Social Items

"Siong Ki, jangan bicara seperti itu!"

Dengan muka basah air mata dan mata merah, anak itu mengangkat mukanya, memandang kepada wanita itu. "Bibi, apa yang harus kulakukan kalau aku dibiarkan hidup? Aku seorang diri, tiada ayah ibu, tiada keluarga. Melihat ayah tewas, juga para paman... ah, apa gunanya lagi aku hidup? Tiada lagi yang melindungi aku, bibi..."

"Hushh...! Omongan apa itu? Disini masih ada aku, Siong Ki. Aku yang akan melindungimu, dan engkau boleh ikut denganku selamanya karena mulai saat ini, engkau menjadi muridku."

Siong Ki membelalakkan matanya seperti orang yang tidak percaya. "Benarkah ini...? Benarkah, bibi? Atau hanya hiburan kosong belaka?"

"Tentu saja benar, Siong Ki. Apakah kau tidak percaya kepadaku dan menyangka aku membohongimu?"

Anak itu nampak gembira sekali. "Kalau begitu, berjanjilah di depan makam ayah, bibi. Biar ayah menjadi saksi, biar ada semangat lagi bagiku untuk hidup!" Lalu anak itu berlutut di depan Liu Hwa dan kini suaranya terdengar lantang dan penuh semangat. "Ayah saksikanlah, ayah. Mulai saat ini anakmu, The Siong Ki, mempunyai pelindung baru, yaitu bibi Poa Liu Hwa yang menjadi guruku. Subo, terimalah hormat tcecu (murid)!" Dan diapun memberi hormat delapan kali kepada wanita itu.

"Siong Ki, muridku yang baik, bangkitlah."

"Teecu tidak akan bangkit sebelum subo (ibu guru) berjanji di depan makam ayah!"

Liu Hwa menatap makam itu dan diam-diam ia bergidik. Ia sendiri kehilangan segala-galanya, bahkan puteranya Cin Cin, yang selamat, kini telah dibawa pergi ke tempat jauh. Ia sendiri sebatangkara, dan kini ia telah mengambil Siong Ki sebagai murid, siap melindunginya dan menjadi pengganti orang tuanya. Suatu tugas yang amat berat. Sedangkan untuk melindungi diri sendiri saja ia sudah jelas tidak kuat.

Buktinya, hampir saja ia celaka dan mungkin sekarang sudah tewas terbunuh atau membunuh diri kalau saja ia tidak dibebaskan dari tangan lt-gan Tiat-gu oleh pendekar Siauw-lim pai itu! Akan tetapi, ia tidak dapat undur kembali, sudah berjanji, dan kalau ada anak ini di sampingnya, setidaknya ia akan terhibur. Maka iapun lalu mengangkat kedua tangan di depan dada sambil membungkuk ke arah makam The Ci Kok dan berkata dengan lirih.

"Suheng The Ci Kok. Aku berjanji bahwa mulai saat ini puteramu The Siong Ki telah menjadi muridku. Semoga arwahmu ikut pula melindungi kami berdua."

Setelah mendengar janji gurunya itu, Siong Ki bangkit dan kini wajahnya menjadi cerah. Liu Hwa juga memandang kepadanya. Anak ini nampaknya cerdik dan seingatnya, Siong Ki bukan seorang anak yang bandel, tidak nakal dan pandai membawa diri.

"Siong Ki, setelah engkau selesai bersembahyang di sini, susullah aku di makam suamiku."

"Aku sudah selesai, subo. Aku selalu berada di sini sejak ayah dimakamkan dan baru satu kali aku pulang kerumah," katanya sambil mengambil sebuah buntalan yang tadi dia gantungkan di cabang sebatang pohon.

"Engkau sudah siap dengan buntalan pakaianmu? Apakah engkau tidak ingin pulang ke rumah mendiang ayahmu?"

Siong Ki menjawab dengan wajah sedih. "Tadinya aku sudah ingin pergi saja, subo. Untuk apa kembali ke dusun Ta-bun-cung dimana kita hanya akan diingatkan selalu akan peristiwa menyedihkan itu? Akan tetapi kalau subo ingin kembali..."

Liu Hwa melangkah ke arah makam suaminya, lalu duduk di depan makam, termenung. Siong Ki mengikutinya dan anak itupun duduk di depan subonya. Setelah berulang kali menghela napas panjang, Liu Hwa juga berkata dengan sura sendu.

"Akupun tidak mungkin dapat bertahan tinggal di dusun dimana aku telah kehilangan segala-galanya. Apalagi, sebelum meninggal, kakek Coa Song telah membagi-bagikan seluruh isi rumah kepada para murid. Aku tidak dapat tinggal di rumah kosong itu, yang setiap saat akan mengingatkan aku kepada suamiku dan anakku."

"Lalu, ke mana kita akan pergi, subo?"

Wanita itu menundukkan mukanya dengan sedih. "Aku tidak tahu, Siong Ki, aku tidak tahu..."

Siong Ki bicara lagi, kini suaranya terdengar gembira. "Subo, aku mendengar bahwa adik Cin Cin telah diajak pergi oleh susiok Lai Kun kerumah pendekar sakti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng. Bagaimana kalau kita menyusul kesana?"

Wajah wanita itu agak cerah mendengar ucapan itu. Sudah diduganya, anak ini cerdik dan penuh semangat, dan senang akan keputusannya mengambil anak ini menjadi murid. "Benar, Siong Ki. Agaknya memang sebaiknya kalau kita menyusul adikmu Cin Cin lebih dulu. Setelah itu... setelah bertemu dengan Cin Cin, baru kita mencari tempat tinggal baru. Akan tetapi, ah, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan senjatapun tidak punya lagi..."

"Subo, jangan khawatir?" kata Siong Ki dan anak ini segera menurunkan buntalan pakaiannya yang besar, lalu membukanya. Pertama-tama dia mengeluarkan sebatang pedang dengan sarungnya. "Ini pedang milik ayah, subo. Kuambil dari tangan jenazah ayah, lalu sarung pedangnya kucari. Nah, terimalah pedang ini subo, agar subo dapat melindungi diri kita berdua dalam perjalanan."

Dengan girang Liu Hwa menerima pedang itu dan memeriksanya. Ternyata sebatang pedang yang cukup baik, terbuat dari baja yang baik. Ia merasa kuat ketika memegang pedang ini.

"Dan ini, subo. Ini peninggalan ayah, kukumpulkan semua dan kubawa serta. Subo boleh menggunakannya semua untuk biaya apa saja, biaya perjalanan kita, biaya mencari tempat tinggal baru...."

Liu Hwa terbelalak. Anak itu membuka sebuah buntalan kecil yang isinya potongan emas dan perak, cukup banyak! "Siong Ki," ia berkata dengan terharu. "Ternyata bukan aku yang menolongmu, melainkan engkau yang menolongku..."

"Sama sekali tidak, subo. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa degan pedang dan emas perak itu. Kuserahkan kepada subo agar subo dapat melindungi kita berdua."

Liu Hwa tiba-tiba teringat kepada pendekar Siauw-lim-pai yang menunggunya di luar pintu gerbang. Ah, sudah terlalu banyak ia menyusahkan pendekar itu. Sungguh ia merasa malu kepada Lie Koan Tek. Pula, sungguh tidak pantas dilihat orang kalau ia berdua saja dengan pendekar itu. Ia kini seorang janda! Dan pendekar Siauw-lim pai Lie Koan Tek, sepanjang yang didengarnya, belum pernah menikah.

Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun lebih, masih membujang. Pasti akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan dalam benak orang yang melihat seorang janda berduaan saja dengan seorang pria yang masih membujang. Tidak, aku tidak boleh mengganggunya lagi. Akan tetapi, bagaimana ia harus mengatakan kepada pendekar itu bahwa ia tidak mau melanjutkan perjalanan bersama dia?

"Siong Ki, mari kira pergi." "Pergi? Sekarang juga, subo?"

Liu Hwa mengangguk. "Sekarang ini juga, kita pergi meninggalkan dusun kita dan pergi menyusul Cin Cin."

Tentu saja Siong Ki merasa heran. Malam itu biarpun ada bulan, namun tetap saja cuaca hanya remang-remang. Mengapa subonya demikian tergesa-gesa. Akan tetapi dia tidak berani membantah.

"Baik subo. Mari!" Dia lari ke makam ayahnya, memberi hormat lagi untuk yang terakhir kalinya, kemudian membawa buntalan pakaiannya dan berjalan di samping subonya.

Ketika Siong Ki hendak mengambil jalan keluar dari pintu gerbang, Liu Hwa memegang tangannya, dan menariknya ke kiri. "Kita ambil jalan ini saja, Siong Ki."

Kembali anak itu terheran. Jalan keluar dari dusun itu memang ada beberapa buah, akan tetapi yang paling enak adalah jalan keluar melalui pintu gerbang. Akan tetapi subonya mengajak ia keluar dari dusun melalui jalan setapak yang penuh semak belukar! Akan tetapi diapun tidak berani banyak bertanya dan dengan hati-hati mereka keluar dari dusun itu. Sama sekali Poa Liu Hwa tidak pernah menduga bahwa hanya tiga hari setelah dia pergi, Sim Lan Ci dan Thian Ki datang ke dusun itu pula! Kalau saja hal itu terjadi, pasti jalan hidupnya akan menjadi lain!

Hati Liu Hwa menjadi lega setelah mereka keluar dari dusun dan tiba di lereng bukit. Matahari pagi memandikan bumi dengan cahayanya yang hangat dan segar menghidupkan. Biarpun merasa lelah sekali karena selain baru saja mengalami ancaman malapetaka dan terpendam kedukaan, apa lagi semalam sama sekali tidak tidur, namun Liu Hwa tidak mau berhenti berjalan. Siong Ki berjalan di sebelahnya sambil menggendong buntalan pakaiannya. Kantung berisi emas dan perak oleh Liu Hwa juga dititipkan kepadanya dalam buntalan. Hanya pedang itu kini tergantung di punggung nyonya muda itu.

Sudah sejak malam tadi Liu Hwa melihat betapa anak itu kelelahan, juga mungkin sekali kelaparan. Namun, biarpun jalannya kadang terhuyung, anak itu sama sekali tidak pernah mengeluh. Hal ini saja membuat Liu Hwa semakin suka kepada anak yang kini menjadi muridnya itu. Anak ini keras hati dan tabah bukan main, pikirnya. Ia merasa kasihan akan tetapi tidak mau mengajak Siong Ki berhenti karena ia khawatir kalau sampai bertemu dengan Lie Koan Tek yang ingin dihindarinya. Ia sendiri juga lelah, akan tetapi ia memaksa diri untuk melewati sebuah bukit lagi, baru akan mengaso dan mencari makanan.

Ketika ia mulai mendaki bukit itu dan tiba di sebuah hutan kecil, tiba-tiba saja di depannya muncul seorang pria muda yang tampan sekali. Usianya sekitar duapuluh tujuh tahun, tubuhnya sedang dan dia mengenakan pakaian pelajar yang mewah. Wajahnya tampan dan ganteng, dengan hidung besar mancung, bibir merah seperti diberi pemerah bibir, matanya hitam sekali maniknya. Dan kepalanya yang berambut hitam tebal itu tertutup sebuah caping lebar. Di pinggangnya terselip sebatang suling dan melihat penampilannya, Liu Hwa menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pemuda kaya yang terpelajar. Namun kemunculannya yang tiba-tiba itu mengejutkan hatinya dan ia memandang dengan khawatir.

Pemuda itu bukan lain adalah Can Hong San. Setelah dia berpisah dari Pangeran Cian Bu Ong dan memperoleh sekantung emas, Hong San lalu sengaja pergi ke dusun Ta-bun-cung. Dia masih merasa penasaran, ingin melihat apa yang terjadi di dusun itu, terutama sekali dia ingin mencari Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai bekas rekannya itu yang dia lihat melarikan seorang wanita cantik ketika mereka menyerbu dusun itu.

Kini, bertemu dengan Liu Hwa dan seorang anak laki-laki, dia segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang pernah dilarikan Lie Koan Tek, maka cepat dia menghadang wanita itu dan dia tersenyum girang ketika melihat bahwa wanita yang usianya sekita tigapuluh tahun ini juga cukup cantik untuk menggelitik wataknya yang memang mata keranjang!

Hong San tersenyum dan wajahnya nampak tampan dan menarik sekali. Karena sikapnya memang sopan dan halus Liu Hwa juga tersenyum malu-malu dan nyonya ini menggandeng tangan Siong Ki untuk diajak melewati pemuda itu sambil membungkukkan tubuh sebagai penghormatan. Melihat ini, Hong San cepat melangkah dan menghadang lagi.

"Perlahan dulu, enci. Kalau aku tidak salah sangka, enci tentu datang dari dusun Ta-bun-cung, bukan?" Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.

Melihat sikap yang sopan dan ramah itu, Liu Hwa membalas penghormatan pemuda itu dan menjawab, "Benar, kongcu. Kami memang penduduk Ta-bun-cung."

"Bukankah enci wanita yang dilarikan oleh Lie Koan Tek malam itu?"

Bukan main kagetnya Liu Hwa mendengar pertanyaan itu dan ia memandang Hong San dengan pernuh perhatian. Malam terjadinya penyerbuan di dusun itu terlalu gelap sehingga ia tidak mengenal para penyerangnya. "Bagaimana engkau bisa tahu, kongcu?" tanyanya penuh selidik.

"Ha-ha-ha, aku tahu segalanya, enci. Beberapa malam yang lalu, Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung diserbu oleh pembunuh-pembunuh bayaran, bukan? Dan seorang di antara para pembunuh itu adalah Lie Koan Tek. Kemudian, setelah membunuhi banyak orang, mungkin yang terbanyak di antara rekan-rekannya, Lie Koan Tek agaknya tertarik kepadamu dan membawamu lari! Apakah kini Lie Koan Tek sudah bosan denganmu dan membiarkanmu pergi, enci yang baik?"

Wajah Liu Hwa menjadi merah sekali. Merah karena marah dan merah karena malu. Juga ia merasa dihina oleh pemuda halus ini. "Tidak! Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang gagah dan bukan pembunuh bayaran. Dia telah tertipu. Juga dia melarikan aku karena dia ingin menyelamatkan aku!"

"Ha-ha-ha-ha! Enci yang baik, agaknya engkau telah tergila-gila kepada pembunuh itu! Aku yang lebih tahu bahwa dialah yang membunuh banyak tokoh Hek-houw-pang!"

"Paman yang baik, apakah Lie Koan Tek itu pula yang telah membunuh ayahku? Ayahku bernama The Ci Kok, dia suheng dari mendiang ketua Hek-houw-pang..."

"Siong Ki!" Liu Hwa menegur muridnya.

"The Ci Kok? Ha, siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Lie Koan Tek? Aku melihatnya sendiri..."

"Engkau bohong! Sudahlah, jangan mengganggu kami. Kami akan melanjutkan perjalanan kami!" Liu Hwa kini berkata dengan marah. "Mari, Siong Ki, kita pergi!" Ia menggandeng tangan muridnya dan menariknya pergi.

"Nanti dulu, enci yang manis. Engkau cukup manis untuk menemaniku. Jangan kau pergi dulu. Kalau anak ini mau pergi, biarkan dia pergi, akan tetapi engkau harus menemaniku bercakap-cakap. Aku kesepian sekali, enci yang manis."

Kini tahulah Liu Hwa dengan orang macam apa ia berhadapan. Biarpun pemuda ini amat tampan dan dapat bersikap halus dan ramah, namun ia dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pria yang suka memandang rendah dan mempermainkan wanita.

"Singg...!" Ia mencabut pedangnya dan matanya mencorong marah. "Manusia rendah, jangan ganggu kami atau terpaksa aku akan menggunakan pedang ini!"

Akan tetapi tentu saja gerakan itu merupakan sesuatu yang lucu bagi Hong San sehingga dia tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh aneh dan lucu. Seekor kelinci betina yang gemuk mengancam seekor harimau! Ha-ha-ha !"

Liu Hwa tidak sabar lagi dan iapun menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada pemuda yang kurang ajar itu. Akan tetapi, dengan amat mudahnya Hong San mengelak dan sekali tangannya bergerak, dia telah menyentuh dada Liu Hwa secara kurang ajar sekali.

"Ihhhh...!" Liu Hwa menjerit dan meloncat kebelakang. Wajahnya menjadi merah karena malu dan marah, akan tetapi iapun terkejut karena tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat lihai. la pun menjadi nekat dan dengan ganas wanita itu memutar pedangnya melakukan penyerangan bertubi-tubi.

Namun, semua serangan itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Hong San. Kalau pemuda ini menghendaki, dalam satu dua jurus saja tentu ia mampu merobohkan Liu Hwa. Akan tetapi watak pemuda ini memang aneh. Ia ingin menjadi seperti seekor kucing mempermainkan tikus. Dia akan membekuk wanita ini setelah mempermainkannya. Ia hanya mengelak, menangkis sambil mencolek dagu, dada, mengelus pipi sambil tertawa, membuat Liu Hwa menjadi semakin marah dan nekat.

Siong Ki melihat ini dengan alis berkerut. Hatinya kecewa. Wanita yang diangkatnya sebagai guru itu ternyata tidak berdaya sama sekali melawan pemuda itu! Mempunyai guru selemah itu sungguh tidak ada untungnya baginya.

"Can Hong San, jangan kurang ajar kau!" tiba-tiba terdengar bentakan dan muncullah Lie Koan Tek yang langsung menyerang dengan rantai baja yang selalu dipakai sebagai ikat pinggang. Pendekar ini menanti Liu Hwa di luar pintu gerbang. Ketika pagi tadi dia tidak melihat Liu Hwa keluar dia lalu mencari-cari, menyusul ke tanah kuburan dan melihat bekas peralatan sembahyang.

Ketika dia tidak menemukan lagi wanita itu di dusun, tahulah dia bahwa Liu Hwa tentu telah pergi meninggalkan dusun, meninggalkan dia melalui jalan lain. Dia cepat melakukan pengejaran dengan hati merasa aneh dan heran. Mengapa Liu Hwa meninggalkan dia? Andaikan tidak ingin bersamanya, setidaknya wanita itu akan memberi tahu kepadanya lebih dulu.

Akhirnya dia menemukan Liu Hwa yang sedang dipermainkan oleh Hong San. Biarpun dia tahu bahwa Hong San amat lihai, melihat wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu dipermainkan, dia menjadi marah dan langsung menyerang dengan rantai bajanya.

Hong San meloncat ke belakang dan mencabut sulingnya. "Ha-ha , Lie Koan Tek! Engkau pengkhianat besar. Engkau hendak melindungi wanita yang kau larikan ini, ya? Bagus, aku memang sedang mencarimu untuk memberi hukuman atas nama Pangeran Cian Bu Ong!"

Lie Koan Tek yang sudah nekat itu tidak menjawab melainkan segera menyerang dengan dahsyatnya. Liu Hwa tidak mau tinggal diam dan iapun membantu pendekar Siauw-lim-pai itu dengan pedangnya. Melihat ini, kembali Hong San tertawa sambil memutar suling untuk menangkis kedua senjata pengeroyoknya.

"Ha ha, si penculik dan yang diculik saling bantu! Bagus, agaknya kalian sudah saling jatuh hati. Ha-ha-ha!"

Dan sulingnya diputar sedemikian rupa sehingga amat merepotkan Lie Koan Tek. Apa lagi Liu Hwa. Setiap kali pedangnya bertemu suling, ia pasti terdorong dan terhuyung. Untung baginya bahwa Hong San tidak ingin membunuh wanita ini, kalau demikian halnya, tentu ia sudah roboh dan tewas. Hong San hendak membunuh Lie Koan Tek akan tetapi ingin menangkap Poa Liu Hwa hidup-hidup.

Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang sudah matang dalam pengalaman. Dia pernah diuji kepandaiannya melawan Hong San dan dia tahu betapa lihainya suling di tangan pemuda itu. Maka pengalamannya ketika dia bertanding melawan Hong San kini dia pergunakan untuk berjaga diri, tidak menuruti kemarahan hatinya sehingga dia dapat bertahan ketika Hong San mulai membalas dengan desakan sulingnya.

Sementara itu, biarpun beberapa kali pedangnya hampir terlepas dari tangannya yang kadang seperti lumpuh kalau pedang itu bertemu suling, Liu Hwa tidak pernah mundur dan dengan nekat ia membantu Lie Koan Tek tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya sendiri. Ia merasa yakin bahwa Lie Koan Tek adalah seorang pendekar tulen, sedangkan pemuda yang bernama Can Hong San ini seorang penjahat yang berbahaya sekali.

Kiranya Can Hong San ini yang memimpin penyerbuan terhadap Hek-houw-pang itu dan kini ia pun ingat. Can Hong San inilah yang telah merobohkan dan membunuh suaminya, Kam Seng Hin! Maka iapun menyerang dengan mati-matian. Namun, kini Hong San juga sudah mencabut pedangnya. Dia mempergunakan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, dan desakan-desakannya membuat Lie Koan Tek makin repot. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring,

"Penjahat dari mana berani mengganggu paman Lie Koan Tek?" Dan muncullah seorang wanita muda yang usianya sekitar duapuluh empat tahun, wajahnya bulat berkulit putih, hidungnya mancung dan matanya tajam. Gerakannya ringan bukan main dan begitu muncul, ia telah menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang Hong San dengan cepat dan kuat!

Hong San terkejut sekali. Dia menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membuat pedang kiri gadis itu patah atau terpental. Akan tetapi, tangkisannya luput dan tubuh gadis itu sudah meloncat ke atas, bagaikan seekor burung rajawali ia sudah menyerang lagi dengan tubuh menukik ke arah Hong San!

"Trang! Tranggg...!"

Hong San menangkis dan terpaksa melangkah ke belakang. Diam-diam gadis itupun terkejut karena tangkisan pemuda tampan itu membuat kedua tangannya terasa panas dan tergetar hebat. Mengertilah ia mengapa pamannya, Lie Koan Tek pendekar Siauw-lim pai itu tadi terdesak hebat, iapun turun dan menyerang lagi dengan dahsyatnya, membantu Lie Koan Tek dan Liu Hwa yang juga sudah menyerang lagi.

Lie Koan Tek terheran-heran, tidak mengenal gadis yang menyebutnya paman itu. Akan tetapi dia tidak sempat banyak berpikir, hanya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk bersama gadis itu dan Liu Hwa mengeroyok Hong San. Ternyata kepandaian gadis yang baru datang itu hebat pula, bahkan tidak kalah dahsyatnya dibandingkan kepandaian Lie Koan Tek sendiri.

Biarpun belum tentu kalau dikeroyok tiga dia akan kalah, Hong San merasa tidak ada gunanya untuk berkelahi terus. Gadis itu cukup lihai, dan kalau mereka itu nekat, diapun mungkin akan terluka. Maka, setelah mendapatkan kesempatan, diapun meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri dengan cepat. Gadis itu hendak mengejar sambil berseru,

"Jangan lari!" akan tetapi Lie Koan Tek cepat mencegahnya.

"Nona, jangan kejar dia. Dia berbahaya!"

Gadis itu tidak jadi mengejar. Iapun agaknya tahu bahwa seorang diri saja, ia bukanlah lawan pemuda tampan yang lihai tadi, maka iapun berhenti dan kini menghadap Lie Koan Tek sambil memberi hormat.

"Paman, bertahun-tahun saya mencari paman tanpa hasil. Sekarang, secara kebetulan kita dapat bertemu di sini!" katanya dengan nada suara girang.

"Nanti dulu, maafkan aku, nona. Akan tetapi, siapakah engkau?"

Gadis itu memandang aneh. "Paman Lie Koan Tek lupa kepada saya? Saya Bi Lan, paman, Kwa Bi Lan."

"Bi Lan...? Ah, Bi Lan, kiranya engkau ini?" Lie Koan Tek memandang dengan wajah berseri dan girang. "Tentu saja aku lupa. Engkau sudah begini dewasa dan ilmu kepandaianmu hebat sekali."

"Aih, paman terlalu memujiku. Siapakah enci ini, paman?" tanya Bi Lan sambil menunjuk kepada Liu Hwa.

"Ia? Ah, ia ini adalah isteri mendiang ketua Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung. Panjang ceritanya, Bi Lan, dan... eh, engkau mencari siapakah, nyonya?" Koan Tek mengalihkan pembicaraannya kepada Liu Hwa yang nampak kebingungan dan mencari-cari dengan pandang matanya.

"Saya mencari Siong Ki! Di mana dia? Siong Ki...! Siong Ki, di mana engkau...?"

"Siapa Siong Ki?" tanya Koan Tek heran.

"Dia muridku, anak laki-laki berusia enam tahun, putera dari suheng suamiku yang juga menjadi korban pembunuhan..."

Liu Hwa mencari-cari dan kini dibantu oleh Koan Tek dan diikuti pula oleh Bi Lan. Akan tetapi sia-sia saja usaha pencarian mereka. Siong Ki lenyap dan tidak meninggalkan jejak. Melihat Liu Hwa bingung dan khawatir, Koan Tek juga ikut merasa khawatir.

"Can Hong San itu jahat dan licik bukan main. Jangan-jangan dia yang menculik anak itu dan membawanya lari."

Liu Hwa mengerutkan alisnya mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya. "Kurasa tidak begitu. Agaknya anak itu memang... sengaja hendak meninggalkan saya, taihiap. Tadi, ketika pemuda itu muncul, sebelum tai-hiap datang pemuda itu menyebut-nyebut nama tai-hiap sebagai pembunuh ayah Siong Ki. Oleh karena itu,ketika tai-hiap datang dan membantuku, agaknya dia lalu diam-diam pergi meninggalkan aku. Dia anak yang cerdik sekali, tai-hiap. Aku bertemu dengan dia di depan makam ayahnya dalam keadaan pingsan, lalu kuajak dia sebagai muridku."

"Hemmm..." Lie Koan Tek menggumam marah kepada Hong San. "Hong San memang dapat melakukan kejahatan apa saja. Biar nanti aku yang membantumu mencari anak itu, nyonya. Sekarang perkenalkan, ini keponakanku bernama Bi Lan, puteri dari enciku. Bi Lan, ini adalah nyonya..."

"Namaku Poa Liu Hwa, adik Bi Lan. Terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga pemuda yang jahat sekali itu dapat diusir," kata Liu Hwa.

"Aih, enci jangan terlalu sungkan. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat enci dan paman didesak, maka aku tentu saja segera membantu. Masih untung ada paman dan enci sendiri, kalau aku seorang diri harus melawannya, kurasa aku tidak akan mampu menang."

"Akan tetapi kulihat ilmu kepandaianmu sudah maju pesat, Bi Lan, dan bukan sepenuhnya ilmu silat Siauw-lim-pai. Oya, bagaimana dengan ibumu? Sekarang dimanakah ia tinggal?"

Ditanya tentang ibunya, Bi Lan menarik napas panjang. "Aih. paman. Ibu sudah meninggal lima tahun lebih yang lalu."

"Ah, kasihan! Engkau menjadi yatim piatu..."

"Karena kematian ibu itulah aku lalu pergi mencarimu, paman. Aku hidup sebatangkara setelah ibu meninggal, dan satu-satunya keluarga hanyalah paman. Akan tetapi, sia-sia aku mencari paman..."

"Tentu saja. Aku ditangkap pemerintah dan dipenjarakan, bagaimana engkau dapat menemukan aku? Lalu, bagaimana engkau sampai lewat di sini? Ceritakanlah pengalamanmu, Bi Lan. Setelah itu, baru nanti kuceritakan semua pengalamanku dan tentang nyonya ini."

Mereka lalu memilih tempat yang teduh di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu. Mereka duduk di atas batu dan Bi Lan menceritakan pengalamannya. Kwa Bi Lan adalah seorang gadis Siauw-lim-pai pula, puteri tunggal dari kakak perempuan Lie Koan Tek. Ibunya seorang janda karena ayahnya sejak ia kecil telah meninggal dunia. Ketika ibunya meninggal dunia, Bi Lan menjadi sebatangkara.

Ia lalu meninggalkan rumahnya, bahkan menjual semua miliknya dan mulai merantau mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang ada. Namun, segala jerih payahnya sia-sia belaka karena ia tidak pernah berhasil menemukan pamannya yang menjadi buruan pemerintah karena Siauw-lim-pai dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Sui yang ketika itu belum jatuh.

"Setelah hampir putus-asa mencarimu, paman, pada suatu hari aku hampir celaka menghadapi segerombolan perampok. Untung ada bintang penolong, yang kemudian menjadi guruku. Dia adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki."

"Ah, dia seorang pendekar besar!" kata Lie Koan Tek. "Namanya terkenal sekali di dunia persilatan."

"Aku menjadi muridnya, bahkan kemudian aku dijodohkan oleh suhu kepada seorang muridnya yang ketika itu belum pernah kujumpai karena murid itu sudah turun gunung. Karena suhu amat baik kepadaku, seolah menjadi pengganti orang tuaku, maka akupun menurut saja, yakin bahwa suhu tentu telah mengatur sebaiknya untuk diriku. Akan tetapi..."

"Bagaimana selanjutnya, Bi Lan?" tanya Koan Tek yang melihat wajah gadis itu berubah muram.

"Ternyata kemudian bahwa suhengku yang menjadi calon suamiku itu, yang ketika itu sudah menyetujui, diluar tahu suhu telah menikah dengan seorang wanita lain. Mendengar berita itu kemudian, suhu menjadi marah sekali, juga menjadi sakit hati. Akan tetapi dia tidak mampu berbuat sesuatu, karena dia maklum bahwa ketika itu kepandaian murid pertama itu sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Agaknya, kalau tidak ada aku, suhu tentu telah membunuh diri. Dia merasa dikhianati, merasa tidak dipandang dan dihina oleh muridnya sendiri yang amat disayang dan dibanggakan. Aku merasa kasihan sekali, aku menangis dan menderita batin bersama suhu. Sejak mudanya suhu sudah banyak menderita karena ditinggal isterinya yang tercinta.! Suhu tidak mempunyai anak, tidak mempunyai siapa-siapa. Akhirnya... sudah kehendak Thian agaknya, kami... maksudku, suhu dan aku... kami menikah dan menjadi suami isteri."

Gadis itu menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka. Koan Tek memandang heran, akan tetapi tidak sampai hati untuk memberi komentar. Lima tahun yang lalu, pikirnya. Tentu keponakannya ini baru berusia sembilan belas tahun, dan dia mendengar bahwa Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah mendekati tujuh puluh tahun, dan ketika bertemu dengan keponakannya tentu usianya sudah enam puluh tahun lebih!

Liu Hwa yang juga ikut mendengarkan, tidak merasakan sesuatu yang ganjil karena ia hanya pernah mendengar nama Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang datuk persilatan yang lihai. Ketika akhirnya Bi Lan mengangkat mukanya, Koan Tek telah dapat menguasai hatinya dan wajahnya tidak membayangkan sesuatu. Legalah hati Bi Lan dan iapun melanjutkan dengan suara yang bernada sedih.

"Setelah kami menikah, aku merasa hidupku berbahagia sekali, paman. Dia amat baik kepadaku, dan dia kuanggap sebagai guru, orang tua, dan suami yang amat kucinta. Akan tetapi, agaknya luka yang dideritanya karena ulah muridnya yang mengingkari janji itu tidak pernah dapat diobati. Dia tetap saja menderita, dan akhirnya, setelah menikah denganku selama dua tahun lebih, guruku dan suamiku itu meninggal dunia karena sakit dalam hatinya." Bi Lan berhenti dan biarpun ia tidak menangis namun kedua matanya basah dan punggung tangannya mengusap beberapa butir air mata.

"Ah. Rajawali Sakti itu telah meninggal dunia?" Lie Koan Tek berseru perlahan dan memandang kepada keponakannya dengan penuh perasaan iba.

Tiba-tiba wajah yang menunduk itu terangkat dan sepasang mata Bi Lan mengeluarkan sinar mencorong, dan kedua tangannya dikepal. "Ini semua gara-gara Si Han Beng! Aku akan pergi mencarinya dan dia harus membayar kematian suamiku, guruku dan orang tuaku itu dengan nyawa!"

"Bi Lan!" Koan Tek berseru kaget. "Apa maksudmu? Si Han Beng? Kau maksudkan Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)? Ada apa pula dengan dia?!"

"Dialah suhengku itu! Dialah murid suhu dan suamiku itu!"

"Akan tetapi... Huang-ho Sin-liong adalah seorang pendekar sakti yang ilmu kepandaiannya amat tinggi!"

"Aku tidak perduli, dan tidak takut. Aku rela mati di tangannya untuk membela kematian suamiku juga guruku!" kata Bi Lan dan kini sikapnya amat keras.

"Dan dia terkenal sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan. Bi Lan, ingatlah dan jangan menurutkan perasaan!" kata pula pamannya.

"Hemm, paman mengira bahwa aku sakit hati karena dia membatalkan ikatan perjodohan itu? Sama sekali tidak, paman! Ketika ikatan perjodohan itu dilakukan oleh suhu, aku masih belum mengenal Si Han Beng. Aku tidak atau belum mempunyai perasaan cinta kepadanya. Apalagi setelah aku menjadi isteri suhu. Cintaku hanya untuk suamiku seorang! Dan suamiku yang bertubuh sehat dan kuat itu tentu belum mati kalau hatinya tidak dirusak oleh kemurtadan Si Han Beng!"

"Bi Lan, bersabarlah, ingatlah bahwa engkau hanya terdorong oleh perasaan dendam yang timbul dari kedukaan. Kematian setiap manusia berada di tangan Thian, engkau tidak boleh mencari Si Han Beng untuk membalas dendam kematian gurumu... eh, suamimu!"

"Tidak, paman. Aku harus pergi mencarinya dan mengadu nyawa dengannya. Aku sudah bersumpah di depan makam suamiku!" Wanita muda itu meloncat dan memandang kepada pamannya dengan sinar mata mencorong. "Paman atau siapapun juga tidak berhak melarangku. Selamat tinggal, paman!" Dan iapun meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

"Bi Lan...!" Lie Koan Tek hendak mengejar.

"Tidak ada gunanya dikejar. Ia takkan mau membatalkan niatnya," kata Liu Hwa dan Koan Tek tahu akan hal ini maka diapun membatalkan niatnya untuk mengejar, duduk kembali di atas batu di depan Liu Hwa dan menghela napas panjang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bi Lan memiliki kekerasan hati yang luar biasa. Aku dapat melihat pada pandang matanya," kata pula Liu Hwa yang merasa kasihan kepada penolongnya itu.

Kembali Koan Tek menghela napas panjang. "Seingatku, Bi Lan adalah seorang gadis yang lembut hati. Aku tahu, perubahan pada dirinya itu pertama karena kedukaan yang mendalam, kedua karena agaknya watak suaminya telah menular kepadanya. Aku mendengar bahwa Sin tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati baja, keras dan sukar diluluhkan. Aih, apa yang akan terjadi nanti kalau sampai ia bertemu dengan Huang-ho Sin-liong?"

"Tai-hiap, menurut apa yang kudengar, pendekar sakti Si Han Beng adalah seorang pendekar yang berhati budiman dan lembut. Siapa tahu dia akan bisa menundukkan kekerasan hati Bi Lan sehingga tidak perlu terjadi perkelahian di antara mereka."

"Mudah-mudahan begitu. Sekarang kita bicara tentang dirimu sendiri, nyonya Kam..."

"Tai-hiap, harap jangan menyebutku nyonya Kam. Suamiku meninggal dunia dan sebutan itu hanya mengingatkan aku kepadanya. Namaku Poa Liu Hwa dan tai-hiap boleh menyebut namaku saja."

Lie Koan Tek menahan senyumnya, senyum gembira. "Baiklah, akan tetapi engkaupun jangan menyebutku tai-hiap. Sebut saja namaku, Lie Koan Tek."

Liu Hwa memandang wajah pendekar itu dengan hati terharu. "Engkau penolongku yang budiman dan di dekatmu aku merasa aman seolah berada di dekat seorang kakak yang baik. Biarlah kusebut engkau Lie-toako (kakak Lie)..."

"Baik sekali, adik Liu Hwa. Nah, sekarang, katakan. Kenapa engkau meninggalkan dusun Ta-bun-cung dengan mengambil jalan lain dan tidak memberitahu kepadaku yang menantimu di luar pintu gerbang?"

Liu Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah. Ia merasa malu sekali. Ia menghindarkan diri dari pendekar ini sehingga ia bertemu orang jahat dan kembali pendekar ini yang menyelamatkannya, bahkan hampir berkorban nyawa kalau tidak muncul keponakan pendekar ini.

"Tai-hiap... eh, toako. Sesungguhnya, aku sengaja mengambil jalan ini untuk menghindarkan pertemuan denganmu... maafkan aku, toako."

Lie Koan Tek mengerutkan alisnya. "Ehh? Kenapa, Hwa-moi (adik Hwa)?"

Makin merah wajah Liu Hwa mendengar sebutan "adik Hwa" yang demikian lembut. "Maaf, toako. Aku merasa betapa aku telah banyak merepotkanmu, bagaimana mungkin aku berani membuat toako menjadi semakin sibuk untuk melindungiku terus? Bagaimana aku akan mampu membalas budimu yang bertumpuk-tumpuk? Siapa tahu, disini aku bertemu dengan penjahat keji itu dan kembali engkau yang telah menolongku. Toako, maafkan aku..."

Lie Koan Tek menarik napas panjang. Dia dapat mengerti dan sikap itu bahkan membuat nyonya muda ini menjadi semakin terpuji. "Hwa-moi, kenapa engkau mempunyai anggapan bahwa engkau merepotkan aku? Dan mengapa pula tidak mungkin aku menjadi pelindungmu selamanya? Aku sanggup melindungimu selamanya, Hwa-moi."

Pendekar itu menghentikan ucapannya dengan kaget, karena tanpa disengaja dia telah membongkar rahasia hatinya sendiri. Wanita itupun dapat merasakan apa yang tersirat dalam kata-kata itu, jantungnya berdebar keras, dan ia merasa berdosa terhadap suaminya. Baru saja beberapa hari, belum sebulan, ia ditinggal mati suaminya dan sekarang sudah ada pria yang menyatakan perasaan tertarik kepadanya! Ia juga terkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pendekar perkasa yang dikagumi itu diam-diam ternyata mengandung perasaan cinta kepadanya.

"Taihiap...?" Ia berkata lirih sambil terbelalak, lupa lagi akan sebutan kakak.

"Aku... aku tidak bermaksud buruk, Hwa-moi. Maafkan kata-kataku kalau mengejutkan hatimu. Sudahlah, aku menerima alasanmu tadi. Akan tetapi, bukankah engkau katakan bahwa engkau hendak mencari anakmu? Tadinya kusangka Siong Ki itu anak yang kau cari-cari."

Ucapan ini mengingatkan kembali Liu Hwa kepada anaknya dan kepada Siong Ki sehingga rasa kaget dan sungkannya terusir. "Siong Ki bukan anakku, toako. Sudah kukatakan tadi, aku bertemu dengannya di depan makam ayahnya. Ayahnya adalah The Ci Kok, suheng dari mendiang suamiku. Melihat dia sebatang kara, yatim piatu, maka aku ingin mengajaknya pergi dan mengakui sebagai murid. Adapun anakku, Cin Cin, seorang anak perempuan, telah diajak pergi oleh Lai Kun, sute dari suamiku, atas pesan kakek Coa Song."

"Dibawa pergi? Kemana, Hwa-moi?"

"Ke dusun Hong-cun di tepi Sungai Huang-ho untuk diserahkan kepada Huang ho Sin-liong Si Han Beng, disertai surat dari kakek Coa Song agar Cin Cin dapat diterima sebagai murid pendekar itu."

"Ah, kalau begitu bagus sekali. Anakmu tentu akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat kelak kalau ia dapat menjadi murid Huang-ho Sin-liong!" seru Lie Koan Tek dengan girang. "Lalu, apa, kehendakmu sekarang, Hwa-moi. Tadinya bersama Siong Ki, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Aku hendak menyusul Cin Cin."

"Apa? Engkau hendak minta anakmu agar tidak menjadi murid pendekar sakti itu?"

"Bukan begitu, toako. Akupun senang sekali mendengar bahwa Cin Cin diantar paman gurunya untuk menjadi murid Si Tai-hiap. Akan tetapi... sekarang aku hanya mempunyai ia seorang, tai-hiap. Bagaimana aku dapat berpisah darinya? Aku hanya akan menjenguknya, dan aku sendiri yang akan menyerahkan dan menitipkan anakku kepada keluarga Si Tai-hiap, kemudian aku akan tinggal di dusun itu, bekerja apa saja di sana, pokoknya aku tidak jauh dari anakku dan setiap waktu dapat menengoknya..."

Lie Koan Tek mengangguk-angguk. "Memang kukira sebaiknya begitu, Hwa-moi. Nah, karena tempat tinggal Huang-ho Sin-liong amat jauh dari sini, dan kini perjalanan amat tidak aman dan banyak orang jabat, mari kuantar engkau sampai dapat bertemu dengan puterimu."

Biarpun hatinya merasa sungkan sekali, akan tetapi terpaksa Liu Hwa menyambut penawaran itu dengan hati girang. Kalau ia melakukan perjalanan menyusul puterinya bersama pendekar ini, ia akan merasa aman, dan juga tidak akan sesat di jalan.

"Terima kasih. Lie-toako. Engkau begini baik kepadaku, aku tidak mungkin dapat membalas semua budi kebaikanmu. Biarlah Thian yang akan membalasnya, toako. Biarlah kelak dalam penjelmaan yang lain aku akan menjadi pelayanmu," katanya terharu.

"Aih, Hwa-moi, lupakan saja semua itu. Aku tidak mengharapkan balasan, juga tidak merasa menolongmu. Memang akupun ingin sekali bertemu dengan pendekar sakti yang kukagumi itu. Mari kita berangkat."

Setelah mereka berangkat, baru Liu Hwa teringat bahwa sekantung uang yang tadinya ia terima dari Siong Ki, ia titipkan kepada anak itu dan ketika pergi, agaknya anak itu membawa pergi pula uang yang dia berikan kepada subonya. Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan pakaianpun hanya yang menempel pada tubuhnya! Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan bukan main. Apalagi setelah mereka melewati sebuah kota, Koan Tek yang berpengalaman dan bijaksana itu, tanpa bertanya sudah mengetahui keadaannya dan pendekar itu mengajaknya ke toko dan membelikan beberapa potong pakaian untuknya!

Hampir Liu Hwa menangis saking girang dan terharunya mendapatkan bekal ganti pakaian yang amat dibutuhkannya itu. Dan disepanjang perjalanan, seperti telah diduganya, Lie Koan Tek selalu berlaku sopan dan lembut. Setiap kali menginap di rumah penginapan, pendekar ini selalu menyewa dua buah kamar yang berpisah, walaupun berdekatan. Tak pernah sedikitpun pendekar Siauw-lim-pai itu memperlihatkan sikap kurang ajar. Kalaupun ada tanda-tanda bahwa pendekar itu tertarik kepadanya, maka hal itu hanya nampak pada pandang matanya yang kadang seperti orang terpesona, dan pada sikapnya yang lemah lembut.

Diam-diam, sebagai seorang wanita yang berperasaan peka, Liu Hwa mengerti bahwa pendekar itu jatuh hati kepadanya, atau setidaknya menaruh perhatian besar sekali kepadanya. Hal ini membuat ia merasa terharu sekali, akan tetapi juga bingung dan selagi tidur sendiri di waktu malam, ia suka menangis dan meratap kepada mendiang suaminya. Ia seorang wanita yang cantik dan sehat, usianya baru tigapuluh tahun. Mungkinkah ia akan menyiksa diri, menjanda selama hidupnya?

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

"Susiok, katanya susiok hendak membawaku kepada ibu. Mana ibu? Kenapa kita belum juga tiba di tempat ibu? Kita sudah melakukan perjalanan selama berhari-hari! Paman, jangan bohongi aku! Mana ibu, susiok (paman guru)?"

Anak itu kini mulai merengek dan hampir menangis. Ia seorang anak perempuan berusia lima tahun yang manis. Akan tetapi pada saat itu ia nampak marah, sedih dan juga kecewa. Ia adalah Kam Cin yang diajak Lai Kun meninggalkan dusun Ta-bun-cung, memenuhi pesan kakek Coa Song. Amat sukar membujuk Kam Cin untuk ikut bersamanya, akan tetapi Lai Kun mempunyai akal. Setelah ia mengatakan bahwa dia mengajak anak itu untuk mencari dan menyusul ibunya yang menghilang pada malam terjadinya penyerbuan penjahat itu, tentu saja Kam Cin menjadi girang sekali dan seketika ia menyatakan setuju.

Kini Lai Kun menghadapi anak yang mulai rewel dengan alis berkerut. Sebagai sute dari ayah anak itu, mendiang Kam Seng Hin, dia mengenal benar watak Kam Cin. Seorang anak yang dapat menjadi manis sekali, akan tetapi kalau sudah marah, juga menjadi anak yang rewel dan sulit diatur! Mereka sudah melakukan perjalanan selama sepuluh hari, dan mulai pada hari kelima saja Kam Cin sudah selalu merengek dan marah kepadanya.

"Sabarlah, Cin Cin. Tempat ibumu jauh sekali dan kita belum sampai, terpaksa bermalam di rumah penginapan ini. Mari kita makan. Lihat, masakan yang kupesan ini enak sekali, bukan? Mari kita makan, lalu tidur dan besok pagi-pagi kita lanjutkan perjalanan!" Kata pria itu dengan suara membujuk sambil menyodorkan mangkok dan sumpit ke arah anak yang sedang marah itu.

Dia seorang pria berusia empat puluh tahun, kurus jangkung dengan hidung agak besar dan mata kecil. Dia adalah Lai Kun, murid Hek-houw pang, sute mendiang Kam Seng Hin. Karena diapun masih membujang, dan tidak mempunyai keluarga lagi, maka setelah terjadi penyerbuan para penjahat yang membasmi Hek-houw-pang itu, Lai Kun tentu saja tidak betah lagi tinggal di Ta-bun-cung. Maka, ketika menerima tugas dari kakek Coa Song, untuk mengantar murid keponakan itu kepada Huang-ho Sin-liong di dusun Hong-cun, dia merasa gembira sekali.

Pertama, dia akan meninggalkan dusun Ta-bun-cung yang kini nampak menyedihkan itu, apa lagi Hek-houw-pang sudah dibubarkan, dan kedua dia akan bertemu dengan pendekar sakti Si Han Beng yang sudah lama didengar nama besarnya dan dikaguminya itu. Tak disangkanya, baru juga setengah perjalanan, Cin Cin sudah mulai rewel dan kini malah mogok makan.

"Tidak, aku tidak lapar! Susiok makan saja sendiri!" kata Cin Cin sambil mendorong kembali mangkok nasi itu. "Aku mau tidur!" Anak itu lalu turun dari bangku dan lari ke pembaringan, langsung saja ia meloncat ke atas pembaringan, menghadap ke dinding.

Lai Kun mengerutkan alisnya memandang ke arah murid keponakan itu dan menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah beberapa hari ini dia selalu jengkel menghadapi Cin Cin dan mulai dia menyesali tugasnya yang ternyata tidak menyenangkan ini. Beberapa kali bahkan dia sudah membentak Cin Cin kalau terlalu rewel. Akan tetapi anak ini memang keras dan sukar diatur. Dihadapi dengan sikap halus, tetap marah. Kalau dikasari, bertambah marah! Sulit memang! Dia mengangkat kedua pundaknya dan melanjutkan makan sendiri.

Sejak siang tadi, Cin Cin tidak mau makan. Hanya pagi tadi saja makan bubur semangkuk. Anak itu memang bandelnya bukan kepalang. Tiba-tiba Cin Cin membalik sedikit dan menengok kepadanya. Lai Kun sudah merasa girang karena mengira anak itu mulai kelaparan dan mau mengubah sikapnya, mau makan. Akan tetapi Cin Cin yang kedua matanya merah karena tangis yang ditahan-tahan itu berkata ketus.

"Susiok, kalau besok kita belum tiba di tempat ibu. Jelas bahwa engkau berbohong dan aku tidak mau lagi melakukan perjalanan bersamamu!"

Makin mendalam kerut di antara alis Lai Kun. Hatinya mulai panas oleh kejengkelan melihat sikap menantang anak itu. "Hemm. lalu apa yang akan kau lakukan kalau engkau tidak mau melakukan perjalanan bersamaku?" tanyanya menahan marah.

"Tidak perlu susiok tahu! Pendeknya, aku akan mencari sendiri ibuku!"

Lai Kun menggebrak meja di depannya sehingga mangkok piring berdentingan. "Anak bandel! Dengar kau baik-baik. Kau kira aku kesenangan mengantarmu? Aku hanya mentaati perintah kakek Coa Song untuk membawamu kepada Huang-ho Sin-liong Si Han Beng, kau tahu? Kita sedang melakukan perjalanan ke sana! Dan engkau harus mentaati pesan kakek Coa Song!"

Cin Cin melompat turun dari pembaringan, berdiri memandang wajah Lai Kun dengan marah. "Nah, benar saja! Susiok telah bohong kepadaku! Aku tidak mau pergi ke manapun! Aku hendak mencari ibuku. Bawa aku kembali ke Ta-bun-cung, aku mau mencari ibuku!"

Melihat anak itu berteriak-teriak marah, hampir saja Lai Kun menamparnya. Akan tetapi dia teringat dan menahan kemarahannya. Mukanya merah sekali dan diapun mengangguk. "Baiklah, besok pagi kita pulang!" katanya singkat.

Agaknya Cin Cin juga puas dengan keputusan itu dan iapun kini mau duduk menghadapi makanan di atas meja. Ia mengambil nasi dan sayur, mulai makan. Agaknya timbul semangat anak itu ketika akan diajak pulang! Akan tetapi Lai Kun sudah marah sekali maka diapun mendiamkan saja. Dia merasa bingung. Bagaimana dia dapat mengajak anak itu pulang ke Ta-bun-cung setelah melakukan perjalanan setengahnya menuju ke dusun Hong Cun? Dan dia tidak ingin pulang ke dusun Ta-bun-cung!

Sehabis makan dan setelah pelayan menyingkirkan mangkok piring, dia hanya berkata singkat kepada Cin Cin. "Kau tidurlah, aku hendak jalan-jalan dulu. Besok pagi-pagi kita berangkat!"

"Pulang?" Cin Cin menegas.

"Ya, pulang!" jawab Lai Kun singkat, lalu dia keluar dari kamar, menutupkan daun pintu kamar itu dari luar. Dengan hati mengkal dia lalu berjalan-jalan di sepanjang jalan raya kota itu.

Kota Ji-goan merupakan kota yang cukup besar, terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho, sedangkan Lok-yang, kota raja, terletak tidak terlalu jauh dari pantai selatan Sungai Kuning itu. Bahkan penyeberangan sungai dari utara ke selatan dan sebaliknya berada di kota Ji-goan, maka tentu saja kota yang menjadi pusat lalu-lintas ke kota raja itu cukup besar, mempunyai banyak losmen dan rumah makan.

Sudah lazim bahwa jika sebuah kota dikunjungi banyak tamu, maka selain perdagangan menjadi ramai, juga usaha hiburan berkembang biak dengan cepat sekali. Para tamu itu membutuhkan hiburan dan mereka berani mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesenangan. Apa lagi mereka adalah pedagang-pedagang yang mempunyai uang. Setelah memperoleh keuntungan, mereka tidak sayang menghamburkan sebagian kecil keuntungannya dirumah-rumah judi dan rumah pelesir.

Karena dia tidak mengenal jalan, tanpa disadari Lai Kun memasuki lorong yang terkenal di kota itu sebagai lorong pusat tempat hiburan. Dia melihat rumah-rumah judi akan tetapi tidak tertarik. Dia sedang mengkal, sedang marah karena kerewelan Cin Cin. Ketika melihat sebuah rumah minum yang dihias indah, dia tertarik. Dipesannya arak dan kueh kering, lalu diapun minum untuk menghilangkan rasa jengkelnya.

Kehadirannya sejak tadi diikuti sepasang mata yang jeli, mata seorang wanita muda yang wajahnya dirias cantik, sikapnya genit dan wanita itu memang seorang pelacur yang sedang mengintai korban di rumah makan itu. Melihat Lai Kun minum-minum seorang diri, dan nampak jelas bahwa pria ini adalah orang luar kota, pelacur itu melihat,seorang calon korban yang akan menguntungkan dirinya. Ia menanti sampai Lai Kun menghabiskan seguci kecil arak dan kepalanya sudah agak bergoyang-goyang. Ketika Lai Kun minta tambah arak, pelacur itu menghadang pelayan yang datang membawakan arak.

"Biar aku yang mengantarkan kepadanya," bisik pelacur yang dikenal dengan nama Sui Su itu.

Pelayan itu tersenyum. Kalau pelacur itu berhasil, dia pasti akan menerima imbalannya nanti. Diberikannya guci arak itu kepada Sui Su yang dengan langkah gontai, bibir tersenyum-senyum dan sikap memikat membawa guci arak itu kepada meja Lai Kun.

"Silakan, tuan. Ini tambahan araknya," katanya dengan suara merdu.

Lai Kun memandang kepadanya dengan alis berkerut. "Eh? Siapakah nona...?"

Sui Su tersenyum sehingga nampak giginya berkilat di balik sepasang bibir yang merah, akan tetapi dengan luwes ia menutupi mulutnya dengan saputangan sutera. "Nama saya Sui Su, tuan dan saya menjadi pelayan tuan untuk malam ini.." Matanya mengerling tajam dan penuh daya pikat.

Lai Kun sudah setengah mabok. Akan tetapi dia bukan anak kecil. Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun dan biarpun sudah setengah mabok, namun dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang pelacur yang memiliki wajah cukup cantik dan bentuk tubuh yang menggiurkan.

"Hem, maaf, nona. Aku tidak ingin melacur malam ini..." katanya akan tetapi dia tidak menolak ketika wanita itu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan araknya.

Sui Su pura-pura marah. "Aih, jangan menghina, tuan. Saya bukan pelacur! Saya memang suka menghibur tamu yang kesepian dan yang sedang menderita sedih, akan tetapi saya bukan pelacur murahan!"

Lai Kun tersenyum sedikit dan minum araknya. Bukan pelacur murahan tentu pelacur mahalan, pikirnya. Akan tetapi dia memang sedang jengkel, membutuhkan hiburan dan agaknya wanita ini amat ramah sikapnya, menyenangkan kalau diajak bercakap-cakap. "Duduklah, nona. Mungkin aku membutuhkan teman bercakap-cakap malam ini."

Wanita itu duduk di bangku, dekat dengannya dan melayaninya makan kue kering dan minum arak. Dan memang benar dugaan Lai Kun, wanita itu amat pandai bicara, pandai bercerita dan pengetahuan umumnya juga banyak. Pandai bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota Ji-goan. Karena terpikat oleh gaya bicara Sui Su yang ramah, Lai Kun mempergunakan kesempatan itu untuk bersenang-senang.

Dari kakek Coa Song, dia menerima sekantung emas yang kelak harus diserahkan kepada pendekar sakti Si Han Beng, sebagai biaya hidup Cin Cin kalau menjadi murid pendekar itu agar jangan memberatkan penanggungan keluarga Si Naga Sakti Sungai Kuning. Akan tetapi kemurungan dan kemarahannya terhadap Cin Cin membuat murid Hek-houw-pang ini lupa diri, bahkan dia agaknya seperti sengaja hendak menghamburkan uang itu untuk menumpahkan kemarahannya terhadap Cin Cin.

Dan Sui Su memang seorang wanita yang berpengalaman dan cerdik. Dari cara Lai Kun yang sudah setengah mabok itu membayar harga makanan dan minuman secara royal, iapun gembira sekali dan tahu bahwa dugaannya benar. Korbannya ini memang golongan "kakap", maka iapun memperhebat usahanya untuk menjatuhkan hati Lai-kun dan akhirnya ia berhasil membujuk Lai Kun untuk mengantarnya pulang!

Dengan senang hati Lai Kun mengantarnya, dan ternyata bahwa tempat tinggal Sui Su adalah sebuah rumah pelesir yang cukup terkenal di kota itu, yaitu rumah pelesir Ang-hwa (Bunga Merah). Karena sudah mabok arak dan mabok kecantikan dan rayuan maut Sui Su, Lai Kun tidak memperdulikan banyaknya tamu dan para wanita muda yang cantik yang memenuhi ruangan tamu yang luas itu. Juga dia acuh saja ketika seorang wanita berusia lima puluh tahun yang bertubuh gendut menyambutnya dengan ramah sekali. Samar-samar dia mendengar bahwa Sui Su memperkenalkan wanita itu sebagai Cia Ma, yang diperkenalkan sebagai ibu angkatnya!

Tentu saja Cia Ma ini adalah sang mucikari, pemilik dan pengurus rumah pelesir itu yang tersenyum-senyum melihat Sui Su mendapatkan seorang korban. Ini berarti rejeki baginya, tentu saja!

Lai Kun, biarpun usianya sudah empat puluh tahun, pengalamannya dalam pergaulan dengan wanita tidaklah terlalu banyak, maka mudah saja dia jatuh oleh Sui Su yang pandai dan berpengalaman itu. Untuk beberapa jam lamanya, dia lupa diri dan dapat mereguk kesenangan, merasa terhibur dan lupa akan segala kemurungan hatinya tadi.

Namun, setelah semua itu lewat, dia teringat lagi kepada Cin Cin yang ditinggalkannya di rumah penginapan, teringat betapa besok pagi-pagi anak itu tentu akan menagih janji dan akan marah-marah lagi. Maka, teringat akan ini, Lai Kun kembali menjadi murung, bangkit dan duduk di tepi pembaringan, tidak lagi menengok kepada Sui Su yang baru saja melayaninya dan membuat dia merasa senang dan terhibur. Melihat ini, Sui Su memandang penuh perhatian, ikut bangkit dan merangkul dengan sikap manja.

"Lai-toako (kakak Lai), engkau kenapakah? Mengapa engkau tiba-tiba saja menjadi murung? Sejak engkau minum seorang diri di rumah makan, aku sudah melihat engkau murung dan kelihatan marah. Tadi engkau dapat melupakan semua kemurunganmu, akan tetapi sekarang kembali engkau murung. Toako yang baik, apakah yang menyebabkan engkau murung? Ceritakan kepada Sui Su, pasti aku akan dapat menghiburmu!"

Lai Kun menghela napas panjang. Teringat akan tugasnya, teringat akan kerewelan Cin Cin, dia merasa penasaran dan jengkel sekali dan dia memang memerlukan seseorang untuk menumpahkan semua rasa penasaran di hatinya. Maka, dia lalu menceritakan semua itu kepada Sui Su. Dianggapnya bahwa Sui Su adalah seorang wanita yang baik sekali, yang amat mencintanya!

Demikianlah bodohnya pria kalau sudah berhadapan dengan wanita yang pandai mengambil hatinya. Betapapun gagahnya seorang pria, sekali berhadapan dengan wanita yang mampu menjatuhkan hatinya, dia akan bertekuk lutut dan menyerah!

Lai Kun tidak menyembunyikan sesuatu, mengharapkan nasihat dari wanita itu. Diceritakannya tentang Hek-houw-pang yang dibasmi penjahat-penjahat lihai; tentang kematian para pimpinan Hek-houw pang, kemudian tentang tugasnya mengajak Cin Cin pergi ke Hong-cun dan tentang kerewelan Cin Cin yang membuat dia pusing sekali. Setelah Lai Kun mengakhiri ceritanya, Sui Su merangkulnya dan tersenyum, akan tetapi suaranya terdengar sungguh-sungguh ketika ia bertanya,

"Lai-toako, apakah anak perempuan itu cantik? Dan berapa usianya?"

"Usianya baru lima tahun, akan tetapi ia memang seorang anak yang cantik mungil, akan tetapi keras hati dan keras kepala seperti setan!" Lai Kun menjawab.

"Bagus kalau ia cantik, akan tetapi sayang usianya baru lima tahun. Toako, engkau tadi berkata bahwa engkau hidup sebatangkara dan tidak ingin kembali lagi ke Ta-bun-cung, dan bahwa Hek-houw-pang sudah dibubarkan. Tentu engkau sudah tidak ingin lagi kembali ke sana, bukan?"

Lai Kun menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku kembali ke sana? Sudah tidak ada apa-apanya yang menarik kecuali kenangan pahit."

"Nah, kalau begitu, mengapa susah-susah engkau hendak mengantar Cin Cin ke tempat jauh, sedangkan anak itu rewel dan membuatmu pusing? Kenapa tidak mempergunakan kesempatan yang tadinya menjengkelkan ini berubah menjadi menguntungkan dan menyenangkan? Engkau akan terbebas dari pada kejengkelan, dan akan mendapatkan keuntungkan besar."

"Eh? Apa maksudmu, Sui Su?"

"Dengar baik-baik, toako. Ibu angkatku, Cia Ma, tidak mempunyai anak kandung dan ia ingin sekali mengangkat anak perempuan yang mungil. Biarpun ia sudah mempunyai beberapa orang anak angkat, akan tetapi mereka sudah dewasa dan Cia Ma merasa tidak senang. Ia ingin merawat dan mendidik seorang anak angkat yang masih kecil. Nah, kau serahkan Cin Cin itu kepada Cia Ma, anak itu akan berada di tangan yang penuh kasih sayang, akan dididik menjadi seorang wanita yang pandai dengan segala pekerjaan wanita, dan kelak akan memperoleh jodoh seorang pria yang baik-baik, kalau tidak bangsawan tinggi tentu hartawan besar. Dan sebagai pengganti uang lelah, kalau benar anak itu cantik jelita, engkau akan menerima imbalan sedikitnya seratus tail perak! Kalau lebih cantik dari pada yang kuduga, mungkin lebih dari itu!"

"Ahhh...?" Lai Kun terbelalak dan kalau bukan Sui Su yang bicara, dia tentu marah sekali mendengar usul untuk "menjual" Cin Cin itu. Akan tetapi, dia sudah terpengaruh oleh Sui Su yang dianggapnya amat baik, maka usul itu menjadi bahan pertimbangannya.

"Tapi.. hal itu tak dapat kulakukan," akhirnya dia berkata.

"Kenapa, toako? Apakah usulku itu tidak amat baik?"

"Kalau kelak hal ini diketahui orang, tentu aku dipersalahkan."

"Mana mungkin? Engkau tidak menyia-nyiakan Cin Cin, bahkan menyerahkannya ke tangan orang yang benar-benar dapat merawat dan mendidiknya. Mereka bahkan akan berterima kasih kepadamu, toako."

"Akan tetapi, menurut kakek Coa Song, Cin Cin akan diserahkan kepada seorang pendekar sakti untuk menjadi muridnya."

"Aihh, toako. Cin Cin seorang anak perempuan, dan cantik pula menurut ceritamu. Betapa sayangnya seorang wanita cantik kelak menjadi tukang pukul, galak, menjadi pembunuh dan tukang berkelahi! Sayang kulitnya yang putih halus menjadi kasar dan keras. Tidakkah seorang wanita lebih baik dan menyenangkan kalau menjadi wanita sepenuhnya, penuh kelembutan, kehangatan, penuh dengan kemesraan dan pandai dalam hal kesenian dan kebudayaan, bukan menjadi tukang berkelahi yang mengerikan?"

Lai Kun tersenyum. Percuma bicara dengan seorang wanita yang sama sekali tidak mengerti silat, tentang perlunya seorang wanita menjadi pendekar. Akan tetapi kini hatinya tertarik. Kalau Cin Cin diserahkan kepada tangan yang baik, yang akan mendidiknya dan merawatnya baik-baik sehingga kelak Cin Cin menjadi seorang wanita yang pandai dan berguna, berarti dia telah melakukan usaha yang baik untuk puteri suhengnya itu!

Dan dia tidak perlu pusing menghadapi kerewelan Cin Cin yang berkeras minta pulang karena ingin mencari ibunya, tidak mau diajak menghadap Huang-ho Sin-liong. Ditambah pula dia mendapat seratus tail perak yang dapat dia pergunakan sebagai modal kerja atau berdagang...!

Naga Beracun Jilid 05

"Siong Ki, jangan bicara seperti itu!"

Dengan muka basah air mata dan mata merah, anak itu mengangkat mukanya, memandang kepada wanita itu. "Bibi, apa yang harus kulakukan kalau aku dibiarkan hidup? Aku seorang diri, tiada ayah ibu, tiada keluarga. Melihat ayah tewas, juga para paman... ah, apa gunanya lagi aku hidup? Tiada lagi yang melindungi aku, bibi..."

"Hushh...! Omongan apa itu? Disini masih ada aku, Siong Ki. Aku yang akan melindungimu, dan engkau boleh ikut denganku selamanya karena mulai saat ini, engkau menjadi muridku."

Siong Ki membelalakkan matanya seperti orang yang tidak percaya. "Benarkah ini...? Benarkah, bibi? Atau hanya hiburan kosong belaka?"

"Tentu saja benar, Siong Ki. Apakah kau tidak percaya kepadaku dan menyangka aku membohongimu?"

Anak itu nampak gembira sekali. "Kalau begitu, berjanjilah di depan makam ayah, bibi. Biar ayah menjadi saksi, biar ada semangat lagi bagiku untuk hidup!" Lalu anak itu berlutut di depan Liu Hwa dan kini suaranya terdengar lantang dan penuh semangat. "Ayah saksikanlah, ayah. Mulai saat ini anakmu, The Siong Ki, mempunyai pelindung baru, yaitu bibi Poa Liu Hwa yang menjadi guruku. Subo, terimalah hormat tcecu (murid)!" Dan diapun memberi hormat delapan kali kepada wanita itu.

"Siong Ki, muridku yang baik, bangkitlah."

"Teecu tidak akan bangkit sebelum subo (ibu guru) berjanji di depan makam ayah!"

Liu Hwa menatap makam itu dan diam-diam ia bergidik. Ia sendiri kehilangan segala-galanya, bahkan puteranya Cin Cin, yang selamat, kini telah dibawa pergi ke tempat jauh. Ia sendiri sebatangkara, dan kini ia telah mengambil Siong Ki sebagai murid, siap melindunginya dan menjadi pengganti orang tuanya. Suatu tugas yang amat berat. Sedangkan untuk melindungi diri sendiri saja ia sudah jelas tidak kuat.

Buktinya, hampir saja ia celaka dan mungkin sekarang sudah tewas terbunuh atau membunuh diri kalau saja ia tidak dibebaskan dari tangan lt-gan Tiat-gu oleh pendekar Siauw-lim pai itu! Akan tetapi, ia tidak dapat undur kembali, sudah berjanji, dan kalau ada anak ini di sampingnya, setidaknya ia akan terhibur. Maka iapun lalu mengangkat kedua tangan di depan dada sambil membungkuk ke arah makam The Ci Kok dan berkata dengan lirih.

"Suheng The Ci Kok. Aku berjanji bahwa mulai saat ini puteramu The Siong Ki telah menjadi muridku. Semoga arwahmu ikut pula melindungi kami berdua."

Setelah mendengar janji gurunya itu, Siong Ki bangkit dan kini wajahnya menjadi cerah. Liu Hwa juga memandang kepadanya. Anak ini nampaknya cerdik dan seingatnya, Siong Ki bukan seorang anak yang bandel, tidak nakal dan pandai membawa diri.

"Siong Ki, setelah engkau selesai bersembahyang di sini, susullah aku di makam suamiku."

"Aku sudah selesai, subo. Aku selalu berada di sini sejak ayah dimakamkan dan baru satu kali aku pulang kerumah," katanya sambil mengambil sebuah buntalan yang tadi dia gantungkan di cabang sebatang pohon.

"Engkau sudah siap dengan buntalan pakaianmu? Apakah engkau tidak ingin pulang ke rumah mendiang ayahmu?"

Siong Ki menjawab dengan wajah sedih. "Tadinya aku sudah ingin pergi saja, subo. Untuk apa kembali ke dusun Ta-bun-cung dimana kita hanya akan diingatkan selalu akan peristiwa menyedihkan itu? Akan tetapi kalau subo ingin kembali..."

Liu Hwa melangkah ke arah makam suaminya, lalu duduk di depan makam, termenung. Siong Ki mengikutinya dan anak itupun duduk di depan subonya. Setelah berulang kali menghela napas panjang, Liu Hwa juga berkata dengan sura sendu.

"Akupun tidak mungkin dapat bertahan tinggal di dusun dimana aku telah kehilangan segala-galanya. Apalagi, sebelum meninggal, kakek Coa Song telah membagi-bagikan seluruh isi rumah kepada para murid. Aku tidak dapat tinggal di rumah kosong itu, yang setiap saat akan mengingatkan aku kepada suamiku dan anakku."

"Lalu, ke mana kita akan pergi, subo?"

Wanita itu menundukkan mukanya dengan sedih. "Aku tidak tahu, Siong Ki, aku tidak tahu..."

Siong Ki bicara lagi, kini suaranya terdengar gembira. "Subo, aku mendengar bahwa adik Cin Cin telah diajak pergi oleh susiok Lai Kun kerumah pendekar sakti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng. Bagaimana kalau kita menyusul kesana?"

Wajah wanita itu agak cerah mendengar ucapan itu. Sudah diduganya, anak ini cerdik dan penuh semangat, dan senang akan keputusannya mengambil anak ini menjadi murid. "Benar, Siong Ki. Agaknya memang sebaiknya kalau kita menyusul adikmu Cin Cin lebih dulu. Setelah itu... setelah bertemu dengan Cin Cin, baru kita mencari tempat tinggal baru. Akan tetapi, ah, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan senjatapun tidak punya lagi..."

"Subo, jangan khawatir?" kata Siong Ki dan anak ini segera menurunkan buntalan pakaiannya yang besar, lalu membukanya. Pertama-tama dia mengeluarkan sebatang pedang dengan sarungnya. "Ini pedang milik ayah, subo. Kuambil dari tangan jenazah ayah, lalu sarung pedangnya kucari. Nah, terimalah pedang ini subo, agar subo dapat melindungi diri kita berdua dalam perjalanan."

Dengan girang Liu Hwa menerima pedang itu dan memeriksanya. Ternyata sebatang pedang yang cukup baik, terbuat dari baja yang baik. Ia merasa kuat ketika memegang pedang ini.

"Dan ini, subo. Ini peninggalan ayah, kukumpulkan semua dan kubawa serta. Subo boleh menggunakannya semua untuk biaya apa saja, biaya perjalanan kita, biaya mencari tempat tinggal baru...."

Liu Hwa terbelalak. Anak itu membuka sebuah buntalan kecil yang isinya potongan emas dan perak, cukup banyak! "Siong Ki," ia berkata dengan terharu. "Ternyata bukan aku yang menolongmu, melainkan engkau yang menolongku..."

"Sama sekali tidak, subo. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa degan pedang dan emas perak itu. Kuserahkan kepada subo agar subo dapat melindungi kita berdua."

Liu Hwa tiba-tiba teringat kepada pendekar Siauw-lim-pai yang menunggunya di luar pintu gerbang. Ah, sudah terlalu banyak ia menyusahkan pendekar itu. Sungguh ia merasa malu kepada Lie Koan Tek. Pula, sungguh tidak pantas dilihat orang kalau ia berdua saja dengan pendekar itu. Ia kini seorang janda! Dan pendekar Siauw-lim pai Lie Koan Tek, sepanjang yang didengarnya, belum pernah menikah.

Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun lebih, masih membujang. Pasti akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan dalam benak orang yang melihat seorang janda berduaan saja dengan seorang pria yang masih membujang. Tidak, aku tidak boleh mengganggunya lagi. Akan tetapi, bagaimana ia harus mengatakan kepada pendekar itu bahwa ia tidak mau melanjutkan perjalanan bersama dia?

"Siong Ki, mari kira pergi." "Pergi? Sekarang juga, subo?"

Liu Hwa mengangguk. "Sekarang ini juga, kita pergi meninggalkan dusun kita dan pergi menyusul Cin Cin."

Tentu saja Siong Ki merasa heran. Malam itu biarpun ada bulan, namun tetap saja cuaca hanya remang-remang. Mengapa subonya demikian tergesa-gesa. Akan tetapi dia tidak berani membantah.

"Baik subo. Mari!" Dia lari ke makam ayahnya, memberi hormat lagi untuk yang terakhir kalinya, kemudian membawa buntalan pakaiannya dan berjalan di samping subonya.

Ketika Siong Ki hendak mengambil jalan keluar dari pintu gerbang, Liu Hwa memegang tangannya, dan menariknya ke kiri. "Kita ambil jalan ini saja, Siong Ki."

Kembali anak itu terheran. Jalan keluar dari dusun itu memang ada beberapa buah, akan tetapi yang paling enak adalah jalan keluar melalui pintu gerbang. Akan tetapi subonya mengajak ia keluar dari dusun melalui jalan setapak yang penuh semak belukar! Akan tetapi diapun tidak berani banyak bertanya dan dengan hati-hati mereka keluar dari dusun itu. Sama sekali Poa Liu Hwa tidak pernah menduga bahwa hanya tiga hari setelah dia pergi, Sim Lan Ci dan Thian Ki datang ke dusun itu pula! Kalau saja hal itu terjadi, pasti jalan hidupnya akan menjadi lain!

Hati Liu Hwa menjadi lega setelah mereka keluar dari dusun dan tiba di lereng bukit. Matahari pagi memandikan bumi dengan cahayanya yang hangat dan segar menghidupkan. Biarpun merasa lelah sekali karena selain baru saja mengalami ancaman malapetaka dan terpendam kedukaan, apa lagi semalam sama sekali tidak tidur, namun Liu Hwa tidak mau berhenti berjalan. Siong Ki berjalan di sebelahnya sambil menggendong buntalan pakaiannya. Kantung berisi emas dan perak oleh Liu Hwa juga dititipkan kepadanya dalam buntalan. Hanya pedang itu kini tergantung di punggung nyonya muda itu.

Sudah sejak malam tadi Liu Hwa melihat betapa anak itu kelelahan, juga mungkin sekali kelaparan. Namun, biarpun jalannya kadang terhuyung, anak itu sama sekali tidak pernah mengeluh. Hal ini saja membuat Liu Hwa semakin suka kepada anak yang kini menjadi muridnya itu. Anak ini keras hati dan tabah bukan main, pikirnya. Ia merasa kasihan akan tetapi tidak mau mengajak Siong Ki berhenti karena ia khawatir kalau sampai bertemu dengan Lie Koan Tek yang ingin dihindarinya. Ia sendiri juga lelah, akan tetapi ia memaksa diri untuk melewati sebuah bukit lagi, baru akan mengaso dan mencari makanan.

Ketika ia mulai mendaki bukit itu dan tiba di sebuah hutan kecil, tiba-tiba saja di depannya muncul seorang pria muda yang tampan sekali. Usianya sekitar duapuluh tujuh tahun, tubuhnya sedang dan dia mengenakan pakaian pelajar yang mewah. Wajahnya tampan dan ganteng, dengan hidung besar mancung, bibir merah seperti diberi pemerah bibir, matanya hitam sekali maniknya. Dan kepalanya yang berambut hitam tebal itu tertutup sebuah caping lebar. Di pinggangnya terselip sebatang suling dan melihat penampilannya, Liu Hwa menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pemuda kaya yang terpelajar. Namun kemunculannya yang tiba-tiba itu mengejutkan hatinya dan ia memandang dengan khawatir.

Pemuda itu bukan lain adalah Can Hong San. Setelah dia berpisah dari Pangeran Cian Bu Ong dan memperoleh sekantung emas, Hong San lalu sengaja pergi ke dusun Ta-bun-cung. Dia masih merasa penasaran, ingin melihat apa yang terjadi di dusun itu, terutama sekali dia ingin mencari Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai bekas rekannya itu yang dia lihat melarikan seorang wanita cantik ketika mereka menyerbu dusun itu.

Kini, bertemu dengan Liu Hwa dan seorang anak laki-laki, dia segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang pernah dilarikan Lie Koan Tek, maka cepat dia menghadang wanita itu dan dia tersenyum girang ketika melihat bahwa wanita yang usianya sekita tigapuluh tahun ini juga cukup cantik untuk menggelitik wataknya yang memang mata keranjang!

Hong San tersenyum dan wajahnya nampak tampan dan menarik sekali. Karena sikapnya memang sopan dan halus Liu Hwa juga tersenyum malu-malu dan nyonya ini menggandeng tangan Siong Ki untuk diajak melewati pemuda itu sambil membungkukkan tubuh sebagai penghormatan. Melihat ini, Hong San cepat melangkah dan menghadang lagi.

"Perlahan dulu, enci. Kalau aku tidak salah sangka, enci tentu datang dari dusun Ta-bun-cung, bukan?" Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.

Melihat sikap yang sopan dan ramah itu, Liu Hwa membalas penghormatan pemuda itu dan menjawab, "Benar, kongcu. Kami memang penduduk Ta-bun-cung."

"Bukankah enci wanita yang dilarikan oleh Lie Koan Tek malam itu?"

Bukan main kagetnya Liu Hwa mendengar pertanyaan itu dan ia memandang Hong San dengan pernuh perhatian. Malam terjadinya penyerbuan di dusun itu terlalu gelap sehingga ia tidak mengenal para penyerangnya. "Bagaimana engkau bisa tahu, kongcu?" tanyanya penuh selidik.

"Ha-ha-ha, aku tahu segalanya, enci. Beberapa malam yang lalu, Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung diserbu oleh pembunuh-pembunuh bayaran, bukan? Dan seorang di antara para pembunuh itu adalah Lie Koan Tek. Kemudian, setelah membunuhi banyak orang, mungkin yang terbanyak di antara rekan-rekannya, Lie Koan Tek agaknya tertarik kepadamu dan membawamu lari! Apakah kini Lie Koan Tek sudah bosan denganmu dan membiarkanmu pergi, enci yang baik?"

Wajah Liu Hwa menjadi merah sekali. Merah karena marah dan merah karena malu. Juga ia merasa dihina oleh pemuda halus ini. "Tidak! Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang gagah dan bukan pembunuh bayaran. Dia telah tertipu. Juga dia melarikan aku karena dia ingin menyelamatkan aku!"

"Ha-ha-ha-ha! Enci yang baik, agaknya engkau telah tergila-gila kepada pembunuh itu! Aku yang lebih tahu bahwa dialah yang membunuh banyak tokoh Hek-houw-pang!"

"Paman yang baik, apakah Lie Koan Tek itu pula yang telah membunuh ayahku? Ayahku bernama The Ci Kok, dia suheng dari mendiang ketua Hek-houw-pang..."

"Siong Ki!" Liu Hwa menegur muridnya.

"The Ci Kok? Ha, siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Lie Koan Tek? Aku melihatnya sendiri..."

"Engkau bohong! Sudahlah, jangan mengganggu kami. Kami akan melanjutkan perjalanan kami!" Liu Hwa kini berkata dengan marah. "Mari, Siong Ki, kita pergi!" Ia menggandeng tangan muridnya dan menariknya pergi.

"Nanti dulu, enci yang manis. Engkau cukup manis untuk menemaniku. Jangan kau pergi dulu. Kalau anak ini mau pergi, biarkan dia pergi, akan tetapi engkau harus menemaniku bercakap-cakap. Aku kesepian sekali, enci yang manis."

Kini tahulah Liu Hwa dengan orang macam apa ia berhadapan. Biarpun pemuda ini amat tampan dan dapat bersikap halus dan ramah, namun ia dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pria yang suka memandang rendah dan mempermainkan wanita.

"Singg...!" Ia mencabut pedangnya dan matanya mencorong marah. "Manusia rendah, jangan ganggu kami atau terpaksa aku akan menggunakan pedang ini!"

Akan tetapi tentu saja gerakan itu merupakan sesuatu yang lucu bagi Hong San sehingga dia tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh aneh dan lucu. Seekor kelinci betina yang gemuk mengancam seekor harimau! Ha-ha-ha !"

Liu Hwa tidak sabar lagi dan iapun menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada pemuda yang kurang ajar itu. Akan tetapi, dengan amat mudahnya Hong San mengelak dan sekali tangannya bergerak, dia telah menyentuh dada Liu Hwa secara kurang ajar sekali.

"Ihhhh...!" Liu Hwa menjerit dan meloncat kebelakang. Wajahnya menjadi merah karena malu dan marah, akan tetapi iapun terkejut karena tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat lihai. la pun menjadi nekat dan dengan ganas wanita itu memutar pedangnya melakukan penyerangan bertubi-tubi.

Namun, semua serangan itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Hong San. Kalau pemuda ini menghendaki, dalam satu dua jurus saja tentu ia mampu merobohkan Liu Hwa. Akan tetapi watak pemuda ini memang aneh. Ia ingin menjadi seperti seekor kucing mempermainkan tikus. Dia akan membekuk wanita ini setelah mempermainkannya. Ia hanya mengelak, menangkis sambil mencolek dagu, dada, mengelus pipi sambil tertawa, membuat Liu Hwa menjadi semakin marah dan nekat.

Siong Ki melihat ini dengan alis berkerut. Hatinya kecewa. Wanita yang diangkatnya sebagai guru itu ternyata tidak berdaya sama sekali melawan pemuda itu! Mempunyai guru selemah itu sungguh tidak ada untungnya baginya.

"Can Hong San, jangan kurang ajar kau!" tiba-tiba terdengar bentakan dan muncullah Lie Koan Tek yang langsung menyerang dengan rantai baja yang selalu dipakai sebagai ikat pinggang. Pendekar ini menanti Liu Hwa di luar pintu gerbang. Ketika pagi tadi dia tidak melihat Liu Hwa keluar dia lalu mencari-cari, menyusul ke tanah kuburan dan melihat bekas peralatan sembahyang.

Ketika dia tidak menemukan lagi wanita itu di dusun, tahulah dia bahwa Liu Hwa tentu telah pergi meninggalkan dusun, meninggalkan dia melalui jalan lain. Dia cepat melakukan pengejaran dengan hati merasa aneh dan heran. Mengapa Liu Hwa meninggalkan dia? Andaikan tidak ingin bersamanya, setidaknya wanita itu akan memberi tahu kepadanya lebih dulu.

Akhirnya dia menemukan Liu Hwa yang sedang dipermainkan oleh Hong San. Biarpun dia tahu bahwa Hong San amat lihai, melihat wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu dipermainkan, dia menjadi marah dan langsung menyerang dengan rantai bajanya.

Hong San meloncat ke belakang dan mencabut sulingnya. "Ha-ha , Lie Koan Tek! Engkau pengkhianat besar. Engkau hendak melindungi wanita yang kau larikan ini, ya? Bagus, aku memang sedang mencarimu untuk memberi hukuman atas nama Pangeran Cian Bu Ong!"

Lie Koan Tek yang sudah nekat itu tidak menjawab melainkan segera menyerang dengan dahsyatnya. Liu Hwa tidak mau tinggal diam dan iapun membantu pendekar Siauw-lim-pai itu dengan pedangnya. Melihat ini, kembali Hong San tertawa sambil memutar suling untuk menangkis kedua senjata pengeroyoknya.

"Ha ha, si penculik dan yang diculik saling bantu! Bagus, agaknya kalian sudah saling jatuh hati. Ha-ha-ha!"

Dan sulingnya diputar sedemikian rupa sehingga amat merepotkan Lie Koan Tek. Apa lagi Liu Hwa. Setiap kali pedangnya bertemu suling, ia pasti terdorong dan terhuyung. Untung baginya bahwa Hong San tidak ingin membunuh wanita ini, kalau demikian halnya, tentu ia sudah roboh dan tewas. Hong San hendak membunuh Lie Koan Tek akan tetapi ingin menangkap Poa Liu Hwa hidup-hidup.

Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang sudah matang dalam pengalaman. Dia pernah diuji kepandaiannya melawan Hong San dan dia tahu betapa lihainya suling di tangan pemuda itu. Maka pengalamannya ketika dia bertanding melawan Hong San kini dia pergunakan untuk berjaga diri, tidak menuruti kemarahan hatinya sehingga dia dapat bertahan ketika Hong San mulai membalas dengan desakan sulingnya.

Sementara itu, biarpun beberapa kali pedangnya hampir terlepas dari tangannya yang kadang seperti lumpuh kalau pedang itu bertemu suling, Liu Hwa tidak pernah mundur dan dengan nekat ia membantu Lie Koan Tek tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya sendiri. Ia merasa yakin bahwa Lie Koan Tek adalah seorang pendekar tulen, sedangkan pemuda yang bernama Can Hong San ini seorang penjahat yang berbahaya sekali.

Kiranya Can Hong San ini yang memimpin penyerbuan terhadap Hek-houw-pang itu dan kini ia pun ingat. Can Hong San inilah yang telah merobohkan dan membunuh suaminya, Kam Seng Hin! Maka iapun menyerang dengan mati-matian. Namun, kini Hong San juga sudah mencabut pedangnya. Dia mempergunakan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, dan desakan-desakannya membuat Lie Koan Tek makin repot. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring,

"Penjahat dari mana berani mengganggu paman Lie Koan Tek?" Dan muncullah seorang wanita muda yang usianya sekitar duapuluh empat tahun, wajahnya bulat berkulit putih, hidungnya mancung dan matanya tajam. Gerakannya ringan bukan main dan begitu muncul, ia telah menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang Hong San dengan cepat dan kuat!

Hong San terkejut sekali. Dia menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membuat pedang kiri gadis itu patah atau terpental. Akan tetapi, tangkisannya luput dan tubuh gadis itu sudah meloncat ke atas, bagaikan seekor burung rajawali ia sudah menyerang lagi dengan tubuh menukik ke arah Hong San!

"Trang! Tranggg...!"

Hong San menangkis dan terpaksa melangkah ke belakang. Diam-diam gadis itupun terkejut karena tangkisan pemuda tampan itu membuat kedua tangannya terasa panas dan tergetar hebat. Mengertilah ia mengapa pamannya, Lie Koan Tek pendekar Siauw-lim pai itu tadi terdesak hebat, iapun turun dan menyerang lagi dengan dahsyatnya, membantu Lie Koan Tek dan Liu Hwa yang juga sudah menyerang lagi.

Lie Koan Tek terheran-heran, tidak mengenal gadis yang menyebutnya paman itu. Akan tetapi dia tidak sempat banyak berpikir, hanya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk bersama gadis itu dan Liu Hwa mengeroyok Hong San. Ternyata kepandaian gadis yang baru datang itu hebat pula, bahkan tidak kalah dahsyatnya dibandingkan kepandaian Lie Koan Tek sendiri.

Biarpun belum tentu kalau dikeroyok tiga dia akan kalah, Hong San merasa tidak ada gunanya untuk berkelahi terus. Gadis itu cukup lihai, dan kalau mereka itu nekat, diapun mungkin akan terluka. Maka, setelah mendapatkan kesempatan, diapun meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri dengan cepat. Gadis itu hendak mengejar sambil berseru,

"Jangan lari!" akan tetapi Lie Koan Tek cepat mencegahnya.

"Nona, jangan kejar dia. Dia berbahaya!"

Gadis itu tidak jadi mengejar. Iapun agaknya tahu bahwa seorang diri saja, ia bukanlah lawan pemuda tampan yang lihai tadi, maka iapun berhenti dan kini menghadap Lie Koan Tek sambil memberi hormat.

"Paman, bertahun-tahun saya mencari paman tanpa hasil. Sekarang, secara kebetulan kita dapat bertemu di sini!" katanya dengan nada suara girang.

"Nanti dulu, maafkan aku, nona. Akan tetapi, siapakah engkau?"

Gadis itu memandang aneh. "Paman Lie Koan Tek lupa kepada saya? Saya Bi Lan, paman, Kwa Bi Lan."

"Bi Lan...? Ah, Bi Lan, kiranya engkau ini?" Lie Koan Tek memandang dengan wajah berseri dan girang. "Tentu saja aku lupa. Engkau sudah begini dewasa dan ilmu kepandaianmu hebat sekali."

"Aih, paman terlalu memujiku. Siapakah enci ini, paman?" tanya Bi Lan sambil menunjuk kepada Liu Hwa.

"Ia? Ah, ia ini adalah isteri mendiang ketua Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung. Panjang ceritanya, Bi Lan, dan... eh, engkau mencari siapakah, nyonya?" Koan Tek mengalihkan pembicaraannya kepada Liu Hwa yang nampak kebingungan dan mencari-cari dengan pandang matanya.

"Saya mencari Siong Ki! Di mana dia? Siong Ki...! Siong Ki, di mana engkau...?"

"Siapa Siong Ki?" tanya Koan Tek heran.

"Dia muridku, anak laki-laki berusia enam tahun, putera dari suheng suamiku yang juga menjadi korban pembunuhan..."

Liu Hwa mencari-cari dan kini dibantu oleh Koan Tek dan diikuti pula oleh Bi Lan. Akan tetapi sia-sia saja usaha pencarian mereka. Siong Ki lenyap dan tidak meninggalkan jejak. Melihat Liu Hwa bingung dan khawatir, Koan Tek juga ikut merasa khawatir.

"Can Hong San itu jahat dan licik bukan main. Jangan-jangan dia yang menculik anak itu dan membawanya lari."

Liu Hwa mengerutkan alisnya mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya. "Kurasa tidak begitu. Agaknya anak itu memang... sengaja hendak meninggalkan saya, taihiap. Tadi, ketika pemuda itu muncul, sebelum tai-hiap datang pemuda itu menyebut-nyebut nama tai-hiap sebagai pembunuh ayah Siong Ki. Oleh karena itu,ketika tai-hiap datang dan membantuku, agaknya dia lalu diam-diam pergi meninggalkan aku. Dia anak yang cerdik sekali, tai-hiap. Aku bertemu dengan dia di depan makam ayahnya dalam keadaan pingsan, lalu kuajak dia sebagai muridku."

"Hemmm..." Lie Koan Tek menggumam marah kepada Hong San. "Hong San memang dapat melakukan kejahatan apa saja. Biar nanti aku yang membantumu mencari anak itu, nyonya. Sekarang perkenalkan, ini keponakanku bernama Bi Lan, puteri dari enciku. Bi Lan, ini adalah nyonya..."

"Namaku Poa Liu Hwa, adik Bi Lan. Terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga pemuda yang jahat sekali itu dapat diusir," kata Liu Hwa.

"Aih, enci jangan terlalu sungkan. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat enci dan paman didesak, maka aku tentu saja segera membantu. Masih untung ada paman dan enci sendiri, kalau aku seorang diri harus melawannya, kurasa aku tidak akan mampu menang."

"Akan tetapi kulihat ilmu kepandaianmu sudah maju pesat, Bi Lan, dan bukan sepenuhnya ilmu silat Siauw-lim-pai. Oya, bagaimana dengan ibumu? Sekarang dimanakah ia tinggal?"

Ditanya tentang ibunya, Bi Lan menarik napas panjang. "Aih. paman. Ibu sudah meninggal lima tahun lebih yang lalu."

"Ah, kasihan! Engkau menjadi yatim piatu..."

"Karena kematian ibu itulah aku lalu pergi mencarimu, paman. Aku hidup sebatangkara setelah ibu meninggal, dan satu-satunya keluarga hanyalah paman. Akan tetapi, sia-sia aku mencari paman..."

"Tentu saja. Aku ditangkap pemerintah dan dipenjarakan, bagaimana engkau dapat menemukan aku? Lalu, bagaimana engkau sampai lewat di sini? Ceritakanlah pengalamanmu, Bi Lan. Setelah itu, baru nanti kuceritakan semua pengalamanku dan tentang nyonya ini."

Mereka lalu memilih tempat yang teduh di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu. Mereka duduk di atas batu dan Bi Lan menceritakan pengalamannya. Kwa Bi Lan adalah seorang gadis Siauw-lim-pai pula, puteri tunggal dari kakak perempuan Lie Koan Tek. Ibunya seorang janda karena ayahnya sejak ia kecil telah meninggal dunia. Ketika ibunya meninggal dunia, Bi Lan menjadi sebatangkara.

Ia lalu meninggalkan rumahnya, bahkan menjual semua miliknya dan mulai merantau mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang ada. Namun, segala jerih payahnya sia-sia belaka karena ia tidak pernah berhasil menemukan pamannya yang menjadi buruan pemerintah karena Siauw-lim-pai dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Sui yang ketika itu belum jatuh.

"Setelah hampir putus-asa mencarimu, paman, pada suatu hari aku hampir celaka menghadapi segerombolan perampok. Untung ada bintang penolong, yang kemudian menjadi guruku. Dia adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki."

"Ah, dia seorang pendekar besar!" kata Lie Koan Tek. "Namanya terkenal sekali di dunia persilatan."

"Aku menjadi muridnya, bahkan kemudian aku dijodohkan oleh suhu kepada seorang muridnya yang ketika itu belum pernah kujumpai karena murid itu sudah turun gunung. Karena suhu amat baik kepadaku, seolah menjadi pengganti orang tuaku, maka akupun menurut saja, yakin bahwa suhu tentu telah mengatur sebaiknya untuk diriku. Akan tetapi..."

"Bagaimana selanjutnya, Bi Lan?" tanya Koan Tek yang melihat wajah gadis itu berubah muram.

"Ternyata kemudian bahwa suhengku yang menjadi calon suamiku itu, yang ketika itu sudah menyetujui, diluar tahu suhu telah menikah dengan seorang wanita lain. Mendengar berita itu kemudian, suhu menjadi marah sekali, juga menjadi sakit hati. Akan tetapi dia tidak mampu berbuat sesuatu, karena dia maklum bahwa ketika itu kepandaian murid pertama itu sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Agaknya, kalau tidak ada aku, suhu tentu telah membunuh diri. Dia merasa dikhianati, merasa tidak dipandang dan dihina oleh muridnya sendiri yang amat disayang dan dibanggakan. Aku merasa kasihan sekali, aku menangis dan menderita batin bersama suhu. Sejak mudanya suhu sudah banyak menderita karena ditinggal isterinya yang tercinta.! Suhu tidak mempunyai anak, tidak mempunyai siapa-siapa. Akhirnya... sudah kehendak Thian agaknya, kami... maksudku, suhu dan aku... kami menikah dan menjadi suami isteri."

Gadis itu menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka. Koan Tek memandang heran, akan tetapi tidak sampai hati untuk memberi komentar. Lima tahun yang lalu, pikirnya. Tentu keponakannya ini baru berusia sembilan belas tahun, dan dia mendengar bahwa Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah mendekati tujuh puluh tahun, dan ketika bertemu dengan keponakannya tentu usianya sudah enam puluh tahun lebih!

Liu Hwa yang juga ikut mendengarkan, tidak merasakan sesuatu yang ganjil karena ia hanya pernah mendengar nama Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang datuk persilatan yang lihai. Ketika akhirnya Bi Lan mengangkat mukanya, Koan Tek telah dapat menguasai hatinya dan wajahnya tidak membayangkan sesuatu. Legalah hati Bi Lan dan iapun melanjutkan dengan suara yang bernada sedih.

"Setelah kami menikah, aku merasa hidupku berbahagia sekali, paman. Dia amat baik kepadaku, dan dia kuanggap sebagai guru, orang tua, dan suami yang amat kucinta. Akan tetapi, agaknya luka yang dideritanya karena ulah muridnya yang mengingkari janji itu tidak pernah dapat diobati. Dia tetap saja menderita, dan akhirnya, setelah menikah denganku selama dua tahun lebih, guruku dan suamiku itu meninggal dunia karena sakit dalam hatinya." Bi Lan berhenti dan biarpun ia tidak menangis namun kedua matanya basah dan punggung tangannya mengusap beberapa butir air mata.

"Ah. Rajawali Sakti itu telah meninggal dunia?" Lie Koan Tek berseru perlahan dan memandang kepada keponakannya dengan penuh perasaan iba.

Tiba-tiba wajah yang menunduk itu terangkat dan sepasang mata Bi Lan mengeluarkan sinar mencorong, dan kedua tangannya dikepal. "Ini semua gara-gara Si Han Beng! Aku akan pergi mencarinya dan dia harus membayar kematian suamiku, guruku dan orang tuaku itu dengan nyawa!"

"Bi Lan!" Koan Tek berseru kaget. "Apa maksudmu? Si Han Beng? Kau maksudkan Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)? Ada apa pula dengan dia?!"

"Dialah suhengku itu! Dialah murid suhu dan suamiku itu!"

"Akan tetapi... Huang-ho Sin-liong adalah seorang pendekar sakti yang ilmu kepandaiannya amat tinggi!"

"Aku tidak perduli, dan tidak takut. Aku rela mati di tangannya untuk membela kematian suamiku juga guruku!" kata Bi Lan dan kini sikapnya amat keras.

"Dan dia terkenal sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan. Bi Lan, ingatlah dan jangan menurutkan perasaan!" kata pula pamannya.

"Hemm, paman mengira bahwa aku sakit hati karena dia membatalkan ikatan perjodohan itu? Sama sekali tidak, paman! Ketika ikatan perjodohan itu dilakukan oleh suhu, aku masih belum mengenal Si Han Beng. Aku tidak atau belum mempunyai perasaan cinta kepadanya. Apalagi setelah aku menjadi isteri suhu. Cintaku hanya untuk suamiku seorang! Dan suamiku yang bertubuh sehat dan kuat itu tentu belum mati kalau hatinya tidak dirusak oleh kemurtadan Si Han Beng!"

"Bi Lan, bersabarlah, ingatlah bahwa engkau hanya terdorong oleh perasaan dendam yang timbul dari kedukaan. Kematian setiap manusia berada di tangan Thian, engkau tidak boleh mencari Si Han Beng untuk membalas dendam kematian gurumu... eh, suamimu!"

"Tidak, paman. Aku harus pergi mencarinya dan mengadu nyawa dengannya. Aku sudah bersumpah di depan makam suamiku!" Wanita muda itu meloncat dan memandang kepada pamannya dengan sinar mata mencorong. "Paman atau siapapun juga tidak berhak melarangku. Selamat tinggal, paman!" Dan iapun meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

"Bi Lan...!" Lie Koan Tek hendak mengejar.

"Tidak ada gunanya dikejar. Ia takkan mau membatalkan niatnya," kata Liu Hwa dan Koan Tek tahu akan hal ini maka diapun membatalkan niatnya untuk mengejar, duduk kembali di atas batu di depan Liu Hwa dan menghela napas panjang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bi Lan memiliki kekerasan hati yang luar biasa. Aku dapat melihat pada pandang matanya," kata pula Liu Hwa yang merasa kasihan kepada penolongnya itu.

Kembali Koan Tek menghela napas panjang. "Seingatku, Bi Lan adalah seorang gadis yang lembut hati. Aku tahu, perubahan pada dirinya itu pertama karena kedukaan yang mendalam, kedua karena agaknya watak suaminya telah menular kepadanya. Aku mendengar bahwa Sin tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati baja, keras dan sukar diluluhkan. Aih, apa yang akan terjadi nanti kalau sampai ia bertemu dengan Huang-ho Sin-liong?"

"Tai-hiap, menurut apa yang kudengar, pendekar sakti Si Han Beng adalah seorang pendekar yang berhati budiman dan lembut. Siapa tahu dia akan bisa menundukkan kekerasan hati Bi Lan sehingga tidak perlu terjadi perkelahian di antara mereka."

"Mudah-mudahan begitu. Sekarang kita bicara tentang dirimu sendiri, nyonya Kam..."

"Tai-hiap, harap jangan menyebutku nyonya Kam. Suamiku meninggal dunia dan sebutan itu hanya mengingatkan aku kepadanya. Namaku Poa Liu Hwa dan tai-hiap boleh menyebut namaku saja."

Lie Koan Tek menahan senyumnya, senyum gembira. "Baiklah, akan tetapi engkaupun jangan menyebutku tai-hiap. Sebut saja namaku, Lie Koan Tek."

Liu Hwa memandang wajah pendekar itu dengan hati terharu. "Engkau penolongku yang budiman dan di dekatmu aku merasa aman seolah berada di dekat seorang kakak yang baik. Biarlah kusebut engkau Lie-toako (kakak Lie)..."

"Baik sekali, adik Liu Hwa. Nah, sekarang, katakan. Kenapa engkau meninggalkan dusun Ta-bun-cung dengan mengambil jalan lain dan tidak memberitahu kepadaku yang menantimu di luar pintu gerbang?"

Liu Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah. Ia merasa malu sekali. Ia menghindarkan diri dari pendekar ini sehingga ia bertemu orang jahat dan kembali pendekar ini yang menyelamatkannya, bahkan hampir berkorban nyawa kalau tidak muncul keponakan pendekar ini.

"Tai-hiap... eh, toako. Sesungguhnya, aku sengaja mengambil jalan ini untuk menghindarkan pertemuan denganmu... maafkan aku, toako."

Lie Koan Tek mengerutkan alisnya. "Ehh? Kenapa, Hwa-moi (adik Hwa)?"

Makin merah wajah Liu Hwa mendengar sebutan "adik Hwa" yang demikian lembut. "Maaf, toako. Aku merasa betapa aku telah banyak merepotkanmu, bagaimana mungkin aku berani membuat toako menjadi semakin sibuk untuk melindungiku terus? Bagaimana aku akan mampu membalas budimu yang bertumpuk-tumpuk? Siapa tahu, disini aku bertemu dengan penjahat keji itu dan kembali engkau yang telah menolongku. Toako, maafkan aku..."

Lie Koan Tek menarik napas panjang. Dia dapat mengerti dan sikap itu bahkan membuat nyonya muda ini menjadi semakin terpuji. "Hwa-moi, kenapa engkau mempunyai anggapan bahwa engkau merepotkan aku? Dan mengapa pula tidak mungkin aku menjadi pelindungmu selamanya? Aku sanggup melindungimu selamanya, Hwa-moi."

Pendekar itu menghentikan ucapannya dengan kaget, karena tanpa disengaja dia telah membongkar rahasia hatinya sendiri. Wanita itupun dapat merasakan apa yang tersirat dalam kata-kata itu, jantungnya berdebar keras, dan ia merasa berdosa terhadap suaminya. Baru saja beberapa hari, belum sebulan, ia ditinggal mati suaminya dan sekarang sudah ada pria yang menyatakan perasaan tertarik kepadanya! Ia juga terkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pendekar perkasa yang dikagumi itu diam-diam ternyata mengandung perasaan cinta kepadanya.

"Taihiap...?" Ia berkata lirih sambil terbelalak, lupa lagi akan sebutan kakak.

"Aku... aku tidak bermaksud buruk, Hwa-moi. Maafkan kata-kataku kalau mengejutkan hatimu. Sudahlah, aku menerima alasanmu tadi. Akan tetapi, bukankah engkau katakan bahwa engkau hendak mencari anakmu? Tadinya kusangka Siong Ki itu anak yang kau cari-cari."

Ucapan ini mengingatkan kembali Liu Hwa kepada anaknya dan kepada Siong Ki sehingga rasa kaget dan sungkannya terusir. "Siong Ki bukan anakku, toako. Sudah kukatakan tadi, aku bertemu dengannya di depan makam ayahnya. Ayahnya adalah The Ci Kok, suheng dari mendiang suamiku. Melihat dia sebatang kara, yatim piatu, maka aku ingin mengajaknya pergi dan mengakui sebagai murid. Adapun anakku, Cin Cin, seorang anak perempuan, telah diajak pergi oleh Lai Kun, sute dari suamiku, atas pesan kakek Coa Song."

"Dibawa pergi? Kemana, Hwa-moi?"

"Ke dusun Hong-cun di tepi Sungai Huang-ho untuk diserahkan kepada Huang ho Sin-liong Si Han Beng, disertai surat dari kakek Coa Song agar Cin Cin dapat diterima sebagai murid pendekar itu."

"Ah, kalau begitu bagus sekali. Anakmu tentu akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat kelak kalau ia dapat menjadi murid Huang-ho Sin-liong!" seru Lie Koan Tek dengan girang. "Lalu, apa, kehendakmu sekarang, Hwa-moi. Tadinya bersama Siong Ki, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Aku hendak menyusul Cin Cin."

"Apa? Engkau hendak minta anakmu agar tidak menjadi murid pendekar sakti itu?"

"Bukan begitu, toako. Akupun senang sekali mendengar bahwa Cin Cin diantar paman gurunya untuk menjadi murid Si Tai-hiap. Akan tetapi... sekarang aku hanya mempunyai ia seorang, tai-hiap. Bagaimana aku dapat berpisah darinya? Aku hanya akan menjenguknya, dan aku sendiri yang akan menyerahkan dan menitipkan anakku kepada keluarga Si Tai-hiap, kemudian aku akan tinggal di dusun itu, bekerja apa saja di sana, pokoknya aku tidak jauh dari anakku dan setiap waktu dapat menengoknya..."

Lie Koan Tek mengangguk-angguk. "Memang kukira sebaiknya begitu, Hwa-moi. Nah, karena tempat tinggal Huang-ho Sin-liong amat jauh dari sini, dan kini perjalanan amat tidak aman dan banyak orang jabat, mari kuantar engkau sampai dapat bertemu dengan puterimu."

Biarpun hatinya merasa sungkan sekali, akan tetapi terpaksa Liu Hwa menyambut penawaran itu dengan hati girang. Kalau ia melakukan perjalanan menyusul puterinya bersama pendekar ini, ia akan merasa aman, dan juga tidak akan sesat di jalan.

"Terima kasih. Lie-toako. Engkau begini baik kepadaku, aku tidak mungkin dapat membalas semua budi kebaikanmu. Biarlah Thian yang akan membalasnya, toako. Biarlah kelak dalam penjelmaan yang lain aku akan menjadi pelayanmu," katanya terharu.

"Aih, Hwa-moi, lupakan saja semua itu. Aku tidak mengharapkan balasan, juga tidak merasa menolongmu. Memang akupun ingin sekali bertemu dengan pendekar sakti yang kukagumi itu. Mari kita berangkat."

Setelah mereka berangkat, baru Liu Hwa teringat bahwa sekantung uang yang tadinya ia terima dari Siong Ki, ia titipkan kepada anak itu dan ketika pergi, agaknya anak itu membawa pergi pula uang yang dia berikan kepada subonya. Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan pakaianpun hanya yang menempel pada tubuhnya! Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan bukan main. Apalagi setelah mereka melewati sebuah kota, Koan Tek yang berpengalaman dan bijaksana itu, tanpa bertanya sudah mengetahui keadaannya dan pendekar itu mengajaknya ke toko dan membelikan beberapa potong pakaian untuknya!

Hampir Liu Hwa menangis saking girang dan terharunya mendapatkan bekal ganti pakaian yang amat dibutuhkannya itu. Dan disepanjang perjalanan, seperti telah diduganya, Lie Koan Tek selalu berlaku sopan dan lembut. Setiap kali menginap di rumah penginapan, pendekar ini selalu menyewa dua buah kamar yang berpisah, walaupun berdekatan. Tak pernah sedikitpun pendekar Siauw-lim-pai itu memperlihatkan sikap kurang ajar. Kalaupun ada tanda-tanda bahwa pendekar itu tertarik kepadanya, maka hal itu hanya nampak pada pandang matanya yang kadang seperti orang terpesona, dan pada sikapnya yang lemah lembut.

Diam-diam, sebagai seorang wanita yang berperasaan peka, Liu Hwa mengerti bahwa pendekar itu jatuh hati kepadanya, atau setidaknya menaruh perhatian besar sekali kepadanya. Hal ini membuat ia merasa terharu sekali, akan tetapi juga bingung dan selagi tidur sendiri di waktu malam, ia suka menangis dan meratap kepada mendiang suaminya. Ia seorang wanita yang cantik dan sehat, usianya baru tigapuluh tahun. Mungkinkah ia akan menyiksa diri, menjanda selama hidupnya?

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

"Susiok, katanya susiok hendak membawaku kepada ibu. Mana ibu? Kenapa kita belum juga tiba di tempat ibu? Kita sudah melakukan perjalanan selama berhari-hari! Paman, jangan bohongi aku! Mana ibu, susiok (paman guru)?"

Anak itu kini mulai merengek dan hampir menangis. Ia seorang anak perempuan berusia lima tahun yang manis. Akan tetapi pada saat itu ia nampak marah, sedih dan juga kecewa. Ia adalah Kam Cin yang diajak Lai Kun meninggalkan dusun Ta-bun-cung, memenuhi pesan kakek Coa Song. Amat sukar membujuk Kam Cin untuk ikut bersamanya, akan tetapi Lai Kun mempunyai akal. Setelah ia mengatakan bahwa dia mengajak anak itu untuk mencari dan menyusul ibunya yang menghilang pada malam terjadinya penyerbuan penjahat itu, tentu saja Kam Cin menjadi girang sekali dan seketika ia menyatakan setuju.

Kini Lai Kun menghadapi anak yang mulai rewel dengan alis berkerut. Sebagai sute dari ayah anak itu, mendiang Kam Seng Hin, dia mengenal benar watak Kam Cin. Seorang anak yang dapat menjadi manis sekali, akan tetapi kalau sudah marah, juga menjadi anak yang rewel dan sulit diatur! Mereka sudah melakukan perjalanan selama sepuluh hari, dan mulai pada hari kelima saja Kam Cin sudah selalu merengek dan marah kepadanya.

"Sabarlah, Cin Cin. Tempat ibumu jauh sekali dan kita belum sampai, terpaksa bermalam di rumah penginapan ini. Mari kita makan. Lihat, masakan yang kupesan ini enak sekali, bukan? Mari kita makan, lalu tidur dan besok pagi-pagi kita lanjutkan perjalanan!" Kata pria itu dengan suara membujuk sambil menyodorkan mangkok dan sumpit ke arah anak yang sedang marah itu.

Dia seorang pria berusia empat puluh tahun, kurus jangkung dengan hidung agak besar dan mata kecil. Dia adalah Lai Kun, murid Hek-houw pang, sute mendiang Kam Seng Hin. Karena diapun masih membujang, dan tidak mempunyai keluarga lagi, maka setelah terjadi penyerbuan para penjahat yang membasmi Hek-houw-pang itu, Lai Kun tentu saja tidak betah lagi tinggal di Ta-bun-cung. Maka, ketika menerima tugas dari kakek Coa Song, untuk mengantar murid keponakan itu kepada Huang-ho Sin-liong di dusun Hong-cun, dia merasa gembira sekali.

Pertama, dia akan meninggalkan dusun Ta-bun-cung yang kini nampak menyedihkan itu, apa lagi Hek-houw-pang sudah dibubarkan, dan kedua dia akan bertemu dengan pendekar sakti Si Han Beng yang sudah lama didengar nama besarnya dan dikaguminya itu. Tak disangkanya, baru juga setengah perjalanan, Cin Cin sudah mulai rewel dan kini malah mogok makan.

"Tidak, aku tidak lapar! Susiok makan saja sendiri!" kata Cin Cin sambil mendorong kembali mangkok nasi itu. "Aku mau tidur!" Anak itu lalu turun dari bangku dan lari ke pembaringan, langsung saja ia meloncat ke atas pembaringan, menghadap ke dinding.

Lai Kun mengerutkan alisnya memandang ke arah murid keponakan itu dan menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah beberapa hari ini dia selalu jengkel menghadapi Cin Cin dan mulai dia menyesali tugasnya yang ternyata tidak menyenangkan ini. Beberapa kali bahkan dia sudah membentak Cin Cin kalau terlalu rewel. Akan tetapi anak ini memang keras dan sukar diatur. Dihadapi dengan sikap halus, tetap marah. Kalau dikasari, bertambah marah! Sulit memang! Dia mengangkat kedua pundaknya dan melanjutkan makan sendiri.

Sejak siang tadi, Cin Cin tidak mau makan. Hanya pagi tadi saja makan bubur semangkuk. Anak itu memang bandelnya bukan kepalang. Tiba-tiba Cin Cin membalik sedikit dan menengok kepadanya. Lai Kun sudah merasa girang karena mengira anak itu mulai kelaparan dan mau mengubah sikapnya, mau makan. Akan tetapi Cin Cin yang kedua matanya merah karena tangis yang ditahan-tahan itu berkata ketus.

"Susiok, kalau besok kita belum tiba di tempat ibu. Jelas bahwa engkau berbohong dan aku tidak mau lagi melakukan perjalanan bersamamu!"

Makin mendalam kerut di antara alis Lai Kun. Hatinya mulai panas oleh kejengkelan melihat sikap menantang anak itu. "Hemm. lalu apa yang akan kau lakukan kalau engkau tidak mau melakukan perjalanan bersamaku?" tanyanya menahan marah.

"Tidak perlu susiok tahu! Pendeknya, aku akan mencari sendiri ibuku!"

Lai Kun menggebrak meja di depannya sehingga mangkok piring berdentingan. "Anak bandel! Dengar kau baik-baik. Kau kira aku kesenangan mengantarmu? Aku hanya mentaati perintah kakek Coa Song untuk membawamu kepada Huang-ho Sin-liong Si Han Beng, kau tahu? Kita sedang melakukan perjalanan ke sana! Dan engkau harus mentaati pesan kakek Coa Song!"

Cin Cin melompat turun dari pembaringan, berdiri memandang wajah Lai Kun dengan marah. "Nah, benar saja! Susiok telah bohong kepadaku! Aku tidak mau pergi ke manapun! Aku hendak mencari ibuku. Bawa aku kembali ke Ta-bun-cung, aku mau mencari ibuku!"

Melihat anak itu berteriak-teriak marah, hampir saja Lai Kun menamparnya. Akan tetapi dia teringat dan menahan kemarahannya. Mukanya merah sekali dan diapun mengangguk. "Baiklah, besok pagi kita pulang!" katanya singkat.

Agaknya Cin Cin juga puas dengan keputusan itu dan iapun kini mau duduk menghadapi makanan di atas meja. Ia mengambil nasi dan sayur, mulai makan. Agaknya timbul semangat anak itu ketika akan diajak pulang! Akan tetapi Lai Kun sudah marah sekali maka diapun mendiamkan saja. Dia merasa bingung. Bagaimana dia dapat mengajak anak itu pulang ke Ta-bun-cung setelah melakukan perjalanan setengahnya menuju ke dusun Hong Cun? Dan dia tidak ingin pulang ke dusun Ta-bun-cung!

Sehabis makan dan setelah pelayan menyingkirkan mangkok piring, dia hanya berkata singkat kepada Cin Cin. "Kau tidurlah, aku hendak jalan-jalan dulu. Besok pagi-pagi kita berangkat!"

"Pulang?" Cin Cin menegas.

"Ya, pulang!" jawab Lai Kun singkat, lalu dia keluar dari kamar, menutupkan daun pintu kamar itu dari luar. Dengan hati mengkal dia lalu berjalan-jalan di sepanjang jalan raya kota itu.

Kota Ji-goan merupakan kota yang cukup besar, terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho, sedangkan Lok-yang, kota raja, terletak tidak terlalu jauh dari pantai selatan Sungai Kuning itu. Bahkan penyeberangan sungai dari utara ke selatan dan sebaliknya berada di kota Ji-goan, maka tentu saja kota yang menjadi pusat lalu-lintas ke kota raja itu cukup besar, mempunyai banyak losmen dan rumah makan.

Sudah lazim bahwa jika sebuah kota dikunjungi banyak tamu, maka selain perdagangan menjadi ramai, juga usaha hiburan berkembang biak dengan cepat sekali. Para tamu itu membutuhkan hiburan dan mereka berani mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesenangan. Apa lagi mereka adalah pedagang-pedagang yang mempunyai uang. Setelah memperoleh keuntungan, mereka tidak sayang menghamburkan sebagian kecil keuntungannya dirumah-rumah judi dan rumah pelesir.

Karena dia tidak mengenal jalan, tanpa disadari Lai Kun memasuki lorong yang terkenal di kota itu sebagai lorong pusat tempat hiburan. Dia melihat rumah-rumah judi akan tetapi tidak tertarik. Dia sedang mengkal, sedang marah karena kerewelan Cin Cin. Ketika melihat sebuah rumah minum yang dihias indah, dia tertarik. Dipesannya arak dan kueh kering, lalu diapun minum untuk menghilangkan rasa jengkelnya.

Kehadirannya sejak tadi diikuti sepasang mata yang jeli, mata seorang wanita muda yang wajahnya dirias cantik, sikapnya genit dan wanita itu memang seorang pelacur yang sedang mengintai korban di rumah makan itu. Melihat Lai Kun minum-minum seorang diri, dan nampak jelas bahwa pria ini adalah orang luar kota, pelacur itu melihat,seorang calon korban yang akan menguntungkan dirinya. Ia menanti sampai Lai Kun menghabiskan seguci kecil arak dan kepalanya sudah agak bergoyang-goyang. Ketika Lai Kun minta tambah arak, pelacur itu menghadang pelayan yang datang membawakan arak.

"Biar aku yang mengantarkan kepadanya," bisik pelacur yang dikenal dengan nama Sui Su itu.

Pelayan itu tersenyum. Kalau pelacur itu berhasil, dia pasti akan menerima imbalannya nanti. Diberikannya guci arak itu kepada Sui Su yang dengan langkah gontai, bibir tersenyum-senyum dan sikap memikat membawa guci arak itu kepada meja Lai Kun.

"Silakan, tuan. Ini tambahan araknya," katanya dengan suara merdu.

Lai Kun memandang kepadanya dengan alis berkerut. "Eh? Siapakah nona...?"

Sui Su tersenyum sehingga nampak giginya berkilat di balik sepasang bibir yang merah, akan tetapi dengan luwes ia menutupi mulutnya dengan saputangan sutera. "Nama saya Sui Su, tuan dan saya menjadi pelayan tuan untuk malam ini.." Matanya mengerling tajam dan penuh daya pikat.

Lai Kun sudah setengah mabok. Akan tetapi dia bukan anak kecil. Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun dan biarpun sudah setengah mabok, namun dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang pelacur yang memiliki wajah cukup cantik dan bentuk tubuh yang menggiurkan.

"Hem, maaf, nona. Aku tidak ingin melacur malam ini..." katanya akan tetapi dia tidak menolak ketika wanita itu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan araknya.

Sui Su pura-pura marah. "Aih, jangan menghina, tuan. Saya bukan pelacur! Saya memang suka menghibur tamu yang kesepian dan yang sedang menderita sedih, akan tetapi saya bukan pelacur murahan!"

Lai Kun tersenyum sedikit dan minum araknya. Bukan pelacur murahan tentu pelacur mahalan, pikirnya. Akan tetapi dia memang sedang jengkel, membutuhkan hiburan dan agaknya wanita ini amat ramah sikapnya, menyenangkan kalau diajak bercakap-cakap. "Duduklah, nona. Mungkin aku membutuhkan teman bercakap-cakap malam ini."

Wanita itu duduk di bangku, dekat dengannya dan melayaninya makan kue kering dan minum arak. Dan memang benar dugaan Lai Kun, wanita itu amat pandai bicara, pandai bercerita dan pengetahuan umumnya juga banyak. Pandai bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota Ji-goan. Karena terpikat oleh gaya bicara Sui Su yang ramah, Lai Kun mempergunakan kesempatan itu untuk bersenang-senang.

Dari kakek Coa Song, dia menerima sekantung emas yang kelak harus diserahkan kepada pendekar sakti Si Han Beng, sebagai biaya hidup Cin Cin kalau menjadi murid pendekar itu agar jangan memberatkan penanggungan keluarga Si Naga Sakti Sungai Kuning. Akan tetapi kemurungan dan kemarahannya terhadap Cin Cin membuat murid Hek-houw-pang ini lupa diri, bahkan dia agaknya seperti sengaja hendak menghamburkan uang itu untuk menumpahkan kemarahannya terhadap Cin Cin.

Dan Sui Su memang seorang wanita yang berpengalaman dan cerdik. Dari cara Lai Kun yang sudah setengah mabok itu membayar harga makanan dan minuman secara royal, iapun gembira sekali dan tahu bahwa dugaannya benar. Korbannya ini memang golongan "kakap", maka iapun memperhebat usahanya untuk menjatuhkan hati Lai-kun dan akhirnya ia berhasil membujuk Lai Kun untuk mengantarnya pulang!

Dengan senang hati Lai Kun mengantarnya, dan ternyata bahwa tempat tinggal Sui Su adalah sebuah rumah pelesir yang cukup terkenal di kota itu, yaitu rumah pelesir Ang-hwa (Bunga Merah). Karena sudah mabok arak dan mabok kecantikan dan rayuan maut Sui Su, Lai Kun tidak memperdulikan banyaknya tamu dan para wanita muda yang cantik yang memenuhi ruangan tamu yang luas itu. Juga dia acuh saja ketika seorang wanita berusia lima puluh tahun yang bertubuh gendut menyambutnya dengan ramah sekali. Samar-samar dia mendengar bahwa Sui Su memperkenalkan wanita itu sebagai Cia Ma, yang diperkenalkan sebagai ibu angkatnya!

Tentu saja Cia Ma ini adalah sang mucikari, pemilik dan pengurus rumah pelesir itu yang tersenyum-senyum melihat Sui Su mendapatkan seorang korban. Ini berarti rejeki baginya, tentu saja!

Lai Kun, biarpun usianya sudah empat puluh tahun, pengalamannya dalam pergaulan dengan wanita tidaklah terlalu banyak, maka mudah saja dia jatuh oleh Sui Su yang pandai dan berpengalaman itu. Untuk beberapa jam lamanya, dia lupa diri dan dapat mereguk kesenangan, merasa terhibur dan lupa akan segala kemurungan hatinya tadi.

Namun, setelah semua itu lewat, dia teringat lagi kepada Cin Cin yang ditinggalkannya di rumah penginapan, teringat betapa besok pagi-pagi anak itu tentu akan menagih janji dan akan marah-marah lagi. Maka, teringat akan ini, Lai Kun kembali menjadi murung, bangkit dan duduk di tepi pembaringan, tidak lagi menengok kepada Sui Su yang baru saja melayaninya dan membuat dia merasa senang dan terhibur. Melihat ini, Sui Su memandang penuh perhatian, ikut bangkit dan merangkul dengan sikap manja.

"Lai-toako (kakak Lai), engkau kenapakah? Mengapa engkau tiba-tiba saja menjadi murung? Sejak engkau minum seorang diri di rumah makan, aku sudah melihat engkau murung dan kelihatan marah. Tadi engkau dapat melupakan semua kemurunganmu, akan tetapi sekarang kembali engkau murung. Toako yang baik, apakah yang menyebabkan engkau murung? Ceritakan kepada Sui Su, pasti aku akan dapat menghiburmu!"

Lai Kun menghela napas panjang. Teringat akan tugasnya, teringat akan kerewelan Cin Cin, dia merasa penasaran dan jengkel sekali dan dia memang memerlukan seseorang untuk menumpahkan semua rasa penasaran di hatinya. Maka, dia lalu menceritakan semua itu kepada Sui Su. Dianggapnya bahwa Sui Su adalah seorang wanita yang baik sekali, yang amat mencintanya!

Demikianlah bodohnya pria kalau sudah berhadapan dengan wanita yang pandai mengambil hatinya. Betapapun gagahnya seorang pria, sekali berhadapan dengan wanita yang mampu menjatuhkan hatinya, dia akan bertekuk lutut dan menyerah!

Lai Kun tidak menyembunyikan sesuatu, mengharapkan nasihat dari wanita itu. Diceritakannya tentang Hek-houw-pang yang dibasmi penjahat-penjahat lihai; tentang kematian para pimpinan Hek-houw pang, kemudian tentang tugasnya mengajak Cin Cin pergi ke Hong-cun dan tentang kerewelan Cin Cin yang membuat dia pusing sekali. Setelah Lai Kun mengakhiri ceritanya, Sui Su merangkulnya dan tersenyum, akan tetapi suaranya terdengar sungguh-sungguh ketika ia bertanya,

"Lai-toako, apakah anak perempuan itu cantik? Dan berapa usianya?"

"Usianya baru lima tahun, akan tetapi ia memang seorang anak yang cantik mungil, akan tetapi keras hati dan keras kepala seperti setan!" Lai Kun menjawab.

"Bagus kalau ia cantik, akan tetapi sayang usianya baru lima tahun. Toako, engkau tadi berkata bahwa engkau hidup sebatangkara dan tidak ingin kembali lagi ke Ta-bun-cung, dan bahwa Hek-houw-pang sudah dibubarkan. Tentu engkau sudah tidak ingin lagi kembali ke sana, bukan?"

Lai Kun menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku kembali ke sana? Sudah tidak ada apa-apanya yang menarik kecuali kenangan pahit."

"Nah, kalau begitu, mengapa susah-susah engkau hendak mengantar Cin Cin ke tempat jauh, sedangkan anak itu rewel dan membuatmu pusing? Kenapa tidak mempergunakan kesempatan yang tadinya menjengkelkan ini berubah menjadi menguntungkan dan menyenangkan? Engkau akan terbebas dari pada kejengkelan, dan akan mendapatkan keuntungkan besar."

"Eh? Apa maksudmu, Sui Su?"

"Dengar baik-baik, toako. Ibu angkatku, Cia Ma, tidak mempunyai anak kandung dan ia ingin sekali mengangkat anak perempuan yang mungil. Biarpun ia sudah mempunyai beberapa orang anak angkat, akan tetapi mereka sudah dewasa dan Cia Ma merasa tidak senang. Ia ingin merawat dan mendidik seorang anak angkat yang masih kecil. Nah, kau serahkan Cin Cin itu kepada Cia Ma, anak itu akan berada di tangan yang penuh kasih sayang, akan dididik menjadi seorang wanita yang pandai dengan segala pekerjaan wanita, dan kelak akan memperoleh jodoh seorang pria yang baik-baik, kalau tidak bangsawan tinggi tentu hartawan besar. Dan sebagai pengganti uang lelah, kalau benar anak itu cantik jelita, engkau akan menerima imbalan sedikitnya seratus tail perak! Kalau lebih cantik dari pada yang kuduga, mungkin lebih dari itu!"

"Ahhh...?" Lai Kun terbelalak dan kalau bukan Sui Su yang bicara, dia tentu marah sekali mendengar usul untuk "menjual" Cin Cin itu. Akan tetapi, dia sudah terpengaruh oleh Sui Su yang dianggapnya amat baik, maka usul itu menjadi bahan pertimbangannya.

"Tapi.. hal itu tak dapat kulakukan," akhirnya dia berkata.

"Kenapa, toako? Apakah usulku itu tidak amat baik?"

"Kalau kelak hal ini diketahui orang, tentu aku dipersalahkan."

"Mana mungkin? Engkau tidak menyia-nyiakan Cin Cin, bahkan menyerahkannya ke tangan orang yang benar-benar dapat merawat dan mendidiknya. Mereka bahkan akan berterima kasih kepadamu, toako."

"Akan tetapi, menurut kakek Coa Song, Cin Cin akan diserahkan kepada seorang pendekar sakti untuk menjadi muridnya."

"Aihh, toako. Cin Cin seorang anak perempuan, dan cantik pula menurut ceritamu. Betapa sayangnya seorang wanita cantik kelak menjadi tukang pukul, galak, menjadi pembunuh dan tukang berkelahi! Sayang kulitnya yang putih halus menjadi kasar dan keras. Tidakkah seorang wanita lebih baik dan menyenangkan kalau menjadi wanita sepenuhnya, penuh kelembutan, kehangatan, penuh dengan kemesraan dan pandai dalam hal kesenian dan kebudayaan, bukan menjadi tukang berkelahi yang mengerikan?"

Lai Kun tersenyum. Percuma bicara dengan seorang wanita yang sama sekali tidak mengerti silat, tentang perlunya seorang wanita menjadi pendekar. Akan tetapi kini hatinya tertarik. Kalau Cin Cin diserahkan kepada tangan yang baik, yang akan mendidiknya dan merawatnya baik-baik sehingga kelak Cin Cin menjadi seorang wanita yang pandai dan berguna, berarti dia telah melakukan usaha yang baik untuk puteri suhengnya itu!

Dan dia tidak perlu pusing menghadapi kerewelan Cin Cin yang berkeras minta pulang karena ingin mencari ibunya, tidak mau diajak menghadap Huang-ho Sin-liong. Ditambah pula dia mendapat seratus tail perak yang dapat dia pergunakan sebagai modal kerja atau berdagang...!