Social Items

"Eng-moi...!" Thian Ki sekali loncat telah berada di dekat gadis itu dan menyentuh pundaknya, "Kenapa engkau menangis...?" Suara Thian Ki terdengar lembut penuh getaran kasih sayang.

"Koko...!" Kui Eng membalik dan merangkul. Bagaikan tanggul pecah, tangisnya mengguguk dan ia menempelkan mukanya di dada Thian Ki, kedua lengannya melingkari pinggang. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya menangis seperti anak kecil.

Thian Ki membiarkan saja gadis itu menangis sepuasnya, karena dia tahu bahwa tangis merupakan obat paling ampuh untuk melarutkan segala macam rasa penasaran, kecewa ataupun duka. Dia merasa betapa dia amat iba dan menyayang gadis ini. Rasa ibanya lebih banyak disebabkan karena dia melihat betapa gadis ini amat mencintanya, namun dia sendiri belum yakin apakah ada cinta seperti itu di hatinya terhadap Kui Eng. Dia tidak merasakan desakan nafsu berahi terhadap Kui Eng. Tidak ada hasrat untuk mendekat, dan mencumbunya. Yang ada hanyalah perasaan iba dan ingin menghiburnya agar tidak berduka.

"Tenanglah, Eng-moi. Kuatkan hatimu dan hentikan tangismu." setelah tangis gadis itu agak mereda, Thian Ki berbisik, membujuknya dan tangannya mengelus rambut kepala yang bersandar di dadanya itu. Bajunya di bagian dada terasa basah oleh air mata gadis itu.

"Koko... aku... aku ingin ikut..." akhirnya gadis itu dapat berbisik.

Hampir Thian Ki tertawa. Sungguh Kui Eng masih separti kanak-kanak saja. Kanak kanak yang manja, pikirnya. "Aih, Eng-moi. Hal itu tidak mungkin kita lakukan. Suhu dan ibu tentu akan marah kepada kita."

"Aku takut kehilangan engkau, koko... aku tidak akan dapat hidup tanpa engkau di sisiku..."

Thian Ki memejamkan matanya. Hatinya terharu sekali. Demikian besarkah cinta hati Kui Eng kepadanya? Dia merasa seperti berdosa kalau tidak membalas cinta kasih yang demikian besarnya. "Eng-moi, aku pergi bukan untuk selamanya. Aku pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan suhu kepadaku. Aku pergi mencari obat, untuk menyembuhkan diriku. Engkau tinggallah di rumah. Kalau aku pulang kelak, aku sudah berhasil mendapatkan Liong-cu-kiam dan sudah sembuh dari cengkeraman hawa beracun."

Teringat akan keadaan tubuh Thian Ki, Kui Eng dapat menenangkan hatinya. Ia masih mendekap tubuh pemuda itu, menengadah dan dengan air mata masih membasahi pipi dan mata yang kemerahan oleh tangis, ia menatap wajah pemuda yang dicintainya itu. "Koko... aku akan menunggumu dirumah... semoga engkau berhasil..." Kedua lengannya melepaskan rangkulan di pinggang, dan iapun melangkah mundur sampai tiga langkah. Thian Ki memandang dengan perasaan iba dan sayang.

"Aku pergi, Eng-moi. Jagalah subu dan ibu baik-baik." Thian Ki lalu membalik dan melangkah dengan cepatnya meninggalkan Kui Eng yang masih berdiri seperti patung. Baru setelah bayangan Thian Ki lenyap di sebuah tikungan jauh di depan, Kui Eng menghela napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu pulang dengan langkah gontai.

Sepekan kemudian, setelah Thian Ki pergi, Cian Bu Ong dan Sim Lan Ci berkemas untuk melakukan perjalanan jauh. Melihat ayah ibunya berkemas, Kui Eng tentu saja ingin ikut, namun selalu dilarang oleh ayahnya. Bahkan ketika ia merengek kepada Sim Lan Ci yang kini dipanggil subo olehnya, wanita itu menghiburnya dengan lembut.

"Kui Eng, kami pergi untuk mencarikan obat bagi Thian Ki. Obat itu hanya terdapat di pegunungan Himalaya, yaitu Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci Darah). Perjalanan ini jauh sekali dan sulit, namun aku yakin ayahmu dan aku akan mampu mendapatkan rumput merah itu. Engkau jagalah di rumah, Kui Eng. Siapa tahu, sebelum kami kembali, Thian Ki yang lebih dulu pulang. Kalau engkau ikut pula dengan kami, bagaimana kalau Thian Ki pulang?"

Akhirnya, karena bujukan ayahnya dan subonya, Kui Eng mau ditinggalkan walaupun ia selalu cemberut. Suami isteri itupun berangkat meninggalkan dusun, menuju ke barat, ke pegunungan Himalaya untuk mencarikan obat pemunah racun yang amat langka itu. Akan tetapi, orang yang memiliki watak lincah jenaka dan penuh semangat seperti Kui Eng, bagaimana mungkin tahan untuk hidup seorang diri saja di rumah mereka?

Apalagi seluruh penghuni dusun itu kini menganggap ia sebagai pengganti ayahnya dan selalu melapor kepadanya kalau terjadi hal-hal yang menyulitkan. Seolah ia yang menggantikan ayahnya menjadi kepala dusun! Hanya satu bulan saja ia dapat bertahan. Setelah hatinya tidak dapat menahannya lagi, ia mengumpulkan para pemuka dan sesepuh dusun itu.

Meninggalkan pesan bahwa ia akan pergi menyusul Thian Ki dan menyerahkan kepengurusan dusun itu kepada mereka. Juga ia menyerahkan perawatan rumah keluarganya kepada para pelayan. Setelah itu, Kui Eng meninggalkan dusun, menggendong sebuah buntalan pakaian dan bekal uang yang cukup. Ia ingin mencari Thian Ki!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

"Suhu dan bibi, tecu (murid) telah menerima budi yang berlimpah dari ji-wi (anda berdua). Sampai matipun teecu tidak akan melupakan budi itu dan kalau teecu tidak sempat membalasnya, teecu hanya berdoa semoga Tuhan yang akan membalas budi kebaikan ji-wi kepada teecu."

Pemuda berusia duapuluh dua tahun itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya tampan dan dari pakaian dan bentuk rambutnya, juga kuku jari tangannya, dapat diketahui bahwa dia seorang pemuda yang pandai menjaga diri, nampak rapi dan anggun, walaupun pakaiannya terbuat dari kain yang sederhana. Terutama sepasang mata pemuda itu yang membayangkan bahwa dia bukan pemuda biasa.

Sepasang matanya bersinar tajam dan kadang mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng, dan pembawaannya lembut dan sopan. Hanya ada satu hal yang membuat orang berhati-hati menghadapinya, yaitu senyumnya. Mulut yang bentuknya bagus itu selalu dibayangi senyum yang sinis, seperti orang yang selalu mengejek orang lain, selalu memandang rendah orang lain. Pemuda itu memang bukan pemuda biasa. Dia adalah murid pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning). Dia bernama The Siong Ki, murid tunggal pendekar besar itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, The Siong Ki adalah putera mendiang The Ci Kok, seorang anggota Hek houw pang yang ikut tewas ketika perkumpulan itu diserbu oleh kaki tangan Pangeran Cian Bu Ong, yang menganggap Hek-houw-pang sebagai musuh, karena perkumpulan itu membantu kerajaan baru Tang. The Siong Ki kemudian pergi mencari Huang-ho Sin-liong Si Han Beng yang tinggal di dusun Hong-cun tepi sungai Huang-ho dan menjadi murid pendekar besar ini.

Seperti kita ketahui, Si Han Beng dan isterinya, Bu Giok Cu yang dalam hal ilmu kepandaiannya sedikit di bawah tingkat suaminya, memiliki seorang anak saja, yaitu Si Hong Lan. Akan tetapi dalam usia dua tahun, anak mereka itu diculik dan dilarikan oleh Kwa Bi Lan, janda mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki dengan ancaman bahwa kalau suami isteri itu mencari anak mereka, anak itu akan dibunuhnya.

Semenjak kehilangan anak mereka itulah, Si Han Beng dan isterinya mencurahkan perhatian mereka kepada The Siong Ki. Anak laki-laki yang menjadi murid mereka ini memang seorang yang pandai membawa diri, rajin dan taat sehingga mereka menyayanginya. Bahkan kalau tadinya Bu Giok Cu tidak mau mengajar silat kepadanya, hanya Si Han Beng yang mengajarnya, karena suami isteri itu tidak ingin murid ini kelak lebih pandai daripada anak mereka.

Setelah Si Hong Lan diculik orang, maka Bu Giok Cu akhirnya juga menurunkan beberapa ilmu pukulan yang khas kepada murid suaminya itu. Hanya saja, mentaati perintah gurunya pada saat dia diangkat murid, Siong Ki sampai sekarang tidak berani menyebut subo (ibu guru) kepada Bu Giok Cu, melainkan menyebutnya bibi. Sebutan kepada suami isteri itu bukan suhu dan subo melainkan suhu dan bibi.

Siong Ki memang pandai membawa diri. Selalu sopan, halus dan bukan saja dalam ilmu silat, bahkan ketika diajar ilmu kesusasteraan, diapun rajin dan berbakat sekali. Karena sikapnya yang selalu baik itulah maka dua orang gurunya semakin sayang kepadanya, dan diam-diam menaruh harapan agar kelak murid mereka itu yang akan mampu mempertemukan mereka dengan anak mereka kembali.

Pagi hari itu, suami isteri pendekar itu memanggil murid mereka menghadap dan mereka menyatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Siong Ki untuk terjun ke dalam dunia ramai dan memanfaatkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya dari kedua orang suami isteri itu. Setelah mendengar pernyataan kedua orang gurunya itu, Siong Ki sambil berlutut menyatakan terima kasihnya dengan kata-kata seperti tadi.

Mendengar ucapan murid mereka, suami isteri itu saling pandang dan wajah mereka berseri. Pemuda itu memang pandai menyenangkan hati mereka, selalu bersikap sopan penurut dan juga halus tutur sapanya.

"Siong Ki, antara guru dan murid tidak ada yang dinamakan hutang budi. Sudah menjadi kewajibanku sebagai gurumu untuk mendidikmu sebaik mungkin, dan sudah menjadi kewajibanmu sebagai muridku untuk mentaati semua petunjuk dan pesanku. Ingat, kami mengajarkan ilmu silat kepadamu bukan dengan maksud agar engkau menjadi kuat untuk membalas dendam. Apa yang terjadi menimpa keluarga Hek-houw-pang adalah akibat dari adanya perang saudara, tergantinya dinasti Kerajaan Sui menjadi Kerajaan Tang."

"Teecu mengerti, suhu. Sudah sering suhu dan bibi menasihatkan teecu agar tidak memikirkan lagi tentang akibat perang saudara yang mendatangkan malapetaka kepada keluarga Hek houw pang. Teecu tidak mendendam kepada siapapun, akan tetapi bagaimana teecu dapat mendiamkan saja kalau mendengar seorang tokoh Siauw-lim-pai yang merupakan aliran persilatan paling besar dan terkenal mempunyai tokoh-tokoh pendekar perkasa dan budiman, melakukan perbuatan jahat, membantu pemberontak menyerbu Hek-houw-pang dan menyebar maut kepada orang-orang yang tidak berdosa?"

Suami isteri itu saling pandang. Mereka teringat akan cerita murid mereka ketika pertama kali datang kepada mereka. Anak itu menceritakan tentang malapetaka yang menimpa keluarga Hek-houw-pang, dan menceritakan pula pendengarannya bahwa yang melakukan penyerbuan dan pembunuhan di dusun Ta-bun-cung itu, antara lain adalah pendekar Siauw-lim-pai yang bernama Lie Koan Tek.

"Siong Ki, ketahuilah bahwa engkau harus dapat membedakan antara orang yang sengaja berbuat jahat dan melakukan pembunuhan karena demi kepentingan pribadinya, seperti para perampok, penindas dan sebagainya yang memang merupakan orang-orang jahat, dan orang yang terpaksa melakukah pertempuran dan mungkin pembunuhan yang terjadi dalam perang. Kami mengenal siapa pendekar Lie Koan Tek itu. Dia seorang pendekar besar, dan kami tidak pernah mendengar dia melakukan kejahatan, bahkan selalu menentang kejahatan. Kalau dia sampai ikut menyerbu dan mungkin saja membunuh ayahmu yang melakukan perlawanan, hal itu terjadi dalam pertempuran yang terkendali oleh pemberontakan, oleh perang, bukan karena urusan pribadi. Kalau dendam berlarut-larut dibiarkan merajalela dan menguasai hati manusia, mungkin sekarang ini tidak ada orang yang tidak mendendam kepada orang atau bangsa lain. Dalam perang, sejak dahulu, entah berapa juta orang yang tewas. Kalau semua keturunan mereka mendendam, betapa dunia ini akan penuh dengan dendam."

"Suhu, apakah kalau begitu membunuh banyak orang dalam perang tidak merupakan dosa? Teecu seringkali merasa heran mengapa kalau di waktu perang, seseorang membunuhi banyak sekali orang yang tidak dikenalnya sama sekali, yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan dia, orang itu bahkan dipuji sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Sebaliknya di luar perang, kalau ada orang membunuh orang lain, biar dengan alasan yang kuat sekalipun, karena urusan pribadi, orang itu dikutuk, ditangkap dan dijatuhi hukuman? Berbedakah membunuh dalam perang dengan membunuh di luar perang?"

Si Han Beng tersenyum dan mengangguk-angguk, ia sendiri dahulu sudah sering memikirkan hal ini dan berbincang dengan banyak orang cerdik pandai dan bijaksana mengenai perang. "Pembunuhan adalah tetap pembunuhan, dalam bentuk apapun dan dalam keadaan apapun, Siong Ki. Perang antar golongan, antar bangsa hanya merupakan pembesaran, perluasan dan perkembangan daripada perang dalam diri pribadi dan antar manusia. Urusan pribadi berkembang menjadi urusan golongan, urusan antar bangsa dan selanjutnya. Manusia dikuasai nafsu dan nafsu dengan liciknya, dengan berbagai tipu muslihat, membuat manusia mengejar tujuan dengan menghalalkan segala cara. Perang merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu. Ada yang berperang untuk meluaskan daerah kekuasaan, perang untuk memaksakan kehendak demi keuntungan negaranya, perang untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, perang untuk membela diri dari serangan musuh, dan masih banyak lagi. Namun, semua alasan itu mengakibatkan malapetaka yang amat menyedihkan, yaitu membuat manusia menjadi buas, saling bunuh. Dalam perang, seorang perajurit hanya mengenal dua hal, dibunuh atau membunuh. Tentu saja setiap orang tidak ingin dibunuh, walaupun untuk itu harus membunuh! Dan itu sudah menjadi tugas seorang perajurit atau seorang yang berpihak pada suatu golongan atau pemerintahan. Nah, jelas sekali perbedaan sifatnya dari pembunuhan karena urusan pribadi, bukan? Pembunuhan dalam perang melibatkan seluruh pemerintahan dan negara, maka tidak ada hukumannya. Kalau si pembunuh dihukum, tentu pemerintahnya yang dihukum, karena pemerintah yang menyuruh dia berperang dan membunuh, padahal yang membuat dan melaksanakan hukum adalah pemerintah sendiri. Sedangkan membunuh di luar perang, berarti karena urusan pribadi dan melanggar hukum pemerintah."

Siong Ki mengangguk-angguk mengerti. "Harap suhu dan bibi jangan khawatir. Teecu tidak mendendam kepada Lie Koan Tek, melainkan hanya penasaran mengapa seorang pendekar diperalat oleh pemberontak. Teecu akan melakukan penyelidikan. Kalau memang benar dia bukan orang jahat, dan seorang pendekar, tentu teecu tidak akan mengganggunya. Akan tetapi kalau dia penjahat, sudah menjadi kewajiban teecu untuk membasminya."

Si Han Beng tersenyum. "Bukan hanya Lie Koan Tek seorang yang harus kautentang, melainkan semua bentuk kejahatan. Akan tetapi jangan mencari musuh, jangan terlalu usil. Tidak mungkin engkau seorang diri hendak membasmi semua kejahatan, karena di dunia ini, jauh lebih banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik. Kejahatan memang sudah menjadi sebagian dari keadaan manusia. Engkau sudah banyak mendengar tentang itu dari kami, Siong Ki. Mudah-mudahan saja engkau akan menjadi seorang pendekar yang tidak akan memalukan kami sebagai gurumu."

"Teecu akan selalu mengingat semua petunjuk dan nasehat suhu dan bibi," kata Siong Ki.

"Siong Ki, ada satu hal yang kami ingin engkau melakukannya untuk kami," kata Bu Giok Cu tiba-tiba.

Siong Ki mengangkat muka memandang wajah isteri suhunya itu. Wajahnya berseri dan pandang matanya penuh semangat. Dia akan merasa girang sekali kalau dapat melakukan sesuatu untuk guru dan bibinya. "Teecu akan melakukan segalanya untuk suhu dan bibi, biarpun untuk itu teecu harus mempertaruhkan nyawa teecu!"

"Kami ingin engkau mencari dan menemukan kembali adikmu Lan Lan!" kata wanita itu dan pandang matanya berubah menjadi sayu.

"Bibi, hal itu tidak pernah teecu lupakan! Sejak sumoi (adik seperguruan) Hong Lan diculik, teecu selalu ingat kepadanya dan sebetulnya, sejak dulu teecu sudah mempunyai tekad untuk mencarinya sampai dapat dan mengajaknya kembali kepada suhu dan bibi!" suara pemuda itu penuh semangat, sehingga menggembirakan hati suami isteri itu.

"Teecu tidak akan pernah melupakan wanita penculik bernama Kwa Bi Lan itu!"

"Siong Ki, engkau hanya kami tugaskan mencari Lan Lan, bukan untuk memusuhi Kwa Bi Lan. Ingat, engkau tidak boleh memusuhinya."

"Maaf, suhu. Akan tetapi sikap suhu dan bibi sungguh amat aneh. Sudah jelas bahwa Kwa Bi Lan mendatangkan kedukaan dalam kehidupan suhu berdua. Ia sudah menculik adik Lan Lan sejak ia berusia dua tahun sampai sekarang. Akan tetapi, suhu dan bibi yang memiliki ilmu kepandaian tinggi tidak pernah melakukan pengejaran dan pencarian, dan sekarang, setelah teecu hendak mencarinya, suhu memesan agar teecu tidak memusuhi penculik itu. Bukankah ia sudah melakukan hal yang amat jahat, suhu?"

"Hemm, engkau tidak tahu, Siong Ki. Kwa Bi Lan itu adalah murid Siaw-lim-pai pula, dan ia adalah isteri guruku yang pertama. Ia masih keponakan dari pendekar Siauw-lim-pai Lie Koan Tek yang kau sebut-sebut tadi. Ia seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, sama sekali bukan penjahat. Kalau ia membawa pergi Lan Lan, hal itu ia lakukan bukan karena ia jahat, melainkan persoalan pribadi antara ia dan aku yang tidak perlu diketahui orang lain. Nah, sekarang berjanjilah bahwa engkau akan mencari Lan Lan sampai dapat kautemukan, kemudian mengusahakan agar ia dapat kauajak pulang, tanpa mengganggu dan memusuhi Kwa Bi Lan."

Siong Ki menundukkan mukanya. "Baiklah, suhu dan bibi, teecu berjanji akan menemukan sumoi Hong Lan dan mengajaknya pulang tanpa memusuhi Kwa Bi Lan. Sebelum itu, teecu hendak berkunjung dulu ke Ta-bun-cung. mengunjungi keluarga Hek-houw-pang dan bersembahyang di makam ibu dan ayah."

"Memang seharusnya begitu," kata Si Han Beng. "Engkaupun harus tahu bahwa Hek-houw-pang adalah perkumpulan orang gagah. Oleh karena itu, mengingat bahwa mendiang ayahmu adalah murid dan tokoh Hek-houw-pang pula, maka sudah sepantasnya kalau engkaupun ikut membantu dan mendorong kemajuan Hek-houw-pang agar nama keluarga Hek-houw-pang terangkat."

"Siong Ki, kau bawalah pedangku Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) ini. Pedangku ini sudah membuat banyak jasa ketika aku masih merantau di dunia kang-ouw. Bawalah pedangku ini untuk membantumu mencari Lan Lan sampai dapat dan kelak kembalikan pedang ini kepadaku bersama Lan Lan," kata Bu Giok Cu sambil menyerahkan sebatang pedang dengan sarung dan gagang yang terukir indah.

Siong Ki terkejut dan girang. Tentu saja dia mengenal pedang isteri gurunya itu. Sebatang pedang pusaka yang amat ampuh walaupun pedang itu tidak tajam. Pedang itu tumpul karena sukar untuk menajamkan baja yang berasal dari bintang itu. Namun, segala macam senjata dari logam apapun tidak ada yang mampu menandingi baja bintang itu dalam hal kekuatannya. Dia menerima pedang itu dengan sikap menghormat.

Kemudian, setelah menerima banyak nasehat dari Si Han Beng dan Bu Giok Cu, membawa pula bekal uang dan pakaian dalam buntalan kain kuning, berangkatlah Siong Ki meninggalkan dusun Hong-cun. Siong Ki yang enambelas tahun yang lalu datang sebagai anak berusia enam tahun yang berpakaian compang-camping, kini meninggalkan dusun itu sebagai seorang pemuda tinggi tegap dan tampan gagah.

Berpakaian sederhana namun rapi, melangkah dengan tegap meninggalkan tempat di mana selama belasan tahun dia dibesarkan. Di sepanjang jalan, setiap orang yang dijumpainya menyapanya dengan hormat dan dibalas dengan ramah oleh pemuda itu. Semua penghuni dusun itu sudah mendengar belaka bahwa pemuda yang mereka kagumi itu kini meninggalkan dusun untuk pergi merantau.

********************

Dusun Ta-bun-cung kini menjadi dusun yang besar dan ramai seperti sebuah kota saja. Hal ini berkat kemajuan yang dicapai Hek-houw-pang di bawah pimpinan Lai Kun. Hek houw-pang telah mempunyai perusahaan pengawal barang yang bergerak dari kota-kota yang berdekatan ke seluruh kota, baik yang berjarak dekat maupun jauh. Dan berkat adanya surat penghargaan dari Kaisar, maka boleh dibilang pengawalan mereka tidak pernah ada yang berani mengganggu.

Kini dusun itu menjadi ramai karena didatangi banyak pedagang yang hendak mengirim barang melalui pengawalan Hek-houw-pang. Sebagai pangkalan pengiriman barang, maka dusun itu kini membangun, banyak sudah didirikan rumah penginapan dan rumah makan, disamping toko-toko sehingga dusun yang tadinya sunyi itu kini menjadi sebuah kota.

Lai Kun adalah seorang murid Hek-houw-pang yang beruntung. Ketika terjadi malapetaka menimpa Hek-houw-pang, dia sendiri belum berkeluarga dan diapun dapat meloloskan diri tidak menjadi korban serbuan anak buah Pangeran Cian Bu Ong. Kini, setelah dia diangkat menjadi ketua Hek-houw-pang dan berhasil membuat perkumpulan itu maju pesat.

Diapun tidak melupakan keluarga pimpinan Hek-houw-pang yang telah terbasmi pemberontak. Dia membangun tanah kuburan menjadi indah dan bersih, dan diapun terkenal dermawan, siap menolong warga dusun yang sedang ditimpa kesulitan hidup, sehingga bukan saja Hek-houw-pang yang terkenal maju, juga nama Lai Kun sebagai ketuanya menjadi harum dan dihormati orang.

Pada suatu sore, di tanah kuburan yang sunyi itu nampak seorang gadis bersimpuh di depan sebuah makam. Gadis itu tidak menangis, hanya duduk bersimpuh seperti dalam samadhi, sampai lebih dari sejam lamanya. Ia seorang gadis yang amat cantik, dan tubuhnya diselimuti jubah luar yang lebar dan panjang, menutupi leher dan kedua pundaknya, sehingga kedua tangannya tidak nampak.

Hanya wajahnya saja yang nampak, kulit mukanya putih mulus kemerahan dilatar belakangi rambut hitam dan jubah yang kebiruan. Sebuah buntalan dengan kain hijau terletak di dekatnya. Dari buntalan ini saja mudah diduga bahwa ia tentulah bukan penduduk Ta-bun-cung, melainkan pendatang dari yang membawa bekal pakaian dalam buntalan itu.

Setelah senja tiba dan matahari sudah condong jauh ke barat, gadis itu bergerak bangkit dan berbisik di depan makam itu. "Ayah, tenangkan dirimu, ayah, aku akan mencari ibu sampai dapat..." Lalu ia meninggalkan makam, menjinjing buntalan kain hijau dan memasuki jalan raya yang ramai di dusun Ta-bun-cung itu.

Tak lama kemudian, nampak gadis itu sudah duduk di dalam sebuah rumah makan besar yang berada di tepi jalan raya. Lampu-lampu gantung sudah dinyalakan dan ruangan rumah makan itu cukup terang. Juga ruangan itu luas, terdapat belasan meja dikelilingi bangku. Namun, hari masih terlalu sore untuk makan malam dan sudah terlalu sore untuk makan siang sehingga tidak banyak dikunjungi tamu.

Hanya ada tiga meja yang dihadapi tamu, meja pertama adalah meja gadis itu yang berada di paling ujung sebelah dalam, lalu meja ke dua dihadapi dua orang laki-laki setengah tua yang nampaknya adalah pedagang-pedagang pendatang dari luar kota, sedangkan meja ke tiga dihadapi empat orang laki-laki muda berusia antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun. Mereka berempat itu sudah berada di sana ketika gadis bermantel biru itu masuk, dan sejak gadis itu masuk, tingkah empat orang muda itu menjadi berbeda.

Agaknya sudah menjadi sifat atau watak semua kaum pria di seluruh dunia ini. Setiap kali ada serombongan pria berkumpul, lalu muncul wanita, apalagi kalau wanita itu cantik, maka terjadilah perubahan yang aneh pada rombongan pria itu. Kalau kita mengamati tanpa melibatkan diri sebagai orang luar, maka kita akan melihat perubahan yang aneh dan lucu.

Pandang mata, gerak-gerik, bahkan suara serombongan pria itu akan berbeda sama sekali dengan ketika tadi mereka bercakap-cakap sebelum ada wanita cantik yang muncul. Begitu ada wanita muncul, maka gerak-gerik, pandang mata dan suara mereka itu menjadi tidak wajar lagi, dibuat-buat atau setidak-tidaknya ada suatu lagak tertentu yang mungkin tidak mereka sadari sendiri. Tanpa mereka sengaja, pandang mata mereka selalu melirik ke arah si wanita seperti tertarik oleh sembrani, senyum mereka semakin sering dan suara mereka meninggi menuntut perhatian.

Kalau kita meneliti keadaan setiap mahkluk jantan, melihat lagak setiap jantan kalau melihat betina, maka rasa aneh itu akan lenyap. Agaknya memang begitulah pembawaan sifat jantan kalau melihat betina. Sebaliknya, walaupun lebih halus dan tidak kentara, ada perasaan timbal balik bagi si betina kalau diperhatikan pria.

Sang jantan terdorong untuk menggoda dan memuji, sang betina condong untuk ingin digoda dan dipuji, asalkan sifatnya sopan dan tidak kurang ajar. Bahkan pria yang wataknya alim sekalipun, tak dapat terbebas sama sekali dan biarpun dengan sikap yang alim, dia menentang gejolak perasaannya sendiri, tetap saja sang mata ingin melirik dan sang mulut ingin tersenyum segagah-gagahnya!


Empat orang pemuda itu agaknya memiliki keberanian yang lebih, atau juga memang mereka itu terbiasa mengganggu wanita dengan cara yang tidak sopan. Dan lingkunganpun mempengaruhi pembawaan setiap pria. Kalau seorang di antara empat pemuda itu berada di situ seorang diri saja, kiranya belum tentu dia akan berani menganggu, atau andaikata dia tertarikpun tentu akan membatasi diri dengan kerling dan senyun memikat saja. Akan tetapi, sekali seorang pemuda berkumpul dengan kawan-kawannya, keberaniannya akan meningkat berlipat ganda. Semakin banyak jumlah kawan, semakin beranilah dan agaknya keberanian mereka digabungkan dan dipergunakan oleh mereka!

"Aduh, bukan main cantiknya!"

"Hemmn, kulit mukanya begitu putih, halus mulus, apalagi bagian badan yang lain!"

"Kalau aku, yang paling hebat adalah matanya. Seperti sepasang bintang kejora!"

"Tidak, hidungnya lebih hebat. Lihat, kecil mancung dan lucu!"

"Salah semua. Lihat bibirnya! Merah segar tanpa gincu. Betapa nikmatnya kalau diciumi."

Bermacam-macam ucapan empat orang pemuda itu. Jelas ditujukan kepada gadis itu karena secara terang-terangan dan menantang mereka memandang ke arah gadis itu. Sikap dan tingkah laku mereka, ucapan mereka, sempat membuat dua orang tamu setengah tua yang duduk diruangan itu geleng-geleng kepala, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri.

Tentu saja gadis itu tahu akan itu semua. Akan tetapi sikapnya dingin saja, acuh dan seolah-olah tidak melihat dan tidak mendengar sesuatu. Bahkan pandang matanya biasa saja, tetap tenang ketika pelayan menghampirinya untuk menerima pesanan makanan. Iapun hanya memesan nasi dan dua macam sayuran, tidak memesan arak melainkan minuman ringan dari buah. Setelah pelayan menerima pesanan dan pergi, ia pun duduk diam seperti melamun, kedua tangan tetap bersembunyi di dalam jubah luar dan buntalan kain hijau itu kini terletak di atas meja.

Kalau hanya ada seorang saja di antara para pemuda itu yang berakal sehat, tentu sikap diam dari gadis itu membuat mereka mundur. Seorang laki-laki yang sendirian, kalaupun berani mengganggu wanita, kalau didiamkan saja dan tidak ditanggapi, diapun akan mundur. Akan tetapi, empat orang pemuda itu agaknya malah semakin penasaran. Mereka adalah pemuda-pemuda yang ganteng dan kaya, biasanya hampir tidak pernah ada wanita yang tidak merasa bangga kalau mereka puji dan dekati. Akan tetapi gadis yang satu ini demikian dingin dan menganggap mereka seperti empat ekor lalat saja!

Sikap ini sungguh membuat mereka penasaran sekali. Kalau gadis itu memperlihatkan sikap marah atau malu, atau memaki mereka dengan kata-kata, dengan pandang mata melotot, dengan cemberut, hal itu sudah akan memuaskan hati mereka, merupakan hasil kenakalan mereka. Akan tetapi didiamkan saja seperti itu, dilirikpun tidak, membuat mereka merasa diri kecil tak berarti.

"Hai, jangan-jangan si cantik ini tuli!"

"Atau mungkin juga gagu."

"Aduh sayang sekali kalau begitu. Cantik-cantik gagu dan tuli."

"Aih, gagu dan tuli juga tidak apa-apa, malah asyik tidak usah banyak bicara."

Mereka mengganggu terus dan sama sekali tidak diperdulikan gadis itu sampai makanan yang dipesan gadis itu tiba. Pelayan menaruh semua pesanan ke atas meja dan mempersilakan gadis itu makan dengan sikap sopan seperti biasa, karena semua pelayan di situ diharuskan bersikap sopan kepada semua langganan dengan ancaman dipecat kalau berlaku tidak patut. Gadis itu mengangguk, dan tanpa memperdulikan empat orang pemuda yang terus menggodanya dengan pandang mata dan kata-kata, ia mengeluarkan kedua lengannya dari balik jubah untuk mulai makan.

Empat orang pemuda itu terbelalak ketika melihat betapa lengan kiri gadis cantik itu buntung sebatas pergelangan. Lengan kiri itu tidak mempunyai tangan dan ujung lengan itu dibalut kain putih yang bersih, nampak tersembul sedikit dari lengan baju!

"Wah, tangannya buntung!"

"Aduh sayang... begitu cantik manis tangan kirinya buntung!"

"Wah, kalau ia tuli, gagu dan buntung, cacatnya terlalu banyak!"

"Aihhh, ia tetap cantik manis, dan dengan satu tanganpun ia akan dapat membelaiku!"

Gadis itu memang buntung tangan kirinya, ia adalah Kam Cin atau Cin Cin, gadis murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini mendapat tugas dari gurunya untuk mencari dan membunuh Cian Bu Ong. Ia memang telah dapat menemukan musuh besar gurunya itu, namun ia gagal membunuh Cian Bu Ong, bahkan ia dikalahkan. Ketika Thian Ki mencampuri, ia menyerang Thian Ki dan mencengkeram pundak Thian Ki dengan tangan kirinya.

Ternyata cengkeraraman ini bahkan membuat tangan kirinya keracunan hebat dan Thian Ki lalu membabat putus tangannya itu. Rasa nyeri di lengannya tidaklah sehebat rasa nyeri di hatinya. Ia dikalahkan Cian Bu Ong, dikalahkan Thian Ki bahkan kehilangan tangan kiri yang menjadi buntung. Sakit sekali rasa hatinya dan ia merasa malu untuk pulang menemui gurunya, malu untuk menceritakan kekalahannya. Tidak, ia tidak akan merengek kepada gurunya.

Dia harus membuat persiapan sendiri, untuk menuntut balas, sekali ini bukan hanya untuk menuntut dendam gurunya, melainkan dirinya sendiri pula. Ia akan menantang Cian Bu Ong sebagai wakil gurunya, dan akan menantang Thian Ki untuk diri sendiri.

Demikianlah, dengan lengan buntung dan hati terluka, gadis itu pergi ke dusun Ta-bun-cung, bukan hanya untuk bersembahyang di depan kuburan ayahnya, akan tetapi juga untuk mendengar tentang ibunya, untuk berkunjung kepada semua warga Hek-houw-pang dan terutama sekali untuk pergi mencari keterangan tentang paman gurunya, Lai Kun.

Ia masih mempunyai perhitungan besar dengan paman gurunya yang pernah menipunya dan menjualnya kepada rumah pelacuran di kota Ji-goan itu! Inilah sebabnya mengapa pada sore hari ini Cin Cin muncul di tanah kuburan dusun Ta-bun-cung, kemudian makan di rumah makan itu sebelum berkunjung ke Hek-houw-pang. Ia merasa kagum dan terheran-heran melihat dusunnya yang dulu sepi itu kini menjadi sebuah kota yang ramai.

Tadi ketika menghadapi empat orang pemuda yang menggodanya, ia tidak perduli dan diam saja. Akan tetapi, kini mereka menyinggung tentang buntungnya tangan kirinya! Mereka telah menyentuh kehormatan dirinya! Cin Cin meletakkan sumpitnya dan menoleh ke arah kiri, ke arah meja dimana empat orang pemuda itu masih tertawa-tawa memandang dan menggodanya. Melihat gadis cantik itu menoleh dan memandang kepada mereka, empat orang itu semakin gembira dan memberi tanda dengan kedipan mata ke arah Cin Cin, lagak mereka kurang ajar sekali.

"Kalian jahanam-jahanam kecil! Pergilah dan jangan menggangguku atau terpaksa aku akan menghajar kalian!" kata Cin Cin dengan suara dingin dan sikap tenang, namun sepasang matanya mencorong.

Dimaki dengan suara keras oleh gadis buntung itu, tentu saja empat orang pemuda itu menjadi marah. Dua orang tamu dan juga para pelayan mendengar betapa mereka dimaki, dan hal ini sungguh merendahkan nama mereka. Si hidung bengkok yang agaknya menjadi pimpinan mereka, segera bangkit berdiri dan menyeringai.

"Heh-heh, nona buntung tapi manis. Jangan bicara sembarangan. Kami adalah para anggota Hek-houw-pang yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kami bahkan musuh para jahanam yang jahat!"

Pemuda ke dua yang berkumis tipis menyeringai pula. "Nona manis, kami hanya ingin bersahabat denganmu. Mari kita bersenang-senang, nona. Kami akan menyuguhkan makanan enak dan engkau akan minta apa saja, tentu kami penuhi asal engkau bersikap manis kepada kami, ha-ha-ha! Tiga orang temannya juga tertawa karena mereka semua sudah setengah mabok.

Mendengar bahwa mereka anak buah Hek-houw-pang, Cin Cin menjadi semakin marah. "Empat orang bajingan kecil macam kalian ini mengaku anggota Hek-houw-pang? Kalian tidak pantas menjadi murid Hek-houw-pang, pantasnya menjadi anggota gerombolan penjahat kecil! Pergilah sebelum habis kesabaranku!"

Empat orang itupun menjadi marah karena malu. Mendengar makian yang dilontarkan gadis itu kepada mereka. Mereka segera bangkit dan menghampiri meja Cin Cin, mengurung meja itu dengan mulut menyeringai dan bau arak. Si hidung bengkok berkata sambil mendekatkan mukanya pada wajah gadis itu.

"Engkau berani menghina kami murid-murid Hek-houw-pang! Kalau engkau tidak minta maaf dan memberi ciuman kepada kami masing-masing satu kali, engkau tidak boleh pergi dari tempat ini!"

"Jahanam, sudah kuperingatkan kalian!" Cin Cin membentak dan tanpa bangkit berdiri, tangannya yang kanan bergerak dan tubuhnya dicondongkan ke arah mereka. Cepat sekali tangan itu bergerak empat kali dan terdengar suara tamparan keras yang membuat empat orang itu terpelanting dengan pipi membengkak merah!

Tentu saja mereka menjadi semakin marah dan penasaran. Mereka adalah jagoan-jagoan Hek-houw- pang, dan begitu mudahnya mereka kena ditampar sampai terpelanting. Mereka berempat adalah anggota-anggota baru dari Hek-houw-pang, maka tidak saling mengenal dengan Cin Cin, apalagi karena Cin Cin baru berusia lima tahun ketika meninggalkan dusun itu. Dengan marah sekali mereka mencabut sebatang pisau belati yang selalu terselip dipinggang mereka.

Melihat ini, pengurus rumah makan segera menghampiri dan memberi hormat. "Harap saudara sekalian jangan membikin ribut di rumah makan kami dan suka memaafkan nona ini. Atau kalau hendak berkelahi, harap keluar dari sini..."

"Apa kau bilang? Engkau hendak mencampuri dan membela perempuan jahat ini? Ia tentu seorang penjahat yang sengaja hendak mengacau di sini. Kami harus menangkapnya dan menyeretnya ke Hek-houw-pang untuk diperiksa oleh pimpinan kami!" bentak si hidung bengkok. Kemudian dia memandang kepada Cin Cin dan membentak marah. "Bocah sombong, cepat engkau menyerah untuk kami tangkap sebelum kami terpaksa mempergunakan senjata dan melukaimu!"

"Kita buntungi saja tangan kanannya agar ia tidak suka menampari orang lagi!" kata orang ke dua, disambut geraman setuju oleh yang lain.

Mereka mendesak maju dengan sikap mengancam dan muka beringas. Pengurus rumah makan menjadi ketakutan dan diapun mundur, berkelompok dengan pelayan yang memandang dengan hati tegang dan takut kalau-kalau gadis tamu itu akan kehilang tangan yang tinggal satu itu.

Cin Cin bangkit berdiri. Nampak tubuh yang langsing dan kini baru pertama kalinya mulutnya tersenyum, senyum sinis sekali. Bangkit semangatnya yang tadinya hampir padam karena kegagalannya membalas dendam, bahkan ia kehilangan kirinya dan kini bangkit kegembiraannya hendak memberi hajaran kepada empat orang tak tahu diri ini.

"Bagus, kalau kalian ingin merasakan bagaimana kalau kehilangan sebelah tangan, majulah!"

Ditantang demikian, empat orang itu marah dan merekapun menyerang dengan pisau mereka. Nampak empat sinar berkilauan ketika empat orang pemuda itu menggerakkan pisau. Mereka seperti hendak berebut dulu untuk membuntungi tangan kanan gadis yang telah menghina mereka di tempat umum.

Bayangan Cin Cin berkelebatan di antara sambaran empat batang pisau dan tiba-tiba saja ia berhasil merampas sebatang pisau, kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pisaunya menyambar-nyambar tanpa dapat ditangkis atau dielakkan empat orang pemuda itu.

Mereka berteriak keras satu demi satu dan terhuyung ke belakang, tangan kanan memegangi lengan kiri yang telah buntung pada pergelangan tangan itu! Darah bercucuran dan empat buah tangan menggeletak di atas lantai! Empat orang itu mengaduh-aduh dan mereka yang melihat peristiwa itu merasa ngeri. Ternyata dalam waktu yang amat singkat, gadis itu telah membuntungi tangan kiri empat orang pemuda itu.

"Nah, tidak cepat pergi? Apakah kalian minta dibuntungi leher kalian?" bentak Cin Cin sambil melempar pisau rampasannya ke atas meja dan menancap sampai ke gagangnya di meja bekas meja mereka itu.

Empat orang pemuda itu kini menjadi ketakutan dan kesakitan. Baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan gadis buntung yang memiliki ilmu kepandaian hebat bukan main. Mereka telah kehilangan tangan kiri dan tentu saja mereka menjadi berduka dan marah sekali. Mereka lalu lari keluar untuk melapor kepada pimpinan mereka agar membalaskan dendam mereka kepada gadis itu.

Cin Cin berseru. "Heei, jangan lupa bawa tangan kalian yang kotor ini!" Ia menendang empat kali dan empat buah tangan itu melayang keluar ke arah empat orang pemuda yang berlari keluar. Bahkan dua tangan di antaranya tepat mengenai kepala dua orang pemuda. Mereka cepat memungut empat buah tangan itu, tidak tahu tangan siapa yang mereka pungut, lalu melarikan diri tanpa berani menoleh lagi.

"Heei, pelayan! Bersihkan lantai itu!" kata Cin Cin kepada para pelayan dan ketika para pelayan membersihkan lantai dari darah, gadis itupun melanjutkan makan minum dengan sikap tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di tempat itu. Ia bahkan mengeluarkan sebuah benda kering menghitam dari saku jubahnya, memandang benda itu dan tersenyum mengangguk-angguk.

"Jangan khawatir, akan banyak temanmu. Setiap orang yang berani kurang ajar kepadaku, akan kubuntungi tangan kirinya agar engkau tidak merasa kesepian lagi."

Setelah berkata demikian, Cin Cin mengantungi kembali benda itu, yang ternyata adalah tangan yang sudah kering menghitam. Tangan kirinya! Kini ia makan minum dengan wajah berseri sehingga nampak semakin cantik. Agaknya peristiwa tadi membuat Cin Cin lupa akan keadaan tangan kirinya yang buntung, seperti seorang yang tadinya merasa sengsara karena kehilangan suatu benda yang amat disayangnya, kini menjadi terhibur melihat banyak orang kehilangan seperti dirinya.

Dua orang setengah tua yang tadi juga makan di situ, masih duduk tertegun menghadapi meja mereka. Mereka telah menyaksikan peristiwa hebat! Karena tegang sekali, mereka tadi seperti terpukau tak mampu meninggalkan meja mereka, seperti dipaksa untuk menjadi penonton. Juga pengurus rumah makan dan tujuh orang pelayannya. Mereka tadi juga berkelompok dan menyaksikan dengan jelas apa yang telah terjadi. Ada pula beberapa orang yang berada di depan rumah makan menjadi penonton, yaitu beberapa orang yang tadinya hendak makan dan tidak jadi masuk melihat keributan di dalam, dan beberapa orang lagi yang kebetulan lewat dan tertarik oleh keributan itu.

Setelah empat orang pemuda itu pergi membawa tangan buntung mereka, para penonton itu berbisik-bisik membicarakan peristiwa hebat itu. Mereka semua merasa heran, kagum dan juga khawatir. Tentu ada ekornya peristiwa hebat itu dan mereka semua enggan meninggalkan tempat itu, ingin sekali melihat apa yang akan terjadi selanjutnya sebagai akibat dari perkelahian tadi.

Cin Cin yang tidak perduli dan tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu, telah selesai makan dan ia menengok, lalu memberi isyarat memanggil pelayan. Segera pengurus rumah makan sendiri yang datang ditemani seorang pelayan. Pengurus rumah makan itu terbongkok-bongkok dengan sikap hormat dan takut-takut.

"Berapa yang harus kubayar?" tanya Cin Cin sambil lalu, tidak memperdulikan sikap kedua orang itu yang terlalu menghormat.

Pengurus rumah makan itu tersenyum dan membungkuk-bungkuk, menggerakkan tangan menolak. "Tidak usah, nona. Tidak perlu nona membayar..."

Cin Cin mengerutkan alisnya. "Aku sudah makan dan minum, dan harus kubayar. Apa kau kira aku tidak mempunyai uang dan tidak mampu membayar?"

Pengurus rumah makan itu terkejut dan wajahnya yang tadinya merah itu berubah pucat dan ia cepat menggerakkan tangan menyangkal. "Tidak... tidak sama sekali, nona. Saya yakin bahwa nona mampu membayar, akan tetapi... Kami senang sekali nona sudi makan minum di sini. Kami merasa terhormat dan tidak usah nona membayar harga makanan yang tidak berapa banyak itu."

Sepasang mata itu berkilat. "Aku tidak pernah mengemis makanan. Hayo katakan berapa aku harus membayar, atau aku dapat menjadi marah!"

Gemetar kedua lutut pengurus rumah makan itu dan cepat-cepat dia menyebutkan jumlah yang menjadi harga makanan. Sambil tersenyum Cin Cin mengeluarkan uang sejumlah itu dan membayarnya. Ketika ia hendak keluar dari tempat itu, menyambar buntalan hijaunya dan menjinjingnya dengan memasukkan lengan kiri yang buntung ke dalam ikatan buntalan yang longgar.

Akan tetapi, baru saja ia melangkah dua tindak, tiba-tiba ia berhenti karena dari luar muncul seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun diikuti empat orang pemuda yang ia buntungi tangan kirinya tadi. Lengan buntung para pemuda itu kini telah dibalut dan biarpun wajah mereka masih pucat, namun agaknya mereka telah diobati dan tidak terlalu menderita lagi.

Cin Cin mengangkat muka memandang laki-laki itu. Ia segera mengenalnya. Pria itu adalah seorang sute (adik seperguruan) dari mendiang ayahnya. Ayahnya, mendiang Kam Seng Hin, dahulu adalah ketua Hek-houw-pang, dibantu banyak saudara seperguruan. Ketika terjadi penyerbuan musuh yang menewaskan banyak murid Hek-houw-pang agaknya Thio Pa ini tidak ikut tewas.

Biar usianya sudah kurang lebih limapuluh tahun, namun Cin Cin masih mengenal wajahnya. Ketika ia pergi enambelas tahun yang lalu, wajah Thio Pa ini sudah seperti itu, hanya yang agak berubah warna rambutnya saja. Dahulu hitam dan kini bercampur uban. Akan tetapi melihat Thio Pa memandang kepadanya dengan alis berkerut dan wajah bengis, mata bersinar-sinar dan sedikitpun tidak nampak mengenalnya, Cin Cin juga tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengenal orang itu. Ingin ia melihat bagaimana sikap Thio Pa, seorang yang dahulu ia kenal sebagai seorang yang gagah dan jujur.

"Inikah gadis kejam itu?" terdengar dia bertanya kepada empat orang pemuda tadi, tanpa menoleh karena pandang matanya mengamati Cin Cin penuh perhatian, seolah merasa heran sekali bagaimana seorang gadis seperti ini mampu membuntungi tangan empat orang pemuda anggota Hek-houw-pang tadi.

"Benar, suhu! Inilah iblis betina itu!" serempak empat orang pemuda itu berseru.

Thio Pa melangkah maju menghampiri Cin Cin yang berdiri dengan sikap tenang. Mereka kini berhadapan dalam jarak dua meter. "Nona, engkau masih begini muda, akan tetapi mengapa begitu kejam? Engkau membuntungi tangan kiri empat orang muridku, membuat mereka cacat seumur hidup. Kenapa engkau melakukan kekejaman itu, nona?"

Cin Cin tersenyum mengejek, kiranya empat orang pemuda itu murid paman Thio Pa, pikirnya. Tentu mereka telah memutar balikkan kenyataan dalam laporan mereka kepada guru mereka. "Mengapa? Hemm, mengapa tidak kau tanya sendiri saja kepada empat orang muridmu yang baik ini? Tidak kubuntungi leher mereka saja sudah terlalu untung bagi mereka. Empat orang muridmu ini agaknya tidak pernah kau ajar, mereka amat kurang ajar dan menggangguku!"

Thio Pa menoleh kepada empat orang muridnya dengan alis berkerut dan suaranya terdengar galak ketika dia bertanya, "Benarkah itu? Kalian telah mengganggunya?"

"Tidak benar, suhu!" kata si hidung bengkok. "Teecu berempat hanya ingin belajar kenal, tapi ia marah-marah dan menyerang kami!" Tiga orang saudaranya membenarkan ucapan si hidung bengkok itu.

"Ia malah menghina Hek-houw-pang, suhu!" kata murid ke dua.

"Suhu, ia tentu tokoh sesat yang ingin membalas kepada Hek-houw-pang dan sengaja mengacau di sini!" kata yang lain.

"Sudahlah." kata Cin Cin. "Kukatakan bahwa mereka patut dihajar. Aku sudah membuntungi tangan mereka sebagai hajaran, habis engkau mau apa?" ia sengaja menantang untuk melihat apa yang akan dilakukan Thio Pa.

"Nona, kami dari Hek-houw-pang selamanya tidak pernah melakukan kejahatan. Kami bahkan selalu menentang kejahatan! Kalau empat orang murid kami ini ingin berkenalan dengan nona, hal ini sudahlah wajar karena mereka adalah orang-orang muda dan nona adalah seorang wajah baru di sini. Andaikata nona tidak senang diajak berkenalan, nona boleh menolak, akan tetapi kenapa begitu kejam membuntungi tangan mereka?"

"Hem, guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Engkau tentu saja membela murid-muridmu yang jahat dan tidak sopan. Sudahlah, kalau engkau hendak membela murid-muridmu dan ingin dibuntungi tangan kirimu, majulah!"

Namun Thio Pa masih menahan diri. "Nona, waktu ini ketua kami sedang mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang banyak sahabat didunia persilatan. Kami tidak ingin membuat keributan. Kami hanya ingin mengetahui apa yang terjadi dan kalau memang kami bersalah, kami siap untuk mengakui kesalahan. Karena itu kami mengharap nona juga bersikap jujur dan bertanggung jawab. Nona mengatakan bahwa murid-murid kami yang bersalah, akan tetapi mana bukti dan saksinya? Yang ada, nona telah membuntungi tangan mereka, itu merupakan bukti kekejaman nona."

"Kami yang menjadi saksinya!" tiba-tiba terdengar seruan dua orang tamu restoran yang sejak tadi duduk di meja mereka. Kini mereka bangkit berdiri.

Mendengar ini, Thio Pa cepat menghampiri mereka. "Siapakah ji-wi (anda berdua) dan bagaimana ji-wi berani menjadi saksi?"

"Kami adalah pedagang yang kebetulan makan di sini dan kami tadi melihat semua apa yang telah terjadi. Sebelum nona ini masuk, di sana sudah duduk empat orang pemuda itu yang minum-minum arak sampai setengah mabok. Lalu nona itu masuk, memesan makanan. Akan tetapi, empat orang pemuda itu mulai menggoda dan mengganggunya dengan kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar. Ketika gadis itu menegur, empat orang pemuda itu lalu menghampiri mejanya dan semakin kurang ajar. Kami melihat betapa empat orang pemuda itu ditampar oleh nona itu. Mereka menjadi semakin marah, masing-masing mencabut pisau dan mengepung nona itu, lalu menyerang. Nona itu membela diri dan akibatnya, empat orang pemuda itu buntung tangannya."

Mendengar ini, Thio Pa mengerutkan alisnya dan memutar tubuh memandang kepada empat orang muridnya. "Benarkah apa yang dikatakan tamu ini?"

"Bohong, suhu! Mereka itu bohong! Mungkin mereka adalah sekutu iblis betina itu." Empat orang pemuda itu dengan tegas menyangkal.

Thio Pa kini menengok ke arah sekelompok pengurus dan pelayan rumah makan, lalu menggapai ke arah mereka. Biarpun takut-takut, seorang pengurus dan tujuh orang pelayan itu menghampiri. "Apakah kalian semua tadi melihat apa yang telah terjadi di sini?" tanya Thio Pa.

Delapan orang itu mengangguk dan si pengutus rumah makan mewakili anak buahnya menjawab. "Kami semua melihat dengan jelas, Thio-enghiong orang gagah Thio."

"Bagus! Nah, kalau begitu ceritakan, benarkah apa yang dikatakan dua orang pedagang tamu tadi? Jangan takut kepada siapapun, akan tetapi bersikaplah jujur dan tidak berpihak."

Dengan suara yang tegas pengurus rumah makan yang juga merasa tidak senang dengan sikap empat orang pemuda tadi, menjawab. "Semua yang diceritakan tadi benar, Thio enghiong. Kami sendiripun tadi merasa heran mengapa ada murid Hek-houw-pang yang bersikap seperti itu. Mereka mengganggu dan mereka yang menyerang nona ini, nona ini hanya membela diri."

Sepasang mata Thio Pa terbalalak dan mukanya berubah merah sekali. Dia memutar tubuh menghadapi empat orang muridnya, merasa malu dan marah bukan main. "Keparat kalian! Apa yang dapat kalian katakan sekarang?" bentaknya, suaranya menggelegar saking marahnya.

Empat orang pemuda itu yang kini merasa tidak mungkin dapat menyangkal lagi menjatuhkan diri berlutut dan si hidung bengkok mewakili saudara-saudaranya, merengek minta ampun.

"Suhu. ampunkan teecu berempat... teecu berempat... dalam keadaan mabok dan.."

"Cukup! Mulai saat ini, kalian bukan muridku lagi. Mulai detik ini kalian bukan anggota Hek-houw-pang lagi. Kalian dipecat dan harus pergi meninggalkan Ta-bun-cung! Awas, kalau kalian memperlihatkan diri di dusun ini, aku sendiri yang akan membunuh kalian!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak, kakinya menendang empat kali dan tubuh empat orang pemuda itu terlempar keluar dari rumah makan itu. Mereka tidak berani membantah, cepat merangkak pergi dan selanjutnya membawa barang-barang mereka keluar dari dusun Ta-bun-cung pada hari itu juga, tidak berani lagi muncul di sana.

Melihat sepak terjang Thio Pa, diam-diam Cin Cin merasa girang bukan main. Akan tetapi dengan tenang ia hanya berdiri memandang tanpa memperlihatkan perasaan girangnya ketika Thio Pa menghadapinya dan tokoh Hek-houw-pang itu memberi hormat kepadanya.

"Nona, semua sudah jelas sekarang. Pihak kami yang bersalah dan aku mewakili Hek-houw-pang mohon maaf kepada nona atas sikap yang tidak benar dari bekas murid-murid kami tadi."

Cin Cin menggerakkan tangan kanannya keluar dari balik jubah. "Sudahlah, aku merasa girang bahwa Hek-houw-pang mempunyai seorang tokoh sepertimu."

Ia lalu melangkah keluar dari tempat tu, tanpa memperdulikan lagi kepada Thio Pa yang juga tidak berani berkata apa-apa lagi karena orang inipun merasa malu atas sikapnya yang tadi bengis membela empat orang muridnya yang telah menodai nama baik Hek-houw-pang. Cin Cin lalu pergi mencari kamar di rumah penginapan.

Mendengar bahwa besok Hek-houw-pang akan mengadakan pesta, ia menunda niatnya untuk berkunjung malam ini. Sebaiknya datang besok pada saat diadakan pesta agar ia dapat bertemu dengan seluruh keluarga Hek-houw-pang dan yang terpenting, ia akan mencari Lai Kun, paman gurunya juga yang pernah mengantarnya ke Hong-cun akan tetapi di tengah perjalanan telah menjualnya kepada sebuah rumah pelacuran!

Hek-houw-pang memang sedang mengadakan pesta pada keesokan harinya. Rumah perkumpulan yang mempunyai gedung besar dan megah sebagai hadiah dari pemerintah, dihias dan sejak pagi para anggota Hek-houw-pang sudah ramai menyambut datangnya para tamu yang berbondong-bondong datang dari luar dusun. Para anggota Hek-houw-pang berpakaian gagah, dengan gambar harimau hitam kecil di dada, yang merupakan pakaian seragam resmi dan diharuskan pemakaiannya dalam kesempatan itu.

Namun, di dalam hati, mereka itu mengalami ketegangan karena berita tentang empat orang murid Hek-houw-pang yang dalam keadaan mabok mengganggu seorang gadis pendekar yang berkunjung ke dusun itu sehingga mereka berempat kehilangan tangan kiri, kemudian betapa mereka yang kebetulan menjadi murid-murid Thio Pa.

Ketika melapor kepada guru mereka, tidak dibela bahkan ditendang dan diusir dari Hek-houw-pang tidak diakui sebagai murid dan anggota Hek-houw-pang, bahkan dilarang untuk muncul di dusun mereka! Sungguh merupakan peristiwa yang amat mengejutkan hati mereka, menyadarkan mereka kembali bahwa bagaimanapun juga, para tokoh Hek-houw-pang masih memegang tata tertib dengan ketat dan keras.

Banyak macam orang berdatangan sebagai tamu, sebagian besar tentu saja para tokoh persilatan, wakil-wakil dari partai persilatan, perguruan silat, para perusahaan pengiriman barang yang memiliki jagoan-jagoan. Juga hadir pula para pejabat dari kota-kota yang berdekatan, karena para pejabat tahu belaka bahwa Hek-houw-pang merupakan perkumpulan yang sudah berjasa terhadap pemerintah, sehingga Kaisar sendiri berkenan memberi hadiah. Juga para pedagang besar yang menjadi langganan Hek-houw-pang datang pula untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun dan tentu saja mereka membawa bingkisan-bingkisan yang berharga.

Lai Kun yang menjadi ketua Hek-houw-pang menyambut para tamu dengan sikap gembira. Dia yang dulu bertubuh kurus kini lebih tegap, nampak gagah dengan pakaian rapi dan sikap yang anggun berwibawa, sikap seorang ketua perkumpulan besar yang disegani kawan ditakuti lawan. Di atas kursinya yang dihias indah, dia duduk diapit para saudara seperguruannya termasuk Thio Pa, dan keluarga mereka duduk di belakang mereka.

Dibantu para sutenya, Lai Kun menyambut setiap orang tamu yang datang memberi hormat dan mengucapkan selamat atas ulang tahun Hek-houw-pang, dan beberapa orang murid sibuk menerima bingkisan dan ada yang menuliskannya di atas daftar yang dipersiapkan.

Ketika seorang pemuda berusia duapuluh dua tahun yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan gagah dengan pakaian sederhana, sikap halus dan sopan, datang memberi hormat kepada Lai Kun, ketua ini dan para sutenya menyambut dengan pandang mata penuh perhatian karena mereka tidak mengenal pemuda ini.

"Lai-susiok...!" Ketika pemuda itu menyebut ketua Hek-houw-pang seperti itu, semua orang memandang heran.

"Sobat muda, siapakah engkau dan mengapa menyebutku susiok (paman guru)? Rasanya kami tidak mengenalmu." Lai Kun menoleh kepada para sutenya dan merekapun menggeleng kepala, sebagai tanda bahwa mereka tidak mengenal pemuda gagah itu.

Pemuda itu tersenyum dan wajahnya nampak lembut walaupun senyumnya seperti mengejek. "Lai-susiok dan para paman lain tidak mengenalku. Tidak aneh karena memang kita telah saling berpisah selama enambelas tahun. Para paman yang terhormat, aku adalah The Siong Ki!" Nama inipun belum membongkar ingatan mereka dan Siong Ki cepat menambahkan. "Mendiang ayah adalah The Ci Kok."

"Ahhh...!" Kini semua orang teringat, bahkan beberapa orang pemuda sebaya Siong Ki berlompatan ke depan dan merangkul Siong Ki karena mereka kini mengenal pemuda itu sebagai sahabat bermain sebelum terjadi malapetaka menimpa keluarga Hek-houw-pang.

Lai Kun sendiri juga tersenyum girang dan merangkul Siong Ki. "Aih, kiranya engkau putera suheng (kakak seperguruan) The Ci Kok! Tentu saja kami semua lupa. Engkau yang dahulu masih kecil kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang gagah dan tampan!"

Tentu saja hujan pertanyaan menimpa Siong Ki dari seluruh keluarga pimpinan Hek-houw-pang, akan tetapi karena para tamu masih berdatangan, mereka tidak leluasa bicara dan akhirnya Lai Kun mengatakan bahwa Siong Ki dipersilakan duduk dulu dan nanti saja kalau pesta sudah selesai, mereka akan bicara saling menceritakan pengalaman.

Sebagai anggota keluarga pimpinan Hek-houw-pang, Siong Ki mendapat kehormatan duduk dibelakang deretan para pimpinan, yaitu tempat duduk keluarga para tokoh Hek-houw-pang. Ketika mengalirnya para tamu sudah mulai berkurang, tiba-tiba muncul seorang gadis yang bukan lain adalah Cin Cin!

Melihat gadis yang kedua lengannya tertutup jubah lebar itu, Thio Pa terkejut dan dia menyentuh lengan Lai Kun sambil berbisik. "Itulah gadis yang kuceritakan semalam."

Lai Kun dan para tokoh Hek-houw-pang yang lain mendengar bisikan ini dan tentu saja mereka memandang penuh perhatian. Gadis yang masih muda dan cantik ini kemarin sore telah menyebabkan empat orang murid Hek-houw-pang menjadi buntung lengan kirinya, bahkan dipecat dari keanggotaan Hek-houw-pang! Kiranya gadis inipun seorang tamu!

Akan tetapi gadis itu tidak memberi hormat kepada ketua Hek-houw-pang seperti yang dilakukan para tamu lain, bahkan ia berdiri tegak di depan Lai-pangcu (ketua Lai) sambil memandang tajam, lalu ia menyingkap jubah luarnya sehing nampak kedua lengannya. Lai Kun dan para tokoh Hek-houw-pang tertegun melihat lengan kiri yang buntung sebatas pergelangan itu.

Lai Kun yang tadinya merasa pernah mengenal gadis ini, ketika melihat tangan yang buntung itu, segera merasa yakin bahwa dia tidak pernah mengenalnya. Belum pernah dia mengenal seorang gadis yang bunting tangan kirinya. Karena melihat gadis itu berdiri diam saja, Lai Kun mengalah dan dia yang bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Selamat datang di Hek-houw-pang, nona. Kalau boleh kami mengetahui, siapakah nama nona dan nona mewakili partai atau perkumpulan mana? Harap memperkenalkan diri agar kami semua mengenal nona."

Akan tetapi Cin Cin sama sekali tidak membalas penghormatan itu sehingga hal ini tentu saja membuat para tokoh Hek-houw-pang mengerutkan alis. Betapa sombongnya gadis ini. Pangcu mereka sudah mengalah dan lebih dahulu memberi hormat akan tetapi gadis itu tidak mau membalas penghormatannya. Betapa tinggi hati!

"Aku datang dari jauh dan telah lama mendengar nama besar Hek-houw-pang, maka kebetulan sekarang lewat di sini dan mendengar Hek houw-pang mengadakan pesta ulang tahun. Aku ingin sekali bertemu dengan ketua Hek-houw-pang!"

Lai Kun memandang heran. "Akulah ketua Hek houw-pang, nona.Namaku Lai Kun. Mengapa nona mencari ketua Hek-houw-pang?"

"Aku datang membawa hadiah yang amat berharga untuk ketua Hek-houw-pang. Akan tetapi mengingat akan nama besar Hek-houw-pang, aku ingin sekali berkenalan lebih dahulu dengan kelihaian ketuanya, baru aku akan memperkenalkan diri dan menyerahkan hadiah sumbanganku."

Mendengar ini, Lai Kun yang sudah bersabar sejak tadi itu terpaksa mengerutkan alisnya. "Nona, kami sudah mendengar akan kesalahan sikap bekas murid kami sebanyak empat orang terhadap nona. Akan tetapi nona telah menghajar mereka dan sute kami Thio Pa sudah pula menghukum mereka dan mengusir mereka. Harap nona suka memandang Hek-houw-pang dan menghabiskan urusan itu, mengingat bahwa yang bersalah sudah menerima hukuman mereka."

"Tidak, pangcu. Walaupun tidak ada peristiwa itu, tetap saja aku ingin mengenal kelihaian ketua Hek-houw-pang. Aku hanya ingin menguji kepandaian, bukan hendak membunuhmu, apakah engkau takut?"

Ini merupakan tantangan sekaligus penghinaan yang gawat! Ketua Hek-houw-pang dikatakan takut melawan seorang gadis yang buntung tangan kirinya! Apalagi tantangan itu hanya untuk menguji kepandaian, bukan perkelahian mati-matian! Untuk menutupi kemarahannya, Lai Kun tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau nona bermaksud meramaikan pesta kami, kenapa tidak nona sendiri saja memperlihatkan ilmu silatmu untuk menambah kegembiraan...?"

Naga Beracun Jilid 20

"Eng-moi...!" Thian Ki sekali loncat telah berada di dekat gadis itu dan menyentuh pundaknya, "Kenapa engkau menangis...?" Suara Thian Ki terdengar lembut penuh getaran kasih sayang.

"Koko...!" Kui Eng membalik dan merangkul. Bagaikan tanggul pecah, tangisnya mengguguk dan ia menempelkan mukanya di dada Thian Ki, kedua lengannya melingkari pinggang. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya menangis seperti anak kecil.

Thian Ki membiarkan saja gadis itu menangis sepuasnya, karena dia tahu bahwa tangis merupakan obat paling ampuh untuk melarutkan segala macam rasa penasaran, kecewa ataupun duka. Dia merasa betapa dia amat iba dan menyayang gadis ini. Rasa ibanya lebih banyak disebabkan karena dia melihat betapa gadis ini amat mencintanya, namun dia sendiri belum yakin apakah ada cinta seperti itu di hatinya terhadap Kui Eng. Dia tidak merasakan desakan nafsu berahi terhadap Kui Eng. Tidak ada hasrat untuk mendekat, dan mencumbunya. Yang ada hanyalah perasaan iba dan ingin menghiburnya agar tidak berduka.

"Tenanglah, Eng-moi. Kuatkan hatimu dan hentikan tangismu." setelah tangis gadis itu agak mereda, Thian Ki berbisik, membujuknya dan tangannya mengelus rambut kepala yang bersandar di dadanya itu. Bajunya di bagian dada terasa basah oleh air mata gadis itu.

"Koko... aku... aku ingin ikut..." akhirnya gadis itu dapat berbisik.

Hampir Thian Ki tertawa. Sungguh Kui Eng masih separti kanak-kanak saja. Kanak kanak yang manja, pikirnya. "Aih, Eng-moi. Hal itu tidak mungkin kita lakukan. Suhu dan ibu tentu akan marah kepada kita."

"Aku takut kehilangan engkau, koko... aku tidak akan dapat hidup tanpa engkau di sisiku..."

Thian Ki memejamkan matanya. Hatinya terharu sekali. Demikian besarkah cinta hati Kui Eng kepadanya? Dia merasa seperti berdosa kalau tidak membalas cinta kasih yang demikian besarnya. "Eng-moi, aku pergi bukan untuk selamanya. Aku pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan suhu kepadaku. Aku pergi mencari obat, untuk menyembuhkan diriku. Engkau tinggallah di rumah. Kalau aku pulang kelak, aku sudah berhasil mendapatkan Liong-cu-kiam dan sudah sembuh dari cengkeraman hawa beracun."

Teringat akan keadaan tubuh Thian Ki, Kui Eng dapat menenangkan hatinya. Ia masih mendekap tubuh pemuda itu, menengadah dan dengan air mata masih membasahi pipi dan mata yang kemerahan oleh tangis, ia menatap wajah pemuda yang dicintainya itu. "Koko... aku akan menunggumu dirumah... semoga engkau berhasil..." Kedua lengannya melepaskan rangkulan di pinggang, dan iapun melangkah mundur sampai tiga langkah. Thian Ki memandang dengan perasaan iba dan sayang.

"Aku pergi, Eng-moi. Jagalah subu dan ibu baik-baik." Thian Ki lalu membalik dan melangkah dengan cepatnya meninggalkan Kui Eng yang masih berdiri seperti patung. Baru setelah bayangan Thian Ki lenyap di sebuah tikungan jauh di depan, Kui Eng menghela napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu pulang dengan langkah gontai.

Sepekan kemudian, setelah Thian Ki pergi, Cian Bu Ong dan Sim Lan Ci berkemas untuk melakukan perjalanan jauh. Melihat ayah ibunya berkemas, Kui Eng tentu saja ingin ikut, namun selalu dilarang oleh ayahnya. Bahkan ketika ia merengek kepada Sim Lan Ci yang kini dipanggil subo olehnya, wanita itu menghiburnya dengan lembut.

"Kui Eng, kami pergi untuk mencarikan obat bagi Thian Ki. Obat itu hanya terdapat di pegunungan Himalaya, yaitu Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci Darah). Perjalanan ini jauh sekali dan sulit, namun aku yakin ayahmu dan aku akan mampu mendapatkan rumput merah itu. Engkau jagalah di rumah, Kui Eng. Siapa tahu, sebelum kami kembali, Thian Ki yang lebih dulu pulang. Kalau engkau ikut pula dengan kami, bagaimana kalau Thian Ki pulang?"

Akhirnya, karena bujukan ayahnya dan subonya, Kui Eng mau ditinggalkan walaupun ia selalu cemberut. Suami isteri itupun berangkat meninggalkan dusun, menuju ke barat, ke pegunungan Himalaya untuk mencarikan obat pemunah racun yang amat langka itu. Akan tetapi, orang yang memiliki watak lincah jenaka dan penuh semangat seperti Kui Eng, bagaimana mungkin tahan untuk hidup seorang diri saja di rumah mereka?

Apalagi seluruh penghuni dusun itu kini menganggap ia sebagai pengganti ayahnya dan selalu melapor kepadanya kalau terjadi hal-hal yang menyulitkan. Seolah ia yang menggantikan ayahnya menjadi kepala dusun! Hanya satu bulan saja ia dapat bertahan. Setelah hatinya tidak dapat menahannya lagi, ia mengumpulkan para pemuka dan sesepuh dusun itu.

Meninggalkan pesan bahwa ia akan pergi menyusul Thian Ki dan menyerahkan kepengurusan dusun itu kepada mereka. Juga ia menyerahkan perawatan rumah keluarganya kepada para pelayan. Setelah itu, Kui Eng meninggalkan dusun, menggendong sebuah buntalan pakaian dan bekal uang yang cukup. Ia ingin mencari Thian Ki!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

"Suhu dan bibi, tecu (murid) telah menerima budi yang berlimpah dari ji-wi (anda berdua). Sampai matipun teecu tidak akan melupakan budi itu dan kalau teecu tidak sempat membalasnya, teecu hanya berdoa semoga Tuhan yang akan membalas budi kebaikan ji-wi kepada teecu."

Pemuda berusia duapuluh dua tahun itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya tampan dan dari pakaian dan bentuk rambutnya, juga kuku jari tangannya, dapat diketahui bahwa dia seorang pemuda yang pandai menjaga diri, nampak rapi dan anggun, walaupun pakaiannya terbuat dari kain yang sederhana. Terutama sepasang mata pemuda itu yang membayangkan bahwa dia bukan pemuda biasa.

Sepasang matanya bersinar tajam dan kadang mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng, dan pembawaannya lembut dan sopan. Hanya ada satu hal yang membuat orang berhati-hati menghadapinya, yaitu senyumnya. Mulut yang bentuknya bagus itu selalu dibayangi senyum yang sinis, seperti orang yang selalu mengejek orang lain, selalu memandang rendah orang lain. Pemuda itu memang bukan pemuda biasa. Dia adalah murid pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning). Dia bernama The Siong Ki, murid tunggal pendekar besar itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, The Siong Ki adalah putera mendiang The Ci Kok, seorang anggota Hek houw pang yang ikut tewas ketika perkumpulan itu diserbu oleh kaki tangan Pangeran Cian Bu Ong, yang menganggap Hek-houw-pang sebagai musuh, karena perkumpulan itu membantu kerajaan baru Tang. The Siong Ki kemudian pergi mencari Huang-ho Sin-liong Si Han Beng yang tinggal di dusun Hong-cun tepi sungai Huang-ho dan menjadi murid pendekar besar ini.

Seperti kita ketahui, Si Han Beng dan isterinya, Bu Giok Cu yang dalam hal ilmu kepandaiannya sedikit di bawah tingkat suaminya, memiliki seorang anak saja, yaitu Si Hong Lan. Akan tetapi dalam usia dua tahun, anak mereka itu diculik dan dilarikan oleh Kwa Bi Lan, janda mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki dengan ancaman bahwa kalau suami isteri itu mencari anak mereka, anak itu akan dibunuhnya.

Semenjak kehilangan anak mereka itulah, Si Han Beng dan isterinya mencurahkan perhatian mereka kepada The Siong Ki. Anak laki-laki yang menjadi murid mereka ini memang seorang yang pandai membawa diri, rajin dan taat sehingga mereka menyayanginya. Bahkan kalau tadinya Bu Giok Cu tidak mau mengajar silat kepadanya, hanya Si Han Beng yang mengajarnya, karena suami isteri itu tidak ingin murid ini kelak lebih pandai daripada anak mereka.

Setelah Si Hong Lan diculik orang, maka Bu Giok Cu akhirnya juga menurunkan beberapa ilmu pukulan yang khas kepada murid suaminya itu. Hanya saja, mentaati perintah gurunya pada saat dia diangkat murid, Siong Ki sampai sekarang tidak berani menyebut subo (ibu guru) kepada Bu Giok Cu, melainkan menyebutnya bibi. Sebutan kepada suami isteri itu bukan suhu dan subo melainkan suhu dan bibi.

Siong Ki memang pandai membawa diri. Selalu sopan, halus dan bukan saja dalam ilmu silat, bahkan ketika diajar ilmu kesusasteraan, diapun rajin dan berbakat sekali. Karena sikapnya yang selalu baik itulah maka dua orang gurunya semakin sayang kepadanya, dan diam-diam menaruh harapan agar kelak murid mereka itu yang akan mampu mempertemukan mereka dengan anak mereka kembali.

Pagi hari itu, suami isteri pendekar itu memanggil murid mereka menghadap dan mereka menyatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Siong Ki untuk terjun ke dalam dunia ramai dan memanfaatkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya dari kedua orang suami isteri itu. Setelah mendengar pernyataan kedua orang gurunya itu, Siong Ki sambil berlutut menyatakan terima kasihnya dengan kata-kata seperti tadi.

Mendengar ucapan murid mereka, suami isteri itu saling pandang dan wajah mereka berseri. Pemuda itu memang pandai menyenangkan hati mereka, selalu bersikap sopan penurut dan juga halus tutur sapanya.

"Siong Ki, antara guru dan murid tidak ada yang dinamakan hutang budi. Sudah menjadi kewajibanku sebagai gurumu untuk mendidikmu sebaik mungkin, dan sudah menjadi kewajibanmu sebagai muridku untuk mentaati semua petunjuk dan pesanku. Ingat, kami mengajarkan ilmu silat kepadamu bukan dengan maksud agar engkau menjadi kuat untuk membalas dendam. Apa yang terjadi menimpa keluarga Hek-houw-pang adalah akibat dari adanya perang saudara, tergantinya dinasti Kerajaan Sui menjadi Kerajaan Tang."

"Teecu mengerti, suhu. Sudah sering suhu dan bibi menasihatkan teecu agar tidak memikirkan lagi tentang akibat perang saudara yang mendatangkan malapetaka kepada keluarga Hek houw pang. Teecu tidak mendendam kepada siapapun, akan tetapi bagaimana teecu dapat mendiamkan saja kalau mendengar seorang tokoh Siauw-lim-pai yang merupakan aliran persilatan paling besar dan terkenal mempunyai tokoh-tokoh pendekar perkasa dan budiman, melakukan perbuatan jahat, membantu pemberontak menyerbu Hek-houw-pang dan menyebar maut kepada orang-orang yang tidak berdosa?"

Suami isteri itu saling pandang. Mereka teringat akan cerita murid mereka ketika pertama kali datang kepada mereka. Anak itu menceritakan tentang malapetaka yang menimpa keluarga Hek-houw-pang, dan menceritakan pula pendengarannya bahwa yang melakukan penyerbuan dan pembunuhan di dusun Ta-bun-cung itu, antara lain adalah pendekar Siauw-lim-pai yang bernama Lie Koan Tek.

"Siong Ki, ketahuilah bahwa engkau harus dapat membedakan antara orang yang sengaja berbuat jahat dan melakukan pembunuhan karena demi kepentingan pribadinya, seperti para perampok, penindas dan sebagainya yang memang merupakan orang-orang jahat, dan orang yang terpaksa melakukah pertempuran dan mungkin pembunuhan yang terjadi dalam perang. Kami mengenal siapa pendekar Lie Koan Tek itu. Dia seorang pendekar besar, dan kami tidak pernah mendengar dia melakukan kejahatan, bahkan selalu menentang kejahatan. Kalau dia sampai ikut menyerbu dan mungkin saja membunuh ayahmu yang melakukan perlawanan, hal itu terjadi dalam pertempuran yang terkendali oleh pemberontakan, oleh perang, bukan karena urusan pribadi. Kalau dendam berlarut-larut dibiarkan merajalela dan menguasai hati manusia, mungkin sekarang ini tidak ada orang yang tidak mendendam kepada orang atau bangsa lain. Dalam perang, sejak dahulu, entah berapa juta orang yang tewas. Kalau semua keturunan mereka mendendam, betapa dunia ini akan penuh dengan dendam."

"Suhu, apakah kalau begitu membunuh banyak orang dalam perang tidak merupakan dosa? Teecu seringkali merasa heran mengapa kalau di waktu perang, seseorang membunuhi banyak sekali orang yang tidak dikenalnya sama sekali, yang tidak mempunyai urusan pribadi dengan dia, orang itu bahkan dipuji sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Sebaliknya di luar perang, kalau ada orang membunuh orang lain, biar dengan alasan yang kuat sekalipun, karena urusan pribadi, orang itu dikutuk, ditangkap dan dijatuhi hukuman? Berbedakah membunuh dalam perang dengan membunuh di luar perang?"

Si Han Beng tersenyum dan mengangguk-angguk, ia sendiri dahulu sudah sering memikirkan hal ini dan berbincang dengan banyak orang cerdik pandai dan bijaksana mengenai perang. "Pembunuhan adalah tetap pembunuhan, dalam bentuk apapun dan dalam keadaan apapun, Siong Ki. Perang antar golongan, antar bangsa hanya merupakan pembesaran, perluasan dan perkembangan daripada perang dalam diri pribadi dan antar manusia. Urusan pribadi berkembang menjadi urusan golongan, urusan antar bangsa dan selanjutnya. Manusia dikuasai nafsu dan nafsu dengan liciknya, dengan berbagai tipu muslihat, membuat manusia mengejar tujuan dengan menghalalkan segala cara. Perang merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu. Ada yang berperang untuk meluaskan daerah kekuasaan, perang untuk memaksakan kehendak demi keuntungan negaranya, perang untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, perang untuk membela diri dari serangan musuh, dan masih banyak lagi. Namun, semua alasan itu mengakibatkan malapetaka yang amat menyedihkan, yaitu membuat manusia menjadi buas, saling bunuh. Dalam perang, seorang perajurit hanya mengenal dua hal, dibunuh atau membunuh. Tentu saja setiap orang tidak ingin dibunuh, walaupun untuk itu harus membunuh! Dan itu sudah menjadi tugas seorang perajurit atau seorang yang berpihak pada suatu golongan atau pemerintahan. Nah, jelas sekali perbedaan sifatnya dari pembunuhan karena urusan pribadi, bukan? Pembunuhan dalam perang melibatkan seluruh pemerintahan dan negara, maka tidak ada hukumannya. Kalau si pembunuh dihukum, tentu pemerintahnya yang dihukum, karena pemerintah yang menyuruh dia berperang dan membunuh, padahal yang membuat dan melaksanakan hukum adalah pemerintah sendiri. Sedangkan membunuh di luar perang, berarti karena urusan pribadi dan melanggar hukum pemerintah."

Siong Ki mengangguk-angguk mengerti. "Harap suhu dan bibi jangan khawatir. Teecu tidak mendendam kepada Lie Koan Tek, melainkan hanya penasaran mengapa seorang pendekar diperalat oleh pemberontak. Teecu akan melakukan penyelidikan. Kalau memang benar dia bukan orang jahat, dan seorang pendekar, tentu teecu tidak akan mengganggunya. Akan tetapi kalau dia penjahat, sudah menjadi kewajiban teecu untuk membasminya."

Si Han Beng tersenyum. "Bukan hanya Lie Koan Tek seorang yang harus kautentang, melainkan semua bentuk kejahatan. Akan tetapi jangan mencari musuh, jangan terlalu usil. Tidak mungkin engkau seorang diri hendak membasmi semua kejahatan, karena di dunia ini, jauh lebih banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik. Kejahatan memang sudah menjadi sebagian dari keadaan manusia. Engkau sudah banyak mendengar tentang itu dari kami, Siong Ki. Mudah-mudahan saja engkau akan menjadi seorang pendekar yang tidak akan memalukan kami sebagai gurumu."

"Teecu akan selalu mengingat semua petunjuk dan nasehat suhu dan bibi," kata Siong Ki.

"Siong Ki, ada satu hal yang kami ingin engkau melakukannya untuk kami," kata Bu Giok Cu tiba-tiba.

Siong Ki mengangkat muka memandang wajah isteri suhunya itu. Wajahnya berseri dan pandang matanya penuh semangat. Dia akan merasa girang sekali kalau dapat melakukan sesuatu untuk guru dan bibinya. "Teecu akan melakukan segalanya untuk suhu dan bibi, biarpun untuk itu teecu harus mempertaruhkan nyawa teecu!"

"Kami ingin engkau mencari dan menemukan kembali adikmu Lan Lan!" kata wanita itu dan pandang matanya berubah menjadi sayu.

"Bibi, hal itu tidak pernah teecu lupakan! Sejak sumoi (adik seperguruan) Hong Lan diculik, teecu selalu ingat kepadanya dan sebetulnya, sejak dulu teecu sudah mempunyai tekad untuk mencarinya sampai dapat dan mengajaknya kembali kepada suhu dan bibi!" suara pemuda itu penuh semangat, sehingga menggembirakan hati suami isteri itu.

"Teecu tidak akan pernah melupakan wanita penculik bernama Kwa Bi Lan itu!"

"Siong Ki, engkau hanya kami tugaskan mencari Lan Lan, bukan untuk memusuhi Kwa Bi Lan. Ingat, engkau tidak boleh memusuhinya."

"Maaf, suhu. Akan tetapi sikap suhu dan bibi sungguh amat aneh. Sudah jelas bahwa Kwa Bi Lan mendatangkan kedukaan dalam kehidupan suhu berdua. Ia sudah menculik adik Lan Lan sejak ia berusia dua tahun sampai sekarang. Akan tetapi, suhu dan bibi yang memiliki ilmu kepandaian tinggi tidak pernah melakukan pengejaran dan pencarian, dan sekarang, setelah teecu hendak mencarinya, suhu memesan agar teecu tidak memusuhi penculik itu. Bukankah ia sudah melakukan hal yang amat jahat, suhu?"

"Hemm, engkau tidak tahu, Siong Ki. Kwa Bi Lan itu adalah murid Siaw-lim-pai pula, dan ia adalah isteri guruku yang pertama. Ia masih keponakan dari pendekar Siauw-lim-pai Lie Koan Tek yang kau sebut-sebut tadi. Ia seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, sama sekali bukan penjahat. Kalau ia membawa pergi Lan Lan, hal itu ia lakukan bukan karena ia jahat, melainkan persoalan pribadi antara ia dan aku yang tidak perlu diketahui orang lain. Nah, sekarang berjanjilah bahwa engkau akan mencari Lan Lan sampai dapat kautemukan, kemudian mengusahakan agar ia dapat kauajak pulang, tanpa mengganggu dan memusuhi Kwa Bi Lan."

Siong Ki menundukkan mukanya. "Baiklah, suhu dan bibi, teecu berjanji akan menemukan sumoi Hong Lan dan mengajaknya pulang tanpa memusuhi Kwa Bi Lan. Sebelum itu, teecu hendak berkunjung dulu ke Ta-bun-cung. mengunjungi keluarga Hek-houw-pang dan bersembahyang di makam ibu dan ayah."

"Memang seharusnya begitu," kata Si Han Beng. "Engkaupun harus tahu bahwa Hek-houw-pang adalah perkumpulan orang gagah. Oleh karena itu, mengingat bahwa mendiang ayahmu adalah murid dan tokoh Hek-houw-pang pula, maka sudah sepantasnya kalau engkaupun ikut membantu dan mendorong kemajuan Hek-houw-pang agar nama keluarga Hek-houw-pang terangkat."

"Siong Ki, kau bawalah pedangku Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) ini. Pedangku ini sudah membuat banyak jasa ketika aku masih merantau di dunia kang-ouw. Bawalah pedangku ini untuk membantumu mencari Lan Lan sampai dapat dan kelak kembalikan pedang ini kepadaku bersama Lan Lan," kata Bu Giok Cu sambil menyerahkan sebatang pedang dengan sarung dan gagang yang terukir indah.

Siong Ki terkejut dan girang. Tentu saja dia mengenal pedang isteri gurunya itu. Sebatang pedang pusaka yang amat ampuh walaupun pedang itu tidak tajam. Pedang itu tumpul karena sukar untuk menajamkan baja yang berasal dari bintang itu. Namun, segala macam senjata dari logam apapun tidak ada yang mampu menandingi baja bintang itu dalam hal kekuatannya. Dia menerima pedang itu dengan sikap menghormat.

Kemudian, setelah menerima banyak nasehat dari Si Han Beng dan Bu Giok Cu, membawa pula bekal uang dan pakaian dalam buntalan kain kuning, berangkatlah Siong Ki meninggalkan dusun Hong-cun. Siong Ki yang enambelas tahun yang lalu datang sebagai anak berusia enam tahun yang berpakaian compang-camping, kini meninggalkan dusun itu sebagai seorang pemuda tinggi tegap dan tampan gagah.

Berpakaian sederhana namun rapi, melangkah dengan tegap meninggalkan tempat di mana selama belasan tahun dia dibesarkan. Di sepanjang jalan, setiap orang yang dijumpainya menyapanya dengan hormat dan dibalas dengan ramah oleh pemuda itu. Semua penghuni dusun itu sudah mendengar belaka bahwa pemuda yang mereka kagumi itu kini meninggalkan dusun untuk pergi merantau.

********************

Dusun Ta-bun-cung kini menjadi dusun yang besar dan ramai seperti sebuah kota saja. Hal ini berkat kemajuan yang dicapai Hek-houw-pang di bawah pimpinan Lai Kun. Hek houw-pang telah mempunyai perusahaan pengawal barang yang bergerak dari kota-kota yang berdekatan ke seluruh kota, baik yang berjarak dekat maupun jauh. Dan berkat adanya surat penghargaan dari Kaisar, maka boleh dibilang pengawalan mereka tidak pernah ada yang berani mengganggu.

Kini dusun itu menjadi ramai karena didatangi banyak pedagang yang hendak mengirim barang melalui pengawalan Hek-houw-pang. Sebagai pangkalan pengiriman barang, maka dusun itu kini membangun, banyak sudah didirikan rumah penginapan dan rumah makan, disamping toko-toko sehingga dusun yang tadinya sunyi itu kini menjadi sebuah kota.

Lai Kun adalah seorang murid Hek-houw-pang yang beruntung. Ketika terjadi malapetaka menimpa Hek-houw-pang, dia sendiri belum berkeluarga dan diapun dapat meloloskan diri tidak menjadi korban serbuan anak buah Pangeran Cian Bu Ong. Kini, setelah dia diangkat menjadi ketua Hek-houw-pang dan berhasil membuat perkumpulan itu maju pesat.

Diapun tidak melupakan keluarga pimpinan Hek-houw-pang yang telah terbasmi pemberontak. Dia membangun tanah kuburan menjadi indah dan bersih, dan diapun terkenal dermawan, siap menolong warga dusun yang sedang ditimpa kesulitan hidup, sehingga bukan saja Hek-houw-pang yang terkenal maju, juga nama Lai Kun sebagai ketuanya menjadi harum dan dihormati orang.

Pada suatu sore, di tanah kuburan yang sunyi itu nampak seorang gadis bersimpuh di depan sebuah makam. Gadis itu tidak menangis, hanya duduk bersimpuh seperti dalam samadhi, sampai lebih dari sejam lamanya. Ia seorang gadis yang amat cantik, dan tubuhnya diselimuti jubah luar yang lebar dan panjang, menutupi leher dan kedua pundaknya, sehingga kedua tangannya tidak nampak.

Hanya wajahnya saja yang nampak, kulit mukanya putih mulus kemerahan dilatar belakangi rambut hitam dan jubah yang kebiruan. Sebuah buntalan dengan kain hijau terletak di dekatnya. Dari buntalan ini saja mudah diduga bahwa ia tentulah bukan penduduk Ta-bun-cung, melainkan pendatang dari yang membawa bekal pakaian dalam buntalan itu.

Setelah senja tiba dan matahari sudah condong jauh ke barat, gadis itu bergerak bangkit dan berbisik di depan makam itu. "Ayah, tenangkan dirimu, ayah, aku akan mencari ibu sampai dapat..." Lalu ia meninggalkan makam, menjinjing buntalan kain hijau dan memasuki jalan raya yang ramai di dusun Ta-bun-cung itu.

Tak lama kemudian, nampak gadis itu sudah duduk di dalam sebuah rumah makan besar yang berada di tepi jalan raya. Lampu-lampu gantung sudah dinyalakan dan ruangan rumah makan itu cukup terang. Juga ruangan itu luas, terdapat belasan meja dikelilingi bangku. Namun, hari masih terlalu sore untuk makan malam dan sudah terlalu sore untuk makan siang sehingga tidak banyak dikunjungi tamu.

Hanya ada tiga meja yang dihadapi tamu, meja pertama adalah meja gadis itu yang berada di paling ujung sebelah dalam, lalu meja ke dua dihadapi dua orang laki-laki setengah tua yang nampaknya adalah pedagang-pedagang pendatang dari luar kota, sedangkan meja ke tiga dihadapi empat orang laki-laki muda berusia antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun. Mereka berempat itu sudah berada di sana ketika gadis bermantel biru itu masuk, dan sejak gadis itu masuk, tingkah empat orang muda itu menjadi berbeda.

Agaknya sudah menjadi sifat atau watak semua kaum pria di seluruh dunia ini. Setiap kali ada serombongan pria berkumpul, lalu muncul wanita, apalagi kalau wanita itu cantik, maka terjadilah perubahan yang aneh pada rombongan pria itu. Kalau kita mengamati tanpa melibatkan diri sebagai orang luar, maka kita akan melihat perubahan yang aneh dan lucu.

Pandang mata, gerak-gerik, bahkan suara serombongan pria itu akan berbeda sama sekali dengan ketika tadi mereka bercakap-cakap sebelum ada wanita cantik yang muncul. Begitu ada wanita muncul, maka gerak-gerik, pandang mata dan suara mereka itu menjadi tidak wajar lagi, dibuat-buat atau setidak-tidaknya ada suatu lagak tertentu yang mungkin tidak mereka sadari sendiri. Tanpa mereka sengaja, pandang mata mereka selalu melirik ke arah si wanita seperti tertarik oleh sembrani, senyum mereka semakin sering dan suara mereka meninggi menuntut perhatian.

Kalau kita meneliti keadaan setiap mahkluk jantan, melihat lagak setiap jantan kalau melihat betina, maka rasa aneh itu akan lenyap. Agaknya memang begitulah pembawaan sifat jantan kalau melihat betina. Sebaliknya, walaupun lebih halus dan tidak kentara, ada perasaan timbal balik bagi si betina kalau diperhatikan pria.

Sang jantan terdorong untuk menggoda dan memuji, sang betina condong untuk ingin digoda dan dipuji, asalkan sifatnya sopan dan tidak kurang ajar. Bahkan pria yang wataknya alim sekalipun, tak dapat terbebas sama sekali dan biarpun dengan sikap yang alim, dia menentang gejolak perasaannya sendiri, tetap saja sang mata ingin melirik dan sang mulut ingin tersenyum segagah-gagahnya!


Empat orang pemuda itu agaknya memiliki keberanian yang lebih, atau juga memang mereka itu terbiasa mengganggu wanita dengan cara yang tidak sopan. Dan lingkunganpun mempengaruhi pembawaan setiap pria. Kalau seorang di antara empat pemuda itu berada di situ seorang diri saja, kiranya belum tentu dia akan berani menganggu, atau andaikata dia tertarikpun tentu akan membatasi diri dengan kerling dan senyun memikat saja. Akan tetapi, sekali seorang pemuda berkumpul dengan kawan-kawannya, keberaniannya akan meningkat berlipat ganda. Semakin banyak jumlah kawan, semakin beranilah dan agaknya keberanian mereka digabungkan dan dipergunakan oleh mereka!

"Aduh, bukan main cantiknya!"

"Hemmn, kulit mukanya begitu putih, halus mulus, apalagi bagian badan yang lain!"

"Kalau aku, yang paling hebat adalah matanya. Seperti sepasang bintang kejora!"

"Tidak, hidungnya lebih hebat. Lihat, kecil mancung dan lucu!"

"Salah semua. Lihat bibirnya! Merah segar tanpa gincu. Betapa nikmatnya kalau diciumi."

Bermacam-macam ucapan empat orang pemuda itu. Jelas ditujukan kepada gadis itu karena secara terang-terangan dan menantang mereka memandang ke arah gadis itu. Sikap dan tingkah laku mereka, ucapan mereka, sempat membuat dua orang tamu setengah tua yang duduk diruangan itu geleng-geleng kepala, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri.

Tentu saja gadis itu tahu akan itu semua. Akan tetapi sikapnya dingin saja, acuh dan seolah-olah tidak melihat dan tidak mendengar sesuatu. Bahkan pandang matanya biasa saja, tetap tenang ketika pelayan menghampirinya untuk menerima pesanan makanan. Iapun hanya memesan nasi dan dua macam sayuran, tidak memesan arak melainkan minuman ringan dari buah. Setelah pelayan menerima pesanan dan pergi, ia pun duduk diam seperti melamun, kedua tangan tetap bersembunyi di dalam jubah luar dan buntalan kain hijau itu kini terletak di atas meja.

Kalau hanya ada seorang saja di antara para pemuda itu yang berakal sehat, tentu sikap diam dari gadis itu membuat mereka mundur. Seorang laki-laki yang sendirian, kalaupun berani mengganggu wanita, kalau didiamkan saja dan tidak ditanggapi, diapun akan mundur. Akan tetapi, empat orang pemuda itu agaknya malah semakin penasaran. Mereka adalah pemuda-pemuda yang ganteng dan kaya, biasanya hampir tidak pernah ada wanita yang tidak merasa bangga kalau mereka puji dan dekati. Akan tetapi gadis yang satu ini demikian dingin dan menganggap mereka seperti empat ekor lalat saja!

Sikap ini sungguh membuat mereka penasaran sekali. Kalau gadis itu memperlihatkan sikap marah atau malu, atau memaki mereka dengan kata-kata, dengan pandang mata melotot, dengan cemberut, hal itu sudah akan memuaskan hati mereka, merupakan hasil kenakalan mereka. Akan tetapi didiamkan saja seperti itu, dilirikpun tidak, membuat mereka merasa diri kecil tak berarti.

"Hai, jangan-jangan si cantik ini tuli!"

"Atau mungkin juga gagu."

"Aduh sayang sekali kalau begitu. Cantik-cantik gagu dan tuli."

"Aih, gagu dan tuli juga tidak apa-apa, malah asyik tidak usah banyak bicara."

Mereka mengganggu terus dan sama sekali tidak diperdulikan gadis itu sampai makanan yang dipesan gadis itu tiba. Pelayan menaruh semua pesanan ke atas meja dan mempersilakan gadis itu makan dengan sikap sopan seperti biasa, karena semua pelayan di situ diharuskan bersikap sopan kepada semua langganan dengan ancaman dipecat kalau berlaku tidak patut. Gadis itu mengangguk, dan tanpa memperdulikan empat orang pemuda yang terus menggodanya dengan pandang mata dan kata-kata, ia mengeluarkan kedua lengannya dari balik jubah untuk mulai makan.

Empat orang pemuda itu terbelalak ketika melihat betapa lengan kiri gadis cantik itu buntung sebatas pergelangan. Lengan kiri itu tidak mempunyai tangan dan ujung lengan itu dibalut kain putih yang bersih, nampak tersembul sedikit dari lengan baju!

"Wah, tangannya buntung!"

"Aduh sayang... begitu cantik manis tangan kirinya buntung!"

"Wah, kalau ia tuli, gagu dan buntung, cacatnya terlalu banyak!"

"Aihhh, ia tetap cantik manis, dan dengan satu tanganpun ia akan dapat membelaiku!"

Gadis itu memang buntung tangan kirinya, ia adalah Kam Cin atau Cin Cin, gadis murid Tung-hai Mo-li Bhok Sui Lan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini mendapat tugas dari gurunya untuk mencari dan membunuh Cian Bu Ong. Ia memang telah dapat menemukan musuh besar gurunya itu, namun ia gagal membunuh Cian Bu Ong, bahkan ia dikalahkan. Ketika Thian Ki mencampuri, ia menyerang Thian Ki dan mencengkeram pundak Thian Ki dengan tangan kirinya.

Ternyata cengkeraraman ini bahkan membuat tangan kirinya keracunan hebat dan Thian Ki lalu membabat putus tangannya itu. Rasa nyeri di lengannya tidaklah sehebat rasa nyeri di hatinya. Ia dikalahkan Cian Bu Ong, dikalahkan Thian Ki bahkan kehilangan tangan kiri yang menjadi buntung. Sakit sekali rasa hatinya dan ia merasa malu untuk pulang menemui gurunya, malu untuk menceritakan kekalahannya. Tidak, ia tidak akan merengek kepada gurunya.

Dia harus membuat persiapan sendiri, untuk menuntut balas, sekali ini bukan hanya untuk menuntut dendam gurunya, melainkan dirinya sendiri pula. Ia akan menantang Cian Bu Ong sebagai wakil gurunya, dan akan menantang Thian Ki untuk diri sendiri.

Demikianlah, dengan lengan buntung dan hati terluka, gadis itu pergi ke dusun Ta-bun-cung, bukan hanya untuk bersembahyang di depan kuburan ayahnya, akan tetapi juga untuk mendengar tentang ibunya, untuk berkunjung kepada semua warga Hek-houw-pang dan terutama sekali untuk pergi mencari keterangan tentang paman gurunya, Lai Kun.

Ia masih mempunyai perhitungan besar dengan paman gurunya yang pernah menipunya dan menjualnya kepada rumah pelacuran di kota Ji-goan itu! Inilah sebabnya mengapa pada sore hari ini Cin Cin muncul di tanah kuburan dusun Ta-bun-cung, kemudian makan di rumah makan itu sebelum berkunjung ke Hek-houw-pang. Ia merasa kagum dan terheran-heran melihat dusunnya yang dulu sepi itu kini menjadi sebuah kota yang ramai.

Tadi ketika menghadapi empat orang pemuda yang menggodanya, ia tidak perduli dan diam saja. Akan tetapi, kini mereka menyinggung tentang buntungnya tangan kirinya! Mereka telah menyentuh kehormatan dirinya! Cin Cin meletakkan sumpitnya dan menoleh ke arah kiri, ke arah meja dimana empat orang pemuda itu masih tertawa-tawa memandang dan menggodanya. Melihat gadis cantik itu menoleh dan memandang kepada mereka, empat orang itu semakin gembira dan memberi tanda dengan kedipan mata ke arah Cin Cin, lagak mereka kurang ajar sekali.

"Kalian jahanam-jahanam kecil! Pergilah dan jangan menggangguku atau terpaksa aku akan menghajar kalian!" kata Cin Cin dengan suara dingin dan sikap tenang, namun sepasang matanya mencorong.

Dimaki dengan suara keras oleh gadis buntung itu, tentu saja empat orang pemuda itu menjadi marah. Dua orang tamu dan juga para pelayan mendengar betapa mereka dimaki, dan hal ini sungguh merendahkan nama mereka. Si hidung bengkok yang agaknya menjadi pimpinan mereka, segera bangkit berdiri dan menyeringai.

"Heh-heh, nona buntung tapi manis. Jangan bicara sembarangan. Kami adalah para anggota Hek-houw-pang yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Kami bahkan musuh para jahanam yang jahat!"

Pemuda ke dua yang berkumis tipis menyeringai pula. "Nona manis, kami hanya ingin bersahabat denganmu. Mari kita bersenang-senang, nona. Kami akan menyuguhkan makanan enak dan engkau akan minta apa saja, tentu kami penuhi asal engkau bersikap manis kepada kami, ha-ha-ha! Tiga orang temannya juga tertawa karena mereka semua sudah setengah mabok.

Mendengar bahwa mereka anak buah Hek-houw-pang, Cin Cin menjadi semakin marah. "Empat orang bajingan kecil macam kalian ini mengaku anggota Hek-houw-pang? Kalian tidak pantas menjadi murid Hek-houw-pang, pantasnya menjadi anggota gerombolan penjahat kecil! Pergilah sebelum habis kesabaranku!"

Empat orang itupun menjadi marah karena malu. Mendengar makian yang dilontarkan gadis itu kepada mereka. Mereka segera bangkit dan menghampiri meja Cin Cin, mengurung meja itu dengan mulut menyeringai dan bau arak. Si hidung bengkok berkata sambil mendekatkan mukanya pada wajah gadis itu.

"Engkau berani menghina kami murid-murid Hek-houw-pang! Kalau engkau tidak minta maaf dan memberi ciuman kepada kami masing-masing satu kali, engkau tidak boleh pergi dari tempat ini!"

"Jahanam, sudah kuperingatkan kalian!" Cin Cin membentak dan tanpa bangkit berdiri, tangannya yang kanan bergerak dan tubuhnya dicondongkan ke arah mereka. Cepat sekali tangan itu bergerak empat kali dan terdengar suara tamparan keras yang membuat empat orang itu terpelanting dengan pipi membengkak merah!

Tentu saja mereka menjadi semakin marah dan penasaran. Mereka adalah jagoan-jagoan Hek-houw- pang, dan begitu mudahnya mereka kena ditampar sampai terpelanting. Mereka berempat adalah anggota-anggota baru dari Hek-houw-pang, maka tidak saling mengenal dengan Cin Cin, apalagi karena Cin Cin baru berusia lima tahun ketika meninggalkan dusun itu. Dengan marah sekali mereka mencabut sebatang pisau belati yang selalu terselip dipinggang mereka.

Melihat ini, pengurus rumah makan segera menghampiri dan memberi hormat. "Harap saudara sekalian jangan membikin ribut di rumah makan kami dan suka memaafkan nona ini. Atau kalau hendak berkelahi, harap keluar dari sini..."

"Apa kau bilang? Engkau hendak mencampuri dan membela perempuan jahat ini? Ia tentu seorang penjahat yang sengaja hendak mengacau di sini. Kami harus menangkapnya dan menyeretnya ke Hek-houw-pang untuk diperiksa oleh pimpinan kami!" bentak si hidung bengkok. Kemudian dia memandang kepada Cin Cin dan membentak marah. "Bocah sombong, cepat engkau menyerah untuk kami tangkap sebelum kami terpaksa mempergunakan senjata dan melukaimu!"

"Kita buntungi saja tangan kanannya agar ia tidak suka menampari orang lagi!" kata orang ke dua, disambut geraman setuju oleh yang lain.

Mereka mendesak maju dengan sikap mengancam dan muka beringas. Pengurus rumah makan menjadi ketakutan dan diapun mundur, berkelompok dengan pelayan yang memandang dengan hati tegang dan takut kalau-kalau gadis tamu itu akan kehilang tangan yang tinggal satu itu.

Cin Cin bangkit berdiri. Nampak tubuh yang langsing dan kini baru pertama kalinya mulutnya tersenyum, senyum sinis sekali. Bangkit semangatnya yang tadinya hampir padam karena kegagalannya membalas dendam, bahkan ia kehilangan kirinya dan kini bangkit kegembiraannya hendak memberi hajaran kepada empat orang tak tahu diri ini.

"Bagus, kalau kalian ingin merasakan bagaimana kalau kehilangan sebelah tangan, majulah!"

Ditantang demikian, empat orang itu marah dan merekapun menyerang dengan pisau mereka. Nampak empat sinar berkilauan ketika empat orang pemuda itu menggerakkan pisau. Mereka seperti hendak berebut dulu untuk membuntungi tangan kanan gadis yang telah menghina mereka di tempat umum.

Bayangan Cin Cin berkelebatan di antara sambaran empat batang pisau dan tiba-tiba saja ia berhasil merampas sebatang pisau, kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pisaunya menyambar-nyambar tanpa dapat ditangkis atau dielakkan empat orang pemuda itu.

Mereka berteriak keras satu demi satu dan terhuyung ke belakang, tangan kanan memegangi lengan kiri yang telah buntung pada pergelangan tangan itu! Darah bercucuran dan empat buah tangan menggeletak di atas lantai! Empat orang itu mengaduh-aduh dan mereka yang melihat peristiwa itu merasa ngeri. Ternyata dalam waktu yang amat singkat, gadis itu telah membuntungi tangan kiri empat orang pemuda itu.

"Nah, tidak cepat pergi? Apakah kalian minta dibuntungi leher kalian?" bentak Cin Cin sambil melempar pisau rampasannya ke atas meja dan menancap sampai ke gagangnya di meja bekas meja mereka itu.

Empat orang pemuda itu kini menjadi ketakutan dan kesakitan. Baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan gadis buntung yang memiliki ilmu kepandaian hebat bukan main. Mereka telah kehilangan tangan kiri dan tentu saja mereka menjadi berduka dan marah sekali. Mereka lalu lari keluar untuk melapor kepada pimpinan mereka agar membalaskan dendam mereka kepada gadis itu.

Cin Cin berseru. "Heei, jangan lupa bawa tangan kalian yang kotor ini!" Ia menendang empat kali dan empat buah tangan itu melayang keluar ke arah empat orang pemuda yang berlari keluar. Bahkan dua tangan di antaranya tepat mengenai kepala dua orang pemuda. Mereka cepat memungut empat buah tangan itu, tidak tahu tangan siapa yang mereka pungut, lalu melarikan diri tanpa berani menoleh lagi.

"Heei, pelayan! Bersihkan lantai itu!" kata Cin Cin kepada para pelayan dan ketika para pelayan membersihkan lantai dari darah, gadis itupun melanjutkan makan minum dengan sikap tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di tempat itu. Ia bahkan mengeluarkan sebuah benda kering menghitam dari saku jubahnya, memandang benda itu dan tersenyum mengangguk-angguk.

"Jangan khawatir, akan banyak temanmu. Setiap orang yang berani kurang ajar kepadaku, akan kubuntungi tangan kirinya agar engkau tidak merasa kesepian lagi."

Setelah berkata demikian, Cin Cin mengantungi kembali benda itu, yang ternyata adalah tangan yang sudah kering menghitam. Tangan kirinya! Kini ia makan minum dengan wajah berseri sehingga nampak semakin cantik. Agaknya peristiwa tadi membuat Cin Cin lupa akan keadaan tangan kirinya yang buntung, seperti seorang yang tadinya merasa sengsara karena kehilangan suatu benda yang amat disayangnya, kini menjadi terhibur melihat banyak orang kehilangan seperti dirinya.

Dua orang setengah tua yang tadi juga makan di situ, masih duduk tertegun menghadapi meja mereka. Mereka telah menyaksikan peristiwa hebat! Karena tegang sekali, mereka tadi seperti terpukau tak mampu meninggalkan meja mereka, seperti dipaksa untuk menjadi penonton. Juga pengurus rumah makan dan tujuh orang pelayannya. Mereka tadi juga berkelompok dan menyaksikan dengan jelas apa yang telah terjadi. Ada pula beberapa orang yang berada di depan rumah makan menjadi penonton, yaitu beberapa orang yang tadinya hendak makan dan tidak jadi masuk melihat keributan di dalam, dan beberapa orang lagi yang kebetulan lewat dan tertarik oleh keributan itu.

Setelah empat orang pemuda itu pergi membawa tangan buntung mereka, para penonton itu berbisik-bisik membicarakan peristiwa hebat itu. Mereka semua merasa heran, kagum dan juga khawatir. Tentu ada ekornya peristiwa hebat itu dan mereka semua enggan meninggalkan tempat itu, ingin sekali melihat apa yang akan terjadi selanjutnya sebagai akibat dari perkelahian tadi.

Cin Cin yang tidak perduli dan tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu, telah selesai makan dan ia menengok, lalu memberi isyarat memanggil pelayan. Segera pengurus rumah makan sendiri yang datang ditemani seorang pelayan. Pengurus rumah makan itu terbongkok-bongkok dengan sikap hormat dan takut-takut.

"Berapa yang harus kubayar?" tanya Cin Cin sambil lalu, tidak memperdulikan sikap kedua orang itu yang terlalu menghormat.

Pengurus rumah makan itu tersenyum dan membungkuk-bungkuk, menggerakkan tangan menolak. "Tidak usah, nona. Tidak perlu nona membayar..."

Cin Cin mengerutkan alisnya. "Aku sudah makan dan minum, dan harus kubayar. Apa kau kira aku tidak mempunyai uang dan tidak mampu membayar?"

Pengurus rumah makan itu terkejut dan wajahnya yang tadinya merah itu berubah pucat dan ia cepat menggerakkan tangan menyangkal. "Tidak... tidak sama sekali, nona. Saya yakin bahwa nona mampu membayar, akan tetapi... Kami senang sekali nona sudi makan minum di sini. Kami merasa terhormat dan tidak usah nona membayar harga makanan yang tidak berapa banyak itu."

Sepasang mata itu berkilat. "Aku tidak pernah mengemis makanan. Hayo katakan berapa aku harus membayar, atau aku dapat menjadi marah!"

Gemetar kedua lutut pengurus rumah makan itu dan cepat-cepat dia menyebutkan jumlah yang menjadi harga makanan. Sambil tersenyum Cin Cin mengeluarkan uang sejumlah itu dan membayarnya. Ketika ia hendak keluar dari tempat itu, menyambar buntalan hijaunya dan menjinjingnya dengan memasukkan lengan kiri yang buntung ke dalam ikatan buntalan yang longgar.

Akan tetapi, baru saja ia melangkah dua tindak, tiba-tiba ia berhenti karena dari luar muncul seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun diikuti empat orang pemuda yang ia buntungi tangan kirinya tadi. Lengan buntung para pemuda itu kini telah dibalut dan biarpun wajah mereka masih pucat, namun agaknya mereka telah diobati dan tidak terlalu menderita lagi.

Cin Cin mengangkat muka memandang laki-laki itu. Ia segera mengenalnya. Pria itu adalah seorang sute (adik seperguruan) dari mendiang ayahnya. Ayahnya, mendiang Kam Seng Hin, dahulu adalah ketua Hek-houw-pang, dibantu banyak saudara seperguruan. Ketika terjadi penyerbuan musuh yang menewaskan banyak murid Hek-houw-pang agaknya Thio Pa ini tidak ikut tewas.

Biar usianya sudah kurang lebih limapuluh tahun, namun Cin Cin masih mengenal wajahnya. Ketika ia pergi enambelas tahun yang lalu, wajah Thio Pa ini sudah seperti itu, hanya yang agak berubah warna rambutnya saja. Dahulu hitam dan kini bercampur uban. Akan tetapi melihat Thio Pa memandang kepadanya dengan alis berkerut dan wajah bengis, mata bersinar-sinar dan sedikitpun tidak nampak mengenalnya, Cin Cin juga tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengenal orang itu. Ingin ia melihat bagaimana sikap Thio Pa, seorang yang dahulu ia kenal sebagai seorang yang gagah dan jujur.

"Inikah gadis kejam itu?" terdengar dia bertanya kepada empat orang pemuda tadi, tanpa menoleh karena pandang matanya mengamati Cin Cin penuh perhatian, seolah merasa heran sekali bagaimana seorang gadis seperti ini mampu membuntungi tangan empat orang pemuda anggota Hek-houw-pang tadi.

"Benar, suhu! Inilah iblis betina itu!" serempak empat orang pemuda itu berseru.

Thio Pa melangkah maju menghampiri Cin Cin yang berdiri dengan sikap tenang. Mereka kini berhadapan dalam jarak dua meter. "Nona, engkau masih begini muda, akan tetapi mengapa begitu kejam? Engkau membuntungi tangan kiri empat orang muridku, membuat mereka cacat seumur hidup. Kenapa engkau melakukan kekejaman itu, nona?"

Cin Cin tersenyum mengejek, kiranya empat orang pemuda itu murid paman Thio Pa, pikirnya. Tentu mereka telah memutar balikkan kenyataan dalam laporan mereka kepada guru mereka. "Mengapa? Hemm, mengapa tidak kau tanya sendiri saja kepada empat orang muridmu yang baik ini? Tidak kubuntungi leher mereka saja sudah terlalu untung bagi mereka. Empat orang muridmu ini agaknya tidak pernah kau ajar, mereka amat kurang ajar dan menggangguku!"

Thio Pa menoleh kepada empat orang muridnya dengan alis berkerut dan suaranya terdengar galak ketika dia bertanya, "Benarkah itu? Kalian telah mengganggunya?"

"Tidak benar, suhu!" kata si hidung bengkok. "Teecu berempat hanya ingin belajar kenal, tapi ia marah-marah dan menyerang kami!" Tiga orang saudaranya membenarkan ucapan si hidung bengkok itu.

"Ia malah menghina Hek-houw-pang, suhu!" kata murid ke dua.

"Suhu, ia tentu tokoh sesat yang ingin membalas kepada Hek-houw-pang dan sengaja mengacau di sini!" kata yang lain.

"Sudahlah." kata Cin Cin. "Kukatakan bahwa mereka patut dihajar. Aku sudah membuntungi tangan mereka sebagai hajaran, habis engkau mau apa?" ia sengaja menantang untuk melihat apa yang akan dilakukan Thio Pa.

"Nona, kami dari Hek-houw-pang selamanya tidak pernah melakukan kejahatan. Kami bahkan selalu menentang kejahatan! Kalau empat orang murid kami ini ingin berkenalan dengan nona, hal ini sudahlah wajar karena mereka adalah orang-orang muda dan nona adalah seorang wajah baru di sini. Andaikata nona tidak senang diajak berkenalan, nona boleh menolak, akan tetapi kenapa begitu kejam membuntungi tangan mereka?"

"Hem, guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Engkau tentu saja membela murid-muridmu yang jahat dan tidak sopan. Sudahlah, kalau engkau hendak membela murid-muridmu dan ingin dibuntungi tangan kirimu, majulah!"

Namun Thio Pa masih menahan diri. "Nona, waktu ini ketua kami sedang mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang banyak sahabat didunia persilatan. Kami tidak ingin membuat keributan. Kami hanya ingin mengetahui apa yang terjadi dan kalau memang kami bersalah, kami siap untuk mengakui kesalahan. Karena itu kami mengharap nona juga bersikap jujur dan bertanggung jawab. Nona mengatakan bahwa murid-murid kami yang bersalah, akan tetapi mana bukti dan saksinya? Yang ada, nona telah membuntungi tangan mereka, itu merupakan bukti kekejaman nona."

"Kami yang menjadi saksinya!" tiba-tiba terdengar seruan dua orang tamu restoran yang sejak tadi duduk di meja mereka. Kini mereka bangkit berdiri.

Mendengar ini, Thio Pa cepat menghampiri mereka. "Siapakah ji-wi (anda berdua) dan bagaimana ji-wi berani menjadi saksi?"

"Kami adalah pedagang yang kebetulan makan di sini dan kami tadi melihat semua apa yang telah terjadi. Sebelum nona ini masuk, di sana sudah duduk empat orang pemuda itu yang minum-minum arak sampai setengah mabok. Lalu nona itu masuk, memesan makanan. Akan tetapi, empat orang pemuda itu mulai menggoda dan mengganggunya dengan kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar. Ketika gadis itu menegur, empat orang pemuda itu lalu menghampiri mejanya dan semakin kurang ajar. Kami melihat betapa empat orang pemuda itu ditampar oleh nona itu. Mereka menjadi semakin marah, masing-masing mencabut pisau dan mengepung nona itu, lalu menyerang. Nona itu membela diri dan akibatnya, empat orang pemuda itu buntung tangannya."

Mendengar ini, Thio Pa mengerutkan alisnya dan memutar tubuh memandang kepada empat orang muridnya. "Benarkah apa yang dikatakan tamu ini?"

"Bohong, suhu! Mereka itu bohong! Mungkin mereka adalah sekutu iblis betina itu." Empat orang pemuda itu dengan tegas menyangkal.

Thio Pa kini menengok ke arah sekelompok pengurus dan pelayan rumah makan, lalu menggapai ke arah mereka. Biarpun takut-takut, seorang pengurus dan tujuh orang pelayan itu menghampiri. "Apakah kalian semua tadi melihat apa yang telah terjadi di sini?" tanya Thio Pa.

Delapan orang itu mengangguk dan si pengutus rumah makan mewakili anak buahnya menjawab. "Kami semua melihat dengan jelas, Thio-enghiong orang gagah Thio."

"Bagus! Nah, kalau begitu ceritakan, benarkah apa yang dikatakan dua orang pedagang tamu tadi? Jangan takut kepada siapapun, akan tetapi bersikaplah jujur dan tidak berpihak."

Dengan suara yang tegas pengurus rumah makan yang juga merasa tidak senang dengan sikap empat orang pemuda tadi, menjawab. "Semua yang diceritakan tadi benar, Thio enghiong. Kami sendiripun tadi merasa heran mengapa ada murid Hek-houw-pang yang bersikap seperti itu. Mereka mengganggu dan mereka yang menyerang nona ini, nona ini hanya membela diri."

Sepasang mata Thio Pa terbalalak dan mukanya berubah merah sekali. Dia memutar tubuh menghadapi empat orang muridnya, merasa malu dan marah bukan main. "Keparat kalian! Apa yang dapat kalian katakan sekarang?" bentaknya, suaranya menggelegar saking marahnya.

Empat orang pemuda itu yang kini merasa tidak mungkin dapat menyangkal lagi menjatuhkan diri berlutut dan si hidung bengkok mewakili saudara-saudaranya, merengek minta ampun.

"Suhu. ampunkan teecu berempat... teecu berempat... dalam keadaan mabok dan.."

"Cukup! Mulai saat ini, kalian bukan muridku lagi. Mulai detik ini kalian bukan anggota Hek-houw-pang lagi. Kalian dipecat dan harus pergi meninggalkan Ta-bun-cung! Awas, kalau kalian memperlihatkan diri di dusun ini, aku sendiri yang akan membunuh kalian!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak, kakinya menendang empat kali dan tubuh empat orang pemuda itu terlempar keluar dari rumah makan itu. Mereka tidak berani membantah, cepat merangkak pergi dan selanjutnya membawa barang-barang mereka keluar dari dusun Ta-bun-cung pada hari itu juga, tidak berani lagi muncul di sana.

Melihat sepak terjang Thio Pa, diam-diam Cin Cin merasa girang bukan main. Akan tetapi dengan tenang ia hanya berdiri memandang tanpa memperlihatkan perasaan girangnya ketika Thio Pa menghadapinya dan tokoh Hek-houw-pang itu memberi hormat kepadanya.

"Nona, semua sudah jelas sekarang. Pihak kami yang bersalah dan aku mewakili Hek-houw-pang mohon maaf kepada nona atas sikap yang tidak benar dari bekas murid-murid kami tadi."

Cin Cin menggerakkan tangan kanannya keluar dari balik jubah. "Sudahlah, aku merasa girang bahwa Hek-houw-pang mempunyai seorang tokoh sepertimu."

Ia lalu melangkah keluar dari tempat tu, tanpa memperdulikan lagi kepada Thio Pa yang juga tidak berani berkata apa-apa lagi karena orang inipun merasa malu atas sikapnya yang tadi bengis membela empat orang muridnya yang telah menodai nama baik Hek-houw-pang. Cin Cin lalu pergi mencari kamar di rumah penginapan.

Mendengar bahwa besok Hek-houw-pang akan mengadakan pesta, ia menunda niatnya untuk berkunjung malam ini. Sebaiknya datang besok pada saat diadakan pesta agar ia dapat bertemu dengan seluruh keluarga Hek-houw-pang dan yang terpenting, ia akan mencari Lai Kun, paman gurunya juga yang pernah mengantarnya ke Hong-cun akan tetapi di tengah perjalanan telah menjualnya kepada sebuah rumah pelacuran!

Hek-houw-pang memang sedang mengadakan pesta pada keesokan harinya. Rumah perkumpulan yang mempunyai gedung besar dan megah sebagai hadiah dari pemerintah, dihias dan sejak pagi para anggota Hek-houw-pang sudah ramai menyambut datangnya para tamu yang berbondong-bondong datang dari luar dusun. Para anggota Hek-houw-pang berpakaian gagah, dengan gambar harimau hitam kecil di dada, yang merupakan pakaian seragam resmi dan diharuskan pemakaiannya dalam kesempatan itu.

Namun, di dalam hati, mereka itu mengalami ketegangan karena berita tentang empat orang murid Hek-houw-pang yang dalam keadaan mabok mengganggu seorang gadis pendekar yang berkunjung ke dusun itu sehingga mereka berempat kehilangan tangan kiri, kemudian betapa mereka yang kebetulan menjadi murid-murid Thio Pa.

Ketika melapor kepada guru mereka, tidak dibela bahkan ditendang dan diusir dari Hek-houw-pang tidak diakui sebagai murid dan anggota Hek-houw-pang, bahkan dilarang untuk muncul di dusun mereka! Sungguh merupakan peristiwa yang amat mengejutkan hati mereka, menyadarkan mereka kembali bahwa bagaimanapun juga, para tokoh Hek-houw-pang masih memegang tata tertib dengan ketat dan keras.

Banyak macam orang berdatangan sebagai tamu, sebagian besar tentu saja para tokoh persilatan, wakil-wakil dari partai persilatan, perguruan silat, para perusahaan pengiriman barang yang memiliki jagoan-jagoan. Juga hadir pula para pejabat dari kota-kota yang berdekatan, karena para pejabat tahu belaka bahwa Hek-houw-pang merupakan perkumpulan yang sudah berjasa terhadap pemerintah, sehingga Kaisar sendiri berkenan memberi hadiah. Juga para pedagang besar yang menjadi langganan Hek-houw-pang datang pula untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun dan tentu saja mereka membawa bingkisan-bingkisan yang berharga.

Lai Kun yang menjadi ketua Hek-houw-pang menyambut para tamu dengan sikap gembira. Dia yang dulu bertubuh kurus kini lebih tegap, nampak gagah dengan pakaian rapi dan sikap yang anggun berwibawa, sikap seorang ketua perkumpulan besar yang disegani kawan ditakuti lawan. Di atas kursinya yang dihias indah, dia duduk diapit para saudara seperguruannya termasuk Thio Pa, dan keluarga mereka duduk di belakang mereka.

Dibantu para sutenya, Lai Kun menyambut setiap orang tamu yang datang memberi hormat dan mengucapkan selamat atas ulang tahun Hek-houw-pang, dan beberapa orang murid sibuk menerima bingkisan dan ada yang menuliskannya di atas daftar yang dipersiapkan.

Ketika seorang pemuda berusia duapuluh dua tahun yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan gagah dengan pakaian sederhana, sikap halus dan sopan, datang memberi hormat kepada Lai Kun, ketua ini dan para sutenya menyambut dengan pandang mata penuh perhatian karena mereka tidak mengenal pemuda ini.

"Lai-susiok...!" Ketika pemuda itu menyebut ketua Hek-houw-pang seperti itu, semua orang memandang heran.

"Sobat muda, siapakah engkau dan mengapa menyebutku susiok (paman guru)? Rasanya kami tidak mengenalmu." Lai Kun menoleh kepada para sutenya dan merekapun menggeleng kepala, sebagai tanda bahwa mereka tidak mengenal pemuda gagah itu.

Pemuda itu tersenyum dan wajahnya nampak lembut walaupun senyumnya seperti mengejek. "Lai-susiok dan para paman lain tidak mengenalku. Tidak aneh karena memang kita telah saling berpisah selama enambelas tahun. Para paman yang terhormat, aku adalah The Siong Ki!" Nama inipun belum membongkar ingatan mereka dan Siong Ki cepat menambahkan. "Mendiang ayah adalah The Ci Kok."

"Ahhh...!" Kini semua orang teringat, bahkan beberapa orang pemuda sebaya Siong Ki berlompatan ke depan dan merangkul Siong Ki karena mereka kini mengenal pemuda itu sebagai sahabat bermain sebelum terjadi malapetaka menimpa keluarga Hek-houw-pang.

Lai Kun sendiri juga tersenyum girang dan merangkul Siong Ki. "Aih, kiranya engkau putera suheng (kakak seperguruan) The Ci Kok! Tentu saja kami semua lupa. Engkau yang dahulu masih kecil kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang gagah dan tampan!"

Tentu saja hujan pertanyaan menimpa Siong Ki dari seluruh keluarga pimpinan Hek-houw-pang, akan tetapi karena para tamu masih berdatangan, mereka tidak leluasa bicara dan akhirnya Lai Kun mengatakan bahwa Siong Ki dipersilakan duduk dulu dan nanti saja kalau pesta sudah selesai, mereka akan bicara saling menceritakan pengalaman.

Sebagai anggota keluarga pimpinan Hek-houw-pang, Siong Ki mendapat kehormatan duduk dibelakang deretan para pimpinan, yaitu tempat duduk keluarga para tokoh Hek-houw-pang. Ketika mengalirnya para tamu sudah mulai berkurang, tiba-tiba muncul seorang gadis yang bukan lain adalah Cin Cin!

Melihat gadis yang kedua lengannya tertutup jubah lebar itu, Thio Pa terkejut dan dia menyentuh lengan Lai Kun sambil berbisik. "Itulah gadis yang kuceritakan semalam."

Lai Kun dan para tokoh Hek-houw-pang yang lain mendengar bisikan ini dan tentu saja mereka memandang penuh perhatian. Gadis yang masih muda dan cantik ini kemarin sore telah menyebabkan empat orang murid Hek-houw-pang menjadi buntung lengan kirinya, bahkan dipecat dari keanggotaan Hek-houw-pang! Kiranya gadis inipun seorang tamu!

Akan tetapi gadis itu tidak memberi hormat kepada ketua Hek-houw-pang seperti yang dilakukan para tamu lain, bahkan ia berdiri tegak di depan Lai-pangcu (ketua Lai) sambil memandang tajam, lalu ia menyingkap jubah luarnya sehing nampak kedua lengannya. Lai Kun dan para tokoh Hek-houw-pang tertegun melihat lengan kiri yang buntung sebatas pergelangan itu.

Lai Kun yang tadinya merasa pernah mengenal gadis ini, ketika melihat tangan yang buntung itu, segera merasa yakin bahwa dia tidak pernah mengenalnya. Belum pernah dia mengenal seorang gadis yang bunting tangan kirinya. Karena melihat gadis itu berdiri diam saja, Lai Kun mengalah dan dia yang bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Selamat datang di Hek-houw-pang, nona. Kalau boleh kami mengetahui, siapakah nama nona dan nona mewakili partai atau perkumpulan mana? Harap memperkenalkan diri agar kami semua mengenal nona."

Akan tetapi Cin Cin sama sekali tidak membalas penghormatan itu sehingga hal ini tentu saja membuat para tokoh Hek-houw-pang mengerutkan alis. Betapa sombongnya gadis ini. Pangcu mereka sudah mengalah dan lebih dahulu memberi hormat akan tetapi gadis itu tidak mau membalas penghormatannya. Betapa tinggi hati!

"Aku datang dari jauh dan telah lama mendengar nama besar Hek-houw-pang, maka kebetulan sekarang lewat di sini dan mendengar Hek houw-pang mengadakan pesta ulang tahun. Aku ingin sekali bertemu dengan ketua Hek-houw-pang!"

Lai Kun memandang heran. "Akulah ketua Hek houw-pang, nona.Namaku Lai Kun. Mengapa nona mencari ketua Hek-houw-pang?"

"Aku datang membawa hadiah yang amat berharga untuk ketua Hek-houw-pang. Akan tetapi mengingat akan nama besar Hek-houw-pang, aku ingin sekali berkenalan lebih dahulu dengan kelihaian ketuanya, baru aku akan memperkenalkan diri dan menyerahkan hadiah sumbanganku."

Mendengar ini, Lai Kun yang sudah bersabar sejak tadi itu terpaksa mengerutkan alisnya. "Nona, kami sudah mendengar akan kesalahan sikap bekas murid kami sebanyak empat orang terhadap nona. Akan tetapi nona telah menghajar mereka dan sute kami Thio Pa sudah pula menghukum mereka dan mengusir mereka. Harap nona suka memandang Hek-houw-pang dan menghabiskan urusan itu, mengingat bahwa yang bersalah sudah menerima hukuman mereka."

"Tidak, pangcu. Walaupun tidak ada peristiwa itu, tetap saja aku ingin mengenal kelihaian ketua Hek-houw-pang. Aku hanya ingin menguji kepandaian, bukan hendak membunuhmu, apakah engkau takut?"

Ini merupakan tantangan sekaligus penghinaan yang gawat! Ketua Hek-houw-pang dikatakan takut melawan seorang gadis yang buntung tangan kirinya! Apalagi tantangan itu hanya untuk menguji kepandaian, bukan perkelahian mati-matian! Untuk menutupi kemarahannya, Lai Kun tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau nona bermaksud meramaikan pesta kami, kenapa tidak nona sendiri saja memperlihatkan ilmu silatmu untuk menambah kegembiraan...?"