Strategi Negosiasi atau Perundingan

strategi negosiasi

Pengertian umum negosiasi

Negosiasi atau perundingan adalah seni dan ketrampilan dalam mengolah perkataan, data pendukung serta informasi yang tepat, sehingga dapat menghasilkan kesepakatan yang terbaik dan dapat diterima oleh kedua pihak untuk dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok melalui diskusi formal.

Cara negosiasi

Dalam proses mencapai kepuasan bersama melalui diskusi dan tawar menawar, seseorang berunding untuk menyelesaikan perselisian, mengubah perjanjian atau syarat-syarat, atau menilai komoditi atau jasa, atau permasalahan yang lain. Agar perundingan berhasil, masing-masing pihak harus sungguh-sungguh menginginkan persetujuan yang dapat ditindak lanjuti, dan sebagai perjanjian jangka panjang. Karena tidak ada gunanya sebuah persetujuan apabila tidak dapat diterapkan atau dilaksanakan.

Apabila hal itu terjadi maka para perunding (negosiator) yang merupakan wakil-wakil dari suatu pihak yang berkepentingan akan kehilangan kredibilitas dan wibawa. Perunding harus melakukan beberapa fungsi yang membutuhkan ketrampilan. Mereka harus dapat membuat rencana dan tujuan yang matang. Alasan yang berkaitan dengan setiap pokok persoalan perundingan harus disiapkan seolah-olah pihak lain tidak ada. Setiap argument harus lengkap dan bila diperlukan harus disiapkan data pendukung yang valid/sah. Perunding harus cukup luwes untuk memperdebatkan alasan-alasan dalam konteks dan sesuai dengan prioritas yang akan dirundingkan dengan pihak lain. Perunding yang baik akan tahu bagaimana menanggulangi konflik.

Menganggap remeh suatu konflik akan menimbulkan posisi kritis yang menuju ke pemenuhan tuntutan dan akhirnya menyerah. Dengan kata lain bahwa negosiasi merupakan suatu proses yang dilakukan oleh dua pihak/kelompok atau lebih dengan cara berunding untuk mencapai persetujuan yang sesuai dengan karakteristik tertentu melalui beberapa tahapan yang saling bertentangan satu sama lain.

Tanpa memperdulikan keadaan atau kelompok yang terlibat, negosiasi paling tidak mempunyai 4 elemen, yaitu:

  1. Ada beberapa perselisihan atau pertentangan.
  2. Ada beberapa tahap saling ketergantungan diantara kelompok.
  3. Situasinya harus kondusif untuk mendapatkan kesempatan berinteraksi. Itu artinya bahwa setiap pihak/kelompok ingin tahu dan cenderung untuk saling mempengaruhi kelompok lainnya.
  4. Ada beberapa kemungkinan untuk sepakat.

Jika elemen-elemen tersebut diatas tidak ada, maka tentu saja negosiasi tidak mambawa hasil yang positif. Pada saat negosiasi tersebut berhasil, maka setiap kelompok merasa diuntungkan dari hasil tersebut. Sebaliknya jika mereka gagal, maka konflik tersebut akan meningkat.

Jenis negosiasi formal

Memang tidak ada satupun teori yang komprehensif yang mengatur praktek perundingan yang sangat kompleks itu. Ada tiga teori dan praktek yang telah muncul dalam dua dekade terakhir ini, walaupun pada ke tiga jenis perundingan tersebut dalam prakteknya terjadi perbedaan yang tidaklah begitu jelas. Jenis perundingan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Perundingan posisional
    Adalah bentuk perundingan yang tradisional, para peserta perundingan seringkali bekerja berdasarkan mandat yang ketat. Jika posisi mereka tidak memungkinkan kompromi, akibatnya adalah jalan buntu. Sukses biasanya baru tercapai setelah semua aspek dari posisi yang menentang telah diperiksa dan dimengerti untuk mencoba menemukan dasar-dasar permufakatan.
    Contoh :Perundingan antara serikat Pekerja/Buruh dengan Manajemen
  2. Perundingan Prinsipil
    Dimana perunding didorong untuk mencari prinsip-prinsip yangb mendasari untuk mendukung posisi tersebut diatas. Ini dalah proses yang lebih lunak/kendur dan kreatif bagi perunding. Perunding dipesankan untuk menghasilkan sasaran, bukan pemecahan masalah, sehingga akan didapat berbagai pilihan yang ada sebagai rekomendasi. Keinginan untuk berhasil seringkali lebih besar daripada perundingan posisional, karena kedua belah pihak akan merasa cenderung berhasil daripada gagal. Perundingan prinsipil berubah menjadi perundingan posisional atau menemui jalan buntu, jika emosi para perunding dibiarkan memperkeruh persoalan yang menjadi masalah tersebut.
  3. Perundingan Situasional
    Perundingan ini biasanya berlangsung sebelum perundingan posisional atau prinsipil. Ini adalah bentuk perundingan tidak langsung dan merupakan semacam penjajakan pendahuluan. Misalnya dengan mengirimkan pesan melalui pihak ketiga sebelum pertemuan berlangsung, karena hal ini dapat mencegah pemborosan waktu sehingga lebih efektif. Jalan buntu dapat dihindari dan pemecahan masalah dapat ditemukan dengan cepat.

Faktor-faktor yang berpengaruh

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam perundingan tentu harus dipahami. Karena bagi pihak yang keperluannya lebih besar tentu berada dalam posisi perundingan yang lebih lemah. Oleh karena itu harus menganalisis faktor-faktor yang mungkin dapat memberikan pengaruh tambahan yang tepat, misalnya sbb:
  • Seberapa anda membutuhkan pihak lain
  • Seberapa pihak lain membutuhkan anda
  • Apa yang anda ketahui dan yang tidak diketahui oleh pihak lain
  • Apa yang mungkin diketahui pihak lain yang tidak anda ketahui
  • Apa yang anda berdua ketahui yang anda tidak ingin terungkap ditempat lain
  • Tekanan waktu pada kedua belah pihak
  • Tingkat keterlibatan dan pengaruh kelompok sejawat
  • Perasaan takut gagal, kehilangan prestise atau rasa malu pada salah satu pihak
  • Pengaruh pada rencana masa mendatang tentang hasil menang atau kalah
  • Kebutuhan untuk benar, untuk memperoleh pujian dan pengakuan
  • Kemampuan mempengaruhi secara formal atau informal
  • Kemampuan membuat pihak lain merasa bersalah
  • Perampasan kebebasan bertindak
  • Ancaman boikot


Setelah menilai sejauh mana kekuatan dan kelemahan kedua belah pihak, tanyakan kepada diri anda:
  • Kekuatan apa yang dimiliki pihak lain yang dapat menjadi sumber kecemasan saya?
  • Kekuatan apa yang saya miliki yang akan mencemaskan pihak lain?


Hasil dari suatu negosiasi belum tentu memuaskan semua pihak, namun demikian hal tersebut adalah kenyataan yang harus bisa diterima oleh para negosiator/perunding.
  1. Negosias menang kalah (WinLos Negotiating)
    Ketika sebuah kelompok menginginkan menang dan tentu saja kelompok lainnya akan dikalahkan.
  2. Negosiasi menang menang (Win win negotiating)
    Secara sederhana perundingan tersebut berarti bahwa telah terjadi kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak dengan saling menguntungkan. Pendekatan menang menang lebih disukai daripada pendekatan menang kalah.


Pertanyaannya adalah mengapa harus ada pihak sebagai pemenang dan ada pihak sebagai yang kalah dari pada keduanya menjadi pemenang. Pada kenyataannya bagaimanapun juga, tidak setiap situasi negosiasi memberikan hasil yang diharapkan.

Cara menetapkan keputusan

Negosiator/perunding yang baik harus membangun kerangka dasar yang penting tentang negosiasi yang akan dilakukan, agar berhasil menjalankan tugasnya tersebut. Negosiasi adalah cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima beberapa pihak dan menyetujui bagaimana tindakan yang akan dilakukan. Biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan diinginkan. Ujung dari negosiasi adalah poin kesepakatan yang diambil kedua belah pihak.

Senantiasa melibatkan orang baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok. Negosiasi mempunyai kecenderungan akan terjadinya konflik mulai dari awal sampai akhir pembicaraan. Negosiasi dapat menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu baik berupa bargaining maupun barter. Kesempatan ini juga hampir selalu berbentuk tatap muka, menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah.



Sedangkan untuk membangun kerangka dasar pengambilan keputusan, ada tiga konsep penting yang harus dipahami oleh seorang negosiator, yaitu:
  1. Best alternative to a negotiated agreement
    Yaitu, langkah-langkah atau alternatif-alternatif yang akan dilakukan oleh seorang negosiator bila negosiasi tidak mencapai kesepakatan.
  2. Reservation price
    Yaitu, nilai atau tawaran terendah yang dapat diterima sebagai sebuah kesepakatan dalam negosiasi.
  3. Zone possible agreement
    Yaitu suatu zona atau area yang memungkinkan terjadinya kesepakatan dalam proses negosiasi.

Para perunding diharapkan dapat mengambil keputusan yang bijak dalam negosiasi, dengan mempertimbangkan besarnya koneksi yang didapat dan diberikan, menentukan perlu tidaknya melanjutkan negosiasi, dan melakukan langkah lain yang lebih menguntungkan.

Sepakat untuk tidak sepakat

Negosiasi tidak selalu berakhir dengan kesepakatan. Kedua belah pihak mungkin saja sepakat untuk tidak sepakat. Yang penting, negosiasi melibatkan persuasi untuk mencapai suatu maksud kompromi yang konstruktif.

Melalui persuasi, Anda mendorong dan berusaha untuk meyakinkan pihak lain untuk menerima hal-hal yang Anda ingin mereka terima. Kompromi yang konstruktif artinya menyesuaikan posisi Anda sebagai tanggapan atas kurangnya keinginan pihak lain untuk menerima proposal atau usulan Anda. Kompromi ini adalah kebalikan dari perundingan posisional, dimana salah satu pihak dengan kerasnya mempertahankan suatu rangkaian posisi dan menolak untuk berkompromi atau menyesuaikan diri sebagai tanggapan atas suatu argumentasi atau ajakan yang persuasif.

Untuk menghindari dan menjawab kata 'tidak' dari pihak lawan, ikuti empat langkah berikut:

  1. Gunakan metode socrates.
    Asumsikan bahwa jawaban 'tidak' itu dengan maksud belum saatnya, terutama untuk negosiasi awal. Dengan asumsi ini, maka Anda harus berfikir tidak ada kata ditolak dalam setiap ide yang akan Anda sampaikan. Konsep ini mungkin seperti anak kecil yang sering meminta sesuatu ke Anda yang pasti anda tidak bisa menerima kata-kata 'tidak'. Bila anda bisa memenangkan negosiasi, Anda akan menjadi negosiator ulung.
  2. Gunakan berbagai perspektif
    Orang memang akan mengeluarkan kata-kata 'tidak' bila dirasa keinginannya tidak terpenuhi. Dari kalimat inilah, Anda mungkin bisa menggali makna itu. Jadi, perkenalkan terlebih dulu ide Anda sebaik mungkin, termasuk bagaimana cemerlangnya ide-ide itu serta apa hasilnya bila diterapkan. Anda juga bisa mengungkapkannya dengan banyak cara, misalnya mulai presentasi yang cermat, serta mengambil hasil-hasil empirik dari ide-ide tersebut. Yang pasti, jadikanlah kata-kata 'tidak' menjadi 'iya'
  3. Pecahkan masalah bersama-sama
    Sekali mereka ada tanda-tanda tertarik, jangan sia-siakan kesempatan itu. Ajaklah terus secara bersama-sama memecahkan persoalan tadi, kalau perlu jangan segan-segan mencari solusi terbaik tentang kemungkinan diterimanya ide-ide itu. Dengan melakukan kerja sama yang serius, kemungkinan ide itu akan diterima menjadi sangat besar.
  4. Kepung lawan dengan data dan fakta akurat
    Bila Anda sudah berusaha dengan semaksimal mungkin tetapi tetap jawabannya 'tidak', maka ada baiknya Anda memberikan ide-ide alternatif, yang barangkali lebih pas dan cocok. Cara yang seperti ini, bukan berarti anda gagal dalam menyampaikan gagas-gagasan tadi. Tapi, semua itu sudah membuktikan bawa anda ternyata tidak hanya terpaku dalam satu konsep saja. Dengan memberikan alternatif, bisa saja diakomodasikan beberapa gagasan baru yang masuk. Jadi, tidak ada istilah gagasan ditolak, yang terpenting negosiasi dan berunding dulu.


Langkah-langkah strategis sebelum negosiasi

  1. Melakukan Pengukuran Diri
    Pada tahap ini, perunding perlu sedikitnya menentkan 6 hal, yaitu:
    • Sasaran yang ingin dicapai dari perundingan yang akan dilakukan.
    • Strategi yang akan digunakan untuk mengarahkan jalannya perundingan.
    • Taktik yang akan digunakan selama perundingan berlangsung.
    • Menetapkan Best Aternative of The Negotiated Agreement yaitu langkah­-langkah yang akan dilakukan oleh seorang negosiator bila negosiasi tidak mencapai kesepakatan atau tidak sesuai rencana yang telah dibuat.
    • Menentukan Reservation Point yaitu nilai atau tawaran terendah yang dapat diterima sebagai sebuah kesepakatan dalam perundingan.
    • Menentukan komposisi anggota tim perunding yang akan terlibat dalam proses perundingan dan peran dari masing­-masing anggota tim perunding (bila perundingan dilakukan oleh tim, bukan individual)
  2. Melakukan Pengukuran Terhadap Pihak Lain
    Pada tahap ini, perunding perlu melakukan evaluasi terhadap beberapa hal berikut dari pihak lawan, yaitu:
    • Memperkirakan anggota tim perunding dari pihal lain dan masing­-masing peran yang akan mereka mainkan, termasuk mengenai hidden table, yaitu bagian dari tim perunding yang tidak secara fisik hadir dalam perundingan, namun mempunyai peran sangat penting dalam mengaharakan perundingan.
    • Menentukan kepentingan yang menjadi dasar bagi pihak lain dalam berunding dan posisi yang akan diambil oleh mereka selama perundingan.
    • Memperkirakan Best Aternative of The Negotiated Agreement dan Reservation Price dari pihak lain.
  3. Melakukan Pengukuran terhadap Situasi
    Pada tahap ini perundingan perlu melakukan sejumlah analisa terhadap situasi atau kondisi yang dapat mempengaruhi perundingan yang terjadi, seperti:
    • Membuat perkiraan terhadap jangka waktu terjadinya perundingan; sekali selesai, berkali­-kali, berulang­-ulang, dan sebagainya.
    • Membuat perkiraan terhadap kemungkinan proses perundingan akan memperebutkan sumber­-sumber daya yang terbatas (dana, sumber daya manusia, dll) atau menyentuh aspek­-aspek politik, sosial dan hukum serta perburuhan.
    • Menentukan sifat perundingan yang dilakukan. Sifatnya yang dimaksud adalah ada tidaknya  adanya kepentingan atau kebutuhan yang dapat dipertukarkan atau ada tidaknya adanya tuntutan atau keluhan dari satu pihak yang tidak dapat diterima oleh pihak lainnya, sehingga menyebabkan terjadinya perselisihan.
    • Memperkirakan ada tidaknya dampak berantai dari perundingan yang dilakukan.
    • Menetapkan ada tidaknya persetujuan yang harus dibuat di akhir perundingan.
    • Menetapkan aspek­-aspek hukum yang perlu dipenuhi untuk memastikan legitimasi dari perundingan yang dilakkan, termasuk perlu tidaknya pengesahan dilakukan oleh pihak ketiga, atas hasil perundingan yang dicapai.
    • Memperkirakan ada tidaknya keterbatasan dalam hal wewenang yang diberikan, biaya dan waktu yang tersedia.
    • Menentukan tempat dilangsungkannya perundingan.
    • Menentukan perlu tidaknya perundingan dilakukan secara tertutup atau secara terbuka.


Pengenalan yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi negosiasi yang akan Anda lakukan. Hal tersebut akan menambah rasa percaya diri yang Anda butuhkan dalam melakukan negosiasi. Gagal mengenali lawan bicara artinya Anda gagal 90% dari proses negosiasi itu. Investigasi atau penelusuran tentang pihak lawan bicara ini meliputi:
  • Mempertimbangkan sasaran dan prioritas yang mungkin diambil oleh pihak lawan.
  • Mempersiapkan tanggapan atas pertanyaan yang mungkin diajukan oleh pihak lawan.
  • Memperkirakan kemungkinan komposisi tim negosiasi pihak lawan.
  • Mengindentifikasi siapa pembuat keputusan utama didalam tim pihak lawan.
  • Memperkirakan gaya atau cara negosiasi yang mungkin digunakan oleh pihak lawan.


Mengidentifikasi asumsi Anda mengenai kasus pihak lawan dan mencari tahu tentang keabsahannya. Pengumpulan informasi ini juga mencakup:
  • Prosedur yang disetujui untuk menyelasaikan perselisihan.
  • Keabsahan suatu tuntutan berdasarkan hukum.
  • Implikasi biaya dari konsensi­-konsensi yang dibuat.
  • Dampak sosial dari konsensi­-konsesi yang dibuat.
  • Hasil­-hasil yang pernah dicapai sebelumnya berdasarkan tuntutan yang sama.
  • Situasi kompetitif eksternal.
  • Pengupahan dan kondisi ditempat kerja atau perusahaan serta lokasi lainnya.
  • Indikator seperti inflasi, produktivitas, pertumbuhan industri dan profitabilitas perusahaan.


Dalam mengumpulkan informasi­-informasi tersebut, pastikan bahwa Anda memiliki cukup bukti untuk mendukung fakta­-fakta yang ingin Anda ajukan selama negosiasi. Negosiasi yang sukses tidak dapat di sulap dalam sekejap saja, tetapi membutuhkan suatu persiapan yang teliti. Selanjutnya menetapkan sasaran merupakan bagian dari negosiasi. Hal ini meliputi:
  • Mengetahui mengapa Anda ingin bernegosiasi dan apa yang dibahas dalam negosiasi tersebut.
  • Membedakan antara sasaran yang dapat diterapkan pada negosiasi individual.
  • Masing­-masing pihak mempertimbangkan tiga posisi untuk setiap negosiasi, yaitu; posisi ideal, posisi target, posisi resistan/lawan.


Posisi ideal adalah hasil terbaik yang dapat dicapai oleh suatu pihak yang bernegosiasi. Bagi sebuah serikat pekerja hal ini merepresentasikan tuntutan pembukanya. Bagi seorang pengusaha hal ini merepresentasikan penawaran pembukanya. Posisi target merepresentasikan hasil apa yang diharapkan oleh suatu pihak yang bernegosiasi. Hal ini adalah posisi cadangan jika posisi ideal tidak dapat tercapai. Posisi resisten/lawan merepresentasikan garis bawah atau titik bawah yang sama sekali diharapkan oleh suatu pihak yang bernegosiasi. Para negosiator berusaha untuk mendorong pihak lainnya sedekat mungkin dengan titik resistan pihak tersebut.

Gaya komunikasi

Dominasi gaya komunikasi seseorang tergantung pada pola sikap, yaitu:
Pasif
Sikap pasif biasanya bertalian dengan 'kalah', orang yang selalu mundur, menyerah, dan patuh. Cara komunikasi ini penuh dengan permintaan maaf, seperti persetujuan yang penuh dengan keengganan dan pernyataan­-pernyataan yang negatif tentang dirinya sendiri. Sikap pasif menyiratkan bahwa 'Anda OK, tetapi saya tidak OK'.

Pasif/Agresif
Sikap pasif/agresif biasanya berkaitan dengan 'penyabot' Ini sama sekali tidak dilakukan secara terbuka. Tetapi motivasi agresifnya sangat jelas, sifat yang menonjol dari cara komunikasi ini adalah komentarnya yang sarkastis/tajam, yakni komentar dengan dua arti dengan sinyal­-sinyal non verba, seperti menatap ke langit yang bersikap cemooh. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah saya tidak OK, Anda juga tidak OK.

Agresif
Adalah sikap yang tidak mengindahkan orang lain. Meskipun orang ini dianggap sebagai orang yang rajin atau salah seorang pemenang dalam hidup ini, namun mereka biasanya ditakuti karena gayanya yang mendorong adanya sikap palsu dari orang lain yang lebih suka tidak berani menghadapi kemarahan agresif ini. Pesan yang disiratkan orang ini adalah 'saya OK, tetapi anda tidak OK'.

Tegas
Komunikasi tegas tidak mengurangi atau menurunkan martabat masnusia lainnya, tidak melanggar hak orang lain manapun, dan tidak menjauhkan diri dari berbagai masalah yang penting. Sebaliknya, sikap ini justru mendorong adanya komunikasi yang memuaskan dimana kebutuhan semua orang terpenuhi dengan cara yang terbaik. Yang secara khas dapat menunjukkan sikap tegas ini adalah penggunaan pernyataan 'saya', ini menunjukkan bahwa orang yang berkomunikasi itu mau memikul tanggung jawab atas pesan yang disampaikannya. Bentuk komunikasi ini didasarkan pada rasa hormat terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Pesan yang disiratkan adalah 'saya OK dan Anda juga OK', sehingga tidak ada yang kalah.


Bahasa untuk menang adalah bahasa yang keluar dari sikap tegas. Sebaiknya yang perlu diperhatikan adalah cara untuk menyatakan sesuatu (pengucapannya), bukan yang diucapkan. Kualitas untuk menang dari seorang komunikator yang tegas itu adalah:
  • Bahasa yang langsung dan jelas
  • Kemampuan untuk menunjukkan pemahaman dan untuk merasakan perasaan orang lain keterampilan mendengarkan secara aktif.
  • Kemampuan untuk mengadakan hubungan dan mempertahankannya.
  • Kontak mata, suara, dan sikap tubuh yang baik.
  • Rasa percaya diri pada apa yang Anda katakan, tanpa komentar yang menghindari perhatian orang atau peminta maaf.


Beberapa gaya yang tidak kita sadari dapat muncul dan mengganggu cara berkomunikasi, diantaranya:
  • Pandangan yang sangat agresif.
  • Tidak mau kompromi.
  • Anti toleransi.
  • Tidak mau berubah (baik sikap maupun pendapat)
  • Tidak sabar
  • Arogan (sombong)
  • Sarkastis (berlidah tajam)
  • Manipulatif (suka mempermainkan)
  • Suka menolak.
  • Suka menegasikan pendapat orang lain
  • Tinggi hati


Apabila anda mendengarkan maka:
  • Berkonsentrasi pada apa yang dikatakan.
  • Dengarkan baik­-baik dan secara aktif
  • Senantiasa mendengarkan, walaupun yang dibicarakan tidak relevan, berputar­-putar atau berulang­-ulang.
  • Buat kesimpulan dari apa yang dibicarakan
  • Telusuri apa yang Anda dengar
  • Ulang pokok­-pokok bahasan yang Anda dengarkan untuk diri Anda sendiri.
  • Harus peka terhadap bahasa tubuh non verbal si pembicara dan bahasa tubuh  anda sendiri (6-8­% komunikasi langsung tergantung dari aspek nonverbal) Buat catatan jika perlu (apa yang dibicarakan, oleh siapa)
  • Tidak menunjukkan ketidak sukaan, ketidak sabaran atau rasa bosan anda
  • Tidak menyela pembicaraan atau membiarkan yang lain menginterupsi jalannya pembicaraan
  • Perhatikan arti­-arti terselubung dari yang disampaikan



Pendengar yang baik selain menyimak dengan seksama juga dituntut untuk menggali lebih dalam. Caranya adalah dengan melemparkan pertanyaan­-pertanyaan. Pertanyaan memiliki beberapa fungsi:
  • Untuk mendapatkan informasi
  • Untuk mengajukan pernyataan dan konsistensinya
  • Untuk memeriksa apakah anda memahami keseluruhan pembicaraan secara benar
  • Untuk menunjukkan minat terhadap apa yang dikatakan seseorang.


Pertanyaan dibagi menjadi dua, yakni tertutup dan terbuka. Pertanyaan tertutup adalah jenis pertanyaan yang spesifik dan langsung, biasanya mengundang jawaban yang singkat. Contoh:
  1. Berapa banyak pekerja yang terkena dampaknya?
  2. Berapa upah minimum regional saat ini?


Pertanyaan terbuka adalah jenis pertanyaan yang mengundang penjelasan lebih lanjut dan memberi kesempatan untuk menerangkan dan meyakinkan lawan bicara. Contoh:
  1. Mengapa gaji yang diberikan peruusahaan anda anggap kurang memadai?
  2. Mengapa kenaikan upah sebesar 10% meningkatkan tingkat kompetisi anda?
  3. Mengapa anda ingin kenaikan upah sebesar 10% sementara biaya hidup hanya meningkat 5%? <

    Bersambung...
    Thanks for reading Strategi Negosiasi atau Perundingan I Tags:

    Share Article:

Previous
Next Post »