Social Items

"Aih, Paman Na terlalu memuji. Mana bisa sedikit kemampuanku dibandingkan dengan Hek I Sin-kai yang terkenal dengan ilmu tongkatnya?"

"Ha-ha-ha, Ouw Siocia. Kita adalah orang-orang kang-ouw, kalau tidak membicarakan dan saling memberi petunjuk dalam ilmu silat, mau bicara tentang apa lagi? Akan tetapi, kalau ayahmu sendiri yang datang, tentu aku sendiri pula yang akan melayaninya. Sekarang, aku merasa tidak enak kalau menemanimu berlatih silat. Menang atau kalah, aku tetap akan ditertawakan orang. Nah, aku akan mewakilkan saja kepada muridku yang paling pandai agar aku dapat melihat sampai dimana kehebatanmu, Ouw Siocia." Setelah berkata demikian, ketua pengemis itu bertepuk tangan lagi.

Kepada penjaga yang masuk, dia berkata dengan suara lantang. "Panggil ke sini Ji Kiat!"

Tak lama kemudian. Muncullah murid yangdipanggil itu. Seorang pria berusia tigapuluh lima tahun, bertubuh tegap sedang, dengan muka yang cukup tampan dan dari pandang mata dan senyumnya, nampak bayangan dari ketinggian hati yang memandang rendah orang lain. Pakaiannya juga serba hitam dan hanya ada tiga tambalan di dada.

Pakaian itu juga terbuat dari sutera hitam yang halus. Dan agaknya diapun mengandalkan senjata tongkat seperti gurunya, karena di pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam. Begitu memasuk ruangan itu, tokoh Hek I Kai-pang ini memberi hormat kepada gurunya, kemudian kepada kedua orang tamu itu.

"Ouw Siocia, ini adalah Su Ji Kiat, pembantu utamaku, juga muridku yang pertama. Nah, biarlah dia yang melayanimu berlatih sebagai wakilku dan engkau mewakili ayahmu. Bagaimana?"

Bi Tok Siocia tersenyum mengejek. Andaikata dia tidak sudah lebih dulu menaksir Siong Ki, mungkin saja ia akan tertarik kepada murid pertama Hek I Sin-kai yang cukup gagah dan tampan ini. Kini, ia tersenyum mengejek.

"Paman, aku datang memenuhi undangan, bukan untuk memamerkan kepandaian. Akan tetapi karena paman ingin melihat perkembangan ilmu dari ayah melalui aku, baiklah. Siapa saja yang akan paman tunjuk untuk mewakili paman, terserah." Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, tubuh wanita itu dari atas tempat duduknya telah melayang ke tengah ruangan yang luas itu dan ia sudah berdiri dengan senyum yang manis, memiringkan tangan terbuka di depan dada dan mengangkat tangan kirinya ke atas kepala. "Aku sudah siap!"

Hek I Sin-kai memberi isyarat kepada muridnya. Su Ji Kiat yang memiliki watak angkuh dan memandang rendah lawan, kini menghampiri Ouw Ling dan tentu saja dia juga memandang ringan kepada wanita cantik ini. Memang dia sudah mendengar betapa wanita ini telah menghajar anak buah Hek I Kaipang, akan tetapi apa anehnya kalau hanya menghajar anak buahnya? Dia sendiri biar dikeroyok belasan orang anak buahnya, tidak akan kalah. Dia, murid kepala dari Hek I Sin-kai, kini harus menandingi seorang wanita, sungguh merupakan hal yang memalukan baginya!

Setelah berhadapan, Su Ji Kiat berdiri santai lalu berkata. "Nona, silakan menyerang, aku telah siap melayanimu berlatih." Dia tersenyum dan senyumnya membayangkan kecongkakannya. seperti seorang dewasa menertawakan lagak dan gaya seorang bocah.

"Begitukah? Nah, kalau sudah siap, sambutlah seranganku ini!" Tiba-tiba Ouw Ling menggerakkan kaki tangannya, gerakannya cepat bukan main dan sekali terjang, dengan cepat dan kuat ia telah mengirim serangkaian serangan dengan tamparan kedua tangannya, bergantian dan bertubi-tubi.

Terkejutlah Ji Kiat. Dia cepat mengelak dan menangkis, dan serangkaian serangan itu bagaikan badai datangnya, membuat dia kewalahan juga, karena sama sekali tidak mampu balas menyerang dan biarpun tidak ada pukulan yang mengenai tubuhnya karena dia menggunakan kedua lengan melindungi tubuh, tetap saja dia terhuyung ke belakang.

"Ji Kiat, ia itu murid majikan Liong-san, berhati-hatilah menghadapinya!" kata Hek I Sin-kai yang merasa khawatir, juga tidak senang melihat kecerobohan muridnya yang dia tahu memandang ringan lawan sehingga dalam gebrakan pertama saja sudah terdesak.

Agaknya Ji Kiat menyadari kesalahannya, maka diapun meloncat ke belakang agar terbebas dari himpitan rangkaian serangan itu, kemudian dia memasang kuda-kuda yang kokoh dan ketika Ouw Ling menyerang lagi, dia sudah siap menangkis dan balas menyerang. Sekarang barulah terjadi pertandingan, saling serang dengan serunya.

Akan tetapi, pertandingan itu berjalan seimbang hanya untuk selama duapuluh jurus saja, selama itupun Ouw Ling sengaja mengalah. Hal ini dapat dilihat jelas oleh Siong Ki, membuat pemuda itu menjadi kagum. Ternyata bahwa wanita itu memang lihai bukan main, memiliki gerakan yang aneh dan agak liar, terutama sekali lihai dalam ilmu tendangannya. Dari pertandingan itu saja Siong Ki sudah dapat menilai bahwa tingkat kepandaian wanita itu jauh lebih tinggi daripada lawannya.

Agaknya setelah lewat tigapuluh jurus dan mendesak lawan, Ouw Ling merasa jemu dan tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring, kedua kakinya bagaikan kitiran angin bergerak, berputar dan serangkaian tendangan menyambar-nyambar ke arah tubuh Ji Kiat. Murid utama Hek I Sin-kai ini terkejut, berusaha untuk mengelak dan menangkis,akan tetapi gerakan tendangan dari Ouw Li memang hebat sekali.

Tubuhnya bagaikan melayang-layang dan tendangannya susul-menyusul dan akhirnya, sebuah tendangan dapat menyusup di antara kedua lengan yang menangkis, mengenai dada Ji Kiat dan tubuh tokoh Hek I Kai-pang itupun terjengkang! Dia tentu akan terbanting keras kalau saja dia tidak membuat tubuhnya melingkar sehingga tubuh itu kini menggelinding seperti bola sampai enam tujuh meter jauhnya!

Su Ji Kiat tidak terluka, akan tetapi dadanya terasa sesak dan diapun bangkit berdiri dengan muka berubah merah. Alangkah malunya dikalahkan seorang lawan wanita. Hek I Sin-kai juga melihat kekalahan muridnya dan diam-diam dia terkejut. Untung dia tidak memandang rendah kepada murid Ouw Kok Sian itu. Kiranya wanita itu lihai bukan main! Akan tetapi, melihat muridnya dikalahkan sedemikian mudahnya, dia merasa penasaran juga. Dia bertepuk tangan memuji.

"Ah, hebat bukan main kemajuan yang diperoleh Ouw Kok Sian sehingga puterinya mewarisi ilmu yang dahsyat! Nah, Ji Kiat, jangan memandang ringan kepada Nona Ouw, dan engkau mintalah pelajaran tentang penggunaan senjata darinya. Akan tetapi hati-hati, siang-to (sepasang golok) dari Nona Ouw hebatnya bukan main!"

Ini adalah anjuran bagi muridnya untuk mempergunakan senjata, yaitu tongkat baja yang menjadi andalan perkumpulan mereka. Mendengar ucapan suhunya, Su Ji Kiat seperti mendapat semangat baru. Dia tadi merasa malu karena dengan tangan kosong, dia telah kalah. Kini masih ada harapan untuk menebus kekalahannya melalui tongkatnya yang menjadi andalannya. Maka diapun cepat mengambil tongkatnya yang hitam dan memberi hormat kepada Ouw Ling.

"Nona Ouw, mohon petunjukmu dalam ilmu menggunakan senjata." Dia melintangkan tongkat di depan dadanya.

Ouw Ling tersenyum. Tanpa menggunakan siang-to sekalipun ia tidak gentar menghadapi lawan bersenjata. Akan tetapi, pertama ia tidak ingin membikin malu tuan rumah, dan kedua ia pun tahu bahwa Hek I Sin-kai terkenal karena ilmu tongkatnya. Kalau ia memandang rendah menghadapi tongkat dengan tangan kosong dan kalah, tentu ia akan merasa malu sekali.

"Baik, akupun ingin melihat bagaimana hebatnya ilmu tongkat dari Hek I Kai-pang yang disohorkan orang itu."

Hampir tidak nampak tangannya bergerak, dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan sepasang tangannya telah memegang sepasang golok. Golok itu tidak terlalu besar, bentuknya melengkung indah dan gagangnya terbuat dari emas berhiaskan permata! Kedua golok itu tipis dan berkilauan saking tajamnya, demikian indahnya sehingga lebih menyerupai golok hias daripada senjata yang ampuh.

Melihat wanita itu sudah memegang sepasang goloknya. Ji Kiat yang bernafsu sekali untuk menebus kekalahannya tadi, segera berseru. "Nona Ouw, lihat serangan tongkatku!"

Dan diapun sudah nyerang dengan tongkatnya. Memang hebat sekali ilmu tongkat itu. Gerakannya cepat, kuat dan aneh. Begitu tongkat meluncur, terdengar suara bersiutan tajam dan tongkat itu berubah menjadi sinar hitam yang menyambar-nyambar.

Sinar pertama menyambar ke arah kepala Ouw Ling. Ketika wanita itu mengelak sehingga tongkat menyambar lewat atas kepalanya, tongkat itu langsung saja membalik, kini menyambar ke arah kedua kakinya. Ouw Ling meloncat dan tiba-tiba saja tongkat membalik dan ujung yang lain menusuk ke perut! Memang ilmu tongkat yang dahsyat!

"Tranggg...!" Bunga api berpijar ketika golok ditangan kiri Ouw Ling menangkis tongkat, sedangkan golok di tangan kanannya menyambar ke arah leher lawan.

Ji Kiat yang kini tidak berani memandang rendah lawannya, memutar tongkatnya dan kembali bunga api berpijar ketika golok ditangkis tongkat. Mulailah mereka saling serang dengan dahsyat. Saking cepatnya gerakan mereka, tidak nampak sepasang golok dan sebatang tongkat itu, yang nampak hanyalah gulungan sinar hitam yang berkejaran dan saling belit dengan dua gulung sinar putih.

Namun, sejak beberapa gebrakan saja. Siong Ki maklum bahwa memang murid ketua kaipang itu sama sekali bukan lawan Ouw Siocia. Wanita ini terlalu tangguh, apalagi gerakan sepasang goloknya benar-benar amat hebatnya. Kalau gadis itu menghendakinya, agaknya dalam waktu belasan jurus saja, ia akan mampu melukai dan merobohkan lawannya.

Hal ini akhirnya dapat dirasakan pula oleh Ji kiat. Akan tetapi, dia adalah seorang yang memiliki watak tinggi hati dan merasa dirinya paling hebat, maka sukarlah bagi seorang de ngan watak seperti itu untuk dapat menerima dan mengakui kekalahan. Setelah merasa bahwa dia akan kalah, timbullah kenekatannya dan diapun kini mulai menyerang secara membabi buta dan dengan serangan-serangan maut. Dia sudah lupa bahwa pertandingan itu bukan suatu perkelahian, melainkan hanya menguji kepandaian, seperti latihan belaka. Kini dia menyerang sungguh-sungguh, kalau perlu merobohkan lawan dan melukai atau membunuhnya!

Ouw Ling terkejut dan iapun menjadi marah. Kalau tidak ingat bahwa ia sebagai tamu, tentu ia sudah menggunakan tangan keji terhadap lawannya itu. Ia hanya mendengus dan gerakan sepasang goloknya berubah, cepat dan kuat sehingga ketika mendengar suara nyaring bertemunya golok dan tongkat, tongkat itu terlepas dari tangan Ji Kiat dan sebuah tendangan menyusul, amat kerasnya mengenai pinggul kiri Ji Kiat sehingga tubuh tokoh pengemis itu terlempar dan melayang ke arah meja di mana gurunya duduk!

Kalau Ouw Ling ingin mencelakainya, tentu tendangan tadi tidak mengenai pinggul, melainkan mengenai perut atau dada yang akibatnya akan parah. Akan tetapi, tendangan yang membuat lawannya terlempar jauh itu cukup menunjukkan kemarahannya.

Hek I Sin-kai bangkit dan menangkap tubuh muridnya dengan tangan kiri, mencegahnya menimpa dirinya atau terbanting keras, lalu melepaskannya ke samping di mana Ji Kiat jatuh terduduk. Wajah ketua Hek I Kaipang itu berubah kemerahan walaupun mulutnya masih tertawa.

"Ha-ha-ha, ilmu golok Ouw Siocia sungguh hebat, dan ilmu tendangannya pun mengagumkan sekali. Aku ingin untuk merasakannya pula!" katanya dan diapun menghampiri wanita itu dengan membawa tongkatnya.

Siong Ki merasa tidak enak kalau diam saja. Diapun tahu bahwa tadi Ouw Ling marah sehingga menghajar lawannya agak keras dan hal ini agaknya membuat tuan rumah merasa tidak senang. Wanita itu memang lihai dan Su Ji Kiat bukan lawannya yang seimbang, akan tetapi kalau guru Ji Kiat yang maju, tentu akan lain halnya.

Ketua yang marah itu mungkin akan dapat mengalahkan Ouw Ling, dan karena dia sedang marah, mungkin kini akan terjadi pertandingan yang sifatnya mengandung kemarahan dan menjadi perkelahian yang akan membahayakan kedua pihak. Pula, kalau hanya wanita itu saja yang selalu maju menghadapi lawan, lalu apa gunanya ia ikut datang ke tempat itu?

"Ouw-cici, mundurlah, biar aku menggantikanmu," katanya dan diapun cepat menghampiri Ouw Ling, kemudian memberi hormat kepada Hek I Sin-kai. "Pangcu, tidak adil kalau harus Ouw-cici lagi yang melayani pangcu, setelah tadi ia dengan susah payah menandingi muridmu. Juga aku ingin mengenal ilmu tongkatmu yang lihai. Marilah kita main-main sebentar, pangcu, agar Ouw-cici dapat beristirahat."

Ouw Ling tersenyum girang. Bukan karena ia merasa lega tidak harus menandingi Hek I Sin-kai yang tangguh, melainkan karena ia ingin sekali melihat sampai dimana kehebatan pemuda yang telah menarik hatinya itu. Ia mengangguk lalu kembali duduk menghadapi meja. Adapun Ji Kiat yang telah dikalahkan, kini duduk di atas lantai di sudut ruangan itu, nampak lemas dan lenyaplah sikapnya yang congkak tadi.

Mendengar ucapan Siong Ki tadi, tentu saja Hek I Sin-kai tidak dapat menolak atau membantah. Tidak mungkin dia menolak ajakan Siong Ki untuk bertanding dengan memaksakan keinginannya untuk menantang Ouw Siocia. Dengan demikian, tentu perasaan tidak senang dan penasaran di hatinya oleh kekalahan muridnya tadi akan nampak. Sebagai seorang yang lebih tua dan kedudukannya lebih tinggi, tentu saja dia tidak mungkin bersikap seperti itu.

Bahkan diam-diam dia merasa girang dengan majunya pemuda ini. Kalau dia mengalahkan Ouw Siocia, setidaknya tentu dia akan membuat hati sahabatnya, Ouw Kok Sian, menjadi tidak senang. Sebaliknya, pemuda ini hanya sahabat Ouw Siocia, maka dia merasa lebih bebas untuk berbuat apa saja terhadap pemuda ini.

"Baiklah, engkau yang menjadi sahabat baik Nona Ouw, aku percaya engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui siapa gurumu, dan dari aliran mana?"

Siong Ki mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa gurunya tidak suka kalau namanya disebut-sebut, apalagi urusan yang dia hadapi sekarang ini bukan urusan membela kebenaran dan keadilan, hanya sekedar perkenalan belaka. Kalau suhunya tahu bahwa namanya diobral olehnya, tentu akan marah sekali.

"Maaf, pangcu. Aku mempelajari silat ke mana-mna sehingga tidak ingat lagi berapa banyak, guru-guruku, dan aku tidak terikat oleh aliran manapun. Harap pangcu memberi petunjuk sehingga berarti pangcu juga menjadi seorang di antara para guruku." Siong Ki memang pandai membawa diri. Tentu saja ucapan itu merupakan sanjungan sehingga Hek I Sin-kai tersenyum dan merasa kepalanya agak membesar.

"Ha-ha-ha, engkau tentu akan dapat banyak mendapatkan pelajaran yang berharga, sicu. Silakan menyerang!" katanya dengan lagak yang menggurui.

"Baik, pangcu, akan tetapi aku tidak ingin menggunakan pedang. Bagaimana kalau kita berlatih dengan tangan kosong saja?"

"He-he, The-sicu. Apa salahnya menggunakan senjata? Kalau kita sudah menguasai benar, senjata sama dengan tangan kita dan tidak akan melukai lawan kalau tidak kita kehendaki. Justru engkau akan dapat mengambil keuntungan dan ajaran dari ilmu tongkatku! Cabutlah pedangmu dan jangan takut, aku tidak akan melukaimu dengan tongkat ini."

"Baiklah kalau engkau menghendaki demikian pangcu," Siong Ki lalu mencabut pedangnya, sengaja memperlihatkan sikap kaku sehingga diam-diam Ouw Siocia sendiri mengerutkan alisnya dan mulai meragukan kemampuan pemuda itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. Yang tertawa adalah Su Ji Kiat dari sudut ruangan itu. "Ha-ha-ha-ha, engkau hendak menggunakan sebatang pedang butut itu untuk melawan tongkat suhu? Ha-ha-ha, suhu, biarkan teecu (murid) melawan badut ini!" Setelah berkata demikian dia sudah meloncat ke dekat Siong Ki, tongkatnya yang tadi terlepas ketika dia bertanding melawan Ouw Ling telah dipegangnya kembali.

Hek I Sin-kai adalah seorang kangouw yang banyak pengalaman. Biarpun pemuda itu mengeluarkan sebatang pedang yang nampaknya butut dan tumpul, namun dia tidak memandang rendah. Bahkan diam-diam dia terkejut. Dia tahu bahwa semakin buruk dan nampak lemah senjata seorang ahli silat, semakin tinggi pula tingkat orang itu. Orang yang memegang senjata yang nampak bersahaja, berarti tidak lagi mengandalkan senjata itu, melainkan dirinya sendiri.

Dia belum pernah berkenalan dengan pemuda ini, tidak tahu dari aliran mana. Oleh karena itu, majunya muridnya merupakan hal yang menguntungkan baginya. Dengan membiarkan muridnya maju lebih dahulu, berarti dia mendapat kesempatan untuk mengintai tingkat lawan!

"Baiklah, engkau boleh mengujinya lebih dahulu, Ji Kiat," katanya sambil mengangguk.

Ji Kiat sudah menghadapi Siong Ki dan lagak sombongnya timbul kembali. "The-sicu, majulah dan aku yakin dalam waktu kurang dari duapuluh jurus aku akan dapat mengalahkanmu!" kata Ji Kiat yang bersikap sombong untuk menutup rasa malunya karena kekalahannya dari Ouw Ling tadi.

Siong Ki mengerutkan alisnya. Dia sudah dapat menilai sampai dimana kepandaian orang ini dan dia merasa muak melihat kesombongan orang itu maka diapun ingin memberi hajaran kepadanya, maka ia lalu berkata, "Engkau tadi sudah bertanding melawan Ouw-cici, tidak adil kalau sekarang melawanku, maka biarlah aku akan mengaku kalah kalau dalam waktu lima jurus aku belum mampu mengalahkanmu!"

Bukan saja Ji Kiat yang menjadi merah telinganya mendengar ini, akan tetapi juga Hek I Sin-kai, bahkan juga Ouw Ling. Wanita ini tentu saja kaget karena ia sendiri tidak akan mungkin mengalahkan Ji Kiat hanya dalam waktu lima jurus, apalagi sebelumnya telah memberi tahu, sehingga tentu saja Ji Kiat akan memperkuat pertahanannya agar jangan kalah dalam waktu sesingkat itu.

Tentu saja Ji Kiat menjadi marah bukan main. Dia tadi telah dikalahkan Ouw Ling yang berarti dia telah terseret turun dari kedudukannya yang dia banggakan sebagai murid utama Hek I Sin-kai, dan kini, ada pemuda tak terkenal yang berani mengatakan akan mengaku kalah kalau tidak dapat mengalahkannya dalam waktu lima jurus! Gurunya sendiripun tidak akan mungkin dapat mengalahkannya dalam waktu lima jurus.

"Bagus, engkau sendiri yang mengeluarkan ucapan itu, The-sicu. Nah, aku sudah siap, mulailah engkau menyerangku!" kata Ji Kiat. Diapun cukup cerdik untuk mengambil keuntungan dari tantangan lawan. Dia hanya tinggal menjaga diri agar jangan sampai kalah dalam waktu lima jurus dan itu berarti dia akan menang! Jelas, sekarang akan tertebus kekalahannya yang tadi!

Siong Ki tersenyum, maklum apa yang berada dalam pikiran lawan. "Baik, kau bersiaplah. Nah, lihat seranganku. Jurus pertama!" Tiba-tiba pedang tumpul di tangannya bergerak dan lenyaplah pedang itu, yang nampak hanya sinar hijau menyambar dahsyat ke arah kepala Ji Kiat, disusul dorongan tangan kirinya ke arah dada. Inilan juru Dewa Mempersembahkan Mustika, sebuah jurus yang sekaligus atau beruntun cepat sekali telah melakukan dua serangan, yaitu sambaran pedang dari kiri ke kanan disusul dorongan tangan kiri dengan jari terbuka ke arah dada lawan.

Ji Kiat yang sudah siap siaga, cepat memutar tongkatnya melindungi tubuhnya.

"Trakkk!" Tongkat bertemu pedang tumpul dan melekat!

Tentu saja karena tongkatnya tertahan, Ji Kiat tidak dapat melindungi dadanya yang disambar tangan kiri Siong Ki. Cepat dia miringkan tubuhnya, nanun terdengar suara "brett" dan ujung bajunya robek dan hancur. Wajahnya menjadi pucat. Kalau tangan itu tadi meremas perut atau dadanya, bukan ujung baju, tentu bukan kain itu yang robek hancur! Dia meloncat ke belakang dan siap menghadapi serangan selanjutnya. Bagaimanapun juga, dalam jurus pertama itu, dia belum jatuh, berarti belum kalah!

Siong Ki tersenyum. Orang ini memang tak tahu diri, pikirnya. Sebetulnya, jurus pertama itu saja sudah cukup membuktikan bahwa Ji Kiat kalah, akan tetapi agaknya orang itu tidak mau mengakui kekalahannya.

"Awas serangan jurus ke dua!" bentak Siong Ki dan diapun meloncat maju dan kini pedang butut dan tumpul di tangannya digerakkannya cepat membentuk lingkaran-lingkaran yang aneh dan cepat, hanya nampak gulungan-gulungan sinar hijau saja yang seolah ada beberapa ekor burung hijau beterbangan mengelilingi tubuh Ji kiat. Orang inipun cepat memutar tongkatnya melindungi diri, namun tetap saja gerakannya kalah cepat.

"Pratt!" dan nampaklah potongan rambut berhamburan. Sebagian rambut Ji Kiat disambar sinar pedang dan berhamburan. Kembali Ji Kiat melompat ke belakang dan memasang kuda-kuda. Dia tidak memperdulikan rambutnya yang bodol, dan dia memandang dengan mata mendelik karena merasa penasaran dan marah.

Melihat lawan masih belum mau mengaku kalah, Siong Ki menerjang lagi sambil berseru, "Jurus ke tiga!"

Kini Ji Kiat menangkis datangnya pedang yang membacok kepalanya itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Trangg...!!" Keras sekali kedua senjata itu saling bertemu di udara dan akibatnya, ujung tongkat di tangan Ji Kiat itu putus terpotong!

"Hemn, aku masih belum roboh!" kata Ji Kit dengan nekat walaupun tongkatnya yang amat diandalkannya itu telah patah ujungnya.

"Baik, jagalah jurus ke empat!" Kini pedang itu bergerak lagi, berkelebatan menyambar-nyambar dan Ji Kiat menggunakan tongkatnya yang buntung untuk melindungi dirinya.

"Trakk!" Kembali tongkat bertemu pedang dan sekali ini Ji Kiat tidak mampu menarik lepas tongkatnya dari pedang. Tongkatnya melekat dan biarpun dia sudah mengerahkan tenaga untuk melepaskan tongkatnya, sia-sia saja dan pada saat itu, tangan kiri Siong Ki meluncur ke arah pergelangan tangannya yang memegang tongkat.

"Tukk!" Lengan kanan Ji Kiat menjadi lumpuh dan terpaksa dia melepaskan tongkatnya yang tidak dapat dipertahankannya kembali. Kini tongkat telah terampas lawan! Akan tetapi dia belum roboh, dan hanya tinggal satu jurus lagi. Biarpun dari jurus pertama sampai jurus ke empat dia telah dirugikan, akan tetapi kalau sejurus lagi lewat dan dia belum roboh, berarti lawannya akan dianggap kalah!

"The-sicu, aku belum roboh, berarti belum kalah!" katanya dan dia memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk rendah, siap melewatkan sejurus lagi dengan seluruh kekuatannya!

Sementara itu, Hek I Sin-kai memandang dengan mata terbelalak, bahkan Ouw Ling sendiri menjadi bengong. Ia dapat menduga bahwa Siong Ki seorang yang lihai, akan tetapi tidak disangkanya sehebat itu! Tentu saja wanita itu menjadi semakin kagum dan tertarik. Sedangkan Hek I Sin-kai agak pucat wajahnya. Tahulah kakek ini bahwa dia sendiripun bukan tandingan pemuda yang amat hebat itu! Ingin dia meneriaki muridnya agar menyerah, akan tetapi karena Ji Kiat sudah terlanjur bersikap tidak mau kalah, diapun hanya memandang penuh perhatian dan ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda lihai itu terhadap muridnya.

Siong Ki tersenyum dan menyarungkan Seng-kong-kiam di sarung pedangnya, lalu berkata, "Engkau ingin dirobohkan dalam jurus ke lima? Baiklah kalau begitu, nah! robohlah kau!" Siong Ki menerjang dengan tangan kosong dan disambut oleh Ji Kiat dengan kedua tangannya. Dia berpikir bahwa kalau kedua tangannya menangkis, maka jurus itu akan lewat dan dia tidak akan roboh.

"Plak, dess!!" Kedua pasang tangan bertemu dengan kuatnya dan tubuh Ji Kiat terdorong ke belakang, akan tetapi sapuan kaki Siong Ki membuat dia terpelanting dan tanpa dapat dicegah lagi Ji Kiat roboh terbanting. Dia terkejut dan juga heran. Mau tidak mau dia harus mengakui keunggulan pemuda itu yang ternyata lebih lihai dibandingkan Ouw Siocia!

Ji Kiat bangkit duduk dan meringis karena punggungnya terasa nyeri ketika dia terbanting tadi. Dia bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Siong Ki sambil berkata, "The sicu, aku mengaku kalah. Engkau memang lihai sekali dan maafkan kata-kataku tadi."

Terdengar tepuk tangan dan Hek I Sin-kai yang bertepuk tangan memuji. "Hebat, engkau hebat sekali, orang muda!" katanya.

Ouw Ling yang merasa bangga melihat kelihaian sahabat barunya itu lalu berkata kepada Hek I Sin-kai, "Paman, sekarang tiba giliranmu untuk memberi petunjuk pada The-siauwte!"

"Aih, melihat betapa dengan mudahnya The-sicu mengalahkan Ji Kiat, cukuplah. Aku sudah terlalu tua untuk dapat menandinginya. Hanya sayang aku belum dapat mengenal dari aliran mana ilmu silatmu, sicu. Aku harus memberi selamat kepadamu untuk membuktikan kekagumanku kepadamu. Nah, terimalah secawan arak sebagai ucapan selamat dan kekagumanku, The-sicu!"

Ketua Hek I Kai-pang itu memegang sebuah cawan kosong dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya menuangkan arak dari guci arak sampai penuh. Kemudian dengan kedua tangan dia memegang secawan arak itu, diam-diam mengerahkan sin-kangnya dan ketika dia menyerahkan secawan arak itu kepada Siong Ki, arak di guci itu bergolak seperti mendidih! Inilah pameran kekuatan sin-kang yang hebat sehingga mengagumkan Ouw Ling.

Namun, Siong Ki menghadapi ketua itu dengan senyum, lalu dia mengulurkan kedua tangan untuk menerima secawan arak itu. "Terima kasih, engkau baik sekali, pangcu," katanya dan dengan kedua tangan, dia memegang cawan arak itu. Arak yang tadinya mendidih itu tiba-tiba berhenti bergolak dan ketika pemuda itu menuangkannya ke mulut sambil berdongak, arak itu tidak menetes turun dari cawan yang dia balikkan! Arak itu seolah-olah telah membeku dan tidak tumpah keluar! Inipun merupakan demonstrasi kekuatan sin-kang yang tidak kalah hebatnya, membuat Ouw Ling bertepuk tangan.

"Aih-aihhh... kalian berdua ini seperti kanak-kanak yang bermain sulap saja, suka main-main seperti itu!" katanya.

Siong Ki tersenyum, menurunkan cawan itu lalu mengangkat cawan sambil mengajak tuan rumah dan wanita itu minum arak masing-masing. "Mari kita minum untuk persahabatan kita!" kata Siong Ki.

Hek I Sin-kai menyambut dengan gembira, demikian pula Ouw Ling dan mereka bertiga minum arak lalu mereka dipersilakan duduk kembali. Hek I Sin-kai memberi isyarat kepada Ji Kiat untuk meninggalkan ruangan itu dan mereka bertiga duduk bercakap-cakap dengan gembira.

"Sungguh menggembirakan sekali hari ini aku dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian dua orang muda yang hebat. Nah, sekarang kalau boleh aku mengetahui, apakah kepentingan ji-wi (kalian berdua) datang ke Lok-yang? Apakah barangkali kami dapat membantu kalian?"

"Kami tidak mempunyai keperluan khusus, paman," kata Ouw Ling sambil mengerling kepada Siong Ki. "Kami hanya berpesiar saja, sambil melihat-lihat barangkali ada pekerjaan yang cocok bagi kami."

Siong Ki teringat akan tugas yang diberikan gurunya kepadanya. Ini kesempatan yang amat baik, pikirnya. Sebagai ketua kai-pang yang memiliki banyak anggota, juga tentu mempunyai hubungan yang amat luas, mungkin saja Hek I Sin-kai dapat membantunya memberi keterangan tentang penculik puteri gurunya!

"Barangkali pangcu dapat membantuku dengan memberi keterangan tentang seorang yang sedang kucari."

"Siapakah orang yang sedang kaucari itu The-sicu?" tanya Hek I Sin-kai sedangkan Ouw Ling juga memandang penuh perhatian. Ia sendiri belum pernah mendengar tentang itu karena memang ia baru saja berkenalan dengan Siong Ki dan belum mendengar banyak tentang riwayat dan keadaan pemuda yang dikaguminya itu.

Siong Ki sudah mendengar tentang Kwa Bi Lan dari gurunya, tentang riwayat wanita itu mengapa menculik puteri gurunya. Diapun sengaja tidak langsung menanyakan tentang wanita itu, melainkan mendiang suaminya yang lebih terkenal di dunia kangouw.

"Aku mencari orang yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) bernama Liu Bhok Ki."

Bukan hanya Hek I Sin kai yang terkejut, juga Ouw Ling tercengang karena nama besar Si Rajawali sakti pernah menggemparkan dunia kangouw. "Aih, dia? Akan tetapi dia telah tidak ada lagi, sicu! Dia telah mati belasan tahun yang lalu!"

Tentu saja Siong Ki sudah tahu akan hal ini. "Kalau begitu, aku mencari keluarganya. Apakah dia tidak mempunyai keluarga? Isteri atau anak?"

"Kami tidak mendengar bahwa dia mempunyai anak, hanya mendengar bahwa dia di hari tuanya mempunyai seorang isteri. Akan tetapi, kami tidak tahu siapa isterinya itu dan di mana ia sekarang berada."

"Aku tahu!" tiba-tiba Ouw Ling berkata. "Isterinya seorang wanita muda murid Siauw-lim-pai, namanya... namanya Kwa... Bi Lan. Ya, aku pernah mendengar ayah bercerita tentang mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki itu."

Tentu saja diam-diam Siong ki merasa girang. Tak disangkanya bahwa yang mengenal wanita itu bahkan sahabat barunya ini! "Aih, Ouw-cici, engkau malah mengenalnya? Di mana sekarang Kwa Bi Lan itu."

Akan tetapi Siong Ki menjadi kecewa melihat wanita cantik itu menggeleng kepalanya. "Sin-tiauw Liu Bhok Ki telah meninggal dunia belasan tahun yang lalu dan sejak itu, tidak ada yang tahu ke mana perginya isterinya itu. Ia ketika itu masih muda, dan ia hanya diketahui sebagai murid Siauw-lim-pai, namanya tidak begitu dikenal. Yang terkenal adalah suaminya, maka setelah suaminya meninggal dunia, Kwa Bi Lan juga tidak diperhatikan orang lagi. Aku tidak tahu di mana ia berada." Melihat wajah sahabat barunya kelihatan kecewa, ia cepat menyambung. "Jangan khawatir, siauw-te, aku akan membantumu mencarikan sampai dapat. Aku mempunyai banyak hubungan, tentu akan dapat mencari keterangan tentang Kwa Bi Lan."

Wajah Siong Ki menjadi cerah kembali mendengar kesanggupan wanita cantik itu. "Terima kasih, enci Ouw, engkau baik sekali."

"Ji-wi mencari pekerjaan? Sungguh kebetulan sekali! Saat ini tenaga dua orang seperti ji-wi amat dibutuhkan. Dan bukan saja ji-wi akan menerima balas jasa yang cukup besar, bahkan membuka kesempatan bagi ji-wi untuk mendapatkan pekerjaan dan kedudukan di kota raja Tiang-an."

Dua orang muda itu tertarik sekali. Mereka memandang tuan rumah dengan sinar mata penuh selidik. Bagaimanapun juga, Siong Ki tidak akan sudi menerima kalau ditugaskan melakukan suatu kejahatan. Dia bukan penjahat! Dia seorang pendekar! Juga Bi-tok Siocia Ouw Ling adalah puteri seorang datuk, tentu saja merasa rendah kalau harus melakukan kejahatan remeh yang hanya akan menjatuhkan nama besarnya dan nama besar ayahnya.

"Pekerjaan apakah yang kau maksudkan itu, paman?" tanya Ouw Ling.

"Begini, Ouw Siocia. Kalian tahu bahwa aku mempunyai hubungan dekat sekali dengan para pejabat di Lok-yang. Kebetulan sekali seorang pangeran yang kini menjabat kedudukan hakim di Lok-yang, kemarin minta kepadaku untuk menyediakan beberapa orang yang berkepandaian tinggi untuk mengawal isteri pangeran dan tiga orang puteranya yang hendak melakukan perjalanan ke Tiang-an. Mereka memang berasal dari kota raja. Perjalanan sekarang tidak dapat dikata aman, maka aku sedang bingung mencari siapa gerangan yang dapat dipercaya untuk memikul tugas itu. Dan melihat kalian berdua, aku yakin tidak ada orang lain yang tepat dan dapat diandalkan untuk mengawal keluarga pangeran itu dari sini ke kota raja."

"Pangcu, bagi seorang pembesar, apalagi kalau dia pangeran, apa susahnya mencari pengawal. Akan tersedia pasukan besar untuk menjaga keselamatan keluarganya! Kenapa harus mencari orang lain?" tanya Siong Ki.

"Benar pertanyaan The-siauwte itu, paman. Mengherankan sekali memang." kata Ouw Ling.

Ketua pengemis itu mengangguk-angguk. "Memang tadinya akupun membantahnya demikian, akan tetapi setelah dia menjelaskan, baru aku mengerti. Pangeran itu seorang hakim, kalau isterinya ke kota raja, pasti dia akan menitipkan beberapa laporan penting. Dia tidak ingin mengerahkan pasukan agar tidak menyolok dan menarik perhatian, juga keluarganya tidak suka kalau bepergian diiringkan pasukan yang membuat suasana menjadi kaku, akan tetapi diapun ingin keselamatan keluarganya terjamin. Oleh karena itu, dia minta aku mencarikan dua tiga orang pengawal yang dapat diandalkan, dan melihat kalian berdua, aku yakin kalian akan mampu mengawal keluarga itu sampai selamat tiba di kota raja. Dan kalau kalian menghendaki pekerjaan atau kedudukan di kota raja, kiranya aku dapat menyampaikan kepada pangeran itu. Dia pasti akan dapat memberi kalian surat perkenalan dan kepercayaan untuk pembesar di kotaraja."

Dua orang itu saling pandang, kemudian Ouw Ling bertanya, "Apakah sudah ditentukan kapan keluarga itu berangkat?"

"Tiga hari lagi."

"Kalau begitu, biar penawaran ini kami pertimbangkan dulu sampai besok. Besok kami memberi keputusan kepadamu, paman. Bukankah begitu, siauwte?"

Siong Ki mengangguk. Sebetulnya, dia senang mendengar penawaran itu. Pekerjaan yang tidak berat, dan selain imbalannya tentu besar, juga kemungkinan dia memperoleh kedudukan di kota raja. Pekerjaan apa yang lebih baik daripada menjadi seorang seorang pejabat di kota raja? Akan tetapi karena dia membutuhkan bantuan Ouw Ling untuk dapat menemukan Kwa Bi Lan, maka ketika wanita itu mengajukan pendapatnya, diapun hanya mengangguk setuju. Ouw Ling dan Siong Ki lalu berpamit dan oleh ketua Hek I Kaipang, mereka kembali diantar dengan kereta memasuki Lok-yang dan sampai ke depan rumah penginapan mereka.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Siong Ki sedang duduk termenung di dalam kamarnya di rumah penginapan itu. Dia merenungkan pengalamannya sehari itu, pengalaman yang dianggapnya aneh sekali. Dalam waktu sehari, dia bertemu dengan Bi Tok Siocia Ouw Ling yang ternyata kemudian dia ketahui sebagai puteri datuk sesat Ouw Kok Sian, majikan Bukit Naga. Akan tetapi wanita itu amat baik kepadanya, ramah dan manis sehingga dia harus mengakui bahwa hatinya terpikat.

Seorang wanita yang sudah matang, berpengalaman, cerdik, memiliki ilmu silat tinggi, dan lebih dari pada itu semua, cantik wajahnya dan menggairahkan tubuhnya. Belum pernah dia bertemu dengan seorang wanita seperti itu! Dan wanita itu demikian ramah kepadanya, bahkan kini hendak membantunya menemukan Kwa Bi Lan. Setelah pengalamannya bertemu dengan wanita itu, dilanjutkan dengan pertemuannya dengan ketua Hek I Kai-pang yang menawarkan pekerjaan yang amat baik dan membuka kesempatan untuk memperoleh kemajuan di kota raja.

Tadi, ketika mereka kembali ke rumah penginapan, sampai mereka mandi lalu makan malam, Ouw Ling belum mengambil keputusan mengenai penawaran itu dan ketika dia bertanya, wanita itu menjawab bahwa ia akan memikirkannya dulu baik-baik sebelum mengambil keputusan. Kini, wanita itu memasuki kamarnya sendiri dan dia berada di kamarnya, mereka berdua belum mengambil ke putusan.

"Tok tok-tok!" Daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar.

"Siapa?" tanya Siong Ki sambil menghampiri daun pintu akan tetapi belum membukanya. Pengalamannya hari tadi membuat dia waspada dan curiga.

"Aku, siauw-te. Bukalah!"

Siong Ki bernapas lega. Ouw Ling yang datang. Tentu akan membicarakan tentang penawaran tadi dan sekarang agaknya wanita itu akan mengambil keputusan. Dia membuka daun pintu dan memandang kagum. Ouw Ling nampak segar, dengan pakaian baru, dengan rambut yang disisir rapi dan digelung tinggi, wajahnya nampak kemerahan dan penuh senyum menggairahkan, pandang matanya bersinar-sinar, dan tangannya memegang dua buah cawan dan sebuah guci anggur.

"Aih, enci, engkau membawa minuman?" tanya Siong Ki heran.

"Tutuplah daun pintunya siauwte. Kita bicarakan urusan siang tadi dan sambil minum anggur. Aku membeli anggur yang enak sekali dan hawa malam ini amat dingin." Melihat keraguan Siong Ki yang agaknya merasa sungkan untuk menutupkan daun pintu selagi ada seorang wanita di kamarnya, Ouw Ling tertawa. "Hi-hik, mengapa engkau ragu? Kita sudah menjadi sahabat baik, seperti saudara sendiri, mengapa masih banyak sungkan, siauwte?"

"Aku... aku... hanya menjaga nama baikmu, enci..." kata Siong Ki ragu, akan tetapi dia menutupkan juga daun pintu kamarnya setelah melihat bahwa di luar sunyi, tidak nampak seorangpun tamu yang semua agaknya sudah masuk kamar.

Ouw Ling memandang kepada pemuda yang kini duduk di depannya terhalang meja kecil itu dengan alis terangkat, dan pandang matanya seperti orang yang tidak percaya. "Siauwte, berapa sih usiamu tahun ini?" tanyanya tiba-tiba.

Walau pun Siong Ki merasa aneh dengan pertanyaan itu, dia menjawab juga. "Usiaku duapuluh dua tahun, enci."

"Sudah duapuluh dua tahun dan engkau takut duduk berdua dengan seorang wanita dalam kamarmu?" kembali pandang matanya tidak percaya. Siong Ki merasa betapa mukanya terasa panas dan diapun tersipu.

"Aih, sejak kecil aku berada di bawah bimbingan guru-guruku, dan baru sekarang aku hidup sendiri. Mengapa dan untuk apa aku harus duduk berdua dengan seorang wanita dalam kamar?"

"Bukan main!" Kini pandang mata itu mengandung keheranan, juga kekaguman dan kegembiraan. "Jadi selama ini engkau belum pernah bergaul akrab dengan seorang wanita?"

Siong Ki menggeleng kepala dan mukanya berubah kemerahan. "Jangankan akrab, bergaulpun belum sempat dan baru sekarang ini aku bersahabat dengan seorang wanita, enci."

"Ihh! Dan engkau senang bersahabat denganku, siauwte?" Pandang mata itu penuh selidik.

Siong Ki mengangguk. "Senang sekali, engkau seorang yang baik, enci."

Kini Ouw Ling nampak gembira bukan main. "Sudahlah, jangan terlalu memuji karena sesungguhnya engkaulah yang baik sekali, siauwte. Nah sekarang kita bicara tentang penawaran Hek I Sin-kai tadi. Bagaimana menurut pendapatmu?"

Siong Ki menarik napas panjang. "Aku hanya menyerahkan keputusannya kepadamu saja, enci. Engkau tahu bahwa aku menerima tugas dari guruku untuk mencari seorang yang bernama Kwa Bi Lan. Tugas itu yang harus kupentingkan dulu. Setelah itu, baru aku akan memikirkan tentang pekerjaan apa yang dapat kupegang. Karena aku mengharapkan bantuanmu untuk dapat menemukan Kwa Bi Lan, maka aku menurut saja bagaimana keputusanmu."

Ouw Ling menuangkan anggur merah itu ke dalam dua buah cawan dan mengajak Siong Ki minum, "Mari kita mlnun, coba rasakan bagaimana enaknya anggur yang kubeli ini."

Siong Ki menurut dan memang anggur itu enak. Anggur yang sudah tersimpan lama, manis dan halus walaupun amat kuat. "Sekarang katakan, siauwte, karena aku ingin sekali mengetahui dan kiranya sudah sepatutnya kalau aku mengetahui keadaan dirimu, siapakah sebenarnya gurumu dan mengapa pula dia mengutusmu mencari Kwa Bi Lan atau... kalau engkau tidak percaya kepadaku, sudah, jangan kau ceritakan kepadaku." Ouw Ling mengambil sikap demikian muram dan berduka penuh kekecewaan, sehingga Siong Ki yang masih hijau itu tentu saja merasa tidak enak sekali.

"Ah, enci Ouw, tentu saja aku percaya padamu. Engkau begini baik, bahkan engkau akan membantuku menemukan Kwa Bi Lan. Baik, tadi di depan Hek I Sin-kai aku memang tidak mau berterus terang, akan tetapi kita sudah bersahabat baik, sesungguhnya, guruku bernama Si Han Beng..."

"Aih, sudah kuduga! Ketika melihat pedangmu yang buruk itu, aku segera mengenal Seng-kong-kiam! Bukankah pedang itu milik subomu? Gurumu adalah Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) dan isterinya bernama Bu Giok Cu, bukan?"

Siong Ki tercengang, kagum akan pengetahuan Ouw Ling yang luas. "Ah, kiranya engkau sudah mengenal suhu dan subo?"

"Mengenal sih tidak. Orang seperti aku ini bagaimana ada harganya mengenal suami isteri yang hebat itu? Akan tetapi aku sudah mendengar nama besar mereka. Dan sekarang aku bertemu dengan murid mereka! Wah, siauwte, maafkan kalau aku bersikap kurang hormat kepada murid seorang pendekar sakti!" Ouw Ling dengan gaya yang manis lalu bangkit dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

Siong Ki cepat bangkit dan membalas penghormatan itu. "Wah, enci, harap jangan bersikap seperti itu. Engkau membikin aku menjadi malu saja."

"Engkau gagah perkasa, murid pendekar sakti, dan engkau tetap rendah hati, siauwte. Betapa mengagumkan. Selama hidupku, belum pernah aku bertemu dengan seorang laki-laki sejati sepertimu. Nah, coba ceritakan, apa sebabnya gurumu menyuruh engkau mencari Kwa Bi Lan?"

"Karena Kwa Bi Lan telah menculik puteri suhu enambelas tahun yang lalu ketika anak itu berusia dua tahun."

Ouw Ling mengangguk-angguk. Bagi seorang kangouw sepertinya yang sudah biasa mendengar tentang hal-hal seperti itu, ia tidak merasa heran. Hanya ingin tahu permusuhan apa yang terdapat antara Kwa Bi Lan dan keluarga Naga Sakti Sungai Kuning itu.

"Kenapa gurumu yang sakti itu membiarkan saja sampai sekarang, tidak mencari dan merampas kembali puterinya? Kurasa Kwa Bi Lan tidak akan mampu menandingi kelihaian Naga Sakti Sungai Kuning dan isterinya."

Siong Ki menggeleng kepalanya, tidak ingin menceritakan terlalu banyak tentang gurunya, tentang dendam yang terkandung di hati Kwa Bi Lan terhadap gurunya, karena hal itu merupakan rahasia pribadi gurunya. "Aku tidak tahu, enci, aku hanya ingin melaksanakan perintah suhu."

Ouw Ling tersenyum dan mengangkat cawan anggurnya. "Jangan khawatir, aku akan membantu dan kita pasti akan dapat menemukan penculik puteri gurumu itu. Sekarang, mari kita minum sampai puas. Aku gembira sekali dapat bersahabat denganmu dan ingin merayakan kegembiraan ini berdua denganmu. Nah, minumlah, siauwte."

Siong Ki tentu saja tidak dapat menolak keramahan wanita itu dan diapun menemani Ouw Ling minum anggur sampai akhirnya guci anggur itu habis dan mereka berdua merasa ringan di hati dan kepala. Pengaruh anggur mulai bekerja dan Siong Ki yang ketika berada di rumah suhunya, jarang sekali minum anggur sampai sedemikian banyaknya, mulai merasa aneh. Dia mulai terpengaruh alkohol dan hampir mabok.

Sebetulnya Ouw Ling adalah seorang wanita yang sudah kebal terhadap minuman keras. Jangankan seguci anggur tadi dibagi dua dengan Siong Ki, andaikata ia habiskan sendiripun, ia tidak akan mabok. Akan tetapi, ia berlagak mabok, tertawa-tawa dan setelah anggur habis, ia bangkit berdiri.

"Aku... aku ingin tidur... kembali ke kamarku..." Akan tetapi ia terhuyung dan biarpun Siong Ki juga merasa agak pening, dia khawatir wanita itu mabok dan terjatuh, maka cepat dia memegang pundak Ouw Ling agar wanita itu tidak terguling jatuh.

"Hi-hik, kau... kau baik sekali, siauw-te... kau tampan sekali..." Ouw Ling merangkul dan menyandarkan kepalanya di dada yang bidang itu.

Tentu saja Siong Ki merasa canggung dan salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa. "Enci, engkau mabok, mari kuantar kembali ke kamarmu. Engkau harus beristirahat dan tidur... katanya, mencoba untuk mendorong wanita itu ke pintu. Akan tetapi karena dia sendiri juga merasa seolah lantai bergoyang, mereka berdua jatuh terduduk di atas pembaringan. Ouw Ling lalu merebahkan diri.

"Ouw-cici, pembaringanmu di sana, di kamarmu. Mari kuantar engkau pindah ke kamarmu sendiri..." kata Siong Ki.

Ouw Ling menggeliat seperti seekor kucing. "Aihh, aku lelah, aku mengantuk... apa sih salahnya aku tidur di sini? Di sana tidak ada teman, dingin dan kita-kita sudah menjadi sahabat baik, bukan...?"

Tangannya menangkap lengan Siong Ki dan dengan lembut dia menarik pemuda itu yang terpaksa duduk kembali ke tepi pembaringan karena memang dia agak pening. Rasa aneh menguasainya, kepalanya terasa berat di luar dan ringan di dalam, melayang-layang dan lenyaplah semua ajaran gurunya tentang tata-susila. Diapun seperti hanyut dan tidak berdaya, terseret oleh gelora nafsu berahi yang dikobarkan oleh Ouw Ling yang berpengalaman dan cerdik.

Dalam keadaan setengah sadar, Siong Ki yang masih hijau dalam pergaulan dengan wanita itu, seolah menjadi lilin lunak yang menyerah saja dibentuk dan dipermainkan oleh Ouw Ling. Wanita itu memang berpengalaman dan ahli dalam menjatuhkan hati pria. Usianya sudah empatpuluh tahun, akan tetapi ia nampak tidak lebih dari duapuluh lima tahun. Siong Ki, biarpun amat lihai ilmu silatnya, kini menjadi korban dan mangsa yang lunak bagi Ouw Ling.

Pada keesokan harinya, ketika terbangun dari tidur dan mendapatkan dirinya berada dalam dekapan Ouw Ling, Siong Ki tersadar dan terkejut, bahkan timbul penyesalan besar dalam hatinya. Namun, Ouw Ling segera dapat menghibur dan merayunya. Sebentar saja buyarlah kesadarannya, kalah semua pertimbangan akal sehat oleh nafsu yang telah menguasai dirinya dan Siong Ki menyerah.

Sejak malam hari itu, dia telah dicengkeram oleh Ouw Ling, telah menjadi hamba dari nafsunya sendiri. Lenyaplah semua kesadaran, bahkan dia tidak merasa bersalah, mengejar kesenangan dan pemuasan nafsu. Dituntun oleh Ouw Ling yang berpengalaman.

Seseorang boleh saja memiliki kepandaian tinggi, dan dapat menandingi dan mengalahkan musuh yang bagaimana kuatpun. Akan tetapi, musuh yang paling berbahaya bukan lain adalah dirinya sendiri, nafsu yang berada di dalam dirinya sendiri. Betapapun kuatnya seseorang, belum tentu dia akan mampu menandingi nafsunya sendiri.

Betapa banyaknya sudah contoh yang terjadi di dalam sejarah, betapa orang-orang yang kuat dan terkenal bijaksana, akhirnya jatuh oleh nafsunya sendiri. Kalau nafsu sudah memperbudak manusia, maka manusia itu akan menjadi permainan nafsu, akan melakukan apa saja demi pemuasan nafsu sehingga segala pertimbangan akal sehat tidak akan mampu menghalanginya.

Kita tidak mungkin mematikan nafsu. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia, bahkan tidak mungkin dapat hidup. Nafsu sudah diikutsertakan kita ketika kita lahir, dan nafsu merupakan peserta yang teramat penting bagi kehidupan manusia. Nafsu yang membuat kita mengenal enak dan tidak enak, senang dan susah, baik dan buruk, dan selanjutnya.

Nafsu yang membuat mata kita mengenal keindahan, telinga kita mengenal kemerduan, hidung kita mengenal keharuman, mulut mengenal kelezatan dan sebagainya. Nafsu yang merupakan pendorong sehingga hati akal pikiran kita dapat membuat segala macam kemajuan demi kenyamanan hidup. Tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat menikmati makanan dan mungkin kita tidak mau makan sehingga kelaparan.

Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan melakukan perbaikan-perbaikan dan mungkin kita masih akan tinggal di goa-goa dan jaman kita masih tetap jaman batu. Bahkan tanpa abanya nafsu berahi, pria dan wanita tidak akan saling tertarik, tidak akan saling berhubungan, sehingga mahluk manusia tidak akan berkembang biak lagi! Jelas, nafsu mutlak perlu bagi kehidupan kita!

Akan tetapi, nafsu pula yang menyeret kita ke lembah kesengsaraan, nafsu pula yang mendorong kita melakukan kejahatan, yaitu kalau nafsu yang tadinya diciptakan dan diikutsertakan kita untuk menjadi peserta dan menjadi pelayan, berbalik menjadi majikan yang memperhamba kita! Kalau nafsu sudah mencengkeram kita, memperbudak kita maka keadaan menjadi berbalik sama sekali. Nafsu mendorong kita menjadi budak yang selalu haus akan kesenangan, dan demi mengejar kesenangan itu kita menghalalkan segala cara.

Nafsu mengejar kesenangan melalui uang menghalalkan segala cara pencarian uang melalui korupsi, penipuan, pencurian, perampokan dan sebagainya. Nafsu mengejar kesenangan melalui kedudukan menghalalkan segala cara pengejaran kedudukan melalui perbuatan kekerasaan, pengkhianatan, permusuhan, pembunuhan, perang dan sebagainya. Nafsu mengejar kesenangan melalui berahi menghalalkan segala cara pengejarannya melalui perjinahan, pelacuran, perkosaan dan sebagainya.

Sejak dahulu kala, manusia berusaha untuk menanggulangi perbudakan oleh nafsu ini melalui pelajaran, pendidikan budi pekerti, agama, ilmu pengetahuan. Manusia berusaha untuk menyadarkan diri betapa buruknya keadaan kita kalau diperbudak oleh nafsu. Namun, melihat kenyataan yang ada, daya upaya manusia itu tidak banyak hasilnya. Manusia tetap menjadi budak nafsu, sampai sekarang.

Bahkan setelah manusia memperoleh kemajuan pesat sekali dalam ilmu pengetahuan, tetap saja manusia tidak berdaya mengatasi nafsunya sendiri. Ilmu pengetahuan sama sekali tidak berdaya mengendalikan nafsu. Hal ini memang tidak aneh. Ilmu pengetahuan dapat maju karena adanya nafsu dalam hati akal pikiran.

Mengharapkan pengertian dan pengetahuan untuk menalukkan nafsu, merupakan harapan hampa. Pengetahuan tidak mungkin dapat menundukkan nafsu. Hal ini banyak buktinya kalau kita membuka mata dengan waspada, melihat kenyataan dalam kehidupan ini, dalam diri sendiri maupun kehidupan manusia di sekeliling kita. Baru cengkeraman nafsu yang amat kecil saja, misalnya merokok, sudah sedemikian kuatnya sehingga tidak dapat ditaklukkan oleh pengetahuan.

Semua perokok tahu dan mengerti bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan dan sebagainya, namun mereka tetap tidak berdaya, tidak mampu menghentikan kebiasaan merokok! Bahkan hati akal pikiran yang sudah dicengkeram nafsu muncul sebagai pembela untuk membenarkan kebiasaan merokok itu dengan bisikan-bisikan bahwa merokok itu baik. agar nampak jantan, untuk menenangkan pikiran, untuk mencari ilham, untuk pergaulan dan segala macam pembelaan lagi.

Coba kita bertanya kepada semua pencuri di dunia ini. Adakah seorang pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu jahat? Semua pencuri tahu dan mengerti! Akan tetapi, mereka tetap saja mencuri! Karena pengetahuan itu tidak dapat menundukkan nafsu yang mendorongnya untuk mencuri demi memperoleh kesenangan melalui uang! Demikian pula para koruptor. Adakah seorangpun di antara para koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu tidak baik? Semua koruptor tahu dan mengerti!

Akan tetapi tetap saja mereka melanjutkan perbuatan korupsi itu. Dan hati akal pikiran, gudang pengetahuan dan pengertian itu, yang sudah dikuasai nafsu, bahkan menjadi pokrol, membela perbuatan korupsi itu sendiri dengan bisikan bahwa mereka melakukan korupsi untuk menghidupi anak bini, bahwa semua orang juga melakukannya, bahwa atasannya berkorupsi lebih banyak lagi dan sebagainya! Dalam setiap perbuatan yang sebetulnya dimengerti bahwa itu tidak baik, selalu saja pikiran muncul sebagai pembelanya, untuk membenarkan perbuatan jahat itu, atau setidaknya, mengurangi keburukannya!

Sekarang kita dihadapkan kepada keadaan yang amat sulit. Nafsu mutlak perlu bagi kehidupan kita. Kita mutlak membutuhkan nafsu untuk kelangsungan hidup di dunia ini. Akan tetapi nafsu pula yang menyeret kita ke dalam lembah kejahatan, menyeret kita untuk melakukan penyelewengan! Lalu apa yang dapat kita lakukan? Hati akal pikiran kita tidak berdaya, karena semua pengetahuan tidak dapat menundukkan nafsu yang merajalela Apa yang dapat kita lakukan agar nafsu kembali kepada tugas dan kedudukannya semula, yaitu menjadi peserta dan pelayan kita dalam kehidupan ini?

Apa yang dapat kita lakukan? Pertanyaan ini sudah bergema sepanjang jaman. Banyak orang pergi bertapa, menyiksa diri, melakukan segala macam tapabrata, semua ini merupakan usaha untuk menanggulangi nafsu, yaitu setan yang berada di dalam diri kita sendiri. Namun, hampir tidak ada yang berhasil. Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Jawaban yang tepat kiranya hanyalah bahwa kita seyogianya tidak melakukan apa-apa! Karena apapun yang kita lakukan, kelakuan itu masih dikemudikan oleh nafsu keinginan. Ingin bebas dari nafsu! Siapa yang ingin itu? Itupun masih pikiran yang bergelimang nafsu. Menginginkan sesuatu, walaupun keinginan itu merupakan keinginan bebas dari pada keinginan sekalipun!

Tuhan Maha Pencipta! Tuhan maha Kuasa! Tuhan Maha Kasih! Kekuasaan Tuhan pula yang menciptakan adanya nafsu yang diikut-sertakan kita. Karena itu, tidak ada kekuasaan lain di dunia ini yang akan mampu menundukkan nafsu, kecuali kekuasaan Tuhan! Kita tidak perlu melakukan apapun. Kita hanya menyerah, kita hanya pasrah kepada Tuhan, dengan penuh kesabaran, keikhlasan, ketawakalan!

Kita tidak perlu berusaha apapun untuk menundukkan nafsu, karena usaha apapun dari kita itu bahkan memperkuat nafsu, karena usaha itu sendiripun merupakan ulah nafsu. Kita menyerah mutlak kepada Tuhan dengan penuh keimanan dan kepasrahan. Penyerahan ini merupakan kuncinya, agar kekuasaan Tuhan selalu membimbing kita.

Kekuasaan Tuhan bekerja membimbing kita setelah nafsu tidak lagi membimbing dan menguasai kita. Nafsu menjadi alat untuk hidup, namun kekuasaan Tuhan yang akan menjadi kendali, menjadi penuntun, dalam segala yang kita perbuat. Kalau nafsu sudah mencengkeram diri, maka manusia menjadi lupa segala.


Seperti halnya Siong Ki. Dia menjadi permainan nafsu yang mengasyikkan. Apalagi nafsu itu digerakkan oleh pandainya Bi Tok Siocia Ouw Ling yang merayunya. Dan Siong Ki jatuh, Diapun kini menuruti apa saja yang dikehendaki wanita itu. Ketika Ouw Ling menyatakan kesediaannya mengawal keluarga pangeran yang akan ke kota raja, Siong Ki hanya setuju saja. Ouw Ling yang mengatur dan memimpin, sedangkan dia hanya ikut saja.

Pangeran yang menjadi hakim di Lok-yang itu bernama Pangeran Li Yan, masih kakak misan dari Kaisar Tang Tai Cung yang dahulu bernama Pangeran Li Si Bin. Tentu saja setelah pamannya, yaitu ayah Li Si Bin yang bernama Li Gan menjadi kaisar pertama dari Kerajaan Tang berjuluk Tang Kao Cu, Li Yan sebagai keponakannya, juga ikut terangkat derajatnya, bahkan mendapat sebutan pangeran dan kini menjabat sebagai hakim di Lok-yang.

Pada jaman itu, kedudukan hakim merupakan kedudukan yang terhormat dan tinggi, disegani dan ditakuti para pejabat tinggi lainnya. Pangeran Li Yan berusia limapuluh tahun, isterinya yang akan melakukan perjalanan ke kota raja adalah isteri pertamanya yang berusia empatpuluh lima tahun, dan tiga orang anaknya yang ikut dengan ibu mereka ke kota raja adalah dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang berusia dari sepuluh sampai limabelas tahun.

Isteri Pangeran Li Yan ini masih berdarah bangsawan dan berasal dari kota raja, dan sekali ini kepergiannya ke kota raja, selain menengok keluarga, juga untuk berpesiar bersama putera-puterinya dan juga tentu saja membawa surat laporan dari suaminya yang harus disampaikan kepada atasannya di kota raja. Demikianlah, pada hari yang ditentukan. Isteri pangeran itu bersama tiga orang anak-anaknya menunggang sebuah kereta dengan dua ekor kuda yang dikendalikan kusir keluarga pangeran itu.

The Siong Ki dan Ouw Ling menunggang dua ekor kuda mengawal di belakang kereta. Ketika Hek I Sin-kai mengajak mereka menghadap Pangeran Li Yan, pangeran yang sudah percaya sepenuhnya kepada ketua kaipang itu segera menerima mereka dan menyetujui, bahkan senang sekali karena dua orang yang mengawal keluarganya bukan orang-orang berpakaian pengemis, melainkan seorang wanita cantik dan seorang pemuda tampan.

Di atas kereta itu sendiri dipasangi sebuah bendera hitam dengan tulisan Hek I Kaipang, sebagai tanda bahwa rombongan ini di bawah perlindungan perkumpulan pengemis itu. Hal ini untuk menjamin agar di dalam perjalanan tidak ada yang berani mengganggu. Juga mendengar permintaan Hek I Sinkai, pangeran itu menitipkan sebuah surat untuk pejabat di istana, dengan pesan kepada isterinya bahwa kalau kedua pengawal itu ternyata bekerja dengan baik, surat untuk memintakan pekerjaan bagi mereka di istana itu disampaikan kepada saudaranya yang menjadi pejabat di istana.

********************

Kita tinggalkan dulu Siong Ki dan Ouw Ling yang mengawal keluarga pangeran Li Yan dari Lok-yang menuju ke Tiang-an, karena sudah terlalu lama kita meninggalkan Thian Ki. Mari kita mengikuti perjalanan pemuda perkasa ini. Seperti kita ketahui, Thian Ki meninggalkan ibu kandungnya dan ayah tirinya dengan membawa dua macam tugas. Pertama, dia akan mengunjungi Si Han Beng untuk bertanya kepada pendekar itu.

Di mana dia bisa bertemu dengan Pek I Tojin atau Hek Bin Hwesio karena hanya kedua orang itulah yang akan dapat menolongnya, yaitu membebaskannya dari pengaruh racun di tubuhnya. Ke dua dia harus mengambil kembali pedang Liong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka yang dulu menjadi milik Cian Bu Ong dan kini berada di istana kaisar. Dia diberi waktu dua tahun oleh ibunya dan ayah tirinya.

Pada pagi hari itu, pagi-pagi sekali, berangkatlah Thian Ki meninggalkan dusun Ke-cung di tepi Sungai Kuning dan di kaki bukit Kim-san. Dia membawa buntalan pakaian di punggungnya, dan tangannya memegang sebuah bungkusan kecil yang berisi makanan yang diberikan oleh Kui Eng kepadanya. Kui Eng! Gadis yang sejak kecil dianggapnya sebagai adik sendiri, kini seketika berubah baginya setelah ayah tirinya dan ibunya menyatakan bahwa dia dan Kui Eng ditunangkan, dijodohkan!

Dan terutama sekali perubahan yang besar terjadi dalam sikap Kui Eng. Dahulu, gadis itu sayang dan manja kepadanya, menganggap dia sebagai kakak kandung. Setelah gadis itu tahu bahwa Thian Ki bukan kakak kandungnya, bahkan sama sekali tidak ada hubungan darah, berlainan ibu dan berlainan ayah, dan mendengar bahwa pemuda itu menjadi calon suaminya, Kui Eng telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Bukan lagi kasih sayang antara saudara, melainkan cinta kasih seorang wanita terhadap seorang pria! Dan tadi gadis itu menghadangnya untuk menyerahkan bungkusan makanan itu yang dimasak sendiri olehnya tenggah malam tadi.

Dengan langkah lebar dan cepat Thian Ki menuruni lereng terakhir. Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya. Biarpun kini dia menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak bersalah, namun tetap saja hatinya menjadi sedih dan menyesal kalau dia teringat kepada Kam Cin atau Cin Cin, gadis yang telah dia buntungi tangan kirinya itu. Terpaksa dia harus melakukan hal itu secepatnya sebelum racun menjalar naik. Andaikata dia tidak melakukan hal itu, sekarang Cin Cin pasti sudah tinggal nama saja, tentu telah tewas.

Biarpun membuntungi tangan gadis itu merupakan perbuatan untuk menyelamatkan nyawa Cin Cin, namun bagaimanapun juga, hal itu terjadi karena dia, karena tubuhnya yang beracun sehingga ketika mencengkeram pundaknya, otomatis gadis itu keracunan tangannya sehingga terpaksa dia membuntungi tangan itu dengan pedang.

Kalau tidak, maka racun dari tangan itu akan menjalar naik dengan cepatnya dan kalau sudah sampai ke jantung atau otak, nyawa gadis itu tidak dapat ditolong lagi. Racun dalam tubuhnya yang dimasukkan oleh mendiang neneknya memang hebat bukan'main. Neneknya tidak percuma berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun). Thian Ki menghela napas panjang. Masih teringat dia akan pandang mata Cin Cin kepadanya ketika tangan gadis itu dibuntunginya. Pandang mata yang penuh kekagetan, penuh penasaran, penuh kedukaan dan penuh dendam!

Terkenang dia akan pertemuannya yang pertama dengan gadis itu di tepi sungai Kiang, melihat gadis itu mandi telanjang, kemudian betapa Cin Cin membalasnya dan melihat dia mandi telanjang dan memakinya seperti monyet! Kenangan ini membuat dia semakin sedih. Tiba-tiba Thian Ki menahan langkah kakinya dan berdiri termenung seperti orang terkejut. Memang dia terkejut oleh kenyataan di dalam hatinya. Dia mencinta Cin Cin!

Kenyataan ini disusul dua hal yang membuat dia merasa terpukul dan berduka, juga bingung. Dia mencinta Cin Cin akan tetapi dia telah membuntungi tangan gadis yang dicintanya, sehingga gadis itu tentu saja mendendam dan membencinya. Dan hal ke dua, dia telah ditunangkan dengan Kui Eng yang mencintanya dengan tulus, padahal dia menyayang Kui Eng sebagai adik. Dia merasa bingung sekali.

Cin Cin tidak bersalah ketika hendak membunuh ayah tirinya, yaitu Cian Bu Ong. Pertama, karena Cin Cin melaksanakan tugas yang diperintahkan subonya yang disakiti hatinya oleh bekas pangeran itu, dan ke dua, dan ini lebih gawat lagi, akan tetapi agaknya belum diketahui Cin Cin, yaitu bahwa kehancuran Hek-houw-pang yang mengakibatkan tewasnya ayah kandung Cin Cin, ketua Hek-houw-pang yang bernama Kam Seng Hin, adalah akibat serbuan orang-orang Cian Bu Onng! Tidak, Cin Cin tidak dapat disalahkan.

Setelah menuruni lereng bukit itu, Thian Ki melanjutkan perjalanannya menyusuri Sungai Huai. Dia hendak pergi ke Sin-yang yang berada di lembah sungai itu. Dari Sin-yang dia akan meneruskan perjalanan menuju ke kota raja untuk melaksanakan perintah ayah tirinya atau yang kini ingin disebut guru, karena dia hendak dijodohkan dengan puteri gurunya itu. Perintah itu bukan tugas yang ringan.

Dia harus mencari dan mengambil pedang pusaka Liong cu-kiam (Pedang Mustika Naga) yang dahulunya milik Kerajaan Sui dan yang kini menjadi pusaka Kerajaan Tang. Berarti, dia harus dapat memasuki gedung tempat penyimpanan pusaka dan mencari pedang itu. Pekerjaan ini amat sukar dan berbahaya, karena gedung pusaka itu sudah pasti dijaga ketat, dan dia mendengar bahwa Kaisar Tang Tai Cung yang dahulu bernama Li Si Bin adalah seorang yang lihai dalam ilmu silatnya, dan di istana terdapat banyak jagoan yang berilmu tinggi. Dia harus berhati-hati sekali...

Naga Beracun Jilid 24

"Aih, Paman Na terlalu memuji. Mana bisa sedikit kemampuanku dibandingkan dengan Hek I Sin-kai yang terkenal dengan ilmu tongkatnya?"

"Ha-ha-ha, Ouw Siocia. Kita adalah orang-orang kang-ouw, kalau tidak membicarakan dan saling memberi petunjuk dalam ilmu silat, mau bicara tentang apa lagi? Akan tetapi, kalau ayahmu sendiri yang datang, tentu aku sendiri pula yang akan melayaninya. Sekarang, aku merasa tidak enak kalau menemanimu berlatih silat. Menang atau kalah, aku tetap akan ditertawakan orang. Nah, aku akan mewakilkan saja kepada muridku yang paling pandai agar aku dapat melihat sampai dimana kehebatanmu, Ouw Siocia." Setelah berkata demikian, ketua pengemis itu bertepuk tangan lagi.

Kepada penjaga yang masuk, dia berkata dengan suara lantang. "Panggil ke sini Ji Kiat!"

Tak lama kemudian. Muncullah murid yangdipanggil itu. Seorang pria berusia tigapuluh lima tahun, bertubuh tegap sedang, dengan muka yang cukup tampan dan dari pandang mata dan senyumnya, nampak bayangan dari ketinggian hati yang memandang rendah orang lain. Pakaiannya juga serba hitam dan hanya ada tiga tambalan di dada.

Pakaian itu juga terbuat dari sutera hitam yang halus. Dan agaknya diapun mengandalkan senjata tongkat seperti gurunya, karena di pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam. Begitu memasuk ruangan itu, tokoh Hek I Kai-pang ini memberi hormat kepada gurunya, kemudian kepada kedua orang tamu itu.

"Ouw Siocia, ini adalah Su Ji Kiat, pembantu utamaku, juga muridku yang pertama. Nah, biarlah dia yang melayanimu berlatih sebagai wakilku dan engkau mewakili ayahmu. Bagaimana?"

Bi Tok Siocia tersenyum mengejek. Andaikata dia tidak sudah lebih dulu menaksir Siong Ki, mungkin saja ia akan tertarik kepada murid pertama Hek I Sin-kai yang cukup gagah dan tampan ini. Kini, ia tersenyum mengejek.

"Paman, aku datang memenuhi undangan, bukan untuk memamerkan kepandaian. Akan tetapi karena paman ingin melihat perkembangan ilmu dari ayah melalui aku, baiklah. Siapa saja yang akan paman tunjuk untuk mewakili paman, terserah." Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, tubuh wanita itu dari atas tempat duduknya telah melayang ke tengah ruangan yang luas itu dan ia sudah berdiri dengan senyum yang manis, memiringkan tangan terbuka di depan dada dan mengangkat tangan kirinya ke atas kepala. "Aku sudah siap!"

Hek I Sin-kai memberi isyarat kepada muridnya. Su Ji Kiat yang memiliki watak angkuh dan memandang rendah lawan, kini menghampiri Ouw Ling dan tentu saja dia juga memandang ringan kepada wanita cantik ini. Memang dia sudah mendengar betapa wanita ini telah menghajar anak buah Hek I Kaipang, akan tetapi apa anehnya kalau hanya menghajar anak buahnya? Dia sendiri biar dikeroyok belasan orang anak buahnya, tidak akan kalah. Dia, murid kepala dari Hek I Sin-kai, kini harus menandingi seorang wanita, sungguh merupakan hal yang memalukan baginya!

Setelah berhadapan, Su Ji Kiat berdiri santai lalu berkata. "Nona, silakan menyerang, aku telah siap melayanimu berlatih." Dia tersenyum dan senyumnya membayangkan kecongkakannya. seperti seorang dewasa menertawakan lagak dan gaya seorang bocah.

"Begitukah? Nah, kalau sudah siap, sambutlah seranganku ini!" Tiba-tiba Ouw Ling menggerakkan kaki tangannya, gerakannya cepat bukan main dan sekali terjang, dengan cepat dan kuat ia telah mengirim serangkaian serangan dengan tamparan kedua tangannya, bergantian dan bertubi-tubi.

Terkejutlah Ji Kiat. Dia cepat mengelak dan menangkis, dan serangkaian serangan itu bagaikan badai datangnya, membuat dia kewalahan juga, karena sama sekali tidak mampu balas menyerang dan biarpun tidak ada pukulan yang mengenai tubuhnya karena dia menggunakan kedua lengan melindungi tubuh, tetap saja dia terhuyung ke belakang.

"Ji Kiat, ia itu murid majikan Liong-san, berhati-hatilah menghadapinya!" kata Hek I Sin-kai yang merasa khawatir, juga tidak senang melihat kecerobohan muridnya yang dia tahu memandang ringan lawan sehingga dalam gebrakan pertama saja sudah terdesak.

Agaknya Ji Kiat menyadari kesalahannya, maka diapun meloncat ke belakang agar terbebas dari himpitan rangkaian serangan itu, kemudian dia memasang kuda-kuda yang kokoh dan ketika Ouw Ling menyerang lagi, dia sudah siap menangkis dan balas menyerang. Sekarang barulah terjadi pertandingan, saling serang dengan serunya.

Akan tetapi, pertandingan itu berjalan seimbang hanya untuk selama duapuluh jurus saja, selama itupun Ouw Ling sengaja mengalah. Hal ini dapat dilihat jelas oleh Siong Ki, membuat pemuda itu menjadi kagum. Ternyata bahwa wanita itu memang lihai bukan main, memiliki gerakan yang aneh dan agak liar, terutama sekali lihai dalam ilmu tendangannya. Dari pertandingan itu saja Siong Ki sudah dapat menilai bahwa tingkat kepandaian wanita itu jauh lebih tinggi daripada lawannya.

Agaknya setelah lewat tigapuluh jurus dan mendesak lawan, Ouw Ling merasa jemu dan tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring, kedua kakinya bagaikan kitiran angin bergerak, berputar dan serangkaian tendangan menyambar-nyambar ke arah tubuh Ji Kiat. Murid utama Hek I Sin-kai ini terkejut, berusaha untuk mengelak dan menangkis,akan tetapi gerakan tendangan dari Ouw Li memang hebat sekali.

Tubuhnya bagaikan melayang-layang dan tendangannya susul-menyusul dan akhirnya, sebuah tendangan dapat menyusup di antara kedua lengan yang menangkis, mengenai dada Ji Kiat dan tubuh tokoh Hek I Kai-pang itupun terjengkang! Dia tentu akan terbanting keras kalau saja dia tidak membuat tubuhnya melingkar sehingga tubuh itu kini menggelinding seperti bola sampai enam tujuh meter jauhnya!

Su Ji Kiat tidak terluka, akan tetapi dadanya terasa sesak dan diapun bangkit berdiri dengan muka berubah merah. Alangkah malunya dikalahkan seorang lawan wanita. Hek I Sin-kai juga melihat kekalahan muridnya dan diam-diam dia terkejut. Untung dia tidak memandang rendah kepada murid Ouw Kok Sian itu. Kiranya wanita itu lihai bukan main! Akan tetapi, melihat muridnya dikalahkan sedemikian mudahnya, dia merasa penasaran juga. Dia bertepuk tangan memuji.

"Ah, hebat bukan main kemajuan yang diperoleh Ouw Kok Sian sehingga puterinya mewarisi ilmu yang dahsyat! Nah, Ji Kiat, jangan memandang ringan kepada Nona Ouw, dan engkau mintalah pelajaran tentang penggunaan senjata darinya. Akan tetapi hati-hati, siang-to (sepasang golok) dari Nona Ouw hebatnya bukan main!"

Ini adalah anjuran bagi muridnya untuk mempergunakan senjata, yaitu tongkat baja yang menjadi andalan perkumpulan mereka. Mendengar ucapan suhunya, Su Ji Kiat seperti mendapat semangat baru. Dia tadi merasa malu karena dengan tangan kosong, dia telah kalah. Kini masih ada harapan untuk menebus kekalahannya melalui tongkatnya yang menjadi andalannya. Maka diapun cepat mengambil tongkatnya yang hitam dan memberi hormat kepada Ouw Ling.

"Nona Ouw, mohon petunjukmu dalam ilmu menggunakan senjata." Dia melintangkan tongkat di depan dadanya.

Ouw Ling tersenyum. Tanpa menggunakan siang-to sekalipun ia tidak gentar menghadapi lawan bersenjata. Akan tetapi, pertama ia tidak ingin membikin malu tuan rumah, dan kedua ia pun tahu bahwa Hek I Sin-kai terkenal karena ilmu tongkatnya. Kalau ia memandang rendah menghadapi tongkat dengan tangan kosong dan kalah, tentu ia akan merasa malu sekali.

"Baik, akupun ingin melihat bagaimana hebatnya ilmu tongkat dari Hek I Kai-pang yang disohorkan orang itu."

Hampir tidak nampak tangannya bergerak, dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan sepasang tangannya telah memegang sepasang golok. Golok itu tidak terlalu besar, bentuknya melengkung indah dan gagangnya terbuat dari emas berhiaskan permata! Kedua golok itu tipis dan berkilauan saking tajamnya, demikian indahnya sehingga lebih menyerupai golok hias daripada senjata yang ampuh.

Melihat wanita itu sudah memegang sepasang goloknya. Ji Kiat yang bernafsu sekali untuk menebus kekalahannya tadi, segera berseru. "Nona Ouw, lihat serangan tongkatku!"

Dan diapun sudah nyerang dengan tongkatnya. Memang hebat sekali ilmu tongkat itu. Gerakannya cepat, kuat dan aneh. Begitu tongkat meluncur, terdengar suara bersiutan tajam dan tongkat itu berubah menjadi sinar hitam yang menyambar-nyambar.

Sinar pertama menyambar ke arah kepala Ouw Ling. Ketika wanita itu mengelak sehingga tongkat menyambar lewat atas kepalanya, tongkat itu langsung saja membalik, kini menyambar ke arah kedua kakinya. Ouw Ling meloncat dan tiba-tiba saja tongkat membalik dan ujung yang lain menusuk ke perut! Memang ilmu tongkat yang dahsyat!

"Tranggg...!" Bunga api berpijar ketika golok ditangan kiri Ouw Ling menangkis tongkat, sedangkan golok di tangan kanannya menyambar ke arah leher lawan.

Ji Kiat yang kini tidak berani memandang rendah lawannya, memutar tongkatnya dan kembali bunga api berpijar ketika golok ditangkis tongkat. Mulailah mereka saling serang dengan dahsyat. Saking cepatnya gerakan mereka, tidak nampak sepasang golok dan sebatang tongkat itu, yang nampak hanyalah gulungan sinar hitam yang berkejaran dan saling belit dengan dua gulung sinar putih.

Namun, sejak beberapa gebrakan saja. Siong Ki maklum bahwa memang murid ketua kaipang itu sama sekali bukan lawan Ouw Siocia. Wanita ini terlalu tangguh, apalagi gerakan sepasang goloknya benar-benar amat hebatnya. Kalau gadis itu menghendakinya, agaknya dalam waktu belasan jurus saja, ia akan mampu melukai dan merobohkan lawannya.

Hal ini akhirnya dapat dirasakan pula oleh Ji kiat. Akan tetapi, dia adalah seorang yang memiliki watak tinggi hati dan merasa dirinya paling hebat, maka sukarlah bagi seorang de ngan watak seperti itu untuk dapat menerima dan mengakui kekalahan. Setelah merasa bahwa dia akan kalah, timbullah kenekatannya dan diapun kini mulai menyerang secara membabi buta dan dengan serangan-serangan maut. Dia sudah lupa bahwa pertandingan itu bukan suatu perkelahian, melainkan hanya menguji kepandaian, seperti latihan belaka. Kini dia menyerang sungguh-sungguh, kalau perlu merobohkan lawan dan melukai atau membunuhnya!

Ouw Ling terkejut dan iapun menjadi marah. Kalau tidak ingat bahwa ia sebagai tamu, tentu ia sudah menggunakan tangan keji terhadap lawannya itu. Ia hanya mendengus dan gerakan sepasang goloknya berubah, cepat dan kuat sehingga ketika mendengar suara nyaring bertemunya golok dan tongkat, tongkat itu terlepas dari tangan Ji Kiat dan sebuah tendangan menyusul, amat kerasnya mengenai pinggul kiri Ji Kiat sehingga tubuh tokoh pengemis itu terlempar dan melayang ke arah meja di mana gurunya duduk!

Kalau Ouw Ling ingin mencelakainya, tentu tendangan tadi tidak mengenai pinggul, melainkan mengenai perut atau dada yang akibatnya akan parah. Akan tetapi, tendangan yang membuat lawannya terlempar jauh itu cukup menunjukkan kemarahannya.

Hek I Sin-kai bangkit dan menangkap tubuh muridnya dengan tangan kiri, mencegahnya menimpa dirinya atau terbanting keras, lalu melepaskannya ke samping di mana Ji Kiat jatuh terduduk. Wajah ketua Hek I Kaipang itu berubah kemerahan walaupun mulutnya masih tertawa.

"Ha-ha-ha, ilmu golok Ouw Siocia sungguh hebat, dan ilmu tendangannya pun mengagumkan sekali. Aku ingin untuk merasakannya pula!" katanya dan diapun menghampiri wanita itu dengan membawa tongkatnya.

Siong Ki merasa tidak enak kalau diam saja. Diapun tahu bahwa tadi Ouw Ling marah sehingga menghajar lawannya agak keras dan hal ini agaknya membuat tuan rumah merasa tidak senang. Wanita itu memang lihai dan Su Ji Kiat bukan lawannya yang seimbang, akan tetapi kalau guru Ji Kiat yang maju, tentu akan lain halnya.

Ketua yang marah itu mungkin akan dapat mengalahkan Ouw Ling, dan karena dia sedang marah, mungkin kini akan terjadi pertandingan yang sifatnya mengandung kemarahan dan menjadi perkelahian yang akan membahayakan kedua pihak. Pula, kalau hanya wanita itu saja yang selalu maju menghadapi lawan, lalu apa gunanya ia ikut datang ke tempat itu?

"Ouw-cici, mundurlah, biar aku menggantikanmu," katanya dan diapun cepat menghampiri Ouw Ling, kemudian memberi hormat kepada Hek I Sin-kai. "Pangcu, tidak adil kalau harus Ouw-cici lagi yang melayani pangcu, setelah tadi ia dengan susah payah menandingi muridmu. Juga aku ingin mengenal ilmu tongkatmu yang lihai. Marilah kita main-main sebentar, pangcu, agar Ouw-cici dapat beristirahat."

Ouw Ling tersenyum girang. Bukan karena ia merasa lega tidak harus menandingi Hek I Sin-kai yang tangguh, melainkan karena ia ingin sekali melihat sampai dimana kehebatan pemuda yang telah menarik hatinya itu. Ia mengangguk lalu kembali duduk menghadapi meja. Adapun Ji Kiat yang telah dikalahkan, kini duduk di atas lantai di sudut ruangan itu, nampak lemas dan lenyaplah sikapnya yang congkak tadi.

Mendengar ucapan Siong Ki tadi, tentu saja Hek I Sin-kai tidak dapat menolak atau membantah. Tidak mungkin dia menolak ajakan Siong Ki untuk bertanding dengan memaksakan keinginannya untuk menantang Ouw Siocia. Dengan demikian, tentu perasaan tidak senang dan penasaran di hatinya oleh kekalahan muridnya tadi akan nampak. Sebagai seorang yang lebih tua dan kedudukannya lebih tinggi, tentu saja dia tidak mungkin bersikap seperti itu.

Bahkan diam-diam dia merasa girang dengan majunya pemuda ini. Kalau dia mengalahkan Ouw Siocia, setidaknya tentu dia akan membuat hati sahabatnya, Ouw Kok Sian, menjadi tidak senang. Sebaliknya, pemuda ini hanya sahabat Ouw Siocia, maka dia merasa lebih bebas untuk berbuat apa saja terhadap pemuda ini.

"Baiklah, engkau yang menjadi sahabat baik Nona Ouw, aku percaya engkau tentu memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui siapa gurumu, dan dari aliran mana?"

Siong Ki mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa gurunya tidak suka kalau namanya disebut-sebut, apalagi urusan yang dia hadapi sekarang ini bukan urusan membela kebenaran dan keadilan, hanya sekedar perkenalan belaka. Kalau suhunya tahu bahwa namanya diobral olehnya, tentu akan marah sekali.

"Maaf, pangcu. Aku mempelajari silat ke mana-mna sehingga tidak ingat lagi berapa banyak, guru-guruku, dan aku tidak terikat oleh aliran manapun. Harap pangcu memberi petunjuk sehingga berarti pangcu juga menjadi seorang di antara para guruku." Siong Ki memang pandai membawa diri. Tentu saja ucapan itu merupakan sanjungan sehingga Hek I Sin-kai tersenyum dan merasa kepalanya agak membesar.

"Ha-ha-ha, engkau tentu akan dapat banyak mendapatkan pelajaran yang berharga, sicu. Silakan menyerang!" katanya dengan lagak yang menggurui.

"Baik, pangcu, akan tetapi aku tidak ingin menggunakan pedang. Bagaimana kalau kita berlatih dengan tangan kosong saja?"

"He-he, The-sicu. Apa salahnya menggunakan senjata? Kalau kita sudah menguasai benar, senjata sama dengan tangan kita dan tidak akan melukai lawan kalau tidak kita kehendaki. Justru engkau akan dapat mengambil keuntungan dan ajaran dari ilmu tongkatku! Cabutlah pedangmu dan jangan takut, aku tidak akan melukaimu dengan tongkat ini."

"Baiklah kalau engkau menghendaki demikian pangcu," Siong Ki lalu mencabut pedangnya, sengaja memperlihatkan sikap kaku sehingga diam-diam Ouw Siocia sendiri mengerutkan alisnya dan mulai meragukan kemampuan pemuda itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. Yang tertawa adalah Su Ji Kiat dari sudut ruangan itu. "Ha-ha-ha-ha, engkau hendak menggunakan sebatang pedang butut itu untuk melawan tongkat suhu? Ha-ha-ha, suhu, biarkan teecu (murid) melawan badut ini!" Setelah berkata demikian dia sudah meloncat ke dekat Siong Ki, tongkatnya yang tadi terlepas ketika dia bertanding melawan Ouw Ling telah dipegangnya kembali.

Hek I Sin-kai adalah seorang kangouw yang banyak pengalaman. Biarpun pemuda itu mengeluarkan sebatang pedang yang nampaknya butut dan tumpul, namun dia tidak memandang rendah. Bahkan diam-diam dia terkejut. Dia tahu bahwa semakin buruk dan nampak lemah senjata seorang ahli silat, semakin tinggi pula tingkat orang itu. Orang yang memegang senjata yang nampak bersahaja, berarti tidak lagi mengandalkan senjata itu, melainkan dirinya sendiri.

Dia belum pernah berkenalan dengan pemuda ini, tidak tahu dari aliran mana. Oleh karena itu, majunya muridnya merupakan hal yang menguntungkan baginya. Dengan membiarkan muridnya maju lebih dahulu, berarti dia mendapat kesempatan untuk mengintai tingkat lawan!

"Baiklah, engkau boleh mengujinya lebih dahulu, Ji Kiat," katanya sambil mengangguk.

Ji Kiat sudah menghadapi Siong Ki dan lagak sombongnya timbul kembali. "The-sicu, majulah dan aku yakin dalam waktu kurang dari duapuluh jurus aku akan dapat mengalahkanmu!" kata Ji Kiat yang bersikap sombong untuk menutup rasa malunya karena kekalahannya dari Ouw Ling tadi.

Siong Ki mengerutkan alisnya. Dia sudah dapat menilai sampai dimana kepandaian orang ini dan dia merasa muak melihat kesombongan orang itu maka diapun ingin memberi hajaran kepadanya, maka ia lalu berkata, "Engkau tadi sudah bertanding melawan Ouw-cici, tidak adil kalau sekarang melawanku, maka biarlah aku akan mengaku kalah kalau dalam waktu lima jurus aku belum mampu mengalahkanmu!"

Bukan saja Ji Kiat yang menjadi merah telinganya mendengar ini, akan tetapi juga Hek I Sin-kai, bahkan juga Ouw Ling. Wanita ini tentu saja kaget karena ia sendiri tidak akan mungkin mengalahkan Ji Kiat hanya dalam waktu lima jurus, apalagi sebelumnya telah memberi tahu, sehingga tentu saja Ji Kiat akan memperkuat pertahanannya agar jangan kalah dalam waktu sesingkat itu.

Tentu saja Ji Kiat menjadi marah bukan main. Dia tadi telah dikalahkan Ouw Ling yang berarti dia telah terseret turun dari kedudukannya yang dia banggakan sebagai murid utama Hek I Sin-kai, dan kini, ada pemuda tak terkenal yang berani mengatakan akan mengaku kalah kalau tidak dapat mengalahkannya dalam waktu lima jurus! Gurunya sendiripun tidak akan mungkin dapat mengalahkannya dalam waktu lima jurus.

"Bagus, engkau sendiri yang mengeluarkan ucapan itu, The-sicu. Nah, aku sudah siap, mulailah engkau menyerangku!" kata Ji Kiat. Diapun cukup cerdik untuk mengambil keuntungan dari tantangan lawan. Dia hanya tinggal menjaga diri agar jangan sampai kalah dalam waktu lima jurus dan itu berarti dia akan menang! Jelas, sekarang akan tertebus kekalahannya yang tadi!

Siong Ki tersenyum, maklum apa yang berada dalam pikiran lawan. "Baik, kau bersiaplah. Nah, lihat seranganku. Jurus pertama!" Tiba-tiba pedang tumpul di tangannya bergerak dan lenyaplah pedang itu, yang nampak hanya sinar hijau menyambar dahsyat ke arah kepala Ji Kiat, disusul dorongan tangan kirinya ke arah dada. Inilan juru Dewa Mempersembahkan Mustika, sebuah jurus yang sekaligus atau beruntun cepat sekali telah melakukan dua serangan, yaitu sambaran pedang dari kiri ke kanan disusul dorongan tangan kiri dengan jari terbuka ke arah dada lawan.

Ji Kiat yang sudah siap siaga, cepat memutar tongkatnya melindungi tubuhnya.

"Trakkk!" Tongkat bertemu pedang tumpul dan melekat!

Tentu saja karena tongkatnya tertahan, Ji Kiat tidak dapat melindungi dadanya yang disambar tangan kiri Siong Ki. Cepat dia miringkan tubuhnya, nanun terdengar suara "brett" dan ujung bajunya robek dan hancur. Wajahnya menjadi pucat. Kalau tangan itu tadi meremas perut atau dadanya, bukan ujung baju, tentu bukan kain itu yang robek hancur! Dia meloncat ke belakang dan siap menghadapi serangan selanjutnya. Bagaimanapun juga, dalam jurus pertama itu, dia belum jatuh, berarti belum kalah!

Siong Ki tersenyum. Orang ini memang tak tahu diri, pikirnya. Sebetulnya, jurus pertama itu saja sudah cukup membuktikan bahwa Ji Kiat kalah, akan tetapi agaknya orang itu tidak mau mengakui kekalahannya.

"Awas serangan jurus ke dua!" bentak Siong Ki dan diapun meloncat maju dan kini pedang butut dan tumpul di tangannya digerakkannya cepat membentuk lingkaran-lingkaran yang aneh dan cepat, hanya nampak gulungan-gulungan sinar hijau saja yang seolah ada beberapa ekor burung hijau beterbangan mengelilingi tubuh Ji kiat. Orang inipun cepat memutar tongkatnya melindungi diri, namun tetap saja gerakannya kalah cepat.

"Pratt!" dan nampaklah potongan rambut berhamburan. Sebagian rambut Ji Kiat disambar sinar pedang dan berhamburan. Kembali Ji Kiat melompat ke belakang dan memasang kuda-kuda. Dia tidak memperdulikan rambutnya yang bodol, dan dia memandang dengan mata mendelik karena merasa penasaran dan marah.

Melihat lawan masih belum mau mengaku kalah, Siong Ki menerjang lagi sambil berseru, "Jurus ke tiga!"

Kini Ji Kiat menangkis datangnya pedang yang membacok kepalanya itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Trangg...!!" Keras sekali kedua senjata itu saling bertemu di udara dan akibatnya, ujung tongkat di tangan Ji Kiat itu putus terpotong!

"Hemn, aku masih belum roboh!" kata Ji Kit dengan nekat walaupun tongkatnya yang amat diandalkannya itu telah patah ujungnya.

"Baik, jagalah jurus ke empat!" Kini pedang itu bergerak lagi, berkelebatan menyambar-nyambar dan Ji Kiat menggunakan tongkatnya yang buntung untuk melindungi dirinya.

"Trakk!" Kembali tongkat bertemu pedang dan sekali ini Ji Kiat tidak mampu menarik lepas tongkatnya dari pedang. Tongkatnya melekat dan biarpun dia sudah mengerahkan tenaga untuk melepaskan tongkatnya, sia-sia saja dan pada saat itu, tangan kiri Siong Ki meluncur ke arah pergelangan tangannya yang memegang tongkat.

"Tukk!" Lengan kanan Ji Kiat menjadi lumpuh dan terpaksa dia melepaskan tongkatnya yang tidak dapat dipertahankannya kembali. Kini tongkat telah terampas lawan! Akan tetapi dia belum roboh, dan hanya tinggal satu jurus lagi. Biarpun dari jurus pertama sampai jurus ke empat dia telah dirugikan, akan tetapi kalau sejurus lagi lewat dan dia belum roboh, berarti lawannya akan dianggap kalah!

"The-sicu, aku belum roboh, berarti belum kalah!" katanya dan dia memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk rendah, siap melewatkan sejurus lagi dengan seluruh kekuatannya!

Sementara itu, Hek I Sin-kai memandang dengan mata terbelalak, bahkan Ouw Ling sendiri menjadi bengong. Ia dapat menduga bahwa Siong Ki seorang yang lihai, akan tetapi tidak disangkanya sehebat itu! Tentu saja wanita itu menjadi semakin kagum dan tertarik. Sedangkan Hek I Sin-kai agak pucat wajahnya. Tahulah kakek ini bahwa dia sendiripun bukan tandingan pemuda yang amat hebat itu! Ingin dia meneriaki muridnya agar menyerah, akan tetapi karena Ji Kiat sudah terlanjur bersikap tidak mau kalah, diapun hanya memandang penuh perhatian dan ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda lihai itu terhadap muridnya.

Siong Ki tersenyum dan menyarungkan Seng-kong-kiam di sarung pedangnya, lalu berkata, "Engkau ingin dirobohkan dalam jurus ke lima? Baiklah kalau begitu, nah! robohlah kau!" Siong Ki menerjang dengan tangan kosong dan disambut oleh Ji Kiat dengan kedua tangannya. Dia berpikir bahwa kalau kedua tangannya menangkis, maka jurus itu akan lewat dan dia tidak akan roboh.

"Plak, dess!!" Kedua pasang tangan bertemu dengan kuatnya dan tubuh Ji Kiat terdorong ke belakang, akan tetapi sapuan kaki Siong Ki membuat dia terpelanting dan tanpa dapat dicegah lagi Ji Kiat roboh terbanting. Dia terkejut dan juga heran. Mau tidak mau dia harus mengakui keunggulan pemuda itu yang ternyata lebih lihai dibandingkan Ouw Siocia!

Ji Kiat bangkit duduk dan meringis karena punggungnya terasa nyeri ketika dia terbanting tadi. Dia bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Siong Ki sambil berkata, "The sicu, aku mengaku kalah. Engkau memang lihai sekali dan maafkan kata-kataku tadi."

Terdengar tepuk tangan dan Hek I Sin-kai yang bertepuk tangan memuji. "Hebat, engkau hebat sekali, orang muda!" katanya.

Ouw Ling yang merasa bangga melihat kelihaian sahabat barunya itu lalu berkata kepada Hek I Sin-kai, "Paman, sekarang tiba giliranmu untuk memberi petunjuk pada The-siauwte!"

"Aih, melihat betapa dengan mudahnya The-sicu mengalahkan Ji Kiat, cukuplah. Aku sudah terlalu tua untuk dapat menandinginya. Hanya sayang aku belum dapat mengenal dari aliran mana ilmu silatmu, sicu. Aku harus memberi selamat kepadamu untuk membuktikan kekagumanku kepadamu. Nah, terimalah secawan arak sebagai ucapan selamat dan kekagumanku, The-sicu!"

Ketua Hek I Kai-pang itu memegang sebuah cawan kosong dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya menuangkan arak dari guci arak sampai penuh. Kemudian dengan kedua tangan dia memegang secawan arak itu, diam-diam mengerahkan sin-kangnya dan ketika dia menyerahkan secawan arak itu kepada Siong Ki, arak di guci itu bergolak seperti mendidih! Inilah pameran kekuatan sin-kang yang hebat sehingga mengagumkan Ouw Ling.

Namun, Siong Ki menghadapi ketua itu dengan senyum, lalu dia mengulurkan kedua tangan untuk menerima secawan arak itu. "Terima kasih, engkau baik sekali, pangcu," katanya dan dengan kedua tangan, dia memegang cawan arak itu. Arak yang tadinya mendidih itu tiba-tiba berhenti bergolak dan ketika pemuda itu menuangkannya ke mulut sambil berdongak, arak itu tidak menetes turun dari cawan yang dia balikkan! Arak itu seolah-olah telah membeku dan tidak tumpah keluar! Inipun merupakan demonstrasi kekuatan sin-kang yang tidak kalah hebatnya, membuat Ouw Ling bertepuk tangan.

"Aih-aihhh... kalian berdua ini seperti kanak-kanak yang bermain sulap saja, suka main-main seperti itu!" katanya.

Siong Ki tersenyum, menurunkan cawan itu lalu mengangkat cawan sambil mengajak tuan rumah dan wanita itu minum arak masing-masing. "Mari kita minum untuk persahabatan kita!" kata Siong Ki.

Hek I Sin-kai menyambut dengan gembira, demikian pula Ouw Ling dan mereka bertiga minum arak lalu mereka dipersilakan duduk kembali. Hek I Sin-kai memberi isyarat kepada Ji Kiat untuk meninggalkan ruangan itu dan mereka bertiga duduk bercakap-cakap dengan gembira.

"Sungguh menggembirakan sekali hari ini aku dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian dua orang muda yang hebat. Nah, sekarang kalau boleh aku mengetahui, apakah kepentingan ji-wi (kalian berdua) datang ke Lok-yang? Apakah barangkali kami dapat membantu kalian?"

"Kami tidak mempunyai keperluan khusus, paman," kata Ouw Ling sambil mengerling kepada Siong Ki. "Kami hanya berpesiar saja, sambil melihat-lihat barangkali ada pekerjaan yang cocok bagi kami."

Siong Ki teringat akan tugas yang diberikan gurunya kepadanya. Ini kesempatan yang amat baik, pikirnya. Sebagai ketua kai-pang yang memiliki banyak anggota, juga tentu mempunyai hubungan yang amat luas, mungkin saja Hek I Sin-kai dapat membantunya memberi keterangan tentang penculik puteri gurunya!

"Barangkali pangcu dapat membantuku dengan memberi keterangan tentang seorang yang sedang kucari."

"Siapakah orang yang sedang kaucari itu The-sicu?" tanya Hek I Sin-kai sedangkan Ouw Ling juga memandang penuh perhatian. Ia sendiri belum pernah mendengar tentang itu karena memang ia baru saja berkenalan dengan Siong Ki dan belum mendengar banyak tentang riwayat dan keadaan pemuda yang dikaguminya itu.

Siong Ki sudah mendengar tentang Kwa Bi Lan dari gurunya, tentang riwayat wanita itu mengapa menculik puteri gurunya. Diapun sengaja tidak langsung menanyakan tentang wanita itu, melainkan mendiang suaminya yang lebih terkenal di dunia kangouw.

"Aku mencari orang yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) bernama Liu Bhok Ki."

Bukan hanya Hek I Sin kai yang terkejut, juga Ouw Ling tercengang karena nama besar Si Rajawali sakti pernah menggemparkan dunia kangouw. "Aih, dia? Akan tetapi dia telah tidak ada lagi, sicu! Dia telah mati belasan tahun yang lalu!"

Tentu saja Siong Ki sudah tahu akan hal ini. "Kalau begitu, aku mencari keluarganya. Apakah dia tidak mempunyai keluarga? Isteri atau anak?"

"Kami tidak mendengar bahwa dia mempunyai anak, hanya mendengar bahwa dia di hari tuanya mempunyai seorang isteri. Akan tetapi, kami tidak tahu siapa isterinya itu dan di mana ia sekarang berada."

"Aku tahu!" tiba-tiba Ouw Ling berkata. "Isterinya seorang wanita muda murid Siauw-lim-pai, namanya... namanya Kwa... Bi Lan. Ya, aku pernah mendengar ayah bercerita tentang mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki itu."

Tentu saja diam-diam Siong ki merasa girang. Tak disangkanya bahwa yang mengenal wanita itu bahkan sahabat barunya ini! "Aih, Ouw-cici, engkau malah mengenalnya? Di mana sekarang Kwa Bi Lan itu."

Akan tetapi Siong Ki menjadi kecewa melihat wanita cantik itu menggeleng kepalanya. "Sin-tiauw Liu Bhok Ki telah meninggal dunia belasan tahun yang lalu dan sejak itu, tidak ada yang tahu ke mana perginya isterinya itu. Ia ketika itu masih muda, dan ia hanya diketahui sebagai murid Siauw-lim-pai, namanya tidak begitu dikenal. Yang terkenal adalah suaminya, maka setelah suaminya meninggal dunia, Kwa Bi Lan juga tidak diperhatikan orang lagi. Aku tidak tahu di mana ia berada." Melihat wajah sahabat barunya kelihatan kecewa, ia cepat menyambung. "Jangan khawatir, siauw-te, aku akan membantumu mencarikan sampai dapat. Aku mempunyai banyak hubungan, tentu akan dapat mencari keterangan tentang Kwa Bi Lan."

Wajah Siong Ki menjadi cerah kembali mendengar kesanggupan wanita cantik itu. "Terima kasih, enci Ouw, engkau baik sekali."

"Ji-wi mencari pekerjaan? Sungguh kebetulan sekali! Saat ini tenaga dua orang seperti ji-wi amat dibutuhkan. Dan bukan saja ji-wi akan menerima balas jasa yang cukup besar, bahkan membuka kesempatan bagi ji-wi untuk mendapatkan pekerjaan dan kedudukan di kota raja Tiang-an."

Dua orang muda itu tertarik sekali. Mereka memandang tuan rumah dengan sinar mata penuh selidik. Bagaimanapun juga, Siong Ki tidak akan sudi menerima kalau ditugaskan melakukan suatu kejahatan. Dia bukan penjahat! Dia seorang pendekar! Juga Bi-tok Siocia Ouw Ling adalah puteri seorang datuk, tentu saja merasa rendah kalau harus melakukan kejahatan remeh yang hanya akan menjatuhkan nama besarnya dan nama besar ayahnya.

"Pekerjaan apakah yang kau maksudkan itu, paman?" tanya Ouw Ling.

"Begini, Ouw Siocia. Kalian tahu bahwa aku mempunyai hubungan dekat sekali dengan para pejabat di Lok-yang. Kebetulan sekali seorang pangeran yang kini menjabat kedudukan hakim di Lok-yang, kemarin minta kepadaku untuk menyediakan beberapa orang yang berkepandaian tinggi untuk mengawal isteri pangeran dan tiga orang puteranya yang hendak melakukan perjalanan ke Tiang-an. Mereka memang berasal dari kota raja. Perjalanan sekarang tidak dapat dikata aman, maka aku sedang bingung mencari siapa gerangan yang dapat dipercaya untuk memikul tugas itu. Dan melihat kalian berdua, aku yakin tidak ada orang lain yang tepat dan dapat diandalkan untuk mengawal keluarga pangeran itu dari sini ke kota raja."

"Pangcu, bagi seorang pembesar, apalagi kalau dia pangeran, apa susahnya mencari pengawal. Akan tersedia pasukan besar untuk menjaga keselamatan keluarganya! Kenapa harus mencari orang lain?" tanya Siong Ki.

"Benar pertanyaan The-siauwte itu, paman. Mengherankan sekali memang." kata Ouw Ling.

Ketua pengemis itu mengangguk-angguk. "Memang tadinya akupun membantahnya demikian, akan tetapi setelah dia menjelaskan, baru aku mengerti. Pangeran itu seorang hakim, kalau isterinya ke kota raja, pasti dia akan menitipkan beberapa laporan penting. Dia tidak ingin mengerahkan pasukan agar tidak menyolok dan menarik perhatian, juga keluarganya tidak suka kalau bepergian diiringkan pasukan yang membuat suasana menjadi kaku, akan tetapi diapun ingin keselamatan keluarganya terjamin. Oleh karena itu, dia minta aku mencarikan dua tiga orang pengawal yang dapat diandalkan, dan melihat kalian berdua, aku yakin kalian akan mampu mengawal keluarga itu sampai selamat tiba di kota raja. Dan kalau kalian menghendaki pekerjaan atau kedudukan di kota raja, kiranya aku dapat menyampaikan kepada pangeran itu. Dia pasti akan dapat memberi kalian surat perkenalan dan kepercayaan untuk pembesar di kotaraja."

Dua orang itu saling pandang, kemudian Ouw Ling bertanya, "Apakah sudah ditentukan kapan keluarga itu berangkat?"

"Tiga hari lagi."

"Kalau begitu, biar penawaran ini kami pertimbangkan dulu sampai besok. Besok kami memberi keputusan kepadamu, paman. Bukankah begitu, siauwte?"

Siong Ki mengangguk. Sebetulnya, dia senang mendengar penawaran itu. Pekerjaan yang tidak berat, dan selain imbalannya tentu besar, juga kemungkinan dia memperoleh kedudukan di kota raja. Pekerjaan apa yang lebih baik daripada menjadi seorang seorang pejabat di kota raja? Akan tetapi karena dia membutuhkan bantuan Ouw Ling untuk dapat menemukan Kwa Bi Lan, maka ketika wanita itu mengajukan pendapatnya, diapun hanya mengangguk setuju. Ouw Ling dan Siong Ki lalu berpamit dan oleh ketua Hek I Kaipang, mereka kembali diantar dengan kereta memasuki Lok-yang dan sampai ke depan rumah penginapan mereka.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Siong Ki sedang duduk termenung di dalam kamarnya di rumah penginapan itu. Dia merenungkan pengalamannya sehari itu, pengalaman yang dianggapnya aneh sekali. Dalam waktu sehari, dia bertemu dengan Bi Tok Siocia Ouw Ling yang ternyata kemudian dia ketahui sebagai puteri datuk sesat Ouw Kok Sian, majikan Bukit Naga. Akan tetapi wanita itu amat baik kepadanya, ramah dan manis sehingga dia harus mengakui bahwa hatinya terpikat.

Seorang wanita yang sudah matang, berpengalaman, cerdik, memiliki ilmu silat tinggi, dan lebih dari pada itu semua, cantik wajahnya dan menggairahkan tubuhnya. Belum pernah dia bertemu dengan seorang wanita seperti itu! Dan wanita itu demikian ramah kepadanya, bahkan kini hendak membantunya menemukan Kwa Bi Lan. Setelah pengalamannya bertemu dengan wanita itu, dilanjutkan dengan pertemuannya dengan ketua Hek I Kai-pang yang menawarkan pekerjaan yang amat baik dan membuka kesempatan untuk memperoleh kemajuan di kota raja.

Tadi, ketika mereka kembali ke rumah penginapan, sampai mereka mandi lalu makan malam, Ouw Ling belum mengambil keputusan mengenai penawaran itu dan ketika dia bertanya, wanita itu menjawab bahwa ia akan memikirkannya dulu baik-baik sebelum mengambil keputusan. Kini, wanita itu memasuki kamarnya sendiri dan dia berada di kamarnya, mereka berdua belum mengambil ke putusan.

"Tok tok-tok!" Daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar.

"Siapa?" tanya Siong Ki sambil menghampiri daun pintu akan tetapi belum membukanya. Pengalamannya hari tadi membuat dia waspada dan curiga.

"Aku, siauw-te. Bukalah!"

Siong Ki bernapas lega. Ouw Ling yang datang. Tentu akan membicarakan tentang penawaran tadi dan sekarang agaknya wanita itu akan mengambil keputusan. Dia membuka daun pintu dan memandang kagum. Ouw Ling nampak segar, dengan pakaian baru, dengan rambut yang disisir rapi dan digelung tinggi, wajahnya nampak kemerahan dan penuh senyum menggairahkan, pandang matanya bersinar-sinar, dan tangannya memegang dua buah cawan dan sebuah guci anggur.

"Aih, enci, engkau membawa minuman?" tanya Siong Ki heran.

"Tutuplah daun pintunya siauwte. Kita bicarakan urusan siang tadi dan sambil minum anggur. Aku membeli anggur yang enak sekali dan hawa malam ini amat dingin." Melihat keraguan Siong Ki yang agaknya merasa sungkan untuk menutupkan daun pintu selagi ada seorang wanita di kamarnya, Ouw Ling tertawa. "Hi-hik, mengapa engkau ragu? Kita sudah menjadi sahabat baik, seperti saudara sendiri, mengapa masih banyak sungkan, siauwte?"

"Aku... aku... hanya menjaga nama baikmu, enci..." kata Siong Ki ragu, akan tetapi dia menutupkan juga daun pintu kamarnya setelah melihat bahwa di luar sunyi, tidak nampak seorangpun tamu yang semua agaknya sudah masuk kamar.

Ouw Ling memandang kepada pemuda yang kini duduk di depannya terhalang meja kecil itu dengan alis terangkat, dan pandang matanya seperti orang yang tidak percaya. "Siauwte, berapa sih usiamu tahun ini?" tanyanya tiba-tiba.

Walau pun Siong Ki merasa aneh dengan pertanyaan itu, dia menjawab juga. "Usiaku duapuluh dua tahun, enci."

"Sudah duapuluh dua tahun dan engkau takut duduk berdua dengan seorang wanita dalam kamarmu?" kembali pandang matanya tidak percaya. Siong Ki merasa betapa mukanya terasa panas dan diapun tersipu.

"Aih, sejak kecil aku berada di bawah bimbingan guru-guruku, dan baru sekarang aku hidup sendiri. Mengapa dan untuk apa aku harus duduk berdua dengan seorang wanita dalam kamar?"

"Bukan main!" Kini pandang mata itu mengandung keheranan, juga kekaguman dan kegembiraan. "Jadi selama ini engkau belum pernah bergaul akrab dengan seorang wanita?"

Siong Ki menggeleng kepala dan mukanya berubah kemerahan. "Jangankan akrab, bergaulpun belum sempat dan baru sekarang ini aku bersahabat dengan seorang wanita, enci."

"Ihh! Dan engkau senang bersahabat denganku, siauwte?" Pandang mata itu penuh selidik.

Siong Ki mengangguk. "Senang sekali, engkau seorang yang baik, enci."

Kini Ouw Ling nampak gembira bukan main. "Sudahlah, jangan terlalu memuji karena sesungguhnya engkaulah yang baik sekali, siauwte. Nah sekarang kita bicara tentang penawaran Hek I Sin-kai tadi. Bagaimana menurut pendapatmu?"

Siong Ki menarik napas panjang. "Aku hanya menyerahkan keputusannya kepadamu saja, enci. Engkau tahu bahwa aku menerima tugas dari guruku untuk mencari seorang yang bernama Kwa Bi Lan. Tugas itu yang harus kupentingkan dulu. Setelah itu, baru aku akan memikirkan tentang pekerjaan apa yang dapat kupegang. Karena aku mengharapkan bantuanmu untuk dapat menemukan Kwa Bi Lan, maka aku menurut saja bagaimana keputusanmu."

Ouw Ling menuangkan anggur merah itu ke dalam dua buah cawan dan mengajak Siong Ki minum, "Mari kita mlnun, coba rasakan bagaimana enaknya anggur yang kubeli ini."

Siong Ki menurut dan memang anggur itu enak. Anggur yang sudah tersimpan lama, manis dan halus walaupun amat kuat. "Sekarang katakan, siauwte, karena aku ingin sekali mengetahui dan kiranya sudah sepatutnya kalau aku mengetahui keadaan dirimu, siapakah sebenarnya gurumu dan mengapa pula dia mengutusmu mencari Kwa Bi Lan atau... kalau engkau tidak percaya kepadaku, sudah, jangan kau ceritakan kepadaku." Ouw Ling mengambil sikap demikian muram dan berduka penuh kekecewaan, sehingga Siong Ki yang masih hijau itu tentu saja merasa tidak enak sekali.

"Ah, enci Ouw, tentu saja aku percaya padamu. Engkau begini baik, bahkan engkau akan membantuku menemukan Kwa Bi Lan. Baik, tadi di depan Hek I Sin-kai aku memang tidak mau berterus terang, akan tetapi kita sudah bersahabat baik, sesungguhnya, guruku bernama Si Han Beng..."

"Aih, sudah kuduga! Ketika melihat pedangmu yang buruk itu, aku segera mengenal Seng-kong-kiam! Bukankah pedang itu milik subomu? Gurumu adalah Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) dan isterinya bernama Bu Giok Cu, bukan?"

Siong Ki tercengang, kagum akan pengetahuan Ouw Ling yang luas. "Ah, kiranya engkau sudah mengenal suhu dan subo?"

"Mengenal sih tidak. Orang seperti aku ini bagaimana ada harganya mengenal suami isteri yang hebat itu? Akan tetapi aku sudah mendengar nama besar mereka. Dan sekarang aku bertemu dengan murid mereka! Wah, siauwte, maafkan kalau aku bersikap kurang hormat kepada murid seorang pendekar sakti!" Ouw Ling dengan gaya yang manis lalu bangkit dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

Siong Ki cepat bangkit dan membalas penghormatan itu. "Wah, enci, harap jangan bersikap seperti itu. Engkau membikin aku menjadi malu saja."

"Engkau gagah perkasa, murid pendekar sakti, dan engkau tetap rendah hati, siauwte. Betapa mengagumkan. Selama hidupku, belum pernah aku bertemu dengan seorang laki-laki sejati sepertimu. Nah, coba ceritakan, apa sebabnya gurumu menyuruh engkau mencari Kwa Bi Lan?"

"Karena Kwa Bi Lan telah menculik puteri suhu enambelas tahun yang lalu ketika anak itu berusia dua tahun."

Ouw Ling mengangguk-angguk. Bagi seorang kangouw sepertinya yang sudah biasa mendengar tentang hal-hal seperti itu, ia tidak merasa heran. Hanya ingin tahu permusuhan apa yang terdapat antara Kwa Bi Lan dan keluarga Naga Sakti Sungai Kuning itu.

"Kenapa gurumu yang sakti itu membiarkan saja sampai sekarang, tidak mencari dan merampas kembali puterinya? Kurasa Kwa Bi Lan tidak akan mampu menandingi kelihaian Naga Sakti Sungai Kuning dan isterinya."

Siong Ki menggeleng kepalanya, tidak ingin menceritakan terlalu banyak tentang gurunya, tentang dendam yang terkandung di hati Kwa Bi Lan terhadap gurunya, karena hal itu merupakan rahasia pribadi gurunya. "Aku tidak tahu, enci, aku hanya ingin melaksanakan perintah suhu."

Ouw Ling tersenyum dan mengangkat cawan anggurnya. "Jangan khawatir, aku akan membantu dan kita pasti akan dapat menemukan penculik puteri gurumu itu. Sekarang, mari kita minum sampai puas. Aku gembira sekali dapat bersahabat denganmu dan ingin merayakan kegembiraan ini berdua denganmu. Nah, minumlah, siauwte."

Siong Ki tentu saja tidak dapat menolak keramahan wanita itu dan diapun menemani Ouw Ling minum anggur sampai akhirnya guci anggur itu habis dan mereka berdua merasa ringan di hati dan kepala. Pengaruh anggur mulai bekerja dan Siong Ki yang ketika berada di rumah suhunya, jarang sekali minum anggur sampai sedemikian banyaknya, mulai merasa aneh. Dia mulai terpengaruh alkohol dan hampir mabok.

Sebetulnya Ouw Ling adalah seorang wanita yang sudah kebal terhadap minuman keras. Jangankan seguci anggur tadi dibagi dua dengan Siong Ki, andaikata ia habiskan sendiripun, ia tidak akan mabok. Akan tetapi, ia berlagak mabok, tertawa-tawa dan setelah anggur habis, ia bangkit berdiri.

"Aku... aku ingin tidur... kembali ke kamarku..." Akan tetapi ia terhuyung dan biarpun Siong Ki juga merasa agak pening, dia khawatir wanita itu mabok dan terjatuh, maka cepat dia memegang pundak Ouw Ling agar wanita itu tidak terguling jatuh.

"Hi-hik, kau... kau baik sekali, siauw-te... kau tampan sekali..." Ouw Ling merangkul dan menyandarkan kepalanya di dada yang bidang itu.

Tentu saja Siong Ki merasa canggung dan salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa. "Enci, engkau mabok, mari kuantar kembali ke kamarmu. Engkau harus beristirahat dan tidur... katanya, mencoba untuk mendorong wanita itu ke pintu. Akan tetapi karena dia sendiri juga merasa seolah lantai bergoyang, mereka berdua jatuh terduduk di atas pembaringan. Ouw Ling lalu merebahkan diri.

"Ouw-cici, pembaringanmu di sana, di kamarmu. Mari kuantar engkau pindah ke kamarmu sendiri..." kata Siong Ki.

Ouw Ling menggeliat seperti seekor kucing. "Aihh, aku lelah, aku mengantuk... apa sih salahnya aku tidur di sini? Di sana tidak ada teman, dingin dan kita-kita sudah menjadi sahabat baik, bukan...?"

Tangannya menangkap lengan Siong Ki dan dengan lembut dia menarik pemuda itu yang terpaksa duduk kembali ke tepi pembaringan karena memang dia agak pening. Rasa aneh menguasainya, kepalanya terasa berat di luar dan ringan di dalam, melayang-layang dan lenyaplah semua ajaran gurunya tentang tata-susila. Diapun seperti hanyut dan tidak berdaya, terseret oleh gelora nafsu berahi yang dikobarkan oleh Ouw Ling yang berpengalaman dan cerdik.

Dalam keadaan setengah sadar, Siong Ki yang masih hijau dalam pergaulan dengan wanita itu, seolah menjadi lilin lunak yang menyerah saja dibentuk dan dipermainkan oleh Ouw Ling. Wanita itu memang berpengalaman dan ahli dalam menjatuhkan hati pria. Usianya sudah empatpuluh tahun, akan tetapi ia nampak tidak lebih dari duapuluh lima tahun. Siong Ki, biarpun amat lihai ilmu silatnya, kini menjadi korban dan mangsa yang lunak bagi Ouw Ling.

Pada keesokan harinya, ketika terbangun dari tidur dan mendapatkan dirinya berada dalam dekapan Ouw Ling, Siong Ki tersadar dan terkejut, bahkan timbul penyesalan besar dalam hatinya. Namun, Ouw Ling segera dapat menghibur dan merayunya. Sebentar saja buyarlah kesadarannya, kalah semua pertimbangan akal sehat oleh nafsu yang telah menguasai dirinya dan Siong Ki menyerah.

Sejak malam hari itu, dia telah dicengkeram oleh Ouw Ling, telah menjadi hamba dari nafsunya sendiri. Lenyaplah semua kesadaran, bahkan dia tidak merasa bersalah, mengejar kesenangan dan pemuasan nafsu. Dituntun oleh Ouw Ling yang berpengalaman.

Seseorang boleh saja memiliki kepandaian tinggi, dan dapat menandingi dan mengalahkan musuh yang bagaimana kuatpun. Akan tetapi, musuh yang paling berbahaya bukan lain adalah dirinya sendiri, nafsu yang berada di dalam dirinya sendiri. Betapapun kuatnya seseorang, belum tentu dia akan mampu menandingi nafsunya sendiri.

Betapa banyaknya sudah contoh yang terjadi di dalam sejarah, betapa orang-orang yang kuat dan terkenal bijaksana, akhirnya jatuh oleh nafsunya sendiri. Kalau nafsu sudah memperbudak manusia, maka manusia itu akan menjadi permainan nafsu, akan melakukan apa saja demi pemuasan nafsu sehingga segala pertimbangan akal sehat tidak akan mampu menghalanginya.

Kita tidak mungkin mematikan nafsu. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia, bahkan tidak mungkin dapat hidup. Nafsu sudah diikutsertakan kita ketika kita lahir, dan nafsu merupakan peserta yang teramat penting bagi kehidupan manusia. Nafsu yang membuat kita mengenal enak dan tidak enak, senang dan susah, baik dan buruk, dan selanjutnya.

Nafsu yang membuat mata kita mengenal keindahan, telinga kita mengenal kemerduan, hidung kita mengenal keharuman, mulut mengenal kelezatan dan sebagainya. Nafsu yang merupakan pendorong sehingga hati akal pikiran kita dapat membuat segala macam kemajuan demi kenyamanan hidup. Tanpa adanya nafsu, kita tidak dapat menikmati makanan dan mungkin kita tidak mau makan sehingga kelaparan.

Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan melakukan perbaikan-perbaikan dan mungkin kita masih akan tinggal di goa-goa dan jaman kita masih tetap jaman batu. Bahkan tanpa abanya nafsu berahi, pria dan wanita tidak akan saling tertarik, tidak akan saling berhubungan, sehingga mahluk manusia tidak akan berkembang biak lagi! Jelas, nafsu mutlak perlu bagi kehidupan kita!

Akan tetapi, nafsu pula yang menyeret kita ke lembah kesengsaraan, nafsu pula yang mendorong kita melakukan kejahatan, yaitu kalau nafsu yang tadinya diciptakan dan diikutsertakan kita untuk menjadi peserta dan menjadi pelayan, berbalik menjadi majikan yang memperhamba kita! Kalau nafsu sudah mencengkeram kita, memperbudak kita maka keadaan menjadi berbalik sama sekali. Nafsu mendorong kita menjadi budak yang selalu haus akan kesenangan, dan demi mengejar kesenangan itu kita menghalalkan segala cara.

Nafsu mengejar kesenangan melalui uang menghalalkan segala cara pencarian uang melalui korupsi, penipuan, pencurian, perampokan dan sebagainya. Nafsu mengejar kesenangan melalui kedudukan menghalalkan segala cara pengejaran kedudukan melalui perbuatan kekerasaan, pengkhianatan, permusuhan, pembunuhan, perang dan sebagainya. Nafsu mengejar kesenangan melalui berahi menghalalkan segala cara pengejarannya melalui perjinahan, pelacuran, perkosaan dan sebagainya.

Sejak dahulu kala, manusia berusaha untuk menanggulangi perbudakan oleh nafsu ini melalui pelajaran, pendidikan budi pekerti, agama, ilmu pengetahuan. Manusia berusaha untuk menyadarkan diri betapa buruknya keadaan kita kalau diperbudak oleh nafsu. Namun, melihat kenyataan yang ada, daya upaya manusia itu tidak banyak hasilnya. Manusia tetap menjadi budak nafsu, sampai sekarang.

Bahkan setelah manusia memperoleh kemajuan pesat sekali dalam ilmu pengetahuan, tetap saja manusia tidak berdaya mengatasi nafsunya sendiri. Ilmu pengetahuan sama sekali tidak berdaya mengendalikan nafsu. Hal ini memang tidak aneh. Ilmu pengetahuan dapat maju karena adanya nafsu dalam hati akal pikiran.

Mengharapkan pengertian dan pengetahuan untuk menalukkan nafsu, merupakan harapan hampa. Pengetahuan tidak mungkin dapat menundukkan nafsu. Hal ini banyak buktinya kalau kita membuka mata dengan waspada, melihat kenyataan dalam kehidupan ini, dalam diri sendiri maupun kehidupan manusia di sekeliling kita. Baru cengkeraman nafsu yang amat kecil saja, misalnya merokok, sudah sedemikian kuatnya sehingga tidak dapat ditaklukkan oleh pengetahuan.

Semua perokok tahu dan mengerti bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan dan sebagainya, namun mereka tetap tidak berdaya, tidak mampu menghentikan kebiasaan merokok! Bahkan hati akal pikiran yang sudah dicengkeram nafsu muncul sebagai pembela untuk membenarkan kebiasaan merokok itu dengan bisikan-bisikan bahwa merokok itu baik. agar nampak jantan, untuk menenangkan pikiran, untuk mencari ilham, untuk pergaulan dan segala macam pembelaan lagi.

Coba kita bertanya kepada semua pencuri di dunia ini. Adakah seorang pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu jahat? Semua pencuri tahu dan mengerti! Akan tetapi, mereka tetap saja mencuri! Karena pengetahuan itu tidak dapat menundukkan nafsu yang mendorongnya untuk mencuri demi memperoleh kesenangan melalui uang! Demikian pula para koruptor. Adakah seorangpun di antara para koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu tidak baik? Semua koruptor tahu dan mengerti!

Akan tetapi tetap saja mereka melanjutkan perbuatan korupsi itu. Dan hati akal pikiran, gudang pengetahuan dan pengertian itu, yang sudah dikuasai nafsu, bahkan menjadi pokrol, membela perbuatan korupsi itu sendiri dengan bisikan bahwa mereka melakukan korupsi untuk menghidupi anak bini, bahwa semua orang juga melakukannya, bahwa atasannya berkorupsi lebih banyak lagi dan sebagainya! Dalam setiap perbuatan yang sebetulnya dimengerti bahwa itu tidak baik, selalu saja pikiran muncul sebagai pembelanya, untuk membenarkan perbuatan jahat itu, atau setidaknya, mengurangi keburukannya!

Sekarang kita dihadapkan kepada keadaan yang amat sulit. Nafsu mutlak perlu bagi kehidupan kita. Kita mutlak membutuhkan nafsu untuk kelangsungan hidup di dunia ini. Akan tetapi nafsu pula yang menyeret kita ke dalam lembah kejahatan, menyeret kita untuk melakukan penyelewengan! Lalu apa yang dapat kita lakukan? Hati akal pikiran kita tidak berdaya, karena semua pengetahuan tidak dapat menundukkan nafsu yang merajalela Apa yang dapat kita lakukan agar nafsu kembali kepada tugas dan kedudukannya semula, yaitu menjadi peserta dan pelayan kita dalam kehidupan ini?

Apa yang dapat kita lakukan? Pertanyaan ini sudah bergema sepanjang jaman. Banyak orang pergi bertapa, menyiksa diri, melakukan segala macam tapabrata, semua ini merupakan usaha untuk menanggulangi nafsu, yaitu setan yang berada di dalam diri kita sendiri. Namun, hampir tidak ada yang berhasil. Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Jawaban yang tepat kiranya hanyalah bahwa kita seyogianya tidak melakukan apa-apa! Karena apapun yang kita lakukan, kelakuan itu masih dikemudikan oleh nafsu keinginan. Ingin bebas dari nafsu! Siapa yang ingin itu? Itupun masih pikiran yang bergelimang nafsu. Menginginkan sesuatu, walaupun keinginan itu merupakan keinginan bebas dari pada keinginan sekalipun!

Tuhan Maha Pencipta! Tuhan maha Kuasa! Tuhan Maha Kasih! Kekuasaan Tuhan pula yang menciptakan adanya nafsu yang diikut-sertakan kita. Karena itu, tidak ada kekuasaan lain di dunia ini yang akan mampu menundukkan nafsu, kecuali kekuasaan Tuhan! Kita tidak perlu melakukan apapun. Kita hanya menyerah, kita hanya pasrah kepada Tuhan, dengan penuh kesabaran, keikhlasan, ketawakalan!

Kita tidak perlu berusaha apapun untuk menundukkan nafsu, karena usaha apapun dari kita itu bahkan memperkuat nafsu, karena usaha itu sendiripun merupakan ulah nafsu. Kita menyerah mutlak kepada Tuhan dengan penuh keimanan dan kepasrahan. Penyerahan ini merupakan kuncinya, agar kekuasaan Tuhan selalu membimbing kita.

Kekuasaan Tuhan bekerja membimbing kita setelah nafsu tidak lagi membimbing dan menguasai kita. Nafsu menjadi alat untuk hidup, namun kekuasaan Tuhan yang akan menjadi kendali, menjadi penuntun, dalam segala yang kita perbuat. Kalau nafsu sudah mencengkeram diri, maka manusia menjadi lupa segala.


Seperti halnya Siong Ki. Dia menjadi permainan nafsu yang mengasyikkan. Apalagi nafsu itu digerakkan oleh pandainya Bi Tok Siocia Ouw Ling yang merayunya. Dan Siong Ki jatuh, Diapun kini menuruti apa saja yang dikehendaki wanita itu. Ketika Ouw Ling menyatakan kesediaannya mengawal keluarga pangeran yang akan ke kota raja, Siong Ki hanya setuju saja. Ouw Ling yang mengatur dan memimpin, sedangkan dia hanya ikut saja.

Pangeran yang menjadi hakim di Lok-yang itu bernama Pangeran Li Yan, masih kakak misan dari Kaisar Tang Tai Cung yang dahulu bernama Pangeran Li Si Bin. Tentu saja setelah pamannya, yaitu ayah Li Si Bin yang bernama Li Gan menjadi kaisar pertama dari Kerajaan Tang berjuluk Tang Kao Cu, Li Yan sebagai keponakannya, juga ikut terangkat derajatnya, bahkan mendapat sebutan pangeran dan kini menjabat sebagai hakim di Lok-yang.

Pada jaman itu, kedudukan hakim merupakan kedudukan yang terhormat dan tinggi, disegani dan ditakuti para pejabat tinggi lainnya. Pangeran Li Yan berusia limapuluh tahun, isterinya yang akan melakukan perjalanan ke kota raja adalah isteri pertamanya yang berusia empatpuluh lima tahun, dan tiga orang anaknya yang ikut dengan ibu mereka ke kota raja adalah dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang berusia dari sepuluh sampai limabelas tahun.

Isteri Pangeran Li Yan ini masih berdarah bangsawan dan berasal dari kota raja, dan sekali ini kepergiannya ke kota raja, selain menengok keluarga, juga untuk berpesiar bersama putera-puterinya dan juga tentu saja membawa surat laporan dari suaminya yang harus disampaikan kepada atasannya di kota raja. Demikianlah, pada hari yang ditentukan. Isteri pangeran itu bersama tiga orang anak-anaknya menunggang sebuah kereta dengan dua ekor kuda yang dikendalikan kusir keluarga pangeran itu.

The Siong Ki dan Ouw Ling menunggang dua ekor kuda mengawal di belakang kereta. Ketika Hek I Sin-kai mengajak mereka menghadap Pangeran Li Yan, pangeran yang sudah percaya sepenuhnya kepada ketua kaipang itu segera menerima mereka dan menyetujui, bahkan senang sekali karena dua orang yang mengawal keluarganya bukan orang-orang berpakaian pengemis, melainkan seorang wanita cantik dan seorang pemuda tampan.

Di atas kereta itu sendiri dipasangi sebuah bendera hitam dengan tulisan Hek I Kaipang, sebagai tanda bahwa rombongan ini di bawah perlindungan perkumpulan pengemis itu. Hal ini untuk menjamin agar di dalam perjalanan tidak ada yang berani mengganggu. Juga mendengar permintaan Hek I Sinkai, pangeran itu menitipkan sebuah surat untuk pejabat di istana, dengan pesan kepada isterinya bahwa kalau kedua pengawal itu ternyata bekerja dengan baik, surat untuk memintakan pekerjaan bagi mereka di istana itu disampaikan kepada saudaranya yang menjadi pejabat di istana.

********************

Kita tinggalkan dulu Siong Ki dan Ouw Ling yang mengawal keluarga pangeran Li Yan dari Lok-yang menuju ke Tiang-an, karena sudah terlalu lama kita meninggalkan Thian Ki. Mari kita mengikuti perjalanan pemuda perkasa ini. Seperti kita ketahui, Thian Ki meninggalkan ibu kandungnya dan ayah tirinya dengan membawa dua macam tugas. Pertama, dia akan mengunjungi Si Han Beng untuk bertanya kepada pendekar itu.

Di mana dia bisa bertemu dengan Pek I Tojin atau Hek Bin Hwesio karena hanya kedua orang itulah yang akan dapat menolongnya, yaitu membebaskannya dari pengaruh racun di tubuhnya. Ke dua dia harus mengambil kembali pedang Liong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka yang dulu menjadi milik Cian Bu Ong dan kini berada di istana kaisar. Dia diberi waktu dua tahun oleh ibunya dan ayah tirinya.

Pada pagi hari itu, pagi-pagi sekali, berangkatlah Thian Ki meninggalkan dusun Ke-cung di tepi Sungai Kuning dan di kaki bukit Kim-san. Dia membawa buntalan pakaian di punggungnya, dan tangannya memegang sebuah bungkusan kecil yang berisi makanan yang diberikan oleh Kui Eng kepadanya. Kui Eng! Gadis yang sejak kecil dianggapnya sebagai adik sendiri, kini seketika berubah baginya setelah ayah tirinya dan ibunya menyatakan bahwa dia dan Kui Eng ditunangkan, dijodohkan!

Dan terutama sekali perubahan yang besar terjadi dalam sikap Kui Eng. Dahulu, gadis itu sayang dan manja kepadanya, menganggap dia sebagai kakak kandung. Setelah gadis itu tahu bahwa Thian Ki bukan kakak kandungnya, bahkan sama sekali tidak ada hubungan darah, berlainan ibu dan berlainan ayah, dan mendengar bahwa pemuda itu menjadi calon suaminya, Kui Eng telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Bukan lagi kasih sayang antara saudara, melainkan cinta kasih seorang wanita terhadap seorang pria! Dan tadi gadis itu menghadangnya untuk menyerahkan bungkusan makanan itu yang dimasak sendiri olehnya tenggah malam tadi.

Dengan langkah lebar dan cepat Thian Ki menuruni lereng terakhir. Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya. Biarpun kini dia menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak bersalah, namun tetap saja hatinya menjadi sedih dan menyesal kalau dia teringat kepada Kam Cin atau Cin Cin, gadis yang telah dia buntungi tangan kirinya itu. Terpaksa dia harus melakukan hal itu secepatnya sebelum racun menjalar naik. Andaikata dia tidak melakukan hal itu, sekarang Cin Cin pasti sudah tinggal nama saja, tentu telah tewas.

Biarpun membuntungi tangan gadis itu merupakan perbuatan untuk menyelamatkan nyawa Cin Cin, namun bagaimanapun juga, hal itu terjadi karena dia, karena tubuhnya yang beracun sehingga ketika mencengkeram pundaknya, otomatis gadis itu keracunan tangannya sehingga terpaksa dia membuntungi tangan itu dengan pedang.

Kalau tidak, maka racun dari tangan itu akan menjalar naik dengan cepatnya dan kalau sudah sampai ke jantung atau otak, nyawa gadis itu tidak dapat ditolong lagi. Racun dalam tubuhnya yang dimasukkan oleh mendiang neneknya memang hebat bukan'main. Neneknya tidak percuma berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun). Thian Ki menghela napas panjang. Masih teringat dia akan pandang mata Cin Cin kepadanya ketika tangan gadis itu dibuntunginya. Pandang mata yang penuh kekagetan, penuh penasaran, penuh kedukaan dan penuh dendam!

Terkenang dia akan pertemuannya yang pertama dengan gadis itu di tepi sungai Kiang, melihat gadis itu mandi telanjang, kemudian betapa Cin Cin membalasnya dan melihat dia mandi telanjang dan memakinya seperti monyet! Kenangan ini membuat dia semakin sedih. Tiba-tiba Thian Ki menahan langkah kakinya dan berdiri termenung seperti orang terkejut. Memang dia terkejut oleh kenyataan di dalam hatinya. Dia mencinta Cin Cin!

Kenyataan ini disusul dua hal yang membuat dia merasa terpukul dan berduka, juga bingung. Dia mencinta Cin Cin akan tetapi dia telah membuntungi tangan gadis yang dicintanya, sehingga gadis itu tentu saja mendendam dan membencinya. Dan hal ke dua, dia telah ditunangkan dengan Kui Eng yang mencintanya dengan tulus, padahal dia menyayang Kui Eng sebagai adik. Dia merasa bingung sekali.

Cin Cin tidak bersalah ketika hendak membunuh ayah tirinya, yaitu Cian Bu Ong. Pertama, karena Cin Cin melaksanakan tugas yang diperintahkan subonya yang disakiti hatinya oleh bekas pangeran itu, dan ke dua, dan ini lebih gawat lagi, akan tetapi agaknya belum diketahui Cin Cin, yaitu bahwa kehancuran Hek-houw-pang yang mengakibatkan tewasnya ayah kandung Cin Cin, ketua Hek-houw-pang yang bernama Kam Seng Hin, adalah akibat serbuan orang-orang Cian Bu Onng! Tidak, Cin Cin tidak dapat disalahkan.

Setelah menuruni lereng bukit itu, Thian Ki melanjutkan perjalanannya menyusuri Sungai Huai. Dia hendak pergi ke Sin-yang yang berada di lembah sungai itu. Dari Sin-yang dia akan meneruskan perjalanan menuju ke kota raja untuk melaksanakan perintah ayah tirinya atau yang kini ingin disebut guru, karena dia hendak dijodohkan dengan puteri gurunya itu. Perintah itu bukan tugas yang ringan.

Dia harus mencari dan mengambil pedang pusaka Liong cu-kiam (Pedang Mustika Naga) yang dahulunya milik Kerajaan Sui dan yang kini menjadi pusaka Kerajaan Tang. Berarti, dia harus dapat memasuki gedung tempat penyimpanan pusaka dan mencari pedang itu. Pekerjaan ini amat sukar dan berbahaya, karena gedung pusaka itu sudah pasti dijaga ketat, dan dia mendengar bahwa Kaisar Tang Tai Cung yang dahulu bernama Li Si Bin adalah seorang yang lihai dalam ilmu silatnya, dan di istana terdapat banyak jagoan yang berilmu tinggi. Dia harus berhati-hati sekali...