Social Items

"Cin Cin, aku mendengar bahwa engkau diantar oleh sute Lai Kun untuk berguru kepada pendekar sakti Si Han Beng. Tentu saja hatiku lega dan setuju sekali. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu, aku dan suamiku berkunjung ke Ta-bun-cung, ternyata Lai Kun telah menjadi ketua Hek-houw-pang dan menurut dia, engkau hilang di daerah Lok-yang ini. Tentu saja aku merasa sedih dan kami berdua segera mencari dan menyelidiki jejakmu di daerah ini. Untung kami mendengar tentang peristiwa di Ji-goan, betapa seorang gadis membasmi rumah pelesir dan kami curiga, lalu kami mencari ke Lok yang dan bertemu denganmu di jalan. Kami lalu membayangimu, melihat engkau diganggu orang-orang di rumah makan itu."

Cin Cin menundukkan mukanya. Kini ia mengerti semuanya dan ia sudah mempertimbangkan keadaan ibunya. Ibunya tidak dapat disalahkan, bahkan beruntung ibunya dapat berjodoh dengan seorang pendekar seperti Lie Koan Tek. Mengingat akan sikapnya ketika bertemu dengan ibunya, betapa ia bersikap kasar dan marah, ia merasa menyesal sekali dan hatinya tertusuk keharuan, membuat kedua matanya basah.

Melihat gadis itu hanya menunduk, Liu Hwa mendekati. "Cin Cin... kau... kau... suka memaafkan ibumu...?"

Cin Cin mengangkat mukanya. Wajahnya dan kedua matanya basah air mata yang kini menetes turun. "Ibu...!"

"Cin Cin anakku...!"

Dua orang wanita itu saling tubruk dan berangkulan, bertangisan. Lie Koan Tek tersenyum akan tetapi dia menggunakan punggung tangan untuk menghapus dua titik air mata, air mata kebahagiaan karena tadinya dia khawatir sekali kalau Cin Cin tetap tidak mengakui ibunya dan hal itu pasti akan menghancurkan hati isterinya dan akan menyiksanya selama hidup.

Ibu dan anak itu bertangisan dan semua kekerasan yang dibentuk oleh gurunya selama belasan tahun mencair dalam hati Cin Cin dan iapun menangis sampai mengguguk di pangkuan ibunya. Seluruh kerinduan yang bertumpuk selama ini tercurah keluar melalui tangis mereka dan di dalam tangis ini pula Cin Cin telah memaafkan semua rasa penasaran hatinya terhadap ibunya selama ini. Setelah tangis mereka mereda, Liu Hwa merangkul leher puterinya, menciuminya, meraba seluruh anggota tubuh puterinya, dari rambut sampai ke kakinya. Ketika ia meraba lengan kirinya, ibu itu terisak.

"Cin Cin... anakku, tangan kirimu... aih, kenapa sampai begini, anakku? Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Ia menciumi ujung lengan kiri yang buntung dan dibalut kain putih itu.

Dengan suara seperti anak kecil manja melapor kepada ibunya, Cin Cin berkata lirih diseling isak, "Ibu... tanganku dibuntungi oleh Thian Ki..."

"Thian Ki...?? Kau maksudkan, Coa Thian Ki putera Coa Siang Lee..."

Gadis itu mengangguk dan menyandarkan mukanya di dada ibunya, menangis.

"Tapi... mengapa?"

Lie Koan Tek berkata dengan suaranya yang tenang dan sabar. "Kurasa, sebaiknya kalau Cin Cin menceritakan pengalamannya semenjak meninggalkan Ta-bun-cung kepada ibunya."

Cin Cin kini sudah dapat menguasai hatinya. Kedua matanya merah dan ia memandang kepada Lie Koan Tek. "Paman... eh, bolehkah aku menyebut ayah...?"

Lie Koan Tek tertawa, tawanya bebas dan keras tanda kelegaan hatinya. "Ha-ha-ha-ha, tentu saja, Cin Cin. Memang aku ini ayahmu, pengganti ayah kandungmu yang telah tewas."

"Maafkan sikapku tadi, ayah."

"Tentu saja, Cin Cin. Sikapmu tadi tidak dapat kusalahkan, sudahlah sekarang sebaiknya kau ceritakan semua pengalamanmu, setelah engkau tadi mendengar ceritaku dan cerita ibumu."

Cin Cin duduk di atas akar, dekat ibunya dan menggunakan saputangan menghapus air mata dari wajahnya. "Atas perintah mendiang kakek Coa, aku diantar oleh susiok Lai Kun untuk menjadi murid paman Si Han Beng di Hong-cun. Akan tetapi, ketika kami tiba di kota Ji-goan, paman Lai Kun bertindak curang dan keji. Aku dijualnya kepada seorang mucikari, pemilik rumah pelesir Ang-hwa."

"Jahanam Lai Kun...!!" Ibunya berseru dan mengepal tinju. "Kalau aku tahu hal itu, ketika aku berhadapan dengannya, tentu sudah kucekik lehernya...!"

"Tenanglah, ibu. Paman Lai Kun sekarang sudah tewas."

Ibunya memandang kepadanya. "Kau... kau membunuhnya?"

Cin Cin tersenyum dan menggeleng kepala. "Aku datang berkunjung ke sana dan melihat dia menjadi ketua Hek-houw-pang. Aku hanya membongkar rahasianya, menceritakan kepada semua orang apa yang dia lakukan terhadap diriku, dan dia merasa malu lalu membunuh diri sendiri."

"Aahhh... kasihan isteri dan anak-anaknya," kata Liu Hwa. "Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu, Cin Cin?"

Cin Cin menceritakan pengalamannya ketika dipaksa tinggal di rumah pelesir Ang-hwa, betapa ia berusaha melarikan diri ketika ia dijual kepada seorang bangsawan, betapa ia dikejar-kejar tukang-tukang pukul, kemudian ditolong oleh seorang wanita sakti yang mengambilnya sebagai murid.

"Siapakah wanita sakti yang menjadi gurumu itu?" tanya ibunya.

"Subo adalah Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan."

"Ahhhh!" Lie Koan Tek berseru kagum. "Ia seorang tokoh kangouw yang amat lihai, datuk dari timur!"

"Selama belasan tahun aku tekun berlatih ilmu silat dari subo. Kemudian, subo menyuruh aku turun gunung karena menganggap pelajaranku sudah tamat dan aku mendapat tugas untuk mencari dua orang musuh subo dan membunuhnya. Aku lalu mencari musuh pertama suboku, yaitu Pangeran Cian Bu Ong."

"Ahh...!" Lie Koan Tek berseru kaget. Juga isterinya terkejut karena Liu Hwa sudah mendengar dari suaminya bahwa pangeran Kerajaan Sui yang dahulu menyuruh serbu Hek-houw-pang adalah Cian Bu Ong!

"Kenapa, ibu? Ayah? Kenapa kalian kaget mendengar nama Cian Bu Ong?"

"Ingatkah engkau akan ceritaku tadi bahwa aku dan beberapa orang yang lihai dibebaskan dari hukuman dan diharuskan membantu seorang pangeran, bahkan pangeran itu menyuruh kami menyerbu Hek-houw-pang? Pangeran itu adalah Cian Bu Ong!"

"Hemm, sungguh kebetulan sekali. Kalau begitu, Cian Bu Ong juga musuh Hek-houw-pang, musuh kita, ibu."

"Akan tetapi dia sakti sekali, Cin Cin. Berhasilkah engkau membunuhnya?" Lie Koan Tek bertanya, penuh kagum. Kalau Cin Cin mampu mengalahkan Cian Bu Ong, berarti puteri tirinya ini memang luar biasa lihainya.

Akan tetapi Cin Cin menggeleng kepalanya. "Dia memang lihai, akan tetapi agaknya merasa bersalah terhadap subo, maka dia sengaja mengalah. Agaknya aku pasti akan dapat membunuhnya kalau saja tidak dihalangi oleh Thian Ki." Ketika mengucapkan nama itu, wajah Cin Cin mengeras dan matanya berkilat.

"Apa katamu? Thian Ki, putera Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci itu malah membela Cian Bu Ong musuh besar kita, juga musuh besarnya sendiri!" kata Liu Hwa terheran-heran.

"Bahkan lebih dari itu, ibu. Thian Ki telah menjadi putera Cian Bu Ong, dan ibunya telah menjadi isteri bekas pangeran itu."

"Wahhhh...?? Aneh sekali! Sungguh luar biasa sekali!" seru Liu Hwa, sukar membayangkan hal itu dapat terjadi. Kalau ia menjadi isteri Lie Koan Tek, biarpun pendekar Siauw-lim-pai ini pernah membantu Cian Bu Ong, adalah karena ternyata bahwa Lie Koan Tek bukan penjahat dan tidak membunuhi orang-orang Hek-houw-pang, bahkan menolongnya. Akan tetapi Pangeran Cian Bu Ong? Dia yang menyuruh anak buahnya menghancurkan Hek-houw-pang sehingga akibatnya menewaskan pula Coa Siang Lee, dan isteri Siang Lee itu malah menjadi isteri pangeran itu?

"Dan Coa Thian Ki yang membela Pangeran Cian Bu Ong membuntungi tangan kirimu, Cin Cin?" tanya Lie Koan Tek yang juga merasa terheran-heran.

Cin Cin menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut ketika ia menunduk dan memandang kepada ujung lengan kirinya. "Dia mencegah aku membunuh Cian Bu Ong, sehingga terjadi perkelahian antara dia dan aku. Thian Ki yang menjadi anak tiri dan murid Cian Bu Ong, lihai bukan main. Akan tetapi aku berhasil mencengkeram pundaknya dengan tangan kiriku. Seketika, tangan kiriku keracunan hebat sampai menjadi hitam dan Thian Ki menggunakan pedangnya untuk membuntungi tanganku sebatas pergelangan. Katanya... kalau tidak dia buntungi tanganku, racun akan menjalar naik dan aku akan tewas tanpa ada obat yang dapat menyembuhkannya."

"Ahhh, mengerikan!" kata Lie Koan Tek. "Bagaimana mungkin engkau mencengkeram pundaknya malah engkau yang keracunan?"

"Ayah, Thian Ki adalah seorang tok-tong (anak beracun), hal ini kuketahui kemudian. Di tubuhnya mengeram racun yang amat hebat sehingga siapa saja yang memukul atau mencengkeramnya akan keracunan sendiri tanpa ada obat yang mampu menyembuhkannya."

"Aku ingat sekarang!" kata Liu Hwa. "Ibunya, Sim Lan Ci, adalah puteri Ban-tok Mo-li, ahli racun yang tiada duanya di dunia persilatan. Tentu neneknya itulah yang membuat Thian Ki jadi seorang tok-tong."

"Bukan main anak itu," kata Lie Koan Tek termenung. "Sudah menjadi tok-tong, menjadi anak tiri dan murid Cian Bu Ong, tentu dia menjadi seorang yang amat hebat. Baru memukulnya saja sudah mendatangkan bahaya maut bagi yang memukulnya! Akan sulit mencari orang yang akan mampu menandingi pemuda itu."

"Jangan-jangan dia akan menjadi seorang penjahat. Akan berbahaya sekali kalau begitu. Mendiang ayahnya, Coa Siang Lee, adalah seorang pendekar dan ibunya, biarpun puteri Ban-tok Mo-li, namun bukan seorang wanita jahat."

"Hemm, setelah menjadi seorang tok-tong, sadar akan kekuataan dalam tubuhnya, dan menjadi murid Cian Bu Ong yang sakti dan kejam, memang ada kecondongan bagi pemuda itu untuk menjadi jahat. Yang jelas, Cin Cin telah menjadi korban anak beracun itu, dan kehilangan tangan kirinya."

Liu Hwa mengamati wajah puterinya dan Cin Cin menunduk, menarik napas panjang. "Cin Cin, apakah engkau mendendam kepada Thian Ki?"

Gadis itu kembali menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya. "Sesungguhnya ibu, ketika aku kehilangan tangan kiri, aku menjadi berduka sekali dan merasa sakit hati. Akan tetapi, aku merasa yakin bahwa Thian Ki bukanlah orang jahat. Justru dia membuntungi tangan kiriku untuk menyelamatkan nyawaku, dan dia melakukannya secara terpaksa sekali. Bahkan tangan kiriku keracunan bukan karena dia menyerangku, melainkan karena aku yang mencengkeram pundaknya. Aku tidak dapat menyalahkan dia, ibu. Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku menjadi buntung karena dia, disengaja atau tidak, maka selalu ada dendam terkandung dalam hatiku. Sekali waktu, entah kapan, aku akan membalas semua ini, dan mudah-mudahan aku akan dapat membuntungi tangan kirinya, baru akan puas rasa hatiku dan tidak akan merasa penasaran lagi."

Diam-diam Liu Hwa merasa ngeri. Hampir ia tidak dapat mengenal puterinya yang dahulu merupakan seorang anak yang periang dan berhati lembut. Sekarang, ada sesuatu yang membuatnya merasa ngeri. Puterinya itu kini berwatak keras dan terdapat sesuatu yang dingin.

Lie Koan Tek menarik napas panjang. "Mendengarkan penuturanmu, akupun merasa ragu apakah benar Thian Ki menjadi seorang pemuda yang kejam dan jahat. Kalau memang engkau menganggap dia tidak bersalah, tidak semestinya kalau engkau mendendam kepadanya, Cin Cin. Seorang gagah tidak pernah mendendam, hanya menentang yang jahat, siapapun dia. Kalau Thian Ki ternyata jahat, sudah sepatutnya kalau engkau menentangnya, akan tetapi kalau ternyata tidak, maka tidak baik kalau engkau mendendam kepadanya."

"Apa yang dikatakan ayahmu benar, Cin Cin. Engkau tentu masih ingat bahwa ayah kandungmu adalah ketua Hek-houw-pang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, juga keluarga ibumu adalah keluarga Coa yang turun temurun menjadi pimpinan Hek-houw-pang. Bahkan ayah tirimu ini adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang terkenal selalu menentang ketidak-adilan. Engkau keturunan keluarga pendekar, anakku, oleh karena itu, setelah kini memiliki ilmu kepandaian tinggi, sudah sepatutnya kalau engkau bersikap dan bertindak sebagai seorang pendekar wanita sejati."

Cin Cin menghela napa panjang. "Ibu, biarpun subo adalah seorang datuk yang berwatak aneh dan keras, namun karena sejak kecil aku sudah menerima pendidikan dari ibu dan ayah, maka didikan subo tidak akan mampu membelokkan watak pendekar dari hati dan pikiranku. Akan tetapi aku berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada subo. Kalau aku tidak membalas budinya, bukankah aku sama saja dengan seorang yang tak mengenal budi, seorang yang rendah budi?"

"Tentu saja, Cin Cin. Sudah sewajarnya, bahkan sudah menjadi kewajibanmu untuk membalas budi kepada subo-mu!" kata Lie Koan Tek dan ibunya juga mengangguk.

"Nah, karena memenuhi permintaan su-bo, maka aku mati-matian mencari Cian Bu Ong dan berusaha membunuhnya. Akan tetapi, Thian Ki membela ayah tirinya yang juga menjadi gurunya dan menghalangi usahaku untuk memenuhi tugas yang diberikan subo kepadaku, yaitu membunuh Cian Bu Ong. Akibat dari perbuatan Thian Ki, walaupun tidak dia sengaja, aku kehilangan tangan kiriku. Ayah dan ibu, tidakkah sudah sepatutnya kalau aku kelak membalas kepada Thian Ki? Dan akupun akan berusaha memenuhi permintaan subo, sekali lagi aku akan berusaha menbunuh Cian Bu Ong!"

"Akan tetapi itu berbahaya sekali, anakku. Engkau tahu sendiri betapa lihainya bekas pangeran itu! Apa lagi muridnya, Thian Ki pasti akan selalu membelanya!"

"Aku tidak takut, ibu. Dan selain itu, masih ada sebuah tugasku lagi yang diperintahkan subo, yaitu membunuh seorang lain yang menjadi musuh subo."

"Ah, betapa berat tugasmu, disuruh membunuh orang-orang pandai. Siapa lagi yang dimusuhi oleh subomu itu, Cin Cin?"

"Orang ke dua yang harus kucari dan kubunuh bernama Can Hong San..."

"Ahh! Dia...??" Lie Koan Tek berseru kaget, juga Liu Hwa terkejut mendengar disebutnya nama itu.

"Ayah, ibu, kalian sudah mengenal nama itu?"

"Mengenal? Tentu saja!" kata Lie Koan Trek heran. "Can Hong San adalah seorang di antara mereka yang dikeluarkan dari penjara oleh Cian Bu Ong, dan kemudian menjadi pembantunya pula. Dialah seorang di antara kami yang menyerbu Hek-houw-pang, dan dialah yang melakukan banyak pembunuhan di antara keluarga Hek-houw-pang."

"Bahkan dia hampir saja mencelakai aku, kalau saja tidak muncul ayahmu ini yang menolongku dari tangannya," kata Liu Hwa.

"Bagus! Kalau begitu, sungguh kebetulan sekali subo menyuruh aku membunuhnya. Dia jelas orang yang jahat!" kata Cin Cin penuh semangat.

"Dapatkah ayah dan ibu memberitahu, di mana aku dapat mencari Can Hong San?"

Lie Koan Tek menghela napas panjang. "Aah, Cin Cin, bagaimanapun juga, subomu itu sungguh tega memberi tugas yang demikian berat kepadamu. Seorang Cian Bu Ong saja sudah merupakan lawan yang amat berat dan sukar untuk dibunuh, dan engkau masih harus menghadapi Can Hong San. Dia lihai bukan main! Dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong. Dia lihai, jahat dan licik sekali. Bahkan mungkin dia lebih berbahaya dibandingkan Cian Bu Ong yang setidaknya memiliki keaangkuhan dan kegagahan. Kami sendiri tidak tahu di mana dia sekarang berada. Tidak akan mudah mencari orang yang licik seperti iblis itu."

"Akan tetapi, kenapa gurumu memusuhi kedua orang itu, Cin Cin? Sepanjang pendengaranku. Tung-hai Mo-li adalah seorang datuk besar di wilayah timur. Bagaimana ia memusuhi orang-orang yang dapat dibilang segolongan, walaupun Cian Bu Ong berasal dari keluarga kerajaan?"

"Riwayat subo dengan Cian Bu Ong amat menyedihkan, ibu. Mereka ketika muda saling mencinta dan akan menjadi suami isteri, akan tetapi tiba-tiba Cian Bu Ong memutuskan cinta ketika mengetahui bahwa subo datang dari keluarga golongan hitam. Hal ini menghancurkan perasaan hati subo sehingga sejak itu, sampai sekarang, subo tidak mau menikah, bahkan tidak mau berdekatan dengan pria. Itulah dendam subo kepada Cian Bu Ong. Adapun mengenai Can Hong San, orang itu dahulu membunuh suheng dari subo. Hanya itu yang kuketahui. Aku tidak banyak bertanya dan hanya akan mentaati pesan subo yang sudah melimpahkan budi kepadaku."

Suami isteri itu saling pandang. Mereka tidak dapat menyalahkan Cin Cin, bahkan mereka merasa bangga karena Cin Cin ternyata seorang murid yang setia membela gurunya sehingga dalam melaksanakan tugas yang diperintahkannya, ia sampai kehilangan tangan kiri. Dan inipun tidak membuatnya mundur, dan ia masih bertekad untuk mencari dan membunuh kedua orang musuh gurunya itu!

"Mari kita pulang dulu, Cin Cin. Aku amat merindukanmu dan rasanya tidak akan ada habisnya kita bicara. Nanti setelah berada di rumah, kita bicarakan tentang tugasmu itu dan ayahmu yang mempunyai banyak hubungan di dunia kang-ouw, tentu akan dapat membantumu mencari tahu di mana adanya Can Hong San itu."

Cin Cin menyetujui. Iapun sejak dahulu amat merindukan ibunya, dan mengingat akan sikapnya ketika bertemu ibunya dan ayah tirinya, ia merasa malu sendiri dan ia harus dapat menyenangkan hati ibunya untuk menebus sikapnya yang menyakiti hati itu. Berangkatlah mereka bertiga meninggalkan tempat itu.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Dengan alis berkerut dan wajah muram, The Siong Ki memasuki kota Lok-yang. Biarpun kota ini amat indah dan ramai, namun hati Siong Ki tidak bergembira. Dia masih teringat akan kegagalannya membunuh Lie Koan Tek karena munculnya Cin Cin. Tak disangkanya bahwa Cin Cin kini demikian lihainya. Dia yang telah digembleng oleh Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng dan isterinya, agaknya tidak akan mudah dapat mengalahkan gadis yang tangan kirinya buntung itu! Kalau menghadapi Cin Cin sendiri saja belum tentu dia menang, apalagi kalau dia dikeroyok oleh Cin Cin, ibunya dan Lie Koan Tek.

Hatinya mengkal, akan tetapi dia menghibur sendiri. Bukankah suhu dan subonya berpesan agar dia tidak mendendam kepada Lie Koan Tek? Juga, melihat sikap Lie Koan Tek dan jawabannya, dia dapat percaya bahwa Lie Koan Tek bukan pembunuh ayahnya, walaupun ikut menyerbu Hek-houw-pang. Biarlah, sekali ini dia boleh melepaskan Lie Koan Tek. Lain kali kalau kebetulan dia bertemu lagi dengan pendekar Siauw-lim-pai itu, dia akan menantangnya lagi. Tidak perlu sampai membunuhnya, asal sudah mengalahkannya saja dia sudah puas.

Sekarang dia harus mulai dengan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri gurunya yang bernama Sie Hong Lan dan yang diculik oleh seorang wanita bernama Kwa Bi Lan. Dia merasa heran sekali kepada suhu dan subonya. Ada seorang wanita menculik puteri mereka, anak tunggal mereka, dan memisahkan mereka dari anak mereka selama enambelas tahun, dan mereka berdua tidak mendendam kepada si penculik! Bahkan memesan kepadanya agar tidak memusuhi Kwa Bi Lan itu, cukup menemukan kembali Sie Hong Lan! Kenapa suho dan subonya yang demikian gagah perkasa itu menjadi orang-orang demikian lemah? Dia sendiri berpendapat lain. Penculik itu pantas diberi hajaran!

Siong Ki memasuki sebuah rumah makan dan setelah makan kenyang dan minum arak, kemurungannya mereda dan kegembiraannya timbul kembali. Sudah beberapa bulan dia meninggalkan rumah gurunya dan selama ini, tidak banyak yang dia lakukan. Mengunjungi makam ayahnya di dusun Ta-bun-cung, bertemu dengan para pimpinan dan anggota Hek-houw-pang, melihat betapa Lai Kun membunuh diri dan menolak ketika dia hendak diangkat menjadi ketua Hek-houw-pang. Kemudian pertemuannya dengan Lie Koan Tek dan bekas isteri ketua Hek-houw-pang, ibu Cin Cin, bertanding dan hampir mengalahkan mereka ketika muncul Cin Cin yang membuat dia terpaksa melarikan diri. Tidak banyak! Dan tidak ada yang dapat membuat gurunya tersenyum bangga.

Beberapa orang pengemis yang tadinya berkeliaran ke depan toko-toko dan mengacungkan tangan meminta sumbangan dari mereka yang berlalu lalang, kini berdiri di depan rumah makan. Seperti biasa, mereka mengharapkan dermaan para tamu rumnah makan, dan ada yang mengharapkan sisa makanan yang tidak dimakan habis para tamu dan sisa itu biasanya oleh pelayan rumah makan dibagi-bagikan kepada mereka.

Bermacam-macam cara pengemis untuk mendapatkan hasil, menarik perhatian dan rasa iba orang lain sehingga orang-orang itu akan mengulurkan bantuan dan memberi sedekah kepada mereka. Ada yang dengan suara merengek-rengek merintih menceritakan bahwa mereka kelaparan dan sejak kemarin belum makan. Ada yang entah dari mana, dapat meminjam seorang anak kecil yang digendongnya, dan ada pula yang demikian kejamnya, entah anak sendiri atau anak pinjaman, mencubit anak itu, sehingga anak itu menangis dan ia mengatakan bahwa anak itu kelaparan. Ada pula yang tiba-tiba saja menjadi pincang, menjadi buta dan sebagainya!

Semua itu adalah usaha untuk menarik perhatian dan belas kasihan, baik dengan sungguh-sungguh, atau hanya pura-pura belaka. Bahkan ada lagi yang menggunakan cara yang lebih buruk, yaitu bukan memancing belas kasihan, melainkan memancing kejijikan para tamu. Mereka ini sengaja memakai pakaian kotor dan berbau busuk, bahkan ada yang sengaja membuka dan memperlihatkan luka memborok, semua ini sengaja dilakukan untuk menimbulkan rasa jijik sehingga para tamu cepat-cepat memberi sedekah agar orang yang menjijikkan itu segera pergi!

Ketika tiga orang pengemis lain datang ke depan rumah makan, semua pengemis dengan bermacam gaya itupun cepat-cepat pergi dengan sikap ketakutan. Seorang di antara tiga orang pengemis ini menghardik, "Jembel-jembel busuk, hayo pergi, atau kuremukkan tulang-tulang kaki kalian!"

Sungguh lucu. Tiga orang itu berpakaian sebagai pengemis pula, tambal-tambalan dengan dasar warna hitam. Mereka sendiri pengemis, akan tetapi mereka memaki pengemis lain sebagai jembel-jembel busuk! Akan tetapi memang ada perbedaan menyolok. Tiga orang ini adalah laki-laki yang usianya antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, bertubuh sehat, bahkan nampak kokoh kuat! Dan pakaian merekapun sama, yaitu dasarnya hitam akan tetapi terdapat tambalan di sana-sini.

Mudah dilihat bahwa tambalan itu bukan untuk menambal bagian yang robek, karena pakaian hitam itu terbuat dari kain yang masih baik dan kuat. Tambal-tambalan itu memang disengaja dibuat sebagai tanda bahwa mereka adalah golongan pengemis. Inilah tiga orang di antara para pengemis yang mempunyai perkumpulan!

Mereka adalah para anggota sebuah kai-pang (perkumpulan pengemis) terkenal di Lok-yang dan sekitarnya, yaitu Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Perkumpulan ini berpengaruh sekali karena mereka memiliki anggota yang lebih dari tigaratus orang jumlahnya, suka melakukan pengeroyokan dan para anggotanya juga rata-rata menguasai ilmu silat. Biarpun namanya pengemis, namun mereka itu seringkali mengandalkan kekerasan memaksakan kehendak dan kalau sudah begitu, mereka itu lebih pantas disebut perampok dari pada pengemis!

Siong Ki masih minum arak dan hatinya mulai mendapatkan kembali kegembiraannya. Dia membawa bekal uang cukup banyak dari gurunya, sehingga dapat memesan makanan apa saja yang disukainya. Dia tidak tahu bahwa sejak tadi seorang wanita memasuki rumah makan itu seorang diri. Wanita ini cantik dan genit. Melihat wajah dan bentuk tubuhnya, tentu semua orang mengira bahwa usianya kurang lebih duapuluh lima tahun saja.

Mukanya lonjong dengan kulit yang putih mulus, matanya jeli dan mulutnya selalu dihias senyuman genit, tubuhnya ramping dengan pinggul besar. Wanita ini bukan lain adalah Bi Tok Siocia. Seorang wanita petualang yang lihai, yang sebetulnya sudah berusia empatpuluh tahun, akan tetapi karena pandainya bersolek, ditambah lagi pengetahuannya tentang racun dan obat-obatan, ia masih kelihatan muda dan cantik menarik.

Kita pernah bertemu Bi Tok Siocia ketika Cin Cin mengamuk di rumah pelesir Ang-hwa, di kota Ji-goan. Rumah pelesir Ang-hwa yang dipimpin oleh Cia Ma itu pernah dikuasai oleh Bi Tok Sio-cia ini, yang mempergunakan kepandaian dan juga anak buahnya, untuk menculik dan membujuk gadis-gadis dusun untuk dijadikan pelacur. Kedatangan Cin Cin yang mengobrak-abrik rumah pelesir ini akhirnya memaksa Bi Tok Siocia melarikan diri dan banyak anak buahnya menjadi korban kemarahan Cin Cin, dibuntungi sebelah tangan mereka!

Bi Tok Siocia mengalah dan lari, bukan hanya karena ilmu kepandaian Cin Cin yang hebat membuatnya merasa jerih, akan tetapi karena ia tahu bahwa Cin Cin murid Tung-hai Mo-li, ia tidak berani memusuhi murid datuk timur yang disegani ayah angkatnya itu. Ayah angkatnya adalah Ouw Kok Siang, majikan bukit Liong-san.

Setelah meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa di Ji-goan, Bi Tok Siocia (Nona Beracun Cantik) Ouw Ling pergi ke Lok-yang. Petualangannya di Ji-goan sudah berakhir dan kini ia mencari pengalamanan baru, sesuai dengan wataknya yang selalu haus akan petualangan. Ketika memasuki rumah makan itu, duduk dan memesan makanan, pandang matanya melihat Siong Ki dan ia segera merasa tertarik sekali. Bi-tok Siocia memang seorang wanita yang selalu haus akan pria yang tampan, seorang yang mata keranjang dan cabul.

Dan Siong Ki memang seorang pemuda yang memiliki daya tarik cukup besar. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan matanya yang bersinar tajam dan mulut yang selalu tersenyum sinis. Dagunya tebal membayangkan kekuatan, dan tubuh yang tinggi tegap itupun nampak kokoh. Bi-tok Siocia Ouw Ling yang baru saja mengalami kegagalan dan kekecewaan di Ji-goan, kini haus akan hiburan dan ia mulai mengincar pemuda tampan yang duduk seorang diri itu dengan penuh perhatian.

Bukan hanya suara saja yang mengandung getaran yang bergelombang dan dapat ditangkap oleh orang lain dari jarak jauh, juga pandang mata mengandung getaran kuat bagi orang yang memiliki kepekaan. Kalau kita memandang seseorang dari samping atau belakang dengan penuh perhatian dan terus-menerus, suatu saat orang yang kita pandang itu akan menoleh ke arah kita tanpa dia sadari sendiri, dan itulah akibat dari getaran yang terkirim melalui pandang mata kita dan akhirnya tertangkap oleh orang yang kita pandang, walaupun di bawah sadar dan membuat dia menengok.

Siong Ki adalah seorang yang banyak berlatih samadhi dan sin-kang dan ia memang selalu berlatih untuk mempertajam kepekaannya. Kini ada orang memandang kepadanya penuh perhatian, tentu saja sejak tadi dia telah dapat menangkap dan diapun pernah mengerling ke kanan dan melihat bahwa di sana duduk seorang wanita cantik yang mengamatinya dari jauh. Akan tetapi, dia tidak menanggapi. Oleh gurunya, dia dididik agar bersikap sopan dan pandai membawa diri sebagai seorang pendekar sejati, juga seorang yang banyak membaca dan mengenal kesusilaan dan kebudayaan.

Tiga orang pengemis anggota Hek I Kai-pang yang tadi telah mengusir para pengemis lain, kini mengamati ke dalam rumah makan dan ketika mereka itu melihat bahwa di rumah makan itu duduk belasan orang tamu, seorang di antara mereka memberi isyarat dan merekapun masuk ke dalam rumah makan. Para pelayan yang melihat ini, tidak ada yang berani melarang walaupun mereka mengerutkan alis dan merasa tidak senang. Tentu saja menyebalkan sekali kalau ada tiga orang pengemis begitu saja memasuki rumah makan, bukan untuk membeli makanan melainkan untuk mengemis kepada para tamu.

Dan para tamu agaknya adalah orang-orang Lok-yang. Mereka mengenal anggota pengemis Hek I kai-pang, maka tanpa banyak bantah lagi, mereka dengan suka rela mengeluarkan uang dari saku baju dan memberi derma kepada tiga orang pengemis itu yang mengacungkan sebuah kaleng bundar. Tak seorangpun di antara para tamu menolak, dan bukan pula uang receh kecil yang dimasukkan ke dalam kaleng itu.

Sejak mereka memasuki rumah makan, Siong Ki telah melihat mereka. Dia merasa penasaran dan heran sekali mengapa ada tiga orang berpakaian pengemis memasuki rumah makan dan keheranannya meningkat ketika tiga orang pengemis itu menerima uang dari para tamu seperti petugas-petugas pemungut pajak saja, sama sekali bukan seperti orang minta-minta. Dan melihat betapa sikap mereka itu keren, dengan alis berkerut dan mata melotot, diapun mengerti bahwa mereka tentulah jagoan-jagoan berpakaian pengemis yang suka memaksakan kehendak, dan para tamu itu takut membuat keributan maka memberi uang tanpa banyak cakap lagi.

Akhirnya, setelah berkeliling, hanya tinggal Siong Ki dan Bi-tok Sio-cia saja yang belum mereka datangi. Kini mereka tiba di meja Siong Ki dan seperti yang telah mereka lakukan pada para tamu di meja lain, seorang di antara mereka datang memegang kaleng itu menyodorkan kalengnya ke arah Siong Ki, sedangkan dua orang yang lain memandang kepada Siong Ki dengan alis berkerut dan mata melotot! Siong Ki balas memandang mereka bertiga. Dia sudah berhenti makan, dan dengan sikap yang tidak mengerti, dia lalu bertanya, suaranya tenang dan halus.

"Kalian ini mau apa?" Siong Ki mengerling ke arah wanita tadi dan melihat bahwa wanita itu memandang kepadanya dan wanita itu seperti tersenyum geli.

Pengemis yang memegang kaleng, menggerakkan kalengnya sehingga terdengar bunyi uang berkerincingan di dalam kaleng itu. Seorang pengemis yang melotot dan berhidung besar, berkata dengan suara keras. "Hemm, engkau tentu bukan orang sini. Sobat, kami minta sumbangan."

Orang ke dua yang matanya sipit sekali hamper terpejam, menyeringai ketika berkata. "Karena engkau tamu dari luar kota, harus memberikan dua kali lipat!"

Siong Ki tidak ingin melihat keributan di situ, maka diapun mengambil sebuah uang receh kecil dan memasukkannya ke dalam kaleng sambil berkata. "Nah, ini sedekah dariku, harap cepat pergi dan jangan menggangguku!"

Si pemegang kaleng menurunkan kalengnya dan melihat isinya. Ketika melihat uang receh kecil itu, dia cemberut, lalu mengambil uang itu, dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengah, kemudian dia berkata galak, "Sobat, jangan main-main dengan kami! Kami adalah tiga orang anggota Hek I Kai-pang. Dengan memberi recehan kecil, engkau menghina kami!" Orang yang mulutnya lebar ini menggerakkan tangan yang menjepit uang recehan dan uang itupun meluncur ke atas meja Siong Ki dan menancap sampai hampir seluruhnya ke dalam papan meja!

"Hayo berikan dua potong uang perak!" kata si hidung besar dengan sikap mengancam.

"Masih untung teman kami tidak melempar uang recehan kecil itu ke dalam kepalamu!" kata pula si mata sipit.

Siong Ki masih tersenyum, akan tetapi senyumnya mengejek dan dingin, sedangkan sinar matanya mulai mencorong marah. Dengan gerakan seenaknya, dia mengusap permukaan meja dan kedua jari tangannya telah berhasil mencabut uang recehan yang menancap ke atas meja. Dia mengangkat uang tembaga itu ke atas dan berkata,

"Agaknya kuberi sepotong uang, kalian menjadi tidak puas karena bingung untuk membagi. Nah, kubagi tiga untuk kalian masing-masing sepotong!" Berkata demikian, Siong Ki menggunakan jari tangannya untuk mematah-matahkan mata uang itu menjadi tiga potong, seolah-olah uang tembaga itu hanya terbuat dari daun kering saja.

Melihat ini, tiga orang pengemis itu terbelalak. Akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang biasanya mau menang sendiri, apalagi mengandalkan kepandaian dan kekuatan mereka yang suka mengeroyok, maka menghadapi pertunjukan kekuatan itu, mereka bahkan menjadi marah.

"Bagus! Engkau ingin memamerkan sedikit kepandaianmu kepada kami? Jangan salahkan kami kalau kami mempergunakan kekerasan!" kata si hidung besar dan mereka bertiga bersiap untuk melakukan pengeroyokan.

Pada saat itu, terdengar suara tawa merdu dari samping, disusul suara wanita. "Hi-hik, agaknya Hek I Kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) tidak becus mengurus anak buahnya, hingga kini anak buah Hek I Kaipang bukan lagi para pengemis, melainkan para perampok yang tak tahu malu! Cih, sungguh memualkan perutku!"

Tentu saja tiga orang pengemis itu menjadi marah sekali. Kemarahan mereka kepada Siong Ki lenyap karena ada orang lain yang mengucapkan penghinaan hebat kepada mereka, bahkan kepada perkumpulan dan ketua mereka. Cepat mereka memutar tubuh menghadapi wanita yang mengeluarkan kata-kata tadi, sedangkan Siong Ki tahu bahwa mengejek itu adalah wanita cantik yang sejak tadi memperhatikan dia. Diapun menengok dan memandang dan dia merasa khawatir. Wanita itu cantik jelita dan tidak kelihatan seperti wanita kang-ouw yang berilmu, bagaimana berani bersikap menghina tiga orang pengemis itu. Diam-diam diapun bersiap untuk melindungi kalau-kalau wanita itu terancam bahaya.

Si hidung besar memandang kepada wanita itu dan diapun merasa heran. Wanita itu cantik jelita, berani sekali menghina dia dan dua orang temannya! "Apa kau bilang tadi?" bentaknya, karena dia masih belum percaya kalau wanita cantik ini yang tadi menghina mereka.

Wanita itu, yang belum selesai makan, menggunakan sumpitnya menjepit sepotong sayur hijau dan memasukkan ke mulutnya, mengunyahnya dengan gerakan mulut yang manis sebelum menjawab. Nampaknya tenang sekali. "Aih, kalian belum mendengar apa yang kukatakan tadi? Sayang..." ia lalu menuding mereka satu demi satu, "hidungmu saja besar, dan yang itu matanya terlalu sipit, dan yang ke tiga perutnya saja yang lebar, akan tetapi agaknya telinga kalian bertiga terlalu sempit dan agak tuli sehingga tidak mendengar apa yang kukatakan tadi. Nah, dengar baik-baik, aku mengatakan bahwa kalian ini hanyalah pencoleng-pencoleng kecil yang mengenakan pakaian pengemis, dan bahwa kalian bertiga tidak tahu malu, mengotorkan tempat ini dan bahwa ketua kalian tidak becus mengajar kalian! Nah, sudah dengar sekarang?"

Kemarahan tiga orang anggota Hek I Kai-pang berkobar, akan tetapi pada saat itu pemilik rumah makan tergopoh-gopoh lari menghampiri dan diapun memberi hormat kepada tiga orang pengemis itu dengan membungkuk dalam. "Harap sam-wi (anda bertiga) mengingat hubungan baik antara kami dengan ketua sam-wi dan tidak mengadakan perkelahian di sini sehingga akan merusak tempat kami.

Mendengar ucapan itu, tiga orang pengemis saling pandang, dan si hidung besar memberi isyarat kepada dua orang kawannya untuk pergi. "Kami akan menunggumu di luar untuk membuat perhitungan!" katanya dengan nada mengancam kepada wanita cantik itu.

Mereka lalu melangkah dengan wajah kemerahan karena amarah yang ditahan-tahan. Sikap dan ucapan pemilik rumah makan tadi menunjukkan bahwa dia tentu seorang penderma yang mengenal baik ketua mereka, maka kalau sampai mereka berkelahi dan merusak perabot rumah makan kemudian si pemilik rumah makan melaporkan, tentu mereka akan mendapat teguran dan hukuman.

Siong Ki merasa heran. Bagaimana wanita itu seberani itu menghina tiga orang pengemis tadi yang sudah jelas merupakan orang-orang kasar dan jahat? Dia merasa tidak enak. Bagaimanapun juga tiga orang pengemis itu tadi menghina dia, wanita itu mencampuri untuk membelanya. Kalau sampai nanti wanita itu diganggu, bagaimana ia dapat mendiamkan saja? Biarpun dia sudah selesai makan, dia tidak segera membayar harga makanan dan pergi, melainkan menanti sampai wanita itu selesai makan dan membayar, diapun membayar dan setelah wanita itu bangkit dan keluar, baru dia keluar pula dari rumah makan itu.

Wanita itu hanya mengerling dan tersenyum saja kepadanya, tanpa mengeluarkan kata-kata. Siong Ki semakin heran dan juga kagum. Dari dalam rumah makan saja sudah nampak betapa tiga orang pengemis tadi menanti di luar rumah makan dan banyak orang bergerombol di sana, tanda bahwa banyak yang hendak jadi penonton, atau mungkin tiga orang pengemis itu mengumbar suara mengatakan bahwa mereka hendak menghajar seorang wanita yang berani menghina mereka, sehingga banyak orang ingin menonton. Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum-senyum manis.

Setelah wanita itu tiba di luar, suasana menjadi ramai dan tegang, dan Siong Ki menyelinap di antara para penonton, siap untuk melindungi wanita itu. Akan tetapi, wanita itu dengan langkah yang tenang dan berani, menghampiri tiga orang pengemis yang sudah menanti di situ dengan sikap bengis, sedangkan para penonton sudah mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka.

"Aih, kalian masih berada di sini menantiku? Bagus, memang kalian ini harus berlutut minta ampun dulu kepadaku, baru boleh pergi!" kata wanita itu dan Siong Ki diam-diam mengeluh.

Wanita ini ternyata seorang yang amat berani menghina orang sehingga mendekati sombong! Sama dengan mencari penyakit! Andaikata ia seorang laki-laki, tentu Siong Ki tidak akan mau memperdulikannya lagi dan biar saja manusia sombong itu berkelahi melawan tiga orang pengemis sombong. Akan tetapi ia seorang wanita dan dia harus membelanya. Sikap memandang rendah dan ucapan meremehkan dari wanita itu membuat tiga orang pengemis tak mampu menahan kesabaran mereka lagi. Si mulut lebar sudah melangkah maju dengan kedua tangan dikepal.

"Perempuan sombong, kurontokkan gigimu!" bentaknya sambil menyerang dengan tamparan ke arah mulut wanita itu. Akan tetapi, dengan sekali gerakan saja, wanita itu menarik tubuh atas ke belakang sehingga tamparan itu mengenai angin, dan iapun tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.

"Hemm, sayang gigiku yang rapi ini kau rontokkan. Kalau gigimu yang jelek dan kotor itu, patut dirontokkan." Tiba-tiba saja, kaki wanita itu sudah bergerak cepat seperti kilat menyambar dan diangkat tinggi ke atas.

"Krakkk...!!" Mulut itu dihantam sepatu dan rontoklah beberapa buah gigi si mulut lebar dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Dia terjengkang dan mengusap darah dari mulutnya. Sedangkan para penonton menjadi terkejut dan kagum. Juga Siong Ki diam-diam mencela diri sendiri yang kurang waspada, memandang rendah wanita cantik itu yang ternyata sama sekali tidak membutuhkan perlindungan darinya, kalau hanya menghadapi gangguan pengemis mulut besar itu saja.

Akan tetapi kini pengemis yang roboh itu sudah meloncat bangun dan mencabut sebatang golok yang tadinya diselipkan di ikat pinggang. Dua orang pengemis lainnya juga sudah mencabut golok mereka dan kini tiga orang itu menghadapi wanita cantik itu dari depan, kanan dan kiri. Melihat ini, kembali Siong Ki merasa khawatir dan dia sudah melangkah maju ke depan.

"Hemm, kalian ini tiga orang laki-laki mengancam wanita dengan senjata tajam? Sungguh tidak adil, dan sungguh curang, menunjukkan bahwa kalian memang hanya pengecut-pengecut besar yang beraninya hanya main keroyokan!"

Melihat majunya Siong Ki, Bi Tok Siocia tersenyum manis. Tadi dalam rumah makan ia sudah melihat betapa pemuda tampan gagah yang menarik perhatiannya itu mematah-matahkan sekeping uang dengan mudah, tanda bahwa dia bukan seorang pemuda biasa. Dan kini, tepat seperti dugaannya, pemuda itu maju membelanya. Tentu saja hatinya semakin kagum dan tertarik.

Si hidung besar segera memutar goloknya dan membentak Siong Ki. "Engkau berani mencampuri berarti sudah bosan hidup!" Diapun sudah menyerang dengan goloknya, akan tetapi dengan mudah Siong Ki mengelak. Si Mulut lebar yang kini menjadi si mulut ompong karena giginya rontok, dibantu oleh si mata sipit, sudah menyerang dengan golok mereka, mengeroyok Bi Tok Siocia!

Siong Ki ingin cepat-cepat menjatuhkan si hidung besar agar dia dapat membantu wanita itu. Maka ketika untuk ke empat kalinya golok menyambar, dia tidak mengelak seperti tadi, melainkan dia bahkan mendahului dengan langkah ke depan, tangannya bergerak menyambut dengan pukulan ke arah pergelangan tangan yang memegang golok, dari samping sedangkan tangan kirinya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

Si hidung besar tidak mengira bahwa lawan berani menyambut serangannya seperti itu, dan ketika lengannya terkena pukulan tangan kiri lawan, seketika lengan itu menjadi lumpuh dan goloknya terpental, dan di detik lain, dadanya terkena hantaman dengan tangan terbuka. Diapun terjengkang dan terbanting roboh, ketika bangkit duduk, dia memegangi dadanya karena dada itu terasa sesak, sukar bernapas.

Ketika Siong Ki membalik hendak membantu wanita tadi, diapun tertegun. Bukan main wanita itu. Dengan tangan kosong saja, wanita itu bukan hanya mampu menandingi dua orang pengeroyoknya, bahkan kini nampak ia menghajar mereka dengan tendangan-tendangan kakinya. Dua orang itu dibuat seperti dua buah bola saja, ditendangi jatuh bangun dan akhirnya mereka tidak mampu melawan lagi, muka mereka bengkak-bengkak dan berdarah karena beberapa kali disambar sepatu wanita itu!

Hanya si mata sipit yang masih dapat berdiri dan terengah-engah, namun dia memaksa diri memandang wanita itu yang berdiri sambil bertolak pinggang dan tersenyum kepadanya. Lalu dia bertanya,

"Kami mengaku kalah. Siapakah namamu, nona?"

Wanita itu tersenyum mengejek dan mengerling kepada Siong Ki yang masih memandang kagum. "Kalian hendak mengadu kepada ketua kalian? Boleh, boleh! Katakan saja bahwa Nona Ouw yang menghajarmu. Nah, pergilah kalian bertiga sebelum berubah pikiranku dan kalian tidak akan dapat kuampuni lagi."

Tiga orang pengemis itu pergi dengan kepala tunduk, dan Bi Tok Siocia segera menghampiri Siong Ki dan mengangkat kedua tangan ke depan dada, dengan sikap ramah dan manis iapun memberi hormat yang segera dibalas oleh Siong Ki.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Tai-hiap." katanya dengan suara merdu.

Disebut tai-hiap (pendekar besar), Siong Ki tersenyum. "Harap nona tidak menyebut tai-hiap kepadaku. Engkau sendiri memiliki kepandaian yang hebat, nona. Aku merasa malu telah salah duga sehingga lancang mencampuri urusan itu. Padahal aku tahu sekarang bahwa nona sama sekali tidak memerlukan bantuanku."

"Ah, engkau tidak mengerti, tai-hiap. Aku memang membutuhkan pertolonganmu, membutuhkan bantuanmu. Engkau tidak mengenal siapa Hek I Kai-pang. Mari kita bicara di tempat sunyi, akan kuceritakan kepadamu, di sini banyak orang dan tidak leluasa."

Siong Ki mengangguk. Memang dia belum mengenal macam apa Hek I Kaipang itu, dan mengapa pula wanita yang lihai ini mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuannya. Mereka lalu meninggalkan tempat itu.

"Kalau engkau tidak berkeberatan, kita dapat bicara di ruangan dalam rumah penginapan di mana aku bermalam, tai-hiap." kata Ouw Ling. Karena tidak mengenal tempat lain agar mereka dapat bicara, Siong Ki hanya mengangguk. Ketika melakukan perjalanan menuju ke rumah penginapan yang besar itu, Bi-tok Siocia Ouw Ling berbisik, "Seperti sudah kuduga, kita dibayangi orang. Mereka tentulah para anggota Hek I Kai-pang. Biarlah, kita pura-pura tidak tahu saja."

Siong Ki melirik dan benar saja. Ada empat lima orang yang membayangi mereka secara berpencar, bercampur dengan orang-orang yang berlalu lalang di ke dua tepi jalan raya itu. Setelah mereka memasuki rumah penginapan, Ouw Ling mengajak Siong Ki bicara di ruangan dalam, sebuah ruangan yang memang disediakan untuk para tamu. Ruangan ini cukup luas dan kebetulan pada saat itu tidak terdapat tamu lain.

"Nah, di sini kita dapat bicara dengan leluasa," kata wanita itu. "Akan tetapi sebelum itu, Apakah tidak sudah tiba waktunya kita saling berkenalan? Namaku Ouw Ling dan aku berasal dari Liong-san (Bukit Naga)."

Siong Ki menjawab, "Namaku The Siong Ki dan aku berasal dari dusun Ta-bun-cung."

Karena ia belum tahu pemuda itu termasuk golongan apa, maka Ouw Ling tidak bertanya lebih mendalam. Ia sendiri belum berani mengakui bahwa ia adalah puteri angkat Ouw Kok Sian, datuk besar dan majikan Liong-san.

"Nah, sekarang kita telah berkenalan, The-taihiap..."

"Harap nona jangan menyebut tai-hiap kepadaku, rasanya janggal dan tidak enak."

Ouw Ling tersenyum manis. "Baiklah, setelah kita berkenalan, dan melihat bahwa engkau lebih muda dariku, bagaimana kalau aku menyebutmu siauwte (adik) saja dan engkau menyebut aku cici (kakak perempuan)?"

Siong Ki tersenyum, "Bagaimana engkau tahu bahwa aku lebih muda darimu, karena melihat keadaan dirimu, belum tentu kalau aku lebih muda."

Siong Ki tentu saja dapat menduga bahwa wanita itu lebih tua darinya, akan tetapi dia memang pandai membawa diri dan pandai menyenangkan hati orang. Ucapannya itu walaupun hanya sekedarnya namun jelas telah membuat wajah Ouw Ling berseri saking girangnya. Wanita mana yang tidak akan berseri wajahnya kalau dikatakan bahwa ia nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya!

"Aku yakin bahwa aku lebih tua darimu, siauwte, walau hanya beberapa tahun mungkin. Akan tetapi itu tidak penting sekali, bukan? Kalau boleh aku mengetahui, engkau dari mana dan hendak kemana? Apakah engkau mempunyai keperluan khusus datang ke Lok-yang ini?"

Siong Ki menggeleng kepala. "Tidak mempunyai keperluan khusus, aku baru saja memasuki Lok-yang dalam perjalananku merantau dan mencari pengalaman hidup. Baru pagi tadi aku datang ke sini dan kebetulan terlibat peristiwa dalam rumah makan tadi."

"Aih, kalau begitu, kenapa tidak menginap saja di rumah penginapan ini, The-siauwte? Di sini tempatnya bersih dan cukup murah. Dan tahukah kau, kita mempunyai banyak persamaan. Aku sendiripun sedang merantau, atau katakanlah berpesiar mencari pengalaman hidup dan meluaskan pengetahuan. Kalau engkau suka, kita dapat menjadi teman seperjalanan!" Ucapan itu dikeluarkan secara wajar sehingga Siong Ki tidak merasakan suatu kelainan, walaupun penawaran seperti itu dari seorang wanita kepada seorang pria sebetulnya tidaklah pada tempatnya.

"Soal itu mudah, Ouw-cici, sekarang aku ingin mendengar tentang Hek I Kaipang."

"Hek I Kaipang adalah perkumpulan pengemis di Lok-yang dan sekitarnya yang terkenal. Ketuanya berjuluk Hek I Sin-kai (Pengemis Sakti Baju Hitam) yang terkenal lihai. Pengaruhnya besar sekali karena selain ketuanya sakti, juga anak buahnya yang berjumlah ratusan orang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Jangankan orang-orang biasa, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw tidak berani main-main terhadap mereka, dan para pejabat daerahpun mempunyai hubungan baik dengan para pimpinannya."

"Hemm, pantas saja anak buahnya bersikap demikian ugal-ugalan. Kekuasaan itu agaknya membuat mereka menjadi sewenang-wenang," kata Siong Ki. "Akan tetapi, kalau engkau sudah tahu keadaannya seperti itu, mengapa tadi engkau sengaja memancing keributan dengan mereka, enci?"

Wanita itu tersenyum dan mengamati wajah Siong Ki dengan pandang mata begitu mesra dan manis, membuat pemuda itu merasa mukanya menjadi panas dan tersipu. "Tadinya aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Akan tetapi melihat mereka mengganggumu dan melihat engkau memiliki kepandaian ketika engkau mematahkan sekeping uang itu, timbul keberanianku untuk menentang mereka. Memang sudah lama aku mendengar akan kesewenang-wenangan mereka, dan aku ingin tahu sampai di mana kelihaian ketuanya. Karena itulah, aku mohon bantuanmu, siauwte, karena aku yakin bahwa urusannya tidak hanya sampai di sini saja. Tadi engkau melihat sendiri bahwa kita dibayangi orang, tentu tak lama lagi ketuanya akan menghubungi kita dan aku memerlukan bantuanmu untuk menghadapi mereka. Tentu saja kalau engkau suka dan berani."

Siong Ki adalah murid Naga Sakti Sungai Kuning, tentu saja telah menguasai ilmu silat yang tinggi, juga dia diberi pelajaran kebudayaan dan sastra, akan tetapi dia baru saja keluar dari perguruan dan sama sekali tidak mempunyai pengalaman menghadapi akal dan tipu muslihat orang-orang kang-ouw yang licin dan cerdik. Maka, diapun tidak merasa bahwa ia sedang dibujuk secara cerdik sekali oleh wanita yang tergila-gila kepadanya itu.

Kalau saja Ouw Ling tidak mengeluarkan ucapan kalimat terakhir itu, tentu dia akan meragu, karena dia merasa tidak mempunyai urusan dengan Hek I Kai-pang. Akan tetapi, wanita itu seolah menantangnya ketika mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuannya untuk menghadapi Hek I Kai-pang, kalau dia berani! Kata-kata kalau dia berani inilah yang mencambuknya dan seolah memaksanya untuk tidak dapat menolak uluran tangan wanita itu.

"Ouw-cici, tentu saja aku berani dan kalau memang pihak Hek I Kaipang hendak memperpanjang urusan di rumah makan tadi, aku tentu akan membantumu."

"Kalau begitu, sebaiknya sekarang juga aku memesankan sebuah kamar untukmu, siauw-te!" kata wanita itu dengan sikap gembira dan iapun memanggil seorang pelayan rumah penginapan.

Ketika pelayan itu datang, ia memesan sebuah kamar lagi untuk Siong Ki dan dengan sikap seperti tidak sengaja, ia minta sebuah kamar yang berdekatan dengan kamarnya untuk pemuda itu. Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut di luar rumah penginapan dan seorang pelayan berlari datang memasuki ruangan itu.

"Nona. ada orang-orang dari Hek I Kai-pang datang mencari nona..." Jelas bahwa pelayan itu nampak ketakutan.

Ouw Ling tersenyum tenang dan menoleh kepada Siong Ki. "Nah, tepat seperti dugaanku. The-siauwte, sebaiknya kau simpan dulu buntalan pakaianmu ke dalam kamarmu, baru kita menemui mereka."

Siong Ki menyetujui, menyimpan buntalan pakaiannya dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya, kemudian dia keluar lagi sambil membawa pedang Seng-kong-kiam yang digantung di pungungnya. Ternyata Ouw Ling sudah menantinya, dan wanita ini pun agaknya sudah siap siaga. Sepasang goloknya juga terselip di belakang punggung sehingga ia nampak cantik dan gagah sekali.

"Bagus, engkau sudah membawa pedangmu, siauwte. Kita harus siap-siaga, siapa tahu kita akan terpaksa menggunakan senjata menghadapi mereka."

Keduanya lalu keluar dan depan rumah penginapan itu nampak lengang. Para tamu dan para pelayan rumah penginapan itu sudah menjauhkan diri bersembunyi, agaknya tidak ingin terlibat. Di pekarangan rumah penginapan itu nampak belasan orang berpakaian serba hitam yang bertambal-tambalan, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan yang bersikap garang.

Akan tetapi, ketika mereka semua melihat munculnya Ouw Ling dan Siong Ki mereka bersikap hormat, bahkan si tinggi besar yang garang itu cepat melangkah ke depan dan mengangkat kedua tangan ke depan dada ke arah Ouw Ling dan suaranya terdengar lantang namun hormat.

"Apakah kami berhadapan dengan Bi Tok Siocia dari Liong-san?"

Ouw Ling tersenyum mengejek. "Kalau benar kalian mau apa? Mau memperpanjang urusan di rumah makan itu? Mau mengeroyokku? Majulah dan sekali ini, aku tidak akan bersikap lemah, akan kupenggal leher kalian semua!" kata Ouw Ling dan sikapnya ini membuat Siong Ki bergidik. Kiranya wanita itu dapat pula bersikap keras dan keji kalau perlu. Akan tetapi, memang para pengemi palsu ini patut dihajar, pikirnya.

Dihardik seperti itu, sekali ini para pengemis itu sama sekali tidak kelihatan marah, bahkan kelihatan gentar. Kembali si tinggi besar memberi hormat. "Harap Siocia sudi memaafkan tiga orang anak buah kami yang seperti buta tidak mengenal bahwa nona adalah Bi Tok Siocia dari Liong-san. Mendengar peristiwa tadi, pangcu (ketua) kami marah sekali dan tiga orang itu telah menerima hukuman. Pangcu adalah sahabat baik dari Majikan Liong-san, maka sekarang pangcu mengutus kami untuk mengundang nona ke tempat kami, di mana pangcu akan menyambut sendiri untuk mohon maaf kepada Siocia."

Luar biasa sekali, pikir Siong Ki. Setelah mendengar nama julukan Ouw Ling, yaitu Bi Tok Sio-cia, para pengemis itu menjadi ketakutan, bahkan ketuanya sendiri yang mengundangnya untuk memohon maaf! Dia tidak tahu siapakah Majikan Liong-san dan belum pernah mendengar nama julukan Ouw Ling. Gurunya tidak pernah bercerita tentang majikan Liong-san, walaupun ada beberapa orang datuk kang-ouw yang dia dengar dari keterangan suhunya.

Ouw Ling menoleh kepadanya. "Bagaimana, siauwte? Hek I Kai-pang mengundang kami, perlukah kami menerima undangan itu dan datang ke sarang Hek I Kai-pang untuk menemuinya?"

Siong Ki tersenyum girang. Bagaimanapun juga, wanita ini amat menghargainya dan telah mengangkatnya dalam pandangan para anggota Hek I Kaipang. Dia bertanya. "Apakah engkau mengenal pangcu itu, enci?"

"Aku hanya pernah mendengar namanya. Ayahku yang mengenalnya. Sebetulnya, aku tidak senang diundang seperti ini. Kenapa bukan dia saja yang datang ke sini kalau hendak minta maaf? Akan tetapi, mengingat dia teman ayahku, dan aku di pihak yang lebih muda, sebaiknya kalau kita pergi ke sana, hendak kulihat apa yang hendak dia katakan."

"Kalau begitu, baik, kita pergi saja," kata Siong Ki.

Para anggota Hek I Kaipang merasa heran melihat wanita itu hendak pergi bersama pemuda yang tidak mereka kenal, akan tetapi mereka mendengar bahwa tadi pemuda itu yang menimbulkan keributan dengan anak buah Hek I Kaipang. Karena yang mengajak pemuda itu adalah Bi Tok Sio-cia, merekapun tidak ada yang berani membantah. Si tinggi besar itu segera berkata.

"Siocia, pangcu telah mengirim sebuah kereta untuk menjemput sio-cia." Dia memberi isyarat dan sebuah kereta kecil ditarik dua ekor kuda memasuki pekarangan itu dari luar.

Kereta itu cukup bagus, seperti kereta milik seorang pembesar saja! Bukan main, pikir Siong Ki. Pengemis mempunyai kereta berkuda dua untuk menjemput tamu! Dengan sikap angkuh Bi Tok Siocia naik ke dalam kereta bersama Siong Ki dan kusir kereta lalu menjalankan kudanya, diikuti oleh belasan orang anggota Hek I Kaipang.

Setelah kereta dan para pengiringnya meninggalkan pekarangan itu, barulah para tamu dan pelayan rumah penginapan berani keluar dan peristiwa itu tentu saja menjadi percakapan orang. Baru mereka tahu bahwa wanita cantik yang hanya dikenal sebagai Ouw Siocia di rumah penginapan itu adalah seorang wanita yang dijemput kereta oleh ketua Hek I Kaipang, berarti tentu saja bukan wanita sembarangan. Apalagi setelah berita tentang peristiwa perkelahian di depan rumah makan itu tersiar, semua orang memberitakan bahwa Ouw Siocia adalah seorang wanita perkasa.

Kereta itu keluar dari Lok-yang, menuju sebuah bukit kecil. Sarang Hek I Kaipang berada di lereng bukit ini, dan di sepanjang jalan mendaki bukit, nampak para anggota Hek I Kaipang berdiri di tepi jalan. Diam-diam Siong Ki harus mengakui bahwa perkumpulan pengemis itu memang kuat, mempunyai banyak anak buah yang agaknya teratur seperti pasukan saja.

Kalau tadinya Siong Ki mengkhawatirkan adanya perangkap yang diatur oleh ketua perkumpulan itu, kini dia melihat bahwa kekhawatirannya itu keliru. Agaknya nama besar Bi Tok Siocia sudah cukup menjadi jaminan, sehingga timbul keinginan tahu siapa sebenarnya wanita ini dan sampai di mana kelihaiannya, maka namanya sempat membuat pimpinan Hek I Kaipang yang demikian besarnya menyambutnya dengan sikap hormat.

Hek I Sin-kai sendiri keluar menyambut ketika kereta berhenti di depan sebuah bangunan yang sama sekali tidak pantas menjadi rumah pengemis! Perkampungan itupun tidak ada tanda-tandanya menjadi perkampungan pengemis. Bangunan-bangunannya dari tembok. Agaknya hanya pakaian mereka saja yang berbau pengemis, karena penuh tambalan. Apalagi bangunan di tengah, di depan mana kereta berhenti, merupakan bangunan yang megah.

Kakek yang menyambut mereka itu bertubuh tinggi kurus, berusia limapuluh tahun lebih. Mukanya kuning sehingga melihat tubuh tinggi kurus itu, dia lebih mirip seorang yang berpenyakitan, yang tidak sehat. Dia membawa sebatang tongkat mengkilap berwarna hitam, dan pakaiannya yang serba hitam itu terbuat dari sutera yang halus dan mahal! Sepatunya juga hitam mengkilat. Berbeda dengan pakaian anak buahnya, tidak nampak sedikit tambalanpun di bajunya. Dia lebih mirip seorang hartawan berpakaian sutera hitam daripada ketua pengemis.

Begitu Bi Tok Siocia turun dari kereta, Hek I Sin-kai menyambutnya dengan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, engkaukah Bi Tok Siocia? Sungguh pantas engkau menjadi puteri Ouw Kok Sian, karena engkau ternyata memiliki keberanian yang besar!"

"Paman tentulah Hek I Sin-kai Ma Siu, pendiri Hek I Kaipang? Pernah aku mendengar nama paman dari ayah," kata Ouw Ling.

"Ha-ha-ha, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan ayahmu. Dan inikah pemuda yang membikin ribut di rumah makan itu? Siapakah ini, nona Ouw? Sahabatmu, ataukah tunanganmu?"

Kalau orang lain ditanya tentang tunangan mungkin akan marah. Akan tetapi tidak demikian dengan Ouw Ling. Ia malah tersenyum senang. "Dia bernama The Siong Ki, seorang sahabatku yang baru, paman. Bukan dia yang membikin ribut di rumah makan, melainkan tiga orang anak buahmu yang tak tahu diri. Aku yang menjadi saksi bahwa anak buahmu yang bersalah."

Ketua itu menggerakkan tangan dengan tidak sabar. "Aku tahu... aku tahu... dan aku telah menghukum mereka. Engkau dapat melihatnya sendiri nanti. Nah, Ouw Siocia, dan engkau The-sicu (orang gagah The), silakan masuk. Kalian menjadi tamu-tamu kehormatan kami hari ini."

Lega karena mendapat sambutan yang demikian hormat dan pihak kai-pang itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap bermusuh, Siong Ki bersama Ouw Ling memasuki rumah besar itu dan mereka dipersilakan masuk ke ruangan tamu yang besar, di mana ternyata telah dipersiapkan meja besar untuk pesta makan minum! Meja itu besar, akan tetapi karena hanya sebuah dan berada di ruangan tamu yang luas, maka tampak kecil.

Hek I Sin-kai Na Siu mempersilakan mereka berdua duduk menghadapi meja besar. Dia sendiri menemani mereka. Agaknya, ketua ini benar-benar menghormati kedua orang tamunya. Buktinya, tidak ada di antara pembantu-pembantunya yang ikut duduk menghadapi meja itu. Setelah dua orang tamunya duduk, pangcu itu bertepuk tangan. Seorang penjaga memasuki ruangan dan Hek I Sin-kai mengeluarkan perintah.

"Seret tiga orang anggota yang membikin malu tadi masuk!"

Penjaga pergi dan tak lama kemudian, dikawal oleh tiga orang anggota kai-pang, masuklah tiga orang itu. Mereka terhuyung-huyung dan Siong Ki melihat betapa tiga orang pengemis yang mengganggunya di rumah makan tadi, dalam keadaan menyedihkan, tersungkur dan berlutut. Pakaian mereka koyak-koyak dan berlepotan darah, dan terutama sekali di bagian punggung. Dia mengerti bahwa tiga orang itu telah menerima hukuman cambuk yang membuat kulit punggung mereka pecah-pecah berdarah.

"Nah, inilah mereka, nona Ouw. Sekarang terserah kepada nona dan sicu, apa yang harus kami lakukan dengan mereka? Membunuh mereka atau mengampuni mereka?" tanya ketua perkumpulan pengemis itu.

Mendengar ini, tiga orang pengemis yang sekarang sudah kehilangan kegarangan mereka itu berlutut menghadap ke arah dua orang muda itu dan si hidung besar mewakili kedua orang temannya, berkata dengan suara gemetar.

"Nona, kami mohon ampun..."

Bi Tok Siocia tersenyum mengejek. Khawatir kalau wanita itu minta agar mereka dibunuh, Siong Ki cepat berkata, "Mereka sudah menerima hukuman. Sudahlah, pangcu, urusan ini tidak perlu diperpanjang lagi."

Mendengar ini, Bi Tok Siocia tersenyum lebar, lalu mengangguk-angguk. "Pangcu, The-siauw-te sudah mengambil keputusan dan akupun setuju."

"Terima kasih, nona, terima kasih, sicu!" Tiga orang itu berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

"Bawa mereka keluar dan suruh hidangkan makan minum!" kata ketua Hek I Kai-pang kepada tiga orang pengawal.

Mereka semua keluar dan tak lama kemudian, gadis-gadis manis datang membawa hidangan. Kembali Siong Ki tertegun. Namanya saja pengemis, akan tetapi kini mampu mengadakan pesta dengan masakan-masakan yang mahal. Anggur dan arak yang baik, dan dilayani oleh lima orang gadis cantik yang sama sekali bukan jembel. Ini lebih tepat dinamakan pesta yang diadakan seorang bangsawan atau hartawan, bukan pemimpin orang jembel!

Setelah makan dan minum dengan gembira. Hek I Sin-kai menyuruh pelayan membersihkan meja, kemudian dia berkata, "Ouw Siocia dan The-sicu, kami merasa gembira sekali bertemu dengan orang-orang muda yang lihai seperti kalian. Apalagi mengingat bahwa Ouw-siocia adalah puteri sahabat kami, dan karena The-sicu sahabat Ouw-siocia, berarti sahabat kami pula. Kalian lihat bahwa kami selalu suka bersahabat dengan orang-orang lihai di dunia kang-ouw. Ouw-siocia, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu sahabat Ouw Kok Sian. Setiap kali kami saling jumpa, kami pasti membicarakan ilmu silat dan latihan bersama. Sekarang, karena engkau merupakan puterinya, maka biarlah kuanggap engkau mewakili ayahmu dan aku ingin sekali melihat sampai di mana kini kemajuan ilmu silat dari majikan Liong-san. Ha-ha-ha-ha!"

Sikap tuan rumah itu wajar dan ramah, sama sekali bukan merupakan tantangan untuk berkelahi.

Naga Beracun Jilid 23

"Cin Cin, aku mendengar bahwa engkau diantar oleh sute Lai Kun untuk berguru kepada pendekar sakti Si Han Beng. Tentu saja hatiku lega dan setuju sekali. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu, aku dan suamiku berkunjung ke Ta-bun-cung, ternyata Lai Kun telah menjadi ketua Hek-houw-pang dan menurut dia, engkau hilang di daerah Lok-yang ini. Tentu saja aku merasa sedih dan kami berdua segera mencari dan menyelidiki jejakmu di daerah ini. Untung kami mendengar tentang peristiwa di Ji-goan, betapa seorang gadis membasmi rumah pelesir dan kami curiga, lalu kami mencari ke Lok yang dan bertemu denganmu di jalan. Kami lalu membayangimu, melihat engkau diganggu orang-orang di rumah makan itu."

Cin Cin menundukkan mukanya. Kini ia mengerti semuanya dan ia sudah mempertimbangkan keadaan ibunya. Ibunya tidak dapat disalahkan, bahkan beruntung ibunya dapat berjodoh dengan seorang pendekar seperti Lie Koan Tek. Mengingat akan sikapnya ketika bertemu dengan ibunya, betapa ia bersikap kasar dan marah, ia merasa menyesal sekali dan hatinya tertusuk keharuan, membuat kedua matanya basah.

Melihat gadis itu hanya menunduk, Liu Hwa mendekati. "Cin Cin... kau... kau... suka memaafkan ibumu...?"

Cin Cin mengangkat mukanya. Wajahnya dan kedua matanya basah air mata yang kini menetes turun. "Ibu...!"

"Cin Cin anakku...!"

Dua orang wanita itu saling tubruk dan berangkulan, bertangisan. Lie Koan Tek tersenyum akan tetapi dia menggunakan punggung tangan untuk menghapus dua titik air mata, air mata kebahagiaan karena tadinya dia khawatir sekali kalau Cin Cin tetap tidak mengakui ibunya dan hal itu pasti akan menghancurkan hati isterinya dan akan menyiksanya selama hidup.

Ibu dan anak itu bertangisan dan semua kekerasan yang dibentuk oleh gurunya selama belasan tahun mencair dalam hati Cin Cin dan iapun menangis sampai mengguguk di pangkuan ibunya. Seluruh kerinduan yang bertumpuk selama ini tercurah keluar melalui tangis mereka dan di dalam tangis ini pula Cin Cin telah memaafkan semua rasa penasaran hatinya terhadap ibunya selama ini. Setelah tangis mereka mereda, Liu Hwa merangkul leher puterinya, menciuminya, meraba seluruh anggota tubuh puterinya, dari rambut sampai ke kakinya. Ketika ia meraba lengan kirinya, ibu itu terisak.

"Cin Cin... anakku, tangan kirimu... aih, kenapa sampai begini, anakku? Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Ia menciumi ujung lengan kiri yang buntung dan dibalut kain putih itu.

Dengan suara seperti anak kecil manja melapor kepada ibunya, Cin Cin berkata lirih diseling isak, "Ibu... tanganku dibuntungi oleh Thian Ki..."

"Thian Ki...?? Kau maksudkan, Coa Thian Ki putera Coa Siang Lee..."

Gadis itu mengangguk dan menyandarkan mukanya di dada ibunya, menangis.

"Tapi... mengapa?"

Lie Koan Tek berkata dengan suaranya yang tenang dan sabar. "Kurasa, sebaiknya kalau Cin Cin menceritakan pengalamannya semenjak meninggalkan Ta-bun-cung kepada ibunya."

Cin Cin kini sudah dapat menguasai hatinya. Kedua matanya merah dan ia memandang kepada Lie Koan Tek. "Paman... eh, bolehkah aku menyebut ayah...?"

Lie Koan Tek tertawa, tawanya bebas dan keras tanda kelegaan hatinya. "Ha-ha-ha-ha, tentu saja, Cin Cin. Memang aku ini ayahmu, pengganti ayah kandungmu yang telah tewas."

"Maafkan sikapku tadi, ayah."

"Tentu saja, Cin Cin. Sikapmu tadi tidak dapat kusalahkan, sudahlah sekarang sebaiknya kau ceritakan semua pengalamanmu, setelah engkau tadi mendengar ceritaku dan cerita ibumu."

Cin Cin duduk di atas akar, dekat ibunya dan menggunakan saputangan menghapus air mata dari wajahnya. "Atas perintah mendiang kakek Coa, aku diantar oleh susiok Lai Kun untuk menjadi murid paman Si Han Beng di Hong-cun. Akan tetapi, ketika kami tiba di kota Ji-goan, paman Lai Kun bertindak curang dan keji. Aku dijualnya kepada seorang mucikari, pemilik rumah pelesir Ang-hwa."

"Jahanam Lai Kun...!!" Ibunya berseru dan mengepal tinju. "Kalau aku tahu hal itu, ketika aku berhadapan dengannya, tentu sudah kucekik lehernya...!"

"Tenanglah, ibu. Paman Lai Kun sekarang sudah tewas."

Ibunya memandang kepadanya. "Kau... kau membunuhnya?"

Cin Cin tersenyum dan menggeleng kepala. "Aku datang berkunjung ke sana dan melihat dia menjadi ketua Hek-houw-pang. Aku hanya membongkar rahasianya, menceritakan kepada semua orang apa yang dia lakukan terhadap diriku, dan dia merasa malu lalu membunuh diri sendiri."

"Aahhh... kasihan isteri dan anak-anaknya," kata Liu Hwa. "Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu, Cin Cin?"

Cin Cin menceritakan pengalamannya ketika dipaksa tinggal di rumah pelesir Ang-hwa, betapa ia berusaha melarikan diri ketika ia dijual kepada seorang bangsawan, betapa ia dikejar-kejar tukang-tukang pukul, kemudian ditolong oleh seorang wanita sakti yang mengambilnya sebagai murid.

"Siapakah wanita sakti yang menjadi gurumu itu?" tanya ibunya.

"Subo adalah Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan."

"Ahhhh!" Lie Koan Tek berseru kagum. "Ia seorang tokoh kangouw yang amat lihai, datuk dari timur!"

"Selama belasan tahun aku tekun berlatih ilmu silat dari subo. Kemudian, subo menyuruh aku turun gunung karena menganggap pelajaranku sudah tamat dan aku mendapat tugas untuk mencari dua orang musuh subo dan membunuhnya. Aku lalu mencari musuh pertama suboku, yaitu Pangeran Cian Bu Ong."

"Ahh...!" Lie Koan Tek berseru kaget. Juga isterinya terkejut karena Liu Hwa sudah mendengar dari suaminya bahwa pangeran Kerajaan Sui yang dahulu menyuruh serbu Hek-houw-pang adalah Cian Bu Ong!

"Kenapa, ibu? Ayah? Kenapa kalian kaget mendengar nama Cian Bu Ong?"

"Ingatkah engkau akan ceritaku tadi bahwa aku dan beberapa orang yang lihai dibebaskan dari hukuman dan diharuskan membantu seorang pangeran, bahkan pangeran itu menyuruh kami menyerbu Hek-houw-pang? Pangeran itu adalah Cian Bu Ong!"

"Hemm, sungguh kebetulan sekali. Kalau begitu, Cian Bu Ong juga musuh Hek-houw-pang, musuh kita, ibu."

"Akan tetapi dia sakti sekali, Cin Cin. Berhasilkah engkau membunuhnya?" Lie Koan Tek bertanya, penuh kagum. Kalau Cin Cin mampu mengalahkan Cian Bu Ong, berarti puteri tirinya ini memang luar biasa lihainya.

Akan tetapi Cin Cin menggeleng kepalanya. "Dia memang lihai, akan tetapi agaknya merasa bersalah terhadap subo, maka dia sengaja mengalah. Agaknya aku pasti akan dapat membunuhnya kalau saja tidak dihalangi oleh Thian Ki." Ketika mengucapkan nama itu, wajah Cin Cin mengeras dan matanya berkilat.

"Apa katamu? Thian Ki, putera Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci itu malah membela Cian Bu Ong musuh besar kita, juga musuh besarnya sendiri!" kata Liu Hwa terheran-heran.

"Bahkan lebih dari itu, ibu. Thian Ki telah menjadi putera Cian Bu Ong, dan ibunya telah menjadi isteri bekas pangeran itu."

"Wahhhh...?? Aneh sekali! Sungguh luar biasa sekali!" seru Liu Hwa, sukar membayangkan hal itu dapat terjadi. Kalau ia menjadi isteri Lie Koan Tek, biarpun pendekar Siauw-lim-pai ini pernah membantu Cian Bu Ong, adalah karena ternyata bahwa Lie Koan Tek bukan penjahat dan tidak membunuhi orang-orang Hek-houw-pang, bahkan menolongnya. Akan tetapi Pangeran Cian Bu Ong? Dia yang menyuruh anak buahnya menghancurkan Hek-houw-pang sehingga akibatnya menewaskan pula Coa Siang Lee, dan isteri Siang Lee itu malah menjadi isteri pangeran itu?

"Dan Coa Thian Ki yang membela Pangeran Cian Bu Ong membuntungi tangan kirimu, Cin Cin?" tanya Lie Koan Tek yang juga merasa terheran-heran.

Cin Cin menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut ketika ia menunduk dan memandang kepada ujung lengan kirinya. "Dia mencegah aku membunuh Cian Bu Ong, sehingga terjadi perkelahian antara dia dan aku. Thian Ki yang menjadi anak tiri dan murid Cian Bu Ong, lihai bukan main. Akan tetapi aku berhasil mencengkeram pundaknya dengan tangan kiriku. Seketika, tangan kiriku keracunan hebat sampai menjadi hitam dan Thian Ki menggunakan pedangnya untuk membuntungi tanganku sebatas pergelangan. Katanya... kalau tidak dia buntungi tanganku, racun akan menjalar naik dan aku akan tewas tanpa ada obat yang dapat menyembuhkannya."

"Ahhh, mengerikan!" kata Lie Koan Tek. "Bagaimana mungkin engkau mencengkeram pundaknya malah engkau yang keracunan?"

"Ayah, Thian Ki adalah seorang tok-tong (anak beracun), hal ini kuketahui kemudian. Di tubuhnya mengeram racun yang amat hebat sehingga siapa saja yang memukul atau mencengkeramnya akan keracunan sendiri tanpa ada obat yang mampu menyembuhkannya."

"Aku ingat sekarang!" kata Liu Hwa. "Ibunya, Sim Lan Ci, adalah puteri Ban-tok Mo-li, ahli racun yang tiada duanya di dunia persilatan. Tentu neneknya itulah yang membuat Thian Ki jadi seorang tok-tong."

"Bukan main anak itu," kata Lie Koan Tek termenung. "Sudah menjadi tok-tong, menjadi anak tiri dan murid Cian Bu Ong, tentu dia menjadi seorang yang amat hebat. Baru memukulnya saja sudah mendatangkan bahaya maut bagi yang memukulnya! Akan sulit mencari orang yang akan mampu menandingi pemuda itu."

"Jangan-jangan dia akan menjadi seorang penjahat. Akan berbahaya sekali kalau begitu. Mendiang ayahnya, Coa Siang Lee, adalah seorang pendekar dan ibunya, biarpun puteri Ban-tok Mo-li, namun bukan seorang wanita jahat."

"Hemm, setelah menjadi seorang tok-tong, sadar akan kekuataan dalam tubuhnya, dan menjadi murid Cian Bu Ong yang sakti dan kejam, memang ada kecondongan bagi pemuda itu untuk menjadi jahat. Yang jelas, Cin Cin telah menjadi korban anak beracun itu, dan kehilangan tangan kirinya."

Liu Hwa mengamati wajah puterinya dan Cin Cin menunduk, menarik napas panjang. "Cin Cin, apakah engkau mendendam kepada Thian Ki?"

Gadis itu kembali menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya. "Sesungguhnya ibu, ketika aku kehilangan tangan kiri, aku menjadi berduka sekali dan merasa sakit hati. Akan tetapi, aku merasa yakin bahwa Thian Ki bukanlah orang jahat. Justru dia membuntungi tangan kiriku untuk menyelamatkan nyawaku, dan dia melakukannya secara terpaksa sekali. Bahkan tangan kiriku keracunan bukan karena dia menyerangku, melainkan karena aku yang mencengkeram pundaknya. Aku tidak dapat menyalahkan dia, ibu. Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku menjadi buntung karena dia, disengaja atau tidak, maka selalu ada dendam terkandung dalam hatiku. Sekali waktu, entah kapan, aku akan membalas semua ini, dan mudah-mudahan aku akan dapat membuntungi tangan kirinya, baru akan puas rasa hatiku dan tidak akan merasa penasaran lagi."

Diam-diam Liu Hwa merasa ngeri. Hampir ia tidak dapat mengenal puterinya yang dahulu merupakan seorang anak yang periang dan berhati lembut. Sekarang, ada sesuatu yang membuatnya merasa ngeri. Puterinya itu kini berwatak keras dan terdapat sesuatu yang dingin.

Lie Koan Tek menarik napas panjang. "Mendengarkan penuturanmu, akupun merasa ragu apakah benar Thian Ki menjadi seorang pemuda yang kejam dan jahat. Kalau memang engkau menganggap dia tidak bersalah, tidak semestinya kalau engkau mendendam kepadanya, Cin Cin. Seorang gagah tidak pernah mendendam, hanya menentang yang jahat, siapapun dia. Kalau Thian Ki ternyata jahat, sudah sepatutnya kalau engkau menentangnya, akan tetapi kalau ternyata tidak, maka tidak baik kalau engkau mendendam kepadanya."

"Apa yang dikatakan ayahmu benar, Cin Cin. Engkau tentu masih ingat bahwa ayah kandungmu adalah ketua Hek-houw-pang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, juga keluarga ibumu adalah keluarga Coa yang turun temurun menjadi pimpinan Hek-houw-pang. Bahkan ayah tirimu ini adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang terkenal selalu menentang ketidak-adilan. Engkau keturunan keluarga pendekar, anakku, oleh karena itu, setelah kini memiliki ilmu kepandaian tinggi, sudah sepatutnya kalau engkau bersikap dan bertindak sebagai seorang pendekar wanita sejati."

Cin Cin menghela napa panjang. "Ibu, biarpun subo adalah seorang datuk yang berwatak aneh dan keras, namun karena sejak kecil aku sudah menerima pendidikan dari ibu dan ayah, maka didikan subo tidak akan mampu membelokkan watak pendekar dari hati dan pikiranku. Akan tetapi aku berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada subo. Kalau aku tidak membalas budinya, bukankah aku sama saja dengan seorang yang tak mengenal budi, seorang yang rendah budi?"

"Tentu saja, Cin Cin. Sudah sewajarnya, bahkan sudah menjadi kewajibanmu untuk membalas budi kepada subo-mu!" kata Lie Koan Tek dan ibunya juga mengangguk.

"Nah, karena memenuhi permintaan su-bo, maka aku mati-matian mencari Cian Bu Ong dan berusaha membunuhnya. Akan tetapi, Thian Ki membela ayah tirinya yang juga menjadi gurunya dan menghalangi usahaku untuk memenuhi tugas yang diberikan subo kepadaku, yaitu membunuh Cian Bu Ong. Akibat dari perbuatan Thian Ki, walaupun tidak dia sengaja, aku kehilangan tangan kiriku. Ayah dan ibu, tidakkah sudah sepatutnya kalau aku kelak membalas kepada Thian Ki? Dan akupun akan berusaha memenuhi permintaan subo, sekali lagi aku akan berusaha menbunuh Cian Bu Ong!"

"Akan tetapi itu berbahaya sekali, anakku. Engkau tahu sendiri betapa lihainya bekas pangeran itu! Apa lagi muridnya, Thian Ki pasti akan selalu membelanya!"

"Aku tidak takut, ibu. Dan selain itu, masih ada sebuah tugasku lagi yang diperintahkan subo, yaitu membunuh seorang lain yang menjadi musuh subo."

"Ah, betapa berat tugasmu, disuruh membunuh orang-orang pandai. Siapa lagi yang dimusuhi oleh subomu itu, Cin Cin?"

"Orang ke dua yang harus kucari dan kubunuh bernama Can Hong San..."

"Ahh! Dia...??" Lie Koan Tek berseru kaget, juga Liu Hwa terkejut mendengar disebutnya nama itu.

"Ayah, ibu, kalian sudah mengenal nama itu?"

"Mengenal? Tentu saja!" kata Lie Koan Trek heran. "Can Hong San adalah seorang di antara mereka yang dikeluarkan dari penjara oleh Cian Bu Ong, dan kemudian menjadi pembantunya pula. Dialah seorang di antara kami yang menyerbu Hek-houw-pang, dan dialah yang melakukan banyak pembunuhan di antara keluarga Hek-houw-pang."

"Bahkan dia hampir saja mencelakai aku, kalau saja tidak muncul ayahmu ini yang menolongku dari tangannya," kata Liu Hwa.

"Bagus! Kalau begitu, sungguh kebetulan sekali subo menyuruh aku membunuhnya. Dia jelas orang yang jahat!" kata Cin Cin penuh semangat.

"Dapatkah ayah dan ibu memberitahu, di mana aku dapat mencari Can Hong San?"

Lie Koan Tek menghela napas panjang. "Aah, Cin Cin, bagaimanapun juga, subomu itu sungguh tega memberi tugas yang demikian berat kepadamu. Seorang Cian Bu Ong saja sudah merupakan lawan yang amat berat dan sukar untuk dibunuh, dan engkau masih harus menghadapi Can Hong San. Dia lihai bukan main! Dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong. Dia lihai, jahat dan licik sekali. Bahkan mungkin dia lebih berbahaya dibandingkan Cian Bu Ong yang setidaknya memiliki keaangkuhan dan kegagahan. Kami sendiri tidak tahu di mana dia sekarang berada. Tidak akan mudah mencari orang yang licik seperti iblis itu."

"Akan tetapi, kenapa gurumu memusuhi kedua orang itu, Cin Cin? Sepanjang pendengaranku. Tung-hai Mo-li adalah seorang datuk besar di wilayah timur. Bagaimana ia memusuhi orang-orang yang dapat dibilang segolongan, walaupun Cian Bu Ong berasal dari keluarga kerajaan?"

"Riwayat subo dengan Cian Bu Ong amat menyedihkan, ibu. Mereka ketika muda saling mencinta dan akan menjadi suami isteri, akan tetapi tiba-tiba Cian Bu Ong memutuskan cinta ketika mengetahui bahwa subo datang dari keluarga golongan hitam. Hal ini menghancurkan perasaan hati subo sehingga sejak itu, sampai sekarang, subo tidak mau menikah, bahkan tidak mau berdekatan dengan pria. Itulah dendam subo kepada Cian Bu Ong. Adapun mengenai Can Hong San, orang itu dahulu membunuh suheng dari subo. Hanya itu yang kuketahui. Aku tidak banyak bertanya dan hanya akan mentaati pesan subo yang sudah melimpahkan budi kepadaku."

Suami isteri itu saling pandang. Mereka tidak dapat menyalahkan Cin Cin, bahkan mereka merasa bangga karena Cin Cin ternyata seorang murid yang setia membela gurunya sehingga dalam melaksanakan tugas yang diperintahkannya, ia sampai kehilangan tangan kiri. Dan inipun tidak membuatnya mundur, dan ia masih bertekad untuk mencari dan membunuh kedua orang musuh gurunya itu!

"Mari kita pulang dulu, Cin Cin. Aku amat merindukanmu dan rasanya tidak akan ada habisnya kita bicara. Nanti setelah berada di rumah, kita bicarakan tentang tugasmu itu dan ayahmu yang mempunyai banyak hubungan di dunia kang-ouw, tentu akan dapat membantumu mencari tahu di mana adanya Can Hong San itu."

Cin Cin menyetujui. Iapun sejak dahulu amat merindukan ibunya, dan mengingat akan sikapnya ketika bertemu ibunya dan ayah tirinya, ia merasa malu sendiri dan ia harus dapat menyenangkan hati ibunya untuk menebus sikapnya yang menyakiti hati itu. Berangkatlah mereka bertiga meninggalkan tempat itu.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Dengan alis berkerut dan wajah muram, The Siong Ki memasuki kota Lok-yang. Biarpun kota ini amat indah dan ramai, namun hati Siong Ki tidak bergembira. Dia masih teringat akan kegagalannya membunuh Lie Koan Tek karena munculnya Cin Cin. Tak disangkanya bahwa Cin Cin kini demikian lihainya. Dia yang telah digembleng oleh Naga Sakti Sungai Kuning Si Han Beng dan isterinya, agaknya tidak akan mudah dapat mengalahkan gadis yang tangan kirinya buntung itu! Kalau menghadapi Cin Cin sendiri saja belum tentu dia menang, apalagi kalau dia dikeroyok oleh Cin Cin, ibunya dan Lie Koan Tek.

Hatinya mengkal, akan tetapi dia menghibur sendiri. Bukankah suhu dan subonya berpesan agar dia tidak mendendam kepada Lie Koan Tek? Juga, melihat sikap Lie Koan Tek dan jawabannya, dia dapat percaya bahwa Lie Koan Tek bukan pembunuh ayahnya, walaupun ikut menyerbu Hek-houw-pang. Biarlah, sekali ini dia boleh melepaskan Lie Koan Tek. Lain kali kalau kebetulan dia bertemu lagi dengan pendekar Siauw-lim-pai itu, dia akan menantangnya lagi. Tidak perlu sampai membunuhnya, asal sudah mengalahkannya saja dia sudah puas.

Sekarang dia harus mulai dengan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri gurunya yang bernama Sie Hong Lan dan yang diculik oleh seorang wanita bernama Kwa Bi Lan. Dia merasa heran sekali kepada suhu dan subonya. Ada seorang wanita menculik puteri mereka, anak tunggal mereka, dan memisahkan mereka dari anak mereka selama enambelas tahun, dan mereka berdua tidak mendendam kepada si penculik! Bahkan memesan kepadanya agar tidak memusuhi Kwa Bi Lan itu, cukup menemukan kembali Sie Hong Lan! Kenapa suho dan subonya yang demikian gagah perkasa itu menjadi orang-orang demikian lemah? Dia sendiri berpendapat lain. Penculik itu pantas diberi hajaran!

Siong Ki memasuki sebuah rumah makan dan setelah makan kenyang dan minum arak, kemurungannya mereda dan kegembiraannya timbul kembali. Sudah beberapa bulan dia meninggalkan rumah gurunya dan selama ini, tidak banyak yang dia lakukan. Mengunjungi makam ayahnya di dusun Ta-bun-cung, bertemu dengan para pimpinan dan anggota Hek-houw-pang, melihat betapa Lai Kun membunuh diri dan menolak ketika dia hendak diangkat menjadi ketua Hek-houw-pang. Kemudian pertemuannya dengan Lie Koan Tek dan bekas isteri ketua Hek-houw-pang, ibu Cin Cin, bertanding dan hampir mengalahkan mereka ketika muncul Cin Cin yang membuat dia terpaksa melarikan diri. Tidak banyak! Dan tidak ada yang dapat membuat gurunya tersenyum bangga.

Beberapa orang pengemis yang tadinya berkeliaran ke depan toko-toko dan mengacungkan tangan meminta sumbangan dari mereka yang berlalu lalang, kini berdiri di depan rumah makan. Seperti biasa, mereka mengharapkan dermaan para tamu rumnah makan, dan ada yang mengharapkan sisa makanan yang tidak dimakan habis para tamu dan sisa itu biasanya oleh pelayan rumah makan dibagi-bagikan kepada mereka.

Bermacam-macam cara pengemis untuk mendapatkan hasil, menarik perhatian dan rasa iba orang lain sehingga orang-orang itu akan mengulurkan bantuan dan memberi sedekah kepada mereka. Ada yang dengan suara merengek-rengek merintih menceritakan bahwa mereka kelaparan dan sejak kemarin belum makan. Ada yang entah dari mana, dapat meminjam seorang anak kecil yang digendongnya, dan ada pula yang demikian kejamnya, entah anak sendiri atau anak pinjaman, mencubit anak itu, sehingga anak itu menangis dan ia mengatakan bahwa anak itu kelaparan. Ada pula yang tiba-tiba saja menjadi pincang, menjadi buta dan sebagainya!

Semua itu adalah usaha untuk menarik perhatian dan belas kasihan, baik dengan sungguh-sungguh, atau hanya pura-pura belaka. Bahkan ada lagi yang menggunakan cara yang lebih buruk, yaitu bukan memancing belas kasihan, melainkan memancing kejijikan para tamu. Mereka ini sengaja memakai pakaian kotor dan berbau busuk, bahkan ada yang sengaja membuka dan memperlihatkan luka memborok, semua ini sengaja dilakukan untuk menimbulkan rasa jijik sehingga para tamu cepat-cepat memberi sedekah agar orang yang menjijikkan itu segera pergi!

Ketika tiga orang pengemis lain datang ke depan rumah makan, semua pengemis dengan bermacam gaya itupun cepat-cepat pergi dengan sikap ketakutan. Seorang di antara tiga orang pengemis ini menghardik, "Jembel-jembel busuk, hayo pergi, atau kuremukkan tulang-tulang kaki kalian!"

Sungguh lucu. Tiga orang itu berpakaian sebagai pengemis pula, tambal-tambalan dengan dasar warna hitam. Mereka sendiri pengemis, akan tetapi mereka memaki pengemis lain sebagai jembel-jembel busuk! Akan tetapi memang ada perbedaan menyolok. Tiga orang ini adalah laki-laki yang usianya antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, bertubuh sehat, bahkan nampak kokoh kuat! Dan pakaian merekapun sama, yaitu dasarnya hitam akan tetapi terdapat tambalan di sana-sini.

Mudah dilihat bahwa tambalan itu bukan untuk menambal bagian yang robek, karena pakaian hitam itu terbuat dari kain yang masih baik dan kuat. Tambal-tambalan itu memang disengaja dibuat sebagai tanda bahwa mereka adalah golongan pengemis. Inilah tiga orang di antara para pengemis yang mempunyai perkumpulan!

Mereka adalah para anggota sebuah kai-pang (perkumpulan pengemis) terkenal di Lok-yang dan sekitarnya, yaitu Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Perkumpulan ini berpengaruh sekali karena mereka memiliki anggota yang lebih dari tigaratus orang jumlahnya, suka melakukan pengeroyokan dan para anggotanya juga rata-rata menguasai ilmu silat. Biarpun namanya pengemis, namun mereka itu seringkali mengandalkan kekerasan memaksakan kehendak dan kalau sudah begitu, mereka itu lebih pantas disebut perampok dari pada pengemis!

Siong Ki masih minum arak dan hatinya mulai mendapatkan kembali kegembiraannya. Dia membawa bekal uang cukup banyak dari gurunya, sehingga dapat memesan makanan apa saja yang disukainya. Dia tidak tahu bahwa sejak tadi seorang wanita memasuki rumah makan itu seorang diri. Wanita ini cantik dan genit. Melihat wajah dan bentuk tubuhnya, tentu semua orang mengira bahwa usianya kurang lebih duapuluh lima tahun saja.

Mukanya lonjong dengan kulit yang putih mulus, matanya jeli dan mulutnya selalu dihias senyuman genit, tubuhnya ramping dengan pinggul besar. Wanita ini bukan lain adalah Bi Tok Siocia. Seorang wanita petualang yang lihai, yang sebetulnya sudah berusia empatpuluh tahun, akan tetapi karena pandainya bersolek, ditambah lagi pengetahuannya tentang racun dan obat-obatan, ia masih kelihatan muda dan cantik menarik.

Kita pernah bertemu Bi Tok Siocia ketika Cin Cin mengamuk di rumah pelesir Ang-hwa, di kota Ji-goan. Rumah pelesir Ang-hwa yang dipimpin oleh Cia Ma itu pernah dikuasai oleh Bi Tok Sio-cia ini, yang mempergunakan kepandaian dan juga anak buahnya, untuk menculik dan membujuk gadis-gadis dusun untuk dijadikan pelacur. Kedatangan Cin Cin yang mengobrak-abrik rumah pelesir ini akhirnya memaksa Bi Tok Siocia melarikan diri dan banyak anak buahnya menjadi korban kemarahan Cin Cin, dibuntungi sebelah tangan mereka!

Bi Tok Siocia mengalah dan lari, bukan hanya karena ilmu kepandaian Cin Cin yang hebat membuatnya merasa jerih, akan tetapi karena ia tahu bahwa Cin Cin murid Tung-hai Mo-li, ia tidak berani memusuhi murid datuk timur yang disegani ayah angkatnya itu. Ayah angkatnya adalah Ouw Kok Siang, majikan bukit Liong-san.

Setelah meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa di Ji-goan, Bi Tok Siocia (Nona Beracun Cantik) Ouw Ling pergi ke Lok-yang. Petualangannya di Ji-goan sudah berakhir dan kini ia mencari pengalamanan baru, sesuai dengan wataknya yang selalu haus akan petualangan. Ketika memasuki rumah makan itu, duduk dan memesan makanan, pandang matanya melihat Siong Ki dan ia segera merasa tertarik sekali. Bi-tok Siocia memang seorang wanita yang selalu haus akan pria yang tampan, seorang yang mata keranjang dan cabul.

Dan Siong Ki memang seorang pemuda yang memiliki daya tarik cukup besar. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan matanya yang bersinar tajam dan mulut yang selalu tersenyum sinis. Dagunya tebal membayangkan kekuatan, dan tubuh yang tinggi tegap itupun nampak kokoh. Bi-tok Siocia Ouw Ling yang baru saja mengalami kegagalan dan kekecewaan di Ji-goan, kini haus akan hiburan dan ia mulai mengincar pemuda tampan yang duduk seorang diri itu dengan penuh perhatian.

Bukan hanya suara saja yang mengandung getaran yang bergelombang dan dapat ditangkap oleh orang lain dari jarak jauh, juga pandang mata mengandung getaran kuat bagi orang yang memiliki kepekaan. Kalau kita memandang seseorang dari samping atau belakang dengan penuh perhatian dan terus-menerus, suatu saat orang yang kita pandang itu akan menoleh ke arah kita tanpa dia sadari sendiri, dan itulah akibat dari getaran yang terkirim melalui pandang mata kita dan akhirnya tertangkap oleh orang yang kita pandang, walaupun di bawah sadar dan membuat dia menengok.

Siong Ki adalah seorang yang banyak berlatih samadhi dan sin-kang dan ia memang selalu berlatih untuk mempertajam kepekaannya. Kini ada orang memandang kepadanya penuh perhatian, tentu saja sejak tadi dia telah dapat menangkap dan diapun pernah mengerling ke kanan dan melihat bahwa di sana duduk seorang wanita cantik yang mengamatinya dari jauh. Akan tetapi, dia tidak menanggapi. Oleh gurunya, dia dididik agar bersikap sopan dan pandai membawa diri sebagai seorang pendekar sejati, juga seorang yang banyak membaca dan mengenal kesusilaan dan kebudayaan.

Tiga orang pengemis anggota Hek I Kai-pang yang tadi telah mengusir para pengemis lain, kini mengamati ke dalam rumah makan dan ketika mereka itu melihat bahwa di rumah makan itu duduk belasan orang tamu, seorang di antara mereka memberi isyarat dan merekapun masuk ke dalam rumah makan. Para pelayan yang melihat ini, tidak ada yang berani melarang walaupun mereka mengerutkan alis dan merasa tidak senang. Tentu saja menyebalkan sekali kalau ada tiga orang pengemis begitu saja memasuki rumah makan, bukan untuk membeli makanan melainkan untuk mengemis kepada para tamu.

Dan para tamu agaknya adalah orang-orang Lok-yang. Mereka mengenal anggota pengemis Hek I kai-pang, maka tanpa banyak bantah lagi, mereka dengan suka rela mengeluarkan uang dari saku baju dan memberi derma kepada tiga orang pengemis itu yang mengacungkan sebuah kaleng bundar. Tak seorangpun di antara para tamu menolak, dan bukan pula uang receh kecil yang dimasukkan ke dalam kaleng itu.

Sejak mereka memasuki rumah makan, Siong Ki telah melihat mereka. Dia merasa penasaran dan heran sekali mengapa ada tiga orang berpakaian pengemis memasuki rumah makan dan keheranannya meningkat ketika tiga orang pengemis itu menerima uang dari para tamu seperti petugas-petugas pemungut pajak saja, sama sekali bukan seperti orang minta-minta. Dan melihat betapa sikap mereka itu keren, dengan alis berkerut dan mata melotot, diapun mengerti bahwa mereka tentulah jagoan-jagoan berpakaian pengemis yang suka memaksakan kehendak, dan para tamu itu takut membuat keributan maka memberi uang tanpa banyak cakap lagi.

Akhirnya, setelah berkeliling, hanya tinggal Siong Ki dan Bi-tok Sio-cia saja yang belum mereka datangi. Kini mereka tiba di meja Siong Ki dan seperti yang telah mereka lakukan pada para tamu di meja lain, seorang di antara mereka datang memegang kaleng itu menyodorkan kalengnya ke arah Siong Ki, sedangkan dua orang yang lain memandang kepada Siong Ki dengan alis berkerut dan mata melotot! Siong Ki balas memandang mereka bertiga. Dia sudah berhenti makan, dan dengan sikap yang tidak mengerti, dia lalu bertanya, suaranya tenang dan halus.

"Kalian ini mau apa?" Siong Ki mengerling ke arah wanita tadi dan melihat bahwa wanita itu memandang kepadanya dan wanita itu seperti tersenyum geli.

Pengemis yang memegang kaleng, menggerakkan kalengnya sehingga terdengar bunyi uang berkerincingan di dalam kaleng itu. Seorang pengemis yang melotot dan berhidung besar, berkata dengan suara keras. "Hemm, engkau tentu bukan orang sini. Sobat, kami minta sumbangan."

Orang ke dua yang matanya sipit sekali hamper terpejam, menyeringai ketika berkata. "Karena engkau tamu dari luar kota, harus memberikan dua kali lipat!"

Siong Ki tidak ingin melihat keributan di situ, maka diapun mengambil sebuah uang receh kecil dan memasukkannya ke dalam kaleng sambil berkata. "Nah, ini sedekah dariku, harap cepat pergi dan jangan menggangguku!"

Si pemegang kaleng menurunkan kalengnya dan melihat isinya. Ketika melihat uang receh kecil itu, dia cemberut, lalu mengambil uang itu, dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengah, kemudian dia berkata galak, "Sobat, jangan main-main dengan kami! Kami adalah tiga orang anggota Hek I Kai-pang. Dengan memberi recehan kecil, engkau menghina kami!" Orang yang mulutnya lebar ini menggerakkan tangan yang menjepit uang recehan dan uang itupun meluncur ke atas meja Siong Ki dan menancap sampai hampir seluruhnya ke dalam papan meja!

"Hayo berikan dua potong uang perak!" kata si hidung besar dengan sikap mengancam.

"Masih untung teman kami tidak melempar uang recehan kecil itu ke dalam kepalamu!" kata pula si mata sipit.

Siong Ki masih tersenyum, akan tetapi senyumnya mengejek dan dingin, sedangkan sinar matanya mulai mencorong marah. Dengan gerakan seenaknya, dia mengusap permukaan meja dan kedua jari tangannya telah berhasil mencabut uang recehan yang menancap ke atas meja. Dia mengangkat uang tembaga itu ke atas dan berkata,

"Agaknya kuberi sepotong uang, kalian menjadi tidak puas karena bingung untuk membagi. Nah, kubagi tiga untuk kalian masing-masing sepotong!" Berkata demikian, Siong Ki menggunakan jari tangannya untuk mematah-matahkan mata uang itu menjadi tiga potong, seolah-olah uang tembaga itu hanya terbuat dari daun kering saja.

Melihat ini, tiga orang pengemis itu terbelalak. Akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang biasanya mau menang sendiri, apalagi mengandalkan kepandaian dan kekuatan mereka yang suka mengeroyok, maka menghadapi pertunjukan kekuatan itu, mereka bahkan menjadi marah.

"Bagus! Engkau ingin memamerkan sedikit kepandaianmu kepada kami? Jangan salahkan kami kalau kami mempergunakan kekerasan!" kata si hidung besar dan mereka bertiga bersiap untuk melakukan pengeroyokan.

Pada saat itu, terdengar suara tawa merdu dari samping, disusul suara wanita. "Hi-hik, agaknya Hek I Kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) tidak becus mengurus anak buahnya, hingga kini anak buah Hek I Kaipang bukan lagi para pengemis, melainkan para perampok yang tak tahu malu! Cih, sungguh memualkan perutku!"

Tentu saja tiga orang pengemis itu menjadi marah sekali. Kemarahan mereka kepada Siong Ki lenyap karena ada orang lain yang mengucapkan penghinaan hebat kepada mereka, bahkan kepada perkumpulan dan ketua mereka. Cepat mereka memutar tubuh menghadapi wanita yang mengeluarkan kata-kata tadi, sedangkan Siong Ki tahu bahwa mengejek itu adalah wanita cantik yang sejak tadi memperhatikan dia. Diapun menengok dan memandang dan dia merasa khawatir. Wanita itu cantik jelita dan tidak kelihatan seperti wanita kang-ouw yang berilmu, bagaimana berani bersikap menghina tiga orang pengemis itu. Diam-diam diapun bersiap untuk melindungi kalau-kalau wanita itu terancam bahaya.

Si hidung besar memandang kepada wanita itu dan diapun merasa heran. Wanita itu cantik jelita, berani sekali menghina dia dan dua orang temannya! "Apa kau bilang tadi?" bentaknya, karena dia masih belum percaya kalau wanita cantik ini yang tadi menghina mereka.

Wanita itu, yang belum selesai makan, menggunakan sumpitnya menjepit sepotong sayur hijau dan memasukkan ke mulutnya, mengunyahnya dengan gerakan mulut yang manis sebelum menjawab. Nampaknya tenang sekali. "Aih, kalian belum mendengar apa yang kukatakan tadi? Sayang..." ia lalu menuding mereka satu demi satu, "hidungmu saja besar, dan yang itu matanya terlalu sipit, dan yang ke tiga perutnya saja yang lebar, akan tetapi agaknya telinga kalian bertiga terlalu sempit dan agak tuli sehingga tidak mendengar apa yang kukatakan tadi. Nah, dengar baik-baik, aku mengatakan bahwa kalian ini hanyalah pencoleng-pencoleng kecil yang mengenakan pakaian pengemis, dan bahwa kalian bertiga tidak tahu malu, mengotorkan tempat ini dan bahwa ketua kalian tidak becus mengajar kalian! Nah, sudah dengar sekarang?"

Kemarahan tiga orang anggota Hek I Kai-pang berkobar, akan tetapi pada saat itu pemilik rumah makan tergopoh-gopoh lari menghampiri dan diapun memberi hormat kepada tiga orang pengemis itu dengan membungkuk dalam. "Harap sam-wi (anda bertiga) mengingat hubungan baik antara kami dengan ketua sam-wi dan tidak mengadakan perkelahian di sini sehingga akan merusak tempat kami.

Mendengar ucapan itu, tiga orang pengemis saling pandang, dan si hidung besar memberi isyarat kepada dua orang kawannya untuk pergi. "Kami akan menunggumu di luar untuk membuat perhitungan!" katanya dengan nada mengancam kepada wanita cantik itu.

Mereka lalu melangkah dengan wajah kemerahan karena amarah yang ditahan-tahan. Sikap dan ucapan pemilik rumah makan tadi menunjukkan bahwa dia tentu seorang penderma yang mengenal baik ketua mereka, maka kalau sampai mereka berkelahi dan merusak perabot rumah makan kemudian si pemilik rumah makan melaporkan, tentu mereka akan mendapat teguran dan hukuman.

Siong Ki merasa heran. Bagaimana wanita itu seberani itu menghina tiga orang pengemis tadi yang sudah jelas merupakan orang-orang kasar dan jahat? Dia merasa tidak enak. Bagaimanapun juga tiga orang pengemis itu tadi menghina dia, wanita itu mencampuri untuk membelanya. Kalau sampai nanti wanita itu diganggu, bagaimana ia dapat mendiamkan saja? Biarpun dia sudah selesai makan, dia tidak segera membayar harga makanan dan pergi, melainkan menanti sampai wanita itu selesai makan dan membayar, diapun membayar dan setelah wanita itu bangkit dan keluar, baru dia keluar pula dari rumah makan itu.

Wanita itu hanya mengerling dan tersenyum saja kepadanya, tanpa mengeluarkan kata-kata. Siong Ki semakin heran dan juga kagum. Dari dalam rumah makan saja sudah nampak betapa tiga orang pengemis tadi menanti di luar rumah makan dan banyak orang bergerombol di sana, tanda bahwa banyak yang hendak jadi penonton, atau mungkin tiga orang pengemis itu mengumbar suara mengatakan bahwa mereka hendak menghajar seorang wanita yang berani menghina mereka, sehingga banyak orang ingin menonton. Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum-senyum manis.

Setelah wanita itu tiba di luar, suasana menjadi ramai dan tegang, dan Siong Ki menyelinap di antara para penonton, siap untuk melindungi wanita itu. Akan tetapi, wanita itu dengan langkah yang tenang dan berani, menghampiri tiga orang pengemis yang sudah menanti di situ dengan sikap bengis, sedangkan para penonton sudah mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengan mereka.

"Aih, kalian masih berada di sini menantiku? Bagus, memang kalian ini harus berlutut minta ampun dulu kepadaku, baru boleh pergi!" kata wanita itu dan Siong Ki diam-diam mengeluh.

Wanita ini ternyata seorang yang amat berani menghina orang sehingga mendekati sombong! Sama dengan mencari penyakit! Andaikata ia seorang laki-laki, tentu Siong Ki tidak akan mau memperdulikannya lagi dan biar saja manusia sombong itu berkelahi melawan tiga orang pengemis sombong. Akan tetapi ia seorang wanita dan dia harus membelanya. Sikap memandang rendah dan ucapan meremehkan dari wanita itu membuat tiga orang pengemis tak mampu menahan kesabaran mereka lagi. Si mulut lebar sudah melangkah maju dengan kedua tangan dikepal.

"Perempuan sombong, kurontokkan gigimu!" bentaknya sambil menyerang dengan tamparan ke arah mulut wanita itu. Akan tetapi, dengan sekali gerakan saja, wanita itu menarik tubuh atas ke belakang sehingga tamparan itu mengenai angin, dan iapun tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.

"Hemm, sayang gigiku yang rapi ini kau rontokkan. Kalau gigimu yang jelek dan kotor itu, patut dirontokkan." Tiba-tiba saja, kaki wanita itu sudah bergerak cepat seperti kilat menyambar dan diangkat tinggi ke atas.

"Krakkk...!!" Mulut itu dihantam sepatu dan rontoklah beberapa buah gigi si mulut lebar dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Dia terjengkang dan mengusap darah dari mulutnya. Sedangkan para penonton menjadi terkejut dan kagum. Juga Siong Ki diam-diam mencela diri sendiri yang kurang waspada, memandang rendah wanita cantik itu yang ternyata sama sekali tidak membutuhkan perlindungan darinya, kalau hanya menghadapi gangguan pengemis mulut besar itu saja.

Akan tetapi kini pengemis yang roboh itu sudah meloncat bangun dan mencabut sebatang golok yang tadinya diselipkan di ikat pinggang. Dua orang pengemis lainnya juga sudah mencabut golok mereka dan kini tiga orang itu menghadapi wanita cantik itu dari depan, kanan dan kiri. Melihat ini, kembali Siong Ki merasa khawatir dan dia sudah melangkah maju ke depan.

"Hemm, kalian ini tiga orang laki-laki mengancam wanita dengan senjata tajam? Sungguh tidak adil, dan sungguh curang, menunjukkan bahwa kalian memang hanya pengecut-pengecut besar yang beraninya hanya main keroyokan!"

Melihat majunya Siong Ki, Bi Tok Siocia tersenyum manis. Tadi dalam rumah makan ia sudah melihat betapa pemuda tampan gagah yang menarik perhatiannya itu mematah-matahkan sekeping uang dengan mudah, tanda bahwa dia bukan seorang pemuda biasa. Dan kini, tepat seperti dugaannya, pemuda itu maju membelanya. Tentu saja hatinya semakin kagum dan tertarik.

Si hidung besar segera memutar goloknya dan membentak Siong Ki. "Engkau berani mencampuri berarti sudah bosan hidup!" Diapun sudah menyerang dengan goloknya, akan tetapi dengan mudah Siong Ki mengelak. Si Mulut lebar yang kini menjadi si mulut ompong karena giginya rontok, dibantu oleh si mata sipit, sudah menyerang dengan golok mereka, mengeroyok Bi Tok Siocia!

Siong Ki ingin cepat-cepat menjatuhkan si hidung besar agar dia dapat membantu wanita itu. Maka ketika untuk ke empat kalinya golok menyambar, dia tidak mengelak seperti tadi, melainkan dia bahkan mendahului dengan langkah ke depan, tangannya bergerak menyambut dengan pukulan ke arah pergelangan tangan yang memegang golok, dari samping sedangkan tangan kirinya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

Si hidung besar tidak mengira bahwa lawan berani menyambut serangannya seperti itu, dan ketika lengannya terkena pukulan tangan kiri lawan, seketika lengan itu menjadi lumpuh dan goloknya terpental, dan di detik lain, dadanya terkena hantaman dengan tangan terbuka. Diapun terjengkang dan terbanting roboh, ketika bangkit duduk, dia memegangi dadanya karena dada itu terasa sesak, sukar bernapas.

Ketika Siong Ki membalik hendak membantu wanita tadi, diapun tertegun. Bukan main wanita itu. Dengan tangan kosong saja, wanita itu bukan hanya mampu menandingi dua orang pengeroyoknya, bahkan kini nampak ia menghajar mereka dengan tendangan-tendangan kakinya. Dua orang itu dibuat seperti dua buah bola saja, ditendangi jatuh bangun dan akhirnya mereka tidak mampu melawan lagi, muka mereka bengkak-bengkak dan berdarah karena beberapa kali disambar sepatu wanita itu!

Hanya si mata sipit yang masih dapat berdiri dan terengah-engah, namun dia memaksa diri memandang wanita itu yang berdiri sambil bertolak pinggang dan tersenyum kepadanya. Lalu dia bertanya,

"Kami mengaku kalah. Siapakah namamu, nona?"

Wanita itu tersenyum mengejek dan mengerling kepada Siong Ki yang masih memandang kagum. "Kalian hendak mengadu kepada ketua kalian? Boleh, boleh! Katakan saja bahwa Nona Ouw yang menghajarmu. Nah, pergilah kalian bertiga sebelum berubah pikiranku dan kalian tidak akan dapat kuampuni lagi."

Tiga orang pengemis itu pergi dengan kepala tunduk, dan Bi Tok Siocia segera menghampiri Siong Ki dan mengangkat kedua tangan ke depan dada, dengan sikap ramah dan manis iapun memberi hormat yang segera dibalas oleh Siong Ki.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Tai-hiap." katanya dengan suara merdu.

Disebut tai-hiap (pendekar besar), Siong Ki tersenyum. "Harap nona tidak menyebut tai-hiap kepadaku. Engkau sendiri memiliki kepandaian yang hebat, nona. Aku merasa malu telah salah duga sehingga lancang mencampuri urusan itu. Padahal aku tahu sekarang bahwa nona sama sekali tidak memerlukan bantuanku."

"Ah, engkau tidak mengerti, tai-hiap. Aku memang membutuhkan pertolonganmu, membutuhkan bantuanmu. Engkau tidak mengenal siapa Hek I Kai-pang. Mari kita bicara di tempat sunyi, akan kuceritakan kepadamu, di sini banyak orang dan tidak leluasa."

Siong Ki mengangguk. Memang dia belum mengenal macam apa Hek I Kaipang itu, dan mengapa pula wanita yang lihai ini mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuannya. Mereka lalu meninggalkan tempat itu.

"Kalau engkau tidak berkeberatan, kita dapat bicara di ruangan dalam rumah penginapan di mana aku bermalam, tai-hiap." kata Ouw Ling. Karena tidak mengenal tempat lain agar mereka dapat bicara, Siong Ki hanya mengangguk. Ketika melakukan perjalanan menuju ke rumah penginapan yang besar itu, Bi-tok Siocia Ouw Ling berbisik, "Seperti sudah kuduga, kita dibayangi orang. Mereka tentulah para anggota Hek I Kai-pang. Biarlah, kita pura-pura tidak tahu saja."

Siong Ki melirik dan benar saja. Ada empat lima orang yang membayangi mereka secara berpencar, bercampur dengan orang-orang yang berlalu lalang di ke dua tepi jalan raya itu. Setelah mereka memasuki rumah penginapan, Ouw Ling mengajak Siong Ki bicara di ruangan dalam, sebuah ruangan yang memang disediakan untuk para tamu. Ruangan ini cukup luas dan kebetulan pada saat itu tidak terdapat tamu lain.

"Nah, di sini kita dapat bicara dengan leluasa," kata wanita itu. "Akan tetapi sebelum itu, Apakah tidak sudah tiba waktunya kita saling berkenalan? Namaku Ouw Ling dan aku berasal dari Liong-san (Bukit Naga)."

Siong Ki menjawab, "Namaku The Siong Ki dan aku berasal dari dusun Ta-bun-cung."

Karena ia belum tahu pemuda itu termasuk golongan apa, maka Ouw Ling tidak bertanya lebih mendalam. Ia sendiri belum berani mengakui bahwa ia adalah puteri angkat Ouw Kok Sian, datuk besar dan majikan Liong-san.

"Nah, sekarang kita telah berkenalan, The-taihiap..."

"Harap nona jangan menyebut tai-hiap kepadaku, rasanya janggal dan tidak enak."

Ouw Ling tersenyum manis. "Baiklah, setelah kita berkenalan, dan melihat bahwa engkau lebih muda dariku, bagaimana kalau aku menyebutmu siauwte (adik) saja dan engkau menyebut aku cici (kakak perempuan)?"

Siong Ki tersenyum, "Bagaimana engkau tahu bahwa aku lebih muda darimu, karena melihat keadaan dirimu, belum tentu kalau aku lebih muda."

Siong Ki tentu saja dapat menduga bahwa wanita itu lebih tua darinya, akan tetapi dia memang pandai membawa diri dan pandai menyenangkan hati orang. Ucapannya itu walaupun hanya sekedarnya namun jelas telah membuat wajah Ouw Ling berseri saking girangnya. Wanita mana yang tidak akan berseri wajahnya kalau dikatakan bahwa ia nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya!

"Aku yakin bahwa aku lebih tua darimu, siauwte, walau hanya beberapa tahun mungkin. Akan tetapi itu tidak penting sekali, bukan? Kalau boleh aku mengetahui, engkau dari mana dan hendak kemana? Apakah engkau mempunyai keperluan khusus datang ke Lok-yang ini?"

Siong Ki menggeleng kepala. "Tidak mempunyai keperluan khusus, aku baru saja memasuki Lok-yang dalam perjalananku merantau dan mencari pengalaman hidup. Baru pagi tadi aku datang ke sini dan kebetulan terlibat peristiwa dalam rumah makan tadi."

"Aih, kalau begitu, kenapa tidak menginap saja di rumah penginapan ini, The-siauwte? Di sini tempatnya bersih dan cukup murah. Dan tahukah kau, kita mempunyai banyak persamaan. Aku sendiripun sedang merantau, atau katakanlah berpesiar mencari pengalaman hidup dan meluaskan pengetahuan. Kalau engkau suka, kita dapat menjadi teman seperjalanan!" Ucapan itu dikeluarkan secara wajar sehingga Siong Ki tidak merasakan suatu kelainan, walaupun penawaran seperti itu dari seorang wanita kepada seorang pria sebetulnya tidaklah pada tempatnya.

"Soal itu mudah, Ouw-cici, sekarang aku ingin mendengar tentang Hek I Kaipang."

"Hek I Kaipang adalah perkumpulan pengemis di Lok-yang dan sekitarnya yang terkenal. Ketuanya berjuluk Hek I Sin-kai (Pengemis Sakti Baju Hitam) yang terkenal lihai. Pengaruhnya besar sekali karena selain ketuanya sakti, juga anak buahnya yang berjumlah ratusan orang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Jangankan orang-orang biasa, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw tidak berani main-main terhadap mereka, dan para pejabat daerahpun mempunyai hubungan baik dengan para pimpinannya."

"Hemm, pantas saja anak buahnya bersikap demikian ugal-ugalan. Kekuasaan itu agaknya membuat mereka menjadi sewenang-wenang," kata Siong Ki. "Akan tetapi, kalau engkau sudah tahu keadaannya seperti itu, mengapa tadi engkau sengaja memancing keributan dengan mereka, enci?"

Wanita itu tersenyum dan mengamati wajah Siong Ki dengan pandang mata begitu mesra dan manis, membuat pemuda itu merasa mukanya menjadi panas dan tersipu. "Tadinya aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Akan tetapi melihat mereka mengganggumu dan melihat engkau memiliki kepandaian ketika engkau mematahkan sekeping uang itu, timbul keberanianku untuk menentang mereka. Memang sudah lama aku mendengar akan kesewenang-wenangan mereka, dan aku ingin tahu sampai di mana kelihaian ketuanya. Karena itulah, aku mohon bantuanmu, siauwte, karena aku yakin bahwa urusannya tidak hanya sampai di sini saja. Tadi engkau melihat sendiri bahwa kita dibayangi orang, tentu tak lama lagi ketuanya akan menghubungi kita dan aku memerlukan bantuanmu untuk menghadapi mereka. Tentu saja kalau engkau suka dan berani."

Siong Ki adalah murid Naga Sakti Sungai Kuning, tentu saja telah menguasai ilmu silat yang tinggi, juga dia diberi pelajaran kebudayaan dan sastra, akan tetapi dia baru saja keluar dari perguruan dan sama sekali tidak mempunyai pengalaman menghadapi akal dan tipu muslihat orang-orang kang-ouw yang licin dan cerdik. Maka, diapun tidak merasa bahwa ia sedang dibujuk secara cerdik sekali oleh wanita yang tergila-gila kepadanya itu.

Kalau saja Ouw Ling tidak mengeluarkan ucapan kalimat terakhir itu, tentu dia akan meragu, karena dia merasa tidak mempunyai urusan dengan Hek I Kai-pang. Akan tetapi, wanita itu seolah menantangnya ketika mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuannya untuk menghadapi Hek I Kai-pang, kalau dia berani! Kata-kata kalau dia berani inilah yang mencambuknya dan seolah memaksanya untuk tidak dapat menolak uluran tangan wanita itu.

"Ouw-cici, tentu saja aku berani dan kalau memang pihak Hek I Kaipang hendak memperpanjang urusan di rumah makan tadi, aku tentu akan membantumu."

"Kalau begitu, sebaiknya sekarang juga aku memesankan sebuah kamar untukmu, siauw-te!" kata wanita itu dengan sikap gembira dan iapun memanggil seorang pelayan rumah penginapan.

Ketika pelayan itu datang, ia memesan sebuah kamar lagi untuk Siong Ki dan dengan sikap seperti tidak sengaja, ia minta sebuah kamar yang berdekatan dengan kamarnya untuk pemuda itu. Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut di luar rumah penginapan dan seorang pelayan berlari datang memasuki ruangan itu.

"Nona. ada orang-orang dari Hek I Kai-pang datang mencari nona..." Jelas bahwa pelayan itu nampak ketakutan.

Ouw Ling tersenyum tenang dan menoleh kepada Siong Ki. "Nah, tepat seperti dugaanku. The-siauwte, sebaiknya kau simpan dulu buntalan pakaianmu ke dalam kamarmu, baru kita menemui mereka."

Siong Ki menyetujui, menyimpan buntalan pakaiannya dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya, kemudian dia keluar lagi sambil membawa pedang Seng-kong-kiam yang digantung di pungungnya. Ternyata Ouw Ling sudah menantinya, dan wanita ini pun agaknya sudah siap siaga. Sepasang goloknya juga terselip di belakang punggung sehingga ia nampak cantik dan gagah sekali.

"Bagus, engkau sudah membawa pedangmu, siauwte. Kita harus siap-siaga, siapa tahu kita akan terpaksa menggunakan senjata menghadapi mereka."

Keduanya lalu keluar dan depan rumah penginapan itu nampak lengang. Para tamu dan para pelayan rumah penginapan itu sudah menjauhkan diri bersembunyi, agaknya tidak ingin terlibat. Di pekarangan rumah penginapan itu nampak belasan orang berpakaian serba hitam yang bertambal-tambalan, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan yang bersikap garang.

Akan tetapi, ketika mereka semua melihat munculnya Ouw Ling dan Siong Ki mereka bersikap hormat, bahkan si tinggi besar yang garang itu cepat melangkah ke depan dan mengangkat kedua tangan ke depan dada ke arah Ouw Ling dan suaranya terdengar lantang namun hormat.

"Apakah kami berhadapan dengan Bi Tok Siocia dari Liong-san?"

Ouw Ling tersenyum mengejek. "Kalau benar kalian mau apa? Mau memperpanjang urusan di rumah makan itu? Mau mengeroyokku? Majulah dan sekali ini, aku tidak akan bersikap lemah, akan kupenggal leher kalian semua!" kata Ouw Ling dan sikapnya ini membuat Siong Ki bergidik. Kiranya wanita itu dapat pula bersikap keras dan keji kalau perlu. Akan tetapi, memang para pengemi palsu ini patut dihajar, pikirnya.

Dihardik seperti itu, sekali ini para pengemis itu sama sekali tidak kelihatan marah, bahkan kelihatan gentar. Kembali si tinggi besar memberi hormat. "Harap Siocia sudi memaafkan tiga orang anak buah kami yang seperti buta tidak mengenal bahwa nona adalah Bi Tok Siocia dari Liong-san. Mendengar peristiwa tadi, pangcu (ketua) kami marah sekali dan tiga orang itu telah menerima hukuman. Pangcu adalah sahabat baik dari Majikan Liong-san, maka sekarang pangcu mengutus kami untuk mengundang nona ke tempat kami, di mana pangcu akan menyambut sendiri untuk mohon maaf kepada Siocia."

Luar biasa sekali, pikir Siong Ki. Setelah mendengar nama julukan Ouw Ling, yaitu Bi Tok Sio-cia, para pengemis itu menjadi ketakutan, bahkan ketuanya sendiri yang mengundangnya untuk memohon maaf! Dia tidak tahu siapakah Majikan Liong-san dan belum pernah mendengar nama julukan Ouw Ling. Gurunya tidak pernah bercerita tentang majikan Liong-san, walaupun ada beberapa orang datuk kang-ouw yang dia dengar dari keterangan suhunya.

Ouw Ling menoleh kepadanya. "Bagaimana, siauwte? Hek I Kai-pang mengundang kami, perlukah kami menerima undangan itu dan datang ke sarang Hek I Kai-pang untuk menemuinya?"

Siong Ki tersenyum girang. Bagaimanapun juga, wanita ini amat menghargainya dan telah mengangkatnya dalam pandangan para anggota Hek I Kaipang. Dia bertanya. "Apakah engkau mengenal pangcu itu, enci?"

"Aku hanya pernah mendengar namanya. Ayahku yang mengenalnya. Sebetulnya, aku tidak senang diundang seperti ini. Kenapa bukan dia saja yang datang ke sini kalau hendak minta maaf? Akan tetapi, mengingat dia teman ayahku, dan aku di pihak yang lebih muda, sebaiknya kalau kita pergi ke sana, hendak kulihat apa yang hendak dia katakan."

"Kalau begitu, baik, kita pergi saja," kata Siong Ki.

Para anggota Hek I Kaipang merasa heran melihat wanita itu hendak pergi bersama pemuda yang tidak mereka kenal, akan tetapi mereka mendengar bahwa tadi pemuda itu yang menimbulkan keributan dengan anak buah Hek I Kaipang. Karena yang mengajak pemuda itu adalah Bi Tok Sio-cia, merekapun tidak ada yang berani membantah. Si tinggi besar itu segera berkata.

"Siocia, pangcu telah mengirim sebuah kereta untuk menjemput sio-cia." Dia memberi isyarat dan sebuah kereta kecil ditarik dua ekor kuda memasuki pekarangan itu dari luar.

Kereta itu cukup bagus, seperti kereta milik seorang pembesar saja! Bukan main, pikir Siong Ki. Pengemis mempunyai kereta berkuda dua untuk menjemput tamu! Dengan sikap angkuh Bi Tok Siocia naik ke dalam kereta bersama Siong Ki dan kusir kereta lalu menjalankan kudanya, diikuti oleh belasan orang anggota Hek I Kaipang.

Setelah kereta dan para pengiringnya meninggalkan pekarangan itu, barulah para tamu dan pelayan rumah penginapan berani keluar dan peristiwa itu tentu saja menjadi percakapan orang. Baru mereka tahu bahwa wanita cantik yang hanya dikenal sebagai Ouw Siocia di rumah penginapan itu adalah seorang wanita yang dijemput kereta oleh ketua Hek I Kaipang, berarti tentu saja bukan wanita sembarangan. Apalagi setelah berita tentang peristiwa perkelahian di depan rumah makan itu tersiar, semua orang memberitakan bahwa Ouw Siocia adalah seorang wanita perkasa.

Kereta itu keluar dari Lok-yang, menuju sebuah bukit kecil. Sarang Hek I Kaipang berada di lereng bukit ini, dan di sepanjang jalan mendaki bukit, nampak para anggota Hek I Kaipang berdiri di tepi jalan. Diam-diam Siong Ki harus mengakui bahwa perkumpulan pengemis itu memang kuat, mempunyai banyak anak buah yang agaknya teratur seperti pasukan saja.

Kalau tadinya Siong Ki mengkhawatirkan adanya perangkap yang diatur oleh ketua perkumpulan itu, kini dia melihat bahwa kekhawatirannya itu keliru. Agaknya nama besar Bi Tok Siocia sudah cukup menjadi jaminan, sehingga timbul keinginan tahu siapa sebenarnya wanita ini dan sampai di mana kelihaiannya, maka namanya sempat membuat pimpinan Hek I Kaipang yang demikian besarnya menyambutnya dengan sikap hormat.

Hek I Sin-kai sendiri keluar menyambut ketika kereta berhenti di depan sebuah bangunan yang sama sekali tidak pantas menjadi rumah pengemis! Perkampungan itupun tidak ada tanda-tandanya menjadi perkampungan pengemis. Bangunan-bangunannya dari tembok. Agaknya hanya pakaian mereka saja yang berbau pengemis, karena penuh tambalan. Apalagi bangunan di tengah, di depan mana kereta berhenti, merupakan bangunan yang megah.

Kakek yang menyambut mereka itu bertubuh tinggi kurus, berusia limapuluh tahun lebih. Mukanya kuning sehingga melihat tubuh tinggi kurus itu, dia lebih mirip seorang yang berpenyakitan, yang tidak sehat. Dia membawa sebatang tongkat mengkilap berwarna hitam, dan pakaiannya yang serba hitam itu terbuat dari sutera yang halus dan mahal! Sepatunya juga hitam mengkilat. Berbeda dengan pakaian anak buahnya, tidak nampak sedikit tambalanpun di bajunya. Dia lebih mirip seorang hartawan berpakaian sutera hitam daripada ketua pengemis.

Begitu Bi Tok Siocia turun dari kereta, Hek I Sin-kai menyambutnya dengan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, engkaukah Bi Tok Siocia? Sungguh pantas engkau menjadi puteri Ouw Kok Sian, karena engkau ternyata memiliki keberanian yang besar!"

"Paman tentulah Hek I Sin-kai Ma Siu, pendiri Hek I Kaipang? Pernah aku mendengar nama paman dari ayah," kata Ouw Ling.

"Ha-ha-ha, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan ayahmu. Dan inikah pemuda yang membikin ribut di rumah makan itu? Siapakah ini, nona Ouw? Sahabatmu, ataukah tunanganmu?"

Kalau orang lain ditanya tentang tunangan mungkin akan marah. Akan tetapi tidak demikian dengan Ouw Ling. Ia malah tersenyum senang. "Dia bernama The Siong Ki, seorang sahabatku yang baru, paman. Bukan dia yang membikin ribut di rumah makan, melainkan tiga orang anak buahmu yang tak tahu diri. Aku yang menjadi saksi bahwa anak buahmu yang bersalah."

Ketua itu menggerakkan tangan dengan tidak sabar. "Aku tahu... aku tahu... dan aku telah menghukum mereka. Engkau dapat melihatnya sendiri nanti. Nah, Ouw Siocia, dan engkau The-sicu (orang gagah The), silakan masuk. Kalian menjadi tamu-tamu kehormatan kami hari ini."

Lega karena mendapat sambutan yang demikian hormat dan pihak kai-pang itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap bermusuh, Siong Ki bersama Ouw Ling memasuki rumah besar itu dan mereka dipersilakan masuk ke ruangan tamu yang besar, di mana ternyata telah dipersiapkan meja besar untuk pesta makan minum! Meja itu besar, akan tetapi karena hanya sebuah dan berada di ruangan tamu yang luas, maka tampak kecil.

Hek I Sin-kai Na Siu mempersilakan mereka berdua duduk menghadapi meja besar. Dia sendiri menemani mereka. Agaknya, ketua ini benar-benar menghormati kedua orang tamunya. Buktinya, tidak ada di antara pembantu-pembantunya yang ikut duduk menghadapi meja itu. Setelah dua orang tamunya duduk, pangcu itu bertepuk tangan. Seorang penjaga memasuki ruangan dan Hek I Sin-kai mengeluarkan perintah.

"Seret tiga orang anggota yang membikin malu tadi masuk!"

Penjaga pergi dan tak lama kemudian, dikawal oleh tiga orang anggota kai-pang, masuklah tiga orang itu. Mereka terhuyung-huyung dan Siong Ki melihat betapa tiga orang pengemis yang mengganggunya di rumah makan tadi, dalam keadaan menyedihkan, tersungkur dan berlutut. Pakaian mereka koyak-koyak dan berlepotan darah, dan terutama sekali di bagian punggung. Dia mengerti bahwa tiga orang itu telah menerima hukuman cambuk yang membuat kulit punggung mereka pecah-pecah berdarah.

"Nah, inilah mereka, nona Ouw. Sekarang terserah kepada nona dan sicu, apa yang harus kami lakukan dengan mereka? Membunuh mereka atau mengampuni mereka?" tanya ketua perkumpulan pengemis itu.

Mendengar ini, tiga orang pengemis yang sekarang sudah kehilangan kegarangan mereka itu berlutut menghadap ke arah dua orang muda itu dan si hidung besar mewakili kedua orang temannya, berkata dengan suara gemetar.

"Nona, kami mohon ampun..."

Bi Tok Siocia tersenyum mengejek. Khawatir kalau wanita itu minta agar mereka dibunuh, Siong Ki cepat berkata, "Mereka sudah menerima hukuman. Sudahlah, pangcu, urusan ini tidak perlu diperpanjang lagi."

Mendengar ini, Bi Tok Siocia tersenyum lebar, lalu mengangguk-angguk. "Pangcu, The-siauw-te sudah mengambil keputusan dan akupun setuju."

"Terima kasih, nona, terima kasih, sicu!" Tiga orang itu berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

"Bawa mereka keluar dan suruh hidangkan makan minum!" kata ketua Hek I Kai-pang kepada tiga orang pengawal.

Mereka semua keluar dan tak lama kemudian, gadis-gadis manis datang membawa hidangan. Kembali Siong Ki tertegun. Namanya saja pengemis, akan tetapi kini mampu mengadakan pesta dengan masakan-masakan yang mahal. Anggur dan arak yang baik, dan dilayani oleh lima orang gadis cantik yang sama sekali bukan jembel. Ini lebih tepat dinamakan pesta yang diadakan seorang bangsawan atau hartawan, bukan pemimpin orang jembel!

Setelah makan dan minum dengan gembira. Hek I Sin-kai menyuruh pelayan membersihkan meja, kemudian dia berkata, "Ouw Siocia dan The-sicu, kami merasa gembira sekali bertemu dengan orang-orang muda yang lihai seperti kalian. Apalagi mengingat bahwa Ouw-siocia adalah puteri sahabat kami, dan karena The-sicu sahabat Ouw-siocia, berarti sahabat kami pula. Kalian lihat bahwa kami selalu suka bersahabat dengan orang-orang lihai di dunia kang-ouw. Ouw-siocia, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu sahabat Ouw Kok Sian. Setiap kali kami saling jumpa, kami pasti membicarakan ilmu silat dan latihan bersama. Sekarang, karena engkau merupakan puterinya, maka biarlah kuanggap engkau mewakili ayahmu dan aku ingin sekali melihat sampai di mana kini kemajuan ilmu silat dari majikan Liong-san. Ha-ha-ha-ha!"

Sikap tuan rumah itu wajar dan ramah, sama sekali bukan merupakan tantangan untuk berkelahi.