Social Items

Serial Joko Sableng episode Tumbal Pusar Merah

Cersil Online Serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131
SATU

DI HADAPAN Pendekar 131 Joko Sableng, Kigali dan Umbu Kakani sama kerutkan kening. Mereka bisa memaklumi kalau Nyai Tandak Kembang akan kaget mendengar keterangan Umbu Kakani. Namun yang mereka agak heran, justru murid Pendeta Sinting lebih terkejut dibanding Nyai Tandak Kembang.

“Kau dapat menduga siapa gerangan di balik Jubah Tanpa Jasad itu, Pendekar?!” Umbu Kakani segera ajukan tanya.

Namun sebelum murid Pendeta Sinting sempat buka mulut menjawab, Nyai Tandak Kembang sudah angkat bicara. “Pitaloka! Benar keterangan tadi?!” Mata perempuan dari lereng. Gunung Semeru ini masih menyengat tajam pada Pitaloka.

Pitaloka gerakkan kepala mengangguk. Namun sepasang matanya melirik pada murid Pendeta Sinting lalu beralih pada Putri Kayangan. Entah apa yang dirasakan gadis ini. Yang jelas paras wajahnya yang murung tampak membayangkan rasa kecewa dan penyesalan.

“Bagaimana semua itu bisa terjadi?!” Nyai Tandak Kembang kembali ajukan tanya seolah belum percaya dengan keterangan orang. Kigali sudah hendak buka mulut. Namun Nyai Tandak Kembang sudah mendahului.

“Aku bertanya pada Pitaloka! Aku ingin keterangan dari mulutnya. Harap jangan ada yang ikut bicara!”

Kigali kancingkan mulutnya kembali. Lalu melirik pada Pitaloka. Pitaloka tampak menarik napas panjang. Putri Kayangan memperhatikan dengan seksama. Sementara diam-diam murid Pendeta Sinting merasa gelisah dan membatin.

“Kalau aku menunggu orang-orang ini membicarakan kejadian yang menimpa Pitaloka, kakek berambut jabrik dan Malaikat Berkabung tentu akan keburu datang ke tempat ini! Hem....”

Sepasang mata Joko memandang tajam pada bayi yang telah meninggal di samping sosok Kigali. Seperti diceritakan dalam episode Lembah Patah Hati, Nyai Tandak Kembang, Putri Kayangan, dan Pendekar 131 berhasil memasuki lobang di mana Pitaloka, Kigali, dan Umbu Kakani berada, mendahului kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung.

Nyai Tandak Kembang langsung marah melihat kenyataan Pitaloka telah melahirkan seorang bayi. Dia mencerca Pitaloka dengan berbagai pertanyaan. Dan akhirnya menanyakan siapa laki-laki ayah dari bayi itu. Umbu Kakani yang sebelumnya sudah mendengar penuturan Pitaloka dari Kigali memberi keterangan siapa adanya laki-laki ayah dari bayi Pitaloka. Mendengar keterangan Umbu Kakani yang mengatakan bahwa laki-laki itu tidak bisa dikenali wajahnya karena mengenakan Jubah Tanpa Jasad, Nyai Tandak Kembang sempat terkesima. Tapi yang tak kalah kagetnya mendengar keterangan Umbu Kakani adalah murid Pendeta Sinting.

“Pitaloka! Aku ingin keterangan darimu! Mengapa kau diam?!” Nyai Tandak Kembang membentak ketika Pitaloka tidak segera buka mulut.

“Eyang....” Joko menyela sebelum Pitaloka angkat suara. Nyai Tandak Kembang buka mulut tanpa berpaling.

“Aku juga tak minta keterangan padamu!”

“Eyang.... Aku bukannya akan memberi keterangan! Tapi....”

“Aku sedang bicara dengan Pitaloka!” tukas Nyai Tandak Kembang. “Kalau kau ingin bicara, tunggu sampai aku selesai! Atau keluarlah dari tempat ini!”

“Eyang.... Apa yang akan kubicarakan lebih penting daripada urusan Pitaloka!”

Kepala Nyai Tandak Kembang berpaling dengan mata mendelik besar. “Anak muda! Tak ada yang lebih penting bagiku selain urusan Pitaloka! Dia cucuku! Aku harus tahu benar bagaimana dan apa sebenarnya yang terjadi! Kuperingatkan kau untuk tidak buka suara!”

“Eyang.... Keterangan dari Pitaloka masih bisa ditangguhkan! Dan urusan yang akan kubicarakan rasanya sudah sangat mendesak! Kalau kita terlambat, aku tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi!”

“Jangan kau libatkan aku dalam urusanmu! Persetan pula dengan apa yang akan terjadi! itu urusanmu!”

“Hem.... Gawat menghadapi orang macam begini...!” gumam Joko seraya tengadahkan sedikit kepalanya kearah lobang. Dia khawatir kakek berambut putih jabrikdan Malaikat Berkabung segera muncul. “Apa boleh buat.... Daripada urusan tambah panjang, aku akan katakan terus terang!”

Berpikir begitu, akhirnya murid Pendeta Sinting berkata. “Eyang.... Rimba persilatan saat ini tengah terancam. Ancaman itu justru datang dari manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad yang sampai kini belum bisa dikenali siapa orangnya. Menurut beberapa sahabatku, si pemakai Jubah Tanpa Jasad hanya bisa dihadapi dengan benda merah yang ada dalam pusar bayi Pitaloka!”

“Urusan Pitaloka lebih penting dari hal itu semua! Lagi pula aku belum mendengar keterangan Pitaloka sendiri apa benar manusia di balik Jubah Tanpa Jasad itu adalah laki-laki pengecut yang melakukannya! Tindakan Pitaloka selama ini membuatku tidak mudah lagi percaya pada keterangannya! Apalagi keterangan itu diucapkan orang yang belum kukenal benar dan tampak dekat dengan Pitaloka!”

“Eyang.... Kurasa itu semua bisa dibicarakan nanti. Kini kita bicarakan apa yang ada di depan kita!”

“Anak muda! Aku hanya akan bicara sekali lagi! Jangan libatkan aku dalamurusanmu!” “Baiklah...,” ujar Joko lalu melangkah mendekati Kigali.

“Hentikan langkahmu! Apa yang akan kau lakukan?!” bentak Nyai Tandak Kembang.

“Pitaloka telah mengizinkan aku untuk mengambil benda dalam bayinya!”

“Dia cucuku! Aku ikut berhak memutuskan!”

Murid Pendeta Sinting memandang sesaat pada Nyai Tandak Kembang dengan perasaan tidak enak. Lalu berkata. “Kuharap kau tidak keberatan, Eyang.... Ini untuk kedamaian jagat persilatan!”

Nyai Tandak Kembang arahkan pandang matanya pada bayi di dekat Kigali. Tidak bisa ditebak apa yang dirasakan perempuan cantik ini. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Mungkin tak dapat menahan perasaan gelisah, mu-mrid Pendeta Sinting segera berucap lagi.

“Eyang.... Kau tak keberatan, bukan?”

Belum sampai Nyai Tandak Kembang menjawab, tiba-tiba satu sosok tubuh melayang dari atas lobang. Saat lain satu sosok tubuh menyusul. Tahu-tahu kedua sosok ini telah tegak berjajar dengan mata masing-masing memandang tajam kedepan.

“Urusan benar-benar jari runyam! Bagaimana mereka bisa masuk?! Apakah Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, dan lain-lainnya tidak berusaha menghadang?!” Pendekar 131 bergumam sambil memandang ke arah dua sosok yang baru muncul. Namun cuma sekejap. Saat lain sepasang matanya melirik ke arah lobang, dari mana dua sosok tadi melayang turun.

“Hem.... Tidak kudengar bersinan Datuk Wahing atau suara bentakan Nenek Dayang Sepuh. Suara aneh Dewa Uuk pun tidak ada! Apa kedua orang itu berhasil melewati orang-orang itu?!” Murid Pendeta Sinting tambah gelisah.

Seperti diketahui, ketika mengikuti jejak kakek berambut putih jabrik, murid Pendeta Sinting dan Dayang Sepuh akhirnya sampai di perbatasan Lembah Patah Hati. Tak berselang lama, tiba-tiba muncullah Malaikat Berkabung. Saat terjadi bentrok antara Pendekar 131 dan Malaikat Berkabung, muncul Datuk Wahing dan Gender Panuntun. Tidak berapa lama kemudian hadir pula Nyai Tandak Kembang dan Putri Kayangan yang disusul oleh Dewi Ayu Lambada, Iblis Ompong, dan Dewa Uuk.

Ketika hendak terjadi bentrok, tiba-tiba semua orang di perbatasan Lembah Patah Hati dikejutkan dengan suara tangisan bayi. Pendekar 131 berhasil mendahului ke tempat terdengarnya suara tangisan bayi dengan bantuan Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Kemudian disusul oleh Nyai Tandak Kembang dan Putri Kayangan. Walau Joko agak gelisah dengan kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung, namun masih agak tenang mendapati di situ ada rombongan Datuk Wahing. Joko berpikir, rombongan Datuk Wahing tidak akan membiarkan kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung untuk menyusul masuk ke dalam lobang.

Namun melihat siapa adanya dua sosok tubuh yang baru melayang masuk dari lobang, yang ternyata adalah seorang kakek mengenakan pakaian selempang warna putih dengan dada kanan terbuka, di lehernya melingkar kalung dari untaian kayu warna coklat, dan rambutnya putih dipotong jabrik serta seorang pemuda berparas tampan dan keras mengenakan mantel warna hitam yang tidak bukan adalah si kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung, dada Joko jadi bertanya-tanya.

Mengapa rombongan Datuk Wahing tidak menghadang kedua orang ini hingga keduanya bisa masuk. Di lain pihak, melihat kedatangan kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung, Nyai Tandak Kembang segera berpaling pada Putri Kayangan Lalu berbisik.

“Beda Kumala! Lindungi bayi Pitaloka dari tangan siapa saja!”

“Tapi, Eyang.... Pendekar 131....”

“Persetan siapa pun! Pokoknya lindungi bayi Pitaloka! Jangan campur adukkan urusan perasaanmu dengan urusan Pitaloka! Kau paham?!”

“Jadi kau keberatan jika benda di pusar bayi itu diambil murid Pendeta Sinting?!” Putri Kayangan masih belum puas dengan ucapan Nyai Tandak Kembang.

“Ucapanmu itu keluar karena kau tertarik dengan pemuda itu, Beda Kumala! Ingat, urusan ini belum jelas benar! Aku akan memutuskan setelah urusannya jelas!”

“Eyang... Kalau beberapa orang hebat seperti Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun ikut turun tangan, kukira urusan benda itu tidak main-main....”

“Beda Kumala! Bagi mereka mungkin urusannya sudah jelas. Tapi tidak bagiku! Dan aku tidak mau hanya ikut-ikutan orang! Lakukan saja perintahku! Jangan banyak berdalih!”

Walau dengan agak jengkel akhirnya Beda Kumala alias Putri Kayangan anggukkan kepala dan melangkah mendekati Kigali yang tegak di samping bayi Pitaloka. Sementara itu, Umbu Kakani langsung menyeringai melihat kehadiran kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung. Sepasang matanya langsung mendelik pandangi kakek berambut putih jabrik. Dan begitu melihat Putri Kayangan gerakkan kaki mendekati Kigali, Umbu Kakani segera angkat suara dengan keras. Matanya tak beranjak dari sosok kakek berambut putih jabrik.

“Lingga Buana! Akhirnya penantianmu hanya sia-sia! Kedatanganmu memang tepat! Tapi perhitunganmu meleset!”

Mendengar ucapan Umbu Kakani, kakek berambut putih jabrik yang dipanggil dengan Lingga Buana perdengarkan tawa. Lalu berucap. “Aku tak pernah salah menghitung, Umbu Kakani! Kalau aku dapat menyingkirkanmu dan gurumu, apa kau kira aku tak bisa menyingkirkan semua manusia di dalam ruangan ini?!”

“Kau bisa menyingkirkan Guru karena kau bertindak licik! Lagi pula kau harus sadar, peristiwa itu sudah lewat beberapa puluh tahun. Kini saat sudah berganti, keadaan sudah berubah!”

“Kau salah ucap, Umbu Kakani! Peristiwa puluhan tahun lalu bukan semata-mata karena aku licik. Namun karena ketololanmu dan Guru! Dan kau salah duga. Saat boleh berganti, keadaan boleh berubah. Tapi Lingga Buana tidak bisa terkecoh apalagi salah hitung!”

“Hem... Ternyata kedua orang ini sudah saling kenal! Dan tampaknya mereka juga sudah tahu apa yang akan terjadi. Tak heran kalau kakek bernama Lingga Buana itu tahu jalan...” Murid Pendeta Sinting membatin.

Umbu Kakani tertawa pendek mendengar ucapan Lingga Buana. “Aku tahu... Kau selama ini tak mungkin memperhitungkan beberapa orang yang hadir di tempat ini! Lebih-lebih kau tak sadar kalau kehadiranmu hanya untuk menebus nyawa Guru!”

Lingga Buana berbisik pada Malaikat Berkabung yang tegak di sebelahnya. Muridku! Cegah siapa saja yang coba-coba mendekati bayi itu!”

Malaikat Berkabung tidak buka mulut menjawab. Namun saat itu juga si pemuda melangkah ke sebelah samping dan tegak lurus ke arah Putri Kayangan dan Kigali yang berada di dekat bayi Pitaloka. Mendapati gerakan Malaikat Berkabung, Nyai Tandak Kembang sudah dapat menangkap gelagat. Perempuan dari lereng Gunung Semeru ini segera berkata.

“Aku tak punya urusan dengan kalian berdua! Harap jangan mencampuri urusanku!”

Lingga Buana memandang sesaat pada Nyai Tandak Kembang. Lalu memandang silih berganti pada Putri Kayangan dan Pitaloka. “Nyai...” katanya. “Kita memang tidak punya urusan. Namun keadaan mengharuskan kita bertemu untuk satu urusan! Yang kuminta kau mau mengerti agar di antara kita tidak terjadi salah paham!”

Walau sudah bisa menebak maksud ucapan Lingga Buana, namun Nyai Tandak Kembang berkata juga ajukan tanya. “Urusan apa maksudmu?!”

“Aku hanya minta bayi itu!”

“Aku tak akan membiarkan siapa saja menyentuhnya!”

“Itu akan membuka salah paham, Nyai!”

“Kau yang membuka! Bukan aku!”

“Tapi kalau kau mau mengerti, tidak akan terjadi salah paham!”

“Hal itu terjadi karena kau minta milik orang lain!”

“Hem.... Jadi kau keberatan?!” tanya Lingga Buana”

“Aku berhak memutuskan barang milik cucuku! Dan kuputuskan tak seorang pun akan kubiarkan menyentuh bayi itu!”

“Lingga Buana!” Umbu Kakani menyesal. “Lupakan dulu bayi itu. Kita bereskan urusan lama yang tertunda!”

“Tampaknya kau sudah bosan menderita, Umbu Kakani! Gurumu memang sudah lama menunggu kedatanganmu di alam neraka. Aku akan segera turuti keinginanmu!”

Umbu Kakani berpaling pada murid Pendeta Sinting, Kigali, Putri Kayangan, dan terakhir pada Nyai Tandak Kembang sebelum akhirnya berujar. “Kuharap kalian tidak ikut turun tangan! Ini urusanku dengan jahanam itu!”

Kepercayaan diri Umbu Kakani membuat Lingga Buana kerutkan dahi. “Perempuan ini tampaknya me-nyembunyikan sesuatu! Dalam keadaan tak berdaya begitu rupa dia berani berucap lantang menantangku sendirian! Padahal dia tahu, kitab ciptaan Guru jatuh ke tanganku! Apa selama ini Guru menurunkan ilmu yang tidak kuketahui...?”

Umbu Kakani rupanya dapat menangkap apa yang ada di benak orang. “Lingga Buana. Kau boleh memiliki kitab ciptaan Guru! Tapi bukan berarti kau mudah membunuhku!”

Dada Lingga Buana panas mendengar ucapan Umbu Kakani. Tanpa menyahut lagi kedua tangannya diangkat ditakupkan di depan dada.

“Nyai Tandak Kembang! Harap menyingkir!” kata Umbu Kakani melihat Nyai Tandak Kembang yang tegak di hadapannya tidak membuat gerakan melompat ke samping walau sudah tahu kalau Lingga Buana hendak lepaskan pukulan.

Nyai Tandak Kembang memandang sesaat pada Umbu Kakani. Nyai Tandak Kembang rupanya punya perasaan hampir sama dengan Lingga Buana. Dia meragukan apakah Umbu Kakani benar-benar mampu menghadapi Lingga Buana. Selain melihat keadaan Umbu Kakani dia juga telah tahu bagaimana kedahsyatan pukulan Lingga Buana saat bentrok dengan Dayang Sepuh.

“Nyai.... Aku memang tidak punya ilmu tinggi! Tapi kurasa aku mampu menghadapi laki-laki keparat itu!” kata Umbu Kakani membuat Nyai Tandak Kembang perlahan-lahan melangkah ke samping.

DUA

PENDEKAR 131 Joko Sableng sempat pula cemas mendengar ucapa-ucapan Umbu Kakani. Apalagi saat dilihatnya Umbu Kakani belum juga membuat gerakan meski Lingga Buana sudah takupkan kedua tangan di depan dada dan siap lepaskan pukulan.

“Nenek ini nekat betul! Apa benar ucapan Lingga Buana jika Umbu Kakani berani hanya karena ingin deritanya segera pupus?! Kulihat kedua tangan dan kakinya tak bisa digerakkan. Bagaimana mungkin dia bisa menghadang pukulan Lingga Buana?!”

Entah karena apa, diam-diam murid Pendeta Sinting kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Namun dia juga terus perhatikan setiap gerak-gerik Malaikat Berkabung. Hanya saja dia mulai tidak enak dengan Putri Kayangan. Dia memang tidak mendengar percakapan Nyai Tandak Kembang dengan Putri Kayangan. Tapi dari sikap si gadis yang mendekati bayi Pitaloka, sedikit banyak Joko bisa menduga. Apalagi bila dia ingat ucapan Nyai Tandak Kembang yang tak akan biarkan siapa pun menyentuhbayi Pitaloka.

Sementara itu, walau dirinya tengah dilanda perasaan tak karuan melihat kehadiran Nyai Tandak Kembang dan Putri Kayangan serta Pendekar 131, namun Pitaloka masih sempat mengkhawatirkan Umbu Kakani yang duduk di depannya. “Nek...” kata Pitaloka pelan. “Sebaiknya dia tak kau hadapi sendirian...”

“Pitaloka!” sahut Umbu Kakani tanpa berpaling. “Kau bisa bergerak bukan?! Kuharap kau menjauh! Dan satu pesanku. Berikan apa yang diminta Pendekar 131! Untuk urusan itu, terpaksa kau harus menentang eyangmu kalau dia tidak memberi izin! Lekas lakukan!”

Perlahan-lahan Pitaloka bergerak bangkit. Tanpa berani memandang pada Nyai Tandak Kembang, gadis saudara kembar Putri Kayangan ini melangkah mendekati Kigali.

“Pitaloka....” Putri Kayangan berbisik dengan suara tersendat dan mata berkaca-kaca. Saat lain dia melompat dan tegak di samping Pitaloka. Karena tak dapat menahan perasaan, begitu injakkan kaki, Putri Kayangan segera memeluk saudaranya. Pitaloka tak bisa membendung rasa haru. Dia segera memeluk Putri Kayangan dan kejap lain kedua gadis ini sama terisak saling berpelukan.

“Kuharap kau memaafkan sikapku tempo hari, Beda...,” bisik Pitaloka dengan bahu berguncang.

“Lupakan semua itu.... Kita harus segera tinggalkan tempat ini bersama bayimu, Pitaloka!”

“Anakku telah mati, Beda.... Lebih dari itu tak pantas rasanya aku bersamamu lagi! Kau kini tahu siapa diriku. Benar kata Eyang. Manusia sepertiku tak layak diberi hidup!”

“Mungkin Eyang masih marah hingga berucap begitu! Kau harus mengerti keadaan Eyang saat ini. Dia terkejut dan malu. Apalagi selama ini Eyang tidak percaya dengan ucapan beberapa orang sahabat Pendekar 131....”

“Kau beruntung, Beda.... Tidak seperti aku!”

“Kau tidak boleh berkata begitu, Pitaloka! Semua ini terjadi bukan karena kehendakmu, bukan?!”

“Aku memang bukan gadis baik-baik, Beda.... Tapi aku belum bisa untuk melakukan tindakan di luar batas! Jahanam itu memperkosaku tanpa aku bisa berbuat apa-apa! Dan aku tak akan bisa hidup tenang selamanya sebelum membayar tuntas tindakannya!”

“Kau tak usah berpikir terlalu jauh, Pitaloka! Kau tahu siapa yang akan kau hadapi!”

“Mati pun aku tidak menyesal kalau untuk membayar semua ini!” kata Pitaloka dengan suara bergetar.

“Tidak, Pitaloka! Itu bunuh diri. Dan itu akan membuat Eyang makin kecewa! Percayalah... Eyang pasti dapat mengerti!”

“Kalau Eyang mengerti, pasti dia tak akan menghalangi niatku! Juga niatku untuk memberi izin pada Pendekar 131 mengambil benda merah di pusar anakku!”

Putri Kayangan lepaskan pelukannya. Dia pandangi wajah Pitaloka. “Kuharap kau juga tidak menghalangi niatku meski aku tahu Eyang memerintahmu untuk menjaga anakku!” Pitaloka sambungi ucapannya.

Putri Kayangan melirik pada Nyai Tandak Kembang lalu pada murid Pendeta Sinting.

“Beda Kumala.... Aku tahu bagaimana perasaanmu! Juga bagaimana perasaanmu pada Pendekar 131!”

Paras wajah Putri Kayangan seketika berubah. Dia sudah buka mulut. Tapi Pitaloka mendahului. “Kau tak perlu sembunyikan sesuatu padaku, Beda.... Sejak pertemuan kita tempo hari, aku sudah bisa membaca perasaanmu pada pemuda itu! Kau memang pantas. Untuk itulah aku minta padamu jangan halangi niatku! Ini juga demi kau! Kau tak ingin pemuda itu menghadapi rintangan besar, bukan?!”

Putri Kayangan tak bisa menjawab. Sebaliknya langsung memeluk kembali tubuh Pitaloka karena harus mendengar ucapan saudara kembarnya. “Pitaloka... Sebenarnya aku tadi enggan untuk melakukan perintah Eyang. Tapi kau tahu sendiri. Dalam keadaan seperti saat ini, aku serba salah....”

“Beda.... Serahkan semua itu padaku! Aku yang akan menghadapi Eyang....”

Habis berucap begitu, Pitaloka lepaskan pelukan saudara kembarnya. Dia tabahkan hati dan beranikan diri memandang pada Nyai Tandak Kembang yang sedari tadi terus perhatikan kedua cucunya. Namun sebelum Pitaloka sempat berucap sesuatu, tiba-tiba di depan sana Lingga Buana buka takupan kedua tangannya. Kejap lain kedua tangannya membuka dan didorong ke arah Umbu Kakani.

“Singkirkan bayi itu!” teriak Umbu Kakani. Saat bersamaan perempuan berambut putih awut-awutan ini sentakkan pantatnya ke lantai di mana dia duduk. Sosoknya melesat ke udara. Tanpa membuat gerakan jungkir balik, di atas udara kembali dia sentakkan tubuhnya. Kini sosoknya melesat ke depan dengan jungkir balik berputar-putar.

Wusss! Wusss!

Gelombang kabut tipis yang mencuat dari dorongan kedua tangan Lingga Buana melesat ganas tiga jengkal di bawah sosok Umbu Kakani. Lalu melaju lurus ke tempat di mana tadi Umbu Kakani duduk. Karena Umbu Kakani telah melesat, gelombang kabut putih tipis menghantam tempat kosong dan terus melabrak ke depan. Di depan sana tampak tumpukan jerami di mana bayi Pitaloka tergolek.

Kigali, Nyai Tandak Kembang, murid Pendeta Sinting sudah hendak berkelebat selamatkan si bayi. Namun sebelum ketiga orang ini bergerak, Pitaloka yang berada paling dekat dengan si bayi langsung bergerak menyambar anaknya dan melompat ke arah Pendekar 131. Sementara di sebelah depan, sosok Umbu Kakani terus jungkir balik mendekati Lingga Buana. Empat langkah lagi sampai, mendadak Umbu Kakani hentikan jungkir baliknya. Kini dia membelakangi Lingga Buana dalam posisi setengah menungging. Sementara sosoknya makin cepat melesat! Lingga Buana sempat terkesima. Saat lain tiba-tiba kedua tangannya dikelebatkan seraya melompat menyongsong sosok Umbu Kakani.

Bukkk! Bukkk!

Kedua tangan Lingga Buana menghantam tepat pantat Umbu Kakani. Sosok Umbu Kakani terhenti dan mental di udara satu tombak ke belakang. Namun Lingga Buana terlengak. Kedua tangannya yang menghantam pantat Umbu Kakani tadi telah dialiri tenaga dalam tinggi. Sosok Umbu Kakani memang terpental. Namun bukannya langsung jatuh terjerembab dengan pantat hancur, melainkan terpental ke belakang lalu melayang turun perlahan-lahan dan saat lain telah duduk di seberang depan dengan bibir sunggingkan senyum!

Bukan hanya itu saja, kedua tangan Lingga Buana sempat mencelat balik begitu menghantam pantat Umbu Kakani. Sosoknya pun terjajar dua langkah. Kedua tangannya bergetar keras. Dia merasakan baru saja menghantam bongkahan batu keras! Bersamaan dengan terdengarnya benturan kedua tangan Lingga Buana dengan pantat Umbu Kakani, di depan sana terdengar ledakan menggelegar. Kepingan batu tampak bertabur ke udara dengan disemburati jerami yang telah hancur lebur!

Putri Kayangan dan Kigali yang tadi tegak di sebelah tumpukan jerami telah melompat dan tegak menjauh sebelum pukulan Lingga Buana menghantam tumpukan jerami. Sementara itu melihat Pitaloka menyambar anaknya dan melompat ke arahnya, murid Pendeta Sinting buru-buru menyongsong. Nyai Tandak Kembang sudah berteriak. Namun sebelum suara teriakannya terdengar, mendadak Malaikat Berkabung sudah sentakkan kedua tangannya ke arah Pendekar 131!

“Pendekar 131! Awas!” Pitaloka berseru lalu cepat-cepat belokkan lompatan. Bayi di tangannya didekap erat-erat.

Murid Pendeta Sinting urungkan niat menyongsong Pitaloka. Dia cepat putar diri. Saat lain kedua tangannya sudah bergerak lepaskan pukulan.

Wuutt! Wuutt! Blammm! Blammm!

Dua gelegar beruntun segera terdengar begitu pukulan Malaikat Berkabung dihadang pukulan murid Pendeta Sinting. Kedua pemuda ini sama tersurut satu tindak. Malaikat Berkabung kertakkan rahang. Kejap lain kedua tangannya dibuka lalu diangkat di depan wajah dengan jari tengah saling ditemukan. Karena sudah tahu apa yang akan dilakukan Malaikat Berkabung, Joko cepat pula kerahkan tenaga dalam siapkan pukulan ‘Lembur Kuning’.

“Pitaloka! Bergabunglah dengan Putri Kayangan dan kakek itu!” teriak Pendekar 131 seraya angkat kedua tangannya. Saat itu kedua tangannya telah disemburati sinar berwarna kuning. Tanda dia siap lepaskan pu- kulan ‘Lembur Kuning’.

Pitaloka tak pikir panjang. Dia segera melompat lagi ke arah Putri Kayangan dan Kigali yang tegak tidak berjauhan. Bersamaan itu tiba-tiba Malaikat Berkabung sudah dorong kedua tangannya. Murid Pendeta Sinting tidak menunggu. Kedua tangannya segera pula didorong. Dari kedua tangan Malaikat Berkabung melesat kabut hitam tipis. Di seberang, terdengar deruan gelombang dahsyat yang disertai semburatnya sinar kuning dengan membawa hawa panas luar biasa.

Bummmm!

Ruangan di bawah Lembah Patah Hati laksana dilanda gempa luar biasa. Malah bibir lobang masuk ke ruangan langsung terbongkar dan longsor! Sosok Malaikat Berkabung dan murid Pendeta Sinting sama terpental ke belakang. Malaikat Berkabung terhuyung dan jatuh terduduk tepat di bawah lobang masuk yang baru saja longsor. Di lain pihak, sosok murid Pendeta Sinting juga terhuyung tapi tak tampak terjatuh meski kedua lututnya sempat menekuk.

Malaikat Berkabung pentangkan mata. Lalu bergerak bangkit. Namun baru saja tegak, tubuh bagian atasnya tertekuk sedikit ke depan. Mulutnya mengembung. Kejap lain mulutnya semburkan darah! Tanda pemuda ini telah terluka dalam cukup parah. Murid Pendeta Sinting pun ternyata bukan tidak mengalami luka dalam akibat bentroknya pukulan. Karena begitu dia kerahkan tenaga dalam kembali, dadanya terasa sesak. Saat tangan kanannya diangkat ke mulut dan ditarik pulang, punggung tangannya telah terpercik darah!

Rupanya Lingga Buana sadar akan keadaan Malaikat Berkabung hingga dia urungkan niat yang hendak lepaskan pukulan lagi ke arah Umbu Kakani. Kakek berambut putih jabrik ini berpaling pada muridnya, lalu berkata. “Jurus ‘Jalur Bertangga’!”

Malaikat Berkabung mengerti maksud gurunya. Saat itu juga dia melompat ke arah Lingga Buana. Namun belum sampai bergerak, ruangan itu dibuncah bau tak sedap! Belum sampai tahu apa sebabnya, dari lobang yang sebagian telah longsor mengucur air berwarna kekuningan dan langsung mengguyur Malaikat Berkabung!

Malaikat Berkabung memaki tak karuan begitu maklum air apa yang telah mengguyur tubuhnya. Dia batalkan niat melompat, sebaliknya dengan dada didera kemarahan luar biasa, kedua tangannya segera me- nyentak ke atas. Namun belum sampai pemuda itu sempat sentakkan kedua tangannya, dari lobang di atas sana meluncur deras dua benda.

Prakk! Prakk!

Malaikat Berkabung hantam kedua benda yang meluncur ke arahnya hingga kedua benda yang ternyata dua buah bumbung bambu pecah berantakan. Namun Malaikat Berkabung makin kalap ketika begitu bumbung bambu pecah, saat itu juga muncrat lagi cairan tak sedap mengguyur tubuhnya! Saat bersamaan, terdengar suara gelakan tawa bertalu-talu yang diseling dengan suara bersinan berulang kali lalu ditingkah dengan suara Uuukk! Uuukk! Ukkk!

Malaikat Berkabung usap wajahnya yang basah kuyup dengan menahan napas dan mata terpejam. Paras pemuda itu tidak bisa lagi dibayangkan. Sosoknya bergetar keras, rahangnya terangkat. Begitu matanya terbuka langsung terpentang besar. Namun karena khawatir masih ada air kencing yang akan mengguyur, dia tidak berani tengadah, sebaliknya melompat dengan kedua tangan terangkat dan jari tengah saling ditemukan.

“Jahanam-jahanam itu harus kita hancurkan dahulu!” kata Malaikat Berkabung. Walau dia tidak menghadap Lingga Buana, namun si kakek dapat menangkap maksud ucapan Malaikat Berkabung. Hingga saat itu juga dia melompat dan langsung tegak di belakang Malaikat Berkabung dengan kedua tangan ditempelkan di punggungnya.

Mendadak suara buncahan gelakan tawa diatas sana putus. Saat lain dari lobang muncul satu sosok tubuh. Orang ini melayang turun dengan posisi tengkurap! Dia adalah seorang nenek mengenakan pakaian atas berupa baju tanpa lengan dan cingkrang. Pakaian bawahnya berupa celana pendek di atas lutut berwarna merah. Rambutnya yang putih dikelabang dua. Bagian depannya diponi. Wajahnya dibedaki tebal dan bibirnya dipoles merah menyala. Nenek ini tidak lain adalah Dayang Sepuh.

Dayang Sepuh melayang turun perlahan-lahan. Ternyata dia tidak sendirian. Begitu sosok si nenek terlihat, di atasnya telah terlihat pula satu sosok tubuh melayang dengan posisi tengkurap pula. Malah kedua tangannya ditempelkan pada punggung Dayang Sepuh. Dia adalah seorang perempuan berusia lanjut mengenakan pakaian agak gombrong. Wajahnya tidak begitu jelas karena selain tertutup sebagian rambutnya, juga terlindungi kerudung hitam panjang yang ada di atas kepalanya. Nenek ini bukan lain adalah Dewi Ayu Lambada.

Dewi Ayu Lambada melayang dengan pantat di- goyang-goyangkan. Dan ternyata dia tidak bergoyang sendirian. Begitu sosok Dewi Ayu Lambada terlihat, di atasnya muncul lagi satu sosok tubuh. Orang yang muncul di atas Dewi Ayu Lambada bukannya dalam posisi tengkurap, tapi telentang dengan kedua kaki sedikit dijungkatkan ke atas hingga pantatnya mencuat ke bawah. Pantat orang ini ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada dan ikut digoyang-goyang!

Dia adalah seorang kakek berwajah tirus panjang. Kakek ini tidak memiliki leher dan mulutnya menganga lebar seolah ingin perlihatkan giginya yang ompong. Dia tidak lain memang adalah tokoh rimba persilatan yang dikenal dengan IblisOmpong.

Di atas sosok Iblis Ompong, ternyata masih muncul lagi satu sosok tubuh. Orang ini melayang turun dengan duduk mencangklong di atas kedua kaki Iblis Ompong yang terjungkat ke atas. Dia adalah seorang kakek berpakaian agak lusuh. Kedua tangannya tampak ditadangkan di belakang kedua telinganya! Dia bukan lain adalah tokoh bisu dan tuli yang berjuluk Dewa Uuk.

Dayang Sepuh yang berada di bawah tiba-tiba membuat gerakan jungkir balik satu kali lalu tegak di atas lantai ruangan dengan kedua tangan merangkap di depan dada. Sepasang matanya dipicingkan memandang pada Malaikat Berkabung. Di belakang Dayang Sepuh, Dewi Ayu Lambada membuat gerakan jungkir balik pula. Lalu tegak di belakang Dayang Sepuh dengan kedua tangan menempel di punggung nenek bercelana pendek merah itu.

Iblis Ompong tidak tinggal diam. Tanpa memberi tahu Dewa Uuk yang duduk di atas kedua kakinya, dia membuat gerakan jungkir balik. Dewa Uuk terkesiap kaget. Sosoknya langsung terpental ke atas. Sementara Iblis Ompong terus melayang turun dan tegak membelakang di belakang Dewi Ayu Lambada. Sesaat kakek ompong ini tengadahkan sedikit kepalanya dengan mulut dibuka lebar-lebar. Saat lain dia bungkukkan tubuh. Pantatnya ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada yang terus bergerak-gerak.

Begitu pantat Iblis Ompong menempel pada pantat Dewi Ayu Lambada, tiba-tiba sosok Dewa Uuk melayang jatuh dan langsung duduk di hadapan Iblis Ompong dengan kedua tangan tetap ditadangkan di belakang telinganya. Iblis Ompong sendiri segera gerakkan kedua tangannya dan diletakkan di atas pundak kanan kiri Dewa Uuk yang duduk dihadapannya.

Dayang Sepuh buka rangkapan kedua tangannya. Bukannya untuk apa, melainkan rapikan poni di depan keningnya. Sementara tangan satunya kibas-kibaskan kelabangan rambutnya. Dewi Ayu Lambada tarik pulang kedua tangannya yang menempel di punggung Dayang Sepuh lalu rapikan kerudung hitamnya yang menjulai panjang sampai depan perutnya. Saat kemudian nenek berkerudung hitam ini kembang-kempiskan hidung, kepalanya bergerak ke kanan kiri lalu ke bawah. Tiba-tiba nenek ini melonjak berjingkrak-jingkrak.

“Sialan! Kepalaku.... Eh, kakiku menginjak air surga itu!” serunya.

Dayang Sepuh terkejut. Tanpa sadar dia gerakkan kepalanya memandang ke bawah. “Setan! Kakiku juga menginjak air setan itu!” teriaknya lalu ikut berjingkrak-jingkrak! Dan melompat ke samping.

Dewi Ayu Lambada bantingkan kaki sekali lagi lalu ikut melompat dan kembali tegak di belakang Dayang Sepuh dengan kedua tangan sudah menempel di punggung Dayang Sepuh. Iblis Ompong hentikan goyangan pantatnya. Lalu kepalanya ikut-ikutan memandang ke bawah. Dia bergumam tak jelas namun saat itu juga dia tarik pulang kedua tangannya dari pundak Dewa Uuk dan melompat lalu tegak kembali di belakang Dewi Ayu Lambada dengan posisi tetap menungging dan pantat ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada.

Dewa Uuk sesaat bengong. Dia gerakkan kepalanya pandangi ketiga orang yang telah tegak di samping. Seolah belum mengerti apa yang terjadi, kakek bisu dan tuli ini arahkan telunjuknya pada ketiga orang temannya lalu buka mulut.

“Uuukkk! Uuukk! Uuuukkk!” Kepalanya bergerak-gerak ke depan ke belakang memberi isyarat minta keterangan ada apa.

Dayang Sepuh berpaling. “Dasar setan budek! Apa dia tidak merasa kalau celananya basah?!” gumamnya seraya perhatikan pakaian bagian bawah Dewa Uuk.

“Setan itu adikmu, bukan?!” ujar Dayang Sepuh pada Dewi Ayu Lambada. “Kau tentu bisa memberi isyarat bagaimana menerangkan kalau celana bawahnya sudah basah terkena air kencing dua setan tua di atas sana tadi!”

“Dia memang adikku!” kata Dewi Ayu Lambada. “Tapi aku sendiri tak tahu bagaimana isyarat ucapanmu tadi! Kau saja yang memberi isyarat! Lagi pula dia kurang percaya kalau aku yang memberi tahu!”

“Setan Uuk!” teriak Dayang Sepuh. “Cepat pindah dari tempat itu! Lihat celanamu sudah basah terkena air setan!”

Dewa Uuk tadangkan kembali kedua tangan di be- lakang kedua telinganya. Namun agaknya dia belum bisa mendengar ucapan Dayang Sepuh. Karena tangan kanannya bergerak-gerak membuka menutup memberi isyarat agar Dayang Sepuh perkeras suaranya.

“Mana dia mengerti air setan! Katakan saja air kencing!” kata Dewi Ayu Lambada.

Karena sudah agak jengkel, Dayang Sepuh tidak buka suara lagi. Melainkan memberi isyarat dengan menunjuk bagian bawah tubuh Dewa Uuk yang tengah duduk. Dewa Uuk terkesiap kaget. Kedua tangannya cepat ditarik dan menakup ke bagian bawah tubuhnya tepat di pangkal paha, karena tempat itu yang tadi ditunjuk-tunjuk oleh tangan Dayang Sepuh.

“Uuukk! Uuukk! Uuukkk!” Dewa Uuk buka mulut dengan kepala menggeleng-geleng. Kedua tangannya makin erat menakup selangkangannya.

“Dasar tolol!” maki Dayang Sepuh. Lalu berteriak keras. “Burung setanmu tidak apa-apa! Tapi lihat tempatnya burung setanmu itu!”

Dewa Uuk tersenyum lega. Lalu menunduk dan melihat bagian bawah. Kakek ini sesaat kerutkan dahi tatkala merasakan kedua tangannya basah. Perlahan-lahan dia tarik kedua tangannya lalu diangkat ke depan hidungnya. Hidungnya kembang-kempis sejenak. Saat lain dikibas-kibaskan dan serentak bergerak bangkit.

“Uuukkk! Uuukkk! Uuukkk!” Dewa Uuk buka mulut seraya menunjuk-nunjuk ke lobang lalu salah satu tangannya diletakkan di bawah perutnya dengan mengepal dan jari telunjuk mencuat!

Dayang Sepuh tertawa terbahak. Dewi Ayu Lambada tertawa tertahan-tahan. Iblis Ompong buka mulutnya makin lebar tanpa perdengarkan suara.

“Uuukk! Uuukkk! Uuukkk!” Kembali Dewa Uuk bu-lka mulut lalu melompat dengan tangan kiri kibas-kibaskan pakaian di bagian pantatnya.

Dayang Sepuh dan Dewi Ayu Lambada putuskan tawa masing-masing. Iblis Ompong cepat takupkanbmulutnya rapat-rapat dengan mata dipejamkan. Saat kemudian ketiga orang ini berlompatan semburat. Karena dari pakaian bagian bawah Dewa Uuk muncrat percikan air kencing yang tadi diduduki si kakek! Saat itulah, Malaikat Berkabung yang dari tadi perhatikan orang dengan dada bergemuruh, sentakkan kedua tangannya!

TIGA

MESKI tadi sudah terluka dalam akibat bentrok dengan murid Pendeta Sinting, namun karena kali ini Lingga Buana ikut menggebrak dengan salurkan tenaga dalam lewat kedua tangannya yang ditempelkan pada punggung Malaikat Berkabung, maka dari kedua tangan si pemuda bermantel hitam ini melesat dua rangkum gelombang luar biasa dahsyat yang begitu melesat langsung melebar hingga walau saat itu keempat orang di hadapannya sama berpencar, tapi tak satu pun dari mereka yang bisa enak-enakan lolos dari sergapan gelombang.

Dan saat itu juga Malaikat Berkabung rasakan luka dalamnya agak berkurang. Ini karena selain menambah daya pukulan, kedua tangan Lingga Buana juga meredam luka dalam yang dialami Malaikat Berkabung.

Dayang Sepuh, Dewi Ayu Lambada, Iblis Ompong, dan Dewa Uuk sama terkejut dan mata masing-masing orang terpentang besar-besar saling pandang satu sama lain. Karena tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk melompat dan bergabung, maka akhirnya masing-masing orang terpaksa menghadang pukulan yang datang dengan sendiri-sendiri.

Dayang Sepuh takupkan kedua tangan di depan wajah. Lalu dibuka dan disentakkan ke depan. Dewi Ayu Lambada angkat kedua tangannya lalu seraya goyangkan pantat dia menghadang dengan mendorong kedua tangannya. Iblis Ompong cepat balikkan tubuh, kedua tangannya segera disentakkan ke belakang dari bawah pinggangnya. Dewa Uuk gerakkan kedua tangannya kibaskan pakaiannya yang basah.

Tempat itu seketika dibuncah deruan-deruan dahsyat yang melesat dari kedua tangan Dayang Sepuh dan Dewi Ayu Lambada. Disusul dengan mencuatnya dua bongkahan awan dari kedua tangan Iblis Ompong yang makin lama makin besar dan bergerak naik turun. Lalu ditingkah dengan sapuan-sapuan dahsyat yang dibarengi muncratnya percikan air dari kibasan kedua tangan Dewa Uuk.

Bummm! Bummm! Bummm!

Ruangan di bawah Lembah Patah Hati bergetar hebat. Gelombang angin bertenaga dalam tinggi yang saling bentrok timbulkan gelegar dahsyat lalu sama ambyar. Bongkahan awan dari kedua tangan Iblis Om- pong pecah berantakan. Percikan air dari kibasan kedua tangan Dewa Uuk langsung amblas menguap laksana embun terkena sinar matahari!

Sosok Malaikat Berkabung dan Lingga Buana terdorong deras ke belakang dan jatuh bertindihan. Dari mulut Malaikat Berkabung kembali kucurkan darah. Lingga Buana sendiri tampak berubah paras. Dia merasakan mulutnya asin. Tapi karena tak mau diketahui kalau dirinya terluka dalam dan kucurkan darah dari mulut, kakek ini cepat katupkan mulut rapat-rapat dan salurkan tenaga dalam. Saat lain dia sentakkan kedua tangannya lalu bergerak bangkit. Tangan kirinya dijulurkan pada Malaikat Berkabung untuk menolong si pemuda berdiri.

Di seberang sana, sosok Dayang Sepuh terjajar lima langkah. Sosoknya melengkung karena kedua kakinya tertekuk. Namun sejengkal lagi pantatnya menyentuh lantai, tiba-tiba kedua lututnya yang telah berada di lantai bergerak menghentak. Saat itu juga sosok Dayang Sepuh melenting ke atas lalu melayang turun dan tegak kokoh di atas lantai dengan bibir sunggingkan senyum. Tangan kanan kirinya terangkat lalu rapikan geraian poni rambutnya!

Dewi Ayu Lambada juga tampak terpental ke belakang saat terdengar gelegar. Nenek berpakaian agak gombrong yang juga adalah kakak kandung Dewa Uuk ini sesaat perdengarkan seruan tertahan ketika tubuhnya hendak jatuh terjerembab di atas lantai. Namun dua jengkal lagi sosoknya menghantam lantai, seruannya terputus. Kejap lain terdengar suara Beett! Betttt! Satu benda panjang hitam melesat dan tegak di atas si nenek.

Dewi Ayu Lambada tertawa, lalu perlahan-lahan sosoknya merambat naik melalui benda hitam panjang yang tegak mengapung ternyata adalah kerudung hitam si nenek! Hebatnya meski kerudung hitam itu terbuat dari kain, namun tidak melengkung saat sosok Dewi Ayu Lambada merambat naik! Bahkan hingga si nenek sampai di ujung bagian atas kerudung!

Iblis Ompong yang sosoknya juga mental ke depan begitu terdengar gelegar, segera julurkan kedua tangannya. Lalu bagian atas tubuhnya ditekuk. Saat lain sosoknya terhenti dengan kedua tangan di atas lantai menopang tubuhnya dalam posisi menungging dan perhatikan Malaikat Berkabung serta Lingga Buana dari sela kedua kakinya yang direnggangkan lebar-lebar!

Dewa Uuk tak luput dari bias bentroknya beberapa pukulan hingga sosoknya juga terpelanting ke belakang malah tampak terbanting di udara! Lalu melayang jatuh ke bawah. Entah karena tidak dapat kuasai diri, Dewa Uuk tidak membuat gerakan apa-apa untuk menahan tubuhnya dari benturan dengan lantai hingga sosoknya terusbmelayang deras menghantam lantai!

“Sialan! Apa dia sudah ingin mampus?!” seru Dewi Ayu Lambada dari atas kerudung hitamnya. Sepasang matanya mendelik besar mengawasi sosok Dewa Uuk. Dan begitu dilihatnya Dewa Uuk tidak berbuat apa- apa, seraya mengomel panjang pendek, si nenek gerakkan tangan kanan.

"Beeett!" Ujung bagian bawah kerudung hitam berkelebat. Sosok Dewi Ayu Lambada yang berada di bagian atas ikut melayang mengikuti kelebatan ujung bawah kerudung hitam yang melesat ke arah sosok Dewa Uuk. Satu jengkal lagi sosok Dewa Uuk menghantam lantai, tiba-tiba ujung bawah kerudung hitam menyambar. Saat lain sosok Dewa Uuk terangkat ke udara dengan kedua ketiak telah terlilit kerudung hitam. Dewi Ayu Lambada membuat satu kali gerakan lagi. Sosoknya yang berada di atas kerudung melesat ke arah Iblis Ompong. Sosok Dewa Uuk ikut pula melayang.

"Plukkk!" Tepat berada di atas tubuh Iblis Ompong yang menungging, Dewi Ayu Lambada sentakkan kerudung hitamnya. Sosok Dewa Uuk terlepas dan jatuh terduduk tepat di atas punggung Iblis Ompong! Sesaat Iblis Ompong hanya senyum-senyum. Sementara Dewa Uuk telengkan kepala ke samping kiri kanan lalu ke atas melihat sosok Dewi Ayu Lambada. Kepalanya digerakkan pulang balik ke depan ke belakang dengan kedua tangan menakup di depan dada memberi isyarat berterima kasih.

“Sialan! Bau apa ini? Dan punggungku terasa basah!” Tiba-tiba Iblis Ompong bergumam. Lalu tarik kepalanya dan dipalingkan ke atas punggungnya. “Sialan! Sialan!”

Kembali Iblis Ompong memaki ketika mendapati sosok Dewa Uuk nongkrong di atas punggungnya. “Pakaian dan punggungku terkena pakaiannya yang basah air kencing!”

Karena tidak mendengar gumaman Iblis Ompong, Dewa Uuk masih enak-enakan saja duduk di atas punggung Iblis Ompong. Iblis Ompong tekuk kedua kakinya. Lalu disentakkan ke atas. Dewa Uuk terkejut mendapati dirinya mencelat ke atas. Namun karena menduga Dewi Ayu Lambada akan menolongnya lagi, dia tidak berusaha membuat gerakan apa-apa meski sosoknya telah melayang kembali ke bawah. Lagi pula dia masih mengira jika jatuhnya akan di atas punggung orang.

Dia tidak tahu, kalau bersamaan dengan mencelatnya sosok Dewa Uuk, Iblis Ompong melompat ke samping dan kembali menungging berjarak lima langkah dari tempatnya semula. Kesadaran Dewa Uuk baru muncul tatkala dia tidak merasakan kelebatan kerudung Dewi Ayu Lambada dan empuknya punggung orang meski sosoknya sudah setengah depa lagi dari lantai. Kakek ini segera membuat gerakan. Namun terlambat.

"Bukkk!" Dewa Uuk jatuh terduduk di atas lantai dengan pantat menghantam keras ke lantai di bawahnya. Kakek ini berseru. Namun yang terdengar adalah suara Uukkk! Uukkk! Uuukk! berulang kali.

“Setan-setan!” teriak Dayang Sepuh. “Mengapa kalian masih juga bergurau! Lihat ke depan!”

Dewi Ayu Lambada turuti ucapan Dayang Sepuh. Iblis Ompong melihat melalui sela kedua kakinya. Hanya Dewa Uuk yang telengkan kepala ke kanan kiri karena tidak mendengar seruan Dayang Sepuh. Di depan sana, ternyata Malaikat Berkabung dan Lingga Buana telah tegak dengan Malaikat Berkabung di depan dan Lingga Buana di belakangnya. Kedua tangan Lingga Buana telah menempel kembali pada punggung muridnya. Sementara kedua tangan Malaikat Berkabung telah terbuka dengan jari tengah saling ditemukan dan siap lepaskan pukulan!

Dayang Sepuh segera memberi isyarat. Dewi Ayu Lambada berkelebat lalu melayang turun dan tegak di belakang Dayang Sepuh. Sesaat dia tekuk kerudung hitamnya lalu dikenakan di atas kepalanya. Iblis Ompong terbengong sesaat, lalu melompat dan menungging di belakang Dewi Ayu Lambada dengan pantat ditempelkan pada pantat si nenek yang sudah mulai bergerak bergoyang-goyang.

Melihat ketiga temannya tegak berbaris, Dewa Uuk mengerti. Dia cepat berkelebat masih dengan posisi duduk dan duduk ongkang-ongkang di hadapan Iblis Ompong. Namun begitu duduk, Dewa Uuk segera kerutkan dahi. Tangan kirinya ditarik ke atas lalu pencet hidungnya. Tangan kanan menunjuk-nunjuk pada Iblis Ompong.

“Sialan! Kau yang bau kencing! Bukan aku!” bentak Iblis Ompong. Lalu angkat sebelah tangannya untuk menutup hidungnya. Namun karena mulutnya terbuka lebar, mau tak mau hidungnya tidak bisa tertutup rapat. Hingga dia kembali memaki-maki Dewa Uuk! Sementara di hadapannya, Dewa Uuk terus tunjuk- tunjuk Iblis Ompong seraya tertawa bergelak-gelak!

Di belakang Iblis Ompong, mendadak Dewi Ayu Lambada hentikan goyangan pantatnya. Hidungnya kembang-kempis. “Astaga! Bukankah punggung manusia ompong tadi terkena air kencing?!” gumam Dewi Ayu Lambada. “Jangan-jangan pantatku sudah basah pula!” Khawatir akan hal itu, Dewi Ayu Lambada segera berpaling ke belakang.

Namun belum sampai kepalanya bergerak, Dayang Sepuh sudah membentak. “Apa kalian ingin mampus?! Cepat salurkan tenaga setan kalian!”

Dewi Ayu Lambada batalkan niat berpaling. Dia cepat salurkan tenaga dalam melalui kedua tangannya yang ditempelkan pada punggung Dayang Sepuh. Iblis Ompong segera pula salurkan tenaga dalam melalui pantatnya yang ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada. Di belakang sendiri, Dewa Uuk segera pegangi kedua tangan Iblis Ompong lalu salurkan tenaga dalam.

Di seberang depan, Malaikat Berkabung dan Lingga Buana sudah pejamkan mata masing-masing. Sosok keduanya bergetar. Tanda kali ini kedua guru dan murid ini kerahkan hampir seluruh tenaga dalam mereka. Namun belum sampai tangan Malaikat Berkabung bergerak lepaskan pukulan dengan tenaga dalam berantai, Umbu Kakani yang dari tadi melihat tingkah empat orang di depan sana dengan senyum-senyum, perdengarkan suara keras.

“Lingga Buana! Kedatanganmu bukan untuk mereka! Aku pun tak menginginkan nyawamu putus dengan tangan orang lain!”

Mungkin khawatir Lingga Buana dan Malaikat Berkabung tidak hiraukan bentakannya dan teruskan lepas pukulan ke arah empat orang di seberang sana, Umbu Kakani gerakkan bagian atas tubuhnya lalu didorong kedepan.

"Beettt!" Satu gelombang angin menggebrak ganas ke arah Lingga Buana yang tegak di belakang Malaikat Berkabung. Lingga Buana terkesiap. Kalau dia teruskan salurkan tenaga dalam pada Malaikat Berkabung dan memaksakan diri agar Malaikat Berkabung melepas pukulan, maka tak ampun lagi sosoknya akan terhantam gelombang dahsyat yang datang dari arah belakang.

Berpikir sampai ke sana, dengan kertakkan rahang Lingga Buana tarik pulang kedua tangannya dari punggung Malaikat Berkabung. Lalu mendorong sosok Malaikat Berkabung ke samping untuk selamatkan si murid dari gempuran gelombang. Malaikat Berkabung terdorong ke samping. Bersamaan dengan itu Lingga Buana balikkan tubuh lalu sentakkan kedua tangannya.

"Brakkk!" Gelombang dahsyat yang datang langsung porak-poranda. Sosok Umbu Kakani tampak bergoyang-goyang. Sosok Lingga Buana sendiri tampak bergetar keras walau tidak bergeming dari tempatnya. Saking marahnya, Lingga Buana cepat melompat ke depan. Umbu Kakani tidak mau berdiam diri. Dia cepat pula melesat ke depan dengan posisi tetap duduk dan hentikan lesatannya lima langkah di hadapan Lingga Buana!

“Nenek itu benar-benar nekat!” gumam Pendekar 131 dari tempatnya tegak. Namun kekhawatirannya sedikit sirna tatkala tadi sudah tahu bagaimana Umbu Kakani sanggup menghadang pukulan kedua tangan Lingga Buana dengan pantatnya.

“Aku tak boleh sia-siakan kesempatan ini!” kata Joko dalam hati lalu melirik pada Pitaloka yang makin erat mendekap anaknya dan tegak berdampingan dengan Kigali dan Putri Kayangan. Saat lain dia arahkan pandang matanya pada Malaikat Berkabung. Dia mengukur jarak. Lalu menunggu Umbu Kakani dan Lingga Buana.

Lingga Buana menatap tajam pada Umbu Kakani. Umbu Kakani sendiri balas hujamkan sepasang matanya pada sosok Lingga Buana, laki-laki yang pernah dicintai yang pada akhirnya berkhianat bahkan membunuh gurunya!

“Aku menyesal tak membunuhnya saat itu! Tapi tanpa dirinya, bayi itu tak akan lahir di sini! Lagi pula apa yang perlu ditakutkan?! Aku punya kedua tangan dan kaki juga kekuatan! Dia punya tangan dan kaki tapi tak bisa digunakan!” kata Lingga Buana dalam hati lalu lipat gandakan tenaga dalam pada kedua tangannya.

“Sebelum kubayar nyawa Guru, ada sesuatu yang ingin kau katakan?!” Berkata Umbu Kakani sambil alihkan pandang matanya ke jurusan lain.

“Karena kau akan menyusul gurumu, aku titip salam padanya!” ujar Lingga Buana sambil tertawa pendek. Saat lain laki-laki berambut putih jabrik ini telah menyergap ke arah Umbu Kakani dengan kedua tangan berkelebat ke arah kepala dan dada.

Umbu Kakani hentakkan pantat. Sosoknya menyongsong kelebatan kedua tangan Lingga Buana. Hebatnya dia tidak berusaha mengelakkan dadanya dari hantaman tangan orang. Dia hanya sentakkan kepalanya menghindar lalu kepalanya didorong menerabas di antara kedua tangan Lingga Buana.

Bukkk! Bukkk!

Kepala Umbu Kakani menghantam deras dada Lingga Buana. Saat bersamaan tangan kanan Lingga Buana menggebrak dada Umbu Kakani. Hingga terdengar dua kali benturan keras. Sosok Umbu Kakani mencelat ke belakang dan melayang jatuh bergulingan. Di lain pihak, Lingga Buana terpental dan terhuyung-huyung namun segera dapat kuasai diri meski dari mulutnya kucurkan darah.

Kalau saja seandainya Lingga Buana tadi tidak terluka akibat bentrok pukulan dengan rombongan Dayang Sepuh, mungkin saja kakek berambut putih jabrik ini masih bisa tahan kucuran darah dari mulutnya. Tapi karena tadi sudah terluka dalam walau tidak terlalu parah, begitu dadanya terhantam kepala Umbu Kakani yang ternyata telah melatih diri selama bertahun-tahun, akhirnya Lingga Buana tidak bisa lagi menahan kucuran darahnya.

Di seberang sana, begitu sosok Umbu Kakani bergerak duduk, perempuan ini sudah semburkan darah dari mulutnya. Namun perempuan ini tampaknya sudah memperhitungkan segalanya. Hingga dia tidak lagi pedulikan luka dalam yang didera. Begitu duduk dia cepat kerahkan tenaga dalam pada dadanya. Selama berada di ruangan bawah Lembah Patah Hati, perempuan ini memang sengaja melatih dada dan kepalanya, karena anggota tubuh lainnya tidak bisa digunakan lagi meski masih utuh. Ini karena racun yang diberikan Lingga Buana pada beberapa puluh tahun silam.

EMPAT

DI TEMPAT lain, begitu Lingga Buana tadi berkelebat ke arah Umbu Kakani dan Umbu Kakani menyongsong, Pendekar 131 segera melesat ke arah Pitaloka.

"Pitaloka! Harap kau mengerti apa maksudku. Waktu kita tidak banyak!” kata Joko seraya arahkan pandangannya pada Nyai Tandak Kembang.

Pitaloka anggukkan kepala. Kedua tangannya yang mendekap erat anaknya segera direnggangkan dan perlahan-lahan disorongkan pada Joko. Joko segera berpaling dan menatap tajam pada pusar bayi di mana terlihat benda bulat sebesar kelereng menempel pada pusarnya.

“Umbu Kakani, kakek itu dan Pitaloka gagal mengambil benda merah itu. Apakah aku sanggup?!”

Sesaat Joko tercenung bimbang. Namun saat lain tangan kanannya segera menjulur ke depan, sementara tangan kiri ikut pula bergerak pegangi bagian pinggang bayi Pitaloka. Dengan tangan gemetar dan dada berdebar, murid Pendeta Sinting mulai menyentuh benda bulat merah di pusar bayi Pitaloka. Namun belum sampai Joko menarik benda merah, satu sosok putih berkelebat dan tegak di samping Pitaloka. Satu tangan menahan gerakan tangankanan Joko. Lalu terdengar suara.

“Kau teruskan maksudmu, berarti kau buat pangkal sengketa denganku!”

Joko angkat kepalanya. Nyai Tandak kembang tegak memandang tak berkesip. Tangan kanan menahan tangan Joko, tangan kiri sedikit terangkat ke atas.

Eyang.... Harap kau percaya pada keteranganku! Manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad dan berbekal Kembang Darah Setan hanya bisa dihadapi dengan benda merah itu!”

“Kalau kau berharap aku percaya, kau juga harus percaya pada ucapanku! Semua ucapanmu hanya dugaan! Mana mungkin senjata sakti bisa dihadapi dengan benda ini?” Kepala Nyai Tandak Kembang berpaling ke arah pusar bayi Pitaloka.

“Pada mulanya kau juga tidak percaya apa yang terjadi pada Pitaloka. Namun apa kenyataannya?! Sekarang apakah kau juga masih mengira keteranganku hanya dugaan? Eyang.... Sebelum Lingga Buana tahu semua ini, sebaiknya....”

“Aku tak peduli dia tahu atau tidak! Yang jelas tak seorang pun kubiarkan mengambil sesuatu dari bayi itu!” Nyai Tandak Kembang menukas.

“Nyai.... Aku bukan mau melibatkan diri. Tapi sebaiknya jangan halangi dia... Kalaupun nanti keterangannya tidak jadi kenyataan, kau sudah tahu bukan siapa orang yang mengambilnya!” Kigali menyahut.

“Eyang...!” Kini Pitaloka beranikan diri angkat bicara. “Selama ini aku telah mengotori rimba persilatan! Hanya dengan serahkan benda ini aku bisa menghapusnya walau itu masih belum cukup!”

“Kau tahu apa, Pitaloka!” bentak Nyai Tandak Kembang. “Kau bukan saja telah mengotori rimba persilatan, tapi kau juga corengkan arang hitam di mukaku! Aku masih ingin buktikan keterangan yang kudengar jika kau memang diperkosa orang! Kalau nantinya keterangan itu dusta, aku tak segan membunuhmu!”

“Eyang... Aku telah berkata apa adanya! Dan kau tak usah tunggu untuk membuktikan! Sekarang juga aku rela kau bunuh! Aku memang telah mencoreng mukamu dan mati rasanya belum cukup untuk menebusnya! Bunuhlah aku sekarang, Eyang.... Aku tak pantas lagi menjadi cucumu! Aku tak layak hidup! Bunuh! Bunuhlah, Eyang....” Pitaloka berkata sambil sesenggukan. Matanya yang berkaca-kaca menatap tajam pada Nyai Tandak Kembang.

Nyai Tandak Kembang tergagu diam beberapa lama. Putri Kayangan yang tegak tidak jauh dari tempat itu tak bisa lagi membendung air mata. Kigali menarik napas panjang lalu berbisik pelan.

“Nyai.... Bukannya aku ingin unjukkan budi. Sebenarnya cucumu itu kutemukan saat hendak bunuh diri dari jurang dalam hutan sana!Kalau ucapannya tidak benar, mana mungkin ada gadis mengandung berusaha bunuh diri?! Pitaloka memang cucumu, namun bukan berarti kau berhak seluruhnya atas bayi Pitaloka! Biarkan dia memutuskan....”

“Eyang....” Putri Kayangan ikut perdengarkan suara dengan tersendat. “Aku sendiri memang mendengar bahwa benda dalam bayi ini yang bisa menghadapi orang di balik Jubah Tanpa Jasad. Orang yang mengatakan itu juga yang memberi keterangan jika Pitaloka kelak akan mengandung....”

Nyai Tandak Kembang masih diam membisu. Perempuan dari lereng Gunung Semeru ini menarik napas dalam-dalam. Entah apa yang dirasakan, yang jelas dadanya bergerak turun naik dengan keras. Saat lain sepasang matanya berkaca-kaca. Dan perlahan-lahan dia lepaskan pegangan tangannya yang menahan tangan Joko. Tangan kirinya pun diluruhkan ke bawah.

“Eyang.... Aku siap kau bunuh. Tapi sebelum aku mati, aku punya pesan. Serahkan bayi ini pada dia!” Pitaloka berkata seraya memandang pada Pendekar 131. “Jangan halangi apa yang akan dilakukannya! Karena hanya itu yang dapat kuberikan sebelum aku mati!”

Pitaloka angkat kedua tangannya yang memegangi bayi. Lalu dengan gemetar disorongkan pada murid Pendeta Sinting. Joko ragu-ragu. Dia melirik pada Nyai Tandak Kembang. Nyai Tandak Kembang tengadahkan kepala. Pipi kanan kirinya telah basah.

“Pendekar 131.... Terimalah pemberian Pitaloka!” ujar Nyai Tandak Kembang.

Joko menghela napas lega. Lalu menerima bayi dari tangan Pitaloka dengan tangan masih gemetar. Entah karena masih belum bisa menahan perasaan, untuk beberapa lama Joko hanya diam tercenung dan memperhatikan Nyai Tandak Kembang.

“Anak muda.... Kesempatanmu hanya sedikit! Lekas kau lakukan apa yang kau inginkan!” Kigali menegur.

Joko tersadar dan cepat dekatkan bayi di tangannya ke dada. Dengan tangan kiri menopang sosok si bayi, tangan kanan Joko bergerak ke arah pusar bayi. Tangan dan dadanya berdebar kala dia teringat kegagalan Umbu Kakani dan Kigali serta Pitaloka untuk mengambil benda merah pada pusar bayi.

“Hilangkan perasaan bimbang dan ragu, Anak Muda!” Kigali kembali berucap melihat keraguan pada sikap Joko. “Kau belum mencobanya! Tiap orang diciptakan punya kelebihan dan kekurangan. Siapa tahu kau punya yang lebih dalam urusan ini!”

Dengan salurkan tenaga dalam pada tangan kanan, Joko mulai menyentuh benda merah di pusar bayi. Lalu menariknya perlahan-lahan. Sesaat pusar bayi tampak terangkat. Kigali, Putri Kayangan, Pitaloka, dan Nyai Tandak Kembang yang telah luruskan kepala menatap bersama dengan wajah tegang dan menahan napas. Saat lain keempat orang ini menghela napas lega tatkala melihat kulit di sekitar pusar bayi yang tadi terangkat telah kembali ke asalnya. Dan benda merah bulat sebesar kelereng itu telah lenyap berpindah ke tangan kanan Pendekar 131.

Kigali segera melangkah maju. “Pendekar 131. Saat Pitaloka mengandung, dia telah memberikan bayi dalam kandungannya padaku. Walau dia sudah tidak bernyawa lagi, izinkan aku untuk menggendong dan menguburkannya....”

Murid Pendeta Sinting memandang pada Pitaloka dan Nyai Tandak Kembang. Di sebelahnya Kigali sudah ulurkan kedua tangannya dengan mata berkaca-kaca. Pitaloka anggukkan kepala. Nyai Tandak Kembang tak kuasa untuk buka mulut. Hingga dia pun hanya memberi isyarat dengan gerakkan kepala mengangguk.

Perlahan-lahan Pendekar 131 Joko Sableng berikan bayi dalam pelukannya pada Kigali yang kemudian mendekapnya. Pitaloka dan Nyai Tandak Kembang tak bisa menahan haru. Kedua perempuan cucu dan nenek ini sama teteskan air mata lalu saling berpelukan. Putri Kayangan yang sejak tadi sudah sesenggukan segera pula merangkul sosok Pitaloka dan Nyai Tandak Kembang.

“Pitaloka.... Beda Kumala.... Kita harus segera tinggalkan tempat ini. Kita kembali ke lereng Gunung Semeru. Hidup di luar lereng Gunung Semeru nyatanya tidak menambah kedamaian! Justru mendatangkan bencana dan malapetaka....” Nyai Tandak Kembang berbisik pada Pitaloka dan Putri Kayangan yang sama merangkul dirinya.

“Eyang.... Kalau kau masih memberiku kesempatan untuk hidup, kuharap Eyang mau menuruti satu permintaanku....” Pitaloka berkata dengan usap air matanya.

“Dari dulu mana aku pernah tidak turuti permintaan kalian berdua?!” sahut Nyai Tandak Kembang lalu perlahan-lahan melepaskan rangkulan Pitaloka dan Putri Kayangan. Memandang sejenak pada kedua cucunya lalu sambung ucapan. “Tapi setelah kejadian ini, aku akan turuti permintaan kalian selain minta untuk turun dari lereng Gunung Semeru....”

Pitaloka dan Putri Kayangan sama terdiam. Namun dada kedua gadis ini dilanda perasaan berlainan. Diam-diam Pitaloka membatin. “Aku sudah bersumpah untuk membalas pada manusia keparat pemakai Jubah Tanpa Jasad! Maksudku tidak akan tercapai kalau Eyang tidak mengizinkan aku turun lereng Gunung Semeru lagi. Hem... Sebelum pulang ke lereng Gunung Semeru, aku harus dapat melakukan maksudku! Apa pun caranya akan kulakukan....”

Kalau Pitaloka membatin begitu, diam-diam Putri Kayangan juga berkata dalam hati. “Kalau Eyang tidak mengizinkan lagi turun lereng Gunung Semeru, berarti aku tidak bisa bertemu dengan....” Putri Kayangan tak lanjutkan kata hatinya. Dia melirik pada murid Pendeta Sinting yang saat itu tengah selinapkan tangan kanan ke balik pakaiannya.

Putri Kayangan menghela napas panjang. “Mungkinkah aku bisa memendam perasaan di lereng Gunung Semeru yang sunyi?! Seandainya aku tidak bertemu dengan Pendekar 131. Mungkin aku senang hidup damai di sana. Tapi kini... Sanggupkah aku melakukannya?”

“Kalian mungkin keberatan dengan ucapanku!” Nyai Tandak Kembang berkata seolah bisa menangkap benak Pitaloka dan Putri Kayangan. “Tapi itu harus kalian lakukan.... Aku tidak mau lagi menerima malapetaka lebih besar! Aku sudah tua... Aku tak ingin akhir usiaku dipenuhi dengan ketegangan apalagi bencana! Kuharap kalian mengerti....”

“Eyang....Aku mengerti!” ujar Pitaloka pelan seraya melirik pada Putri Kayangan. Saat itu Putri Kayangan tengah melirik pada Pendekar 131. “Hemm... Beda Kumala pasti merasa keberatan jika harus berpisah dengan pemuda itu. Ini gara-gara aku....” Pitaloka membatin lalu berkata teruskan ucapannya. “Tapi sebelum kembali ke lereng Gunung Semeru, aku minta waktu pada Eyang! Ada sesuatu yang harus kuselesaikan!”

“Apa pun urusannya, kalau memang ada kita selesaikan bersama-sama!”

Pitaloka gelengkan kepala. “Tidak, Eyang. Ini harus kuselesaikan sendiri!”

Kini ganti Nyai Tandak Kembang yang geleng kepala. “Aku tak ingin kau lakukan sesuatu tanpa kuketahui!”

“Eyang.... Aku telah melakukan kesalahan dan tahu apa akibatnya! Adalah tolol bila aku mengulangi kesalahan yang kedua kalinya! Harap Eyang kali ini percaya padaku!”

“Baik! Tapi katakan dahulu apa yang akan kau lakukan!”

“Eyang.... Untuk yang satu ini biarlah aku sendiri yang tahu.... Percayalah. Bila telah selesai, aku akan segera menyusulmu ke lereng Gunung Semeru. Jika tidak, rasanya aku tak bisa hidup tenang di sana!”

“Pitaloka! Kau akan membalas dendam?!” tanya Nyai Tandak Kembang dapat menebak maksud Pitaloka.

Namun tampaknya Pitaloka maklum jika mengaku terus terang maka Nyai Tandak Kembang akan menghalangi. Seraya gelengkan kepala perlahan dia berucap. “Dendam dalam dadaku memang tidak akan punah sampai aku menutup mata. Tapi adalah bodoh jika aku melakukan hal itu, Eyang! Aku tahu siapa manusia keparat itu. Hanya buang-buang nyawa jika aku melawannya! Lebih-lebih lagi kurasa Pendekar 131 tidak akan tinggal diam....”

Nyai Tandak Kembang kerutkan dahi coba menduga-duga apa maksud sebenarnya Pitaloka. “Kau punya seorang kekasih?!”

Pitaloka tersenyum datar. Namun justru paras Putri Kayangan yang berubah. Dada gadis ini berdebar dan alihkan pandangannya seraya menunggu jawaban Pitaloka. “Eyang.... Seandainya pun aku punya seorang kekasih, aku tak pantas lagi untuk menemuinya! Aku sadar siapa diriku sekarang. Bahkan mungkin aku sudah tak ingin lagi punya pendamping sampai akhir usiaku nanti....”

Nyai Tandak Kembang merasa trenyuh mendengar ucapan Pitaloka. Dia menarik napas panjang. Lalu berucap pelan. “Pitaloka.... Aku mengerti perasaanmu. Tapi kuharap kau mau berterus terang padaku. Aku tak ingin menantimu dengan perasaan cemas dan khawatir!”

“Eyang.... Kau tak perlu khawatir. Atau kalau kau belum percaya padaku, izinkan Beda Kumala untuk pergi bersamaku....”

Beda Kumala alias Putri Kayangan terkejut. Nyai Tandak Kembang berpikir sesaat. Lalu berkata. “Baiklah.... Kalian berdua kuizinkan menyusul. Tapi kalian cuma kuberi waktu satu purnama! Selesai atau tidak urusanmu, kalian harus kembali ke lereng Gunung Semeru!”

Saat itulah tiba-tiba dari arah depan terdengar bentakan. “Mengapa kau diam saja?! Mengapa tidak kau lakukan apa yang kuperintahkan?!”

Yang perdengarkan bentakan ternyata Lingga Buana. Begitu dia terhuyung-huyung laki-laki berambut putih jabrik ini sempat melihat Pendekar 131 memberikan bayi Pitaloka pada Kigali. Malaikat Berkabung sendiri sebenarnya melihat bagaimana murid Pendeta Sinting mengambil bayi dari tangan Pitaloka. Dia sudah hendak berkelebat. Namun tiba-tiba hatinya bimbang apalagi tatkala melirik pada rombongan Dayang Sepuh.

“Aku mungkin dapat berkelebat ke sana. Tapi jahanam-jahanam tua bangka itu tentu tidak akan tinggal diam! Aku telah terluka.... Kalau aku memaksakan diri, aku hanya akan mati konyol!” Malaikat Berkabung membatin. Hingga pada akhirnya dia hanya bisa tegak melihat tanpa berbuat apa-apa.

Lingga Buana pentangkan mata menatap pada Pendekar 131. Walau tidak tahu persis apa yang terjadi, namun dia tampaknya sudah bisa membaca gelagat orang. “Kalau bayi itu sudah dikembalikan pada orang lain, berarti apa yang diinginkannya sudah diambil! Keparat betul! Ini gara-gara perempuan itu!”

Lingga Buana alihkan pandang matanya pada Umbu Kakani. Semua kemarahannya kini ditumpahkan pada perempuan yang beberapa puluh tahun silam pernah mencintainya. Sementara di hadapannya, Umbu Kakani tersenyum dingin.

“Lingga Buana! Kau masih berprasangka hitunganmu benar?!” Umbu Kakani gelengkan kepala. “Jangankan untuk mengambil benda itu, menyentuh pun kau tak akan sampai!”

Dada Lingga Buana laksana terbakar. Namun orang tua ini masih berpikir tenang. “Kalau aku turuti perempuan ini, aku tak akan mendapat benda itu!” Perlahan-lahan niat semula yang hendak langsung menghabisi Umbu Kakani ditangguhkan. Sebaliknya ia melirik pada Pendekar 131. Tanpa diduga, tiba-tiba Lingga Buana berkelebat ke depan. Bukan ke arah Umbu Kakani, melainkan ke arah murid Pendeta Sinting!

LIMA

UMBU Kakani tidak tinggal diam, dia segera hentakkan pantat. Sosoknya berkelebat memotong gerakan Lingga Buana. Lingga Buana marah besar. Dia kerahkan hampir segenap tenaga dalamnya. Didahului bentakan menggelegar, dia sentakkan kedua tangannya. Dia tidak mau lagi bentrok langsung. Dia lepas pukulan jarak jauh meski jarak keduanya hanya lima langkah!

Wuutt! Wuuuutt!

Dua gelombang kabut tipis putih mencuat menggidikkan ke arah sosok Umbu Kakani yang berkelebat memotong. Pendekar 131 sudah hendak berkelebat menghadang. Namun apa pun yang akan dilakukan sudah terlambat untuk bergerak. Selain cuatan gelombang itu begitu cepat, sosok Umbu Kakani terus melaju, membuat jarak pukulan dengan sasaran makin cepat dan dekat. Hingga akhirnya murid Pendeta Sinting hanya dapat memandang dengan perasaan khawatir. Pitaloka tak kalah cemasnya. Dia juga sudah berniat membantu. Namun tangan Nyai Tandak Kembang cepat menghalangi.

“Pitaloka.... Percuma! Jarak mereka sudah terlalu dekat! Bahkan kalau salah, akan lebih celaka!”

Di depan sana. Umbu Kakani bukannya merubah arah kelebatan. Sebaliknya teruskan kelebatan lurus ke arah Lingga Buana. Hingga tanpa ampun lagi gelombang kabut putih tipis mengarah tepat kearahnya! Setengah depa lagi kabut putih tipis menggebrak, tiba-tiba Umbu Kakani tarik dadanya kebelakang. Saat lain seraya perdengarkan seruan garang, dia sentakkan dadanya kedepan.

"Betttt!" Satu gelombang berkiblat dari dada Umbu Kakani menghadang kabut putih tipis. Hebatnya dan sungguh di luar dugaan semua orang, begitu sentakkan dada, Umbu Kakani sentakkan bahunya. Hingga sosoknya makin kencang berkelebat ke depan menyusuli gelombang dari dadanya!

"Bummm!" Ledakan keras terdengar bergemuruh. Kabut tipis dan gelombang sama semburat dan menebar ke Seantero ruangan. Semua mata membelalak. Bukan karena melihat bentroknya dua pukulan, melainkan memandang bagaimana sejengkal lagi dua pukulan bertenaga dalam itu bertemu, Umbu Kakani sekali lagi hentakkan bahu. Hingga sosoknya melesat melewati dua pukulan yang hendak bentrok!

Begitu terdengar gelegar, sosok Umbu Kakani mencelat lurus ke depan seolah mengejar sosok Lingga Buana yang juga mental ke belakang. Lingga Buana terkesiap kaget. Karena sosok Umbu Kakani lebih dekat dengan terjadi benturan, maka mentalan sosok Umbu Kakani lebih deras lesatannya dibanding mentalan sosok Lingga Buana. Lingga Buana cepat kelebatkan kedua tangannya. Namun karena harus imbangi diri agar tidak jatuh terkapar, gerakannya terlambat.

"Bukkkk!" Kepala Umbu Kakani menghantam deras dada Lingga Buana. Namun Lingga Buana masih sempat hantamkan kedua tangannya ke arah lambung Umbu Kakani.

Bukkkk! Bukkkk!

Sosok Umbu Kakani mencelat lagi kebelakang. Darah sudah tampak menyembur dari mulutnya sebelum sosoknya sendiri melayang jatuh. Dan karena sudah tak dapat kuasai diri, perempuan ini tidak berusaha membuat gerakan apa-apa meski tahu sosoknya hendak jatuh menghantam lantai. Saat itulah satu bayangan putih berkelebat menyongsong sosok Umbu Kakani. Lalu menurunkan perempuan itu perlahan-lahan ke atas lantai.

“Kau sudah dapatkan benda itu, Pendekar 131?!” tanya Umbu Kakani tersendat karena banyaknya darah yang menyembur dari mulutnya.

Pendekar 131 yang ternyata telah menghadang menghantamnya sosok Umbu Kakani dan kini letakkan Umbu Kakani di atas pangkuannya gerakkan kepala mengangguk. “Jangan banyak bicara dahulu, Nek! Aku akan alirkan tenaga dalam untuk....”

Umbu Kakani gelengkan kepala pelan. “Tak ada gunanya, Pendekar 131. Aku sudah tahu apa akibanya. Tapi aku merasa lega. Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk arwah guruku. Satu pintaku... Jangan biarkan jahanam itu merebut benda itu dari tanganmu... Aku tahu... Dia masih menyimpan ilmu... Berhati-hatilah menghadapinya!”

Habis berucap begitu, sepasang mata Umbu Kakani memejam. Sosoknya mengejang sesaat sebelum akhirnya diam tak bergerak-gerak lagi. Pitaloka segera melompat disusul kemudian oleh Putri Kayangan. Pitaloka berteriak memanggil-manggil seraya mengguncang sosok Umbu Kakani.

Joko menahan tangan Pitaloka. “Dia sudah meninggal, Pitaloka....”

Pitaloka menahan napas lalu rebahkan kepalanya pada dada Umbu Kakani. Tangisnya meledak. “Dia dengan susah payah menolong kelahiran anakku. Padahal dia tidak bisa gunakan kedua tangannya... Aku belum bisa membalas budinya. Tapi....”

“Sudahlah, Pitaloka.... Bahaya belum selesai. Harapbkau dan Putri Kayangan membawanya ke samping orang tua yang membawa bayimu!” ujar murid Pendeta Sinting.

Pitaloka angkat kepalanya lalu berpaling ke arah Lingga Buana. Pendekar 131 Joko Sableng segera mencekal lengan Pitaloka begitu mengetahui maksud gadis itu. “Kau masih perlu istirahat.... Biar aku yang menyelesaikannya!”

Putri Kayangan memandang pada Joko. Joko anggukkan kepala. Paras si gadis berubah. “Rasanya sulit aku akan bisa melupakannya...” Diam-diam Putri Kayangan membatin. Lalu menoleh pada Pitaloka dan berkata. “Benar, Pitaloka. Tubuhmu masih lemah. Jangan paksakan diri! Nenek ini perlu dikuburkan. Begitu juga anakmu!”

Seraya berucap, tangan Putri Kayangan lepaskan cekalan tangan Joko pada lengan Pitaloka. Ada getaran aneh yang menjalar hingga dadanya. Diam-diam Putri Kayangan teringat saat bergenggaman tangan dengan Joko di dalam hutan namun belum sampai lama mendadak muncul Nyai Tandak Kembang. Ingat hal itu Putri Kayangan jadi tersenyum sendiri. Dia memandang pada murid Pendeta Sinting. Saat itu Joko sendiri tengah pandangi wajah Putri Kayangan. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang tanpa ada yang buka suara.

“Kuharap kalian nanti berbahagia!” Tiba-tiba Pitaloka bergumam pelan. Tangan kanannya terangkat lalu diletakkan di atas tangan Putri Kayangan yang saat itu tengah memegang tangan Pendekar 131.

Putri Kayangan tak bisa menahan perasaan. Parasnya merah padam. Namun dia tidak berusaha menarik tangannya. Di lain pihak, Joko jadi salah tingkah. Apalagi dia tahu Nyai Tandak Kembang pasti melihatnya.

“Setan!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari seberang sana. “Sekarang bukan saatnya main pegang-pegangan!” Yang berteriak bukan lain adalah Dayang Sepuh.

“Benar! Musim bercinta belum datang! Tunggulah sampai semuanya beres. Percayalah... Angin pasti berlalu! Eh, maksudku badai pasti berlalu!” timpal Dewi Ayu Lambada.

“Lagi pula tak pantas mengiringi perkabungan dengan kemesraan begitu! Simpan dahulu masing-masing rasa di dalam dada! Yakinlah... Ini rindu hanya buatmu!” Iblis Ompong menyahut.

“Ukkk! Uuukkk! Uuukkk!” Dewa Uuk ikut buka mulut. Kedua tangannya diangkat ke atas membuat gerakan seperti orang tengah melantunkan nyanyian syair.

Putri Kayangan tersentak dan buru-buru tarik tangannya dengan raut merah padam. Joko tak kalah kagetnya dan jadi salah tingkah. Dia tarik pula tangannya sambil cengar-cengir dan melirik pada Nyai Tandak Kembang.

“Angkat nenek Umbu Kakani menjauh dari sini...” kata Joko.

Pitaloka dan Putri Kayangan segera lakukan ucapan murid Pendeta Sinting. Mengangkat pelan-pelan sosok mayat Umbu Kakani mendekat pada Kigali dan Nyai Tandak Kembang.

Di seberang depan sana, sosok Lingga Buana tampak tegak bersandar pada kedua tangan Malaikat Berkabung. Ketika Lingga Buana mencelat terhuyung akibat benturan kepala Umbu Kakani pada dadanya, sosok Lingga Buana memang mencelat terhuyung ke belakang. Saat itulah Malaikat Berkabung melompat lalu menahan sosok Lingga Buana. Hingga selamatlah Lingga Buana dari benturan dengan lantai ruangan. Namun benturan kepala Umbu Kakani tak urung membuat parasnya berubah dan mulutnya kucurkan darah lagi!

“Kau kurang waspada!” kata Lingga Buana pada Malaikat Berkabung. “Benda itu sekarang ada pada Pendekar 131! Ini akan membuat usaha makin sulit!”

“Tapi kita masih mampu merebutnya!” sahut Malaikat Berkabung.

“Hanya dengan jurus ‘Tangga Bertingkat’ kita mampu melakukannya! Cepat siapkan tenaga dalam! Kita hantam dia dengan jurus ‘Tangga Bertingkat’!” kata Lingga Buana.

Malaikat Berkabung melepas tahanan kedua tangannya pada punggung Lingga Buana. Lalu melompat dan tahu-tahu telah duduk bersila dihadapan Lingga Buana dengan kedua tangan menakup di depan dada. Sepasang matanya terpejam rapat. Lingga Buana pandangi sesaat sosok Pendekar 131 yang bergerak bangkit di depan sana. Saat lain orang tua berambut putih jabrik ini membuat gerakan satu kali. Sosoknya tiba-tiba sudah berada di atas tubuh Malaikat Berkabung. Kedua kakinya mengapit leher si pemuda dan masuk ke sela antara dada dan kedua tangan Malaikat Berkabung. Kedua tangannya disatukan terbuka didepan dada. Matanya sudah terpejam.

“Hem... Mungkin inilah yang dikatakan Nenek Umbu Kakani. Lingga Buana masih menyimpan ilmu!” kata Joko dalam hati. “Kalau aku menggunakan pukulan ‘Lembur Kuning’, mungkin belum bisa menghalau mereka! Akan kuhadang dengan ‘Serat Biru’!”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting cepat kerahkan tenaga dalam pada tangan kirinya. Kejap itu juga tangan kiri Joko laksana dialiri sinar biru terang. Inilah tanda kalau murid Pendeta Sinting siap lepaskan pukulan ‘Sera tBiru’.

Nyai Tandak Kembang memandang dengan picingkan sedikit matanya. Pitaloka sedikit cemas. Tapi yang paling terlihat gelisah adalah Putri Kayangan. Dia memandang tak berkesip. Bila turutkan kata hati rasanya dia ingin melompat dan membantu. Namun dia sadar hal itu tak mungkin dilakukannya. Apalagi ada Nyai Tandak Kembang. Tapi diam-diam dia kerahkan pula tenaga dalam dan berbisik pada Pitaloka.

“Pitaloka! Kau pegangi erat-erat nenek ini!”

Tanpa bertanya rupanya Pitaloka sudah maklum apa yang akan dilakukan saudara kembarnya. Hingga dia hanya anggukkan kepala. Di tempat lain, Dayang Sepuh berpaling pada Dewi Ayu Lambada.

“Tegak berbaris ini sudah tak perlu lagi! Sekarang kita tinggal nonton setan-setan itu!” Dayang Sepuh melompat.

Karena kedua tangan Dewi Ayu Lambada masih menekan punggung Dayang Sepuh dan Dayang Sepuh melompat secara tiba-tiba, membuat Dewi Ayu Lambada terlengak. Sosoknya terhuyung ke depan dan hampir saja menyusup ke lantai ruangan. Untung si nenek cepat kuasai diri. Sebelum sosoknya menghantam lantai, dia kebutkan julaian bagian bawah kerudung hitamnya yang ada di bagian perut. Sosoknya membal ke udara lalu melayang turun dan tegak di samping Dayang Sepuh.

“Kalau mau hindarkan orang, bilang-bilang dulu!” Dewi Ayu Lambada sudah mengomel begitu tegak. “Kau lihat sendiri, hampir saja aku cekakakan! Eh, maksudku hampir saja aku kecelakaan!”

Di lain pihak, karena pantat Iblis Ompong yang menungging menempel dan bersandar pada pantat Dewi Ayu Lambada, begitu sosok Dewi Ayu Lambada terhuyung ke depan, Iblis Ompong tersentak. Karena tangannya tidak lagi mencekal pundak Dewa Uuk yang duduk di hadapannya melainkan tekap hidungnya akibat bau kencing dari tubuh Dewa Uuk, membuat sosok Iblis Ompong tertarik ke belakang dan akhirnya sosok orang tua tak bergigi ini terjengkang di atas lantai.

Yang sial adalah Dewa Uuk. Dengan Iblis Ompong terjengkang, maka kedua kakinya terjungkat ke atas. Padahal Dewa Uuk tepat duduk di hadapan Iblis Ompong hingga tanpa ampun lagi kedua kaki Iblis Ompong yang terangkat ke atas menghantam sosok Dewa Uuk!

Bukkkk!

“Uuukkk!” Dewa Uuk perdengarkan suara. Sosoknya mencelat ke belakang dengan kedua kaki terjungkat. Namun Dewa Uuk tampaknya tak mau tinggal diam. Saat kedua kakinya terangkat akibat tubuhnya terdorong, Dewa Uuk cepat luruskan kedua kakinya dan ditengadahkan ke arah kedua kaki Iblis Ompong yang baru saja menghantam tubuhnya.

"Bukkk!" Kedua kaki Iblis Ompong yang berada di atas udara terpental, membuat sosok Iblis Ompong jungkir balik di atas lantai ruangan! Namun begitu jungkir balik dua kali, Iblis Ompong sentakkan kedua tangannya menekan ke atas lantai. Sosoknya melesat dan tahu-tahu telah tegak disamping Dewi Ayu Lambada. Namun orang tua ini bukannya menghadap ke depan melainkan ke belakang!

Sementara di belakang sana Dewa Uuk juga terguling-guling. Tapi begitu sosoknya hendak terhenti, mendadak orang tua bisu dan tuli ini membuat gerakan satu kali.

"Wuuuttt!" Tubuh Dewa Uuk berkelebat ke depan lalu duduk bersila di samping Iblis Ompong.

“Kau tak apa-apa?!” teriak Iblis Ompong pada Dewa Uuk.

Dewa Uuk menoleh dengan tadangkan kedua tangan di belakang kedua telinganya. Lalu tertawa sambil anggukkan kepala.

“Untung adikmu tidak mendapat cedera! Kalau main-main jangan keterlaluan! Kalau dia tadi mendapat cedera, pasti aku yang disalahkan! Padahal kau yang buat ulah!” Iblis Ompong menyemprot pada Dewi Ayu Lambada.

“Sialan! Mengapa kau salahkan aku?! Dia yang memulai! Melompat tanpa bilang-bilang!” sahut Dewi Ayu Lambada membela diri dengan suara keras. Lalu berpaling pada Dayang Sepuh.

“Gara-gara kau, aku disalahkan orang katanya hendak mencelakai adik sendiri!”

Dayang Sepuh menoleh dengan mata dipentangkan. Bukan ke arah Dewi Ayu Lambada melainkan pada Dewa Uuk. “Setan macam begitu rupanya pandai juga mengadu! Akan kubuat mulut setannya tak bisa mengadu dan membuat orang saling bermusuhan!” bentak Dayang Sepuh.

“Sudah! Sudah! Lihat pertunjukan akan segera dimulai!” Iblis Ompong menengahi seraya tekuk tubuhnya hingga membuat sikap menungging dan memandang ke depan lewat sela kedua kakinya yang dibuka lebar-lebar!

Dayang Sepuh sentakkan kepala menghadap ke depan seraya rapikan poni rambutnya. Sementara tangan satunya kibas-kibaskan kelabangan rambutnya. Dewi Ayu Lambada ikut pula hadapkan wajahnya ke depan. Kedua tangannya diangkat betulkan kerudung hitam di atas kepalanya. Dewa Uuk angkat bahu lalu hadapkan muka ke depan namun sepasang matanya dipejamkan dan raut wajahnya membuat mimik ngeri!

ENAM

DI DEPAN sana, tiba-tiba hampir bersamaan Malaikat Berkabung dan Lingga Buana sama sentakkan kedua tangan masing-masing ke arah murid Pendeta Sinting.

Wuutt! Wuutt! Wuuuut!Wuutt!

Terdengar deruan gelombang dahsyat laksana amukan badai. Kabut hitam dan putih tipis berkiblat menggidikkan. Hebatnya, begitu gelombang kabut hitam dan putih melesat, saat lain dari kedua tangan masing-masing orang kembali cuatkan gelombang kabut hitam dan putih! Itu pun tak lama, kejap lain kembali kabut hitam dan putih melesat! Inilah kehebatan jurus ‘Tangga Bertingkat’. Hanya dengan sekali sentakan, namun pukulan yang melesat keluar tiga kali berturut-turut!

Mendapati hal demikian, kalau pada mulanya Joko hanya siapkan pukulan ‘Serat Biru’ pada tangan kirinya, kini dia salurkan tenaga dalam pula pada tangan kanannya dan siapkan pukulan ‘Lembur Kuning’. Hingga ketika kedua tangannya mendorong, dari tangan kiri Joko melesat serat-serat biru laksana benang. Tidak perdengarkan suara atau gelombang angin yang dahsyat. Sementara dari tangan kanan murid Pendeta Sinting menderu gelombang laksana hamparan ombak disertai melesatnya sinar kuning terang yang membawa hawa menyengat panas luar biasa.

Dentuman-dentuman dahsyat memekakkan gendang telinga memecah ruangan di bawah Lembah Patah Hati itu. Ruangan laksana digoyang gempa luar biasa dahsyat. Dinding-dinding ruangan perdengarkan suara gemeretak rengkah. Lobang di atas sana kembali longsor hingga lobangnya semakin lebar. Kabut hitam dan putih bertebaran ke Seantero ruangan disusul bertaburnya serat-serat biru dan kilauan sinar kuning.

Sosok murid Pendeta Sinting mencelat sampai tiga tombak ke belakang dan menghantam dinding ruangan sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan punggung bersandar pada dinding. Dari mulutnya semburkan darah. Air mukanya pucat pasi laksana tidak dialiri darah. Kedua tangannya lunglai seperti tak punya tenaga. Dadanya turun naik berguncang-guncang. Mulutnya yang-semburkan darah megap-megap!

Di seberang sana, sosok Lingga Buana terpental dahulu disusul kemudian oleh Malaikat Berkabung. Wajah guru dan murid ini pias putih. Dari masing-masing mulutnya kucurkan darah. Sosok mereka bergetar hebat. Sepasang mata mereka terpejam terbuka dengan mulut perdengarkan erangan tertahan. Karena sebelumnya sudah terluka dalam, mereka memerlukan waktu agak lama untuk dapat bergerak bangkit. Malah sesaat keduanya terhuyung-huyung saat kakinya tegak.

Sementara di depan, dengan tumpukan kedua tangannya ke dinding di belakangnya, Joko sudah merambat tegak terlebih dahulu dan kerahkan tenaga dalam mengatasi rasa sakit pada dada. Lalu menutup jalan mulutnya hingga aliran darah terhenti.

Beberapa saat berlalu. Puti Kayangan yang semakin gelisah mendapati Joko terluka tampak mondar-mandir dan sesekali melirik pada Nyai Tandak Kembang. Rupanya Nyai Tandak Kembang bisa melihat kegelisahan cucunya. Sambil memandang pada Joko dia berucap.

“Beda... Kau tak perlu berlaku seperti itu... Kurasa dia masih mampu mengatasi diri sendiri! Dan apa kau kira aku akan diam saja jika aku tahu dia tak mampu menghadang pukulan orang?!”

Putri Kayangan hentikan gerakan kakinya yang melangkah mondar-mandir. Walau kini merasa agak lega mendengar ucapan Nyai Tandak Kembang, namun kegelisahannya tidak bisa pupus semua.

“Lingga Buana!” Joko angkat bicara. “Turut keterangan Umbu Kakani, seharusnya kau tidak pantas lagi berpijak di atas bumi! Tapi kali ini kau dan Malaikat Berkabung masih kuberi kesempatan untuk memperbaiki diri! Tinggalkan tempat ini segera!” Sambil berkata, Pendekar 131 melangkah maju. Entah untuk menggertak orang, dia angkat kedua tangannya.

“Aku sudah terlalu tua untuk digertak apalagi takut mati, Pendekar 131! Kau dan teman-temanmu yang harus enyah dari tempat ini! Tapi tanpa harus membawa benda merah itu!” Lingga Buana menyahut dengan suara keras dan mata mendelik.

“Kau tak akan mendapatkan apa-apa, Lingga Buana! Bahkan kesempatan untuk hidup pun seharusnya tidak layak kau miliki!”

“Ucapan itu pantas kau katakan pada anak bawang, Pendekar 131! Dan aku bukan anak ingusan!”

“Kalian dengar ucapannya?!” Tiba-tiba Dayang Sepuh angkat suara. “Setan jabrik itu mengatakan bukan anak ingusan! Padahal baru saja ingusnya menyembur dari mulut setannya! Hik Hik Hik...!”

“Kakek-kakek biasanya memang punya penyakit lupa! Malah kadang-kadang sudah beristri tapi masih juga terbirit-birit mengejar nenek-nenek! Eh.... Maksudku terbirit-birit mengejar gadis ayu!” Dewi Ayu Lambada menimpali.

“Husss! Enak saja kau bicara! Kalau kakek-kakek sudah terbirit mengejar gadis, itu bukan karena lupa! Tapi sengaja! Kalau nenek-nenek mengejar pemuda itu baru namanya lupa diri!” Iblis Ompong menyahut. “Bukankah begitu?!” Iblis Ompong berpaling pada Dewa Uuk.

Dewa Uuk terperanjat lalu tadangkan kedua tangan di belakang telinganya dan manggut-manggut.

“Lingga Buana!” Joko kembali perdengarkan suara. “Kita masih punya acara lain. Jadi lekas ambil kesempatan yang kuberikan!”

“Kau tak akan teruskan acaramu! Karena acara perkabunganmu akan tiba!”

Suara Lingga Buana belum selesai, orang tua berambut putih jabrik ini sudah melesat ke depan. Dari bentrokan tenaga dalam tadi, tampaknya dia sudah sadar kalau tenaganya tak mungkin lagi menghadapi tenaga dalam murid Pendeta Sinting, apalagi dia telah terluka dalam cukup parah. Maka dia kini melesat coba bertarung jarak dekat.

Joko tidak mau bertindak ayal. Meski Lingga Buana sudah terluka dalam, namun bagaimanapun juga pukulannya terlalu berbahaya jika dibiarkan. Maka begitu Lingga Buana melesat ke depan, Joko segera menyongsong. Lingga Buana angkat kedua tangannya. Joko ikut angkat kedua tangan. Namun kali ini Joko tertipu. Secepat kilat Lingga Buana bergerak ke bawah. Tapi ini adalah kesalahan fatal yang dibuat Lingga Buana. Tangan kiri kanannya memang berhasil menggebuk lambung murid Pendeta Sinting. Namun saat itu juga kedua tangan Joko yang terangkat tidak terhalang lagi untuk menggebrak kepala dan dada Lingga Buana.

Bukkk! Bukkk! Prakkk! Prakkk!

Pendekar 131 berseru tertahan. Sosoknya terpental dan jatuh terduduk. Pakaian bagian lambung kanan kirinya robek menganga. Joko cepat kerahkan tenaga dalam lalu selinapkan tangan kanan ke balik pakaian. Dia menarik napas lega ketika tangannya masih menyentuh benda merah yang tadi diambil dari pusar bayi Pitaloka.

Sementara di depan, sosok Lingga Buana tampak limbung lalu jatuh terkapar dengan kepala kucurkan darah. Mulut dan hidungnya pun semburkan darah kental. Malaikat Berkabung cepat melompat. Namun begitu kedua tangannya menyentuh tubuh Lingga Buana, orang tua berambut jabrik ini berseru tertahan. Kedua kakinya meregang. Saat lain seruannya terputus dan kedua kakinya diam kaku!

Nyawa laki-laki yang pernah dicintai Umbu Kakani ini melayang. Kuduk Malaikat Berkabung merinding dingin. Dia melirik pada Joko yang telah bangkit dan melangkah ke arahnya. Malaikat Berkabung cepat tegak. Nyalinya sudah menciut. Namun karena keadaan, akhirnya dia kerahkan tenaga dalam dan nekat hendak menghadapi murid Pendeta Sinting.

“Malaikat Berkabung!” kata Joko. “Cukup sampai di sini saja urusan antara kita! Tinggalkan tempat ini dan lupakan apa yang telah terjadi!”

Karena sudah maklum tak mungkin menghadapi Joko, diberi kesempatan begitu rupa Malaikat Berka- bung cepat putar diri, malah lupakan apa yang harus dilakukan pada sosok mayat Lingga Buana. Namun Malaikat Berkabung tidak teruskan gerakan. Melainkan arahkan pandang matanya pada rombongan Dayang Sepuh. Dada pemuda ini berdebar ketika melihat Dayang Sepuh pasang tampang angker dengan kedua tangan diletakkan pada pinggang kiri kanan.

Di sampingnya, Dewi Ayu Lambada tak tinggal diam. Dia rangkapkan kedua tangan di depan dada. Sepasang matanya membelalak besar. Lalu angkat kaki kanannya dan diletakkan bersilang di atas betis kaki kirinya. Mulutnya menyeringai dingin. Iblis Ompong cepat balikkan tubuh. Kalau biasanya mulut dibuka lebar-lebar walau tidak perdengarkan suara, kali ini si orang tua tak bergigi ini katupkan mulut rapat-rapat. Kedua tangannya diangkat ke atas. Kedua kakinya membuat kuda-kuda siap melompat.

Di sebelah Iblis Ompong, Dewa Uuk yang sedari tadi pejamkan matanya perlahan-lahan buka kelopak matanya. Saat bersamaan dia melompat bangkit. Sosoknya disorongkan ke depan. Tangan kanan diangkat ke atas tangan kiri diluruskan dengan telapak terbuka lurus ke arah Malaikat Berkabung.

Malaikat Berkabung tercekat. Sosoknya bergetar. Dia hendak buka mulut namun yang dilakukannya justru menggigit atas bawah bibirnya!

“Aku datang bersama air kencing! Aku datang dengan naungan air kencing dan air kencing lagi! Aku datang dari lembah air kencing! Air kencing akan jadi saksi mati. Saksi dari aliran air kencing anak manusia!”

Dayang Sepuh berucap lantunkan syair seperti yang biasa diucapkan Malaikat Berkabung. Namun sebagian kalimatnya dirubah. Saat lain Dayang Sepuh tertawa bergelak. Dewi Ayu Lambada sesaat pandangi Malaikat Berkabung pada bagian bawah tubuhnya. Tiba-tiba tawa nenek berkerudung hitam ini meledak keras! Iblis Ompong cepat tekap hidungnya dengan tarik kedua tangannya yang tadi terangkat. Lalu mengomel.

“Sialan! Sialan kau! Sudah gede masih juga terkencing-kencing di celana!”

“Uuukkk! Uuukkk! Uuukkk!” Dewa Uuk angkat suara. Tangan kirinya yang tadi terbuka dikepalkan dengan telunjuk ditegakkan dan menunjuk-nunjuk pada celana Malaikat Berkabung. Lalu tawanya menyentak-nyentak! Malaikat Berkabung pelan-pelan melirik ke bawah. Parasnya merah padam antara takut dan malu. Ternyata karena saking takutnya tanpa terasa dia sudah keluarkan air kencing dicelana! Semua orang di ruangan bawah Lembah Patah Hati sama tertawa bergelak-gelak.

“Jahanam! Apa boleh buat. Kalau mereka tak membiarkan aku pergi, aku akan menghadapi mereka!” desis Malaikat Berkabung lalu diam-diam kerahkan tenaga dalam. Dan mulai melangkah ke arah lobang.

Tepat di samping Dayang Sepuh, Malaikat Berkabung sudah siap. Namun ternyata Dayang Sepuh tidak membuat gerakan apa-apa, melainkan makin keraskan gelakan tawanya. Malaikat Berkabung teruskan langkah. Dan baru berhenti tepat di bawah lobang yang telah makin menganga lebar karena longsor beberapa kali. Malaikat Berkabung arahkan pandang matanya ke atas. lalu ke arah beberapa orang di tempat itu yang masih tertawa berbahak-bahak.

“Kalian kelak akan merasakan akibatnya!” gumam Malaikat Berkabung lalu jejakkan kedua kakinya. Sosoknya melenting ke atas. Namun baru saja kepalanya hendak melewati lobang, tiba-tiba...

“Brusss! Brusss! Brusss!”

Terdengar bersinan tiga kali berturut-turut. Malaikat Berkabung tersentak kaget. Bukan saja karena terdengarnya suara bersinan, namun bersamaan dengan itu sosoknya laksana dilabrak gelombang angin dahsyat. Hingga sosoknya kembali melayang ke bawah makin deras!

"Bukkk!" Malaikat Berkabung terjengkang jatuh. Serentak Dayang Sepuh dan Dewi Ayu Lambada putar diri. Demikian juga Dewa Uuk. Hanya Iblis Ompong yang tetap hadapkan tubuh ke depan. Namun saat itu juga tubuh bagian atasnya menukik ke depan dengan kedua kaki direnggangkan. Lalu memandang orang di belakangnya dari sela kedua kaki seraya menungging!

Dada Malaikat Berkabung bergemuruh marah. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kini tahu di atas sana masih ada orang lain. Entah karena tak mau terus dipermalukan orang, dia kerahkan tenaga dalam dan kembali melesat ke atas dengan kedua tangan siap lepaskan pukulan. Namun bersamaan dengan melesatnya Malaikat Berkabung dari atas lobang meluncur satu sosok tubuh. Untuk kedua kalinya si pemuda terkejut. Ini membuatnya lengah dan tak sempat lagi lepaskan pukulan.

“Bruss! Brusss!” Kembali terdengar bersinan. Lalu sosok yang melayang turun terlihat gerakkan kaki.

"Bukkkk!" Sosok Malaikat Berkabung kembali melayang deras ke bawah, malah kini terpental sebelum akhirnya menghantam dinding di belakang sana dan jatuh terkapar!

“Brusss! Brusss! Aku heran... Mengapa ada orang terus menghalangiku!” kata orang yang baru bersin. Dia bukan lain adalah Datuk Wahing.

Malaikat Berkabung bangkit tegak terhuyung- huyung. Melihat Datuk Wahing tidak memandangnya bahkan terus arahkan pandang matanya pada rombongan Dayang Sepuh, si pemuda cepat berkelebat lalu tegak di bawah lobang. Tanpa menunggu lama lagi Malaikat Berkabung segera melesat ke atas. Karena tergesa-gesa dan menyangka sudah tidak ada orang lagi dia enak saja melesat.

Tapi tiba-tiba satu sosok bayangan besar meluncur dari lobang di atas. Saling terkejutnya dan takut hantaman orang, Malaikat Berkabung tak dapat kuasai diri. Hingga sosoknya limbung dan jatuh melayang lagi kebawah!

"Bukkkk!" Sosok Malaikat Berkabung untuk kesekian kalinya terjengkang di atas lantai.

“Ada apa, Anak Muda?!” Bertanya sosok besar yang baru saja melayang turun dan kini telah tegak di samping Dayang Sepuh. Dia adalah seorang kakek berambut putih disanggul tinggi bermata putih. Dia mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Sosoknya tambun besar. Pinggangnya dililit ikat pinggang besar yang pada bagian perutnya terdapat cermin bulat. Orang tua ini tidak lain adalah Gendeng Panuntun.

“Maaf... Aku tidak berbuat apa-apa padamu! Kau jatuh sendiri...,” kata Gendeng Panuntun.

Malaikat Berkabung kancingkan mulut tidak menyahut. Sebaliknya cepat bangkit. Dan tanpa memandang pada orang dia melesat sekali lagi ke atas. Kali ini karena khawatir masih ada orang, dia kerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki. Namun Malaikat Berkabung merasa lega, karena sampai sosoknya melewati lobang, dia tidak menemui hadangan!

TUJUH

BEGITU sosok Malaikat Berkabung lenyap di atas lobang, Gendeng Panuntun balikkan tubuh menghadap ke arah Pendekar 131 di depan sana.

“Sahabat muda... Masih ada yang harus kau kerjakan! Jangan lama-lama di tempat ini, meski terasa berat kau harus berpisah untuk sementara waktu!”

“Busyet! Dia tampaknya sudah tahu kalau aku berat meninggalkan Putri Kayangan apalagi setelah ini mungkin tak bisa bertemu lagi!” Murid Pendeta Sinting membatin tahu arah pembicaraan Gendeng Panuntun. Tanpa sadar kepalanya berpaling pada Putri Kayangan.

“Bruss! Bruss! Berpisah dengan kekasih memang berat. Apalagi tidak ada kepastian kapan bisa berjumpa lagi! Brusss! Tapi adalah mengherankan kalau seseorang harus tenggelam pada kesedihan hati padahal ada tugas penting di pundaknya demi kepentingan orang banyak!” Datuk Wahing sambungi ucapan Gendeng Panuntun.

“Bukan saja mengherankan, tapi dia adalah setan tolol kalau sampai mendahulukan cinta daripada kepentingan orang banyak yang tengah terancam!” Dayang Sepuh sudah menyahut.

“Betul! Kerjaku akan sia-sia kalau akhirnya hanya tergusur urusan cinta!” Dewi Ayu Lambada ikut ambil suara. Dan iblis Ompong tak tinggal diam. Dia buka mulut pula tanpa angkat kepalanya.

“Urusan cinta memang gampang-gampang susah! Tapi kalau aku punya murid yang mendahulukan cinta daripada tugas, akan kugebuk dia sampai terkencing-kencing!”

Mendengar ucapan-ucapan beberapa orang di tempat itu, Joko segera berkelebat ke depan. Lalu arahkan pandang matanya pada satu persatu orang dan berkata. “Aku berterima kasih atas bantuan kalian semua! Dan harap tidak khawatir atau salah duga. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang!”

Pendekar 131 putar diri, memandang pada Pitaloka, Nyai Tandak Kembang, Kigali, dan terakhir pada Putri Kayangan. Untuk beberapa saat dia pandangi si gadis lalu tersenyum dan anggukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Saat lain murid Pendeta Sinting balikkan lagi tubuh, lalu berujar.

“Aku akan berangkat sekarang!”

Rombongan Dayang Sepuh tersenyum lalu sama anggukkan kepala. Hanya Dewa Uuk yang kerutkan dahi dengan kepala tetap diam karena tak mendengar ucapan Joko. Namun tiba-tiba Joko urungkan niat berkelebat. Sebaliknya balikkan tubuh lagi menghadap rombongan Nyai Tandak Kembang. Kali ini pandang matanya bukannya mengarah pada Putri Kayangan, melainkan pada Pitaloka. Putri Kayangan berdebar. Dia menduga-duga dengan gelisah. Joko tersenyum lalu angkat bicara.

“Pitaloka... Kau tahu di mana manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad itu?!”

Putri Kayangan menarik napas lega. Pitaloka anggukkan kepala dan menjawab. “Terakhir kali aku melihatnya di kaki Bukit Kalingga...”

Pendekar 131 tersentak. “Bukit Kalingga... Astaga! Bukankah aku pernah bertemu Kiai Laras di sana...? Apakah...” Joko tidak lanjutkan gumamannya. Sebaliknya cepat berbalik, lalu berkelebat. Dia berhenti sejenak di bawah lobang. Memandang pada semua orang di ruangan, lalu melesat dan lenyap di atas lobang.

Gendeng Panuntun kerjapkan sepasang matanya yang putih. Lalu berkata. “Nyai Tandak Kembang... Aku sebagai wakil dari sahabat-sahabat yang ada di sini minta maaf kalau selama ini bertindak kurang sopan padamu!”

“Ah... Lupakan semua itu. Justru aku yang berterima kasih padamu serta sahabat-sahabat sekalian!” sambut Nyai Tandak Kembang seraya anggukkan kepala menjura.

“Setan! Aku tidak merasa bertindak kurang sopan pada setan perempuan itu!” Dayang Sepuh bergumam dengan cibirkan mulut.

“Aku pun merasa begitu!” Dewi Ayu Lambada menimpali gumaman Dayang Sepuh.

“Aku juga demikian!” Iblis Ompong ikut-ikutan bergumam.

“Brusss! Brusss! Ah... Mengherankan sekali. Apa kalian tak tahu bahasa basa-basi?!” Datuk Wahing mengingatkan.

Dayang Sepuh sudah hendak angkat bicara menyahut. Namun Gendeng Panuntun mendahului buka mulut. Bukan sambuti gumaman beberapa orang di sampingnya, melainkan bicara seraya hadapkan wajah lurus ke arah Pitaloka.

“Gadis cantik... Aku punya satu saran untukmu! Sebaiknya kau turuti saran eyangmu Jangan perturutkan kata hati!”

"Hem... Apakah dia tahu rencanaku? Lalu mengapa dia mencegahku?!” Pitaloka diam-diam berkata sendiri dalam hati. Mungkin tak mau berpanjang lebar dan bisa-bisa Nyai Tandak Kembang menarik izinnya, Pitaloka buka suara menyahut.

“Terima kasih atas saranmu. Aku akan berusaha melakukannya...”

“Brusss! Brusss! Rasa-rasanya aku ingat siapa kau sekarang!” Datuk Wahing berkata seraya hadapkan wajah dan memandang pada Kigali. “Tapi aku masih ragu dan heran. Apakah benar penglihatanku ini?”

“Aku memang Kigali... Apa kau hendak teruskan ucapan usang, Galaga?!” Kigali berterus terang sambil menyebut nama asli Datuk Wahing.

Seperti diketahui, Kigali pernah menjadi orang kepercayaan Maladewa alias Setan Liang Makam pada beberapa puluh tahun silam. Bahkan Kigali punya tugas untuk mencari sekaligus membunuh Galaga alias Datuk Wahing.

“Brusss! Jangan berkata mengherankan, Sahabat! Aku tak ingin membangkitkan kisah lama. Malah aku bersyukur bisa bertemu kau lagi...”

“Datuk... Sudah saatnya kita pergi dari sini! Lagi pula mereka masih punya pekerjaan...” Gendeng Panuntun berkata seraya menoleh pada Datuk Wahing.

Datuk Wahing berpaling pada rombongan Dayang Sepuh. “Bruss! Brusss! Kalian juga sudah waktunya ting- galkan tempat ini! Walau bagaimanapun kita tidak bisa membiarkan seorang anak pergi sendirian! Kita pergi bersama-sama sekarang...”

“Nyai Tandak Kembang...!” kata Gendeng Panuntun lagi. “Kami harus pergi sekarang. Kelak mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi...”

Nyai Tandak Kembang anggukkan kepala. Gendeng Panuntun balikkan tubuh lalu perlahan melangkah. Datuk Wahing anggukkan kepala pada beberapa orang di depan sana. Lalu putar diri dan melangkah mengikuti Gendeng Panuntun. Dayang Sepuh, Dewi Ayu Lambada, Iblis Ompong, dan Dewa Uuk saling pandang satu sama lain. Tanpa ada yang buka suara keempatnya berbalik kecuali Iblis Ompong yang memang dari tadi memunggungi beberapa orang di depan. Mereka berempat melangkah berjajar. Gendeng Panuntun membuka satu gerakan disusul Datuk Wahing. Sosok keduanya melenting lalu lenyap keluar lobang.

Dayang Sepuh bergumam tak jelas. Lalu melesat menyusul. Di belakangnya Dewi Ayu Lambada membuntuti yang tak lama kemudian diikuti Iblis Ompong. Dewa Uuk adalah orang terakhir yang meninggalkan ruangan bawah Lembah Patah Hati.

“Kita harus kuburkan dahulu bayi Pitaloka dan Umbu Kakani, juga mayat Lingga Buana!” Nyai Tandak Kembang berkata.

Kigali anggukkan kepala. Lalu serahkan bayi Pitaloka pada Nyai Tandak Kembang. “Pitaloka dan Putri Kayangan biar membawa mayat Umbu Kakani. Aku akan mengangkat mayat Lingga Buana. Meski mereka berdua pada akhirnya harus bermusuhan, tapi pada mulanya mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tak ada salahnya kalau mereka kita kuburkan berdampingan!”

Kigali melangkah mendekati sosok mayat Lingga Buana. Pitaloka dan Putri Kayangan mengangkat mayat Umbu Kakani. Lalu mereka melangkah tanpa ada lagi yang buka suara.

********************

Kita tinggalkan dahulu rombongan Dayang Sepuh dan rombongan Nyai Tandak Kembang. Juga kepergian Pendekar 131. Kita kembali dahulu ke sebuah bukit di sebelah timur sebuah hutan. Saat itu matahari baru saja menapak dari bentangan kaki langit sebelah timur. Cahayanya menerabas sela dedaunan jajaran pohon di sebuah kaki bukit di mana terlihat satu sosok tubuh tengah duduk bersila di bawah pohon besar dengan punggung bersandar pada batangan pohon.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut berambut putih agak panjang. Mengenakan pakaian warna putih. Di pangkuan orang tua ini tampak sebuah jubah hitam yang dipegang erat-erat seolah takut jubah hitam itu terbang terbawa angin. Padahal saat itu angin berhambus semilir dan tak mungkin mampu menerbangkan jubah hitam di pangkuan orang. Orang tua ini sesekali arahkan pandang matanya ke satu jurusan jalan menuju arah bukit di mana dia kini berada. Dari sikapnya jelas orang tua ini tengah menanti seseorang.

“Hem... Ke mana keparat-keparat itu pergi?! Seharusnya mereka sudah datang ke tempat ini! Apa mereka mendapat halangan atau barangkali mampus?!” Si orang tua di bawah pohon bergumam sendiri.

“Aneh... Sudah hampir satu purnama lebih aku tak mendengar kabar berita tentang Pendekar 131 dan teman-temannya! Ke mana mereka?! Pitaloka juga tak ada beritanya! Hem... Gadis itu menggairahkan! Seandainya dia tidak pergi meloloskan diri dari tanganku, tentu malam-malamku tak akan merasa kedinginan lagi! Pitaloka... Hem....”

Si orang tua sunggingkan senyum. Disepasang matanya tiba-tiba terpampang seorang gadis muda berparas cantik mengenakan pakaian warna merah. Saat itulah tiba-tiba entah dari mana sumbernya terdengar suara.

“Siapa pun kau adanya. Kelak kau akan mengambil buah dari perbuatanmu! Kau boleh punya Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad. Tapi Sang Pencipta akan menciptakan pamungkasnya! Dan pamungkas itu akan hadir dari darah dagingmu sendiri!”

Suara itu menggema ke seantero kaki bukit. Anehnya suara itu laksana diperdengarkan dari tempat yang sangat jauh dan dalam! Si orang tua di bawah pohon tersentak. Dia sentakkan kepalanya berputar. Namun dia tidak melihat siapa-siapa!

“Kala Marica! Itu suara Kala Marica!” gumam si orang tua. “Bagaimana ini bisa terjadi! Sudah dua kali ini dia perdengarkan suara! Apa dia belum tewas?!” Seolah untuk yakinkan diri, si orang tua kembali putar pandangan berkeliling. Namun sampai matanya lelah memandang, dia tidak juga melibat adanya orang lain di tempat itu.

“Keparat! Mungkin ini hanya tipuan telingaku saja!” sentak si orang tua. “Lagi pula apa yang perlu ditakutkan! Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad berada di tanganku!”

Entah karena apa, meski dia tadi percaya suara yang baru didengar adalah tipuan telinganya, si orang tua ini tengadahkan kepala lalu berteriak. “Kala Marica! Kalau kau bukan manusia pengecut, mengapa tidak berani unjuk tampang?! Dan jangan mimpi kau bisa menggertak Kiai Laras! Keluarlah dari tempatmu dan perlihatkan nama besarmu!”

Si orang tua yang tidak lain adalah Kiai Laras putar pandangan sekali lagi. Namun sejauh ini dia lagi-lagi tidak melihat siapa-siapa. Bahkan dia juga tidak mendengar suara sahutan!

“Ah... Mengapa aku tolol turuti tipuan telinga?!” Kiai Laras akhirnya sadar akan tindakannya meski dadanya terus dibuncah perasaan tida kenak.

Seperti diketahui, Kiai Laras dengan muslihatnya sendiri akhirnya dapat menguasai Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad. Pada satu saat, dia terlibat bentrok dengan seorang tokoh tua yang dikenal dalam kalangan rimba persilatan berilmu sangat tinggi dan punya ilmu langka. Dia adalah Kala Marica. Sebenarnya Kala Marica tidak mau meladeni Kiai Laras. Namun Kiai Laras tak ambil peduli. Pada akhirnya Kiai Laras berhasil melukai Kala Marica dan bahkan menendangnya masuk ke dalam jurang. Saat sosok Kala Marica amblas masuk ke dalam jurang itulah, Kala Marica sempat berucap seperti kata-kata yang didengar oleh Kiai Laras yang sedang termenung sendiri.

Untuk lebih jelasnya tentang Kala Marica silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Kutuk Sang Angkara

Kiai Laras bergerak bangkit. Saat itulah sepasang matanya menangkap satu bayangan berkelebat menuju arah bukit. “Hem... Tampaknya dia datang membawa tangan hampa!” desis Kiai Laras lalu kenakan jubah hitam yang tadi diletakkan di atas pangkuannya.

Begitu jubah hitam telah terpakai, mendadak sosok Kiai Laras raib tidak kelihatan! Yang terlihat sekarang hanyalah jubah hitam yang terapung di atas udara di bawah pohon. Inilah satu petunjuk kalau jubah hitam yang dikenakan Kiai Laras adalah Jubah Tanpa Jasad. Jubah peninggalan leluhur dari Kampung Setan. Jubah yang akan membuat sosok pemakainya tidak bisa ditangkap dengan pandangan mata biasa.

Kiai Laras yang sosoknya tidak kelihatan lagi membuat satu kali gerakan. Jubah Tanpa Jasad bergerak dan tahu-tahu telah berada di antara lebatnya rimbun dedaunan pohon di mana tadi Kiai Laras duduk bersandar. Begitu sosok Kiai Laras lenyap dari bagian bawah pohon, satu sosok tubuh berkelebat dan tegak sepuluh langkah dari pohon di mana Kiai Laras berada. Orang ini lirikan ekor matanyake seantero tempat itu.

“Dia cepat sekali lenyap...,” gumam orang yang baru muncul. “Mengapa dia sembunyikan diri? Bukankah aku datang untuk menemuinya dan dia menungguku?!” Baru saja orang menggumam, Kiai Laras melayang turun dan berdiri delapan tindak di hadapan orang.

“Kau tahu apa yang seharusnya kau katakan!” Kiai Laras sudah buka suara.

DELAPAN

ORANG di hadapan Kiai Laras terdiam beberapa lama. Dia adalah seorang laki-laki yang paras wajahnya tidak mudah dikenali. Selain angker, laki-laki ini punya raut muka sedikit aneh. Karena raut itu hanya terdiri dari kerangka tanpa daging! Dan ternyata bukan hanya wajahnya saja yang tidak disamaki daging. Sekujur tubuhnya pun hanya merupakan susunan kerangka! Sepasang matanya besar berputar liar di dalam cekungan kerangka mata yang menjorok dalam.

Laki-laki ini tidak lain adalah Maladewa. Generasi terakhir dari kerabat penghuni Kampung setan. Seperti diketahui, karena terburu-buru dan marah pada neneknya si Nyai Suri Agung, Maladewa akhirnya meminta semua warisan leluhur Kampung Setan. Mala- dewa tidak hiraukan lagi nasihat Nyai Suri Agung. Hingga pada akhirnya si nenek memberikan Kembang Darah Setan, salah satu senjata mustika dari leluhur Kampung Setan.

Dengan Kembang Darah Setan di tangannya, Maladewa mulai merambah rimba persilatan, bahkan dia berniat pula menghabisi Nyai Suri Agung dan Galaga, saudara seperguruannya dari orang di luar kerabat Kampung Setan. Untuk memenuhi niatannya, Maladewa bersekutu dengan beberapa orang. Dua di antara orang kepercayaannya adalah Kigali dan Dadaka. Kedua orang ini malah diberi tugas khusus untuk memburu Nyai Suri Agung dan Galaga. Namun kedua orang ini gagal. Bahkan dengan muslihatnya, kedua orang kepercayaan Maladewa ini bisa menjerumuskan Maladewa ke dalam makam batu di Kampung Setan.

Maladewa harus menunggu selama tiga puluh enam tahun kemudian untuk bisa keluar dari makam batu. Tapi dia juga akhirnya harus merelakan Kembang Darah Setan lepas dari tangannya karena itulah satu-satunya syarat. Begitu keluar dari makam batu, sosok Maladewa telah berubah. Tiga puluh enam tahun dikurung di dalam makam batu membuat daging sekujur tubuhnya mengelupas hingga tinggal kerangka. Saat Maladewa keluar itulah dia menggelari diri dengan sebutan Setan Liang Makam.

Perjalanannya setelah mendekam dalam makam batu ternyata tidak lagi mulus, la harus berhadapan dengan beberapa tokoh yang tiba-tiba muncul begitu tersiar kembali tentang senjata mustika Kembang Darah Setan. Hingga sampai tertipu oleh muslihat Kiai Laras yang pada akhirnya Kiai Laraslah yang berhasil mendapatkan Jubah Tanpa Jasad, senjata mustika satunya lagi milik leluhur Kampung Setan.

Namun Setan Liang Makam tidak putus asa. Dia bertekad merebut kembali dua pusaka Kampung Setan yang telah jatuh ke tangan orang lain. Tapi tanpa senjata mustika di tangan, Setan Liang Makam tidak bisa berbuat banyak. Hingga sampai dia sendiri harus menjadi orang suruhan Kiai Laras!

“Setan Liang Makam!” Kiai Laras membentak ketika Setan Liang Makam alias Maladewa tidak segera buka mulut. “Jangan buat kesabaran hatiku pupus dan aku berubah pikiran! Lekas katakan apa yang kau bawa padaku!”

Setan Liang Makam gelengkan kepala. “Aku sudah menjelajah mencari Pendekar 131 dan beberapa temannya. Namun mereka tiba-tiba tak ada kabar beritanya pergi entah ke mana!”

“Hem... Aku juga merasaheran! Keparat-keparat itu lenyap begitusaja! Perturutkan hati rasanya inginaku menghabisi manusia setan itu! Tapi.. walau bagaimana tenaganya masih kubutuhkan! Apalagi aku harus menyelidik ke mana keparat-keparat itu sembunyikan diri!” kata Kiai Laras dalam hati. Lalu bertanya.

“Selama perjalanan, apa kau sempat bertemu dengan gadis baju merah itu?!”

Setan Liang Makam geleng kepala. Sepasang matanya terus perhatikan Jubah Tanpa Jasad yang mengapung di udara karena sosok Kiai Laras tidak kelihatan. “Hem... Rasanya sulit merebut Jubah Tanpa Jasad dan Kembang Darah Setan dari jahanam ini! Tapi aku tetap menunggu! Satu saat pasti dia akan lengah!” Setan Liang Makam diam-diam juga membatin.

“Aku tahu bagaimana memancing keparat-keparat itu tunjuk diri lagi!” gumam Kiai Laras pada akhirnya setelah berpikir beberapa saat.

“Setan Liang Makam! Seharusnya kau tidak pantas hidup lagi karena kegagalanmu ini! Tapi kesetiaanmu membuat pikiranku berubah! Kau kini kuangkat sebagai wakilku dan sebentar lagi kita akan melakukan pekerjaan besar! Kita akan bangun kembali kejayaan Kampung Setan. Jalan pertama yang harus kita tempuh adalah mengubur semua tokoh rimba persilatan!”

Ucapan Kiai Laras membuat Setan Liang Makam melonjak girang dalam hati. “Aku akan berada di belakangmu! Dan siap membantu sampai titik darah penghabisan!”

Walau berucap begitu, sebenarnya lain dengan apa yang terucap dalam hati. “Ini kesempatan baik! Kesempatanku makin terbuka lebar! Dan tak lama lagi Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad akan kembali ke tanganku!”

Kiai Laras manggut-manggut. Lalu berujar. “Aku tak butuh ucapan kesetiaan, Setan Liang Makam! Tapi begitu aku tahu kau berkhianat, aku akan membunuhmu dua kali! Kau dengar itu?!”

Setan Liang Makam tersenyum dingin dengan anggukkan kepala. “Dan ingat. Jangan bantah apa yang kuperintahkan padamu!” Kiai Laras sambungi ucapannya. Lalu balikkan tubuh. Jubah Tanpa Jasad berputar. “Sekarang pekerjaan itu kita mulai!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras berkelebat mengitari bukit lewat sebelah timur. Tanpa banyak pikir Setan Liang Makam berkelebat mengikuti di belakang. Kiai Laras hentikan langkah di depan sebuah lobang batu berbentuk goa. Dia menoleh sesaat pada Setan Liang Makam. Lalu melompat dan masuk ke dalam goa. Setan Uang Makam terus mengikuti tanpa buka suara.

Begitu berada di dalam ruangan goa, Kiai Laras cepat menuju pojok ruangan di mana terdapat tumpukan kayu arang bekas perapian. Setan Liang Makam tak tahu apa yang dilakukan Kiai Laras. Yang terlihat olehnya adalah gerakan pada tumpukan kayu perapian. Saat lain terdengar suara berderit. Setan Liang Makam pentangkan mata memandang ke pojok ruangan dari mana sumber suara deritan terdengar. Ternyata bagian pojok ruangan goa membuka membentuk sebuah pintu. Di belakang pintu terlihat tangga naik dari batu.

Kiai Laras melompat melewati pintu lalu naik tangga batu perlahan-lahan. Tanpa disuruh Setan Liang Makam mengikuti. Kiai Laras tegak di sebuah pinggiran lobang menganga dan memperhatikan ke bawah lobang. Setan Liang Makam yang juga telah tegak di samping Kiai Laras ikut arahkan pandang matanya ke bawah lobang.

“Kau lihat mereka?!” Kiai Laras ajukan tanya.

Setan Liang Makam anggukkan kepala tatkala matanya menangkap dua sosok tubuh duduk bersandar pada lamping lobang di bawah sana. Namun dia belum bisa menduga siapa adanya dua orang itu. Selain lobang itu diselimuti kabut tipis putih, kedua orang yang duduk di bawah tidak angkat kepalanya.

“Bunuh mereka!” kata Kiai Laras.

“Kau dengar suara itu?!” Tiba-tiba orang di bawah lobang Sebelah kanan perdengarkan bisikan pada orang yang duduk disebelahnya. Kepalanya berpaling. Dia adalah seorang nenek berambut putih. Di tangan kanannya yang bersedekap di depan dada terlihat sebuah tusuk konde besar berwarna hitam. Nenek ini bukan lain adalah Ni Luh Padmi. Seorang tokoh dari tanah seberang yang berkelana mencari Pendeta Sinting guru Pendekar 131 Joko Sableng karena satu urusan.

Seperti pernah dituturkan, Ni Luh Padmi pada satu kesempatan bertemu dengan Kiai Laras. Kiai Laras menunjukkan di mana Pendeta Sinting berada. Tanpa banyak menunggu, Ni Luh Padmi menuju tempat yang dikatakan Kiai Laras yang saat itu tengah menyamar sebagai murid Pendeta Sinting. Begitu sampai di tempat yang dikatakan, ternyata Ni Luh Padmi tertipu. Hingga akhirnya Ni Luh Padmi harus masuk ke dalam lobang di balik ruangan goa.

Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Geger Topeng Sang Pendekar)

Orang di samping Ni Luh Padmi menoleh dan anggukkan kepala. Dia juga adalah seorang perempuan berusia agak lanjut namun parasnya masih kelihatan cantik. Rambutnya panjang dengan mata agak bulat. Dia adalah Lasmini. Seperti dituturkan, Lasmini yang bersekutu dengan Kiai Lidah Wetan, kakek kandung Kiai Laras akhirnya menyelidik. Kemudian dia bertemu dengan Kiai Laras. Seperti halnya Ni Luh Padmi, Lasmini juga tertipu oleh Kiai Laras hingga akhirnya perempuan ibu kandung Saraswati ini bisa dijebloskan Kiai Laras ke dalam lobang di balik ruangan goa.

Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Liang Makam di Bukit Kalingga

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Nek?!” Lasmini angkat bicara.

Ni Luh Padmi geleng kepala. “Aku tak tahu harus berbuat apa! Keadaan kita sudah sangat lemah!”

“Nek... Tanpa usaha kita sudah pasti akan mampus juga terus menerus berada di tempat celaka ini! Bukankah lebih baik kita berusaha?! Apalagi ucapan tadi ditujukan pada kita! Apa yang kita tunggu?!”

“Tapi....”

Belum sampai Ni Luh Padmi lanjutkan ucapan, Lasmini telah menyahut. “Sekarang tidak ada tapi, Nek!” Lasmini beranjak bangkit. Ni Luh Padmi sesaat bimbang tapi tak lama kemudian dia pun bergerak bangkit dan sama-sama tengadahkan kepala memandang ke atas.

“Lasmini!” desis Setan Liang Makam begitu melihat Lasmini dongakkan kepala.

“Hem... Kau telah mengenalnya. Bagus! Pekerjaan kita dimulai dari mereka! Dan kau telah dengar apa yang harus kau lakukan!” kata Kiai Laras. Jubah Tanpa Jasad bergerak ke samping. Lengan kanan jubah bergerak menunjuk pada Ni Luh Padmi. “Yang tua itu bernama Ni Luh Padmi! Kau tertarik padanya?!”

“Apa maksudmu?!” tanya Setan Liang Makam sedikit heran. Karena tadi Kiai Laras menyuruhnya membunuh kedua-duanya. Sekarang dia mengatakan lain.

“Kalau kau tertarik, kau boleh merasakan kehangatannya sebelum kau kirim dia ke alam lain!”

“Sialan! Untuk apa tubuh peot begitu rupa ditawarkan padaku?!” Setan Liang Makam memaki dalam hati lalu berujar. “Untuk sementara ini aku belum tertarik pada perempuan! Entah nanti...”

“Bagus! Kalau begitu lakukan tugasmu! Aku akan menunggu di luar!” Kiai Laras bergerak menuruni tangga lalu melompat dan tegak di mulut goa dengan bibir sunggingkan senyum.

Di lobang bagian bawah, Lasmini tersentak kaget mendapati siapa adanya sosok yang tegak di atas. Seolah belum percaya, dia picingkan mata berulang kali.

“Kau mengenal siapa manusia itu?!” Ni Luh Padmi bertanya seraya pandangi sosok angker Setan Liang Makam.

“Tempo hari aku pernah bersama-sama dengan manusia itu! Dia adalah Setan Liang Makam!”

“Hem... Kau punya sengketa dengannya?!” tanya Ni Luh Padmi.

Lasmini geleng kepala. “Kami bersama-sama mencari seseorang. Namun gagal menemukannya! Setelah itu kami berpisah!”

“Kalau demikian, mungkin dia bisa menolong kita!”

“Kurasa tidak! Kau dengar perintah orang tadi! Berarti dia akan menghabisi kita!”

“Jangan pedulikan ucapan orang! Bukankah kau tadi berkata kita harus berusaha?! Kita coba... Siapa tahu dia berubah niat!”

Lasmini merenung sejenak. Saat lain dia berteriak. “Setan Liang Makam! Kau masih ingat padaku, bukan?!”

“Aku tidak pernah lupa pada setiap orang yang pernah kutemui!” jawab Setan Liang Makam seraya berkacak pinggang.

“Aku gembira mendengarnya... Dan lebih gembira lagi jika kau mau membantu kami untuk keluar dari lobang ini!”

Setan Liang Makam perhatikan sekeliling lobang. “Aneh... Lobang ini memang agak dalam. Tapi sebagai orang berilmu, mustahil mereka tidak bisa melompat keluar! Pasti ada sesuatu di lobang ini!” Membatin Setan Liang Makam. Karena ingin tahu, Setan Liang Makam berkata.

“Tanpa bantuanku, kau bisa melompat dari bawah!”

“Berarti dia belum tahu tempat ini!” bisik Ni Luh Padmi mendengar suara Setan Liang Makam. Lalu angkat suara.

“Sebenarnya memang begitu. Tapi ruangan ini telah ditaburi hawa beracun! Sekali kami kerahkan tenaga dalam, maka habis riwayat kami! Padahal untuk melompat ke atas, kami harus kerahkan tenaga dalam....”

“Hem... Begitu?! Nasib kalian rupanya sangat jelek!” ujar Setan Liang Makam.

“Jadi kau tak mau membantu...?!” tanya Lasmini dengan tengkuk mulai dingin.

“Membantu keluar dari sini memang tidak bisa! Aku hanya bisa membantu kalian untuk sempurnakan nasib jelek kalian!”

Lasmini saling pandang dengan Ni Luh Padmi. Paras keduanya berubah. “Tidak ada artinya lagi kita bicara! Terpaksa kita cari jalan lain! Setidaknya berusaha mempertahankan diri!” kata Lasmini setengah putus asa.

“Sobat!” Ni Luh Padmi berusaha buka suara. “Di antara kita tidak ada pertentangan. Lebih dari itu sebenarnya kau ditipu orang seperti halnya kami berdua! Begitu kau nanti sadar, pasti kau telah berada di tempat lain menggantikan kami berdua!”

“Orang boleh menipuku! Tapi aku tidak bodoh seperti kalian berdua! Dan perlu kalian ketahui, membunuh orang tidak lagi diperlukan adanya pertentangan! Akan kubuktikan ucapanku!”

Ucapan Setan Liang Makam belum sirna gemanya, cucu Nyai Suri Agung dari Kampung Setan ini telah gerakkan kedua tangannya melepas satu pukulan ke arah Lasmini dan Ni Luh Padmi!

Wuuutt! Wuuutt!

Satu gelombang dahsyat melesat ganas ke arahLasmini. Satunya lagi berkiblat ke arah Ni Luh Padmi. Lobang di mana kedua perempuan itu berada bergetar.

“Sedapat mungkin kita menghindar! Berbahaya kalau kita menghadang pukulan setan keparat itu! Karena kita harus kerahkan tenaga dalam!” bisik Ni Luh Padmi.

Tapi Lasmini tampaknya sudah nekat. Dia tidak pedulikan peringatan Ni Luh Padmi. Dia menghela napas lalu salurkan tenaga dalam. Kedua tangannya diangkat.

“Bodoh! Kenekatanmu bukan pada tempatnya!” hardik Ni Luh Padmi lalu mendorong sosok Lasmini. Hingga belum sampai Lasmini kerahkan tenaga dalam untuk menghadang gelombang pukulan yang datang, sosoknya telah terdorong deras ke samping dan terhuyung hampir roboh. Saat yang sama Ni Luh Padmi berkelebat selamatkan diri.

Bummm! Bummm!

Dua gelegar ledakan mengguncang lobang. Bibir lobang tampak gemeretak rengkah lalu longsor dengan taburkan hamparan batu. Saat yang sama lantai lobang muncratkan pula kepingan batu akibat terhantam pukulan Setan Liang Makam yang gagal melabrak sosok Lasmini dan Ni Luh Padmi.

Melihat pukulannya dapat dihindari orang, Setan Liang Makam jadi geram. Dia putar diri setengah lingkaran lurus ke arah sosok Ni Luh Padmi yang mendorong Lasmini hingga selamat. Tanpa berkata dahulu, kedua tangan Setan Liang Makam bergerak lagi melepas satu pukulan. Di bagian bawah, Ni Luh Padmi cepat menyingkir dengan melompat. Namun kali ini Setan Liang Makam tak memberi kesempatan. Tangan kirinya bergerak ke arah mana Ni Luh Padmi melompat.

Ni Luh Padmi menyumpah habis-habisan seraya kembali berkelebat. Namun tangan kanan Setan Liang Makam terus memburu dengan menyentak mengikuti arah kelebatan sosok Ni LuhPadmi. Ni Luh Padmi jadi kebingungan. Dia akan melompat lagi. Tapi tempat di mana ia akan melompat saat itu dua pukulan pertama Setan Liang Makam telah menuju ke sana. Hingga satu-satunya jalan untuk selamatkan diri adalah menghadang pukulan orang.

Lasmini sendiri tampak meringkuk di bagian samping dengan mata memperhatikan apa yang akan dilakukan si nenek. Dan diam-diam pula dia telah memutuskan kerahkan tenaga dalam, karena bagaimanapun juga bias pukulan yang dilepas Setan Liang Makam akan melabrak ke arahnya apalagi dia meringkuk tak jauh dari Ni LuhPadmi. Dengan tangan bergetar, akhirnya Ni Luh Padmi kerahkan juga tenaga dalam. Lalu dengan cepat disentakkan ke atas menghadang pukulan Setan Liang Makam.

Beberapa ledakan berturut-turut mengguncang lobang. Tiga yang pertama adalah gelegar akibat pukulan Setan Liang Makam yang menghantam lantai lobang karena dihindari Ni Luh Padmi. Satu lagi ledakan karena pukulan tangan kanan Setan Liang Makam bentrok dengan pukulan yang dilepas Ni Luh Padmi. Lobang di balik ruangan goa itu beberapa lama diselimuti taburan kepingan batu hingga suasana agak pekat. Dan begitu keadaan agak terang kembali, sosok Ni Luh Padmi tampak tegak bersandar dengan muka pucat. Dia memang tidak mengalami cedera berarti, bahkan saat itu juga melangkah Hendak mendekati Lasmini yang juga bersandar dan terus memperhatikan Ni Luh Padmi.

“Nek! Kita tertipu... Ruangan ini tidak beracun! Buktinya kau tidak apa-apa!” kata Lasmini lalu hendak melangkah menyongsong Ni Luh Padmi.

Tiba-tiba Lasmini hentikan kaki. Sepasang matanya mendelik dengan dahi berkerut. Di depan, terlihat sosok Ni Luh Padmi bergetar keras. Saat lain kedua lututnya menekuk. Tubuhnya doyong ke muka lalu terjerembab jatuh menelungkup dengan mulut perdengarkan erangan tertahan. Lasmini cepat melompat. Lalu jongkok dan balikkan tubuh Ni Luh Padmi. Paras wajah Lasmini seketika tercekat. Tengkuknya laksana diguyur es. Paras muka si nenek ternyata telah berubah menghitam! Dan perlahan-lahan sekujur tubuhnya juga berubah menghitam.

“Kau salah terka... Ruangan ini mengandung racun sangat ganas! Ini bukan karena bentrok pukulan dengan setan di atas itu! Melainkan akibat racun yang telah masuk ke aliran darahku karena aku tadi terpaksa kerahkan tenaga dalam....” Ni Luh Padmi perdengarkan suara dengan tersendat-sendat. “Aku... tak bisa memberi tahu bagaimana kau menghadapi apa yang akan terjadi... Kau sudah tahu akibatnya...”

Habis berucap begitu, kepala Ni Luh Padmi teleng ke kanan. Kedua kakinya mengejang sebentar lalu diam tak bergerak. Nyawa nenek dari seberang ini putus dengan sekujur tubuh menghitam! Tusuk konde hitam ditangan kanannya lepas dan tergeletak diatas lantai.

SEMBILAN

TENGKUK Lasmini merinding. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Tekadnya pelan-pelan padam. Sementara di atas lobang, Setan Liang Makam perdengarkan suara tawa panjang. Lasmini bergerak bangkit dan melangkah ke tengah ruangan lobang. Kepalanya mendongak. Saat itulah tiba-tiba terbayang sosok Saraswati di depan matanya.

“Anakku... Tampaknya takdir sudah mengharuskan kita tak bisa hidup berdampingan! Aku kini menyesal mengapa tidak pedulikan peringatanmu. Seandainya saja saat itu aku turuti ucapanmu, mungkin kita telah hidup damai. Anakku... Bagaimana kau sekarang?! Terakhir jumpa, kau juga tengah mengalami perlakuan tidak baik dari manusia jahanam yang memasukkan aku ke tempat celaka ini! Anakku, tentu kau juga berusaha...”

Sampai di situ tiba-tiba Lasmini kepalkan kedua tangannya. “Kalau kau berusaha mengapa aku tidak?! Aku tidak boleh pasrah dengan keadaan ini! Mati pun aku puas karena setidaknya aku telah berusaha untuk selamat dan bertemu denganmu!”

Semangat Lasmini mendadak muncul kembali malah kini berkobar-kobar. Dia tidak lagi merasa takut meski telah tahu apa yang menimpa Ni Luh Padmi. Hingga saat itu juga dia berteriak lantang.

“Setan Liang Makam! Kau boleh puas dengan semua ini! Tapi jangan mimpi aku takut menghadapimu!”

Setan Liang Makam putuskan gelakan tawanya. Sepasang matanya berkilat pandangi sosok Lasmini. Namun tak lama kemudian dia perdengarkan tawa lagi seraya berucap. “Ucapan orang akan mampus kadang-kadang memang menyala-nyala! Sayang, nasib tidak ikut berpihak!”

Selesai berucap begitu, tangan kanan Setan Liang Makam telah berkelebat. Sementara tangan kiri di atas udara siap dikelebatkan dengan mata terus perhatikan gerakan Lasmini. Lasmini segera melompat kebelakang. Tusuk konde besar milik Ni Luh Padmi disambar. Tangan kiri Setan Liang Makam berkelebat ke arah sosok Lasmini yang melompat ke belakang.

Dua gelombang dahsyat berkiblat perdengarkan deruan keras. Seraya menghindar ke samping, Lasmini sentakkan tangan kanan yang telah menggenggam tusuk konde. Dia sengaja arahkan sentakan tusuk konde lurus melalui gelombang yang menghantam ke bawah.

Karena dia sadar, akan percuma kalau sentakannya lewat di samping gelombang. Sebab selain ruangan lobang itu ditebari racun, hebatnya ruangan itu bisa mementalkan pukulan ke atas lobang. Dengan berkelebatnya gelombang dari atas, maka tabir yang bisa mementalkan pukulan itu terbuka. Itulah sebabnya Lasmini sengaja arahkan sentakan tusuk konde melalui gelombang yang datang dari atas.

Blaar! Blaarr!

Dua gelombang terdengar. Dua pukulan Setan Liang Makam menghantam tempat kosong karena Lasmini telah berkelebat menghindar. Sementara di atas lobang, Setan Liang Makam tersentak kaget melihat satu benda hitam berdesing lurus ke arahnya. Karena tadi dia tengah perhatikan kelebatan sosok Lasmini, terlambat baginya untuk menghindar meski dia sempat doyongkan tubuh.

"Cleepp!" Setan Liang Makam berseru tertahan. Tusuk konde besar menancap tembus pakaiannya dan merobek tulang bagian dada kiri.

“Jahanam!” maki Setan Liang Makam. Dia cepat menutup dengan kerahkan tenaga dalam ke sekitar dada kiri. Tangan kanan cepat bergerak mencabut tusuk konde. Kejap kemudian tangan kirinya berkelebat lagi. Karena dia marah, kali ini Setan Liang Makam kerahkan hampir setengah dari tenaga dalamnya. Hingga tatkala gelombang melesat ke bawah tampak disertai gelombang warna hitam!

Lasmini tak mau bertindak ayal. Dia kembali melompat menghindar. Tapi karena kali ini tenaga dalam Setan Liang Makam telah dilipatgandakan, sejauh mana pun Lasmini melompat pasti akan terhantam bias pukulan orang. Tapi Lasmini tak mau ambil risiko besar. Dia tidak berusaha menghadang pukulan sebaliknya teruskan berkelebat hindarkan diri.

"Bummm!" Untuk kesekian kalinya lobang itu bergetar hebat.

Lasmini tampak terdorong oleh bias pukulan dan terbanting di udara karena gema pukulan. Setan Liang Makam tak ambil peduli. Kembali tangan kirinya melepas pukulan. Kali ini tak ada jalan lain bagi Lasmini. Karena tidak mungkin lagi bergerak menghindar. Hingga terpaksa dia memutuskan meng- hadang pukulan lawan walau dia tahu apa risikonya! Lasmini kerahkan tenaga dalam lalu angkat kedua tangannya dan didorong ke atas.

"Blammm!" Kembali terdengar ledakan. Kali ini malah lebih dahsyat karena pukulan Setan Liang Makam dihadang pukulan Lasmini.

Sosok Lasmini tampak mental dan menghantam dinding ruangan lobang. Darah mengucur deras dari mulutnya. Belum sampai dia bergerak bangkit, tangan kanan Setan Liang Makam yang memegang tusuk konde besar milik Ni Luh Padmi disentakkan! Lasmini hanya bisa memandang lesatan tusuk konde tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena sekujur tubuhnya terasa panas bukan alang kepalang. Tangan dan kakinya laksana tidak bertenaga dan sepasang matanya berkunang-kunang!

"Cleeepp!" Tusuk konde besar menancap hampir separo ke lambung Lasmini. Darah kehitaman muncrat dan sebagian memercik ke wajah Lasmini.

Lasmini menjerit seakan merobek langit. Tapi jeritannya terputus di tengah jalan. Sosok ibu kandung Saraswati ini lunglai dengan tubuh mengejang.

“Saraswati anakku....” Hanya itu ucapan terakhir yang terdengar dari mulut Lasmini. Saat berikutnya nyawanya melayang dengan sekujur tubuh menghitam!

Setan Liang Makam perhatikan sesaat mayat Lasmini dan Ni Luh Padmi yang telah berpindah tempat karena tersambar pukulan. Saat lain cucu Nyai Suri Agung dari Kampung Setan ini putar diri dan melangkah menuruni tangga dengan tangan kanan mendekap dada kirinya yang berdenyut sakit. Kiai Laras yang tegak di lobang masuk goa berpaling. Dia perhatikan dada Setan Liang Makam.

Saat kemudian laki-laki ini selinapkan tangan kiri ke balik jubah hitamnya. Ketika tangannya ditarik dia menggenggam sesuatu dan dilemparkan pada Setan Liang Makam yang melangkah keluar dari pintu di pojok ruangan goa. Setan Liang Makam melihat satu bulatan sebesar buah duku menggelinding dan berhenti di dekat perapian.

“Telan benda itu!” Kiai Laras buka suara. Tanpa banyak kata, Setan Liang Makam ambil bulatan warna kuning di dekat perapian. Lalu menelannya. Seketika tubuhnya berubah panas dingin. Setan Liang Makam mendelik pada Kiai Laras meski tidak bisa melihat sosok orangnya.

“Jangan berprasangka buruk! Kalau hanya membunuhmu tak usah menggunakan racun yang ada pada bulatan itu!” kata Kiai Laras dapat menangkap arti pandangan Setan Liang Makam.

Setan Liang Makam masih bimbang dengan ucapan Kiai Laras. Namun begitu panas dingin tubuhnya sirna, dia menghela napas lega dan angguk-anggukkan kepala. Kiai Laras berkelebat ke dekat perapian. Kayu perapian kembali bergerak-gerak. Saat bersamaan terdengar lagi suara berderit. Pintu di pojok ruangan goa tertutup kembali.

“Langkah awal telah kita mulai! Kita teruskan langkah ini! Kita jadikan Kampung Setan sebagai tempat baru bagi kita! Kita tegakkan kembali kejayaan Kampung Setan! Dan aku adalah penguasanya!”

Kiai Laras tertawa bergelak. Lalu berkelebat keluar dari goa. Setan Liang Makam bergumam tak jelas. Namun segera pula berkelebat tinggalkan goa di kaki Bukit Kalingga.

********************

Bayangan putih itu berkelebat laksana setan. Dia baru memperlambat kelebatan saat sampai perbatasan hutan di mana dari perbatasan itu memandang ke sebelah timur tampak menjulang sebuah bukit. Sesaat si bayangan tadi yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan mengenakan pakaian warna putih berambut panjang acak-acakan dililit dengan ikat kepala warna putih dan bukan lain adalah Pendekar 131 Joko Sableng luruskan pandangan ke arah bukit.

“Hem.... Apakah mungkin Kiai Laras manusia di balik Jubah Tanpa Jasad itu?! Kalau benar dia, orang yang selama ini menyamar sebagai diriku adalah dia juga! Pada mulanya aku memang menaruh curiga padanya. Tapi untuk melakukan hal itu pasti ada sebabnya. Padahal aku tidak punya urusan apa-apa dengan orang tua itu!” Joko geleng-geleng kepala.

“Tapi siapa pun dia adanya, yang jelas perbuatannya harus dihentikan! Sayangnya... Aku belum tahu bagaimana caranya menggunakan benda merah yang kuambil dari pusar bayinya Pitaloka ini! Seharusnya aku tanya dahulu pada Gendeng Panuntun. Mungkin dia tahu bagaimana menggunakannya! Tapi sekarang percuma... Mencari orang seperti dia susah-susah gampang! Mungkin dia sudah pergi dari Lembah Patah Hati...”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Joko memutuskan untuk segera menuju bukit di depan sana. Karena sudah pernah ke bukit itu, tidak sulit bagi murid Pendeta Sinting untuk menemukan goa di mana dulu dia pernah bertemu dengan Kiai Laras.

“Sepertinya tak ada orang...!” gumam Joko seraya memperhatikan dari balik batangan pohon sepuluh langkah dari mulut goa. Namun Joko tetap berhati-hati dan sekali lagi meyakinkan.

Setelah yakin di luar tak ada orang lain, Joko cepat berkelebat dan tegak mengendap-endap ke mulut goa dari sebelah kanan. Kepalanya perlahan-lahan disorongkan ke bibir mulut goa. Lalu matanya diedarkan kedalam.

“Kosong...!” kata Joko dalam hati. Lalu dengan kedua tangan siap lepaskan pukulan, dia berkelebat masuk dan tegak di balik mulut goa dengan mata dipentangkan. Namun hingga kepalanya berputar dua kali, dia tidak melihat siapa-siapa!

Murid Pendeta Sinting menarik napas dalam. Lalu perlahan melangkah mendekati kayu perapian. “Walau sudah padam, tapi belum lama... Tempat ini memang dihuni orang! Tapi ke mana dia?! Sebaiknya aku menunggu...”

Joko melangkah ke pojok ruangan goa lalu duduk meringkuk dengan mata memperhatikan kearah mulut goa. Namun hingga Joko menguap beberapa kalidan hampir saja terlelap, tidak juga muncul seseorang! “Ah... Lebih baik aku terus menunggu! Kalau tempat ini dihuni, penghuninya cepat atau lambat pastiakan pulang!” Joko berkata pada diri sendiri lalu selonjorkan kaki dan pejamkan mata. Tidak berapa lama sudah terdengar suara dengkurnya memecah ruangan goa di kaki Bukit Kalingga.

Beberapa saat berlalu. Joko tampak menggeliat lalu kedua matanya terbuka dan langsung memandang berkeliling. Tapi keadaan masih tetap seperti semula. Joko bergerak bangkit dan melangkah ke mulut goa seraya melongok melihat cahaya matahari.

“Sudah hampir setengah hari aku berada di sini! Tidak lama lagi hari akan gelap...” Joko putar diri lalu melangkah balik mendekati perapian. Saat itu matahari memang sudah condong ke arah barat. Udara mulai berubah. Angin dingin berhembus menggantikan udara panas.

“Sambil menunggu aku akan nyalakan perapian itu! Mungkin sisa-sisa baranya masih bisa menyala lagi! Udara sudah mulai dingin. Hem... Seandainya saat ini bersama Putri Kayangan... Mungkin aku tidak kedinginan! Gila! Mengapa aku selalu memikirkan dia? Lagi pula aku tidak akan bisa berbuat macam-macam sama dia! Nyai Tandak Kembang pasti tahu di mana cucunya itu berada. Macam-macam saja keahlian orang! Nyai Tandak Kembang bisa menemukan orang dengan mencium aroma. Ah. Mengapa aku berpikir sesuatu yang tak mungkin. Nyai Tandak Kembang sudah mengatakan tidak mengizinkan kedua cucunya untuk turun dari lereng Gunung Semeru. Berarti aku sudah tidak bisa bertemu dengan Putri Kayangan!”

Sambil terus berkata dalam hati, Joko jongkok di dekat perapian dan mulai mencungkil-cungkil perapian mencari sisa-sisa bara di bagian bawah. Saat itulah matanya menangkap sesuatu yang menonjol. Joko kerutkan dahi. Lalu sibakkan kayu perapian.

“Tonjolan batu... Aneh. Tonjolan batu ini punya lobang memanjang sepanjang bagian tonjolan yang berada di atas. Ini bukan tonjolan biasa! Hem... Kayu perapian ini mungkin saja hanya sebagai tipuan untuk mengelabui orang! Orang tidak akan menduga di bawah kayu perapian akan ada tonjolan batu!”

Perlahan-lahan Joko julurkan tangan ke arah tonjolan batu. Namun baru saja tangannya menyentuh tonjolan batu, mendadak satu suara terdengar.

“Apakah sekarang kau masih mungkir?!”

Joko angkat kepalanya. Tangan kanannya ditarik pulang. Sepasang matanya dipicingkan lalu dibuka lebar-lebar. Mendadak ketegangan sesaat di wajahnya sirna. Kini bibirnya kembangkan senyum. Tepat di mulut goa, tegak berdiri satu sosok tubuh milik seorang gadis muda berparas cantik mengenakan pakaian warna abu-abu. Rambutnya dikuncir tinggi. Matanya bulat. Namun sunggingan senyum murid Pendeta Sinting pupus ketika gadis cantik di mulut goa balas senyuman dengan seringai dingin dan buang muka!

SEPULUH

SARASWATI!” teriak murid Pendeta Sinting seraya bangkit. Diam-diam Joko membatin. “Tampaknya per-soalan lama akan terus berlanjut! Tapi... Bagaimana dia bisa ada di tempat ini? Tak mungkin dia mengikuti langkahku. Karena selama ini aku sengaja sembunyikan diri, malah beberapa hari belakangan berada di hutan...”

“Jangan melangkah!” bentak si gadis berparas cantik yang bukan lain Saraswati adanya. Anak kandung Lasmini, ketika dilirik Joko hendak langkahkan kaki mendekati ke arahnya. Pendekar 131 terpaksa urungkan niat dan tegak diam menunggu dengan mata memandang tak berkesip.

“Aku sudah menunggu hampir satu purnama lebih. Namun sejauh ini kau tidak bisa buktikan kebenaran ucapanmu tempo hari! Bahkan kini kau tertangkap basah mataku sendiri! Dalih apa yang akan kau katakan sekarang, hah?!” Saraswati buka mulut tanpa memandang.

Joko tampak gelagapan. “Bagaimana menjelaskannya?!” gumam murid Pendeta Sinting dalam hati.

Saraswati menoleh. Matanya menusuk tajam ke dalam bola mata Joko. “Sekarang tak ada lagi orang yang akan membantumu berdalih! Kalau saja saat itu tidak ada gadis berbaju merah sialan itu, mungkin urusannya sudah selesai! Aku menyesal mengapa saat itu aku percaya pada omongan gadis sialan itu! Juga pada gadis bernama Dewi Seribu Bunga itu!”

Seperti pernah dituturkan, Saraswati pernah mendapat perlakuan tidak senonoh dari Kiai Laras yangsaat itu masih menyamar sebagai murid Pendeta Sinting. Saraswati sangat marah dan mendendam. Hanya karena ada perasaan cinta dalam hatinya saja yang membuat dia masih coba menahan gejolak dadanya. Lagi pula saat itu Joko berjanji akan membuktikan bahwa bukan dirinya yang melakukan perbuatan itu. Malah saat itu Putri Kayangan dan Dewi Seribu Bunga juga menguatkan Joko meski Dewi Seribu Bunga cuma memberi waktu pada Joko untuk membuktikan diri bahwa memang bukan dia yang melakukan semuanya.

“Pendekar 131! Mungkin aku masih bisa memaafkan tindakanmu. Tapi tunjukkan dahulu dimana ibuku!” kata Saraswati.

“Saraswati... Aku tak tahu di mana ibumu berada!”

Mata Saraswati makin berkilat mendengar jawaban Joko. Kaki kanannya bergerak menghentak lantai goa. “Lalu untuk apa kau berada di sini?! Bukankah kau dahulu menyeret ibuku masuk ke dalam goa ini?!” Sosok Saraswati bergetar keras tanda gadis ini hampir tak dapat kuasai gemuruha marah.

“Saraswati... Aku memang pernah datang ke tempat ini dan bertemu seseorang bernama Kiai Laras. Tapi percayalah... Aku tak pernah berbuat seperti yang kau katakan! Ada orang lain yang menyamar sebagai diriku!”

“Sekarang aku tanya. Apa kau bukan Pendekar 131 Joko Sableng murid Pendeta Sinting?!”

Joko menghela napas. “Aku memang Joko Sableng murid Pendeta Sinting!”

“Bagus! Aku dulu jumpa denganmu di sini! Aku dulu juga mendengar ucapan yang sama seperti yang baru kau katakan! Mataku tidak mungkin dapat dibodohi!”

“Saraswati... Memang agak sulit menjelaskan semuanya! Kuharap kau bersabar. Aku hampir bisa membuka siapa dalang di belakang semua ini!”

“Kau pernah mengatakan itu juga pada satu seten- gah purnama yang lalu! Tapi mana buktinya?! Mana?! Kau jangan berdalih macam-macam! Kau tak akan dapat membuka siapa dalang di belakang semua ini, karena dalang itu adalah kau sendiri!”

“Saraswati!” kata Joko dengan suara agak keras karena mulai jengkel dengan tuduhan si gadis. “Untuk mengungkap hal ini bukanlah pekerjaan gampang! Sekarang terserah padamu untuk percaya atau tidak! Dan perlu kau ingat, saat ini aku tidak punya waktu banyak untuk berdebat yang tiada artinya!”

“Hem... Begitu?! Jadi kalau sudah tidak ada dalih, kau coba mengalihkan urusan dengan cara begitu?!” Saraswati tersenyum dan tertawa pendek mengejek.

“Sekarang katakan saja apa kemauanmu!”

“Aku mau tahu di mana ibuku kau sembunyikan atau nyawamu sebagai gantinya!”

“Aku tak tahu di mana ibumu! Kalau kau mau nyawaku, silakan kau ambil!”

Saraswati menggeram dengan kedua tangan diangkat. Namun entah karena apa perlahan-lahan kedua tangannya diturunkan. Murid Pendeta Sinting pandangi si gadis dengan kepala menggeleng pelan.

“Saraswati... Aku berkata apa adanya! Lagi pula untuk apa aku mencelakakan ibumu?! Antara aku dan ibumu memang pernah ada silang sengketa. Tapi tidak layak perselisihan itu diakhiri dengan perbuatan tak pantas! Bahkan aku telah melupakan semuanya!”

“Aku masih belum bisa percaya ucapanmu sepenuhnya...” ujar Saraswati namun kali ini suaranya sudah direndahkan.

“Sebenarnya aku pun tak ingin mengatakan apa-apa padamu! Karena yang kau perlukan adalah bukti, bukan ucapan! Dan justru aku di sini ini hendak mulai mencari bukti itu!”

Saraswati kerjapkan sepasang matanya. Joko merasa sedikit lega. Lalu berkata. “Aku menemukan sesuatu yang mencurigakan...!”

“Apa?!” tanya Saraswati cepat.

“Sebelum kukatakan, aku ingin tanya dahulu. Benar kau dan ibumu pernah ke tempat ini?!”

“Kalau tidak, aku tak mungkin bisa menemukanmu disini!”

“Apa yang kau ketahui tentang tempat ini?!”

“Aku tak tahu banyak! Aku hanya berada di luar! Ibuku yang masuk goa ini dengan kau seret!”

“Kau masih juga menuduhku. Tapi tak apalah!”

“Apa sesuatu yang mencurigakan?!” Saraswati bertanya.

Joko memberi isyarat pada Saraswati untuk mendekat. Saraswati tampak bimbang. Hingga untuk beberapa saat dia diam dengan memandang penuh curiga, membuat Joko tertawa pendek dan berucap. “Aku memang bukan manusia baik-baik, Saraswati! Tapi aku tidak terlalu picik untuk melakukan sesuatu yang macam-macam padamu!”

Paras wajah Saraswati berubah. Dia melangkah mendekati Joko. “Katakan, apa yang membuatmu curiga!”

Joko berpaling ke arah Saraswati yang tegak lima langkah di sampingnya. Dengan tersenyum, karena masih menangkap gelagat curiga pada diri Saraswati, Joko arahkan telunjuknya pada tumpukan kayu perapian yang tampak sedikit berserakan.

“Itu hanya tumpukan kayu bekas perapian! Lalu apanya yang membuatmu curiga?!” tanya Saraswati dengan kening berkerut memperhatikan kayu pera-pian.

“Orang yang melihat sepintas lalu akan mengatakan seperti ucapanmu! Tapi tidak bagi orang yang melihat dengan seksama!”

Karena penasaran, Saraswati pentangkan mata seraya melangkah lebih dekat. Pendekar 131 ambil salah satu kayu perapian yang agak panjang. Lalu dengan kayu itu dia sibakkan tumpukan kayu perapian.

“Tumpukan kayu ini bukan perapian! Tapi kayu untuk menutupi sesuatu!” kata Joko lalu menunjuk tonjolan batu di antara serakan kayu.

Saraswati sesaat perhatikan tonjolan batu. Belum sampai dia utarakan apa yang ada dalam hatinya, Joko telah lemparkan kayu di tangannya lalu bergerak jongkok. Tangan kanannya menyentuh tonjolan batu lalu ditekan ke arah lobang memanjang dibelakang tonjolan batu. Terdengar suara berderit. Pendekar 131 dan Saraswati tersentak kaget. Keduanya sama sentakkan kepala ke arah deritan. Keduanya sama belalakkan mata.

“Pintu...!” gumam Joko. “Ada tempat rahasia di balik ruangan goa ini!”

Murid Pendeta Sinting sudah melompat ke arah pintu di pojok ruangan goa yang terbuka. Saraswati ikut melompat. Namun Joko cepat palangkan tangan kirinya.

“Hati-hati, Saraswati. Di tempat seperti ini banyak sesuatu yang tak terduga!”

“Ini bukan sandiwaramu, bukan?!”

“Busyet!” maki Joko dalam hati namun bibirnya sunggingkan senyum. “Aku tak tahu bagaimana membuatmu percaya, Saraswati! Tapi sudahlah... Yang jelas titik terang telah kudapatkan!”

Habis berkata begitu, perlahan-lahan Joko melangkah mendekati pintu di pojok ruangan. Kepalanya dilongokkan ke dalam. Yakin tak ada orang, Joko melompat dan tegak di tangga batu. Dia edarkan pandangan berkeliling. Lalu memberi isyarat pada Saraswati. Tanpa banyak mulut Saraswati melompat. Saat yang sama Joko mulai melangkah menaiki tangga batu. Saraswati mengikuti dibelakangnya. Murid Pendeta Sinting kembali edarkan pandang matanya begitu tegak di atas lobang agak besar. Tiba-tiba sepasang matanya menyipit tatkala menangkap dua sosok tubuh tergeletak di bawah lobang.

“Ada yang tak beres!” gumam Joko tanpa berpaling pada Saraswati yang telah tegak di sampingnya.

Saraswati tidak pedulikan atau menyahut ucapan Joko. Matanya tertuju pada salah satu sosok yang tergeletak di bawah sana. Dadanya tiba-tiba berdebar. “Aku sepertinya mengenali pakaian yang dikenakan. Apakah...” Saraswati tidak lanjutkan ucapan, sebaliknya langsung melompat turun.

“Saraswati! Tunggu!” tahan Joko. Tapi terlambat.

Saraswati sudah melayang turun dan tahu-tahu telah tegak di samping salah satu sosok yang tergeletak. Dengan dada makin berdebar Saraswati bergerak jongkok. Lalu memperhatikan. Mendadak gadis ini menjerit. Lalu hempaskan tubuhnya di atas sosok yang tergeletak.

“Ibu... Ibu... Siapa yang melakukan ini?! Siapa?!” teriak Saraswati.

Jeritan Saraswati sudah cukup membuat Joko tahu apa yang telah terjadi. Tanpa buka mulut lagi dia langsung berkelebat turun dan tegak di samping Saraswati. Dia menatap sejenak pada sosok yang ada di bawah Saraswati.

“Tusuk konde itu... Aku seperti pernah melihatnya!” kata Joko dalam hati memperhatikan tusuk konde hitam besar yang menancap masuk hampir separo ke dalam lambung orang.

Saat lain Joko arahkan pandang matanya pada sosok yang satunya. Karena belum jelas benar, apalagi sosok itu telungkup, Joko segera berkelebat. Lalu membalikkan si sosok. “Astaga! Ni Luh Padmi...”

Pendekar 131 masih da-pat mengenali orang meski wajah dan sekujur tubuhnya menghitam. “Melihat tusuk konde si nenek ini menancap di lambung ibu Saraswati, besar kemungkinan mereka berdua terlibat bentrok! Tapi... Ada yang aneh. Mengapa keduanya sama menghitam! Tidak mungkin dua orang berilmu berlainan punya pukulan yang sama! Berarti ada orang lain yang melakukan pembunuh ini! Lalu sengaja menusukkan tusuk konde si nenek agar disangka mereka berdua terlibat bentrok!”

Murid Pendeta Sinting memandang berkeliling. “Udara di sini lain...”

Mungkin khawatir, Joko cepat kerahkan tenaga dalam. Tapi sebelum tenaga dalam benar-benar dikerahkan dia merasakan sesuatu. Joko urungkan niat. “Dugaanku benar... Hawa di sini lain... Mungkin udaranya telah ditaburi racun! Aku merasakan hawa aneh tatkala hendak salurkan tenaga dalam! Mungkin ini penyebab kematian kedua orang itu!”

Berpikir begitu, Joko cepat melompat ke arah Saraswati. Dia hendak mengatakan apa yang diduganya. Namun belum sempat dia buka mulut, Saraswati telah angkat kepalanya dari sosok mayat Lasmini.

“Pendekar 131!” Sebelum Saraswati lanjutkan ucapan, murid Pendeta Sinting sudah menukas karena tak ingin terus-terusan dituduh dan tahu bahwa apa yang akan diucapkan Saraswati adalah tuduhan itu.

“Saraswati! Jangan kau terus menuduhku! Aku tak tahu apa-apa dalam urusan ini! Bahkan kita rupanya juga masuk dalam perangkap bahaya!”

“Apa maksudmu?!”

“Hawa di tempat ini beracun! Jangan sekali-kali kau kerahkan tenaga dalam!”

“Bagaimana kau bisa tahu?!” “Kau masih juga curiga padaku!”

“Curiga memang benar! Tapi aku tanya sesungguhnya! Bagaimana kau tahu hawa di tempat ini beracun?!”

“Aku akan kerahkan tenaga dalam. Tapi aku merasakan hawa aneh. Dan kau lihat sosok di sana itu! Sekujur tubuhnya juga menghitam sama seperti tubuh ibumu! Aku tahu siapa dia... Dia adalah nenek bernama Ni Luh Padmi! Dan tusuk konde hitam yang menancap di lambung ibumu adalah tusuk konde milik nenek itu!”

“Berarti jahanam itu yang melakukan pembunuhan pada Ibu!”

Murid Pendeta Sinting gelengkan kepala. “Pada mulanya aku menduga demikian. Tapi kurasa itu hanyalah permainan agar orang menduga seperti dugaanmu!”

“Aku tak mengerti ucapanmu!”

“Kalau benar antara ibumu dan nenek itu terlibat bentrok, bagaimana mungkin mereka berdua bisa mengalami nasib sama?! Aku memang tak mengenal betul siapa ibumu juga nenek itu. Tapi aku jelas sekali tahu kalau nenek itu berasal dari daerah seberang. Jadi kecil kemungkinan dia dan ibumu mendapatkan ilmu dari satu orang! Aneh bukan kalau sekarang mengalami nasib yang sama dengan tubuh sama hitam? Ada orang lain yang melakukan! Lalu menyerang ibumu dengan tusuk konde si nenek agar orang menduga keduanya terlibat bentrok!”

Saraswati anggukkan kepalanya mengerti apa maksud Joko. “Anehnya lagi, dan ini yang membuatku makin percaya kalau hawa di sini beracun!” sambung Joko. Lalu tengadahkan kepala.

“Kau lihat jarak antara bagian bawah lobang ini dengan di atas sana. Aneh bukan kalau bagi mereka tidak bisa melompat keluar?!”

Saraswati mengukur jarak. Diam-diam dia membenarkan ucapan murid Pendeta Sinting.

Joko merenung sejenak sebelum akhirnya lanjutkan ucapan. “Mereka kesulitan naik karena untuk melompat ke atas sana diperlukan pengerahan tenaga dalam meski tidak seberapa! Dan menurut dugaanku, mereka takut mengerahkan tenaga dalam karena tahu tempat ini telah ditaburi racun! Dan tidak tertutup kemungkinan, racun itulah yang menyebabkan sekujur tubuh ibumu dan nenek itu menjadi hitam! Karena tidak ada bekas pukulan yang berarti di tubuhnya! Mereka nekat mengerahkan tenaga dalam karena terpaksa...”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?!” tanya Saraswati. Perlahan-lahan kecurigaan gadis ini pada Joko mulai lenyap.

“Aku tak tahu... Mungkin mereka berdua sudah berusaha. Tapi nyatanya mereka tidak berhasil...”

Mendengar ucapan Joko, tengkuk Saraswati jadi dingin. Sementara Joko mulai melangkah mengitari lobang. Kedua tangannya sesekali mengetuk-ngetuk dinding lobang! Tapi sampai berputar tiga kali, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Di sini tidak ada tempat rahasia lagi. Berarti tempat ini memang sengaja disiapkan. Entah untuk apa... Yang jelas, sekarang kita harus cari akal untuk naik ke atas tanpa harus kerahkan tenaga dalam!”

Pendekar 131 mendekati dinding lobang tidak jauh dari Saraswati lalu tegak bersandar. Saraswati sendiri tercenung diam. Hanya matanya yang mengedar ke atas lobang lalu sesekali memandangi sosok mayat ibunya.

SEBELAS

AKAN kucoba!” Tiba-tiba Joko bergumam seraya melangkah ke dinding seberang. Di bawah mana dia tadi tegak di atas. Saraswati memperhatikan dengan kancingkan mulut. Namun seraya terus mengawasi langkah-langkah kaki Joko, gadis anak Lasmini ini berkata dalam hati.

“Selama ini aku telah berburuk sangka padanya! Walau aku belum percaya sepenuhnya, tapi aku sudah tidak punya curiga lagi padanya! Anehnya, siapa gerangan orang yang menyamar sebagai dirinya?! Apakah Kiai Laras...?! Bukankah orang tua itu yang menunjukkan tempat ini pada Ibu?! Saat itu juga aku melihat pemuda yang menyamar itu mengeluarkan sekuntum bunga bersinar-sinar di balik pakaiannya! Menurut beberapa keterangan yang kusirap, bunga itulah yang kini banyak dibicarakan orang dan disebut-sebut sebagai Kembang Darah Setan! Tapi...”

Saraswati tidak lanjutkan kata hatinya ketika melihat Joko telah keluarkan Pedang Tumpul 131 dari balik pakaiannya. Ruangan lobang itu seketika bertabur kemilau keemasan karena sinar yang dipancarkan pedang di tangan Joko.

“Apa yang hendak dilakukannya?!” bisik Saraswati.

Di depan sana Joko angkat pedangnya tinggi-tinggi dengan andalkan tenaga luar. Saat lain tangan Joko yang memegang pedang berkelebat.

"Craakk!" Dinding lobang perdengarkan benturan keras. Tangan kanan Joko terpental ke belakang. Dinding lobang bergetar. Saat bersamaan terlihat muncratan api disertai bertaburnya batu.

“Kita berhasil!” teriak murid Pendeta Sinting saat melihat satu rengkahan agak besar di dinding lobang yang terhantam pedang.

Joko mundur dua langkah. Lalu melompat ke atas. Pedang Tumpul 131 kembali berkelebat. Untuk kedua kalinya kembali terdengar benturan keras. Taburan batu kembali menebar. Saat taburan luruh, di atas rengkahan yang pertama terlihat lagi rengkahan lain. Joko memperhatikan sesaat. Lalu maju dan babatkan kembali pedangnya. Kini terlihat rengkahan lain di samping rengkahan yang pertama.

Joko angkat kaki kanannya dan diletakkan pada rengkahan yang pertama. Lalu angkat kaki kirinya dan diletakkan pada rengkahan di samping rengkahan yang pertama. Tangan kirinya segera menggapai rengkahan di atas rengkahan yang pertama. Kini tubuh Joko menempel di dinding dengan bertumpu pada tangan kiri yang berpegangan pada rengkahan diatas rengkahan yang pertama.

Joko tarik tubuhnya sedikit ke belakang. Pedang Tumpul 131 di tangan kanannya kembali dikelebatkan. Begitu seterusnya hingga terlihat beberapa rengkahan. Dan Joko setapak demi setapak naik ke atas sampai akhirnya tiba di bagian atas lobang. Joko menarik napas panjang. Pedang Tumpul 131 dipandangi sesaat lalu dimasukkan lagi ke dalam sarungnya di balik pakaiannya.

“Saraswati... Tunggu sebentar!” teriak murid Pendeta Sinting lalu berkelebat. Tak lama kemudian dia telah muncul lagi dengan tangan membawa tali dari akar panjang. Tali akar segera dilemparkan ke bawah. Saraswati angkat mayat ibunya dan mendekati ujung tali akar.

“Ibumu bisa kau ikat di ujung. Kamu nanti menggantung di atasnya!” teriak Joko dari atas.

Saraswati segera lakukan ucapan Joko. Ujung akar dililitkan berputar pada tubuh ibunya. Lalu perlahan-lahan didekatkan ke dinding. Saraswati sendiri tampak pegang tali akar kuat-kuat di atas sosok Lasmini.

“Tarik!” seru Saraswati.

Perlahan-lahan Joko menarik tali akar ke atas. Lalu menolong Saraswati begitu si gadis telah muncul di bibir lobang. Saat lain keduanya mengambil mayat Lasmini yang tergantung di bibir lobang. Joko cepat lepaskan lilitan akar pada sosok Lasmini. Lalu kembali lemparkan ujung akar ke bawah.

“Mayat nenek itu harus kita angkat sekalian! Bagaimanapun juga menurut kabar yang kudengar, nenek itu adalah bekas kekasih eyang guruku! Kau nanti yang menarik. Aku akan keatas lewat rengkahan itu!”

Tanpa menunggu sahutan dari Saraswati, murid Pendeta Sinting melayang ke bawah lalu mengangkat mayat Ni Luh Padmi ke pinggiran dinding dan melilit tubuh si nenek dengan ujung akar.

“Tarik pelan-pelan! Aku akan memeganginya sambil naik melalui rengkahan!” teriak Joko.

Saraswati tarik tali akar perlahan-lahan. Sementara Joko menopang dari bawah dengan bertumpu pada beberapa rengkahan yang dibuatnya. “Kita harus segera menguburkan mereka!” ujar Joko begitu sampai di atas seraya lepaskan lilitan akar pada mayat Ni Luh Padmi.

Masih tanpa buka suara, Saraswati mengangkat mayat ibunya. Joko mengangkat mayat Ni Luh Padmi. Keduanya melangkah keluar dari ruangan goa.

“Sudahlah, Saraswati... Semuanya sudah terjadi! Yang kita pikirkan sekarang adalah mencari siapa ge-lrangan di balik pembunuhan ini! Aku rasa, yang melakukannya tidak lain adalah orang yang selama ini menyamar sebagai diriku!” kata Joko seraya pegangi lengan Saraswati yang sesenggukan di samping makam ibunya.

“Semua memang sudah terjadi! Tapi seandainya saat itu Ibu turuti nasihatku. Tak mungkin semua ini akan terjadi!”

“Kau jangan banyak berandai-andai. Terimalah kenyataan ini...!”

Saraswati berpaling pada murid Pendeta Sinting. Matanya yang masih digenangi air mata menatap sendu lalu berucap. “Sekarang ke mana akan kita cari jahanam itu?! Lagi pula kita belum tahu siapa dia sebenarnya!”

“Aku sedikit banyak bisa menduga siapa dia sebenarnya! Tapi aku tidak berani memastikan dahulu!”

“Maksudmu di balik semua ini adalah orang tua bernama Kiai Laras itu?!”

“Ini masih dugaan...” kata Joko sambil anggukkan kepala. “Tapi melihat beberapa peristiwa yang terjadi, besar kemungkinan dugaan ini banyak benarnya!” Lalu Joko menceritakan pertemuannya dengan Kiai Laras. Juga menceritakan musibah yang dialami Pitaloka sampai akhirnya Pitaloka menunjukkan tempat di mana akhirnya ditemukan mayat Lasmini dan Ni Luh Padmi. Namun sejauh ini Joko tidak menceritakan perihal benda merah yang diambilnya dari pusar bayi Pitaloka.

Mendengar keterangan murid Pendeta Sinting, Saraswati terkejut. Lalu dengan tundukkan kepala dia bergumam pelan. “Joko... Kau mau memaafkan aku?! Selama ini aku telah menaruh prasangka buruk padamu...”

“Aku tak bisa memaafkanmu! Kecuali dengan satu syarat!” Joko menyahut dengan suara agak keras.

Saraswati terlengak kaget. Dia angkat kepala. Joko sudah berpaling terlebih dahulu hingga tak melihat perubahan pada wajah Saraswati.

“Joko! Apa pun syaratmu akan kupenuhi! Katakan saja...” gumam Saraswati dengan suara bergetar dan tersendat.

Beberapa saat Joko belum juga buka suara. Tapi tak lama kemudian dia buka mulut namun masih tanpa memandang ke arah Saraswati. “Benar kau akan penuhi syaratku?!”

“Katakanlah...!” ujar Saraswati sembari anggukkan kepala meski dia tahu orang tidak memandangnya.

Pendekar 131 berpaling. Matanya mendelik. Mulutnya terkancing rapat. Saraswati terkesiap dengan dada berdebar. Namun mendadak mulut Joko bergerak sunggingkan senyum seringai dan berkata,

“Tersenyumlah!”

Saraswati kerutkan kening. Joko tersenyum dan berkata. “Aku mau memaafkanmu kalau kau mau tersenyum!”

Belum sampai ucapan Joko selesai, Saraswati sudah membuat senyum lebar. Dan tanpa sadar gadis ini memegang lengan Joko sembari berkata pelan. “Benar hanya itu syarat yang kau minta?!” tanya Saraswati dan kini sudah rebahkan kepalanya di samping dada Joko.

“Kalau aku minta lainnya, jangan-jangan kau kebe-ratan!”

“Apa pun permintaanmu, akan kupenuhi...!” kata Saraswati seraya mendongak.

Dagu murid Pendeta Sinting tampak bersentuhan dengan kening Saraswati. Darah Pendekar 131 berdesir. Apalagi kini tangan sebelah Saraswati tiba-tiba sudah melingkar dipinggangnya. Entah karena khawatir terdorong kesaming, Joko terpaksa lingkarkan tangannya pula pada pinggang Saraswati. Saraswati pejamkanmata.

“Betapa bahagia jika Ibu masih ada dan menyaksikanaku hidup berdampingan dengan pemuda seperti dia...”

Tanpa disadari oleh murid Pendeta Sinting dan Saraswati yang tengah berangkulan di dekat makam Lasmini, dua pasang mata dari tadi tampak terus memperhatikan dari rimbunan semak. Sepasang mata sebelah kanan terlihat biasa-biasa saja meski meman- dang tak berkesip. Namun sepasang mata satunya tampak mengerjap beberapa kali dan kejap lain berkaca-kaca! Malah tak lama kemudian dua telapak tangan halus tampak menutup mata yang berkaca-kaca itu!

“Tabahkan diri! Jangan membuat mereka tahu kehadiran kita dengan suara tangismu!”

Terdengar bisikan lembut. Jelas suara itu terdengar dari orang yang memiliki mata sebelah kanan dan tampak terus memandang tak berkesip ke arah Joko dan Saraswati. Kedua tangan halus yang tadi menutupi mata yang berkaca-kaca diturunkan ke bawah. Sepasang mata itu masih terlihat tergenangi air mata. Saat lain sepasang mata ini berpaling ke kanan, dan ke arah sepasang mata yang terus memandang. Saat bersamaan terdengar suara lembut.

“Kita harus pergi menjauh. Tidak pantas kita melihat orang yang tengah berkasih-kasihan...”

“Bukan kita yang tidak pantas! Tapi mereka berdua! Tega-teganya mereka saling berpelukan di dekat makam! Padahal aku yakin orang di makam itu baru dikuburkan! Dan pasti makam itu adalah makam kerabat dekatnya!”

“Ah... Mungkin mereka tak sadar...” sahut pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Ini bukan masalah sadar atau tidak!”

“Kau terlalu berprasangka. Lagi pula apa urusan kita dengan mereka?!”

Mata yang sejak tadi memandang tak berkesip bergerak memaling ke kiri. Ke arah mata yang tadi berkaca-kaca. Lalu terdengar bisikan lembut meski nadanya keras.

“Kau jangan menutupi perasaan! Aku tahu bagaimana perasaanmu melihat pemuda itu berpelukan dengan seorang gadis! Dan kau pula tahu apa urusan kita dengan pemuda itu!”

“Kita sudah menyerahkan semua urusan padanya! Berarti urusan kita dengannya sudah selesai! Dan terus terang. Sebelumnya aku memang tertarik pada pemuda itu, tapi kini... Ah, percuma kita bicarakan! Kita sudah tahu apa yang terjadi!” kata suara pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Tidak! Aku harus menyelesaikannya! Urusan itu belum selesai sampai di sini! Kau tahu. Pada awalnya sebenarnya aku juga tertarik pada pemuda itu. Namun kini aku sadar siapa diriku. Lagi pula aku tahu kau menyukainya. Aku ingin kau berbahagia dengan pemuda itu! Aku harus dapat menyatukan kau dan pemuda itu! Karena itulah yang bisa kuberikan sebagai tebusan atas segala perbuatanku yang menyakitkan hatimu...”

“Kau jangan bicara yang bukan-bukan! Perasaan cinta tidak bisa dipaksakan! Dan jangan ungkit-ungkit lagi peristiwa yang telah berlalu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini...”

“Tunggu! Lihat mereka!” kata suara pemilik mata yang tadi terus mengawasi.

Mata yang tadi berkaca-kaca dan kini masih tergenangi air mata kembali memandang pada murid Pendeta Sinting dan Saraswati yang beranjak bangkit dari samping makam. Kedua orang pemilik dua pasang mata di balik semak ini tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Joko dan Saraswati. Karena Joko dan Saraswati bicara amat pelan malah setengah berbisik.

“Jangan-jangan mereka sudah tahu kehadiran kita...!” ujar suara pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Itu lebih baik! Berarti kita selesaikan sekalian uru- sannya di sini!” sahut pemilik mata satunya.

“Jangan membuat urusan baru. Percayalah. Aku bisa menerima semua ini...”

“Aku tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya! Apa yang baru kau ucapkan bertolak belakang dengan apa sesungguhnya yang ada dalam hatimu!”

Si pemilik mata yang berkaca-kaca tergagu diam tak bersuara lagi. Sementara di depan sana, Pendekar 131 dan Saraswati tampak saling pandang, lalu masih dengan saling berangkulan, mereka berdua melangkah tinggalkan tempat pemakaman.

“Kita ikuti mereka!” kata pemilik mata yang terus memandang tak berkesip.

“Tidak ada gunanya! Bukannya karena aku tak tahan melihat mereka, tapi kurasa kau mengajakku bukan untuk mengikuti orang yang tengah berkasih-kasihan!”

“Hem... Ucapanmu benar. Tapi sebenarnya salah!”

“Maksudmu...?!” tanya si pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Aku sengaja minta izin waktu pada Eyang semata-mata hanya untuk mengikuti pemuda itu! Karena pemuda itu pasti tengah mencari jahanam keparat yang kini kucari!”

“Jadi...?”

“Aku memang hendak membalas tindakan manusia berjubah hitam yang memperkosaku itu! Kalau murid Pendeta Sinting meninggalkan tempat ini, berarti jahanam keparat itu juga tidak berada di tempat ini! Jadi kita harus mengikutinya!”

“Kau jangan gila! Kau tahu siapa yang akan kau hadapi?!”

“Benda untuk menghadapinya sudah berada di tangan Pendekar 131! Aku tinggal menunggu kesempatan. Yang jelas selembar nyawanya aku yang punya hak untuk memutusnya!”

“Tapi...”

“Aku sudah bersumpah! Dan aku harus lakukan sumpahku! Kita ikuti mereka!”

Habis terdengar suara begitu, satu sosok bayangan merah tampak berkelebat ke arah mana tadi Joko dan Saraswati melangkah. Saat lain satu bayangan merah juga berkelebat dari balik semak menyusul bayangan merah yang berkelebat lebih dahulu...

S E L E S A I

Tumbal Pusar Merah

Serial Joko Sableng episode Tumbal Pusar Merah

Cersil Online Serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131
SATU

DI HADAPAN Pendekar 131 Joko Sableng, Kigali dan Umbu Kakani sama kerutkan kening. Mereka bisa memaklumi kalau Nyai Tandak Kembang akan kaget mendengar keterangan Umbu Kakani. Namun yang mereka agak heran, justru murid Pendeta Sinting lebih terkejut dibanding Nyai Tandak Kembang.

“Kau dapat menduga siapa gerangan di balik Jubah Tanpa Jasad itu, Pendekar?!” Umbu Kakani segera ajukan tanya.

Namun sebelum murid Pendeta Sinting sempat buka mulut menjawab, Nyai Tandak Kembang sudah angkat bicara. “Pitaloka! Benar keterangan tadi?!” Mata perempuan dari lereng. Gunung Semeru ini masih menyengat tajam pada Pitaloka.

Pitaloka gerakkan kepala mengangguk. Namun sepasang matanya melirik pada murid Pendeta Sinting lalu beralih pada Putri Kayangan. Entah apa yang dirasakan gadis ini. Yang jelas paras wajahnya yang murung tampak membayangkan rasa kecewa dan penyesalan.

“Bagaimana semua itu bisa terjadi?!” Nyai Tandak Kembang kembali ajukan tanya seolah belum percaya dengan keterangan orang. Kigali sudah hendak buka mulut. Namun Nyai Tandak Kembang sudah mendahului.

“Aku bertanya pada Pitaloka! Aku ingin keterangan dari mulutnya. Harap jangan ada yang ikut bicara!”

Kigali kancingkan mulutnya kembali. Lalu melirik pada Pitaloka. Pitaloka tampak menarik napas panjang. Putri Kayangan memperhatikan dengan seksama. Sementara diam-diam murid Pendeta Sinting merasa gelisah dan membatin.

“Kalau aku menunggu orang-orang ini membicarakan kejadian yang menimpa Pitaloka, kakek berambut jabrik dan Malaikat Berkabung tentu akan keburu datang ke tempat ini! Hem....”

Sepasang mata Joko memandang tajam pada bayi yang telah meninggal di samping sosok Kigali. Seperti diceritakan dalam episode Lembah Patah Hati, Nyai Tandak Kembang, Putri Kayangan, dan Pendekar 131 berhasil memasuki lobang di mana Pitaloka, Kigali, dan Umbu Kakani berada, mendahului kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung.

Nyai Tandak Kembang langsung marah melihat kenyataan Pitaloka telah melahirkan seorang bayi. Dia mencerca Pitaloka dengan berbagai pertanyaan. Dan akhirnya menanyakan siapa laki-laki ayah dari bayi itu. Umbu Kakani yang sebelumnya sudah mendengar penuturan Pitaloka dari Kigali memberi keterangan siapa adanya laki-laki ayah dari bayi Pitaloka. Mendengar keterangan Umbu Kakani yang mengatakan bahwa laki-laki itu tidak bisa dikenali wajahnya karena mengenakan Jubah Tanpa Jasad, Nyai Tandak Kembang sempat terkesima. Tapi yang tak kalah kagetnya mendengar keterangan Umbu Kakani adalah murid Pendeta Sinting.

“Pitaloka! Aku ingin keterangan darimu! Mengapa kau diam?!” Nyai Tandak Kembang membentak ketika Pitaloka tidak segera buka mulut.

“Eyang....” Joko menyela sebelum Pitaloka angkat suara. Nyai Tandak Kembang buka mulut tanpa berpaling.

“Aku juga tak minta keterangan padamu!”

“Eyang.... Aku bukannya akan memberi keterangan! Tapi....”

“Aku sedang bicara dengan Pitaloka!” tukas Nyai Tandak Kembang. “Kalau kau ingin bicara, tunggu sampai aku selesai! Atau keluarlah dari tempat ini!”

“Eyang.... Apa yang akan kubicarakan lebih penting daripada urusan Pitaloka!”

Kepala Nyai Tandak Kembang berpaling dengan mata mendelik besar. “Anak muda! Tak ada yang lebih penting bagiku selain urusan Pitaloka! Dia cucuku! Aku harus tahu benar bagaimana dan apa sebenarnya yang terjadi! Kuperingatkan kau untuk tidak buka suara!”

“Eyang.... Keterangan dari Pitaloka masih bisa ditangguhkan! Dan urusan yang akan kubicarakan rasanya sudah sangat mendesak! Kalau kita terlambat, aku tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi!”

“Jangan kau libatkan aku dalam urusanmu! Persetan pula dengan apa yang akan terjadi! itu urusanmu!”

“Hem.... Gawat menghadapi orang macam begini...!” gumam Joko seraya tengadahkan sedikit kepalanya kearah lobang. Dia khawatir kakek berambut putih jabrikdan Malaikat Berkabung segera muncul. “Apa boleh buat.... Daripada urusan tambah panjang, aku akan katakan terus terang!”

Berpikir begitu, akhirnya murid Pendeta Sinting berkata. “Eyang.... Rimba persilatan saat ini tengah terancam. Ancaman itu justru datang dari manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad yang sampai kini belum bisa dikenali siapa orangnya. Menurut beberapa sahabatku, si pemakai Jubah Tanpa Jasad hanya bisa dihadapi dengan benda merah yang ada dalam pusar bayi Pitaloka!”

“Urusan Pitaloka lebih penting dari hal itu semua! Lagi pula aku belum mendengar keterangan Pitaloka sendiri apa benar manusia di balik Jubah Tanpa Jasad itu adalah laki-laki pengecut yang melakukannya! Tindakan Pitaloka selama ini membuatku tidak mudah lagi percaya pada keterangannya! Apalagi keterangan itu diucapkan orang yang belum kukenal benar dan tampak dekat dengan Pitaloka!”

“Eyang.... Kurasa itu semua bisa dibicarakan nanti. Kini kita bicarakan apa yang ada di depan kita!”

“Anak muda! Aku hanya akan bicara sekali lagi! Jangan libatkan aku dalamurusanmu!” “Baiklah...,” ujar Joko lalu melangkah mendekati Kigali.

“Hentikan langkahmu! Apa yang akan kau lakukan?!” bentak Nyai Tandak Kembang.

“Pitaloka telah mengizinkan aku untuk mengambil benda dalam bayinya!”

“Dia cucuku! Aku ikut berhak memutuskan!”

Murid Pendeta Sinting memandang sesaat pada Nyai Tandak Kembang dengan perasaan tidak enak. Lalu berkata. “Kuharap kau tidak keberatan, Eyang.... Ini untuk kedamaian jagat persilatan!”

Nyai Tandak Kembang arahkan pandang matanya pada bayi di dekat Kigali. Tidak bisa ditebak apa yang dirasakan perempuan cantik ini. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Mungkin tak dapat menahan perasaan gelisah, mu-mrid Pendeta Sinting segera berucap lagi.

“Eyang.... Kau tak keberatan, bukan?”

Belum sampai Nyai Tandak Kembang menjawab, tiba-tiba satu sosok tubuh melayang dari atas lobang. Saat lain satu sosok tubuh menyusul. Tahu-tahu kedua sosok ini telah tegak berjajar dengan mata masing-masing memandang tajam kedepan.

“Urusan benar-benar jari runyam! Bagaimana mereka bisa masuk?! Apakah Datuk Wahing, Gendeng Panuntun, dan lain-lainnya tidak berusaha menghadang?!” Pendekar 131 bergumam sambil memandang ke arah dua sosok yang baru muncul. Namun cuma sekejap. Saat lain sepasang matanya melirik ke arah lobang, dari mana dua sosok tadi melayang turun.

“Hem.... Tidak kudengar bersinan Datuk Wahing atau suara bentakan Nenek Dayang Sepuh. Suara aneh Dewa Uuk pun tidak ada! Apa kedua orang itu berhasil melewati orang-orang itu?!” Murid Pendeta Sinting tambah gelisah.

Seperti diketahui, ketika mengikuti jejak kakek berambut putih jabrik, murid Pendeta Sinting dan Dayang Sepuh akhirnya sampai di perbatasan Lembah Patah Hati. Tak berselang lama, tiba-tiba muncullah Malaikat Berkabung. Saat terjadi bentrok antara Pendekar 131 dan Malaikat Berkabung, muncul Datuk Wahing dan Gender Panuntun. Tidak berapa lama kemudian hadir pula Nyai Tandak Kembang dan Putri Kayangan yang disusul oleh Dewi Ayu Lambada, Iblis Ompong, dan Dewa Uuk.

Ketika hendak terjadi bentrok, tiba-tiba semua orang di perbatasan Lembah Patah Hati dikejutkan dengan suara tangisan bayi. Pendekar 131 berhasil mendahului ke tempat terdengarnya suara tangisan bayi dengan bantuan Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun. Kemudian disusul oleh Nyai Tandak Kembang dan Putri Kayangan. Walau Joko agak gelisah dengan kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung, namun masih agak tenang mendapati di situ ada rombongan Datuk Wahing. Joko berpikir, rombongan Datuk Wahing tidak akan membiarkan kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung untuk menyusul masuk ke dalam lobang.

Namun melihat siapa adanya dua sosok tubuh yang baru melayang masuk dari lobang, yang ternyata adalah seorang kakek mengenakan pakaian selempang warna putih dengan dada kanan terbuka, di lehernya melingkar kalung dari untaian kayu warna coklat, dan rambutnya putih dipotong jabrik serta seorang pemuda berparas tampan dan keras mengenakan mantel warna hitam yang tidak bukan adalah si kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung, dada Joko jadi bertanya-tanya.

Mengapa rombongan Datuk Wahing tidak menghadang kedua orang ini hingga keduanya bisa masuk. Di lain pihak, melihat kedatangan kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung, Nyai Tandak Kembang segera berpaling pada Putri Kayangan Lalu berbisik.

“Beda Kumala! Lindungi bayi Pitaloka dari tangan siapa saja!”

“Tapi, Eyang.... Pendekar 131....”

“Persetan siapa pun! Pokoknya lindungi bayi Pitaloka! Jangan campur adukkan urusan perasaanmu dengan urusan Pitaloka! Kau paham?!”

“Jadi kau keberatan jika benda di pusar bayi itu diambil murid Pendeta Sinting?!” Putri Kayangan masih belum puas dengan ucapan Nyai Tandak Kembang.

“Ucapanmu itu keluar karena kau tertarik dengan pemuda itu, Beda Kumala! Ingat, urusan ini belum jelas benar! Aku akan memutuskan setelah urusannya jelas!”

“Eyang... Kalau beberapa orang hebat seperti Datuk Wahing dan Gendeng Panuntun ikut turun tangan, kukira urusan benda itu tidak main-main....”

“Beda Kumala! Bagi mereka mungkin urusannya sudah jelas. Tapi tidak bagiku! Dan aku tidak mau hanya ikut-ikutan orang! Lakukan saja perintahku! Jangan banyak berdalih!”

Walau dengan agak jengkel akhirnya Beda Kumala alias Putri Kayangan anggukkan kepala dan melangkah mendekati Kigali yang tegak di samping bayi Pitaloka. Sementara itu, Umbu Kakani langsung menyeringai melihat kehadiran kakek berambut putih jabrik dan Malaikat Berkabung. Sepasang matanya langsung mendelik pandangi kakek berambut putih jabrik. Dan begitu melihat Putri Kayangan gerakkan kaki mendekati Kigali, Umbu Kakani segera angkat suara dengan keras. Matanya tak beranjak dari sosok kakek berambut putih jabrik.

“Lingga Buana! Akhirnya penantianmu hanya sia-sia! Kedatanganmu memang tepat! Tapi perhitunganmu meleset!”

Mendengar ucapan Umbu Kakani, kakek berambut putih jabrik yang dipanggil dengan Lingga Buana perdengarkan tawa. Lalu berucap. “Aku tak pernah salah menghitung, Umbu Kakani! Kalau aku dapat menyingkirkanmu dan gurumu, apa kau kira aku tak bisa menyingkirkan semua manusia di dalam ruangan ini?!”

“Kau bisa menyingkirkan Guru karena kau bertindak licik! Lagi pula kau harus sadar, peristiwa itu sudah lewat beberapa puluh tahun. Kini saat sudah berganti, keadaan sudah berubah!”

“Kau salah ucap, Umbu Kakani! Peristiwa puluhan tahun lalu bukan semata-mata karena aku licik. Namun karena ketololanmu dan Guru! Dan kau salah duga. Saat boleh berganti, keadaan boleh berubah. Tapi Lingga Buana tidak bisa terkecoh apalagi salah hitung!”

“Hem... Ternyata kedua orang ini sudah saling kenal! Dan tampaknya mereka juga sudah tahu apa yang akan terjadi. Tak heran kalau kakek bernama Lingga Buana itu tahu jalan...” Murid Pendeta Sinting membatin.

Umbu Kakani tertawa pendek mendengar ucapan Lingga Buana. “Aku tahu... Kau selama ini tak mungkin memperhitungkan beberapa orang yang hadir di tempat ini! Lebih-lebih kau tak sadar kalau kehadiranmu hanya untuk menebus nyawa Guru!”

Lingga Buana berbisik pada Malaikat Berkabung yang tegak di sebelahnya. Muridku! Cegah siapa saja yang coba-coba mendekati bayi itu!”

Malaikat Berkabung tidak buka mulut menjawab. Namun saat itu juga si pemuda melangkah ke sebelah samping dan tegak lurus ke arah Putri Kayangan dan Kigali yang berada di dekat bayi Pitaloka. Mendapati gerakan Malaikat Berkabung, Nyai Tandak Kembang sudah dapat menangkap gelagat. Perempuan dari lereng Gunung Semeru ini segera berkata.

“Aku tak punya urusan dengan kalian berdua! Harap jangan mencampuri urusanku!”

Lingga Buana memandang sesaat pada Nyai Tandak Kembang. Lalu memandang silih berganti pada Putri Kayangan dan Pitaloka. “Nyai...” katanya. “Kita memang tidak punya urusan. Namun keadaan mengharuskan kita bertemu untuk satu urusan! Yang kuminta kau mau mengerti agar di antara kita tidak terjadi salah paham!”

Walau sudah bisa menebak maksud ucapan Lingga Buana, namun Nyai Tandak Kembang berkata juga ajukan tanya. “Urusan apa maksudmu?!”

“Aku hanya minta bayi itu!”

“Aku tak akan membiarkan siapa saja menyentuhnya!”

“Itu akan membuka salah paham, Nyai!”

“Kau yang membuka! Bukan aku!”

“Tapi kalau kau mau mengerti, tidak akan terjadi salah paham!”

“Hal itu terjadi karena kau minta milik orang lain!”

“Hem.... Jadi kau keberatan?!” tanya Lingga Buana”

“Aku berhak memutuskan barang milik cucuku! Dan kuputuskan tak seorang pun akan kubiarkan menyentuh bayi itu!”

“Lingga Buana!” Umbu Kakani menyesal. “Lupakan dulu bayi itu. Kita bereskan urusan lama yang tertunda!”

“Tampaknya kau sudah bosan menderita, Umbu Kakani! Gurumu memang sudah lama menunggu kedatanganmu di alam neraka. Aku akan segera turuti keinginanmu!”

Umbu Kakani berpaling pada murid Pendeta Sinting, Kigali, Putri Kayangan, dan terakhir pada Nyai Tandak Kembang sebelum akhirnya berujar. “Kuharap kalian tidak ikut turun tangan! Ini urusanku dengan jahanam itu!”

Kepercayaan diri Umbu Kakani membuat Lingga Buana kerutkan dahi. “Perempuan ini tampaknya me-nyembunyikan sesuatu! Dalam keadaan tak berdaya begitu rupa dia berani berucap lantang menantangku sendirian! Padahal dia tahu, kitab ciptaan Guru jatuh ke tanganku! Apa selama ini Guru menurunkan ilmu yang tidak kuketahui...?”

Umbu Kakani rupanya dapat menangkap apa yang ada di benak orang. “Lingga Buana. Kau boleh memiliki kitab ciptaan Guru! Tapi bukan berarti kau mudah membunuhku!”

Dada Lingga Buana panas mendengar ucapan Umbu Kakani. Tanpa menyahut lagi kedua tangannya diangkat ditakupkan di depan dada.

“Nyai Tandak Kembang! Harap menyingkir!” kata Umbu Kakani melihat Nyai Tandak Kembang yang tegak di hadapannya tidak membuat gerakan melompat ke samping walau sudah tahu kalau Lingga Buana hendak lepaskan pukulan.

Nyai Tandak Kembang memandang sesaat pada Umbu Kakani. Nyai Tandak Kembang rupanya punya perasaan hampir sama dengan Lingga Buana. Dia meragukan apakah Umbu Kakani benar-benar mampu menghadapi Lingga Buana. Selain melihat keadaan Umbu Kakani dia juga telah tahu bagaimana kedahsyatan pukulan Lingga Buana saat bentrok dengan Dayang Sepuh.

“Nyai.... Aku memang tidak punya ilmu tinggi! Tapi kurasa aku mampu menghadapi laki-laki keparat itu!” kata Umbu Kakani membuat Nyai Tandak Kembang perlahan-lahan melangkah ke samping.

DUA

PENDEKAR 131 Joko Sableng sempat pula cemas mendengar ucapa-ucapan Umbu Kakani. Apalagi saat dilihatnya Umbu Kakani belum juga membuat gerakan meski Lingga Buana sudah takupkan kedua tangan di depan dada dan siap lepaskan pukulan.

“Nenek ini nekat betul! Apa benar ucapan Lingga Buana jika Umbu Kakani berani hanya karena ingin deritanya segera pupus?! Kulihat kedua tangan dan kakinya tak bisa digerakkan. Bagaimana mungkin dia bisa menghadang pukulan Lingga Buana?!”

Entah karena apa, diam-diam murid Pendeta Sinting kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Namun dia juga terus perhatikan setiap gerak-gerik Malaikat Berkabung. Hanya saja dia mulai tidak enak dengan Putri Kayangan. Dia memang tidak mendengar percakapan Nyai Tandak Kembang dengan Putri Kayangan. Tapi dari sikap si gadis yang mendekati bayi Pitaloka, sedikit banyak Joko bisa menduga. Apalagi bila dia ingat ucapan Nyai Tandak Kembang yang tak akan biarkan siapa pun menyentuhbayi Pitaloka.

Sementara itu, walau dirinya tengah dilanda perasaan tak karuan melihat kehadiran Nyai Tandak Kembang dan Putri Kayangan serta Pendekar 131, namun Pitaloka masih sempat mengkhawatirkan Umbu Kakani yang duduk di depannya. “Nek...” kata Pitaloka pelan. “Sebaiknya dia tak kau hadapi sendirian...”

“Pitaloka!” sahut Umbu Kakani tanpa berpaling. “Kau bisa bergerak bukan?! Kuharap kau menjauh! Dan satu pesanku. Berikan apa yang diminta Pendekar 131! Untuk urusan itu, terpaksa kau harus menentang eyangmu kalau dia tidak memberi izin! Lekas lakukan!”

Perlahan-lahan Pitaloka bergerak bangkit. Tanpa berani memandang pada Nyai Tandak Kembang, gadis saudara kembar Putri Kayangan ini melangkah mendekati Kigali.

“Pitaloka....” Putri Kayangan berbisik dengan suara tersendat dan mata berkaca-kaca. Saat lain dia melompat dan tegak di samping Pitaloka. Karena tak dapat menahan perasaan, begitu injakkan kaki, Putri Kayangan segera memeluk saudaranya. Pitaloka tak bisa membendung rasa haru. Dia segera memeluk Putri Kayangan dan kejap lain kedua gadis ini sama terisak saling berpelukan.

“Kuharap kau memaafkan sikapku tempo hari, Beda...,” bisik Pitaloka dengan bahu berguncang.

“Lupakan semua itu.... Kita harus segera tinggalkan tempat ini bersama bayimu, Pitaloka!”

“Anakku telah mati, Beda.... Lebih dari itu tak pantas rasanya aku bersamamu lagi! Kau kini tahu siapa diriku. Benar kata Eyang. Manusia sepertiku tak layak diberi hidup!”

“Mungkin Eyang masih marah hingga berucap begitu! Kau harus mengerti keadaan Eyang saat ini. Dia terkejut dan malu. Apalagi selama ini Eyang tidak percaya dengan ucapan beberapa orang sahabat Pendekar 131....”

“Kau beruntung, Beda.... Tidak seperti aku!”

“Kau tidak boleh berkata begitu, Pitaloka! Semua ini terjadi bukan karena kehendakmu, bukan?!”

“Aku memang bukan gadis baik-baik, Beda.... Tapi aku belum bisa untuk melakukan tindakan di luar batas! Jahanam itu memperkosaku tanpa aku bisa berbuat apa-apa! Dan aku tak akan bisa hidup tenang selamanya sebelum membayar tuntas tindakannya!”

“Kau tak usah berpikir terlalu jauh, Pitaloka! Kau tahu siapa yang akan kau hadapi!”

“Mati pun aku tidak menyesal kalau untuk membayar semua ini!” kata Pitaloka dengan suara bergetar.

“Tidak, Pitaloka! Itu bunuh diri. Dan itu akan membuat Eyang makin kecewa! Percayalah... Eyang pasti dapat mengerti!”

“Kalau Eyang mengerti, pasti dia tak akan menghalangi niatku! Juga niatku untuk memberi izin pada Pendekar 131 mengambil benda merah di pusar anakku!”

Putri Kayangan lepaskan pelukannya. Dia pandangi wajah Pitaloka. “Kuharap kau juga tidak menghalangi niatku meski aku tahu Eyang memerintahmu untuk menjaga anakku!” Pitaloka sambungi ucapannya.

Putri Kayangan melirik pada Nyai Tandak Kembang lalu pada murid Pendeta Sinting.

“Beda Kumala.... Aku tahu bagaimana perasaanmu! Juga bagaimana perasaanmu pada Pendekar 131!”

Paras wajah Putri Kayangan seketika berubah. Dia sudah buka mulut. Tapi Pitaloka mendahului. “Kau tak perlu sembunyikan sesuatu padaku, Beda.... Sejak pertemuan kita tempo hari, aku sudah bisa membaca perasaanmu pada pemuda itu! Kau memang pantas. Untuk itulah aku minta padamu jangan halangi niatku! Ini juga demi kau! Kau tak ingin pemuda itu menghadapi rintangan besar, bukan?!”

Putri Kayangan tak bisa menjawab. Sebaliknya langsung memeluk kembali tubuh Pitaloka karena harus mendengar ucapan saudara kembarnya. “Pitaloka... Sebenarnya aku tadi enggan untuk melakukan perintah Eyang. Tapi kau tahu sendiri. Dalam keadaan seperti saat ini, aku serba salah....”

“Beda.... Serahkan semua itu padaku! Aku yang akan menghadapi Eyang....”

Habis berucap begitu, Pitaloka lepaskan pelukan saudara kembarnya. Dia tabahkan hati dan beranikan diri memandang pada Nyai Tandak Kembang yang sedari tadi terus perhatikan kedua cucunya. Namun sebelum Pitaloka sempat berucap sesuatu, tiba-tiba di depan sana Lingga Buana buka takupan kedua tangannya. Kejap lain kedua tangannya membuka dan didorong ke arah Umbu Kakani.

“Singkirkan bayi itu!” teriak Umbu Kakani. Saat bersamaan perempuan berambut putih awut-awutan ini sentakkan pantatnya ke lantai di mana dia duduk. Sosoknya melesat ke udara. Tanpa membuat gerakan jungkir balik, di atas udara kembali dia sentakkan tubuhnya. Kini sosoknya melesat ke depan dengan jungkir balik berputar-putar.

Wusss! Wusss!

Gelombang kabut tipis yang mencuat dari dorongan kedua tangan Lingga Buana melesat ganas tiga jengkal di bawah sosok Umbu Kakani. Lalu melaju lurus ke tempat di mana tadi Umbu Kakani duduk. Karena Umbu Kakani telah melesat, gelombang kabut putih tipis menghantam tempat kosong dan terus melabrak ke depan. Di depan sana tampak tumpukan jerami di mana bayi Pitaloka tergolek.

Kigali, Nyai Tandak Kembang, murid Pendeta Sinting sudah hendak berkelebat selamatkan si bayi. Namun sebelum ketiga orang ini bergerak, Pitaloka yang berada paling dekat dengan si bayi langsung bergerak menyambar anaknya dan melompat ke arah Pendekar 131. Sementara di sebelah depan, sosok Umbu Kakani terus jungkir balik mendekati Lingga Buana. Empat langkah lagi sampai, mendadak Umbu Kakani hentikan jungkir baliknya. Kini dia membelakangi Lingga Buana dalam posisi setengah menungging. Sementara sosoknya makin cepat melesat! Lingga Buana sempat terkesima. Saat lain tiba-tiba kedua tangannya dikelebatkan seraya melompat menyongsong sosok Umbu Kakani.

Bukkk! Bukkk!

Kedua tangan Lingga Buana menghantam tepat pantat Umbu Kakani. Sosok Umbu Kakani terhenti dan mental di udara satu tombak ke belakang. Namun Lingga Buana terlengak. Kedua tangannya yang menghantam pantat Umbu Kakani tadi telah dialiri tenaga dalam tinggi. Sosok Umbu Kakani memang terpental. Namun bukannya langsung jatuh terjerembab dengan pantat hancur, melainkan terpental ke belakang lalu melayang turun perlahan-lahan dan saat lain telah duduk di seberang depan dengan bibir sunggingkan senyum!

Bukan hanya itu saja, kedua tangan Lingga Buana sempat mencelat balik begitu menghantam pantat Umbu Kakani. Sosoknya pun terjajar dua langkah. Kedua tangannya bergetar keras. Dia merasakan baru saja menghantam bongkahan batu keras! Bersamaan dengan terdengarnya benturan kedua tangan Lingga Buana dengan pantat Umbu Kakani, di depan sana terdengar ledakan menggelegar. Kepingan batu tampak bertabur ke udara dengan disemburati jerami yang telah hancur lebur!

Putri Kayangan dan Kigali yang tadi tegak di sebelah tumpukan jerami telah melompat dan tegak menjauh sebelum pukulan Lingga Buana menghantam tumpukan jerami. Sementara itu melihat Pitaloka menyambar anaknya dan melompat ke arahnya, murid Pendeta Sinting buru-buru menyongsong. Nyai Tandak Kembang sudah berteriak. Namun sebelum suara teriakannya terdengar, mendadak Malaikat Berkabung sudah sentakkan kedua tangannya ke arah Pendekar 131!

“Pendekar 131! Awas!” Pitaloka berseru lalu cepat-cepat belokkan lompatan. Bayi di tangannya didekap erat-erat.

Murid Pendeta Sinting urungkan niat menyongsong Pitaloka. Dia cepat putar diri. Saat lain kedua tangannya sudah bergerak lepaskan pukulan.

Wuutt! Wuutt! Blammm! Blammm!

Dua gelegar beruntun segera terdengar begitu pukulan Malaikat Berkabung dihadang pukulan murid Pendeta Sinting. Kedua pemuda ini sama tersurut satu tindak. Malaikat Berkabung kertakkan rahang. Kejap lain kedua tangannya dibuka lalu diangkat di depan wajah dengan jari tengah saling ditemukan. Karena sudah tahu apa yang akan dilakukan Malaikat Berkabung, Joko cepat pula kerahkan tenaga dalam siapkan pukulan ‘Lembur Kuning’.

“Pitaloka! Bergabunglah dengan Putri Kayangan dan kakek itu!” teriak Pendekar 131 seraya angkat kedua tangannya. Saat itu kedua tangannya telah disemburati sinar berwarna kuning. Tanda dia siap lepaskan pu- kulan ‘Lembur Kuning’.

Pitaloka tak pikir panjang. Dia segera melompat lagi ke arah Putri Kayangan dan Kigali yang tegak tidak berjauhan. Bersamaan itu tiba-tiba Malaikat Berkabung sudah dorong kedua tangannya. Murid Pendeta Sinting tidak menunggu. Kedua tangannya segera pula didorong. Dari kedua tangan Malaikat Berkabung melesat kabut hitam tipis. Di seberang, terdengar deruan gelombang dahsyat yang disertai semburatnya sinar kuning dengan membawa hawa panas luar biasa.

Bummmm!

Ruangan di bawah Lembah Patah Hati laksana dilanda gempa luar biasa. Malah bibir lobang masuk ke ruangan langsung terbongkar dan longsor! Sosok Malaikat Berkabung dan murid Pendeta Sinting sama terpental ke belakang. Malaikat Berkabung terhuyung dan jatuh terduduk tepat di bawah lobang masuk yang baru saja longsor. Di lain pihak, sosok murid Pendeta Sinting juga terhuyung tapi tak tampak terjatuh meski kedua lututnya sempat menekuk.

Malaikat Berkabung pentangkan mata. Lalu bergerak bangkit. Namun baru saja tegak, tubuh bagian atasnya tertekuk sedikit ke depan. Mulutnya mengembung. Kejap lain mulutnya semburkan darah! Tanda pemuda ini telah terluka dalam cukup parah. Murid Pendeta Sinting pun ternyata bukan tidak mengalami luka dalam akibat bentroknya pukulan. Karena begitu dia kerahkan tenaga dalam kembali, dadanya terasa sesak. Saat tangan kanannya diangkat ke mulut dan ditarik pulang, punggung tangannya telah terpercik darah!

Rupanya Lingga Buana sadar akan keadaan Malaikat Berkabung hingga dia urungkan niat yang hendak lepaskan pukulan lagi ke arah Umbu Kakani. Kakek berambut putih jabrik ini berpaling pada muridnya, lalu berkata. “Jurus ‘Jalur Bertangga’!”

Malaikat Berkabung mengerti maksud gurunya. Saat itu juga dia melompat ke arah Lingga Buana. Namun belum sampai bergerak, ruangan itu dibuncah bau tak sedap! Belum sampai tahu apa sebabnya, dari lobang yang sebagian telah longsor mengucur air berwarna kekuningan dan langsung mengguyur Malaikat Berkabung!

Malaikat Berkabung memaki tak karuan begitu maklum air apa yang telah mengguyur tubuhnya. Dia batalkan niat melompat, sebaliknya dengan dada didera kemarahan luar biasa, kedua tangannya segera me- nyentak ke atas. Namun belum sampai pemuda itu sempat sentakkan kedua tangannya, dari lobang di atas sana meluncur deras dua benda.

Prakk! Prakk!

Malaikat Berkabung hantam kedua benda yang meluncur ke arahnya hingga kedua benda yang ternyata dua buah bumbung bambu pecah berantakan. Namun Malaikat Berkabung makin kalap ketika begitu bumbung bambu pecah, saat itu juga muncrat lagi cairan tak sedap mengguyur tubuhnya! Saat bersamaan, terdengar suara gelakan tawa bertalu-talu yang diseling dengan suara bersinan berulang kali lalu ditingkah dengan suara Uuukk! Uuukk! Ukkk!

Malaikat Berkabung usap wajahnya yang basah kuyup dengan menahan napas dan mata terpejam. Paras pemuda itu tidak bisa lagi dibayangkan. Sosoknya bergetar keras, rahangnya terangkat. Begitu matanya terbuka langsung terpentang besar. Namun karena khawatir masih ada air kencing yang akan mengguyur, dia tidak berani tengadah, sebaliknya melompat dengan kedua tangan terangkat dan jari tengah saling ditemukan.

“Jahanam-jahanam itu harus kita hancurkan dahulu!” kata Malaikat Berkabung. Walau dia tidak menghadap Lingga Buana, namun si kakek dapat menangkap maksud ucapan Malaikat Berkabung. Hingga saat itu juga dia melompat dan langsung tegak di belakang Malaikat Berkabung dengan kedua tangan ditempelkan di punggungnya.

Mendadak suara buncahan gelakan tawa diatas sana putus. Saat lain dari lobang muncul satu sosok tubuh. Orang ini melayang turun dengan posisi tengkurap! Dia adalah seorang nenek mengenakan pakaian atas berupa baju tanpa lengan dan cingkrang. Pakaian bawahnya berupa celana pendek di atas lutut berwarna merah. Rambutnya yang putih dikelabang dua. Bagian depannya diponi. Wajahnya dibedaki tebal dan bibirnya dipoles merah menyala. Nenek ini tidak lain adalah Dayang Sepuh.

Dayang Sepuh melayang turun perlahan-lahan. Ternyata dia tidak sendirian. Begitu sosok si nenek terlihat, di atasnya telah terlihat pula satu sosok tubuh melayang dengan posisi tengkurap pula. Malah kedua tangannya ditempelkan pada punggung Dayang Sepuh. Dia adalah seorang perempuan berusia lanjut mengenakan pakaian agak gombrong. Wajahnya tidak begitu jelas karena selain tertutup sebagian rambutnya, juga terlindungi kerudung hitam panjang yang ada di atas kepalanya. Nenek ini bukan lain adalah Dewi Ayu Lambada.

Dewi Ayu Lambada melayang dengan pantat di- goyang-goyangkan. Dan ternyata dia tidak bergoyang sendirian. Begitu sosok Dewi Ayu Lambada terlihat, di atasnya muncul lagi satu sosok tubuh. Orang yang muncul di atas Dewi Ayu Lambada bukannya dalam posisi tengkurap, tapi telentang dengan kedua kaki sedikit dijungkatkan ke atas hingga pantatnya mencuat ke bawah. Pantat orang ini ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada dan ikut digoyang-goyang!

Dia adalah seorang kakek berwajah tirus panjang. Kakek ini tidak memiliki leher dan mulutnya menganga lebar seolah ingin perlihatkan giginya yang ompong. Dia tidak lain memang adalah tokoh rimba persilatan yang dikenal dengan IblisOmpong.

Di atas sosok Iblis Ompong, ternyata masih muncul lagi satu sosok tubuh. Orang ini melayang turun dengan duduk mencangklong di atas kedua kaki Iblis Ompong yang terjungkat ke atas. Dia adalah seorang kakek berpakaian agak lusuh. Kedua tangannya tampak ditadangkan di belakang kedua telinganya! Dia bukan lain adalah tokoh bisu dan tuli yang berjuluk Dewa Uuk.

Dayang Sepuh yang berada di bawah tiba-tiba membuat gerakan jungkir balik satu kali lalu tegak di atas lantai ruangan dengan kedua tangan merangkap di depan dada. Sepasang matanya dipicingkan memandang pada Malaikat Berkabung. Di belakang Dayang Sepuh, Dewi Ayu Lambada membuat gerakan jungkir balik pula. Lalu tegak di belakang Dayang Sepuh dengan kedua tangan menempel di punggung nenek bercelana pendek merah itu.

Iblis Ompong tidak tinggal diam. Tanpa memberi tahu Dewa Uuk yang duduk di atas kedua kakinya, dia membuat gerakan jungkir balik. Dewa Uuk terkesiap kaget. Sosoknya langsung terpental ke atas. Sementara Iblis Ompong terus melayang turun dan tegak membelakang di belakang Dewi Ayu Lambada. Sesaat kakek ompong ini tengadahkan sedikit kepalanya dengan mulut dibuka lebar-lebar. Saat lain dia bungkukkan tubuh. Pantatnya ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada yang terus bergerak-gerak.

Begitu pantat Iblis Ompong menempel pada pantat Dewi Ayu Lambada, tiba-tiba sosok Dewa Uuk melayang jatuh dan langsung duduk di hadapan Iblis Ompong dengan kedua tangan tetap ditadangkan di belakang telinganya. Iblis Ompong sendiri segera gerakkan kedua tangannya dan diletakkan di atas pundak kanan kiri Dewa Uuk yang duduk dihadapannya.

Dayang Sepuh buka rangkapan kedua tangannya. Bukannya untuk apa, melainkan rapikan poni di depan keningnya. Sementara tangan satunya kibas-kibaskan kelabangan rambutnya. Dewi Ayu Lambada tarik pulang kedua tangannya yang menempel di punggung Dayang Sepuh lalu rapikan kerudung hitamnya yang menjulai panjang sampai depan perutnya. Saat kemudian nenek berkerudung hitam ini kembang-kempiskan hidung, kepalanya bergerak ke kanan kiri lalu ke bawah. Tiba-tiba nenek ini melonjak berjingkrak-jingkrak.

“Sialan! Kepalaku.... Eh, kakiku menginjak air surga itu!” serunya.

Dayang Sepuh terkejut. Tanpa sadar dia gerakkan kepalanya memandang ke bawah. “Setan! Kakiku juga menginjak air setan itu!” teriaknya lalu ikut berjingkrak-jingkrak! Dan melompat ke samping.

Dewi Ayu Lambada bantingkan kaki sekali lagi lalu ikut melompat dan kembali tegak di belakang Dayang Sepuh dengan kedua tangan sudah menempel di punggung Dayang Sepuh. Iblis Ompong hentikan goyangan pantatnya. Lalu kepalanya ikut-ikutan memandang ke bawah. Dia bergumam tak jelas namun saat itu juga dia tarik pulang kedua tangannya dari pundak Dewa Uuk dan melompat lalu tegak kembali di belakang Dewi Ayu Lambada dengan posisi tetap menungging dan pantat ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada.

Dewa Uuk sesaat bengong. Dia gerakkan kepalanya pandangi ketiga orang yang telah tegak di samping. Seolah belum mengerti apa yang terjadi, kakek bisu dan tuli ini arahkan telunjuknya pada ketiga orang temannya lalu buka mulut.

“Uuukkk! Uuukk! Uuuukkk!” Kepalanya bergerak-gerak ke depan ke belakang memberi isyarat minta keterangan ada apa.

Dayang Sepuh berpaling. “Dasar setan budek! Apa dia tidak merasa kalau celananya basah?!” gumamnya seraya perhatikan pakaian bagian bawah Dewa Uuk.

“Setan itu adikmu, bukan?!” ujar Dayang Sepuh pada Dewi Ayu Lambada. “Kau tentu bisa memberi isyarat bagaimana menerangkan kalau celana bawahnya sudah basah terkena air kencing dua setan tua di atas sana tadi!”

“Dia memang adikku!” kata Dewi Ayu Lambada. “Tapi aku sendiri tak tahu bagaimana isyarat ucapanmu tadi! Kau saja yang memberi isyarat! Lagi pula dia kurang percaya kalau aku yang memberi tahu!”

“Setan Uuk!” teriak Dayang Sepuh. “Cepat pindah dari tempat itu! Lihat celanamu sudah basah terkena air setan!”

Dewa Uuk tadangkan kembali kedua tangan di be- lakang kedua telinganya. Namun agaknya dia belum bisa mendengar ucapan Dayang Sepuh. Karena tangan kanannya bergerak-gerak membuka menutup memberi isyarat agar Dayang Sepuh perkeras suaranya.

“Mana dia mengerti air setan! Katakan saja air kencing!” kata Dewi Ayu Lambada.

Karena sudah agak jengkel, Dayang Sepuh tidak buka suara lagi. Melainkan memberi isyarat dengan menunjuk bagian bawah tubuh Dewa Uuk yang tengah duduk. Dewa Uuk terkesiap kaget. Kedua tangannya cepat ditarik dan menakup ke bagian bawah tubuhnya tepat di pangkal paha, karena tempat itu yang tadi ditunjuk-tunjuk oleh tangan Dayang Sepuh.

“Uuukk! Uuukk! Uuukkk!” Dewa Uuk buka mulut dengan kepala menggeleng-geleng. Kedua tangannya makin erat menakup selangkangannya.

“Dasar tolol!” maki Dayang Sepuh. Lalu berteriak keras. “Burung setanmu tidak apa-apa! Tapi lihat tempatnya burung setanmu itu!”

Dewa Uuk tersenyum lega. Lalu menunduk dan melihat bagian bawah. Kakek ini sesaat kerutkan dahi tatkala merasakan kedua tangannya basah. Perlahan-lahan dia tarik kedua tangannya lalu diangkat ke depan hidungnya. Hidungnya kembang-kempis sejenak. Saat lain dikibas-kibaskan dan serentak bergerak bangkit.

“Uuukkk! Uuukkk! Uuukkk!” Dewa Uuk buka mulut seraya menunjuk-nunjuk ke lobang lalu salah satu tangannya diletakkan di bawah perutnya dengan mengepal dan jari telunjuk mencuat!

Dayang Sepuh tertawa terbahak. Dewi Ayu Lambada tertawa tertahan-tahan. Iblis Ompong buka mulutnya makin lebar tanpa perdengarkan suara.

“Uuukk! Uuukkk! Uuukkk!” Kembali Dewa Uuk bu-lka mulut lalu melompat dengan tangan kiri kibas-kibaskan pakaian di bagian pantatnya.

Dayang Sepuh dan Dewi Ayu Lambada putuskan tawa masing-masing. Iblis Ompong cepat takupkanbmulutnya rapat-rapat dengan mata dipejamkan. Saat kemudian ketiga orang ini berlompatan semburat. Karena dari pakaian bagian bawah Dewa Uuk muncrat percikan air kencing yang tadi diduduki si kakek! Saat itulah, Malaikat Berkabung yang dari tadi perhatikan orang dengan dada bergemuruh, sentakkan kedua tangannya!

TIGA

MESKI tadi sudah terluka dalam akibat bentrok dengan murid Pendeta Sinting, namun karena kali ini Lingga Buana ikut menggebrak dengan salurkan tenaga dalam lewat kedua tangannya yang ditempelkan pada punggung Malaikat Berkabung, maka dari kedua tangan si pemuda bermantel hitam ini melesat dua rangkum gelombang luar biasa dahsyat yang begitu melesat langsung melebar hingga walau saat itu keempat orang di hadapannya sama berpencar, tapi tak satu pun dari mereka yang bisa enak-enakan lolos dari sergapan gelombang.

Dan saat itu juga Malaikat Berkabung rasakan luka dalamnya agak berkurang. Ini karena selain menambah daya pukulan, kedua tangan Lingga Buana juga meredam luka dalam yang dialami Malaikat Berkabung.

Dayang Sepuh, Dewi Ayu Lambada, Iblis Ompong, dan Dewa Uuk sama terkejut dan mata masing-masing orang terpentang besar-besar saling pandang satu sama lain. Karena tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk melompat dan bergabung, maka akhirnya masing-masing orang terpaksa menghadang pukulan yang datang dengan sendiri-sendiri.

Dayang Sepuh takupkan kedua tangan di depan wajah. Lalu dibuka dan disentakkan ke depan. Dewi Ayu Lambada angkat kedua tangannya lalu seraya goyangkan pantat dia menghadang dengan mendorong kedua tangannya. Iblis Ompong cepat balikkan tubuh, kedua tangannya segera disentakkan ke belakang dari bawah pinggangnya. Dewa Uuk gerakkan kedua tangannya kibaskan pakaiannya yang basah.

Tempat itu seketika dibuncah deruan-deruan dahsyat yang melesat dari kedua tangan Dayang Sepuh dan Dewi Ayu Lambada. Disusul dengan mencuatnya dua bongkahan awan dari kedua tangan Iblis Ompong yang makin lama makin besar dan bergerak naik turun. Lalu ditingkah dengan sapuan-sapuan dahsyat yang dibarengi muncratnya percikan air dari kibasan kedua tangan Dewa Uuk.

Bummm! Bummm! Bummm!

Ruangan di bawah Lembah Patah Hati bergetar hebat. Gelombang angin bertenaga dalam tinggi yang saling bentrok timbulkan gelegar dahsyat lalu sama ambyar. Bongkahan awan dari kedua tangan Iblis Om- pong pecah berantakan. Percikan air dari kibasan kedua tangan Dewa Uuk langsung amblas menguap laksana embun terkena sinar matahari!

Sosok Malaikat Berkabung dan Lingga Buana terdorong deras ke belakang dan jatuh bertindihan. Dari mulut Malaikat Berkabung kembali kucurkan darah. Lingga Buana sendiri tampak berubah paras. Dia merasakan mulutnya asin. Tapi karena tak mau diketahui kalau dirinya terluka dalam dan kucurkan darah dari mulut, kakek ini cepat katupkan mulut rapat-rapat dan salurkan tenaga dalam. Saat lain dia sentakkan kedua tangannya lalu bergerak bangkit. Tangan kirinya dijulurkan pada Malaikat Berkabung untuk menolong si pemuda berdiri.

Di seberang sana, sosok Dayang Sepuh terjajar lima langkah. Sosoknya melengkung karena kedua kakinya tertekuk. Namun sejengkal lagi pantatnya menyentuh lantai, tiba-tiba kedua lututnya yang telah berada di lantai bergerak menghentak. Saat itu juga sosok Dayang Sepuh melenting ke atas lalu melayang turun dan tegak kokoh di atas lantai dengan bibir sunggingkan senyum. Tangan kanan kirinya terangkat lalu rapikan geraian poni rambutnya!

Dewi Ayu Lambada juga tampak terpental ke belakang saat terdengar gelegar. Nenek berpakaian agak gombrong yang juga adalah kakak kandung Dewa Uuk ini sesaat perdengarkan seruan tertahan ketika tubuhnya hendak jatuh terjerembab di atas lantai. Namun dua jengkal lagi sosoknya menghantam lantai, seruannya terputus. Kejap lain terdengar suara Beett! Betttt! Satu benda panjang hitam melesat dan tegak di atas si nenek.

Dewi Ayu Lambada tertawa, lalu perlahan-lahan sosoknya merambat naik melalui benda hitam panjang yang tegak mengapung ternyata adalah kerudung hitam si nenek! Hebatnya meski kerudung hitam itu terbuat dari kain, namun tidak melengkung saat sosok Dewi Ayu Lambada merambat naik! Bahkan hingga si nenek sampai di ujung bagian atas kerudung!

Iblis Ompong yang sosoknya juga mental ke depan begitu terdengar gelegar, segera julurkan kedua tangannya. Lalu bagian atas tubuhnya ditekuk. Saat lain sosoknya terhenti dengan kedua tangan di atas lantai menopang tubuhnya dalam posisi menungging dan perhatikan Malaikat Berkabung serta Lingga Buana dari sela kedua kakinya yang direnggangkan lebar-lebar!

Dewa Uuk tak luput dari bias bentroknya beberapa pukulan hingga sosoknya juga terpelanting ke belakang malah tampak terbanting di udara! Lalu melayang jatuh ke bawah. Entah karena tidak dapat kuasai diri, Dewa Uuk tidak membuat gerakan apa-apa untuk menahan tubuhnya dari benturan dengan lantai hingga sosoknya terusbmelayang deras menghantam lantai!

“Sialan! Apa dia sudah ingin mampus?!” seru Dewi Ayu Lambada dari atas kerudung hitamnya. Sepasang matanya mendelik besar mengawasi sosok Dewa Uuk. Dan begitu dilihatnya Dewa Uuk tidak berbuat apa- apa, seraya mengomel panjang pendek, si nenek gerakkan tangan kanan.

"Beeett!" Ujung bagian bawah kerudung hitam berkelebat. Sosok Dewi Ayu Lambada yang berada di bagian atas ikut melayang mengikuti kelebatan ujung bawah kerudung hitam yang melesat ke arah sosok Dewa Uuk. Satu jengkal lagi sosok Dewa Uuk menghantam lantai, tiba-tiba ujung bawah kerudung hitam menyambar. Saat lain sosok Dewa Uuk terangkat ke udara dengan kedua ketiak telah terlilit kerudung hitam. Dewi Ayu Lambada membuat satu kali gerakan lagi. Sosoknya yang berada di atas kerudung melesat ke arah Iblis Ompong. Sosok Dewa Uuk ikut pula melayang.

"Plukkk!" Tepat berada di atas tubuh Iblis Ompong yang menungging, Dewi Ayu Lambada sentakkan kerudung hitamnya. Sosok Dewa Uuk terlepas dan jatuh terduduk tepat di atas punggung Iblis Ompong! Sesaat Iblis Ompong hanya senyum-senyum. Sementara Dewa Uuk telengkan kepala ke samping kiri kanan lalu ke atas melihat sosok Dewi Ayu Lambada. Kepalanya digerakkan pulang balik ke depan ke belakang dengan kedua tangan menakup di depan dada memberi isyarat berterima kasih.

“Sialan! Bau apa ini? Dan punggungku terasa basah!” Tiba-tiba Iblis Ompong bergumam. Lalu tarik kepalanya dan dipalingkan ke atas punggungnya. “Sialan! Sialan!”

Kembali Iblis Ompong memaki ketika mendapati sosok Dewa Uuk nongkrong di atas punggungnya. “Pakaian dan punggungku terkena pakaiannya yang basah air kencing!”

Karena tidak mendengar gumaman Iblis Ompong, Dewa Uuk masih enak-enakan saja duduk di atas punggung Iblis Ompong. Iblis Ompong tekuk kedua kakinya. Lalu disentakkan ke atas. Dewa Uuk terkejut mendapati dirinya mencelat ke atas. Namun karena menduga Dewi Ayu Lambada akan menolongnya lagi, dia tidak berusaha membuat gerakan apa-apa meski sosoknya telah melayang kembali ke bawah. Lagi pula dia masih mengira jika jatuhnya akan di atas punggung orang.

Dia tidak tahu, kalau bersamaan dengan mencelatnya sosok Dewa Uuk, Iblis Ompong melompat ke samping dan kembali menungging berjarak lima langkah dari tempatnya semula. Kesadaran Dewa Uuk baru muncul tatkala dia tidak merasakan kelebatan kerudung Dewi Ayu Lambada dan empuknya punggung orang meski sosoknya sudah setengah depa lagi dari lantai. Kakek ini segera membuat gerakan. Namun terlambat.

"Bukkk!" Dewa Uuk jatuh terduduk di atas lantai dengan pantat menghantam keras ke lantai di bawahnya. Kakek ini berseru. Namun yang terdengar adalah suara Uukkk! Uukkk! Uuukk! berulang kali.

“Setan-setan!” teriak Dayang Sepuh. “Mengapa kalian masih juga bergurau! Lihat ke depan!”

Dewi Ayu Lambada turuti ucapan Dayang Sepuh. Iblis Ompong melihat melalui sela kedua kakinya. Hanya Dewa Uuk yang telengkan kepala ke kanan kiri karena tidak mendengar seruan Dayang Sepuh. Di depan sana, ternyata Malaikat Berkabung dan Lingga Buana telah tegak dengan Malaikat Berkabung di depan dan Lingga Buana di belakangnya. Kedua tangan Lingga Buana telah menempel kembali pada punggung muridnya. Sementara kedua tangan Malaikat Berkabung telah terbuka dengan jari tengah saling ditemukan dan siap lepaskan pukulan!

Dayang Sepuh segera memberi isyarat. Dewi Ayu Lambada berkelebat lalu melayang turun dan tegak di belakang Dayang Sepuh. Sesaat dia tekuk kerudung hitamnya lalu dikenakan di atas kepalanya. Iblis Ompong terbengong sesaat, lalu melompat dan menungging di belakang Dewi Ayu Lambada dengan pantat ditempelkan pada pantat si nenek yang sudah mulai bergerak bergoyang-goyang.

Melihat ketiga temannya tegak berbaris, Dewa Uuk mengerti. Dia cepat berkelebat masih dengan posisi duduk dan duduk ongkang-ongkang di hadapan Iblis Ompong. Namun begitu duduk, Dewa Uuk segera kerutkan dahi. Tangan kirinya ditarik ke atas lalu pencet hidungnya. Tangan kanan menunjuk-nunjuk pada Iblis Ompong.

“Sialan! Kau yang bau kencing! Bukan aku!” bentak Iblis Ompong. Lalu angkat sebelah tangannya untuk menutup hidungnya. Namun karena mulutnya terbuka lebar, mau tak mau hidungnya tidak bisa tertutup rapat. Hingga dia kembali memaki-maki Dewa Uuk! Sementara di hadapannya, Dewa Uuk terus tunjuk- tunjuk Iblis Ompong seraya tertawa bergelak-gelak!

Di belakang Iblis Ompong, mendadak Dewi Ayu Lambada hentikan goyangan pantatnya. Hidungnya kembang-kempis. “Astaga! Bukankah punggung manusia ompong tadi terkena air kencing?!” gumam Dewi Ayu Lambada. “Jangan-jangan pantatku sudah basah pula!” Khawatir akan hal itu, Dewi Ayu Lambada segera berpaling ke belakang.

Namun belum sampai kepalanya bergerak, Dayang Sepuh sudah membentak. “Apa kalian ingin mampus?! Cepat salurkan tenaga setan kalian!”

Dewi Ayu Lambada batalkan niat berpaling. Dia cepat salurkan tenaga dalam melalui kedua tangannya yang ditempelkan pada punggung Dayang Sepuh. Iblis Ompong segera pula salurkan tenaga dalam melalui pantatnya yang ditempelkan pada pantat Dewi Ayu Lambada. Di belakang sendiri, Dewa Uuk segera pegangi kedua tangan Iblis Ompong lalu salurkan tenaga dalam.

Di seberang depan, Malaikat Berkabung dan Lingga Buana sudah pejamkan mata masing-masing. Sosok keduanya bergetar. Tanda kali ini kedua guru dan murid ini kerahkan hampir seluruh tenaga dalam mereka. Namun belum sampai tangan Malaikat Berkabung bergerak lepaskan pukulan dengan tenaga dalam berantai, Umbu Kakani yang dari tadi melihat tingkah empat orang di depan sana dengan senyum-senyum, perdengarkan suara keras.

“Lingga Buana! Kedatanganmu bukan untuk mereka! Aku pun tak menginginkan nyawamu putus dengan tangan orang lain!”

Mungkin khawatir Lingga Buana dan Malaikat Berkabung tidak hiraukan bentakannya dan teruskan lepas pukulan ke arah empat orang di seberang sana, Umbu Kakani gerakkan bagian atas tubuhnya lalu didorong kedepan.

"Beettt!" Satu gelombang angin menggebrak ganas ke arah Lingga Buana yang tegak di belakang Malaikat Berkabung. Lingga Buana terkesiap. Kalau dia teruskan salurkan tenaga dalam pada Malaikat Berkabung dan memaksakan diri agar Malaikat Berkabung melepas pukulan, maka tak ampun lagi sosoknya akan terhantam gelombang dahsyat yang datang dari arah belakang.

Berpikir sampai ke sana, dengan kertakkan rahang Lingga Buana tarik pulang kedua tangannya dari punggung Malaikat Berkabung. Lalu mendorong sosok Malaikat Berkabung ke samping untuk selamatkan si murid dari gempuran gelombang. Malaikat Berkabung terdorong ke samping. Bersamaan dengan itu Lingga Buana balikkan tubuh lalu sentakkan kedua tangannya.

"Brakkk!" Gelombang dahsyat yang datang langsung porak-poranda. Sosok Umbu Kakani tampak bergoyang-goyang. Sosok Lingga Buana sendiri tampak bergetar keras walau tidak bergeming dari tempatnya. Saking marahnya, Lingga Buana cepat melompat ke depan. Umbu Kakani tidak mau berdiam diri. Dia cepat pula melesat ke depan dengan posisi tetap duduk dan hentikan lesatannya lima langkah di hadapan Lingga Buana!

“Nenek itu benar-benar nekat!” gumam Pendekar 131 dari tempatnya tegak. Namun kekhawatirannya sedikit sirna tatkala tadi sudah tahu bagaimana Umbu Kakani sanggup menghadang pukulan kedua tangan Lingga Buana dengan pantatnya.

“Aku tak boleh sia-siakan kesempatan ini!” kata Joko dalam hati lalu melirik pada Pitaloka yang makin erat mendekap anaknya dan tegak berdampingan dengan Kigali dan Putri Kayangan. Saat lain dia arahkan pandang matanya pada Malaikat Berkabung. Dia mengukur jarak. Lalu menunggu Umbu Kakani dan Lingga Buana.

Lingga Buana menatap tajam pada Umbu Kakani. Umbu Kakani sendiri balas hujamkan sepasang matanya pada sosok Lingga Buana, laki-laki yang pernah dicintai yang pada akhirnya berkhianat bahkan membunuh gurunya!

“Aku menyesal tak membunuhnya saat itu! Tapi tanpa dirinya, bayi itu tak akan lahir di sini! Lagi pula apa yang perlu ditakutkan?! Aku punya kedua tangan dan kaki juga kekuatan! Dia punya tangan dan kaki tapi tak bisa digunakan!” kata Lingga Buana dalam hati lalu lipat gandakan tenaga dalam pada kedua tangannya.

“Sebelum kubayar nyawa Guru, ada sesuatu yang ingin kau katakan?!” Berkata Umbu Kakani sambil alihkan pandang matanya ke jurusan lain.

“Karena kau akan menyusul gurumu, aku titip salam padanya!” ujar Lingga Buana sambil tertawa pendek. Saat lain laki-laki berambut putih jabrik ini telah menyergap ke arah Umbu Kakani dengan kedua tangan berkelebat ke arah kepala dan dada.

Umbu Kakani hentakkan pantat. Sosoknya menyongsong kelebatan kedua tangan Lingga Buana. Hebatnya dia tidak berusaha mengelakkan dadanya dari hantaman tangan orang. Dia hanya sentakkan kepalanya menghindar lalu kepalanya didorong menerabas di antara kedua tangan Lingga Buana.

Bukkk! Bukkk!

Kepala Umbu Kakani menghantam deras dada Lingga Buana. Saat bersamaan tangan kanan Lingga Buana menggebrak dada Umbu Kakani. Hingga terdengar dua kali benturan keras. Sosok Umbu Kakani mencelat ke belakang dan melayang jatuh bergulingan. Di lain pihak, Lingga Buana terpental dan terhuyung-huyung namun segera dapat kuasai diri meski dari mulutnya kucurkan darah.

Kalau saja seandainya Lingga Buana tadi tidak terluka akibat bentrok pukulan dengan rombongan Dayang Sepuh, mungkin saja kakek berambut putih jabrik ini masih bisa tahan kucuran darah dari mulutnya. Tapi karena tadi sudah terluka dalam walau tidak terlalu parah, begitu dadanya terhantam kepala Umbu Kakani yang ternyata telah melatih diri selama bertahun-tahun, akhirnya Lingga Buana tidak bisa lagi menahan kucuran darahnya.

Di seberang sana, begitu sosok Umbu Kakani bergerak duduk, perempuan ini sudah semburkan darah dari mulutnya. Namun perempuan ini tampaknya sudah memperhitungkan segalanya. Hingga dia tidak lagi pedulikan luka dalam yang didera. Begitu duduk dia cepat kerahkan tenaga dalam pada dadanya. Selama berada di ruangan bawah Lembah Patah Hati, perempuan ini memang sengaja melatih dada dan kepalanya, karena anggota tubuh lainnya tidak bisa digunakan lagi meski masih utuh. Ini karena racun yang diberikan Lingga Buana pada beberapa puluh tahun silam.

EMPAT

DI TEMPAT lain, begitu Lingga Buana tadi berkelebat ke arah Umbu Kakani dan Umbu Kakani menyongsong, Pendekar 131 segera melesat ke arah Pitaloka.

"Pitaloka! Harap kau mengerti apa maksudku. Waktu kita tidak banyak!” kata Joko seraya arahkan pandangannya pada Nyai Tandak Kembang.

Pitaloka anggukkan kepala. Kedua tangannya yang mendekap erat anaknya segera direnggangkan dan perlahan-lahan disorongkan pada Joko. Joko segera berpaling dan menatap tajam pada pusar bayi di mana terlihat benda bulat sebesar kelereng menempel pada pusarnya.

“Umbu Kakani, kakek itu dan Pitaloka gagal mengambil benda merah itu. Apakah aku sanggup?!”

Sesaat Joko tercenung bimbang. Namun saat lain tangan kanannya segera menjulur ke depan, sementara tangan kiri ikut pula bergerak pegangi bagian pinggang bayi Pitaloka. Dengan tangan gemetar dan dada berdebar, murid Pendeta Sinting mulai menyentuh benda bulat merah di pusar bayi Pitaloka. Namun belum sampai Joko menarik benda merah, satu sosok putih berkelebat dan tegak di samping Pitaloka. Satu tangan menahan gerakan tangankanan Joko. Lalu terdengar suara.

“Kau teruskan maksudmu, berarti kau buat pangkal sengketa denganku!”

Joko angkat kepalanya. Nyai Tandak kembang tegak memandang tak berkesip. Tangan kanan menahan tangan Joko, tangan kiri sedikit terangkat ke atas.

Eyang.... Harap kau percaya pada keteranganku! Manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad dan berbekal Kembang Darah Setan hanya bisa dihadapi dengan benda merah itu!”

“Kalau kau berharap aku percaya, kau juga harus percaya pada ucapanku! Semua ucapanmu hanya dugaan! Mana mungkin senjata sakti bisa dihadapi dengan benda ini?” Kepala Nyai Tandak Kembang berpaling ke arah pusar bayi Pitaloka.

“Pada mulanya kau juga tidak percaya apa yang terjadi pada Pitaloka. Namun apa kenyataannya?! Sekarang apakah kau juga masih mengira keteranganku hanya dugaan? Eyang.... Sebelum Lingga Buana tahu semua ini, sebaiknya....”

“Aku tak peduli dia tahu atau tidak! Yang jelas tak seorang pun kubiarkan mengambil sesuatu dari bayi itu!” Nyai Tandak Kembang menukas.

“Nyai.... Aku bukan mau melibatkan diri. Tapi sebaiknya jangan halangi dia... Kalaupun nanti keterangannya tidak jadi kenyataan, kau sudah tahu bukan siapa orang yang mengambilnya!” Kigali menyahut.

“Eyang...!” Kini Pitaloka beranikan diri angkat bicara. “Selama ini aku telah mengotori rimba persilatan! Hanya dengan serahkan benda ini aku bisa menghapusnya walau itu masih belum cukup!”

“Kau tahu apa, Pitaloka!” bentak Nyai Tandak Kembang. “Kau bukan saja telah mengotori rimba persilatan, tapi kau juga corengkan arang hitam di mukaku! Aku masih ingin buktikan keterangan yang kudengar jika kau memang diperkosa orang! Kalau nantinya keterangan itu dusta, aku tak segan membunuhmu!”

“Eyang... Aku telah berkata apa adanya! Dan kau tak usah tunggu untuk membuktikan! Sekarang juga aku rela kau bunuh! Aku memang telah mencoreng mukamu dan mati rasanya belum cukup untuk menebusnya! Bunuhlah aku sekarang, Eyang.... Aku tak pantas lagi menjadi cucumu! Aku tak layak hidup! Bunuh! Bunuhlah, Eyang....” Pitaloka berkata sambil sesenggukan. Matanya yang berkaca-kaca menatap tajam pada Nyai Tandak Kembang.

Nyai Tandak Kembang tergagu diam beberapa lama. Putri Kayangan yang tegak tidak jauh dari tempat itu tak bisa lagi membendung air mata. Kigali menarik napas panjang lalu berbisik pelan.

“Nyai.... Bukannya aku ingin unjukkan budi. Sebenarnya cucumu itu kutemukan saat hendak bunuh diri dari jurang dalam hutan sana!Kalau ucapannya tidak benar, mana mungkin ada gadis mengandung berusaha bunuh diri?! Pitaloka memang cucumu, namun bukan berarti kau berhak seluruhnya atas bayi Pitaloka! Biarkan dia memutuskan....”

“Eyang....” Putri Kayangan ikut perdengarkan suara dengan tersendat. “Aku sendiri memang mendengar bahwa benda dalam bayi ini yang bisa menghadapi orang di balik Jubah Tanpa Jasad. Orang yang mengatakan itu juga yang memberi keterangan jika Pitaloka kelak akan mengandung....”

Nyai Tandak Kembang masih diam membisu. Perempuan dari lereng Gunung Semeru ini menarik napas dalam-dalam. Entah apa yang dirasakan, yang jelas dadanya bergerak turun naik dengan keras. Saat lain sepasang matanya berkaca-kaca. Dan perlahan-lahan dia lepaskan pegangan tangannya yang menahan tangan Joko. Tangan kirinya pun diluruhkan ke bawah.

“Eyang.... Aku siap kau bunuh. Tapi sebelum aku mati, aku punya pesan. Serahkan bayi ini pada dia!” Pitaloka berkata seraya memandang pada Pendekar 131. “Jangan halangi apa yang akan dilakukannya! Karena hanya itu yang dapat kuberikan sebelum aku mati!”

Pitaloka angkat kedua tangannya yang memegangi bayi. Lalu dengan gemetar disorongkan pada murid Pendeta Sinting. Joko ragu-ragu. Dia melirik pada Nyai Tandak Kembang. Nyai Tandak Kembang tengadahkan kepala. Pipi kanan kirinya telah basah.

“Pendekar 131.... Terimalah pemberian Pitaloka!” ujar Nyai Tandak Kembang.

Joko menghela napas lega. Lalu menerima bayi dari tangan Pitaloka dengan tangan masih gemetar. Entah karena masih belum bisa menahan perasaan, untuk beberapa lama Joko hanya diam tercenung dan memperhatikan Nyai Tandak Kembang.

“Anak muda.... Kesempatanmu hanya sedikit! Lekas kau lakukan apa yang kau inginkan!” Kigali menegur.

Joko tersadar dan cepat dekatkan bayi di tangannya ke dada. Dengan tangan kiri menopang sosok si bayi, tangan kanan Joko bergerak ke arah pusar bayi. Tangan dan dadanya berdebar kala dia teringat kegagalan Umbu Kakani dan Kigali serta Pitaloka untuk mengambil benda merah pada pusar bayi.

“Hilangkan perasaan bimbang dan ragu, Anak Muda!” Kigali kembali berucap melihat keraguan pada sikap Joko. “Kau belum mencobanya! Tiap orang diciptakan punya kelebihan dan kekurangan. Siapa tahu kau punya yang lebih dalam urusan ini!”

Dengan salurkan tenaga dalam pada tangan kanan, Joko mulai menyentuh benda merah di pusar bayi. Lalu menariknya perlahan-lahan. Sesaat pusar bayi tampak terangkat. Kigali, Putri Kayangan, Pitaloka, dan Nyai Tandak Kembang yang telah luruskan kepala menatap bersama dengan wajah tegang dan menahan napas. Saat lain keempat orang ini menghela napas lega tatkala melihat kulit di sekitar pusar bayi yang tadi terangkat telah kembali ke asalnya. Dan benda merah bulat sebesar kelereng itu telah lenyap berpindah ke tangan kanan Pendekar 131.

Kigali segera melangkah maju. “Pendekar 131. Saat Pitaloka mengandung, dia telah memberikan bayi dalam kandungannya padaku. Walau dia sudah tidak bernyawa lagi, izinkan aku untuk menggendong dan menguburkannya....”

Murid Pendeta Sinting memandang pada Pitaloka dan Nyai Tandak Kembang. Di sebelahnya Kigali sudah ulurkan kedua tangannya dengan mata berkaca-kaca. Pitaloka anggukkan kepala. Nyai Tandak Kembang tak kuasa untuk buka mulut. Hingga dia pun hanya memberi isyarat dengan gerakkan kepala mengangguk.

Perlahan-lahan Pendekar 131 Joko Sableng berikan bayi dalam pelukannya pada Kigali yang kemudian mendekapnya. Pitaloka dan Nyai Tandak Kembang tak bisa menahan haru. Kedua perempuan cucu dan nenek ini sama teteskan air mata lalu saling berpelukan. Putri Kayangan yang sejak tadi sudah sesenggukan segera pula merangkul sosok Pitaloka dan Nyai Tandak Kembang.

“Pitaloka.... Beda Kumala.... Kita harus segera tinggalkan tempat ini. Kita kembali ke lereng Gunung Semeru. Hidup di luar lereng Gunung Semeru nyatanya tidak menambah kedamaian! Justru mendatangkan bencana dan malapetaka....” Nyai Tandak Kembang berbisik pada Pitaloka dan Putri Kayangan yang sama merangkul dirinya.

“Eyang.... Kalau kau masih memberiku kesempatan untuk hidup, kuharap Eyang mau menuruti satu permintaanku....” Pitaloka berkata dengan usap air matanya.

“Dari dulu mana aku pernah tidak turuti permintaan kalian berdua?!” sahut Nyai Tandak Kembang lalu perlahan-lahan melepaskan rangkulan Pitaloka dan Putri Kayangan. Memandang sejenak pada kedua cucunya lalu sambung ucapan. “Tapi setelah kejadian ini, aku akan turuti permintaan kalian selain minta untuk turun dari lereng Gunung Semeru....”

Pitaloka dan Putri Kayangan sama terdiam. Namun dada kedua gadis ini dilanda perasaan berlainan. Diam-diam Pitaloka membatin. “Aku sudah bersumpah untuk membalas pada manusia keparat pemakai Jubah Tanpa Jasad! Maksudku tidak akan tercapai kalau Eyang tidak mengizinkan aku turun lereng Gunung Semeru lagi. Hem... Sebelum pulang ke lereng Gunung Semeru, aku harus dapat melakukan maksudku! Apa pun caranya akan kulakukan....”

Kalau Pitaloka membatin begitu, diam-diam Putri Kayangan juga berkata dalam hati. “Kalau Eyang tidak mengizinkan lagi turun lereng Gunung Semeru, berarti aku tidak bisa bertemu dengan....” Putri Kayangan tak lanjutkan kata hatinya. Dia melirik pada murid Pendeta Sinting yang saat itu tengah selinapkan tangan kanan ke balik pakaiannya.

Putri Kayangan menghela napas panjang. “Mungkinkah aku bisa memendam perasaan di lereng Gunung Semeru yang sunyi?! Seandainya aku tidak bertemu dengan Pendekar 131. Mungkin aku senang hidup damai di sana. Tapi kini... Sanggupkah aku melakukannya?”

“Kalian mungkin keberatan dengan ucapanku!” Nyai Tandak Kembang berkata seolah bisa menangkap benak Pitaloka dan Putri Kayangan. “Tapi itu harus kalian lakukan.... Aku tidak mau lagi menerima malapetaka lebih besar! Aku sudah tua... Aku tak ingin akhir usiaku dipenuhi dengan ketegangan apalagi bencana! Kuharap kalian mengerti....”

“Eyang....Aku mengerti!” ujar Pitaloka pelan seraya melirik pada Putri Kayangan. Saat itu Putri Kayangan tengah melirik pada Pendekar 131. “Hemm... Beda Kumala pasti merasa keberatan jika harus berpisah dengan pemuda itu. Ini gara-gara aku....” Pitaloka membatin lalu berkata teruskan ucapannya. “Tapi sebelum kembali ke lereng Gunung Semeru, aku minta waktu pada Eyang! Ada sesuatu yang harus kuselesaikan!”

“Apa pun urusannya, kalau memang ada kita selesaikan bersama-sama!”

Pitaloka gelengkan kepala. “Tidak, Eyang. Ini harus kuselesaikan sendiri!”

Kini ganti Nyai Tandak Kembang yang geleng kepala. “Aku tak ingin kau lakukan sesuatu tanpa kuketahui!”

“Eyang.... Aku telah melakukan kesalahan dan tahu apa akibatnya! Adalah tolol bila aku mengulangi kesalahan yang kedua kalinya! Harap Eyang kali ini percaya padaku!”

“Baik! Tapi katakan dahulu apa yang akan kau lakukan!”

“Eyang.... Untuk yang satu ini biarlah aku sendiri yang tahu.... Percayalah. Bila telah selesai, aku akan segera menyusulmu ke lereng Gunung Semeru. Jika tidak, rasanya aku tak bisa hidup tenang di sana!”

“Pitaloka! Kau akan membalas dendam?!” tanya Nyai Tandak Kembang dapat menebak maksud Pitaloka.

Namun tampaknya Pitaloka maklum jika mengaku terus terang maka Nyai Tandak Kembang akan menghalangi. Seraya gelengkan kepala perlahan dia berucap. “Dendam dalam dadaku memang tidak akan punah sampai aku menutup mata. Tapi adalah bodoh jika aku melakukan hal itu, Eyang! Aku tahu siapa manusia keparat itu. Hanya buang-buang nyawa jika aku melawannya! Lebih-lebih lagi kurasa Pendekar 131 tidak akan tinggal diam....”

Nyai Tandak Kembang kerutkan dahi coba menduga-duga apa maksud sebenarnya Pitaloka. “Kau punya seorang kekasih?!”

Pitaloka tersenyum datar. Namun justru paras Putri Kayangan yang berubah. Dada gadis ini berdebar dan alihkan pandangannya seraya menunggu jawaban Pitaloka. “Eyang.... Seandainya pun aku punya seorang kekasih, aku tak pantas lagi untuk menemuinya! Aku sadar siapa diriku sekarang. Bahkan mungkin aku sudah tak ingin lagi punya pendamping sampai akhir usiaku nanti....”

Nyai Tandak Kembang merasa trenyuh mendengar ucapan Pitaloka. Dia menarik napas panjang. Lalu berucap pelan. “Pitaloka.... Aku mengerti perasaanmu. Tapi kuharap kau mau berterus terang padaku. Aku tak ingin menantimu dengan perasaan cemas dan khawatir!”

“Eyang.... Kau tak perlu khawatir. Atau kalau kau belum percaya padaku, izinkan Beda Kumala untuk pergi bersamaku....”

Beda Kumala alias Putri Kayangan terkejut. Nyai Tandak Kembang berpikir sesaat. Lalu berkata. “Baiklah.... Kalian berdua kuizinkan menyusul. Tapi kalian cuma kuberi waktu satu purnama! Selesai atau tidak urusanmu, kalian harus kembali ke lereng Gunung Semeru!”

Saat itulah tiba-tiba dari arah depan terdengar bentakan. “Mengapa kau diam saja?! Mengapa tidak kau lakukan apa yang kuperintahkan?!”

Yang perdengarkan bentakan ternyata Lingga Buana. Begitu dia terhuyung-huyung laki-laki berambut putih jabrik ini sempat melihat Pendekar 131 memberikan bayi Pitaloka pada Kigali. Malaikat Berkabung sendiri sebenarnya melihat bagaimana murid Pendeta Sinting mengambil bayi dari tangan Pitaloka. Dia sudah hendak berkelebat. Namun tiba-tiba hatinya bimbang apalagi tatkala melirik pada rombongan Dayang Sepuh.

“Aku mungkin dapat berkelebat ke sana. Tapi jahanam-jahanam tua bangka itu tentu tidak akan tinggal diam! Aku telah terluka.... Kalau aku memaksakan diri, aku hanya akan mati konyol!” Malaikat Berkabung membatin. Hingga pada akhirnya dia hanya bisa tegak melihat tanpa berbuat apa-apa.

Lingga Buana pentangkan mata menatap pada Pendekar 131. Walau tidak tahu persis apa yang terjadi, namun dia tampaknya sudah bisa membaca gelagat orang. “Kalau bayi itu sudah dikembalikan pada orang lain, berarti apa yang diinginkannya sudah diambil! Keparat betul! Ini gara-gara perempuan itu!”

Lingga Buana alihkan pandang matanya pada Umbu Kakani. Semua kemarahannya kini ditumpahkan pada perempuan yang beberapa puluh tahun silam pernah mencintainya. Sementara di hadapannya, Umbu Kakani tersenyum dingin.

“Lingga Buana! Kau masih berprasangka hitunganmu benar?!” Umbu Kakani gelengkan kepala. “Jangankan untuk mengambil benda itu, menyentuh pun kau tak akan sampai!”

Dada Lingga Buana laksana terbakar. Namun orang tua ini masih berpikir tenang. “Kalau aku turuti perempuan ini, aku tak akan mendapat benda itu!” Perlahan-lahan niat semula yang hendak langsung menghabisi Umbu Kakani ditangguhkan. Sebaliknya ia melirik pada Pendekar 131. Tanpa diduga, tiba-tiba Lingga Buana berkelebat ke depan. Bukan ke arah Umbu Kakani, melainkan ke arah murid Pendeta Sinting!

LIMA

UMBU Kakani tidak tinggal diam, dia segera hentakkan pantat. Sosoknya berkelebat memotong gerakan Lingga Buana. Lingga Buana marah besar. Dia kerahkan hampir segenap tenaga dalamnya. Didahului bentakan menggelegar, dia sentakkan kedua tangannya. Dia tidak mau lagi bentrok langsung. Dia lepas pukulan jarak jauh meski jarak keduanya hanya lima langkah!

Wuutt! Wuuuutt!

Dua gelombang kabut tipis putih mencuat menggidikkan ke arah sosok Umbu Kakani yang berkelebat memotong. Pendekar 131 sudah hendak berkelebat menghadang. Namun apa pun yang akan dilakukan sudah terlambat untuk bergerak. Selain cuatan gelombang itu begitu cepat, sosok Umbu Kakani terus melaju, membuat jarak pukulan dengan sasaran makin cepat dan dekat. Hingga akhirnya murid Pendeta Sinting hanya dapat memandang dengan perasaan khawatir. Pitaloka tak kalah cemasnya. Dia juga sudah berniat membantu. Namun tangan Nyai Tandak Kembang cepat menghalangi.

“Pitaloka.... Percuma! Jarak mereka sudah terlalu dekat! Bahkan kalau salah, akan lebih celaka!”

Di depan sana. Umbu Kakani bukannya merubah arah kelebatan. Sebaliknya teruskan kelebatan lurus ke arah Lingga Buana. Hingga tanpa ampun lagi gelombang kabut putih tipis mengarah tepat kearahnya! Setengah depa lagi kabut putih tipis menggebrak, tiba-tiba Umbu Kakani tarik dadanya kebelakang. Saat lain seraya perdengarkan seruan garang, dia sentakkan dadanya kedepan.

"Betttt!" Satu gelombang berkiblat dari dada Umbu Kakani menghadang kabut putih tipis. Hebatnya dan sungguh di luar dugaan semua orang, begitu sentakkan dada, Umbu Kakani sentakkan bahunya. Hingga sosoknya makin kencang berkelebat ke depan menyusuli gelombang dari dadanya!

"Bummm!" Ledakan keras terdengar bergemuruh. Kabut tipis dan gelombang sama semburat dan menebar ke Seantero ruangan. Semua mata membelalak. Bukan karena melihat bentroknya dua pukulan, melainkan memandang bagaimana sejengkal lagi dua pukulan bertenaga dalam itu bertemu, Umbu Kakani sekali lagi hentakkan bahu. Hingga sosoknya melesat melewati dua pukulan yang hendak bentrok!

Begitu terdengar gelegar, sosok Umbu Kakani mencelat lurus ke depan seolah mengejar sosok Lingga Buana yang juga mental ke belakang. Lingga Buana terkesiap kaget. Karena sosok Umbu Kakani lebih dekat dengan terjadi benturan, maka mentalan sosok Umbu Kakani lebih deras lesatannya dibanding mentalan sosok Lingga Buana. Lingga Buana cepat kelebatkan kedua tangannya. Namun karena harus imbangi diri agar tidak jatuh terkapar, gerakannya terlambat.

"Bukkkk!" Kepala Umbu Kakani menghantam deras dada Lingga Buana. Namun Lingga Buana masih sempat hantamkan kedua tangannya ke arah lambung Umbu Kakani.

Bukkkk! Bukkkk!

Sosok Umbu Kakani mencelat lagi kebelakang. Darah sudah tampak menyembur dari mulutnya sebelum sosoknya sendiri melayang jatuh. Dan karena sudah tak dapat kuasai diri, perempuan ini tidak berusaha membuat gerakan apa-apa meski tahu sosoknya hendak jatuh menghantam lantai. Saat itulah satu bayangan putih berkelebat menyongsong sosok Umbu Kakani. Lalu menurunkan perempuan itu perlahan-lahan ke atas lantai.

“Kau sudah dapatkan benda itu, Pendekar 131?!” tanya Umbu Kakani tersendat karena banyaknya darah yang menyembur dari mulutnya.

Pendekar 131 yang ternyata telah menghadang menghantamnya sosok Umbu Kakani dan kini letakkan Umbu Kakani di atas pangkuannya gerakkan kepala mengangguk. “Jangan banyak bicara dahulu, Nek! Aku akan alirkan tenaga dalam untuk....”

Umbu Kakani gelengkan kepala pelan. “Tak ada gunanya, Pendekar 131. Aku sudah tahu apa akibanya. Tapi aku merasa lega. Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk arwah guruku. Satu pintaku... Jangan biarkan jahanam itu merebut benda itu dari tanganmu... Aku tahu... Dia masih menyimpan ilmu... Berhati-hatilah menghadapinya!”

Habis berucap begitu, sepasang mata Umbu Kakani memejam. Sosoknya mengejang sesaat sebelum akhirnya diam tak bergerak-gerak lagi. Pitaloka segera melompat disusul kemudian oleh Putri Kayangan. Pitaloka berteriak memanggil-manggil seraya mengguncang sosok Umbu Kakani.

Joko menahan tangan Pitaloka. “Dia sudah meninggal, Pitaloka....”

Pitaloka menahan napas lalu rebahkan kepalanya pada dada Umbu Kakani. Tangisnya meledak. “Dia dengan susah payah menolong kelahiran anakku. Padahal dia tidak bisa gunakan kedua tangannya... Aku belum bisa membalas budinya. Tapi....”

“Sudahlah, Pitaloka.... Bahaya belum selesai. Harapbkau dan Putri Kayangan membawanya ke samping orang tua yang membawa bayimu!” ujar murid Pendeta Sinting.

Pitaloka angkat kepalanya lalu berpaling ke arah Lingga Buana. Pendekar 131 Joko Sableng segera mencekal lengan Pitaloka begitu mengetahui maksud gadis itu. “Kau masih perlu istirahat.... Biar aku yang menyelesaikannya!”

Putri Kayangan memandang pada Joko. Joko anggukkan kepala. Paras si gadis berubah. “Rasanya sulit aku akan bisa melupakannya...” Diam-diam Putri Kayangan membatin. Lalu menoleh pada Pitaloka dan berkata. “Benar, Pitaloka. Tubuhmu masih lemah. Jangan paksakan diri! Nenek ini perlu dikuburkan. Begitu juga anakmu!”

Seraya berucap, tangan Putri Kayangan lepaskan cekalan tangan Joko pada lengan Pitaloka. Ada getaran aneh yang menjalar hingga dadanya. Diam-diam Putri Kayangan teringat saat bergenggaman tangan dengan Joko di dalam hutan namun belum sampai lama mendadak muncul Nyai Tandak Kembang. Ingat hal itu Putri Kayangan jadi tersenyum sendiri. Dia memandang pada murid Pendeta Sinting. Saat itu Joko sendiri tengah pandangi wajah Putri Kayangan. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang tanpa ada yang buka suara.

“Kuharap kalian nanti berbahagia!” Tiba-tiba Pitaloka bergumam pelan. Tangan kanannya terangkat lalu diletakkan di atas tangan Putri Kayangan yang saat itu tengah memegang tangan Pendekar 131.

Putri Kayangan tak bisa menahan perasaan. Parasnya merah padam. Namun dia tidak berusaha menarik tangannya. Di lain pihak, Joko jadi salah tingkah. Apalagi dia tahu Nyai Tandak Kembang pasti melihatnya.

“Setan!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari seberang sana. “Sekarang bukan saatnya main pegang-pegangan!” Yang berteriak bukan lain adalah Dayang Sepuh.

“Benar! Musim bercinta belum datang! Tunggulah sampai semuanya beres. Percayalah... Angin pasti berlalu! Eh, maksudku badai pasti berlalu!” timpal Dewi Ayu Lambada.

“Lagi pula tak pantas mengiringi perkabungan dengan kemesraan begitu! Simpan dahulu masing-masing rasa di dalam dada! Yakinlah... Ini rindu hanya buatmu!” Iblis Ompong menyahut.

“Ukkk! Uuukkk! Uuukkk!” Dewa Uuk ikut buka mulut. Kedua tangannya diangkat ke atas membuat gerakan seperti orang tengah melantunkan nyanyian syair.

Putri Kayangan tersentak dan buru-buru tarik tangannya dengan raut merah padam. Joko tak kalah kagetnya dan jadi salah tingkah. Dia tarik pula tangannya sambil cengar-cengir dan melirik pada Nyai Tandak Kembang.

“Angkat nenek Umbu Kakani menjauh dari sini...” kata Joko.

Pitaloka dan Putri Kayangan segera lakukan ucapan murid Pendeta Sinting. Mengangkat pelan-pelan sosok mayat Umbu Kakani mendekat pada Kigali dan Nyai Tandak Kembang.

Di seberang depan sana, sosok Lingga Buana tampak tegak bersandar pada kedua tangan Malaikat Berkabung. Ketika Lingga Buana mencelat terhuyung akibat benturan kepala Umbu Kakani pada dadanya, sosok Lingga Buana memang mencelat terhuyung ke belakang. Saat itulah Malaikat Berkabung melompat lalu menahan sosok Lingga Buana. Hingga selamatlah Lingga Buana dari benturan dengan lantai ruangan. Namun benturan kepala Umbu Kakani tak urung membuat parasnya berubah dan mulutnya kucurkan darah lagi!

“Kau kurang waspada!” kata Lingga Buana pada Malaikat Berkabung. “Benda itu sekarang ada pada Pendekar 131! Ini akan membuat usaha makin sulit!”

“Tapi kita masih mampu merebutnya!” sahut Malaikat Berkabung.

“Hanya dengan jurus ‘Tangga Bertingkat’ kita mampu melakukannya! Cepat siapkan tenaga dalam! Kita hantam dia dengan jurus ‘Tangga Bertingkat’!” kata Lingga Buana.

Malaikat Berkabung melepas tahanan kedua tangannya pada punggung Lingga Buana. Lalu melompat dan tahu-tahu telah duduk bersila dihadapan Lingga Buana dengan kedua tangan menakup di depan dada. Sepasang matanya terpejam rapat. Lingga Buana pandangi sesaat sosok Pendekar 131 yang bergerak bangkit di depan sana. Saat lain orang tua berambut putih jabrik ini membuat gerakan satu kali. Sosoknya tiba-tiba sudah berada di atas tubuh Malaikat Berkabung. Kedua kakinya mengapit leher si pemuda dan masuk ke sela antara dada dan kedua tangan Malaikat Berkabung. Kedua tangannya disatukan terbuka didepan dada. Matanya sudah terpejam.

“Hem... Mungkin inilah yang dikatakan Nenek Umbu Kakani. Lingga Buana masih menyimpan ilmu!” kata Joko dalam hati. “Kalau aku menggunakan pukulan ‘Lembur Kuning’, mungkin belum bisa menghalau mereka! Akan kuhadang dengan ‘Serat Biru’!”

Berpikir begitu, murid Pendeta Sinting cepat kerahkan tenaga dalam pada tangan kirinya. Kejap itu juga tangan kiri Joko laksana dialiri sinar biru terang. Inilah tanda kalau murid Pendeta Sinting siap lepaskan pukulan ‘Sera tBiru’.

Nyai Tandak Kembang memandang dengan picingkan sedikit matanya. Pitaloka sedikit cemas. Tapi yang paling terlihat gelisah adalah Putri Kayangan. Dia memandang tak berkesip. Bila turutkan kata hati rasanya dia ingin melompat dan membantu. Namun dia sadar hal itu tak mungkin dilakukannya. Apalagi ada Nyai Tandak Kembang. Tapi diam-diam dia kerahkan pula tenaga dalam dan berbisik pada Pitaloka.

“Pitaloka! Kau pegangi erat-erat nenek ini!”

Tanpa bertanya rupanya Pitaloka sudah maklum apa yang akan dilakukan saudara kembarnya. Hingga dia hanya anggukkan kepala. Di tempat lain, Dayang Sepuh berpaling pada Dewi Ayu Lambada.

“Tegak berbaris ini sudah tak perlu lagi! Sekarang kita tinggal nonton setan-setan itu!” Dayang Sepuh melompat.

Karena kedua tangan Dewi Ayu Lambada masih menekan punggung Dayang Sepuh dan Dayang Sepuh melompat secara tiba-tiba, membuat Dewi Ayu Lambada terlengak. Sosoknya terhuyung ke depan dan hampir saja menyusup ke lantai ruangan. Untung si nenek cepat kuasai diri. Sebelum sosoknya menghantam lantai, dia kebutkan julaian bagian bawah kerudung hitamnya yang ada di bagian perut. Sosoknya membal ke udara lalu melayang turun dan tegak di samping Dayang Sepuh.

“Kalau mau hindarkan orang, bilang-bilang dulu!” Dewi Ayu Lambada sudah mengomel begitu tegak. “Kau lihat sendiri, hampir saja aku cekakakan! Eh, maksudku hampir saja aku kecelakaan!”

Di lain pihak, karena pantat Iblis Ompong yang menungging menempel dan bersandar pada pantat Dewi Ayu Lambada, begitu sosok Dewi Ayu Lambada terhuyung ke depan, Iblis Ompong tersentak. Karena tangannya tidak lagi mencekal pundak Dewa Uuk yang duduk di hadapannya melainkan tekap hidungnya akibat bau kencing dari tubuh Dewa Uuk, membuat sosok Iblis Ompong tertarik ke belakang dan akhirnya sosok orang tua tak bergigi ini terjengkang di atas lantai.

Yang sial adalah Dewa Uuk. Dengan Iblis Ompong terjengkang, maka kedua kakinya terjungkat ke atas. Padahal Dewa Uuk tepat duduk di hadapan Iblis Ompong hingga tanpa ampun lagi kedua kaki Iblis Ompong yang terangkat ke atas menghantam sosok Dewa Uuk!

Bukkkk!

“Uuukkk!” Dewa Uuk perdengarkan suara. Sosoknya mencelat ke belakang dengan kedua kaki terjungkat. Namun Dewa Uuk tampaknya tak mau tinggal diam. Saat kedua kakinya terangkat akibat tubuhnya terdorong, Dewa Uuk cepat luruskan kedua kakinya dan ditengadahkan ke arah kedua kaki Iblis Ompong yang baru saja menghantam tubuhnya.

"Bukkk!" Kedua kaki Iblis Ompong yang berada di atas udara terpental, membuat sosok Iblis Ompong jungkir balik di atas lantai ruangan! Namun begitu jungkir balik dua kali, Iblis Ompong sentakkan kedua tangannya menekan ke atas lantai. Sosoknya melesat dan tahu-tahu telah tegak disamping Dewi Ayu Lambada. Namun orang tua ini bukannya menghadap ke depan melainkan ke belakang!

Sementara di belakang sana Dewa Uuk juga terguling-guling. Tapi begitu sosoknya hendak terhenti, mendadak orang tua bisu dan tuli ini membuat gerakan satu kali.

"Wuuuttt!" Tubuh Dewa Uuk berkelebat ke depan lalu duduk bersila di samping Iblis Ompong.

“Kau tak apa-apa?!” teriak Iblis Ompong pada Dewa Uuk.

Dewa Uuk menoleh dengan tadangkan kedua tangan di belakang kedua telinganya. Lalu tertawa sambil anggukkan kepala.

“Untung adikmu tidak mendapat cedera! Kalau main-main jangan keterlaluan! Kalau dia tadi mendapat cedera, pasti aku yang disalahkan! Padahal kau yang buat ulah!” Iblis Ompong menyemprot pada Dewi Ayu Lambada.

“Sialan! Mengapa kau salahkan aku?! Dia yang memulai! Melompat tanpa bilang-bilang!” sahut Dewi Ayu Lambada membela diri dengan suara keras. Lalu berpaling pada Dayang Sepuh.

“Gara-gara kau, aku disalahkan orang katanya hendak mencelakai adik sendiri!”

Dayang Sepuh menoleh dengan mata dipentangkan. Bukan ke arah Dewi Ayu Lambada melainkan pada Dewa Uuk. “Setan macam begitu rupanya pandai juga mengadu! Akan kubuat mulut setannya tak bisa mengadu dan membuat orang saling bermusuhan!” bentak Dayang Sepuh.

“Sudah! Sudah! Lihat pertunjukan akan segera dimulai!” Iblis Ompong menengahi seraya tekuk tubuhnya hingga membuat sikap menungging dan memandang ke depan lewat sela kedua kakinya yang dibuka lebar-lebar!

Dayang Sepuh sentakkan kepala menghadap ke depan seraya rapikan poni rambutnya. Sementara tangan satunya kibas-kibaskan kelabangan rambutnya. Dewi Ayu Lambada ikut pula hadapkan wajahnya ke depan. Kedua tangannya diangkat betulkan kerudung hitam di atas kepalanya. Dewa Uuk angkat bahu lalu hadapkan muka ke depan namun sepasang matanya dipejamkan dan raut wajahnya membuat mimik ngeri!

ENAM

DI DEPAN sana, tiba-tiba hampir bersamaan Malaikat Berkabung dan Lingga Buana sama sentakkan kedua tangan masing-masing ke arah murid Pendeta Sinting.

Wuutt! Wuutt! Wuuuut!Wuutt!

Terdengar deruan gelombang dahsyat laksana amukan badai. Kabut hitam dan putih tipis berkiblat menggidikkan. Hebatnya, begitu gelombang kabut hitam dan putih melesat, saat lain dari kedua tangan masing-masing orang kembali cuatkan gelombang kabut hitam dan putih! Itu pun tak lama, kejap lain kembali kabut hitam dan putih melesat! Inilah kehebatan jurus ‘Tangga Bertingkat’. Hanya dengan sekali sentakan, namun pukulan yang melesat keluar tiga kali berturut-turut!

Mendapati hal demikian, kalau pada mulanya Joko hanya siapkan pukulan ‘Serat Biru’ pada tangan kirinya, kini dia salurkan tenaga dalam pula pada tangan kanannya dan siapkan pukulan ‘Lembur Kuning’. Hingga ketika kedua tangannya mendorong, dari tangan kiri Joko melesat serat-serat biru laksana benang. Tidak perdengarkan suara atau gelombang angin yang dahsyat. Sementara dari tangan kanan murid Pendeta Sinting menderu gelombang laksana hamparan ombak disertai melesatnya sinar kuning terang yang membawa hawa menyengat panas luar biasa.

Dentuman-dentuman dahsyat memekakkan gendang telinga memecah ruangan di bawah Lembah Patah Hati itu. Ruangan laksana digoyang gempa luar biasa dahsyat. Dinding-dinding ruangan perdengarkan suara gemeretak rengkah. Lobang di atas sana kembali longsor hingga lobangnya semakin lebar. Kabut hitam dan putih bertebaran ke Seantero ruangan disusul bertaburnya serat-serat biru dan kilauan sinar kuning.

Sosok murid Pendeta Sinting mencelat sampai tiga tombak ke belakang dan menghantam dinding ruangan sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan punggung bersandar pada dinding. Dari mulutnya semburkan darah. Air mukanya pucat pasi laksana tidak dialiri darah. Kedua tangannya lunglai seperti tak punya tenaga. Dadanya turun naik berguncang-guncang. Mulutnya yang-semburkan darah megap-megap!

Di seberang sana, sosok Lingga Buana terpental dahulu disusul kemudian oleh Malaikat Berkabung. Wajah guru dan murid ini pias putih. Dari masing-masing mulutnya kucurkan darah. Sosok mereka bergetar hebat. Sepasang mata mereka terpejam terbuka dengan mulut perdengarkan erangan tertahan. Karena sebelumnya sudah terluka dalam, mereka memerlukan waktu agak lama untuk dapat bergerak bangkit. Malah sesaat keduanya terhuyung-huyung saat kakinya tegak.

Sementara di depan, dengan tumpukan kedua tangannya ke dinding di belakangnya, Joko sudah merambat tegak terlebih dahulu dan kerahkan tenaga dalam mengatasi rasa sakit pada dada. Lalu menutup jalan mulutnya hingga aliran darah terhenti.

Beberapa saat berlalu. Puti Kayangan yang semakin gelisah mendapati Joko terluka tampak mondar-mandir dan sesekali melirik pada Nyai Tandak Kembang. Rupanya Nyai Tandak Kembang bisa melihat kegelisahan cucunya. Sambil memandang pada Joko dia berucap.

“Beda... Kau tak perlu berlaku seperti itu... Kurasa dia masih mampu mengatasi diri sendiri! Dan apa kau kira aku akan diam saja jika aku tahu dia tak mampu menghadang pukulan orang?!”

Putri Kayangan hentikan gerakan kakinya yang melangkah mondar-mandir. Walau kini merasa agak lega mendengar ucapan Nyai Tandak Kembang, namun kegelisahannya tidak bisa pupus semua.

“Lingga Buana!” Joko angkat bicara. “Turut keterangan Umbu Kakani, seharusnya kau tidak pantas lagi berpijak di atas bumi! Tapi kali ini kau dan Malaikat Berkabung masih kuberi kesempatan untuk memperbaiki diri! Tinggalkan tempat ini segera!” Sambil berkata, Pendekar 131 melangkah maju. Entah untuk menggertak orang, dia angkat kedua tangannya.

“Aku sudah terlalu tua untuk digertak apalagi takut mati, Pendekar 131! Kau dan teman-temanmu yang harus enyah dari tempat ini! Tapi tanpa harus membawa benda merah itu!” Lingga Buana menyahut dengan suara keras dan mata mendelik.

“Kau tak akan mendapatkan apa-apa, Lingga Buana! Bahkan kesempatan untuk hidup pun seharusnya tidak layak kau miliki!”

“Ucapan itu pantas kau katakan pada anak bawang, Pendekar 131! Dan aku bukan anak ingusan!”

“Kalian dengar ucapannya?!” Tiba-tiba Dayang Sepuh angkat suara. “Setan jabrik itu mengatakan bukan anak ingusan! Padahal baru saja ingusnya menyembur dari mulut setannya! Hik Hik Hik...!”

“Kakek-kakek biasanya memang punya penyakit lupa! Malah kadang-kadang sudah beristri tapi masih juga terbirit-birit mengejar nenek-nenek! Eh.... Maksudku terbirit-birit mengejar gadis ayu!” Dewi Ayu Lambada menimpali.

“Husss! Enak saja kau bicara! Kalau kakek-kakek sudah terbirit mengejar gadis, itu bukan karena lupa! Tapi sengaja! Kalau nenek-nenek mengejar pemuda itu baru namanya lupa diri!” Iblis Ompong menyahut. “Bukankah begitu?!” Iblis Ompong berpaling pada Dewa Uuk.

Dewa Uuk terperanjat lalu tadangkan kedua tangan di belakang telinganya dan manggut-manggut.

“Lingga Buana!” Joko kembali perdengarkan suara. “Kita masih punya acara lain. Jadi lekas ambil kesempatan yang kuberikan!”

“Kau tak akan teruskan acaramu! Karena acara perkabunganmu akan tiba!”

Suara Lingga Buana belum selesai, orang tua berambut putih jabrik ini sudah melesat ke depan. Dari bentrokan tenaga dalam tadi, tampaknya dia sudah sadar kalau tenaganya tak mungkin lagi menghadapi tenaga dalam murid Pendeta Sinting, apalagi dia telah terluka dalam cukup parah. Maka dia kini melesat coba bertarung jarak dekat.

Joko tidak mau bertindak ayal. Meski Lingga Buana sudah terluka dalam, namun bagaimanapun juga pukulannya terlalu berbahaya jika dibiarkan. Maka begitu Lingga Buana melesat ke depan, Joko segera menyongsong. Lingga Buana angkat kedua tangannya. Joko ikut angkat kedua tangan. Namun kali ini Joko tertipu. Secepat kilat Lingga Buana bergerak ke bawah. Tapi ini adalah kesalahan fatal yang dibuat Lingga Buana. Tangan kiri kanannya memang berhasil menggebuk lambung murid Pendeta Sinting. Namun saat itu juga kedua tangan Joko yang terangkat tidak terhalang lagi untuk menggebrak kepala dan dada Lingga Buana.

Bukkk! Bukkk! Prakkk! Prakkk!

Pendekar 131 berseru tertahan. Sosoknya terpental dan jatuh terduduk. Pakaian bagian lambung kanan kirinya robek menganga. Joko cepat kerahkan tenaga dalam lalu selinapkan tangan kanan ke balik pakaian. Dia menarik napas lega ketika tangannya masih menyentuh benda merah yang tadi diambil dari pusar bayi Pitaloka.

Sementara di depan, sosok Lingga Buana tampak limbung lalu jatuh terkapar dengan kepala kucurkan darah. Mulut dan hidungnya pun semburkan darah kental. Malaikat Berkabung cepat melompat. Namun begitu kedua tangannya menyentuh tubuh Lingga Buana, orang tua berambut jabrik ini berseru tertahan. Kedua kakinya meregang. Saat lain seruannya terputus dan kedua kakinya diam kaku!

Nyawa laki-laki yang pernah dicintai Umbu Kakani ini melayang. Kuduk Malaikat Berkabung merinding dingin. Dia melirik pada Joko yang telah bangkit dan melangkah ke arahnya. Malaikat Berkabung cepat tegak. Nyalinya sudah menciut. Namun karena keadaan, akhirnya dia kerahkan tenaga dalam dan nekat hendak menghadapi murid Pendeta Sinting.

“Malaikat Berkabung!” kata Joko. “Cukup sampai di sini saja urusan antara kita! Tinggalkan tempat ini dan lupakan apa yang telah terjadi!”

Karena sudah maklum tak mungkin menghadapi Joko, diberi kesempatan begitu rupa Malaikat Berka- bung cepat putar diri, malah lupakan apa yang harus dilakukan pada sosok mayat Lingga Buana. Namun Malaikat Berkabung tidak teruskan gerakan. Melainkan arahkan pandang matanya pada rombongan Dayang Sepuh. Dada pemuda ini berdebar ketika melihat Dayang Sepuh pasang tampang angker dengan kedua tangan diletakkan pada pinggang kiri kanan.

Di sampingnya, Dewi Ayu Lambada tak tinggal diam. Dia rangkapkan kedua tangan di depan dada. Sepasang matanya membelalak besar. Lalu angkat kaki kanannya dan diletakkan bersilang di atas betis kaki kirinya. Mulutnya menyeringai dingin. Iblis Ompong cepat balikkan tubuh. Kalau biasanya mulut dibuka lebar-lebar walau tidak perdengarkan suara, kali ini si orang tua tak bergigi ini katupkan mulut rapat-rapat. Kedua tangannya diangkat ke atas. Kedua kakinya membuat kuda-kuda siap melompat.

Di sebelah Iblis Ompong, Dewa Uuk yang sedari tadi pejamkan matanya perlahan-lahan buka kelopak matanya. Saat bersamaan dia melompat bangkit. Sosoknya disorongkan ke depan. Tangan kanan diangkat ke atas tangan kiri diluruskan dengan telapak terbuka lurus ke arah Malaikat Berkabung.

Malaikat Berkabung tercekat. Sosoknya bergetar. Dia hendak buka mulut namun yang dilakukannya justru menggigit atas bawah bibirnya!

“Aku datang bersama air kencing! Aku datang dengan naungan air kencing dan air kencing lagi! Aku datang dari lembah air kencing! Air kencing akan jadi saksi mati. Saksi dari aliran air kencing anak manusia!”

Dayang Sepuh berucap lantunkan syair seperti yang biasa diucapkan Malaikat Berkabung. Namun sebagian kalimatnya dirubah. Saat lain Dayang Sepuh tertawa bergelak. Dewi Ayu Lambada sesaat pandangi Malaikat Berkabung pada bagian bawah tubuhnya. Tiba-tiba tawa nenek berkerudung hitam ini meledak keras! Iblis Ompong cepat tekap hidungnya dengan tarik kedua tangannya yang tadi terangkat. Lalu mengomel.

“Sialan! Sialan kau! Sudah gede masih juga terkencing-kencing di celana!”

“Uuukkk! Uuukkk! Uuukkk!” Dewa Uuk angkat suara. Tangan kirinya yang tadi terbuka dikepalkan dengan telunjuk ditegakkan dan menunjuk-nunjuk pada celana Malaikat Berkabung. Lalu tawanya menyentak-nyentak! Malaikat Berkabung pelan-pelan melirik ke bawah. Parasnya merah padam antara takut dan malu. Ternyata karena saking takutnya tanpa terasa dia sudah keluarkan air kencing dicelana! Semua orang di ruangan bawah Lembah Patah Hati sama tertawa bergelak-gelak.

“Jahanam! Apa boleh buat. Kalau mereka tak membiarkan aku pergi, aku akan menghadapi mereka!” desis Malaikat Berkabung lalu diam-diam kerahkan tenaga dalam. Dan mulai melangkah ke arah lobang.

Tepat di samping Dayang Sepuh, Malaikat Berkabung sudah siap. Namun ternyata Dayang Sepuh tidak membuat gerakan apa-apa, melainkan makin keraskan gelakan tawanya. Malaikat Berkabung teruskan langkah. Dan baru berhenti tepat di bawah lobang yang telah makin menganga lebar karena longsor beberapa kali. Malaikat Berkabung arahkan pandang matanya ke atas. lalu ke arah beberapa orang di tempat itu yang masih tertawa berbahak-bahak.

“Kalian kelak akan merasakan akibatnya!” gumam Malaikat Berkabung lalu jejakkan kedua kakinya. Sosoknya melenting ke atas. Namun baru saja kepalanya hendak melewati lobang, tiba-tiba...

“Brusss! Brusss! Brusss!”

Terdengar bersinan tiga kali berturut-turut. Malaikat Berkabung tersentak kaget. Bukan saja karena terdengarnya suara bersinan, namun bersamaan dengan itu sosoknya laksana dilabrak gelombang angin dahsyat. Hingga sosoknya kembali melayang ke bawah makin deras!

"Bukkk!" Malaikat Berkabung terjengkang jatuh. Serentak Dayang Sepuh dan Dewi Ayu Lambada putar diri. Demikian juga Dewa Uuk. Hanya Iblis Ompong yang tetap hadapkan tubuh ke depan. Namun saat itu juga tubuh bagian atasnya menukik ke depan dengan kedua kaki direnggangkan. Lalu memandang orang di belakangnya dari sela kedua kaki seraya menungging!

Dada Malaikat Berkabung bergemuruh marah. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi kini tahu di atas sana masih ada orang lain. Entah karena tak mau terus dipermalukan orang, dia kerahkan tenaga dalam dan kembali melesat ke atas dengan kedua tangan siap lepaskan pukulan. Namun bersamaan dengan melesatnya Malaikat Berkabung dari atas lobang meluncur satu sosok tubuh. Untuk kedua kalinya si pemuda terkejut. Ini membuatnya lengah dan tak sempat lagi lepaskan pukulan.

“Bruss! Brusss!” Kembali terdengar bersinan. Lalu sosok yang melayang turun terlihat gerakkan kaki.

"Bukkkk!" Sosok Malaikat Berkabung kembali melayang deras ke bawah, malah kini terpental sebelum akhirnya menghantam dinding di belakang sana dan jatuh terkapar!

“Brusss! Brusss! Aku heran... Mengapa ada orang terus menghalangiku!” kata orang yang baru bersin. Dia bukan lain adalah Datuk Wahing.

Malaikat Berkabung bangkit tegak terhuyung- huyung. Melihat Datuk Wahing tidak memandangnya bahkan terus arahkan pandang matanya pada rombongan Dayang Sepuh, si pemuda cepat berkelebat lalu tegak di bawah lobang. Tanpa menunggu lama lagi Malaikat Berkabung segera melesat ke atas. Karena tergesa-gesa dan menyangka sudah tidak ada orang lagi dia enak saja melesat.

Tapi tiba-tiba satu sosok bayangan besar meluncur dari lobang di atas. Saling terkejutnya dan takut hantaman orang, Malaikat Berkabung tak dapat kuasai diri. Hingga sosoknya limbung dan jatuh melayang lagi kebawah!

"Bukkkk!" Sosok Malaikat Berkabung untuk kesekian kalinya terjengkang di atas lantai.

“Ada apa, Anak Muda?!” Bertanya sosok besar yang baru saja melayang turun dan kini telah tegak di samping Dayang Sepuh. Dia adalah seorang kakek berambut putih disanggul tinggi bermata putih. Dia mengenakan pakaian gombrong warna hijau. Sosoknya tambun besar. Pinggangnya dililit ikat pinggang besar yang pada bagian perutnya terdapat cermin bulat. Orang tua ini tidak lain adalah Gendeng Panuntun.

“Maaf... Aku tidak berbuat apa-apa padamu! Kau jatuh sendiri...,” kata Gendeng Panuntun.

Malaikat Berkabung kancingkan mulut tidak menyahut. Sebaliknya cepat bangkit. Dan tanpa memandang pada orang dia melesat sekali lagi ke atas. Kali ini karena khawatir masih ada orang, dia kerahkan segenap tenaga dalam yang dimiliki. Namun Malaikat Berkabung merasa lega, karena sampai sosoknya melewati lobang, dia tidak menemui hadangan!

TUJUH

BEGITU sosok Malaikat Berkabung lenyap di atas lobang, Gendeng Panuntun balikkan tubuh menghadap ke arah Pendekar 131 di depan sana.

“Sahabat muda... Masih ada yang harus kau kerjakan! Jangan lama-lama di tempat ini, meski terasa berat kau harus berpisah untuk sementara waktu!”

“Busyet! Dia tampaknya sudah tahu kalau aku berat meninggalkan Putri Kayangan apalagi setelah ini mungkin tak bisa bertemu lagi!” Murid Pendeta Sinting membatin tahu arah pembicaraan Gendeng Panuntun. Tanpa sadar kepalanya berpaling pada Putri Kayangan.

“Bruss! Bruss! Berpisah dengan kekasih memang berat. Apalagi tidak ada kepastian kapan bisa berjumpa lagi! Brusss! Tapi adalah mengherankan kalau seseorang harus tenggelam pada kesedihan hati padahal ada tugas penting di pundaknya demi kepentingan orang banyak!” Datuk Wahing sambungi ucapan Gendeng Panuntun.

“Bukan saja mengherankan, tapi dia adalah setan tolol kalau sampai mendahulukan cinta daripada kepentingan orang banyak yang tengah terancam!” Dayang Sepuh sudah menyahut.

“Betul! Kerjaku akan sia-sia kalau akhirnya hanya tergusur urusan cinta!” Dewi Ayu Lambada ikut ambil suara. Dan iblis Ompong tak tinggal diam. Dia buka mulut pula tanpa angkat kepalanya.

“Urusan cinta memang gampang-gampang susah! Tapi kalau aku punya murid yang mendahulukan cinta daripada tugas, akan kugebuk dia sampai terkencing-kencing!”

Mendengar ucapan-ucapan beberapa orang di tempat itu, Joko segera berkelebat ke depan. Lalu arahkan pandang matanya pada satu persatu orang dan berkata. “Aku berterima kasih atas bantuan kalian semua! Dan harap tidak khawatir atau salah duga. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang!”

Pendekar 131 putar diri, memandang pada Pitaloka, Nyai Tandak Kembang, Kigali, dan terakhir pada Putri Kayangan. Untuk beberapa saat dia pandangi si gadis lalu tersenyum dan anggukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Saat lain murid Pendeta Sinting balikkan lagi tubuh, lalu berujar.

“Aku akan berangkat sekarang!”

Rombongan Dayang Sepuh tersenyum lalu sama anggukkan kepala. Hanya Dewa Uuk yang kerutkan dahi dengan kepala tetap diam karena tak mendengar ucapan Joko. Namun tiba-tiba Joko urungkan niat berkelebat. Sebaliknya balikkan tubuh lagi menghadap rombongan Nyai Tandak Kembang. Kali ini pandang matanya bukannya mengarah pada Putri Kayangan, melainkan pada Pitaloka. Putri Kayangan berdebar. Dia menduga-duga dengan gelisah. Joko tersenyum lalu angkat bicara.

“Pitaloka... Kau tahu di mana manusia pemakai Jubah Tanpa Jasad itu?!”

Putri Kayangan menarik napas lega. Pitaloka anggukkan kepala dan menjawab. “Terakhir kali aku melihatnya di kaki Bukit Kalingga...”

Pendekar 131 tersentak. “Bukit Kalingga... Astaga! Bukankah aku pernah bertemu Kiai Laras di sana...? Apakah...” Joko tidak lanjutkan gumamannya. Sebaliknya cepat berbalik, lalu berkelebat. Dia berhenti sejenak di bawah lobang. Memandang pada semua orang di ruangan, lalu melesat dan lenyap di atas lobang.

Gendeng Panuntun kerjapkan sepasang matanya yang putih. Lalu berkata. “Nyai Tandak Kembang... Aku sebagai wakil dari sahabat-sahabat yang ada di sini minta maaf kalau selama ini bertindak kurang sopan padamu!”

“Ah... Lupakan semua itu. Justru aku yang berterima kasih padamu serta sahabat-sahabat sekalian!” sambut Nyai Tandak Kembang seraya anggukkan kepala menjura.

“Setan! Aku tidak merasa bertindak kurang sopan pada setan perempuan itu!” Dayang Sepuh bergumam dengan cibirkan mulut.

“Aku pun merasa begitu!” Dewi Ayu Lambada menimpali gumaman Dayang Sepuh.

“Aku juga demikian!” Iblis Ompong ikut-ikutan bergumam.

“Brusss! Brusss! Ah... Mengherankan sekali. Apa kalian tak tahu bahasa basa-basi?!” Datuk Wahing mengingatkan.

Dayang Sepuh sudah hendak angkat bicara menyahut. Namun Gendeng Panuntun mendahului buka mulut. Bukan sambuti gumaman beberapa orang di sampingnya, melainkan bicara seraya hadapkan wajah lurus ke arah Pitaloka.

“Gadis cantik... Aku punya satu saran untukmu! Sebaiknya kau turuti saran eyangmu Jangan perturutkan kata hati!”

"Hem... Apakah dia tahu rencanaku? Lalu mengapa dia mencegahku?!” Pitaloka diam-diam berkata sendiri dalam hati. Mungkin tak mau berpanjang lebar dan bisa-bisa Nyai Tandak Kembang menarik izinnya, Pitaloka buka suara menyahut.

“Terima kasih atas saranmu. Aku akan berusaha melakukannya...”

“Brusss! Brusss! Rasa-rasanya aku ingat siapa kau sekarang!” Datuk Wahing berkata seraya hadapkan wajah dan memandang pada Kigali. “Tapi aku masih ragu dan heran. Apakah benar penglihatanku ini?”

“Aku memang Kigali... Apa kau hendak teruskan ucapan usang, Galaga?!” Kigali berterus terang sambil menyebut nama asli Datuk Wahing.

Seperti diketahui, Kigali pernah menjadi orang kepercayaan Maladewa alias Setan Liang Makam pada beberapa puluh tahun silam. Bahkan Kigali punya tugas untuk mencari sekaligus membunuh Galaga alias Datuk Wahing.

“Brusss! Jangan berkata mengherankan, Sahabat! Aku tak ingin membangkitkan kisah lama. Malah aku bersyukur bisa bertemu kau lagi...”

“Datuk... Sudah saatnya kita pergi dari sini! Lagi pula mereka masih punya pekerjaan...” Gendeng Panuntun berkata seraya menoleh pada Datuk Wahing.

Datuk Wahing berpaling pada rombongan Dayang Sepuh. “Bruss! Brusss! Kalian juga sudah waktunya ting- galkan tempat ini! Walau bagaimanapun kita tidak bisa membiarkan seorang anak pergi sendirian! Kita pergi bersama-sama sekarang...”

“Nyai Tandak Kembang...!” kata Gendeng Panuntun lagi. “Kami harus pergi sekarang. Kelak mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi...”

Nyai Tandak Kembang anggukkan kepala. Gendeng Panuntun balikkan tubuh lalu perlahan melangkah. Datuk Wahing anggukkan kepala pada beberapa orang di depan sana. Lalu putar diri dan melangkah mengikuti Gendeng Panuntun. Dayang Sepuh, Dewi Ayu Lambada, Iblis Ompong, dan Dewa Uuk saling pandang satu sama lain. Tanpa ada yang buka suara keempatnya berbalik kecuali Iblis Ompong yang memang dari tadi memunggungi beberapa orang di depan. Mereka berempat melangkah berjajar. Gendeng Panuntun membuka satu gerakan disusul Datuk Wahing. Sosok keduanya melenting lalu lenyap keluar lobang.

Dayang Sepuh bergumam tak jelas. Lalu melesat menyusul. Di belakangnya Dewi Ayu Lambada membuntuti yang tak lama kemudian diikuti Iblis Ompong. Dewa Uuk adalah orang terakhir yang meninggalkan ruangan bawah Lembah Patah Hati.

“Kita harus kuburkan dahulu bayi Pitaloka dan Umbu Kakani, juga mayat Lingga Buana!” Nyai Tandak Kembang berkata.

Kigali anggukkan kepala. Lalu serahkan bayi Pitaloka pada Nyai Tandak Kembang. “Pitaloka dan Putri Kayangan biar membawa mayat Umbu Kakani. Aku akan mengangkat mayat Lingga Buana. Meski mereka berdua pada akhirnya harus bermusuhan, tapi pada mulanya mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tak ada salahnya kalau mereka kita kuburkan berdampingan!”

Kigali melangkah mendekati sosok mayat Lingga Buana. Pitaloka dan Putri Kayangan mengangkat mayat Umbu Kakani. Lalu mereka melangkah tanpa ada lagi yang buka suara.

********************

Kita tinggalkan dahulu rombongan Dayang Sepuh dan rombongan Nyai Tandak Kembang. Juga kepergian Pendekar 131. Kita kembali dahulu ke sebuah bukit di sebelah timur sebuah hutan. Saat itu matahari baru saja menapak dari bentangan kaki langit sebelah timur. Cahayanya menerabas sela dedaunan jajaran pohon di sebuah kaki bukit di mana terlihat satu sosok tubuh tengah duduk bersila di bawah pohon besar dengan punggung bersandar pada batangan pohon.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut berambut putih agak panjang. Mengenakan pakaian warna putih. Di pangkuan orang tua ini tampak sebuah jubah hitam yang dipegang erat-erat seolah takut jubah hitam itu terbang terbawa angin. Padahal saat itu angin berhambus semilir dan tak mungkin mampu menerbangkan jubah hitam di pangkuan orang. Orang tua ini sesekali arahkan pandang matanya ke satu jurusan jalan menuju arah bukit di mana dia kini berada. Dari sikapnya jelas orang tua ini tengah menanti seseorang.

“Hem... Ke mana keparat-keparat itu pergi?! Seharusnya mereka sudah datang ke tempat ini! Apa mereka mendapat halangan atau barangkali mampus?!” Si orang tua di bawah pohon bergumam sendiri.

“Aneh... Sudah hampir satu purnama lebih aku tak mendengar kabar berita tentang Pendekar 131 dan teman-temannya! Ke mana mereka?! Pitaloka juga tak ada beritanya! Hem... Gadis itu menggairahkan! Seandainya dia tidak pergi meloloskan diri dari tanganku, tentu malam-malamku tak akan merasa kedinginan lagi! Pitaloka... Hem....”

Si orang tua sunggingkan senyum. Disepasang matanya tiba-tiba terpampang seorang gadis muda berparas cantik mengenakan pakaian warna merah. Saat itulah tiba-tiba entah dari mana sumbernya terdengar suara.

“Siapa pun kau adanya. Kelak kau akan mengambil buah dari perbuatanmu! Kau boleh punya Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad. Tapi Sang Pencipta akan menciptakan pamungkasnya! Dan pamungkas itu akan hadir dari darah dagingmu sendiri!”

Suara itu menggema ke seantero kaki bukit. Anehnya suara itu laksana diperdengarkan dari tempat yang sangat jauh dan dalam! Si orang tua di bawah pohon tersentak. Dia sentakkan kepalanya berputar. Namun dia tidak melihat siapa-siapa!

“Kala Marica! Itu suara Kala Marica!” gumam si orang tua. “Bagaimana ini bisa terjadi! Sudah dua kali ini dia perdengarkan suara! Apa dia belum tewas?!” Seolah untuk yakinkan diri, si orang tua kembali putar pandangan berkeliling. Namun sampai matanya lelah memandang, dia tidak juga melibat adanya orang lain di tempat itu.

“Keparat! Mungkin ini hanya tipuan telingaku saja!” sentak si orang tua. “Lagi pula apa yang perlu ditakutkan! Kembang Darah Setan dan Jubah Tanpa Jasad berada di tanganku!”

Entah karena apa, meski dia tadi percaya suara yang baru didengar adalah tipuan telinganya, si orang tua ini tengadahkan kepala lalu berteriak. “Kala Marica! Kalau kau bukan manusia pengecut, mengapa tidak berani unjuk tampang?! Dan jangan mimpi kau bisa menggertak Kiai Laras! Keluarlah dari tempatmu dan perlihatkan nama besarmu!”

Si orang tua yang tidak lain adalah Kiai Laras putar pandangan sekali lagi. Namun sejauh ini dia lagi-lagi tidak melihat siapa-siapa. Bahkan dia juga tidak mendengar suara sahutan!

“Ah... Mengapa aku tolol turuti tipuan telinga?!” Kiai Laras akhirnya sadar akan tindakannya meski dadanya terus dibuncah perasaan tida kenak.

Seperti diketahui, Kiai Laras dengan muslihatnya sendiri akhirnya dapat menguasai Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad. Pada satu saat, dia terlibat bentrok dengan seorang tokoh tua yang dikenal dalam kalangan rimba persilatan berilmu sangat tinggi dan punya ilmu langka. Dia adalah Kala Marica. Sebenarnya Kala Marica tidak mau meladeni Kiai Laras. Namun Kiai Laras tak ambil peduli. Pada akhirnya Kiai Laras berhasil melukai Kala Marica dan bahkan menendangnya masuk ke dalam jurang. Saat sosok Kala Marica amblas masuk ke dalam jurang itulah, Kala Marica sempat berucap seperti kata-kata yang didengar oleh Kiai Laras yang sedang termenung sendiri.

Untuk lebih jelasnya tentang Kala Marica silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Kutuk Sang Angkara

Kiai Laras bergerak bangkit. Saat itulah sepasang matanya menangkap satu bayangan berkelebat menuju arah bukit. “Hem... Tampaknya dia datang membawa tangan hampa!” desis Kiai Laras lalu kenakan jubah hitam yang tadi diletakkan di atas pangkuannya.

Begitu jubah hitam telah terpakai, mendadak sosok Kiai Laras raib tidak kelihatan! Yang terlihat sekarang hanyalah jubah hitam yang terapung di atas udara di bawah pohon. Inilah satu petunjuk kalau jubah hitam yang dikenakan Kiai Laras adalah Jubah Tanpa Jasad. Jubah peninggalan leluhur dari Kampung Setan. Jubah yang akan membuat sosok pemakainya tidak bisa ditangkap dengan pandangan mata biasa.

Kiai Laras yang sosoknya tidak kelihatan lagi membuat satu kali gerakan. Jubah Tanpa Jasad bergerak dan tahu-tahu telah berada di antara lebatnya rimbun dedaunan pohon di mana tadi Kiai Laras duduk bersandar. Begitu sosok Kiai Laras lenyap dari bagian bawah pohon, satu sosok tubuh berkelebat dan tegak sepuluh langkah dari pohon di mana Kiai Laras berada. Orang ini lirikan ekor matanyake seantero tempat itu.

“Dia cepat sekali lenyap...,” gumam orang yang baru muncul. “Mengapa dia sembunyikan diri? Bukankah aku datang untuk menemuinya dan dia menungguku?!” Baru saja orang menggumam, Kiai Laras melayang turun dan berdiri delapan tindak di hadapan orang.

“Kau tahu apa yang seharusnya kau katakan!” Kiai Laras sudah buka suara.

DELAPAN

ORANG di hadapan Kiai Laras terdiam beberapa lama. Dia adalah seorang laki-laki yang paras wajahnya tidak mudah dikenali. Selain angker, laki-laki ini punya raut muka sedikit aneh. Karena raut itu hanya terdiri dari kerangka tanpa daging! Dan ternyata bukan hanya wajahnya saja yang tidak disamaki daging. Sekujur tubuhnya pun hanya merupakan susunan kerangka! Sepasang matanya besar berputar liar di dalam cekungan kerangka mata yang menjorok dalam.

Laki-laki ini tidak lain adalah Maladewa. Generasi terakhir dari kerabat penghuni Kampung setan. Seperti diketahui, karena terburu-buru dan marah pada neneknya si Nyai Suri Agung, Maladewa akhirnya meminta semua warisan leluhur Kampung Setan. Mala- dewa tidak hiraukan lagi nasihat Nyai Suri Agung. Hingga pada akhirnya si nenek memberikan Kembang Darah Setan, salah satu senjata mustika dari leluhur Kampung Setan.

Dengan Kembang Darah Setan di tangannya, Maladewa mulai merambah rimba persilatan, bahkan dia berniat pula menghabisi Nyai Suri Agung dan Galaga, saudara seperguruannya dari orang di luar kerabat Kampung Setan. Untuk memenuhi niatannya, Maladewa bersekutu dengan beberapa orang. Dua di antara orang kepercayaannya adalah Kigali dan Dadaka. Kedua orang ini malah diberi tugas khusus untuk memburu Nyai Suri Agung dan Galaga. Namun kedua orang ini gagal. Bahkan dengan muslihatnya, kedua orang kepercayaan Maladewa ini bisa menjerumuskan Maladewa ke dalam makam batu di Kampung Setan.

Maladewa harus menunggu selama tiga puluh enam tahun kemudian untuk bisa keluar dari makam batu. Tapi dia juga akhirnya harus merelakan Kembang Darah Setan lepas dari tangannya karena itulah satu-satunya syarat. Begitu keluar dari makam batu, sosok Maladewa telah berubah. Tiga puluh enam tahun dikurung di dalam makam batu membuat daging sekujur tubuhnya mengelupas hingga tinggal kerangka. Saat Maladewa keluar itulah dia menggelari diri dengan sebutan Setan Liang Makam.

Perjalanannya setelah mendekam dalam makam batu ternyata tidak lagi mulus, la harus berhadapan dengan beberapa tokoh yang tiba-tiba muncul begitu tersiar kembali tentang senjata mustika Kembang Darah Setan. Hingga sampai tertipu oleh muslihat Kiai Laras yang pada akhirnya Kiai Laraslah yang berhasil mendapatkan Jubah Tanpa Jasad, senjata mustika satunya lagi milik leluhur Kampung Setan.

Namun Setan Liang Makam tidak putus asa. Dia bertekad merebut kembali dua pusaka Kampung Setan yang telah jatuh ke tangan orang lain. Tapi tanpa senjata mustika di tangan, Setan Liang Makam tidak bisa berbuat banyak. Hingga sampai dia sendiri harus menjadi orang suruhan Kiai Laras!

“Setan Liang Makam!” Kiai Laras membentak ketika Setan Liang Makam alias Maladewa tidak segera buka mulut. “Jangan buat kesabaran hatiku pupus dan aku berubah pikiran! Lekas katakan apa yang kau bawa padaku!”

Setan Liang Makam gelengkan kepala. “Aku sudah menjelajah mencari Pendekar 131 dan beberapa temannya. Namun mereka tiba-tiba tak ada kabar beritanya pergi entah ke mana!”

“Hem... Aku juga merasaheran! Keparat-keparat itu lenyap begitusaja! Perturutkan hati rasanya inginaku menghabisi manusia setan itu! Tapi.. walau bagaimana tenaganya masih kubutuhkan! Apalagi aku harus menyelidik ke mana keparat-keparat itu sembunyikan diri!” kata Kiai Laras dalam hati. Lalu bertanya.

“Selama perjalanan, apa kau sempat bertemu dengan gadis baju merah itu?!”

Setan Liang Makam geleng kepala. Sepasang matanya terus perhatikan Jubah Tanpa Jasad yang mengapung di udara karena sosok Kiai Laras tidak kelihatan. “Hem... Rasanya sulit merebut Jubah Tanpa Jasad dan Kembang Darah Setan dari jahanam ini! Tapi aku tetap menunggu! Satu saat pasti dia akan lengah!” Setan Liang Makam diam-diam juga membatin.

“Aku tahu bagaimana memancing keparat-keparat itu tunjuk diri lagi!” gumam Kiai Laras pada akhirnya setelah berpikir beberapa saat.

“Setan Liang Makam! Seharusnya kau tidak pantas hidup lagi karena kegagalanmu ini! Tapi kesetiaanmu membuat pikiranku berubah! Kau kini kuangkat sebagai wakilku dan sebentar lagi kita akan melakukan pekerjaan besar! Kita akan bangun kembali kejayaan Kampung Setan. Jalan pertama yang harus kita tempuh adalah mengubur semua tokoh rimba persilatan!”

Ucapan Kiai Laras membuat Setan Liang Makam melonjak girang dalam hati. “Aku akan berada di belakangmu! Dan siap membantu sampai titik darah penghabisan!”

Walau berucap begitu, sebenarnya lain dengan apa yang terucap dalam hati. “Ini kesempatan baik! Kesempatanku makin terbuka lebar! Dan tak lama lagi Kembang Darah Setan serta Jubah Tanpa Jasad akan kembali ke tanganku!”

Kiai Laras manggut-manggut. Lalu berujar. “Aku tak butuh ucapan kesetiaan, Setan Liang Makam! Tapi begitu aku tahu kau berkhianat, aku akan membunuhmu dua kali! Kau dengar itu?!”

Setan Liang Makam tersenyum dingin dengan anggukkan kepala. “Dan ingat. Jangan bantah apa yang kuperintahkan padamu!” Kiai Laras sambungi ucapannya. Lalu balikkan tubuh. Jubah Tanpa Jasad berputar. “Sekarang pekerjaan itu kita mulai!”

Habis berkata begitu, Kiai Laras berkelebat mengitari bukit lewat sebelah timur. Tanpa banyak pikir Setan Liang Makam berkelebat mengikuti di belakang. Kiai Laras hentikan langkah di depan sebuah lobang batu berbentuk goa. Dia menoleh sesaat pada Setan Liang Makam. Lalu melompat dan masuk ke dalam goa. Setan Uang Makam terus mengikuti tanpa buka suara.

Begitu berada di dalam ruangan goa, Kiai Laras cepat menuju pojok ruangan di mana terdapat tumpukan kayu arang bekas perapian. Setan Liang Makam tak tahu apa yang dilakukan Kiai Laras. Yang terlihat olehnya adalah gerakan pada tumpukan kayu perapian. Saat lain terdengar suara berderit. Setan Liang Makam pentangkan mata memandang ke pojok ruangan dari mana sumber suara deritan terdengar. Ternyata bagian pojok ruangan goa membuka membentuk sebuah pintu. Di belakang pintu terlihat tangga naik dari batu.

Kiai Laras melompat melewati pintu lalu naik tangga batu perlahan-lahan. Tanpa disuruh Setan Liang Makam mengikuti. Kiai Laras tegak di sebuah pinggiran lobang menganga dan memperhatikan ke bawah lobang. Setan Liang Makam yang juga telah tegak di samping Kiai Laras ikut arahkan pandang matanya ke bawah lobang.

“Kau lihat mereka?!” Kiai Laras ajukan tanya.

Setan Liang Makam anggukkan kepala tatkala matanya menangkap dua sosok tubuh duduk bersandar pada lamping lobang di bawah sana. Namun dia belum bisa menduga siapa adanya dua orang itu. Selain lobang itu diselimuti kabut tipis putih, kedua orang yang duduk di bawah tidak angkat kepalanya.

“Bunuh mereka!” kata Kiai Laras.

“Kau dengar suara itu?!” Tiba-tiba orang di bawah lobang Sebelah kanan perdengarkan bisikan pada orang yang duduk disebelahnya. Kepalanya berpaling. Dia adalah seorang nenek berambut putih. Di tangan kanannya yang bersedekap di depan dada terlihat sebuah tusuk konde besar berwarna hitam. Nenek ini bukan lain adalah Ni Luh Padmi. Seorang tokoh dari tanah seberang yang berkelana mencari Pendeta Sinting guru Pendekar 131 Joko Sableng karena satu urusan.

Seperti pernah dituturkan, Ni Luh Padmi pada satu kesempatan bertemu dengan Kiai Laras. Kiai Laras menunjukkan di mana Pendeta Sinting berada. Tanpa banyak menunggu, Ni Luh Padmi menuju tempat yang dikatakan Kiai Laras yang saat itu tengah menyamar sebagai murid Pendeta Sinting. Begitu sampai di tempat yang dikatakan, ternyata Ni Luh Padmi tertipu. Hingga akhirnya Ni Luh Padmi harus masuk ke dalam lobang di balik ruangan goa.

Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Geger Topeng Sang Pendekar)

Orang di samping Ni Luh Padmi menoleh dan anggukkan kepala. Dia juga adalah seorang perempuan berusia agak lanjut namun parasnya masih kelihatan cantik. Rambutnya panjang dengan mata agak bulat. Dia adalah Lasmini. Seperti dituturkan, Lasmini yang bersekutu dengan Kiai Lidah Wetan, kakek kandung Kiai Laras akhirnya menyelidik. Kemudian dia bertemu dengan Kiai Laras. Seperti halnya Ni Luh Padmi, Lasmini juga tertipu oleh Kiai Laras hingga akhirnya perempuan ibu kandung Saraswati ini bisa dijebloskan Kiai Laras ke dalam lobang di balik ruangan goa.

Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Liang Makam di Bukit Kalingga

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Nek?!” Lasmini angkat bicara.

Ni Luh Padmi geleng kepala. “Aku tak tahu harus berbuat apa! Keadaan kita sudah sangat lemah!”

“Nek... Tanpa usaha kita sudah pasti akan mampus juga terus menerus berada di tempat celaka ini! Bukankah lebih baik kita berusaha?! Apalagi ucapan tadi ditujukan pada kita! Apa yang kita tunggu?!”

“Tapi....”

Belum sampai Ni Luh Padmi lanjutkan ucapan, Lasmini telah menyahut. “Sekarang tidak ada tapi, Nek!” Lasmini beranjak bangkit. Ni Luh Padmi sesaat bimbang tapi tak lama kemudian dia pun bergerak bangkit dan sama-sama tengadahkan kepala memandang ke atas.

“Lasmini!” desis Setan Liang Makam begitu melihat Lasmini dongakkan kepala.

“Hem... Kau telah mengenalnya. Bagus! Pekerjaan kita dimulai dari mereka! Dan kau telah dengar apa yang harus kau lakukan!” kata Kiai Laras. Jubah Tanpa Jasad bergerak ke samping. Lengan kanan jubah bergerak menunjuk pada Ni Luh Padmi. “Yang tua itu bernama Ni Luh Padmi! Kau tertarik padanya?!”

“Apa maksudmu?!” tanya Setan Liang Makam sedikit heran. Karena tadi Kiai Laras menyuruhnya membunuh kedua-duanya. Sekarang dia mengatakan lain.

“Kalau kau tertarik, kau boleh merasakan kehangatannya sebelum kau kirim dia ke alam lain!”

“Sialan! Untuk apa tubuh peot begitu rupa ditawarkan padaku?!” Setan Liang Makam memaki dalam hati lalu berujar. “Untuk sementara ini aku belum tertarik pada perempuan! Entah nanti...”

“Bagus! Kalau begitu lakukan tugasmu! Aku akan menunggu di luar!” Kiai Laras bergerak menuruni tangga lalu melompat dan tegak di mulut goa dengan bibir sunggingkan senyum.

Di lobang bagian bawah, Lasmini tersentak kaget mendapati siapa adanya sosok yang tegak di atas. Seolah belum percaya, dia picingkan mata berulang kali.

“Kau mengenal siapa manusia itu?!” Ni Luh Padmi bertanya seraya pandangi sosok angker Setan Liang Makam.

“Tempo hari aku pernah bersama-sama dengan manusia itu! Dia adalah Setan Liang Makam!”

“Hem... Kau punya sengketa dengannya?!” tanya Ni Luh Padmi.

Lasmini geleng kepala. “Kami bersama-sama mencari seseorang. Namun gagal menemukannya! Setelah itu kami berpisah!”

“Kalau demikian, mungkin dia bisa menolong kita!”

“Kurasa tidak! Kau dengar perintah orang tadi! Berarti dia akan menghabisi kita!”

“Jangan pedulikan ucapan orang! Bukankah kau tadi berkata kita harus berusaha?! Kita coba... Siapa tahu dia berubah niat!”

Lasmini merenung sejenak. Saat lain dia berteriak. “Setan Liang Makam! Kau masih ingat padaku, bukan?!”

“Aku tidak pernah lupa pada setiap orang yang pernah kutemui!” jawab Setan Liang Makam seraya berkacak pinggang.

“Aku gembira mendengarnya... Dan lebih gembira lagi jika kau mau membantu kami untuk keluar dari lobang ini!”

Setan Liang Makam perhatikan sekeliling lobang. “Aneh... Lobang ini memang agak dalam. Tapi sebagai orang berilmu, mustahil mereka tidak bisa melompat keluar! Pasti ada sesuatu di lobang ini!” Membatin Setan Liang Makam. Karena ingin tahu, Setan Liang Makam berkata.

“Tanpa bantuanku, kau bisa melompat dari bawah!”

“Berarti dia belum tahu tempat ini!” bisik Ni Luh Padmi mendengar suara Setan Liang Makam. Lalu angkat suara.

“Sebenarnya memang begitu. Tapi ruangan ini telah ditaburi hawa beracun! Sekali kami kerahkan tenaga dalam, maka habis riwayat kami! Padahal untuk melompat ke atas, kami harus kerahkan tenaga dalam....”

“Hem... Begitu?! Nasib kalian rupanya sangat jelek!” ujar Setan Liang Makam.

“Jadi kau tak mau membantu...?!” tanya Lasmini dengan tengkuk mulai dingin.

“Membantu keluar dari sini memang tidak bisa! Aku hanya bisa membantu kalian untuk sempurnakan nasib jelek kalian!”

Lasmini saling pandang dengan Ni Luh Padmi. Paras keduanya berubah. “Tidak ada artinya lagi kita bicara! Terpaksa kita cari jalan lain! Setidaknya berusaha mempertahankan diri!” kata Lasmini setengah putus asa.

“Sobat!” Ni Luh Padmi berusaha buka suara. “Di antara kita tidak ada pertentangan. Lebih dari itu sebenarnya kau ditipu orang seperti halnya kami berdua! Begitu kau nanti sadar, pasti kau telah berada di tempat lain menggantikan kami berdua!”

“Orang boleh menipuku! Tapi aku tidak bodoh seperti kalian berdua! Dan perlu kalian ketahui, membunuh orang tidak lagi diperlukan adanya pertentangan! Akan kubuktikan ucapanku!”

Ucapan Setan Liang Makam belum sirna gemanya, cucu Nyai Suri Agung dari Kampung Setan ini telah gerakkan kedua tangannya melepas satu pukulan ke arah Lasmini dan Ni Luh Padmi!

Wuuutt! Wuuutt!

Satu gelombang dahsyat melesat ganas ke arahLasmini. Satunya lagi berkiblat ke arah Ni Luh Padmi. Lobang di mana kedua perempuan itu berada bergetar.

“Sedapat mungkin kita menghindar! Berbahaya kalau kita menghadang pukulan setan keparat itu! Karena kita harus kerahkan tenaga dalam!” bisik Ni Luh Padmi.

Tapi Lasmini tampaknya sudah nekat. Dia tidak pedulikan peringatan Ni Luh Padmi. Dia menghela napas lalu salurkan tenaga dalam. Kedua tangannya diangkat.

“Bodoh! Kenekatanmu bukan pada tempatnya!” hardik Ni Luh Padmi lalu mendorong sosok Lasmini. Hingga belum sampai Lasmini kerahkan tenaga dalam untuk menghadang gelombang pukulan yang datang, sosoknya telah terdorong deras ke samping dan terhuyung hampir roboh. Saat yang sama Ni Luh Padmi berkelebat selamatkan diri.

Bummm! Bummm!

Dua gelegar ledakan mengguncang lobang. Bibir lobang tampak gemeretak rengkah lalu longsor dengan taburkan hamparan batu. Saat yang sama lantai lobang muncratkan pula kepingan batu akibat terhantam pukulan Setan Liang Makam yang gagal melabrak sosok Lasmini dan Ni Luh Padmi.

Melihat pukulannya dapat dihindari orang, Setan Liang Makam jadi geram. Dia putar diri setengah lingkaran lurus ke arah sosok Ni Luh Padmi yang mendorong Lasmini hingga selamat. Tanpa berkata dahulu, kedua tangan Setan Liang Makam bergerak lagi melepas satu pukulan. Di bagian bawah, Ni Luh Padmi cepat menyingkir dengan melompat. Namun kali ini Setan Liang Makam tak memberi kesempatan. Tangan kirinya bergerak ke arah mana Ni Luh Padmi melompat.

Ni Luh Padmi menyumpah habis-habisan seraya kembali berkelebat. Namun tangan kanan Setan Liang Makam terus memburu dengan menyentak mengikuti arah kelebatan sosok Ni LuhPadmi. Ni Luh Padmi jadi kebingungan. Dia akan melompat lagi. Tapi tempat di mana ia akan melompat saat itu dua pukulan pertama Setan Liang Makam telah menuju ke sana. Hingga satu-satunya jalan untuk selamatkan diri adalah menghadang pukulan orang.

Lasmini sendiri tampak meringkuk di bagian samping dengan mata memperhatikan apa yang akan dilakukan si nenek. Dan diam-diam pula dia telah memutuskan kerahkan tenaga dalam, karena bagaimanapun juga bias pukulan yang dilepas Setan Liang Makam akan melabrak ke arahnya apalagi dia meringkuk tak jauh dari Ni LuhPadmi. Dengan tangan bergetar, akhirnya Ni Luh Padmi kerahkan juga tenaga dalam. Lalu dengan cepat disentakkan ke atas menghadang pukulan Setan Liang Makam.

Beberapa ledakan berturut-turut mengguncang lobang. Tiga yang pertama adalah gelegar akibat pukulan Setan Liang Makam yang menghantam lantai lobang karena dihindari Ni Luh Padmi. Satu lagi ledakan karena pukulan tangan kanan Setan Liang Makam bentrok dengan pukulan yang dilepas Ni Luh Padmi. Lobang di balik ruangan goa itu beberapa lama diselimuti taburan kepingan batu hingga suasana agak pekat. Dan begitu keadaan agak terang kembali, sosok Ni Luh Padmi tampak tegak bersandar dengan muka pucat. Dia memang tidak mengalami cedera berarti, bahkan saat itu juga melangkah Hendak mendekati Lasmini yang juga bersandar dan terus memperhatikan Ni Luh Padmi.

“Nek! Kita tertipu... Ruangan ini tidak beracun! Buktinya kau tidak apa-apa!” kata Lasmini lalu hendak melangkah menyongsong Ni Luh Padmi.

Tiba-tiba Lasmini hentikan kaki. Sepasang matanya mendelik dengan dahi berkerut. Di depan, terlihat sosok Ni Luh Padmi bergetar keras. Saat lain kedua lututnya menekuk. Tubuhnya doyong ke muka lalu terjerembab jatuh menelungkup dengan mulut perdengarkan erangan tertahan. Lasmini cepat melompat. Lalu jongkok dan balikkan tubuh Ni Luh Padmi. Paras wajah Lasmini seketika tercekat. Tengkuknya laksana diguyur es. Paras muka si nenek ternyata telah berubah menghitam! Dan perlahan-lahan sekujur tubuhnya juga berubah menghitam.

“Kau salah terka... Ruangan ini mengandung racun sangat ganas! Ini bukan karena bentrok pukulan dengan setan di atas itu! Melainkan akibat racun yang telah masuk ke aliran darahku karena aku tadi terpaksa kerahkan tenaga dalam....” Ni Luh Padmi perdengarkan suara dengan tersendat-sendat. “Aku... tak bisa memberi tahu bagaimana kau menghadapi apa yang akan terjadi... Kau sudah tahu akibatnya...”

Habis berucap begitu, kepala Ni Luh Padmi teleng ke kanan. Kedua kakinya mengejang sebentar lalu diam tak bergerak. Nyawa nenek dari seberang ini putus dengan sekujur tubuh menghitam! Tusuk konde hitam ditangan kanannya lepas dan tergeletak diatas lantai.

SEMBILAN

TENGKUK Lasmini merinding. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Tekadnya pelan-pelan padam. Sementara di atas lobang, Setan Liang Makam perdengarkan suara tawa panjang. Lasmini bergerak bangkit dan melangkah ke tengah ruangan lobang. Kepalanya mendongak. Saat itulah tiba-tiba terbayang sosok Saraswati di depan matanya.

“Anakku... Tampaknya takdir sudah mengharuskan kita tak bisa hidup berdampingan! Aku kini menyesal mengapa tidak pedulikan peringatanmu. Seandainya saja saat itu aku turuti ucapanmu, mungkin kita telah hidup damai. Anakku... Bagaimana kau sekarang?! Terakhir jumpa, kau juga tengah mengalami perlakuan tidak baik dari manusia jahanam yang memasukkan aku ke tempat celaka ini! Anakku, tentu kau juga berusaha...”

Sampai di situ tiba-tiba Lasmini kepalkan kedua tangannya. “Kalau kau berusaha mengapa aku tidak?! Aku tidak boleh pasrah dengan keadaan ini! Mati pun aku puas karena setidaknya aku telah berusaha untuk selamat dan bertemu denganmu!”

Semangat Lasmini mendadak muncul kembali malah kini berkobar-kobar. Dia tidak lagi merasa takut meski telah tahu apa yang menimpa Ni Luh Padmi. Hingga saat itu juga dia berteriak lantang.

“Setan Liang Makam! Kau boleh puas dengan semua ini! Tapi jangan mimpi aku takut menghadapimu!”

Setan Liang Makam putuskan gelakan tawanya. Sepasang matanya berkilat pandangi sosok Lasmini. Namun tak lama kemudian dia perdengarkan tawa lagi seraya berucap. “Ucapan orang akan mampus kadang-kadang memang menyala-nyala! Sayang, nasib tidak ikut berpihak!”

Selesai berucap begitu, tangan kanan Setan Liang Makam telah berkelebat. Sementara tangan kiri di atas udara siap dikelebatkan dengan mata terus perhatikan gerakan Lasmini. Lasmini segera melompat kebelakang. Tusuk konde besar milik Ni Luh Padmi disambar. Tangan kiri Setan Liang Makam berkelebat ke arah sosok Lasmini yang melompat ke belakang.

Dua gelombang dahsyat berkiblat perdengarkan deruan keras. Seraya menghindar ke samping, Lasmini sentakkan tangan kanan yang telah menggenggam tusuk konde. Dia sengaja arahkan sentakan tusuk konde lurus melalui gelombang yang menghantam ke bawah.

Karena dia sadar, akan percuma kalau sentakannya lewat di samping gelombang. Sebab selain ruangan lobang itu ditebari racun, hebatnya ruangan itu bisa mementalkan pukulan ke atas lobang. Dengan berkelebatnya gelombang dari atas, maka tabir yang bisa mementalkan pukulan itu terbuka. Itulah sebabnya Lasmini sengaja arahkan sentakan tusuk konde melalui gelombang yang datang dari atas.

Blaar! Blaarr!

Dua gelombang terdengar. Dua pukulan Setan Liang Makam menghantam tempat kosong karena Lasmini telah berkelebat menghindar. Sementara di atas lobang, Setan Liang Makam tersentak kaget melihat satu benda hitam berdesing lurus ke arahnya. Karena tadi dia tengah perhatikan kelebatan sosok Lasmini, terlambat baginya untuk menghindar meski dia sempat doyongkan tubuh.

"Cleepp!" Setan Liang Makam berseru tertahan. Tusuk konde besar menancap tembus pakaiannya dan merobek tulang bagian dada kiri.

“Jahanam!” maki Setan Liang Makam. Dia cepat menutup dengan kerahkan tenaga dalam ke sekitar dada kiri. Tangan kanan cepat bergerak mencabut tusuk konde. Kejap kemudian tangan kirinya berkelebat lagi. Karena dia marah, kali ini Setan Liang Makam kerahkan hampir setengah dari tenaga dalamnya. Hingga tatkala gelombang melesat ke bawah tampak disertai gelombang warna hitam!

Lasmini tak mau bertindak ayal. Dia kembali melompat menghindar. Tapi karena kali ini tenaga dalam Setan Liang Makam telah dilipatgandakan, sejauh mana pun Lasmini melompat pasti akan terhantam bias pukulan orang. Tapi Lasmini tak mau ambil risiko besar. Dia tidak berusaha menghadang pukulan sebaliknya teruskan berkelebat hindarkan diri.

"Bummm!" Untuk kesekian kalinya lobang itu bergetar hebat.

Lasmini tampak terdorong oleh bias pukulan dan terbanting di udara karena gema pukulan. Setan Liang Makam tak ambil peduli. Kembali tangan kirinya melepas pukulan. Kali ini tak ada jalan lain bagi Lasmini. Karena tidak mungkin lagi bergerak menghindar. Hingga terpaksa dia memutuskan meng- hadang pukulan lawan walau dia tahu apa risikonya! Lasmini kerahkan tenaga dalam lalu angkat kedua tangannya dan didorong ke atas.

"Blammm!" Kembali terdengar ledakan. Kali ini malah lebih dahsyat karena pukulan Setan Liang Makam dihadang pukulan Lasmini.

Sosok Lasmini tampak mental dan menghantam dinding ruangan lobang. Darah mengucur deras dari mulutnya. Belum sampai dia bergerak bangkit, tangan kanan Setan Liang Makam yang memegang tusuk konde besar milik Ni Luh Padmi disentakkan! Lasmini hanya bisa memandang lesatan tusuk konde tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena sekujur tubuhnya terasa panas bukan alang kepalang. Tangan dan kakinya laksana tidak bertenaga dan sepasang matanya berkunang-kunang!

"Cleeepp!" Tusuk konde besar menancap hampir separo ke lambung Lasmini. Darah kehitaman muncrat dan sebagian memercik ke wajah Lasmini.

Lasmini menjerit seakan merobek langit. Tapi jeritannya terputus di tengah jalan. Sosok ibu kandung Saraswati ini lunglai dengan tubuh mengejang.

“Saraswati anakku....” Hanya itu ucapan terakhir yang terdengar dari mulut Lasmini. Saat berikutnya nyawanya melayang dengan sekujur tubuh menghitam!

Setan Liang Makam perhatikan sesaat mayat Lasmini dan Ni Luh Padmi yang telah berpindah tempat karena tersambar pukulan. Saat lain cucu Nyai Suri Agung dari Kampung Setan ini putar diri dan melangkah menuruni tangga dengan tangan kanan mendekap dada kirinya yang berdenyut sakit. Kiai Laras yang tegak di lobang masuk goa berpaling. Dia perhatikan dada Setan Liang Makam.

Saat kemudian laki-laki ini selinapkan tangan kiri ke balik jubah hitamnya. Ketika tangannya ditarik dia menggenggam sesuatu dan dilemparkan pada Setan Liang Makam yang melangkah keluar dari pintu di pojok ruangan goa. Setan Liang Makam melihat satu bulatan sebesar buah duku menggelinding dan berhenti di dekat perapian.

“Telan benda itu!” Kiai Laras buka suara. Tanpa banyak kata, Setan Liang Makam ambil bulatan warna kuning di dekat perapian. Lalu menelannya. Seketika tubuhnya berubah panas dingin. Setan Liang Makam mendelik pada Kiai Laras meski tidak bisa melihat sosok orangnya.

“Jangan berprasangka buruk! Kalau hanya membunuhmu tak usah menggunakan racun yang ada pada bulatan itu!” kata Kiai Laras dapat menangkap arti pandangan Setan Liang Makam.

Setan Liang Makam masih bimbang dengan ucapan Kiai Laras. Namun begitu panas dingin tubuhnya sirna, dia menghela napas lega dan angguk-anggukkan kepala. Kiai Laras berkelebat ke dekat perapian. Kayu perapian kembali bergerak-gerak. Saat bersamaan terdengar lagi suara berderit. Pintu di pojok ruangan goa tertutup kembali.

“Langkah awal telah kita mulai! Kita teruskan langkah ini! Kita jadikan Kampung Setan sebagai tempat baru bagi kita! Kita tegakkan kembali kejayaan Kampung Setan! Dan aku adalah penguasanya!”

Kiai Laras tertawa bergelak. Lalu berkelebat keluar dari goa. Setan Liang Makam bergumam tak jelas. Namun segera pula berkelebat tinggalkan goa di kaki Bukit Kalingga.

********************

Bayangan putih itu berkelebat laksana setan. Dia baru memperlambat kelebatan saat sampai perbatasan hutan di mana dari perbatasan itu memandang ke sebelah timur tampak menjulang sebuah bukit. Sesaat si bayangan tadi yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan mengenakan pakaian warna putih berambut panjang acak-acakan dililit dengan ikat kepala warna putih dan bukan lain adalah Pendekar 131 Joko Sableng luruskan pandangan ke arah bukit.

“Hem.... Apakah mungkin Kiai Laras manusia di balik Jubah Tanpa Jasad itu?! Kalau benar dia, orang yang selama ini menyamar sebagai diriku adalah dia juga! Pada mulanya aku memang menaruh curiga padanya. Tapi untuk melakukan hal itu pasti ada sebabnya. Padahal aku tidak punya urusan apa-apa dengan orang tua itu!” Joko geleng-geleng kepala.

“Tapi siapa pun dia adanya, yang jelas perbuatannya harus dihentikan! Sayangnya... Aku belum tahu bagaimana caranya menggunakan benda merah yang kuambil dari pusar bayinya Pitaloka ini! Seharusnya aku tanya dahulu pada Gendeng Panuntun. Mungkin dia tahu bagaimana menggunakannya! Tapi sekarang percuma... Mencari orang seperti dia susah-susah gampang! Mungkin dia sudah pergi dari Lembah Patah Hati...”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Joko memutuskan untuk segera menuju bukit di depan sana. Karena sudah pernah ke bukit itu, tidak sulit bagi murid Pendeta Sinting untuk menemukan goa di mana dulu dia pernah bertemu dengan Kiai Laras.

“Sepertinya tak ada orang...!” gumam Joko seraya memperhatikan dari balik batangan pohon sepuluh langkah dari mulut goa. Namun Joko tetap berhati-hati dan sekali lagi meyakinkan.

Setelah yakin di luar tak ada orang lain, Joko cepat berkelebat dan tegak mengendap-endap ke mulut goa dari sebelah kanan. Kepalanya perlahan-lahan disorongkan ke bibir mulut goa. Lalu matanya diedarkan kedalam.

“Kosong...!” kata Joko dalam hati. Lalu dengan kedua tangan siap lepaskan pukulan, dia berkelebat masuk dan tegak di balik mulut goa dengan mata dipentangkan. Namun hingga kepalanya berputar dua kali, dia tidak melihat siapa-siapa!

Murid Pendeta Sinting menarik napas dalam. Lalu perlahan melangkah mendekati kayu perapian. “Walau sudah padam, tapi belum lama... Tempat ini memang dihuni orang! Tapi ke mana dia?! Sebaiknya aku menunggu...”

Joko melangkah ke pojok ruangan goa lalu duduk meringkuk dengan mata memperhatikan kearah mulut goa. Namun hingga Joko menguap beberapa kalidan hampir saja terlelap, tidak juga muncul seseorang! “Ah... Lebih baik aku terus menunggu! Kalau tempat ini dihuni, penghuninya cepat atau lambat pastiakan pulang!” Joko berkata pada diri sendiri lalu selonjorkan kaki dan pejamkan mata. Tidak berapa lama sudah terdengar suara dengkurnya memecah ruangan goa di kaki Bukit Kalingga.

Beberapa saat berlalu. Joko tampak menggeliat lalu kedua matanya terbuka dan langsung memandang berkeliling. Tapi keadaan masih tetap seperti semula. Joko bergerak bangkit dan melangkah ke mulut goa seraya melongok melihat cahaya matahari.

“Sudah hampir setengah hari aku berada di sini! Tidak lama lagi hari akan gelap...” Joko putar diri lalu melangkah balik mendekati perapian. Saat itu matahari memang sudah condong ke arah barat. Udara mulai berubah. Angin dingin berhembus menggantikan udara panas.

“Sambil menunggu aku akan nyalakan perapian itu! Mungkin sisa-sisa baranya masih bisa menyala lagi! Udara sudah mulai dingin. Hem... Seandainya saat ini bersama Putri Kayangan... Mungkin aku tidak kedinginan! Gila! Mengapa aku selalu memikirkan dia? Lagi pula aku tidak akan bisa berbuat macam-macam sama dia! Nyai Tandak Kembang pasti tahu di mana cucunya itu berada. Macam-macam saja keahlian orang! Nyai Tandak Kembang bisa menemukan orang dengan mencium aroma. Ah. Mengapa aku berpikir sesuatu yang tak mungkin. Nyai Tandak Kembang sudah mengatakan tidak mengizinkan kedua cucunya untuk turun dari lereng Gunung Semeru. Berarti aku sudah tidak bisa bertemu dengan Putri Kayangan!”

Sambil terus berkata dalam hati, Joko jongkok di dekat perapian dan mulai mencungkil-cungkil perapian mencari sisa-sisa bara di bagian bawah. Saat itulah matanya menangkap sesuatu yang menonjol. Joko kerutkan dahi. Lalu sibakkan kayu perapian.

“Tonjolan batu... Aneh. Tonjolan batu ini punya lobang memanjang sepanjang bagian tonjolan yang berada di atas. Ini bukan tonjolan biasa! Hem... Kayu perapian ini mungkin saja hanya sebagai tipuan untuk mengelabui orang! Orang tidak akan menduga di bawah kayu perapian akan ada tonjolan batu!”

Perlahan-lahan Joko julurkan tangan ke arah tonjolan batu. Namun baru saja tangannya menyentuh tonjolan batu, mendadak satu suara terdengar.

“Apakah sekarang kau masih mungkir?!”

Joko angkat kepalanya. Tangan kanannya ditarik pulang. Sepasang matanya dipicingkan lalu dibuka lebar-lebar. Mendadak ketegangan sesaat di wajahnya sirna. Kini bibirnya kembangkan senyum. Tepat di mulut goa, tegak berdiri satu sosok tubuh milik seorang gadis muda berparas cantik mengenakan pakaian warna abu-abu. Rambutnya dikuncir tinggi. Matanya bulat. Namun sunggingan senyum murid Pendeta Sinting pupus ketika gadis cantik di mulut goa balas senyuman dengan seringai dingin dan buang muka!

SEPULUH

SARASWATI!” teriak murid Pendeta Sinting seraya bangkit. Diam-diam Joko membatin. “Tampaknya per-soalan lama akan terus berlanjut! Tapi... Bagaimana dia bisa ada di tempat ini? Tak mungkin dia mengikuti langkahku. Karena selama ini aku sengaja sembunyikan diri, malah beberapa hari belakangan berada di hutan...”

“Jangan melangkah!” bentak si gadis berparas cantik yang bukan lain Saraswati adanya. Anak kandung Lasmini, ketika dilirik Joko hendak langkahkan kaki mendekati ke arahnya. Pendekar 131 terpaksa urungkan niat dan tegak diam menunggu dengan mata memandang tak berkesip.

“Aku sudah menunggu hampir satu purnama lebih. Namun sejauh ini kau tidak bisa buktikan kebenaran ucapanmu tempo hari! Bahkan kini kau tertangkap basah mataku sendiri! Dalih apa yang akan kau katakan sekarang, hah?!” Saraswati buka mulut tanpa memandang.

Joko tampak gelagapan. “Bagaimana menjelaskannya?!” gumam murid Pendeta Sinting dalam hati.

Saraswati menoleh. Matanya menusuk tajam ke dalam bola mata Joko. “Sekarang tak ada lagi orang yang akan membantumu berdalih! Kalau saja saat itu tidak ada gadis berbaju merah sialan itu, mungkin urusannya sudah selesai! Aku menyesal mengapa saat itu aku percaya pada omongan gadis sialan itu! Juga pada gadis bernama Dewi Seribu Bunga itu!”

Seperti pernah dituturkan, Saraswati pernah mendapat perlakuan tidak senonoh dari Kiai Laras yangsaat itu masih menyamar sebagai murid Pendeta Sinting. Saraswati sangat marah dan mendendam. Hanya karena ada perasaan cinta dalam hatinya saja yang membuat dia masih coba menahan gejolak dadanya. Lagi pula saat itu Joko berjanji akan membuktikan bahwa bukan dirinya yang melakukan perbuatan itu. Malah saat itu Putri Kayangan dan Dewi Seribu Bunga juga menguatkan Joko meski Dewi Seribu Bunga cuma memberi waktu pada Joko untuk membuktikan diri bahwa memang bukan dia yang melakukan semuanya.

“Pendekar 131! Mungkin aku masih bisa memaafkan tindakanmu. Tapi tunjukkan dahulu dimana ibuku!” kata Saraswati.

“Saraswati... Aku tak tahu di mana ibumu berada!”

Mata Saraswati makin berkilat mendengar jawaban Joko. Kaki kanannya bergerak menghentak lantai goa. “Lalu untuk apa kau berada di sini?! Bukankah kau dahulu menyeret ibuku masuk ke dalam goa ini?!” Sosok Saraswati bergetar keras tanda gadis ini hampir tak dapat kuasai gemuruha marah.

“Saraswati... Aku memang pernah datang ke tempat ini dan bertemu seseorang bernama Kiai Laras. Tapi percayalah... Aku tak pernah berbuat seperti yang kau katakan! Ada orang lain yang menyamar sebagai diriku!”

“Sekarang aku tanya. Apa kau bukan Pendekar 131 Joko Sableng murid Pendeta Sinting?!”

Joko menghela napas. “Aku memang Joko Sableng murid Pendeta Sinting!”

“Bagus! Aku dulu jumpa denganmu di sini! Aku dulu juga mendengar ucapan yang sama seperti yang baru kau katakan! Mataku tidak mungkin dapat dibodohi!”

“Saraswati... Memang agak sulit menjelaskan semuanya! Kuharap kau bersabar. Aku hampir bisa membuka siapa dalang di belakang semua ini!”

“Kau pernah mengatakan itu juga pada satu seten- gah purnama yang lalu! Tapi mana buktinya?! Mana?! Kau jangan berdalih macam-macam! Kau tak akan dapat membuka siapa dalang di belakang semua ini, karena dalang itu adalah kau sendiri!”

“Saraswati!” kata Joko dengan suara agak keras karena mulai jengkel dengan tuduhan si gadis. “Untuk mengungkap hal ini bukanlah pekerjaan gampang! Sekarang terserah padamu untuk percaya atau tidak! Dan perlu kau ingat, saat ini aku tidak punya waktu banyak untuk berdebat yang tiada artinya!”

“Hem... Begitu?! Jadi kalau sudah tidak ada dalih, kau coba mengalihkan urusan dengan cara begitu?!” Saraswati tersenyum dan tertawa pendek mengejek.

“Sekarang katakan saja apa kemauanmu!”

“Aku mau tahu di mana ibuku kau sembunyikan atau nyawamu sebagai gantinya!”

“Aku tak tahu di mana ibumu! Kalau kau mau nyawaku, silakan kau ambil!”

Saraswati menggeram dengan kedua tangan diangkat. Namun entah karena apa perlahan-lahan kedua tangannya diturunkan. Murid Pendeta Sinting pandangi si gadis dengan kepala menggeleng pelan.

“Saraswati... Aku berkata apa adanya! Lagi pula untuk apa aku mencelakakan ibumu?! Antara aku dan ibumu memang pernah ada silang sengketa. Tapi tidak layak perselisihan itu diakhiri dengan perbuatan tak pantas! Bahkan aku telah melupakan semuanya!”

“Aku masih belum bisa percaya ucapanmu sepenuhnya...” ujar Saraswati namun kali ini suaranya sudah direndahkan.

“Sebenarnya aku pun tak ingin mengatakan apa-apa padamu! Karena yang kau perlukan adalah bukti, bukan ucapan! Dan justru aku di sini ini hendak mulai mencari bukti itu!”

Saraswati kerjapkan sepasang matanya. Joko merasa sedikit lega. Lalu berkata. “Aku menemukan sesuatu yang mencurigakan...!”

“Apa?!” tanya Saraswati cepat.

“Sebelum kukatakan, aku ingin tanya dahulu. Benar kau dan ibumu pernah ke tempat ini?!”

“Kalau tidak, aku tak mungkin bisa menemukanmu disini!”

“Apa yang kau ketahui tentang tempat ini?!”

“Aku tak tahu banyak! Aku hanya berada di luar! Ibuku yang masuk goa ini dengan kau seret!”

“Kau masih juga menuduhku. Tapi tak apalah!”

“Apa sesuatu yang mencurigakan?!” Saraswati bertanya.

Joko memberi isyarat pada Saraswati untuk mendekat. Saraswati tampak bimbang. Hingga untuk beberapa saat dia diam dengan memandang penuh curiga, membuat Joko tertawa pendek dan berucap. “Aku memang bukan manusia baik-baik, Saraswati! Tapi aku tidak terlalu picik untuk melakukan sesuatu yang macam-macam padamu!”

Paras wajah Saraswati berubah. Dia melangkah mendekati Joko. “Katakan, apa yang membuatmu curiga!”

Joko berpaling ke arah Saraswati yang tegak lima langkah di sampingnya. Dengan tersenyum, karena masih menangkap gelagat curiga pada diri Saraswati, Joko arahkan telunjuknya pada tumpukan kayu perapian yang tampak sedikit berserakan.

“Itu hanya tumpukan kayu bekas perapian! Lalu apanya yang membuatmu curiga?!” tanya Saraswati dengan kening berkerut memperhatikan kayu pera-pian.

“Orang yang melihat sepintas lalu akan mengatakan seperti ucapanmu! Tapi tidak bagi orang yang melihat dengan seksama!”

Karena penasaran, Saraswati pentangkan mata seraya melangkah lebih dekat. Pendekar 131 ambil salah satu kayu perapian yang agak panjang. Lalu dengan kayu itu dia sibakkan tumpukan kayu perapian.

“Tumpukan kayu ini bukan perapian! Tapi kayu untuk menutupi sesuatu!” kata Joko lalu menunjuk tonjolan batu di antara serakan kayu.

Saraswati sesaat perhatikan tonjolan batu. Belum sampai dia utarakan apa yang ada dalam hatinya, Joko telah lemparkan kayu di tangannya lalu bergerak jongkok. Tangan kanannya menyentuh tonjolan batu lalu ditekan ke arah lobang memanjang dibelakang tonjolan batu. Terdengar suara berderit. Pendekar 131 dan Saraswati tersentak kaget. Keduanya sama sentakkan kepala ke arah deritan. Keduanya sama belalakkan mata.

“Pintu...!” gumam Joko. “Ada tempat rahasia di balik ruangan goa ini!”

Murid Pendeta Sinting sudah melompat ke arah pintu di pojok ruangan goa yang terbuka. Saraswati ikut melompat. Namun Joko cepat palangkan tangan kirinya.

“Hati-hati, Saraswati. Di tempat seperti ini banyak sesuatu yang tak terduga!”

“Ini bukan sandiwaramu, bukan?!”

“Busyet!” maki Joko dalam hati namun bibirnya sunggingkan senyum. “Aku tak tahu bagaimana membuatmu percaya, Saraswati! Tapi sudahlah... Yang jelas titik terang telah kudapatkan!”

Habis berkata begitu, perlahan-lahan Joko melangkah mendekati pintu di pojok ruangan. Kepalanya dilongokkan ke dalam. Yakin tak ada orang, Joko melompat dan tegak di tangga batu. Dia edarkan pandangan berkeliling. Lalu memberi isyarat pada Saraswati. Tanpa banyak mulut Saraswati melompat. Saat yang sama Joko mulai melangkah menaiki tangga batu. Saraswati mengikuti dibelakangnya. Murid Pendeta Sinting kembali edarkan pandang matanya begitu tegak di atas lobang agak besar. Tiba-tiba sepasang matanya menyipit tatkala menangkap dua sosok tubuh tergeletak di bawah lobang.

“Ada yang tak beres!” gumam Joko tanpa berpaling pada Saraswati yang telah tegak di sampingnya.

Saraswati tidak pedulikan atau menyahut ucapan Joko. Matanya tertuju pada salah satu sosok yang tergeletak di bawah sana. Dadanya tiba-tiba berdebar. “Aku sepertinya mengenali pakaian yang dikenakan. Apakah...” Saraswati tidak lanjutkan ucapan, sebaliknya langsung melompat turun.

“Saraswati! Tunggu!” tahan Joko. Tapi terlambat.

Saraswati sudah melayang turun dan tahu-tahu telah tegak di samping salah satu sosok yang tergeletak. Dengan dada makin berdebar Saraswati bergerak jongkok. Lalu memperhatikan. Mendadak gadis ini menjerit. Lalu hempaskan tubuhnya di atas sosok yang tergeletak.

“Ibu... Ibu... Siapa yang melakukan ini?! Siapa?!” teriak Saraswati.

Jeritan Saraswati sudah cukup membuat Joko tahu apa yang telah terjadi. Tanpa buka mulut lagi dia langsung berkelebat turun dan tegak di samping Saraswati. Dia menatap sejenak pada sosok yang ada di bawah Saraswati.

“Tusuk konde itu... Aku seperti pernah melihatnya!” kata Joko dalam hati memperhatikan tusuk konde hitam besar yang menancap masuk hampir separo ke dalam lambung orang.

Saat lain Joko arahkan pandang matanya pada sosok yang satunya. Karena belum jelas benar, apalagi sosok itu telungkup, Joko segera berkelebat. Lalu membalikkan si sosok. “Astaga! Ni Luh Padmi...”

Pendekar 131 masih da-pat mengenali orang meski wajah dan sekujur tubuhnya menghitam. “Melihat tusuk konde si nenek ini menancap di lambung ibu Saraswati, besar kemungkinan mereka berdua terlibat bentrok! Tapi... Ada yang aneh. Mengapa keduanya sama menghitam! Tidak mungkin dua orang berilmu berlainan punya pukulan yang sama! Berarti ada orang lain yang melakukan pembunuh ini! Lalu sengaja menusukkan tusuk konde si nenek agar disangka mereka berdua terlibat bentrok!”

Murid Pendeta Sinting memandang berkeliling. “Udara di sini lain...”

Mungkin khawatir, Joko cepat kerahkan tenaga dalam. Tapi sebelum tenaga dalam benar-benar dikerahkan dia merasakan sesuatu. Joko urungkan niat. “Dugaanku benar... Hawa di sini lain... Mungkin udaranya telah ditaburi racun! Aku merasakan hawa aneh tatkala hendak salurkan tenaga dalam! Mungkin ini penyebab kematian kedua orang itu!”

Berpikir begitu, Joko cepat melompat ke arah Saraswati. Dia hendak mengatakan apa yang diduganya. Namun belum sempat dia buka mulut, Saraswati telah angkat kepalanya dari sosok mayat Lasmini.

“Pendekar 131!” Sebelum Saraswati lanjutkan ucapan, murid Pendeta Sinting sudah menukas karena tak ingin terus-terusan dituduh dan tahu bahwa apa yang akan diucapkan Saraswati adalah tuduhan itu.

“Saraswati! Jangan kau terus menuduhku! Aku tak tahu apa-apa dalam urusan ini! Bahkan kita rupanya juga masuk dalam perangkap bahaya!”

“Apa maksudmu?!”

“Hawa di tempat ini beracun! Jangan sekali-kali kau kerahkan tenaga dalam!”

“Bagaimana kau bisa tahu?!” “Kau masih juga curiga padaku!”

“Curiga memang benar! Tapi aku tanya sesungguhnya! Bagaimana kau tahu hawa di tempat ini beracun?!”

“Aku akan kerahkan tenaga dalam. Tapi aku merasakan hawa aneh. Dan kau lihat sosok di sana itu! Sekujur tubuhnya juga menghitam sama seperti tubuh ibumu! Aku tahu siapa dia... Dia adalah nenek bernama Ni Luh Padmi! Dan tusuk konde hitam yang menancap di lambung ibumu adalah tusuk konde milik nenek itu!”

“Berarti jahanam itu yang melakukan pembunuhan pada Ibu!”

Murid Pendeta Sinting gelengkan kepala. “Pada mulanya aku menduga demikian. Tapi kurasa itu hanyalah permainan agar orang menduga seperti dugaanmu!”

“Aku tak mengerti ucapanmu!”

“Kalau benar antara ibumu dan nenek itu terlibat bentrok, bagaimana mungkin mereka berdua bisa mengalami nasib sama?! Aku memang tak mengenal betul siapa ibumu juga nenek itu. Tapi aku jelas sekali tahu kalau nenek itu berasal dari daerah seberang. Jadi kecil kemungkinan dia dan ibumu mendapatkan ilmu dari satu orang! Aneh bukan kalau sekarang mengalami nasib yang sama dengan tubuh sama hitam? Ada orang lain yang melakukan! Lalu menyerang ibumu dengan tusuk konde si nenek agar orang menduga keduanya terlibat bentrok!”

Saraswati anggukkan kepalanya mengerti apa maksud Joko. “Anehnya lagi, dan ini yang membuatku makin percaya kalau hawa di sini beracun!” sambung Joko. Lalu tengadahkan kepala.

“Kau lihat jarak antara bagian bawah lobang ini dengan di atas sana. Aneh bukan kalau bagi mereka tidak bisa melompat keluar?!”

Saraswati mengukur jarak. Diam-diam dia membenarkan ucapan murid Pendeta Sinting.

Joko merenung sejenak sebelum akhirnya lanjutkan ucapan. “Mereka kesulitan naik karena untuk melompat ke atas sana diperlukan pengerahan tenaga dalam meski tidak seberapa! Dan menurut dugaanku, mereka takut mengerahkan tenaga dalam karena tahu tempat ini telah ditaburi racun! Dan tidak tertutup kemungkinan, racun itulah yang menyebabkan sekujur tubuh ibumu dan nenek itu menjadi hitam! Karena tidak ada bekas pukulan yang berarti di tubuhnya! Mereka nekat mengerahkan tenaga dalam karena terpaksa...”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?!” tanya Saraswati. Perlahan-lahan kecurigaan gadis ini pada Joko mulai lenyap.

“Aku tak tahu... Mungkin mereka berdua sudah berusaha. Tapi nyatanya mereka tidak berhasil...”

Mendengar ucapan Joko, tengkuk Saraswati jadi dingin. Sementara Joko mulai melangkah mengitari lobang. Kedua tangannya sesekali mengetuk-ngetuk dinding lobang! Tapi sampai berputar tiga kali, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Di sini tidak ada tempat rahasia lagi. Berarti tempat ini memang sengaja disiapkan. Entah untuk apa... Yang jelas, sekarang kita harus cari akal untuk naik ke atas tanpa harus kerahkan tenaga dalam!”

Pendekar 131 mendekati dinding lobang tidak jauh dari Saraswati lalu tegak bersandar. Saraswati sendiri tercenung diam. Hanya matanya yang mengedar ke atas lobang lalu sesekali memandangi sosok mayat ibunya.

SEBELAS

AKAN kucoba!” Tiba-tiba Joko bergumam seraya melangkah ke dinding seberang. Di bawah mana dia tadi tegak di atas. Saraswati memperhatikan dengan kancingkan mulut. Namun seraya terus mengawasi langkah-langkah kaki Joko, gadis anak Lasmini ini berkata dalam hati.

“Selama ini aku telah berburuk sangka padanya! Walau aku belum percaya sepenuhnya, tapi aku sudah tidak punya curiga lagi padanya! Anehnya, siapa gerangan orang yang menyamar sebagai dirinya?! Apakah Kiai Laras...?! Bukankah orang tua itu yang menunjukkan tempat ini pada Ibu?! Saat itu juga aku melihat pemuda yang menyamar itu mengeluarkan sekuntum bunga bersinar-sinar di balik pakaiannya! Menurut beberapa keterangan yang kusirap, bunga itulah yang kini banyak dibicarakan orang dan disebut-sebut sebagai Kembang Darah Setan! Tapi...”

Saraswati tidak lanjutkan kata hatinya ketika melihat Joko telah keluarkan Pedang Tumpul 131 dari balik pakaiannya. Ruangan lobang itu seketika bertabur kemilau keemasan karena sinar yang dipancarkan pedang di tangan Joko.

“Apa yang hendak dilakukannya?!” bisik Saraswati.

Di depan sana Joko angkat pedangnya tinggi-tinggi dengan andalkan tenaga luar. Saat lain tangan Joko yang memegang pedang berkelebat.

"Craakk!" Dinding lobang perdengarkan benturan keras. Tangan kanan Joko terpental ke belakang. Dinding lobang bergetar. Saat bersamaan terlihat muncratan api disertai bertaburnya batu.

“Kita berhasil!” teriak murid Pendeta Sinting saat melihat satu rengkahan agak besar di dinding lobang yang terhantam pedang.

Joko mundur dua langkah. Lalu melompat ke atas. Pedang Tumpul 131 kembali berkelebat. Untuk kedua kalinya kembali terdengar benturan keras. Taburan batu kembali menebar. Saat taburan luruh, di atas rengkahan yang pertama terlihat lagi rengkahan lain. Joko memperhatikan sesaat. Lalu maju dan babatkan kembali pedangnya. Kini terlihat rengkahan lain di samping rengkahan yang pertama.

Joko angkat kaki kanannya dan diletakkan pada rengkahan yang pertama. Lalu angkat kaki kirinya dan diletakkan pada rengkahan di samping rengkahan yang pertama. Tangan kirinya segera menggapai rengkahan di atas rengkahan yang pertama. Kini tubuh Joko menempel di dinding dengan bertumpu pada tangan kiri yang berpegangan pada rengkahan diatas rengkahan yang pertama.

Joko tarik tubuhnya sedikit ke belakang. Pedang Tumpul 131 di tangan kanannya kembali dikelebatkan. Begitu seterusnya hingga terlihat beberapa rengkahan. Dan Joko setapak demi setapak naik ke atas sampai akhirnya tiba di bagian atas lobang. Joko menarik napas panjang. Pedang Tumpul 131 dipandangi sesaat lalu dimasukkan lagi ke dalam sarungnya di balik pakaiannya.

“Saraswati... Tunggu sebentar!” teriak murid Pendeta Sinting lalu berkelebat. Tak lama kemudian dia telah muncul lagi dengan tangan membawa tali dari akar panjang. Tali akar segera dilemparkan ke bawah. Saraswati angkat mayat ibunya dan mendekati ujung tali akar.

“Ibumu bisa kau ikat di ujung. Kamu nanti menggantung di atasnya!” teriak Joko dari atas.

Saraswati segera lakukan ucapan Joko. Ujung akar dililitkan berputar pada tubuh ibunya. Lalu perlahan-lahan didekatkan ke dinding. Saraswati sendiri tampak pegang tali akar kuat-kuat di atas sosok Lasmini.

“Tarik!” seru Saraswati.

Perlahan-lahan Joko menarik tali akar ke atas. Lalu menolong Saraswati begitu si gadis telah muncul di bibir lobang. Saat lain keduanya mengambil mayat Lasmini yang tergantung di bibir lobang. Joko cepat lepaskan lilitan akar pada sosok Lasmini. Lalu kembali lemparkan ujung akar ke bawah.

“Mayat nenek itu harus kita angkat sekalian! Bagaimanapun juga menurut kabar yang kudengar, nenek itu adalah bekas kekasih eyang guruku! Kau nanti yang menarik. Aku akan keatas lewat rengkahan itu!”

Tanpa menunggu sahutan dari Saraswati, murid Pendeta Sinting melayang ke bawah lalu mengangkat mayat Ni Luh Padmi ke pinggiran dinding dan melilit tubuh si nenek dengan ujung akar.

“Tarik pelan-pelan! Aku akan memeganginya sambil naik melalui rengkahan!” teriak Joko.

Saraswati tarik tali akar perlahan-lahan. Sementara Joko menopang dari bawah dengan bertumpu pada beberapa rengkahan yang dibuatnya. “Kita harus segera menguburkan mereka!” ujar Joko begitu sampai di atas seraya lepaskan lilitan akar pada mayat Ni Luh Padmi.

Masih tanpa buka suara, Saraswati mengangkat mayat ibunya. Joko mengangkat mayat Ni Luh Padmi. Keduanya melangkah keluar dari ruangan goa.

“Sudahlah, Saraswati... Semuanya sudah terjadi! Yang kita pikirkan sekarang adalah mencari siapa ge-lrangan di balik pembunuhan ini! Aku rasa, yang melakukannya tidak lain adalah orang yang selama ini menyamar sebagai diriku!” kata Joko seraya pegangi lengan Saraswati yang sesenggukan di samping makam ibunya.

“Semua memang sudah terjadi! Tapi seandainya saat itu Ibu turuti nasihatku. Tak mungkin semua ini akan terjadi!”

“Kau jangan banyak berandai-andai. Terimalah kenyataan ini...!”

Saraswati berpaling pada murid Pendeta Sinting. Matanya yang masih digenangi air mata menatap sendu lalu berucap. “Sekarang ke mana akan kita cari jahanam itu?! Lagi pula kita belum tahu siapa dia sebenarnya!”

“Aku sedikit banyak bisa menduga siapa dia sebenarnya! Tapi aku tidak berani memastikan dahulu!”

“Maksudmu di balik semua ini adalah orang tua bernama Kiai Laras itu?!”

“Ini masih dugaan...” kata Joko sambil anggukkan kepala. “Tapi melihat beberapa peristiwa yang terjadi, besar kemungkinan dugaan ini banyak benarnya!” Lalu Joko menceritakan pertemuannya dengan Kiai Laras. Juga menceritakan musibah yang dialami Pitaloka sampai akhirnya Pitaloka menunjukkan tempat di mana akhirnya ditemukan mayat Lasmini dan Ni Luh Padmi. Namun sejauh ini Joko tidak menceritakan perihal benda merah yang diambilnya dari pusar bayi Pitaloka.

Mendengar keterangan murid Pendeta Sinting, Saraswati terkejut. Lalu dengan tundukkan kepala dia bergumam pelan. “Joko... Kau mau memaafkan aku?! Selama ini aku telah menaruh prasangka buruk padamu...”

“Aku tak bisa memaafkanmu! Kecuali dengan satu syarat!” Joko menyahut dengan suara agak keras.

Saraswati terlengak kaget. Dia angkat kepala. Joko sudah berpaling terlebih dahulu hingga tak melihat perubahan pada wajah Saraswati.

“Joko! Apa pun syaratmu akan kupenuhi! Katakan saja...” gumam Saraswati dengan suara bergetar dan tersendat.

Beberapa saat Joko belum juga buka suara. Tapi tak lama kemudian dia buka mulut namun masih tanpa memandang ke arah Saraswati. “Benar kau akan penuhi syaratku?!”

“Katakanlah...!” ujar Saraswati sembari anggukkan kepala meski dia tahu orang tidak memandangnya.

Pendekar 131 berpaling. Matanya mendelik. Mulutnya terkancing rapat. Saraswati terkesiap dengan dada berdebar. Namun mendadak mulut Joko bergerak sunggingkan senyum seringai dan berkata,

“Tersenyumlah!”

Saraswati kerutkan kening. Joko tersenyum dan berkata. “Aku mau memaafkanmu kalau kau mau tersenyum!”

Belum sampai ucapan Joko selesai, Saraswati sudah membuat senyum lebar. Dan tanpa sadar gadis ini memegang lengan Joko sembari berkata pelan. “Benar hanya itu syarat yang kau minta?!” tanya Saraswati dan kini sudah rebahkan kepalanya di samping dada Joko.

“Kalau aku minta lainnya, jangan-jangan kau kebe-ratan!”

“Apa pun permintaanmu, akan kupenuhi...!” kata Saraswati seraya mendongak.

Dagu murid Pendeta Sinting tampak bersentuhan dengan kening Saraswati. Darah Pendekar 131 berdesir. Apalagi kini tangan sebelah Saraswati tiba-tiba sudah melingkar dipinggangnya. Entah karena khawatir terdorong kesaming, Joko terpaksa lingkarkan tangannya pula pada pinggang Saraswati. Saraswati pejamkanmata.

“Betapa bahagia jika Ibu masih ada dan menyaksikanaku hidup berdampingan dengan pemuda seperti dia...”

Tanpa disadari oleh murid Pendeta Sinting dan Saraswati yang tengah berangkulan di dekat makam Lasmini, dua pasang mata dari tadi tampak terus memperhatikan dari rimbunan semak. Sepasang mata sebelah kanan terlihat biasa-biasa saja meski meman- dang tak berkesip. Namun sepasang mata satunya tampak mengerjap beberapa kali dan kejap lain berkaca-kaca! Malah tak lama kemudian dua telapak tangan halus tampak menutup mata yang berkaca-kaca itu!

“Tabahkan diri! Jangan membuat mereka tahu kehadiran kita dengan suara tangismu!”

Terdengar bisikan lembut. Jelas suara itu terdengar dari orang yang memiliki mata sebelah kanan dan tampak terus memandang tak berkesip ke arah Joko dan Saraswati. Kedua tangan halus yang tadi menutupi mata yang berkaca-kaca diturunkan ke bawah. Sepasang mata itu masih terlihat tergenangi air mata. Saat lain sepasang mata ini berpaling ke kanan, dan ke arah sepasang mata yang terus memandang. Saat bersamaan terdengar suara lembut.

“Kita harus pergi menjauh. Tidak pantas kita melihat orang yang tengah berkasih-kasihan...”

“Bukan kita yang tidak pantas! Tapi mereka berdua! Tega-teganya mereka saling berpelukan di dekat makam! Padahal aku yakin orang di makam itu baru dikuburkan! Dan pasti makam itu adalah makam kerabat dekatnya!”

“Ah... Mungkin mereka tak sadar...” sahut pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Ini bukan masalah sadar atau tidak!”

“Kau terlalu berprasangka. Lagi pula apa urusan kita dengan mereka?!”

Mata yang sejak tadi memandang tak berkesip bergerak memaling ke kiri. Ke arah mata yang tadi berkaca-kaca. Lalu terdengar bisikan lembut meski nadanya keras.

“Kau jangan menutupi perasaan! Aku tahu bagaimana perasaanmu melihat pemuda itu berpelukan dengan seorang gadis! Dan kau pula tahu apa urusan kita dengan pemuda itu!”

“Kita sudah menyerahkan semua urusan padanya! Berarti urusan kita dengannya sudah selesai! Dan terus terang. Sebelumnya aku memang tertarik pada pemuda itu, tapi kini... Ah, percuma kita bicarakan! Kita sudah tahu apa yang terjadi!” kata suara pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Tidak! Aku harus menyelesaikannya! Urusan itu belum selesai sampai di sini! Kau tahu. Pada awalnya sebenarnya aku juga tertarik pada pemuda itu. Namun kini aku sadar siapa diriku. Lagi pula aku tahu kau menyukainya. Aku ingin kau berbahagia dengan pemuda itu! Aku harus dapat menyatukan kau dan pemuda itu! Karena itulah yang bisa kuberikan sebagai tebusan atas segala perbuatanku yang menyakitkan hatimu...”

“Kau jangan bicara yang bukan-bukan! Perasaan cinta tidak bisa dipaksakan! Dan jangan ungkit-ungkit lagi peristiwa yang telah berlalu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini...”

“Tunggu! Lihat mereka!” kata suara pemilik mata yang tadi terus mengawasi.

Mata yang tadi berkaca-kaca dan kini masih tergenangi air mata kembali memandang pada murid Pendeta Sinting dan Saraswati yang beranjak bangkit dari samping makam. Kedua orang pemilik dua pasang mata di balik semak ini tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Joko dan Saraswati. Karena Joko dan Saraswati bicara amat pelan malah setengah berbisik.

“Jangan-jangan mereka sudah tahu kehadiran kita...!” ujar suara pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Itu lebih baik! Berarti kita selesaikan sekalian uru- sannya di sini!” sahut pemilik mata satunya.

“Jangan membuat urusan baru. Percayalah. Aku bisa menerima semua ini...”

“Aku tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya! Apa yang baru kau ucapkan bertolak belakang dengan apa sesungguhnya yang ada dalam hatimu!”

Si pemilik mata yang berkaca-kaca tergagu diam tak bersuara lagi. Sementara di depan sana, Pendekar 131 dan Saraswati tampak saling pandang, lalu masih dengan saling berangkulan, mereka berdua melangkah tinggalkan tempat pemakaman.

“Kita ikuti mereka!” kata pemilik mata yang terus memandang tak berkesip.

“Tidak ada gunanya! Bukannya karena aku tak tahan melihat mereka, tapi kurasa kau mengajakku bukan untuk mengikuti orang yang tengah berkasih-kasihan!”

“Hem... Ucapanmu benar. Tapi sebenarnya salah!”

“Maksudmu...?!” tanya si pemilik mata yang berkaca-kaca.

“Aku sengaja minta izin waktu pada Eyang semata-mata hanya untuk mengikuti pemuda itu! Karena pemuda itu pasti tengah mencari jahanam keparat yang kini kucari!”

“Jadi...?”

“Aku memang hendak membalas tindakan manusia berjubah hitam yang memperkosaku itu! Kalau murid Pendeta Sinting meninggalkan tempat ini, berarti jahanam keparat itu juga tidak berada di tempat ini! Jadi kita harus mengikutinya!”

“Kau jangan gila! Kau tahu siapa yang akan kau hadapi?!”

“Benda untuk menghadapinya sudah berada di tangan Pendekar 131! Aku tinggal menunggu kesempatan. Yang jelas selembar nyawanya aku yang punya hak untuk memutusnya!”

“Tapi...”

“Aku sudah bersumpah! Dan aku harus lakukan sumpahku! Kita ikuti mereka!”

Habis terdengar suara begitu, satu sosok bayangan merah tampak berkelebat ke arah mana tadi Joko dan Saraswati melangkah. Saat lain satu bayangan merah juga berkelebat dari balik semak menyusul bayangan merah yang berkelebat lebih dahulu...

S E L E S A I