Social Items

Serial Joko Sableng Dalam Episode Kidung Maut Malam Purnama

Cerita silat serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131


BAB 1

BUKAN hanya Ratu Pemikat dan Pendekar 131 yang terkejut besar, namun Dewi Siluman juga terlihat pentangkan mata sambil perdengarkan dengusan keras. Malah karena merasa orang mencampuri urusannya, perempuan berjubah hitam panjang ini segera angkat kedua tangannya. Tapi sadar kalau tindakannya terlambat, akhirnya perempuan anak Daeng Upas ini urungkan niat lepaskan pukulan, tapi kedua tangannya tetap di atas udara.

Di lain pihak, Ratu Pemikat cepat bergerak hendak menghadang laju sosok tubuh orang yang secara mendadak lakukan serangan pada murid Pendeta Sinting yang ternyata adalah perempuan bercadar putih. Tapi gerakan Ratu Pemikat juga terlambat. Hingga sosok perempuan bercadar putih terus melaju bersamaan dengan menghamparnya gelombang dahsyat ke arah Joko!

Seperti diketahui, saat murid Pendeta Sinting dan Ratu Pemikat bercumbu mendadak muncul Dewi Siluman. Dan ternyata ditempat itu bukan hanya ada Dewi Siluman. Tapi juga ada perempuan bercadar putih yang sebenarnya sudah sejak tadi berada di balik batu. Dewi Siluman akan membebaskan Joko dan Ratu Pemikat. Tapi dengan syarat murid Pendeta Sinting harus menyerahkan Pedang Tumpul 131 dan dua kitab ditangannya. Yang dimaksud Dewi Siluman dengan kedua kitab tidak lain adalah Kitab Serat Biru dan Kitab Sundrik Cakra.

Tapi begitu Dewi Siluman ulurkan kedua tangannya meminta dengan kepala mendongak, dan di pihak lain murid Pendeta Sinting serta Ratu Pemikat bersiap-siap akan berkelebat loloskan diri, tiba-tiba saja perempuan bercadar putih sudah melesat lakukan serangan pada Pendekar 131. (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Bidadari Cadar Putih)

Merasa orang telah lepaskan pukulan padanya, murid Pendeta Sinting tidak tinggal diam. Seraya melompat mundur hindari gelombang, kedua tangannya didorong ke depan. Terdengar debuman. Sosok perempuan bercadar putih yang melesat di belakang pukulannya sesaat tampak tertahan. Namun belum sampai suara debuman lenyap, sosoknya telah melaju kembali kearah Joko dengan kedua tangan berkelebat. Joko tidak mau bertindak ayal. Kedua tangannya diangkat dipalangkan di atas kepala.

Bukkk! Bukkk!

Dua benturan keras terdengar. Joko sempat mundur satu tindak. Di depannya perempuan bercadar putih tarik pulang kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan kedua tangan Joko. Sosoknya bergetar. Tapi perempuan ini rupanya tidak mau memberi kesempatan. Baru saja kedua kakinya menjejak tanah, kedua tangannya kembali lepaskan pukulan. Malah jelas terlihat kalau tenaga yang dikerahkan lebih besar dari pukulannya yang pertama.

Mendapati hal demikian, Dewi Siluman sentakkan kaki kanannya ke atas tanah. Kedua tangannya yang berada di atas udara cepat disentakkan kearah perempuan bercadar putih. Melihat apa yang dilakukan Dewi Siluman, niat awal Ratu Pemikat yang hendak berkelebat tinggaikan tempat itu berubah. Dia menduga Dewi Siluman hendak mengeroyok murid Pendeta Sinting. Hingga begitu kedua tangan Dewi Siluman bergerak, perempuan berparas cantik ini segera menghadang dengan lepaskan pukulan.

Di seberang sana, murid Pendeta Sinting juga cepat angkat kedua tangannya lalu disentakkan ke depan memangkas pukulan perempuan bercadar putih. Terdengar benturan dua kali berturut-turut. Satu akibat bentroknya pukulan perempuan bercadar putih dengan pukulan yang dilepas murid Pendeta Sinting, satunya berasal dari bertemunya pukulan Dewi Siluman dan Ratu Pemikat.

Sosok murid Pendeta Sinting sesaat tampak bergetar. Wajahnya berubah. Sejarak enam langkah dihadapannya, sosok perempuan bercadar putih terlihat bergoyang-goyang. Sementara di sebelah belakang kedua orang ini, sosok Dewi Siluman tegak dengan mata mendelik angker. Tujuh langkah dihadapannya, Ratu Pemikat memandang tajam ke dalam bola mata Dewi Siluman dengan bibir sunggingkan senyum seringai.

Karena dari wajah orang di hadapannya yang terlihat hanya sepasang matanya, maka untuk beberapa lama Pendekar 131 arahkan pandangan pada bola mata orang. Yang dipandang balas menatap. Murid Pendeta Sinting tidak melihat adanya keangkeran di kedua bola mata orang. Malah sepasang mata itu tampak memandang sayu dan agak sembab!

"Aneh... Siapa perempuan ini adanya? Matanya sembab seperti orang baru menangis! Tapi mengapa itu kupikirkan? Dia baru saja hendak membuatku celaka!" membatin Joko. Lalu kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya ketika dilihatnya perempuan bercadar putih gerakkan kedua tangannya terangkat ke atas.

Namun untuk beberapa saat perempuan bercadar putih terdiam. Jelas sikapnya menunjukkan kalau dia bimbang. Bahkan kedua matanya memandang ke jurusan lain! Joko kerutkan dahi. Mulutnya bergerak hendak perdengarkan suara. Namun sebelum suaranya terdengar, perempuan bercadar putih telah sentakkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu sosoknya berkelebat menjauh. Tindakan perempuan bercadar putih membuat murid Pendeta Sinting sedikit heran.

"Dia berkelebat menjauh. Ada yang tak beres dengan perempuan ini..."

Joko cepat dorong kedua tangannya memangkas pukulan yang dilepas si perempuan bercadar putih. Lalu berkelebat ke arah si perempuan. Kembali tempat itu dibuncah ledakan tatkala pukulan perempuan bercadar putih dipangkas pukulan Joko.

"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Joko begitu sosoknya tegak dihadapan si perempuan bercadar putih.

Yang ditanya tidak perdengarkan jawaban. Hanya sepasang matanya yang memandang sayu. Lalu kepalanya bergerak menggeleng perlahan, membuat Joko makin heran.

"Aku tahu. Kau datang sebelum perempuan berbaju biru itu!Kau mengejarku terlebih dahulu! Apa maksudmu...?!"

Pertanyaan Joko membuat perempuan bercadar putih lebarkan sepasang matanya. "Jadi dia sebenarnya tahu kalau aku berada di sekitar tempat ini! Tapi mengapa dia berpeluk cium seakan tidak pedulikan adanya orang?! Apakah sifatnya memang begitu...?" Si perempuan bercadar putih menghela napas.

Seperti diketahui, saat perempuan bercadar putih berada sendirian,tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang berkelebat. Tanpa pikir siapa adanya orang, perempuan bercadar putih segera berkelebat mengejar. Namun yang dikejar ternyata adalah murid Pendeta Sinting menghilang. Di lain pihak, sebenarnya Joko sendiri sudah merasa kalau langkahnya diikuti orang. Hingga pada satu tempat, dia segera berkelebat cepat lalu menyelinap sembunyi.

Saat itu Joko memang sedikit agak heran karena dia tahu jelas kalau orang yang mengikutinya masih berada jauh dibelakang. Namun sebelum dia berkelebat dan menyelinap, dia merasa orang telah tidak jauh lagi dibelakangnya. Anehnya, begitu Joko sembunyi, dia tidak lagi menangkap adanya orang. Dan beberapa saat kemudian, muncullah Ratu Pemikat.

Waktu Joko keluar dari tempat persembunyiannya dan berseru, sebenarnya dia masih merasa bimbang apakah masih ada orang lain selain Ratu Pemikat di tempat itu. Namun kebimbangan Joko mulai lenyap tatkala matanya tidak menangkap orang lain selain Ratu Pemikat. Dan dia benar-benar jadi lupa pada kecurigaannya semula ketika terlibat perbincangan dengan Ratu Pemikat, apalagi begitu si perempuan cantik ini perlahan-lahan telah dapat menggelorakan gejolaknya. Mendapati perempuan bercadar putih tidak menjawab, Joko ajukan tanya lagi.

"Kau temannya perempuan berbaju biru itu?!Lalu kalian berdua bersandiwara dihadapanku?! Atau kau berkomplot dengan perempuan bergelar Dewi Siluman itu, hah?!"

Dari orang yang ditanya, yang terlihat menunjukkan perubahan hanyalah pandangan sepasang matanya. Sepasang bola mata itu kini sedikit membelalak tajam.

"Aneh..." gumam Joko melihat sikap orang di hadapannya. "Ditanya siapa dirinya menggeleng! Ditanya apa maksudnya diam! Dibilang teman dan komplotannya malah mendelik!" Murid Pendeta Sinting gelengknn kepala. Lalu enak saja dia teruskan gumamannya. "Jangan-jangan kau nenek-nenek yang suka mengejar pemuda..."

Mata milik perempuan bercadar putih makin mendelik. Bahkan saat itu juga terdengar gumaman tidak jelas. Namun sejauh ini si perempuan belum juga perdengarkan suara, membuat Joko buka mulut lagi.

"Nek! Katakan saja terus terang apa maumu!"

Dipanggil Nenek, mata perempuan bercadar putih mengerjap. Lalu terdengarlah suaranya. Sangat pelan namun masih jelas di telinga murid Pendeta Sinting.

"Di sini bukan tempatnya bertanya jawab apalagi bersenda gurau!"

"Hem.... Lalu tempatnya apa?!"

"Kau masih mengkhawatirkan jiwa kekasihmu perempuan cantik berbaju biru itu?!"

"Eh... Kenapa dia tanyakan itu...?

Nada suaranya seperti cemburu! Tapi, astaga! Mengapa aku terlalu gede rasa pada ucapan orang...?" Joko diam-diam bertanya jawab dengan batinnya sendiri. Lalu berujar.

"Dia bukan kekasihku. Dia hanyalah seorang sahabat! Jadi..."

"Jangan terlalu banyak bicara!" tukas perempuan bercadar putih. "Aku tanya sekali lagi. Kau masih mengkhawatirkan jiwa perempuan itu?!"

Joko terdiam sesaat. Dia melirik sejenak pada Ratu Pemikat yang saat itu terlihat masih saling perang pandang dengan Dewi Siluman.

"Pura-puralah menghindar dari pukulanku! Kau masih punya tugas lebih besar di depan sana!" ujar perempuan bercadar putih masih dengan suara perlahan, membuat Joko terlengak.

Belum hilang rasa kaget Joko, perempuan bercadar putih telah sentakkan kedua tangannya ke arah Joko. Satu gelombang luar biasa dahsyat menghampar. Joko masih berpikir sejurus tentang ucapan si perempuan. Lalu cepat-cepat keluarkan bentakan sambil berkelebat untuk hindarkan diri. Gelombang dari kedua tangan si perempuan lewat menggebrak udara kosong di mana tadi murid Pendeta Sinting berada.

Begitu Joko injakkan sepasang kakinya, perempuan bercadar putih telah berkelebat mengejar. Lalu dari jarak dua belas langkah, kembali si perempuan lepaskan pukulan. Kali ini Joko tidak tinggal diam. Dia pun segera sentakkan kedua tangannya. Tapi pukulannya sengaja diarahkan ke satu tempat yang tidak bertubrukan dengan pukulan yang dilepas perempuan bercadar putih. Pada saat yang sama, sosoknya berkelebat menjauhi tempat di mana Ratu Pemikat dan Dewi Siluman berada.

Di pihak lain, antara Ratu Pemikat dan Dewi Siluman untuk beberapa saat keduanya saling perang pandang. Namun diam-diam kedua perempuan ini saling bertanya-tanya sendiri dalam hati tentang siapa adanya parampuan bercadar putih dan mengapa tiba-tiba lepaskan pukulan ke arah murid Pendeta Sinting. Malah hampir berbarengan kedua orang ini saling lirikkan mata masing-masing kearah perempuan bercadar putih yang terlihat masih lepaskan pukulan setelah sejenak mereka mendengar pertanyaan- pertanyaan Joko yang tidak mendapat jawaban darisi perempuan.

Tapi ingat akan tindakan Ratu Pemikat yang menghadang di depannya, Dewi Siluman lupakan sejenak tentang perihal siapa dan apa maksud si perempuan bercadar putih. Kegeraman perempuan berjubah hitam panjang ini memuncak.

"Di Pulau Biru kau berhasil lolos! Tapi jangan harap kali ini kau bisa berbuat sama, Perempuan Binal!" Dewi Siluman membentak sambil angkat tangannya.

Dada Ratu Pemikat yang sejak tadi sudah mendidih dengan ucapan-ucapan Dewi Siluman makin menggelegak. Tapi tiba-tiba perempuan cantik bertubuh bahenol ini teringat akan pertemuan yang telah diaturnya.

"Hem... Pengorbananku hanya akan sia-sia kalau aku melayani perempuan jahanam ini!" Ratu Pemikat berpikir sejenak.

"Dewi Siluman!" kata Ratu Pemikat. "Bukankah sebenarnya di antara kita tidak ada silang sengketa? Malah bukankah kita pernah saling membantu di Pulau Biru?!"

Seperti diketahui, antara Ratu Pemikat dan Dewi Siluman memang pernah saling membantu saat terjadi peristiwa di Pulau Biru. (Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Neraka Pulau Biru)

Dewi Siluman tertawa pendek mendengar ungkapan Ratu Pemikat. Karena dia paham benar kenapa saat di Pulau Biru mengajak Ratu Pemikat saling bantu dan tahu pula apa yang akan dilakukan pada Ratu Pemikat seandainya dia dapat mengatasi lawan-lawannya saat itu, maka dengan nada mengejek, dia buka suara.

"Hem... Apa yang ada di balik ucapanmu, Perempuan Binal?! Kau kira aku tidak tahu apa yang ada dalam benakmu, he?!"

Ratu Pemikat tersenyum meski dipaksakan. "Kau masih menginginkan barang yang kau minta tadi?!" Ratu Pemikat kali ini lantas tertawa pendek dan tanpa menunggu jawaban orang, diateruskan ucapannya. "Kau kira pemuda itu akan memberikan begitu saja apa yang kau minta?! Buang jauh-jauh impian itu!"

"Kau akan saksikan benar tidaknya ucapanmu saat ini juga!"

Ratu Pemikat gelengkan kepala. "Percuma kau lakukan itu!Kau hanya akan menelan kecewa untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin kekecewaan yang terakhir kali! Karena nyawamu akan melayang sendiri! Meski saat ini dia sendirian, tapi apa yang dimilikinya saat ini tidak lebih rendah dibanding saat dia di Pulau Biru yang dibantu beberapa temannya! Kedua kitab ditangannya..."

"Keparat!" potong Dewi Siluman. "Kau tak perlu memberi banyak keterangan!"

"Kau mungkin belum tahu...!" ujar Ratu Pemikat kalem. "Seandainya saja aku menginginkan Pedang Tumpul 131 dan kedua kitab di tangannya, bagiku semudah mencabut rumput di padang luas! Bahkan memutus nyawanya sekaligus bagiku tidak sesulit membalik telapak tangan! Tapi aku tidak melakukannya! Kau tahu apa sebabnya?!"

Dewi Siluman terdiam. Dari apa yang tadi dilihatnya, apa yang barusan di dengar dari mulut Ratu Pemikat membuat Dewi Siluman mau tak mau harus sedikit membenarkan ucapan perempuan berbaju biru tipis itu. Dan pertanyaan Ratu Pemikat membuat Dewi Siluman penasaran meski dia tadi masih sempat mendengar perbincangan antara Ratu Pemikat dan Pendekar 131 yang sebut-sebut sebuah pertemuan dan sebuah Kitab Hitam. Hingga pada akhirnya dia buka mulut juga.

"Aku memberi kesempatan padamu menjawab sendiri pertanyaan mu!

"Pada purnama ini akan ada satu pertemuan di Kedung Ombo! Sebelum kulanjutkan keteranganku, mau jawab satu pertanyaanku?!" tanya Ratu Pemikat seraya melirik pada Pendekar 131 yang saat itu tampak masih berkelebat menghindar dari pukulan yang dilepas perempuan bercadar putih.

Setelah melirik pula pada murid Pendeta Sinting, Dewi Siluman berkata. "Apa yang kau tanyakan?!" Suaranya masih terdengar ketus.

"Kau pernah mendengar sebuah kitab sakti bernama Kitab Hitam?!"

"Hem... Meski aku mendengar selentingan tapi aku belum yakin benar akan adanya kitab itu!" kata Dewi Siluman dalam hati. Tapi karena tidak mau dikira tak banyak tahu tentang apa yang terjadi dalam dunia persilatan, walau dia masih belum tahu benar tentang seluk beluk Kitab Hitam, Dewi Siluman akhirnya menjawab.

"Apa yang terjadi dalam dunia persilatan, tak akan luput dari tanganku!"

"Hem.... Lalu apakah kau juga telah tahu, siapa gerangan orang yang beruntung mendapatkannya?!"

Karena Dewi Siluman tidak juga buka mulut memberi jawaban, Ratu Pemikat telah maklum kalau sebenarnya Dewi Siluman tidak tahu banyak mengenai kitab itu. Namun Ratu Pemikat tidak mau bicara mengejek. Dia cepat memutar otak dan tahu bagaimana harus bertindak.

"Itulah mengapa sebabnya aku tidak lagi menginginkan kedua kitab serta Pedang Tumpul 131 sekaligus nyawa Pendekar 131 saat ini, meski hal itu tidak terlalu sulitbagiku!"

"Kau terlalu bicara berbelit! Katakan saja terus terang!"

"Kitab Hitam telah jatuh ke tangan seseorang yang aku yakin hanya Pendekar 131 yang dapat mengalahkannya!"

"Peduli setan siapa orang yang mendapatkan Kitab Hitam! Yang pasti Pedang Tumpul 131 dan kedua kitab di tangan Pendekar 131 harus kuambil sekarang juga!"

"Kau kira bagimu masih mudah mengambil dari tangannya?!" Ratu Pemikat kembali tertawa pendek sambil gelengkan kepala. "Kusarankan padamu. Tunggulah sampai urusan di Kedung Ombo selesai! Dan aku akan mengambilkan untukmu apa yang kau inginkan dari tangan Pendekar131!"

"Ucapan perempuan binal sepertimu mana bisa dipercaya?!"

Ratu Pemikat masih menekan perasaan. Lalu berkata sambil tersenyum. "Pedang Tumpul 131 dan kedua kitab di tangannya tidak ada lagi gunanya bagiku! Kalaupun saat ini aku membiarkan dia hidup, waktunya hanya sampai purnama ini!"

"Hem.... Jadi kau menginginkan Kitab Hitam itu?!"

"Benar!" sahut Ratu Pemikat berterus terang. "Saat ini kita saling bergantung! Dan aku menawarkan kesempatan baik padamu!"

"Apa maksudmu?!"

"Aku tak akan dapat memiliki Kitab Hitam tanpa Pendekar 131! Dan kau tidak akan bisa mendapatkan Pedang Tumpul 131 serta kedua kitab itu tanpa aku!"

Dewi Siluman arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting yang terus berkelebat sambil sesekali keluarkan bentakan dan makin lama makin agak menjauh. Perempuan ini sejurus memikirkan kebenaran ucapan Ratu Pemikat. Namun jelas pandangannya masih tampak kalau dia dilanda kebimbangan. Malah dia terlihat hendak berkelebat begitu mendapati perkelahian antara perempuan bercadar putih dan Pendekar 131 telah jauh berada di seberang sana. Namun Ratu Pemikat cepat-cepat menghadang sambil berkata.

"Kurasa dia hendak loloskan diri! Jangan dikejar!"

"Aku tidak percaya dengan semua keteranganmu tadi!" bentak Dewi Siluman.

"Kalau begitu terserah! Silakan kau mengejar dan antarkan nyawa! Asal kau tahu, dia bukan lagi orang yang sama seperti waktu berada di Pulau Biru!"

"Peduli setan!" sentak Dewi Siluman. Namun meskin ada ucapannya seolah tidak pedulikan saran Ratu Pemikat, tapi dia tidak juga lakukan gerakan apa-apa.

"Tunda keinginanmu sampai purnama ini! Bukankah purnama hanya tinggal delapan hari lagi?! Begitu Kitab Hitam telah berpaling ke tanganku, aku akan ambilkan barang yang kau inginkan! Bukankah itu adil? Lagi pula kita akan sama-sama memperoleh barang yang kita inginkan tanpa harus keluarkan tenaga!"

"Kau yakin Pendekar 131 akan muncul di Kedung Ombo?! Tadi kudengar..."

"Betul! Dia tadi memang mengatakan tidak akan hadir pada pertemuan di Kedung Ombo...!" kata Ratu Pemikat menukas ucapan Dewi Siluman. "Tapi aku yakin dia akan muncul di sana!"

"Bagaimana kau punya keyakinan begitu?!"

"Sebenarnya sejak semula Pendekar 131 telah mencari-cari Kitab Hitam. Bukan maksud untuk memilikinya, melainkan untuk memusnahkannya! Dia kini telah tahu kalau Kitab Hitam telah berada di tangan seseorang. Dan orang yang telah memiliki Kitab Hitam itu akan muncul di Kedung Ombo! Apakah menurutmu dia akan sia-siakan kesempatan ini?!"

"Apa kata-katanya bisa dipercaya? Apa dia tidak punya maksud tertentu di balik ucapannya...?!" Dewi Siluman masih ragu-ragu.

Saat itulah tiba-tiba terdengar ledakan keras di depan sana. Tanah bertabur menutupi pemandangan. Dewi Siluman dan Ratu Pemikat rasakan pijakan kaki masing-masing bergetar keras. Dewi Siluman cepat sentakkan kepala. Sementara Ratu Pemikat hanya melirik tenang-tenang saja. Perempuan ini rupanya telah maklum apa yang terjadi.

"Jahanam itu lenyap!" desis Dewi Siluman sambil pentangkan mata menembusi hamburan tanah yang mulai luruh.

Ratu Pemikat berpaling. Ucapan Dewi Siluman benar. Karena sosok Pendekar 131 dan perempuan bercadar putih telah tidak terlihat lagi.

"Tidak lama!" ujar Ratu Pemikat. "Kita pasti akan segera bertemu lagi!"

"Baik!" kata Dewi Siluman pada akhirnya walau sebenarnya perempuan ini masih menyimpan keraguan. "Hari ini aku masih percaya ucapanmu! Tapi ingat, bila kelak kenyataan tidak sesuai, itulah akhir dari hidupmu!"

Ratu Pemikat tidak sambuti ancaman Dewi Siluman. Namun diam-diam dalam hati dia berkata. "Kelak kenyataan itu akan terjadi, Perempuan Busuk! Tapi justru kenyataan itu adalah kenyataan pahit bagimu!"

Dewi Siluman arahkan pandangan ke tempat mana dia yakin murid Pendeta Sinting berkelebat pergi. Lalu tanpa berkata atau berpaling pada Ratu Pemikat yang tegak memandang ke arahnya, dia melangkah. Tapi baru saja melangkah empat tindak, kepalanya berpaling pada Ratu Pemikat.

"Siapa perempuan bercadar putih tadi?!"

Ratu Pemikat gelengkan kepala. "Wajahnya ditutup cadar sepertimu. Bagaimana aku tahu siapa dia adanya?! Tapi satu hal yang pasti, dia mengenalmu! Dan aku yakin dia orang yang telah kau kenal!"

Dewi Siluman mendengus. Lalu menoleh lagi kejurusan lain sambil kembali buka mulut. "Kau tadi mengatakan Kitab Hitam telah dimiliki seseorang! Siapa orang itu?!"

"Jawaban pastinya akan kau lihat sendiri di Kedung Ombo purnama ini!"

Dewi Siluman sebenarnya tidak senang dengan jawaban Ratu Pemikat. Tapi entah karena apa dia tiba-tiba melupakan hal itu. Dia tengadah sesaat lalu angkat bicara lagi.

"Masih ada yang perlu kuketahui!"

Ratu Pemikat angkat kedua alis matanya. Wajahnya tampak sedikit tegang. "Aku dengan senang hati akan menjawab bila tahu persoalannya!"

"Waktu di Pulau Biru, jelas-jelas kau inginkan kitab di tangan Pendekar 131. Kenapa kini berubah? Anehnya lagi, kau bisa berbaik-baikan dengannya bahkan jika aku tidak muncul, pasti kalian berdua akan teruskan perbuatan gila itu!"

Ketegangan diwajah Ratu Pemikat sirna. Perempuan ini tertawa panjang sebelum akhirnya menjawab. "Kita satu sama lain punya kesamaan! Sayangnya aku lebih beruntung dibanding kau!"

"Aku tidak mengerti maksudmu!"

"Kita sama-sama punya dendam pada Pendekar 131! Namun jujur saja, kita sebenarnya juga tidak menolak kalau dia memberi kehangatan pada kita! Dan aku beruntung bisa mendapatkannya! Kalau saja kau mau membuka cadarmu dan berlaku sedikit gila, kurasa kau tidak menemui kesulitan kalau hanya inginkan kehangatan!"

Dewi Siluman sentakkan kepalanya ke arah Ratu Pemikat. Namun dia urung keluarkan makian yang sudah ada di mulutnya karena Ratu Pemikat telah berkelebat dengan tertawa panjang.

Dewi Siluman menggumam pelan tidak jelas. Lalu kepalanya mendongak.Berlama-lama perempuan berjubah hitam ini tegak dengan kepala tengadah. Entah apa yang ada dalam pikirannya, yang jelas sepasang matanya memandang kosong dan dadanya naik turun hembuskan napas panjang dan dalam.

********************

BAB 2

INI hari dua hari menjelang malam purnama.Langit perlahan-lahan tampak berubah warna. Kegelapan serta kabut mulai bergerak bersamaan dengan berhembusnya angin pagi. Pada sebuah goa di tempat sepi, satu sosok tubuh bertelanjang dada tampak duduk bersila menghadap mulut goa. Napasnya berhembus teratur. Jelas pertanda jika orang ini sedang pusatkan mata batin. Namun melihat sekujur tubuh serta celana yang dikenakan tampak basah kuyup padahal saat itu baru saja menjelang pagi, jelas pula menunjukkan kalau orang ini pusatkan mata batin sambil kerahkan tenaga dalam.

Ketika cahaya sang surya mulai membias di bentangan langit sebelah timur, perlahan-lahan sosok bertelanjang dada di dalam goa yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan buka sepasang matanya. Bola mata itu sejenak memandang lurus keluar goa. Karena di bagian luar goa banyak ditumbuhi jajaran pohon, maka yang kelihatan hanyalah hijau jajaran pohon meski masih samar-samar.

Si pemuda lepaskan sedekapan kedua tangannya. Tangan kanannya terangkat lalu menyisir rambutnya yang hitam panjang dan lebat dengan jari-jarinya. Sementara tangan kirinya mengusap-usap dada dan wajahnya yang basah karena keringat. Kepala si pemuda lalu bergerak sedikit tengadah.

"Menurut ucapan perempuan itu, hari ini dia akan datang! Hem... Tapi aku tak akan menunggu kedatangannya. Aku justru yang akan menjemput. Sekalian ingin tahu apa yang telah dilakukannya!"

Si pemuda bergerak bangkit. Lalu melangkah ke pojok goa di mana tampak sebuah batu tidak begitu besar yang di atasnya tampak gulungan pakaian hitam dan putih. Tangan kanan si pemuda menyambar gulungan pakaian hitam. Menatapnya sejenak. Lalu membukanya perlahan-lahan. Ternyata di dalam pakaian hitam itu terlihat sebuah kitab bersampul hitam yang telah ditalikan sedemikian rupa hingga begitu si pemuda mengenakan pakaian hitam, kitab itu tetap tidak terjatuh dan tepat berada di depan perutnya.

Tangan kiri si pemuda lalu menyambar pakaian putih yang ternyata adalah sebuah jubah panjang. Seperti halnya tadi, sesaat mata si pemuda memperhatikan jubah di tangan kirinya. Jelas jubah putih itu tidak ada apa-apanya. Namun untuk beberapa lama si pemuda memperhatikan.

"Hem.... Tak ada salahnya aku mengenakan jubah ini. Inilah satu-satunya pemberian Guru.... Selain tentu saja impian besarnya yang telah disampaikannya padaku!" Si pemuda bergumam seraya sunggingkan senyum aneh. Lalu mengenakan jubah putih merangkapi pakaian hitamnya.

"Hem.... Sayang Guru tidak mau hadir pada purnama nanti. Seandainya dia mau datang, dia akan tahu bahwa muridnya akan ditasbihkan sebagai raja diraja rimba persilatan! Dia akan tahu, bagaimana musuh-musuhku akan jatuh berkaparan! Dia akan tahu, bagaimana air jernih Kedung Ombo akan berubah warna dibuncah darah Pendekar 131 dan teman-temannya!"

Si pemuda yang di balik pakaiannya membekal kitab bersampul hitam dan tidak lain adalah Kitab Hitam yang menunjukkan bahwa si pemuda adalah Malaikat Penggali Kubur melangkah perlahan ke mulut goa. Kepalanya melongok sejenak keluar goa dengan mata memandang berkeliling. Kejap lain kedua tangannya menyentak kedinding mulut goa. Tahu-tahu sosoknya telah lenyap dari mulut goa!

Dan di saat matahari mulai tergelincir dari titik tengahnya, sosok Malaikat Penggali Kubur tampak berkelebat melewati Dusun Sumber Suko sebelum akhirnya lenyap lagi di satu kawasan yang menuju Bukit Selamangleng.

********************

Matahari sudah sedikit condong ke arah barat tatkala satu penunggang kuda berpacu cepat memasuki kawasan Bukit Selamangleng. Penunggang kuda ini tidak melewati jalan yang menuju bukit, meski jelas kalau tempat yang dituju adalah Bukit Selamangleng, karena di sekitar kawasan bukit itu hanya ada jurang menganga. Ini jelas menunjukkan kalau si penunggang kuda sudah paham betul dengan kawasan yang dilalui. Dan hal itu semakin kelihatan tatkala pada satu tempat di lamping sebelah utara bukit, si penunggang kuda hentikan lari kuda tunggangannya.

Lalu berkelebat menerabas jajaran pohon menaiki bukit. Hanya dalam beberapa saat, sosok orang yang tadi menunggang kuda telah berada beberapa tombak saja dari puncak bukit. Namun tiba-tiba orang ini hentikan langkahnya. Kepalanya yang gundul berkilat-kilat karena baru saja tertimpa sinar matahari tampak bergerak ke kiri kanan. Sepasang matanya yang melotot besar memandang berkeliling.

"Apakah mereka sudah sampai disini?!Aku merasa ada orang yang mengawasi langkahku!" membatin orang berkepala gundul yang tidak lain adalah Iblis Rangkap Jiwa.

"Menurut perjanjian, memang hari ini mereka akan datang! Hem.... Mudah-mudahan perempuan sundal itu bisa memberi kepercayaan pada Malaikat Penggali Kubur! Kalau tidak, urusanku bisa jadi tak karuan! Dan kalau dia benar-benar gagal, selembar nyawanya adalah imbalan yang harus dia tebus! Tapi sebelum dia meregang ajal, dia harus layani aku dahulu dua hari dua malam! Bukankah purnama masih kurang dua hari lagi...?"

Iblis Rangkap Jiwa tersenyum sambil usap-usap kepalanya. Tapi gerakan tangan Iblis Rangkap Jiwa tertahan seketika tatkala mendadak saja dia dikejutkan dengan satu bentakan dahsyat.

"Berani teruskan langkah, nyawamu amblas!"

Wuuutt!Wuuut!

Dari arah terdengarnya bentakan, dua gelombang angin luar biasa keras menghampar. Meski Iblis Rangkap Jiwa dikenal sebagai manusia yang kebal terhadap pukulan, namun orang berkepala gundul ini tidak mau begitu saja umpankan tubuhnya. Hingga seraya berseru keras dia melompat ke samping. Saat bersamaan kedua tangannya berkelebat lepaskan pukulan.

Bummm!

Kesunyian puncak Bukit Selamangleng terbuncah dengan ledakan keras akibat bertemunya pukulan orang yang bersembunyi dengan pukulan yang dilepas Iblis Rangkap Jiwa. Beberapa pohon yang tidak begitu besar tampak bergoyang-goyang keras sebelum akhirnya berderak tumbang dengan terbangkan daun-daunnya. Buncahan di dekat puncak bukit tidak terhenti. Karena begitu derakan dan debuman tumbangnya pohon lenyap, terdengar suara orang tertawa panjang bergelak.

"Hem.... Suara manusia laki-laki! Berarti bukan mereka berdua!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Tanpa berpaling lagi, kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan ke arah sumber suara tawa.

"Berani kau gerakkan tangan, nasibmu jelek!" Tiba-tiba terdengar bentakan di sela suara tawa orang.

Sebenarnya Iblis Rangkap Jiwa hendak teruskan gerakan kedua tangannya tidak pedulikan ancaman orang. Namun laki-laki berkepala gundul ini sesaat mengernyit. Lalu tarik pulang kedua tangannya urungkan niat. Bersamaan itu sosoknya memutar menghadap di mana suara tawa dan bentakan tadi terdengar. Satu sosok tubuh berbalut jubah putih panjang melayang turun dari sebuah pohon. Dan tegak sejarak lima langkah di hadapan Iblis Rangkap Jiwa.

"Malaikat Penggali Kubur!" gumam Iblis Rangkap Jiwa mengenali siapa adanya orang yang kini tegak dihadapannya.

Sesaat orang yang baru melayang turun dan tidak lain memang Malaikat Penggali Kubur perhatikan Iblis Rangkap Jiwa dari atas sampai bawah. Sementara yang dipandang tampak berubah paras dan tegang.

"Kau!" mendadak Malaikat Penggali Kubur arahkan jari tangan kirinya lurus kemata orang, membuat Iblis Rangkap Jiwa laksana sirap darahnya.

"Jangan-jangan perempuan sundal itu gagal meyakinkan pemuda ini!Hem... Apa boleh buat! Meski dia membekal Kitab Hitam, tapi aku tak akan tinggal diam!" membatin Iblis Rangkap Jiwa lalu kerahkan tenaga dalam.

"Berlutut!" Malaikat Penggali Kubur lanjutkan bentakannya.

"Akan kuturuti kemauan jahanam ini dahulu!" kata Iblis Rangkap Jiwa dalam hati lalu dia tekuk lututnya dan perlahan-lahan lorotkan tubuh. Namun diam-diam dia lipat gandakan tenaga dalam, hingga sesaat sosoknya tampak bergetar.

Bersamaan dengan melorotnya sosok Iblis Rangkap Jiwa dan berlutut, Malaikat Penggali Kubur tarik pulang tangan kirinya dengan kepala ditengadahkan. Lalu terdengar suara gelakan tawanya menggembor keras.

"Bagus! Kau dengar, Manusia Iblis! Kapan dan di mana kau bertemu dengan Malaikat Penggali Kubur, hal pertama yang harus kau lakukan adalah berlutut! Kau mengerti?!"

Iblis Rangkap Jiwa menyumpah habis-habisan dalam hati. Namun sejauh ini dia tidak menyambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur. Dia masih menunggu apa yang akan diucapkan dan diperbuat si pemuda. Tapi tekadnya telah bulat. Dia akan mengadu jiwa saat itu juga kalau Ratu Pemikat yang disuruh meyakinkan Malaikat Penggali Kubur tentang urusannya dengan Dewa Orok mengalami kegagalan dan Malaikat Penggali Kubur tidak mau mengerti.

Seperti diketahui, Iblis Rangkap Jiwa mendapat tugas dari Malaikat Penggali Kubur untuk membunuh Dewa Orok. Sebenarnya Iblis Rangkap Jiwa sudah hampir dapat selesaikan tugas dengan baik. Sayang waktu itu dia bersama Ratu Pemikat. Dan sialnya dia menuruti usul Ratu Pemikat untuk menunda dahulu urusannya dengan Dewa Orok. Lalu meninggalkan Dewa Orok dalam keadaan tertanam dan ditotok. Tapi usul dan dugaan Ratu Pemikat pada akhirnya hanya mendatangkan kecewa pada Iblis Rangkap Jiwa. Karena waktu dilihat kembali, Dewa Orok telah lenyap tidak meninggalkan bekas!

Malaikat Penggali Kubur putuskan gelakan tawanya. Kepalanya lurus menghadap Iblis Rangkap Jiwa. "Aku senang punya pembantu macam kau! Sigap dan tepati janji!"

Iiblis Rangkap Jiwa sedikit merasa lega mendengar ucapan Malaikat Penggali Kubur. Namun dia bertahan untuk tidak buka mulut dahulu. Dia masih merasa bimbang.

"Ceritakan padaku bagaimana dengan tugasmu!" kata Malaikat Penggali Kubur.

Iblis Rangkap Jiwa bergerak hendak bangkit. "Jangan berani bangkit tanpa perintahku!" bentak Malaikat Penggali Kubur menahan gerakan bangkit Iblis Rangkap Jiwa.

"Bangsat keparat!" maki Iblis Rangkap Jiwa dalam hati. Tapi dia urungkan juga niatnya untuk bangkit. Mungkin masih tidak bisa menahan gejolak hawa amarahnya atas perlakuan Malaikat Penggali Kubur, dia segera buka mulut dengan suara gemetar dan agak keras.

"Kau sudah bertemu dengan Ratu Pemikat?!" Meski nada suara Iblis Rangkap Jiwa bertanya, namun laki-laki gundul ini tidak perlu menunggu jawaban Malaikat Penggali Kubur. Dia lanjutkan ucapannya. "Dari perempuan itu mungkin kau telah tahu semuanya!"

Iblis Rangkap Jiwa sengaja tidak menunggu jawaban Malaikat Penggali Kubur karena dia sendiri sebenarnya masih ragu apakah Ratu Pemikat benar-benar telah bertemu dengan Malaikat Penggali Kubur dan dapat meyakinkannya. Dan kalaupun Ratu Pemikat belum sempat bertemu, maka masih ada kesempatan baginya untuk mencari alasan dan mengatakan apa yang telah terjadi dengan cerita yang tidak sebenarnya. Dan degnan jalan begitu, dia akan tahu apakah Ratu Pemikat benar-benar berhasil meyakinkan Malaikat Penggali Kubur kalau perempuan itu telah berhasil jumpa dengan Malaikat Penggali Kubur.

Malaikat Penggali Kubur rangkapkan kedua tagnan. "Lalu bagaimana urusannya dengan Cucu Dewa?!"

"Hem.... Dia tidak sebut-sebut lagi urusan Dewa Orok! Berarti Ratu Pemikat telah bertemu dan berhasil meyakinkan manusia keparat ini!" simpul Iblis Rangkap Jiwa begitu mendengar pertanyaan yang diajukan Malaikat Penggali Kubur. Ketegangan didada Iblis Rangkap jiwa mereda.

"Terus terang! Manusia cebol itu tidak berhasil kutemukan meski tempatnya sudah kuobrak-abrik! Tapi kau tak usah khawatir. Urusan manusia cebol itu masih menjadi tanggung jawabku!"

Malaikat Penggali Kubur anggukkan kepala. Mulutnya hendak perdengarkan suara. Tapi Iblis Rangkap Jiwa telah mendahului

"Lalu bagaimana dengan janjimu?!"

Sepasang mata Malaikat Penggali Kubur menatap angker.

"Janji apa?!"

"Kitab Hitam itu..."

Belum sampai Iblis Rangkap Jiwa lanjutkan ucapannya, Malaikat Penggali Kubur telah tertawa terbahak-bahak.

"Kau belum selesaikan tugasmu dengan sempurna! Malah aku masih meragukan apakah kau benar-benar telah membunuh manusia itu!"

"Tapi bukankah keterangan Ratu Pemikat..."

"Benar!" kembali Malaikat Penggali Kubur sudah manukas ucapan Iblis Rangkap Jiwa. "Tapi kalian tidak tunjukkan bukti kuat!Hanya dot busuk! Siapapun juga bisa lakukan hal seperti itu!"

Kembali paras Iblis Rangkap Jiwa menegang. "Jadi kau tidak percaya kalau Dewa Orok telah putus nyawanya?!"

"Ratu Pemikat mengatakan kalian berdua hanya menanam manusia itu di satu tempat sepi dalam keadaan tertotok! Kalian tidak membunuhnya!"

"Tapi pasti dia sudah tewas!"

"Nyawa manusia tidak bisa dipastikan! Kecuali jika kalian waktu itu benar-benar telah membunuhnya!"

"Jadi…?!"

"Aku tanya padamu. Apakah kau telah lihat kembali tempat di mana kau menanam manusia itu?!"

Dada Iblis Rangkap Jiwa berdebar keras. Sesaat dia terdiam. Dan mungkin tidak mau orang merasa curiga, akhirnya dia buka mulut juga. "Karena aku menduga dia pasti tewas, untuk apa aku perlu melihatnya?!"

"Jawabanmu juga tidak pasti! Kau masih menduga!"

"Tapi mustahil dia bisa selamat!" Iblis Rangkap Jiwa masih ajukan alasan.

"Kau tidak dapat memastikan benar tidaknya ucapanmu kalau tidak melihat sendiri!"

Merasa orang tidak bisa diyakinkan, pada akhirnya Iblis Rangkap Jiwa pasrah. Tekadnya yang semula hendak mengadu jiwa muncul kembali. Sambil bangkit dia berkata. "Lalu apa kemauanmu?!"

Meski tadi telah mengancam agar Iblis Rangkap Jiwa tidak bangkit tanpa perintahnya, namun begitu melihat Iblis Rangkap Jiwa bergerak bangkit dan meradang, Malaikat Penggali Kubur tertawa pendek.

"Kau masih ingat apa yang kau alami saat kita baru pertama jumpa?!"

Iblis Rangkap Jiwa tidak segera menjawab. Pada pertemuan pertama dengan Malaikat Penggali Kubur, Iblis Rangkap Jiwa memang dengan mudah dapat membuat si pemuda bertekuk lutut. Namun begitu Malaikat Penggali Kubur mendapatkan Kitab Hitam, meski Iblis Rangkap Jiwa dikenal tidak mempan pukulan, namun pada akhirnya laki- laki berkepala gundul ini harus menyerah, karena akibat yang dialami dari bentrokan yang terjadi, dia merasa lama kelamaan akan mampus juga. Hal itulah yang membuat Iblis Rangkap Jiwa mau melakukan perintah Malaikat Penggali Kubur meski tindakannya itu hanya untuk sementara waktu sambil menunggu saat yang tepat.

Mendapati Iblis Rangkap Jiwa tidak menjawab pertanyaannya, Malaikat Penggali Kubur keraskan suara lawanya. "Dengar! Kau boleh tidak mempan pukulan, tapi kau telah merasa bagaimana akibatnya berhadapan denganku! Dan hal yang lebih mengerikan akan kau alami kalau kau bersikap meradang padaku! Kau dengar?!"

Iblis Rangkap Jiwa belum juga buka mulut memberi sahutan.

"Dengar, Manusia Iblis! Saat ini kuyakin rimba persilatan telah banyak mendengar tentang adanya pertemuan di Kedong Ombo dua hari mendatang! Saat itulah baru aku bisa memastikan kalau tugasmu selesai dengan sempurna!"

"Bagaimana kau memastikannya?!"

"Kau menghadapi manusia bernama Dewa Orok itu bersama Ratu Pemikat. Meski aku belum pernah bertemu dengan manusia itu, namun aku yakin manusia itu bukan orang sembarangan! Kalau dia belum mampus, pasti dia telah mendengar tentang pertemuan di Kedung Ombo. Dan pasti akan muncul purnama nanti!"

Habis berkata begitu,tiba-tiba kepala Malaikat Penggali Kubur menyentak ke bawah. Sesaat sepasang matanya memandang tak berkesip ke bawah bukit. Iblis Rangkap Jiwa serta-merta juga turunkan pandangannya ke bawah bukit.

"Dugaanku tidak salah! Dia muncul dahulu di sini!" gumam Malaikat Penggali Kubur dalam hati sambil angkat kepalanya.

"Kurasa tenaga perempuan itu sudah tidak ada gunanya lagi!" ujar Iblis Rangkap Jiwa seraya terus arahkan pandangan ke bawah bukit. "Apa tidak sebaiknya dia dihabisi sekarang?!"

"Nyawamu dan nyawa perempuan itu ada di tanganku! Jangan kau berani bertingkah macam-macam!" bentak Malaikat Penggali Kubur. "Dan jangan kau buka mulut saat aku nanti bertanya padanya! Kau dengar?!"

Iblis Rangkap Jiwa sambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur dengan dengusan, lalu melangkah ke arah puncak bukit. "Nyawamu tinggal dua hari, Jahanam!" desis Iblis Rangkap Jiwa lalu duduk bersandar pada sebatang pohon dengan mata melirik ke arah di mana tadi Malaikat Penggali Kubur berada. Iblis Rangkap Jiwa sesaat besarkan sepasang matanya yang berada dalam rongga mata yang menjorok keluar dan hampir tidak tertutup daging dikanan kirinya. Ternyata Malaikat Penggali Kubur sudah tidak kelihatan batang hidungnya!

BAB 3

BELUM sampai Iblis Rangkap Jiwa sempat edarkan pandangan mencari di mana gerangan Malaikat Penggali Kubur, satu sosok tubuh berkelebat cepat menuju puncak bukit. Namun kelebatan sosok ini tidak berlanjut. Karena beberapa tombak lagi mencapai puncak bukit di mana Iblis Rangkap Jiwa berada, satu suara membuat kelebatan sosok yang mendaki bukit terhenti.

"Tahan dulu niatmu!"

Sosok yang mendaki serta-merta hentikan kelebatannya. Kedua tangannya dipentangkan. Kepalanya tengadah lurus ke arah puncak bukit. Meski samar-amar, namun orang ini masih dapat menangkap sosok Iblis Rangkap Jiwa yang duduk bersandar.

"Jelas suara tadi tidak datang dari puncak bukit! Berarti ada orang lain selain manusia iblis itu!" desis orang yang larinya tertahan. Dia adalah seorang perempuan berparas cantik jelita mengenakan pakaian tipis warna biru. Perempuan ini tidak lain adalah Ratu Pemikat.

Belum sampai dapat menduga siapa adanya orang yang perdengarkan suara, satu sosok berkelebat dan tegak hanya empat langkah di hadapan Ratu Pemikat. Ratu Pemikat cepat tarik pulang kedua tangannya begitu mengenali siapa adanya orang. Raut wajah Ratu Pemikat tampak berubah sedikit tegang. Sesaat dia tampak arahkan pandangannya pada orang dihadapannya yang tidak lain adalah Malaikat Penggali Kubur, lalu beralih pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Pada saat di goa tempo hari, kurasa dia yakin akan keteranganku. Tapi apakah Iblis Rangkap Jiwa tidak memutar lidah membalik ucapan? Dia datang mendahuluiku dan pasti sudah sempat berbincang-bincang dengan pemuda ini Hem...Tapi tak mungkin Iblis Rangkap Jiwa membalik ucapan. Bukankah nyawanya tergantung pada urusan itu?" Ratu Pemikat membatin.

Namun begitu, masih jelas kalau wajahnya membayangkan rasa khawatir. Apalagi dilihatnya Iblis Rangkap Jiwa duduk tercenung bahkan tidak berpaling ke arahnya meski dia tahu kalau laki-laki itu mengetahui kemunculannya.

"Ah... Kebetulan kalau kau berada disini. Jadi aku tidak usah..."

Ratu Pemikat yang coba menutupi ketegangan dengan mulut terbuka lebih dahulu mendadak tidak lanjutkan ucapannya tatkala dilihatnya sepasang mata Malaikat Penggali Kubur memandangnya berkilat-kilat.

"Ada apa ini? Apa manusia iblis itu benar-benar telah membalik lidah? Atau ada yang salah dengan diriku?!" Gumaman terakhir Ratu Pemikat sempat terdengar Malaikat Penggali Kubur.

"Kau tak sadar dengan kesalahan dirimu?" bentak Malaikat Penggali Kubur membuat Ratu Pemikat makin yakin akan kebenaran dugaannya.

"Aku melakukan kesalahan?!" ujar Ratu Pemikat pelan.

"Siapa yang kau hadapi saat ini?!" kembali Malaikat Penggali Kubur membentak.

Ratu Pemikat takut-takut memandangi pemuda di hadapannya dengan seksama. "Kurasa..." Hanya itu ucapan yang sempat terdengar dari mulut Ratu Pemikat karena bersamaan dengan itu Malaikat Penggali Kubur telah menghardik.

"Berlutut!"

Ratu Pemikat mendesah panjang. Lalu turuti ucapan Malaikat Penggali Kubur meski dalam hati memaki habis-habisan. Di lain pihak, Malaikat Penggali Kubur tersenyum lalu buka mulut dengan tangan berkacak pinggang.

"Bagaimana dengan tugas dan perjalananmu?!" Ratu Pemikat melirik dahulu pada puncak bukit dimana Iblis Rangkap Jiwa duduk bersandar. Lalu angkat bicara.

"Kita tinggal menunggu saat-saat yang sudah kita atur!"

"Hem... Berarti kau telah berhasil jumpa dengan Pendekar 131!"

Ratu Pemikat anggukkan kepala. Wajah perempuan ini kembali ceria. Karena Malaikat Penggali Kubur tidak menyebut-nyebut urusan tentang Dewa Orok, berarti Iblis Rangkap Jiwa tidak melakukan seperti apa yang tadi sempat diduganya. Namun begitu, masih ada yang membuat perempuan ini sedikit ragu-ragu. Hal ini berkaitan dengan munculnya Dewi Siluman yang selama ini tidak disangka.

Dengan Kitab Hitam di tangan Malaikat Penggali Kubur, mungkin kemunculan Dewi Siluman tidak perlu membuatnya ragu-ragu. Tapi keterus terangan pada Dewi Siluman tentang apa yang menjadi maksudnya mau tak mau membuatnya tidak enak. Dia masih khawatir kalau Dewi Siluman bertemu lagi dengan Pendekar 131 sebelum purnama dua hari mendatang, dan Dewi Siluman membeberkan semuanya pada murid Pendeta Sinting.

"Kau ingin mengutarakan sesuatu?!" ujar Malaikat Penggali Kubur tatkala pemuda ini menangkap kebimbangan pada raut wajah perempuan di hadapannya.

"Apa perlu kukatakan juga tentang pertemuanku dengan Dewi Siluman? Ah... Urusan perempuan itu biar kuselesaikan purnama nanti!"

Diam-diam akhirnya Ratu Pemikat memutuskan sendiri dalam hati. Lalu kepalanya meng- geleng sambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur. Malaikat Penggali Kubur menatap sejurus, lalu arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Perempuan tua bangka Ni Luh Padmi itu, apakah akan muncul di sini hari ini juga?!"

Ratu Pemikat bangkit berdiri. "Menurut kesepakatan kami memang begitu! Tapi siapa tahu dia mendapat halangan bertemu dengan seorang pemuda tampan, lalu tertarik dan melupakan apa yang harus dilakukan?! Kau tahu bukan? Urusan nenek itu sebenarnya hanya mencari laki-laki!"

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. "Kalau itu yang diperbuat, dia akan tebus mahal tindakannya!"

"Tua bangka macam dia memang sebaiknya tidak usah diberi waktu sampai purnama nanti! Aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang dapat merusak rencana!" berkata Ratu Pemikat sambil arahkan pandangannya pada puncak bukit.

Iblis Rangkap Jiwa dapat menangkap pandangan Ratu Pemikat. Hingga enak saja dia menyahut. "Sebenarnya sejak kedatangannya pertama kali disini, aku sudah muak melihat tampangnya!"

"Dengar! Aku yang berhak membuat aturan! Bukan kalian!" bentak Malaikat Penggali Kubur.

Ratu Pemikat hanya tersenyum dingin mendengar bentakan Malaikat Penggali Kubur. Lalu tanpa buka mulut lagi, dia melangkah hendak ke puncak bukit. Namun tiba-tiba Malaikat Penggali Kubur melompat dan tegak menghadang jalannya, bukan saja membuat si perempuan terkesiap kaget namun juga membuat Iblis Rangkap Jiwa menduga-duga apa sebenarnya yang hendak dilakukan si pemuda. Malaikat Penggali Kubur menatap aneh untuk beberapa lama.

Tiba-tiba dia maju dua tindak. Tepat berada didepan Ratu Pemikat, tangan kanannya bergerak. Ratu Pemikat berseru kaget. Tubuhnya laksana didorong tenaga luar biasa kuat dan terjerembab ke dada si pemuda. Belum bisa menduga apa sebenarnya maksud si pemuda, wajah Malaikat Penggali Kubur sudah menunduk lalu tanpa hiraukan pandangan Iblis Rangkap Jiwa, pemuda murid Bayu Bajra ini telah mencium wajah Ratu Pemikat dengan beringas.

Sadar apa yang dilakukan Malaikat Penggali Kubur, Ratu Pemikat segera bisa sesuaikan diri. Kedua tangannya cepat melingkar pada pinggang Malaikat Penggali Kubur. Lalu membalas ciuman si pemuda dengan mata sekali melirik ke tempat Iblis Rangkap Jiwa.

"Bangsat! Jahanam!" Iblis Rangkap Jiwa hanya bisa memaki-maki sendiri seraya alihkan pandangannya ke jurusan lain. "Hari ini kau bisa seenakmu bercumbu didepan hidungku! Aku bersumpah kelak akan mencumbui perempuan sundal itu di kala ajal hendak menjemputmu!"

Beberapa saat berlalu. Malaikat Penggali Kubur sudah mulai tenggelam dalam gejolak nafsu. Sementara Ratu Pemikat sesekali masih coba meronta karena bagaimana- pun juga dia merasa tidak enak dengan Iblis Rangkap Jiwa. Hingga tatkala kedua tangan Malaikat Penggali Kubur mulai bergerak ke dada dan membuka kancing-kancing bajunya, si perempuan berujar pelan.

"Kita masih menunggu seorang lagi. Tidak enak rasanya kalau kemunculannya kita sambut dengan sikap begini. Lagi pula bukankah waktu kita masih banyak? Aku akan selalu siap melayanimu kapan kau mau dan berapa malam kau minta..."

Malaikat Penggali Kubur tidak hiraukan ucapan Ratu Pemikat. Kedua tangannya terus bergerak. Saat lain dada sang Ratu telah terbuka hingga terlihat jelas. Di puncak bukit, meski memaki habis-habisan, namun tak urung juga Iblis Rangkap Jiwa ingin mengetahui apa yang diperbuat Malaikat Penggali Kubur. Hingga meski kepala laki-laki gundul ini menghadap jurusan lain, namun dua pasang ekor matanya melirik ke bawah. Mungkin tak sadar melihat apa yang terlihat di bawah, kepala Iblis Rangkap Jiwa akhirnya ikut juga bergerak menghadap ke bawah. Dada laki-laki ini berdebar keras. Sepasang matanya melotot besar-besar. Jakunnya turun naik tak teratur.

"Sialan betul!" lagi-lagi hanya makian yang keluar dari mulut Iblis Rangkap Jiwa melihat bagaimana dada Ratu Pemikat terbuka.

Di lain pihak, melihat Malaikat Penggali Kubur sudah tidak sabar, Ratu Pemikat cepat angkat kedua tangannya lalu menahan gerakan kedua tangan Malaikat Penggali Kubur didadanya.

"Kau..." Malaikat Penggali Kubur tarik wajahnya dan menatap Ratu Pemikat dengan rahang terangkat.

Ratu Pemikat anggukkan kepala. Sambil tersenyum dia berujar. "Aku sebenarnya juga sudah tidak sabar. Tapi bukan di sini tempatnya bukan?! Lebih dari itu masih ada urusan yang harus kita selesaikan dahulu..."

Sehabis berujar, sepasang mata Ratu Pemikat mengerling pada Iblis Rangkap Jiwa yang saat itu mungkin karena terkesima, belum sempat palingkan kepala. Malaikat Penggali Kubur ikut arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. Dia perdengarkan dengusan. Saat bersamaan kedua tangannya yang terpegang tangan Ratu Pemikat ditarik pulang.

"Boleh kututup?!" tanya Ratu Pemikat menjaga agar Malaikat Penggali Kubur tidak tersinggung.

"Terserah kalau kau ingin tunjukkan pada manusia iblis itu!" jawab Malaikat Penggali Kubur lalu arahkan pandangannya ke bawah bukit.

Ratu Pemikat lagi-lagi sambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur dengan tersenyum lalu tangannya kancingkan kembali pakaiannya. Kepala perempuan ini bergerak ke arah barat. Matahari saat itu sudah lebih condong.

"Kenapa nenek itu belum muncul juga? Apakah dia lupa...? Atau jangan-jangan memang mendapat halangan! Atau barangkali telah berhasil bertemu dengan Pendeta Sinting?!"

Ratu Pemikat bertanya-tanya dalam hati. Lalu utarakan apa yang ada dalam hatinya pada Malaikat Penggali Kubur. Sesaat Malaikat Penggali Kubur tidak tanggapi ucapan Ratu Pemikat. Tapi kejap lain pemuda ini kepalkan tangan kiri seraya berteriak.

"Dia manusia bodoh kalau sampai bertindak macam-macam!"

"Tapi sebaiknya kita tunggu sampai matahari terbenam. Siapa tahu ada sesuatu yang membuatnya terlambat!"

Namun ditunggu sampai matahari hampir terbenam, ternyata Ni Luh Padmi tidak muncul. Hingga sambil hentakkan kaki kiri, Malaikat Penggali Kubur berteriak marah.

"Tua bangka jahanam itu! Dia adalah manusia pertama yang akan kualirkan darahnya di Kedung Ombo!"

Habis berteriak, Malaikat Penggali Kubur arahkan pandangannya silih berganti pada Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa.

"Kalian berdua! Kuperintahkan untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan purnama nanti! Pasang beberapa tanda untuk tempat orang-orang yang bergabung dengan kita!Karena kuyakin banyak orang kalangan rimba persilatan yang muncul meski tanpa kita undang! Tapi ingat, kalau kalian melakukan hal yang tidak-tidak, kalian akan menjadi manusia kedua dan ketiga yang darahnya akan kutumpahkan!"

Malaikat Penggali Kubur sekali lagi pentangkan mata memandangi Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia berkelebat menuruni bukit yang mulai dibungkus kegelapan karena matahari sudah terbenam. Sesaat setelah Malaikat Penggali Kubur berlalu, Iblis Rangkap Jiwa berkelebat dan tegak di hadapan Ratu Pemikat. Jelas pandangan laki-laki berkepala gundul ini membayangkan kalau dadanya masih disentak-sentak oleh gejolak nafsu setelah tadi melihat dada Ratu Pemikat. Seakan dapat menangkap arti pandangan orang, Ratu Pemikat cepat buka mulut.

"Kita bertemu besok pagi di kawasan Kedung Ombo! Malam ini ada yang masih harus kuselesaikan!"

Iblis Rangkap Jiwa tersenyum. Kepalanya menggeleng. "Aku sudah lama menunggu janji-janjimu! Namun makin hari kulihat kau seakan hendak melupakan janji-janji itu! Besok pagi kita memang harus bertemu di kawasan Kedung Ombo! Tapi malam ini, kita selesaikan janji-janjimu!"

Seakan tidak sabar, Iblis Rangkap Jiwa sudah gerakkan tangan hendak merengkuh tubuh Ratu Pemikat.

"Janji yang pernah kukatakan adalah gantungan jiwaku padamu. Jadi kau tak usah punya prasangka buruk! Malah setelah urusan Kedung Ombo selesai, kau bisa memiliki diriku sampai kapan kau mau!"

Tangan Ratu Pemikat mendorong dada Iblis Rangkap Jiwa hingga sosok laki-laki ini tersurut satu tindak dan tangannya yang hendak merengkuh tubuh Ratu Pemikat hanya menangkap tempat kosong. Meski sesaat bisa menahan gerak Iblis Rangkap Jiwa tapi diam-diam Ratu Pemikat dilanda perasaan gelisah. Dia maklum, kalau sampai Iblis Rangkap Jiwa paksakan kehendaknya, rasanya tidak mudah baginya untuk menolak. Namun sebagai orang yang berpengalaman menghadapi laki-laki, dia masih punya jalan keluar. Hingga begitu selesai berkata, perempuan ini menatap Iblis Rangkap Jiwa sesaat lalu berujar lagi.

"Menghadapi urusan Kedung Ombo, kita tidak boleh main-main! Meski ada Malaikat Penggali Kubur, bukan berarti kita tinggal berpangku tangan! Untuk itulah dalam sisa dua hari ini aku akan pusatkan tenaga! Dan hal itu tidak akan bisa kulakukan kalau aku harus mendahului dengan perbuatan yang tidak-tidak!"

"Kau masih juga bisa cari alasan!" sahut Iblis Rangkap Jiwa. "Kau tadi begitu menggebu membalas perbuatan pemuda keparat itu!"

Ratu Pemikat tertawa. "Kau harus tahu. Kita sekarang dalam keadaan terbelenggu! Kita tidak bisa berbuat banyak! Kalau kita berulah macam-macam, itu sama saja dengan bunuh diri! Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri baik-baik! Bukankah urusan kita bukan hanya sampai di Kedung Ombo?! Kedung Ombo hanyalah batu loncatan!Kalau kita gagal melalui jembatan ini, gagal pula maksud kita masing-masing!"

Iblis Rangkap Jiwa terdiam beberapa lama. Laki-laki ini mulai merasa ada benarnya juga ucapan Ratu Pemikat. Hingga kalau tadi nafsunya menggelegak, kini malah diam saja meski dilihatnya Ratu Pemikat sudah melangkah menuruni bukit. Entah karena untuk meyakinkan orang, begitu turun beberapa tombak, Ratu Pemikat hentikan langkah lalu berpaling keatas. Dilihatnya Iblis Rangkap Jiwa masih tegak di tempatnya semula.

"Kau dengar. Aku menantimu di bukit ini begitu urusan Kedung Ombo selesai! Kita isi siang malam dengan bersenang-senang!" Habis berteriak, Ratu Pemikat perdengarkan tawa panjang. Lalu teruskan langkah menuruni bukit.

"Siapa sudi terus-terusan bermain dengan perempuan yang telah banyak dijamah tangan laki-laki sepertimu! Kau kelak hanyaku jadikan gundik dan harus melayaniku kapan aku ingin!" desis Iblis Rangkap Jiwa lalu berkelebat ke puncak bukit yang telah tertutup kegelapan malam.

********************

BAB 4

PAGI hari menjelang malam purnama. Matahari muncul tanpa sambutan segumpal awan pun. Langit terhampar biru cerah. Angin bertiup semilir. Sebuah kawasan yang dikenal orang dengan Kedung Ombo pagi ini sangat indah meski kalau diperhatikan dengan seksama, ada sesuatu yang lain yang tidak terlihat pada hari-hari sebelumnya.

Kedung Ombo adalah sebuah telaga air besar. Pada sebelah kanan kedung tampak kawasan berbatu yang pada salah satunya terlihat batu besar membentuk bukit. Disebelah kiri kedung juga membentang kawasan berbatu yang salah satu batunya terlihat menggunung menyerupai bukit. Kawasan berbatu sebelah kanan dan kiri Kedung Ombo dipisah oleh hamparan pasir yang berjarak kurang lebih seratus tombak.

Tepat di depan kedung, di antara celah-celah batu yang bertaburan di dua kawasan berbatu itu tampak jalan-jalan setapak berpasir hitam yang terlihat laksana gerakan merambat tubuh seekor ular. Lurus tepat di depan kedung laksana diapit kawasan berbatu, terlihat pula gugusan batu-batu cadas putih yang salah satunya tampak menjulang sangat tinggi malah melebihi batu yang membentuk bukit di sebelah kanan kiri kedung.

Jarak antara kawasan berbatu sebelah kanan dan kiri kedung dengan gugusan batu cadas putih kira-kira empat puluh tombak. Sesuatu lain yang sebelumnya tidak terlihat di kawasan Kedung Ombo adalah berdirinya sebuah gubuk di sebelah kiri kedung. Gubuk itu didirikan tegak tepat di puncakbatu besar yang membentuk bukit. Empat tiangnya terdiri dari bambu sebesar paha orang. Tapi bukan tiang bambu ini yang terlihat agak aneh. Karena ternyata tiap tiang bambu tegak dengan bagian bawah bambu masuk kedalam batu!

Dan sekitar tiap tiang bambu yang masuk ke dalam batu tidak tampak taburan batu atau rengkahan! Jelas siapa pun yang menancapkan tiang bambu pastilah bukan orang yang berilmu rendah. Ada sedikit keanehan lagi. Gubuk di puncak bukit batu itu terbuka bagian depan dan belakangnya. Sementara yang tertutup adalah bagian samping kiri kanan serta atapnya. Anehnya, dinding penutup samping kiri kanan serta atap gubuk bukan terdiri dari pelepah daun, melainkan dari kain besar berwarna hitam! Hingga tatkala dihembus angin, gubuk hitam itu berkibar-kibar keluarkan suara angker.

Dan yang memperjelas kalau Kedung Ombo akan lain dari hari-hari biasanya adalah membuncahnya suara tawa bersahut-sahutan yang tiba-tiba terdengar jauh dari arah belakang gugusan batu-batu cadas putih yang tepat menghadap kedung. Melihat arahnya suara tawa, jelas kalau orang yang sedang terbahak-bahak itu sedang menuju ke arah kedung. Begitu suara tawa bersahut-sahutan mendekati gugusan batu-batu cadas putih, laksana direnggut setan mendadak suara tawa bersahut-sahutan terputus. Lalu di antara batu-batu cadas putih yang menghadap kedung terlihat melangkah dua sosok tubuh.

Di sebelah kanan adalah seorang laki-laki. Dia melangkah terbungkuk-bungkuk dengan tangan kanan memegang tongkat. Laki-laki ini tidak bisa dikenali wajahnya karena orang ini membedaki seluruh wajah serta rambutnya dengan arang hitam. Karena pakaian yang dikenakan juga berwarna hitam, maka yang terlihat putih hanyalah sedikit di bagian matanya!

Sementara orang di sebelah kiri ternyata juga adalah seorang laki-laki. Dia melangkah tersaruk-saruk mundur dengan kepala sedikit mendongak. Seperti halnya laki-laki sebelah kanan, orang ini juga membedaki sekujur mukanya dengan arang hitam. Rambutnya yang awut-awutan juga diberi arang hitam.

Orang yang melangkah mundur tiba-tiba hentikan langkah. Lalu sambil tetap dongakkan kepala, orang ini lorotkan tubuh dan letakkan pantatnya di salah satu batu cadas putih yang banyak bertebaran di situ. Kepalanya bergerak ke kiri kanan memandang langit. Mulutnya bergerak membuka.

"Hai! Apa kau tidak salah menghitung hari?Apa kau juga tidak keliru alamat datang kemari? Jangan sampai kita terjebak dan mendapat celaka sendiri!Apalagi aku telah mati-matian mempercantik diri! Kita akan kecewa besar melakukan perjalanan jauh mencari-cari. Kalau akhirnya yang kita temui lain dengan yang kita telusuri!"

Orang yang melangkah terbungkuk-bungkuk hentikan langkah. Sesaat sepasang matanya memandang lurus ke arah kedung. Namun karena sebagian pandangannya tertutup gugusan batu cadas putih yang menjulang tinggi, dia hanya dapat melihat sebelah kiri kanan kedung jauh di depan sana. Saat dia palingkan kepala ke kiri, sepasang matanya mendelik membelalak. Karena saat itu dia berada menghadap matahari, mungkin karena pandangannya silau, orang ini tadangkan tangan kiri ke depan keningnya lalu kembali memandang berlama-lama ke sebelah kiri kedung dimana tampak gubuk hitam dipuncak batu membukit. Tanpa berpaling pada orang yang kini duduk dia buka mulut.

"Kau jangan berkeluh kesah. Kurasa perhitunganku tepat. Alamat betul. Dan kita pasti tidak sia-sia sampai di tempat ini! Pemandangan indah dan telah disediakan tempat bagus untuk berteduh! Lihat di sana itu!"

Orang yang tadi melangkah terbungkuk-bungkuk angkat tongkat ditangan kanannya lalu ditunjukkan kearah gubuk hitam di sebelah kiri kedung. Orang yang tadi melangkah mundur dan kini duduk di atas batu cadas putih segera luruskan kepala danarahkan pandangan ke arah mana tongkat menunjuk.

"Gubuk hebat! Mungkin sengaja didirikan karena tahu kita akan datang! Jadi tidak ada salahnya kita cepat bertandang. Sesaat lagi terik sinar matahari akan meradang. Daripada kepala panas laksana dipanggang, lebih baik kita kesana bisa rebahan sambil melepas pandang..."

"Ah... Betul juga ucapanmu! Aku sudah capek dan ingin sekali picingkan mata! Tentu di sana enak. Apalagi seandainya tiba-tiba muncul seorang gadis cantik..."

"Otakmu selalu berpikir yang busuk-busuk! Tidak sadar kalau jalan saja sudah terbungkuk-bungkuk! Kau lupa apa akibat yang kini harus kau tangguk. Sebab tindakanmu dahulu yang tidak pandang tengkuk!"

Orang yang pegang tongkat sentakkan kepala berpaling. Tongkatnya diputar dan kini ditujukan pada orang yang duduk di atas batu cadas putih.

"Jangan seenakmu bicara! Aku tadi bilang seandainya, mengapa bicaramu ngelantur tidak karuan!" Meski nada bicara orang ini ketus, namun saat mengucapkan orang ini tampak tersenyum-senyum! Malah begitu habis berkata, orang ini tertawa.

"Kau bicara seandainya, tapi bukankah perjalanan ini masih ada kaitan ceritanya? Seandainya kau dahulu tidak berlaku seenaknya, mana mungkin di hari tua begini kau terbirit-birit karenanya?!"

"Ah... Kau selalu saja usil urusanku dahulu!" kata orang pemegang tongkat lalu tanpa mengajak, dia melangkah terbungkuk-bungkuk.

"Semuanya sudah terjadi! Tak mungkin dapat kutarik lagi..."

"Uhh... Itu lagi, itu lagi ucapan yang selalu kau katakan! Ungkapan umumnya laki-laki setelah mendapat yang diinginkan!" gumam orang yang duduk. Dan begitu melihat si pemegang tongkat sudah berada jauh di depan sana, orang ini dongakkan kepala. Pantatnya berputar melingkar. Lalu dia turun dari batu cadas. Saat lain ia mulai tersaruk- saruk melangkah mundur menyusul si pemegang tongkat.

Begitu kedua laki-laki bertampang arang ini sampai di bawah batu yang membentuk bukit di sebelah kiri kedung, keduanya hentikan langkah masing-masing. Si orang yang tadi melangkah mundur balikkan tubuh, lalu melihat kearah gubuk hitam. Di sebelahnya si pemegang tongkat tadangkan tangan kiri di depan kening dan putar kepala dengan mata melirik ke kanan kiri kedung. Lalu tengadah melihat langit.

"Hem... Waktunya masih panjang. Kita masih leluasa tidur-tiduran melepas lelah..." kata si pemegang tongkat. Dia melangkah satu tindak ke belakang orang yang tadi melangkah mundur. Tongkat di tangan kanannya serta-merta ditusukkan pada pantat orang di depannya.

"Hai! Apa yang kau lakukan?!" bentak orang yang tadi melangkah mundur.

Yang ditanya tidak buka mulut menjawab, sebaliknya sentakkan tongkat di tangannya perlahan saja. Bersamaan dengan itu kaki kirinya menjejak tanah berpasir yang menghampar didepan kedung.

Wuutt! Wuuutt!

Laksana didorong gelombang angin luar biasa dahsyat, saat itu juga sosok kedua orang berwajah hitam itu melesat ke udara lalu mendarat tepat di samping kanan gubuk hitam di puncak batu. Kedua orang itu sesaat memperhatikan kain hitam yang dibuat dinding dan atap gubuk. Lalu perlahan-lahan keduanya masuk ke dalam gubuk. Si pemegang tongkat menghadap kedung, sementara si orang yang melangkah mundur memunggungi kedung.

"Ah... Ternyata enak juga... Aku jadi cepat ingin tidur!" ujar si pemegang tongkat. Lalu orang ini tekuk kedua kakinya bergerak duduk.

Si orang yang tadi melangkah mundur melirik ke kanan kiri. Lalu tanpa buka mulut dia melangkah satu tindak ke samping kiri dan ikut-ikutan duduk. Si pemegang tongkat tarik tangan kanannya yang memegang tongkat ke belakang. Tongkat kayu di tangan kanannya lalu dilintangkan di punggungnya. Karena tongkat itu agak panjang, ujung tongkat terlihat menjulur di samping kiri tubuhnya tepat berada dibelakang orang yang tadi melangkah mundur.

Si pemegang tongkat lalu enak saja sandarkan punggungnya pada tongkat yang melintang di punggungnya. Sementara tangan kanannya yang memegang tongkat ditarik pulang lalu kedua tangannya dirangkapkan di depan dada. Bersamaan dengan itu sepasang matanya bergerak mengatup. Anehnya tongkat yang melintang di punggungnya tidak jatuh! Malah orang itu laksana bersandar pada dinding tembok!

Orang yang tadi melangkah mundur sesaat melirik. Lalu mendongak melihat atap gubuk. Saat lain punggungnya bergerak bersandar pada ujung tongkat yang melintang tepat dibelakangnya. Kejap lain orang ini telah pula pejamkan sepasang matanya! Tak lama kemudian tempat itu dibuncah dengan suara dengkuran keras yang saling bersahut-sahutan!

********************

Ketika matahari hampir sampai titik tengahnya, satu bayangan hitam tampak berkelebat cepat dari sebelah kanan kedung. Setelah melewati kawasan berbatu di sebelah kanan kedung dan memasuki hamparan pasir tepat di depan kedung sosok ini mendadak hentikan larinya. Kepalanya cepat berputar dengan mata membeliak. Telinganya ditajamkan. Dahi orang ini yang ternyata hanya merupakan tulang hampir tidak tertutup daging sama sekali ini bergerak mengernyit. Lalu dari mulutnya terdengar makian.

"Jahanam! Siapa orang siang-siang begini tidur mendengkur!"

Orang yang tegak di hamparan pasir di depan kedung yang ternyata adalah seorang laki-laki berkepala gundul dan raut wajahnya hampir tidak tertutup daging sama sekali dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa, menyeringai. Namun dia sedikit heran. Dikawasan Kedung Ombo memang terdengar dengkuran bersahut-sahutan. Meski suara dengkuran itu tidak begitu keras, tapi bagaimanapun dia coba menutup jalan pendengarannya, dengkuran itu laksana tidak bisa dibendung! Malah semakin dia kerahkan tenaga untuk tutup jalan pendengarannya, gendang telinganya makin terasa disentak-sentak!

"Keparat! Siapa manusia usil yang punya pekerjaan ini?!" bentak Iblis Rangkap Jiwa. Sekali lagi laki-laki berkepala gundul ini putar kepalanya. Tiba-tiba putaran kepala Iblis Rangkap Jiwa terhenti tepat menghadap di mana gubuk hitam berada. Bola mata Iblis Rangkap Jiwa kontan membelalak besar-besar. Dadanya bergetar keras. Rahangnya terangkat. Pertanda luapan amarahnya tidak bisa dikuasai lagi.

"Rupanya air bening Kedung Ombo sudah harus berubah warna sebelum waktunya!" desis Iblis Rangkap Jiwa.

Sekali gerakkan tubuh, sosoknya melesat ke sebelah kiri kedung di mana gubuk hitam berada. Beberapa kejapan mata tubuhnya sudah sampai di seberang. Maklum kalau orang yang mendengkur bukan orang yang bisa dilihat sebelah mata, Iblis Rangkap Jiwa sengaja memutar jalan lalu perlahan-lahan menaiki batu yang membukit dari sebelah belakang. Sejarak enam langkah dari gubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa hentikan langkahnya. Sepasang matanya menatap tak berkesip pada gubuk hitam. Karena bagian belakang gubuk dibuat terbuka, maka dengan mudah Iblis Rangkap Jiwa dapat melihat apa yang ada didalam gubuk.

"Jahanam keparat! Siapa mereka ini?! Wajahnya disembunyikan di balik arang hitam!"

Untuk beberapa lama Iblis Rangkap Jiwa pandangi orang yang tidur mendengkur bersandar pada tongkat kayu. Yakin tidak mengenali adanya orang, Iblis Rangkap Jiwa cepat melesat ke atas lalu tegak dua langkah di sebelah dua orang yang masih tidur mendengkur. Bersamaan dengan menjejaknya kaki, Iblis Rangkap Jiwa keluarkan bentakan.

"Manusia-manusia tak dikenal! Siapa kalian?!"

Suara dengkuran melengking tinggi bersahutan, membuat Iblis Rangkap Jiwa tersentak kaget. Tapi bersamaan itu suara dengkuran terputus seketika. Orang yang tadi melangkah mundur gerakkan sikunya kesamping.

"Jangan berbisik-bisik! Aku masih ngantuk!"

Orang yang tadi memegang tongkat dan baru saja terkena sodokan siku orang dibelakangnya balik gerakkan sikunya menyodok. "Kau masih juga suka bercanda! Mengapa kau berbisik-bisik tanya dirimu siapa?! Kau hari ini memang tampil beda!Tapi itu tak perlu kau tanyakan!"

Hening sesaat, tak lama kemudian kedua orang ini kembali perdengarkan dengkuran, membuat Iblis Rangkap Jiwa kalap. Kaki kanannya disentakkan kebatu pijakannya seraya membentak garang.

"Kalian berani main-main dengan Iblis Rangkap Jiwa! Kalian akan tahu rasa!"

Kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa terangkat ke atas. Namun laki-laki ini tidak segera lepaskan pukulan. Dia sengaja menunggu sampai orang tahu siapa yang dihadapinya. Batu besar yang membentuk bukit itu laksana dilanda gempa dahsyat hingga bergerak-gerak akibat sentakan kaki Iblis Rangkap Jiwa. Saat yang sama suara dengkuran lenyap. Orang yang tadi memegang tongkat selinapkan tangan kanannya lalu bergerak-gerak di lambung orang disebelahnya seraya berucap. Sepasang matanya tetap terpejam.

"Aku tahu kau Iblis. Tapi jangan main-main dan terus-terusan guncang-guncang tubuhku! Kalau kau masih ngantuk, apa kau kira aku tidak, he?!"

Orang yang tadi melangkah mundur dan bersandar pada tongkat dengan sedikit dongakkan kepala dan mata memejam balik selinapkan tangan kirinya. Lalu meraba- raba lambung orang sambil berkata.

"Sialan kau! Siapa yang guncang-guncang tubuhmu dan main-main?!"

Iblis Rangkap Jiwa sudah tidak dapat kuasai diri lagi. Kedua tangannya yang terangkat serta-merta disentakkan ke arah dua orang yang saling berbisik.

Wuutt! Wuuuutt!

Belum sampai gelombang dahsyat sempat mencuat dari sentakan kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa, mendadak dua orang berwajah hitam menguap lebar-lebar. Tangankanan kiri orang terangkat merentang dengan tubuh masing- masing menggeliat.

Iblis Rangkap Jiwa tersedak. Tubuhnya laksana didorong gelombang luar biasa keras, hingga bukan saja kedua tangannya terpental balik ke belakang, namun jika dia tidak cepat kerahkan tenaga dalam, niscaya sosoknya akan terdorong!

"Jahanam! Bangsat!" maki Iblis Rangkap Jiwa dengan suara keras membahana.

Dua orang berwajah hitam serentak saling putar kepala. Bukan ke arah Iblis Rangkap Jiwa, melainkan saling berhadapan!Dan dengan sama buka mata masing-masing, kedua orang ini sama buka mulut berbarengan.

"Mengapa kau memakiku?!"

Mata masing-masing orang sama melotot besar saling berpandangan. Orang yang tadi melangkah mundur buka mulut mengulangi pertanyaannya.

"Mengapa kau memakiku, he?!"

"Sialan! Kau yang memakiku! Mengapa balik menuduh?!" kata orang yang tadi memegang tongkat. Lalu orang ini palingkan kembali kepalanya ke arah semula.

Saat itulah saking geramnya, Iblis Rangkap Jiwa menghardik dengan kerahkan tenaga dalam. "Manusia-manusia gila!"

Laksana disentak tangan setan, orang yang tadi pegang tongkat palingkan kepalanya kembali menghadap orang yang tadi melangkah mundur dan saat itu belum palingkan kepala.

"Sialan! Kau memakiku manusia gila! Aku memang manusia gila, edan, sinting! Tapi..."

"Siapa yang memakimu?!" tukas orang yang tadi melangkah mundur.

Orang yang tadi memegang tongkat arahkan telunjuk tangannya tepat ke muka orang di sampingnya. Lalu tiba- tiba terdengar ledakan tawanya. "Betul... Suara tadi memang bukan suaramu... Jadi suara siapa? Jangan-jangan suara hantu..."

"Bukan hantu!Tapi suara orang yang hendak tanggalkan kepala kalian masing-masing!" suara keras menyambuti ucapan orang yang tadi memegang tongkat.

"Ah... Ternyata ada tamu..." ujar orang yang tadi melangkah mundur lalu perlahan-lahan orang ini agerakkan kepala menghadap ke arah mana tadi suara sambutan terdengar. Saat yang sama, orang yang tadi pegang tongkat juga gerakkan kepala.

Melihat kedua orang di hadapannya putar kepala hendak menghadap kearahnya, Iblis Rangkap Jiwa pasang tampang angker. Kedua tangannya diletakkan di pinggang kanan kiri, kepalanya sedikit ditengadahkan. Dan bibirnya disunggingkan menyeringai!

Begitu melihat tampang orang, dua orang berwajah hitam sama-sama mengkerut. Orang yang tadi pegang tongkat buru-buru angkat tangan kanannya lalu menarik tongkat kayu yang tadi dibuat sandaran. Saat itu juga dia bergerak bangkit lalu mundur tiga tindak hingga hampir saja tubuhnya menghantam tiang gubuk!

Orang yang tadi melangkah mundur tak kalah kagetnya. Malah orang ini sempat keluarkan seruan. Lalu bergerak bangkit dan surutkan langkah lalu tegak menjajari orang yang memegang tongkat.

"Melihat gelagat, aku jadi bertanya-tanya sendiri..." kata orang yang tadi melangkah mundur. "Kau yang salah menghitung hari dan keliru datang kemari, atau hantu gundul itu yang salah berdiri!"

Orang yang memegang tongkat angkat tongkat kayunya. Lalu ujung tongkat diketuk-ketukkan pulang balik pada ujung kelima jari tangannya dengan kepala mengangguk- angguk dan mulut menggumam. Kejap lain dia memandang berkeliling. Lalu terakhir kali menatap pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Hitungan hariku benar. Tempat tujuan tidak salah! Berarti dia yang salah kaprah!"

"Padahal orang salah kaprah biasanya akan mengalami hal yang tak lumrah sebelum akhirnya menyerah"

Kedua orang berwajah hitam lalu sama-sama perdengarkan ledakan tawa melengking bersahut-sahutan!

BAB 5

IBLIS Rangkap Jiwa tegak dengan sekujur tubuh laksana dipanggang saking jengkelnya. Sepasang matanya membelalak seperti hendak meloncat keluar dari rongganya. Ubun-ubunnya yang berkilat tampak berdenyut-denyut keras. Sementara di hadapannya, kedua orang ber-wajah hitam saling pandang lalu tanpa pedulikan kemarahan orang, kedua orang itu tertawa bersahut-sahutan.

Iblis Rangkap Jiwa maju dua tindak. "Diam!" bentaknya. Kedua tangannya sudah terkembang di atas kepala.

Seketika kedua orang berwajah hitam sama putuskan tawa masing-masing. Saling pandang sejurus lalu arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Harap sudi sebutkan diri siapa kau adanya!" ucap orang yang tadi melangkah mundur. Kalau orang ini sejenak tadi tertawa bergelak, kini terlihat bersungut-sungut dengan raut tunjukkan tampang ketakutan. Malah kedua tangannya tampak meremas-remas ujung pakaiannya.

Sedang di sebelahnya orang yang tadi memegang tongkat tampak sodok-sodokkan ujung tongkatnya pada orang yang tadi melangkah mundur. Hingga mau tak mau membuat yang disodok menoleh dengan gelengkan kepala.

"Jahanam!Aku yang berhak tanya siapa kalian adanya!" hardik Iblis Rangkap Jiwa. "Cepat katakan siapa masing-masing kalian adanya!"

Orang yang tadi melangkah mundur berpaling pada temannya. "Kau saja yang menjawab. Karena semua perjalanan ini kau yang bertanggung jawab!"

Si pemegang tongkat menoleh. "Bagaimana bisa begitu? Kau saja yang mengatakan. Aku sudah pingin kencing..."

"Bagus! Kalian belum tahu dengan siapa kalian saat ini sedang berhadapan! Dan itu satu tanda kematian bagi kalian berdua!" Iblis Rangkap Jiwa sentakkan kedua tangannya. Tapi baru setengah jalan, orang yang tadi melangkah mundur sudah berseru.

"Tahan! Tahan!" Orang ini menjura dalam-dalam dengan kedua tangan disatukan dan diletakkan di atas kepalanya. Namun orang ini tidak segera melanjutkan ucapannya. Sebaliknya melirik pada orang disampingnya. Kakinya bergerak menendang. Si pemegang tongkat berseru kaget. Mungkin karena saking terkejutnya, kedua tangannya sampai berkelebat ke atas.

Di hadapannya, Iblis Rangkap Jiwa terkesiap. Gerakan kedua tangan orang yang memegang tongkat membuat dirinya laksana dilanggar sapuan gelombang luar biasa dahsyat. Ini makin meyakinkan laki-laki berkepala gundul itu bahwa siapa pun adanya kedua orang di hadapannya, dia tidak boleh bertindak ayal. Tapi hal itu juga makin membuat dadanya laksana dipanggang bara.

"Mengapa kau menendangku?!" tanya si pemegang tongkat.

"Ikuti gerakanku!" bisik temannya yang menjura dengan kedua tangan di atas kepala. "Kau harus tahu siapa orang yang kita hadapi!"

Si pemegang tongkat buru-buru membuat gerakan seperti temannya. Malah orang ini tarik pulang tubuhnya ke atas kebawah! "Harap maafkan kami... Kami memang belum tahu. siapa gerangan yang ada di hadapan kami... Dan kami mohon, tanda kematian yang baru kau katakan tadi dicabut saja! Kami masih ingin hidup... Malah kalau bisa seribu tahun lagi!" ucap orang yang tadi melangkah mundur. Lalu gerakkan tubuhnya doyong ke kanan ke kiri.

"Betul... Betul... Kami ingin hidup seribu tahun lagi!" timpal si pemegang tongkat masih dengan tarik tubuhnya ke atas ke bawah.

Melihat gerakan-gerakan dua orang dihadapannya, meski dadanya panas namun mau tak mau membuat Iblis Rangkap Jiwa sunggingkan senyum. Tapi karena raut wajah laki-laki ini mengerikan, senyumnya makin membuat wajahnya menakutkan!

"Tanda kematian untuk kalian kucabut! Tapi katakan siapa kalian adanya! Mengapa ada di sini, dan kalian berada di pihak mana!" kata Iblis Rangkap Jiwa dengan kepala sedikit didongakkan.

Masih dengan doyongkan tubuh ke samping kanan kiri, si orang yang tadi melangkah mundur buka mulut lagi menjawab. "Aku Raden Mas Antar Langit. Temanku ini Raden Mas Antar Bumi..."

"Kami datang kesini semata-mata karena ingin mandi di kedung!" Yang bicara kali ini adalah si pemegang tongkat. "Kau lihat, wajah kami berwarna hitam. Ini adalah kutuk yang harus kami terima! Menurut seorang tabib masyhur, kutuk yang menimpa kami berdua bisa hilang kalau kami mandi di Kedung Ombo pada malam purnama..."

"Untuk pertanyaanmu yang terakhir aku tidak mengerti sama sekali. Yang kau maksud pihak itu apa?!" Sekarang yang angkat bicara adalah orang yang tadi melangkah mundur.

"Kalau mau, tolong jelaskan pada kami berdua..."timpal si pemegang tongkat lalu arahkan pandangan pada temannya. Kedua orang berwajah hitam ini saling anggukkan kepala.

"Apa ucapan-ucapannya bisa dipercaya? Tapi... Gerakan-gerakannya tadi, meski tidak disengaja tapi mampu mengeluarkan tenaga dorong luar biasa..."

Diam- diam Iblis Rangkap Jiwa masih merenung seraya luruskan kepala memperhatikan kedua orang di hadapannya. Entah karena tidak mau membuat urusan baru sebelum urusannya sendiri selesai, Iblis Rangkap Jiwa segera saja buka mulut setelah agak lama berpikir.

"Dengar! Kalau kalian ingin mandi di kedung, datanglah pada purnama bulan depan! Sekarang kalian enyah dari sini!"

"Kenapa harus purnama bulan depan?!" tanya orang yang tadi melangkah mundur. "Kami sudah tak kuat harus menunggu lagi! Kalau kau jadi kami, tentu kau dapat merasakan bagaimana tidak enaknya mengemban kutuk..."

"Itu urusan kalian!" bentak Iblis Rangkap Jiwa.

Kedua orang berwajah hitam saling pandang. Berbarengan mereka sama gerakkan kepala menggeleng. Lalu hampir bersamaan pula sama arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Kami telah bertahun-tahun menanggung kutuk memalukan sampai tidak ada seorang gadis pun yang mau kami dekati. Sekarang kami telah mendapatkan apa yang kami cari-cari. Kurasa kami tidak bisa menunggu sampai purnama bulan depan..." kata orang yang tadi melangkah mundur dan mengaku bernama Raden Mas Antar Langit.

"Benar!Kalaupun kami terpaksa menunggu, kami harus tahu dahulu kenapa dan ada apa di sini..." sahut si pemegang tongkat yang disebut Raden Mas Antar Bumi.

"Malam nanti, air kedung akan berwarna merah! Karena bercampur darah tokoh-tokoh golongan putih!" kata Iblis Rangkap Jiwa.

Untuk kesekian kalinya kedua orang berwajah hitam saling pandang. Namun kejap lain kedua orang ini sama gelengkan kepala masing-masing. Lalu masih dengan kedua tangan di atas kepala yang satu doyong kesamping kanan kiri dan satunya lagi pulang balik ke atas ke bawah, si Raden Mas Antar Langit angkat bicara.

"Untuk apa mereka alirkan darah...? Upacara?! Atau mereka juga mengemban kutuk seperti kami...?"

"Betul... Lalu apa ada di antara mereka yang masih gadis? Kalau mereka mengemban kutuk seperti kami, bukan tidak mungkin salah satu di antara mereka mau dengan kami..." menimpali si Raden Mas Antar Bumi.

"Aku tak akan jawab pertanyaan manusia-manusia gila macam kalian!Kuperintahkan kalian enyah dari sini! Kalau tidak, kalian berdua adalah manusia-manusia yang pertama kali merubah warna air kedung!" kata Iblis Rangkap Jiwa.

Sebenarnya Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi hendak berpaling satu sama lain, namun gerakan kepala masing-masing orang ini tertahan karena Iblis Rangkap Jiwa sudah menghardik.

"Sekali lagi kalian buka mulut bertanya, kematian adalah jawabannya!"

"Ah... Kalau begitu kita harus pergi..." kata Raden Mas Antar Langit. Lantas tertatih-tatih dia melangkah turun dari batu membukit itu.

Sementara Raden Mas Antar Bumi sejenak masih belum beranjak. Namun begitu terlihat Iblis Rangkap Jiwa akan melangkah maju, orang yang pegang tongkat ini buru-buru melangkah turun.

Begitu kedua orang berwajah hitam berada di bawah batu besar yang membentuk bukit, keduanya sama tengadahkan kepala. Iblis Rangkap Jiwa tampak tegak mengawasi mereka dengan kacak pinggang.

"Hai...!" teriak Raden Mas Antar Langit. "Kami belum percaya ucapanmu! Jadi kami akan menunggu sampai malam nanti!"

"Betul! Lagi pula kami malu bertemu orang-orang di jalanan! Kau tahu, selama ini kami menempuh perjalanan setelah hari gelap!" sahut Raden Mas Antar Bumi.

Tanpa menunggu sahutan dari Iblis Rangkap Jiwa, kedua orang berwajah hitam ini melangkah lalu berbelok di antara batu-batu cadas putih yang ada tepat di depan kedung.

Iblis Rangkap Jiwa terus memperhatikan dua sosok orang berwajah hitam dengan hati bertanya-tanya. Namun karena urusan yang kini tengah dihadapi membutuhkan banyak pemikiran, begitu dua sosok berwajah hitam lenyap di balik batu cadas tinggi di depan kedung dan tidak kelihatan lagi meski ditunggu agak lama, Iblis Rangkap Jiwa sudah melupakan keduanya.

"Lebih baik aku siapkan tenaga dahulu..." gumam Iblis Rangkap Jiwa, lalu pelan-pelan laki-laki berkepala gundul ini duduk di tengah gubuk. Kedua tangannya diletakkan di atas paha kiri kanannya. Saat lain sepasang matanya bergerak mengatup. Hanya beberapa saat berlalu, sekujur tubuh orang ini sudah terlihat basah kuyup, tanda dia pusatkan segenap pikiran dan tenaga yang dimilikinya.

Namun Iblis Rangkap Jiwa agaknya tidak akan bisa teruskan tindakannya. Karena telinganya samar-samar mendengar suara dengkuran yang bersahut-sahutan. Walau, suara dengkuran laksana datang dari tempat jauh, tapi anehnya seperti disuarakan orang didepan telinganya! Hanya saja kali ini suara dengkuran ini tidak sampai menyentak-nyentak gendang telinga. Yang mengherankan dan membuat Iblis Rangkap Jiwa memaki dalam hati, dia gagal membendung suara dengkuran!

"Keparat! Ini pasti perbuatan manusia-manusia gila jahanam tadi!" Iblis Rangkap Jiwa kontan buka sepasang matanya lalu liar mencari sumber suara dengkuran.

Tidak sulit bagi Iblis Rangkap Jiwa tentukan di mana beradanya orang yang keluarkan dengkuran bersahut-sahutan. Tapi saat itu juga laksana hendak terbang, Iblis Rangkap Jiwa melonjak tegak. Sepasang matanya melotot besar kepuncak batu cadas putih yang menjulang tinggi di depan kedung.

Pada puncak batu cadas putih tinggi di depan kedung, terlihat sebuah tongkat tegak menancap. Pada bagian atas tongkat terlihat celana hitam melambai-lambai ditiup angin! Pada sisi tongkat melingkar dua sosok tubuh dengan masing-masing mulut perdengarkan dengkuran!

Iblis Rangkap Jiwa kembali memaki tidak karuan. Namun dia juga dilanda kebimbangan. Di satu sisi dia merasa terganggu dengan dengkur orang, namun di sisi lain sebenarnya dia tidak mau membuat urusan lebih dahulu apalagi alasan orang berwajah hitam sepertinya masuk akal meski dia masih meragukannya. Namun setelah dipikir-pikir akhirnya Iblis Rangkap Jiwa memutuskan hendak mengusir dua orang berwajah hitam. Dan kalau mereka keras kepala, dia telah memutuskan untuk bertindak kasar.

Tapi belum sampai Iblis Rangkap Jiwa bergerak, matanya menatap satu sosok tubuh berkelebat cepat dari arah kanan kedung, meloncat-loncat di antara batu-batu lalu tegak di salah satu batu tepat di bawah batu besar yang membukit di sebelah kanan kedung.

Orang yang baru muncul arahkan kepalanya menghadap batu membukit di mana gubuk hitam dan Iblis Rangkap Jiwa berada. Namun kejap lain telah berpaling ke puncak batu cadas putih tinggi di mana tampak celana hitam melambai-lambai di atas tongkat dengan dua orang yang tidak lain adalah Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi melingkar mendengkur.

"Ternyata kedatanganku telah didahului orang...! Melihat gelagat, pertemuan ini bukan main-main! Siapa pun adanya orang mendengkur, pasti mereka bukan orang berilmu rendah! Hem... Aku harus berada di mana?! Masing-masing orang di atas itu sama membuat tanda sendiri! Pasti mereka bukan satu aliran...." Orang ini putar kepala dengan mata menyelidik. Yakin tidak ada orang lagi, kembali dia arahkan pandangan pada puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada.

"Kurasa aku harus bertanya padanya! Dia orang yang tidak tidur!" gumam orang yang baru datang. Lalu setelah meyakinkan sekali lagi, orang ini berkelebat ke arah kawasan batu di sebelah kiri kedung.

Diatas puncak batu bergubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa terus perhatikan gerak-gerik orang. Dan begitu orang di bawah sana sudah berkelebat menyeberang hamparan pasir di depan kedung dan hampir mencapai kawasan berbatu dimana dia berada, dia segera berteriak lantang.

"Kawasan ini terlarang bagi orang yang tidak sebutkan diri!"

Orang yang berkelebat hentikan larinya di atas batu di bawah batu membukit. Kepalanya mendongak. Karena puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada agak tinggi, orang ini tidak mampu menangkap jelas paras wajah Iblis Rangkap Jiwa. Hingga orang ini balik berteriak.

"Kau membolehkan aku naik kesitu?!"

"Jahanam! Kau telah dengar ucapanku! Kawasan ini terlarang bagi orang yang tidak sebutkan diri!"

Orang di bawah perdengarkan dengusan keras. Lalu berseru. "Aku Dewi Siluman!"

"Nama yang pernah kudengar!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa berkata-kata lagi Iblis Rangkap Jiwa berkelebat melayang turun dari puncak batu dan tegak hanya sejarak enam langkah dari orang yang baru muncul yang ternyata adalah seorang perempuan yang wajahnya ditutup dengan cadar berwarna hitam dan hanya menampakkan sepasang matanya yang tajam. Perempuan ini mengenakan jubah panjang sampai lutut juga berwarna hitam. Rambutnya pirang berkilat-kilat ditimpa sinar matahari.

Sepasang mata perempuan bercadar hitam dan memang Dewi Siluman adanya sejenak tampak membesar lalu mengerjap pertanda dia sempat terkejut melihat tampang orang yang tegak dihadapannya.

"Katakan apa maksud kedatanganmu kesini!" kata Iblis Rangkap Jiwa dengan suara sedikit dikeraskan.

"Aku inginkan darah pemuda jahanam bergelar Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng!"

Tampang angker Iblis Rangkap Jiwa berubah. Bibirnya tersenyum. Lalu seraya rentangkan kedua tangan dia berucap. "Ah... Kau datang ke tempat yang tepat jika itu maksudmu! Dan asal kau tahu saja, bukan hanya darah pemuda itu yang akan mengaiir di sini! Tapi mungkin beberapa orang lagi!" Iblis Rangkap Jiwa pandangi lekat-lekat perempuan dihadapannya, lalu meneruskan ucapannya dalam hati. "Termasuk darahmu!"

Dewi Siluman anggukkan kepala. "Boleh aku tahu siapa kau adanya?!"

Iblis Rangkap Jiwa busungkan dada. Kepala ditengadahkan. "Aku Iblis Rangkap Jiwa!"

Sepasang mata di cadar hitam menyipit. "Aku rasanya pernah dengar gelar itu dari cerita orang. Tapi menurut cerita, bukankah orang itu hidup pada beberapa ratus tahun silam? Atau dia hanya sama gelarnya saja?!" Diam- diam Dewi Siluman membatin. Namun dia sengaja tidak menanyakan hal itu pada Iblis Rangkap Jiwa. Yang kemudian muncul dalam ingatannya adalah cerita Ratu Pemikat tentang Kitab Hitam.

"Apakah orang ini yang berhasil mendapatkan kitab itu?! Kalau Ratu Pemikat kini lebih tertarik pada Kitab Hitam daripada kedua kitab dan Pedang Tumpul 131, pasti kitab itu luar biasa dahsyat. Hem... Tak ada salahnya aku bertanya!"

Berpikir begitu, akhirnya Dewi Siluman ajukan tanya. "Menurut kabar yang terdengar, saat ini ada sebuah kitab sakti. Apakah dirimu orangnya yang beruntung mendapatkan kitab itu...?!"

"Pertanyaannya memberi isyarat kalau kedatangannya juga ada hubungannya dengan kitab itu! Hem... Kau bernasib buruk! Dan datang ke tempat yang salah!" ujar Iblis Rangkap Jiwa dalam hati. Lalu buka mulut menjawab.

"Aku adalah calon manusia yang akan memiliki kitab itu." jawaban Iblis Rangkap Jiwa telah membuat Dewi siluman maklum bahwa kitab itu ada di tangan orang lain.

Tapi lagi-lagi Dewi Siluman tidak ajukan tanya siapa adanya orang yang kini memegang Kitab Hitam. "Aku yakin, orang ini begitu menginginkan kitab itu! Karena belum apa-apa dia sudah memastikan dirinya sebagai calon pemilik! Hem... Kalau dia berada di pihak orang hitam, sementara pemegang Kitab Hitam juga berada di pihak ini, berarti sudah ada perang dalam selimut! Aku harus hati-hati..." kembali Dewi Siluman membatin.

Saat itu dia baru teringat pada suara yang sejak tadi mengganggu telinganya meski tidak sampai membuatnya kerahkan tenaga untuk membendung suara yang terdengar. Dewi Siluman arahkan pandangannya pada puncak batu cadas putih dimana terlihat celana hitam melambai-lambai di atas tongkat.

"Apa mereka juga berada di pihak kita?! Maksudku... Orang-orang yang inginkan darah manusia-manusia golongan putih?!"

Iblis Rangkap Jiwa ikut arahkan pandangannya ke puncak batu bercadas putih. "Aku tak tahu siapa mereka adanya dan apa tujuan pastinya! Tapi yang jelas, kedatangan mereka tidak ada hubungannya dengan pertemuan ini!"

"Lalu mengapa dia muncul bertepatan dengan pertemuan ini?!"

"Mereka adalah manusia-manusia tertimpa kutuk dan percaya kalau kutukan pada dirinya akan sirna jika mandi di kedung itu pada malam purnama! Kepercayaan gila!"

"Kau percaya dengan maksud kedatangannya?!"

"Aku tak peduli dengan maksud kedatangan orang! Bukankah kalau dia berani macam-macam tak sulit mengalirkan darahnya?!"

Dewi Siluman tengadahkan kepala. "Udara disini sangat panas. Bagaimana kalau kita ke tempat kau tegak di sana tadi?!" Jari tangannya menunjuk pada gubuk hitam di puncak batu.

"Aku tanya dahulu! Kau berada di pihak mana?!"

Dewi Siluman sempat perdengarkan tawa perlahan mendengar pertanyaan Iblis Rangkap Jiwa. "Kalau kau orang golongan putih, sudah sejak tadi-tadi kutanggalkan kepalamu!"

"Hem... Kalau begitu, kau harus ikut aturan kami!"

"Aturan apa?!"

"Gubuk itu disediakan untuk seseorang!"

Dewi Siluman pandangi gubuk beberapa saat. Lalu tanpa berpaling lagi pada Iblis Rangkap Jiwa dia melangkah.

"Hai...! Kau hendak..."

Belum sampai ucapan Iblis Rangkap Jiwa selesai, Dewi Siluman telah menukas tanpa berpaling. "Aku baru saja menempuh perjalanan jauh! Sementara nanti malam aku harus mengadu jiwa! Aku butuh tempat untuk istirahat dan berpikir! Harap jangan ganggu!"

Dewi Siluman meloncat-loncat dari batu ke batu yang banyak bertebaran. Lalu hentikan loncatannya pada sebuah batu agak besar yang diperkirakan dapat lindungi dirinya dari sengatan terik matahari yang mulai panas. Dan tanpa pedulikan pandangan Iblis Rangkap Jiwa, Dewi Siluman duduk bersila bersandar pada lamping batu. Sesaat kemudian perempuan ini telah katupkan sepasang matanya!

Iblis Rangkap Jiwa menggumam tidak jelas. Lalu hendak berkelebat kembali ke puncak batu. Namun tiba-tiba laki-laki berkepala gundul ini urungkan niat.

"Apa manusia-manusia gila itu telah minggat?!" gumamnya seraya tajamkan pendengaran. Karena entah kapan mulainya, ternyata suara dengkuran orang yang tadi lamat-lamat menggema di seantero tempat itu tidak terdengar lagi.

Untuk meyakinkan dugaannya, Iblis Rangkap Jiwa berpaling tengadah. Namun apa yang dilihatnya, membuat laki-laki ini melotot angker. Celana hitam tetap melambai-lambai di atas tongkat di puncak batu cadas putih. Lalu tampaklah dua kepala berambut awut-awutan itu nongol di bibir batu menghadap ke arah Iblis Rangkap Jiwa. Malah begitu Iblis Rangkap Jiwa tengadah memandang, salah seorang dari kedua orang berwajah hitam lambai-lambaikan tangan dan berseru.

"Hai, Teman! Apakah gadis hitam itu juga mengemban kutuk seperti kami?!"

"Kulihat kau telah berkenalan! Boleh kami ikut nimbrung? Siapa tahu di antara kami bertemu jodoh di sini?"

Yang satunya menyahut. "Kalau itu terjadi, kau akan kuundang! Yang pasti hiburannya asyik! Ada tari buaya dan..."

"Tari telanjang!" sahut satunya lagi. "Tapi yang menari telanjang sapi kesurupan..."

Orang ini sengaja pelankan teriakan ucapan terakhirnya hingga Iblis Rangkap Jiwa tidak mendengar. Habis berkata, kedua orang berwajah hitam yang kini cuma nongolkan kepala masing-masing dibibir batu cadas perdengarkan tawa berkakakan.

"Aku akan ikut gila perturutkan manusia-manusia gila itu!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa pedulikan ucapan orang, laki-laki berkepala gundul ini berkelebat mendaki batu besar yang membentuk bukit.

Ketika Iblis Rangkap Jiwa sampai di puncak batu, suara tawa bekakakan sudah lenyap. Ketika Iblis Rangkap Jiwa arahkan pandangan ke puncak batu cadas putih, kedua orang berwajah hitam telah kembali melingkar di sekitar tongkat. Dan tak lama kemudian seantero tempat itu kembali diseruaki suara dengkuran bersahut-sahutan!

********************

BAB 6

KAWASAN Kedung Ombo makin tampak indah tatkala sang bundaran jagat tepat berada dititik tengahnya. Hamparan pasir membentang didepan kedung tampak laksana dihiasi lukisan karena membentuknya bayang-bayang beberapa batu yang berada disebelah kanan kirinya. Lamping-lamping batu yang agak besar tampak berkilat-kilat karena pantulan air kedung. Belum lagi bila ditingkah dengan fatamorgana yang terlihat dihamparan pasir luas yang memisah dua kawasan berbatu disebelah kanan kiri kedung serta jalan-jalan setapak dicelah batu-batu kecil yang berkelok kelok.

Di puncak batu sebelah kiri kedung, Iblis Rangkap Jiwa terlihat duduk dengan mata terpejam rapat dan kedua tangan berada di paha kaki kiri kanan. Jauh di bawahnya Dewi Siluman duduk bersandar dengan mata terpejam dan kedua tangan merangkap di depan dada. Sementara di puncak batu cadas putih paling tinggi di depan kedung, Raden Mas Antar Langit dan temannya Raden Mas Antar Bumi tetap mendengkur bersahut-sahutan dibawah celana hitam yang diikatkan pada pangkal tongkat kayu.

Pada awalnya, Iblis Rangkap Jiwa memang merasa terganggu dengan dengkur kedua orang berwajah hitam. Namun setelah pusatkan mata batinnya, pada akhirnya dia mampu menepis suara dengkuran. Tapi begitu matahari mulai tergelincir dari titik tengahnya, mendadak laki-laki berkepala gundul ini buka kelopak matanya. Pada saat yang sama, jauh dibawah mana Iblis Rangkap Jiwa berada, sepasang mata Dewi Siluman juga bergerak terbuka. Mata masing-masing orang ini memandang pada satu jurusan. Hanya dua orang berwajah hitam di puncak batu bercadas putih yang tetap mendengkur seperti semula. Malah begitu Iblis Rangkap Jiwa dan Dewi Siluman buka mata masing-masing, dengkur kedua orang ini sedikit agak keras!

Sementara sosok mereka berdua tetap melingkar di sebelah tongkat. Dari kawasan berbatu di sebelah kanan kedung, Iblis Rangkap Jiwa dan Dewi Siluman menangkap kelebatan satu sosok tubuh. Hanya beberapa saat saja, orang yang berlari sudah berada dihamparan pasir yang membentang memisah dua kawasan berbatu di sebelah kanan kiri kedung. Seketika paras wajah Iblis Rangkap Jiwa berubah. Dadanya berdebar keras. Kedua tangannya mengepal.

"Gadis sialan itu!" desis Iblis Rangkap Jiwa dengan suara bergetar "Siapa dia sebenarnya?! Kemunculannya pasti bisa membuat rencanaku jadi buyar! Hem... Mumpung belum terlambat, dia harus kusingkirkan sekarang juga! Tapi aku akan coba dahulu perempuan berjubah hitam itu. Sambil melihat sampai berapa jauh bekal yang dibawanya!"

Iblis Rangkap Jiwa berpaling pada Dewi Siluman. Lalu berteriak. "Dewi Siluman! Kau mengenal pendatang itu?!"

Tanpa tengadah ke arah Iblis Rangkap Jiwa, Dewi Siluman menyahut. "Baru kali ini aku berjumpa!"

"Hem... Aku mengenalnya! Dia salah seorang yang darahnya harus dialirkan! Jadi kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?!"

"Kedatanganku untuk darah Pendekar 131!"

"Begitu?! Tapi peraturan kami harus kau laksanakan! Kau juga harus bersedia mengadu jiwa dengan manusia-manusia yang berada di sekitar pemuda keparat itu! Dan pendatang itu adalah salah satunya! Habisi dia!"

Dewi Siluman arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. "Aku takakan sia-siakan tenaga tanpa guna! Kalau kau hendak habisi dia, lakukan sendiri! Aku tidak akan campur tangan! Akupun tidak mau kau ganggu!"

Habis berkata begitu, Dewi Siluman arahkan pandangannya pada orang yang tegak didataran pasir didapan kedung. Orang ini ternyata adalah seorang gadis berparas cantik jelita. Kulitnya putih, bentuk tubuhnya bagus. Rambutnya dikuncir tinggi. Gadis muda ini mengenakan jubah merah menyala. Untuk beberapa saat Dewi Siluman perhatikan si gadis yang bukan lain adalah Putri Sableng. Lalu tanpa buka mulut lagi, Dewi Siluman katupkan matanya!

Melihat sikap dan ucapan Dewi Siluman, Iblis Rangkap Jiwa mendengus keras. Kalau tidak melihat bahwa orang yang datang diyakini bisa merusak semua rencananya, dan harus segera disingkirkan, niscaya dia tidak akan tinggal diam dengan sikap yang diperlihatkan Dewi Siluman.

Seperti diketahui, Iblis Rangkap Jiwa pernah jumpa dengan Putri Sableng pada beberapa waktu yang lalu. Sialnya, ternyata si gadis berwajah cantik mengenakan jubah merah menyala itu mengetanui kelemahan Iblis Rangkap Jiwa. Hal inilah yang membuat Iblis Rangkap Jiwa sangat gusar sekaligus cemas dengan kemunculannya di Kedung Ombo.

Sementara itu Putri Sableng yang sudah sampai di sebelah kiri kedung tampak sedikit terkejut. Dia sesaat arahkan pandangan pada Iblis Rangkap Jiwa lalu pada Dawi Siluman. Lalu mendongak berpaling pada puncak batu cadas putih.

"Sedapat mungkin aku harus menghindar dahulu untuk bentrok dengan Iblis Rangkap Jiwa! Terlalu berbahaya menghadapi dia seorang diri..." Membatin Putri Sableng. "Dewi Siluman... Nyatanya dia muncul juga di sini! Apa maunya anak itu sebenarnya...?!"

Habis membatin, Putri Sableng hendak putar diri dan berniat berkelebat tinggalkan tempat itu. Namun baru setengah putaran, satu sosok hitam melayang dan tahu-tahu telah tegak menghadang.

"Kau bisa melarikan diri sampai ke ujung dunia! Tapi jangan harap kau mampu bersembunyi dan selamatkan nyawa dari tanganku!" bentak Iblis Rangkap Jiwa yang baru saja melayang dari puncak batu.

"Harap maafkan dan lupakan peristiwa di puncak bukit beberapa waktu yang lalu. Aku datang dengan persahabatan..." kata Putri Sableng lalu menjura.

"Hem... Kau kira begitu mudah memaafkan dan melupakan peristiwa itu, he?!"

Putri Sableng anggukkan kepalanya. "Semuanya sudah berlalu. Anggap saja tidak pernah terjadi! Apa susahnya berbuat begitu?! Lagi pula bukankah kita sama-sama tidak mendapatkan apa-apa dengan peristiwa itu?"

Iblis Rangkap Jiwa tegak dengan mulut terkancing rapat. Hanya sepasang matanya yang perhatikan sosok gadis di hadapannya. Putri Sableng angkat bahu lalu buka mulut lagi.

"Kalau dihitung-hitung, seharusnya kau yang minta maaf padaku. Bukankah saat itu kau hendak berbuat tidak senonoh padaku?!"

Iblis Rangkap Jiwa belum juga angkat bicara. Putri Sableng lanjutkan ucapannya dengan dada makin gundah karena dia maklum siapa adanya orang di hadapannya.

"Kuulangi lagi ucapanku. Aku datang dengan persahabatan!"

"Apa maksud persahabatan?!" hardik Iblis Rangkap Jiwa.

"Aku ingin bergabung denganmu!"

Kedua alis mata Iblis Rangkap Jiwa terangkat. Sebelum laki-laki ini keluarkan suara, Putri Sableng telah lanjutkan ucapannya.

"Aku memang hanya punya sedikit kepandaian!Tapi aku ingin menyumbangkan yang sedikit itu untuk membantumu menghadapi manusia-manusia yang akan datang nanti malam! Kau tahu. Pemuda bergelar Pendekar 131 telah menipuku! Aku kecewa mengatakan padanya tentang dirimu..."

Rahang Iblis Rangkap Jiwa bergerak terangkat. "Jadi kau anak manusianya yang menebarkan berita tentang diriku! Jahanam betul!"

"Memang jahanam betul!" sahut Putri Sableng. Lalu seolah melupakan kegundahan hatinya, gadis ini tertawa cekikikan! "Tapi apa boleh buat. Semuanya sudah terlanjur! Tapi telanjur sekali belum. Buktinya aku ingin bergabung denganmu demi menebus apa yang talah kulakukan!"

"Telanjur sekali memang belum, Gadis Sialan!" kata Iblis Rangkap Jiwa seraya menyeringai. "Tapi terlambat! Kau tahu, karena ulahmu, hampir semua orang kini tahu tentang kelemahanku! Kau harus bayar semuanya sekarang juga!"

"Aku datang memang untuk membayar! Aku bersedia membantumu!"

"Aku tidak butuh bantuan! Kau harus bayar dengan mampus di tanganku!"

"Ah... Sayang sekali kalau begitu! Padahal aku datang jauh-jauh dengan maksud baik!"

"Sayang juga, maksud baikmu terlambat datangnya! Jadi tidak ada pilihan lain bagimu!"

"Kau sudah pikirkan semuanya?!" tanya Putri Sableng sambil senyum-senyum, membuat Iblis Rangkap Jiwa tidak enak. Tapi laki-laki ini tidak mau menduga-duga. Dia segera saja buka mulut menyahut.

"Untuk membunuhmu, aku tidak perlu berpikir dua kali!"

Putri Sableng gelengkan kepala. "Itu salah besar! Justru kalau kau tidak berpikir dua kali lipat, kau akan menyesal seumur-umur!"

"Kau ini bicara apa?!"

"Dengar... Sebelum aku datang ke sini, aku telah menitipkan sesuatu pada seorang sahabat dengan pesan. Kalau kau sampai bertindak yang tidak-tidak padaku, apalagi sampai membunuhku, maka sahabat itu kusuruh sampaikan titipan yang kuberikan pada semua orang!"

"Titipan apa, hah?!" bentak Iblis Rangkap Jiwa sambil maju satu tindak.

"Titipan apalagi kalau bukan tentang dirimu?" ujar Putri Sableng kalem seraya terus senyum-senyum. "Kau tahu... Meski kau nanti membekal Kitab Hitam dan tidak mempan pukulan, itu tak akan ada artinya lagi kalau semua orang tahu kelemahanmu! Bahkan langkahmu akan makin sempit, karena bahaya mengancammu dimana-mana!"

Iblis Rangkap Jiwa memaki habis-habisan dalam hati. Malah saat itu juga kedua kakinya mencak-mencak! Putri Sableng seakan tidak pedulikan kegerahan hati orang. Dia buka mulut lagi sambil arahkan pandangannya pada Dewi Siluman dan puncak bukit batu cadas putih.

"Kau tinggal tentukan pilihan! Bahkan kalau kau keras kepala, aku tidak segan memberitahukan pada orang- orang yang telah berada disekitar sini! Itu berarti kau tidak akan mendapatkan apa-apa di sini!Paham...?!"

"Gadis ini benar-benar keparat!" desis Iblis Rangkap Jiwa. "Apa hendak dikata. Aku tidak mau usahaku selama ini sia-sia hanya karena ulah gadis ini. Tapi setelah urusan ini selesai, dia akan dapatkan kematian yang sangat mengerikan!" kata Iblis Rangkap Jiwa dalam hati. Lalu berkata.

"Baik! Tawaranmu kuterima! Tapi bukannya tanpa syarat!"

"Aku tak mau lagi bicara soal syarat! Malah seharusnya aku yang ajukan syarat! Bukan kau! Kau tak usah khawatir. Aku tidak akan ingkari semua ucapanku!"

Beberapa lama Iblis Rangkap Jiwa terdiam. Didepannya, Putri Sableng memandang berkeliling sambil angguk- anggukkan kepala.

"Bagaimana?!" tanya Putri Sableng. "Kau tak usah berpikir dua kali dalam urusan ini! Ini menyangkut hidup matimu! Keputusan harus segera kau ambil! Matahari tidak akan lama lagi tenggelam! Aku juga tidak mau terus berpanas-panasan di sini! Percuma aku merawat kulit dan wajahku kalau hanya untuk menunggu keputusan..."

"Baik! Baik! Tapi kalau kau sampai berbuat yang tidak-tidak, peduli setan semua orang tahu kelemahanku atau tidak!" teriak Iblis Rangkap Jiwa, lalu laki-laki ini balikkan tubuh dan melangkah panjang-panjang menuju puncak batu.

Putri Sableng memperhatikan langkah-langkah Iblis Rangkap Jiwa dengan cekikikan. Lalu gadis berjubah merah ini melangkah mengambil arah berseberangan dengan Dewi Siluman. Kalau Dewi Siluman berada di bawah puncak batu sebelah selatan yang ditancapi gubuk hitam, Putri Sableng melangkah ke arah sebelah utara puncak batu di bawah gubuk hitam.

Pada salah satu batu di sebelah kiri puncak batu yang ditancapi gubuk hitam, Putri Sableng duduk berlindung dari sengatan terik matahari yang mulai condong ke arah barat. Namun baru saja pantatnya menyentuh pasir disebelah batu, terdengar orang berkata.

"Kau dapat menduga ada apa kira-kira di sini?!"

Hening sejenak. Tapi tak lama kemudian terdengar sahutan.

"Aku tidak dapat menduga dengan pasti! Tapi melihat kehadiran beberapa perempuan, jangan-jangan tempat ini adalah pasar jodoh! Wah... Berarti kita untung besar! Siapa tahu takdir kita menemukan jodoh di sini..."

Putri Sableng arahkan pandangannya pada puncak batu cadas putih di mana baru saja terdengar suara orang berbicara. Nun jauh di puncak batu cadas putih, Putri Sableng melihat dua kepala berambut awut-awutan nongol di bibir batu. Lalu terlihat pula dua pasang kaki bergerak-gerak pulang balik di belakang kepala! Pertanda kalau kedua orang ini telungkup sambil mainkan kedua kakinya keatas ke bawah! Lalu gadis berjubah merah ini melihat salah seorang lambaikan tangannya. Bukan ke arahnya, melainkan pada Iblis Rangkap Jiwa yang telah tegak dipuncak batu sebelah kiri kedung. Lalu terdengar teriakan.

"Hai,Teman!Boleh kami memperkenalkan diri pada dua teman perempuanmu itu?!"

Tidak terdengar-sahutan dari seberang, membuat orang yang lambaikan tangan kembali berteriak.

"Hai, Teman! Kulihat wajahmu murung! Apa ada yang bisa kami bantu?! Urusan perempuan tidak ada sulitnya bagi kami berdua! Percayalah... Semuan pasti beres!"

Karena Iblis Rangkap Jiwa hanya memandang tanpa buka mulut, akhirnya keusilan Putri Sableng muncul. Gadis berjubah merah ini urungkan niat untuk duduk. Dia bangkit lalu meloncat ke salah satu batu yang agak besar. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, malah kedua tumitnya diangkat. Lalu dia lambai-lambaikan kedua tangannya.

"Hai... Kalian berdua!" seru Putri Sableng. "Kalau hanya ingin berkenalan mengapa masih tiduran di situ?! Kemarilah! Mari kita berkenalan! Aku butuh teman untuk berbincang-bincang!"

Kedua orang di puncak batu cadas putih saling pandang. Lalu terdengar ucapan.

"Walah... Rezeki kita besar sekali hari ini! Ada gadis cantik mengundang kita!"

"Betul... Betul! Kita tidak boleh sia-siakan kesempatan langka ini berlalu begitu saja!" menyahut satunya. Lalu salah seorang dari kedua orang ini bergerak bangkit. Busungkan dadanya sejenak lalu hendak melangkah menuruni puncak batu cadas. Namun gerakan orang ini tertahan, karena orang satunya segera keluarkan suara.

"Hai... Tolong ambilkan celanaku dahulu!"

"Ah... Itu urusanmu! Ambil sendiri!" ujar satunya. "Aku sudah tak sabar!" Orang ini lanjutkan langkah.

Sementara orang satunya tampak beringsut hendak menyambar celana hitam yang berkibar-kibar di atas tongkat. Namun sebelum celana hitam tersentuh, dan orang satunya baru melangkah dua tindak, terdengar bentakan keras membahana.

"Jangan ada yang berani bergerak! Tetap di tempat kalian masing-masing! Atau kepala kalian akan tanggal!"

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang dahsyat melesat diatas hamparan pasir yang memisahkan dua kawasan berbatu, lalu melabrak lurus ke arah orang yang berada di puncak batu cadas putih! Dari puncak batu putih terdengar dua seruan bersahutan. Orang yang tadi sudah tegak dan melangkah, buru-buru rebahkan diri. Karena di mana dia berpijak adalah batu cadas putih, dan dia tak mau tubuhnya menghantam cadas. Sementara temannya tanpa pikir panjang lagi telah menjatuhkan dirinya ke atas orang yang tadi masih telungkup! Kembali terdengar seruan. Tapi tak lama kemudian disusul dengan terdengarnya suara tawa bergelak!

"Untung aku telungkup hingga kau masih menumbuk pantatku! Kalau aku tadi telentang, tentu kau akan mencium barang saktiku!" kata orang yang direbahi yang tenyata adalah Raden Mas Antar Bumi yaitu laki-laki yang tadi memegang tongkat.

Suara gelakan tawa kembali menggema. Orang yang rebah, yakni Raden Mas Antar Langit beringsut turun dari tubuh Raden Mas Antar Bumi lalu perlahan-lahan bergerak ke bibir batu cadas merangkak. Lalu arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa yang baru saja berteriak sambil lepaskan pukulan jarak jauh.

"Hai, Teman! Mengapa kau menyerangku?!" teriak Raden Mas Antar Langit.

Dari seberang, Iblis Rangkap Jiwa hanya memandang dengan mulut terkancing. Raden Mas Antar Langit membalik arahkan pandangannya pada Putri Sableng begitu dilihatnya si gadis masih tegak di atas batu, Raden Mas Antar Langit lambaikan tangan. Di bawah sana, Putri Sableng kembali berjingkat seraya lambai-lambaikan kedua tangannya.

"Bagaimana?! Apa kalian masih ingin berkenalan?!"

"Tentu! Tapi bagaimana ini?!Keadaan tidak memungkinkan! Bagaimana kalau kita berkenalan jarak jauh saja?!" jawab Raden Mas Antar Langit.

"Kalian tidak berani turun?!" tanya Putri Sableng.

"Turuti kata hati, lautan api akan kulangkahi. Gelombang samudera akan kuarungi. Tapi apa hendak dikata. Kedua tanganku tidak sampai! Atau bagaimana kalau kau saja yang naik kesini?!"

"Kalau begitu maumu, baiklah!" ujar Putri Sableng dengan berteriak lantang. Gadis berjubah merah ini segera hendak turun dari batu. Namun gerakannya tertahan tatkala tiba-tiba dari puncak batu putih terdengar teriakan.

"Tahan! Jangan kemari dahulu! Ada aral melintang!" Yang berteriak ternyata Raden Mas Antar Bumi.

"Waduh! Kau ini bagaimana?! Ini rezeki besar. Mengapa ditahan?!" sungut Raden Mas Antar Langit.

"Celaka! Celaka!"

"Setan! Apanya yang celaka?!" hardik Raden Mas Antar Langit.

"Celanaku! Celanaku terbang ke bawah sana!" Raden Mas Antar Langit berpaling ke belakang. Celana hitam memang sudah tidak tampak lagi di atas tongkat! Seketika Raden Mas Antar Langit meledak gelakan tawanya.

"Sontoloyo! Mengapa kau tertawa?!" bentak Raden Mas Antar Bumi seraya berpaling ke bawah melihat celana hitamnya yang kini tampak terhampar menyangkut disalah satu batu.

Raden Mas Antar Langit hentikan tawanya. Lalu melambai ke arah Putri Sableng seraya berteriak. "Betul! Jangan kemari dahulu. Ada sesuatu yang harus kami perbaiki! Jika selesai, kau akan kuteriaki!"

Habis berteriak, Raden Mas Antar Langit berpaling pada Raden Mas Antar Bumi. "Bagaimana sekarang?!"

"Sialan! Kau masih ajukan tanya juga! Apa aku harus turun dengan begini?!"

"Jadi aku yang turun ambilkan celanamu?!" Raden Mas Antar Langit gelengkan kepala. "Kau dengar ancaman si gundul tadi?! Kepalaku akan ditanggalkan begitu aku berani beranjak dari tempat ini! Kau sayang sahabat apa sayang celana?!"

"Ah... Celaka! Lalu harus bagaimana?!"

"Terpaksa kita menunggu orang lewat! Lalu kita minta tolong!"

"Hem... Bagaimana kalau kita minta tolong gadis berjubah merah itu?!" tanya Raden Mas Antar Bumi seraya arahkan pandangan ke arah Putri Sableng.

"Mana mungkin gadis cantik macam dia mau ambilkan celanamu yang butut dan bau begitu?!"

"Jadi...?!"

"Terpaksa kita nunggu nenek-nenek!Kalau nenek-nenek pasti mau ambilkan celanamu!" ujar Raden Mas Antar Langit sambil cekikikan.

"Hem... Gara-gara gundul itu rezeki besar terbuang! Dan kita tidak akan bisa tidur lagi! Karena kita harus menunggu orang!Sialan benar..." keluh Raden Mas Antar Bumi.

Kedua orang berwajah hitam ini akhirnya sama telungkup sambil nongolkan kepala masing-masing dibibir batu cadas putih dengan mata melotot.

"Kalau tidak ada nenek-nenek lewat, bagaimana?!" gumam Raden Mas Antar Bumi.

"Kita tunggu saja sambil melihat keadaan! Hanya kau harus banyak berdoa mudah-mudahan tidak ada hembusan angin kencang. Jika itu terjadi, kau akan lebih merana!"

"Hem..." Raden Mas Antar Bumi menggumam. Lalu tiba-tiba diarahkan pandangannya pada Putri Sableng. "Ah... Bukankah kau tadi tawarkan pada gadis itu untuk berkenalan meski jarak jauh?!"

Tanpa menunggu sambutan Raden Mas Antar Langit, Raden Mas Antar Bumi telah lambaikan tangan. Di bawah sana Putri Sableng yang baru saja turun dari batu segera pula lambaikan kedua tangannya.

"Ada apa?! Apa perbaikan sudah selesai?!" teriak Putri Sableng.

"Belum! Tapi bukankah kita bisa berkenalan jarak jauh?!" kata Raden Mas Antar Bumi.

"Ah... Sebenarnya aku ingin berkenalan dengan bertatap muka! Tapi kalau begitu maumu, aku tidak keberatan! Sekarang kuharap kalian mau sebutkan diri satu persatu dengan berdiri agar aku lebih jelas!" teriak Putri Sableng.

"Wan... Celaka lagi!" ujar Raden Mas Antar Bumi. Orang ini lalu berpaling pada temannya. "Kau saja yang menjelaskan!"

Belum sampai Raden Mas Antar Langit perdengarkan ucapan, Iblis Rangkap Jiwa telah berteriak mendahului.

"Jika di antara kalian ada yang masih buka suara, kuhancurkan batu cadas tempat kalian berada!"

Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi sama kancingkan mulut. Lalu sama arahkan pandangan pada Putri Sableng yang tegak cekikikan. Kejap lain kedua orang berwajah hitam sama letakkan dagu masing-masing dibibir batu dengan mata melotot memandang kebawah.

********************

BAB 7

SENGATAN terik sinar matahari mulai agak mereda, karena sudah jauh menggelincir ke pelataran langit di sebelah barat. Hamparan langit sedikit berubah warna disemburati warna merah kekuningan. Hembusan angin mulai sebarkan hawa dingin. Di bawah puncak batu di sebelah kiri kedung, Dewi Siluman masih duduk bersila bersandar pada batu dengan mata terpejam dan kedua tangan merangkap di muka dada.

Putri Sableng juga tampak duduk bersandar pada batu. Namun sepasang mata gadis ini terbuka. Sesekali kepalanya tengadah memandang ke puncak batu di mana gubuk hitam berada. Kedua orang berwajah hitam tetap nongolkan kepala di bibir batu cadas putih dengan mata tak berkesip memandang kebawah. Kedua orang ini tidak adalagi yang buka mulut. Yang paling tampak resah adalah Iblis Rangkap Jiwa. Beberapa kali laki-laki berkepala gundul ini coba memejamkan sepasang matanya pusatkan mata batin.

Namun tampaknya dia mengalami kegagalan. Hingga pada akhirnya dia buka matanya dengan kepala sesekali memandang ke arah Dewi Siluman, Putri Sableng serta dua orang berwajah hitam di seberang batu cadas putih. Malah begitu matahari mulai berubah warna, orang ini tampak arahkan pulang balik pandangannya kejurusan kawasan berbatu di sebelah kanan kedung. Jelas pandangannya membayangkan rasa gelisah dan tidak sabar. Namun tak jarang dia menghela napas dalam.

"Ada orang datang..." Raden Mas Antar Langit berbisik pada temannya dengan kepala bergerak memaling kearah belakang tempatnya berada.

"Ah... Betul! Mudah-mudahan seperti harapanku! Seorang nenek-nenek. Agar kita bisa segera berkenalan dengan gadis cantik itu!" sahut Raden Mas Antar Bumi lalu ikut-ikutan palingkan kepala ke belakang.

Entah karena takut orang yang diyakini datang tidak melihat ke arah mereka berdua, keduanya cepat beringsut lalu dengan cepat merangkak ke bibir batu cadas putih di bawah mana terbentang jalan menuju kedung. Baru saja kedua orang berwajah hitam ini tongolkan kepala masing-masing ke bibir batu cadas putih di tempat mana jika ada orang lewat dibawahnya pasti akan melihat, satu sosok tubuh berlari cepat dari jurusan belakang batu cadas putih. Begitu sosok yang berlari hampir mendekati julangan batu cadas putih, Raden Mas Antar Bumi buru-buru lambaikan tangan sambil berteriak keras.

"Hai...! Hai...! Selamat datang! Kuharap keadaanmu baik-baik saja!"

Orang yang berlari hanya gerakkan kepalanya sebentar. Namun orang ini seakan tidak mendengar teriakan orang. Dia terus saja lanjutkan larinya. Dia baru berhenti tatkala sampai ditepi hamparan pasir yang memisahkan dua kawasan berbatu.

"Hai...!" kembali Raden Mas Antar Bumi berteriak. "Kami berada disini!"

Orang yang tegak tidak jauh dari julangan batu cadas putih mendongak. Kali ini dia berlama-lama pandangi dua kepala di bibir batu dengan dahi berkerut dan mata membesar.

"Waduh... Bukan kelasmu!" ujar Raden Mas Antar Langit. "Melihat potongan tubuhnya, aku tak yakin apa dia mau menolong!"

"Ah... Benar! Dia bukan nenek-nenek!Tapi siapa tahu?!" gumam Raden Mas Antar Bumi. Lalu pandangi orang di bawah sana. Mulutnya sunggingkan senyum seolah orang di bawah sana bisa melihat senyumnya!

"Apa kemunculan mereka atas undangan Iblis Rangkap Jiwa?! Atau atas pemberitahuan Ni Luh Padmi?!" desis orang yang tegak di dekat julangan batu cadas putih.

Ia adalah seorang perempuan berparas cantik mengenakan pakaian warna biru tipis ketat. Rambutnya dikuncir tinggi seolah ingin memperlihatkan lehernya yang putih jenjang. Perempuan berpakaian biru berwajah cantik dan bukan lain adalah Ratu Pemikat, gerakkan kepala ke kanan, ke kawasan batu di sebelah kiri kedung.

"Hem... Iblis Rangkap Jiwa sudah siap seperti rencana!" gumam Ratu Pemikat. Lalu pandangannya mengarah pada batu di mana Dewi Siluman berada. "Perempuan keparat itu nyatanya sudah muncul juga! Hem... Dia memilih tempat yang tepat!" Perempuan ini sedikit agak terkejut tatkala matanya menangkap sosok Putri Sableng.

"Mengapa gadis itu berada di situ?! Apa aku yang salah lihat?! Bukankah aku pernah menjumpai dirinya bersama Pendekar 131?! Atau bukan dia gadis yang kulihat waktu malam itu...? Ah. Kalau dia berada di kawasan itu, berarti Iblis Rangkap Jiwa sudah sempat mengorek keterangan dari mulutnya!"

Ratu Pemikat arahkan pandangannya berkeliling. "Belum ada tanda-tanda kemunculan orang-orang golongan putih! Tapi pasti mereka akan datang! Tengah malam masih lama. Hanya yang kuherankan ke mana gerangan nenek yang katanya mencari Pendeta Sinting itu?! Dia seharusnya sudah muncul di sini?! Atau jangan-jangan dia telah tewas di tengah jalan..."

Ratu Pemikat kembali arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa buka mulut atau membuat gerakan isyarat, perempuan itu berkelebat ke arah kawasan berbatu di sebelah kanan kedung.

"Hai...! Kita memang belum berkenalan. Tapi kuharap kau tidak keberatan memberi pertolongan!"

Satu teriakan terdengar membuat gerakan Ratu Pemikat tertahan. Perempuan ini mau tak mau dongakkan kepala. Dadanya kembali dilanda berbagai tanya dan duga.

"Dalam keadaan seperti sekarang ini, aku harus bersahabat dengan siapa saja!" kata Ratu Pemikat dalam hati, lalu balas berteriak.

"Katakan pertolongan apa yang harus kulakukan untuk kalian!"

"Ah... Dia memberi harapan!" bisik Raden Mas Antar Bumi. Lalu buka mulut. "Sebelumnya aku minta maaf. Karena sesuatu hal, celanaku jatuh ke bawah sana itu!" Raden Mas Antar Bumi tunjukkan tangannya pada celana hitam yang masih terhampar disalah satu batu cadas putih. "Kalau kau tidak keberatan, kuharap kau mau ambilkan cenalaku..."

Di sebelahnya, Raden Mas Antar Langit sudah tahan tawanya. Namun tak urung, sesaat kemudian tawanya keluar juga. Hingga Raden Mas Antar Bumi menggerutu sambil mendelik. Ratu Pemikat arahkan matanya ke arah yang ditunjuk orang. Lalu mendongak lagi.

"Wajahnya tidak mau dikenali! Siapa mereka?! Mengapa celananya sampai jatuh?! Mengapa mereka mengambil tempat disitu?!" Ratu Pemikat dibuncah berbagai hal. Ratu Pemikat berpikir sejurus. Lalu melangkah ke arah celana hitam di atas batu cadas putih. Namun perempuan ini tidak segera ambil celana itu. Dia hentikan langkah di sebelah batu di mana tersangkut celana milik Raden Mas Antar Bumi.

"Aku akan membantu yang kalian inginkan, tapi jawab dulu pertanyaanku!"

Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi saling pandang. Lalu Raden Mas Antar Bumi berseru. "Apa yang hendak kau tanyakan?!"

"Katakan siapa kalian adanya! Mengapa berada di situ! Juga katakan siapa yang memberi tahu hingga kalian muncul di sini!"

"Aku Raden Mas Antar Bumi. Temanku ini Raden Mas Antar Langit. Kami berdua muncul di sini atas anjuran seorang tabib kesohor..."

Ratu Pemikat Pernyitkan kening. Namun belum sampai dia menduga kebenaran ucapan orang, Raden Mas Antar Langit telah lanjutkan ucapan temannya.

"Meski jauh, tentu kau masih lihat bagaimana bentuk warna wajah kami. Hitam legam memilukan! Ini bukan karena kami sengaja mempercantik diri. Melainkan kutuk yang harus kami terima karena melanggar pantangan. Menurut tabib tadi, kutuk bisa sirna kalau kami mandi di Kedung Ombo pada malam purnama!"

"Lalu..." kali ini yang menyambung adalah Raden Mas Antar Bumi. "Kami tadi sudah enak-enakan tidur di gubuk hitam sana itu sambil menunggu malam purnama nanti. Tapi tiba-tiba datang si Iblis Rangkapan itu! Dia mengusir kami! Karena kami harus menunggu sampai malam, terpaksa kami memilih tempat ini. Namun si Iblis Rangkap Jiwa itu tidak menaruh belas kasihan pada kami. Dia bermain-main angin. Hingga akhirnya celanaku sampai jatuh ke dekat tempatmu itu..."

Mendengar orang sebut Iblis Rangkap Jiwa dengan Iblis Rangkapan, mau tak mau membuat Ratu Pemikat tersenyum. Namun sejauh ini dia tidak segera ambil celana hitam, sebaliknya ajukan tanya lagi.

"Mengapa salah satu di antara kalian tidak ambil sendiri?! Bukankah yang satunya lagi masih mengenakan celana?!"

"Betul! Tapi si Iblis Rangkapan itu mengancam kami! Kalau kami berani bergerak dari tempat ini, kepala kami akan ditanggalkan!" ujar Raden Mas Antar Langit. "Daripada kami mati sia-sia, bukankah lebih baik menunggu orang yang mau menolong?"

"Katakan terus terang. Kalian berada di pihak mana?!" Tiba-tiba Ratu Pemikat berteriak karena diam-diam perempuan ini tidak begitu percaya dengan ucapan-ucapan orang.

"Ah... Pertanyaanmu sama dengan pertanyaan Iblis Rangkapan tadi! Kami terus terang saja tidak berpihak ke mana-mana! Maksud kedatangan kami telah kau ketahui! Jadi harap tidak berprasangka buruk. Lebih dari itu, kumohon kau mau menolongku!" kata Raden Mas Antar Bumi.

"Baik! Aku akan menolong kalian!" ujar Ratu Pemikat. Lalu ulurkan tangan kirinya mengambil celana hitam di atas batu cadas putih.

Raden Mas Antar Bumi tersenyum-senyum. Apalagi tatkala Ratu Pemikat melangkah ke tempat mana tadi dia pertama kali muncul. Tepat berada di bawah batu cadas putih menjulang. Ratu Pemikat hentikan langkah. Celana hitam ditenteng di tangan kiri dan tampak berkibar-kibar. Kepalanya mendongak. Raden Mas Antar Bumi makin lebarkan senyum.

"Aku akan berikan celana ini besok pagi!" seru Ratu Pemikat, membuat senyum Raden Mas Antar Bumi laksana ditanggalkan setan.

Kejap lain terdengar keluhan keras saat tanpa berkata-kata lagi Ratu Pemikat berkelebat ke arah kawasan berbatu di sebelah kanan kedung sambil menenteng celana hitam.

"Kau tak usah cemas. Mungkin dikira celana bututmu bisa membawa berkah!" gumam Raden Mas Antar Langit, membuat Raden Mas Antar Bumi memberengut sambil menggumam.

"Ini namanya celaka tiga belas! Pertolongan yang diharap, lebih celaka yang didapat! Hilang sudah kesempatan berkenalan dengan gadis cantik berjubah merah itu!"

Sementara di atas puncak batu yang ditancapi gubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa sejenak tadi tampak menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Ratu Pemikat. Namun begitu samar-samar dapat menangkap celana hitam di tangan kiri sang Ratu, laki-laki berkepala gundul ini sunggingkan senyum seringai. Jauh di bawahnya, Dewi Siluman buka kelopak matanya. Lalu memandang ke seberang dengan mata sedikit dibeliakkan.

"Jahanam! Mengapa perempuan sundal itu tegak di seberang sana?! Menurut tanda, seharusnya dia tegak di kawasan ini! Hem... Ada permainan apa ini?! Manusia Iblis itu juga tidak buka mulut dengan kehadirannya!"

Di sebelah bawah samping kiri puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada, Putri Sableng diam-diam juga membatin. "Aneh... Ada apa ini?! Muslihat apa lagi yang sedang dilakukan perempuan itu?!"

Sementara kedua orang berwajah hitam sama bergerak merangkak. Lalu nongolkan kepala masing-masing di bibir batu cadas putih di atas mana hamparan pasir membentang dengan mata sama mendelik dan kepala bergerak-gerak berpaling pada Dewi Siluman, Iblis Rangkap Jiwa, Putri Sableng, dan Ratu Pemikat. Namun kali ini mereka sama kancingkan mulut.

Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba semua kepala berpaling ke satu arah. Mata masing-masing orang yang berada di tempat itu memandang tak berkesip. Satu sosok tubuh berlari cepat dari arah belakang mana Ratu Pemikat berada.

"Berhenti!" Ratu Pemikat membentak sambil putar tubuh.

Orang yang baru saja berlari hentikan langkah. Tegak di atas batu sejarak sepuluh langkah dari Ratu Pemikat. Ternyata orang ini adalah seorang nenek berpakaian panjang warna coklat. Pada tangannya tampak tergenggam sebuah tusuk konde besar berwarna hitam. Si nenek tidak lain adalah Ni Luh Padmi.

"Kuharap kau tidak menuduhku bertindak macam-macam!" Si nenek telah mendahului buka mulut begitu melihat pandangan curiga Ratu Pemikat.

Seperti diketahui, Iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat serta Ni Luh Padmi telah membuat rencana dan sepakat akan bertemu dua hari menjelang purnama di puncak Bukit Selamangleng. Namun sampai hari yang ditentukan, Ni Luh Padmi tidak muncul. Ini membuat Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat merasa curiga. Ratu Pemikat campakkan celana hitam milik Raden Mas Antar Bumi. Lalu memandangi si nenek dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bibirnya tersenyum dingin.

"Aku tidak akan menuduh kalau kau mengatakan alasan tepat!"

Ni Luh Padmi putar pandangannya. Mula-mula ke arah Dewi Siluman, lalu ke atas puncak batu di seberang dimana Iblis Rangkap Jiwa berada. Lalu pada Putri Sableng. Dan tak luput matanya memandang ke arah dua wajah hitam yang nongol di bibir batu cadas putih. Terakhir kali kembali pada sosok Ratu Pemikat. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang. Si nenek lalu angkat bicara.

"Di tengah perjalanan melakukan tugas seperti yang telah kita sepakati, aku bertemu dengan seseorang yang mau tunjukkan padaku dimana tempat tinggalnya Pendeta Sinting..."

"Hem....Coba katakan dimana?!" sahut Ratu Pemikat. "Jurang Tlatah Perak!"

"Hem... Lalu?!"

"Aku menuju Jurang Tlatah Perak. Namun, meski tempat itu sudah kuaduk-aduk, aku tidak menemukan bangsat penghuninya!Walau begitu, satu hal yang pasti,tempat itu memang kuyakini tempat persembunyian jahanam itu! Dan dia pergi belum lama!"

"Bagaimana kau bisa yakin?!"

Ni Luh Padmi sunggingkan senyum seringai. "Aku tahu siapa jahanam itu lebih daripada orang lain!"

"Kalau kau sudah tahu jahanam bangsatnya tidak ada, mengapa tidak segera kembali?!"

"Aku telah lama mencari. Begitu tempatnya sudah kutemukan, apakah aku harus begitu saja pergi meski bangsat keparatnya tidak kutemukan?! Dia kutunggu sampai beberapa hari dengan harapan dia akan pulang!"

"Tapi kau mengalami kecewa besar, bukan?!"

Ni Luh Padmi tidak segera menjawab. Namun beberapa saat kemudian dia anggukkan kepala. "Dia tidak muncul sampai aku memutuskan pergi kemari!"

"Hem... Aku bisa saja menerima alasanmu! Tapi di hadapan Malaikat Penggali Kubur, bisa saja lain!"

"Maksudmu?!"

"Kusarankan padamu. Kalau kau masih inginkan nyawa Pendeta Sinting, kau harus minta maaf pada Malaikat Penggali Kubur!Soal apa nanti alasanmu, itu urusanmu!"

Paras wajah si nenek berubah. Ratu Pemikat tersenyum lebar. Lalu berujar. "Tanpa kukatakan, kau tahu bukan di mana kau harus berdiri?!"

Kepala Ni Luh Padmi berpaling memandang berkeliling. "Siapa yang berjubah hitam dan berjubah merah itu?!"

"Kalau mereka berada di sana, siapa pun mereka adanya, yang pasti mereka adalah manusia-manusia musuh golongan putih!"

"Dua orang di puncak batu cadas putih itu?!"

"Mereka hanya manusia tersesat jalan!"

"Dan kau sendiri, mengapa..."

"Jangan banyak bertanya!" potong Ratu Pemikat lalu hadapkan tubuh ke hamparan pasir yang membentang memisah dua kawasan berbatu. "Mumpung hari belum gelap, kuharap kau segera memilih tempat!"

Dengan dada dipenuhi tanda tanya dan kegelisahan, si nenek meloncat dari batu lalu melangkah melintasi hamparan pasir yang membentang di depan Kedung Ombo. Saat itulah dari puncak batu cadas putih terdengar gumaman.

"Kenapa matamu melotot begitu rupa!Dia hanya nenek-nenek! Dan percuma kau minta tolong padanya!" Yang perdengarkan suara ternyata Raden Mas Antar Langit. Raden Mas Antar Bumi tidak menyahut. Malah sepasang matanya makin membelalak besar.

"Kau tertarik padanya?!" kembali Raden Mas Antar Langit buka suara.

Tapi yang ditanya tetap kancingkan mulut, membuat Raden Mas Antar Langit berpaling silih berganti pada temannya lalu pada Ni Luh Padmi yang melintas di bawah sana.

"Laki-laki seusiamu memang saat-saatnya tumbuh perasaan cinta untuk ketiga kalinya.... Tapi kurasa kau terlalu sembrono kalau menjatuhkan pilihan pada si nenek itu! Masih banyak gadis muda dan cantik yang kuyakini bisa kaugaet!Apalagi wajahmu tidak mengecewakan. Buktinya kau tahu sendiri. Walau kau berhias begitu rupa, gadis berjubah merah itu tadi tak sabar ingin berkenalan..."

"Sontoloyo! Kalau kau tak bisa diam, kulemparkan kau ke bawah sana!" hardik Raden Mas Antar Bumi dengan kepala masih bergerak mengikuti langkahan kaki Ni Luh Padmi.

"Ah... Sebagai teman, aku cuma mengingatkan! Lagi pula aku akan ikut bangga kalau kau bisa berdampingan dengan seorang gadis cantik dan muda! Hik Hik...!Bukan dengan nenek-nenek yang dihias bagaimanapun juga tidak membuat mata betah memandang, sebaliknya membuat pantat gatal!"

"Setan! Setan! Diam kau!" bentak Raden Mas Antar Bumi, membuat Ni Luh Padmi yang melintas di bawah mereka berdua dongakkan kepala.

"Hai...!" kata Raden Mas Antar Langit sambil lambaikan tangan saat dilihatnya si nenek tengadah memandang.

Raden Mas Antar Bumi serta-merta gerakkan tangan. Bukan ikut-ikutan melambai, melainkan tarik pulang tangan temannya yang baru saja melambai. Di bawah sana, Ni Luh Padmi kerutkan dahi sesaat, namun kejap lain si nenek telah lanjutkan langkah.

"Apa yang kau lakukan?! Kau cemburu aku lambaikan tangan pada nenek itu?!" tanya Raden Mas Antar Langit. "Kau ini aneh. Belum kenal sudah cemburu buta!"

Raden Mas Antar Bumi tidak juga menyahut. Dia hanya pandangi si nenek yang kini telah tegak di atas batu tidak jauh dari tempat Dewi Siluman. Sementara Dewi SilUman sendiri seolah acuh dengan kehadiran orang di dekatnya.

Hanya Iblis Rangkap Jiwa yang tampak telengkan kepala ke arah Ni Luh Padmi. Pada awalnya laki-laki berkepala gundul ini sudah hendak berkelebat saat dilihatnya Ni Luh Padmi muncul. Namun niatnya diurungkan setelah dilihatnya Ratu Pemikat sempat bercakap-cakap dengan Ni Luh Padmi.

Baru saja Ni Luh Padmi tegak di atas batu, tiba-tiba semua orang di tempat itu tersentak kaget. Entah kapan datangnya, tiba-tiba dari bawah julangan batu cadas putih di depan kedung, satu sosok tubuh berkelebat!

BAB 8

BUKAN hanya kemunculan orang yang membuat semua orang tersentak kaget, mereka juga sama membatin dan bertanya-tanya. Karena orang yang mendadak muncul terus berlari menyeberangi hamparan pasir yang membelah kawasan berbatu. Orang ini baru hentikan larinya saat satu langkah lagi tepat di bibir kedung!

Seakan tahu dirinya menjadi pusat pandang beberapa mata, orang ini putar tubuh membelakangi kedung. Ternyata dia adalah seorang kakek. Rambutnya yang kaku dipotong pendek hingga terlihat tegak-jabrik. Raut wajahnya penuh keriputan. Sepasang matanya terpuruk masuk ke rongga yang cukup dalam. Kalau rambutnya yang putih dipotong pendek, tidak demikian halnya dengan kumisnya yang juga telah berwarna putih. Kumis kakek ini dibiarkan panjang hingga menutupi hampir janggutnya!

Pada kedua cuping hidungnya yang agak mancung tampak melingkar dua buah anting-anting dari benang warna merah. Kakek ini mengenakan pakaian berwarna biru gelap. Meski si kakek di bibir kedung telah unjuk tampang, namun semua orang yang ada di tempat itu jelas sama menampakkan isyarat kalau tidak seorang pun yang mengenal.

Beberapa saat Kedung Ombo senyap. Tidak ada suara yang terdengar menyeruak. Hanya beberapa mata yang tampak saling melontar pandang. Sementara si kakek yang menjadi pusat pandang orang mulai lakukan gerakan. Kepalanya berpaling kekiri. Sesaat si kakek di bibir kedung memandang pada Ni Luh Padmi yang tegak paling kanan. Lalu beralih pada Dewi Siluman yang kini tampak pentangkan mata.

Kejap lain si kakek mendongak sedikit arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa yang tegak kacak pinggang di bawah gubuk hitam. Lalu pandangannya beralih pada Putri Sableng. Pada si gadis berjubah merah ini, si kakek memandang agak lama sebelum akhirnya arahkan pandangan pada puncak batu cadas putih di mana terlihat kepala Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi.

Si kakek anggukkan kepala sedikit lalu berpaling ke kanan. Pada kawasan berbatu di mana Ratu Pemikat berada. Begitu pandangannya sampai pada Ratu Pemikat, si kakek bukan segera buka mulut. Melainkan putar pandangannya kembali. Kini berbalik arah. Mulai dariRatu Pemikat dan berakhir pada Ni Luh Padmi. Kejap lain si kakek tengadah melihat langit yang mulai menggelap karena matahari sejengkal lagi terbenam.

Kesepian di sekitar Kedung Ombo tiba-tiba disentak dengan beberapa gumaman dan pandangan heran beberapa mata. Karena si kakek di bibir kedung tiba-tiba sentakkan kedua kakinya. Sosoknya melesat lima tombak ke udara. Membuat gerakan satu kali, lalu meluncur deras ke dalam kedung!

Byuuurr!

Air tenang Kedung Ombo berkecipak sampai satu tombak ke udara. Lalu tampak gelombang bergerak dahsyat laksana dihempas angin luar biasa kencang. Malah sebagian air kedung muncrat melewati bibir kedung. Gumaman yang sejenak tadi terdengar tiba-tiba lenyap. Kini hanya beberapa pasang mata yang memandang pada tengah kedung. Semua orang seolah tak sabar apa sebenarnya yang dilakukan orang. Mereka menunggu dengan dada dibuncah berbagai tanya.

Namun semua orang di sekitar Kedung Ombo pada akhirnya harus mengalami kecewa besar. Karena hingga ditunggu agak lama, kakek yang ceburkan diri ke dalam kedung tidak muncul lagi! Rasa terkesima semua orang belum lenyap, tiba-tiba satu suara terdengar.

"Aneh... Dari mana mendung ini berasal?! Baru saja langit terang benderang!"

Hampir berbarengan semua kepala di tempat itu bergerak mendongak. Ucapan yang baru saja terdengar dari puncak batu cadas putih memang benar adanya. Karena begitu matahari tenggelam, tiba-tiba langit yang sejenak tadi tanpa tertutup awan sedikit pun berubah.

Entah dari mana dan kapan datangnya, tiba-tiba langit disemaraki dengan gulungan awan hitam, membuat suasana yang mulai gelap sudah berubah pekat! Malah kalau tidak pelototkan mata, orang yang ada di sekitar Kedung Ombo tidak akan mampu melihat lainnya! Anehnya, gulungan awan hitam itu hanya menggantung tepat di atas Kedung Ombo!

"Wah... Kebetulan! Mumpung gelap, aku akan bisa leluasa berjalan! Kita mandi sekarang!" kata seseorang dari puncak batu cadas putih.

"Kalau kau ingin mandi sekarang, silakan! Melihat kakek yang tadi mencebur dan tidak muncul lagi, aku urungkan niat saja!Biar aku mengemban kutuk begini daripada mati tidak karuan!" menyahut satunya.

"Mengapa kau takut dengan kakek itu! Dia memang sengaja bunuh diri!"

"Peduli setan bunuh diri atau tidak! Yang jelas dia tidak muncul lagi. Dan aku tak mau mengalami nasib seperti dia!"

"Ah... Kau selalu saja menakut-nakutiku! Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?!"

"Kurasa ada yang tidak beres di tempat ini! Kalau benar malam ini di sini ada pasar jodoh, mengapa yang datang nenek-nenek juga?! Dan kau tahu sendiri. Wajah-wajah mereka terlihat tegang kaku! Belum lagi ada kakek yang tiba-tiba bunuh diri! Kita pulang saja! Bukankah malam purnama tidak hanya malam ini?! Lagi pula kulihat sang rembulan tidak akan muncul! Mandi sampai semalaman pun tidak akan mampu menghilangkan kutuk kita kalau rembulan tidak nongol! Ayo, kita pulang!"

"Enak saja kau bicara!" sahut suara satunya. "Bagaimana aku bisa pulang kalau tidak mengenakan celana?"

"Bukankah sudah gelap?! Tak mungkin orang dapat melihat senjata saktimu! Kalaupun orang sempat melihat, kau tak usah khawatir, yang melihat pasti akan tunggang langgang terlebih dahulu! Hik Hik Hik...!"

"Betul juga. Kalau lari tunggang langgang menjauh aku tidak kerepotan! Biasanya yang melihat lari tunggang langgang mendekatiku! Hik Hik Hik...!"

Ketegangan di Kedung Ombo laksana sirna karena di tempat itu kini disemaraki suara ledakan tawa bersahut-sahutan.

"Hai, kalian yang ada di puncak batu cadas putih!" tiba-tiba satu teriakan terdengar. "Jadi itukah yang kalian katakan tadi aral melintang?!"

"Ah... Itu suara gadis cantik berjubah merah!" gumam salah seorang di puncak batu cadas putih. Orang yang bergumam ini lantas berteriak menyambuti suara teriakan yang baru saja terdengar.

"Benar! Itulah aral rintangannya. Dan kami tak mampu memperbaikinya! Bagaimana kalau kau pinjamkan celanamu pada temanku ini?!"

"Menyesal sekali!Aku tidak mengenakan celana!" sahut teriakan dari bawah.

"Jadi dibalik jubah merahmu itu kau tidak mengenakan apa-apa lagi?!"

"Sialan!" satu teriakan keras terdengar. Yang ini meski suara perempuan namun jelas lain dari teriakan yang tadi terdengar.

"Kalian yang ada di puncak batu cadas putih! Dengar, yang bicara kali ini aku si jubah merah! Kalau yang tadi si jubah hitam! Jadi kalian jangan macam-macam mengatakan aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik jubah merahku ini! Bisa kulepas lidah kalian masing-masing! Kalian dengar? Kalau kalian ingin teruskan bicara dengan si jubah hitam itu, silakan! Tapi awas! Jangan kau sebut-sebut lagi si jubah merah!"

"Waduh... Maafkan kalau kami salah sangka! Maklum suasana sangat gelap! Baik, aku akan teruskan bicara dengan si jubah hitam..." teriak orang dari puncak batu cadas putih.

Lalu sesaat kemudian terdengar lagi teriakan dari puncak batu cadas putih. "Hai, Jubah Hitam! Karena kita belum saling kenal, tak keberatan bukan kalau kusebut saja si Jubah Hitam?!"

"Tak apa-apa... Silakan kalian terus bicara!" terdengar suara sahutan dari bawah. Yang ini jelas suaranya lain dengan suara orang yang baru mengatakan dirinya si jubah merah.

"Kuulangi lagi pertanyaanku tadi. Jadi di balik jubah hitammu itu kau tidak mengenakan apa-apa lagi?!" kata suara dari puncak batu cadas putih.

"Di sini banyak telinga! Aku malu mengatakannya..." terdengar sahutan dari bawah.

"Kau tak usah malu mengatakannya, Jubah Hitam! Anggap saja semua telinga di sini tidak bisa mendengar! Dan anggap di sini hanya ada kita bertiga...! Asyik bukan...?!"

"Asyik memang asyik! Tapi rasanya aku tidak kuasa mengatakan..."

"Ah... Kau pasti bisa mengatakannya! Bukankah tidak ada telinga yang mendengar?! Lagi pula aku akan menjaga rahasia ini untuk kita bertiga! Katakanlah..."

Hening sejenak. Lalu dari arah bawah terdengar lagi teriakan mendayu.

"Aku memang... tidak mengenakan apa-apa lagi! Tapi kalian jangan menduga yang tidak-tidak! Itu memang sudah kebiasaanku dari mulai kecil! Aku geli kalau mengenakan pakaian di balik jubah hitamku ini..."

Dari puncak batu cadas putih terdengar gumaman. Lalu dari arah bawah terdengar suara tawa cekikikan ditahan-tahan. Tak lama kemudian, dari puncak batu cadas putih terdengar teriakan.

"Jubah hitam...! Aku yakin di balik cadarmu itu tersembunyi seraut wajah cantik nan jelita bak bidadari. Aku mendapat firasat ada yang tidak beres di tempat ini. Bagaimana kalau kita pergi saja dari sini?!"

"Ah... Kau pandai merayu... Aku mungkin tidak secantik yang kau kira! Tapi dibanding dengan gadis berjubah merah itu, mungkin kau masih memilihku! Kalau kau ingin mengajakku pergi dari sini, kira-kira kau akan ajak aku ke mana?!"

"Ke mana kau suka aku akan memenuhinya!"

"Ah, senang hatiku mendengarnya. Kita pergi sekarang?!"

"Benar! Kita berangkat sekarang saja!"

"Gila! Bagaimana kau ini?! Kau tidak boleh pergi dari sini!" satu suara di puncak batu cadas putih menahan.

"Kau ini tidak mau rezeki besar! Ada perempuan cantik yang di balik jubah hitamnya tidak mengenakan apa-apa mengajak pergi kau tolak! Dasar orang sinting! Apa kau hendak menunggu nenek-nenek tadi?!"

"Sialan! Kau benar-benar sialan! Aku tidak menolak rezeki! Tapi bagaimana dengan senjata saktiku ini?! Mau ditaruh di sakumu, hah?!"

"Astaga! Aku lupa!" ujar suara satunya. "Gara-gara si gundul itu dua rezeki besar harus terbuang percuma!"

"Hai... Kalian yang ada di puncak batu cadas putih! Bagaimana! Kapan kita berangkat?! Aku sudah tidak sabar..."

"Jubah Hitam. Kau tidak keberatan bukan kalau temanku ini jalan bersama tanpa memakai celana?!"

Terdengar suara cekikikan. Lalu disusul teriakan mendayu-dayu.

"Aku tidak keberatan..."

"Nah. Kau telah dengar sendiri! Dia tidak keberatan jalan bersama meski kau tidak mengenakan celana! Tunggu apa lagi?!"

"Sontoloyo! Aku ini bangsa manusia biasa, bukan bangsa iblis sepertimu!Yang bisa jalan dengan perempuan walau tanpa mengenakan celana!" sahut suara satunya.

"Hem... Rupanya kau lupa! Walau kau bangsa manusia, bukankah kau masuk golongan manusia sinting?! Dalam golongan manusia sinting sepertimu, apakah masih tabu jalan bersama perempuan tanpa mengenakan celana?!"

"Sesinting-sintingnya bangsa manusia, dia tidak akan punya kelakuan seperti bangsa iblis golonganmu!"

"Hai... Mengapa kalian bertengkar?!" terdengar suara teriakan dari bawah. "Kalian tidak usah terlalu mempersoalkan celana! Bukankah bajumu masih bisa kau buat penutup kalau kau mau?! Meski sebenarnya aku lebih senang kau jalan tanpa mengenakan celana! Hik Hik Hik...!"

"Jahanam keparat! Mulut kotormu harus dipecah!" Tiba-tiba terdengar teriakan dahsyat. Suara itu jelas suara seorang perempuan dan lain dari suara-suara perempuan yang tadi terdengar.

"Ada apa ini? Siapa memaki siapa?!" terdengar suara dari puncak batu cadas putih.

"Aneh memang! Tapi ada yang lebih aneh lagi! Lihat ke langit!" sahut suara satunya.

Dalam pekatnya suasana, samar-samar masih terlihat semua kepala tengadah ke atas. Dan berpasang-pasang mata tampak membelalak. Di atas sana, gulungan awan hitam yang sejenak tadi menutup hamparan langit tepat di atas Kedung Ombo laksana disapu gelombang angin kencang. Gulungan awan hitam ambyar dan bertaburan. Anehnya, tepat di mana tadi awan hitam bergulung-gulung menutup langit di atas Kedung Ombo, kini tampak sang rembulan yang pancarkan sinar terang! Hingga kepekatan di sekitar kawasan Kedung Ombo sirna seketika! Ke mana pandangan diarahkan terlihat jelas.

Kedua orang berwajah hitam dipuncak batu cadas putih kini tampak tegak di bibir batu. Hanya yang satu kini bertelanjang dada. Bajunya ditarik ke bawah lalu diikatkan demikian rupa hingga menyerupai pakaian panjang bagian bawah! Raden Mas Antar Bumi yang bertelanjang dada dan Raden Mas Antar Langit tampak tersenyum-senyum. Dan ketika dilihatnya si jubah hitam yang bukan lain adalah Dewi Siluman, melihat ke arah mereka, kedua orang ini sama angkat kedua tangan masing-masing lalu melambai- lambai.

Namun senyum keduanya mendadak terpenggal. Gerak lambaian tangannya terhenti. Karena di bawah sana mendadak Dewi Siluman bergerak bangkit. Kepala perempuan bercadar hitam ini mendongak. Lalu terdengar suara garang.

"Kalian jahanam berdua! Kalian akan tunggu giliran setelah kucabut lidah kotor gadis jubah merah keparat itu!" Habis berteriak begitu, Dewi Siluman langsung berkelebat memutari batu membukit sebelum akhirnya berhenti hanya sejarak lima langkah dari tempat tegaknya Putri Sableng!

"Tak kusangka kalau wajahmu yang cantik tidak sesuai dengan mulutmu!"

Putri Sableng memandang orang dihadapannya dengan angkat kedua alis matanya. Belum sampai gadis berjubah merah ini buka mulut, Dewi Siluman telah mendahului.

"Jangan kau kira aku tidak tahu! Bukankah yang mengaku sebagai si Jubah Hitam adalah mulutmu juga?!" Kedua tangan Dewi Siluman telah terangkat.

"Suasana gelap! Jangan kau menuduh seenakmu! Aku tidak mengaku sebagai si Jubah Hitam! Di sini banyak orang dan mereka juga ada yang perempuan!" sahut Putri Sableng. Gadis ini ikut-ikutan angkat tangannya.

"Waduh... Gawat! Gawat!" terdengar suara dari puncak batu cadas putih. "Bagaimana bisa jadi begini?! Padahal aku sudah siap berangkat!"

Sementara itu, melihat apa yang terjadi di seberang, Ratu Pemikat buru-buru berteriak. "Harap dapat kuasai diri! Urusan kecil ini bisa kita selesaikan setelah urusan malam ini tuntas!"

"Kalau di antara kalian ada yang mulai lakukan penyerangan, aku tak segan membunuh kalian berdua!" bentak Iblis Rangkap Jiwa lalu tangannya disentakkan kebawah.

Wuuttt!

Satu gelombang dahsyat melesat deras ke arah Dewi Siluman dan Putri Sableng. Dewi Siluman dan Putri Sableng cepat melompat mundur.

Brakk! Brakkk! Byurr! Byuurr!

Dua batu di mana Dewi Siluman dan Putri Sableng tadi tegak, pecah berkeping-keping. Pasir hitam berhamburan. Namun begitu pasir luruh kembali, baik Dewi Siluman maupun Putri Sableng tetap tegak saling berhadapan meski agak sedikit jauh. Kedua tangan masing-masing orang tetap terangkat. Malah sesaat kemudian, Putri Sableng telah buka mulut.

"Jangan-jangan yang perdengarkan suara tadi adalah kau sendiri! Lalu begitu suasana terang dan kau belum sempat pergi, kau merasa malu! Hik Hik Hik...! Mengapa harus malu? Anggap saja semua mata di sini buta! Lihat, dua orang di puncak batu cadas itu sudah siap berangkat!"

Dewi Siluman perdengarkan gerengan dahsyat. Kedua tangannya bergetar. Namun sebelum perempuan bercadar hitam ini gerakkan tangan kirimkan pukulan, terdengar deruan keras dari puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada. Kejap lain satu gelombang hitam menggebrak ke arah Dewi Siluman.

Karena tak ada kesempatan lagi bagi Dewi Siluman untuk selamatkan diri menghindar, akhirnya diasentakkan kedua tangannya ke atas memangkas pukulan yang dilepas Iblis Rangkap Jiwa.

Bummmm!

Terdengar ledakan keras. Pasir-pasir di sela batu bertaburan. Batu-batu di kawasan sebelah kiri kedung bergetar. Sosok Dewi Siluman tampak hendak terhuyung jatuh dari atas batu pijakannya. Namun perempuan ini segera lipat gandakan tenaga dalamnya hingga huyungannya terhenti. Kepalanya serentak mendongak.

Iblis Rangkap Jiwa menyeringai. "Kalau tidak melihat kau berada di pihak kami, sudah kupecahkan batok kepalamu sejak kau muncul tadi! Kembali ketempatmu semula!"

Dewi Siluman tak bergeming dari tempatnya. Malah perempuan ini telah angkat kedua tangannya siap lepaskan pukulan. Iblis Rangkap Jiwa mendelik angker. Serta-merta laki-laki berkepala gundul ini angkat pula kedua tangannya.

"Tahan serangan!" Yang menahan ternyata adalah Putri Sableng.

Dewi Siluman mendengus dengan mata berkilat melirik ke arah gadis berjubah merah. Putri Sableng cekikikan, lalu angkat bicara. "Kulihat ada orang datang dari seberang!"

Mungkin merasa ucapan Putri Sableng hanya untuk mengelabui, Dewi Siluman tidak gerakkan kepala ke arah mana kini Putri Sableng memandang. Sementara semua kepala di situ sudah bergerak ke satu arah jauh di belakang Ratu Pemikat berada.

"Ah... Rupanya yang muncul kali ini kita kenal!" satu suara dari puncak batu cadas terdengar.

Dewi Siluman arahkan pandangannya melirik kearah Iblis Rangkap Jiwa. Ketika dilihatnya laki-laki itu telah tarik pulang kedua tangannya yang tadi hendak lepaskan pukulan ke arahnya dan kini memandang lurus kedepan, membuat perempuan bercadar dan berjubah hitam ini segera meloncat dan tegak di atas batu sejajar lurus dengan tempat tegaknya Putri Sableng. Dengan begitu, kalau Putri Sableng hendak berbuat macam-macam, dia segera dapat mengetahuinya.

Begitu tegak sejajar lurus dengan Putri Sableng, masih dengan kedua tangan terangkat, dia putar tubuh menghadap hamparan pasir di depan kedung. Saat itulah sepasang matanya memang menangkap satu sosok tubuh melangkah cepat dari arah belakang Ratu Pemikat!

********************

BAB 9

MEMASUKI kawasan berbatu di sebelah kanan kedung, orang yang melangkah mendadak berhenti. Lalu melompat naik pada salah satu batu. Kepalanya lurus memandang ke depan. Karena yang berada dikawasan itu adalah Ratu Pemikat, maka mau tak mau orang ini untuk beberapa saat memandang tajam ke arah si perempuan. Tiba-tiba raut wajah orang ini berubah. Dari mulutnya terdengar gumaman. Di lain pihak, Ratu Pemikat tampak sunggingkan senyum, lalu palingkan ke hamparan pasir di depan kedung. Terdengar suara perempuan ini.

"Selamat jumpa lagi, Pendekar 131! Bagaimana kabarmu?!" sambil berkata Ratu Pemikat terdengar tertawa bernada mengejek.

Orang yang baru disapa sesaat terdiam. Namun kejap lain orang ini telah menyahut. "Selamat jumpa lagi, Ratu...! Bagaimana kabarmu?!"

"Sudah kuduga kalau kau akan muncul malam ini! Hik Hik Hik...! Dan ini adalah babak terakhir dari peristiwa tempo hari!" ujar Ratu Pemikat tanpa berpaling lagi. Malah perempuan ini berujar seraya memandang hamparan langit yang terang benderang.

Orang yang berada dibelakang Ratu Pemikat ikut-ikutan mendongak. "Aku pun sudah menduga kalau kau akan muncul malam ini! Hik Hik Hik...! Dan ini adalah awal dari lanjutan peristiwa tempo hari!"

Nada bicara dan ucapan orang ini seakan menirukan ucapan dan nada ucapan Ratu Pemikat. Ratu Pemikat sudah hendak buka mulut lagi, namun sebelum suaranya terdengar, tiba-tiba dari arah seberang, tepatnya dari tempat Iblis Rangkap Jiwa berada terdengar teriakan keras membahana.

"Anjing buntung! Malam ini nyawamu tidak akan lolos lagi!"

Orang yang berada di belakang Ratu Pemikat arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. Orang ini ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan. Hanya saja dia tidak memiliki tangan! Pemuda ini bukan lain adalah Dewa Orok.

Kalau saat kemunculannya Ratu Pemikat sempat menyapanya dengan Pendekar 131, itu karena pada saat Ratu Pemikat dan Dewa Orok berjumpa beberapa hari yang lalu, Dewa Orok memperkenalkan diri sebagai Pendekar 131. Dewa Orok tidak menduga kalau Ratu Pemikat sebenarnya sudah mengenal betul siapa Pendekar 131.

Dan kalau Iblis Rangkap Jiwa tampak membayangkan kemarahan, ini tidak lain karena laki-laki gundul ini memang punya urusan tersendiri dengan Dewa orok. Seperti diketahui, Malaikat Penggali Kubur memerintahkan pada Iblis Rangkap Jiwa untuk membunuh Dewa Orok sebagai tebusan nyawanya.

Pada satu kesempatan, Iblis Rangkap Jiwa bersama Ratu Pemikat memang berhasil melumpuhkan Dewa Orok, namun saat itu Ratu Pemikat memberi usul agar nyawa Dewa Orok diperpanjang dahulu. Lalu mereka berdua meninggalkan Dewa Orok di satu tempat sepi dalam keadaan tertotok dan tertanam setelah sebelumnya Ratu Pemikat mengambil bundaran karet yang biasa dibuat mainan Dewa Orok. Pada akhirnya Ratu Pemikat, lebih-lebih Iblis Rangkap Jiwa harus menelan kecewa, karena ternyata Dewa Orok bisa lolos.

(Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Muslihat Sang Ratu)

Meski Ratu Pemikat tampak tertawa dan Iblis Rangkap Jiwa perdengarkan bentakan keras, namun dalam dada masing-masing orang ini timbul ganjalan yang tidak enak. Ini karena baik Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa telah mengatakan pada Malaikat Penggali Kubur kalau Dewa Orok mereka yakini pasti sudah tewas, walau kedua orang ini tahu persis jika Dewa Orok selamat dari cengkeramannya.

Kalau Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat tampak memendam ganjalan tidak enak dan sama-sama berpikir apa yang harus dikatakannya nanti kalau Malaikat Penggali Kubur datang, Dewa orok sendiri sebenarnya dilanda rasa gundah. Seperti diketahui, sebelum Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa meninggalkannya dalam keadaan tertanam dan tertotok, Ratu Pemikat telah ambil bundaran karetnya.

Malah Dewa Orok tidak tahu kalau bundaran karet itu kini telah diserahkan Ratu Pemikat pada Malaikat Penggali Kubur sebagai bukti kalau mereka telah membunuh Dewa Orok. Padahal, justru di bundaran karet mirip dot bayi itulah kekuatan Dewa Orok. Tanpa adanya bundaran karet, kekuatan Dewa Orok tidak ada apa-apanya. Dia hanya dapat kerahkan ilmu peringan tubuh tanpa bisa kerahkan tenaga dalam.

"Sebelum Malaikat Penggali Kubur muncul, lebih baik pemuda buntung itu kuselesaikan dahulu!" pikir Iblis Rangkap Jiwa. Dan sebenarnya apa yang menjadi pikiran Iblis Rangkap Jiwa, terlintas juga pada Ratu Pemikat.

Sementara itu, diatas puncak batu bercadas putih,tiba-tiba Raden Mas Antar Langit sudah lambaikan kedua tangannya pada Dewa Orok sambil berteriak.

"Hai, Sobat lama! Senang bisa jumpa lagi denganmu! Mana perempuan yang bersamamu dulu?!"

Mungkin karena tidak memiliki tangan untuk balas melambai, Dewa Orok akhirnya membuat gerakan satu kali. Wuuutt! Sosoknya melesat dua tombak ke udara. Membuat gerakan jungkir balik satu kali lalu meluncur lagi ke bawah. Ketika sosoknya kembali ke atas batu, pemuda bertangan buntung ini telah tegak dengan kedua kaki di atas dan kepala dibawah sebagai tumpuan tubuhnya! Dewa Orok gerakkan kedua kakinya melambai-lambai. Lalu terdengar suaranya.

"Hai, Sobat lama! Gembira sekali bisa jumpa lagi dengan kalian! Perempuan tempo hari itu terpaksa kutinggal, karena terlalu cerewet! Aku ingin tanya pada kalian.Karena kulihat kalian datang lebih dahulu!"

"Silakan, silakan! Kau hendak tanya apa?!" kata Raden Mas Antar Langit.

"Ada apa sebenarnya di tempat ini?! Aku merasa indahnya suasana tidak seirama dengan pemandangan sekitar! Ada beberapa mata memandang beringas mendelik!Ada juga wajah-wajah gelisah dan tegang! Hatiku jadi ikut-ikutan berdebar!"

Raden Mas Antar Bumi yang bertelanjang dada menyahut teriakan Dewa Orok. "Kau tak usah berdebar-debar! Ini tempat pasar jodoh! Kau boleh memilih perempuan mana yang kau suka dan cocok di hatimu! Ketegangan wajah-wajah mereka karena mereka tak sabar ingin segera dipilih!"

"Aku boleh memilih mana yang kusuka dan cocok di hatiku?!" ulang Dewa Orok. "Aku tidak mengenal mereka. Mau di antara kalian memperkenalkan mereka?!"

Raden Mas Antar Bumi arahkan telunjuknya pada Ni Luh Padmi yang tegak dan sedari tadi kancingkan mulut. Lalu orang ini mulai bersuara.

"Dia adalah seorang nenek berwajah cantik jelita dari tanah seberang. Dia dikenal dengan nama Ni Luh Padmi. Ukuran tubuhnya akan kukatakan nanti setelah aku memperkenalkan mereka satu persatu!"

Paras muka si nenek kontan berubah. Bukan hanya karena ucapan orang, lebih dari itu karena orang telah tahu siapa dirinya!

Raden Mas Antar Bumi tidak perhatikan perubahan wajah si nenek. Dia gerakkan telunjuknya dan kini mengarah pada Putri Sableng.

"Yang itu aku belum sempat tanyakan siapa namanya meski tadi aku sempat bercakap-cakap! Tapi kurasa dia tidak keberatan kalau kusebut Ratu..."

Raden Mas Antar Bumi tidak jadi lanjutkan keterangannya. Sementara paras muka Putri Sableng tampak memberengut sambil perdengarkan gumaman. Sepasang matanya mendelik besar-besar.

"Ah, kalau Ratu kurasa kurang cocok!" lanjut Raden Mas Antar Bumi. "Kusebut saja Gadis Malam. Wajahnya tidak usah diragukan lagi! Demikian pula segalanya!"

Meski Putri Sableng terlihat makin mendelik, namun sesaat kemudian gadis berjubah merah ini telah perdengarkan tawa cekikikan!

Raden Mas Antar Bumi kini arahkan telunjuknya pada Dewi Siluman. Yang ditunjuk sudah perdengarkan dengusan. Namun mau tak mau dia menunggu juga.

"Yang itu aku tadi mendengar dia sebutkan diri dengan Dewi Siluman. Tapi aku lebih suka memanggilnya si Jubah Hitam! Yang ini punya keistimewaan tersendiri. Dia..." Raden Mas Antar Bumi tidak teruskan bicaranya. Melainkan berpaling pada temannya dan berkata. "Kau saja yang beri keterangan!"

Raden Mas Antar Langit angkat bahunya. Melihat sekilas pada Dewi Siluman di bawah sana. Yang dipandang tampak mendongak dengan mata berkilat-kilat dan tubuh bergetar. Raden Mas Antar Langit menelan ludah dahulu lalu buka mulut.

"Si Jubah Hitam itu. Tidak mengenakan apa-apalagi di balik jubah hitamnya!"

Raden Mas Antar Langit tahan suara tawanya yang hampir saja meledak. Tapi tidak demikian halnya dengan Putri Sableng. Gadis ini langsung saja tertawa cekikikan! Dewi Siluman tak dapat lagi tahan kesabaran. Kedua tangannya yang sedari tadi sudah terangkat segera saja disentakkan ke atas.

Wuuttt! Wuuutt!

Terdengar dua suara deruan. Saat bersamaan terlihat dua gelombang menghampar diatas pasir lalu menggebrak ganas ke puncak batu cadas putih! Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi buru-buru rebahkan diri sejajar dengan batu cadas dimana mereka berada.

Brakk! Brakkk!

Bibir puncak batu cadas putih pecah berantakan di dua tempat. Pecahan batu cadas sejenak tampak bertabur di atas hamparan pasir yang membentang membelah kawasan berbatu.

"Kau cari gara-gara saja!" gumam Raden Mas Antar Langit.

"Bukan cari gara-gara. Sobat lama kita ingin tahu. Apa salahnya kita memberi keterangan?!" sahut Raden Mas Antar Bumi.

Kedua orang ini lantas merangkak ke bibir batu cadas putih dan mungkin takut diserang lagi, keduanya hanya menampakkan kepala masing-masing. Sementara di bawah sana, Dewi Siluman tampak bantingkan kaki kanannya. Sebenarnya perempuan ini hendak lepaskan pukulan lagi, tapi setelah melihat jaraknya terlalu jauh, dia urungkan niat. Apalagi dilihatnya kedua orang di puncak batu kini arahkan pandangannya pada Ratu Pemikat yang tegak tidak jauh dari Dewa Orok.

"Sobat lama!" kata Raden Mas Antar Bumi. "Kulanjutkan keterangan yang kau minta. Perempuan di depanmu itu kalau tidak salah bergelar..." Raden Mas Antar Bumi dekatkan telinganya pada mulut Raden Mas Antar Langit. Lalu mengangguk-angguk. Saat lain dia lanjutkan ucapannya. "Dia bergelar Dewi Asmara alias Ratu Penjilat!"

"Dewi Asmara alias Ratu Pemikat!" seru satunya.

"Ah.Betul!Aku tadi salah ucap. Yang betul Dewi Asmara alias Ratu Pemikat!" teriak Raden Mas Antar Bumi membetulkan ucapannya. "Soal wajah dijamin! Bentuk tubuh tak usah dibilang lagi! Cuma ada sedikit sayangnya..."

"Kau bilang cuma sedikit ada bsayangnya. Apa itu?!" seru Dewa Orok.

"Dia lebih senang pada celana butut laki-laki daripada tubuh laki-laki itu sendiri! Hik Hik Hik...!"

Ratu Pemikat tampak kernyitkan dahi mendengar ucapan orang. Dia sama sekali tidak menduga kalau kedua orang itu bukan saja mengetahui siapa saja yang ada di situ, namun juga tahu siapa dia sebenarnya! Ini lebih meyakinkan si perempuan kalau alasan yang dikemukakan dua orang berwajah hitam tadi hanyalah dusta belaka!

Namun Ratu Pemikat tidak mau terus menduga-duga siapa adanya kedua orang berwajah hitam. Karena saat itu pikirannya sedang dibuncah dengan urusan bagaimana menyelesaikan Dewa Orok sebelum Malaikat Penggali Kubur muncul.

Sementara di puncak batu bergubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa makin gelisah. Ia sesekali menghela napas dengan mata mendelik pada Dewa Orok di seberang sana. Dalam hati dia berharap Ratu Pemikat cepat bertindak. Laki-laki berkepala gundul ini tidak berani langsung turun tangan. Dia khawatir orang di tempat itu akan curiga.

Sementara Ratu Pemikat sendiri tampaknya harus berpikir dua kali untuk menghadapi Dewa Orok. Pengalamannya tempo hari waktu jumpa dengan Dewa Orok membuat perempuan ini bimbang. Saat itu kalau saja Iblis Rangkap Jiwa tidak segera muncul, niscaya dia akan kesulitan menghadapi Dewa Orok. Malah dia waktu itu sudah dalam keadaan terjepit!

Melihat Ratu Pemikat belum juga lakukan sesuatu, Iblis Rangkap Jiwa tampaknya hilang kesabaran. Dia buka mulut hendak ucapkan perintah. Namun mulutnya mendadak terkancing kembali saat sepasang matanya melihat satu sosok tubuh berkelebat menuju kawasan Kedung Ombo dari sebelah belakang batu cadas putih di depan kedung. Iblis Rangkap Jiwa dapat melihat dahulu sosok yang berkelebat karena dia berada pada ketinggian puncak batu yang membukit.

"Jangan-jangan dia!" desis Iblis Rangkap Jiwa dengan mata dibeliakkan.

Sosok yang berkelebat terus berlari cepat. Karena kedua orang berwajah hitam juga berada pada ketinggian, maka mereka berdua adalah orang kedua yang melihat munculnya orang. Hingga keduanya serentak palingkan kepala ke belakang, karena orang yang berlari datang dari jurusan belakangnya.

"Hem... Apa saja yang dilakukan sontoloyo ini hingga sampai datang terlambat?" gumam Raden Mas Antar Bumi.

"Dia tidak merasa kalau orang sudah berdebar-debar takut dia tidak muncul! Dasar sontoloyo sableng!"

"Ah... Kau sepertinya tidak tahu urusan anak muda saja!" sahut Raden Mas Antar Langit.

"Tapi seharusnya dia tahu! Ini urusannya! Bukan urusan orang-orang tua seperti kita!" bisik Raden Mas Antar Bumi dengan nada keras.

"Tapi sebenarnya kau punya urusan juga di sini, bukan?!"

"Urusannya berbeda!" bentak Raden Mas Antar Bumi.

"Betul! Tapi tempatnya sama! Lalu di mana bedanya?!"

"Dasar iblis bodoh! Tak tahu membedakan urusan dan tempat!" rungut Raden Mas Antar Bumi.

Meski dicaci, Raden Mas Antar Langit tampak senyum-senyum. Orang ini lantas bertanya. "Kau yakin orang yang disebut-sebut mendapatkan Kitab Hitam itu akan muncul disini?!"

"Itu lain dengan urusanku! Jadi aku tak mau menduga- duga!"

Raden Mas Antar Langit masih tampak senyum-senyum meski mendapat jawaban ketus dari Raden Mas Antar Bumi. "Terus-terusan bicara dengan manusia sinting, bisa-bisa aku akan ikut sinting!" gumam Raden Mas Antar Langit.

Raden Mas Antar Bumi sebenarnya ingin membentak lagi, tapi diurungkan tatkala dilihatnya orang yang berkelebat telah berada di bawahnya. Kalau tadi Raden Mas Antar Bumi sempat memaki orang yang berkelebat, kini dia tampak gerakkan tangannya melambai-lambai lalu berteriak.

"Hai...!Harap sebutkan diri sebelum memasuki kawasan pasar jodoh ini!"

Mungkin karena terkejut mendengar teriakan orang, orang yang berkelebat dibawah sana serta-merta hentikan larinya. Lalu berkelebat dan tegak bersandar pada bagian bawah batu cadas putih yang menjulang. Dia sengaja memilih tempat agak menjorok. Karena dengan demikian, dia dapat melihat dengan leluasa tempat disebelah kanan kiri kedung.

Orang yang baru muncul dan tegak di pojok batu cadas putih menjulang tengadahkan kepala. Lalu longokkan kepala ke depan. Berpaling ke kawasan berbatu sebelah kanan kedung. Cuma sesaat. Lalu palingkan kepala ke kawasan berbatu sebelah kiri kedung. Orang ini angkat tangan kirinya. Bukan memberi isyarat, melainkan hendak masukkan jari kelingkingnya ke dalam lobang telinganya! Sesaat kemudian orang ini tampak terjingkat-jingkat dengan wajah meringis!

"Kelakuannya tidak berubah!" desis Raden Mas Antar Bumi. Orang ini terlihat hendak berteriak lagi. Namun satu suara telah terdengar mendahului.

"Pendekar 131! Akhirnya kau muncul juga! Ha Ha Ha...!" Yang berteriak ternyata adalah Iblis Rangkap Jiwa.

"Murid jahanam sinting itu!" Ni Luh Padmi ikut-ikutan berteriak. "Kali ini jangan harap kau bisa lari lagi sebelum kau katakan di mana guru keparatmu berada!"

Orang yang mainkan jari kelingking pada lobang telinganya dan bukan lain memang Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng cepat tarik kepalanya. Lalu perlahan-lahan dia mengintip dari bibir batu cadas putih.

BAB 10

ADA keanehan..." gumam Pendekar 131. "Mengapa gadis berjubah merah itu berada bersama Dewi Siluman dibawah naungan Iblis Rangkap Jiwa?! Jangan-jangan dia kaki tangan Malaikat Penggali Kubur!"

Kepala murid Pendeta Sinting berpaling kekiri kekawasan berbatu disebelah kanan kedung."Dewa Orok. Mengapa pemuda ini ada bersama Ratu Pemikat?!Dan perempuan itu, kenapa mengambil tempat berseberangan dengan Iblis Rangkap Jiwa dan Ni Luh Padmi?!"

Kepala Joko mengedar berkeliling. "Malaikat Penggali Kubur belum tampak batang hidungnya! Bagaimana ini...?! Apakah benar kalau pemuda itu yang telah mendapatkan Kitab Hitam?! Jangan-jangan keterangan Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa hanya mengada-ada saja...!"

Karena belum bisa menjawab apa yang membuncah dalamh atinya, murid Pendeta Sinting tampak tengadahkan kepala memandang langit. Sang rembulan tampak bersinar cemerlang. Tidak ada segumpal awan pun yang melintang disana. Saat itulah tiba-tiba satu benda putih menutupi pemandangan Joko meluncur dari atas. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan dari puncak batu cadas putih.

"Apa yang kau lakukan di situ?! Di sini bukan tempat orang melamun!"

Joko buru-buru melompat menghindar. Benda putih yang melayang turun yang ternyata adalah pecahan batu cadas menghantam tanah berpasir. Tanah berpasir muncrat lalu tampak lobang menganga besar!

"Siapa kalian?! Apa pula yang kalian kerjakan di situ?!" Joko balik bertanya sambil mendongak.

"Sialan! Disuruh sebutkan diri malah bertanya!" teriak orang dari puncak batu cadas putih.

"Hai, Sobat lama berdua di atas puncak batu putih!" Yang berseru adalah Dewa Orok. Pemuda ini masih tegak dengan kaki di atas kepala di bawah. Kedua kakinya bergerak meiambai-lambai. "Yang di bawah kalian itu adalah sahabatku!"

"Hem... Siapa namanya?!" teriak salah seorang dari puncak batu cadas putih.

"Kalau dia belum sempat merubah nama, dia adalah pemuda yang dikenal dengan sebutan Joko Sableng! Murid tunggal manusia setengah edan yang disebut-sebut orang dengan Pendeta Sinting!"

Kedua orang berwajah hitam di atas puncak batu cadas putih saling pandang. Lalu salah seorang kembali berteriak.

"Sobat lama! Selama ini kita hanya saling kenal wajah tanpa tahu nama masing-masing! Mumpung di sini, mau kau katakan siapa namamu?!"

"Ah... Betul! Selama ini kita hanya saling kenal wajah tanpa tahu nama masing-masing! Aku mau saja katakan siapa namaku. Tapi sebenarnya aku sungkan!"

"Ini pasar jodoh! Kau tak usah sungkan-sungkan!"

"Aku sebenarnya adalah Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng...!"

Dari arah seberang terdengar suara tawa cekikikan. Ratu Pemikat tampak sunggingkan senyum dingin. Sementara kedua orang di atas puncak batu cadas putih kembali saling pandang.

"Kalian tidak percaya?!" teriak Dewa Orok. Pemuda bertangan buntung ini membuat gerakan satu kali. Sosoknya melesat ke udara. Begitu turun lagi, si pemuda telah tegak di atas batu dengan kaki di bawah kepala di atas. Pemuda bertangan buntung itu busungkan dada. Kepalanya didongakkan. Lalu putar tubuhnya dua kali.

"Apa potonganku kurang meyakinkan kalau disebut Pendekar?!"

"Gila! Yang hadir ternyata bukan hanya orang-orang yang punya kepentingan! Tapi juga orang-orang gila!" gumam murid Pendeta Sinting.

Sementara itu, melihat kemunculan Pendekar 131, Dewi Siluman tampak tidak sabar. Laksana hendak terbang, perempuan bercadar hitam ini berkelebat. Namun baru saja sosoknya mencapai hamparan pasir di depan kedung, satu gelombang dahsyat melesat menghantam dataran pasir yang membelah dua kawasan, membuat gerakan Dewi Siluman tertahan. Malah perempuan ini harus segera melompat mundur. Jika tidak, niscaya gelombang tadi akan menghantam tubuhnya. Dewi Siluman kepalkan kedua tangannya lalu berpaling ke atas dari mana gelombang tadi berasal. Di atas sana, Iblis Rangkap Jiwa tampak berkacak pinggang tanpa memandang ke arah Dewi Siluman yang saat itu memandangnya.

"Jangan ada yang berani membuat gerakan tanpa persetujuanku! Lagi pula kita masih menunggu kedatangan seseorang!" teriak Iblis Rangkap Jiwa.

"Itu urusanmu! Aku punya urusan sendiri dengan pemuda itu!" Dewi Siluman balas membentak.

"Persetan kau punya urusan dengan pemuda itu atau tidak! Tapi kalau kau keras kepala, terpaksa aku membunuhmu terlebih dahulu!"

Meski selama ini belum mengenal Iblis Rangkap Jiwa, namun melihat beberapa kali pukulan yang sempat dilepas si laki-laki berkepala gundul itu, membuat Dewi Siluman maklum kalau Iblis Rangkap Jiwa tidak bisa dipandang sembarangan. Tapi tampaknya Dewi Siluman tidak begitu saja diam. Dia cepat angkat bicara.

"Siapa orang yang kau tunggu?!"

Iblis Rangkap Jiwa palingkan kepala. "Matamu nanti akan melihat sendiri! Tak usah banyak tanya!"

"Hem... Mungkin yang ditunggu itu adalah orang yang disebut-sebut sebagai pemegang Kitab Hitam! Perturutkan hati, ingin rasanya aku mengadu jiwa dengan laki-laki gundul itu! Tapi..." Dewi Siluman berpikir sejenak. Kejap lain perempuan ini melangkah mundur lalu melompat ke atas sebuah batu.

Sementara itu, melihat kemunculan murid Pendeta Sinting, Ratu Pemikat tampak lebarkan senyum meski jelas wajahnya masih membayangkan rasa gelisah. Dia belum bisa memutuskan apa yang harus diperbuat dengan Dewa Orok.

"Pendekar 131! Mengapa kau masih berada di situ?!" ujar Ratu Pemikat.

Dewa Orok yang tadi sebutkan diri sebagai Pendekar 131 segera hendak berkelebat. Tapi gerakannya tertahan tatkala tiba-tiba Ratu Pemikat balikkan tubuh dan membentak.

"Aku tahu siapa kau! Jangan bertingkah macam-macam!"

Dewa Orok tergagu diam. Dia saling pandang dengan murid Pendeta Sinting lalu sama-sama tertawa!

"Walah... Pemuda itu menipu kita!" terdengar suara dari puncak batu cadas putih. "Yang Pendekar 131 ternyata bocah yang cengengesan itu!"

Dewa Orok mendongak. Begitu dilihatnya kedua kepala di bibir batu cadas putih tertawa-tawa, pemuda bertangan buntung itu makin keraskan suara tawanya! Ratu Pemikat tidak pedulikan Dewa Orok, dia kembali putar tubuh menghadap murid Pendeta Sinting.

"Aku hendak bicara denganmu! Bisa kau kemari?!"

Murid Pendeta Sinting berpikir sejurus. Lalu perlahan-lahan melangkah ke kawasan batu di mana Ratu Pemikat dan Dewa Orok berada..Belum sampai langkahan kaki Joko mencapai kawasan berbatu sebelah kanan kedung, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki-kaki kuda berpacu cepat. Semua kepala berpaling ke arah kawasan berbatu cadas putih di depan kedung. Karena suara derap langkah kaki kuda berasal dari sana. Namun semua orang di tempat itu dibuat bertanya-tanya dan heran.

Dari arah belakang kawasan berbatu cadas putih, terlihat seekor kuda berlari cepat laksana kesetanan. Namun bukan kecepatan larinya kuda yang membuat semua orang terkesima. Karena ternyata kuda kesetanan itu berlari tanpa penunggang! Anehnya kuda itu berlari kencang dan lurus menuju kedung seakan dikendalikan oleh seorang penunggang!

Semua orang tidak ada yang membuat gerakan atau angkat bicara. Semua seolah menunggu. Sementara kuda tanpa penunggang itu terus berlari. Dalam beberapa saat saja binatang itu telah berada dibawah puncak batu cadas putih menjulang di depan kedung. Kejap kemudian telah berada di hamparan pasir yang membentang membelah kawasan berbatu. Anehnya, kuda itu terus berlari melintasi hamparan pasir.

Hamparan pasir tampak muncrat ke udara. Lalu ter- dengar ringkihan keras. Kuda tanpa penunggang terus berlari lurus menuju kedung. Semua orang sudah menduga kalau kuda itu bakal tercebur ke dalam kedung. Karena jarak antara kuda dengan bibir kedung tinggal dua tombak lagi, sementara si binatang laksana kesetanan terus berlari.

Sejengkal lagi kaki depan kuda tanpa penunggang terperosok masuk ke dalam kedung, tiba-tiba satu sapuan gelombang dahsyat melesat dari arah sebelah kiri kedung. Kedua kaki depan kuda tanpa penunggang yang telah berada di atas air kedung tertahan sekejap. Di kejap lain kedua kaki depannya terangkat tinggi. Dari mulutnya terdengar ringkihan keras.

Sosoknya berputar. Lalu mencelat balik ke belakang sejauh lima tombak sebelum akhirnya terkapar di atas pasir. Untuk kesekian kalinya dari moncongnya yang berbusa terdengar ringkihan keras membahana. Namun laksana direnggut setan, ringkihan kuda terputus. Sosoknya diam tak bergerak-gerak lagi!

"Air Kedung Ombo hanya pantas dihiasi bangkai manusia-manusia sesat yang tidak tunduk pada perintahku!" terdengar teriakan keras menyambuti putusnya ringkihan kuda.

"Malaikat Penggali Kubur!" satu seruan menyeruak dari puncak batu di mana gubuk hitam berada.

Semua kepala kini berpaling ke puncak batu sebelah kiri kedung yang ditancapi gubuk hitam. Kalau tadi di sana hanya tampak Iblis Rangkap Jiwa, kini di sebelah laki-laki berkepala gundul itu terlihat tegak berkacak pinggang seorang pemuda mengenakan jubah putih. Parasnya tampan namun membayangkan keberingasan. Dagunya kokoh dengan sepasang mata tajam. Rambutnya hitam lebat dan panjang sebahu.

Si pemuda gerakkan kedua tangannya singkapkan bagian bawah jubahnya. Di balik jubah putihnya terlihat rangkapan pakaian hitam. Si pemuda yang bukan lain adalah Malaikat Penggali Kubur arahkan kepalanya memandang satu persatu pada orang yang berada di bawah.

"Iblis Rangkap Jiwa!" bentak Malaikat Penggali Kubur. "Kau telah mengorek keterangan tua bangka perempuan yang menggenggam tusuk konde butut itu?!"

Yang dimaksud Malaikat Penggali Kubur tidak lain adalah Ni Luh Padmi. Seperti diketahui, si nenek tidak muncul dipuncak Bukit Selamangleng pada saat yang ditentukan. Iblis Rangkap Jiwa tidak segera menjawab. Sebenarnya laki-laki berkepala gundul ini masih terkesiap dengan kemunculan Malaikat Penggali Kubur sementara disisi lain dia belum bisa menyelesaikan urusannya dengan Dewa Orok.

"Telingamu tidak tuli! Jangan kau buat kesabaranku habis!" ujar Malaikat Penggali Kubur dengan nada keras.

"Dia baru saja muncul! Dan belum sempat aku mengorek keterangannya, kau telah datang!" kata Iblis Rangkap Jiwa seraya melirik jauh ke seberang.

"Siapa gadis berjubah merah itu?!" tanya Malaikat Penggali Kubur.

"Dia bernama Putri Sableng! Dia siap kerahkan tenaga untuk membantu kita!"

Malaikat Penggali Kubur tersenyum aneh. Kepalanya kini terarah pada Dewi Siluman. Untuk beberapa saat pemuda murid Bayu Bajra ini perhatikan dengan seksama.

"Hem... Dewi Siluman! Ternyata kau belum mampus di Pulau Biru! Malam ini kau akan tahu siapa orang yang pernah kau buat bulan-bulanan dahulu!" kata Malaikat Penggali Kubur dalam hati.

Seperti diketahui, antara Malaikat Penggali Kubur dan Dewi Siluman sempat beberapa kali jumpa. Dan mereka terakhir kali bertemu saat terjadi peristiwa di Pulau Biru. (Tentang pertemuan Malaikat Penggali Kubur dengan Dewi Siluman silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Neraka Pulau Biru).

"Siapa perempuan berjubah hitam itu?!" tanya Malaikat Penggali Kubur pura-pura tidak kenal.

"Dia Dewi Siluman! Dia juga siap berada di pihak kita!" kata Iblis Rangkap Jiwa.

Sementara itu, untuk sesaat tadi Dewi Siluman seolah masih tidak percaya dengan pandangan matanya. Malah perempuan ini sempat mengerjap lalu melotot untuk meyakinkan. Dan begitu Malaikat Penggali Kubur berpaling ke arahnya, dia baru merasa yakin.

"Malaikat Penggali Kubur. Hem... Jadi dia manusianya yang mendapatkan Kitab Hitam itu! Tidak terbersit sama sekali jika dia manusianya! Melihat pukulannya yang menahan gerakan binatang malang itu, rupanya dia jauh meningkat dibanding waktu di Pulau Biru! Ini mungkin akibat kitab itu..." Diam-diam Dewi Siluman membatin.

Malaikat Penggali Kubur terus arahkan pandangannya menyeberang. Dia sempat belalakkan mata tatkala melihat dua kepala berwajah hitam berambut awut-awutan di bibir puncak batu cadas putih.

"Siapa kedua setan hitam di puncak batu cadas putih itu?!"

Iblis Rangkap Jiwa sesaat arahkan pandangannya pada puncak batu cadas. Sebenarnya dada Iblis Rangkap Jiwa sudah berdebar keras. Karena tak lama lagi akan tiba pada sosok Dewa Orok. Hingga mungkin karena pikirannya tercurah pada urusan Dewa Orok, Iblis Rangkap Jiwa tidak segera menjawab pertanyaan Malaikat Penggali Kubur. Laki-laki berkepala gundul ini buru-buru buka mulut saat Malaikat Penggali Kubur berpaling ke arahnya dengan mata berkilat.

"Mereka adalah Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi! Menurut pengakuan mereka, kedatangan mereka malam ini karena ingin menghilangkan kutuk pada diri mereka dengan mandi di kedung pada malam purnama!"

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. Lalu arahkan pandangannya lagi ke puncak batu cadas putih. Saat bersamaan, kedua orang berwajah hitam sama angkat tangan masing-masing melambai-lambai. Dan sesaat kemudian salah satu dari kedua orang ini terdengar angkat bicara berteriak.

"Hai, Teman lama...! Beda benar penampilanmu saat ini! Bagaimana kabarmu...?"

Malaikat Penggali Kubur mendelik angker. Rahangnya terangkat mengembung. Dari mulutnya terdengar desisan. "Apa mereka mengenalku?! Siapa mereka sebenarnya?!"

Ucapannya tidak disambuti orang, salah seorang yang tadi berteriak yang ternyata adalah Raden Mas Antar Langit berpaling pada Raden Mas Antar Bumi. Saat yang sama Raden Mas Antar Bumi tampak buka mulut. Raden Mas Antar Langit berbisik. Lalu tampak Raden Mas Antar Bumi yang bertelanjang dada mengangguk-angguk. Lalu orang ini berseru.

"Hai... Kau adalah teman dari temanku ini! Sebagai teman dari temanku, berarti kau adalah temanku juga! Kunasihatkan. Tempatmu bukan di situ! Campur aduk dengan Iblis Rangkapan! Tapi di sini, bersama dengan temanku...!"

Malaikat Penggali Kubur masih kancingkan mulut tidak sambuti seruan orang. Sebaliknya Iblis Rangkap Jiwa tampak menggerendeng panjang mendengar dirinya disebut Iblis Rangkapan. Dan dia makin geram tatkala dari arah bawah terdengar suara tawa cekikikan.

"Mulut mereka harus dirobek!" teriak Iblis Rangkap Jiwa.

Laki-laki berkepala gundul ini sudah hendak berkelebat. Namun tangan kanan Malaikat Penggali Kubur bergerak menghalangi. "Aku masih butuh keterangan! Jangan pergi dahulu!" ujar Malaikat Penggali Kubur, membuat Iblis Rangkap Jiwa was-was.

Sedikit banyak Iblis Rangkap Jiwa dapat menduga keterangan apa sebenarnya yang hendak ditanyakan Malaikat Penggali Kubur. Mendapati orang belum juga menyambuti ucapan, Raden Mas Antar Langit sekali lagi berteriak masih dengan lambaikan tangan.

"Hai, Teman lama...! Sebagai bukti kalau kau adalah teman lamaku, aku akan katakan siapa kau!"

Raden Mas Antar Langit sengaja memutus ucapannya. Sementara Malaikat Penggali Kubur tampak makin mendelik.

"Aku yakin, kau adalah pemuda kesohor bergelar Malaikat Penggali Kubur. Kau adalah murid tunggal Bayu Bajra! Betul bukan?!"

"Hem... Aku yakin, alasan kedatangan mereka hanya omong kosong! Tapi apa peduliku?! Kitab Hitam di tanganku! Siapa pun mereka adanya, mereka juga harus ikut mampus di sini!" Membatin Malaikat Penggali Kubur.

Lalu tanpa pedulikan lambaian orang, Malaikat Penggali Kubur arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting yang masih tegak di atas pasir. Pelipis kanan kirinya bergerak-gerak. Giginya beradu perdengarkan suara bergemeletak. Jelas kalau pemuda murid Bayu Bajra ini sedang menindih hawa kemarahan.

"Pendekar 131! Akhirnya tiba juga saat kematianmu! Kau boleh membekal beberapa kitab sakti! Tapi Kitab Hitam akan memusnahkannya!" desis Malaikat Penggali Kubur. Kalau saja dia tidak inginkan keterangan lagi dari Iblis Rangkap Jiwa, pemuda ini rasanya sudah melayang turun.

Sementara itu, melihat kemunculan Malaikat Penggali Kubur, murid Pendeta Sinting sejenak tadi masih terkesima. Meski selama ini telah mendengar kalau yang mendapatkan Kitab Hitam adalah Malaikat Penggali Kubur, namun sebenarnya dia masih belum yakin benar. Dia belum habis pikir, bagaimana Malaikat Penggali Kubur berhasil mendapatkan Kitab Hitam, padahal menurut yang diketahuinya, Kitab Hitam berada di sekitar Bukit Selamangleng yang dijaga Iblis Rangkap Jiwa.

Sementara Iblis Rangkap Jiwa adalah manusia berilmu tinggi yang dikenal tidak mempan terhadap pukulan. Lebih dari itu, dari mana Malaikat Penggali Kubur bisa mengetahui tentang Kitab Hitam. Tapi begitu melihat kemunculan Malaikat Penggali Kubur dan melihat bagaimana dia dapat mengendalikan kuda yang diyakini murid Pendeta sinting dikendalikan Malaikat Penggali Kubur, serta mengetahui bagaimana pukulan yang dilepas Malaikat Penggali Kubur mampu menahan gerakan kuda yang hendak tercebur dalam kedung, mau tak mau membuat Joko harus menepis kebimbangannya.

Apalagi ketika dilihatnya bagaimana Iblis Rangkap Jiwa tampak ketakutan begitu Malaikat Penggali Kubur datang. Malaikat Penggali Kubur arahkan pandangannya pada Ratu Pemikat. Lalu tampak anggukkan kepala. Di sebelahnya Iblis Rangkap Jiwa sudah tampak gemetar. Dan jauh di seberang, Ratu Pemikat tampaknya dapat menangkap ganjalan tidak enak. Tapi yang dirasakannya jauh lebih ringan dari pada Iblis Rangkap Jiwa.

Karena dia berada jauh di seberang. Dan tak mungkin Malaikat Penggali Kubur akan turun tangan sebelum menangani Iblis Rangkap Jiwa yang berada disebelahnya. Akhirnya apa yang dicemaskan Iblis Rangkap Jiwa terjadi juga saat Malaikat Penggali Kubur ajukan tanya dengan mata memandang pada Dewa Orok.

"Siapa manusia buntung dibelakang Ratu Pemikat itu?!"

Iblis Rangkap Jiwa terdiam. Dalam pikirannya selintas masih terbersit pertanyaan, apakah Malaikat Penggali Kubur memang tidak mengenali Dewa Orok atau kenal tapi pura-pura bertanya. Namun belum sampai Iblis Rangkap Jiwa menarik kesimpulan, Malaikat Penggali Kubur telah ulangi lagi pertanyaannya.

Iblis Rangkap Jiwa masih tidak menjawab. Namun saat lain laki-laki berkepala gundul ini telah melangkah dua tindak dan tiba-tiba jatuhkan diri di hadapan Malaikat Penggali Kubur. Malaikat Penggali Kubur hanya menyeringai. Dengan sikap Iblis Rangkap Jiwa, si pemuda sudah maklum, karena dari keterangan Ratu Pemikat tempo hari, dia sudah dapat mengenali Dewa Orok meski belum sempat bertemu muka. Namun sejauh ini Malaikat Penggali Kubur belum buka mulut. Dia seolah menunggu Iblis Rangkap Jiwa buka suara.

"Harap maafkan. Ternyata dugaanku tempo hari salah!"

"Hem... Dugaan apa?!" tanya Malaikat Penggali Kubur dingin.

"Ternyata Dewa Orok yang kutanam dalam keadaan tertotok bisa lolos..."

"Hem... Lalu?!"

"Malam ini aku akan tamatkan riwayatnya!"

Tangan kanan Malaikat Penggali Kubur bergerak.

Plaaakkk!

Satu tamparan keras mendarat di wajah Iblis Rangkap Jiwa. Karena tidak menduga, dan tamparan itu bukan tamparan biasa, maka kepala Iblis Rangkap Jiwa tampak tersentak keras ke samping.

Dari arah puncak batu cadas putih terdengar suara tawa bersahut-sahutan. Lalu terdengar suara orang.

"Ternyata temanmu itu garang juga. Dan herannya ternyata Iblis Rangkapan itu hanya pandai berteriak-teriak. Kasihan juga... Kulihat kepalanya tadi miring ke samping. Hik Hik Hik...!"

Ternyata suara tawa bukan saja terdengar dari puncak batu cadas putih. Melainkan dari bagian bawah terdengar juga suara orang cekikikan begitu kepala Iblis Rangkap Jiwa tersentak akibat tamparan Malaikat Penggali Kubur. Suara-suara tawa dan tawa cekikan membuat dada Iblis Rangkap Jiwa panas. Wajahnya mengelam dengan tubuh bergetar. Diam-diam dalam hati laki-laki ini membatin.

"Apa sekarang saja kurebut kitab itu?!" Sepasang matanya melirik ke arah dada Malaikat Penggali Kubur. Tapi Iblis Rangkap Jiwa terlihat masih bimbang.

Di lain pihak, Malaikat Penggali Kubur diam-diam juga membatin. "Meski aku telah membekal Kitab Hitam, namun aku tidak mau bersusah-payah malam ini. Manusia Iblis ini masih kuperlukan tenaganya! Lagi pula ada beberapa orang yang belum kukenal di tempat ini!" Habis membatin begitu, Malaikat Penggali Kubur dongakkan kepala. Lalu menghardik.

"Mengapa kau masih di sini?!"

Iblis Rangkap Jiwa terkesiap. Belum sampai dia buka mulut, Malaikat Penggali Kubur telah menghardik lagi.

"Habisi manusia buntung itu!"

Iblis Rangkap Jiwa pandangi tampang Malaikat Penggali Kubur dengan tatapan dingin. Lalu dia bergerak mundur...!

S E L E S A I

Kidung Maut Malam Purnama

Serial Joko Sableng Dalam Episode Kidung Maut Malam Purnama

Cerita silat serial Joko Sableng Pendekar Pedang Tumpul 131


BAB 1

BUKAN hanya Ratu Pemikat dan Pendekar 131 yang terkejut besar, namun Dewi Siluman juga terlihat pentangkan mata sambil perdengarkan dengusan keras. Malah karena merasa orang mencampuri urusannya, perempuan berjubah hitam panjang ini segera angkat kedua tangannya. Tapi sadar kalau tindakannya terlambat, akhirnya perempuan anak Daeng Upas ini urungkan niat lepaskan pukulan, tapi kedua tangannya tetap di atas udara.

Di lain pihak, Ratu Pemikat cepat bergerak hendak menghadang laju sosok tubuh orang yang secara mendadak lakukan serangan pada murid Pendeta Sinting yang ternyata adalah perempuan bercadar putih. Tapi gerakan Ratu Pemikat juga terlambat. Hingga sosok perempuan bercadar putih terus melaju bersamaan dengan menghamparnya gelombang dahsyat ke arah Joko!

Seperti diketahui, saat murid Pendeta Sinting dan Ratu Pemikat bercumbu mendadak muncul Dewi Siluman. Dan ternyata ditempat itu bukan hanya ada Dewi Siluman. Tapi juga ada perempuan bercadar putih yang sebenarnya sudah sejak tadi berada di balik batu. Dewi Siluman akan membebaskan Joko dan Ratu Pemikat. Tapi dengan syarat murid Pendeta Sinting harus menyerahkan Pedang Tumpul 131 dan dua kitab ditangannya. Yang dimaksud Dewi Siluman dengan kedua kitab tidak lain adalah Kitab Serat Biru dan Kitab Sundrik Cakra.

Tapi begitu Dewi Siluman ulurkan kedua tangannya meminta dengan kepala mendongak, dan di pihak lain murid Pendeta Sinting serta Ratu Pemikat bersiap-siap akan berkelebat loloskan diri, tiba-tiba saja perempuan bercadar putih sudah melesat lakukan serangan pada Pendekar 131. (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Bidadari Cadar Putih)

Merasa orang telah lepaskan pukulan padanya, murid Pendeta Sinting tidak tinggal diam. Seraya melompat mundur hindari gelombang, kedua tangannya didorong ke depan. Terdengar debuman. Sosok perempuan bercadar putih yang melesat di belakang pukulannya sesaat tampak tertahan. Namun belum sampai suara debuman lenyap, sosoknya telah melaju kembali kearah Joko dengan kedua tangan berkelebat. Joko tidak mau bertindak ayal. Kedua tangannya diangkat dipalangkan di atas kepala.

Bukkk! Bukkk!

Dua benturan keras terdengar. Joko sempat mundur satu tindak. Di depannya perempuan bercadar putih tarik pulang kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan kedua tangan Joko. Sosoknya bergetar. Tapi perempuan ini rupanya tidak mau memberi kesempatan. Baru saja kedua kakinya menjejak tanah, kedua tangannya kembali lepaskan pukulan. Malah jelas terlihat kalau tenaga yang dikerahkan lebih besar dari pukulannya yang pertama.

Mendapati hal demikian, Dewi Siluman sentakkan kaki kanannya ke atas tanah. Kedua tangannya yang berada di atas udara cepat disentakkan kearah perempuan bercadar putih. Melihat apa yang dilakukan Dewi Siluman, niat awal Ratu Pemikat yang hendak berkelebat tinggaikan tempat itu berubah. Dia menduga Dewi Siluman hendak mengeroyok murid Pendeta Sinting. Hingga begitu kedua tangan Dewi Siluman bergerak, perempuan berparas cantik ini segera menghadang dengan lepaskan pukulan.

Di seberang sana, murid Pendeta Sinting juga cepat angkat kedua tangannya lalu disentakkan ke depan memangkas pukulan perempuan bercadar putih. Terdengar benturan dua kali berturut-turut. Satu akibat bentroknya pukulan perempuan bercadar putih dengan pukulan yang dilepas murid Pendeta Sinting, satunya berasal dari bertemunya pukulan Dewi Siluman dan Ratu Pemikat.

Sosok murid Pendeta Sinting sesaat tampak bergetar. Wajahnya berubah. Sejarak enam langkah dihadapannya, sosok perempuan bercadar putih terlihat bergoyang-goyang. Sementara di sebelah belakang kedua orang ini, sosok Dewi Siluman tegak dengan mata mendelik angker. Tujuh langkah dihadapannya, Ratu Pemikat memandang tajam ke dalam bola mata Dewi Siluman dengan bibir sunggingkan senyum seringai.

Karena dari wajah orang di hadapannya yang terlihat hanya sepasang matanya, maka untuk beberapa lama Pendekar 131 arahkan pandangan pada bola mata orang. Yang dipandang balas menatap. Murid Pendeta Sinting tidak melihat adanya keangkeran di kedua bola mata orang. Malah sepasang mata itu tampak memandang sayu dan agak sembab!

"Aneh... Siapa perempuan ini adanya? Matanya sembab seperti orang baru menangis! Tapi mengapa itu kupikirkan? Dia baru saja hendak membuatku celaka!" membatin Joko. Lalu kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya ketika dilihatnya perempuan bercadar putih gerakkan kedua tangannya terangkat ke atas.

Namun untuk beberapa saat perempuan bercadar putih terdiam. Jelas sikapnya menunjukkan kalau dia bimbang. Bahkan kedua matanya memandang ke jurusan lain! Joko kerutkan dahi. Mulutnya bergerak hendak perdengarkan suara. Namun sebelum suaranya terdengar, perempuan bercadar putih telah sentakkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu sosoknya berkelebat menjauh. Tindakan perempuan bercadar putih membuat murid Pendeta Sinting sedikit heran.

"Dia berkelebat menjauh. Ada yang tak beres dengan perempuan ini..."

Joko cepat dorong kedua tangannya memangkas pukulan yang dilepas si perempuan bercadar putih. Lalu berkelebat ke arah si perempuan. Kembali tempat itu dibuncah ledakan tatkala pukulan perempuan bercadar putih dipangkas pukulan Joko.

"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Joko begitu sosoknya tegak dihadapan si perempuan bercadar putih.

Yang ditanya tidak perdengarkan jawaban. Hanya sepasang matanya yang memandang sayu. Lalu kepalanya bergerak menggeleng perlahan, membuat Joko makin heran.

"Aku tahu. Kau datang sebelum perempuan berbaju biru itu!Kau mengejarku terlebih dahulu! Apa maksudmu...?!"

Pertanyaan Joko membuat perempuan bercadar putih lebarkan sepasang matanya. "Jadi dia sebenarnya tahu kalau aku berada di sekitar tempat ini! Tapi mengapa dia berpeluk cium seakan tidak pedulikan adanya orang?! Apakah sifatnya memang begitu...?" Si perempuan bercadar putih menghela napas.

Seperti diketahui, saat perempuan bercadar putih berada sendirian,tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang berkelebat. Tanpa pikir siapa adanya orang, perempuan bercadar putih segera berkelebat mengejar. Namun yang dikejar ternyata adalah murid Pendeta Sinting menghilang. Di lain pihak, sebenarnya Joko sendiri sudah merasa kalau langkahnya diikuti orang. Hingga pada satu tempat, dia segera berkelebat cepat lalu menyelinap sembunyi.

Saat itu Joko memang sedikit agak heran karena dia tahu jelas kalau orang yang mengikutinya masih berada jauh dibelakang. Namun sebelum dia berkelebat dan menyelinap, dia merasa orang telah tidak jauh lagi dibelakangnya. Anehnya, begitu Joko sembunyi, dia tidak lagi menangkap adanya orang. Dan beberapa saat kemudian, muncullah Ratu Pemikat.

Waktu Joko keluar dari tempat persembunyiannya dan berseru, sebenarnya dia masih merasa bimbang apakah masih ada orang lain selain Ratu Pemikat di tempat itu. Namun kebimbangan Joko mulai lenyap tatkala matanya tidak menangkap orang lain selain Ratu Pemikat. Dan dia benar-benar jadi lupa pada kecurigaannya semula ketika terlibat perbincangan dengan Ratu Pemikat, apalagi begitu si perempuan cantik ini perlahan-lahan telah dapat menggelorakan gejolaknya. Mendapati perempuan bercadar putih tidak menjawab, Joko ajukan tanya lagi.

"Kau temannya perempuan berbaju biru itu?!Lalu kalian berdua bersandiwara dihadapanku?! Atau kau berkomplot dengan perempuan bergelar Dewi Siluman itu, hah?!"

Dari orang yang ditanya, yang terlihat menunjukkan perubahan hanyalah pandangan sepasang matanya. Sepasang bola mata itu kini sedikit membelalak tajam.

"Aneh..." gumam Joko melihat sikap orang di hadapannya. "Ditanya siapa dirinya menggeleng! Ditanya apa maksudnya diam! Dibilang teman dan komplotannya malah mendelik!" Murid Pendeta Sinting gelengknn kepala. Lalu enak saja dia teruskan gumamannya. "Jangan-jangan kau nenek-nenek yang suka mengejar pemuda..."

Mata milik perempuan bercadar putih makin mendelik. Bahkan saat itu juga terdengar gumaman tidak jelas. Namun sejauh ini si perempuan belum juga perdengarkan suara, membuat Joko buka mulut lagi.

"Nek! Katakan saja terus terang apa maumu!"

Dipanggil Nenek, mata perempuan bercadar putih mengerjap. Lalu terdengarlah suaranya. Sangat pelan namun masih jelas di telinga murid Pendeta Sinting.

"Di sini bukan tempatnya bertanya jawab apalagi bersenda gurau!"

"Hem.... Lalu tempatnya apa?!"

"Kau masih mengkhawatirkan jiwa kekasihmu perempuan cantik berbaju biru itu?!"

"Eh... Kenapa dia tanyakan itu...?

Nada suaranya seperti cemburu! Tapi, astaga! Mengapa aku terlalu gede rasa pada ucapan orang...?" Joko diam-diam bertanya jawab dengan batinnya sendiri. Lalu berujar.

"Dia bukan kekasihku. Dia hanyalah seorang sahabat! Jadi..."

"Jangan terlalu banyak bicara!" tukas perempuan bercadar putih. "Aku tanya sekali lagi. Kau masih mengkhawatirkan jiwa perempuan itu?!"

Joko terdiam sesaat. Dia melirik sejenak pada Ratu Pemikat yang saat itu terlihat masih saling perang pandang dengan Dewi Siluman.

"Pura-puralah menghindar dari pukulanku! Kau masih punya tugas lebih besar di depan sana!" ujar perempuan bercadar putih masih dengan suara perlahan, membuat Joko terlengak.

Belum hilang rasa kaget Joko, perempuan bercadar putih telah sentakkan kedua tangannya ke arah Joko. Satu gelombang luar biasa dahsyat menghampar. Joko masih berpikir sejurus tentang ucapan si perempuan. Lalu cepat-cepat keluarkan bentakan sambil berkelebat untuk hindarkan diri. Gelombang dari kedua tangan si perempuan lewat menggebrak udara kosong di mana tadi murid Pendeta Sinting berada.

Begitu Joko injakkan sepasang kakinya, perempuan bercadar putih telah berkelebat mengejar. Lalu dari jarak dua belas langkah, kembali si perempuan lepaskan pukulan. Kali ini Joko tidak tinggal diam. Dia pun segera sentakkan kedua tangannya. Tapi pukulannya sengaja diarahkan ke satu tempat yang tidak bertubrukan dengan pukulan yang dilepas perempuan bercadar putih. Pada saat yang sama, sosoknya berkelebat menjauhi tempat di mana Ratu Pemikat dan Dewi Siluman berada.

Di pihak lain, antara Ratu Pemikat dan Dewi Siluman untuk beberapa saat keduanya saling perang pandang. Namun diam-diam kedua perempuan ini saling bertanya-tanya sendiri dalam hati tentang siapa adanya parampuan bercadar putih dan mengapa tiba-tiba lepaskan pukulan ke arah murid Pendeta Sinting. Malah hampir berbarengan kedua orang ini saling lirikkan mata masing-masing kearah perempuan bercadar putih yang terlihat masih lepaskan pukulan setelah sejenak mereka mendengar pertanyaan- pertanyaan Joko yang tidak mendapat jawaban darisi perempuan.

Tapi ingat akan tindakan Ratu Pemikat yang menghadang di depannya, Dewi Siluman lupakan sejenak tentang perihal siapa dan apa maksud si perempuan bercadar putih. Kegeraman perempuan berjubah hitam panjang ini memuncak.

"Di Pulau Biru kau berhasil lolos! Tapi jangan harap kali ini kau bisa berbuat sama, Perempuan Binal!" Dewi Siluman membentak sambil angkat tangannya.

Dada Ratu Pemikat yang sejak tadi sudah mendidih dengan ucapan-ucapan Dewi Siluman makin menggelegak. Tapi tiba-tiba perempuan cantik bertubuh bahenol ini teringat akan pertemuan yang telah diaturnya.

"Hem... Pengorbananku hanya akan sia-sia kalau aku melayani perempuan jahanam ini!" Ratu Pemikat berpikir sejenak.

"Dewi Siluman!" kata Ratu Pemikat. "Bukankah sebenarnya di antara kita tidak ada silang sengketa? Malah bukankah kita pernah saling membantu di Pulau Biru?!"

Seperti diketahui, antara Ratu Pemikat dan Dewi Siluman memang pernah saling membantu saat terjadi peristiwa di Pulau Biru. (Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Neraka Pulau Biru)

Dewi Siluman tertawa pendek mendengar ungkapan Ratu Pemikat. Karena dia paham benar kenapa saat di Pulau Biru mengajak Ratu Pemikat saling bantu dan tahu pula apa yang akan dilakukan pada Ratu Pemikat seandainya dia dapat mengatasi lawan-lawannya saat itu, maka dengan nada mengejek, dia buka suara.

"Hem... Apa yang ada di balik ucapanmu, Perempuan Binal?! Kau kira aku tidak tahu apa yang ada dalam benakmu, he?!"

Ratu Pemikat tersenyum meski dipaksakan. "Kau masih menginginkan barang yang kau minta tadi?!" Ratu Pemikat kali ini lantas tertawa pendek dan tanpa menunggu jawaban orang, diateruskan ucapannya. "Kau kira pemuda itu akan memberikan begitu saja apa yang kau minta?! Buang jauh-jauh impian itu!"

"Kau akan saksikan benar tidaknya ucapanmu saat ini juga!"

Ratu Pemikat gelengkan kepala. "Percuma kau lakukan itu!Kau hanya akan menelan kecewa untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin kekecewaan yang terakhir kali! Karena nyawamu akan melayang sendiri! Meski saat ini dia sendirian, tapi apa yang dimilikinya saat ini tidak lebih rendah dibanding saat dia di Pulau Biru yang dibantu beberapa temannya! Kedua kitab ditangannya..."

"Keparat!" potong Dewi Siluman. "Kau tak perlu memberi banyak keterangan!"

"Kau mungkin belum tahu...!" ujar Ratu Pemikat kalem. "Seandainya saja aku menginginkan Pedang Tumpul 131 dan kedua kitab di tangannya, bagiku semudah mencabut rumput di padang luas! Bahkan memutus nyawanya sekaligus bagiku tidak sesulit membalik telapak tangan! Tapi aku tidak melakukannya! Kau tahu apa sebabnya?!"

Dewi Siluman terdiam. Dari apa yang tadi dilihatnya, apa yang barusan di dengar dari mulut Ratu Pemikat membuat Dewi Siluman mau tak mau harus sedikit membenarkan ucapan perempuan berbaju biru tipis itu. Dan pertanyaan Ratu Pemikat membuat Dewi Siluman penasaran meski dia tadi masih sempat mendengar perbincangan antara Ratu Pemikat dan Pendekar 131 yang sebut-sebut sebuah pertemuan dan sebuah Kitab Hitam. Hingga pada akhirnya dia buka mulut juga.

"Aku memberi kesempatan padamu menjawab sendiri pertanyaan mu!

"Pada purnama ini akan ada satu pertemuan di Kedung Ombo! Sebelum kulanjutkan keteranganku, mau jawab satu pertanyaanku?!" tanya Ratu Pemikat seraya melirik pada Pendekar 131 yang saat itu tampak masih berkelebat menghindar dari pukulan yang dilepas perempuan bercadar putih.

Setelah melirik pula pada murid Pendeta Sinting, Dewi Siluman berkata. "Apa yang kau tanyakan?!" Suaranya masih terdengar ketus.

"Kau pernah mendengar sebuah kitab sakti bernama Kitab Hitam?!"

"Hem... Meski aku mendengar selentingan tapi aku belum yakin benar akan adanya kitab itu!" kata Dewi Siluman dalam hati. Tapi karena tidak mau dikira tak banyak tahu tentang apa yang terjadi dalam dunia persilatan, walau dia masih belum tahu benar tentang seluk beluk Kitab Hitam, Dewi Siluman akhirnya menjawab.

"Apa yang terjadi dalam dunia persilatan, tak akan luput dari tanganku!"

"Hem.... Lalu apakah kau juga telah tahu, siapa gerangan orang yang beruntung mendapatkannya?!"

Karena Dewi Siluman tidak juga buka mulut memberi jawaban, Ratu Pemikat telah maklum kalau sebenarnya Dewi Siluman tidak tahu banyak mengenai kitab itu. Namun Ratu Pemikat tidak mau bicara mengejek. Dia cepat memutar otak dan tahu bagaimana harus bertindak.

"Itulah mengapa sebabnya aku tidak lagi menginginkan kedua kitab serta Pedang Tumpul 131 sekaligus nyawa Pendekar 131 saat ini, meski hal itu tidak terlalu sulitbagiku!"

"Kau terlalu bicara berbelit! Katakan saja terus terang!"

"Kitab Hitam telah jatuh ke tangan seseorang yang aku yakin hanya Pendekar 131 yang dapat mengalahkannya!"

"Peduli setan siapa orang yang mendapatkan Kitab Hitam! Yang pasti Pedang Tumpul 131 dan kedua kitab di tangan Pendekar 131 harus kuambil sekarang juga!"

"Kau kira bagimu masih mudah mengambil dari tangannya?!" Ratu Pemikat kembali tertawa pendek sambil gelengkan kepala. "Kusarankan padamu. Tunggulah sampai urusan di Kedung Ombo selesai! Dan aku akan mengambilkan untukmu apa yang kau inginkan dari tangan Pendekar131!"

"Ucapan perempuan binal sepertimu mana bisa dipercaya?!"

Ratu Pemikat masih menekan perasaan. Lalu berkata sambil tersenyum. "Pedang Tumpul 131 dan kedua kitab di tangannya tidak ada lagi gunanya bagiku! Kalaupun saat ini aku membiarkan dia hidup, waktunya hanya sampai purnama ini!"

"Hem.... Jadi kau menginginkan Kitab Hitam itu?!"

"Benar!" sahut Ratu Pemikat berterus terang. "Saat ini kita saling bergantung! Dan aku menawarkan kesempatan baik padamu!"

"Apa maksudmu?!"

"Aku tak akan dapat memiliki Kitab Hitam tanpa Pendekar 131! Dan kau tidak akan bisa mendapatkan Pedang Tumpul 131 serta kedua kitab itu tanpa aku!"

Dewi Siluman arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting yang terus berkelebat sambil sesekali keluarkan bentakan dan makin lama makin agak menjauh. Perempuan ini sejurus memikirkan kebenaran ucapan Ratu Pemikat. Namun jelas pandangannya masih tampak kalau dia dilanda kebimbangan. Malah dia terlihat hendak berkelebat begitu mendapati perkelahian antara perempuan bercadar putih dan Pendekar 131 telah jauh berada di seberang sana. Namun Ratu Pemikat cepat-cepat menghadang sambil berkata.

"Kurasa dia hendak loloskan diri! Jangan dikejar!"

"Aku tidak percaya dengan semua keteranganmu tadi!" bentak Dewi Siluman.

"Kalau begitu terserah! Silakan kau mengejar dan antarkan nyawa! Asal kau tahu, dia bukan lagi orang yang sama seperti waktu berada di Pulau Biru!"

"Peduli setan!" sentak Dewi Siluman. Namun meskin ada ucapannya seolah tidak pedulikan saran Ratu Pemikat, tapi dia tidak juga lakukan gerakan apa-apa.

"Tunda keinginanmu sampai purnama ini! Bukankah purnama hanya tinggal delapan hari lagi?! Begitu Kitab Hitam telah berpaling ke tanganku, aku akan ambilkan barang yang kau inginkan! Bukankah itu adil? Lagi pula kita akan sama-sama memperoleh barang yang kita inginkan tanpa harus keluarkan tenaga!"

"Kau yakin Pendekar 131 akan muncul di Kedung Ombo?! Tadi kudengar..."

"Betul! Dia tadi memang mengatakan tidak akan hadir pada pertemuan di Kedung Ombo...!" kata Ratu Pemikat menukas ucapan Dewi Siluman. "Tapi aku yakin dia akan muncul di sana!"

"Bagaimana kau punya keyakinan begitu?!"

"Sebenarnya sejak semula Pendekar 131 telah mencari-cari Kitab Hitam. Bukan maksud untuk memilikinya, melainkan untuk memusnahkannya! Dia kini telah tahu kalau Kitab Hitam telah berada di tangan seseorang. Dan orang yang telah memiliki Kitab Hitam itu akan muncul di Kedung Ombo! Apakah menurutmu dia akan sia-siakan kesempatan ini?!"

"Apa kata-katanya bisa dipercaya? Apa dia tidak punya maksud tertentu di balik ucapannya...?!" Dewi Siluman masih ragu-ragu.

Saat itulah tiba-tiba terdengar ledakan keras di depan sana. Tanah bertabur menutupi pemandangan. Dewi Siluman dan Ratu Pemikat rasakan pijakan kaki masing-masing bergetar keras. Dewi Siluman cepat sentakkan kepala. Sementara Ratu Pemikat hanya melirik tenang-tenang saja. Perempuan ini rupanya telah maklum apa yang terjadi.

"Jahanam itu lenyap!" desis Dewi Siluman sambil pentangkan mata menembusi hamburan tanah yang mulai luruh.

Ratu Pemikat berpaling. Ucapan Dewi Siluman benar. Karena sosok Pendekar 131 dan perempuan bercadar putih telah tidak terlihat lagi.

"Tidak lama!" ujar Ratu Pemikat. "Kita pasti akan segera bertemu lagi!"

"Baik!" kata Dewi Siluman pada akhirnya walau sebenarnya perempuan ini masih menyimpan keraguan. "Hari ini aku masih percaya ucapanmu! Tapi ingat, bila kelak kenyataan tidak sesuai, itulah akhir dari hidupmu!"

Ratu Pemikat tidak sambuti ancaman Dewi Siluman. Namun diam-diam dalam hati dia berkata. "Kelak kenyataan itu akan terjadi, Perempuan Busuk! Tapi justru kenyataan itu adalah kenyataan pahit bagimu!"

Dewi Siluman arahkan pandangan ke tempat mana dia yakin murid Pendeta Sinting berkelebat pergi. Lalu tanpa berkata atau berpaling pada Ratu Pemikat yang tegak memandang ke arahnya, dia melangkah. Tapi baru saja melangkah empat tindak, kepalanya berpaling pada Ratu Pemikat.

"Siapa perempuan bercadar putih tadi?!"

Ratu Pemikat gelengkan kepala. "Wajahnya ditutup cadar sepertimu. Bagaimana aku tahu siapa dia adanya?! Tapi satu hal yang pasti, dia mengenalmu! Dan aku yakin dia orang yang telah kau kenal!"

Dewi Siluman mendengus. Lalu menoleh lagi kejurusan lain sambil kembali buka mulut. "Kau tadi mengatakan Kitab Hitam telah dimiliki seseorang! Siapa orang itu?!"

"Jawaban pastinya akan kau lihat sendiri di Kedung Ombo purnama ini!"

Dewi Siluman sebenarnya tidak senang dengan jawaban Ratu Pemikat. Tapi entah karena apa dia tiba-tiba melupakan hal itu. Dia tengadah sesaat lalu angkat bicara lagi.

"Masih ada yang perlu kuketahui!"

Ratu Pemikat angkat kedua alis matanya. Wajahnya tampak sedikit tegang. "Aku dengan senang hati akan menjawab bila tahu persoalannya!"

"Waktu di Pulau Biru, jelas-jelas kau inginkan kitab di tangan Pendekar 131. Kenapa kini berubah? Anehnya lagi, kau bisa berbaik-baikan dengannya bahkan jika aku tidak muncul, pasti kalian berdua akan teruskan perbuatan gila itu!"

Ketegangan diwajah Ratu Pemikat sirna. Perempuan ini tertawa panjang sebelum akhirnya menjawab. "Kita satu sama lain punya kesamaan! Sayangnya aku lebih beruntung dibanding kau!"

"Aku tidak mengerti maksudmu!"

"Kita sama-sama punya dendam pada Pendekar 131! Namun jujur saja, kita sebenarnya juga tidak menolak kalau dia memberi kehangatan pada kita! Dan aku beruntung bisa mendapatkannya! Kalau saja kau mau membuka cadarmu dan berlaku sedikit gila, kurasa kau tidak menemui kesulitan kalau hanya inginkan kehangatan!"

Dewi Siluman sentakkan kepalanya ke arah Ratu Pemikat. Namun dia urung keluarkan makian yang sudah ada di mulutnya karena Ratu Pemikat telah berkelebat dengan tertawa panjang.

Dewi Siluman menggumam pelan tidak jelas. Lalu kepalanya mendongak.Berlama-lama perempuan berjubah hitam ini tegak dengan kepala tengadah. Entah apa yang ada dalam pikirannya, yang jelas sepasang matanya memandang kosong dan dadanya naik turun hembuskan napas panjang dan dalam.

********************

BAB 2

INI hari dua hari menjelang malam purnama.Langit perlahan-lahan tampak berubah warna. Kegelapan serta kabut mulai bergerak bersamaan dengan berhembusnya angin pagi. Pada sebuah goa di tempat sepi, satu sosok tubuh bertelanjang dada tampak duduk bersila menghadap mulut goa. Napasnya berhembus teratur. Jelas pertanda jika orang ini sedang pusatkan mata batin. Namun melihat sekujur tubuh serta celana yang dikenakan tampak basah kuyup padahal saat itu baru saja menjelang pagi, jelas pula menunjukkan kalau orang ini pusatkan mata batin sambil kerahkan tenaga dalam.

Ketika cahaya sang surya mulai membias di bentangan langit sebelah timur, perlahan-lahan sosok bertelanjang dada di dalam goa yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan buka sepasang matanya. Bola mata itu sejenak memandang lurus keluar goa. Karena di bagian luar goa banyak ditumbuhi jajaran pohon, maka yang kelihatan hanyalah hijau jajaran pohon meski masih samar-samar.

Si pemuda lepaskan sedekapan kedua tangannya. Tangan kanannya terangkat lalu menyisir rambutnya yang hitam panjang dan lebat dengan jari-jarinya. Sementara tangan kirinya mengusap-usap dada dan wajahnya yang basah karena keringat. Kepala si pemuda lalu bergerak sedikit tengadah.

"Menurut ucapan perempuan itu, hari ini dia akan datang! Hem... Tapi aku tak akan menunggu kedatangannya. Aku justru yang akan menjemput. Sekalian ingin tahu apa yang telah dilakukannya!"

Si pemuda bergerak bangkit. Lalu melangkah ke pojok goa di mana tampak sebuah batu tidak begitu besar yang di atasnya tampak gulungan pakaian hitam dan putih. Tangan kanan si pemuda menyambar gulungan pakaian hitam. Menatapnya sejenak. Lalu membukanya perlahan-lahan. Ternyata di dalam pakaian hitam itu terlihat sebuah kitab bersampul hitam yang telah ditalikan sedemikian rupa hingga begitu si pemuda mengenakan pakaian hitam, kitab itu tetap tidak terjatuh dan tepat berada di depan perutnya.

Tangan kiri si pemuda lalu menyambar pakaian putih yang ternyata adalah sebuah jubah panjang. Seperti halnya tadi, sesaat mata si pemuda memperhatikan jubah di tangan kirinya. Jelas jubah putih itu tidak ada apa-apanya. Namun untuk beberapa lama si pemuda memperhatikan.

"Hem.... Tak ada salahnya aku mengenakan jubah ini. Inilah satu-satunya pemberian Guru.... Selain tentu saja impian besarnya yang telah disampaikannya padaku!" Si pemuda bergumam seraya sunggingkan senyum aneh. Lalu mengenakan jubah putih merangkapi pakaian hitamnya.

"Hem.... Sayang Guru tidak mau hadir pada purnama nanti. Seandainya dia mau datang, dia akan tahu bahwa muridnya akan ditasbihkan sebagai raja diraja rimba persilatan! Dia akan tahu, bagaimana musuh-musuhku akan jatuh berkaparan! Dia akan tahu, bagaimana air jernih Kedung Ombo akan berubah warna dibuncah darah Pendekar 131 dan teman-temannya!"

Si pemuda yang di balik pakaiannya membekal kitab bersampul hitam dan tidak lain adalah Kitab Hitam yang menunjukkan bahwa si pemuda adalah Malaikat Penggali Kubur melangkah perlahan ke mulut goa. Kepalanya melongok sejenak keluar goa dengan mata memandang berkeliling. Kejap lain kedua tangannya menyentak kedinding mulut goa. Tahu-tahu sosoknya telah lenyap dari mulut goa!

Dan di saat matahari mulai tergelincir dari titik tengahnya, sosok Malaikat Penggali Kubur tampak berkelebat melewati Dusun Sumber Suko sebelum akhirnya lenyap lagi di satu kawasan yang menuju Bukit Selamangleng.

********************

Matahari sudah sedikit condong ke arah barat tatkala satu penunggang kuda berpacu cepat memasuki kawasan Bukit Selamangleng. Penunggang kuda ini tidak melewati jalan yang menuju bukit, meski jelas kalau tempat yang dituju adalah Bukit Selamangleng, karena di sekitar kawasan bukit itu hanya ada jurang menganga. Ini jelas menunjukkan kalau si penunggang kuda sudah paham betul dengan kawasan yang dilalui. Dan hal itu semakin kelihatan tatkala pada satu tempat di lamping sebelah utara bukit, si penunggang kuda hentikan lari kuda tunggangannya.

Lalu berkelebat menerabas jajaran pohon menaiki bukit. Hanya dalam beberapa saat, sosok orang yang tadi menunggang kuda telah berada beberapa tombak saja dari puncak bukit. Namun tiba-tiba orang ini hentikan langkahnya. Kepalanya yang gundul berkilat-kilat karena baru saja tertimpa sinar matahari tampak bergerak ke kiri kanan. Sepasang matanya yang melotot besar memandang berkeliling.

"Apakah mereka sudah sampai disini?!Aku merasa ada orang yang mengawasi langkahku!" membatin orang berkepala gundul yang tidak lain adalah Iblis Rangkap Jiwa.

"Menurut perjanjian, memang hari ini mereka akan datang! Hem.... Mudah-mudahan perempuan sundal itu bisa memberi kepercayaan pada Malaikat Penggali Kubur! Kalau tidak, urusanku bisa jadi tak karuan! Dan kalau dia benar-benar gagal, selembar nyawanya adalah imbalan yang harus dia tebus! Tapi sebelum dia meregang ajal, dia harus layani aku dahulu dua hari dua malam! Bukankah purnama masih kurang dua hari lagi...?"

Iblis Rangkap Jiwa tersenyum sambil usap-usap kepalanya. Tapi gerakan tangan Iblis Rangkap Jiwa tertahan seketika tatkala mendadak saja dia dikejutkan dengan satu bentakan dahsyat.

"Berani teruskan langkah, nyawamu amblas!"

Wuuutt!Wuuut!

Dari arah terdengarnya bentakan, dua gelombang angin luar biasa keras menghampar. Meski Iblis Rangkap Jiwa dikenal sebagai manusia yang kebal terhadap pukulan, namun orang berkepala gundul ini tidak mau begitu saja umpankan tubuhnya. Hingga seraya berseru keras dia melompat ke samping. Saat bersamaan kedua tangannya berkelebat lepaskan pukulan.

Bummm!

Kesunyian puncak Bukit Selamangleng terbuncah dengan ledakan keras akibat bertemunya pukulan orang yang bersembunyi dengan pukulan yang dilepas Iblis Rangkap Jiwa. Beberapa pohon yang tidak begitu besar tampak bergoyang-goyang keras sebelum akhirnya berderak tumbang dengan terbangkan daun-daunnya. Buncahan di dekat puncak bukit tidak terhenti. Karena begitu derakan dan debuman tumbangnya pohon lenyap, terdengar suara orang tertawa panjang bergelak.

"Hem.... Suara manusia laki-laki! Berarti bukan mereka berdua!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Tanpa berpaling lagi, kedua tangannya bergerak lepaskan pukulan ke arah sumber suara tawa.

"Berani kau gerakkan tangan, nasibmu jelek!" Tiba-tiba terdengar bentakan di sela suara tawa orang.

Sebenarnya Iblis Rangkap Jiwa hendak teruskan gerakan kedua tangannya tidak pedulikan ancaman orang. Namun laki-laki berkepala gundul ini sesaat mengernyit. Lalu tarik pulang kedua tangannya urungkan niat. Bersamaan itu sosoknya memutar menghadap di mana suara tawa dan bentakan tadi terdengar. Satu sosok tubuh berbalut jubah putih panjang melayang turun dari sebuah pohon. Dan tegak sejarak lima langkah di hadapan Iblis Rangkap Jiwa.

"Malaikat Penggali Kubur!" gumam Iblis Rangkap Jiwa mengenali siapa adanya orang yang kini tegak dihadapannya.

Sesaat orang yang baru melayang turun dan tidak lain memang Malaikat Penggali Kubur perhatikan Iblis Rangkap Jiwa dari atas sampai bawah. Sementara yang dipandang tampak berubah paras dan tegang.

"Kau!" mendadak Malaikat Penggali Kubur arahkan jari tangan kirinya lurus kemata orang, membuat Iblis Rangkap Jiwa laksana sirap darahnya.

"Jangan-jangan perempuan sundal itu gagal meyakinkan pemuda ini!Hem... Apa boleh buat! Meski dia membekal Kitab Hitam, tapi aku tak akan tinggal diam!" membatin Iblis Rangkap Jiwa lalu kerahkan tenaga dalam.

"Berlutut!" Malaikat Penggali Kubur lanjutkan bentakannya.

"Akan kuturuti kemauan jahanam ini dahulu!" kata Iblis Rangkap Jiwa dalam hati lalu dia tekuk lututnya dan perlahan-lahan lorotkan tubuh. Namun diam-diam dia lipat gandakan tenaga dalam, hingga sesaat sosoknya tampak bergetar.

Bersamaan dengan melorotnya sosok Iblis Rangkap Jiwa dan berlutut, Malaikat Penggali Kubur tarik pulang tangan kirinya dengan kepala ditengadahkan. Lalu terdengar suara gelakan tawanya menggembor keras.

"Bagus! Kau dengar, Manusia Iblis! Kapan dan di mana kau bertemu dengan Malaikat Penggali Kubur, hal pertama yang harus kau lakukan adalah berlutut! Kau mengerti?!"

Iblis Rangkap Jiwa menyumpah habis-habisan dalam hati. Namun sejauh ini dia tidak menyambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur. Dia masih menunggu apa yang akan diucapkan dan diperbuat si pemuda. Tapi tekadnya telah bulat. Dia akan mengadu jiwa saat itu juga kalau Ratu Pemikat yang disuruh meyakinkan Malaikat Penggali Kubur tentang urusannya dengan Dewa Orok mengalami kegagalan dan Malaikat Penggali Kubur tidak mau mengerti.

Seperti diketahui, Iblis Rangkap Jiwa mendapat tugas dari Malaikat Penggali Kubur untuk membunuh Dewa Orok. Sebenarnya Iblis Rangkap Jiwa sudah hampir dapat selesaikan tugas dengan baik. Sayang waktu itu dia bersama Ratu Pemikat. Dan sialnya dia menuruti usul Ratu Pemikat untuk menunda dahulu urusannya dengan Dewa Orok. Lalu meninggalkan Dewa Orok dalam keadaan tertanam dan ditotok. Tapi usul dan dugaan Ratu Pemikat pada akhirnya hanya mendatangkan kecewa pada Iblis Rangkap Jiwa. Karena waktu dilihat kembali, Dewa Orok telah lenyap tidak meninggalkan bekas!

Malaikat Penggali Kubur putuskan gelakan tawanya. Kepalanya lurus menghadap Iblis Rangkap Jiwa. "Aku senang punya pembantu macam kau! Sigap dan tepati janji!"

Iiblis Rangkap Jiwa sedikit merasa lega mendengar ucapan Malaikat Penggali Kubur. Namun dia bertahan untuk tidak buka mulut dahulu. Dia masih merasa bimbang.

"Ceritakan padaku bagaimana dengan tugasmu!" kata Malaikat Penggali Kubur.

Iblis Rangkap Jiwa bergerak hendak bangkit. "Jangan berani bangkit tanpa perintahku!" bentak Malaikat Penggali Kubur menahan gerakan bangkit Iblis Rangkap Jiwa.

"Bangsat keparat!" maki Iblis Rangkap Jiwa dalam hati. Tapi dia urungkan juga niatnya untuk bangkit. Mungkin masih tidak bisa menahan gejolak hawa amarahnya atas perlakuan Malaikat Penggali Kubur, dia segera buka mulut dengan suara gemetar dan agak keras.

"Kau sudah bertemu dengan Ratu Pemikat?!" Meski nada suara Iblis Rangkap Jiwa bertanya, namun laki-laki gundul ini tidak perlu menunggu jawaban Malaikat Penggali Kubur. Dia lanjutkan ucapannya. "Dari perempuan itu mungkin kau telah tahu semuanya!"

Iblis Rangkap Jiwa sengaja tidak menunggu jawaban Malaikat Penggali Kubur karena dia sendiri sebenarnya masih ragu apakah Ratu Pemikat benar-benar telah bertemu dengan Malaikat Penggali Kubur dan dapat meyakinkannya. Dan kalaupun Ratu Pemikat belum sempat bertemu, maka masih ada kesempatan baginya untuk mencari alasan dan mengatakan apa yang telah terjadi dengan cerita yang tidak sebenarnya. Dan degnan jalan begitu, dia akan tahu apakah Ratu Pemikat benar-benar berhasil meyakinkan Malaikat Penggali Kubur kalau perempuan itu telah berhasil jumpa dengan Malaikat Penggali Kubur.

Malaikat Penggali Kubur rangkapkan kedua tagnan. "Lalu bagaimana urusannya dengan Cucu Dewa?!"

"Hem.... Dia tidak sebut-sebut lagi urusan Dewa Orok! Berarti Ratu Pemikat telah bertemu dan berhasil meyakinkan manusia keparat ini!" simpul Iblis Rangkap Jiwa begitu mendengar pertanyaan yang diajukan Malaikat Penggali Kubur. Ketegangan didada Iblis Rangkap jiwa mereda.

"Terus terang! Manusia cebol itu tidak berhasil kutemukan meski tempatnya sudah kuobrak-abrik! Tapi kau tak usah khawatir. Urusan manusia cebol itu masih menjadi tanggung jawabku!"

Malaikat Penggali Kubur anggukkan kepala. Mulutnya hendak perdengarkan suara. Tapi Iblis Rangkap Jiwa telah mendahului

"Lalu bagaimana dengan janjimu?!"

Sepasang mata Malaikat Penggali Kubur menatap angker.

"Janji apa?!"

"Kitab Hitam itu..."

Belum sampai Iblis Rangkap Jiwa lanjutkan ucapannya, Malaikat Penggali Kubur telah tertawa terbahak-bahak.

"Kau belum selesaikan tugasmu dengan sempurna! Malah aku masih meragukan apakah kau benar-benar telah membunuh manusia itu!"

"Tapi bukankah keterangan Ratu Pemikat..."

"Benar!" kembali Malaikat Penggali Kubur sudah manukas ucapan Iblis Rangkap Jiwa. "Tapi kalian tidak tunjukkan bukti kuat!Hanya dot busuk! Siapapun juga bisa lakukan hal seperti itu!"

Kembali paras Iblis Rangkap Jiwa menegang. "Jadi kau tidak percaya kalau Dewa Orok telah putus nyawanya?!"

"Ratu Pemikat mengatakan kalian berdua hanya menanam manusia itu di satu tempat sepi dalam keadaan tertotok! Kalian tidak membunuhnya!"

"Tapi pasti dia sudah tewas!"

"Nyawa manusia tidak bisa dipastikan! Kecuali jika kalian waktu itu benar-benar telah membunuhnya!"

"Jadi…?!"

"Aku tanya padamu. Apakah kau telah lihat kembali tempat di mana kau menanam manusia itu?!"

Dada Iblis Rangkap Jiwa berdebar keras. Sesaat dia terdiam. Dan mungkin tidak mau orang merasa curiga, akhirnya dia buka mulut juga. "Karena aku menduga dia pasti tewas, untuk apa aku perlu melihatnya?!"

"Jawabanmu juga tidak pasti! Kau masih menduga!"

"Tapi mustahil dia bisa selamat!" Iblis Rangkap Jiwa masih ajukan alasan.

"Kau tidak dapat memastikan benar tidaknya ucapanmu kalau tidak melihat sendiri!"

Merasa orang tidak bisa diyakinkan, pada akhirnya Iblis Rangkap Jiwa pasrah. Tekadnya yang semula hendak mengadu jiwa muncul kembali. Sambil bangkit dia berkata. "Lalu apa kemauanmu?!"

Meski tadi telah mengancam agar Iblis Rangkap Jiwa tidak bangkit tanpa perintahnya, namun begitu melihat Iblis Rangkap Jiwa bergerak bangkit dan meradang, Malaikat Penggali Kubur tertawa pendek.

"Kau masih ingat apa yang kau alami saat kita baru pertama jumpa?!"

Iblis Rangkap Jiwa tidak segera menjawab. Pada pertemuan pertama dengan Malaikat Penggali Kubur, Iblis Rangkap Jiwa memang dengan mudah dapat membuat si pemuda bertekuk lutut. Namun begitu Malaikat Penggali Kubur mendapatkan Kitab Hitam, meski Iblis Rangkap Jiwa dikenal tidak mempan pukulan, namun pada akhirnya laki- laki berkepala gundul ini harus menyerah, karena akibat yang dialami dari bentrokan yang terjadi, dia merasa lama kelamaan akan mampus juga. Hal itulah yang membuat Iblis Rangkap Jiwa mau melakukan perintah Malaikat Penggali Kubur meski tindakannya itu hanya untuk sementara waktu sambil menunggu saat yang tepat.

Mendapati Iblis Rangkap Jiwa tidak menjawab pertanyaannya, Malaikat Penggali Kubur keraskan suara lawanya. "Dengar! Kau boleh tidak mempan pukulan, tapi kau telah merasa bagaimana akibatnya berhadapan denganku! Dan hal yang lebih mengerikan akan kau alami kalau kau bersikap meradang padaku! Kau dengar?!"

Iblis Rangkap Jiwa belum juga buka mulut memberi sahutan.

"Dengar, Manusia Iblis! Saat ini kuyakin rimba persilatan telah banyak mendengar tentang adanya pertemuan di Kedong Ombo dua hari mendatang! Saat itulah baru aku bisa memastikan kalau tugasmu selesai dengan sempurna!"

"Bagaimana kau memastikannya?!"

"Kau menghadapi manusia bernama Dewa Orok itu bersama Ratu Pemikat. Meski aku belum pernah bertemu dengan manusia itu, namun aku yakin manusia itu bukan orang sembarangan! Kalau dia belum mampus, pasti dia telah mendengar tentang pertemuan di Kedung Ombo. Dan pasti akan muncul purnama nanti!"

Habis berkata begitu,tiba-tiba kepala Malaikat Penggali Kubur menyentak ke bawah. Sesaat sepasang matanya memandang tak berkesip ke bawah bukit. Iblis Rangkap Jiwa serta-merta juga turunkan pandangannya ke bawah bukit.

"Dugaanku tidak salah! Dia muncul dahulu di sini!" gumam Malaikat Penggali Kubur dalam hati sambil angkat kepalanya.

"Kurasa tenaga perempuan itu sudah tidak ada gunanya lagi!" ujar Iblis Rangkap Jiwa seraya terus arahkan pandangan ke bawah bukit. "Apa tidak sebaiknya dia dihabisi sekarang?!"

"Nyawamu dan nyawa perempuan itu ada di tanganku! Jangan kau berani bertingkah macam-macam!" bentak Malaikat Penggali Kubur. "Dan jangan kau buka mulut saat aku nanti bertanya padanya! Kau dengar?!"

Iblis Rangkap Jiwa sambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur dengan dengusan, lalu melangkah ke arah puncak bukit. "Nyawamu tinggal dua hari, Jahanam!" desis Iblis Rangkap Jiwa lalu duduk bersandar pada sebatang pohon dengan mata melirik ke arah di mana tadi Malaikat Penggali Kubur berada. Iblis Rangkap Jiwa sesaat besarkan sepasang matanya yang berada dalam rongga mata yang menjorok keluar dan hampir tidak tertutup daging dikanan kirinya. Ternyata Malaikat Penggali Kubur sudah tidak kelihatan batang hidungnya!

BAB 3

BELUM sampai Iblis Rangkap Jiwa sempat edarkan pandangan mencari di mana gerangan Malaikat Penggali Kubur, satu sosok tubuh berkelebat cepat menuju puncak bukit. Namun kelebatan sosok ini tidak berlanjut. Karena beberapa tombak lagi mencapai puncak bukit di mana Iblis Rangkap Jiwa berada, satu suara membuat kelebatan sosok yang mendaki bukit terhenti.

"Tahan dulu niatmu!"

Sosok yang mendaki serta-merta hentikan kelebatannya. Kedua tangannya dipentangkan. Kepalanya tengadah lurus ke arah puncak bukit. Meski samar-amar, namun orang ini masih dapat menangkap sosok Iblis Rangkap Jiwa yang duduk bersandar.

"Jelas suara tadi tidak datang dari puncak bukit! Berarti ada orang lain selain manusia iblis itu!" desis orang yang larinya tertahan. Dia adalah seorang perempuan berparas cantik jelita mengenakan pakaian tipis warna biru. Perempuan ini tidak lain adalah Ratu Pemikat.

Belum sampai dapat menduga siapa adanya orang yang perdengarkan suara, satu sosok berkelebat dan tegak hanya empat langkah di hadapan Ratu Pemikat. Ratu Pemikat cepat tarik pulang kedua tangannya begitu mengenali siapa adanya orang. Raut wajah Ratu Pemikat tampak berubah sedikit tegang. Sesaat dia tampak arahkan pandangannya pada orang dihadapannya yang tidak lain adalah Malaikat Penggali Kubur, lalu beralih pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Pada saat di goa tempo hari, kurasa dia yakin akan keteranganku. Tapi apakah Iblis Rangkap Jiwa tidak memutar lidah membalik ucapan? Dia datang mendahuluiku dan pasti sudah sempat berbincang-bincang dengan pemuda ini Hem...Tapi tak mungkin Iblis Rangkap Jiwa membalik ucapan. Bukankah nyawanya tergantung pada urusan itu?" Ratu Pemikat membatin.

Namun begitu, masih jelas kalau wajahnya membayangkan rasa khawatir. Apalagi dilihatnya Iblis Rangkap Jiwa duduk tercenung bahkan tidak berpaling ke arahnya meski dia tahu kalau laki-laki itu mengetahui kemunculannya.

"Ah... Kebetulan kalau kau berada disini. Jadi aku tidak usah..."

Ratu Pemikat yang coba menutupi ketegangan dengan mulut terbuka lebih dahulu mendadak tidak lanjutkan ucapannya tatkala dilihatnya sepasang mata Malaikat Penggali Kubur memandangnya berkilat-kilat.

"Ada apa ini? Apa manusia iblis itu benar-benar telah membalik lidah? Atau ada yang salah dengan diriku?!" Gumaman terakhir Ratu Pemikat sempat terdengar Malaikat Penggali Kubur.

"Kau tak sadar dengan kesalahan dirimu?" bentak Malaikat Penggali Kubur membuat Ratu Pemikat makin yakin akan kebenaran dugaannya.

"Aku melakukan kesalahan?!" ujar Ratu Pemikat pelan.

"Siapa yang kau hadapi saat ini?!" kembali Malaikat Penggali Kubur membentak.

Ratu Pemikat takut-takut memandangi pemuda di hadapannya dengan seksama. "Kurasa..." Hanya itu ucapan yang sempat terdengar dari mulut Ratu Pemikat karena bersamaan dengan itu Malaikat Penggali Kubur telah menghardik.

"Berlutut!"

Ratu Pemikat mendesah panjang. Lalu turuti ucapan Malaikat Penggali Kubur meski dalam hati memaki habis-habisan. Di lain pihak, Malaikat Penggali Kubur tersenyum lalu buka mulut dengan tangan berkacak pinggang.

"Bagaimana dengan tugas dan perjalananmu?!" Ratu Pemikat melirik dahulu pada puncak bukit dimana Iblis Rangkap Jiwa duduk bersandar. Lalu angkat bicara.

"Kita tinggal menunggu saat-saat yang sudah kita atur!"

"Hem... Berarti kau telah berhasil jumpa dengan Pendekar 131!"

Ratu Pemikat anggukkan kepala. Wajah perempuan ini kembali ceria. Karena Malaikat Penggali Kubur tidak menyebut-nyebut urusan tentang Dewa Orok, berarti Iblis Rangkap Jiwa tidak melakukan seperti apa yang tadi sempat diduganya. Namun begitu, masih ada yang membuat perempuan ini sedikit ragu-ragu. Hal ini berkaitan dengan munculnya Dewi Siluman yang selama ini tidak disangka.

Dengan Kitab Hitam di tangan Malaikat Penggali Kubur, mungkin kemunculan Dewi Siluman tidak perlu membuatnya ragu-ragu. Tapi keterus terangan pada Dewi Siluman tentang apa yang menjadi maksudnya mau tak mau membuatnya tidak enak. Dia masih khawatir kalau Dewi Siluman bertemu lagi dengan Pendekar 131 sebelum purnama dua hari mendatang, dan Dewi Siluman membeberkan semuanya pada murid Pendeta Sinting.

"Kau ingin mengutarakan sesuatu?!" ujar Malaikat Penggali Kubur tatkala pemuda ini menangkap kebimbangan pada raut wajah perempuan di hadapannya.

"Apa perlu kukatakan juga tentang pertemuanku dengan Dewi Siluman? Ah... Urusan perempuan itu biar kuselesaikan purnama nanti!"

Diam-diam akhirnya Ratu Pemikat memutuskan sendiri dalam hati. Lalu kepalanya meng- geleng sambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur. Malaikat Penggali Kubur menatap sejurus, lalu arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Perempuan tua bangka Ni Luh Padmi itu, apakah akan muncul di sini hari ini juga?!"

Ratu Pemikat bangkit berdiri. "Menurut kesepakatan kami memang begitu! Tapi siapa tahu dia mendapat halangan bertemu dengan seorang pemuda tampan, lalu tertarik dan melupakan apa yang harus dilakukan?! Kau tahu bukan? Urusan nenek itu sebenarnya hanya mencari laki-laki!"

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. "Kalau itu yang diperbuat, dia akan tebus mahal tindakannya!"

"Tua bangka macam dia memang sebaiknya tidak usah diberi waktu sampai purnama nanti! Aku khawatir dia akan melakukan sesuatu yang dapat merusak rencana!" berkata Ratu Pemikat sambil arahkan pandangannya pada puncak bukit.

Iblis Rangkap Jiwa dapat menangkap pandangan Ratu Pemikat. Hingga enak saja dia menyahut. "Sebenarnya sejak kedatangannya pertama kali disini, aku sudah muak melihat tampangnya!"

"Dengar! Aku yang berhak membuat aturan! Bukan kalian!" bentak Malaikat Penggali Kubur.

Ratu Pemikat hanya tersenyum dingin mendengar bentakan Malaikat Penggali Kubur. Lalu tanpa buka mulut lagi, dia melangkah hendak ke puncak bukit. Namun tiba-tiba Malaikat Penggali Kubur melompat dan tegak menghadang jalannya, bukan saja membuat si perempuan terkesiap kaget namun juga membuat Iblis Rangkap Jiwa menduga-duga apa sebenarnya yang hendak dilakukan si pemuda. Malaikat Penggali Kubur menatap aneh untuk beberapa lama.

Tiba-tiba dia maju dua tindak. Tepat berada didepan Ratu Pemikat, tangan kanannya bergerak. Ratu Pemikat berseru kaget. Tubuhnya laksana didorong tenaga luar biasa kuat dan terjerembab ke dada si pemuda. Belum bisa menduga apa sebenarnya maksud si pemuda, wajah Malaikat Penggali Kubur sudah menunduk lalu tanpa hiraukan pandangan Iblis Rangkap Jiwa, pemuda murid Bayu Bajra ini telah mencium wajah Ratu Pemikat dengan beringas.

Sadar apa yang dilakukan Malaikat Penggali Kubur, Ratu Pemikat segera bisa sesuaikan diri. Kedua tangannya cepat melingkar pada pinggang Malaikat Penggali Kubur. Lalu membalas ciuman si pemuda dengan mata sekali melirik ke tempat Iblis Rangkap Jiwa.

"Bangsat! Jahanam!" Iblis Rangkap Jiwa hanya bisa memaki-maki sendiri seraya alihkan pandangannya ke jurusan lain. "Hari ini kau bisa seenakmu bercumbu didepan hidungku! Aku bersumpah kelak akan mencumbui perempuan sundal itu di kala ajal hendak menjemputmu!"

Beberapa saat berlalu. Malaikat Penggali Kubur sudah mulai tenggelam dalam gejolak nafsu. Sementara Ratu Pemikat sesekali masih coba meronta karena bagaimana- pun juga dia merasa tidak enak dengan Iblis Rangkap Jiwa. Hingga tatkala kedua tangan Malaikat Penggali Kubur mulai bergerak ke dada dan membuka kancing-kancing bajunya, si perempuan berujar pelan.

"Kita masih menunggu seorang lagi. Tidak enak rasanya kalau kemunculannya kita sambut dengan sikap begini. Lagi pula bukankah waktu kita masih banyak? Aku akan selalu siap melayanimu kapan kau mau dan berapa malam kau minta..."

Malaikat Penggali Kubur tidak hiraukan ucapan Ratu Pemikat. Kedua tangannya terus bergerak. Saat lain dada sang Ratu telah terbuka hingga terlihat jelas. Di puncak bukit, meski memaki habis-habisan, namun tak urung juga Iblis Rangkap Jiwa ingin mengetahui apa yang diperbuat Malaikat Penggali Kubur. Hingga meski kepala laki-laki gundul ini menghadap jurusan lain, namun dua pasang ekor matanya melirik ke bawah. Mungkin tak sadar melihat apa yang terlihat di bawah, kepala Iblis Rangkap Jiwa akhirnya ikut juga bergerak menghadap ke bawah. Dada laki-laki ini berdebar keras. Sepasang matanya melotot besar-besar. Jakunnya turun naik tak teratur.

"Sialan betul!" lagi-lagi hanya makian yang keluar dari mulut Iblis Rangkap Jiwa melihat bagaimana dada Ratu Pemikat terbuka.

Di lain pihak, melihat Malaikat Penggali Kubur sudah tidak sabar, Ratu Pemikat cepat angkat kedua tangannya lalu menahan gerakan kedua tangan Malaikat Penggali Kubur didadanya.

"Kau..." Malaikat Penggali Kubur tarik wajahnya dan menatap Ratu Pemikat dengan rahang terangkat.

Ratu Pemikat anggukkan kepala. Sambil tersenyum dia berujar. "Aku sebenarnya juga sudah tidak sabar. Tapi bukan di sini tempatnya bukan?! Lebih dari itu masih ada urusan yang harus kita selesaikan dahulu..."

Sehabis berujar, sepasang mata Ratu Pemikat mengerling pada Iblis Rangkap Jiwa yang saat itu mungkin karena terkesima, belum sempat palingkan kepala. Malaikat Penggali Kubur ikut arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. Dia perdengarkan dengusan. Saat bersamaan kedua tangannya yang terpegang tangan Ratu Pemikat ditarik pulang.

"Boleh kututup?!" tanya Ratu Pemikat menjaga agar Malaikat Penggali Kubur tidak tersinggung.

"Terserah kalau kau ingin tunjukkan pada manusia iblis itu!" jawab Malaikat Penggali Kubur lalu arahkan pandangannya ke bawah bukit.

Ratu Pemikat lagi-lagi sambuti ucapan Malaikat Penggali Kubur dengan tersenyum lalu tangannya kancingkan kembali pakaiannya. Kepala perempuan ini bergerak ke arah barat. Matahari saat itu sudah lebih condong.

"Kenapa nenek itu belum muncul juga? Apakah dia lupa...? Atau jangan-jangan memang mendapat halangan! Atau barangkali telah berhasil bertemu dengan Pendeta Sinting?!"

Ratu Pemikat bertanya-tanya dalam hati. Lalu utarakan apa yang ada dalam hatinya pada Malaikat Penggali Kubur. Sesaat Malaikat Penggali Kubur tidak tanggapi ucapan Ratu Pemikat. Tapi kejap lain pemuda ini kepalkan tangan kiri seraya berteriak.

"Dia manusia bodoh kalau sampai bertindak macam-macam!"

"Tapi sebaiknya kita tunggu sampai matahari terbenam. Siapa tahu ada sesuatu yang membuatnya terlambat!"

Namun ditunggu sampai matahari hampir terbenam, ternyata Ni Luh Padmi tidak muncul. Hingga sambil hentakkan kaki kiri, Malaikat Penggali Kubur berteriak marah.

"Tua bangka jahanam itu! Dia adalah manusia pertama yang akan kualirkan darahnya di Kedung Ombo!"

Habis berteriak, Malaikat Penggali Kubur arahkan pandangannya silih berganti pada Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa.

"Kalian berdua! Kuperintahkan untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan purnama nanti! Pasang beberapa tanda untuk tempat orang-orang yang bergabung dengan kita!Karena kuyakin banyak orang kalangan rimba persilatan yang muncul meski tanpa kita undang! Tapi ingat, kalau kalian melakukan hal yang tidak-tidak, kalian akan menjadi manusia kedua dan ketiga yang darahnya akan kutumpahkan!"

Malaikat Penggali Kubur sekali lagi pentangkan mata memandangi Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia berkelebat menuruni bukit yang mulai dibungkus kegelapan karena matahari sudah terbenam. Sesaat setelah Malaikat Penggali Kubur berlalu, Iblis Rangkap Jiwa berkelebat dan tegak di hadapan Ratu Pemikat. Jelas pandangan laki-laki berkepala gundul ini membayangkan kalau dadanya masih disentak-sentak oleh gejolak nafsu setelah tadi melihat dada Ratu Pemikat. Seakan dapat menangkap arti pandangan orang, Ratu Pemikat cepat buka mulut.

"Kita bertemu besok pagi di kawasan Kedung Ombo! Malam ini ada yang masih harus kuselesaikan!"

Iblis Rangkap Jiwa tersenyum. Kepalanya menggeleng. "Aku sudah lama menunggu janji-janjimu! Namun makin hari kulihat kau seakan hendak melupakan janji-janji itu! Besok pagi kita memang harus bertemu di kawasan Kedung Ombo! Tapi malam ini, kita selesaikan janji-janjimu!"

Seakan tidak sabar, Iblis Rangkap Jiwa sudah gerakkan tangan hendak merengkuh tubuh Ratu Pemikat.

"Janji yang pernah kukatakan adalah gantungan jiwaku padamu. Jadi kau tak usah punya prasangka buruk! Malah setelah urusan Kedung Ombo selesai, kau bisa memiliki diriku sampai kapan kau mau!"

Tangan Ratu Pemikat mendorong dada Iblis Rangkap Jiwa hingga sosok laki-laki ini tersurut satu tindak dan tangannya yang hendak merengkuh tubuh Ratu Pemikat hanya menangkap tempat kosong. Meski sesaat bisa menahan gerak Iblis Rangkap Jiwa tapi diam-diam Ratu Pemikat dilanda perasaan gelisah. Dia maklum, kalau sampai Iblis Rangkap Jiwa paksakan kehendaknya, rasanya tidak mudah baginya untuk menolak. Namun sebagai orang yang berpengalaman menghadapi laki-laki, dia masih punya jalan keluar. Hingga begitu selesai berkata, perempuan ini menatap Iblis Rangkap Jiwa sesaat lalu berujar lagi.

"Menghadapi urusan Kedung Ombo, kita tidak boleh main-main! Meski ada Malaikat Penggali Kubur, bukan berarti kita tinggal berpangku tangan! Untuk itulah dalam sisa dua hari ini aku akan pusatkan tenaga! Dan hal itu tidak akan bisa kulakukan kalau aku harus mendahului dengan perbuatan yang tidak-tidak!"

"Kau masih juga bisa cari alasan!" sahut Iblis Rangkap Jiwa. "Kau tadi begitu menggebu membalas perbuatan pemuda keparat itu!"

Ratu Pemikat tertawa. "Kau harus tahu. Kita sekarang dalam keadaan terbelenggu! Kita tidak bisa berbuat banyak! Kalau kita berulah macam-macam, itu sama saja dengan bunuh diri! Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri baik-baik! Bukankah urusan kita bukan hanya sampai di Kedung Ombo?! Kedung Ombo hanyalah batu loncatan!Kalau kita gagal melalui jembatan ini, gagal pula maksud kita masing-masing!"

Iblis Rangkap Jiwa terdiam beberapa lama. Laki-laki ini mulai merasa ada benarnya juga ucapan Ratu Pemikat. Hingga kalau tadi nafsunya menggelegak, kini malah diam saja meski dilihatnya Ratu Pemikat sudah melangkah menuruni bukit. Entah karena untuk meyakinkan orang, begitu turun beberapa tombak, Ratu Pemikat hentikan langkah lalu berpaling keatas. Dilihatnya Iblis Rangkap Jiwa masih tegak di tempatnya semula.

"Kau dengar. Aku menantimu di bukit ini begitu urusan Kedung Ombo selesai! Kita isi siang malam dengan bersenang-senang!" Habis berteriak, Ratu Pemikat perdengarkan tawa panjang. Lalu teruskan langkah menuruni bukit.

"Siapa sudi terus-terusan bermain dengan perempuan yang telah banyak dijamah tangan laki-laki sepertimu! Kau kelak hanyaku jadikan gundik dan harus melayaniku kapan aku ingin!" desis Iblis Rangkap Jiwa lalu berkelebat ke puncak bukit yang telah tertutup kegelapan malam.

********************

BAB 4

PAGI hari menjelang malam purnama. Matahari muncul tanpa sambutan segumpal awan pun. Langit terhampar biru cerah. Angin bertiup semilir. Sebuah kawasan yang dikenal orang dengan Kedung Ombo pagi ini sangat indah meski kalau diperhatikan dengan seksama, ada sesuatu yang lain yang tidak terlihat pada hari-hari sebelumnya.

Kedung Ombo adalah sebuah telaga air besar. Pada sebelah kanan kedung tampak kawasan berbatu yang pada salah satunya terlihat batu besar membentuk bukit. Disebelah kiri kedung juga membentang kawasan berbatu yang salah satu batunya terlihat menggunung menyerupai bukit. Kawasan berbatu sebelah kanan dan kiri Kedung Ombo dipisah oleh hamparan pasir yang berjarak kurang lebih seratus tombak.

Tepat di depan kedung, di antara celah-celah batu yang bertaburan di dua kawasan berbatu itu tampak jalan-jalan setapak berpasir hitam yang terlihat laksana gerakan merambat tubuh seekor ular. Lurus tepat di depan kedung laksana diapit kawasan berbatu, terlihat pula gugusan batu-batu cadas putih yang salah satunya tampak menjulang sangat tinggi malah melebihi batu yang membentuk bukit di sebelah kanan kiri kedung.

Jarak antara kawasan berbatu sebelah kanan dan kiri kedung dengan gugusan batu cadas putih kira-kira empat puluh tombak. Sesuatu lain yang sebelumnya tidak terlihat di kawasan Kedung Ombo adalah berdirinya sebuah gubuk di sebelah kiri kedung. Gubuk itu didirikan tegak tepat di puncakbatu besar yang membentuk bukit. Empat tiangnya terdiri dari bambu sebesar paha orang. Tapi bukan tiang bambu ini yang terlihat agak aneh. Karena ternyata tiap tiang bambu tegak dengan bagian bawah bambu masuk kedalam batu!

Dan sekitar tiap tiang bambu yang masuk ke dalam batu tidak tampak taburan batu atau rengkahan! Jelas siapa pun yang menancapkan tiang bambu pastilah bukan orang yang berilmu rendah. Ada sedikit keanehan lagi. Gubuk di puncak bukit batu itu terbuka bagian depan dan belakangnya. Sementara yang tertutup adalah bagian samping kiri kanan serta atapnya. Anehnya, dinding penutup samping kiri kanan serta atap gubuk bukan terdiri dari pelepah daun, melainkan dari kain besar berwarna hitam! Hingga tatkala dihembus angin, gubuk hitam itu berkibar-kibar keluarkan suara angker.

Dan yang memperjelas kalau Kedung Ombo akan lain dari hari-hari biasanya adalah membuncahnya suara tawa bersahut-sahutan yang tiba-tiba terdengar jauh dari arah belakang gugusan batu-batu cadas putih yang tepat menghadap kedung. Melihat arahnya suara tawa, jelas kalau orang yang sedang terbahak-bahak itu sedang menuju ke arah kedung. Begitu suara tawa bersahut-sahutan mendekati gugusan batu-batu cadas putih, laksana direnggut setan mendadak suara tawa bersahut-sahutan terputus. Lalu di antara batu-batu cadas putih yang menghadap kedung terlihat melangkah dua sosok tubuh.

Di sebelah kanan adalah seorang laki-laki. Dia melangkah terbungkuk-bungkuk dengan tangan kanan memegang tongkat. Laki-laki ini tidak bisa dikenali wajahnya karena orang ini membedaki seluruh wajah serta rambutnya dengan arang hitam. Karena pakaian yang dikenakan juga berwarna hitam, maka yang terlihat putih hanyalah sedikit di bagian matanya!

Sementara orang di sebelah kiri ternyata juga adalah seorang laki-laki. Dia melangkah tersaruk-saruk mundur dengan kepala sedikit mendongak. Seperti halnya laki-laki sebelah kanan, orang ini juga membedaki sekujur mukanya dengan arang hitam. Rambutnya yang awut-awutan juga diberi arang hitam.

Orang yang melangkah mundur tiba-tiba hentikan langkah. Lalu sambil tetap dongakkan kepala, orang ini lorotkan tubuh dan letakkan pantatnya di salah satu batu cadas putih yang banyak bertebaran di situ. Kepalanya bergerak ke kiri kanan memandang langit. Mulutnya bergerak membuka.

"Hai! Apa kau tidak salah menghitung hari?Apa kau juga tidak keliru alamat datang kemari? Jangan sampai kita terjebak dan mendapat celaka sendiri!Apalagi aku telah mati-matian mempercantik diri! Kita akan kecewa besar melakukan perjalanan jauh mencari-cari. Kalau akhirnya yang kita temui lain dengan yang kita telusuri!"

Orang yang melangkah terbungkuk-bungkuk hentikan langkah. Sesaat sepasang matanya memandang lurus ke arah kedung. Namun karena sebagian pandangannya tertutup gugusan batu cadas putih yang menjulang tinggi, dia hanya dapat melihat sebelah kiri kanan kedung jauh di depan sana. Saat dia palingkan kepala ke kiri, sepasang matanya mendelik membelalak. Karena saat itu dia berada menghadap matahari, mungkin karena pandangannya silau, orang ini tadangkan tangan kiri ke depan keningnya lalu kembali memandang berlama-lama ke sebelah kiri kedung dimana tampak gubuk hitam dipuncak batu membukit. Tanpa berpaling pada orang yang kini duduk dia buka mulut.

"Kau jangan berkeluh kesah. Kurasa perhitunganku tepat. Alamat betul. Dan kita pasti tidak sia-sia sampai di tempat ini! Pemandangan indah dan telah disediakan tempat bagus untuk berteduh! Lihat di sana itu!"

Orang yang tadi melangkah terbungkuk-bungkuk angkat tongkat ditangan kanannya lalu ditunjukkan kearah gubuk hitam di sebelah kiri kedung. Orang yang tadi melangkah mundur dan kini duduk di atas batu cadas putih segera luruskan kepala danarahkan pandangan ke arah mana tongkat menunjuk.

"Gubuk hebat! Mungkin sengaja didirikan karena tahu kita akan datang! Jadi tidak ada salahnya kita cepat bertandang. Sesaat lagi terik sinar matahari akan meradang. Daripada kepala panas laksana dipanggang, lebih baik kita kesana bisa rebahan sambil melepas pandang..."

"Ah... Betul juga ucapanmu! Aku sudah capek dan ingin sekali picingkan mata! Tentu di sana enak. Apalagi seandainya tiba-tiba muncul seorang gadis cantik..."

"Otakmu selalu berpikir yang busuk-busuk! Tidak sadar kalau jalan saja sudah terbungkuk-bungkuk! Kau lupa apa akibat yang kini harus kau tangguk. Sebab tindakanmu dahulu yang tidak pandang tengkuk!"

Orang yang pegang tongkat sentakkan kepala berpaling. Tongkatnya diputar dan kini ditujukan pada orang yang duduk di atas batu cadas putih.

"Jangan seenakmu bicara! Aku tadi bilang seandainya, mengapa bicaramu ngelantur tidak karuan!" Meski nada bicara orang ini ketus, namun saat mengucapkan orang ini tampak tersenyum-senyum! Malah begitu habis berkata, orang ini tertawa.

"Kau bicara seandainya, tapi bukankah perjalanan ini masih ada kaitan ceritanya? Seandainya kau dahulu tidak berlaku seenaknya, mana mungkin di hari tua begini kau terbirit-birit karenanya?!"

"Ah... Kau selalu saja usil urusanku dahulu!" kata orang pemegang tongkat lalu tanpa mengajak, dia melangkah terbungkuk-bungkuk.

"Semuanya sudah terjadi! Tak mungkin dapat kutarik lagi..."

"Uhh... Itu lagi, itu lagi ucapan yang selalu kau katakan! Ungkapan umumnya laki-laki setelah mendapat yang diinginkan!" gumam orang yang duduk. Dan begitu melihat si pemegang tongkat sudah berada jauh di depan sana, orang ini dongakkan kepala. Pantatnya berputar melingkar. Lalu dia turun dari batu cadas. Saat lain ia mulai tersaruk- saruk melangkah mundur menyusul si pemegang tongkat.

Begitu kedua laki-laki bertampang arang ini sampai di bawah batu yang membentuk bukit di sebelah kiri kedung, keduanya hentikan langkah masing-masing. Si orang yang tadi melangkah mundur balikkan tubuh, lalu melihat kearah gubuk hitam. Di sebelahnya si pemegang tongkat tadangkan tangan kiri di depan kening dan putar kepala dengan mata melirik ke kanan kiri kedung. Lalu tengadah melihat langit.

"Hem... Waktunya masih panjang. Kita masih leluasa tidur-tiduran melepas lelah..." kata si pemegang tongkat. Dia melangkah satu tindak ke belakang orang yang tadi melangkah mundur. Tongkat di tangan kanannya serta-merta ditusukkan pada pantat orang di depannya.

"Hai! Apa yang kau lakukan?!" bentak orang yang tadi melangkah mundur.

Yang ditanya tidak buka mulut menjawab, sebaliknya sentakkan tongkat di tangannya perlahan saja. Bersamaan dengan itu kaki kirinya menjejak tanah berpasir yang menghampar didepan kedung.

Wuutt! Wuuutt!

Laksana didorong gelombang angin luar biasa dahsyat, saat itu juga sosok kedua orang berwajah hitam itu melesat ke udara lalu mendarat tepat di samping kanan gubuk hitam di puncak batu. Kedua orang itu sesaat memperhatikan kain hitam yang dibuat dinding dan atap gubuk. Lalu perlahan-lahan keduanya masuk ke dalam gubuk. Si pemegang tongkat menghadap kedung, sementara si orang yang melangkah mundur memunggungi kedung.

"Ah... Ternyata enak juga... Aku jadi cepat ingin tidur!" ujar si pemegang tongkat. Lalu orang ini tekuk kedua kakinya bergerak duduk.

Si orang yang tadi melangkah mundur melirik ke kanan kiri. Lalu tanpa buka mulut dia melangkah satu tindak ke samping kiri dan ikut-ikutan duduk. Si pemegang tongkat tarik tangan kanannya yang memegang tongkat ke belakang. Tongkat kayu di tangan kanannya lalu dilintangkan di punggungnya. Karena tongkat itu agak panjang, ujung tongkat terlihat menjulur di samping kiri tubuhnya tepat berada dibelakang orang yang tadi melangkah mundur.

Si pemegang tongkat lalu enak saja sandarkan punggungnya pada tongkat yang melintang di punggungnya. Sementara tangan kanannya yang memegang tongkat ditarik pulang lalu kedua tangannya dirangkapkan di depan dada. Bersamaan dengan itu sepasang matanya bergerak mengatup. Anehnya tongkat yang melintang di punggungnya tidak jatuh! Malah orang itu laksana bersandar pada dinding tembok!

Orang yang tadi melangkah mundur sesaat melirik. Lalu mendongak melihat atap gubuk. Saat lain punggungnya bergerak bersandar pada ujung tongkat yang melintang tepat dibelakangnya. Kejap lain orang ini telah pula pejamkan sepasang matanya! Tak lama kemudian tempat itu dibuncah dengan suara dengkuran keras yang saling bersahut-sahutan!

********************

Ketika matahari hampir sampai titik tengahnya, satu bayangan hitam tampak berkelebat cepat dari sebelah kanan kedung. Setelah melewati kawasan berbatu di sebelah kanan kedung dan memasuki hamparan pasir tepat di depan kedung sosok ini mendadak hentikan larinya. Kepalanya cepat berputar dengan mata membeliak. Telinganya ditajamkan. Dahi orang ini yang ternyata hanya merupakan tulang hampir tidak tertutup daging sama sekali ini bergerak mengernyit. Lalu dari mulutnya terdengar makian.

"Jahanam! Siapa orang siang-siang begini tidur mendengkur!"

Orang yang tegak di hamparan pasir di depan kedung yang ternyata adalah seorang laki-laki berkepala gundul dan raut wajahnya hampir tidak tertutup daging sama sekali dan bukan lain adalah Iblis Rangkap Jiwa, menyeringai. Namun dia sedikit heran. Dikawasan Kedung Ombo memang terdengar dengkuran bersahut-sahutan. Meski suara dengkuran itu tidak begitu keras, tapi bagaimanapun dia coba menutup jalan pendengarannya, dengkuran itu laksana tidak bisa dibendung! Malah semakin dia kerahkan tenaga untuk tutup jalan pendengarannya, gendang telinganya makin terasa disentak-sentak!

"Keparat! Siapa manusia usil yang punya pekerjaan ini?!" bentak Iblis Rangkap Jiwa. Sekali lagi laki-laki berkepala gundul ini putar kepalanya. Tiba-tiba putaran kepala Iblis Rangkap Jiwa terhenti tepat menghadap di mana gubuk hitam berada. Bola mata Iblis Rangkap Jiwa kontan membelalak besar-besar. Dadanya bergetar keras. Rahangnya terangkat. Pertanda luapan amarahnya tidak bisa dikuasai lagi.

"Rupanya air bening Kedung Ombo sudah harus berubah warna sebelum waktunya!" desis Iblis Rangkap Jiwa.

Sekali gerakkan tubuh, sosoknya melesat ke sebelah kiri kedung di mana gubuk hitam berada. Beberapa kejapan mata tubuhnya sudah sampai di seberang. Maklum kalau orang yang mendengkur bukan orang yang bisa dilihat sebelah mata, Iblis Rangkap Jiwa sengaja memutar jalan lalu perlahan-lahan menaiki batu yang membukit dari sebelah belakang. Sejarak enam langkah dari gubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa hentikan langkahnya. Sepasang matanya menatap tak berkesip pada gubuk hitam. Karena bagian belakang gubuk dibuat terbuka, maka dengan mudah Iblis Rangkap Jiwa dapat melihat apa yang ada didalam gubuk.

"Jahanam keparat! Siapa mereka ini?! Wajahnya disembunyikan di balik arang hitam!"

Untuk beberapa lama Iblis Rangkap Jiwa pandangi orang yang tidur mendengkur bersandar pada tongkat kayu. Yakin tidak mengenali adanya orang, Iblis Rangkap Jiwa cepat melesat ke atas lalu tegak dua langkah di sebelah dua orang yang masih tidur mendengkur. Bersamaan dengan menjejaknya kaki, Iblis Rangkap Jiwa keluarkan bentakan.

"Manusia-manusia tak dikenal! Siapa kalian?!"

Suara dengkuran melengking tinggi bersahutan, membuat Iblis Rangkap Jiwa tersentak kaget. Tapi bersamaan itu suara dengkuran terputus seketika. Orang yang tadi melangkah mundur gerakkan sikunya kesamping.

"Jangan berbisik-bisik! Aku masih ngantuk!"

Orang yang tadi memegang tongkat dan baru saja terkena sodokan siku orang dibelakangnya balik gerakkan sikunya menyodok. "Kau masih juga suka bercanda! Mengapa kau berbisik-bisik tanya dirimu siapa?! Kau hari ini memang tampil beda!Tapi itu tak perlu kau tanyakan!"

Hening sesaat, tak lama kemudian kedua orang ini kembali perdengarkan dengkuran, membuat Iblis Rangkap Jiwa kalap. Kaki kanannya disentakkan kebatu pijakannya seraya membentak garang.

"Kalian berani main-main dengan Iblis Rangkap Jiwa! Kalian akan tahu rasa!"

Kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa terangkat ke atas. Namun laki-laki ini tidak segera lepaskan pukulan. Dia sengaja menunggu sampai orang tahu siapa yang dihadapinya. Batu besar yang membentuk bukit itu laksana dilanda gempa dahsyat hingga bergerak-gerak akibat sentakan kaki Iblis Rangkap Jiwa. Saat yang sama suara dengkuran lenyap. Orang yang tadi memegang tongkat selinapkan tangan kanannya lalu bergerak-gerak di lambung orang disebelahnya seraya berucap. Sepasang matanya tetap terpejam.

"Aku tahu kau Iblis. Tapi jangan main-main dan terus-terusan guncang-guncang tubuhku! Kalau kau masih ngantuk, apa kau kira aku tidak, he?!"

Orang yang tadi melangkah mundur dan bersandar pada tongkat dengan sedikit dongakkan kepala dan mata memejam balik selinapkan tangan kirinya. Lalu meraba- raba lambung orang sambil berkata.

"Sialan kau! Siapa yang guncang-guncang tubuhmu dan main-main?!"

Iblis Rangkap Jiwa sudah tidak dapat kuasai diri lagi. Kedua tangannya yang terangkat serta-merta disentakkan ke arah dua orang yang saling berbisik.

Wuutt! Wuuuutt!

Belum sampai gelombang dahsyat sempat mencuat dari sentakan kedua tangan Iblis Rangkap Jiwa, mendadak dua orang berwajah hitam menguap lebar-lebar. Tangankanan kiri orang terangkat merentang dengan tubuh masing- masing menggeliat.

Iblis Rangkap Jiwa tersedak. Tubuhnya laksana didorong gelombang luar biasa keras, hingga bukan saja kedua tangannya terpental balik ke belakang, namun jika dia tidak cepat kerahkan tenaga dalam, niscaya sosoknya akan terdorong!

"Jahanam! Bangsat!" maki Iblis Rangkap Jiwa dengan suara keras membahana.

Dua orang berwajah hitam serentak saling putar kepala. Bukan ke arah Iblis Rangkap Jiwa, melainkan saling berhadapan!Dan dengan sama buka mata masing-masing, kedua orang ini sama buka mulut berbarengan.

"Mengapa kau memakiku?!"

Mata masing-masing orang sama melotot besar saling berpandangan. Orang yang tadi melangkah mundur buka mulut mengulangi pertanyaannya.

"Mengapa kau memakiku, he?!"

"Sialan! Kau yang memakiku! Mengapa balik menuduh?!" kata orang yang tadi memegang tongkat. Lalu orang ini palingkan kembali kepalanya ke arah semula.

Saat itulah saking geramnya, Iblis Rangkap Jiwa menghardik dengan kerahkan tenaga dalam. "Manusia-manusia gila!"

Laksana disentak tangan setan, orang yang tadi pegang tongkat palingkan kepalanya kembali menghadap orang yang tadi melangkah mundur dan saat itu belum palingkan kepala.

"Sialan! Kau memakiku manusia gila! Aku memang manusia gila, edan, sinting! Tapi..."

"Siapa yang memakimu?!" tukas orang yang tadi melangkah mundur.

Orang yang tadi memegang tongkat arahkan telunjuk tangannya tepat ke muka orang di sampingnya. Lalu tiba- tiba terdengar ledakan tawanya. "Betul... Suara tadi memang bukan suaramu... Jadi suara siapa? Jangan-jangan suara hantu..."

"Bukan hantu!Tapi suara orang yang hendak tanggalkan kepala kalian masing-masing!" suara keras menyambuti ucapan orang yang tadi memegang tongkat.

"Ah... Ternyata ada tamu..." ujar orang yang tadi melangkah mundur lalu perlahan-lahan orang ini agerakkan kepala menghadap ke arah mana tadi suara sambutan terdengar. Saat yang sama, orang yang tadi pegang tongkat juga gerakkan kepala.

Melihat kedua orang di hadapannya putar kepala hendak menghadap kearahnya, Iblis Rangkap Jiwa pasang tampang angker. Kedua tangannya diletakkan di pinggang kanan kiri, kepalanya sedikit ditengadahkan. Dan bibirnya disunggingkan menyeringai!

Begitu melihat tampang orang, dua orang berwajah hitam sama-sama mengkerut. Orang yang tadi pegang tongkat buru-buru angkat tangan kanannya lalu menarik tongkat kayu yang tadi dibuat sandaran. Saat itu juga dia bergerak bangkit lalu mundur tiga tindak hingga hampir saja tubuhnya menghantam tiang gubuk!

Orang yang tadi melangkah mundur tak kalah kagetnya. Malah orang ini sempat keluarkan seruan. Lalu bergerak bangkit dan surutkan langkah lalu tegak menjajari orang yang memegang tongkat.

"Melihat gelagat, aku jadi bertanya-tanya sendiri..." kata orang yang tadi melangkah mundur. "Kau yang salah menghitung hari dan keliru datang kemari, atau hantu gundul itu yang salah berdiri!"

Orang yang memegang tongkat angkat tongkat kayunya. Lalu ujung tongkat diketuk-ketukkan pulang balik pada ujung kelima jari tangannya dengan kepala mengangguk- angguk dan mulut menggumam. Kejap lain dia memandang berkeliling. Lalu terakhir kali menatap pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Hitungan hariku benar. Tempat tujuan tidak salah! Berarti dia yang salah kaprah!"

"Padahal orang salah kaprah biasanya akan mengalami hal yang tak lumrah sebelum akhirnya menyerah"

Kedua orang berwajah hitam lalu sama-sama perdengarkan ledakan tawa melengking bersahut-sahutan!

BAB 5

IBLIS Rangkap Jiwa tegak dengan sekujur tubuh laksana dipanggang saking jengkelnya. Sepasang matanya membelalak seperti hendak meloncat keluar dari rongganya. Ubun-ubunnya yang berkilat tampak berdenyut-denyut keras. Sementara di hadapannya, kedua orang ber-wajah hitam saling pandang lalu tanpa pedulikan kemarahan orang, kedua orang itu tertawa bersahut-sahutan.

Iblis Rangkap Jiwa maju dua tindak. "Diam!" bentaknya. Kedua tangannya sudah terkembang di atas kepala.

Seketika kedua orang berwajah hitam sama putuskan tawa masing-masing. Saling pandang sejurus lalu arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Harap sudi sebutkan diri siapa kau adanya!" ucap orang yang tadi melangkah mundur. Kalau orang ini sejenak tadi tertawa bergelak, kini terlihat bersungut-sungut dengan raut tunjukkan tampang ketakutan. Malah kedua tangannya tampak meremas-remas ujung pakaiannya.

Sedang di sebelahnya orang yang tadi memegang tongkat tampak sodok-sodokkan ujung tongkatnya pada orang yang tadi melangkah mundur. Hingga mau tak mau membuat yang disodok menoleh dengan gelengkan kepala.

"Jahanam!Aku yang berhak tanya siapa kalian adanya!" hardik Iblis Rangkap Jiwa. "Cepat katakan siapa masing-masing kalian adanya!"

Orang yang tadi melangkah mundur berpaling pada temannya. "Kau saja yang menjawab. Karena semua perjalanan ini kau yang bertanggung jawab!"

Si pemegang tongkat menoleh. "Bagaimana bisa begitu? Kau saja yang mengatakan. Aku sudah pingin kencing..."

"Bagus! Kalian belum tahu dengan siapa kalian saat ini sedang berhadapan! Dan itu satu tanda kematian bagi kalian berdua!" Iblis Rangkap Jiwa sentakkan kedua tangannya. Tapi baru setengah jalan, orang yang tadi melangkah mundur sudah berseru.

"Tahan! Tahan!" Orang ini menjura dalam-dalam dengan kedua tangan disatukan dan diletakkan di atas kepalanya. Namun orang ini tidak segera melanjutkan ucapannya. Sebaliknya melirik pada orang disampingnya. Kakinya bergerak menendang. Si pemegang tongkat berseru kaget. Mungkin karena saking terkejutnya, kedua tangannya sampai berkelebat ke atas.

Di hadapannya, Iblis Rangkap Jiwa terkesiap. Gerakan kedua tangan orang yang memegang tongkat membuat dirinya laksana dilanggar sapuan gelombang luar biasa dahsyat. Ini makin meyakinkan laki-laki berkepala gundul itu bahwa siapa pun adanya kedua orang di hadapannya, dia tidak boleh bertindak ayal. Tapi hal itu juga makin membuat dadanya laksana dipanggang bara.

"Mengapa kau menendangku?!" tanya si pemegang tongkat.

"Ikuti gerakanku!" bisik temannya yang menjura dengan kedua tangan di atas kepala. "Kau harus tahu siapa orang yang kita hadapi!"

Si pemegang tongkat buru-buru membuat gerakan seperti temannya. Malah orang ini tarik pulang tubuhnya ke atas kebawah! "Harap maafkan kami... Kami memang belum tahu. siapa gerangan yang ada di hadapan kami... Dan kami mohon, tanda kematian yang baru kau katakan tadi dicabut saja! Kami masih ingin hidup... Malah kalau bisa seribu tahun lagi!" ucap orang yang tadi melangkah mundur. Lalu gerakkan tubuhnya doyong ke kanan ke kiri.

"Betul... Betul... Kami ingin hidup seribu tahun lagi!" timpal si pemegang tongkat masih dengan tarik tubuhnya ke atas ke bawah.

Melihat gerakan-gerakan dua orang dihadapannya, meski dadanya panas namun mau tak mau membuat Iblis Rangkap Jiwa sunggingkan senyum. Tapi karena raut wajah laki-laki ini mengerikan, senyumnya makin membuat wajahnya menakutkan!

"Tanda kematian untuk kalian kucabut! Tapi katakan siapa kalian adanya! Mengapa ada di sini, dan kalian berada di pihak mana!" kata Iblis Rangkap Jiwa dengan kepala sedikit didongakkan.

Masih dengan doyongkan tubuh ke samping kanan kiri, si orang yang tadi melangkah mundur buka mulut lagi menjawab. "Aku Raden Mas Antar Langit. Temanku ini Raden Mas Antar Bumi..."

"Kami datang kesini semata-mata karena ingin mandi di kedung!" Yang bicara kali ini adalah si pemegang tongkat. "Kau lihat, wajah kami berwarna hitam. Ini adalah kutuk yang harus kami terima! Menurut seorang tabib masyhur, kutuk yang menimpa kami berdua bisa hilang kalau kami mandi di Kedung Ombo pada malam purnama..."

"Untuk pertanyaanmu yang terakhir aku tidak mengerti sama sekali. Yang kau maksud pihak itu apa?!" Sekarang yang angkat bicara adalah orang yang tadi melangkah mundur.

"Kalau mau, tolong jelaskan pada kami berdua..."timpal si pemegang tongkat lalu arahkan pandangan pada temannya. Kedua orang berwajah hitam ini saling anggukkan kepala.

"Apa ucapan-ucapannya bisa dipercaya? Tapi... Gerakan-gerakannya tadi, meski tidak disengaja tapi mampu mengeluarkan tenaga dorong luar biasa..."

Diam- diam Iblis Rangkap Jiwa masih merenung seraya luruskan kepala memperhatikan kedua orang di hadapannya. Entah karena tidak mau membuat urusan baru sebelum urusannya sendiri selesai, Iblis Rangkap Jiwa segera saja buka mulut setelah agak lama berpikir.

"Dengar! Kalau kalian ingin mandi di kedung, datanglah pada purnama bulan depan! Sekarang kalian enyah dari sini!"

"Kenapa harus purnama bulan depan?!" tanya orang yang tadi melangkah mundur. "Kami sudah tak kuat harus menunggu lagi! Kalau kau jadi kami, tentu kau dapat merasakan bagaimana tidak enaknya mengemban kutuk..."

"Itu urusan kalian!" bentak Iblis Rangkap Jiwa.

Kedua orang berwajah hitam saling pandang. Berbarengan mereka sama gerakkan kepala menggeleng. Lalu hampir bersamaan pula sama arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa.

"Kami telah bertahun-tahun menanggung kutuk memalukan sampai tidak ada seorang gadis pun yang mau kami dekati. Sekarang kami telah mendapatkan apa yang kami cari-cari. Kurasa kami tidak bisa menunggu sampai purnama bulan depan..." kata orang yang tadi melangkah mundur dan mengaku bernama Raden Mas Antar Langit.

"Benar!Kalaupun kami terpaksa menunggu, kami harus tahu dahulu kenapa dan ada apa di sini..." sahut si pemegang tongkat yang disebut Raden Mas Antar Bumi.

"Malam nanti, air kedung akan berwarna merah! Karena bercampur darah tokoh-tokoh golongan putih!" kata Iblis Rangkap Jiwa.

Untuk kesekian kalinya kedua orang berwajah hitam saling pandang. Namun kejap lain kedua orang ini sama gelengkan kepala masing-masing. Lalu masih dengan kedua tangan di atas kepala yang satu doyong kesamping kanan kiri dan satunya lagi pulang balik ke atas ke bawah, si Raden Mas Antar Langit angkat bicara.

"Untuk apa mereka alirkan darah...? Upacara?! Atau mereka juga mengemban kutuk seperti kami...?"

"Betul... Lalu apa ada di antara mereka yang masih gadis? Kalau mereka mengemban kutuk seperti kami, bukan tidak mungkin salah satu di antara mereka mau dengan kami..." menimpali si Raden Mas Antar Bumi.

"Aku tak akan jawab pertanyaan manusia-manusia gila macam kalian!Kuperintahkan kalian enyah dari sini! Kalau tidak, kalian berdua adalah manusia-manusia yang pertama kali merubah warna air kedung!" kata Iblis Rangkap Jiwa.

Sebenarnya Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi hendak berpaling satu sama lain, namun gerakan kepala masing-masing orang ini tertahan karena Iblis Rangkap Jiwa sudah menghardik.

"Sekali lagi kalian buka mulut bertanya, kematian adalah jawabannya!"

"Ah... Kalau begitu kita harus pergi..." kata Raden Mas Antar Langit. Lantas tertatih-tatih dia melangkah turun dari batu membukit itu.

Sementara Raden Mas Antar Bumi sejenak masih belum beranjak. Namun begitu terlihat Iblis Rangkap Jiwa akan melangkah maju, orang yang pegang tongkat ini buru-buru melangkah turun.

Begitu kedua orang berwajah hitam berada di bawah batu besar yang membentuk bukit, keduanya sama tengadahkan kepala. Iblis Rangkap Jiwa tampak tegak mengawasi mereka dengan kacak pinggang.

"Hai...!" teriak Raden Mas Antar Langit. "Kami belum percaya ucapanmu! Jadi kami akan menunggu sampai malam nanti!"

"Betul! Lagi pula kami malu bertemu orang-orang di jalanan! Kau tahu, selama ini kami menempuh perjalanan setelah hari gelap!" sahut Raden Mas Antar Bumi.

Tanpa menunggu sahutan dari Iblis Rangkap Jiwa, kedua orang berwajah hitam ini melangkah lalu berbelok di antara batu-batu cadas putih yang ada tepat di depan kedung.

Iblis Rangkap Jiwa terus memperhatikan dua sosok orang berwajah hitam dengan hati bertanya-tanya. Namun karena urusan yang kini tengah dihadapi membutuhkan banyak pemikiran, begitu dua sosok berwajah hitam lenyap di balik batu cadas tinggi di depan kedung dan tidak kelihatan lagi meski ditunggu agak lama, Iblis Rangkap Jiwa sudah melupakan keduanya.

"Lebih baik aku siapkan tenaga dahulu..." gumam Iblis Rangkap Jiwa, lalu pelan-pelan laki-laki berkepala gundul ini duduk di tengah gubuk. Kedua tangannya diletakkan di atas paha kiri kanannya. Saat lain sepasang matanya bergerak mengatup. Hanya beberapa saat berlalu, sekujur tubuh orang ini sudah terlihat basah kuyup, tanda dia pusatkan segenap pikiran dan tenaga yang dimilikinya.

Namun Iblis Rangkap Jiwa agaknya tidak akan bisa teruskan tindakannya. Karena telinganya samar-samar mendengar suara dengkuran yang bersahut-sahutan. Walau, suara dengkuran laksana datang dari tempat jauh, tapi anehnya seperti disuarakan orang didepan telinganya! Hanya saja kali ini suara dengkuran ini tidak sampai menyentak-nyentak gendang telinga. Yang mengherankan dan membuat Iblis Rangkap Jiwa memaki dalam hati, dia gagal membendung suara dengkuran!

"Keparat! Ini pasti perbuatan manusia-manusia gila jahanam tadi!" Iblis Rangkap Jiwa kontan buka sepasang matanya lalu liar mencari sumber suara dengkuran.

Tidak sulit bagi Iblis Rangkap Jiwa tentukan di mana beradanya orang yang keluarkan dengkuran bersahut-sahutan. Tapi saat itu juga laksana hendak terbang, Iblis Rangkap Jiwa melonjak tegak. Sepasang matanya melotot besar kepuncak batu cadas putih yang menjulang tinggi di depan kedung.

Pada puncak batu cadas putih tinggi di depan kedung, terlihat sebuah tongkat tegak menancap. Pada bagian atas tongkat terlihat celana hitam melambai-lambai ditiup angin! Pada sisi tongkat melingkar dua sosok tubuh dengan masing-masing mulut perdengarkan dengkuran!

Iblis Rangkap Jiwa kembali memaki tidak karuan. Namun dia juga dilanda kebimbangan. Di satu sisi dia merasa terganggu dengan dengkur orang, namun di sisi lain sebenarnya dia tidak mau membuat urusan lebih dahulu apalagi alasan orang berwajah hitam sepertinya masuk akal meski dia masih meragukannya. Namun setelah dipikir-pikir akhirnya Iblis Rangkap Jiwa memutuskan hendak mengusir dua orang berwajah hitam. Dan kalau mereka keras kepala, dia telah memutuskan untuk bertindak kasar.

Tapi belum sampai Iblis Rangkap Jiwa bergerak, matanya menatap satu sosok tubuh berkelebat cepat dari arah kanan kedung, meloncat-loncat di antara batu-batu lalu tegak di salah satu batu tepat di bawah batu besar yang membukit di sebelah kanan kedung.

Orang yang baru muncul arahkan kepalanya menghadap batu membukit di mana gubuk hitam dan Iblis Rangkap Jiwa berada. Namun kejap lain telah berpaling ke puncak batu cadas putih tinggi di mana tampak celana hitam melambai-lambai di atas tongkat dengan dua orang yang tidak lain adalah Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi melingkar mendengkur.

"Ternyata kedatanganku telah didahului orang...! Melihat gelagat, pertemuan ini bukan main-main! Siapa pun adanya orang mendengkur, pasti mereka bukan orang berilmu rendah! Hem... Aku harus berada di mana?! Masing-masing orang di atas itu sama membuat tanda sendiri! Pasti mereka bukan satu aliran...." Orang ini putar kepala dengan mata menyelidik. Yakin tidak ada orang lagi, kembali dia arahkan pandangan pada puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada.

"Kurasa aku harus bertanya padanya! Dia orang yang tidak tidur!" gumam orang yang baru datang. Lalu setelah meyakinkan sekali lagi, orang ini berkelebat ke arah kawasan batu di sebelah kiri kedung.

Diatas puncak batu bergubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa terus perhatikan gerak-gerik orang. Dan begitu orang di bawah sana sudah berkelebat menyeberang hamparan pasir di depan kedung dan hampir mencapai kawasan berbatu dimana dia berada, dia segera berteriak lantang.

"Kawasan ini terlarang bagi orang yang tidak sebutkan diri!"

Orang yang berkelebat hentikan larinya di atas batu di bawah batu membukit. Kepalanya mendongak. Karena puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada agak tinggi, orang ini tidak mampu menangkap jelas paras wajah Iblis Rangkap Jiwa. Hingga orang ini balik berteriak.

"Kau membolehkan aku naik kesitu?!"

"Jahanam! Kau telah dengar ucapanku! Kawasan ini terlarang bagi orang yang tidak sebutkan diri!"

Orang di bawah perdengarkan dengusan keras. Lalu berseru. "Aku Dewi Siluman!"

"Nama yang pernah kudengar!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa berkata-kata lagi Iblis Rangkap Jiwa berkelebat melayang turun dari puncak batu dan tegak hanya sejarak enam langkah dari orang yang baru muncul yang ternyata adalah seorang perempuan yang wajahnya ditutup dengan cadar berwarna hitam dan hanya menampakkan sepasang matanya yang tajam. Perempuan ini mengenakan jubah panjang sampai lutut juga berwarna hitam. Rambutnya pirang berkilat-kilat ditimpa sinar matahari.

Sepasang mata perempuan bercadar hitam dan memang Dewi Siluman adanya sejenak tampak membesar lalu mengerjap pertanda dia sempat terkejut melihat tampang orang yang tegak dihadapannya.

"Katakan apa maksud kedatanganmu kesini!" kata Iblis Rangkap Jiwa dengan suara sedikit dikeraskan.

"Aku inginkan darah pemuda jahanam bergelar Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng!"

Tampang angker Iblis Rangkap Jiwa berubah. Bibirnya tersenyum. Lalu seraya rentangkan kedua tangan dia berucap. "Ah... Kau datang ke tempat yang tepat jika itu maksudmu! Dan asal kau tahu saja, bukan hanya darah pemuda itu yang akan mengaiir di sini! Tapi mungkin beberapa orang lagi!" Iblis Rangkap Jiwa pandangi lekat-lekat perempuan dihadapannya, lalu meneruskan ucapannya dalam hati. "Termasuk darahmu!"

Dewi Siluman anggukkan kepala. "Boleh aku tahu siapa kau adanya?!"

Iblis Rangkap Jiwa busungkan dada. Kepala ditengadahkan. "Aku Iblis Rangkap Jiwa!"

Sepasang mata di cadar hitam menyipit. "Aku rasanya pernah dengar gelar itu dari cerita orang. Tapi menurut cerita, bukankah orang itu hidup pada beberapa ratus tahun silam? Atau dia hanya sama gelarnya saja?!" Diam- diam Dewi Siluman membatin. Namun dia sengaja tidak menanyakan hal itu pada Iblis Rangkap Jiwa. Yang kemudian muncul dalam ingatannya adalah cerita Ratu Pemikat tentang Kitab Hitam.

"Apakah orang ini yang berhasil mendapatkan kitab itu?! Kalau Ratu Pemikat kini lebih tertarik pada Kitab Hitam daripada kedua kitab dan Pedang Tumpul 131, pasti kitab itu luar biasa dahsyat. Hem... Tak ada salahnya aku bertanya!"

Berpikir begitu, akhirnya Dewi Siluman ajukan tanya. "Menurut kabar yang terdengar, saat ini ada sebuah kitab sakti. Apakah dirimu orangnya yang beruntung mendapatkan kitab itu...?!"

"Pertanyaannya memberi isyarat kalau kedatangannya juga ada hubungannya dengan kitab itu! Hem... Kau bernasib buruk! Dan datang ke tempat yang salah!" ujar Iblis Rangkap Jiwa dalam hati. Lalu buka mulut menjawab.

"Aku adalah calon manusia yang akan memiliki kitab itu." jawaban Iblis Rangkap Jiwa telah membuat Dewi siluman maklum bahwa kitab itu ada di tangan orang lain.

Tapi lagi-lagi Dewi Siluman tidak ajukan tanya siapa adanya orang yang kini memegang Kitab Hitam. "Aku yakin, orang ini begitu menginginkan kitab itu! Karena belum apa-apa dia sudah memastikan dirinya sebagai calon pemilik! Hem... Kalau dia berada di pihak orang hitam, sementara pemegang Kitab Hitam juga berada di pihak ini, berarti sudah ada perang dalam selimut! Aku harus hati-hati..." kembali Dewi Siluman membatin.

Saat itu dia baru teringat pada suara yang sejak tadi mengganggu telinganya meski tidak sampai membuatnya kerahkan tenaga untuk membendung suara yang terdengar. Dewi Siluman arahkan pandangannya pada puncak batu cadas putih dimana terlihat celana hitam melambai-lambai di atas tongkat.

"Apa mereka juga berada di pihak kita?! Maksudku... Orang-orang yang inginkan darah manusia-manusia golongan putih?!"

Iblis Rangkap Jiwa ikut arahkan pandangannya ke puncak batu bercadas putih. "Aku tak tahu siapa mereka adanya dan apa tujuan pastinya! Tapi yang jelas, kedatangan mereka tidak ada hubungannya dengan pertemuan ini!"

"Lalu mengapa dia muncul bertepatan dengan pertemuan ini?!"

"Mereka adalah manusia-manusia tertimpa kutuk dan percaya kalau kutukan pada dirinya akan sirna jika mandi di kedung itu pada malam purnama! Kepercayaan gila!"

"Kau percaya dengan maksud kedatangannya?!"

"Aku tak peduli dengan maksud kedatangan orang! Bukankah kalau dia berani macam-macam tak sulit mengalirkan darahnya?!"

Dewi Siluman tengadahkan kepala. "Udara disini sangat panas. Bagaimana kalau kita ke tempat kau tegak di sana tadi?!" Jari tangannya menunjuk pada gubuk hitam di puncak batu.

"Aku tanya dahulu! Kau berada di pihak mana?!"

Dewi Siluman sempat perdengarkan tawa perlahan mendengar pertanyaan Iblis Rangkap Jiwa. "Kalau kau orang golongan putih, sudah sejak tadi-tadi kutanggalkan kepalamu!"

"Hem... Kalau begitu, kau harus ikut aturan kami!"

"Aturan apa?!"

"Gubuk itu disediakan untuk seseorang!"

Dewi Siluman pandangi gubuk beberapa saat. Lalu tanpa berpaling lagi pada Iblis Rangkap Jiwa dia melangkah.

"Hai...! Kau hendak..."

Belum sampai ucapan Iblis Rangkap Jiwa selesai, Dewi Siluman telah menukas tanpa berpaling. "Aku baru saja menempuh perjalanan jauh! Sementara nanti malam aku harus mengadu jiwa! Aku butuh tempat untuk istirahat dan berpikir! Harap jangan ganggu!"

Dewi Siluman meloncat-loncat dari batu ke batu yang banyak bertebaran. Lalu hentikan loncatannya pada sebuah batu agak besar yang diperkirakan dapat lindungi dirinya dari sengatan terik matahari yang mulai panas. Dan tanpa pedulikan pandangan Iblis Rangkap Jiwa, Dewi Siluman duduk bersila bersandar pada lamping batu. Sesaat kemudian perempuan ini telah katupkan sepasang matanya!

Iblis Rangkap Jiwa menggumam tidak jelas. Lalu hendak berkelebat kembali ke puncak batu. Namun tiba-tiba laki-laki berkepala gundul ini urungkan niat.

"Apa manusia-manusia gila itu telah minggat?!" gumamnya seraya tajamkan pendengaran. Karena entah kapan mulainya, ternyata suara dengkuran orang yang tadi lamat-lamat menggema di seantero tempat itu tidak terdengar lagi.

Untuk meyakinkan dugaannya, Iblis Rangkap Jiwa berpaling tengadah. Namun apa yang dilihatnya, membuat laki-laki ini melotot angker. Celana hitam tetap melambai-lambai di atas tongkat di puncak batu cadas putih. Lalu tampaklah dua kepala berambut awut-awutan itu nongol di bibir batu menghadap ke arah Iblis Rangkap Jiwa. Malah begitu Iblis Rangkap Jiwa tengadah memandang, salah seorang dari kedua orang berwajah hitam lambai-lambaikan tangan dan berseru.

"Hai, Teman! Apakah gadis hitam itu juga mengemban kutuk seperti kami?!"

"Kulihat kau telah berkenalan! Boleh kami ikut nimbrung? Siapa tahu di antara kami bertemu jodoh di sini?"

Yang satunya menyahut. "Kalau itu terjadi, kau akan kuundang! Yang pasti hiburannya asyik! Ada tari buaya dan..."

"Tari telanjang!" sahut satunya lagi. "Tapi yang menari telanjang sapi kesurupan..."

Orang ini sengaja pelankan teriakan ucapan terakhirnya hingga Iblis Rangkap Jiwa tidak mendengar. Habis berkata, kedua orang berwajah hitam yang kini cuma nongolkan kepala masing-masing dibibir batu cadas perdengarkan tawa berkakakan.

"Aku akan ikut gila perturutkan manusia-manusia gila itu!" desis Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa pedulikan ucapan orang, laki-laki berkepala gundul ini berkelebat mendaki batu besar yang membentuk bukit.

Ketika Iblis Rangkap Jiwa sampai di puncak batu, suara tawa bekakakan sudah lenyap. Ketika Iblis Rangkap Jiwa arahkan pandangan ke puncak batu cadas putih, kedua orang berwajah hitam telah kembali melingkar di sekitar tongkat. Dan tak lama kemudian seantero tempat itu kembali diseruaki suara dengkuran bersahut-sahutan!

********************

BAB 6

KAWASAN Kedung Ombo makin tampak indah tatkala sang bundaran jagat tepat berada dititik tengahnya. Hamparan pasir membentang didepan kedung tampak laksana dihiasi lukisan karena membentuknya bayang-bayang beberapa batu yang berada disebelah kanan kirinya. Lamping-lamping batu yang agak besar tampak berkilat-kilat karena pantulan air kedung. Belum lagi bila ditingkah dengan fatamorgana yang terlihat dihamparan pasir luas yang memisah dua kawasan berbatu disebelah kanan kiri kedung serta jalan-jalan setapak dicelah batu-batu kecil yang berkelok kelok.

Di puncak batu sebelah kiri kedung, Iblis Rangkap Jiwa terlihat duduk dengan mata terpejam rapat dan kedua tangan berada di paha kaki kiri kanan. Jauh di bawahnya Dewi Siluman duduk bersandar dengan mata terpejam dan kedua tangan merangkap di depan dada. Sementara di puncak batu cadas putih paling tinggi di depan kedung, Raden Mas Antar Langit dan temannya Raden Mas Antar Bumi tetap mendengkur bersahut-sahutan dibawah celana hitam yang diikatkan pada pangkal tongkat kayu.

Pada awalnya, Iblis Rangkap Jiwa memang merasa terganggu dengan dengkur kedua orang berwajah hitam. Namun setelah pusatkan mata batinnya, pada akhirnya dia mampu menepis suara dengkuran. Tapi begitu matahari mulai tergelincir dari titik tengahnya, mendadak laki-laki berkepala gundul ini buka kelopak matanya. Pada saat yang sama, jauh dibawah mana Iblis Rangkap Jiwa berada, sepasang mata Dewi Siluman juga bergerak terbuka. Mata masing-masing orang ini memandang pada satu jurusan. Hanya dua orang berwajah hitam di puncak batu bercadas putih yang tetap mendengkur seperti semula. Malah begitu Iblis Rangkap Jiwa dan Dewi Siluman buka mata masing-masing, dengkur kedua orang ini sedikit agak keras!

Sementara sosok mereka berdua tetap melingkar di sebelah tongkat. Dari kawasan berbatu di sebelah kanan kedung, Iblis Rangkap Jiwa dan Dewi Siluman menangkap kelebatan satu sosok tubuh. Hanya beberapa saat saja, orang yang berlari sudah berada dihamparan pasir yang membentang memisah dua kawasan berbatu di sebelah kanan kiri kedung. Seketika paras wajah Iblis Rangkap Jiwa berubah. Dadanya berdebar keras. Kedua tangannya mengepal.

"Gadis sialan itu!" desis Iblis Rangkap Jiwa dengan suara bergetar "Siapa dia sebenarnya?! Kemunculannya pasti bisa membuat rencanaku jadi buyar! Hem... Mumpung belum terlambat, dia harus kusingkirkan sekarang juga! Tapi aku akan coba dahulu perempuan berjubah hitam itu. Sambil melihat sampai berapa jauh bekal yang dibawanya!"

Iblis Rangkap Jiwa berpaling pada Dewi Siluman. Lalu berteriak. "Dewi Siluman! Kau mengenal pendatang itu?!"

Tanpa tengadah ke arah Iblis Rangkap Jiwa, Dewi Siluman menyahut. "Baru kali ini aku berjumpa!"

"Hem... Aku mengenalnya! Dia salah seorang yang darahnya harus dialirkan! Jadi kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?!"

"Kedatanganku untuk darah Pendekar 131!"

"Begitu?! Tapi peraturan kami harus kau laksanakan! Kau juga harus bersedia mengadu jiwa dengan manusia-manusia yang berada di sekitar pemuda keparat itu! Dan pendatang itu adalah salah satunya! Habisi dia!"

Dewi Siluman arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. "Aku takakan sia-siakan tenaga tanpa guna! Kalau kau hendak habisi dia, lakukan sendiri! Aku tidak akan campur tangan! Akupun tidak mau kau ganggu!"

Habis berkata begitu, Dewi Siluman arahkan pandangannya pada orang yang tegak didataran pasir didapan kedung. Orang ini ternyata adalah seorang gadis berparas cantik jelita. Kulitnya putih, bentuk tubuhnya bagus. Rambutnya dikuncir tinggi. Gadis muda ini mengenakan jubah merah menyala. Untuk beberapa saat Dewi Siluman perhatikan si gadis yang bukan lain adalah Putri Sableng. Lalu tanpa buka mulut lagi, Dewi Siluman katupkan matanya!

Melihat sikap dan ucapan Dewi Siluman, Iblis Rangkap Jiwa mendengus keras. Kalau tidak melihat bahwa orang yang datang diyakini bisa merusak semua rencananya, dan harus segera disingkirkan, niscaya dia tidak akan tinggal diam dengan sikap yang diperlihatkan Dewi Siluman.

Seperti diketahui, Iblis Rangkap Jiwa pernah jumpa dengan Putri Sableng pada beberapa waktu yang lalu. Sialnya, ternyata si gadis berwajah cantik mengenakan jubah merah menyala itu mengetanui kelemahan Iblis Rangkap Jiwa. Hal inilah yang membuat Iblis Rangkap Jiwa sangat gusar sekaligus cemas dengan kemunculannya di Kedung Ombo.

Sementara itu Putri Sableng yang sudah sampai di sebelah kiri kedung tampak sedikit terkejut. Dia sesaat arahkan pandangan pada Iblis Rangkap Jiwa lalu pada Dawi Siluman. Lalu mendongak berpaling pada puncak batu cadas putih.

"Sedapat mungkin aku harus menghindar dahulu untuk bentrok dengan Iblis Rangkap Jiwa! Terlalu berbahaya menghadapi dia seorang diri..." Membatin Putri Sableng. "Dewi Siluman... Nyatanya dia muncul juga di sini! Apa maunya anak itu sebenarnya...?!"

Habis membatin, Putri Sableng hendak putar diri dan berniat berkelebat tinggalkan tempat itu. Namun baru setengah putaran, satu sosok hitam melayang dan tahu-tahu telah tegak menghadang.

"Kau bisa melarikan diri sampai ke ujung dunia! Tapi jangan harap kau mampu bersembunyi dan selamatkan nyawa dari tanganku!" bentak Iblis Rangkap Jiwa yang baru saja melayang dari puncak batu.

"Harap maafkan dan lupakan peristiwa di puncak bukit beberapa waktu yang lalu. Aku datang dengan persahabatan..." kata Putri Sableng lalu menjura.

"Hem... Kau kira begitu mudah memaafkan dan melupakan peristiwa itu, he?!"

Putri Sableng anggukkan kepalanya. "Semuanya sudah berlalu. Anggap saja tidak pernah terjadi! Apa susahnya berbuat begitu?! Lagi pula bukankah kita sama-sama tidak mendapatkan apa-apa dengan peristiwa itu?"

Iblis Rangkap Jiwa tegak dengan mulut terkancing rapat. Hanya sepasang matanya yang perhatikan sosok gadis di hadapannya. Putri Sableng angkat bahu lalu buka mulut lagi.

"Kalau dihitung-hitung, seharusnya kau yang minta maaf padaku. Bukankah saat itu kau hendak berbuat tidak senonoh padaku?!"

Iblis Rangkap Jiwa belum juga angkat bicara. Putri Sableng lanjutkan ucapannya dengan dada makin gundah karena dia maklum siapa adanya orang di hadapannya.

"Kuulangi lagi ucapanku. Aku datang dengan persahabatan!"

"Apa maksud persahabatan?!" hardik Iblis Rangkap Jiwa.

"Aku ingin bergabung denganmu!"

Kedua alis mata Iblis Rangkap Jiwa terangkat. Sebelum laki-laki ini keluarkan suara, Putri Sableng telah lanjutkan ucapannya.

"Aku memang hanya punya sedikit kepandaian!Tapi aku ingin menyumbangkan yang sedikit itu untuk membantumu menghadapi manusia-manusia yang akan datang nanti malam! Kau tahu. Pemuda bergelar Pendekar 131 telah menipuku! Aku kecewa mengatakan padanya tentang dirimu..."

Rahang Iblis Rangkap Jiwa bergerak terangkat. "Jadi kau anak manusianya yang menebarkan berita tentang diriku! Jahanam betul!"

"Memang jahanam betul!" sahut Putri Sableng. Lalu seolah melupakan kegundahan hatinya, gadis ini tertawa cekikikan! "Tapi apa boleh buat. Semuanya sudah terlanjur! Tapi telanjur sekali belum. Buktinya aku ingin bergabung denganmu demi menebus apa yang talah kulakukan!"

"Telanjur sekali memang belum, Gadis Sialan!" kata Iblis Rangkap Jiwa seraya menyeringai. "Tapi terlambat! Kau tahu, karena ulahmu, hampir semua orang kini tahu tentang kelemahanku! Kau harus bayar semuanya sekarang juga!"

"Aku datang memang untuk membayar! Aku bersedia membantumu!"

"Aku tidak butuh bantuan! Kau harus bayar dengan mampus di tanganku!"

"Ah... Sayang sekali kalau begitu! Padahal aku datang jauh-jauh dengan maksud baik!"

"Sayang juga, maksud baikmu terlambat datangnya! Jadi tidak ada pilihan lain bagimu!"

"Kau sudah pikirkan semuanya?!" tanya Putri Sableng sambil senyum-senyum, membuat Iblis Rangkap Jiwa tidak enak. Tapi laki-laki ini tidak mau menduga-duga. Dia segera saja buka mulut menyahut.

"Untuk membunuhmu, aku tidak perlu berpikir dua kali!"

Putri Sableng gelengkan kepala. "Itu salah besar! Justru kalau kau tidak berpikir dua kali lipat, kau akan menyesal seumur-umur!"

"Kau ini bicara apa?!"

"Dengar... Sebelum aku datang ke sini, aku telah menitipkan sesuatu pada seorang sahabat dengan pesan. Kalau kau sampai bertindak yang tidak-tidak padaku, apalagi sampai membunuhku, maka sahabat itu kusuruh sampaikan titipan yang kuberikan pada semua orang!"

"Titipan apa, hah?!" bentak Iblis Rangkap Jiwa sambil maju satu tindak.

"Titipan apalagi kalau bukan tentang dirimu?" ujar Putri Sableng kalem seraya terus senyum-senyum. "Kau tahu... Meski kau nanti membekal Kitab Hitam dan tidak mempan pukulan, itu tak akan ada artinya lagi kalau semua orang tahu kelemahanmu! Bahkan langkahmu akan makin sempit, karena bahaya mengancammu dimana-mana!"

Iblis Rangkap Jiwa memaki habis-habisan dalam hati. Malah saat itu juga kedua kakinya mencak-mencak! Putri Sableng seakan tidak pedulikan kegerahan hati orang. Dia buka mulut lagi sambil arahkan pandangannya pada Dewi Siluman dan puncak bukit batu cadas putih.

"Kau tinggal tentukan pilihan! Bahkan kalau kau keras kepala, aku tidak segan memberitahukan pada orang- orang yang telah berada disekitar sini! Itu berarti kau tidak akan mendapatkan apa-apa di sini!Paham...?!"

"Gadis ini benar-benar keparat!" desis Iblis Rangkap Jiwa. "Apa hendak dikata. Aku tidak mau usahaku selama ini sia-sia hanya karena ulah gadis ini. Tapi setelah urusan ini selesai, dia akan dapatkan kematian yang sangat mengerikan!" kata Iblis Rangkap Jiwa dalam hati. Lalu berkata.

"Baik! Tawaranmu kuterima! Tapi bukannya tanpa syarat!"

"Aku tak mau lagi bicara soal syarat! Malah seharusnya aku yang ajukan syarat! Bukan kau! Kau tak usah khawatir. Aku tidak akan ingkari semua ucapanku!"

Beberapa lama Iblis Rangkap Jiwa terdiam. Didepannya, Putri Sableng memandang berkeliling sambil angguk- anggukkan kepala.

"Bagaimana?!" tanya Putri Sableng. "Kau tak usah berpikir dua kali dalam urusan ini! Ini menyangkut hidup matimu! Keputusan harus segera kau ambil! Matahari tidak akan lama lagi tenggelam! Aku juga tidak mau terus berpanas-panasan di sini! Percuma aku merawat kulit dan wajahku kalau hanya untuk menunggu keputusan..."

"Baik! Baik! Tapi kalau kau sampai berbuat yang tidak-tidak, peduli setan semua orang tahu kelemahanku atau tidak!" teriak Iblis Rangkap Jiwa, lalu laki-laki ini balikkan tubuh dan melangkah panjang-panjang menuju puncak batu.

Putri Sableng memperhatikan langkah-langkah Iblis Rangkap Jiwa dengan cekikikan. Lalu gadis berjubah merah ini melangkah mengambil arah berseberangan dengan Dewi Siluman. Kalau Dewi Siluman berada di bawah puncak batu sebelah selatan yang ditancapi gubuk hitam, Putri Sableng melangkah ke arah sebelah utara puncak batu di bawah gubuk hitam.

Pada salah satu batu di sebelah kiri puncak batu yang ditancapi gubuk hitam, Putri Sableng duduk berlindung dari sengatan terik matahari yang mulai condong ke arah barat. Namun baru saja pantatnya menyentuh pasir disebelah batu, terdengar orang berkata.

"Kau dapat menduga ada apa kira-kira di sini?!"

Hening sejenak. Tapi tak lama kemudian terdengar sahutan.

"Aku tidak dapat menduga dengan pasti! Tapi melihat kehadiran beberapa perempuan, jangan-jangan tempat ini adalah pasar jodoh! Wah... Berarti kita untung besar! Siapa tahu takdir kita menemukan jodoh di sini..."

Putri Sableng arahkan pandangannya pada puncak batu cadas putih di mana baru saja terdengar suara orang berbicara. Nun jauh di puncak batu cadas putih, Putri Sableng melihat dua kepala berambut awut-awutan nongol di bibir batu. Lalu terlihat pula dua pasang kaki bergerak-gerak pulang balik di belakang kepala! Pertanda kalau kedua orang ini telungkup sambil mainkan kedua kakinya keatas ke bawah! Lalu gadis berjubah merah ini melihat salah seorang lambaikan tangannya. Bukan ke arahnya, melainkan pada Iblis Rangkap Jiwa yang telah tegak dipuncak batu sebelah kiri kedung. Lalu terdengar teriakan.

"Hai,Teman!Boleh kami memperkenalkan diri pada dua teman perempuanmu itu?!"

Tidak terdengar-sahutan dari seberang, membuat orang yang lambaikan tangan kembali berteriak.

"Hai, Teman! Kulihat wajahmu murung! Apa ada yang bisa kami bantu?! Urusan perempuan tidak ada sulitnya bagi kami berdua! Percayalah... Semuan pasti beres!"

Karena Iblis Rangkap Jiwa hanya memandang tanpa buka mulut, akhirnya keusilan Putri Sableng muncul. Gadis berjubah merah ini urungkan niat untuk duduk. Dia bangkit lalu meloncat ke salah satu batu yang agak besar. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, malah kedua tumitnya diangkat. Lalu dia lambai-lambaikan kedua tangannya.

"Hai... Kalian berdua!" seru Putri Sableng. "Kalau hanya ingin berkenalan mengapa masih tiduran di situ?! Kemarilah! Mari kita berkenalan! Aku butuh teman untuk berbincang-bincang!"

Kedua orang di puncak batu cadas putih saling pandang. Lalu terdengar ucapan.

"Walah... Rezeki kita besar sekali hari ini! Ada gadis cantik mengundang kita!"

"Betul... Betul! Kita tidak boleh sia-siakan kesempatan langka ini berlalu begitu saja!" menyahut satunya. Lalu salah seorang dari kedua orang ini bergerak bangkit. Busungkan dadanya sejenak lalu hendak melangkah menuruni puncak batu cadas. Namun gerakan orang ini tertahan, karena orang satunya segera keluarkan suara.

"Hai... Tolong ambilkan celanaku dahulu!"

"Ah... Itu urusanmu! Ambil sendiri!" ujar satunya. "Aku sudah tak sabar!" Orang ini lanjutkan langkah.

Sementara orang satunya tampak beringsut hendak menyambar celana hitam yang berkibar-kibar di atas tongkat. Namun sebelum celana hitam tersentuh, dan orang satunya baru melangkah dua tindak, terdengar bentakan keras membahana.

"Jangan ada yang berani bergerak! Tetap di tempat kalian masing-masing! Atau kepala kalian akan tanggal!"

Wuutt! Wuutt!

Dua gelombang dahsyat melesat diatas hamparan pasir yang memisahkan dua kawasan berbatu, lalu melabrak lurus ke arah orang yang berada di puncak batu cadas putih! Dari puncak batu putih terdengar dua seruan bersahutan. Orang yang tadi sudah tegak dan melangkah, buru-buru rebahkan diri. Karena di mana dia berpijak adalah batu cadas putih, dan dia tak mau tubuhnya menghantam cadas. Sementara temannya tanpa pikir panjang lagi telah menjatuhkan dirinya ke atas orang yang tadi masih telungkup! Kembali terdengar seruan. Tapi tak lama kemudian disusul dengan terdengarnya suara tawa bergelak!

"Untung aku telungkup hingga kau masih menumbuk pantatku! Kalau aku tadi telentang, tentu kau akan mencium barang saktiku!" kata orang yang direbahi yang tenyata adalah Raden Mas Antar Bumi yaitu laki-laki yang tadi memegang tongkat.

Suara gelakan tawa kembali menggema. Orang yang rebah, yakni Raden Mas Antar Langit beringsut turun dari tubuh Raden Mas Antar Bumi lalu perlahan-lahan bergerak ke bibir batu cadas merangkak. Lalu arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa yang baru saja berteriak sambil lepaskan pukulan jarak jauh.

"Hai, Teman! Mengapa kau menyerangku?!" teriak Raden Mas Antar Langit.

Dari seberang, Iblis Rangkap Jiwa hanya memandang dengan mulut terkancing. Raden Mas Antar Langit membalik arahkan pandangannya pada Putri Sableng begitu dilihatnya si gadis masih tegak di atas batu, Raden Mas Antar Langit lambaikan tangan. Di bawah sana, Putri Sableng kembali berjingkat seraya lambai-lambaikan kedua tangannya.

"Bagaimana?! Apa kalian masih ingin berkenalan?!"

"Tentu! Tapi bagaimana ini?!Keadaan tidak memungkinkan! Bagaimana kalau kita berkenalan jarak jauh saja?!" jawab Raden Mas Antar Langit.

"Kalian tidak berani turun?!" tanya Putri Sableng.

"Turuti kata hati, lautan api akan kulangkahi. Gelombang samudera akan kuarungi. Tapi apa hendak dikata. Kedua tanganku tidak sampai! Atau bagaimana kalau kau saja yang naik kesini?!"

"Kalau begitu maumu, baiklah!" ujar Putri Sableng dengan berteriak lantang. Gadis berjubah merah ini segera hendak turun dari batu. Namun gerakannya tertahan tatkala tiba-tiba dari puncak batu putih terdengar teriakan.

"Tahan! Jangan kemari dahulu! Ada aral melintang!" Yang berteriak ternyata Raden Mas Antar Bumi.

"Waduh! Kau ini bagaimana?! Ini rezeki besar. Mengapa ditahan?!" sungut Raden Mas Antar Langit.

"Celaka! Celaka!"

"Setan! Apanya yang celaka?!" hardik Raden Mas Antar Langit.

"Celanaku! Celanaku terbang ke bawah sana!" Raden Mas Antar Langit berpaling ke belakang. Celana hitam memang sudah tidak tampak lagi di atas tongkat! Seketika Raden Mas Antar Langit meledak gelakan tawanya.

"Sontoloyo! Mengapa kau tertawa?!" bentak Raden Mas Antar Bumi seraya berpaling ke bawah melihat celana hitamnya yang kini tampak terhampar menyangkut disalah satu batu.

Raden Mas Antar Langit hentikan tawanya. Lalu melambai ke arah Putri Sableng seraya berteriak. "Betul! Jangan kemari dahulu. Ada sesuatu yang harus kami perbaiki! Jika selesai, kau akan kuteriaki!"

Habis berteriak, Raden Mas Antar Langit berpaling pada Raden Mas Antar Bumi. "Bagaimana sekarang?!"

"Sialan! Kau masih ajukan tanya juga! Apa aku harus turun dengan begini?!"

"Jadi aku yang turun ambilkan celanamu?!" Raden Mas Antar Langit gelengkan kepala. "Kau dengar ancaman si gundul tadi?! Kepalaku akan ditanggalkan begitu aku berani beranjak dari tempat ini! Kau sayang sahabat apa sayang celana?!"

"Ah... Celaka! Lalu harus bagaimana?!"

"Terpaksa kita menunggu orang lewat! Lalu kita minta tolong!"

"Hem... Bagaimana kalau kita minta tolong gadis berjubah merah itu?!" tanya Raden Mas Antar Bumi seraya arahkan pandangan ke arah Putri Sableng.

"Mana mungkin gadis cantik macam dia mau ambilkan celanamu yang butut dan bau begitu?!"

"Jadi...?!"

"Terpaksa kita nunggu nenek-nenek!Kalau nenek-nenek pasti mau ambilkan celanamu!" ujar Raden Mas Antar Langit sambil cekikikan.

"Hem... Gara-gara gundul itu rezeki besar terbuang! Dan kita tidak akan bisa tidur lagi! Karena kita harus menunggu orang!Sialan benar..." keluh Raden Mas Antar Bumi.

Kedua orang berwajah hitam ini akhirnya sama telungkup sambil nongolkan kepala masing-masing dibibir batu cadas putih dengan mata melotot.

"Kalau tidak ada nenek-nenek lewat, bagaimana?!" gumam Raden Mas Antar Bumi.

"Kita tunggu saja sambil melihat keadaan! Hanya kau harus banyak berdoa mudah-mudahan tidak ada hembusan angin kencang. Jika itu terjadi, kau akan lebih merana!"

"Hem..." Raden Mas Antar Bumi menggumam. Lalu tiba-tiba diarahkan pandangannya pada Putri Sableng. "Ah... Bukankah kau tadi tawarkan pada gadis itu untuk berkenalan meski jarak jauh?!"

Tanpa menunggu sambutan Raden Mas Antar Langit, Raden Mas Antar Bumi telah lambaikan tangan. Di bawah sana Putri Sableng yang baru saja turun dari batu segera pula lambaikan kedua tangannya.

"Ada apa?! Apa perbaikan sudah selesai?!" teriak Putri Sableng.

"Belum! Tapi bukankah kita bisa berkenalan jarak jauh?!" kata Raden Mas Antar Bumi.

"Ah... Sebenarnya aku ingin berkenalan dengan bertatap muka! Tapi kalau begitu maumu, aku tidak keberatan! Sekarang kuharap kalian mau sebutkan diri satu persatu dengan berdiri agar aku lebih jelas!" teriak Putri Sableng.

"Wan... Celaka lagi!" ujar Raden Mas Antar Bumi. Orang ini lalu berpaling pada temannya. "Kau saja yang menjelaskan!"

Belum sampai Raden Mas Antar Langit perdengarkan ucapan, Iblis Rangkap Jiwa telah berteriak mendahului.

"Jika di antara kalian ada yang masih buka suara, kuhancurkan batu cadas tempat kalian berada!"

Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi sama kancingkan mulut. Lalu sama arahkan pandangan pada Putri Sableng yang tegak cekikikan. Kejap lain kedua orang berwajah hitam sama letakkan dagu masing-masing dibibir batu dengan mata melotot memandang kebawah.

********************

BAB 7

SENGATAN terik sinar matahari mulai agak mereda, karena sudah jauh menggelincir ke pelataran langit di sebelah barat. Hamparan langit sedikit berubah warna disemburati warna merah kekuningan. Hembusan angin mulai sebarkan hawa dingin. Di bawah puncak batu di sebelah kiri kedung, Dewi Siluman masih duduk bersila bersandar pada batu dengan mata terpejam dan kedua tangan merangkap di muka dada.

Putri Sableng juga tampak duduk bersandar pada batu. Namun sepasang mata gadis ini terbuka. Sesekali kepalanya tengadah memandang ke puncak batu di mana gubuk hitam berada. Kedua orang berwajah hitam tetap nongolkan kepala di bibir batu cadas putih dengan mata tak berkesip memandang kebawah. Kedua orang ini tidak adalagi yang buka mulut. Yang paling tampak resah adalah Iblis Rangkap Jiwa. Beberapa kali laki-laki berkepala gundul ini coba memejamkan sepasang matanya pusatkan mata batin.

Namun tampaknya dia mengalami kegagalan. Hingga pada akhirnya dia buka matanya dengan kepala sesekali memandang ke arah Dewi Siluman, Putri Sableng serta dua orang berwajah hitam di seberang batu cadas putih. Malah begitu matahari mulai berubah warna, orang ini tampak arahkan pulang balik pandangannya kejurusan kawasan berbatu di sebelah kanan kedung. Jelas pandangannya membayangkan rasa gelisah dan tidak sabar. Namun tak jarang dia menghela napas dalam.

"Ada orang datang..." Raden Mas Antar Langit berbisik pada temannya dengan kepala bergerak memaling kearah belakang tempatnya berada.

"Ah... Betul! Mudah-mudahan seperti harapanku! Seorang nenek-nenek. Agar kita bisa segera berkenalan dengan gadis cantik itu!" sahut Raden Mas Antar Bumi lalu ikut-ikutan palingkan kepala ke belakang.

Entah karena takut orang yang diyakini datang tidak melihat ke arah mereka berdua, keduanya cepat beringsut lalu dengan cepat merangkak ke bibir batu cadas putih di bawah mana terbentang jalan menuju kedung. Baru saja kedua orang berwajah hitam ini tongolkan kepala masing-masing ke bibir batu cadas putih di tempat mana jika ada orang lewat dibawahnya pasti akan melihat, satu sosok tubuh berlari cepat dari jurusan belakang batu cadas putih. Begitu sosok yang berlari hampir mendekati julangan batu cadas putih, Raden Mas Antar Bumi buru-buru lambaikan tangan sambil berteriak keras.

"Hai...! Hai...! Selamat datang! Kuharap keadaanmu baik-baik saja!"

Orang yang berlari hanya gerakkan kepalanya sebentar. Namun orang ini seakan tidak mendengar teriakan orang. Dia terus saja lanjutkan larinya. Dia baru berhenti tatkala sampai ditepi hamparan pasir yang memisahkan dua kawasan berbatu.

"Hai...!" kembali Raden Mas Antar Bumi berteriak. "Kami berada disini!"

Orang yang tegak tidak jauh dari julangan batu cadas putih mendongak. Kali ini dia berlama-lama pandangi dua kepala di bibir batu dengan dahi berkerut dan mata membesar.

"Waduh... Bukan kelasmu!" ujar Raden Mas Antar Langit. "Melihat potongan tubuhnya, aku tak yakin apa dia mau menolong!"

"Ah... Benar! Dia bukan nenek-nenek!Tapi siapa tahu?!" gumam Raden Mas Antar Bumi. Lalu pandangi orang di bawah sana. Mulutnya sunggingkan senyum seolah orang di bawah sana bisa melihat senyumnya!

"Apa kemunculan mereka atas undangan Iblis Rangkap Jiwa?! Atau atas pemberitahuan Ni Luh Padmi?!" desis orang yang tegak di dekat julangan batu cadas putih.

Ia adalah seorang perempuan berparas cantik mengenakan pakaian warna biru tipis ketat. Rambutnya dikuncir tinggi seolah ingin memperlihatkan lehernya yang putih jenjang. Perempuan berpakaian biru berwajah cantik dan bukan lain adalah Ratu Pemikat, gerakkan kepala ke kanan, ke kawasan batu di sebelah kiri kedung.

"Hem... Iblis Rangkap Jiwa sudah siap seperti rencana!" gumam Ratu Pemikat. Lalu pandangannya mengarah pada batu di mana Dewi Siluman berada. "Perempuan keparat itu nyatanya sudah muncul juga! Hem... Dia memilih tempat yang tepat!" Perempuan ini sedikit agak terkejut tatkala matanya menangkap sosok Putri Sableng.

"Mengapa gadis itu berada di situ?! Apa aku yang salah lihat?! Bukankah aku pernah menjumpai dirinya bersama Pendekar 131?! Atau bukan dia gadis yang kulihat waktu malam itu...? Ah. Kalau dia berada di kawasan itu, berarti Iblis Rangkap Jiwa sudah sempat mengorek keterangan dari mulutnya!"

Ratu Pemikat arahkan pandangannya berkeliling. "Belum ada tanda-tanda kemunculan orang-orang golongan putih! Tapi pasti mereka akan datang! Tengah malam masih lama. Hanya yang kuherankan ke mana gerangan nenek yang katanya mencari Pendeta Sinting itu?! Dia seharusnya sudah muncul di sini?! Atau jangan-jangan dia telah tewas di tengah jalan..."

Ratu Pemikat kembali arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. Lalu tanpa buka mulut atau membuat gerakan isyarat, perempuan itu berkelebat ke arah kawasan berbatu di sebelah kanan kedung.

"Hai...! Kita memang belum berkenalan. Tapi kuharap kau tidak keberatan memberi pertolongan!"

Satu teriakan terdengar membuat gerakan Ratu Pemikat tertahan. Perempuan ini mau tak mau dongakkan kepala. Dadanya kembali dilanda berbagai tanya dan duga.

"Dalam keadaan seperti sekarang ini, aku harus bersahabat dengan siapa saja!" kata Ratu Pemikat dalam hati, lalu balas berteriak.

"Katakan pertolongan apa yang harus kulakukan untuk kalian!"

"Ah... Dia memberi harapan!" bisik Raden Mas Antar Bumi. Lalu buka mulut. "Sebelumnya aku minta maaf. Karena sesuatu hal, celanaku jatuh ke bawah sana itu!" Raden Mas Antar Bumi tunjukkan tangannya pada celana hitam yang masih terhampar disalah satu batu cadas putih. "Kalau kau tidak keberatan, kuharap kau mau ambilkan cenalaku..."

Di sebelahnya, Raden Mas Antar Langit sudah tahan tawanya. Namun tak urung, sesaat kemudian tawanya keluar juga. Hingga Raden Mas Antar Bumi menggerutu sambil mendelik. Ratu Pemikat arahkan matanya ke arah yang ditunjuk orang. Lalu mendongak lagi.

"Wajahnya tidak mau dikenali! Siapa mereka?! Mengapa celananya sampai jatuh?! Mengapa mereka mengambil tempat disitu?!" Ratu Pemikat dibuncah berbagai hal. Ratu Pemikat berpikir sejurus. Lalu melangkah ke arah celana hitam di atas batu cadas putih. Namun perempuan ini tidak segera ambil celana itu. Dia hentikan langkah di sebelah batu di mana tersangkut celana milik Raden Mas Antar Bumi.

"Aku akan membantu yang kalian inginkan, tapi jawab dulu pertanyaanku!"

Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi saling pandang. Lalu Raden Mas Antar Bumi berseru. "Apa yang hendak kau tanyakan?!"

"Katakan siapa kalian adanya! Mengapa berada di situ! Juga katakan siapa yang memberi tahu hingga kalian muncul di sini!"

"Aku Raden Mas Antar Bumi. Temanku ini Raden Mas Antar Langit. Kami berdua muncul di sini atas anjuran seorang tabib kesohor..."

Ratu Pemikat Pernyitkan kening. Namun belum sampai dia menduga kebenaran ucapan orang, Raden Mas Antar Langit telah lanjutkan ucapan temannya.

"Meski jauh, tentu kau masih lihat bagaimana bentuk warna wajah kami. Hitam legam memilukan! Ini bukan karena kami sengaja mempercantik diri. Melainkan kutuk yang harus kami terima karena melanggar pantangan. Menurut tabib tadi, kutuk bisa sirna kalau kami mandi di Kedung Ombo pada malam purnama!"

"Lalu..." kali ini yang menyambung adalah Raden Mas Antar Bumi. "Kami tadi sudah enak-enakan tidur di gubuk hitam sana itu sambil menunggu malam purnama nanti. Tapi tiba-tiba datang si Iblis Rangkapan itu! Dia mengusir kami! Karena kami harus menunggu sampai malam, terpaksa kami memilih tempat ini. Namun si Iblis Rangkap Jiwa itu tidak menaruh belas kasihan pada kami. Dia bermain-main angin. Hingga akhirnya celanaku sampai jatuh ke dekat tempatmu itu..."

Mendengar orang sebut Iblis Rangkap Jiwa dengan Iblis Rangkapan, mau tak mau membuat Ratu Pemikat tersenyum. Namun sejauh ini dia tidak segera ambil celana hitam, sebaliknya ajukan tanya lagi.

"Mengapa salah satu di antara kalian tidak ambil sendiri?! Bukankah yang satunya lagi masih mengenakan celana?!"

"Betul! Tapi si Iblis Rangkapan itu mengancam kami! Kalau kami berani bergerak dari tempat ini, kepala kami akan ditanggalkan!" ujar Raden Mas Antar Langit. "Daripada kami mati sia-sia, bukankah lebih baik menunggu orang yang mau menolong?"

"Katakan terus terang. Kalian berada di pihak mana?!" Tiba-tiba Ratu Pemikat berteriak karena diam-diam perempuan ini tidak begitu percaya dengan ucapan-ucapan orang.

"Ah... Pertanyaanmu sama dengan pertanyaan Iblis Rangkapan tadi! Kami terus terang saja tidak berpihak ke mana-mana! Maksud kedatangan kami telah kau ketahui! Jadi harap tidak berprasangka buruk. Lebih dari itu, kumohon kau mau menolongku!" kata Raden Mas Antar Bumi.

"Baik! Aku akan menolong kalian!" ujar Ratu Pemikat. Lalu ulurkan tangan kirinya mengambil celana hitam di atas batu cadas putih.

Raden Mas Antar Bumi tersenyum-senyum. Apalagi tatkala Ratu Pemikat melangkah ke tempat mana tadi dia pertama kali muncul. Tepat berada di bawah batu cadas putih menjulang. Ratu Pemikat hentikan langkah. Celana hitam ditenteng di tangan kiri dan tampak berkibar-kibar. Kepalanya mendongak. Raden Mas Antar Bumi makin lebarkan senyum.

"Aku akan berikan celana ini besok pagi!" seru Ratu Pemikat, membuat senyum Raden Mas Antar Bumi laksana ditanggalkan setan.

Kejap lain terdengar keluhan keras saat tanpa berkata-kata lagi Ratu Pemikat berkelebat ke arah kawasan berbatu di sebelah kanan kedung sambil menenteng celana hitam.

"Kau tak usah cemas. Mungkin dikira celana bututmu bisa membawa berkah!" gumam Raden Mas Antar Langit, membuat Raden Mas Antar Bumi memberengut sambil menggumam.

"Ini namanya celaka tiga belas! Pertolongan yang diharap, lebih celaka yang didapat! Hilang sudah kesempatan berkenalan dengan gadis cantik berjubah merah itu!"

Sementara di atas puncak batu yang ditancapi gubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa sejenak tadi tampak menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh Ratu Pemikat. Namun begitu samar-samar dapat menangkap celana hitam di tangan kiri sang Ratu, laki-laki berkepala gundul ini sunggingkan senyum seringai. Jauh di bawahnya, Dewi Siluman buka kelopak matanya. Lalu memandang ke seberang dengan mata sedikit dibeliakkan.

"Jahanam! Mengapa perempuan sundal itu tegak di seberang sana?! Menurut tanda, seharusnya dia tegak di kawasan ini! Hem... Ada permainan apa ini?! Manusia Iblis itu juga tidak buka mulut dengan kehadirannya!"

Di sebelah bawah samping kiri puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada, Putri Sableng diam-diam juga membatin. "Aneh... Ada apa ini?! Muslihat apa lagi yang sedang dilakukan perempuan itu?!"

Sementara kedua orang berwajah hitam sama bergerak merangkak. Lalu nongolkan kepala masing-masing di bibir batu cadas putih di atas mana hamparan pasir membentang dengan mata sama mendelik dan kepala bergerak-gerak berpaling pada Dewi Siluman, Iblis Rangkap Jiwa, Putri Sableng, dan Ratu Pemikat. Namun kali ini mereka sama kancingkan mulut.

Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba semua kepala berpaling ke satu arah. Mata masing-masing orang yang berada di tempat itu memandang tak berkesip. Satu sosok tubuh berlari cepat dari arah belakang mana Ratu Pemikat berada.

"Berhenti!" Ratu Pemikat membentak sambil putar tubuh.

Orang yang baru saja berlari hentikan langkah. Tegak di atas batu sejarak sepuluh langkah dari Ratu Pemikat. Ternyata orang ini adalah seorang nenek berpakaian panjang warna coklat. Pada tangannya tampak tergenggam sebuah tusuk konde besar berwarna hitam. Si nenek tidak lain adalah Ni Luh Padmi.

"Kuharap kau tidak menuduhku bertindak macam-macam!" Si nenek telah mendahului buka mulut begitu melihat pandangan curiga Ratu Pemikat.

Seperti diketahui, Iblis Rangkap Jiwa, Ratu Pemikat serta Ni Luh Padmi telah membuat rencana dan sepakat akan bertemu dua hari menjelang purnama di puncak Bukit Selamangleng. Namun sampai hari yang ditentukan, Ni Luh Padmi tidak muncul. Ini membuat Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat merasa curiga. Ratu Pemikat campakkan celana hitam milik Raden Mas Antar Bumi. Lalu memandangi si nenek dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bibirnya tersenyum dingin.

"Aku tidak akan menuduh kalau kau mengatakan alasan tepat!"

Ni Luh Padmi putar pandangannya. Mula-mula ke arah Dewi Siluman, lalu ke atas puncak batu di seberang dimana Iblis Rangkap Jiwa berada. Lalu pada Putri Sableng. Dan tak luput matanya memandang ke arah dua wajah hitam yang nongol di bibir batu cadas putih. Terakhir kali kembali pada sosok Ratu Pemikat. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang. Si nenek lalu angkat bicara.

"Di tengah perjalanan melakukan tugas seperti yang telah kita sepakati, aku bertemu dengan seseorang yang mau tunjukkan padaku dimana tempat tinggalnya Pendeta Sinting..."

"Hem....Coba katakan dimana?!" sahut Ratu Pemikat. "Jurang Tlatah Perak!"

"Hem... Lalu?!"

"Aku menuju Jurang Tlatah Perak. Namun, meski tempat itu sudah kuaduk-aduk, aku tidak menemukan bangsat penghuninya!Walau begitu, satu hal yang pasti,tempat itu memang kuyakini tempat persembunyian jahanam itu! Dan dia pergi belum lama!"

"Bagaimana kau bisa yakin?!"

Ni Luh Padmi sunggingkan senyum seringai. "Aku tahu siapa jahanam itu lebih daripada orang lain!"

"Kalau kau sudah tahu jahanam bangsatnya tidak ada, mengapa tidak segera kembali?!"

"Aku telah lama mencari. Begitu tempatnya sudah kutemukan, apakah aku harus begitu saja pergi meski bangsat keparatnya tidak kutemukan?! Dia kutunggu sampai beberapa hari dengan harapan dia akan pulang!"

"Tapi kau mengalami kecewa besar, bukan?!"

Ni Luh Padmi tidak segera menjawab. Namun beberapa saat kemudian dia anggukkan kepala. "Dia tidak muncul sampai aku memutuskan pergi kemari!"

"Hem... Aku bisa saja menerima alasanmu! Tapi di hadapan Malaikat Penggali Kubur, bisa saja lain!"

"Maksudmu?!"

"Kusarankan padamu. Kalau kau masih inginkan nyawa Pendeta Sinting, kau harus minta maaf pada Malaikat Penggali Kubur!Soal apa nanti alasanmu, itu urusanmu!"

Paras wajah si nenek berubah. Ratu Pemikat tersenyum lebar. Lalu berujar. "Tanpa kukatakan, kau tahu bukan di mana kau harus berdiri?!"

Kepala Ni Luh Padmi berpaling memandang berkeliling. "Siapa yang berjubah hitam dan berjubah merah itu?!"

"Kalau mereka berada di sana, siapa pun mereka adanya, yang pasti mereka adalah manusia-manusia musuh golongan putih!"

"Dua orang di puncak batu cadas putih itu?!"

"Mereka hanya manusia tersesat jalan!"

"Dan kau sendiri, mengapa..."

"Jangan banyak bertanya!" potong Ratu Pemikat lalu hadapkan tubuh ke hamparan pasir yang membentang memisah dua kawasan berbatu. "Mumpung hari belum gelap, kuharap kau segera memilih tempat!"

Dengan dada dipenuhi tanda tanya dan kegelisahan, si nenek meloncat dari batu lalu melangkah melintasi hamparan pasir yang membentang di depan Kedung Ombo. Saat itulah dari puncak batu cadas putih terdengar gumaman.

"Kenapa matamu melotot begitu rupa!Dia hanya nenek-nenek! Dan percuma kau minta tolong padanya!" Yang perdengarkan suara ternyata Raden Mas Antar Langit. Raden Mas Antar Bumi tidak menyahut. Malah sepasang matanya makin membelalak besar.

"Kau tertarik padanya?!" kembali Raden Mas Antar Langit buka suara.

Tapi yang ditanya tetap kancingkan mulut, membuat Raden Mas Antar Langit berpaling silih berganti pada temannya lalu pada Ni Luh Padmi yang melintas di bawah sana.

"Laki-laki seusiamu memang saat-saatnya tumbuh perasaan cinta untuk ketiga kalinya.... Tapi kurasa kau terlalu sembrono kalau menjatuhkan pilihan pada si nenek itu! Masih banyak gadis muda dan cantik yang kuyakini bisa kaugaet!Apalagi wajahmu tidak mengecewakan. Buktinya kau tahu sendiri. Walau kau berhias begitu rupa, gadis berjubah merah itu tadi tak sabar ingin berkenalan..."

"Sontoloyo! Kalau kau tak bisa diam, kulemparkan kau ke bawah sana!" hardik Raden Mas Antar Bumi dengan kepala masih bergerak mengikuti langkahan kaki Ni Luh Padmi.

"Ah... Sebagai teman, aku cuma mengingatkan! Lagi pula aku akan ikut bangga kalau kau bisa berdampingan dengan seorang gadis cantik dan muda! Hik Hik...!Bukan dengan nenek-nenek yang dihias bagaimanapun juga tidak membuat mata betah memandang, sebaliknya membuat pantat gatal!"

"Setan! Setan! Diam kau!" bentak Raden Mas Antar Bumi, membuat Ni Luh Padmi yang melintas di bawah mereka berdua dongakkan kepala.

"Hai...!" kata Raden Mas Antar Langit sambil lambaikan tangan saat dilihatnya si nenek tengadah memandang.

Raden Mas Antar Bumi serta-merta gerakkan tangan. Bukan ikut-ikutan melambai, melainkan tarik pulang tangan temannya yang baru saja melambai. Di bawah sana, Ni Luh Padmi kerutkan dahi sesaat, namun kejap lain si nenek telah lanjutkan langkah.

"Apa yang kau lakukan?! Kau cemburu aku lambaikan tangan pada nenek itu?!" tanya Raden Mas Antar Langit. "Kau ini aneh. Belum kenal sudah cemburu buta!"

Raden Mas Antar Bumi tidak juga menyahut. Dia hanya pandangi si nenek yang kini telah tegak di atas batu tidak jauh dari tempat Dewi Siluman. Sementara Dewi SilUman sendiri seolah acuh dengan kehadiran orang di dekatnya.

Hanya Iblis Rangkap Jiwa yang tampak telengkan kepala ke arah Ni Luh Padmi. Pada awalnya laki-laki berkepala gundul ini sudah hendak berkelebat saat dilihatnya Ni Luh Padmi muncul. Namun niatnya diurungkan setelah dilihatnya Ratu Pemikat sempat bercakap-cakap dengan Ni Luh Padmi.

Baru saja Ni Luh Padmi tegak di atas batu, tiba-tiba semua orang di tempat itu tersentak kaget. Entah kapan datangnya, tiba-tiba dari bawah julangan batu cadas putih di depan kedung, satu sosok tubuh berkelebat!

BAB 8

BUKAN hanya kemunculan orang yang membuat semua orang tersentak kaget, mereka juga sama membatin dan bertanya-tanya. Karena orang yang mendadak muncul terus berlari menyeberangi hamparan pasir yang membelah kawasan berbatu. Orang ini baru hentikan larinya saat satu langkah lagi tepat di bibir kedung!

Seakan tahu dirinya menjadi pusat pandang beberapa mata, orang ini putar tubuh membelakangi kedung. Ternyata dia adalah seorang kakek. Rambutnya yang kaku dipotong pendek hingga terlihat tegak-jabrik. Raut wajahnya penuh keriputan. Sepasang matanya terpuruk masuk ke rongga yang cukup dalam. Kalau rambutnya yang putih dipotong pendek, tidak demikian halnya dengan kumisnya yang juga telah berwarna putih. Kumis kakek ini dibiarkan panjang hingga menutupi hampir janggutnya!

Pada kedua cuping hidungnya yang agak mancung tampak melingkar dua buah anting-anting dari benang warna merah. Kakek ini mengenakan pakaian berwarna biru gelap. Meski si kakek di bibir kedung telah unjuk tampang, namun semua orang yang ada di tempat itu jelas sama menampakkan isyarat kalau tidak seorang pun yang mengenal.

Beberapa saat Kedung Ombo senyap. Tidak ada suara yang terdengar menyeruak. Hanya beberapa mata yang tampak saling melontar pandang. Sementara si kakek yang menjadi pusat pandang orang mulai lakukan gerakan. Kepalanya berpaling kekiri. Sesaat si kakek di bibir kedung memandang pada Ni Luh Padmi yang tegak paling kanan. Lalu beralih pada Dewi Siluman yang kini tampak pentangkan mata.

Kejap lain si kakek mendongak sedikit arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa yang tegak kacak pinggang di bawah gubuk hitam. Lalu pandangannya beralih pada Putri Sableng. Pada si gadis berjubah merah ini, si kakek memandang agak lama sebelum akhirnya arahkan pandangan pada puncak batu cadas putih di mana terlihat kepala Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi.

Si kakek anggukkan kepala sedikit lalu berpaling ke kanan. Pada kawasan berbatu di mana Ratu Pemikat berada. Begitu pandangannya sampai pada Ratu Pemikat, si kakek bukan segera buka mulut. Melainkan putar pandangannya kembali. Kini berbalik arah. Mulai dariRatu Pemikat dan berakhir pada Ni Luh Padmi. Kejap lain si kakek tengadah melihat langit yang mulai menggelap karena matahari sejengkal lagi terbenam.

Kesepian di sekitar Kedung Ombo tiba-tiba disentak dengan beberapa gumaman dan pandangan heran beberapa mata. Karena si kakek di bibir kedung tiba-tiba sentakkan kedua kakinya. Sosoknya melesat lima tombak ke udara. Membuat gerakan satu kali, lalu meluncur deras ke dalam kedung!

Byuuurr!

Air tenang Kedung Ombo berkecipak sampai satu tombak ke udara. Lalu tampak gelombang bergerak dahsyat laksana dihempas angin luar biasa kencang. Malah sebagian air kedung muncrat melewati bibir kedung. Gumaman yang sejenak tadi terdengar tiba-tiba lenyap. Kini hanya beberapa pasang mata yang memandang pada tengah kedung. Semua orang seolah tak sabar apa sebenarnya yang dilakukan orang. Mereka menunggu dengan dada dibuncah berbagai tanya.

Namun semua orang di sekitar Kedung Ombo pada akhirnya harus mengalami kecewa besar. Karena hingga ditunggu agak lama, kakek yang ceburkan diri ke dalam kedung tidak muncul lagi! Rasa terkesima semua orang belum lenyap, tiba-tiba satu suara terdengar.

"Aneh... Dari mana mendung ini berasal?! Baru saja langit terang benderang!"

Hampir berbarengan semua kepala di tempat itu bergerak mendongak. Ucapan yang baru saja terdengar dari puncak batu cadas putih memang benar adanya. Karena begitu matahari tenggelam, tiba-tiba langit yang sejenak tadi tanpa tertutup awan sedikit pun berubah.

Entah dari mana dan kapan datangnya, tiba-tiba langit disemaraki dengan gulungan awan hitam, membuat suasana yang mulai gelap sudah berubah pekat! Malah kalau tidak pelototkan mata, orang yang ada di sekitar Kedung Ombo tidak akan mampu melihat lainnya! Anehnya, gulungan awan hitam itu hanya menggantung tepat di atas Kedung Ombo!

"Wah... Kebetulan! Mumpung gelap, aku akan bisa leluasa berjalan! Kita mandi sekarang!" kata seseorang dari puncak batu cadas putih.

"Kalau kau ingin mandi sekarang, silakan! Melihat kakek yang tadi mencebur dan tidak muncul lagi, aku urungkan niat saja!Biar aku mengemban kutuk begini daripada mati tidak karuan!" menyahut satunya.

"Mengapa kau takut dengan kakek itu! Dia memang sengaja bunuh diri!"

"Peduli setan bunuh diri atau tidak! Yang jelas dia tidak muncul lagi. Dan aku tak mau mengalami nasib seperti dia!"

"Ah... Kau selalu saja menakut-nakutiku! Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?!"

"Kurasa ada yang tidak beres di tempat ini! Kalau benar malam ini di sini ada pasar jodoh, mengapa yang datang nenek-nenek juga?! Dan kau tahu sendiri. Wajah-wajah mereka terlihat tegang kaku! Belum lagi ada kakek yang tiba-tiba bunuh diri! Kita pulang saja! Bukankah malam purnama tidak hanya malam ini?! Lagi pula kulihat sang rembulan tidak akan muncul! Mandi sampai semalaman pun tidak akan mampu menghilangkan kutuk kita kalau rembulan tidak nongol! Ayo, kita pulang!"

"Enak saja kau bicara!" sahut suara satunya. "Bagaimana aku bisa pulang kalau tidak mengenakan celana?"

"Bukankah sudah gelap?! Tak mungkin orang dapat melihat senjata saktimu! Kalaupun orang sempat melihat, kau tak usah khawatir, yang melihat pasti akan tunggang langgang terlebih dahulu! Hik Hik Hik...!"

"Betul juga. Kalau lari tunggang langgang menjauh aku tidak kerepotan! Biasanya yang melihat lari tunggang langgang mendekatiku! Hik Hik Hik...!"

Ketegangan di Kedung Ombo laksana sirna karena di tempat itu kini disemaraki suara ledakan tawa bersahut-sahutan.

"Hai, kalian yang ada di puncak batu cadas putih!" tiba-tiba satu teriakan terdengar. "Jadi itukah yang kalian katakan tadi aral melintang?!"

"Ah... Itu suara gadis cantik berjubah merah!" gumam salah seorang di puncak batu cadas putih. Orang yang bergumam ini lantas berteriak menyambuti suara teriakan yang baru saja terdengar.

"Benar! Itulah aral rintangannya. Dan kami tak mampu memperbaikinya! Bagaimana kalau kau pinjamkan celanamu pada temanku ini?!"

"Menyesal sekali!Aku tidak mengenakan celana!" sahut teriakan dari bawah.

"Jadi dibalik jubah merahmu itu kau tidak mengenakan apa-apa lagi?!"

"Sialan!" satu teriakan keras terdengar. Yang ini meski suara perempuan namun jelas lain dari teriakan yang tadi terdengar.

"Kalian yang ada di puncak batu cadas putih! Dengar, yang bicara kali ini aku si jubah merah! Kalau yang tadi si jubah hitam! Jadi kalian jangan macam-macam mengatakan aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik jubah merahku ini! Bisa kulepas lidah kalian masing-masing! Kalian dengar? Kalau kalian ingin teruskan bicara dengan si jubah hitam itu, silakan! Tapi awas! Jangan kau sebut-sebut lagi si jubah merah!"

"Waduh... Maafkan kalau kami salah sangka! Maklum suasana sangat gelap! Baik, aku akan teruskan bicara dengan si jubah hitam..." teriak orang dari puncak batu cadas putih.

Lalu sesaat kemudian terdengar lagi teriakan dari puncak batu cadas putih. "Hai, Jubah Hitam! Karena kita belum saling kenal, tak keberatan bukan kalau kusebut saja si Jubah Hitam?!"

"Tak apa-apa... Silakan kalian terus bicara!" terdengar suara sahutan dari bawah. Yang ini jelas suaranya lain dengan suara orang yang baru mengatakan dirinya si jubah merah.

"Kuulangi lagi pertanyaanku tadi. Jadi di balik jubah hitammu itu kau tidak mengenakan apa-apa lagi?!" kata suara dari puncak batu cadas putih.

"Di sini banyak telinga! Aku malu mengatakannya..." terdengar sahutan dari bawah.

"Kau tak usah malu mengatakannya, Jubah Hitam! Anggap saja semua telinga di sini tidak bisa mendengar! Dan anggap di sini hanya ada kita bertiga...! Asyik bukan...?!"

"Asyik memang asyik! Tapi rasanya aku tidak kuasa mengatakan..."

"Ah... Kau pasti bisa mengatakannya! Bukankah tidak ada telinga yang mendengar?! Lagi pula aku akan menjaga rahasia ini untuk kita bertiga! Katakanlah..."

Hening sejenak. Lalu dari arah bawah terdengar lagi teriakan mendayu.

"Aku memang... tidak mengenakan apa-apa lagi! Tapi kalian jangan menduga yang tidak-tidak! Itu memang sudah kebiasaanku dari mulai kecil! Aku geli kalau mengenakan pakaian di balik jubah hitamku ini..."

Dari puncak batu cadas putih terdengar gumaman. Lalu dari arah bawah terdengar suara tawa cekikikan ditahan-tahan. Tak lama kemudian, dari puncak batu cadas putih terdengar teriakan.

"Jubah hitam...! Aku yakin di balik cadarmu itu tersembunyi seraut wajah cantik nan jelita bak bidadari. Aku mendapat firasat ada yang tidak beres di tempat ini. Bagaimana kalau kita pergi saja dari sini?!"

"Ah... Kau pandai merayu... Aku mungkin tidak secantik yang kau kira! Tapi dibanding dengan gadis berjubah merah itu, mungkin kau masih memilihku! Kalau kau ingin mengajakku pergi dari sini, kira-kira kau akan ajak aku ke mana?!"

"Ke mana kau suka aku akan memenuhinya!"

"Ah, senang hatiku mendengarnya. Kita pergi sekarang?!"

"Benar! Kita berangkat sekarang saja!"

"Gila! Bagaimana kau ini?! Kau tidak boleh pergi dari sini!" satu suara di puncak batu cadas putih menahan.

"Kau ini tidak mau rezeki besar! Ada perempuan cantik yang di balik jubah hitamnya tidak mengenakan apa-apa mengajak pergi kau tolak! Dasar orang sinting! Apa kau hendak menunggu nenek-nenek tadi?!"

"Sialan! Kau benar-benar sialan! Aku tidak menolak rezeki! Tapi bagaimana dengan senjata saktiku ini?! Mau ditaruh di sakumu, hah?!"

"Astaga! Aku lupa!" ujar suara satunya. "Gara-gara si gundul itu dua rezeki besar harus terbuang percuma!"

"Hai... Kalian yang ada di puncak batu cadas putih! Bagaimana! Kapan kita berangkat?! Aku sudah tidak sabar..."

"Jubah Hitam. Kau tidak keberatan bukan kalau temanku ini jalan bersama tanpa memakai celana?!"

Terdengar suara cekikikan. Lalu disusul teriakan mendayu-dayu.

"Aku tidak keberatan..."

"Nah. Kau telah dengar sendiri! Dia tidak keberatan jalan bersama meski kau tidak mengenakan celana! Tunggu apa lagi?!"

"Sontoloyo! Aku ini bangsa manusia biasa, bukan bangsa iblis sepertimu!Yang bisa jalan dengan perempuan walau tanpa mengenakan celana!" sahut suara satunya.

"Hem... Rupanya kau lupa! Walau kau bangsa manusia, bukankah kau masuk golongan manusia sinting?! Dalam golongan manusia sinting sepertimu, apakah masih tabu jalan bersama perempuan tanpa mengenakan celana?!"

"Sesinting-sintingnya bangsa manusia, dia tidak akan punya kelakuan seperti bangsa iblis golonganmu!"

"Hai... Mengapa kalian bertengkar?!" terdengar suara teriakan dari bawah. "Kalian tidak usah terlalu mempersoalkan celana! Bukankah bajumu masih bisa kau buat penutup kalau kau mau?! Meski sebenarnya aku lebih senang kau jalan tanpa mengenakan celana! Hik Hik Hik...!"

"Jahanam keparat! Mulut kotormu harus dipecah!" Tiba-tiba terdengar teriakan dahsyat. Suara itu jelas suara seorang perempuan dan lain dari suara-suara perempuan yang tadi terdengar.

"Ada apa ini? Siapa memaki siapa?!" terdengar suara dari puncak batu cadas putih.

"Aneh memang! Tapi ada yang lebih aneh lagi! Lihat ke langit!" sahut suara satunya.

Dalam pekatnya suasana, samar-samar masih terlihat semua kepala tengadah ke atas. Dan berpasang-pasang mata tampak membelalak. Di atas sana, gulungan awan hitam yang sejenak tadi menutup hamparan langit tepat di atas Kedung Ombo laksana disapu gelombang angin kencang. Gulungan awan hitam ambyar dan bertaburan. Anehnya, tepat di mana tadi awan hitam bergulung-gulung menutup langit di atas Kedung Ombo, kini tampak sang rembulan yang pancarkan sinar terang! Hingga kepekatan di sekitar kawasan Kedung Ombo sirna seketika! Ke mana pandangan diarahkan terlihat jelas.

Kedua orang berwajah hitam dipuncak batu cadas putih kini tampak tegak di bibir batu. Hanya yang satu kini bertelanjang dada. Bajunya ditarik ke bawah lalu diikatkan demikian rupa hingga menyerupai pakaian panjang bagian bawah! Raden Mas Antar Bumi yang bertelanjang dada dan Raden Mas Antar Langit tampak tersenyum-senyum. Dan ketika dilihatnya si jubah hitam yang bukan lain adalah Dewi Siluman, melihat ke arah mereka, kedua orang ini sama angkat kedua tangan masing-masing lalu melambai- lambai.

Namun senyum keduanya mendadak terpenggal. Gerak lambaian tangannya terhenti. Karena di bawah sana mendadak Dewi Siluman bergerak bangkit. Kepala perempuan bercadar hitam ini mendongak. Lalu terdengar suara garang.

"Kalian jahanam berdua! Kalian akan tunggu giliran setelah kucabut lidah kotor gadis jubah merah keparat itu!" Habis berteriak begitu, Dewi Siluman langsung berkelebat memutari batu membukit sebelum akhirnya berhenti hanya sejarak lima langkah dari tempat tegaknya Putri Sableng!

"Tak kusangka kalau wajahmu yang cantik tidak sesuai dengan mulutmu!"

Putri Sableng memandang orang dihadapannya dengan angkat kedua alis matanya. Belum sampai gadis berjubah merah ini buka mulut, Dewi Siluman telah mendahului.

"Jangan kau kira aku tidak tahu! Bukankah yang mengaku sebagai si Jubah Hitam adalah mulutmu juga?!" Kedua tangan Dewi Siluman telah terangkat.

"Suasana gelap! Jangan kau menuduh seenakmu! Aku tidak mengaku sebagai si Jubah Hitam! Di sini banyak orang dan mereka juga ada yang perempuan!" sahut Putri Sableng. Gadis ini ikut-ikutan angkat tangannya.

"Waduh... Gawat! Gawat!" terdengar suara dari puncak batu cadas putih. "Bagaimana bisa jadi begini?! Padahal aku sudah siap berangkat!"

Sementara itu, melihat apa yang terjadi di seberang, Ratu Pemikat buru-buru berteriak. "Harap dapat kuasai diri! Urusan kecil ini bisa kita selesaikan setelah urusan malam ini tuntas!"

"Kalau di antara kalian ada yang mulai lakukan penyerangan, aku tak segan membunuh kalian berdua!" bentak Iblis Rangkap Jiwa lalu tangannya disentakkan kebawah.

Wuuttt!

Satu gelombang dahsyat melesat deras ke arah Dewi Siluman dan Putri Sableng. Dewi Siluman dan Putri Sableng cepat melompat mundur.

Brakk! Brakkk! Byurr! Byuurr!

Dua batu di mana Dewi Siluman dan Putri Sableng tadi tegak, pecah berkeping-keping. Pasir hitam berhamburan. Namun begitu pasir luruh kembali, baik Dewi Siluman maupun Putri Sableng tetap tegak saling berhadapan meski agak sedikit jauh. Kedua tangan masing-masing orang tetap terangkat. Malah sesaat kemudian, Putri Sableng telah buka mulut.

"Jangan-jangan yang perdengarkan suara tadi adalah kau sendiri! Lalu begitu suasana terang dan kau belum sempat pergi, kau merasa malu! Hik Hik Hik...! Mengapa harus malu? Anggap saja semua mata di sini buta! Lihat, dua orang di puncak batu cadas itu sudah siap berangkat!"

Dewi Siluman perdengarkan gerengan dahsyat. Kedua tangannya bergetar. Namun sebelum perempuan bercadar hitam ini gerakkan tangan kirimkan pukulan, terdengar deruan keras dari puncak batu di mana Iblis Rangkap Jiwa berada. Kejap lain satu gelombang hitam menggebrak ke arah Dewi Siluman.

Karena tak ada kesempatan lagi bagi Dewi Siluman untuk selamatkan diri menghindar, akhirnya diasentakkan kedua tangannya ke atas memangkas pukulan yang dilepas Iblis Rangkap Jiwa.

Bummmm!

Terdengar ledakan keras. Pasir-pasir di sela batu bertaburan. Batu-batu di kawasan sebelah kiri kedung bergetar. Sosok Dewi Siluman tampak hendak terhuyung jatuh dari atas batu pijakannya. Namun perempuan ini segera lipat gandakan tenaga dalamnya hingga huyungannya terhenti. Kepalanya serentak mendongak.

Iblis Rangkap Jiwa menyeringai. "Kalau tidak melihat kau berada di pihak kami, sudah kupecahkan batok kepalamu sejak kau muncul tadi! Kembali ketempatmu semula!"

Dewi Siluman tak bergeming dari tempatnya. Malah perempuan ini telah angkat kedua tangannya siap lepaskan pukulan. Iblis Rangkap Jiwa mendelik angker. Serta-merta laki-laki berkepala gundul ini angkat pula kedua tangannya.

"Tahan serangan!" Yang menahan ternyata adalah Putri Sableng.

Dewi Siluman mendengus dengan mata berkilat melirik ke arah gadis berjubah merah. Putri Sableng cekikikan, lalu angkat bicara. "Kulihat ada orang datang dari seberang!"

Mungkin merasa ucapan Putri Sableng hanya untuk mengelabui, Dewi Siluman tidak gerakkan kepala ke arah mana kini Putri Sableng memandang. Sementara semua kepala di situ sudah bergerak ke satu arah jauh di belakang Ratu Pemikat berada.

"Ah... Rupanya yang muncul kali ini kita kenal!" satu suara dari puncak batu cadas terdengar.

Dewi Siluman arahkan pandangannya melirik kearah Iblis Rangkap Jiwa. Ketika dilihatnya laki-laki itu telah tarik pulang kedua tangannya yang tadi hendak lepaskan pukulan ke arahnya dan kini memandang lurus kedepan, membuat perempuan bercadar dan berjubah hitam ini segera meloncat dan tegak di atas batu sejajar lurus dengan tempat tegaknya Putri Sableng. Dengan begitu, kalau Putri Sableng hendak berbuat macam-macam, dia segera dapat mengetahuinya.

Begitu tegak sejajar lurus dengan Putri Sableng, masih dengan kedua tangan terangkat, dia putar tubuh menghadap hamparan pasir di depan kedung. Saat itulah sepasang matanya memang menangkap satu sosok tubuh melangkah cepat dari arah belakang Ratu Pemikat!

********************

BAB 9

MEMASUKI kawasan berbatu di sebelah kanan kedung, orang yang melangkah mendadak berhenti. Lalu melompat naik pada salah satu batu. Kepalanya lurus memandang ke depan. Karena yang berada dikawasan itu adalah Ratu Pemikat, maka mau tak mau orang ini untuk beberapa saat memandang tajam ke arah si perempuan. Tiba-tiba raut wajah orang ini berubah. Dari mulutnya terdengar gumaman. Di lain pihak, Ratu Pemikat tampak sunggingkan senyum, lalu palingkan ke hamparan pasir di depan kedung. Terdengar suara perempuan ini.

"Selamat jumpa lagi, Pendekar 131! Bagaimana kabarmu?!" sambil berkata Ratu Pemikat terdengar tertawa bernada mengejek.

Orang yang baru disapa sesaat terdiam. Namun kejap lain orang ini telah menyahut. "Selamat jumpa lagi, Ratu...! Bagaimana kabarmu?!"

"Sudah kuduga kalau kau akan muncul malam ini! Hik Hik Hik...! Dan ini adalah babak terakhir dari peristiwa tempo hari!" ujar Ratu Pemikat tanpa berpaling lagi. Malah perempuan ini berujar seraya memandang hamparan langit yang terang benderang.

Orang yang berada dibelakang Ratu Pemikat ikut-ikutan mendongak. "Aku pun sudah menduga kalau kau akan muncul malam ini! Hik Hik Hik...! Dan ini adalah awal dari lanjutan peristiwa tempo hari!"

Nada bicara dan ucapan orang ini seakan menirukan ucapan dan nada ucapan Ratu Pemikat. Ratu Pemikat sudah hendak buka mulut lagi, namun sebelum suaranya terdengar, tiba-tiba dari arah seberang, tepatnya dari tempat Iblis Rangkap Jiwa berada terdengar teriakan keras membahana.

"Anjing buntung! Malam ini nyawamu tidak akan lolos lagi!"

Orang yang berada di belakang Ratu Pemikat arahkan pandangannya pada Iblis Rangkap Jiwa. Orang ini ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan. Hanya saja dia tidak memiliki tangan! Pemuda ini bukan lain adalah Dewa Orok.

Kalau saat kemunculannya Ratu Pemikat sempat menyapanya dengan Pendekar 131, itu karena pada saat Ratu Pemikat dan Dewa Orok berjumpa beberapa hari yang lalu, Dewa Orok memperkenalkan diri sebagai Pendekar 131. Dewa Orok tidak menduga kalau Ratu Pemikat sebenarnya sudah mengenal betul siapa Pendekar 131.

Dan kalau Iblis Rangkap Jiwa tampak membayangkan kemarahan, ini tidak lain karena laki-laki gundul ini memang punya urusan tersendiri dengan Dewa orok. Seperti diketahui, Malaikat Penggali Kubur memerintahkan pada Iblis Rangkap Jiwa untuk membunuh Dewa Orok sebagai tebusan nyawanya.

Pada satu kesempatan, Iblis Rangkap Jiwa bersama Ratu Pemikat memang berhasil melumpuhkan Dewa Orok, namun saat itu Ratu Pemikat memberi usul agar nyawa Dewa Orok diperpanjang dahulu. Lalu mereka berdua meninggalkan Dewa Orok di satu tempat sepi dalam keadaan tertotok dan tertanam setelah sebelumnya Ratu Pemikat mengambil bundaran karet yang biasa dibuat mainan Dewa Orok. Pada akhirnya Ratu Pemikat, lebih-lebih Iblis Rangkap Jiwa harus menelan kecewa, karena ternyata Dewa Orok bisa lolos.

(Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Muslihat Sang Ratu)

Meski Ratu Pemikat tampak tertawa dan Iblis Rangkap Jiwa perdengarkan bentakan keras, namun dalam dada masing-masing orang ini timbul ganjalan yang tidak enak. Ini karena baik Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa telah mengatakan pada Malaikat Penggali Kubur kalau Dewa Orok mereka yakini pasti sudah tewas, walau kedua orang ini tahu persis jika Dewa Orok selamat dari cengkeramannya.

Kalau Iblis Rangkap Jiwa dan Ratu Pemikat tampak memendam ganjalan tidak enak dan sama-sama berpikir apa yang harus dikatakannya nanti kalau Malaikat Penggali Kubur datang, Dewa orok sendiri sebenarnya dilanda rasa gundah. Seperti diketahui, sebelum Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa meninggalkannya dalam keadaan tertanam dan tertotok, Ratu Pemikat telah ambil bundaran karetnya.

Malah Dewa Orok tidak tahu kalau bundaran karet itu kini telah diserahkan Ratu Pemikat pada Malaikat Penggali Kubur sebagai bukti kalau mereka telah membunuh Dewa Orok. Padahal, justru di bundaran karet mirip dot bayi itulah kekuatan Dewa Orok. Tanpa adanya bundaran karet, kekuatan Dewa Orok tidak ada apa-apanya. Dia hanya dapat kerahkan ilmu peringan tubuh tanpa bisa kerahkan tenaga dalam.

"Sebelum Malaikat Penggali Kubur muncul, lebih baik pemuda buntung itu kuselesaikan dahulu!" pikir Iblis Rangkap Jiwa. Dan sebenarnya apa yang menjadi pikiran Iblis Rangkap Jiwa, terlintas juga pada Ratu Pemikat.

Sementara itu, diatas puncak batu bercadas putih,tiba-tiba Raden Mas Antar Langit sudah lambaikan kedua tangannya pada Dewa Orok sambil berteriak.

"Hai, Sobat lama! Senang bisa jumpa lagi denganmu! Mana perempuan yang bersamamu dulu?!"

Mungkin karena tidak memiliki tangan untuk balas melambai, Dewa Orok akhirnya membuat gerakan satu kali. Wuuutt! Sosoknya melesat dua tombak ke udara. Membuat gerakan jungkir balik satu kali lalu meluncur lagi ke bawah. Ketika sosoknya kembali ke atas batu, pemuda bertangan buntung ini telah tegak dengan kedua kaki di atas dan kepala dibawah sebagai tumpuan tubuhnya! Dewa Orok gerakkan kedua kakinya melambai-lambai. Lalu terdengar suaranya.

"Hai, Sobat lama! Gembira sekali bisa jumpa lagi dengan kalian! Perempuan tempo hari itu terpaksa kutinggal, karena terlalu cerewet! Aku ingin tanya pada kalian.Karena kulihat kalian datang lebih dahulu!"

"Silakan, silakan! Kau hendak tanya apa?!" kata Raden Mas Antar Langit.

"Ada apa sebenarnya di tempat ini?! Aku merasa indahnya suasana tidak seirama dengan pemandangan sekitar! Ada beberapa mata memandang beringas mendelik!Ada juga wajah-wajah gelisah dan tegang! Hatiku jadi ikut-ikutan berdebar!"

Raden Mas Antar Bumi yang bertelanjang dada menyahut teriakan Dewa Orok. "Kau tak usah berdebar-debar! Ini tempat pasar jodoh! Kau boleh memilih perempuan mana yang kau suka dan cocok di hatimu! Ketegangan wajah-wajah mereka karena mereka tak sabar ingin segera dipilih!"

"Aku boleh memilih mana yang kusuka dan cocok di hatiku?!" ulang Dewa Orok. "Aku tidak mengenal mereka. Mau di antara kalian memperkenalkan mereka?!"

Raden Mas Antar Bumi arahkan telunjuknya pada Ni Luh Padmi yang tegak dan sedari tadi kancingkan mulut. Lalu orang ini mulai bersuara.

"Dia adalah seorang nenek berwajah cantik jelita dari tanah seberang. Dia dikenal dengan nama Ni Luh Padmi. Ukuran tubuhnya akan kukatakan nanti setelah aku memperkenalkan mereka satu persatu!"

Paras muka si nenek kontan berubah. Bukan hanya karena ucapan orang, lebih dari itu karena orang telah tahu siapa dirinya!

Raden Mas Antar Bumi tidak perhatikan perubahan wajah si nenek. Dia gerakkan telunjuknya dan kini mengarah pada Putri Sableng.

"Yang itu aku belum sempat tanyakan siapa namanya meski tadi aku sempat bercakap-cakap! Tapi kurasa dia tidak keberatan kalau kusebut Ratu..."

Raden Mas Antar Bumi tidak jadi lanjutkan keterangannya. Sementara paras muka Putri Sableng tampak memberengut sambil perdengarkan gumaman. Sepasang matanya mendelik besar-besar.

"Ah, kalau Ratu kurasa kurang cocok!" lanjut Raden Mas Antar Bumi. "Kusebut saja Gadis Malam. Wajahnya tidak usah diragukan lagi! Demikian pula segalanya!"

Meski Putri Sableng terlihat makin mendelik, namun sesaat kemudian gadis berjubah merah ini telah perdengarkan tawa cekikikan!

Raden Mas Antar Bumi kini arahkan telunjuknya pada Dewi Siluman. Yang ditunjuk sudah perdengarkan dengusan. Namun mau tak mau dia menunggu juga.

"Yang itu aku tadi mendengar dia sebutkan diri dengan Dewi Siluman. Tapi aku lebih suka memanggilnya si Jubah Hitam! Yang ini punya keistimewaan tersendiri. Dia..." Raden Mas Antar Bumi tidak teruskan bicaranya. Melainkan berpaling pada temannya dan berkata. "Kau saja yang beri keterangan!"

Raden Mas Antar Langit angkat bahunya. Melihat sekilas pada Dewi Siluman di bawah sana. Yang dipandang tampak mendongak dengan mata berkilat-kilat dan tubuh bergetar. Raden Mas Antar Langit menelan ludah dahulu lalu buka mulut.

"Si Jubah Hitam itu. Tidak mengenakan apa-apalagi di balik jubah hitamnya!"

Raden Mas Antar Langit tahan suara tawanya yang hampir saja meledak. Tapi tidak demikian halnya dengan Putri Sableng. Gadis ini langsung saja tertawa cekikikan! Dewi Siluman tak dapat lagi tahan kesabaran. Kedua tangannya yang sedari tadi sudah terangkat segera saja disentakkan ke atas.

Wuuttt! Wuuutt!

Terdengar dua suara deruan. Saat bersamaan terlihat dua gelombang menghampar diatas pasir lalu menggebrak ganas ke puncak batu cadas putih! Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi buru-buru rebahkan diri sejajar dengan batu cadas dimana mereka berada.

Brakk! Brakkk!

Bibir puncak batu cadas putih pecah berantakan di dua tempat. Pecahan batu cadas sejenak tampak bertabur di atas hamparan pasir yang membentang membelah kawasan berbatu.

"Kau cari gara-gara saja!" gumam Raden Mas Antar Langit.

"Bukan cari gara-gara. Sobat lama kita ingin tahu. Apa salahnya kita memberi keterangan?!" sahut Raden Mas Antar Bumi.

Kedua orang ini lantas merangkak ke bibir batu cadas putih dan mungkin takut diserang lagi, keduanya hanya menampakkan kepala masing-masing. Sementara di bawah sana, Dewi Siluman tampak bantingkan kaki kanannya. Sebenarnya perempuan ini hendak lepaskan pukulan lagi, tapi setelah melihat jaraknya terlalu jauh, dia urungkan niat. Apalagi dilihatnya kedua orang di puncak batu kini arahkan pandangannya pada Ratu Pemikat yang tegak tidak jauh dari Dewa Orok.

"Sobat lama!" kata Raden Mas Antar Bumi. "Kulanjutkan keterangan yang kau minta. Perempuan di depanmu itu kalau tidak salah bergelar..." Raden Mas Antar Bumi dekatkan telinganya pada mulut Raden Mas Antar Langit. Lalu mengangguk-angguk. Saat lain dia lanjutkan ucapannya. "Dia bergelar Dewi Asmara alias Ratu Penjilat!"

"Dewi Asmara alias Ratu Pemikat!" seru satunya.

"Ah.Betul!Aku tadi salah ucap. Yang betul Dewi Asmara alias Ratu Pemikat!" teriak Raden Mas Antar Bumi membetulkan ucapannya. "Soal wajah dijamin! Bentuk tubuh tak usah dibilang lagi! Cuma ada sedikit sayangnya..."

"Kau bilang cuma sedikit ada bsayangnya. Apa itu?!" seru Dewa Orok.

"Dia lebih senang pada celana butut laki-laki daripada tubuh laki-laki itu sendiri! Hik Hik Hik...!"

Ratu Pemikat tampak kernyitkan dahi mendengar ucapan orang. Dia sama sekali tidak menduga kalau kedua orang itu bukan saja mengetahui siapa saja yang ada di situ, namun juga tahu siapa dia sebenarnya! Ini lebih meyakinkan si perempuan kalau alasan yang dikemukakan dua orang berwajah hitam tadi hanyalah dusta belaka!

Namun Ratu Pemikat tidak mau terus menduga-duga siapa adanya kedua orang berwajah hitam. Karena saat itu pikirannya sedang dibuncah dengan urusan bagaimana menyelesaikan Dewa Orok sebelum Malaikat Penggali Kubur muncul.

Sementara di puncak batu bergubuk hitam, Iblis Rangkap Jiwa makin gelisah. Ia sesekali menghela napas dengan mata mendelik pada Dewa Orok di seberang sana. Dalam hati dia berharap Ratu Pemikat cepat bertindak. Laki-laki berkepala gundul ini tidak berani langsung turun tangan. Dia khawatir orang di tempat itu akan curiga.

Sementara Ratu Pemikat sendiri tampaknya harus berpikir dua kali untuk menghadapi Dewa Orok. Pengalamannya tempo hari waktu jumpa dengan Dewa Orok membuat perempuan ini bimbang. Saat itu kalau saja Iblis Rangkap Jiwa tidak segera muncul, niscaya dia akan kesulitan menghadapi Dewa Orok. Malah dia waktu itu sudah dalam keadaan terjepit!

Melihat Ratu Pemikat belum juga lakukan sesuatu, Iblis Rangkap Jiwa tampaknya hilang kesabaran. Dia buka mulut hendak ucapkan perintah. Namun mulutnya mendadak terkancing kembali saat sepasang matanya melihat satu sosok tubuh berkelebat menuju kawasan Kedung Ombo dari sebelah belakang batu cadas putih di depan kedung. Iblis Rangkap Jiwa dapat melihat dahulu sosok yang berkelebat karena dia berada pada ketinggian puncak batu yang membukit.

"Jangan-jangan dia!" desis Iblis Rangkap Jiwa dengan mata dibeliakkan.

Sosok yang berkelebat terus berlari cepat. Karena kedua orang berwajah hitam juga berada pada ketinggian, maka mereka berdua adalah orang kedua yang melihat munculnya orang. Hingga keduanya serentak palingkan kepala ke belakang, karena orang yang berlari datang dari jurusan belakangnya.

"Hem... Apa saja yang dilakukan sontoloyo ini hingga sampai datang terlambat?" gumam Raden Mas Antar Bumi.

"Dia tidak merasa kalau orang sudah berdebar-debar takut dia tidak muncul! Dasar sontoloyo sableng!"

"Ah... Kau sepertinya tidak tahu urusan anak muda saja!" sahut Raden Mas Antar Langit.

"Tapi seharusnya dia tahu! Ini urusannya! Bukan urusan orang-orang tua seperti kita!" bisik Raden Mas Antar Bumi dengan nada keras.

"Tapi sebenarnya kau punya urusan juga di sini, bukan?!"

"Urusannya berbeda!" bentak Raden Mas Antar Bumi.

"Betul! Tapi tempatnya sama! Lalu di mana bedanya?!"

"Dasar iblis bodoh! Tak tahu membedakan urusan dan tempat!" rungut Raden Mas Antar Bumi.

Meski dicaci, Raden Mas Antar Langit tampak senyum-senyum. Orang ini lantas bertanya. "Kau yakin orang yang disebut-sebut mendapatkan Kitab Hitam itu akan muncul disini?!"

"Itu lain dengan urusanku! Jadi aku tak mau menduga- duga!"

Raden Mas Antar Langit masih tampak senyum-senyum meski mendapat jawaban ketus dari Raden Mas Antar Bumi. "Terus-terusan bicara dengan manusia sinting, bisa-bisa aku akan ikut sinting!" gumam Raden Mas Antar Langit.

Raden Mas Antar Bumi sebenarnya ingin membentak lagi, tapi diurungkan tatkala dilihatnya orang yang berkelebat telah berada di bawahnya. Kalau tadi Raden Mas Antar Bumi sempat memaki orang yang berkelebat, kini dia tampak gerakkan tangannya melambai-lambai lalu berteriak.

"Hai...!Harap sebutkan diri sebelum memasuki kawasan pasar jodoh ini!"

Mungkin karena terkejut mendengar teriakan orang, orang yang berkelebat dibawah sana serta-merta hentikan larinya. Lalu berkelebat dan tegak bersandar pada bagian bawah batu cadas putih yang menjulang. Dia sengaja memilih tempat agak menjorok. Karena dengan demikian, dia dapat melihat dengan leluasa tempat disebelah kanan kiri kedung.

Orang yang baru muncul dan tegak di pojok batu cadas putih menjulang tengadahkan kepala. Lalu longokkan kepala ke depan. Berpaling ke kawasan berbatu sebelah kanan kedung. Cuma sesaat. Lalu palingkan kepala ke kawasan berbatu sebelah kiri kedung. Orang ini angkat tangan kirinya. Bukan memberi isyarat, melainkan hendak masukkan jari kelingkingnya ke dalam lobang telinganya! Sesaat kemudian orang ini tampak terjingkat-jingkat dengan wajah meringis!

"Kelakuannya tidak berubah!" desis Raden Mas Antar Bumi. Orang ini terlihat hendak berteriak lagi. Namun satu suara telah terdengar mendahului.

"Pendekar 131! Akhirnya kau muncul juga! Ha Ha Ha...!" Yang berteriak ternyata adalah Iblis Rangkap Jiwa.

"Murid jahanam sinting itu!" Ni Luh Padmi ikut-ikutan berteriak. "Kali ini jangan harap kau bisa lari lagi sebelum kau katakan di mana guru keparatmu berada!"

Orang yang mainkan jari kelingking pada lobang telinganya dan bukan lain memang Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng cepat tarik kepalanya. Lalu perlahan-lahan dia mengintip dari bibir batu cadas putih.

BAB 10

ADA keanehan..." gumam Pendekar 131. "Mengapa gadis berjubah merah itu berada bersama Dewi Siluman dibawah naungan Iblis Rangkap Jiwa?! Jangan-jangan dia kaki tangan Malaikat Penggali Kubur!"

Kepala murid Pendeta Sinting berpaling kekiri kekawasan berbatu disebelah kanan kedung."Dewa Orok. Mengapa pemuda ini ada bersama Ratu Pemikat?!Dan perempuan itu, kenapa mengambil tempat berseberangan dengan Iblis Rangkap Jiwa dan Ni Luh Padmi?!"

Kepala Joko mengedar berkeliling. "Malaikat Penggali Kubur belum tampak batang hidungnya! Bagaimana ini...?! Apakah benar kalau pemuda itu yang telah mendapatkan Kitab Hitam?! Jangan-jangan keterangan Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa hanya mengada-ada saja...!"

Karena belum bisa menjawab apa yang membuncah dalamh atinya, murid Pendeta Sinting tampak tengadahkan kepala memandang langit. Sang rembulan tampak bersinar cemerlang. Tidak ada segumpal awan pun yang melintang disana. Saat itulah tiba-tiba satu benda putih menutupi pemandangan Joko meluncur dari atas. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan dari puncak batu cadas putih.

"Apa yang kau lakukan di situ?! Di sini bukan tempat orang melamun!"

Joko buru-buru melompat menghindar. Benda putih yang melayang turun yang ternyata adalah pecahan batu cadas menghantam tanah berpasir. Tanah berpasir muncrat lalu tampak lobang menganga besar!

"Siapa kalian?! Apa pula yang kalian kerjakan di situ?!" Joko balik bertanya sambil mendongak.

"Sialan! Disuruh sebutkan diri malah bertanya!" teriak orang dari puncak batu cadas putih.

"Hai, Sobat lama berdua di atas puncak batu putih!" Yang berseru adalah Dewa Orok. Pemuda ini masih tegak dengan kaki di atas kepala di bawah. Kedua kakinya bergerak meiambai-lambai. "Yang di bawah kalian itu adalah sahabatku!"

"Hem... Siapa namanya?!" teriak salah seorang dari puncak batu cadas putih.

"Kalau dia belum sempat merubah nama, dia adalah pemuda yang dikenal dengan sebutan Joko Sableng! Murid tunggal manusia setengah edan yang disebut-sebut orang dengan Pendeta Sinting!"

Kedua orang berwajah hitam di atas puncak batu cadas putih saling pandang. Lalu salah seorang kembali berteriak.

"Sobat lama! Selama ini kita hanya saling kenal wajah tanpa tahu nama masing-masing! Mumpung di sini, mau kau katakan siapa namamu?!"

"Ah... Betul! Selama ini kita hanya saling kenal wajah tanpa tahu nama masing-masing! Aku mau saja katakan siapa namaku. Tapi sebenarnya aku sungkan!"

"Ini pasar jodoh! Kau tak usah sungkan-sungkan!"

"Aku sebenarnya adalah Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng...!"

Dari arah seberang terdengar suara tawa cekikikan. Ratu Pemikat tampak sunggingkan senyum dingin. Sementara kedua orang di atas puncak batu cadas putih kembali saling pandang.

"Kalian tidak percaya?!" teriak Dewa Orok. Pemuda bertangan buntung ini membuat gerakan satu kali. Sosoknya melesat ke udara. Begitu turun lagi, si pemuda telah tegak di atas batu dengan kaki di bawah kepala di atas. Pemuda bertangan buntung itu busungkan dada. Kepalanya didongakkan. Lalu putar tubuhnya dua kali.

"Apa potonganku kurang meyakinkan kalau disebut Pendekar?!"

"Gila! Yang hadir ternyata bukan hanya orang-orang yang punya kepentingan! Tapi juga orang-orang gila!" gumam murid Pendeta Sinting.

Sementara itu, melihat kemunculan Pendekar 131, Dewi Siluman tampak tidak sabar. Laksana hendak terbang, perempuan bercadar hitam ini berkelebat. Namun baru saja sosoknya mencapai hamparan pasir di depan kedung, satu gelombang dahsyat melesat menghantam dataran pasir yang membelah dua kawasan, membuat gerakan Dewi Siluman tertahan. Malah perempuan ini harus segera melompat mundur. Jika tidak, niscaya gelombang tadi akan menghantam tubuhnya. Dewi Siluman kepalkan kedua tangannya lalu berpaling ke atas dari mana gelombang tadi berasal. Di atas sana, Iblis Rangkap Jiwa tampak berkacak pinggang tanpa memandang ke arah Dewi Siluman yang saat itu memandangnya.

"Jangan ada yang berani membuat gerakan tanpa persetujuanku! Lagi pula kita masih menunggu kedatangan seseorang!" teriak Iblis Rangkap Jiwa.

"Itu urusanmu! Aku punya urusan sendiri dengan pemuda itu!" Dewi Siluman balas membentak.

"Persetan kau punya urusan dengan pemuda itu atau tidak! Tapi kalau kau keras kepala, terpaksa aku membunuhmu terlebih dahulu!"

Meski selama ini belum mengenal Iblis Rangkap Jiwa, namun melihat beberapa kali pukulan yang sempat dilepas si laki-laki berkepala gundul itu, membuat Dewi Siluman maklum kalau Iblis Rangkap Jiwa tidak bisa dipandang sembarangan. Tapi tampaknya Dewi Siluman tidak begitu saja diam. Dia cepat angkat bicara.

"Siapa orang yang kau tunggu?!"

Iblis Rangkap Jiwa palingkan kepala. "Matamu nanti akan melihat sendiri! Tak usah banyak tanya!"

"Hem... Mungkin yang ditunggu itu adalah orang yang disebut-sebut sebagai pemegang Kitab Hitam! Perturutkan hati, ingin rasanya aku mengadu jiwa dengan laki-laki gundul itu! Tapi..." Dewi Siluman berpikir sejenak. Kejap lain perempuan ini melangkah mundur lalu melompat ke atas sebuah batu.

Sementara itu, melihat kemunculan murid Pendeta Sinting, Ratu Pemikat tampak lebarkan senyum meski jelas wajahnya masih membayangkan rasa gelisah. Dia belum bisa memutuskan apa yang harus diperbuat dengan Dewa Orok.

"Pendekar 131! Mengapa kau masih berada di situ?!" ujar Ratu Pemikat.

Dewa Orok yang tadi sebutkan diri sebagai Pendekar 131 segera hendak berkelebat. Tapi gerakannya tertahan tatkala tiba-tiba Ratu Pemikat balikkan tubuh dan membentak.

"Aku tahu siapa kau! Jangan bertingkah macam-macam!"

Dewa Orok tergagu diam. Dia saling pandang dengan murid Pendeta Sinting lalu sama-sama tertawa!

"Walah... Pemuda itu menipu kita!" terdengar suara dari puncak batu cadas putih. "Yang Pendekar 131 ternyata bocah yang cengengesan itu!"

Dewa Orok mendongak. Begitu dilihatnya kedua kepala di bibir batu cadas putih tertawa-tawa, pemuda bertangan buntung itu makin keraskan suara tawanya! Ratu Pemikat tidak pedulikan Dewa Orok, dia kembali putar tubuh menghadap murid Pendeta Sinting.

"Aku hendak bicara denganmu! Bisa kau kemari?!"

Murid Pendeta Sinting berpikir sejurus. Lalu perlahan-lahan melangkah ke kawasan batu di mana Ratu Pemikat dan Dewa Orok berada..Belum sampai langkahan kaki Joko mencapai kawasan berbatu sebelah kanan kedung, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki-kaki kuda berpacu cepat. Semua kepala berpaling ke arah kawasan berbatu cadas putih di depan kedung. Karena suara derap langkah kaki kuda berasal dari sana. Namun semua orang di tempat itu dibuat bertanya-tanya dan heran.

Dari arah belakang kawasan berbatu cadas putih, terlihat seekor kuda berlari cepat laksana kesetanan. Namun bukan kecepatan larinya kuda yang membuat semua orang terkesima. Karena ternyata kuda kesetanan itu berlari tanpa penunggang! Anehnya kuda itu berlari kencang dan lurus menuju kedung seakan dikendalikan oleh seorang penunggang!

Semua orang tidak ada yang membuat gerakan atau angkat bicara. Semua seolah menunggu. Sementara kuda tanpa penunggang itu terus berlari. Dalam beberapa saat saja binatang itu telah berada dibawah puncak batu cadas putih menjulang di depan kedung. Kejap kemudian telah berada di hamparan pasir yang membentang membelah kawasan berbatu. Anehnya, kuda itu terus berlari melintasi hamparan pasir.

Hamparan pasir tampak muncrat ke udara. Lalu ter- dengar ringkihan keras. Kuda tanpa penunggang terus berlari lurus menuju kedung. Semua orang sudah menduga kalau kuda itu bakal tercebur ke dalam kedung. Karena jarak antara kuda dengan bibir kedung tinggal dua tombak lagi, sementara si binatang laksana kesetanan terus berlari.

Sejengkal lagi kaki depan kuda tanpa penunggang terperosok masuk ke dalam kedung, tiba-tiba satu sapuan gelombang dahsyat melesat dari arah sebelah kiri kedung. Kedua kaki depan kuda tanpa penunggang yang telah berada di atas air kedung tertahan sekejap. Di kejap lain kedua kaki depannya terangkat tinggi. Dari mulutnya terdengar ringkihan keras.

Sosoknya berputar. Lalu mencelat balik ke belakang sejauh lima tombak sebelum akhirnya terkapar di atas pasir. Untuk kesekian kalinya dari moncongnya yang berbusa terdengar ringkihan keras membahana. Namun laksana direnggut setan, ringkihan kuda terputus. Sosoknya diam tak bergerak-gerak lagi!

"Air Kedung Ombo hanya pantas dihiasi bangkai manusia-manusia sesat yang tidak tunduk pada perintahku!" terdengar teriakan keras menyambuti putusnya ringkihan kuda.

"Malaikat Penggali Kubur!" satu seruan menyeruak dari puncak batu di mana gubuk hitam berada.

Semua kepala kini berpaling ke puncak batu sebelah kiri kedung yang ditancapi gubuk hitam. Kalau tadi di sana hanya tampak Iblis Rangkap Jiwa, kini di sebelah laki-laki berkepala gundul itu terlihat tegak berkacak pinggang seorang pemuda mengenakan jubah putih. Parasnya tampan namun membayangkan keberingasan. Dagunya kokoh dengan sepasang mata tajam. Rambutnya hitam lebat dan panjang sebahu.

Si pemuda gerakkan kedua tangannya singkapkan bagian bawah jubahnya. Di balik jubah putihnya terlihat rangkapan pakaian hitam. Si pemuda yang bukan lain adalah Malaikat Penggali Kubur arahkan kepalanya memandang satu persatu pada orang yang berada di bawah.

"Iblis Rangkap Jiwa!" bentak Malaikat Penggali Kubur. "Kau telah mengorek keterangan tua bangka perempuan yang menggenggam tusuk konde butut itu?!"

Yang dimaksud Malaikat Penggali Kubur tidak lain adalah Ni Luh Padmi. Seperti diketahui, si nenek tidak muncul dipuncak Bukit Selamangleng pada saat yang ditentukan. Iblis Rangkap Jiwa tidak segera menjawab. Sebenarnya laki-laki berkepala gundul ini masih terkesiap dengan kemunculan Malaikat Penggali Kubur sementara disisi lain dia belum bisa menyelesaikan urusannya dengan Dewa Orok.

"Telingamu tidak tuli! Jangan kau buat kesabaranku habis!" ujar Malaikat Penggali Kubur dengan nada keras.

"Dia baru saja muncul! Dan belum sempat aku mengorek keterangannya, kau telah datang!" kata Iblis Rangkap Jiwa seraya melirik jauh ke seberang.

"Siapa gadis berjubah merah itu?!" tanya Malaikat Penggali Kubur.

"Dia bernama Putri Sableng! Dia siap kerahkan tenaga untuk membantu kita!"

Malaikat Penggali Kubur tersenyum aneh. Kepalanya kini terarah pada Dewi Siluman. Untuk beberapa saat pemuda murid Bayu Bajra ini perhatikan dengan seksama.

"Hem... Dewi Siluman! Ternyata kau belum mampus di Pulau Biru! Malam ini kau akan tahu siapa orang yang pernah kau buat bulan-bulanan dahulu!" kata Malaikat Penggali Kubur dalam hati.

Seperti diketahui, antara Malaikat Penggali Kubur dan Dewi Siluman sempat beberapa kali jumpa. Dan mereka terakhir kali bertemu saat terjadi peristiwa di Pulau Biru. (Tentang pertemuan Malaikat Penggali Kubur dengan Dewi Siluman silakan baca serial Joko Sableng dalam episode Neraka Pulau Biru).

"Siapa perempuan berjubah hitam itu?!" tanya Malaikat Penggali Kubur pura-pura tidak kenal.

"Dia Dewi Siluman! Dia juga siap berada di pihak kita!" kata Iblis Rangkap Jiwa.

Sementara itu, untuk sesaat tadi Dewi Siluman seolah masih tidak percaya dengan pandangan matanya. Malah perempuan ini sempat mengerjap lalu melotot untuk meyakinkan. Dan begitu Malaikat Penggali Kubur berpaling ke arahnya, dia baru merasa yakin.

"Malaikat Penggali Kubur. Hem... Jadi dia manusianya yang mendapatkan Kitab Hitam itu! Tidak terbersit sama sekali jika dia manusianya! Melihat pukulannya yang menahan gerakan binatang malang itu, rupanya dia jauh meningkat dibanding waktu di Pulau Biru! Ini mungkin akibat kitab itu..." Diam-diam Dewi Siluman membatin.

Malaikat Penggali Kubur terus arahkan pandangannya menyeberang. Dia sempat belalakkan mata tatkala melihat dua kepala berwajah hitam berambut awut-awutan di bibir puncak batu cadas putih.

"Siapa kedua setan hitam di puncak batu cadas putih itu?!"

Iblis Rangkap Jiwa sesaat arahkan pandangannya pada puncak batu cadas. Sebenarnya dada Iblis Rangkap Jiwa sudah berdebar keras. Karena tak lama lagi akan tiba pada sosok Dewa Orok. Hingga mungkin karena pikirannya tercurah pada urusan Dewa Orok, Iblis Rangkap Jiwa tidak segera menjawab pertanyaan Malaikat Penggali Kubur. Laki-laki berkepala gundul ini buru-buru buka mulut saat Malaikat Penggali Kubur berpaling ke arahnya dengan mata berkilat.

"Mereka adalah Raden Mas Antar Langit dan Raden Mas Antar Bumi! Menurut pengakuan mereka, kedatangan mereka malam ini karena ingin menghilangkan kutuk pada diri mereka dengan mandi di kedung pada malam purnama!"

Malaikat Penggali Kubur menyeringai. Lalu arahkan pandangannya lagi ke puncak batu cadas putih. Saat bersamaan, kedua orang berwajah hitam sama angkat tangan masing-masing melambai-lambai. Dan sesaat kemudian salah satu dari kedua orang ini terdengar angkat bicara berteriak.

"Hai, Teman lama...! Beda benar penampilanmu saat ini! Bagaimana kabarmu...?"

Malaikat Penggali Kubur mendelik angker. Rahangnya terangkat mengembung. Dari mulutnya terdengar desisan. "Apa mereka mengenalku?! Siapa mereka sebenarnya?!"

Ucapannya tidak disambuti orang, salah seorang yang tadi berteriak yang ternyata adalah Raden Mas Antar Langit berpaling pada Raden Mas Antar Bumi. Saat yang sama Raden Mas Antar Bumi tampak buka mulut. Raden Mas Antar Langit berbisik. Lalu tampak Raden Mas Antar Bumi yang bertelanjang dada mengangguk-angguk. Lalu orang ini berseru.

"Hai... Kau adalah teman dari temanku ini! Sebagai teman dari temanku, berarti kau adalah temanku juga! Kunasihatkan. Tempatmu bukan di situ! Campur aduk dengan Iblis Rangkapan! Tapi di sini, bersama dengan temanku...!"

Malaikat Penggali Kubur masih kancingkan mulut tidak sambuti seruan orang. Sebaliknya Iblis Rangkap Jiwa tampak menggerendeng panjang mendengar dirinya disebut Iblis Rangkapan. Dan dia makin geram tatkala dari arah bawah terdengar suara tawa cekikikan.

"Mulut mereka harus dirobek!" teriak Iblis Rangkap Jiwa.

Laki-laki berkepala gundul ini sudah hendak berkelebat. Namun tangan kanan Malaikat Penggali Kubur bergerak menghalangi. "Aku masih butuh keterangan! Jangan pergi dahulu!" ujar Malaikat Penggali Kubur, membuat Iblis Rangkap Jiwa was-was.

Sedikit banyak Iblis Rangkap Jiwa dapat menduga keterangan apa sebenarnya yang hendak ditanyakan Malaikat Penggali Kubur. Mendapati orang belum juga menyambuti ucapan, Raden Mas Antar Langit sekali lagi berteriak masih dengan lambaikan tangan.

"Hai, Teman lama...! Sebagai bukti kalau kau adalah teman lamaku, aku akan katakan siapa kau!"

Raden Mas Antar Langit sengaja memutus ucapannya. Sementara Malaikat Penggali Kubur tampak makin mendelik.

"Aku yakin, kau adalah pemuda kesohor bergelar Malaikat Penggali Kubur. Kau adalah murid tunggal Bayu Bajra! Betul bukan?!"

"Hem... Aku yakin, alasan kedatangan mereka hanya omong kosong! Tapi apa peduliku?! Kitab Hitam di tanganku! Siapa pun mereka adanya, mereka juga harus ikut mampus di sini!" Membatin Malaikat Penggali Kubur.

Lalu tanpa pedulikan lambaian orang, Malaikat Penggali Kubur arahkan pandangannya pada murid Pendeta Sinting yang masih tegak di atas pasir. Pelipis kanan kirinya bergerak-gerak. Giginya beradu perdengarkan suara bergemeletak. Jelas kalau pemuda murid Bayu Bajra ini sedang menindih hawa kemarahan.

"Pendekar 131! Akhirnya tiba juga saat kematianmu! Kau boleh membekal beberapa kitab sakti! Tapi Kitab Hitam akan memusnahkannya!" desis Malaikat Penggali Kubur. Kalau saja dia tidak inginkan keterangan lagi dari Iblis Rangkap Jiwa, pemuda ini rasanya sudah melayang turun.

Sementara itu, melihat kemunculan Malaikat Penggali Kubur, murid Pendeta Sinting sejenak tadi masih terkesima. Meski selama ini telah mendengar kalau yang mendapatkan Kitab Hitam adalah Malaikat Penggali Kubur, namun sebenarnya dia masih belum yakin benar. Dia belum habis pikir, bagaimana Malaikat Penggali Kubur berhasil mendapatkan Kitab Hitam, padahal menurut yang diketahuinya, Kitab Hitam berada di sekitar Bukit Selamangleng yang dijaga Iblis Rangkap Jiwa.

Sementara Iblis Rangkap Jiwa adalah manusia berilmu tinggi yang dikenal tidak mempan terhadap pukulan. Lebih dari itu, dari mana Malaikat Penggali Kubur bisa mengetahui tentang Kitab Hitam. Tapi begitu melihat kemunculan Malaikat Penggali Kubur dan melihat bagaimana dia dapat mengendalikan kuda yang diyakini murid Pendeta sinting dikendalikan Malaikat Penggali Kubur, serta mengetahui bagaimana pukulan yang dilepas Malaikat Penggali Kubur mampu menahan gerakan kuda yang hendak tercebur dalam kedung, mau tak mau membuat Joko harus menepis kebimbangannya.

Apalagi ketika dilihatnya bagaimana Iblis Rangkap Jiwa tampak ketakutan begitu Malaikat Penggali Kubur datang. Malaikat Penggali Kubur arahkan pandangannya pada Ratu Pemikat. Lalu tampak anggukkan kepala. Di sebelahnya Iblis Rangkap Jiwa sudah tampak gemetar. Dan jauh di seberang, Ratu Pemikat tampaknya dapat menangkap ganjalan tidak enak. Tapi yang dirasakannya jauh lebih ringan dari pada Iblis Rangkap Jiwa.

Karena dia berada jauh di seberang. Dan tak mungkin Malaikat Penggali Kubur akan turun tangan sebelum menangani Iblis Rangkap Jiwa yang berada disebelahnya. Akhirnya apa yang dicemaskan Iblis Rangkap Jiwa terjadi juga saat Malaikat Penggali Kubur ajukan tanya dengan mata memandang pada Dewa Orok.

"Siapa manusia buntung dibelakang Ratu Pemikat itu?!"

Iblis Rangkap Jiwa terdiam. Dalam pikirannya selintas masih terbersit pertanyaan, apakah Malaikat Penggali Kubur memang tidak mengenali Dewa Orok atau kenal tapi pura-pura bertanya. Namun belum sampai Iblis Rangkap Jiwa menarik kesimpulan, Malaikat Penggali Kubur telah ulangi lagi pertanyaannya.

Iblis Rangkap Jiwa masih tidak menjawab. Namun saat lain laki-laki berkepala gundul ini telah melangkah dua tindak dan tiba-tiba jatuhkan diri di hadapan Malaikat Penggali Kubur. Malaikat Penggali Kubur hanya menyeringai. Dengan sikap Iblis Rangkap Jiwa, si pemuda sudah maklum, karena dari keterangan Ratu Pemikat tempo hari, dia sudah dapat mengenali Dewa Orok meski belum sempat bertemu muka. Namun sejauh ini Malaikat Penggali Kubur belum buka mulut. Dia seolah menunggu Iblis Rangkap Jiwa buka suara.

"Harap maafkan. Ternyata dugaanku tempo hari salah!"

"Hem... Dugaan apa?!" tanya Malaikat Penggali Kubur dingin.

"Ternyata Dewa Orok yang kutanam dalam keadaan tertotok bisa lolos..."

"Hem... Lalu?!"

"Malam ini aku akan tamatkan riwayatnya!"

Tangan kanan Malaikat Penggali Kubur bergerak.

Plaaakkk!

Satu tamparan keras mendarat di wajah Iblis Rangkap Jiwa. Karena tidak menduga, dan tamparan itu bukan tamparan biasa, maka kepala Iblis Rangkap Jiwa tampak tersentak keras ke samping.

Dari arah puncak batu cadas putih terdengar suara tawa bersahut-sahutan. Lalu terdengar suara orang.

"Ternyata temanmu itu garang juga. Dan herannya ternyata Iblis Rangkapan itu hanya pandai berteriak-teriak. Kasihan juga... Kulihat kepalanya tadi miring ke samping. Hik Hik Hik...!"

Ternyata suara tawa bukan saja terdengar dari puncak batu cadas putih. Melainkan dari bagian bawah terdengar juga suara orang cekikikan begitu kepala Iblis Rangkap Jiwa tersentak akibat tamparan Malaikat Penggali Kubur. Suara-suara tawa dan tawa cekikan membuat dada Iblis Rangkap Jiwa panas. Wajahnya mengelam dengan tubuh bergetar. Diam-diam dalam hati laki-laki ini membatin.

"Apa sekarang saja kurebut kitab itu?!" Sepasang matanya melirik ke arah dada Malaikat Penggali Kubur. Tapi Iblis Rangkap Jiwa terlihat masih bimbang.

Di lain pihak, Malaikat Penggali Kubur diam-diam juga membatin. "Meski aku telah membekal Kitab Hitam, namun aku tidak mau bersusah-payah malam ini. Manusia Iblis ini masih kuperlukan tenaganya! Lagi pula ada beberapa orang yang belum kukenal di tempat ini!" Habis membatin begitu, Malaikat Penggali Kubur dongakkan kepala. Lalu menghardik.

"Mengapa kau masih di sini?!"

Iblis Rangkap Jiwa terkesiap. Belum sampai dia buka mulut, Malaikat Penggali Kubur telah menghardik lagi.

"Habisi manusia buntung itu!"

Iblis Rangkap Jiwa pandangi tampang Malaikat Penggali Kubur dengan tatapan dingin. Lalu dia bergerak mundur...!

S E L E S A I