Social Items

MELIHAT seorang wanita yang lembut dan gerak geriknya halus, seorang wanita bangsawan sejati, Cu Sui In merasa canggung. Ia melangkah menghampiri, dan sejenak kedua orang wanita itu saling pandang.

"Nyonya, sesungguhnyakah kata-katamu tadi, atau hanya sekedar basa-basi dan karena engkau takut kepada suamimu saja?" tanya Sui In.

Wanita itu tersenyum lembut. Dari seri wajah serta senyum itu saja Sui In maklum bahwa meski pun bertubuh lemah tetapi wanita ini memiliki kepribadian yang kuat sehingga tidak mungkin dia takut terhadap suaminya.

"Demi Tuhan, aku bicara dari hati yang tulus, enci. Lagi pula, harap jangan menyebutku nyonya. Aku adalah adikmu, madumu yang lebih muda, dan marilah kita bersama hidup sebagai sebuah keluarga besar."

Sui In merasa demikian terpukul dan terharu sehingga dia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Sementara itu Ci Hwa menghampiri Lili dan memegang tangan gadis itu.

"Aih, aku girang sekali mendapatkan seorang cici seperti engkau. Kau harus mengajarkan aku ilmu silatmu yang hebat itu, enci Lili!"

Seperti ibunya, Lili juga merasa tertegun. Tidak disangkanya sama sekali bahwa isteri dan anak-anak ayah kandungnya akan bersikap seperti itu! Ci Han juga tidak mau kalah, maju mendekat.

"Enci Lili, jangan lupa mengajarkan silat kepadaku pula. Kalau hanya Ci Hwa yang kau ajari dan dia lebih menang dariku, tentu dia akan sewenang-wenang terhadap aku!"

"Ihh, Han-ko, engkau ini hanya ikut-ikutan saja!" adiknya menegur. Mau tidak mau Lili jadi tersenyum, kagum dan juga bangga. Adik-adik tirinya ini sungguh mengagumkan!

Terdengar suara tawa bergelak. See-thian Coa-ong yang tertawa, lantas berkata dengan suara lantang. "Ha-ha-ha-ha, seperti adegan wayang panggung saja! Heii, Bhok Cun Ki, apa bila sekali ini engkau tidak benar-benar membahagiakan anak dan cucuku, aku pasti akan datang untuk mematahkan batang lehermu dan seluruh keluargamu!"

“Locianpwe adalah ayah mertua saya, saya persilakan locianpwe untuk tinggal sementara di rumah kami agar locianpwe dapat menyaksikan sendiri apakah saya betul-betul hendak membahagiakan Sui In dan Lili ataukah sebaliknya."

Kembali kakek itu tertawa. Di dalam hatinya dia merasa gembira sekali melihat puterinya agaknya akan mendapatkan kebahagiaannya lagi sesudah selama dua puluh tahun lebih menyiksa diri dan tenggelam dalam duka dan dendam. Juga cucunya akan mendapatkan seorang ayah kandung dan rumah tangga yang pantas. Sebagai puteri seorang panglima, tentu saja Lili akan dihormati orang dan derajatnya naik.

“Ha-ha-ha, tidak perlu aku tinggal di rumahmu. Akan tetapi sewaktu-waktu aku pasti akan singgah untuk menengok keadaan anak dan cucuku."

Lili teringat akan Sin Wan. Dia melepaskan diri dari pelukan Ci Hwa lalu lari menghampiri pemuda yang berdiri agak menjauh itu. "Hei, Sin Wan, mengapa engkau diam saja di sana?" teriaknya dan setelah tiba di depan pemuda itu, Lili memegang kedua tangannya dengan sikap mesra. "Sin Wan, aku benar-benar berterima kasih kepadamu! Kalau tidak ada engkau yang membuka rahasia, entah bagaimana jadinya. Sin Wan, agaknya kebahagiaan akan selalu menyertaiku bila engkau berada di dekatku!"

Lili memang seorang gadis yang polos, maka dia tak menyembunyikan perasaan hatinya. Semua orang dapat menduga dengan mudah bahwa gadis lincah dan lihai ini jatuh hati kepada pemuda Uighur itu.

Sin Wan juga merasakan keterus terangan Lili yang membuat mukanya berubah merah. Akan tetapi dia hanya tersenyum dan pada saat dia hendak menarik kedua tangannya, Lili mempertahankannya sehingga bagi penglihatan orang-orang di situ, kedua orang muda ini saling berpegang tangan dengan mesra dan enggan melepaskan.

"Lili, jangan berkata demikian. Engkau adalah sahabatku yang pernah menolongku, dan Bhok-ciangkun juga sahabat yang kuhormati. Aku hanya ingin mencegah terjadinya malapetaka kalau anak dan ayah saling serang dan saling bunuh. Aku ikut bergembira bahwa urusan bisa berakhir dengan baik seperti ini. Kuucapkan selamat kepada keluarga ini dan kepadamu Lili."

Bhok Cun Ki merasa berbahagia sekali melihat betapa Sui In dan isterinya nampak saling menyukai, dan kini mereka berdua menghampirinya. Tanpa berkata apa-apa Sui In sudah memeriksa pahanya yang terluka dan memberi obat. Obat dari Sui In amat manjur karena rasa nyeri langsung berkurang banyak sehingga kini dia sudah mampu bangkit berdiri.

"Sebaiknya sekarang kita pulang bersama-sama lalu bicara di rumah. Tidak baik bicara di tengah hutan seperti ini. Bagaimana pendapatmu, Sui In?"

Sui In menatap wajah pria yang tidak pernah dilupakannya itu. Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan sinar matanya lembut, malu-malu akan tetapi mulutnya tersenyum manis. "Aku hanya menurut saja..." katanya sambil melirik ke arah Nyonya Bhok.

"Ha-ha-ha, memang sebaiknya begitu. Kalian semua pulanglah, aku masih ingin melihat-lihat kota raja dulu sebelum pergi mempersiapkan pemilihan bengcu di Thai-san. Sewaktu-waktu aku akan singgah di rumah kalian. Nah, aku pergi dahulu!" Kakek itu membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap ke dalam hutan.

"Lili, kau ajaklah kedua ibumu serta adik-adikmu pulang..." kata Bhok Cun Ki, enak saja menyebut kedua ibumu seolah-olah memang sejak dulu Sui In menjadi isteri dan anggota keluarganya.

"Aku datang membawa kereta. Mari, enci Sui In, kita naik kereta bersama. Juga kalian, Lili dan Ci Hwa...”

"Tidak, ayah sedang terluka. Biarlah ayah yang naik kereta bersama ibu berdua," kata Lili. Gadis ini juga merasa tidak canggung menyebut ibu berdua. Sikapnya sungguh membuat semua orang merasa nyaman dan senang. "Aku bersama kedua adik Ci Han dan Ci Hwa akan berjalan kaki saja, dan engkau juga, Sin Wan. Engkau ikut dengan kami, bukan?"

Sin Wan meragu, akan tetapi Bhok Cun Ki berkata, "Lili benar, Sin Wan. Kita pulang dulu kemudian kita bicarakan tentang kepergian Lili dari istana, tentang semua keributan yang terjadi."

"Baiklah, paman. Aku juga jngin melaporkan beberapa peristiwa yang baru saja kualami bersama... eh, ke mana dia?" Sin Wan teringat akan Ouwyang Kim dan dia pun melompat ke tempat persembunyian mereka tadi sebelum dia keluar dan mencegah Lili membunuh ayah kandungnya. Akan tetapi Akim yang tadi mengintai di balik pohon, tidak nampak lagi bayangannya, Gadis itu telah pergi tanpa pamit!

Tanpa diketahui siapa pun, ketika Lili dan Sin Wan saling berpegang kedua tangan tadi, yang dilihat oleh orang lain seperti suatu kemesraan, ada dua orang gadis yang merasa jantungnya seperti ditusuk. Orang pertama adalah Ci Hwa. Gadis ini telah tertarik kepada Sin Wan, mengaguminya dan ingin bergaul lebih akrab. Ketika melihat adegan itu, Ci Hwa menggigit bibir dan menundukkan muka agar tidak nampak oleh orang lain.

Orang ke dua yang merasa tertusuk hatinya saat melihat adegan itu adalah Akim! Gadis ini sudah berusia dua puluh tahun, dan meski pun dia belum banyak bergaul dengan pria, namun dia dapat mengetahui isi hatinya. Dia tahu bahwa sejak dia meniupkan pernapasan ke dalam dada Sin Wan melalui mulut dengan mulut, dia sudah jatuh cinta! Maka hatinya merintih melihat kemesraan antara Sin Wan dan Lili, lalu secara diam-diam dia pun pergi meninggalkan tempat itu.

"Engkau mencari siapa, Sin Wan?" tanya Lili.

Ci Hwa yang merasa cemburu mendapat kesempatan untuk melampiaskan cemburunya. "Wan-toako, yang kau cari tentulah enci Akim yang cantik jelita itu, bukan?"

Sin Wan adalah seorang yang berwatak jujur dan tidak memiliki prasangka buruk, maka pertanyaan Ci Hwa itu pun dianggapnya biasa saja karena memang dia meninggalkan rumah keluarga Bhok bersama Akim yang sudah dia perkenalkan kepada kakak beradik itu.

"Benar, tadi dia menanti di sini.”

"Siapa sih Akim yang cantik jelita itu, Sin Wan?" Pancingan Ci Hwa berhasil karena Lili bertanya kepada Sin Wan dengan sinar mata penuh selidik.

Sin Wan mengerutkan alisnya. Pandang mata Ci Hwa dan Lili membuat dia merasa tidak enak. Kedua orang gadis itu memandang kepadanya seperti menuduhkan sesuatu yang tidak baik.

"Sudahlah, dia sudah pergi tanpa pamit. Mari kita berangkat," katanya sambil membantu Cin Han yang memapah Bhok Cun Ki keluar dari hutan itu, menuju ke kereta yang tadi ditumpangi Nyonya Bhok dan kedua orang anaknya.

Kusir bersama lima orang pengawal masih menanti di situ. Mereka merasa heran melihat majikan mereka dalam keadaan terpincang dan luka pada paha yang sudah dibalut, akan tetapi mereka tidak berani bertanya.

Bhok Cun Ki bersama dua orang wanita yang kini menjadi isterinya duduk dalam kereta. Ci Han lalu minta empat ekor kuda kepada para pengawal untuk dia, Ci Hwa, Lili dan Sin Wan. Mereka berempat menunggang kuda mengawal kereta, sedangkan para pengawal yang kehilangan kuda itu terpaksa harus berjalan kaki pulang ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan itu, Bhok Cun Ki yang duduk sekereta dengan kedua isterinya, menceritakan masa lalunya bersama Sui In kepada Nyonya Bhok yang mendengarkannya dengan penuh kesabaran. Mendengar betapa dahulu suaminya adalah kekasih Sui In dan suaminya itu meninggalkan Sui In yang tidak diketahuinya dalam keadaan mengandung, membuat Sui In menderita selama dua puluh tahun lebih, Nyonya Bhok segera menegur suaminya.

“Kalau dahulu aku tahu, tentu aku tidak mau menerima pinanganmu, kecuali kalau engkau juga menarik enci Sui In menjadi isterimu. Akan tetapi sudahlah, semua ini sudah takdir, tidak perlu disesalkan lagi asalkan di kemudian hari engkau dapat menebus kesalahan itu terhadap enci Sui In," demikian isteri yang berbudi luhur ini menasehati suaminya.

"Memang aku sudah merasa bersalah, tetapi sesungguhnya aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa Sui In telah mengandung ketika kutinggalkan," kata sang suami.

"Sudahlah," kata Sui In menghibur. "Benar seperti yang dikatakan adik tadi, semua sudah terjadi dan sudah takdir. Kalau saja tidak ada Lili, aku pun tentu akan merasa malu untuk mengganggu ketenteraman rumah tangga kalian."

"Aihh, enci Sui In harap jangan berkata demikian. Demi Tuhan, kami sama sekali tidak merasa terganggu, bahkan merasa berbahagia sekali," kata Nyonya Bhok.

Sui In memandang tajam penuh selidik, sukar untuk dipercaya ada seorang wanita yang sebaik ini. "Engkau mendapatkan seorang madu yang tidak disangka-sangka, bagaimana engkau dapat merasa berbahagia sekali?"

Nyonya Bhok tersenyum dan melirik suaminya. “Banyak keuntungan yang membuat aku merasa berbahagia. Pertama, suamiku tidak lagi terancam musuh yang amat berbahaya, bahkan mengubah musuh itu menjadi orang terdekat. Ke dua, selama ini suamiku selalu merasa berdosa dan tertekan batinnya, akan tetapi kini dia mendapat kesempatan untuk menebus dosa, bukankah itu sangat melegakan hati? Ke tiga, aku sendiri akan merasa kecewa sekali apa bila melihat suamiku menghancurkan kehidupan seorang wanita, dan kalau dia tidak mau menerima enci dan Lili, kiranya aku tidak mungkin mau mendekatinya lagi. Ke empat, dengan adanya enci dan Lili yang demikian lihai, tentu berkurang bahaya ancaman orang-orang jahat yang selalu memusuhi suami kita dan ke lima...”

"Cukup, cukup sudah...” Sui In tersenyum sambil memegang tangan madunya. "Sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu dan bersaudara dengan seorang sepertimu.”

Setelah mereka semua sampai di rumah, disambut dengan heran oleh para pengawal dan pelayan, mereka segera berkumpul di ruang dalam, mengelilingi meja besar dengan sikap gembira dan suasana berbahagia. Sin Wan yang tadinya hendak mengundurkan diri ke kamarnya karena merasa tidak berhak hadir dalam pertemuan kekeluargaan yang sangat berbahagia itu terpaksa hadir juga karena ditahan oleh Bhok Cun Ki.

"Sin Wan, pertemuan ini terutama untuk membicarakan peristiwa yang ada hubungannya dengan tugas kita. Lagi pula bukankah engkau hendak menceritakan pengalamanmu yang penting?" demikian Bhok Cun Ki menahannya.

"Benar kata ayah, Sin Wan. Lagi pula rasanya kurang lengkap kalau engkau tidak hadir!" kata Lili dan kembali Ci Hwa menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.

Demikianlah, mereka duduk mengelilingi meja, Bhok Cun Ki pada kepala meja, diapit oleh kedua isterinya di kanan kiri. Lili duduk di sebelah kiri ibu tirinya, didampingi Ci Hwa, dan Ci Han duduk bersebelahan dengan Sin Wan.

"Nah, sekarang engkau ceritakan lebih dahulu tentang pengalamanmu di istana Pangeran Mahkota, Lili. Kami hanya mendengar bahwa engkau melarikan diri dari sana dan menjadi orang buruan. Nanti aku akan menghubungi Jenderal Shu Ta untuk membebaskanmu dari buruan, sesudah aku mendengar ceritamu," kata Bhok-ciangkun kepada puterinya yang tadi baru saja hampir membunuhnya.

"Aku pun ingin sekali mendengar bagaimana engkau tiba-tiba saja dapat berada di istana pangeran, kemudian bahkan menjadi buronan. Aku belum mendengar sejelasnya," kata pula Cu Sui In kepada puterinya.

Lili tersenyum. Senang bahwa dia menjadi pusat perhatian, dan merasa lucu bahwa kalau baru saja tadi dia masih menjadi musuh Bhok Cun Ki dan menjadi sumoi Cu Sui In, kini dia menghadapi mereka sebagai ayah dan ibu kandung. Seperti dalam mimpi saja!

Lili kemudian menceritakan dengan terus terang tentang semua pengalamannya sejak dia pergi meninggalkan Bukit Ular sampai dia yang mencari Bhok Cun Ki ke kota raja, dalam perjalanan bertemu dengan Yauw Lu Ta yang dikenalnya sebagai Yauw Kongcu. Betapa atas bantuan Yauw Kongcu dia lalu diterima menjadi pengawal pribadi Pangeran Mahkota, sedangkan Yauw Kongcu menjadi penasehat dan guru sastra Pangeran kecil Chu Hong, putera Pangeran Mahkota Chu Hui San.

"Ketika Sin Wan menghadap Pangeran Mahkota, masih belum terjadi apa-apa sehingga aku masih menganggap Pangeran Mahkota itu baik dan aku setia kepadanya. Ehh, tidak tahunya, sesudah Sin Wan pergi, pangeran laknat itu memanggilku ke kamarnya dan dia hendak berbuat kurang ajar! Kalau aku tidak ingat bahwa dia itu putera kaisar, pangeran yang menjadi putera mahkota, tentu dia sudah kucekik mampus! Aku marah sekali dan meninggalkannya tanpa menyerangnya. Akan tetapi pangeran gila itu berteriak memanggil pasukan pengawal sehingga aku menjadi buronan. Untung di depan istana aku bertemu dengan suci ehh, dengan ibu dan kongkong (kakek) sehingga dapat lolos dari kepungan pasukan keamanan."

Dia kemudian menceritakan betapa dia, ibunya dan kakeknya yang sedang melarikan diri, ditolong oleh Yauw Kongcu atau Yauw Siucai, bersembunyi dan berhasil keluar dari kota raja dengan menyamar, sampai terjadi peristiwa tadi di dalam hutan.

Semua orang merasa kagum mendengar pengalaman yang hebat dari Lili itu.

"Wah, enci Lili sungguh seorang pemberani!" puji Ci Han kagum.

Betapa dia tak akan merasa kagum mendengar seorang gadis muda seperti kakak tirinya ini sempat membikin geger istana pangeran mahkota dengan perbuatannya yang gagah berani menentang seorang pangeran mahkota calon kaisar? Sebagai adiknya sungguh dia merasa bangga!

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya. "Hemm, aku juga sudah mendengar akan watak yang kurang baik dari putera mahkota. Akan tetapi dia memiliki kekuasaan besar sekali. Kalau dia tahu bahwa engkau adalah anakku, mungkin dia akan mempergunakan kekuasaannya untuk menuntut agar engkau kuserahkan kepadanya."

"Huh, kalau begitu, biar kubunuh saja pangeran keparat itu, ayah!" Lili berseru.

“Lili, ingat bahwa sekarang kita bukan lagi menjadi penghuni Bukit Ular yang bebas liar sehingga boleh berbuat sesuka hati kita. Ingat bahwa engkau adalah puteri ayahmu yang menjabat pangkat panglima! Kau serahkan saja urusan ini kepada ayahmu, tentu dia akan mengetahui apa yang terbaik untukmu," kata Sui In.

Kalau orang yang sudah lama mengenalnya, mendengar kata-kata ini tentu akan merasa heran bukan main. Dalam sekejap mata saja wanita yang tadinya terkenal liar dan ganas ini tiba-tiba berubah menjadi seorang ibu yang baik, yang taat dan patuh kepada suami!

"Ibumu benar,” kata Bhok Cun Ki, wajahnya berseri-seri ketika dia memandang kepada Sui In. "Akan tetapi jangan khawatir. Selain kaisar sendiri, orang yang dapat mengatasi pangeran itu adalah atasanku, yaitu Jenderal Shu Ta. Jenderal Shu tentu akan mampu membebaskanmu dari pengejaran dan dia yang berani menegur pangeran mata keranjang dan lemah itu. Sekarang harap engkau suka menceritakan pengalamanmu yang penting itu, Sin Wan."

Sin Wan kemudian bercerita tentang pertemuannya dengan Yauw Siucai di jalan, dan dia melihat sastrawan itu tergesa-gesa memasuki lorong, maka dia segera membayangi dan melihat sastrawan itu hilang di lorong itu. Lalu dia menceritakan betapa dia terjebak oleh Si Kedok Hitam yang pernah dijumpainya di rumah peristirahatan Pangeran Mahkota!

"Saya tentu telah tewas oleh Si Kedok Hitam yang licik dan lihai, paman, kalau saja tidak ditolong oleh Akim." Dia lalu menceritakan tentang pertolongan gadis perkasa itu sehingga dia dapat lolos, akan tetapi tidak berhasil menemukan Si Kedok Hitam.

Sesudah dia selesai bercerita, Lili cepat bertanya, "Apakah Akim adalah gadis yang kata adik Ci Hwa cantik jelita dan yang kau cari di hutan itu, Sin Wan? Kalau benar, siapa sih dia yang begitu lihai?"

Pertanyaan yang begitu jujur, akan tetapi kembali membayangkan kecemburuan! Sin Wan mengerutkan alisnya dan menjawab, "Memang benar, panggilannya Akim, dan namanya yang sebenarnya adalah Ouwyang Kim,"

"Ouwyang...?!” Cu Sui In berseru. "Apakah dia ada hubungannya dengan Tung-hai-liong Ouwyang Cin?"

Sin Wan mengangguk. "Memang dia adalah puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin. Tapi bila melihat sepak terjangnya, dia tidak bisa dimasukkan golongan sesat. Lili, aku benar-benar curiga melihat Yauw Siucai itu. Menurut ceritamu tadi, selain ahli sastra, dia juga pandai silat?"

Lili mengacungkan jempol kanannya. "Dia lihai bukan main! Ilmu silatnya tinggi, mungkin tidak kalah olehmu, Sin Wan."

Tentu saja ini hanya bual kosong, mungkin hanya untuk membalas kisah Sin Wan tentang Akim, karena sesungguhnya Lili belum pernah menguji ilmu kepandaian Yauw Siucai. Dia memang dapat menduga bahwa sastrawan itu lihai ketika Yauw Siucai menghukum mati dua orang anak buahnya dengan sekali pancung dan pedangnya sedikit pun tidak bernoda darah.

Mendengar ini Sin Wan mengerutkan alisnya "Kalau begitu sungguh mencurigakan sekali. Tahukah engkau akan asal usulnya, Lili?"

Lili menggelengkan kepala, "Kami bertemu, lalu berkenalan, akan tetapi aku tidak pernah bertanya tentang riwayatnya. Tetapi aku yakin bahwa dia bukan golongan sesat." Kembali ucapan khusus ditujukan untuk membalas pujian Sin Wan tentang Akim tadi.

Bhok Cun Ki juga mengerutkan alisnya. "Memang mencurigakan. Asal-usulnya tidak jelas, pandai silat, akan tetapi tiba-tiba saja menjadi guru sastra putera Pangeran Mahkota. Dan sesudah itu Sin Wan melihat Si Kedok Hitam di rumah peristirahatan Pangeran Mahkota, kemudian melihat Yauw Kongcu di lorong itu yang kemudian mempertemukan Sin Wan dengan Si Kedok Hitam lagi. Apakah ada hubungan antara dia dan Si Kedok Hitam? Lili, apakah engkau pernah melihat Yauw Siucai mengadakan hubungan dengan orang yang berkedok hitam itu?"

Lili mengerutkan alisnya, mulutnya cemberut dan menggeleng kepala. "Ayah, kalau perlu aku dapat menemui dia dan dapat kutanyakan dia apakah mempunyai hubungan dengan Si Kedok Hitam."

"Jangan, Lili. Hal itu akan berbahaya sekali bagimu. Bahaya datangnya bukan saja dari Si Kedok Hitam, akan tetapi terutama sekali dari Pangeran Mahkota sendiri. Dia merupakan putera mahkota yang besar kekuasaannya, sehingga menyelidiki keadaannya saja sudah dapat dianggap sebagai pemberontak. Aku akan berunding dulu dengan Jenderal Shu Ta, bagaimana untuk menghadapi pangeran itu, sebab setidaknya hanya Jenderal Shu yang akan mampu membebaskan engkau dari pengejaran pasukan keamanan."

"Paman Bhok, bagaimana pun juga rumah di lorong itu amat mencurigakan dan aku yakin bahwa rumah itu pasti menjadi sarang dari jaringan mata-mata yang beraksi di kota raja. Karena itu, bagaimana pendapat paman kalau saya memimpin pasukan untuk melakukan penggeledahan?"

"Itu baik sekali, Sin Wan. Apa bila aku tidak sedang terluka, tentu akan kupimpin sendiri. Nah, sekarang juga akan kusuruh kepala pengawal mempersiapkan pasukan!" Panglima itu memanggil kepala pengawal dan segera memerintahkan untuk menyiapkan dua losin prajurit untuk dipimpin Sin Wan melakukan penggeledahan dan pembersihan.

Setelah Sin Wan pergi melaksanakan tugas, keluarga itu masih berkumpul dan bercakap-cakap saling menceritakan riwayat dan pengalaman masing-masing, lantas sebuah pesta keluarga yang meriah diadakan untuk menyambut masuknya anggota keluarga baru itu. Cu Sui In merasa bahagia sekali karena sekarang dia dapat membuktikan sendiri betapa besar cinta kasih Bhok Cun Ki kepada dirinya, dan terutama sekali sikap yang amat baik dari madunya dan anak-anak tirinya.

Lili juga merasa amat berbahagia. Nyonya Bhok memang seorang wanita yang bijaksana. Tanpa segan dan dengan rela hati dia mengumumkan kepada seluruh pelayan di dalam keluarganya bahwa nyonya yang baru itu adalah Toa-hujin (Nyonya Pertama) sedangkan dia sendiri adalah Nyonya Kedua. Hal ini dia lakukan dengan penuh kesadaran bahwa Sui In memang lebih dahulu menjadi isteri suaminya, dan Lili adalah anak sulung.

Sungguh pun merasa heran karena belum pernah mendengar majikan mereka menikah dengan nyonya baru yang telah mempunyai seorang anak yang sudah dewasa itu, para pelayan tidak ada yang berani bertanya atau membicarakan, dan menerima Sui In dan Lili sebagai Toa-hujin dan Nona Lili

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sementara itu Sin Wan memimpin dua losin prajurit, memasuki lorong untuk menyerbu rumah besar di mana dia terjebak siang tadi. Para prajurit membawa obor dan rumah itu dikepung lalu diserbu. Mereka bersikap hati-hati sekali dan mentaati semua petunjuk Sin Wan yang tidak ingin melihat pasukan itu menjadi korban perangkap yang dipasang di rumah itu.

Tapi segera mereka mendapatkan rumah itu kosong, tanpa seorang pun penghuni. Tidak ditemukan tanda-tanda adanya jaringan mata-mata di situ, hanya terdapat perabot rumah biasa. Bahkan semua alat perangkap juga tidak bekerja karena sudah dirusak. Agaknya penghuni rumah itu sudah lebih dahulu menghilangkan semua jejak kemudian melarikan diri meninggalkan sarang itu.

********************

Bhok Cun Ki sendiri, setelah dapat berjalan dan luka di pahanya hampir sembuh, segera pergi mengunjungi Jenderal Shu Ta yang mendengarkan dengan penuh perhatian semua laporannya. Jenderal itu menghela napas panjang dan berkata,

"Sebelum engkau melaporkan, kami sendiri sudah menyuruh seorang penyelidik supaya menyelidiki Yauw Siucai yang tahu-tahu muncul kemudian bergaul dengan amat akrabnya mendekati pangeran mahkota, bahkan sudah diangkat menjadi guru sastra bagi pangeran kecil Chu Hong. Ternyata pangeran pertama kali bertemu dengan sastrawan itu di sebuah rumah pelesir, pada waktu pangeran itu menggoda seorang wanita dan suaminya marah-marah. Hampir saja pangeran mahkota celaka, akan tetapi kemudian muncul Yauw Siucai yang menolongnya. Semenjak itu pangeran lalu mengajak Yauw Siucai ke istananya dan mengangkatnya menjadi guru sastra puteranya. Agaknya tidak ada yang mencurigakan pada diri Yauw Siucai, apa lagi pangeran mahkota demikian percaya kepadanya."

Bhok Cun Ki yang menjadi orang kepercayaan Jenderal Shu Ta itu secara terus terang lalu menceritakan tentang Lili, puterinya yang baru saja dia temukan.

"Bwe Li secara kebetulan bertemu dan berkenalan dengan Yauw Siucai, dan sastrawan itulah yang mengusulkan kepada pangeran mahkota agar puteriku dapat diberi kedudukan sebagai pengawal pribadi. Pada mulanya semua berjalan dengan baik, akan tetapi pada suatu waktu, puteriku hendak dipaksa menjadi selir pangeran. Ia tidak mau lalu melarikan diri dari istana, dan sejak itulah dia dijadikan orang buruan, dikejar-kejar seperti penjahat. Saya mohon bantuan Goanswe (jenderal) agar pengejaran terhadap puteri saya itu dapat dihentikan karena Bwe Li sama sekali tidak bersalah."

Jenderal Shu Ta menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sungguh mengecewakan sekali jika diingat bahwa pangeran mahkota adalah calon kaisar yang baru kalau tiba saatnya nanti. Bagaimana mungkin pemerintahan dipimpin oleh seorang yang kini hanya mengutamakan kesenangan dan pemuasan nafsu-nafsunya saja. Bermain perempuan, tidak segan-segan mengganggu anak isteri orang, pelesir di rumah-rumah pelacuran, bermabok-mabokan, bahkan yang terakhir ini para penyelidik kami melaporkan bahwa beliau mulai menghisap candu. Baiklah, akan kubujuk sang pangeran supaya menghentikan pengejaran terhadap puterimu, tapi berhati-hatilah, ciangkun, jangan sampai menyinggungnya secara langsung karena kalau sampai terjadi dia menuntut seseorang dengan bukti, aku sendiri pun tidak akan mampu mencegahnya. Kita amat-amati saja keadaannya dari jauh dengan waspada, terutama sekali kita awasi gerak-gerik Yauw Siucai. Walau pun belum ada bukti bahwa dia mempunyai hubungan dengan jaringan mata-mata, namun kita harus selalu waspada."

Demikianlah, dengan bantuan Jenderal Shu Ta, Pangeran Chu Hui San membebaskan Lili dan tidak lagi ada pengejaran terhadap gadis itu. Dan karena semenjak itu tidak nampak Yauw Siucai mengadakan aksi apa pun yang mencurigakan, melainkan dengan tekun dia mendidik pangeran kecil Chu Hong, maka Bhok Cun Ki juga tidak memiliki alasan untuk mencurigainya, apa lagi menindaknya.

********************

“Hwa-moi, mengapa selama ini engkau bermuram durja saja seperti orang yang berduka dan kecewa? Siauw-moi (adik kecil), bukankah hadirnya ibu tiri dan kakak tiri di rumah ini menambah kecerahan kepada kehidupan keluarga kita? Lihat, setelah ibu tiri berkumpul dengan kita, ayah selalu kelihatan riang gembira dan wajahnya selalu cerah, seakan dia menjadi muda kembali. Juga ibu selalu nampak gembira, dan pergaulannya akrab sekali dengan ibu tiri kita. Malah selama satu bulan ini kita sendiri sering kali menerima petunjuk dalam ilmu silat dan dapat berlatih silat di bawah bimbingan enci Lili. Mengapa engkau kelihatan bersedih, adikku manis?" Ci Han membujuk dan bertanya kepada adiknya ketika pada sore hari itu mereka berdua selesai berlatih silat di taman bunga.

Sekali itu Lili tidak berada bersama mereka. Sesudah tadi memberi petunjuk, Lili langsung meninggalkan dua orang adik tirinya itu sehingga terbuka kesempatan bagi Ci Han untuk menanyai adiknya.

Mendengar ucapan kakaknya itu, Ci Hwa menundukkan mukanya dan diam saja. Akan tetapi kakaknya melihat betapa ada beberapa titik air mata berjatuhan ke atas kedua pipi adiknya. Ci Han terkejut sekali. Tak disangkanya keadaan hati adiknya sudah separah itu, agaknya kesedihannya memang bersungguh-sungguh.

Ci Han duduk pada bangku dekat adiknya, memegang tangan Ci Hwa. "Adikku yang baik, selama ini tidak ada rahasia di antara kita, Katakanlah, apa yang menyusahkan hatimu, adikku? Aku pasti akan membantumu. Katakanlah kepadaku!"

"Koko..." Akhirnya Ci Hwa berkata lirih dan menghela napas panjang, lalu menggunakan punggung tangan untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya. "Han-koko, hanya kepadamulah aku tak akan pernah merahasiakan sesuatu. Engkau tentu tahu bagaimana perasaan hatiku terhadap Wan-toako..." Gadis itu menundukkan mukanya dan sepasang pipinya kemerahan...

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 21

MELIHAT seorang wanita yang lembut dan gerak geriknya halus, seorang wanita bangsawan sejati, Cu Sui In merasa canggung. Ia melangkah menghampiri, dan sejenak kedua orang wanita itu saling pandang.

"Nyonya, sesungguhnyakah kata-katamu tadi, atau hanya sekedar basa-basi dan karena engkau takut kepada suamimu saja?" tanya Sui In.

Wanita itu tersenyum lembut. Dari seri wajah serta senyum itu saja Sui In maklum bahwa meski pun bertubuh lemah tetapi wanita ini memiliki kepribadian yang kuat sehingga tidak mungkin dia takut terhadap suaminya.

"Demi Tuhan, aku bicara dari hati yang tulus, enci. Lagi pula, harap jangan menyebutku nyonya. Aku adalah adikmu, madumu yang lebih muda, dan marilah kita bersama hidup sebagai sebuah keluarga besar."

Sui In merasa demikian terpukul dan terharu sehingga dia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Sementara itu Ci Hwa menghampiri Lili dan memegang tangan gadis itu.

"Aih, aku girang sekali mendapatkan seorang cici seperti engkau. Kau harus mengajarkan aku ilmu silatmu yang hebat itu, enci Lili!"

Seperti ibunya, Lili juga merasa tertegun. Tidak disangkanya sama sekali bahwa isteri dan anak-anak ayah kandungnya akan bersikap seperti itu! Ci Han juga tidak mau kalah, maju mendekat.

"Enci Lili, jangan lupa mengajarkan silat kepadaku pula. Kalau hanya Ci Hwa yang kau ajari dan dia lebih menang dariku, tentu dia akan sewenang-wenang terhadap aku!"

"Ihh, Han-ko, engkau ini hanya ikut-ikutan saja!" adiknya menegur. Mau tidak mau Lili jadi tersenyum, kagum dan juga bangga. Adik-adik tirinya ini sungguh mengagumkan!

Terdengar suara tawa bergelak. See-thian Coa-ong yang tertawa, lantas berkata dengan suara lantang. "Ha-ha-ha-ha, seperti adegan wayang panggung saja! Heii, Bhok Cun Ki, apa bila sekali ini engkau tidak benar-benar membahagiakan anak dan cucuku, aku pasti akan datang untuk mematahkan batang lehermu dan seluruh keluargamu!"

“Locianpwe adalah ayah mertua saya, saya persilakan locianpwe untuk tinggal sementara di rumah kami agar locianpwe dapat menyaksikan sendiri apakah saya betul-betul hendak membahagiakan Sui In dan Lili ataukah sebaliknya."

Kembali kakek itu tertawa. Di dalam hatinya dia merasa gembira sekali melihat puterinya agaknya akan mendapatkan kebahagiaannya lagi sesudah selama dua puluh tahun lebih menyiksa diri dan tenggelam dalam duka dan dendam. Juga cucunya akan mendapatkan seorang ayah kandung dan rumah tangga yang pantas. Sebagai puteri seorang panglima, tentu saja Lili akan dihormati orang dan derajatnya naik.

“Ha-ha-ha, tidak perlu aku tinggal di rumahmu. Akan tetapi sewaktu-waktu aku pasti akan singgah untuk menengok keadaan anak dan cucuku."

Lili teringat akan Sin Wan. Dia melepaskan diri dari pelukan Ci Hwa lalu lari menghampiri pemuda yang berdiri agak menjauh itu. "Hei, Sin Wan, mengapa engkau diam saja di sana?" teriaknya dan setelah tiba di depan pemuda itu, Lili memegang kedua tangannya dengan sikap mesra. "Sin Wan, aku benar-benar berterima kasih kepadamu! Kalau tidak ada engkau yang membuka rahasia, entah bagaimana jadinya. Sin Wan, agaknya kebahagiaan akan selalu menyertaiku bila engkau berada di dekatku!"

Lili memang seorang gadis yang polos, maka dia tak menyembunyikan perasaan hatinya. Semua orang dapat menduga dengan mudah bahwa gadis lincah dan lihai ini jatuh hati kepada pemuda Uighur itu.

Sin Wan juga merasakan keterus terangan Lili yang membuat mukanya berubah merah. Akan tetapi dia hanya tersenyum dan pada saat dia hendak menarik kedua tangannya, Lili mempertahankannya sehingga bagi penglihatan orang-orang di situ, kedua orang muda ini saling berpegang tangan dengan mesra dan enggan melepaskan.

"Lili, jangan berkata demikian. Engkau adalah sahabatku yang pernah menolongku, dan Bhok-ciangkun juga sahabat yang kuhormati. Aku hanya ingin mencegah terjadinya malapetaka kalau anak dan ayah saling serang dan saling bunuh. Aku ikut bergembira bahwa urusan bisa berakhir dengan baik seperti ini. Kuucapkan selamat kepada keluarga ini dan kepadamu Lili."

Bhok Cun Ki merasa berbahagia sekali melihat betapa Sui In dan isterinya nampak saling menyukai, dan kini mereka berdua menghampirinya. Tanpa berkata apa-apa Sui In sudah memeriksa pahanya yang terluka dan memberi obat. Obat dari Sui In amat manjur karena rasa nyeri langsung berkurang banyak sehingga kini dia sudah mampu bangkit berdiri.

"Sebaiknya sekarang kita pulang bersama-sama lalu bicara di rumah. Tidak baik bicara di tengah hutan seperti ini. Bagaimana pendapatmu, Sui In?"

Sui In menatap wajah pria yang tidak pernah dilupakannya itu. Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan sinar matanya lembut, malu-malu akan tetapi mulutnya tersenyum manis. "Aku hanya menurut saja..." katanya sambil melirik ke arah Nyonya Bhok.

"Ha-ha-ha, memang sebaiknya begitu. Kalian semua pulanglah, aku masih ingin melihat-lihat kota raja dulu sebelum pergi mempersiapkan pemilihan bengcu di Thai-san. Sewaktu-waktu aku akan singgah di rumah kalian. Nah, aku pergi dahulu!" Kakek itu membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap ke dalam hutan.

"Lili, kau ajaklah kedua ibumu serta adik-adikmu pulang..." kata Bhok Cun Ki, enak saja menyebut kedua ibumu seolah-olah memang sejak dulu Sui In menjadi isteri dan anggota keluarganya.

"Aku datang membawa kereta. Mari, enci Sui In, kita naik kereta bersama. Juga kalian, Lili dan Ci Hwa...”

"Tidak, ayah sedang terluka. Biarlah ayah yang naik kereta bersama ibu berdua," kata Lili. Gadis ini juga merasa tidak canggung menyebut ibu berdua. Sikapnya sungguh membuat semua orang merasa nyaman dan senang. "Aku bersama kedua adik Ci Han dan Ci Hwa akan berjalan kaki saja, dan engkau juga, Sin Wan. Engkau ikut dengan kami, bukan?"

Sin Wan meragu, akan tetapi Bhok Cun Ki berkata, "Lili benar, Sin Wan. Kita pulang dulu kemudian kita bicarakan tentang kepergian Lili dari istana, tentang semua keributan yang terjadi."

"Baiklah, paman. Aku juga jngin melaporkan beberapa peristiwa yang baru saja kualami bersama... eh, ke mana dia?" Sin Wan teringat akan Ouwyang Kim dan dia pun melompat ke tempat persembunyian mereka tadi sebelum dia keluar dan mencegah Lili membunuh ayah kandungnya. Akan tetapi Akim yang tadi mengintai di balik pohon, tidak nampak lagi bayangannya, Gadis itu telah pergi tanpa pamit!

Tanpa diketahui siapa pun, ketika Lili dan Sin Wan saling berpegang kedua tangan tadi, yang dilihat oleh orang lain seperti suatu kemesraan, ada dua orang gadis yang merasa jantungnya seperti ditusuk. Orang pertama adalah Ci Hwa. Gadis ini telah tertarik kepada Sin Wan, mengaguminya dan ingin bergaul lebih akrab. Ketika melihat adegan itu, Ci Hwa menggigit bibir dan menundukkan muka agar tidak nampak oleh orang lain.

Orang ke dua yang merasa tertusuk hatinya saat melihat adegan itu adalah Akim! Gadis ini sudah berusia dua puluh tahun, dan meski pun dia belum banyak bergaul dengan pria, namun dia dapat mengetahui isi hatinya. Dia tahu bahwa sejak dia meniupkan pernapasan ke dalam dada Sin Wan melalui mulut dengan mulut, dia sudah jatuh cinta! Maka hatinya merintih melihat kemesraan antara Sin Wan dan Lili, lalu secara diam-diam dia pun pergi meninggalkan tempat itu.

"Engkau mencari siapa, Sin Wan?" tanya Lili.

Ci Hwa yang merasa cemburu mendapat kesempatan untuk melampiaskan cemburunya. "Wan-toako, yang kau cari tentulah enci Akim yang cantik jelita itu, bukan?"

Sin Wan adalah seorang yang berwatak jujur dan tidak memiliki prasangka buruk, maka pertanyaan Ci Hwa itu pun dianggapnya biasa saja karena memang dia meninggalkan rumah keluarga Bhok bersama Akim yang sudah dia perkenalkan kepada kakak beradik itu.

"Benar, tadi dia menanti di sini.”

"Siapa sih Akim yang cantik jelita itu, Sin Wan?" Pancingan Ci Hwa berhasil karena Lili bertanya kepada Sin Wan dengan sinar mata penuh selidik.

Sin Wan mengerutkan alisnya. Pandang mata Ci Hwa dan Lili membuat dia merasa tidak enak. Kedua orang gadis itu memandang kepadanya seperti menuduhkan sesuatu yang tidak baik.

"Sudahlah, dia sudah pergi tanpa pamit. Mari kita berangkat," katanya sambil membantu Cin Han yang memapah Bhok Cun Ki keluar dari hutan itu, menuju ke kereta yang tadi ditumpangi Nyonya Bhok dan kedua orang anaknya.

Kusir bersama lima orang pengawal masih menanti di situ. Mereka merasa heran melihat majikan mereka dalam keadaan terpincang dan luka pada paha yang sudah dibalut, akan tetapi mereka tidak berani bertanya.

Bhok Cun Ki bersama dua orang wanita yang kini menjadi isterinya duduk dalam kereta. Ci Han lalu minta empat ekor kuda kepada para pengawal untuk dia, Ci Hwa, Lili dan Sin Wan. Mereka berempat menunggang kuda mengawal kereta, sedangkan para pengawal yang kehilangan kuda itu terpaksa harus berjalan kaki pulang ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan itu, Bhok Cun Ki yang duduk sekereta dengan kedua isterinya, menceritakan masa lalunya bersama Sui In kepada Nyonya Bhok yang mendengarkannya dengan penuh kesabaran. Mendengar betapa dahulu suaminya adalah kekasih Sui In dan suaminya itu meninggalkan Sui In yang tidak diketahuinya dalam keadaan mengandung, membuat Sui In menderita selama dua puluh tahun lebih, Nyonya Bhok segera menegur suaminya.

“Kalau dahulu aku tahu, tentu aku tidak mau menerima pinanganmu, kecuali kalau engkau juga menarik enci Sui In menjadi isterimu. Akan tetapi sudahlah, semua ini sudah takdir, tidak perlu disesalkan lagi asalkan di kemudian hari engkau dapat menebus kesalahan itu terhadap enci Sui In," demikian isteri yang berbudi luhur ini menasehati suaminya.

"Memang aku sudah merasa bersalah, tetapi sesungguhnya aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa Sui In telah mengandung ketika kutinggalkan," kata sang suami.

"Sudahlah," kata Sui In menghibur. "Benar seperti yang dikatakan adik tadi, semua sudah terjadi dan sudah takdir. Kalau saja tidak ada Lili, aku pun tentu akan merasa malu untuk mengganggu ketenteraman rumah tangga kalian."

"Aihh, enci Sui In harap jangan berkata demikian. Demi Tuhan, kami sama sekali tidak merasa terganggu, bahkan merasa berbahagia sekali," kata Nyonya Bhok.

Sui In memandang tajam penuh selidik, sukar untuk dipercaya ada seorang wanita yang sebaik ini. "Engkau mendapatkan seorang madu yang tidak disangka-sangka, bagaimana engkau dapat merasa berbahagia sekali?"

Nyonya Bhok tersenyum dan melirik suaminya. “Banyak keuntungan yang membuat aku merasa berbahagia. Pertama, suamiku tidak lagi terancam musuh yang amat berbahaya, bahkan mengubah musuh itu menjadi orang terdekat. Ke dua, selama ini suamiku selalu merasa berdosa dan tertekan batinnya, akan tetapi kini dia mendapat kesempatan untuk menebus dosa, bukankah itu sangat melegakan hati? Ke tiga, aku sendiri akan merasa kecewa sekali apa bila melihat suamiku menghancurkan kehidupan seorang wanita, dan kalau dia tidak mau menerima enci dan Lili, kiranya aku tidak mungkin mau mendekatinya lagi. Ke empat, dengan adanya enci dan Lili yang demikian lihai, tentu berkurang bahaya ancaman orang-orang jahat yang selalu memusuhi suami kita dan ke lima...”

"Cukup, cukup sudah...” Sui In tersenyum sambil memegang tangan madunya. "Sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu dan bersaudara dengan seorang sepertimu.”

Setelah mereka semua sampai di rumah, disambut dengan heran oleh para pengawal dan pelayan, mereka segera berkumpul di ruang dalam, mengelilingi meja besar dengan sikap gembira dan suasana berbahagia. Sin Wan yang tadinya hendak mengundurkan diri ke kamarnya karena merasa tidak berhak hadir dalam pertemuan kekeluargaan yang sangat berbahagia itu terpaksa hadir juga karena ditahan oleh Bhok Cun Ki.

"Sin Wan, pertemuan ini terutama untuk membicarakan peristiwa yang ada hubungannya dengan tugas kita. Lagi pula bukankah engkau hendak menceritakan pengalamanmu yang penting?" demikian Bhok Cun Ki menahannya.

"Benar kata ayah, Sin Wan. Lagi pula rasanya kurang lengkap kalau engkau tidak hadir!" kata Lili dan kembali Ci Hwa menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.

Demikianlah, mereka duduk mengelilingi meja, Bhok Cun Ki pada kepala meja, diapit oleh kedua isterinya di kanan kiri. Lili duduk di sebelah kiri ibu tirinya, didampingi Ci Hwa, dan Ci Han duduk bersebelahan dengan Sin Wan.

"Nah, sekarang engkau ceritakan lebih dahulu tentang pengalamanmu di istana Pangeran Mahkota, Lili. Kami hanya mendengar bahwa engkau melarikan diri dari sana dan menjadi orang buruan. Nanti aku akan menghubungi Jenderal Shu Ta untuk membebaskanmu dari buruan, sesudah aku mendengar ceritamu," kata Bhok-ciangkun kepada puterinya yang tadi baru saja hampir membunuhnya.

"Aku pun ingin sekali mendengar bagaimana engkau tiba-tiba saja dapat berada di istana pangeran, kemudian bahkan menjadi buronan. Aku belum mendengar sejelasnya," kata pula Cu Sui In kepada puterinya.

Lili tersenyum. Senang bahwa dia menjadi pusat perhatian, dan merasa lucu bahwa kalau baru saja tadi dia masih menjadi musuh Bhok Cun Ki dan menjadi sumoi Cu Sui In, kini dia menghadapi mereka sebagai ayah dan ibu kandung. Seperti dalam mimpi saja!

Lili kemudian menceritakan dengan terus terang tentang semua pengalamannya sejak dia pergi meninggalkan Bukit Ular sampai dia yang mencari Bhok Cun Ki ke kota raja, dalam perjalanan bertemu dengan Yauw Lu Ta yang dikenalnya sebagai Yauw Kongcu. Betapa atas bantuan Yauw Kongcu dia lalu diterima menjadi pengawal pribadi Pangeran Mahkota, sedangkan Yauw Kongcu menjadi penasehat dan guru sastra Pangeran kecil Chu Hong, putera Pangeran Mahkota Chu Hui San.

"Ketika Sin Wan menghadap Pangeran Mahkota, masih belum terjadi apa-apa sehingga aku masih menganggap Pangeran Mahkota itu baik dan aku setia kepadanya. Ehh, tidak tahunya, sesudah Sin Wan pergi, pangeran laknat itu memanggilku ke kamarnya dan dia hendak berbuat kurang ajar! Kalau aku tidak ingat bahwa dia itu putera kaisar, pangeran yang menjadi putera mahkota, tentu dia sudah kucekik mampus! Aku marah sekali dan meninggalkannya tanpa menyerangnya. Akan tetapi pangeran gila itu berteriak memanggil pasukan pengawal sehingga aku menjadi buronan. Untung di depan istana aku bertemu dengan suci ehh, dengan ibu dan kongkong (kakek) sehingga dapat lolos dari kepungan pasukan keamanan."

Dia kemudian menceritakan betapa dia, ibunya dan kakeknya yang sedang melarikan diri, ditolong oleh Yauw Kongcu atau Yauw Siucai, bersembunyi dan berhasil keluar dari kota raja dengan menyamar, sampai terjadi peristiwa tadi di dalam hutan.

Semua orang merasa kagum mendengar pengalaman yang hebat dari Lili itu.

"Wah, enci Lili sungguh seorang pemberani!" puji Ci Han kagum.

Betapa dia tak akan merasa kagum mendengar seorang gadis muda seperti kakak tirinya ini sempat membikin geger istana pangeran mahkota dengan perbuatannya yang gagah berani menentang seorang pangeran mahkota calon kaisar? Sebagai adiknya sungguh dia merasa bangga!

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya. "Hemm, aku juga sudah mendengar akan watak yang kurang baik dari putera mahkota. Akan tetapi dia memiliki kekuasaan besar sekali. Kalau dia tahu bahwa engkau adalah anakku, mungkin dia akan mempergunakan kekuasaannya untuk menuntut agar engkau kuserahkan kepadanya."

"Huh, kalau begitu, biar kubunuh saja pangeran keparat itu, ayah!" Lili berseru.

“Lili, ingat bahwa sekarang kita bukan lagi menjadi penghuni Bukit Ular yang bebas liar sehingga boleh berbuat sesuka hati kita. Ingat bahwa engkau adalah puteri ayahmu yang menjabat pangkat panglima! Kau serahkan saja urusan ini kepada ayahmu, tentu dia akan mengetahui apa yang terbaik untukmu," kata Sui In.

Kalau orang yang sudah lama mengenalnya, mendengar kata-kata ini tentu akan merasa heran bukan main. Dalam sekejap mata saja wanita yang tadinya terkenal liar dan ganas ini tiba-tiba berubah menjadi seorang ibu yang baik, yang taat dan patuh kepada suami!

"Ibumu benar,” kata Bhok Cun Ki, wajahnya berseri-seri ketika dia memandang kepada Sui In. "Akan tetapi jangan khawatir. Selain kaisar sendiri, orang yang dapat mengatasi pangeran itu adalah atasanku, yaitu Jenderal Shu Ta. Jenderal Shu tentu akan mampu membebaskanmu dari pengejaran dan dia yang berani menegur pangeran mata keranjang dan lemah itu. Sekarang harap engkau suka menceritakan pengalamanmu yang penting itu, Sin Wan."

Sin Wan kemudian bercerita tentang pertemuannya dengan Yauw Siucai di jalan, dan dia melihat sastrawan itu tergesa-gesa memasuki lorong, maka dia segera membayangi dan melihat sastrawan itu hilang di lorong itu. Lalu dia menceritakan betapa dia terjebak oleh Si Kedok Hitam yang pernah dijumpainya di rumah peristirahatan Pangeran Mahkota!

"Saya tentu telah tewas oleh Si Kedok Hitam yang licik dan lihai, paman, kalau saja tidak ditolong oleh Akim." Dia lalu menceritakan tentang pertolongan gadis perkasa itu sehingga dia dapat lolos, akan tetapi tidak berhasil menemukan Si Kedok Hitam.

Sesudah dia selesai bercerita, Lili cepat bertanya, "Apakah Akim adalah gadis yang kata adik Ci Hwa cantik jelita dan yang kau cari di hutan itu, Sin Wan? Kalau benar, siapa sih dia yang begitu lihai?"

Pertanyaan yang begitu jujur, akan tetapi kembali membayangkan kecemburuan! Sin Wan mengerutkan alisnya dan menjawab, "Memang benar, panggilannya Akim, dan namanya yang sebenarnya adalah Ouwyang Kim,"

"Ouwyang...?!” Cu Sui In berseru. "Apakah dia ada hubungannya dengan Tung-hai-liong Ouwyang Cin?"

Sin Wan mengangguk. "Memang dia adalah puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin. Tapi bila melihat sepak terjangnya, dia tidak bisa dimasukkan golongan sesat. Lili, aku benar-benar curiga melihat Yauw Siucai itu. Menurut ceritamu tadi, selain ahli sastra, dia juga pandai silat?"

Lili mengacungkan jempol kanannya. "Dia lihai bukan main! Ilmu silatnya tinggi, mungkin tidak kalah olehmu, Sin Wan."

Tentu saja ini hanya bual kosong, mungkin hanya untuk membalas kisah Sin Wan tentang Akim, karena sesungguhnya Lili belum pernah menguji ilmu kepandaian Yauw Siucai. Dia memang dapat menduga bahwa sastrawan itu lihai ketika Yauw Siucai menghukum mati dua orang anak buahnya dengan sekali pancung dan pedangnya sedikit pun tidak bernoda darah.

Mendengar ini Sin Wan mengerutkan alisnya "Kalau begitu sungguh mencurigakan sekali. Tahukah engkau akan asal usulnya, Lili?"

Lili menggelengkan kepala, "Kami bertemu, lalu berkenalan, akan tetapi aku tidak pernah bertanya tentang riwayatnya. Tetapi aku yakin bahwa dia bukan golongan sesat." Kembali ucapan khusus ditujukan untuk membalas pujian Sin Wan tentang Akim tadi.

Bhok Cun Ki juga mengerutkan alisnya. "Memang mencurigakan. Asal-usulnya tidak jelas, pandai silat, akan tetapi tiba-tiba saja menjadi guru sastra putera Pangeran Mahkota. Dan sesudah itu Sin Wan melihat Si Kedok Hitam di rumah peristirahatan Pangeran Mahkota, kemudian melihat Yauw Kongcu di lorong itu yang kemudian mempertemukan Sin Wan dengan Si Kedok Hitam lagi. Apakah ada hubungan antara dia dan Si Kedok Hitam? Lili, apakah engkau pernah melihat Yauw Siucai mengadakan hubungan dengan orang yang berkedok hitam itu?"

Lili mengerutkan alisnya, mulutnya cemberut dan menggeleng kepala. "Ayah, kalau perlu aku dapat menemui dia dan dapat kutanyakan dia apakah mempunyai hubungan dengan Si Kedok Hitam."

"Jangan, Lili. Hal itu akan berbahaya sekali bagimu. Bahaya datangnya bukan saja dari Si Kedok Hitam, akan tetapi terutama sekali dari Pangeran Mahkota sendiri. Dia merupakan putera mahkota yang besar kekuasaannya, sehingga menyelidiki keadaannya saja sudah dapat dianggap sebagai pemberontak. Aku akan berunding dulu dengan Jenderal Shu Ta, bagaimana untuk menghadapi pangeran itu, sebab setidaknya hanya Jenderal Shu yang akan mampu membebaskan engkau dari pengejaran pasukan keamanan."

"Paman Bhok, bagaimana pun juga rumah di lorong itu amat mencurigakan dan aku yakin bahwa rumah itu pasti menjadi sarang dari jaringan mata-mata yang beraksi di kota raja. Karena itu, bagaimana pendapat paman kalau saya memimpin pasukan untuk melakukan penggeledahan?"

"Itu baik sekali, Sin Wan. Apa bila aku tidak sedang terluka, tentu akan kupimpin sendiri. Nah, sekarang juga akan kusuruh kepala pengawal mempersiapkan pasukan!" Panglima itu memanggil kepala pengawal dan segera memerintahkan untuk menyiapkan dua losin prajurit untuk dipimpin Sin Wan melakukan penggeledahan dan pembersihan.

Setelah Sin Wan pergi melaksanakan tugas, keluarga itu masih berkumpul dan bercakap-cakap saling menceritakan riwayat dan pengalaman masing-masing, lantas sebuah pesta keluarga yang meriah diadakan untuk menyambut masuknya anggota keluarga baru itu. Cu Sui In merasa bahagia sekali karena sekarang dia dapat membuktikan sendiri betapa besar cinta kasih Bhok Cun Ki kepada dirinya, dan terutama sekali sikap yang amat baik dari madunya dan anak-anak tirinya.

Lili juga merasa amat berbahagia. Nyonya Bhok memang seorang wanita yang bijaksana. Tanpa segan dan dengan rela hati dia mengumumkan kepada seluruh pelayan di dalam keluarganya bahwa nyonya yang baru itu adalah Toa-hujin (Nyonya Pertama) sedangkan dia sendiri adalah Nyonya Kedua. Hal ini dia lakukan dengan penuh kesadaran bahwa Sui In memang lebih dahulu menjadi isteri suaminya, dan Lili adalah anak sulung.

Sungguh pun merasa heran karena belum pernah mendengar majikan mereka menikah dengan nyonya baru yang telah mempunyai seorang anak yang sudah dewasa itu, para pelayan tidak ada yang berani bertanya atau membicarakan, dan menerima Sui In dan Lili sebagai Toa-hujin dan Nona Lili

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sementara itu Sin Wan memimpin dua losin prajurit, memasuki lorong untuk menyerbu rumah besar di mana dia terjebak siang tadi. Para prajurit membawa obor dan rumah itu dikepung lalu diserbu. Mereka bersikap hati-hati sekali dan mentaati semua petunjuk Sin Wan yang tidak ingin melihat pasukan itu menjadi korban perangkap yang dipasang di rumah itu.

Tapi segera mereka mendapatkan rumah itu kosong, tanpa seorang pun penghuni. Tidak ditemukan tanda-tanda adanya jaringan mata-mata di situ, hanya terdapat perabot rumah biasa. Bahkan semua alat perangkap juga tidak bekerja karena sudah dirusak. Agaknya penghuni rumah itu sudah lebih dahulu menghilangkan semua jejak kemudian melarikan diri meninggalkan sarang itu.

********************

Bhok Cun Ki sendiri, setelah dapat berjalan dan luka di pahanya hampir sembuh, segera pergi mengunjungi Jenderal Shu Ta yang mendengarkan dengan penuh perhatian semua laporannya. Jenderal itu menghela napas panjang dan berkata,

"Sebelum engkau melaporkan, kami sendiri sudah menyuruh seorang penyelidik supaya menyelidiki Yauw Siucai yang tahu-tahu muncul kemudian bergaul dengan amat akrabnya mendekati pangeran mahkota, bahkan sudah diangkat menjadi guru sastra bagi pangeran kecil Chu Hong. Ternyata pangeran pertama kali bertemu dengan sastrawan itu di sebuah rumah pelesir, pada waktu pangeran itu menggoda seorang wanita dan suaminya marah-marah. Hampir saja pangeran mahkota celaka, akan tetapi kemudian muncul Yauw Siucai yang menolongnya. Semenjak itu pangeran lalu mengajak Yauw Siucai ke istananya dan mengangkatnya menjadi guru sastra puteranya. Agaknya tidak ada yang mencurigakan pada diri Yauw Siucai, apa lagi pangeran mahkota demikian percaya kepadanya."

Bhok Cun Ki yang menjadi orang kepercayaan Jenderal Shu Ta itu secara terus terang lalu menceritakan tentang Lili, puterinya yang baru saja dia temukan.

"Bwe Li secara kebetulan bertemu dan berkenalan dengan Yauw Siucai, dan sastrawan itulah yang mengusulkan kepada pangeran mahkota agar puteriku dapat diberi kedudukan sebagai pengawal pribadi. Pada mulanya semua berjalan dengan baik, akan tetapi pada suatu waktu, puteriku hendak dipaksa menjadi selir pangeran. Ia tidak mau lalu melarikan diri dari istana, dan sejak itulah dia dijadikan orang buruan, dikejar-kejar seperti penjahat. Saya mohon bantuan Goanswe (jenderal) agar pengejaran terhadap puteri saya itu dapat dihentikan karena Bwe Li sama sekali tidak bersalah."

Jenderal Shu Ta menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sungguh mengecewakan sekali jika diingat bahwa pangeran mahkota adalah calon kaisar yang baru kalau tiba saatnya nanti. Bagaimana mungkin pemerintahan dipimpin oleh seorang yang kini hanya mengutamakan kesenangan dan pemuasan nafsu-nafsunya saja. Bermain perempuan, tidak segan-segan mengganggu anak isteri orang, pelesir di rumah-rumah pelacuran, bermabok-mabokan, bahkan yang terakhir ini para penyelidik kami melaporkan bahwa beliau mulai menghisap candu. Baiklah, akan kubujuk sang pangeran supaya menghentikan pengejaran terhadap puterimu, tapi berhati-hatilah, ciangkun, jangan sampai menyinggungnya secara langsung karena kalau sampai terjadi dia menuntut seseorang dengan bukti, aku sendiri pun tidak akan mampu mencegahnya. Kita amat-amati saja keadaannya dari jauh dengan waspada, terutama sekali kita awasi gerak-gerik Yauw Siucai. Walau pun belum ada bukti bahwa dia mempunyai hubungan dengan jaringan mata-mata, namun kita harus selalu waspada."

Demikianlah, dengan bantuan Jenderal Shu Ta, Pangeran Chu Hui San membebaskan Lili dan tidak lagi ada pengejaran terhadap gadis itu. Dan karena semenjak itu tidak nampak Yauw Siucai mengadakan aksi apa pun yang mencurigakan, melainkan dengan tekun dia mendidik pangeran kecil Chu Hong, maka Bhok Cun Ki juga tidak memiliki alasan untuk mencurigainya, apa lagi menindaknya.

********************

“Hwa-moi, mengapa selama ini engkau bermuram durja saja seperti orang yang berduka dan kecewa? Siauw-moi (adik kecil), bukankah hadirnya ibu tiri dan kakak tiri di rumah ini menambah kecerahan kepada kehidupan keluarga kita? Lihat, setelah ibu tiri berkumpul dengan kita, ayah selalu kelihatan riang gembira dan wajahnya selalu cerah, seakan dia menjadi muda kembali. Juga ibu selalu nampak gembira, dan pergaulannya akrab sekali dengan ibu tiri kita. Malah selama satu bulan ini kita sendiri sering kali menerima petunjuk dalam ilmu silat dan dapat berlatih silat di bawah bimbingan enci Lili. Mengapa engkau kelihatan bersedih, adikku manis?" Ci Han membujuk dan bertanya kepada adiknya ketika pada sore hari itu mereka berdua selesai berlatih silat di taman bunga.

Sekali itu Lili tidak berada bersama mereka. Sesudah tadi memberi petunjuk, Lili langsung meninggalkan dua orang adik tirinya itu sehingga terbuka kesempatan bagi Ci Han untuk menanyai adiknya.

Mendengar ucapan kakaknya itu, Ci Hwa menundukkan mukanya dan diam saja. Akan tetapi kakaknya melihat betapa ada beberapa titik air mata berjatuhan ke atas kedua pipi adiknya. Ci Han terkejut sekali. Tak disangkanya keadaan hati adiknya sudah separah itu, agaknya kesedihannya memang bersungguh-sungguh.

Ci Han duduk pada bangku dekat adiknya, memegang tangan Ci Hwa. "Adikku yang baik, selama ini tidak ada rahasia di antara kita, Katakanlah, apa yang menyusahkan hatimu, adikku? Aku pasti akan membantumu. Katakanlah kepadaku!"

"Koko..." Akhirnya Ci Hwa berkata lirih dan menghela napas panjang, lalu menggunakan punggung tangan untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya. "Han-koko, hanya kepadamulah aku tak akan pernah merahasiakan sesuatu. Engkau tentu tahu bagaimana perasaan hatiku terhadap Wan-toako..." Gadis itu menundukkan mukanya dan sepasang pipinya kemerahan...