Kumbang Bukit Lontar

Pendekar Rajawali Sakti

Kumbang Bukit Lontar


SATU
MALAM sudah begitu larut, sampai-sampai tak ada orang pun yang terlihat lagi di Desa Haruling. Keadaan di desa itu sangat sunyi. Hanya suara binatang malam saja yang terdengar, mengusik kesunyian malam ini. Tapi kesunyian itu tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian, terdengar alunan suara sumbang yang menembangkan sebuah lagu yang tak menentu syairnya.

Suara itu datang dari seorang pemuda yang tengah duduk mencangkung di sebuah bangku bambu di bawah pohon beringin. Sebentar mulutnya berhenti mendendangkan lagu-lagu yang bersyair tak menentu. Pandangannya terlihat nanar, merayapi sekitarnya yang begitu sunyi senyap. Begitu sunyinya, sampai-sampai detak jantungnya sendiri terdengar jelas di telinga. Kembali mulutnya mendendangkan lagu-lagu yang tak jelas maknanya, sambil beranjak bangkit dari bangku bambu di bawah pohon beringin di pinggir jalan itu.

Perlahan-lahan pemuda itu mengayunkan kakinya menuju sebuah rumah yang letaknya agak menyendiri dan rumah-rumah lain di Desa Haruling ini. Sinar matanya masih terlihat begitu nanar, tak berkedip sedikit pun memandangi rumah yang hanya diterangi sebuah pelita pada berandanya. Ayunan kakinya terhenti setelah sampai di depan pintu rumah berukuran kecil, dan berdinding bilik bambu itu.

"Aku si Kumbang Bukit Lontar.... Bukalah pintu. Sambutlah kedatanganku, Putri Yang Cantik...," terdengar lagi nada-nada sumbang dari pemuda itu.

Perlahan-lahan kaki pemuda yang mengaku sebagai Kumbang Bukit Lontar itu melangkah kembali, mendekati pintu rumah yang masih tertutup rapat. Tangan kanannya terulur ke depan. Tanpa menyentuh sedikit pun, daun pintu dari kayu yang tampaknya sudah lapuk itu terbuka perlahan-lahan, memperdengarkan suara berderit menyayat. Kembali kakinya terayun melangkah masuk ke dalam rumah itu. Tak ada seorang pun terlihat di dalam rumah yang hanya diterangi sebuah Pelita kecil saja. Pemuda itu terus mengayunkan kakinya perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga.

Kembali Kumbang Bukit Lontar berhenti di depan sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Kepalanya bergerak menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu, tangannya kembali terulur sedikit ke depan. Seperti ketika membuka pintu depan tadi, dari ujung jari-jari tangannya keluar sebaris sinar tipis yang hampir tak terlihat. Lalu, pintu itu bergerak terbuka. Perlahan-lahan dengan sendirinya, mengikuti gerakan jari-jari tangan yang meregang kaku itu.

"Kau pasti sudah tidak sabar menunggu ku, Putriku Manis...," gumam Pemuda itu perlahan.

­Kumbang Bukit Lontar mengayunkan kakinya kembali perlahan-lahan memasuki kamar yang hanya diterangi sebuah pelita kecil menempel di dinding bilik bambu. Sepasang bola matanya jadi berbinar saat menangkap sesosok tubuh ramping tergolek di atas balai-balai bambu. Tubuh ramping itu hanya ditutupi selembar kain saja. Sedikit saja kain itu tersingkap, tapi udah cukup membuka sepasang bentuk paha yang putih dan indah. Sehingga, membuat bola mata pemuda itu semakin lebar memandanginya.

"Ah..., kau cantik sekali... ," desah pemuda itu, agak tertahan suaranya.

Perlahan Kumbang Bukit Lontar mendekati, dan berdiri tegak memandangi sosok tubuh ramping tertutup selembar kain yang terbaring lelap. Bibir pemuda itu menyunggingkan senyuman tipis, dengan mata merayapi seraut wajah cukup cantik yang tampak ­lelap dalam buaian mimpi. Perlahan tangannya terulur, dan mengusap wajah wanita itu. Kemudian, kelopak mata wanita itu terbuka. Namun, pandangannya begitu kosong. Sedikit pun tak ada semangat kehidupan pada sinar matanya.

"Aku tahu, sebentar lagi kau akan melangsungkan Pernikahan. Dan aku ingin membantumu mempercepat malam Pengantinmu. Kau pasti akan. menyukainya, Manis," ujar Pemuda itu lagi. "Dan kau pasti tidak akan melupakan malam yang indah ini bersama Kumbang Bukit Lontar."

Wanita itu masih tetap diam tak bergeming sedikit ­pun. Perlahan-lahan pemuda yang selalu menyebut dirinya si Kumbang Bukit Lontar itu kembali mengusapkan tangan kanannya ke wajah yang tampak cantik di bawah siraman cahaya pelita yang begitu redup. Tampak dari sela-sela jari tangan si Kumbang Bukit Lontar mengepulkan asap yang menyebarkan bau harum menggelitik hidung.

"Ohhh.... "

Wanita itu merintih lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sebentar kelopak matanya dikerjapkan, lalu bibirnya menyunggingkan senyuman yang begitu manis, walaupun sinar matanya masih tetap terlihat kosong. Senyuman manis itu disambut si Kumbang Bukit Lontar dengan menyibakkan kain yang menutupi tubuh wanita ini.

Senyum di bibir pemuda itu semakin lebar terkembang, saat mendapati sebentuk tubuh yang terbungkus kulit putih tergolek di depannya. Dengan tangan yang agak bergetar, merayapinya setiap lekuk tubuh wanita ini. Rintihan lirih terdengar bersama geliatan tubuh wanita itu.

“Bersabarlah, Manis. Kau tidak akan bisa melupakan malam yang indah ini bersama ku," desis si Kumbang Bukit Lontar, lembut sekali nada suaranya.

"Ahhh...," wanita itu hanya mendesah lirih.

Kepalanya mendongak, saat si Kumbang Bukit Lontar....

...HILANG...

...kain yang teronggok di ujung kakinya, lalu perlahan-lahan tubuhnya yang polos diselimuti.

"Dewata Yang Agung..., kenapa hal ini harus terjadi pada diriku...?" desah gadis itu lirih sekali.

Gadis itu cepat-cepat beranjak bangkit dari pembaringan. Kemudian, bergegas pintu kamarnya yang terbuka lebar ditutupnya. Lalu, cepat-cepat dia kembali naik ke pembaringannya. Di situ kembali dia menangis, menjatuhkan diri di pembaringan. Entah sudah berapa lama dia menangis, meratapi dirinya yang sudah ternoda tanpa disadari.

Memang gadis itu tidak sadar ketika semua itu terjadi. Tapi saat sadar kembali, semua yang terjadi langsung teringat begitu saja. Seakan-akan, dia benar-benar sadar telah melakukannya. Hal inilah yang membuatnya tidak bisa lari dari penyesalan seumur hidup. Dia benar-benar telah menyerahkan diri pada seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. Tapi, hal itu tidak kuasa menolaknya. Bahkan menyambutnya dengan penuh gairah yang begitu menggelora.

“Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Oh, Hyang Batara Agung.... Ampuni diriku, ampuni perbuatan terkutuk ini...," desah gadis itu lirih.

Perlahan gadis itu bangkit, dan duduk di tepi pembaringannya. Dengan punggung tangan, dihapusnya air mata yang berlinang membasahi pipi. Beberapa kali dia menarik napas dalam-dalam, seakan mencari sisa kekuatan yang ada pada dirinya. Pandangannya yang nanar tertuju lurus pada kain angkin yang teronggok di atas meja, tidak jauh dari pembaringan bambu ini.

Dia bangkit berdiri dan mengambil kain angkin itu dengan tangan gemetar. Perlahan kepalanya mendongak memandangi palang kayu yang melintang di langit-langit kamarnya ini. Sambil tersedak menahan tangis. dilemparkannya ujung kain angkin itu kepalang kayu lalu diikatnya kuat-kuat.

Sementara, malam terus merayap semakin larut. Tak ada seorang pun yang menyaksikan semua peristiwa di dalam kamar gadis itu. Hanya sepasang cecak yang menyaksikan tertegun. tanpa mampu melakukan sesuatu untuk mencegah perbuatan nekat gadis yang merasa sudah ternoda tanpa disadari.

********************

Seluruh penduduk Desa Haruling jadi geger oleh kematian seorang gadis yang gantung diri dalam kamarnya. Padahal semua orang tahu kalau gadis itu tidak lama lagi akan menikah dengan pemuda pilihannya. Nyi Karti, ibu gadis itu yang pertama kali menemukan anaknya gantung diri dalam kamarnya langsung pingsan. Dan wanita separuh baya itu sampai matahari naik tinggi. baru bisa siuman dari pingsannya.

Wanita itu terus-menerus menangis meratapi kematian anak gadisnya yang tidak wajar. Sementara, tetangga-tetangganya sibuk menenangkan dan memberi ketabahan. Tapi. memang sulit untuk bisa menenangkan hati wanita separuh baya yang mendapati anak gadisnya mati secara gantung diri dengan kain angkin dalam kamarnya sendiri. Dan peristiwa itu langsung menjadi bahan pembicaraan di seluruh pelosok desa itu. Tidak ada seorang pun yang tahu, kenapa gadis yang dikenal begitu baik dan lembut bisa memilih jalan senekat itu. Hidupnya disudahi dengan cara menggantung diri di dalam kamar.

Peristiwa yang baru pertama kali terjadi di desa itu membuat Ki Rampik, Kepala Desa Haruling ini harus mengunjungi rumah Nyi Karti. Kedatangannya dampingi Paman Walung, orang yang paling disegani di desa ini. Memang, laki-laki berusia setengah baya dan bertubuh tegap itu merupakan jawara yang tak tertandingi di Desa Haruling ini. Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun yang merupakan putra satu-satunya Ki Rampik, juga ikut mendampinginya. Dia bernama Goradi.

"Seumur hidupku, belum pernah ada peristiwa seperti ini," gumam Ki Rampik saat meninggalkan rumah Nyi Karti yang masih dipenuhi orang.

“Aku merasa ada sesuatu yang aneh, Ki," duga Paman Walung, juga terdengar menggumam nada suaranya.

"Maksudmu... ?" tanya Ki Rampik ingin penjelasan.

"Aku kenal betul, siapa Rawani. Dia gadis yang baik, ramah, dan semua orang menyukainya. Rasanya tidak mungkin kalau sampai memilih jalan seperti itu. ­Terlebih lagi, kalau melihat keadaannya. Hmm... Kau melihat noda-noda di pembaringannya, Ki...?” ujar Paman Walung.

"Maksudmu noda-noda seperti darah?"

“Ya! Aku menduga dia habis diperkosa. Lalu dia mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri, karena tidak ingin menanggung malu. Terlebih lagi, tidak lama lagi gadis itu akan melangsungkan perkawinannya."

"Belum pernah ada peristiwa perkosaan di desa ini, Paman," selak Goradi yang berjalan di samping ayahnya, dan sejak tadi diam saja.

"Rawani seorang gadis cantik. Bahkan merupakan kembang di desa ini. Bukannya tidak mustahil kalau begitu banyak pemuda yang menaruh hati padanya. Jadi, tidak heran bila banyak yang kecewa terhadap rencana perkawinannya itu...," kata Paman Walung membeberkan dugaannya terhadap kematian Rawani yang sangat menggegerkan.

"Apa ada pendudukku yang bisa berbuat sekeji itu, Paman Walung...?" Ki Rampik seakan membantah semua dugaan Paman Walung.

"Kalau setan sudah merasuk dan menguasai hati seseorang, tidak peduli apakah itu seorang raja sekali pun," sahut Paman Walung memperkuat dugaannya.

"Hm.... Kalau memang demikian, dia harus bertanggung jawab dan mendapat hukuman berat, " desah Ki Rampik agak menggumam. "Siapa pun orangnya! Dan kau harus menyelidikinya, Paman. Aku tidak ingin desa ini kotor oleh manusia terkutuk yang tega melakukan perbuatan sekeji itu!"

"Aku memang akan menyelidikinya, Ki. Dan aku harus mendapatkannya sebelum jatuh korban lain," ujar Paman Walung bertekad.

Ayunan langkah kaki Goradi terhenti, saat berada di depan sebuah kedai yang kelihatan sepi. Tampak hanya ada empat orang saja yang mengunjungi kedai itu. Ki Rampik dan Paman Walung juga jadi menghentikan ayunan langkahnya. Mereka sama-sama memandang pada Goradi.

"Maaf, aku akan mampir sebentar di kedai Ki Arung," kata Goradi meminta izin.

Paman Walung tersenyum, lalu menepuk pundak Ki Rampik dan mengajaknya kembali berjalan. Sedangkan Goradi bergegas melangkah memasuki kedai yang cukup besar itu. Seorang laki-laki berusia lanjut segera menyambut penuh hormat sekali terhadap Goradi. Sementara itu, Ki Rampik sempat berpaling ke belakang. Tampak anaknya sudah duduk di dalam kedai dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan.

"Kenapa anakku sekarang ini jadi sering ke kedai Ki Arung...?" gumam Ki Rampik seperti bertanya pada diri sendiri.

"Kau seperti tidak pernah muda saja, Ki," ujar Paman Walung.

"Apa maksudmu, Paman?" tanya Ki Rampik tidak mengerti.

­"Sudahlah..., nanti kuberitahu di rumah," sahut Paman Walung.

Sementara itu Goradi terus memandangi ayah dan pamannya yang terus berjalan semakin jauh dari kedai ini. Seguci arak sudah terhidang di mejanya, dengan beberapa makanan kecil. Goradi baru mengalihkan pandangan saat merasakan ada seseorang berdiri di seberang mejanya. Langsung diberikannya senyuman yang dibuat begitu manis sekali, saat melihat seorang gadis berwajah cantik sudah berdiri di depan seberang mejanya.

"Ada yang kau lamunkan, Kakang?" tegur gadis itu lembut sekali, sambil duduk di seberang meja itu.

"Tidak ada," sahut Goradi.

Sambil tetap menyunggingkan senyuman manis, gadis itu menuangkan arak dari guci ke dalam gelas bambu yang diserut halus. Goradi menerima gelas itu dari tangan yang berjari lentik, dan langsung meneguknya hingga tandas tak bersisa lagi.

"Kau sudah dengar kejadian di rumah Nyi Karti, Suryani...?" terdengar perlahan suara Goradi, seakan tidak ingin terdengar orang lain.

“Ya," sahut gadis yang dipanggil Suryani itu sambil mengangguk.

"Aku tadi ke sana bersama Ayah dan Paman Walung," kata Goradi, pelan se­kali suaranya. "Kau tahu kenapa Rawani bisa sampai bunuh diri?”

“Mungkin dia tidak mau menikah, lalu bunuh diri, " sahut Suryani seenaknya.

­"Aku rasa bukan karena itu, Suryani. Aku yakin ada sesuatu yang membuatnya gantung diri," bantah Goradi.

"Kakang.... Kau datang ke sini untuk bertemu denganku, atau ingin menyelidiki kematian Rawani...?" rengek Suryani langsung memberengut.

"Oh, maaf.... Tidak seharusnya aku membicarakan ini padamu," ucap Goradi buru-buru.

Suryani hanya diam saja. Dan Goradi juga jadi terdiam. Memang, kematian Rawani yang begitu menggemparkan langsung mengubah suasana di Desa Haruling ini. Bahkan sedikitnya, sudah mempengaruhi gadis-gadis desa itu. Karena begitu banyak dugaan yang terlontar, tanpa kenyataan yang jelas. Bukan hanya Paman Walung yang menduga kalau Rawani diperkosa sebelum gantung diri. Tapi, banyak orang yang menduga begitu. Dan ini membuat mereka yang mempunyai anak gadis jadi merasa cemas. Bahkan gadis-gadis di seluruh Desa Haruling ini juga jadi dihinggapi perasaan cemas. Memang kabar tentang adanya pemerkosa sudah tersebar begitu cepat.

********************

DUA

Tiga hari sudah berlalu. Kini tidak ada lagi orang yang membicarakan kematian Rawani yang begitu menyedihkan. Bahkan sudah banyak orang yang melupakannya. Sehingga, dugaan-dugaan kalau Rawani diperkosa sebelum gantung diri pun sudah tidak lagi terdengar. Rasa takut dan kecemasan yang semula menghinggapi gadis-gadis dan orang-orang tua, kini sudah mulai berangsur hilang.

Sementara itu, malam kembali menyelimuti seluruh Desa Haruling. Seperti pada malam-malam sebelumnya, desa itu selalu sepi. Tak terlihat seorang pun berada di luar rumahnya. Begitu sunyinya, sehingga percakapan dari sebuah rumah begitu jelas sekali terdengar sampai ke luar. Padahal suara-suara itu sudah demikian perlahan.

Suara pembicaraan itu datang dari rumah Ki Manik, yang tengah berbincang-bincang bersama istri dan anak gadisnya yang berusia sekitar delapan belas tahun. Mereka malam ini tidak bisa memejamkan mata, dan terus berbincang-bincang di ruangan depan. Yang dibicarakan adalah tentang lamaran untuk anak gadis mereka yang akan berlangsung besok pagi.

"Kenapa begitu mendadak kau tetapkan waktu melamarnya, Ki...?" terdengar suara Nyai Manik.

"Aku tidak ingin kejadian yang menimpa Rawani terjadi pada Warni, anak kita," sahut Ki Manik.

"Ah! Ayah masih saja mengingat itu," selak Warni jadi tersipu, dan pipinya langsung memerah.

"Aku hanya menjaga-jaga saja, Warni. Aku juga akan menetapkan hari pernikahannya tidak terlalu lama," kata Ki Manik lagi. "Lagi pula, kau sudah cukup umur untuk berumah tangga. Gadis seumurmu malah udah ada yang punya anak dua."

"Terserah Ayah sajalah...," desah Warni, semakin memerah wajahnya.

"Sudah malam. Sebaiknya, kau tidur saja. Besok kesiangan," selak Nyi Manik.

"Aku ingin ke belakang dulu," pamit Warni.

"Mau apa ke belakang...?" tanya Nyi Manik.

"Aku tadi lupa mengambil air. Masih di perigi," lalu Warni seraya bergegas melangkah pergi ke belakang meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada di ruangan depan.

Gadis itu bergegas membuka pintu belakang, dan terus saja melangkah menuju ke perigi yang tidak seberapa jauh dari rumahnya. Tapi ayunan langkah kaki gadis itu mendadak saja terhenti, saat melihat seseorang berdiri di dalam kegelapan, tidak jauh ­ perigi.

"Siapa itu...?" tanya Waml sambil menyipitkan kelopak matanya, mencoba melihat lebih jelas lagi.

"Aku...," ­sahut orang itu.

Suaranya terdengar lembut sekali, dan mengandung suatu getaran nada aneh! Sementara Warni terus mencoba melihat lebih Jelas lagi. Tapi, mendadak saja gadis itu tersentak kaget begitu melihat sepasang bulatan merah memancar seperti bola api. Dan belum juga keterkejutannya hilang, tiba-tiba saja sepasang bola merah itu meluncur deras ke arah Warni sebelum bisa melakukan sesuatu.

"Ah...!" Warni jadi terpekik tertahan.

Tepat ketika sepasang bola berwarna merah sebesar mata kucing itu menghantam mata gadis itu, maka seketika itu juga Warni berdiri terpaku seperti patung. Saat itu juga, sinar matanya jadi hilang. Pandangannya pun begitu kosong seperti tidak memiliki cahaya kehidupan lagi.

“Kemarilah, Manis.... Kau pasti sudah tidak sabar lagi menungguku, " terdengar bisikan lembut di telinga Warni.

Perlahan-lahan gadis itu melangkah menghampiri sosok tubuh tinggi tegap yang berdiri tegak di bawah pohon, tidak jauh dari perigi. Namun belum juga Warni melangkah jauh, tiba-tiba saja dari balik pintu belakang rumah muncul Ki Manik bersama Istrinya.

“Warni...!" panggil Ki Manik.

Warni langsung berhenti melangkah, namun tidak berbalik sedikit pun juga. Sementara, Ki Manik sudah bergegas menghampiri anak gadisnya ini. Laki-laki tua itu jadi terpaku, begitu melihat ada orang yang berdiri tegak di bawah pohon dekat perigi.

"Siapa kau...?!" tegur Ki Manik.

"Aku Si Kumbang Bukit Lontar, " sahut orang yang tidak kelihatan wajahnya itu, karena terlindungi kegelapan di bawah pohon yang berdaun rimbun.

"Mau apa kau di situ?" tanya Ki Manik lagi.

"Hhh...! Aku paling tidak suka ada orang usil yang mau tahu urusan orang!" dengus orang yang mengaku berjuluk si Kumbang Bukit Lontar itu. "Kau patut menerima hadiah atas keusilanmu, Orang Tua. Hih...!"

Bet!
Wusss... !
"Heh... ?!"

Ki Manik hanya mampu terbeliak saja, ketika tiba-tiba saja si Kumbang Bukit Lontar mengebutkan tangannya begitu cepat Dari balik lipatan lengan bajunya, seketika meluncur sebuah benda kecil seperti batang ranting kering berwarna kuning keemasan.

Benda kecil berwarna kuning keemasan itu meluncur deras. Ki Manik hanya terbeliak, dan tak dapat menghindarinya. Maka benda itu langsung menghantam dada Ki Manik yang hanya bisa terlongong kaget, tak mampu berbuat sesuatu. Apalagi menghindar.

Crab!

"Aaakh...!" Ki Manik menjerit keras melengking.

"Ki...!" teriak Nyi Manik, begitu melihat suaminya ambruk. Langsung ditubruknya Ki Manik, disertai lolongannya yang menyayat.

"Mari kita cari tempat yang nyaman, manis...,” ujar Kumbang Bukit Lontar.

Orang yang masih belum juga kelihatan wajahnya itu, tiba-tiba saja melesat cepat bagai kilat menyambar pinggang Warni. Begitu cepat gerakannya sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap membawa gadis berusia delapan belas tahun itu.

Sementara Nyi Manik langsung pingsan begitu melihat anak gadisnya dibawa kabur di depan matanya. Sedangkan suaminya sudah menggelepar di tanah dengan sebuah benda berbentuk paku bernama kuning keemasan menancap di dadanya.

********************

­Malam masih terus merayap semakin larut. Sementara itu, tidak jauh dari perbatasan Desa Haruling sebelah Selatan, tampak seorang laki-laki muda berusia sekitar tiga puluh tahun berlari-lari cepat sambil memanggul sesosok tubuh ramping di pundaknya. Larinya baru berhenti setelah cukup jauh meninggalkan Desa Haruling.

Perlahan diturunkannya tubuh ramping yang ternyata Warni. Sementara pemuda berbaju biru muda itu tersenyum memandangi gadis yang tergolek di atas rerumputan itu. Dengan lembut seka6, diusapnya wajah yang tampak cantik di bawah siraman cahaya rembulan.

"Ohhh...," Warni merintih lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Perlahan gadis itu membuka kelopak matanya. Dan bibirnya langsung tersenyum saat melihat seorang pemuda berwajah cukup tampan berada dekat di atas...

WAH...HILANG LAGI...

Tubuh Warni seketika mengejang kaku. Sementara kedua bola matanya terbelalak lebar dengan mulut terbuka menganga. Sedangkan si Kumbang Bukit Lontar juga mengejang kaku, lalu mendesah panjang sambil menggelimpang ke samping dengan seluruh tubuh bersimbah keringat. Tarikan napas mereka masih terdengar keras memburu, seperti kuda yang baru saja berlari kencang mendaki puncak gunung tinggi.

"Kau benar-benar gadis hebat, Manis. Aku yakin, kau tidak akan bisa melupakan malam yang indah ini," bisik si Kumbang Bukit Lontar seraya mengecup bibir gadis itu.

Kemudian pemuda itu bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Sebentar dipandanginya tubuh Warni yang masih tergolek dengan mata terpejam tanpa mengenakan selembar pakaian pun. Sambil menyunggingkan senyuman lebar penuh kepuasan, pemuda itu segera melangkah meninggalkan Warni yang masih tergolek tanpa pakaian di atas rerumputan.

Trek!

Begitu pemuda yang menjuluki dirinya Si Kumbang Bukit Lontar menjentikkan dua ujung jari tangan kanan, cepat sekali tubuhnya melesat pergi. Begitu cepat gerakannya, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap tak berbekas. Seperti hilang begitu saja tertelan bumi. Dan pada saat yang bersamaan, Warni mulai sadar kembali.

"Ohhh...," gadis itu merintih lirih sambil menggerak-gerakkan kepalanya perlahan.

­Dan perlahan pula, kelopak matanya mulai terbuka. Lalu....

"Aaah... !"

Gadis itu langsung menangis begitu menyadari apa yang telah terjadi terhadap dirinya. Cepat-cepat direnggutnya pakaian yang teronggok di sampingnya, lalu bergegas dikenakannya kembali. Sambil mengucurkan air mata, Warni mencoba bangkit berdiri. Tapi mulutnya jadi meringis, merasakan nyeri pada salah satu bagian tubuhnya. Warni mengurut perutnya sambil meringis, mencoba mengurangi rasa nyeri.

Sambil menahan rasa nyeri dan sakit yang amat sangat pada bagian bawah perutnya, Warni mencoba berdiri. Dia benar-benar terkejut begitu melihat darah membasahi pahanya sampai ke betis. Kembali dia menjerit keras melengking tinggi. Sedangkan air mata semakin banyak bercucuran.

Tidak dipedulikan lagi rasa nyeri yang menyerang bagian bawah perutnya. Gadis itu terus berlari secepatnya meninggalkan perbatasan sebelah Selatan Desa Haruling. Tidak dipedulikan lagi keadaan malam yang begitu gelap dan sunyi. Warni terus berlari sambil menangis dan merintih, merasakan sakit yang amat sangat pada bagian bawah perutnya.

Kegemparan kembali melanda seluruh penduduk Desa Haruling. Mereka mendapati Warni tergeletak tak bernyawa lagi di depan rumahnya. Bahkan Ki Manik juga didapati tewas dengan sebuah paku emas tertancap di dada. Sedangkan Nyi Manik tergolek pingsan di depan pintu belakang rumahnya.

Tapi yang membuat semua penduduk desa itu gempar adalah keadaan Warni yang begitu mengenaskan! Sebilah golok tertancap di dadanya. Dan dari sela-sela pahanya, terdapat darah yang sudah mengering. Peristiwa ini bukan hanya membuat seluruh penduduk Desa Haruling marah, tapi juga cemas kalau mengingat keadaan Warni yang begitu mengenaskan. Maka peristiwa yang menimpa Rawani kembali terbayang di mata mereka.

"Sudah jelas sekarang. Ada orang gila berdarah dingin yang masuk ke desa ini," desis Paman Walung geram.

Sejak semula Paman Walung memang sudah menduga, kalau kematian Rawani bukan bunuh diri biasa. Dan dugaannya itu kini semakin diperkuat oleh kematian Warni dan ayahnya. Terlebih lagi, keadaan Warni yang sudah jelas diperkosa sebelum nyawanya melayang di ujung golok yang tertanam di dadanya. Tapi kali ini tidak jelas, apakah Warni mati bunuh diri atau dibunuh setelah diperkosa.

Paman Walung memandangi Nyi Manik yang masih menangis sesenggukan ditemani dua orang wanita separuh baya yang menjadi tetangga dekatnya. Sedangkan di samping Paman Walung, berdiri Ki Rampik dan Goradi. Mereka semua terdiam, menunggu sampai Nyi Manik tenang dan bisa ditanyai. Karena memang, hanya perempuan separuh baya itulah yang melihat semua peristiwa berdarah pada keluarganya ini.

"Bisa kau kenali, siapa orang yang melakukan ini, Nyi?" tanya Paman Walung setelah melihat Nyi Manik kelihatan agak tenang

Nyi Manik belum bisa menjawab. Dia masih senggukan dan terus menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengucur. Sedangkan Paman Walung harus sabar, menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi. Kembali tidak ada yang berbicara. Nyi Manik masih terisak sesenggukan. Tampaknya memang sulit sekali bagi wanita separuh baya itu untuk bisa bicara. Terlebih lagi menjawab pertanyaan Paman Walung tadi.

"Nyi..., " lembut sekali suara Paman Walung. "Kau bisa mengenali, siapa orang yang melakukan perbuatan keji ini...?"

"Aku..., aku tidak jelas melihatnya...," sahut Nyi Manik di sela isak tangisnya.

"Apakah dia sempat menyebut namanya, Nyi?” selak Ki Rampik bertanya buru-buru.

"Si... si Kumbang Bukit Lontar," sahut Nyi Manik terbata-bata.

“Kumbang Bukit Lontar...,” desis Paman Walung seraya memutar tubuhnya berbalik.

Tidak ada lagi yang berbicara. Sementara, Nyi Manik kembali menangis sesenggukan di dalam pelukan seorang wanita separuh baya bertubuh gemuk.

Perlahan Paman Walung melangkah keluar dari kamar, diikuti Ki Rampik dan Goradi. Mereka terus berjalan tanpa berbicara lagi keluar dari rumah ini. Masih banyak orang yang merubung seperti semut di dalam dan luar rumah ini. Padahal, mayat Ki Manik dan Warni sudah sejak tadi dikuburkan.

Paman Walung, Ki Rampik, dan putranya terus melangkah meninggalkan rumah itu Mereka berjalan perlahan-lahan tanpa berbicara sedikit pun juga. Tak da seorang pun dari para penduduk yang berpapasan menegur mereka. Memang, semua orang di Desa Haruling ini sedang diliputi perasaan marah dan cemas terhadap peristiwa menggemparkan yang belum pernah terjadi selama ini.

"Kau tahu, siapa si Kumbang Bukit Lontar itu, Paman Walung?" tanya Ki Rampik setelah cukup lama terdiam, dan cukup jauh meninggalkan rumah Ki Manik.

"Aku tidak tahu, Ki. Tapi aku tahu, di mana letaknya Bukit Lontar, itu sahut Paman Walung.

"Jauh dari sini?” tanya Ki Rampik lagi.

"Tiga hari perjalanan dengan berkuda,” sahut Paman Walung.

Ki Rampik mengangguk-anggukkan kepala. Jarak yang cukup jauh untuk ditempuh, jika harus memakan waktu tiga hari dengan berkuda. Dia memang percaya kalau Paman Walung tahu tentang letaknya Bukit Lontar. Karena sebelum menetap di desa kelahirannya ini, Paman Walung merupakan seorang tokoh persilatan yang sering pergi mengembara Dan sudah tentu tidak sedikit tempat-tempat yang didatanginya. Jadi tidak aneh lagi kalau laki-laki. separuh baya itu tahu letak Bukit Lontar.

"Apa di Bukit Lontar ada desanya, Paman?" selak Goradi bertanya.

"Bukit Lontar tidak seperti bukit-bukit lainnya. Bukit itu cukup tandus dan berbatu. Jadi, tidak ada satu desa pun yang berdiri di sana. Bahkan tak ada satu desa pun di sekitarnya. Hanya ada satu desa saja, tapi juga Jauh dari Bukit Lontar. Letaknya juga di seberang sungai yang membatasi bukit itu dengan daerah lain yang subur," jelas Paman Walung. "Desa itu bukan desa sembarangan. Dan sebenarnya desa itu merupakan sebuah padepokan besar, sehingga berkembang menjadi sebuah desa. Semua penduduknya, baik laki-laki maupun perempuan, menguasai ilmu olah kanuragan yang beraneka ragam tingkatannya. Dan desa itu dikenal bernama Desa Lontar walaupun tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bukit Lontar. Mungkin juga karena letaknya yang terdekat dengan Bukit Lontar, sehingga dinamai Desa Lontar"

"Apa tidak mungkin manusia iblis si Kumbang Bukit Lontar berasal dari sana, Paman... ?" tanya Goradi menduga.

"Aku rasa tidak, Goradi. Tapi aku tahu betul watak-watak seluruh penduduk Desa Lontar. Tidak ada seorang pun yang berwatak jahat Bahkan desa itu begitu banyak melahirkan pendekar-pendekar mulia yang tangguh dan berkepandaian tinggi. Jadi, rasanya memang tidak mungkin kalau si Kumbang Bukit Lontar berasal dari sana," bantah Paman Walung.

"Tapi julukannya menggunakan nama Bukit Lontar, Paman," selak Goradi lagi.

"Benar, Paman Walung," sambung Ki Rampik. "Seseorang biasanya menggunakan julukan dengan mengikutsertakan tempat asalnya. Aku rasa ada baiknya juga jika ditanyakan ke. sana, apakah ada salah seorang penduduk desa itu yang berbuat jahat, dan lari dari sana. Lalu, dia membuat kerusuhan di luar desanya dengan menggunakan nama Bukit Lontar."

"Hm.... Tampaknya aku memang harus menyelidiki hal ini," gumam Paman Walung, seakan bicara pada diri sendiri.

"Siapa pun orangnya, perbuatan ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Harus dicari penyelesaian secepatnya, Paman Walung," tegas Ki Rampik.

"Hm.... Tampaknya ini satu tantangan pertama setelah aku kembali ke desa ini," lagi-lagi Paman Walung menggumam perlahan, seperti untuk diri sendiri.

Tak ada lagi yang bicara. Mereka terus melangkah menyusuri jalan tanah berdebu yang membelah Desa Haruling ini seperti menjadi dua bagian. Goradi menghentikan langkahnya setelah sampai di sebuah kedai yang tampak sunyi. Sebentar ditatapnya ke arah kedai itu, lalu pandangannya dialihkan pada Ki Rampik dan Paman Walung.

Tanpa bicara apa pun juga, Ki Rampik dan Paman Walung terus saja melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Goradi tetap berdiri diam di depan kedai itu. Dan dia baru melangkah masuk ke dalam kedai setelah ayah dan pamannya cukup jauh meninggalkannya.

Hanya ada dua orang saja di dalam kedai itu yang menempati satu meja. Seorang pemuda berwajah tampan dan seorang gadis cantik. Di punggung mereka masing-masing tampak tersandang pedang bergagang kepala burung dan kepala naga berwarna hitam.

Tapi Goradi tidak mempedulikannya, dan terus saja mengambil tempat di dekat jendela. Seorang gadis cantik menghampiri sambil membawa baki berisi dua buah gelas dan seguci arak serta beberapa makanan kecil. Gadis itu langsung duduk di seberang meja yang ditempati Goradi, tanpa berbicara lagi. Dan memang, tak ada yang berbicara. Sehingga, suasana di kedai ini begitu sunyi.

********************

TIGA

­"Kenapa kau diam saja, Kakang?" tegur Suryani lembut, seraya mengambil tangan Goradi dan menggenggamnya erat-erat.

"Hhh...!" Goradi hanya mendesah panjang.

Perlahan sekali pemuda itu melepaskan genggaman tangan Suryani. Sebentar ditatapnya dua orang pengunjung kedai Ki Arung ini. Hanya sepasang pengunjung itu saja yang ada di kedai ini, selain Goradi. Dan tampaknya, mereka sepasang pendekar muda. Ini bisa dilihat dari pedang yang tersandang di punggung masing-masing.

"Sudah lama mereka di sini?" tanya Goradi tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang anak muda itu.

"Sejak tadi pagi," sahut Suryani sambil melirik ke arah pengunjung kedai ayahnya ini.

"Mereka datang dari mana?" tanya Goradi menyelidik.

"Aku tidak tahu. Kedai ini bebas untuk siapa saja yang datang," sahut Suryani. "Kenapa kau tanyakan itu, Kakang...?"

"Kau tahu Suryani. Sejak terjadi pemerkosaan dan pembunuhan di sini, aku harus selalu mencurigai siapa saja yang datang ke desa ini. Terutama, mereka yang membawa senjata," terdengar pelan dan agak ditekan nada suara Goradi. Dan matanya kembali melirik pada dua orang yang duduk tidak jauh dan tempatnya.

"Tapi kelihatannya mereka orang baik-baik, Kakang," sanggah Suryani.

"Aku akan mengawasinya terus," desis Goradi

"Kakang... ," jelas sekali kalau nada suara Suryani terdengar begitu khawatir.

"Jangan cemas, Suryani," bisik Goradi menenangkan.

"Aku khawatir akan terjadi sesuatu padamu, " Suryani tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.

"Tidak akan terjadi apa-apa pada diriku, Suryani. “Aku hanya merasa bertanggung jawab atas keselamatan seluruh warga desa ini. Kau harus bisa mengerti kedudukan ku di sini, Suryani. Aku tidak bisa berpangku tangan saja terhadap peristiwa-peristiwa keji yang terjadi di depan mataku, " tegas Goradi.

"Aku mengerti, Kakang. Hati-hatilah..., jaga dirimu," ujar Suryani.

Goradi hanya tersenyum saja. Kemudian diambilnya tangan gadis itu, dan digenggamnya erat-erat, penuh kehangatan cinta. Tidak ada lagi yang bicara. Mereka hanya saling pandang, saling bergenggaman tangan erat, dan saling meremas. Hangat sekali. Serasa cinta mereka semakin berkobar saat ini, bagai api yang sudah begitu lama terpendam dalam sekam. Sepertinya tidak ada lagi yang dapat memisahkan mereka.

"Kedai ini sepi. Kau pasti punya waktu untukku, Suryani,” ujarr Goradi.

"Maksudmu...?" Suryani tidak mengerti.

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” bisik Goradi. "Kau mau.... ?"

"Aku izin pada ayah dulu, ya?”

Goradi mengangguk. Sedangkan Suryani belakang bergegas bangkit dan melangkah cepat-cepat ke belakang kedai ini. Sementara, Goradi menunggu sambil terus mengamati sepasang pengunjung kedai Ki Arung ini. Hanya dua meja saja yang membatasi mereka. Dan kini Suryani muncul lagi. Wajahnya tampak begitu cerah.

“Bagaimana?" tanya Goradi langsung, seraya bangkit berdiri.

"Tapi jangan sampai malam,” sahut Suryani.

"Sebelum matahari tenggelam, aku akan mengan tarkanmu pulang," janji Goradi

Sambil bergandengan tangan, mereka kemudian melangkah meninggalkan kedai itu. Tanpa disadari kepergian mereka terus diawasi sepasang bola mata tua dari balik pintu yang membatasi ruangan depan kedai ini dengan ruangan belakang. Dia adalah seorang laki-laki tua bertubuh agak bungkuk. Laki-laki tua itu baru muncul dari balik pintu, setelah Goradi dan Suryani tidak terlihat lagi dari kedai ini. Bergegas dihampirinya dua orang pengunjung kedainya, saat melihat pemuda berbaju rompi putih itu melambaikan tangan memanggil.

“Ki, apa ada rumah penginapan di desa ini?” tanya pemuda berwajah tampan itu sopan.

Selain kedai, di sini juga menyediakan kamar untuk bermalam, Den. Tidak ada lagi tempat bermalam di desa ini, selain di rumah ku, " sahut laki-laki tua yang dikenal bernama Ki Arung itu.

“Kalau begitu, siapkan dua kamar Ki," pinta pemuda itu lagi.

"Dua kamar...?” kening Ki Arung jadi berkerut.

­"Benar, Ki. Satu untukku, dan satu lagi untuk adikku ini, sahut pemuda itu.

"Oooh... "

Ki Arung mengangguk-anggukkan kepala. Sedangkan pemuda tampan berbaju putih itu hanya tersenyum saja, sambil melirik pada gadis cantik berbaju biru muda yang duduk di depannya. Gadis itu juga tersenyum, dengan wajah tertunduk agak memerah.

“Sebentar, Den. Aku siapkan dulu kamar untuk kalian," kata Ki Arung.

Bergegas laki-laki tua itu meninggalkan tamunya ini. Dia kembali masuk ke bagian belakang dari kedai yang cukup besar ini. Sedangkan sepasang anak muda itu hanya saling melempar pandangan dan tersenyum saja melihat Ki Arung terkejut oleh penjelasan tadi.

*** ­Waktu terasa begitu cepat berjalan. Siang pun telah berganti malam. Dan suasana di Desa Haruling ini terasa begitu sunyi, hingga hanya suara binatang malam saja yang terdengar mengusik kesunyian malam.

Di dalam salah satu kamar di rumah penginapan milik Ki Arung, tampak pemuda tampan berbaju rompi putih itu tengah berdiri mematung di depan jendela yang dibiarkan terbuka lebar. Pandangannya tidak berkedip, merayapi jalan desa yang tampak lengang dan sunyi sekali. Tak ada seorang pun yang terlihat di sepanjang jalan itu. Bahkan semua rumah yang berdiri di desa ini, hanya menyalakan satu pelita saja pada beranda depannya.

"Hm.... Sunyi sekali desa ini kalau malam hari," gumam pemuda itu perlahan, bicara pada diri sendiri.

Kembali matanya merayapi keadaan sekitarnya yang masih tetap begitu sunyi. Perlahan jendelanya ditutup. Tapi belum juga jendela itu tertutup sempurna, mendadak saja keningnya jadi berkerut Dan dia jadi tertegun beberapa saat. Kesunyian yang terjadi begitu terasa sehingga suara sekecil apa pun dapat terdengar jelas sekali.

"Seperti ada suara langkah," gumam pemuda itu dalam hati. "Hm.... Ringan sekali, dan dekat di sini...." Perlahan-lahan pemuda berbaju rompi putih itu kembali membuka jendela. Pandangannya langsung beredar ke sekitarnya. Tak ada seorang pun yang terlihat. Tapi, suara langkah kaki itu masih jelas sekali terdengar, walaupun begitu ringan dan halus.

"Hm.... Suara itu datang dari arah belakang rumah ini. Coba akan kulihat. ..," gumam pemuda itu lagi ­dalam hati.

Begitu ringan gerakan pemuda itu saat melompat keluar melalui jendela kamar penginapan ini. Dan begitu ujung jari kakinya menyentuh tanah, kembali tubuhnya melenting ringan sekali, seperti sehelai daun kering yang tertiup angin. Hanya sekali lesat saja, kakinya sudah bisa hinggap di atas atap rumah berukuran cukup besar ini. Tak ada suara sedikit pun yang ditimbulkan, saat kakinya menjejak atap.

"Hm...."

Cepat-cepat pemuda itu merapatkan tubuhnya ke atap, ketika melihat seseorang bergerak perlahan dan ringan sekali mendekati sebuah jendela kamar yang tampak cukup terang oleh nyala api lampu pelita. Dengan telinga terpasang tajam dan tanpa berkedip, terus diamatinya sesuatu yang begitu mencurigakan.

“Bukalah jendela kamarmu, Putriku Manis...." Terdengar suara yang begitu halus dan lembut, terbawa hembusan angin malam. Tampak jelas di dalam kegelapan malam yang menyelimuti seluruh Desa Haruling ini, sosok tinggi tegap. Wajahnya cukup tampan. Dia berdiri tegak sekitar lima langkah lagi di depan jendela kamar yang tampak terang itu.

Perlahan-lahan tangan kanannya menjulur. Seluruh jari-jari tangannya terkembang terbuka lebar. Tampak dari jari-jari tangan itu memancarkan cahaya yang begitu halus, sehingga hampir tak terlihat cahaya tipis yang sangat halus itu sebentar kemudian langsung menghantam daun jendela. Tampak Perlahan-lahan, jendela itu terbuka sendiri sampai lebar.

"Kau pasti sudah tidak sabar lagi menemuiku, Manis. Aku segera datang untuk memberi ­kebahagiaan padamu malam ini," ujar pemuda itu lagi. Suaranya masih tetap pelan dan lembut sekali.

Perlahan-lahan kakinya terayun mendekati jendela itu. Tepat ketika itu, seorang gadis berwajah cantik muncul dari jendela. Gadis itu yang tak lain adalah Suryani dan satu-satunya putri Ki Arung mengulurkan tangannya. Disambutnya uluran tangan pemuda yang berdiri di depan jendela kamarnya.

"Hup...!"

Dengan sekali sentak saja, pemuda itu berhasil menarik keluar gadis berbaju merah muda dan agak longgar itu. Sebentar mereka berdiri saling berpandangan. Kedua tangan mereka berpegangan erat. Tak ada seorang pun yang menyadari kalau semua itu disaksikan sepasang mata yang tersembunyi di atas atap.

"Mari, akan kutunjukkan suatu tempat yang indah. Kau pasti akan menyukai dan tidak akan melupakannya seumur hidupmu," kata pemuda itu lagi. "Kau tidak akan pernah lagi melupakan Si Kumbang Bukit Lontar Manisku...."

Suryani tidak berkata apa-apa sedikit pun. Diikutinya saja ketika pemuda yang mengaku bernama si Kumbang Bukit Lontar itu membawanya pergi. Mereka terus berjalan sambil bergandengan tangan begitu mesra, seperti sepasang kekasih yang hendak memadu cinta. Sementara itu di atas atap, pemuda berbaju rompi putih terus mengamati mereka pergi.

"Hm.... Aku tahu kalau gadis itu putri Ki Arung, pemilik kedai dan rumah penginapan ini. Tapi, siapa laki-laki yang mengajaknya pergi itu? Aku tidak mengenalnya sama sekali. Kalau memang dia kekasihnya, mengapa harus memanggil Suryani seperti itu. Kenapa mesti lewat jendela? Rasanya benar-benar mencurigakan! Hm.... Aku merasa ada kelainan pada diri Suryani. Akan kuikuti mereka," gumam pemuda tampan berbaju rompi putih itu, berbicara sendiri dalam hati.

Sebentar diamatinya keadaan sekitarnya yang masih tetap kelihatan begitu sunyi. Tak ada seorang pun yang terlihat lagi. Sementara itu, Suryani dan si Kumbang Bukit Lontar sudah jauh pergi. Dan mereka menembus pepohonan yang cukup lebat, hingga tak terlihat lagi dan rumah penginapan Ki Arung ini

"Hup...! "

Dengan gerakan cepat dan ringan sekali, pemuda berbaju rompi putih itu melompat ke arah Suryani yang pergi mengikuti si Kumbang Bukit Lontar. Begitu cepat dan ringan gerakannya. Jelas, ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Bahkan tak ada sedikit pun suara yang ditimbulkannya. Hingga dalam waktu sebentar saja, dia sudah kembali bisa melihat Suryani yang mengikuti perginya si Kumbang Bukit Lontar.

********************

Sementara itu, Suryani dan si Kumbang Bukit lontar sudah sampai di pinggir hutan yang berbatasan dengan Desa Haruling. Mereka berhenti di depan buah pondok kecil Sebentar mereka memandangi pondok itu. Si Kumbang Bukit Lontar kemudian membuka pintunya, dan mengajak Suryani masuk ke dalam pondok itu. Tiga buah pelita yang berada di dalam pondok membuat keadaan menjadi terang benderang.

"Kita akan melewati malam yang indah ini bersama-sama, Manis. Aku akan membawamu ke alam yang sangat indah dan tak akan bisa terlupakan," bisik Si Kumbang Bukit Lontar lembut sekali di telinga Suryani.

Sedangkan gadis itu hanya diam saja membisu. Bahkan sama sekali tidak menolak saat pemuda bertubuh tinggi tegap itu membawanya ke pembaringan. Suryani masih tetap diam tak menolak saat tubuhnya perlahan-lahan dibaringkan di atas tempat tidur bambu ini.

"Ohhh...." Suryani menggumam lirih saat bibir si Kumbang Bukit Lontar melumat bibirnya yang memerah dan begitu ranum. Mulutnya hanya bisa menggumam dan merintih perlahan. Tubuhnya menggeliat, merasakan jari-jari tangan si Kumbang Bukit Lontar yang mulai menggerayang dan menjelajahi tubuhnya.

"Ohhh...." Suryani kembali menggeliat dan merintih lirih, begitu merasakan jari-jari tangan si Kumbang Bukit Lontar mulai melepaskan pakaiannya. Gadis itu benar-benar seperti berada di alam mimpi. Sama sekali tidak disadari kalau pemuda yang melepaskan seluruh pakaiannya ini tidak dikenalnya. Bahkan sama sekali tidak menolak. Seperti ada suatu kekuatan yang menguasai seluruh tubuh dan jiwanya. Sehingga, yang ada hanya sebuah rangsangan yang membangkitkan gairah.

Suryani hanya bisa menggeliat, dan merintih lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kedua kelopak matanya langsung terpejam begitu merasakan adanya beban berat yang menghimpit tubuhnya. Tapi mendadak saja...

Brak!

"Heh...?!" Si Kumbang Bukit Lontar jadi terperanjat setengah mati begitu tiba-tiba saja pintu pondok itu terdobrak dari luar. Cepat dia melompat dari atas tubuh Suryani yang masih tergolek di pembaringan bambu itu. Cepat-cepat pula pakaiannya dikenakan kembali. Si Kumbang Bukit Lontar jadi menggeram begitu melihat di ambang pintu berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi tegap. Wajahnya yang tampan, dan mengenakan baju rompi putih.

“Biadab...! Apa yang kau lakukan pada gadis itu, heh...?!" desis pemuda berbaju rompi putih itu menggeram.

"Siapa kau?!" tanya si Kumbang Bukit Lontar mendengus.

­"Aku Rangga, " sahut pemuda berbaju rompi putih itu.

"Berani kau mencampuri urusanku! Mampus kau! Hiyaaa...! "

Si Kumbang Bukit Lontar tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Bagaikan kilat, tubuhnya melompat cepat menerjang pemuda berbaju rompi putih itu. Beberapa pukulan keras menggeledek, langsung dilepaskan secara beruntun.

"Uts!"

Tapi dengan gerakan meliuk-liuk indah, pemuda berbaju rompi putih itu yang ternyata Rangga itu berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu berhasil menghindari semua serangan yang dilancarkan si Kumbang Bukit Lontar. Bahkan tanpa diduga sama sekali tiba-tiba saja tangannya mengebut ke depan, memberi satu sodokan yang begitu cepat bagai kilat. Sehingga, tidak ada lagi kesempatan bagi si Kumbang Bukit Lontar untuk menghindarinya.

Desss!
"Hugkh...! "
Brak...!

Dinding pondok yang terbuat dari belahan kayu itu seketika hancur terlanda tubuh Si Kumbang ­Bukit Lontar yang tinggi besar dan kekar itu. Pada saat yang bersamaan, Pendekar Rajawali Sakti melenting keluar. Diterjangnya atap pondok ini, mengejar Si Kumbang Bukit Lontar yang tadi hampir saja menodai Suryani putri tunggal Ki Arung.

­"Hiyaaa...!"
Jlegk!

Manis sekali Rangga menjejakkan kakinya di tanah, sekitar enam langkah lagi di depan Kumbang Bukit Lontar. Namun belum juga bisa melakukan sesuatu, tiba-tiba saja tangan kanan si Kumbang Bukit Lontar bergerak cepat mengibas ke depan.

“Yeaaah...!"
Slap!
"Uts! Haaait...!"

Untung saja Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat melenting berputaran ke udara. Sehingga, beberapa benda kecil panjang berwarna kuning keemasan yang melesat cepat dari balik lengan baju si Kumbang Bukit Lontar itu bisa dihindari. Tapi begitu kakinya kembali menjejak tanah, laki-laki muda yang mengaku bernama si Kumbang Bukit Lontar itu sudah tidak terlihat lagi.

Sebentar Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangannya berkeliling, mencari si Kumbang Bukit Lontar. Lalu, bergegas masuk kembali ke dalam pondok kecil di pinggiran hutan ini. Tampak Suryani masih tetap tergolek tak sadarkan diri, dalam keadaan tubuh polos tanpa pakaian selembar pun. Tanpa banyak bicara lagi, Rangga cepat-cepat menyambar tubuh Suryani dan membawanya pergi dari pondok kecil itu.

Hanya sekali lompatan saja, Rangga sudah tidak terlihat lagi. Tubuhnya telah lenyap ditelan gelapnya malam yang begitu pekat, tanpa cahaya bulan sedikit pun. Dan memang malam ini awan begitu tebal menggantung di angkasa. Sehingga sinar sang rembulan yang keperakan terhalang untuk menerangi mayapada ini.

Tepat ketika itu, dari balik sebatang pohon yang cukup besar keluar seorang pemuda berwajah cukup tampan. Dia yang selalu menamakan dirinya si Kumbang Bukit Lontar itu berdiri tegak memandang ke arah pemuda berbaju rompi putih tadi menghilang bersama Suryani.

"Hm..., tangguh sekali dia. Siapa dia sebenarnya...? Kenapa ada di Desa Haruling ini...?" gumam Si Kumbang Bukit Lontar bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Pemuda itu masih tetap berdiri tegak, dengan pandangan lurus ke depan tak berkedip sedikit pun. Cukup lama juga si Kumbang Bukit Lontar berdiri tegak mematung. Kemudian, perlahan-lahan kakinya terayun melangkah menuju ke Desa Haruling kembali. Tampak sekali kalau pikirannya masih digayuti tentang pemuda berbaju rompi putih yang baru saja menggagalkan perbuatannya menodai Suryani.

"Dia Pasti menginap di rumah Ki Arung. Hhh.... Dia tidak boleh lama-lama tinggal di sini. Aku harus mencari jalan untuk mengusirnya, " kembali si Kumbang Bukit Lontar menggumam perlahan, bicara pada diri sendiri.

Kaki si Kumbang Bukit Lontar terus terayun melangkah perlahan. Pandangannya tetap lurus tak berkedip ke depan. Sementara, malam terus merayap semakin bertambah larut. Dan pemuda itu terus melangkah perlahan-lahan, mendekati Desa Haruling yang masih tampak sunyi, bagai tak berpenghuni.

********************

EMPAT

Pendekar Rajawali Sakti bergegas melangkah, begitu seorang gadis cantik berbaju biru muda agak ketat keluar dari kamar Suryani. Di balik punggung gadis itu tersembul sebilah pedang bergagang kepala naga, berwarna hitam. Tampak di balik ikat pinggangnya yang berwarna kuning keemasan, terselip sebuah kipas berwarna putih keperakan

"Bagaimana keadaannya, Pandan?" tanya Rangga langsung.

"Masih lemah, dan belum bisa diajak bicara," sahut gadis berbaju biru yang dipanggil Pandan itu.

Dia memang Pandan Wangi. Dalam rimba persilatan gadis itu lebih dikenal sebagai si Kipas Maut.

"Aku harap tidak terlambat menolongnya...," desah Rangga.

"Kau cepat bertindak, Kakang. Dia belum sempat ternoda," ujar Pandan Wangi memberi tahu.

"Ohhh...," Rangga mendesah lega.

Pada saat itu muncul Ki Arung dari dalam kamar tidurnya. Laki-laki tua itu bergegas menghampiri Rangga dan Pandan Wangi yang masih berdiri tidak jauh dari pintu kamar Suryani. Sebentar Ki Arung menatap kedua pendekar muda itu, lalu melangkah melewatinya tanpa bicara sedikit pun juga. Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan sejenak, kemudian bergegas mengikuti laki-laki tua itu.

Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang berukuran cukup besar. Kemudian, mereka sama-sama duduk melingkari sebuah meja bundar berukuran cukup besar. Alas meja itu terbuat dari batu pualam putih yang berkilat. Sebuah lampu pelita yang tergantung tepat di bagian tengah atas meja, cukup menerangi seluruh sudut ruangan ini.

"Aku tidak tahu, harus mengatakan apa untuk berterima kasih padamu, Anak Muda. Kalau saja kau tidak menyelamatkannya, tentu besok pagi anakku sudah jadi mayat, seperti gadis-gadis lainnya," ujar Ki Arung seraya menatap Rangga. Sinar matanya penuh dengan sejuta arti yang begitu dalam.

"Gadis lain...?! Apa maksudmu dengan gadis lain, Ki...?" selak Pandan Wangi, bertanya.

"Sudah dua orang gadis tewas setelah diperkosa. Untung saja Suryani bisa kau selamatkan, Anak Muda. Sehingga, dia tidak sampai menjadi korban ketiga,” sahut Ki Arung mencoba menjelaskan.

"Dia sempat menyebutkan namanya, Ki," kata Rangga memberi tahu.

"Kau melihat wajahnya, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Keadaan begitu gelap. Sulit untuk mengenalinya," sahut Rangga.

"Apakah dia menyebut julukannya sebagai si Kumbang Bukit Lontar?" tanya Ki Arung menyelak.

"Benar, Ki," sahut Rangga.

"Ohhh.... Dialah yang juga membunuh Warni dan ayahnya. Warni juga diperkosa sebelum tewas tertikam golok di dadanya," desah Ki Arung lirih. Begitu pelan sekali suaranya, sehingga hampir tak terdengar.

Rangga dan Pandan Wangi jadi saling berpandangan. Sungguh tidak disangka kalau di Desa Haruling ini sedang menghadapi seorang yang mencari gadis untuk diperkosa! Dan sudah dua orang gadis yang menjadi korban. Baru saja tadi, hampir Suryani menjadi korban ketiga. Untung saja Pendekar Rajawali Sakti cepat datang menolong.

"Aku banyak kenal orang dari Desa Haruling. Rasanya, tidak mungkin kalau salah satu dari mereka bisa melakukan perbuatan sekeji ini," gumam Rangga perlahan, seakan bicara pada diri sendiri.

"Memang hanya ada satu desa yang terdekat dengan Bukit Lontar. Dan setahuku juga, tidak ada ­orang pun yang bisa hidup di bukit gersang itu,” sambung Pandan Wangi yang juga tahu betul keadaan Bukit Lontar.

“Ada kalanya bagi kebanyakan orang, tidak mungkin bisa hidup. Tapi ada juga yang mampu bertahan hidup, meskipun di tempat yang sangat gersang. Aku yakin, dia memang berasal dari Bukit Lontar,” kata Rangga, membantah pandangan yang dikemukakan Pandan Wangi. "Hanya saja, untuk apa semua ini dilakukannya...? Dan siapa dia sebenarnya?"

­Tentu saja tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti Mereka semua sekarang ini memang belum tahu, siapa sebenarnya si Kumbang Bukit Lontar itu. Terlebih lagi Rangga dan Pandan Wangi, yang baru tahu keadaan di Desa Haruling malam ini. Dan itu juga setelah Rangga menyelamatkan Suryani dari kerakusan si Kumbang Bukit Lontar, yang bisa menghancurkan seluruh hidup gadis itu.

Rangga jadi teringat seseorang yang perbuatannya persis dengan si Kumbang Bukit Lontar. Dia berjuluk Durjana Pemetik Bunga. Tapi bedanya, si Kumbang Bukit Lontar menggunakan suatu ilmu yang membuat gadis korbannya tidak sadar akan dirinya, dan menuruti semua keinginannya. Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu, ilmu apa yang digunakan si Kumbang Bukit Lontar. Sehingga gadis-gadis yang dijadikan korbannya sama sekali tidak berdaya! Bahkan tidak menyadari akan dirinya sendiri lagi, sehingga begitu pasrah menyerahkan tubuh dan kehormatannya.

"Pandan, aku akan bicara padamu sebentar," kata Rangga sambil bangkit berdiri.

Pandan Wangi menatap Ki Arung sejenak, kemudian melangkah mengikuti Rangga yang sudah berjalan lebih dahulu menjauhi Ki Arung yang masih tetap duduk di kursinya. Kedua pendekar itu berhenti setelah berada di dekat pintu, sehingga apa yang dibicarakan tidak mungkin lagi bisa didengar laki-laki tua pemilik kedai dan rumah penginapan di Desa Haruling itu.

­"Ada apa...?" tanya Pandan Wangi setengah berbisik.

"Aku akan ke Desa Lontar. Kau tetap di sini sampai aku kembali," kata Rangga juga berbisik pelan suaranya

"Berapa lama?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Besok aku sudah kembali," sahut Rangga Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Dia tahu, Rangga pasti akan menggunakan Rajawali Putih. Seekor burung rajawali raksasa yang menjadi tunggangan pemuda berbaju rompi putih itu. Memang dengan menunggang Rajawali Putih, jarak yang begitu jauh bisa ditempuh dalam waktu singkat. Bahkan dari Desa Haruling ke Desa Lontar, seharusnya ditempuh tiga hari perjalanan berkuda. Tapi jika menunggang Rajawali Putih, bisa ditempuh hanya setengah hari saja pulang pergi.

"Apa yang akan kau lakukan di sana?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Aku hanya mencari keterangan. Barangkali saja ada salah seorang dari penduduk desa itu yang mengenali Si Kumbang Bukit Lontar," sahut Rangga

"Lalu?"

"Bisa lebih mudah mendapatkannya, kalau sudah tahu siapa dia sebenarnya," jelas Rangga.

"Baiklah. Aku akan menunggumu di sini," ujar Pandan Wangi.

"Tapi kau harus hati-hati, Pandan. Aku tidak ingin kau menjadi korbannya," seloroh Rangga.

­"Aku bukan anak kecil lagi, Kakang!" rungut Pandan Wangi.

"Justru kau bukan anak kecil lagi, makanya aku khawatir."

"Huuu...!" Pandan Wangi hanya mencibir saja.

********************

Pandan Wangi berdiri tegak merayapi jalan yang tampak cukup ramai dari jendela kamar Suryani. Sesekali kepalanya berpaling, menoleh pada Suryani yang masih terbaring di atas ranjangnya. Gadis itu masih kelihatan lemah, akibat peristiwa yang dialaminya semalam. Si Kipas Maut itu bergegas melangkah meninggalkan jendela, ketika terdengar ketukan di pintu. Saat itu, Suryani juga sudah bangkit dan duduk di tepi pembaringan.

Kening Pandan Wangi jadi berkerut, begitu membuka pintu. Di depan pintu kamar ini berdiri seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah. Dia berbaju biru agak ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang ketat dan berotot. Dan tampaknya, pemuda itu juga terkejut melihat Pandan Wangi yang membuka pintu kamar ini.

"Siapa kau?" tanya Pandan Wangi curiga.

"Aku Goradi. Dan kau siapa...?" sahut pemuda itu langsung balik bertanya lagi

"Pandan Wangi."

"Kenapa kau berada di kamar Suryani?" tanya Goradi juga bernada curiga.

“Aku..."

Belum juga Pandan Wangi selesai menjawab pertanyaan Goradi, Suryani sudah menyelak cepat.

"Masuklah, Kakang...."

Sebentar Pandan Wangi berpaling menatap Pandan Wangi yang duduk di tepi pembaringan, kemudian menggeser kakinya untuk memberi jalan Goradi masuk ke dalam kamar ini. Bergegas Goradi menerobos masuk, dan langsung menghampiri Suryani yang masih kelihatan letih, dan sinar matanya begitu redup.

Sedangkan Pandan Wangi sudah kembali berdiri di depan jendela, memandang ke luar.

"Siapa dia?" tanya Goradi berbisik pelan sambil melirik Pandan Wangi. "Aku seperti pernah melihatnya."

"Dia Pandan Wangi. Kakaknya telah menyelamatkan aku dari si Kumbang Bukit Lontar," jelas Suryani. “Kau pasti sudah mengenalnya siang tadi di kedai Ayah."

Goradi mengangguk-anggukkan kepala.

"Sekarang ke mana kakaknya itu?"

"Pergi. Aku tidak tahu ke mana. Tapi, katanya bentar lagi juga kembali," sahut Suryani lagi.

Goradi terdiam lagi sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kembali matanya melirik Pandan Wangi yang masih tetap berdiri di depan jendela, memandang ke luar. Si Kipas Maut itu seperti tidak peduli kehadiran Goradi di kamar ini.

­"Ayahmu tadi sudah bercerita banyak. Aku menyesal, seharusnya tidak meninggalkanmu semalam," kata Goradi lagi.

"Aku mengerti, Kakang. Tugasmu lebih penting daripada harus terus-menerus menjagaku" kata Suryani lembut

Goradi menepuk punggung tangan gadis itu, kemudian bangkit berdiri dan melangkah menghampiri Pandan Wangi. Hanya sedikit saja si Kipas Maut itu melirik, saat merasakan kalau Goradi sudah berada di dekatnya. Kemudian perhatiannya kembali diarahkan ke jalan, melalui jendela kamar yang sengaja dibuka lebar ini.

"Maaf. Tadi aku sempat kasar padamu," ucap Goradi.

"Lupakan saja," sambut Pandan Wangi seraya berpaling menatap pemuda itu.

"Kalau boleh kutahu, kau dari mana?" tanya Goradi ingin tahu.

"Karang Setra," sahut Pandan Wangi.

"Karang Setra...? Di mana itu?"

"Jauh sekali dari sini."

“Lalu, ke mana tujuanmu?"

Pandan Wangi mengangkat bahu saja sebagai jawabannya. Kepergiannya bersama Rangga memang tidak punya tujuan pasti. Memang, mereka adalah pendekar-pendekar kelana yang selalu mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Tentu saja mereka berkelana sambil menegakkan keadilan dan memberantas keangkaramurkaan. Dan itu semua memang lugas kaum pendekar.

"Aku akan mengucapkan terima kasih, karena kau telah menyelamatkan Suryani dan tangan si Kumbang Bukit Lontar," kata Goradi lagi.

"Bukan aku, tapi Kakang Rangga yang menyelamatkannya," sahut Pandan Wangi terus terang.

“Lalu, ke mana dia?"

Pandan Wangi tidak langsung menjawab. Kembali dipandanginya pemuda ini dengan sinar mata yang sukar diartikan. Goradi jadi salah tingkah sendiri, mendapat tatapan mata yang begitu tajam dari gadis cantik ini.

"Maaf. Tidak seharusnya aku terlalu banyak bertanya," ucap Goradi buru-buru, untuk menutupi kecanggungannya.

Pandan Wangi melirik sedikit pada Suryani, kemudian melangkah menjauhi jendela itu. Sebentar langkahnya dihentikan di depan pintu kamar yang masih tetap dibiarkan terbuka lebar. Pandan Wangi menatap Suryani sebentar, lalu beralih memandang Goradi yang masih berdiri membelakangi jendela.

"Kau tentu ingin bicara berdua. Aku ada di kedai kalau dibutuhkan," kata Pandan Wangi pada Suryani.

Setelah berkata begitu, gadis berbaju biru yang dijuluki si Kipas Maut itu langsung melangkah keluar dari kamar ini. Ditutupnya pintu rapat-rapat, dan ditinggalkannya Suryani dan Goradi berdua saja di dalam kamar.

­"Angkuh sekali sikapnya...," dengus Goradi.

“Aku kira tidak, Kakang. Mungkin kau belum mengenalnya. Dia baik dan lembut sekali. Seperti bukan seorang pendekar," bantah Suryani.

Goradi tidak berkata apa-apa lagi. Kakinya lalu melangkah menghampiri gadis itu, dan duduk di sampingnya. Tak ada lagi yang terdengar dari kamar itu. Keadaan begitu hening, seakan-akan tak ada seorang pun yang tinggal di rumah penginapan ini.

Sementara itu, Pandan Wangi sudah berada di dalam kedai. Dan dia menunggu Rangga kembali dari Desa Lontar di kedai ini, ditemani Ki Arung.

********************

Saat matahari hampir tenggelam, Rangga baru kembali ke kedai Kl Arung. Laki-laki tua pemilik kedai itu langsung menyambutnya, dan menyediakan seguci arak manis Pandan Wangi pun segera menemani, duduk di seberang meja. Tak ada orang lain lagi di dalam kedai ini. Sementara di luar sana, keadaan sudah begitu meremang. Sebentar lagi malam pasti akan turun menyelimuti seluruh Desa Haruling ini.

"Aku tinggal dulu ke belakang," pamit Ki Arung. Tanpa menunggu jawaban lagi, laki-laki tua pemilik kedai dan rumah penginapan itu bergegas meninggalkan Rangga dan Pandan Wangi di dalam kedainya Sampai Ki Arung tidak terlihat lagi, Rangga belum juga membuka suara. Sedangkan Pandan Wangi juga hanya diam saja sambil memain-mainkan ujung jarinya di bibir gelas bambu yang diserut halus.

"Kau dapatkan sesuatu di Desa Lontar, Kakang?" tanya Pandan Wangi tidak sabar lagi, karena sudah terlalu lama menunggu.

"Tidak ada seorang pun yang mengenal Kumbang Bukit Lontar," sahut Rangga dengan suara mendesah panjang.

"Lalu...?" desah Pandan Wangi ingin tahu.

"Kita akan menghadapi seseorang yang penuh teka-teki, Pandan. Seseorang yang tidak dikenal, dan hanya menggunakan julukan si Kumbang Bukit Lontar saja. Kita juga tidak tahu, apa maksudnya memperkosa gadis-gadis desa ini," kata Rangga lagi, masih terdengar perlahan sekali suaranya.

"Hhh...! itu berarti kita akan tetap tinggal di sini, Kakang...?" desah Pandan Wangi seperti mengeluh.

"Kenapa? Kau seperti kurang senang di sini Pandan?" tanya Rangga.

"Bukannya tidak senang. Aku selalu suka berada di manapun juga. Tapi perjalanan kita jadi tertunda lagi, Kakang."

"Kau seperti baru saja melakukan perjalanan jauh, Pandan. Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada saja persoalan yang tidak bisa dihindari. Dan lagi, aku tidak bisa tinggal diam dan berlalu begitu saja jika menemukan sesuatu yang membuat orang banyak jadi sengsara. Aku harus bisa menemukan manusia iblis itu, sebelum jatuh korban lebih banyak lagi," mantap sekali nada terakhir suara Rangga.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Pandan Wangi.

"Seperti biasa. Aku akan mencari banyak keterangan, dan meronda setiap malam," sahut Rangga kalem.

"itu tidak mungkin, Kakang. Bisa-bisa, malah kaulah yang disangka sebagai si Kumbang Bukit Lontar. Sedangkan kau tahu sendiri, tak ada seorang pun yang keluar malam hari di sini."

Rangga hanya tersenyum saja, tanpa ada maksud meremehkan kekhawatiran gadis itu. Kembali gelasnya yang kosong diisi dengan arak manis dari dalam guci, lalu diteguknya hingga tandas tak bersisa lagi. Tapi dalam masalah ini, sebenarnya bukan Pandan Wangi yang mengkhawatirkan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, justru kebalikannya. Rangga-lah yang justru malah mengkhawatirkan Pandan Wangi.

Karena memang sudah jelas, si Kumbang Bukit Lontar selalu mengincar gadis-gadis untuk dijadikan korban nafsunya. Sedangkan dan keterangan yang diperoleh, sudah dua orang gadis yang menjadi korban. Dan Suryani hampir saja menjadi korban ketiga kalau saja tidak ditolong Pendekar Rajawali Sakti. Dan Rangga jadi teringat satu peristiwa, ketika terpaksa mengirim si Durjana Pemetik Bunga ke neraka untuk menghentikan perbuatannya yang mengumbar nafsu pada gadis-gadis.

"Sebaiknya, kau kembali ke kamar Suryani, Pandan," pinta Rangga, "Aku merasa kalau si Kumbang Bukit Lontar akan kembali lagi. Dan itu tugasmu untuk melindungi Suryani."

"Dia sudah ada yang menjaganya, Kakang," sahut Pandan Wangi.

"Siapa...?!" tanya Rangga agak terkejut.

Kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut, mendengar Suryani sudah ada yang menjaga. Dipandanginya wajah Pandan Wangi dalam-dalam, seakan-akan hendak mencari jawaban dari keterkejutannya tadi.

"Kekasihnya... Goradi, " sahut Pandan Wangi memberi tahu.

"Siapa itu Goradi?" tanya Rangga yang memang belum mengenal.

"Kata Ki Arung, dia putra Ki Rampik yang merupakan Kepala Desa Haruling ini," sahut Panda­ Wangi menjelaskan lagi. "Sudah sejak siang tadi mereka berdua di dalam kamar. Aku tidak mungkin menungguinya terus, Kakang. Jadi, aku menunggumu saja disini bersama Ki Arung."

"Dari mana dia tahu kalau Suryani hampir saja tertimpa musibah?" tanya Rangga bernada menyelidik.

"Ki Arung yang mengatakannya," sahut Pandan Wangi.

"Kalau begitu, kau kembali saja ke kamarmu," kata Rangga.

"Kau sendiri...?" tanya Pandan Wangi yang sepertinya enggan untuk kembali ke kamarnya lagi.

­"Aku akan melihat-lihat keadaan desa ini," sahut Rangga.

Perlahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri. Sedangkan Pandan Wangi masih tetap duduk memandanginya. Rangga tahu, gadis itu ingin ikut bersamanya mengeliling Desa Haruling ini sambil mencari keterangan tentang si Kumbang Bukit Lontar.

Si Kumbang Bukit Lontar memang telah menghebohkan dan membuat resah seluruh penduduk desa ini. Bukan hanya gadis-gadisnya saja yang resah. Tapi para orang-orang tua juga khawatir kalau-kalau anak gadis mereka menjadi korban kebiadaban si Kumbang Bukit Lontar. Sementara itu, Rangga sudah melangkah keluar dari kedai ini. Sedangkan Pandan Wangi masih tetap duduk diam memandangi, sampai punggung Pendekar Rajawali Sakti lenyap. Di luar sana, malam sudah jatuh menyelimuti seluruh permukaan bumi Desa Haruling. Kegelapan sudah begitu terasa menyelimuti sekitarnya.

Pandan Wangi ingin beranjak dari kursinya, tapi tidak jadi begitu melihat Ki Arung datang lagi ke kedai ini Laki-laki tua itu langsung duduk di depan Pandan Wangi. Lalu, diletakkannya satu guci arak manis ke atas meja di depan mereka. Dan memang, satu guci yang disediakannya tadi sudah tidak ada lagi isinya. Hampir semuanya berpindah ke dalam perut Pendekar Rajawali Sakti.

"Dia sudah pulang, Ki?" tanya Pandan Wangi.

"Siapa...?" Ki Arung malah balik bertanya.

­"Goradi. "

"Sudah tadi."

"Sudah... ?! "

"Lewat belakang. Aku tidak ingin pembicaraanmu terganggu. Jadi, aku menyuruhnya lewat belakang."

"Sebaiknya aku kembali ke kamar Suryani, Ki" ujar Pandan Wangi seraya bangkit berdiri.

Tanpa menunggu jawaban lagi, si Kipas Maut langsung meninggalkan kedai ini menuju rumah penginapan yang berada di bagian belakang kedai ini. Sedangkan Ki Arung tetap duduk saja di kedainya yang begitu sepi. Memang, kedai ini jadi sepi kekurangan pengunjung sejak terjadi peristiwa-peristiwa keji itu.

Terlebih lagi bila malam hari. Ki Arung terpaksa menutupnya sebelum tengah malam. Bahkan matahari baru saja tenggelam pun, sudah tidak ada lagi yang datang mengunjungi kedainya ini. Tapi sedikit pun laki-laki tua itu tidak mengeluh. Dia Percaya kalau semua ini pasti akan berakhir. Hanya saja, dia tidak bisa meramalkan, kapan semua ini akan berakhir. Tapi keyakinannya itu semakin tebal, oleh adanya dua orang Pendekar yang menginap di rumah Penginapannya. Walaupun dia tidak tahu persis tentang dua orang pendekar tamunya itu.

LIMA

Malam masih terus merambat bertambah larut Kesunyian begitu terasa menyelimuti seluruh Desa Haruling. Di antara kegelapan bayang-bayang rumah dan pepohonan, terlihat Rangga bergerak ringan dan cepat sekali mempelajari keadaan desa ini. Dan gerakannya baru berhenti setelah berada kembali di depan kedai yang sekaligus rumah penginapan milik Ki Arung.

"Sepi sekali. Tak seorang pun peronda kutemui...," gumam Rangga, berbicara sendiri dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangan berkeliling. Tapi, mendadak saja keningnya jadi berkerut begitu melihat seseorang berdiri di ujung jalan ini. Memang sukar mengenalinya, karena malam begitu gelap. Orang itu tetap berdiri tegak di tengah-tengah ujung jalan desa ini, seakan-akan menanti Pendekar Rajawali Sakti untuk menghampiri.

“Hm..., siapa dia?" gumam Rangga bertanya sendiri dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti jadi penasaran ingin tahu. Perlahan-lahan kakinya terayun dengan pandangan mata tak berkedip. Sorot matanya tajam pada sosok tubuh yang berdiri tegak di tengah-tengah ujung jalan ini Kaki Rangga terus terayun ringan sekali. Memang, kelihatannya melangkah perlahan dan biasa saja. Tapi sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sehingga, sebentar saja sudah berada sekitar setengah batang tombak dari orang yang berdiri tegak di tengah jalan itu.

Beberapa saat Rangga mengamati orang yang mengenakan baju jubah panjang berwarna hitam pekat itu. Hembusan angin yang agak kencang, membuat jubah yang dikenakannya berkibar-kibar. Di tangan kanannya tampak tergenggam sebatang tongkat yang tidak beraturan bentuknya. Tongkat itu juga berwarna hitam pekat, dan bagian ujung kepalanya berbentuk bulat berwarna kuning keemasan. Cukup sulit bisa mengenali wajahnya, karena kepalanya tertutup kain yang menyatu dengan jubahnya. Bentuknya kerucut dan hampir menutupi seluruh wajahnya. Hanya bagian bibir dan dagunya saja yang terlihat.

"Kau yang bernama Rangga? " tanya orang itu mendahului. Suaranya terdengar besar dan berat sekali, seperti disengaja untuk mengurangi tekanan pada nadanya.

Sementara Rangga masih terdiam belum menjawab pertanyaan itu. Kelopak matanya agak menyipit, memperhatikan wajah yang tertutup kain kerudung hitam yang menutupi seluruh kepala dan sebagian wajahnya. Saat ini malam memang begitu gelap. Sedikit pun tak ada cahaya bulan yang menerangi, karena langit tertutup awan tebal yang menggumpal hitam.

“Benar,” sahut Rangga datar. "Dan kau siapa...?"

­"Orang-orang menyebutku Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar," sahut orang berjubah hitam itu memperkenalkan julukannya

"Hm...," Rangga menggumam dengan kening agak berkerut.

Kembali Pendekar Rajawali Sakti mengamati orang berjubah hitam yang mengaku sebagai Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar. Dan untuk beberapa saat, mereka terdiam tidak berkata-kata lagi.

"Kau sudah tahu lebih dulu namaku. Lalu, apa maksudmu datang jauh-jauh dari Bukit Lontar ke sini?” tanya Rangga menyelidik.

"Aku memang tidak bisa berbasa-basi, Rangga Asal kau tahu saja. Aku tidak suka kehadiranmu sini. Dan kuharap, kau segera pergi dari Desa Haruling ini," tegas sekali nada suara si Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar itu.

"Aku memang hanya singgah saja di sini. Tak diminta pun, aku pasti pergi," sahut Rangga dingin nada suaranya.

"Bagus! Kuharap, besok pagi sudah tidak lagi melihatmu berada di sini," sambut Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar dingin.

"Tapi, kenapa kau menginginkan aku cepat-cepat pergi dari sini?" tanya Rangga kembali menyelidik.

"Karena kau sudah mengganggu muridku, Rangga," sahut si Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar tegas

"Mengganggu muridmu...?! Aku tidak pernah merasa mengganggu siapa pun di sini," ujar Rangga jadi terkejut.

“Tapi kenyataannya kau sudah menggagalkan tugas muridku, Pendekar Rajawali Sakti! Dan aku tidak ingin kau menjadi penghalang bagi muridku!" tegas Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar.

"Hm...," lagi-lagi Rangga menggumam perlahan.

"Aku sudah tahu tentang dirimu, Rangga. Dan Jangan campuri urusanku dengan muridku di sini. Di antara kita tidak pernah terjadi permusuhan. Dan aku tidak ingin menggali jurang permusuhan. Untuk itu, kuminta kau segera tinggalkan desa ini sebelum terjadi suatu yang pasti tidak diharapkan!"

"Kau mengancam ku, Kisanak..?" desis Rangga kurang senang.

"itu hanya peringatan saja, Rangga. Dan aku bisa lebih keras lagi memberimu peringatan, kalau tetap berkeras kepala tidak mau memenuhi permintaanku!" sahut si Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar tegas.

“Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja laki-laki berjubah hitam yang mengaku berjuluk Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar itu melesat cepat bagai kilat.

Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap dari pandangan mata Pendekar Rajawali Sakti. Sementara Rangga masih tetap berdiri tegak. Tidak ada gunanya lagi mengejar, karena Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar itu sudah menghilang entah ke mana.

"Hm.... Siapa pun dia, pasti ada. hubungannya dengan si Kumbang Bukit Lontar," gumam Rangga perlahan, berbicara pada diri sendiri. "Hhh! Aku jadi ingin tahu, apakah ancamannya itu hanya gertakan saja?”

********************

Rangga memang tidak meninggalkan Desa Haruling ini. Dan dia juga tidak menceritakan tentang laki-laki berjubah hitam yang berjuluk Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar pada siapa pun juga. Tapi Pendiriannya itu harus dibayar mahal. Dua hari setelah bertemu Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar, terjadi Perkosaan terhadap para gadis-gadis desa.

Bahkan sekarang diiringi dengan Pembunuhan! Kalau sebelumnya gadis itu diperkosa mati karena bunuh diri, maka sekarang dibunuh langsung oleh si pemerkosa. Dan bukan hanya malam hari saja dilakukan, tapi juga siang hari si Kumbang Bukit Lontar berani mengambil korbannya.

Dan selama dua hari itu, sudah enam orang gadis yang ditemukan tewas setelah terlebih dahulu dinodai. Semuanya adalah gadis suci yang belum tersentuh laki-laki sedikit pun Hal ini tentu saja membuat keadaan Desa Haruling semakin resah. Semua orang jadi takut meninggalkan rumahnya. Terutama sekali, gadis-gadis dan orang-orang tua yang memiliki anak gadis.

"Iblis itu semakin biadab saja, Kakang...," desis Pandan Wangi menggeram.

Rangga hanya diam saja dan terus melangkah disertai pandangan lurus ke depan. Mereka baru saja melihat satu korban lagi di salah satu rumah. Bahkan bukan hanya anak gadis itu saja yang menjadi korban, melainkan juga seluruh keluarganya tewas tak tersisa lagi. Padahal, ini siang hari!

"Dia sudah berani terang-terangan, berbuat di siang hari. Bahkan membantai satu keluarga. Hhh...! Kalau saja aku bisa bertemu dengannya, akan kuremukkan batok kepalanya!" geram Pandan Wangi jadi berang setengah mati

Rangga masih tetap diam membisu, sampai mereka tiba di kedai Ki Arung. Ternyata, di dalam kedai sudah menunggu Ki Arung, Goradi, Ki Rampik, dan Paman Walung. Ki Arung langsung memperkenalkan Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut pada tamu-tamunya. Dan memang, baru kali ini Rangga bisa bertemu Ki Rampik,. Kepala Desa Haruling ini.

"Aku sudah mendengar banyak tentang dirimu dari Ki Arung, Anak Muda. Rasanya kebetulan sekali keberadaanmu di sini. Karena, kami memang membutuhkan seorang Pendekar tangguh untuk menghentikan semua kebiadaban yang terjadi di desa ini," kata Ki Rampik, setelah Rangga dan Pandan Wangi duduk dalam satu meja bersama mereka semua.

Hanya Ki Arung saja yang terpisah bersama Suryani, anak gadisnya yang hampir saja menjadi korban kebuasan nafsu si Kumbang Bukit Lontar. Mereka duduk hanya terpaut satu meja saja. Dan, tidak ada lagi orang lain di dalam kedai kecuali mereka Ini.

"Paman Walung sudah ke Desa Lontar. Bahkan mereka jadi marah, karena nama desanya dicemarkan. Memang, tak ada seorang pun dari mereka yang melakukan perbuatan sekeji itu," sambung Ki Rampik lagi.

Rangga melirik sedikit pada Paman Walung yang duduk di samping kanan Kepala Desa Haruling itu. Sedangkan di sebelah kiri Ki Rampik, duduk Goradi yang terus-menerus memandangi Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Antara Goradi dan Pandan Wangi memang sudah saling mengenal. Tapi, Rangga memang belum mengenal ketiga orang utama di Desa Haruling ini.

"Kapan Paman Walung pergi ke Desa Lontar?" tanya Rangga terus menatap laki-laki separuh baya itu.

"Sehari setelah terjadi peristiwa kedua," Ki Rampik yang menyahuti.

"Dua hari," sahut Paman Walung singkat

Rangga mengangguk-anggukkan kepala, kemudian melirik Ki Arung dan Suryani yang duduk terpisah dari meja ini. Pendekar Rajawali Sakti kemudian berpindah menatap Pandan Wangi sebentar, lalu kembali memandang ketiga orang yang duduk di depannya.

"Apa yang terjadi pada Suryani, aku sudah mendengarnya. Dan aku berharap, kau bisa menyelamatkan gadis-gadis lainnya dari kebuasan nafsu biadab si Kumbang Bukit Lontar. Aku Percaya, kau pasti sudah tahu banyak tentang peristiwa yang sedang terjadi di sini. Dan aku juga percaya, kau sudi membantu menghentikan semua ini," kata Ki Rampik lagi.

Nada suara Ki Rampik jelas sangat berharap kalau Rangga bersedia menyelesaikan persoalan berdarah ini. Sedangkan Rangga hanya diam saja. Sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti juga sedang berusaha. Dan tanpa diminta pun, pasti akan menghentikan perbuatan keji si Kumbang Bukit Lontar itu. Terlebih lagi sekarang ini dia tahu, bukan si Kumbang Bukit Lontar saja yang ada. Ternyata, juga ada satu orang lagi menjuluki dirinya sebagai Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar. Dan orang itu juga mengaku kalau si Kumbang Bukit Lontar adalah muridnya.

Hanya saja, sampai saat ini Rangga belum mengatakan hal itu pada siapa pun juga. Memang, Pendekar Rajawali Sakti tidak mau mengatakannya. Pendekar Rajawali Sakti merasa kalau perkenalannya dengan Ki Rampik akan membawa Petunjuk untuk bisa menemukan si Kumbang Bukit Lontar dan Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar itu. Namun, dalam hatinya masih tetap ada keraguan. Dan Rangga sendiri masih belum yakin akan keraguannya itu.

"Keinginanmu itu akan kupenuhi, Ki. Tapi aku Juga mengharapkan dukungan sepenuhnya dari seluruh penduduk desa ini. Terutama sekali, dari orang-orang yang kau percayai," kata Rangga menjawab permintaan Ki Rampik.

"Oh, terima kasih.... Terima kasih, Anak Muda. Aku pasti akan mendukungmu sepenuhnya. Dan seluruh Penduduk desa ini akan berada di belakangmu," sambut Ki Rampik gembira

"Dan kuminta, mulai malam nanti diadakan perondaan untuk memperkecil ruang gerak si Kumbang Bukit Lontar. Kalau terjadi sesuatu, bisa cepat diketahui. Bahkan kemungkinan bisa menggagalkan setiap sepak terjangnya," kata Rangga lagi.

"Aku akan meronda setiap malam," selak Goradi begitu bersemangat.

Rangga tersenyum melihat Goradi begitu bersemangat ingin meringkus si Kumbang Bukit Lontar itu. Meskipun baru kali ini mengenalnya, tapi Rangga sudah tahu kalau Goradi mencintai Suryani. Dan sudah barang tentu, ada api dendam bersemayam di dalam dada pemuda itu. Karena, kekasihnya hampir saja menjadi korban nafsu iblis si Kumbang Bukit Lontar.

"Aku akan mengatur Pembagiannya," kata Ki Rampik langsung menyetujui saran Pendekar Rajawali Sakti.

********************

Malam ini, memang tidak seperti malam-malam sebelumnya di Desa Haruling. Di setiap sudut dan tempat-tempat yang dianggap rawan, terlihat beberapa orang berjaga-jaga. Mereka berkelompok, dan sedikitnya tiga orang. Bahkan di setiap halaman rumah terpancang obor, membuat keadaan desa ini jadi terang benderang. Begitu semarak, seperti akan mengadakan pesta saja. Namun, tetap saja keadaannya begitu sunyi dan mencekam.

Sementara itu, Rangga dan Pandan Wangi berkuda mengelilingi desa ini. Semua penduduk Desa Haruling sudah mengenalnya, karena Ki Rampik memang sudah memperkenalkan siang tadi. Sementara malam terus merambat semakin larut. Tapi belum ada tanda-tanda kalau si Kumbang Bukit Lontar akan muncul malam ini. Atau mungkin juga tidak akan muncul, karena penjagaan di desa ini begitu ketat.

Malah keadaannya sama sekali lain daripada malam-malam sebelumnya. Desa yang biasanya selalu gelap di malam hari, kini tampak terang benderang oleh obor yang terpancang di mana-mana.

"Aku melihat pandanganmu begitu aneh pada Paman Walung siang tadi, Kakang," tebak Pandan Wangi memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka berdua.

Rangga hanya tersenyum saja.

"Aku tahu, kau mencurigainya. Karena, Ki Rampik mengatakan Paman Walung pergi ke Desa Lontar," kata Pandan Wangi lagi.

"Pandanganmu sungguh tajam, Pandan," puji Rangga mengakui.

"Terus terang, bukan hanya kau saja yang curiga, Kakang. Tapi aku juga," kata Pandan Wangi lagi, mengungkapkan kata hatinya.

­"Hm.... Dari mana kau bisa menaruh kecurigaan?" tanya Rangga ingin tahu.

"Waktu yang diperlukannya untuk ke Desa Lontar dari sini, paling tidak tiga hari kalau menunggang kuda Kakang. Tapi kelihatannya begitu dekat. Seharusnya, kau bertemu dia di sana. Tapi nyatanya, kau tidak bertemu dengannya. Padahal Paman Walung mengatakan kalau dua hari berada di sana," Pandan Wangi membeberkan pandangannya.

"Kau benar, Pandan. Kalaupun dia pergi ke sana, tidak mungkin bisa berada kembali di sini hari ini Paling tidak, besok baru sampai," sambut Rangga.

"Itu artinya, Paman Walung tidak pergi ke Desa Lontar, Kakang," kata Pandan Wangi lagi.

"Aku hanya tahu sedikit tentang dirinya dari Ki Arung. Dia juga berasal dari desa mi. Tapi, tak ada seorang pun yang tahu kehidupannya Semua orang hanya tahu dia mengembara, dan belum lama kembali ke sini," kata Rangga perlahan," seperti menggumam.

"Kau punya...."

"Ssst...!"

Pandan Wangi langsung terdiam. Dan mereka menghentikan langkah kaki kudanya. Gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu jadi kebingungan melihat Rangga menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan belum juga keheranannya hilang, tiba-tiba saja....

"Hup...!"

Begitu cepat sekali Rangga melenting ke udara, lalu seketika itu juga lenyap dari pandangan mata. Lesatannya begitu cepat bagai kilat ke arah Selatan Desa HaruIing.

"Ada apa ini...?" Pandan Wangi jadi bertanya-tanya sendiri.

Sungguh Pandan Wangi sama sekali tidak mendengar suara apa pun juga. Apalagi melihat sesuatu yang mencurigakan. Tapi, kenapa Rangga tiba-tiba melesat pergi begitu cepat, seperti mengejar sesuatu. Pandan Wangi yang sudah mengenal betul Rangga yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti, tidak ingin berpikir panjang lagi. Cepat kudanya digebah ke arah Selatan, sambil menuntun tali kekang kuda hitam bernama Dewa Bayu. Kuda itu memang tunggangan Pendekar Rajawali Sakti, selain burung rajawali raksasa.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa. ..!"

Pandan Wangi menggebah kudanya begitu cepat tidak dipedulikan kalau sekarang adalah malam hari. Dan dia terus memacu kudanya menuju ke arah Selatan. Memang, gadis itu sempat melihat Rangga yang melesat begitu cepat ke arah Selatan. Tapi sampai jauh ini, belum juga bisa terlihat apa pun. Apalagi, melihat bayangan tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

Namun gadis yang berjuluk Si Kipas Maut itu terus menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi, diikuti kuda hitam Dewa Bayu yang berlari mengimbangi di samping kanan.

********************

­Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti terus berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya memang sudah mencapai tingkat sempurna. Sehingga dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun Kemudian tubuhnya kembali melesat begitu ringan bagai kapas tertiup angin.

"Hup! Berhenti...!"

Jlegk!

"Heh...?!"

Begitu ringan Rangga meluruk turun. Dan tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti sudah menjejakkan kakinya di tanah. Hal ini membuat pemuda yang tengah berlari kencang jadi terkejut setengah mati. Cepat-cepat larinya dihentikan, karena. tahu-tahu di depannya sudah berdiri menghadang seorang pemuda yang sebaya dengannya. Bajunya rompi berwarna putih, dengan sebuah pedang bergagang kepala burung bertengger di punggungnya.

"Hiyaaa. .. !"

Tiba-tiba saja pemuda berbaju biru itu mengebutkan tangan kirinya ke depan. Dan seketika itu juga dari balik lipatan lengan bajunya yang cukup longgar meluncur beberapa buah benda kecil berwarna kuning keemasan.

"Hup!"

Cepat sekali Rangga melenting ke udara. Dan pada saat itu, pemuda berbaju biru ini berbalik cepat hendak lari. Tapi tanpa diduga sama sekali, Rangga sudah kembali menghadangnya. Dan hal ini membuat pemuda itu jadi terhenyak setengah mati.

"Tinggalkan gadis itu di sini!" desis Rangga, begitu tinggi nada suaranya.

"Phuih! Keparat...!" geram pemuda itu.

Memang, di pundak kanan pemuda itu terpanggul seorang gadis bertubuh ramping yang tampaknya tidak sadarkan diri. Dalam keremangan cahaya bulan yang baru muncul malam ini, Rangga bisa melihat ketampanan wajah pemuda itu. Dan tubuhnya juga kekar. Otot-ototnya bersembulan, menampilkan kejantanannya. Walaupun baru kali ini melihat wajahnya, tapi Rangga sudah merasa pasti kalau pemuda yang sebaya dengannya ini adalah si Kumbang Bukit Lontar. Sosok manusia yang sudah menggemparkan dan membuat resah seluruh penduduk Desa Haruling.

"Kau bisa saja lolos dari penjagaan penduduk. Tapi, kau tidak bisa lolos dari pengamatanku, Kumbang Bukit Lontar," desis Rangga, dingin sekali nada suaranya.

Sambil mendengus berang, si Kumbang Bukit Lontar menurunkan gadis yang berada di atas pundaknya. Kemudian, kakinya bergeser beberapa langkah ke samping. Sehingga, jadi berjarak sekitar satu batang tombak dari gadis yang kini tergolek di tanah berumput dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Orang lain boleh mati berdiri mendengar julukan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, aku tidak akan gentar menghadapimu. Justru kau yang akan menyesal telah mencampuri urusanku!" desis si Kumbang Bukit Lon­tar dingin menggetarkan.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rangga.

"Hhh! Kau tidak perlu tahu siapa aku, Rangga,” sahut si Kumbang Bukit Lontar dingin.

"Kenapa kau membantai gadis-gadis desa ini?” tanya Rangga lagi, tidak peduli mendapat jawaban bernada ketus.

"Mereka harus menanggung dari semua perbuatannya! Gadis-gadis sombong ini sudah sepantasnya menerima ganjaran!" sentak si Kumbang Bukit Lontar berang.

"Kau pernah dikecewakan gadis Desa Haruling...?" tanya Rangga lagi.

"Jangan banyak tanya, Setan! Hiyaaa...!"

"Hap!"

********************

ENAM

Rangga cepat-cepat menarik tubuhnya ke kanan ketika tiba-tiba saja, si Kumbang Bukit Lontar melompat sambil melepaskan satu pukulan keras sekali, sertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Pendekar Rajawali Sakti bergegas menarik kakinya ke belakang, begitu serangan yang dilancarkan si Kumbang Bukit Lontar berhasil dihindari.

Tapi belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa menyempurnakan keseimbangan tubuhnya kembali, si Kumbang Bukit Lontar sudah kembali menyerang, dengan melepaskan satu tendangan berputar mengarah ke dada.

"Hait...!"

Rangga cepat menarik tubuhnya ke belakang, hingga tendangan itu berhasil dihindari. Dan pada saat si Kumbang Bukit Lontar belum bisa menarik kembali kakinya. Rangga sudah memberi satu serangan balasan. Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu pukulan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

"Hap...!"

Namun tanpa diduga sama sekali si Kumbang Bukit Lontar mampu melenting ke udara, walaupun hanya berpijak pada satu kaki. Sehingga, pukulan balasan yang dilancarkan Rangga tidak mengenai sasaran. Dan pukulan itu hanya menghantam sebatang pohon yang cukup besar ukurannya. Akibatnya, pohon itu seketika hancur berkeping-keping terkena pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang dilepaskan Rangga tadi.

"Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, si Kumbang Bukit Lontar melepaskan satu tendangan menggeledek dalam keadaan masih melayang di udara. Tendangan kaki kanan itu mengarah lurus ke kepala Pendekar Rajawali Sakti.

"Uts...!"

Hanya sedikit saja merundukkan kepala, Rangga berhasil menghindari tendangan keras bertenaga dalam tinggi itu. Bergegas kakinya ditarik ke belakang beberapa langkah. Sementara itu, si Kumbang Bukit Lontar sudah kembali menjejakkan kakinya manis sekali di tanah. Kini, mereka berdiri, berjarak sekitar setengah batang tombak, saling berpandangan begitu tajam. Seakan-akan mereka tengah mengukur tingkat kepandaian masing-masing yang dimiliki.

Sret!

Cring...!

Kumbang Bukit Lontar segera mencabut pedangnya yang tergantung di pinggang. Pedangnya dimain-mainkan dengan gerakan-gerakan indah sekali. Tatapan matanya masih begitu tajam, menyorot langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Rangga sendiri masih tetap belum mengeluarkan senjatanya. Tampak ketika Kumbang Bukit Lontar mengebutkan pedangnya ke depan, dari ujung pedang itu mengepulkan asap tipis agak kekuning-kuningan.

“Hm...,” gumam Rangga perlahan. "Hep...!"

Pendekar Rajawali Sakti langsung tahu kalau asap tipis kekuningan itu mengandung racun dahsyat sekali. Meskipun dirinya kebal terhadap segala jenis racun yang ada di dunia ini, tapi tetap saja Pendekar Rajawali Sakti segera memindahkan pusat pernapasannya ke perut. Seluruh aliran jalan darahnya ditutup, dan langsung dipusatkan pada satu jalan darah yang tidak bisa dilalui racun apa pun juga.

"Hiyaaa...!"

Bagaikan kilat, si Kumbang Bukit Lontar melompat menyerang sambil mengebutkan pedangnya beberapa kali. Asap berwarna kuning yang keluar dan ujung pedangnya terlihat semakin banyak saja. Asap itu meliuk-liuk mengikuti setiap gerakan pedang di tangan pemuda berbaju biru itu.

"Hup! Yeaaah...!"

Cepat Rangga mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', untuk mengimbangi serangan-serangan yang dilancarkan si Kumbang Bukit Lontar. Bukan hanya pedang saja yang berkelebatan di sekitar tubuhnya, tapi asap kekuningan yang mengandung racun dahsyat menyelubungi seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun sampai beberapa lama pertarungan itu berlangsung, belum juga ada tanda-tanda kalau Rangga terpengaruh asap beracun yang keluar dari ujung pedang itu

"Edan...! Dia tidak terpengaruh Racun Kuning dari pedangku...!" dengus si Kumbang Bukit Lontar.

Si Kumbang Bukit Lontar bukan hanya geram melihat Pendekar Rajawali Sakti tidak terpengaruh sedikit pun oleh asap Racun Kuning yang keluar dari ujung pedangnya. Tapi, dia juga jadi penasaran setengah mati. Jurus-jurus tingkat tinggi yang begitu dahsyat telah dikeluarkan untuk mendesak Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, gerakan-gerakan tubuh Rangga memang begitu halus, dan sukar diduga arahnya.

Sehingga, tak satu pun serangan si Kumbang Bukit Lontar yang mengenai sasaran. Bahkan beberapa kali si Kumbang Bukit Lontar dibuat kelabakan, setiap kali Rangga melakukan serangan balasan dari jurus-jurusnya yang begitu dahsyat. Beberapa kali pula Pendekar Rajawali Sakti berhasil menyarangkan pukulannya ke tubuh si Kumbang Bukit Lontar. Dan itu semakin membuat tokoh bejat itu bertambah berang. Serangan-serangannya semakin diperhebat Asap berwarna kuning yang keluar dari ujung pedangnya pun semakin tebal saja menggumpal.

“Hiyaaa...”

Tiba-tiba saja Rangga berteriak keras menggelegar. Dan seketika itu juga, tubuhnya melenting tinggi ke udara. Lalu, dia meluruk deras dengan kedua kaki bergerak begitu cepat, sehingga sukar sekali diikuti pandangan mata biasa. Jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' yang dikerahkan pemuda berbaju rompi putih itu memang sangat dahsyat luar biasa. Akibatnya, si Kumbang Bukit Lontar jadi kelabakan setengah mati.

"Hup! Yeaaah... !"

Cepat-cepat si Kumbang Bukit Lontar melompat ke belakang sambil cepat memutar pedangnya di atas kepala. Namun tanpa diduga sama sekali, Rangga membalikkan tubuhnya, sehingga kepalanya berada di bawah. Sedangkan kakinya menjulur lurus ke atas. Pada saat itu juga, bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu pukulan menyilang, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

“Yeaaah...!"

"Hait...!"

Kumbang Bukit Lontar jadi terkejut setengah mati. Cepat-cepat pedangnya ditebaskan ke depan dada, mencoba menggagalkan serangan yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. rapi, kembali pemuda berbaju rompi putih itu melakukan satu gerakan yang begitu cepat dan sulit.

"Hap!"

Sambil memutar tubuhnya ke belakang, Rangga mencabut Pedang Rajawali Sakti yang sejak tadi tersampir di punggung. Dan secepat itu pula, pedangnya ditebaskan ke arah dada si Kumbang Bukit Lontar. Pedang yang memancarkan cahaya biru terang menyilaukan itu membuat si Kumbang Bukit Lontar jadi terperangah setengah mati.

"Hiyaaa...!"

"Hap! Yeaaah...!"

Cepat-cepat si Kumbang Bukit Lontar mengebut kan pedangnya ke depan dada. Sehingga....

Trang!

Satu benturan keras dari dua senjata yang memiliki pamor dahsyat memang tidak dapat dihindari lagi. Percikkan bunga api memijar ke segala arah, dari dua pedang yang beradu keras di depan dada si Kumbang Bukit Lontar itu. Namun....

"Heh... !"

Kedua bola mata si Kumbang Bukit Lontar jadi terbeliak lebar. Buru-buru tubuhnya melenting ke belakang sejauh dua batang tombak, lalu manis sekali kakinya menjejak tanah. Hampir tidak bisa dipercaya dengan apa yang dilihatnya. Pedang yang selama ini dibanggakan kini gompal akibat benturan keras dengan pedang Pendekar Rajawali Sakti yang memancarkan cahaya biru terang berkilau, dan menyilaukan mata.

Berganti-ganti si Kumbang Bukit Lontar memandangi pedangnya yang gompal dan Rangga yang berdiri tegak dengan pedang tersilang di depan dada. Sungguh hampir tidak dipercaya dengan apa yang terjadi. Pedang kebanggaannya ternyata bisa jadi gompal terbentur pedang Pendekar Rajawali Sakti!

"Sebaiknya kau menyerah saja, Kumbang. Pertanggungjawabkan semua perbuatan terkutukmu " desis Rangga tegas, namun nada suaranya terdengar begitu dingin.

"Phuih! Jangan besar kepala dulu kau! Aku belum kalah...!" dengus si Kumbang Bukit Lontar, mengqeram berang.

"Jangan memaksaku untuk bertindak lebih jauh, Kumbang. Sebaiknya menyerah saja," Rangga masih mencoba membujuk.

"Setan...! Mampus kau! Hiyaaa...!”

Bagaikan kilat, tangan kiri si Kumbang Bukit Lontar mengibas ke depan. Seketika itu juga dari balik lipatan lengan bajunya meluncur beberapa buah benda berwarna kuning keemasan yang berbentuk seperti paku. Benda-benda berukuran kecil itu langsung meluruk deras ke arah Rangga yang berdiri sekitar tiga batang tombak jauhnya di depan si Kumbang Bukit Lontar.

"Hap! Yeaaah...!"

Bet!

Wuk!

Tanpa menggeser kakinya sedikit pun juga, Rangga cepat sekali mengebutkan pedangnya untuk menyampok paku-paku emas yang dilepaskan si Kumbang Bukit Lontar. Tak ada satu pun senjata rahasia itu yang mengenai tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

"Keparat...!” geram si Kumbang Bukit Lontar. Seluruh tubuh si Kumbang Bukit Lontar jadi ­menggeletar. Bahkan wajahnya memerah bagai terbakar, melihat kenyataan itu. Senjata rahasianya semuanya rontok tertebas pedang yang memancarkan sinar biru terang berkilauan itu.

"Kubunuh kau, Rajawali Keparat! Hiyaaaa..!"

Sambil berteriak lantang menggelegar, Kumbang Bukit Lontar melompat cepat bagai kilat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Pedangnya berkelebatan begitu cepat, sehingga asap kuning beracun yang keluar dari ujung pedang itu menggumpal pekat. Sehingga seluruh udara di tempat itu dipenuhi racun yang sangat mematikan.

"Hiyaaa...!"

Rangga juga tidak mau tanggung-tanggung lagi. Kesempatan sudah diberikan pada si Kumbang Bukit Lontar. Tapi, pemuda berbaju biru itu malah kembali menyerangnya dengan jurus dahsyat Hal ini membuat Rangga terpaksa harus mengeluarkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Satu jurus andalan yang sangat dahsyat dan jarang sekali digunakan-Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiyaaa...!"

“Yeaaah...!”

Trang!

Kumbang Bukit Lontar tidak peduli lagi. Meskipun setiap kali tangannya jadi bergetar bila pedangnya membentur pedang Pendekar Rajawali Sakti, tapi dia terus saja melancarkan serangan-serangan dahsyat sekali. Padahal, getaran pada tangannya bagai disengat kala berbisa.

"Uh...!"

Tapi tiba-tiba saja si Kumbang Bukit Lontar jadi mengeluh, dan menggeleng-ge1engkan kepala. Tidak disadarinya kalau jurus yang dikerahkan Rangga kali ini bisa membuyarkan perhatiannya. Bahkan jiwanya jadi tercabik-cabik. Sehingga, jurus-jurusnya jadi tidak terkendali lagi. Dan gerakannya pun tidak lagi beraturan.

Kumbang Bukit Lontar merasakan kepalanya jadi pening. Pandangannya pun berkunang-kunang. Bahkan tidak lagi bisa mengetahui, di mana Rangga berada. Rasanya, seolah-olah Pendekar Rajawali Sakti be­rada di sekelilingnya. Begitu banyak, membuat kepalanya terasa semakin bertambah pening saja.

"Setan keparat! Hiyaaat..!”

Kumbang Bukit Lontar terus memaki-maki sambil tidak berhenti mengebutkan pedangnya ke segala arah. Jurus-jurusnya semakin bertambah kacau saja. Terlebih lagi, arah serangannya kini tidak bisa lagi ditentukan. Jiwa si Kumbang Bukit Lontar benar-benar sudah terpecah, akibat terpengaruh oleh jurus 'Pedang Pemecah Sukma' yang dikeluarkan Pendekar Rajawali Sakti.

“Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Rangga mengebutkan pedangnya begitu cepat, mengarah ke dada s1 Kumbang Bukit Lontar. Dan pada saat yang bersamaan, Si Kumbang Bukit Lontar mengebutkan pedangnya dengan gerakan menyilang di depan dada. Rangga yang sudah membabatkan pedangnya begitu cepat disertai pengerahan tenaga dalam sempurna, tidak bisa lagi menarik arus pedangnya.

Trang!

Tak pelak lagi, kedua pedang yang memiliki pamor dahsyat itu kembali beradu keras sekali di depan dada si Kumbang Bukit Lontar. Dan pada saat yang bersamaan....

"Akh...!" si Kumbang Bukit Lontar terpekik keras agak tertahan.

Tebasan pedang yang dilakukan Rangga disertai pengerahan tenaga dalam tingkat sempurna, memang begitu dahsyat. Akibatnya Kumbang Bukit Lontar tidak dapat lagi mempertahankan pedangnya yang mencelat ke udara. Sedangkan arus pedang Pendekar Rajawali Sakti juga tidak bisa terbendung lagi. Ujung pedang yang memancarkan sinar biru itu langsung menggores dada kanan si Kumbang Bukit Lontar.

"Hup! "

Kumbang Bukit Lontar cepat-cepat melompat ke belakang beberapa langkah. Tangan kirinya mendekap dada kanan yang sobek dan mengucurkan darah akibat tersabet. ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti tadi. Sementara itu, Rangga sudah kembali melompat memberi serangan dengan kebutan pedangnya, sehingga Kumbang Bukit Lontar tidak mungkin lagi menghindar. Dan matanya hanya terbeliak saja menatap arus kebutan Ujung pedang yang memancarkan sinar biru menyilaukan mata itu.

Tapi begitu mata pedang Pendekar Rajawali Sakti hampir saja membabat leher si Kumbang Bukit Lontar, tiba-tiba saja terlihat sebuah bayangan hitam berkelebat begitu cepat bagai kilat. Dan pada saat itu juga....

Trang!

"Heh... ?!"

Rangga jadi terkejut bukan main begitu pedangnya terasa seperti terbabat sebuah benda yang begitu keras, dan mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat ke belakang sambil melakukan putaran beberapa kali di udara. Lalu, manis sekali kakinya menjejak tanah, sekitar tiga batang tombak jauhnya dari si Kumbang Bukit Lontar.

Dan di samping kiri si Kumbang Bukit Lontar, tahu-tahu sudah berdiri seseorang berbaju jubah panjang berwarna hitam pekat. Wajahnya terlalu sulit untuk bisa dikenali, karena seluruh kepalanya hampir tertutup kain berbentuk kerucut. Sebatang tongkat hitam yang bagian kepalanya berbentuk bulat kuning keemasan, tergenggam di tangan kanan.

"Eyang Guru...," desis si Kumbang Bukit Lontar.

"Iblis Pencabut Nyawa...," Rangga juga mendesis, langsung mengenali orang berjubah hitam yang tadi menggagalkan serangannya pada si Kumbang Bukit Lontar.

"Menyingkir dari sini, Sentanu! Dia bukan lawanmu...!" dengus Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar, dingin sekali nada suaranya.

"Baik, Eyang...," sahut si Kumbang Bukit Lontar, yang ternyata nama aslinya adalah Sentanu.

Tanpa membantah sedikit pun juga, Sentanu yang lebih dikenal berjuluk si Kumbang Bukit Lontar segera bergerak mundur menjauh. Sementara itu, Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar sudah melangkah ke depan beberapa tindak. Dan Rangga tetap berdiri tegak, namun pedangnya sudah kembali ke dalam warangka di punggung.

Pendekar Rajawali Sakti memang tidak pernah mengawali setiap pertarungannya dengan pedang. Walaupun dia tahu kalau lawan yang bakal dihadapinya memiliki kepandaian tingkat tinggi, tapi tetap akan dihadapi dengan tangan kosong. Pendekar Rajawali Sakti baru menggunakan pedang pusaka kalau memang sudah benar-benar diperlukan.

********************

"Kau benar-benar tidak mengindahkan peringatanku, Rangga! Seharusnya kau tahu akibat sikap keras kepalamu! Padahal aku sudah memberimu kelonggaran, tapi kau malah semakin keras kepala...!" desis Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar, begitu dingin nada suaranya.

"Aku akan pergi, jika kau dan muridmu itu sudah angkat kaki dari Desa Haruling!" tegas Rangga.

"Kau sudah. membangkitkan kemarahanku, Rangga!" geram Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar

"Justru sebaliknya, kau dan muridmu itu sudah membuatku muak!" balas Rangga dingin.

"Cukup...!" bentak Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar keras menggelegar. "Kau benar-benar membuat kesabaranku habis! Kau akan menerima akibatnya nanti!"

Setelah memberikan ancaman begitu, tiba-tiba saja Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar melesat cepat bagai kilat. Dia sempat berpaling ke belakang.

Di tempat ini, si Kumbang Bukit Lontar memang sudah tak terlihat lagi.

"Hey...!" seru Rangga sedikit terkejut.

Tapi, lesatan Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar itu demikian cepat. Sehingga dalam sekejapan mata saja, sudah tidak terlihat lagi bayangannya.

Rangga hanya mengeluh sedikit. Rasanya memang tidak ada gunanya lagi mengejar orang berjubah hitam yang dikenal berjuluk Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar itu.

Kepala Pendekar Rajawali Sakti bergerak menoleh, ketika mendengar derap langkah kaki kuda yang dipacu cepat menuju ke arahnya. Tak berapa lama kemudian, tampak dua ekor kuda berpacu cepat menembus kegelapan malam. Salah satu kuda yang berbulu putih ditunggangi seorang gadis cantik berbaju biru. Rangga memutar tubuhnya perlahan.

Kini dua ekor kuda itu berhenti setelah berada cukup dekat di depan pemuda berbaju rompi putih ini. Gadis cantik penunggang kuda putih yang ternyata Pandan Wangi, segera melompat turun dari punggung kudanya. Gerakannya begitu ringan dan manis, sehingga tak ada suara sedikit pun ketika kakinya menjejak tanah.

"Seperti baru saja terjadi pertarungan di sini...," tebak Pandan Wangi agak menggumam, seraya mengedarkan pandangan berkeliling. Kemudian, ditatapnya Rangga yang tengah memandanginya.

"Baru saja selesai," ujar Rangga agak mendesah, seraya mengangkat bahu sedikit

"Tapi..., aku tidak melihat ada satu orang pun yang...."

"Memang tidak ada yang tewas," selak Rangga memutuskan ucapan Pandan Wangi.

"Dengan siapa kau bertarung, Kakang?" tanya Pandan Wangi ingin tahu.

"Si Kumbang Bukit Lontar."

"Dia...?!"

Tampak jelas sekali kalau Pandan Wangi terkejut mendengar jawaban Rangga barusan Sungguh tidak sempat terpikir kalau Pendekar Rajawali Sakti baru saja bertarung melawan si Kumbang Bukit Lontar yang telah menggemparkan Desa Haruling. Bahkan sampai sekarang pun, semua orang di desa itu masih diliputi kekhawatiran dan ketakutan pada si Kumbang Bukit Lontar.

Pandan Wangi mengalihkan pandangan. mengikuti arah pandangan Rangga. Kening gadis itu jadi berkerut begitu melihat sesosok tubuh tergolek hampir tersembunyi di balik semak. Pandan Wangi tadi memang tidak sempat memperhatikan. Dan memang, dia tidak tahu kalau ada seseorang yang terbaring seperti mati di dalam semak belukar yang cukup lebat itu

"Siapa dia, Kakang?" tanya Pandan Wangi, seraya menghampiri.

"Calon korban si Kumbang Bukit Lontar," sahut Rangga.

Mendengar jawaban itu, Pandan Wangi bergegas menghampiri. Dikeluarkannya tubuh yang tergolek di dalam semak itu. Sementara, Rangga sudah berada kembali di depan Pandan Wangi yang memondong seorang gadis berwajah cukup cantik, yang tadi dikeluarkan dari dalam semak Sebentar Rangga memeriksanya.

"Dia hanya pingsan," kata Rangga memberi tahu.

"Sebaiknya cepat dibawa pulang, Kakang," usul Pandan Wangi.

"Kau saja yang membawanya pulang, Pandan. Aku masih ada urusan lain lagi," ujar Rangga.

"Kau akan ke mana?"

"Aku akan mencoba mengejar si Kumbang Bulat Lontar," sahut Rangga.

"Apa mungkin, Kakang? Ini kan malam...?"

"Dewa Bayu bisa membaca jejak," sahut Rangga seraya berpaling menatap kudanya.

Seekor kuda hitam yang tinggi dan tegap bernama Dewa Bayu itu memang bukan kuda sembarangan. ­Dan Dewa Bayu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki kuda-kuda lain. Pandan Wangi bisa mengerti, dan juga tahu kalau Kuda Dewa Bayu bukanlah kuda sembarangan.

"Cepat kau antarkan gadis itu, Pandan. Lalu tunggu aku di rumah Ki Arung," pesan Rangga.

"Baik, Kakang," sahut Pandan Wangi.

"Hup! "

Hanya sekali lesatan saja, Rangga sudah berada di punggung kuda hitam yang dikenal bernama Kuda Dewa Bayu. Sedangkan Pandan Wangi melangkah menghampiri kudanya. Dengan gerakan manis sekali, gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu melompat naik ke punggung kuda putihnya. Tentu saja sambil tetap memondong tubuh seorang gadis yang hampir menjadi korban kebuasan nafsu si Kumbang Bukit Lontar.

"Ingat, tunggu aku di rumah Ki Arung, Pandan," Rangga berpesan lagi.

"Baik," sahut Pandan Wangi.

"Hiyaaa...!"

Kuda Dewa Bayu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, begitu Rangga menghentakkan tali kekangnya. Bagaikan kilat, kuda hitam itu melesat seperti anak panah terlepas dari busur. Sementara, beberapa saat Pandan Wangi masih memandangi Rangga yang sudah menghilang begitu cepat menunggang Dewa Bayu

"Hes! Ck ck ck...!"

Pandan Wangi baru menghentakkan kuda putihnya, agar berjalan perlahan-lahan. Memang sungkan baginya untuk memacu cepat kudanya di malam gelap begini. Terlebih lagi, dia harus membawa seorang gadis yang berada dalam pondongannya. Kuda putih itu berjalan perlahan-lahan menuju kembali ke Desa Haruling, sambil membawa beban yang tentunya lebih berat lagi.

********************

TUJUH

"Amati setiap jejak yang kau lihat, Dewa Bayu," pinta Rangga pada kudanya.

Kuda hitam bernama Dewa Bayu hanya mendengus saja sambil mengangguk-anggukkan kepala. Seakan-akan binatang itu mengerti semua yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti. Dan tanpa diperintah lagi, larinya diperlambat.

Sementara Rangga juga mengerahkan aji 'Tatar Netra' agar penglihatannya lebih jelas lagi. Meskipun keadaan sekelilingnya begitu gelap, tapi bukan suatu masalah berat bagi Pendekar Rajawali Sakti. Dengan mempergunakan aji 'Tatar Netra', dia bisa melihat lebih jelas daripada siang hari yang terik.

Entah sudah berapa lama Rangga menunggang Kuda Dewa Bayu untuk mengikuti jejak-jejak yang tertera begitu halus di atas rerumputan yang sudah dibasahi titik-titik embun. Namun kuda hitam itu masih terus bergerak agak perlahan. Kepalanya sering kali terangguk-angguk. Ayunan kakinya begitu ringan, seakan-akan tidak menapak tanah berumput tebal ini.

"Berhenti dulu, Dewa Bayu," pinta Rangga.

Kuda hitam Dewa Bayu segera berhenti melangkah. Dan Rangga langsung melompat turun. Beberapa langkah Pendekar Rajawali Sakti berjalan ke depan, kemudian berjongkok dan meneliti rerumputan yang ada di depannya. Perlahan Pendekar Rajawali Sakti kembali berdiri, dan pandangannya langsung tertuju lurus ke depan seperti ingin menembus pekatnya malam.

"Jejak ini seperti menuju ke perbatasan Timur Desa Haruling," gumam Rangga perlahan, berbicara pada diri sendiri.

Sebentar Rangga berpaling menatap Kuda Dewa Bayu yang berada di belakangnya, kemudian kembali memandang lurus ke depan. Seakan-akan dia tidak yakin dengan arah jejak yang dilihatnya. Beberapa saat Rangga masih tetap berdiri memandang lurus ke depan. Sedikit pun kelopak matanya tidak berkedip.

Kemudian, perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti mulai melangkah. Diikutinya jejak-jejak kaki yang tampaknya masih baru, walaupun tidak bisa dilihat dengan pandangan mata biasa. Memang, jejak-jejak itu demikian halus, dan menandakan kalau orang yang berjalan itu mempergunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Rangga sendiri harus mengamatinya dengan menggunakan aji 'Tatar Netra', agar bisa melihat lebih jelas lagi. Sementara, Kuda Dewa Bayu terus mengikuti dari belakang.

"Sukar dipercaya. Mereka benar-benar kembali ke Desa Haruling..., " desis Rangga begitu perlahan sekali.

Ayunan kaki Pendekar Rajawali Sakti kembali terhenti setelah sampai di perbatasan sebelah Timur Desa Haruling. Tak seberapa jauh lagi, tampak rumah-rumah penduduk yang terang benderang oleh nyala api obor dan pelita. Suasana di desa itu masih kelihatan terang seperti mengadakan pesta saja. Tapi, keadaannya tetap sunyi bagai tak berpenghuni.

"Jejak langkah ini semakin jelas sekali terlihat. Hm.... Dia sudah mulai melangkah biasa," gumam Rangga lagi, sambil terus mengamati jejak-jejak kaki yang semakin jelas saja.

Dan Pendekar Rajawali Sakti tidak lagi perlu menggunakan aji 'Tatar Netra', karena jejak-jejak langkah kaki itu sudah bisa terlihat jelas setelah melewati perbatasan Timur Desa Haruling ini. Rangga terus mengayunkan kakinya mengikuti jejak-jejak yang begitu jelas tergambar di tanah. Langkahnya terhenti sebentar begitu melihat tiga orang laki-laki yang mendapat giliran meronda malam ini tengah berjalan ke arahnya dari depan. Tiga orang peronda yang usianya masih muda-muda itu juga menghentikan langkahnya begitu sampai di dekat pemuda berbaju rompi putih itu.

"Kalian tidak melihat ada orang lewat di sini?” tanya Rangga langsung.

"Tidak," sahut ketiga pemuda peronda itu hampir bersamaan.

"Tidak bertemu siapa-siapa?" tanya Rangga lagi.

"Hanya Paman Walung. Dia hanya melihat-lihat kami saja, dan terus pulang," sahut salah seora­g.

"Paman Walung sendiri?" tanya Rangga lagi.

"Berdua. "

"Dengan siapa?"

"Keponakannya. "

Kening Rangga jadi berkerut mendengar jawaban para peronda yang begitu polos. Selama Pendekar Rajawali Sakti berada di Desa Haruling ini sama sekali tidak pernah mendengar kalau Paman Wulung punya keponakan. Dan Paman Walung sendiri tidak pernah memperkenalkannya. Bahkan tak ada seorang pun yang mengatakannya. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti sendiri sedang mengejar dua orang yang telah membuat desa ini bagai berada di atas api neraka.

"Kalian lanjutkan saja meronda. Aku akan ke rumah Ki Arung dulu," ujar Rangga.

Ketiga anak muda peronda itu hanya mengangguk saja. Sedangkan Rangga sudah kembali melangkah sambil menuntun kudanya yang mengikuti dari belakang. Kening Pendekar Rajawali Sakti masih berkerut mencerna kembali jawaban ketiga peronda itu tadi.

"Hm..., aku tidak boleh terlalu jauh menduga dulu. Masih terlalu banyak yang harus kuselidiki di sini. Hh­..., mudah-mudahan saja dugaanku tidak benar. Tapi ­kalaupun benar, pasti ada alasannya sehingga dia sampai berbuat seperti itu," gumam Rangga perlahan, berbicara pada diri sendiri.

Pendekar Rajawali Sakti terus mengayunkan kakinya perlahan-lahan sambil menuntun kudanya. Sesekali masih sempat diamatinya jejak kaki yang tertera begitu jelas di tanah. Tapi sekarang ini, tidak hanya dua jejak yang terlihat. Pendekar Rajawali Sakti sudah melihat jejak yang cukup banyak. Dan bisa dipastikan kalau jejak kaki yang terlihat itu dari lima orang, namun kelihatannya saling berlawanan arah.

"Sebaiknya aku temui Ki Rampik. Mudah-mudahan saja dia belum tidur," ujar Rangga kem­h menggumam pelan. “Tapi.... Ah, tidak...! Sebaiknya aku ikuti terus jejak-jejak kaki ini. Aku harus tahu, siapa mereka sebenarnya."

Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat naik ke punggung kudanya. Begitu indah dan ringan gerakannya karena ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Kuda hitam Dewa Bayu langsung berlari begitu Rangga menghentakkan tali kekangnya. Tapi, kecepatan lari kuda itu hanya sedang saja, karena Rangga tidak ingin mengejutkan penduduk yang pasti sedang tertidur pulas.

Jejak-jejak kaki yang semakin banyak terlihat itu memang sangat jelas, meskipun malam ini hanya diterangi cahaya api obor dan pelita di depan rumah-rumah penduduk di Desa Haruling ini. Namun Rangga masih bisa membedakan antara jejak kaki yang satu dengan yang lainnya. Dan terus diikutinya. jejak-jejak kaki dari orang yang sudah membuat desa ini menjadi neraka.

"Jangan terlalu keras suaranya, Dewa Bayu. Nanti semua orang bangun," bisik Rangga memperingatkan.

Rangga baru menghentikan langkah kaki kudanya setelah sampai di depan sebuah rumah besar dengan halaman cukup luas. Pendekar Rajawali Sakti tahu, rumah siapa ini. Dan hampir tidak dipercayainya kalau jejak kaki yang diikuti berhenti di depan rumah ini.

Dengan gerakan yang begitu ringan dan manis, Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari punggung kudanya. Begitu ringannya, sehingga tak ada sedikit pun suara yang ditimbulkan saat kakinya menjejak tanah.

Kembali Pendekar Rajawali Sakti meneliti jejak-jejak kaki yang tertera sangat jelas di tanah. Dia begitu yakin, jejak inilah yang dibuntutinya sejak dari hutan tadi. Namun masih belum dimeng­erti, kenapa jejak kaki ini berhenti di depan rumah Paman Walung!

Rangga mengedarkan pandangan berkeliling. Tak ada seorang pun yang terlihat di sekitar rumah ini. Keadaannya begitu sunyi.

"Hm..., mungkin dugaanku benar. Sebaiknya aku periksa dulu keadaan rumah ini.” gumam Rangga dalam hati

Setelah yakin kalau tidak ada seorang pun yang melihatnya, Pendekar Rajawali Sakti kemudian melompat tinggi ke udara. Begitu ringan, sehingga tubuhnya bagai segumpal kapas yang tertiup angin saja. Rangga meluncur cepat menuju ke atas atap rumah berukuran cukup besar itu. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga, Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya di atas atap rumah Paman Walung.

­"Hap!” Sebentar Rangga terdiam sambil mengamati keadaan sekelilingnya. Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, Pendekar Rajawali Sakti melangkah perlahan-lahan sambil merendahkan tubuhnya. Pendengarannya dipasang tajam-tajam, sambil mempergunakan ilmu “Pembeda Gerak dan Suara.”

“Hm...”

Rangga kembali berhenti, begitu telinganya mendengar suara halus dari dalam rumah, tepat tempatnya sekarang berdiri. Suara itu datang dari bawah atap ini. Perlahan-lahan tubuhnya dirapatkan sejajar dengan atap. Lalu telinganya ditempelkan agar bisa mendengar lebih jelas.

“Ada lubang. Mungkin aku bisa mengintip ke dalam,” desis Rangga dalam hati.

Bergegas Pendekar Rajawali Sakti mendekati lubang kecil itu. Tak ada suara sedikit pun yang ditimbulkannya. Dari lubang yang berukuran sangat kecil di atap ini, Rangga mengintip ke dalam. Tampak di bawah atap ini terdapat sebuah ruangan yang berukuran cukup luas. Dan di dalamnya terlihat dua orang laki-laki. Yang seorang duduk di kursi menghadap meja, sedangkan seorang lagi berdiri membelakangi jendela yang tertutup rapat.

“Hm...,” lagi-lagi Rangga menggumam perlahan.

Rangga tidak lagi terkejut, karena memang sudah menduga sejak semula. Dua orang laki-laki yang dilihatnya itu adalah Paman Walung, dan seorang pemuda yang mengenakan baju biru cukup ketat.

Pemuda itulah yang selama ini dikenal sebagai si Kumbang Bukit Lontar. Paman Walung mengenakan baju hitam yang ketat. Di sampingnya, tergantung sebuah jubah hitam dan sebatang tongkat hitam yang ujungnya berbentuk bulat berwarna kuning keemasan. Rangga segera mengerahkan ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara', untuk mendengarkan suara pembicaraan dari kedua orang itu.

"Untuk sementara, sebaiknya kau tinggalkan dulu desa ini, Sentanu. Sampai keadaan menjadi tenang, dan Pendekar Rajawali Sakti pergi dari sini," ujar Paman Walung. Suaranya terdengar begitu jelas oleh Rangga yang berada tepat di atas atap ruangan itu.

"Kenapa harus begitu, Eyang?" tanya si Kumbang Bukit Lontar yang dipanggil Sentanu. Dan memang, dia sebenarnya bernama Sentanu.

"Rangga sudah mulai mencurigaiku. Dan aku tidak ingin semua rencana ku berantakan karenanya. Kau harus bisa mengerti keadaan ini, Sentanu. Kaulah satu-satunya muridku. Dan hanya kaulah yang bisa kuandalkan membantuku di sini. Kembalilah ke Bukit Lontar. Aku akan menyusulmu nanti," kata Paman Walung yang ternyata si Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar.

Si Kumbang Bukit Lontar hanya diam saja, meskipun masih belum bisa mengerti atas keputusan gurunya ini. Tapi, dia tidak bisa membantah lagi. Memang keinginan gurunya ini harus dituruti.

"Sudah beberapa kali kau gagal dan bentrok dengan Pendekar Rajawali Sakti. Kalau kau sempat tertangkap, semua rencanaku akan hancur. Masih untung kalau kau langsung tewas. Sedangkan aku tahu, Pendekar Rajawali Sakti tidak akan mungkin langsung membunuh lawannya," kata Paman Walung

"Kapan aku boleh kembali lagi ke sini lagi..?” tanya Sentanu.

"Kenapa...?" Paman Walung malah balik bertanya.

"Gadis di sini cantik-cantik, Eyang...."

"Kau jangan keterlaluan, Sentanu!" sentak Paman Walung. "Aji 'Pemikat Dara' hanya boleh digunakan jika kusuruh. Kau tidak boleh menggunakannya tanpa sepengetahuanku. Jelas...?!”

"Maafkan aku, Eyang. Aku begitu menyukai tugas ini" ujar Sentanu seraya tersenyum.

"Huh! Seharusnya kau hanya menodainya saja, tidak perlu membunuh mereka, karena bisa kita perlukan nantinya. Mereka tidak akan bisa berbuat macam-macam lagi kalau sudah ternoda. Kau mengerti maksudku, Sentanu...?"

"Aku mengerti, Eyang. Tapi..., bukankah Eyang akhirnya menyuruhku agar juga membunuh mereka?”

"Huh...!" Paman Walung hanya mendengus saja.

"Sudah terlalu lama kita di sini, Eyang Kenapa tidak langsung saja pada sasarannya...?" tanya Sentanu memberi saran.

"Belum saatnya, Sentanu. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang pahit. Bertahun-tahun aku hidup menderita, karena perbuatannya. Bahkan bukan cuma dia saja yang harus merasakan penderitaan, Sentanu. Tapi, semua penduduk desa ini harus bisa merasakan semua penderitaanku. Untuk itu, aku memberimu bekal aji 'Pemikat Dara' agar mereka tahu, bagaimana rasanya kalau anak gadisnya ternoda. Huh... Aku belum puas kalau gadis di sini belum semuanya ternoda. Terutama sekali Ki Rampik! Dia harus merasakan pembalasanku...!" agak menggeram nada suara Paman Walung.

"Aku akan menodai semua gadis di sini, Eyang. Biar Ki Rampik semakin tertekan, dan dibenci rakyatnya. Pasti si tua keparat itu akan dilecehkan penduduknya, karena tidak bisa menjaga keamanan. Dengan demikian, akan mudahlah bagi kita untuk melumpuhkannya," janji si Kumbang Bukit Lontar.

"Tapi untuk sekarang ini, harus dihentikan dulu, Sentanu. Tunggu sampai keadaan membaik, dan tidak ada lagi si pengacau itu," ujar Paman Walung

"Kenapa dia tidak dibunuh saja, Eyang?" "Tingkat kepandaiannya sangat tinggi. Aku sendiri tidak yakin, apakah bisa menandinginya atau tidak," terdengar agak mengeluh nada suara Paman Walung.

“lalu, apa yang akan Eyang lakukan?"

“Tidak ada," sahut Paman Walung.

"Tidak ada...?!"

­"Dia akan pergi dengan sendirinya kalau keadaan di sini benar-benar tenang. Dan ketenangan tentu bisa terjadi jika kau untuk sementara kembali dulu ke Bukit Lontar. Kalau dia sudah pergi, baru aku akan memanggilmu lagi ke sini," jelas Paman Walung tentang rencananya yang ada di kepala.

"Aku mengerti, Eyang."

“Nah! Kuminta, kau pergi besok pagi. Dan jangan sampai ada seorang pun yang tahu kepergianmu.”

“Baik, Eyang."

Sementara Rangga yang mendengarkan semua pembicaraan itu dari atas atap, jadi mendesis geram. Sekarang dia tahu semua, kalau kekacauan yang terjadi di Desa Haruling ini akibat perbuatan. Paman Walung dan muridnya. Tapi, Rangga tidak bisa bertindak sekarang. Dan yang penting, dia sudah mendengar semua yang dibicarakan Paman Walung dan muridnya si Kumbang Bukit Lontar itu.

"Sebaiknya kutunggu dia sampai besok pagi. Hm..., dia pakai siasat Dan aku juga akan menggunakan siasat," gumam Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti mengamati keadaan sekelilingnya beberapa saat. Lalu dengan gerakan ringan dan indah sekali, tubuhnya melesat dari atap rumah Paman Walung ini. Begitu ringannya, bagai segumpal kapas yang melayang tertiup angin di udara.

"Hap!"

Manis sekali Rangga menjejak tanah, tepat di samping kudanya yang masih menunggu di depan ­halaman rumah Paman Walung. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti naik ke punggung kudanya. Perlahan-lahan kuda hitam Dewa Bayu itu bergerak meninggalkan rumah berhalaman luas ini. Karena kuda itu bukan kuda sembarangan, jadi tidak heran kalau langkahnya tak terdengar penghuni rumah besar itu. Meskipun, penghuni rumah itu berilmu tinggi.

"Ke rumah Ki Rampik dulu, Dewa Bayu," ujar Rangga meminta.

Kuda Dewa Bayu mendengus kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala. Binatang itu tetap melangkah perlahan-lahan tanpa suara sedikit pun sehingga tidak akan membangunkan penduduk desa yang sekarang ini pasti sedang tertidur pulas.

Rangga menghentikan langkah kaki kudanya saat berada di depan rumah Ki Arung yang juga dijadikan kedai dan penginapan. Di depan rumah itu tampak Pandan Wangi berdiri tepat di depan pintu yang tertutup rapat. Gadis cantik yang berjuluk si Kipas Maut itu bergegas menghampiri Rangga yang masih duduk di punggung kudanya.

"Sudah kau antarkan gadis itu pada orang tuanya Pandan?" tanya Rangga langsung.

"Sudah," sahut Pandan Wangi.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala sebentar “Kau ikut aku, Pandan," kata Rangga

"Ke mana?" tanya Pandan Wan gi

"Ke rumah Ki Rampik."

"Malam-malam begini?"

­"Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya."

Pandan Wangi tidak bertanya lagi, dan lantas cepat mengambil kudanya yang tertambat di samping rumah penginapan Ki Arung ini. Tak berapa lama kemudian, kedua pendekar muda itu sudah berkuda menuju ke rumah Ki Rampik, Kepala Desa Haruling ini. Dan selama dalam perjalanan, Rangga menjelaskan semua yang diketahui pada Pandan Wangi. Dan itu membuat si Kipas Maut jadi terkejut mendengarnya. Sungguh tidak disangka kalau di balik semua peristiwa ini ada Paman Walung. Bahkan menjadi dalangnya sekaligus!

********************

Ki Rampik jadi terkejut bukan main. Sungguh tidak disangka kalau di tengah malam buta begini Rangga dan Pandan Wangi datang ke rumahnya. Namun begitu, kedatangan mereka tetap disambut ramah. Kedua pendekar muda itu dipersilakan untuk masuk ke dalam. Tapi, Rangga memilih untuk berada di beranda saja Mereka bertiga kemudian duduk melingkari sebuah meja bundar di beranda depan rumah kepala desa itu. Sebuah lampu yang apinya menyala cukup besar, menerangi seluruh beranda depan rumah ini.

"Ada yang penting, sehingga kau datang tengah malam begini, Rangga?" tanya Ki Rampik masih diliputi keheranannya.

­“Ya,” sahut Rangga seraya melirik sedikit pada Pandan Wangi.

Sedangkan yang dilirik, hanya diam saja. Pandan Wangi tahu kalau Rangga memintanya untuk diam, dan tidak mencampuri pembicaraannya nanti. Dan memang, Pendekar Rajawali Sakti tadi sudah berpesan pada gadis itu di perjalanan. Pandan Wangi pun sudah berjanji tidak akan menyelak, kecuali jika ditanya, atau diminta pendapatnya.

“Tentang apa?" tanya Ki Rampik lagi.

“Terus terang, aku ingin tahu. Sejauh mana kau kenal Paman Walung," ujar Rangga langsung.

"Maksudmu...? Aku tidak mengerti, Rangga," ujar Ki Rampik semakin keheranan.

"Kudengar, dia belum lama berada di desa ini. Dan kau langsung mengangkatnya menjadi orang kepercayaanmu. Benar begitu, Ki?"

"Ya! Dia memang baru beberapa bulan di sini. Tapi, aku sudah mengenalnya sejak kecil. Aku tahu betul, siapa dia dan orang tuanya," sahut Ki Rampik masih diliputi keheranan oleh arah pembicaraan Pendekar Rajawali Sakti.

"Sejak kapan dia meninggalkan Desa Haruling ini?" tanya Rangga Iagi.

“­Ketika berumur tujuh belas tahun, sepekan setelah kematian kedua orang tuanya," sahut Ki Rampik.

"Hm.... itu berarti dia pergi lebih dari tiga puluh tahun. Dan selama itu, kau tahu apa yang dilakunya selama itu?”

"Aku tidak tahu," sahut Ki Rampik. "Tapi kedatangannya ke sini dengan membawa ilmu-ilmu kedigdayaan tinggi. itu sebabnya, aku menjadikan wakilku sebagai kepala desa di sini. Karena, antara aku dengannya memang sudah saling mengenal sejak kecil. Walaupun, usia kami terpaut cukup jauh."

"Apakah dia punya saudara di sini?"

"Tidak. Dia sebatang kara. Dan kedatangannya ke sini juga hanya sendiri saja."

"Ki... Tadi beberapa orang peronda melihatnya berjalan bersama seseorang. Dan Paman Walung mengakui kalau orang itu sebagai keponakannya. Apa kau tidak tahu kalau dia punya keponakan, Ki?"

“Keponakan...? Dia hanya punya seorang pembantu yang usianya sebaya dengan anakku. Tapi memang pembantunya itu tidak pernah keluar. Jadi, tidak ada seorang pun di sini yang mengenalnya.”

"Hm...."

"Rangga, sebenarnya ada apa ini? Kau seperti mencurigai Paman Walung," desak Ki Rampik mulai menaruh kecurigaan atas pertanyaan-pertanyaan Rangga yang begitu langsung, tanpa basa-basi lagi.

"Maaf, Ki. Mungkin ini akan mengejutkanmu. Tapi ku tahu, siapa orang yang berada di balik Julukan si Kumbang Bukit Lontar itu. Dan aku juga tahu, siapa iu si Kumbang Bukit Lontar," kata Rangga, sungguh-sungguh sekali nada suaranya.

Ki Rampik tampak kebingungan mendengar kata-kata Rangga. Dipandanginya Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Berbagai macam dugaan langsung berkecamuk dalam benaknya. Terlebih lagi, pertanyaan-pertanyaan Rangga tadi jelas menjurus kecurigaan pada Paman Walung.

"Jangan katakan kalau Paman Walung yang melakukan semua itu, Rangga," agak bergetar suara Ki Rampik.

“Besok pagi, si Kumbang Bukit Lontar akan keluar. Dan dia hendak meninggalkan desa ini selama aku berada di sini. Namun, manusia bejat itu akan kembali lagi kalau aku sudah pergi, Ki. Jadi sebaiknya, besok pagi kau dan aku mencegatnya di perbatasan sebelah Timur," kata Rangga, agak datar nada suaranya.

Rangga jadi tidak sampai hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Maka dia ingin mengajak saja Ki Rampik untuk menyaksikan sendiri, siapa sebenarnya Si Kumbang Bukit Lontar itu. Dan Rangga juga meminta beberapa gadis yang dapat digagalkan menjadi korban nafsu si Kumbang Bukit Lontar, untuk bisa mengenalnya. Ki Rampik hanya bisa terangguk-angguk, dan menyetujui saja semua yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti. Memang Kepala Desa Haruling itu sudah begitu percaya pada pemuda berbaju rompi putih ini.

“Tapi ingat, Ki. Kau, Pandan Wangi, dan gadis-gadis itu jangan menampakkan diri. Dan aku ingin kalian semua berada agak jauh. Dia terlalu berbahaya. ­Biar aku yang akan menghadapinya sendiri nanti," saran Rangga.

"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan, Rangga, " sahut Ki Rampik menuruti.

"Sekarang, aku akan ke Perbatasan Timur, Ki. Aku tidak ingin dia lolos," kata Rangga _ lagi, seraya bangkit berdiri.

"Lalu, bagaimana denganku, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Kau bersama Ki Rampik dan gadis-gadis itu," ujar Rangga seraya mengerdipkan matanya.

Pandan Wangi langsung terdiam. Bisa dimengerti isyarat yang diberikan Pendekar Rajawali Sakti barusan. Memang, dia harus bersama-sama Ki Rampik dan beberapa gadis yang akan mengenali si Kumbang Bukit Lontar. Tentu saja untuk menjaga kalau-kalau Paman Walung muncul di sana nanti.

Pandan Wangi memang sudah tahu semuanya dari Pendekar Rajawali Sakti. Dan memang, Rangga sudah menceritakan semuanya pada si Kipas Maut itu ketika sama-sama di perjalanan ke rumah kepala desa ini tadi. Sehingga, Pandan Wangi tidak bisa lagi banyak bicara. Dia sudah mengerti semua rencana Pendekar Rajawali Sakti -untuk membekuk si Kumbang Bukit Lontar.

********************

DELAPAN

Rangga berdiri tegak di atas sebongkah batu yang cukup besar dan tinggi. Pandangannya lurus, mengamati Desa Haruling yang masih tampak terang benderang oleh cahaya api obor dan pelita. Namun, keadaannya masih tampak begitu sunyi. Hanya terlihat beberapa orang saja yang meronda. Senyuman kecil tersungging di bibir, saat melihat Ki Rampik, Pandan Wangi, dan beberapa orang gadis berada pada tempat yang cukup tersembunyi. Tampak di antara mereka terlihat ada juga Suryani yang didampingi Goradi.

Memang, sejak peristiwa yang menimpa gadis itu, Goradi selalu mendampinginya terus. Sehingga, Suryani benar-benar aman dan terlindungi. Ada empat orang gadis bersama mereka. Dan gadis-gadis itu adalah korban si Kumbang Bukit Lontar yang berhasil diselamatkan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga, mereka tidak sempat ternoda. Walaupun sempat terbius aji 'Pemikat Dara' yang ditebarkan si Kumbang Bukit Lontar.

"Bagus.... Dia sudah datang," gumam Rangga, ketika melihat seseorang berjalan cepat, keluar dari Desa Haruling.

Saat itu memang sudah menjelang pagi. Cahaya matahari juga mulai terlihat menyemburat di ufuk Timur. Dan burung-burung pun sudah sejak tadi ramai berkicau, menyambut datangnya sang surya. Sementara orang yang berjalan cepat itu semakin dekat saja dengan Rangga yang berdiri di atas batu.

"Hup...!"

Dengan gerakan ringan sekali, Rangga melompat dari batu yang sangat tinggi itu. Beberapa kali tubuhnya berputaran, lalu ringan sekali mendarat tepat sekitar satu tombak lagi di depan seorang laki-laki muda berbaju biru.

"Heh...?!"

"Kau terkejut, Sentanu...? Atau, sebaiknya aku memanggilmu si Kumbang Bukit Lontar saja...?" dingin sekali nada suara Rangga. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

"Bagaimana kau tahu aku akan ke sini...?" tanya muda yang ternyata memang Sentanu, yang selama ini lebih dikenal berjuluk si Kumbang Bukit Lontar.

"itu mudah sekali, Sentanu," sahut Rangga kalem. "Aku juga tahu siapa kau sebenarnya. Bahkan aku tahu pula gurumu, dan tujuan kalian berdua berada desa ini. Rasanya, dunia ini kecil sekali, Sentanu. Sekarang kau tidak mungkin lagi bisa lolos dariku. "

“Phuih! Kau yang akan mampus di tanganku, keparat!" geram Sentanu langsung memerah wajahnya"

Bet!

Si Kumbang Bukit Lontar langsung saja mengebutkan tangannya ke depan. Saat itu juga, dari balik lipatan lengan bajunya melesat beberapa buah benda berbentuk paku yang berwarna kuning keemasan. Paku-paku emas itu meluruk deras sekali ke arah Pendekar Rajawali Sakti

"Hup! Yeaaah...!"

Dengan gerakan manis sekali, Rangga melenting ke udara, dan melakukan beberapa kali putaran. Sehingga paku-paku emas itu hanya lewat saja di bawah tubuhnya. Namun si Kumbang Bukit Lontar tidak berhenti sampai di situ saja. Kembali kedua tangannya dikebutkan bergantian, begitu cepat sekali.

Kembali paku-paku emas semakin banyak bertebaran di sekitar tubuh Rangga. Tapi tak ada satu pun yang sampai mengenai tubuh pendekar muda berbaju rompi putih ini. Gerakan-gerakan yang dilakukan Rangga di udara begitu manis dan indah.

"Hap...!"

Begitu ringannya, Rangga meluruk deras ke arah si Kumbang Bukit Lontar yang jadi kelabakan. Sungguh tidak disangka kalau Pendekar Rajawali Sakti bisa bergerak begitu cepat, di saat tengah menghadapi serangan senjata-senjata rahasia. Cepat-cepat Sentanu melenting ke belakang, dan berputaran beberapa kali untuk menghindari terjangan Pendekar Rajawali Sakti.

Tepat ketika Sentanu baru saja menjejakkan kakinya di tanah, Rangga sudah melepaskan satu pukulan cepat sekali, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Hiyaaa...! "

­“Uts...! "

Hampir saja dada Sentanu jebol terkena pukulan bertenaga dalam sempurna itu. Untung saja tubuhnya cepat-cepat dimiringkan ke kanan. Namun sebelum sempat menarik tubuhnya kembali tegak, Rangga sudah melepaskan satu tendangan cepat ke arah pinggang...

"Yeaaah...!"

Desss!

"Akh..!"

Begitu cepat sekali tendangan yang dilepaskan Rangga, sehingga si Kumbang Bukit Lontar itu tidak dapat lagi menghindarinya. Tubuhnya langsung jatuh terguling di tanah, sambil memekik keras agak tertahan. Namun, si Kumbang Bukit Lontar berhasil cepat bangkit berdiri. Dan pada saat itu juga, Rangga sudah melompat cepat bagal kilat, sambil melepaskan satu pukulan menggeledek dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' .

"Hiyaaa...!"

"Hup...!"

Sentanu sempat terperangah sejenak, tapi masih bisa cepat berkelit dengan meliukkan tubuhnya. Pada saat tangan kanan Rangga berada di samping tubuhnya, Si Kumbang Bukit Lontar mengebutkan tangan kirinya ke arah lambung.

­"Hait..! "

Plak!

Memang sukar bisa dipercaya. Pada saat tubuh condong ke depan, Rangga masih bisa memberikan sentakan dengan tangan kirinya ke tangan yang menyodok ke arah lambung. Dan hal ini membuat Sentanu jadi tersentak setengah mati.

Belum juga Sentanu berpikir lebih jauh oleh tepakan tangan lawan, bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti sudah melepaskan satu tendangan keras menggeledek dengan tubuh berputar dan bertumpu pada satu kaki.

“Yeaaah...!"

Begkh!

"Aaakh...!" lagi-lagi Sentanu terpekik.

Tendangan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam samping kiri dada S1 Kumbang Bukit Lontar. Akibatnya dia terpental sejauh beberapa langkah, namun tidak sampai jatuh mencium tanah. Pada saat itu juga, Rangga sudah kembali melakukan serangan yang begitu cepat

"Hiyaaa...!"

Begitu cepatnya serangan yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga si Kumbang Bukit Lontar tidak sempat lagi menghindar. Maka satu pukulan yang dilepaskan Rangga, bersarang telak di dada yang kosong tak terlindungi sedikit pun juga.

"Aaakh...!" Sentanu menjerit keras melengking tinggi.

­Tubuh si Kumbang Bukit Lontar itu terpental jauh sekali ke belakang. Beberapa batang pohon yang terlanda tubuhnya langsung tumbang menghantam tanah. Sementara, Rangga terus melayang cepat mengikuti tubuh si Kumbang Bukit Lontar. Tepat ketika tubuh si Kumbang Bukit Lontar menghantam batu, Rangga segera mendarat turun dengan manis sekali. Batu sebesar badan kerbau itu jadi retak setelah mendapat hantaman tubuh si Kumbang Bukit Lontar yang begitu keras sekali.

"Hap...!"

Hanya sekali lesatan saja, Rangga sudah berada di samping tubuh si Kumbang Bukit Lontar yang tergeletak tak berdaya lagi. Dari mulutnya mengeluarkan darah segar yang agak kental. Tampak dadanya sedikit melesak ke dalam. Entah berapa tulang iganya yang patah akibat terkena pukulan dahsyat Pendekar Rajawali Sakti. Untung saja dia masih terlihat bisa bernapas.

Pada saat itu dari tempat persembunyiannya, Ki Rampik, Pandan Wangi, dan yang lainnya segera berdatangan menghampiri Rangga yang masih berdiri tegak di samping tubuh si Kumbang Bukit Lontar. Kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti tampak menjejak dada muda yang berjuluk si Kumbang Bukit Lontar itu.

"Dia mati, Kakang...?" tanya Pandan Wangi langsung, begitu dekat di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Tidak," sahut Rangga sambil menjauhkan kakinya dari dada si Kumbang Bukit Lontar.

"Iblis keparat...! Seharusnya kau mampus saja. Hiyaaat... !"

"Goradi, tahan...!" sentak Pandan Wangi.

Tapi Goradi memang sudah tidak bisa lagi dicegah Pemuda itu sudah mencabut pedangnya. Tubuhnya langsung melompat dengan ujung pedang tertuju ke dada si Kumbang Bukit Lontar yang masih tergeletak tak berdaya lagi di tanah.

"Hap! "

Tap!

Cepat sekali Rangga menghentakkan tangan kanannya.

"Akh...!" Goradi terpekik kaget.

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu pedang Goradi sudah berpindah ke tangan Pendekar Rajawali Sakti. Memang sangat cepat gerakan tangan Rangga sehingga sukar diikuti pandangan mata biasa. Sedangkan Goradi terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, saat Rangga mendorongnya dengan tangan kirinya.

"Simpan kembali senjatamu! " dengus Rangga sambil melemparkan pedang yang dirampasnya. Pedang itu langsung tertancap tepat di ujung kaki Goradi. Sebentar Goradi menatap Rangga, lalu berpindah menatap si Kumbang Bukit Lontar dengan sinar mata penuh dendam dan kebencian yang membara. Goradi memang sangat dendam, karena kekasihnya hampir saja ternoda.

Sementara Rangga mendekati Ki Rampik. Sedangkan Goradi menyarungkan kembali pedangnya. Kini pemuda itu sudah didampingi Suryani, yang langsung memeluk lengan kekasihnya ini. Di tempat lain, Pandan Wangi sudah membangunkan Si Kumbang Bukit Lontar yang meringis menahan rasa sakit pada dadanya. Keadaannya benar-benar sudah tidak berdaya lagi. Tangannya terpelintir ke belakang, dipegangi gadis yang berjuluk si Kipas Maut

"Kau kenali dia, Ki?" tanya Rangga.

"Ya! Dia adalah pembantunya Paman Walung," sahut Ki Rampik dengan nada suara seperti tidak percaya.

"Keparat...! Jadi dia biang keladinya...?" geram Goradi sambil melepaskan pelukan Suryani pada tangannya. "Akan kubunuh dia!"

Goradi langsung saja berlari cepat, mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

"Kakang...!” pekik Suryani.

"Goradi...!" seru Ki Rampik terkejut

"Hup...!"

Rangga tidak banyak tanya lagi. Pendekar Rajawali Sakti langsung melesat cepat mengejar Goradi yang sudah jauh berlari. Sementara Ki Rampik yang juga mau mengejar, jadi membatalkan niatnya. Dia mendengus, menatap tajam Si Kumbang Bukit Lontar yang masih diringkus Pandan Wangi.

"Kau akan menerima hukuman yang setimpal, Keparat. .!" desis Ki Rampik geram.

Ki Rampik memandangi Pandan Wangi sebentar, kemudian mengambil si Kumbang Bukit Lontar dan tangan si Kipas Maut itu dengan gerakan yang kasar sekali. Lalu, digiringnya Sentanu pergi dari tempat itu Sedangkan Pandan Wangi segera mengawal gadis-gadis yang hampir saja menjadi korban kebuasan nafsu pemuda itu.

********************

Sementara itu, Goradi sudah sampai di depan rumah Paman Walung Dia berteriak-teriak keras, menyuruh Paman Walung keluar dari rumahnya. Sedangkan di utuk Timur, sang mentari sudah mulai naik tinggi. Cahayanya yang terang menyinari seluruh permukaan bumi Desa Haruling ini.

"Paman Walung...! Keluar kau...!" teriak Goradi keras menggelegar.

Tatapan mata pemuda itu tertuju pada pintu yang mulai bergerak perlahan membuka. Dan dari balik pintu, keluar Paman Walung yang mengenakan baju jubah panjang berwarna hitam pekat. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat hitam yang bagian kepalanya berbentuk bulat dan berwarna kuning keemasan. Perlahan-lahan ­kakinya melangkah angker, mendekati Goradi yang berdiri tegak di tengah-tengah halaman rumah yang cukup luas ini.

“Tidak kusangka! Kau yang kuhormati, ternyata memiliki hati iblis..!" desis Goradi menggeram berang.

"Rupanya kau sudah tahu semuanya, Goradi...," ­kata Paman Walung datar.

"Ya! Aku sudah tahu semuanya!" dengus Goradi.

"Kau harus tahu, Goradi. Semua ini kulakukan untuk membalas kematian kedua orang tuaku. Mereka mati karena ulah kakekmu. Aku jadi terhina. Bahkan kekasihku sendiri tidak sudi lagi bertemu denganku. Bahkan dengan keji sekali, ayahmu merebut kekasihku! Lalu, dia menikahinya sampai kau lahir. Sekarang, kau datang untuk membalas semua penghinaan yang kuderita dulu. Kau paham, Goradi...?!" tegas sekali nada suara Paman Walung.

"Alasan...! Dasar hatimu saja yang iblis!" desis Goradi semakin berang. "Hiyaaat ..!"

Sret!

Bet!

Goradi memang tidak bisa lagi menahan diri. Dengan cepat sekali tubuhnya melompat sambil mencabut pedangnya, dan langsung dikebutkan ke leher Paman Walung. Namun hanya dengan sedikit menarik kepala ke belakang, Paman Walung dapat menghindarinya. Dan dengan cepat sekali, tangan kanan yang memegang tongkat terhentak menyampok pedang di tangan Goradi.

Bet!

Trak!

"Akh...!"

Goradi jadi terpekik kaget. Tiba-tiba saja seluruh tangan kanannya terasa seperti tersengat ribuan lebah berbisa. Dan pemuda itu tidak dapat lagi menahan pedangnya yang langsung mencelat ke udara. Pada saat itu juga, Paman Walung yang di kalangan persilatan dikenal berjuluk Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar, menghentakkan kakinya begitu cepat dan keras.

"Yeaaah...! "

Diegkh!

“Akh...!"

Goradi seketika terhuyung-huyung begitu tendangan Paman Walung menghantam perutnya. Dan selagi tubuhnya terbungkuk, Paman Walung kembali melepaskan satu pukulan keras disertai sedikit pengerahan tenaga dalam ke wajah pemuda itu.

"Yeaaah...!"

Plak!

"Akh..!" lagi-lagi Goradi terpekik keras. Pemuda itu langsung terjengkang, begitu wajahnya terkena pukulan keras Paman Walung. Pada saat tubuhnya menggeletak menelentang di tanah, Paman Walung sudah melompat cepat sambil menghunjamkan ujung tongkatnya yang runcing ke arah dada. Tak ada lagi kesempatan bagi Goradi untuk bisa menghindari hunjaman ujung tongkat berbentuk runcing itu. Namun di saat dadanya hampir tertembus ujung tongkat Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar tiba-tiba saja....

"Hiyaaa...!"

Trang!

"Heh...?!"

­Paman Walung jadi terperanjat setengah mati. Tiba-tiba saja tongkatnya yang hampir saja menghunjam dada Goradi tersampok sebuah bayangan putih yang dibarengi cahaya biru berkilat. Cepat-cepat tubuhnya melompat ke belakang beberapa langkah. Matanya kontan terbeliak, melihat seorang pemuda berbaju rompi putih tahu-tahu sudah berdiri membelakangi Goradi yang sedang berusaha bangkit berdiri sambil memegangi dadanya.

"Keparat..!" geram Paman Walung.

"Aku lawanmu, Iblis Pencabut Nyawa. Aku ingin tahu, apakah kau benar-benar seorang iblis yang senang mencabut nyawa," desis Rangga dingin

"Phuih!"

Bet!

Paman Walung mengebutkan tongkatnya hingga melintang di depan dada. Tatapan matanya begitu tajam, menusuk langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti yang sudah melintangkan pedang di depan dada. Cahaya biru berkilau yang memancar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti sama sekali tidak membuat si Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar gentar. Kegeramannya oleh campur tangan Pendekar Rajawali Sakti sudah tidak bisa membuka matanya, ­hingga tidak peduli lagi dengan siapa berhadapan sekarang ini.

"Hiyaaat...!"

Paman Walung langsung melompat menyerang begitu dahsyat. Tongkatnya berkelebat cepat, menyambar ke arah kepala Rangga.

"Hait..!"

Namun sedikit saja Pendekar Rajawali Sakti merunduk, maka tongkat itu lewat di atas kepalanya. Pada saat yang bersamaan, Rangga mengebutkan pedangnya ke depan. Paman Walung bergegas melesat ke belakang, sambil berputaran beberapa kali. Namun begitu kakinya menjejak tanah, Rangga langsung memberi serangan dahsyat sekali.

Dari gerakan-gerakannya, sudah dapat dipastikan kalau Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan juru 'Pedang Pemecah Sukma'. Suatu jurus yang jarang digunakan di dalam pertarungan. Dan rupanya, Rangga menganggap Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar merupakan lawan yang berat, sehingga terpaksa jurus andalannya harus dikeluarkan.

"Hm.... Rupanya dia tahan juga dengan pengaruh jurus 'Pedang Pemecah Sukma'," gumam Rangga dalam hati.

Memang sudah cukup lama pertarungan berlangsung. Dan Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar belum juga terpengaruh oleh jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Bahkan tampaknya semakin dahsyat saja dengan jurus-jurusnya yang maut. Sehingga, Rangga terpaksa harus merubah jurusnya beberapa kali.

Pertarungan memang memakan waktu yang cukup lama, sampai Ki Rampik yang didampingi Pandan Wangi sampai Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi penonton saja mendampingi Goradi yang masih merasakan sesak pada dadanya.

Pertarungan antara Rangga dan Paman Walung memang masih terus berlangsung. Jurus demi jurus berlalu cepat sekali. Dan masing-masing sudah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya yang begitu dahsyat. Hingga akhirnya....

"Hup!"

"Yeaaah...!"

Mereka sama-sama saling berlompatan mundur, hingga membuat jarak sekitar dua batang tombak jauhnya. Masing-masing berdiri tegak dengan tatapan tajam menusuk langsung ke bola mata satu sama lain. Sementara itu, perlahan-lahan mereka saling melakukan gerakan-gerakan halus. Dan....

"Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Paman Walung menghentakkan tongkatnya ke depan. Seketika itu juga, dari kepala tongkat yang berbentuk bulat meluncur secercah sinar kuning keemasan. Tepat pada saat itu, Rangga juga mengebutkan pedangnya ke depan sambil berteriak keras menggelegar.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!"

Sraaat!

Sinar biru berkilau langsung meluruk deras menyambut cahaya kuning keemasan yang meluncur dari kepala tongkat si Iblis Pencabut Nyawa dan Bukit Lontar. Tak pelak lagi, dua sinar terang beradu di tengah-tengah. Dan kedua sinar itu tampak saling mendorong.

­"Hih...!"

"Hep!"

Rangga segera mengempos seluruh tenaganya. Dan perlahan-lahan, sinar biru yang memancar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti mendesak cahaya kuning keemasan yang keluar dari kepala tongkat Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar. Lalu sedikit demi sedikit, Rangga mulai melangkah maju mendekati lawannya.

"Uhk...!"

Paman Walung yang dijuluki sebagai si Iblis Pencabut Nyawa dari Bukit Lontar mulai merasakan sesuatu pada dirinya, ketika sinar biru berkilau mulai menyelimuti tubuhnya. Entah kenapa, Paman Walung jadi tidak bisa lagi menguasai dirinya. Bahkan tidak dapat lagi mengendalikan tenaganya yang keluar begitu cepat.

Seluruh tubuh Paman Walung sudah bersimbah keringat. Bahkan titik-titik darah mulai merembes dari seluruh pori-pori di tubuhnya. Dari hidung, mulut, dan telinga juga mengeluarkan darah. Sementara, Rangga semakin dekat saja. Dan tiba-tiba....

"Yeaaah...!"

Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan pedangnya ke atas kepala. Dan secepat itu pula pedangnya ditebaskan ke leher Paman Walung yang seluruh tenaganya sudah habis tersedot oleh aji 'Cakra Buana Sukma' yang dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti.

­Bet!

Crak!

“Aaakh...!"

Satu jeritan panjang melengking tinggi terdengar begitu keras dan menyayat. Dan ketika jeritan itu berhenti, tampak Paman Walung jadi limbung. Begitu tubuhnya ambruk, seketika kepalanya menggelinding terpisah dari leher. Darah langsung menyemburat keluar begitu deras dari leher yang sudah tidak berkepala lagi.

"Hup...!"

Rangga segera melompat mundur, dan menyarungkan pedangnya kembali ke dalam warangka di punggung. Sebentar dipandanginya Paman Walung yang sudah tidak bernyawa lagi

"Maafkan aku, Paman Walung. Seharusnya hal ini tidak terjadi, kalau kau tidak memaksaku.” desah Rangga perlahan.

"Kakang...!"

Rangga berpaling begitu mendengar suara memanggilnya. Tubuhnya langsung diputar begitu melihat Pandan Wangi berlari-lari menghampiri. Gadis itu langsung menghambur, memeluk pemuda berbaju rompi putih itu. Tidak dipedulikannya seluruh tubuh Rangga yang bersimbah keringat. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti menatap Ki Rampik dan putranya yang didampingi kekasihnya.

Sungguh Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu kalau sekitar halaman rumah ini sudah dipenuhi penduduk ­Desa Haruling. Lembut sekali Rangga melepaskan pelukan Pandan Wangi. Sementara, Ki Rampik menghampiri Pendekar Rajawali Sakti dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kuucapkan untuk berterima kasih padamu, Pendekar Rajawali Sakti," ucap Ki Rampik.

"Ini sudah menjadi kewajibanku, Ki," ucap Rangga merendah.

"Kalau tidak keberatan, aku ingin kau tinggal di sini untuk beberapa hari. Seluruh penduduk desa ini akan menjamu untuk mengucapkan terima kasihnya,” kata Ki Rampik lagi.

"itu terlalu berlebihan, Ki."

Memang sulit bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk menolak Dan Rangga tidak ingin mengecewakan seluruh penduduk Desa Haruling ini. Meskipun jiwa kependekarannya menolak, tapi permintaan seluruh penduduk desa ini tidak bisa ditolaknya. Pendekar Rajawali Sakti hanya bisa menganggukkan kepala saja, menerima tawaran Ki Rampik untuk tinggal beberapa hari di desa ini.


SELESAI

KISAH BERIKUTNYA: LADANG PEMBANTAIAN

Thanks for reading Kumbang Bukit Lontar I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »