Social Items

Dia tidak ingin memegang jabatan atau kedudukan karena dia melihat betapa kedudukan diperebutkan mati-matian oleh keluarga kaisar. Dia sendiri adalah keponakan kaisar, putera mendiang Pangeran Li Seng Tek, kakak dari Kaisar Tang Tai Cung (Li Si Bin), dan sampai meninggalnyapun mendiang ayahnya tidak pernah ikut dalam perebutan kekuasaan. Justeru karena tidak ingin terlibat dalam perebutan, maka dia dimusuhi oleh mereka yang berusaha merebut kedudukan kaisar dan Pangeran Li Seng Tek tewas keracunan tanpa ada yang mengetahui siapa yang meracuninya.

Peristiwa ini membuat Li Cu Kiat semakin tidak senang dengan dudukan dan dia lebih suka menjadi seorang yang bebas dari tugas yang mengikat, namun dia selalu bertindak kalau ada pejabat atau perajurit yang melakukan penyelewengan. Karena dia tidak congkak, lihai dan tidak memperebutkan kedudukan, tidak haus balas jasa, maka semua pejabat di kota raja maupun di daerah, segan dan takut kepadanya.

Kaisar Tang Tai Cung yang mengenal baik watak ponakannya, amat suka kepadanya dan percaya akan segala laporannya, maka biarpun tidak menduduki jabatan. Pangeran Li Cu Kiat mempunyai kekuasaan besar, ditakuti oleh para petugas. Itulah sebabnya maka dia berani memanggil panglima untuk ditegur mengenai perbuatan regu penjaga tadi.

Kui Eng berjalan menuntun kudanya. Karena jalan raya di kota raja itu mulai ramai dengan orang berlalu-lalang, maka ia tidak menunggangi kudanya, melainkan dituntun dan ia berjalan-jalan mengagumi keadaan kota raja yang ramai dan di kiri jalan raya terdapat banyak toko. rumah makan, dan ada pula beberapa buah rumah penginapan yang cukup besar. Karena ia tidak ingin tinggal di ruman penginapan yang terlalu ramai.

Kui Eng lalu menuntun kudanya ke sudut kota dan berhenti didepan sebuah rumah penginapan yang berdiri agak menyendiri di sudut kota. Rumah penginapan itu nampak tidak terlalu bising, dan memiliki pekarangan yang besar. Bahkan di sebelah kirinya terdapat sebuah rumah makan yang agaknya menjadi satu dengan rumah penginapan itu. Ketika ia menuntun kudanya memasuki pekarangan, seorang pelayan tergopoh menyambutnya,

“Selamat pagi, nona. Apakah nona mencari kamar yang bersih dan baik?"

Kui Eng mengangguk. "Sediakan sebuah kamar yang bersih, beri makan dan minum kuda ini dan rawat baik-baik, kemudian suruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi."

"Baik, nona." Pelayan itu menerima kendali kuda dari Kui Eng, berteriak memanggil temannya dan mempersilakan Kui Eng mengikuti pelayan yang datang berlarian untuk diantar ke kamarnya dan dilayani semua kebutuhannya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, merasa segar tubuhnya, Kui Eng lalu meninggalkan kamarnya. Ia menaruh buntalan pakaiannya di kamar, akan tetapi membawa kotak perhiasannya karena ia tidak ingin kehilangan bekal itu, juga membawa pedangnya dan ia pun pergi ke rumah makan di sebelah. Kui Eng tidak tahu betapa seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun mengamatinya dari luar rumah penginapan ketika ia keluar dari pekarangan rumah penginapan itu dan memasuki rumah makan.

Laki-laki yang tubuhnya pendek tegap itu kini juga memasuki rumah makan dan duduk di sudut, dari mana dia dapat memandang ke arah Kui Eng dari belakang. Gadis itu tanpa menduga sesuatu, duduk menghadapi meja dan memesan makanan dan air teh. Kemudian ia makan minum dengan santai dan tenang, tidak tahu betapa laki-laki tadi minum arak dan selalu memperhatikannya walaupun dengan sikap yang tidak menyolok.

Sehabis makan, Kui Ing meninggalkan rumah makan dan pergi berjalan-jalan. Ia tidak tahu ke mana harus mencari Thian Ki. Ia hanya tahu bahwa Thian Ki disuruh ayahnya untuk mencari dan merampas kembali pedang Liong-cu kiam, akan tetapi di samping tugas ini, juga Thian Ki pergi mengunjungi Huang-ho Sin-liong Si Han Beng di dusun Tang-cun untuk minta pertolongan pendekar itu mengusir hawa beracun dari tubuhnya. Ia tidak tahu apakah sekarang Thian Ki telah tiba di kota raja ataukah belum.

Karena ia sekarang telah tiba di Kota raja, kenapa ia tidak membantu kakak tiri atau juga suhengnya itu untuk merampas kembali pedang Liong-cu-kiam milik ayahnya? Dengan demikian, ia akan meringankan tugas Thian Ki. Ia berjalan-jalan dan mengagumi kota raja. Ada keharuan mendalam di lubuk hatinya. Kota raja ini juga merupakan tempat kelahirannya. Dan ayahnya pernah menceritakan dan menggambarkan keadaan kota raja ini, bahkan memberi tahu di mana letak istana yang dahulu ditinggali ayahnya ketika menjadi pangeran.

Mengingat betapa ayahnya dahulu seorang pangeran di kota raja ini. dan ketika ia masih kecil, iapun tinggal di sini, semacam keharuan menyelinap di hatinya. Ia tidak dapat mengingat tempat ini karena ketika terjadi perang, ketika ayahnya membawa ia dan ibunya pergi mengungsi, usianya baru kurang dari dua tahun. Akan tetapi, ayahnya pernah membuat gambaran tentang kota raja dan kini ia pergi menuju istana yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal ayanya, pernah menjadi tempat ia terlahir!

Jantungnya berdebar tegang ketika ia tiba di jalan raya depan rumah gedung itu. Sebuah gedung yang besar dan megah. Jantungnya terasa terasa seperti diremas ketika ia teringat kepada ayahnya. Ayahnya dahulu seorang pangeran dan tinggal di dalam istana ini! Dan sekarang Ayahnya tinggal di dusun sebagai seorang petani! Ibunya, dan keluarga lain terbunuh. Kehidupan keluarga ayahnya hancur lebur. Ingin sekali ia memasuki istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya, melihat kamar ibunya di mana ia dahulu dilahirkan! Akan tetapi, bagaimana mungkin?

Tempat itu kini tentu ditempati seorang pembesar lainnya dan di depan rumah itu terdapat sebuah gardu penjagaan di mana terdapat lima orang perajurit penjaga. Tentu tempat tinggal orang penting. Memasukinya tidak mungkin, karena ia tentu akan dihalangi oleh petugas jaga. Akan tetapi malam nanti, ia dapat melaksanakan niatnya. Ia dapat menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk, sebagi pencuri akan tetapi bukan untuk mencuri sesuatu. Ia hanya ingin masuk ke istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya, melihat bekas kamar ibunya. Itu saja!

Kui Eng berdiri di luar pekarangan istana itu sampai lama, tidak tahu betapa laki-laki pendek tegap itu mengikutinya sejak dari rumah makan tadi. Kini Kui Eng berjalan lagi dan menuju ke gedung istana yang terkurung pagar tembok yang tinggi dan terjaga kuat. Memasuki daerah terlarang ini merupakan pekerjaan yang lebih sulit lagi.

Kalau Thian Ki akan mengambil Liong-cu kiam dari gedung pusaka, dia harus dapat melewati pagar tembok dan para penjaga dan setelah tiba di lingkungan istana, baru dapat mencari gedung pusaka yang tentu terjaga ketat pula. Kui Eng menghela napas. Betapa sukarnya dan betapa bahayanya melaksanakan tugas merampas Liong-cu-kiam itu. Bagaimanapun juga, ia ingin membantu Thian Ki, melaksanakan perintah ayahnya.

Ia tidak akan bertindak tergesa-gesa dan tanpa perhitungan. Ia akan menyelidiki dulu keadaan para penjaga, bagaimana pula sistim penjagaan itu agar setelah mengenal keadaan ia akan dapat memasuki lingkungan istana dan mencari pedang pusaka milik ayahnya di gedung pusaka. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota raja menjelang sore Kui Eng kembali ke rumah penginapan untuk beristirahat. Ia tidak tahu bahwa laki-laki pendek tegap tadipun ternyata menyewa sebuah kamar tepat di sebelah kamarnya!

Malam itu bulan purnama muncul dengan indahnya. Langit bersih sehingga bulan dapat menerangi seluruh permukaan bumi, mendatangkan suasana yang amat indah dan sejuk. Kui Eng keluar dari kamarnya dan setelah makan malam, ia kembali berjalan-jalan menikmati keindahan malam di kota raja. Tidak lupa ia kembali melewati bekas istana ayahnya, kemudian juga melewati pintu gerbang kompleks istana.

Karena malam itu indah, maka sebagian besar penduduk kota raja berada di luar rumah, tidak ingin melewatkan keindahan malam bulan purnama sia-sia belaka. Dengan hati gembira Kui Eng akhirnya kembali ke rumah penginapan dan memasuki kamarnya. Ia merasa lelah juga setelah sehari semalam berjalan-jalan, dan segera merebahkan diri di atas pembaringan.

Sesosok bayangan yang berkelebat di luar jendelanya, walaupun hanya sekejap mata, cukup membuat Kui Eng merasa curiga. Ia teringat akan pengalamannya di pintu gerbang kota raja pagi tadi, maka begitu melihat bayangan berkelebat di luar jendela kamarnya, iapun menjadi waspada. Dengan hati-hati dipakainya kembali sepatunya, dibereskannya rambut dan pakaiannya Kalau bayangan tadi hanya seorang yang berjalan di luar pintu kamarnya, tentu ia tidak akan curiga karena tempat itu merupakan rumah penginapan umum di mana banyak tamu bermalam dan tentu ada saja orang yang lewat di depan kamarnya

Akan tetapi, gerak bayangan itu demikian cepat dan hal ini saja menunjukkan bahwa yang tadi lewat di luar jendelanya bukan orang berjalan, melainkan orang yang bergerak cepat dan tidak terdengarnya langkah kakinya membuktikan bahwa bayangan itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi.

Setelah mengambil pedangnya dari atas meja, tidak lupa mengikatkan kotak perhiasan di pinggangnya, Kui Eng meniup padam lilin di atas meja, lalu duduk di pembaringan, Ia mengerahkan tenaga sin-kangnya, mencurahkan perhatian pada pendengarannya dan tahulah ia bahwa di luar jendelanya terdapat seseorang. Hal ini ia ketahui dari pernapasan orang itu yang dapat ia tangkap melalui pendengarannya.

Beberapa kali Kui Eng menguap dan sengaja mengeluarkan suara agar terdengar dari luar, kemudian perlahan-lahan ia mengeluarkan suara pernapasan berat seperti orang yang mulai tertidur. Setengah jam kemudian, ia bahkan mengeluarkan dengkur halus.

Pancingannya berhasil. Terdengar suara jendela berkeretek dan daun jendela tertutup terbuka dari luar. Sesosok bayangan meloncat bagaikan seekor kucing ke dalam kamarnya. Semua ini dapat dilihatnya karena dari luar kamarnya terdapat sinar lampu gantung yang membentuk bayangan orang itu. Orang itu menghampiri pembaringannya dengan golok di tangan dan dia mengayun golok membacok ke arah dirinya yang tidur telentang!

Trangggg...!!"

Bayangan itu terkejut bukan main ketika goloknya ditangkis oleh gadis yang disangkanya sudah pulas itu. Dia meloncat kebelakang, lalu meloncat keluar kamar melalui jendela yang terbuka. Kui Cng tentu saja tidak mau melepaskannya, tanpa mengeluarkan suara gaduh agar tidak menarik perhatian orang dalam rumah penginapan, iapun melompat dan melakukan pengejaran. Orang itu sudah melompat ke dalam taman di samping rumah penginapan, dan Kui Eng mengejarnya.

Kalau saja malam itu tidak terang bulan, akan sukarlah bagi Kui Eng untuk mengejar orang itu. Akan tetapi karena bulan terang, gadis perkasa ini dengan mudah dapat melihat bayangan orang dan ia pun mengejar dengan cepat sekali. Orang itu agaknya hafal benar dengan keadaan kota raja, lari memasuki lorong-lorong sempit. Malam sudah larut dan suasana sudah sepi. Kui Eng terus membayangi orang itu yang melarikan diri ke ujung kota raja, di mana terdapat sebuah bukit kecil dan setelah menyeberangi sebuah jembatan, bayangan itu lari mendaki bukit kecil.

"Keparat, pengecut, hendak lari ke mana kau?" Kui Eng mengerahkan tenaganya dan sebentar saja telah dapat menyusulnya. Mereka kini berhadapan karena yang dikejarnya berhenti dan dengan golok besar di tangan menghadapi Kui Eng. Di bawah sinar bulan purnama, Kui Eng dapat melihat bahwa orang pendek tegap itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun, wajahnya bengis dan tubuhnya kokoh.

"Siapa engkau dan apa maksudmu memasuki kamarku dan hendak membunuhku?" bentak Kui Eng marah karena tadi jelas bahwa orang ini hendak membunuhnya.

Laki-laki pendek itu tersenyum. "Engkau seorang pemberontak atau mata-mata musuh yang berbahaya, karena itu aku harus membunuhmu!" katanya tanpa memberi penjelasan lagi dia sudah menyerang dengan goloknya. Gerakannya cepat dan kuat dan golok besar yang berat iti menyambardengan desir angin dan mengeluarkan suara berdesing.

Namun, dengan mudah Kui Eng mengelak, lalu membalas dengan tusukan pedangnya. Orang itu mengeluarkan seruan kaget karena dalam segebrakan saja, pedang gadis itu hampir saja memasuki lambungnya! Dia tadi dengan kaget melempar tubuh kebelakang dan setelah dia meloncat bangun lagi, dia menjadi agak pucat karena maklum bahwa yang dihadapinya adalah seorang gadis yang benar-benar amat lihai! Tidak aneh kalau adiknya, komandan regu penjaga pintu gerbang berikut belasan orang anak buahnya dihajar oleh gadis ini!

Tadi, mendengar peristiwa di pintu gerbang yang mengakibatkan adiknya bukan saja dihajar seorang gadis akan tetapi juga atas perintah Pangeran Li Cu Kiat adiknya berikut regunya dijatuhi hukuman dia menjadi marah sekali. Marah terhadap gadis itu yang dianggap telah mencelakai adiknya. Maka diapun mencari gadis itu untuk membalas dendam, membunuhnya dan merampas harta yang dibawanya. Akan tetapi, siapa kira, dia bertemu batunya.

"Haiiittt...!!" Dengan nekat diapun menggerakkan golok besarnya, menyerang kalang kabut. Namun, tingkat kepandaiannya masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan tingkat kepandaian Kui Eng.

Gadis ini telah menguasai ilmu-ilmu ayahnya dan telah menjadi seorang gadis yang amat lihai. Dalam waktu belasan jurus saja, si pendek telah terluka pangkal lengan kirinya dan juga paha kanannya. Kui Eng memang sengaja tidak hendak membunuhnya karena ia ingin sekali mengetahui siapa orang ini dan mengapa pula memusuhinya, padahal ia tidak mengenal orang itu sama sekali. Ia hanya ingin merobohkannya dan memaksanya mengaku.

Akan tetapi, orang pendek itu tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya dan melanjutkan larinya sambil terpincang-pincang, menuju ke atas bukit. Kui Eng mengejar dan membayanginya. Kalau menghendaki, tentu dengan mudah ia dapat menyusul dan merobohkannya. Akan tetapi ia hanya membayangi karena ia merasa yakin bahwa orang ini mungkin hanya nenjadi pesuruh saja, ada orang lain yang menyuruhnya untuk membunuhnya dan agaknya ia berada di puncak bukit ke mana orang itu hendak melarikan diri.

Hatinya merasa tegang ketika melihat sebuah pondok di puncak bukit itu. Pondok sunyi akan tetapi terawat, menunjukkan bahwa memang benar disitu terdapat penghuninya dan orang yang dikejarnya berlari memasuki pekarangan rumah itu!

“Suhu, toloooooooongggg...!" Si pendek itu berseru ketika tiba di pekarangan rumah.

Mendengar ini, Kui Eng cepat meloncat dan tiba di depan orang itu, maklum bahwa pondok itu adalah tempat tinggal guru penyerangnya. Ketika Kui Eng hendak menggerakkan pedang menyerang. dari belakangnya terasa olehnya angin menyambar. Ia terkejut dan menarik kembali pedangnya lalu melompat ke samping untuk menghindarkan diri.

Ternyata di sana telah berdiri seorang laki-laki berpakaian tosu, berusia kurang lebih enamuluh tahun, bertubuh tinggi kekar mukanya merah, memiliki kumis dan jenggot putih yang tipis dan di dada jubahnya terdapat lukisan pat-kwa (segi delapan) dengan tanda im-yang ditengahnya. Tosu itu menarik kembali ujung lengan bajunya yang lebar yang tadi dia pergunakan untuk menyerang Kui Eng.

"Nona, perlahan dulu, jangan sembarangan membunuh orang!" kata tosu itu, suaranya lembut dan sikapnya berwibawa, wajahnya dingin namun senyumnya menyelimuti kedinginan wajahnya sehingga nampak ramah.

Kui Eng mencibir. "Hemm, musang berkedok domba!" ejeknya. "Engkau menasihati orang agar jangan sembarangan membunuh, akan tetapi engkau menyuruh muridmu berusaha untuk membunuhku secara pengecut!"

"Siancai...!!" Tosu itu berseru dan melipat kedua lengan di depan dada. "Apa maksudmu nona? Pinto (saya) tidak menyuruh siapapun membunuh orang. Pinto adalah Im Yang Sengcu, sahabatnya Kaisar. Sribaginda Kaisar saja percaya kepada pinto, bagaimana mungkin pinto menyuruh membunuh orang?"

Kembali Kui Eng tersenyum mengejek. "Totiang, tidak perlu lagi berpura-pura. Dengar baik-baik. Tadi, aku tidur di dalam kamarku di rumah penginapan dan muridmu ini mencokel jendela, melompat masuk dan menyerangku dengan goloknya. Apa lagi artinya itu kalau bukan hendak membunuhku. Masihkah engkau sebagai gurunya masih berpu-pura lagi? Tentu engkau yang menyuruhnya, dan aku yang ingin tahu mengapa kalian hendak membunuhku yang tidak kalian kenal sama sekali?"

Tosu itu memang Im Yang Seng-cu, tosu yang menjadi sahabat Kaisar Tang Tai Cung. Kaisar pula yang memberi ijin kepadanya untuk menguasai bukit di sudut kota itu dan di situ didirikan pondok untuk dia melakukan samadhi. Orang pendek itu adalah seorang di antara murid-muridnya atau pengikutnya, juga kaki tangannya, yang bernama Phoa Gu.

Phoa Gu ini kebetulan sekali kakak dari komandan regu yang pagi tadi dihajar oleh Kui Eng. Dia Ingin membalas dendam dan hal ini adalah kehendaknya sendiri dan di luar tahunya Yang Seng-cu, oleh karena itu mendengar tuduhan Kui Eng. dia mengerutkan alisnya dan kini dia memandang kepada murid atau anak buahnya itu.

"Phoa Gu, apa artinya ini? Benarkah engkau hendak membunuh nona ini?" Kini Im Yang Seng-cu baru melihat hetapa muridnya itu telah mengalami luka-luka berdarah pada pundak atau pangkal lengan dan pahanya.

"Suhu, memang benar teecu (murid) ingin membunuhnya akan tetapi iblis betina ini ternjata lihai sekali."

"Phoa Gu. kenapa engkau hendak membunuhnya?" Suara lm Yang Seng-cu terdengar marah.

"Suhu. ia seorang iblis betina yang kejam. Bukan saja ia telah menyiksa adik teecu yang bernama Phoa Ci. akan tetapi la pula yang melapor kepada Pangeran Li Cu Kiat sehingga adik teecu bersama semua regunya mendapat hukuman berat. Teecu hendak membalas dendam kepadanya dan harap suhu membela teecu."

"Aih-aih, sekarang aku mengerti!" Kui Eng berseru dan wataknya yang keras dan berani membuat ia tidak perduli bahwa orang itu berada bersama gurunya. "Kiranya engkau adalah kakak dari babi gendut kurang ajar itu? Memang aku telah menghajarnya dan aku pula yang menyebabkan dia dihukum oleh atasannya. Aku masih bersikap murah karena adikmu itu sesungguhnya pantas kalau kubunuh!”

"Coba lihat dan dengar, suhu! Perempuan ini terlalu kejam dan sombong. Kalau tidak dibunuh, ia akan menimbulkan kekacauan di kota raja. Bahkan ia telah berhasil merayu Pangeran Li Cu Kiat sehingga pangeran itu membelanya, membuat ia menjadi semakin sombong! Mungkin wanita ini yang oleh suhu disebut-sebut sebagai siluman yang kelak akan menguasai istana."

"Hei, jahanam busuk, tutup mulutmu yang menyebar fitnah busuk! Engkaulah yang patut dibasmi!" bentak Kui Eng dan kini ia sudah bergerak menyerang dengan tangan kosong kepada si pendek bernama Phoa Gu itu.

Phoa yang mendadak bangkit semangatnya karena di situ terdapat suhunya, menyambut serangan Kui Eng dengan sambaran golok besarnya. Akan tetapi sekali ini, Kui Eng tidak berniat untuk mengampuninya, la sudah tahu mengapa si pendek ini hendak membunuhnya tadi, maka melihat golok menyambar, ia miringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak, terdengar suara "krek” dan tulang lengan kanan Phoa Gu patah oleh sabetan tangannya yang dimiringkan.

"Aduhhh...!" Golok itu terlepas dan Phoa Gu menyeringai kesakitan sambil memegan lengan kanan yang patah tulangnya dengan tangan kiri. Kui Eng sudah mengambil keputusan untuk membunuh saja Phoa Gu yang curang dan palsu itu. Ia melangkah maju dan tangannya menampar ke arah kepala orang itu.

"Dukkk!!" Tangan Kui Eng bertemu dengan ujung lengan baju yang mengandung tenaga kuat sehingga Kui Eng terkejut dan memandang kepada tosu yang menangkisnya dengan mata mencorong.

“Hemm. kiranya benar pepatah yang mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Kalau gurunya sesat, tentu muridnya menjadi jahat. Totiang maju membantu murid yang menyeleweng, berarti totiang juga bukan orang baik.”

“Siancai... mulutmu sungguh lancang, nona, dan engkau masih muda akan tetapi engkau sombong sekali. Katakanlah murid pinto bersalah, akan tetapi pinto yang berhak menghukumnya. Bagaimana mungkin pinto membiarkan saja orang lain hendak membunuh murid pinto di depan hidung pinto sendiri? Sudahlah, nona. Kita habiskan urusan sampai di sini saja. Pinto tidak ingin bermusuhan dengan seorang gadis yang masih kekanak-kanakan sepertimu. Silakan pergi menuruni bukit ini."

"Enak saja engkau bicara, totiang!" Kui Eng menjadi marah dan penasaran sekali. "Tanpa kesalahan apapun, ketika memasuki pintu gerbang kota raja, babi gendut adik kerbau ini menghinaku, hendak merampok harta dan kudaku, bahkan kurang ajar sekali hendak menggerayangi tubuhku. Aku menghajarnya, berikut anak buahnya, kemudian muncul pangeran yang menghukumnya. Salahkah aku dalam urusan itu? Kemudian, kerbau ini memasuki kamarku seperti maling, menggunakan goloknya membacok aku yang sedang tidur. Untung aku dapat menangkisnya dan mengejarnya sampai ke sini. Salahkah aku kalau sekarang aku hendak membalas dan membunuhnya? Dan engkau membelanya, melindunginya!"

Im Yang Sengcu juga menjadi marah juga. Dia seorang yang terpandang, bahkan Kaisar Tang Tai Cung menghargainya sebagai seorang sahabat dan penasihat. Semua orang di istana, bahkan di kota raja menghormatinya. Akan tetapi gadis ini bersikap demikian tinggi hati, tidak menghormatinya sama sekali, bahkan mengeluarkan kata-kata keras dan mencelanya!

"Nona. pinto Im Yang Sengcu adalah sahabat dan penasihat Kaisar! Engkau berani bersikap seperti ini terhadap pinto? Kalau pinto tidak mengalah, sebagai seorang tingkatan lebih tua tehadap seorang gadis muda, apa kau kira sekarang engkau masih dapat bernapas? Siapakah engkau ini yang begini sombong?"

"Totiang, urusan antara manusia tidak ditentukan oleh kedudukannya, melainkan oleh benar dan salah. Totiang boleh jadi berkedudukan tinggi, siapa perduli akan hal itu? Yang penting adalah benar atau salah, bukan kedudukan tinggi atau rendah. Namaku adalah Cian Kui Eng, dan bagiku, siapapun dia kalau bersalah tentu akan kutentang, tidak perduli pangkatnya!”

“Siancai... engkau she Cian? Hemmm, mengingatkan pinto akan keluarga Kerajaan Sui yang telah lenyap. Menurut perbintangan, istana kerajaan Tang terancam oleh wanita dari marga Cian keturunan keluarga Kerajaan Sui. Hemm, nona Cian Kiri Eng, terpaksa pinto harus menahanmu. Kalau kelak menurut pemeriksaan, engkau tidak bersalah, pasti kami bebaskan. Kemunculanmu di kota raja mendatangkan keributan, memang engkau patut dicurigai."

"Tosu jahat! Engkau membela muridmu dan hendak menangkap aku?" bentak Kui Eng. "Engkau seorang pendeta, membela pembunuh dan perampok?"

"Pinto tidak membela siapa-siapa, akan tetapi demi keamanan kerajaan, pinto harus menangkap engkau dan menyelidiki dulu, apa maksudmu datang ke kota raja ini."

"Tosu busuk!" bentak Kui Eng dan iapun menerjang tosu itu.

Im Yang Seng-cu mengelak karena maklum bahwa pukulan gadis itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Justeru kelihaian gadis itu yang diketahuinya ketika dia tadi menangkis serangan Kui Eng kepada muridnya, yang membuat dia menjadi curiga. Bukan semata membela muridnya kalau dia kini ingin menangkap Kui Eng melainkan kecurigaan itulah. Baru saja ada orang-orang berusaha membunuh Kaisar, maka kehadiran seorang gadis yang begini lihai di kota raja, apa lagi yang berani menghajar para penjaga pintu gerbang, memang patut dicurigai.

"Wuuutt... plakkk” ketika dia membalas serangan gadis itu dengan sambaran ujung lengan bajunya yang mengirim totokan ke arah dada, Kui Eng menangkis dan keduanya terdorong ke belakang.

Im Yang Seng-cu terkejut bukan main, dan Kui Eng juga menjadi semakin penasaran melihat kehebatan lawan, iapun maju lagi dan menyerang dengan ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Silat Naga Sakti) yang merupakan ilmu andalan ayahnya. Memang hebat sekali ilmu silat ini. Gerakannya bagaikan seekor naga bermain-main di angkasa. Im Yang Sengcu juga seorang yang lihai sekali, banyak pengalamannya. Kini, melihat ilmu silat gadis itu, diam-diam dia terkejut. Ilmu silat yang amat dahsyat, pikirnya.

Karena merasa bahwa kalau hanya mengandalkan ilmu silatnya sendiri, akan sukar baginya untuk mengalahkan gadis itu, maka begitu melihat para pembantu yang juga menjadi muridnya berdatangan dari dalam dan mengepung gadis itu, dia tidak melarang mereka, bahkan Im Yang Seng-cu yang ingin menangkap gadis yang baginya amat mencurigakan itu lalu mulai mengeluarkan suara bernyanyi!

Itu merupakan tanda bagi para muridnya yang kemudian sambil mengepung dan bergerak mengeliling gadis yang masih saling serang dengan Im Yang Seng-cu untuk mulai bernyanyi pula. Suara nyanyian mereka aneh karena suara mereka tidak senada, namun lagunya sama. Lagu sama yang dinyanyikan oleh sembilan orang yang nada suaranya berbeda-beda itu mendatangkan kepeningan hebat di kepala Kui Eng.

Dia terkejut sekali, berusaha mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh nyanyian aneh itu. Namun hanya menolong sedikit dan gerakan tangannya mulai kacau. Kui Eng terkena tamparan ujung lengan baju lawan, dan untung sin-kangnya kuat sehingga totokan dengan lengan baju itu tidak membuatnya roboh, hanya tergetar sedikit. Ia terhuyung dan cepat ia meloncat ke belakang sambil mencabut pedangnya! Kui Eng mengamuk, memutar pedangnya dan para murid Im Yang Seng-cu menjadi jerih dan mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kui Eng untuk melarikan diri dari puncak bukit itu.

"Kejar! Tangkap...!!" Im Yang Seng-cu berseru dan bersama anak buahnya, dia melakukan pengejaran.

Sambil melakukan pengejaran, sembilan orang itu tetap bernyanyi. Nyanyian ini bukan sembarang nyanyian, melainkan nyanyian yang mengandung kekuatan sihir dan suara inilah yang menyiksa Kui Fng. Kalau ia tidak memiliki sin-kang yang kuat, tentu ia sudah roboh karena pusing oleh suara nyanyian itu, Suara itu seolah terus mengejarnya, seolah mereka berada dekat sekali di belakangnya.

Padahal, mereka itu tidak dapat terlalu dekat menyusulnya karena dalam hal ilmu meringankan tubuh, para murid Im Yang Seng-cu jauh ketinggalan dibandingkan Kui Eng. Mungkin Im Yang Seng-cu sendiri akan dapat menyusul Kui Eng. akan tetapi tosu ini maklum akan kelihaian Kui Eng sehingga dia tidak berani sembarangan menyusul seorang diri saja tanpa bantuan para muridnya.

Kui Eng merasa bingung, la sudah tiba di kaki bukit kecil itu akan tetapi mereka masih terus mengejarnya. Kembali ke rumah penginapan tiada gunanya karena ia tahu bahwa tosu itu memiliki pengaruh besar. Menurut pengakuannya, dia adalah panasihat dan sahabat kaisar, tentu kekuasaannya besar. Akan tetapi ke mana ia harus melarikan diri? Keluar dari kota raja pada malam hari begini tidak mungkin, tentu menimbulkan kecurigaan dan ia akan dikeroyok oleh para penjaga.

Entah bagaimana, kakinya membawanya lari menuju ke istana bekas tempat tinggal ayahnya! Ketika berada di belakang pagar tembok rumah itu, ia melompat dan untung baginya bahwa ternyata rumah itu hanya dijaga di bagian depan saja, tidak ada penjaga meronda di sekelilingnya, la tiba di taman bunga yang gelap dan sunyi, lalu ia cepat menyelinap di antara pohon bunga, menghampiri rumah besar itu.

Teringatlah ia bahwa memang mempunyai niat untuk mengunjungi bekas rumah ayah ibunya ini dan menengok kamar ibunya di mana ia dilahirkan! Kebetulan sekali la berlari dan bersembunyi di situ. Akan tetapi ia harus berhati-hati karena siapa tahu, penghuni istana itu juga akan memusuhinya. Ketika ia herindap-indap menyelinap ke bagian belakang istana, ia melihat penerangan menyorot keluar dari sebuah kamar.

Agaknya penghuni kamar itu belum tidur dan lampu yang terang dari dalam kamar itu menyorot keluar melalui celah-celah jendela. Ia menghampiri jendela dan mengintip. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi juga lega ketika melihat bahwa yang duduk membaca kitab di dalam kamar itu adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah pangeran yang pagi telah membelanya ketika ia dikepung penjaga di pintu gerbang! Ah, kiranya pangeran itu yang kini penghuni bekas istana ayahnya!

Tiba-tiba pangeran itu menoleh ke arah jendela dan Kui Eng cepat menyelinap ke samping agar jangan nampak bayangannya. Namun, sedikit kelihatan di luar jendela itu sudah cukup bagi pangeran Li Cu Kiat yang lihai untuk mengetahui bahwa di luar jendelanya terdapat orang yang mengintainya.

"Siapa itu di luar jendela?" tegurnya halus. "Kalau engkau musuh, tidak mungkin karena aku tidak pernah mempunyai musuh. Kalau engkau pencuri, engkau salah masuk karena rumah ini biarpun besar, tidak mempunyai barang berharga untuk dicuri. Kalau engkau sahabat, masuklah. Pintu kamarku tidak dikunci dan aku siap menerima kunjungan seorang sahabat setiap saat."

Mendengar urapan itu, Kui Eng berpikir, yakin bahwa pangeran ini bukan orang jahat, bahkan bukan orang sembarangan, gagah dan adil. Dan dia seorang pangeran. Kalau ia membutuhkan bantuan, kiranya hanya pangeran ini yang akan membantunya karena tentu kekuasaannya tidak kalah dibandingkan kekuasaan Im Yang Seng-cu. Tidak ada salahnya untuk mencobanya, karena ia tak tahu siapa lagi yang akan mampu menolong dari ancaman tosu yang lihai itu.

Maka, dengan jantung berdebar penuh ketegangan, ia lalu menghampiri pintu kamar itu dan perlahan-lahan mendorong daun pintunya terbuka, Ia melihat pangeran itu masih duduk seperti tadi membaca kitab dengan punggung membelakangi pintu. Kui Eng memandang kagum. Betapa tenangnya! Betapa tabahnya! dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

"Maafkan aku, pangeran."

Pangeran Li Cu Kiat tersentak kaget dan bangkit berdiri sambil memutar tubuhnya. Matanya terbelalak dan bersinar-sinar, wajahnya berseri ketika dia mengenal siapa yang membuka pintu dan menegurnya. Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa bayangan yang nampak di luar jendela adalah gadis yang pagi tadi menimbulkan kekagumannya di pintu gerbang kota raja. Kalau yang muncul itu seorang raksasa misalnya, dia tidak akan sekaget itu, namun kejutan ini bukan tidak menyenangkan hatinya. Dia dapat segera mengatasi kekagetannya dan tersenyum ramah.

“Aih, kiranya engkau, nona? Selamat malam dan silakan duduk. Angin apakah gerangan yang meniupmu malam-malam begini datang berkunjung melalui jendela?"

Wajah Kui Eng menjadi kemerahan. Tentu saja ia merasa salah tingkah karena tersipu dan rikuh sekali. Seorang gadis berkunjung ke kamar seorang pemuda, malam-malam tanpa diundang seperti maling. Bayangkan itu!

"Sekali lagi maaf. Pangeran. Saya... aku... terpaksa melakukan ini... aku... dikejar-kejar..."

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, Kui Eng cepat membalikkan tubuh dan siap siaga menghadapi serangan. Akan tetapi ia terbelalak melihat bahwa yang berkelebat masuk itu seorang nenek tua renta yang memegang sebatang tongkat kepala naga. Nenek itu tentu sudah hampir delapanpuluh tahun usianya, akan tetapi melihat gerakannya ketika memasuki kamar itu, jelas dapat diduga bahwa nenek ini memiliki kepandaian tinggi.

"Cu Kiat, apa yang terjadi? Siapa nona ini. Tadi aku melihat bayangan berkelebat di taman bunga, kiranya nona ini yang masuk?" Nenek itu mengerutkan alisnya dan kelihatan tidak senang sekali, memandang kepada pangeran itu dengan pandang mata bengis.

"Nenek... aku... aku...” Pangeran itu sendiri nampak gugup melihat munculnya nenek galak itu begitu tiba-tiba, padahal dia yakin bahwa neneknya amat sayang kepadanya, bahkan neneknya inilah yang memanjakannya dan neneknya pula yang mengajarkan ilmu silat kepadanya. Neneknya adalah seorang wanita yang sakti. Dahulu ketika mudanya ia adalah seorang pendekar wanita yang disegani orang. Bahkan Kaisar Tang Tai Cung yang lihai itupun hormat dan segan kepada bibinya ini.

Melihat sikap pangeran itu yang ketakutan, Kui Eng segera berkata. "Nenek, semua ini bukan kesalahan pangeran. Ia tidak tahu apa-apa, akulah yang masuk ke sini tanpa ijin..."

“Huh! Kalau begitu, tentu engkau bukan orang baik-baik!" Berkata demikian, nenek itu menggerakkan tongkatnya ke arah kepala Kui Eng.

Serangan itu sedemikian cepat dan kuatnya sehingga mengejutkan hati Kui Eng, namun dengan sigapnya ia dapat meloncat ke samping dan menghindarkan diri dari hantaman tongkat berkepala naga itu. Akan tetapi, biarpun hantamannya luput, tongkat itu seperti hidup saja telah membalik dan menotok ke arah dada Kui Eng. Kembali gadis ini menghindar cepat sambil menyabetkan tangannya menangkis. Tongkat itu terpental, akan tetapi kembali melayang balik dan kini menyambar dengan sapuan pada kedua kaki Kui Eng. Gadis itu meloncat ke atas.

"Nenek, tahan dulu...!" Pangeran Li Cu Kiat meloncat ke depan dan menghalangi neneknya menyerang terus.

"Minggir kau Cu Kiat! Ia mampu menghindarkan diri dengan mudahnya dari rangkaian jurusku Naga Menyusup Tiga Langit, berarti ia seorang penjahat yang amat lihai dan berbahaya!" kata nenek itu sambil melintangkan tongkatnya di depan dada dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

"Sabarlah, nek, harap nenek bersabar dan dengarkan dulu keteranganku. Nona ini memang lihai sekali, akan tetapi ia sama sekali bukan penjahat!"

Nenek itu mengerutkan alisnya "Bukan penjahat? Lalu kenapa malam-malam begini masuk ke sini tanpa ijin seperti pencuri."

"Tadi ia telah minta maaf dan sedang menceritakan mengapa ia datang malam-malam begini. Karena terpaksa, katanya dikejar-kejar, akan tetapi belum selesai bercerita, keburu nenek muncul dan marah-marah. Sebaiknya kalau kita dengarkan penjelasannya, nek. Duduklah, nek. Dan kau juga nona.” Pangeran itu lalu menutupkan daun pintu kamarnya yang besar dan luas.

"Baik. Aku dengarkan. Akan tetapi penjelasanmu itu haruslah benar, kalau bohong, awas kau! Keluarga kami memang tidak suka bermusuhan dengan siapapun, akan itu bukan berarti bahwa kami takut menghadapi orang jahat!" Nenek itu mengomel.

Kui Eng tidak marah, bahkan ia memandang kagum kepada nenek itu. Sudah begitu tua namun masih gagah, dan sikapnya yang keras itu tiada bedanya dengan sikap ayahnya. Keras kepala, berani namun juga jujur dan tidak suka mengakui kelemahan sendiri!

"Nah, sekarang ceritakan, nona. Kenapa engkau malam-malam begini datang ke sini?" tanya Pangeran Li Cu Kiat dengan sikap yang lembut.

"Seperti kukatakan tadi. Pangeran, aku terpaksa melakukan ini. Harap maafkan kelancanganku ini. Kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak berani... ah, sudahlah, aku bukan seorang cengeng yang suka merengek-rengek meminta ampun. Aku sedang dikejar-kejar oleh Im Yang Sengcu dan beberapa orang anak buahnya."

Nenek dan cucunya itu terkejut, saling pandang, kemudian mereka memandang wajah gadis itu dengan penuh keheranan.

"Si dukun lepus itu?" nenek itu berseru dan sebutan ini saja sudah menunjukkan bahwa nenek ini tidak suka kepada Im Yang Sengcu. "Mau apa tukang sihir itu mengejar-ngejarmu?"

“Dia hendak menangkapku."

"Akan tetapi kenapa dukun lepus itu hendak menangkapmu?" nenek itu mengejar.

"Nek, sebaiknya kita membiarkan nona ini bercerita dari awal agar semuanya terjawab," kata pangeran itu dan neneknya mengangguk tak sabar.

“Pangeran, semua ini masih ada hubungann dengan peristiwa pagi tadi di pintu gerbang” Kui Eng memulai dan nenek itu sudah menyambarnya lagi.

"Peristiwa apa pagi tadi di pintu gerbang?”

Kui Eng tahu bahwa watak nenek yang keras ini tidak dapat dibantah lagi dan ia harus menceritakan semuanya dengan jelas. "Pagi tadi, aku menunggang kuda memasuki pintu gerbang kota raja,” Kui Eng mulai bercerita. "Tiba-tiba komandan regu yang seperti babi dan belasan anak buahnya menghadangku. Aku diajak masuk gardu penjaga dan di situ, si babi hendak merampas barang-barang perhiasanku dan merampas pula kudaku. Bukan itu saja, dia hendak menggerayangi tubuhku dengan alasan hendak menggeledah karena mencurigai aku..."

"Jahanam keparat! Komandan regu macam itu harus dihajar sampat rontok semua giginya!" teriak nenek itu.

"Sudah kulakukan itu nek," kata Kui Eng.

"Apa...?" Nenek itu terbelalak.

Kui Eng tersenyum. "Sudah kulakukan itu, sudah kuhajar dia dan kurontokkan semua giginya. Juga kupatahkan kedua tulang lengannya dan semua anak buannya kuhajar dengan cambuk kuda...”

"Bagus! Heh-heh-heh-heh, bagus sekali!" Nenek bersorak gembira.

"Dalam keributan itu muncul pangeran ini dan dia menangkap si babi dan semua anak buahnya dan menyuruh hukum mereka."

"Bagus! Ini baru cucu nenek namanya!" nenek itu memuji dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya atas lantai.

"Harap kau lanjutkan, nona." kata Pangeran Li Cu Kiat.

Kui Eng lalu menceritakan tentang peristiwa tadi, munculnya seorang bernama Phoa Gu yang hendak membunuhnya dengan golok dengan mencokel jendela kamarnya. "Aku berhasil menangkis serangannya dan dia melarikan diri. Kubayangi dia karena aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya. Dia lari ke bukit itu dan tiba di depan tempat tinggal Im Yang Seng-cu. Ketika aku hendak membunuh Phoa Gu, Im Yang Sengcu mencegah dan ternyata Phoa Gu itu adalah muridnya..."

"Wah. dukun lepus tukang sihir itu! Sejak semula aku memang sudah tldak suka dan tidak percaya padanya. Akan tetapi, Sribaginda agaknya telah kena disihir sehingga mempercayai dukun lepus itu. Membuatkan obat panjang umur sampai seribu tahun? Phuah, omong kosong. Jadi, dia yang menyuruh muridnya untuk membunuhmu?"

“Agaknya bukan dia. Dari pembicaraan mereka, aku mengetahui bahwa Phoa Gu itu adalah kakak si komandan regu yang sengaja hendak membalas dendam kepadaku, bukan disuruh oleh gurunya. Biarpun demikian, Im Yang Sengcu tetap melindungi muridnya itu, bahkan kemudian berkeras hendak menangkap aku dengan alasan bahwa dia mencurigai aku sebagai mata-mata musuh atau pemberontak. Kami bertanding. Setelah dia tidak mampu mengalahkan aku, lalu dia mengerahkan anak buahnya dan menggunakan nyanyian sihir. Aku tidak tahan mendengar suara itu dan terpaksa melarikan diri dan mereka mengejar-ngejarku. Itulah sebabnya aku nekat masuk ke sini dan menyembunyikan diri."

"Im Yang Sengcu tidak mampu mengalahkanmu, nona? Bukan main, kalau begitu engkau adalah seorang gadis yang lihai sekali!" seru Pangeran Li Cu Kiat kagum.

"Hem. Engkau memang seorang gadis pemberani. Siapa namamu?" Nenek Itu bertanya.

Sebelum Kui Eng menjawab terdengar langkah kaki tergesa menghampiri ruangan itu. Pangeran Li Cu Kiat memberi isyarat kepada Kui Eng untuk berdiam diri dan diapun menghampiri pintu yang tertutup.

"Siapa di luar?" tanyanya.

"Pangeran, maafkan kalau hamba mengganggu” kata suara seorang penjaga yang biasa bertugas jaga di luar gedung bersama teman-temannya. “Totiang Im Yang Seng-cu datang dan ingin menghadap paduka. Dia dan rombongannya hamba persilakan menunggu di ruangan tamu."

Pangeran itu memandang neneknya, lalu berkata. "Baik, katakan aku akan menerimanya dan suruh dia menunggu sebentar."

"Baik, pangeran," kata penjaga itu yang segera pergi keluar kembali.

Terdengar langkah kaki lembut menghampiri ruangan itu dan Pangeran Li Cu Kiat yang sudah hafal akan langkah itu, bergumam, "Ibu datang.”

Dia lalu membukakan pintu sebelum terketuk dan masuklah seorang wanita cantik yang berusia mendekati lima puluh tahun dengan sikap anggun. Wanita cantik itu tidak heran melihat ibunya berada dikamar puteranya, akan tetapi ia terbelalak memandang kepada gadis cantik yang berada di kamar pula.

"Cu Kiat. apa artinya Ini? Siapa gadis ini?”

Nenek itu berkata kepada cucunya, "Cu Kiat pergilah menemui dukun lepus itu. Aku yang akan menerangkan kepada ibumu, dan aku nanti menyusul”

Cu Kiat mengangguk, kemudian diapun keluar dari dalam kamar itu, langsung menuju ke ruangan tamu. Nenek itu dengan singkat bercerita kepada puterinya tentang Kui Eng dan seperti juga puteranya dan ibunya, wanita itu segera memperlihatkan sikap melindungi dan membela Kui Eng.

"Tosu itu memang kurang ajar. Karena mendapat angin dari adinda Kaisar, dia menjadi besar kepala. Aku memang selalu curiga bahwa dia tentu akan berusaha untuk memperbesar kekuasaannya di istana. Sebaiknya kalau ibu menemani Cu Kiat, biar aku yang membawa nona ini bersembunyi di kamarku."

Nenek itu mengangguk, kemudian iapun keluar dari kamar cucunya. Ketukan tongkatnya berdetak-detak ketika ia menuju ke ruangan tamu yang berada di bagian depan gedung itu.

Melihat munculnya Pangeran Li Cu Kiat, Im Yang Sengcu lalu bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada. tersenyum ramah dan berkata dengan suara sopan. "Harap paduka suka memaafkan pinto, pangeran, kalau pinto mengganggu waktu paduka malam-malam begini karena pinto mempunyai keperluan penting sekali untuk dibicarakan dengan paduka."

Pangeran Li Cu Kiat membalas penghormatan itu. memandang ke arah belasan orang anak buah tosu itu yang juga membungkuk dengan hormat, lalu dia berkata dengan suara yang mengandung teguran "Totiang, untuk menghadap dan bicara dengan aku perlukah totiang membawa anak buah sebanyak ini?" Pangeran itu memandang kepada belasan orang pengikut Im Yang Sengcu dan melanjutkan, "Atau barangkali belasan orang inipun mempunyai keperluan penting untuk dibicarakan dengan aku?"

Melihat sikap dan mendengar suara yang nada penuh teguran itu, Im Yang Sengcu lalu memberi isyarat kepada anak buahnya dan berkata, "Kalian menunggu di luar saja!”

Belasan orang itu memberi hormat kepada Pangeran Li Cu Kiat lalu keluar dari ruangan itu.

"Nah, sekarang ceritakan, keperluan penting apakah itu yang hendak totiang bicarakan dengan aku? Setahuku, selama ini kami sekeluarga tidak mempunyai urusan dengan totiang."

"Siancai, harap paduka pangeran suka memaafkan kalau pinto mengganggu. Sesungguhnya, demi keamanan dan keselamatan paduka sekeluargalah maka pinto memberanikan diri datang menghadap malam-malam begini. Ketahuilah bahwa pinto dan para murid sedang mengejar seorang wanita jahat, seorang yang kami curigai sebagai mata-mata musuh atau pemberontak."

Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya. "Totiang, apa hubungannya totiang mengejar penjahat dengan keluarga kami?"

"Kami mengejar penjahat itu dari bukit kami dan ia melarikan diri lalu masuk ke dalam pekarangan istana paduka ini, dan lenyap disini”

"Hemm, totiang!" Li Cu Kiat berkata penasaran. "Apakah totiang hendak mengatakan bahwa penjahat itu tinggal di istana kami?"

“Ah, mana pinto berani menuduh seperti itu? Pinto hanya mengatakan bahwa ia lari dan menghilang di sini. Karena khawatir ia mengganggu keselamatan keluarga paduka, maka pinto memberanikan diri menghadap untuk memberi tahu kepada paduka."

Pada saat itu terdengar bunyi ketukan tongkat nenek pangeran itu dan orangnya muncul dari pintu dalam. Melihat nenek ini, Im Yang Seng-cu cepat bangkit berdiri dan memberi hormat. Baru dua kali dia pernah bertemu dengan nenek itu dan dia tahu bahwa Kaisar sendiri menghormati bibinya ini, maka diapun selalu menghormati nenek yang agaknya meremehkan dirinya itu.

“Song-twanio (Nyonya Besar Song)? Selamat malam. Maafkanlah pinto mengganggu ketenangan istana twanio malam ini."

Nenek itu mendekat, memandang penuh perhatian lalu berkata. "Aih. kiranya dukun lepus ahli sihir Im Yang Sengcu yang datang. Apakah engkau hendak meramalkan nasib cucuku? Cu Kiat, serahkan saja nasib keluarga kita kepada Tuhan dan jangan mempercayai omongan segala macam tukang ramal dan tukang sulap!"

Mendengar ucapan yang nadanya mengejek dan merendahkan dirinya itu, wajah Im Yang Seng-cu menjadi merah dan hatinya mendongkol bukan main. Kalau tidak ingat bahwa nenek ini adalah bibi Kaisar dan selain itu juga lihai, tentu sudah didampratnya nenek itu.

"Twanio, kedatangan pinto ke sini dengan maksud baik, untuk menjaga keamanan dan keselamatan keluarga twanio. Hendaknya diketahui bahwa pinto mengejar seorang penjahat dan ia lari masuk dalam istana twanio ini."

"Apa katamu?, Penjahat masuk ke rumah kami? Cu Kiat, kebohongan apa ini yang dikatakannya?”

"Nek, totiang ini mengatakan bahwa ia mengejar seorang gadis yang katanya merupakan seorang mata-mata musuh atau pemberontak."

"Im Yang Seng-cu, jaga mulutmu baik-baik!” Nenek itu marah dan mengamangkan tongkatnya. "Kau mau bilang bahwa kami memberontak?”

"Ah, tidak sama sekali, twanio" Im Yang Seng-cu berseru kaget. "Pinto hanya mengatakan bahwa pinto telah mengejar seorang gadis dan ia telah melarikan diri. Ketika pinto mengejarnya untuk menangkap dan menyeretnya ke pengadilan, ia melarikan diri dan meloncati pagar tembok istana ini. Karena khawatir ia melakukan kejahatan dan mengganggu keluarga twanio, maka pinto memberanikan diri menghadap untuk memberi tahu."

"Engkau mengejar-ngejar seorang gadis dan tidak mampu menangkapnya? Aneh! Dan bagaimana pula engkau mengatakan bahwa gadis itu jahat? Apa saja yang telah ia lakukan?" tanya pula Nyonya Song, nenek itu.

Nyonya Song ini dahulunya seorang pendekar wanita. Puterinya menikah dengan Pangeran Li Seng Tek kakak Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi kaisar dan mempunyai seorang anak laki-laki, yaitu Pangeran Li Cu Kiat.

"Gadis itu mencurigakan sekali, dan kejam, twanio,” kata Im Yang Seng-cu. "la telah mengamuk dan melukai banyak perajurit, bahkan hampir saja ia membunuh murid pinto..."

"Ah, kiranya engkau mengejar-ngejar gadis yang dikeroyok oleh para penjaga pintu gerbang tadi pagi, totiang?" Li Cu Kiat berseru. "Kalau begitu, engkau keliru besar. Akulah yang menyebabkan para penjaga itu dihukum, karena mereka bertindak sebagai perampok, bukan sebagai perajurit kerajaan."

"Hemm, kalau muridmu membela regu yang bertindak seperti perampok, berarti muridmu itu juga jahat, dan kalau sekarang engkau membela muridmu itu, sungguh membuat kami curiga bahwa engkau bukanlah orang baik-baik, Im Yang Seng-cu!" kata pula si nenek.

Mendengar ini, Im Yang Sengcu bangkit berdiri dan matanya mencorong marah. Berani sekali nenek dan cucunya ini menghinanya! "Pangeran dan Twanio, tidak ada gunanya lagi kita berdebat, kalau benar ji-wi (kalian) tidak menyembunyikan gadis pemberontak itu, buktikan dan biarkan pinto dan para murid pinto melakukan pencarian dan penggeledahan di dalam rumah ini!"

"Dukkk!!" Tongkat nenek itu dihentakkan di atas lantai sehingga lantai itu berlubang. "Keparat kau dukun lepus! Coba, hendak kami lihat apakah engkau berani melakukan penggeledahan di rumah kami! Kupukul kepalamu sampai lumat!"

Pangeran Li Cu Kiat juga berdiri menghadapi tosu itu. "Im Yang Seng-cu siapapun termasuk engkau tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap kami! Hanya Sribaginda Kaisar saja yang boleh memerintahkan penggeledahan."

"Ananda Kaisar sekalipun akan berpikir dua kali untuk menghinaku!" nenek Song berteriak. "Dan engkau, dukun lepus, tukang sulap dan sihir ini berlagak di depanku? Hayo pergi kau, atau kukemplang kepalamu sampai hancur berantakan!"

Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Im Yang Sengcu menahan kemarahan hatinya. "Baik, akan pinto laporkan kepada Sribaginda Kaisar bahwa rumah ini melindungi seorang pemberontak!” katanya sebelum pergi.

“Laporkan, dan kami akan melaporkan bahwa kau melindungi regu yang menyeleweng dan bertindak sebagai perampok! Ingin kami lihat, engkau atau kami yang akan didengarkan oleh Pamanda Kaisar" kata Pangeran Li Cu kiat marah.

Im Yang Sengcu berdiri dengan muka merah dan mata mencorong. Hampir saja dia tidak dapat menahan kemarahannya. Ingin rasanya menerjang dan membunuh orang-orang yang berani memandang rendah dan menghinanya itu. Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia melakukan hal itu, maka bencana besar akan menimpanya. Belum tentu dia akan mampu mengalahkan nenek dan cucunya itu. Andaikata dapat mengalahkan dan membunuh merekapun dia akan memikul tanggung-jawab besar terhadap Kaisar. Dengan marah diapun membalikkan tubuhnya pergi dari situ tanpa pamit lagi. Di luar dia memberi isyarat kepada para muridnya untuk pergi.

Di sebelah dalam rumah gedung itu. Kini Kui Eng duduk berhadapan dengan mereka bertiga, Pangeran Li Cu Kiat, ibunya, dan neneknya. Setelah mendengar bahwa Im Yang Sengcu telah dapat diusir pergi, gadis itu cepat mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Terima kasih banyak atas pertolongan sam-wi (kalian bertiga) Tanpa pertolongan itu, mungkin aku sudah tertawan mereka."

"Hem, gadis muda. Engkau sungguh pemberani, mengingatkan aku akan masa mudaku dahulu. Engkau berani memasuki kota raja, melawan regu penjaga, bahkan berani menentang Im Yang Sengcu, dan berani pula memasuki rumah kami untuk bersembunyi. Siapakah engkau sebenarnya? Dan mengapa engkau datang ke kota raja?" Nenek Song bettanya dan bersama puteri dan cucunya, ia memandang tajam penuh selidik.

Kui Eng menghela napas panjang. Tidak pantas kalau ia merahasiakan dirinya terhadap keluarga yang telah menyelamatkannya ini. Mungkin akibatnya akan tidak menguntungkan baginya kalau ia mengaku, akan tetapi ia tidak akan bersikap pengecut, yang hanya karena ingin mengamankan diri sendiri harus bersikap pengecut dan tidak jujur terhadap para penolongnya.

“Namaku Cian Kui Eng..."

“Marga Cian...??" Nenek Song berseru kaget dan teringat akan ukiran huruf CIAN di dinding bagian depan istana itu.

Nah, mulai sudah, pikir Kui Eng. Sudah kepalang, ia harus melangkah terus. "Benar, aku bermarga Cian, aku lahir di dalam gedung ini dan ayahku adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong."

"Ahhh...!!" Seruan ini keluar dari tiga mulut itu dan mereka bertiga memandang wajah Kui Eng dengan mata terbelalak kaget.

"Jadi kalau begitu... engkau ini benar-benar pemberontak... atau anak pemberontak? Cian Bu Ong adalah seorang pemberontak!" kata Nyonya Janda Li Seng Tek, ibu Cu Kiat.

Kui Eng memandang nyonya itu dengan sikap tenang namun sinar matanya mengandung penasaran, "Maaf, bibi. Andaikata Kerajaan Tang ini dijatuhkan orang luar, kemudian Pangeran Li Cu Kiat putera bibi ini melakukan perlawanan untuk merebut dan mendirikan lagi Kerajaan Tang yang jatuh, tentu kerajaan baru akan menudingnya sebagai seorang pemberontak. Akan tetapi, demi keadilan, benarkah dia seorang pemberontak? Demikian pula dengan ayahku. Ketika Kerajaan Sui jatuh, ayah bangkit dan berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan itu. Jahatkah perbuatan ayah itu? Bagi Kerajaan Tang, mungkin dia dianggap perusuh dan pemberontak, akan tetapi bagi Kerajaan Sui, ayah dianggap sebagai seorang patriot pejuang sejati!"

Pangeran Li Cu Kiat memandang kagum kepada gadis itu. Gadis yang hebat, pikirnya. Dan ucapannya itu mengandung kebenaran mutlak. Dia sendiri muak dengan perebutan kekuasaan, di istana.

"Akan tetapi, bagaimanapun juga, berarti ayahmu itu memusuhi kami keluarga Tang!" seru ibunya. "Dan kau... kau puterinya, tentu engkau memusuhi pula kami..."

Kui Eng menggeleng kepalanya. "Sama sekali tidak, bibi. Ayah telah menyadari bahwa Kerajaan Sui telah jatuh dan musnah, bahwa memang sudah ditakdirkan bahwa tanah air dan bangsa dipimpin oleh kerajaan baru, yaitu Kerajaan Tang. Ayah telah menerima kenyataan ini dan buktinya, sampai kini ayah tidak pernah membuat gerakan lagi. Aku sendiri masih seorang anak kecil berusia dua tahun ketika pergantian kekuasaan terjadi, dan aku sama sekali tidak mencampuri urusan itu.”

“Aih, jadi engkau ini puteri Cian Bu Ong? Aku masih ingat. Ketika aku masih berkecimpung di dunia persilatan, Cian Bu Ong merupakan seorang pendekar muda yang gagah perkasa, di samping kedudukannya sebagai seorang pangeran dan panglima. Jadi dia sekarang telah dapat menerima kenyataan yang ditakdirkan Tuhan? Bagus sekali! Di mana dia sekarang?" tanya nenek Song.

“Ayah bersama ibu kini pergi merantau ke Himalaya," jawab Kui Eng.

"Nona, kami gembira sekali mendengar bahwa engkau dan ayahmu tidak memusuhi keluarga Kaisar Tang. Akan tetapi, kalau boleh kami mengetahui, apakah engkau mempunyai kepentingan khusus berkunjung ke kota raja ini? Barangkali kami dapat membantumu?"

Tentu saja Kui Eng tidak mau mengaku bahwa ia hendak membantu Thian Ki untuk mencari dan merampas Liong-cu-kiam dari gudang pusaka kerajaan, "Aku sedang mencari suhengku."

"Ah, suhengmu juga berada di kota raja? Siapakah namanya? Siapa tahu aku akan dapat membantumu mencarinya," kata Cu Kiat.

Melihat sikap dan perhatian puteranya terhadap gadis itu nyonya Li dan nenek Song saling pandang dan tersenyum. Sudah lama mereka berdua membujuk Li Cu Kiat untuk segera menikah, akan tetapi pangeran yang usianya sudah duapuluh lima tahun ini selalu menolak dengan mengatakan bahwa dia belum tertarik kepada wanita. Dan sekarang, melihat sikapnya. Jelas bagi kedua orang wanita itu bahwa Pangeran Li Cu Kiat agaknya jatuh hati, atau setidaknya amat kagum dan tertarik kepada Cian Kui Eng.

"Suheng bernama Coa Thian Ki. Aku sendiri tidak tahu apakah dia sekarang berada di kota raja ataukah tidak, akan tetapi ketika pergi, dia merencanakan untuk berkunjung ke kota raja. Karena ayah dan ibu juga pergi merantau ke barat, aku merasa kesepian di rumah sendiri lalu pergi menyusul dan mencari suheng di sini. Tidak kusangka bahwa di pintu gerbang aku diganggu oleh para penjaga sehingga urusannya menjadi berkepanjangan sehingga merepotkan pula kepada keluarga di sini."

"Tidak sama sekali, nona. Kami adalah keluarga yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Kami sama sekali tidak merasa repot dengan adanya peristiwa yang menyangkut dirimu," kata Cu Kiat.

"Benar sekali, Kui Eng. Kami membelamu karena engkau benar dan untuk sementara ini, sebaiknya kalau engkau bersembunyi dulu di sini. Aku yakin Im Yang Seng-cu tidak akan tinggal diam dan terus mencarimu,” kata Li Hu-Jin (Nyonya Li)

"Dan selama tinggal di sini, jangan takut kalau dukun lepus itu berani datang mengganggumu, akan kukemplang kepalanya dengan tongkatku...“ kata pula nenek Song penuh semangat.

Kui Eng berterima kasih sekali. Tak disangkanya bahwa penghuni baru bekas rumah keluarga ayahnya merupakan keluarga bangsawan tinggi yang begini baik terhadap dirinya. "Terima kasih atas kebaikan bibi sekeluarga," katanya kepada Nyonya Li. "Akan tetapi, aku sudah menyewa kamar di rumah penginapan ujung kota, dan pakaianku juga masih tertinggal di sana."

"Jangan khawatir, nona. Aku akan menyuruh seseorang mengambilnya. Kalau engkau mengambilnya sendiri, aku khawatir Im Yang Sengcu dan anak buahnya sudah menantimu di sana."

"Benar, Kui Eng. Untuk sementara ini, engkau sebaiknya bersembunyi dulu di sini dan jangan keluar. Biar Cu Kiat yang mencarikan suheng mu," kata Nyonya Li.

“Aih, kenapa sih mesti takut kepada dukun lepus itu? Kalau engkau ingin mengambil sendiri pakaianmu di rumah penginapan, mari kutemani, Kui Eng, dan hendak kulihat dukun lepus itu akan berani berbuat apa!” Nenek Song berkata dengan penasaran.

“Ah, aku tidak berani merepotkan dan membuat lelah nenek." kata Kui Eng.

"Jangan, nek. Sebaiknya kita tinggal diam dan melihat perkembangannya, tidak perlu membuat ribut dengan Im Yang Sengcu. Aku akan menyuruh orang sekarang juga mengambil pakaian nona Cian Kui Eng."

Akan tetapi, orang suruhan Pangeran Li Cu Kiat itu kembali dan mengabarkan bahwa buntalan pakaian Kui Eng telah dirampas oleh Im Yang Seng dan pemilik rumah penginapan tentu saja tidak berani menentang kehendak tosu sahahat kaisar itu. Nyonya Li segera menyuruh buatkan pakaian untuk Kui Eng. Ketika gadis ini hendak mengganti dengan uang, ibu pangeran itu menolak dengan ramah.

Tentu saja Kui Eng merasa semakin terharu dan hutang budi kepada keluarga bangsawan yang amat baik dan ramah kepadanya itu. Bahkan nenek Song yang keras hati itupun bersikap amat dan baik kepadanya. Terutama sekali Pangeran Cu Kiat. Sikapnya demikian penuh perhatian dan ramah, juga dari pandang mata pangeran itu KuiEng dengan hati berdebar dapat melihat sikap yang amat mesra. Mudah saja menduga bahwa pangeran itu telah jatuh cinta kepadanya!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Biarpun usianya baru empat puluh tahun lebih, namun Kaisar Tang Tai Cung sudah nampak lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya. Dia kelihatan seperti orang yang berusia lima puluh tahun saja. Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat betapa sejak muda sekali, dia adalah pejuang yang gigih, yang menghadapi banyak sekali masalah, bahkan terancam banyak bahaya maut.

Kemudian, setelah berhasil menumbangkan Kerajaan Sui dan mengangkat ayahnya, mendiang Kaisar Tang Kao Cu menjadi Kaisar pertama dari Kerajaan Tang, kembali sebagai Pangeran Li Si Bin dia menghadapi banyak cobaan. Perebutan kekuasaan antara saudara-saudaranya, pemberontakan dan pengkhianatan, silih berganti mengganggu kerajaan baru itu dan semuanya mengandalkan dia seorang untuk membersihkannya.

Setelah dia menjadi Kaisar Tang Tai Cung(627-649), diapun masih selalu dirundung malang. Kalau dulu yang berebutan kekuasaan adalah para saudaranya, kini para puteranya mulai melanjutkan perebutan kekuasaan di antara keluarga kaisar itu. Terpaksa dia bahkan menghukum putera-puteranya sendiri yang memperebutkan kedudukan pangeran mahkota! Semua cobaan inilah yang membuat Kaisar Tang Tai Cung nampak tua. Padahal, dia adalah seorang laki-laki perkasa yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang hebat dan jarang bandingannya.

Malam itu. Kaisar Tang Tai Cung menerima sahabat dan panasihatnya. yaitu Im Yang Seng-cu dan mereka berdua minum arak di dalam taman,di sebuan pondok indah di taman itu. Mereka berhadapan menghadapi meja yang penuh makanan dan anggur, dan di depan mereka terbentang kolam ikan yang besar di mana tumbuh banyak bunga teratai merah dan ikan beraneka warna berenang di permukaan air. Indah sekali! Lampu-lampu dengan kap lampu warna-warni menambah keindahan kolam itu.

"Bagaimana, totiang, sudah berhasilkah engkau dengan pembuatan obat panjang usia yang kupesan itu?" Sribaginda Kaisar Tang Tai Cung bertanya setelah mereka minum beberapa cawan anggur. "Dan bagaimana pula dengan janjimu untuk mengajarkan aku cara membuat emas?"

Tosu itu mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang tipis dan putih semua sambil tersenyum. "Jangan khawatir, Sribaginda Hamba yang membuat obat panjang usia itu sesuai dengan ilmu rahasia yang dahulu diajarkan oleh Tujuh Manusia Dewa Hutan Bambu. Akan tetapi, pembuatan emas itu membutuhkan kesabaran dan kematangan Sribaginda. Kalau saatnya sudah tiba dan obat itu sudah sempurna, tentu akan hamba serahkan kepada paduka, dan sekali paduka menggunakan obat itu maka seperti yang ditulis oleh Manusia Dewa Hutan Bambu, maka rambut putih akan menjadi hitam, gigi ompong akan tumbuh kembali, kekuatan tubuh akan kembali besar. Yang menggunakan obat itu tidak akan pernah tua, yang sudah tua akan menjadi muda kembali dan dia akan hidup abadi dan tidak pernah mati."

Sepasang mata Kaisar Tang Tai Sung bersinar-sinar penuh harapan. "Totiang, janji itu terlalu muluk! Benar-benarkah ada obat yang khasiatnya sehebat itu?"

Im Yang Sengcu mengerutkan alisnya. "Sribaginda. syarat terpenting bagi seorang manusia untuk membuat obat itu manjur adalah kepercayaan! Obat seperti itulah yang dipergunakan para dewa dan malaikat sehingga mereka tidak pernah tua, tidak pernah mati. Bersabarlah dan tentu hamba akan menghaturkan kepada paduka setelah obat itu selesai hamba sempurnakan. Hamba harus berpuasa dan bersamadhi selama beberapa pekan lagi supaya obat itu dapat sempurna."

"Ah, terima kasih, totiang. Budi totiang besar sekali dan kami akan memberi anugerah apa saja yang totiang kehendaki. Dan bagaimana dengan janji totiang untuk mengajarkan cara pembuatan emas itu...?"

Naga Beracun Jilid 31

Dia tidak ingin memegang jabatan atau kedudukan karena dia melihat betapa kedudukan diperebutkan mati-matian oleh keluarga kaisar. Dia sendiri adalah keponakan kaisar, putera mendiang Pangeran Li Seng Tek, kakak dari Kaisar Tang Tai Cung (Li Si Bin), dan sampai meninggalnyapun mendiang ayahnya tidak pernah ikut dalam perebutan kekuasaan. Justeru karena tidak ingin terlibat dalam perebutan, maka dia dimusuhi oleh mereka yang berusaha merebut kedudukan kaisar dan Pangeran Li Seng Tek tewas keracunan tanpa ada yang mengetahui siapa yang meracuninya.

Peristiwa ini membuat Li Cu Kiat semakin tidak senang dengan dudukan dan dia lebih suka menjadi seorang yang bebas dari tugas yang mengikat, namun dia selalu bertindak kalau ada pejabat atau perajurit yang melakukan penyelewengan. Karena dia tidak congkak, lihai dan tidak memperebutkan kedudukan, tidak haus balas jasa, maka semua pejabat di kota raja maupun di daerah, segan dan takut kepadanya.

Kaisar Tang Tai Cung yang mengenal baik watak ponakannya, amat suka kepadanya dan percaya akan segala laporannya, maka biarpun tidak menduduki jabatan. Pangeran Li Cu Kiat mempunyai kekuasaan besar, ditakuti oleh para petugas. Itulah sebabnya maka dia berani memanggil panglima untuk ditegur mengenai perbuatan regu penjaga tadi.

Kui Eng berjalan menuntun kudanya. Karena jalan raya di kota raja itu mulai ramai dengan orang berlalu-lalang, maka ia tidak menunggangi kudanya, melainkan dituntun dan ia berjalan-jalan mengagumi keadaan kota raja yang ramai dan di kiri jalan raya terdapat banyak toko. rumah makan, dan ada pula beberapa buah rumah penginapan yang cukup besar. Karena ia tidak ingin tinggal di ruman penginapan yang terlalu ramai.

Kui Eng lalu menuntun kudanya ke sudut kota dan berhenti didepan sebuah rumah penginapan yang berdiri agak menyendiri di sudut kota. Rumah penginapan itu nampak tidak terlalu bising, dan memiliki pekarangan yang besar. Bahkan di sebelah kirinya terdapat sebuah rumah makan yang agaknya menjadi satu dengan rumah penginapan itu. Ketika ia menuntun kudanya memasuki pekarangan, seorang pelayan tergopoh menyambutnya,

“Selamat pagi, nona. Apakah nona mencari kamar yang bersih dan baik?"

Kui Eng mengangguk. "Sediakan sebuah kamar yang bersih, beri makan dan minum kuda ini dan rawat baik-baik, kemudian suruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi."

"Baik, nona." Pelayan itu menerima kendali kuda dari Kui Eng, berteriak memanggil temannya dan mempersilakan Kui Eng mengikuti pelayan yang datang berlarian untuk diantar ke kamarnya dan dilayani semua kebutuhannya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, merasa segar tubuhnya, Kui Eng lalu meninggalkan kamarnya. Ia menaruh buntalan pakaiannya di kamar, akan tetapi membawa kotak perhiasannya karena ia tidak ingin kehilangan bekal itu, juga membawa pedangnya dan ia pun pergi ke rumah makan di sebelah. Kui Eng tidak tahu betapa seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun mengamatinya dari luar rumah penginapan ketika ia keluar dari pekarangan rumah penginapan itu dan memasuki rumah makan.

Laki-laki yang tubuhnya pendek tegap itu kini juga memasuki rumah makan dan duduk di sudut, dari mana dia dapat memandang ke arah Kui Eng dari belakang. Gadis itu tanpa menduga sesuatu, duduk menghadapi meja dan memesan makanan dan air teh. Kemudian ia makan minum dengan santai dan tenang, tidak tahu betapa laki-laki tadi minum arak dan selalu memperhatikannya walaupun dengan sikap yang tidak menyolok.

Sehabis makan, Kui Ing meninggalkan rumah makan dan pergi berjalan-jalan. Ia tidak tahu ke mana harus mencari Thian Ki. Ia hanya tahu bahwa Thian Ki disuruh ayahnya untuk mencari dan merampas kembali pedang Liong-cu kiam, akan tetapi di samping tugas ini, juga Thian Ki pergi mengunjungi Huang-ho Sin-liong Si Han Beng di dusun Tang-cun untuk minta pertolongan pendekar itu mengusir hawa beracun dari tubuhnya. Ia tidak tahu apakah sekarang Thian Ki telah tiba di kota raja ataukah belum.

Karena ia sekarang telah tiba di Kota raja, kenapa ia tidak membantu kakak tiri atau juga suhengnya itu untuk merampas kembali pedang Liong-cu-kiam milik ayahnya? Dengan demikian, ia akan meringankan tugas Thian Ki. Ia berjalan-jalan dan mengagumi kota raja. Ada keharuan mendalam di lubuk hatinya. Kota raja ini juga merupakan tempat kelahirannya. Dan ayahnya pernah menceritakan dan menggambarkan keadaan kota raja ini, bahkan memberi tahu di mana letak istana yang dahulu ditinggali ayahnya ketika menjadi pangeran.

Mengingat betapa ayahnya dahulu seorang pangeran di kota raja ini. dan ketika ia masih kecil, iapun tinggal di sini, semacam keharuan menyelinap di hatinya. Ia tidak dapat mengingat tempat ini karena ketika terjadi perang, ketika ayahnya membawa ia dan ibunya pergi mengungsi, usianya baru kurang dari dua tahun. Akan tetapi, ayahnya pernah membuat gambaran tentang kota raja dan kini ia pergi menuju istana yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal ayanya, pernah menjadi tempat ia terlahir!

Jantungnya berdebar tegang ketika ia tiba di jalan raya depan rumah gedung itu. Sebuah gedung yang besar dan megah. Jantungnya terasa terasa seperti diremas ketika ia teringat kepada ayahnya. Ayahnya dahulu seorang pangeran dan tinggal di dalam istana ini! Dan sekarang Ayahnya tinggal di dusun sebagai seorang petani! Ibunya, dan keluarga lain terbunuh. Kehidupan keluarga ayahnya hancur lebur. Ingin sekali ia memasuki istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya, melihat kamar ibunya di mana ia dahulu dilahirkan! Akan tetapi, bagaimana mungkin?

Tempat itu kini tentu ditempati seorang pembesar lainnya dan di depan rumah itu terdapat sebuah gardu penjagaan di mana terdapat lima orang perajurit penjaga. Tentu tempat tinggal orang penting. Memasukinya tidak mungkin, karena ia tentu akan dihalangi oleh petugas jaga. Akan tetapi malam nanti, ia dapat melaksanakan niatnya. Ia dapat menggunakan kepandaiannya untuk menyelinap masuk, sebagi pencuri akan tetapi bukan untuk mencuri sesuatu. Ia hanya ingin masuk ke istana itu, melihat-lihat di sebelah dalamnya, melihat bekas kamar ibunya. Itu saja!

Kui Eng berdiri di luar pekarangan istana itu sampai lama, tidak tahu betapa laki-laki pendek tegap itu mengikutinya sejak dari rumah makan tadi. Kini Kui Eng berjalan lagi dan menuju ke gedung istana yang terkurung pagar tembok yang tinggi dan terjaga kuat. Memasuki daerah terlarang ini merupakan pekerjaan yang lebih sulit lagi.

Kalau Thian Ki akan mengambil Liong-cu kiam dari gedung pusaka, dia harus dapat melewati pagar tembok dan para penjaga dan setelah tiba di lingkungan istana, baru dapat mencari gedung pusaka yang tentu terjaga ketat pula. Kui Eng menghela napas. Betapa sukarnya dan betapa bahayanya melaksanakan tugas merampas Liong-cu-kiam itu. Bagaimanapun juga, ia ingin membantu Thian Ki, melaksanakan perintah ayahnya.

Ia tidak akan bertindak tergesa-gesa dan tanpa perhitungan. Ia akan menyelidiki dulu keadaan para penjaga, bagaimana pula sistim penjagaan itu agar setelah mengenal keadaan ia akan dapat memasuki lingkungan istana dan mencari pedang pusaka milik ayahnya di gedung pusaka. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota raja menjelang sore Kui Eng kembali ke rumah penginapan untuk beristirahat. Ia tidak tahu bahwa laki-laki pendek tegap tadipun ternyata menyewa sebuah kamar tepat di sebelah kamarnya!

Malam itu bulan purnama muncul dengan indahnya. Langit bersih sehingga bulan dapat menerangi seluruh permukaan bumi, mendatangkan suasana yang amat indah dan sejuk. Kui Eng keluar dari kamarnya dan setelah makan malam, ia kembali berjalan-jalan menikmati keindahan malam di kota raja. Tidak lupa ia kembali melewati bekas istana ayahnya, kemudian juga melewati pintu gerbang kompleks istana.

Karena malam itu indah, maka sebagian besar penduduk kota raja berada di luar rumah, tidak ingin melewatkan keindahan malam bulan purnama sia-sia belaka. Dengan hati gembira Kui Eng akhirnya kembali ke rumah penginapan dan memasuki kamarnya. Ia merasa lelah juga setelah sehari semalam berjalan-jalan, dan segera merebahkan diri di atas pembaringan.

Sesosok bayangan yang berkelebat di luar jendelanya, walaupun hanya sekejap mata, cukup membuat Kui Eng merasa curiga. Ia teringat akan pengalamannya di pintu gerbang kota raja pagi tadi, maka begitu melihat bayangan berkelebat di luar jendela kamarnya, iapun menjadi waspada. Dengan hati-hati dipakainya kembali sepatunya, dibereskannya rambut dan pakaiannya Kalau bayangan tadi hanya seorang yang berjalan di luar pintu kamarnya, tentu ia tidak akan curiga karena tempat itu merupakan rumah penginapan umum di mana banyak tamu bermalam dan tentu ada saja orang yang lewat di depan kamarnya

Akan tetapi, gerak bayangan itu demikian cepat dan hal ini saja menunjukkan bahwa yang tadi lewat di luar jendelanya bukan orang berjalan, melainkan orang yang bergerak cepat dan tidak terdengarnya langkah kakinya membuktikan bahwa bayangan itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi.

Setelah mengambil pedangnya dari atas meja, tidak lupa mengikatkan kotak perhiasan di pinggangnya, Kui Eng meniup padam lilin di atas meja, lalu duduk di pembaringan, Ia mengerahkan tenaga sin-kangnya, mencurahkan perhatian pada pendengarannya dan tahulah ia bahwa di luar jendelanya terdapat seseorang. Hal ini ia ketahui dari pernapasan orang itu yang dapat ia tangkap melalui pendengarannya.

Beberapa kali Kui Eng menguap dan sengaja mengeluarkan suara agar terdengar dari luar, kemudian perlahan-lahan ia mengeluarkan suara pernapasan berat seperti orang yang mulai tertidur. Setengah jam kemudian, ia bahkan mengeluarkan dengkur halus.

Pancingannya berhasil. Terdengar suara jendela berkeretek dan daun jendela tertutup terbuka dari luar. Sesosok bayangan meloncat bagaikan seekor kucing ke dalam kamarnya. Semua ini dapat dilihatnya karena dari luar kamarnya terdapat sinar lampu gantung yang membentuk bayangan orang itu. Orang itu menghampiri pembaringannya dengan golok di tangan dan dia mengayun golok membacok ke arah dirinya yang tidur telentang!

Trangggg...!!"

Bayangan itu terkejut bukan main ketika goloknya ditangkis oleh gadis yang disangkanya sudah pulas itu. Dia meloncat kebelakang, lalu meloncat keluar kamar melalui jendela yang terbuka. Kui Cng tentu saja tidak mau melepaskannya, tanpa mengeluarkan suara gaduh agar tidak menarik perhatian orang dalam rumah penginapan, iapun melompat dan melakukan pengejaran. Orang itu sudah melompat ke dalam taman di samping rumah penginapan, dan Kui Eng mengejarnya.

Kalau saja malam itu tidak terang bulan, akan sukarlah bagi Kui Eng untuk mengejar orang itu. Akan tetapi karena bulan terang, gadis perkasa ini dengan mudah dapat melihat bayangan orang dan ia pun mengejar dengan cepat sekali. Orang itu agaknya hafal benar dengan keadaan kota raja, lari memasuki lorong-lorong sempit. Malam sudah larut dan suasana sudah sepi. Kui Eng terus membayangi orang itu yang melarikan diri ke ujung kota raja, di mana terdapat sebuah bukit kecil dan setelah menyeberangi sebuah jembatan, bayangan itu lari mendaki bukit kecil.

"Keparat, pengecut, hendak lari ke mana kau?" Kui Eng mengerahkan tenaganya dan sebentar saja telah dapat menyusulnya. Mereka kini berhadapan karena yang dikejarnya berhenti dan dengan golok besar di tangan menghadapi Kui Eng. Di bawah sinar bulan purnama, Kui Eng dapat melihat bahwa orang pendek tegap itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun, wajahnya bengis dan tubuhnya kokoh.

"Siapa engkau dan apa maksudmu memasuki kamarku dan hendak membunuhku?" bentak Kui Eng marah karena tadi jelas bahwa orang ini hendak membunuhnya.

Laki-laki pendek itu tersenyum. "Engkau seorang pemberontak atau mata-mata musuh yang berbahaya, karena itu aku harus membunuhmu!" katanya tanpa memberi penjelasan lagi dia sudah menyerang dengan goloknya. Gerakannya cepat dan kuat dan golok besar yang berat iti menyambardengan desir angin dan mengeluarkan suara berdesing.

Namun, dengan mudah Kui Eng mengelak, lalu membalas dengan tusukan pedangnya. Orang itu mengeluarkan seruan kaget karena dalam segebrakan saja, pedang gadis itu hampir saja memasuki lambungnya! Dia tadi dengan kaget melempar tubuh kebelakang dan setelah dia meloncat bangun lagi, dia menjadi agak pucat karena maklum bahwa yang dihadapinya adalah seorang gadis yang benar-benar amat lihai! Tidak aneh kalau adiknya, komandan regu penjaga pintu gerbang berikut belasan orang anak buahnya dihajar oleh gadis ini!

Tadi, mendengar peristiwa di pintu gerbang yang mengakibatkan adiknya bukan saja dihajar seorang gadis akan tetapi juga atas perintah Pangeran Li Cu Kiat adiknya berikut regunya dijatuhi hukuman dia menjadi marah sekali. Marah terhadap gadis itu yang dianggap telah mencelakai adiknya. Maka diapun mencari gadis itu untuk membalas dendam, membunuhnya dan merampas harta yang dibawanya. Akan tetapi, siapa kira, dia bertemu batunya.

"Haiiittt...!!" Dengan nekat diapun menggerakkan golok besarnya, menyerang kalang kabut. Namun, tingkat kepandaiannya masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan tingkat kepandaian Kui Eng.

Gadis ini telah menguasai ilmu-ilmu ayahnya dan telah menjadi seorang gadis yang amat lihai. Dalam waktu belasan jurus saja, si pendek telah terluka pangkal lengan kirinya dan juga paha kanannya. Kui Eng memang sengaja tidak hendak membunuhnya karena ia ingin sekali mengetahui siapa orang ini dan mengapa pula memusuhinya, padahal ia tidak mengenal orang itu sama sekali. Ia hanya ingin merobohkannya dan memaksanya mengaku.

Akan tetapi, orang pendek itu tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya dan melanjutkan larinya sambil terpincang-pincang, menuju ke atas bukit. Kui Eng mengejar dan membayanginya. Kalau menghendaki, tentu dengan mudah ia dapat menyusul dan merobohkannya. Akan tetapi ia hanya membayangi karena ia merasa yakin bahwa orang ini mungkin hanya nenjadi pesuruh saja, ada orang lain yang menyuruhnya untuk membunuhnya dan agaknya ia berada di puncak bukit ke mana orang itu hendak melarikan diri.

Hatinya merasa tegang ketika melihat sebuah pondok di puncak bukit itu. Pondok sunyi akan tetapi terawat, menunjukkan bahwa memang benar disitu terdapat penghuninya dan orang yang dikejarnya berlari memasuki pekarangan rumah itu!

“Suhu, toloooooooongggg...!" Si pendek itu berseru ketika tiba di pekarangan rumah.

Mendengar ini, Kui Eng cepat meloncat dan tiba di depan orang itu, maklum bahwa pondok itu adalah tempat tinggal guru penyerangnya. Ketika Kui Eng hendak menggerakkan pedang menyerang. dari belakangnya terasa olehnya angin menyambar. Ia terkejut dan menarik kembali pedangnya lalu melompat ke samping untuk menghindarkan diri.

Ternyata di sana telah berdiri seorang laki-laki berpakaian tosu, berusia kurang lebih enamuluh tahun, bertubuh tinggi kekar mukanya merah, memiliki kumis dan jenggot putih yang tipis dan di dada jubahnya terdapat lukisan pat-kwa (segi delapan) dengan tanda im-yang ditengahnya. Tosu itu menarik kembali ujung lengan bajunya yang lebar yang tadi dia pergunakan untuk menyerang Kui Eng.

"Nona, perlahan dulu, jangan sembarangan membunuh orang!" kata tosu itu, suaranya lembut dan sikapnya berwibawa, wajahnya dingin namun senyumnya menyelimuti kedinginan wajahnya sehingga nampak ramah.

Kui Eng mencibir. "Hemm, musang berkedok domba!" ejeknya. "Engkau menasihati orang agar jangan sembarangan membunuh, akan tetapi engkau menyuruh muridmu berusaha untuk membunuhku secara pengecut!"

"Siancai...!!" Tosu itu berseru dan melipat kedua lengan di depan dada. "Apa maksudmu nona? Pinto (saya) tidak menyuruh siapapun membunuh orang. Pinto adalah Im Yang Sengcu, sahabatnya Kaisar. Sribaginda Kaisar saja percaya kepada pinto, bagaimana mungkin pinto menyuruh membunuh orang?"

Kembali Kui Eng tersenyum mengejek. "Totiang, tidak perlu lagi berpura-pura. Dengar baik-baik. Tadi, aku tidur di dalam kamarku di rumah penginapan dan muridmu ini mencokel jendela, melompat masuk dan menyerangku dengan goloknya. Apa lagi artinya itu kalau bukan hendak membunuhku. Masihkah engkau sebagai gurunya masih berpu-pura lagi? Tentu engkau yang menyuruhnya, dan aku yang ingin tahu mengapa kalian hendak membunuhku yang tidak kalian kenal sama sekali?"

Tosu itu memang Im Yang Seng-cu, tosu yang menjadi sahabat Kaisar Tang Tai Cung. Kaisar pula yang memberi ijin kepadanya untuk menguasai bukit di sudut kota itu dan di situ didirikan pondok untuk dia melakukan samadhi. Orang pendek itu adalah seorang di antara murid-muridnya atau pengikutnya, juga kaki tangannya, yang bernama Phoa Gu.

Phoa Gu ini kebetulan sekali kakak dari komandan regu yang pagi tadi dihajar oleh Kui Eng. Dia Ingin membalas dendam dan hal ini adalah kehendaknya sendiri dan di luar tahunya Yang Seng-cu, oleh karena itu mendengar tuduhan Kui Eng. dia mengerutkan alisnya dan kini dia memandang kepada murid atau anak buahnya itu.

"Phoa Gu, apa artinya ini? Benarkah engkau hendak membunuh nona ini?" Kini Im Yang Seng-cu baru melihat hetapa muridnya itu telah mengalami luka-luka berdarah pada pundak atau pangkal lengan dan pahanya.

"Suhu, memang benar teecu (murid) ingin membunuhnya akan tetapi iblis betina ini ternjata lihai sekali."

"Phoa Gu. kenapa engkau hendak membunuhnya?" Suara lm Yang Seng-cu terdengar marah.

"Suhu. ia seorang iblis betina yang kejam. Bukan saja ia telah menyiksa adik teecu yang bernama Phoa Ci. akan tetapi la pula yang melapor kepada Pangeran Li Cu Kiat sehingga adik teecu bersama semua regunya mendapat hukuman berat. Teecu hendak membalas dendam kepadanya dan harap suhu membela teecu."

"Aih-aih, sekarang aku mengerti!" Kui Eng berseru dan wataknya yang keras dan berani membuat ia tidak perduli bahwa orang itu berada bersama gurunya. "Kiranya engkau adalah kakak dari babi gendut kurang ajar itu? Memang aku telah menghajarnya dan aku pula yang menyebabkan dia dihukum oleh atasannya. Aku masih bersikap murah karena adikmu itu sesungguhnya pantas kalau kubunuh!”

"Coba lihat dan dengar, suhu! Perempuan ini terlalu kejam dan sombong. Kalau tidak dibunuh, ia akan menimbulkan kekacauan di kota raja. Bahkan ia telah berhasil merayu Pangeran Li Cu Kiat sehingga pangeran itu membelanya, membuat ia menjadi semakin sombong! Mungkin wanita ini yang oleh suhu disebut-sebut sebagai siluman yang kelak akan menguasai istana."

"Hei, jahanam busuk, tutup mulutmu yang menyebar fitnah busuk! Engkaulah yang patut dibasmi!" bentak Kui Eng dan kini ia sudah bergerak menyerang dengan tangan kosong kepada si pendek bernama Phoa Gu itu.

Phoa yang mendadak bangkit semangatnya karena di situ terdapat suhunya, menyambut serangan Kui Eng dengan sambaran golok besarnya. Akan tetapi sekali ini, Kui Eng tidak berniat untuk mengampuninya, la sudah tahu mengapa si pendek ini hendak membunuhnya tadi, maka melihat golok menyambar, ia miringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak, terdengar suara "krek” dan tulang lengan kanan Phoa Gu patah oleh sabetan tangannya yang dimiringkan.

"Aduhhh...!" Golok itu terlepas dan Phoa Gu menyeringai kesakitan sambil memegan lengan kanan yang patah tulangnya dengan tangan kiri. Kui Eng sudah mengambil keputusan untuk membunuh saja Phoa Gu yang curang dan palsu itu. Ia melangkah maju dan tangannya menampar ke arah kepala orang itu.

"Dukkk!!" Tangan Kui Eng bertemu dengan ujung lengan baju yang mengandung tenaga kuat sehingga Kui Eng terkejut dan memandang kepada tosu yang menangkisnya dengan mata mencorong.

“Hemm. kiranya benar pepatah yang mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Kalau gurunya sesat, tentu muridnya menjadi jahat. Totiang maju membantu murid yang menyeleweng, berarti totiang juga bukan orang baik.”

“Siancai... mulutmu sungguh lancang, nona, dan engkau masih muda akan tetapi engkau sombong sekali. Katakanlah murid pinto bersalah, akan tetapi pinto yang berhak menghukumnya. Bagaimana mungkin pinto membiarkan saja orang lain hendak membunuh murid pinto di depan hidung pinto sendiri? Sudahlah, nona. Kita habiskan urusan sampai di sini saja. Pinto tidak ingin bermusuhan dengan seorang gadis yang masih kekanak-kanakan sepertimu. Silakan pergi menuruni bukit ini."

"Enak saja engkau bicara, totiang!" Kui Eng menjadi marah dan penasaran sekali. "Tanpa kesalahan apapun, ketika memasuki pintu gerbang kota raja, babi gendut adik kerbau ini menghinaku, hendak merampok harta dan kudaku, bahkan kurang ajar sekali hendak menggerayangi tubuhku. Aku menghajarnya, berikut anak buahnya, kemudian muncul pangeran yang menghukumnya. Salahkah aku dalam urusan itu? Kemudian, kerbau ini memasuki kamarku seperti maling, menggunakan goloknya membacok aku yang sedang tidur. Untung aku dapat menangkisnya dan mengejarnya sampai ke sini. Salahkah aku kalau sekarang aku hendak membalas dan membunuhnya? Dan engkau membelanya, melindunginya!"

Im Yang Sengcu juga menjadi marah juga. Dia seorang yang terpandang, bahkan Kaisar Tang Tai Cung menghargainya sebagai seorang sahabat dan penasihat. Semua orang di istana, bahkan di kota raja menghormatinya. Akan tetapi gadis ini bersikap demikian tinggi hati, tidak menghormatinya sama sekali, bahkan mengeluarkan kata-kata keras dan mencelanya!

"Nona. pinto Im Yang Sengcu adalah sahabat dan penasihat Kaisar! Engkau berani bersikap seperti ini terhadap pinto? Kalau pinto tidak mengalah, sebagai seorang tingkatan lebih tua tehadap seorang gadis muda, apa kau kira sekarang engkau masih dapat bernapas? Siapakah engkau ini yang begini sombong?"

"Totiang, urusan antara manusia tidak ditentukan oleh kedudukannya, melainkan oleh benar dan salah. Totiang boleh jadi berkedudukan tinggi, siapa perduli akan hal itu? Yang penting adalah benar atau salah, bukan kedudukan tinggi atau rendah. Namaku adalah Cian Kui Eng, dan bagiku, siapapun dia kalau bersalah tentu akan kutentang, tidak perduli pangkatnya!”

“Siancai... engkau she Cian? Hemmm, mengingatkan pinto akan keluarga Kerajaan Sui yang telah lenyap. Menurut perbintangan, istana kerajaan Tang terancam oleh wanita dari marga Cian keturunan keluarga Kerajaan Sui. Hemm, nona Cian Kiri Eng, terpaksa pinto harus menahanmu. Kalau kelak menurut pemeriksaan, engkau tidak bersalah, pasti kami bebaskan. Kemunculanmu di kota raja mendatangkan keributan, memang engkau patut dicurigai."

"Tosu jahat! Engkau membela muridmu dan hendak menangkap aku?" bentak Kui Eng. "Engkau seorang pendeta, membela pembunuh dan perampok?"

"Pinto tidak membela siapa-siapa, akan tetapi demi keamanan kerajaan, pinto harus menangkap engkau dan menyelidiki dulu, apa maksudmu datang ke kota raja ini."

"Tosu busuk!" bentak Kui Eng dan iapun menerjang tosu itu.

Im Yang Seng-cu mengelak karena maklum bahwa pukulan gadis itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Justeru kelihaian gadis itu yang diketahuinya ketika dia tadi menangkis serangan Kui Eng kepada muridnya, yang membuat dia menjadi curiga. Bukan semata membela muridnya kalau dia kini ingin menangkap Kui Eng melainkan kecurigaan itulah. Baru saja ada orang-orang berusaha membunuh Kaisar, maka kehadiran seorang gadis yang begini lihai di kota raja, apa lagi yang berani menghajar para penjaga pintu gerbang, memang patut dicurigai.

"Wuuutt... plakkk” ketika dia membalas serangan gadis itu dengan sambaran ujung lengan bajunya yang mengirim totokan ke arah dada, Kui Eng menangkis dan keduanya terdorong ke belakang.

Im Yang Seng-cu terkejut bukan main, dan Kui Eng juga menjadi semakin penasaran melihat kehebatan lawan, iapun maju lagi dan menyerang dengan ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Silat Naga Sakti) yang merupakan ilmu andalan ayahnya. Memang hebat sekali ilmu silat ini. Gerakannya bagaikan seekor naga bermain-main di angkasa. Im Yang Sengcu juga seorang yang lihai sekali, banyak pengalamannya. Kini, melihat ilmu silat gadis itu, diam-diam dia terkejut. Ilmu silat yang amat dahsyat, pikirnya.

Karena merasa bahwa kalau hanya mengandalkan ilmu silatnya sendiri, akan sukar baginya untuk mengalahkan gadis itu, maka begitu melihat para pembantu yang juga menjadi muridnya berdatangan dari dalam dan mengepung gadis itu, dia tidak melarang mereka, bahkan Im Yang Seng-cu yang ingin menangkap gadis yang baginya amat mencurigakan itu lalu mulai mengeluarkan suara bernyanyi!

Itu merupakan tanda bagi para muridnya yang kemudian sambil mengepung dan bergerak mengeliling gadis yang masih saling serang dengan Im Yang Seng-cu untuk mulai bernyanyi pula. Suara nyanyian mereka aneh karena suara mereka tidak senada, namun lagunya sama. Lagu sama yang dinyanyikan oleh sembilan orang yang nada suaranya berbeda-beda itu mendatangkan kepeningan hebat di kepala Kui Eng.

Dia terkejut sekali, berusaha mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh nyanyian aneh itu. Namun hanya menolong sedikit dan gerakan tangannya mulai kacau. Kui Eng terkena tamparan ujung lengan baju lawan, dan untung sin-kangnya kuat sehingga totokan dengan lengan baju itu tidak membuatnya roboh, hanya tergetar sedikit. Ia terhuyung dan cepat ia meloncat ke belakang sambil mencabut pedangnya! Kui Eng mengamuk, memutar pedangnya dan para murid Im Yang Seng-cu menjadi jerih dan mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kui Eng untuk melarikan diri dari puncak bukit itu.

"Kejar! Tangkap...!!" Im Yang Seng-cu berseru dan bersama anak buahnya, dia melakukan pengejaran.

Sambil melakukan pengejaran, sembilan orang itu tetap bernyanyi. Nyanyian ini bukan sembarang nyanyian, melainkan nyanyian yang mengandung kekuatan sihir dan suara inilah yang menyiksa Kui Fng. Kalau ia tidak memiliki sin-kang yang kuat, tentu ia sudah roboh karena pusing oleh suara nyanyian itu, Suara itu seolah terus mengejarnya, seolah mereka berada dekat sekali di belakangnya.

Padahal, mereka itu tidak dapat terlalu dekat menyusulnya karena dalam hal ilmu meringankan tubuh, para murid Im Yang Seng-cu jauh ketinggalan dibandingkan Kui Eng. Mungkin Im Yang Seng-cu sendiri akan dapat menyusul Kui Eng. akan tetapi tosu ini maklum akan kelihaian Kui Eng sehingga dia tidak berani sembarangan menyusul seorang diri saja tanpa bantuan para muridnya.

Kui Eng merasa bingung, la sudah tiba di kaki bukit kecil itu akan tetapi mereka masih terus mengejarnya. Kembali ke rumah penginapan tiada gunanya karena ia tahu bahwa tosu itu memiliki pengaruh besar. Menurut pengakuannya, dia adalah panasihat dan sahabat kaisar, tentu kekuasaannya besar. Akan tetapi ke mana ia harus melarikan diri? Keluar dari kota raja pada malam hari begini tidak mungkin, tentu menimbulkan kecurigaan dan ia akan dikeroyok oleh para penjaga.

Entah bagaimana, kakinya membawanya lari menuju ke istana bekas tempat tinggal ayahnya! Ketika berada di belakang pagar tembok rumah itu, ia melompat dan untung baginya bahwa ternyata rumah itu hanya dijaga di bagian depan saja, tidak ada penjaga meronda di sekelilingnya, la tiba di taman bunga yang gelap dan sunyi, lalu ia cepat menyelinap di antara pohon bunga, menghampiri rumah besar itu.

Teringatlah ia bahwa memang mempunyai niat untuk mengunjungi bekas rumah ayah ibunya ini dan menengok kamar ibunya di mana ia dilahirkan! Kebetulan sekali la berlari dan bersembunyi di situ. Akan tetapi ia harus berhati-hati karena siapa tahu, penghuni istana itu juga akan memusuhinya. Ketika ia herindap-indap menyelinap ke bagian belakang istana, ia melihat penerangan menyorot keluar dari sebuah kamar.

Agaknya penghuni kamar itu belum tidur dan lampu yang terang dari dalam kamar itu menyorot keluar melalui celah-celah jendela. Ia menghampiri jendela dan mengintip. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi juga lega ketika melihat bahwa yang duduk membaca kitab di dalam kamar itu adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah pangeran yang pagi telah membelanya ketika ia dikepung penjaga di pintu gerbang! Ah, kiranya pangeran itu yang kini penghuni bekas istana ayahnya!

Tiba-tiba pangeran itu menoleh ke arah jendela dan Kui Eng cepat menyelinap ke samping agar jangan nampak bayangannya. Namun, sedikit kelihatan di luar jendela itu sudah cukup bagi pangeran Li Cu Kiat yang lihai untuk mengetahui bahwa di luar jendelanya terdapat orang yang mengintainya.

"Siapa itu di luar jendela?" tegurnya halus. "Kalau engkau musuh, tidak mungkin karena aku tidak pernah mempunyai musuh. Kalau engkau pencuri, engkau salah masuk karena rumah ini biarpun besar, tidak mempunyai barang berharga untuk dicuri. Kalau engkau sahabat, masuklah. Pintu kamarku tidak dikunci dan aku siap menerima kunjungan seorang sahabat setiap saat."

Mendengar urapan itu, Kui Eng berpikir, yakin bahwa pangeran ini bukan orang jahat, bahkan bukan orang sembarangan, gagah dan adil. Dan dia seorang pangeran. Kalau ia membutuhkan bantuan, kiranya hanya pangeran ini yang akan membantunya karena tentu kekuasaannya tidak kalah dibandingkan kekuasaan Im Yang Seng-cu. Tidak ada salahnya untuk mencobanya, karena ia tak tahu siapa lagi yang akan mampu menolong dari ancaman tosu yang lihai itu.

Maka, dengan jantung berdebar penuh ketegangan, ia lalu menghampiri pintu kamar itu dan perlahan-lahan mendorong daun pintunya terbuka, Ia melihat pangeran itu masih duduk seperti tadi membaca kitab dengan punggung membelakangi pintu. Kui Eng memandang kagum. Betapa tenangnya! Betapa tabahnya! dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

"Maafkan aku, pangeran."

Pangeran Li Cu Kiat tersentak kaget dan bangkit berdiri sambil memutar tubuhnya. Matanya terbelalak dan bersinar-sinar, wajahnya berseri ketika dia mengenal siapa yang membuka pintu dan menegurnya. Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa bayangan yang nampak di luar jendela adalah gadis yang pagi tadi menimbulkan kekagumannya di pintu gerbang kota raja. Kalau yang muncul itu seorang raksasa misalnya, dia tidak akan sekaget itu, namun kejutan ini bukan tidak menyenangkan hatinya. Dia dapat segera mengatasi kekagetannya dan tersenyum ramah.

“Aih, kiranya engkau, nona? Selamat malam dan silakan duduk. Angin apakah gerangan yang meniupmu malam-malam begini datang berkunjung melalui jendela?"

Wajah Kui Eng menjadi kemerahan. Tentu saja ia merasa salah tingkah karena tersipu dan rikuh sekali. Seorang gadis berkunjung ke kamar seorang pemuda, malam-malam tanpa diundang seperti maling. Bayangkan itu!

"Sekali lagi maaf. Pangeran. Saya... aku... terpaksa melakukan ini... aku... dikejar-kejar..."

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, Kui Eng cepat membalikkan tubuh dan siap siaga menghadapi serangan. Akan tetapi ia terbelalak melihat bahwa yang berkelebat masuk itu seorang nenek tua renta yang memegang sebatang tongkat kepala naga. Nenek itu tentu sudah hampir delapanpuluh tahun usianya, akan tetapi melihat gerakannya ketika memasuki kamar itu, jelas dapat diduga bahwa nenek ini memiliki kepandaian tinggi.

"Cu Kiat, apa yang terjadi? Siapa nona ini. Tadi aku melihat bayangan berkelebat di taman bunga, kiranya nona ini yang masuk?" Nenek itu mengerutkan alisnya dan kelihatan tidak senang sekali, memandang kepada pangeran itu dengan pandang mata bengis.

"Nenek... aku... aku...” Pangeran itu sendiri nampak gugup melihat munculnya nenek galak itu begitu tiba-tiba, padahal dia yakin bahwa neneknya amat sayang kepadanya, bahkan neneknya inilah yang memanjakannya dan neneknya pula yang mengajarkan ilmu silat kepadanya. Neneknya adalah seorang wanita yang sakti. Dahulu ketika mudanya ia adalah seorang pendekar wanita yang disegani orang. Bahkan Kaisar Tang Tai Cung yang lihai itupun hormat dan segan kepada bibinya ini.

Melihat sikap pangeran itu yang ketakutan, Kui Eng segera berkata. "Nenek, semua ini bukan kesalahan pangeran. Ia tidak tahu apa-apa, akulah yang masuk ke sini tanpa ijin..."

“Huh! Kalau begitu, tentu engkau bukan orang baik-baik!" Berkata demikian, nenek itu menggerakkan tongkatnya ke arah kepala Kui Eng.

Serangan itu sedemikian cepat dan kuatnya sehingga mengejutkan hati Kui Eng, namun dengan sigapnya ia dapat meloncat ke samping dan menghindarkan diri dari hantaman tongkat berkepala naga itu. Akan tetapi, biarpun hantamannya luput, tongkat itu seperti hidup saja telah membalik dan menotok ke arah dada Kui Eng. Kembali gadis ini menghindar cepat sambil menyabetkan tangannya menangkis. Tongkat itu terpental, akan tetapi kembali melayang balik dan kini menyambar dengan sapuan pada kedua kaki Kui Eng. Gadis itu meloncat ke atas.

"Nenek, tahan dulu...!" Pangeran Li Cu Kiat meloncat ke depan dan menghalangi neneknya menyerang terus.

"Minggir kau Cu Kiat! Ia mampu menghindarkan diri dengan mudahnya dari rangkaian jurusku Naga Menyusup Tiga Langit, berarti ia seorang penjahat yang amat lihai dan berbahaya!" kata nenek itu sambil melintangkan tongkatnya di depan dada dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

"Sabarlah, nek, harap nenek bersabar dan dengarkan dulu keteranganku. Nona ini memang lihai sekali, akan tetapi ia sama sekali bukan penjahat!"

Nenek itu mengerutkan alisnya "Bukan penjahat? Lalu kenapa malam-malam begini masuk ke sini tanpa ijin seperti pencuri."

"Tadi ia telah minta maaf dan sedang menceritakan mengapa ia datang malam-malam begini. Karena terpaksa, katanya dikejar-kejar, akan tetapi belum selesai bercerita, keburu nenek muncul dan marah-marah. Sebaiknya kalau kita dengarkan penjelasannya, nek. Duduklah, nek. Dan kau juga nona.” Pangeran itu lalu menutupkan daun pintu kamarnya yang besar dan luas.

"Baik. Aku dengarkan. Akan tetapi penjelasanmu itu haruslah benar, kalau bohong, awas kau! Keluarga kami memang tidak suka bermusuhan dengan siapapun, akan itu bukan berarti bahwa kami takut menghadapi orang jahat!" Nenek itu mengomel.

Kui Eng tidak marah, bahkan ia memandang kagum kepada nenek itu. Sudah begitu tua namun masih gagah, dan sikapnya yang keras itu tiada bedanya dengan sikap ayahnya. Keras kepala, berani namun juga jujur dan tidak suka mengakui kelemahan sendiri!

"Nah, sekarang ceritakan, nona. Kenapa engkau malam-malam begini datang ke sini?" tanya Pangeran Li Cu Kiat dengan sikap yang lembut.

"Seperti kukatakan tadi. Pangeran, aku terpaksa melakukan ini. Harap maafkan kelancanganku ini. Kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak berani... ah, sudahlah, aku bukan seorang cengeng yang suka merengek-rengek meminta ampun. Aku sedang dikejar-kejar oleh Im Yang Sengcu dan beberapa orang anak buahnya."

Nenek dan cucunya itu terkejut, saling pandang, kemudian mereka memandang wajah gadis itu dengan penuh keheranan.

"Si dukun lepus itu?" nenek itu berseru dan sebutan ini saja sudah menunjukkan bahwa nenek ini tidak suka kepada Im Yang Sengcu. "Mau apa tukang sihir itu mengejar-ngejarmu?"

“Dia hendak menangkapku."

"Akan tetapi kenapa dukun lepus itu hendak menangkapmu?" nenek itu mengejar.

"Nek, sebaiknya kita membiarkan nona ini bercerita dari awal agar semuanya terjawab," kata pangeran itu dan neneknya mengangguk tak sabar.

“Pangeran, semua ini masih ada hubungann dengan peristiwa pagi tadi di pintu gerbang” Kui Eng memulai dan nenek itu sudah menyambarnya lagi.

"Peristiwa apa pagi tadi di pintu gerbang?”

Kui Eng tahu bahwa watak nenek yang keras ini tidak dapat dibantah lagi dan ia harus menceritakan semuanya dengan jelas. "Pagi tadi, aku menunggang kuda memasuki pintu gerbang kota raja,” Kui Eng mulai bercerita. "Tiba-tiba komandan regu yang seperti babi dan belasan anak buahnya menghadangku. Aku diajak masuk gardu penjaga dan di situ, si babi hendak merampas barang-barang perhiasanku dan merampas pula kudaku. Bukan itu saja, dia hendak menggerayangi tubuhku dengan alasan hendak menggeledah karena mencurigai aku..."

"Jahanam keparat! Komandan regu macam itu harus dihajar sampat rontok semua giginya!" teriak nenek itu.

"Sudah kulakukan itu nek," kata Kui Eng.

"Apa...?" Nenek itu terbelalak.

Kui Eng tersenyum. "Sudah kulakukan itu, sudah kuhajar dia dan kurontokkan semua giginya. Juga kupatahkan kedua tulang lengannya dan semua anak buannya kuhajar dengan cambuk kuda...”

"Bagus! Heh-heh-heh-heh, bagus sekali!" Nenek bersorak gembira.

"Dalam keributan itu muncul pangeran ini dan dia menangkap si babi dan semua anak buahnya dan menyuruh hukum mereka."

"Bagus! Ini baru cucu nenek namanya!" nenek itu memuji dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya atas lantai.

"Harap kau lanjutkan, nona." kata Pangeran Li Cu Kiat.

Kui Eng lalu menceritakan tentang peristiwa tadi, munculnya seorang bernama Phoa Gu yang hendak membunuhnya dengan golok dengan mencokel jendela kamarnya. "Aku berhasil menangkis serangannya dan dia melarikan diri. Kubayangi dia karena aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya. Dia lari ke bukit itu dan tiba di depan tempat tinggal Im Yang Seng-cu. Ketika aku hendak membunuh Phoa Gu, Im Yang Sengcu mencegah dan ternyata Phoa Gu itu adalah muridnya..."

"Wah. dukun lepus tukang sihir itu! Sejak semula aku memang sudah tldak suka dan tidak percaya padanya. Akan tetapi, Sribaginda agaknya telah kena disihir sehingga mempercayai dukun lepus itu. Membuatkan obat panjang umur sampai seribu tahun? Phuah, omong kosong. Jadi, dia yang menyuruh muridnya untuk membunuhmu?"

“Agaknya bukan dia. Dari pembicaraan mereka, aku mengetahui bahwa Phoa Gu itu adalah kakak si komandan regu yang sengaja hendak membalas dendam kepadaku, bukan disuruh oleh gurunya. Biarpun demikian, Im Yang Sengcu tetap melindungi muridnya itu, bahkan kemudian berkeras hendak menangkap aku dengan alasan bahwa dia mencurigai aku sebagai mata-mata musuh atau pemberontak. Kami bertanding. Setelah dia tidak mampu mengalahkan aku, lalu dia mengerahkan anak buahnya dan menggunakan nyanyian sihir. Aku tidak tahan mendengar suara itu dan terpaksa melarikan diri dan mereka mengejar-ngejarku. Itulah sebabnya aku nekat masuk ke sini dan menyembunyikan diri."

"Im Yang Sengcu tidak mampu mengalahkanmu, nona? Bukan main, kalau begitu engkau adalah seorang gadis yang lihai sekali!" seru Pangeran Li Cu Kiat kagum.

"Hem. Engkau memang seorang gadis pemberani. Siapa namamu?" Nenek Itu bertanya.

Sebelum Kui Eng menjawab terdengar langkah kaki tergesa menghampiri ruangan itu. Pangeran Li Cu Kiat memberi isyarat kepada Kui Eng untuk berdiam diri dan diapun menghampiri pintu yang tertutup.

"Siapa di luar?" tanyanya.

"Pangeran, maafkan kalau hamba mengganggu” kata suara seorang penjaga yang biasa bertugas jaga di luar gedung bersama teman-temannya. “Totiang Im Yang Seng-cu datang dan ingin menghadap paduka. Dia dan rombongannya hamba persilakan menunggu di ruangan tamu."

Pangeran itu memandang neneknya, lalu berkata. "Baik, katakan aku akan menerimanya dan suruh dia menunggu sebentar."

"Baik, pangeran," kata penjaga itu yang segera pergi keluar kembali.

Terdengar langkah kaki lembut menghampiri ruangan itu dan Pangeran Li Cu Kiat yang sudah hafal akan langkah itu, bergumam, "Ibu datang.”

Dia lalu membukakan pintu sebelum terketuk dan masuklah seorang wanita cantik yang berusia mendekati lima puluh tahun dengan sikap anggun. Wanita cantik itu tidak heran melihat ibunya berada dikamar puteranya, akan tetapi ia terbelalak memandang kepada gadis cantik yang berada di kamar pula.

"Cu Kiat. apa artinya Ini? Siapa gadis ini?”

Nenek itu berkata kepada cucunya, "Cu Kiat pergilah menemui dukun lepus itu. Aku yang akan menerangkan kepada ibumu, dan aku nanti menyusul”

Cu Kiat mengangguk, kemudian diapun keluar dari dalam kamar itu, langsung menuju ke ruangan tamu. Nenek itu dengan singkat bercerita kepada puterinya tentang Kui Eng dan seperti juga puteranya dan ibunya, wanita itu segera memperlihatkan sikap melindungi dan membela Kui Eng.

"Tosu itu memang kurang ajar. Karena mendapat angin dari adinda Kaisar, dia menjadi besar kepala. Aku memang selalu curiga bahwa dia tentu akan berusaha untuk memperbesar kekuasaannya di istana. Sebaiknya kalau ibu menemani Cu Kiat, biar aku yang membawa nona ini bersembunyi di kamarku."

Nenek itu mengangguk, kemudian iapun keluar dari kamar cucunya. Ketukan tongkatnya berdetak-detak ketika ia menuju ke ruangan tamu yang berada di bagian depan gedung itu.

Melihat munculnya Pangeran Li Cu Kiat, Im Yang Sengcu lalu bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada. tersenyum ramah dan berkata dengan suara sopan. "Harap paduka suka memaafkan pinto, pangeran, kalau pinto mengganggu waktu paduka malam-malam begini karena pinto mempunyai keperluan penting sekali untuk dibicarakan dengan paduka."

Pangeran Li Cu Kiat membalas penghormatan itu. memandang ke arah belasan orang anak buah tosu itu yang juga membungkuk dengan hormat, lalu dia berkata dengan suara yang mengandung teguran "Totiang, untuk menghadap dan bicara dengan aku perlukah totiang membawa anak buah sebanyak ini?" Pangeran itu memandang kepada belasan orang pengikut Im Yang Sengcu dan melanjutkan, "Atau barangkali belasan orang inipun mempunyai keperluan penting untuk dibicarakan dengan aku?"

Melihat sikap dan mendengar suara yang nada penuh teguran itu, Im Yang Sengcu lalu memberi isyarat kepada anak buahnya dan berkata, "Kalian menunggu di luar saja!”

Belasan orang itu memberi hormat kepada Pangeran Li Cu Kiat lalu keluar dari ruangan itu.

"Nah, sekarang ceritakan, keperluan penting apakah itu yang hendak totiang bicarakan dengan aku? Setahuku, selama ini kami sekeluarga tidak mempunyai urusan dengan totiang."

"Siancai, harap paduka pangeran suka memaafkan kalau pinto mengganggu. Sesungguhnya, demi keamanan dan keselamatan paduka sekeluargalah maka pinto memberanikan diri datang menghadap malam-malam begini. Ketahuilah bahwa pinto dan para murid sedang mengejar seorang wanita jahat, seorang yang kami curigai sebagai mata-mata musuh atau pemberontak."

Pangeran Li Cu Kiat mengerutkan alisnya. "Totiang, apa hubungannya totiang mengejar penjahat dengan keluarga kami?"

"Kami mengejar penjahat itu dari bukit kami dan ia melarikan diri lalu masuk ke dalam pekarangan istana paduka ini, dan lenyap disini”

"Hemm, totiang!" Li Cu Kiat berkata penasaran. "Apakah totiang hendak mengatakan bahwa penjahat itu tinggal di istana kami?"

“Ah, mana pinto berani menuduh seperti itu? Pinto hanya mengatakan bahwa ia lari dan menghilang di sini. Karena khawatir ia mengganggu keselamatan keluarga paduka, maka pinto memberanikan diri menghadap untuk memberi tahu kepada paduka."

Pada saat itu terdengar bunyi ketukan tongkat nenek pangeran itu dan orangnya muncul dari pintu dalam. Melihat nenek ini, Im Yang Seng-cu cepat bangkit berdiri dan memberi hormat. Baru dua kali dia pernah bertemu dengan nenek itu dan dia tahu bahwa Kaisar sendiri menghormati bibinya ini, maka diapun selalu menghormati nenek yang agaknya meremehkan dirinya itu.

“Song-twanio (Nyonya Besar Song)? Selamat malam. Maafkanlah pinto mengganggu ketenangan istana twanio malam ini."

Nenek itu mendekat, memandang penuh perhatian lalu berkata. "Aih. kiranya dukun lepus ahli sihir Im Yang Sengcu yang datang. Apakah engkau hendak meramalkan nasib cucuku? Cu Kiat, serahkan saja nasib keluarga kita kepada Tuhan dan jangan mempercayai omongan segala macam tukang ramal dan tukang sulap!"

Mendengar ucapan yang nadanya mengejek dan merendahkan dirinya itu, wajah Im Yang Seng-cu menjadi merah dan hatinya mendongkol bukan main. Kalau tidak ingat bahwa nenek ini adalah bibi Kaisar dan selain itu juga lihai, tentu sudah didampratnya nenek itu.

"Twanio, kedatangan pinto ke sini dengan maksud baik, untuk menjaga keamanan dan keselamatan keluarga twanio. Hendaknya diketahui bahwa pinto mengejar seorang penjahat dan ia lari masuk dalam istana twanio ini."

"Apa katamu?, Penjahat masuk ke rumah kami? Cu Kiat, kebohongan apa ini yang dikatakannya?”

"Nek, totiang ini mengatakan bahwa ia mengejar seorang gadis yang katanya merupakan seorang mata-mata musuh atau pemberontak."

"Im Yang Seng-cu, jaga mulutmu baik-baik!” Nenek itu marah dan mengamangkan tongkatnya. "Kau mau bilang bahwa kami memberontak?”

"Ah, tidak sama sekali, twanio" Im Yang Seng-cu berseru kaget. "Pinto hanya mengatakan bahwa pinto telah mengejar seorang gadis dan ia telah melarikan diri. Ketika pinto mengejarnya untuk menangkap dan menyeretnya ke pengadilan, ia melarikan diri dan meloncati pagar tembok istana ini. Karena khawatir ia melakukan kejahatan dan mengganggu keluarga twanio, maka pinto memberanikan diri menghadap untuk memberi tahu."

"Engkau mengejar-ngejar seorang gadis dan tidak mampu menangkapnya? Aneh! Dan bagaimana pula engkau mengatakan bahwa gadis itu jahat? Apa saja yang telah ia lakukan?" tanya pula Nyonya Song, nenek itu.

Nyonya Song ini dahulunya seorang pendekar wanita. Puterinya menikah dengan Pangeran Li Seng Tek kakak Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi kaisar dan mempunyai seorang anak laki-laki, yaitu Pangeran Li Cu Kiat.

"Gadis itu mencurigakan sekali, dan kejam, twanio,” kata Im Yang Seng-cu. "la telah mengamuk dan melukai banyak perajurit, bahkan hampir saja ia membunuh murid pinto..."

"Ah, kiranya engkau mengejar-ngejar gadis yang dikeroyok oleh para penjaga pintu gerbang tadi pagi, totiang?" Li Cu Kiat berseru. "Kalau begitu, engkau keliru besar. Akulah yang menyebabkan para penjaga itu dihukum, karena mereka bertindak sebagai perampok, bukan sebagai perajurit kerajaan."

"Hemm, kalau muridmu membela regu yang bertindak seperti perampok, berarti muridmu itu juga jahat, dan kalau sekarang engkau membela muridmu itu, sungguh membuat kami curiga bahwa engkau bukanlah orang baik-baik, Im Yang Seng-cu!" kata pula si nenek.

Mendengar ini, Im Yang Sengcu bangkit berdiri dan matanya mencorong marah. Berani sekali nenek dan cucunya ini menghinanya! "Pangeran dan Twanio, tidak ada gunanya lagi kita berdebat, kalau benar ji-wi (kalian) tidak menyembunyikan gadis pemberontak itu, buktikan dan biarkan pinto dan para murid pinto melakukan pencarian dan penggeledahan di dalam rumah ini!"

"Dukkk!!" Tongkat nenek itu dihentakkan di atas lantai sehingga lantai itu berlubang. "Keparat kau dukun lepus! Coba, hendak kami lihat apakah engkau berani melakukan penggeledahan di rumah kami! Kupukul kepalamu sampai lumat!"

Pangeran Li Cu Kiat juga berdiri menghadapi tosu itu. "Im Yang Seng-cu siapapun termasuk engkau tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap kami! Hanya Sribaginda Kaisar saja yang boleh memerintahkan penggeledahan."

"Ananda Kaisar sekalipun akan berpikir dua kali untuk menghinaku!" nenek Song berteriak. "Dan engkau, dukun lepus, tukang sulap dan sihir ini berlagak di depanku? Hayo pergi kau, atau kukemplang kepalamu sampai hancur berantakan!"

Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Im Yang Sengcu menahan kemarahan hatinya. "Baik, akan pinto laporkan kepada Sribaginda Kaisar bahwa rumah ini melindungi seorang pemberontak!” katanya sebelum pergi.

“Laporkan, dan kami akan melaporkan bahwa kau melindungi regu yang menyeleweng dan bertindak sebagai perampok! Ingin kami lihat, engkau atau kami yang akan didengarkan oleh Pamanda Kaisar" kata Pangeran Li Cu kiat marah.

Im Yang Sengcu berdiri dengan muka merah dan mata mencorong. Hampir saja dia tidak dapat menahan kemarahannya. Ingin rasanya menerjang dan membunuh orang-orang yang berani memandang rendah dan menghinanya itu. Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia melakukan hal itu, maka bencana besar akan menimpanya. Belum tentu dia akan mampu mengalahkan nenek dan cucunya itu. Andaikata dapat mengalahkan dan membunuh merekapun dia akan memikul tanggung-jawab besar terhadap Kaisar. Dengan marah diapun membalikkan tubuhnya pergi dari situ tanpa pamit lagi. Di luar dia memberi isyarat kepada para muridnya untuk pergi.

Di sebelah dalam rumah gedung itu. Kini Kui Eng duduk berhadapan dengan mereka bertiga, Pangeran Li Cu Kiat, ibunya, dan neneknya. Setelah mendengar bahwa Im Yang Sengcu telah dapat diusir pergi, gadis itu cepat mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Terima kasih banyak atas pertolongan sam-wi (kalian bertiga) Tanpa pertolongan itu, mungkin aku sudah tertawan mereka."

"Hem, gadis muda. Engkau sungguh pemberani, mengingatkan aku akan masa mudaku dahulu. Engkau berani memasuki kota raja, melawan regu penjaga, bahkan berani menentang Im Yang Sengcu, dan berani pula memasuki rumah kami untuk bersembunyi. Siapakah engkau sebenarnya? Dan mengapa engkau datang ke kota raja?" Nenek Song bettanya dan bersama puteri dan cucunya, ia memandang tajam penuh selidik.

Kui Eng menghela napas panjang. Tidak pantas kalau ia merahasiakan dirinya terhadap keluarga yang telah menyelamatkannya ini. Mungkin akibatnya akan tidak menguntungkan baginya kalau ia mengaku, akan tetapi ia tidak akan bersikap pengecut, yang hanya karena ingin mengamankan diri sendiri harus bersikap pengecut dan tidak jujur terhadap para penolongnya.

“Namaku Cian Kui Eng..."

“Marga Cian...??" Nenek Song berseru kaget dan teringat akan ukiran huruf CIAN di dinding bagian depan istana itu.

Nah, mulai sudah, pikir Kui Eng. Sudah kepalang, ia harus melangkah terus. "Benar, aku bermarga Cian, aku lahir di dalam gedung ini dan ayahku adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong."

"Ahhh...!!" Seruan ini keluar dari tiga mulut itu dan mereka bertiga memandang wajah Kui Eng dengan mata terbelalak kaget.

"Jadi kalau begitu... engkau ini benar-benar pemberontak... atau anak pemberontak? Cian Bu Ong adalah seorang pemberontak!" kata Nyonya Janda Li Seng Tek, ibu Cu Kiat.

Kui Eng memandang nyonya itu dengan sikap tenang namun sinar matanya mengandung penasaran, "Maaf, bibi. Andaikata Kerajaan Tang ini dijatuhkan orang luar, kemudian Pangeran Li Cu Kiat putera bibi ini melakukan perlawanan untuk merebut dan mendirikan lagi Kerajaan Tang yang jatuh, tentu kerajaan baru akan menudingnya sebagai seorang pemberontak. Akan tetapi, demi keadilan, benarkah dia seorang pemberontak? Demikian pula dengan ayahku. Ketika Kerajaan Sui jatuh, ayah bangkit dan berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan itu. Jahatkah perbuatan ayah itu? Bagi Kerajaan Tang, mungkin dia dianggap perusuh dan pemberontak, akan tetapi bagi Kerajaan Sui, ayah dianggap sebagai seorang patriot pejuang sejati!"

Pangeran Li Cu Kiat memandang kagum kepada gadis itu. Gadis yang hebat, pikirnya. Dan ucapannya itu mengandung kebenaran mutlak. Dia sendiri muak dengan perebutan kekuasaan, di istana.

"Akan tetapi, bagaimanapun juga, berarti ayahmu itu memusuhi kami keluarga Tang!" seru ibunya. "Dan kau... kau puterinya, tentu engkau memusuhi pula kami..."

Kui Eng menggeleng kepalanya. "Sama sekali tidak, bibi. Ayah telah menyadari bahwa Kerajaan Sui telah jatuh dan musnah, bahwa memang sudah ditakdirkan bahwa tanah air dan bangsa dipimpin oleh kerajaan baru, yaitu Kerajaan Tang. Ayah telah menerima kenyataan ini dan buktinya, sampai kini ayah tidak pernah membuat gerakan lagi. Aku sendiri masih seorang anak kecil berusia dua tahun ketika pergantian kekuasaan terjadi, dan aku sama sekali tidak mencampuri urusan itu.”

“Aih, jadi engkau ini puteri Cian Bu Ong? Aku masih ingat. Ketika aku masih berkecimpung di dunia persilatan, Cian Bu Ong merupakan seorang pendekar muda yang gagah perkasa, di samping kedudukannya sebagai seorang pangeran dan panglima. Jadi dia sekarang telah dapat menerima kenyataan yang ditakdirkan Tuhan? Bagus sekali! Di mana dia sekarang?" tanya nenek Song.

“Ayah bersama ibu kini pergi merantau ke Himalaya," jawab Kui Eng.

"Nona, kami gembira sekali mendengar bahwa engkau dan ayahmu tidak memusuhi keluarga Kaisar Tang. Akan tetapi, kalau boleh kami mengetahui, apakah engkau mempunyai kepentingan khusus berkunjung ke kota raja ini? Barangkali kami dapat membantumu?"

Tentu saja Kui Eng tidak mau mengaku bahwa ia hendak membantu Thian Ki untuk mencari dan merampas Liong-cu-kiam dari gudang pusaka kerajaan, "Aku sedang mencari suhengku."

"Ah, suhengmu juga berada di kota raja? Siapakah namanya? Siapa tahu aku akan dapat membantumu mencarinya," kata Cu Kiat.

Melihat sikap dan perhatian puteranya terhadap gadis itu nyonya Li dan nenek Song saling pandang dan tersenyum. Sudah lama mereka berdua membujuk Li Cu Kiat untuk segera menikah, akan tetapi pangeran yang usianya sudah duapuluh lima tahun ini selalu menolak dengan mengatakan bahwa dia belum tertarik kepada wanita. Dan sekarang, melihat sikapnya. Jelas bagi kedua orang wanita itu bahwa Pangeran Li Cu Kiat agaknya jatuh hati, atau setidaknya amat kagum dan tertarik kepada Cian Kui Eng.

"Suheng bernama Coa Thian Ki. Aku sendiri tidak tahu apakah dia sekarang berada di kota raja ataukah tidak, akan tetapi ketika pergi, dia merencanakan untuk berkunjung ke kota raja. Karena ayah dan ibu juga pergi merantau ke barat, aku merasa kesepian di rumah sendiri lalu pergi menyusul dan mencari suheng di sini. Tidak kusangka bahwa di pintu gerbang aku diganggu oleh para penjaga sehingga urusannya menjadi berkepanjangan sehingga merepotkan pula kepada keluarga di sini."

"Tidak sama sekali, nona. Kami adalah keluarga yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Kami sama sekali tidak merasa repot dengan adanya peristiwa yang menyangkut dirimu," kata Cu Kiat.

"Benar sekali, Kui Eng. Kami membelamu karena engkau benar dan untuk sementara ini, sebaiknya kalau engkau bersembunyi dulu di sini. Aku yakin Im Yang Seng-cu tidak akan tinggal diam dan terus mencarimu,” kata Li Hu-Jin (Nyonya Li)

"Dan selama tinggal di sini, jangan takut kalau dukun lepus itu berani datang mengganggumu, akan kukemplang kepalanya dengan tongkatku...“ kata pula nenek Song penuh semangat.

Kui Eng berterima kasih sekali. Tak disangkanya bahwa penghuni baru bekas rumah keluarga ayahnya merupakan keluarga bangsawan tinggi yang begini baik terhadap dirinya. "Terima kasih atas kebaikan bibi sekeluarga," katanya kepada Nyonya Li. "Akan tetapi, aku sudah menyewa kamar di rumah penginapan ujung kota, dan pakaianku juga masih tertinggal di sana."

"Jangan khawatir, nona. Aku akan menyuruh seseorang mengambilnya. Kalau engkau mengambilnya sendiri, aku khawatir Im Yang Sengcu dan anak buahnya sudah menantimu di sana."

"Benar, Kui Eng. Untuk sementara ini, engkau sebaiknya bersembunyi dulu di sini dan jangan keluar. Biar Cu Kiat yang mencarikan suheng mu," kata Nyonya Li.

“Aih, kenapa sih mesti takut kepada dukun lepus itu? Kalau engkau ingin mengambil sendiri pakaianmu di rumah penginapan, mari kutemani, Kui Eng, dan hendak kulihat dukun lepus itu akan berani berbuat apa!” Nenek Song berkata dengan penasaran.

“Ah, aku tidak berani merepotkan dan membuat lelah nenek." kata Kui Eng.

"Jangan, nek. Sebaiknya kita tinggal diam dan melihat perkembangannya, tidak perlu membuat ribut dengan Im Yang Sengcu. Aku akan menyuruh orang sekarang juga mengambil pakaian nona Cian Kui Eng."

Akan tetapi, orang suruhan Pangeran Li Cu Kiat itu kembali dan mengabarkan bahwa buntalan pakaian Kui Eng telah dirampas oleh Im Yang Seng dan pemilik rumah penginapan tentu saja tidak berani menentang kehendak tosu sahahat kaisar itu. Nyonya Li segera menyuruh buatkan pakaian untuk Kui Eng. Ketika gadis ini hendak mengganti dengan uang, ibu pangeran itu menolak dengan ramah.

Tentu saja Kui Eng merasa semakin terharu dan hutang budi kepada keluarga bangsawan yang amat baik dan ramah kepadanya itu. Bahkan nenek Song yang keras hati itupun bersikap amat dan baik kepadanya. Terutama sekali Pangeran Cu Kiat. Sikapnya demikian penuh perhatian dan ramah, juga dari pandang mata pangeran itu KuiEng dengan hati berdebar dapat melihat sikap yang amat mesra. Mudah saja menduga bahwa pangeran itu telah jatuh cinta kepadanya!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Biarpun usianya baru empat puluh tahun lebih, namun Kaisar Tang Tai Cung sudah nampak lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya. Dia kelihatan seperti orang yang berusia lima puluh tahun saja. Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat betapa sejak muda sekali, dia adalah pejuang yang gigih, yang menghadapi banyak sekali masalah, bahkan terancam banyak bahaya maut.

Kemudian, setelah berhasil menumbangkan Kerajaan Sui dan mengangkat ayahnya, mendiang Kaisar Tang Kao Cu menjadi Kaisar pertama dari Kerajaan Tang, kembali sebagai Pangeran Li Si Bin dia menghadapi banyak cobaan. Perebutan kekuasaan antara saudara-saudaranya, pemberontakan dan pengkhianatan, silih berganti mengganggu kerajaan baru itu dan semuanya mengandalkan dia seorang untuk membersihkannya.

Setelah dia menjadi Kaisar Tang Tai Cung(627-649), diapun masih selalu dirundung malang. Kalau dulu yang berebutan kekuasaan adalah para saudaranya, kini para puteranya mulai melanjutkan perebutan kekuasaan di antara keluarga kaisar itu. Terpaksa dia bahkan menghukum putera-puteranya sendiri yang memperebutkan kedudukan pangeran mahkota! Semua cobaan inilah yang membuat Kaisar Tang Tai Cung nampak tua. Padahal, dia adalah seorang laki-laki perkasa yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang hebat dan jarang bandingannya.

Malam itu. Kaisar Tang Tai Cung menerima sahabat dan panasihatnya. yaitu Im Yang Seng-cu dan mereka berdua minum arak di dalam taman,di sebuan pondok indah di taman itu. Mereka berhadapan menghadapi meja yang penuh makanan dan anggur, dan di depan mereka terbentang kolam ikan yang besar di mana tumbuh banyak bunga teratai merah dan ikan beraneka warna berenang di permukaan air. Indah sekali! Lampu-lampu dengan kap lampu warna-warni menambah keindahan kolam itu.

"Bagaimana, totiang, sudah berhasilkah engkau dengan pembuatan obat panjang usia yang kupesan itu?" Sribaginda Kaisar Tang Tai Cung bertanya setelah mereka minum beberapa cawan anggur. "Dan bagaimana pula dengan janjimu untuk mengajarkan aku cara membuat emas?"

Tosu itu mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang tipis dan putih semua sambil tersenyum. "Jangan khawatir, Sribaginda Hamba yang membuat obat panjang usia itu sesuai dengan ilmu rahasia yang dahulu diajarkan oleh Tujuh Manusia Dewa Hutan Bambu. Akan tetapi, pembuatan emas itu membutuhkan kesabaran dan kematangan Sribaginda. Kalau saatnya sudah tiba dan obat itu sudah sempurna, tentu akan hamba serahkan kepada paduka, dan sekali paduka menggunakan obat itu maka seperti yang ditulis oleh Manusia Dewa Hutan Bambu, maka rambut putih akan menjadi hitam, gigi ompong akan tumbuh kembali, kekuatan tubuh akan kembali besar. Yang menggunakan obat itu tidak akan pernah tua, yang sudah tua akan menjadi muda kembali dan dia akan hidup abadi dan tidak pernah mati."

Sepasang mata Kaisar Tang Tai Sung bersinar-sinar penuh harapan. "Totiang, janji itu terlalu muluk! Benar-benarkah ada obat yang khasiatnya sehebat itu?"

Im Yang Sengcu mengerutkan alisnya. "Sribaginda. syarat terpenting bagi seorang manusia untuk membuat obat itu manjur adalah kepercayaan! Obat seperti itulah yang dipergunakan para dewa dan malaikat sehingga mereka tidak pernah tua, tidak pernah mati. Bersabarlah dan tentu hamba akan menghaturkan kepada paduka setelah obat itu selesai hamba sempurnakan. Hamba harus berpuasa dan bersamadhi selama beberapa pekan lagi supaya obat itu dapat sempurna."

"Ah, terima kasih, totiang. Budi totiang besar sekali dan kami akan memberi anugerah apa saja yang totiang kehendaki. Dan bagaimana dengan janji totiang untuk mengajarkan cara pembuatan emas itu...?"