Social Items

SEBALIKNYA, sejak mengikuti raja muda itu dan melihat sastrawan itu, diam-diam Kui Siang sangat memperhatikannya. Walau pun pakaiannya seperti sastrawan, namun ada sesuatu dalam sikap orang itu, terutama kilatan pada pandang matanya yang membuat dia patut diawasi karena jelas bahwa sastrawan ini bukan sembarang orang.

Pertemuan dua orang saudara keluarga Kaisar ini berlangsung meriah dan ketika mereka berdua bercakap-cakap di ruangan paling dalam, mereka tidak ingin ada orang lain yang hadir. Bahkan Kui Siang sendiri terpaksa harus berjaga di luar ruangan itu, di mana dia melihat sastrawan yang disebut Yauw Siaucai itu berjalan mondar-mandir dengan tenang sambil mengipasi tubuhnya dengan kipas putih yang besar. Juga Jenderal Yauw Ti hanya mengatur anak buahnya melakukan penjagaan ketat di luar gedung dan di sekitar tempat pertemuan itu.

Dua orang pangeran yang bercakap-cakap itu saling menuturkan keadaan masing-masing, juga keadaan di utara dan di selatan. Dengan sejujurnya Raja Muda Yung Lo mendukung kakaknya yang menjadi pangeran mahkota, dan menyatakan bahwa kelak kalau kakaknya menjadi kaisar, dia akan mendukung kekuasaan kakaknya itu di wilayah utara. Akan tetapi dengan jujur pula dia mengatakan bahwa dia mendengar desas-desus tentang pangeran mahkota itu yang dikabarkan hanya mengejar kesenangan.

Mendengar teguran halus adiknya ini, Putera Mahkota tertawa. "Ha-ha-ha-ha, berita yang kau dengar itu terlalu berlebihan, adinda Yung Lo. Selagi kita muda, apa salahnya kalau kita bersenang-senang? Sudah menjadi hak setiap orang, terlebih lagi kita para pangeran, untuk bersenang dan menikmati hidup, bukan?"

"Memang benar, kakanda pangeran. Tetapi kakanda adalah seorang pangeran mahkota yang kelak akan menggantikan ayahanda Kaisar, menjadi kaisar yang mempunyai tugas berat memimpin seluruh rakyat dan negara. Maka sudah semestinya jika mulai sekarang kakanda pangeran memperhatikan dan mempelajari soal pemerintahan agar kelak kalau tiba saatnya, kakanda akan dapat mengemudikan pemerintahan dengan sebaik mungkin."

"Hemmm, adinda Yung Lo. Tanpa kau nasehati pun, aku sudah mengerti. Kalau seorang kaisar harus pusing sendiri memikirkan semua tugas itu, lalu apa gunanya kaisar memiliki penasehat dalam segala urusan? Sekarang pun aku telah mempunyai seorang penasehat yang bijaksana dan pandai. Kelak bila aku sudah menjadi kaisar, tentu aku akan memiliki penasehat-penasehat yang pandai, baik dalam urusan pemerintahan, urusan keamanan dan sebagainya. Jangan khawatir, adinda. Bukankah engkau sendiri juga telah merupakan seorang di antara para calon penasehatku kalau kelak aku sudah menjadi kaisar?"

Walau pun di dalam hatinya merasa tidak puas dengan sikap kakaknya itu, namun Raja Muda Yung Lo tidak berani mendesak atau menegur terlalu keras, karena bagaimana pun juga kakaknya itu adalah seorang atasan baginya.

Sesuai dengan rencana, sesudah bercakap-cakap maka Pangeran Mahkota mengadakan pesta perjamuan yang meriah untuk adiknya. Dengan royal Pangeran itu makan minum sambil menonton para penyanyi pilihan dan penari yang cantik-cantik menghibur mereka.

Raja Muda Yung Lo yang tidak begitu suka berpesta pora dan bersenang-senang, sekali ini terpaksa menuruti kehendak kakaknya. Dalam perjamuan ini Kui Siang diperbolehkan ikut serta, di samping Yauw Siucai. Tetapi Jenderal Yauw Ti menolak hadir dengan alasan bahwa dia harus mengatur penjagaan keamanan di luar dan di dalam gedung.

Ketika dua orang bangsawan itu sedang pesta pora, di luar gedung itu terjadi hal lain yang amat menarik hati. Sesosok bayangan berkelebat kemudian melakukan pengintaian dan penyelidikan, menyusup di antara penonton lantas dengan hati-hati dia meneliti keadaan. Bayangan ini bukan lain adalah Sin Wan! Bagaimana pemuda ini dapat berada di tempat itu?

Seperti kita ketahui, Sin Wan meninggalkan rumah keluarga Bhok. Karena sekarang tidak mungkin lagi baginya untuk bekerja sama dengan Bhok Cun Ki setelah peristiwa dengan Bhok Ci Hwa, dia lalu bermalam di rumah penginapan dan pada keesokan harinya barulah dia pergi menghadap Jenderal Shu Ta.

Jenderal itu menerimanya dengan ramah dan ketika dia bertanya kepada Sin Wan akan maksud kunjungannya, pemuda itu mengatakan bahwa dia ingin bekerja sendiri, terlepas dari Bhok-ciangkun.

"Bekerja sama dengan Bhok-ciangkun membuat saya tidak leluasa bergerak karena pihak musuh tentu akan dapat mengikuti gerak gerik saya sebagai pembantu Bhok-ciangkun. Akan tetapi, dengan bekerja sendiri, saya merasa lebih bebas dan dapat bergerak lebih leluasa. Saya ingin sekali dapat membongkar rahasia Si Kedok Hitam yang amat lihai itu, karena saya yakin bahwa dialah pemimpin jaringan mata-mata Mongol yang bergerak di kota raja, thai-ciangkun."

Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk karena dapat menerima alasan itu. "Tapi sebelum engkau melanjutkan penyelidikanmu di kota raja, kini lebih dahulu kami ingin menyerahkan sebuah tugas yang teramat penting, tai-hiap."

Jenderal besar itu lantas bercerita tentang undangan yang dilakukan Pangeran Mahkota untuk mengadakan pertemuan ramah tamah dengan Raja Muda Yung Lo yang hendak diadakan di luar kota Cin-an. Dia lalu menambahkan, "Biar pun Pangeran Mahkota sudah dikawal oleh Jenderal Yauw Ti sesuai dengan permintaan beliau, dan Jenderal Yauw tentu saja memimpin pasukan pengawal yang cukup kuat, akan tetapi hatiku terasa tidak enak. Peristiwa ini terjadi di luar tahu Sribaginda Kaisar, dan kami ingin sekali mengetahui apa yang menjadi latar belakang pertemuan tingkat tinggi yang agaknya dirahasiakan itu. Nah, kami beri tugas kepadamu untuk pergi ke Cin-an dan melakukan penyelidikan rahasia ini, tai-hiap. Syukur kalau engkau dapat mengetahui apa yang dibicarakan dua orang putera Sribaginda Kaisar yang keduanya memiliki kedudukan penting itu, dan setidaknya, harap engkau ikut menjaga agar keselamatan kedua orang pangeran itu terjamin."

Sin Wan menerima tugas itu dan dan maklum betapa pentingnya tugas yang diserahkan kepadanya, walau pun di anggapnya tidak terlampau gawat, karena bukankah Pangeran Mahkota telah dikawal oleh Jenderal Yauw Ti bersama pasukan pengawalnya yang kuat? Dan tentang Raja Muda Yung Lo... tiba-tiba dia teringat dan segera menundukkan muka agar Jenderal Shu Ta tidak dapat melihat perubahan pada wajahnya.

Begitu teringat kepada Raja Muda Yung Lo, tiba-tiba saja dia pun teringat bahwa Lim Kui Siang tentu telah menjadi pengawal pribadi raja muda itu! Tentu pertemuan penting yang membuat raja muda itu melakukan perjalanan jauh ke selatan, akan disertai pula oleh Kui Siang! Besar kemungkinannya di Cin-an dia akan bertemu dengan Kui Siang!

Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ada perasaan gembira karena dia merasa amat rindu kepada sumoi-nya yang dia cinta itu, ada pula perasaan tegang dan khawatir akan sikap sumoi-nya terhadap dirinya ketika mereka akan saling berpisah. Sumoi-nya sudah membencinya dan menganggap dia sebagai musuh. Perasaan gembira kini bercampur dengan perasaan sedih.

Demikianlah, pada sore itu, ketika dua orang pangeran sedang mengadakan pesta dan cuaca di luar gedung sudah mulai remang-remang, Sin Wan yang baru saja tiba di Cin-an pada siang hari itu segera mengadakan penelitian dan penyelidikan. Dia melihat betapa di sekitar kota Cin-an penuh dengan prajurit anak buah pasukan Jenderal Yauw Ti. Demikian pula di tempat pertemuan di luar kota, dekat sungai Kuning, berkeliaran prajurit pengawal, baik yang berpakaian seragam rnau pun yang berpakaian preman.

Melihat penjagaan ini tentu saja Sin Wan merasa lega dan dia boleh bersantai saja sebab siapakah yang akan berani mengganggu keselamatan kedua orang pangeran yang terjaga ketat itu? Kini tugasnya adalah menyelidiki apa gerangan arti pertemuan itu, dan terselip pula keinginan pribadinya untuk melihat apakah Kui Siang ikut pula mengawal Raja Muda Yung Lo. Kalau sumoi-nya itu memang berada di situ, ingin dia bertemu dengannya, atau setidaknya dapat melihatnya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sukarlah bagi Sin Wan untuk menyelinap tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga dia dapat mendekati gedung di mana kedua pangeran itu mengadakan pesta atas pertemuan mereka. Dari luar gedung terdengar suara musik dan nyanyian. Bahkan bau arak yang keras dan anggur yang harum tercium dari luar. Sin Wan menghela napas panjang. Dua orang kakak beradik bangsawan itu sedang berpesta pora, bergembira atas pertemuan di antara mereka.

Dan untuk pesta itu, begitu banyak prajurit pasukan keamanan dikerahkan untuk menjaga keamanan mereka. Bahkan dia sendiri juga mendapat tugas khusus dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki dan turut menjamin keselamatan mereka. Nampaknya sungguh ganjil. Siapa sih yang begitu gila untuk berani mencoba melakukan gangguan terhadap kedua orang pangeran itu?

Tiba-tiba Sin Wan bergerak cepat, menyusup ke bawah pohon dan bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh di belakang gedung itu karena melihat bayangan berkelebat cepat dari arah kiri. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa bayangan itu adalah tokoh yang selama ini menjadi perhatiannya dan di cari-carinya. Si Kedok Hitam!

Sungguh mudah dikenal karena selain pakaian dan kedok hitamnya, juga tubuhnya yang tinggi besar dengan perut yang besar menggendut. Namun gerakannya amat ringan dan beberapa kali loncatan saja membuat tubuh yang tinggi besar itu berkelebatan dan lenyap ke arah barat, yaitu ke arah tepi sungai di mana terdapat sebuah hutan kecil.

Tadi Sin Wan sudah melakukan penyelidikan, maka dia tahu bahwa di dalam hutan kecil itu terdapat pondok-pondok darurat yang dijadikan markas pasukan pengawal Pangeran Mahkota yang berjumlah besar. Dia pun segera melakukan pengejaran.

Dia dapat melihat bayangan Si Kedok Hitam, tetapi sebaliknya, begitu dia tiba di hutan itu, dia dihadang oleh belasan orang prajurit keamanan dari kota raja. Mereka mengepungnya dengan senjata tajam di tangan, siap menyerangnya.

“Tangkap mata-mata!”

“Tangkap penjahat!”

Teriakan-teriakan ini membuat Sin Wan maklum bahwa dia dalam bahaya, maka dia pun cepat berkata, “Sobat sekalian, harap jangan salah sangka..." lalu dia memperkenalkan diri. "Aku adalah Sin Wan, seorang penyelidik dari kota raja yang diutus oleh Jenderal Shu Ta!”

Seorang prajurit berkumis tebal yang menjadi pemimpin mereka maju dan mencoba untuk mengamati wajah Sin Wan dalam cuaca yang mulai remang-remang. “Hemm, apa buktinya bahwa engkau adalah utusan Jenderal Shu Ta?”

Sin Wan hanya membawa leng-ki, yaitu bendera kecil tanda sebagai utusan kaisar. Akan tetapi dia menganggap bahwa tak sepantasnya kalau hanya berhadapan dengan pasukan penjaga ini dia harus memperlihatkan benda berharga itu. “Jenderal Yauw Ti mengenalku, kalau kalian tidak percaya, boleh laporkan aku kepada beliau.”

Dia memang harus menghadap jenderal itu untuk memperingatkan bahwa dia tadi melihat Kedok Hitam berada di tempat ini, yang berarti bahwa ada mata-mata musuh yang amat berbahaya hadir pula di tempat pertemuan antara kedua orang pangeran itu dan berarti bahaya mungkin mengancam diri mereka.

Setelah mendengar bahwa Sin Wan mengenal atasan mereka, belasan orang prajurit itu tidak berani bersikap bengis lagi akan tetapi mereka tetap curiga dan mengawal pemuda itu dengan kepungan ketat untuk menghadapkannya kepada Jenderal Yauw Ti.

Melihat banyaknya prajurit di hutan itu, diam-diam Sin Wan merasa sangat heran. Untuk mengawal Putera Mahkota, kenapa mengerahkan pasukan yang sedikitnya seratus orang banyaknya? Bukankah di Cin-an sendiri juga ada pasukan keamanan? Sungguh Jenderal Yauw Ti agak berlebih-lebihan, pikirnya. Atau memang jenderal itu telah mencium adanya niat jahat dari jaringan mata-mata?

Sesungguhnya dia segan untuk bertemu dengan Jenderal Yauw Ti. Meski pun jenderal itu adalah wakil Jenderal Shu Ta dan merupakan orang kepercayaan kaisar, namun dalam dua kali pertemuan jenderal itu selalu memperlihatkan sikap memusuhinya.

Pertama, ketika dia memperkenalkan diri, Jenderal Yauw Ti sudah menghinanya sebagai seorang suku Uighur yang sangat dibenci oleh jenderal itu karena dahulu pernah tertawan dan dimusuhi orang-orang Uighur. Kemudian dalam pertemuan kedua, jenderal itu bahkan menuduhnya menghina Putera Mahkota dan hendak menangkapnya. Dan kini terpaksa dia harus bertemu lagi dengan jenderal yang galak dan jujur itu.

Benar saja seperti yang dia khawatirkan, begitu berhadapan dengan jenderal itu, Jenderal Yauw Ti memandang kepadanya dengan alis berkerut. Alisnya yang tebal bergerak turun naik, wajahnya yang galak itu nampak kemerahan, ada pun tangannya yang berjari besar itu terkepal. Dia nampak marah sekali mendengar laporan kepala jaga bahwa pemuda ini nampak berkeliaran di dalam hutan, kemudian mereka menangkapnya dan membawanya ke depan sang jenderal.

"Hemm, sejak dulu sudah kuduga. Engkau pastilah anggota kelompok mata-mata musuh! Kalau tidak demikian, mau apa engkau berkeliaran di sini sambil memata-matai pasukan kami?"

"Maaf, tai-ciangkun. Saya bukan hendak memata-matai pasukan pemerintah, sebaliknya saya sedang membantu pemerintah sebab saya berada di sini atas perintah Jenderal Shu Ta. Beliaulah yang mengutus saya untuk ikut membantu dan menjaga keamanan kedua orang pangeran yang sedang mengadakan pertemuan di sini."

"Tidak mungkin! Aku sendiri yang memimpin pasukan Pangeran Mahkota, masa Jenderal Shu Ta masih mengutus engkau untuk menjaga keamanan beliau? Kami tidak percaya! Sin Wan, engkau seorang Uighur, kami tidak percaya dan tetap curiga kepadamu. Engkau harus kami tahan dulu, dan kelak akan kami hadapkan kepada Sribaginda Kaisar untuk membuktikan apakah benar engkau mendapat kepercayaan beliau atau leng-ki yang kau bawa itu hanya leng-ki palsu. Tangkap dia dan jebloskan ke dalam kamar tahanan!"

"Jenderal Yauw Ti, apakah engkau akan menangkap seorang utusan Kaisar?" Sin Wan berseru sambil mengeluarkan leng-ki. Akan tetapi jenderal yang tinggi besar dan galak itu kini tidak mempedulikannya.

"Kami masih menghargaimu dan tidak langsung membunuhmu. Akan tetapi kalau engkau banyak tingkah, maka terpaksa kami akan membunuhmu. Masukkan dia ke dalam kamar tahanan, perlakukan sebagai tamu tetapi jaga ketat supaya jangan sampai dia melarikan diri!"

Sin Wan tidak diberi kesempatan untuk membantah lagi karena para prajurit tiba-tiba telah memegang kedua lengan dan pundaknya dari belakang dan mendorongnya keluar dari situ. Dia tidak memberontak, maklum bahwa bila dia menggunakan kekerasan maka dia akan berhadapan dengan puluhan orang prajurit, dan tentu saja dia tidak ingin berkelahi melawan pasukan pemerintah. Hanya dia diam-diam merasa heran mengapa jenderal ini demikian membencinya. Apakah hanya karena dia seorang berbangsa Uighur, atau ada sebab lain?

Untuk sementara ini sebaiknya dia mengalah sambil melihat perkembangan selanjutnya. Dia hanya merasa penasaran karena tadi dia benar-benar melihat Si Kedok Hitam yang gendut itu memasuki hutan. Kenapa si gendut itu tidak ditangkap oleh penjaga, sebaliknya malah dia yang ditangkap? Apakah ada hubungan antara Si Kedok hitam dengan...?

Ahh, tidak mungkin sama sekali! Biar pun galak, keras dan mau menang sendiri, Jenderal Yauw Ti adalah wakil Jenderal Shu Ta dan dia merupakan seorang yang banyak jasanya bagi pemerintah, dan dipercaya pula oleh kaisar.

Sin Wan didorong masuk ke dalam sebuah kamar yang kokoh. Agaknya markas darurat ini dibangun dengan lengkap, berikut tempat tahanan pula! Di luar kamar tahanan itu ada selosin orang prajurit melakukan penjagaan ketat. Sin Wan tak mampu berbuat apa-apa, hanya duduk di atas lantai penjara itu.

Kalau dia mau menggunakan kekerasan, sebetulnya tidaklah sukar untuk meloloskan diri sebelum terkepung, akan tetapi hal itu akan membuat dia menjadi pelarian dan dimusuhi pasukan pemerintah, bahkan tentu Jenderal Yauw Ti akan menjadi semakin curiga dan menganggap dia benar-benar mata-mata musuh! Untuk melarikan diri kemudian melapor kepada Jenderal Shu Ta, jarak dari situ ke kota raja terlampau jauh.

Tidak, dia harus bersabar sambil mencari kesempatan melarikan diri tanpa menimbulkan perkelahian. Masih baik baginya bahwa pedangnya yang dia sembunyikan di balik bajunya tidak dirampas.

Tak lama kemudian seorang penjaga memasukkan makanan dan minuman melalui lubang di bahwa jendela beruji besi. Sin Wan makan dan minum sampai kenyang untuk menjaga kesegaran dan kekuatan tubuhnya karena dia sedang menghadapi keadaan yang gawat, lalu duduk bersila di sudut kamar. Dia sudah mengambil keputusan untuk keluar dari situ dan melarikan diri tanpa menimbulkan keributan.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Mendadak terdengar suara berdebukan di luar kamar tahanan itu. Dia cepat bangkit dan menghampiri jendela beruji untuk melihat keluar. Di bawah sinar penerangan lampu yang tergantung di luar, Sin Wan melihat betapa selosin orang yang tadinya berjaga di luar, kini telah roboh malang melintang.

Agaknya mereka sudah dirobohkan orang tanpa menimbulkan suara, entah dengan cara bagaimana. Selagi matanya mencari-cari, dia melihat bayangan berkelebat di luar kamar tahanan itu dan di situ sudah berdiri seorang yang mengenakan pakaian dan kedok serba hijau.

"Akim!" Sin Wan berkata lirih.

"Hemmm, kiranya engkau masih ingat kepadaku?" Gadis berkedok itu berkata lirih seperti orang menegor atau mengejek.

"Bagaimana mungkin melupakan engkau, Akim? Engkau telah menolongku, malah sudah dua kali dengan sekarang!"

"Sudah, jangan banyak cakap, sekarang mari kita lari!" kata gadis itu.

Agaknya dia sudah merampas kunci dari kepala jaga, maka dengan mudah dia membuka pintu kamar tahanan tanpa harus menjebol dan menimbulkan banyak suara berisik. Inilah yang dikehendaki Sln Wan. Melarikan diri tanpa ribut-ribut agar dia tidak berkelahi dengan pasukan pemerintah.

Seperti dua ekor kucing saja, Sin Wan dan gadis berkedok yang bukan lain adalah Akim, menyelinap keluar dari tempat tahanan itu, meloncat ke atas membuka atap genteng dan lolos melalui atap tanpa diketahui oleh para penjaga lainnya yang berada di luar tempat tahanan itu.

Malam sudah datang dan cuaca di luar gelap sekali, hanya diterangi cahaya bintang yang lemah. Akan tetapi agaknya Akim sudah mengenal jalan.

"Mari kau ikuti aku, kita pergi dari hutan ini," bisiknya.

"Tapi, Akim...”

"Sshh... bukan waktunya bicara. Nanti saja," bisik lagi gadis itu dan dia pun menyelinap di antara pondok-pondok dan pohon-pohon, lalu keluar dari dalam hutan kecil itu diikuti oleh Sin Wan yang merasa kagum kepada gadis ini. Puteri datuk besar di pantai Lautan Timur ini memang hebat, pikirnya.

Mirip Lili! Meski pun sama anehnya, sama-sama penuh rahasia, tetapi kalau Lili wataknya keras dan galak, sebaliknya puteri datuk dari timur ini lebih halus.

Ternyata Akim mengajak Sin Wan ke pinggir Huang-ho dan tidak lama kemudian mereka duduk di balik semak belukar yang penuh duri, duduk di atas rumput tebal di tepi sungai, terlindung dan tidak nampak dari daratan. Dari situ hanya nampak sungai yang amat luas itu seperti lautan.

"Nah, Sekarang engkau boleh bicara, sambil menunggu datangnya fajar,” kata Akim yang sudah menanggalkan kedok hijaunya, kedok kain yang kini tergantung di lehernya. Gadis ini duduk bersandar batu besar dan mereka saling pandang dalam cuaca remang-remang, hanya nampak garis bentuk wajah mereka saja. "Akan tetapi aku yang akan berbicara dan bertanya lebih dahulu. Kenapa kalau kita bertemu, engkau menjadi tawanan melulu?"

Sin Wan tersenyum. "Aku selalu menjadi tawanan yang tidak berdaya dan engkau yang menjadi bintang penolongku. Memang aneh, agaknya memang engkau ditakdirkan untuk selalu menjadi penolongku, menjadi dewi penyelamatku."

"Hemmm, jangan main-main, Sin Wan. Aku melihat perbedaan yang besar antara kedua peristiwa itu. Dahulu engkau dijebak dan ditawan orang berkedok hitam yang sangat lihai itu, sedangkan sekarang engkau ditawan seorang jenderal besar tanpa engkau melakukan perlawanan. Apa artinya semua ini? Mengapa engkau berada di sini dan mengapa pula engkau ditawan?"

Sin Wan tidak dapat mengelak dan memang dia merasa tidak perlu berbohong kepada gadis ini. Baru dua kali dia bertemu dan berkenalan dengan Akim, akan tetapi puteri datuk timur ini agaknya memang dapat dipercaya sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan berbisik dia pun menceritakan dengan terus terang betapa dia menerima tugas dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki pertemuan antara kedua pangeran itu dan juga membantu supaya keamanan kedua orang pangeran penting itu terjamin.

"Dan kau tahu siapa yang kujumpai sore tadi?" Dia menutup ceritanya. "Aku melihat Si Kedok Hitam!"

"Ehhh?! Di sini?" Akim berseru heran.

"Ya, di tempat pertemuan itu, aku membayanginya dan dia lenyap ketika menuju ke hutan itu. Karena aku mengira dia memasuki hutan, aku lalu mengejar ke dalam hutan tapi aku malah bertemu dengan para prajurit anak buah Jenderal Yauw Ti yang menangkapku dan menghadapkan kepada jenderal itu. Jenderal Yauw Ti marah dan mencurigaiku, maka dia lalu menyuruh anak buahnya menahanku."

"Dan engkau tidak melawan sama sekali?"

"Tentu saja tidak mungkin aku memusuhi prajurit keamanan kerajaan. Tadi sudah kuberi tahukan kepadanya bahwa aku diutus Jenderal Shu Ta, akan tetapi dia tidak percaya dan memang dia membenciku."

"Kenapa?"

"Pernah dahulu dia ditawan oleh suku yang memusuhinya, yaitu suku Uighur, maka dia membenci suku bangsa itu, dan karena aku adalah orang Uighur, maka agaknya dia juga membenciku."

"Hemm, kiranya engkau berbangsa Uighur?" tanya Akim.

Sin Wan merasa perutnya panas, karena dia teringat akan sikap Kui Siang dan Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang menjauhinya karena dia seorang peranakan Uighur dan putera tiri Se Jit Kong. "Aku memang seorang peranakan Uighur, bukan pribumi asli. Lalu kenapa?"

Mendengar kata-kata yang nadanya ketus itu, Akim terbelalak, akan tetapi Sin Wan tidak dapat melihat mata yang terbelalak itu. Dia menunduk sambil bersungut, siap mendengar yang paling buruk, mendengar bahwa gadis ini pun akan berubah sikapnya mendengar dia adalah seorang peranakan Uighur. Akan tetapi Akim malah tertawa, merdu akan tetapi lembut dan ditahan karena gadis ini pun menjaga diri agar suaranya tidak terlalu nyaring sehingga akan terdengar orang lain.

"Hi-hik, mengapa engkau marah-marah, Sin Wan? Engkau tidak senang menjadi seorang peranakan Uighur?"

"Memang tidak enak, bukan tidak senang. Semua orang mencibirkan bibir dan menaikkan hidung mendengar aku adalah seorang peranakan Uighur, bukan penduduk asli bangsa Han. Nah, jika engkau tidak senang padaku, katakan saja, aku sudah terbiasa mendengar itu."

Mendengar suara merajuk itu, Akim semakin geli. "Hi-hik, engkau lucu. Siapa yang tidak suka mendengar engkau adalah peranakan asing? Aku sendiri juga seorang peranakan Jepang! Apa sih jeleknya peranakan? Apa sih salahnya? Kita dahulu tidak minta kepada Tuhan untuk dilahirkan sebagai peranakan, sebagai keturunan bangsa ini atau itu!"

"Baguslah kalau engkau juga peranakan dan tidak membenciku, berarti aku mempunyai kawan senasib. Tentu saja tidak semua orang membenci golongan seperti kita ini, akan tetapi ada saja yang beranggapan bahwa orang-orang seperti kita ini tidak asli, dan yang tidak asli itu apa lagi kalau bukan palsu?"

"Aihh… aihh... jangan merendahkan diri seperti itu, Sin Wan. Kukira hanya perasaanmu sendiri saja demikian, dan kalau pun benar ada yang mempunyai anggapan seperti yang kau katakan itu, maka anggapan itu hanya ada di dalam pikiran orang-orang yang belum mengerti."

"Sudahlah, tidak perlu kita berbicara tentang hal-hal yang tidak mengenakkan hati kita itu. Apa pun anggapan orang terhadap diriku, akan kubuktikan bahwa aku adalah orang yang berguna bagi negara dan bangsa Han karena aku dibesarkan sebagai orang Han, bahkan merasa asing dengan bangsa Uighur yang menurunkan diriku. Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan kenapa engkau juga berkeliaran di tempat ini, Akim. Dan... haiii, baru aku ingat. Mengapa kalau aku bertemu Si Kedok Hitam, selalu muncul engkau Si Kedok Hijau?"

"Apa?! Ihh, sialan! Kau kira aku ini ekor Si Kedok Hitam?"

"Maaf, Akim, aku hanya berkelakar. Nah, ceritakan bagaimana engkau dapat mengetahui aku berada dalam tahanan kemudian dapat membebaskan aku."

"Jangan mengejek. Bila engkau menghendaki, tentu engkau dapat nembebaskan diri dari sana. Sebetulnya aku tidak mempunyai urusan denganmu, juga tidak mempunyai urusan dengan Pangeran Mahkota atau Raja Muda Yung Lo, atau dengan Si Kedok Hitam sekali pun. Aku tidak peduli semua itu. Aku kebetulan saja berada di sini, bahkan kebetulan saja ketika berada di kota raja. Aku sedang membayangi dan mencari ayahku."

"Hemmm, dan engkau menemukan jejak ayahmu menuju ke sini?" Sin Wan bertanya dan merasa tertarik sekali.

Akim menarik napas panjang. "Karena engkau sudah bicara jujur kepadaku, aku pun akan bersikap jujur. Sebenarnya aku membayangi ayahku karena merasa khawatir kalau-kalau ayahku sampai terpikat oleh orang-orang Mongol. Ketahuilah, utusan orang-orang Mongol telah mendatangi ayah dan menawarkan kerja-sama dengan janji-janji muluk hingga ayah menjadi tertarik. Dia pergi memenuhi undangan mereka bersama suheng-ku, Maniyoko."

"Maniyoko...! Hemm…, pernah aku bertemu dengan dia, bahkan bertanding melawan dia ketika terjadi perebutan kedudukan pemimpin besar para kai-pang. Dia lihai akan tetapi... hemm.... curang dan kejam."

"Aku tidak marah. Memang dia curang dan kejam, dan aku pun tidak suka pada suheng-ku itu. Nah, ayah bersama Maniyoko pergi memenuhi undangan orang-orang Mongol itu, maka atas desakan ibuku yang menentang sikap ayah itu, aku menyusul untuk membujuk ayah dan bahkan menghalangi dia menjadi kaki tangan orang Mongol. Jejaknya menuju ke kota raja, malah menuju ke Cin-an, maka aku pun mengejar ke sini. Ketika mendengar tentang pertemuan antara kedua orang pangeran, aku merasa khawatir sekali. Siapa tahu orang-orang Mongol akan mencelakai kedua orang bangsawan itu, dan ibu sama sekali tidak ingin melihat ayah membantu pemberontakan, apa lagi pemberontakan itu dilakukan oleh bangsa Mongol yang hendak mendirikan kembali pemerintah penjajah. Kemudian aku melakukan penyelidikan dan kebetulan melihat engkau dimasukkan ke tempat tahanan itu, maka aku lalu membebaskanmu."

"Akan tetapi bagaimana engkau tadi dapat merobohkan belasan orang penjaga itu tanpa menimbulkan suara ribut sama sekali?"

Dara itu tersenyum kemudian menepuk-nepuk saku di balik bajunya. "Aku melihat mereka sedang minum arak. Aku berhasil menaburkan sedikit bubuk pembius dan begitu mereka minum lagi arak mereka, seorang demi seorang roboh tanpa mengeluarkan suara."

Sin Wan tersenyum kagum dan merasa lega bahwa gadis itu tidak berwatak ganas, tidak semena-mena melakukan pembunuhan. "Engkau hebat, Akim, cerdik bukan main. Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Ketika kita berdua menyaksikan pertandingan antara panglima Bhok Cun Ki melawan ibu dan anak itu, mengapa tiba-tiba saja engkau menghilang, pergi meninggalkan aku tanpa pamit?"

Yang ditanya menundukkan mukanya dan sampai beberapa lama dia tidak menjawab.

"Kenapa, Akim?" Sin Wan mengulang, merasa amat penasaran.

Didesak pertanyaan ulang itu, Akim mengangkat muka memandang, kemudian menjawab dengan pertanyaan lain. "Sin Wan, apakah gadis yang menggunakan pedang sinar putih itu, yang hampir membunuh ayah kandungnya itu, apakah dia itu kekasihmu, tunangan atau calon isterimu?"

Tentu saja Sin Wan tertegun heran, sama sekali tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia menggeleng kepala dan menjawab singkat. "Bukan!"

"Apakah engkau mencinta gadis itu?"

Sin Wan semakin heran, akan tetapi kembali menggeleng kepala. "Tidak, kenapa engkau bertanya demikian dan apa hubungannya dengan pertanyaanku kepadamu tadi?"

"Dekat sekali hubungannya. Ketika itu aku melarikan diri tanpa pamit karena aku merasa cemburu...!"

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 24

SEBALIKNYA, sejak mengikuti raja muda itu dan melihat sastrawan itu, diam-diam Kui Siang sangat memperhatikannya. Walau pun pakaiannya seperti sastrawan, namun ada sesuatu dalam sikap orang itu, terutama kilatan pada pandang matanya yang membuat dia patut diawasi karena jelas bahwa sastrawan ini bukan sembarang orang.

Pertemuan dua orang saudara keluarga Kaisar ini berlangsung meriah dan ketika mereka berdua bercakap-cakap di ruangan paling dalam, mereka tidak ingin ada orang lain yang hadir. Bahkan Kui Siang sendiri terpaksa harus berjaga di luar ruangan itu, di mana dia melihat sastrawan yang disebut Yauw Siaucai itu berjalan mondar-mandir dengan tenang sambil mengipasi tubuhnya dengan kipas putih yang besar. Juga Jenderal Yauw Ti hanya mengatur anak buahnya melakukan penjagaan ketat di luar gedung dan di sekitar tempat pertemuan itu.

Dua orang pangeran yang bercakap-cakap itu saling menuturkan keadaan masing-masing, juga keadaan di utara dan di selatan. Dengan sejujurnya Raja Muda Yung Lo mendukung kakaknya yang menjadi pangeran mahkota, dan menyatakan bahwa kelak kalau kakaknya menjadi kaisar, dia akan mendukung kekuasaan kakaknya itu di wilayah utara. Akan tetapi dengan jujur pula dia mengatakan bahwa dia mendengar desas-desus tentang pangeran mahkota itu yang dikabarkan hanya mengejar kesenangan.

Mendengar teguran halus adiknya ini, Putera Mahkota tertawa. "Ha-ha-ha-ha, berita yang kau dengar itu terlalu berlebihan, adinda Yung Lo. Selagi kita muda, apa salahnya kalau kita bersenang-senang? Sudah menjadi hak setiap orang, terlebih lagi kita para pangeran, untuk bersenang dan menikmati hidup, bukan?"

"Memang benar, kakanda pangeran. Tetapi kakanda adalah seorang pangeran mahkota yang kelak akan menggantikan ayahanda Kaisar, menjadi kaisar yang mempunyai tugas berat memimpin seluruh rakyat dan negara. Maka sudah semestinya jika mulai sekarang kakanda pangeran memperhatikan dan mempelajari soal pemerintahan agar kelak kalau tiba saatnya, kakanda akan dapat mengemudikan pemerintahan dengan sebaik mungkin."

"Hemmm, adinda Yung Lo. Tanpa kau nasehati pun, aku sudah mengerti. Kalau seorang kaisar harus pusing sendiri memikirkan semua tugas itu, lalu apa gunanya kaisar memiliki penasehat dalam segala urusan? Sekarang pun aku telah mempunyai seorang penasehat yang bijaksana dan pandai. Kelak bila aku sudah menjadi kaisar, tentu aku akan memiliki penasehat-penasehat yang pandai, baik dalam urusan pemerintahan, urusan keamanan dan sebagainya. Jangan khawatir, adinda. Bukankah engkau sendiri juga telah merupakan seorang di antara para calon penasehatku kalau kelak aku sudah menjadi kaisar?"

Walau pun di dalam hatinya merasa tidak puas dengan sikap kakaknya itu, namun Raja Muda Yung Lo tidak berani mendesak atau menegur terlalu keras, karena bagaimana pun juga kakaknya itu adalah seorang atasan baginya.

Sesuai dengan rencana, sesudah bercakap-cakap maka Pangeran Mahkota mengadakan pesta perjamuan yang meriah untuk adiknya. Dengan royal Pangeran itu makan minum sambil menonton para penyanyi pilihan dan penari yang cantik-cantik menghibur mereka.

Raja Muda Yung Lo yang tidak begitu suka berpesta pora dan bersenang-senang, sekali ini terpaksa menuruti kehendak kakaknya. Dalam perjamuan ini Kui Siang diperbolehkan ikut serta, di samping Yauw Siucai. Tetapi Jenderal Yauw Ti menolak hadir dengan alasan bahwa dia harus mengatur penjagaan keamanan di luar dan di dalam gedung.

Ketika dua orang bangsawan itu sedang pesta pora, di luar gedung itu terjadi hal lain yang amat menarik hati. Sesosok bayangan berkelebat kemudian melakukan pengintaian dan penyelidikan, menyusup di antara penonton lantas dengan hati-hati dia meneliti keadaan. Bayangan ini bukan lain adalah Sin Wan! Bagaimana pemuda ini dapat berada di tempat itu?

Seperti kita ketahui, Sin Wan meninggalkan rumah keluarga Bhok. Karena sekarang tidak mungkin lagi baginya untuk bekerja sama dengan Bhok Cun Ki setelah peristiwa dengan Bhok Ci Hwa, dia lalu bermalam di rumah penginapan dan pada keesokan harinya barulah dia pergi menghadap Jenderal Shu Ta.

Jenderal itu menerimanya dengan ramah dan ketika dia bertanya kepada Sin Wan akan maksud kunjungannya, pemuda itu mengatakan bahwa dia ingin bekerja sendiri, terlepas dari Bhok-ciangkun.

"Bekerja sama dengan Bhok-ciangkun membuat saya tidak leluasa bergerak karena pihak musuh tentu akan dapat mengikuti gerak gerik saya sebagai pembantu Bhok-ciangkun. Akan tetapi, dengan bekerja sendiri, saya merasa lebih bebas dan dapat bergerak lebih leluasa. Saya ingin sekali dapat membongkar rahasia Si Kedok Hitam yang amat lihai itu, karena saya yakin bahwa dialah pemimpin jaringan mata-mata Mongol yang bergerak di kota raja, thai-ciangkun."

Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk karena dapat menerima alasan itu. "Tapi sebelum engkau melanjutkan penyelidikanmu di kota raja, kini lebih dahulu kami ingin menyerahkan sebuah tugas yang teramat penting, tai-hiap."

Jenderal besar itu lantas bercerita tentang undangan yang dilakukan Pangeran Mahkota untuk mengadakan pertemuan ramah tamah dengan Raja Muda Yung Lo yang hendak diadakan di luar kota Cin-an. Dia lalu menambahkan, "Biar pun Pangeran Mahkota sudah dikawal oleh Jenderal Yauw Ti sesuai dengan permintaan beliau, dan Jenderal Yauw tentu saja memimpin pasukan pengawal yang cukup kuat, akan tetapi hatiku terasa tidak enak. Peristiwa ini terjadi di luar tahu Sribaginda Kaisar, dan kami ingin sekali mengetahui apa yang menjadi latar belakang pertemuan tingkat tinggi yang agaknya dirahasiakan itu. Nah, kami beri tugas kepadamu untuk pergi ke Cin-an dan melakukan penyelidikan rahasia ini, tai-hiap. Syukur kalau engkau dapat mengetahui apa yang dibicarakan dua orang putera Sribaginda Kaisar yang keduanya memiliki kedudukan penting itu, dan setidaknya, harap engkau ikut menjaga agar keselamatan kedua orang pangeran itu terjamin."

Sin Wan menerima tugas itu dan dan maklum betapa pentingnya tugas yang diserahkan kepadanya, walau pun di anggapnya tidak terlampau gawat, karena bukankah Pangeran Mahkota telah dikawal oleh Jenderal Yauw Ti bersama pasukan pengawalnya yang kuat? Dan tentang Raja Muda Yung Lo... tiba-tiba dia teringat dan segera menundukkan muka agar Jenderal Shu Ta tidak dapat melihat perubahan pada wajahnya.

Begitu teringat kepada Raja Muda Yung Lo, tiba-tiba saja dia pun teringat bahwa Lim Kui Siang tentu telah menjadi pengawal pribadi raja muda itu! Tentu pertemuan penting yang membuat raja muda itu melakukan perjalanan jauh ke selatan, akan disertai pula oleh Kui Siang! Besar kemungkinannya di Cin-an dia akan bertemu dengan Kui Siang!

Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ada perasaan gembira karena dia merasa amat rindu kepada sumoi-nya yang dia cinta itu, ada pula perasaan tegang dan khawatir akan sikap sumoi-nya terhadap dirinya ketika mereka akan saling berpisah. Sumoi-nya sudah membencinya dan menganggap dia sebagai musuh. Perasaan gembira kini bercampur dengan perasaan sedih.

Demikianlah, pada sore itu, ketika dua orang pangeran sedang mengadakan pesta dan cuaca di luar gedung sudah mulai remang-remang, Sin Wan yang baru saja tiba di Cin-an pada siang hari itu segera mengadakan penelitian dan penyelidikan. Dia melihat betapa di sekitar kota Cin-an penuh dengan prajurit anak buah pasukan Jenderal Yauw Ti. Demikian pula di tempat pertemuan di luar kota, dekat sungai Kuning, berkeliaran prajurit pengawal, baik yang berpakaian seragam rnau pun yang berpakaian preman.

Melihat penjagaan ini tentu saja Sin Wan merasa lega dan dia boleh bersantai saja sebab siapakah yang akan berani mengganggu keselamatan kedua orang pangeran yang terjaga ketat itu? Kini tugasnya adalah menyelidiki apa gerangan arti pertemuan itu, dan terselip pula keinginan pribadinya untuk melihat apakah Kui Siang ikut pula mengawal Raja Muda Yung Lo. Kalau sumoi-nya itu memang berada di situ, ingin dia bertemu dengannya, atau setidaknya dapat melihatnya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sukarlah bagi Sin Wan untuk menyelinap tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga dia dapat mendekati gedung di mana kedua pangeran itu mengadakan pesta atas pertemuan mereka. Dari luar gedung terdengar suara musik dan nyanyian. Bahkan bau arak yang keras dan anggur yang harum tercium dari luar. Sin Wan menghela napas panjang. Dua orang kakak beradik bangsawan itu sedang berpesta pora, bergembira atas pertemuan di antara mereka.

Dan untuk pesta itu, begitu banyak prajurit pasukan keamanan dikerahkan untuk menjaga keamanan mereka. Bahkan dia sendiri juga mendapat tugas khusus dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki dan turut menjamin keselamatan mereka. Nampaknya sungguh ganjil. Siapa sih yang begitu gila untuk berani mencoba melakukan gangguan terhadap kedua orang pangeran itu?

Tiba-tiba Sin Wan bergerak cepat, menyusup ke bawah pohon dan bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh di belakang gedung itu karena melihat bayangan berkelebat cepat dari arah kiri. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa bayangan itu adalah tokoh yang selama ini menjadi perhatiannya dan di cari-carinya. Si Kedok Hitam!

Sungguh mudah dikenal karena selain pakaian dan kedok hitamnya, juga tubuhnya yang tinggi besar dengan perut yang besar menggendut. Namun gerakannya amat ringan dan beberapa kali loncatan saja membuat tubuh yang tinggi besar itu berkelebatan dan lenyap ke arah barat, yaitu ke arah tepi sungai di mana terdapat sebuah hutan kecil.

Tadi Sin Wan sudah melakukan penyelidikan, maka dia tahu bahwa di dalam hutan kecil itu terdapat pondok-pondok darurat yang dijadikan markas pasukan pengawal Pangeran Mahkota yang berjumlah besar. Dia pun segera melakukan pengejaran.

Dia dapat melihat bayangan Si Kedok Hitam, tetapi sebaliknya, begitu dia tiba di hutan itu, dia dihadang oleh belasan orang prajurit keamanan dari kota raja. Mereka mengepungnya dengan senjata tajam di tangan, siap menyerangnya.

“Tangkap mata-mata!”

“Tangkap penjahat!”

Teriakan-teriakan ini membuat Sin Wan maklum bahwa dia dalam bahaya, maka dia pun cepat berkata, “Sobat sekalian, harap jangan salah sangka..." lalu dia memperkenalkan diri. "Aku adalah Sin Wan, seorang penyelidik dari kota raja yang diutus oleh Jenderal Shu Ta!”

Seorang prajurit berkumis tebal yang menjadi pemimpin mereka maju dan mencoba untuk mengamati wajah Sin Wan dalam cuaca yang mulai remang-remang. “Hemm, apa buktinya bahwa engkau adalah utusan Jenderal Shu Ta?”

Sin Wan hanya membawa leng-ki, yaitu bendera kecil tanda sebagai utusan kaisar. Akan tetapi dia menganggap bahwa tak sepantasnya kalau hanya berhadapan dengan pasukan penjaga ini dia harus memperlihatkan benda berharga itu. “Jenderal Yauw Ti mengenalku, kalau kalian tidak percaya, boleh laporkan aku kepada beliau.”

Dia memang harus menghadap jenderal itu untuk memperingatkan bahwa dia tadi melihat Kedok Hitam berada di tempat ini, yang berarti bahwa ada mata-mata musuh yang amat berbahaya hadir pula di tempat pertemuan antara kedua orang pangeran itu dan berarti bahaya mungkin mengancam diri mereka.

Setelah mendengar bahwa Sin Wan mengenal atasan mereka, belasan orang prajurit itu tidak berani bersikap bengis lagi akan tetapi mereka tetap curiga dan mengawal pemuda itu dengan kepungan ketat untuk menghadapkannya kepada Jenderal Yauw Ti.

Melihat banyaknya prajurit di hutan itu, diam-diam Sin Wan merasa sangat heran. Untuk mengawal Putera Mahkota, kenapa mengerahkan pasukan yang sedikitnya seratus orang banyaknya? Bukankah di Cin-an sendiri juga ada pasukan keamanan? Sungguh Jenderal Yauw Ti agak berlebih-lebihan, pikirnya. Atau memang jenderal itu telah mencium adanya niat jahat dari jaringan mata-mata?

Sesungguhnya dia segan untuk bertemu dengan Jenderal Yauw Ti. Meski pun jenderal itu adalah wakil Jenderal Shu Ta dan merupakan orang kepercayaan kaisar, namun dalam dua kali pertemuan jenderal itu selalu memperlihatkan sikap memusuhinya.

Pertama, ketika dia memperkenalkan diri, Jenderal Yauw Ti sudah menghinanya sebagai seorang suku Uighur yang sangat dibenci oleh jenderal itu karena dahulu pernah tertawan dan dimusuhi orang-orang Uighur. Kemudian dalam pertemuan kedua, jenderal itu bahkan menuduhnya menghina Putera Mahkota dan hendak menangkapnya. Dan kini terpaksa dia harus bertemu lagi dengan jenderal yang galak dan jujur itu.

Benar saja seperti yang dia khawatirkan, begitu berhadapan dengan jenderal itu, Jenderal Yauw Ti memandang kepadanya dengan alis berkerut. Alisnya yang tebal bergerak turun naik, wajahnya yang galak itu nampak kemerahan, ada pun tangannya yang berjari besar itu terkepal. Dia nampak marah sekali mendengar laporan kepala jaga bahwa pemuda ini nampak berkeliaran di dalam hutan, kemudian mereka menangkapnya dan membawanya ke depan sang jenderal.

"Hemm, sejak dulu sudah kuduga. Engkau pastilah anggota kelompok mata-mata musuh! Kalau tidak demikian, mau apa engkau berkeliaran di sini sambil memata-matai pasukan kami?"

"Maaf, tai-ciangkun. Saya bukan hendak memata-matai pasukan pemerintah, sebaliknya saya sedang membantu pemerintah sebab saya berada di sini atas perintah Jenderal Shu Ta. Beliaulah yang mengutus saya untuk ikut membantu dan menjaga keamanan kedua orang pangeran yang sedang mengadakan pertemuan di sini."

"Tidak mungkin! Aku sendiri yang memimpin pasukan Pangeran Mahkota, masa Jenderal Shu Ta masih mengutus engkau untuk menjaga keamanan beliau? Kami tidak percaya! Sin Wan, engkau seorang Uighur, kami tidak percaya dan tetap curiga kepadamu. Engkau harus kami tahan dulu, dan kelak akan kami hadapkan kepada Sribaginda Kaisar untuk membuktikan apakah benar engkau mendapat kepercayaan beliau atau leng-ki yang kau bawa itu hanya leng-ki palsu. Tangkap dia dan jebloskan ke dalam kamar tahanan!"

"Jenderal Yauw Ti, apakah engkau akan menangkap seorang utusan Kaisar?" Sin Wan berseru sambil mengeluarkan leng-ki. Akan tetapi jenderal yang tinggi besar dan galak itu kini tidak mempedulikannya.

"Kami masih menghargaimu dan tidak langsung membunuhmu. Akan tetapi kalau engkau banyak tingkah, maka terpaksa kami akan membunuhmu. Masukkan dia ke dalam kamar tahanan, perlakukan sebagai tamu tetapi jaga ketat supaya jangan sampai dia melarikan diri!"

Sin Wan tidak diberi kesempatan untuk membantah lagi karena para prajurit tiba-tiba telah memegang kedua lengan dan pundaknya dari belakang dan mendorongnya keluar dari situ. Dia tidak memberontak, maklum bahwa bila dia menggunakan kekerasan maka dia akan berhadapan dengan puluhan orang prajurit, dan tentu saja dia tidak ingin berkelahi melawan pasukan pemerintah. Hanya dia diam-diam merasa heran mengapa jenderal ini demikian membencinya. Apakah hanya karena dia seorang berbangsa Uighur, atau ada sebab lain?

Untuk sementara ini sebaiknya dia mengalah sambil melihat perkembangan selanjutnya. Dia hanya merasa penasaran karena tadi dia benar-benar melihat Si Kedok Hitam yang gendut itu memasuki hutan. Kenapa si gendut itu tidak ditangkap oleh penjaga, sebaliknya malah dia yang ditangkap? Apakah ada hubungan antara Si Kedok hitam dengan...?

Ahh, tidak mungkin sama sekali! Biar pun galak, keras dan mau menang sendiri, Jenderal Yauw Ti adalah wakil Jenderal Shu Ta dan dia merupakan seorang yang banyak jasanya bagi pemerintah, dan dipercaya pula oleh kaisar.

Sin Wan didorong masuk ke dalam sebuah kamar yang kokoh. Agaknya markas darurat ini dibangun dengan lengkap, berikut tempat tahanan pula! Di luar kamar tahanan itu ada selosin orang prajurit melakukan penjagaan ketat. Sin Wan tak mampu berbuat apa-apa, hanya duduk di atas lantai penjara itu.

Kalau dia mau menggunakan kekerasan, sebetulnya tidaklah sukar untuk meloloskan diri sebelum terkepung, akan tetapi hal itu akan membuat dia menjadi pelarian dan dimusuhi pasukan pemerintah, bahkan tentu Jenderal Yauw Ti akan menjadi semakin curiga dan menganggap dia benar-benar mata-mata musuh! Untuk melarikan diri kemudian melapor kepada Jenderal Shu Ta, jarak dari situ ke kota raja terlampau jauh.

Tidak, dia harus bersabar sambil mencari kesempatan melarikan diri tanpa menimbulkan perkelahian. Masih baik baginya bahwa pedangnya yang dia sembunyikan di balik bajunya tidak dirampas.

Tak lama kemudian seorang penjaga memasukkan makanan dan minuman melalui lubang di bahwa jendela beruji besi. Sin Wan makan dan minum sampai kenyang untuk menjaga kesegaran dan kekuatan tubuhnya karena dia sedang menghadapi keadaan yang gawat, lalu duduk bersila di sudut kamar. Dia sudah mengambil keputusan untuk keluar dari situ dan melarikan diri tanpa menimbulkan keributan.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Mendadak terdengar suara berdebukan di luar kamar tahanan itu. Dia cepat bangkit dan menghampiri jendela beruji untuk melihat keluar. Di bawah sinar penerangan lampu yang tergantung di luar, Sin Wan melihat betapa selosin orang yang tadinya berjaga di luar, kini telah roboh malang melintang.

Agaknya mereka sudah dirobohkan orang tanpa menimbulkan suara, entah dengan cara bagaimana. Selagi matanya mencari-cari, dia melihat bayangan berkelebat di luar kamar tahanan itu dan di situ sudah berdiri seorang yang mengenakan pakaian dan kedok serba hijau.

"Akim!" Sin Wan berkata lirih.

"Hemmm, kiranya engkau masih ingat kepadaku?" Gadis berkedok itu berkata lirih seperti orang menegor atau mengejek.

"Bagaimana mungkin melupakan engkau, Akim? Engkau telah menolongku, malah sudah dua kali dengan sekarang!"

"Sudah, jangan banyak cakap, sekarang mari kita lari!" kata gadis itu.

Agaknya dia sudah merampas kunci dari kepala jaga, maka dengan mudah dia membuka pintu kamar tahanan tanpa harus menjebol dan menimbulkan banyak suara berisik. Inilah yang dikehendaki Sln Wan. Melarikan diri tanpa ribut-ribut agar dia tidak berkelahi dengan pasukan pemerintah.

Seperti dua ekor kucing saja, Sin Wan dan gadis berkedok yang bukan lain adalah Akim, menyelinap keluar dari tempat tahanan itu, meloncat ke atas membuka atap genteng dan lolos melalui atap tanpa diketahui oleh para penjaga lainnya yang berada di luar tempat tahanan itu.

Malam sudah datang dan cuaca di luar gelap sekali, hanya diterangi cahaya bintang yang lemah. Akan tetapi agaknya Akim sudah mengenal jalan.

"Mari kau ikuti aku, kita pergi dari hutan ini," bisiknya.

"Tapi, Akim...”

"Sshh... bukan waktunya bicara. Nanti saja," bisik lagi gadis itu dan dia pun menyelinap di antara pondok-pondok dan pohon-pohon, lalu keluar dari dalam hutan kecil itu diikuti oleh Sin Wan yang merasa kagum kepada gadis ini. Puteri datuk besar di pantai Lautan Timur ini memang hebat, pikirnya.

Mirip Lili! Meski pun sama anehnya, sama-sama penuh rahasia, tetapi kalau Lili wataknya keras dan galak, sebaliknya puteri datuk dari timur ini lebih halus.

Ternyata Akim mengajak Sin Wan ke pinggir Huang-ho dan tidak lama kemudian mereka duduk di balik semak belukar yang penuh duri, duduk di atas rumput tebal di tepi sungai, terlindung dan tidak nampak dari daratan. Dari situ hanya nampak sungai yang amat luas itu seperti lautan.

"Nah, Sekarang engkau boleh bicara, sambil menunggu datangnya fajar,” kata Akim yang sudah menanggalkan kedok hijaunya, kedok kain yang kini tergantung di lehernya. Gadis ini duduk bersandar batu besar dan mereka saling pandang dalam cuaca remang-remang, hanya nampak garis bentuk wajah mereka saja. "Akan tetapi aku yang akan berbicara dan bertanya lebih dahulu. Kenapa kalau kita bertemu, engkau menjadi tawanan melulu?"

Sin Wan tersenyum. "Aku selalu menjadi tawanan yang tidak berdaya dan engkau yang menjadi bintang penolongku. Memang aneh, agaknya memang engkau ditakdirkan untuk selalu menjadi penolongku, menjadi dewi penyelamatku."

"Hemmm, jangan main-main, Sin Wan. Aku melihat perbedaan yang besar antara kedua peristiwa itu. Dahulu engkau dijebak dan ditawan orang berkedok hitam yang sangat lihai itu, sedangkan sekarang engkau ditawan seorang jenderal besar tanpa engkau melakukan perlawanan. Apa artinya semua ini? Mengapa engkau berada di sini dan mengapa pula engkau ditawan?"

Sin Wan tidak dapat mengelak dan memang dia merasa tidak perlu berbohong kepada gadis ini. Baru dua kali dia bertemu dan berkenalan dengan Akim, akan tetapi puteri datuk timur ini agaknya memang dapat dipercaya sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan berbisik dia pun menceritakan dengan terus terang betapa dia menerima tugas dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki pertemuan antara kedua pangeran itu dan juga membantu supaya keamanan kedua orang pangeran penting itu terjamin.

"Dan kau tahu siapa yang kujumpai sore tadi?" Dia menutup ceritanya. "Aku melihat Si Kedok Hitam!"

"Ehhh?! Di sini?" Akim berseru heran.

"Ya, di tempat pertemuan itu, aku membayanginya dan dia lenyap ketika menuju ke hutan itu. Karena aku mengira dia memasuki hutan, aku lalu mengejar ke dalam hutan tapi aku malah bertemu dengan para prajurit anak buah Jenderal Yauw Ti yang menangkapku dan menghadapkan kepada jenderal itu. Jenderal Yauw Ti marah dan mencurigaiku, maka dia lalu menyuruh anak buahnya menahanku."

"Dan engkau tidak melawan sama sekali?"

"Tentu saja tidak mungkin aku memusuhi prajurit keamanan kerajaan. Tadi sudah kuberi tahukan kepadanya bahwa aku diutus Jenderal Shu Ta, akan tetapi dia tidak percaya dan memang dia membenciku."

"Kenapa?"

"Pernah dahulu dia ditawan oleh suku yang memusuhinya, yaitu suku Uighur, maka dia membenci suku bangsa itu, dan karena aku adalah orang Uighur, maka agaknya dia juga membenciku."

"Hemm, kiranya engkau berbangsa Uighur?" tanya Akim.

Sin Wan merasa perutnya panas, karena dia teringat akan sikap Kui Siang dan Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang menjauhinya karena dia seorang peranakan Uighur dan putera tiri Se Jit Kong. "Aku memang seorang peranakan Uighur, bukan pribumi asli. Lalu kenapa?"

Mendengar kata-kata yang nadanya ketus itu, Akim terbelalak, akan tetapi Sin Wan tidak dapat melihat mata yang terbelalak itu. Dia menunduk sambil bersungut, siap mendengar yang paling buruk, mendengar bahwa gadis ini pun akan berubah sikapnya mendengar dia adalah seorang peranakan Uighur. Akan tetapi Akim malah tertawa, merdu akan tetapi lembut dan ditahan karena gadis ini pun menjaga diri agar suaranya tidak terlalu nyaring sehingga akan terdengar orang lain.

"Hi-hik, mengapa engkau marah-marah, Sin Wan? Engkau tidak senang menjadi seorang peranakan Uighur?"

"Memang tidak enak, bukan tidak senang. Semua orang mencibirkan bibir dan menaikkan hidung mendengar aku adalah seorang peranakan Uighur, bukan penduduk asli bangsa Han. Nah, jika engkau tidak senang padaku, katakan saja, aku sudah terbiasa mendengar itu."

Mendengar suara merajuk itu, Akim semakin geli. "Hi-hik, engkau lucu. Siapa yang tidak suka mendengar engkau adalah peranakan asing? Aku sendiri juga seorang peranakan Jepang! Apa sih jeleknya peranakan? Apa sih salahnya? Kita dahulu tidak minta kepada Tuhan untuk dilahirkan sebagai peranakan, sebagai keturunan bangsa ini atau itu!"

"Baguslah kalau engkau juga peranakan dan tidak membenciku, berarti aku mempunyai kawan senasib. Tentu saja tidak semua orang membenci golongan seperti kita ini, akan tetapi ada saja yang beranggapan bahwa orang-orang seperti kita ini tidak asli, dan yang tidak asli itu apa lagi kalau bukan palsu?"

"Aihh… aihh... jangan merendahkan diri seperti itu, Sin Wan. Kukira hanya perasaanmu sendiri saja demikian, dan kalau pun benar ada yang mempunyai anggapan seperti yang kau katakan itu, maka anggapan itu hanya ada di dalam pikiran orang-orang yang belum mengerti."

"Sudahlah, tidak perlu kita berbicara tentang hal-hal yang tidak mengenakkan hati kita itu. Apa pun anggapan orang terhadap diriku, akan kubuktikan bahwa aku adalah orang yang berguna bagi negara dan bangsa Han karena aku dibesarkan sebagai orang Han, bahkan merasa asing dengan bangsa Uighur yang menurunkan diriku. Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan kenapa engkau juga berkeliaran di tempat ini, Akim. Dan... haiii, baru aku ingat. Mengapa kalau aku bertemu Si Kedok Hitam, selalu muncul engkau Si Kedok Hijau?"

"Apa?! Ihh, sialan! Kau kira aku ini ekor Si Kedok Hitam?"

"Maaf, Akim, aku hanya berkelakar. Nah, ceritakan bagaimana engkau dapat mengetahui aku berada dalam tahanan kemudian dapat membebaskan aku."

"Jangan mengejek. Bila engkau menghendaki, tentu engkau dapat nembebaskan diri dari sana. Sebetulnya aku tidak mempunyai urusan denganmu, juga tidak mempunyai urusan dengan Pangeran Mahkota atau Raja Muda Yung Lo, atau dengan Si Kedok Hitam sekali pun. Aku tidak peduli semua itu. Aku kebetulan saja berada di sini, bahkan kebetulan saja ketika berada di kota raja. Aku sedang membayangi dan mencari ayahku."

"Hemmm, dan engkau menemukan jejak ayahmu menuju ke sini?" Sin Wan bertanya dan merasa tertarik sekali.

Akim menarik napas panjang. "Karena engkau sudah bicara jujur kepadaku, aku pun akan bersikap jujur. Sebenarnya aku membayangi ayahku karena merasa khawatir kalau-kalau ayahku sampai terpikat oleh orang-orang Mongol. Ketahuilah, utusan orang-orang Mongol telah mendatangi ayah dan menawarkan kerja-sama dengan janji-janji muluk hingga ayah menjadi tertarik. Dia pergi memenuhi undangan mereka bersama suheng-ku, Maniyoko."

"Maniyoko...! Hemm…, pernah aku bertemu dengan dia, bahkan bertanding melawan dia ketika terjadi perebutan kedudukan pemimpin besar para kai-pang. Dia lihai akan tetapi... hemm.... curang dan kejam."

"Aku tidak marah. Memang dia curang dan kejam, dan aku pun tidak suka pada suheng-ku itu. Nah, ayah bersama Maniyoko pergi memenuhi undangan orang-orang Mongol itu, maka atas desakan ibuku yang menentang sikap ayah itu, aku menyusul untuk membujuk ayah dan bahkan menghalangi dia menjadi kaki tangan orang Mongol. Jejaknya menuju ke kota raja, malah menuju ke Cin-an, maka aku pun mengejar ke sini. Ketika mendengar tentang pertemuan antara kedua orang pangeran, aku merasa khawatir sekali. Siapa tahu orang-orang Mongol akan mencelakai kedua orang bangsawan itu, dan ibu sama sekali tidak ingin melihat ayah membantu pemberontakan, apa lagi pemberontakan itu dilakukan oleh bangsa Mongol yang hendak mendirikan kembali pemerintah penjajah. Kemudian aku melakukan penyelidikan dan kebetulan melihat engkau dimasukkan ke tempat tahanan itu, maka aku lalu membebaskanmu."

"Akan tetapi bagaimana engkau tadi dapat merobohkan belasan orang penjaga itu tanpa menimbulkan suara ribut sama sekali?"

Dara itu tersenyum kemudian menepuk-nepuk saku di balik bajunya. "Aku melihat mereka sedang minum arak. Aku berhasil menaburkan sedikit bubuk pembius dan begitu mereka minum lagi arak mereka, seorang demi seorang roboh tanpa mengeluarkan suara."

Sin Wan tersenyum kagum dan merasa lega bahwa gadis itu tidak berwatak ganas, tidak semena-mena melakukan pembunuhan. "Engkau hebat, Akim, cerdik bukan main. Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Ketika kita berdua menyaksikan pertandingan antara panglima Bhok Cun Ki melawan ibu dan anak itu, mengapa tiba-tiba saja engkau menghilang, pergi meninggalkan aku tanpa pamit?"

Yang ditanya menundukkan mukanya dan sampai beberapa lama dia tidak menjawab.

"Kenapa, Akim?" Sin Wan mengulang, merasa amat penasaran.

Didesak pertanyaan ulang itu, Akim mengangkat muka memandang, kemudian menjawab dengan pertanyaan lain. "Sin Wan, apakah gadis yang menggunakan pedang sinar putih itu, yang hampir membunuh ayah kandungnya itu, apakah dia itu kekasihmu, tunangan atau calon isterimu?"

Tentu saja Sin Wan tertegun heran, sama sekali tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia menggeleng kepala dan menjawab singkat. "Bukan!"

"Apakah engkau mencinta gadis itu?"

Sin Wan semakin heran, akan tetapi kembali menggeleng kepala. "Tidak, kenapa engkau bertanya demikian dan apa hubungannya dengan pertanyaanku kepadamu tadi?"

"Dekat sekali hubungannya. Ketika itu aku melarikan diri tanpa pamit karena aku merasa cemburu...!"