Social Items

Serial Joko Sableng Episode Karma Manusia Sesat

Cersil Online Serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131 episode karma manusia sesat


SATU

BIDADARI Tujuh Langit tegak terbungkuk-bungkuk dengan mata memandang liar pada sosok Datuk Kala Sutera yang juga beranjak bangkit. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling perang pandang. Bidadari Delapan Samudera terbujur kaku di atas tanah tak bisa bergerak karena ditotok oleh Pendekar 131 Joko Sableng.

Sementara murid Pendeta Sinting sendiri tegak dihadapan Nenek Selir dengan sikap bimbang dan mulut terkancing rapat. Sepasang matanya melirik pulang balik ke arah si nenek dan Bidadari Tujuh Langit serta Datuk Kala Sutera. Di lain pihak, Nenek Selir melotot angker pada murid Pendeta Sinting. Di seberang agak jauh, Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala saling pandang satu sama lain dengan wajah ragu-ragu tak tahu apa yang harus diperbuat.

“Kuperintahkan kau untuk lepas cincin di ibu Jarimu!” Mendadak Datuk Kala Sutera perdengarkan bentakan garang seraya maju satu tindak.

Bidadari Tujuh Langit menyeringai dingin. Tanpa sambuti bentakan orang, laksana terbang dia berkelebat ke arah Datuk Kala Sutera. Namun Bidadari Tujuh Langit tahan gerakan tatkala tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin menderu disamping kanannya. Berpaling, perempuan bertubuh sintal ini melihat berkelebatnya satu bayangan hijau.

“Kau!” Bidadari Tujuh Langit berseru dengan bibir merebak sunggingkan senyum.

“Aku tahu.... Kau pasti akan kembali!”

Sosok di hadapan Bidadari Tujuh Langit yang ternyata adalah seorang gadis berparas cantik berpakaian warna hijau berambut panjang dikepang dua, salah satu kepangan rambutnya dilingkarkan pada lehernya yang jenjang putih, memandang sosok Bidadari Tujuh Langit dari ujung kaki hingga ujung rambut. Saat kemudian gadis ini alihkan pandang matanya pada sosok Datuk Kala Sutera.

Gadis berbaju hijau yang bukan lain adalah Bidadari Pedang Cinta menghela napas panjang berulang kali. Tiba-tiba dia angkat tangan kanannya. Lalu menunjuk silih ber- ganti pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera seraya berseru.

“Katakan siapa adanya kalian sebenarnya!”

“Dan jangan berani sembunyikan sesuatu!” Satu suara mendadak terdengar menimpali. Satu sosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu di samping Bidadari Pedang Cinta telah tegak seorang gadis berwajah jelita mengenakan pakaian warna ungu. Dia tidak lain adalah Dayang Tiga Purnama.

Seperti diketahui, saat terjadi ketegangan di hutan bambu, mendadak terdengar suara gaung dahsyat yang membuat semua orang merasakan telinga masing-masing laksana ditusuk-tusuk. Belum sampai orang tahu siapa yang membuat ulah, mendadak satu benda hitam meluncur ke atas langit lalu menukik dan ambyar perdengarkan suara keras. Bersamaan itu suasana berubah menjadi gelap gulita.

Dan ketika suasana terang kembali, ternyata sosok Dayang Tiga Purnama, Bidadari Pedang Cinta, Manusia Tanah Merah, serta Paduka Seribu Masalah sudah tidak kelihatan lagi di tempat terjadinya ketegangan. Ternyata Dayang Tiga Purnama dan Bidadari Pedang Cinta dibawa lari oleh Putri Pusar Bumi yang ternyata adalah eyang guru Dayang Tiga Purnama. Dan saat berikutnya muncullah Iblis Pedang Kasih eyang guru Bidadari Pedang Cinta yang muncul bersama Manusia Tanah Merah dan Paduka Seribu Masalah.

Putri Pusar Bumi akhirnya berterus terang mengatakan siapa sebenarnya orangtua Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Namun kedua gadis ini tidak percaya. Hingga karena penasaran dan ingin membuktikan, Bidadari Pedang Cinta segera berlari kembali ke arah terjadinya ketegangan di hutan bambu. Dayang Tiga Purnama tidak tinggal diam. Dia pun segera berkelebat menyusul.

“Kau telah tahu siapa aku...!” Bidadari Tujuh Langit menjawab seraya melirik pada sosok Dayang Tiga Purnama.

“Aku ingin tahu asal-usulmu!” kata Bidadari Pedang Cinta.

Walau merasa heran dengan pertanyaan orang, namun Bidadari Tujuh Langit segera buka mulut. “Bukan di sini tempatnya untuk memenuhi permintaanmu!”

“Aku ingin mendengarnya di tempat ini!” Kali ini Dayang Tiga Purnama yang angkat suara.

“Hem.... Mau katakan padaku. Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?!”

“Jawab saja pertanyaan!” hampir bersamaan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama berteriak menyahut pertanyaan Bidadari Tujuh Langit.

Bidadari Tujuh Langit geleng kepala. “Aku tak bisa memenuhi permintaan kalian di tempat ini! Dan kalaupun nantinya aku mau turuti apa permintaan kalian di tempat lain, aku akan ajukan beberapa....”

“Tidak ada tempat lain dan tidak ada syarat!” Bidadari Pedang Cinta sudah menukas ucapan Bidadari Tujuh Langit.

Bidadari Tujuh Langit tersenyum. Tanpa buka mulut lagi dia arahkan pandang matanya pada Datuk Kala Sutera. Dayang Tiga Purnama tampaknya bisa membaca gelagat. Sebelum Bidadari Tujuh Langit buka mulut atau membuat gerakan, Dayang Tiga Purnama mendahului.

“Kau tidak akan selesaikan urusan dengan siapa saja di tempat ini sebelum kau jawab pertanyaan tentang asal-usulmu!”

Bidadari Tujuh Langit tidak peduli dengan ucapan orang. Dia segera melompat ke arah Datuk Kala Sutera. Karena sudah bisa membaca gelagat, Dayang Tiga Purnama segera berkelebat memotong gerakan Bidadari Tujuh Langit dan tegak menghadang seraya berseru.

“Jangan anggap pertanyaan kami main-main!”

“Perlu kau dengar, Jelitaku... Untung kau punya wajah yang menarik seleraku. Jika tidak, mungkin mulutmu sudah kubuat tidak bisa terbuka lagi!” Berkata Bidadari Tujuh Langit tanpa memandang pada sosok Dayang Tiga Purnama.

Dayang Tiga Purnama mendengus. Dia sudah hendak berkelebat. Namun Bidadari Tujuh Langit ternyata mendahului. Perempuan berbaju putih bertubuh bahenol ini melesat ke arah Dayang Tiga Purnama dengan kedua tangan bergerak hendak sarangkan totokan. Melihat gerakan Bidadari Tujuh Langit, Bidadari Pedang Cinta tidak tinggal diam. Dia segera melompat menghadang gerakan Bidadari Tujuh Langit seraya kelebatkan kedua tangan.

Bukk! Bukkk!

Kedua tangan Bidadari Pedang Cinta bentrok dengan kedua tangan Bidadari Tujuh Langit yang sesaat tadi hendak lepas totokan ke arah Dayang Tiga Purnama. Sosok Bidadari Pedang Cinta terjajar beberapa langkah ke belakang. Sementara Bidadari Tujuh Langit hanya tertahan gerakannya. Saat itulah Dayang Tiga Purnama berkelebat dengan kedua tangan lepas pukulan.

Bidadari Tujuh Langit hadapi serangan tanpa membuat gerakan apa-apa. Namun begitu kedua tangan Dayang Tiga Purnama sejengkal lagi melabrak ke arah kepalanya, dia tarik sedikit kepalanya ke belakang. Saat bersamaan kaki kirinya membuat gerakan menendang dengan putar tubunya setengah lingkaran. Dayang Tiga Purnama sempat terkejut. Namun gadis ini tidak kehilangan akal. Dia tahan gerakannya. Lalu kedua tangannya di hantamkan ke arah kaki Bidadari Tujuh Langit.

"Bukkk!" Dayang Tiga Purnama perdengarkan seruan tertahan. Sosoknya terpental terbang. Lalu tegak terhuyung-huyung di atas tanah dengan kedua tangan dikibas-kibaskan. Kedua tangan gadis ini tampak mengembung merah.

Bidadari Tujuh Langit melirik sesaat. Lalu berkelebat ke arah Dayang Tiga Purnama. Saat itulah mendadak terdengar deruan dahsyat. Satu gelombang angin berkiblat. Gerak Bidadari Tujuh Langit tertahan diudara beberapa saat, lalu terdorong kesamping. Sambil angkat kedua tangannya, Bidadari Tujuh Langit turun dan sentakkan kepala berpaling ke arah mana tadi gelombang yang menahan gerakannya bersumber.

“Jahanam!” bentak Bidadari Tujuh Langit dengan mata mendelik angker saat tahu murid Pendeta Sinting angkat kedua tangannya di atas udara, pertanda dialah yang baru saja membuat hadangan.

“Aku tidak bermaksud merecoki urusanmu!” berkata Pendekar 131.

“Aku hanya ingin....” Belum sampai ucapan Joko selesai, Bidadari Tujuh Langit sudah hantamkan kedua tangannya dengan mata dipentang besar-besar.

Wuutt! Wuuutt! Wuuss! Wuusss!

Dari kedua tangan Bidadari Tujuh Langit melesat dua sinar merah. Bersamaan dengan itu dua sinar hitam melabrak keluar dari sepasang matanya, membuat suasana be-rubah kelam. Pendekar 131 yang sudah pernah bentrok dengan Bidadari Tujuh Langit tidak mau menghadang serangan orang. Sebaliknya segera berkelebat menghindar.

Gerakan Joko membuat Nenek Selir yang tegak tidak jauh darinya jadi terkesiap kaget. Bukan saja dua sinar merah hantaman kedua tangan Bidadari Tujuh Langit itu kini harus dihadang, namun dia juga harus menyelamatkan Bidadari Delapan Samudera yang dalam keadaan tertotok tidak jauh didepannya!

“Sialan! Mengapa kau melarikan diri?! Kau sengaja mengumpankan diriku?!” Nenek Selir berteriak seraya maju satu tindak. Kedua tangannya yang memegang pedang dihantamkan ke depan. Saat yang sama, kaki kanannya digerakkan ke arah bawah sosok Bidadari Delapan Samudera lalu disentakkan ke atas.

Wuuss! Wuuss!

Dari kedua pedang si nenek melesat keluar dua kobaran api yang membuat suasana gelap terbelah. Lalu terdengar gelegar dahsyat tatkala dua sinar merah bentrok dengan dua kobaran api. Ketika gelegar dahsyat terdengar, di tempat itu ada dua suara seruan tegang. Lalu dua sosok tubuh tampak melambung ke udara.

Sosok pertama adalah Bidadari Delapan Samudera. Gadis ini perdengarkan seruan tegang ketika merasakan tubuhnya tersentak ke udara akibat gerakan kaki kanan Nenek Selir. Namun hal ini menyelamatkan dirinya dari hantaman dua sinar merahyang dilepas Bidadari Tujuh Langit. Sosok kedua adalah Nenek Selir sendiri. Begitu bentrokan terjadi, sosok nenek ini terjengkang hampir roboh di atas tanah. Namun kedua tangannya yang memegang pedang segera bergerak menghantam.

Clep! Cleep!

Dua pedang si nenek menancap di atas tanah. Gerakan si nenek terhenti. Kejap lain kedua tangannya menyentak. Sosoknya melenting ke udara menyongsong sosok Bidadari Delapan Samudera yang mulai meluncur kebawah. Dengan bergumam tak jelas, Nenek Selir cepat menyambar tubuh Bidadari Delapan Samudera. Lalu melayang turun tepat di samping kedua pedangnya. Dan enak saja sosok Bidadari Delapan Samudera dicampakkan di atas tanah. Lalu kedua tangannya kembali menyambar dua pedangnya dan berpaling ke arah murid Pendeta Sinting dengan mata dijerengkan besar-besar.

Pendekar 131 saat itu tengah pentangkan mata. Bukan membalas pandangan angker Nenek Selir, melainkan memandang ke arah sosok Dayang Tiga Purnama! Ketika baru saja lepas pukulan ke arah murid Pendeta Sinting dan suasana berubah gelap, Bidadari Tujuh Langit cepat berkelebat ke arah Dayang Tiga Purnama. Dayang Tiga Purnama memang merasakan sambaran angin di sampingnya. Dia pun sempat berpaling.

Dalam gelapnya suasana, dia masih mampu melihat siapa gerangan adanya sosok yang berkelebat ke arahnya. Namun belum sampai dia membuat gerakan, mendadak beberapa tusukan telah melanda lambung dan bahunya. Gadis ini berseru tegang karena sekujur tubuhnya sudah kejang kaku tak bisa digerakkan! Sadar apa yang terjadi, Dayang Tiga Purnama cepat kerahkan tenaga dalam untuk lepaskan diri dari totokan yang telah bersarang di tubuhnya. Namun baru saja dia kerahkan tenaga dalam, gelegar dahsyat bentroknya pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Nenek Selir terdengar.

Sosok Dayang Tiga Purnama terpental beberapa tombak. Sementara sosok Bidadari Tujuh Langit yang baru saja sarangkan totokan pada Dayang Tiga Purnama terdorong. Namun perempuan ini masih sempat menyambar sosok Dayang Tiga Purnama. Hingga tatkala sosoknya terdorong, sosok Dayang Tiga Purnama terseret di dekatnya.

“Nek! Harap kau lepaskan aku...!” Bidadari Delapan Samudera buka suara.

Nenek Selir tidak menyahut. Dia terus pandangi murid Pendeta Sinting yang saat itu masih juga arahkan pandang matanya pada sosok Dayang Tiga Purnama yang terbujur diam di dekat Bidadari Tujuh Langit.

“Nek... Kuharap kau mau menolongku... Aku akan...”

“Diam!” bentak Nenek Selir tanpa berpaling. “Seharusnya kau sudah bersyukur tidak sampai mampus! Jangan minta yang bukan-bukan! Lagi pula bukan aku yang membuatmu tidak bisa bergerak!”

“Tapi tidak ada salahnya....”

“Sialan!” Lagi-lagi Nenek Selir sudah menukas sebelum Bidadari Delapan Samudera lanjutkan ucapan. “Kalau kau tidak bisa diam, aku tak segan membuatmu tak bisa buka mulut!”

Bidadari Delapan Samudera menghela napas. Lalu perlahan-lahan alihkan pandang matanya pada Pendekar 131. Mendadak mata gadis ini berubah garang. Karena akibat totokan Joko, dia hanya bisa perdengarkan suara tanpa bisa berbuat sesuatu. “Pendekar 131! Harap kau lepaskan diriku kalau kau tak ingin membuat panjang masalah!” Bidadari Delapan Samudera berteriak.

Belum sampai Joko buka suara menyahut atau berpaling, di depan sana Bidadari Tujuh Langit sudah melesat ke arahnya. Kedua tangannya dihantamkan lepas pukulan jarak jauh!

DUA

WALAU masih ada kesempatan untuk membuat gerakan menghadang pukulan, tapi murid Pendeta Sinting tidak mau membuang tenaga. Apalagi dia mulai yakin ada sesuatu yang perlu diselesaikan antara Bidadari Tujuh Langit dengan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama serta Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Maka begitu Bidadari Tujuh Langit melesat dan lepas pukulan, Pendekar 131 cepat berkelebat menghindar.

Bummm! Bummm!

Tanah di mana tadi Joko tegak berdiri tampak muncrat ke udara. Hutan bambu kembali bergetar keras. Bidadari Tujuh Langit cepat putar diri ke arah murid Pendeta Sinting berkelebat menghindar. Namun belum sampai perempuan cantik ini membuat gerakan lebih lanjut, mendadak Datuk Kala Sutera sudah melompat dan tegak di hadapan Bidadari Tujuh Langit.

“Pemuda itu masih punya tanggungan denganku! Jangan berani mengusik nyawanya!” kata Datuk Kala Sutera dengan tangan kiri menunjuk pada murid Pendeta Sinting.

“Persetan dengan segala macam tanggungan!” bentak Bidadari Tujuh Langit.

“Tunggu!” tahan Datuk Kala Sutera ketika melihat Bidadari Tujuh Langit sudah angkat kedua tangannya. “Di antara kita ada sesuatu yang harus diselesaikan. Namun harap kau bersabar dahulu!”

Datuk Kala Sutera putar diri menghadap Pendekar 131. Bidadari Tujuh Langit sudah gerakkan kedua tangan. Tapi entah karena apa, mendadak perempuan ini hentikan gerakan kedua tangannya. Di lain pihak, begitu menangkap gelagat Bidadari Tujuh Langit tahan gerakan kedua tangannya, Datuk Kala Sutera buka mulut berteriak pada Joko.

“Sebenarnya waktumu sudah lewat! Tapi aku masih memberi kesempatan padamu untuk buka suara menjawab pertanyaanku tempo hari!”

“Sebenarnya kau salah alamat, Datuk Kala Sutera! Aku bukan Paduka Seribu Masalah seperti yang kau duga!”

“Hem.... Lanjutkan keteranganmu!” desis Datuk Kala Sutera.

“Kau sudah tahu kelanjutannya!”

“Baik! Siapa pun kau adanya, yang jelas kau berjanji akan jawab pertanyaanku! Sekarang aku menunggu jawabanmu!”

“Saat itu aku bercanda.... Jadi....” Joko putuskan ucapan, karena saat itu Datuk Kala Sutera sudah berkelebat dan tegak beberapa langkah di hadapan murid Pendeta Sinting.

“Aku butuh jawaban atau....”

“Berani kau menyentuh tubuhnya, kau membuka urusan denganku!” Mendadak Nenek Selir berteriak. Saat bersamaan dia melompat ke arah Pendekar 131. Tangan kirinya yang memegang pedang menunjuk lurus pada Joko. Lalu terdengar sambungan ucapannya. “Tanganku yang paling berhak menentukan hidup dan matinya pemuda sialan ini!”

Datuk Kala Sutera pandangi sosok Nenek Selir dengan dagu terangkat. Tanpa buka mulut dia angkat kedua tangannya. “Hem.... Dengan mampusnya kedua manusia itu, urusan akan lebih ringan!” diam-diam Bidadari Tujuh Langit membatin. Lalu lipat gandakan tenaga dalam pada kedua tangan seraya melirik silih berganti pada Nenek Selir dan Pendekar 131.

Begitu Datuk Kala Sutera sentakkan kedua tangannya, Bidadari Tujuh Langit serta-merta ikut lepas pukulan ke arah Nenek Selir dan Pendekar 131. Dari kedua tangan Datuk Kala Sutera melesat dua sinar kehijauan. Sementara dari kedua tangan Bidadari Tujuh Langit melabrak dua sinar merah.

Nenek Selir menggerendeng panjang pendek. Kedua pedang di tangannya segera dihantamkan ke depan. Dua kobaran api melesat keluar perdengarkan deruan dahsyat dan semburkan hawa panas luar biasa.

Melihat apa yang terjadi, Joko tidak berdiam diri. Dia segera sentakkan kedua tangan lepas pukulan sakti ‘Lembur Kuning’. Hingga saat itu juga dua gelombang berkiblat membawa sinar berwarna kekuningan serta hawa panas menyengat.

Blaarr! Blarr!

Dua ledakan dahsyat mengguncang tempat Itu ketika empat pukulan orang bertemu di udara. Empat sosok sama terpental dan terjajar duduk di atas tanah. Datuk Kala Sutera cepat bergerak bangkit. Lalu menoleh pada Bidadari Tujuh Langit yang juga terhuyung-huyung berdiri. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang.

“Aku tidak bermaksud membantumu!” Berkata Bidadari Tujuh Langit sambil kerahkan tenaga dalam kembali. “Kedua manusia itu telah membuat dosa besar padaku! Aku berhak mencicipi kedua nyawa mereka!”

“Hem.... Baik! Agar urusan di antara kita nanti segera tuntas, aku tawarkan padamu untuk menghabisi kedua manusia itu bersama-sama!” kata Datuk Kala Sutera sambi alihkan pandangan.

“Aku setuju!” kata Bidadari Tujuh Langit.

Di seberang, Nenek Selir dan murid Pendeta Sinting langsung saling berpandangan begitu mereka tegak berdiri.

“Nek.... Lebih baik kita menyingkir saja dari tempat ini! Tak ada gunanya kita meladeni mereka!”

Nenek Selir tertawa cekikikan panjang. “Percuma kau menyingkir dari tempat ini! Kau kira nyawamu bisa selamat dengan angkat kaki dari sini?!” Kepala si nenek menggeleng. “Kau salah duga, Manusia Asing! Menyingkir atau tidak, nyawamu tidak akan selamat! Dan kau tak perlu khawatir. Bukan kedua makhluk itu yang akan membuatmu mampus. Tapi kedua tanganku sendiri!”

Baru saja Nenek Selir berucap begitu, laksana dikomando Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama membuat gerakan berkelebat. Dan tahu-tahu keduanya sudah tegak lima langkah di hadapan Nenek Selir.

“Kuingatkan pada kalian berdua! Kalian masih....”

Hanya sampai di situ ucapan yang terdengar dari mulut Nenek Selir. Karena bersamaan dengan itu Datuk Kala Sutera dan Bidadari Tujuh Langit sudah sama melompat ke depan. Bidadari Tujuh Langit angkat kaki kirinya lalu membuat gerakan menendang. Sementara Datuk Kala Sutera angkat kaki kanannya dan dihantamkan!

Wuutt! Wuutt!

Dari kaki kiri Bidadari Tujuh Langit berkiblat sinar merah menyala. Sementara dari kaki kanan Datuk Kala Sutera melesat sinar hijau menyala terang. Belum sampai kedua sinar itu menggebrak, Nenek Selir sudah merasakan sosoknya laksana tersapu kekuatan dahsyat. Sosok nenek ini bergetar dan tersentak-sentak. Hingga begitu kedua tangannya membuat gerakan mengangkat pedang, sosoknya terhuyung.

“Nek! Mundur!” teriak murid Pendeta Sinting sekali sentakkan tangan kiri lepas pukulan ‘Serat Biru’.

Dari tangan kiri Pendekar 131 melesat beberapa sinar biru terang laksana benang. Nenek Selir tidak hiraukan teriakkan Joko. Dengan sosok terhuyung, kedua tangannya bergerak membabatkan pedang. Namun sebelum dua kobaran api melesat keluar dari tu- buh pedang di kedua tangan si nenek, kaki kiri Bidadari Tujuh Langit dan kaki kanan Datuk Kala Sutera sudah datang mendahului!

Tapi tiba-tiba Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tersentak kaget ketika merasakan kaki masing-masing yang dibuat tumpuan tegaknya bergetar keras. Memandang ke bawah, kedua orang ini tercengang menyaksikan beberapa sinar biru terang telah melilit kaki masing-masing yang dibuat tumpuan.

Dengan perdengarkan bentakan keras, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera hantamkan tangan masing-masing ke arah serat biru. Sementara kaki masing-masing yang membuat gerakan menendang diteruskan. Namun sebelum dari tangan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera menggebrak gelombang angin memotong serat biru, Joko sentakkan tangan kirinya. Bidadari Tujuh Langit perdengarkan seruan tertahan ketika merasakan kaki satunya terdorong ke depan, hingga kaki kirinya yang tengah menendang tersentak balik ke belakang! Saat lain perempuan ini terhuyung sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas tanah.

Saat yang sama, Datuk Kala Sutera merasakan kakinya yang dibuat tumpuan tegak, goyah, dan tersentak. Pemuda berjubah hitam ini memang sempat hentakkan kakinya yang terlilit serat biru di belakang. Namun di seberang depan, murid Pendeta Sinting cepat melompat ke belakang dua tindak. Kaki Datuk Kala Sutera kembali tersentak ke depan dengan keras sebelum akhirnya dia terjengkang jatuh.

Di hadapan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera, Nenek Selir yang sesaat tadi sempat tercengang mendapati kaki dua orang berkelebat menggebrak ke arahnya sementara dirinya sudah tidak punya kesempatan lagi untuk membuat kedua tangannya bergerak, cepat ayunkan kedua pedang menyilang ke arah Bidadari Tujuh Langit serta Datuk Kala Sutera yang terduduk di hadapannya.

“Tahan serangan!” Joko berteriak.

Nenek Selir seolah tidak mendengar teriakan. Dia teruskan saja gerakan kedua tangannya. Sementara Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sudah siap menghadang dengan angkat tangan masing-masing. Setengah depa lagi kedua pedang si neneknmenghantam, dan Bidadari Tujuh Langit serta Datuk Kala Sutera siap sentakkan tangan masing-masing, Pendekar 131 berkelebat ke depan menyergap Nenek Selir.

Si nenek perdengarkan makian tak karuan ketika merasakan ada satu sosok tubuh menggelayuti pinggangnya dan menahan gerak kedua tangannya. Dengan hentakkan kaki kanan, Nenek Selir hantamkan kedua sikunya ke belakang.

Bukkk! Bukkk!

Pendekar 131 berseru tegang. Kedua tangannya yang menelikung pinggang si nenek sempat terpental lepas. Namun Joko cepat menyergap kembali dan lagi-lagi menelikung pinggang Nenek Selir!

“Jahanam bangsat!” maki Nenek Selir seraya putar pergelangan kedua tangannya yang memegang pedang. Lalu serta-merta kedua tangannya ditusukkan ke belakang!

“Nek! Awas di depan!” Joko berteriak ketika mendapati Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama sentakkan tangan masing-masing. Nenek Selir tampaknya tak peduli. Dia teruskan saja tusukan kedua pedangnya kebelakang!

“Celaka! Kita bisa mampus, Nek!” teriak Joko sambil sentakkan kedua tangannya yang menelikung pinggang Nenek Selir. Sementara dia makin rapatkan tubuhnya pada sosok si nenek!

Bukkk! Bukkk!

Pendekar 131 dan Nenek Selir jatuh bergedebukan di atas tanah. Saat bersamaan, gelombang sinar merah dan hijau hantaman tangan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera lewat dua jengkal diatas mereka! Mendapati pukulannya lolos, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera cepat bergerak bangkit. Lalu kembali sama sentakkan tangan masing-masing ke arah Nenek Selir dan Pendekar 131 yang masih terbujur diatas tanah.

“Nek! Awas pedangmu!” Lagi-lagi Joko berteriak. Lalu hantamkan kaki kanan kirinya ke atas tanah. Sementara kedua tangannya makin dirapatkan pada pinggang si nenek.

Kali ini tampaknya Nenek Selir mulai sadar akan bahaya yang mengancam dirinya. Maka begitu mendengar teriakan Joko, kedua tangannya yang tadi menusuk ke belakang segera ditarik ke depan. Nenek ini sebenarnya hendak menghadang pukulan yang datang dengan hantamkan kedua pedangnya. Namun belum sampai kedua tangannya bergerak, sosoknya sudah terseret di atas tanah akibat hentakan kaki Joko.

Bumm! Bumm!

Hantaman Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera menghantam tanah di mana tadi Nenek Selir dan Joko terbujur. Sosok Nenek Selir dan Pendekar 131 yang masih saling bertempelan dan terseret, laksana disapu gelombang dahsyat akibat bias pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera yang lolos menghantam sasaran. Sosok keduanya terpelanting ke udara dan sempat terbanting di atas udara membuat kedua tangan Joko yang memegang pinggang si nenek terlepas!

Bukkk!

Nenek Selir melayang jatuh terlebih dahulu di atas tanah dengan posisi telentang. Nenek ini cepat kerahkan tenaga dalam lalu bangkit. Namun baru saja tubuhnya terangkat ke atas, dari udara sosok Joko melayang deras dan....

Bukkk!

Pendekar 131 terbanting keras dengan posisi menelungkup. Namun Joko jadi tersentak kaget. Karena dia bukan jatuh di atas tanah, melainkan di atas sosok Nenek Selir! Kepalanya masuk ke dalam sela paha si nenek, sementara kedua kakinya sendiri sempat menghantam bahu kanan kiri Nenek Selir, hingga bagian atas tubuh nenek ini yang tadi akan terangkat terdorong balik dan menghantam tanah!

“Sialan edan! Mengapa kau ciumi pahaku?!” Nenek Selir berseru. Bahu kiri kanannya disentakkan.

“Nek! Apa enaknya mencium pahamu?! Kau yang menggelitiki pahaku!”

“Keparat!” maki Nenek Selir dengan sekali lagi sentakkan bahu kanan kirinya.

Kaki kanan kiri Joko yang melintang di atas bahu si nenek terpental ke udara. Saat yang sama Nenek Selir angkat kaki kanannya dan dihantamkan pada tubuh murid Pendeta Sinting.

Bukkk! Breett!

Joko mengeluh tinggi. Kepalanya tersentak keluar dari paha si nenek. Lalu sosoknya terbanting ke samping dan telentang di samping Nenek Selir Pakaian yang dikenakan robek di bagian pinggang kanan. Nenek Selir berpaling. Dan ketika dilihatnya Joko cengar-cengir, si nenek jadi geram. Pedang di tangan kanannya dilepas. Dengan putar tubuhnya, tangan kanan dihantamkan ke arah sosok Pendekar 131!

Joko tidak tinggal diam. Dia tahu hantaman si nenek tidak main-main. Maka dia cepat gulingkan diri menjauh. Walau Joko sempat lolos dari hantaman tangan kanan Nenek Selir, tapi ternyata tangan si nenek masih mampu menyambar pinggang kanan Joko yang robek.

Breett!

Pakaian murid Pendeta Sinting makin menganga. Nenek Selir tercekat dengan tangan bergetar. Karena tangannya merasakan memegang sesuatu yang makin lama membuat sekujur tubuhnya laksana dihimpit bongkahan es!

TIGA

DALAM keterkejutannya, Nenek Selir cepat bangkit berdiri. Lalu tarik pulang tangan kanannya didekatkan pada wajahnya. Namun baru setengah jalan, tampaknya si nenek sudah tak mampu menggerakkan tangan lebih jauh. Dia merasakan tangan kanannya kaku tak bisa digerakkan.

“Jahanam! Benda apa ini?!” teriak Nenek Selir seraya campakkan benda yang berada di tangan kanannya ke atas tanah. Lalu pentangkan mata memandang tak berkesip.

“Bentuknya mirip kotak.... Warnanya kuning. Anehnya pada salah satu sisinya terlihat seperti sebuah gagang pedang! Sialannya, mengapa aku merasakan hawa dingin luar biasa?!”

Nenek Selir membatin dengan mata terus memperhatikan benda yang tadi sempat disambarnya dari pinggang Joko yang ternyata adalah sebuah kotak berwarna kuning berukir. Pada salah satu sisinya terlihat sebuah gagang pedang.

Di lain pihak, begitu lolos dari hantaman tangan kanan Nenek Selir, Pendekar 131 segera bangkit. Dia tersenyum sesaat lalu tundukkan kepala pandangi pakaiannya yang robek menganga. Tiba-tiba senyumnya laksana dirobek setan. Matanya terpentang besar-besar.

“Celaka! Ke mana Pedang Keabadian itu?! Jangan- jangan....”

Murid Pendeta Sinting cepat sentakkan kepala memandang ke arah Nenek Selir. Dan saat dilihatnya mata si nenek tak berkesip memandang ke satu arah, Joko perlahan-lahan ikut arahkan pandang matanya ke arah mana mata si nenek tengah memandang.

“Astaga! Pedang itu....” Joko mendesis. Laksana terbang dia berkelebat ke arah mana kotak berukir kuning yang tidak lain adalah Pedang Keabadian tergeletak di atas tanah.

“Jangan berani teruskan gerakan!” Tiba-tiba Bidadari Tujuh Langit berteriak. Tangan kanannya didorong ke arah Pendekar 131 yang tengah berkelebat.

Joko buru-buru tahan gerakan seraya putar arah. Lalu tegak dengan mata memandang pada Pedang Keabadian. Saat bersamaan mendadak Bidadari Tujuh Langit berkelebat ke arah Pedang Keabadian dengan tangan kiri terangkat ke udara sementara tangan kanan menyambar ke arah pedang. Begitu cepat gerakan Bidadari Tujuh Langit, hingga Nenek Selir, Datuk Kala Sutera, dan Pendekar 131 sendiri sudah sangat terlambat untuk membuat gerakan menghadang.

Begitu sejengkal lagi tangan kanan Bidadari Tujuh Langit menyentuh kotak berukir, perempuan ini lipat gandakan tenaga dalam pada tangan kirinya yang terangkat ke udara. Dia tidak mau bertindak ayal. Dia siap sentakkan tangan kiri menghadang segala kemungkinan. Saat bersamaan tangan kanannya bergerak menyambar Pedang Keabadian. Begitu kotak kuning berukir tergenggam tangan kanan, Bidadari Tujuh Langit teruskan berkelebat lalu tegak menjauh.

Tapi baru saja sepasang kakinya berpijak di atas tanah, perempuan cantik bertubuh bahenol ini perdengarkan seruan lirih. Tangan kanannya bergetar keras. Air mukanya berubah. Bidadari Tujuh Langit cepat sentakkan kepala dengan mata terpentang besar pandangi kotak kuning berukir di tangan kanannya. Dia bergumam tak jelas dengan kepala pulang balik menggeleng. Perempuan ini merasakan aliran hawa dingin menusuk menjalari tangan kanan. Kejap lain hawa dingin itu sudah merasuki hampir sekujur tubuhnya!

Tangan kanannya mulai terasa tegang kaku. Namun Bidadari Tujuh Langit tak hendak lepaskan kotak di tangannya. Dia mulai yakin kotak di tangan kanannya bukan kotak sembarangan. Maka dia segera kerahkan hawa sakti untuk menahan tusukan hawa dingin. Tapi Bidadari Tujuh Langit jadi terlengak. Begitu dia alirkan hawa sakti untuk menahan hawa dingin, tusukan hawa dingin itu makin menggila! Dan perlahan-lahan dari tangan kanannya mulai tebarkan asap putih!

Apa yang terjadi membuat Bidadari Tujuh Langit makin yakin kalau kotak di tangan kanannya mengandung kekuatan hebat. Hingga meski dia mulai merasakan separo dari tubuhnya sudah tegang laksana tak bisa digerakkan, dan penyaluran hawa sakti makin membuat hawa dingin menggila, perempuan ini nekat tidak juga lepaskan kotak dari tangan kanannya. Bahkan dia lipat gandakan penyaluran hawa sakti!

Tiba-tiba Bidadari Tujuh Langit menjerit. Dia merasakan sekujur anggota tubuhnya laksana dihimpit bongkahan salju. Makin dia berusaha kerahkan hawa sakti, hawa dingin itu makin menggila! Bahkan kini dari sekujur anggota tubuhnya telah kepulkan asap putih!

“Benda jahanam!” Akhirnya Bidadari Tujuh Langit memaki seraya lepaskan kotak berukir di tangan kanannya.

Pendekar 131 bernapas lega. Sementara semua orang di tempat itu terkesima hingga tak ada yang buka suara atau membuat gerakan.

“Hem... Ada keanehan lagi dengan pedang itu!” membatin murid Pendeta Sinting. “Ketika pedang telah masuk ke dalam kotak, aku tidak lagi merasakan hawa dingin. Aku merasakan hawa dingin gila itu saat pedang berada di luar! Kini walau pedang itu berada dalam kotak, namun hawa dingin itu sepertinya sudah terasa!”

“Kalau nenek dan Bidadari Tujuh Langit tidak mampu memegang kotak itu, pasti benda itu barang mustika! Hem....” Datuk Kala Sutera berkata dalam hati. Lalu lempar lirikan pada semua orang yang tegak di tempat itu.

Joko bisa membaca gelagat orang. Hingga belum sampai Datuk Kala Sutera membuat gerakan, dia perdengarkan tawa bergelak panjang dan berkata. “Terus terang. Apa yang kalian lihat adalah sebuah benda mustika keramat! Untuk memegangnya diperlukan beberapa persyaratan!”

“Siapa percaya mulut manusia asing sepertimu! Kau hanya mengada-ada! Kau kira aku tidak tahu benda apa itu, hah?!” Nenek Selir berteriak.

Murid Pendeta Sinting terdiam beberapa saat. “Kekasih nenek ini yang bercerita banyak tentang pedang itu! Hem.... Mungkin saja benar ucapannya kalau dia tahu benda apa yang ada di hadapannya itu. Tapi aku yakin dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi hawa dingin yang keluar dari pedang itu.... Terbukti dia tidak mampu untuk memegangnya!”

Berpikir begitu, akhirnya seraya tengadahkan kepala, Joko buka mulut. “Nek! Sebagai seorang tokoh ternama negeri ini, aku percaya kalau kau tahu benda apa yang ada di hadapanmu! Tapi aku tidak percaya kalau kau tahu bagaimana cara memegangnya! Kau telah membuktikan sendiri!”

Nenek Selir tidak menyahut. Sebaliknya melangkah mendekati kotak kuning berukir berisi Pedang Keabadian.

“Nek! Harap tidak berlaku nekat! Juga jangan memaksakan kehendak niat! Hal itu hanya akan membawa kiamat!”

Nenek Selir hentikan langkah seraya tawa cekikikan panjang. Namun tiba-tiba dia putuskan tawanya lalu membentak. “Kau kira aku takut dengan gertakanmu, hah?! Kau pikir aku tak tahu apa yang ada dalam benakmu hingga kau keluarkan gertakan, hah?!” Si nenek menyeringai. Lalu seraya ikut dongakkan kepala dia lanjutkan ucapan.

“Aku tahu! Kau takut benda itu jatuh ke tangan orang lain! Tapi kau harus sadar dan tahu diri! Benda itu berasal dari negeri ini, dan pantang dibawa kabur ke negeri lain!”

“Hem.... Jadi kau menginginkannya?!” tanya Joko.

“Aku sampai di tempat ini mencari nyawa orang! Tapi jika ternyata takdir menuliskan aku mendapatkan benda sakti, apa salahnya kalau aku mengambilnya?!”

“Nek! Aku hanya memperingatkan! Untuk memegang benda itu diperlukan beberapa syarat!”

“Kau tahu apa tentang benda itu?! Kau manusia asing!” Habis berkata begitu, Nenek Selir teruskan langkah.

Sementara Bidadari Tujuh Langit yang tegak tidak jauh dari kotak kuning berukir tampak ragu-ragu. Dia pandangi kotak kuning dan langkah-langkah Nenek Selir silih berganti. Tapi entah karena apa, mendadak perempuan ini melangkah mundur seolah memberi kesempatan pada si nenek.

Mendapati Bidadari Tujuh Langit surutkan langkah, Nenek Selir makin percepat langkah. Namun nenek ini tidak bodoh. Secara diam-diam dia kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan dan kakinya.

“Nek! Jauhi benda itu!” Sekali lagi Joko buka mulut memperingatkan ketika dilihatnya Nenek Selir sudah tegak satu langkah di samping kotak kuning berukir. Yang diperingati tertawa pendek, membuat Joko mau tak mau jadi berdebar tidak enak.

“Jangan-jangan nenek ini tahu bagaimana cara mengatasi hawa dingin itu! Tapi, mengapa dia tadi....”

Joko tidak lanjutkan membatin karena bersamaan dengan itu Nenek Selir sudah membuat gerakan membungkuk. Tangan kanannya yang tidak memegang pedang diayunkan kebawah. Kotak kuning berukir tahu-tahu sudah berada di tangan kanan Nenek Selir. Untuk beberapa saat nenek ini memang mampu memegang kotak kuning meski diam-diam dia mulai merasakan hawa dingin menusuk sekujur tubuhnya.

“Ah... Apa yang harus kulakukan?! Dia mampu memegang kotak itu!” gumam Pendekar 131 dengan dada makin berdebar.

Di lain pihak, Bidadari Tujuh Langit sempat tercengang dan hendak buka mulut melihat Nenek Selir seolah tidak merasakan hawa dingin seperti saat dia memegangnya. Namun belum sampai perempuan ini perdengarkan suara, tiba-tiba Nenek Selir perdengarkan seruan tertahan. Malah sosoknya sempat terlonjak dan tersurut beberapa langkah! Saat lain mendadak si nenek kibaskan tangan kanannya. Kotak kuning berukir mencelat ke udara!

Murid Pendeta Sinting tidak menunggu lama. Dia cepat berkelebat. Namun gerakannya tertahan ketika tiba-tiba Datuk Kala Sutera sudah mendahului melesat ke udara. Tangan kiri kanannya bergerak menyambar kotak yang melayang di udara. Karena sudah melihat apa yang terjadi, seraya menyambar sang Datuk kerahkan segenap tenaga dalam serta salurkan hawa sakti.

Begitu tegak di atas tanah, Datuk Kala Sutera yang mulai merasakan hawa dingin langsung gerakkan tangan kanan ke arah gagang pedang. Namun baru saja tangan kanannya menyentuh gagang pedang, pemuda berjubah hitam ini rasakan sekujur tubuhnya kaku. Tangan kanannya tegang beku tak bisa digerakkan! Makin dia lipat gandakan hawa sakti, hawa dingin yang mendera sekujur tubuhnya makin menusuk. Hingga beberapa saat kemudian, sosoknya bergetar keras. Lalu dengan satu sentakan keras, kotak kuning berukir di tangan kirinya dicampakkan hingga melesak masuk hampir setengahnya ke dalam tanah!

“Apa kubilang?! Untuk memegang benda itu diperlukan beberapa syarat!”

Joko buka mulut setelah beberapa saat terdiam dengan wajah tegang menyaksikan Nenek Selir dan Datuk Kala Sutera yang sesaat tadi sepertinya mampu mengatasi hawa dingin yang keluar dari kotak berisi Pedang Keabadian. Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera, dan Nenek Selir berpaling pada Joko.

“Pemuda asing sialan! Jangan kau terus mengada-ada! Bagaimana kau bisa mengatakan untuk memegangnya perlu beberapa syarat?! Padahal kau bukan berasal dari negeri ini. Sementara benda itu adalah milik seorang tokoh yang dilahirkan di negeri ini!” Yang angkat suara adalah Nenek Selir.

“Aku tak bisa mengatakan bagaimana. Yang jelas, kalian lihat sendiri. Benda itu tadi berada di pinggangku. Lalu apa kalian lihat aku merasa kedinginan?!”

“Hem.... Bagus! Sekarang katakan apa syarat yang diperlukan! Jika kau tidak mengatakannya, jangan harap kau bisa menyentuhnya!” Nenek Selir kembali berteriak.

“Kalau aku mengatakan syaratnya, apa kau....”

“Itu kita putuskan nanti setelah kau mengatakan apa syaratnya!” Nenek Selir sudah memotong.

Pendekar 131 gelengkan kepala. “Peraturan itu enak padamu, tapi tidak enak padaku!”

“Terserah! Yang pasti kau telah dengar peraturannya!”

“Tidak bisa.... Tidak bisa...,” gumam Joko berulang kali.

“Bagus! Berarti kau telah tahu akibatnya!” ujar Nenek Selir seraya angkat tangan kirinya yang masih memegang pedang. Sementara tangan kanannya ditarik ke belakang.

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tidak berdiam diri. Tahu apa yang diperbuat si nenek, kedua orang ini cepat pula angkat kedua tangan masing-masing.

“Celaka! Mengapa jadi begini?! Kalau mereka maju satu persatu mungkin aku masih mampu menahan. Tapi kalau mereka berbarengan....” Kuduk Joko jadi merinding dingin. Tampangnya berubah.

“Pemuda asing! Dalam satu hal aku dan kedua makhluk itu memang berbeda! Namun dalam hal satu ini, mungkin kami punya persamaan! Jadi kau harus berpikir dan jangan berlaku bodoh!” Nenek Selir berucap. Lalu tertawa cekikikan.

“Baik.... Baik... Akan kukatakan apa yang kau inginkan!” Akhirnya Joko buka mulut seraya alihkan pandangan ke jurusan lain. Lalu sambung!ucapannya. “Kalian tahu hidung?!”

Nenek Selir mendengus. Bidadari Tujuh Langit menggeram. Sedangkan Datuk Kala Sutera gerak-gerakkan jari tangannya hingga perdengarkan suara berkeretekan tanda dadanya makin geram.

“Aku tanya. Mengapa kalian tidak ada yang buka mulut menjawab?!” Joko bertanya seraya mendongak.

“Jangan kau bicara main-main!” bentak si nenek.

“Siapa main-main?! Kau yang bercanda! Aku tanya hidung kau jawab jangan bicara main-main!”

“Keparat!” maki si nenek seraya bantingkan kaki. “Aku tidak buta! Aku tahu mana hidung, mana mulut, dan mana perut!”

Joko luruskan kepala seraya tersenyum. “Bagus! Aku bersyukur kau sudah tahu malah bisa membedakan!”

Joko arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera silih berganti. Lalu angkat suara. “Bagaimana dengan kalian?! Kalian belum ada yang buka suara menjawab!”

Walau dengan tampang sama berubah akhirnya hampir bersamaan kedua orang yang ditanya buka mulut. “Aku tahu mana yang disebut hidung!”

“Bagus! Bagus! Harap kalian tidak salah sangka dengan pertanyaanku tadi. Hal itu penting kutanyakan, karena aku khawatir apa yang disebut hidung di negeri asalku berbeda dengan yang disebut hidung di negeri ini! Dan agar nantinya tidak terjadi salah paham, aku ingin agar kalian tunjuk mana yang kalian sebut hidung!”

Nenek Selir, Bidadari Tujuh Langit, dan Datuk Kala Sutera saling lirik. Tampang masing-masing jelas membayangkan rasa marah. Malah si nenek sudah buka mulut hendak membentak. Namun Joko buru-buru mendahului.

“Harap tidak marah dahulu! Hal ini harus dibuktikan agar nantinya tidak terjadi salah paham! Aku tidak mau disalahkan hanya gara-gara salah sebut!”

Walau dengan seringai dingin dan dada panas, namun karena memang ingin tahu apa yang menjadi persyaratan, akhirnya Nenek Selir, Bidadari Tujuh Langit, dan Datuk Kala Sutera angkat tangan masing-masing dan menunjuk pada hidungnya!

ENAM

PENDEKAR 131 picingkan mata dengan kepala di sorongkan ke depan ke belakang. Lalu sapukan pandangan ke arah Bidadari Tujuh Langit, Nenek Selir, dan Datuk Kala Sutera. Bidadari Tujuh Langit, Nenek Selir, dan Datuk Kala Sutera saling pandang dengan tampang berubah merah mengelam.

“Mengapa kau tertawa ngakak, hah?!” Si nenek yang su- dah tak sabaran membentak.

Murid Pendeta Sinting putuskan tawanya. “Untung aku ingin membuktikan dahulu. Jika tidak, tentu kalian akan salah paham!”

“Apa maksudmu?!” tanya Nenek Selir.

“Di negeri asalku, benda di atas mulut yang kalian tunjuk namanya bukan hidung!”

“Jahanam! Kau terlalu mengada-ada! Sampai ujung dunia pun yang namanya hidung adalah benda di atas mulut ini!” kata Nenek Selir dengan suara keras seraya pencet hidungnya sendiri.

Joko gelengkan kepala. “Kalian boleh percaya boleh tidak! Di negeri asalku apa yang kalian tunjuk bukan hidung. Tapi ketiak!”

“Baik!” Kali ini Bidadari Tujuh Langit yang buka suara. “Lalu menurut negeri asalmu, mana yang disebut hidung?!”

“Pangkal tangan kalian masing-masing adalah hidung menurut negeri asalku!”

“Keparat! Itu ketiak!” bentak Nenek Selir.

“Ya, memang keparat! Tapi apa boleh buat. Yang kau sebut ketiak itu di negeri asalku disebut hidung!”

“Teruskan keteranganmu!” Bidadari Tujuh Langit buka mulut lagi tak mau berdebat.

“Hidung menurut negeri asalku dan ketiak menurut negeri ini, kalian tahu memiliki hiasan rambut. Kalian harus mencari tujuh helai rambut itu yang sebelah kanan.”

“Kau jangan berani bicara dusta! Bagaimana mungkin syaratnya begitu mudah?! Aku tidak percaya!” kata Nenek Selir masih dengan suara tinggi.

“Aku belum selesai bicara, Nek! Harap tidak memotong dahulu!” kata Joko seraya sentakkan wajah mendongak. Lalu sambungi ucapannya. “Untuk menahan hawa dingin benda kuning berukir itu. kalian harus mencari tujuh helai rambut hidung sebelah kanan dari seorang nenek-nenek berusia tujuh puluh tahun. Tujuh helai rambut itu harus berasal dari nenek yang berbeda! Jika sudah terkumpul, kalian harus membakarnya di bawah cahaya bulan purnama. Lalu abunya kalian telan!”

“Kau menyindirku!” Nenek Selir kembali membentak. “Mentang-mentang kau tahu ketiakku tidak ada bulunya!”

Joko tertawa panjang seraya geleng kepala. “Nek.... Aku bicara apa adanya! Lagi pula mana aku tahu kalau hidungmu tidak ada bulunya?!”

Untuk beberapa saat Nenek Selir, Bidadari Tujuh Langit, dan Datuk Kala Sutera saling pandang.

“Kau percaya dengan ocehannya?!” tanya Nenek Selir pada Bidadari Tujuh Langit.

Yang ditanya tidak menjawab. Sebaliknya mendengus seraya alihkan pandangan ke jurusan lain. Nenek Selir tertawa cekikikan. Lalu arahkan pandang matanya pada Datuk Kala Sutera dan bertanya.

“Kau sendiri percaya dengan keterangan pemuda asing sialan itu?!”

“Itu urusanku!”

Nenek Selir makin keraskan cekikikannya. Lalu alihkan pandangan pada murid Pendeta Sinting dan kembali buka mulut. “Kau tidak bicara dusta?!”

“Itu urusanmu!” Enak saja Joko menjawab. “Kau menduga aku bicara dusta silakan. Jika sebaliknya, juga terserah! Yang jelas, kalau sampai aku dapat bertahan dari hawa dingin itu, tidak lain berkat aku menelan abu tujuh helai rambut tujuh hidung tujuh nenek berusia tujuh puluh tahun pada malam purnama!

“Hem.... Sebenarnya hari ini adalah hari terakhirmu menghirup udara di kolong bumi! Tapi kau beruntung...,” ujar si nenek.

“Beruntung bagaimana, Nek?!”

"Untuk sementara ini nyawamu kuperpanjang sampai aku dapat membuktikan kebenaran keteranganmu! Jika nanti ternyata keteranganmu dusta, kau harus mampus dua kali di tanganku! Kau dengar?!”

Joko anggukkan kepala. Lalu tanpa buka mulut lagi dia melangkah ke arah kotak kuning berukir.

“Tahan gerakanmu!” Bidadari Tujuh Langit berteriak. “Aku juga memperpanjang usia selembar nyawamu! Sekarang berbalik dan tinggalkan tempat ini!”

“Aneh.... Lalu bagaimana dengan kotak itu?! Bukankah diantara kalian tidak ada yang mampu menyentuhnya?!”

“Itu urusan mudah! Kami nanti dapat memutuskan!”

“Keputusan apa pun yang nantinya kalian ambil, tidak akan menyelesaikan masalah! Karena kalian bertiga belum ada yang memenuhi syarat!”

“Jangan banyak mulut!” Kali ini Datuk Kala Sutera yang buka suara. “Lekas angkat kaki dari sini atau nyawamu akan melayang hari ini juga!”

“Betul! Cepat enyahlah dari tempat ini! Tapi harus kau ingat! Semua ini hanya sementara waktu. Jika saatnya tiba, tidak ada tempat di kolong langit ini untuk kau jadikan liang persembunyian!”

“Eh, jadi kalian menginginkan kotak kuning itu?!’ tanya Joko.

“Dasar manusia asing bodoh! Kau kira untuk apa aku bertanya tadi, hah?!” bentak Nenek Selir.

“Aku tidak menduga sejauh itu! Aku tadi menyangka pertanyaan itu hanya sekadar kalian ingin tahu agar nantinya dapat menyentuh kotak itu! Tidak terlintas dalam benakku kalau kalian ternyata menginginkan kotak itu!”

“Hem.... Sekarang katakan. Kalau aku menginginkan kotak itu, kau mau apa?!” tanya Bidadari Tujuh Langit.

“Aku tidak akan berbuat apa-apa! Tapi harap kau tahu. Aku sampai di tempat ini dengan membawa kotak itu. Jadi kalaupun aku kalian usir dari tempat ini, kotak itu harus tetap kubawa serta!”

“Kau harus enyah tanpa membawa kotak itu!” kata Datuk Kala Sutera.

“Kotak itu harus tetap berada di sini!” Bidadari Tujuh Langit menimpali.

“Benar! Kotak itu berasal dari negeri ini! Tidak layak kau membawanya!” Nenek Selir ikut menyahut.

“Siapa yang membikin aturan begitu?!” tanya Joko seraya sapukan pandangan.

Belum sampai ada yang buka mulut menjawab, tiba-tiba terdengar suara lain menyahut. “Harap lupakan dahulu urusan kotak itu! Ada yang lebih penting dari itu!”

Tiga sosok tubuh berkelebat. Lalu tegak tidak jauh dari tempat terbujurnya sosok Bidadari Delapan Samudera.nSemua kepala berpaling. Yang tegak di sebelah kanan sosok Bidadari Delapan Samudera adalah seorang perempuan bertubuh tambun besar mengenakan pakaian warna merah ketat. Raut wajahnya bengkak besar disamaki kulit hingga sepasang matanya hampir-hampir saja tidak kelihatan. Hidungnya melesak masuk ke dalam gumpalan kulit kedua pipinya. Rambutnya putih panjang sebatas betis.

Nenek ini bukan lain adalah Putri Pusar Bumi. Di sebelah Putri Pusar Bumi, tegak seorang laki-laki bertubuh pendek berambut panjang menjulai hingga menyapu tanah. Di punggungnya tampak sebuah punuk besar, se- mentara pada pinggangnya terlihat melilit sebuah ikat pinggang dari pedang berkilat. Laki-laki cebol ini adalah Iblis Pedang Kasih.

Tidak jauh dari Iblis Pedang Kasih terlihat satu sosok tubuh milik seorang laki-laki yang duduk dengan kedua kaki dirangkapkan. Kepalanya dimasukkan dalam-dalam di belakang rangkapan kedua kakinya hingga raut wajah orang ini tidak bisa dikenali. Dia tidak lain adalah tokoh yang dikenal dengan julukan Paduka Seribu Masalah.

“Paduka Seribu Masalah! Harap lepaskan aku dari totokan ini!” Berkata Bidadari Delapan Samudera seraya memandang pada Paduka Seribu Masalah.

“Harap tidak meminta padaku, Gadis Cantik. Aku takut memenuhi permintaanmu!”

Bidadari Delapan Samudera perdengarkan keluhan. Lalu arahkan pandang matanya pada Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih. Lalu buka mulut lagi. “Kalian juga tak mau membantuku?!”

Putri Pusar Bumi sentakkan kepala berpaling. Bidadari Delapan Samudera terkesiap kaget. Karena bersamaan dengan itu rambut putih panjang milik Putri Pusar Bumi menderu angker ke arahnya!

“Apa yang hendak kau lakukan?!” Bidadari Delapan Samudera masih sempat berteriak. Namun karena dalam keadaan tertotok, gadis ini hanya bisa berteriak tanpa mampu membuat gerakan.

Sosok Bidadari Delapan Samudera tiba-tiba terangkat ke udara. Gadis ini sudah akan berteriak lagi. Apalagi ketika dia merasakan sosoknya meluncur jatuh ke bawah! Tapi belum sampai suaranya terdengar, rambut putih Putri Pusar Bumi kembali berkelebat. Terdengar suara seperti orang tercekik. Sosok Bidadari Delapan Samudera tahu-tahu sudah terlilit rambut si nenek tambun di udara. Sosok gadis ini sesaat tertahan di udara lalu melayang turun perlahan-lahan hingga akhirnya menyentuh tanah.

Begitu sosok Bidadari Delapan Samudera bersentuhan dengan tanah, Putri Pusar Bumi sentakkan kepalanya lagi. Sosok Bidadari Delapan Samudera terguling ke samping beberapa kali. Bidadari Delapan Samudera sudah hendak berseru. Namun tiba-tiba gadis ini kancingkan mulutnya lagi ketika tiba-tiba dia merasakan dapat menggerakkan anggota tubuhnya! Sadar apa yang telah dilakukan Putri Pusar Bumi, Bidadari Delapan Samudera segera bergerak bangkit. Lalu menjura hormat dan berkata.

“Terima kasih....”

Putri Pusar Bumi tersenyum. Lalu berbisik pada Iblis Pedang Kasih yang tegak di sampingnya. “Kulihat Dayang Tiga Purnama dalam keadaan tak berdaya! Lakukan sesuatu padanya!”

Iblis Pedang Kasih arahkan pandang matanya pada sosok Dayang Tiga Purnama yang masih terbujur diam di atas tanah karena ditotok oleh Bidadari Tujuh Langit. Kejap lain tiba-tiba laki-laki bertubuh cebol ini luruskan kedua tangannya kedepan. Lalu serta-merta ditarik kebelakang. Di seberang depan, Dayang Tiga Purnama rasakan sosoknya disedot kekuatan dahsyat. Hingga saat itu juga sosoknya terseret ke arah Iblis Pedang Kasih!

Bidadari Tujuh Langit sebenarnya sudah hendak melakukan gerakan menghadang dengan sentakkan kedua tangannya memotong gerakan sosok Dayang Tiga Purnama. Tapi karena sadar gerakannya akan kalah cepat, perempuan berpakaian putih ini akhirnya urungkan niat meski dengan mata melotot angker dan dada panas dilanda hawa kemarahan. Begitu sosok Dayang Tiga Purnama berada dua langkah di depan Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih luruhkan kedua tangannya ke bawah. Seretan sosok Dayang Tiga Purnama terhenti.

Putri Pusar Bumi bungkukkan tubuh. Jari tangan ka- nannya bergerak beberapa kali pada beberapa bagian tubuh Dayang Tiga Purnama. Begitu Putri Pusar Bumi angkat tangan kanannya, Dayang Tiga Purnama mampu bergerak bangkit.

“Cucuku.... Harap kau bersabar! Mari kita selesaikan semua ini dengan bicara baik-baik! Kekerasan hanya akan mendatangkan penyesalan! Dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah!” berkata Putri Pusar Bumi.

“Eyang.... Aku sudah mencoba bicara baik-baik! Tapi ternyata tidak membawa hasil! Kedua manusia itu bungkam tidak mau menjawab!”

“Biar nanti aku yang bicara!” ujar Putri Pusar Bumi lalu berpaling pada Bidadari Pedang Cinta yang sedari tadi hanya tegak diam. Putri Pusar Bumi memberi isyarat dengan lambaian tangan.

Sesaat Bidadari Pedang Cinta tampak bimbang. Namun ketika dilihatnya Iblis Pedang Kasih anggukkan kepala, gadis cantik berbaju hijau ini perlahan-lahan melangkah mendekat. Begitu Bidadari Pedang Cinta tegak di samping Dayang Tiga Purnama, Bidadari Delapan Samudera berkelebat ke depan.

“Sebenarnya aku takut bicara. Tapi kalau boleh aku mengatakan, harap kau jangan terburu nafsu, Gadis Jelita...” Mendadak Paduka Seribu Masalah berucap.

Bidadari Delapan Samudera batalkan niat. Memandang sesaat pada Datuk Kala Sutera lalu perlahan-lahan mendekati Paduka Seribu Masalah dan berkata. “Aku perlu jawaban pasti dari pemuda berjubah hitam itu! Sekaligus dia harus membayar nyawa eyang guruku!”

“Aku takut mengatakannya. Tapi aku tidak takut untuk memberi penjelasan jika mungkin nantinya kau akan memperoleh apa yang kau inginkan!” ujar Paduka Seribu Masalah.

“Kau dapat menduga ada apa di balik ucapan sahabat kita itu?!” Putri Pusar Bumi berbisik pada Iblis Pedang Kasih.

Iblis Pedang Kasih gelengkan kepala. “Aku tak tahu pasti. Namun satu hal. Aku pernah berbincang dengan gadis baju biru itu. Sepertinya dia punya masalah yang sama dengan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama!”

Di seberang depan, melihat munculnya Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih, dan Paduka Seribu Masalah, Pendekar 131 menghela napas lega. Tapi tidak demikian halnya dengan Nenek Selir. Nenek berselempang kain hitam itu mendelik lalu putar pandangan berkeliling.

“Wang Su Ji lenyap bersama manusia yang duduk rangkapkan kaki itu! Sekarang dia muncul lagi tanpa si jahanam Wang Su Ji! Pasti dia tahu di mana beradanya si keparat itu! Dan si perempuan gembrot itu.... Tempo hari dia muncul menyelamatkan Wang Su Ji. Kalau kemunculannya kali ini masih juga ada kaitannya dengan Wang Su Ji, dia akan tahu dengan siapa dia harus berhadapan! Sekarang manusia yang duduk rangkapkan kaki itu harus memberi jawaban padaku!”

Berpikir begitu, Nenek Selir jadi lupa akan urusan kotak kuning berukir. Dia berkelebat ke depan lalu tegak sepuluh langkah di hadapan Paduka Seribu Masalah. Namun belum sampai Nenek Selir buka mulut, Paduka Seribu Masalah sudah perdengarkan suara mendahului.

“Sahabatku, Nenek Selir! Harap kau tidak takut mendengarnya. Orang yang kau cari berada di sekitar tempat ini. Hanya saja dia belum mau tunjukkan diri. Kuharap kau bersabar menunggu!”

“Bagus! Kau telah tahu sebelum aku bertanya! Tapi sayang sekali. Aku tak bisa menunggu! Katakan di mana beradanya jahanam itu!”

“Sekali lagi harap kau bersabar dan tabahkan hati! Karena....”

“Simpan dulu nasihatmu! Aku ingin tahu di mana beradanya keparat itu!”

LIMA

PADUKA Seribu Masalah tertawa. “Sahabatku Nenek Selir.... Aku tak takut mengatakan kalau kau punya sengketa besar dengan Wang Su Ji alias sahabatku Manusia Tanah Merah....”

“Kalau kau sudah tahu, mengapa kau masih tidak mau mengatakan di mana beradanya bangsat itu?!”

“Saat untuk hal itu akan tiba! Sekali lagi kuharap kau bersabar! Karena masih ada hal penting di tempat ini....”

“Persetan dengan segala hal penting! Aku hanya ingin tahu di mana bangsat itu berada!”

“Sahabatku Nenek Selir. Jangan takut kalau kukatakan jika hal penting itu masih ada kaitannya dengan dirimu!”

“Setan! Kau tahu apa tentang diriku, hah?! Dalam hidupku, hal yang paling penting adalah mencari sekaligus mencabut selembar nyawa jahanam itu!”

Paduka Seribu Masalah kembali perdengarkan tawa. “Sebenarnya aku takut mengatakannya. Tapi hari ini terpaksa kuberanikan diri. Semua ini kukatakan demi kebenaran dan tenteramnya arena negeri Tibet....”

“Kau terlalu sok tahu masalah orang!”

“Silahkan kau mau bilang apa. Yang jelas, bukankah selama ini kau tengah mencari seseorang yang pernah lahir dari rahimmu?!”

Nenek Selir terdiam. Tegaknya tampak bergetar. Mulutnya komat-kamit namun tak perdengarkan suara. Sepasang matanya mendelik pada sosok Paduka Seribu Masalah. Lalu mengedar berkeliling.

“Sahabatku Nenek Selir.... Kau harus bersyukur. Karena mungkin segala yang jadi ganjalan hatimu selama ini akan terungkap!”

“Kau memang digelari orang Paduka Seribu Masalah! Selama ini banyak orang mencarimu untuk bertanya! Tapi hari ini jangan berharapa kupercaya dengan ucapanmu!”

“Aku tidak memintamu untuk percaya! Tapi jika nantinya bukti yang akan mengungkapkan, apakah kau masih tidak akan percaya?!”

“Bukti apa yang akan kau ungkapkan, hah?!”

“Untuk hal itu sekali lagi waktunya akan tiba! Sekarang akan kita selesaikan dahulu urusan beberapa orang di tempat ini!”

“Urusan apa?! Urusan siapa?!” tanya si nenek dengan suara melengking.

“Kau dengar saja.... Nanti kau akan mengerti. Tapi harap nantinya kau tidak terkejut apalagi tidak percaya!”

Nenek Selir terdiam beberapa lama. Sebenarnya dia sudah tak sabar. Tapi entah karena apa, setelah berpikir sesaat, nenek berselempang kain hitam ini perlahan-lahan surutkan langkah ke belakang. Seakan dapat melihat gerakan orang, Paduka Seribu Masalah segera putar duduknya menghadap Putri Pusar Bumi seraya berkata.

“Sahabatku Putri Pusar Bumi. Aku tidak punya banyak waktu. Harap segera kau mulai saja bicara!”

Putri Pusar Bumi anggukkan kepala. Lalu arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

“Ada urusan apa ini?!” Diam-diam Bidadari Tujuh Langit membatin. Hatinya jadi tak enak. Apalagi kini sepasang mata Putri Pusar Bumi menatap lekat-lekat ke arahnya.

Di lain pihak, Datuk Kala Sutera tidak begitu peduli dengan apa yang didengar dan tatapan Putri Pusar Bumi. Karena begitu melihat kemunculan Paduka Seribu Masalah, pemuda berjubah hitam ini jadi geram. Dalam hati dia berkata.

“Ternyata dia yang asli Paduka Seribu Masalah! Hem.... Dia telah menipuku dengan menunjuk orang lain sebagai Paduka Seribu Masalah!” Datuk Kala Sutera ingat akan pertemuannya dengan Paduka Seribu Masalah beberapa hari berselang. Di mana saat itu Paduka Seribu Masalah tidak mau berterus terang mengatakan siapa dirinya. Malah justru saat itu Pendekar 131 yang mengaku sebagai Paduka Seribu Masalah.

“Bidadari Tujuh Langit....” Putri Pusar Bumi angkat suara setelah agak lama hanya diam dan pandangi sosok Bidadari Tujuh Langit. “Menurut kabar yang kudengar, kau mempunyai lima anak perempuan. Harap jujur jawab pertanyaanku. Benar atau tidak apa yang baru kukatakan?!”

Dada Bidadari Tujuh Langit berdebar. “Apa maksud pertanyaan manusia satu ini? Dia pernah punya silang sengketa denganku pada beberapa puluh tahun silam. Apa ada hubungannya dengan urusan sengketa itu?!”

“Apa maksud pertanyaanmu?!” Bidadari Tujuh Langit balik bertanya.

“Aku hanya ingin membuktikan kebenaran berita itu!”

“Untuk apa?! Kalau kau ingin meneruskan sengketa lama, kau tak usah membicarakan urusan itu!”

“Sengketa lama itu telah kukubur dalam-dalam!”

“Kau takut?!” tanya Bidadari Tujuh Langit seraya tertawa.

“Waktu telah mengubah segalanya! Seandainya aku masih seperti pada beberapa puluh tahun silam, mungkin tidak ada gunanya aku bicara denganmu! Yang akan bicara adalah kedua tanganku!”

“Hem.... Aku tak tahu pasti. Ucapanmu itu hanya karena takut menghadapiku atau....”

“Bidadari Tujuh Langit.... Kau telah dengar ucapanku. Aku tidak punya waktu banyak untuk duduk di tempat ini! Harap jawab saja apa yang ditanyakan padamu!” Yang perdengarkan suara adalah Paduka Seribu Masalah.

“Aku tak punya urusan denganmu! Kalau kau tak punya waktu banyak, mengapa kau tidak segera angkat kaki dari tempat ini?!”

“Kepergiannya hanya akan membuatmu menyesal, Bidadari Tujuh Langit!” Kali ini Iblis Pedang Kasih yang bicara.

“Menyesal?!” Bidadari Tujuh Langit tertawa panjang. “Jangankan hanya pergi angkat kaki. Dia mampus pun aku tak akan merasa menyesal!”

“Harap jangan berdebat. Aku takut mendengarnya! Kalau memang dia tak mau jawab pertanyaan, untuk apa kita memaksa?! Bukankah dengan begitu dia akan lebih menderita?! Karena selama hidupnya kelak dia tidak akan pernah tahu siapa anak-anak yang pernah dilahirkannya!”

“Jahanam! Apa kaitannya semua ini dengan ucapanmu?!” tanya Bidadari Tujuh Langit dengan melompat beberapa langkah.

“Jawab saja pertanyaanku dahulu. Nantinya kau akan mengerti!” Putri Pusar Bumi menyahut.

Bidadari Tujuh Langit tergagu diam. Matanya silih berganti memandang pada sosok Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih, dan Paduka Seribu Masalah.

“Bidadari Tujuh Langit... Kau tak usah malu-malu mengatakannya! Semua ini demi kebaikanmu!” kata Putri Pusar Bumi.

“Aku memang memiliki lima orang anak perempuan!” Akhirnya Bidadari Tujuh Langit buka mulut dengar suara bergetar.

“Kau tahu di mana mereka saat ini?!” tanya Putri Pusar Bumi.

Bidadari Tujuh Langit geleng kepala. Sementara Datuk Kala Sutera tampak terkejut dan palingkan kepala pada Bidadari Tujuh Langit. Diam-diam pemuda berjubah hitam ini membatin. “Aneh.... Sepertinya ada kesamaan antara aku dengan perempuan ini. Dia memiliki lima orang anak perempuan. Namun dia Juga tak tahu di mana beradanya anak-anaknya! Herannya lagi, dia juga pernah sebut-sebut Istana Lima Bidadari.... Siapa perempuan ini sebenarnya?! Dia mengenakan salah satu cincin dari Sepasang Cincin Keabadian. Dia juga sempat kujumpai saat aku baru saja mendapatkan salah satu dari Sepasang Cincin Keabadian!”

Baru saja Datuk Kala Sutera membatin begitu, Putri Pusar Bumi sudah perdengarkan suara lagi. “Bidadari Tujuh Langit.... Kau mengenal siapa adanya pemuda berjubah hitam itu?”

“Kalau kau belum tahu. Kau bisa menanyakan sendiri siapa dia!”

“Semua orang sudah tahu siapa nama pemuda itu! Yang kumaksud, apakah kau kenal lebih dari hanya sekadar namanya?!”

Bidadari Tujuh Langit tersenyum dingin. “Bagiku laki-laki adalah sampah! Jadi jangan tanya apakah aku mengenalnya lebih dari sekadar nama!”

“Bidadari.... Aku tidak memaksamu. Tapi ada baiknya kau lihat sekali lagi wajah pemuda berjubah hitam itu. Mungkin kau akan ingat sesuatu....”

“Walau wajahmu penuh gumpalan daging dan siapa pun akan muak melihatnya, namun bagiku lebih baik melihat wajahmu daripada melihat tampang laki-laki itu! Tanpa kuberi tahu kau tentu sudah bisa menebak apa sebabnya! Hik Hik Hik...!”

“Ah.... Ah.... Jadi kau masih tertarik padaku?!” tanya Putri Pusar Bumi sambil dongakkan kepala lalu putar tubuhnya dengan pantat digoyang-goyang.

Bidadari Tujuh Langit putuskan tawanya. Lalu membentak. “Jangan mengalihkan urusan! Kau telah bertanya banyak padaku. Sekarang jawab! Apa maksud semua pertanyaanmu tadi?!”

Putri Pusar Bumi hentikan gerakannya begitu lurus menghadap Bidadari Tujuh Langit. Lalu angkat suara. “Pertanyaanku belum selesai! Dan kau tak usah khawatir. Setelah semua pertanyaanku terjawab, aku akan mengatakan apa maksud semua ini!” Putri Pusar Bumi melirik sesaat pada Bidadari Tujuh Langit. Lalu sambung ucapannya. “Kalau kau punya anak. Berarti kau pernah punya suami! Bisa mengatakan padaku siapa nama suamimu?!”

“Dengar telingamu! Bagiku laki-laki adalah sampah! Jika kau bertanya yang ada kaitannya dengan makhluk laki-laki, kau tak akan mendapat jawaban apa-apa!”

“Hem.... Jadi kau tidak kenal suamimu?!”

Bidadari Tujuh Langit tidak menjawab. Sebaliknya melotot dengan mulut terkancing rapat. Putri Pusar Bumi nyengir. Lalu berpaling pada Iblis Pedang Kasih dan berbisik.

“Pekerjaanku selesai! Sekarang tiba giliranmu!”

Iblis Pedang Kasih maju satu tindak. Sepasang matanya terarah pada Datuk Kala Sutera. Menangkap gelagat jika Iblis Pedang Kasih hendak bicara dengan sang Datuk, Bidadari Tujuh Langit buru-buru mendahului.

“Aku tidak mau disela!”

“Bidadari Tujuh Langit!” kata Iblis Pedang Kasih. “Harap kau bersabar. Aku akan bicara dulu dengan pemuda itu!”

Tanpa menunggu sahutan orang, Iblis Pedang Kasih sudah ajukan tanya padaDatuk Kala Sutera. “Datuk! Dari keterangan seorang sahabatku, kau tengah mencari lima orang anak-anakmu! Betul?!”

Datuk Kala Sutera tidak segera menjawab. Sebaliknya arahkan pandang matanya pada Pendekar 131. Lalu beralih pada sosok Paduka Seribu Masalah. Kejap lain dia buka mulut. “Aku akan jawab pertanyaanmu. Tapi aku minta jaminan kau nanti akan memberi keterangan yang benar!”

“Bukan hanya keterangan benar yang akan kau dapatkan! Tapi lebih dari itu!” ujar Iblis Pedang Kasih.

“Hem.... Bagus! Jika nantinya ucapanmu dusta, jangan mimpi kau bisa lolos dari tanganku seperti yang pernah terjadi pada beberapa puluh tahun lalu!”

“Nyatanya kau masih ingat peristiwa itu....”

“Katakan. Pertanyaan apa lagi yang harus kujawab!” Datuk Kala Sutera segera menyahut seolah tak sabar.

“Kau belum jawab pertanyaanku tadi....”

“Aku memang tengah mencari kelima anak-anakku!”

“Kau tahu bagaimana raut wajah mereka?!”

“Aku meninggalkannya saat mereka masih bayi!”

“Kalau kau punya anak, pasti kau punya seorang istri yang melahirkan kelima anak-anakmu! Kau bisa mengatakan siapa istrimu?!”

“Aku tak bisa menjawab!”

Iblis Pedang Kasih tersenyum. “Mengapa?!”

“Aku tak bisa mengatakannya padamu! Masih ada yang perlu kujawab?!”

“Kau mengenal siapa adanya perempuan berbaju putih berparas cantik jelita itu?!” Iblis Pedang Kasih arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit.

“Menurut yang kudengar dia hanyalah seorang perempuan binal yang punya kelainan!”

Ucapan Datuk Kala Sutera bukannya membuat Bidadari Tujuh Langit marah. Sebaliknya perempuan ini tertawa panjang. Iblis Pedang Kasih mundur satu tindak. Lalu berbisik pada Paduka Seribu Masalah.

“Sahabatku.... Sesuai perjanjian kita tadi, sekarang tiba giliranmu!”

“Hai! Kau ingat dengan jaminan tadi?!” Datuk Kala Sutera berteriak.

“Aku masih ingat! Tapi harap kau tunggu dahulu. Sahabatku ini akan bicara!”

“Bidadari Tujuh Langit.... Datuk Kala Sutera...!” Paduka Seribu Masalah sudah perdengarkan suara menyahut ucapan Iblis Pedang Kasih tanpa memberi kesempatan pada Datuk Kala Sutera untuk buka mulut.

“Menurut beberapa orang sahabatku, kalian berdua mengenakan Sepasang Cincin Keabadian. Kalian ingat bagaimana hingga bisa mendapatkan cincin itu?!”

Baik Bidadari Tujuh Langit maupun Datuk Kala Sutera tidak ada yang buka mulut menjawab. Kedua orang ini hanya saling pandang sesaat.

“Baik! Itu urusan kalian... Tapi harap kalian tahu. Sepasang Cincin Keabadian tak mungkin lepas dari pemiliknya secara satu-persatu! Dan ini menjadi satu petunjuk jika kalian berdua pernah saling kenal tidak hanya sekadar nama! Bagaimana jawab kalian?!”

Lagi-lagi Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tidak ada yang menyahut. Namun diam-diam kedua orang ini coba mengingat. Hanya saja meski keduanya telah berusaha, mereka tidak ingat lagi apa yang pernah mereka lakukan!

“Kalian tidak ada yang menyahut. Mengapa?!” tanya Paduka Seribu Masalah. “Kalian takut?!”

“Kau tadi bicara tak punya waktu banyak! Sekarang kau banyak mulut!” Bidadari Tujuh Langit membentak. “Katakan saja terus terang! Ada apa ini sebenarnya!”

“Begitu maumu?! Baik.... Harap kalian berdua tidak takut mendengarnya! Sebenarnya kalian berdua adalah pasangan suami-istri! Dan kalaupun sampai akhirnya kalian berdua tidak saling kenal, kalian tentu lebih tahu apa sebabnya....”

ENAM

BIDADARI Tujuh Langit simak ucapan Paduka Seribu Masalah dengan kepala didongakkan. Sementara Datuk Kala Sutera pandangi sosok sang Paduka dengan mulut terkancing rapat. Mendadak Bidadari Tujuh Langit tertawa bergerai. Namun hanya sesaat. Kejap lain perempuan ini membentak dengan mata nyalang menatap sosok Paduka Seribu Masalah.

“Mulutmu lancang bicara! Kau sepertinya lebih tahu siapa diriku daripada aku!”

“Bidadari Tujuh Langit.... Dalam hal ini, aku tidak takut mengatakan jika semua orang di daratan Tibet tahu kalau kau adalah istri Datuk Kala Sutera!”

“Aku tidak kenal dengan pemuda itu sebelum ini!”

“Bagaimana dengan dirimu, Datuk Kala Sutera?!” Paduka Seribu Masalah bertanya pada sang Datuk yang sedari tadi hanya diam.

“Enam belas tahun lalu, aku memang pernah berjumpa dengannya! Tapi tidak lebih dari sekadar jumpa! Jadi adalah lucu kalau kau mengatakan aku adalah suaminya! Apalagi telingamu dengar sendiri. Perempuan itu lebih suka jasad perempuan daripada sosok laki-laki!”

“Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera! Kalian tengah menjalani suratan hidup yang harus kalian terima apa pun kenyataannya! Kalian adalah pasangan suami-istri dan kalian memiliki lima orang anak perempuan! Dan harap kalian tidak tersinggung kalau kukatakan, kalian tidak saling kenal karena ulah kalian sendiri pada masa enam belas tahun silam! Saat mana kalian mendapatkan Sepasang Cincin Keabadian dari tangan Dewi Keabadian!”

“Kau boleh bicara panjang lebar! Yang jelas aku tidak pernah mengenalnya sebelum ini!”

“Sekarang masalahnya bukan mengenal atau tidak sebelum ini! Kau mengatakan memiliki lima orang anak. Sementara Datuk Kala Sutera juga tengah mencari lima orang anaknya! Kalian juga mengenakan....”

“Cukup!” potong Bidadari Tujuh Langit. “Selama kau dikenal sebagai manusia yang tahu banyak masalah orang! Sekarang coba katakan di mana kelima anakku?!”

“Sebelum kujawab, aku minta kau memperhatikan kelima gadis yang saat ini berada di tempat ini!”

Galuh Sembilan Gerhana, Galuh Empat Cakrawala, Bidadari Pedang Cinta, Bidadari Delapan Samudera, dan Dayang Tiga Purnama, serentak saling pandang satu sama lain dengan dada berdebar tidak enak. Sementara Bidadari Tujuh Langit langsung sapukan pandangannya memperhatikan satu persatu kelima gadis di tempat itu. Datuk Kala Sutera ikut-ikutan gerakkan kepala memandang berganti-ganti.

“Apa pendapatmu?!” bertanya Paduka Seribu Masalah.

Bidadari Tujuh Langit kancingkan mulut tidak menjawab. “Aku memang tidak pernah melihat mereka. Tapi dari beberapa orang sahabat, aku diyakinkan kalau wajah mereka hampir mirip! Benar?!”

Entah karena apa, walau tanpa buka mulut, Bidadari Tujuh Langit sambuti pertanyaan Paduka Seribu Masalah dengan anggukkan kepala.

“Bidadari Tujuh Langit! Seandainya saat ini kau bertemu dengan anak-anakmu, apakah ada sesuatu yang membuatmu mengenalnya?!”

“Apakah mereka anak-anakku?!” Mendadak Bidadari Tujuh Langit ajukan tanya dengan suara sedikit bergetar.

“Aku tanya.. Seandainya saat ini kau bertemu dengan anak-anakmu, apakah ada sesuatu yang membuatmu mengenal mereka?!” Paduka Seribu Masalah ulangi pertanyaan.

“Aku memberi tanda pada kelima anakku! Jadi meski aku tidak pernah bertemu, aku bisa mengenali mereka!”

Belum sampai ucapan Bidadari Tujuh Langit selesai, Paduka Seribu Masalah putar duduknya menghadap Bidadari Delapan Samudera. Si gadis jadi terkejut dan makin berdebar.

“Gadis cantik baju biru! Selama ini kau mencari seseorang yang bisa membuka rahasia hidupmu. Kau tidak keberatan jika Bidadari Tujuh Langit....”

“Aku tidak sudi!” Bidadari Delapan Samudera sudah menukas. “Bukan dia yang bisa membuka rahasia hidupku! Tapi manusia berjubah hitam itu!” Tangan Bidadari Delapan Samudera menunjuk lurus pada Datuk Kala Sutera.

Paduka Seribu Masalah putar duduknya. Lalu berucap lagi. “Gadis baju hijau bernama Bidadari Pedang Cinta. Dan kau gadis baju ungu bernama Dayang Tiga Purnama… Apakah kalian....”

Hanya sampai disitu ucapan yang terdengar dari Paduka Seribu Masalah. Karena hampir bersamaan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama sudah buka mulut.

“Aku tak akan pernah percaya kalau dia adalah manusia yang melahirkanku!” kata Bidadari Pedang Cinta.

“Bukti apa pun yang akan diucapkan, aku tak akan pernah mau mengakui dia sebagai seorang ibu!” timpal Dayang Tiga Purnama.

Paduka Seribu Masalah gerak-gerakkan kepalanya di belakang rangkapan kedua kakinya. Lalu putar duduknya menghadap Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Namun belum sampai dia perdengarkan suara, Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana sudah mendahului.

“Dia bukan saja tak layak dipanggil ibu. Tapi mampus pun sebenarnya masih tidak pantas!” kata Galuh Sembilan Gerhana.

“Bagi dia seharusnya malu untuk mencari anak- anaknya!” sahut Galuh Empat Cakrawala.

“Aku tanya sekali lagi. Apakah mereka anak-anakku?!” tanya Bidadari Tujuh Langit sambil arahkan pandang matanya pada Paduka Seribu Masalah.

“Sebenarnya aku takut untuk mengatakannya. Tapi....”

“Aku tak ingin dengar alasan!”

“Mereka memang anak-anak yang pernah kau lahirkan!”

Tampang Bidadari Tujuh Langit berubah. Dia mendongak dengan perdengarkan gumaman tak jelas. Sementara semua orang di tempat itu terdiam tak ada yang buka suara atau membuat gerakan. Namun keheningan itu hanya beberapa saat. Karena tiba-tiba murid Pendeta Sinting yang sedari tadi diam simak perbincangan orang membuat gerakan berkelebat ke arah Pedang Keabadian.

Nenek Selir hanya bisa berteriak marah karena terlambat untuk membuat gerakan menghadang. Sementara Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera buru-buru sentakkan tangan masing-masing. Dua jengkal lagi tangan kanan Joko menyentuh kotak kuning berukir berisi Pedang Keabadian, mendadak terdengar deruan gelombang angin dari arah samping. Pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera langsung ambyar di tengah jalan tanpa perdengarkan ledakan! Sementara sosok murid Pendeta Sinting langsung terjengkang dan bergulingan di atas tanah!

Semua orang terkesiap kaget. Semua kepala berpaling ke arah sumber datangnya gelombang yang mampu membuat buyar pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera serta membikin sosok murid Pendeta Sinting terjengkang bergulingan. Namun semua orang jadi terlengak kaget. Karena mereka tidak melihat siapa-siapa!

“Jahanam! Jangan-jangan ini ulah manusia bangsat Wang Su Ji! Bukankah Paduka Seribu Masalah mengatakan dia tidak berada jauh dari tempat ini?!”

Nenek Selir menduga-duga. Dia pentang mata besar-besar lalu memandang liar ke arah sumber datangnya gelombang angin. Tapi dia tetap tidak melihat siapa-siapa?

Selagi semua orang terkesima begitu rupa, Bidadari Tujuh Langit tidak buang kesempatan. Dia cepat melompat ke arah kotak kuning. Datuk Kala Sutera tampaknya sudah bisa membaca gelagat. Hingga begitu Bidadari Tujuh Langit melompat, pemuda berjubah hitam ini segera pula berkelebat memotong.

Bukk! Bukk!

Kedua kaki Bidadari Tujuh Langit berbenturan dengan sepasang kaki Datuk Kala Sutera. Sosok Bidadari Tujuh Langit langsung terjungkal roboh tidak jauh dari kotak kuning berukir. Sementara Datuk Kala Sutera terbanting menghantam tanah dua tombak dari sosok Bidadari Tujuh Langit. Mungkin karena khawatir Bidadari Tujuh Langit segera menyambar kotak kuning di sebelahnya, Datuk Kala Sutera segera bangkit. Sekali berkelebat, sosoknya sudah berada di hadapan Bidadari Tujuh Langit dengan kaki kanan membuat sapuan menendang!

"Wuutt!" Satu sinar hijau berkiblat ganas menyongsong kepala Bidadari Tujuh Langit yang berusaha bergerak.

Bidadari Tujuh Langit tersentak kaget. Terlambat baginya untuk angkat kaki kiri menghadang tendangan kaki kanan sang Datuk. Tapi perempuan ini berpikir cepat. Dia segera ulurkan tangan kanan ke arah gagang pedang pada kotak berukir yang menancap di atas tanah. Walau sadar dirinya tidak mampu menahan hawa dingin pada kotak kuning dan belum tahu mengapa pada salah satu sisi kotak terdapat gagang pedang, namun sang Bidadari tampaknya maklum kalau kotak itu mengandung kekuatan. Hingga dengan salurkan hawa saktinya, dia teruskan gerakan tangan ke arah gagang pedang. Untuk sesaat hawa dingin memang menyelimuti tangannya. Namun Bidadari Tujuh Langit kuatkan diri. Dengan berteriak dia sentakkan tangannya ke atas.

"Wuutt!" Terdengar suara berdesing. Tangan kanan Bidadari Tujuh Langit terangkat ke udara. Semua orang di tempat itu tercengang melihat bagaimana ternyata tangan kanan Bidadari Tujuh Langit sudah memegang sebuah pedang putih berkilat!

Begitu tangannya terangkat, mendadak Bidadari Tujuh Langit berteriak lagi. Karena dia merasakan sekujur tubuhnya sudah regang kaku tak bisa digerakkan. Di lain pihak, Datuk Kala Sutera sempat terkesiap karena bersamaan dengan terhunusnya pedang, dia merasakan sosoknya tersapu mental. Hingga tendangan kaki kanannya bukan saja tertahan diudara, namun juga tersurut.

Datuk Kala Sutera lipat gandakan tenaga dalam. Dia makin khawatir apalagi melihat Bidadari Tujuh Langit sudah memegang pedang. Hingga sambil lipat gandakan tenaga dalam, dia kembali sentakkan kaki kanannya. Karena merasa sekujur tubuhnya tegang kaku tak bisa digerakkan, sementara tendangan kaki sang Datuk makin dekat, akhirnya tanpa banyak pikir lagi Bidadari Tujuh Langit babatkan pedang di tangan kanannya seraya dilepas.

"Praass!"

Datuk Kala Sutera menjerit seakan merobek langit. Sosoknya terhuyung ke belakang dengan bertumpu pada satu kaki. Karena kaki kanannya telah terputus sebatas pergelangan dan kucurkan darah. Pedang putih meluncur dan menancap di atas tanah. Sementara Bidadari Tujuh Langit terbanting lagi menghantam tanah. Tapi bersamaan dengan itu hawa dingin yang sesaat tadi membuat sekujur tubuhnya kaku sirna seketika.

Datuk Kala Sutera memandang sesaat pada pergelangan kakinya. Lalu beralih pada putusan kakinya yang tergeletak tidak jauh dari menancapnya pedang. Saat berikutnya mendadak pemuda berjubah hitam ini melompat ke arah pedang putih berkilat. Begitu tangan kanannya berhasil memegang gagang pedang, Datuk Kala Sutera cepat kerahkan hawa sakti untuk menahan hawa dingin. Lalu dengan bentakan garang dia sentakkan tangan kanannya.

"Wuutt!" Pedang putih tercabut dari tanah terangkat ke udara perdengarkan desingan tajam.

Bidadari Tujuh Langit berpaling. Namun tiba-tiba matanya membeliak. Darahnya laksana sirap melihat bagaimana sekonyong-konyong Datuk Kala Sutera tahu-tahu sudah gerakkan tangan kanannya yang memegang pedang ke arah kaki kirinya yang mengenakan cincin berwarna merah dari Sepasang Cincin Keabadian! Dalam kagetnya, Bidadari Tujuh Langit masih sempat lepas pukulan ke arah Datuk Kala Sutera dengan sentakkan kedua tangan.

Dess! Craass!

Datuk Kala Sutera terpental dengan mulut perdengarkan seruan dan hamburkan darah. Karena pukulan Bidadari Tujuh Langit tepat menghantam sosoknya. Di lain pihak, Bidadari Tujuh Langit tercengang dalam beberapa saat. Namun saat lain perempuan ini menjerit tinggi. Ketika pukulan Bidadari Tujuh Langit tepat menghantam sosok Datuk Kala Sutera, pemuda berjubah hitam ini cepat sentakkan pedang di tangan kanannya. Walau sosoknya sempat terpental, hebatnya pedang putih berkilat di tangannya terus menderu.

Bidadari Tujuh Langit memang sempat sentakkan kaki kirinya untuk menghindari luncuran pedang. Tapi luncuran pedang itu lebih cepat gerakannya. Hingga meski Bidadari Tujuh Langit sudah sekuat tenaga hindarkan kaki kirinya, namun tak urung pedang itu masih mampu membabat dan tepat membelah setengah telapak kaki Bidadari Tujuh Langit!

Beberapa orang di tempat itu, terlebih murid Pendeta Sinting, sesaat tadi memang sudah hendak membuat gerakan melerai. Tapi karena cepatnya peristiwa, dan karena khawatir dengan pedang yang telah berada di tangan orang, Joko jadi urungkan niat.

Sementara melihat apa yang terjadi, Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala sama-sama membuat isyarat. Dendam dalam diri kedua gadis ini memang sudah tak bisa ditahan lagi. Hingga begitu melihat kesempatan, keduanya segera saling memberi isyarat. Kejap lain keduanya melompat ke arah Bidadari Tujuh Langit. Saat bersamaan, Bidadari Delapan Samudera yang mendapat pesan dari gurunya agar membunuh Datuk Kala Sutera tidak lama menunggu. Dia segera pula berkelebat ke arah sang Datuk.

“Harap tidak ada yang membuat gerakan!” Mendadak terdengar orang bersuara. Lalu dua gelombang menghampar. Satu menghantam pada sosok Bidadari Tujuh Langit. Satu lagi menyapu ke arah sosok Datuk Kala Sutera.

Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala serta Bidadari Delapan Samudera tidak ada yang hiraukan seruan orang. Ketiganya teruskan gerakan meski saat itu mereka tahu ada dua gelombang yang tengah memotong gerakan mereka dan menghantam ke arah sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

Beberapa langkah lagi Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala sampai di hadapan sosok Bidadari Tujuh Langit dan Bidadari Delapan Semudera mencapai sosok Datuk Kala Sutera, tiba-tiba ketiga gadis ini berseru tegang. Sosok ketiganya mental balik lalu sama jatuh terduduk di atas tanah tersambar dua gelombang yang tengah menyapu ke arah Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kata Sutera!

Saat lain sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera terpelanting ke udara. Lalu secara aneh mendadak sosok keduanya tersapu ke arah satu jurusan sebelum akhirnya jatuh punggung diatas tanah saling berdampingan!

TUJUH

Anehnya, semua orang di tempat itu tidak langsung in- gin tahu siapa gerangan orang yang baru saja perdengarkan suara dan jelas baru saja lepas dua gelombang angin aneh yang membuat sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera jatuh berdampingan di seberang depan. Sebaliknya semua mata terpaku pada sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera yang dengan sekuat tenaga berusaha bangkit duduk.

“Gila! Apa mataku tidak salah lihat?!” Nenek Selir pentangkan mata lalu kucek-kucek matanya dengan tangan kanan yang tidak menggenggam pedang. Saat lain kembali memelototi sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

“Heran! Apa yang terjadi dengan mereka?!” Joko ikut bergumam. Lalu sapukan pandangan pada semua orang di tempat itu.

“Mereka juga tampak terkejut! Berarti mataku tidak menipu! Mereka juga melihat perubahan itu!”

Di seberang depan, begitu berhasil duduk, Bidadari Tujuh Langit segera berpaling. Dia sudah akan buka mulut. Namun tiba-tiba mulutnya terkancing kembali. Sepasang matanya melotot pada sosok Datuk Kala Sutera. Di sebelahnya, sang Datuk segera pula menoleh begitu mampu bergerak duduk. Seperti halnya Bidadari Tujuh Langit, pemuda berjubah hitam ini buru-buru urungkan niat untuk buka mulut. Sebaliknya memandang lekat-lekat pada sosok Bidadari Tujuh Langit.

Secara aneh, dalam pandangan orang-orang di tempat itu, baik sosok Bidadari Tujuh Langit maupun sosok Datuk Kala Sutera perlahan-lahan berubah. Rambut hitam lebat milik kedua orang ini berubah menjadi hitam bercampur putih. Lalu kulit sekujur tubuh keduanya juga berubah berkerut-kerut. Dan hanya beberapa saat, sosok keduanya telah menjadi seorang laki-laki dan perempuan paruh baya!

“Aneh.... Mengapa dia berubah?!” Bidadari Tujuh Langit sempat menduga-duga.

“Tapi mengapa dia memandangku begitu rupa?! Jangan- jangan ada yang....” Sang Bidadari tidak lanjutkan gumamannya. Sebaliknya alihkan pandang matanya ke arah dirinya sendiri.

Saat yang sama Datuk Kala Sutera juga memperhatikan dirinya. Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama-sama berseru tegang. Keduanya hampir saja terlonjak jika saja tidak terdengar satu suara.

“Bidadari Tujuh Langit! Datuk Kala Sutera! Harap kalian tidak terkejut! Lebih lagi kuharap kalian masih mengenaliku!”

Satu sosok bayangan putih berkelebat dari arah mana tadi dua gelombang menyapu sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Lalu satu sosok tubuh tahu-tahu telah duduk berselonjor kaki sepuluh langkah di hadapan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

Paduka Seribu Masalah renggangkan rangkapan kedua kakinya. Sementara semua orang di tempat itu segera alihkan pandang mata masing-masing pada orang yang baru muncul. Mereka melihat seorang nenek berambut putih mengenakan pakaian putih. Kedua kakinya yang berselonjor tampak terputus hingga nenek ini tidak memiliki telapak kaki.

“Kau tahu siapa nenek itu?!” Putri Pusar Bumi berbisik pada iblis Pedang Kasih.

Yang ditanya geleng kepala. “Aku tidak pernah bertemu dengan nenek itu! Mungkin sahabat kita Paduka Seribu Masalah bisa mengenalinya!”

Baru saja Iblis Pedang Kasih berucap begitu, nenek berambut putih yang duduk berselonjor kaki berpaling pada Putri Pusar Bumi. Bibirnya tersenyum. Lalu terdengar dia berucap. “Kita memang belum pernah bertemu. Tapi aku mungkin bisa mengenalimu. Bukankah kau Putri Pusar Bumi?!”

Belum sampai Putri Pusar Bumi menyahut, si nenek berambut putih sudah alihkan pandangannya pada Iblis Pedang Kasih seraya berkata. “Dan kau, bukankah Iblis Pedang Kasih...?!”

Lagi-lagi belum sampai yang disapa angkat bicara, si nenek sudah beralih memandang pada Paduka Seribu Masalah sambil sambungucapannya. “Paduka Seribu Masalah.. Senang bisa Jumpa denganmu lagi. Maaf kalau aku tadi menyela pembicaraanmu!”

“Siapa dia?!” Iblis Pedang Kasih berbisik pada Paduka Seribu Masalah.

“Jangan bertanya... Aku tidak berani memberi keterangan!”

Tanpa menunggu sahutan, si nenek segera gerakkan kepala. Kini pandangan matanya tertuju pada sosok Pendekar 131. “Kuharap kau betah berada di negeri ini untuk sementara waktu, Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng... Walau kau harus menghadapi kenyataan yang mungkin belum kau mengerti....”

Murid Pendeta Sinting tersentak kaget mendapati orang telah tahu siapa dirinya. Hingga begitu si nenek selesai berucap, Joko buru-buru menjura hormat seraya berkata. “Terima kasih kau telah mengenaliku. Namun kuharap kau tidak keberatan untuk mengatakan siapa dirimu....”

“Permintaanmu akan kupenuhi. Tapi bukan sekarang! Nanti kau akan tahu sendiri!” kata nenek berselonjor kaki seraya berpaling pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

“Sialan! Siapa nenek putih tak punya telapak kaki ini! Dia seolah memandang sebelah mata padaku!” Nenek Selir mendesis sendirian karena merasa tidak disapa oleh orang. “Jangan-jangan dia simpanan Wang Su Ji! Dia cemburu padaku lalu....”

Nenek Selir menyeringai. Saat lain dia edarkan pandangan berkeliling lalu terhenti pada tempat dimana nenek yang berselonjor kaki tadi melesat keluar. Karena tidak juga melihat tanda-tanda adanya orang, Nenek Selir tampaknya tidak sabar. Dia segera berkelebat lalu tegak tidak jauh dari nenek yang duduk selonjorkan kaki.

“Nenek Selir.... Ada apa?!”

Nenek Selir terperanjat mendapati nenek yang berselonjor kaki langsung bertanya dan dapat mengenali siapa adanya si nenek berselempang kain hitamini. “Kurang ajar betul! Dia juga telah mengenaliku! Pasti jahanam laki-laki itu yang memberi tahu!” desis Nenek Selir dengan mata melotot. Lalu buka mulut dengan suara keras membahana. “Kau siapa, hah?!”

“Mungkin kedua orang itu nanti bisa menjawab pertanyaanmu!”

“Aku ingin tahu dari mulutmu sendiri! Bukan dari mereka!”

“Ah.... Sudahlah.... Tidak ada untungnya kita berdebat. Hanya kuharap kau tidak segera pergi dari tempat ini!”

“Jangan memberi aturan padaku! Pergi atau tidak, itu urusanku!”

Nenek berambut putih yang duduk berselonjor tersenyum. “Nenek Selir.... Kuminta waktu padamu. Aku ingin bicara dulu dengan kedua orang itu!”

Tanpa menunggu lagi, si nenek berambut putih berbaju putih sambungi ucapannya ditujukan pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. “Bagaimana?! Kalian masih mengenaliku?!”

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera memandang tanpa ada yang buka suara. Sebaliknya kedua orang ini membuat gerakan untuk bangkit berdiri meski mereka tahu jika salah satu kaki mereka telah putus dan kucurkan darah. Tapi kedua orang ini jadi terkesiap mendapati bukan saja mereka tidak mampu untuk bergerak bangkit, namun juga tidak kuasa untuk alihkan pandang matanya dari sosok perempuan tua berambut putih yang duduk selonjorkan kaki!

“Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera! Kalian tidak akan mampu bergerak bangkit jika belum jawab pertanyaanku!” Berkata nenek berambut putih.

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tersentak diam. Namun diam-diam keduanya sama kerahkan tenaga dalam. Si nenek berambut putih tersenyum seraya gelengkan kepala.

“Kalian telah terluka seperti yang kualami enam belas tahun silam.... Kalian ingat?!”

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tercengang. Bukan hanya karena ucapan orang, namun juga ternyata keduanya tidak mampu bergerak walau mereka telah kerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki!

“Siapa kau sebenarnya?!” tanya Bidadari Tujuh Langit dengan suara serak parau.

“Malam itu kalian datang ke sebuah pulau sepi. Kalian menginginkan sesuatu yang semestinya bukan menjadi hak seorang manusia! Kalian ingin tetap hidup dengan tubuh tidak berubah selamanya....”

Nenek yang duduk selonjorkan kaki hentikan ucapannya sesaat. Lalu dongakkan kepala. Di depannya, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera kernyitkan dahi masing-masing dengan mulut terbuka menganga tanpa perdengarkan suara.

“Malam itu...,” kata si nenek berambut putih berucap lagi. “Dengan licik kalian telah menipu seseorang dan bertindak jahat padanya hanya gara-gara kalian menginginkan benda berupa sepasang cincin... Peristiwa itu terjadi enam belas tahun silam....”

“Dewi Keabadian!” hampir bersamaan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera bergumam.

“Syukur kalian masih mengingatnya... Sekarang kuharap kalian juga ingat siapa orang yang ada di samping kalian masing-masing....”

Entah karena apa, walau sebenarnya tidak ingin membuat gerakan, namun seakan ada kekuatan dahsyat, kepala Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama berpaling saling berhadapan!

Sementara mendengar gumaman Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera yang mengucapkan nama si nenek, Nenek Selir tersurut kaget hingga melotot besar pandangi sosok orang di sampingnya lekat-lekat. Di lain pihak, Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih saling berpandangan. Pendekar 131 ikut-ikutan terkejut lalu ikut pula arahkan matanya pada sosok nenek yang duduk berselonjor kaki.

Di depan, tiba-tiba baik Bidadari Tujuh Langit maupun Datuk Kala Sutera seakan tersadar dari lamunan panjang. Secara aneh, mereka mendadak dapat mengenali siapa adanya orang di hadapannya!

“Bidadari Tujuh Langit istriku...,” desis Datuk Kala Sutera dengan suara seakan tercekat di tenggorokan.

“Kau.... Datuk Kala Sutera...!” gumam Bidadari Tujuh Langit setengah berbisik.

Seakan lupa pada keadaan masing-masing, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera bergerak hendak julurkan tangan. Namun keduanya tercengang ketika menyadari tangan mereka tak bisa digerakkan!

“Apa yang terjadi dengan diriku?!” gumam Bidadari Tujuh Langit seraya berpaling pada nenek yang duduk berselonjor kaki dan bukan lain memang Dewi Keabadian. Sementara Datuk Kala Sutera tergagu heran lalu perlahan-lahan arahkan pandang matanya pula pada Dewi Keabadian.

“Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera. Aku datang hanya untuk memperingatkan! Bahwa sebagai manusia biasa, tidak layak untuk minta sesuatu yang bukan menjadi haknya! Keabadian hanya berhak dimiliki yang Maha Abadi! Dan kalaupun ada Sepasang Cincin Keabadian yang memang mampu membuat si pemakainya terlihat tetap awet muda dan tidak berubah, itu hanyalah bersifat sementara. Pada saatnya, si pemakai itu akan menuruti kodratnya untuk kembali kehadapan Sang Pencipta dengan apa pun jalannya! Dan satu hal lagi.... Setiap perbuatan, kelak pasti akan menumbuhkan hasil!”

Dewi Keabadian hentikan ucapannya sejenak. Lalu tarik kedua kakinya dan ditekuk membuat sikap seperti orang duduk bersila. Saat kemudian kembali dia berkata. “Pada satu malam enam belas tahun silam, kalian berdua telah memotong kedua kakiku untuk mengambil Sepasang Cincin Keabadian. Hari ini, kalian berdua mendapat hasil apa yang telah kalian lakukan padaku! Mudah-mudahan hal ini bisa kalian jadikan satu pelajaran berharga! Masih banyak waktu bagi kalian untuk menebus segala yang telah kalian lakukan!”

Seperti diketahui, pada enam belas tahun silam, Bidadari Tujuh Langit bersama suaminya Datuk Kala Sutera secara licik telah memotong kedua kaki Dewi Keabadian karena keduanya menginginkan Sepasang Cincin Keabadian yang dikenakan pada ibu jari kedua kaki sang Dewi. Begitu kedua kaki Dewi Keabadian putus, dan Sepasang Cincin Keabadian berpindah ke ibu jari kaki Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera, sosok Dewi Keabadian yang sebelumnya terlihat cantik jelita berubah menjadi sosok seorang nenek-nenek.

Tapi sebelum Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera berkelebat pergi, tiba-tiba kedua orang ini secara aneh tidak mampu meneruskan gerakan. Inilah kehebatan Dewi Keabadian. Dia mampu mengerahkan tenaga dalam untuk membuat sosok orang tidak mampu bergerak. Dan saat itulah Dewi Keabadian mengucapkan kata-kata jika suatu saat kelak Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera akan mengalami nasib yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan pada sang Dewi. Dan lebih dari itu, keduanya akan berubah! Mereka tidak akan saling mengenali satu sama lain! Bahkan mereka tidak akan mengenali siapa anak-anak mereka!

“Dewi.... Harap....”

“Bidadari Tujuh Langit!” Dewi Keabadian menukas ucapan Bidadari Tujuh Langit. “Tidak perlu kau mengucapkan kata maaf! Semuanya sudah terjadi...!”

Habis berkata begitu, Dewi Keabadian putar diri. Saat lain dia berkelebat ke arah potongan telapak kaki kiri Bidadari Tujuh Langit dan pergelangan kaki kanan Datuk Kala Sutera yang masih tergeletak di atas tanah. Begitu potongan kedua kaki itu berada di tangan, Dewi Keabadian segera lepaskan cincin berwarna merah pada ibu jari potongan kaki kiri Bidadari Tujuh Langit dan cincin berwarna hijau pada ibu jari potongan kaki kanan Datuk Kala Sutera. Saat kemudian sang Dewi mengenakan kedua cincin yang dikenal dengan Sepasang Cincin Keabadian itu pada ibu jari kedua tangannya sambil duduk bersila.

Begitu Sepasang Cincin Keabadian masuk pada kedua ibu jari tangan Dewi Keabadian, secara perlahan-lahan sosok sang Dewi berubah. Rambutnya yang putih berubah jadi hitam lebat. Kulitnya yang pucat keriput menjadi putih kencang. Hingga dalam beberapa saat saja sosoknya yang tadi seperti nenek-nenek telah berganti menjadi sosok gadis muda berparas cantik jelita!

Semua orang di tempat itu sempat terlengak. Dan belum sampai ada yang buka suara, Dewi Keabadian telah putar duduknya menghadap murid Pendeta Sinting dan berkata.

“Pendekar 131! Kutitipkan Pedang Keabadian padamu!”

“Dewi... Rasanya aku tak sanggup!” Pendekar 131 segera menyahut ingat jika dia tidak mampu menahan hawa dingin yang dipancarkan Pedang Keabadian. Dewi Keabadian tersenyum. Tiba-tiba dia angkat kedua tangannya lalu didorong ke arah Joko!

DELAPAN

Karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang, Pendekar 131 sempat terkejut dan cepat-cepat berkelebat hindarkan diri, walau dari dorongan kedua tangan Dewi Keabadian tidak terdengar adanya deruan atau berkiblatnya gelombang angin. Namun belum sampai Joko bergerak lebih jauh, dia merasakan sekujur tubuhnya tegang kaku tak bisa digerakkan! Saat bersamaan dia merasakan aliran hawa dingin menusuk hingga untuk beberapa saat sosok murid Pendeta Sinting menggigil dan terhuyung-huyung. Di seberang depan, Dewi Keabadian tarik pulang kedua tangannya. Hawa dingin dan huyungan sosok Pendekar 131 terhenti seketika.

“Ambil pedang itu, Pendekar 131!” Dewi Keabadian berucap.

Joko menghela napas. Matanya memandang beberapa saat dengan pandangan bimbang. Tapi dia merasakan satu keanehan. Mendadak ada satu dorongan yang membuat kedua kakinya bergerak melangkah meski sebenarnya dia belum berniat untuk bertindak!

“Ambil pedang itu, Pendekar 131!” Kembali Dewi Keabadian berkata saat langkah-langkah Joko mendekati Pedang Keabadian yang masih berada di atas tanah.

Apa yang dilakukan sang Dewi membuat Joko sadar jika perempuan itu tidak berniat jahat. Maka dengan tangan sedikit bergetar, Joko bungkukkan tubuh. Lalu perlahan-lahan tangan kanannya dijulurkan ke arah pedang. Sesaat murid Pendeta Sinting masih terlihat ragu-ragu, khawatir masih belum mampu untuk kuasai hawa dingin yang memancar dari Pedang Keabadian. Hingga dia diam-diam kerahkan hawa sakti untuk menahan hawa dingin. Lalu teruskan gerakan tangan kanan. Ketika tangan kanannya menyentuh Pedang Keabadian, sesaat hawa dingin memang masih terasa menjalar pada tangannya. Namun cuma sekejap.

Saat lain Joko sudah tidak lagi merasakan hawa dingin. Hingga dengan tenang Joko mengambil Pedang Keabadian. Lalu melangkah ke arah kotak kuning berukir yang masuk amblas ke dalam tanah tidak jauh dari tergeletaknya Pedang Keabadian. Kotak kuning berukir dicabut dengan tangan kiri. Lalu perlahan-lahan ujung Pedang Keabadian dimasukkan ke dalam lobang yang ada pada salah satu sisi kotak kuning berukir. Untuk beberapa saat semua mata yang ada di tempat itu memandang tak berkesip. Mereka seolah hampir tak percaya jika kotak berukir yang hanya dua jengkal itu mampu menahan panjangnya tubuh pedang.

Begitu ujung pedang sudah masuk, Dewi Keabadian arahkan pandang matanya pada Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih, dan Paduka Seribu Masalah yang tetap duduk rangkapkan kaki.

“Sahabat sekalian. Sebenarnya aku masih ingin berbincang dengan kalian. Namun rasanya waktunya kurang baik. Mudah-mudahan kita kelak akan dipertemukan lagi!”

Habis berucap begitu, Dewi Keabadian putar pandangan ke arah sosok Nenek Selir dan berkata. “Nenek Selir... Maaf kalau aku tidak bisa membicarakan urusanmu. Tapi aku percaya. Apa yang selama ini menjadi ganjalan hidupmu akan segera berakhir!”

Sebenarnya si nenek akan buka mulut. Namun sebelum suaranya terdengar, Dewi Keabadian sudah putar duduknya menghadap Pendekar 131 dan berucap.

“Pendekar 131! Sekali lagi kutitipkan Pedang Keabadian padamu! Pergunakan pedang itu sebagaimana mestinya! Ingat... Pedang itu hanya titipan... Mungkin satu hari kelak pedang itu harus rela kau serahkan pada orang lain!”

Joko anggukkan kepala. “Terima kasih, Dewi....”

Dewi Keabadian tersenyum. Lalu putar pandangan berkeliling ke arah Galuh Sembilan Gerhana, Galuh Empat Cakrawala, Bidadari Pedang Cinta, Bidadari Delapan Samudera, dan Dayang Tiga Purnama.

“Gadis-gadis cantik... Aku tidak bisa memberikan penjelasan panjang lebar. Aku hanya berpesan agar kalian mau menerima suratan kenyataan ini dengan lapang dada dan tabah! Kalian tidak bersalah dalam hal ini! Dan kalian harap menerima apa adanya Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera! Siapa pun mereka adanya, apa pun yang mereka lakukan, terimalah mereka sebagai manusia yang telah melahirkan kalian berlima!”

Dewi Keabadian rangkapkan kedua tangannya. Lalu edarkan pandangan sekali lagi pada semua orang yang ada di tempat itu. “Aku harus segera pergi....”

“Tunggu!” Nenek Selir menahan seraya melompat ke hadapan Dewi Keabadian.

“Nenek Selir!” Dewi Keabadian sudah mendahului berkata sebelum si nenek sempat angkat suara. Siapa yang kau cari tidak jauh dari tempat ini! Percayalah dia akan muncul menemuimu dan menyelesaikan urusannya! Hanya satu hal yang dapat kukatakan. Jangan terburu mengambil keputusan! Karena kau masih ada hubungannya dengan peristiwa di tempat ini!”

Si nenek tersentak kaget. “Apa hubungannya?!”

“Orang yang selama ini kau cari ada di tempat ini!”

“Aku sudah tahu! Aku sudah mencium bau bangkainya!” sahut Nenek Selir.

Dewi Keabadian geleng kepala. “Maksudku bukan orang yang selama ini kau cari untuk membalas dendam. Tapi darah dagingmu sendiri yang hilang dari tanganmu pada beberapa puluh tahun silam!”

Nenek Selir tegak dengan sosok bergetar dan mulut ternganga. Tanpa sadar sepasang matanya liar mengedar berkeliling. “Yang dimaksud perempuan ini pasti anakku! Tapi yangbmana...?! Menurut ucapannya, kelima gadis di tempat ini adalah anak-anak Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Sementara sudah tidak ada perempuan lain yang sepertinya pantas menjadi anakku!” Diam-diam Nenek Selir membatin. Saat itulah pandang matanya tertumbuk pada sosok Bidadari Tujuh Langit. Dada si nenek jadi berdebar tidak enak.

“Mungkinkah...? Mungkinkah dia?! Tapi tak mungkin....” Kepala si nenek bergerak menggeleng. Lalu berpaling pada Dewi Keabadian dan berkata dengan suara tersendat parau. “Dewi.... Kalau yang kau maksud ucapanmu adalah anakku, harap tunjuk yang mana!”

Dewi Keabadian gelengkan kepala. “Sebagai orang yang telah melahirkan, firasatmu sudah dapat menebak. Lain daripada itu, kau tentu memiliki sesuatu yang tidak bisa kau lupakan dari darah daging yang telah kau lahirkan!”

Habis berkata begitu, Dewi Keabadian membuat gerakan memutar duduknya. Mula-mula pelan. Namun makin lama putaran tubuhnya makin kencang hingga hanya beberapa saat sosoknya hanya merupakan putaran bayang-bayang. Kejap lain bayangan sosok Dewi Keabadian melesat dan lenyap dari tempat itu!

“Sialan betul! Dia tinggalkan tempat ini dengan menggantung masalah! Tapi aku memang memiliki sesuatu yang tak bisa kulupakan dari tubuh anakku!” desis Nenek Selir seraya memperhatikan kelebatan sosok bayangan Dewi Keabadian.

Hanya beberapa saat setelah lenyapnya sosok bayangan Dewi Keabadian, mendadak Putri Pusar Bumi angkat suara seraya arahkan pandangan pada Dayang Tiga Purnama.

“Cucuku.... Kau telah dengar sendiri ucapan Dewi Keabadian! Sekali lagi kuharap kau mau menerima kenyataan ini! Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera adalah orangtuamu! Enam belas tahun silam aku mengambilmu dari Lima Istana Bidadari, tempat tinggal kedua orangtuamu!”

“Cucuku Bidadari Pedang Cinta....” Kali ini Iblis Pedang Kasih yang menyahut seraya arahkan matanya pada Bidadari Pedang Cinta.

“Enam belas tahun lalu, aku juga mengambilmu dari Istana Lima Bidadari! Jadi terimalah Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sebagai kedua orang yang telah melahirkanmu ke atas dunia!”

Dayang Tiga Purnama dan Bidadari Pedang Cinta sama berpaling pada Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih. Lalu saling berpandangan satu sama lain. Mereka berdua seolah masih belum percaya dengan keterangan Dewi Keabadian dan ucapan yang baru didengarnya. Kedua gadis ini seakan masih tak mau bergeming dengan kenyataan dihadapan mereka apalagi jika ingat akan tindakan Bidadari Tujuh Langit yang pernah hendak melakukan tindakan tidak senonoh pada mereka.

Sementara diseberang depan, begitu sosok bayangan Dewi Keabadian lenyap, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama arahkan pandang mata masing-masing pada kelima gadis yang berada di tempat itu. Lalu begitu mendengar ucapan Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih, keduanya serta merta arahkan pandang mata masing-masing pada Dayang Tiga Purnama dan Bidadari Pedang Cinta. Bidadari Tujuh Langit menghela napas panjang. Lalu terdengar dia berucap.

“Bidadari Pedang Cinta... Dayang Tiga Purnama... Dari keterangan Dewi Keabadian dan Putri Pusar Bumi serta Iblis Pedang Kasih, aku percaya jika kalian berdua adalah dua dari kelima anakku... Tapi percayalah! Aku tidak merasa kecewa jika kalian berdua tidak mau mengakui aku dan Datuk Kala Sutera sebagai orangtuamu! Karena kami berdua memang tidak pantas dikatakan sebagai orangtua!” Bidadari Tujuh Langit hentikan ucapannya. Sepasang matanya terlihat berkaca-kaca.

“Aku dan Datuk Kala Sutera tidak akan ingkari kenyataan! Kami berdua memang telah bertindak licik dan jahat! Kami berdua terlalu serakah untuk mencari sesuatu yang memang bukan semestinya menjadi hak kami! Hingga akibatnya bukan saja kami berdua yang harus menanggung akibatnya, tapi kalian berdua juga harus menerima pahitnya... Kuharap kalian berdua mau memaafkan kami....”

Habis berkata begitu, Bidadari Tujuh Langit mendongak. Kedua bahunya tampak berguncang keras. Lalu terdengar isakannya. Saat kemudian dia luruskan kepala memandang silih berganti pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Tanpa pedulikan kaki kirinya yang kucurkan darah dan luka dalam yang dideritanya, perempuan yang kini telah berubah menjadi sosok seorang wanita paruh baya ini bergerak merangkak ke arah Bidadari Pedang Cinta. Anehnya, kalau sesaat tadi dia laksana tegang kaku tak bisa bergerak saat Dewi Keabadian berkata, kini dia kembali dapat menggerakkan anggota tubuhnya!

Semua orang yang ada di tempat itu tegak tanpa ada yang buka suara atau membuat gerakan. Mata mereka tertuju pada gerakan Bidadari Tujuh Langit yang terus merangkak perlahan-lahan ke arah Bidadari Pedang Cinta. Begitu lima tindakan di hadapan Bidadari Pedang Cinta, mendadak Bidadari Tujuh Langit melompat lalu jatuhkan diri di kaki Bidadari Pedang Cinta.

“Anakku....” Suara Bidadari Tujuh Langit laksana tenggelam dalam isakan tangisnya. Kedua tangannya pegangi pergelangan kedua kaki Bidadari Pedang Cinta. “Terakhir kalinya aku minta maaf padamu... Karena setelah ini kematian adalah hal terbaik yang akan kuambil.... Manusia sepertiku tidak layak lagi berada di atas dunia apalagi harus berhadapan dengan anak-anak yang kulahirkan tapi harus menerima derita sengsara akibat ulahku... Aku malu dengan apa yang pernah kulakukan padamu... Aku sekarang pasrahkan diri padamu... Seandainya kau mau, aku minta tanganmulah yang mengakhiri hidupku agar terlepas beban deritaku ini...”

Bidadari Pedang Cinta mula-mula tidak bergeming dengan ucapan Bidadari Tujuh Langit. Malah gadis ini sempat hendak lepaskan dan tarik mundur kedua kakinya yang dipegang Bidadari Tujuh Langit.

“Anakku... Kedua tanganku memang sudah tak pantas membelaimu... Tapi izinkanlah untuk terakhir kalinya aku memegang kedua kakimu...” Bidadari Tujuh Langit eratkan pegangannya pada kedua pergelangan kaki Bidadari Pedang Cinta. Saat kemudian dia sorongkan wajahnya lalu menciumi kedua kaki Bidadari Pedang Cinta dengan hamburkan tangis.

Bagaimanapun tegar dan kokohnya hati Bidadari Pedang Cinta, melihat apa yang dilakukan Bidadari Tujuh Langit, perlahan-lahan hati gadis ini luluh juga. Dia tengadahkan kepala dengan mata dipejamkan. Lalu tekuk kedua kakinya dan bergerak melorot ke bawah dengan bahu berguncang dan sosok bergetar menahan tangis. Bidadari Pedang Cinta ulurkan kedua tangannya mengambil kepala Bidadari Tujuh Langit lalu diangkat tengadah. Saat kemudian dia bungkukkan wajah lalu menciumi wajah Bidadari Tujuh Langit dengan mata berlinang dan berkata terisak.

“Ibu....” Hanya itu suara yang terdengar dari mulut Bidadari Pedang Cinta meski sebenarnya mulutnya masih terbuka hendak mengucapkan kata-kata selanjutnya.

Melihat apa yang terjadi, tampaknya Dayang Tiga Purnama tak bisa menahan diri. Dia berlari menghampiri Bidadari Tujuh Langit yang masih saling berciuman dengan Bidadari Pedang Cinta. Lalu ikut jatuhkan diri dan berkata.

“Ibu... Aku mohon maaf... Aku...” Belum sampai suaranya berlanjut, tangisnya sudah menghambur.

Bidadari Tujuh Langit tarik pulang wajahnya dari wajah Bidadari Pedang Cinta. Lalu berpaling pada Dayang Tiga Purnama. Saat kemudian kedua orang ini sudah saling berpelukan dengan terisak-isak tanpa ada yang sempat buka suara.

Ketika Bidadari Tujuh Langit dan Dayang Tiga Purnama saling berpelukan, di seberang sana Datuk Kala Sutera tampak mendongak dengan sosok bergetar. Sepasang matanya terpejam rapat. Walau laki-laki ini tidak perdengarkan tangisan, tapi sikapnya jelas jika dia tengah menahan diri. Kejap lain pemuda berjubah hitam yang kini telah berubah menjadi laki-laki paruh baya ini luruskan kepalanya memandang ke arah Bidadari Tujuh Langit. Lalu perlahan-lahan menoleh pada Bidadari Delapan Samudera yang tegak dengan menghela napas panjang berulangkali.

Tanpa buka mulut, Datuk Kala Sutera membuat gerakan seperti orang hendak merangkak. Lalu bergerak ke arah Bi- dadari Delapan Samudera. Namun baru mendapat beberapa langkah, Bidadari Delapan Samudera sudah berkelebat menghambur ke arah Datuk Kala Sutera dan tegak dua langkah di hadapannya dengan mata berkaca-kaca dan bahu berguncang keras.

“Anakku....” Datuk Kala Sutera sekuat tenaga coba buka mulut seraya duduk tatapi sosok Bidadari Delapan Samudera. “Kau menginginkan nyawaku bukan?! Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan!” Datuk Kala Sutera pejamkan sepasang matanya. “Dosa yang kulakukan telah melampaui batas... Aku bu-lkan saja telah membuatmu menderita. Namun juga telah membunuh orang yang mengasuhmu... Pantas kalau tanganmulah yang berhak untuk menghabisiku...”

Bidadari Delapan Samudera gelengkan kepala. Mulutnya sudah terbuka. Namun justru bukan suara yang kemudian terdengar sebaliknya isakan tangis. Lalu kejap lain Bidadari Delapan Samudera sudah menghambur ke arah Datuk Kala Sutera dan merangkulnya dengan berbisik.

“Ayah....” Bidadari Delapan Samudera tak kuasa lanjutkan ucapan.

Sementara Datuk Kala Sutera perlahan-lahan buka sepasang matanya. Melihat Bidadari Delapan Samudera telah rangkul tubuhnya, laki-laki ini tak mampu lagi menahan diri. Sepasang matanya berlinang dengan kedua tangan bergerak membalas rangkulan Bidadari Delapan Samudera.

“Terima kasih kau masih mau menyebutku sebagai Ayah meski sebenarnya hal itu tak pantas kuterima dan keluar dari mulutmu....”

“Ayah... Jangan ucapkan kata-kata itu lagi... Sekarang kau harus menemui Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama...”

Habis berbisik begitu, tiba-tiba Bidadari Delapan Samudera bergerak bangkit. Saat kemudian dia angkat sosok Datuk Kala Sutera. Lalu perlahan-lahan dia melangkah ke arah bidadari Tujuh Langit yang masih berpelukan dengan Dayang Tiga Purnama. Belum sampai langkah Bidadari Delapan Samudera mendekati tempat Bidadari Tujuh Langit, Bidadari Pedang Cinta sudah berpaling. Kejap lain gadis berbaju hijau ini bangkit lalu menghambur menyongsong sosok Datuk Kala Sutera yang berada dalam bopongan Bidadari Delapan Samudera.

Saat kemudian terdengar lagi isakan tangis Bidadari Pedang Cinta begitu dia merangkul sosok Datuk Kala Sutera yang sudah didudukkan oleh Bidadari Delapan Samudera. Bidadari Tujuh Langit dan Dayang Tiga Purnama cepat menoleh. Melihat apa yang terjadi, kedua orang segera lepaskan pelukan masing-masing lalu laksana terbang. Dayang Tiga Purnama sudah melompat dan ikut memeluk sosok Datuk Kala Sutera. Sementara Bidadari Tujuh Langit merangkak menghampiri. Begitu dekat, Bidadari Delapan Samudera segera menyongsong lalu memeluk Bidadari Tujuh Langit. Hingga untuk beberapa saat tempat itu hanya dipenuhi dengan suara isakan tangis.

Agak jauh di sebelah samping, Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala pandang berlama-lama tanpa ada yang buka mulut. Mereka berdua seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengar. Hingga pada satu saat, Galuh Sembilan Gerhana berbisik pada Galuh Empat Cakrawala.

“Rasanya aku belum percaya dengan kejadian ini! Mungkinkah benar?!”

“Jangan bertanya padaku... Aku sendiri masih tak bisa membayangkan... Bagaimana sikap kita seandainya dia benar-benar orangtua kita?! Padahal...” Galuh Empat Cakrawala tak mampu lanjutkan gumaman. Sebaliknya berpaling ke jurusan lain dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat bagaimana dia telah diperlakukan secara tidak senonoh oleh Bidadari Tujuh Langit.

“Tidak!!!” Tiba-tiba Galuh Empat Cakrawala berteriak histeris. Kedua tangannya diangkat ditakupkan pada wajahnya.

Teriakan Galuh Empat Cakrawala membuat Bidadari Tujuh Langit lepaskan pelukan dari Bidadari Delapan Samu- dera. Lalu berpaling pada Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana. Sosok Bidadari Tujuh Langit terlihat bergetar hebat. Dia seolah tahu apa yang dirasakan Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Hingga setelah memejamkan sepasang matanya, dia merangkak mendekati kedua gadis itu.

“Galuh Empat Cakrawala... Galuh Sembilan Gerhana... Tak ada ucapan yang pantas kalian dengar dari mulutku... Bahkan tidak ada maaf yang layak kalian berikan padaku...”

Bidadari Tujuh Langit angkat kedua tangannya begitu berhenti tiga langkah di hadapan Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Sepasang matanya dibuka lalu memandang beberapa saat silih berganti pada kedua gadis dihadapannya.

“Galuh Sembilan Gerhana... Galuh Empat Cakrawala... Aku memang telah bertindak yang mungkin tidak bisa dimaafkan! Tapi kuharap kalian tidak segan mengakui Datuk Kala Sutera sebagai ayah kalian...” Habis berucap begitu, mendadak Bidadari Tujuh Langit hantamkan kedua tangannya ke arah kepalanya!

“Ibu!” Bidadari Delapan Samudera berteriak seraya melompat dan menahan gerakan kedua tangan Bidadari Tujuh Langit yang hendak menghantam kepalanya sendiri.

“Anakku Bidadari Delapan Samudera...,” ucap Bidadari Tujuh Langit seraya pandangi sosok Bidadari Delapan Samudera yang tegak disampingnya. Kepalanya menggeleng. “Aku malu dengan apa yang telah kulakukan pada keduanya... Aku... Aku...”

Bidadari Tujuh Langit tidak mampu lagi lanjutkan ucapan. Sebaliknya coba gerakkan lagi kedua tangannya yang ditahan Bidadari Delapan Samudera.

“Galuh Sembilan Gerhana... Galuh Empat Cakrawala...” Berkata Bidadari Delapan Samudera dengan suara setengah berbisik. “Kalau kalian masih mau mengakui aku sebagai saudara, kuharap kalian mau menerimanya sebagai Ibu, meski apa pun tindakan yang telah dilakukannya pada kalian...”

Galuh Empat Cakrawala berpaling dengan mata berkaca-kaca dan dipentang besar-besar. Lalu melangkah satu tindak menghampiri Bidadari Tujuh Langit.

SEMBILAN

“Kau bisa berkata begitu karena kau tidak merasakan derita aib yang telah kualami!” Galuh Empat Cakrawala berteriak seraya menunjuk pada Bidadari Delapan Samudera.

“Anakku Bidadari Delapan Samudera... Apa yang diucapkannya memang benar. Aku telah melakukan tindakan hitam yang rasanya sulit untuk dihapus! Begitu hitamnya tindakan yang telah kulakukan, ucapan pembelaan pun rasanya sudah tidak pada tempatnya lagi! Semua sudah telanjur terjadi... Dan ini semua memang karena aku sudah tenggelam dalam angkara nafsu. Sebenarnya aku ingin hidup lebih lama lagi apalagi aku telah menemukan kembali apa yang sudah hilang dari tanganku enam belas tahun lamanya. Namun kalau tewas lebih diinginkan oleh Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana, aku dengan senang hati akan menyerahkan diri pada mereka... Aku maklum, tewasnya diriku mungkin belum sebanding dengan aib yang telah kucorengkan. Tapi di atas semua itu, aku masih bersyukur. Karena pada akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan anak-anakku...”

Bidadari Tujuh Langit arahkan pandang matanya pada Galuh Empat Cakrawala yang tegak dua tindak dihadapannya. “Galuh Empat Cakrawala... Aku siap menghadapi apa yang akan kau lakukan... Ayo, lakukanlah anakku... Mampus di tanganmu kurasa lebih baik...” Bidadari Tujuh Langit tersenyum seraya anggukkan kepala.

Bidadari Pedang Cinta, Dayang Tiga Purnama, dan Datuk Kala Sutera saling lepaskan rangkulan. Lalu memandang pada Bidadari Tujuh Langit dan Galuh Empat Cakrawala. Sementara semua orang ditempat itu juga sama tujukan pandangan ke satu arah dengan dada berdebar.

“Galuh Empat Cakrawala... Harap kau tidak bimbang, Percayalah, kau tidak salah jika membunuhku... Lakukanlah, Nak...”

Galuh Empat Cakrawala gigit bibirnya sendiri. Sosoknya bergetar. Dia pandangi lekat-lekat sosok Bidadari Tujuh Langit. Sementara Galuh Sembilan Gerhana dan Bidadari Delapan Samudera saling pandang.

“Anakku... Sekiranya...” Hanya sampai disitu ucapan Bidadari Tujuh Langit. Karena mendadak saja Galuh Empat Cakrawala melompat ke hadapan Bidadari Tujuh Langit dan memeluk tubuhnya dengan tangis melengking.

Sesaat tadi Bidadari Delapan Samudera sempat membuat gerakan berjaga-jaga takut Galuh Empat Cakrawala turunkan tangan kasar lakukan ucapan Bidadari Tujuh Langit. Dia lepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menahan kedua tangan Bidadari Tujuh Langit. Lalu diam-diam kerahkan tenaga dalam untuk menghadapi segala kemungkinan. Tapi begitu mendapati apa yang dilakukan Galuh Empat Cakrawala, Bidadari Delapan Samudera cepat surutkan langkah satu tindak dengan mata berlinang. Sementara Galuh Sembilan Gerhana segera berlari lalu ikut memeluk sosok Bidadari Tujuh Langit! Untuk beberapa saat kembali tempat itu dipecah dengan isak tangis dan helaan-helaan napas panjang.

“Anak-anakku... Mari kita bergabung dengan mereka...” Datuk Kala Sutera berbisik pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama.

Tanpa perdengarkan sahutan, Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama segera membopong sosok Datuk Kala Sutera lalu melangkah mendekati Bidadari Tujuh Langit yang tengah bertangis-tangisan dengan Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana.

“Terima kasih, Anak-anakku...” Bidadari Tujuh Langit berucap dengan suara tersendat serak. “Di akhir usiaku ini, aku ingin menghabiskan dengan mensucikan diri dan merawat kalian... Aku ingin menebus apa yang selama ini tidak kulakukan sebagai seorang ibu...”

“Dan sejak hari ini, kuharap tidak ada lagi kata berpisah diantara kita!” Tiba-tiba Datuk Kala Sutera yang sudah tidak jauh dari Bidadari Tujuh Langit menyahut.

Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala berpaling. Saat berikutnya kedua gadis ini bangkit lalu menghampiri Datuk Kala Sutera. Sang Datuk tersenyum seraya lebarkan kedua tangannya.bGaluh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala bungkukkan tubuh lalu keduanya masuk dalam rengkuhan kedua tangan Datuk Kala Sutera tanpa ada yang buka suara.

*******************

Yang paling resah dan gelisah melihat pemandangan bertemunya anak dan orangtua itu adalah Nenek Selir. Sedari tadi sepasang matanya terus memperhatikan sosok Bidadari Tujuh Langit. Namun beberapa kali kepala nenek ini membuat gerakan menggeleng. Lalu saat lain bergumam tak jelas. Saat itulah ekor mata Nenek Selir menangkap gerakan satu sosok tubuh keluar dari balik rumpun bambu. Hanya dengan ekor mata, tampaknya si nenek sudah bisa menebak siapa gerangan adanya sosok yang muncul. Laksana orang kalap, sambil berteriak tinggi Nenek Selir melompat dan menghadang gerakan orang yang baru muncul.

Teriakan si nenek membuat Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana lepaskan pelukannya pada sosok Datuk Kala Sutera. Saat bersamaan, semua mata berpaling pada sosok yang baru muncul. Dia adalah seorang kakek berambut putih mengenakan jubah tanpa lengan berwarna abu-abu.

“Bagus! Tampaknya kau bukan laki-laki pengecut yang takut unjuk tampang!” Nenek Selir membentak. Tangan kirinya yang masih memegang pedang diangkat keudara. Sementara tangan kanannya diletakkan di atas pinggang dengan mata membeliak angker.

“Sahabatku Nenek Selir... Kau ingat ucapan Dewi Keabadian?! Aku takut untuk mengulanginya. Tapi rasanya kau masih tidak lupa...” Paduka Seribu Masalah angkat suara.

Nenek Selir mendengus lalu tanpa berpaling ke arah Paduka Seribu Masalah, dia berteriak. “Jangan ada yang berani buka suara ikut campur! Dan jangan mimpi aku percaya membabi buta dengan ucapan keterangan orang! Di tempat ini tidak ada urusan yang ada hubungannya dengan masalahku! Kalaupun ada, itu adalah urusan selembar nyawa manusia bangsat ini!”

Pedang di tangan Nenek Selir bergerak lurus menunjuk ke arah wajah laki-laki berjubah abu-abu tanpa lengan yang bukan lain adalah Wang Su Ji alias Manusia Tanah Merah, kekasih Nenek Selir semasa masih muda. Paduka Seribu Masalah perdengarkan tawa pendek lalu berucap.

“Sahabatku Nenek Selir... Percaya membabi-buta memang tidak baik. Tapi tidak ada salahnya kalau kau membuktikan dahulu... Siapa tahu kau menemukan satu kebenaran!”

“Apa yang perlu dibuktikan, hah?!” bentak Nenek Selir seraya sentakkan wajah berpaling ke arah Paduka Seribu Masalah.

“Aku tak berani mengatakannya. Karena kau tentu sudah tahu apa yang seharusnya kau buktikan!”

“Tidak ada yang perlu dibuktikan di tempat ini! Tidak ada manusia yang layak mendapat pembuktian di tempat ini! Kaudengar?!”

“Tapi....”

“Sialan! Kau pikir di tempat ini ada makhluk yang dikatakan Dewi sialan tadi?! Coba tunjuk! Yang mana?! Yang mana?! Dia..?!” Tangan kiri Nenek Selir yang memegang pedang bergerak memutar menunjuk lurus ke arah Putri Pusar Bumi seraya perdengarkan cekikikan. Lalu sambungi ucapannya.

“Kau kira dia pantas menjadi anakku, hah...?! Coba angkat kepalamu dari belakang rangkapan kedua kakimu! Lalu lihat baik-baik! Apa kesamaan antara aku dengan dia?! Wajahnya...?! Gumpalan dagingnya?! Atau potongan tubuhnya?!”

“Yu Sin Yin...” Manusia Tanah Merah buka mulut dengan suara pelan. “Aku telah dengar apa yang diucapkan Dewi Keabadian. Harap maafkan aku kalau aku sendiri tidak tahu bagaimana mengenali anak yang kau lahirkan meski itu adalah darah dagingku. Karena aku tidak menyaksikannya saat kau melahirkan.... Jadi kuharap....”

“Tutup mulutmu, Wang Su Ji! Urusanmu denganku adalah masalah nyawa!Bukan masalah anak yang kulahirkan!”

“Seperti sudah kukatakan, aku memang bersalah padamu... Tapi kau harus sadar, bagaimanapun juga yang kau lahirkan adalah anakku!”

“Hem.... Begitu kau sudah tidak laku lagi, lalu kau merengek-rengek padaku dengan alasan anak! Jangan mimpi! Jangan berharap!”

“Jangan salah duga, Yu Sin Yin... Kalaupun aku berharap bisa bertemu dengan anak kita, hal itu karena aku ingin menebus kesalahanku... Aku akan minta maaf... Setelah itu mati pun aku akan tenang.”

“Kau terlalu bermimpi, Wang Su Ji!” Nenek Selir putar arah pedangnya pada sosok Wang Su Ji alias Manusia Tanah Merah.

Di lain pihak, entah karena apa Manusia Tanah Merah tenang-tenang saja menghadapi acungan pedang Nenek Selir. Bahkan kakek ini hanya memandang sekilas. Lalu arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit.

“Hem.... Pandanglah sepuasmu perempuan itu! Karena hari ini terakhir kalinya kau dapat memandang perempuan cantik!”

“Ah... Ah... Tampaknya dia masih cemburu! Hik Hik Hik...!” Tiba-tiba Putri Pusar Bumi angkat suara seraya tertawa cekikikan.

Tampang Nenek Selir berubah merah mengelam. Sepasang matanya mendelik. Namun sebelum nenek ini sempat buka mulut, Paduka Seribu Masalah perdengarkan suara.

“Sahabatku Nenek Selir... Sebenarnya aku takut untuk berkata. Tapi demi mendengar keterangan Dewi Keabadian, aku percaya di tempat ini ada seseorang yang selama ini kau cari!”

“Jahanam! Sedari tadi kau hanya bicara tapi tak mau tunjuk orang!” bentak Nenek Selir.

“Sahabatku... Seandainya aku tunjuk orang, kau mau percaya?!”

Nenek Selir terdiam dengan dada berdebar. Entah karena apa mendadak dia ikut arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit yang saat itu duduk di antara Bidadari Delapan Samudera, serta Bidadari Pedang Cinta, dan Dayang Tiga Purnama.

Bidadari Tujuh Langit tampak tersentak kaget mendengar ucapan Paduka Seribu Masalah serta mendapati tatapan Manusia Tanah Merah dan Nenek Selir. Dia balas menatap silih berganti pada Manusia Tanah Merah dan Nenek Selir dengan menghela napas panjang.

“Bidadari Tujuh Langit!” Mendadak Nenek Selir berucap dengan suara lantang. “Siapa kau sebenarnya?!”

Yang ditanya berpaling sesaat pada anak-anaknya. Lalu berucap pelan. “Apa maksudmu, Nek?!”

“Bodoh! Aku tanya siapa kau sebenarnya?! Dari mana asal-usulmu! Siapa orangtuamu!”

SEPULUH

Bidadari Tujuh Langit terdiam beberapa saat dengan kepala ditengadahkan. Lalu berucap dengan suara agak parau. “Waktu masih kecil aku hidup bersama seorang laki-laki tua dan seorang nenek. Pada mulanya aku menduga mereka berdua adalah orangtuaku. Tapi begitu si laki-laki akan meninggalkan dunia, dia sempat memberi tahu kalau sebenarnya diriku bukanlah anak kandungnya....”

Bidadari Tujuh Langit hentikan ucapan dengan kepala diluruskan dan pandang matanya menerawang jauh. Saat kemudian dia lanjutkan ucapannya. “Aku berusaha bertanya pada nenek. Tapi aku tidak memperoleh jawaban pasti. Dia tidak tahu-menahu soal diriku. Yang jelas ketika suaminya pulang, dia telah membawaku. Sang suami mengatakan aku adalah anak dari sahabatnya! Aku telah berusaha mencari tahu. Namun hingga aku besar, aku tidak mampu menyingkap siapa kedua orangtuaku sebenarnya....”

Nenek Selir tampak tercekat diam dengan mata melotot tak berkesip. Dada nenek ini laksana dihimpit beban berat hingga untuk beberapa lama dia tak kuasa buka mulut meski mulutnya telah terbuka hendak berucap.

“Yu Sin Yin....” Manusia Tanah Merah berkata pada Nenek Selir dengan menyebut nama asli si nenek. “Bukankah kau bisa mengenali anakmu?!”

Nenek Selir berpaling pada Manusia Tanah Merah. Untuk beberapa lama kedua orang tua ini saling perang pandang. Dendam yang sudah tertanam di dasar hati si nenek memang sukar dihapus begitu saja. Namun entah mengapa, begitu agak lama saling berpandangan, perlahan-lahan hati si nenek berubah. Malah kejap lain dia berpaling dengan bahu sedikit terguncang.

Manusia Tanah Merah memberanikan diri melangkah mendekati. Dan begitu mendapati si nenek tidak buka mulut atau membuat gerakan, Manusia Tanah Merah pegang lengan kanan Nenek Selir seraya berkata.

“Yu Sin Yin.... Kau jangan merasa bersalah dalam hal ini. Semuanya adalah berpulang pada diriku! Akulah yang harus menanggung semua dosa ini! Sekarang harap kau tidak keberatan untuk membuktikan siapa sebenarnya Bidadari Tujuh Langit... Kau tidak menolak permintaanku, bukan...?! Percayalah. Setelah kita tahu siapa anak kita, aku akan menepati ucapanku rela mati ditanganmu...”

Nenek Selir menghela napas panjang. Perlahan dia luruhkan pegangan tangan Manusia Tanah Merah. Lalu melangkah ke arah Bidadari Tujuh Langit yang duduk dengan sosok bergetar.

“Bidadari Tujuh Langit..,” kata Nenek Selir begitu tegak hanya beberapa langkah di hadapan Bidadari Tujuh Langit. “Kau tidak keberatan kalau aku....”

“Nenek Selir...” ujar Bidadari Tujuh Langit sebelum si nenek selesaikan ucapan. “Aku telah menemukan anak-anakku dengan bantuan beberapa orang. Sekarang aku tidak akan keberatan untuk membantumu! Katakan apa yang akan kau lakukan....”

“Berbaliklah! Lalu singkapkan rambutmu hingga tengkukmu kelihatan!”

Bidadari Tujuh Langit anggukkan kepala. Tanpa buka mulut dia putar diri. Kedua tangannya diangkat kebelakang lalu sibakkan uraian rambutnya yang telah memutih hingga tengkuknya kelihatan. Sepasang mata si nenek tampak membeliak besar begitu melihat tepat pada tengkuk Bidadari Tujuh Langit sebuah lingkaran hitam menyerupai tahi lalat.

“Aku tidak akan pernah lupa! Anakku memiliki tanda lingkaran hitam pada tengkuknya! Jadi...” Sosok Nenek Selir bergetar. Kedua lututnya goyah. Pedang di tangan kirinya perlahan-lahan jatuh ke atas tanah. Saat bersamaan dia melompat ke arah Bidadari Tujuh Langit.

“Aku percaya... Aku percaya... Kau adalah anakku!” desis Nenek Selir seraya pandangi lingkaran hitam di tengkuk Bidadari Tujuh Langit. Saat kemudian dia ulurkan kedua tangannya membalikkan sosok Bidadari Tujuh Langit.

Begitu Bidadari Tujuh Langit berputar menghadap si nenek, Nenek Selir segera saja merangkulnya lalu menciumi dengan tangis meledak! “Anakku... Maafkan aku yang selama ini tidak...”

Bidadari Tujuh Langit tercekat dengan kedua tangan membalas pelukan tangan si nenek. “Tak ada yang harus dimaafkan, Ibu...” Akhirnya Bidadari Tujuh Langit berhasil buka suara. Sepasang matanya berlinang. “Kalau anak-anakku mau mengakui dan memaafkan aku, mengapa aku tidak melakukan hal yang sama pada dirimu?”

Melihat apa yang terjadi, Manusia Tanah Merah tegak termangu dengan mulut terkancing. Dia seolah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga pada akhirnya Nenek Selir berpaling seraya berkata.

“Wang Su Ji.... Mengapa kau masih tegak seperti patung?!”

Manusia Tanah Merah usap mukanya. Lalu perlahan melangkah mendekat. Namun belum sampai ke hadapan Nenek Selir yang masih memeluk Bidadari Tujuh Langit, Bidadari Pedang Cinta, Dayang Tiga Purnama, dan Bidadari Delapan Samudera sudah mendahului menghambur menyongsong Manusia Tanah Merah lalu sama berebutan memeluk.

“Kek...!” Hampir bersamaan ketiga gadis itu berucap.

Manusia Tanah Merah tak kuasa lagi menahan gejolak dadanya. Seraya membelai rambut ketiga gadis yang memeluknya, kakek ini tersedu-sedu seraya berucap. “Cucu-cucuku.... Aku tak tahu harus berkata apa atas pengakuan kalian ini....”

“Galuh Sembilan Gerhana, Galuh Empat Cakrawala...” Datuk Kala Sutera berkata pada kedua gadis yang berada di sampingnya. “Kau juga adalah cucu kakek itu....”

Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala segera bergerak bangkit. Lalu berlari dan ikut menghambur dalam pelukan Manusia TanahMerah. Begitu Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala menghambur ke arah Manusia Tanah Merah, Datuk Kala Sutera perlahan-lahan seret dirinya dengan duduk ke arah Bidadari Tujuh Langit. Lalu jatuhkan diri berlutut dihadapan Nenek Selir.

“Ibu... Aku juga minta maaf... Terimalah juga salam hormatku...”

Nenek Selir berpaling dengan anggukkan kepala. Lalu pegangi bahu Datuk Kala Sutera dan membantunya untuk bergerak angkat wajahnya. "Menantuku... Jangan ucapkan permintaan maaf. Diri kita semua memiliki andil dosa dalam hal ini...”

Bidadari Tujuh Langit ikut menoleh pada Datuk Kala Sutera. Keduanya sesaat saling pandang. Lalu secara bersamaan tangan keduanya bergerak dan saling genggam dengan mata sama linangkan air mata.

“Bidadari Tujuh Langit... Mari kita sambut Ayah kita...,” kata Datuk Kala Sutera. Bidadari Tujuh Langit tersenyum dengan anggukkan kepala. Saat kemudian, masih dengan berpegangan tangan, kedua orang ini bergerak seret diri masing-masing ke arah Manusia Tanah Merah.

“Cucu-cucuku... Aku harus menemui ibu dan ayahmu dahulu...” Manusia Tanah Merah berbisik begitu melihat Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera bergerak ke arahnya.

Kelima gadis yang tengah merangkul sosok Manusia Tanah Merah sama lepaskan pelukan masing-masing. Saat kemudian Manusia Tanah Merah melompat ke hadapan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Lalu memeluk keduanya. Mungkin gembira dan haru, ketiga orang itu tidak ada yang sempat buka suara. Ketiganya hanya berpelukan dengan sama terisak-isak. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba terdengar orang bersuara.

“Nenek... Mulai saat ini kuharap tidak ada lagi kebencian di hatimu pada Kakek! Dan kami semua ingin lihat kalian berdua saling berpelukan...” Yang bersuara adalah Bidadari Delapan Samudera.

“Aku tak mau!” Nenek Selir menyahut dengan tampang merah padam dan cemberut.

“Cucu-cucuku... Harap jangan terlalu banyak meminta pada nenekmu... Semua kejadian ini berpangkal pada diriku yang tidak menghiraukan Nenek dan Ibu kalian. Pengakuan kalian semua pada diriku sudah merupakan sesuatu yang lebih. Dan dengan peristiwa ini, rasanya mati pun aku tersenyum. Dan tak ada yang lebih berhak atas nyawaku selain nenekmu...”

Berkata Manusia Tanah Merah seraya lepaskan pelukan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Lalu perlahan-lahan melangkah ke arah Nenek Selir. Manusia Tanah Merah berhenti tiga langkah dihadapan si nenek. Dia memandang sesaat lalu menunduk dan berkata.

“Yu Sin Yin... Tuhan telah memberiku lebih dari apa yang selama ini selalu kuminta... Seperti ucapanku, sekarang aku pasrahkan diri ini padamu...”

Nenek Selir menatap tajam. Dia tidak menyahut ucapan orang. Lalu alihkan pandangannya pada Bidadari Tujuh Langit dan kelima cucunya.

“Sahabat sekalian... Apa yang selama ini tertutup sudah terbuka jelas. Rasanya kurang bijaksana kalau semua ini masih harus dicampuri dengan balas dendam dan kesombongan diri... Bukankah lebih baik kita melupakan apa yang telah terjadi dan menebus semuanya dengan hidup berdampingan secara damai? Kita semua tidak tahu kapan datangnya ajal. Sebelum hal itu terjadi, kurasa tidak ada yang lebih baik daripada saling memaafkan....” Paduka Seribu Masalah perdengarkan suara.

“Nek... Harap tidak usah malu-malu... Kalau seandainya kakek di depanmu harus mati, aku yakin kau akan terus tersiksa seumur-umur...” Pendekar 131 yang sedari tadi hanya diam ikut buka suara.

“Lagi pula rasanya tidak mungkin orang akan menemukan cinta di kala usia sudah bau tanah begitu rupa! Hik Hik Hik...! Jika kesempatan ini disia-siakan, hanya ada satu kemungkinan yang terjadi...” Putri Pusar Bumi menyahut.

“Betul!” Joko kembali buka mulut menimpali. “Kemungkinannya adalah pasti sudah ada orang ketiga yang menunggu dengan membawakan sekeranjang cinta... Cuma aku tidak begitu yakin. Masalahnya, kakek-kakek yang jatuh cinta biasanya hanya mencari sesuatu! Lebih dari itu, aku khawatir. Seandainya kakek yang menunggu Nenek Selir tahu bagaimana paras kelima cucunya, jangan-jangan dia nanti berpaling....”

Nenek Selir berpaling dengan pasang tampang angker. “Kau pikir aku punya laki-laki lain, hah?!”

“Kalau tidak, mengapa kau tidak memaafkan sahabatku itu?!” Iblis Pedang Kasih berujar.

“Siapa tidak memaafkan?!” Si nenek balik bertanya.

“Nah, apa lagi yang kau tunggu Kakek Manusia Tanah Merah?!” Joko menyahut.

Manusia Tanah Merah melirik ke arah murid Pendeta Sinting. Lalu perlahan bergerak mendekati Nenek Selir. Yang didekati alihkan pandangan ke jurusan lain dengan wajah berubah. Manusia Tanah Merah berbisik seraya pegang kedua lengan si nenek. “Yu Sin Yin... Terima kasih kau mau memaafkan diriku...”

Nenek Selir tidak menjawab. Namun sikapnya jelas kalau dia sudah mampu melupakan perasaan dendam kesumatnya yang telah mendera dirinya selama berpuluh-puluh tahun. “Wan Su Ji! Jangan berbuat memalukan di depan orang!” Tiba-tiba Nenek Selir mendesis tajam begitu merasakan wajah Manusia Tanah Merah mendekati wajahnya.

“Ah... Ah... Tampaknya kita tidak jadi melihat adegan seru....” Putri Pusar Bumi berteriak lalu tertawa cekikikan hingga gumpalan daging pada wajah dan perutnya berguncang-guncang.

“Ah, Itu karena di sini banyak mata yang melihat. Kelak kalau sudah berduaan, aku percaya, bukan si kakek yang mendekat tapi si nenek yang minta!” Joko menimpali lalu ikut tertawa.

“Sialan! Kau kira aku masih memimpikan hal-hal begitu, hah?!” Nenek Selir membentak sambil luruhkan kedua tangan Manusia Tanah Merah yang memegangi bahunya.

“Ah Sudahlah... Apa yang nanti akan dilakukan keduanya, itu menjadi urusan mereka! Yang jelas urusan di tempat ini kurasa sudah selesai! Dan tiba waktunya aku mohon diri!” Paduka Seribu Masalah buka suara. Lalu putar duduknya menghadap murid Pendeta Sinting dan berkata.

“Pendekar 131! Sampaikan salam perkenalanku pada semua sahabat di negeri asalmu. Kalau nanti ada waktu dan takdir menuliskan, bukan tak mungkin kita akan bertemu lagi....”

“Paduka Seribu Masalah... Sebenarnya aku ingin mengajakmu sekarang juga! Aku bukan saja mempunyai banyak kenalan sahabat. Tapi juga memiliki beberapa nenek-nenek yang wajahnya masih sedap untuk dilihat! Bodi yang layak untuk memikat!”

“Terima kasih, Anak Muda... Sebenarnya itu tawaran bagus. Tapi aku masih punya pekerjaan. Jadi untuk sementara waktu aku harus menunggu hingga saat yang baik untuk berkunjung ke negeri asalmu!”

Habis berucap begitu, Paduka Seribu Masalah putar duduknya. “Sahabat sekalian. Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal...” Paduka Seribu Masalah membuat satu kali gerakan. Sosoknya melesat dengan masih duduk rangkapkan kaki tinggalkan tempat itu.

Hanya sesaat setelah Paduka Seribu Masalah berlalu, Putri Pusar Bumi buka mulut seraya memandang pada Dayang Tiga Purnama. “Cucuku Dayang Tiga Purnama... Hari ini kau telah menemukan apa yang selama ini kau cari. Dengan begitu tugasku telah selesai....”

“Eyang...!” Dayang Tiga Purnama yang selama ini menjadi murid dan diasuh oleh Putri Pusar Bumi berlari mendekati. “Sebenarnya....”

“Aku tahu....” Putri Pusar Bumi sudah memotong ucapan Dayang Tiga Purnama. “Sekarang yang penting kau telah bertemu dengan kedua orangtua dan kakek nenekmu. Jangan terburu mengambil keputusan... Dan kalaupun kau ingin bertemu denganku, kau tahu di mana dapat menemuiku...”

Dayang Tiga Purnama anggukkan kepala. “Eyang... Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Setelah aku menghabiskan hari bersama kedua orangtua, nenek-kakek, dan saudara-saudaraku, aku akan datang menemuimu...”

Putri Pusar Bumi anggukkan kepala. Lalu berpaling pada saudaranya Iblis Pedang Kasih. Saat itulah Bidadari Pedang Cinta berkelebat dan tegak dihadapan Iblis Pedang Kasih seraya berucap.

“Eyang... Kalau kau tidak keberatan, kuharap kau mau ikut bersama kami...”

Iblis Pedang Kasih yang selama ini mengasuh Bidadari Pedang Cinta geleng kepala. “Cucuku Bidadari Pedang Cinta... Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Lagi pula kau telah bertemu dengan orang yang lebih berhak atas dirimu... Aku ikut gembira dengan peristiwa ini meski sebenarnya aku juga berat untuk berpisah denganmu... Jagalah dirimu baik-baik. Dan kalau ada kesempatan, aku akan senang jika kau datang berkunjung ketempatku...”

“Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih... Kuucapkan terima kasih atas semua waktu dan jerih payahmu untuk membesarkan anak-anakku. Jika nanti ada kesempatan, kami semua akan berkunjung ke tempat kalian berdua...” Bidadari Tujuh Langit berucap seraya menjura hormat.

“Aku juga mengucapkan terima kasih!” Nenek Selir menyahut. “Aku berharap kalian berdua cepat dapat pasangan! Untuk sementara waktu sebaiknya kalian berdua menerima tawaran Pendekar 131! Di negeri asing, tentunya kalian akan mudah untuk mendapatkan pasangan! Karena biasanya orang baru akan menjadi pusat perhatian... Apalagi jika kalian bertindak gila-gilaan!”

Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih tertawa. “Aku bukannya unjuk kesombongan. Kalau hanya untuk cari pasangan, tidak usah jauh-jauh harus ke negeri orang. Apalagi ditambah dengan bertindak gila-gilaan! Di sini saja kalau aku mau, banyak kakek-kakek yang antri menunggu jawaban!”

Putri Pusar Bumi berkata. Lalu menoleh pada Iblis Pedang Kasih. “Rasanya waktu kita sudah cukup! Kita harus segera pergi!” Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih sudah putar diri. Namun belum sampai keduanya bergerak lebih jauh, Pendekar 131 berteriak.

“Tunggu!”

Berbarengan Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih berpaling.

“Jangan menawarkan yang tidak-tidak, Sahabat Muda..!” Iblis Pedang Kasih yang angkat suara. “Kalau masalah pasangan, di negeri ini kami berdua sudah banyak yang naksir!”

“Bukan itu masalahnya!” ujar Pendekar 131.

“Lalu?!” tanya Iblis Pedang Kasih.

“Aku datang ke negeri ini tanpa sengaja. Aku belum tahu seluk-beluk negeri ini dengan baik. Jika kalian tidak keberatan, aku minta petunjuk pada kalian untuk memberi keterangan mana jalan yang harus kuambil agar cepat mencapai pesisir!”

“Sayang sekali, Anak Muda.... Bukannya aku tidak mau memberi keterangan. Namun kurasa nantinya ada orang yang lebih berhak memberi petunjuk!” Putri Pusar Bumi menyahut. Lalu melirik pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Saat lain dia menarik tangan Iblis Pedang Kasih dan menyeretnya berkelebat tinggalkan tempat itu.

Begitu sosok Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih tidak kelihatan lagi, Joko arahkan pandang matanya pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Sebenarnya Pendekar 131 hendak berkata. Namun entah karena apa dia batalkan niat untuk buka mulut. Sebaliknya buru-buru balikkan tubuh lalu berkelebat tinggalkan tempat itu tanpa bicara.

“Hai! Kau kira urusanmu di tempat ini sudah selesai, hah?!” Mendadak Nenek Selir berteriak.

Joko tersentak kaget. Lalu putar diri menghadap Nenek Selir dengan tampang berubah heran. “Apa maksudmu, Nek?!” tanya Joko sambil sapukan pandangan berkeliling.

“Kau pura-pura tidak tahu atau pura-pura lupa, hah?!”

“Nek! Bukankah urusanmu dengan kakek itu sudah selesai?! Kurasa di antara kita sudah tidak ada yang perlu diselesaikan! Atau barangkali kau ingin pesan sesuatu padaku?! Maaf, Nek... Bukannya aku tidak mau membawa pesanmu. Aku takut.. Seandainya saja kau masih sendirian, mungkin aku tak segan menawarkan beberapa sahabatku....”

“Sialan! Ini urusanmu!”

“Hah.... Urusan apa, Nek?!”

Nenek Selir tidak menjawab. Sebaliknya berpaling silih berganti pada Bidadari Pedang Cinta dan Bidadari Delapan Samudera serta Dayang Tiga Purnama. Gerakan kepala Nenek Selir membuat Joko tersentak kaget.

“Astaga! Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan persoalan ketiga gadis itu! Ah... Aku harus segera tinggalkan tempat ini! Urusannya akan jadi ruwet dan tak karuan!” Diam-diam Pendekar 131 membatin. Lalu tanpa buka mulut lagi dia berlari tinggalkan tempat itu.

SEBELAS

Sebearnya Nenek Selir sudah hendak berkelebat mengejar. Namun Bidadari Delapan Samudera cepat melompat menghadang di depan si nenek dan berkata.

“Nek.... Aku punya hal yang harus kubicarakan dengan pemuda itu! Harap nenek dan kakek menungguku di tempat ini! Demikian juga Ayah dan Ibu!” Tanpa menunggu sahutan, Bidadari Delapan Samudera sudah berkelebat mengejar ke arah mana Pendekar 131 berlari.

Melihat apa yang dilakukan Bidadari Delapan Samudera, Bidadari Pedang Cinta jadi tidak enak hati. Dia berpaling sesaat pada Nenek Selir dan kedua orang-tuanya. “Aku harus menjelaskan semuanya! Aku tak ingin ada perselisihan!” membatin Bidadari Pedang Cinta. Dia sebenarnya hendak mengutarakan maksudnya pada Dayang Tiga Purnama yang tegak tidak jauh dari tempatnya. Namun setelah dipikir sejenak, gadis berbaju hijau ini urungkan niat. Hingga tanpa buka suara lagi, dia berkelebat mengejar Bidadari Delapan Samudera.

Mendapati kelebatan Bidadari Delapan Samudera dan Bidadari Pedang Cinta, diam-diam Dayang Tiga Purnama ikut-ikutan jadi merasa tidak enak. Hingga tanpa pikir panjang lagi, gadis yang pernah diasuh oleh Putri Pusar Bumi ini ikut berlari mengejar.

“Ada apa ini?!” Manusia Tanah Merah bertanya pada Nenek Selir.

“Sebelum peristiwa ini, aku telah berjumpa dengan mereka. Aku tahu, di antara mereka ada ganjalan hati yang harus diselesaikan! Kalau tidak, bukan tak mungkin nantinya akan menjadi penghalang persaudaraan!"

“Maksudmu?!”

“Bidadari Delapan Samudera dan Bidadari Pedang Cinta serta Dayang Tiga Purnama sama-sama tertarik dengan pemuda asing sialan itu!”

Seperti diketahui, ketika awal berjumpa dengan murid Pendeta Sinting, secara diam-diam Bidadari Pedang Cinta sudah tertarik. Hanya saja karena saat itu dia bersama Iblis Pedang Kasih dan baru saja berkenalan, Bidadari Pedang Cinta tidak berani berterus terang meski sikapnya sudah berubah. Namun begitu terjadi pertemuan dengan Bidadari Delapan Samudera, Bidadari Pedang Cinta salah duga. Dia menduga Bidadari Delapan Samudera adalah kekasih Pendekar 131. Apalagi saat itu Joko mengucapkan kata-kata yang seolah-olah Bidadari Delapan Samudera memang kekasihnya.

Di lain pihak, begitu bertemu dengan Joko, diam-diam Bidadari Delapan Samudera sudah tertarik. Namun begitu mendengar ucapan Joko, Bidadari Delapan Samudera jadi salah tanggap. Dia menyangka Bidadari Pedang Cinta adalah kekasih Joko. Sementara itu, Dayang Tiga Purnama sendiri sebenarnya juga tertarik dengan murid Pendeta Sinting. Hanya saja gadis ini tidak mau menunjukkan sikap. Lain halnya dengan Bidadari Delapan Samudera dan Bidadari Pedang Cinta yang terang-terangan tampak cemburu ketika mengetahui salah satunya berada berdua-duaan dengan Pendekar 131.

“Ibu.... Jika benar keteranganmu, kita harus mengejar mereka! Mereka masih muda. Aku takut terjadi apa-apa... Aku tidak mau pertemuan ini dikacaukan dengan masalah pemuda itu!” Bidadari Tujuh Langit berkata pada Nenek Selir.

Nenek Selir geleng kepala. “Tidak, Anakku.... Kalau kita ikut campur, justru bukan mustahil akan terjadi salah paham! Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka dengan caranya sendiri! Aku percaya. Rasa persaudaraan mereka tentu lebih penting daripada urusan seorang laki-laki!”

“Tapi....”

“Sudahlah, Anakku! Percayalah pada mereka! Kita tunggu mereka di sini!”

Sebenarnya Bidadari Tujuh Langit masih ingin mengejar anak-anak mereka. Sebagai seorang ibu yang baru saja menemukan anak-anaknya, rasa khawatir lebih mendera dadanya. Apalagi dia maklum, anak-anaknya adalah perempuan sementara yang jadi persoalan adalah seorang laki-laki. Dia juga sadar kalau perempuan akan lebih mendahulukan perasaan daripada akal. Namun begitu sadar akan keadaan dirinya yang masih terluka dalam dan telapak kaki kirinya yang terputus separo, Bidadari Tujuh Langit terpaksa harus memendam keinginannya dan akhirnya dengan dada tidak enak dia tetap diam di tempat itu.

Sementara itu, walau yakin Nenek Selir tidak mengejar namun Pendekar 131 tidak mau bertindak ayal. Dia kerahkan segenap ilmu peringan tubuhnya dan berlari sekuat yang diamampu. Pada satu tempat agak sepi jauh dari hutan bambu, ba-ru murid Pendeta Sinting memperlambat larinya setelah berulang kali pulang balikkan kepala menyiasati keadaan. Dan begitu merasa keadaan benar-benar aman, Joko hentikan larinya dan langsung menyelinap sembunyi di balik satu batangan pohon agak besar. Pendekar 131 tengadahkan kepala dengan mata dipejamkan dan kedua tangan mengusap wajah yang basah.

“Aku harus segera ke pesisir! Aku tidak mau lagi terlibat dengan urusan di negeri ini! Apalagi urusannya berkaitan dengan perempuan! Lebih-lebih lagi mereka adalah saudara!”

Baru saja Joko bergumam begitu, mendadak satu sosok tubuh berkelebat dan tegak hanya beberapa langkah di balik mana Joko bersembunyi.

“Pendekar 131! Harap keluar dari balik pohon! Kita perlu bicara!”

Dalam kagetnya, Joko cepat berpaling. Dia melihat Bidadari Delapan Samudera tegak dengan mata memandang jauh ke depan.

“Pendekar 131! Waktuku tidak banyak.... Kau sendiri tentu harus segera tinggalkan tempat ini. Maka kuharap kau segera keluar...!”

Dengan sapukan pandangan berkeliling, perlahan Joko melangkah keluar dari balik pohon. Bidadari Delapan Samudera menoleh. Untuk beberapa saat gadis ini memandang tajam pada murid Pendeta Sinting. Lalu buka mulut dengan suara lirih dan bergetar.

“Pendekar 131... Harap kau memaafkan atas semua sikapku padamu. Terus terang, aku memang tertarik padamu. Tapi aku tidak mau melukai hati saudaraku... Jadi kalaupun kau memang punya hubungan dengan saudaraku, kuharap kau mau menjelaskan bahwa di antara kita tidak ada hubungan apa-apa!”

Bidadari Delapan Samudera masih menduga kalau antara Joko dan Bidadari Pedang Cinta benar-benar ada hubungan kekasih.

“Bidadari Delapan Samudera... Ucapan itu tidak perlu kau katakan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan....”

“Pendekar 131!” Bidadari Delapan Samudera memotong. “Harap tidak menutup-nutupi! Ini demi kedamaian persaudaraanku... Sekali lagi kuharap kau mau mengerti!”

Habis berkata begitu, Bidadari Delapan Samudera berpaling ke belakang. “Aku tahu. Bidadari Pedang Cinta mengejar mengikutiku! Aku harus segera pergi....”

“Pendekar 131! Aku harus segera tinggalkan tempat ini. Sekali lagi kuharap kau turuti permintaanku....” Bidadari Delapan Samudera arahkan pandang matanya pada Joko dengan paksakan diri sunggingkan senyum. Saat lain tanpa buka mulut lagi gadis berbaju biru ini berkelebat tinggalkan tempat itu.

Joko hendak menahan, namun tampaknya dia bisa membaca gelagat kepala Bidadari Delapan Samudera. Hingga dia urungkan niat buru-buru berpaling. Saat itulah dari arah seberang terlihat satu sosok tubuh berlari cepat.

“Bidadari Pedang Cinta...,” gumam Joko mengenali siapa adanya sosok yang berkelebat cepat ke arahnya.

“Pendekar 131!” kata sosok yang baru muncul dan memang Bidadari Pedang Cinta adanya begitu tegak beberapa langkah di hadapan murid Pendeta Sinting. “Kau tentunya sudah tahu apa hubunganku dengan Bidadari Delapan Samudera. Untuk itu aku berharap kau tadi sudah menjelaskan padanya!”

“Bidadari... Sebenarnya tidak ada yang perlu dijelaskan! Dan kuharap kau mau percaya. Aku tidak punya hubungan tertentu dengan Bidadari Delapan Samudera!”

Bidadari Pedang Cinta menghela napas panjang seraya sedikit dongakkan kepala. “Aku tak bisa memastikan apakah ucapannya benar atau tidak! Seandainya saja hal ini tidak berkaitan dengan Bidadari Delapan Samudera yang ternyata adalah saudaraku sendiri... Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Aku memang tertarik pada pemuda ini. Namun daripada nantinya terjadi hal-hal yang kurang enak dengan Bidadari Delapan Samudera, lebih baik aku berusaha melupakannya walau aku perlu waktu...” Diam-diam Bidadari Pedang Cinta berkata sendiri dalam hati. Lalu berkata.

“Pendekar 131.... Apa pun ucapanmu, seandainya kau memang punya hubungan, aku tetap meminta agar kau kelak mau menjelaskan sendiri pada Bidadari Delapan Samudera.”

Mendengar ucapan Bidadari Pedang Cinta, Joko tertawa pelan. “Kau ini aneh... Kelak kapan yang kau maksud?! Kau tahu. Hari ini aku tengah dalam perjalanan pulang kampung!”

Bidadari Pedang Cinta terdiam beberapa lama. Entah apa yang dirasakan gadis ini. Yang jelas dia menghela napas panjang beberapa kali seraya bergumam tak jelas. Dan saat lain tanpa buka suara lagi, gadis yang pernah diambil dari Istana Lima Bidadari oleh Iblis Pedang Kasih ini putar diri lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

Hanya beberapa saat setelah sosok Bidadari Pedang Cin- ta berkelebat, satu sosok tubuh berlari dan tahu-tahu telah tegak di hadapan Joko. “Kau akan segera tinggalkan negeri ini?!” tanya sosok yang baru muncul dan tak lain adalah Dayang Tiga Purnama.

“Rasanya memang begitu! Ada pesan untukku?!” Joko balik bertanya seraya menatap lekat-lekat gadis dihadapannya.

Yang ditanya tidak segera menjawab. Sebaliknya balas memandang.

“Kau tak usah takut mengatakannya....”

Dayang Tiga Purnama geleng kepala. Lalu berkata. “Aku menemui hanya untuk minta maaf atas tindakanku tempo hari!”

“Hanya itu!”

Dayang Tiga Purnama terdiam tidak buka suara atau memberi isyarat dengan gerakan anggota tubuhnya. Joko tertawa lalau berucap.

“Seharusnya aku yang minta maaf. Karena sejak pertemuan kita pertama kali, aku telah berdusta padamu...”

Dayang Tiga Purnama tersenyum. Lalu alihkan pandangan dan berujar. “Kuucapkan selamat jalan...”

“Hanya itu?!”

Dayang Tiga Purnama tidak menyahut. Sebaliknya segera berlari tinggalkan tempat itu tanpa buka suara.

“Hai! Tunggu!” Joko berteriak menahan. Namun yang diteriaki seolah tidak mendengar. Dia terus saja berlari.

“Mengejar gadis itu bukan tak mungkin akan mendatangkan bencana baru. Lebih baik aku segera teruskan perjalanan pulang. Negeri ini sudah memberikan beberapa urusan aneh yang sering tidak kumengerti! Tapi aku bersyukur karena bisa bertemu dengan gadis-gadis cantik yang anehnya ternyata adalah masih saudara!”

Joko pandangi kelebatan sosok Dayang Tiga Purnama hingga lenyap. Lalu perlahan-lahan melangkah tinggalkan tempat itu dengan pikiran kembali melayang pada peristiwa yang menyebabkan dia sampai ke negeri Tibet hingga kejadian pertemuan antara anak, ibu, dan cucu yang baru saja terjadi. Setelah melakukan perjalanan sehari semalam dan bertanya kian kemari, pada akhirnya Pendekar 131 sampai juga di pesisir. Saat itulah Joko mulai sadar dan merasa kebingungan.

“Bagaimana aku harus pulang?! Tak mungkin aku berenang melewati hamparan laut seluas ini! Aku perlu perahu! Tapi dari mana aku bisa mendapatkan?!” Joko layangkan pandangan ke bentangan laut luas dihadapannya. Saat itulah dia melihat sebuah perahu bergerak menepi lurus ke arahnya. Joko pentangkan mata besar-besar dengan sekali membuat gerakan yang serta-merta membawa sosoknya seakan menyongsong perahu yang tengah menepi.

“Aneh... Perahu itu bergerak menuju kemari! Tapi aku tidak melihat penumpangnya!” Joko bergumam dengan memperhatikan gerakan perahu dan meneliti dengan seksama. Perahu yang tengah menuju lurus ke arah Pendekar 131 ternyata memang tidak kelihatan penumpangnya.

“Keanehan apa lagi ini?! Jangan-jangan ini awal babak baru dari satu hadangan!” Kuduk Joko jadi dingin.

“Kuucapkan selamat tinggal, Anak Muda!” Tiba-tiba terdengar satu suara. “Kalau ada waktu, negeri ini masih bersedia menerima kedatanganmu lagi!” Satu suara lain menyahut.

Joko tercekat. Karena dua suara yang terdengar jelas datangnya dari arah perahu yang terus melaju ke arahnya!

“Jangan-jangan dugaanku benar!” pikir Joko dengan mata makin dipentang. Baru saja Joko berpikir begitu, mendadak dari arah perahu muncul dua sosok tubuh tegak duduk di lantai perahu.

“Astaga! Mereka tadi sengaja sembunyikan diri dengan menelentang di lantai perahu hingga batang hidungnya tidak kelihatan!” Joko mendesis dengan mata makin dijerengkan. “Sepertinya aku pernah melihat mereka!” Joko mendelik makin besar.

“Dewa Asap Kayangan! Dewa Cadas Pangeran!” Joko berteriak begitu mampu mengenali siapa adanya kedua orang yang duduk di lantai perahu.

“Terima kasih kau masih mengenaliku!” Berkata orang yang duduk di sebelah kanan. Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Pada mulutnya terlihat sebuah pipa yang kepulkan asap putih. Sementara dipundaknya menyelempang sebuah ikat pinggang besar yang dihiasi beberapa pipa. Kakek ini bukan lain memang seorang tokoh negeri Tibet yang dikenal dengan julukan Dewa Asap Kayangan.

Duduk di sebelah Dewa Asap Kayangan adalah seorang kakek berpakaian compang-camping. Raut wajah kakek ini tidak kelihatan karena tepat di hadapan wajahnya terlihat sebuah batu putih yang digantungkan pada satu tambang yang berpangkal pada punggungnya. Kakek ini tidak bukan adalah Dewa Cadas Pangeran.

Habis berkata, Dewa Asap Kayangan bergerak bangkit disusul kemudian oleh Dewa Cadas Pangeran. Kejap lain kedua kakek ini berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di hadapan Pendekar 131. Sementara perahu yang ditumpangi keduanya tampak mengapung di dekat pesisir.

“Pendekar 131!” kata Dewa Cadas Pangeran. “Kami berdua tidak bisa memberimu bekal apa-apa! Mungkin hanya perahu itu yang dapat kami berikan sebagai kenang-kenangan!”

“Ah... Terima kasih! Sebenarnya benda itulah yang paling kubutuhkan saat ini!”

“Sebelum kau pergi, ada sesuatu yang hendak kau sampaikan?!” Yang bicara adalah Dewa Asap Kayangan.

Joko terdiam dengan dada berdebar tidak enak. Dia maklum ke mana arah bicara Dewa Asap Kayangan. “Pasti ini ada hubungannya dengan tawaran mereka tempo hari yang memintaku untuk mengawini Dewi Bunga Asmara! Apa yang harus kukatakan pada mereka?”

Selagi Joko membatin begitu, Dewa Cadas Pangeran sudah berkata. “Anak muda.... Lupakan urusan kawin tempo hari! Namun kau harus tahu. Seandainya saat itu kau mau menerima, mungkin kau tidak akan terlibat jauh dengan urusan para gadis-gadis Itu! Mereka tidak akan terlalu berharap padamu karena mereka tahu jika kau telah memiliki istri!”

Sambil berkata kepala Dewa Cadas Pangeran bergerak berputar. “Lihat! Mereka datang untuk mengucapkan selamat jalan padamu! Tapi aku tahu. Mereka sebenarnya ingin lebih daripada hanya mengucapkan selamat jalan....” Dewa Cadas Pangeran sambungi ucapannya.

Pendekar 131 kernyitkan kening. Lalu gerakkan kepala mengikuti gerakan kepala Dewa Cadas Pangeran. Joko tersurut kaget ketika di ujung seberang utara sana dia melihat seorang gadis berbaju hijau tegak dengan mata memandang ke arahnya.

“Bidadari Pedang Cinta...” Joko mendesis dalam hati mengenali siapa adanya gadis berbaju hijau. Joko menghela napas. Lalu teruskan gerakan kepala. Lagi-lagi dia tersentak ketika di ujung sebelah barat dia melihat seorang gadis berbaju biru tegak dengan kepala sedikit mendongak.

“Bidadari Delapan Samudera!” gumam Joko dengan suara bergetar.

“Masih ada satu lagi, Anak Muda!” ujar Dewa Cadas Pangeran ketika Joko hendak arahkan pandangannya kembali pada sosok Bidadari Pedang Cinta.

Joko hentikan gerakan kepalanya yang akan berpaling pada Bidadari Pedang Cinta. Lalu teruskan berpaling ke arah samping. Di sana tegak seorang gadis berwajah cantik mengenakan pakaian warna ungu.

“Astaga! Dayang Tiga Purnama!” Joko mengenali siapa adanya gadis berbaju ungu.

“Pendekar 131! Saatnya kau pulang!” Dewa Asap Kayangan berujar.

“Mereka memang menarik. Tapi kalau kau turuti keinginan, aku tidak bisa menjamin apakah nanti kau bisa pulang ke negeri asalmu atau tidak!” Dewa Cadas Pangeran menimpali.

Pendekar 131 anggukkan kepala. “Terima kasih atas nasihat kalian berdua. Sekarang aku harus pergi! Sampaikan salamku pada Dewi Bunga Asmara!”

Dewa Asap Kayangan dan Dewa Cadas Pangeran sama anggukkan kepala. Joko menjura hormat. Lalu sapukan pandangan ke arah Bidadari Pedang Cinta, Bidadari Delapan Samudera, dan Dayang Tiga Purnama. Joko tersenyum lalu balikkan tubuh dan berkelebat ke arah perahu. Begitu tegak di atas perahu, Joko lambaikan kedua tangannya.

Bidadari Pedang Cinta perlahan angkat tangan kanannya lalu membalas lambaian tangan Joko. Saat bersamaan Bidadari Delapan Samudera ikut angkat tangan kanannya dan melambai. Sementara Dayang Tiga Purnama hanya tegak diam. Namun pandang matanya terus tak berkesip menatap pada sosok Pendekar 131 yang perlahan-lahan balikkan tubuh sebelum akhirnya dibawa melaju oleh perahu...

S E L E S A I

DARAH KERAMAT

Karma Manusia Sesat

Serial Joko Sableng Episode Karma Manusia Sesat

Cersil Online Serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131 episode karma manusia sesat


SATU

BIDADARI Tujuh Langit tegak terbungkuk-bungkuk dengan mata memandang liar pada sosok Datuk Kala Sutera yang juga beranjak bangkit. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling perang pandang. Bidadari Delapan Samudera terbujur kaku di atas tanah tak bisa bergerak karena ditotok oleh Pendekar 131 Joko Sableng.

Sementara murid Pendeta Sinting sendiri tegak dihadapan Nenek Selir dengan sikap bimbang dan mulut terkancing rapat. Sepasang matanya melirik pulang balik ke arah si nenek dan Bidadari Tujuh Langit serta Datuk Kala Sutera. Di lain pihak, Nenek Selir melotot angker pada murid Pendeta Sinting. Di seberang agak jauh, Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala saling pandang satu sama lain dengan wajah ragu-ragu tak tahu apa yang harus diperbuat.

“Kuperintahkan kau untuk lepas cincin di ibu Jarimu!” Mendadak Datuk Kala Sutera perdengarkan bentakan garang seraya maju satu tindak.

Bidadari Tujuh Langit menyeringai dingin. Tanpa sambuti bentakan orang, laksana terbang dia berkelebat ke arah Datuk Kala Sutera. Namun Bidadari Tujuh Langit tahan gerakan tatkala tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin menderu disamping kanannya. Berpaling, perempuan bertubuh sintal ini melihat berkelebatnya satu bayangan hijau.

“Kau!” Bidadari Tujuh Langit berseru dengan bibir merebak sunggingkan senyum.

“Aku tahu.... Kau pasti akan kembali!”

Sosok di hadapan Bidadari Tujuh Langit yang ternyata adalah seorang gadis berparas cantik berpakaian warna hijau berambut panjang dikepang dua, salah satu kepangan rambutnya dilingkarkan pada lehernya yang jenjang putih, memandang sosok Bidadari Tujuh Langit dari ujung kaki hingga ujung rambut. Saat kemudian gadis ini alihkan pandang matanya pada sosok Datuk Kala Sutera.

Gadis berbaju hijau yang bukan lain adalah Bidadari Pedang Cinta menghela napas panjang berulang kali. Tiba-tiba dia angkat tangan kanannya. Lalu menunjuk silih ber- ganti pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera seraya berseru.

“Katakan siapa adanya kalian sebenarnya!”

“Dan jangan berani sembunyikan sesuatu!” Satu suara mendadak terdengar menimpali. Satu sosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu di samping Bidadari Pedang Cinta telah tegak seorang gadis berwajah jelita mengenakan pakaian warna ungu. Dia tidak lain adalah Dayang Tiga Purnama.

Seperti diketahui, saat terjadi ketegangan di hutan bambu, mendadak terdengar suara gaung dahsyat yang membuat semua orang merasakan telinga masing-masing laksana ditusuk-tusuk. Belum sampai orang tahu siapa yang membuat ulah, mendadak satu benda hitam meluncur ke atas langit lalu menukik dan ambyar perdengarkan suara keras. Bersamaan itu suasana berubah menjadi gelap gulita.

Dan ketika suasana terang kembali, ternyata sosok Dayang Tiga Purnama, Bidadari Pedang Cinta, Manusia Tanah Merah, serta Paduka Seribu Masalah sudah tidak kelihatan lagi di tempat terjadinya ketegangan. Ternyata Dayang Tiga Purnama dan Bidadari Pedang Cinta dibawa lari oleh Putri Pusar Bumi yang ternyata adalah eyang guru Dayang Tiga Purnama. Dan saat berikutnya muncullah Iblis Pedang Kasih eyang guru Bidadari Pedang Cinta yang muncul bersama Manusia Tanah Merah dan Paduka Seribu Masalah.

Putri Pusar Bumi akhirnya berterus terang mengatakan siapa sebenarnya orangtua Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Namun kedua gadis ini tidak percaya. Hingga karena penasaran dan ingin membuktikan, Bidadari Pedang Cinta segera berlari kembali ke arah terjadinya ketegangan di hutan bambu. Dayang Tiga Purnama tidak tinggal diam. Dia pun segera berkelebat menyusul.

“Kau telah tahu siapa aku...!” Bidadari Tujuh Langit menjawab seraya melirik pada sosok Dayang Tiga Purnama.

“Aku ingin tahu asal-usulmu!” kata Bidadari Pedang Cinta.

Walau merasa heran dengan pertanyaan orang, namun Bidadari Tujuh Langit segera buka mulut. “Bukan di sini tempatnya untuk memenuhi permintaanmu!”

“Aku ingin mendengarnya di tempat ini!” Kali ini Dayang Tiga Purnama yang angkat suara.

“Hem.... Mau katakan padaku. Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?!”

“Jawab saja pertanyaan!” hampir bersamaan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama berteriak menyahut pertanyaan Bidadari Tujuh Langit.

Bidadari Tujuh Langit geleng kepala. “Aku tak bisa memenuhi permintaan kalian di tempat ini! Dan kalaupun nantinya aku mau turuti apa permintaan kalian di tempat lain, aku akan ajukan beberapa....”

“Tidak ada tempat lain dan tidak ada syarat!” Bidadari Pedang Cinta sudah menukas ucapan Bidadari Tujuh Langit.

Bidadari Tujuh Langit tersenyum. Tanpa buka mulut lagi dia arahkan pandang matanya pada Datuk Kala Sutera. Dayang Tiga Purnama tampaknya bisa membaca gelagat. Sebelum Bidadari Tujuh Langit buka mulut atau membuat gerakan, Dayang Tiga Purnama mendahului.

“Kau tidak akan selesaikan urusan dengan siapa saja di tempat ini sebelum kau jawab pertanyaan tentang asal-usulmu!”

Bidadari Tujuh Langit tidak peduli dengan ucapan orang. Dia segera melompat ke arah Datuk Kala Sutera. Karena sudah bisa membaca gelagat, Dayang Tiga Purnama segera berkelebat memotong gerakan Bidadari Tujuh Langit dan tegak menghadang seraya berseru.

“Jangan anggap pertanyaan kami main-main!”

“Perlu kau dengar, Jelitaku... Untung kau punya wajah yang menarik seleraku. Jika tidak, mungkin mulutmu sudah kubuat tidak bisa terbuka lagi!” Berkata Bidadari Tujuh Langit tanpa memandang pada sosok Dayang Tiga Purnama.

Dayang Tiga Purnama mendengus. Dia sudah hendak berkelebat. Namun Bidadari Tujuh Langit ternyata mendahului. Perempuan berbaju putih bertubuh bahenol ini melesat ke arah Dayang Tiga Purnama dengan kedua tangan bergerak hendak sarangkan totokan. Melihat gerakan Bidadari Tujuh Langit, Bidadari Pedang Cinta tidak tinggal diam. Dia segera melompat menghadang gerakan Bidadari Tujuh Langit seraya kelebatkan kedua tangan.

Bukk! Bukkk!

Kedua tangan Bidadari Pedang Cinta bentrok dengan kedua tangan Bidadari Tujuh Langit yang sesaat tadi hendak lepas totokan ke arah Dayang Tiga Purnama. Sosok Bidadari Pedang Cinta terjajar beberapa langkah ke belakang. Sementara Bidadari Tujuh Langit hanya tertahan gerakannya. Saat itulah Dayang Tiga Purnama berkelebat dengan kedua tangan lepas pukulan.

Bidadari Tujuh Langit hadapi serangan tanpa membuat gerakan apa-apa. Namun begitu kedua tangan Dayang Tiga Purnama sejengkal lagi melabrak ke arah kepalanya, dia tarik sedikit kepalanya ke belakang. Saat bersamaan kaki kirinya membuat gerakan menendang dengan putar tubunya setengah lingkaran. Dayang Tiga Purnama sempat terkejut. Namun gadis ini tidak kehilangan akal. Dia tahan gerakannya. Lalu kedua tangannya di hantamkan ke arah kaki Bidadari Tujuh Langit.

"Bukkk!" Dayang Tiga Purnama perdengarkan seruan tertahan. Sosoknya terpental terbang. Lalu tegak terhuyung-huyung di atas tanah dengan kedua tangan dikibas-kibaskan. Kedua tangan gadis ini tampak mengembung merah.

Bidadari Tujuh Langit melirik sesaat. Lalu berkelebat ke arah Dayang Tiga Purnama. Saat itulah mendadak terdengar deruan dahsyat. Satu gelombang angin berkiblat. Gerak Bidadari Tujuh Langit tertahan diudara beberapa saat, lalu terdorong kesamping. Sambil angkat kedua tangannya, Bidadari Tujuh Langit turun dan sentakkan kepala berpaling ke arah mana tadi gelombang yang menahan gerakannya bersumber.

“Jahanam!” bentak Bidadari Tujuh Langit dengan mata mendelik angker saat tahu murid Pendeta Sinting angkat kedua tangannya di atas udara, pertanda dialah yang baru saja membuat hadangan.

“Aku tidak bermaksud merecoki urusanmu!” berkata Pendekar 131.

“Aku hanya ingin....” Belum sampai ucapan Joko selesai, Bidadari Tujuh Langit sudah hantamkan kedua tangannya dengan mata dipentang besar-besar.

Wuutt! Wuuutt! Wuuss! Wuusss!

Dari kedua tangan Bidadari Tujuh Langit melesat dua sinar merah. Bersamaan dengan itu dua sinar hitam melabrak keluar dari sepasang matanya, membuat suasana be-rubah kelam. Pendekar 131 yang sudah pernah bentrok dengan Bidadari Tujuh Langit tidak mau menghadang serangan orang. Sebaliknya segera berkelebat menghindar.

Gerakan Joko membuat Nenek Selir yang tegak tidak jauh darinya jadi terkesiap kaget. Bukan saja dua sinar merah hantaman kedua tangan Bidadari Tujuh Langit itu kini harus dihadang, namun dia juga harus menyelamatkan Bidadari Delapan Samudera yang dalam keadaan tertotok tidak jauh didepannya!

“Sialan! Mengapa kau melarikan diri?! Kau sengaja mengumpankan diriku?!” Nenek Selir berteriak seraya maju satu tindak. Kedua tangannya yang memegang pedang dihantamkan ke depan. Saat yang sama, kaki kanannya digerakkan ke arah bawah sosok Bidadari Delapan Samudera lalu disentakkan ke atas.

Wuuss! Wuuss!

Dari kedua pedang si nenek melesat keluar dua kobaran api yang membuat suasana gelap terbelah. Lalu terdengar gelegar dahsyat tatkala dua sinar merah bentrok dengan dua kobaran api. Ketika gelegar dahsyat terdengar, di tempat itu ada dua suara seruan tegang. Lalu dua sosok tubuh tampak melambung ke udara.

Sosok pertama adalah Bidadari Delapan Samudera. Gadis ini perdengarkan seruan tegang ketika merasakan tubuhnya tersentak ke udara akibat gerakan kaki kanan Nenek Selir. Namun hal ini menyelamatkan dirinya dari hantaman dua sinar merahyang dilepas Bidadari Tujuh Langit. Sosok kedua adalah Nenek Selir sendiri. Begitu bentrokan terjadi, sosok nenek ini terjengkang hampir roboh di atas tanah. Namun kedua tangannya yang memegang pedang segera bergerak menghantam.

Clep! Cleep!

Dua pedang si nenek menancap di atas tanah. Gerakan si nenek terhenti. Kejap lain kedua tangannya menyentak. Sosoknya melenting ke udara menyongsong sosok Bidadari Delapan Samudera yang mulai meluncur kebawah. Dengan bergumam tak jelas, Nenek Selir cepat menyambar tubuh Bidadari Delapan Samudera. Lalu melayang turun tepat di samping kedua pedangnya. Dan enak saja sosok Bidadari Delapan Samudera dicampakkan di atas tanah. Lalu kedua tangannya kembali menyambar dua pedangnya dan berpaling ke arah murid Pendeta Sinting dengan mata dijerengkan besar-besar.

Pendekar 131 saat itu tengah pentangkan mata. Bukan membalas pandangan angker Nenek Selir, melainkan memandang ke arah sosok Dayang Tiga Purnama! Ketika baru saja lepas pukulan ke arah murid Pendeta Sinting dan suasana berubah gelap, Bidadari Tujuh Langit cepat berkelebat ke arah Dayang Tiga Purnama. Dayang Tiga Purnama memang merasakan sambaran angin di sampingnya. Dia pun sempat berpaling.

Dalam gelapnya suasana, dia masih mampu melihat siapa gerangan adanya sosok yang berkelebat ke arahnya. Namun belum sampai dia membuat gerakan, mendadak beberapa tusukan telah melanda lambung dan bahunya. Gadis ini berseru tegang karena sekujur tubuhnya sudah kejang kaku tak bisa digerakkan! Sadar apa yang terjadi, Dayang Tiga Purnama cepat kerahkan tenaga dalam untuk lepaskan diri dari totokan yang telah bersarang di tubuhnya. Namun baru saja dia kerahkan tenaga dalam, gelegar dahsyat bentroknya pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Nenek Selir terdengar.

Sosok Dayang Tiga Purnama terpental beberapa tombak. Sementara sosok Bidadari Tujuh Langit yang baru saja sarangkan totokan pada Dayang Tiga Purnama terdorong. Namun perempuan ini masih sempat menyambar sosok Dayang Tiga Purnama. Hingga tatkala sosoknya terdorong, sosok Dayang Tiga Purnama terseret di dekatnya.

“Nek! Harap kau lepaskan aku...!” Bidadari Delapan Samudera buka suara.

Nenek Selir tidak menyahut. Dia terus pandangi murid Pendeta Sinting yang saat itu masih juga arahkan pandang matanya pada sosok Dayang Tiga Purnama yang terbujur diam di dekat Bidadari Tujuh Langit.

“Nek... Kuharap kau mau menolongku... Aku akan...”

“Diam!” bentak Nenek Selir tanpa berpaling. “Seharusnya kau sudah bersyukur tidak sampai mampus! Jangan minta yang bukan-bukan! Lagi pula bukan aku yang membuatmu tidak bisa bergerak!”

“Tapi tidak ada salahnya....”

“Sialan!” Lagi-lagi Nenek Selir sudah menukas sebelum Bidadari Delapan Samudera lanjutkan ucapan. “Kalau kau tidak bisa diam, aku tak segan membuatmu tak bisa buka mulut!”

Bidadari Delapan Samudera menghela napas. Lalu perlahan-lahan alihkan pandang matanya pada Pendekar 131. Mendadak mata gadis ini berubah garang. Karena akibat totokan Joko, dia hanya bisa perdengarkan suara tanpa bisa berbuat sesuatu. “Pendekar 131! Harap kau lepaskan diriku kalau kau tak ingin membuat panjang masalah!” Bidadari Delapan Samudera berteriak.

Belum sampai Joko buka suara menyahut atau berpaling, di depan sana Bidadari Tujuh Langit sudah melesat ke arahnya. Kedua tangannya dihantamkan lepas pukulan jarak jauh!

DUA

WALAU masih ada kesempatan untuk membuat gerakan menghadang pukulan, tapi murid Pendeta Sinting tidak mau membuang tenaga. Apalagi dia mulai yakin ada sesuatu yang perlu diselesaikan antara Bidadari Tujuh Langit dengan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama serta Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Maka begitu Bidadari Tujuh Langit melesat dan lepas pukulan, Pendekar 131 cepat berkelebat menghindar.

Bummm! Bummm!

Tanah di mana tadi Joko tegak berdiri tampak muncrat ke udara. Hutan bambu kembali bergetar keras. Bidadari Tujuh Langit cepat putar diri ke arah murid Pendeta Sinting berkelebat menghindar. Namun belum sampai perempuan cantik ini membuat gerakan lebih lanjut, mendadak Datuk Kala Sutera sudah melompat dan tegak di hadapan Bidadari Tujuh Langit.

“Pemuda itu masih punya tanggungan denganku! Jangan berani mengusik nyawanya!” kata Datuk Kala Sutera dengan tangan kiri menunjuk pada murid Pendeta Sinting.

“Persetan dengan segala macam tanggungan!” bentak Bidadari Tujuh Langit.

“Tunggu!” tahan Datuk Kala Sutera ketika melihat Bidadari Tujuh Langit sudah angkat kedua tangannya. “Di antara kita ada sesuatu yang harus diselesaikan. Namun harap kau bersabar dahulu!”

Datuk Kala Sutera putar diri menghadap Pendekar 131. Bidadari Tujuh Langit sudah gerakkan kedua tangan. Tapi entah karena apa, mendadak perempuan ini hentikan gerakan kedua tangannya. Di lain pihak, begitu menangkap gelagat Bidadari Tujuh Langit tahan gerakan kedua tangannya, Datuk Kala Sutera buka mulut berteriak pada Joko.

“Sebenarnya waktumu sudah lewat! Tapi aku masih memberi kesempatan padamu untuk buka suara menjawab pertanyaanku tempo hari!”

“Sebenarnya kau salah alamat, Datuk Kala Sutera! Aku bukan Paduka Seribu Masalah seperti yang kau duga!”

“Hem.... Lanjutkan keteranganmu!” desis Datuk Kala Sutera.

“Kau sudah tahu kelanjutannya!”

“Baik! Siapa pun kau adanya, yang jelas kau berjanji akan jawab pertanyaanku! Sekarang aku menunggu jawabanmu!”

“Saat itu aku bercanda.... Jadi....” Joko putuskan ucapan, karena saat itu Datuk Kala Sutera sudah berkelebat dan tegak beberapa langkah di hadapan murid Pendeta Sinting.

“Aku butuh jawaban atau....”

“Berani kau menyentuh tubuhnya, kau membuka urusan denganku!” Mendadak Nenek Selir berteriak. Saat bersamaan dia melompat ke arah Pendekar 131. Tangan kirinya yang memegang pedang menunjuk lurus pada Joko. Lalu terdengar sambungan ucapannya. “Tanganku yang paling berhak menentukan hidup dan matinya pemuda sialan ini!”

Datuk Kala Sutera pandangi sosok Nenek Selir dengan dagu terangkat. Tanpa buka mulut dia angkat kedua tangannya. “Hem.... Dengan mampusnya kedua manusia itu, urusan akan lebih ringan!” diam-diam Bidadari Tujuh Langit membatin. Lalu lipat gandakan tenaga dalam pada kedua tangan seraya melirik silih berganti pada Nenek Selir dan Pendekar 131.

Begitu Datuk Kala Sutera sentakkan kedua tangannya, Bidadari Tujuh Langit serta-merta ikut lepas pukulan ke arah Nenek Selir dan Pendekar 131. Dari kedua tangan Datuk Kala Sutera melesat dua sinar kehijauan. Sementara dari kedua tangan Bidadari Tujuh Langit melabrak dua sinar merah.

Nenek Selir menggerendeng panjang pendek. Kedua pedang di tangannya segera dihantamkan ke depan. Dua kobaran api melesat keluar perdengarkan deruan dahsyat dan semburkan hawa panas luar biasa.

Melihat apa yang terjadi, Joko tidak berdiam diri. Dia segera sentakkan kedua tangan lepas pukulan sakti ‘Lembur Kuning’. Hingga saat itu juga dua gelombang berkiblat membawa sinar berwarna kekuningan serta hawa panas menyengat.

Blaarr! Blarr!

Dua ledakan dahsyat mengguncang tempat Itu ketika empat pukulan orang bertemu di udara. Empat sosok sama terpental dan terjajar duduk di atas tanah. Datuk Kala Sutera cepat bergerak bangkit. Lalu menoleh pada Bidadari Tujuh Langit yang juga terhuyung-huyung berdiri. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang.

“Aku tidak bermaksud membantumu!” Berkata Bidadari Tujuh Langit sambil kerahkan tenaga dalam kembali. “Kedua manusia itu telah membuat dosa besar padaku! Aku berhak mencicipi kedua nyawa mereka!”

“Hem.... Baik! Agar urusan di antara kita nanti segera tuntas, aku tawarkan padamu untuk menghabisi kedua manusia itu bersama-sama!” kata Datuk Kala Sutera sambi alihkan pandangan.

“Aku setuju!” kata Bidadari Tujuh Langit.

Di seberang, Nenek Selir dan murid Pendeta Sinting langsung saling berpandangan begitu mereka tegak berdiri.

“Nek.... Lebih baik kita menyingkir saja dari tempat ini! Tak ada gunanya kita meladeni mereka!”

Nenek Selir tertawa cekikikan panjang. “Percuma kau menyingkir dari tempat ini! Kau kira nyawamu bisa selamat dengan angkat kaki dari sini?!” Kepala si nenek menggeleng. “Kau salah duga, Manusia Asing! Menyingkir atau tidak, nyawamu tidak akan selamat! Dan kau tak perlu khawatir. Bukan kedua makhluk itu yang akan membuatmu mampus. Tapi kedua tanganku sendiri!”

Baru saja Nenek Selir berucap begitu, laksana dikomando Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama membuat gerakan berkelebat. Dan tahu-tahu keduanya sudah tegak lima langkah di hadapan Nenek Selir.

“Kuingatkan pada kalian berdua! Kalian masih....”

Hanya sampai di situ ucapan yang terdengar dari mulut Nenek Selir. Karena bersamaan dengan itu Datuk Kala Sutera dan Bidadari Tujuh Langit sudah sama melompat ke depan. Bidadari Tujuh Langit angkat kaki kirinya lalu membuat gerakan menendang. Sementara Datuk Kala Sutera angkat kaki kanannya dan dihantamkan!

Wuutt! Wuutt!

Dari kaki kiri Bidadari Tujuh Langit berkiblat sinar merah menyala. Sementara dari kaki kanan Datuk Kala Sutera melesat sinar hijau menyala terang. Belum sampai kedua sinar itu menggebrak, Nenek Selir sudah merasakan sosoknya laksana tersapu kekuatan dahsyat. Sosok nenek ini bergetar dan tersentak-sentak. Hingga begitu kedua tangannya membuat gerakan mengangkat pedang, sosoknya terhuyung.

“Nek! Mundur!” teriak murid Pendeta Sinting sekali sentakkan tangan kiri lepas pukulan ‘Serat Biru’.

Dari tangan kiri Pendekar 131 melesat beberapa sinar biru terang laksana benang. Nenek Selir tidak hiraukan teriakkan Joko. Dengan sosok terhuyung, kedua tangannya bergerak membabatkan pedang. Namun sebelum dua kobaran api melesat keluar dari tu- buh pedang di kedua tangan si nenek, kaki kiri Bidadari Tujuh Langit dan kaki kanan Datuk Kala Sutera sudah datang mendahului!

Tapi tiba-tiba Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tersentak kaget ketika merasakan kaki masing-masing yang dibuat tumpuan tegaknya bergetar keras. Memandang ke bawah, kedua orang ini tercengang menyaksikan beberapa sinar biru terang telah melilit kaki masing-masing yang dibuat tumpuan.

Dengan perdengarkan bentakan keras, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera hantamkan tangan masing-masing ke arah serat biru. Sementara kaki masing-masing yang membuat gerakan menendang diteruskan. Namun sebelum dari tangan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera menggebrak gelombang angin memotong serat biru, Joko sentakkan tangan kirinya. Bidadari Tujuh Langit perdengarkan seruan tertahan ketika merasakan kaki satunya terdorong ke depan, hingga kaki kirinya yang tengah menendang tersentak balik ke belakang! Saat lain perempuan ini terhuyung sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas tanah.

Saat yang sama, Datuk Kala Sutera merasakan kakinya yang dibuat tumpuan tegak, goyah, dan tersentak. Pemuda berjubah hitam ini memang sempat hentakkan kakinya yang terlilit serat biru di belakang. Namun di seberang depan, murid Pendeta Sinting cepat melompat ke belakang dua tindak. Kaki Datuk Kala Sutera kembali tersentak ke depan dengan keras sebelum akhirnya dia terjengkang jatuh.

Di hadapan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera, Nenek Selir yang sesaat tadi sempat tercengang mendapati kaki dua orang berkelebat menggebrak ke arahnya sementara dirinya sudah tidak punya kesempatan lagi untuk membuat kedua tangannya bergerak, cepat ayunkan kedua pedang menyilang ke arah Bidadari Tujuh Langit serta Datuk Kala Sutera yang terduduk di hadapannya.

“Tahan serangan!” Joko berteriak.

Nenek Selir seolah tidak mendengar teriakan. Dia teruskan saja gerakan kedua tangannya. Sementara Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sudah siap menghadang dengan angkat tangan masing-masing. Setengah depa lagi kedua pedang si neneknmenghantam, dan Bidadari Tujuh Langit serta Datuk Kala Sutera siap sentakkan tangan masing-masing, Pendekar 131 berkelebat ke depan menyergap Nenek Selir.

Si nenek perdengarkan makian tak karuan ketika merasakan ada satu sosok tubuh menggelayuti pinggangnya dan menahan gerak kedua tangannya. Dengan hentakkan kaki kanan, Nenek Selir hantamkan kedua sikunya ke belakang.

Bukkk! Bukkk!

Pendekar 131 berseru tegang. Kedua tangannya yang menelikung pinggang si nenek sempat terpental lepas. Namun Joko cepat menyergap kembali dan lagi-lagi menelikung pinggang Nenek Selir!

“Jahanam bangsat!” maki Nenek Selir seraya putar pergelangan kedua tangannya yang memegang pedang. Lalu serta-merta kedua tangannya ditusukkan ke belakang!

“Nek! Awas di depan!” Joko berteriak ketika mendapati Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama sentakkan tangan masing-masing. Nenek Selir tampaknya tak peduli. Dia teruskan saja tusukan kedua pedangnya kebelakang!

“Celaka! Kita bisa mampus, Nek!” teriak Joko sambil sentakkan kedua tangannya yang menelikung pinggang Nenek Selir. Sementara dia makin rapatkan tubuhnya pada sosok si nenek!

Bukkk! Bukkk!

Pendekar 131 dan Nenek Selir jatuh bergedebukan di atas tanah. Saat bersamaan, gelombang sinar merah dan hijau hantaman tangan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera lewat dua jengkal diatas mereka! Mendapati pukulannya lolos, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera cepat bergerak bangkit. Lalu kembali sama sentakkan tangan masing-masing ke arah Nenek Selir dan Pendekar 131 yang masih terbujur diatas tanah.

“Nek! Awas pedangmu!” Lagi-lagi Joko berteriak. Lalu hantamkan kaki kanan kirinya ke atas tanah. Sementara kedua tangannya makin dirapatkan pada pinggang si nenek.

Kali ini tampaknya Nenek Selir mulai sadar akan bahaya yang mengancam dirinya. Maka begitu mendengar teriakan Joko, kedua tangannya yang tadi menusuk ke belakang segera ditarik ke depan. Nenek ini sebenarnya hendak menghadang pukulan yang datang dengan hantamkan kedua pedangnya. Namun belum sampai kedua tangannya bergerak, sosoknya sudah terseret di atas tanah akibat hentakan kaki Joko.

Bumm! Bumm!

Hantaman Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera menghantam tanah di mana tadi Nenek Selir dan Joko terbujur. Sosok Nenek Selir dan Pendekar 131 yang masih saling bertempelan dan terseret, laksana disapu gelombang dahsyat akibat bias pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera yang lolos menghantam sasaran. Sosok keduanya terpelanting ke udara dan sempat terbanting di atas udara membuat kedua tangan Joko yang memegang pinggang si nenek terlepas!

Bukkk!

Nenek Selir melayang jatuh terlebih dahulu di atas tanah dengan posisi telentang. Nenek ini cepat kerahkan tenaga dalam lalu bangkit. Namun baru saja tubuhnya terangkat ke atas, dari udara sosok Joko melayang deras dan....

Bukkk!

Pendekar 131 terbanting keras dengan posisi menelungkup. Namun Joko jadi tersentak kaget. Karena dia bukan jatuh di atas tanah, melainkan di atas sosok Nenek Selir! Kepalanya masuk ke dalam sela paha si nenek, sementara kedua kakinya sendiri sempat menghantam bahu kanan kiri Nenek Selir, hingga bagian atas tubuh nenek ini yang tadi akan terangkat terdorong balik dan menghantam tanah!

“Sialan edan! Mengapa kau ciumi pahaku?!” Nenek Selir berseru. Bahu kiri kanannya disentakkan.

“Nek! Apa enaknya mencium pahamu?! Kau yang menggelitiki pahaku!”

“Keparat!” maki Nenek Selir dengan sekali lagi sentakkan bahu kanan kirinya.

Kaki kanan kiri Joko yang melintang di atas bahu si nenek terpental ke udara. Saat yang sama Nenek Selir angkat kaki kanannya dan dihantamkan pada tubuh murid Pendeta Sinting.

Bukkk! Breett!

Joko mengeluh tinggi. Kepalanya tersentak keluar dari paha si nenek. Lalu sosoknya terbanting ke samping dan telentang di samping Nenek Selir Pakaian yang dikenakan robek di bagian pinggang kanan. Nenek Selir berpaling. Dan ketika dilihatnya Joko cengar-cengir, si nenek jadi geram. Pedang di tangan kanannya dilepas. Dengan putar tubuhnya, tangan kanan dihantamkan ke arah sosok Pendekar 131!

Joko tidak tinggal diam. Dia tahu hantaman si nenek tidak main-main. Maka dia cepat gulingkan diri menjauh. Walau Joko sempat lolos dari hantaman tangan kanan Nenek Selir, tapi ternyata tangan si nenek masih mampu menyambar pinggang kanan Joko yang robek.

Breett!

Pakaian murid Pendeta Sinting makin menganga. Nenek Selir tercekat dengan tangan bergetar. Karena tangannya merasakan memegang sesuatu yang makin lama membuat sekujur tubuhnya laksana dihimpit bongkahan es!

TIGA

DALAM keterkejutannya, Nenek Selir cepat bangkit berdiri. Lalu tarik pulang tangan kanannya didekatkan pada wajahnya. Namun baru setengah jalan, tampaknya si nenek sudah tak mampu menggerakkan tangan lebih jauh. Dia merasakan tangan kanannya kaku tak bisa digerakkan.

“Jahanam! Benda apa ini?!” teriak Nenek Selir seraya campakkan benda yang berada di tangan kanannya ke atas tanah. Lalu pentangkan mata memandang tak berkesip.

“Bentuknya mirip kotak.... Warnanya kuning. Anehnya pada salah satu sisinya terlihat seperti sebuah gagang pedang! Sialannya, mengapa aku merasakan hawa dingin luar biasa?!”

Nenek Selir membatin dengan mata terus memperhatikan benda yang tadi sempat disambarnya dari pinggang Joko yang ternyata adalah sebuah kotak berwarna kuning berukir. Pada salah satu sisinya terlihat sebuah gagang pedang.

Di lain pihak, begitu lolos dari hantaman tangan kanan Nenek Selir, Pendekar 131 segera bangkit. Dia tersenyum sesaat lalu tundukkan kepala pandangi pakaiannya yang robek menganga. Tiba-tiba senyumnya laksana dirobek setan. Matanya terpentang besar-besar.

“Celaka! Ke mana Pedang Keabadian itu?! Jangan- jangan....”

Murid Pendeta Sinting cepat sentakkan kepala memandang ke arah Nenek Selir. Dan saat dilihatnya mata si nenek tak berkesip memandang ke satu arah, Joko perlahan-lahan ikut arahkan pandang matanya ke arah mana mata si nenek tengah memandang.

“Astaga! Pedang itu....” Joko mendesis. Laksana terbang dia berkelebat ke arah mana kotak berukir kuning yang tidak lain adalah Pedang Keabadian tergeletak di atas tanah.

“Jangan berani teruskan gerakan!” Tiba-tiba Bidadari Tujuh Langit berteriak. Tangan kanannya didorong ke arah Pendekar 131 yang tengah berkelebat.

Joko buru-buru tahan gerakan seraya putar arah. Lalu tegak dengan mata memandang pada Pedang Keabadian. Saat bersamaan mendadak Bidadari Tujuh Langit berkelebat ke arah Pedang Keabadian dengan tangan kiri terangkat ke udara sementara tangan kanan menyambar ke arah pedang. Begitu cepat gerakan Bidadari Tujuh Langit, hingga Nenek Selir, Datuk Kala Sutera, dan Pendekar 131 sendiri sudah sangat terlambat untuk membuat gerakan menghadang.

Begitu sejengkal lagi tangan kanan Bidadari Tujuh Langit menyentuh kotak berukir, perempuan ini lipat gandakan tenaga dalam pada tangan kirinya yang terangkat ke udara. Dia tidak mau bertindak ayal. Dia siap sentakkan tangan kiri menghadang segala kemungkinan. Saat bersamaan tangan kanannya bergerak menyambar Pedang Keabadian. Begitu kotak kuning berukir tergenggam tangan kanan, Bidadari Tujuh Langit teruskan berkelebat lalu tegak menjauh.

Tapi baru saja sepasang kakinya berpijak di atas tanah, perempuan cantik bertubuh bahenol ini perdengarkan seruan lirih. Tangan kanannya bergetar keras. Air mukanya berubah. Bidadari Tujuh Langit cepat sentakkan kepala dengan mata terpentang besar pandangi kotak kuning berukir di tangan kanannya. Dia bergumam tak jelas dengan kepala pulang balik menggeleng. Perempuan ini merasakan aliran hawa dingin menusuk menjalari tangan kanan. Kejap lain hawa dingin itu sudah merasuki hampir sekujur tubuhnya!

Tangan kanannya mulai terasa tegang kaku. Namun Bidadari Tujuh Langit tak hendak lepaskan kotak di tangannya. Dia mulai yakin kotak di tangan kanannya bukan kotak sembarangan. Maka dia segera kerahkan hawa sakti untuk menahan tusukan hawa dingin. Tapi Bidadari Tujuh Langit jadi terlengak. Begitu dia alirkan hawa sakti untuk menahan hawa dingin, tusukan hawa dingin itu makin menggila! Dan perlahan-lahan dari tangan kanannya mulai tebarkan asap putih!

Apa yang terjadi membuat Bidadari Tujuh Langit makin yakin kalau kotak di tangan kanannya mengandung kekuatan hebat. Hingga meski dia mulai merasakan separo dari tubuhnya sudah tegang laksana tak bisa digerakkan, dan penyaluran hawa sakti makin membuat hawa dingin menggila, perempuan ini nekat tidak juga lepaskan kotak dari tangan kanannya. Bahkan dia lipat gandakan penyaluran hawa sakti!

Tiba-tiba Bidadari Tujuh Langit menjerit. Dia merasakan sekujur anggota tubuhnya laksana dihimpit bongkahan salju. Makin dia berusaha kerahkan hawa sakti, hawa dingin itu makin menggila! Bahkan kini dari sekujur anggota tubuhnya telah kepulkan asap putih!

“Benda jahanam!” Akhirnya Bidadari Tujuh Langit memaki seraya lepaskan kotak berukir di tangan kanannya.

Pendekar 131 bernapas lega. Sementara semua orang di tempat itu terkesima hingga tak ada yang buka suara atau membuat gerakan.

“Hem... Ada keanehan lagi dengan pedang itu!” membatin murid Pendeta Sinting. “Ketika pedang telah masuk ke dalam kotak, aku tidak lagi merasakan hawa dingin. Aku merasakan hawa dingin gila itu saat pedang berada di luar! Kini walau pedang itu berada dalam kotak, namun hawa dingin itu sepertinya sudah terasa!”

“Kalau nenek dan Bidadari Tujuh Langit tidak mampu memegang kotak itu, pasti benda itu barang mustika! Hem....” Datuk Kala Sutera berkata dalam hati. Lalu lempar lirikan pada semua orang yang tegak di tempat itu.

Joko bisa membaca gelagat orang. Hingga belum sampai Datuk Kala Sutera membuat gerakan, dia perdengarkan tawa bergelak panjang dan berkata. “Terus terang. Apa yang kalian lihat adalah sebuah benda mustika keramat! Untuk memegangnya diperlukan beberapa persyaratan!”

“Siapa percaya mulut manusia asing sepertimu! Kau hanya mengada-ada! Kau kira aku tidak tahu benda apa itu, hah?!” Nenek Selir berteriak.

Murid Pendeta Sinting terdiam beberapa saat. “Kekasih nenek ini yang bercerita banyak tentang pedang itu! Hem.... Mungkin saja benar ucapannya kalau dia tahu benda apa yang ada di hadapannya itu. Tapi aku yakin dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi hawa dingin yang keluar dari pedang itu.... Terbukti dia tidak mampu untuk memegangnya!”

Berpikir begitu, akhirnya seraya tengadahkan kepala, Joko buka mulut. “Nek! Sebagai seorang tokoh ternama negeri ini, aku percaya kalau kau tahu benda apa yang ada di hadapanmu! Tapi aku tidak percaya kalau kau tahu bagaimana cara memegangnya! Kau telah membuktikan sendiri!”

Nenek Selir tidak menyahut. Sebaliknya melangkah mendekati kotak kuning berukir berisi Pedang Keabadian.

“Nek! Harap tidak berlaku nekat! Juga jangan memaksakan kehendak niat! Hal itu hanya akan membawa kiamat!”

Nenek Selir hentikan langkah seraya tawa cekikikan panjang. Namun tiba-tiba dia putuskan tawanya lalu membentak. “Kau kira aku takut dengan gertakanmu, hah?! Kau pikir aku tak tahu apa yang ada dalam benakmu hingga kau keluarkan gertakan, hah?!” Si nenek menyeringai. Lalu seraya ikut dongakkan kepala dia lanjutkan ucapan.

“Aku tahu! Kau takut benda itu jatuh ke tangan orang lain! Tapi kau harus sadar dan tahu diri! Benda itu berasal dari negeri ini, dan pantang dibawa kabur ke negeri lain!”

“Hem.... Jadi kau menginginkannya?!” tanya Joko.

“Aku sampai di tempat ini mencari nyawa orang! Tapi jika ternyata takdir menuliskan aku mendapatkan benda sakti, apa salahnya kalau aku mengambilnya?!”

“Nek! Aku hanya memperingatkan! Untuk memegang benda itu diperlukan beberapa syarat!”

“Kau tahu apa tentang benda itu?! Kau manusia asing!” Habis berkata begitu, Nenek Selir teruskan langkah.

Sementara Bidadari Tujuh Langit yang tegak tidak jauh dari kotak kuning berukir tampak ragu-ragu. Dia pandangi kotak kuning dan langkah-langkah Nenek Selir silih berganti. Tapi entah karena apa, mendadak perempuan ini melangkah mundur seolah memberi kesempatan pada si nenek.

Mendapati Bidadari Tujuh Langit surutkan langkah, Nenek Selir makin percepat langkah. Namun nenek ini tidak bodoh. Secara diam-diam dia kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan dan kakinya.

“Nek! Jauhi benda itu!” Sekali lagi Joko buka mulut memperingatkan ketika dilihatnya Nenek Selir sudah tegak satu langkah di samping kotak kuning berukir. Yang diperingati tertawa pendek, membuat Joko mau tak mau jadi berdebar tidak enak.

“Jangan-jangan nenek ini tahu bagaimana cara mengatasi hawa dingin itu! Tapi, mengapa dia tadi....”

Joko tidak lanjutkan membatin karena bersamaan dengan itu Nenek Selir sudah membuat gerakan membungkuk. Tangan kanannya yang tidak memegang pedang diayunkan kebawah. Kotak kuning berukir tahu-tahu sudah berada di tangan kanan Nenek Selir. Untuk beberapa saat nenek ini memang mampu memegang kotak kuning meski diam-diam dia mulai merasakan hawa dingin menusuk sekujur tubuhnya.

“Ah... Apa yang harus kulakukan?! Dia mampu memegang kotak itu!” gumam Pendekar 131 dengan dada makin berdebar.

Di lain pihak, Bidadari Tujuh Langit sempat tercengang dan hendak buka mulut melihat Nenek Selir seolah tidak merasakan hawa dingin seperti saat dia memegangnya. Namun belum sampai perempuan ini perdengarkan suara, tiba-tiba Nenek Selir perdengarkan seruan tertahan. Malah sosoknya sempat terlonjak dan tersurut beberapa langkah! Saat lain mendadak si nenek kibaskan tangan kanannya. Kotak kuning berukir mencelat ke udara!

Murid Pendeta Sinting tidak menunggu lama. Dia cepat berkelebat. Namun gerakannya tertahan ketika tiba-tiba Datuk Kala Sutera sudah mendahului melesat ke udara. Tangan kiri kanannya bergerak menyambar kotak yang melayang di udara. Karena sudah melihat apa yang terjadi, seraya menyambar sang Datuk kerahkan segenap tenaga dalam serta salurkan hawa sakti.

Begitu tegak di atas tanah, Datuk Kala Sutera yang mulai merasakan hawa dingin langsung gerakkan tangan kanan ke arah gagang pedang. Namun baru saja tangan kanannya menyentuh gagang pedang, pemuda berjubah hitam ini rasakan sekujur tubuhnya kaku. Tangan kanannya tegang beku tak bisa digerakkan! Makin dia lipat gandakan hawa sakti, hawa dingin yang mendera sekujur tubuhnya makin menusuk. Hingga beberapa saat kemudian, sosoknya bergetar keras. Lalu dengan satu sentakan keras, kotak kuning berukir di tangan kirinya dicampakkan hingga melesak masuk hampir setengahnya ke dalam tanah!

“Apa kubilang?! Untuk memegang benda itu diperlukan beberapa syarat!”

Joko buka mulut setelah beberapa saat terdiam dengan wajah tegang menyaksikan Nenek Selir dan Datuk Kala Sutera yang sesaat tadi sepertinya mampu mengatasi hawa dingin yang keluar dari kotak berisi Pedang Keabadian. Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera, dan Nenek Selir berpaling pada Joko.

“Pemuda asing sialan! Jangan kau terus mengada-ada! Bagaimana kau bisa mengatakan untuk memegangnya perlu beberapa syarat?! Padahal kau bukan berasal dari negeri ini. Sementara benda itu adalah milik seorang tokoh yang dilahirkan di negeri ini!” Yang angkat suara adalah Nenek Selir.

“Aku tak bisa mengatakan bagaimana. Yang jelas, kalian lihat sendiri. Benda itu tadi berada di pinggangku. Lalu apa kalian lihat aku merasa kedinginan?!”

“Hem.... Bagus! Sekarang katakan apa syarat yang diperlukan! Jika kau tidak mengatakannya, jangan harap kau bisa menyentuhnya!” Nenek Selir kembali berteriak.

“Kalau aku mengatakan syaratnya, apa kau....”

“Itu kita putuskan nanti setelah kau mengatakan apa syaratnya!” Nenek Selir sudah memotong.

Pendekar 131 gelengkan kepala. “Peraturan itu enak padamu, tapi tidak enak padaku!”

“Terserah! Yang pasti kau telah dengar peraturannya!”

“Tidak bisa.... Tidak bisa...,” gumam Joko berulang kali.

“Bagus! Berarti kau telah tahu akibatnya!” ujar Nenek Selir seraya angkat tangan kirinya yang masih memegang pedang. Sementara tangan kanannya ditarik ke belakang.

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tidak berdiam diri. Tahu apa yang diperbuat si nenek, kedua orang ini cepat pula angkat kedua tangan masing-masing.

“Celaka! Mengapa jadi begini?! Kalau mereka maju satu persatu mungkin aku masih mampu menahan. Tapi kalau mereka berbarengan....” Kuduk Joko jadi merinding dingin. Tampangnya berubah.

“Pemuda asing! Dalam satu hal aku dan kedua makhluk itu memang berbeda! Namun dalam hal satu ini, mungkin kami punya persamaan! Jadi kau harus berpikir dan jangan berlaku bodoh!” Nenek Selir berucap. Lalu tertawa cekikikan.

“Baik.... Baik... Akan kukatakan apa yang kau inginkan!” Akhirnya Joko buka mulut seraya alihkan pandangan ke jurusan lain. Lalu sambung!ucapannya. “Kalian tahu hidung?!”

Nenek Selir mendengus. Bidadari Tujuh Langit menggeram. Sedangkan Datuk Kala Sutera gerak-gerakkan jari tangannya hingga perdengarkan suara berkeretekan tanda dadanya makin geram.

“Aku tanya. Mengapa kalian tidak ada yang buka mulut menjawab?!” Joko bertanya seraya mendongak.

“Jangan kau bicara main-main!” bentak si nenek.

“Siapa main-main?! Kau yang bercanda! Aku tanya hidung kau jawab jangan bicara main-main!”

“Keparat!” maki si nenek seraya bantingkan kaki. “Aku tidak buta! Aku tahu mana hidung, mana mulut, dan mana perut!”

Joko luruskan kepala seraya tersenyum. “Bagus! Aku bersyukur kau sudah tahu malah bisa membedakan!”

Joko arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera silih berganti. Lalu angkat suara. “Bagaimana dengan kalian?! Kalian belum ada yang buka suara menjawab!”

Walau dengan tampang sama berubah akhirnya hampir bersamaan kedua orang yang ditanya buka mulut. “Aku tahu mana yang disebut hidung!”

“Bagus! Bagus! Harap kalian tidak salah sangka dengan pertanyaanku tadi. Hal itu penting kutanyakan, karena aku khawatir apa yang disebut hidung di negeri asalku berbeda dengan yang disebut hidung di negeri ini! Dan agar nantinya tidak terjadi salah paham, aku ingin agar kalian tunjuk mana yang kalian sebut hidung!”

Nenek Selir, Bidadari Tujuh Langit, dan Datuk Kala Sutera saling lirik. Tampang masing-masing jelas membayangkan rasa marah. Malah si nenek sudah buka mulut hendak membentak. Namun Joko buru-buru mendahului.

“Harap tidak marah dahulu! Hal ini harus dibuktikan agar nantinya tidak terjadi salah paham! Aku tidak mau disalahkan hanya gara-gara salah sebut!”

Walau dengan seringai dingin dan dada panas, namun karena memang ingin tahu apa yang menjadi persyaratan, akhirnya Nenek Selir, Bidadari Tujuh Langit, dan Datuk Kala Sutera angkat tangan masing-masing dan menunjuk pada hidungnya!

ENAM

PENDEKAR 131 picingkan mata dengan kepala di sorongkan ke depan ke belakang. Lalu sapukan pandangan ke arah Bidadari Tujuh Langit, Nenek Selir, dan Datuk Kala Sutera. Bidadari Tujuh Langit, Nenek Selir, dan Datuk Kala Sutera saling pandang dengan tampang berubah merah mengelam.

“Mengapa kau tertawa ngakak, hah?!” Si nenek yang su- dah tak sabaran membentak.

Murid Pendeta Sinting putuskan tawanya. “Untung aku ingin membuktikan dahulu. Jika tidak, tentu kalian akan salah paham!”

“Apa maksudmu?!” tanya Nenek Selir.

“Di negeri asalku, benda di atas mulut yang kalian tunjuk namanya bukan hidung!”

“Jahanam! Kau terlalu mengada-ada! Sampai ujung dunia pun yang namanya hidung adalah benda di atas mulut ini!” kata Nenek Selir dengan suara keras seraya pencet hidungnya sendiri.

Joko gelengkan kepala. “Kalian boleh percaya boleh tidak! Di negeri asalku apa yang kalian tunjuk bukan hidung. Tapi ketiak!”

“Baik!” Kali ini Bidadari Tujuh Langit yang buka suara. “Lalu menurut negeri asalmu, mana yang disebut hidung?!”

“Pangkal tangan kalian masing-masing adalah hidung menurut negeri asalku!”

“Keparat! Itu ketiak!” bentak Nenek Selir.

“Ya, memang keparat! Tapi apa boleh buat. Yang kau sebut ketiak itu di negeri asalku disebut hidung!”

“Teruskan keteranganmu!” Bidadari Tujuh Langit buka mulut lagi tak mau berdebat.

“Hidung menurut negeri asalku dan ketiak menurut negeri ini, kalian tahu memiliki hiasan rambut. Kalian harus mencari tujuh helai rambut itu yang sebelah kanan.”

“Kau jangan berani bicara dusta! Bagaimana mungkin syaratnya begitu mudah?! Aku tidak percaya!” kata Nenek Selir masih dengan suara tinggi.

“Aku belum selesai bicara, Nek! Harap tidak memotong dahulu!” kata Joko seraya sentakkan wajah mendongak. Lalu sambungi ucapannya. “Untuk menahan hawa dingin benda kuning berukir itu. kalian harus mencari tujuh helai rambut hidung sebelah kanan dari seorang nenek-nenek berusia tujuh puluh tahun. Tujuh helai rambut itu harus berasal dari nenek yang berbeda! Jika sudah terkumpul, kalian harus membakarnya di bawah cahaya bulan purnama. Lalu abunya kalian telan!”

“Kau menyindirku!” Nenek Selir kembali membentak. “Mentang-mentang kau tahu ketiakku tidak ada bulunya!”

Joko tertawa panjang seraya geleng kepala. “Nek.... Aku bicara apa adanya! Lagi pula mana aku tahu kalau hidungmu tidak ada bulunya?!”

Untuk beberapa saat Nenek Selir, Bidadari Tujuh Langit, dan Datuk Kala Sutera saling pandang.

“Kau percaya dengan ocehannya?!” tanya Nenek Selir pada Bidadari Tujuh Langit.

Yang ditanya tidak menjawab. Sebaliknya mendengus seraya alihkan pandangan ke jurusan lain. Nenek Selir tertawa cekikikan. Lalu arahkan pandang matanya pada Datuk Kala Sutera dan bertanya.

“Kau sendiri percaya dengan keterangan pemuda asing sialan itu?!”

“Itu urusanku!”

Nenek Selir makin keraskan cekikikannya. Lalu alihkan pandangan pada murid Pendeta Sinting dan kembali buka mulut. “Kau tidak bicara dusta?!”

“Itu urusanmu!” Enak saja Joko menjawab. “Kau menduga aku bicara dusta silakan. Jika sebaliknya, juga terserah! Yang jelas, kalau sampai aku dapat bertahan dari hawa dingin itu, tidak lain berkat aku menelan abu tujuh helai rambut tujuh hidung tujuh nenek berusia tujuh puluh tahun pada malam purnama!

“Hem.... Sebenarnya hari ini adalah hari terakhirmu menghirup udara di kolong bumi! Tapi kau beruntung...,” ujar si nenek.

“Beruntung bagaimana, Nek?!”

"Untuk sementara ini nyawamu kuperpanjang sampai aku dapat membuktikan kebenaran keteranganmu! Jika nanti ternyata keteranganmu dusta, kau harus mampus dua kali di tanganku! Kau dengar?!”

Joko anggukkan kepala. Lalu tanpa buka mulut lagi dia melangkah ke arah kotak kuning berukir.

“Tahan gerakanmu!” Bidadari Tujuh Langit berteriak. “Aku juga memperpanjang usia selembar nyawamu! Sekarang berbalik dan tinggalkan tempat ini!”

“Aneh.... Lalu bagaimana dengan kotak itu?! Bukankah diantara kalian tidak ada yang mampu menyentuhnya?!”

“Itu urusan mudah! Kami nanti dapat memutuskan!”

“Keputusan apa pun yang nantinya kalian ambil, tidak akan menyelesaikan masalah! Karena kalian bertiga belum ada yang memenuhi syarat!”

“Jangan banyak mulut!” Kali ini Datuk Kala Sutera yang buka suara. “Lekas angkat kaki dari sini atau nyawamu akan melayang hari ini juga!”

“Betul! Cepat enyahlah dari tempat ini! Tapi harus kau ingat! Semua ini hanya sementara waktu. Jika saatnya tiba, tidak ada tempat di kolong langit ini untuk kau jadikan liang persembunyian!”

“Eh, jadi kalian menginginkan kotak kuning itu?!’ tanya Joko.

“Dasar manusia asing bodoh! Kau kira untuk apa aku bertanya tadi, hah?!” bentak Nenek Selir.

“Aku tidak menduga sejauh itu! Aku tadi menyangka pertanyaan itu hanya sekadar kalian ingin tahu agar nantinya dapat menyentuh kotak itu! Tidak terlintas dalam benakku kalau kalian ternyata menginginkan kotak itu!”

“Hem.... Sekarang katakan. Kalau aku menginginkan kotak itu, kau mau apa?!” tanya Bidadari Tujuh Langit.

“Aku tidak akan berbuat apa-apa! Tapi harap kau tahu. Aku sampai di tempat ini dengan membawa kotak itu. Jadi kalaupun aku kalian usir dari tempat ini, kotak itu harus tetap kubawa serta!”

“Kau harus enyah tanpa membawa kotak itu!” kata Datuk Kala Sutera.

“Kotak itu harus tetap berada di sini!” Bidadari Tujuh Langit menimpali.

“Benar! Kotak itu berasal dari negeri ini! Tidak layak kau membawanya!” Nenek Selir ikut menyahut.

“Siapa yang membikin aturan begitu?!” tanya Joko seraya sapukan pandangan.

Belum sampai ada yang buka mulut menjawab, tiba-tiba terdengar suara lain menyahut. “Harap lupakan dahulu urusan kotak itu! Ada yang lebih penting dari itu!”

Tiga sosok tubuh berkelebat. Lalu tegak tidak jauh dari tempat terbujurnya sosok Bidadari Delapan Samudera.nSemua kepala berpaling. Yang tegak di sebelah kanan sosok Bidadari Delapan Samudera adalah seorang perempuan bertubuh tambun besar mengenakan pakaian warna merah ketat. Raut wajahnya bengkak besar disamaki kulit hingga sepasang matanya hampir-hampir saja tidak kelihatan. Hidungnya melesak masuk ke dalam gumpalan kulit kedua pipinya. Rambutnya putih panjang sebatas betis.

Nenek ini bukan lain adalah Putri Pusar Bumi. Di sebelah Putri Pusar Bumi, tegak seorang laki-laki bertubuh pendek berambut panjang menjulai hingga menyapu tanah. Di punggungnya tampak sebuah punuk besar, se- mentara pada pinggangnya terlihat melilit sebuah ikat pinggang dari pedang berkilat. Laki-laki cebol ini adalah Iblis Pedang Kasih.

Tidak jauh dari Iblis Pedang Kasih terlihat satu sosok tubuh milik seorang laki-laki yang duduk dengan kedua kaki dirangkapkan. Kepalanya dimasukkan dalam-dalam di belakang rangkapan kedua kakinya hingga raut wajah orang ini tidak bisa dikenali. Dia tidak lain adalah tokoh yang dikenal dengan julukan Paduka Seribu Masalah.

“Paduka Seribu Masalah! Harap lepaskan aku dari totokan ini!” Berkata Bidadari Delapan Samudera seraya memandang pada Paduka Seribu Masalah.

“Harap tidak meminta padaku, Gadis Cantik. Aku takut memenuhi permintaanmu!”

Bidadari Delapan Samudera perdengarkan keluhan. Lalu arahkan pandang matanya pada Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih. Lalu buka mulut lagi. “Kalian juga tak mau membantuku?!”

Putri Pusar Bumi sentakkan kepala berpaling. Bidadari Delapan Samudera terkesiap kaget. Karena bersamaan dengan itu rambut putih panjang milik Putri Pusar Bumi menderu angker ke arahnya!

“Apa yang hendak kau lakukan?!” Bidadari Delapan Samudera masih sempat berteriak. Namun karena dalam keadaan tertotok, gadis ini hanya bisa berteriak tanpa mampu membuat gerakan.

Sosok Bidadari Delapan Samudera tiba-tiba terangkat ke udara. Gadis ini sudah akan berteriak lagi. Apalagi ketika dia merasakan sosoknya meluncur jatuh ke bawah! Tapi belum sampai suaranya terdengar, rambut putih Putri Pusar Bumi kembali berkelebat. Terdengar suara seperti orang tercekik. Sosok Bidadari Delapan Samudera tahu-tahu sudah terlilit rambut si nenek tambun di udara. Sosok gadis ini sesaat tertahan di udara lalu melayang turun perlahan-lahan hingga akhirnya menyentuh tanah.

Begitu sosok Bidadari Delapan Samudera bersentuhan dengan tanah, Putri Pusar Bumi sentakkan kepalanya lagi. Sosok Bidadari Delapan Samudera terguling ke samping beberapa kali. Bidadari Delapan Samudera sudah hendak berseru. Namun tiba-tiba gadis ini kancingkan mulutnya lagi ketika tiba-tiba dia merasakan dapat menggerakkan anggota tubuhnya! Sadar apa yang telah dilakukan Putri Pusar Bumi, Bidadari Delapan Samudera segera bergerak bangkit. Lalu menjura hormat dan berkata.

“Terima kasih....”

Putri Pusar Bumi tersenyum. Lalu berbisik pada Iblis Pedang Kasih yang tegak di sampingnya. “Kulihat Dayang Tiga Purnama dalam keadaan tak berdaya! Lakukan sesuatu padanya!”

Iblis Pedang Kasih arahkan pandang matanya pada sosok Dayang Tiga Purnama yang masih terbujur diam di atas tanah karena ditotok oleh Bidadari Tujuh Langit. Kejap lain tiba-tiba laki-laki bertubuh cebol ini luruskan kedua tangannya kedepan. Lalu serta-merta ditarik kebelakang. Di seberang depan, Dayang Tiga Purnama rasakan sosoknya disedot kekuatan dahsyat. Hingga saat itu juga sosoknya terseret ke arah Iblis Pedang Kasih!

Bidadari Tujuh Langit sebenarnya sudah hendak melakukan gerakan menghadang dengan sentakkan kedua tangannya memotong gerakan sosok Dayang Tiga Purnama. Tapi karena sadar gerakannya akan kalah cepat, perempuan berpakaian putih ini akhirnya urungkan niat meski dengan mata melotot angker dan dada panas dilanda hawa kemarahan. Begitu sosok Dayang Tiga Purnama berada dua langkah di depan Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih luruhkan kedua tangannya ke bawah. Seretan sosok Dayang Tiga Purnama terhenti.

Putri Pusar Bumi bungkukkan tubuh. Jari tangan ka- nannya bergerak beberapa kali pada beberapa bagian tubuh Dayang Tiga Purnama. Begitu Putri Pusar Bumi angkat tangan kanannya, Dayang Tiga Purnama mampu bergerak bangkit.

“Cucuku.... Harap kau bersabar! Mari kita selesaikan semua ini dengan bicara baik-baik! Kekerasan hanya akan mendatangkan penyesalan! Dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah!” berkata Putri Pusar Bumi.

“Eyang.... Aku sudah mencoba bicara baik-baik! Tapi ternyata tidak membawa hasil! Kedua manusia itu bungkam tidak mau menjawab!”

“Biar nanti aku yang bicara!” ujar Putri Pusar Bumi lalu berpaling pada Bidadari Pedang Cinta yang sedari tadi hanya tegak diam. Putri Pusar Bumi memberi isyarat dengan lambaian tangan.

Sesaat Bidadari Pedang Cinta tampak bimbang. Namun ketika dilihatnya Iblis Pedang Kasih anggukkan kepala, gadis cantik berbaju hijau ini perlahan-lahan melangkah mendekat. Begitu Bidadari Pedang Cinta tegak di samping Dayang Tiga Purnama, Bidadari Delapan Samudera berkelebat ke depan.

“Sebenarnya aku takut bicara. Tapi kalau boleh aku mengatakan, harap kau jangan terburu nafsu, Gadis Jelita...” Mendadak Paduka Seribu Masalah berucap.

Bidadari Delapan Samudera batalkan niat. Memandang sesaat pada Datuk Kala Sutera lalu perlahan-lahan mendekati Paduka Seribu Masalah dan berkata. “Aku perlu jawaban pasti dari pemuda berjubah hitam itu! Sekaligus dia harus membayar nyawa eyang guruku!”

“Aku takut mengatakannya. Tapi aku tidak takut untuk memberi penjelasan jika mungkin nantinya kau akan memperoleh apa yang kau inginkan!” ujar Paduka Seribu Masalah.

“Kau dapat menduga ada apa di balik ucapan sahabat kita itu?!” Putri Pusar Bumi berbisik pada Iblis Pedang Kasih.

Iblis Pedang Kasih gelengkan kepala. “Aku tak tahu pasti. Namun satu hal. Aku pernah berbincang dengan gadis baju biru itu. Sepertinya dia punya masalah yang sama dengan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama!”

Di seberang depan, melihat munculnya Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih, dan Paduka Seribu Masalah, Pendekar 131 menghela napas lega. Tapi tidak demikian halnya dengan Nenek Selir. Nenek berselempang kain hitam itu mendelik lalu putar pandangan berkeliling.

“Wang Su Ji lenyap bersama manusia yang duduk rangkapkan kaki itu! Sekarang dia muncul lagi tanpa si jahanam Wang Su Ji! Pasti dia tahu di mana beradanya si keparat itu! Dan si perempuan gembrot itu.... Tempo hari dia muncul menyelamatkan Wang Su Ji. Kalau kemunculannya kali ini masih juga ada kaitannya dengan Wang Su Ji, dia akan tahu dengan siapa dia harus berhadapan! Sekarang manusia yang duduk rangkapkan kaki itu harus memberi jawaban padaku!”

Berpikir begitu, Nenek Selir jadi lupa akan urusan kotak kuning berukir. Dia berkelebat ke depan lalu tegak sepuluh langkah di hadapan Paduka Seribu Masalah. Namun belum sampai Nenek Selir buka mulut, Paduka Seribu Masalah sudah perdengarkan suara mendahului.

“Sahabatku, Nenek Selir! Harap kau tidak takut mendengarnya. Orang yang kau cari berada di sekitar tempat ini. Hanya saja dia belum mau tunjukkan diri. Kuharap kau bersabar menunggu!”

“Bagus! Kau telah tahu sebelum aku bertanya! Tapi sayang sekali. Aku tak bisa menunggu! Katakan di mana beradanya jahanam itu!”

“Sekali lagi harap kau bersabar dan tabahkan hati! Karena....”

“Simpan dulu nasihatmu! Aku ingin tahu di mana beradanya keparat itu!”

LIMA

PADUKA Seribu Masalah tertawa. “Sahabatku Nenek Selir.... Aku tak takut mengatakan kalau kau punya sengketa besar dengan Wang Su Ji alias sahabatku Manusia Tanah Merah....”

“Kalau kau sudah tahu, mengapa kau masih tidak mau mengatakan di mana beradanya bangsat itu?!”

“Saat untuk hal itu akan tiba! Sekali lagi kuharap kau bersabar! Karena masih ada hal penting di tempat ini....”

“Persetan dengan segala hal penting! Aku hanya ingin tahu di mana bangsat itu berada!”

“Sahabatku Nenek Selir. Jangan takut kalau kukatakan jika hal penting itu masih ada kaitannya dengan dirimu!”

“Setan! Kau tahu apa tentang diriku, hah?! Dalam hidupku, hal yang paling penting adalah mencari sekaligus mencabut selembar nyawa jahanam itu!”

Paduka Seribu Masalah kembali perdengarkan tawa. “Sebenarnya aku takut mengatakannya. Tapi hari ini terpaksa kuberanikan diri. Semua ini kukatakan demi kebenaran dan tenteramnya arena negeri Tibet....”

“Kau terlalu sok tahu masalah orang!”

“Silahkan kau mau bilang apa. Yang jelas, bukankah selama ini kau tengah mencari seseorang yang pernah lahir dari rahimmu?!”

Nenek Selir terdiam. Tegaknya tampak bergetar. Mulutnya komat-kamit namun tak perdengarkan suara. Sepasang matanya mendelik pada sosok Paduka Seribu Masalah. Lalu mengedar berkeliling.

“Sahabatku Nenek Selir.... Kau harus bersyukur. Karena mungkin segala yang jadi ganjalan hatimu selama ini akan terungkap!”

“Kau memang digelari orang Paduka Seribu Masalah! Selama ini banyak orang mencarimu untuk bertanya! Tapi hari ini jangan berharapa kupercaya dengan ucapanmu!”

“Aku tidak memintamu untuk percaya! Tapi jika nantinya bukti yang akan mengungkapkan, apakah kau masih tidak akan percaya?!”

“Bukti apa yang akan kau ungkapkan, hah?!”

“Untuk hal itu sekali lagi waktunya akan tiba! Sekarang akan kita selesaikan dahulu urusan beberapa orang di tempat ini!”

“Urusan apa?! Urusan siapa?!” tanya si nenek dengan suara melengking.

“Kau dengar saja.... Nanti kau akan mengerti. Tapi harap nantinya kau tidak terkejut apalagi tidak percaya!”

Nenek Selir terdiam beberapa lama. Sebenarnya dia sudah tak sabar. Tapi entah karena apa, setelah berpikir sesaat, nenek berselempang kain hitam ini perlahan-lahan surutkan langkah ke belakang. Seakan dapat melihat gerakan orang, Paduka Seribu Masalah segera putar duduknya menghadap Putri Pusar Bumi seraya berkata.

“Sahabatku Putri Pusar Bumi. Aku tidak punya banyak waktu. Harap segera kau mulai saja bicara!”

Putri Pusar Bumi anggukkan kepala. Lalu arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

“Ada urusan apa ini?!” Diam-diam Bidadari Tujuh Langit membatin. Hatinya jadi tak enak. Apalagi kini sepasang mata Putri Pusar Bumi menatap lekat-lekat ke arahnya.

Di lain pihak, Datuk Kala Sutera tidak begitu peduli dengan apa yang didengar dan tatapan Putri Pusar Bumi. Karena begitu melihat kemunculan Paduka Seribu Masalah, pemuda berjubah hitam ini jadi geram. Dalam hati dia berkata.

“Ternyata dia yang asli Paduka Seribu Masalah! Hem.... Dia telah menipuku dengan menunjuk orang lain sebagai Paduka Seribu Masalah!” Datuk Kala Sutera ingat akan pertemuannya dengan Paduka Seribu Masalah beberapa hari berselang. Di mana saat itu Paduka Seribu Masalah tidak mau berterus terang mengatakan siapa dirinya. Malah justru saat itu Pendekar 131 yang mengaku sebagai Paduka Seribu Masalah.

“Bidadari Tujuh Langit....” Putri Pusar Bumi angkat suara setelah agak lama hanya diam dan pandangi sosok Bidadari Tujuh Langit. “Menurut kabar yang kudengar, kau mempunyai lima anak perempuan. Harap jujur jawab pertanyaanku. Benar atau tidak apa yang baru kukatakan?!”

Dada Bidadari Tujuh Langit berdebar. “Apa maksud pertanyaan manusia satu ini? Dia pernah punya silang sengketa denganku pada beberapa puluh tahun silam. Apa ada hubungannya dengan urusan sengketa itu?!”

“Apa maksud pertanyaanmu?!” Bidadari Tujuh Langit balik bertanya.

“Aku hanya ingin membuktikan kebenaran berita itu!”

“Untuk apa?! Kalau kau ingin meneruskan sengketa lama, kau tak usah membicarakan urusan itu!”

“Sengketa lama itu telah kukubur dalam-dalam!”

“Kau takut?!” tanya Bidadari Tujuh Langit seraya tertawa.

“Waktu telah mengubah segalanya! Seandainya aku masih seperti pada beberapa puluh tahun silam, mungkin tidak ada gunanya aku bicara denganmu! Yang akan bicara adalah kedua tanganku!”

“Hem.... Aku tak tahu pasti. Ucapanmu itu hanya karena takut menghadapiku atau....”

“Bidadari Tujuh Langit.... Kau telah dengar ucapanku. Aku tidak punya waktu banyak untuk duduk di tempat ini! Harap jawab saja apa yang ditanyakan padamu!” Yang perdengarkan suara adalah Paduka Seribu Masalah.

“Aku tak punya urusan denganmu! Kalau kau tak punya waktu banyak, mengapa kau tidak segera angkat kaki dari tempat ini?!”

“Kepergiannya hanya akan membuatmu menyesal, Bidadari Tujuh Langit!” Kali ini Iblis Pedang Kasih yang bicara.

“Menyesal?!” Bidadari Tujuh Langit tertawa panjang. “Jangankan hanya pergi angkat kaki. Dia mampus pun aku tak akan merasa menyesal!”

“Harap jangan berdebat. Aku takut mendengarnya! Kalau memang dia tak mau jawab pertanyaan, untuk apa kita memaksa?! Bukankah dengan begitu dia akan lebih menderita?! Karena selama hidupnya kelak dia tidak akan pernah tahu siapa anak-anak yang pernah dilahirkannya!”

“Jahanam! Apa kaitannya semua ini dengan ucapanmu?!” tanya Bidadari Tujuh Langit dengan melompat beberapa langkah.

“Jawab saja pertanyaanku dahulu. Nantinya kau akan mengerti!” Putri Pusar Bumi menyahut.

Bidadari Tujuh Langit tergagu diam. Matanya silih berganti memandang pada sosok Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih, dan Paduka Seribu Masalah.

“Bidadari Tujuh Langit... Kau tak usah malu-malu mengatakannya! Semua ini demi kebaikanmu!” kata Putri Pusar Bumi.

“Aku memang memiliki lima orang anak perempuan!” Akhirnya Bidadari Tujuh Langit buka mulut dengar suara bergetar.

“Kau tahu di mana mereka saat ini?!” tanya Putri Pusar Bumi.

Bidadari Tujuh Langit geleng kepala. Sementara Datuk Kala Sutera tampak terkejut dan palingkan kepala pada Bidadari Tujuh Langit. Diam-diam pemuda berjubah hitam ini membatin. “Aneh.... Sepertinya ada kesamaan antara aku dengan perempuan ini. Dia memiliki lima orang anak perempuan. Namun dia Juga tak tahu di mana beradanya anak-anaknya! Herannya lagi, dia juga pernah sebut-sebut Istana Lima Bidadari.... Siapa perempuan ini sebenarnya?! Dia mengenakan salah satu cincin dari Sepasang Cincin Keabadian. Dia juga sempat kujumpai saat aku baru saja mendapatkan salah satu dari Sepasang Cincin Keabadian!”

Baru saja Datuk Kala Sutera membatin begitu, Putri Pusar Bumi sudah perdengarkan suara lagi. “Bidadari Tujuh Langit.... Kau mengenal siapa adanya pemuda berjubah hitam itu?”

“Kalau kau belum tahu. Kau bisa menanyakan sendiri siapa dia!”

“Semua orang sudah tahu siapa nama pemuda itu! Yang kumaksud, apakah kau kenal lebih dari hanya sekadar namanya?!”

Bidadari Tujuh Langit tersenyum dingin. “Bagiku laki-laki adalah sampah! Jadi jangan tanya apakah aku mengenalnya lebih dari sekadar nama!”

“Bidadari.... Aku tidak memaksamu. Tapi ada baiknya kau lihat sekali lagi wajah pemuda berjubah hitam itu. Mungkin kau akan ingat sesuatu....”

“Walau wajahmu penuh gumpalan daging dan siapa pun akan muak melihatnya, namun bagiku lebih baik melihat wajahmu daripada melihat tampang laki-laki itu! Tanpa kuberi tahu kau tentu sudah bisa menebak apa sebabnya! Hik Hik Hik...!”

“Ah.... Ah.... Jadi kau masih tertarik padaku?!” tanya Putri Pusar Bumi sambil dongakkan kepala lalu putar tubuhnya dengan pantat digoyang-goyang.

Bidadari Tujuh Langit putuskan tawanya. Lalu membentak. “Jangan mengalihkan urusan! Kau telah bertanya banyak padaku. Sekarang jawab! Apa maksud semua pertanyaanmu tadi?!”

Putri Pusar Bumi hentikan gerakannya begitu lurus menghadap Bidadari Tujuh Langit. Lalu angkat suara. “Pertanyaanku belum selesai! Dan kau tak usah khawatir. Setelah semua pertanyaanku terjawab, aku akan mengatakan apa maksud semua ini!” Putri Pusar Bumi melirik sesaat pada Bidadari Tujuh Langit. Lalu sambung ucapannya. “Kalau kau punya anak. Berarti kau pernah punya suami! Bisa mengatakan padaku siapa nama suamimu?!”

“Dengar telingamu! Bagiku laki-laki adalah sampah! Jika kau bertanya yang ada kaitannya dengan makhluk laki-laki, kau tak akan mendapat jawaban apa-apa!”

“Hem.... Jadi kau tidak kenal suamimu?!”

Bidadari Tujuh Langit tidak menjawab. Sebaliknya melotot dengan mulut terkancing rapat. Putri Pusar Bumi nyengir. Lalu berpaling pada Iblis Pedang Kasih dan berbisik.

“Pekerjaanku selesai! Sekarang tiba giliranmu!”

Iblis Pedang Kasih maju satu tindak. Sepasang matanya terarah pada Datuk Kala Sutera. Menangkap gelagat jika Iblis Pedang Kasih hendak bicara dengan sang Datuk, Bidadari Tujuh Langit buru-buru mendahului.

“Aku tidak mau disela!”

“Bidadari Tujuh Langit!” kata Iblis Pedang Kasih. “Harap kau bersabar. Aku akan bicara dulu dengan pemuda itu!”

Tanpa menunggu sahutan orang, Iblis Pedang Kasih sudah ajukan tanya padaDatuk Kala Sutera. “Datuk! Dari keterangan seorang sahabatku, kau tengah mencari lima orang anak-anakmu! Betul?!”

Datuk Kala Sutera tidak segera menjawab. Sebaliknya arahkan pandang matanya pada Pendekar 131. Lalu beralih pada sosok Paduka Seribu Masalah. Kejap lain dia buka mulut. “Aku akan jawab pertanyaanmu. Tapi aku minta jaminan kau nanti akan memberi keterangan yang benar!”

“Bukan hanya keterangan benar yang akan kau dapatkan! Tapi lebih dari itu!” ujar Iblis Pedang Kasih.

“Hem.... Bagus! Jika nantinya ucapanmu dusta, jangan mimpi kau bisa lolos dari tanganku seperti yang pernah terjadi pada beberapa puluh tahun lalu!”

“Nyatanya kau masih ingat peristiwa itu....”

“Katakan. Pertanyaan apa lagi yang harus kujawab!” Datuk Kala Sutera segera menyahut seolah tak sabar.

“Kau belum jawab pertanyaanku tadi....”

“Aku memang tengah mencari kelima anak-anakku!”

“Kau tahu bagaimana raut wajah mereka?!”

“Aku meninggalkannya saat mereka masih bayi!”

“Kalau kau punya anak, pasti kau punya seorang istri yang melahirkan kelima anak-anakmu! Kau bisa mengatakan siapa istrimu?!”

“Aku tak bisa menjawab!”

Iblis Pedang Kasih tersenyum. “Mengapa?!”

“Aku tak bisa mengatakannya padamu! Masih ada yang perlu kujawab?!”

“Kau mengenal siapa adanya perempuan berbaju putih berparas cantik jelita itu?!” Iblis Pedang Kasih arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit.

“Menurut yang kudengar dia hanyalah seorang perempuan binal yang punya kelainan!”

Ucapan Datuk Kala Sutera bukannya membuat Bidadari Tujuh Langit marah. Sebaliknya perempuan ini tertawa panjang. Iblis Pedang Kasih mundur satu tindak. Lalu berbisik pada Paduka Seribu Masalah.

“Sahabatku.... Sesuai perjanjian kita tadi, sekarang tiba giliranmu!”

“Hai! Kau ingat dengan jaminan tadi?!” Datuk Kala Sutera berteriak.

“Aku masih ingat! Tapi harap kau tunggu dahulu. Sahabatku ini akan bicara!”

“Bidadari Tujuh Langit.... Datuk Kala Sutera...!” Paduka Seribu Masalah sudah perdengarkan suara menyahut ucapan Iblis Pedang Kasih tanpa memberi kesempatan pada Datuk Kala Sutera untuk buka mulut.

“Menurut beberapa orang sahabatku, kalian berdua mengenakan Sepasang Cincin Keabadian. Kalian ingat bagaimana hingga bisa mendapatkan cincin itu?!”

Baik Bidadari Tujuh Langit maupun Datuk Kala Sutera tidak ada yang buka mulut menjawab. Kedua orang ini hanya saling pandang sesaat.

“Baik! Itu urusan kalian... Tapi harap kalian tahu. Sepasang Cincin Keabadian tak mungkin lepas dari pemiliknya secara satu-persatu! Dan ini menjadi satu petunjuk jika kalian berdua pernah saling kenal tidak hanya sekadar nama! Bagaimana jawab kalian?!”

Lagi-lagi Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tidak ada yang menyahut. Namun diam-diam kedua orang ini coba mengingat. Hanya saja meski keduanya telah berusaha, mereka tidak ingat lagi apa yang pernah mereka lakukan!

“Kalian tidak ada yang menyahut. Mengapa?!” tanya Paduka Seribu Masalah. “Kalian takut?!”

“Kau tadi bicara tak punya waktu banyak! Sekarang kau banyak mulut!” Bidadari Tujuh Langit membentak. “Katakan saja terus terang! Ada apa ini sebenarnya!”

“Begitu maumu?! Baik.... Harap kalian berdua tidak takut mendengarnya! Sebenarnya kalian berdua adalah pasangan suami-istri! Dan kalaupun sampai akhirnya kalian berdua tidak saling kenal, kalian tentu lebih tahu apa sebabnya....”

ENAM

BIDADARI Tujuh Langit simak ucapan Paduka Seribu Masalah dengan kepala didongakkan. Sementara Datuk Kala Sutera pandangi sosok sang Paduka dengan mulut terkancing rapat. Mendadak Bidadari Tujuh Langit tertawa bergerai. Namun hanya sesaat. Kejap lain perempuan ini membentak dengan mata nyalang menatap sosok Paduka Seribu Masalah.

“Mulutmu lancang bicara! Kau sepertinya lebih tahu siapa diriku daripada aku!”

“Bidadari Tujuh Langit.... Dalam hal ini, aku tidak takut mengatakan jika semua orang di daratan Tibet tahu kalau kau adalah istri Datuk Kala Sutera!”

“Aku tidak kenal dengan pemuda itu sebelum ini!”

“Bagaimana dengan dirimu, Datuk Kala Sutera?!” Paduka Seribu Masalah bertanya pada sang Datuk yang sedari tadi hanya diam.

“Enam belas tahun lalu, aku memang pernah berjumpa dengannya! Tapi tidak lebih dari sekadar jumpa! Jadi adalah lucu kalau kau mengatakan aku adalah suaminya! Apalagi telingamu dengar sendiri. Perempuan itu lebih suka jasad perempuan daripada sosok laki-laki!”

“Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera! Kalian tengah menjalani suratan hidup yang harus kalian terima apa pun kenyataannya! Kalian adalah pasangan suami-istri dan kalian memiliki lima orang anak perempuan! Dan harap kalian tidak tersinggung kalau kukatakan, kalian tidak saling kenal karena ulah kalian sendiri pada masa enam belas tahun silam! Saat mana kalian mendapatkan Sepasang Cincin Keabadian dari tangan Dewi Keabadian!”

“Kau boleh bicara panjang lebar! Yang jelas aku tidak pernah mengenalnya sebelum ini!”

“Sekarang masalahnya bukan mengenal atau tidak sebelum ini! Kau mengatakan memiliki lima orang anak. Sementara Datuk Kala Sutera juga tengah mencari lima orang anaknya! Kalian juga mengenakan....”

“Cukup!” potong Bidadari Tujuh Langit. “Selama kau dikenal sebagai manusia yang tahu banyak masalah orang! Sekarang coba katakan di mana kelima anakku?!”

“Sebelum kujawab, aku minta kau memperhatikan kelima gadis yang saat ini berada di tempat ini!”

Galuh Sembilan Gerhana, Galuh Empat Cakrawala, Bidadari Pedang Cinta, Bidadari Delapan Samudera, dan Dayang Tiga Purnama, serentak saling pandang satu sama lain dengan dada berdebar tidak enak. Sementara Bidadari Tujuh Langit langsung sapukan pandangannya memperhatikan satu persatu kelima gadis di tempat itu. Datuk Kala Sutera ikut-ikutan gerakkan kepala memandang berganti-ganti.

“Apa pendapatmu?!” bertanya Paduka Seribu Masalah.

Bidadari Tujuh Langit kancingkan mulut tidak menjawab. “Aku memang tidak pernah melihat mereka. Tapi dari beberapa orang sahabat, aku diyakinkan kalau wajah mereka hampir mirip! Benar?!”

Entah karena apa, walau tanpa buka mulut, Bidadari Tujuh Langit sambuti pertanyaan Paduka Seribu Masalah dengan anggukkan kepala.

“Bidadari Tujuh Langit! Seandainya saat ini kau bertemu dengan anak-anakmu, apakah ada sesuatu yang membuatmu mengenalnya?!”

“Apakah mereka anak-anakku?!” Mendadak Bidadari Tujuh Langit ajukan tanya dengan suara sedikit bergetar.

“Aku tanya.. Seandainya saat ini kau bertemu dengan anak-anakmu, apakah ada sesuatu yang membuatmu mengenal mereka?!” Paduka Seribu Masalah ulangi pertanyaan.

“Aku memberi tanda pada kelima anakku! Jadi meski aku tidak pernah bertemu, aku bisa mengenali mereka!”

Belum sampai ucapan Bidadari Tujuh Langit selesai, Paduka Seribu Masalah putar duduknya menghadap Bidadari Delapan Samudera. Si gadis jadi terkejut dan makin berdebar.

“Gadis cantik baju biru! Selama ini kau mencari seseorang yang bisa membuka rahasia hidupmu. Kau tidak keberatan jika Bidadari Tujuh Langit....”

“Aku tidak sudi!” Bidadari Delapan Samudera sudah menukas. “Bukan dia yang bisa membuka rahasia hidupku! Tapi manusia berjubah hitam itu!” Tangan Bidadari Delapan Samudera menunjuk lurus pada Datuk Kala Sutera.

Paduka Seribu Masalah putar duduknya. Lalu berucap lagi. “Gadis baju hijau bernama Bidadari Pedang Cinta. Dan kau gadis baju ungu bernama Dayang Tiga Purnama… Apakah kalian....”

Hanya sampai disitu ucapan yang terdengar dari Paduka Seribu Masalah. Karena hampir bersamaan Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama sudah buka mulut.

“Aku tak akan pernah percaya kalau dia adalah manusia yang melahirkanku!” kata Bidadari Pedang Cinta.

“Bukti apa pun yang akan diucapkan, aku tak akan pernah mau mengakui dia sebagai seorang ibu!” timpal Dayang Tiga Purnama.

Paduka Seribu Masalah gerak-gerakkan kepalanya di belakang rangkapan kedua kakinya. Lalu putar duduknya menghadap Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Namun belum sampai dia perdengarkan suara, Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana sudah mendahului.

“Dia bukan saja tak layak dipanggil ibu. Tapi mampus pun sebenarnya masih tidak pantas!” kata Galuh Sembilan Gerhana.

“Bagi dia seharusnya malu untuk mencari anak- anaknya!” sahut Galuh Empat Cakrawala.

“Aku tanya sekali lagi. Apakah mereka anak-anakku?!” tanya Bidadari Tujuh Langit sambil arahkan pandang matanya pada Paduka Seribu Masalah.

“Sebenarnya aku takut untuk mengatakannya. Tapi....”

“Aku tak ingin dengar alasan!”

“Mereka memang anak-anak yang pernah kau lahirkan!”

Tampang Bidadari Tujuh Langit berubah. Dia mendongak dengan perdengarkan gumaman tak jelas. Sementara semua orang di tempat itu terdiam tak ada yang buka suara atau membuat gerakan. Namun keheningan itu hanya beberapa saat. Karena tiba-tiba murid Pendeta Sinting yang sedari tadi diam simak perbincangan orang membuat gerakan berkelebat ke arah Pedang Keabadian.

Nenek Selir hanya bisa berteriak marah karena terlambat untuk membuat gerakan menghadang. Sementara Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera buru-buru sentakkan tangan masing-masing. Dua jengkal lagi tangan kanan Joko menyentuh kotak kuning berukir berisi Pedang Keabadian, mendadak terdengar deruan gelombang angin dari arah samping. Pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera langsung ambyar di tengah jalan tanpa perdengarkan ledakan! Sementara sosok murid Pendeta Sinting langsung terjengkang dan bergulingan di atas tanah!

Semua orang terkesiap kaget. Semua kepala berpaling ke arah sumber datangnya gelombang yang mampu membuat buyar pukulan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera serta membikin sosok murid Pendeta Sinting terjengkang bergulingan. Namun semua orang jadi terlengak kaget. Karena mereka tidak melihat siapa-siapa!

“Jahanam! Jangan-jangan ini ulah manusia bangsat Wang Su Ji! Bukankah Paduka Seribu Masalah mengatakan dia tidak berada jauh dari tempat ini?!”

Nenek Selir menduga-duga. Dia pentang mata besar-besar lalu memandang liar ke arah sumber datangnya gelombang angin. Tapi dia tetap tidak melihat siapa-siapa?

Selagi semua orang terkesima begitu rupa, Bidadari Tujuh Langit tidak buang kesempatan. Dia cepat melompat ke arah kotak kuning. Datuk Kala Sutera tampaknya sudah bisa membaca gelagat. Hingga begitu Bidadari Tujuh Langit melompat, pemuda berjubah hitam ini segera pula berkelebat memotong.

Bukk! Bukk!

Kedua kaki Bidadari Tujuh Langit berbenturan dengan sepasang kaki Datuk Kala Sutera. Sosok Bidadari Tujuh Langit langsung terjungkal roboh tidak jauh dari kotak kuning berukir. Sementara Datuk Kala Sutera terbanting menghantam tanah dua tombak dari sosok Bidadari Tujuh Langit. Mungkin karena khawatir Bidadari Tujuh Langit segera menyambar kotak kuning di sebelahnya, Datuk Kala Sutera segera bangkit. Sekali berkelebat, sosoknya sudah berada di hadapan Bidadari Tujuh Langit dengan kaki kanan membuat sapuan menendang!

"Wuutt!" Satu sinar hijau berkiblat ganas menyongsong kepala Bidadari Tujuh Langit yang berusaha bergerak.

Bidadari Tujuh Langit tersentak kaget. Terlambat baginya untuk angkat kaki kiri menghadang tendangan kaki kanan sang Datuk. Tapi perempuan ini berpikir cepat. Dia segera ulurkan tangan kanan ke arah gagang pedang pada kotak berukir yang menancap di atas tanah. Walau sadar dirinya tidak mampu menahan hawa dingin pada kotak kuning dan belum tahu mengapa pada salah satu sisi kotak terdapat gagang pedang, namun sang Bidadari tampaknya maklum kalau kotak itu mengandung kekuatan. Hingga dengan salurkan hawa saktinya, dia teruskan gerakan tangan ke arah gagang pedang. Untuk sesaat hawa dingin memang menyelimuti tangannya. Namun Bidadari Tujuh Langit kuatkan diri. Dengan berteriak dia sentakkan tangannya ke atas.

"Wuutt!" Terdengar suara berdesing. Tangan kanan Bidadari Tujuh Langit terangkat ke udara. Semua orang di tempat itu tercengang melihat bagaimana ternyata tangan kanan Bidadari Tujuh Langit sudah memegang sebuah pedang putih berkilat!

Begitu tangannya terangkat, mendadak Bidadari Tujuh Langit berteriak lagi. Karena dia merasakan sekujur tubuhnya sudah regang kaku tak bisa digerakkan. Di lain pihak, Datuk Kala Sutera sempat terkesiap karena bersamaan dengan terhunusnya pedang, dia merasakan sosoknya tersapu mental. Hingga tendangan kaki kanannya bukan saja tertahan diudara, namun juga tersurut.

Datuk Kala Sutera lipat gandakan tenaga dalam. Dia makin khawatir apalagi melihat Bidadari Tujuh Langit sudah memegang pedang. Hingga sambil lipat gandakan tenaga dalam, dia kembali sentakkan kaki kanannya. Karena merasa sekujur tubuhnya tegang kaku tak bisa digerakkan, sementara tendangan kaki sang Datuk makin dekat, akhirnya tanpa banyak pikir lagi Bidadari Tujuh Langit babatkan pedang di tangan kanannya seraya dilepas.

"Praass!"

Datuk Kala Sutera menjerit seakan merobek langit. Sosoknya terhuyung ke belakang dengan bertumpu pada satu kaki. Karena kaki kanannya telah terputus sebatas pergelangan dan kucurkan darah. Pedang putih meluncur dan menancap di atas tanah. Sementara Bidadari Tujuh Langit terbanting lagi menghantam tanah. Tapi bersamaan dengan itu hawa dingin yang sesaat tadi membuat sekujur tubuhnya kaku sirna seketika.

Datuk Kala Sutera memandang sesaat pada pergelangan kakinya. Lalu beralih pada putusan kakinya yang tergeletak tidak jauh dari menancapnya pedang. Saat berikutnya mendadak pemuda berjubah hitam ini melompat ke arah pedang putih berkilat. Begitu tangan kanannya berhasil memegang gagang pedang, Datuk Kala Sutera cepat kerahkan hawa sakti untuk menahan hawa dingin. Lalu dengan bentakan garang dia sentakkan tangan kanannya.

"Wuutt!" Pedang putih tercabut dari tanah terangkat ke udara perdengarkan desingan tajam.

Bidadari Tujuh Langit berpaling. Namun tiba-tiba matanya membeliak. Darahnya laksana sirap melihat bagaimana sekonyong-konyong Datuk Kala Sutera tahu-tahu sudah gerakkan tangan kanannya yang memegang pedang ke arah kaki kirinya yang mengenakan cincin berwarna merah dari Sepasang Cincin Keabadian! Dalam kagetnya, Bidadari Tujuh Langit masih sempat lepas pukulan ke arah Datuk Kala Sutera dengan sentakkan kedua tangan.

Dess! Craass!

Datuk Kala Sutera terpental dengan mulut perdengarkan seruan dan hamburkan darah. Karena pukulan Bidadari Tujuh Langit tepat menghantam sosoknya. Di lain pihak, Bidadari Tujuh Langit tercengang dalam beberapa saat. Namun saat lain perempuan ini menjerit tinggi. Ketika pukulan Bidadari Tujuh Langit tepat menghantam sosok Datuk Kala Sutera, pemuda berjubah hitam ini cepat sentakkan pedang di tangan kanannya. Walau sosoknya sempat terpental, hebatnya pedang putih berkilat di tangannya terus menderu.

Bidadari Tujuh Langit memang sempat sentakkan kaki kirinya untuk menghindari luncuran pedang. Tapi luncuran pedang itu lebih cepat gerakannya. Hingga meski Bidadari Tujuh Langit sudah sekuat tenaga hindarkan kaki kirinya, namun tak urung pedang itu masih mampu membabat dan tepat membelah setengah telapak kaki Bidadari Tujuh Langit!

Beberapa orang di tempat itu, terlebih murid Pendeta Sinting, sesaat tadi memang sudah hendak membuat gerakan melerai. Tapi karena cepatnya peristiwa, dan karena khawatir dengan pedang yang telah berada di tangan orang, Joko jadi urungkan niat.

Sementara melihat apa yang terjadi, Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala sama-sama membuat isyarat. Dendam dalam diri kedua gadis ini memang sudah tak bisa ditahan lagi. Hingga begitu melihat kesempatan, keduanya segera saling memberi isyarat. Kejap lain keduanya melompat ke arah Bidadari Tujuh Langit. Saat bersamaan, Bidadari Delapan Samudera yang mendapat pesan dari gurunya agar membunuh Datuk Kala Sutera tidak lama menunggu. Dia segera pula berkelebat ke arah sang Datuk.

“Harap tidak ada yang membuat gerakan!” Mendadak terdengar orang bersuara. Lalu dua gelombang menghampar. Satu menghantam pada sosok Bidadari Tujuh Langit. Satu lagi menyapu ke arah sosok Datuk Kala Sutera.

Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala serta Bidadari Delapan Samudera tidak ada yang hiraukan seruan orang. Ketiganya teruskan gerakan meski saat itu mereka tahu ada dua gelombang yang tengah memotong gerakan mereka dan menghantam ke arah sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

Beberapa langkah lagi Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala sampai di hadapan sosok Bidadari Tujuh Langit dan Bidadari Delapan Semudera mencapai sosok Datuk Kala Sutera, tiba-tiba ketiga gadis ini berseru tegang. Sosok ketiganya mental balik lalu sama jatuh terduduk di atas tanah tersambar dua gelombang yang tengah menyapu ke arah Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kata Sutera!

Saat lain sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera terpelanting ke udara. Lalu secara aneh mendadak sosok keduanya tersapu ke arah satu jurusan sebelum akhirnya jatuh punggung diatas tanah saling berdampingan!

TUJUH

Anehnya, semua orang di tempat itu tidak langsung in- gin tahu siapa gerangan orang yang baru saja perdengarkan suara dan jelas baru saja lepas dua gelombang angin aneh yang membuat sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera jatuh berdampingan di seberang depan. Sebaliknya semua mata terpaku pada sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera yang dengan sekuat tenaga berusaha bangkit duduk.

“Gila! Apa mataku tidak salah lihat?!” Nenek Selir pentangkan mata lalu kucek-kucek matanya dengan tangan kanan yang tidak menggenggam pedang. Saat lain kembali memelototi sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

“Heran! Apa yang terjadi dengan mereka?!” Joko ikut bergumam. Lalu sapukan pandangan pada semua orang di tempat itu.

“Mereka juga tampak terkejut! Berarti mataku tidak menipu! Mereka juga melihat perubahan itu!”

Di seberang depan, begitu berhasil duduk, Bidadari Tujuh Langit segera berpaling. Dia sudah akan buka mulut. Namun tiba-tiba mulutnya terkancing kembali. Sepasang matanya melotot pada sosok Datuk Kala Sutera. Di sebelahnya, sang Datuk segera pula menoleh begitu mampu bergerak duduk. Seperti halnya Bidadari Tujuh Langit, pemuda berjubah hitam ini buru-buru urungkan niat untuk buka mulut. Sebaliknya memandang lekat-lekat pada sosok Bidadari Tujuh Langit.

Secara aneh, dalam pandangan orang-orang di tempat itu, baik sosok Bidadari Tujuh Langit maupun sosok Datuk Kala Sutera perlahan-lahan berubah. Rambut hitam lebat milik kedua orang ini berubah menjadi hitam bercampur putih. Lalu kulit sekujur tubuh keduanya juga berubah berkerut-kerut. Dan hanya beberapa saat, sosok keduanya telah menjadi seorang laki-laki dan perempuan paruh baya!

“Aneh.... Mengapa dia berubah?!” Bidadari Tujuh Langit sempat menduga-duga.

“Tapi mengapa dia memandangku begitu rupa?! Jangan- jangan ada yang....” Sang Bidadari tidak lanjutkan gumamannya. Sebaliknya alihkan pandang matanya ke arah dirinya sendiri.

Saat yang sama Datuk Kala Sutera juga memperhatikan dirinya. Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama-sama berseru tegang. Keduanya hampir saja terlonjak jika saja tidak terdengar satu suara.

“Bidadari Tujuh Langit! Datuk Kala Sutera! Harap kalian tidak terkejut! Lebih lagi kuharap kalian masih mengenaliku!”

Satu sosok bayangan putih berkelebat dari arah mana tadi dua gelombang menyapu sosok Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Lalu satu sosok tubuh tahu-tahu telah duduk berselonjor kaki sepuluh langkah di hadapan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

Paduka Seribu Masalah renggangkan rangkapan kedua kakinya. Sementara semua orang di tempat itu segera alihkan pandang mata masing-masing pada orang yang baru muncul. Mereka melihat seorang nenek berambut putih mengenakan pakaian putih. Kedua kakinya yang berselonjor tampak terputus hingga nenek ini tidak memiliki telapak kaki.

“Kau tahu siapa nenek itu?!” Putri Pusar Bumi berbisik pada iblis Pedang Kasih.

Yang ditanya geleng kepala. “Aku tidak pernah bertemu dengan nenek itu! Mungkin sahabat kita Paduka Seribu Masalah bisa mengenalinya!”

Baru saja Iblis Pedang Kasih berucap begitu, nenek berambut putih yang duduk berselonjor kaki berpaling pada Putri Pusar Bumi. Bibirnya tersenyum. Lalu terdengar dia berucap. “Kita memang belum pernah bertemu. Tapi aku mungkin bisa mengenalimu. Bukankah kau Putri Pusar Bumi?!”

Belum sampai Putri Pusar Bumi menyahut, si nenek berambut putih sudah alihkan pandangannya pada Iblis Pedang Kasih seraya berkata. “Dan kau, bukankah Iblis Pedang Kasih...?!”

Lagi-lagi belum sampai yang disapa angkat bicara, si nenek sudah beralih memandang pada Paduka Seribu Masalah sambil sambungucapannya. “Paduka Seribu Masalah.. Senang bisa Jumpa denganmu lagi. Maaf kalau aku tadi menyela pembicaraanmu!”

“Siapa dia?!” Iblis Pedang Kasih berbisik pada Paduka Seribu Masalah.

“Jangan bertanya... Aku tidak berani memberi keterangan!”

Tanpa menunggu sahutan, si nenek segera gerakkan kepala. Kini pandangan matanya tertuju pada sosok Pendekar 131. “Kuharap kau betah berada di negeri ini untuk sementara waktu, Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng... Walau kau harus menghadapi kenyataan yang mungkin belum kau mengerti....”

Murid Pendeta Sinting tersentak kaget mendapati orang telah tahu siapa dirinya. Hingga begitu si nenek selesai berucap, Joko buru-buru menjura hormat seraya berkata. “Terima kasih kau telah mengenaliku. Namun kuharap kau tidak keberatan untuk mengatakan siapa dirimu....”

“Permintaanmu akan kupenuhi. Tapi bukan sekarang! Nanti kau akan tahu sendiri!” kata nenek berselonjor kaki seraya berpaling pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera.

“Sialan! Siapa nenek putih tak punya telapak kaki ini! Dia seolah memandang sebelah mata padaku!” Nenek Selir mendesis sendirian karena merasa tidak disapa oleh orang. “Jangan-jangan dia simpanan Wang Su Ji! Dia cemburu padaku lalu....”

Nenek Selir menyeringai. Saat lain dia edarkan pandangan berkeliling lalu terhenti pada tempat dimana nenek yang berselonjor kaki tadi melesat keluar. Karena tidak juga melihat tanda-tanda adanya orang, Nenek Selir tampaknya tidak sabar. Dia segera berkelebat lalu tegak tidak jauh dari nenek yang duduk selonjorkan kaki.

“Nenek Selir.... Ada apa?!”

Nenek Selir terperanjat mendapati nenek yang berselonjor kaki langsung bertanya dan dapat mengenali siapa adanya si nenek berselempang kain hitamini. “Kurang ajar betul! Dia juga telah mengenaliku! Pasti jahanam laki-laki itu yang memberi tahu!” desis Nenek Selir dengan mata melotot. Lalu buka mulut dengan suara keras membahana. “Kau siapa, hah?!”

“Mungkin kedua orang itu nanti bisa menjawab pertanyaanmu!”

“Aku ingin tahu dari mulutmu sendiri! Bukan dari mereka!”

“Ah.... Sudahlah.... Tidak ada untungnya kita berdebat. Hanya kuharap kau tidak segera pergi dari tempat ini!”

“Jangan memberi aturan padaku! Pergi atau tidak, itu urusanku!”

Nenek berambut putih yang duduk berselonjor tersenyum. “Nenek Selir.... Kuminta waktu padamu. Aku ingin bicara dulu dengan kedua orang itu!”

Tanpa menunggu lagi, si nenek berambut putih berbaju putih sambungi ucapannya ditujukan pada Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. “Bagaimana?! Kalian masih mengenaliku?!”

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera memandang tanpa ada yang buka suara. Sebaliknya kedua orang ini membuat gerakan untuk bangkit berdiri meski mereka tahu jika salah satu kaki mereka telah putus dan kucurkan darah. Tapi kedua orang ini jadi terkesiap mendapati bukan saja mereka tidak mampu untuk bergerak bangkit, namun juga tidak kuasa untuk alihkan pandang matanya dari sosok perempuan tua berambut putih yang duduk selonjorkan kaki!

“Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera! Kalian tidak akan mampu bergerak bangkit jika belum jawab pertanyaanku!” Berkata nenek berambut putih.

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tersentak diam. Namun diam-diam keduanya sama kerahkan tenaga dalam. Si nenek berambut putih tersenyum seraya gelengkan kepala.

“Kalian telah terluka seperti yang kualami enam belas tahun silam.... Kalian ingat?!”

Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera tercengang. Bukan hanya karena ucapan orang, namun juga ternyata keduanya tidak mampu bergerak walau mereka telah kerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki!

“Siapa kau sebenarnya?!” tanya Bidadari Tujuh Langit dengan suara serak parau.

“Malam itu kalian datang ke sebuah pulau sepi. Kalian menginginkan sesuatu yang semestinya bukan menjadi hak seorang manusia! Kalian ingin tetap hidup dengan tubuh tidak berubah selamanya....”

Nenek yang duduk selonjorkan kaki hentikan ucapannya sesaat. Lalu dongakkan kepala. Di depannya, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera kernyitkan dahi masing-masing dengan mulut terbuka menganga tanpa perdengarkan suara.

“Malam itu...,” kata si nenek berambut putih berucap lagi. “Dengan licik kalian telah menipu seseorang dan bertindak jahat padanya hanya gara-gara kalian menginginkan benda berupa sepasang cincin... Peristiwa itu terjadi enam belas tahun silam....”

“Dewi Keabadian!” hampir bersamaan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera bergumam.

“Syukur kalian masih mengingatnya... Sekarang kuharap kalian juga ingat siapa orang yang ada di samping kalian masing-masing....”

Entah karena apa, walau sebenarnya tidak ingin membuat gerakan, namun seakan ada kekuatan dahsyat, kepala Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama berpaling saling berhadapan!

Sementara mendengar gumaman Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera yang mengucapkan nama si nenek, Nenek Selir tersurut kaget hingga melotot besar pandangi sosok orang di sampingnya lekat-lekat. Di lain pihak, Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih saling berpandangan. Pendekar 131 ikut-ikutan terkejut lalu ikut pula arahkan matanya pada sosok nenek yang duduk berselonjor kaki.

Di depan, tiba-tiba baik Bidadari Tujuh Langit maupun Datuk Kala Sutera seakan tersadar dari lamunan panjang. Secara aneh, mereka mendadak dapat mengenali siapa adanya orang di hadapannya!

“Bidadari Tujuh Langit istriku...,” desis Datuk Kala Sutera dengan suara seakan tercekat di tenggorokan.

“Kau.... Datuk Kala Sutera...!” gumam Bidadari Tujuh Langit setengah berbisik.

Seakan lupa pada keadaan masing-masing, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera bergerak hendak julurkan tangan. Namun keduanya tercengang ketika menyadari tangan mereka tak bisa digerakkan!

“Apa yang terjadi dengan diriku?!” gumam Bidadari Tujuh Langit seraya berpaling pada nenek yang duduk berselonjor kaki dan bukan lain memang Dewi Keabadian. Sementara Datuk Kala Sutera tergagu heran lalu perlahan-lahan arahkan pandang matanya pula pada Dewi Keabadian.

“Bidadari Tujuh Langit, Datuk Kala Sutera. Aku datang hanya untuk memperingatkan! Bahwa sebagai manusia biasa, tidak layak untuk minta sesuatu yang bukan menjadi haknya! Keabadian hanya berhak dimiliki yang Maha Abadi! Dan kalaupun ada Sepasang Cincin Keabadian yang memang mampu membuat si pemakainya terlihat tetap awet muda dan tidak berubah, itu hanyalah bersifat sementara. Pada saatnya, si pemakai itu akan menuruti kodratnya untuk kembali kehadapan Sang Pencipta dengan apa pun jalannya! Dan satu hal lagi.... Setiap perbuatan, kelak pasti akan menumbuhkan hasil!”

Dewi Keabadian hentikan ucapannya sejenak. Lalu tarik kedua kakinya dan ditekuk membuat sikap seperti orang duduk bersila. Saat kemudian kembali dia berkata. “Pada satu malam enam belas tahun silam, kalian berdua telah memotong kedua kakiku untuk mengambil Sepasang Cincin Keabadian. Hari ini, kalian berdua mendapat hasil apa yang telah kalian lakukan padaku! Mudah-mudahan hal ini bisa kalian jadikan satu pelajaran berharga! Masih banyak waktu bagi kalian untuk menebus segala yang telah kalian lakukan!”

Seperti diketahui, pada enam belas tahun silam, Bidadari Tujuh Langit bersama suaminya Datuk Kala Sutera secara licik telah memotong kedua kaki Dewi Keabadian karena keduanya menginginkan Sepasang Cincin Keabadian yang dikenakan pada ibu jari kedua kaki sang Dewi. Begitu kedua kaki Dewi Keabadian putus, dan Sepasang Cincin Keabadian berpindah ke ibu jari kaki Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera, sosok Dewi Keabadian yang sebelumnya terlihat cantik jelita berubah menjadi sosok seorang nenek-nenek.

Tapi sebelum Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera berkelebat pergi, tiba-tiba kedua orang ini secara aneh tidak mampu meneruskan gerakan. Inilah kehebatan Dewi Keabadian. Dia mampu mengerahkan tenaga dalam untuk membuat sosok orang tidak mampu bergerak. Dan saat itulah Dewi Keabadian mengucapkan kata-kata jika suatu saat kelak Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera akan mengalami nasib yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan pada sang Dewi. Dan lebih dari itu, keduanya akan berubah! Mereka tidak akan saling mengenali satu sama lain! Bahkan mereka tidak akan mengenali siapa anak-anak mereka!

“Dewi.... Harap....”

“Bidadari Tujuh Langit!” Dewi Keabadian menukas ucapan Bidadari Tujuh Langit. “Tidak perlu kau mengucapkan kata maaf! Semuanya sudah terjadi...!”

Habis berkata begitu, Dewi Keabadian putar diri. Saat lain dia berkelebat ke arah potongan telapak kaki kiri Bidadari Tujuh Langit dan pergelangan kaki kanan Datuk Kala Sutera yang masih tergeletak di atas tanah. Begitu potongan kedua kaki itu berada di tangan, Dewi Keabadian segera lepaskan cincin berwarna merah pada ibu jari potongan kaki kiri Bidadari Tujuh Langit dan cincin berwarna hijau pada ibu jari potongan kaki kanan Datuk Kala Sutera. Saat kemudian sang Dewi mengenakan kedua cincin yang dikenal dengan Sepasang Cincin Keabadian itu pada ibu jari kedua tangannya sambil duduk bersila.

Begitu Sepasang Cincin Keabadian masuk pada kedua ibu jari tangan Dewi Keabadian, secara perlahan-lahan sosok sang Dewi berubah. Rambutnya yang putih berubah jadi hitam lebat. Kulitnya yang pucat keriput menjadi putih kencang. Hingga dalam beberapa saat saja sosoknya yang tadi seperti nenek-nenek telah berganti menjadi sosok gadis muda berparas cantik jelita!

Semua orang di tempat itu sempat terlengak. Dan belum sampai ada yang buka suara, Dewi Keabadian telah putar duduknya menghadap murid Pendeta Sinting dan berkata.

“Pendekar 131! Kutitipkan Pedang Keabadian padamu!”

“Dewi... Rasanya aku tak sanggup!” Pendekar 131 segera menyahut ingat jika dia tidak mampu menahan hawa dingin yang dipancarkan Pedang Keabadian. Dewi Keabadian tersenyum. Tiba-tiba dia angkat kedua tangannya lalu didorong ke arah Joko!

DELAPAN

Karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang, Pendekar 131 sempat terkejut dan cepat-cepat berkelebat hindarkan diri, walau dari dorongan kedua tangan Dewi Keabadian tidak terdengar adanya deruan atau berkiblatnya gelombang angin. Namun belum sampai Joko bergerak lebih jauh, dia merasakan sekujur tubuhnya tegang kaku tak bisa digerakkan! Saat bersamaan dia merasakan aliran hawa dingin menusuk hingga untuk beberapa saat sosok murid Pendeta Sinting menggigil dan terhuyung-huyung. Di seberang depan, Dewi Keabadian tarik pulang kedua tangannya. Hawa dingin dan huyungan sosok Pendekar 131 terhenti seketika.

“Ambil pedang itu, Pendekar 131!” Dewi Keabadian berucap.

Joko menghela napas. Matanya memandang beberapa saat dengan pandangan bimbang. Tapi dia merasakan satu keanehan. Mendadak ada satu dorongan yang membuat kedua kakinya bergerak melangkah meski sebenarnya dia belum berniat untuk bertindak!

“Ambil pedang itu, Pendekar 131!” Kembali Dewi Keabadian berkata saat langkah-langkah Joko mendekati Pedang Keabadian yang masih berada di atas tanah.

Apa yang dilakukan sang Dewi membuat Joko sadar jika perempuan itu tidak berniat jahat. Maka dengan tangan sedikit bergetar, Joko bungkukkan tubuh. Lalu perlahan-lahan tangan kanannya dijulurkan ke arah pedang. Sesaat murid Pendeta Sinting masih terlihat ragu-ragu, khawatir masih belum mampu untuk kuasai hawa dingin yang memancar dari Pedang Keabadian. Hingga dia diam-diam kerahkan hawa sakti untuk menahan hawa dingin. Lalu teruskan gerakan tangan kanan. Ketika tangan kanannya menyentuh Pedang Keabadian, sesaat hawa dingin memang masih terasa menjalar pada tangannya. Namun cuma sekejap.

Saat lain Joko sudah tidak lagi merasakan hawa dingin. Hingga dengan tenang Joko mengambil Pedang Keabadian. Lalu melangkah ke arah kotak kuning berukir yang masuk amblas ke dalam tanah tidak jauh dari tergeletaknya Pedang Keabadian. Kotak kuning berukir dicabut dengan tangan kiri. Lalu perlahan-lahan ujung Pedang Keabadian dimasukkan ke dalam lobang yang ada pada salah satu sisi kotak kuning berukir. Untuk beberapa saat semua mata yang ada di tempat itu memandang tak berkesip. Mereka seolah hampir tak percaya jika kotak berukir yang hanya dua jengkal itu mampu menahan panjangnya tubuh pedang.

Begitu ujung pedang sudah masuk, Dewi Keabadian arahkan pandang matanya pada Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih, dan Paduka Seribu Masalah yang tetap duduk rangkapkan kaki.

“Sahabat sekalian. Sebenarnya aku masih ingin berbincang dengan kalian. Namun rasanya waktunya kurang baik. Mudah-mudahan kita kelak akan dipertemukan lagi!”

Habis berucap begitu, Dewi Keabadian putar pandangan ke arah sosok Nenek Selir dan berkata. “Nenek Selir... Maaf kalau aku tidak bisa membicarakan urusanmu. Tapi aku percaya. Apa yang selama ini menjadi ganjalan hidupmu akan segera berakhir!”

Sebenarnya si nenek akan buka mulut. Namun sebelum suaranya terdengar, Dewi Keabadian sudah putar duduknya menghadap Pendekar 131 dan berucap.

“Pendekar 131! Sekali lagi kutitipkan Pedang Keabadian padamu! Pergunakan pedang itu sebagaimana mestinya! Ingat... Pedang itu hanya titipan... Mungkin satu hari kelak pedang itu harus rela kau serahkan pada orang lain!”

Joko anggukkan kepala. “Terima kasih, Dewi....”

Dewi Keabadian tersenyum. Lalu putar pandangan berkeliling ke arah Galuh Sembilan Gerhana, Galuh Empat Cakrawala, Bidadari Pedang Cinta, Bidadari Delapan Samudera, dan Dayang Tiga Purnama.

“Gadis-gadis cantik... Aku tidak bisa memberikan penjelasan panjang lebar. Aku hanya berpesan agar kalian mau menerima suratan kenyataan ini dengan lapang dada dan tabah! Kalian tidak bersalah dalam hal ini! Dan kalian harap menerima apa adanya Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera! Siapa pun mereka adanya, apa pun yang mereka lakukan, terimalah mereka sebagai manusia yang telah melahirkan kalian berlima!”

Dewi Keabadian rangkapkan kedua tangannya. Lalu edarkan pandangan sekali lagi pada semua orang yang ada di tempat itu. “Aku harus segera pergi....”

“Tunggu!” Nenek Selir menahan seraya melompat ke hadapan Dewi Keabadian.

“Nenek Selir!” Dewi Keabadian sudah mendahului berkata sebelum si nenek sempat angkat suara. Siapa yang kau cari tidak jauh dari tempat ini! Percayalah dia akan muncul menemuimu dan menyelesaikan urusannya! Hanya satu hal yang dapat kukatakan. Jangan terburu mengambil keputusan! Karena kau masih ada hubungannya dengan peristiwa di tempat ini!”

Si nenek tersentak kaget. “Apa hubungannya?!”

“Orang yang selama ini kau cari ada di tempat ini!”

“Aku sudah tahu! Aku sudah mencium bau bangkainya!” sahut Nenek Selir.

Dewi Keabadian geleng kepala. “Maksudku bukan orang yang selama ini kau cari untuk membalas dendam. Tapi darah dagingmu sendiri yang hilang dari tanganmu pada beberapa puluh tahun silam!”

Nenek Selir tegak dengan sosok bergetar dan mulut ternganga. Tanpa sadar sepasang matanya liar mengedar berkeliling. “Yang dimaksud perempuan ini pasti anakku! Tapi yangbmana...?! Menurut ucapannya, kelima gadis di tempat ini adalah anak-anak Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Sementara sudah tidak ada perempuan lain yang sepertinya pantas menjadi anakku!” Diam-diam Nenek Selir membatin. Saat itulah pandang matanya tertumbuk pada sosok Bidadari Tujuh Langit. Dada si nenek jadi berdebar tidak enak.

“Mungkinkah...? Mungkinkah dia?! Tapi tak mungkin....” Kepala si nenek bergerak menggeleng. Lalu berpaling pada Dewi Keabadian dan berkata dengan suara tersendat parau. “Dewi.... Kalau yang kau maksud ucapanmu adalah anakku, harap tunjuk yang mana!”

Dewi Keabadian gelengkan kepala. “Sebagai orang yang telah melahirkan, firasatmu sudah dapat menebak. Lain daripada itu, kau tentu memiliki sesuatu yang tidak bisa kau lupakan dari darah daging yang telah kau lahirkan!”

Habis berkata begitu, Dewi Keabadian membuat gerakan memutar duduknya. Mula-mula pelan. Namun makin lama putaran tubuhnya makin kencang hingga hanya beberapa saat sosoknya hanya merupakan putaran bayang-bayang. Kejap lain bayangan sosok Dewi Keabadian melesat dan lenyap dari tempat itu!

“Sialan betul! Dia tinggalkan tempat ini dengan menggantung masalah! Tapi aku memang memiliki sesuatu yang tak bisa kulupakan dari tubuh anakku!” desis Nenek Selir seraya memperhatikan kelebatan sosok bayangan Dewi Keabadian.

Hanya beberapa saat setelah lenyapnya sosok bayangan Dewi Keabadian, mendadak Putri Pusar Bumi angkat suara seraya arahkan pandangan pada Dayang Tiga Purnama.

“Cucuku.... Kau telah dengar sendiri ucapan Dewi Keabadian! Sekali lagi kuharap kau mau menerima kenyataan ini! Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera adalah orangtuamu! Enam belas tahun silam aku mengambilmu dari Lima Istana Bidadari, tempat tinggal kedua orangtuamu!”

“Cucuku Bidadari Pedang Cinta....” Kali ini Iblis Pedang Kasih yang menyahut seraya arahkan matanya pada Bidadari Pedang Cinta.

“Enam belas tahun lalu, aku juga mengambilmu dari Istana Lima Bidadari! Jadi terimalah Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sebagai kedua orang yang telah melahirkanmu ke atas dunia!”

Dayang Tiga Purnama dan Bidadari Pedang Cinta sama berpaling pada Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih. Lalu saling berpandangan satu sama lain. Mereka berdua seolah masih belum percaya dengan keterangan Dewi Keabadian dan ucapan yang baru didengarnya. Kedua gadis ini seakan masih tak mau bergeming dengan kenyataan dihadapan mereka apalagi jika ingat akan tindakan Bidadari Tujuh Langit yang pernah hendak melakukan tindakan tidak senonoh pada mereka.

Sementara diseberang depan, begitu sosok bayangan Dewi Keabadian lenyap, Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera sama arahkan pandang mata masing-masing pada kelima gadis yang berada di tempat itu. Lalu begitu mendengar ucapan Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih, keduanya serta merta arahkan pandang mata masing-masing pada Dayang Tiga Purnama dan Bidadari Pedang Cinta. Bidadari Tujuh Langit menghela napas panjang. Lalu terdengar dia berucap.

“Bidadari Pedang Cinta... Dayang Tiga Purnama... Dari keterangan Dewi Keabadian dan Putri Pusar Bumi serta Iblis Pedang Kasih, aku percaya jika kalian berdua adalah dua dari kelima anakku... Tapi percayalah! Aku tidak merasa kecewa jika kalian berdua tidak mau mengakui aku dan Datuk Kala Sutera sebagai orangtuamu! Karena kami berdua memang tidak pantas dikatakan sebagai orangtua!” Bidadari Tujuh Langit hentikan ucapannya. Sepasang matanya terlihat berkaca-kaca.

“Aku dan Datuk Kala Sutera tidak akan ingkari kenyataan! Kami berdua memang telah bertindak licik dan jahat! Kami berdua terlalu serakah untuk mencari sesuatu yang memang bukan semestinya menjadi hak kami! Hingga akibatnya bukan saja kami berdua yang harus menanggung akibatnya, tapi kalian berdua juga harus menerima pahitnya... Kuharap kalian berdua mau memaafkan kami....”

Habis berkata begitu, Bidadari Tujuh Langit mendongak. Kedua bahunya tampak berguncang keras. Lalu terdengar isakannya. Saat kemudian dia luruskan kepala memandang silih berganti pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Tanpa pedulikan kaki kirinya yang kucurkan darah dan luka dalam yang dideritanya, perempuan yang kini telah berubah menjadi sosok seorang wanita paruh baya ini bergerak merangkak ke arah Bidadari Pedang Cinta. Anehnya, kalau sesaat tadi dia laksana tegang kaku tak bisa bergerak saat Dewi Keabadian berkata, kini dia kembali dapat menggerakkan anggota tubuhnya!

Semua orang yang ada di tempat itu tegak tanpa ada yang buka suara atau membuat gerakan. Mata mereka tertuju pada gerakan Bidadari Tujuh Langit yang terus merangkak perlahan-lahan ke arah Bidadari Pedang Cinta. Begitu lima tindakan di hadapan Bidadari Pedang Cinta, mendadak Bidadari Tujuh Langit melompat lalu jatuhkan diri di kaki Bidadari Pedang Cinta.

“Anakku....” Suara Bidadari Tujuh Langit laksana tenggelam dalam isakan tangisnya. Kedua tangannya pegangi pergelangan kedua kaki Bidadari Pedang Cinta. “Terakhir kalinya aku minta maaf padamu... Karena setelah ini kematian adalah hal terbaik yang akan kuambil.... Manusia sepertiku tidak layak lagi berada di atas dunia apalagi harus berhadapan dengan anak-anak yang kulahirkan tapi harus menerima derita sengsara akibat ulahku... Aku malu dengan apa yang pernah kulakukan padamu... Aku sekarang pasrahkan diri padamu... Seandainya kau mau, aku minta tanganmulah yang mengakhiri hidupku agar terlepas beban deritaku ini...”

Bidadari Pedang Cinta mula-mula tidak bergeming dengan ucapan Bidadari Tujuh Langit. Malah gadis ini sempat hendak lepaskan dan tarik mundur kedua kakinya yang dipegang Bidadari Tujuh Langit.

“Anakku... Kedua tanganku memang sudah tak pantas membelaimu... Tapi izinkanlah untuk terakhir kalinya aku memegang kedua kakimu...” Bidadari Tujuh Langit eratkan pegangannya pada kedua pergelangan kaki Bidadari Pedang Cinta. Saat kemudian dia sorongkan wajahnya lalu menciumi kedua kaki Bidadari Pedang Cinta dengan hamburkan tangis.

Bagaimanapun tegar dan kokohnya hati Bidadari Pedang Cinta, melihat apa yang dilakukan Bidadari Tujuh Langit, perlahan-lahan hati gadis ini luluh juga. Dia tengadahkan kepala dengan mata dipejamkan. Lalu tekuk kedua kakinya dan bergerak melorot ke bawah dengan bahu berguncang dan sosok bergetar menahan tangis. Bidadari Pedang Cinta ulurkan kedua tangannya mengambil kepala Bidadari Tujuh Langit lalu diangkat tengadah. Saat kemudian dia bungkukkan wajah lalu menciumi wajah Bidadari Tujuh Langit dengan mata berlinang dan berkata terisak.

“Ibu....” Hanya itu suara yang terdengar dari mulut Bidadari Pedang Cinta meski sebenarnya mulutnya masih terbuka hendak mengucapkan kata-kata selanjutnya.

Melihat apa yang terjadi, tampaknya Dayang Tiga Purnama tak bisa menahan diri. Dia berlari menghampiri Bidadari Tujuh Langit yang masih saling berciuman dengan Bidadari Pedang Cinta. Lalu ikut jatuhkan diri dan berkata.

“Ibu... Aku mohon maaf... Aku...” Belum sampai suaranya berlanjut, tangisnya sudah menghambur.

Bidadari Tujuh Langit tarik pulang wajahnya dari wajah Bidadari Pedang Cinta. Lalu berpaling pada Dayang Tiga Purnama. Saat kemudian kedua orang ini sudah saling berpelukan dengan terisak-isak tanpa ada yang sempat buka suara.

Ketika Bidadari Tujuh Langit dan Dayang Tiga Purnama saling berpelukan, di seberang sana Datuk Kala Sutera tampak mendongak dengan sosok bergetar. Sepasang matanya terpejam rapat. Walau laki-laki ini tidak perdengarkan tangisan, tapi sikapnya jelas jika dia tengah menahan diri. Kejap lain pemuda berjubah hitam yang kini telah berubah menjadi laki-laki paruh baya ini luruskan kepalanya memandang ke arah Bidadari Tujuh Langit. Lalu perlahan-lahan menoleh pada Bidadari Delapan Samudera yang tegak dengan menghela napas panjang berulangkali.

Tanpa buka mulut, Datuk Kala Sutera membuat gerakan seperti orang hendak merangkak. Lalu bergerak ke arah Bi- dadari Delapan Samudera. Namun baru mendapat beberapa langkah, Bidadari Delapan Samudera sudah berkelebat menghambur ke arah Datuk Kala Sutera dan tegak dua langkah di hadapannya dengan mata berkaca-kaca dan bahu berguncang keras.

“Anakku....” Datuk Kala Sutera sekuat tenaga coba buka mulut seraya duduk tatapi sosok Bidadari Delapan Samudera. “Kau menginginkan nyawaku bukan?! Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan!” Datuk Kala Sutera pejamkan sepasang matanya. “Dosa yang kulakukan telah melampaui batas... Aku bu-lkan saja telah membuatmu menderita. Namun juga telah membunuh orang yang mengasuhmu... Pantas kalau tanganmulah yang berhak untuk menghabisiku...”

Bidadari Delapan Samudera gelengkan kepala. Mulutnya sudah terbuka. Namun justru bukan suara yang kemudian terdengar sebaliknya isakan tangis. Lalu kejap lain Bidadari Delapan Samudera sudah menghambur ke arah Datuk Kala Sutera dan merangkulnya dengan berbisik.

“Ayah....” Bidadari Delapan Samudera tak kuasa lanjutkan ucapan.

Sementara Datuk Kala Sutera perlahan-lahan buka sepasang matanya. Melihat Bidadari Delapan Samudera telah rangkul tubuhnya, laki-laki ini tak mampu lagi menahan diri. Sepasang matanya berlinang dengan kedua tangan bergerak membalas rangkulan Bidadari Delapan Samudera.

“Terima kasih kau masih mau menyebutku sebagai Ayah meski sebenarnya hal itu tak pantas kuterima dan keluar dari mulutmu....”

“Ayah... Jangan ucapkan kata-kata itu lagi... Sekarang kau harus menemui Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama...”

Habis berbisik begitu, tiba-tiba Bidadari Delapan Samudera bergerak bangkit. Saat kemudian dia angkat sosok Datuk Kala Sutera. Lalu perlahan-lahan dia melangkah ke arah bidadari Tujuh Langit yang masih berpelukan dengan Dayang Tiga Purnama. Belum sampai langkah Bidadari Delapan Samudera mendekati tempat Bidadari Tujuh Langit, Bidadari Pedang Cinta sudah berpaling. Kejap lain gadis berbaju hijau ini bangkit lalu menghambur menyongsong sosok Datuk Kala Sutera yang berada dalam bopongan Bidadari Delapan Samudera.

Saat kemudian terdengar lagi isakan tangis Bidadari Pedang Cinta begitu dia merangkul sosok Datuk Kala Sutera yang sudah didudukkan oleh Bidadari Delapan Samudera. Bidadari Tujuh Langit dan Dayang Tiga Purnama cepat menoleh. Melihat apa yang terjadi, kedua orang segera lepaskan pelukan masing-masing lalu laksana terbang. Dayang Tiga Purnama sudah melompat dan ikut memeluk sosok Datuk Kala Sutera. Sementara Bidadari Tujuh Langit merangkak menghampiri. Begitu dekat, Bidadari Delapan Samudera segera menyongsong lalu memeluk Bidadari Tujuh Langit. Hingga untuk beberapa saat tempat itu hanya dipenuhi dengan suara isakan tangis.

Agak jauh di sebelah samping, Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala pandang berlama-lama tanpa ada yang buka mulut. Mereka berdua seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengar. Hingga pada satu saat, Galuh Sembilan Gerhana berbisik pada Galuh Empat Cakrawala.

“Rasanya aku belum percaya dengan kejadian ini! Mungkinkah benar?!”

“Jangan bertanya padaku... Aku sendiri masih tak bisa membayangkan... Bagaimana sikap kita seandainya dia benar-benar orangtua kita?! Padahal...” Galuh Empat Cakrawala tak mampu lanjutkan gumaman. Sebaliknya berpaling ke jurusan lain dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat bagaimana dia telah diperlakukan secara tidak senonoh oleh Bidadari Tujuh Langit.

“Tidak!!!” Tiba-tiba Galuh Empat Cakrawala berteriak histeris. Kedua tangannya diangkat ditakupkan pada wajahnya.

Teriakan Galuh Empat Cakrawala membuat Bidadari Tujuh Langit lepaskan pelukan dari Bidadari Delapan Samu- dera. Lalu berpaling pada Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana. Sosok Bidadari Tujuh Langit terlihat bergetar hebat. Dia seolah tahu apa yang dirasakan Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Hingga setelah memejamkan sepasang matanya, dia merangkak mendekati kedua gadis itu.

“Galuh Empat Cakrawala... Galuh Sembilan Gerhana... Tak ada ucapan yang pantas kalian dengar dari mulutku... Bahkan tidak ada maaf yang layak kalian berikan padaku...”

Bidadari Tujuh Langit angkat kedua tangannya begitu berhenti tiga langkah di hadapan Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala. Sepasang matanya dibuka lalu memandang beberapa saat silih berganti pada kedua gadis dihadapannya.

“Galuh Sembilan Gerhana... Galuh Empat Cakrawala... Aku memang telah bertindak yang mungkin tidak bisa dimaafkan! Tapi kuharap kalian tidak segan mengakui Datuk Kala Sutera sebagai ayah kalian...” Habis berucap begitu, mendadak Bidadari Tujuh Langit hantamkan kedua tangannya ke arah kepalanya!

“Ibu!” Bidadari Delapan Samudera berteriak seraya melompat dan menahan gerakan kedua tangan Bidadari Tujuh Langit yang hendak menghantam kepalanya sendiri.

“Anakku Bidadari Delapan Samudera...,” ucap Bidadari Tujuh Langit seraya pandangi sosok Bidadari Delapan Samudera yang tegak disampingnya. Kepalanya menggeleng. “Aku malu dengan apa yang telah kulakukan pada keduanya... Aku... Aku...”

Bidadari Tujuh Langit tidak mampu lagi lanjutkan ucapan. Sebaliknya coba gerakkan lagi kedua tangannya yang ditahan Bidadari Delapan Samudera.

“Galuh Sembilan Gerhana... Galuh Empat Cakrawala...” Berkata Bidadari Delapan Samudera dengan suara setengah berbisik. “Kalau kalian masih mau mengakui aku sebagai saudara, kuharap kalian mau menerimanya sebagai Ibu, meski apa pun tindakan yang telah dilakukannya pada kalian...”

Galuh Empat Cakrawala berpaling dengan mata berkaca-kaca dan dipentang besar-besar. Lalu melangkah satu tindak menghampiri Bidadari Tujuh Langit.

SEMBILAN

“Kau bisa berkata begitu karena kau tidak merasakan derita aib yang telah kualami!” Galuh Empat Cakrawala berteriak seraya menunjuk pada Bidadari Delapan Samudera.

“Anakku Bidadari Delapan Samudera... Apa yang diucapkannya memang benar. Aku telah melakukan tindakan hitam yang rasanya sulit untuk dihapus! Begitu hitamnya tindakan yang telah kulakukan, ucapan pembelaan pun rasanya sudah tidak pada tempatnya lagi! Semua sudah telanjur terjadi... Dan ini semua memang karena aku sudah tenggelam dalam angkara nafsu. Sebenarnya aku ingin hidup lebih lama lagi apalagi aku telah menemukan kembali apa yang sudah hilang dari tanganku enam belas tahun lamanya. Namun kalau tewas lebih diinginkan oleh Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana, aku dengan senang hati akan menyerahkan diri pada mereka... Aku maklum, tewasnya diriku mungkin belum sebanding dengan aib yang telah kucorengkan. Tapi di atas semua itu, aku masih bersyukur. Karena pada akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan anak-anakku...”

Bidadari Tujuh Langit arahkan pandang matanya pada Galuh Empat Cakrawala yang tegak dua tindak dihadapannya. “Galuh Empat Cakrawala... Aku siap menghadapi apa yang akan kau lakukan... Ayo, lakukanlah anakku... Mampus di tanganmu kurasa lebih baik...” Bidadari Tujuh Langit tersenyum seraya anggukkan kepala.

Bidadari Pedang Cinta, Dayang Tiga Purnama, dan Datuk Kala Sutera saling lepaskan rangkulan. Lalu memandang pada Bidadari Tujuh Langit dan Galuh Empat Cakrawala. Sementara semua orang ditempat itu juga sama tujukan pandangan ke satu arah dengan dada berdebar.

“Galuh Empat Cakrawala... Harap kau tidak bimbang, Percayalah, kau tidak salah jika membunuhku... Lakukanlah, Nak...”

Galuh Empat Cakrawala gigit bibirnya sendiri. Sosoknya bergetar. Dia pandangi lekat-lekat sosok Bidadari Tujuh Langit. Sementara Galuh Sembilan Gerhana dan Bidadari Delapan Samudera saling pandang.

“Anakku... Sekiranya...” Hanya sampai disitu ucapan Bidadari Tujuh Langit. Karena mendadak saja Galuh Empat Cakrawala melompat ke hadapan Bidadari Tujuh Langit dan memeluk tubuhnya dengan tangis melengking.

Sesaat tadi Bidadari Delapan Samudera sempat membuat gerakan berjaga-jaga takut Galuh Empat Cakrawala turunkan tangan kasar lakukan ucapan Bidadari Tujuh Langit. Dia lepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menahan kedua tangan Bidadari Tujuh Langit. Lalu diam-diam kerahkan tenaga dalam untuk menghadapi segala kemungkinan. Tapi begitu mendapati apa yang dilakukan Galuh Empat Cakrawala, Bidadari Delapan Samudera cepat surutkan langkah satu tindak dengan mata berlinang. Sementara Galuh Sembilan Gerhana segera berlari lalu ikut memeluk sosok Bidadari Tujuh Langit! Untuk beberapa saat kembali tempat itu dipecah dengan isak tangis dan helaan-helaan napas panjang.

“Anak-anakku... Mari kita bergabung dengan mereka...” Datuk Kala Sutera berbisik pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama.

Tanpa perdengarkan sahutan, Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama segera membopong sosok Datuk Kala Sutera lalu melangkah mendekati Bidadari Tujuh Langit yang tengah bertangis-tangisan dengan Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana.

“Terima kasih, Anak-anakku...” Bidadari Tujuh Langit berucap dengan suara tersendat serak. “Di akhir usiaku ini, aku ingin menghabiskan dengan mensucikan diri dan merawat kalian... Aku ingin menebus apa yang selama ini tidak kulakukan sebagai seorang ibu...”

“Dan sejak hari ini, kuharap tidak ada lagi kata berpisah diantara kita!” Tiba-tiba Datuk Kala Sutera yang sudah tidak jauh dari Bidadari Tujuh Langit menyahut.

Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala berpaling. Saat berikutnya kedua gadis ini bangkit lalu menghampiri Datuk Kala Sutera. Sang Datuk tersenyum seraya lebarkan kedua tangannya.bGaluh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala bungkukkan tubuh lalu keduanya masuk dalam rengkuhan kedua tangan Datuk Kala Sutera tanpa ada yang buka suara.

*******************

Yang paling resah dan gelisah melihat pemandangan bertemunya anak dan orangtua itu adalah Nenek Selir. Sedari tadi sepasang matanya terus memperhatikan sosok Bidadari Tujuh Langit. Namun beberapa kali kepala nenek ini membuat gerakan menggeleng. Lalu saat lain bergumam tak jelas. Saat itulah ekor mata Nenek Selir menangkap gerakan satu sosok tubuh keluar dari balik rumpun bambu. Hanya dengan ekor mata, tampaknya si nenek sudah bisa menebak siapa gerangan adanya sosok yang muncul. Laksana orang kalap, sambil berteriak tinggi Nenek Selir melompat dan menghadang gerakan orang yang baru muncul.

Teriakan si nenek membuat Galuh Empat Cakrawala dan Galuh Sembilan Gerhana lepaskan pelukannya pada sosok Datuk Kala Sutera. Saat bersamaan, semua mata berpaling pada sosok yang baru muncul. Dia adalah seorang kakek berambut putih mengenakan jubah tanpa lengan berwarna abu-abu.

“Bagus! Tampaknya kau bukan laki-laki pengecut yang takut unjuk tampang!” Nenek Selir membentak. Tangan kirinya yang masih memegang pedang diangkat keudara. Sementara tangan kanannya diletakkan di atas pinggang dengan mata membeliak angker.

“Sahabatku Nenek Selir... Kau ingat ucapan Dewi Keabadian?! Aku takut untuk mengulanginya. Tapi rasanya kau masih tidak lupa...” Paduka Seribu Masalah angkat suara.

Nenek Selir mendengus lalu tanpa berpaling ke arah Paduka Seribu Masalah, dia berteriak. “Jangan ada yang berani buka suara ikut campur! Dan jangan mimpi aku percaya membabi buta dengan ucapan keterangan orang! Di tempat ini tidak ada urusan yang ada hubungannya dengan masalahku! Kalaupun ada, itu adalah urusan selembar nyawa manusia bangsat ini!”

Pedang di tangan Nenek Selir bergerak lurus menunjuk ke arah wajah laki-laki berjubah abu-abu tanpa lengan yang bukan lain adalah Wang Su Ji alias Manusia Tanah Merah, kekasih Nenek Selir semasa masih muda. Paduka Seribu Masalah perdengarkan tawa pendek lalu berucap.

“Sahabatku Nenek Selir... Percaya membabi-buta memang tidak baik. Tapi tidak ada salahnya kalau kau membuktikan dahulu... Siapa tahu kau menemukan satu kebenaran!”

“Apa yang perlu dibuktikan, hah?!” bentak Nenek Selir seraya sentakkan wajah berpaling ke arah Paduka Seribu Masalah.

“Aku tak berani mengatakannya. Karena kau tentu sudah tahu apa yang seharusnya kau buktikan!”

“Tidak ada yang perlu dibuktikan di tempat ini! Tidak ada manusia yang layak mendapat pembuktian di tempat ini! Kaudengar?!”

“Tapi....”

“Sialan! Kau pikir di tempat ini ada makhluk yang dikatakan Dewi sialan tadi?! Coba tunjuk! Yang mana?! Yang mana?! Dia..?!” Tangan kiri Nenek Selir yang memegang pedang bergerak memutar menunjuk lurus ke arah Putri Pusar Bumi seraya perdengarkan cekikikan. Lalu sambungi ucapannya.

“Kau kira dia pantas menjadi anakku, hah...?! Coba angkat kepalamu dari belakang rangkapan kedua kakimu! Lalu lihat baik-baik! Apa kesamaan antara aku dengan dia?! Wajahnya...?! Gumpalan dagingnya?! Atau potongan tubuhnya?!”

“Yu Sin Yin...” Manusia Tanah Merah buka mulut dengan suara pelan. “Aku telah dengar apa yang diucapkan Dewi Keabadian. Harap maafkan aku kalau aku sendiri tidak tahu bagaimana mengenali anak yang kau lahirkan meski itu adalah darah dagingku. Karena aku tidak menyaksikannya saat kau melahirkan.... Jadi kuharap....”

“Tutup mulutmu, Wang Su Ji! Urusanmu denganku adalah masalah nyawa!Bukan masalah anak yang kulahirkan!”

“Seperti sudah kukatakan, aku memang bersalah padamu... Tapi kau harus sadar, bagaimanapun juga yang kau lahirkan adalah anakku!”

“Hem.... Begitu kau sudah tidak laku lagi, lalu kau merengek-rengek padaku dengan alasan anak! Jangan mimpi! Jangan berharap!”

“Jangan salah duga, Yu Sin Yin... Kalaupun aku berharap bisa bertemu dengan anak kita, hal itu karena aku ingin menebus kesalahanku... Aku akan minta maaf... Setelah itu mati pun aku akan tenang.”

“Kau terlalu bermimpi, Wang Su Ji!” Nenek Selir putar arah pedangnya pada sosok Wang Su Ji alias Manusia Tanah Merah.

Di lain pihak, entah karena apa Manusia Tanah Merah tenang-tenang saja menghadapi acungan pedang Nenek Selir. Bahkan kakek ini hanya memandang sekilas. Lalu arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit.

“Hem.... Pandanglah sepuasmu perempuan itu! Karena hari ini terakhir kalinya kau dapat memandang perempuan cantik!”

“Ah... Ah... Tampaknya dia masih cemburu! Hik Hik Hik...!” Tiba-tiba Putri Pusar Bumi angkat suara seraya tertawa cekikikan.

Tampang Nenek Selir berubah merah mengelam. Sepasang matanya mendelik. Namun sebelum nenek ini sempat buka mulut, Paduka Seribu Masalah perdengarkan suara.

“Sahabatku Nenek Selir... Sebenarnya aku takut untuk berkata. Tapi demi mendengar keterangan Dewi Keabadian, aku percaya di tempat ini ada seseorang yang selama ini kau cari!”

“Jahanam! Sedari tadi kau hanya bicara tapi tak mau tunjuk orang!” bentak Nenek Selir.

“Sahabatku... Seandainya aku tunjuk orang, kau mau percaya?!”

Nenek Selir terdiam dengan dada berdebar. Entah karena apa mendadak dia ikut arahkan pandang matanya pada Bidadari Tujuh Langit yang saat itu duduk di antara Bidadari Delapan Samudera, serta Bidadari Pedang Cinta, dan Dayang Tiga Purnama.

Bidadari Tujuh Langit tampak tersentak kaget mendengar ucapan Paduka Seribu Masalah serta mendapati tatapan Manusia Tanah Merah dan Nenek Selir. Dia balas menatap silih berganti pada Manusia Tanah Merah dan Nenek Selir dengan menghela napas panjang.

“Bidadari Tujuh Langit!” Mendadak Nenek Selir berucap dengan suara lantang. “Siapa kau sebenarnya?!”

Yang ditanya berpaling sesaat pada anak-anaknya. Lalu berucap pelan. “Apa maksudmu, Nek?!”

“Bodoh! Aku tanya siapa kau sebenarnya?! Dari mana asal-usulmu! Siapa orangtuamu!”

SEPULUH

Bidadari Tujuh Langit terdiam beberapa saat dengan kepala ditengadahkan. Lalu berucap dengan suara agak parau. “Waktu masih kecil aku hidup bersama seorang laki-laki tua dan seorang nenek. Pada mulanya aku menduga mereka berdua adalah orangtuaku. Tapi begitu si laki-laki akan meninggalkan dunia, dia sempat memberi tahu kalau sebenarnya diriku bukanlah anak kandungnya....”

Bidadari Tujuh Langit hentikan ucapan dengan kepala diluruskan dan pandang matanya menerawang jauh. Saat kemudian dia lanjutkan ucapannya. “Aku berusaha bertanya pada nenek. Tapi aku tidak memperoleh jawaban pasti. Dia tidak tahu-menahu soal diriku. Yang jelas ketika suaminya pulang, dia telah membawaku. Sang suami mengatakan aku adalah anak dari sahabatnya! Aku telah berusaha mencari tahu. Namun hingga aku besar, aku tidak mampu menyingkap siapa kedua orangtuaku sebenarnya....”

Nenek Selir tampak tercekat diam dengan mata melotot tak berkesip. Dada nenek ini laksana dihimpit beban berat hingga untuk beberapa lama dia tak kuasa buka mulut meski mulutnya telah terbuka hendak berucap.

“Yu Sin Yin....” Manusia Tanah Merah berkata pada Nenek Selir dengan menyebut nama asli si nenek. “Bukankah kau bisa mengenali anakmu?!”

Nenek Selir berpaling pada Manusia Tanah Merah. Untuk beberapa lama kedua orang tua ini saling perang pandang. Dendam yang sudah tertanam di dasar hati si nenek memang sukar dihapus begitu saja. Namun entah mengapa, begitu agak lama saling berpandangan, perlahan-lahan hati si nenek berubah. Malah kejap lain dia berpaling dengan bahu sedikit terguncang.

Manusia Tanah Merah memberanikan diri melangkah mendekati. Dan begitu mendapati si nenek tidak buka mulut atau membuat gerakan, Manusia Tanah Merah pegang lengan kanan Nenek Selir seraya berkata.

“Yu Sin Yin.... Kau jangan merasa bersalah dalam hal ini. Semuanya adalah berpulang pada diriku! Akulah yang harus menanggung semua dosa ini! Sekarang harap kau tidak keberatan untuk membuktikan siapa sebenarnya Bidadari Tujuh Langit... Kau tidak menolak permintaanku, bukan...?! Percayalah. Setelah kita tahu siapa anak kita, aku akan menepati ucapanku rela mati ditanganmu...”

Nenek Selir menghela napas panjang. Perlahan dia luruhkan pegangan tangan Manusia Tanah Merah. Lalu melangkah ke arah Bidadari Tujuh Langit yang duduk dengan sosok bergetar.

“Bidadari Tujuh Langit..,” kata Nenek Selir begitu tegak hanya beberapa langkah di hadapan Bidadari Tujuh Langit. “Kau tidak keberatan kalau aku....”

“Nenek Selir...” ujar Bidadari Tujuh Langit sebelum si nenek selesaikan ucapan. “Aku telah menemukan anak-anakku dengan bantuan beberapa orang. Sekarang aku tidak akan keberatan untuk membantumu! Katakan apa yang akan kau lakukan....”

“Berbaliklah! Lalu singkapkan rambutmu hingga tengkukmu kelihatan!”

Bidadari Tujuh Langit anggukkan kepala. Tanpa buka mulut dia putar diri. Kedua tangannya diangkat kebelakang lalu sibakkan uraian rambutnya yang telah memutih hingga tengkuknya kelihatan. Sepasang mata si nenek tampak membeliak besar begitu melihat tepat pada tengkuk Bidadari Tujuh Langit sebuah lingkaran hitam menyerupai tahi lalat.

“Aku tidak akan pernah lupa! Anakku memiliki tanda lingkaran hitam pada tengkuknya! Jadi...” Sosok Nenek Selir bergetar. Kedua lututnya goyah. Pedang di tangan kirinya perlahan-lahan jatuh ke atas tanah. Saat bersamaan dia melompat ke arah Bidadari Tujuh Langit.

“Aku percaya... Aku percaya... Kau adalah anakku!” desis Nenek Selir seraya pandangi lingkaran hitam di tengkuk Bidadari Tujuh Langit. Saat kemudian dia ulurkan kedua tangannya membalikkan sosok Bidadari Tujuh Langit.

Begitu Bidadari Tujuh Langit berputar menghadap si nenek, Nenek Selir segera saja merangkulnya lalu menciumi dengan tangis meledak! “Anakku... Maafkan aku yang selama ini tidak...”

Bidadari Tujuh Langit tercekat dengan kedua tangan membalas pelukan tangan si nenek. “Tak ada yang harus dimaafkan, Ibu...” Akhirnya Bidadari Tujuh Langit berhasil buka suara. Sepasang matanya berlinang. “Kalau anak-anakku mau mengakui dan memaafkan aku, mengapa aku tidak melakukan hal yang sama pada dirimu?”

Melihat apa yang terjadi, Manusia Tanah Merah tegak termangu dengan mulut terkancing. Dia seolah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga pada akhirnya Nenek Selir berpaling seraya berkata.

“Wang Su Ji.... Mengapa kau masih tegak seperti patung?!”

Manusia Tanah Merah usap mukanya. Lalu perlahan melangkah mendekat. Namun belum sampai ke hadapan Nenek Selir yang masih memeluk Bidadari Tujuh Langit, Bidadari Pedang Cinta, Dayang Tiga Purnama, dan Bidadari Delapan Samudera sudah mendahului menghambur menyongsong Manusia Tanah Merah lalu sama berebutan memeluk.

“Kek...!” Hampir bersamaan ketiga gadis itu berucap.

Manusia Tanah Merah tak kuasa lagi menahan gejolak dadanya. Seraya membelai rambut ketiga gadis yang memeluknya, kakek ini tersedu-sedu seraya berucap. “Cucu-cucuku.... Aku tak tahu harus berkata apa atas pengakuan kalian ini....”

“Galuh Sembilan Gerhana, Galuh Empat Cakrawala...” Datuk Kala Sutera berkata pada kedua gadis yang berada di sampingnya. “Kau juga adalah cucu kakek itu....”

Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala segera bergerak bangkit. Lalu berlari dan ikut menghambur dalam pelukan Manusia TanahMerah. Begitu Galuh Sembilan Gerhana dan Galuh Empat Cakrawala menghambur ke arah Manusia Tanah Merah, Datuk Kala Sutera perlahan-lahan seret dirinya dengan duduk ke arah Bidadari Tujuh Langit. Lalu jatuhkan diri berlutut dihadapan Nenek Selir.

“Ibu... Aku juga minta maaf... Terimalah juga salam hormatku...”

Nenek Selir berpaling dengan anggukkan kepala. Lalu pegangi bahu Datuk Kala Sutera dan membantunya untuk bergerak angkat wajahnya. "Menantuku... Jangan ucapkan permintaan maaf. Diri kita semua memiliki andil dosa dalam hal ini...”

Bidadari Tujuh Langit ikut menoleh pada Datuk Kala Sutera. Keduanya sesaat saling pandang. Lalu secara bersamaan tangan keduanya bergerak dan saling genggam dengan mata sama linangkan air mata.

“Bidadari Tujuh Langit... Mari kita sambut Ayah kita...,” kata Datuk Kala Sutera. Bidadari Tujuh Langit tersenyum dengan anggukkan kepala. Saat kemudian, masih dengan berpegangan tangan, kedua orang ini bergerak seret diri masing-masing ke arah Manusia Tanah Merah.

“Cucu-cucuku... Aku harus menemui ibu dan ayahmu dahulu...” Manusia Tanah Merah berbisik begitu melihat Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera bergerak ke arahnya.

Kelima gadis yang tengah merangkul sosok Manusia Tanah Merah sama lepaskan pelukan masing-masing. Saat kemudian Manusia Tanah Merah melompat ke hadapan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Lalu memeluk keduanya. Mungkin gembira dan haru, ketiga orang itu tidak ada yang sempat buka suara. Ketiganya hanya berpelukan dengan sama terisak-isak. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba terdengar orang bersuara.

“Nenek... Mulai saat ini kuharap tidak ada lagi kebencian di hatimu pada Kakek! Dan kami semua ingin lihat kalian berdua saling berpelukan...” Yang bersuara adalah Bidadari Delapan Samudera.

“Aku tak mau!” Nenek Selir menyahut dengan tampang merah padam dan cemberut.

“Cucu-cucuku... Harap jangan terlalu banyak meminta pada nenekmu... Semua kejadian ini berpangkal pada diriku yang tidak menghiraukan Nenek dan Ibu kalian. Pengakuan kalian semua pada diriku sudah merupakan sesuatu yang lebih. Dan dengan peristiwa ini, rasanya mati pun aku tersenyum. Dan tak ada yang lebih berhak atas nyawaku selain nenekmu...”

Berkata Manusia Tanah Merah seraya lepaskan pelukan Bidadari Tujuh Langit dan Datuk Kala Sutera. Lalu perlahan-lahan melangkah ke arah Nenek Selir. Manusia Tanah Merah berhenti tiga langkah dihadapan si nenek. Dia memandang sesaat lalu menunduk dan berkata.

“Yu Sin Yin... Tuhan telah memberiku lebih dari apa yang selama ini selalu kuminta... Seperti ucapanku, sekarang aku pasrahkan diri ini padamu...”

Nenek Selir menatap tajam. Dia tidak menyahut ucapan orang. Lalu alihkan pandangannya pada Bidadari Tujuh Langit dan kelima cucunya.

“Sahabat sekalian... Apa yang selama ini tertutup sudah terbuka jelas. Rasanya kurang bijaksana kalau semua ini masih harus dicampuri dengan balas dendam dan kesombongan diri... Bukankah lebih baik kita melupakan apa yang telah terjadi dan menebus semuanya dengan hidup berdampingan secara damai? Kita semua tidak tahu kapan datangnya ajal. Sebelum hal itu terjadi, kurasa tidak ada yang lebih baik daripada saling memaafkan....” Paduka Seribu Masalah perdengarkan suara.

“Nek... Harap tidak usah malu-malu... Kalau seandainya kakek di depanmu harus mati, aku yakin kau akan terus tersiksa seumur-umur...” Pendekar 131 yang sedari tadi hanya diam ikut buka suara.

“Lagi pula rasanya tidak mungkin orang akan menemukan cinta di kala usia sudah bau tanah begitu rupa! Hik Hik Hik...! Jika kesempatan ini disia-siakan, hanya ada satu kemungkinan yang terjadi...” Putri Pusar Bumi menyahut.

“Betul!” Joko kembali buka mulut menimpali. “Kemungkinannya adalah pasti sudah ada orang ketiga yang menunggu dengan membawakan sekeranjang cinta... Cuma aku tidak begitu yakin. Masalahnya, kakek-kakek yang jatuh cinta biasanya hanya mencari sesuatu! Lebih dari itu, aku khawatir. Seandainya kakek yang menunggu Nenek Selir tahu bagaimana paras kelima cucunya, jangan-jangan dia nanti berpaling....”

Nenek Selir berpaling dengan pasang tampang angker. “Kau pikir aku punya laki-laki lain, hah?!”

“Kalau tidak, mengapa kau tidak memaafkan sahabatku itu?!” Iblis Pedang Kasih berujar.

“Siapa tidak memaafkan?!” Si nenek balik bertanya.

“Nah, apa lagi yang kau tunggu Kakek Manusia Tanah Merah?!” Joko menyahut.

Manusia Tanah Merah melirik ke arah murid Pendeta Sinting. Lalu perlahan bergerak mendekati Nenek Selir. Yang didekati alihkan pandangan ke jurusan lain dengan wajah berubah. Manusia Tanah Merah berbisik seraya pegang kedua lengan si nenek. “Yu Sin Yin... Terima kasih kau mau memaafkan diriku...”

Nenek Selir tidak menjawab. Namun sikapnya jelas kalau dia sudah mampu melupakan perasaan dendam kesumatnya yang telah mendera dirinya selama berpuluh-puluh tahun. “Wan Su Ji! Jangan berbuat memalukan di depan orang!” Tiba-tiba Nenek Selir mendesis tajam begitu merasakan wajah Manusia Tanah Merah mendekati wajahnya.

“Ah... Ah... Tampaknya kita tidak jadi melihat adegan seru....” Putri Pusar Bumi berteriak lalu tertawa cekikikan hingga gumpalan daging pada wajah dan perutnya berguncang-guncang.

“Ah, Itu karena di sini banyak mata yang melihat. Kelak kalau sudah berduaan, aku percaya, bukan si kakek yang mendekat tapi si nenek yang minta!” Joko menimpali lalu ikut tertawa.

“Sialan! Kau kira aku masih memimpikan hal-hal begitu, hah?!” Nenek Selir membentak sambil luruhkan kedua tangan Manusia Tanah Merah yang memegangi bahunya.

“Ah Sudahlah... Apa yang nanti akan dilakukan keduanya, itu menjadi urusan mereka! Yang jelas urusan di tempat ini kurasa sudah selesai! Dan tiba waktunya aku mohon diri!” Paduka Seribu Masalah buka suara. Lalu putar duduknya menghadap murid Pendeta Sinting dan berkata.

“Pendekar 131! Sampaikan salam perkenalanku pada semua sahabat di negeri asalmu. Kalau nanti ada waktu dan takdir menuliskan, bukan tak mungkin kita akan bertemu lagi....”

“Paduka Seribu Masalah... Sebenarnya aku ingin mengajakmu sekarang juga! Aku bukan saja mempunyai banyak kenalan sahabat. Tapi juga memiliki beberapa nenek-nenek yang wajahnya masih sedap untuk dilihat! Bodi yang layak untuk memikat!”

“Terima kasih, Anak Muda... Sebenarnya itu tawaran bagus. Tapi aku masih punya pekerjaan. Jadi untuk sementara waktu aku harus menunggu hingga saat yang baik untuk berkunjung ke negeri asalmu!”

Habis berucap begitu, Paduka Seribu Masalah putar duduknya. “Sahabat sekalian. Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal...” Paduka Seribu Masalah membuat satu kali gerakan. Sosoknya melesat dengan masih duduk rangkapkan kaki tinggalkan tempat itu.

Hanya sesaat setelah Paduka Seribu Masalah berlalu, Putri Pusar Bumi buka mulut seraya memandang pada Dayang Tiga Purnama. “Cucuku Dayang Tiga Purnama... Hari ini kau telah menemukan apa yang selama ini kau cari. Dengan begitu tugasku telah selesai....”

“Eyang...!” Dayang Tiga Purnama yang selama ini menjadi murid dan diasuh oleh Putri Pusar Bumi berlari mendekati. “Sebenarnya....”

“Aku tahu....” Putri Pusar Bumi sudah memotong ucapan Dayang Tiga Purnama. “Sekarang yang penting kau telah bertemu dengan kedua orangtua dan kakek nenekmu. Jangan terburu mengambil keputusan... Dan kalaupun kau ingin bertemu denganku, kau tahu di mana dapat menemuiku...”

Dayang Tiga Purnama anggukkan kepala. “Eyang... Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Setelah aku menghabiskan hari bersama kedua orangtua, nenek-kakek, dan saudara-saudaraku, aku akan datang menemuimu...”

Putri Pusar Bumi anggukkan kepala. Lalu berpaling pada saudaranya Iblis Pedang Kasih. Saat itulah Bidadari Pedang Cinta berkelebat dan tegak dihadapan Iblis Pedang Kasih seraya berucap.

“Eyang... Kalau kau tidak keberatan, kuharap kau mau ikut bersama kami...”

Iblis Pedang Kasih yang selama ini mengasuh Bidadari Pedang Cinta geleng kepala. “Cucuku Bidadari Pedang Cinta... Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Lagi pula kau telah bertemu dengan orang yang lebih berhak atas dirimu... Aku ikut gembira dengan peristiwa ini meski sebenarnya aku juga berat untuk berpisah denganmu... Jagalah dirimu baik-baik. Dan kalau ada kesempatan, aku akan senang jika kau datang berkunjung ketempatku...”

“Putri Pusar Bumi, Iblis Pedang Kasih... Kuucapkan terima kasih atas semua waktu dan jerih payahmu untuk membesarkan anak-anakku. Jika nanti ada kesempatan, kami semua akan berkunjung ke tempat kalian berdua...” Bidadari Tujuh Langit berucap seraya menjura hormat.

“Aku juga mengucapkan terima kasih!” Nenek Selir menyahut. “Aku berharap kalian berdua cepat dapat pasangan! Untuk sementara waktu sebaiknya kalian berdua menerima tawaran Pendekar 131! Di negeri asing, tentunya kalian akan mudah untuk mendapatkan pasangan! Karena biasanya orang baru akan menjadi pusat perhatian... Apalagi jika kalian bertindak gila-gilaan!”

Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih tertawa. “Aku bukannya unjuk kesombongan. Kalau hanya untuk cari pasangan, tidak usah jauh-jauh harus ke negeri orang. Apalagi ditambah dengan bertindak gila-gilaan! Di sini saja kalau aku mau, banyak kakek-kakek yang antri menunggu jawaban!”

Putri Pusar Bumi berkata. Lalu menoleh pada Iblis Pedang Kasih. “Rasanya waktu kita sudah cukup! Kita harus segera pergi!” Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih sudah putar diri. Namun belum sampai keduanya bergerak lebih jauh, Pendekar 131 berteriak.

“Tunggu!”

Berbarengan Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih berpaling.

“Jangan menawarkan yang tidak-tidak, Sahabat Muda..!” Iblis Pedang Kasih yang angkat suara. “Kalau masalah pasangan, di negeri ini kami berdua sudah banyak yang naksir!”

“Bukan itu masalahnya!” ujar Pendekar 131.

“Lalu?!” tanya Iblis Pedang Kasih.

“Aku datang ke negeri ini tanpa sengaja. Aku belum tahu seluk-beluk negeri ini dengan baik. Jika kalian tidak keberatan, aku minta petunjuk pada kalian untuk memberi keterangan mana jalan yang harus kuambil agar cepat mencapai pesisir!”

“Sayang sekali, Anak Muda.... Bukannya aku tidak mau memberi keterangan. Namun kurasa nantinya ada orang yang lebih berhak memberi petunjuk!” Putri Pusar Bumi menyahut. Lalu melirik pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Saat lain dia menarik tangan Iblis Pedang Kasih dan menyeretnya berkelebat tinggalkan tempat itu.

Begitu sosok Putri Pusar Bumi dan Iblis Pedang Kasih tidak kelihatan lagi, Joko arahkan pandang matanya pada Bidadari Pedang Cinta dan Dayang Tiga Purnama. Sebenarnya Pendekar 131 hendak berkata. Namun entah karena apa dia batalkan niat untuk buka mulut. Sebaliknya buru-buru balikkan tubuh lalu berkelebat tinggalkan tempat itu tanpa bicara.

“Hai! Kau kira urusanmu di tempat ini sudah selesai, hah?!” Mendadak Nenek Selir berteriak.

Joko tersentak kaget. Lalu putar diri menghadap Nenek Selir dengan tampang berubah heran. “Apa maksudmu, Nek?!” tanya Joko sambil sapukan pandangan berkeliling.

“Kau pura-pura tidak tahu atau pura-pura lupa, hah?!”

“Nek! Bukankah urusanmu dengan kakek itu sudah selesai?! Kurasa di antara kita sudah tidak ada yang perlu diselesaikan! Atau barangkali kau ingin pesan sesuatu padaku?! Maaf, Nek... Bukannya aku tidak mau membawa pesanmu. Aku takut.. Seandainya saja kau masih sendirian, mungkin aku tak segan menawarkan beberapa sahabatku....”

“Sialan! Ini urusanmu!”

“Hah.... Urusan apa, Nek?!”

Nenek Selir tidak menjawab. Sebaliknya berpaling silih berganti pada Bidadari Pedang Cinta dan Bidadari Delapan Samudera serta Dayang Tiga Purnama. Gerakan kepala Nenek Selir membuat Joko tersentak kaget.

“Astaga! Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan persoalan ketiga gadis itu! Ah... Aku harus segera tinggalkan tempat ini! Urusannya akan jadi ruwet dan tak karuan!” Diam-diam Pendekar 131 membatin. Lalu tanpa buka mulut lagi dia berlari tinggalkan tempat itu.

SEBELAS

Sebearnya Nenek Selir sudah hendak berkelebat mengejar. Namun Bidadari Delapan Samudera cepat melompat menghadang di depan si nenek dan berkata.

“Nek.... Aku punya hal yang harus kubicarakan dengan pemuda itu! Harap nenek dan kakek menungguku di tempat ini! Demikian juga Ayah dan Ibu!” Tanpa menunggu sahutan, Bidadari Delapan Samudera sudah berkelebat mengejar ke arah mana Pendekar 131 berlari.

Melihat apa yang dilakukan Bidadari Delapan Samudera, Bidadari Pedang Cinta jadi tidak enak hati. Dia berpaling sesaat pada Nenek Selir dan kedua orang-tuanya. “Aku harus menjelaskan semuanya! Aku tak ingin ada perselisihan!” membatin Bidadari Pedang Cinta. Dia sebenarnya hendak mengutarakan maksudnya pada Dayang Tiga Purnama yang tegak tidak jauh dari tempatnya. Namun setelah dipikir sejenak, gadis berbaju hijau ini urungkan niat. Hingga tanpa buka suara lagi, dia berkelebat mengejar Bidadari Delapan Samudera.

Mendapati kelebatan Bidadari Delapan Samudera dan Bidadari Pedang Cinta, diam-diam Dayang Tiga Purnama ikut-ikutan jadi merasa tidak enak. Hingga tanpa pikir panjang lagi, gadis yang pernah diasuh oleh Putri Pusar Bumi ini ikut berlari mengejar.

“Ada apa ini?!” Manusia Tanah Merah bertanya pada Nenek Selir.

“Sebelum peristiwa ini, aku telah berjumpa dengan mereka. Aku tahu, di antara mereka ada ganjalan hati yang harus diselesaikan! Kalau tidak, bukan tak mungkin nantinya akan menjadi penghalang persaudaraan!"

“Maksudmu?!”

“Bidadari Delapan Samudera dan Bidadari Pedang Cinta serta Dayang Tiga Purnama sama-sama tertarik dengan pemuda asing sialan itu!”

Seperti diketahui, ketika awal berjumpa dengan murid Pendeta Sinting, secara diam-diam Bidadari Pedang Cinta sudah tertarik. Hanya saja karena saat itu dia bersama Iblis Pedang Kasih dan baru saja berkenalan, Bidadari Pedang Cinta tidak berani berterus terang meski sikapnya sudah berubah. Namun begitu terjadi pertemuan dengan Bidadari Delapan Samudera, Bidadari Pedang Cinta salah duga. Dia menduga Bidadari Delapan Samudera adalah kekasih Pendekar 131. Apalagi saat itu Joko mengucapkan kata-kata yang seolah-olah Bidadari Delapan Samudera memang kekasihnya.

Di lain pihak, begitu bertemu dengan Joko, diam-diam Bidadari Delapan Samudera sudah tertarik. Namun begitu mendengar ucapan Joko, Bidadari Delapan Samudera jadi salah tanggap. Dia menyangka Bidadari Pedang Cinta adalah kekasih Joko. Sementara itu, Dayang Tiga Purnama sendiri sebenarnya juga tertarik dengan murid Pendeta Sinting. Hanya saja gadis ini tidak mau menunjukkan sikap. Lain halnya dengan Bidadari Delapan Samudera dan Bidadari Pedang Cinta yang terang-terangan tampak cemburu ketika mengetahui salah satunya berada berdua-duaan dengan Pendekar 131.

“Ibu.... Jika benar keteranganmu, kita harus mengejar mereka! Mereka masih muda. Aku takut terjadi apa-apa... Aku tidak mau pertemuan ini dikacaukan dengan masalah pemuda itu!” Bidadari Tujuh Langit berkata pada Nenek Selir.

Nenek Selir geleng kepala. “Tidak, Anakku.... Kalau kita ikut campur, justru bukan mustahil akan terjadi salah paham! Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka dengan caranya sendiri! Aku percaya. Rasa persaudaraan mereka tentu lebih penting daripada urusan seorang laki-laki!”

“Tapi....”

“Sudahlah, Anakku! Percayalah pada mereka! Kita tunggu mereka di sini!”

Sebenarnya Bidadari Tujuh Langit masih ingin mengejar anak-anak mereka. Sebagai seorang ibu yang baru saja menemukan anak-anaknya, rasa khawatir lebih mendera dadanya. Apalagi dia maklum, anak-anaknya adalah perempuan sementara yang jadi persoalan adalah seorang laki-laki. Dia juga sadar kalau perempuan akan lebih mendahulukan perasaan daripada akal. Namun begitu sadar akan keadaan dirinya yang masih terluka dalam dan telapak kaki kirinya yang terputus separo, Bidadari Tujuh Langit terpaksa harus memendam keinginannya dan akhirnya dengan dada tidak enak dia tetap diam di tempat itu.

Sementara itu, walau yakin Nenek Selir tidak mengejar namun Pendekar 131 tidak mau bertindak ayal. Dia kerahkan segenap ilmu peringan tubuhnya dan berlari sekuat yang diamampu. Pada satu tempat agak sepi jauh dari hutan bambu, ba-ru murid Pendeta Sinting memperlambat larinya setelah berulang kali pulang balikkan kepala menyiasati keadaan. Dan begitu merasa keadaan benar-benar aman, Joko hentikan larinya dan langsung menyelinap sembunyi di balik satu batangan pohon agak besar. Pendekar 131 tengadahkan kepala dengan mata dipejamkan dan kedua tangan mengusap wajah yang basah.

“Aku harus segera ke pesisir! Aku tidak mau lagi terlibat dengan urusan di negeri ini! Apalagi urusannya berkaitan dengan perempuan! Lebih-lebih lagi mereka adalah saudara!”

Baru saja Joko bergumam begitu, mendadak satu sosok tubuh berkelebat dan tegak hanya beberapa langkah di balik mana Joko bersembunyi.

“Pendekar 131! Harap keluar dari balik pohon! Kita perlu bicara!”

Dalam kagetnya, Joko cepat berpaling. Dia melihat Bidadari Delapan Samudera tegak dengan mata memandang jauh ke depan.

“Pendekar 131! Waktuku tidak banyak.... Kau sendiri tentu harus segera tinggalkan tempat ini. Maka kuharap kau segera keluar...!”

Dengan sapukan pandangan berkeliling, perlahan Joko melangkah keluar dari balik pohon. Bidadari Delapan Samudera menoleh. Untuk beberapa saat gadis ini memandang tajam pada murid Pendeta Sinting. Lalu buka mulut dengan suara lirih dan bergetar.

“Pendekar 131... Harap kau memaafkan atas semua sikapku padamu. Terus terang, aku memang tertarik padamu. Tapi aku tidak mau melukai hati saudaraku... Jadi kalaupun kau memang punya hubungan dengan saudaraku, kuharap kau mau menjelaskan bahwa di antara kita tidak ada hubungan apa-apa!”

Bidadari Delapan Samudera masih menduga kalau antara Joko dan Bidadari Pedang Cinta benar-benar ada hubungan kekasih.

“Bidadari Delapan Samudera... Ucapan itu tidak perlu kau katakan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan....”

“Pendekar 131!” Bidadari Delapan Samudera memotong. “Harap tidak menutup-nutupi! Ini demi kedamaian persaudaraanku... Sekali lagi kuharap kau mau mengerti!”

Habis berkata begitu, Bidadari Delapan Samudera berpaling ke belakang. “Aku tahu. Bidadari Pedang Cinta mengejar mengikutiku! Aku harus segera pergi....”

“Pendekar 131! Aku harus segera tinggalkan tempat ini. Sekali lagi kuharap kau turuti permintaanku....” Bidadari Delapan Samudera arahkan pandang matanya pada Joko dengan paksakan diri sunggingkan senyum. Saat lain tanpa buka mulut lagi gadis berbaju biru ini berkelebat tinggalkan tempat itu.

Joko hendak menahan, namun tampaknya dia bisa membaca gelagat kepala Bidadari Delapan Samudera. Hingga dia urungkan niat buru-buru berpaling. Saat itulah dari arah seberang terlihat satu sosok tubuh berlari cepat.

“Bidadari Pedang Cinta...,” gumam Joko mengenali siapa adanya sosok yang berkelebat cepat ke arahnya.

“Pendekar 131!” kata sosok yang baru muncul dan memang Bidadari Pedang Cinta adanya begitu tegak beberapa langkah di hadapan murid Pendeta Sinting. “Kau tentunya sudah tahu apa hubunganku dengan Bidadari Delapan Samudera. Untuk itu aku berharap kau tadi sudah menjelaskan padanya!”

“Bidadari... Sebenarnya tidak ada yang perlu dijelaskan! Dan kuharap kau mau percaya. Aku tidak punya hubungan tertentu dengan Bidadari Delapan Samudera!”

Bidadari Pedang Cinta menghela napas panjang seraya sedikit dongakkan kepala. “Aku tak bisa memastikan apakah ucapannya benar atau tidak! Seandainya saja hal ini tidak berkaitan dengan Bidadari Delapan Samudera yang ternyata adalah saudaraku sendiri... Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Aku memang tertarik pada pemuda ini. Namun daripada nantinya terjadi hal-hal yang kurang enak dengan Bidadari Delapan Samudera, lebih baik aku berusaha melupakannya walau aku perlu waktu...” Diam-diam Bidadari Pedang Cinta berkata sendiri dalam hati. Lalu berkata.

“Pendekar 131.... Apa pun ucapanmu, seandainya kau memang punya hubungan, aku tetap meminta agar kau kelak mau menjelaskan sendiri pada Bidadari Delapan Samudera.”

Mendengar ucapan Bidadari Pedang Cinta, Joko tertawa pelan. “Kau ini aneh... Kelak kapan yang kau maksud?! Kau tahu. Hari ini aku tengah dalam perjalanan pulang kampung!”

Bidadari Pedang Cinta terdiam beberapa lama. Entah apa yang dirasakan gadis ini. Yang jelas dia menghela napas panjang beberapa kali seraya bergumam tak jelas. Dan saat lain tanpa buka suara lagi, gadis yang pernah diambil dari Istana Lima Bidadari oleh Iblis Pedang Kasih ini putar diri lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

Hanya beberapa saat setelah sosok Bidadari Pedang Cin- ta berkelebat, satu sosok tubuh berlari dan tahu-tahu telah tegak di hadapan Joko. “Kau akan segera tinggalkan negeri ini?!” tanya sosok yang baru muncul dan tak lain adalah Dayang Tiga Purnama.

“Rasanya memang begitu! Ada pesan untukku?!” Joko balik bertanya seraya menatap lekat-lekat gadis dihadapannya.

Yang ditanya tidak segera menjawab. Sebaliknya balas memandang.

“Kau tak usah takut mengatakannya....”

Dayang Tiga Purnama geleng kepala. Lalu berkata. “Aku menemui hanya untuk minta maaf atas tindakanku tempo hari!”

“Hanya itu!”

Dayang Tiga Purnama terdiam tidak buka suara atau memberi isyarat dengan gerakan anggota tubuhnya. Joko tertawa lalau berucap.

“Seharusnya aku yang minta maaf. Karena sejak pertemuan kita pertama kali, aku telah berdusta padamu...”

Dayang Tiga Purnama tersenyum. Lalu alihkan pandangan dan berujar. “Kuucapkan selamat jalan...”

“Hanya itu?!”

Dayang Tiga Purnama tidak menyahut. Sebaliknya segera berlari tinggalkan tempat itu tanpa buka suara.

“Hai! Tunggu!” Joko berteriak menahan. Namun yang diteriaki seolah tidak mendengar. Dia terus saja berlari.

“Mengejar gadis itu bukan tak mungkin akan mendatangkan bencana baru. Lebih baik aku segera teruskan perjalanan pulang. Negeri ini sudah memberikan beberapa urusan aneh yang sering tidak kumengerti! Tapi aku bersyukur karena bisa bertemu dengan gadis-gadis cantik yang anehnya ternyata adalah masih saudara!”

Joko pandangi kelebatan sosok Dayang Tiga Purnama hingga lenyap. Lalu perlahan-lahan melangkah tinggalkan tempat itu dengan pikiran kembali melayang pada peristiwa yang menyebabkan dia sampai ke negeri Tibet hingga kejadian pertemuan antara anak, ibu, dan cucu yang baru saja terjadi. Setelah melakukan perjalanan sehari semalam dan bertanya kian kemari, pada akhirnya Pendekar 131 sampai juga di pesisir. Saat itulah Joko mulai sadar dan merasa kebingungan.

“Bagaimana aku harus pulang?! Tak mungkin aku berenang melewati hamparan laut seluas ini! Aku perlu perahu! Tapi dari mana aku bisa mendapatkan?!” Joko layangkan pandangan ke bentangan laut luas dihadapannya. Saat itulah dia melihat sebuah perahu bergerak menepi lurus ke arahnya. Joko pentangkan mata besar-besar dengan sekali membuat gerakan yang serta-merta membawa sosoknya seakan menyongsong perahu yang tengah menepi.

“Aneh... Perahu itu bergerak menuju kemari! Tapi aku tidak melihat penumpangnya!” Joko bergumam dengan memperhatikan gerakan perahu dan meneliti dengan seksama. Perahu yang tengah menuju lurus ke arah Pendekar 131 ternyata memang tidak kelihatan penumpangnya.

“Keanehan apa lagi ini?! Jangan-jangan ini awal babak baru dari satu hadangan!” Kuduk Joko jadi dingin.

“Kuucapkan selamat tinggal, Anak Muda!” Tiba-tiba terdengar satu suara. “Kalau ada waktu, negeri ini masih bersedia menerima kedatanganmu lagi!” Satu suara lain menyahut.

Joko tercekat. Karena dua suara yang terdengar jelas datangnya dari arah perahu yang terus melaju ke arahnya!

“Jangan-jangan dugaanku benar!” pikir Joko dengan mata makin dipentang. Baru saja Joko berpikir begitu, mendadak dari arah perahu muncul dua sosok tubuh tegak duduk di lantai perahu.

“Astaga! Mereka tadi sengaja sembunyikan diri dengan menelentang di lantai perahu hingga batang hidungnya tidak kelihatan!” Joko mendesis dengan mata makin dijerengkan. “Sepertinya aku pernah melihat mereka!” Joko mendelik makin besar.

“Dewa Asap Kayangan! Dewa Cadas Pangeran!” Joko berteriak begitu mampu mengenali siapa adanya kedua orang yang duduk di lantai perahu.

“Terima kasih kau masih mengenaliku!” Berkata orang yang duduk di sebelah kanan. Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Pada mulutnya terlihat sebuah pipa yang kepulkan asap putih. Sementara dipundaknya menyelempang sebuah ikat pinggang besar yang dihiasi beberapa pipa. Kakek ini bukan lain memang seorang tokoh negeri Tibet yang dikenal dengan julukan Dewa Asap Kayangan.

Duduk di sebelah Dewa Asap Kayangan adalah seorang kakek berpakaian compang-camping. Raut wajah kakek ini tidak kelihatan karena tepat di hadapan wajahnya terlihat sebuah batu putih yang digantungkan pada satu tambang yang berpangkal pada punggungnya. Kakek ini tidak bukan adalah Dewa Cadas Pangeran.

Habis berkata, Dewa Asap Kayangan bergerak bangkit disusul kemudian oleh Dewa Cadas Pangeran. Kejap lain kedua kakek ini berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di hadapan Pendekar 131. Sementara perahu yang ditumpangi keduanya tampak mengapung di dekat pesisir.

“Pendekar 131!” kata Dewa Cadas Pangeran. “Kami berdua tidak bisa memberimu bekal apa-apa! Mungkin hanya perahu itu yang dapat kami berikan sebagai kenang-kenangan!”

“Ah... Terima kasih! Sebenarnya benda itulah yang paling kubutuhkan saat ini!”

“Sebelum kau pergi, ada sesuatu yang hendak kau sampaikan?!” Yang bicara adalah Dewa Asap Kayangan.

Joko terdiam dengan dada berdebar tidak enak. Dia maklum ke mana arah bicara Dewa Asap Kayangan. “Pasti ini ada hubungannya dengan tawaran mereka tempo hari yang memintaku untuk mengawini Dewi Bunga Asmara! Apa yang harus kukatakan pada mereka?”

Selagi Joko membatin begitu, Dewa Cadas Pangeran sudah berkata. “Anak muda.... Lupakan urusan kawin tempo hari! Namun kau harus tahu. Seandainya saat itu kau mau menerima, mungkin kau tidak akan terlibat jauh dengan urusan para gadis-gadis Itu! Mereka tidak akan terlalu berharap padamu karena mereka tahu jika kau telah memiliki istri!”

Sambil berkata kepala Dewa Cadas Pangeran bergerak berputar. “Lihat! Mereka datang untuk mengucapkan selamat jalan padamu! Tapi aku tahu. Mereka sebenarnya ingin lebih daripada hanya mengucapkan selamat jalan....” Dewa Cadas Pangeran sambungi ucapannya.

Pendekar 131 kernyitkan kening. Lalu gerakkan kepala mengikuti gerakan kepala Dewa Cadas Pangeran. Joko tersurut kaget ketika di ujung seberang utara sana dia melihat seorang gadis berbaju hijau tegak dengan mata memandang ke arahnya.

“Bidadari Pedang Cinta...” Joko mendesis dalam hati mengenali siapa adanya gadis berbaju hijau. Joko menghela napas. Lalu teruskan gerakan kepala. Lagi-lagi dia tersentak ketika di ujung sebelah barat dia melihat seorang gadis berbaju biru tegak dengan kepala sedikit mendongak.

“Bidadari Delapan Samudera!” gumam Joko dengan suara bergetar.

“Masih ada satu lagi, Anak Muda!” ujar Dewa Cadas Pangeran ketika Joko hendak arahkan pandangannya kembali pada sosok Bidadari Pedang Cinta.

Joko hentikan gerakan kepalanya yang akan berpaling pada Bidadari Pedang Cinta. Lalu teruskan berpaling ke arah samping. Di sana tegak seorang gadis berwajah cantik mengenakan pakaian warna ungu.

“Astaga! Dayang Tiga Purnama!” Joko mengenali siapa adanya gadis berbaju ungu.

“Pendekar 131! Saatnya kau pulang!” Dewa Asap Kayangan berujar.

“Mereka memang menarik. Tapi kalau kau turuti keinginan, aku tidak bisa menjamin apakah nanti kau bisa pulang ke negeri asalmu atau tidak!” Dewa Cadas Pangeran menimpali.

Pendekar 131 anggukkan kepala. “Terima kasih atas nasihat kalian berdua. Sekarang aku harus pergi! Sampaikan salamku pada Dewi Bunga Asmara!”

Dewa Asap Kayangan dan Dewa Cadas Pangeran sama anggukkan kepala. Joko menjura hormat. Lalu sapukan pandangan ke arah Bidadari Pedang Cinta, Bidadari Delapan Samudera, dan Dayang Tiga Purnama. Joko tersenyum lalu balikkan tubuh dan berkelebat ke arah perahu. Begitu tegak di atas perahu, Joko lambaikan kedua tangannya.

Bidadari Pedang Cinta perlahan angkat tangan kanannya lalu membalas lambaian tangan Joko. Saat bersamaan Bidadari Delapan Samudera ikut angkat tangan kanannya dan melambai. Sementara Dayang Tiga Purnama hanya tegak diam. Namun pandang matanya terus tak berkesip menatap pada sosok Pendekar 131 yang perlahan-lahan balikkan tubuh sebelum akhirnya dibawa melaju oleh perahu...

S E L E S A I

DARAH KERAMAT