Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Partai Rimba Hitam
Karya T. Hidayat
Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cersil Online Serial Pendekar Naga Putih Karya T Hidayat
SATU

SINAR matahari terasa panas nenyengat kulit. Angin laut berhembus keras, membawa udara sejuk dan melenakan. Di bawah teriknya sinar matahari, seorang pemuda berjubah putih tengah melangkah menyurusi tepian Pantai Alor yang berpasir putih. Langkahnya terlihat tenang, seolah-olah tidak merasa terganggu panasnya sinar matahari di pagi itu.

Pemuda tampan dan gagah itu tak lain adalah Panji, atau yang berjuluk Pendekar Naga Putih. Berkat kedahsyatan ilmunya, maka dalam beberapa waktu saja nama Pendekar Naga Putih telah dikenal hampir seluruh tokoh persilatan. Baik dari golongan putih maupun golongan hitam.

Saat ini, Pendekar Naga Putih kehilangan dua orang seperjalanannya di dalam sebuah hutan (Untuk jelasnya baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Algojo Gunung Sutra). Karena usaha pencariannya itulah, maka langkah kakinya terbawa hingga ke daerah Langkar, perkampungan nelayan ini.

Dengan tidak pernah merasa bosan, Panji terus berusaha mencari keterangan tentang dua orang temannya, Suntara dan Rahayu.

"Ah! Lebih baik aku mencari kedai makan, karena di tempat-tempat seperti itu biasanya tersebar macam-macam berita," ucap hati Panji.

Sudah cukup lama berjalan, akhirnya Panji menemukan sebuah kedai yang cukup ramai di Desa Langkar. Bergegas, dilangkahkan kakinya mendekati kedai. Namun belum lagi memasuki kedai yang dimaksud, langkahnya segera terhenti ketika terdengar bentakan-bentakan kasar.

Pendekar Naga Putih itu menolehkan kepalanya ke arah perahu perahu nelayan yang sedang ditambatkan, ditempat bentak-bentakan tadi berasal. Dengan hati dipenuhi tanda tanya, Panji melangkahkan kakinya mendekati tempat itu. Dari kejauhan, terlihat para nelayan berkerumun dan memandang kesatu arah. Pendekar Naga Putih itu pun ikut membaurkan dirinya di antara kerumunan orang. Kening pemuda tampan itu berkerut ketika melihat suatu kejadian.

Beberapa puluh tombak di hadapannya, tampak seorang laki-laki kasar tengah membentak-bentak seorang laki-laki setengah baya yang bersimpuh di depannya. Laki-laki setengah baya yang berpakaian seperti seorang nelayan itu menjawab dengan suara gemetar, dan penuh permohonan. Beberapa luka memar tertera di wajah tuanya.

Pendekar Naga Putih belum berani bertindak, karena sama sekali belum mengetahui duduk persoalannya. Maka pemuda digdaya itu hanya menyaksikan dengan kening berkerut. Tapi biar bagaimanapun juga, ia tidak menyetujui perbuatan laki-laki kasar itu.

"Ingat, Pak Tua! Perbuatan ini akan menjadi mala-petaka bagi seluruh keluargamu!" bentak laki-laki kasar itu dengan suara menggelegar.

"Tapi, Tuan. Aku betul-betul belum mempunyai uang untuk membayar hutang-hutang itu. Tolonglah. Berilah waktu satu minggu lagi, Tuan!" jawab laki-laki tua itu penuh permohonan.

Deeesss!

Sebuah tendangan keras menghantam iga laki-laki tua itu. Tubuhnya seketika terjengkang dan bergulingan sejauh satu tombak. Dia meringis-ringis kesakitan sambil memegangi iganya yang terasa remuk! Dari celah-celah bibirnya, tampak cairan merah mengalir turun. Dengan terbungkuk-bungkuk, laki-laki tua itu bangkit duduk.

"Bangsat tua keras kepala! Apakah kau ingin seluruh keluargamu digantung Tuan Barja?! Kau tahu, sudah berapa lama kau tidak membayar hutang-hutangmu itu! Sudah hampir dua bulan, tahu! Dan setiap kali ditagih, selalu bilang tidak punya uang. Lalu, apa saja kerjamu selama ini, hah!" bentak laki-laki kasar itu semakin geram. Tangannya kembali terangkat hendak menghajar orang tua malang itu. Namun gerakannya terhenti, ketika terdengar suara halus, disusul munculnya seorang gadis manis yang langsung menghambur ke arah tubuh orang tua itu.

"Ayaaah...!" Tubuh semampai itu langsung memeluk orang tua yang tengah bersimpuh sambil memegangi perutnya. Sejenak mata tua itu membelalak kaget, kemudian berubah memancarkan sinar kekhawatiran yang dalam.

"Kami! Mengapa kau kemari, Nak? Tidak tahukah kau bahwa kedatanganmu akan menimbulkan malapetaka baru? Ya Tuhan..., selamatkan anakku dari kekejaman orang-orang jahat itu!" ujar orang tua itu dengan suara gemetar penuh kekhawatiran.

Kekhawatiran yang ditunjukkan orang tua itu memang tak terlalu berlebihan. Sebab orang yang disebut Tuan Barja oleh lelaki kasar yang menyiksanya itu, adalah seorang lelaki mata keranjang. Dan apabila matanya yang berminyak itu tertarik kepada seorang wanita, ia akan berusaha mendapatkannya dengan jalan apa pun! Sekali pun wanita yang diingininya itu telah bersuami! Itulah sebabnya, mengapa nelayan tua itu mengkhawatirkan keselamatan putrinya.

"Tapi, Ayah. Aku tidak tahan melihat orang-orang kejam itu menyiksamu terus-menerus. Aku..., aku tidak tahan, Ayah!"

Sehabis berkata demikian, tangis gadis itu pun meledak! Sehingga beberapa orang yang menyaksikan, memalingkan mukanya dengan penuh haru. Bahkan beberapa wanita di antaranya, sudah pula meneteskan air mata. Seakan-akan suami dan anak mereka sendirilah yang diperlakukan demikian.

"Iblis! Kalian benar-benar tidak mempunyai perasaan kasihan sama sekali! Manusia kejam! Ayo, bunuh kami! Siksa kami! Lebih baik kami mati daripada diperlakukan seperti binatang begini!" teriak gadis yang dipanggil Kami itu, penuh amarah.

Semenjak melihat gadis manis itu, laki-laki kasar tadi tersenyum penuh kelicikan. Di depan matanya terbayang sekantung uang yang akan didapat, apabila bisa membawa gadis itu kehadapan majikannya. "He he he.... Gadis anak Pak Tua itu, boleh juga, Kakang!" seru salah seorang kawan laki-laki kasar itu. Wajahnya menyeringai penuh nafsu.

"Wah! Kita bisa berpesta, kalau bisa membawa gadis itu kehadapan Tuan Barja," sahut yang lainnya lagi. Bibirnya tersenyum karena membayangkan hadiah besar yang bakal diterima Wajah laki-laki kasar yang semula bengis itu, mendadak ramah. Senyumnya membayang. Sikapnya benar-benar berubah, karena kehadiran Kami.

"Hm..., Pak Tua. Kami yakin apabila anakmu mau membicarakan hal ini kepada Tuan Barja, tentu hutang-hutangmu akan segera lunas. Dan kau sendiri akan mendapat sebuah perahu yang baik dan dapat digunakan semaumu! Bagaimana?" tanya laki-laki itu dengan suara yang dibuat ramah.

"Oh, tidak! Jangan... biarlah aku berjanji akan melunasinya dalam dua hari ini," jawab nelayan tua itu ketakutan. Memang sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap anak gadisnya itu. Wajah nelayan tua itu seketika pucat dan matanya berputar liar, seolah-olah hendak mencari dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

"Hm.... Jadi kau tidak mau menuruti anjuranku, monyet tua! Lagipula mana mungkin kau dapat melunasi hutangmu hanya dalam waktu dua hari! Ke mana kau akan mencari uang sebanyak itu, heh!" bentak laki-laki kasar yang sudah menjadi marah ketika mendengar penolakkan orang tua itu.

"Ah! Sudahlah, Kakang. Buat apa melayani monyet tua itu. Bawa saja anak gadisnya, kan beres!" usul salah seorang kawannya.

"Ah! Jangan! Jangan… Kasihanilah anakku, Tuan! Aku berjanji akan melunasinya," ratap orang tua itu, mulai gelisah.

"Huh! Minggat kau, monyet tua tak tahu diuntung!" bentak laki-laki kasar itu, sambil melayangkan kakinya ke perut nelayan tua itu Tubuh tua itu kembali terlempar akibat tendangan yang cukup keras, sehingga terlontar sejauh dua tombak.

"Manusia biadab! Iblis kau...!" teriak Kami, langsung menubruk laki-laki kasar yang menyiksa ayahnya. Gadis itu memukul membabi buta.

Namun, apa artinya pukulan seorang gadis lemah seperti Kami. Dengan sekali mengayunkan tangan saja, Kami kontan terpelanting terkena tamparan laki-laki kasar itu.

"Huh, perempuan liar!" umpat laki-laki kasar itu, sambil mengulurkan tangan menangkap pergelangan tangan gadis tersebut. Langsung saja Kami diseret meninggalkan tempat yang masih dikerumuni orang itu. "Oh, lepaskan! Lepaskan aku! Ayah, tolooong...!" Kami berteriak-teriak dan meronta-ronta dalam pondongan laki-laki kasar yang membawanya pergi ke rumah Tuan Barja majikannya.

Panji yang semula berniat menolong gadis itu, seketika, membatalkan niatnya saat melihat sesosok bayangan merah berkelebat mendahuluinya. Pendekar Naga Putih itu kembali menonton dan menunggu perkembangan selanjutnya. Karena, ingin diketahui juga apa yang akan dilakukan si bayangan merah itu.

"Hei, anjing-anjing busuk! Hendak kau bawa ke mana gadis itu?!" bentak si bayangan merah yang sudah berdiri dengan kaki terpentang, menghadang keempat orang laki-laki kasar itu.

"Sundari…! Apa pula yang dikerjakannya di tempat ini?" Panji menjadi terkejut begitu mengenali bayangan merah, yang tahu-tahu telah berada ditempat itu.

Ucapan Panji memang tidak salah. Sosok bayangan merah itu memang Sundari yang berjuluk Dewi Tangan Merah. Gadis pendekar yang paling tidak suka terhadap segala perbuatan jahat itu langsung turun tangan ketika melihat kekejaman ber-langsung di depan matanya. Dengan wajah merah karena marah, Dewi Tangan Merah itu menudingkan telunjuknya yang mungil ke arah si laki-laki kasar yang memondong tubuh Kami.

"Turunkan gadis itu, atau nyawa anjingmu akan melayang!" ancam Dewi Tangan Merah tegas.

"Wah, Kakang. Gadis yang kau pondong itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengannya. Eh, Nini Cantik. Apakah kau bersedia menggantikannya untuk menghadap Tuan Barja? Marilah! Tuan Barja pasti akan senang menerima kedatanganmu!" seru salah seorang kawan laki-laki kasar itu, sambil mengulurkan tangannya menangkap pergelangan Sundari.

Plakkk!

"Aduuuh...!"

Entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu saja tubuh laki-laki yang hendak menangkap tangan Sundari itu ter-pelanting sambil berteriak kesakitan. Darah seketika mengucur dari celah-celah bibirnya yang pecah akibat tamparan tangan Sundari.

"Pruhhh.... Pruhhh...!" laki-laki itu meludahkan darah yang terus mengalir. Bahkan beberapa buah giginya ikut tanggal akibat tamparan tangan halus tadi. "Bangsat! Perempuan setan! Rupanya kau ingin cari mampus!"

Sriiing!

Laki-laki itu langsung mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Seketika diserangnya Dewi Tangan Merah dengan ganas. Sedangkan Sundari yang berjuluk Dewi Tangan Merah itu tersenyum mengejek, sambil menggeser tubuhnya sedikit. Dan tahu-tahu saja tangan kanannya dengan jari-jari terbuka mencelat menusuk tenggorokan lawan. Gerakannya cepat sekali, sehingga laki-laki itu tidak sempat lagi menghindar. Diiringi jeritan ngeri, laki-laki itu terjungkal sejauh satu depa! Setelah berkelojotan sesaat, tubuh itu pun meregang dan diam tak bergerak untuk seterusnya. Dia tewas dengan leher bolong.

Melihat keadian Ini laki-laki kasar tadi segera melepaskan tubuh Kami yang tengah dipondongnya. Matanya membelalak karena sama sekali tidak diduga kalau kawannya akan tewas di tangan gadis cantik itu. Malah hanya dalam segebrakan saja!

"Perempuan ibilis! Siapa kau sebenarnya?! Dan apa maksudmu mencampuri urusan kami?!" teriak lelaki kasar itu gusar, penuh kemarahan. Meskipun sebenarnya terkejut dan gentar menghadap gadis cantik itu, namun ia merasa malu untuk menunjukkan kelemahannya di depan orang banyak. Lelaki kasar itu mencabut goloknya diikuti kedua orang kawannya yang lain. Sundari diterjang dengan serangan yang ganas dan mematikan. Golok ketiga orang itu berkelebatan mengincar tubuh ramping yang menyelinap cepat, di antara sambaran-sambaran sejata.

Dewi Tangan Merah itu rupanya sudah tak segan-segan menurunkan tangan maut kepada tiga orang lawannya. Dan dalam beberapa saat saja terdengar tenakan ngeri. Itu pun masih disusul oleh terlemparnya salah seorang dari tiga lawan dalam keadaan tak bernyawa. Tak lama kemudian, kembali seorang menggelepar tewas akibat sambaran jari-jari tangan runcing yang mengandung hawa maut itu.

"Perempuan keparat! Perempuan iblis! Kubunuh kau...!" teriak laki-laki kasar yang kini hanya tinggal seorang itu. Digerakkannya senjatanya membabi buta, karena sadar sepenuhnya bahwa ia tidak mungkin dapat mengalahkan gadis cantik berbaju merah yang ternyata sangat tinggi kepandaiannya.

Tentu saja gerakan yang tak terarah itu semakin memberi peluang buat Sundari. Gadis itu sengaja tidak menghindar ketika pedang lawan mengarah pinggangnya. Dengan sebuah gerakan indah, gadis berbaju merah itu baru berkelit ketika pedang itu hampir membabat pinggangnya, sambil melepaskan sebuah tendangan kilat ke perut lawan

Bukkk!

Tubuh laki-laki kasar itu terjungkal keras mencium tanah berpasir. Namun ia masih berusaha untuk bangkit meskipun otot-otot perutnya terasa hancur. Sambil terbungkuk-bungkuk berusaha dipungut pedangnya yang terlempar dari tangannya. Wajahnya menyeringai me-nahan rasa sakit yang hebat, sementara dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar.

"Heh, anjing buduk! Enyahlah dari sini! Laporkan pada majikanmu bahwa Dewi Tangan Merah akan berkunjung untuk mengambil kepalanya. Cepaaat...! Jangan sampai aku berubah pikiran!" ancam Dewi Tangan Merah atau Sundari dengan wajah menyeringai.

Sejenak laki-laki kasar itu meragu, seolah-olah tidak mempercayai pendengarannya. Tapi ketika mendengar bentakan gadis berbaju merah itu, ia pun segera mengambil langkah seribu tanpa menoleh-noleh lagi. Laki-laki kasar itu berlari sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit akibat tendangan kilat Sundari. Dewi Tangan Merah itu berdiri terpaku, sambil memandangi kepergian lawannya.

"Nini Pendekar...! Terima kasih atas pertolonganmu. Entah apa jadinya terhadap putriku tanpa pertolongan Nini! Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih," ucap nelayan tua itu yang tahu-tahu saja telah berlutut di bawah telapak kaki Dewi Tangan Merah, diikuti putrinya.

"Ah! Bangunlah, Paman! Dan kau juga Adik Manis. Bangunlah! Yang kulakukan tadi bukan apa-apa. Dan lagi pula itu memang sudah menjadi kewajibanku." ujar Dewi Tangan Merah merendah, sambil tersenyum manis dan mengangkat tubuh ayah dan anak itu supaya berdiri.

"Nini. Sebaiknya Nini cepat-cepat meninggalkan desa ini, sebelum Logar dan kawan-kawannya datang kembali!" jelas nelayan tua itu dengan wajah penuh kecemasan. Nelayan tua itu memang tidak yakin kalau wanita berbaju merah itu dapat mengalahkan Logar yang terkenal ganas dan kejam. Dia juga tangan kanan Tuan Barja.

"Hm.... Aku memang akan pergi, Paman. Tapi bukan untuk meninggalkan desa ini, melainkan hendak mengunjungi orang yang bernama Tuan Barja itu," Jelas Dewi Tangan Merah tersenyum sabar

"Tapi, tapi Nini. Tukang pukul Tuan Barja itu banyak sekali! Dan mereka rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi. Apalagi yang bernama Logar itu. Kepandaian silatnya hebat sekali, Nini. Dulu pernah ada seorang pendekar muda yang mencoba memperingati Tuan Barja tentang perbuatannya itu. Ya, dia memang suka memeras tenaga nelayan-nelayan miskin seperti saya ini. Dan Nini tahu akibatnya? Hhh..., pendekar muda itu tewas di tangan Logar dengan leher putus! Maka karena itulah kuperingat-kan pada Nini. Sungguh aku tidak ingin Nini mengalami hal seperti itu. Bahkan mungkin nasib Nini akan lebih buruk lagi," ujar orang tua itu mengakhiri ceritanya.

"Eh, Paman. Apakah sebabnya sampai mereka itu tega menyiksa Paman sedemikian rupa? Apakah kesalahan yang telah Paman perbuat? Kalau hanya soal hutang, bukankah Paman dapat membayarnya dengan hasil menangkap ikan?" tanya Dewi Tangan Merah mengalihkan pembicaraan. Ia memang sengaja tidak menanggapi pem-bicaraan nelayan tua itu, karena biar dijelaskan bagai-manapun laki-laki itu tetap tidak akan paham.

"Yahhh... Sebenarnya kalau hanya soal hutang, Paman rasa semua nelayan di kampung ini akan sanggup membayarnya. Namun, bunga yang kian hari kian membukit itulah, yang tidak sanggup dibayar," jawab nelayan tua itu sambil menghela napas berat. Seolah-olah dadanya ditekan sebongkah batu yang berat, sehingga napasnya harus segera dilonggarkan

"Jadi, Paman sudah melunasi hutang yang diberikan Tuan Barja itu?" tanya Dewi Tangan Merah yang mulai mengerti duduk persoalan sebenarnya

"Benar, Nini! Namun Tuan Barja selalu menekan kami dengan bunga-bunga yang tak pernah habis. Setiap terlambat membayarnya, maka bunga itu akan semakin berlipat. Apalagi dalam musim badai seperti ini, saat para nelayan tidak bisa melaut. Maka dapat Nini bayangkan, berapa banyak bunga yang harus kami bayar," jawab orang tua itu, lagi.

"Kalau begitu, mengapa penduduk desa ini masih juga meminjam kepada Tuan Barja? Bukankah mereka sudah tahu kalau hal itu akan mendatangkan kesulitan?" tanya Dewi Tangan Merah penasaran.

"Habis, ke mana lagi kami harus meminjam uang untuk membeli alat-alat penangkap ikan atau perahu, Nini? Kami terpaksa melakukannya! Sebab kalau tidak begitu, apa yang dapat diberikan kepada keluarga kami?" jawab orang tua itu bernada sedih.

"Ah! Sudahlah, Paman! Sekarang lebih baik kembali saja. Biar aku yang akan membicarakan persoalan ini kepada Tuan Barja itu!" tegas Sundari.

Selesai berkata demikian Dewi Tangan Merah berkelebat lenyap dari hadapan ayah beranak itu. Cukup tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga membuat kedua terlongo-longo dengan wajah tidak percaya. Tubuh Dewi Tangan Merah bagai hilang ditelan bumi saja.

"Oh! Mungkinkah ia seorang dewi yang sengaja didatangkan untuk menolong kita? Kalau seorang manusia, mengapa ia pandai menghilang?" gumam nelayan tua itu, setengah berharap.

Tanpa sepengetahuan Dewi Tangan Merah mau pun para nelayan yang berada di sekitar tempat itu, sesosok bayangan putih ikut pula melesat cepat luar biasa. Sehingga para nelayan itu hanya melihat seberkas sinar putih yang meluncur melewati kepala mereka. Bayangan putih yang memang adalah Panji itu sengaja mengikuti Sundari. Karena ingin dia ketahui apa yang akan diperbuat gadis itu terhadap orang yang disebut Tuan Barja. Pendekar Naga Putih itu sengaja memperlambat larinya, agar tidak diketahui Dewi Tangan Merah.

Tidaklah terlalu sulit untuk menemukan rumah kediaman orang yang bernama Subarja atau biasa dipanggil Tuan Barja itu. Setelah bertanya pada salah seorang penduduk desa itu, Dewi Tangan Merah langsung melesat ke arah sebuah rumah besar dan megah. Tampak di depan pintu gerbang rumah besar itu dua orang tukang pukul Subarja tengah bertugas menjaga. Sementara itu dengan langkah ringan, Sundari meng-hampiri pintu gerbang. Melihat kedatangan seseorang, dua orang penjaga itu segera menahan langkah Dewi Tangan Merah.

"Nini, berhenti...!" perintah salah seorang dari kedua penjaga, sambil menghadang pintu masuk.

"Eh! Mengapa menahanku? Apakah kawan kalian belum memberitahu?" tanya Dewi Tangan Merah sambil bertolak pinggang disertai senyum mengejek.

"Bangsat! Rupanya kaulah perempuan liar itu!" bentak keduanya sambil menghunus pedang. Tanpa dikomando mereka langsung menerjang Dewi Tangan Merah dengan serangan gencar.

Bagai burung walet, Sundari bergerak cepat menghindari serangan kedua orang penjaga itu. Dan tahu-tahu kedua tangannya meluncur bagai kilat!

Desss! Bukkk!

"Ahhhkkk...!" Kedua orang penjaga Itu tidak sempat lagi mengelak dari dua telapak tangan Sundari yang halus itu. Mereka terjungkal sambil memuntahkan darah segar dan langsung menggeletak pingsan.

Dewi Tangan Merah itu langsung melesat ke arah bangunan utama rumah Tuan Barja. Sementara angin sore bersilir lembut, seolah olah memberikan semangat kepada Dewi Tangan Merah.

DUA

"Hei, Subarja! Keluar kau...!" teriak Dewi Tangan Merah lantang. Teriakan yang didorong tenaga dalam tinggi itu, bergema ke seluruh pelosok rumah besar milik Tuan Barja.

Sebenarnya Dewi Tangan Maut tidak perlu berteriak seperti itu, karena belasan sosok tubuh yang memang sudah tahu kedatangannya telah berloncatan dari dalam gedung dengan gerakan gesit. Dan mereka langsung bergerak mengurung Dewi Tangan Merah, dengan berbagai macam senjata. Dari cara mengurungnya, Dewi Tangan Merah dapat menilai kalau tingkat kepandaian mereka rata-rata cukup tangguh. Jadi Dewi Tangan Merah tidak perlu mengulur-ulur waktu lagi. Begitu tangannya bergerak, sebatang pedang yang bersinar kehijauan sudah tergenggam di tangan kanannya.

"Hm.... Majulah, monyet-moyet busuk! Hari ini aku akan mengajak kalian untuk menikmati kematian. Haaaiiittt…!" segulung sinar kehijauan berkelebatan disertai suara mengaung tajam, membuat para pengurungnya serentak berloncatan mundur.

Seeenggg!

Mengetahui kekuatan yang terkandung di dalam sambaran pedang bersinar kehijauan itu cukup berbahaya para pengeroyok Dewi Tangan Merah tidak berani memapaknya. Belasan tukang pukul Tuan Barja itu ber-gulingan ke kiri dan kanan, sambil bertukar posisi. Di lain saat, tubuh mereka mencelat dan melakukan serangan dari segala penjuru secara bergolongan. Sebuah serangan balasan yang berbahaya dan telah diperhitungan cermat!

Dewi Tangan Merah memutar pedang untuk melindungi tubuhnya dari ancaman senjata lawan yang bagai-kan air hujan itu. Sinar kehijauan bergulung-gulung menyelimuti seluruh tubuh ramping berbaju merah itu.

Trang! Trang! Trang!

Beberapa buah pedang lawan yang hampir menyentuh tubuhnya, berpatahan terlanggar pedang pusaka di tangan Sundari. Terdengar seruan-seruan tertahan dari para pengeroyok, yang merasa terkejut melihat keampuhan senjata Dewi Tangan Merah. Kesempatan seperti itu tidak dilewatkan begitu saja oleh Dewi Tangan Merah. Cepat-cepat tubuhnya berkelebat disertai sambaran pedangnya. Terdengar jerit kematian merobek udara, ketika pedang sinar hijau di tangan Sundari berkelebat membabat tubuh dua orang lawan yang berada paling dekat dengan-nya. Dua orang tukang pukul Tuan Barja itu terjungkal tewas tanpa dapat bangkit lagi!

Bukan main marahnya para tukang pukul Tuan Barja ketika melihat dua orang kawan mereka telah menjadi korban pedang bersinar kehijauan lawannya itu. Kembali mereka menerjang Sundari dengan serangan serangan lebih ganas dan berbahaya. Senjata-senjata mereka berkelebatan bagaikan iblis-iblis haus darah!

Dewi Tangan Merah menangkis dua batang pedang yang meluncur ke tubuhnya. Tapi sebelum sempat membalas, kembali dua batang pedang lainnya mengancam dari arah belakang. Cepat Sundari bergulingan ke kiri, sambil menusukkan pedangnya ke salah seorang dari pem-bokongnya. Orang itu menjerit tertahan ketika pedang di tangan Sundari menembus lambungnya. Tanpa dapat dicegah lagi orang itu ambruk ke tanah sambil memegangi lambungnya yang mengucurkan darah segar!

"Tahaaan...!" tiba-tiba terdengar bentakan yang dibarengi melayangnya sesosok tubuh ke tengah pertempuran. Sosok tubuh tinggi kurus itu berdiri tegak di hadapan Sundari dalam jarak dua tombak.

"Hm..., Dewi Tangan Merah! Rupanya suatu nama besar telah membuatmu menjadi sombong dan tidak memandang muka kepada orang lain. Tapi di sini, kau jangan jual lagak, perempuan liar!" bentak orang bertubuh tinggi kurus itu. Suaranya melengking bagaikan suara seorang wanita saja layaknya. Pandang matanya yang tajam dan berpengaruh itu, membuat Dewi Tangan Merah merasa berhati-hati untuk menghadapi orang ini.

"Huh, cacing kurus kurang makan! Kalau aku tidak salah lihat, bukankah kau yang berjuluk Setan Pemburu Mayat? Hi hi hi.... Tidak kusangka kalau kau begitu merendahkan dirimu sehingga menjadi anjing peliharaan Tuan Barja! Apakah kau kurang makan, cacing kurus?" ujar Dewi Tangan Merah sambil tertawa menghina

Mendengar hinaan itu, bergetar sekujur tubuh orang yang berjuluk Setan Pemburu Mayat itu. Dengan sebuah gerengan murka, tubuhnya meluruk ke arah Dewi Tangan Merah dengan kedua tangan terkembang.

"Bresss!" Debu mengepul tinggi ketika sepasang lengan Setan Pedang Pemburu Mayat yang bertenaga kuat mengenai tempat kosong. Memang, Sundari sudah lebih dahulu menghindar disertai sebuah tendangan kilat yang mengancam kepala lawan. Cepat-cepat Setan Pemburu Mayat merendahkan tubuhnya sambil berputar dengan kaki terjulur menyapu kaki Dewi Tangan Merah. Sundari segera menarik pulang kaki dan melempar tubuhnya ke belakang. Empuk sekali menjejakkan kakinya, sejauh tiga tombak dari lawannya.

"Siapkan jala...!" perintah Setan Pemburu Mayat.

Belasan tukang pukul yang semenjak tadi hanya berdiri menonton pertarungan tersebut bergegas berlari mengambil jala. Rupanya laki-laki kurus itu tidak ingin berlama-lama menghadapi Dewi Tangan Merah. Meskipun sebenarnya tingkat kepandaian mereka tidak jauh atau bahkan mungkin seimbang. Tidak beberapa lama kemudian, delapan orang tukang pukul Tuan Barja telah siap dengan jala di tangan masing-masing. Kelihatannya jala itu terbuat dari semacam akar pepohonan yang liat dan alot. Tak main-main, jala itu sudah diberi ramuan khusus sehingga tidak mudah putus. Bahkan oleh pedang sekalipun.

Delapan tukang pukul itu sudah berloncatan mengitari Dewi Tangan Merah yang menjadi tegang karena keadaannya sekarang benar-benar terancam! Sebelum delapan orang itu bergerak, tiba-tiba terdengar angin tajam berkesiutan, menuju Dewi Tangan Merah.

Sundari menjadi terkejut sekali melihat dua buah sinar putih berkelebat cepat saling susul-menyusul! Gadis jelita itu segera bergulingan menghindarkan serangan maut yang dilakukan Setan Pemburu Mayat. Rupanya laki-laki itu telah menggunakan sepasang pedang berukuran satu depa lebih.

Setan Pemburu Mayat memang bukan tokoh kosong belaka! Karena ke mana pun tubuh Dewi Tangan Merah menghindar, sepasang pedang bercagak itu selalu membayanginya. Tentu saja hal ini membuatnya bergidik ngeri. Sehingga pada satu ketika, terpaksa harus ditangkis serangan lawan dengan pedangnya!

Dan akibatnya benar-benar di luar dugaan Sundari! Entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu saja pedang di tangan lawan berputar dan membelit pedangnya! Sebelum Dewi Tangan Merah itu menyadari keadaannya, pedang yang di tangan kiri lawan sudah meluncur menebas pergelangan tangannya yang memegang pedang. Terpaksa Sundari melepaskan pedangnya dan bergulingan meng-hindari sabetan berikutnya dari pedang lawan. Dalam keadaan terdesak, gadis itu masih sempat melepaskan sebuah pukulan jarak jauh mengandung tenaga 'Tangan Pasir Merah' yang menjadi ilmu andalannya.

"Wuuusss!" Seketika serangan angin panas terlontar dari sepasang tangan Sundari yang sudah berubah berwarna merah sebatas siku. Angin itu terus meluncur, dan langsung menerpa tubuh Setan Pemburu Mayat yang tidak sempat lagi menghindar!

Blukkk!

"Huaaakkk...!" Tubuh Setan Pemburu Mayat terdorong mundur sejauh sepuluh langkah. Mulutnya memuntahkan darah segar yang berwarna agak kehitaman. Ternyata pukulan. 'Tangan Pasir Merah' yang mengenai dada kirinya itu, telah membuat laki-laki kurus itu terluka dalam. Setan Pemuru Mayat berdiri terhuyung-huyung sambil menekap dadanya yang bagaikan terbakar itu. Tampak kulit dadanya berwarna agak kehitaman, sedangkan baju di bagian tubuhnya telah hancur bagaikan di makan api.

"Kakang Logar, kau tidak apa apa...?" tanya salah seorang kawannya, sambil memburu ke arah Setan Pemburu Mayat yang ternyata bernama Logar itu.

"Gunakan jala itu untuk menangkapnya, goblok! Kuntilanak itu harus dapat ditangkap hidup-hidup!" bentak Setan Pemburu Mayat atau Logar penuh kemarahan.

Kedelapan orang tukang pukul Tuan Barja yang memegang jala itu segera berputar untuk mengaburkan pandangan Dewi Tangan Merah. Sedangkan Logar juga sudah menerjang kembali dengan sepasang pedangnya yang berbahaya itu. Maka Dewi Tangan Merah yang sudah tidak bersenjata itu benar-benar kerepotan dibuatnya.

Di tengah serangannya yang menderu-deru itu, tiba-tiba tubuh Logar melompat jauh ke belakang. Dan pada saat yang sama, dua buah jala terlontar ke arah Dewi Tangan Merah. Gadis itu segera bergulingan untuk menghindarkannya. Namun ketika berdiri, sebuah jala lain tahu-tahu saja telah mengurungnya. Dewi Tangan Merah meronta-ronta berusaha keluar dari jala itu.

Desss!

"Ouggghhh...!" Dewi Tangan Merah mengeluh pendek, ketika sebuah tendangan keras telah menghantam punggungnya!

Ternyata Logar berbuat curang. Tubuh Dewi Tangan Merah langsung terjerembab ke depan. Darah segar mulai mengalir dari celah-celah bibirnya. Namun tiba-tiba saja, tubuh para tukang pukul yang memegang jala beterbangan bagaikan diamuk angin topan dahsyat! Terdengar teriakan-teriakan ngeri dari mulut mereka. Lima orang di antaranya ternyata telah tewas dengan tubuh membiru, seolah-olah diserang hawa dingin hebat! Sedang tiga orang lainnya tergeletak pingsan setelah menggigil hebat, bagaikan orang terserang demam tinggi!

Logar dan para tukang pukul yang lainnya tersentak mundur dengan wajah pucat pasi. Mereka sama sekali tidak mengetahui, apa yang telah terjadi pada delapan orang kawannya itu. Dan mata mereka menjadi terbelalak ketika memandang seorang pemuda tampan berjubah putih, yang dengan tenangnya membebaskan Dewi Tangan Merah dari kurungan jala tadi.

"Ah, rupanya Kakang Panji lagi, terima kasih! Kedatanganmu benar-benar tepat sekali," ujar Dewi Tangan Merah sambil tersenyum manis, ketika mengenali pemuda berjubah putih yang telah menolongnya itu.

Pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji dan lebih dikenal sebagai Pendekar Naga Putih itu, cepat memberikan sebutir ramuan berupa pil berwarna hijau. Tanpa bertanya lagi, Sundari segera menelannya. Beberapa saat kemudian, dirasakan hawa yang hangat berkumpul di pusar untuk kemudian menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Dan kini tubuhnya kembali terasa segar seperti semula.

"Adik Sundari. Kau pergilah ke dalam, dan cari orang yang bernama Subarja itu. Biar aku yang mengatasi mereka!" tegas Panji dengan suara tenang

"Baiklah, Kakang! Kalau begitu, aku pergi dulu...!" seru Dewi Tangan Merah. Setelah berkata demikian, tubuh ramping itu pun berkelebat memasuki bangunan besar itu.

Setan Pemburu Mayat dan para tukang pukul Tuan Barja segera bertindak untuk menghalangi Sundari. Namun sebelum dapat mengejar gadis itu, sebuah bayangan putih berkelebat menghadang mereka.

"Heh, Anak Muda! Apa maksudmu mencampuri urusan kami? Bukankah kita belum saling berurusan?!" bentak Logar dengan suara garang.

Meskipun Logar melihat apa yang telah menimpa pada kedelapan orang kawannya tadi, namun ia masih meragukan kebenarannya. Apakah benar pemuda tampan itu yang melakukannya, atau ada orang lain yang membantu dua orang muda itu secara sembunyi-sembunyi?

"Hm.... Di antara kita memang tidak ada urusan, Kisanak! Tapi ketahuilah, bahwa kehadiranku dan Dewi Tangan Merah ke sini adalah sebagai wakil para nelayan yang telah diperas tenaganya oleh majikanmu," jawab Panji, masih tetap bersikap tenang tanpa menunjukkan amarah sedikit pun

"Siapa kau sebenarnya, Anak Muda?! Dan apa hubunganmu dengan para nelayan di sini?!" tanya Logar sambil menggeram marah.

"Sudahlah, Kakang! Untuk apa bertanya lagi. Bunuh saja pemuda usilan itu, habis perkara!" seru salah seorang kawannya yang rupanya sudah tidak sabar mendengar pembicaraan itu.

"Benar, Kakang. Bunuh saja dia!" seru yang lain, ikut mendukung perkataan kawannya tadi.

"Hm... Jadi mau kalian begitu? Lalu mengapa tidak segera dilakukan? Apa lagi yang kalian tunggu?" tantang Panji sambil tersenyum lebar.

"Bangsat! Kau makanlah senjataku! Hiaaattt...!" Dengan kemarahan yang menggelegak, salah seorang yang berbicara tadi segera menerjang Panji dengan ayunan pedangnya. Namun sebelum pedangnya menyentuh tubuh pemuda sakti itu, tiba-tiba orang itu terjungkal terhantam telapak tangan Panji yang telah dialiri 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Orang itu berkelojotan sesaat, kemudian tewas dengan dada remuk!

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Logar dan para tukang pukul lainnya menyaksikan kawan mereka tewas dalam segebrakkan saja. Seketika wajah mereka menjadi pucat, dan mata terbelalak seakan-akan tidak mempercayai kejadian itu. Tanpa sadar Logar dan kawan-kawannya melangkah mundur dengan hati diliputi kegentaran!

"Siiiapppaaa... kau, Anak Muda...?" tanya Logar, suaranya begitu kering. Sambil berkata demikian, matanya memperhatikan mayat kawan kawannya. Mungkin saja dia dapat mengenalil tokoh persilatan yang memiliki ilmu pukulan berhawa dingin luar biasa seperti itu.

"Apakah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" sentak Logar.

Dia kini teringat seorang pendekar muda yang telah mengguncangkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmunya yang dahsyat. Dan menurut cerita, pendekar muda itu berwajah tampan dan selalu mengenakan jubah putih. Ada selapis kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti tubuhnya. Tapi karena belum menyaksikan ciri-ciri yang terakhir dari pendekar itu, maka Logar pun masih sangsi akan dugaannya.

"Begitulah, julukan yang diberikan orang kepadaku," jawab Panji tanpa merasa bangga sedikit pun pada julukannya.

"Huh! Siapapun kau, maka atas perbuatanmu ini berarti telah menanamkan bibit permusuhan dengan Partai Rimba Hitam! Dan kau akan menyesali perbuatanmu hari ini!" ancam Logar yang terpaksa membuka kedoknya guna menakut-nakuti Panji. Karena biar bagaimanapun, Logar masih merasa gentar akan kepandaian lawannya yang masih muda itu.

Namun alangkah kecewanya hati Logar ketika melihat lawannya sama sekali tidak terkejut terhadap ancamannya. Karena memang, Panji belum pernah mendengar partai yang misterius itu. Dan tentu saja ancaman Logar itu sama sekali tidak mengejutkannya. Sebaliknya, pemuda itu malah mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

"Hm..., apa maksudmu dengan ancaman itu? Dan partai macam apa, Partai Rimba Hitam itu? Bisakah kau menjelaskannya?" tanya Panji penasaran.

Karena sudah terlanjur membuka kedok, maka Logar pun segera menjelaskan tentang Partai Rimba Hitam. Maksudnya agar lawan menjadi gentar dan tak lagi mencampuri urusannya. "Nah! Oleh karena itu, sayangilah nyawamu, Anak Muda. Karena dengan mencampuri urusanku berarti juga telah berurusan dengan seluruh anggota Partai Rimba Hitam!" jelas Logar menutup keterangannya. Terbayang senyum kemenangan di bibirnya karena merasa yakin lawannya pasti akan gentar mendengar keterangannya.

Tapi sayang dugaan Logar kembali meleset! Panji memang terkejut ketika mendengar keterangan Logar tentang Partai Rimba Hitam itu. Namun, keterkejutannya bukan karena gentar. Melainkan karena justru mencurigai partai itu sebagai biang keladinya. Dan mungkin orang-orang Partai Rimba Hitam itulah yang telah menculik Suntara dan Rahayu.

"Hm.... Kalau begitu, kau harus tunjukkan padaku, dimana markas Partai Rimba Hitam itu!" Begitu ucapannya selesai, tubuh pemuda itu langsung melesat ke arah Logar dengan totokan-totokan yang cepat bagai kilat! Panji memang berniat menahan lawannya hidup-hidup, karena merupakan satu-satunya petunjuk yang dibutuhkan.

Bukan main terperanjatnya Logar melihat lawannya yang bukannya gentar, tapi malah semakin ganas serangannya. Maka Logar menjadi kewalahan menghindar! serangan Panji yang luar biasa cepatnya itu. Dalam beberapa jurus saja Logar sudah terdesak hebat! Setelah lewat sepuluh jurus, Logar tidak mampu lagi untuk menghindari sebuah totokan tangan kanan Panji yang meluncur deras ke arahnya

Tukkk!

"Ughhh...!" Logar mengeluh pendek. Tubuhnya kontan ambruk bagaikan sehelai karung basah ketika totokan pemuda itu mendarat telak dan melumpuhkannya. Namun belum lagi Panji sempat mendekati tubuh lawannya, tiba-tiba terdengar desingan senjata-senjata gelap yang mengancam dirinya. Panji menjejakkan kakinya ke tanah, maka seketika tubuhnya langsung melenting ke atas. Cepat bagai kitat, tangannya mengibas untuk meruntuhkan beberapa buah senjata yang masih mengancamnya.

"Bangsat curang...!" gerutu Panji begitu kakinya mendarat di tanah. Dan kegeraman pemuda itu bertambah ketika didapati tubuh Logar sudah tak bernyawa lagi, karena tertancap beberapa buah senjata di tubuhnya. Dengan penuh kemarahan, Panji segera berkelebat ke arah asal senjata-senjata gelap tadi. Setelah beberapa lama mengitari tempat itu, pemuda itu menjadi kecewa karena sama sekali tidak menemui apa yang dicarinya itu.

"Tunggulah pembalasan Partai Rimba Hitam, Pendekar Naga Putih...!" samar-samar terdengar ancaman dari kejauhan.

Ketika mendengar suara itu, tubuh Panji kembali berkelebat ke arah asal suara tadi. Lagi-lagi pemuda itu harus menelan kekecewaan karena sama sekali tidak menemukan apa-apa. Dengan langkah lesu Pendekar Naga Putih itu kembali ke tempat kediaman Tuan Barja untuk menemui Dewi Tangan Merah yang masih berada di situ.

"Dari mana saja kau, Kakang ..?" tegur Dewi Tangan Merah ketika Panji memasuki pekarangan rumah kediaman Tuan Barja itu. Sementara di sebelahnya seorang laki-laki setengah tua dan berkepala setengah botak, tertunduk dengan wajah pucat.

"Hm.... Jadi inikah orangnya yang bernama Tuan Barja itu?" tanya Panji tanpa menjawab pertanyaan Sundari.

"Benar, Kakang," jawab Sundari. "Nah, bandot tua. Sekarang ucapkanlah janjimu di hadapan Pendekar Naga Putih!" Sundari mendorong tubuh laki-laki gendut itu hingga terjajar ke depan.

Laki-laki gendut yang bernama Subarja itu menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Pendekar Naga Putih sambil mengucapkan janjinya. Suaranya terdengar gemetar.

"Kau ingat-ingatlah, Subarja! Apabila terdengar kau mengulangi perbuatanmu lagi, maka Dewi Tangan Merah dan Pendekar Naga Putih akan datang untuk mengambil kepala botakmu! Mengerti?!" bentak Dewi Tangan Merah yang membuat tubuh Subarja semakin gemetar.

"Baik... baik, aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Dan aku akan berusaha membantu nelayan-nelayan di desa ini, Nini Pendekar," ucap Tuan Barja terputus-putus sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang agak botak itu.

"Eh, Kakang. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?" ujar Sundari ketika keduanya melangkah bersisian meninggalkan kediaman Tuan Subarja.

Mendengar pertanyaan itu, Panji kembali teringat kejadian yang benar-benar membuatnya amat penasaran. Segera diceritakan pengalamannya itu kepada Sundari, sehingga gadis itu pun menjadi penasaran dan marah dibuatnya.

"Hm.., jadi Setan Pemburu Mayat itu adalah salah seorang anggota Partai Rimba Hitam. Pantas saja berani berlagak. Rupanya dia mempunyai andalan yang tidak tanggung-tanggung. Hm.... Kalau begitu, kita harus mencari keterangan tentang letak markas Partai Rimba Hitam itu. Mari, Kakang...!" sambil berkata demikian Sundari segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari mendahului Panji.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menggenjot tubuhnya dan langsung melesat menyusul Dewi Tangan Merah. Dalam beberapa saat saja tubuhnya sudah dapat disejajarkan di sebelah gadis itu. Diam-diam Dewi Tangan Merah ini semakin kagum akan kepandaian pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu.

********************

TIGA

"Berhenti...!"

Sepuluh orang laki-laki gagah serentak menghentikan langkahnya ketika mendengar bentakan itu. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling pandang satu sama lain dengan wajah heran. Namun, sikap kesepuluh orang itu terlihat tenang sekali, seolah-olah tidak merasa khawatir oleh suara bentakan yang menggelegar tadi.

Tiga tombak di depan, tampak belasan laki-laki berwajah bengis berdiri menghadang perjalanan sepuluh orang itu. Seorang laki-laki brewok yang merupakan pimpinan para penghalang itu melangkah ke depan. Lagaknya dibuat sewibawa mungkin, tapi justru memuakkan. Laki-laki brewok itu menatap ke arah sepuluh orang laki-laki gagah itu satu persatu, seperti seorang panglima perang yang sedang memeriksa barisan pasukannya.

"Hm.... Hendak ke mana, kalian? Mengapa begitu tergesa-gesa?" tanya laki-laki brewok itu sambil bertolak pinggang dengan lagak sombong. Seolah-olah dia sedang bertanya kepada anak buahnya, sehingga sama sekali tidak memandang sebelah mata pun kepada sepuluh orang laki-laki gagah itu.

Seorang di antara sepuluh laki-laki gagah itu, melangkah ke depan mewakili kawan-kawannya yang lain. Wajahnya terlihat apik dan berwibawa. Ketenangannya menandakan kalau dia adalah orang sabar dan berpandangan luas. Sengaja dia mendahului untuk meng-hindari hal hal yang tidak diinginkan.

"Maafkan kami, Kisanak. Kami sedang menghadapi sebuah persoalan yang sangat pribadi dan sangat mendesak sifatnya. Maka ijinkanlah kami lewat. Sekali lagi kami mohon maaf," ucap laki-laki gagah itu sambil mem-bungkuk hormat

"He he he.... Kau pikir kami tidak tahu ke mana tujuanmu, Pendekar Tangan Sakti?! Bukankah kalian ingin mengunjungi Gunung Salaka? Nah, kalau begitu bersiaplah! Kami akan segera mengantar agar kalian lebih cepat tiba di sana untuk menemani si Tua Surya Kencana!" ujar laki-laki brewok itu. Suaranya bernada menghina sekali.

Laki-laki gagah yang ternyata berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu terkejut sekali ketika mendengar perkataan laki-laki brewok di depannya itu. Sama sekali tidak disangka kalau dirinya dapat dikenali. Lebih-lebih ketika laki-laki brewok itu menyebut-nyebut Gunung Salaka dan Ki Surya Kencana. Tanpa sadar Pendekar Tangan Sakti melangkah mundur sejauh lima tindak! Meskipun wajahnya masih terlihat tenang, namun sinar matanya berkilat tajam

Kesepuluh orang laki-laki gagah itu memang hendak mengunjungi Gunung Salaka setelah mendengar kematian Ki Surya Kencana. (Untuk lebih jelasnya baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Algojo Gunung Sutra).

Memang orang nomor dua di Perguruan Gunung Salaka itu adalah guru kesepuluh orang itu. Mereka meninggalkan Perguruan Gunung Salaka, karena ingin meluaskan pengalaman. Begitu mendengar guru mereka tewas, para murid Perguruan Gunung Salaka yang tengah mencari pengalaman itu pun segera berbondong-bondong mengunjungi perguruan untuk memastikan kebenaran berita itu. Dan tanpa disangka, tahu-tahu perjalanan mereka dihadang belasan orang yang sama sekali tidak menunjukkan sikap bersahabat

"Hm..., siapa kau sebenarnya? Dan apa maksud menghadang perjalanan kami?' tanya laki-laki yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu. Pendekar Tangan Sakti yang benar-benar terpukul atas kematian gurunya yang tanpa diketahui siapa pembunuhnya menjadi curiga kepada laki-laki kasar di depannya ini. Dan kini, laki-laki brewok itu tampaknya sangat memusuhi Perguruan Gunung Salaka. Memang bisa jadi orang ini mempunyai hubungan dengan pembunuhan gurunya. Apalagi melihat sikap laki-laki brewok yang mencurigakan itu.

"He he he..., Pendekar Tangan Sakti! Demikian lemahkah ingatanmu sehingga tidak mengenaliku lagi? Apakah kau sudah lupa kejadian setahun yang lalu? Bukankah gadis itu sudah menjadi istrimu?" ujar laki-laki brewok itu, mengingatkan.

Kening Pendekar Tangan Sakti berkerut dalam. Jelas, dia tengah berpikir keras. "Ya, aku ingat sekarang!" jawab laki-laki gagah itu setelah berpikir sesaat. "Lalu, apa maumu sekarang, Setan Kali Gantang! Apakah ingin membalas dendam?" Pendekar Tangan Sakti mulai waspada ketika mengenali laki-laki brewok yang menghadangnya itu. Tatapan matanya tajam, mengawasi orang di depannya.

"He he he...., kira-kira begitulah!" jawab laki-laki brewok yang berjuluk Setan Kali Gantang itu. Sikapnya benar-benar memandang rendah lawan.

Melihat sikap lawan yang sepertinya begitu yakin dapat mengalahkannya, Pendekar Tangan Sakti tidak mau bertindak ceroboh. Maka segera dipersiapkan tenaga dalamnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Sementara kawan-kawannya sudah pula menghampiri ketika melihat sikap Pendekar Tangan Sakti yang seperti akan bertarung itu. Namun sebelum kesembilan orang kawan Pendekar Tangan Sakti bertindak, tiba-tiba...

"Seraaanggg...!" teriak laki-laki brewok yang berjuluk Setan Kali Gantang.

Belum juga gema suara itu hilang, laki-laki kasar itu sudah mencabut sebilah golok besar dari pinggangnya. Langsung saja diterjangnya Pendekar Tangan Sakti. Sementara pendekar itu langsung berkelit dan membalas dengan pukulan-pukulan yang menimbulkan desir angin tajam. Dalam waktu singkat saja, keduanya segera terlibat pertarungan sengit dan mati-matian.

Demikian pula belasan orang anak buah Setan Kali Gantang. Mereka sudah berlompatan menyerbu sembilan orang kawan Pendekar Tangan Sakti. Yang segera menyambut dengan tidak kalah ganasnya. Bunga api berpijaran ketika senjata-senjata dari kedua belah pihak berbenturan sehingga menimbulkan suara berdering yang memekakkan telinga. Kilatan kilatan pedang dan golok berkelebatan dan menyambar-nyambar mencari sasaran. Akibatnya membuat pertempuran itu semakin ramai dan sengit!

Setelah bertempur selama kurang lebih lima jurus, sembilan orang kawan Pendekar Tangan Sakti terkejut sekali. Ternyata kepandaian lawan-lawan mereka ternyata cukup hebat! Tidak heran kalau mereka yang telah digembleng di Perguruan Gunung Salaka itu harus mengeluarkan seluruh kemampuan. Gerakan-gerakan lawan ternyata cukup gesit dan membingungkan. Seolah-olah belasan orang itu memang sudah dipersiapkan sejak lama! Dan hal itu benar-benar di luar dugaan mereka.

Sedangkan pertarungan Pendekar Tangan Sakti melawan Setan Kali Gantang tampak berlangsung seimbang. Pendekar itu memang pernah mengalahkan Setan Kali Gantang pada setahun yang lalu. Tapi kini hatinya merasa terkejut sekali melihat kemajuan lawannya. Padahal, dulu Setan Kali Gantang dapat dikalahkan tak lebih dari sepuluh jurus. Kini belasan jurus telah dilalui, namun Pendekar Tangan Sakti belum juga dapat mendesak lawannya. Apalagi untuk mengalahkan. Dan hal ini benar-benar mengejutkan baginya.

Pada jurus kedelapan belas, Pendekar Tangan Sakti mulai mengeluarkan salah satu ilmu andalan perguruannya 'Sebelas Jurus Penahan Ombak'. Jurus ini diciptakan Ki Tunggul Jagad untuk menahan serangan yang bagaimana pun hebatnya. Di dalam jurus itu terkandung pukulan-pukulan tersembunyi yang dapat dilontarkan secara mendadak, dan sama sekali tidak diduga lawan Setan Kali Gantang tersentak kaget, ketika setiap serangan yang dilakukan bagaikan membentur benteng yang tak tampak.

Beberapa kali tubuhnya terdorong mundur dan terhuyung-huyung ketika melakukan serangan gencar. Meskipun demikian, semangat Setan Kali Gantang memang patut dipuji. Hatinya sama sekali tidak merasa gentar. Diiringi sebuah teriakan parau, Setan Kali Gantang memutar-mutar golok besarnya hingga menimbulkan angin menderu-deru. Tubuhnya melesat diiringi suara mengaung yang ditimbulkan golok besarnya.

Pendekar Tangan Sakti mempercepat gerakan tangannya untuk menghalau serangan lawan. Disertai hentakan keras, tubuhnya segera berputar sehingga bacokan Setan Kali Gantang hanya mendapatkan tempat kosong. Namun gerakan Pendekar Tangan Sakti tidak sampai di situ saja. Tangan kanannya yang berputar itu, tiba-tiba mencelat cepat bagai kilat menuju lambung lawan!

Bukan main terkejutnya Setan Kali Gantang ketika melihat serangan mendadak itu. Sedangkan pada saat itu dirinya dalam keadaan membacok. Sehingga, kesempatannya untuk menghindar pupus sudah.

Desss!

"Aaakkkhhh...!" Setan Kali Gantang menjerit tertahan ketika pukulan yang dilancarkan Pendekar Tangan Sakti menghantam lambung. Tubuh laki-laki brewok itu melintir bagai putaran gangsing. Belum lagi dapat mengatur kuda-kuda-nya, tiba-tiba tubuh Pendekar Tangan Sakti sudah mencelat mengejarnya. Tidak sampai di situ saja, pendekar itu langsung mendorongkan kedua telapak tangannya sepenuh tenaga!

Bukkk!

Setan Kali Gantang menjerit tinggi ketika sepasang lengan yang dialiri tenaga dalam penuh itu menggedor dadanya. Kontan tubuh laki-laki itu terjungkal dan ambruk di tanah sejauh satu setengah tombak. Darah segar mengalir dari celah-celah bibirnya yang memucat. Setelah memuntahkan darah segar beberapa kali, tubuh Setan Kali Gantang itu diam tak bergerak lagi, tewas dengan dada hancur.

Pada saat yang bersamaan terdengar pula jerit kematian yang merobek angkasa. Empat sosok tubuh telah terjerembab dalam keadaan tewas. Perut dan lambung mereka masing-masing robek ditembus senjata. Salah seorang di antaranya adalah murid Gunung Salaka yang sebelumnya telah menewaskan dua orang lawannya.

Pertempuran kembali berlangsung sengit. Korban dari pihak anak buah Setan Kali Gantang kembali berjatuhan ketika salah seorang murid Gunung Salaka membabatkan pedangnya sehingga merobek perut dua orang lawannya. Pendekar Tangan Sakti yang telah terjun dalam arena pertempuran kembali, telah pula merobohkan seorang lawan dengan pukulan ampuhnya. Dan hal itu semakin menambah semangat kawan-kawannya.

Para pengeroyok yang kini tinggal tiga belas orang itu, menjadi kalang kabut menghadapi gempuran murid-murid Gunung Salaka. Kini mereka hanya dapat bertarung sambil mundur, karena rasa gentar telah mulai menguasai hati mereka.

Brettt! Brettt!

"Ouuuggghhh...!" Terdengar suara senjata yang mengenai sasaran. Lima orang penghadang kembali terjerembab dengan tubuh berlumuran darah! Mereka tewas tersambar lima batang pedang yang dikelebatkan murid-murid Gunung Salaka yang telah haus darah itu. Tentu saja hal itu semakin menambah ciut hati para lawan. Mata mereka pun mulai liar, mencari-cari kesempatan untuk meloloskan diri. Namun kesembilan Pendekar Gunung Salaka itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada musuh-musuh-nya untuk meloloskan diri.

Namun pada saat para penghadang yang kini tinggal delapan orang itu kalut, tiba-tiba melesat tiga sosok bayangan yang langsung memasuki kancah pertempuran. Begitu ketiga sosok bayangan itu menggerakkan tangannya, tiga orang pendekar dari Gunung Salaka kontan terjungkal ke belakang dihantam oleh pukulan bertenaga dalam tinggi. Darah segar mengalir dari sela-sela bibir mereka. Dengan gerakan limbung, tiga orang Pendekar Gunung Salaka itu mencoba bangkit berdiri.

"Ha ha ha..., cecurut-cecurut Gunung Salaka! Sebentar lagi kalian akan menyusul si tua bangka Surya Kencana itu!" ujar salah seorang dari tiga bayangan itu, sambil tertawa pongah. Wajahnya yang berwarna kuning memang mudah dikenali. Siapa lagi kalau bukan Ular Muka Kuning yang telah menewasakan Ki Surya Kencana!

Sedang sosok yang kedua adalah seorang wanita cantik berambut merah. Kepandaiannya juga tidak bisa dipandang rendah, karena termasuk salah seorang tokoh golongan sesat yang kejam dan genit. Kesenangannya adalah menggaet pemuda-pemuda tampan. Entah sudah berapa banyak pemuda tampan yang telah jadi korban rayuan dan kecantikannya. Tapi, begitu merasa bosan, maka korbannya akan dibunuh dengan mulut tersenyum. Sehingga, dalam dunia persilatan ia dijuluki Setan Cantik.

Dan yang sangat mengejutkan hati para pendekar Gunung Salaka itu, adalah orang ketiga. Tubuhnya jangkung dengan sebaris kumis lebat menghias wajahnya itu. Jelas-jelas hal ini membuat mata para pendekar Gunung Salaka terbelalak bagai melihat hantu di siang bolong!

"Ki Ageng Sampang...!" teriak mereka berbarengan, dengan wajah pucat

"Ki Ageng! Apa..., apa maksudnya semua ini...?" seru Pendekar Tangan Sakti, kebingungan.

Memang, bagaimana hati pendekar itu tidak menjadi bingung? Sebab, selama ini dia mengenal Ki Ageng Sampang adalah sahabat guru mereka, Ki Surya Kencana. Tapi, mengapa sekarang tahu-tahu orang tua yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu, berpihak kepada tokoh-tokoh sesat? Padahal Ki Ageng Sampang yang selama ini mereka kenal adalah orang tua yang sabar dan bijaksana. Tentu saja hal itu sangat membingungkannya.

"Ha ha ha...! Rupanya kau belum mengerti maksudku, anak bodoh! Ketahuilah bahwa kedatanganku ke sini untuk mengantarmu menemui Ki Surya Kencana. Nah, ber-siaplah," ujar orang yang berwajah Ki Ageng Sampang itu, dingin. Dan begitu ucapannya selesai, tubuh jangkung itu segera melayang ke arah Pendekar Tangan Sakti yang masih berdiri bagai orang linglung.

"Wuttt!" Sambaran tangan orang tua jangkung itu hebat sekali. Serangkum angin dingin berhembus mendahului gerakan tangannya. Untunglah Pendekar Tangan Sakti cepat me-rendahkan tubuhnya, sehingga serangan orang tua itu lewat beberapa rambut di atas kepalanya. Kalau tidak, pasti batok kepalanya remuk terkena hantaman itu! Begitu serangan itu berhasil dielakkan, tubuhnya pun mencelat ke belakang untuk menghindari serangan berikutnya.

Pendekar Tangan Sakti yang menyadari siapa lawannya, segera mengempos semangatnya. Dikerahkannya seluruh tenaga dalam untuk memainkan ilmu 'Menggetar Langit Mengacau Bumi'. Ilmu ini merupakan andalan Guru Besar Gunung Salaka, Ki Tunggul Jagad. Orang tua itu memang telah mewariskan ilmu-ilmu tingkat tinggi kepada setiap muridnya yang memiliki bakat bagus dalam ilmu silat. Dan salah seorang yang beruntung adalah Pendekar Tangan Sakti. Dan dalam urutan perguruan, Pendekar Tangan Sakti dapat disejajarkan dengan tokoh perguruan lainnya seperti Santiaji dan Ranjita. Maka dapatlah diukur sampai di mana kepandaian yang dimiliki pendekar itu.

Dengan ilmu yang jarang digunakan, Pendekar Tangan Sakti menyerang sepenuh tenaga orang yang bertubuh jangkung itu. Angin keras berputar, ketika Pendekar Tangan Sakti melancarkan serangan ke arah lawan! Kedua tangannya bergerak sallng susul menyusul disertai desiran angin tajam, sehingga jubah lawan berkibaran.

Tapi sayang tenaga dan kematangan ilmu yang dimiliki Pendekar Tangan Sakti masih belum mampu menandingi musuhnya. Sehingga biarpun telah dikerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja tidak dapat mendesak lawan yang memang berkepandaian jauh lebih tinggi darinya. Orang tua bertubuh jangkung yang menyamar sebagai Ki Ageng Sampang itu bergerak lincah menghindari setiap serangan yang dilancarkan Pendekar Tangan Sakti dengan mulus. Bahkan sesekali masih sempat melontarkan pukulan berbahaya ke arah pendekar itu.

Sementara itu, delapan orang Pendekar Gunung Salaka lain sudah pula terlibat dalam pertarungan yang berat sebelah. Mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk membendung serangan Ular Muka Kuning dan Setan Cantik yang dibantu delapan orang penghadang tadi. Tentu saja keadaan itu membuat delapan orang Pendekar Gunung Salaka terdesak hebat! Kalau saja Ular Muka Kuning dan Setan Cantik tidak dibantu delapan orang lainnya, tentu delapan Pendekar Gunung Salaka itu masih dapat mengimbanginya. Namun sekarang? Maka, keadaannya pun kini menjadi terbalik.

Pada jurus kesembilan belas, tiga orang dari para Pedekar Gunung Salaka itu menjerit tinggi. Tubuh mereka terlempar akibat pukulan yang dilontarkan Ular Muka Kuning dan Setan Cantik. Tiga orang pendekar itu terbanting dengan isi perut hancur. Tewas seketika. Melihat keadaan itu, bukan main marahnya hati para Pendekar Gunung Salaka! Tapi biar menggunakan seluruh tenaga dan kepandaian, tetap saja keadaan mereka tidak berubah! Bahkan lebih buruk dalam menghadapi lawannya.

Brettt! Brettt!

"Aaakh.!" Kembali terdengar jerit kematian yang dibarengi melambungnya dua orang Pendekar Gunung Salaka yang lainnya. Ternyata mereka tersambar pedang lawan dan tewas seketika dengan luka memanjang di tubuh. Tiga orang lainnya yang tersisa seketika tersentak mundur disertai wajah pucat. Hati mereka benar-benar terpukul menyaksikan kawan-kawannya dibantai di depan mata tanpa mampu berbuat apa-apa

Di arena lain, keadaan Pendekar Tangan Sakti pun tidak berbeda jauh. Keadaannya, bagai telur di ujung tanduk yang sewaktu waktu jatuh dan hancur. Diam-diam hati Pendekar Tangan Sakti mengeluh ketika merasakan kalau kepandaian lawannya ternyata sangat tinggi. Apalagi ketika mendengar suara jerit kematian kawan-kawannya. Hati Pendekar Tangan Sakti bagaikan teriris. Memang mereka sama sekali tidak mengetahui apa sebabnya hingga orang-orang itu sampai menyerang mereka.

Desss!

"Aaahhhkkk...!" Tubuh Pendekar Tangan Sakti terjungkal ketika sebuah tendangan sangat keras dari lawannya telah menghantam dadanya! Darah segar menyembur diiringi teriakannya yang parau. Ternyata Pendekar Tangan Sakti harus membayar mahal akibat kelalaiannya itu! Di saat tubuhnya masih bergulingan, serangan lawannya kembali datang untuk segera membinasakan Pendekar Tangan Sakti.

Wuttt! Plakkk!

"Aihhh...!" Pukulan maut yang semula hendak menghabisi nyawa Pendekar Tangan Sakti itu, berhasil disampok oleh sesosok bayangan merah yang tiba-tiba saja melesat di antara keduanya. Namun, bayangan merah itu menjerit tertahan dan tubuhnya terpelanting akibat menangkis pukulan yang bertenaga dalam kuat itu! Meskipun demikian, bayangan merah itu telah berhasil menyelamatkan nyawa Pendekar Tangan Sakti dari kematian!

Berbarengan dengan kejadian itu, ditempat Iain, tiga orang Pendekar Gunung Salaka tengah terdesak hebat. Mereka tak dapat lagi menyelamatkan diri dari sabetan senjata tiga orang lawannya.

Brettt! Brettt!

"Aaahk...!"

Bresss!

"Wuaaa...!"

Tubuh ketiga orang Pendekar Gunung Salaka itu terpelanting tersabet senjata lawan-lawannya! Darah segar menghambur keluar dari luka yang menganga di tubuh mereka. Ketiganya terbanting tewas seketika tanpa ampun lagi.

Pada saat ketiga orang Pendekar Gunung Salaka itu terpelanting, mendadak meluncur ke tengah arena sesosok tubuh yang mengeluarkan sinar berwarna putih keperakan. Kedua telapak tangannya didorongkan ke depan. Seketika serangkum angin yang berhawa dingin luar biasa berhembus keras, bagaikan badai salju yang menggetarkan udara di sekitar arena pertarungan itu.

Ular Muka Kuning, Setan Cantik, dan kedelapan orang lainnya, langsung terjengkang bagaikan diterpa angin topan dahsyat! Tiga orang terdepan yang telah menewaskan tiga Pendekar Gunung Salaka, kontan tewas dengan tubuh kebiruan! Sedangkan lima orang lainnya bergelimpangan pingsan, akibat dorongan dahsyat itu.

Hanya dua orang yang masih dapat bertahan akibat dorongan luar biasa tadi. Mereka adalah Ular Muka Kuning dan Setan Cantik! Namun, Keduanya tetap saja tak luput dari serangan pukulan berhawa dingin luar biasa itu. Tubuh dua tokoh itu menggigil bagaikan terserang demam tinggi! Cepat-cepat mereka mengatur pernapasan untuk mengusir hawa dingin yang mengeram dalam tubuh.

"Pendekar Naga Putih...!" teriak Ular Muka Kuning dan Setan Cantik berbarengan, dengan wajah memucat! Keduanya tersentak mundur dengan gerakan limbung. Pandangan mata mereka terpancar rasa gentar yang tak dapat disembunyikan.

EMPAT

Memang tidak salah apa yang diteriakkan Ular Muka Kuning dan Setan Cantik itu. Di hadapan mereka berdiri sesosok tubuh yang terselimut selapis kabut putih keperakan! Siapa lagi kalau bukan Pendekar Naga Putih, yang datang bersama Dewi Tangan Merah.

"Kakang Panji, mereka itu tokoh-tokoh sesat yang berjuluk Ular Muka Kuning dan Setan Cantik! Sedangkan orang tua bertubuh jangkung itu kalau tidak salah si Setan Muka Seribu!" kata Dewi Tangan Merah yang tahu-tahu saja sudah berada di samping Panji, bersama Pendekar Tangan Sakti yang telah ditolong oleh bayangan merah, dan ternyata Sundari. Dan memang tidak mampu kalau untuk melindungi Pendekar Tangan Sakti terus-menerus dari ancaman Setan Muka Seribu yang memiliki kepandaian lebih tinggi darinya.

"Eh! Bagaimana kau bisa mengenali mereka, Adik Sundari? Apakah kau pernah bertemu atau mengenal mereka sebelumnya?" tanya Panji sambil menolehkan kepala menatap gadis jelita berbaju merah itu. Masalah-nya, dalam usia semuda itu Sundari sudah memiliki pengetahuan luas tentang tokoh-tokoh rimba per silatan. Benar-benar seorang gadis hebat!

"Tentu saja mengenal mereka. Bahkan pernah merasakan kelihaian masing-masing! Dan di antara mereka bertiga, hanya Setan Muka Seribu-lah yang paling tinggi kepandaiannya. Rasanya aku pun tidak akan sanggup untuk menghadapinya, Kakang," jawab Dewi Tangan Merah sejujurnya.

"Tapi, bagaimana kau bisa mengenali Setan Muka Seribu yang kini menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra?" tanya Panji penasaran.

"Benar! Sedangkan aku saja masih dapat ditipuya, hingga tidak mengenali sama sekali!" timpal Pendekar Tangan Sakti juga merasa heran, kerena ia sendiri tidak dapat membedakannya.

"Semula aku memang menganggap orang tua itu sebagai Algojo Gunung Sutra. Tapi ketika menangkis pukulannya yang diarahkan kepada Pendekar Tangan Sakti, aku baru dapat mengenali. Sebab pukulan yang digunakannya sudah pernah membuatku terluka dalam! Bahkan mungkin akan tewas, kalau saja pada saat itu guruku tidak datang menyelamatkanku. Itulah sebabnya, Kakang. Mengapa aku dapat mengenali manusia busuk yang sangat berbahaya itu. Rasanya aku tak sabar ingin melihat dia pergi ke neraka!" Dewi Tangan Merah mengakhiri cerita. Kata-katanya yang terlontar memang mengandung kegemasan.

"Hm..., berarti satu teka-teki terjawab sudah. Pantas saja Paman Ranjita sampai tidak dapat membedakan antara Algojo Gunung Sutra yang asli dan yang tiruannya. Bahkan aku sendiri pun tidak dapat membedakan, apabila tidak bertanding dulu sebelumnya atau melihat gerakannya!" ujar Panji. Setelah berkata demikian, kembali dilayangkan pandangannya ke arah tiga tokoh sesat yang juga telah berkumpul itu.

"Huaaakkk...!" tiba tiba Pendekar Tangan Sakti kembali memuntahkan darah berwarna agak kehitaman! "Uh, rupanya pukulan iblis itu telah mengakibatkan luka cukup parah dalam dadaku," keluh Pendekar Tangan Sakti yang wajahnya agak memucat. Sementara kedua tangan menekap dadanya yang terasa nyeri dan sesak

"Cepatlah telan obat ini, Paman. Obat ini manjur sekali untuk menyembuhkan luka dalam akibat pukulan-pukulan beracun," Pendekar Naga Putih, menyerahkan sebutir pil berwarna hijau.

Pendekar Tangan Sakti segera menerima pil itu, dan tanpa ragu-ragu lagi segera dimasukkan ke dalam mulut-nya. Beberapa saat setelah menelan pil yang berwarna hijau itu, Pendekar Tangan Sakti mulai merasakan keampuhan obat yang diberikan Pendekar Naga Putih. Hawa hangat mulai menebar dari bawah pusarnya dan terus mendorong ke dada. Tidak lama kemudian, Pendekar Tangan Sakti kembali memuntahkan segumpal darah kental berwarna kehitaman. Dan kini berangsur-angsur tubuhnya segar dan ringan. Dengan penuh rasa heran segera dicobanya untuk mengerahkan hawa murni. Dan kembali pendekar itu merasa terheran-heran, ketika merasakan aliran hawa murninya lebih kuat dari semula.

"Wah! Obat ini sungguh hebat, Panji! Terima kasih atas pertolongan memberikan obat itu kepadaku," ucap Pendekar Tangan Sakti sambil berkali-kali mem-bungkukkan tubuhnya kepada Panji, dengan wajah berseri-seri

"Ah! Sudahlah, Paman. Di antara kawan sendiri mengapa harus sungkan-sungkan," ujar Pendekar Naga Putih yang bersikap wajar, seolah-olah sama sekali tidak ingin dipuji.

Setelah berkata demikian, Panji segera melangkah mendekati tiga tokoh sesat yang telah membuat geger dunia persilatan. Bahkan sepak terjangnya telah meresah-kan dua buah partai besar yaitu Perguruan Gunung Salaka dan Perguruan Gunung Sutra. Akibatnya kedua pertai besar itu saling memusuhi satu sama Iain. (Untuk lebih jelas, baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Algojo Gunung Sutra)

"Hm.... Setan Muka Seribu, apa maksudmu membuat kemelut dalam rimba hijau? Akibatnya kau tahu?! Telah terjadi permusuhan antara tokoh-tokoh golongan putih dari dua partai terbesar pada saat ini? Tidakkah kau sadar bahwa perbuatanmu itu telah memecah belah rimba persilatan golongan putih? Dan kau tahu, hukuman apa yang pantas untukmu apabila kau kuhadapkan kepada mereka?" ancam Panji dengan sinar mata berkilat penuh kemerahan. Meskipun demikian, sikap pemuda digdaya itu masih saja terlihat tenang. Kalau saja sinar mata itu tidak berkilat, pasti ketiga tokoh sesat itu akan terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang bernada bodoh itu.

"Huh! Pendekar Naga Putih. Janganlah kau kira kami takut pada ilmu-ilmumu yang mengerikan itu! Ketahuilah, bahwa pada saat ini kau tengah berhadapan dengan orang-orang Partai Rimba Hitam! Dan akan kau rasakan akibatnya, karena berani mencampuri urusan kami," ujar Setan Muka Seribu disertai tawa yang tidak enak didengar telinga.

"Partai Rimba Hitam...! Bagus! Memang aku sudah lama ingin mengetahui macam apa partai yang kau sebutkan itu. Dan aku harus dapat menyeretmu menghadap Ketua Perguruan Gunung Salaka dan Gunung Sutra untuk memperjelas persoalannya. Nah! Bersiaplah!" belum lagi gema suaranya hilang, tiba-tiba tubuh pemuda sakti itu sudah melesat ke arah tiga orang tokoh sesat yang memang sudah bersiap sejak tadi.

Wuttt!

Serangkum angin dingin berhembus keras mendahului serangan yang dilancarkan Panji. Selapis kabut tipis putih keperakan sudah pula menyelimuti sekeliling tubuhnya. Suatu tanda bahwa pendekar muda itu telah mengerahkan lebih dari separuh tenaga saktinya. Betapa hebat serangan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih itu.

Ketiga orang tokoh sesat yang sudah memiliki pengalaman bertanding dan selama malang melintang dalam rimba persilatan, merasa terkejut sekali ketika merasakan hawa di sekitarnya menjadi sangat dingin. Seolah-olah mereka bertiga dikelilingi dinding-dinding salju yang tak tampak. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya dapat terpaku kebingungan.

Dan ketiganya baru tersentak pucat, ketika serangan Panji hampir saja merenggut nyawa mereka. Dengan gerakan terburu-buru, mereka segera berlompatan mundur untuk menghindari serangan yang mengandung hawa maut itu! Setelah berhasil menghindari serangan Panji, ketiganya segera menyebar dan menyerang pemuda digdaya itu dari tiga jurusan.

Menghadapi keroyokan Ular Muka Kuning, Setan Cantik, dan Setan Muka Seribu, bukanlah suatu hal yang mudah. Sebab ketiganya adalah tokoh golongan hitam yang memiliki kepandaian tinggi. Rasanya jarang orang yang dapat menghalangi kejahatan mereka. Sehingga, nama ketiga tokoh sesat itu, bukanlah nama asing bagi dunia rimba hijau. Tak heran kalau Panji menjadi sibuk menghadapinya. Sehingga untuk beberapa jurus lamanya, ia masih belum dapat mendesak lawan lawannya itu. Bahkan setelah melewati belasan jurus, beberapa serangan lawan-lawannya hampir mengenai tubuhnya. Tentu saja hal itu sangat mengagetkan hati Pendekar Naga Putih itu.

Panji memang mengetahui kalau tiga orang lawannya adalah tokoh-tokoh sesat berkepandaian tinggi. Namun yang dialami justru di luar dugaannya sama sekali. Sehingga, hampir saja tubuhnya terluka oleh pukulan-pukulan lawan yang memang berbahaya itu. Dan hal itu merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi Panji!

Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang melihat keadaan Panji, segera melesat dan langsung memasuki arena pertempuran. Mereka segera memilih lawan masing-masing. Dewi Tangan Merah segera menghadang serangan Setan Cantik. Dalam beberapa saat saja kedua orang wanita yang sama-sama cantik dan berilmu tinggi itu, segera teriibat dalam pertarungan sengit! Serangan-serangan yang dilancarkan Setan Cantik, memang tidak bisa dianggap remeh! Jari-jari kedua tangannya yang berkuku runcing itu benar-benar merupakan senjata yang sangat ampuh dan berbahaya. Kecepatan gerakan kedua tangannya memang patut dipuji!

Di saat kedua tangan Setan Cantik berputar, Dewi Tangan Merah membungkukkan tubuhnya sambil merendahkan kuda-kudanya. Sehingga, kedua tangan yang saling susul menyusul itu lewat di atas kepalanya. Namun tanpa disangka-sangka tahu-tahu saja tangan kanan Setan Cantik hampir mencapai lehernya!

Tidak percuma kalau Sundari dijuluki Dewi Tangan Merah. Karena meskipun dalam keadaan sulit, dia masih dapat menyelamatkan lehernya dari cengkraman kuku-kuku lawan. Denyan sebuah hentakan keras, tubuh Sundari melambung ke atas, setelah terlebih dahulu mengegoskan tubuhnya ke kiri. Hasilnya, cakaran Setan Cantik lolos, bahkan Sundari berhasil keluar dari kurungan sepasang tangan yang memiliki kecepatan mengejutkan itu.

"Huh! Setan belang! Rupanya kau tidak tahu dikasihi orang, heh! Kalau begitu terimalah hukuman dariku ini! Bersiaplah!" Dewi Tangan Merah segera mengeluarkan ilmu andalannya, 'Tangan Pasir Merah', yang telah mengangkat namanya dalam dunia persilatan! Pelahan-lahan kedua tangannya mulai memerah hingga sebatas siku. Hawa panas pun mulai menebar dari kedua belah lengan yang memerah itu.

"Haittt...!" dibarengi sebuah teriakan nyaring. Dewi Tangan Merah segera melancarkan serangan yang mengandung hawa panas.

Setan Cantik ternyata sudah pula mempersiapkan ilmu andalan untuk menghadapi lawan yang sudah beberapa kali bentrok dengannya itu. Dengan jurus 'Setan Cantik Menolak Rayuan', tubuhnya segera melesat memapak serangan lawan. Dan tanpa dapat dicegah lagi, kedua pasang tangan mungil namun berhawa maut itu pun berbenturan di udara.

Dubbb!

"Aihhh...!" Terdengar suara bagaikan api disiram air, berbareng terpentalnya dua sosok tubuh ramping beberapa tombak ke belakang. Juga, terdengar jeritan tertahan yang keluar dari mulut Setan Cantik. Tubuhnya terbanting ke tanah, namun dengan gerakan gesit segera melenting berdiri. Meski gerakannya terlihat sedikit limbung, tapi sama sekali tidak mengalami luka di tubuhnya. Hanya tangan bajunya yang hancur, akibat benturan tadi.

Dewi Tangan Merah yang tidak kurang suatu apa itu, kembali menyerang ganas Setan Cantik itu. Maka wanita dari golongan sesat itu segera menyambutnya. Seketika pertarungan dua wanita yang sama-sama cantik itu kembali terjadi. Semakin sengit dan mendebarkan!

Jurus demi jurus berlalu cepat. Dan tanpa disadari keduanya, mereka telah bertempur lebih dari lima puluh jurus. Dan setelah melewati jurus kelima puluh lima, jelas terlihat bahwa Dewi Tangan Merah mulai dapat menguasai lawannya. Gadis yang bernama Sundari itu memaksa lawannya untuk bermain mundur, tanpa sekali pun memberi kesempatan membalas. Hingga satu ketika, Setan Cantik terpaksa harus merelakan hantaman mengandung tenaga 'Pasir Merah' mampir di punggungnya.

Bukkk!

"Aughhh...!" tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Setan Cantik terpelanting keras. Tokoh sesat itu langsung memuntahkan darah agak kehitaman akibat pukulan yang dilontarkan Dewi Tangan Merah. Belum lagi Setan Cantik berhasil memperbaiki kuda kudanya, tahu-tahu tubuh Dewi Tangan Merah sudah melayang ke arahnya disertai sebuah tendangan maut!

Desss!

"Ngkkk…!" tubuh Setan Cantik terjerembab kebelakang, ketika tendangan terbang yang dilakukan Sundari tepat bersarang di dadanya! Setelah menggeliat sejenak, tubuh molek itu pun diam tak bergerak lagi. Dia tewas di tangan Sundari setelah melalui pertempuran melelahkan.

Baru saja Sundari dapat menarik napas lega, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan keras. Di susul kemudian dengan jatuhnya sesosok tubuh tegap di samping Dewi Tangan Merah. Gadis itu segera memburunya dengan wajah cemas.

"Kakang Wija, kau tidak apa-apa?" seru Dewi Tangan Merah sambil mengangkat tubuh yang tergolek di sampingnya itu.

Orang yang di panggil Wija itu segera berusaha bangkit dengan susah payah. Rupanya, dia adalah Pendekar Tangan Sakti yang bernama Wijasena. Memang, dia tadi memilih lawan Ular Muka Kuning untuk bertarung. Dan laki-laki bermuka kuning itu memang masih sedikit lebih unggul dari Pendekar Tangan Sakti. Pada kenyataannya, dia telah berhasil mendaratkan pukulan pada lambung Pendekar Tangan Sakti pada saat memasuki jurus keempat puluh sembilan.

Dewi Tangan Merah yang tengah berusaha menolong Pendekar Tangan Sakti, merasa terkejut sekali ketika merasakan sambaran angin tajam menuju ke arahnya. Cepat dikerahkan 'Tenaga Sakti Pasir Merah' yang disertai dorongan telapak tangannya sambil mengerahkan jurus 'Tangan Pasir Merah', ke arah sambaran angin keras itu.

Bresss!

"Aiii...!" Dewi Tangan Merah berseru tertahan ketika merasakan betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan lawan. Tubuhnya terdorong sejauh tujuh langkah. Lengannya terasa bergetar dan nyeri akibat benturan itu.

Sedangkan Ular Muka Kuning hanya terdorong sejauh empat langkah. Dari sini saja sudah dapat dinilai bahwa kepandaian laki-laki bermuka kuning itu lebih tinggi setingkat daripada Dewi Tangan Merah. Dan tentu saja hal itu membuat Ular Muka Kuning semakin berani melontarkan serangan-serangan, sehingga membuat Dewi Tangan Merah kewalahan.

Di arena lain, Setan Muka Seribu tengah berusaha mati-matian menyelamatkan diri dari ancaman cakar naga yang dilancarkan Pendekar Naga Putih. Gerakan pemuda sakti itu, benar-benar membuatnya kelabakan. Sebab ke mana saja tubuhnya mengelak, selalu saja tangan pemuda itu seolah-olah berada dekat tubuhnya. Sehingga Setan Muka Seribu merasa seperti bertarung melawan bayangannya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, betapa ngeri hatinya meng-hadapi kenyataan seperti itu.

Hingga pada jurus yang ketiga puluh satu, Setan Muka Seribu tidak dapat lagi menghindari sebuah hantaman kearah lambungnya. Kedua tangan Pendekar Naga Putih dengan jari-jari terbuka itu berkesiut membeset udara, dan kecepatannya sukar ditangkap mata biasa.

Wukkk! Tasss!

"Aughhh...!" Tubuh Setan Muka Seribu terguling ketika jari-jari tangan Panji yang dialiri 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', tepat menghantam lambungnya. Untunglah tenaga dalam yang dikerahkan Panji hanya separuhnya. Tubuh Jangkung itu terbungkuk-bungkuk menahan rasa nyeri yang luar biasa pada lambungnya. Giginya bergemeletukkan bagai orang kedinginan! Rupanya hawa dingin dari tenaga sakti Panji, ikut pula menambah beban orang tua yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra itu.

Dan sebelum Setan Muka Seribu dapat mengatasi keadaan, sebuah totokan maut telah melumpuhkan seluruh urat saraf di tubuhnya. Seketika tokoh itu ambruk bagaikan sehelai karung basah, akibat totokan Panji. Namun baru saja Pendekar Naga Putih akan membawanya, tiba-tiba terdengar suara mencicit tajam, dan dibarengi lesatan sesosok tubuh kurus ke arah Panji.

Menghadapi serangan yang mengandung tenaga dahsyat itu, Panji tidak ingin menanggung resiko. Cepat-cepat kedua tangannya bergerak disertai pengerahan tenaga saktinya. Serangkum angin dingin menebar menyongsong angin tajam tadi. Dan....

"Blarrr!" Hebat luar biasa akibat benturan dua gelombang tenaga sakti yang dahsyat itu! Ular Muka Kuning, Dewi Tangan Merah, dan Pendekar Tangan Sakti yang bertarung tidak jauh dari tempat benturan tadi, langsung terjengkang ke belakang.

Memang, secara tiba-tiba saja dirasakan sesuatu yang tak tampak telah menggetarkan dada mereka. Sehingga, jalan napas seolah-olah tertutup getaran udara yang ditimbulkan benturan dua gelombang tenaga dahsyat tadi. Sejenak ketiganya sama-sama terdiam dengan wajah memucat!

Sedangkan kedua orang yang mengalaminya secara langsung, tentu saja akibatnya lebih hebat lagi. Tubuh mereka masing-masing terpental ke belakang bagai sehelai daun kering tertiup angin. Dan masing-masing pula menabrak sebatang pohon hingga tumbang! Dengan gerakan limbung, keduanya segera bangkit dan sating menatap tajam. Di mata mereka masing-masing terpancar rasa kagum yang tak dapat disembunyikan

"Bocah setan! Gila! Tidak kusangka tenaga dalammu ternyata begitu kuat! Huh! Hampir saja aku dipecundangi dalam segebrakkan tadi."

Terdengar umpatan dari sosok bertubuh kurus dengan suara yang melengking tinggi. Tubuhnya yang hanya setinggi telinga Panji itu, tampak telah bongkok. Dari ciri-cirinya saja sudah dapat diduga kalau sosok itu adalah seorang nenek tua yang usianya sekitar enam puluhan tahun. Nenek itu terus mengomel panjang pendek tanpa mempedulikan yang lainnya.

"He he he.... Tidak percuma kau berjuluk Pendekar Naga Putih, bocah! Tenagamu lumayan. Eh murid siapakah kau, bocah?" tanya nenek bongkok itu sambil tersenyum. Namun senyum yang menurutnya adalah senyum yang paling manis itu, tidak lebih dari sebuah seringai yang membuat wajahnya semakin tak sedap dipandang.

"Hm.... Kau sudah mengenalku sebagai Pendekar Naga Putih, itu sudah cukup. Dan tidak perlu lagi bertanya-tanya tentang guruku! Sebaiknya segeralah kau sebutkan namamu, dan apa maksudmu mencampuri urusanku?" ucap Panji yang tidak menanggapi pertanyaan nenek bongkok itu, tanpa rasa gentar sedikit pun!

"Kurang ajar, bocah sombong! Apa dikira setelah kau mendapat julukan Pendekar Naga Butut dapat berbuat sesuka hati di hadapan Nyai Serondeng?! Huh! Kau memang harus merasakan kerasnya tongkat hitamku. Nah, bersiaplah bocah!" dengus nenek bongkok yang mengaku bernama Nyai Serondeng itu, sambil melintangkan tongkatnya di depan dada.

Terdengar angin berkesiutan ketika nenek itu menggerakkan tongkatnya secara mendatar. Tentu saja hal itu semakin membuat Panji terkejut dan berhati-hati. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera dicabut pedang yang selalu melilit di pinggangnya.

"Singgg!" Suara pedang di tangan Panji mengaung membelah udara. Panji yang telah merasakan kelihaian lawannya, rupanya tidak ingin mau main-main lagi. Kini dengan pedang di tangan, Pendekar Naga Putih siap-slap meng-hadapi serangan lawan.

Sementara itu, Nyai Serondeng sudah memutar-mutar tongkatnya di atas kepala. Hebat, luar biasa! Tiba tiba saja arena pertempuran, bagaikan dilanda angin topan dahsyat! Daun-daun kering dan debu beterbangan akibat angin yang ditimbulkan putaran tongkat Nyai Serondeng. Benar-benar seorang lawan yang tangguh buat Panji!

"Hebat! Siapakah sebenarnya nenek ini? Dan apa hubungannya dengan Setan Muka Seribu? Mengapa setiap kali Setan Muka Seribu dalam bahaya, ia selalu muncul untuk menolongnya?" gumam Panji, dalam hati.

"Kakang Panji, berhati-hatilah. Kepandaian nenek itu sangat tinggi. Bahkan menurut guruku, kepandaiannya lebih tinggi dari beliau sendiri!" Dewi Tangan Merah memperingatkan Panji, sambil menggenggam tangan pemuda digdaya itu.

Sementara itu, Pendekar Tangan Sakti yang juga telah berada dekat Panji, menjadi heran sekali. Karena, dalam seharian ini saja, ia telah bertemu tokoh-tokoh sakti yang jarang dilihatnya. Sejenak ia termenung memikirkan kejadian sebenarnya yang telah menimpa Perguruan Gunung Salaka, sehingga melibatkan sedemikian banyak orang berkepandaian tinggi?!

LIMA

"Yeaaattt...!" Diiringi sebuah pekikan panjang yang melengking nyaring, tubuh Nyai Serondeng melayang cepat bagai kilat ke arah Panji. Tongkat kepala ularnya menderu-deru dan berputar membentuk gulungan sinar yang berwarna kehitaman. Dan tahu-tahu saja, ujung tongkat itu telah meluncur ke dada Panji disertai suara mencicit tajam.

Pendekar Naga Putih yang telah menduga kehebatan lawannya, melenting ke atas dibarengi tusukan pedangnya yang mengancam ubun-ubun lawan. Namun dengan gerakan cepat luar biasa, tahu-tahu tongkat di tangan lawan telah berputar menangkis tusukan pedangnya. Panji yang mengetahui kalau posisinya sangat lemah dalam adu tenaga, segera menarik pulang senjatanya. Tubuhnya langsung berputar melampaui kepala lawan sambil melepaskan tiga buah tendangan berturut-turut

Plak! Plak! Plak!

Hebat! Dengan gerakan mengagumkan, Nyai Serondeng menggerakkan tangan sebanyak tiga kali. Maka serangan Panji kandas akibat tangkisan nenek sesat itu. Diam-diam perempuan itu terkejut juga ketika tangannya yang dipakai menangkis tadi terasa kesemutan.

"Hm.... Pemuda ini benar-benar berisi," puji Nyai Serondeng dalam hati.

Sedangkan Panji yang menerima tangkisan itu menjadi kaget ketika dari telapak tangan si nenek berhembus serangkum angin yang berhawa panas. Dan ini sempat membuat kakinya terasa nyeri untuk beberapa saat. "Gila! Tenaga nenek itu ternyata lebih hebat dari dugaanku semula!" gerutu Panji bernada penasaran.

Namun di balik rasa penasarannya, timbul pula kegembiraan karena saat ini telah menemukan lawan yang benar-benar tangguh. Dan sebagaimana sifat-sifat ahli silat pada umumnya, rupanya Panji pun telah pula bersifat demikian. Dia selalu ingin mencoba apabila ada orang yang memiliki kepandaian silat sebanding, atau bahkan lebih darinya. Dan untuk pertama kalinya, Panji telah pula terbawa sifat seperti itu tanpa disadarinya. Maka ketika merasakan kepandaian Nyai Serondeng yang belum tentu berada di bawah kepandaiannya, timbullah semangat Panji untuk menguji ilmunya.

Sementara itu, Nyai Serondeng kembali sudah menerjang mempergunakan tongkat kepala ularnya. Gagang tongkat itu berkelebat menyambar-nyambar tubuh lawan. Udara di sekitar arena pertarungan bagaikan bergetar, setiap kali tongkat berkepala ular itu bergerak bersilangan.

Hawa sedingin salju berhembus bila Panji mengibaskan pedangnya. Namun di lain saat, hawa di arena pertarungan segera berubah panas, karena hawa yang keluar dari sambaran-sambaran tongkat berkepala ular milik Nyai Serondeng!

Setelah merasakan kelihaian perempuan tua itu, kini Panji tidak ingin main-main lagi. Dengan mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya, pemuda itu segera menyambut dan membalas serangan Nyai Serondeng. Maka terjadilah pertarungan dahsyat dan mendebarkan. Kabut putih keperakan yang selalu menyelimuti tubuh Panji, semakin melebar karena pengerahan tenaga dalam yang hampir sepenuhnya itu. Hawa sedingin salju berhembus di sekitar arena pertarungan. Namun di lain saat, hawa di arena pertarungan segera berubah panas, karena hawa yang keluar dari sambaran-sambaran tongkat berkepala ular milik Nyai Serondeng.

Lima puluh jurus telah terlewati. Sampai saat ini, sama sekali belum terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan tingkat tinggi itu. Sedangkan arena pertarungan sudah porak-poranda akibat terlanggar senjata senjata mereka. Daun-daun pohon di sekitarnya berjatuhan karena pukulan maupun sambaran senjata masing-masing. Pada jurus yang kelima puluh delapan, Panji mulai melihat kelemahan pertahanan lawan. Segera saja ditusukkan pedangnya dengan penuh tenaga!

Siiinggg!

Suara angin pedang Pendekar Naga Putih mencicit tajam disertai hembusan angin yang menggigilkan tubuh. Dan kalau saja serangan itu mengenai sasaran dapat dipastikan akan tamatlah riwayat Nyai Serondeng!

Namun, Nyai Serondeng bukanlah tokoh sembarangan. Kepandaian nenek kurus ini, hebat sekali. Sehingga, tokoh-tokoh sesat seperti Ular Muka Kuning atau Setan Muka Seribu, sangat takut dan tunduk kepadanya. Dan selama puluhan tahun Nyai Serondeng berkeliaran di rimba hijau, entah telah berapa ratus nyawa yang telah direnggutnya secara kejam.

Memang, karena kepandaiannya yang tidak lumrah itu, sehingga nenek kurus itu dijuluki Nenek Tongkat Maut. Bahkan telah diangkat sebagai datuk sesat di wilayah Selatan. Jadi tidak heran kalau ia dapat mengimbangi permainan Panji. Bahkan bukan tidak mungkin kalau kepandaian keduanya berimbang! Nyai Serondeng terkejut ketika melihat pedang lawan-nya meluncur cepat ke arahnya. Karena tidak melihat jalan lain, perempuan itu segera menyabetkan tongkatnya me-mapak pedang Panji.

Tranggg!

Bunga api berpijar ketika dua buah senjata yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi itu, saling berbenturan di udara. Tubuh Panji dan Nyai Serondeng terpental akibat benturan yang maha dahsyat itu! Kedua orang sakti itu langsung berputaran beberapa kali di udara untuk mematahkan daya dorong benturan itu. Begitu mendarat di tanah, mereka segera memeriksa senjata masing-masing. Setelah memastikan kalau tidak mengalami kerusakan, kedua orang itu kembali saling bertatapan bagaikan dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga.

"Hm.... Sayang, aku tidak mempunyai banyak waktu, bocah! Biarlah lain waktu kita lanjutkan permainan yang menyenangkan ini," begitu ucapnya selesai, Nyai Serondeng melemparkan sebuah benda sebesar telur puyuh.

Darrr!

Pendekar Naga Putih Panji segera melenting ke belakang untuk menghindari asap pembius yang dilemparkan perempuan itu. Demikian pula Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang sudah melompat jauh ke belakang, menghindari gulungan asap tebal yang berwarna putih. Panji mengerutkan keningnya. Ketika asap itu hilang, hilang pula tiga orang musuhnya. Dan itu berarti lenyap pula petunjuk yang semula berada di depan mata. Pemuda sakti itu merasa terpukul, karena untuk kedua kalinya kembali terkecoh oleh Nyai Serondeng.

Dengan diikuti Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti, Panji mengayunkan langkahnya meninggalkan bekas arena pertarungan. Kini di tempat itu kembali sunyi, seperti tidak pernah terjadi apa apa. Yang ada kini hanya mayat Setan Kali Gantang dan anak buahnya, ditambah murid murid Perguruan Gunung Salaka Bau anyir darah mulai menyebar ke sekitarnya.

********************

Pendekar Naga Putih, Dewi Tangan Merah, dan Pendekar Tangan Sakti berjalan memasuki sebuah mulut desa. Jalan utama desa itu, tampak agak sepi. Di kanan kiri jalan, teriihat kedai-kedai makan yang hanya dikunjungi beberapa orang saja. Maklumlah hari mulai beranjak sore, sehingga para petani dan pedagang belum lagi menyelesaikan tugasnya. Masing-masing masih disibuki pekerjaannya.

Ketiga orang pendekar itu melangkah memasuki sebuah kedai makan yang letaknya agak di sudut jalan. Mereka sengaja memilih kedai yang terlihat agak sepi, agar dapat menikmati hidangan dengan tenang. Setelah mengambil tempat, ketiganya segera memesan makanan. Sebentar kemudian makanan tiba, dan mereka segera menyantapnya pelahan-lahan. Tidak satu pun dari ketiganya yang mengeluarkan suara. Entah sedang menikmati hidangan yang terasa lezat, atau tengah melamun. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Setelah menyelesaikan makan, Panji menggerakan tangannya memanggil pelayan yang tadi mengantarkan makanan untuk mereka.

"Paman, apakah kedai ini juga menyediakan kamar menginap?" tanya Panji kepada pelayan setengah tua.

"Oh! Ada... ada, Tuan Muda. Apakah Tuan bertiga ingin menginap di sini?" sahut palayan tua itu dengan wajah gembira. Wajarlah kalau dia merasa gembira sebab jarang sekali orang yang mau menginap di tempatnya. Pedagang-pedagang keliling atau pun pelancong, lebih suka memilih penginapan yang besar dan bagus.

Panji memesan dua buah kamar. Satu untuk Sundari dan satu lagi untuk dirinya dan Pendekar Tangan Sakti atau yang bernama Wijasena. Begitu selesai makan, ketiganya segera beranjak dari meja. Dan memasuki kamar yang telah disediakan.

Di dalam kamar penginapan, Wijasena yang semula hendak bertanya pada Panji segera mengurungkan niatnya. Ternyata dia melihat pemuda sakti itu tengah melakukan semadi. Dari desah napasnya yang halus, Wijasena tahu kalau pemuda itu telah tenggelam dalam semadinya. Maka segera diurungkan niatnya semula. Terdengar helaan napas beratnya. Sesaat kemudian, Pendekar Tangan Sakti pun merebahkan tubuhnya di atas balai-balai yang beralaskan tikar pandan. Pikiran Wijasena mengembara, mengingat kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya.

"Mengapa para penghadang itu tahu kalau aku adalah salah seorang murid Gunung Salaka? Dan mengapa pula mereka mengetahui bahwa aku berniat mengunjungi perguruan? Apakah betul kalau merekalah yang membunuh Ki Surya Kencana? Kalau benar, mengapa Ki Tunggul Jagad dan Ki Sukma Kelana mendiamkan saja hal Itu? Apa sebenarnya di balik semua peristiwa ini?"

Berbagai pertanyaan tanpa jawaban, terus terngiang di telinga Pendekar Tangan Sakti yang masih belum mengerti sesuatu yang telah terjadi diperguruannya. Dan hal itu semakin menambah penasaran hati Pendekar Tangan Sakti.

"Hm.... Apa pun yang terjadi, aku akan berusaha menyelidiki hal ini sampai tuntas!" janji Pendekar Tangan Sakti dalam hati.

Sementara di luar malam semakin larut. Angin berhembus sepoi-sepoi. Pendekar Naga Putih Panji yang semula tengah bersemadi, telah tertidur pulas di atas balai. Demikian pula halnya Wijasena. Sedangkan Dewi Tangan Merah Sundari yang berada di kamar sebelah, tampak tengah mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu. Entah mengapa, Sundari merasa gelisah sekali malam ini. Sebentar-sebentar terdengar helaan napasnya yang berat dan panjang. Kedua tangannya diremas-remas tanpa sebab. Gadis itu coba merapatkan telinganya ke dinding untuk mendengar suara suara dari kamar sebelah yang ditempati dua orang kawannya. Namun, ia kecewa ketika telinganya hanya menangkap tarikan napas halus dari Panji dan Wijasena.

"Hm... Apakah mereka tidak merasa gelisah sepertiku, hingga berdua dapat terlelap seenaknya," gumam Dewi Tangan Merah heran.

Memang baik Panji maupun Wijasena sama sekali tidak merasakan kegelisahan seperti yang dialaminya saat ini. Karena tidak tahu harus berbuat apa, maka Sundari memutuskan untuk bersemadi agar tenaganya tidak terbuang percuma.

Lewat tengah malam, terdengar suara anjing hutan bersahut-sahutan. Suara salakan anjing hutan yang meramaikan suasana malam itu, terasa bagaikan suara-suara iblis yang bergentayangan mencari mangsa. Angin dingin berkesiur membawa titik-titik air, sehingga suasana malam semakin menyeramkan.

Di tengah kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya bulan sabit itu, tampak lima sosok bayangan hitam mengendap-endap menuju penginapan Panji dan dua orang rekannya. Gerakan kelima bayangan hitam itu nampak lincah dan gesit. Langkah-langkah kaki mereka ringan, pertanda ilmu meringankan tubuh mereka terlatih baik.

Kelima sosok bayangan hitam itu terus bergerak menuju kamar Panji dan Sundari. Salah seorang dari mereka menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat agar memecah menjadi dua kelompok. Ketika cahaya bulan sedikit menerangi wajah mereka sekilas, tampak kain hitam menutupi wajah masing-masing lima bayangan hitam itu, sehingga sulit dikenali.

Kelompok pertama yang terdiri dari tiga orang itu melangkah hati-hati ke arah kamar yang dihuni Panji dan Wijasena. Sedangkan sisanya, menuju kamar Sundari. Seorang dari tiap kelompok telah menggenggam sebuah benda yang mirip pipa. Tiga orang yang menuju kamar Panji, berhenti dan menempelkan telinganya di dinding kamar. Beberapa saat kemudian ketika tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, salah seorang dari mereka, segera memasukkan benda sejenis pipa tadi melalui sebuah lubang di sela-sela jendela. Setelah benda itu masuk, orang itu segera meniupkan sesuatu ke dalam kamar Panji.

Panji yang semula tengah terlelap itu, tersentak bangun ketika telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang mencurigakan. Dan pemuda itu menjadi terkejut ketika melihat segumpal asap berwarna merah menerobos melalui sela-sela jendela kamarnya. Tanpa berkata apa-apa, tangannya bergerak memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya. Kemudian, Panji segera membangunkan Wijasena sambil menutup mulut pendekar itu. Diberikannya sebuah pil lain kepada pendekar itu sambil mengisyaratkan dan menunjuk-nunjuk ke jendela.

Pendekar Tangan Sakti kaget ketika mendapati kamarnya telah dipenuhi asap berwarna merah, dan berbau wangi yang memabukkan. Kedua orang pendekar itu kembali merebahkan diri di atas tempat tidur masing-masing untuk mengetahui maksud orang-orang yang mencoba membius mereka.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara jendela yang dibuka. Saat pintu jendela terbuka, tiga sosok tubuh yang mengenakan pakaian berwarna hitam hingga ke kepala berloncatan masuk tanpa menimbulkan suara yang mengejutkan. Diam-diam Panji mengagumi ilmu meringankan tubuh ketiga tamu tak diundang itu. Tiba tiba hati Panji dan Wijasena tersentak kaget ketika melihat orang-orang bertopeng itu mencabut senjata berupa sebatang pedang panjang melengkung. Kedua orang pendekar itu berusaha menahan diri untuk mengetahui apa yang diperbuat tiga orang bertopeng itu selanjutnya.

Ketiga manusia bertopeng itu menggerak-gerakkan pedangnya di atas tubuh kedua orang pendekar yang pura-pura telah terbius itu. Setelah tidak melihat adanya reaksi, ketiga orang bertopeng itu kembali menyarungkan senjatanya masing-masing. Dan tentu saja hal ini membuat kedua orang pendekar itu menjadi lega.

Dan selagi ketiga menusia bertopeng itu menyarungkan senjatanya, tiba-tiba Pendekar Naga Putih dan Pendekar Tangan Sakti bergerak secara berbarengan dan tidak terduga sama sekali! Mereka segera melompat secepat kilat sambil melepaskan totokan ke arah dua di antara tiga orang bertopeng itu.

Tentu saja ketiga orang bertopeng itu terkejut setengah mati! Buru-buru ketiganya berusaha menghindari totokan yang melumpuhkan itu. Namun biar bagaimanapun berusaha menghindar, tetap saja dua di antara ketiga tamu tak diundang itu ambruk terkena totokan Panji dan Wijasena. Sedangkan yang seorang lagi langsung melesat ketika menyadari kalau tak mungkin dapat menghadapi dua pendekar itu

Pendekar Naga Putih langsung menghentakkan kakinya ke lantai, maka seketika tubuhnya melambung melampaui kepala lawannya. Begitu dua kakinya mendarat di tanah, tubuh pemuda itu sudah menghadang jalan orang bertopeng yang hendak melarikan diri.

Bukan main terperanjatnya orang bertopeng itu ketika melihat mangsanya tahu-tahu telah berada di depannya. Merasa tidak mungkin lolos, maka dia segera menerjang Panji dengan ganasnya. Dibarengi sebuah bentakan nyaring, tubuh manusia bertopeng itu meluncur ke depan sambil membabatkan pedang.

"Wuttt!" Panji merendahkan kuda-kudanya sehingga pedang lawan lewat hanya beberapa rambut di atas kepalanya. Sebelum lawannya sempat merubah posisi, tangan Panji telah mencengkram ke arah bahu lawan. Namun meskipun kalap, rupanya orang bertopeng itu masih juga mampu mengontrol dirinya. Maka bergegas ditarik kaki kanannya ke belakang dibarengi gerakan tubuh, sehingga bobot tubuhnya ke belakang. Untunglah, serangan Panji pun berhasil dielakkannya

Tapi kegembiraan orang bertopeng itu rupanya tidak berlangsung lama. Sebab, Panji sudah dapat menduga gerakan lawan. Maka ketika orang bertopeng itu menggeser tubuhnya ke belakang, tahu-tahu saja tangan kiri Panji telah menotok dadanya secara cepat luar biasa.

Tukkk! Tukkk!

"Aaaahkkk...!" Orang bertopeng itu mengeluh pendek ketika totokan Panji mengenai tubuhnya. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh yang terbungkus pakaian hitam itu ambruk dalam keadaan lumpuh. Mata di balik kain hitam itu bergerak liar, sekejap kemudian memerah seperti darah! Terdengar suara mengorok dibarengi keluarnya darah berwarna hitam dari mulut si orang bertopeng yang telah lumpuh.

Bukan main terkejutnya Panji melihat kejadian yang sama sekali tidak disangka itu. Bergegas pemuda sakti itu mendekati lawannya yang dalam keadaan sekarat itu. Sekali pandang saja Panji tahu kalau nyawa orang itu sudah tidak mungkin dapat diselamatkan lagi.

"Gila! Ia lebih suka menelan racun ganas daripada rahasianya diketahui. Hm..., siapakah mereka dan apa maksud sebenarnya? Mengapa tidak langsung membunuhku saja tadi? Ataukah mereka ditugaskan untuk menangkapku hidup-hidup?" desah Panji tak mengerti.

Dan begitu Pendekar Naga Putih teringat kepada dua orang yang telah dilumpuhkan tadi, bergegas pemuda itu berlari ke arah kamarnya. Dua orang tawanan tadi memang masih ditunggui Pendekar Tangan Sakti Tetapi apa yang dilihat Panji adalah dua sosok mayat yang telah menghitam tengah dipandangi Pendekar Tangan Sakti. Wajah Wijasena membayangkan penasaran yang mendalam. Memang, baik Panji maupun Wijasena sama sekali tidak mengetahui apa dan siapa mereka sebenarnya?

"Mereka telah tewas beberapa saat yang lalu setelah kau pergi, Panji. Maafkanlah aku, karena tidak sempat mencegah perbuatan mereka," ucap Pendekar Tangan Sakti dengan wajah murung.

"Ah! Semua ini bukan kesalahanmu, Wijasena. Aku pun mengalami kejadian seperti itu, mereka lebih suka mati daripada rahasianya diketahui," sahut Panji, pelan. "Oh! Bagaimana dengan Dewi Tangan Merah? Ah, mengapa aku telah melupakannya...?!"

Tiba-tiba Panji teringat akan Sundari. Tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu segera menggenjot tubuhnya ke arah kamar gadis jelita itu. Pendekar Naga Putih tercekat hatinya ketika mendapati kamar Sundari ternyata telah kosong. Panji berdiri tegak memperhatikan setiap sudut kamar ini. Tampaklah buntalan pakaian gadis itu masih tergeletak di atas tempat tidurnya.

"Mana Sundari, Panji?" tanya Pendekar Tangan Sakti begitu tiba di situ.

"Entahlah. Tapi aku yakin, ia masih berada di sekitar penginapan ini. Rasanya tidak mungkin ia..., Hei! Wijasena! Tidakkah kau mendengar suara orang bertempur?!" seru Panji tiba-tiba sehingga Pendekar Tangan Sakti sampai terlonjak kaget. Tanpa menunggu kawannya. Panji segera melesat cepat luar biasa, menuju suara pertempuran tadi berasal.

Beberapa saat kemudian, Pendekar Naga Putih sudah tiba di tempat Dewi Tangan Merah tengah bertarung melawan dua orang bertopeng. Dari kejauhan, terlihat kalau kedua orang bertopeng itu mulai terdesak oleh pedang yang bersinar kehijauan di tangan Dewi Tangan Merah. Gulungan sinar kehijauan makin lama semakin mempersempit ruang gerak dua orang lawannya

Brettt!

"Aaakkkhhh...!" salah seorang dari dua orang bertopeng itu tidak sempat menghindari sambaran pedang gadis itu. Orang itu menjerit kesakitan dan tubuhnya pun terguling, menyemburkan darah segar yang keluar dari luka di perutnya. Sebentar dia meregang nyawa, lalu tewas dengan mata mendelik!

"Sundari, jangan bunuh...!" teriak Panji yang disertai luncuran tubuhnya menuju arah pertempuran! Selagi tubuhnya mengudara, pemuda itu langsung melancarkan totokan ke arah leher lawan Sundari.

Dewi Tangan Merah segera menarik pulang senjatanya ketika mendengar teriakan Panji. Dan begitu melihat sesosok bayangan putih melesat ke arena pertempuran, gadis itu pun menggeser tubuhnya untuk memberi peluang kepada pemuda itu.

Tukkk!

Tubuh orang bertopeng itu kontan ambruk ketika totokan tangan Panji mengenai leher dan tubuhnya. Dan dengan sigap, Panji segera memburu ke arah orang itu. Segera dibukanya mulut orang bertopeng itu secara paksa. Dari mulut orang itu, Panji menemukan racun yang tertanam di gusi. Cepat-cepat Panji mengeluarkan racun dengan mengerahkan tenaga saktinya, sehingga orang itu tidak merasa sakit. Begitu racun yang berada di mulut orang itu telah dibuang, bergegas pemuda itu membebaskan totokan pada leher lawan.

"Hm.... Sekarang tidak akan lolos lagi dari tanganku! Katakan apa tujuanmu memasuki kamarku?" tanya Panji setelah membebaskan totokan pada leher manusia bertopeng itu. Ternyata biarpun sudah tidak berdaya, namun orang itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Panji. Pendekar Naga Putih itu kembali mengulang pertanyaannya. Tapi, orang bertopeng itu tetap saja membisu.

"Hm..., baiklah! Apakah kau pikir kami tidak bisa menyiksamu?"

Setelah berkata demikian, tangan Panji bergerak melakukan totokan kembali. Tiba-tiba orang bertopeng itu berteriak setinggi langit untuk kemudian bergulingan ke tanah. Rupanya totokan yang dilakukan Panji barusan menimbulkan rasa sakit luar biasa pada diri orang itu.

"Oh... aduuuh... ampuuun... tobaaattt...!" beberapa waktu kemudian, orang bertopeng itu sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menyiksanya. Akhirnya, dia bersedia untuk memberikan keterangan yang diperlukan Panji.

"Nah! Begitu kan, lebih baik! Sekarang katakan, siapa yang telah menyuruhmu untuk menawan kami?" tanya Pendekar Naga Putih, tegas.

"Kami... kami... ouuuggghhh...!"

Orang bertopeng Itu belum lagi sempat memberikan jawaban, tiba-tiba sepasang matanya mendelik dan tubuhnya mengejang! Beberapa saat kemudian, ambruk dalam keadaan tak bernyawa. Dan ketika Panji memeriksa ditemukannya tiga batang jarum halus berisi racun ganas yang tertancap di belakang tubuh orang itu. Alangkah kecewanya Panji karena sama sekali tidak menduga kalau akan berakhir demikian. Sedang pada saat itu, ia tengah mencurahkan perhatian kepada jawaban orang bertopeng itu maka, sia-sialah usahanya itu.

"Hei, lihat!" tiba tiba Pendekar Tangan Sakti yang juga telah tiba di tempat itu menjadi terkejut. Ternyata ketika memeriksa tubuh orang bertopeng itu, ia menemukan rajahan di dada orang itu yang bertuliskan 'PARTAI RIMBA HITAM". Selain itu juga terdapat rajahan yang menggambarkan lambang Partai Rimba Hitam.

"Hm.... Orang-orang bertopeng ini pastilah anggota partai itu. Dan mungkin ada kaitannya dengan kemelut yang dihadapi Gunung Salaka," ujar Pendekar Tangan Sakti pelan, seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Hhh.... Kemanakah kita harus mencari keterangan tentang partai yang penuh rahasia itu?" desah Panji penasaran.

"Benar, memang sulit sekali! Dan petunjuk itu ada pada Ular Muka Kuning, Setan Muka Seribu, dan Nyai Serondeng. Hei…! Mengapa tidak didatangi saja kediaman nenek itu!" seru Dewi Tangan Merah tiba-tiba.

"Eh! Maksudmu, kau mengetahui siapa nenek tua itu, Sundari!" tanya Panji penuh harap.

"Benar! Aku baru teringat, kalau nenek itu adalah seorang datuk golongan sesat yang amat ditakuti di dunia persilatan. Dan ia kini menguasai daerah Selatan. Nah! Bukankah tidak terlalu sulit untuk mencarinya?" ujar Dewi Tangan Merah, berseri.

"Kalau begitu, ayolah! Tunggu apa lagi...!" sahut Pendekar Tangan Sakti sambil mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu.

Dewi Tangan Merah dan Panji ikut pula meninggalkan mayat orang bertopeng itu!

********************

ENAM

Keesokan paginya, setelah membayar ongkos penginapan, Panji, Wijasena dan Sundari bergegas meninggalkan tempat itu. Dan dari keterangan beberapa orang yang ada di penginapan, Panji menarik kesimpulan bahwa kediaman Nyai Serondeng yang berjuluk Nenek Tongkat Maut itu tidak berada di sekitar daerah itu. Memang tidak ada seorang pun yang pernah mendengar tentang nenek tersebut.

Ketiga pendekar itu meneruskan langkahnya menuju perbatasan desa. Mereka bermaksud mencari keterangan dari desa-desa yang dilalui. Dan kalau perlu, akan men-datangi perguruan-perguruan yang ditemui dalam perjalanan mereka. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih setengah hari, di hadapan mereka terbentang sebuah pedesaan diramaikan kesibukan para warganya. Mereka bergegas memasuki mulut desa, tanpa berkata sepatah pun. Ketika melihat kedai, Panji melangkahkan kakinya memasuki kedai makan yang terletak di tepi jalan. Sedangkan Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti segera mengikuti langkah kaki pemuda itu dari belakang.

"Hm.... Desa ini tampak cukup ramai. Siapa tahu kita dapat mencari keterangan di tempat ini," ujar Dewi Tangan Merah ketika mereka telah duduk di satu meja sambil menikmati hidangan.

"Sabarlah, Sundari. Biasanya di desa yang cukup ramai seperti ini, banyak orang usil yang selalu mencari-cari keributan. Maka kita harus bisa menjaga sikap agar tidak menarik perhatian," sahut Panji mengingatkan.

"Hm... Bagaimanapun kita bertiga tetap akan menjadi perhatian orang. Coba perhatikan sekelilingmu, Panji," tegas Pendekar Tangan Sakti merendahkan suaranya, agar tidak terlalu keras terdengar.

Panji segera mengedarkan pandang matanya ketika mendengar ucapan Wijasena. Dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat terkejut. Ternyata hampir semua mata para pengunjung kedai makan tengah menatap ke arah mereka bertiga. Puluhan pasang mata itu kontan menunduk ketika bertemu pandang dengan pemuda itu. Karena biar bagaimanapun, pandangan mata Panji tetap berbeda daripada pandangan mata orang pada umurnya. Di dalam sinar mata pemuda itu seolah-olah mengandung suatu pengaruh yang sulit dijabarkan.

"Mengapa mereka... aaahhh. Betapa bodohnya, aku!" Panji tidak meneruskan kata-katanya ketika secara tak sengaja memandang wajah Sundari. Dan pada saat itu ia langsung mengerti, mengapa puluhan pasang mata itu menatap ke arahnya. Sehingga tanpa sadar, Panji menepuk dahinya.

"Ada apa, Kakang Panji?" tanya Dewi Tangan Merah keheranan. Melihat sikap Pendekar Naga Putih yang tiba-tiba aneh itu.

"Ah! Tidak, tidak ada apa apa," jawab Panji, segera menyadari perbuatannya. Cepat Panji mengalihkan perhatiannya pada hidangan di atas meja untuk menghindari pertanyaan Sundari lebih lanjut.

Mendadak, para pengunjung kedai makan yang sedang menikmati hidangan itu serentak menolehkan kepalanya ke arah pintu, ketika terdengar suara ribut. Tidak lama kemudian terlihat belasan orang melangkah memasuki kedai. Sikap mereka tampak sangat kasar.

"Ha ha ha...! Rupanya langgananmu banyak juga, Gatar! Ayo, cepat. Sediakan uangnya untukku!" bentak salah seorang dari belasan laki-laki itu. Setelah berkata demikian, laki-laki itu menarik sebuah kursi di dekatnya dan langsung menginjakkan sebelah kaki di atasnya. Sikap laki-laki itu terlihat seperti sudah terbiasa bertindak demikian. Tampaknya, dia seorang pemungut upeti bagi para pedagang di desa itu.

"Oh, Tuan Gambalang kiranya. Silakan..., silakan, Tuan!" seorang laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun berlari tergopoh-gopoh menyambut laki-laki yang dipanggil Gambalang itu. Di tangannya tampak beberapa keping uang yang rupanya sudah disediakan untuk orang yang bernama Gambalang itu.

"Hhh! Mengapa hanya segini, Gatar! Bukankah kedaimu sudah maju? Mengapa kau semakin pelit saja?! Ayo, tambah lima keping lagi!" bentak Gambalang dengan suara mengguntur.

"Tapi..., tapi... Saya betul-betul tidak mempunyai..."

"Brakkk!" Sebuah meja di samping Gambalang, langsung hancur berantakan ketika telapak tangan Gambalang yang kokoh itu menghantam meja itu dengan kerasnya. Tubuh pemilik kedai yang bernama Gatar itu menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, bagaikan tak dialiri darah.

"Huh! Dasar orang tidak tahu diuntung! Sekarang, cepat berikan padaku sepuluh keping lagi! Dan permintaan akan semakin bertambah setiap kali kau membantah. Tahu?!" bentak Gambalang dengan wajah merah padam.

Beberapa pengunjung yang semula sedang menikmati hidangan, cepat-cepat bangkit dan meninggalkan kedai itu lewat pintu belakang. Sebentar saja kedai makan berubah menjadi sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan, termasuk Pendekar Naga Putih, Dewi Tangan Merah, dan Pendekar Tangan Sakti.

"Hm.... Tampaknya keadaan akan semakin memburuk, Panji! Jangan-jangan malah akan menular ke sini!" ujar Pendekar Tangan Sakti sambil melirik ke arah Sundari yang juga sedang memperhatikannya. Mata gadis itu langsung melotot ketika mendengar godaan yang ditujukan kepadanya.

"Huh! Hanya seekor cacing tanah, mengapa harus ribut!" tegas Sundari tanpa mempedulikan kedipan mata kedua orang temannya yang berusaha untuk mencegah.

Terlambat! Ternyata Gambalang yang memang pada saat itu tengah memandang ke arah mereka, segera bangkit ketika mendengar suara Sundari yang memang ditujukan kepadanya. Dengan langkah lebar, Gambalang menghampiri meja tempat duduk Panji, Sundari dan Wijasena.

"Hhh.... Untunglah kau yang mengucapkannya tadi, Bidadari Cantik! Kalau saja salah satu dari mereka, pastilah gigi salah satunya sudah tidak ditempatnya lagi!" gertak Gambalang. Suaranya sengaja diseram-seramkan sambil menunjuk ke arah Panji dan Wijasena.

Sikap yang ditunjukkan Gambalang itu sebenarnya telah cukup membuat telinga Pendekar Tangan Sakti memerah, tapi kemarahannya masih berusaha ditekan, memang dia tidak ingin mengecewakan Pendekar Naga Putih yang masih tetap tenang, seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh ejekan-ejekan yang dilontarkan Gambalang. Diam-diam Wijasena mengagumi sikap Panji yang demikian itu. Sama sekali amarahnya tidak terpancing, walaupun dihina sedemikian rupa.

"Setelah kau tahu, bahwa aku yang mengucapkan, kau mau apa?" tantang Dewi Tangan Merah tanpa rasa takut sedikit pun!

Memang, kejadian kejadian seperti ini sudah sering dialami Sundari. Dan kebanyakan dari orang-orang kasar seperti itu, hanyalah gentong-gentong nasi belaka. Mereka hanya mengandalkan sedikit kepandaian untuk memeras. Dan hal itulah yang paling tidak disukai Sundari atau orang-orang golongan putih umumnya.

"Ha ha ha...! Tentu saja tidak apa apa, Manis," jawab Gambalang sambil berusaha melemparkan senyum manis yang dimiliki. Tapi sayang, yang tampak hanyalah sebuah seringai buas bagaikan serigala lapar. Sementara tangan lelaki itu sudah pula terulur untuk menyentuh wajah Sundari.

Melihat sikap Gambalang yang semakin kurang ajar itu. Sundari tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Hanya saja gadis itu masih tetap berusaha bersikap masa bodoh, seolah-olah tidak mengetahui uluran tangan kurang ajar itu.

Gubrakkk!

"Waaa...!" Gambalang berteriak ngeri ketika tahu-tahu tubuhnya terbanting ke lantai dengan kepala terlebih dahulu! Namun Gambalang bergegas bangkit sambil mengusap-usap dahinya yang terdapat dua buah benjolan membiru akibat terbentur kaki meja.

"Bangsat! Rupanya ada yang ingin main-main dengan Gambalang! Hayo! Tunjukkan wajahmu, pengecut!" Gambalang berteriak-teriak menantang. Sedangkan kawan-kawannya sudah berdatangan mendekatinya, setelah melihat Gambalang terjatuh tadi. Mereka tidak mengetahui, siapa yang telah begitu berani membanting tubuh Gambalang itu.

"Eh, eh! Kau mencari siapa?" tegur Sundari sambil tersenyum mengejek. Kemudian, gadis itu pun sudah bangkit berdiri sambil bertolak pinggang di hadapan Gambalang dan kawan-kawannya.

"Huh! Aku hanya ingin tahu, bagaimana tampang orang yang telah menjatuhkan diriku secara curang!" jawab Gambalang yang masih juga memandang berkeliling, mencari orang yang dimaksud.

"Hei! Mengapa harus susah-susah mencarinya? Bukankah orang yang kau cari ada di depan matamu?" jelas Dewi Tangan Merah lagi. Senyumnya semakin melebar karena merasa geli melihat sikap Gambalang yang berdiri bengong bagai orang kehilangan ingatan.

"Apa... apa maksudmu, Nini? Jangan main-main," tegas Gambalang tak percaya pada ucapan Sundari. Masalahnya, bagaimana mungkin gadis cantik itu dapat menjatuhkannya, tanpa diketahui. Namun sebelum dia sadar akan keadaannya, tahu-tahu Sundari mengulurkan kedua tangannya cepat, sukar diikuti mata. Dan tiba-tiba tubuh Gambalang kembali terbanting keras!

"Bagaimana, apakah kau masih belum mempercayai ucapanku?" tanya Dewi Tangan Merah lagi.

Gambalang menjadi terkejut setengah mati. Lagi-lagi gadis jelita itu tahu-tahu telah menjatuhkan dirinya. Benar-benar dia tak mampu mencegahnya. Bagai orang yang masih belum mempercayai apa yang terjadi. Gambalang mengkerjap-kerjapkan kedua matanya seolah ingin menghilangkan mimpi buruk dalam tidurnya. Dan ketika kesadarannya telah kembali, Gambalang menjadi marah dan terhina sekali atas perlakuan Sundari.

"Hm..., iblis betina! Rupanya kau sengaja ingin mengacau di daerah kekuasaan kami. Tangkap dia...!" perintah Gambalang kepada belasan orang kawannya yang telah bersiap sejak tadi.

Kejadian selanjutnya, belasan orang itu segera bergerak mengurung Sundari yang merasa belum perlu menggunakan pedangnya. Gadis jelita itu berdiri tegak di tengah-tengah belasan laki-laki kasar yang mengurungnya. Sementara Pendekar Tangan Sakti dan Pendekar Naga Putih telah menyingkir ke tepi tanpa berusaha membantu Sundari. Mereka melihat, dari gerakan para pengepungnya rasanya kekuatan lawan sudah dapat ditebak. Dengan demikian keduanya tidak merasa perlu membantu Sundari.

"Hiaaa...!" Diiringi teriakan-teriakan keras, belasan orang yang dipimpin Gambalang segera menyerbu Sundari dengan senjata di tangan. Tubuh gadis itu segera berkelebat di antara sambaran senjata lawan, dan langsung menuju pintu keluar.

"Kejar...! Jangan biarkan gadis liar itu lolos!" Gambalang berteriak-teriak memberikan perintah. Serentak kawan-kawan Gambalang berloncatan keluar mengejar Dewi Tangan Merah.

"Jangan lari kau, gadis liar!" seru Gambalang ketika tiba di hadapan Sundari yang telah berdiri tegak, seolah-olah memang sengaja menantinya.

"Hm.... Siapa yang hendak melarikan diri, monyet kurap! Aku hanya tidak ingin membuat seluruh isi kedai berantakan akibat ulah monyet-monyet kurap macam kalian!" jawab Dewi Tangan Merah, menghina.

"Bangsat! Kubunuh kau perempuan setan...!" sambil berteriak-teriak marah, Gambalang segera menerjang Sundari menghunus senjatanya yang berbentuk sebuah tombak bergolok besar dan terlihat berat.

Wuttt! Wuttt!

Suara desingan golok bergagang tombak itu, menderu-deru dan menyambar-nyambar di sekitar tubuh Sundari. Namun lewat sebuah gerakan indah, tahu-tahu tubuh Sundari telah berada di belakang lawannya. Ini dikarenakan tingkat kepandaian Gambalang masih terlalu rendah, sehingga Sundari dapat mudah mengatasinya!

Desss!

"Ngggk...!" Tubuh Gambalang terjajar ke depan ketika Sundari yang sudah berada di belakangnya itu menyabetkan sisi telapak tangannya ke tengkuk Gambalang. Tubuh laki-laki itu terbanting keras tanpa mampu bangkit lagi. Rupanya akibat hantaman keras itu Gambalang pingsan seketika.

Menyaksikan pemimpin mereka dalam segebrakan saja tak berdaya, para pengikut Gambalang kontan mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu. Diiringi suara tawa merdu Dewi Tangan Merah, belasan orang itu pontang-panting terkencing-kencing.

Wijasena dan Panji, segera melangkah menghampiri Sundari yang tengah berdiri berkacak pinggang menanti kedatangan mereka berdua.

"Mengapa tidak kau bebaskan saja orang itu, Sundari?" tegur Wijasena ketika melihat tubuh Gambalang yang masih tergeletak pingsan di dekat gadis itu.

"Wah! Kakang Wija ini bagaimana?! Bukankah kita memerlukan orang seperti dia untuk menunjukkan tempat kediaman Nenek Tongkat Maut yang menjadi datuk kaum sesat di Selatan ini. Apakah perbuatanku salah?" bantah Dewi Tangan Merah, ketus.

"Hm..., benar! Mengapa aku menjadi pelupa sekali! Bukankah orang ini sangat tepat. Memang kalau dilihat tingkah lakunya, pasti ia salah seorang dari golongan hitam yang tengah beroperasi. Tapi sayang sekali, kali ini ketemu batunya!" sahut Wijasena.

"Kalau begitu, mengapa tidak segera dibangunkan. Tunggu apa lagi?" ujar Panji ikut menimpali.

"Tunggu...! Kakang Panji, apakah kau mengenal dua orang itu?" tanya Dewi Tangan Merah ketika melihat dua sosok tubuh yang terpisah agak jauh dari tempat mereka. Dua sosok tubuh itu tampak tengah memperhatikan tiga orang pendekar itu tanpa berkedip.

Panji segera melayangkan pandangannya mengikuti jari-jari tentik Sundari yang menunjuk ke satu arah. Jaraknya kira-kira sejauh seratus tombak dari tempat mereka berada. Semakin diperhatikan, semakin keras debaran dalam dada Panji. Mereka pun baru beberapa hari kenal, namun sudah dihapalnya ciri-ciri kedua orang itu. Namun Panji juga sedikit ragu-ragu masalahnya, jaraknya cukup jauh juga. Apalagi tempat kedua orang Itu berdiri agak tertutup pepohonan sehingga semakin meragukan hati pemuda itu Karena rasa penasaran yang meluap-luap, maka Panji melangkahkan kakinya mendekati dua sosok tubuh itu.

Dengan penuh ketegangan, Pendekar Naga Putih tersebut terus melangkahkan kakinya menuju semak-semak tempat kedua orang itu berada. Belum lagi jauh Panji melangkah, tiba-tiba dua sosok tubuh yang terlindung bayangan pepohonan itu melesat dan menghilang di balik pepohonan. Cepat-cepat Panji mengerahkan kemampuan ilmu meringankan tubuh untuk mengejar dua bayangan yang dicurigainya itu. Namun sampai lelah mencari, kedua sosok bayangan itu tidak dapat ditemukan, seolah-olah lenyap ditelan bumi.

"Siapakah mereka, Kakang? Mengapa terlihat begitu tegang?" tanya Dewi Tangan Merah ketika pemuda itu telah tiba di tempat semula. Pendekar Tangan Sakti diam-diam merasa heran melihat sikap Panji yang seolah-olah seperti terpukul ketika tidak dapat menemukan dua orang yang belum diketahui secara pasti itu.

"Aneh! Siapakah sebenarnya kedua orang tadi? Dan mengapa tiba-tiba saja pemuda itu menjadi tegang, seolah-olah memang dapat menduga dua orang itu? Aneh, apa sebenarnya yang terjadi terhadap pemuda digdaya yang mengagumkan itu?" gumam Wijasena tak jelas.

"Entahlah, Sundari! Tapi sepertinya mereka itu... aaahhh! Mana mungkin! Lagipula mengapa mereka seperti sengaja menghindar dariku!" desah Panji, yang pikirannya menjadi kacau. Dan tanpa berkata-kata lagi, pemuda itu melangkah melewati Sundari yang hanya memandang heran. Memang, gadis itu tidak mengerti, apa yang tengah dialam pemuda yang menarik hatinya itu sebenarnya.

Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti tidak bertanya-tanya lagi, karena keduanya merasa maklum kalau saat-saat seperti ini, Panji benar-benar tidak ingin diganggu berbagai macam pertanyaan. Dan, memang sebaiknya kalau pada saat seperti itu adalah diam. Ketiga orang pendekar itu kembali meneruskan niatnya semula untuk mengorek keterangan dari Gambalang.

********************

TUJUH

Setelah mendapat keterangan dari Gambalang tentang kediaman Nyai Serondeng, maka tiga pendekar itu bergegas mengunjunginya. Sedangkan Gambalang dilepaskan dengan ancaman, apabila kembali melakukan kejahatan, Dewi Tangan Merah akan kembali untuk mengambil kepalanya!

Dan Gambalang terpaksa harus menuruti kemauan Dewi Tangan Merah itu. Masalahnya, dia telah merasakan bagaimana dibuat tak berdaya hanya dalam segebrakan saja. Hal ini tentu saja membuat Gambalang tidak berani bertindak macam-macam.

"Apakah kita harus datang secara terus terang, Kakang?" tanya Dewi Tangan Merah kepada Panji yang berjalan di sebelahnya.

"Entahlah. Menurutmu, bagaimana Sundari?" ujar Panji balik bertanya. Sehingga untuk beberapa saat lamanya Dewi Tangan Merah terdiam untuk mencari jalan yang terbaik bagi mereka semua.

"Lebih baik kita tidak datang secara terus terang, Panji. Karena, kita belum tahu pasti, apakah di tempat itu telah menjadi pusat perkumpulan Partai Rimba Hitam atau tidak?" sahut Pendekar Tangan Sakti yang ikut pula menimpali.

"Ah! Mengapa kita tidak bertanya pada Gambalang tadi! Hhh..., mengapa kita melupakannya?" sergah Dewi Tangan Merah. Suaranya mengandung penyesalan karena kecerobohannya. Memang, dia telah melupakan satu hal penting yang tak dapat dikesampingkan begitu saja. Sebab, dengan diketahuinya keadaan kediaman Nyai Serondeng, berarti mereka dapat mengambil keputusan. Apakah harus datang terang-terangan atau sembunyi? Hal inilah yang kini mengganggu pikiran ketiga orang pendekar itu.

Akhirnya, karena belum tahu secara pasti, maka ketiganya memutuskan untuk mendatangi kediaman Nyai Serondeng secara sembunyi. Hal itu dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Diiringi hembusan angin sore, ketiga pendekar itu meneruskan niatnya mendatangi kediaman Nyai Serondeng yang terletak di atas Bukit Nirwana. Sebuah bukit yang sangat indah, karena hampir di setiap sudutnya dipenuhi bunga yang bermekaran dan menebarkan keharuman yang menyejukkan.

Cukup lama juga mereka melakukan perjalanan sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Itu dilakukan apabila melewati tempat-tempat sepi. Dan kini tibalah mereka di tempat yang dituju, Bukit Nirwana. Untuk beberapa saat lamanya, ketiga pendekar itu hanya berdiri mematung memperhatikan puncak bukit yang menjadi kediaman salah satu datuk kaum sesat di Selatan. Kekejamannya tidak kalah dengan iblis!

Namun sebelum memutuskan untuk mendaki bukit itu, mendadak di hadapan mereka telah berdiri dua sosok tubuh dalam jarak sekitar lima puluh tombak. Dua sosok tubuh itu muncul begitu saja bagaikan iblis-iblis neraka yang ditugaskan untuk menjemput Panji dan kawankawannya.

"Suntara..., Rahayu...!" seru Panji. Suaranya terdengar bagaikan tercekat di tenggorokan. Wajah pemuda itu kembali menegang karena masih belum dapat menduga, apa yang tengah dialami dua orang itu sebenarnya? Bukankah mereka dalam tawanan Setan Muka Seribu? Lalu mengapa dibebaskan begitu saja? Dan mengapa mereka tidak menunjukkan sikap bersahabat. Panji tidak meneruskan lamunannya, karena hal itu akan semakin menambah keruwetan pikirannya saja.

"Jadi, mereka itukah yang kau lihat di semak-semak samping kedai? Siapakah mereka? Demikian berartikah mereka bagimu, Panji?" tegur Pendekar Tangan sakti saat melihat wajah Panji, yang biasanya tenang itu tampak selalu tegang apabila berjumpa dengan dua orang yang disebutnya Suntara dan Rahayu itu.

"Mereka adalah murid-murid kesayangan Ki Tunggul Jagad dan Ki Ageng Pandira yang ditugaskan untuk menyelidiki kemelut Partai Gunung Salaka dan Partai Gunung Sutra bersamaku. Kemudian keduanya menghilang dalam sebuah hutan tanpa aku mampu menyelamatkannya. Dan kini tahu-tahu saja mereka telah terbebas. Namun dari sinar mata mereka sama sekali tidak memancarkan rasa persahabatan! Entah apa yang tengah dialami mereka? Sedangkan kedua guru mereka telah berpesan kepadaku untuk menjaga mereka baik-baik. Memang, keduanya sama sekali belum berpengalaman dalam menghadapi manusia yang penuh berbagai tipu daya. Dan aku takut kalau Suntara dan Rahayu telah dipengaruhi tokoh-tokoh sesat yang menawan mereka,"

Panji menghela napas berulang-ulang setelah mengakhiri ceritanya yang telah membuat Pendekar Tangan Sakti ternganga penuh keheranan.

"Oh! Benarkah yang kau ceritakan itu, Panji! Aneh! Bagaimana mungkin Guru Besar mempunyai murid yang masih demikian muda? Dan mengapa pula aku tidak mengetahuinya?" ujar Pendekar Tangan Sakti dengan nada seperti kurang percaya.

"Begitulah yang dikatakan Ki Sukma Kelana ketika melepaskan kepergian Suntara. Jangankan dirimu yang selalu berada di luar. Bahkan para tokoh tingkat tiga sekalipun tidak pernah mengetahui kalau Ki Tunggul Jagad mempunyai seorang murid yang seumur Suntara. Namun, demikianlah kenyataan sebenarnya, Wijasena," jawab Panji menerangkan.

"Lalu, apa yang harus kita perbuat terhadap mereka?" tanya Dewi Tangan Merah tiba-tiba.

Sehingga kedua orang pendekar itu kembali teringat akan keadaan mereka. Panji menatap kedua orang yang masih berdiri bagaikan sebuah patung batu saja. Mereka sama sekali tak bergerak walaupun telah cukup lama berdiri.

"Kalian tetaplah di sini! Biar aku yang akan menghadapi, karena kalian belum mengetahui apa yang telah terjadi dengan mereka," jelas Panji mengambil keputusan. Ia memang tidak ingin mengikutsertakan Sundari atau Wijasena sebelum mengetahui duduk persoalannya, yang membuat kedua orang itu seolah-olah tidak mengenalnya sama sekali.

Pendekar Naga Putih melangkah penuh kewaspadaan menghampiri dua sosok tubuh yang memang Suntara dan Rahayu itu. Namun, hati Panji terkejut ketika melihat wajah mereka berdua itu pucat bagaikan mayat. Dan yang lebih mengejutkan hati, ketika Panji melihat sinar mata Suntara dan Rahayu yang bagai hilang ingatan. Sinar mata itu begitu dingin dan kosong. Diam-diam hati Pendekar Naga Putih terharu ketika melihat keadaan mereka berdua yang bagaikan tak terurus.

Baru beberapa langkah Panji mendekat, tiba-tiba Suntara dan Rahayu mencabut senjatanya masing-masing. Dan tanpa basa-basi lagi, keduanya melesat ke arah Panji dengan serangan menderu-deru. Sepasang senjata muda-mudi itu meluncur deras ke arah Pendekar Naga Putih, sehingga menimbulkan desingan angin tajam.

"Suntara, Rahayu...! Tahan! Ini aku, Panji! Apakah kalian lupa kepadaku!" cegah Panji sambil melangkah mundur menghindari serangan dua orang yang memang sangat berbahaya itu. Suntara dan Rahayu sama sekali tidak mengindahkan teriakan-teriakan Panji yang mencoba mencegah terjadinya pertempuran di antara mereka. Namun, wajah mereka tetap saja kaku tanpa perasaan. Seolah-olah memang benar-benar tidak mengenal Panji sama sekali.

Hm..., pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam diri mereka," gumam Panji pelan.

Semakin lama serangan Suntara dan Rahayu semakin ganas dan berbahaya! Kalau sampai beberapa jurus lagi Panji masih saja tidak membalas serangan itu, dapat dipastikan dirinya akan celaka! Karena sebagai murid-murid orang sakti, baik Suntara dan Rahayu pasti telah dibekali ilmu-ilmu tinggi oleh guru mereka berdua. Sehingga, kepandaian kedua orang itu tidak dapat dianggap main-main.

Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang melihat keadaan Panji, sudah tidak dapat lagi menahan diri. Keduanya segera melesat dan langsung menerjunkan diri dalam kancah pertempuran. Begitu memasuki arena, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti segera melancarkan serangan ke arah Suntara yang pada saat itu dekat dengan mereka. Merasakan sambaran angin kuat yang keluar dari dua pasang lengan yang meluncur ke arahnya, Suntara bukannya menghindar tapi malah memapaknya dengan mendorongkan kedua telapak tangan disertai pengerahan tenaga dalam penuh.

"Sebelas Jurus Penahan Ombak..!" seru Pendekar Tangan Sakti ketika melihat gerakan sepasang tangan Suntara yang menimbulkan desiran angin kuat. Pendekar Tangan Sakti yang mengetahui kehebatan ilmu kebanggaan perguruannya itu, segera mengerahkan seluruh tenaga dalam. Karena jelas-jelas untuk mengelak sudah terlambat!

Darrr!

"Aaahhh...!" Terdengar bunyi ledakan keras di udara ketika dua gelombang bertenaga dalam tinggi bertemu di udara! Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti memekik tertahan. Tubuh mereka sampai terjengkang akibat benturan itu, kemudian terbanting di atas tanah meskipun masih limbung. Dan dari celah-celah bibir mereka, nampak darah segar merembes keluar! Rupanya benturan tadi telah mengguncangkan isi dada mereka!

Di lain pihak, tubuh Suntara pun mengalami hal serupa. Gabungan tenaga lawannya ternyata kuat sekali. Walaupun dia telah mengeluarkan seluruh tenaganya, ternyata masih pula terdorong dan terhuyung-huyung dengan dada terasa sesak. Tapi anehnya, Suntara seolah-olah tidak merasakan akibat benturan tenaga dalam tadi. Hanya wajahnya saja yang terlihat semakin pucat. Namun, pandangan matanya tetap saja kosong dan tak memancarkan gairah kehidupan. Seakan-akan jiwa Suntara telah mati, sementara raganya masih tetap utuh.

Panji yang tengah berhadapan dengan Rahayu, serentak meninggalkan gadis itu. Dia berlari memburu Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang tengah melangkah tertatih-tatih. "Sundari! Wija! Jangan ladeni, karena mereka berdua tidak menyadari apa-apa yang dilakukan saat ini! Mereka sedang kehilangan ingatannya!" tegas Panji begitu tiba di hadapan kedua orang kawannya yang sedang bersiap-siap bertarung kembali.

"Panji! Kepandaian kedua orang ini tidak bisa dibuat main-main! Dan kalau kami terus mendiamkan, mereka pasti menyerangmu. Dan pasti kau berusaha untuk tidak membalas. Bisa bisa kau akan celaka di tangan mereka, Panji!" sergah Pendekar Tangan Sakti. Suaranya mengandung rasa penasaran dan kekhawatiran.

"Benar, Kakang Panji. Lakukanlah sesuatu kepada mereka. Jangan hanya menghindar saja, karena hal itu sangat berbahaya!" Dewi Tangan Merah ikut pula memberikan dorongan kepada Panji, karena sudah merasakan bagaimana hebatnya kepandaian pemuda yang bernama Suntara itu. Padahal, dia tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya. Malah, masih pula dibantu Pendekar Tangan Sakti. Tapi, toh mereka masih juga kalah tenaga. Dan hal itu benar-benar sukar dipercaya bagi Dewi Tangan Merah yang selama ini belum pernah bertemu lawan tangguh yang masih terlihat muda itu. Maka mau tidak mau ia harus mengakui kehebatan lawannya.

Mendengar kata-kata kedua orang sahabatnya diam-diam Panji merasa terharu sekali. Namun, perasaan itu cepat-cepat ditekan, karena tidak boleh terlihat lemah di hadapan mereka. "Baiklah. Kalian tetaplah di sini! Aku akan mencoba untuk menundukkan mereka," jawab Panji.

"Tapi bagaimana mungkin dapat menundukkan tanpa harus melukai mereka, Kakang? Bukankah hal itu terlihat sulit sekali!" sahut Dewi Tangan Merah, bernada khawatir. Sekejap sinar mata yang menyiratkan kecemasan itu meredup, mengungkapkan perasaan hati Sundari yang selama ini, cepat-cepat dibuang pandangannya dengan wajah kemerahan.

"Hati-hatilah, Kakang...!" ujar Sundari untuk menutupi rasa jengah dalam hatinya.

Panji yang dapat menduga apa yang telah dirasakan gadis itu, hanya mengangguk tipis. Kemudian dia segera melangkah mendekati Suntara dan Rahayu yang telah bersatu kembali. Untuk beberapa saat lamanya, Panji hanya berdiri sambil memandang kedua orang itu dengan tatapan lembut Pendekar Naga Putih kini sudah dapat bersikap tenang, kembali seperti biasanya.

Dan ketika melihat kedua orang itu sudah bersiap hendak menerjang, Panji segera mengempos semangatnya. Ditariknya napas dalam-dalam. Sekejap kemudian, terdengar suara tulang-tulang tubuhnya yang bergemerutuk karena dialiri 'Tenaga Dalam Gerhana Bulan' yang merupakan warisan Eyang Tirtayasa. Dalam sekejap saja, tubuh pemuda itu telah diselimuti selapis kabut bersinar putih keperakan dan memancarkan hawa dingin yang menggigit kulit. Dan secara mendadak, daerah di sekitarnya merubah menjadi dingin.

Suntara dan Rahayu tersentak mundur, ketika serangkum angin berhawa dingin berhembus menerpa tubuh mereka. Ternyata biarpun kesadaran telah lenyap, namun naluri mereka sebagai ahli silat telah mem-peringatkan akan bahaya mengancam. Diiringi bentakan nyaring, Suntara dan Rahayu segera bersiap mengerahkan ilmu andalan masing-masing. Keduanya segera bergerak membentuk kuda-kuda yang sesuai dengan jurus jurus mereka.

"Yeeeaaattt...!"

Tiba-tiba tubuh sepasang muda mudi itu melayang cepat ke arah Panji yang memang sudah bersiap menghadapinya. Angin keras berputar ketika kedua orang muda yang berkepandaian tinggi itu mulai melancarkan serangan pukulan dan tendangan kilat yang tidak terduga datangnya! Namun, meskipun mereka melancarkan serangan susul-menyusul, tetap saja hasilnya jadi berbalik. Mereka seperti membentur sebuah dinding berhawa dingin yang selalu saja menolak setiap pukulan yang datang ke tubuh pemuda itu.

Panji kini sudah pula membangun serangan dengan melakukan totokan-totokan yang mengarah ke bagian-bagian terlemah di tubuh lawan-lawannya itu. Tapi sampai jurus yang keempat puluh berlalu, Panji belum juga dapat menyentuh tubuh Suntara maupun Rahayu yang ternyata memiliki kegesitan hebat. Dan sepertinya mereka tahu kalau Panji hendak menotok roboh. Tentu saja baik Suntara dan Rahayu tidak ingin tertotok begitu saja. Maka keduanya berusaha menghindarkan serangan-serangan yang dilontarkan Panji.

Hingga pada jurus yang keempat puluh delapan, Panji yang rupanya merasa tidak akan mampu menjatuhkan lawannya tanpa harus mencelakai, segera merubah keputusannya. Tiba-tiba kedua tangan pemuda itu berputar dan membentuk cakar naga. Dan dengan gerakan cepat luar biasa, Panji segera melakukan serangan lewat jurus "Silat Naga Sakti" yang menjadi andalannya.

Bagaikan seekor naga putih yang sedang bermain di angkasa, tubuh pemuda itu bergerak lincah sambil melontarkan serangan-serangan cepat luar biasa. Akibatnya dalam beberapa jurus saja, kedua lawannya telah dibuat repot oleh pukulan-pukulan yang datang bagai air bah itu. Sampai akhirnya, keduanya hanya dapat bermain mundur. Memang, setiap kali mereka balas menyerang, selalu saja berbalik dan kandas terdorong angin dingin yang mengelilingi tubuh mereka.

Wusss! Blarrr!

Debu mengepul tinggi ketika pukulan yang dilontarkan Panji menghantam tanah-tanah berumput. Kali ini kedua orang lawan Panji itu berhasil menyelamatkan diri, dengan cara melemparkan tubuh ke belakang. Itu pun masih disambung beberapa kali salto di udara. Dan kini mereka dapat mendaratkan kakinya manis dan indah, sejauh tiga tombak dari tempat semula.

Namun Pendekar Naga Putih rupanya sudah tidak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pertarungan. Pada saat Suntara dan Rahayu tengah memperbaiki posisi tahu-tahu serangan Panji sudah datang mengancam. Karena tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindar, maka mereka segera mendorongkan telapak tangannya untuk memapak serangan itu!

Blanggg!

"Aaakh...!" Terdengar seruan tertahan yang keluar dari mulut ketiganya. Benturan dahsyat itu telah menggetarkan udara di sekitar arena pertarungan. Akibatnya tubuh ketiga orang yang berbenturan itu sama-sama terpental ke belakang.

Suntara dan Rahayu yang terbanting keras di tanah, untuk beberapa waktu belum mampu bangkit berdiri! Mereka rebah di atas hamparan rumput, dengan napas satu-satu. Sementara dari sudut bibir mereka, terlihat cairan merah merembes keluar.

Pada saat keduanya dalam keadaan tidak berdaya itu, tiba-tiba dua sosok bayangan melesat ke arah mereka disertai totokan yang mengancam. Tanpa dapat berbuat apa-apa, keduanya langsung lemas terkena totokan yang dilakukan dua sosok bayangan yang ternyata Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti. Akibatnya kedua orang Itu dapat dikuasai tanpa mengalami kesulitan berarti.

Sedangkan Panji yang terhempas akibat benturan dua gelombang tenaga dalam tinggi tadi, dapat mendaratkan kakinya ringan tanpa mengalami luka sedikit pun. Hanya saja, dadanya terasa agak sesak seakan akan dihimpit sebuah benda berat. Namun rasa sesak itu pun tidak berlangsung terlalu lama, karena segera dikerahkan hawa murni untuk menolak segala pengaruh yang mengeram dalam dirinya.

Panji yang semula sudah merasa lega ketika melihat Suntara dan Rahayu berhasil ditawan Sundari dan Wijasena, menjadi tersentak. Dia memang melihat beberapa sosok tubuh berkelebat ke arah Pendekar Tangan Sakti dan Dewi Tangan Merah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menggenjot tubuhnya, menyambut sosok tubuh yang berada paling depan.

"Sundari! Wijasena! Awaaasss...!" teriak Panji sambil meluncur ke arah kedua orang kawannya.

Sebenarnya tanpa diberitahu pun, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti sudah pula mengetahui hal itu. Maka ketika keduanya mendengar teriakan itu segera berlompatan mundur sambil memondong tubuh Suntara dan Rahayu. Untunglah keduanya terbebas dan serangan mendadak itu. Berbeda dengan bayangan yang meluncur paling depan. Ternyata bayangan itu langsung berbentur dengan Panji yang memang hendak menyambut serangan itu. Dan....

Plak! Bukkk! Desss!

"Ouggghhh...!" Telapak tangan bayangan itu berhasil ditepis Panji yang langsung mengirimkan sebuah tendangan dan pukulan tepat mengenai lambung dan dada lawan. Orang itu langsung terjungkal sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. Setelah menggigil karena disiksa hawa dingin yang merasuk tubuhnya, orang itu tewas seketika akibat pukulan dan tendangan Panji yang sangat kuat itu!

Sedangkan sosok-sosok tubuh lain langsung berhenti, tidak meneruskan serangannya yang semula diarahkan ke Sundari dan Wijasena. Belasan orang itu tertegun ketika menyaksikan pimpinan mereka tewas hanya dalam segebrakan saja. Tanpa sadar, mereka yang semula hendak membunuh Panji, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti, bergerak mundur dengan wajah pucat! Namun seketika belasan orang itu bangkit setelah mendengar sebuah suara yang rupanya sangat ditakuti.

"Mengapa diam saja, murid-murid goblok! Tunggu apa lagi, ayo cincang tubuh mereka!" perintah sebuah suara yang melengking tinggi bagaikan dengingan nyamuk.

Belum lagi gema suaranya lenyap, tahu-tahu di tempat itu telah berdiri sesosok tubuh kurus yang tak lain adatah Nyai Serondeng. Dialah yang menjadi majikan di Bukit Nirwana. Sementara di belakangnya terlihat Setan Muka Kuning, yang rupanya sudah menjadi pengikut Nenek Tongkat Maut dan tergabung dalam Partai Rimba Hitam!

"He he he.... Selamat bertemu lagi, Pendekar Naga Putih! Apakah kau ingin melanjutkan pertandingan kita yang tertunda?" ejek Nyai Serondeng.

"Hm..., Nyai Serondeng! Di antara kita tidak terdapat permusuhan. Lalu mengapa tak membiarkan kami meninggalkan tempat ini? Apakah memang sengaja hendak mencari permusuhan?" tegas Panji. Wajah Panji terlihat tegang, karena menyadari kalau di sekitar tempat itu telah dikurung sekitar lima puluh orang anggota Partai Rimba Hitam. Belum lagi ditambah dengan nenek sakti itu sendiri dan Setan Muka Seribu yang merupakan pentolan partai itu. Bahkan masih ditambah lagi Ular Muka Kuning yang mempunyai kepandaian tidak rendah! Maka dari itu, Panji berusaha untuk mengulur waktu sambil mencari-cari jalan keluar.

Rupanya Nyai Serondeng mengetahui apa yang tengah dipikirkan Panji saat itu. Melihat sikap yang ditunjukkan Panji, diam-diam Nyai Serondeng merasa kagum kepada pemuda itu. "Hm... Entah murid siapa Anak Muda ini. Kepandaiannya hebat sekali dan tidak berada di bawah kepandaianku! Seorang pemuda yang hebat!" ujar nenek itu dalam hati.

Sesaat, Panji terdiam Matanya tetap mengawasi sekitarnya.

"He he he..., jangan harap dapat meloloskan diri kali ini Pendekar Naga Putih! Hari ini adalah hari penentuan bagi kita!" seru Nyai Serondeng diiringi suara tawa yang mengikik.

"Hm.... Jadi rupanya kau yang menjadi pimpinan Partai Rimba Hitam?" tanya Panji tanpa mempedulikan ocehan nenek itu.

"He he he.... Rupanya kau sudah tahu pula tentang partai itu! Memang akulah Nyai Serondeng, Ketua Partai Rimba Hitam! Sudah puas, Anak Muda...!"

"Hm..., kalau begitu kau harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatanmu!" ujar Panji geram.

"Huh, sudahlah! Jangan banyak mulut Bersiaplah untuk mampus! Heaattt...!" dibarengi sebuah teriakan menyakitkan anak telinga tubuh nenek sakti itu meluncur sambil membabatkan tongkatnya ke tubuh Panji. Serangan angin berhawa panas berhembus mengiringi datangnya hantaman tongkat yang bertenaga tinggi itu.

Tranggg!

"Aihhh...!" Nyai Serondeng menjerit tertahan, ketika tiba-tiba saja di tangan Panji telah tergenggam sebatang pedang yang langsung digunakan untuk menangkis.

Keduanya terdorong mundur sejauh delapan langkah. Ternyata dalam pertemuan tadi, tenaga mereka berimbang! Dan hal ini sangat mengkhawatirkan Panji. Karena, kalau bertarung melawan nenek itu, bagaimana ia dapat melindungi kawan-kawannya? Itulah yang menjadi beban pikiran Panji.

Nyai Serondeng dan Panji saling bertatapan seolah-olah tengah mempelajari kekuatan tersembunyi yang ada dalam diri lawan masing-masing. Belum lagi keduanya bergerak, tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai bergemuruh! Dan tidak lama kemudian, terlihat puluhan orang berlarian mendatangi tempat itu, sehingga untuk beberapa saat lamanya pertempuran antara dua orang sakti itu terhenti!

"Hm..., Pendekar Kujang Emas. Rupanya kau ingin menuntut balas atas kematian murid kesayanganmu itu, heh!" tegur Nyai Serondeng. Suaranya benar-benar tidak enak didengar.

"Benar! Nenek iblis! Aku dan murid-muridku lebih rela mati terhormat, daripada hidup sebagai seorang pengecut!" seru orang yang disebut Pendekar Kujang Emas itu tegas. Rupanya Pendekar Kujang Emas mempunyai urusan pula dengan Nyai Serondeng. Apalagi kalau bukan mengenai terbunuhnya murid kesayangan Perguruan Kujang Emas. Perguruan itu memang dipimpin langsung Pendekar Kujang Emas sendiri. Itulah sebabnya, mengapa tahu-tahu Pendekar Kujang Emas dan murid-muridnya sampai berada di sini.

DELAPAN

"Anak-anak, serbuuu...!" perintah Pendekar Kujang Emas sambil menggerakkan tangannya ke depan. Sedangkan ia sendiri sudah mencabut senjatanya dan langsung menerjang Nyai Serondeng.

Namun sebelum sampai ke tempat Nyai Serondeng berdiri, tiba-tiba Ular Muka Kuning yang sejak tadi hanya berdiam diri saja, langsung melompat menyambut serangan Pendekar Kujang Emas.

Tranggg!

Tubuh keduanya terdorong mundur ketika dua senjata saling bertemu hingga menimbulkan pijaran bunga api. Baik Pendekar Kujang Emas maupun Ular Muka Kuning sama-sama terkejut, ketika merasakan getaran pada lengan mereka yang memegang senjata. Dan itu menandakan kalau kekuatan keduanya berimbang. Setelah memeriksa senjata masing-masing, mereka kembali saling menyerang. Dan dalam waktu singkat saja, kedua tokoh itu telah terlibat pertempuran sengit.

Sementara itu, Anggota Partai Rimba Hitam yang berjumlah sekitar lima puluh orang itu, sudah bertempur melawan murid-murid Perguruan Kujang Emas yang berjumlah tujuh puluh orang lebih. Maka arena pertempuran semakin ramai. Kilatan-kilatan senjata tajam membelah angkasa, kini telah dibasahi darah. Satu persatu murid kedua belah pihak mulai berjatuhan! Dan dalam sekejap saja, tempat itu telah dibanjiri darah segar!

Di tempat lain, Dewi Tangan Merah kini telah berpasangan dengan Pendekar Tangan Sakti untuk menghadapi Setan Muka Seribu yang memiliki kepandaian di atas mereka. Jadi wajar saja kalau keduanya bertempur berpasangan. Ternyata dengan berpasangan dan saling mengisi, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti mampu menghadapi Setan Muka Seribu yang terkenal lihai itu. Bahkan mereka mampu pula memaksa Setan Muka Seribu untuk bermain mundur! Dan keadaan itu memaksa lawan untuk mengerahkan seluruh kepandaiannya dalam meng-hadapi gempuran kedua orang pendekar ternama itu.

Sedangkan datuk sesat yang berjuluk Nenek Tongkat Maut itu berhadapan melawan Pendekar Naga Putih. Dari sekian banyaknya pertarungan yang sedang berlangsung, pertarungan kedua orang inilah yang paling mendebarkan. Untunglah pertarungan kedua orang sakti itu terpisah agak jauh dari yang lain. Kalau tidak, tentu pertempuran lain akan berantakan terkena sambaran-sambaran angin pukulan mereka yang mengandung hawa berlainan sifat itu. Hawa dingin dan panas beganti-gantian menguasai arena pertarungan. Di saat Panji di atas angin, maka udara di sekitar arena akan terasa dingin bagaikan es. Tapi apabila dikuasai Nyai Serondeng, maka udara sekitarnya pun berubah menjadi panas.

Panji yang sudah menggunakan pedang tipisnya, menyerang bagaikan seekor naga murka. Gerakan-gerakan pemuda itu kini ditunjang 'Tenaga Dalam Gerhana Bulan'. Bahkan kabut putih bersinar keperakan telah pula menyelimuti tubuh Panji. Sehingga apabila orang melihat pertempuran itu dari jarak jauh, pemuda itu benar-benar bagaikan seekor naga putih yang sesuai julukannya.

Setelah melewati tujuh puluh jurus, pertempuran tampak semakin meningkat! Keduanya kini sudah tidak terlihat lagi bentuk tubuhnya. Yang terlihat kini hanyalah dua buah bayangan berkelebat saling sambar dan saling desak. Dan memang sulit untuk mengetahui mana bayangan Panji, dan mana Nyai Serondeng. Ini karena demikian cepatnya kedua orang itu bergerak.

Pada jurus kedelapan puluh, Nyai Serondeng mem-babatkan tongkatnya secara mendatar ke arah kepala Panji. Namun pemuda itu segera menundukkan kepala dengan kuda-kuda rendah sambil melontarkan pukulan tangan kirinya Tapi dengan mudah Nyai Serondeng meng-elakkannya dengan sedikit menggeser kaki kanan ke samping. Kemudian perempuan itu langsung melepaskan sebuah tendangan kilat menuju ulu hati Panji.

Melihat tendangan kilat yang muncul mendadak itu, Panji menggenjot tubuhnya tinggi melambung ke udara sehingga tendangan itu lewat di bawah kakinya. Dan dari udara Panji melontarkan tendangan berarti yang tepat mendarat di punggung Nyai Serondeng.

Bukkk!

"Oooggghhh...!" Tubuh Nyai Serondeng langsung terjajar ke depan ketika dua buah tendangan Panji mendarat di punggungnya. Disaat tubuhnya tengah terhuyung, tiba-tiba nenek itu berbalik sambil mengkelebatkan tongkatnya untuk menjaga serangan susulan yang mungkin dilakukan lawannya.

Ternyata dugaan Nyai Serondeng tepat sekali. Panji yang pada saat itu berniat melakukan serangan susulan, segera mengurungkan niatnya. Kini dia harus melompat mundur untuk menghindari sambaran tongkat yang berbahaya itu. Pemuda itu berdiri tegak sambil memandang lawan yang tampaknya telah terluka dalam itu. Ini terlihat ketika dari sela-sela bibir nenek itu merembes cairan merah!

Namun, Panji belum merasa bangga akan hasil serangannya tadi. Karena, ia pun menderita rasa nyeri pada kakinya karena berbenturan dengan punggung Nyai Serondeng yang telah dilindungi tenaga dalam tinggi! Saat itu Nyai Serondeng kembali sudah menerjang dengan tongkat mautnya yang berputar sehingga menimbulkan angin ribut. Maka kini keduanya kembali terlibat pertempuran sengit dan menegangkan.

Di tempat lain, pertarungan Pendekar Kujang Emas yang melawan Ular Muka Kuning, tampak telah sampai pada puncaknya. Pendekar Kujang Emas terus mendesak lawan yang sudah mulai dapat dikuasainya itu. Senjatanya berkelebat mengurung tubuh lawan yang tak mempunyai kesempatan untuk membalas. Hingga pada jurus yang keempat puluh tiga, Ular Muka Kuning nekad untuk mengadu nyawa dengan lawannya.

Saat itu posisi Ular Muka Kuning benar-benar sudah di ambang kematian. Senjata lawan meluncur deras ke arah tenggorokannya, melihat hal ini, Ular Muka Kuning bukannya menghindar tapi malah segera melepaskan sebuah pukulan keras ke arah dada Pendekar Kujang Emas. Namun pendekar itu rupanya tidak sudi mengadu nyawa.

Seketika pendekar itu menarik pulang senjatanya. Dan dengan sebuah liukan manis, tubuhnya bergerak ke samping kiri lawan. Langsung saja dilepaskan sebuah tusukan kilat ke arah lambung Ular Muka Kuning! Dengan demikian pendekar itu telah memperoleh dua keuntungan. Sambil menghindari pukulan lawan, dan dapat pula menusukkan senjatanya tanpa mendapat kesulitan.

Cappp!

"Aaarrrggghhh...!" Ular Muka Kuning meraung ketika kujang di tangan lawan menembus lambung hingga amblas sampai gagangnya. Tubuh Ular Muka Kuning melintir disertai semburan darah saat Pendekar Kujang Emas mendorong senjatanya dan membeset tubuh lawan. Tak di situ saja. Pada saat tubuh lawan terhuyung-huyung, Pendekar Kujang Emas langsung melompat dan menjepit leher lawan dengan kakinya. Terdengar bunyi gemeretak dari tulang leher yang patah ketika pendekar itu memutar badannya dengan kaki masih menjepit leher lawan.

Tubuh Ular Muka Kuning ambruk bersama tubuh lawannya. Tokoh sesat itu tewas seketika! Sedangkan Pendekar Kujang Emas langsung bangkit, dan menggenjot tubuhnya ke arena pertempuran lain. Pendekar itu langsung mengamuk hebat sehingga dalam beberapa gebrak saja telah menewaskan enam orang murid Nyai Serondeng. Tentu saja amukan pendekar itu membuat para murid Nyai Serondeng marah. Dan beberapa orang dari mereka langsung memusatkan perhatiannya kepada pendekar itu.

Sedangkan pertarungan yang berlangsung antara Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti melawan Setan Muka Seribu masih berlangsung seru. Kedua belah pihak telah sama sama terluka. Bahkan nampak gerakan mereka mulai lamban karena terganggu rasa nyeri yang diderita. Pertarungan yang berlangsung selama kurang lebih tujuh puluh jurus itu, ternyata benar-benar telah menguras tenaga dua belah pihak. Sehingga tempo pertarungan tidak lagi berlangsung mulus. Kadang-kadang berubah menjadi cepat, tapi dilain saat menjadi lambat kembali.

Bukkk! Desss!

Pendekar Tangan Sakti dan Setan Muka Seribu sama-sama terjungkal ketika keduanya sama-sama menerima sebuah pukulan secara berbarengan. Setan Muka Seribu langsung bangkit berdiri meskipun dadanya baru saja terkena pukulan lawan. Kekuatan tubuh tokoh sesat yang satu ini memang hebat sekali! Padahal, batu pun akan hancur apabila terkena pukulan Pendekar Tangan Sakti yang sangat kuat itu.

Berbeda dengan lawannya, sebaliknya Pendekar Tangan Sakti belum dapat bangkit. Pendekar itu masih meringis menahan rasa mulas pada perutnya yang terkena pukulan telapak tangan lawan. Baru setelah agak pulih, pendekar itu dapat bangkit lagi. Sedangkan pada saat itu, keadaan Dewi Tangan Merah benar-benar dalam bahaya! Karena biar bagaimanapun, kepandaian Setan Muka Seribu masih jauh di atasnya.

Cepat Pendekar Tangan Sakti bangkit tanpa mempedulikan rasa nyeri yang masih terasa itu. Tubuhnya segera meluncur, dan kedua tangannya terkembang sambil mengerahkan seluruh tenaga sakti. Jari-jari kedua tangan pendekar itu bergetar, pertanda telah mengeluarkan seluruh tenaga sakti yang masih tersisa. Sementara itu Setan Muka Seribu, melesat menyiapkan pukulan ke arah Dewi Tangan Merah. Dan....

Desss! Prakkk! Buggg!

Tubuh Dewi Tangan Merah terhempas bagai sehelai daun kering, ketika kepalan Setan Muka Seribu menghantam lambungnya. Berbarengan dengan itu pedang sinar hijaunya berhasil menggores dada lawan. Dan pada saat yang sama sepasang tangan yang mengandung kekuatan hebat ternyata juga, menghantam kepala Setan Muka Seribu. Pada saat yang tepat pula, tokoh sesat itu juga telah melepaskan hantaman sisi telapak tangan ke arah Pendekar Tangan Sakti yang memiliki sepasang tangan bertenaga kuat itu.

Setan Muka Seribu terhuyung-huyung dengan gerakan limbung. Darah mengucur deras dari kepalanya yang retak akibat keprukkan sepasang tangan Pendekar Tangan Sakti yang mengerahkan seluruh tenaga dalam tinggi. Beberapa saat kemudian, iblis itu pun tewas menyedihkan. Sedangkan Pendekar Tangan Sakti yang terkena hantaman sisi telapak tangan lawan, tergeletak pingsan! Darah segar mengalir dari celah-celah bibirnya. Dua buah tulang rusuknya telah patah akibat hantaman lawan yang sangat kuat itu. Sementara itu sesosok tubuh yang terbungkus pakaian merah telah berada di sampingnya. Dia tak lain adalah Dewi Tangan Merah yang bersandar pada sebatang pohon karena telah pula menderita luka cukup parah akibat pukulan Setan Muka seribu pada lambungnya.

Di arena lain, Panji yang bertarung melawan Nyai Serondeng masih saja berlangsung sengit! Padahal pertempuran itu sudah melewati seratus jurus! Namun kekuatan masing-masing masih saja terlihat berimbang. Diam-diam Panji harus mengakui kehebatan nenek kurus yang menjadi lawannya itu. Di usianya yang telah melewati enam puluh tahun, ternyata kekuatan dan tenaganya masih begitu dahsyat.

"Haaaiiittt...!"

Wusss!

Dengan sebuah hentakkan nyaring, tiba-tiba saja Nyai Serondeng melompat tinggi sambil mengayunkan tongkat-nya dari atas ke bawah. Sambaran angin panas mendahului luncuran tongkatnya. Bergegas Panji menggeser tubuhnya ke samping disertai sabetan pedangnya ke pinggang nenek itu. Tapi, alangkah terkejutnya Pendekar Naga Putih itu ketika tahu-tahu saja tongkat di tangan lawannya berputar membabat lehernya. Cepat-cepat ditarik pulang senjatanya. Dan dengan merendahkan kuda-kudanya, tubuh pemuda itu berputar disertai tendangan kaki kanan sambil mengerahkan jurus 'Sabetan Ekor Naga Membelah Karang'. Jurus ini adalah salah satu bagian dari jurus 'Naga Sakti' yang merupakan ilmu kebanggaannya.

Nyai Serondeng berseru kagum melihat kegesitan Panji. Nenek itu segera menarik pulang tongkatnya dan langsung memapaki tendangan Panji. Hal ini membuat pemuda itu menjadi terkejut setengah mati. Karena untuk menarik kakinya sudah tidak mungkin lagi. Maka Panji pun menyalurkan seluruh tenaga dalamnya ke arah kaki yang menendang itu.

Desss!

"Uhhh...!" Terdengar suara bagai bara dicelupkan dalam air ketika tongkat di tangan nenek itu bertemu kaki Panji. Keduanya berseru kaget! Dan masing-masing mengakui kehebatan lawannya. Panji yang mempunyai posisi lebih lemah itu cepat melempar tubuhnya dan bergulingan mengikuti dorongan akibat benturan dahsyat itu. Dan pemuda itu menjadi terkejut sekali ketika mendapati celana pada bagian betisnya hancur, akibat benturan dua tenaga berlainan sifat itu. Ketika diperiksa bagian kakinya, tidak terlihat luka sedikit pun. Maka hatinya menjadi lega.

Dipihak lain, Nyai Serondeng pun menjadi terkejut mendapati kenyataan kalau tongkatnya sama sekali tidak mampu melukai lawannya yang masih sangat muda itu. Dengan hati dipenuhi rasa malu dan penasaran, Nyai Serondeng segera melompat mengejar Panji yang tengah bergulingan itu. Langsung dihantamkan tongkat hitamnya sekuat tenaga ke punggung pemuda itu.

Panji yang merasakan ada sambaran angin panas menerpa punggung menjadi kaget! Ketika dilirik, ternyata nenek kurus itu sedang mengayunkan tongkat mautnya. Menghadapi serangan yang mematikan itu, tubuh Panji mendadak melenting mengerahkan jurus 'Naga Sakti Menggeliat' yang merupakan bagian ketujuh dari "Jurus Naga Sakti".

Hebat dan tak terduga sama sekali gerakan yang dilakukan Panji itu. Tubuh pemuda itu tiba-tiba melenting ke udara dan langsung berputar di udara beberapa kali. Itu pun disertai ayunan pedang untuk membabat tangan Nyai Serondeng yang memegang tongkat hitam itu. Dan...

Wusss Crakkk!

"Aaakh...! Nyai Serondeng meraung tjnggi ketika pedang di tangan Panji menebas lengannya sebatas siku! Darah seketika muncrat dari tangan yang buntung itu, tubuh nenek itu terhuyung-huyung sambil memegangi lengan kanannya yang telah buntung itu. Dan sebelum menyadari keadaannya, tubuh Panji meluruk sambil berputar mengerahkan jurus 'Naga Sakti Kembali Kesarang'. Dan kini mata pedang meluncur deras menuju ulu hati lawannya.

Cap!

"Aaarrrggghhh...!" Nyai Serondeng menjerit ngeri ketika pedang bersinar putih keperakan di tangan Panji menancap di tubuhnya. Seketika nenek itu terhempas ke belakang ketika pedang yang menancap di tubuhnya disentakkan Panji dengan kuatnya! Tubuh Nyai Serondeng terbanting, dan tewas seketika. Perutnya terkoyak lebar dan tangan kanannya buntung, kini tamatlah riwayat datuk sesat dari Selatan itu di tangan Pendekar Naga Putih.

Setelah memastikan bahwa lawannya telah tewas, Panji melangkah menghampiri Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang tengah mengawasinya. Tanpa berkata sepatah pun, pemuda itu segera menyerahkan sebutir pil kepada kedua orang kawannya yang tengah terluka dalam itu.

Sementara pertempuran yang lain seketika berakhir. Para pengikut Partai Rimba Hitam yang masih hidup dibebaskan Pendekar Kujang Emas. Mereka diberi peringatan agar meninggalkan kehidupan yang selama ini dijalani. Pendekar Kujang Emas melangkah menghampiri Panji, Sundari, dan Wijasena yang berada tidak jauh dari tempatnya. Karena biar bagaimanapun, ia harus berterima kasih kepada ketiga orang yang menurutnya telah ikut membantu dalam menumpas Partai Rimba Hitam yang dipimpin Nyai Serondeng.

"Kisanak. Kalau mataku tidak salah menilai, bukankah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih yang tersohor itu?" sapa Pendekar Kujang Emas ketika tiba di dekat Panji. Ia menduga demikian, karena sepintas tadi melihat jalannya pertempuran antara Nyai Serondeng melawan pendekar itu. Dan pada tubuh pemuda itu terlihat adanya selapis kabut bersinar putih keperakan, yang menjadi ciri-ciri Pendekar Naga Putih. Itulah ciri-ciri yang selama ini didengarnya.

"Ah! Sebuah julukan yang berlebihan, Paman!" jawab Panji yang menyebut paman karena melihat pendekar itu paling tidak telah berumur sekitar empat puluh tahun. "Oh ya, kenalkan kedua orang teman saya, Paman. Mereka adalah Sundari dan Wijasena." ujar Panji mengenalkan.

Mereka pun saling berkenalan dan berbincang-bincang, sebelum akhirnya Panji sadar. "Eh! Kalian sembunyikan di mana Suntara dan Rahayu...?" tiba-tiba Panji berkata sambil mencari-cari dua orang yang dimaksud. Dan Pendekar Naga Putih terkejut ketika melihat dua orang kakek tengah bersila dekat tubuh kedua orang kawannya itu. "Hei, siapa pula kedua orang kakek itu?"

Sundari, Wijasena, dan Pendekar Kujang Emas serentak menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk Panji.

"Guru...!" Pendekar Tangan Sakti berseru gembira ketika mengenali salah seorang dari kedua kakek itu. Dengan langkah tertatih-tatih bergegas dihampirinya. Sementara Panji, Sundari, dan Pendekar Kujang Emas ikut mendekati.

"Hm... Wijasena! Bagaimana kabarmu...?" ujar kakek tua yang tak tain adalah Ki Tunggul Jagad ketua Perguruan Gunung Salaka. Orang tua sakti itu mengusap lembut rambut kepala Wijasena yang bersujud di depannya.

"Ki Ageng Pandira. Apakah, Ki Ageng baik-baik saja?" sapa Wijasena kepada kakek yang satunya lagi.

"Hm. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita semua," kata kakek itu yang ternyata adalah Ki Ageng Pandira, ketua Perguruan Gunung Sutra.

Kemudian secara berturut-turut Panji, Sundari, dan Pendekar Kujang Emas ikut pula bertegur sapa dengan kedua orang tua sakti itu.

"Bagaimana keadaan Suntara dan Rahayu, Ki?" tanya Panji ketika melihat kedua orang itu masih rebah tak sadarkan diri

"Hm... Kami baru saja mengobati mereka. Dan paling tidak, mereka harus beristirahat sekitar dua pekan untuk memulihkan kesehatan akibat pengaruh racun ganas yang dimasukkan Nyai Serondeng ke tubuh mereka," ujar Ki Ageng Pandira memberi penjelasan.

"Terima kasih atas kesediaanmu yang telah bersusah payah menolong kami, Nak Panji. Kami harus segera membawa pulang mereka ke perguruan. Mari Wijasena," ajak Ki Tunggul Jagad kepada muridnya. Setelah saling berpamitan, kedua orang tua sakti itu pun berkelebat lenyap dari pandangan ketiga orang itu.

"Kau akan pergi ke mana, Kakang...?" tanya Sundari ketika Panji ikut berpamitan kepadanya dan kepada Pendekar Kujang Emas. Dari nada suaranya jelas sekali kalau gadis itu terasa berat untuk berpisah dengan Panji.

"Entahlah, Sundari. Aku hanya mengikuti ke mana kakiku melangkah."

"Kalau begitu aku ikut, Kakang...," dan tanpa menunggu persetujuan Panji lagi, Sundari sudah melangkah di samping Pendekar Naga Putih yang tidak kuasa untuk mencegahnya.

S E L E S A I

Partai Rimba Hitam

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Partai Rimba Hitam
Karya T. Hidayat
Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cersil Online Serial Pendekar Naga Putih Karya T Hidayat
SATU

SINAR matahari terasa panas nenyengat kulit. Angin laut berhembus keras, membawa udara sejuk dan melenakan. Di bawah teriknya sinar matahari, seorang pemuda berjubah putih tengah melangkah menyurusi tepian Pantai Alor yang berpasir putih. Langkahnya terlihat tenang, seolah-olah tidak merasa terganggu panasnya sinar matahari di pagi itu.

Pemuda tampan dan gagah itu tak lain adalah Panji, atau yang berjuluk Pendekar Naga Putih. Berkat kedahsyatan ilmunya, maka dalam beberapa waktu saja nama Pendekar Naga Putih telah dikenal hampir seluruh tokoh persilatan. Baik dari golongan putih maupun golongan hitam.

Saat ini, Pendekar Naga Putih kehilangan dua orang seperjalanannya di dalam sebuah hutan (Untuk jelasnya baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Algojo Gunung Sutra). Karena usaha pencariannya itulah, maka langkah kakinya terbawa hingga ke daerah Langkar, perkampungan nelayan ini.

Dengan tidak pernah merasa bosan, Panji terus berusaha mencari keterangan tentang dua orang temannya, Suntara dan Rahayu.

"Ah! Lebih baik aku mencari kedai makan, karena di tempat-tempat seperti itu biasanya tersebar macam-macam berita," ucap hati Panji.

Sudah cukup lama berjalan, akhirnya Panji menemukan sebuah kedai yang cukup ramai di Desa Langkar. Bergegas, dilangkahkan kakinya mendekati kedai. Namun belum lagi memasuki kedai yang dimaksud, langkahnya segera terhenti ketika terdengar bentakan-bentakan kasar.

Pendekar Naga Putih itu menolehkan kepalanya ke arah perahu perahu nelayan yang sedang ditambatkan, ditempat bentak-bentakan tadi berasal. Dengan hati dipenuhi tanda tanya, Panji melangkahkan kakinya mendekati tempat itu. Dari kejauhan, terlihat para nelayan berkerumun dan memandang kesatu arah. Pendekar Naga Putih itu pun ikut membaurkan dirinya di antara kerumunan orang. Kening pemuda tampan itu berkerut ketika melihat suatu kejadian.

Beberapa puluh tombak di hadapannya, tampak seorang laki-laki kasar tengah membentak-bentak seorang laki-laki setengah baya yang bersimpuh di depannya. Laki-laki setengah baya yang berpakaian seperti seorang nelayan itu menjawab dengan suara gemetar, dan penuh permohonan. Beberapa luka memar tertera di wajah tuanya.

Pendekar Naga Putih belum berani bertindak, karena sama sekali belum mengetahui duduk persoalannya. Maka pemuda digdaya itu hanya menyaksikan dengan kening berkerut. Tapi biar bagaimanapun juga, ia tidak menyetujui perbuatan laki-laki kasar itu.

"Ingat, Pak Tua! Perbuatan ini akan menjadi mala-petaka bagi seluruh keluargamu!" bentak laki-laki kasar itu dengan suara menggelegar.

"Tapi, Tuan. Aku betul-betul belum mempunyai uang untuk membayar hutang-hutang itu. Tolonglah. Berilah waktu satu minggu lagi, Tuan!" jawab laki-laki tua itu penuh permohonan.

Deeesss!

Sebuah tendangan keras menghantam iga laki-laki tua itu. Tubuhnya seketika terjengkang dan bergulingan sejauh satu tombak. Dia meringis-ringis kesakitan sambil memegangi iganya yang terasa remuk! Dari celah-celah bibirnya, tampak cairan merah mengalir turun. Dengan terbungkuk-bungkuk, laki-laki tua itu bangkit duduk.

"Bangsat tua keras kepala! Apakah kau ingin seluruh keluargamu digantung Tuan Barja?! Kau tahu, sudah berapa lama kau tidak membayar hutang-hutangmu itu! Sudah hampir dua bulan, tahu! Dan setiap kali ditagih, selalu bilang tidak punya uang. Lalu, apa saja kerjamu selama ini, hah!" bentak laki-laki kasar itu semakin geram. Tangannya kembali terangkat hendak menghajar orang tua malang itu. Namun gerakannya terhenti, ketika terdengar suara halus, disusul munculnya seorang gadis manis yang langsung menghambur ke arah tubuh orang tua itu.

"Ayaaah...!" Tubuh semampai itu langsung memeluk orang tua yang tengah bersimpuh sambil memegangi perutnya. Sejenak mata tua itu membelalak kaget, kemudian berubah memancarkan sinar kekhawatiran yang dalam.

"Kami! Mengapa kau kemari, Nak? Tidak tahukah kau bahwa kedatanganmu akan menimbulkan malapetaka baru? Ya Tuhan..., selamatkan anakku dari kekejaman orang-orang jahat itu!" ujar orang tua itu dengan suara gemetar penuh kekhawatiran.

Kekhawatiran yang ditunjukkan orang tua itu memang tak terlalu berlebihan. Sebab orang yang disebut Tuan Barja oleh lelaki kasar yang menyiksanya itu, adalah seorang lelaki mata keranjang. Dan apabila matanya yang berminyak itu tertarik kepada seorang wanita, ia akan berusaha mendapatkannya dengan jalan apa pun! Sekali pun wanita yang diingininya itu telah bersuami! Itulah sebabnya, mengapa nelayan tua itu mengkhawatirkan keselamatan putrinya.

"Tapi, Ayah. Aku tidak tahan melihat orang-orang kejam itu menyiksamu terus-menerus. Aku..., aku tidak tahan, Ayah!"

Sehabis berkata demikian, tangis gadis itu pun meledak! Sehingga beberapa orang yang menyaksikan, memalingkan mukanya dengan penuh haru. Bahkan beberapa wanita di antaranya, sudah pula meneteskan air mata. Seakan-akan suami dan anak mereka sendirilah yang diperlakukan demikian.

"Iblis! Kalian benar-benar tidak mempunyai perasaan kasihan sama sekali! Manusia kejam! Ayo, bunuh kami! Siksa kami! Lebih baik kami mati daripada diperlakukan seperti binatang begini!" teriak gadis yang dipanggil Kami itu, penuh amarah.

Semenjak melihat gadis manis itu, laki-laki kasar tadi tersenyum penuh kelicikan. Di depan matanya terbayang sekantung uang yang akan didapat, apabila bisa membawa gadis itu kehadapan majikannya. "He he he.... Gadis anak Pak Tua itu, boleh juga, Kakang!" seru salah seorang kawan laki-laki kasar itu. Wajahnya menyeringai penuh nafsu.

"Wah! Kita bisa berpesta, kalau bisa membawa gadis itu kehadapan Tuan Barja," sahut yang lainnya lagi. Bibirnya tersenyum karena membayangkan hadiah besar yang bakal diterima Wajah laki-laki kasar yang semula bengis itu, mendadak ramah. Senyumnya membayang. Sikapnya benar-benar berubah, karena kehadiran Kami.

"Hm..., Pak Tua. Kami yakin apabila anakmu mau membicarakan hal ini kepada Tuan Barja, tentu hutang-hutangmu akan segera lunas. Dan kau sendiri akan mendapat sebuah perahu yang baik dan dapat digunakan semaumu! Bagaimana?" tanya laki-laki itu dengan suara yang dibuat ramah.

"Oh, tidak! Jangan... biarlah aku berjanji akan melunasinya dalam dua hari ini," jawab nelayan tua itu ketakutan. Memang sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap anak gadisnya itu. Wajah nelayan tua itu seketika pucat dan matanya berputar liar, seolah-olah hendak mencari dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

"Hm.... Jadi kau tidak mau menuruti anjuranku, monyet tua! Lagipula mana mungkin kau dapat melunasi hutangmu hanya dalam waktu dua hari! Ke mana kau akan mencari uang sebanyak itu, heh!" bentak laki-laki kasar yang sudah menjadi marah ketika mendengar penolakkan orang tua itu.

"Ah! Sudahlah, Kakang. Buat apa melayani monyet tua itu. Bawa saja anak gadisnya, kan beres!" usul salah seorang kawannya.

"Ah! Jangan! Jangan… Kasihanilah anakku, Tuan! Aku berjanji akan melunasinya," ratap orang tua itu, mulai gelisah.

"Huh! Minggat kau, monyet tua tak tahu diuntung!" bentak laki-laki kasar itu, sambil melayangkan kakinya ke perut nelayan tua itu Tubuh tua itu kembali terlempar akibat tendangan yang cukup keras, sehingga terlontar sejauh dua tombak.

"Manusia biadab! Iblis kau...!" teriak Kami, langsung menubruk laki-laki kasar yang menyiksa ayahnya. Gadis itu memukul membabi buta.

Namun, apa artinya pukulan seorang gadis lemah seperti Kami. Dengan sekali mengayunkan tangan saja, Kami kontan terpelanting terkena tamparan laki-laki kasar itu.

"Huh, perempuan liar!" umpat laki-laki kasar itu, sambil mengulurkan tangan menangkap pergelangan tangan gadis tersebut. Langsung saja Kami diseret meninggalkan tempat yang masih dikerumuni orang itu. "Oh, lepaskan! Lepaskan aku! Ayah, tolooong...!" Kami berteriak-teriak dan meronta-ronta dalam pondongan laki-laki kasar yang membawanya pergi ke rumah Tuan Barja majikannya.

Panji yang semula berniat menolong gadis itu, seketika, membatalkan niatnya saat melihat sesosok bayangan merah berkelebat mendahuluinya. Pendekar Naga Putih itu kembali menonton dan menunggu perkembangan selanjutnya. Karena, ingin diketahui juga apa yang akan dilakukan si bayangan merah itu.

"Hei, anjing-anjing busuk! Hendak kau bawa ke mana gadis itu?!" bentak si bayangan merah yang sudah berdiri dengan kaki terpentang, menghadang keempat orang laki-laki kasar itu.

"Sundari…! Apa pula yang dikerjakannya di tempat ini?" Panji menjadi terkejut begitu mengenali bayangan merah, yang tahu-tahu telah berada ditempat itu.

Ucapan Panji memang tidak salah. Sosok bayangan merah itu memang Sundari yang berjuluk Dewi Tangan Merah. Gadis pendekar yang paling tidak suka terhadap segala perbuatan jahat itu langsung turun tangan ketika melihat kekejaman ber-langsung di depan matanya. Dengan wajah merah karena marah, Dewi Tangan Merah itu menudingkan telunjuknya yang mungil ke arah si laki-laki kasar yang memondong tubuh Kami.

"Turunkan gadis itu, atau nyawa anjingmu akan melayang!" ancam Dewi Tangan Merah tegas.

"Wah, Kakang. Gadis yang kau pondong itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengannya. Eh, Nini Cantik. Apakah kau bersedia menggantikannya untuk menghadap Tuan Barja? Marilah! Tuan Barja pasti akan senang menerima kedatanganmu!" seru salah seorang kawan laki-laki kasar itu, sambil mengulurkan tangannya menangkap pergelangan Sundari.

Plakkk!

"Aduuuh...!"

Entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu saja tubuh laki-laki yang hendak menangkap tangan Sundari itu ter-pelanting sambil berteriak kesakitan. Darah seketika mengucur dari celah-celah bibirnya yang pecah akibat tamparan tangan Sundari.

"Pruhhh.... Pruhhh...!" laki-laki itu meludahkan darah yang terus mengalir. Bahkan beberapa buah giginya ikut tanggal akibat tamparan tangan halus tadi. "Bangsat! Perempuan setan! Rupanya kau ingin cari mampus!"

Sriiing!

Laki-laki itu langsung mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Seketika diserangnya Dewi Tangan Merah dengan ganas. Sedangkan Sundari yang berjuluk Dewi Tangan Merah itu tersenyum mengejek, sambil menggeser tubuhnya sedikit. Dan tahu-tahu saja tangan kanannya dengan jari-jari terbuka mencelat menusuk tenggorokan lawan. Gerakannya cepat sekali, sehingga laki-laki itu tidak sempat lagi menghindar. Diiringi jeritan ngeri, laki-laki itu terjungkal sejauh satu depa! Setelah berkelojotan sesaat, tubuh itu pun meregang dan diam tak bergerak untuk seterusnya. Dia tewas dengan leher bolong.

Melihat keadian Ini laki-laki kasar tadi segera melepaskan tubuh Kami yang tengah dipondongnya. Matanya membelalak karena sama sekali tidak diduga kalau kawannya akan tewas di tangan gadis cantik itu. Malah hanya dalam segebrakan saja!

"Perempuan ibilis! Siapa kau sebenarnya?! Dan apa maksudmu mencampuri urusan kami?!" teriak lelaki kasar itu gusar, penuh kemarahan. Meskipun sebenarnya terkejut dan gentar menghadap gadis cantik itu, namun ia merasa malu untuk menunjukkan kelemahannya di depan orang banyak. Lelaki kasar itu mencabut goloknya diikuti kedua orang kawannya yang lain. Sundari diterjang dengan serangan yang ganas dan mematikan. Golok ketiga orang itu berkelebatan mengincar tubuh ramping yang menyelinap cepat, di antara sambaran-sambaran sejata.

Dewi Tangan Merah itu rupanya sudah tak segan-segan menurunkan tangan maut kepada tiga orang lawannya. Dan dalam beberapa saat saja terdengar tenakan ngeri. Itu pun masih disusul oleh terlemparnya salah seorang dari tiga lawan dalam keadaan tak bernyawa. Tak lama kemudian, kembali seorang menggelepar tewas akibat sambaran jari-jari tangan runcing yang mengandung hawa maut itu.

"Perempuan keparat! Perempuan iblis! Kubunuh kau...!" teriak laki-laki kasar yang kini hanya tinggal seorang itu. Digerakkannya senjatanya membabi buta, karena sadar sepenuhnya bahwa ia tidak mungkin dapat mengalahkan gadis cantik berbaju merah yang ternyata sangat tinggi kepandaiannya.

Tentu saja gerakan yang tak terarah itu semakin memberi peluang buat Sundari. Gadis itu sengaja tidak menghindar ketika pedang lawan mengarah pinggangnya. Dengan sebuah gerakan indah, gadis berbaju merah itu baru berkelit ketika pedang itu hampir membabat pinggangnya, sambil melepaskan sebuah tendangan kilat ke perut lawan

Bukkk!

Tubuh laki-laki kasar itu terjungkal keras mencium tanah berpasir. Namun ia masih berusaha untuk bangkit meskipun otot-otot perutnya terasa hancur. Sambil terbungkuk-bungkuk berusaha dipungut pedangnya yang terlempar dari tangannya. Wajahnya menyeringai me-nahan rasa sakit yang hebat, sementara dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar.

"Heh, anjing buduk! Enyahlah dari sini! Laporkan pada majikanmu bahwa Dewi Tangan Merah akan berkunjung untuk mengambil kepalanya. Cepaaat...! Jangan sampai aku berubah pikiran!" ancam Dewi Tangan Merah atau Sundari dengan wajah menyeringai.

Sejenak laki-laki kasar itu meragu, seolah-olah tidak mempercayai pendengarannya. Tapi ketika mendengar bentakan gadis berbaju merah itu, ia pun segera mengambil langkah seribu tanpa menoleh-noleh lagi. Laki-laki kasar itu berlari sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit akibat tendangan kilat Sundari. Dewi Tangan Merah itu berdiri terpaku, sambil memandangi kepergian lawannya.

"Nini Pendekar...! Terima kasih atas pertolonganmu. Entah apa jadinya terhadap putriku tanpa pertolongan Nini! Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih," ucap nelayan tua itu yang tahu-tahu saja telah berlutut di bawah telapak kaki Dewi Tangan Merah, diikuti putrinya.

"Ah! Bangunlah, Paman! Dan kau juga Adik Manis. Bangunlah! Yang kulakukan tadi bukan apa-apa. Dan lagi pula itu memang sudah menjadi kewajibanku." ujar Dewi Tangan Merah merendah, sambil tersenyum manis dan mengangkat tubuh ayah dan anak itu supaya berdiri.

"Nini. Sebaiknya Nini cepat-cepat meninggalkan desa ini, sebelum Logar dan kawan-kawannya datang kembali!" jelas nelayan tua itu dengan wajah penuh kecemasan. Nelayan tua itu memang tidak yakin kalau wanita berbaju merah itu dapat mengalahkan Logar yang terkenal ganas dan kejam. Dia juga tangan kanan Tuan Barja.

"Hm.... Aku memang akan pergi, Paman. Tapi bukan untuk meninggalkan desa ini, melainkan hendak mengunjungi orang yang bernama Tuan Barja itu," Jelas Dewi Tangan Merah tersenyum sabar

"Tapi, tapi Nini. Tukang pukul Tuan Barja itu banyak sekali! Dan mereka rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi. Apalagi yang bernama Logar itu. Kepandaian silatnya hebat sekali, Nini. Dulu pernah ada seorang pendekar muda yang mencoba memperingati Tuan Barja tentang perbuatannya itu. Ya, dia memang suka memeras tenaga nelayan-nelayan miskin seperti saya ini. Dan Nini tahu akibatnya? Hhh..., pendekar muda itu tewas di tangan Logar dengan leher putus! Maka karena itulah kuperingat-kan pada Nini. Sungguh aku tidak ingin Nini mengalami hal seperti itu. Bahkan mungkin nasib Nini akan lebih buruk lagi," ujar orang tua itu mengakhiri ceritanya.

"Eh, Paman. Apakah sebabnya sampai mereka itu tega menyiksa Paman sedemikian rupa? Apakah kesalahan yang telah Paman perbuat? Kalau hanya soal hutang, bukankah Paman dapat membayarnya dengan hasil menangkap ikan?" tanya Dewi Tangan Merah mengalihkan pembicaraan. Ia memang sengaja tidak menanggapi pem-bicaraan nelayan tua itu, karena biar dijelaskan bagai-manapun laki-laki itu tetap tidak akan paham.

"Yahhh... Sebenarnya kalau hanya soal hutang, Paman rasa semua nelayan di kampung ini akan sanggup membayarnya. Namun, bunga yang kian hari kian membukit itulah, yang tidak sanggup dibayar," jawab nelayan tua itu sambil menghela napas berat. Seolah-olah dadanya ditekan sebongkah batu yang berat, sehingga napasnya harus segera dilonggarkan

"Jadi, Paman sudah melunasi hutang yang diberikan Tuan Barja itu?" tanya Dewi Tangan Merah yang mulai mengerti duduk persoalan sebenarnya

"Benar, Nini! Namun Tuan Barja selalu menekan kami dengan bunga-bunga yang tak pernah habis. Setiap terlambat membayarnya, maka bunga itu akan semakin berlipat. Apalagi dalam musim badai seperti ini, saat para nelayan tidak bisa melaut. Maka dapat Nini bayangkan, berapa banyak bunga yang harus kami bayar," jawab orang tua itu, lagi.

"Kalau begitu, mengapa penduduk desa ini masih juga meminjam kepada Tuan Barja? Bukankah mereka sudah tahu kalau hal itu akan mendatangkan kesulitan?" tanya Dewi Tangan Merah penasaran.

"Habis, ke mana lagi kami harus meminjam uang untuk membeli alat-alat penangkap ikan atau perahu, Nini? Kami terpaksa melakukannya! Sebab kalau tidak begitu, apa yang dapat diberikan kepada keluarga kami?" jawab orang tua itu bernada sedih.

"Ah! Sudahlah, Paman! Sekarang lebih baik kembali saja. Biar aku yang akan membicarakan persoalan ini kepada Tuan Barja itu!" tegas Sundari.

Selesai berkata demikian Dewi Tangan Merah berkelebat lenyap dari hadapan ayah beranak itu. Cukup tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga membuat kedua terlongo-longo dengan wajah tidak percaya. Tubuh Dewi Tangan Merah bagai hilang ditelan bumi saja.

"Oh! Mungkinkah ia seorang dewi yang sengaja didatangkan untuk menolong kita? Kalau seorang manusia, mengapa ia pandai menghilang?" gumam nelayan tua itu, setengah berharap.

Tanpa sepengetahuan Dewi Tangan Merah mau pun para nelayan yang berada di sekitar tempat itu, sesosok bayangan putih ikut pula melesat cepat luar biasa. Sehingga para nelayan itu hanya melihat seberkas sinar putih yang meluncur melewati kepala mereka. Bayangan putih yang memang adalah Panji itu sengaja mengikuti Sundari. Karena ingin dia ketahui apa yang akan diperbuat gadis itu terhadap orang yang disebut Tuan Barja. Pendekar Naga Putih itu sengaja memperlambat larinya, agar tidak diketahui Dewi Tangan Merah.

Tidaklah terlalu sulit untuk menemukan rumah kediaman orang yang bernama Subarja atau biasa dipanggil Tuan Barja itu. Setelah bertanya pada salah seorang penduduk desa itu, Dewi Tangan Merah langsung melesat ke arah sebuah rumah besar dan megah. Tampak di depan pintu gerbang rumah besar itu dua orang tukang pukul Subarja tengah bertugas menjaga. Sementara itu dengan langkah ringan, Sundari meng-hampiri pintu gerbang. Melihat kedatangan seseorang, dua orang penjaga itu segera menahan langkah Dewi Tangan Merah.

"Nini, berhenti...!" perintah salah seorang dari kedua penjaga, sambil menghadang pintu masuk.

"Eh! Mengapa menahanku? Apakah kawan kalian belum memberitahu?" tanya Dewi Tangan Merah sambil bertolak pinggang disertai senyum mengejek.

"Bangsat! Rupanya kaulah perempuan liar itu!" bentak keduanya sambil menghunus pedang. Tanpa dikomando mereka langsung menerjang Dewi Tangan Merah dengan serangan gencar.

Bagai burung walet, Sundari bergerak cepat menghindari serangan kedua orang penjaga itu. Dan tahu-tahu kedua tangannya meluncur bagai kilat!

Desss! Bukkk!

"Ahhhkkk...!" Kedua orang penjaga Itu tidak sempat lagi mengelak dari dua telapak tangan Sundari yang halus itu. Mereka terjungkal sambil memuntahkan darah segar dan langsung menggeletak pingsan.

Dewi Tangan Merah itu langsung melesat ke arah bangunan utama rumah Tuan Barja. Sementara angin sore bersilir lembut, seolah olah memberikan semangat kepada Dewi Tangan Merah.

DUA

"Hei, Subarja! Keluar kau...!" teriak Dewi Tangan Merah lantang. Teriakan yang didorong tenaga dalam tinggi itu, bergema ke seluruh pelosok rumah besar milik Tuan Barja.

Sebenarnya Dewi Tangan Maut tidak perlu berteriak seperti itu, karena belasan sosok tubuh yang memang sudah tahu kedatangannya telah berloncatan dari dalam gedung dengan gerakan gesit. Dan mereka langsung bergerak mengurung Dewi Tangan Merah, dengan berbagai macam senjata. Dari cara mengurungnya, Dewi Tangan Merah dapat menilai kalau tingkat kepandaian mereka rata-rata cukup tangguh. Jadi Dewi Tangan Merah tidak perlu mengulur-ulur waktu lagi. Begitu tangannya bergerak, sebatang pedang yang bersinar kehijauan sudah tergenggam di tangan kanannya.

"Hm.... Majulah, monyet-moyet busuk! Hari ini aku akan mengajak kalian untuk menikmati kematian. Haaaiiittt…!" segulung sinar kehijauan berkelebatan disertai suara mengaung tajam, membuat para pengurungnya serentak berloncatan mundur.

Seeenggg!

Mengetahui kekuatan yang terkandung di dalam sambaran pedang bersinar kehijauan itu cukup berbahaya para pengeroyok Dewi Tangan Merah tidak berani memapaknya. Belasan tukang pukul Tuan Barja itu ber-gulingan ke kiri dan kanan, sambil bertukar posisi. Di lain saat, tubuh mereka mencelat dan melakukan serangan dari segala penjuru secara bergolongan. Sebuah serangan balasan yang berbahaya dan telah diperhitungan cermat!

Dewi Tangan Merah memutar pedang untuk melindungi tubuhnya dari ancaman senjata lawan yang bagai-kan air hujan itu. Sinar kehijauan bergulung-gulung menyelimuti seluruh tubuh ramping berbaju merah itu.

Trang! Trang! Trang!

Beberapa buah pedang lawan yang hampir menyentuh tubuhnya, berpatahan terlanggar pedang pusaka di tangan Sundari. Terdengar seruan-seruan tertahan dari para pengeroyok, yang merasa terkejut melihat keampuhan senjata Dewi Tangan Merah. Kesempatan seperti itu tidak dilewatkan begitu saja oleh Dewi Tangan Merah. Cepat-cepat tubuhnya berkelebat disertai sambaran pedangnya. Terdengar jerit kematian merobek udara, ketika pedang sinar hijau di tangan Sundari berkelebat membabat tubuh dua orang lawan yang berada paling dekat dengan-nya. Dua orang tukang pukul Tuan Barja itu terjungkal tewas tanpa dapat bangkit lagi!

Bukan main marahnya para tukang pukul Tuan Barja ketika melihat dua orang kawan mereka telah menjadi korban pedang bersinar kehijauan lawannya itu. Kembali mereka menerjang Sundari dengan serangan serangan lebih ganas dan berbahaya. Senjata-senjata mereka berkelebatan bagaikan iblis-iblis haus darah!

Dewi Tangan Merah menangkis dua batang pedang yang meluncur ke tubuhnya. Tapi sebelum sempat membalas, kembali dua batang pedang lainnya mengancam dari arah belakang. Cepat Sundari bergulingan ke kiri, sambil menusukkan pedangnya ke salah seorang dari pem-bokongnya. Orang itu menjerit tertahan ketika pedang di tangan Sundari menembus lambungnya. Tanpa dapat dicegah lagi orang itu ambruk ke tanah sambil memegangi lambungnya yang mengucurkan darah segar!

"Tahaaan...!" tiba-tiba terdengar bentakan yang dibarengi melayangnya sesosok tubuh ke tengah pertempuran. Sosok tubuh tinggi kurus itu berdiri tegak di hadapan Sundari dalam jarak dua tombak.

"Hm..., Dewi Tangan Merah! Rupanya suatu nama besar telah membuatmu menjadi sombong dan tidak memandang muka kepada orang lain. Tapi di sini, kau jangan jual lagak, perempuan liar!" bentak orang bertubuh tinggi kurus itu. Suaranya melengking bagaikan suara seorang wanita saja layaknya. Pandang matanya yang tajam dan berpengaruh itu, membuat Dewi Tangan Merah merasa berhati-hati untuk menghadapi orang ini.

"Huh, cacing kurus kurang makan! Kalau aku tidak salah lihat, bukankah kau yang berjuluk Setan Pemburu Mayat? Hi hi hi.... Tidak kusangka kalau kau begitu merendahkan dirimu sehingga menjadi anjing peliharaan Tuan Barja! Apakah kau kurang makan, cacing kurus?" ujar Dewi Tangan Merah sambil tertawa menghina

Mendengar hinaan itu, bergetar sekujur tubuh orang yang berjuluk Setan Pemburu Mayat itu. Dengan sebuah gerengan murka, tubuhnya meluruk ke arah Dewi Tangan Merah dengan kedua tangan terkembang.

"Bresss!" Debu mengepul tinggi ketika sepasang lengan Setan Pedang Pemburu Mayat yang bertenaga kuat mengenai tempat kosong. Memang, Sundari sudah lebih dahulu menghindar disertai sebuah tendangan kilat yang mengancam kepala lawan. Cepat-cepat Setan Pemburu Mayat merendahkan tubuhnya sambil berputar dengan kaki terjulur menyapu kaki Dewi Tangan Merah. Sundari segera menarik pulang kaki dan melempar tubuhnya ke belakang. Empuk sekali menjejakkan kakinya, sejauh tiga tombak dari lawannya.

"Siapkan jala...!" perintah Setan Pemburu Mayat.

Belasan tukang pukul yang semenjak tadi hanya berdiri menonton pertarungan tersebut bergegas berlari mengambil jala. Rupanya laki-laki kurus itu tidak ingin berlama-lama menghadapi Dewi Tangan Merah. Meskipun sebenarnya tingkat kepandaian mereka tidak jauh atau bahkan mungkin seimbang. Tidak beberapa lama kemudian, delapan orang tukang pukul Tuan Barja telah siap dengan jala di tangan masing-masing. Kelihatannya jala itu terbuat dari semacam akar pepohonan yang liat dan alot. Tak main-main, jala itu sudah diberi ramuan khusus sehingga tidak mudah putus. Bahkan oleh pedang sekalipun.

Delapan tukang pukul itu sudah berloncatan mengitari Dewi Tangan Merah yang menjadi tegang karena keadaannya sekarang benar-benar terancam! Sebelum delapan orang itu bergerak, tiba-tiba terdengar angin tajam berkesiutan, menuju Dewi Tangan Merah.

Sundari menjadi terkejut sekali melihat dua buah sinar putih berkelebat cepat saling susul-menyusul! Gadis jelita itu segera bergulingan menghindarkan serangan maut yang dilakukan Setan Pemburu Mayat. Rupanya laki-laki itu telah menggunakan sepasang pedang berukuran satu depa lebih.

Setan Pemburu Mayat memang bukan tokoh kosong belaka! Karena ke mana pun tubuh Dewi Tangan Merah menghindar, sepasang pedang bercagak itu selalu membayanginya. Tentu saja hal ini membuatnya bergidik ngeri. Sehingga pada satu ketika, terpaksa harus ditangkis serangan lawan dengan pedangnya!

Dan akibatnya benar-benar di luar dugaan Sundari! Entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu saja pedang di tangan lawan berputar dan membelit pedangnya! Sebelum Dewi Tangan Merah itu menyadari keadaannya, pedang yang di tangan kiri lawan sudah meluncur menebas pergelangan tangannya yang memegang pedang. Terpaksa Sundari melepaskan pedangnya dan bergulingan meng-hindari sabetan berikutnya dari pedang lawan. Dalam keadaan terdesak, gadis itu masih sempat melepaskan sebuah pukulan jarak jauh mengandung tenaga 'Tangan Pasir Merah' yang menjadi ilmu andalannya.

"Wuuusss!" Seketika serangan angin panas terlontar dari sepasang tangan Sundari yang sudah berubah berwarna merah sebatas siku. Angin itu terus meluncur, dan langsung menerpa tubuh Setan Pemburu Mayat yang tidak sempat lagi menghindar!

Blukkk!

"Huaaakkk...!" Tubuh Setan Pemburu Mayat terdorong mundur sejauh sepuluh langkah. Mulutnya memuntahkan darah segar yang berwarna agak kehitaman. Ternyata pukulan. 'Tangan Pasir Merah' yang mengenai dada kirinya itu, telah membuat laki-laki kurus itu terluka dalam. Setan Pemuru Mayat berdiri terhuyung-huyung sambil menekap dadanya yang bagaikan terbakar itu. Tampak kulit dadanya berwarna agak kehitaman, sedangkan baju di bagian tubuhnya telah hancur bagaikan di makan api.

"Kakang Logar, kau tidak apa apa...?" tanya salah seorang kawannya, sambil memburu ke arah Setan Pemburu Mayat yang ternyata bernama Logar itu.

"Gunakan jala itu untuk menangkapnya, goblok! Kuntilanak itu harus dapat ditangkap hidup-hidup!" bentak Setan Pemburu Mayat atau Logar penuh kemarahan.

Kedelapan orang tukang pukul Tuan Barja yang memegang jala itu segera berputar untuk mengaburkan pandangan Dewi Tangan Merah. Sedangkan Logar juga sudah menerjang kembali dengan sepasang pedangnya yang berbahaya itu. Maka Dewi Tangan Merah yang sudah tidak bersenjata itu benar-benar kerepotan dibuatnya.

Di tengah serangannya yang menderu-deru itu, tiba-tiba tubuh Logar melompat jauh ke belakang. Dan pada saat yang sama, dua buah jala terlontar ke arah Dewi Tangan Merah. Gadis itu segera bergulingan untuk menghindarkannya. Namun ketika berdiri, sebuah jala lain tahu-tahu saja telah mengurungnya. Dewi Tangan Merah meronta-ronta berusaha keluar dari jala itu.

Desss!

"Ouggghhh...!" Dewi Tangan Merah mengeluh pendek, ketika sebuah tendangan keras telah menghantam punggungnya!

Ternyata Logar berbuat curang. Tubuh Dewi Tangan Merah langsung terjerembab ke depan. Darah segar mulai mengalir dari celah-celah bibirnya. Namun tiba-tiba saja, tubuh para tukang pukul yang memegang jala beterbangan bagaikan diamuk angin topan dahsyat! Terdengar teriakan-teriakan ngeri dari mulut mereka. Lima orang di antaranya ternyata telah tewas dengan tubuh membiru, seolah-olah diserang hawa dingin hebat! Sedang tiga orang lainnya tergeletak pingsan setelah menggigil hebat, bagaikan orang terserang demam tinggi!

Logar dan para tukang pukul yang lainnya tersentak mundur dengan wajah pucat pasi. Mereka sama sekali tidak mengetahui, apa yang telah terjadi pada delapan orang kawannya itu. Dan mata mereka menjadi terbelalak ketika memandang seorang pemuda tampan berjubah putih, yang dengan tenangnya membebaskan Dewi Tangan Merah dari kurungan jala tadi.

"Ah, rupanya Kakang Panji lagi, terima kasih! Kedatanganmu benar-benar tepat sekali," ujar Dewi Tangan Merah sambil tersenyum manis, ketika mengenali pemuda berjubah putih yang telah menolongnya itu.

Pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji dan lebih dikenal sebagai Pendekar Naga Putih itu, cepat memberikan sebutir ramuan berupa pil berwarna hijau. Tanpa bertanya lagi, Sundari segera menelannya. Beberapa saat kemudian, dirasakan hawa yang hangat berkumpul di pusar untuk kemudian menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Dan kini tubuhnya kembali terasa segar seperti semula.

"Adik Sundari. Kau pergilah ke dalam, dan cari orang yang bernama Subarja itu. Biar aku yang mengatasi mereka!" tegas Panji dengan suara tenang

"Baiklah, Kakang! Kalau begitu, aku pergi dulu...!" seru Dewi Tangan Merah. Setelah berkata demikian, tubuh ramping itu pun berkelebat memasuki bangunan besar itu.

Setan Pemburu Mayat dan para tukang pukul Tuan Barja segera bertindak untuk menghalangi Sundari. Namun sebelum dapat mengejar gadis itu, sebuah bayangan putih berkelebat menghadang mereka.

"Heh, Anak Muda! Apa maksudmu mencampuri urusan kami? Bukankah kita belum saling berurusan?!" bentak Logar dengan suara garang.

Meskipun Logar melihat apa yang telah menimpa pada kedelapan orang kawannya tadi, namun ia masih meragukan kebenarannya. Apakah benar pemuda tampan itu yang melakukannya, atau ada orang lain yang membantu dua orang muda itu secara sembunyi-sembunyi?

"Hm.... Di antara kita memang tidak ada urusan, Kisanak! Tapi ketahuilah, bahwa kehadiranku dan Dewi Tangan Merah ke sini adalah sebagai wakil para nelayan yang telah diperas tenaganya oleh majikanmu," jawab Panji, masih tetap bersikap tenang tanpa menunjukkan amarah sedikit pun

"Siapa kau sebenarnya, Anak Muda?! Dan apa hubunganmu dengan para nelayan di sini?!" tanya Logar sambil menggeram marah.

"Sudahlah, Kakang! Untuk apa bertanya lagi. Bunuh saja pemuda usilan itu, habis perkara!" seru salah seorang kawannya yang rupanya sudah tidak sabar mendengar pembicaraan itu.

"Benar, Kakang. Bunuh saja dia!" seru yang lain, ikut mendukung perkataan kawannya tadi.

"Hm... Jadi mau kalian begitu? Lalu mengapa tidak segera dilakukan? Apa lagi yang kalian tunggu?" tantang Panji sambil tersenyum lebar.

"Bangsat! Kau makanlah senjataku! Hiaaattt...!" Dengan kemarahan yang menggelegak, salah seorang yang berbicara tadi segera menerjang Panji dengan ayunan pedangnya. Namun sebelum pedangnya menyentuh tubuh pemuda sakti itu, tiba-tiba orang itu terjungkal terhantam telapak tangan Panji yang telah dialiri 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Orang itu berkelojotan sesaat, kemudian tewas dengan dada remuk!

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Logar dan para tukang pukul lainnya menyaksikan kawan mereka tewas dalam segebrakkan saja. Seketika wajah mereka menjadi pucat, dan mata terbelalak seakan-akan tidak mempercayai kejadian itu. Tanpa sadar Logar dan kawan-kawannya melangkah mundur dengan hati diliputi kegentaran!

"Siiiapppaaa... kau, Anak Muda...?" tanya Logar, suaranya begitu kering. Sambil berkata demikian, matanya memperhatikan mayat kawan kawannya. Mungkin saja dia dapat mengenalil tokoh persilatan yang memiliki ilmu pukulan berhawa dingin luar biasa seperti itu.

"Apakah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" sentak Logar.

Dia kini teringat seorang pendekar muda yang telah mengguncangkan dunia persilatan dengan ilmu-ilmunya yang dahsyat. Dan menurut cerita, pendekar muda itu berwajah tampan dan selalu mengenakan jubah putih. Ada selapis kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti tubuhnya. Tapi karena belum menyaksikan ciri-ciri yang terakhir dari pendekar itu, maka Logar pun masih sangsi akan dugaannya.

"Begitulah, julukan yang diberikan orang kepadaku," jawab Panji tanpa merasa bangga sedikit pun pada julukannya.

"Huh! Siapapun kau, maka atas perbuatanmu ini berarti telah menanamkan bibit permusuhan dengan Partai Rimba Hitam! Dan kau akan menyesali perbuatanmu hari ini!" ancam Logar yang terpaksa membuka kedoknya guna menakut-nakuti Panji. Karena biar bagaimanapun, Logar masih merasa gentar akan kepandaian lawannya yang masih muda itu.

Namun alangkah kecewanya hati Logar ketika melihat lawannya sama sekali tidak terkejut terhadap ancamannya. Karena memang, Panji belum pernah mendengar partai yang misterius itu. Dan tentu saja ancaman Logar itu sama sekali tidak mengejutkannya. Sebaliknya, pemuda itu malah mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

"Hm..., apa maksudmu dengan ancaman itu? Dan partai macam apa, Partai Rimba Hitam itu? Bisakah kau menjelaskannya?" tanya Panji penasaran.

Karena sudah terlanjur membuka kedok, maka Logar pun segera menjelaskan tentang Partai Rimba Hitam. Maksudnya agar lawan menjadi gentar dan tak lagi mencampuri urusannya. "Nah! Oleh karena itu, sayangilah nyawamu, Anak Muda. Karena dengan mencampuri urusanku berarti juga telah berurusan dengan seluruh anggota Partai Rimba Hitam!" jelas Logar menutup keterangannya. Terbayang senyum kemenangan di bibirnya karena merasa yakin lawannya pasti akan gentar mendengar keterangannya.

Tapi sayang dugaan Logar kembali meleset! Panji memang terkejut ketika mendengar keterangan Logar tentang Partai Rimba Hitam itu. Namun, keterkejutannya bukan karena gentar. Melainkan karena justru mencurigai partai itu sebagai biang keladinya. Dan mungkin orang-orang Partai Rimba Hitam itulah yang telah menculik Suntara dan Rahayu.

"Hm.... Kalau begitu, kau harus tunjukkan padaku, dimana markas Partai Rimba Hitam itu!" Begitu ucapannya selesai, tubuh pemuda itu langsung melesat ke arah Logar dengan totokan-totokan yang cepat bagai kilat! Panji memang berniat menahan lawannya hidup-hidup, karena merupakan satu-satunya petunjuk yang dibutuhkan.

Bukan main terperanjatnya Logar melihat lawannya yang bukannya gentar, tapi malah semakin ganas serangannya. Maka Logar menjadi kewalahan menghindar! serangan Panji yang luar biasa cepatnya itu. Dalam beberapa jurus saja Logar sudah terdesak hebat! Setelah lewat sepuluh jurus, Logar tidak mampu lagi untuk menghindari sebuah totokan tangan kanan Panji yang meluncur deras ke arahnya

Tukkk!

"Ughhh...!" Logar mengeluh pendek. Tubuhnya kontan ambruk bagaikan sehelai karung basah ketika totokan pemuda itu mendarat telak dan melumpuhkannya. Namun belum lagi Panji sempat mendekati tubuh lawannya, tiba-tiba terdengar desingan senjata-senjata gelap yang mengancam dirinya. Panji menjejakkan kakinya ke tanah, maka seketika tubuhnya langsung melenting ke atas. Cepat bagai kitat, tangannya mengibas untuk meruntuhkan beberapa buah senjata yang masih mengancamnya.

"Bangsat curang...!" gerutu Panji begitu kakinya mendarat di tanah. Dan kegeraman pemuda itu bertambah ketika didapati tubuh Logar sudah tak bernyawa lagi, karena tertancap beberapa buah senjata di tubuhnya. Dengan penuh kemarahan, Panji segera berkelebat ke arah asal senjata-senjata gelap tadi. Setelah beberapa lama mengitari tempat itu, pemuda itu menjadi kecewa karena sama sekali tidak menemui apa yang dicarinya itu.

"Tunggulah pembalasan Partai Rimba Hitam, Pendekar Naga Putih...!" samar-samar terdengar ancaman dari kejauhan.

Ketika mendengar suara itu, tubuh Panji kembali berkelebat ke arah asal suara tadi. Lagi-lagi pemuda itu harus menelan kekecewaan karena sama sekali tidak menemukan apa-apa. Dengan langkah lesu Pendekar Naga Putih itu kembali ke tempat kediaman Tuan Barja untuk menemui Dewi Tangan Merah yang masih berada di situ.

"Dari mana saja kau, Kakang ..?" tegur Dewi Tangan Merah ketika Panji memasuki pekarangan rumah kediaman Tuan Barja itu. Sementara di sebelahnya seorang laki-laki setengah tua dan berkepala setengah botak, tertunduk dengan wajah pucat.

"Hm.... Jadi inikah orangnya yang bernama Tuan Barja itu?" tanya Panji tanpa menjawab pertanyaan Sundari.

"Benar, Kakang," jawab Sundari. "Nah, bandot tua. Sekarang ucapkanlah janjimu di hadapan Pendekar Naga Putih!" Sundari mendorong tubuh laki-laki gendut itu hingga terjajar ke depan.

Laki-laki gendut yang bernama Subarja itu menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Pendekar Naga Putih sambil mengucapkan janjinya. Suaranya terdengar gemetar.

"Kau ingat-ingatlah, Subarja! Apabila terdengar kau mengulangi perbuatanmu lagi, maka Dewi Tangan Merah dan Pendekar Naga Putih akan datang untuk mengambil kepala botakmu! Mengerti?!" bentak Dewi Tangan Merah yang membuat tubuh Subarja semakin gemetar.

"Baik... baik, aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Dan aku akan berusaha membantu nelayan-nelayan di desa ini, Nini Pendekar," ucap Tuan Barja terputus-putus sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang agak botak itu.

"Eh, Kakang. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?" ujar Sundari ketika keduanya melangkah bersisian meninggalkan kediaman Tuan Subarja.

Mendengar pertanyaan itu, Panji kembali teringat kejadian yang benar-benar membuatnya amat penasaran. Segera diceritakan pengalamannya itu kepada Sundari, sehingga gadis itu pun menjadi penasaran dan marah dibuatnya.

"Hm.., jadi Setan Pemburu Mayat itu adalah salah seorang anggota Partai Rimba Hitam. Pantas saja berani berlagak. Rupanya dia mempunyai andalan yang tidak tanggung-tanggung. Hm.... Kalau begitu, kita harus mencari keterangan tentang letak markas Partai Rimba Hitam itu. Mari, Kakang...!" sambil berkata demikian Sundari segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari mendahului Panji.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menggenjot tubuhnya dan langsung melesat menyusul Dewi Tangan Merah. Dalam beberapa saat saja tubuhnya sudah dapat disejajarkan di sebelah gadis itu. Diam-diam Dewi Tangan Merah ini semakin kagum akan kepandaian pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu.

********************

TIGA

"Berhenti...!"

Sepuluh orang laki-laki gagah serentak menghentikan langkahnya ketika mendengar bentakan itu. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling pandang satu sama lain dengan wajah heran. Namun, sikap kesepuluh orang itu terlihat tenang sekali, seolah-olah tidak merasa khawatir oleh suara bentakan yang menggelegar tadi.

Tiga tombak di depan, tampak belasan laki-laki berwajah bengis berdiri menghadang perjalanan sepuluh orang itu. Seorang laki-laki brewok yang merupakan pimpinan para penghalang itu melangkah ke depan. Lagaknya dibuat sewibawa mungkin, tapi justru memuakkan. Laki-laki brewok itu menatap ke arah sepuluh orang laki-laki gagah itu satu persatu, seperti seorang panglima perang yang sedang memeriksa barisan pasukannya.

"Hm.... Hendak ke mana, kalian? Mengapa begitu tergesa-gesa?" tanya laki-laki brewok itu sambil bertolak pinggang dengan lagak sombong. Seolah-olah dia sedang bertanya kepada anak buahnya, sehingga sama sekali tidak memandang sebelah mata pun kepada sepuluh orang laki-laki gagah itu.

Seorang di antara sepuluh laki-laki gagah itu, melangkah ke depan mewakili kawan-kawannya yang lain. Wajahnya terlihat apik dan berwibawa. Ketenangannya menandakan kalau dia adalah orang sabar dan berpandangan luas. Sengaja dia mendahului untuk meng-hindari hal hal yang tidak diinginkan.

"Maafkan kami, Kisanak. Kami sedang menghadapi sebuah persoalan yang sangat pribadi dan sangat mendesak sifatnya. Maka ijinkanlah kami lewat. Sekali lagi kami mohon maaf," ucap laki-laki gagah itu sambil mem-bungkuk hormat

"He he he.... Kau pikir kami tidak tahu ke mana tujuanmu, Pendekar Tangan Sakti?! Bukankah kalian ingin mengunjungi Gunung Salaka? Nah, kalau begitu bersiaplah! Kami akan segera mengantar agar kalian lebih cepat tiba di sana untuk menemani si Tua Surya Kencana!" ujar laki-laki brewok itu. Suaranya bernada menghina sekali.

Laki-laki gagah yang ternyata berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu terkejut sekali ketika mendengar perkataan laki-laki brewok di depannya itu. Sama sekali tidak disangka kalau dirinya dapat dikenali. Lebih-lebih ketika laki-laki brewok itu menyebut-nyebut Gunung Salaka dan Ki Surya Kencana. Tanpa sadar Pendekar Tangan Sakti melangkah mundur sejauh lima tindak! Meskipun wajahnya masih terlihat tenang, namun sinar matanya berkilat tajam

Kesepuluh orang laki-laki gagah itu memang hendak mengunjungi Gunung Salaka setelah mendengar kematian Ki Surya Kencana. (Untuk lebih jelasnya baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Algojo Gunung Sutra).

Memang orang nomor dua di Perguruan Gunung Salaka itu adalah guru kesepuluh orang itu. Mereka meninggalkan Perguruan Gunung Salaka, karena ingin meluaskan pengalaman. Begitu mendengar guru mereka tewas, para murid Perguruan Gunung Salaka yang tengah mencari pengalaman itu pun segera berbondong-bondong mengunjungi perguruan untuk memastikan kebenaran berita itu. Dan tanpa disangka, tahu-tahu perjalanan mereka dihadang belasan orang yang sama sekali tidak menunjukkan sikap bersahabat

"Hm..., siapa kau sebenarnya? Dan apa maksud menghadang perjalanan kami?' tanya laki-laki yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu. Pendekar Tangan Sakti yang benar-benar terpukul atas kematian gurunya yang tanpa diketahui siapa pembunuhnya menjadi curiga kepada laki-laki kasar di depannya ini. Dan kini, laki-laki brewok itu tampaknya sangat memusuhi Perguruan Gunung Salaka. Memang bisa jadi orang ini mempunyai hubungan dengan pembunuhan gurunya. Apalagi melihat sikap laki-laki brewok yang mencurigakan itu.

"He he he..., Pendekar Tangan Sakti! Demikian lemahkah ingatanmu sehingga tidak mengenaliku lagi? Apakah kau sudah lupa kejadian setahun yang lalu? Bukankah gadis itu sudah menjadi istrimu?" ujar laki-laki brewok itu, mengingatkan.

Kening Pendekar Tangan Sakti berkerut dalam. Jelas, dia tengah berpikir keras. "Ya, aku ingat sekarang!" jawab laki-laki gagah itu setelah berpikir sesaat. "Lalu, apa maumu sekarang, Setan Kali Gantang! Apakah ingin membalas dendam?" Pendekar Tangan Sakti mulai waspada ketika mengenali laki-laki brewok yang menghadangnya itu. Tatapan matanya tajam, mengawasi orang di depannya.

"He he he...., kira-kira begitulah!" jawab laki-laki brewok yang berjuluk Setan Kali Gantang itu. Sikapnya benar-benar memandang rendah lawan.

Melihat sikap lawan yang sepertinya begitu yakin dapat mengalahkannya, Pendekar Tangan Sakti tidak mau bertindak ceroboh. Maka segera dipersiapkan tenaga dalamnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Sementara kawan-kawannya sudah pula menghampiri ketika melihat sikap Pendekar Tangan Sakti yang seperti akan bertarung itu. Namun sebelum kesembilan orang kawan Pendekar Tangan Sakti bertindak, tiba-tiba...

"Seraaanggg...!" teriak laki-laki brewok yang berjuluk Setan Kali Gantang.

Belum juga gema suara itu hilang, laki-laki kasar itu sudah mencabut sebilah golok besar dari pinggangnya. Langsung saja diterjangnya Pendekar Tangan Sakti. Sementara pendekar itu langsung berkelit dan membalas dengan pukulan-pukulan yang menimbulkan desir angin tajam. Dalam waktu singkat saja, keduanya segera terlibat pertarungan sengit dan mati-matian.

Demikian pula belasan orang anak buah Setan Kali Gantang. Mereka sudah berlompatan menyerbu sembilan orang kawan Pendekar Tangan Sakti. Yang segera menyambut dengan tidak kalah ganasnya. Bunga api berpijaran ketika senjata-senjata dari kedua belah pihak berbenturan sehingga menimbulkan suara berdering yang memekakkan telinga. Kilatan kilatan pedang dan golok berkelebatan dan menyambar-nyambar mencari sasaran. Akibatnya membuat pertempuran itu semakin ramai dan sengit!

Setelah bertempur selama kurang lebih lima jurus, sembilan orang kawan Pendekar Tangan Sakti terkejut sekali. Ternyata kepandaian lawan-lawan mereka ternyata cukup hebat! Tidak heran kalau mereka yang telah digembleng di Perguruan Gunung Salaka itu harus mengeluarkan seluruh kemampuan. Gerakan-gerakan lawan ternyata cukup gesit dan membingungkan. Seolah-olah belasan orang itu memang sudah dipersiapkan sejak lama! Dan hal itu benar-benar di luar dugaan mereka.

Sedangkan pertarungan Pendekar Tangan Sakti melawan Setan Kali Gantang tampak berlangsung seimbang. Pendekar itu memang pernah mengalahkan Setan Kali Gantang pada setahun yang lalu. Tapi kini hatinya merasa terkejut sekali melihat kemajuan lawannya. Padahal, dulu Setan Kali Gantang dapat dikalahkan tak lebih dari sepuluh jurus. Kini belasan jurus telah dilalui, namun Pendekar Tangan Sakti belum juga dapat mendesak lawannya. Apalagi untuk mengalahkan. Dan hal ini benar-benar mengejutkan baginya.

Pada jurus kedelapan belas, Pendekar Tangan Sakti mulai mengeluarkan salah satu ilmu andalan perguruannya 'Sebelas Jurus Penahan Ombak'. Jurus ini diciptakan Ki Tunggul Jagad untuk menahan serangan yang bagaimana pun hebatnya. Di dalam jurus itu terkandung pukulan-pukulan tersembunyi yang dapat dilontarkan secara mendadak, dan sama sekali tidak diduga lawan Setan Kali Gantang tersentak kaget, ketika setiap serangan yang dilakukan bagaikan membentur benteng yang tak tampak.

Beberapa kali tubuhnya terdorong mundur dan terhuyung-huyung ketika melakukan serangan gencar. Meskipun demikian, semangat Setan Kali Gantang memang patut dipuji. Hatinya sama sekali tidak merasa gentar. Diiringi sebuah teriakan parau, Setan Kali Gantang memutar-mutar golok besarnya hingga menimbulkan angin menderu-deru. Tubuhnya melesat diiringi suara mengaung yang ditimbulkan golok besarnya.

Pendekar Tangan Sakti mempercepat gerakan tangannya untuk menghalau serangan lawan. Disertai hentakan keras, tubuhnya segera berputar sehingga bacokan Setan Kali Gantang hanya mendapatkan tempat kosong. Namun gerakan Pendekar Tangan Sakti tidak sampai di situ saja. Tangan kanannya yang berputar itu, tiba-tiba mencelat cepat bagai kilat menuju lambung lawan!

Bukan main terkejutnya Setan Kali Gantang ketika melihat serangan mendadak itu. Sedangkan pada saat itu dirinya dalam keadaan membacok. Sehingga, kesempatannya untuk menghindar pupus sudah.

Desss!

"Aaakkkhhh...!" Setan Kali Gantang menjerit tertahan ketika pukulan yang dilancarkan Pendekar Tangan Sakti menghantam lambung. Tubuh laki-laki brewok itu melintir bagai putaran gangsing. Belum lagi dapat mengatur kuda-kuda-nya, tiba-tiba tubuh Pendekar Tangan Sakti sudah mencelat mengejarnya. Tidak sampai di situ saja, pendekar itu langsung mendorongkan kedua telapak tangannya sepenuh tenaga!

Bukkk!

Setan Kali Gantang menjerit tinggi ketika sepasang lengan yang dialiri tenaga dalam penuh itu menggedor dadanya. Kontan tubuh laki-laki itu terjungkal dan ambruk di tanah sejauh satu setengah tombak. Darah segar mengalir dari celah-celah bibirnya yang memucat. Setelah memuntahkan darah segar beberapa kali, tubuh Setan Kali Gantang itu diam tak bergerak lagi, tewas dengan dada hancur.

Pada saat yang bersamaan terdengar pula jerit kematian yang merobek angkasa. Empat sosok tubuh telah terjerembab dalam keadaan tewas. Perut dan lambung mereka masing-masing robek ditembus senjata. Salah seorang di antaranya adalah murid Gunung Salaka yang sebelumnya telah menewaskan dua orang lawannya.

Pertempuran kembali berlangsung sengit. Korban dari pihak anak buah Setan Kali Gantang kembali berjatuhan ketika salah seorang murid Gunung Salaka membabatkan pedangnya sehingga merobek perut dua orang lawannya. Pendekar Tangan Sakti yang telah terjun dalam arena pertempuran kembali, telah pula merobohkan seorang lawan dengan pukulan ampuhnya. Dan hal itu semakin menambah semangat kawan-kawannya.

Para pengeroyok yang kini tinggal tiga belas orang itu, menjadi kalang kabut menghadapi gempuran murid-murid Gunung Salaka. Kini mereka hanya dapat bertarung sambil mundur, karena rasa gentar telah mulai menguasai hati mereka.

Brettt! Brettt!

"Ouuuggghhh...!" Terdengar suara senjata yang mengenai sasaran. Lima orang penghadang kembali terjerembab dengan tubuh berlumuran darah! Mereka tewas tersambar lima batang pedang yang dikelebatkan murid-murid Gunung Salaka yang telah haus darah itu. Tentu saja hal itu semakin menambah ciut hati para lawan. Mata mereka pun mulai liar, mencari-cari kesempatan untuk meloloskan diri. Namun kesembilan Pendekar Gunung Salaka itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada musuh-musuh-nya untuk meloloskan diri.

Namun pada saat para penghadang yang kini tinggal delapan orang itu kalut, tiba-tiba melesat tiga sosok bayangan yang langsung memasuki kancah pertempuran. Begitu ketiga sosok bayangan itu menggerakkan tangannya, tiga orang pendekar dari Gunung Salaka kontan terjungkal ke belakang dihantam oleh pukulan bertenaga dalam tinggi. Darah segar mengalir dari sela-sela bibir mereka. Dengan gerakan limbung, tiga orang Pendekar Gunung Salaka itu mencoba bangkit berdiri.

"Ha ha ha..., cecurut-cecurut Gunung Salaka! Sebentar lagi kalian akan menyusul si tua bangka Surya Kencana itu!" ujar salah seorang dari tiga bayangan itu, sambil tertawa pongah. Wajahnya yang berwarna kuning memang mudah dikenali. Siapa lagi kalau bukan Ular Muka Kuning yang telah menewasakan Ki Surya Kencana!

Sedang sosok yang kedua adalah seorang wanita cantik berambut merah. Kepandaiannya juga tidak bisa dipandang rendah, karena termasuk salah seorang tokoh golongan sesat yang kejam dan genit. Kesenangannya adalah menggaet pemuda-pemuda tampan. Entah sudah berapa banyak pemuda tampan yang telah jadi korban rayuan dan kecantikannya. Tapi, begitu merasa bosan, maka korbannya akan dibunuh dengan mulut tersenyum. Sehingga, dalam dunia persilatan ia dijuluki Setan Cantik.

Dan yang sangat mengejutkan hati para pendekar Gunung Salaka itu, adalah orang ketiga. Tubuhnya jangkung dengan sebaris kumis lebat menghias wajahnya itu. Jelas-jelas hal ini membuat mata para pendekar Gunung Salaka terbelalak bagai melihat hantu di siang bolong!

"Ki Ageng Sampang...!" teriak mereka berbarengan, dengan wajah pucat

"Ki Ageng! Apa..., apa maksudnya semua ini...?" seru Pendekar Tangan Sakti, kebingungan.

Memang, bagaimana hati pendekar itu tidak menjadi bingung? Sebab, selama ini dia mengenal Ki Ageng Sampang adalah sahabat guru mereka, Ki Surya Kencana. Tapi, mengapa sekarang tahu-tahu orang tua yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu, berpihak kepada tokoh-tokoh sesat? Padahal Ki Ageng Sampang yang selama ini mereka kenal adalah orang tua yang sabar dan bijaksana. Tentu saja hal itu sangat membingungkannya.

"Ha ha ha...! Rupanya kau belum mengerti maksudku, anak bodoh! Ketahuilah bahwa kedatanganku ke sini untuk mengantarmu menemui Ki Surya Kencana. Nah, ber-siaplah," ujar orang yang berwajah Ki Ageng Sampang itu, dingin. Dan begitu ucapannya selesai, tubuh jangkung itu segera melayang ke arah Pendekar Tangan Sakti yang masih berdiri bagai orang linglung.

"Wuttt!" Sambaran tangan orang tua jangkung itu hebat sekali. Serangkum angin dingin berhembus mendahului gerakan tangannya. Untunglah Pendekar Tangan Sakti cepat me-rendahkan tubuhnya, sehingga serangan orang tua itu lewat beberapa rambut di atas kepalanya. Kalau tidak, pasti batok kepalanya remuk terkena hantaman itu! Begitu serangan itu berhasil dielakkan, tubuhnya pun mencelat ke belakang untuk menghindari serangan berikutnya.

Pendekar Tangan Sakti yang menyadari siapa lawannya, segera mengempos semangatnya. Dikerahkannya seluruh tenaga dalam untuk memainkan ilmu 'Menggetar Langit Mengacau Bumi'. Ilmu ini merupakan andalan Guru Besar Gunung Salaka, Ki Tunggul Jagad. Orang tua itu memang telah mewariskan ilmu-ilmu tingkat tinggi kepada setiap muridnya yang memiliki bakat bagus dalam ilmu silat. Dan salah seorang yang beruntung adalah Pendekar Tangan Sakti. Dan dalam urutan perguruan, Pendekar Tangan Sakti dapat disejajarkan dengan tokoh perguruan lainnya seperti Santiaji dan Ranjita. Maka dapatlah diukur sampai di mana kepandaian yang dimiliki pendekar itu.

Dengan ilmu yang jarang digunakan, Pendekar Tangan Sakti menyerang sepenuh tenaga orang yang bertubuh jangkung itu. Angin keras berputar, ketika Pendekar Tangan Sakti melancarkan serangan ke arah lawan! Kedua tangannya bergerak sallng susul menyusul disertai desiran angin tajam, sehingga jubah lawan berkibaran.

Tapi sayang tenaga dan kematangan ilmu yang dimiliki Pendekar Tangan Sakti masih belum mampu menandingi musuhnya. Sehingga biarpun telah dikerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja tidak dapat mendesak lawan yang memang berkepandaian jauh lebih tinggi darinya. Orang tua bertubuh jangkung yang menyamar sebagai Ki Ageng Sampang itu bergerak lincah menghindari setiap serangan yang dilancarkan Pendekar Tangan Sakti dengan mulus. Bahkan sesekali masih sempat melontarkan pukulan berbahaya ke arah pendekar itu.

Sementara itu, delapan orang Pendekar Gunung Salaka lain sudah pula terlibat dalam pertarungan yang berat sebelah. Mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk membendung serangan Ular Muka Kuning dan Setan Cantik yang dibantu delapan orang penghadang tadi. Tentu saja keadaan itu membuat delapan orang Pendekar Gunung Salaka terdesak hebat! Kalau saja Ular Muka Kuning dan Setan Cantik tidak dibantu delapan orang lainnya, tentu delapan Pendekar Gunung Salaka itu masih dapat mengimbanginya. Namun sekarang? Maka, keadaannya pun kini menjadi terbalik.

Pada jurus kesembilan belas, tiga orang dari para Pedekar Gunung Salaka itu menjerit tinggi. Tubuh mereka terlempar akibat pukulan yang dilontarkan Ular Muka Kuning dan Setan Cantik. Tiga orang pendekar itu terbanting dengan isi perut hancur. Tewas seketika. Melihat keadaan itu, bukan main marahnya hati para Pendekar Gunung Salaka! Tapi biar menggunakan seluruh tenaga dan kepandaian, tetap saja keadaan mereka tidak berubah! Bahkan lebih buruk dalam menghadapi lawannya.

Brettt! Brettt!

"Aaakh.!" Kembali terdengar jerit kematian yang dibarengi melambungnya dua orang Pendekar Gunung Salaka yang lainnya. Ternyata mereka tersambar pedang lawan dan tewas seketika dengan luka memanjang di tubuh. Tiga orang lainnya yang tersisa seketika tersentak mundur disertai wajah pucat. Hati mereka benar-benar terpukul menyaksikan kawan-kawannya dibantai di depan mata tanpa mampu berbuat apa-apa

Di arena lain, keadaan Pendekar Tangan Sakti pun tidak berbeda jauh. Keadaannya, bagai telur di ujung tanduk yang sewaktu waktu jatuh dan hancur. Diam-diam hati Pendekar Tangan Sakti mengeluh ketika merasakan kalau kepandaian lawannya ternyata sangat tinggi. Apalagi ketika mendengar suara jerit kematian kawan-kawannya. Hati Pendekar Tangan Sakti bagaikan teriris. Memang mereka sama sekali tidak mengetahui apa sebabnya hingga orang-orang itu sampai menyerang mereka.

Desss!

"Aaahhhkkk...!" Tubuh Pendekar Tangan Sakti terjungkal ketika sebuah tendangan sangat keras dari lawannya telah menghantam dadanya! Darah segar menyembur diiringi teriakannya yang parau. Ternyata Pendekar Tangan Sakti harus membayar mahal akibat kelalaiannya itu! Di saat tubuhnya masih bergulingan, serangan lawannya kembali datang untuk segera membinasakan Pendekar Tangan Sakti.

Wuttt! Plakkk!

"Aihhh...!" Pukulan maut yang semula hendak menghabisi nyawa Pendekar Tangan Sakti itu, berhasil disampok oleh sesosok bayangan merah yang tiba-tiba saja melesat di antara keduanya. Namun, bayangan merah itu menjerit tertahan dan tubuhnya terpelanting akibat menangkis pukulan yang bertenaga dalam kuat itu! Meskipun demikian, bayangan merah itu telah berhasil menyelamatkan nyawa Pendekar Tangan Sakti dari kematian!

Berbarengan dengan kejadian itu, ditempat Iain, tiga orang Pendekar Gunung Salaka tengah terdesak hebat. Mereka tak dapat lagi menyelamatkan diri dari sabetan senjata tiga orang lawannya.

Brettt! Brettt!

"Aaahk...!"

Bresss!

"Wuaaa...!"

Tubuh ketiga orang Pendekar Gunung Salaka itu terpelanting tersabet senjata lawan-lawannya! Darah segar menghambur keluar dari luka yang menganga di tubuh mereka. Ketiganya terbanting tewas seketika tanpa ampun lagi.

Pada saat ketiga orang Pendekar Gunung Salaka itu terpelanting, mendadak meluncur ke tengah arena sesosok tubuh yang mengeluarkan sinar berwarna putih keperakan. Kedua telapak tangannya didorongkan ke depan. Seketika serangkum angin yang berhawa dingin luar biasa berhembus keras, bagaikan badai salju yang menggetarkan udara di sekitar arena pertarungan itu.

Ular Muka Kuning, Setan Cantik, dan kedelapan orang lainnya, langsung terjengkang bagaikan diterpa angin topan dahsyat! Tiga orang terdepan yang telah menewaskan tiga Pendekar Gunung Salaka, kontan tewas dengan tubuh kebiruan! Sedangkan lima orang lainnya bergelimpangan pingsan, akibat dorongan dahsyat itu.

Hanya dua orang yang masih dapat bertahan akibat dorongan luar biasa tadi. Mereka adalah Ular Muka Kuning dan Setan Cantik! Namun, Keduanya tetap saja tak luput dari serangan pukulan berhawa dingin luar biasa itu. Tubuh dua tokoh itu menggigil bagaikan terserang demam tinggi! Cepat-cepat mereka mengatur pernapasan untuk mengusir hawa dingin yang mengeram dalam tubuh.

"Pendekar Naga Putih...!" teriak Ular Muka Kuning dan Setan Cantik berbarengan, dengan wajah memucat! Keduanya tersentak mundur dengan gerakan limbung. Pandangan mata mereka terpancar rasa gentar yang tak dapat disembunyikan.

EMPAT

Memang tidak salah apa yang diteriakkan Ular Muka Kuning dan Setan Cantik itu. Di hadapan mereka berdiri sesosok tubuh yang terselimut selapis kabut putih keperakan! Siapa lagi kalau bukan Pendekar Naga Putih, yang datang bersama Dewi Tangan Merah.

"Kakang Panji, mereka itu tokoh-tokoh sesat yang berjuluk Ular Muka Kuning dan Setan Cantik! Sedangkan orang tua bertubuh jangkung itu kalau tidak salah si Setan Muka Seribu!" kata Dewi Tangan Merah yang tahu-tahu saja sudah berada di samping Panji, bersama Pendekar Tangan Sakti yang telah ditolong oleh bayangan merah, dan ternyata Sundari. Dan memang tidak mampu kalau untuk melindungi Pendekar Tangan Sakti terus-menerus dari ancaman Setan Muka Seribu yang memiliki kepandaian lebih tinggi darinya.

"Eh! Bagaimana kau bisa mengenali mereka, Adik Sundari? Apakah kau pernah bertemu atau mengenal mereka sebelumnya?" tanya Panji sambil menolehkan kepala menatap gadis jelita berbaju merah itu. Masalah-nya, dalam usia semuda itu Sundari sudah memiliki pengetahuan luas tentang tokoh-tokoh rimba per silatan. Benar-benar seorang gadis hebat!

"Tentu saja mengenal mereka. Bahkan pernah merasakan kelihaian masing-masing! Dan di antara mereka bertiga, hanya Setan Muka Seribu-lah yang paling tinggi kepandaiannya. Rasanya aku pun tidak akan sanggup untuk menghadapinya, Kakang," jawab Dewi Tangan Merah sejujurnya.

"Tapi, bagaimana kau bisa mengenali Setan Muka Seribu yang kini menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra?" tanya Panji penasaran.

"Benar! Sedangkan aku saja masih dapat ditipuya, hingga tidak mengenali sama sekali!" timpal Pendekar Tangan Sakti juga merasa heran, kerena ia sendiri tidak dapat membedakannya.

"Semula aku memang menganggap orang tua itu sebagai Algojo Gunung Sutra. Tapi ketika menangkis pukulannya yang diarahkan kepada Pendekar Tangan Sakti, aku baru dapat mengenali. Sebab pukulan yang digunakannya sudah pernah membuatku terluka dalam! Bahkan mungkin akan tewas, kalau saja pada saat itu guruku tidak datang menyelamatkanku. Itulah sebabnya, Kakang. Mengapa aku dapat mengenali manusia busuk yang sangat berbahaya itu. Rasanya aku tak sabar ingin melihat dia pergi ke neraka!" Dewi Tangan Merah mengakhiri cerita. Kata-katanya yang terlontar memang mengandung kegemasan.

"Hm..., berarti satu teka-teki terjawab sudah. Pantas saja Paman Ranjita sampai tidak dapat membedakan antara Algojo Gunung Sutra yang asli dan yang tiruannya. Bahkan aku sendiri pun tidak dapat membedakan, apabila tidak bertanding dulu sebelumnya atau melihat gerakannya!" ujar Panji. Setelah berkata demikian, kembali dilayangkan pandangannya ke arah tiga tokoh sesat yang juga telah berkumpul itu.

"Huaaakkk...!" tiba tiba Pendekar Tangan Sakti kembali memuntahkan darah berwarna agak kehitaman! "Uh, rupanya pukulan iblis itu telah mengakibatkan luka cukup parah dalam dadaku," keluh Pendekar Tangan Sakti yang wajahnya agak memucat. Sementara kedua tangan menekap dadanya yang terasa nyeri dan sesak

"Cepatlah telan obat ini, Paman. Obat ini manjur sekali untuk menyembuhkan luka dalam akibat pukulan-pukulan beracun," Pendekar Naga Putih, menyerahkan sebutir pil berwarna hijau.

Pendekar Tangan Sakti segera menerima pil itu, dan tanpa ragu-ragu lagi segera dimasukkan ke dalam mulut-nya. Beberapa saat setelah menelan pil yang berwarna hijau itu, Pendekar Tangan Sakti mulai merasakan keampuhan obat yang diberikan Pendekar Naga Putih. Hawa hangat mulai menebar dari bawah pusarnya dan terus mendorong ke dada. Tidak lama kemudian, Pendekar Tangan Sakti kembali memuntahkan segumpal darah kental berwarna kehitaman. Dan kini berangsur-angsur tubuhnya segar dan ringan. Dengan penuh rasa heran segera dicobanya untuk mengerahkan hawa murni. Dan kembali pendekar itu merasa terheran-heran, ketika merasakan aliran hawa murninya lebih kuat dari semula.

"Wah! Obat ini sungguh hebat, Panji! Terima kasih atas pertolongan memberikan obat itu kepadaku," ucap Pendekar Tangan Sakti sambil berkali-kali mem-bungkukkan tubuhnya kepada Panji, dengan wajah berseri-seri

"Ah! Sudahlah, Paman. Di antara kawan sendiri mengapa harus sungkan-sungkan," ujar Pendekar Naga Putih yang bersikap wajar, seolah-olah sama sekali tidak ingin dipuji.

Setelah berkata demikian, Panji segera melangkah mendekati tiga tokoh sesat yang telah membuat geger dunia persilatan. Bahkan sepak terjangnya telah meresah-kan dua buah partai besar yaitu Perguruan Gunung Salaka dan Perguruan Gunung Sutra. Akibatnya kedua pertai besar itu saling memusuhi satu sama Iain. (Untuk lebih jelas, baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode Algojo Gunung Sutra)

"Hm.... Setan Muka Seribu, apa maksudmu membuat kemelut dalam rimba hijau? Akibatnya kau tahu?! Telah terjadi permusuhan antara tokoh-tokoh golongan putih dari dua partai terbesar pada saat ini? Tidakkah kau sadar bahwa perbuatanmu itu telah memecah belah rimba persilatan golongan putih? Dan kau tahu, hukuman apa yang pantas untukmu apabila kau kuhadapkan kepada mereka?" ancam Panji dengan sinar mata berkilat penuh kemerahan. Meskipun demikian, sikap pemuda digdaya itu masih saja terlihat tenang. Kalau saja sinar mata itu tidak berkilat, pasti ketiga tokoh sesat itu akan terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang bernada bodoh itu.

"Huh! Pendekar Naga Putih. Janganlah kau kira kami takut pada ilmu-ilmumu yang mengerikan itu! Ketahuilah, bahwa pada saat ini kau tengah berhadapan dengan orang-orang Partai Rimba Hitam! Dan akan kau rasakan akibatnya, karena berani mencampuri urusan kami," ujar Setan Muka Seribu disertai tawa yang tidak enak didengar telinga.

"Partai Rimba Hitam...! Bagus! Memang aku sudah lama ingin mengetahui macam apa partai yang kau sebutkan itu. Dan aku harus dapat menyeretmu menghadap Ketua Perguruan Gunung Salaka dan Gunung Sutra untuk memperjelas persoalannya. Nah! Bersiaplah!" belum lagi gema suaranya hilang, tiba-tiba tubuh pemuda sakti itu sudah melesat ke arah tiga orang tokoh sesat yang memang sudah bersiap sejak tadi.

Wuttt!

Serangkum angin dingin berhembus keras mendahului serangan yang dilancarkan Panji. Selapis kabut tipis putih keperakan sudah pula menyelimuti sekeliling tubuhnya. Suatu tanda bahwa pendekar muda itu telah mengerahkan lebih dari separuh tenaga saktinya. Betapa hebat serangan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih itu.

Ketiga orang tokoh sesat yang sudah memiliki pengalaman bertanding dan selama malang melintang dalam rimba persilatan, merasa terkejut sekali ketika merasakan hawa di sekitarnya menjadi sangat dingin. Seolah-olah mereka bertiga dikelilingi dinding-dinding salju yang tak tampak. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya dapat terpaku kebingungan.

Dan ketiganya baru tersentak pucat, ketika serangan Panji hampir saja merenggut nyawa mereka. Dengan gerakan terburu-buru, mereka segera berlompatan mundur untuk menghindari serangan yang mengandung hawa maut itu! Setelah berhasil menghindari serangan Panji, ketiganya segera menyebar dan menyerang pemuda digdaya itu dari tiga jurusan.

Menghadapi keroyokan Ular Muka Kuning, Setan Cantik, dan Setan Muka Seribu, bukanlah suatu hal yang mudah. Sebab ketiganya adalah tokoh golongan hitam yang memiliki kepandaian tinggi. Rasanya jarang orang yang dapat menghalangi kejahatan mereka. Sehingga, nama ketiga tokoh sesat itu, bukanlah nama asing bagi dunia rimba hijau. Tak heran kalau Panji menjadi sibuk menghadapinya. Sehingga untuk beberapa jurus lamanya, ia masih belum dapat mendesak lawan lawannya itu. Bahkan setelah melewati belasan jurus, beberapa serangan lawan-lawannya hampir mengenai tubuhnya. Tentu saja hal itu sangat mengagetkan hati Pendekar Naga Putih itu.

Panji memang mengetahui kalau tiga orang lawannya adalah tokoh-tokoh sesat berkepandaian tinggi. Namun yang dialami justru di luar dugaannya sama sekali. Sehingga, hampir saja tubuhnya terluka oleh pukulan-pukulan lawan yang memang berbahaya itu. Dan hal itu merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi Panji!

Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang melihat keadaan Panji, segera melesat dan langsung memasuki arena pertempuran. Mereka segera memilih lawan masing-masing. Dewi Tangan Merah segera menghadang serangan Setan Cantik. Dalam beberapa saat saja kedua orang wanita yang sama-sama cantik dan berilmu tinggi itu, segera teriibat dalam pertarungan sengit! Serangan-serangan yang dilancarkan Setan Cantik, memang tidak bisa dianggap remeh! Jari-jari kedua tangannya yang berkuku runcing itu benar-benar merupakan senjata yang sangat ampuh dan berbahaya. Kecepatan gerakan kedua tangannya memang patut dipuji!

Di saat kedua tangan Setan Cantik berputar, Dewi Tangan Merah membungkukkan tubuhnya sambil merendahkan kuda-kudanya. Sehingga, kedua tangan yang saling susul menyusul itu lewat di atas kepalanya. Namun tanpa disangka-sangka tahu-tahu saja tangan kanan Setan Cantik hampir mencapai lehernya!

Tidak percuma kalau Sundari dijuluki Dewi Tangan Merah. Karena meskipun dalam keadaan sulit, dia masih dapat menyelamatkan lehernya dari cengkraman kuku-kuku lawan. Denyan sebuah hentakan keras, tubuh Sundari melambung ke atas, setelah terlebih dahulu mengegoskan tubuhnya ke kiri. Hasilnya, cakaran Setan Cantik lolos, bahkan Sundari berhasil keluar dari kurungan sepasang tangan yang memiliki kecepatan mengejutkan itu.

"Huh! Setan belang! Rupanya kau tidak tahu dikasihi orang, heh! Kalau begitu terimalah hukuman dariku ini! Bersiaplah!" Dewi Tangan Merah segera mengeluarkan ilmu andalannya, 'Tangan Pasir Merah', yang telah mengangkat namanya dalam dunia persilatan! Pelahan-lahan kedua tangannya mulai memerah hingga sebatas siku. Hawa panas pun mulai menebar dari kedua belah lengan yang memerah itu.

"Haittt...!" dibarengi sebuah teriakan nyaring. Dewi Tangan Merah segera melancarkan serangan yang mengandung hawa panas.

Setan Cantik ternyata sudah pula mempersiapkan ilmu andalan untuk menghadapi lawan yang sudah beberapa kali bentrok dengannya itu. Dengan jurus 'Setan Cantik Menolak Rayuan', tubuhnya segera melesat memapak serangan lawan. Dan tanpa dapat dicegah lagi, kedua pasang tangan mungil namun berhawa maut itu pun berbenturan di udara.

Dubbb!

"Aihhh...!" Terdengar suara bagaikan api disiram air, berbareng terpentalnya dua sosok tubuh ramping beberapa tombak ke belakang. Juga, terdengar jeritan tertahan yang keluar dari mulut Setan Cantik. Tubuhnya terbanting ke tanah, namun dengan gerakan gesit segera melenting berdiri. Meski gerakannya terlihat sedikit limbung, tapi sama sekali tidak mengalami luka di tubuhnya. Hanya tangan bajunya yang hancur, akibat benturan tadi.

Dewi Tangan Merah yang tidak kurang suatu apa itu, kembali menyerang ganas Setan Cantik itu. Maka wanita dari golongan sesat itu segera menyambutnya. Seketika pertarungan dua wanita yang sama-sama cantik itu kembali terjadi. Semakin sengit dan mendebarkan!

Jurus demi jurus berlalu cepat. Dan tanpa disadari keduanya, mereka telah bertempur lebih dari lima puluh jurus. Dan setelah melewati jurus kelima puluh lima, jelas terlihat bahwa Dewi Tangan Merah mulai dapat menguasai lawannya. Gadis yang bernama Sundari itu memaksa lawannya untuk bermain mundur, tanpa sekali pun memberi kesempatan membalas. Hingga satu ketika, Setan Cantik terpaksa harus merelakan hantaman mengandung tenaga 'Pasir Merah' mampir di punggungnya.

Bukkk!

"Aughhh...!" tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Setan Cantik terpelanting keras. Tokoh sesat itu langsung memuntahkan darah agak kehitaman akibat pukulan yang dilontarkan Dewi Tangan Merah. Belum lagi Setan Cantik berhasil memperbaiki kuda kudanya, tahu-tahu tubuh Dewi Tangan Merah sudah melayang ke arahnya disertai sebuah tendangan maut!

Desss!

"Ngkkk…!" tubuh Setan Cantik terjerembab kebelakang, ketika tendangan terbang yang dilakukan Sundari tepat bersarang di dadanya! Setelah menggeliat sejenak, tubuh molek itu pun diam tak bergerak lagi. Dia tewas di tangan Sundari setelah melalui pertempuran melelahkan.

Baru saja Sundari dapat menarik napas lega, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan keras. Di susul kemudian dengan jatuhnya sesosok tubuh tegap di samping Dewi Tangan Merah. Gadis itu segera memburunya dengan wajah cemas.

"Kakang Wija, kau tidak apa-apa?" seru Dewi Tangan Merah sambil mengangkat tubuh yang tergolek di sampingnya itu.

Orang yang di panggil Wija itu segera berusaha bangkit dengan susah payah. Rupanya, dia adalah Pendekar Tangan Sakti yang bernama Wijasena. Memang, dia tadi memilih lawan Ular Muka Kuning untuk bertarung. Dan laki-laki bermuka kuning itu memang masih sedikit lebih unggul dari Pendekar Tangan Sakti. Pada kenyataannya, dia telah berhasil mendaratkan pukulan pada lambung Pendekar Tangan Sakti pada saat memasuki jurus keempat puluh sembilan.

Dewi Tangan Merah yang tengah berusaha menolong Pendekar Tangan Sakti, merasa terkejut sekali ketika merasakan sambaran angin tajam menuju ke arahnya. Cepat dikerahkan 'Tenaga Sakti Pasir Merah' yang disertai dorongan telapak tangannya sambil mengerahkan jurus 'Tangan Pasir Merah', ke arah sambaran angin keras itu.

Bresss!

"Aiii...!" Dewi Tangan Merah berseru tertahan ketika merasakan betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan lawan. Tubuhnya terdorong sejauh tujuh langkah. Lengannya terasa bergetar dan nyeri akibat benturan itu.

Sedangkan Ular Muka Kuning hanya terdorong sejauh empat langkah. Dari sini saja sudah dapat dinilai bahwa kepandaian laki-laki bermuka kuning itu lebih tinggi setingkat daripada Dewi Tangan Merah. Dan tentu saja hal itu membuat Ular Muka Kuning semakin berani melontarkan serangan-serangan, sehingga membuat Dewi Tangan Merah kewalahan.

Di arena lain, Setan Muka Seribu tengah berusaha mati-matian menyelamatkan diri dari ancaman cakar naga yang dilancarkan Pendekar Naga Putih. Gerakan pemuda sakti itu, benar-benar membuatnya kelabakan. Sebab ke mana saja tubuhnya mengelak, selalu saja tangan pemuda itu seolah-olah berada dekat tubuhnya. Sehingga Setan Muka Seribu merasa seperti bertarung melawan bayangannya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, betapa ngeri hatinya meng-hadapi kenyataan seperti itu.

Hingga pada jurus yang ketiga puluh satu, Setan Muka Seribu tidak dapat lagi menghindari sebuah hantaman kearah lambungnya. Kedua tangan Pendekar Naga Putih dengan jari-jari terbuka itu berkesiut membeset udara, dan kecepatannya sukar ditangkap mata biasa.

Wukkk! Tasss!

"Aughhh...!" Tubuh Setan Muka Seribu terguling ketika jari-jari tangan Panji yang dialiri 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', tepat menghantam lambungnya. Untunglah tenaga dalam yang dikerahkan Panji hanya separuhnya. Tubuh Jangkung itu terbungkuk-bungkuk menahan rasa nyeri yang luar biasa pada lambungnya. Giginya bergemeletukkan bagai orang kedinginan! Rupanya hawa dingin dari tenaga sakti Panji, ikut pula menambah beban orang tua yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra itu.

Dan sebelum Setan Muka Seribu dapat mengatasi keadaan, sebuah totokan maut telah melumpuhkan seluruh urat saraf di tubuhnya. Seketika tokoh itu ambruk bagaikan sehelai karung basah, akibat totokan Panji. Namun baru saja Pendekar Naga Putih akan membawanya, tiba-tiba terdengar suara mencicit tajam, dan dibarengi lesatan sesosok tubuh kurus ke arah Panji.

Menghadapi serangan yang mengandung tenaga dahsyat itu, Panji tidak ingin menanggung resiko. Cepat-cepat kedua tangannya bergerak disertai pengerahan tenaga saktinya. Serangkum angin dingin menebar menyongsong angin tajam tadi. Dan....

"Blarrr!" Hebat luar biasa akibat benturan dua gelombang tenaga sakti yang dahsyat itu! Ular Muka Kuning, Dewi Tangan Merah, dan Pendekar Tangan Sakti yang bertarung tidak jauh dari tempat benturan tadi, langsung terjengkang ke belakang.

Memang, secara tiba-tiba saja dirasakan sesuatu yang tak tampak telah menggetarkan dada mereka. Sehingga, jalan napas seolah-olah tertutup getaran udara yang ditimbulkan benturan dua gelombang tenaga dahsyat tadi. Sejenak ketiganya sama-sama terdiam dengan wajah memucat!

Sedangkan kedua orang yang mengalaminya secara langsung, tentu saja akibatnya lebih hebat lagi. Tubuh mereka masing-masing terpental ke belakang bagai sehelai daun kering tertiup angin. Dan masing-masing pula menabrak sebatang pohon hingga tumbang! Dengan gerakan limbung, keduanya segera bangkit dan sating menatap tajam. Di mata mereka masing-masing terpancar rasa kagum yang tak dapat disembunyikan

"Bocah setan! Gila! Tidak kusangka tenaga dalammu ternyata begitu kuat! Huh! Hampir saja aku dipecundangi dalam segebrakkan tadi."

Terdengar umpatan dari sosok bertubuh kurus dengan suara yang melengking tinggi. Tubuhnya yang hanya setinggi telinga Panji itu, tampak telah bongkok. Dari ciri-cirinya saja sudah dapat diduga kalau sosok itu adalah seorang nenek tua yang usianya sekitar enam puluhan tahun. Nenek itu terus mengomel panjang pendek tanpa mempedulikan yang lainnya.

"He he he.... Tidak percuma kau berjuluk Pendekar Naga Putih, bocah! Tenagamu lumayan. Eh murid siapakah kau, bocah?" tanya nenek bongkok itu sambil tersenyum. Namun senyum yang menurutnya adalah senyum yang paling manis itu, tidak lebih dari sebuah seringai yang membuat wajahnya semakin tak sedap dipandang.

"Hm.... Kau sudah mengenalku sebagai Pendekar Naga Putih, itu sudah cukup. Dan tidak perlu lagi bertanya-tanya tentang guruku! Sebaiknya segeralah kau sebutkan namamu, dan apa maksudmu mencampuri urusanku?" ucap Panji yang tidak menanggapi pertanyaan nenek bongkok itu, tanpa rasa gentar sedikit pun!

"Kurang ajar, bocah sombong! Apa dikira setelah kau mendapat julukan Pendekar Naga Butut dapat berbuat sesuka hati di hadapan Nyai Serondeng?! Huh! Kau memang harus merasakan kerasnya tongkat hitamku. Nah, bersiaplah bocah!" dengus nenek bongkok yang mengaku bernama Nyai Serondeng itu, sambil melintangkan tongkatnya di depan dada.

Terdengar angin berkesiutan ketika nenek itu menggerakkan tongkatnya secara mendatar. Tentu saja hal itu semakin membuat Panji terkejut dan berhati-hati. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera dicabut pedang yang selalu melilit di pinggangnya.

"Singgg!" Suara pedang di tangan Panji mengaung membelah udara. Panji yang telah merasakan kelihaian lawannya, rupanya tidak ingin mau main-main lagi. Kini dengan pedang di tangan, Pendekar Naga Putih siap-slap meng-hadapi serangan lawan.

Sementara itu, Nyai Serondeng sudah memutar-mutar tongkatnya di atas kepala. Hebat, luar biasa! Tiba tiba saja arena pertempuran, bagaikan dilanda angin topan dahsyat! Daun-daun kering dan debu beterbangan akibat angin yang ditimbulkan putaran tongkat Nyai Serondeng. Benar-benar seorang lawan yang tangguh buat Panji!

"Hebat! Siapakah sebenarnya nenek ini? Dan apa hubungannya dengan Setan Muka Seribu? Mengapa setiap kali Setan Muka Seribu dalam bahaya, ia selalu muncul untuk menolongnya?" gumam Panji, dalam hati.

"Kakang Panji, berhati-hatilah. Kepandaian nenek itu sangat tinggi. Bahkan menurut guruku, kepandaiannya lebih tinggi dari beliau sendiri!" Dewi Tangan Merah memperingatkan Panji, sambil menggenggam tangan pemuda digdaya itu.

Sementara itu, Pendekar Tangan Sakti yang juga telah berada dekat Panji, menjadi heran sekali. Karena, dalam seharian ini saja, ia telah bertemu tokoh-tokoh sakti yang jarang dilihatnya. Sejenak ia termenung memikirkan kejadian sebenarnya yang telah menimpa Perguruan Gunung Salaka, sehingga melibatkan sedemikian banyak orang berkepandaian tinggi?!

LIMA

"Yeaaattt...!" Diiringi sebuah pekikan panjang yang melengking nyaring, tubuh Nyai Serondeng melayang cepat bagai kilat ke arah Panji. Tongkat kepala ularnya menderu-deru dan berputar membentuk gulungan sinar yang berwarna kehitaman. Dan tahu-tahu saja, ujung tongkat itu telah meluncur ke dada Panji disertai suara mencicit tajam.

Pendekar Naga Putih yang telah menduga kehebatan lawannya, melenting ke atas dibarengi tusukan pedangnya yang mengancam ubun-ubun lawan. Namun dengan gerakan cepat luar biasa, tahu-tahu tongkat di tangan lawan telah berputar menangkis tusukan pedangnya. Panji yang mengetahui kalau posisinya sangat lemah dalam adu tenaga, segera menarik pulang senjatanya. Tubuhnya langsung berputar melampaui kepala lawan sambil melepaskan tiga buah tendangan berturut-turut

Plak! Plak! Plak!

Hebat! Dengan gerakan mengagumkan, Nyai Serondeng menggerakkan tangan sebanyak tiga kali. Maka serangan Panji kandas akibat tangkisan nenek sesat itu. Diam-diam perempuan itu terkejut juga ketika tangannya yang dipakai menangkis tadi terasa kesemutan.

"Hm.... Pemuda ini benar-benar berisi," puji Nyai Serondeng dalam hati.

Sedangkan Panji yang menerima tangkisan itu menjadi kaget ketika dari telapak tangan si nenek berhembus serangkum angin yang berhawa panas. Dan ini sempat membuat kakinya terasa nyeri untuk beberapa saat. "Gila! Tenaga nenek itu ternyata lebih hebat dari dugaanku semula!" gerutu Panji bernada penasaran.

Namun di balik rasa penasarannya, timbul pula kegembiraan karena saat ini telah menemukan lawan yang benar-benar tangguh. Dan sebagaimana sifat-sifat ahli silat pada umumnya, rupanya Panji pun telah pula bersifat demikian. Dia selalu ingin mencoba apabila ada orang yang memiliki kepandaian silat sebanding, atau bahkan lebih darinya. Dan untuk pertama kalinya, Panji telah pula terbawa sifat seperti itu tanpa disadarinya. Maka ketika merasakan kepandaian Nyai Serondeng yang belum tentu berada di bawah kepandaiannya, timbullah semangat Panji untuk menguji ilmunya.

Sementara itu, Nyai Serondeng kembali sudah menerjang mempergunakan tongkat kepala ularnya. Gagang tongkat itu berkelebat menyambar-nyambar tubuh lawan. Udara di sekitar arena pertarungan bagaikan bergetar, setiap kali tongkat berkepala ular itu bergerak bersilangan.

Hawa sedingin salju berhembus bila Panji mengibaskan pedangnya. Namun di lain saat, hawa di arena pertarungan segera berubah panas, karena hawa yang keluar dari sambaran-sambaran tongkat berkepala ular milik Nyai Serondeng!

Setelah merasakan kelihaian perempuan tua itu, kini Panji tidak ingin main-main lagi. Dengan mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya, pemuda itu segera menyambut dan membalas serangan Nyai Serondeng. Maka terjadilah pertarungan dahsyat dan mendebarkan. Kabut putih keperakan yang selalu menyelimuti tubuh Panji, semakin melebar karena pengerahan tenaga dalam yang hampir sepenuhnya itu. Hawa sedingin salju berhembus di sekitar arena pertarungan. Namun di lain saat, hawa di arena pertarungan segera berubah panas, karena hawa yang keluar dari sambaran-sambaran tongkat berkepala ular milik Nyai Serondeng.

Lima puluh jurus telah terlewati. Sampai saat ini, sama sekali belum terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan tingkat tinggi itu. Sedangkan arena pertarungan sudah porak-poranda akibat terlanggar senjata senjata mereka. Daun-daun pohon di sekitarnya berjatuhan karena pukulan maupun sambaran senjata masing-masing. Pada jurus yang kelima puluh delapan, Panji mulai melihat kelemahan pertahanan lawan. Segera saja ditusukkan pedangnya dengan penuh tenaga!

Siiinggg!

Suara angin pedang Pendekar Naga Putih mencicit tajam disertai hembusan angin yang menggigilkan tubuh. Dan kalau saja serangan itu mengenai sasaran dapat dipastikan akan tamatlah riwayat Nyai Serondeng!

Namun, Nyai Serondeng bukanlah tokoh sembarangan. Kepandaian nenek kurus ini, hebat sekali. Sehingga, tokoh-tokoh sesat seperti Ular Muka Kuning atau Setan Muka Seribu, sangat takut dan tunduk kepadanya. Dan selama puluhan tahun Nyai Serondeng berkeliaran di rimba hijau, entah telah berapa ratus nyawa yang telah direnggutnya secara kejam.

Memang, karena kepandaiannya yang tidak lumrah itu, sehingga nenek kurus itu dijuluki Nenek Tongkat Maut. Bahkan telah diangkat sebagai datuk sesat di wilayah Selatan. Jadi tidak heran kalau ia dapat mengimbangi permainan Panji. Bahkan bukan tidak mungkin kalau kepandaian keduanya berimbang! Nyai Serondeng terkejut ketika melihat pedang lawan-nya meluncur cepat ke arahnya. Karena tidak melihat jalan lain, perempuan itu segera menyabetkan tongkatnya me-mapak pedang Panji.

Tranggg!

Bunga api berpijar ketika dua buah senjata yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi itu, saling berbenturan di udara. Tubuh Panji dan Nyai Serondeng terpental akibat benturan yang maha dahsyat itu! Kedua orang sakti itu langsung berputaran beberapa kali di udara untuk mematahkan daya dorong benturan itu. Begitu mendarat di tanah, mereka segera memeriksa senjata masing-masing. Setelah memastikan kalau tidak mengalami kerusakan, kedua orang itu kembali saling bertatapan bagaikan dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga.

"Hm.... Sayang, aku tidak mempunyai banyak waktu, bocah! Biarlah lain waktu kita lanjutkan permainan yang menyenangkan ini," begitu ucapnya selesai, Nyai Serondeng melemparkan sebuah benda sebesar telur puyuh.

Darrr!

Pendekar Naga Putih Panji segera melenting ke belakang untuk menghindari asap pembius yang dilemparkan perempuan itu. Demikian pula Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang sudah melompat jauh ke belakang, menghindari gulungan asap tebal yang berwarna putih. Panji mengerutkan keningnya. Ketika asap itu hilang, hilang pula tiga orang musuhnya. Dan itu berarti lenyap pula petunjuk yang semula berada di depan mata. Pemuda sakti itu merasa terpukul, karena untuk kedua kalinya kembali terkecoh oleh Nyai Serondeng.

Dengan diikuti Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti, Panji mengayunkan langkahnya meninggalkan bekas arena pertarungan. Kini di tempat itu kembali sunyi, seperti tidak pernah terjadi apa apa. Yang ada kini hanya mayat Setan Kali Gantang dan anak buahnya, ditambah murid murid Perguruan Gunung Salaka Bau anyir darah mulai menyebar ke sekitarnya.

********************

Pendekar Naga Putih, Dewi Tangan Merah, dan Pendekar Tangan Sakti berjalan memasuki sebuah mulut desa. Jalan utama desa itu, tampak agak sepi. Di kanan kiri jalan, teriihat kedai-kedai makan yang hanya dikunjungi beberapa orang saja. Maklumlah hari mulai beranjak sore, sehingga para petani dan pedagang belum lagi menyelesaikan tugasnya. Masing-masing masih disibuki pekerjaannya.

Ketiga orang pendekar itu melangkah memasuki sebuah kedai makan yang letaknya agak di sudut jalan. Mereka sengaja memilih kedai yang terlihat agak sepi, agar dapat menikmati hidangan dengan tenang. Setelah mengambil tempat, ketiganya segera memesan makanan. Sebentar kemudian makanan tiba, dan mereka segera menyantapnya pelahan-lahan. Tidak satu pun dari ketiganya yang mengeluarkan suara. Entah sedang menikmati hidangan yang terasa lezat, atau tengah melamun. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Setelah menyelesaikan makan, Panji menggerakan tangannya memanggil pelayan yang tadi mengantarkan makanan untuk mereka.

"Paman, apakah kedai ini juga menyediakan kamar menginap?" tanya Panji kepada pelayan setengah tua.

"Oh! Ada... ada, Tuan Muda. Apakah Tuan bertiga ingin menginap di sini?" sahut palayan tua itu dengan wajah gembira. Wajarlah kalau dia merasa gembira sebab jarang sekali orang yang mau menginap di tempatnya. Pedagang-pedagang keliling atau pun pelancong, lebih suka memilih penginapan yang besar dan bagus.

Panji memesan dua buah kamar. Satu untuk Sundari dan satu lagi untuk dirinya dan Pendekar Tangan Sakti atau yang bernama Wijasena. Begitu selesai makan, ketiganya segera beranjak dari meja. Dan memasuki kamar yang telah disediakan.

Di dalam kamar penginapan, Wijasena yang semula hendak bertanya pada Panji segera mengurungkan niatnya. Ternyata dia melihat pemuda sakti itu tengah melakukan semadi. Dari desah napasnya yang halus, Wijasena tahu kalau pemuda itu telah tenggelam dalam semadinya. Maka segera diurungkan niatnya semula. Terdengar helaan napas beratnya. Sesaat kemudian, Pendekar Tangan Sakti pun merebahkan tubuhnya di atas balai-balai yang beralaskan tikar pandan. Pikiran Wijasena mengembara, mengingat kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya.

"Mengapa para penghadang itu tahu kalau aku adalah salah seorang murid Gunung Salaka? Dan mengapa pula mereka mengetahui bahwa aku berniat mengunjungi perguruan? Apakah betul kalau merekalah yang membunuh Ki Surya Kencana? Kalau benar, mengapa Ki Tunggul Jagad dan Ki Sukma Kelana mendiamkan saja hal Itu? Apa sebenarnya di balik semua peristiwa ini?"

Berbagai pertanyaan tanpa jawaban, terus terngiang di telinga Pendekar Tangan Sakti yang masih belum mengerti sesuatu yang telah terjadi diperguruannya. Dan hal itu semakin menambah penasaran hati Pendekar Tangan Sakti.

"Hm.... Apa pun yang terjadi, aku akan berusaha menyelidiki hal ini sampai tuntas!" janji Pendekar Tangan Sakti dalam hati.

Sementara di luar malam semakin larut. Angin berhembus sepoi-sepoi. Pendekar Naga Putih Panji yang semula tengah bersemadi, telah tertidur pulas di atas balai. Demikian pula halnya Wijasena. Sedangkan Dewi Tangan Merah Sundari yang berada di kamar sebelah, tampak tengah mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu. Entah mengapa, Sundari merasa gelisah sekali malam ini. Sebentar-sebentar terdengar helaan napasnya yang berat dan panjang. Kedua tangannya diremas-remas tanpa sebab. Gadis itu coba merapatkan telinganya ke dinding untuk mendengar suara suara dari kamar sebelah yang ditempati dua orang kawannya. Namun, ia kecewa ketika telinganya hanya menangkap tarikan napas halus dari Panji dan Wijasena.

"Hm... Apakah mereka tidak merasa gelisah sepertiku, hingga berdua dapat terlelap seenaknya," gumam Dewi Tangan Merah heran.

Memang baik Panji maupun Wijasena sama sekali tidak merasakan kegelisahan seperti yang dialaminya saat ini. Karena tidak tahu harus berbuat apa, maka Sundari memutuskan untuk bersemadi agar tenaganya tidak terbuang percuma.

Lewat tengah malam, terdengar suara anjing hutan bersahut-sahutan. Suara salakan anjing hutan yang meramaikan suasana malam itu, terasa bagaikan suara-suara iblis yang bergentayangan mencari mangsa. Angin dingin berkesiur membawa titik-titik air, sehingga suasana malam semakin menyeramkan.

Di tengah kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya bulan sabit itu, tampak lima sosok bayangan hitam mengendap-endap menuju penginapan Panji dan dua orang rekannya. Gerakan kelima bayangan hitam itu nampak lincah dan gesit. Langkah-langkah kaki mereka ringan, pertanda ilmu meringankan tubuh mereka terlatih baik.

Kelima sosok bayangan hitam itu terus bergerak menuju kamar Panji dan Sundari. Salah seorang dari mereka menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat agar memecah menjadi dua kelompok. Ketika cahaya bulan sedikit menerangi wajah mereka sekilas, tampak kain hitam menutupi wajah masing-masing lima bayangan hitam itu, sehingga sulit dikenali.

Kelompok pertama yang terdiri dari tiga orang itu melangkah hati-hati ke arah kamar yang dihuni Panji dan Wijasena. Sedangkan sisanya, menuju kamar Sundari. Seorang dari tiap kelompok telah menggenggam sebuah benda yang mirip pipa. Tiga orang yang menuju kamar Panji, berhenti dan menempelkan telinganya di dinding kamar. Beberapa saat kemudian ketika tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, salah seorang dari mereka, segera memasukkan benda sejenis pipa tadi melalui sebuah lubang di sela-sela jendela. Setelah benda itu masuk, orang itu segera meniupkan sesuatu ke dalam kamar Panji.

Panji yang semula tengah terlelap itu, tersentak bangun ketika telinganya yang tajam menangkap sesuatu yang mencurigakan. Dan pemuda itu menjadi terkejut ketika melihat segumpal asap berwarna merah menerobos melalui sela-sela jendela kamarnya. Tanpa berkata apa-apa, tangannya bergerak memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya. Kemudian, Panji segera membangunkan Wijasena sambil menutup mulut pendekar itu. Diberikannya sebuah pil lain kepada pendekar itu sambil mengisyaratkan dan menunjuk-nunjuk ke jendela.

Pendekar Tangan Sakti kaget ketika mendapati kamarnya telah dipenuhi asap berwarna merah, dan berbau wangi yang memabukkan. Kedua orang pendekar itu kembali merebahkan diri di atas tempat tidur masing-masing untuk mengetahui maksud orang-orang yang mencoba membius mereka.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara jendela yang dibuka. Saat pintu jendela terbuka, tiga sosok tubuh yang mengenakan pakaian berwarna hitam hingga ke kepala berloncatan masuk tanpa menimbulkan suara yang mengejutkan. Diam-diam Panji mengagumi ilmu meringankan tubuh ketiga tamu tak diundang itu. Tiba tiba hati Panji dan Wijasena tersentak kaget ketika melihat orang-orang bertopeng itu mencabut senjata berupa sebatang pedang panjang melengkung. Kedua orang pendekar itu berusaha menahan diri untuk mengetahui apa yang diperbuat tiga orang bertopeng itu selanjutnya.

Ketiga manusia bertopeng itu menggerak-gerakkan pedangnya di atas tubuh kedua orang pendekar yang pura-pura telah terbius itu. Setelah tidak melihat adanya reaksi, ketiga orang bertopeng itu kembali menyarungkan senjatanya masing-masing. Dan tentu saja hal ini membuat kedua orang pendekar itu menjadi lega.

Dan selagi ketiga menusia bertopeng itu menyarungkan senjatanya, tiba-tiba Pendekar Naga Putih dan Pendekar Tangan Sakti bergerak secara berbarengan dan tidak terduga sama sekali! Mereka segera melompat secepat kilat sambil melepaskan totokan ke arah dua di antara tiga orang bertopeng itu.

Tentu saja ketiga orang bertopeng itu terkejut setengah mati! Buru-buru ketiganya berusaha menghindari totokan yang melumpuhkan itu. Namun biar bagaimanapun berusaha menghindar, tetap saja dua di antara ketiga tamu tak diundang itu ambruk terkena totokan Panji dan Wijasena. Sedangkan yang seorang lagi langsung melesat ketika menyadari kalau tak mungkin dapat menghadapi dua pendekar itu

Pendekar Naga Putih langsung menghentakkan kakinya ke lantai, maka seketika tubuhnya melambung melampaui kepala lawannya. Begitu dua kakinya mendarat di tanah, tubuh pemuda itu sudah menghadang jalan orang bertopeng yang hendak melarikan diri.

Bukan main terperanjatnya orang bertopeng itu ketika melihat mangsanya tahu-tahu telah berada di depannya. Merasa tidak mungkin lolos, maka dia segera menerjang Panji dengan ganasnya. Dibarengi sebuah bentakan nyaring, tubuh manusia bertopeng itu meluncur ke depan sambil membabatkan pedang.

"Wuttt!" Panji merendahkan kuda-kudanya sehingga pedang lawan lewat hanya beberapa rambut di atas kepalanya. Sebelum lawannya sempat merubah posisi, tangan Panji telah mencengkram ke arah bahu lawan. Namun meskipun kalap, rupanya orang bertopeng itu masih juga mampu mengontrol dirinya. Maka bergegas ditarik kaki kanannya ke belakang dibarengi gerakan tubuh, sehingga bobot tubuhnya ke belakang. Untunglah, serangan Panji pun berhasil dielakkannya

Tapi kegembiraan orang bertopeng itu rupanya tidak berlangsung lama. Sebab, Panji sudah dapat menduga gerakan lawan. Maka ketika orang bertopeng itu menggeser tubuhnya ke belakang, tahu-tahu saja tangan kiri Panji telah menotok dadanya secara cepat luar biasa.

Tukkk! Tukkk!

"Aaaahkkk...!" Orang bertopeng itu mengeluh pendek ketika totokan Panji mengenai tubuhnya. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh yang terbungkus pakaian hitam itu ambruk dalam keadaan lumpuh. Mata di balik kain hitam itu bergerak liar, sekejap kemudian memerah seperti darah! Terdengar suara mengorok dibarengi keluarnya darah berwarna hitam dari mulut si orang bertopeng yang telah lumpuh.

Bukan main terkejutnya Panji melihat kejadian yang sama sekali tidak disangka itu. Bergegas pemuda sakti itu mendekati lawannya yang dalam keadaan sekarat itu. Sekali pandang saja Panji tahu kalau nyawa orang itu sudah tidak mungkin dapat diselamatkan lagi.

"Gila! Ia lebih suka menelan racun ganas daripada rahasianya diketahui. Hm..., siapakah mereka dan apa maksud sebenarnya? Mengapa tidak langsung membunuhku saja tadi? Ataukah mereka ditugaskan untuk menangkapku hidup-hidup?" desah Panji tak mengerti.

Dan begitu Pendekar Naga Putih teringat kepada dua orang yang telah dilumpuhkan tadi, bergegas pemuda itu berlari ke arah kamarnya. Dua orang tawanan tadi memang masih ditunggui Pendekar Tangan Sakti Tetapi apa yang dilihat Panji adalah dua sosok mayat yang telah menghitam tengah dipandangi Pendekar Tangan Sakti. Wajah Wijasena membayangkan penasaran yang mendalam. Memang, baik Panji maupun Wijasena sama sekali tidak mengetahui apa dan siapa mereka sebenarnya?

"Mereka telah tewas beberapa saat yang lalu setelah kau pergi, Panji. Maafkanlah aku, karena tidak sempat mencegah perbuatan mereka," ucap Pendekar Tangan Sakti dengan wajah murung.

"Ah! Semua ini bukan kesalahanmu, Wijasena. Aku pun mengalami kejadian seperti itu, mereka lebih suka mati daripada rahasianya diketahui," sahut Panji, pelan. "Oh! Bagaimana dengan Dewi Tangan Merah? Ah, mengapa aku telah melupakannya...?!"

Tiba-tiba Panji teringat akan Sundari. Tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu segera menggenjot tubuhnya ke arah kamar gadis jelita itu. Pendekar Naga Putih tercekat hatinya ketika mendapati kamar Sundari ternyata telah kosong. Panji berdiri tegak memperhatikan setiap sudut kamar ini. Tampaklah buntalan pakaian gadis itu masih tergeletak di atas tempat tidurnya.

"Mana Sundari, Panji?" tanya Pendekar Tangan Sakti begitu tiba di situ.

"Entahlah. Tapi aku yakin, ia masih berada di sekitar penginapan ini. Rasanya tidak mungkin ia..., Hei! Wijasena! Tidakkah kau mendengar suara orang bertempur?!" seru Panji tiba-tiba sehingga Pendekar Tangan Sakti sampai terlonjak kaget. Tanpa menunggu kawannya. Panji segera melesat cepat luar biasa, menuju suara pertempuran tadi berasal.

Beberapa saat kemudian, Pendekar Naga Putih sudah tiba di tempat Dewi Tangan Merah tengah bertarung melawan dua orang bertopeng. Dari kejauhan, terlihat kalau kedua orang bertopeng itu mulai terdesak oleh pedang yang bersinar kehijauan di tangan Dewi Tangan Merah. Gulungan sinar kehijauan makin lama semakin mempersempit ruang gerak dua orang lawannya

Brettt!

"Aaakkkhhh...!" salah seorang dari dua orang bertopeng itu tidak sempat menghindari sambaran pedang gadis itu. Orang itu menjerit kesakitan dan tubuhnya pun terguling, menyemburkan darah segar yang keluar dari luka di perutnya. Sebentar dia meregang nyawa, lalu tewas dengan mata mendelik!

"Sundari, jangan bunuh...!" teriak Panji yang disertai luncuran tubuhnya menuju arah pertempuran! Selagi tubuhnya mengudara, pemuda itu langsung melancarkan totokan ke arah leher lawan Sundari.

Dewi Tangan Merah segera menarik pulang senjatanya ketika mendengar teriakan Panji. Dan begitu melihat sesosok bayangan putih melesat ke arena pertempuran, gadis itu pun menggeser tubuhnya untuk memberi peluang kepada pemuda itu.

Tukkk!

Tubuh orang bertopeng itu kontan ambruk ketika totokan tangan Panji mengenai leher dan tubuhnya. Dan dengan sigap, Panji segera memburu ke arah orang itu. Segera dibukanya mulut orang bertopeng itu secara paksa. Dari mulut orang itu, Panji menemukan racun yang tertanam di gusi. Cepat-cepat Panji mengeluarkan racun dengan mengerahkan tenaga saktinya, sehingga orang itu tidak merasa sakit. Begitu racun yang berada di mulut orang itu telah dibuang, bergegas pemuda itu membebaskan totokan pada leher lawan.

"Hm.... Sekarang tidak akan lolos lagi dari tanganku! Katakan apa tujuanmu memasuki kamarku?" tanya Panji setelah membebaskan totokan pada leher manusia bertopeng itu. Ternyata biarpun sudah tidak berdaya, namun orang itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Panji. Pendekar Naga Putih itu kembali mengulang pertanyaannya. Tapi, orang bertopeng itu tetap saja membisu.

"Hm..., baiklah! Apakah kau pikir kami tidak bisa menyiksamu?"

Setelah berkata demikian, tangan Panji bergerak melakukan totokan kembali. Tiba-tiba orang bertopeng itu berteriak setinggi langit untuk kemudian bergulingan ke tanah. Rupanya totokan yang dilakukan Panji barusan menimbulkan rasa sakit luar biasa pada diri orang itu.

"Oh... aduuuh... ampuuun... tobaaattt...!" beberapa waktu kemudian, orang bertopeng itu sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang menyiksanya. Akhirnya, dia bersedia untuk memberikan keterangan yang diperlukan Panji.

"Nah! Begitu kan, lebih baik! Sekarang katakan, siapa yang telah menyuruhmu untuk menawan kami?" tanya Pendekar Naga Putih, tegas.

"Kami... kami... ouuuggghhh...!"

Orang bertopeng Itu belum lagi sempat memberikan jawaban, tiba-tiba sepasang matanya mendelik dan tubuhnya mengejang! Beberapa saat kemudian, ambruk dalam keadaan tak bernyawa. Dan ketika Panji memeriksa ditemukannya tiga batang jarum halus berisi racun ganas yang tertancap di belakang tubuh orang itu. Alangkah kecewanya Panji karena sama sekali tidak menduga kalau akan berakhir demikian. Sedang pada saat itu, ia tengah mencurahkan perhatian kepada jawaban orang bertopeng itu maka, sia-sialah usahanya itu.

"Hei, lihat!" tiba tiba Pendekar Tangan Sakti yang juga telah tiba di tempat itu menjadi terkejut. Ternyata ketika memeriksa tubuh orang bertopeng itu, ia menemukan rajahan di dada orang itu yang bertuliskan 'PARTAI RIMBA HITAM". Selain itu juga terdapat rajahan yang menggambarkan lambang Partai Rimba Hitam.

"Hm.... Orang-orang bertopeng ini pastilah anggota partai itu. Dan mungkin ada kaitannya dengan kemelut yang dihadapi Gunung Salaka," ujar Pendekar Tangan Sakti pelan, seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Hhh.... Kemanakah kita harus mencari keterangan tentang partai yang penuh rahasia itu?" desah Panji penasaran.

"Benar, memang sulit sekali! Dan petunjuk itu ada pada Ular Muka Kuning, Setan Muka Seribu, dan Nyai Serondeng. Hei…! Mengapa tidak didatangi saja kediaman nenek itu!" seru Dewi Tangan Merah tiba-tiba.

"Eh! Maksudmu, kau mengetahui siapa nenek tua itu, Sundari!" tanya Panji penuh harap.

"Benar! Aku baru teringat, kalau nenek itu adalah seorang datuk golongan sesat yang amat ditakuti di dunia persilatan. Dan ia kini menguasai daerah Selatan. Nah! Bukankah tidak terlalu sulit untuk mencarinya?" ujar Dewi Tangan Merah, berseri.

"Kalau begitu, ayolah! Tunggu apa lagi...!" sahut Pendekar Tangan Sakti sambil mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu.

Dewi Tangan Merah dan Panji ikut pula meninggalkan mayat orang bertopeng itu!

********************

ENAM

Keesokan paginya, setelah membayar ongkos penginapan, Panji, Wijasena dan Sundari bergegas meninggalkan tempat itu. Dan dari keterangan beberapa orang yang ada di penginapan, Panji menarik kesimpulan bahwa kediaman Nyai Serondeng yang berjuluk Nenek Tongkat Maut itu tidak berada di sekitar daerah itu. Memang tidak ada seorang pun yang pernah mendengar tentang nenek tersebut.

Ketiga pendekar itu meneruskan langkahnya menuju perbatasan desa. Mereka bermaksud mencari keterangan dari desa-desa yang dilalui. Dan kalau perlu, akan men-datangi perguruan-perguruan yang ditemui dalam perjalanan mereka. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih setengah hari, di hadapan mereka terbentang sebuah pedesaan diramaikan kesibukan para warganya. Mereka bergegas memasuki mulut desa, tanpa berkata sepatah pun. Ketika melihat kedai, Panji melangkahkan kakinya memasuki kedai makan yang terletak di tepi jalan. Sedangkan Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti segera mengikuti langkah kaki pemuda itu dari belakang.

"Hm.... Desa ini tampak cukup ramai. Siapa tahu kita dapat mencari keterangan di tempat ini," ujar Dewi Tangan Merah ketika mereka telah duduk di satu meja sambil menikmati hidangan.

"Sabarlah, Sundari. Biasanya di desa yang cukup ramai seperti ini, banyak orang usil yang selalu mencari-cari keributan. Maka kita harus bisa menjaga sikap agar tidak menarik perhatian," sahut Panji mengingatkan.

"Hm... Bagaimanapun kita bertiga tetap akan menjadi perhatian orang. Coba perhatikan sekelilingmu, Panji," tegas Pendekar Tangan Sakti merendahkan suaranya, agar tidak terlalu keras terdengar.

Panji segera mengedarkan pandang matanya ketika mendengar ucapan Wijasena. Dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat terkejut. Ternyata hampir semua mata para pengunjung kedai makan tengah menatap ke arah mereka bertiga. Puluhan pasang mata itu kontan menunduk ketika bertemu pandang dengan pemuda itu. Karena biar bagaimanapun, pandangan mata Panji tetap berbeda daripada pandangan mata orang pada umurnya. Di dalam sinar mata pemuda itu seolah-olah mengandung suatu pengaruh yang sulit dijabarkan.

"Mengapa mereka... aaahhh. Betapa bodohnya, aku!" Panji tidak meneruskan kata-katanya ketika secara tak sengaja memandang wajah Sundari. Dan pada saat itu ia langsung mengerti, mengapa puluhan pasang mata itu menatap ke arahnya. Sehingga tanpa sadar, Panji menepuk dahinya.

"Ada apa, Kakang Panji?" tanya Dewi Tangan Merah keheranan. Melihat sikap Pendekar Naga Putih yang tiba-tiba aneh itu.

"Ah! Tidak, tidak ada apa apa," jawab Panji, segera menyadari perbuatannya. Cepat Panji mengalihkan perhatiannya pada hidangan di atas meja untuk menghindari pertanyaan Sundari lebih lanjut.

Mendadak, para pengunjung kedai makan yang sedang menikmati hidangan itu serentak menolehkan kepalanya ke arah pintu, ketika terdengar suara ribut. Tidak lama kemudian terlihat belasan orang melangkah memasuki kedai. Sikap mereka tampak sangat kasar.

"Ha ha ha...! Rupanya langgananmu banyak juga, Gatar! Ayo, cepat. Sediakan uangnya untukku!" bentak salah seorang dari belasan laki-laki itu. Setelah berkata demikian, laki-laki itu menarik sebuah kursi di dekatnya dan langsung menginjakkan sebelah kaki di atasnya. Sikap laki-laki itu terlihat seperti sudah terbiasa bertindak demikian. Tampaknya, dia seorang pemungut upeti bagi para pedagang di desa itu.

"Oh, Tuan Gambalang kiranya. Silakan..., silakan, Tuan!" seorang laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun berlari tergopoh-gopoh menyambut laki-laki yang dipanggil Gambalang itu. Di tangannya tampak beberapa keping uang yang rupanya sudah disediakan untuk orang yang bernama Gambalang itu.

"Hhh! Mengapa hanya segini, Gatar! Bukankah kedaimu sudah maju? Mengapa kau semakin pelit saja?! Ayo, tambah lima keping lagi!" bentak Gambalang dengan suara mengguntur.

"Tapi..., tapi... Saya betul-betul tidak mempunyai..."

"Brakkk!" Sebuah meja di samping Gambalang, langsung hancur berantakan ketika telapak tangan Gambalang yang kokoh itu menghantam meja itu dengan kerasnya. Tubuh pemilik kedai yang bernama Gatar itu menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, bagaikan tak dialiri darah.

"Huh! Dasar orang tidak tahu diuntung! Sekarang, cepat berikan padaku sepuluh keping lagi! Dan permintaan akan semakin bertambah setiap kali kau membantah. Tahu?!" bentak Gambalang dengan wajah merah padam.

Beberapa pengunjung yang semula sedang menikmati hidangan, cepat-cepat bangkit dan meninggalkan kedai itu lewat pintu belakang. Sebentar saja kedai makan berubah menjadi sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan, termasuk Pendekar Naga Putih, Dewi Tangan Merah, dan Pendekar Tangan Sakti.

"Hm.... Tampaknya keadaan akan semakin memburuk, Panji! Jangan-jangan malah akan menular ke sini!" ujar Pendekar Tangan Sakti sambil melirik ke arah Sundari yang juga sedang memperhatikannya. Mata gadis itu langsung melotot ketika mendengar godaan yang ditujukan kepadanya.

"Huh! Hanya seekor cacing tanah, mengapa harus ribut!" tegas Sundari tanpa mempedulikan kedipan mata kedua orang temannya yang berusaha untuk mencegah.

Terlambat! Ternyata Gambalang yang memang pada saat itu tengah memandang ke arah mereka, segera bangkit ketika mendengar suara Sundari yang memang ditujukan kepadanya. Dengan langkah lebar, Gambalang menghampiri meja tempat duduk Panji, Sundari dan Wijasena.

"Hhh.... Untunglah kau yang mengucapkannya tadi, Bidadari Cantik! Kalau saja salah satu dari mereka, pastilah gigi salah satunya sudah tidak ditempatnya lagi!" gertak Gambalang. Suaranya sengaja diseram-seramkan sambil menunjuk ke arah Panji dan Wijasena.

Sikap yang ditunjukkan Gambalang itu sebenarnya telah cukup membuat telinga Pendekar Tangan Sakti memerah, tapi kemarahannya masih berusaha ditekan, memang dia tidak ingin mengecewakan Pendekar Naga Putih yang masih tetap tenang, seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh ejekan-ejekan yang dilontarkan Gambalang. Diam-diam Wijasena mengagumi sikap Panji yang demikian itu. Sama sekali amarahnya tidak terpancing, walaupun dihina sedemikian rupa.

"Setelah kau tahu, bahwa aku yang mengucapkan, kau mau apa?" tantang Dewi Tangan Merah tanpa rasa takut sedikit pun!

Memang, kejadian kejadian seperti ini sudah sering dialami Sundari. Dan kebanyakan dari orang-orang kasar seperti itu, hanyalah gentong-gentong nasi belaka. Mereka hanya mengandalkan sedikit kepandaian untuk memeras. Dan hal itulah yang paling tidak disukai Sundari atau orang-orang golongan putih umumnya.

"Ha ha ha...! Tentu saja tidak apa apa, Manis," jawab Gambalang sambil berusaha melemparkan senyum manis yang dimiliki. Tapi sayang, yang tampak hanyalah sebuah seringai buas bagaikan serigala lapar. Sementara tangan lelaki itu sudah pula terulur untuk menyentuh wajah Sundari.

Melihat sikap Gambalang yang semakin kurang ajar itu. Sundari tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Hanya saja gadis itu masih tetap berusaha bersikap masa bodoh, seolah-olah tidak mengetahui uluran tangan kurang ajar itu.

Gubrakkk!

"Waaa...!" Gambalang berteriak ngeri ketika tahu-tahu tubuhnya terbanting ke lantai dengan kepala terlebih dahulu! Namun Gambalang bergegas bangkit sambil mengusap-usap dahinya yang terdapat dua buah benjolan membiru akibat terbentur kaki meja.

"Bangsat! Rupanya ada yang ingin main-main dengan Gambalang! Hayo! Tunjukkan wajahmu, pengecut!" Gambalang berteriak-teriak menantang. Sedangkan kawan-kawannya sudah berdatangan mendekatinya, setelah melihat Gambalang terjatuh tadi. Mereka tidak mengetahui, siapa yang telah begitu berani membanting tubuh Gambalang itu.

"Eh, eh! Kau mencari siapa?" tegur Sundari sambil tersenyum mengejek. Kemudian, gadis itu pun sudah bangkit berdiri sambil bertolak pinggang di hadapan Gambalang dan kawan-kawannya.

"Huh! Aku hanya ingin tahu, bagaimana tampang orang yang telah menjatuhkan diriku secara curang!" jawab Gambalang yang masih juga memandang berkeliling, mencari orang yang dimaksud.

"Hei! Mengapa harus susah-susah mencarinya? Bukankah orang yang kau cari ada di depan matamu?" jelas Dewi Tangan Merah lagi. Senyumnya semakin melebar karena merasa geli melihat sikap Gambalang yang berdiri bengong bagai orang kehilangan ingatan.

"Apa... apa maksudmu, Nini? Jangan main-main," tegas Gambalang tak percaya pada ucapan Sundari. Masalahnya, bagaimana mungkin gadis cantik itu dapat menjatuhkannya, tanpa diketahui. Namun sebelum dia sadar akan keadaannya, tahu-tahu Sundari mengulurkan kedua tangannya cepat, sukar diikuti mata. Dan tiba-tiba tubuh Gambalang kembali terbanting keras!

"Bagaimana, apakah kau masih belum mempercayai ucapanku?" tanya Dewi Tangan Merah lagi.

Gambalang menjadi terkejut setengah mati. Lagi-lagi gadis jelita itu tahu-tahu telah menjatuhkan dirinya. Benar-benar dia tak mampu mencegahnya. Bagai orang yang masih belum mempercayai apa yang terjadi. Gambalang mengkerjap-kerjapkan kedua matanya seolah ingin menghilangkan mimpi buruk dalam tidurnya. Dan ketika kesadarannya telah kembali, Gambalang menjadi marah dan terhina sekali atas perlakuan Sundari.

"Hm..., iblis betina! Rupanya kau sengaja ingin mengacau di daerah kekuasaan kami. Tangkap dia...!" perintah Gambalang kepada belasan orang kawannya yang telah bersiap sejak tadi.

Kejadian selanjutnya, belasan orang itu segera bergerak mengurung Sundari yang merasa belum perlu menggunakan pedangnya. Gadis jelita itu berdiri tegak di tengah-tengah belasan laki-laki kasar yang mengurungnya. Sementara Pendekar Tangan Sakti dan Pendekar Naga Putih telah menyingkir ke tepi tanpa berusaha membantu Sundari. Mereka melihat, dari gerakan para pengepungnya rasanya kekuatan lawan sudah dapat ditebak. Dengan demikian keduanya tidak merasa perlu membantu Sundari.

"Hiaaa...!" Diiringi teriakan-teriakan keras, belasan orang yang dipimpin Gambalang segera menyerbu Sundari dengan senjata di tangan. Tubuh gadis itu segera berkelebat di antara sambaran senjata lawan, dan langsung menuju pintu keluar.

"Kejar...! Jangan biarkan gadis liar itu lolos!" Gambalang berteriak-teriak memberikan perintah. Serentak kawan-kawan Gambalang berloncatan keluar mengejar Dewi Tangan Merah.

"Jangan lari kau, gadis liar!" seru Gambalang ketika tiba di hadapan Sundari yang telah berdiri tegak, seolah-olah memang sengaja menantinya.

"Hm.... Siapa yang hendak melarikan diri, monyet kurap! Aku hanya tidak ingin membuat seluruh isi kedai berantakan akibat ulah monyet-monyet kurap macam kalian!" jawab Dewi Tangan Merah, menghina.

"Bangsat! Kubunuh kau perempuan setan...!" sambil berteriak-teriak marah, Gambalang segera menerjang Sundari menghunus senjatanya yang berbentuk sebuah tombak bergolok besar dan terlihat berat.

Wuttt! Wuttt!

Suara desingan golok bergagang tombak itu, menderu-deru dan menyambar-nyambar di sekitar tubuh Sundari. Namun lewat sebuah gerakan indah, tahu-tahu tubuh Sundari telah berada di belakang lawannya. Ini dikarenakan tingkat kepandaian Gambalang masih terlalu rendah, sehingga Sundari dapat mudah mengatasinya!

Desss!

"Ngggk...!" Tubuh Gambalang terjajar ke depan ketika Sundari yang sudah berada di belakangnya itu menyabetkan sisi telapak tangannya ke tengkuk Gambalang. Tubuh laki-laki itu terbanting keras tanpa mampu bangkit lagi. Rupanya akibat hantaman keras itu Gambalang pingsan seketika.

Menyaksikan pemimpin mereka dalam segebrakan saja tak berdaya, para pengikut Gambalang kontan mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu. Diiringi suara tawa merdu Dewi Tangan Merah, belasan orang itu pontang-panting terkencing-kencing.

Wijasena dan Panji, segera melangkah menghampiri Sundari yang tengah berdiri berkacak pinggang menanti kedatangan mereka berdua.

"Mengapa tidak kau bebaskan saja orang itu, Sundari?" tegur Wijasena ketika melihat tubuh Gambalang yang masih tergeletak pingsan di dekat gadis itu.

"Wah! Kakang Wija ini bagaimana?! Bukankah kita memerlukan orang seperti dia untuk menunjukkan tempat kediaman Nenek Tongkat Maut yang menjadi datuk kaum sesat di Selatan ini. Apakah perbuatanku salah?" bantah Dewi Tangan Merah, ketus.

"Hm..., benar! Mengapa aku menjadi pelupa sekali! Bukankah orang ini sangat tepat. Memang kalau dilihat tingkah lakunya, pasti ia salah seorang dari golongan hitam yang tengah beroperasi. Tapi sayang sekali, kali ini ketemu batunya!" sahut Wijasena.

"Kalau begitu, mengapa tidak segera dibangunkan. Tunggu apa lagi?" ujar Panji ikut menimpali.

"Tunggu...! Kakang Panji, apakah kau mengenal dua orang itu?" tanya Dewi Tangan Merah ketika melihat dua sosok tubuh yang terpisah agak jauh dari tempat mereka. Dua sosok tubuh itu tampak tengah memperhatikan tiga orang pendekar itu tanpa berkedip.

Panji segera melayangkan pandangannya mengikuti jari-jari tentik Sundari yang menunjuk ke satu arah. Jaraknya kira-kira sejauh seratus tombak dari tempat mereka berada. Semakin diperhatikan, semakin keras debaran dalam dada Panji. Mereka pun baru beberapa hari kenal, namun sudah dihapalnya ciri-ciri kedua orang itu. Namun Panji juga sedikit ragu-ragu masalahnya, jaraknya cukup jauh juga. Apalagi tempat kedua orang Itu berdiri agak tertutup pepohonan sehingga semakin meragukan hati pemuda itu Karena rasa penasaran yang meluap-luap, maka Panji melangkahkan kakinya mendekati dua sosok tubuh itu.

Dengan penuh ketegangan, Pendekar Naga Putih tersebut terus melangkahkan kakinya menuju semak-semak tempat kedua orang itu berada. Belum lagi jauh Panji melangkah, tiba-tiba dua sosok tubuh yang terlindung bayangan pepohonan itu melesat dan menghilang di balik pepohonan. Cepat-cepat Panji mengerahkan kemampuan ilmu meringankan tubuh untuk mengejar dua bayangan yang dicurigainya itu. Namun sampai lelah mencari, kedua sosok bayangan itu tidak dapat ditemukan, seolah-olah lenyap ditelan bumi.

"Siapakah mereka, Kakang? Mengapa terlihat begitu tegang?" tanya Dewi Tangan Merah ketika pemuda itu telah tiba di tempat semula. Pendekar Tangan Sakti diam-diam merasa heran melihat sikap Panji yang seolah-olah seperti terpukul ketika tidak dapat menemukan dua orang yang belum diketahui secara pasti itu.

"Aneh! Siapakah sebenarnya kedua orang tadi? Dan mengapa tiba-tiba saja pemuda itu menjadi tegang, seolah-olah memang dapat menduga dua orang itu? Aneh, apa sebenarnya yang terjadi terhadap pemuda digdaya yang mengagumkan itu?" gumam Wijasena tak jelas.

"Entahlah, Sundari! Tapi sepertinya mereka itu... aaahhh! Mana mungkin! Lagipula mengapa mereka seperti sengaja menghindar dariku!" desah Panji, yang pikirannya menjadi kacau. Dan tanpa berkata-kata lagi, pemuda itu melangkah melewati Sundari yang hanya memandang heran. Memang, gadis itu tidak mengerti, apa yang tengah dialam pemuda yang menarik hatinya itu sebenarnya.

Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti tidak bertanya-tanya lagi, karena keduanya merasa maklum kalau saat-saat seperti ini, Panji benar-benar tidak ingin diganggu berbagai macam pertanyaan. Dan, memang sebaiknya kalau pada saat seperti itu adalah diam. Ketiga orang pendekar itu kembali meneruskan niatnya semula untuk mengorek keterangan dari Gambalang.

********************

TUJUH

Setelah mendapat keterangan dari Gambalang tentang kediaman Nyai Serondeng, maka tiga pendekar itu bergegas mengunjunginya. Sedangkan Gambalang dilepaskan dengan ancaman, apabila kembali melakukan kejahatan, Dewi Tangan Merah akan kembali untuk mengambil kepalanya!

Dan Gambalang terpaksa harus menuruti kemauan Dewi Tangan Merah itu. Masalahnya, dia telah merasakan bagaimana dibuat tak berdaya hanya dalam segebrakan saja. Hal ini tentu saja membuat Gambalang tidak berani bertindak macam-macam.

"Apakah kita harus datang secara terus terang, Kakang?" tanya Dewi Tangan Merah kepada Panji yang berjalan di sebelahnya.

"Entahlah. Menurutmu, bagaimana Sundari?" ujar Panji balik bertanya. Sehingga untuk beberapa saat lamanya Dewi Tangan Merah terdiam untuk mencari jalan yang terbaik bagi mereka semua.

"Lebih baik kita tidak datang secara terus terang, Panji. Karena, kita belum tahu pasti, apakah di tempat itu telah menjadi pusat perkumpulan Partai Rimba Hitam atau tidak?" sahut Pendekar Tangan Sakti yang ikut pula menimpali.

"Ah! Mengapa kita tidak bertanya pada Gambalang tadi! Hhh..., mengapa kita melupakannya?" sergah Dewi Tangan Merah. Suaranya mengandung penyesalan karena kecerobohannya. Memang, dia telah melupakan satu hal penting yang tak dapat dikesampingkan begitu saja. Sebab, dengan diketahuinya keadaan kediaman Nyai Serondeng, berarti mereka dapat mengambil keputusan. Apakah harus datang terang-terangan atau sembunyi? Hal inilah yang kini mengganggu pikiran ketiga orang pendekar itu.

Akhirnya, karena belum tahu secara pasti, maka ketiganya memutuskan untuk mendatangi kediaman Nyai Serondeng secara sembunyi. Hal itu dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Diiringi hembusan angin sore, ketiga pendekar itu meneruskan niatnya mendatangi kediaman Nyai Serondeng yang terletak di atas Bukit Nirwana. Sebuah bukit yang sangat indah, karena hampir di setiap sudutnya dipenuhi bunga yang bermekaran dan menebarkan keharuman yang menyejukkan.

Cukup lama juga mereka melakukan perjalanan sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Itu dilakukan apabila melewati tempat-tempat sepi. Dan kini tibalah mereka di tempat yang dituju, Bukit Nirwana. Untuk beberapa saat lamanya, ketiga pendekar itu hanya berdiri mematung memperhatikan puncak bukit yang menjadi kediaman salah satu datuk kaum sesat di Selatan. Kekejamannya tidak kalah dengan iblis!

Namun sebelum memutuskan untuk mendaki bukit itu, mendadak di hadapan mereka telah berdiri dua sosok tubuh dalam jarak sekitar lima puluh tombak. Dua sosok tubuh itu muncul begitu saja bagaikan iblis-iblis neraka yang ditugaskan untuk menjemput Panji dan kawankawannya.

"Suntara..., Rahayu...!" seru Panji. Suaranya terdengar bagaikan tercekat di tenggorokan. Wajah pemuda itu kembali menegang karena masih belum dapat menduga, apa yang tengah dialami dua orang itu sebenarnya? Bukankah mereka dalam tawanan Setan Muka Seribu? Lalu mengapa dibebaskan begitu saja? Dan mengapa mereka tidak menunjukkan sikap bersahabat. Panji tidak meneruskan lamunannya, karena hal itu akan semakin menambah keruwetan pikirannya saja.

"Jadi, mereka itukah yang kau lihat di semak-semak samping kedai? Siapakah mereka? Demikian berartikah mereka bagimu, Panji?" tegur Pendekar Tangan sakti saat melihat wajah Panji, yang biasanya tenang itu tampak selalu tegang apabila berjumpa dengan dua orang yang disebutnya Suntara dan Rahayu itu.

"Mereka adalah murid-murid kesayangan Ki Tunggul Jagad dan Ki Ageng Pandira yang ditugaskan untuk menyelidiki kemelut Partai Gunung Salaka dan Partai Gunung Sutra bersamaku. Kemudian keduanya menghilang dalam sebuah hutan tanpa aku mampu menyelamatkannya. Dan kini tahu-tahu saja mereka telah terbebas. Namun dari sinar mata mereka sama sekali tidak memancarkan rasa persahabatan! Entah apa yang tengah dialami mereka? Sedangkan kedua guru mereka telah berpesan kepadaku untuk menjaga mereka baik-baik. Memang, keduanya sama sekali belum berpengalaman dalam menghadapi manusia yang penuh berbagai tipu daya. Dan aku takut kalau Suntara dan Rahayu telah dipengaruhi tokoh-tokoh sesat yang menawan mereka,"

Panji menghela napas berulang-ulang setelah mengakhiri ceritanya yang telah membuat Pendekar Tangan Sakti ternganga penuh keheranan.

"Oh! Benarkah yang kau ceritakan itu, Panji! Aneh! Bagaimana mungkin Guru Besar mempunyai murid yang masih demikian muda? Dan mengapa pula aku tidak mengetahuinya?" ujar Pendekar Tangan Sakti dengan nada seperti kurang percaya.

"Begitulah yang dikatakan Ki Sukma Kelana ketika melepaskan kepergian Suntara. Jangankan dirimu yang selalu berada di luar. Bahkan para tokoh tingkat tiga sekalipun tidak pernah mengetahui kalau Ki Tunggul Jagad mempunyai seorang murid yang seumur Suntara. Namun, demikianlah kenyataan sebenarnya, Wijasena," jawab Panji menerangkan.

"Lalu, apa yang harus kita perbuat terhadap mereka?" tanya Dewi Tangan Merah tiba-tiba.

Sehingga kedua orang pendekar itu kembali teringat akan keadaan mereka. Panji menatap kedua orang yang masih berdiri bagaikan sebuah patung batu saja. Mereka sama sekali tak bergerak walaupun telah cukup lama berdiri.

"Kalian tetaplah di sini! Biar aku yang akan menghadapi, karena kalian belum mengetahui apa yang telah terjadi dengan mereka," jelas Panji mengambil keputusan. Ia memang tidak ingin mengikutsertakan Sundari atau Wijasena sebelum mengetahui duduk persoalannya, yang membuat kedua orang itu seolah-olah tidak mengenalnya sama sekali.

Pendekar Naga Putih melangkah penuh kewaspadaan menghampiri dua sosok tubuh yang memang Suntara dan Rahayu itu. Namun, hati Panji terkejut ketika melihat wajah mereka berdua itu pucat bagaikan mayat. Dan yang lebih mengejutkan hati, ketika Panji melihat sinar mata Suntara dan Rahayu yang bagai hilang ingatan. Sinar mata itu begitu dingin dan kosong. Diam-diam hati Pendekar Naga Putih terharu ketika melihat keadaan mereka berdua yang bagaikan tak terurus.

Baru beberapa langkah Panji mendekat, tiba-tiba Suntara dan Rahayu mencabut senjatanya masing-masing. Dan tanpa basa-basi lagi, keduanya melesat ke arah Panji dengan serangan menderu-deru. Sepasang senjata muda-mudi itu meluncur deras ke arah Pendekar Naga Putih, sehingga menimbulkan desingan angin tajam.

"Suntara, Rahayu...! Tahan! Ini aku, Panji! Apakah kalian lupa kepadaku!" cegah Panji sambil melangkah mundur menghindari serangan dua orang yang memang sangat berbahaya itu. Suntara dan Rahayu sama sekali tidak mengindahkan teriakan-teriakan Panji yang mencoba mencegah terjadinya pertempuran di antara mereka. Namun, wajah mereka tetap saja kaku tanpa perasaan. Seolah-olah memang benar-benar tidak mengenal Panji sama sekali.

Hm..., pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam diri mereka," gumam Panji pelan.

Semakin lama serangan Suntara dan Rahayu semakin ganas dan berbahaya! Kalau sampai beberapa jurus lagi Panji masih saja tidak membalas serangan itu, dapat dipastikan dirinya akan celaka! Karena sebagai murid-murid orang sakti, baik Suntara dan Rahayu pasti telah dibekali ilmu-ilmu tinggi oleh guru mereka berdua. Sehingga, kepandaian kedua orang itu tidak dapat dianggap main-main.

Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang melihat keadaan Panji, sudah tidak dapat lagi menahan diri. Keduanya segera melesat dan langsung menerjunkan diri dalam kancah pertempuran. Begitu memasuki arena, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti segera melancarkan serangan ke arah Suntara yang pada saat itu dekat dengan mereka. Merasakan sambaran angin kuat yang keluar dari dua pasang lengan yang meluncur ke arahnya, Suntara bukannya menghindar tapi malah memapaknya dengan mendorongkan kedua telapak tangan disertai pengerahan tenaga dalam penuh.

"Sebelas Jurus Penahan Ombak..!" seru Pendekar Tangan Sakti ketika melihat gerakan sepasang tangan Suntara yang menimbulkan desiran angin kuat. Pendekar Tangan Sakti yang mengetahui kehebatan ilmu kebanggaan perguruannya itu, segera mengerahkan seluruh tenaga dalam. Karena jelas-jelas untuk mengelak sudah terlambat!

Darrr!

"Aaahhh...!" Terdengar bunyi ledakan keras di udara ketika dua gelombang bertenaga dalam tinggi bertemu di udara! Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti memekik tertahan. Tubuh mereka sampai terjengkang akibat benturan itu, kemudian terbanting di atas tanah meskipun masih limbung. Dan dari celah-celah bibir mereka, nampak darah segar merembes keluar! Rupanya benturan tadi telah mengguncangkan isi dada mereka!

Di lain pihak, tubuh Suntara pun mengalami hal serupa. Gabungan tenaga lawannya ternyata kuat sekali. Walaupun dia telah mengeluarkan seluruh tenaganya, ternyata masih pula terdorong dan terhuyung-huyung dengan dada terasa sesak. Tapi anehnya, Suntara seolah-olah tidak merasakan akibat benturan tenaga dalam tadi. Hanya wajahnya saja yang terlihat semakin pucat. Namun, pandangan matanya tetap saja kosong dan tak memancarkan gairah kehidupan. Seakan-akan jiwa Suntara telah mati, sementara raganya masih tetap utuh.

Panji yang tengah berhadapan dengan Rahayu, serentak meninggalkan gadis itu. Dia berlari memburu Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang tengah melangkah tertatih-tatih. "Sundari! Wija! Jangan ladeni, karena mereka berdua tidak menyadari apa-apa yang dilakukan saat ini! Mereka sedang kehilangan ingatannya!" tegas Panji begitu tiba di hadapan kedua orang kawannya yang sedang bersiap-siap bertarung kembali.

"Panji! Kepandaian kedua orang ini tidak bisa dibuat main-main! Dan kalau kami terus mendiamkan, mereka pasti menyerangmu. Dan pasti kau berusaha untuk tidak membalas. Bisa bisa kau akan celaka di tangan mereka, Panji!" sergah Pendekar Tangan Sakti. Suaranya mengandung rasa penasaran dan kekhawatiran.

"Benar, Kakang Panji. Lakukanlah sesuatu kepada mereka. Jangan hanya menghindar saja, karena hal itu sangat berbahaya!" Dewi Tangan Merah ikut pula memberikan dorongan kepada Panji, karena sudah merasakan bagaimana hebatnya kepandaian pemuda yang bernama Suntara itu. Padahal, dia tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya. Malah, masih pula dibantu Pendekar Tangan Sakti. Tapi, toh mereka masih juga kalah tenaga. Dan hal itu benar-benar sukar dipercaya bagi Dewi Tangan Merah yang selama ini belum pernah bertemu lawan tangguh yang masih terlihat muda itu. Maka mau tidak mau ia harus mengakui kehebatan lawannya.

Mendengar kata-kata kedua orang sahabatnya diam-diam Panji merasa terharu sekali. Namun, perasaan itu cepat-cepat ditekan, karena tidak boleh terlihat lemah di hadapan mereka. "Baiklah. Kalian tetaplah di sini! Aku akan mencoba untuk menundukkan mereka," jawab Panji.

"Tapi bagaimana mungkin dapat menundukkan tanpa harus melukai mereka, Kakang? Bukankah hal itu terlihat sulit sekali!" sahut Dewi Tangan Merah, bernada khawatir. Sekejap sinar mata yang menyiratkan kecemasan itu meredup, mengungkapkan perasaan hati Sundari yang selama ini, cepat-cepat dibuang pandangannya dengan wajah kemerahan.

"Hati-hatilah, Kakang...!" ujar Sundari untuk menutupi rasa jengah dalam hatinya.

Panji yang dapat menduga apa yang telah dirasakan gadis itu, hanya mengangguk tipis. Kemudian dia segera melangkah mendekati Suntara dan Rahayu yang telah bersatu kembali. Untuk beberapa saat lamanya, Panji hanya berdiri sambil memandang kedua orang itu dengan tatapan lembut Pendekar Naga Putih kini sudah dapat bersikap tenang, kembali seperti biasanya.

Dan ketika melihat kedua orang itu sudah bersiap hendak menerjang, Panji segera mengempos semangatnya. Ditariknya napas dalam-dalam. Sekejap kemudian, terdengar suara tulang-tulang tubuhnya yang bergemerutuk karena dialiri 'Tenaga Dalam Gerhana Bulan' yang merupakan warisan Eyang Tirtayasa. Dalam sekejap saja, tubuh pemuda itu telah diselimuti selapis kabut bersinar putih keperakan dan memancarkan hawa dingin yang menggigit kulit. Dan secara mendadak, daerah di sekitarnya merubah menjadi dingin.

Suntara dan Rahayu tersentak mundur, ketika serangkum angin berhawa dingin berhembus menerpa tubuh mereka. Ternyata biarpun kesadaran telah lenyap, namun naluri mereka sebagai ahli silat telah mem-peringatkan akan bahaya mengancam. Diiringi bentakan nyaring, Suntara dan Rahayu segera bersiap mengerahkan ilmu andalan masing-masing. Keduanya segera bergerak membentuk kuda-kuda yang sesuai dengan jurus jurus mereka.

"Yeeeaaattt...!"

Tiba-tiba tubuh sepasang muda mudi itu melayang cepat ke arah Panji yang memang sudah bersiap menghadapinya. Angin keras berputar ketika kedua orang muda yang berkepandaian tinggi itu mulai melancarkan serangan pukulan dan tendangan kilat yang tidak terduga datangnya! Namun, meskipun mereka melancarkan serangan susul-menyusul, tetap saja hasilnya jadi berbalik. Mereka seperti membentur sebuah dinding berhawa dingin yang selalu saja menolak setiap pukulan yang datang ke tubuh pemuda itu.

Panji kini sudah pula membangun serangan dengan melakukan totokan-totokan yang mengarah ke bagian-bagian terlemah di tubuh lawan-lawannya itu. Tapi sampai jurus yang keempat puluh berlalu, Panji belum juga dapat menyentuh tubuh Suntara maupun Rahayu yang ternyata memiliki kegesitan hebat. Dan sepertinya mereka tahu kalau Panji hendak menotok roboh. Tentu saja baik Suntara dan Rahayu tidak ingin tertotok begitu saja. Maka keduanya berusaha menghindarkan serangan-serangan yang dilontarkan Panji.

Hingga pada jurus yang keempat puluh delapan, Panji yang rupanya merasa tidak akan mampu menjatuhkan lawannya tanpa harus mencelakai, segera merubah keputusannya. Tiba-tiba kedua tangan pemuda itu berputar dan membentuk cakar naga. Dan dengan gerakan cepat luar biasa, Panji segera melakukan serangan lewat jurus "Silat Naga Sakti" yang menjadi andalannya.

Bagaikan seekor naga putih yang sedang bermain di angkasa, tubuh pemuda itu bergerak lincah sambil melontarkan serangan-serangan cepat luar biasa. Akibatnya dalam beberapa jurus saja, kedua lawannya telah dibuat repot oleh pukulan-pukulan yang datang bagai air bah itu. Sampai akhirnya, keduanya hanya dapat bermain mundur. Memang, setiap kali mereka balas menyerang, selalu saja berbalik dan kandas terdorong angin dingin yang mengelilingi tubuh mereka.

Wusss! Blarrr!

Debu mengepul tinggi ketika pukulan yang dilontarkan Panji menghantam tanah-tanah berumput. Kali ini kedua orang lawan Panji itu berhasil menyelamatkan diri, dengan cara melemparkan tubuh ke belakang. Itu pun masih disambung beberapa kali salto di udara. Dan kini mereka dapat mendaratkan kakinya manis dan indah, sejauh tiga tombak dari tempat semula.

Namun Pendekar Naga Putih rupanya sudah tidak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pertarungan. Pada saat Suntara dan Rahayu tengah memperbaiki posisi tahu-tahu serangan Panji sudah datang mengancam. Karena tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindar, maka mereka segera mendorongkan telapak tangannya untuk memapak serangan itu!

Blanggg!

"Aaakh...!" Terdengar seruan tertahan yang keluar dari mulut ketiganya. Benturan dahsyat itu telah menggetarkan udara di sekitar arena pertarungan. Akibatnya tubuh ketiga orang yang berbenturan itu sama-sama terpental ke belakang.

Suntara dan Rahayu yang terbanting keras di tanah, untuk beberapa waktu belum mampu bangkit berdiri! Mereka rebah di atas hamparan rumput, dengan napas satu-satu. Sementara dari sudut bibir mereka, terlihat cairan merah merembes keluar.

Pada saat keduanya dalam keadaan tidak berdaya itu, tiba-tiba dua sosok bayangan melesat ke arah mereka disertai totokan yang mengancam. Tanpa dapat berbuat apa-apa, keduanya langsung lemas terkena totokan yang dilakukan dua sosok bayangan yang ternyata Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti. Akibatnya kedua orang Itu dapat dikuasai tanpa mengalami kesulitan berarti.

Sedangkan Panji yang terhempas akibat benturan dua gelombang tenaga dalam tinggi tadi, dapat mendaratkan kakinya ringan tanpa mengalami luka sedikit pun. Hanya saja, dadanya terasa agak sesak seakan akan dihimpit sebuah benda berat. Namun rasa sesak itu pun tidak berlangsung terlalu lama, karena segera dikerahkan hawa murni untuk menolak segala pengaruh yang mengeram dalam dirinya.

Panji yang semula sudah merasa lega ketika melihat Suntara dan Rahayu berhasil ditawan Sundari dan Wijasena, menjadi tersentak. Dia memang melihat beberapa sosok tubuh berkelebat ke arah Pendekar Tangan Sakti dan Dewi Tangan Merah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menggenjot tubuhnya, menyambut sosok tubuh yang berada paling depan.

"Sundari! Wijasena! Awaaasss...!" teriak Panji sambil meluncur ke arah kedua orang kawannya.

Sebenarnya tanpa diberitahu pun, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti sudah pula mengetahui hal itu. Maka ketika keduanya mendengar teriakan itu segera berlompatan mundur sambil memondong tubuh Suntara dan Rahayu. Untunglah keduanya terbebas dan serangan mendadak itu. Berbeda dengan bayangan yang meluncur paling depan. Ternyata bayangan itu langsung berbentur dengan Panji yang memang hendak menyambut serangan itu. Dan....

Plak! Bukkk! Desss!

"Ouggghhh...!" Telapak tangan bayangan itu berhasil ditepis Panji yang langsung mengirimkan sebuah tendangan dan pukulan tepat mengenai lambung dan dada lawan. Orang itu langsung terjungkal sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. Setelah menggigil karena disiksa hawa dingin yang merasuk tubuhnya, orang itu tewas seketika akibat pukulan dan tendangan Panji yang sangat kuat itu!

Sedangkan sosok-sosok tubuh lain langsung berhenti, tidak meneruskan serangannya yang semula diarahkan ke Sundari dan Wijasena. Belasan orang itu tertegun ketika menyaksikan pimpinan mereka tewas hanya dalam segebrakan saja. Tanpa sadar, mereka yang semula hendak membunuh Panji, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti, bergerak mundur dengan wajah pucat! Namun seketika belasan orang itu bangkit setelah mendengar sebuah suara yang rupanya sangat ditakuti.

"Mengapa diam saja, murid-murid goblok! Tunggu apa lagi, ayo cincang tubuh mereka!" perintah sebuah suara yang melengking tinggi bagaikan dengingan nyamuk.

Belum lagi gema suaranya lenyap, tahu-tahu di tempat itu telah berdiri sesosok tubuh kurus yang tak lain adatah Nyai Serondeng. Dialah yang menjadi majikan di Bukit Nirwana. Sementara di belakangnya terlihat Setan Muka Kuning, yang rupanya sudah menjadi pengikut Nenek Tongkat Maut dan tergabung dalam Partai Rimba Hitam!

"He he he.... Selamat bertemu lagi, Pendekar Naga Putih! Apakah kau ingin melanjutkan pertandingan kita yang tertunda?" ejek Nyai Serondeng.

"Hm..., Nyai Serondeng! Di antara kita tidak terdapat permusuhan. Lalu mengapa tak membiarkan kami meninggalkan tempat ini? Apakah memang sengaja hendak mencari permusuhan?" tegas Panji. Wajah Panji terlihat tegang, karena menyadari kalau di sekitar tempat itu telah dikurung sekitar lima puluh orang anggota Partai Rimba Hitam. Belum lagi ditambah dengan nenek sakti itu sendiri dan Setan Muka Seribu yang merupakan pentolan partai itu. Bahkan masih ditambah lagi Ular Muka Kuning yang mempunyai kepandaian tidak rendah! Maka dari itu, Panji berusaha untuk mengulur waktu sambil mencari-cari jalan keluar.

Rupanya Nyai Serondeng mengetahui apa yang tengah dipikirkan Panji saat itu. Melihat sikap yang ditunjukkan Panji, diam-diam Nyai Serondeng merasa kagum kepada pemuda itu. "Hm... Entah murid siapa Anak Muda ini. Kepandaiannya hebat sekali dan tidak berada di bawah kepandaianku! Seorang pemuda yang hebat!" ujar nenek itu dalam hati.

Sesaat, Panji terdiam Matanya tetap mengawasi sekitarnya.

"He he he..., jangan harap dapat meloloskan diri kali ini Pendekar Naga Putih! Hari ini adalah hari penentuan bagi kita!" seru Nyai Serondeng diiringi suara tawa yang mengikik.

"Hm.... Jadi rupanya kau yang menjadi pimpinan Partai Rimba Hitam?" tanya Panji tanpa mempedulikan ocehan nenek itu.

"He he he.... Rupanya kau sudah tahu pula tentang partai itu! Memang akulah Nyai Serondeng, Ketua Partai Rimba Hitam! Sudah puas, Anak Muda...!"

"Hm..., kalau begitu kau harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatanmu!" ujar Panji geram.

"Huh, sudahlah! Jangan banyak mulut Bersiaplah untuk mampus! Heaattt...!" dibarengi sebuah teriakan menyakitkan anak telinga tubuh nenek sakti itu meluncur sambil membabatkan tongkatnya ke tubuh Panji. Serangan angin berhawa panas berhembus mengiringi datangnya hantaman tongkat yang bertenaga tinggi itu.

Tranggg!

"Aihhh...!" Nyai Serondeng menjerit tertahan, ketika tiba-tiba saja di tangan Panji telah tergenggam sebatang pedang yang langsung digunakan untuk menangkis.

Keduanya terdorong mundur sejauh delapan langkah. Ternyata dalam pertemuan tadi, tenaga mereka berimbang! Dan hal ini sangat mengkhawatirkan Panji. Karena, kalau bertarung melawan nenek itu, bagaimana ia dapat melindungi kawan-kawannya? Itulah yang menjadi beban pikiran Panji.

Nyai Serondeng dan Panji saling bertatapan seolah-olah tengah mempelajari kekuatan tersembunyi yang ada dalam diri lawan masing-masing. Belum lagi keduanya bergerak, tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai bergemuruh! Dan tidak lama kemudian, terlihat puluhan orang berlarian mendatangi tempat itu, sehingga untuk beberapa saat lamanya pertempuran antara dua orang sakti itu terhenti!

"Hm..., Pendekar Kujang Emas. Rupanya kau ingin menuntut balas atas kematian murid kesayanganmu itu, heh!" tegur Nyai Serondeng. Suaranya benar-benar tidak enak didengar.

"Benar! Nenek iblis! Aku dan murid-muridku lebih rela mati terhormat, daripada hidup sebagai seorang pengecut!" seru orang yang disebut Pendekar Kujang Emas itu tegas. Rupanya Pendekar Kujang Emas mempunyai urusan pula dengan Nyai Serondeng. Apalagi kalau bukan mengenai terbunuhnya murid kesayangan Perguruan Kujang Emas. Perguruan itu memang dipimpin langsung Pendekar Kujang Emas sendiri. Itulah sebabnya, mengapa tahu-tahu Pendekar Kujang Emas dan murid-muridnya sampai berada di sini.

DELAPAN

"Anak-anak, serbuuu...!" perintah Pendekar Kujang Emas sambil menggerakkan tangannya ke depan. Sedangkan ia sendiri sudah mencabut senjatanya dan langsung menerjang Nyai Serondeng.

Namun sebelum sampai ke tempat Nyai Serondeng berdiri, tiba-tiba Ular Muka Kuning yang sejak tadi hanya berdiam diri saja, langsung melompat menyambut serangan Pendekar Kujang Emas.

Tranggg!

Tubuh keduanya terdorong mundur ketika dua senjata saling bertemu hingga menimbulkan pijaran bunga api. Baik Pendekar Kujang Emas maupun Ular Muka Kuning sama-sama terkejut, ketika merasakan getaran pada lengan mereka yang memegang senjata. Dan itu menandakan kalau kekuatan keduanya berimbang. Setelah memeriksa senjata masing-masing, mereka kembali saling menyerang. Dan dalam waktu singkat saja, kedua tokoh itu telah terlibat pertempuran sengit.

Sementara itu, Anggota Partai Rimba Hitam yang berjumlah sekitar lima puluh orang itu, sudah bertempur melawan murid-murid Perguruan Kujang Emas yang berjumlah tujuh puluh orang lebih. Maka arena pertempuran semakin ramai. Kilatan-kilatan senjata tajam membelah angkasa, kini telah dibasahi darah. Satu persatu murid kedua belah pihak mulai berjatuhan! Dan dalam sekejap saja, tempat itu telah dibanjiri darah segar!

Di tempat lain, Dewi Tangan Merah kini telah berpasangan dengan Pendekar Tangan Sakti untuk menghadapi Setan Muka Seribu yang memiliki kepandaian di atas mereka. Jadi wajar saja kalau keduanya bertempur berpasangan. Ternyata dengan berpasangan dan saling mengisi, Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti mampu menghadapi Setan Muka Seribu yang terkenal lihai itu. Bahkan mereka mampu pula memaksa Setan Muka Seribu untuk bermain mundur! Dan keadaan itu memaksa lawan untuk mengerahkan seluruh kepandaiannya dalam meng-hadapi gempuran kedua orang pendekar ternama itu.

Sedangkan datuk sesat yang berjuluk Nenek Tongkat Maut itu berhadapan melawan Pendekar Naga Putih. Dari sekian banyaknya pertarungan yang sedang berlangsung, pertarungan kedua orang inilah yang paling mendebarkan. Untunglah pertarungan kedua orang sakti itu terpisah agak jauh dari yang lain. Kalau tidak, tentu pertempuran lain akan berantakan terkena sambaran-sambaran angin pukulan mereka yang mengandung hawa berlainan sifat itu. Hawa dingin dan panas beganti-gantian menguasai arena pertarungan. Di saat Panji di atas angin, maka udara di sekitar arena akan terasa dingin bagaikan es. Tapi apabila dikuasai Nyai Serondeng, maka udara sekitarnya pun berubah menjadi panas.

Panji yang sudah menggunakan pedang tipisnya, menyerang bagaikan seekor naga murka. Gerakan-gerakan pemuda itu kini ditunjang 'Tenaga Dalam Gerhana Bulan'. Bahkan kabut putih bersinar keperakan telah pula menyelimuti tubuh Panji. Sehingga apabila orang melihat pertempuran itu dari jarak jauh, pemuda itu benar-benar bagaikan seekor naga putih yang sesuai julukannya.

Setelah melewati tujuh puluh jurus, pertempuran tampak semakin meningkat! Keduanya kini sudah tidak terlihat lagi bentuk tubuhnya. Yang terlihat kini hanyalah dua buah bayangan berkelebat saling sambar dan saling desak. Dan memang sulit untuk mengetahui mana bayangan Panji, dan mana Nyai Serondeng. Ini karena demikian cepatnya kedua orang itu bergerak.

Pada jurus kedelapan puluh, Nyai Serondeng mem-babatkan tongkatnya secara mendatar ke arah kepala Panji. Namun pemuda itu segera menundukkan kepala dengan kuda-kuda rendah sambil melontarkan pukulan tangan kirinya Tapi dengan mudah Nyai Serondeng meng-elakkannya dengan sedikit menggeser kaki kanan ke samping. Kemudian perempuan itu langsung melepaskan sebuah tendangan kilat menuju ulu hati Panji.

Melihat tendangan kilat yang muncul mendadak itu, Panji menggenjot tubuhnya tinggi melambung ke udara sehingga tendangan itu lewat di bawah kakinya. Dan dari udara Panji melontarkan tendangan berarti yang tepat mendarat di punggung Nyai Serondeng.

Bukkk!

"Oooggghhh...!" Tubuh Nyai Serondeng langsung terjajar ke depan ketika dua buah tendangan Panji mendarat di punggungnya. Disaat tubuhnya tengah terhuyung, tiba-tiba nenek itu berbalik sambil mengkelebatkan tongkatnya untuk menjaga serangan susulan yang mungkin dilakukan lawannya.

Ternyata dugaan Nyai Serondeng tepat sekali. Panji yang pada saat itu berniat melakukan serangan susulan, segera mengurungkan niatnya. Kini dia harus melompat mundur untuk menghindari sambaran tongkat yang berbahaya itu. Pemuda itu berdiri tegak sambil memandang lawan yang tampaknya telah terluka dalam itu. Ini terlihat ketika dari sela-sela bibir nenek itu merembes cairan merah!

Namun, Panji belum merasa bangga akan hasil serangannya tadi. Karena, ia pun menderita rasa nyeri pada kakinya karena berbenturan dengan punggung Nyai Serondeng yang telah dilindungi tenaga dalam tinggi! Saat itu Nyai Serondeng kembali sudah menerjang dengan tongkat mautnya yang berputar sehingga menimbulkan angin ribut. Maka kini keduanya kembali terlibat pertempuran sengit dan menegangkan.

Di tempat lain, pertarungan Pendekar Kujang Emas yang melawan Ular Muka Kuning, tampak telah sampai pada puncaknya. Pendekar Kujang Emas terus mendesak lawan yang sudah mulai dapat dikuasainya itu. Senjatanya berkelebat mengurung tubuh lawan yang tak mempunyai kesempatan untuk membalas. Hingga pada jurus yang keempat puluh tiga, Ular Muka Kuning nekad untuk mengadu nyawa dengan lawannya.

Saat itu posisi Ular Muka Kuning benar-benar sudah di ambang kematian. Senjata lawan meluncur deras ke arah tenggorokannya, melihat hal ini, Ular Muka Kuning bukannya menghindar tapi malah segera melepaskan sebuah pukulan keras ke arah dada Pendekar Kujang Emas. Namun pendekar itu rupanya tidak sudi mengadu nyawa.

Seketika pendekar itu menarik pulang senjatanya. Dan dengan sebuah liukan manis, tubuhnya bergerak ke samping kiri lawan. Langsung saja dilepaskan sebuah tusukan kilat ke arah lambung Ular Muka Kuning! Dengan demikian pendekar itu telah memperoleh dua keuntungan. Sambil menghindari pukulan lawan, dan dapat pula menusukkan senjatanya tanpa mendapat kesulitan.

Cappp!

"Aaarrrggghhh...!" Ular Muka Kuning meraung ketika kujang di tangan lawan menembus lambung hingga amblas sampai gagangnya. Tubuh Ular Muka Kuning melintir disertai semburan darah saat Pendekar Kujang Emas mendorong senjatanya dan membeset tubuh lawan. Tak di situ saja. Pada saat tubuh lawan terhuyung-huyung, Pendekar Kujang Emas langsung melompat dan menjepit leher lawan dengan kakinya. Terdengar bunyi gemeretak dari tulang leher yang patah ketika pendekar itu memutar badannya dengan kaki masih menjepit leher lawan.

Tubuh Ular Muka Kuning ambruk bersama tubuh lawannya. Tokoh sesat itu tewas seketika! Sedangkan Pendekar Kujang Emas langsung bangkit, dan menggenjot tubuhnya ke arena pertempuran lain. Pendekar itu langsung mengamuk hebat sehingga dalam beberapa gebrak saja telah menewaskan enam orang murid Nyai Serondeng. Tentu saja amukan pendekar itu membuat para murid Nyai Serondeng marah. Dan beberapa orang dari mereka langsung memusatkan perhatiannya kepada pendekar itu.

Sedangkan pertarungan yang berlangsung antara Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti melawan Setan Muka Seribu masih berlangsung seru. Kedua belah pihak telah sama sama terluka. Bahkan nampak gerakan mereka mulai lamban karena terganggu rasa nyeri yang diderita. Pertarungan yang berlangsung selama kurang lebih tujuh puluh jurus itu, ternyata benar-benar telah menguras tenaga dua belah pihak. Sehingga tempo pertarungan tidak lagi berlangsung mulus. Kadang-kadang berubah menjadi cepat, tapi dilain saat menjadi lambat kembali.

Bukkk! Desss!

Pendekar Tangan Sakti dan Setan Muka Seribu sama-sama terjungkal ketika keduanya sama-sama menerima sebuah pukulan secara berbarengan. Setan Muka Seribu langsung bangkit berdiri meskipun dadanya baru saja terkena pukulan lawan. Kekuatan tubuh tokoh sesat yang satu ini memang hebat sekali! Padahal, batu pun akan hancur apabila terkena pukulan Pendekar Tangan Sakti yang sangat kuat itu.

Berbeda dengan lawannya, sebaliknya Pendekar Tangan Sakti belum dapat bangkit. Pendekar itu masih meringis menahan rasa mulas pada perutnya yang terkena pukulan telapak tangan lawan. Baru setelah agak pulih, pendekar itu dapat bangkit lagi. Sedangkan pada saat itu, keadaan Dewi Tangan Merah benar-benar dalam bahaya! Karena biar bagaimanapun, kepandaian Setan Muka Seribu masih jauh di atasnya.

Cepat Pendekar Tangan Sakti bangkit tanpa mempedulikan rasa nyeri yang masih terasa itu. Tubuhnya segera meluncur, dan kedua tangannya terkembang sambil mengerahkan seluruh tenaga sakti. Jari-jari kedua tangan pendekar itu bergetar, pertanda telah mengeluarkan seluruh tenaga sakti yang masih tersisa. Sementara itu Setan Muka Seribu, melesat menyiapkan pukulan ke arah Dewi Tangan Merah. Dan....

Desss! Prakkk! Buggg!

Tubuh Dewi Tangan Merah terhempas bagai sehelai daun kering, ketika kepalan Setan Muka Seribu menghantam lambungnya. Berbarengan dengan itu pedang sinar hijaunya berhasil menggores dada lawan. Dan pada saat yang sama sepasang tangan yang mengandung kekuatan hebat ternyata juga, menghantam kepala Setan Muka Seribu. Pada saat yang tepat pula, tokoh sesat itu juga telah melepaskan hantaman sisi telapak tangan ke arah Pendekar Tangan Sakti yang memiliki sepasang tangan bertenaga kuat itu.

Setan Muka Seribu terhuyung-huyung dengan gerakan limbung. Darah mengucur deras dari kepalanya yang retak akibat keprukkan sepasang tangan Pendekar Tangan Sakti yang mengerahkan seluruh tenaga dalam tinggi. Beberapa saat kemudian, iblis itu pun tewas menyedihkan. Sedangkan Pendekar Tangan Sakti yang terkena hantaman sisi telapak tangan lawan, tergeletak pingsan! Darah segar mengalir dari celah-celah bibirnya. Dua buah tulang rusuknya telah patah akibat hantaman lawan yang sangat kuat itu. Sementara itu sesosok tubuh yang terbungkus pakaian merah telah berada di sampingnya. Dia tak lain adalah Dewi Tangan Merah yang bersandar pada sebatang pohon karena telah pula menderita luka cukup parah akibat pukulan Setan Muka seribu pada lambungnya.

Di arena lain, Panji yang bertarung melawan Nyai Serondeng masih saja berlangsung sengit! Padahal pertempuran itu sudah melewati seratus jurus! Namun kekuatan masing-masing masih saja terlihat berimbang. Diam-diam Panji harus mengakui kehebatan nenek kurus yang menjadi lawannya itu. Di usianya yang telah melewati enam puluh tahun, ternyata kekuatan dan tenaganya masih begitu dahsyat.

"Haaaiiittt...!"

Wusss!

Dengan sebuah hentakkan nyaring, tiba-tiba saja Nyai Serondeng melompat tinggi sambil mengayunkan tongkat-nya dari atas ke bawah. Sambaran angin panas mendahului luncuran tongkatnya. Bergegas Panji menggeser tubuhnya ke samping disertai sabetan pedangnya ke pinggang nenek itu. Tapi, alangkah terkejutnya Pendekar Naga Putih itu ketika tahu-tahu saja tongkat di tangan lawannya berputar membabat lehernya. Cepat-cepat ditarik pulang senjatanya. Dan dengan merendahkan kuda-kudanya, tubuh pemuda itu berputar disertai tendangan kaki kanan sambil mengerahkan jurus 'Sabetan Ekor Naga Membelah Karang'. Jurus ini adalah salah satu bagian dari jurus 'Naga Sakti' yang merupakan ilmu kebanggaannya.

Nyai Serondeng berseru kagum melihat kegesitan Panji. Nenek itu segera menarik pulang tongkatnya dan langsung memapaki tendangan Panji. Hal ini membuat pemuda itu menjadi terkejut setengah mati. Karena untuk menarik kakinya sudah tidak mungkin lagi. Maka Panji pun menyalurkan seluruh tenaga dalamnya ke arah kaki yang menendang itu.

Desss!

"Uhhh...!" Terdengar suara bagai bara dicelupkan dalam air ketika tongkat di tangan nenek itu bertemu kaki Panji. Keduanya berseru kaget! Dan masing-masing mengakui kehebatan lawannya. Panji yang mempunyai posisi lebih lemah itu cepat melempar tubuhnya dan bergulingan mengikuti dorongan akibat benturan dahsyat itu. Dan pemuda itu menjadi terkejut sekali ketika mendapati celana pada bagian betisnya hancur, akibat benturan dua tenaga berlainan sifat itu. Ketika diperiksa bagian kakinya, tidak terlihat luka sedikit pun. Maka hatinya menjadi lega.

Dipihak lain, Nyai Serondeng pun menjadi terkejut mendapati kenyataan kalau tongkatnya sama sekali tidak mampu melukai lawannya yang masih sangat muda itu. Dengan hati dipenuhi rasa malu dan penasaran, Nyai Serondeng segera melompat mengejar Panji yang tengah bergulingan itu. Langsung dihantamkan tongkat hitamnya sekuat tenaga ke punggung pemuda itu.

Panji yang merasakan ada sambaran angin panas menerpa punggung menjadi kaget! Ketika dilirik, ternyata nenek kurus itu sedang mengayunkan tongkat mautnya. Menghadapi serangan yang mematikan itu, tubuh Panji mendadak melenting mengerahkan jurus 'Naga Sakti Menggeliat' yang merupakan bagian ketujuh dari "Jurus Naga Sakti".

Hebat dan tak terduga sama sekali gerakan yang dilakukan Panji itu. Tubuh pemuda itu tiba-tiba melenting ke udara dan langsung berputar di udara beberapa kali. Itu pun disertai ayunan pedang untuk membabat tangan Nyai Serondeng yang memegang tongkat hitam itu. Dan...

Wusss Crakkk!

"Aaakh...! Nyai Serondeng meraung tjnggi ketika pedang di tangan Panji menebas lengannya sebatas siku! Darah seketika muncrat dari tangan yang buntung itu, tubuh nenek itu terhuyung-huyung sambil memegangi lengan kanannya yang telah buntung itu. Dan sebelum menyadari keadaannya, tubuh Panji meluruk sambil berputar mengerahkan jurus 'Naga Sakti Kembali Kesarang'. Dan kini mata pedang meluncur deras menuju ulu hati lawannya.

Cap!

"Aaarrrggghhh...!" Nyai Serondeng menjerit ngeri ketika pedang bersinar putih keperakan di tangan Panji menancap di tubuhnya. Seketika nenek itu terhempas ke belakang ketika pedang yang menancap di tubuhnya disentakkan Panji dengan kuatnya! Tubuh Nyai Serondeng terbanting, dan tewas seketika. Perutnya terkoyak lebar dan tangan kanannya buntung, kini tamatlah riwayat datuk sesat dari Selatan itu di tangan Pendekar Naga Putih.

Setelah memastikan bahwa lawannya telah tewas, Panji melangkah menghampiri Dewi Tangan Merah dan Pendekar Tangan Sakti yang tengah mengawasinya. Tanpa berkata sepatah pun, pemuda itu segera menyerahkan sebutir pil kepada kedua orang kawannya yang tengah terluka dalam itu.

Sementara pertempuran yang lain seketika berakhir. Para pengikut Partai Rimba Hitam yang masih hidup dibebaskan Pendekar Kujang Emas. Mereka diberi peringatan agar meninggalkan kehidupan yang selama ini dijalani. Pendekar Kujang Emas melangkah menghampiri Panji, Sundari, dan Wijasena yang berada tidak jauh dari tempatnya. Karena biar bagaimanapun, ia harus berterima kasih kepada ketiga orang yang menurutnya telah ikut membantu dalam menumpas Partai Rimba Hitam yang dipimpin Nyai Serondeng.

"Kisanak. Kalau mataku tidak salah menilai, bukankah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih yang tersohor itu?" sapa Pendekar Kujang Emas ketika tiba di dekat Panji. Ia menduga demikian, karena sepintas tadi melihat jalannya pertempuran antara Nyai Serondeng melawan pendekar itu. Dan pada tubuh pemuda itu terlihat adanya selapis kabut bersinar putih keperakan, yang menjadi ciri-ciri Pendekar Naga Putih. Itulah ciri-ciri yang selama ini didengarnya.

"Ah! Sebuah julukan yang berlebihan, Paman!" jawab Panji yang menyebut paman karena melihat pendekar itu paling tidak telah berumur sekitar empat puluh tahun. "Oh ya, kenalkan kedua orang teman saya, Paman. Mereka adalah Sundari dan Wijasena." ujar Panji mengenalkan.

Mereka pun saling berkenalan dan berbincang-bincang, sebelum akhirnya Panji sadar. "Eh! Kalian sembunyikan di mana Suntara dan Rahayu...?" tiba-tiba Panji berkata sambil mencari-cari dua orang yang dimaksud. Dan Pendekar Naga Putih terkejut ketika melihat dua orang kakek tengah bersila dekat tubuh kedua orang kawannya itu. "Hei, siapa pula kedua orang kakek itu?"

Sundari, Wijasena, dan Pendekar Kujang Emas serentak menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk Panji.

"Guru...!" Pendekar Tangan Sakti berseru gembira ketika mengenali salah seorang dari kedua kakek itu. Dengan langkah tertatih-tatih bergegas dihampirinya. Sementara Panji, Sundari, dan Pendekar Kujang Emas ikut mendekati.

"Hm... Wijasena! Bagaimana kabarmu...?" ujar kakek tua yang tak tain adalah Ki Tunggul Jagad ketua Perguruan Gunung Salaka. Orang tua sakti itu mengusap lembut rambut kepala Wijasena yang bersujud di depannya.

"Ki Ageng Pandira. Apakah, Ki Ageng baik-baik saja?" sapa Wijasena kepada kakek yang satunya lagi.

"Hm. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita semua," kata kakek itu yang ternyata adalah Ki Ageng Pandira, ketua Perguruan Gunung Sutra.

Kemudian secara berturut-turut Panji, Sundari, dan Pendekar Kujang Emas ikut pula bertegur sapa dengan kedua orang tua sakti itu.

"Bagaimana keadaan Suntara dan Rahayu, Ki?" tanya Panji ketika melihat kedua orang itu masih rebah tak sadarkan diri

"Hm... Kami baru saja mengobati mereka. Dan paling tidak, mereka harus beristirahat sekitar dua pekan untuk memulihkan kesehatan akibat pengaruh racun ganas yang dimasukkan Nyai Serondeng ke tubuh mereka," ujar Ki Ageng Pandira memberi penjelasan.

"Terima kasih atas kesediaanmu yang telah bersusah payah menolong kami, Nak Panji. Kami harus segera membawa pulang mereka ke perguruan. Mari Wijasena," ajak Ki Tunggul Jagad kepada muridnya. Setelah saling berpamitan, kedua orang tua sakti itu pun berkelebat lenyap dari pandangan ketiga orang itu.

"Kau akan pergi ke mana, Kakang...?" tanya Sundari ketika Panji ikut berpamitan kepadanya dan kepada Pendekar Kujang Emas. Dari nada suaranya jelas sekali kalau gadis itu terasa berat untuk berpisah dengan Panji.

"Entahlah, Sundari. Aku hanya mengikuti ke mana kakiku melangkah."

"Kalau begitu aku ikut, Kakang...," dan tanpa menunggu persetujuan Panji lagi, Sundari sudah melangkah di samping Pendekar Naga Putih yang tidak kuasa untuk mencegahnya.

S E L E S A I