besar itu. Pemuda itu menunggu beberapa saat, untuk memastikan bahwa orang yang ada di dalam rumah itu mendengar ketukannya.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju ke pintu. Panji dan Kenanga mundur dua tindak, ketika pintu berderit terbuka. Seorang lelaki kurus berusia sekitar lima puluh tahun, berdiri di ambang pintu menatap pasangan pendekar muda itu. Sejenak mata tuanya tampak menyipit, seolah-olah ingin mengenali kedua orang tamunya itu.

"Ada perlu apa...?" tanya lelaki setengah baya itu tanpa mempersilakan kedua tamunya masuk.

"Kami ingin bertemu dengan Kepala Desa Pawetan yang bernama Ki...," sengaja Panji menggantung kata-katanya seperti ingin memancing tanggapan lelaki setengah baya itu.

"Ki Wirjasana...," sambut lelaki yang dari penampilannya jelas seorang pelayan.

"Benar, Ki Wirjasana," tegas Panji seraya tersenyum. Karena pancingannya membawa hasil yang baik. "Kami berdua adalah kerabatnya yang datang dari jauh. Dan, kami berdua ingin berjumpa dengannya. Tolong sampaikan kepada Paman kami itu," jelas Panji berbohong untuk memudahkan mereka bertemu dengan Ki Wirjasana.

"Ohhh, baik-baik.... Saya akan sampaikan. Silakan..., silakan masuk...," sambut pelayan setengah baya itu yang karuan saja bersikap ramah ketika mendengar pemuda tampan itu menyebut majikannya sebagai 'paman'.

"Hi hi hi..., tak kusangka, Pendekar Naga Putih bisa juga berbohong...," Kenanga tertawa lirih karena tak menduga kekasihnya akan menggunakan kecerdikan untuk berjumpa dengan Kepala Desa Pawetan. Tentu saja ucapan itu dikeluarkan setelah pelayan setengah baya itu meninggalkan mereka untuk memberi tahu majikannya.

Tidak berapa lama, setelah keduanya duduk di ruangan depan, terdengar suara langkah kaki berat mendatangi mereka. Serentak pasangan pendekar itu berdiri, ketika seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun, berdiri tegak merayapi wajah mereka dengan kening berkerut.

"Siapakah kalian berdua? Rasanya aku belum pernah melihat kalian sebelumnya...," ujar lelaki gagah yang wajahnya bersih tanpa jenggot maupun kumis itu. Meskipun demikian, penampilannya tampak berwibawa. Sehingga, baik Panji maupun Kenanga langsung bisa menduga kalau lelaki itu adalah Kepala Desa Pawetan yang bernama Ki Wirjasana.

"Maaf, kami terpaksa berbohong, karena ada suatu hal yang penting akan kami bicarakan...," Panji langsung saja menyambut Kepala Desa Pawetan itu sambil membungkukkan tubuh. Kemudian memperkenalkan diri kepada lelaki setengah baya itu.

"Hm..., demikian pentingkah berita yang akan kalian sampaikan kepadaku?" tukas Ki Wirjasana setelah kedua tamunya memperkenalkan diri.

"Bagi kami sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi, karena persoalan ini menyangkut kepentingan orang banyak, maka kami terpaksa memberanikan diri untuk berjumpa dengan Ki Wirjasana. Kami membutuhkan beberapa keterangan, yang mungkin bisa kami peroleh dari Aki...," jelas Panji membuka percakapan, ketika ketiganya telah duduk saling berhadapan.

Ki Wirjasana tidak segera menanggapi ucapan Panji. Lelaki gagah itu termenung baberapa saat, sambil melepaskan pandangannya ke luar jendela yang terbuka lebar. Terdengar helaan napasnya yang berkepanjangan.

TUJUH

Panji memandangi wajah Ki Wirjasana yang seperti tengah memikirkan apa yang dimaksud dengan kedua tamunya itu. Beberapa saat kemudian, orang tua itu baru mengalihkan pandangannya kepada Panji.

"Hm.... Maaf, aku tidak bisa menduga sebenarnya apa yang kalian maksudkan. Kuharap kalian mau menceritakannya kepadaku...," pinta Ki Wirjasana setelah tidak dapat menduga persoalan yang ingin disampaikan pasangan muda itu kepadanya.

Untuk beberapa saat lamanya, Panji terdiam. Seolah-olah Pendekar Naga Putih ingin mencari kata-kata yang tepat untuk memulai ceritanya. Setelah itu, baru ia menceritakan maksud-maksud kedatangannya menjumpai kepala desa itu.

Ki Wirjasana sama sekali tidak menyela cerita pemuda itu. Semua yang diceritakan Panji sepertinya didengar dengan penuh perhattan. Beberapa kali terlihat kening lelaki setengah baya itu berkerut, dengan wajah berubah kelam. Bahkan lelaki itu sempat terlompat dari kursinya ketika Panji menceritakan tentang orang-orang berpakaian serba hijau yang mengeroyoknya.

"Begitulah, Ki. Kami merasa curiga ketika melihat kepala beberapa orang wanita, yang menurutku berumur sekitar delapan belas sampai dua puluh tahun. Sayang, wajah mereka telah membengkak, sehingga sulit dikenali. Sedangkan keperluan kami datang ke sini, ingin menanyakan kalau-kalau ada warga Desa Pawetan ini yang lenyap tanpa jejak," ujar Panji menutup ceritanya. Kemudian menatap Ki Wirjasana dengan penuh harap.

"Desa Siluman...?" desis Kepala Desa Pawetan itu. "Rasanya aku belum pernah mendengar tentang nama itu. Setahuku, di sekitar daerah ini tidak ada nama desa yang menimbulkan kesan seram seperti itu. Juga, selama ini aku tidak pernah kehilangan warga desa. Apalagi berupa gadis-gadis muda. Hhh..., sebenarnya ingin sekali aku bisa membantu kalian. Tapi, sayangnya aku tidak tahu apa-apa. Apalagi beberapa hari ini aku masih dipusingkan oleh perampok yang muncul dan menghilang setelah merampas harta beberapa penduduk di desa ini. Itulah sebabnya, mengapa para penjaga keamanan desa mencurigai dan tidak memperbolehkan kalian memasuki desa ini. Kuharap kalian berdua dapat memaklumi sikap mereka," ujar Ki Wijasana menjelaskan keadaan desanya dengan wajah agak menyesal. Sepertinya orang tua itu merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan keterangan, seperti yang diterapkan Panji dan Kenanga.

"Aneh...?" desis Panji yang merasa heran karena kepala desa itu belum pernah mendengar sama sekali tentang Desa Siluman. Bahkan orang tua itu berani memastikan kalau nama itu tidak ada di sekitar daerahnya.

"Maaf, kalau aku telah mengecewakan harapan kalian. Tapi, kalau memang kalian memerlukan bantuan, jangan ragu-ragu. Aku akan membantu sekuat tenagaku. Sayang, aku tidak mempunyai keterangan yang dapat menjadi pegangan kalian untuk menyingkap misteri itu," sesal Ki Wirjasana seraya menghela napas panjang.

"Lalu, bagaimana dengan para perampok itu, Ki. Apakah mereka masih suka mengganggu?" tanya Kenanga tiba-tiba. Meskipun gadis jelita itu berusaha untuk bersikap wajar, tapi tak urung Ki Wirjasana dapat menangkap nada selidik dalam ucapan tamunya.

"Dua hari yang lalu, mereka kembali datang menjarah desa ini. Tapi, sebelumnya kami memang telah bersiap, maka para perampok itu dapat dipukul mundur, dan pergi tanpa hasil. Entah, mereka masih berani kembali atau tidak. Namun, kami tetap waspada dan akan mempertahankan desa ini dengan taruhan nyawa," jawab Ki Wirjasana seraya tersenyum. Sepertinya Kepala Desa Pawetan ini sama sekali tidak tersinggung dengan kecurigaan gadis jelita itu.

"Baiklah, Ki. Kalau begitu kami mohon pamit. Maaf, kalau kedatangan kami telah mengganggumu," ujar Panji yang segera pamit, karena tidak ada yang diharapkan dari Kepala Desa Pawetan itu.

"Silakan, Kisanak. Dan, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuanku, kalau memang diperlukan," kembali Ki Wirjasana menawarkan jasa baiknya, sebelum kedua tamunya pergi.

"Terima kasih. Kami akan selalu ingat kebaikan Ki Wirjasana," sahut Panji seraya tersenyum. Kemudian, pasangan pendekar itu melangkah meninggalkan tempat kediaman Ki Wirjasana, dengan diiringi tatapan mata lelaki tua itu.

Panji tidak peduli sama sekali ketika para penjaga yang berada di depan rumah besar itu menatap mereka dengan rasa heran. Sepertinya mereka terus berpikir, mengapa tahu-tahu saja ada dua orang tamu yang meninggalkan rumah Ki Wirjasana. Padahal, mereka tahu kalau tidak ada seorang pun yang memasuki rumah besar itu, selama mereka berdiri di depan gardu.

Tanpa mempedulikan tatapan yang mengandung pertanyaan dari para penjaga itu, Panji mengangguk pamit kepada mereka. Dan, terus saja melangkah meski para penjaga itu tidak segera membalasnya, karena masih diliputi rasa heran.

"Hhh..., semuanya masih serba gelap. Tak satu petunjuk pun yang dapat kita jadikan pegangan untuk mengungkap misteri Desa Siluman itu. Apakah kita memang telah salah lihat, Kakang," ungkap Kenanga ketika keduanya tengah menyusuri jalan utama Desa Pawetan. Kali ini mereka tidak lagi bergerak secara sembunyi-sembunyi. Keduanya terus melangkah menuju mulut desa.

"Apa yang kita hadapi kali ini memang sangat aneh dan membuat hati penasaran. Hal itulah yang membuatku semakin bersemangat untuk mengungkapnya. Apa boleh buat, kita terpaksa harus kembali ke Desa Kalianyar. Karena dari desa itulah kita pertama kali menemukannya," sahut Panji yang meskipun persoalannya masih gelap, tapi tidak menyerah begitu saja.

"Kejadian waktu itu kalau tidak salah, tepat tengah malam. Berarti kita harus sudah berada di Desa Kalianyar tepat pada waktu yang sama," gumam Kenanga seolah berkata pada dirinya sendiri.

"Benar. Sekarang hari sudah gelap. Sebaiknya kita mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk sampai tepat tengah malam, atau kalau bisa sebelum tengah malam," ucap Panji yang sempat mendengar ucapan kekasihnya.

Tak berapa lama kemudian, pasangan pendekar muda itu melesat bagaikan kilat. Mereka tidak peduli sama sekali, meskipun saat itu tengah melintasi jalan utama Desa Pawetan. Sehingga, pada saat keduanya melewati gardu penjagaan di mulut desa itu, terdengar teriakan-teriakan terkejut dari beberapa penjaga keamanan desa yang melihat bayangan mereka.

Tapi, baik Panji maupun Kenanga, sama sekali tidak mempedulikan hal itu, keduanya malah semakin menambah kecepatan. Ketika telah melewati batas Desa Pawetan. Sehingga dalam waktu singkat, keduanya telah jauh meninggalkan desa itu.

********************

Malam tampak semakin bertambah kelam. Udara dingin yang menusuk tulang berhembus keras tiada henti-hentinya. Lolongan anjing hutan yang saling bersahutan. makin menambah keseraman malam. Apalagi saat itu bulan tengah purnama. Semakin lengkaplah keseraman menyelimuti suasana sang malam.

Kenanga dan Panji telah tiba di mulut Desa Kalianyar, ketika malam sudah semakin larut. Suasana desa yang sunyi, membuat keduanya mengerutkan kening. Karena di mulut desa itu tidak terlihat seorang pun yang berjaga-jaga.

"Aneh. Apalagi yang harus kita hadapi kali ini..?" desis Kenanga mengusap kuduknya yang terasa meremang. Panji sama sekali tidak menanggapi ucapan kekasihnya itu, ia hanya memberi isyarat agar Kenanga mengikutinya. Kemudian, keduanya bergerak menuju Selatan desa. Mereka sengaja tidak memasuki desa itu melalui tempat yang semestinya. Karena Panji merasa curiga dengan kesunyian yang menyelimuti desa itu Sehingga, diputuskannya untuk mengambil jalan berputar dan tidak melalui jalan utama desa itu.

"Gila! Kemana perginya penduduk desa ini...?" desis Panji heran ketika ia tidak menemukan seorang pun di desa itu. Beberapa rumah yang didatangi secara sembunyi-sembunyi, ternyata kosong dan tidak berpenghuni.

Rasa heran pemuda itu berubah menjadi rasa penasaran dan kegemasan. Setelah hampir seluruh rumah di desa itu diperiksanya, tidak seorang pun yang dijumpainya. Aneh! Seluruh penduduk desa kecil itu sepertinya telah pergi atau lenyap ditelan bumi.

"Mungkin ini suatu jebakan, Kakang...?" desis Kenanga yang merasa tegang ketika mengetahui desa itu sama sekali tidak berpenghuni. Padahal, pagi tadi ia melihat desa itu sangat ramai, dan sama sekali tidak terdapat tanda-tanda yang mencurigakan. Kenyataan itu tentu saja membuatnya gemas.

"Aku rasa tidak," sahut Panji pelan. "Sebab, kalau memang mereka menjebak kita, tidak semestinya desa ini dikosongkan seluruhnya. Kau lihat sendiri, jangankan laki-laki dewasa, bahkan wanita dan anak-anak pun, sama sekali tidak ada. Entah apa yang telah menimpa desa ini sepeninggal kita tadi," desah Panji semakin bertambah penasaran.

"Aneh, ke mana mereka pergi...?" desah Kenanga tanpa menuntut jawaban. Sepertinya gadis jelita itu berbicara hanya untuk melenyapkan perasaan tegang di hatinya. Kenanga melipat tangannya ketika hembusan angin dingin bertiup keras menerpa tubuhnya. Giginya bergemeletukan karena hawa yang terasa dingin menusuk tulang.

Dikejauhan terdengar lolongan anjing hutan saling bersahutan. Suasana desa itu pun semakin mencekam. Apalagi ketika hembusan angin semakin keras berhembus, sehingga pepohonan berderak ribut. Namun, meskipun suasana demikian seram dan mendirikan bulu roma, Panji sama sekali tidak terpengaruh. Pemuda yang semenjak kecil telah menerima gemblengan dari seorang tokoh sakti itu, tetap tenang dan bersiaga penuh.

Kenanga sendiri sebenarnya seorang gadis pendekar yang tak pernah mengenal rasa takut itu, sempat juga bulu kuduknya berdiri. Hanya karena ada Panji di sampingnya, yang membuat hati gadis jelita itu menjadi tenang.

"Hm..., desa ini tidak mungkin ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya. Pasti ada sesuatu yang memaksa mereka pergi dari sini," gumam Panji sambil berpikir keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya. Panji terus berpikir sambil melangkah perlahan menyusuri jalan utama desa itu. Untunglah suasana yang pekat itu agak berkurang. Karena bias sinar rembulan yang penuh itu, cukup menerangi jalan yang dilalui pasangan pendekar itu.

"Bulan pumama...," tiba-tiba saja Panji mendongak dengan kening berkerut. Sejenak dipandanginya sang dewi malam sambil menduga-duga sesuatu. Kemudian, dihubungkannya semua pengalaman beberapa hari itu dengan kemunculan sang dewi malam.

"Apa yang kau pikirkan, Kakang...?" Kenanga bertanya karena merasa heran melihat kekasihnya menatapi rembulan, dan terlihat tengah berusaha mengingat sesuatu. Gadis jelita itu pun ikut menatapi sang dewi malam, tanpa tahu apa yang harus dicarinya.

"Wajah-wajah pucat seperti mayat hidup, kepala-kepala tanpa tubuh, dan sikap-sikap aneh...," kembali Panji menggumam, membuat Kenanga semakin bertambah heran.

"Kakang...," panggil gadis jelita itu sambil mencekal lengan Panji. Bukan hanya suara gadis itu yang bergetar, bahkan wajahnya pun terlihat tegang.

"Mari ikut aku...," ujar Panji setelah menduga kemana perginya orang-orang desa itu.

Tanpa banyak cakap lagi, Kenanga pun melesat mengikuti Panji. Meskipun belum mengerti apa yang akan dilakukan pemuda itu, namun Kenanga yakin kekasihnya telah menemukan sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk. Itulah sebabnya, ia tidak banyak bertanya lagi. Benak Kenanga semakin dipenuhi bermacam pertanyaan, ketika menyadari bahwa mereka tengah melangkah menuju daerah perbukitan yang letaknya di luar Desa Kalianyar. Tapi, gadis itu tetap bungkam dan hanya mengikuti ke mana pemuda itu berlari.

"Kau dengar suara-suara aneh itu...?" tanya Panji sambil memperlambat larinya. Sehingga, Kenanga dapat menjajarinya.

"Ya, aku mendengarnya, Kakang. Suara-suara aneh yang menimbulkan kesan menyeramkan," desis Kenanga sambil mengusap kuduknya yang terasa meremang.

Tidak berapa lama kemudian, pasangan pendekar itu pun tiba di bibir lembah, tempat di mana mereka mencium bau bangkai siang tadi.

"Lihat..," bisik Panji sambil menudingkan jari telunjuknya ke satu arah. Tempat yang ditunjuk pemuda itu, tampak merah menyala dengan gumpalan asap yang kian menebal, "Kalau dugaanku tidak keliru, mungkin di tempat itu mereka tengah melakukan sebuah upacara. Barangkali ada yang akan dijadikan korban dalam upacara itu," lanjut Panji perlahan.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kalau menilik dari suara- suara aneh yang bergaung menyeramkan itu, jelas jumlah mereka sangat banyak, Kakang…" desah Kenanga yang mulai menduga, apa yang bakal mereka hadapi di tempat itu.

"Hm..., apa pun yang akan terjadi, kita harus mencegahnya," desis Panji seraya mengepalkan jemari tangannya keras-keras sambil menggertakkan giginya.

"Tapi..."

"Sudahlah. Mari kita lihat, apa yang sebenarnya tengah terjadi di tempat itu...," tukas Panji yang membuat kekasihnya tidak sempat berpikir lebih jauh. Pemuda itu langsung meluncur turun sambil menggenggam jemari Kenanga.

Ketika pasangan pendekar itu semakin dekat, tampak rona kemerahan yang mereka lihat itu semakin jelas dan mulai terlihat pijaran lidah-lidah api. Meskipun demikian, keduanya terus melangkah maju untuk memastikan dugaannya. Apa yang mereka lihat kemudian, memang tidak meleset dari dugaan Panji. Kira-kira belasan tombak jaraknya di depan mereka, terlihat sebuah pemandangan yang menyeramkan. Puluhan wanita-wanita setengah telanjang, tengah menari-nari seperti orang kerasukan setan.

Sementara di belakang para penari itu, ratusan orang menggerak-gerakkan tangan dan tubuhnya dalam keadaan duduk bersila. Jelas, kalau orang-orang itu tengah mengadakan sebuah upacara penyembahan terhadap sesuatu yang didewakannya.

"Kakang, lihat itu...!" desis Kenanga sambil menunjuk di sebelah depan para penari yang bergerak kian cepat dan liar.

Panji mengarahkan pandangannya ke arah yang dltunjuk Kenanga. Sepasang mata pemuda itu menyipit, ketika melihat tiga sosok tubuh berambut panjang itu terikat pada sebuah tonggak kayu. Pemuda itu langsung saja menduga, kalau tiga sosok tubuh yang tengah terikat itu adalah wanita-wanita yang akan dijadikan persembahan.

Sambil menggertakkan gigi penuh kegeraman, Panji terus merayapi sekeliling tempat itu. Dengan mengerahkan kekuatan pada sepasang matanya, pemuda itu melihat sesosok tubuh tinggi kurus dan agak bungkuk melangkah ke sebuah tempat yang lebih tinggi.

"Kakek pencari kayu bakar...!" desis Panji kaget ketika mengenali sosok tinggi kurus dan agak bungkuk itu. Rasa kagetnya makin menjadi-jadi, tatkala mengenali salah satu dari empat orang pendamping laki-laki tua itu.

"Mengapa, Kakang...?" tanya Kenanga yang merasa terkejut ketika mendengar kekasihnya menggeram perlahan.

"Hm..., pantas saja Ki Wirjasana tidak mengetahui apa yang terjadi di Desa Kalianyar. Rupanya ia juga termasuk pengikut kakek iblis itu...," Panji merasa geram. Karena Ki Wirjasana, sang Kepala Desa Pawetan, juga menjadi pengikut manusia-manusia sesat itu.

"Apa yang hendak kau lakukan, Kakang...?" tanya Kenanga ketika melihat Panji akan melompat keluar dari persembunyiannya.

"Tidak ada jalan lain, kita harus mencegah mereka...," sahut Panji tegas.

"Tapi jumlah mereka banyak sekali, Kakang. Kalaupun kita dapat merobohkan sebagian dari mereka, kita bisa kehabisan tenaga," cegah Kenanga yang merasa khawatir melihat banyaknya jumlah musuh.

"Tidak perlu cemas, Kenanga. Mudah-mudahan saja orang- orang desa yang tak berdosa itu masih bisa disadarkan. Dengan demikian, kita hanya menghadapi dedengkot-dedengkotnya saja," jawab Panji yang telah memperhitungkan tindakannya. Setelah berkata demikian, tubuh pemuda itu segera melesat keluar dari tempat persembunyiannya. Sehingga, mau tak mau Kenanga pun harus mengikutinya.

"Tunggu...!"

Teriakan Panji yang lantang dengan pengerahan tenaga dalam tinggi itu, menggelegar dan memenuhi daerah sekitar perbukitan. Perbuatan pemuda itu tentu saja membuat upacara itu terhenti sejenak, dan hampir semua menoleh ke arah Panji dan Kenanga.

"Hm..., rupanya kita kedatangan tamu istimewa malam ini," terdengar suara berat yang mengaung memenuhi lembah kecil itu. "Pendekar Naga Putih! Apakah kau datang untuk mengantarkan gadis itu...?" suara yang meluncur dari mulut laki-laki tua bungkuk itu kembali menggelegar.

"Hai, saudara-saudaraku para penduduk desa! Sadarlah bahwa kalian telah dibodohi oleh kakek iblis itu! Dan, aku yakin gadis-gadis putri kalian itu, pasti akan dijadikan pemuas nafsu sebelum dibunuh secara keji!" Panji berseru nyaring tanpa mempedulikan ucapan laki-laki tua itu.

"He he he.... Kau hanya membuang-buang tenaga, Pendekar Naga Putih! Mereka semua adalah pengikut-pengikut setiaku. Jadi, percuma kalau kau punya niat menyadarkan mereka. Penduduk dari tiga desa di sekitar wilayah ini, telah kujejali racun perampas ingatan. Sehingga, pada tiap-tiap malam mereka akan berubah menjadi mayat-mayat hidup yang buas dan tak mengenal ampun. Sedangkan di siang hari, mereka akan kembali bersikap wajar. Dan, mereka tidak akan menyadari apa-apa yang mereka lakukan tiap malam," teriak laki-laki tua itu dengan suara yang keras.

Sementara Panji dan Kenanga berdiri menatap tajam wajah laki-laki tua itu.

"Tapi, kalau kau ingin bergabung denganku, tentu saja ada kekecualian. Kau berdua dengan gadismu yang molek itu, akan kujadikan pembantu-pembantu utama, yang sekaligus merupakan wakilku. Bagaimana? Bukankah tawaranku cukup menarik..?" tanya laki-laki tua itu seraya tersenyum.

"Iblis keji! Aku datang bukan untuk bergabung denganmu. Justru aku akan mengakhiri kebiadabanmu!" ucap Panji yang sempat terkejut mendengai ucapan laki-laki tua itu. Pendekar Naga Putih sadar kalau dirinya telah telanjur, dan tidak mungkin untuk mundur kembali. Meskipun dirinya mungkin akan berhadapan dengan ratusan orang-orang tak berdosa.

"He he he. Selama ini belum pernah ada seorang pun yang berani membantah keinginan Datuk Harimau Hitam! Dan, kau bocah bau kencur! Jangan kau kira nama besarmu akan membuat aku gentar. Huh!" ujar laki-laki tua yang mengaku berjuluk Datuk Harimau Hitam itu seraya menudingkan tongkat kayu hitam di tangannya ke arah Panji dan Kenanga.

Gerakan tongkat yang rupanya sebuah perintah itu, langsung saja membuat ratusan orang-orang yang semula diam mematung, serentak bangkit. Dan mereka bergerak perlahan ke arah Kenanga dan Panji.

DELAPAN

Melihat ratusan orang-orang berwajah pucat itu berloncatan mengurung mereka, Panji dan Kenanga bergerak cepat saling melindungi. Panji menyadari lawan-lawannya tengah dipengaruhi suatu obat, sehingga kekasihnya diperingatkannya agar jangan melontarkan pukulan yang mematikan.

"Ingat, Kenanga. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Kalau bisa, buat mereka pingsan dengan totokan," bisik Panji menegaskan.

"Tapi, kita pasti membutuhkan banyak tenaga untuk merobohkan mereka satu persatu, Kakang. Juga perlu Kakang ingat, mereka memiliki kekebalan tubuh yang aneh," ucap Kenanga tanpa membantah ucapan kekasihnya, tapi ia mencoba mengingatkan Panji bahwa yang mereka hadapi kali ini bukanlah manusia-manusia wajar. Dan, mereka berdua telah mengetahui kekebalan tubuh orang-orang itu. Maka, wajar kalau gadis jelita itu merasa agak cemas.

"Kita coba saja. Dan, aku akan berusaha untuk mendekati biang keladi semua ini," bisik Panji lagi sambil tetap menatap para pengepung yang telah siap merejam mereka.

"Keakhhh...!"

"Hiakhhh...!"

Kenanga tidak sempat lagi menyahuti ucapan kekasihnya. Karena saat itu beberapa pengepungnya sudah berlompatan menerjang dengan disertai pekikan-pekikan serak, bagai raungan binatang.

"Kita jangan sampai berpisah...," ujar Panji mengingatkan kekasihnya, sebelum bergerak menyambut terjangan enam orang lawan yang sudah meluncur dengan cengkeraman maut!

"Baik...," sahut Kenanga yang segera memutar tubuhnya dan saling bertukar lawan dengan Panji.

Delapan orang lawan yang semula menerjang Kenanga, kini harus berhadapan dengan Panji. Dengan gerakan secepat kilat, pemuda itu telah bertukar tempat dengan kekasihnya.

"Heaaahhh...!"

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring yang mengejutkan, Panji merendahkan tubuhnya dengan kuda-kuda harimau. Seiring dengan itu, tangan kanannya mengibas dengan menggunakan kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya yang ampuh.

Terdengar suara berdebuk nyaring susul-menyusul, ketika lengan kanan pemuda itu menghantam tubuh empat orang lawannya dengan kecepatan menggetarkan! Empat korban pukulannya langsung terjungkal hingga satu tombak lebih. Dan, jatuh berdebuk di atas tanah.

Bettt! Whuttt!

Panji melempar tubuhnya ke belakang ketika serangan pengeroyok yang lain datang susul-menyusul mengancam tubuhnya. Sambil berputar, pemuda itu mengirimkan tendangan berantai. Tak ayal lagi tiga orang pengeroyok yang terdekat langsung roboh!

Setelah merobohkan tiga orang lawan, tubuh Pendekar Naga Putih kembali bergulir ke arah Kenanga. Beberapa orang pengeroyok yang mengancam kekasihnya dengan cengkeraman dan pukulan, segera dicegah Panji dengan dorongan kedua tangannya.

Whusss...!

Serangkum hawa dingin menusuk tulang berhembus menerjang para pengeroyok Kenanga. Tanpa dapat dicegah lagi, belasan orang pengeroyok itu langsung terjungkal ke segala arah. Untunglah Panji tidak berniat menewaskan mereka. Sehingga, belasan orang lawan itu kembali bangkit dengan raut wajah menyeringai nyeri. Jelas, dorongan telapak tangan pemuda itu cukup menyakitkan mereka. Namun, meskipun mereka berhasil merobohkan belasan orang pengeroyok, tetap saja lawan tidak berkurang. Orang-orang yang terkena pukulan pasangan pendekar itu, bangkit dan bergerak membantu teman-temannya yang lain.

"He he he.... Ayo, habiskanlah tenaga kalian! Mereka akan tetap bangkit, kecuali kalian menggunakan pukulan maut yang mematikan. Semua pengikutku telah kurendam di dalam sumur yang kuberi ramuan. Sehingga, mereka kebal terhadap pukulan maupun senjata tajam," terdengar suara Datuk Harimau Hitam memanas-manasi pasangan pendekar itu. Tawanya yang serak terdengar berkepanjangan. Jelas kalau ia merasa gembira dengan pertunjukan itu.

"Celaka, Kakang! Kalau kita tidak membunuh mereka, pasti kita sendiri yang akan celaka di tangan orang-orang ini," desis Kenanga yang rupanya tidak sabar lagi ketika melihat korban pukulannya selalu bangkit, dan bergabung kembali mengeroyoknya.

"Gunakan totokan pelumpuh untuk merobohkan mereka...," kembali Panji mengingatkan kekasihnya, sambil merobohkan tiga orang pengeroyok dengan jari tangannya. Sehingga, korban totokannya itu dan pingsan seketika.

"Tapi kita bisa kehabisan tenaga!" Kenanga bantah ucapan Panji.

Alasan yang diajukan Kenanga memang tidak dibantah kekasihnya. Apalagi pemuda itu melihat sekujur tubuh kekasihnya tampak dibanjiri peluh. Jelas, Kenanga telah berjuang keras untuk merobohkan lawan-lawannya seperti yang diperintahkan Panji. Perintah yang diberikan Panji memang mudah diucapkan, tapi untuk melaksanakannya tidak semudah mengatakan. Karena untuk merobohkan lawan yang bertubuh kebal, mereka banyak mengeluarkan tenaga. Kalau tidak, lawan tidak akan roboh dengan totokan mereka. Itulah sebabnya mengapa Kenanga tidak setuju dengan ucapan Panji.

Panji sendiri pun bukan tidak tahu akan hal itu, tapi ia masih tidak tega membunuh orang-orang yang tak berdosa itu. Maka, sambil tetap melontarkan totokan-totokan ampuh, otaknya bekerja keras mencari jalan keluar yang lebih baik, dan tidak terlalu banyak menguras tenaga.

"Aaakhhh...!"

Pendekar Naga Putih yang tengah merobohkan lawan-lawannya itu menoleh ketika mendengar teriakan-teriakan kekasihnya. Segera pemuda itu melesat menyambar tubuh Kenanga yang tengah terhuyung dan hampir roboh.

"Heaaahhh...!"

Panji yang tengah memeluk tubuh Kenanga, bergerak cepat menghindari sebuah terjangan maut yang mengancam keselamatan mereka berdua.

Bettt!

Sebuah pukulan yang jelas mengandung kekuatan tidak rendah itu, lewat di samping tubuh Panji. Pemuda itu baru mengerti setelah melihat jelas penyerangnya.

"Ki Wirjasana...!?" desis Panji geram. "Jadi orang tua inilah yang telah memukul Kenanga. Pantas kalau begitu...," gumam pemuda itu, yang semakin sadar kalau kedudukannya benar-benar berbahaya.

Serangan Ki Wirjasana yang juga telah dipengaruhi ramuan obat itu kembali terlontar susul-menyusul. Bahkan dua orang lelaki gagah lainnya yang berwajah pucat, ikut menyerbu Panji. Sehingga, untuk beberapa saat Panji menjadi repot mengelakkan serangan ketiga orang pengeroyoknya.

"Heeeahhh...!"

Dalam kemarahannya, Panji mengibaskan lengan kiri dengan menggunakan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya. Dan, kedahsyatan pukulannya tak diragukan lagi.

Tanpa ampun lagi, lelaki berpakaian coklat yang berada di sebelah kanan Panji, langsung terpental diiringi jeritan ngeri. Kemudian, tubuhnya jatuh berdebuk dengan cairan merah muncrat dari mulutnya. Jelas, kalau orang itu mengalami luka parah akibat gempuran Pendekar Naga Putih.

Tapi, apa yang kemudian disaksikan Panji, benar-benar membuatnya terbelalak! Pukulannya yang mampu menghancurkan bongkahan batu sebesar rumah itu, ternyata tidak mampu menewaskan lawannya. Bahkan lawan itu kembali bangkit, meskipun tubuhnya agak terhuyung. Jelas lelaki gagah berjubah coklat itu seperti tidak mengalami luka yang berarti akibat pukulan dahsyatnya tadi.

"Gila! Bagaimana mungkin tubuh mereka sekuat itu...!?" gumam Panji yang sangat terkejut melihat korban pukulannya dapat bangkit kembali. Dan, telah maju kembali untuk ikut mengeroyoknya. Kenyataan itu benar-benar membuat Panji hampir tidak mempercayainya.

Keterpakuan Pendekar Naga Putih yang hanya sesaat itu, ternyata berakibat cukup fatal! Dua buah pukulan yang datang mengancamnya, masih sempat dielakkan. Tapi, hantaman keras dari Ki Wirjasana dan seorang lawan lainnya, membuat tubuh pemuda itu terhuyung beberapa langkah kebelakang.

"Heaaahhh...!"

Belum lagi Panji sempat memperbaiki kedudukannya, sebuah tendangan keras, telak menggedor dada kirinya.

"Hugkhhh...!"

Karuan saja tubuh pendekar muda itu terpelanting ke belakang. Walaupun begitu, Panji tidak mau melepaskan tubuh Kenanga dari pelukannya. Sehingga, keduanya bergulingan di atas tanah berbatu itu. Luka yang dialami Panji akibat pukulan keras dari Ki Wirjasana dan lelaki bercambang bauk itu, menyadarkan pemuda itu akan kelupaannya dalam menghadapi keadaan ini. Karena 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' yang mengendap di dalam tubuhnya, langsung saja bergolak mendorong keluar hawa aneh yang merasuk ke dalam tubuhnya.

"Heaaahhh...!"

Panji yang tubuhnya kini terlapisi sinar kuning keemasan, langsung melompat bangkit disertai kibasan tangannya ke kiri-kanan.

Breshhh.... Breshhh...!

Kibasan telapak tangan Panji mengejutkan lawan-lawannya yang tengah meluruk menyerbu. Tubuh mereka kontan beterbangan bagaikan kapas tertiup angin! Meskipun pukulan itu tidak mengakibatkan luka parah atau kematian, tapi cukup membuat Panji menarik napas lega. Karena para pengepungnya terkejut dan bergerak mundur. Kenanga yang sudah bangkit dan berdiri tegak di samping kekasihnya, telah pula siap menghadapi lawan-lawannya. Meskipun pada sudut bibir gadis jelita itu terlihat adanya cairan merah yang menetes. Tapi luka yang dideritanya tak terlalu parah.

"Maaf, Kakang. Aku terpaksa menggunakan senjata untuk menghadapi mereka...," bisik gadis jelita itu sambil mengeluarkan Pedang Sinar Rembulannya.

"Tenanglah, Kenanga. Rasanya aku sudah menemukan cara ampuh untuk melumpuhkan mereka," sahut Panji yang saat itu juga teringat akan mukjizat Pedang Naga Langitnya. Kenanga yang melirik ke arah Panji, sempat menarik napas lega ketika tahu-tahu sebilah pedang bersinar kuning keemasan telah tergenggam di tangan pemuda itu.

"Pedang Naga Langit..," desis Kenanga yang masih merasa takjub, meskipun sering menyaksikan kekasihnya mewujudkan pedang yang telah menyatu di dalam tubuh pemuda itu.

"Benar. Dan kali ini aku pasti berhasil melumpuhkan para pengepung kita, tanpa harus melukai atau membunuhnya," ujar Panji yang segera mengerahkan tenaga batinnya, dan menyatukannya dengan pedang mukjizat itu.

"Naga Langit...!" Dibarengi sebuah bentakan yang menggelegar, Panji melontarkan pedang di tangannya ke atas.

Glarrr...!

Saat itu juga, terdengar ledakan petir yang disambung sambaran kilat susul-menyusul. Suasana itu masih pula diiringi dengan hembusan angin keras bagaikan tengah mengamuk.

"Kreaaakkk...!"

Bersamaan dengan pekik bergemuruh seperti akan merobohkan bukit itu, terciptalah seekor makhluk yang mengerikan berupa seekor naga raksasa. Sekujur tubuh makhluk itu yang mengeluarkan sinar kuning keemasan, membuat suasana pekat seketika terang benderang.

"Sihir...!?"

Laki-laki tua yang berjuluk Datuk Harimau Hitam itu tidak kalah terkejutnya. Sebagai seorang ahli sihir, tentu saja ia cukup tergetar dengan penampilan serta cara Pendekar Naga Putih mewujudkan binatang mengerikan itu.

Namun, kemunculan Naga Langit yang diciptakan Panji, ternyata tidak hanya mengejutkan! Tapi, sinar keemasan yang terpancar dari tubuhnya, juga mempunyai pengaruh yang luar biasa. Ratusan penduduk desa yang berada di bawah pengaruh obat dan sihir Datuk Harimau Hitam, memekik kesakitan! Tubuh mereka mengejang, ketika pancaran sinar kuning keemasan merasuk ke dalam tubuh mereka.

Sehingga, dalam waktu singkat, ratusan penduduk desa yang semula menjadi makhluk mengerikan itu, jatuh bergeletakan. Kemudian, diam tak bergerak setelah berkelojotan. Pancaran sinar Naga Langit yang telah meresap ke dalam tubuh mereka, langsung menghancurkan racun-racun yang mengeram di dalam tubuh para penduduk itu. Tidak terkecuali Ki Wirjasana dan dua orang lelaki gagah lainnya.

"Gila...!? Ilmu sihir macam apa ini...?!" teriak Datuk Harimau Hitam yang tidak menyangka sama sekali, kemunculan binatang raksasa itu telah membuat para pengikutnya bergeletakan pingsan.

"Aaakhhh...!"

Datuk Harimau Hitam terkejut mendengar suara lengking yang mengerikan dari delapan orang berpakaian serba hijau. Mereka berjatuhan dengan diiringi mata laki-laki tua yang tak percaya dengan apa yang disaksikannya.

"Bangsat…!"

Bukan main murkanya Datuk Harimau Hitam ketika menyaksikan tubuh delapan orang murid-muridnya berkelojotan, dan tewas dengan tubuh melepuh. Jelas, pengaruh sinar keemasan dari tubuh Naga Langit telah mengakibatkan murid-muridnya tewas. Mereka berbeda sama sekali dengan para penduduk desa yang dikuasainya itu. Sambil menggeram murka, Datuk Harimau Hitam berpaling ke arah Naga Langit yang masih mengapung di udara.

"Heaahhh...!"

Dibarengi bentakan keras, laki-laki tua itu mendorongkan sepasang lengannya dengan pukulan jarak jauh. Melihat dari tatapan matanya yang mencorong kehijauan, jelas laki-laki tua itu ingin melenyapkan naga raksasa yang menurutnya permainan ilmu sihir dari Pendekar Naga Putih.

"Kreeeaghk...!"

Blarrr...!

Terdengar suara benturan dahsyat yang menggelegar, ketika naga raksasa itu mengibaskan ekornya memapaki pukulan Datuk Harimau Hitam. Sehingga, bukannya naga itu yang lenyap, malah tubuh laki-laki tua itu sendiri yang terjungkal hingga satu tombak lebih.

"Gila! Mana mungkin...?!"

Datuk Harimau Hitam mengumpat tak percaya dengan apa yang dialaminya. Karena naga raksasa yang diduganya hasil ciptaan ilmu sihir lawan, ternyata malah mampu memapaki pukulan pemunah sihirnya. Laki-laki tua itu tentu saja tidak mengerti.

Panji yang tadi memejamkan kedua matanya, kini perlahan membuka. Menyaksikan tubuh para pengeroyoknya telah bergeletakan di atas tanah, sadarlah pemuda itu kalau usahanya berhasil baik.

"Naga Langit, kembali...," terdengar desis menggetarkan yang keluar dari mulut Panji. Sepertinya untuk menundukkan Datuk Harimau Hitam, pemuda itu tidak perlu mengandalkan kemukjizatan senjatanya.

Untuk kesekian kalinya, Datuk Harimau Hitam kembali melongo. Makhluk raksasa yang dikiranya sebagai permainan sihir lawan, lenyap tanpa bekas. Laki-laki tua itu sempat melirik, terlihat sebilah pedang bersinar kuning keemasan kembali tergenggam di tangan lawannya.

"Tidak kusangka kalau pemuda seusia kau telah memiliki ilmu sihir yang dahsyat, Pendekar Naga Putih. Aku benar-benar kagum kepadamu," ujar Datuk Harimau Hitam tanpa malu-malu lagi, memuji kehebatan ilmu lawannya.

"Hm..., kau keliru, Datuk Harimau Hitam. Aku sama sekali tidak memiliki ilmu sihir. Tidak perlu kujelaskan kepadamu. Yang paling penting, aku akan menghancurkan niat busukmu yang mungkin kelak akan kau ulangi lagi," sahut Panji yang langsung saja melayang ke arah lawan.

"Bedebah! Kau kira setelah dapat menundukkan dan membunuh pengikut-pengikutku, lalu kau bisa berbuat sesombong itu? Hmh! Marilah kita tentukan. Apakah kau memang pantas untuk menghukumku atau sebaliknya," teriak Datuk Harimau Hitam yang menerima tantangan Panji.

"Heaaattt..!"

Begitu panji menjejakkan kakinya beberapa langkah di hadapan lawan, laki-laki tua itu langsung melesat dengan disertai teriakannya yang keras.

Bett...!

Sekali menerjang, Datuk Harimau Hitam langsung melontarkan serangkaian pukulan maut yang mematikan! Tampaknya laki-laki tua itu memang benar-benar ingin membinasakan Pendekar Naga Putih.

Panji yang sudah menyimpan senjatanya, segera bergerak ke kiri. Kemudian, kakinya melangkah pendek-pendek untuk menghindari gempuran lawan. Sesekali pemuda itu melontarkan serangan balasan secara mengejutkan. Sehingga, Datuk Harimau Hitam terpaksa lebih berhati-hati dalam menghadapi lawannya.

"Yeaaahhh...!"

Begitu merasakan serangan lawan mulai mengendur, Panji segera melancarkan serangan balasan beruntun dengan menggunakan jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya.

Wettt! Wettt...!

Diiringi sambaran hawa dingin menusuk tulang, sepasang cakar naga Panji berkelebatan mengincar tubuh lawan. Sehingga, Datuk Harimau Hitam sempat terdesak.

Pertarungan berlangsung semakin cepat dan seru, ketika menginjak jurus yang kedelapan puluh tujuh. Keduanya yang sama-sama menggunakan ilmu-ilmu silat tinggi, sama-sama saling desak, dan berusaha untuk menjatuhkan lawan. Namun, sampai sedemikian jauh belum tampak tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Panji sendiri diam-diam merasa kagum dengan kekuatan laki-laki tua itu. Meskipun usianya telah demikian tua, ternyata masih mampu bergerak cepat. Bahkan pemuda itu beberapa kali kehilangan lawannya, karena gerakan lawan memang seperti bayangan hantu yang nyaris tidak kelihatan.

"Yeaaattt...!"

"Heaaa...!"

Ketika pertarungan memasuki jurus yang keseratus dua puluh, mendadak Datuk Harimau Hitam berseru nyaring sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Saat itu juga, tercium bau amis menyengat yang disertai perubahan sepasang lengan laki-laki tua itu menjadi kehitam-hitaman.

Whusss...!

Dorongan sepasang telapak tangan Datuk Harimau Hiram yang menyemburkan uap kehitaman membuat Panji sadar kalau lawannya telah mengeluarkan ilmu pukulan beracun yang sangat berbahaya. Cepat-cepat Pendekar Naga Putih mendorong sepasang lengannya ke depan dengan menggunakan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' sepenuhnya. Serangkum angin dingin yang berhembus keras bagaikan badai salju, meluncur memapaki pukulan beracun lawannya. Dan...

Blarrr...!

Mengerikan sekali akibat benturan dua gelombang tenaga sakti yang berlainan sifat itu! Bunga api berpijaran menandakan betapa kuatnya benturan yang terjadi. Sampai-sampai beberapa pohon yang dekat dengan mereka, daun-daunnya berguguran. Sebagian hangus terbakar. Sedang sebagian lainnya tampak diselimuti salju tipis. Jelas, pukulan yang dikerahkan kedua tokoh sakti itu sangat dahsyat.

Akibat benturan itu, tidaklah terlalu merugikan bagi Panji. Pemuda yang semenjak kecil dididik dengan berbagai macam latihan kuda-kuda itu, hanya bergeser mundur dengan meninggalkan bekas sepatunya yang cukup dalam di atas permukaan tanah. Sedangkan tubuhnya tetap tegak dan kokoh.

Lain halnya dengan Datuk Harimau Hitam. Akibat benturan dengan tenaga mukjizat lawan, tubuhnya terlempar hingga tiga tombak. Meskipun ketika terjatuh ia dapat menyelamatkan tubuhnya dengan kedua kaki menjejak tanah, tapi gumpalan darah kehitaman keluar dari mulutnya, menandakan laki-laki tua itu telah terluka dalam oleh racunnya sendiri.

"Huagkhhh...!"

Untuk kesekian kalinya darah segar kembali muncrat dari mulut laki-laki tua itu. Bahkan wajahnya yang semula putih bagai wajah mayat itu, mulai nampak kehitaman. Karena racun pukulannya telah berbalik menggerogoti dirinya. Merasa ajalnya sudah dekat, sambil mendekap dada yang terasa remuk, Datuk Harimau Hitam mengedarkan pandangan berkeliling. Dan, terhenti pada sosok ramping berpakaian hijau, yang berada di samping kanannya dalam jarak dua tombak.

"Kau harus menyertai kematianku, Gadis Cantik...!" desis laki-laki tua itu dengan sorot mata mengancam.

Belum lagi sosok berpakaian hijau itu sempat berpikir, tiba-tiba tubuh Datuk Harimau Hitam sudah mencelat ke arahnya. Panji yang sejak tadi memperhatikan tingkah lawannya, tentu saja tidak membiarkan kekasihnya terancam maut. Maka, dengan dibarengi sebuah pekikan bagai naga murka,tubuh pemuda itu melesat secepat sambaran kilat, dan langsung memotong jalan luncuran tubuh Datuk Harimau Hitam.

"Yeaaat...!" Blarrr...!

Untuk kesekian kalinya, kembali terdengar ledakan dahsyat yang mengguncangkan sekitar daerah perbukitan itu. Disusul dengan terlemparnya tubuh Datuk Harimau Hitam akibat gedoran sepasang telapak tangan Panji yang memang sulit dihindari. Dalam usaha menyelamatkan nyawa kekasihnya, Panjl telah menggunakan jurus 'Naga Sakti Meluruk ke Dalam Bumi', yang merupakan jurus terampuh dari 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya. Sehingga akibatnya pun sangat mengerikan.

Pendekar Naga Putih dan Kenanga berpelukan menyaksikan mayat Datuk Harimau Hitam yang sekujur tubuhnya remuk. Napas laki-laki tua itu telah terhenti. Karena tubuhnya telah menghantam sebuah batu besar, yang juga hancur akibat benturan keras itu.

"Mudah-mudahan para penduduk yang tak berdosa itu selamat semuanya...," harap Panji yang sudah menjatuhkan tubuhnya bersandar pada sebatang pohon. Pertarungan dengan Datuk Harimau Hitam benar-benar telah menguras tenaganya.

"Kita tunggu di sini sampai pagi, Kakang...," ujar Kenanga yang juga menjatuhkan tubuhnya di samping Panji.

********************

Matahari pagi memancarkan sinarnya menerangi permukaan bumi. Saat itu Panji dan Kenanga sudah berkumpul bersama penduduk tiga desa. Melihat dari cerahnya wajah-wajah mereka, jelas pengaruh obat yang dijejalkan Datuk Harimau Hitam telah lenyap berkat kekuatan mukjizat Pedang Naga Langit.

"Apa sebenarnya yang diinginkan Datuk Harimau Hitam dengan menguasai desa-desa terpencil ini?" tanya Panji yang duduk berhadapan dengan Ki Wirjasana, Kepala Desa Pawetan, Ki Bamagala, Kepala Desa Kalianyar, dan lelaki gagah berpakaian biru yang merupakan Kepala Desa Pagar Batu.

"Kami tidak tahu secara pasti, Pendekar Naga Putih," sahut Ki Wirjasana yang memang telah mengenal Panji sebelumnya. "Tapi, pertama kali mereka datang, banyak gadis-gadis dari desa-desa sekitar daerah ini yang lenyap tanpa jejak. Bahkan beberapa dari gadis-gadis itu, dibunuh setelah terlebih dahulu diambil darahnya," Ki Wirjasana menutup ceritanya. Karena sepertinya orang tua itu tidak tahu terlalu banyak.

"Sebenarnya kami sempat merasa curiga dengan keinginan mereka, yang katanya bisa membuat orang-orang desa menjadi sakti dan kuat. Dengan demikian, warga kami yang memang terdiri dari para pemburu itu tidak perlu takut lagi terhadap binatang buas. Sehingga, hasil buruan bisa berlipat-lipat, Demikian, iblis itu membujuk kami pertama kalinya. Dan, memang mulanya kami percaya. Karena hal itu telah terbukti pada beberapa warga Desa Kalianyar. Tapi, rupanya obat-obat yang diberikan kepada kami itu mempunyai pengaruh lain di waktu malam. Itu baru aku ketahui belakangan...," Ki Bamalaga menghentikan ceritanya sejenak untuk menghela napas.

"Sayangnya, sudah hampir seluruh warga Desa Kalianyar yang meminum ramuan obat itu," sambung Ki Bamagala. "Sehingga, aku tidak bisa berbuat apa-apa, ketika dia memaksaku untuk meminum obat itu. Karena orang tua itu sangat sakti, dan aku tidak berdaya menghadapinya. Sejak saat itulah tanpa kami sadari, gadis-gadis di desa kami satu persatu lenyap tanpa jejak"

Kepala Desa Kalianyar itu, yang sepertinya tahu lebih banyak, menghentikan ceritanya sejenak. Kemudian terdiam beberapa saat, seolah-olah ingin mengingat kembali peristiwa yang telah cukup lama terjadi Panji, Kenanga, dan yang lainnya hanya menunggu, tanpa berniat untuk mengganggu Ki Barnalaga, yang tengah berusaha mengingat-ingat awal malapetaka yang menimpa desanya.

"Pendekar Naga Putih, dapatkah kau menerangkan kepada kami, apa sebenarnya maksud iblis itu menculik dan membunuhi gadis-gadis desa?" tanya Ki Bamalaga yang sepertinya merasa penasaran karena belum mengetahui kegunaan gadis-gadis desanya yang diculik itu.

"Hm..., setelah mendengar cerita kalian, dan juga apa yang sebelumnya kami temukan, jelas gadis-gadis desa yang mereka culik mempunyai dua manfaat bagi Datuk Harimau Hitam dan para pengikutnya. Pertama, gadis itu digunakan sebagai pemuas nafsu mereka. Kedua, darah-darah perawan yang mereka rasakan cocok untuk digunakan mendalami ilmu-ilmu sesat mereka. Dan, aku yakin ramuan-ramuan yang diberikan kepada penduduk, juga bercampur dengan darah perawan. Itulah yang membuat kalian kebal terhadap pukulan dan juga senjata tajam. Sayang, orang setua Datuk Harimau Hitam masih serakah terhadap ilmu kepandaian," desah Panji mengakhiri keterangannya yang membuat semua orang di tempat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Tidak aneh, Kakang. Tokoh-tokoh persilatan baik hitam maupun putih tidak pernah mengenal rasa puas dalam menambah ilmu. Jadi, tidak mengherankan untuk memperdalam ilmu sesatnya. Datuk Harimau Hitam sampai demikian kejam mengorbankan darah-darah perawan suci," Kenanga yang mendengar desahan kekasihnya segera menyahuti.

"Kau benar, Kenanga. Nah, karena persoalan di sini sudah selesai, kami mohon pamit..." pinta Panji sambil beranjak bangkit, diikuti Kenanga dan yang lainnya.

"Dengan hati berat, kami terpaksa melepasmu, Pendekar Naga Putih. Mungkin saja tugas-tugas lain sudah menanti kalian berdua...," ucap Ki Wirjasana sambil menjabat erat jemari tangan pemuda tampan itu.

"Terima kasih, Ki...," ujar Panji yang segera melangkah bersama Kenanga meninggalkan perbukitan itu.

Sedangkan para penduduk dari tiga desa itu masih terus melambaikan tangannya, hingga bayangan kedua pendekar itu lenyap di kejauhan.

S E L E S A I

Misteri Desa Siluman

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Misteri Desa Siluman
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

HARI sudah menjelang sore. Matahari telah bergeser jauh ke ufuk Barat. Cahaya kemerahan memburat menghias cakrawala. Hembusan angin yang lembut mengiringi sang mentari bergulir ke peraduannya.

Dalam keremangan cuaca saat itu, tampak dua sosok tubuh bergerak menyusuri jalan. Langkah mereka terlihat agak bergegas. Sepertinya kedua sosok tubuh itu hendak berpacu dengan waktu.

"Bagaimana kalau di sebelah depan sana kita tidak menemukan desa untuk bermalam, Kakang...?" tanya sosok tubuh ramping yang berada di sebelah kiri teman seperjalanannya.

"Yahhh..., terpaksa kita bermalam di hutan, seperri biasanya. Apakah kau keberatan...?" ujar sosok tubuh sedang yang terlihat padat berisi. Nada suaranya terdengar tenang dan lembut, pertanda ia seorang penyabar.

"Bukan begitu, Kakang. Tapi, selama ini kita rasanya sudah terlalu sering bermalam di dalam hutan. Jadi, apa salahnya kalau sekali-sekali kita bermalam di tempat yang lebih tenang dan aman," elak sosok lubuh ramping berpakaian serba hijau itu. Lalu, kepalanya menoleh seraya melemparkan senyum manis. Seolah-olah sosok ramping, yang ternyata seorang gadis muda, berparas jelita itu ingin menunjukkan kalau dugaan kawannya sama sekali tidak benar.

Sosok berjubah putih itu menoleh sekilas ke arah si gadis berpakaian serba hijau. Terdengar hela napasnya yang lembut dan berkepanjangan. Kemudian, kembali matanya menatap lurus ke depan dengan wajah yang tetap tenang.

"Keinginan itu sama sekali tidak salah, Kenanga. Aku sebenarnya tidak ingin menyusahkanmu. Tapi sepertinya kau telah melupakan satu hal...," desis sosok berjubah pufih itu sambil memperlambat ayunan langkahnya. Siapa lagi sosok berjubah putih itu kalau bukan Panji atau Pendekar Naga Putih.

Kenanga, gadis jelita berpakaian serba hijau itu ikut memperlambat langkah seraya mengulurkan tangannya, dan menggenggam jemari pemuda itu. Lalu kepalanya disandarkan pada pangkal lengan kekasihnya.

"Apa itu, Kakang...?" tanya Kenanga dengan nada penasaran.

"Seperti kau ketahui, kita ini adalah petualang-petualang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dimana langit dijunjung, di situlah rumah kita. Jadi, kalau kita selama ini selalu melewatkan malam di dalam hutan, atau tempat-tempat sunyi lainnya, ya wajar saja. Sebab, itulah risiko yang harus kita terima. Kau sadar akan hal itu bukan?" jelas Panji sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping gadis jelita itu.

"Aku menyadari hal itu, Kakang. Kalau memang perkataanku tadi salah, harap kau maafkan...," sahut Kenanga dengan nada seperti menyesali ucapannya. Kemudian, ia pun melingkarkan lengannya ke pinggang Panji.

"Tidak, Kenanga. Perkataanmu sama sekali tidak salah. Kau tak perlu menyesalinya. Sebaiknya kita mempercepat perjalanan. Siapa tahu, sebelum malam jatuh, kita telah menemukan sebuah desa untuk menginap. Ayolah...," setelah melepaskan pelukannya, Panji segera melesat, mempergunakan ilmu larinya untuk mempersingkat waktu.

Kenanga sendiri tidak mau membuang-buang waktu lagi. Sekali kakinya menghentak ke tanah, tubuh gadis jelita itu pun melesat dengan kecepatan yang mengagumkan. Kemudian, menjejeri langkah Panji, yang memang sengaja tidak mengerahkan ilmu lari. Sehingga, keduanya dapat berlari berjajar.

********************

Keremangan malam mulai turun perlahan menyelimuti bumi. Sedangkan rembulan tampak menghiasi langit dengan pancaran cahayanya yang redup. Bintang-bintang pun bertebaran mewarnai cakrawala dengan kerlap-kerlipnya yang menawan. Sepertinya malam itu cuaca sangat cerah dan menyenangkan, meskipun wajah bulan tidak muncul utuh.

Saat itu, Panji dan Kenanga telah memasuki perbatasan sebuah desa kecil. Tampak cahaya lampu pelita menghiasi rumah penduduk, sehingga membuat wajah keduanya berseri. Karena, harapan untuk melewatkan malam di tempat yang tenang dan aman sudah terbayang di benaknya. Kemudian, keduanya bergerak memasuki mulut desa. Mata mereka melihat ada enam orang penjaga yang berkumpul di gardu, Panji pun bergerak mendekat.

"Maaf, Kisanak. Kami adalah dua orang pengembara yang kemalaman di jalan. Dapatkah kalian menunjukkan sebuah penginapan yang juga menyediakan makanan?" tanya Panji dengan nada lembut dan sopan.

Enam orang penjaga yang tengah mengitari api unggun itu serentak menoleh ke arah Panji. Sehingga, kening pemuda itu sempat berkerut ketika melihat wajah-wajah mereka yang pucat seperti mayat. Bahkan wajah-wajah itu tidak mencerminkan sikap bersahabat sama sekali, dingin dan beku!

Melihat keanehan sikap dan wajah keenam orang penjaga itu, Panji menyipitkan matanya dan mengamati wajah para penjaga itu dengan sikap curiga. Namun, seperti telah dapat membaca kecurigaan Panji, para penjaga itu mencoba melontarkan senyum ramah. Sayang, mereka tidak berhasil karena senyum yang mengembang pada wajahnya lebih mirip sebuah seringai yang menakutkan!

"Tentu saja kami bisa menunjukkannya. Mari aku antarkan ke tempat yang kau maksudkan, Kisanak...," ujar salah seorang dari mereka. Meskipun orang itu ingin memperlihatkan keramahannya, namun nada suaranya terdengar datar dan agak kaku.

Panji yang sudah telanjur curiga dengan penampilan keenam orang penjaga itu, berusaha bersikap wajar. Setelah berpamitan dengan empat orang lainnya, pemuda itu melangkah mengikuti dua orang penjaga yang hendak mengantarkannya.

"Kakang, sikap mereka sangat aneh, dan menimbulkan perasaan seram di hatiku. Apakah kau tidak merasakannya...?" bisik Kenanga pelan, sambil merapatkan tubuhnya kepada pemuda itu.

"Ah, kau terlalu mengada-ada, Kenanga. Mungkin mereka hanya merasa curiga saja kepada kita. Dan, mungkin juga mereka selalu mencurigai orang-orang asing yang singgah di desa ini...," Panji menghentikan sejenak penjelasannya. Sedangkan mata Kenanga memandangi wajah kekasihnya.

"Barangkali mereka mempunyai pengalaman yang pahit dengan orang-orang asing yang singgah di desa ini. Karena itu, bersikaplah ramah, dan tunjukkan bahwa kita berbeda dengan orang-orang asing yang pernah meninggalkan kesan buruk bagi mereka," jelas Panji tidak ingin hati kekasihnya menjadi resah. Sepertinya pemuda itu ingin menyimpan rasa curigannya sendiri, tanpa harus memusingkan kekasihnya yang memang terlihat lelah itu.

"Kisanak, apakah nama desa ini...?" Kenanga yang tidak bisa menghilangkan rasa seramnya, mencoba mengusir dengan bertanya sambil lalu kepada salah seorang pengantar.

"Desa Siluman...," sahut salah seorang yang bertubuh kurus dengan nada dingin dan tanpa menoleh.

Deg...!

Dada gadis jelita itu berdebar keras ketika mendengar nama desa itu. "Desa Siluman...?" desis Kenanga dengan bulu tengkuk meremang. Menilik dari perubahan wajahnya, jelas nama desa itu semakin menambah rasa seram di hatinya.

Dengan perasaan yang semakin galau, Kenanga meremas lengan Panji dan mencekal erat-erat. Jelas, ia sangat terpengaruh dengan nama desa itu. Ditambah lagi suasana desa yang menebarkan hawa aneh, dan semakin menambah keangkeran. Memang cocok sekali kalau desa terpencil itu dinamakan Desa Siluman.

Panji sendiri sempat tergetar ketika mendengar nama desa itu. Namun, untuk menenangkan perasaan hati kekasihnya, pemuda itu tetap bersikap acuh. Seolah-olah keadaan maupun nama desa itu sama sekali tidak menimbulkan perasaan apa-apa baginya.

"Jangan biarkan perasaanmu terpengaruh oleh nama dan sikap penduduknya. Menurutku, selama kita masih berada di jalan yang benar, tidak ada yang perlu kita takutkan. Lagi pula kita sama sekali tidak berbuat ulah terhadap mereka. Jadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk mencelakai kita," hibur Panji lagi sambil mendekap erat tubuh gadis jelita itu. Seolah-olah dengan berbuat demikian, ia ingin memberikan ketabahan kepada kekasihnya.

Apa yang dilakukan Panji sepertinya tidak sia-sia. Terlihat dari wajah gadis itu kembali tenang ketika merasakan hangatnya pelukan pemudaitu. "Terima kasih, Kakang...," desah Kenanga sambil menyandarkan kepalanya dengan sikap manja.

Mendengar jawaban itu, Panji mengulum senyum. Lalu, ia membelai rambut gadis jelita itu dengan penuh kasih. Dirapatkannya tubuh Kenanga dengan mengetatkan pelukan.

"Inilah tempat yang kau maksud, Kisanak. Beruntung hari ini tidak banyak pendatang yang singgah. Jadi, kau bisa mendapatkan kamar yang bersih dan nyaman untuk beristirahat. Maaf, kami tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam. Selamat beristirahat," ujar lelaki kurus, salah seorang dari penjaga itu.

"Terima kasih atas kebaikan kalian...," ucap Panji dengan tubuh sedikit membungkuk.

Kedua penjaga itu menganggukkan kepala sambil membalikkan tubuhnya, dan melangkah menuju mulut desa. Panji dan Kenanga belum bergerak dari tempatnya. Mereka berdiri tegak, seraya matanya menatap kepergian kedua orang penjaga perbatasan itu.

"Langkah kaki mereka terlihat tidak wajar, Kakang. Entah mengapa gerakan mereka lambat dan kaku. Hihhh..., mereka seperti mayat-mayat berjalan saja...," desah Kenanga setelah bayangan kedua orang itu lenyap ditelan kegelapan malam.

"Hm..., mungkin udara yang kurang baik di desa ini yang membuat penduduk bersikap demikian aneh. Sudahlah. Untuk apa memikirkan keanehan-keanehan itu. Yang penting, mereka tidak mengganggu kita" sahut Panji sambil mengajak gadis jelita itu menuju rumah penginapan.

"Kakang, menurutmu, apa pekerjaan para penduduk Desa Siluman ini? Apa kau juga melihat kalau di sekitar desa ini tidak mempunyai persawahan. Jelas penduduk Desa Siluman ini bukan petani. Entah apa yang mereka kerjakan untuk kehidupan sehari-hari...?" Kenanga yang sepertinya belum juga dapat menghilangkan kecurigaan hatinya, dan kembali meminta pendapat Panji.

"Entahlah. Mungkin mereka bekerja sebagai pemburu, dan hasilnya dijual ke tempat lain. Atau, bisa juga hasil buruan itu yang menunjang kehidupan penduduk Desa Siluman ini. Mengapa kau bertanya demikian? Apakah kau mempunyai dugaan lain...?" ujar Panji balik bertanya sambil memandangi wajah Kenanga.

"Aku hanya merasa seram dengan suasana dan sikap keenam orang penjaga tadi. Sepertinya kita bukan berada di sebuah desa. Tapi di...," Kenanga tidak melanjutkan ucapannya. Gadis itu malah menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sikap penuh curiga. Bahkan dalam nada ucapannya terkandung rasa cemas yang berusaha disembunyikan.

"Mengapa kau tidak melanjutkan ucapanmu itu, Kenanga. Apa sebenarnya yang ingin kau katakan...?" tanya Panji meminta penjelasan.

"Kau tidak merasa aneh atau seram, Kakang...?" ujar Kenanga tanpa mempedulikan pertanyaan kekasihnya.

"Kau ini bagaimana, Kenanga. Sebagai seorang pendekar, sejak kecil kita telah digembleng dengan berbagai macam ilmu silat, dan juga wejangan dari guru kita. Bahkan, selama dalam pengembaraan pun, sudah banyak hal-hal aneh dan mengerikan yang kita temui. Jadi, kalaupun dugaanmu itu benar, apa yang mesti kita takutkan?" sahut Panji. Kenanga diam saja. Hanya matanya yang menatap lekat- lekat wajah Panji.

"Jika memang di desa ini terdapat keanehan, maka menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki dan membereskannya. Apa yang kau rasakan itu adalah hal yang wajar, dan tidak perlu terlalu dipikirkan," Panji menambahkan penjelasannya sambil membelai lembut rambut gadis jelita itu.

"Tapi, aku merasa seperti berada di daerah pekuburan tua yang menyeramkan, Kakang. Dan, sulit sekali bagiku untuk melenyapkan pikiran itu," Kenanga masih mencoba membantah, dan menjelaskan perasaannya kepada Panji. "Jangan bohongi aku, Kakang. Katakanlah, apakah kau juga merasakan seperti apa yangkurasakan...?"

Panji tersenyum melihat wajah Kenanga yang meminta ketegasan. Perlahan pemuda tampan itu menundukkan wajahnya. Dikecupnya kening dara jelita itu lembut. "Sudahlah, Kenanga. Terus terang aku pun merasa curiga semenjak melihat wajah dan penampilan keenam orang penjaga tadi. Tapi, untuk apa kita memikirkannya. Mungkin saja mereka hanya merasa tidak suka terhadap orang-orang asing, seperti yang kukatakan padamu tadi. Nah, apakah kau belum puas?' ujar Panji dengan nada lembut, dan penuh perasaan kasih.

"Kata-kata itulah yang sejak tadi kutunggu, Kakang. Tapi kau seperti sengaja menyembunyikannya. Ada apa sebenarnya, Kakang?" rajuk gadis jelita itu sambil melepaskan pelukan Panji, dan melangkah lebih dulu menuju rumah penginapan yang nampak remang-remang itu.

Panji hanya tersenyum melihat kekasihnya merajuk seperti itu. Kakinya melangkah pelan-pelan menyusul Kenanga. Tapi, ketika ia melihat Kenanga yang telah memasuki penginapan dan kembali bergegas keluar dengan langkah setengah berlari, Panji segera melompat menyambutnya. Kening pemuda tampan itu sempat berkerut tatkala melihat wajah kekasihnya pucat. Bahkan, desah napasnya pun terdengar tak teratur.

"Ada apa, Kenanga? Mengapa kau seperti orang yang ketakutan?" tanya Panji setelah merengkuh tubuh gadis jelita itu ke dalam pelukannya.

"Pemilik kedai itu..., pelayan..., dan beberapa orang di dalamnya tengah berkumpul, sama..., seperti para penjaga tadi, Kakang. Mereka..., mereka menatapku, seperti hendak menelanku hidup-hidup. Aku..., ngeri, Kakang...," ujar Kenanga dengan nada terputus-putus.

"Ah..., mungkin mereka hanya terpesona dengan kecantikan wajahmu, Kenanga. Dan hal itu wajar saja. Karena kecantikanmu memang sangat menyolok, dan mengundang perhatian orang," hibur Panji berusaha menghilangkan ketegangan di hati kekasihnya.

"Kau..., kau tidak tahu, Kakang. Rasanya aku bukan melihat manusia, tapi mayat-mayat hidup yang kelaparan Lebih baik kita pergi saja dari desa ini," bantah Kenanga, tetap mempertahankan pendapatnya.

"Hm..., mengapa kau tiba-tiba menjadi lemah seperti itu, Kenanga. Kalaupun mereka memang benar mayat-mayat yang bangkit dari dalam kubur, untuk apa kita harus takut? Justru kenyataan itu mendorong kita untuk menyelidikinya. Aneh, ke mana perginya gadis pendekar gagah berani yang kukenal selama ini?" gumam Panji mencoba mengingatkan Kenanga tentang siapa diri mereka sebenarnya.

Dan usaha Panji ternyata tidak sia-sia. Setelah mendengar ucapan itu, Kenanga segera melepaskan pelukan kekasihnya. Wajah Kenanga yang semula agak pucat, kembali bersinar. Bahkan sepasang matanya telah memancarkan keberanian, yang sempat lenyap karena suasana dan penampilan penduduk Desa Siluman.

"Kau benar, Kakang. Aneh, mengapa hatiku menjadi lemah begini? Padahal, selama ini aku tidak pernah merasa takut terhadap lawan yang bagaimanapun seramnya. Kau bisa memberikan jawaban atas pertanyaanku itu, Kakang?" tanya Kenanga sambil menarik napas berulang-ulang, guna menenteramkan hatinya. Jelas, gadis jelita itu merasa curiga dengan kenyataan yang dihadapinya.

"Hm..., aku pun memang merasakan adanya keanehan, sejak memasuki desa ini. Sepertinya suatu pengaruh aneh yang selalu menimbulkan perasaan berdebar dan ngeri di hati kita. Aku pun merasakan semua itu. Tapi, demi untuk menenangkan perasaanmu, aku menyembunyikannya," jawab Panji sambil mengelus rambut gadis jelita itu.

"Jadi, memang ada hawa aneh di desa ini yang mempengaruhi perasaan kita? Begitukah menurutmu, Kakang?" ujar Kenanga meminta ketegasan kekasihnya.

"Benar. Justru itulah, mengapa aku bersikeras untuk tetap melewatkan malam ini di Desa Siluman. Sebab, aku merasa ada sesuatu yang tidak wajar menyelimuti desa terpencil ini. Dan hal itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mengungkap keanehan itu," jelas Panji dengan suara agak bergetar. Karena pada saat berkata, ia merasa ada hembusan angin dingin yang menebar dan menyergap sekujur tubuhnya. Sehingga, Panji sempat menggigil karenanya.

"Hihhh...," Kenanga yang juga sempat merasakan hembusan angin dingin yang menusuk tulang itu, melipat kedua tangannya ke dada. Pertanda gadis jelita itu pun merasakan seperti apa yang dirasakan Panji.

"Angin apa ini, ini, Kakang? Nampaknya tidak wajar...," desah Kenanga berbisik lirih sambil merapatkan tubuhnya kepada Panji.

"Entahlah. Yang jelas, kita harus berhati-hati. Kita tidak tahu, apa yang tengah terjadi di desa ini. Sebaiknya kita kembali ke tempat penginapan yang menyediakan makanan itu. Ayolah," ajak Panji seraya menarik lengan kekasihnya, dan melangkah menuju rumah penginapan yang juga merupakan kedai makan itu.

DUA

Panji dan Kenanga berdiri tegak di ambang pintu rumah penginapan itu. Keduanya memandang berkeliling. Namun, kedai makan itu terlihat sunyi, tanpa ada seorang pun di dalamnya.

"Eh, ke mana perginya orang-orang yang kulihat tadi? Apakah pandanganku yang salah...?" gumam Kenanga dengan kening berkerut.

"Hm..., mengapa harus dipikirkan? Mungkin saja mereka telah kembali ke kamarnya masing-masing," Panji yang sadar bahwa kekasihnya tengah dilanda kebingungan, segera saja menyahuti. Ia berharap ucapannya itu dapat membuat gadis ini kembali menjadi tenang. Kenanga yang hendak membantah ucapan Panji, segera menelan kata-katanya kembali. Karena sepasang matanya menangkap seorang pelayan menghampiri mereka.

"Hm..., kalian memerlukan kamar, atau hidangan...?" tanya pelayan setengah baya itu dengan sikap kaku, dan sama sekali tidak ramah.

"Terima kasih, Paman," Panji buru-buru menyahuti. "Kami memerlukan sebuah kamar yang cukup untuk kami berdua."

"Hm..., rupanya sepasang suami istri muda yang kemalaman," gumam pelayan setengah baya itu dengan nada suara tak jelas. Sedangkan sepasang matanya memandang penuh selidik.

"Betul, Paman. Kami adalah suami istri muda yang kemalaman. Mmm..., apakah kamar yang ku maksudkan itu ada, Paman...?" tanya Panji mengiyakan perkataan pelayan itu.

Tanpa berkata-kata lagi, pelayan setengah baya itu segera membalikkan tubuhnya. Kemudian melangkah, dan menaiki anak tangga menuju ke atas. Agaknya kamar-kamar penginapan itu berada di sebelah atas rumah ini.

Kenanga semula merasa terkejut ketika mendengar Panji memesan sebuah kamar untuk mereka berdua. Padahal, biasanya pemuda itu selalu meminta dua kamar, bila mereka kebetulan menginap di rumah-rumah penginapan. Tapi, gadis jelita itu sama sekali tidak membantah. Boleh jadi pemuda itu mempunyai rencana sehubungan dengan keanehan yang menyelimuti Desa Siluman, maupun para penduduknya. Pikiran itulah yang membuat Kenanga tidak membantah ketika mereka berdua dipersilakan memasuki sebuah kamar dengan dua pembaringan.

"Kalian tidak memerlukan apa-apa lagi...?" tanya pelayan setengah baya itu, sebelum meninggalkan Panji dan Kenanga.

"Mmm..., rasanya tidak, Paman. Terima kasih...," sahut Panji cepat. Meskipun semula mereka memang berniat untuk memesan hidangan, namun selera makan mereka lenyap dengan penampilan pelayan setengah baya itu. Sehingga Panji memutuskan untuk menahan rasa laparnya.

"Hhh..., sebenarnya aku sudah lapar sekali. Tapi melihat dan merasakan udara di desa ini, selera makanku lenyap seketika. Bahkan, untuk mencicipi hidangan di desa ini pun, aku curiga, Kakang. Jangan-jangan mereka membubuhi racun ganas di dalamnya," ujar Kenanga sepeninggal pelayan yang mengantarkan mereka.

"Dugaanmu bisa saja benar, Kenanga. Apalagi melihat sikap orang-orang yang kita temui di desa ini. Mereka rata-rata menunjukkan sikap kaku dan tidak bersahabat. Aku sepertinya merasakan ada pengaruh aneh yang menguasai penduduk di Desa Siluman ini. Tapi, aku belum dapat memastikannya. Yang jelas, malam ini kita tidak bisa beristirahat. Bukan tidak mungkin ada sesuatu yang akan terjadi malam ini...," ujar Panji yang duduk di sebuah kursi di samping pembaringan kekasihnya.

"Yahhh..., mungkin nasibku yang jelek, Kakang. Untuk beristirahat yang tenang pun, aku tidak dapat menikmatinya...," gumam Kenanga yang sudah merebahkan tubuhnya sambil menghela napas panjang.

"Hm...," Panji bergumam tak jelas sambil membalikkan tubuh ke arah jendela kamar. Dipandanginya pelita yang berada di atas meja.

Meskipun pemuda itu terlihat seperti tengah termenung, namun indera pendengarannya bekerja dengan baik. Dan bila ada sesuatu yang mencurigakan, maka telinga pemuda tampan itu pasti akan menangkapnya. Karena, tingkat kepandaian yang dimiliki Panji, sudah semakin meningkat. Sehingga tidak heran kalau pendengarannya makin tajam dan gerakan-gerakannya lmeah dan mantap. Bahkan hal itu hampir mencapai titik kesempurnaan.

********************

Malam semakin bertambah larut. Rembulan yang semula setia menemani sang malam, nampak disaput awan hitam. Bintang pun satu persatu lenyap. Sehingga, tidak secercah pun sinar yang menerangi kepekatanalam. Hembusan angin malam yang sesekali mengeras itu, menimbulkan suara-suara menyeramkan. Ditambah lagi, suara batang-batang pohon bambu yang saling bergesekan karena hembusan angin. Semua itu makin menambah suasana seram di Desa Siluman.

Panji yang saat itu telah merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, kembali tersadar. Telinganya menangkap langkah-langkah kaki seperti menaiki anak tangga. Kemudian, langkah itu menuju ke arah kamarnya. Tentu saja hal itu membuatnya termenung sejenak. Karena, suara langkah yang menuju kamarnya itu jelas tidak disembunyikan pemiliknya sama sekali.

Kecungaan Panji lenyap setelah berpikir tidak mungkin seseorang yang akan berbuat jahat, tanpa menyembunyikan suara langkahnya. Tapi, ketika suara langkah kaki itu terdengar semakin bertambah banyak, karuan saja hati Panji menjadi curiga. Ia pun langsung melompat bangkit dari pembaringan. Ditatapinya pintu kamar, dengan sikap waspada.

Tepat suara langkah itu berhenti di depan pintu kamar, Kenanga bangkit dari atas pembaringan, dan menimbulkan suara berderit. Untunglah Panji bertindak cepat dengan memberikan isyarat, meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Sehingga, Kenanga membatalkan pertanyaan yang semula siap terlontar dari mulutnya. Dengan gerakan ringan, tanpa menimbulkan suara berarti, Kenanga melompat dari atas pembaringan, dan mendekati kekasihnya. Wajah gadis itu terlihat tegang, ketika mendengar suara langkah itu seperti berkumpul di depan pintu kamar.

"Ada apa, Kakang...? Siapa mereka...?" tanya Kenanga melalui gerakan bibirnya, tanpa menimbulkan suara yang bisa didengar orang lain. Jelas, pertanyaan gadis itu dilontarkan dengan menggunakan 'Ilmu Mengirim Suara dari Jauh'. Sehingga, hanya kepada orang yang dituju saja suara itu terdengar.

"Entahlah. Aku belum dapat menduga, apa maksud mereka berkumpul di depan pintu kamar kita? Yang pasti, mereka tidak beritikad baik..." sahut Panji, juga menggunakan ilmu yang sama, menjawab pertanyaan kekasihnya.

"Eeeaaargh...!"

Saat keduanya tengah menanti dengan hati dipenuhi bermacam pertanyaan, tiba-tiba terdengar suara raungan parau yang sangat keras. Belum lagi Panji dan Kenanga dapat menebak makhluk apa yang mengeluarkan raungan mengerikan itu, tiba-tiba pintu kamar penginapan itu jebol dengan menimbulkan suara hiruk-pikuk yang ramai.

Namun, Pendekar Naga Putih dan kekasihnya bukanlah orang bodoh. Cepat tubuh keduanya melesat hampir bersamaan, ke arah kiri dan kanan pintu kamar itu. Serpihan-serpihan pintu, membuat tubuh keduanya cukup terhalang dari pandangan sosok-sosok tubuh kaku yang bergerak memasuki kamar.

Panji yang telah mengerahkan tenaga pada pandangan matanya, menjadi terkejut ketika melihat segerombolan sosok tubuh itu melangkah kaku. Apalagi di antara gerombolan itu terdapat enam penjaga gerbang desa, dan pelayan rumah penginapan yang mengantarkannya ke kamar.

Namun, suara-suara erangan aneh dari mulut sosok-sosok tubuh itu membuat Panji tidak menegurnya. Malah, ia segera menarik tangan Kenanga, dan diajaknya ke luar. Pada saat Panji dan Kenanga melesat keluar kamar, rupanya beberapa sosok tubuh itu sempat menangkap bayangan mereka. Terbukti, empat di antara sosok-sosok tubuh kaku itu berbalik dengan tatapan mata mencorong tajam dan bersinar kehijauan.

"Eaaakh...!"

Panji dan Kenanga sempat menoleh ketika mendengar suara erangan parau yang mengandung kekuatan aneh. Dan ketika keduanya menoleh, empat sosok kaku itu tengah melesat dengan tangan terulur membentuk cengkeraman-cengkeraman maut! Melihat cara keempat sosok tubuh kaku itu menyerang, jelas kalau mereka menginginkan kematian Panji dan Kenanga.

Semula Kenanga tidak menanggapi sama sekali cengkeraman-cengkeraman yang dilakukan sosok tubuh itu. Karena gerakan mereka terlihat kaku. Sehingga, ia tidak begitu mempedulikan serangan mereka.

Panji segera menilai keempat orang itu, karena ia telah bertindak penuh perhitungan, dan tidak mau meremehkan segala sesuatu yang masih asing baginya. Dan, betapa terkejut hati Pendekar Naga Putih ketika merasakan adanya getaran hawa aneh yang terkandung dalam serangan keempat orang itu. Kenyataan itu membuat Panji segera mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya guna menjaga segala kemungkinan.

Begitu dua dari empat penyerang memilihnya sebagai sasaran, cepat-cepat Panji menggeser kaki kirinya ke samping. Gerakan itu masih dibarengi dengan putaran tubuhnya, dan sekaligus menyampok empat lengan yang menginc tubuhnya.

Wukkk!

"Aaakh...!"

Terdengar erangan parau bersamaan dengan terpentalnya tubuh dua orang penyerang Panji. Namun bagai orang yang tidak mengenal rasa sakit, keduanya kembali melompat bangkit, sambil meraung sebagai tanda kegusaranmereka. Panji sendiri sempat kaget ketika merasakan getaran aneh, sewaktu lengannya berbenturan dengan keempat lengan lawan. Dan yang membuat pemuda itu tidak habis mengerti, adanya rasa ngilu yang menjalar dari kedua lengannya. Karuan saja kenyataan itu membuat Panji menjadi lebih berhati-hati.

Pendekar Naga Putih yang sudah bersiap menghadapi kedua orang lawannya, terkejut ketika mendengar teriakan kaget yang berasal dari samping kiri. Tepat pada saat kepalanya menoleh, ia melihat tubuh kekasihnya terjajar mundur sampai hampir satu tombak jauhnya.

"Kenanga...!"

Sambil berseru keras, Panji yang mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya, bergerak cepat menyambut tubuh gadis jelita itu. Pemuda itu segera mengerti penyebab kekasihnya terdorong mundur adalah akibat berbenturan dengan dua orang manusia aneh itu.

"Aku tidak apa-apa, Kakang. Hanya saja aku merasa terkejut dengan adanya tenaga aneh, yang berasal dari tangan-tangan mereka. Jelas ini tidak wajar, Kakang. Sepertinya mereka tidak merasakan apa-apa akibat tangkisanku tadi. Padahal, tenaga yang kukerahkan tidak sedikit dan rasanya cukup untuk membuat mereka jera. Kenyataannya, justru akulah yang kaget oleh kekuatan yang mereka miliki. Benar-benar aneh...?" ujar Kenanga dengan wajah berkerut-kerut. Jelas gadis jelita itu tidak dapat menerima kenyataan yang baru saja dialaminya.

"Aku juga merasakannya. Karena itu, kita harus segera meninggalkan penginapan ini, untuk mencari tahu keanehan yang terjadi di Desa Siluman ini," ucap Panji yang segera mengambil keputusan. Semua itu dilakukannya demi untuk mencari tahu apa penyebab dari keanehan penduduk desa ini.

Dan tanpa menunggu jawaban dari kekasihnya, Panji segera melesat sambil menggenggam tangan Kenanga. Sehingga dalam waktu singkat, keduanya telah berada di luar rumah penginapan itu. Meskipun telah berada di luar, ternyata bahaya masih tetap mengincar mereka. Dan, apa yang disaksikan Panji dan Kenanga, memang sangat mengejutkan.

"Ahhh...!?" Kenanga menahan jeritannya ketika menyaksi apa yang ada di luar rumah penginapan itu. Sehingga tanpa sadar, gadis jelita yang biasanya tidak mengenal rasa takut itu, bergerak mundur sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Hanya sepasang matanya saja yang terbelalak seperti tak percaya dengan apa yang disaksikannya.

Panji sendiri bukan tidak terkejut melihat puluh sosok tubuh bergerak maju, begitu mereka muncul dari dalam rumah penginapan. Sikap puluhan sosok tubuh itu mencerminkan ancaman terhadap mereka. Sehingga, hati Pendekar Naga Putih sempat geram dibuatnya.

"Siapa kalian...? Dan apa yang kalian inginkan dari kami berdua?" cetus Panji geram, sambil menahan rasa marah yang mulai bangkit ketika menyaksi puluhan orang itu telah mengurung mereka berdua.

"Mereka tidak mengenal kompromi lagi, Kakang. Gerakan mereka demikian kaku, seperti mayat-mayat yang baru bangkir dari kubur," desis Kenanga tergetar hatinya, melihat penampilan puluhan sosok tubuh itu.

"Hm… aneh…!" gumam Panji pula setelah mengamati sosok- sosok tubuh yang berjalan kaku itu.

Pertanyaan Panji tidak mendapat tanggapan sama sekali. Bahkan puluhan sosok tubuh itu bergerak terus, bagaikan mayat-mayat yang bangkit dari kuburnya. Wajah-wajah mereka pun terlihat pucat, dingin dan beku, tanpa menyiratkan perasaan sedikit pun. Seolah-olah puluhan sosok tubuh itu mengenakan topeng untuk menyembunyikan wajah asli mereka.

"Hm..., aneh...!" gumam Panji setelah mengamati beberapa sosok tubuh yang tengah melangkah mendekatinya. Kening pemuda tampan itu berkerut dalam. Sepasang matanya mencorong tajam seperti hendak menembus hati pengepungnya. Jelas sekali kalau pemuda itu tengah berpikir keras untuk memecahkan misteri yang dihadapinya. Sebelum Panji dan Kenanga bergerak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba dari dalam rumah penginapan itu telah bermunculan sosok-sosok tubuh dan mengejar mereka. Cepat-cepat sepasang muda-mudi bergerak ke tempat aman.

"Hm..., sepertinya pertempuran tidak mungkin bisa dihindari lagi...," gumam Panji dengan wajah duka. Dari nada ucapannya, Pendekar Naga Putih tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena, penyebab puluhan orang itu hendak mencelakai mereka, belum diketahui. Menyadari kalau puluhan sosok tubuh itu barangkali tidak berdosa, Panji bersikap menghindari pertempuran. Karena ia tahu kekuatan sosok-sosok tubuh itu, sehingga bukan tidak mungkin akan menjadi korban. Hal itulah yang ingin dihindari Panji.

"Benar, Kakang. Setelah merasakan kekuatan yang mereka miliki, rasanya sulit untuk lolos tanpa melukai atau membunuh beberapa di antara mereka. Hihh..., apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kita...?" desah Kenanga yang menyadari keadaan benar-benar terjepit

"Kreaaagh...!"

Tiba-tiba, sebelum Panji memutuskan apa yang harus dilakukan, terdengar raungan parau yang sepertinya merupakan sebuah perintah. Hal itu terbukti dengan semakin cepatnya sosok-sosok tubuh kaku itu bergerak maju. Bahkan beberapa di antara mereka sudah melompat menerjang!

"Kita coba untuk lolos dari kepungan tanpa harus mencelakai mereka. Sebab, menurut penglihatanku, orang-orang ini seperti tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Pasti ada biang keladi dari semua kujadian ini...!" ujar Panji mengingatkan kekasihnya agar tidak sembarangan melepaskan pukulan.

"Aku akan berusaha sebisanya, Kakang...," sahut Kenanga sambil bersiap memasang kuda-kuda.

Belum habis gema suara gadis itu, tiba-tiba dari depan empat sosok tubuh kaku itu telah menerkam Kenanga. Bahkan, pada saat yang bersamaan, para pengejarnya yang berada di belakang ikut pula menyerbu. Sehingga kedudukan gadis jelita itu menjadi terjepit. Menyadari untuk menghadapi para pengeroyoknya harus menggunakan kelmeahan, maka Kenanga mulai menggeser tubuhnya dengan gerakan ringan. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, para pengroyok itu kehilangan buruannya.

"Haiiit..!"

Disertai sebuah seruan nyaring, Kenanga melesat sambil melontarkan pukulan guna mengurangi tekanan lawan. Karena gerakan gadis jelita itu hampir menyerupai bayang-bayang yang sukar untuk dijamah, maka dalam beberapa gerakan saja, beberapa orang pengeroyoknya terjungkal akibat hantaman telapak tangan gadis jelita itu.

Tapi kekuatan para pengeroyok itu benar-benar menakjubkan! Sehingga Kenanga sendiri hampir tidak mempercayai penglihatannya. Bahkan sampai-sampai ia mulai meragukan kekuatan tenaga saktinya. Karena setiap kali tubuh pengeroyoknya terjungkal keras mereka selalu bangkit seketika tanpa merintih kesakitan sedikit pun! Padahal, Kenanga tahu kalau pukulan yang dilontarkannya itu bisa menewaskan lawan yang tidak memiliki kekuatan tenaga dalam. Tapi, para pengeroyoknya itu seperti tidak merasakan kerasnya pukulan gadis jelita itu.

"Gila! Mereka pasti bukan manusia...!" umpat Kenanga yang terpaksa terus menggunakan kelemahannya sambil sesekali melontarkan pukulan dan tendangan.

Sadar kalau lama-kelamaan ia bisa kehabisan tenaga, bila selalu melontarkan pukulan dan tendangan, maka serangan balasannya pun mulai dikurangi. Sehingga, Kenanga lebih banyak menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menghadapi keroyokan makhluk-makhluk aneh yang sangat kuat itu.

Demikian pula halnya dengan Panji. Beberapa orang pengeroyoknya yang terkena pukulan keras, segera bangkit, membuat pemuda itu menjadi heran. Padahal, tenaga pukulan maupun tamparannya, dapat menghancurkan sebuah batu besar. Tapi, semua itu seperti tidak berarti apa-apa bagi para pengeroyoknya. Kenyataan itu membuat Panji terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh guna menekan desakan pengeroyoknya.

Kenyataan yang dialami Panji kali ini benar-benar membuat pemuda itu hampir tak percaya. Ketika ia menggunakan kelincahannya untuk mengurangi tekanan lawan, mendadak beberapa di antara para pengeroyoknya melesat dengan kecepatan kilat sambil melontarkan pukulan-pukulan maut yang menebarkan hawa aneh!

"Aihhhh...!"

Panji berseru tertahan ketika empat sosok tubuh yang muncul dari barisan pengeroyoknya, bergerak bagai kilat dengan posisi tubuh menelungkup. Tubuh-tubuh keempat orang itu tak ubahnya seperti terbang, menerjang Panji dengan cengkeraman-cengkeraman maut. Begitu berhasil menghindari serangan empat orang yang ternyata dapat bergerak cepat itu, Panji segera melanjutkan dengan lompatan dan berputar di udara.

"Hm..., hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut..," gumam Pendekar Naga Putih yang segera menyiapkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Kesadaran untuk menggunakan tenaga mukjizat jelman Pedang Naga Langit itu, segera muncul setelah melihat gerakan empat orang lawannya yang jelas-jelas sangat berbahaya. Selain itu, 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' merupakan suatu kekuatan ajaib yang mampu mengusir atau melenyapkan pengaruh-pengaruh aneh bagi lawan-lawannya. Beberapa pemikiran itulah yang membuat Panji memutuskan untuk menggunakan tenaga ajaibnya.

TIGA

"Hmh..."

Seiring geraman lirih yang keluar dari mulut Panji, terciptalah lapisan sinar kuning keemasan yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Namun, pada saat Panji telah siap melontarkan pukulan-pukulan, terdengar jerit kesakitan. Pendekar Naga Putih tahu suara itu berasal dari Kenanga. Maka, ketika itu juga tubuh Panji segera melesat untuk menyambut tubuh gadis jelita yang tengah melayang, dan mungkin akan terbanting bila Panji tidak segera menyambutnya.

"Uhhh..., mereka pasti bukan manusia, Kakang," rintih Kenanga dengan suara lirih. Dari sela-sela bibirnya terlihat cairan merah merembes keluar. Jelas, gadis jelita itu telah terkena pukulan dari salah seorang lawan.

"Hmh...," Panji menggeram gusar ketika melihat gadis jelita yang dikasihinya itu telah mendapat luka. Wajahnya yang semula tenang, berubah kemerahan. Jelas Pendekar Naga Putih telah terbangkit kemarahannya.

"Kita harus meloloskan diri dari kepungan mereka, Kakang. Tubuh mereka kebal terhadap pukul pukulan kita...," ujar Kenanga yang sudah bisa menguasai rasa sakitnya. Meskipun demikian, wajah itu telihat agak meringis sambil meremas lambungnya. Rupanya pukulan salah seorang pengeroyok mengenai lambungnya.

Sosok-sosok tubuh kaku yang tak ubahnya seperti mayat- mayat hidup itu terus bergerak mendekati mereka. Bahkan enam orang dari makhluk-makhluk aneh itu telah melesat bagaikan terbang dengan cengkeraman-cengkeraman mautnya! Keenam sosok tubuh itu jelas pimpinan makhluk aneh itu. Terbukti dari kepandaian mereka yang melebihi puluhan sosok lainnya.

"Yang mengenakan pakaian coklat itulah yang melukaiku, Kakang...," desah Kenanga yang telah bersiap kembali menghadapi segala kemungkinan.

"Hm..., sepertinya keenam orang itu pimpinan mereka. Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dan berbahaya daripada yang lainnya. Biar aku akan mencoba untuk melumpuhkan mereka terlebih dahulu...," ucap Panji sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang tangan pemuda itu kemudian bergerak membuka, dan siap melontarkan pukulan hebat.

"Haittt...!"

Begitu keenam sosok tubuh itu makin dekat. Panji berseru nyaring sambil mendorongkan kedua telapak tanganya ke depan.

Whusss...!

Serangkum cahaya kekuningan berpendar, dan meluncur memapaki keenam sosok tubuh yang tengah melayang di udara itu. Dan....

Bresssh...!

Terdengar dentuman keras yang kemudian disusul dengan memecahnya sinar kuning keemasan ke segala arah. Jelas dorongan telapak tangan Panji telah mengenai sasaran Apa yang dilakukan Pendekar Naga Putih, ternyata telah membawa hasil baik. Terbukti dua dari enam sosok tubuh yang tengah melayang itu, langsung terjerembab jatuh ke atas tanah. Tubuh kedua sosok itu tidak lagi bangkit seperti semula. Keduanya diam tak berkutik, seperti telah menjadi mayat.

"Tewaskah mereka, Kakang...?" tanya Kenanga telah melihat kedua sosok tubuh itu tidak lagi bergerak akibat pukulan kekasihnya.

"Entahlah. Tapi, kalau melihat adanya sinar keemasan yang menyelubungi mereka, jelas mereka belum tewas. Kalau sinar itu masih menyelimuti tubuh korban, berarti orang yang menjadi sasaran pukulan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' masih menyimpan racun atau luka dalam tubuhnya. Dan, boleh jadi pengaruh sihir yang tengah dilenyapkan oleh tenaga mukjizat itu," jelas Panji. Kenanga mengangguk-angguk puas.

Robohnya dua orang pengeroyok itu, ternyata menimbulkan pengaruh besar bagi sosok-sosok tubuh kaku lainnya. Terbukti mereka tidak lagi bergerak maju. Bahkan keempat orang yang memiliki kepandaian mengerikan itu, tertegun sambil menatapi tubuh kedua kawannya. Kesunyian itu berlangsung cukup lama. Sehingga baik Panji maupun Kenanga ikut terdiam, seperti menanti kelanjutan dari sosok-sosok tubuh kaku itu.

"Mengapa tidak kita tinggalkan saja tempat mengerikan ini, Kakang...?" tanya Kenanga yang sepertinya tidak mau menyia- nyiakan kesempatan baik itu.

"Sebentar. Aku ingin melihat tindakan mereka selanjutnya, setelah dua kawan mereka kupukul roboh," sahut Panji yang sepertinya tidak lagi merasa khawatir. Karena, telah menemukan cara untuk menundukkan para pengeroyoknya.

Tidak setujunya Panji dengan usul yang diajukan Kenanga itu, karena ia mengira kalau para pengeroyoknya akan menjadi jera. Dengan begitu, Panji berharap dapat menyingkap misteri yang menyelimuti Desa Siluman. Tapi, apa yang diharapkan Panji ternyata tidak menjadi kenyataan. Karena sosok-sosok tubuh itu kembali bergerak mendekati mereka, ketika hembusan angin dingin bertiup keras. Sehingga, pepohonan di sekitarnya berderak ribut. Karuan saja keadaan itu sempat membuat Panji terperangah.

"Mereka..., mulai lagi, Kakang...," desis Kenanga yang juga menjadi kaget.

Tapi bukan gerakan sosok-sosok tubuh kaku itu yang membuat Panji terperangah. Ada kejadian lain yang membuat Pendekar Naga Putih semakin tidak mengerti, sampai-sampai ia tertegun bagai tak mempercayai penglihatannya. Dua di antara empat pemimpin sosok-sosok tubuh kaku itu, terlihat merunduk, lalu menempelkan telapak tangannya ke dada dua orang yang tadi terkapar akibat hantaman Panji. Tampak kepulan uap putih keluar dari telapak tangan kedua sosok tubuh itu. Seiring dengan erangan parau yang panjang dan mendirikan bulu roma, dua sosok tubuh yang tengah terkapat itu mendadak bangkit dengan tubuh tegak bagaikan sebatang tonggak. Kejadian itulah yang membuat Pendekar Naga Putih terperangah.

"Gila! Ilmu iblis apa yang mereka pergunakan itu...?" desis Panji dengan perasaan takjub. Kendati pengalamannya selama ini telah cukup banyak, tapi ilmu yang disaksikannya itu belum pernah dilihatnya sama sekali. Wajar kalau pemuda itu terkejut.

"Jelas mereka memiliki ilmu sesat yang sangat tinggi, Kakang," ujar Kenanga yang juga terbelalak takjub melihat bangkitnya dua sosok tubuh yang tadi dirobohkan kekasihnya.

"Tidak ada jalan lain, kita harus meninggalkan tempat celaka ini...," ujar Panji sambil menghimpun 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'nya kembali, "Bersiaplah untuk lepas dari kepungan mereka, Kenanga"

"Baik, Kakang."

"Ikuti gerak langkah kakiku...!" perintah Panji sambil menggeser langkahnya ke samping kanan. Kemudian melontarkan hantaman telapak tangan susul-menyusul. Hal itu dilakukan Pendekar Naga Putih untuk mengacaukan kepungan lawan.

Whusss.!

Gumpalan sinar kuning keemasan berpendar dan memecah menjadi tiga bagian. Masing-masing dari gumpalan sinar itu menerjang belasan orang pengepung yang bergerak mendekat. Dan....

Blasss.... Bresssh.!

Letupan keras terdengar saling bersusulan, yang diiringi terjungkalnya sosok-sosok tubuh para pengepung ke segala arah, Kemudian jatuh terkapar tanpa dapat bangkit lagi. Tapi, lagi-lagi Pendekar Naga Putih dan Kenanga harus menyaksikan pemandangan yang membuat dada mereka berdebar tegang. Belasan sosok tubuh yang terkapar tak bergerak itu, kembali bangkit setelah kawan-kawannya yang lain mengusapkan telapak tangan pada bagian dada tubuh kawannya yang tergeletak. Hebatnya sosok-sosok tubuh itu kembali bangkit seperti tidak merasakan hantaman Pendekar Naga Putih.

Tapi, semua itu tidak sempat terpikirkan oleh Panji maupun Kenanga. Sebab, enam orang pimpinan rombongan manusia aneh itu telah melayang dengan cengkeraman-cengkeraman mautnya. Sehingga, Panji kembali melontarkan pukulan dahsyatnya ke arah mereka.

Blarrr...!

"Aaakh...!"

"Hugkh...!"

Terdengar jerit kesakitan ketika lontaran pukulan Panji telak mengenai empat orang terdepan. Akibatnya, keempat sosok tubuh itu terpental bagaikan sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Sedangkan dua orang lainnya sudah mendekati dan mengancam pemuda itu.

Bettt...! Bettt...!

Cepat-cepat Panji memutar tubuhnya sebanyak dua kali guna menghindari cengkeraman maut kedua lawannya. Kemudian dengan sebuah gerakan yang lincah, Panji melepaskan tendangan kilat yang sama kali tidak diduga lawannya. Untuk kesekian kalinya, Pendekar Naga Putih mengeluarkan suara pujian terhadap kedua lawannya. Karena serangan balasan yang dilontarkannya itu ternyata dapat dihindari lawan dengan menarik tubuh ke belakang dalam keadaan kuda-kuda rendah, dan doyong ke belakang.

Panji bukanlah pendekar kemarin sore yang tidak memiliki pengalaman bertempur. Sebaliknya malah sudah banyak sekali pengalaman-pengalaman hebat yang dialaminya. Dan, semua pengalaman itu telah membuatnya mampu membaca gerakan lawan. Sehingga, ketika tendangannya luput, tubuh Panji bergerak membungkuk dengan kuda-kuda rendah. Bersamaan dengan itu, sepasang tangannya bergerak bagai kilat menggedor dada lawan.

Blagggh...! Bukkk...!

Bukan main hebatnya akibat hantaman sepasang telapak tangan Pendekar Naga Putih. Tanpa dapat dicegah lagi, hantaman telak yang mengenal dada kedua orang lawannya, membuat keduanya terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang. Kedua sosok tubuh yang menjadi sasaran kegeraman Pendekar Naga Putih terkapar di atas tanah dengan rintihan parau.

"Huagkh...!"

Setelah memuntahkan darah segar dari mulut masing- masing, tubuh kedua korban hantaman telapak tangan Panji itu pun rebah dan tidak bergerak lagi. Jelas, mereka tewas akibat hantaman dahsyat Pendekar Naga Putih.

"Terpaksa aku melakukannya, Kenanga.... Semula aku berniat untuk menyembuhkan mereka, bila dugaanku benar bahwa mereka tengah dipengaruhi suatu kekuatan aneh. Tapi, desakan mereka telah membuatku khilaf...," desah Panji dengan nada penuh sesal. Jelas, hal itu memang di luar perhitungannya.

"Jadi pukulan-pukulan Kakang yang membuat mereka roboh sebelumnya, hanya untuk mengusir pengaruh aneh pada diri mereka...?" tanya Kenanga dengan wajah heran. Gadis ini memang tidak mengetahui rencana apa di benak kekasihnya. Tapi, untuk menjelaskan semua itu memang tidak ada waktu lagi.

"Benar. Itulah sebabnya mengapa mereka dapat bangkit kembali, tanpa mengalami luka ataupun memuntahkan darah. Tapi, dua orang itu tidak mungkin dapat bangkit lagi. Sebab, pukulanku bukan untuk melenyapkan mereka dari pengaruh aneh, tentu saja kalau dugaanku itu betul...," sahut Panji sambil menghela napas berat berkepanjangan.

"Sudahlah, Kakang. Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Sebaiknya kita segera meninggalkan desa ini, sebelum korban lain berjatuhan," usul Kenanga yang membuat Panji tersadar.

"Ayolah...," sahut Panji yang segera mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu, selagi para pengeroyoknya sibuk mengurusi tubuh-tubuh kawannya yang bergeletakan akibat pukulan Panji.

Hanya dalam sekejapan mata saja, sosok Panji dan Kenanga lenyap ditelan kegelapan malam. Keduanya terus melesat menuju perbatasan Desa Siluman. Sepertinya sepasang pendekar muda itu telah bertekad untuk menjauhi desa yang penuh misteri itu.

********************

Panji membuka kelopak matanya ketika cahaya matahari pagi menerobos celah dedaunan. Sambil menggosok kedua matanya, pemuda itu bangkit dan mengedarkan pandangan berkeliling.

"Ah, rupanya harum daging bakar itulah yang membuat perutku sudah keroncongan sepagi ini," ujar Panji. Sambil berkata demikian, bibir pemuda tampan itu menyunggingkan senyum manis ketika melihat dua ekor kelinci panggang sudah tersedia di dekatnya.

"Eit, nanti dulu, Tuan Besar...," cegah Kenanga tersenyum sambil menangkap tangan Panji yang tengah terulur hendak mengambil seekor kelinci bakar itu. "Bersihkan dulu tubuhmu, mana bisa begitu bangun tidur langsung makan."

Mendengar ucapan itu, Panji segera bangkit dari duduknya. Setelah melontarkan senyum kepada gadis itu, Panji pun bergegas menuju aliran sungai yang gemericik airnya terdengar dari tempat itu. Tidak berapa lama kemudian, Panji sudah kembali dengan rambut yang basah dan wajah segar. Pemuda tampan itu langsung saja menjatuhkan pantatnya di samping Kenanga.

"Hm..., kelinci hutan ini pasti sedap. Dari mana kau memperolehnya, Kenanga?" tanya Panji yang segera menyambar kelinci bakar itu.

"Kebetulan aku temukan kelinci itu di dekat semak belukar di tepi sungai. Tentu saja santapan lezat itu tidak kulewatkan," sahut Kenanga yang juga telah menyambar seekor daging kelinci bakar.

"Syukurlah. Dengan demikian, aku tidak perlu bersusah- payah lagi untuk mencari pengisi perut..," ujar Panji seraya tersenyum.

Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, keduanya segera menyantap habis daging kelinci itu. Sayang, kenikmatan mereka agak terganggu dengan suara derap kuda, yang sepertinya tengah melintas ke arah mereka. Sehingga, untuk beberapa saat mereka saling berpandangan dengan sikap waspada.

Tak lama kemudian, kira-kira enam tombak lebih dari tempat keduanya duduk, melintas lima ekor kuda. Melihat dari buntalan cukup besar di punggung kuda itu, jelas rombongan kecil itu merupakan pedagang-pedagang keliling, yang akan menjajakan barang dagangannya ke pelosok-pelosok desa.

"Kita harus mencegah mereka, Kakang. Sepertinya rombongan pedagang keliling itu hendak menuju Desa Siluman," ucap Kenanga yang menjadi cemas ketika melihat rombongan pedagang itu tengah menuju Desa Siluman yang penuh misteri.

Panji menganggukkan kepala, kemudian bangkit dan bergerak menghampiri rombongan kecil itu. Sedangkan Kenanga hanya mengikutinya dari belakang.

"Kisanak, berhenti sebentar...!" cegah Panji sambil melambaikan tangannya dari jarak dua tombak. Sehingga, para pedagang itu menoleh dengan kening berkerut.


"Hm.., ada keperluan apa kalian berdua menghadang perjalanan kami...?" tanya salah seorang dari lima orang pedagang itu dengan wajah tak sedap. Bahkan nada suaranya terdengar mengandung kecurigaan yang tidak disembunyikan.

"Maaf, kalau boleh aku tahu, hendak ke manakah Kisanak sekalian...?" tanya Panji setelah membungkuk hormat. Wajah dan nada suara pemuda itu tetap lembut dan sopan. Melihat sikap maupun cara berbicara Panji yang ramah dan sopan, kelima pedagang keliling itu sejenak saling berpandangan. Seolah-olah dengan saling berpandangan itu, mereka hendak meminta pendapat satu sama lain mengenai sikap pemuda tampan itu.

"Mmm..., melihat sikap dan wajahnya, jelas pemuda itu bukan orang jahat. Mungkin ia memang hendak mengetahui tujuan perjalanan kita," ucap salah seorang pedagang dengan suara berbisik lirih.

"Tapi, kita jangan percaya dulu dengan penampilan luar seseorang. Apalagi di tempat sunyi seperti ini, bisa jadi sikap ramah dan sopannya itu hanya tipuan belaka. Setelah kita lengah, maka habislah barang-barang kita dibawanya lari," dengus salah seorang pedagang yang tetap mencurigai Panji dan Kenanga.

Walaupun perdebatan itu dilakukan dengan berbalik, tapi bagi orang seperti Pendekar Naga Putih, tentu saja dapat menangkap pembicaraan mereka dengan baik. Pemuda itu tersenyum sabar. Kemudian kakinya melangkah lebih dekat.

"Paman sekalian," ujar Panji lagi, tetap sopan. Kecurigaan yang kalian tunjukkan itu sama sekali tidak salah. Sikap seperti itu memang perlu, apalagi bila berjumpa dengan seseorang yang tidak dikenal sama sekali di tempat sunyi. Tapi, percayalah kami berdua tidak berniat jahat terhadap kalian. Kami hanya ingin mengingatkan, desa di depan itu tidak baik bagi pedagang-pedagang seperti kalian. Lebih baik carilah desa lain, selain Desa Siluman itu," ujar Panji, mengutarakan kekhawatirannya terhadap pedagang-pedagang itu. Semua itu dijelaskan Panji untuk menghilangkan kecurigaan para pedagang itu.

Ketika mendengar keterangan Panji, para pedagang keliling itu hampir meledak tawanya. Mereka meremehkan apa yang dikatakan pemuda tampan itu.

"Ha ha ha...," karena tidak tahan mendengar keterangan Panji, salah seorang yang bertubuh kecil kurus, tertawa tergelak, meskipun berusaha ditahan. "Lalu, apa yang kau inginkan, Kisanak? Keteranganmu itu hanya pantas untuk seorang anak kecil. Dan kalau memang kau ingin merampas barang dagangan kami, pergunakanlah kepandaianmu, mengapa harus bersiasat seperti itu?" ejek pedagang kurus itu melecehkan.

"Benar, Anak Muda. Jangan coba-coba menakut-nakuti kami. Sebab hal itu akan percuma saja. Nah kalau mau merampas tidak perlu menggunakan siasat seperti itu," sambut yang lainnya seraya tertawa bergelak-gelak.

"Hei, manusia tidak tahu diuntung!" teriak Kenanga yang merasa tersinggung mendengar ucapan yang mengejek kekasihnya. Kemarahannya pun makin meluap. "Kalau kalian memang hendak singgah di Desa Siluman, silakan ke sana! Dan, jangan menyesal kalau kalian akan terbujur menjadi mayat!"

"Hm..., dari mana kalian mengenal desa itu sebagai Desa Siluman? Setahu kami, nama desa itu adalah Kalianyar. Jelas, kalau kalian berdua bermaksud menipu kami," sambut salah seorang pedagang itu yang juga merasa tersinggung dengan bentakan Kenanga.

"Desa Kalianyar...? Tapi, malam tadi kami baru saja singgah untuk bermalam di sana. Menurut keterangan salah seorang keamanan, desa itu bernama Desa Siluman. Mana mungkin kami salah dengar?" bantah Panji yang merasa heran ketika pedagang itu itu menyebut nama desa itu sebagai Desa Kalianyar. Jelas, menurutnya telah terjadi kekeliruan di antara mereka.

"Huh! Sudahlah, Kakang. Untuk apa mengingatkan orang- orang keras kepala yang konyol itu. Lebih baik kita lihat saja, semoga mereka tidak menjadi arwah penasaran!" geram Kenanga yang segera mengajak Panji meninggalkan rombongan pedagang itu. Sebab, kalau lama-lama berdebat dengan orang-orang itu, Kenanga khawatir kemarahannya bisa meledak, tanpa dapat ditahan.

Panji mengerti mengapa Kenanga mengajaknya meninggalkan rombongan pedagang keliling itu, dan ia sama sekali tidak berusaha untuk membantah. Pemuda itu menurut saja ketika tangannya ditarik oleh gadis jelita itu. Para pedagang keliling itu menggelengkan kepala setelah kedua orang muda itu semakin jauh. Kemudian, tanpa mempedulikan peringatan Panji dan Kenanga, rombongan pedagang itu pun kembali bergerak menuju Desa Kalianyar.

EMPAT

"Kita tidak bisa berdiam diri saja, apabila terjadi apa-apa dengan mereka, Kenanga. Lebih baik kita ikuti saja, dan baru turun tangan, bila terjadi sesuatu," usul Panji yang sudah berhenti melangkah, menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon.

"Untuk apa, Kakang? Bukankah kita sudah memberikan peringatan? Kalau memang nanti mereka mendapat celaka, itu sudah menjadi risiko mereka. Biar saja risiko itu mereka tanggung sendiri," Kenanga yang masih belum lenyap kekesalannya, tidak dapat menerima usul kekasihnya.

"Hm..., jangan bersikap seperti itu, Kenanga. Biar bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa. Lagi pula, mungkin saja desa itu bernama Kalianyar seperti yang dikatakan salah seorang pedagang tadi. Karena, ia sangat yakin dan mantap sekali mengucapkan nama desa itu," bujuk Panji yang mencoba melunakkan hati kekasihnya.

"Tapi kejadian yang baru kita alami semalam, Kakang. Jelas sekali mereka menyebut nama desa itu sebagai Desa Siluman ketika aku bertanya kepada salah seorang yang mengantarkan kita ke penginapan. Apakah mungkin pendengaranku kurang beres?" Kenanga masih tetap membantah dengan nada agak jengkel.

"Ya, aku pun mendengar jawaban itu. Tapi, sebaiknya kita selidiki dulu kebenaran kata-kata pedagang keliling itu. Ayolah, tidak baik kau mendendam hanya karena persoalan sepele seperti ini," ajak Panji yang segera melangkah dan mengulurkan tangannya membelai rambut gadis jelita yang tengah jengkel itu.

Kenanga tidak segera menyambut ajakan Panji. Gadis jelita itu bungkam dengan wajah muram. Baru setelah Panji memeluk tubuhnya, gadis jelita itu mendongak. Ditatapnya wajah Panji dengan sepasang mata beningnya.

"Baiklah, Kakang. Kita memang berniat menyelidiki desa penuh misteri itu. Jadi, kedatangan kita ke sana bukan cuma karena hendak menyelamatkan para pedagang sombong itu. Tapi, penduduk desa itulah yang harus kita selamatkan," akhirnya Kenanga menyetujui juga usul Panji, meskipun dengan alasan yang berbeda.

"Begitupun boleh," sahut Panji yang segera mengecup lembut rambut Kenanga.

Tak lama kemudian, mereka pun kembali melangkah menuju Desa Siluman. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Sepanjang perjalanan, mereka terbawa oleh arus pikirannya masing-masing.

Saat matahari mulai bergerak naik, sepasang pendekar itu pun tiba di mulut Desa Siluman. Dan apa yang mereka saksikan, benar-benar sulit dipercaya! Tampak mulut desa itu ramai oleh para pedagang. Panji dan Kenanga mengedarkan pandangan ke sekitar keramaian pasar itu. Kening keduanya berkerut menyaksikan wajah-wajah yang sama sekali jauh berbeda dengan apa yang mereka saksikan semalam. Tak satu pun dari orang-orang di pasar itu berwajah pucat dan bergerak kaku. Kenyataan itu tentu saja menimbulkan tanda tanya besar dalam hati mereka.

"Paman, kalau boleh kutahu, apakah nama desa ini...?" Kenanga tidak sabar lagi, langsung dihampirinya seorang pedagang kulit binatang, dan langsung menanyakan nama desa itu.

"Apakah Nisanak baru pertama kali datang ke desa ini?" pedagang yang ditanya itu malah balik bertanya, hingga Kenanga terpaksa menelan rasa kedongkolan dalam hatinya.

"Benar, Paman. Dan aku belum tahu nama desa ini," sahut Kenanga cepat-cepat.

"Kalau begitu, sering-seringlah singgah di Kalianyar ini. Setiap pekan, desa kecil ini selalu ramai dikunjungi para pendatang yang ingin membeli kulit binatang hasil tangkapan penduduk asli. Kulit dari jenis binatang apa pun, mudah diperoleh di sini hanya dengan beberapa keping uang," jelas lelaki itu sambil menawarkan barang dagangannya.

"Terima kasih. Saat ini aku belum membutuhkannya," sahut Kenanga yang segera berlalu meninggalkan pedagang itu. Kenanga yang jelas-jelas merasa tidak puas dengan jawaban pedagang kulit binatang itu, segera mengajak Panji menjauhi keramaian pasar.

"Jelas apa yang kita alami semalam sekadar mimpi. Dan, aku semakin penasaran untuk mengungkap misteri yang menyelimuti desa terpencil ini," gumam Panji yang rupanya mendapat keterangan yang sama dengan kekasihnya. Sehingga, hati pemuda itu kian bertambah penasaran.

"Sekarang marilah kita datangi rumah penginapan yang semalam kita tempati," usul Kenanga yang juga kian penasaran dengan semua keterangan dan apa yang dilihatnya pagi ini.

Gadis jelita itu merasa kalau ia dan kekasihnya telah dipermainkan oleh orang-orang yang sama sekali tidak diketahui. Ketika keduanya hampir tiba di dekat rumah penginapan yang juga menyediakan kedai makan itu, mendadak langkah Kenanga terhenti. Ia melihat di depan kedai itu ada lima ekor kuda yang tengah ditambatkan.

"Ada apa...?" tanya Panji ketika melihat Kenanga menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Pedagang-pedagang sombong itu ada di dalam kedai, Kakang. Lebih baik kita menghindar saja, daripada membuat keributan di dalam kedai makan itu." ujar Kenanga dengan wajah muram. Jelas sekali kalau gadis jelita itu tengah dilanda kemarahan.

Mendengar ucapan kekasihnya, Panji mengerti mengapa Kenanga mengurungkan niatnya untuk mendatangi kedai tempat mereka menginap semalam. Sebab, lima ekor kuda itu adalah milik pedagang-pedagang keliling yang sempat mereka nasihati. Pemuda itu pun tahu, bila ia memaksa untuk memasuki kedai, sudah pasti para pedagang keliling itu akan mencemoohkan mereka.

"Kalau begitu, kita cari kedai lain saja...," ajak Panji sambil melangkah meninggalkan kedai, yang hanya tinggal beberapa tombak di depan mereka.

Setelah keduanya agak lama mengitari desa ternyata mereka tidak menemukan adanya kedai lain. Kedai makan, tempat mereka menginap semalam merupakan satu-satunya penginapan dan sekaligus kedai makan di Desa Kalianyar itu. Memang hal itu wajar. Karena Desa Kalianyar merupakan desa kecil yang hanya dihuni beberapa puluh orang penduduk.

"Kurang ajar! Apa yang harus kita perbuat sekarang, Kakang?" geram Kenanga yang merasa jengkel dengan keadaan itu.

"Hm..., lebih baik kita terus saja keluar perbatas desa sebelah Timur. Dari sana mungkin kita bisa menyelidiki, kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pegangan," usul Panji yang segera disetujui Kenanga.

Pasangan pendekar yang tengah dilanda tanda tanya besar itu melangkah perlahan menuju batas desa sebelah Timur. Setelah jalan yang mereka lalui agak sepi, barulah keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mengitari Desa Kalianyar.

********************

Matahari sudah semakin naik tinggi ketika Panji dan Kenanga memasuki sebuah daerah perbukitan tandus. Keduanya mengernyitkan hidung ketika mencium sesuatu yang tidak sedap.

"Uh, bau apa ini, Kakang..?" desis Kenanga sambil memijit hidungnya ketika bau yang tak sedap menyergapnya.

"Seperti bau busuk yang berasal dari tubuh mayat. Sebaiknya kita selidiki lebih ke dalam," sahut Panji yang segera melanjutkan langkahnya sambil menahan rasa mual.

"Uhhh...," Kenanga kembali mengeluh dan jengkel. Dilepaskannya sabuk hijau yang melingkari pinggangnya. Kemudian dilekatkan ke kepalanya hingga menutupi hidung. Setelah itu, baru bergerak menyusul Panji.

Bau busuk yang memenuhi sekitar perbukitan itu terasa makin keras, ketika keduanya tiba di sebuah tempat yang agak rendah. Sewaktu Panji memaksakan diri melihat ke bawah, cepat pemuda itu melompat mundur.

"Ada apa, Kakang...?" tanya Kenanga dengan wajah berubah. Jelas, gerakan Panji yang tiba-tiba itu telah membuatnya terkejut.

"Bau busuk itu pasti berasal dari bawah sana," ujar Panji yang rupanya ketika menjenguk ke bawah ada hawa busuk yang sangat keras menyambar. Sehingga, pemuda itu terlompat kebelakang.

"Hm..., apa yang kalian cari di tempat sunyi ini."

Tiba-tiba terdengar teguran dengan suara parau dan napas agak terengah. Disusul munculnya seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, yang menggendong ranting kering di pundaknya. Hal itu menandakan kalau ia adalah seorang pencari kayu.

Baik Panji maupun Kenanga menoleh serentak ketika mendengar suara teguran yang mengejutkan itu. Keduanya menatap dengan kening berkerut ketika melihat seorang laki-laki tua menghampiri mereka.

"Siapakah Kakek? Dan mengapa muncul tiba-tiba. Anehnya, kami sama sekali tidak mendengar langkah kaki Kakek?" tanya Kenanga yang merasa curiga melihat kemunculan laki-laki tua itu yang demikian tiba-tiba.

"Ah..., benar-benar aneh sekali kau ini, Nisanak. Pertanyaanku belum lagi kau jawab, eh...! Sudah menanyakan orang. Aih..., benar-benar dunia sudah terbalik. Lagi pula mana bisa orang mendengar langkah kaki orang lain? Apakah kalian berdua ini malaikat sampai-sampai suara langkah kaki orang pun kalian pedulikan," omel laki-laki tua itu seperti tidak senang dengan sikap Kenanga. Namun, sorot matanya tanpa rasa tersinggung sedikit pun.

Melihat suasana yang kurang enak itu, Panji bergegas melangkah melewati Kenanga. Dengan sikap hormat, pemuda itu membungkukkan tubuhnya.

"Maaf, Kek. Kami adalah dua orang pengembara yang tersesat. Karena tertarik dengan adanya bau busuk di sekitar tempat ini, maka kami mencoba mencarinya. Sepertinya, kami sudah menemukan sumber bau tak sedap itu di kaki bukit sebelah Barat. Karena terlalu bernafsu, kami sampai tidak memperhatikan keadaan di sekeliling. Sehingga, kehadiran Kakek sempat mengejutkan kami berdua," ucap Panji dengan nada sopan.

"Hm..., anak baik.., anak baik. Nada bicara dan sikapmu sangat sopan sekali. Tentu kau orang kota yang kaya dan terpelajar. Apakah dugaanku salah?" ujar laki-laki tua itu, mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan, yang bernada menyelidik.

Panji bukanlah orang bodoh. Meskipun laki-laki tua itu mengatakan tidak mengerti ilmu silat, dengan mengibaratkan orang yang mendengar langkah kaki manusia lain sebagai malaikat, namun gerak-gerik laki-laki tua itu tidak luput dari pengamatan matanya yang tajam. Dari gerak langkah maupun potongan tubuh laki-laki tua itu, jelas ia bukan orang lemah.

Panji menduga paling tidak laki-laki tua itu memiliki atau pernah mempelajari ilmu silat. Tapi entah mengapa hal itu seperti hendak disembunyikannya. Hal itu membuat Pendekar Naga Putih mengambil keputusan untuk berpura-pura bodoh, dan tidak mengetahui. Sedangkan laki-laki tua itu sudah melangkah mengitari tubuh Panji. Menilik dari sikapnya, jelas hendak menilai Pendekar Naga Putih.

"Hm..., untuk apa kalian merepotkan diri, hanya untuk mencari sumber bangkai binatang hutan ini. Semua penduduk Desa Kalianyar sudah tahu, di kaki bukit sebelah Barat itu tempat pembuangan bangkai-bangkai binatang yang tidak disukai dagingnya. Jadi hanya kulitnya yang mereka bawa pulang. Apakah kau tidak tahu kalau penduduk desa itu bermata pencaharian sebagai pemburu?" tanya laki-laki tua itulagi sambil menghentikan langkah kakinya dan berdiri di depan Panji.

"Ah! Jadi tak jauh dari sini ada pemukim penduduk? Kalau begitu, kebetulan sekali. Kami memang hendak mencari tempat untuk beristirahat beberapa malam. Maklumlah kami telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan," aku Panji berbohong. Karena, ia mencurigai laki-laki tua itu.

"Hm..., kalian berdua tentunya sepasang suami istri muda yang tengah pesiar. Kusarankan agar kali mencari desa lain saja untuk bermalam. Sebab, Desa Kalianyar sangat terpencil dan jauh letaknya dari desa-desa lain. Suasananya tentu tidak menyenangkan bagi kalian berdua, bukan?" jawab laki-laki tua itu menasihati.

"Kalau memang begitu nasihat Kakek, baiklah. Kami berdua akan mencari tempat lain yang lebih menyenangkan," ujar Panji sambil merengkuh bahu Kenanga. Seolah-olah dengan berbuat demikian, dia ingin meyakinkan laki-laki tua itu bahwa mereka memang sepasang suami istri.

"Bagus, kalau kalian mengerti...," puji laki-laki tua itu dengan wajah gembira. "Nah! Aku pamit dulu, hendak membawa kayu bakar ini pulang. Istriku di rumah sangat cerewet. Telat sedikit saja, bisa-bisa aku kena marah." Setelah berkata demikian, laki-laki tua itu pun melangkah tertatih-tatih meninggalkan Kenanga dan Panji, yang melepasnya dengan pandangan penuh perhatian.

"Kau yakin kalau kakek itu tidak mengerti tentang ilmu silat, Kakang?" tanya Kenanga setelah bayangan laki-laki tua itu lenyap di balik pepohonan hutan.

"Entahlah. Yang jelas, aku sangat mencurigainya. Meskipun ia berusaha menyembunyikan, namun aku sempat melihat sorot mata aneh dari sepasang mata tuanya itu," jawab Panji sambil tetap menatap tempat di mana laki-laki tua tadi lenyap.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakang?" Kenanga sepertinya belum dapat memutuskan kelanjutan dari penyelidikan mereka.

"Hm..., aku masih merasa khawatir kalau kakek itu tidak pergi jauh dari tempat ini. Sebaiknya, kita berpura-pura meninggalkan tempat ini. Setelah agak aman, baru kita kembali untuk menyelidiki bangkai apa sebenarnya yang menimbulkan bau menusuk hidung itu," sahut Panji menjelaskan rencananya.

Mendengar rencana itu, Kenanga hanya mengangguk menyetujui. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi keduanya bergegas meninggalkan daerah perbukitan itu. Cukup lama juga pasangan pendekar itu berputar-putar, hanya untuk menghilangkan kecurigaan laki-laki tua, yang mungkin saja tengah mengintai mereka.

"Kita kembali sekarang, dengan mengambil jalan memutar," ujar Panji yang saat itu telah menghentikan larinya. Lalu, ia memutar langkah dan kembali menuju ke sebelah Barat perbukitan. Tujuannya jelas, ingin menyelidiki sumber bau yang menusuk hidung itu.

Setelah tiba di tempat yang dituju, keduanya bergegas menuruni daerah yang mirip sebuah lembah kecil itu. Pepohonan yang tumbuh tak beraturan menolong mereka dari penglihatan orang-orang yang berada di atas. Sehingga, keduanya lebih leluasa melakukan penyelidikan. Dengan wajah sebagian tertutup sabuk, keduanya bergerak terus meneliti setiap jengkal tanah di dataran rendah itu. Bau bangkai yang semakin keras itu membawa langkah mereka hingga ke dinding bukit. Panji menatap dengan kening berkerut ketika melihat sebuah mulut gua yang cukup lebar.

"Hm..., sepertinya dari dalam gua itulah asal bau busuk yang menusuk hidung," gumam Panji sambil menoleh ke arah kekasihnya. Kemudian, kakinya kembali melangkah dengan sikap yang lebih hati-hati.

"Apakah gua ini berpenghuni, Kakang...?" bisik Kenanga di telinga Panji.

"Entahlah. Yang jelas, kita harus tetap waspada," sahut Panji mengingatkan.

Panji mulai merasa yakin kalau gua itu tidak berpenghuni. Itu terlihat ketika mereka telah berada di mulut gua, tak satu gerakan pun terdengar dari dalam. Dan dengan pengerahan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' untuk menerangi bagian dalam gua, Panji bergerak masuk. Sementara itu, Kenanga hanya mengikuti dari belakang kekasihnya. Gadis jelita itu sudah meraba gagang senjatanya, seolah-olah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

LIMA

Matahari sudah semakin tergelincir ke sebelah Barat. Saat itu Panji dan Kenanga telah berada dalam gua. Hati keduanya semakin bertambah penasaran ketika mereka menemukan tumpukan tulang tengkorak manusia. Jelas, bau busuk itu bukan berasal dari bangkai binatang, seperti yang mereka dengar dari laki-laki tua pencari kayu bakar.

"Gua ini seperti tempat penjagalan manusia, Kakang...," desis Kenanga yang mulai merasa mual menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Panji sama sekali tidak menyahuti ucapan kekasihnya. Karena, saat itu ia telah menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan.

"Semuanya sudah jelas sekarang," gumam Panji ketika menemukan lima kepala wanita muda yang tampak membengkak.

"Ihhh...!" Kenanga memekik perlahan ketika melihat pemandangan yang membuat bulu tengkuknya berdiri. Tanpa mempedulikan Panji lagi, gadis jelita itu bergegas membalikkan tubuhnya, dan berlari menuju mulut gua. Jelas kalau Kenanga tidak sanggup melihat pemandangan yang disaksikannya itu.

Setelah meneliti dan memastikan semua mayat itu belum lama terjadi, Panji bergegas menyusul Kenanga. Belum lagi langkah pemuda itu sampai di mulut gua, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang disusul dengan gelapnya suasana di dalam gua itu.

"Kakang...!"

Bagaikan kilat, Panji melesat ke depan ketika mendengar suara jeritan kekasihnya. Namun, meski telah tiba di mulut gua, ia tidak menemukan sama kali tempat ke luar. Dinding gua telah tertutup oleh batu besar. Sehingga, Panji terkurung di dalamnya.

"Kenanga...!" Panji berteriak ketika tidak menemukan Kenanga di dalam gua itu. Hatinya bertambah cemas ketika lamat-lamat didengarnya pertempuran yang terjadi di luar gua. Jelas Kenanga telah hertarung melawan orang yang diketahui Panji.

Sadar dirinya telah dijebak secara licik, Panji menjadi gusar. Rasa cepat ingin menyelamatkan kekasihnya, membuat pemuda itu tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dengan diiringi sebuah geraman lirih, Panji menghimpun kekuatan tenaga saktinya, dan menyalurkan ke kedua belah tangannya.

"Heaaat..!"

Dengan sebuah teriakan membahana, Panji mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.

Whusss...!

Serangkum angin dahsyat berhawa dingin menusuk tulang, meluncur dengan kecepatan kilat, dan langsung menghantam batu besar yang menyumbat mulut gua itu. Dan....

Blarrr...!

Hebat sekali akibat pukulan jarak jauh yang dilontarkan Panji. Debu tebal mengepul, diiringi sebuah ledakan keras seperti akan meruntuhkan bukit itu. Seluruh isi gua bergetar akibat pukulan dahsyat pemuda itu. Bahkan langit-langit gua berderak, dan batu-batu kecil berjatuhan, bagai hujan kerikil.

Bagi Panji sendiri, hal itu tidak terlalu dipusingkannya Setelah melontarkan pukulan, tubuh pemuda itu langsung melesat menerobos kepulan debu tebal yang bergulung-gulung menutupi mulut gua.

"Haiiit..!"

Bagaikan bayangan hantu, tubuh Pendekar Naga Putih berkelebat dan berjumpalitan dengan gerakan yang indah. Begitu tiba di luar gua, Panji menjejakkan kedua kakinya di tempat yang aman. Panji segera mengedarkan pandangan matanya sekeliling tempat itu. Ketika melihat Kenanga dikeroyok belasan orang berpakaian hijau tua, cepat-cepat tubuh pemuda itu melesat ke arena pertempuran.

"Heaaah...!"

Panji langsung melontarkan dua buah pukulan keras, begitu tiba di tengah arena pertempuran. Sekali bergerak, pemuda itu telah dapat menyelamatkan kekasihnya dari incaran dua orang pengeroyoknya.

Desss! Desss!

Terdengar jerit kesakitan ketika dua orang pengeroyok Kenanga terpental bagai dilemparkan tangan-tangan raksasa. Kemudian jatuh ke atas tanah berbatu dengan menimbulkan suara berdebuk nyaring.

"Kakang..., tubuh mereka kebal terhadap senjata...," ujar Kenanga yang merasa lega ketika melihat Panji telah berada di dekatnya. Kecemasan gadis itu lenyap seketika begitu melihat kekasihnya selamat.

Mendengar ucapan Kenanga, Panji menoleh ke arah dua orang yang terkena pukulannya tadi. Keningnya sempat berkerut ketika melihat dua orang itu telah bangkit kembali tanpa terlihat seringai kesakitan di wajahnya.

"Hm..., aneh! Mengapa orang-orang yang kita temui dalam beberapa kali pertarungan selalu kebal terhadap pukulanku? Ilmu apa sebenarnya yang mereka miliki?" gumam Panji heran dengan suara perlahan.

Namun, kedua orang itu tidak berpikir lebih lama. Belasan orang berpakaian hijau tua itu telah bergerak ke arah mereka dengan senjata di tangan.

"Hm..." Panji menggeram dengan hati gusar. Beberapa kali ia diserang tanpa sebab oleh orang-orang aneh, yang belum pernah dijumpainya. Sehingga kemarahan pemuda itu bangkit. Tubuhnya berdiri tegak menanti datangnya serangan lawan. Ketika serangan empat orang terdepan mengancam tubuh Panji, pemuda itu sama sekali berusaha mengelak. Dengan kedua tangan terangkat ke atas, Panji siap memapaki serangan empat orang pengeroyoknya.

"Heaaahhh...!"

Dengan sebuah bentakan keras, Panji mendorongkan kedua tangannya ke depan menyambut serangan pengeroyoknya.

Bresssh.!

Terdengar suara ledakan keras ketika gumpalan sinar putih berhawa dingin itu membentur tubuh empat orang lawannya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh keempat orang pengeroyok itu langsung terpental ke segala arah. Tubuh keempat orang itu terbanting dengan menimbulkan suara berdebuk nyaring. Melihat cairan merah yang keluar dari sela-sela bibir mereka, tentu saja pukulan Panji telah menimbulkan luka dalam yang parah.

"Matikah mereka, Kakang...?" tanya Kenanga yang merasa terkejut melihat akibat pukulan kekasihnya.

"Tidak. Mereka hanya terluka parah. Aku sengaja tidak membunuh mereka, agar dapat mengorek keterangan tentang sebab pengeroyokan ini," sahut Panji menjelaskan rencananya kepada Kenanga.

Gertakan Panji rupanya cukup membuat lawan-lawannya tertegun. Terlihat sisa orang-orang berpakaian serba hijau itu berdiri dengan wajah kaku. Tampak mereka mulai merasa ragu untuk bergebrak dengan Pendekar Naga Putih, yang belum mereka kenal itu.

"Hm..., mengapa kalian hanya berdiri bagai patung? Ayo, majulah! Bukankah kalian menghendaki kematian kami berdua...?" tantang Panji dengan suara berat dan mengandung pengaruh yang menggetarkan.

Kawanan lelaki berpakaian serba hijau itu terlihat ragu. Sepertinya perbuatan Panji yang sekali pukul dan merobohkan empat orang kawannya, membuat mereka menjadi hati-hati. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya, kedua belah pihak hanya saling pandang dengan tatapan tajam.

Merasa mendapat kesempatan untuk berbicara, Panji bergerak maju beberapa langkah. Dirayapinya wajah-wajah pucat kehijauan itu dengan pandangan menyelidik. "Hm..., siapakah sebenarnya kalian? Mengapa kalian memusuhi kami berdua? Seingatku, di antara kita belum pernah bertemu, apalagi bermusuhan," ujar Panji meminta penjelasan dari gerombolan lelaki berpakaian serba hijau itu.

Barisan lelaki berpakaian serba hijau itu sama kali tidak menyahut. Bahkan mereka bergerak mundur ketika Panji kembali melangkah maju. Kelakuan orang-orang aneh yang penuh misteri itu tentu saja membuat Panji menjadi dongkol.

"Hm..., rupanya kalian lebih suka kalau aku menggunakan kekerasan. Baiklah kalau memang itu yang kalian inginkan," ujar Panji dengan sorot mata tajam yang menggiriskan.

Lelaki terdepan, yang mengenakan ikat kepala hijau dengan bulatan merah di tengah ikat kepalanya, bergerak mundur sambil mengacungkan senjatanya. Sepertinya ia telah dapat meraba apa yang akan dilakukan pemuda tampan berjubah putih itu.

"Bunuh mereka berdua...!"

Sambil menudingkan senjatanya ke arah Panji dan Kenanga, lelaki yang sepertinya pimpinan belasan orang itu memerintahkan dengan suara parau. Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat disertai dengai putaran pedangnya yang mengaum tajam.

Majunya sang Pemimpin, ternyata membuat yang lainnya segera ikut ambil bagian. Sehingga, Panji dan Kenanga kembali terkurung dalam lingkaran sebelas lelaki berpakaian serba hijau itu.

"Heaaa...!"

Diiringi teriakan parau, lelaki pimpinan kelompok orang berpakaian hijau itu membabatkan pedangnya dengan mendatar. Meskipun gerakannya terlihat kaku namun jelas mengandung kekuatan yang tidak rendah. Semua itu dapat ditebak oleh Panji melalui desingan senjata lawan.

Tapi, Panji tidak berniat main-main lagi. Begitu tebasan pedang lawannya berkelebat, pemuda itu menggeser tubuhnya ke samping, dan terus bergerak ke depan sambil melontarkan sebuah tendangan miring.

Zebbb!

Tendangan yang cepat dan kuat itu dielakkan lawannya dengan cara memutar tubuh sehingga kedudukannya berada di belakang Panji. Berbarengan dengan itu, pedang di tangannya kembali berkeredep dengan gerakan lurus. Dan yang menjadi tujuannya adalah punggung lawan. Belum lagi serangan lawan yang pertama itu tiba, senjata- senjata lawan dari tiga penjuru, mengancam tubuh pemuda tampan itu. Sehingga, kedudukan Panji menjadi terjepit.

Sialnya, yang dihadapi kelompok orang-orang berpakaian serba hijau yang misterius itu adalah Pendekar Naga Putih. Seorang pendekar besar yang sempat membuat dunia kaum sesat terjungkir balik karena sepak terjangnya. Sehingga, meskipun dalam keadaan terjepit oleh kelebatan senjata-senjata lawannya, pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Ia tetap berdiri tenang.

Empat batang senjata yang datang mengancam itu disambut Panji dengan kibasan kedua tangannya secara berbarengan. Dengan pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', pemuda itu menyambut senjata-senjata lawannya.

Kenanga yang saat itu tengah menghadapi keroyokan enam orang lainnya, sempat terbelalak ketika melihat kekasihnya memapaki senjata lawan dengan tangan telanjang. Karena baru pertama kali melihat Panji melakukannya, tentu saja Kenanga menjadi khawatir. Sedangkan Panji sendiri tentu saja merasa yakin akan keampuhan tenaga mukjizatnya. Dan semua ini dilakukannya dengan penuh perhitungan. Karena ia telah mengetahui kekuatan lawannya, maka Panji berani memapaki senjata lawan dengan kedua tangan telanjang.

"Heaaah...!"

Berbarengan dengan hentakan keras yang keluar dari mulutnya, Panji memukul balik empat batang senjata yang mengancam tubuhnya itu. Apa yang dilakukan Panji ternyata tidak sampai di situ saja. Begitu senjata keempat lawannya terpukul balik, tubuh pemuda tampan itu telah berputar bagai baling-baling. Tangan dan kakinya mencuat bergantian, mengirimkan serangan-serangan balasan yang tidak kalah berbahaya dengan senjata lawan.

Terdengar suara mengaduh susul-menyusul, tatkala tiga orang pengeroyok itu terlanggar pukulan dan tendangan Pendekar Naga Putih. Tubuh mereka terjengkang tanpa ampun akibat kerasnya serangan balasan pemuda itu. Sedangkan lelaki yang terdapat tanda bulatan merah di tengah ikat kepalanya, berhasil menarik mundur tubuhnya. Sehingga, jotosan Panji yang mengancam dadanya, dapat dihindari.

Luputnya serangan yang dilancarkan Panji, sama sekali tidak membuat pemuda itu kecewa. Dengan sebuah lesatan manis, tubuh pemuda itu meluruk ke arah pimpinan para pengeroyok. Sepasang tangannya yang menebarkan udara dingin, berputaran mengacaukan pandangan mata lawan. Sehingga, ketika lengan kiri pemuda itu meluncur dengan sebuah pukulan keras, lawan pun tidak sempat menghindarinya. Dan....

Wuttt! Buggg...!

"Huagkh...!"

Lelaki gemuk itu langsung memuntahkan darah segar ketika kepalan Panji menghajar telak dada kirinya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu pun terjungkal menyusul kawan- kawannya yang lain. Selesai merobohkan keempat orang pengeroyoknya, ternyata Panji belum bisa berpangku tangan. Kawanan lelaki berpakaian serba hijau yang lainnya, telah menerjang pemuda itu dengan kelebatan-kelebatan senjatanya yang menyilaukan mata.

"Hm..." Sambil bergumam tidak jelas, Panji menarik mundur tubuhnya dengan kedudukan kuda-kuda belakang. Sambil memutar kembali tubuhnya dengan menggunakan tenaga pinggang, pemuda itu langsung mengirimkan tendangan ke arah lawan, yang tengah menusuk dari samping kanan.

Tendangan Panji yang cepat dan kuat itu menghajar telak perut lawannya. Sehingga orang yang itu memuntahkan darah segar, dan langsung roboh. Pingsan! Kemudian, tanpa menoleh lagi, Panji langsung menjejak tanah dengan kedua kakinya. Saat itu juga, tubuh Pendekar Naga Putih melambung ke atas dan langsung mengirimkan tendangan dengan berputar.

Terdengar teriakan susul-menyusul ketika tendangan Pendekar Naga Putih yang bagaikan baling-baling itu, menghajar telak rahang para pengeroyoknya. Karuan saja lawan-lawannya terjungkal dan roboh pingsan seketika. Karena tenaga yang dikerahkan Panji sangat hebat.

Setelah menyelesaikan lawan-lawannya, Panji menoleh ke arah Kenanga yang menghadapi enam orang lawan. Pemuda itu sengaja tidak membantu karena tahu kalau Kenanga mampu menundukkan lawan-lawannya.

Benar saja! Tak lama setelah Panji merobohkan lawan- lawannya, terdengar teriakan kesakitan yang berasal dari tiga orang pengeroyok gadis jelita itu. Tubuh-tubuh lelaki misterius itu langsung bertumbangan dengan darah segar mengucur dari luka yang menganga di tubuh mereka. Tiga orang lawan lainnya bergerak mundur ketika melihat kawannya roboh mandi darah. Mata mereka yang kehijauan itu terbelalak bagai tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kenanga sendiri sempat tertegun menyaksikan para pengeroyoknya dapat dilukai. Padahal, semenjak bertarung tadi, senjatanya telah berkali-kali mengenai lubuh lawan. Tapi, baru saja saat ia mengerahkan kekuatan tenaga sakti sepenuhnya, baru lawannya luka dan roboh. Kenyataan itu tentu saja membuatnya wmakin bersemangat.

"Haiiit...!"

Dibarengi teriakan nyaring dan panjang, Kenanga melesat sambil membabatkan senjatanya berkali-kali. Tapi, apa yang terjadi kemudian, kembali membuat gadis itu terbelalak kaget. Ketiga orang lawannya itu serta-merta lenyap, dan berubah menjadi gulungan asap hijau yang berbau busuk.

"Hai! Ke mana mereka...?!" seru gadis jelita itu dengan wajah berubah agak pucat.

"Kenanga! Awas...!"

Panji yang semula sempat terkejut melihat lenyapnya ketiga orang lawan kekasihnya, berseru keras ketika melihat mereka tiba-tiba muncul dari belakang kekasihnya dengan satu tangan saling berpegangan. Sedangkan tangan lainnya meluncur ke arah punggung gadis itu dengan telapak terbuka.

Menyadari kekasihnya dalam bahaya maut, Panji segera melesat dengan seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya. Hebat sekali gerakan yang dilakukan pemuda itu. Tubuhnya melayang seperti seekor burung besar dengan kedua tangan mendorong ke depan. Angin dingin menderu keras mengiringi meluncurnya tubuh Pendekar Naga Putih.

Kenanga segera menyadari adanya bahaya ketika mendengar seruan Panji, cepat menjatuhkan tubuh begitu melihat kekasihnya meluncur dengan kecepatan menggiriskan.

Blarrr...!

Hebat dan mengerikan sekali akibat terjangan Panji dalam menyelamatkan kekasihnya. Ledakan dahsyat seperti akan meruntuhkan bukit, menggelegar memekakkan telinga. Tubuh ketiga orang berpakaian serba hijau terpental balik dalam keadaan terpisah. Lalu, mereka jatuh berserakan dengan percikan darah yang membasahi tanah di sekitarnya.

Panji berdiri tegak dengan tarikan napas panjang. Ditatapnya kepingan tubuh lawan yang berserakan sekitar tempat itu. Rupanya dalam kecemasannya tadi, Panji telah mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya yang maha dahsyat hingga, akibat yang ditimbulkannya pun sangat mengerikan.

Wajah Kenanga sendiri pucat ketika melihat tubuh ketiga orang lawannya hancur berkeping-keping akibat terjangan kekasihnya. Selama pengembaraannya bersama Panji, gadis jelita itu belum pernah sama sekali melihat kekuatan dahsyat yang dimiliki kekasihnya. Tak mengherankan kalau ia terkejut menyaksikan akibat pukulan Panji.

"Mengapa..., mereka tadi tiba-tiba lenyap, Kakang...?" setelah menenangkan hatinya, barulah gadis jelita itu dapat mengeluarkan suara.

"Mereka telah menggunakan ilmu sihir yang aneh. Sepertinya, selain kebal dan memiliki sihir aneh, orang-orang misterius ini pun memiliki sejenis racun aneh yang bisa merubah warna kulit mereka," jelas Panji perlahan.

Semua itu diduga Pendekar Naga Putih dengan cara melihat wajah-wajah orang misterius itu yang rata-rata berwarna kehijauan. Setelah berkata demikian, Panji melangkah menghampiri tubuh-tubuh lainnya yang tadi tergeletak pingsan. Namun, apa yang didapatkan pemuda itu benar-benar membuatnya terkejut. Lawan-lawannya yang tadi hanya dirobohkan, ternyata telah tewas dengan tubuh mengejang.

"Jangan sentuh...," cegah Panji ketika melihat Kenanga hendak menyentuh salah satu dari mayat-mayat itu. "Mereka telah menelan racun ganas yang kerjanya sangat cepat," jelas Panji ketika melihat tatapan mata Kenanga.

"Mengapa mereka bunuh diri, Kakang...?"

"Entahlah. Yang jelas, hal ini tidak aneh bagi kalangan kaum sesat. Apabila gagal dalam menunaikan tugas, mereka lebih memilih mati ketimbang memberi keterangan kepada kita. Sudahlah, lebih baik kita kembali ke Desa Kalianyar," ajak Panji yang segera melangkah meninggalkan tempat itu.

ENAM

"Kakang, ini bukan jalan menuju Desa Kalianyar! Apakah Kakang sudah lupa, atau memang sengaja?" tanya Kenanga yang merasa heran melihat kekasihnya mengambil jalan lain. Seingatnya, jalan itu memang ke luar desa, dan bukan ke Desa Kalianyar, seperti yang mereka rencanakan semula.

"Memang bukan. Aku sengaja merubah rencana. Mengingat banyaknya tengkorak manusia di dalam gua itu, aku menjadi berpikir lain," sahut Panji sambil tetap melanjutkan langkahnya.

"Rencana apa, Kakang? Apakah aku boleh mengetahuinya?" sambil bertanya demikian, Kenanga memegang lengan kekasihnya dengan mata menatap penuh tuntutan.

"Hm..., aku akan berusaha mencari keterangan dari desa- desa di sekitar daerah ini. Bukan tidak mungkin kalau keanehan-keanehan yang kita temui, dapat kita peroleh keterangan dari penduduk desa lainnya. Dengan demikian, akan memudahkan kita untuk mengungkap misteri yang menyelimuti Desa Kalianyar," jelas panji mengemukakan pemikiran, yang baru didapatinya di perjalanan. Itulah sebabnya mengapa Panji merubah rencananya, yang semula hendak kembali ke Desa Kalianyar.

"Ah! Mengapa kita tidak memikirkannya semula, Kakang. Kalau memang di Desa Kalianyar terjadi keanehan seperti yang kita lihat semalam bukan tidak mungkin orang lain pun pernah menyaksikan atau mengalaminya. Dan, barangkali saja penduduk desa lain pernah melihat atau mendengar tentang berita itu. Boleh jadi mereka juga pernah mengalaminya," ujar Kenanga yang pikirannya mulai terbuka ketika mendengar penuturan Panji.

"Yahhh..., mudah-mudahan saja dugaan kita tidak meleset jauh," desah Panji penuh harap. Setelah berkata demikian, pemuda itu mengajak Kenanga untuk mempercepat langkahnya.

Sesaat kemudian, terlihatlah dua sosok bayangan hijau dan putih berkelebatan di antara pepohonan dan semak belukar. Jelas, mereka sengaja memilih jalan pintas untuk dapat tiba lebih cepat di desa-desa yang mereka maksudkan. Sepasang pendekar yang merasa mempunyai kewajiban untuk mengungkap misteri Desa Siluman terus melesat bagai dua bayangan hantu yang tengah berkejar-kejaran. Sepertinya mereka menemukan semangat baru untuk segera mengungkapkan keanehan-keanehan yang mereka temukan di desa terpencil itu.

********************

Hari sudah mulai beranjak sore, ketika Kenanga dan Panji menyusuri jalanan. Di sepanjang jalan lebar yang menghubungkan satu desa ke lain desa, mereka sesekali bertemu dengan para petani yang baru kembali dari sawah. Dan lari keduanya mulai diperlambat ketika jalanan yang dilewati semakin ramai dilalui para petani.

"Mengapa kita tidak bertanya kepada salah seorang dari petani itu, Kakang? Siapa tahu dari mereka kita bisa memperoleh keterangan," tanya Kenanga yang merasa heran melihat kekasihnya tidak berusaha mencari keterangan dari salah seorang petani yang mereka temui.

"Aku sengaja hanya menyapa mereka sekadar basa-basi orang asing. Menurutku, lebih baik kita menemui langsung kepala desanya. Dengan demikian, kita tidak membuat resah hati para petani itu, tentu saja kalau mereka tidak mengetahuinya sama sekali. Lain halnya kalau orang yang kita tanya, memang telah melihat atau mengalaminya. Mungkin kita akan mendapatkan sedikit keterangan, dan mungkin juga dilebih-lebihkan. Tapi, kalau petani yang kita mintai keterangan sama sekali tidak mengetahuinya. Bukankah hal itu justru akan meresahkan mereka? Jadi, menurutku, lebih mudah mencari keterangan dari penguasa desa. Mereka tentu akan memberikan keterangan sebagaimana yang mereka ketahui, tanpa ditambahi bumbu-bumbu penyedap cerita," jawab Panji, mengemukakan alasan mengapa ia tidak mecari keterangan dari para petani yang mereka temui dijalan.

Mendengar penjelasan kekasihnya, Kenanga hanya mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya gadis jelita itu telah mengerti dan menyadari kekeliruannya. Alasan yang dikemukakan Panji memang sangat tepat sekali. Sehingga, ia menerimanya tanpa membantah lagi.

Sepasang pendekar yang kini tidak lagi berlari dalam melanjutkan perjalanannya itu, sejenak mengerutkan kening. Tampak, di mulut desa yang hanya tinggal lima atau enam tombak lagi, dijaga ketat oleh beberapa orang keamanan desa. Dugaan bahwa orang-orang itu adalah penjaga keamanan desa, mudah diketahui dari pakaian mereka yang rata-rata serupa satu sama lainnya. Sehingga orang-orang luar yang baru pertama kali singgah di desa itu pun langsung dapat menebaknya. Demikian pula halnya dengan Panji dan Kenanga.

"Sepertinya desa itu dijaga ketat, Kakang. Menilik dari raut wajah para keamanan desa itu, mudah diduga kalau mereka pasti akan menahan kita. Lalu mereka akan melontarkan berbagai macam pertanyaan," bisik Kenanga sambil terus melangkah di samping kekasihnya.

"Hm..., melihat dari ketatnya desa itu terjaga, ada kemungkinan mereka tengah menghadapi sesuatu yang mengancam keselamatan penduduknya. Mudah-mudahan saja apa yang mereka takuti, mempunyai hubungan dengan apa yang ingin kita cari," sahut Panji berharap.

"Sahabat, harap berhenti sebentar...!"

Ketika sepasang pendekar itu tiba di mulut desa, salah seorang dari penjaga itu berseru sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Kemudian, ia bergerak maju dengan ditemani empat penjaga lainnya yang mengapit lelaki pertama itu.

Lelaki bertubuh kekar yang sepertinya merupakan pimpinan para penjaga itu, menatap Panji dan Kenanga dengan penuh selidik. Kumisnya yang tebal dan hitam itu tampak bergerak-gerak ketika menatap raut wajah dara jelita berpakaian hijau itu. Terlihat lelaki itu agak salah tingkah ketika Kenanga membalas tatapannya dengan tidak kalah tajam. Sehingga, lelaki itu mengalihkan pandangannya ke wajah Panji. Jelas, lelaki itu tidak sanggup menentang tatapan mata yang indah dari gadis jelita itu.

"Kalian pasti bukan penduduk Desa Pawetan ini? Kalau aku boleh tahu, siapakah kalian berdua? Dan apa tujuan kalian singgah di desa ini? Harap dijawab dengan jujur, agar kalian tidak mengalami kesulitan," tanya lelaki kasar berkumis tebal itu, yang mengakhiri pertanyaannya dengan sebuah ancaman.

"Maaf, Paman," sahut Panji sambil membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda hormat kepada lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu. "Kami berdua datang ke desa ini dengan tujuan hendak menemui Kepala Desa Pawetan. Sedangkan kepentingan kami, terpaksa tidak bisa kami sampaikan kepada Paman. Tapi percayalah, kedatangan kami tidak bermaksud jahat. Harap Paman suka mengabarkannya kepada kepala desa...," jawab Panji tetap dengan nada sopan, dan bibir terhias senyum.

"Ingin menemui kepala desa...?" tegas lelaki berkumis lebat itu dengan kening berkerut. Sepasang matanya tampak menyipit merayapi wajah Panji. Jelas, ada nada tidak senang dalam kata-katanya.

"Benar, Paman. Ada suatu hal penting yang harus kami sampaikan kepada Kepala Desa Pawetan ini," jelas Panji lagi.

"Hm..., kalian adalah orang-orang asing, yang sama sekali tidak kami kenal. Kalau memang ada urusan, katakanlah kepadaku, biar nanti aku yang akan menyampaikan kepada kepala desa. Nah, sekarang katakanlah," tegas lelaki berkumis lebat itu dengan nada memaksa.

"Sekali lagi aku mohon maaf, Paman. Persoalan yang akan kami sampaikan ini sangatlah penting. Kami khawatir kalau berita ini akan meresahkan Paman, atau bahkan seluruh penduduk desa ini. Jadi, harap Paman mengerti," Panji tetap tidak mengatakan kepentingannya, dan bersikeras ingin menyampaikannya sendiri kepada Kepala Desa Pawetan.

Sikap Panji itu tentu saja dianggap bantahan yang membuat kepala keamanan desa itu tersinggung. Ditatapnya pemuda tampan itu dengan sorot mata tajam. Nyata sekali kalau ia sangat gusar dengan penolakan Panji.

"Hm..., kalau memang begitu keinginanmu, lebih baik tidak usah kau sampaikan kepentinganmu. Dan, silakan meninggalkan desa ini. Sikapmu sangat menjengkelkan!" ujar lelaki berkumis lebat itu dengan wajah gelap. Sambil berkata demikian, tangannya terulur ke depan dengan sikap mengusir. Jelas, keputusan lelaki itu tidak bisa dirubah.

Kenanga yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan itu, tentu saja menjadi dongkol melihat sikap kasar lelaki itu. Dengan sorot mata yang tajam, gadis jelita itu melangkah melewati Panji, dan berdiri bertolak pinggang di hadapan kepala keamanan desa itu.

"Dengarlah, Kisanak!" ujar Kenanga ketus. "Apa yang akan disampaikan kawanku ini, menyangkut keselamatan seluruh penduduk Desa Pawetan, bahkan mungkin seluruh penduduk desa di sekitar daerah ini. Dan kalau kau bersikeras tidak mengizinkan kami menghadap kepala desa, itu sama artinya kau ingin mencelakakan seluruh penduduk desa di sekitar daerah ini! Camkan itu...!"

"Apa..., apa maksudmu...?" cetus lelaki berkumis lebat itu dengan wajah semakin berubah. Dalam ucapannya terkesan rasa heran dan penasaran dalam.

"Tidak perlu kau mengetahui maksud ucapanku! Yang penting sekarang, bawalah kami menghadap kepala desa, titik!" tukas Kenanga tanpa mempedulikan sikap lelaki itu yang nampak mulai kebingungan.

Sedangkan empat orang yang berada di kiri kanan kepala keamanan desa itu, saling pandang dengan wajah berubah. Jelas kalau ucapan Kenanga telah menimbulkan pengaruh kepada mereka.

"Tidak bisa!" ujar lelaki berkumis lebat itu membentak jengkel. Sebagai kepala keamanan desa, tentu saja ia tidak ingin wibawanya turun di mata anak buahnya. Sehingga, meskipun hatinya mulai ragu, ia tetap mempertahankan keputusannya.

"Kalau begitu, aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menemui kepala desa!" bentak Kenanga tak mau kalah. Bahkan gadis jelita itu siap bertempur.

"Terserah, kalau itu keinginanmu! Kami tetap tidak mengizinkan kalian masuk ke desa ini!" sambil berkata demikian, kepala keamanan desa itu melangkah mundur dua tindak, dan bersiap menghadapi serangan. Melihat pedang yang tergantung di pinggang gadis itu, ia pun sadar kalau yang dihadapinya bukanlah wanita lemah.

Panji yang memang tidak menghendaki kekerasan, segera menyentuh lengan kekasihnya. Sehingga, gadis jelita yang sudah siap menerjang itu tarpaksa menahan gerakannya. Lalu, kepalanya menoleh ke arah Panji dengan pandangan menuntut jawaban atas sikap pemuda itu.

"Biarlah kita mengalah, Kenanga. Kekerasan hanya akan menimbulkan persoalan baru, dan membuat suasana menjadi keruh. Sebaiknya kita turuti saja apa kemauan mereka," bujuk Panji dengan wajah tetap tenang.

"Tapi, Kakang"

"Sudahlah. Persoalan yang satu belum lagi terungkap, sekarang kau hendak membuat persoalan baru?" ucap Panji lagi dengan nada lembut, sambil mengerdipkan sebelah matanya. Jelas sekali kalau pemuda itu mempunyai rencana lain yang mungkin baru didapatnya.

"Hm.., baiklah kalau memang begitu," ujar Kenanga yang mengerti isyarat kerdipan mata kekasihnya.

"Kami permisi dulu, Paman. ," pamit Panji sambil menggamit lengan kekasihnya. Kemudian, mereka pergi meninggalkan para keamanan desa itu, yang melepas kepergian keduanya dengan tatapan lega. Nampaknya mereka tidak begitu suka bertarung. Semua itu nyata dari pandangan maupun helaan napas lega beberapa orang dari mereka.

"Entah apa yang ingin mereka sampaikan kepada kepala desa. Nampaknya begitu penting...," gumam salah seorang dari penjaga keamanan desa itu, dengan wajah penasaran.

"Sudahlah, tidak perlu dipusingkan. Yang penting, kita telah menjalankan tugas dengan baik, seperti yang dipesankan Ki Wirjasana," tukas lelaki berkumis tebal itu yang sepertinya merasa tidak senang dengan ucapan salah seorang anak buahnya. Kemudian, tanpa banyak bicara lagi kakinya pun kembali melangkah ke gardu.

"Mengapa Kakang mencegahku? Orang kasar seperti mereka memang sepatutnya diberi pelajaran, biar mereka tahu siapa kita," Kenanga yang sepertinya merasa tak puas dengan sikap Panji tadi, mengungkapkan rasa ketidakpuasannya ketika keduanya menyusuri jalan yang menuju ke luar desa.

"Tidak baik mencari keributan tanpa sebab yang jelas. Mereka tidak bersalah sama sekali, dan mungkin mereka hanya menuruti perintah atasan saja. Jadi, sebaiknya kita menemui kepala desa itu tanpa perantara mereka," jawab Panji tersenyum melihat wajah Kenanga yang masih jengkel. Kemudian dibelainya rambut gadis itu dengan penuhkasih.

"Maksud Kakang...?" tanya Kenanga meminta ketegasan.

"Kita terpaksa masuk ke desa itu secara diam-diam, dan langsung menemui kepala desa, guna menyampaikan dugaan- dugaan kita," jelas Panji lagi sambil merapatkan tubuh kekasihnya, dan memeluk tubuh gadis jelita itu erat-erat.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi, Kakang? Malam nanti kita harus sudah berada di Desa Kalianyar. Aku masih penasaran dengan misteri yang kita temui semalam," ujar Kenanga mengingatkan.

"Hm..., baiklah. Kita terpaksa harus menggunakan kepandaian, agar dapat bertemu dengan Kepala Desa Pawetan itu," sahut Panji setelah mendengar ucapan kekasihnya, yang mengingatkan tentang niat mereka untuk kembali ke Desa Kalianyar malam hari nanti.

Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, keduanya bergegas mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sehingga dalam sekejap mata saja, sepasang pendekar itu telah lenyap. Yang tampak hanya dua sosok bayangan yang berkelebatan di antara pepohonan.

Tidak berapa lama kemudian, keduanya mulai memasuki desa melalui perkebunan penduduk. Terus berlompatan di atas atap-atap rumah penduduk. Untunglah saat itu hari telah menjelang malam. Sehingga, mereka tidak perlu merasa khawatir akan dipergoki penduduk. Hanya satu dua orang yang masih terlihat di jalan-jalan. Itu pun adalah petani-petani yang terlambat pulang.

Setelah melewati belasan rumah penduduk, sepasang pendekar itu tiba di atas atap balai desa. Tidak sulit bagi keduanya untuk mencari rumah Kepala Desa Pawetan. Karena rumah penguasa desa itu paling besar di antara rumah penduduk. Dan untuk menandakannya pun tidak sulit. Adanya beberapa orang penjaga di depan halaman, menunjukkan rumah itu pastilah milik kepala desa. Ketika keduanya telah berada di dalam lingkungan rumah Kepala Desa Pawetan, Panji mengisyaratkan kepada kekasihnya untuk melayang turun, dan merapat ke dinding rumah. Kemudian, mereka terus menyelinap ke pekarangan depan.

Tok, tok, tok..!

Karena tidak ingin menimbulkan kegemparan dengan cara masuk sembunyi-sembunyi, Panji segera mengetuk pintu tebal yang menghubungkan ke ruangan depan rumah besar itu. Pemuda itu menunggu beberapa saat, untuk memastikan bahwa orang yang ada di dalam rumah itu mendengar ketukannya.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju ke pintu. Panji dan Kenanga mundur dua tindak, ketika pintu berderit terbuka. Seorang lelaki kurus berusia sekitar lima puluh tahun, berdiri di ambang pintu menatap pasangan pendekar muda itu. Sejenak mata tuanya tampak menyipit, seolah-olah ingin mengenali kedua orang tamunya itu.

"Ada perlu apa...?" tanya lelaki setengah baya itu tanpa mempersilakan kedua tamunya masuk.

"Kami ingin bertemu dengan Kepala Desa Pawetan yang bernama Ki...," sengaja Panji menggantung kata-katanya seperti ingin memancing tanggapan lelaki setengah baya itu.

"Ki Wirjasana...," sambut lelaki yang dari penampilannya jelas seorang pelayan.

"Benar, Ki Wirjasana," tegas Panji seraya tersenyum. Karena pancingannya membawa hasil yang baik. "Kami berdua adalah kerabatnya yang datang dari jauh. Dan, kami berdua ingin berjumpa dengannya. Tolong sampaikan kepada Paman kami itu," jelas Panji berbohong untuk memudahkan mereka bertemu dengan Ki Wirjasana.

"Ohhh, baik-baik.... Saya akan sampaikan. Silakan..., silakan masuk...," sambut pelayan setengah baya itu yang karuan saja bersikap ramah ketika mendengar pemuda tampan itu menyebut majikannya sebagai 'paman'.

"Hi hi hi..., tak kusangka, Pendekar Naga Putih bisa juga berbohong...," Kenanga tertawa lirih karena tak menduga kekasihnya akan menggunakan kecerdikan untuk berjumpa dengan Kepala Desa Pawetan. Tentu saja ucapan itu dikeluarkan setelah pelayan setengah baya itu meninggalkan mereka untuk memberi tahu majikannya.

Tidak berapa lama, setelah keduanya duduk di ruangan depan, terdengar suara langkah kaki berat mendatangi mereka. Serentak pasangan pendekar itu berdiri, ketika seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun, berdiri tegak merayapi wajah mereka dengan kening berkerut.

"Siapakah kalian berdua? Rasanya aku belum pernah melihat kalian sebelumnya...," ujar lelaki gagah yang wajahnya bersih tanpa jenggot maupun kumis itu. Meskipun demikian, penampilannya tampak berwibawa. Sehingga, baik Panji maupun Kenanga langsung bisa menduga kalau lelaki itu adalah Kepala Desa Pawetan yang bernama Ki Wirjasana.

"Maaf, kami terpaksa berbohong, karena ada suatu hal yang penting akan kami bicarakan...," Panji langsung saja menyambut Kepala Desa Pawetan itu sambil membungkukkan tubuh. Kemudian memperkenalkan diri kepada lelaki setengah baya itu.

"Hm..., demikian pentingkah berita yang akan kalian sampaikan kepadaku?" tukas Ki Wirjasana setelah kedua tamunya memperkenalkan diri.

"Bagi kami sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi, karena persoalan ini menyangkut kepentingan orang banyak, maka kami terpaksa memberanikan diri untuk berjumpa dengan Ki Wirjasana. Kami membutuhkan beberapa keterangan, yang mungkin bisa kami peroleh dari Aki...," jelas Panji membuka percakapan, ketika ketiganya telah duduk saling berhadapan.

Ki Wirjasana tidak segera menanggapi ucapan Panji. Lelaki gagah itu termenung baberapa saat, sambil melepaskan pandangannya ke luar jendela yang terbuka lebar. Terdengar helaan napasnya yang berkepanjangan.

TUJUH

Panji memandangi wajah Ki Wirjasana yang seperti tengah memikirkan apa yang dimaksud dengan kedua tamunya itu. Beberapa saat kemudian, orang tua itu baru mengalihkan pandangannya kepada Panji.

"Hm.... Maaf, aku tidak bisa menduga sebenarnya apa yang kalian maksudkan. Kuharap kalian mau menceritakannya kepadaku...," pinta Ki Wirjasana setelah tidak dapat menduga persoalan yang ingin disampaikan pasangan muda itu kepadanya.

Untuk beberapa saat lamanya, Panji terdiam. Seolah-olah Pendekar Naga Putih ingin mencari kata-kata yang tepat untuk memulai ceritanya. Setelah itu, baru ia menceritakan maksud-maksud kedatangannya menjumpai kepala desa itu.

Ki Wirjasana sama sekali tidak menyela cerita pemuda itu. Semua yang diceritakan Panji sepertinya didengar dengan penuh perhattan. Beberapa kali terlihat kening lelaki setengah baya itu berkerut, dengan wajah berubah kelam. Bahkan lelaki itu sempat terlompat dari kursinya ketika Panji menceritakan tentang orang-orang berpakaian serba hijau yang mengeroyoknya.

"Begitulah, Ki. Kami merasa curiga ketika melihat kepala beberapa orang wanita, yang menurutku berumur sekitar delapan belas sampai dua puluh tahun. Sayang, wajah mereka telah membengkak, sehingga sulit dikenali. Sedangkan keperluan kami datang ke sini, ingin menanyakan kalau-kalau ada warga Desa Pawetan ini yang lenyap tanpa jejak," ujar Panji menutup ceritanya. Kemudian menatap Ki Wirjasana dengan penuh harap.

"Desa Siluman...?" desis Kepala Desa Pawetan itu. "Rasanya aku belum pernah mendengar tentang nama itu. Setahuku, di sekitar daerah ini tidak ada nama desa yang menimbulkan kesan seram seperti itu. Juga, selama ini aku tidak pernah kehilangan warga desa. Apalagi berupa gadis-gadis muda. Hhh..., sebenarnya ingin sekali aku bisa membantu kalian. Tapi, sayangnya aku tidak tahu apa-apa. Apalagi beberapa hari ini aku masih dipusingkan oleh perampok yang muncul dan menghilang setelah merampas harta beberapa penduduk di desa ini. Itulah sebabnya, mengapa para penjaga keamanan desa mencurigai dan tidak memperbolehkan kalian memasuki desa ini. Kuharap kalian berdua dapat memaklumi sikap mereka," ujar Ki Wijasana menjelaskan keadaan desanya dengan wajah agak menyesal. Sepertinya orang tua itu merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan keterangan, seperti yang diterapkan Panji dan Kenanga.

"Aneh...?" desis Panji yang merasa heran karena kepala desa itu belum pernah mendengar sama sekali tentang Desa Siluman. Bahkan orang tua itu berani memastikan kalau nama itu tidak ada di sekitar daerahnya.

"Maaf, kalau aku telah mengecewakan harapan kalian. Tapi, kalau memang kalian memerlukan bantuan, jangan ragu-ragu. Aku akan membantu sekuat tenagaku. Sayang, aku tidak mempunyai keterangan yang dapat menjadi pegangan kalian untuk menyingkap misteri itu," sesal Ki Wirjasana seraya menghela napas panjang.

"Lalu, bagaimana dengan para perampok itu, Ki. Apakah mereka masih suka mengganggu?" tanya Kenanga tiba-tiba. Meskipun gadis jelita itu berusaha untuk bersikap wajar, tapi tak urung Ki Wirjasana dapat menangkap nada selidik dalam ucapan tamunya.

"Dua hari yang lalu, mereka kembali datang menjarah desa ini. Tapi, sebelumnya kami memang telah bersiap, maka para perampok itu dapat dipukul mundur, dan pergi tanpa hasil. Entah, mereka masih berani kembali atau tidak. Namun, kami tetap waspada dan akan mempertahankan desa ini dengan taruhan nyawa," jawab Ki Wirjasana seraya tersenyum. Sepertinya Kepala Desa Pawetan ini sama sekali tidak tersinggung dengan kecurigaan gadis jelita itu.

"Baiklah, Ki. Kalau begitu kami mohon pamit. Maaf, kalau kedatangan kami telah mengganggumu," ujar Panji yang segera pamit, karena tidak ada yang diharapkan dari Kepala Desa Pawetan itu.

"Silakan, Kisanak. Dan, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuanku, kalau memang diperlukan," kembali Ki Wirjasana menawarkan jasa baiknya, sebelum kedua tamunya pergi.

"Terima kasih. Kami akan selalu ingat kebaikan Ki Wirjasana," sahut Panji seraya tersenyum. Kemudian, pasangan pendekar itu melangkah meninggalkan tempat kediaman Ki Wirjasana, dengan diiringi tatapan mata lelaki tua itu.

Panji tidak peduli sama sekali ketika para penjaga yang berada di depan rumah besar itu menatap mereka dengan rasa heran. Sepertinya mereka terus berpikir, mengapa tahu-tahu saja ada dua orang tamu yang meninggalkan rumah Ki Wirjasana. Padahal, mereka tahu kalau tidak ada seorang pun yang memasuki rumah besar itu, selama mereka berdiri di depan gardu.

Tanpa mempedulikan tatapan yang mengandung pertanyaan dari para penjaga itu, Panji mengangguk pamit kepada mereka. Dan, terus saja melangkah meski para penjaga itu tidak segera membalasnya, karena masih diliputi rasa heran.

"Hhh..., semuanya masih serba gelap. Tak satu petunjuk pun yang dapat kita jadikan pegangan untuk mengungkap misteri Desa Siluman itu. Apakah kita memang telah salah lihat, Kakang," ungkap Kenanga ketika keduanya tengah menyusuri jalan utama Desa Pawetan. Kali ini mereka tidak lagi bergerak secara sembunyi-sembunyi. Keduanya terus melangkah menuju mulut desa.

"Apa yang kita hadapi kali ini memang sangat aneh dan membuat hati penasaran. Hal itulah yang membuatku semakin bersemangat untuk mengungkapnya. Apa boleh buat, kita terpaksa harus kembali ke Desa Kalianyar. Karena dari desa itulah kita pertama kali menemukannya," sahut Panji yang meskipun persoalannya masih gelap, tapi tidak menyerah begitu saja.

"Kejadian waktu itu kalau tidak salah, tepat tengah malam. Berarti kita harus sudah berada di Desa Kalianyar tepat pada waktu yang sama," gumam Kenanga seolah berkata pada dirinya sendiri.

"Benar. Sekarang hari sudah gelap. Sebaiknya kita mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk sampai tepat tengah malam, atau kalau bisa sebelum tengah malam," ucap Panji yang sempat mendengar ucapan kekasihnya.

Tak berapa lama kemudian, pasangan pendekar muda itu melesat bagaikan kilat. Mereka tidak peduli sama sekali, meskipun saat itu tengah melintasi jalan utama Desa Pawetan. Sehingga, pada saat keduanya melewati gardu penjagaan di mulut desa itu, terdengar teriakan-teriakan terkejut dari beberapa penjaga keamanan desa yang melihat bayangan mereka.

Tapi, baik Panji maupun Kenanga, sama sekali tidak mempedulikan hal itu, keduanya malah semakin menambah kecepatan. Ketika telah melewati batas Desa Pawetan. Sehingga dalam waktu singkat, keduanya telah jauh meninggalkan desa itu.

********************

Malam tampak semakin bertambah kelam. Udara dingin yang menusuk tulang berhembus keras tiada henti-hentinya. Lolongan anjing hutan yang saling bersahutan. makin menambah keseraman malam. Apalagi saat itu bulan tengah purnama. Semakin lengkaplah keseraman menyelimuti suasana sang malam.

Kenanga dan Panji telah tiba di mulut Desa Kalianyar, ketika malam sudah semakin larut. Suasana desa yang sunyi, membuat keduanya mengerutkan kening. Karena di mulut desa itu tidak terlihat seorang pun yang berjaga-jaga.

"Aneh. Apalagi yang harus kita hadapi kali ini..?" desis Kenanga mengusap kuduknya yang terasa meremang. Panji sama sekali tidak menanggapi ucapan kekasihnya itu, ia hanya memberi isyarat agar Kenanga mengikutinya. Kemudian, keduanya bergerak menuju Selatan desa. Mereka sengaja tidak memasuki desa itu melalui tempat yang semestinya. Karena Panji merasa curiga dengan kesunyian yang menyelimuti desa itu Sehingga, diputuskannya untuk mengambil jalan berputar dan tidak melalui jalan utama desa itu.

"Gila! Kemana perginya penduduk desa ini...?" desis Panji heran ketika ia tidak menemukan seorang pun di desa itu. Beberapa rumah yang didatangi secara sembunyi-sembunyi, ternyata kosong dan tidak berpenghuni.

Rasa heran pemuda itu berubah menjadi rasa penasaran dan kegemasan. Setelah hampir seluruh rumah di desa itu diperiksanya, tidak seorang pun yang dijumpainya. Aneh! Seluruh penduduk desa kecil itu sepertinya telah pergi atau lenyap ditelan bumi.

"Mungkin ini suatu jebakan, Kakang...?" desis Kenanga yang merasa tegang ketika mengetahui desa itu sama sekali tidak berpenghuni. Padahal, pagi tadi ia melihat desa itu sangat ramai, dan sama sekali tidak terdapat tanda-tanda yang mencurigakan. Kenyataan itu tentu saja membuatnya gemas.

"Aku rasa tidak," sahut Panji pelan. "Sebab, kalau memang mereka menjebak kita, tidak semestinya desa ini dikosongkan seluruhnya. Kau lihat sendiri, jangankan laki-laki dewasa, bahkan wanita dan anak-anak pun, sama sekali tidak ada. Entah apa yang telah menimpa desa ini sepeninggal kita tadi," desah Panji semakin bertambah penasaran.

"Aneh, ke mana mereka pergi...?" desah Kenanga tanpa menuntut jawaban. Sepertinya gadis jelita itu berbicara hanya untuk melenyapkan perasaan tegang di hatinya. Kenanga melipat tangannya ketika hembusan angin dingin bertiup keras menerpa tubuhnya. Giginya bergemeletukan karena hawa yang terasa dingin menusuk tulang.

Dikejauhan terdengar lolongan anjing hutan saling bersahutan. Suasana desa itu pun semakin mencekam. Apalagi ketika hembusan angin semakin keras berhembus, sehingga pepohonan berderak ribut. Namun, meskipun suasana demikian seram dan mendirikan bulu roma, Panji sama sekali tidak terpengaruh. Pemuda yang semenjak kecil telah menerima gemblengan dari seorang tokoh sakti itu, tetap tenang dan bersiaga penuh.

Kenanga sendiri sebenarnya seorang gadis pendekar yang tak pernah mengenal rasa takut itu, sempat juga bulu kuduknya berdiri. Hanya karena ada Panji di sampingnya, yang membuat hati gadis jelita itu menjadi tenang.

"Hm..., desa ini tidak mungkin ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya. Pasti ada sesuatu yang memaksa mereka pergi dari sini," gumam Panji sambil berpikir keras untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya. Panji terus berpikir sambil melangkah perlahan menyusuri jalan utama desa itu. Untunglah suasana yang pekat itu agak berkurang. Karena bias sinar rembulan yang penuh itu, cukup menerangi jalan yang dilalui pasangan pendekar itu.

"Bulan pumama...," tiba-tiba saja Panji mendongak dengan kening berkerut. Sejenak dipandanginya sang dewi malam sambil menduga-duga sesuatu. Kemudian, dihubungkannya semua pengalaman beberapa hari itu dengan kemunculan sang dewi malam.

"Apa yang kau pikirkan, Kakang...?" Kenanga bertanya karena merasa heran melihat kekasihnya menatapi rembulan, dan terlihat tengah berusaha mengingat sesuatu. Gadis jelita itu pun ikut menatapi sang dewi malam, tanpa tahu apa yang harus dicarinya.

"Wajah-wajah pucat seperti mayat hidup, kepala-kepala tanpa tubuh, dan sikap-sikap aneh...," kembali Panji menggumam, membuat Kenanga semakin bertambah heran.

"Kakang...," panggil gadis jelita itu sambil mencekal lengan Panji. Bukan hanya suara gadis itu yang bergetar, bahkan wajahnya pun terlihat tegang.

"Mari ikut aku...," ujar Panji setelah menduga kemana perginya orang-orang desa itu.

Tanpa banyak cakap lagi, Kenanga pun melesat mengikuti Panji. Meskipun belum mengerti apa yang akan dilakukan pemuda itu, namun Kenanga yakin kekasihnya telah menemukan sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk. Itulah sebabnya, ia tidak banyak bertanya lagi. Benak Kenanga semakin dipenuhi bermacam pertanyaan, ketika menyadari bahwa mereka tengah melangkah menuju daerah perbukitan yang letaknya di luar Desa Kalianyar. Tapi, gadis itu tetap bungkam dan hanya mengikuti ke mana pemuda itu berlari.

"Kau dengar suara-suara aneh itu...?" tanya Panji sambil memperlambat larinya. Sehingga, Kenanga dapat menjajarinya.

"Ya, aku mendengarnya, Kakang. Suara-suara aneh yang menimbulkan kesan menyeramkan," desis Kenanga sambil mengusap kuduknya yang terasa meremang.

Tidak berapa lama kemudian, pasangan pendekar itu pun tiba di bibir lembah, tempat di mana mereka mencium bau bangkai siang tadi.

"Lihat..," bisik Panji sambil menudingkan jari telunjuknya ke satu arah. Tempat yang ditunjuk pemuda itu, tampak merah menyala dengan gumpalan asap yang kian menebal, "Kalau dugaanku tidak keliru, mungkin di tempat itu mereka tengah melakukan sebuah upacara. Barangkali ada yang akan dijadikan korban dalam upacara itu," lanjut Panji perlahan.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kalau menilik dari suara- suara aneh yang bergaung menyeramkan itu, jelas jumlah mereka sangat banyak, Kakang…" desah Kenanga yang mulai menduga, apa yang bakal mereka hadapi di tempat itu.

"Hm..., apa pun yang akan terjadi, kita harus mencegahnya," desis Panji seraya mengepalkan jemari tangannya keras-keras sambil menggertakkan giginya.

"Tapi..."

"Sudahlah. Mari kita lihat, apa yang sebenarnya tengah terjadi di tempat itu...," tukas Panji yang membuat kekasihnya tidak sempat berpikir lebih jauh. Pemuda itu langsung meluncur turun sambil menggenggam jemari Kenanga.

Ketika pasangan pendekar itu semakin dekat, tampak rona kemerahan yang mereka lihat itu semakin jelas dan mulai terlihat pijaran lidah-lidah api. Meskipun demikian, keduanya terus melangkah maju untuk memastikan dugaannya. Apa yang mereka lihat kemudian, memang tidak meleset dari dugaan Panji. Kira-kira belasan tombak jaraknya di depan mereka, terlihat sebuah pemandangan yang menyeramkan. Puluhan wanita-wanita setengah telanjang, tengah menari-nari seperti orang kerasukan setan.

Sementara di belakang para penari itu, ratusan orang menggerak-gerakkan tangan dan tubuhnya dalam keadaan duduk bersila. Jelas, kalau orang-orang itu tengah mengadakan sebuah upacara penyembahan terhadap sesuatu yang didewakannya.

"Kakang, lihat itu...!" desis Kenanga sambil menunjuk di sebelah depan para penari yang bergerak kian cepat dan liar.

Panji mengarahkan pandangannya ke arah yang dltunjuk Kenanga. Sepasang mata pemuda itu menyipit, ketika melihat tiga sosok tubuh berambut panjang itu terikat pada sebuah tonggak kayu. Pemuda itu langsung saja menduga, kalau tiga sosok tubuh yang tengah terikat itu adalah wanita-wanita yang akan dijadikan persembahan.

Sambil menggertakkan gigi penuh kegeraman, Panji terus merayapi sekeliling tempat itu. Dengan mengerahkan kekuatan pada sepasang matanya, pemuda itu melihat sesosok tubuh tinggi kurus dan agak bungkuk melangkah ke sebuah tempat yang lebih tinggi.

"Kakek pencari kayu bakar...!" desis Panji kaget ketika mengenali sosok tinggi kurus dan agak bungkuk itu. Rasa kagetnya makin menjadi-jadi, tatkala mengenali salah satu dari empat orang pendamping laki-laki tua itu.

"Mengapa, Kakang...?" tanya Kenanga yang merasa terkejut ketika mendengar kekasihnya menggeram perlahan.

"Hm..., pantas saja Ki Wirjasana tidak mengetahui apa yang terjadi di Desa Kalianyar. Rupanya ia juga termasuk pengikut kakek iblis itu...," Panji merasa geram. Karena Ki Wirjasana, sang Kepala Desa Pawetan, juga menjadi pengikut manusia-manusia sesat itu.

"Apa yang hendak kau lakukan, Kakang...?" tanya Kenanga ketika melihat Panji akan melompat keluar dari persembunyiannya.

"Tidak ada jalan lain, kita harus mencegah mereka...," sahut Panji tegas.

"Tapi jumlah mereka banyak sekali, Kakang. Kalaupun kita dapat merobohkan sebagian dari mereka, kita bisa kehabisan tenaga," cegah Kenanga yang merasa khawatir melihat banyaknya jumlah musuh.

"Tidak perlu cemas, Kenanga. Mudah-mudahan saja orang- orang desa yang tak berdosa itu masih bisa disadarkan. Dengan demikian, kita hanya menghadapi dedengkot-dedengkotnya saja," jawab Panji yang telah memperhitungkan tindakannya. Setelah berkata demikian, tubuh pemuda itu segera melesat keluar dari tempat persembunyiannya. Sehingga, mau tak mau Kenanga pun harus mengikutinya.

"Tunggu...!"

Teriakan Panji yang lantang dengan pengerahan tenaga dalam tinggi itu, menggelegar dan memenuhi daerah sekitar perbukitan. Perbuatan pemuda itu tentu saja membuat upacara itu terhenti sejenak, dan hampir semua menoleh ke arah Panji dan Kenanga.

"Hm..., rupanya kita kedatangan tamu istimewa malam ini," terdengar suara berat yang mengaung memenuhi lembah kecil itu. "Pendekar Naga Putih! Apakah kau datang untuk mengantarkan gadis itu...?" suara yang meluncur dari mulut laki-laki tua bungkuk itu kembali menggelegar.

"Hai, saudara-saudaraku para penduduk desa! Sadarlah bahwa kalian telah dibodohi oleh kakek iblis itu! Dan, aku yakin gadis-gadis putri kalian itu, pasti akan dijadikan pemuas nafsu sebelum dibunuh secara keji!" Panji berseru nyaring tanpa mempedulikan ucapan laki-laki tua itu.

"He he he.... Kau hanya membuang-buang tenaga, Pendekar Naga Putih! Mereka semua adalah pengikut-pengikut setiaku. Jadi, percuma kalau kau punya niat menyadarkan mereka. Penduduk dari tiga desa di sekitar wilayah ini, telah kujejali racun perampas ingatan. Sehingga, pada tiap-tiap malam mereka akan berubah menjadi mayat-mayat hidup yang buas dan tak mengenal ampun. Sedangkan di siang hari, mereka akan kembali bersikap wajar. Dan, mereka tidak akan menyadari apa-apa yang mereka lakukan tiap malam," teriak laki-laki tua itu dengan suara yang keras.

Sementara Panji dan Kenanga berdiri menatap tajam wajah laki-laki tua itu.

"Tapi, kalau kau ingin bergabung denganku, tentu saja ada kekecualian. Kau berdua dengan gadismu yang molek itu, akan kujadikan pembantu-pembantu utama, yang sekaligus merupakan wakilku. Bagaimana? Bukankah tawaranku cukup menarik..?" tanya laki-laki tua itu seraya tersenyum.

"Iblis keji! Aku datang bukan untuk bergabung denganmu. Justru aku akan mengakhiri kebiadabanmu!" ucap Panji yang sempat terkejut mendengai ucapan laki-laki tua itu. Pendekar Naga Putih sadar kalau dirinya telah telanjur, dan tidak mungkin untuk mundur kembali. Meskipun dirinya mungkin akan berhadapan dengan ratusan orang-orang tak berdosa.

"He he he. Selama ini belum pernah ada seorang pun yang berani membantah keinginan Datuk Harimau Hitam! Dan, kau bocah bau kencur! Jangan kau kira nama besarmu akan membuat aku gentar. Huh!" ujar laki-laki tua yang mengaku berjuluk Datuk Harimau Hitam itu seraya menudingkan tongkat kayu hitam di tangannya ke arah Panji dan Kenanga.

Gerakan tongkat yang rupanya sebuah perintah itu, langsung saja membuat ratusan orang-orang yang semula diam mematung, serentak bangkit. Dan mereka bergerak perlahan ke arah Kenanga dan Panji.

DELAPAN

Melihat ratusan orang-orang berwajah pucat itu berloncatan mengurung mereka, Panji dan Kenanga bergerak cepat saling melindungi. Panji menyadari lawan-lawannya tengah dipengaruhi suatu obat, sehingga kekasihnya diperingatkannya agar jangan melontarkan pukulan yang mematikan.

"Ingat, Kenanga. Mereka adalah orang-orang tak berdosa. Kalau bisa, buat mereka pingsan dengan totokan," bisik Panji menegaskan.

"Tapi, kita pasti membutuhkan banyak tenaga untuk merobohkan mereka satu persatu, Kakang. Juga perlu Kakang ingat, mereka memiliki kekebalan tubuh yang aneh," ucap Kenanga tanpa membantah ucapan kekasihnya, tapi ia mencoba mengingatkan Panji bahwa yang mereka hadapi kali ini bukanlah manusia-manusia wajar. Dan, mereka berdua telah mengetahui kekebalan tubuh orang-orang itu. Maka, wajar kalau gadis jelita itu merasa agak cemas.

"Kita coba saja. Dan, aku akan berusaha untuk mendekati biang keladi semua ini," bisik Panji lagi sambil tetap menatap para pengepung yang telah siap merejam mereka.

"Keakhhh...!"

"Hiakhhh...!"

Kenanga tidak sempat lagi menyahuti ucapan kekasihnya. Karena saat itu beberapa pengepungnya sudah berlompatan menerjang dengan disertai pekikan-pekikan serak, bagai raungan binatang.

"Kita jangan sampai berpisah...," ujar Panji mengingatkan kekasihnya, sebelum bergerak menyambut terjangan enam orang lawan yang sudah meluncur dengan cengkeraman maut!

"Baik...," sahut Kenanga yang segera memutar tubuhnya dan saling bertukar lawan dengan Panji.

Delapan orang lawan yang semula menerjang Kenanga, kini harus berhadapan dengan Panji. Dengan gerakan secepat kilat, pemuda itu telah bertukar tempat dengan kekasihnya.

"Heaaahhh...!"

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring yang mengejutkan, Panji merendahkan tubuhnya dengan kuda-kuda harimau. Seiring dengan itu, tangan kanannya mengibas dengan menggunakan kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya yang ampuh.

Terdengar suara berdebuk nyaring susul-menyusul, ketika lengan kanan pemuda itu menghantam tubuh empat orang lawannya dengan kecepatan menggetarkan! Empat korban pukulannya langsung terjungkal hingga satu tombak lebih. Dan, jatuh berdebuk di atas tanah.

Bettt! Whuttt!

Panji melempar tubuhnya ke belakang ketika serangan pengeroyok yang lain datang susul-menyusul mengancam tubuhnya. Sambil berputar, pemuda itu mengirimkan tendangan berantai. Tak ayal lagi tiga orang pengeroyok yang terdekat langsung roboh!

Setelah merobohkan tiga orang lawan, tubuh Pendekar Naga Putih kembali bergulir ke arah Kenanga. Beberapa orang pengeroyok yang mengancam kekasihnya dengan cengkeraman dan pukulan, segera dicegah Panji dengan dorongan kedua tangannya.

Whusss...!

Serangkum hawa dingin menusuk tulang berhembus menerjang para pengeroyok Kenanga. Tanpa dapat dicegah lagi, belasan orang pengeroyok itu langsung terjungkal ke segala arah. Untunglah Panji tidak berniat menewaskan mereka. Sehingga, belasan orang lawan itu kembali bangkit dengan raut wajah menyeringai nyeri. Jelas, dorongan telapak tangan pemuda itu cukup menyakitkan mereka. Namun, meskipun mereka berhasil merobohkan belasan orang pengeroyok, tetap saja lawan tidak berkurang. Orang-orang yang terkena pukulan pasangan pendekar itu, bangkit dan bergerak membantu teman-temannya yang lain.

"He he he.... Ayo, habiskanlah tenaga kalian! Mereka akan tetap bangkit, kecuali kalian menggunakan pukulan maut yang mematikan. Semua pengikutku telah kurendam di dalam sumur yang kuberi ramuan. Sehingga, mereka kebal terhadap pukulan maupun senjata tajam," terdengar suara Datuk Harimau Hitam memanas-manasi pasangan pendekar itu. Tawanya yang serak terdengar berkepanjangan. Jelas kalau ia merasa gembira dengan pertunjukan itu.

"Celaka, Kakang! Kalau kita tidak membunuh mereka, pasti kita sendiri yang akan celaka di tangan orang-orang ini," desis Kenanga yang rupanya tidak sabar lagi ketika melihat korban pukulannya selalu bangkit, dan bergabung kembali mengeroyoknya.

"Gunakan totokan pelumpuh untuk merobohkan mereka...," kembali Panji mengingatkan kekasihnya, sambil merobohkan tiga orang pengeroyok dengan jari tangannya. Sehingga, korban totokannya itu dan pingsan seketika.

"Tapi kita bisa kehabisan tenaga!" Kenanga bantah ucapan Panji.

Alasan yang diajukan Kenanga memang tidak dibantah kekasihnya. Apalagi pemuda itu melihat sekujur tubuh kekasihnya tampak dibanjiri peluh. Jelas, Kenanga telah berjuang keras untuk merobohkan lawan-lawannya seperti yang diperintahkan Panji. Perintah yang diberikan Panji memang mudah diucapkan, tapi untuk melaksanakannya tidak semudah mengatakan. Karena untuk merobohkan lawan yang bertubuh kebal, mereka banyak mengeluarkan tenaga. Kalau tidak, lawan tidak akan roboh dengan totokan mereka. Itulah sebabnya mengapa Kenanga tidak setuju dengan ucapan Panji.

Panji sendiri pun bukan tidak tahu akan hal itu, tapi ia masih tidak tega membunuh orang-orang yang tak berdosa itu. Maka, sambil tetap melontarkan totokan-totokan ampuh, otaknya bekerja keras mencari jalan keluar yang lebih baik, dan tidak terlalu banyak menguras tenaga.

"Aaakhhh...!"

Pendekar Naga Putih yang tengah merobohkan lawan-lawannya itu menoleh ketika mendengar teriakan-teriakan kekasihnya. Segera pemuda itu melesat menyambar tubuh Kenanga yang tengah terhuyung dan hampir roboh.

"Heaaahhh...!"

Panji yang tengah memeluk tubuh Kenanga, bergerak cepat menghindari sebuah terjangan maut yang mengancam keselamatan mereka berdua.

Bettt!

Sebuah pukulan yang jelas mengandung kekuatan tidak rendah itu, lewat di samping tubuh Panji. Pemuda itu baru mengerti setelah melihat jelas penyerangnya.

"Ki Wirjasana...!?" desis Panji geram. "Jadi orang tua inilah yang telah memukul Kenanga. Pantas kalau begitu...," gumam pemuda itu, yang semakin sadar kalau kedudukannya benar-benar berbahaya.

Serangan Ki Wirjasana yang juga telah dipengaruhi ramuan obat itu kembali terlontar susul-menyusul. Bahkan dua orang lelaki gagah lainnya yang berwajah pucat, ikut menyerbu Panji. Sehingga, untuk beberapa saat Panji menjadi repot mengelakkan serangan ketiga orang pengeroyoknya.

"Heeeahhh...!"

Dalam kemarahannya, Panji mengibaskan lengan kiri dengan menggunakan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya. Dan, kedahsyatan pukulannya tak diragukan lagi.

Tanpa ampun lagi, lelaki berpakaian coklat yang berada di sebelah kanan Panji, langsung terpental diiringi jeritan ngeri. Kemudian, tubuhnya jatuh berdebuk dengan cairan merah muncrat dari mulutnya. Jelas, kalau orang itu mengalami luka parah akibat gempuran Pendekar Naga Putih.

Tapi, apa yang kemudian disaksikan Panji, benar-benar membuatnya terbelalak! Pukulannya yang mampu menghancurkan bongkahan batu sebesar rumah itu, ternyata tidak mampu menewaskan lawannya. Bahkan lawan itu kembali bangkit, meskipun tubuhnya agak terhuyung. Jelas lelaki gagah berjubah coklat itu seperti tidak mengalami luka yang berarti akibat pukulan dahsyatnya tadi.

"Gila! Bagaimana mungkin tubuh mereka sekuat itu...!?" gumam Panji yang sangat terkejut melihat korban pukulannya dapat bangkit kembali. Dan, telah maju kembali untuk ikut mengeroyoknya. Kenyataan itu benar-benar membuat Panji hampir tidak mempercayainya.

Keterpakuan Pendekar Naga Putih yang hanya sesaat itu, ternyata berakibat cukup fatal! Dua buah pukulan yang datang mengancamnya, masih sempat dielakkan. Tapi, hantaman keras dari Ki Wirjasana dan seorang lawan lainnya, membuat tubuh pemuda itu terhuyung beberapa langkah kebelakang.

"Heaaahhh...!"

Belum lagi Panji sempat memperbaiki kedudukannya, sebuah tendangan keras, telak menggedor dada kirinya.

"Hugkhhh...!"

Karuan saja tubuh pendekar muda itu terpelanting ke belakang. Walaupun begitu, Panji tidak mau melepaskan tubuh Kenanga dari pelukannya. Sehingga, keduanya bergulingan di atas tanah berbatu itu. Luka yang dialami Panji akibat pukulan keras dari Ki Wirjasana dan lelaki bercambang bauk itu, menyadarkan pemuda itu akan kelupaannya dalam menghadapi keadaan ini. Karena 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' yang mengendap di dalam tubuhnya, langsung saja bergolak mendorong keluar hawa aneh yang merasuk ke dalam tubuhnya.

"Heaaahhh...!"

Panji yang tubuhnya kini terlapisi sinar kuning keemasan, langsung melompat bangkit disertai kibasan tangannya ke kiri-kanan.

Breshhh.... Breshhh...!

Kibasan telapak tangan Panji mengejutkan lawan-lawannya yang tengah meluruk menyerbu. Tubuh mereka kontan beterbangan bagaikan kapas tertiup angin! Meskipun pukulan itu tidak mengakibatkan luka parah atau kematian, tapi cukup membuat Panji menarik napas lega. Karena para pengepungnya terkejut dan bergerak mundur. Kenanga yang sudah bangkit dan berdiri tegak di samping kekasihnya, telah pula siap menghadapi lawan-lawannya. Meskipun pada sudut bibir gadis jelita itu terlihat adanya cairan merah yang menetes. Tapi luka yang dideritanya tak terlalu parah.

"Maaf, Kakang. Aku terpaksa menggunakan senjata untuk menghadapi mereka...," bisik gadis jelita itu sambil mengeluarkan Pedang Sinar Rembulannya.

"Tenanglah, Kenanga. Rasanya aku sudah menemukan cara ampuh untuk melumpuhkan mereka," sahut Panji yang saat itu juga teringat akan mukjizat Pedang Naga Langitnya. Kenanga yang melirik ke arah Panji, sempat menarik napas lega ketika tahu-tahu sebilah pedang bersinar kuning keemasan telah tergenggam di tangan pemuda itu.

"Pedang Naga Langit..," desis Kenanga yang masih merasa takjub, meskipun sering menyaksikan kekasihnya mewujudkan pedang yang telah menyatu di dalam tubuh pemuda itu.

"Benar. Dan kali ini aku pasti berhasil melumpuhkan para pengepung kita, tanpa harus melukai atau membunuhnya," ujar Panji yang segera mengerahkan tenaga batinnya, dan menyatukannya dengan pedang mukjizat itu.

"Naga Langit...!" Dibarengi sebuah bentakan yang menggelegar, Panji melontarkan pedang di tangannya ke atas.

Glarrr...!

Saat itu juga, terdengar ledakan petir yang disambung sambaran kilat susul-menyusul. Suasana itu masih pula diiringi dengan hembusan angin keras bagaikan tengah mengamuk.

"Kreaaakkk...!"

Bersamaan dengan pekik bergemuruh seperti akan merobohkan bukit itu, terciptalah seekor makhluk yang mengerikan berupa seekor naga raksasa. Sekujur tubuh makhluk itu yang mengeluarkan sinar kuning keemasan, membuat suasana pekat seketika terang benderang.

"Sihir...!?"

Laki-laki tua yang berjuluk Datuk Harimau Hitam itu tidak kalah terkejutnya. Sebagai seorang ahli sihir, tentu saja ia cukup tergetar dengan penampilan serta cara Pendekar Naga Putih mewujudkan binatang mengerikan itu.

Namun, kemunculan Naga Langit yang diciptakan Panji, ternyata tidak hanya mengejutkan! Tapi, sinar keemasan yang terpancar dari tubuhnya, juga mempunyai pengaruh yang luar biasa. Ratusan penduduk desa yang berada di bawah pengaruh obat dan sihir Datuk Harimau Hitam, memekik kesakitan! Tubuh mereka mengejang, ketika pancaran sinar kuning keemasan merasuk ke dalam tubuh mereka.

Sehingga, dalam waktu singkat, ratusan penduduk desa yang semula menjadi makhluk mengerikan itu, jatuh bergeletakan. Kemudian, diam tak bergerak setelah berkelojotan. Pancaran sinar Naga Langit yang telah meresap ke dalam tubuh mereka, langsung menghancurkan racun-racun yang mengeram di dalam tubuh para penduduk itu. Tidak terkecuali Ki Wirjasana dan dua orang lelaki gagah lainnya.

"Gila...!? Ilmu sihir macam apa ini...?!" teriak Datuk Harimau Hitam yang tidak menyangka sama sekali, kemunculan binatang raksasa itu telah membuat para pengikutnya bergeletakan pingsan.

"Aaakhhh...!"

Datuk Harimau Hitam terkejut mendengar suara lengking yang mengerikan dari delapan orang berpakaian serba hijau. Mereka berjatuhan dengan diiringi mata laki-laki tua yang tak percaya dengan apa yang disaksikannya.

"Bangsat…!"

Bukan main murkanya Datuk Harimau Hitam ketika menyaksikan tubuh delapan orang murid-muridnya berkelojotan, dan tewas dengan tubuh melepuh. Jelas, pengaruh sinar keemasan dari tubuh Naga Langit telah mengakibatkan murid-muridnya tewas. Mereka berbeda sama sekali dengan para penduduk desa yang dikuasainya itu. Sambil menggeram murka, Datuk Harimau Hitam berpaling ke arah Naga Langit yang masih mengapung di udara.

"Heaahhh...!"

Dibarengi bentakan keras, laki-laki tua itu mendorongkan sepasang lengannya dengan pukulan jarak jauh. Melihat dari tatapan matanya yang mencorong kehijauan, jelas laki-laki tua itu ingin melenyapkan naga raksasa yang menurutnya permainan ilmu sihir dari Pendekar Naga Putih.

"Kreeeaghk...!"

Blarrr...!

Terdengar suara benturan dahsyat yang menggelegar, ketika naga raksasa itu mengibaskan ekornya memapaki pukulan Datuk Harimau Hitam. Sehingga, bukannya naga itu yang lenyap, malah tubuh laki-laki tua itu sendiri yang terjungkal hingga satu tombak lebih.

"Gila! Mana mungkin...?!"

Datuk Harimau Hitam mengumpat tak percaya dengan apa yang dialaminya. Karena naga raksasa yang diduganya hasil ciptaan ilmu sihir lawan, ternyata malah mampu memapaki pukulan pemunah sihirnya. Laki-laki tua itu tentu saja tidak mengerti.

Panji yang tadi memejamkan kedua matanya, kini perlahan membuka. Menyaksikan tubuh para pengeroyoknya telah bergeletakan di atas tanah, sadarlah pemuda itu kalau usahanya berhasil baik.

"Naga Langit, kembali...," terdengar desis menggetarkan yang keluar dari mulut Panji. Sepertinya untuk menundukkan Datuk Harimau Hitam, pemuda itu tidak perlu mengandalkan kemukjizatan senjatanya.

Untuk kesekian kalinya, Datuk Harimau Hitam kembali melongo. Makhluk raksasa yang dikiranya sebagai permainan sihir lawan, lenyap tanpa bekas. Laki-laki tua itu sempat melirik, terlihat sebilah pedang bersinar kuning keemasan kembali tergenggam di tangan lawannya.

"Tidak kusangka kalau pemuda seusia kau telah memiliki ilmu sihir yang dahsyat, Pendekar Naga Putih. Aku benar-benar kagum kepadamu," ujar Datuk Harimau Hitam tanpa malu-malu lagi, memuji kehebatan ilmu lawannya.

"Hm..., kau keliru, Datuk Harimau Hitam. Aku sama sekali tidak memiliki ilmu sihir. Tidak perlu kujelaskan kepadamu. Yang paling penting, aku akan menghancurkan niat busukmu yang mungkin kelak akan kau ulangi lagi," sahut Panji yang langsung saja melayang ke arah lawan.

"Bedebah! Kau kira setelah dapat menundukkan dan membunuh pengikut-pengikutku, lalu kau bisa berbuat sesombong itu? Hmh! Marilah kita tentukan. Apakah kau memang pantas untuk menghukumku atau sebaliknya," teriak Datuk Harimau Hitam yang menerima tantangan Panji.

"Heaaattt..!"

Begitu panji menjejakkan kakinya beberapa langkah di hadapan lawan, laki-laki tua itu langsung melesat dengan disertai teriakannya yang keras.

Bett...!

Sekali menerjang, Datuk Harimau Hitam langsung melontarkan serangkaian pukulan maut yang mematikan! Tampaknya laki-laki tua itu memang benar-benar ingin membinasakan Pendekar Naga Putih.

Panji yang sudah menyimpan senjatanya, segera bergerak ke kiri. Kemudian, kakinya melangkah pendek-pendek untuk menghindari gempuran lawan. Sesekali pemuda itu melontarkan serangan balasan secara mengejutkan. Sehingga, Datuk Harimau Hitam terpaksa lebih berhati-hati dalam menghadapi lawannya.

"Yeaaahhh...!"

Begitu merasakan serangan lawan mulai mengendur, Panji segera melancarkan serangan balasan beruntun dengan menggunakan jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya.

Wettt! Wettt...!

Diiringi sambaran hawa dingin menusuk tulang, sepasang cakar naga Panji berkelebatan mengincar tubuh lawan. Sehingga, Datuk Harimau Hitam sempat terdesak.

Pertarungan berlangsung semakin cepat dan seru, ketika menginjak jurus yang kedelapan puluh tujuh. Keduanya yang sama-sama menggunakan ilmu-ilmu silat tinggi, sama-sama saling desak, dan berusaha untuk menjatuhkan lawan. Namun, sampai sedemikian jauh belum tampak tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Panji sendiri diam-diam merasa kagum dengan kekuatan laki-laki tua itu. Meskipun usianya telah demikian tua, ternyata masih mampu bergerak cepat. Bahkan pemuda itu beberapa kali kehilangan lawannya, karena gerakan lawan memang seperti bayangan hantu yang nyaris tidak kelihatan.

"Yeaaattt...!"

"Heaaa...!"

Ketika pertarungan memasuki jurus yang keseratus dua puluh, mendadak Datuk Harimau Hitam berseru nyaring sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Saat itu juga, tercium bau amis menyengat yang disertai perubahan sepasang lengan laki-laki tua itu menjadi kehitam-hitaman.

Whusss...!

Dorongan sepasang telapak tangan Datuk Harimau Hiram yang menyemburkan uap kehitaman membuat Panji sadar kalau lawannya telah mengeluarkan ilmu pukulan beracun yang sangat berbahaya. Cepat-cepat Pendekar Naga Putih mendorong sepasang lengannya ke depan dengan menggunakan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' sepenuhnya. Serangkum angin dingin yang berhembus keras bagaikan badai salju, meluncur memapaki pukulan beracun lawannya. Dan...

Blarrr...!

Mengerikan sekali akibat benturan dua gelombang tenaga sakti yang berlainan sifat itu! Bunga api berpijaran menandakan betapa kuatnya benturan yang terjadi. Sampai-sampai beberapa pohon yang dekat dengan mereka, daun-daunnya berguguran. Sebagian hangus terbakar. Sedang sebagian lainnya tampak diselimuti salju tipis. Jelas, pukulan yang dikerahkan kedua tokoh sakti itu sangat dahsyat.

Akibat benturan itu, tidaklah terlalu merugikan bagi Panji. Pemuda yang semenjak kecil dididik dengan berbagai macam latihan kuda-kuda itu, hanya bergeser mundur dengan meninggalkan bekas sepatunya yang cukup dalam di atas permukaan tanah. Sedangkan tubuhnya tetap tegak dan kokoh.

Lain halnya dengan Datuk Harimau Hitam. Akibat benturan dengan tenaga mukjizat lawan, tubuhnya terlempar hingga tiga tombak. Meskipun ketika terjatuh ia dapat menyelamatkan tubuhnya dengan kedua kaki menjejak tanah, tapi gumpalan darah kehitaman keluar dari mulutnya, menandakan laki-laki tua itu telah terluka dalam oleh racunnya sendiri.

"Huagkhhh...!"

Untuk kesekian kalinya darah segar kembali muncrat dari mulut laki-laki tua itu. Bahkan wajahnya yang semula putih bagai wajah mayat itu, mulai nampak kehitaman. Karena racun pukulannya telah berbalik menggerogoti dirinya. Merasa ajalnya sudah dekat, sambil mendekap dada yang terasa remuk, Datuk Harimau Hitam mengedarkan pandangan berkeliling. Dan, terhenti pada sosok ramping berpakaian hijau, yang berada di samping kanannya dalam jarak dua tombak.

"Kau harus menyertai kematianku, Gadis Cantik...!" desis laki-laki tua itu dengan sorot mata mengancam.

Belum lagi sosok berpakaian hijau itu sempat berpikir, tiba-tiba tubuh Datuk Harimau Hitam sudah mencelat ke arahnya. Panji yang sejak tadi memperhatikan tingkah lawannya, tentu saja tidak membiarkan kekasihnya terancam maut. Maka, dengan dibarengi sebuah pekikan bagai naga murka,tubuh pemuda itu melesat secepat sambaran kilat, dan langsung memotong jalan luncuran tubuh Datuk Harimau Hitam.

"Yeaaat...!" Blarrr...!

Untuk kesekian kalinya, kembali terdengar ledakan dahsyat yang mengguncangkan sekitar daerah perbukitan itu. Disusul dengan terlemparnya tubuh Datuk Harimau Hitam akibat gedoran sepasang telapak tangan Panji yang memang sulit dihindari. Dalam usaha menyelamatkan nyawa kekasihnya, Panjl telah menggunakan jurus 'Naga Sakti Meluruk ke Dalam Bumi', yang merupakan jurus terampuh dari 'Ilmu Silat Naga Sakti'nya. Sehingga akibatnya pun sangat mengerikan.

Pendekar Naga Putih dan Kenanga berpelukan menyaksikan mayat Datuk Harimau Hitam yang sekujur tubuhnya remuk. Napas laki-laki tua itu telah terhenti. Karena tubuhnya telah menghantam sebuah batu besar, yang juga hancur akibat benturan keras itu.

"Mudah-mudahan para penduduk yang tak berdosa itu selamat semuanya...," harap Panji yang sudah menjatuhkan tubuhnya bersandar pada sebatang pohon. Pertarungan dengan Datuk Harimau Hitam benar-benar telah menguras tenaganya.

"Kita tunggu di sini sampai pagi, Kakang...," ujar Kenanga yang juga menjatuhkan tubuhnya di samping Panji.

********************

Matahari pagi memancarkan sinarnya menerangi permukaan bumi. Saat itu Panji dan Kenanga sudah berkumpul bersama penduduk tiga desa. Melihat dari cerahnya wajah-wajah mereka, jelas pengaruh obat yang dijejalkan Datuk Harimau Hitam telah lenyap berkat kekuatan mukjizat Pedang Naga Langit.

"Apa sebenarnya yang diinginkan Datuk Harimau Hitam dengan menguasai desa-desa terpencil ini?" tanya Panji yang duduk berhadapan dengan Ki Wirjasana, Kepala Desa Pawetan, Ki Bamagala, Kepala Desa Kalianyar, dan lelaki gagah berpakaian biru yang merupakan Kepala Desa Pagar Batu.

"Kami tidak tahu secara pasti, Pendekar Naga Putih," sahut Ki Wirjasana yang memang telah mengenal Panji sebelumnya. "Tapi, pertama kali mereka datang, banyak gadis-gadis dari desa-desa sekitar daerah ini yang lenyap tanpa jejak. Bahkan beberapa dari gadis-gadis itu, dibunuh setelah terlebih dahulu diambil darahnya," Ki Wirjasana menutup ceritanya. Karena sepertinya orang tua itu tidak tahu terlalu banyak.

"Sebenarnya kami sempat merasa curiga dengan keinginan mereka, yang katanya bisa membuat orang-orang desa menjadi sakti dan kuat. Dengan demikian, warga kami yang memang terdiri dari para pemburu itu tidak perlu takut lagi terhadap binatang buas. Sehingga, hasil buruan bisa berlipat-lipat, Demikian, iblis itu membujuk kami pertama kalinya. Dan, memang mulanya kami percaya. Karena hal itu telah terbukti pada beberapa warga Desa Kalianyar. Tapi, rupanya obat-obat yang diberikan kepada kami itu mempunyai pengaruh lain di waktu malam. Itu baru aku ketahui belakangan...," Ki Bamalaga menghentikan ceritanya sejenak untuk menghela napas.

"Sayangnya, sudah hampir seluruh warga Desa Kalianyar yang meminum ramuan obat itu," sambung Ki Bamagala. "Sehingga, aku tidak bisa berbuat apa-apa, ketika dia memaksaku untuk meminum obat itu. Karena orang tua itu sangat sakti, dan aku tidak berdaya menghadapinya. Sejak saat itulah tanpa kami sadari, gadis-gadis di desa kami satu persatu lenyap tanpa jejak"

Kepala Desa Kalianyar itu, yang sepertinya tahu lebih banyak, menghentikan ceritanya sejenak. Kemudian terdiam beberapa saat, seolah-olah ingin mengingat kembali peristiwa yang telah cukup lama terjadi Panji, Kenanga, dan yang lainnya hanya menunggu, tanpa berniat untuk mengganggu Ki Barnalaga, yang tengah berusaha mengingat-ingat awal malapetaka yang menimpa desanya.

"Pendekar Naga Putih, dapatkah kau menerangkan kepada kami, apa sebenarnya maksud iblis itu menculik dan membunuhi gadis-gadis desa?" tanya Ki Bamalaga yang sepertinya merasa penasaran karena belum mengetahui kegunaan gadis-gadis desanya yang diculik itu.

"Hm..., setelah mendengar cerita kalian, dan juga apa yang sebelumnya kami temukan, jelas gadis-gadis desa yang mereka culik mempunyai dua manfaat bagi Datuk Harimau Hitam dan para pengikutnya. Pertama, gadis itu digunakan sebagai pemuas nafsu mereka. Kedua, darah-darah perawan yang mereka rasakan cocok untuk digunakan mendalami ilmu-ilmu sesat mereka. Dan, aku yakin ramuan-ramuan yang diberikan kepada penduduk, juga bercampur dengan darah perawan. Itulah yang membuat kalian kebal terhadap pukulan dan juga senjata tajam. Sayang, orang setua Datuk Harimau Hitam masih serakah terhadap ilmu kepandaian," desah Panji mengakhiri keterangannya yang membuat semua orang di tempat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Tidak aneh, Kakang. Tokoh-tokoh persilatan baik hitam maupun putih tidak pernah mengenal rasa puas dalam menambah ilmu. Jadi, tidak mengherankan untuk memperdalam ilmu sesatnya. Datuk Harimau Hitam sampai demikian kejam mengorbankan darah-darah perawan suci," Kenanga yang mendengar desahan kekasihnya segera menyahuti.

"Kau benar, Kenanga. Nah, karena persoalan di sini sudah selesai, kami mohon pamit..." pinta Panji sambil beranjak bangkit, diikuti Kenanga dan yang lainnya.

"Dengan hati berat, kami terpaksa melepasmu, Pendekar Naga Putih. Mungkin saja tugas-tugas lain sudah menanti kalian berdua...," ucap Ki Wirjasana sambil menjabat erat jemari tangan pemuda tampan itu.

"Terima kasih, Ki...," ujar Panji yang segera melangkah bersama Kenanga meninggalkan perbukitan itu.

Sedangkan para penduduk dari tiga desa itu masih terus melambaikan tangannya, hingga bayangan kedua pendekar itu lenyap di kejauhan.

S E L E S A I