Social Items

Dilema Para Buruh

Sebuah gerakan fantastis yang sarat emosional tengah melanda para pekerja/buruh. Dengan semangat, ribuan pekerja/buruh menggelar aksi demo dengan tuntutan yang sama, yaitu kenaikan UPAH MINIMUM PROPINSI /UMP) DKI Jakarta dan Tangerang dari Rp 2.200.000 menjadi Rp 3.700.000. Sebuah nominal yang fantastis. Apakah tuntutan itu sebuah tuntutan yang cerdas..? Atau justru sebaliknya, tuntutan itu adalah tuntutan yang bodoh..?

Disadari atau tidak, tuntutan itu akan memiliki efek secara nasional. Ketika kenaikan itu disetujui, sudah bisa di pastikan situasi itu juga akan mengakibatkan perubahan harga kebutuhan pokok. Harga-harga kebutuhan pun akan menyesuaikan. Tidak hanya naik, tetapi harga-harga akan berubah secara drastis.

Terlepas dari itu semua, kita harus sadar dan jeli melihat, bahwa beberapa faktor yang selama ini tidak dilihat dan dipahami oleh para pekerja/buruh yang menuntut kenaikan upah tersebut.

Terlepas dari sekian banyak faktor tersebut, para pekerja/buruh jelas masih membutuhkan perusahaan yang menjadi tempat mereka bekerja. Tanpa ada perusahaan yang mempekerjakan, dari mana para buruh mendapatkan penghasilan..?

Para buruh sungguh tergantung sepenuhnya pada perusahaan. Di sisi lain, ini yang tidak disadari, kemajuan zaman telah menciptakan mesin-mesin pengganti tenaga manusia. Karenanya, perusahaan belum tentu membutuhkan tenaga manusia untuk menjalankan usahanya.

Yang dibutuhkan hanyalah tenaga-tenaga ahli untuk mengontrol dan menjalankan mesin-mesin tersebut. Dengan kata lain, yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah skill people. Sedangkan unskill-people, hanya akan menjadi penonton saja.

Kenaikan upah jelas memberatkan perusahaan. Itu bisa menjadi salah satu alasan terjadinya PHK besar-besaran, karena perusahaan tidak mampu lagi membayar upah ribuan para pekerjanya sesuai dengan tuntutan.

Perusahaan memiliki dasar kuat untuk melakukan tindakan itu. Jika itu benar terjadi, mau kemana para pekerja/buruh akan mendapatkan penghidupan mereka..?
Mendemo pemprop yang telah menaikkan upah, padahal itu sudah jelas atas tuntutan para buruh itu sendiri..?

Seandainya terjadi PHK masal, para pekerja/buruh hanya akan meratapi kebodohan mereka karena telah menuntut kenaikan upah yang terlalu berlebihan.
Sebaliknya, ada nilai lebih pada perusahaan. Dengan adanya PHK masal, beban perusahaan akan berkurang.

Perusahaan-perusahaan itu akan mengalihkan dengan menggunakan tenaga-tenaga mesin yang lebih efektif dan akurat. Pemenuhan tuntutan kenaikan upah justru menguntungkan perusahaan, bukan buruh.
Sementara manusia (terutama yang tidak punya kemampuan) akansemakin tersisih. Ke mana mereka akan mengadu..?

Apakah gerakan tuntutan kenaikan upah murni berasal dari pekerja/buruh, atau hanya ambisi sebagian orang saja ..?
Entahlah…!?!

Sumber :@Yswitopr